Anda di halaman 1dari 3

PERAN KAMPUS DALAM PENGKADERAN UMMAT

Begitu dekatnya hubungan antara ummat dan lembaga pendidikan


menjadikan sebuah lembaga harus benar-benar memiliki arah gerakan
yang betul-betul mengakar kepada kondisi ummat. Dalam hal ini, posisi
lembaga pendidikan setingkat Perguruan Tinggi menjadi tempat harapan
ummat untuk menjadi pembimbing dan pendamping mereka dalam
menghadapi serangan-serangan yang dapat melemahkan kaum muslim.
Kembali tim redaksi mewawancarai Ir. A.M. Luthfi, Pendiri dan Aktivis
Masjid Salman ITB tahun 60-an dan Mantan ketua Fraksi Reformasi MPR
tahun 1999-2004 yang sekarang menjabat Wakil Ketua Dewan Pembina
Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia.

Sejak kapan kampus berperan sebagai aset pembangunan bagi


ummat?

Jika melihat jauh ke belakang, sesungguhnya hal itu terjadi sejak jaman
Rasulullah saw. Di jaman Nabi istilah kampus bisa merujuk kepada apa
yang disebut dengan ‘majlis sahabat’. Orang-orang terbaik ketika itu berada
di tempatnya majlis sahabat. Dimana, ditempat itu mereka melakukan
pengkajian ilmu bersama Rasulullah secara intensif. Dalam konteks
Indonesia, orang-orang terbaik itu juga berasal dari kampus merujuk kepada
lembaga Perguruan Tinggi. Dahulu, pada bulan Mei tahun 1945 tersebutlah
kondisi Jendral Terauci (Jepang) yang sudah hampir kalah perang melawan
Indonesia. Ia kemudian mengundang pemimpin Indonesia untuk datang ke
Saigon, dalam rangka pembicaraan mengenai kemerdekaan Indonesia. Maka
dibentuklah setelah itu suatu badan persiapan untuk kemerdekaan yang
disebut BPUPK, yang diketuai oleh Soekarno dan wakilnya Mohammad
Hatta dengan syarat membantu Jepang yang sudah hampir kalah ketika itu
melawan Sekutu. Mengingat kondisi itu, ada orang yang dengan sangat
cerdas, yaitu M. Hatta dan Pak Natsir, ketika melihat ada kemungkinan
kemerdekaan pada bulan Juni 1945, mereka mempersiapkan Kampus
Sekolah Tinggi Islam. Kampus itulah yang nantinya bertujuan untuk diisi
oleh orang-orang dalam rangka mengisi kemerdekaan. Jadi, kampus
pertama yang didirikan oleh bangsa Indonesia itu adalah STI (Sekolah
Tinggi Islam) yang kemudian menjadi UII (Universitas Islam Indonesia)
dimana Pak Hatta menjadi ketua dan Pak Natsir menjadi sekretarisnya.
Mereka berdua ini adalah orang yang sangat visioner melihat kedepan.
Mereka sadar bahwa orang-orang yang terbaik itu lahir dari kampus, dan
mereka itulah yang akan memimpin bangsa nantinya. Melihat sedemikian
pentingnya Kampus, maka gerakan menghijaukan kampus juga digiatkan
oleh Bapak-Bapak kita. Pak Khalil Badawi dulu ditugaskan untuk membina
AMN di Magelang. Maka para militer itu, seperti Prabowo, Syafri
Syamsuddin, Gaffar, dan lain-lain menjadi bagian target pembinaan.
Pengaruh masjid Ruhul Islam di AMN menjadi sangat kental. Di Bandung
ada yang namanya masjid Salman. Dapat dikatakan, dahulu lahirnya para
tokoh itu memang berasal dari kampus Islam. Nah, sekarang tidak demikian.
(Di) Jaman Pak Natsir, beliau mengumpulkan kita-kita. Caranya setiap kota
di perguruan tinggi dicari figurnya. Di Bandung ada Pak Sadzali, yang
dititipin kepada Pak Rusyad Nurdin. Di Jakarta ada Pak Daud Ali yang
dititipkannya adalah Pak Rasyidi. Jadi ada yang membinanya. Di Jogya ada
Sakhirul Alim dan Mahyudin, bersama mereka ada Amin Ra'is dan Kunto,
dan lain-lain. Ada Fuad Amsyari, bersama Kyai Misbah di Jawa Timur dan
lain-lain.

Apa targetnya Pak Natsir membuat model pembinaan seperti itu?

Ketika itu, selain kebutuhan gerakan da'wah di dunia kampus, Pak Natsir
ingin melakukan percepatan pembangunan untuk menyaingi percepatan
pembangunan 25 tahun ala Ali Murtopo. Sambil beliau menyusun konsep
itu, beliau membina kita. Maka kemudian rutin diadakan pertemuan sebulan
sekali di rumah saya. Disana dibicarakan tentang konsep politik,
kebudayaan, dan lain-lain. Dalam pertemuan itu posisi Pak Natsir hanya
memandu. Dalam sejumlah masalah-masalah pokok maka Pak Natsir
memanggil orang-orang yang ahli di bidangnya. Ketika bicara kebudayaan,
maka diundanglah Pak Rasyidi, ketika bicara politik maka diundanglah Pak
Anwar Haryono, dan perkara teksnya disusun oleh Daud Ali. Semuanya
dibicarakan secara bersama-sama. Pembinaan seperti itulah yang membuat
kami tidak terlalu jauh berbeda dengan tokoh-tokoh di masing-masing
tempat tersebut. Kami setelah itu kemudian menyebarkan fikrah tersebut di
masing-masing tempat dan membina adik-adik binaan kami.

Kami melihat ini adalah program pendewasaan untuk melihat realita.


Di STID Mohammad Natsir, mahasiswa juga disebar di beberapa
masjid di sekitar Dewan Da'wah. Bagaimana menurut ustadz?

Bagus sekali itu. Kata Pak Natsir, pemimpin itu memang harus terjun
lansung. Seperti orang mau berenang, maka ia tak akan mengenalnya
kecuali setelah terjun langsung di dalamnya.

Sejumlah mahasiswa kami juga kami turunkan ke daerah-daerah


seperti NTB dan lain-lain. Bahkan diantara daerah itu ada yang
merasa kehilangan atas berakhirnya masa bakti mereka.

Ya, itulah yang diinginkan Pak Natsir. Dari praktek da'wah di lapangan itu,
maka akan ada seleksi. Dan dari situ terlihat siapa yang mampu. Itulah
teorinya pak Natsir. Saya tertarik mendengar berita mahasiswa itu. Itu bagus
sekali

Mengenai keterlibatan kampus di tengah ummat, bagaimana Bapak


melihat kampus STID Mohamamd Natsir ini seharusnya?

Saya memahami Dewan Da'wah itu secara tradisinya adalah memimpin


ummat, termasuk ke dalam bidang politik. Suka atau tidak suka kita harus
memainkan politik. Di jaman Nabi juga begitu. Tidak seperti yang terjadi di
dalam gerakan da'wah Jama’ah Tabligh, dimana mereka itu menganggap
politik adalah urusan dunia. Yang perlu diingat dalam berpolitik, ketika
nanti ada hasilnya, janganlah orang itu kemudian berfikir sektoral. Tapi ia
harus berfikir ummat, yaitu Izzul Islam wal Muslimin. Memang kadang-
kadang ujiannya itu ada saja bentuknya. Saya kira berpolitik praktis itu juga
tidak apa-apa untuk sebuah pengalaman. Disana kita belajar untuk
menganalisa DPR itu begini, politik itu begini, kekuatan ummat, kelemahan
dan lain-lain. Tapi jangan terus mendekam di situ saja. Saya dulu cukup di
PAN lima tahun saja. Setelah itu cukup. Dengan pengalaman itu kita
menghendaki pemimpin yang negarawan, bukan yang politisi. Yaitu yang
memikirkan apa yang terbaik buat ummat, bukan buat partai X atau buat
saya pribadi. Keikutsertaan kita di dunia politik itu penting, karena UU itu
hanya dapat diubah di DPR.

Bagaimana kalau politisi itu didampingi pembina yang mengisi nilai-


nilai Islamnya. Seperti dahulu babak-bapak kita?

Itu ide bagus, itu strategis. Akan tetapi mereka juga harus memiliki skill
yang tidak hanya faham persoalan agama namun juga waqi'iyah yang
membuat wawasan semakin luas untuk menentukan persoalan. Panduan
buku ‘Khittah Da'wah’ juga buku merupakan buku yang sangat baik untuk
menjadi pedoman para da'i karena buku itu selama 2 tahun disusun dalam
bimbingan langsung Pak Natsir. Saya mau membantu untuk melengkapinya
jika saudara hendak menggunakannya.

Bagaimana bentuk kampus yang baik untuk pembinaan ummat

Kampus yang baik untuk pembinaan ummat adalah kampus yang memiliki
pergerakan berbasis kepada Masjid. Dari masjidlah proses pengkaderan
keummatan itu berlangsung.