Anda di halaman 1dari 4

GAMBARAN PEMENUHAN KEBUTUHAN GIZI LANJUT USIA DI UPT PELAYANAN SOSIAL LANJUT USIA Cipto Marianto Sihombing*, Ismayadi

Beutra ** Mahasiswa Fakultas Keperawatan ** Dosen Departemen Keperawatan Komunitas Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara

Abstrak Gizi adalah asupan makanan yang mengandung kandungan vitamin , mineral protein, karbohidrat,untuk memenuhi kebutuhan sehari hari lanjut usia dalam menggantikan penurunan faal dan fungsi tubuh. Usia lanjut dikatakan sebagai tahap akhir perkembangan pada daur kehidupan manusia (Keliat, 1999 dalam Maryam, 2008). Sedangkan menurut UU No.13 Tahun 1998 Pasal 1 Ayat (2), (3), (4) tentang kesehatan dikatakan bahwa usia lanjut adalah seseorang yang telah mencapai usia lebih dari 60 tahun. Penelitian ini menggunakan desai deskriftif. Populasi dalam penelitian ini dengan jumlah 160 orang lanjut usia. Kata kunci gizi, lanjut usia Pendahuluan Gizi adalah asupan makanan yang mengandung kandungan vitamin , mineral protein, karbohidrat,untuk memenuhi kebutuhan sehari hari lanjut usia dalam menggantikan penurunan faal dan fungsi tubuh Usia lanjut dikatakan sebagai tahap akhir perkembangan pada daur kehidupan manusia (Keliat, 1999 dalam Maryam, 2008). Sedangkan menurut UU No.13 Tahun 1998 Pasal 1 Ayat (2), (3), (4) tentang kesehatan dikatakan bahwa usia lanjut adalah seseorang yang telah mencapai usia lebih dari 60 tahun 1. Protein Jika mengacu pada RDA (Requirement Daily Allowerss) besaran protein di patok pada angka 0,8 gr/kg BB/hari. Angka ini diperoleh dari perhitungan asupan energi sebesar 1900kkal (wanita) dan 2300 kkal (pria). Tanpa penyakit ginjal dan hati, diet protein harus mengontribusi energi sebesar 12 - 15% total asupan kalori. Dengan acuan ini jika asupan energi menurun tajam, asupan protein juga menurun tajam. Dengan demikian jumlah protein yang seharusnya dikonsumsi harus di hitung berdasarkan orang per-orang. Beberapa literatur bahkan menganjurkan kontribusi protein sebesar 20 - 25 %. 2. Lemak Asupan lemak dibatasi sampai sebesar 30% dari total energi ; sementara sisanya diupayakan dari karbohidrat. RDA. untuk asam esensial minimal sebanyak 2-3 %. Pembatasan lemak kurang dari 20% akan mempengaruhi mutu makanan karena kandungan asam lemak esensial berkurang. Kelebihan dan kekurangan lemak yang diwujudkan dalam bentuk kadar kolesterol darah, berdampak sama buruknya; angka kematian tertinggi bertengger di kedua titik ekstrem ini. . Karbohidrat Kebanyakan lansia mengkonsumsi zat karbohidrat hanya 45 - 50% dari seharasnya 55 - 60 % kalori total. Sebagian lansia

menderita kekurangan laktase. enzim yang berfungsi menghidrolisis laktosa. Ketiadaan proses hidrolisis akibat laktosa tidak bisa diserap. Laktosa dalam usus kemudian di metabolisme cleh bakteri dan menghasilkan gas. Gas ini berpotensi menimbulkan diare, kram, dan flatulens. Itulah sebabnya mengapa lansia enggan disuguhi susu. Keengganan ini patut disayangkan karena susu bernilai gizi tinggi. Ada baiknya dicarikan susu yang berkadar laktosa rendah. Pengurangan kandungan laktosa 20 - 30 % berdampak pada penyusutan gejala intoleransi laktosa. 4. Serat Salah satu gangguan yang sering kali dikeluhkan oleh lansia adalah sembelit. Gangguan ini akan timbul manakala frekuensi pergerakan usus berkurang yang akhirnya memperpanjang masa transit tinja. Semakin lama tinja tertahan dalam usus, konsistensinya semakin keras, dan akhirnya membatu sehingga susah dikeluarkan. Kejadian ini berpangkal pada kelemahan tonus otot dinding saluran cerna akibat penuaan (kegiatan fisik berkurang), serta reduksi asupan cairan dan serat 5. Vitamin Meskipun tampak sehat, kekurangan sebagian vitamin dan mineral tetap saja berlangsung pada lansia. Beberapa peneliti telah membuktikan terjadinya defesiensi vitamin B6, B12, dan vitamin D, dan asam folat. Defisit vitamin B6 di karenakan oleh rendahnya asupan dan kebutuhan akan zat ini 2.2.5. Pola Makan Dan Faktor Kultural Setiap orang mempunyai laju penuaan yang tidak sama sehingga penampilan flsiknya sering tidak mencerminkan usianya, dan penampiian yang lebih muda dan usianya merupakan suatu bonus yang diidam-idamkan cleh setiap orang. Beberapa penelitian mempelajari berbagai kelompok budaya atau masyarakai untuk mengetahui faktor - faktor apakah yang menyebabkan seseorang lebih lambat menjadi tua di bandingkan dengan yang lainnya

lebih tinggi. Sementara vitamin B12 dan asam folat mengalami kekurangan karena asupan berkurang dan gangguan penyerapan (malabsorbsi). Pedoman makanan yang sehat 1. Makanan yang beraneka ragam dan mengandung gizi yang cukup 2. Makanan yang mudah di kunyah dan di cerna 3. Protein yang berkualitas seperti susu daging, dan ikan 4. Sumber karbohidrat seperti roti, daging, dan sayur - sayuran berwarna hijau. Sebaiknya konsumsi karbohidrat kompleks 5. Makanan yang terutama mengandung lemak nabati serta kurangi makanan yang mengandung lemak hewani 6. Makanan yang mengandung zat besi seperti kacang - kacangan, hati, daging, bayam, sayuran hijau, dan makanan yang mengandung kalsium seperti ikan dan sayur - sayuran. 7. Minum air putih 6-8 gelas sehari karena kebutuhan air meningkat serta untuk memperlancar proses metabolisme. Banyak minum air putih dapat mencegah terjadinya dehidrasi (kekurangan cairan ) serta menurunkan resiko menderita batu ginjal.

Antioksidan dan zat gizi Di dalam tempe dan keledai terdapat beberapa senyawa yang memberikan khasiat seperti isoflavonoids, (daidzein, glisetein, dan genestein), vitamin B12, Dan hipokolesteremik. Isovlafonoids daam tempe berfungsi sebagai antioksidan, antihemolitik, dan antialergik. Perawatan Dasar Pada Lanjut Usia

Dukungan tentang personal hygiene, kebersihan gigi dan mulut atau pembersihan gigi palsu, kebersihan diri termasuk kepala, rambut, badan, kuku, mata serta telinga, kebersihan lingkungan seperti tempat tidur dan ruangan, makanan yang sesuai, misalnya porsi keci bergizi, dan mudah dicerna, dan kesegaran jasmani.

Karakteristik Lanjut usia Menurut (Keliat, 1999 dalam Jubaedi, 2008) sebagai berikut : 1. Berusia lebih cari 60 tahun (sesuai pasal 1 ayat 2 UU.No 13 tentang kesehatan) 2. Kebutuhan dan masalah yang bervariasi dan rentang sehat sakit, dari kebutuhan biopsikososial sampai spritual, serta dari kondisi adaptif hingga maladaptif 3. Lingkungan tempat tinggal yang bervariasi Usia sangat tua (very old) tahun. = di atas 90

Perawatan lanjut Usia 1. Pendekatan Psikis 2. Pendekatan fisik 3. Pendekatan Sosial 4. Pendekatan Spritual Perubahan - perubahan umum pada lanjut Usia Bagian kepala, bagian tubuh, bagian persediaan. Faktor faktor yang mempengaruhi ketuaan 1. Herediter = keturunan/genetik 2. Nutrisi = makanan 3. Status kesehatan 4. Pengalaman hidup 5. Lingkungan 6. Stres

Masalah masalah dan penyakit pada lanjut usia 1. mudah lelah 2. mudah jatuh 3. kekacauan mental akut 4. nyeri dada 5. sesak nafas pada waktu melakukan kerja fisik 6. berdebar-debar (palpitasi) 7. perkembangan kaki bagian bawah 8. nyeri pinggang atau punggung

Batasan batasan lanjut usia 1. Menurut Worl Health Organisation Usia pertengahan (middle age) ialah kelompok usia 45 sampai 59 tahun. Lanjut usia (elderly) antara 60 sampai 74 tahun Lanjut usia tua (old) sampai 90 tahun =

9. nyeri pada sendi pinggul 10. berat badan menurun 11. sukar menahan buanag air besar (sering ngompol) sukar manahan buang air besa 13. gangguan pada ketajaman penglihatan 14. gangguan pada pendengaran

= antara 76

15. gangguan tidur (sulit tidur) 16. keluhan pusing-pusing 17. keluhan perasaan dingin-dingin dan kesemutan pada anggota tubuh 18. mudah gatalgatal Penyakit lanjut usia 1. Penyakit-penyakit sistem pernafasan 2. Penyakit-penyakit sistem cardiovaskuler 3. Penyakit pencernaan makanan 4. Penyakit sistem urogenital 5. Penyakit gangguan metabolik/endokrin 6. Penyakit pada persendian tulang 7. Penyakit-penyakit yang disebapkan oleh proses keganasan 8. Klasifikasi Lanjut Usia 9. Klasifikasi lansia ini adalahlima klasifikasi pada lansia 10. 1. Pralansia (Prasenilis) 11. Seseorang yang berusia antara 45 59 tahun.

19. 20. 21. 22. 23. 24. 25.

Menghasilkan barang/jasa (Depkes RI, 2003) dalam Rosidawati, 2008). Lansia yang mampu melakukan pekerjaan dan/atau kegiatan yang dapat dilakukan Lansia tidak potensial Lansia yang tidak berdaya mencari nafkah, sehingga hidupnya bergantung pada bantuan orang lain (Depkes RI, dalam Rosidawati, 2008)

12. 2. Lansia 13. Seseorang yang berusia antara 4559 tahun

14. 3. Lansia resiko tinggi 15. 16. 17. 18. Seseorang yang beresiko 70 tahun atau lebih/seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih dengan masalah kesehatan (Depkes RI, 2003 dalam Rosidawati, 2008) Lansia potensial