Anda di halaman 1dari 10

SYI’AR, JALUR BARU PERJUANGAN ISLAM

Oleh: Syamsul Bahri

Penguasaan ilmu para da'i terhadap aspek-aspek syari'ah adalah hal yang
wajib dan menjadi tuntutan. Disisi lain, Syari'ah Islam yang menjadi tempat
berpulang segala persoalan kehidupan bermasyarakat sejatinya harus
benar-benar mampu diketengahkan ke hadapan umat sebagai satu-satunya
solusi yang memiliki daya jangkau paling totalitas. Namun demikian tak
sedikit dari para da'i yang justru tak memiliki skill dalam menyampaikan
kandungan syari'ah sehingga muncul keengganan dari obyek da'wah hanya
karena tak mampu memahami realitas. Upaya untuk menda'wahkan atau
mensyi'arkan Islam sejatinya adalah jalan pembuka bagi diterimanya
syari'ah itu sendiri. Bahkan, ia menjadi kunci utama tersampaikannya
da'wah dan syi'ar tersebut. Pembahasan konsep syi'ar berikut ini menjadi
sangat menarik untuk dicermati karena catatan-catatan penulis
menunjukkan bahwa jalan da'wah dengan metode Syi'ar ini menjadi salah
satu alternatif utama dalam menyampaikan pesan Islam.

Kata Kunci: Islam, syi’ar, syari’ah, da’wah, universalisme

Pendahuluan
Dienul Islam adalah agama syi'ar.1 Jika kita bedah syari'at Islam, maka
isi dan kandungannya tiada lain adalah syi'ar. Umumnya hukum-hukum
fardhu 'ain dan fardhu kifâyah maupun hukum halal-haram berdimensi
syi'ar. Shalat Fardhu 5 waktu adalah syi'ar harian yang ditandai oleh adzan
di masjid-masjid yang memungkinkan jama'ah bertemu secara intens lima
kali dalam sehari-semalam. Sedang Jum'at adalah syi'ar pekanan, sementara
al-'Îdain (dua lebaran) dengan seluruh rangkaiannya adalah syi'ar Islam
yang setiap tahun disemarakan dengan shaum dan zakat fitrah bagi Idul
Fitri, dan ibadah qurban serta manasik haji bagi Idul Adha. Nikah dengan
seluruh prosesinya adalah syi'ar, seperti ijab qabul, saksi-saksi, walimah dan
seterusnya juga adalah bagian dari syi'ar.2 Dapat kita simpulkan bahwa
1
Dikutip dari perkataan Imam Al Hasan (21-110 H), seorang Tabi'in sempat bertemu
dengan sahabat Anas bin Malik RA. Ibunya pernah menyusu pada Ummul Mu'minin
Ummu Salamah ra sewaktu bayi. Di zaman khalifah Umar bin 'Abdul 'Aziz sempat
diangkat menjadi Hakim di Bashrah. Dalam tafsirnya terhadap QS. Al-Ma'idah: 2, ia
mengatakan bahwa makna syi'ar adalah al-dîn kulluh (agama secara total). Lihat Imam Ibn
Jauzi, Tafsir al-Zâd, Beirut: Maktabah Al-Islami, 1384H/1964, Juz II, hal. 272
2
Imam Ibnu Taimiyah, Majmu' al-Fatâwâ, (tahqiq 'Abdurrahman bin Muhammad bin
Qasim), Madinah:
Majma' al-Malik Fahd, 1995/1416H, Juz 22, hal. 94, dan Imam Ibnu al-Qayyim, al-Shalâh
wa ahkâm tarîkhuha, Madinah: Maktabah al-Tsaqâfah, t.th, masalah ke-3, hal. 39.
antara syari'at dan syi'ar, ibarat dua kepingan mata uang, seperti kulit
dengan daging yang tidak bisa dipisahkan. Syari'at tanpa syi'ar, hambar
rasanya. Syi'ar tanpa syari'at, paceklik namanya. Sebagaimana akidah tanpa
ibadah, atau ibadah tanpa akhlak adalah sesuatu yang mustahil terjadi pada
diri orang mu'min. Karena itu, meskipun wanita haidh secara syari'at
dilarang shalat, namun syi'ar tetap mewajibkan mereka untuk hadir
mendengarkan khutbah Ied.3
Rukun Islam yang lima bisa disebut syi'ar yang ushl; dari syahadat,
shalat, puasa, zakat dan haji. Cabang-cabang iman yang 77 memuat aspek
syi'ar, dari cabang tertingginya kalimat lâ illâ ha illallâh sampai cabang
terendahnya imâthat al-adzâ 'an al-tharîq, yakni menyingkirkan bahaya di
jalan.
Bagi Islam, syi'ar merupakan wajah al-dîn al-Islâm. Nyawanya adalah
'aqidah al-tawhid, sedang organnya adalah syari'ah. Sebagai wajah, syi'ar
menjadi tampilan sekaligus miniatur keindahan, pesona dan daya tarik
orang untuk mengenal lebih dekat al-dîn al-Islâm. Pesona akidah, daya tarik
syari'ah, tampilan akhlak; kesemuanya adalah bagian dari mahâsin al-Islâm
(citra luhur Islam) yang wajib kita agungkan demi kepentingan yang lebih
luas.
Para Nabi dan Rasul adalah peletak dasar syi'ar di mana mereka
diutus; syari'at menjadi aturan yang dihormati sementara syi'ar menjadi
pesona da'wah yang dijunjung tinggi. Mekkah dengan Masjid al-Harâmnya
adalah syari'at sekaligus syi'ar Nabiyullâh al-Khalîl, Ibrahim as. Madinah
dengan Masjid Nabawinya adalah syari'at sekaligus syi'ar Khatâm al-
Anbiya' Rasulullah saw. Demikian pula Masjid al-Aqsha di Palestina.
Bahkan napak tilas masy'ar al-Harâm seperti 'Arafah, Mudzdalifah dan
Mina adalah jejak syi'ar sekaligus syari'at Nabi Ibrahim as.
Peta penyebaran Islam ke seantero dunia dengan sifatnya yang
rahmatan lil 'alamin dan dimensinya yang kaffatan lî al-nâs adalah karena
pesona syi'ar. Kisah masuknya Islam ke nusantara pada abad ke-8 M melalui
jalur pesisir umumnya karena latar belakang ketertarikan terhadap syi'ar
Islam, yang kemudian menjelma menjadi kekuatan budaya ke seluruh

3
Rujuk hadits Ummu ‘Athiyah ra, ia berkata, “Kami diperintahkan (oleh Rasulullah saw)
untuk mengeluarkan para gadis dan wanita yang sedang dalam pingitan”. Lihat Shahih
Bukhari (318,931,937-8); Shahih Muslim (890). Dalam Shahih Bukhari disebutkan, ada
seorang wanita bertanya, “Wahai Nabi, apakah ada keringanan bagi salah seorang di
antara kami jika tidak memiliki jilbab untuk tidak keluar?”. Nabi menjawab, “Hendaklah
saudaranya meminjamkan jilbab buat saudaranya supaya ia bisa menyaksikan
kebahagiaan ini dan bergabung dengan jama’ah kaum Muslimin”.
nusantara selama tujuh abad dengan back-up penuh dari kerajaan-kerajaan
Islam.4
Begitu pula dengan cerita masuk Islamnya para muhtadîn (mu'allaf)
dari agama lain antara lain disebabkan oleh simpati mereka menyaksikan
pesona syi'ar Islam yang dijalankan oleh kaum Muslimin.
Indonesia adalah negeri mayoritas Muslim, jejak syi'ar berupa warisan
budaya bangsa, serapan bahasa, nama orang, nama tempat ibadat, bahkan
institusi Negara, kitab hukum (KUHP dan KUHAP) serta peraturan dan
perundang-undangan yang lain sangat sarat dengan nuansa syari'at sekaligus
syi'ar Islam.
Perayaan hari-hari besar Islam (PHBI) yang ditetapkan oleh
pemerintah sebagai hari libur nasional adalah contoh yang lain mengenai
semaraknya syi'ar Islam di negeri ini. Kaum Muslimin menjadikan PHBI
tersebut sebagai tempat berkumpul dan ajang silaturahim, bahkan sebagai
sarana untuk menggalang dana bantuan.
Semua ini membuktikan betapa syi'ar Islam di Indonesia sudah lama
berperan dan menjadi anutan masyarakat Indonesia. Tapi sayangnya,
legalisasi syari'at sebagai "kakak kandung" syi'ar tampaknya kurang
mendapat sambutan yang menggembirakan dari berbagai kalangan yang
phobia terhadap hukum Islam. Karena itu, tulisan berikut ini akan
mengetengahkan peranan syi'ar sebagai pesona mahâsin al-Islâm dengan
harapan semoga menjadi alternatif baru bagi ekspansi da'wah di masa
depan.

Pengertian Syi’ar
Syi'ar satu gantungan kata dengan syu'ur yaitu merasa atau menyadari.
Maksudnya, dengan adanya syi'ar seperti adzan orang sadar bahwa sudah
saatnya menunaikan shalat fardhu berjama'ah. Syi'ar kata jama'nya adalah
sya'îrah atau syi'ârah. Ahli bahasa mengartikannya dengan tanda pengenal
(mu'alliman), lambang atau alamat (ma'lumat), jejak (âtsâr) atau bukti yang
menyatakan sesuatu (al-masyâhid). Syi'ar juga adalah sesuatu yang
dikerjakan secara rutin atau berkala (kullu mâ kâna min a'mâlihi) kaitannya
dengan ibadah yang Allah syari'atkan secara permanen; seperti adzan bagi
masuknya waktu shalat, masjid sebagai tempat ibadat, manasik haji seperti

4
Drs. Abdul 'Aziz Thaba, MA., Islam dan Negara Dalam Politik Orde Baru, Jakarta:
GIP,1416H/1996, hal. 115-117, berdasarkan hasil seminar "Sejarah Masuknya Islam di
Indonesia", baik yang diselenggarakan di Medan (1963) maupun di Aceh (1981).
wukuf dengan Arafahnya, thawwaf dengan Ka'bahnya, sa'i dengan Shafa-
Marwanya,5 jamarat dengan Minanya, dan jejak-jejak Islam yang lain.
Imam al-Azhari (282-370 H) mengartikan syi'ar dengan maksud tanda
yang Allah serukan pelaksanaannya serta Allah perintahkan
penyelengaraannya.6
‫ المعالم التي ندب ال إليها وأمر بالقيام عليها‬:‫الشعار‬
Imam Thabari (224-310 H) mengartikan syi'ar dengan tanda pengenal
yang Allah tetapkan bagi pelaksanaan ibadat hamba-hamba-Nya, baik
berupa do'a, zikir, tempat dan waktu, kapan dan di mana ibadat itu
dilaksanakan. Fungsinya untuk memudahkan, melancarkan, menandakan,
mengukur, dan seterusnya.
Ada lima arti syi'ar yang dihimpun oleh para Ulama, yaitu: (a)
manasik haji (Ibnu Abbas dan Mujahid), (b) Larangan Ihram, (c) Sesuatu
yang suci, (b) Ketentuan atau hukum-hukum Allah (Imam 'Atha'), (d) Al-
Dîn secara total (Imam Al Hasan).7
Dari kata syi'ar ini muncul istilah ma'alimullah, sya'airullah, seperti
masy'ar al-harâm bagi rangkaian ibadah haji, jilbab bagi muslimah, masjid
bagi perkampungan muslim, adzan bagi masuknya waktu shalat, salam bagi
kepribadian, dan seterusnya.
Kata sya'airullah pada QS.2: 158; QS.5: 2; QS.22: 32 dan 36 adalah
sebutan bagi syi'ar secara umum, sebutan secara khusus ada pada QS. Al-
Hajj: 30 dengan nama ‘hurumatillah’ (‫)حرمات الله‬. Imam Ibnu Abi Syaibah
dari Atha' meriwayatkan, ada orang yang bertanya kepada Imam 'Atha'
(w.114 H) –seorang tabi'in pilihan di zamannya– tentang sya'airallah, beliau
menjawab, “hurumatullah yaitu kalian menjauhi apa yang Allah murkai dan
mengikuti jalan ketaatan, maka itulah sya'ariullah”.
5
Napak tilas manasik haji umumnya adalah adalah jejak sejarah Nabi Ibrahim dengan
keluarganya, Siti Hajar dan puteranya Nabi Isma'il. Shafa-Marwah sendiri adalah berupa
bukit berbatu dihiasi lempengan bebatuan tak bercadas. Di tempat ini terjadi awal peristiwa
munculnya air zam-zam dan munculnya binatang raksasa menjelang Hari Qiamat.
Rasulullah saw menjadikan tempat ini sebagai pertemuan rutin al-Sabiqûn al-Awwalun di
rumah Arqam bin Abi Arqam hingga masuk Islamnya Hamzah bin Abdul Muthalib dan
Umar bin Khatthab ra. Allah SWT menetapkan tempat ini sebagai area sa'i bagi jama'ah
haji/umrah. Lihat Shahih Muslim no.1218; Musnad Ahmad, Juz 6, hal. 437.
6
Nama aslinya Muhammad bin al-Azhar al-Harawi Abu Manshur, seorang ahli bahasa
dan sastra terkemuka di zamannya asal Harrah dan ahli Fiqh madzhab Syafi'i. Gelar al-
Azhar diambil dari nama kakeknya. Satu di antara karyanya adalah Tahdzîb al-Lughah dan
al-Zahîr fî Gharib al-fadz al-Syafi'i allatî auda'ahâ al-Muzni fî Mukhtashirih. Lihat
Tabaqat Imam al-Subki, Juz 2, hal. 106. Kutipan definisi Imam al-Azhari diambil dari kitab
al-Nihâyah fî Gharib al-Hadîts wa al-Atsar oleh Imam Ibnu 'Atsir, Amman: Bait al-Afkar
al-Dauliyah, hal.477.
7
Imam Al Mawardi, Tafsîr al-Nuktu wa al-'Uyun, dalam Tafsir QS.5: 2.
‫ أنه سئل عن شعائر‬، ‫وأخرج ابن أبي شيبة عن عطاء‬
‫ اجتناب سخط الله واتباع طاعته‬، ‫ حرمات الله‬: ‫الله قال‬
‫ فذلك شعائر الله‬.
Hurumât juga adalah mâ yajibu ihtirâmuhû, apa-apa yang wajib kita
sucikan, terutama ketika kita mau memasuki atau melaksanakannya. Seperti
wudhu' dengan shalat, atau iman bagi amal, atau thaharah dengan ibadah.
Hurumât juga adalah kullu mâ awshal-lâhu bi ta'dzîmi amrihi, segala yang
Allah wasiatkan dengan cara mengagungkan pelaksanaannya, baik perintah
maupun larangan, tempat maupun waktunya, sarana maupun fasilitasnya.
Ibnu 'Abbas ra mengartikan kata yu'adzzim pada QS. Al-Hajj: 32
dengan al-istismân wa al-istihsân wa al-isti'dzâm, memperluas,
mengindahkan dan mengagungkan, yakni perkara-perkara fardhu dari arkân
al-dîn yaitu rukun Islam yang lima, rukun iman yang enam dan rukun ihsan
yang dua (hadits Jibril as) serta ma'âlim al-dîn (rambu-rambu agama) atau
takâlif diniyah (hukum-hukum agama) yang lain, khususnya syi'ar hajj di
tanah suci dan udlhiyah di tanah-air.

Dua Jalur Perjuangan


Jadi kalau kita persempit jalur perjuangan, maka hanya ada dua
pilihan kita dalam berjuang. Pertama, jalur syari'at. Kedua, jalur syi'ar.
Mana yang dahulu, mana yang belakangan, apakah serentak atau berjenjang,
yang jelas kedua jalur ini bisa menjadi pilihan dalam menegakan dîn wa al-
dawlah, tawhidan wa sulukan, 'aqidatan wa jihadan, qaulan wa 'amalan,
dan seterusnya. Berbeda dengan perjuangan di jalur syi'ar yang cenderung
diterima tanpa hambatan, perjuangan Islam melalui jalur syari'at di negeri
ini sudah mengalami beberapa kali pasang-surut, terutama sekali pada
tingkat formalisasi syari'at di mata Negara.
Di Indonesia perjuangan melalui jalur syi'ar dimulai dari sejak
munculnya Gerakan Islamisasi Nusantara melalui berbagai jalur pada awal
abad ke-8 M; kontak budaya (merantau), nikah, safar (safar dagang, safar
haji), da'wah dan pendidikan, pembangunan tempat ibadat, niaga baik
melalui jalur Hadramaut, India (Gujarat dan Melabor), maupun Benggali
(Bangladesh). Islamisasi melalui berbagai jalur ini berwujud pada
pembentukan tradisi bangsa yang mengental pada tradisi gotong-royong
(ta'awun) dan musyawarah-mufakat (syura’).
Setelah abad ke-13, nuansa Islamisasi diambil alih oleh Kerajaan
Islam, dan menyatunya antara tiga bangunan; kraton, pasar dan pesantren
adalah potret besarnya jasa kerajaan Islam dalam peta penyebaran Islam,
yang sampai sekarang jejak bangunan ini masih dapat disaksikan di Jawa
sebagai syi'ar kerajaan Islam. Awal abad ke-20 muncullah gerakan
pembaharuan (harakah tajdîd) dengan bermunculannya gerakan-gerakan
kultural seperti Muhammadiyah (1912), Persis (1923) maupun Al Irsyad
(1928) ataupun gerakan kultural seperti NU (1926). Gerakan-gerakan ini
lebih tua dari usia Negara RI, dan karena itu peranan Departemen Agama
terkadang mengadopsi apa yang sudah lama dikerjakan oleh ormas-ormas
ini. Untuk menjaring simpatik pendukung da'wah, ormas-ormas ini
mengedepankan pola syi'ar, meskipun pada akhirnya bertujuan untuk
penegakan syari'at dalam semua tahapan pelaksanaan; dari tingkatan
pribadi, rumah tangga, lingkungan masyarakat hingga tataran Negara.
Di zaman reformasi, para tokoh bangsa, jatuh bangun dalam
memperjuangkan syari'at; mulai dari penyusunan konsep dasar Negara di
BPUPKI, perdebatan di konstituante, melalui jalur hukum dan politik di
parlemen, dari institusi ke konstitusi, dari pinggir jalan sampai istana
negara. Semua jalur perjuangan tadi tampaknya masih perlu jalan panjang.
Syi'ar adalah jalur perjuangan alternatif, ketika jalur syari'at mengalami
kemacetan atau kemampetan, jalur syi'ar bisa menjadi pilihan.

Nilai Strategis
Di atas sudah kita jelaskan bahwa syi'ar adalah tanda universalisme
sekaligus internasionalisme Islam, wujud rahmatan lil'alamin dan kaffatan
li al-nas dîn al-Islâm. Jembatan kerjasama kaum muslimin adalah pada
syi'ar ini. Karena itu, hidup tanpa syi'ar adalah tidak mungkin. Di muka
bumi ini setiap detik ada orang lahir, sedang syi'ar lahiran adalah 'aqîqah
atau selamatan, syi'ar nikah adalah walimah, syi'ar kematian adalah ittiba'
al-jenazah.
Alasan Pertama: Syi'ar sulit dipisahkan dari thabiat basyariyah
manusia. Contohnya adalah syi'ar kelamin; yaitu jakun bagi laki-laki dan
buah dada bagi wanita, atau rambut sebagai mahkota wanita sedang jenggot
adalah mahkota laki-laki, dan karena itu banci sangat anti terhadap jenggot,
sebagaimana khitan berfungsi untuk membedakan identitas keislaman antara
muslim dan kafir.8
Sayang, syi'ar sunnah al-fithrâh ini dinistai oleh dunia infotainment,
dan anehnya digemari para pemirsa. Padahal melegalkan sesuatu yang tidak
pada tempatnya, bisa berbahaya. Hasilnya nanti adalah penjungkir-balikan,

8
Perhatikan penjelasan Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah dalam Tuhfah al-Mawdûd bi
Ahkâm al-Mawlûd, (tahqîq 'Abdul Mun'im Al-'Ani), Beirut: Dâr al-Kutub al-'Ilmiyah, cet.1,
1403H/1983, hal.115
bisa merusak citra syi'ar dan akar budaya keislaman kita. Na'udzu billâhi
min dzâlik.9
Alasan kedua: syi'ar itu syar'iyyah. Islam adalah agama syi'ar dan
semua manusia, butuh syi'ar. Islam agama syi'ar, karena Islam rahmatan lil
'alamin, kaffatan li al-nâs. Manusia butuh syi'ar, karena bayi lahir
disyi'arkan dengan 'aqiqah, yang nikah disyi'arkan dengan walimah, yang
wafat disyi'arkan dengan ucapan istirja' ‘innâlillahi wa'innâ ilayhî râji'un’.
Bahkan pemisahan antara kuburan muslim dan kuburan orang kafir
merupakan bukti hukum betapa sudah mengakarnya praktek syi'ar dalam
masyarakat. Syi'ar perkampungan Islam adalah masjid. Masjid ditandai
dengan menara. Waktu shalat ditandai oleh adzan. Semua bentuk syi'ar ini
sangat diperhatikan oleh masyarakat Islam betapapun rendahnya kadar
keislaman orang itu. Syi'ar 'aqiqah memaksa sang ayah untuk
mengakikahkan anaknya, karena jika tidak anak ini menjadi tergadai dan
berada dalam bayang-bayang syetan.10
Alasan ketiga: Syi'ar itu 'Iyâdatan, berulang-ulang, terjadi setiap saat
mulai hitungan waktu, hari, pekan, bulan dan tahun. Karena selalu berulang-
ulang memungkinkan kita untuk selalu terikat dan terlibat di dalam syi'ar
tersebut. Amal jama'i, koordinasi, komunikasi, informasi dan sokongan
antar sesama jama'ah sangat intens. Dengan selalu bertemu dalam syi'ar,
banyak kebaikan yang bisa kita kerjakan. Program pencerdasan ummat,
pemberdayaan ekonomi, kesejahteraan jama'ah, hajat masyarakat bisa kita
layani dalam 1X24 jam.
Contoh, dalam praktek kehidupan sehari-hari misalnya, ucapan
basmalah dan hamdalah dipakai untuk membuka dan menutup setiap acara.
Dalam setiap acara hajatan apapun, tak pernah kita melewatkannya tanpa
do'a penutup. Masyarakat akan merasa kurang afdhal, jika ada acara sakral,

9
Tentu saja Islam menolak pola gender seperti ini. Bukankah Allah tidak menciptakan
jenis kelamin ketiga, Islam menolak gender alternatif (Tafsir QS. An-Nisa': 1). Al-Qur'an
menetapkan bahwa jenis kelamin (lk-pr) adalah sepasang, dan ini berlaku dalam semua
sistem kauni maupun ilmi, termasuk di dunia binatang, dunia flora dan fauna (QS. Al-
An'am: 143-144), bahkan di dunia elektro pun ada plus dan minus, jika ada yang ketiga
pasti tidak nyala atau malah kebakaran. Dalam Islam, jalur nasab/keturunan hanya ada dua;
rijal & nisa'. Hanya ada satu rahim, hanya wanita yang haidh dan wilâdah, tidak ada
pembuahan di luar benih ibu & ayah, meskipun ia operasi ganti kelamin (Tafsir Al-Ahqaf:
15). Jika ada problem dalam soal gender, maka dikembalikan pada kelamin mana ia BAK,
bukan pada kecenderungan perasaan atau selera seksualnya. Islam juga menutup jalan-jalan
yang mengarah pada terciptanya komunitas banci, contohnya: (a) Pada pakaian &
penampilan dengan adanya larangan tasyabbuh, (b) Tempat tidur dipisah, tidak boleh
mereka tidur (lk-pr) dalam satu tempat tidur atau satu selimut, (c) Konsep aurat; tidak boleh
mandi bareng dan menampakan auratnya satu sama lain. (d) konsep imamah & imarah,
saksi atau perwalian, (e) Posisi imam dalam shalat jenazah, di kepala jika mayat laki-laki di
bagian pusat jika mayat wanita. (e). Penyematan bin/binti di belakang nama seseorang, (f)
Demikian pula ahkâm syar'iyyah yang lainnya seperti pada sanksi tindak pidana.
10
HR. Turmudzi dan Imam Malik dari Samurah dan Imam Baihaqi dari Salman bin 'Amir,
Shahih al-Jami' Syeikh Albani, no.4184-4185.
seperti nikahan, sunnatan, 'aqiqahan, tasyakkur-an atau walimah-an apa pun
namanya yang dihadiri oleh orang banyak tanpa memanjatkan do'a penutup
sebelum menyantap makanan yang kita sebut dengan ramah-tamah, yang
biasanya dipimpin oleh orang shalih, tokoh atau punya kehormatan tertentu
di antara hadirin. Apa artinya semua ini? Artinya, syi'ar Islam begitu dekat
dan familier dengan kegiatan sehari-hari masyarakat, bahkan menyatu
dengan sendi-sendi kehidupan sosial masyarakat.
Karena begitu akrab dengan kegiatan harian masyarakat, syi'ar
menjadi tanda bagi kepribadian. Contohnya ucapan salam baik ketika
bertemu dan berpisah atau memulai dan menyudahi pembicaraan.
Kepribadian seorang wanita muslimah ditandai oleh jilbabnya,
perkampungan muslim dan non muslim ditandai oleh masjid yang ada di
sekitarnya. Karena itu, masjid sebagai syi'ar, mengapa harus berbentuk
wakaf antara lain supaya nilainya bersifat abadi, supaya bisa dipakai untuk
kepentingan yang lebih luas dan dalam jangka waktu yang tak terbatas oleh
orang banyak.11 Syi'ar bagi nama, kepribadian, pakaian, dan tempat ibadat
ini menarik perhatian agama lain, sehingga mereka dewasa ini banyak
melakukan praktek penjarahan tradisi keislaman kita. Dulu nama menjadi
tanda keislaman, ucapan assalamu'alaikum pun demikian. Tapi kini tidak
menjadi jaminan lagi setelah kita kena korban toleransi. Gereja pun sudah
berdiri di wilayah muslim, malah terkadang di-back-up oleh tokoh tertentu
atau mengantongi ijin instansi tertentu.

Keunggulan Syi’ar
Jika kita ringkaskan menjadi satu pertanyaan singkat, mengapa jalur
syi'ar yang kita pilih? Syi'ar memiliki banyak keunggulan. Pertama, syi'ar
diterima di mana-mana, populer sekaligus familier. Kedua, syi'ar disokong
dari bawah, punya akar kedaulatan di tengah masyarakat. Ketiga, kerja syi'ar
ini mudah dikomunikasikan, orang gampang bergabung, ikut-serta, dan
berperan-aktif. Dalam syi'ar orang sama-sama kerja dan tidak sulit untuk

11
Perhatikan Tafsir QS. Al-Jin:18. Sesuai nama dan peruntukannya, wakaf adalah milik
kaum muslimin, biasa disebut dengan waqaf khairi, seperti dilakukan oleh Umar bin
Khatthab atas tanahnya di Kaibar. Wakaf termasuk jenis mâl mahjûr, yaitu harta yang tidak
dibolehkan oleh syara‘ untuk dimiliki sendiri dan tidak boleh dialihkan pada orang lain.
Seperti jalan raya, masjid, kuburan, fasilitas umum atau mâl ‘ammah seperti api, rumput
dan air. (Periksa Raddul Mukhtâr, Imam Ibnu ‘Âbidîn [4/238]). Penerima wakaf harus
menggunakan harta wakaf untuk tujuan kebaikan dan amal qurbah (‘ubudiyah), bukan
untuk maksiat, permusuhan dan kebencian. Jika wakaf disalah gunakan, maka pemberi
wakaf melalui hakim berhak mencabut bahkan boleh meminta ganti rugi, jika mawquf
‘alaih menyalahi penggunaan harta wakaf atau menyimpang dari syarat-syarat yang dibuat.
Lihat Syeikh Dr.Rawwas Qalqa‘ah Jiy, Al-Mawsu'ah Al-Fiqhiyyah, Juz 2, 1968-1973
bekerja sama. Keempat: Syi'ar bisa menutup keterasingan Islam (hadits
bada' al-Islâm gharîb) bahkan bisa menjadi iklan gratis bagi mahâsin al-
Islâm.
Di tengah situasi dunia yang tak pernah pasti, syi'ar Islam tampaknya
harus menjadi perhatian kita bersama. Dunia hari ini adalah dunia tanpa
batas, dunia tanpa jarak, dunia yang serba global. Globalisasi dunia dengan
back-up tekhnologi komunikasi dan informasi dewasa ini, tak ubahnya
seperti mesin penyapu. Dengan syi'ar Islam, kita berharap bisa menjadi
kekuatan penyeimbang untuk mengantarkan kita pada kalimat yang sama,
pada cita-cita dan tujuan hidup yang tertinggi, innâ shalâti wa nusukî
wamahyâya wa mamâtî lillâhi rabbil 'âlamîn, di mana Idul 'Adha adalah
syi'ar Islam yang tertinggi yang setiap tahun bisa kita rayakan dengan
harapan terjadinya perubahan dan kemajuan ummat, sesuai cita Risalah.12

Penutup
Nilai syari'at dan syi'ar itu bersifat abadi, permanen serta tetap
terpakai kapan dan di mana pun, masyhur dan mengharumkan siapa pun
yang menegakkannya. Maka alangkah indahnya jika dalam berorganisasi,
berpolitik, dan bekerja berusaha memperhatikan nilai-nilai abadi syi'ar Islam
yang mencakupi kepentingan yang lebih luas ini, bukan untuk kepentingan
sesaat yang sifatnya sepihak atau cari untung sendiri.
Dengan demikian, mengagungkan syi'ar Islam adalah sebab atau
wasilah yang mengantarkan pada iqâmah al-dîn, demikian Imam Ibnu
Taimiyah. Mengagungkan syi'ar ada kalanya berdasarkan nilainya; nilai
cinta, nilai khusyu', nilai ikhlas sebagai landasan pokoknya. Mengagungkan
syi'ar bisa juga dari sisi tempatnya seperti memakmurkan masjid, majlis
ilmu, majlis tijâri atau kasbi (dunia usaha). Bisa juga dari sisi waktunya; ada
hari Jum'at, ada syahr al-hurûm, ada syahr al-ramadhân, yawm al-‘Îdain,
dan lain-lain. Bisa dari sisi amalannya, yaitu arkân al-dîn secara
keseluruhan, baik arkân al-Islâm, arkân al-îman dan arkân al-ihsân,
meliputi 'aqidah, syari'at dan akhlak secara simultan dari amal al-yawm wa
al-laylah.

12
Imam Ibnu Taimiyah, Majmu' al-Fatâwâ, Juz 25, hal.298, mengatakan bahkan menjamu
orang (tamu) dengan daging qurban –tutur beliau– adalah syi'ar, karena makan daging
qurban adalah sunnah, sebagaimana Nabi saw melakukannya.
DAFTAR PUSTAKA

Abdul 'Aziz Thaba, MA., Islam dan Negara Dalam Politik Orde Baru,
Jakarta: GIP,1416H/1996
Imam Ibn Jauzi, Tafsir al-Zâd, Beirut: Maktabah Al-Islami, 1384H/1964,
Juz II.
Imam Ibnu Taimiyah, Majmu' al-Fatâwâ, (tahqiq 'Abdurrahman bin
Muhammad bin Qasim), Madinah: Majma' al-Malik Fahd, 1995/1416H,
Juz 22
Imam Ibnu al-Qayyim, al-Shalâh wa ahkâm tarîkhuha, Madinah: Maktabah
al-Tsaqâfah, t.th.
Imam Ibnu 'Atsir, al-Nihâyah fî Gharib al-Hadîts wa al-Atsar, Amman: Bait
al-Afkar al-Dauliyah, t.thn.
Imam Al-Mawardi, Tafsîr al-Nuktu wa al-'Uyun, t.thn.
Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah dalam Tuhfah al-Mawdûd bi Ahkâm al-
Mawlûd, (tahqîq 'Abdul Mun'im Al-'Ani), Beirut: Dâr al-Kutub
al-'Ilmiyah, cet.1, 1403H/1983.
Syeikh Dr.Rawwas Qalqa‘ah Jiy, Al-Mawsu'ah Al-Fiqhiyyah, t.tp., Juz 2,
1968-1973.
Shahih Bukhari dan Shahih Muslim