Anda di halaman 1dari 7

MERINTIS RISALAH DI BUMI LOMBOK

(Perjalanan Kafilah Da'wah Mahasiswa STID Mohammad


Natsir di Desa Bayan)

Salah satu alat untuk membaca kondisi masyarakat setempat sebelum


diterjunkannya gerakan da’wah adalah peta da’wah. Peta da’wah dalam
hal ini dijadikan dasar untuk menangkap secara riil kondisi sebuah
ekosistem masyarakat sebagai dasar acuan menentukan skala prioritas a
berhadapan dengan berbagai bentuk problematika di lapangan. Hingga tak
jarang dari mereka yang mundur secara teratur akibat kebutaan informasi
kondisi setempat. Liputan yang diulas dalam bentuk Peta da’wah ringkas
daerah lombok yang disajikan dari hasil perjalanan Mahsiswa Kafilah
Da’wah berikut ini dapat dijadikan rujukan untuk membaca wilayah
lombok dan sekitarnya.

Kata Kunci: akulturasi, Hindu, ritual, tradisi, da’wah

Pendahuluan
Lombok adalah sebuah pulau di
kepulauan Sunda Kecil atau Nusa
Tenggara yang terpisahkan oleh
Selat Lombok dari Bali di sebelat
barat dan Selat Alas di sebelah
timur dari Sumbawa. Pulau ini
kurang lebih berbentuk bulat
dengan semacam "ekor" di sisi
barat daya yang panjangnya kurang
lebih 70 km. Luas pulau ini
mencapai 5.435 km²,
menempatkannya pada peringkat
108 dari daftar pulau berdasarkan
luasnya di dunia. Kota utama di
pulau ini adalah Kota Mataram. Lombok termasuk provinsi Nusa Tenggara
Barat dan pulau ini sendiri dibagi menjadi 3 kabupaten; Kabupaten Lombok
Barat, Kabupaten Lombok Tengah, dan Kabupaten Lombok Timur dengan
satu Kotamadya yaitu Kotamadya Mataram. Menurut data statistik populasi
penduduk Lombok pada tahun 2001 mencapai 2.722.123 jiwa.
Sekitar 80% penduduk pulau Lombok adalah suku Sasak, sebuah suku
bangsa yang masih dekat dengan suku bangsa Bali, tetapi sebagian besar
memeluk agama Islam. Sisa penduduk lainnya adalah orang Bali, Jawa,
Tionghoa dan Arab. Disamping bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional,
penduduk pulau Lombok (terutama suku Sasak), menggunakan bahasa
Sasak sebagai bahasa utama dalam percakapan sehari-hari. Di seluruh

1
Lombok sendiri bahasa Sasak dapat dijumpai dalam empat macam dialek
yang berbeda, yakni dialek Lombok utara, tengah, timur laut dan tenggara.
Selain itu, dengan banyaknya penduduk suku Bali yang berdiam di Lombok
(sebagian besar berasal dari eks Kerajaan Karangasem), di beberapa tempat
terutama di Lombok Barat dan Kotamadya Mataram dapat dijumpai
perkampungan yang menggunakan bahasa Bali sebagai bahasa percakapan
sehari-hari.
Menurut isi Babad Lombok, kerajaan tertua yang pernah berkuasa di
pulau ini bernama Kerajaan Laeq (dalam bahasa sasak, laeq berarti waktu
lampau). Namun sumber lain, yakni Babad Suwung menyatakan bahwa
kerajaan tertua yang ada di Lombok adalah Kerajaan Suwung yang
dibangun dan dipimpin oleh Raja Betara Indera. Kerajaan Suwung
kemudian surut dan digantikan oleh Kerajaan Lombok. Pada abad ke-9
hingga abad ke-11 berdiri Kerajaan Sasak yang kemudian dikalahkan oleh
salah satu kerajaan yang berasal dari Bali pada masa itu. Beberapa kerajaan
lain yang pernah berdiri di pulau Lombok antara lain Pejanggik, Langko,
Bayan, Sokong Samarkaton dan Selaparang.
Kerajaan Selaparang sendiri muncul pada dua periode, yakni pada
abad ke-13 dan abad ke-16. Kerajaan Selaparang pertama adalah kerajaan
Hindu dan kekuasaannya berakhir dengan kedatangan ekspedisi Kerajaan
Majapahit pada tahun 1357. Kerajaan Selaparang kedua adalah kerajaan
Islam dan kekuasaannya berakhir pada tahun 1744 setelah ditaklukkan oleh
gabungan pasukan Kerajaan Karangasem dari Bali dan Arya Banjar Getas
yang merupakan keluarga kerajaan yang berkhianat terhadap Selaparang
karena permasalahan dengan raja Selaparang. Pendudukan Bali kemudian
memunculkan pengaruh kultur Bali yang kuat di sisi barat Lombok, seperti
pada tarian serta peninggalan bangunan (misalnya Istana Cakranegara di
Ampenan). Baru pada tahun 1894 Lombok terbebas dari pengaruh
Karangasem akibat campur tangan Batavia (Hindia Belanda) yang masuk
karena pemberontakan orang Sasak mengundang mereka datang. Namun
demikian, Lombok kemudian berada di bawah kekuasaan Hindia Belanda
secara langsung. Masuknya Jepang (1942) membuat otomatis Lombok
berada di bawah kendali pemerintah pendudukan Jepang wilayah timur.
Seusai Perang Dunia II Lombok sempat berada di bawah Negara Indonesia
Timur, sebelum kemudian pada tahun 1950 bergabung dengan Republik
Indonesia.
Sebagian besar penduduk pulau Lombok terutama suku Sasak
menganut agama Islam. Agama kedua terbesar yang dianut di pulau ini
adalah agama Hindu, yang dipeluk oleh para penduduk keturunan Bali yang
berjumlah sekitar 15% dari seluruh populasi di sana. Penganut Kristen,
Buddha dan agama lainnya juga dapat dijumpai, dan terutama dipeluk oleh
para pendatang dari berbagai suku dan etnis yang bermukim di pulau ini.
Islam masuk ke daerah ini sekitar
Masjid Kunoabad ke-14,
(Bayan tidak
Beleq) jauh
Adat berbeda dengan
Bayan
daerah-daerah sekitarnya seperti Makasar, Buton, Bone, Sumbawa, dan
pulau-pulau lainnya di sekitar Nusa Tenggara. Beberapa sumber
menyebutkan, Islam masuk ke Lombok dibawa oleh Sunan Giri bersama
dengan 44 pengikutnya ketika terdampar di desa Bayan. Saat itu
penduduknya masih menganut paham animisme. Masjid "Belek" (Masjid
Kuno) adalah saksi sejarah yang menguatkan analisa itu
Dari sinilah, Islam di Lombok terus berkembang sebagai agama yang
dianut oleh masyarakat. Perkembangan Islam di Lombok seiring dengan
kemunculan para penyebar Islam (juru dakwah) seperti apa yang penah
diajarkan Sunan Giri untuk membebaskan masyarakat dari paham animisme
menjadi masyarakat Muslim. Pada gilirannya, lahirlah sosok-sosok ulama
Lombok pada awal abad ke-20 yang disebut Tuan Guru yang memiliki
pengetahuan agama yang luas untuk meneruskan tradisi dakwah dari para
pendahulunya yang telah meninggalkan warisan intelektual yang sangat
berharga serta membebaskan masyarakat dari kebodohan dan
keterbelakangan akibat kolonialisme Belanda.
Misi penyebaran Islam yang dulunya diwakili oleh para Wali Jawa
diambil alih oleh Tuan Guru yang dibarengi pula pertumbuhan pondok
pesantren yang menyedot banyak pengikut dari segala penjuru dan dari luar
pulau Lombok. Perjuangan Tuan Guru diarahkan untuk mensucikan Islam
dari unsur-unsur kepercayaan lain dengan menganjurkan kembali pada al-
Qur’an dan Hadits sebagai sumber pedoman Islam yang utama.

Kafilah Da'wah ke Daerah Bayan.


pWrapPolygonVertices8;5;(-108,0);(-
108,21456);(21600,21456);(21600,0);(-
108,0)fLayoutInCell1fBehindDocument1fIsButton1fHidden0fPseudoInline
0fLayoutInCell1
Bulan Ramadhan 1429 H, Mahasiswa
Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID)
Mohammad Natsir Jakarta
menyelenggarakan kegiatan Kafilah
Dakwah 1429 H di wilayah pedalaman,
tepatnya di Kecamatan Bayan, Lombok
Utara, Propinsi Nusa Tenggara Barat.
Kegiatan ini adalah salah satu program
rutinitas kampus yang diadakan pada
setiap tahunnya dan bersifat wajib bagi

3
mahasiswa tingkat semester lima program intensif. Beberapa tahun
sebelumnya, kegiatan Kafilah Dakwah telah diselenggarakan di sejumlah
tempat seperti Kalimantan, Mentawai,
Masyarakat Aceh,
Bayan Nias,
sedang serta Bali.
bercengkrama

Bayan merupakan satu daerah unik di wilayah Nusa Tenggara Barat.


Ia terletak di tepi utara Pulau Lombok, tepatnya di lereng gunung Rinjani.
Panoramanya sangat indah sehingga menjadi salah satu tempat tujuan wisata
adventure favorit dari seluruh dunia. Sawah-sawahnya terlihat hijau dan
tersusun bertingkat-tingkat. Bukitnya berjajar, serta dari kejauhan tampak
birunya laut semakin menambah pesona bagi setiap mata yang melihatnya.
Di sana masih banyak terdapat rumah-rumah adat yang terbuat dari bambu
dan beratapkan jerami. Sebagian dari penduduk Bayan masih ada yang
menggunakan pakaian khas adat Bayan yang agak mirip dengan pakaian
adat Bali. Sebuah nuansa kehidupan yang masih alami.
Mayoritas penduduk Kecamatan Bayan adalah Muslim. Meskipun
begitu, pemahaman dan pengamalan ajaran Islam masih sangat kurang.
Masyarakat setempat masih lekat dengan budaya agama Hindu. Hal itu
terlihat dari sebagian masyarakat yang masih memberikan sesaji di tempat-
tempat yang dianggap keramat. Ketika bulan puasa misalnya, sebagian
masyarakat Bayan mengamalkan ritual puasa adat yang mirip dengan tradisi
puasa khas Bali. Selama berpuasa adat, mereka dilarang terkena air, keluar
keringat serta tidur. Tatkala menunaikan shalat Tarawih, para Kyai Adat
(tetua suku Bayan) melaksanakannya secara khusus dan terpisah dari
masyarakat biasa. Para kyai melaksanakan shalatnya di Masjid Kuno Adat
Bayan dengan tata cara yang berbeda.
Ada juga kondisi lain yang lebih memprihatinkan, dimana sebagian
masyarakat Bayan masih terbiasa dengan minum-minuman keras (khamr).
Menurut Kertadi (32), salah satu anak adat Bayan, kondisi ini sudah menjadi
tradisi jika ada acara tertentu, seperti Maulid adat Bayan dan Perisian (pesta
lebaran adat khas Bayan). Pada saat itu mereka melakukan pesta semalam
suntuk dengan meminum minuman keras. Dalam pesta itu, mereka
melaksanakan ritual tertentu yang dipimpin oleh kyai adat Bayan (Kepala
adat Bayan). Selain itu, menurut penuturan Ustadz H Najmuddin, seorang
da'i yang sudah puluhan tahun tinggal di Bayan, tradisi meminum khamr
juga terjadi ketika memberikan hidangan kepada tamu sebagai salam
persahabatan dan penghormatan kepada tamu. Ketika ia berkunjung ke
rumah-rumah mereka, maka khamr adalah hidangan pertama yang
disuguhkan. “Tapi seiring berjalannya waktu, tradisi seperti itu mulai agak
berkurang,” ujarnya.
pWrapPolygonVertices8;5;(-108,0);(-
108,21456);(21600,21456);(21600,0);(-
108,0)fLayoutInCell1fBehindDocument1fIsButton1fHidden0fPseudoInline
0fLayoutInCell1
Masih kentalnya tradisi keyakinan Hindu
Bali di daerah Bayan tersebut memang
bukan basa-basi. Sebagaimana
diungkapkan Ismalam (60 th), salah satu
Kyai Adat Bayan, konon Bayan pernah
dijajah oleh Kerajaan Made Karang Asem
yang dipimpin seorang raja Hindu. Pada
waktu itu, datang seorang da'i yang
mengajarkan tentang ajaran Islam. Sedikit
demi sedikit, akhirnya masyarakat Bayan
banyak yang memeluk agama Islam. Raja
sangat benci terhadap hal-hal yang berbau
Islam. Apabila ada masyarakat yang terlihat melakukan ibadah agama Islam,
maka secara spontan langsung dibunuh. Sehingga masyarakat di sana
menunaikan ibadah secara sembunyi-sembunyi. Singkat cerita, ulama itu
pergi meninggalkan masyarakat Bayan, dan pada akhirnya masyarakat
Bayan mendapatkan pengetahuan tentang agama Islam tidak utuh, “Adanya
istilah waku telu adalah buktinya,” kata Ismalam.
Ia menjelaskan, istilah waku telu itu keliru, di mana ada anggapan
bahwa shalat yang ditunaikan hanya tiga waktu. “Yang benar adalah waku
telu, artinya rukun yang tiga, yaitu syahadat, shalat, puasa, sementara zakat
dan hajinya belum diajarkan, keburu ditinggal oleh ulama itu,” ujarnya.
Nah, mungkin hal inilah yang menyebabkan masyarakat Bayan masih lekat
dengan tradisi Hindu.
Kegiatan Kafilah Dakwah 1429 H di Kecamatan Bayan kali ini diikuti
oleh 16 Mahasiswa STID Mohammad Natsir Jakarta. Di sana mahasiswa
disebar ke beberapa titik desa yang sangat membutuhkan penyuluhan agama
seperti; Desa Bayan, Akar-akar dan Sukadana. Setiap desa memiliki
beberapa dusun, Desa Bayan mendapat jatah sembilan mahasiswa yang
masing-masing tersebar di lima dusun (Dusun Bayan Beleq, Sembulan,
Mandala, Teres Genit, dan Dasan Tutul), empat mahasiswa lainnya ke desa
Akar-akar yang terdiri dari dua dusun (Dusun Gelumpang dan Baban Kute),
dan seorang mahasiswa di Desa Sukadana, tepatnya di Dusun Kebaloan.
Pertama kali datang, suasana Bayan terasa sangat sepi dari kegiatan
keislaman. Walaupun penduduk Bayan mayoritas Muslim, namun masjid-
masjid terlihat lengang. Bahkan ada satu masjid yang kami jumpai sepi
tanpa aktifitas sama sekali. Melihat fenomena itu para mahasiswa kemudian
berusaha mengubah suasana sunyi itu dengan sejumlah aktifitas bernuansa
da'wah. Salah satunya adalah mengundang sejumlah guru dan pendidik
untuk mengikuti daurah (pelatihan) dan penataran guru Iqra’. Dalam acara

5
ini, mahasiswa mengundang guru-guru Iqra’ yang mengajar di berbagai
Masjid di Kecamatan Bayan. Acara ini dilaksanakan di Madrasah
Tsanawiyah (MTs) Babul Mujahidin, Desa Bayan. Melalui acara ini para
mahasiswa berharap agar para guru Iqra’ mampu menerapkan metode
pengajaran Iqra’ yang tepat dan mudah dipahami oleh anak didiknya. Selain
itu, adanya penyelenggaraan acara ini adalah untuk melakukan pelatihan dan
pembimbingan terhadap para pendidik dalam rangka perintisan lembaga
Taman Pendidikan al-Qur’anSalah(TPA).
satu tari dalam acara Maulid Nabi
Untuk para pemuda, digelarlah semacam pelatihan dengan tajuk:
"Optimalisasi Masa Muda."Acara diadakan di Masjid al-Faruq, Pondok
Pesantren Babul Mujahidin. Kegiatan ini diikuti oleh para remaja dan
pemuda di antaranya, siswa/i SMP, MTs, SMA, SMK, dan para Remaja
Masjid di Kecamatan Bayan. Diharapkan, acara ini mampu mengantarkan
peserta mengoptimalkan masa muda dengan kegiatan-kegiatan positif
sebagai persiapan menyongsong masa depan yang lebih baik.
pWrapPolygonVertices8;5;(-108,0);(-
108,21456);(21600,21456);(21600,0);(-
108,0)fLayoutInCell1fBehindDocument1fIsButton1fHidden0fPseudoInline
0fLayoutInCell1
Untuk anak-anak, diadakan pesantren Ramadhan di beberapa Sekolah Dasar
di Kecamatan Bayan. Di sana, mahasiswa mengajar materi Iman dan Takwa
kepada siswa-siswi SD agar tertanam rasa keimanan dan ketaqwaan pada
diri mereka. Kafilah Dakwah juga merintis lembaga Taman Pendidikan al-
Qur’an (TPA) di beberapa dusun dengan mengangkat penduduk lokal
sebagai pengajarnya. Mereka berharap, kegiatan belajar mengajar tidak
berhenti di tengah jalan, tapi akan terus
berjalan secara terus-menerus. Selain itu, para
mahasiswa juga merintis Taman Baca
Masyarakat untuk mengajak masyarakat,
khususnya anak-anak untuk menanamkan
budaya membaca.
Pada minggu ke-3, kafilah dakwah
menggelar Tabligh Akbar Ramadhan 1429 H
bertempat di Masjid Jami’ al-Fattah Desa
Karang Bajo, yang dihadiri masyarakat se-
Kecamatan Bayan. Acara ini dihadiri pula oleh
berbagai aparatur Pemerintah, seperti Asisten Gubernur III NTB,
Pemerintah Kecamatan Bayan, para Kepala Desa, dan Kepala Dusun di
Kecamatan Bayan. Sejatinya Tabligh Akbar ini akan diisi oleh Tuan Guru
Bajang (Gubernur terpilih NTB), namun karena ada beberapa hal, ia tidak
dapat hadir. Pada akhirnya, tampil sebagai penceramah adalah TGH.
Shafwan Hakim (Ketua Dewan Da’wah NTB dan pengasuh Pondok
Pesantren Nurul Hakim Kediri). Masyarakat Bayan sangat antusias
berduyun-duyun datang mengikuti acara ini. Sepertinya mereka haus akan
siraman ruhani dan pengetahuan tentang agama Islam.
Selain itu, mahasiswa menyelenggarakan juga pengobatan gratis di
beberapa dusun di Kecamatan Bayan sebagai penutup acara. Puskesmas
Kecamatan Bayan memberikan bantuan yang sangat maksimal. Mereka
berharap agar Puskesmas Kecamatan Bayan dapat terus menyelenggarakan
program ini pada tahun-tahun berikutnya.
Tatkala hari Raya Idul Fitri tiba, rombongan “Kafilah Dakwah 1429
H” STID Mohammad Natsir Jakarta meninggalkan daerah Bayan. Terasa
kesedihan yang amat mendalam dalam diri para mahasiswa untuk
meninggalkan tanah Bayan. Masyarakat Bayan pun seakan tak rela melepas
mereka pergi. Namun, masyarakat Bayan yang telah ditempa selama satu
bulan, harus berjuang sendiri untuk bangkit menuju masyarakat yang lebih
maju dan lebih religius. Demi terwujudnya sebuah daerah yang baldatun
tayyîbatun wa rabbun ghafûr.