Anda di halaman 1dari 10

MENUJU PERGURUAN TINGGI ISLAM:

(Antara Da’wah dan Intelektualisme Islam)


Oleh: Ulil Amri Syafri

Perguruan Tinggi Islam bermula sejak dirintisnya Sekolah Tinggi Islam


oleh Mohammad Hatta dan M. Natsir pada bulan Juni 1945, yang kini
menjadi UII di Yogyakarta. Perintisan itu sungguh memberikan arti
mendalam bagi perintisan intelektualitas muslim di Indonesia hingga detik
ini. Pesatnya perkembangan jaman yang membawa begitu banyak
problematika hidup dapat diusahakan untuk mendapatkan imunnya melalui
lembaga-lembaga pendidikan khususnya Perguruan Tinggi Islam. Karena
ditempat itulah, pengkajian terhadap suatu masalah mendapatkan porsi
yang jauh lebih banyak dibanding jenjang pendidikan lainnya. Namun
demikian, fakta juga menyebutkan bahwa tak sedikit dari Perguruan Tinggi
Islam yang justru hanya menjadi beban bagi ummat. Ia tidak melahirkan
kader dan tidak memberikan sumbangsih bagi kehidupan ummat. Untuk itu,
harus ada pemikiran visioner yang memiliki visi yang berlandaskan nilai-
nilai ke-Islaman, sehingga diharapkan antara ummat dan mahasiswa
muslim secara berkesinambungan saling memberikan kontribusinya. Dalam
hal ini, aspek da'wah kian menjadi sorotan tajam sejumlah lembaga-
lembaga pendidikan Islam untuk terus dikembangkan menjadi media utama
gerak langkah perguruan tinggi.

Kata kunci: da’wah, intelektualisme, re-orientasi, Catur Dharma, dikotomi,


integral, komprehensif

Pendahuluan
Pendidikan bukan hanya sekedar proses transfer pengetahuan dari satu
orang ke orang lain saja, tetapi merupakan proses transformasi nilai dan
pembentukan karakter dalam segala aspeknya. Pendidikan juga tidak hanya
menempatkan manusia sebagai ‘objek’ pembangunan suatu negara saja,
akan tetapi manusia dipandang sebagai ‘subjek’ yang mampu
mengaktualisasikan potensi dan dimensi kemanusiaannya secara utuh dan
optimal, meliputi keteguhan iman dan takwa, penguasaan IPTEK, ekspresi
estetis, keluhuran budi pekerti, serta wawasan kebangsaan.1 Paradigma

1
Dodi Nandika, Pendidikan di Tengah Gelombang Perubahan, Jakarta: Pustaka LP3ES,
2007, hlm. 13.
pendidikan tersebut mengarahkan kepada pendidikan yang memanusiakan
manusia secara holistik dan mengedepankan pembentukan karakter dan
wawasan peserta didik.2
Kualitas pendidikan yang baik bisa menghasilkan output yang baik
pula, demikian juga sebaliknya. Hal ini bisa diasumsikan bahwa pendidikan
sebagai rekayasa sosial untuk memproduksi individu-individu dan akhirnya
membentuk suatu masyarakat sesuai dengan yang diinginkan.
Konsekuensinya, masyarakat yang baik relatif akan menjelma menjadi suatu
bangsa yang secara keseluruhan dianggap baik pula. 3
Oleh karena itu, kualitas pendidikan suatu negara ditentukan oleh dua
faktor yang mendukung. Faktor internal yang meliputi dunia pendidikan
(Depdiknas, Dinas Pendidikan Daerah, Sekolah) dan faktor eksternal, yaitu
masyarakat pada umumnya. Jika keduanya berjalan beriringan dan saling
mendukung – pendidikan mengabdi kepada kepentingan masyarakat dan
masyarakat mendukung dunia pendidikan – hal ini akan menjadi pondasi
yang kuat dalam membangun suatu bangsa.4
Dalam tingkat universitas, khususnya pendidikan tinggi Islam,
pendidikan mempunyai tujuan untuk mewujudkan manusia yang baik,
manusia yang sempurna atau manusia universal yang sesuai dengan fungsi
utama diciptakannya dimana ia membawa dua misi sekaligus, yaitu sebagai
hamba Allah (‘abd Allah) dan sebagai khalifah di bumi (khalîfah fi al-‘ard).5
Oleh karena itu, sistem pendidikan Islam seharusnya dapat merefleksikan
ilmu pengetahuan dan ittiba’ pada Rasulullah saw serta berkewajiban
mewujudkan ummat Islam yang mampu menampilkan kualitas keteladanan
Rasulullah saw sesuai potensi diri masing-masing.6 Dengan kata lain,
pendidikan Islam diharapkan mampu mewujudkan insan mu’min yang
sesungguhnya dalam wawasan dan otoritatif keilmuannya.
2
ibid., hlm. 14.
3
Drs. H. Abdul Latif, M.Pd., Pendidikan Berbasis Nilai Kemasyarakatan, Bandung:
Refika ADITAMA, 2007, hlm. 4.
4
Dodi Nandika, Pendidikan, hlm. 16.
5
Merupakan konsep Syed Naquib al-Attas. Lahir tahun 1931, beliau adalah pemikir
kontemporer Muslim pertama yang mendefinisikan arti pendidikan secara sistematis,
menegaskan dan menjelaskan bahwa tujuan pendidikan menurut Islam bukanlah untuk
menghasilkan warganegara atau pekerja yang baik, melainkan untuk menciptakan manusia
yang baik. Lihat Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud, Konsep al-Attas Tentang Ta’dib
(Gagasan Pendidikan Yang Tepat dan Komprehensif dalam Islam), dalam Majalah
ISLAMIA, Thn. I, No.6, Juli-September 2005, hlm. 76.
6
Konsep ini berbeda dengan konsep Barat karena ide Barat tentang manusia universal
hanyalah terbatas pada konsep semata, karena idenya tidak mengakar pada figur Rasulullah
saw, apalagi ukuran Barat mengenai sesuatu yang ideal bisa selalu berubah dan berevolusi.
Lihat Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud, The Educational Philosopy and Method of Syed
Muhammad Naquib al-Attas: An Exposition of The Original Concept of Islamization, Kuala
Lumpur: ISTAC, 1995, hlm. 212.
Di awal berdirinya, secara khusus tujuan pendidikan Islam Indonesia
di tingkat perguruan tinggi lebih dititik beratkan dalam melahirkan kader-
kader da’wah untuk diterjunkan ke tengah-tengah masyarakat.7 Tujuan ini
diimplementasikan dengan bentuk mempersiapkan peserta didik dalam
memahami dan menguasai ilmu-ilmu keislaman, serta mengamalkan dan
menyebarluaskan ajaran-ajarannya.
Seiring perubahan-perubahan yang terus dilakukan, perguruan tinggi
Islam Indonesia saat ini tidak hanya melahirkan para juru da’wah, guru
pendidik partisan, tenaga kerja, namun juga mendorong, menyiapkan dan
melahirkan pakar ilmu keislaman dan para intelektual Islam. Hal ini karena
pendidikan yang berbasis pada penelitian mulai dikembangkan. Para
lulusannya tidak saja muncul sebagai seorang yang kompeten di bidangnya
yang terjun langsung ke masyarakat, seperti para juru da’wah yang banyak
bermunculan saat ini, tetapi mereka juga dibekali ilmu-ilmu akademis yang
melahirkan para intelektual Islam. Masalah yang timbul dari hal ini adalah
tentang kualitas dan kuantitas para lulusannya. Meski para lulusan yang
dihasilkan oleh kampus terbagi pada beberapa disiplin keilmuan, namun
dari segi kualitas belum memperlihatkan kegembiraan. Sebagai contoh,
mahasiswa psikologi Islam atau komunikasi Islam atau jurusan yang secara
tegas menamakan jurusan pendidikan Islam, kurang memiliki wawasan dan
mendalami keilmuan tersebut berdasarkan paradigma Islam secara baik,
mereka lebih menyerap nilai-nilai yang muncul dari teori-teori bukan dari
Islam. Alasan yang sering kita dengar antara lain rasa ingin tahu mahasiswa
itu, disamping pihak perguruan tinggi juga belum menstrukturkan secara
tepat ilmu-ilmu dasar atau landasan dalam jurusan yang beragam tersebut.
Maka, yang jadi pertanyaan adalah bagaimana strategi perguruan
tinggi Islam Indonesia untuk membangun kedua hal tersebut, yaitu
melahirkan para sarjana Islam yang baik secara keintelektualannya,
keilmuan dan juga pada kesadarannya untuk turut terlibat dalam pekerjaan
da’wah. Kemudian, aspek kegiatan apa yang harus dibangun oleh Perguruan
tinggi Islam guna mendukung tujuan tersebut. Dari masalah-masalah yang
ada di atas diharapkan akan didapat teori-teori yang dapat mewujudkan
Perguruan Tinggi Islam yang mampu membangun keseimbangan antara
da’wah dan intelektualisme Islam.

7
Pada tahun 1945, Masjoemi beserta para ulama dan intelektual serta Departemen
Agama yang mewakili pemerintah mengadakan rapat yang menghasilkan dua keputusan
penting, yaitu pembentukan Hizbullah dan mendirikan Perguruan Tinggi Islam dengan
nama Sekolah Tinggi Islam (STI). Djauhari Muhsin, et al., Sejarah dan Dinamika
Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta: Badan Wakaf UII, 2002, hlm. 27-29.
Re-Orientasi Tri Dharma Perguruan Tinggi
Menurut program pendidikan yang disusun oleh Departemen
Pendidikan Nasional dan Departemen Agama, perguruan tinggi Indonesia
harus dilandasi oleh Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pelayanan
pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.8 Hal ini
berhubungan dengan pembangunan nasional yang sedang digalakkan
pemerintah dalam rangka meningkatkan taraf kehidupan masyarakat.
Perguruan tinggi Islam dalam hal ini seyogyanya berupaya
meningkatkan keterkaitan masing-masing bidang yang ada dalam Tri
Dharma menjadi satu kesatuan yang solid. Beberapa upaya yang harus
dilakukan perguruan tinggi Islam dalam mengurai permasalahan di atas
antara lain perlu disegerakan penanganannya pada hal-hal yang
berhubungan dengan struktural maupun proses pendidikannya. Tri Dharma
yang dikembangkan di Indonesia pada tingkat kampus kalau terus
dilaksanakan tanpa ada evaluasi dan perubahan hanya akan menghasilkan
sesuatu yang tidak jauh dari yang telah ada atau dengan kata lain tidak akan
ada perubahan. Maka konsep ini haruslah ditinjau ulang dan ada re-
Orientasi pada Tri Dharma tersebut, terutama pada perguruan Tinggi Islam,
atau kalau perlu Tri Dharma tersebut dirubah menjadi Catur Dharma, yaitu
pelayanan pendidikan dan pembinaan, penelitian, pengabdian kepada
masyarakat, dan da’wah.
1. Bidang Pendidikan dan Pembinaan
Seperti yang telah kita ketahui, pendidikan Islam yang ada di
Indonesia sekarang hanya sekedar proses transfer ilmu dari satu orang
ke orang lainnya tanpa disertai pembinaan karakter di dalamnya. Sulit
membedakan belajar di perguruan tinggi Islam dengan belajar di
perguruan tinggi umum, tidak ada ciri keislaman yang melekat pada
dimensi keilmuannya. Perguruan tinggi umum di Indonesia masih
menggunakan konsep Barat yang mengedepankan konsep dikotomi ilmu
pengetahuan, sehingga ketika ada pemisahan antara perguruan tinggi
Umum dan Islam, hal-hal tersebut terimbas pada sistem dan konsep
pengajarannya; beda nama namun tetap memiliki konsep yang sama.
Seperti juga pada pendidikan tinggi umum, peserta didik pada perguruan
tinggi Islam hanya menerima ilmu-ilmu yang dimaksud tanpa adanya
dimensi keislaman pada ilmu-ilmu tersebut. Disinilah dikotomi
keilmuan itu dimulai. Seharusnya, semua bidang keilmuan yang
diajarkan harus berdiri di atas landasan agama Islam, yaitu Al-Qur’an

8
Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Agama, Rencana Strategis
Pendidikan Nasional Tahun 2005-2009, Jakarta: Depdiknas dan Depag, 2005, hlm. 87.
dan Sunnah serta didukung penjabarannya oleh pandangan-pandangan
ulama dan pakar muslim yang komprehensif.
Selain itu, tidak ada penilaian khusus tentang kepribadian dan
karakter para peserta didik. Dari sinilah lahir dikotomi antara ilmu dan
ilmuwan. Seorang ilmuwan yang dianggap pakar ternyata tidak dapat
mengapresiasikan ilmu tersebut dalam perubahan sikap, baik dalam
amal atau pun paradigma yang memperlihatkan peningkatan nilai tauhid
seorang ilmuwan (baca: Q.S. Iqra’).
Hal ini akan terus berulang terjadi jika tidak dilakukan perubahan
secara sistematis terhadap bidang pendidikan dan pembinaan, sistem
tersebut hendaknya menjadi turunan yang jelas pula pada konsep dan
metode pengajaran dan lainnya. Perubahan-perubahan ini adalah salah
satu cara untuk menghasilkan lulusan-lulusan yang sesuai dengan tujuan
pendidikan Islam, yaitu mampu mewujudkan insan mu’min yang
sesungguhnya dalam wawasan dan otoritatif keilmuannya.
Selain kedua hal tersebut, perguruan tinggi Islam diharapkan
dapat mengembangkan paradigma Islam secara komprehensif dalam
berbagai bidang ilmu yang diajarkan pada kurikulumnya. Pada dasarnya,
semua ilmu mempunyai karakteristik9, diantaranya:
1. Bersumber dari Allah SWT.
2. Bersifat duniawi dan ukhrawi; Semua ilmu tidak dapat dipisahkan
dari nilai ukhrawinya, tetap ada sisi spiritualnya.
3. Berlaku umum; Ilmu yang ada dapat dimanfaatkan oleh semua
komunitas manusia.
4. Realistis. Dalam ilmu harus ada penjelasan dan contoh-contoh yang
nyata.
5. Integral. Artinya, tidak dikotomis pada dimensi keilmuannya.
6. Universal, sehingga dapat melahirkan konsep-konsep keilmuwan di
segala bidang dan semua kebutuhan manusia, seperti: ilmu-ilmu
politik, ekonomi, administrasi, dan lainnya.
Oleh karena itu dibutuhkan beberapa cara baik langsung maupun
tidak langsung untuk menjalankan hal tersebut, seperti menyediakan
SDM, baik para pengelola dan pengajarnya, yang faham konsep-konsep
di atas; ada kebijakan politik dari pihak terkait untuk mendukung hal
tersebut, dan selalu melakukan penelitian untuk melakukan
pengembangan perguruan tinggi Islam.

2. Bidang Penelitian
9
DR. Abdul Ghoffar Muhammad Azis, et al., Dirâsât al-Nidzâm wa al-Tsaqâfah al-
Islâmiyyah, Kairo: Al-Azhar University, t.th, hlm. 103-122.
Keberadaan bidang penelitian pada unit kegiatan perguruan
tinggi Islam hendaknya dioptimalkan fungsi dan perannya, serta
intensitas dan kualitasnya. Jika saat ini perguruan tinggi umum sudah
mulai berbasis penelitian, sesuai dengan arah pengembangannya, maka
perguruan tinggi Islam pun ikut terimbas mulai mengembangkan
pendidikan Islam berbasis penelitian. Namun ini belum mendapatkan
perhatian secara baik dan tepat dari beberapa kampus Islam, karena
kurang diminati oleh peserta didik. Hal ini tentunya terkait dengan mutu
dan SDM pengelola perguruan tinggi tersebut. Pada kampus yang telah
melakukan, bahkan yang telah mempublikasikan hasil penelitiannya
melalui media resmi, hasil penelitian itu acap kali terkesan ‘kejar target’,
sekedar kebutuhan administrasi kelayakan kampus, dan tidak
berorientasi pada ilmu dan penelitian yang independen guna
menemukan jawaban masalah sesuai metodologis dan paradigma Islam.
Sesuai dengan metodologis, perguruan tinggi Islam bisa saja
mengadakan kerjasama atau penelitian silang dengan perguruan tinggi
yang sejenis, namun hasilnya tidak ada bedanya dengan penelitian yang
dilakukan oleh perguruan tinggi umumnya.
Diharapkan ke depan, bidang penelitian pada perguruan tinggi Islam
hendaknya memiliki ciri dan tradisi penelitian yang menggambarkan
secara baik corak penelitian intelektual muslim yang jujur dan
bertanggung jawab, baik dari dimensi obyek, teori, metodologi, analisa,
ataupun kesimpulannya.

3. Bidang Pengabdian Pada Masyarakat


Menurut PP Nomor 60 Tahun 1999 Bab II pasal 3 ayat 4 yang
dimaksud pengabdian pada masyarakat adalah kegiatan yang
memanfaatkan ilmu pengetahuan dalam upaya memberikan sumbangan
demi kemajuan masyarakat.10 Bentuk pengabdian yang dilakukan
perguruan tinggi adalah dengan mengamalkan IPTEKS secara
melembaga melalui metode ilmiah langsung kepada masyarakat yang
membutuhkan, dalam upaya mensukseskan pembangunan dan
mengembangkan manusia pembangunan. Konsep yang digunakan
meliputi pengembangan, penyebarluasan dan penerapan IPTEKS,
pemberi bantuan keahlian serta pemberian jasa pelayanan profesional. 11
Pengertian ini dapat berkembang dan dikembangkan sesuai dengan
persepsi dan tergantung pada dimensi ruang dan waktu.
10
Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Pedoman
Pengabdian Kepada Masyarakat, Jakarta: IAIN, 2002, hlm. 2.
11
ibid., hlm. 4.
Pengabdian pada masyarakat di tingkat perguruan tinggi
biasanya berupa kursus, lokakarya, latihan kerja, penyuluhan, jasa
konsultansi, KKN, dan lainnya. Untuk pendidikan tinggi Islam, hal ini
belum terkonsep dengan baik sesuai dengan karakter keilmuan Islam.
Sebaiknya, adanya lembaga pengabdian pada masyarakat pada tingkat
kampus dapat menjembatani antara ilmu – ilmuwan – masyarakat,
sehingga tujuan global sebuah pendidikan, yaitu membentuk peradaban
suatu bangsa, dapat lebih dicapai. Jika pendidikan mengabdi kepada
kepentingan masyarakat dan masyarakat mendukung dunia pendidikan
akan tidak mungkin akan menjadi sebuah pondasi yang kokoh dalam
membangun suatu bangsa.

4. Bidang Da’wah
Dari teori-teori yang ada da’wah dapat diartikan sebagai seruan dan
ajakan untuk seseorang agar beriman kepada Allah SWT dan kitabNya
dengan akidah dan akhlak yang baik serta cara penyampaian yang benar.
Da’wah memiliki dua aspek, yaitu menghilangkan kemaksiatan,
kemungkaran, kejahiliahan dan kebodohan yang ada di tengah-tengah
masyarakat dan membangun sesuatu yang dibutuhkan masyarakat sesuai
dengan nilai-nilai Islam. Da’wah merupakan kegiatan yang harus terus
dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan.
Dalam kaitannya kepada perguruan tinggi Islam, da’wah seharusnya
menjadi bidang yang mendapat perhatian karena para lulusan dari
kampus-kampus Islam diharapkan mampu memberikan advokasi kepada
masyarakat muslim, apapun bidang studi yang diambilnya. Dengan
ilmu-ilmu yang integral dan komprehensif, para lulusan perguruan tinggi
harus mampu menerjemahkannya ketika mereka terjun langsung dan
bersentuhan dengan masyarakat. Artinya, dengan ilmunya mereka harus
mampu membangun kedua aspek da’wah di atas. Sedangkan dari sisi
lembaga, perguruan tinggi Islam hendaknya dapat memerankan aktivitas
da’wah kepada lingkungan di mana kampus itu berada. Selain itu,
perguruan tinggi Islam diharapkan dapat menjadi ‘agen perubah’ dalam
masyarakat, merubah sesuatu yang tidak baik menjadi baik, sesuatu
yang kurang dimengerti masyarakat menjadi sesuatu yang difahami, dan
sebagainya.
Kenyataannya, banyak perguruan tinggi Islam yang kehadirannya
dalam sisi da’wah tidak terasa oleh lingkungannya. Bahkan, akhlak dan
moral lingkungan di sekitar kampus kerap kali berkembang kurang baik
dengan kehadiran kampus yang tidak memperhatikan aspek da’wah
tersebut. Contohnya, kampus yang memiliki fakultas ekonomi Islam
dengan berbagai jurusannya, seberapa jauh ilmu dan teori-teori yang
diajarkan di kampus tersebut dapat merubah sikap keberagamaan
masyarakat sekitar kampus, khususnya yang berhubungan dengan
praktek ekonomi masyarakat. Hal ini tidak menjadi agenda kampus
Islam kebanyakan. Maka tidak aneh jika di berbagai lingkungan di mana
terdapat kampus Islam, tingkat keberislaman masyarakat tidak
terpengaruh suasana kampus. Di sinilah pentingnya bidang da’wah
dijadikan salah satu landasan perguruan tinggi Islam yang diatur
sedemikian rupa secara terstruktur dengan segala konsekuensinya.

Dari uraian-uraian di atas dapat dilihat bahwa pendidikan tinggi Islam


di Indonesia harus memiliki agenda khusus di bidang da’wah terkait dengan
pemberdayaan dan peningkatan masyarakat sekitar kampus. Pembinaan-
pembinaan itu dapat berupa aspek pembinaan budaya, aspek pembinaan
sosial kemasyarakatan agar masyarakat di sekitar kampus tidak tertinggal
dan jahîl, aspek intelektualitas sesuai dengan kompetensi yang dimiliki
kampus, dan aspek-aspek lainnya. Sehingga antara kampus dan
lingkungannya tidak memiliki jarak dalam hal nilai keislaman yang
dikembangkan di kampus. Sangat disayangkan jika ada perguruan tinggi
Islam yang unggul dalam keilmuannya, namun memiliki lingkungan
masyarakat yang buta huruf al-Qur’an. Atau di lingkungan sekitar perguruan
tinggi Islam yang memiliki fakultas ilmu-ilmu keislaman, ternyata malah
menjadi tempat-tempat kemaksiatan. Maka, tidaklah aneh jika di Indonesia
yang memiliki ratusan perguruan tinggi Islam, prosentase dekadensi moral
malah semakin tinggi.
Di sinilah pentingnya untuk dikembangkan aspek da’wah menjadi
salah satu prioritas utama yang dibangun oleh Perguruan tinggi Islam guna
melahirkan para sarjana Islam yang baik secara keintelektualan dan
keilmuannya serta memiliki kesadaran untuk turut terlibat dalam pekerjaan
da’wah.

Penutup
Menurut program pendidikan yang disusun oleh pemerintah,
perguruan tinggi Indonesia harus dilandasi oleh Tri Dharma Perguruan
Tinggi. Hal ini mungkin bisa dilakukan di perguruan tinggi umum. Namun,
berbicara tentang perguruan tinggi Islam, landasan tersebut dirasa kurang
lengkap karena da’wah merupakan bagian dari Islam dan tidak bisa
dipisahkan dengan ilmu-ilmu keislaman. Meminjam ungkapan Pak Natsir,
“Risalah Merintis Da’wah Melanjutkan”. Perguruan tinggi Islam sebagai
tempat para intelektual seharusnya memegang peranan yang utama dalam
mengembangkan da’wah tersebut. Oleh karena itu, landasan yang mungkin
dapat digunakan pada perguruan tinggi Islam adalah Catur Dharma, yaitu
meliputi pelayanan pendidikan dan pembinaan, penelitian, pengabdian
kepada masyarakat, dan da’wah.
1. Bidang Pendidikan dan Pembinaan. Bidang ini diharapkan dapat
mengakhiri masalah dikotomi keilmuwan, membangun integrasi
keilmuan dengan misi keilmuan Islam, dan mengembangkan
paradigma Islam secara komprehensif dalam berbagai bidang ilmu
yang diajarkan oleh perguruan tinggi Islam.
2. Bidang Penelitian. Diharapkan setiap perguruan tinggi mampu
merumuskan teori-teori penelitian yang bercorak budaya
keintelektualan Islam dengan mengedepankan aspek-aspek kejujuran
secara ilmiah dan bertanggungjawab.
3. Bidang Pengabdian Pada Masyarakat. Pada bidang ini diharapkan
untuk dapat dioptimalkan dalam hal tujuan kegiatan, program-
program yang disusun, serta selalu memiliki target yang berujung
pada peningkatan kualitas pribadi dan masyarakat muslim,
disamping selalu mengevaluasi hasil-hasil yang telah dicapai.
4. Bidang Da’wah. Da’wah merupakan bagian dari Islam dan tidak
dapat dipisahkan dari ilmu-ilmu keislaman. Maka perguruan tinggi
Islam hendaknya dapat memerankan aktivitas da’wah kepada
lingkungan di mana kampus itu berada.
Selain itu dibutuhkan pula aspek yang dapat menunjang tujuan
perguruan tinggi Islam, yaitu melahirkan para sarjana Islam yang baik
secara keintelektualan dan keilmuannya. Aspek tersebut adalah aspek
da’wah. Dengan aspek da’wah, diharapkan kampus memiliki para lulusan
yang memiliki kesadaran untuk turut terlibat dalam pekerjaan da’wah
sehingga antara kampus dan lingkungan di sekitarnya tidak memiliki jarak
dalam hal nilai keislaman yang dikembangkan di kampus.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Ghoffar Muhammad Azis, DR., et al., Dirâsât al-Nidzâm wa al-


Tsaqâfah al-Islâmiyyah, Kairo: Al-Azhar University, t.th.
Abdul Latif, M.Pd., Drs. H., Pendidikan Berbasis Nilai Kemasyarakatan,
Bandung: Refika ADITAMA, 2007.
Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Agama, Rencana
Strategis Pendidikan Nasional Tahun 2005-2009, Jakarta: Depdiknas dan
Depag, 2005.
Djauhari Muhsin, et al., Sejarah dan Dinamika Universitas Islam Indonesia,
Yogyakarta: Badan Wakaf UII, 2002.
Dodi Nandika, Pendidikan di Tengah Gelombang Perubahan, Jakarta:
Pustaka LP3ES, 2007.
Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta,
Pedoman Pengabdian Kepada Masyarakat, Jakarta: IAIN, 2002.
Wan Mohd Nor Wan Daud, Prof. Dr., Konsep al-Attas Tentang Ta’dib
(Gagasan Pendidikan Yang Tepat dan Komprehensif dalam Islam), dalam
Majalah ISLAMIA, Thn. I, No.6, Juli-September 2005.