Anda di halaman 1dari 9

Pengaruh Terapi Musik Klasik Terhadap Perubahan Gejala Perilaku Agresif Pada Klien Skizoprenia Di Ruang Kunti RSJ

Provinsi Bali Tahun 2013 Ekawati I Gusti Ayu1, Candra I Wayan2, Gama I Ketut3 POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR JURUSAN KEPERAWATAN PROGRAM DIV KEPERAWATAN JIWA ABSTRAK. Angka kejadian pasien yang terdiagnosis skizofrenia sangat beragam, salah satunya yang sering ditemukan adalah perilaku agresif. Salah satu terapi yang bermanfaat serta mudah ditemukan dan dilakukan sering kali dilupakan salah satunya adalah terapi musik. Terapi musik merupakan salah satu bentuk dari tehnik relaksasi yang bertujuan untuk mengurangi perilaku agresif, memberikan rasa tenang, Penelitian ini bertujuan untuk pengaruh terapi musik klasik terhadap perubahan gejala perilaku agresif pada pasien skizoprenia. Jenis penelitian ini adalah pra eksperimental dengan jumlah sampel 15 orang dengan menggunakan pendekatan One-group Pre-test-posttest Design, dengan Consecutive Sampling. Jenis data yang digunakan untuk mendapatkan data adalah data primer melalui observasi. Hasil penelitian perilaku agresif pasien skizofrenia sebelum diberikan terapi musik sebagian besar yaitu sebanyak 11 orang (73,3%) dalam katagori sedang. Perilaku agresif pasien skizofrenia setelah diberikan terapi musik sebagian besar yaitu sebanyak 12 orang (80%) dalam katagori ringan Hasil uji statistik Wilcoxon Sign Rank Test didapatkan P= 0,000 < p= 0,010, berarti ada pengaruh yang sangat signifikan pemberian terapi musik klasik terhadap perubahan gejala perilaku agresif pada pasien skizoprenia di ruang Kunti RSJ Provinsi Bali tahun 2013. Disarankan kepada managemen keperawatan RSJ Provinsi Bali agar mempertimbangkan penggunaan terapi musik klasik sebagai alternative didalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien perilaku agresif. Kata Kunci : Terapi Musik Klasik; Perilaku Agresif, Pasien Skizofrenia ABSTRACT. Incident rate of patients diagnosed with schizophrenia is very diverse, one of which is frequently found in aggressive behavior among patients with schizophrenia. One of the therapies that are beneficial and easy to find and do often times overlooked one of which is music therapy. Music therapy is one form of relaxation techniques aimed at reducing aggressive behavior, giving a sense of calm, this research aims at the influence of classical music therapy to changes in behavioral symptoms in patients skizoprenia aggressive. This is the type of pre-experimental research with a sample of 15 people by using the One-group pre-test-posttest design. Samples were taken by means Consecutive Sampling. Type of data used to obtain the data is primary data through observation. The results aggressive behavior of schizophrenic patients before therapy is given most of the music that is as many as 11 people (73.3%) in the moderate category. Aggressive behavior of schizophrenic patients after therapy is given most of the music that is as many as 12 people (80%) in the mild category statistical result obtained Wilcoxon Sign Rank Test P = 0.000 <p 0.01, meaning there is a very significant influence classical music therapy to change symptoms of aggressive behavior in patients skizoprenia in space Kunti RSJ Bali Province in 2013. Keywords: Classical Music Therapy; Aggressive Behavior, Schizophrenia Patients

PENDAHULUAN Pembangunan Kesehatan merupakan bagian integral dari pembangunan nasional, dalam Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan ditetapkan bahwa kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi.

Jumlah penderita gangguan jiwa didunia tahun 2010 diperkirakan tidak kurang dari 450 juta, bahkan berdasarkan data study World Bank dibeberapa negara menunjukan 8,1 % dari kesehatan global masyarakat (Global Burden Disease) menderita gangguan jiwa. Penderita gangguan jiwa di Indonesia diperkirakan sebanyak 246 dari 1.000 anggota rumah tangga (WHO, 2010). Jumlah

Kesehatan merupakan hak asasi manusia yang harus dilindungi dan diperhatikan oleh

penduduk Bali yang mengalami gangguan jiwa diperkirakan sebanyak 3% dari 4 juta jumlah penduduk atau sekitar 120.000 orang dimana 7000 orang diantaranya mengalami gangguan jiwa berat (Suryani, 2010). Jumlah kasus gangguan jiwa yang rawat inap di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali, tahun 2010 pasien yang dirawat yaitu 3878 orang dimana sebanyak 3521 (90,79 %) menderita skozofrenia, tahun 2011 pasien yang dirawat yaitu 3945 orang dimana sebanyak 3661

Pemerintah Sejalan dengan pembangunan bangsa Indonesia. Kesehatan jiwa adalah bagian dari kesehatan secara menyeluruh, bukan sekedar terbebas dari gangguan jiwa, tetapi pemenuhan kebutuhan perasaan

bahagia, sehat, serta mampu menangani tantangan hidup. Himpitan hidup yang

semakin berat di alami hampir oleh semua kalangan masyarakat sehingga dapat

mengakibatkan gangguan kesehatan jiwa (Intan, 2010). Gangguan jiwa (mental disorder)

(92,80 %) menderita skozofrenia, tahun 2012 pasien yang dirawat yaitu 4024 orang dimana sebanyak 3821 (94,95 %) menderita berdasarkan perilaku

merupakan salah satu dari empat masalah kesehatan utama dinegara-negara maju,

skozofrenia. masalah

Jumlah

pasien

modern, dan industri. Keempat masalah utama tersebut adalah penyakit degeneratif, kanker, gangguan jiwa, dan kecelakaan. Peningkatan kasus akhirnya akan gangguan jiwa pada produktifitas

utama

keperawatan

kekerasan tahun 2010 sebanyak 2053 orang (52,93%), tahun 2011 sebanyak 2256 orang (56,19%) dan tahun 2012 sebanyak 2562 orang (63,66%) (Rekam Medik Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali, 2012). Karakteristik pasien yang terdiagnosis skizofrenia sangat beragam, salah satunya yang sering ditemukan pada pasien

menurunkan

kerja, kualitas hidup secara nasional dan negara akan kehilangan satu generasi sehat yang akan meneruskan perjuangan dan citacita bangsa (Hawari, 2009).

skizofrenia emosi

diantaranya dapat depresi

adalah berupa dan

gangguan ketakutan,

konflik

emosional

yang

belum

dapat

yang

diselesaikan (Keliat, 2010). Penanganan dilakukan pengobatan perilaku agresif dapat macam untuk

kecemasan,

kegembiraan.

Kecemasan pada penderita skizofrenia dapat berupa gangguan parathimi atau yang

dengan termasuk

berbagai pengobatan

seharusnya menimbulkan rasa senang dan gembira, pada penderita timbul rasa cemas, sedih dan marah (Maramis , 2008). Dampak yang dapat ditimbulkan oleh pasien yang mengalami perilaku kekerasan adalah bisa membahayakan diri sendiri, orang lain maupun merusak lingkungan. Perilaku agresif itu sendiri merupakan suatu rentang emosi dan ungkapan kemarahan yang

mengurangi perilaku agresif. Obat-obatan yang diberikan dapat mengurangi gejala yang muncul namun tidak bisa menyembuhkan. Pengobatan cenderung membutuhkan biaya yang mahal dan juga menimbulkan berbagai macam efek samping bagi tubuh. Salah satu terapi yang bermanfaat dilakukan serta sering mudah kali

ditemukan

dan

dilupakan salah satunya adalah terapi musik (Campbell, 2010). Terapi musik merupakan salah satu bentuk dari tehnik relaksasi yang bertujuan untuk mengurangi perilaku agresif,

dimanifestasikan dalam bentuk verbal dan fisik. Perilaku agresif merupakan perilaku yang mengacu pada beberapa jenis perilaku, baik secara verbal maupun non verbal, yang dilakukan dengan tujuan menyakiti seseorang. Perilaku agresif verbal sebagai suatu bentuk perilaku atau aksi agresif yang diungkapkan untuk menyakiti orang lain, dapat berbentuk umpatan, celaan atau makian, ejekan, fitnahan dan ancaman melalui kata-kata. Perilaku agresif non verbal dapat berbentuk memukul, mencubit dengan kasar, menendang,

memberikan rasa tenang, sebagai pendidikan moral, mengendalikan emosi, pengembangan spiritual dan menyembuhkan gangguan

psikologis. Terapi musik juga digunakan oleh psikolog maupun psikiater untuk mengatasi berbagai macam gangguan kejiwaan, dan gangguan psikologis (Campbell, 2010). Manfaat musik untuk kesehatan dan fungsi kerja otak telah diketahui sejak zaman dahulu. Para dokter dimasa Yunani dan Romawi kuno menganjurkan dengan metode

memalak, berkelahi, mengancam orang lain menggunakan senjata, menyerang orang lain (Keliat, 2010). Perilaku karena agresif takut, dapat disebabkan atau

penyembuhan

mendengarkan

frustasi,

manipulasi

permainan alat musik seperti harpa dan flute. Secara psikologis pengaruh penyembuhan musik pada tubuh adalah pada kemampuan

intimidasi. Perilaku agresif merupakan hasil

saraf

dalam

menangkap

efek

akustik.

kaya daripada variasi bunyi musik yang lainnya, karena musik klasik menyediakan variasi stimulasi yang sedemikian luasnya bagi pendengar (Campbell, 2010). METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian

Kemudian dilanjutkan dengan respon tubuh terhadap gelombang musik yaitu dengan meneruskan gelombang tersebut keseluruh sistem kerja tubuh. Efek terapi musik pada sistem limbik dan saraf otonom adalah menciptakan menyenangkan suasana rileks, aman, dan

sehingga

merangsang

Penelitian ini merupakan penelitian pre eksperimental dengan rancangan One-group Pre-test-posttest Design. Populasi dan sampel penelitian Populasi dalam penelitian ini adalah semua klien skizofrenia dengan masalah keperawatan gejala perilaku agresif yang dirawat di ruang Kunti RSJ Provinsi Bali. Sampel dalam penelitian ini adalah klien skizofrenia dengan masalah keperawatan gejala perilaku agresif yang dirawat di ruang Kunti RSJ Provinsi Bali yang memenuhi criteria inklusi sebanyak 20 sampel, dengan tehnik pengambilan sampel dalam penelitian adalah non probability sampling jenis Consecutive Sampling Metode Pengumpulan Data Saat pelaksanaan penelitian, peneliti

pelepasan zat kimia Gamma Amino Butyic Acid (GABA), enkefallin, atau beta endorphin yang dapat mengeleminasi neurotransmiter rasa tertekan, cemas, dan stres sehingga menciptakan ketenangan dan memperbaiki suasana hati (mood) pasien (Djohan, 2005) Musik yang dapat digunakan untuk terapi musik pada umumnya musik yang lembut, memiliki irama dan nada-nada teratur seperti instrumentalia atau musik klasik Mozart 4. Manfaat-manfaat musik klasik sudah banyak diketahui terutama karya Mozart. Terlepas dari banyaknya pro dan kontra tentang Efek Mozart (efek yang meningkatkan kecerdasan/IQ spasial),

beberapa penelitian menunjukkan bahwa musik Mozart bermanfaat dalam bidang kesehatan. Samuel Halim dalam penelitiannya menemukan bahwa musik Mozart dapat membantu penyembuhan penyakit Alzheimer. Musik klasik mempunyai perangkat musik yang beraneka ragam, sehingga di dalamnya terangkum warna-warni suara yang rentang variasinya sangat luas. Dengan kata lain, variasi bunyi pada musik klasik jauh lebih

dibantu oleh 2 orang Enumerator di ruang Kunti. Sebelum melaksanakan penelitian telah menyamakan pesepsi dengan enumerator, mengenai pelaksanaan terapi musik klasik. Menyeleksi berpedoman pada calon responden dengan kriteria inklusi dan

eksklusi, kemudian dilakukan bina hubungan saling percaya (BHSP) pada responden yang

telah memenuhi kreteria inklusi oleh peneliti dan dibantu oleh perawat ruangan. Setelah sampel didapatkan dilanjutkan dengan gejala perilaku agresif pada klien skizoprenia. Tehnik pengumpulan data

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden Karakteristik subyek penelitian

berdasarkan umur yang paling banyak adalah responden yang berumur 25-29 tahun yaitu 6 responden (40%), karakteristik subyek yang yang

dilakukan dengan melakukan observasi gejala perilaku agresif yang dialami oleh klien. Pelaksanaan terapi musik dilaksanakan di tiap-tiap ruangan dengan menggunakan panduan terapi musik klasik, pelaksanaan terapi musik klasik dilakukan sebanyak 7 kali dimana tiap pelaksanaan dilakukan selama 30 menit. Saat pelaksanaan terapi musik peneliti dibantu oleh 2 enumerator (perawat di Kunti). Setelah sampel diberikan perlakuan

penelitian berdasarkan pendidikan paling banyak adalah responden

berpendidikan menengah yaitu 9 responden (60%), karakteristik subyek penelitian

berdasarkan status perkawinan yang paling banyak adalah responden yang tidak kawin yaitu 10 responden (66,7). Hasil pengamatan terhadap obyek penelitian skor tertinggi perilaku agresif pada pasien skizofrenia sebelum diberikan terapi musik klasik adalah 16 sedangkan skor

berupa terapi musik klasik sebanyak 7 kali, selanjutnya kembali melakukan observasi gejala perilaku agresif yang dialami oleh klien dengan instrument dan metode yang sama saat pre test. Instrumen Pengumpulan Data Instrumen pengumpul data yang digunakan pada tahap pre test maupun post test adalah lembar observasi yang terdiri dari 20 item dengan pilihan observasi yaitu ya nilai 1 dan tidak nilai 0. Lembar Observasi ini disusun sendiri oleh peneliti mengacu pada teori gejala perilaku agresif menurut Keliat (2010) yaitu fisik, kognitif, emosional, perilaku dan sosial. Analisa Data Analisa data pada penelitian ini menggunakan uji Wilcoxon Sign Rank Test.

terendah 12. Setelah diberikan terapi musik klasik skor tertinggi 9 dan skor terendah 4. Hasil Analisis Data No 1 2 3 Perilaku Agresif pre test f Ringan 0 Sedang 11 Berat 4 Total 15 Perilaku sebelum agresif pasien % 0 73,3 26,7 100

skizofrenia klasik

diberikan

terapi

musik

sebagian besar dalam kategori sedang yaitu sebanyak 11 responden (73,3%).

No 1 2 3

Perilaku Agresif post Tes f Ringan 12 Sedang 3 Berat 0 Total 15 Perilaku agresif pasien

% 80,0 20,0 0 100

(2010) yang meneliti tentang pengaruh terapi musik klasik : beethoven pathetic sonata movement terhadap penurunan skor Auditory Hallucination Rating Scale (AHRS) pada pasien Skizofrenia dengan halusinasi auditori

skizofrenia

di RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang. Hasil penelitian menunjukkan sebelum

setelah diberikan terapi musik klasik sebagian besar dalam kategori ringan yaitu sebanyak 12 responden

diberikan terapi musik klasik : beethoven pathetic sonata movement didapatkan

sebagian besar yaitu 8 orang (80%) skor Perbandingan Variabel Gejala Perilaku Agresif pada Pasien Skizoprenia Pre Test - Gejala Perilaku Agresif pada Pasien Skizoprenia Post Test z p Auditory Hallucination Rating Scale (AHRS) pada pasien Skizofrenia dengan halusinasi 3,771 0,000 auditori dalam kategori tinggi. Menurut Keliat (2010) perilaku

kekerasan dapat disebabkan karena frustasi, takut, manipulasi atau intimidasi. Perilaku kekerasan merupakan hasil konflik emosional yang belum dapat diselesaikan. Perilaku kekerasan juga menggambarkan rasa tidak aman, kebutuhan akan perhatian dan

Hasil uji ini didapatkan hasil p = 0,000 < p = 0,010, nilai z = 3,771 berarti sangat signifikan yang artinya ada pengaruh yang sangat signifikan pemberian terapi musik klasik terhadap perubahan gejala perilaku agresif pada pasien skizoprenia di ruang Kunti RSJ Provinsi Bali tahun 2013. PEMBAHASAN 1. Perilaku agresif pada pasien skizoprenia sebelum diberikan terapi musik klasik Hasil penelitian yang didapat

ketergantungan pada orang lain. Pada pasien dengan perilaku kekerasan gejala yang dapat dilihat adalah muka merah, pandangan tajam, otot tegang, nada suara tinggi, berdebat dan sering pula tampak pasien memaksakan kehendak seperti merampas makanan,

menunjukkan bahwa perilaku agresif pasien skizofrenia sebelum diberikan terapi musik sebagian besar yaitu sebanyak 11 responden (73,3%) dalam kategori sedang. Peneliti belum menemukan hasil penelitian yang sama persis, tapi hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Susanti

memukul jika tidak senang. 2. Perilaku agresif pada pasien skizoprenia setelah diberikan terapi musik klasik Hasil penelitian yang didapat

menunjukkan bahwa perilaku agresif pasien skizofrenia setelah diberikan terapi musik sebagian besar yaitu sebanyak 12 responden

(80%) dalam kategori ringan. Peneliti belum menemukan hasil penelitian yang sama persis, tapi hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Susanti (2010) yang meneliti tentang pengaruh terapi musik klasik : beethoven pathetic sonata movement terhadap penurunan skor Auditory

perilaku agresif, memberikan rasa tenang, sebagai pendidikan moral, mengendalikan emosi, pengembangan spiritual dan

menyembuhkan gangguan psikologis. Terapi musik juga digunakan oleh psikolog maupun psikiater untuk mengatasi berbagai macam gangguan kejiwaan, dan gangguan psikologis. 3. Pengaruh terapi musik klasik terhadap perubahan gejala perilaku agresif pada pasien skizoprenia Hasil penelitian ini menunjukkan p = 0,000 < p = 0,010, yang artinya ada pengaruh yang sangat signifikan pemberian terapi musik klasik terhadap perubahan gejala perilaku agresif pada pasien skizoprenia di ruang Kunti RSJ Provinsi Bali tahun

Hallucination Rating Scale (AHRS) pada pasien Skizofrenia dengan halusinasi auditori di RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang. Hasil penelitian menunjukkan setelah

diberikan terapi musik klasik : beethoven pathetic sonata movement didapatkan

sebagian besar yaitu 9 orang (90%) skor Auditory Hallucination Rating Scale (AHRS) pada pasien Skizofrenia dengan halusinasi auditori dalam kategori rendah. Hasil penelitian yang didapat

2013tahun 2013. Peneliti belum menemukan hasil penelitian yang sama persis, tapi hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Susanti (2010) yang meneliti tentang pengaruh terapi musik klasik : beethoven pathetic sonata skor movement Auditory

menunjukkan setelah diberikan terapi musik perilaku agresif responden sebagian besar dalam kategori terapi ringan, musik hal ini dapat mampu

pemberian

klasik

menghadirkan perasaan rileks. Terapi musik klasik memberikan kesempatan bagi tubuh dan pikiran untuk mengalami relaksasi yang sempurna. Dalam kondisi relaksasi (istirahat) yang sempurna itu, seluruh sel dalam tubuh akan mengalami reproduksi, produksi hormon tubuh diseimbangkan dan pikiran mengalami penyegaran. Menurut Campbell, (2010) terapi musik merupakan salah satu bentuk dari tehnik relaksasi yang bertujuan untuk mengurangi

terhadap

penurunan

Hallucination Rating Scale (AHRS) pada pasien Skizofrenia dengan halusinasi auditori di RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang, adapun hasil penelitian didapatkan hasil yang signifikan yaitu p<0,05 (p =0,004) hal tersebut menunjukkan ada pengaruh terapi musik klasik : beethoven pathetic sonata movement terhadap penurunan skor Auditory Hallucination Rating Scale (AHRS) pada pasien Skizofrenia dengan halusinasi auditori.

Hal ini berarti terapi musik klasik dapat dipakai dalam penanganan perilaku agresif pada pasien skizofrenia. Menurut Djohan, (2005) secara

agresif pada pasien skizoprenia di ruang Kunti RSJ Provinsi Bali tahun 2013. Disarankan keperawatan RSJ kepada Provinsi managemen Bali agar

psikologis pengaruh penyembuhan musik pada tubuh adalah pada kemampuan saraf dalam menangkap efek akustik. Kemudian dilanjutkan dengan respon tubuh terhadap gelombang musik yaitu dengan meneruskan gelombang tersebut keseluruh sistem kerja tubuh. Efek terapi musik pada sistem limbik dan saraf otonom adalah menciptakan suasana rileks, aman, dan menyenangkan sehingga merangsang pelepasan zat kimia Gamma Amino Butyic Acid (GABA), enkefallin, atau beta endorphin yang dapat mengeleminasi neurotransmiter rasa tertekan, cemas, dan stres sehingga menciptakan ketenangan dan memperbaiki suasana hati (mood) pasien.

mempertimbangkan penggunaan terapi musik klasik sebagai alternative didalam

memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan perilaku agresif

DAFTAR PUSTAKA Campbell, 2010, Efek Mozart: Memanfaatkan Kekuatan Musik untuk Mempertajam Pikiran, Meningkatkan Kreativitas dan Menyehatkan Tubuh. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Djohan, 2005, Psikologi Musik: Cetakan ke2. Yogyakarta: Buku Baik. Djohan, 2006, Terapi Musik (teori dan aplikasi). Yogyakarta: Galang Press. Hadi, Sutrisno, 2002, Metodologi Research. Yogyakarta : Penerbit ANDI Hawari, 2009, Pendekatan Holistic pada Gangguan Jiwa Skizofrenia. Jakarta: EGC. Hidayat, A.A., 2007, Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah. Jakarta : Salemba Medika Intan, 2010, Pengaruh terapi perilaku kognitif pada klien skizoprenia dengan perilaku kekerasan, Tesis. Jakarta. FIK UI. Tidak dipublikasikan Isaacs, 2004, Panduan Belajar : Kesehatan Jiwa & Psikiatrik. Edisi 3. Jakarta : EGC. Kaplan dan Sadock, 2003, Sinopsis Psikiatri : Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri.

SIMPULAN DAN SARAN Perilaku agresif pada pasien skizofrenia sebelum diberikan terapi musik sebagian besar dalam kategori sedang yaitu sebanyak 11 orang (73,3%). Perilaku agresif pada pasien skizofrenia setelah diberikan terapi musik sebagian besar dalam kategori ringan yaitu orang (80%). Hasil penelitian didapatkan p = 0,000 < p 0,010, yang menunjukkan ada pengaruh yang sangat signifikan pemberian terapi musik klasik terhadap perubahan gejala perilaku sebanyak 12

Alih Bahasa Dr Wijadja Kusuma. Jakarta : Bina Rupa Aksara Kaplan dan Sadock, 2007, Sinopsis psikiatri: ilmu pengetahuan psikiatri klinis. (Jilid 2). Jakarta: Bina Rupa Aksara Kusumawati dan Yudi H., 2010, Buku ajar keperawatan jiwa. Jakarta : Selemba Medika. Keliat B.A, 2010, Model praktek keperawatan professional jiwa. Jakarta: EGC Maramis, 2008, Catatan ilmu kedokteran jiwa. Surabaya. Airlangga University Press. Nursalam, 2011, Konsep dan Penerapan Metodelogi Penelitian Ilmu Keperawatan. Edisi 2. Jakarta : Salemba Medika Rekam Medik Rumah Sakit Jiwa Propinsi Bali, 2012, Laporan Tahunan Rumah Sakit Jiwa Propinsi Bali. Bangli. Salampessy, 2008, Terapi dengan Musik. Jakarta: Interaksara. Sudiatmika, 2010, Efektivitas Cognitive Behaviour Therapy dan Rational Emotive Behaviour Therapy terhadap Klien dengan Perilaku Kekerasan dan Halusinasi di Rumah Sakit Marzoeki Mahdi Bogor. Tesis. Jakarta. FIK UI. Tidak dipublikasikan. Sugiyono, 2009, Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : CV Alfabeta Sujono dan Teguh P., 2009, Asuhan Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC Suryani, L. K., 2010, Skizofrenia. online. Available: www.gatra. com/ 20 Nopember 2012

Susanti, 2010, Pengaruh Terapi Musik Klasik : Beethoven Pathetic Sonata Movement Terhadap Penurunan Skor Auditory Hallucination Rating Scale (AHRS) pada pasien Skizofrenia dengan halusinasi auditori di RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang. Online) available : http://ebookbrowse.com/terapi-musikklasik-pada-gangguan-jiwa-pdfd407466061. 5 Febuari 2013 Stuart & Laraia, 2005, Principles and practice of psychiatric nursing. (7th edition). St Louis: Mosby. Townsend, M.C., 2005, Essentials of psychiatric mental health nursing. (3th Ed.). Philadelphia: F.A. Davis Company. Videbeck, 2008, Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC. Wahyuningsih D., 2009, Pengaruh assertive trainning terhadap perilaku kekerasan pada klien skizoprenia, Tesis. Jakarta. FIK UI. Tidak dipublikasikan. WHO, 2010, Improving health systems and services for mental health (Mental health policy and service guidance package). Geneva 27, Switzerland : WHO Press.