Anda di halaman 1dari 8

WAWASAN POLITIK UNTUK DA'I

Bagi seorang da'i, dunia politik bukanlah wilayah tersendiri yang tak perlu
disinggahi atau ditengok. Kehidupan seorang da'i yang berjibaku dengan
pembinaan ummat bagaimanapun harus melihat politik sebagai realitas
yang harus difahami, diikuti, atau bahkan ikut memberikan kontribusi yang
positif sehingga perpolitikan tidak melepaskan dirinya dari syari'at Ilahi.
Sejauh ini, meski banyak yang menyangka perpolitikan sebagai wilayah
yang kotor, bidang tersebut masih sangat menyisakan harapan untuk
dibenahi dan dikembalikan fitrahnya kepada perpolitikan yang benar-benar
sesuai dengan aturan Ilahi. Berikut ini hasil wawancara tim Redaksi
dengan Ir. A.M. Luthfi, Pendiri dan Aktivis Masjid Salman ITB tahun 60-an
dan Mantan ketua Fraksi Reformasi MPR tahun 1999-2004 yang sekarang
menjabat Wakil Ketua Dewan Pembina Dewan Da’wah Islamiyah
Indonesia.

Bagaimana sejarah perpolitikan Islam ini yang dahulunya dimulai


secara face to face berhadapan dengan musuh-musuhnya?

Dahulu ada yang disebut dengan Misi Tordesillas tahun 1949 (sebuah misi
Kristen yang bertujuan menyebarkan dan mengkristenkan penjuru dunia),
yang diemban oleh dua kekuatan besar, yaitu Inggris dan Spanyol. Meski
secara politik kedua kekuatan ini bersaing, namun secara ideologis mereka
sama-sama memperjuangkan misi Kristen yang telah disetujui oleh Paus
Alexander ketika itu. Misi Kristen untuk dunia ini dibagi ke dalam dua
wilayah; satu ke arah Barat dan satu ke arah Timur. Ke Timur diambil oleh
Portugis, sementara Barat di serahkan oleh Spanyol. Karena perairan Laut
Tengah pada waktu itu masih dikuasai oleh kekuatan Turki Utsmaniyah dan
belum ada terusan Zues, maka Portugis berbelok arah Selatan. Di sana
mereka melewati daerah Gowa, Malaka, juga Maluku. Sementara armada
laut Spanyol bergerak dari Amerika terus menuju ke Amerika Selatan
sampai ke daerah Filipina. Menurut catatan Tome Pirez dalam bukunya
Suma Oriental, pada tahun 1512-1515 ia mengadakan perjalanan ke Jawa
Timur dan melaporkan bahwa di Indonesia, tepatnya di daerah Jawa,
seluruhnya masih bercorak agama Hindu dan Budha. Pulau Madura ketika
itu masih memeluk agama Hindu dan Budha, juga Jawa Timur masih
seluruhnya di bawah kekuasaan Hindu, hanya Pasuruan yang sudah masuk
Islam. Daerah lain yang ketika itu baru masuk Islam adalah Samudra Pasai
di Malaka. Secara keseluruhan, hanya ada Gresik, Demak, dan Pasuruan,
dari wilayah Nusantara yang sudah masuk Islam. Itu pun hanya sebuah
adipati-adipati kecil dimana terdapat kerajaan adidaya lainnya yang
mendominasi seperti Majapahit dan Pajajaran. Tak berbeda jauh kondisinya
dengan di Filipina. Ketika itu yang sudah ada Islamnya Solo, Manila, dan
Palawa. Jika kemudian diprosentasekan antara Indonesia dan Filiphina,
maka hanya 10 % komunitas Islam di masing-masing daerah tersebut
(Nusantara dan Filipina). Ada fakta menarik dari dua wilayah ini yang
kemudian menjadikan keinginan Kristen untuk terus mengincar negeri kita
ini. Fakta menyebutkan bahwa di Nusantara, ketika Portugis usai, ia pergi
dan diganti oleh belanda. Belanda selesai, kemudian diganti Jepang. Setelah
kita merdeka, ternyata kekuatan kaum muslimin tercatat hingga 90 % dari
totalitas negeri Nusantara. Berbeda halnya dengan di Filipina. Di Filipina,
sama-sama tahun 1527 ketika penjajah sampai ke negeri tersebut. Di sana
Spanyol pergi kemudian diganti oleh Amerika, Amerika selesai kemudian
diganti Jepang, tapi mengapa disana terbalik? 90 % masyarakat mereka
adalah Kristen! Di sinilah perbedaannya, para pejuang di Indonesia dalam
memperjuangkan kemerdekaannya berfikir kolektif kebersamaan. Saya
melihatnya di Moro sana lebih banyak kepada penggunaan kekuatan dari
pada strategi (otak). Sehingga setelah melihat ini, Pater Beek yang kemudan
menumpang di CSIS terheran-heran. Mengapa bisa demikian? Untuk itulah
kemudian mereka berusaha me-reinfansi melalui setiap jalur untuk
mengumandangkan Kristenisasi di masa Orde Baru. Saya melihat dahulu
ummat Islam mempu memainkan strategi politik mereka, hingga setiap
lawan merasakan betapa besarnya kekuatan kita. Di zaman Soekarno kita
mengambil isu demokrasi yang dilawan dengan sistem dasar Negara Islam
sebagai alternatif, kondisi itu membuat musuh-musuh Islam cukup
kewalahan meski kemudian mereka licik, namun di zaman Orde Baru kita
mengambil isu Kristenisasi karena di tingkat-tingkat elit, Kristenisasi
berjalan sedemikian rupa. Isu itu sangat cerdas karena mampu
mempengaruhi para petinggi militer untuk turut serta mempertahankan
Negara. Dahulu kebersamaan itu dilanjutkan dengan berdirinya Forum
Ukhuwah yang dibentuk 1989 oleh Natsir dan KH. Masykur dengan
mengumpulkan 25 perwakilan ummat dari masing-masing ormas ummat.
ICMI kemudian terbentuk setahun kemudian. Dalam dimensi perpolitikan,
sesungguhnya jika kita masih bersatu seperti dulu kita bisa dengan mudah
mencalonkan Presiden. Saat ini kita untuk mencalonkan wapres saja malu-
malu dengan partai besar.

Sejauh mana para pejuang-pejuang Islam di zaman Kolonial dulu


memanfaatkan betul medan politik sebagai alat perjuangan?

Full dan lebih cerdas! Dulu itu, pejuang-pejuang Islam kita hanya
memperjuangan aspek akidah secara lebih dominan. Akidah dihadapkan
kepada kepercayaan asli pribumi. Ada Majapahit, ada Pajajaran dan lain-lain
yang. Islam datang membawa perjuangan untuk meyakinkan tentang tauhid
dan berusaha mengubah kepercayaan yang ada. Perjuangan akidah ini
dilakukan oleh mereka dengan full. Sementara letak cerdasnya, dahulu
Portugis datang dengan peralatan perang yang jauh lebih lengkap,
meriamnya besar, kapal layarnya juga lebih hebat. Sementara dari milik
pribumi, kita hanya punya Hangtuah saja dan tidak memiliki kesiapan
tempur seperti mereka. Kenyataannya, kita harus berhadapan dengan
kekuatan politik yang sangat besar itu. Melihat kondisi itu, para ulama tidak
hanya memfokuskan perjuangan mereka untuk mengubah keyakinan
penduduk itu saja, akan tetapi juga fokus terhadap perlawanan dua kekuatan
politik super power ketika itu, Spanyol dan Portugis. Itu adalah negara-
negara tempat berkembangnya kekuatan Katholik sebagaimana saya
sebutkan di atas. Paus Alexander ke VI ketika itu telah memberikan fatwa,
"bawalah Injil ke penjuru dunia". Mereka bawa sampai ke Nusantara
dimana di dalamnya mereka bertemu dengan kerajaan besar seperti
Majapahit, Pajajaran, dan Tarumanegara. Dan perlu diingat, bahwa dahulu
tempat kebudayaan Islam ada di Malaka dimana sejumlah ulama tinggal di
sana. Namun tiba-tiba Portugis mampu menjatuhkan Malaka.

Kira-kira apa faktor penyebab kekalahannya?

Intinya kita kalah akan tekhnologinya. Ketika itu, Portugis berjalan dari
Lisabon, Afrika selatan, Gowa, Malaka, Macau, namun orang Portugis tidak
bisa dominan lama. Dan hebatnya kita menurut saya, terus menerus kerajaan
Demak, Pati, Kudus, Aceh mengadakan perlawanan tiada mengenal lelah.
Kita mengenang Adi Pati Unus yang gugur dalam pertempuran itu. Kira-kira
12 kali terjadi pertempuran yang membuat repot pertahanan Malaka yang
dikuasai oleh Portugis. Menurut analisa Prof. Dr. H.M. Rasyidi, kejatuhan
Malaka betul-betul peristiwa yang menyedihkan, namun peristiwa itu
merupakan Blessing in disguise. Karena setelah Malaka jatuh, semua orang-
orang alimnya menyebar dari Malaka ke beberapa daerah. Mereka itulah
diantaranya bertindak sebagai wali-wali. Wali sembilan inilah yang
mempercepat perkembangan Islam di kemudian hari. Menurut saya, yang
menarik adalah caranya. Yaitu cara mereka melaksanakan kegiatan da'wah.
Mereka melakukan da'wah secara kebersamaan dan terus berkoordinasi.
Mereka mengistilahkan Wali Songo, suatu perkumpulan wali yang kolektif.
Salah satu kasusnya adalah peristiwa eksekusi Syekh Siti Jenar yang
dilakukan oleh mereka bukan atas dasar kepentingan pribadi namun atas
dasar musyawarah bersama. Mereka menjalankan konsep ukhuwah, jamaah,
dan inilah kebersamaan. Oleh sebab itulah menurut saya, Nasrani tidak
berhasil menasranikan Nusantara. Ini diulang kembali pada tahun 1966-
1987. Kondisi kaum muslimin pada tahun-tahun itu (± 20 tahun) betul-betul
ditekan. Sebagaimana yang saya ungkapkan sebelumnya, pada waktu itu
mereka penasaran betul mengapa Filipina bisa dikristenkan sementara
Indonesia tidak bisa. Menurut saya, di sini perpolitikan mereka berhasil.
Arnold Toynbee (Bapak Sejarah Dunia Modern) punya sebuah teori yang
disebut ‘challenge and response’. Menurutnya, setiap suku bangsa pada
suatu saat akan mendapatkan challenge. Terserah bangsa itu akan
memberikan jawaban atau tidak. Kalau dia sanggup menjawab dan berhasil
mengatasinya, maka dia akan survive. Namun pertanyaannya, siapakah yang
menjawab tantangan itu? Menurut Toynbee, ada komunitas yang disebut
dengan ‘creative minority’, yaitu segelintir orang yang memimpin
bangsanya untuk memenangkan keadaan. Di dalam Islam, contohnya adalah
Nabi Musa kepada Raja Fir'aun. Sebelum kedatangan Musa, bangsa Israel
senantiasa mengalami kekalahan menghadapi Fir'aun, hingga kemudian
Musa datang memenangkan mereka. Dalam konteks Nusantara, mengapa
kita tidak seperti Filipina dimana Kristen berhasil menguasai mereka,
sedangkan di Nusantara tidak? Karena di Nusantara kita memiliki the
creative minority itu. Yang pertama dari mereka itu adalah Wali Songo. Kita
bisa tidak survive seperti Moro (Filipina) jika tidak ada creative minority.

Untuk sekarang ini apakah ummat Islam mayoritas memang tidak


kreatif?

Yang sekarang memang belum. Makanya kita harus mempunyai creative


minority itu. Dulu namanya Wali Songo, sesudah itu dilanjutkan oleh
Samanhudi yang mendirikan Serikat Dagang Islam (1905). Mereka inilah
yang disebut creative. Lihat, pergerakan kemerdekaan Indonesia itu dimulai
oleh SDI. Betul-betul mereka yang memulai, Kyai Samanhudi dan H.O.S.
Cokroaminoto. Bahkan Bung Karno dan Kartosuwiryo merupakan anak
didiknya.

Yang disebut creative itu seperti apa ?

Disebut creative itu adalah orang yang menciptakan sesuatu yang lebih dari
keadaan biasa, menciptakan suatu kreasi baru terhadap suatu keadaan.

Jika perjuangan politik itu dikaitkan dengan seorang da'i, apakah ia


harus terjun ke medan partai politik?

Menurut saya, saya termasuk yang percaya bahwa kita itu harus kaffah.
Salah satunya ajaran itu dianut pula oleh Pak Natsir. Pak Natsir pernah
menjadi Perdana Menteri sebuah Republik yang masih muda dimana beliau
menjalankan suatu sistem yang disebut demokrasi. Bagi Natsir, terjunnya
beliau dalam sistem tersebut bukan karena ikut-ikutan. Tapi pada masa itu,
dimana pemerintahan masih belum stabil dan muda umurnya, perdebatan ke
arah mana sistem mesti dianut dan Dasar Negara apa yang hendak dipakai
untuk negara ini belumlah final. Untuk itu, sistem demokrasi merupakan
sistem yang kedudukannya lebih dekat dengan Islam. Memang, menurut
saya di dunia ini ada beberapa macam sistem pemerintahan seperti
demokrasi, otokrasi, diktator, kerajaan dan lain-lain. Sementara itu yang
dicontohkan oleh Nabi dan para sahabat adalah system syura’. Sementara
yang paling mendekati hal itu adalah demokrasi. Demokrasi memang betul
bukan sistem Islam, tetapi lebih dekat ketimbang yang lainnya untuk dapat
diperjuangkan oleh ummat Islam menjadi sistem yang Islami. Sebetulnya
yang lebih jauh itu adalah sistem Kerajaan, sedangkan bentuk Republik
seperti negeri kita juga lebih mendekati. Dalam Islam, pemutusan perkara
diserahkan kepada keputusan Allah dan Rasul-Nya. Artinya, musyawarah
tersebut adalah musyawarah yang berlandaskan dengan nilai-nilai agama
(Islam). Munawir Sadzali memang menolak bahwa Islam memiliki sistem
perpolitikan, namun demikian itu tidaklah dapat dibenarkan karena prinsip-
prinsip Islam untuk mengatur pemerintahan sudah ada dasar-dasarnya. Taher
Azhari menemukan ada sembilan nilai-nilai Islam tentang pemerintahan
seperti musyawarah, keadilan, amanah dan lain-lain, sementara menurut
Sa'id al-Awwa ada empat, adapun Bapak-Bapak kita dulu semisal Agus
Salim, Kahar Muzakkir, Abi Kusno C. S., Wahid Hasyim, Hatta, Yamin
Subardjo, Maramis, menemukan tiga hal, yaitu Ketuhanan yang maha Esa,
Musyawarah dan Perwakilan. Jadi dalam konteks ini adalah perjuangan ke
arah menuju sistem Islam. Sebagian kaum muslimin ada yang mengatakan
pemilu itu haram, politik itu juga tidak boleh. Akan tetapi untuk konteks
saat ini, hal itu belum bisa, perlu proses yang matang. Jika yang dipilih
adalah golput, golput sesungguhnya tidak memperbaiki sistem serta keadaan
dan tidak memenangkan kita.

Apakah sistem yang ada sekarang ini menghasilkan orang-orang yang


paling baik diantara ummat?

Saya memang berkesimpulan bahwa sistem untuk memilih pemimpin yang


ada sekarang ini tidak menghasilkan orang-orang yang terbaik. Kenapa
dahulu bisa sekarang tidak? Dahulu dalam golongan kebangsaan muncul
pemimpin-pemimpin yang terbaik dari kalangan mereka seperti Bung
Karno, Hatta, dan lain-lain. Sementara di kalangan kita (Islam) ada tokoh-
tokoh semisal Pak Natsir, Syahrir, dan lain-lain. Mereka itulah kelompok
yang terbaik. Sistem pemilu kita saat ini, para caleg yang akan maju
diserahkan kepada masing-masing calonnya. Akhirnya, yang banyak duitlah
yang muncul. Sementara di Jerman itu tidak terjadi, dimana biaya kampanye
sepenuhnya ditanggung Negara.

Apakah dengan cara pemerintah melihat yang berpotensi ?

Oh tidak, masing-masing peserta kampanye boleh mencalonkan dirinya. Di


negara kita mungkin partainya yang seharusnya mengajukan.

Apakah pada masa saat ini tidak secerdas pada masa Soekarno dulu?

Tidak juga. Pernah ada di zaman reformasi sebuah cerita sebagai contoh
orang cerdas itu. Pada waktu itu kita sedang reformasi yang isunya ‘suksesi
sekarang juga’. Yang mengisukan ‘suksesi’ itu brilian dan itu benar. Namun
setelah suksesi, Presiden Habibie didatangi oleh Amin Rais dan Jimmly As-
Shiddiqi yang mengajukan untuk segera mengadakan pemilu. Presiden
Habibie kemudian mendorong kepada seluruh elemen untuk dibolehkan
membuat partai-partai. Nah, pada waktu itu Kuntowijoyo adalah orangnya
yang saya katakan cerdas. Ia menulis di Republika tanggal 18 Juli 1998,
dimana ia katakan "jangan sampai saya disalahkan karena tidak
mengingatkan”. Jadi, seperti khutbah wada’ saja. Dia katakan keputusan
Habibie itu keliru, fatal akibatnya kalau ummat pada bikin partai. Waktu itu
Mas Anwar Haryono menyuruh saya membaca berita itu. Kemudian dia
bertanya pada saya, “bagaimana dik?”. Saya jawab, “ini betul pak”. Tapi
beliau balik bertanya, “Trus, siapa yang akan memperjuangkan aspirasi
ummat?”. Pada waktu itu PPP banyak diisi oleh orang-orang yang tidak
jelas perjuangan keummatannya. Habibie sudah membuka kran perintah
pembuatan partai. Setelah itu sejumlah partai sudah jadi satu persatu. Maka
saya juga katakan, memang harus ada partai yang betul-betul
memperjuangankan ummat. Namun seharusnya seperti yang dikatakan
Kunto, kita tidak boleh seperti sekarang ini. Hal itu sama seperti apa yang
dikatakan Pak Natsir, Pak K.H. Masykur juga mengatakan satu saja, juga
Wali Songo yang cerdas itu bareng (satu), Serikat Islam yang cerdas itu
bareng, MIAI yang cerdas itu juga bareng.

Apa usulan konkritnya para tokoh Islam ketika itu?

Usulannya adalah: Buat BKUI, yaitu sejenis Badan Kerjasama Ummat


Islam. Namun masing-masing ternyata buru-buru mendirikan partai-partai.
Mestinya ummat Islam waktu itu mendukung PPP sebagaimana yang
diminta Pak Natsir. Pak Natsir dan Kyai Maskur waktu itu paling sadar.
Beliau menghubungi 25 orang perwakilan ormas untuk membentuk PUI.
Tapi ternyata ada saja beberapa tokoh yang masih egois.

Pelajaran apa yang bisa diambil dari kasus perpecahan ummat ini?

Yah untuk menjadi pemimpin itu harus visioner melihat kedepan dan
menghilangkan syahwat untuk berfikir kepada dirinya sendiri.

Dalam perpolitikan di Indonesia, kapan sebenarnya perpecahan


ummat ini dimulai?

Ya… Waktu NU itu mundur tahun 1950, padahal oleh Soeharto ada
momentum dimana ummat Islam dikumpulkan lewat PPP. Hanya saja kita
kurang sabar.

Bagaimana sekarang ini peluang untuk menyatukan kekuatan politik


ummat?
Yang saya harapkan adanya dua barisan saja. Untuk strategi, jangan sebut
Islam dan Kebangsaan. Orang Nasrani paling tidak mau. Karena disana-sini
ia menjadi minoritas yang tidak bisa jadi pimpinan. Cukup bentuk dua
barisan, karena dengan begitu seleksi pemimpin secara alami lebih baik dan
lebih menghasilkan yang terbaik. Selain itu money politic akan sulit
berkembang. Kenapa? Jika ada tujuh partai, kemudian A dan B mendukung
X untuk jadi presiden/gubernur/walikota. Lalu C karena besar ia
mengusulkan Y, kemudian partai-partai kecil dikumpulkan mengusulkan Z,
sedangkan sisanya belum kemana-mana. Jika ada yang minta dukungan,
maka pasti minta bayaran. Kalau cuma dua barisan, satu barisan
mengusulkan A dan satu lagi mengusulkan B. Sedangkan yang ingin
mencalonkan senantiasa bersaing secara ketat dan terpilih di kelompoknya.
Di Malaysia saja mereka bisa. Padahal lebih rumit keadaannya. Ada India,
Melayu, China. Ada Anwar Ibrahim dan Najib dari masing-masing barisan
mereka yang terbaik, sementara yang lain harus menunggu. Jika sistem
banyak partai, banyak yang akan nongol jadi calon. Kalau sudah dibentuk
dua barisan, otomatis orang-orang Kristen tidak akan bergabung dengan
kita. Saat ini, dia punya hak untuk menyuarakan suaranya, karena dengan
memiliki partai sendiri ia akan bebas bersuara. Contohnya, ketika RUU
Pornografi mereka bersuara sendiri menolak rancangan dimana mayoritas
partainya mendukung.

Apakah dalam dua barisan ini, praktek money politic benar-benar bisa
diminimalisir?

Kalau dua barisan, memang kurang peluangnya atau sulit untuk dilakukan.
Tentunya hal itu perlu pembinaan internal juga. Di Amerika ada dua
kelompok, Republik dan Demokrat. Dari mereka bersaing yang terbaik,
antara Obama dan Mc Cain. Dengan dua barisan ini, jika ditarik ke konteks
Indonesia, maka yang satu secara otomatis akan lebih dekat ke Islam, dan
satu lagi mengelompok kepada kelompoknya sendiri. Sekarang orang-orang
Nasrani sudah mulai ngeri. Pengalaman saya di parlemen, untuk
mengamandemen UU dan mengubah satu pasal itu cukup harus 2/3 hadir
dan lebih dari setengahnya setuju. Mereka takut dan tidak mau. Oleh karena
itu, syaratnya diperkeras karena makin banyak yang pro terhadap Islam.
Tahun 1955, yang pro-Islam sebagai Dasar itu cuma 42 persen, sisanya
Pancasila bergabung dengan Komunis. Kemudian Saat Gus Dur bin Wahid
Hasyim Bersaing dengan Megawati binti Soekarno, mereka adalah
keturunan para tokoh yang dulu mewakili perpolitikan pada masa lalu. Gus
Dur mampu mendapat 56 persen dan Megawati 44 persen. Terbalik
keadaannya dari tahun 1955 dulu. Landasan sejarah di Indonesia itu seperti
itu. Tahun 1905 muncul SDI dan SI yang dasarnya Islam dan gerakan
ekonomi. Yang lain ada juga yang dasarnya suka menari seperti Budi
Utomo, karena datang dari Jawa maka mereka eksklusif khusus Jawa saja.
Bahasa yang digunakan pun bahasa Jawa. Dari SI turun anak-anaknya
seperti Muhammadiyah dan NU. Dan dari Budi Utomo memiliki keturunan
Taman Siswa. Kemudian Kyai Mas Mansyur dan para pimpinan Ormas
Islam membentuk MIAI. Bung Karno kemudian ikut-ikutan membuat
GAPI. Dari sini terlihat betapa Islam selalu menjadi pioner dan cerdas. Dua
barisan ini kemudian bertemu dalam sidang perdebatan tentang Dasar
Negara yang melahirkan Piagam Jakarta. Turut serta merumuskan
diantaranya, K.H Agus Salim, Kahar Muzakkir, Abi Kusno, K.H Wahid
Hasyim, sedangkan sisanya, Soekarno, Mohammad Hatta, Muhammad
Yamin, Soebarjo, diikuti oleh Maramis. Dengan sistem dua barisan ini
ummat Islam digiring untuk bersatu. Intinya kita memperjuangkan ummat
agar bersatu untuk kepentingan ummat. Dalam hal ini Al-Azhar dulu juga
telah melakukan apa yang kami sebut dengan ‘Merintis Kebersamaan’
ormas dan partai Islam. Gerakan ini di bangun dari basis Masjid, dan bukan
ormas. Waktu itu datang dari PAN Yahya Muhaimin, dari PKS ada Fahri
Hamzah, Ngabalin dari PBB, dan lain-lain.

Kalau kita lihat gaya model kepemimpinan Pak Natsir di dunia politik,
apa sebenarnya tujuan politik Pak Natsir?

Saya melihat Pak Natsir menganggap perjuangan politik adalah bagian dari
bentuk Ibadah. Di lain pihak, ada yang menganggap politik sebagai
badminton. Pak Natsir itu merealisasikan konsep Islam dimana seluruh
kehidupan tidak boleh sekuler dan semua dimensi kehidupan adalah ibadah.
Ada golongan yang menganggap berpolitik itu seperti main badminton yang
lebih mengutamakan gerak badan, tanpa memiliki landasan keyakinan.
Sedangkan Pak Natsir menjalani politik dengan landasan keyakinannya.
Beliau sosok yang memahami Islam itu Kaffah. Menurut saya, beliau
mengajarkan kita tidak menjadi seorang da'i yang mengajak ummat dalam
artian sempit. Akan tetapi kita dituntut untuk menjadi da'i yang mengajak
orang untuk mengikuti perintah Allah dan sunnah Nabi, da'wah terhadap
ummat, dimana kita mengusahakan setiap ummat itu menjadi baik di setiap
saat dan di setiap bidang kehidupan seperti politik, ekonomi , pendidikan
dan lain-lain.

Seperti apakah da'i itu harus memiliki pemahaman tentang politik?

Menurut saya da'i harus memahami politik ini sebagai politik luhur, bukan
politik praktis. Ajarannya adalah, tidak ada Islam tanpa Imam, tidak ada
Imamah tanpa Jamaah, tidak ada Jamaah tanpa Ukhuwah. Sedangkan
ukhuwah ini adalah kebersamaan. Islam sendiri memerintahkan untuk
kebersamaan. Tujuannya di Indonesia adalah merintis kebersamaan
sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Pak Natsir dan kawan-kawan di
BKUI dulu. Hanya saja ketika ada yang mulai mempertanyakan saya dapat
apa? Maka mulailah perpecahan itu.