Anda di halaman 1dari 15

KAJIAN PERBANDINGAN

KARAKTERISTIK PENDIDIKAN ISLAM DAN BARAT


Oleh: Yun Yun Yunadi

Salah satu unsur pembangun peradaban bangsa adalah melalui pendidikan.


Sedangkan hasil akhir sebuah pendidikan tergantung pada tujuan awal
pendidikan itu sendiri. Islam dan Barat memiliki pandangan berbeda
mengenai hal tersebut. Paham rasionalisme yang berkembang di Barat
dijadikan dasar pijakan bagi konsep-konsep pendidikan Barat. Ini jauh
berbeda dengan Islam yang memiliki al-Qur’an, Sunnah dan Ijtihad para
ulama sebagai konsep pendidikannya. Hal inilah yang membedakan ciri
pendidikan yang ada di Barat dengan pendidikan Islam. Masing-masing
peradaban ini memiliki karakter yang berbeda sehingga produk yang
‘dihasilkan’ pun saling memiliki ciri.

Kata Kunci: pendidikan Islam, religius, filsafat, rasionalisme, kapitalisme,


sekularisme, materialistik

Pendahuluan
Pendidikan memiliki ragam dalam definisinya. Menurut kamus besar
Bahasa Indonesia (1989), pendidikan adalah proses mengubah sikap dan
tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan
manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan (proses, perbuatan, dan
cara mendidik).1 Dalam Undang-Undang RI Nomor 20 tahun 2003 Bab I
Pasal 1 ayat (1), pendidikan diartikan sebagai usaha sadar dan terencana
untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta
didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan
spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak
mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan
negara.2
Seorang tokoh pendidikan Barat, John Dewey mengatakan bahwa
pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan fundamental, secara
intelektual dan emosional, ke arah alam sesama manusia.3 Dari
pendidikanlah seseorang mengalami proses pengembangan kemampuan,
sikap, dan tingkah laku lainnya dalam masyarakat tempat mereka hidup.

1
Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989)
2
Undang-Undang Republik Indonesia, No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional, Bandung: Fokus Media, 2003
3
Khurshid Ahmad, Prinsip-Prinsip Pendidikan Islam (terj. M. Hashem), Bandung,
1958, hal. 9
Proses sosial yang terjadi ini dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang
terpilih dan terkontrol (khususnya yang datang dari sekolah) sehingga
mereka dapat memperoleh perkembangan kemampuan sosial dan
kemampuan individual yang optimal. Pendidikan juga dipengaruhi oleh
lingkungan individu untuk menghasilkan perubahan-perubahan yang
sifatnya permanen dalam tingkah laku, pikiran dan sikapnya.
Pendidikan dapat ditinjau dari dua segi; pertama, dari sudut
pandangan masyarakat, dan kedua, dari segi pandangan individu. Dari segi
pandangan masyarakat, pendidikan berarti pewarisan kebudayaan dari
generasi tua kepada generasi muda agar hidup masyarakat tetap berlanjutan.
Atau dengan kata lain, masyarakat mempunyai nilai-nilai budaya yang ingin
disalurkan dari generasi ke generasi agar identitas masyarakat tersebut tetap
terpelihara. Sedangkan dari sudut pandang individu, pendidikan berarti
pengembangan potensi-potensi yang terpendam dan tersembunyi.4 Hal ini
selaras dengan pendapat Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara,
yang sudah sejak lama menyatakan bahwa pendidikan umumnya untuk
memajukan budi pekerti (kekuatan batin, pikiran (intellect) dan jasmani
anak-anak, selaras dengan alam dan masyarakatnya.5
Definisi-definisi yang dikemukakan oleh para tokoh di atas memiliki
kesamaan pandangan dan mengarah pada satu tujuan tertentu, yaitu
pendidikan yang dilakukan oleh suatu bangsa merupakan suatu proses
dalam mempersiapkan generasi mudanya untuk menjalankan kehidupan dan
memenuhi tujuan hidup secara efektif dan efesien. Maka, berdasarkan
pemahaman tersebut, ciri-ciri pendidikan adalah pendidikan mengandung
tujuan, yaitu kemampuan untuk berkembang sehingga bermanfaat untuk
kepentingan hidup. Kemudian,untuk mencapai tujuan tersebut, pendidikan
melakukan usaha yang terencana dalam memilih isi (materi), strategi, dan
teknik penilaian yang sesuai. Sedangkan kegiatan pendidikan dapat
dilakukan dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat (formal dan
non formal).6
Oleh karena itu, pendidikan mengandung pokok-pokok penting,
sebagai berikut7:
1. Pendidikan adalah proses pembelajaran

4
Prof. Dr. Hasan Langgulung, Asas-Asas Pendidikan Islam, Jakarta: P.T. Husana Zikra,
2000, hal. 1
5
Ki Hajar Dewantara, Masalah Kebudayaan: Kenang-Kenangan Promosi Doctor
Honoris Causa, Yogyakarta, 1967, hal. 42
6
Eti Rochaety, Pontjorini (dkk), Sistem Informasi Manajemen Pendidikan, Jakarta: Bumi
Aksara, 2006, hal.7
7
Umberta Sihombing, Menuju Pendidikan Bermakna Melalui Pendidikan Berbasis
Masyarakat, Konsep, strategi dan Pelaksanaan, Jakarta: Multiguna, 2002, hal. 10
2. Pendidikan adalah proses sosial
3. Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia
4. Pendidikan berusaha mengubah atau mengembangkan
kemampuan, sikap dan perilaku positif
5. Pendidikan merupakan perbuatan atau kegiatan sadar
6. Pendidikan memiliki dampak pada lingkungan
7. Pendidikan berkaitan dengan cara mendidik
8. Pendidikan tidak berfokus pada pendidikan formal.
Jadi, Pendidikan merupakan sebuah proses, bukan hanya sekedar
mengembangkan aspek intelektual semata atau hanya sebagai transfer
pengetahuan dari satu orang ke orang lain saja, tapi juga sebagai proses
transformasi nilai dan pembentukan karakter dalam segala aspeknya.8
Dengan kata lain, pendidikan juga ikut berperan dalam membangun
peradaban dan membangun masa depan bangsa.

Pengertian Pendidikan Islam


Para tokoh pendidikan muslim memiliki pengertian masing-masing
tentang pendidikan Islam. Salah satunya adalah pandangan modern seorang
ilmuwan muslim Bangladesh, DR. Muhammad S.A Ibrahimy,
mengungkapkan pengertian pendidikan Islam yang berjangkauan luas,
sebagai berikut9:
Islamic education in true sense of the term, is a system of education
which enables a man to lead his life according to the Islamic
ideology, so that he maay easly mould his life in accordancewith
tenets of Islam. And thus peace and prosperety may prevail in his
own life as well as in the whole world. This Islamic scheme of
education is, of necessity an all embracing system, for Islam
encompasses the entire gamut of a muslems life. It can justly be said
that all brances of learnng which are not Islamic are included in the
Islamic education. The scope of Islamic education has been
changing at different times. In aview of the demands of the age and
the development of science and technologi, its scope has also
wideded
Menurutnya, napas keislaman dalam pribadi seorang muslim
merupakan elan vitale yang menggerakan perilaku yang diperkokoh dengan
ilmu pengetahuan yang luas. Sehingga ia mampu memberikan jawaban yang
tepat guna terhadap tantangan perkembangan ilmu dan teknologi.
8
Dodi Nandika, Pendidikan di Tengah Gelombang Perubahan, Jakarta: Pustaka LP3ES,
2007, hal. 15
9
Prof. H.M. Arifin, M.Ed., Kapita Selekta Pendidikan (Islam dan Umum), Jakarta: Bumi
Aksara, 2000, hal. 4
Sedangkan DR. Yusuf Qaradhawi memberikan pengertian pendidikan
Islam sebagai pendidikan manusia seutuhnya; akal dan hatinya, rohani dan
jasmaninya; akhlak dan keterampilannya. Pendidikan Islam menyiapkan
manusia untuk hidup, baik dalam perang, dan menyiapkan untuk
menghadapi masyarakat dengan segala kebaikan dan kejahatannya, manis
dan pahitnya.10 Menurut DR. Mohammad Natsir, maksud ‘didikan’ di sini
ialah satu pimpinan jasmani dan ruhani yang menuju kepada kesempurnaan
dan kelengkapan arti kemanusiaan dengan sesungguhnya.11
Selain itu, Prof. DR. Hasan Langgulung merumuskan pendidikan
Islam sebagai proses penyiapan generasi muda untuk mengisi peranan,
memindahkan pengetahuan dan nilai-nilai Islam yang diselaraskan dengan
fungsi manusia untuk beramal di dunia dan memetik hasilnya di akhirat.12
Oleh karenanya, proses tersebut berupa bimbingan (pimpinan, tuntunan,
usulan) oleh subjek didik terhadap perkembangan jiwa (pikiran, perasaan,
kemauan, intuisi dan lain sebagainya) dan raga objek didik dengan bahan-
bahan materi tertentu dan dengan alat perlengkapan yang ada ke arah
terciptanya pribadi tertentu disertai evaluasi sesuai dengan ajaran Islam.13
Islam yang diwahyukan kepada Rasulullah Muhammad mengandung
implikasi kependidikan yang bertujuan untuk menjadi rahmatan lil ‘alamin.
Di dalamnya terkandung suatu potensi yang mengacu kepada dua fenomena
perkembangan14, yaitu:
1. Potensi psikologis dan pedagogis yang mempengaruhi manusia
untuk menjadi sosok pribadi yang berkualitas bijak dan
menyandang derajat mulia melebihi makhluk-makhluk lainnya.
2. Potensi perkembangan kehidupan manusia sebagai ‘khalifah’ di
muka bumi yang dinamis dan kreatif serta responsif terhadap
lingkungan sekitarnya, baik yang alamiah maupun yang
ijtima'iyah dimana Tuhan menjadi potensi sentral
perkembangannya.
Dari pendapat-pendapat para tokoh Islam di atas terlihat perbedaan
yang mendasar antara pendidikan pada umumnya dengan pendidikan Islam.
Perbedaan yang menonjol adalah bahwa pendidikan Islam, bukan hanya
mementingakan pembentukan pribadi untuk kebahagiaan dunia, tetapi juga

10
Yusuf Qardhawi, Pendidikan Islam dan Madrasah Hasan al-Banna, (terj. Bustani A.
Gani dan Zainal Abidin Ahmad), Jakarta: Bulan Bintang, 1980, hal. 39
11
Mohammad Natsir, capita selecta, Bandung, Granvenhage, 1954, hal. 87
12
Prof. Dr. Hasan Langggulung, Beberapa Pemikiran Tentang Pendidikan Islam,
Bandung: al-Ma'arif, 1980, hal. 94
13
Endang Saefuddin Anshari, Pokok-pokok Pikiran Tentang Islam, Jakarta: Usaha
Interprise, 1976, 1976, hal. 85
14
Prof. H.M. Arifin, M.Ed. Kapita Selekta, hal. 2
untuk kebahagiaan di akhirat. Lebih dari itu, pendidikan Islam berusaha
membentuk pribadi yang bernafaskan ajaran-ajaran Islam, sehingga pribadi-
pribadi yang terbentuk itu tidak terlepas dari nilai-nilai agama. Hal ini
mendorong perlunya mengetahui tujuan-tujuan pendidikan Islam secara
jelas.
Adapun tujuan-tujuan pendidikan yang dimaksud adalah perubahan-
perubahan pada tiga bidang asasi, yaitu15:
a. Tujuan-tujuan individual yang berkaitan dengan individu-individu,
pelajaran (learning) dengan kepribadian-kepribadian mereka dan apa
yang berkaitan dengan individu-individu tersebut, seperti perubahan
yang diinginkan pada tingkah laku, aktivitas dan pencapainnya, dan
pada pertumbuhan yang diinginkan pada pribadi mereka, serta pada
persiapan yang dimestikan kepada mereka pada kehidupan dunia dan
akhirat.
b. Tujuan sosial yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan
keseluruhan tingkah laku masyarakat umumnya, serta tentang
perubahan yang diinginkan terkait dengan kehidupan dan
pertumbuhan memperkaya pengalaman dan kemajuan yang
diinginkan.
c. Tujuan-tujuan profesional yang berkaitan dengan pendidikan dan
pengajaran sebagai ilmu, sebagai seni, sebagai profesi dan sebagai
suatu aktifitas di antara aktifitas-aktifitas masyarakat.
Meski demikian tujuan akhir pendidikan Islam tidak lepas dari tujuan
hidup seseorang Muslim. Pendidikan Islam itu sendiri hanyalah suatu sarana
untuk mencapai tujuan hidup Muslim, bukan tujuan akhir (QS. Al-Dzariat:
56). Tujuan hidup Muslim ini pula yang menjadi tujuan pendidikan di dunia
Islam sepanjang sejarahnya, semenjak jaman Nabi Muhammad saw hingga
sekarang. Dan di dalam World Conference on Muslim Education yang
pertama di Mekkah, 31 Maret-8 April 1977 lebih dipertegas lagi dan diberi
definisi sebagai berikut:
Education should aim at balanced growth of the total personality of
man through the training of man's spirit, intellect, the rational self,
feeling and bodily senses. Education should therefore cater for the
growth of man in all its aspects, spiritual, intelectual, imaginative,
physical, scinentific, linguistic, both individually and collectively and
motivate all these aspects toward goodness and attainment of
perfection. The ultimate aim of Muslim education lies in the

15
Prof. Dr. Omar Mohammad Al-Toumy al-Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam, Ja
karta: Bulan Bintang, 1979, hal. 399
realization of complete submission to Allah on the level of idividual,
the community and humanity at large16

Tujuan pendidikan Islam yang ingin dicapai tentunya harus


berangkat dari dasar-dasar pokok pendidikan dalam ajaran Islam, yaitu
keutuhan (syumuliah), keterpaduan, kesinambungan, keaslian, bersifat
praktikal, kesetiakawanan dan keterbukaan.17 Dan yang paling penting
adalah tujuan pendidikan tersebut dapat diterjemahkan secara operasional ke
dalam silabus dan mata pelajaran yang diajarkan di berbagai tingkat
pendidikan, rendah, menengah dan perguruan tinggi, malah juga pada
lembaga-lembag pendidikan non formal.

Karakteristik Pendidikan Islam


Menurut Prof. Dr. Azyumardi Azra, ada beberapa karakteristik
pendidikan Islam, yaitu18 pertama, Penguasaan Ilmu Pengetahuan. Ajaran
dasar Islam mewajibkan mencari ilmu pengetahuan bagi setiap Muslim dan
muslimat. Setiap Rasul yang diutus Allah lebih dahulu dibekali ilmu
pengetahuan, dan mereka diperintahkan untuk mengembangkan llmu
pengetahuan itu. Hal ini sesuai hadits Rasulullah saw19,

‫طلب العلم فريضة على كل مسلم ومسلمة‬


Kedua, Pengembangan Ilmu Pengetahuan. Ilmu yang telah dikuasai
harus diberikan dan dikembangkan kepada orang lain. Nabi Muhammad
saw sangat membenci orang yang memiliki ilmu pengethauan, tetapi tidak
mau memberi dan mengembangkan kepada orang lain (HR. Ibn al-Jauzy) 20.

‫كاتم العلم يلعنه كل شيء حتى الحوت في البحر والطير في السماء‬


Ketiga, penekanan pada nilai-nilai akhlak dalam penguasaan dan
pengembangan ilmu penetahuan. Ilmu pengetahuan yang didapat dari
pendidikan Islam terikat oleh nilai-nilai akhlak21.

16
Second Word Conference on Muslim Education under the auspices of king Abdul Azis
University & Quaid-Izzam University, 15th-20th march 1980 in Islamabad
17
Prof. Hasan Langgulung, Peralihan Paradigma dalam Pendidikan Islam dan Sains
Sosial, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2002, hal. 28
18
Prof. Azyumardi Azra, Esai-Esai Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam, Jakarta: PT.
LOGOS Wacana Ilmu, 1999, hal. 12
19
Imam Jamaluddin Abdurrahman ibn Abi Bakr al-Sayuty, al-Jamî' al-Shaghr fî al-Hadîts
al-Basyîr al-Nâzhir, Kairo: Dâr al-Katîb al-‘Arabî, 1967, hal. 194
20
Sayyid Ahmad al-Hasyimi Bek, Mukhtar al-Hadîts Nabawiyyah, Kairo: Maktabah al-
Hijazi,1948, hal. 128
21
Ibid., hal. 92
‫إنما بعثت لتمم مكارم الخلق‬
Keempat, penguasaan dan pengembangan ilmu pengetahuan, hanyalah
untuk pengabdian kepada Allah dan kemaslahatan umum, seperti pada
hadits riwayat Abu al-Hasan Bin Khazem bin Anas22,

‫تعلموا من العلم فو ال ل تؤجرون بجميع العلم حتى تعملوا‬


Kelima, penyesuaian terhadap perkembangan anak. Sejak awal
perkembangan Islam, pendidikan Islam diberikan kepada anak sesuai umur,
kemampuan, perkembangan jiwa, dan bakat anak. Setiap usaha dan proses
pendidikan haruslah memperhatikan faktor pertumbuhan anak. Ali bin Abi
Thalib sebagaimana dikutif Fazhur Rahman berkata23:
Heart of people have desires and aptitudes; sometimes they are ready
to listen and others time are not. Enter to people's hearts through
their aptitudes. Talk to them when they ready to listen. For the
condition of heart is such that you force to do something, then it
becomes blind (and refuses to accept it).
Keenam, pengembangan kepribadian. Bakat alami dan keampuan
pribadi tiap-tiap anak didik diberikan kesempatan berkembang sehingga
bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat. Setiap murid dipandang sebagai
amanah Tuhan, dan seluruh kemampuan fisik & mental adalah anugerah
Tuhan. Perkembangan kepribadian itu berkaitan dengan seluruh nilai sistem
Islam, sehingga setiap anak dapat diarahan untuk mencapai tujuan Islam.24
Ketujuh, penekaanan pada amal saleh dan tanggung jawab. Setiap
anak didik diberi semangat dan dorongan untuk mengamalkan ilmu
pengetahuan sehingga benar-benar bermanfaat bagi diri, keluarga dan
masyarakat secara keseluruhan. Amal shaleh dan tanggung jawab itulah
yang menghantarkannya kelak kepada kebahagiaan di hari kemudian kelak
(HR. Muslim).

‫ صبدفة جاريبة أو عمبل ينتفبع ببه‬: ‫إذا مات النسبان انقطبع عمله إل مبن ثلث‬
‫وولد صالح يدعوله‬
Dengan karakteristik-karakteristik pendidikan tersebut tampak jelas
keunggulan pendidikan Islam dibanding dengan pendidikan lainnya.
Karena, pendidikan dalam Islam mempunyai ikatan langsung dengan nilai-
nilai dan ajaran Islam yang mengatur seluruh aspek kehidupannya.
22
Ibid., hal. 71
23
Fazlur Rahman, Islam, Ideologi and The Way of Life, Singapore: Pustaka Nasional,
1980, hal. 71
24
Sayyid Ahmad al-Hasyimi Bek, Mukhtar al-Hadîts, hal. 18
Pengertian Pendidikan Barat
Seperti yang ditulis sebelumnya bahwa tujuan pendidikan itu tidak
bisa lepas dari tujuan hidup manusia. Sebab pendidikan hanyalah suatu alat
yang digunakan oleh manusia untuk memelihara kelanjutan hidupnya
(survival), baik sebagai individu maupun sebagai masyarakat. Dengan
begitu tujuan pendidikan harus berpangkal pada tujuan hidup.
Di Barat, pendidikan menjadi ajang pertarungan ideologis dimana apa
yang menjadi tujuan pendidikan – secara tidak langsung merupakan tujuan
hidup – berbenturan dengan kepentingan-kepentingan lain25. Di sinilah
perbedaan pendapat para filosof Barat dalam menetapkan tujuan hidup.
Orang-orang Sparta salah satu kerajaan Yunani lama dahulu berpendapat
bahwa tujuan hidup adalah untuk berbakti kepada negara, untuk
memperkuat negara. Dan pengertian kuat menurut orang-orang Sparta
adalah kekuatan fisik. Oleh sebab itu tujuan pendidikan Sparta adalah
sejajar dengan tujuan hidup mereka, yaitu memperkuat, memperindah dan
mempertegus jasmani. Oleh sebab itu orang-orang yang kuat jasmaninya,
bisa berkelahi dengan harimau dan singa disanjung-sanjung, dianggap
pahlawan di masyarakat Sparta.
Sebaliknya orang Athena, juga salah satu kerajaan Yunani lama,
berpendapat bahwa tujuan hidup adalah mencari kebenaran (truth), dan
kalau bisa menyirnakan diri pada kebenaran itu. Tetapi apakah kebenaran
itu? Plato lebih dulu mengandaikan bahwa benda, konsep-konsep dan
lainnya bukanlah benda sebenarnya. Dia sekedar bayangan dari benda
hakiki yang wujud di alam utopia. Manusia terdiri dari roh dan jasad. Roh
itulah hakikat manusia, maka segala usaha untuk membersihkan,
memelihara, menjaga dan lain-lain roh itu disebut pendidikan.
Madzhab-madzhab pendidikan eropa Barat dan Amerika sesuah
Decartes (1596-1650) mengambil dari kedua madzhab Yunani lama tersebut,
dan semua madzhab beranggapan bahwa dunia inilah tujuan hidup sehingga
ada yang mengingkari sama sekali wujud Tuhan dan hari akhir.26 Ada
madzhab rasionalisme yang berpangkal pada Plato, Aristoteles, Descartes,
Kant, dan lainnya; ada madzhab impirisme yang dipelopori oleh John Locke
yang terkenal dengan kerta putih (tabu rasa); ada madzhab progressivisme
yang dipelopori oleh John Dewey yang berpendapat bahwa tujuan
pendidikan adalah lebih banyak pendidikan; ada madzhab yang berasal dari
sosiolog, yaitu sosiologi pengetahuan yang menitik beratkan budaya;
25
Nurani Soyomukti, Pendidikan Berperspektif Globalisasi, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media
group, 2008, hal. 59
26
Ibid., 130
selanjutnya ada madzhab fenomenologi atau eksistensialisme yang
beranggapan bahwa pendidikan seharusnya bersifat personal, oleh sebab itu
sekolah tidak ada gunannya dan harus dibubarkan.27 Hal ini tercermin dalam
firman Allah SWT yang menggambarkan orang-orang Dahriyyun
(Naturalist), “Mereka berkata tidak ada hidup kecuali hidup kita di dunia
ini. Kita mati kita hidup, tidak ada yang membinasakan kita kecuali masa.
Sedangkan mereka dalam hal ini tidak tahu apa-apa. Mereka hanyalah
menyangka-nyangka” (QS.45:23).
Tokoh pendidikan Barat, John Dewey berpendapat tentang tujuan
pendidikan berdasarkan pada pandangan hidup,
"Since there is nothing to which growth is relative save more growth,
there is nothing to which education is subordinate save more
education. The education process has no end beyond itself – it is its
own end"28
Madzhab yang dibawa oleh Dewey ini terkenal dengan nama
Pragmatisme dalam falsafah, sedangkan dalam pendidikan disebut
Progressivisme yang terlalu menitik beratkan kepada kegunaan (utilitarian).
Hegemoni peradaban Barat boleh dikata hampir lengkap terutama
sekali dalam bidang pendidikan. Volume penyelidikan dalam berbagai aspek
pendidikan sangat mengagumkan. Disamping itu kemajuan yang telah
dicapainya memberi pengaruh pada masyarakat dunia umumnya – hal yang
membanggakan kalangan elit yang memerintah dan masyarakat Barat. Pada
abad ke-21 ini, orientasi tujuan pendidikan Barat mulai beralih pada usaha
mencari keuntungan dengan jalan apa pun, yang bermakna eksploitasi,
kekuasaan, pertarungan, teror dan pembunuhan.29
Melalui pendidikan, kaum pemodal (kapitalis) dan pedagang
menyebarkan paham rasionalisme dan liberalisme untuk melawan tatanan
feodal (kerajaan) yang ada dan menghalangi perkembangan kapital untuk
mencari keuntungan. Dalam masyarakat kapitalistik dewasa ini, begitu
mudahnya suatu kelas sosial mendapatkan apa saja yang menjadi
kebutuhannya dan kehendak bebasnya (free will), dan hampir dengan cara
apa pun.
Paul Johnson, seorang ahli sejarah Inggris mengakui dilema moral
yang dihadapi oleh kapitalisme, namun menurutnya kapitalisme adalah
sebuah kekuatan natural bukan ideologi yang dibuat-buat. Ia berasal dari

27
Prof. DR. Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan, Suatu Analisa Psikologis,
Falsafat dan Pendidikan, Jakarta: PT. Pustaka Al-Husna Baru, 2004, hal.128
28
John Dewey, Democracy and Education, London: Mac. Milan, 1916.
29
Prof. Hasan Langgulung, Peralihan Paradigma, hal. 18
naluri yang masuk ke dalam sifat manusia dan selalu merubah diri, serta
akan menggantikan sesuatu yang berbeda secara fundamental. Namun,
usaha Johnson untuk mencari solusi terhadap dilema moral dari kapitalisme
tidak pernah jauh dari akar warisan peradaban Barat. Menurutnya, “kita
berada pada sistem etika Yahudi-Kristen yang mengharuskan kita memiliki
idea-ide yang subur dalam pertempuran pemikiran di masa datang.
Di tengah-tengah pesta pora kemenangan kapitalisme dan semua
subsistemnya, muncul kesadaran yang mendalam dan jujur tentang
kegagalan yang dihadapi Barat, terutama dalam bidang fisafat pendidikan
dan lembaga pendidikan. Dalam buku The Cultural Contradisional of
Capitalism, Daniel Bell (1976) menulis sebagai berikut,
Dalam budaya, sebagaimana juga dalam politik, liberalisme sekarang
ini menghadapi rintangan berat ... Tatanan sosial yang tidak memiliki
ciri, baik budaya yang merupakan pernyataan simbolik terhadap
vitalitas manapun, atau pendorong yang bersifat motivasi atau
kekuatan pemersatu.30
Analis Bell tentang penyakit kapitalisme berkisar pada apa yang
disebut disjuction of realm, yaitu ketegangan antara hal-hal yang bersifat
ekonomi, budaya dan politik. Tokoh Barat lainnya, Alam Bloom
meringkaskan sistem pendidikan Amerika, yaitu filsafat, asas-asas dan
kurikulum dalam bukunya berjudul Closing of America Mind. Menurutnya,
relativisme dan pragmatisme menguasai pentas budaya dan pendidikan
Barat. Seperti dinyatakan oleh Bloom bahwa hampir setiap pelajar di Barat
(AS) percaya kebenaran itu relatif dengan latar belakang para pelajar –
Sebagian agamis, sebagian atheis, sebagian condong ke kiri, yang lain ke
kanan, sebagian miskin, sedangkan yang lain kaya. Mereka hanya bersatu
dalam relativisme dan kesetiaan pada persamaan.31

Karakteristik Pendidikan Barat


Dalam pendidikan Barat, ilmu tidak lahir dari pandangan hidup agama
tertentu dan diklaim sebagai sesuatu yang bebas nilai. Namun sebenarnya
tidak benar-benar bebas nilai tapi hanya bebas dari nilai-nilai-nilai
keagamaan dan ketuhanan. Menurut Naquib al-Attas, ilmu dalam peradaban
Barat tidak dibangun di atas wahyu dan kepercayaan agama namun
dibangun di atas tradisi budaya yang diperkuat dengan spekulasi filosofis
yang terkait dengan kehidupan sekular yang memusatkan manusia sebagai
makhluk rasional. Akibatnya, ilmu pengetahuan serta nilai-nilai etika dan

30
Ibid., hal. 276
31
Ibid., hal. 276
moral, yang diatur oleh rasio manusia, terus menerus berubah32. Sehingga
dari cara pandang yang seperti inilah pada akhirnya akan melahirkan ilmu-
ilmu sekular.
Masih menurut al-Attas, ada lima faktor yang menjiwai budaya dan
peradaban Barat, pertama, menggunakan akal untuk membimbing
kehidupan manusia; kedua, bersikap dualitas terhadap realitas dan
kebenaran; ketiga, menegaskan aspek eksistensi yang memproyeksikan
pandangan hidup sekular; empat, menggunakan doktrin humanisme; dan
kelima, menjadikan drama dan tragedi sebagai unsur-unsur yang dominan
dalam fitrah dan eksistensi kemanusiaan33. Kelima faktor ini amat
berpengaruh dalam pola pikir para ilmuwan Barat sehingga membentuk pola
pendidikan yang ada di Barat.
Ilmu yang dikembangkan dalam pendidikan Barat dibentuk dari acuan
pemikiran falsafah mereka yang dituangkan dalam pemikiran yang
bercirikan materialisme, idealisme, sekularisme, dan rasionalisme.
Pemikiran ini mempengaruhi konsep, penafsiran, dan makna ilmu itu
sendiri. René Descartes misalnya, tokoh filsafat Barat asal Perancis ini
menjadikan rasio sebagai kriteria satu-satunya dalam mengukur kebenaran.
Selain itu para filosof lainnya seperti John Locke, Immanuel Kant, Martin
Heidegger, Emillio Betti, Hans-Georg Gadammer, dan lainnya juga
menekankan rasio dan panca indera sebagai sumber ilmu mereka, sehingga
melahirkan berbagai macam faham dan pemikiran seperti empirisme,
humanisme, kapitalisme, eksistensialisme, relatifisme, atheisme, dan
lainnya, yang ikut mempengaruhi berbagai disiplin keilmuan, seperti dalam
filsafat, sains, sosiologi, psikologi, politik, ekonomi, dan lainnya34.

Perbandingan Karakteristik Pendidikan Islam dan Barat


Menurut Pervez Hoodbhoy35, perbedaan pendidikan Islam dan Barat
bukan pada istilah pendidikan keagamaan tradisional dan pendidikan
sekular modern, karena kedua jenis pendidikan tersebut menyandarkan diri
pada dua filsafat pendidikan yang sama sekali berbeda dan mempunyai dua
perangkat tujuan dan metode yang juga berbeda.
Berikut ini akan ditujukan perbedaan antara versi pendidikan religius
tradisional, yang murni dan karenanya teoritis, dan versi pendidikan modern
yang dijadikan pembanding.
32
Adnin Armas, MA, Westernisasi dan Islamisasi Ilmu, dalam Majalah ISLAMIA, Thn. I,
No.6, Juli-September 2005, hal.12
33
ibid., hal.13
34
ibid.
35
Pervez Hoodbhoy, Islam dan Sains Pertarungan Menegakkan Rasionalitas, Bandung:
Penerbit Pustaka, 1997, hal. 158.
Pendidikan Religius Tradisional Pendidikan Sekuler Moder
1 Orientasi keakhiratan 1 Orientasi kesekuleran
2 Berupaya mencapai 2 Berupaya mencapai
sosialisasi ke dalam Islam perkembangan individu
3 Kurikulum tidak berubah 3 Kurikulum merespon
sejak abad pertengahan perubahan-perubahan berkenaan
dengan bidang studi
4 Pengetahuan berdasarkan 4 Pengetahuan diperoleh melalui
pada wahyu dan tidak pengalaman dan deduksi
dipersoalkan
5 Pengetahuan dicari dan 5 Pengetahuan diperlukan sebagai
diperoleh berdasarkan pada alat untuk menyelesaikan
perintah Tuhan masalah
6 Mendiskusikan moralitas 6 Mendiskusikan moralitas dan
dan asumsi-asumsi tidak asumsi-asumsi disambut baik
dikehendaki
7 Metode dan teknik mengajar 7 Metode dan teknik mengajar
pada dasarnya otoriter student-center
8 Penghapalan dianggap 8 Pencerapan konsep-konsep
sangat menentukan kunci dianggap menentukan
9 Mental mahasiswa dianggap 9 Mental mahasisswa dianggap
pasif-reseptif aktif-produktif
10 Pendidikan secara umum 10 Pendidikan dispesialisasikan
tidak dispesialisasikan

Penutup
Penjelasan tentang pendidikan Islam dan Barat di atas memperlihatkan
adanya kesenjangan pola berfikir yang digunakan para ilmuwan mereka
sehingga menghasilkan karakter yang berbeda. Jika sumber dan metodologi
ilmu di Barat bergantung sepenuhnya kepada kaedah empiris, rasional dan
cenderung materialistik serta mengabaikan dan memandang rendah cara
memperoleh ilmu melalui wahyu dan kitab suci, maka metodologi dalam
ilmu pengetahuan Islam bersumber dari kitab suci al-Qur’an yang diperoleh
dari wahyu, Sunnah Rasulullah saw, serta ijtihad para ulama. Jika
Westernisasi ilmu hanya menghasilkan ilmu-ilmu sekular yang cenderung
menjauhkan manusia dengan agamanya sehingga terjadi kekalutan di
dalamnya, maka Islamisasi ilmu justru mampu membangunkan pemikiran
dan keseimbangan antara aspek rohani dan jasmani pribadi muslim yang
akan menambahkan lagi keimanannya kepada Allah SWT. Islam
mempunyai sifat eksklusif sekaligus inklusif. Ketika berhadapan dengan
masalah teologi, hakikat sifat-sifatNya, seorang muslim tidak boleh
berkompromi dengan persepsi agama lain, kecuali yang berhubungan
dengan masalah rubbûbiyyah. Sebaliknya ketika membicarakan masalah
nilai-nilai moral dan etika, maka pintu komunikasi, dialog dan kerjasama
dapat dibuka seluas-luasnya.
DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Sayyid al-Hasyimi Bek, Mukhtar al-Hadîts Nabawiyyah, Kairo:


Maktabah al-Hijazi,1948.
Al-Sayuthi, Imam Jamaluddin Abdurahman bin Abi Bakr, al-Jamî' al-
Shaghr fî al-Hadîts al-Basyir al-Nâzhir, Kairo: Dâr al-Katib al-‘Arabi,
1967.
Al-Syaibany, Prof. Dr. Omar Mohammad Al-Toumy Falsafah Pendidikan
Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1979.
Anshari, Endang Saefuddin, Pokok-pokok Pikiran tentang Islam, Jakarta:
Usaha Interprise, 1976.
Arifin, Prof. H.M. M.Ed. Kapita Selekta Pendidikan (Islam dan Umum)
Jakarta: Bumi Aksara, 2000.
Armas, Adnin, MA, Westernisasi dan Islamisasi Ilmu, dalam Majalah
ISLAMIA, Thn. I, No.6, Juli-September 2005.
Azra, Prof. Dr. Azyumardi, MA. "Esai-Esai Intelektual Muslim dan
Pendidikan Islam, Jakarta: PT. LOGOS Wacana Ilmu, 1999.
Dewantara, Ki Hajar, Masalah Kebudayaan: Kenang-Kenangan Promosi
Doctor Honoris Causa, Yogyakarta, 1967.
Dewey, J., Democracy and Education, London: Mac. Milan, 1916.
Hoodbhoy, Pervez, Islam dan Sains Pertarungan Menegakkan Rasionalitas,
Bandung: Penerbit Pustaka, 1997.
Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989)
Khursid, Ahmad, Prinsip-prinsip Pendidikan Islam, terj. M. Hashem
Bandung, 1958.
Langggulung, Prof. Dr. Hasan, Beberapa Pemikiran Tentang Pendidikan
Islam, Bandung: al-Ma'arif, 1980.
______________, Asas-Asas Pendidikan Islam, Jakarta: PT. Al-Husana
Zikra, 2000.
______________, Manusia dan Pendidikan, suatu analisa Psikologis,
falsafat dan pendidikan, Jakarta: PT. Pustaka Al-Husna Baru, 2004.
______________, Peralihan Paradigma dalam Pendidikan Islam dan sains
Sosial, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2002.
Nandika, Dodi, Pendidikan di Tengah Gelombang Perubahan, Jakarta:
Pustaka LP3ES, 2007.
Natsir, Drs. M. Ali, Dasar-Dasar Ilmu Mendidik, Jakarta, Kalam Mulia,
1992.
Natsir, Mohammad, Capita Selecta, Bandung: Granvenhage, 1954.
Qardhawi, Yusuf, Pendidikan Islam dan Madrasah Hasan al-Banna, (terj.
Bustani A. Gani dan Zainal Abidin Ahmad), Jakarta: Bulan Bintang,
1980.
Rahman, Fazlur, Islam, Ideologi and The Way of Life, Singapore: Pustaka
Nasional, 1980.
Rochaety, Eti, Pontjorini, dkk, Sistem Informasi Manajemen Pendidikan,
Jakarta: Bumi Aksara, 2006.
Sihombing, Umberta, Menuju Pendidikan Bermakna Melalui Pendidikan
Berbasis Masyarakat: Konsep, Strategi dan Pelaksanaan, Jakarta:
Multiguna, 2002.
Soyomukti, Nurani, Pendidikan Berperspektif Globalisasi, Yogyakarta: Ar-
Ruzz Media group, 2008.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional, Bandung: Fokus Media, 2003.