Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver

Oleh: Dahlan Iskan iskan@jawapos.co.id

Ganti Hati 01 - Harus Turun Mesin, karena Organ-Organ Saya Rusak Parah
26 Agusutus 2007 Pagi ini, hari ke-20 saya hidup dengan liver baru. Kelihatannya akan baik-baik saja. Tidak ada tandatanda kegagalan seperti yang dialami Cak Nur (Nurcholish Madjid, tokoh yang digadang-gadang menjadi salah satu calon presiden), yang menjalani transplantasi liver di Tiongkok pada 19 Juli 2004. Kadar protein dalam darah saya yang tidak pernah bisa normal, kini menjadi sangat baik. Salah satu unsur penting di protein itu, albumin, sejak liver saya diganti sudah mencapai angka 3,6. Selama lebih dari 10 tahun saya hidup dengan kadar albumin yang hanya 2,7. Padahal, normalnya paling tidak 3,2. Rendahnya kadar albumin membuat tubuh saya tak mampu membuang kelebihan air, baik dalam bentuk keringat maupun kencing. Sehingga air yang berlebih ikut darah beredar ke seluruh tubuh. Akibatnya, tubuh saya jadi “gemuk”. Karena itu, kalau ada orang memuji badan saya terlihat lebih gemuk dan segar, dalam hati sebenarnya saya menderita. Sebab, saya tahu, tubuh saya tidak sedang gemuk, tapi bengkak! Begitu liver diganti dan albumin normal, badan saya langsung susut. Tapi tidak kuyu, melainkan sebaliknya: lebih segar. Dua hari pertama pascatransplantasi, kencing saya bisa mencapai 10 liter sehari. Sebagian karena memang banyak cairan yang masuk ke badan, sebagian lagi karena air yang tadinya beredar bersama darah, sudah bisa dipisahkan oleh albumin dan dikirim ke kandung kemih. Platelet atau trombosit saya, yang seharusnya minimal 200, pernah tinggal 55. Dengan platelet serendah itu, saya terancam mengalami perdarahan dari mana pun: mulut, hidung, lubang kemaluan, telinga, dan mata. Untuk menyelamatkan saya dari ancaman itu, dokter lantas memotong limpa saya hingga sepertiga. Setelah limpa dipotong, platelet saya naik sampai 120. Sayangnya, itu tidak lama. Perlahan-lahan angka itu menurun secara konstan. Terakhir tinggal 70. Hampir sama dengan sebelum limpa saya dipotong. Tapi, setelah liver saya diganti, platelet saya langsung naik. Tiga hari lalu angkanya sudah mencapai 260. Normalnya, antara 200 sampai 300. Mengapa saya memutuskan ganti liver? Tidakkah takut gagal? Mengapa liver saya sakit? Separah apa? Bagaimana jalannya penggantian liver? Bagaimana mempersiapkan diri? Bahkan sampai ke doa apa yang saya ucapkan? Semua akan saya tulis untuk berbagi pengalaman dengan pembaca.

1

by Moezhanks

Cerita ini mungkin akan agak panjang (bisa 50 hari). Bukan karena saya mau berpanjang-panjang, tapi karena redaksi membatasi saya untuk menulis hanya sekitar 1.000 kata di setiap seri. Berikut saya mulai dengan seri pertama ini. (Nama-nama dokter, rumah sakit, sengaja baru akan disebutkan di bagian-bagian akhir tulisan): *** Di umur 55 tahun ternyata saya harus “turun mesin”. Begitu parahnya kerusakan organ-organ di dalam badan saya sampai harus pada keputusan menambal seluruh saluran pencernaan saya, memotong sepertiga limpa saya, dan mengganti sama sekali organ terbesar yang dimiliki manusia: liver. Turun mesin total itu harus diatur sedemikian rupa karena mesin yang sama harus tetap menjalankan tugas sehari-hari, yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Maka, saya pun mulai membuat jadwal turun mesin. Dimulai yang paling membahayakan agar yang penting nyawa bisa selamat dulu. Ternyata saya memang terancam meninggal dunia dari tiga jenis penyakit. Yang pertama adalah yang bisa membuat saya meninggal mendadak kapan saja tanpa penyebab apa pun. Tiba-tiba bisa saja saya muntah darah dan tak tertolong lagi. Ini karena seluruh saluran pencernaan saya, mulai tenggorok sampai perut sudah penuh dengan varises yang menor-menor karena sudah matang dan siap pecah. Ibarat kumpulan balon-balon kecil berwarna merah, yang kulitnya sudah tipis seperti balon yang ditiup terlalu keras. Kapan meletusnya bisa setiap saat. Saat meletus itulah orang akan muntah darah dan tak tertolong lagi. Penyakit kedua, yang bisa membuat saya meninggal dalam hitungan bulan adalah jumlah darah putih saya yang terus merosot. Mengapa? Karena limpa saya sudah membesar tiga kali lipat dari ukuran normal. Limpa yang tugasnya antara lain mengubur sel-sel darah merah yang mati (dengan darah putih yang diproduksinya), tidak mampu lagi berfungsi baik. Platelet saya yang seharusnya antara 200-300, hari itu tinggal 60. Itu pun dalam posisi terus menurun. Pada penurunan beberapa poin lagi, saya akan menderita perdarahan dari mana saja: bisa dari hidung, dari telinga, dari mulut, atau dari mata. Limpa sendiri bisa juga pecah karena sudah tidak kuat lagi akibat terus membesar. Yang ketiga, ya liver saya sendiri, yang ternyata sudah amat rusak. Setelah liver saya dibuang setahun kemudian, tampaklah nyata bahwa liver saya sudah seperti daging yang dipanggang terlalu masak. Padahal, seharusnya mulus seperti pipi bayi. Ini yang bisa membuat saya meninggal dunia dalam hitungan dua-tiga tahun. Bahkan, sebenarnya liver itu yang membuat limpa saya membesar dan membuat seluruh saluran darah di sepanjang pencernakan saya penuh dengan balon-balon darah yang siap pecah. Maka, satu per satu harus saya selesaikan. Saya mulai dari mengatasi agar tidak terjadi muntah darah. Lalu, setengah tahun kemudian memotong limpa saya. Dan, terakhir 6 Agustus lalu, beberapa hari sebelum ulang tahun ke-56 saya, saya lakukan transplantasi liver: membuang liver lama, diganti dengan liver baru. Semua proses itu memakan waktu hampir dua tahun. Ini karena saya tetap harus menjalankan aktivitas, baik sebagai pimpinan Grup Jawa Pos maupun sebagai CEO perusahaan daerah Jatim yang lagi giat-giatnya membangun tiga proyek besar: pabrik conveyor belt, gedung ekspo, dan shorebase. Semua tahap itu saya jalani dengan keputusan yang mantap, tanpa keraguan sedikit pun mengenai kegagalan hasilnya. Banyak teman yang bertanya mengapa saya bisa tegas membuat keputusan yang
2
by Moezhanks

begitu membahayakan hidup saya. Saya jawab bahwa percaya sepenuhnya dengan takdir -sesuai dengan tafsir yang saya yakini, yakni mirip dengan uraian buku Saudara Agus Mustofa Takdir Itu Bisa Berubah. Faktor lain adalah bahwa rupanya, kebiasaan saya membuat keputusan berani, keputusan besar dan keputusan yang cepat di perusahaan ikut memengaruhi keberanian membuat keputusan dengan kualitas yang sama untuk diri sendiri. Lalu, keyakinan bahwa saya mampu me-manage hal-hal yang rumit selama ini, tentu juga akan mampu me-manage kerumitan persoalan yang ternyata ada di dalam tubuh saya. Apakah tidak ada kekhawatiran sama sekali akan gagal dan kemudian meninggal? Tentu ada. Tapi, amat kecil. Saya tahu kapan harus ngotot dan kapan harus sumeleh. Keluarga saya yang miskin dan menganut tasawuf Syathariyah sudah mengajarkan sejak awal tentang sangkan paraning dumadi (dari mana dan akan ke mana hidup dan semua kejadian). Ini membuat saya akan ngotot melakukan apa pun untuk berhasil, tapi juga tahu batas kapan harus berakhir. Tentu ada penyebab lain: Banyak keluarga saya mati muda, sehingga saya pun seperti sudah siap sejak kecil bahwa saya juga akan mati muda. Ibu saya meninggal dalam usia 36 tahun (muntah darah). Kakak saya, yang digelari agennya Nurcholish Madjid di Jatim untuk urusan pembaharuan pemikiran Islam, meninggal dalam usia 32 tahun (muntah darah). Dia sering memarahi saya, mengapa masih kecil sudah belajar filsafat/tasawuf dan mengapa sering pergi ke pondok salaf. Tapi, tahun depannya saya masih tetap ke pondok salaf Kaliwungu, 25 km sebelah barat Semarang. Paman saya dan pakde saya juga meninggal muda. Penyebabnya juga sama: muntah darah. Muntah darah sebenarnya bukan penyebab, tapi begitulah orang di desa mengatakannya, karena tidak tahu bahwa semua itu berawal dari persoalan liver. Tapi, ada juga sedikit harapan bahwa saya bisa berumur panjang: Bapak saya meninggal dalam usia 93 tahun. Kakak tertua saya yang amat baik, Khosiyatun, yang juga ketua umum Aisyiah Kaltim, kini berumur hampir 70 tahun dan masih aktif mengajar di SD swasta di Samarinda. Entahlah, saya ikut yang mana. (bersambung)

Ganti Hati 02 - Tiga Jam Jelang Operasi Masih Ditawari ’Take Over’ Koran
27 Agustus 2007 Mudah-mudahan rencana operasi kali ini tidak gagal lagi. Yu Shi Gan Xian Sheng (nama saya di Tiongkok), besok mendapat giliran operasi. Itu kata seorang dokter di rumah sakit ini pada Minggu 5 Agustus 2007 kepada saya. Dia memakai istilah “mudah-mudahan tidak gagal lagi” karena memang sudah beberapa kali saya diberi tahu dapat giliran operasi, tapi selalu tertunda karena liver yang datang tidak cocok untuk mengganti liver saya. Kali ini kelihatannya cocok. Golongan darahnya sama. Juga sudah dinilai akan memenuhi syarat untuk ditransplantasikan ke saya. Harapan bahwa kali ini tidak gagal lagi kian besar setelah sore harinya, petugas cukur datang ke kamar saya. Dia harus mencukur rambut yang ada di badan saya, sebagai salah satu syarat dilakukannya operasi besar. Tugasnya sore itu ringan sekali karena hanya perlu mencukur rambut di sekitar kemaluan. Saya tidak punya rambut di dada atau di paha.

3

by Moezhanks

Setengah jam kemudian dilakukan lagi hal yang sama. Apalagi. saya potong rambut. Saya ingin agar setelah operasi kelak. Perut harus kosong sejak malamnya. nanti sore saya harus operasi. Dia pernah menyerahkan seluruh gajinya sebagai guru SD untuk biaya sekolah dan hidup saya selama lebih dari lima tahun. Tidak punya perasaan galau sedikit pun. Yakni. Setidaknya jam berapa harus berangkat ke ruang operasi. “Saya akan operasi jam 14. saya bicara langsung melalui telepon. nyaris gundul. bagaimana dengan rambut yang telanjur dicukur? Apa saya akan minta ditempelkan lagi? Prioritas saya kemudian adalah menghubungi kantor. kakak saya yang di Samarinda. “Mbakyu.30 saya diberi tahu tentang kepastian operasi. masih ada satu adik lagi yang masih kecil. Sore sebelum tidur.” kata seorang perawat. Bangun pagi 6 Agustus 2007. kalau mau cuci rambut lebih gampang. seluruh badan saya akan diolesi cairan antiinfeksi yang biasanya berwarna merah kecokelatan itu.00 perut saya masih harus dibesihkan dari kotoran dengan cara dimasuki cairan bening sekitar seperempat liter melalui pantat. 4 by Moezhanks . Itu sebagai tanggung jawabnya karena dia harus pergi meninggalkan kami tanpa ibu di Magetan untuk pergi ke Kaltim. Saya harus hati-hati menjelaskannya. Malam itu saya tidur nyenyak sebagaimana biasa. Saya tidak berani menjelaskan apa adanya. dan beberapa pemegang saham. sementara luka akibat sayatan yang panjang di situ belum menyatu kembali. seperti yang banyak dimiliki pasien dari negara-negara Arab. Meski itulah malam menghadapi operasi besar. Dia merasa kasihan saya hidup dengan Bapak yang tidak punya penghasilan tetap. karena dalam proses operasi ada prosedur sterilisasi di badan saya. dan saya mengangkatnya sebagai kakak ketiga. Alhamdulillah. Kalau tidak. Tentu ini kurang masuk akal. saya bertanya kepada perawat kira-kira operasinya jam berapa. “Operasi apa?” tanyanya. “Bapak harus masuk ruang operasi pukul 14. kata saya dalam hati. saya tidak punya kekhawatiran apa-apa. meski saya akan menjalani penggantian organ terbesar dalam tubuh seorang manusia. Beberapa sahabat penting saya di Tiongkok datang. Memang jadwal transplantasi besar seperti ini tidak gampang dibuat.00 nanti. Kakak pertama adalah seorang pensiunan jenderal polisi yang juga tinggal di kota ini.Saya lalu membayangkan bagaimana dengan pasien yang punya bulu dada lebat dan cepat tumbuh kembali. Di Kaltim dia harus mengajar di dua sekolah agar masih punya penghasilan untuk hidupnya sendiri. ikut paman saya. Maka saat itu dianggap perut saya sudah bersih. Sebentar dan sederhana sekali tugasnya untuk saya malam itu. bayangan-bayangan saya itu lenyap karena tiba-tiba tukang cukur menyatakan tugasnya sudah selesai. Misalnya. Pagi itu saya sudah tidak boleh makan apa pun.” kata saya. adik saya yang di Madiun. Kurang dari lima menit kemudian saya lari ke toilet karena semua isi perut seperti mau keluar. Karena itu. Saya tidak ingin ada kuman yang menempel di badan saya yang akan menjadi penyebab infeksi setelah operasi.” tulis saya di sms. Pendek sekali. khawatir mengganggu pikirannya. Namun.00. Terutama Mr Guo yang sejak 10 tahun lalu mengangkat saya sebagai adik kelima. Saya juga membayangkan bagaimana kalau bulu dada itu cepat tumbuh. Di toilet saya lihat tak ada lagi benda apa pun yang keluar kecuali air bening yang dimasukkan tadi. Perawat belum bisa menjawab. Tapi. sekitar pukul 09. Pukul 09. Itu kakak saya yang amat baik hatinya. Kepada kakak saya yang di Samarinda. saya lantas mandi lebih bersih daripada biasanya.

Lalu petugas pembawa baju operasi saya datang membuka bungkusan sterilnya. agar tidak sampai terjadi seperti yang mengakibatkan ibu dan Mbak Sofwati meninggal muda. Semua mengirimkan doa untuk keberhasilan operasi saya. Sekitar pukul 10. Saya balas sms itu. Mbak Sofwati adalah kakak saya yang meninggal umur 32 tahun setelah muntah darah. seorang direksi saya di Jakarta menanyakan lewat sms apakah dokumen tender listrik yang disiapkan sudah saya tanda tangani. “Mas Bambang. dia jadi ketua Korps Himpunan Mahasiswa Islam Wanita Jatim. Mulai Aceh sampai Jayapura.” tulisnya. Kalau perlu. SMS dari Bambang Sujiyono. “Selamatkan nyawa rekan saya ini. agar dia menunggu keputusan saya beberapa minggu lagi. “Allah. teman lama yang lain. Bahkan. (bersambung) 5 by Moezhanks .” jawab saya. Tanpa tahu bahwa saya segera memasuki meja operasi yang bisa memakan waktu 12 jam dan entah apa hasilnya. Seorang teman lama menawarkan agar saya membeli tabloidnya yang mengalami kesulitan. “Transplantasi ginjal itu sekarang sudah dianggap biasa. Isinya: apakah saya berminat mengambil alih koran berbahasa Inggris yang terbit di Jakarta? Saya jawab: saya perlu informasi lebih lengkap. Sesaat sebelum saya berganti baju dengan baju operasi.” tulis saya. Dia justru bertanya berat mana transplantasi ginjal dibanding liver. di rumah sakit ini hampir tiap hari juga dilakukan operasi penggantian jantung. seniman Surabaya itu.” Bambang memang orang yang sangat humanis. sangat dramatik. Dia tidak saya beri tahu betapa berisikonya penggantian liver ini. Saat mahasiswa. saya masih sempat membalas sms itu: tidak perlu saya yang tanda tangan. Dia kaget saya kok tiba-tiba memberitahunya akan operasi besar. tabloid itu akan sukses kalau di tangan saya. Dia sendiri dalam keadaan sakit jantung. Ini saya ketahui dari sms yang segera mengalir ke telepon saya. Dia bilang. Setengah jam kemudian. Dia menangis dalam SMS-nya.” tambah saya. Orangnya pintar dan karirnya bagus. sampai ke anak perusahaan. Saya balas tangisannya itu dengan tegar dan setengah guyon. juga kirim sms. Dalam waktu sekejap sms pemberitahuan operasi itu rupanya menyebar. Padahal. saya doakan semoga berhasil. “Juga operasi penggantian ginjal dan organ yang lain.30 saya terima sms dari Jakarta. tukar dengan kematian saya. “Ya.“Saya akan operasi. Liver paling sulit.” kata saya. Juga beredar di antara teman-teman. Lalu dia tidak emosional lagi.” katanya datar. dia kami jagokan sebagai tokoh keluarga. Saya lantas memberi tahu siapa yang bisa menggantikan tanda tangan saya. dan dia saya minta kirim email.

Tapi. telepon saya tutup. dia minta dikabari kalau operasi sudah selesai. Ibu Eric Samola. entah siapa yang punya inisiatif. kata “hu” itu akan menjadi kalimat panjang: aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah. kalau yang mengucapkan lebih banyak orang. Karena itu. Saya segera menelepon Misbahul Huda.” Maksud saya. Mungkin.Banyak Yang Doakan Panjang-Panjang. kalau harus mengucapkan kalimat yang begitu panjang sebanyak 99. ketika Bung Karno meng-compress Pancasila yang panjang itu menjadi satu kata yang simpel dan pas: gotong royong. Setelah telepon siap. dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusam Allah. Ada lagi beberapa pertanyaan dan harapan yang disampaikan dengan penuh suasana prihatin. Dirut Percetakan Temprina. dan dua hari memulihkan badan. SMS juga masuk dari teman-teman Kristen dan Katolik. lagi berkumpul di rumah saya di belakang Graha Pena Surabaya. waktu yang diperlukan tidak perlu teralu lama. “Kalimat syahadat kok dipadatkan.” kata mereka. Artinya.000 kali dirasa akan memakan waktu yang lama sekali. doanya 6 by Moezhanks . Agar. Ada yang bertanya. Siapa menyangka bahwa zikir pun sejak dulu sudah di-compress seperti itu. Setelah tidak ada pertanyaan. pertanda waktu operasi sudah akan tiba. istri mendiang Pak Eric Samola. yang akan menjadi imam pada acara itu. Saya jawab. Kalau di-decompression. sehingga perlu di-compress menjadi satu dengungan “hu” saja. Dari Madiun menceritakan bahwa keluarga tasawuf sathariyah lagi berkumpul untuk ber-zikir-pidak. Ini seperti juga Bung Karno yang dikecam telah menyelewengkan kemurnian Pancasila yang dia temukan sendiri. Mereka akan berdoa terus selama saya dioperasi. Memang begitulah yang dikatakan dokter kepada saya. mengirimkan doa paling panjang. Genap satu minggu. Kalau tidak. kira-kira operasinya berlangsung berapa jam? Saya jawab sekitar 12 jam. kira-kira saya perlu waktu satu minggu untuk bisa bicara lagi dengan teman-teman itu: satu hari operasi (pasti saya tidak bisa bicara). Mereka akan melakukan sembahyang dan doa bersama.000 penganut Buddha di shi mian fo (Buddha empat wajah) di Kenjeran. berdasarkan pengalaman mereka. yakni mendengungkan kata “hu” bersama-sama sebanyak 99. Tentu dengan sistem borongan. sistem compression zikir seperti inilah yang banyak dikecam aliran tasawuf lain dan terutama oleh kalangan syariah formal. SMS terus mengalir masuk. Saya Berdoa Pendek 28 Agustus 2007 PUKUL 12. Teman-teman Jawa Pos. Untuk membuat agar suasana mereka tidak sedih. saya bertanya kepada yang hadir: apakah ada pertanyaan? “Saya siap menjawab pertanyaan apa pun. Salah seorang di antaranya bertanya apakah saya dalam kondisi siap. SMS masih terus mengalir masuk. Saya pun sudah siap mental segera menuju ruang operasi di lantai 13. Saya minta suara teleponnya dibesarkan. Yakni. Mereka mengirimkan doa-doa yang saya ketahui diambilkan dari Alkitab. “Sampai jumpa minggu depan.Ganti Hati 03 . Diganti baju kertas biru muda.000 kali. saya tutup pembicaraan saya dengan kata-kata. Dengungan “hu” adalah hasil compression (untuk meminjam istilah software komputer) dari kalimat syahadat. saya siap sekali.00 Senin (6/8) siang itu saya sudah diminta melepas baju saya. saya pikir. Tokoh Buddha Surabaya juga mengirim SMS dan memberitahukan bahwa hari itu berkumpul lebih 1. Tapi. tiga hari di ICU (juga pasti belum bisa bicara). semua yang hadir di rumah saya bisa ikut mendengar kata-kata saya. Kepala saya juga dipasangi topi kertas dengan warna yang sama. yang dulu punya inisiatif mengambil alih Jawa Pos dari keluarga The Chung Shen. saya sudah akan bisa bicara lagi.” kata saya.

Tempat ibadah itu memang saya yang meresmikan beberapa tahun lalu. Istri. *** Kereta didorong amat cepat. yang rupanya ikut makan siang. Gedung rumah sakit ini memang terdiri atas dua tower. Ternyata. akuntan terkemuka Surabaya. semangatnya untuk sembuh luar biasa.00 kurang 15 menit. Sambil menahan tangis. Badan saya sangat sehat. memegangi tangan saya. Setelah itu semua harus melepaskan tangan dari tubuh saya. Juga jangan ada yang mengeluarkan air mata. Mr Guo dan sahabat karib saya Robert Lai dari Singapura. harus menyeberang ke gedung sebelah. Saya berpesan kepada istri agar jangan lupa memberi tahu mereka nanti. Rupanya berdoa dengan serius. jangan ada yang menangis. Tapi. Kereta pun didorong keluar dari ruang saya di lantai 11 untuk dibawa ke lift naik ke lantai 13. rupanya. tanda ikut memberi semangat. Oh. Teman-teman dari penganut aliran kebatinan Sapta Dharma juga mengirim SMS. Pak Mustofa. 7 by Moezhanks . di depan lift yang akan membawa saya ke lantai 13. Mereka melakukan doa berdasar kepercayaan mereka untuk keberhasilan operasi saya. dan Robert Lai mengantar ke lantai 13. telepon minta bicara. Saya amati lorong-lorong apa saja yang dilewati kereta ini. Ketika melewati kamar pasien dari Jepang. “Jia” artinya tambah. kereta brankar sudah datang dengan beberapa orang yang berbaju biru muda. Tak sampai 5 menit saya sudah tiba di lobi lantai 11. Malang. Tapi. anak.tentu tidak akan dihentikan. memaksa bicara untuk memberi dorongan semangat agar saya kuat memasuki ruang operasi. “jia you” dalam bahasa Mandarin berarti “semangatlah!” . tombol 13 dipencet. saudara angkat saya. Sebenarnya saya bisa berjalan sendiri ke ruang operasi. Pak Alim Markus. Tapi. peraturan tidak membolehkannya. Itulah petugas ruang operasi. Anak laki-laki saya sibuk memotret. Ada lima lift di situ. dan Robert Lai. mengirimkan doa panjang yang biasa diucapkan Sai Baba di India sana. Alim Markus juga pernah tiba-tiba sakit yang amat membahayakan hidupnya. Saudara Guo. saya lihat dia sendiri ternyata terisak-isak ketika melepas saya untuk dibawa petugas ke tempat yang dia tidak bisa lagi menyertai saya. Istri saya terus komat-kamit. karena sedikit agak terlambat dari jadwal. agar saat mengantar saya ke lantai 13 nanti. Saat saya sudah berbaring di kereta. bahwa siang itu 200-an tokohnya berkumpul di Pujon. Lift terbuka. Robert Lai adalah orang yang rajin berpesan kepada siapa pun. tapi hanya bisa sampai di pintu tertentu. Saya sudah di atas kereta yang siap berangkat ke ruang operasi. Pukul 14. Demikian juga penganut aliran Sai Baba. Tapi. Saya harus segera berbaring di kereta itu. dia lagi makan siang dengan para pengusaha teman saya di Hotel Shangri-La Surabaya. Saya tidak bisa lagi melihat istri. Tinggal saya dan beberapa petugas yang terus mendorong kereta itu ke ruang operasi. Zoom! Tibalah saya di lantai 13. panah naik menyala. dia akhirnya berteriak: “jia you!” tiga kali. “You” artinya bensin. Lalu pintu ditutup. Dua lift ukuran normal. Saya sering mengatakan padanya. tiga lift ukuran besar untuk mengangkut kereta pasien. saya beri tahu bahwa saya sudah tidak punya waktu bicara. anak. dia terlihat mengepalkan tangan ke arah saya. Lalu. Saudara angkat saya. semangatnya itulah yang ikut mendorong saya punya semangat yang sama. Mata istri saya kelihatan sembap. Rupanya saya harus segera tiba di ruang operasi. Juga mata Robert Lai.

(iskan@jawapos. Tuhan punya sistem file-Nya sendiri. beberapa petugas 8 by Moezhanks . saya memutuskan tidak akan banyak-banyak mengajukan doa. Kereta pun tiba di depan ruang operasi. Kalau saya minta-minta terus kepada Tuhan. segera saja saya terlibat perdebatan dengan diri saya sendiri: harus mengajukan permintaan apa kepada Tuhan? Bukankah manusia cenderung minta apa saja kepada Tuhan sehingga terkesan dia sendiri malas berusaha? Saya tidak mau Tuhan mengejek saya sebagai orang yang bisanya hanya berdoa. hidupkanlah! Selesai. Belakangan saya tahu judul lagu tersebut adalah Mei Fei Se Wu yang artinya “bulu mata menarinari”. kapan saya menggunakan pemberian Tuhan yang paling berharga itu: otak? Maka saya putuskan akan berdoa se-simple mungkin. Kalau saya harus mati. Dalam perjalanan sepanjang lorong-lorong itu saya menyadari bahwa saya tadi belum sempat berdoa. Apakah saya harus berdoa dengan biasa saja atau harus sampai menangis? Kalau doa itu saya sampaikan biasa-biasa saja. Di lantai 12 sampai 14. ada lorong untuk menyeberang dari gedung kiri ke gedung kanan. Satu doa yang pendek dan mencerminkan kepribadian saya sendiri: Tuhan. entah seperti apa. saya juga tahu bahwa sistem file di kerajaan Tuhan tidak membedakan doa yang dikirim secara biasa. Akhirnya saya putuskan berdoa menurut keyakinan saya. Perasaan saya tiba-tiba lega sekali. Tapi. matikanlah. Mulai ganti ginjal. terserah engkau sajalah! Terjadilah yang harus terjadi. Rumah sakit ini. Ruangnya sangat bersih. Rupanya. masih ada pertanyaan yang tiba-tiba muncul. Belum Juga Di-”Garap” 29 Agustus 2007 Ketika memasuki ruang operasi. dalam waktu bersamaan. mata.masing-masing berlantai 15. nanti akan lupa kalau sudah dalam keadaan gembira! Saya tidak ingin Tuhan memberikan penilaian seperti itu.co. bisa melakukan 30 operasi penggantian organ. saya tertegun. Perdebatan di hati saya belum selesai. Seluruh lantai 13 adalah ruang operasi. Suara musik itu cukup keras sehingga suasananya ingar-bingar. Waktu terus berjalan. apakah Tuhan tidak akan menilai begini: lihat tuh Dahlan. Plong. sambil menunggu kedatangan saya. Tapi. yang dibawakan oleh penyanyi top Hongkong Zheng Xiu Wen. Apalagi. kinclong (karena didominasi stainless steel). kalau harus saya ucapkan sampai menangis dan mengiba-iba.Sudah Tiga Jam Dimatikan. Padahal. Kalau sudah dalam posisi sulit saja dia merengek-rengek setengah mati. Begitu masuk. secara khusus maupun secara tangis-menangis. jantung sampai ganti liver seperti saya. dan modern. Tapi. apakah Tuhan melihat saya sedang serius memintanya? Tapi. Saya harus berdoa. Saya akan dioperasi di gedung kanan.id) (bersambung) Ganti Hati 04 . kereta sudah hampir sampai di ruang operasi. Saya tidak mau serakah. Saya tidak mau ada kesan bahwa saya sombong kepada Tuhan. Kalau saya harus hidup. Saya tidak mau Tuhan mengatakan kepada saya: untuk apa kamu saya beri otak kalau sedikit-sedikit masih juga minta kepada-Ku? Karena itu. yang terdengar adalah musik soft-rock berbahasa Mandarin yang lagi digemari anak muda sekarang.

laptop.00. saya bisa menuliskan deskripsinya secara baik. Sudah diketahui bahwa virus pascaoperasi adalah pembunuh paling utama bagi pasien yang baru melakukan transplantasi organ. Penerjemahan ini sangat bermanfaat karena banyak sekali pasien dari negara-negara Arab dan Pakistan yang kemudian minta kopinya kepada kami. tapi bisa berbahasa Mandarin. Ada ruang tidur pasien dengan kamar mandi khusus dan ruang pakaian. Lalu. Beberapa perawat mengikuti suara musik itu dengan suara mulutnya tanpa kata-kata. dispenser air mineral. dia minta lengan kanan saya dimasuki jarum untuk memasukkan beberapa zat kimia ke badan saya. Saya ingin tahu apa saja yang ada di ruang itu agar. Mereka merasa lega. ada satu ruang tamu yang besar di sebelahnya. Di dapur kering ini ada microwave. Istri saya tidur di ruang ini. saya bisa bahasa Mandarin sedikit-sedikit. dan keran panas dingin. Rupanya dia sangat menikmati lagu itu. Suasananya pun menjadi seperti di sebuah disko. perawat memutuskan tidak mau pakai itu. lengan saya diperiksa seperti akan memasang selang. Saya memang dapat menggunakan internet kecepatan tinggi di ruang saya ini. Melihat tangan saya sudah dipasangi selang selama 3 bulan lebih. Rumah sakit juga sudah memberi kami buku panduan mengenai bagaimana menjaga agar tidak terkena virus. di sebuah kursi yang kalau siang bisa untuk menambah kapasitas sofa. 18 jam kemudian. nanti. Di kamar ini mereka menantikan perkembangan operasi saya. karena memang pada tahap ini semua pekerjaan masih urusan perawat. Yakni. Tidak boleh ada virus atau sumber virus yang akan membahayakan pascaoperasi saya. Harus bergeser sini dikit dan harus naik sedikit. Hanya dalam beberapa saat. kami tidak makan di situ. Di ruang tamu ini ada kamar mandi dan toiletnya. Saya sudah dimatikan untuk persiapan operasi. lemari es besar. Tepatnya kamar 1102. lalu kami terjemahkan ke dalam bahasa Inggris agar seluruh keluarga saya memahami isinya. “Dia orang Indonesia. dan internet. Tapi. kita harus pakai bahasa apa?” ujar salah seorang di antara mereka. Perawat yang lain mulai memasukkan cairan tertentu ke lengan saya. terutama gedung baru ini. anak.” jawab yang lain. saya tidak lagi mendengar suara musik itu. rice cooker. dan sahabat saya Robert Lai kembali ke kamar saya di lantai 11. Musik soft-rock masih terus ingar-bingar. Mata saya terus beredar dari dinding ke dinding. Buku itu berbahasa Mandarin.muda menyenangi lagu itu. 9 by Moezhanks . Maka. Maka saya sela pembicaraan mereka: Ya. Lalu. Sementara menunggu kabar. Robert ingin kamar saya lebih bersih lagi. Beberapa perawat membicarakan saya. ada satu meja makan dari kaca besar untuk makan bersama. water boiler. Perawat akan selalu mengabarkan apa pun yang terjadi di ruang operasi. Tapi. Juga tidak mendengar apa-apa lagi. Rumah sakit ini. “Ini orang asing. Di belakang sofa. satu set sofa. Dokter belum pada datang. bukan seperti di sebuah tempat yang menyeramkan. tapi kalau malam bisa dipanjangkan menjadi tempat tidur biasa. Meja ini saya pakai untuk “kantor dalam pengasingan”. dan satu set dapur kering. Dari alat ke alat. Robert yang sudah 11 bulan menemani saya ke mana pun pergi memutuskan untuk membersihkan kamar saya. lalu memberikan beberapa perintah mengenai posisi badan saya. Kami pasang komputer. istri. memang sudah sangat bersih. printer. kalau operasi berhasil. *** Sejak saya masuk ruang operasi pukul 14. Di ruang tamu ini ada satu set TV besar. Kamar saya di lantai 11 terdiri atas dua ruang. Saya baru akan dihidupkan lagi.

” katanya. baru 10 menit lagi livernya tiba?” tanya istri saya sambil melihat ke jam dinding. perawat masuk memberikan kabar bahwa sampai menjelang pukul 17. Sehari empat jam: pagi dua jam. “Livernya baru akan datang sekitar pukul 17.” ujar perawat itu. semua peralatan yang ada di kamar ini dibersihkan. lantas saya pasangi asesori. guru saya tinggal melihat sorotan proyektor. dan tak jarang juga mengadakan rapat. Misalnya. Bukan saja untuk rapat. Sambil menunggu giliran operasi yang tidak menentu waktunya. Bukubuku. Dinding sebelah kanan saya tempeli peta Tiongkok yang besar sehingga mudah bagi saya untuk melihat negara ini secara keseluruhan. atau salah memilih huruf. mengirim dan menjawab e-mail. dan kertas-kertas yang selama ini di mana-mana diangkut ke apartemen. koran-koran. disterilkan. memberikan koreksi mana yang saya salah dalam menggunakan kata-kata. “Tiwas kita sudah tegang selama tiga jam. Sampai sehari sebelum operasi saya masih “masuk kelas”. tapi belum juga di”garap”. dari kursi di sebelah saya. untuk apa ya saya susah-susah belajar begini. ya?) bahasa malaikat sendiri. Lantainya menjadi mengilap. ketika saya berada di ruang operasi.00. Saya mendatangkan guru dari IKIP di kota ini. 10 by Moezhanks . di belakang meja besar saya pasangi white board. Dua jam setelah operasi bersih-bersih itu. seperti besok tidak akan terjadi apa-apa. Ini saya pakai untuk latihan menulis cerita dalam bahasa dan tulisan Mandarin. Di dinding-dinding kamar tamu yang kosong. Lalu. Lalu. (Bersambung) Ganti Hati 05 – Tunggu Operasi. Ada juga sedikit tebersit perasaan. Semua kursi dan meja dicuci. kalau operasi gagal. juga untuk saya pakai belajar bahasa Mandarin. Malaikat toh akan bertanya kepada saya di akhirat sana dengan (eh. Berarti sudah hampir tiga jam saya di ruang operasi dan sudah dalam keadaan dimatikan. saya harus panggil partner yang membangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Kalimantan untuk mencari jalan agar proyek selesai sesuai dengan jadwal. Ternyata belum diapa-apakan. Toh. Di dinding satunya saya pasang peta Indoensia. Tiga orang guru secara bergantian mengajari saya bahasa Mandarin.Dari kamar inilah saya bisa membaca semua laporan perusahaan. Suasana seperti Siaran Langsung Sepak Bola 30 Agustus 2007 Setelah diberi tahu bahwa liver yang akan dipasangkan di dalam tubuh saya ternyata baru akan tiba sekitar pukul 17. sore dua jam. Lalu. “Hah?” gumam Robert seperti tidak percaya. besok saya sudah tidak akan bisa lagi memanfaatkan hasil belajar saya ini. Bersih dan kinclong. Robert Lai terperangah. Tapi. saya memang memutuskan untuk meneruskan belajar bahasa Mandarin. “Berarti. Terutama rapat dengan partner-partner usaha yang dari Tiongkok. Saya juga beli proyektor yang saya hubungkan dengan laptop yang software-nya Mandarin.00 itu saya belum dioperasi. krisis listrik di daerah itu sudah tidak ketulungan. Robert lantas menerjemahkan informasi dalam bahasa Mandarin itu kepada istri dan anak saya. Sebab. Tempat tidur saya lebih-lebih lagi. pakai bahasa apa.00.

Bangunannya dari luar mirip hotel.Dia lantas memperhatikan pintu masuk rumah sakit dari lantai 11. terdapat tambahan tiga lantai bulat. Kegagalan tersebut. Mereka menunggu di depan lift untuk menerima instruksi berikutnya. Sejumlah dokter membawa barang berdarah dan meletakkannya di lantai. dari dalam kamar saya.” kata Robert kepada istri dan anak saya dalam bahasa Melayu yang agak sulit dimengerti. kegagalan transplantasi liver di Tiongkok yang dialami tokoh seperti Nurcholish Madjid mendapat pemberitaan yang sangat besar. Itu pertanda malam tersebut banyak pesta perkawinan. Ketegangan selama menunggu berlangsungnya operasi digambarkan oleh Yoto.” kata seorang dokter. sering bisa melihat pemandangan indah. Kalau sudah ada pesta kembang api seperti itu. Lalu. Semua seperti tidak sabar menanyakan perkembangan operasi saya. istri. pastilah itu suara ambulans yang membawa liver. Dia mengira salah satu ambulans yang masuk pada jam-jam itu pastilah yang membawa liver yang akan menggantikan liver saya yang sudah rusak. melihat keluar masuknya ambulans di pintu gerbang depan sana.00. “Go!” tambahnya. Dari kamar itu juga terlihat simpang susun jalan layang yang melingkar-lingkar di depan rumah sakit. bahwa kalau ada suara “nguing…nguing…” masuk ke rumah sakit. siapa pun memang bisa melihat apa yang terjadi di luar sana. “Kita diminta naik ke lantai 13. pintu lorong tempat saya dimasukkan menuju ruang operasi sore tadi terbuka. Kepada kita akan ditunjukkan sesuatu. terlihat juga pemandangan sungai yang bersih yang dipakai untuk arena mainan anak-anak serta keluarga. Lantai paling atas rata. Yakni. tapi dalam keadaan musuh selalu mengancam ke gawang kita! Semua itu saya nilai wajar karena operasi penggantian liver tidaklah gampang. Dia punya khayalan. di bagian tengahnya. Robert. seperti baru terjadi beberapa minggu lalu. Anak lelaki saya. Di seberang kamar itu terlihat gedung pertama rumah sakit yang tingginya 17 lantai. katanya. Tak lama kemudian. anak. seperti ini: Kami tiap 10 menit SMS ke Mas Azrul (Posko di Tiongkok) atau ke Mbak Nany Wijaya (Posko di Surabaya). Istri saya juga memperhatikan puncak gedung tersebut. Apalagi. dan kengeriannya. Dirut grup anak perusahaan Jawa Pos di Papua. Maka. mengudaranya kembang api berjam-jam di berbagai tempat. dan saudara angkat Guo naik lift ke lantai 13. Istri saya kali ini tidak memperhatikan semua itu. Dari kamar tersebut. Kabar pertama dari ruang operasi masuk pukul 22. Lamanya tidak ada “kabar baru” itu rupanya semakin membuat teman-teman di Indonesia kian tegang. Dinding kamar tersebut terbuat dari kaca.00. kami biasanya mematikan lampu kamar. Tentu mereka tidak diberi tahu bahwa operasinya belum jadi dilaksanakan pada pukul 14. agar warna-warni kembang apinya lebih jelas. siapa tahu livernya dibawa dengan helikopter. Dia lebih memfokuskan perhatian ke bawah. Mereka hanya diberi jawaban “Belum ada kabar baru dari kamar operasi”. kalau Sabtu dan Minggu malam. Dari ruang tamu di kamar saya itu. jam-jam itu sibuk membalas SMS yang masuk. Kami seperti sedang mendengarkan siaran langsung sepak bola lewat radio. Istri saya ingin melihat masuknya ambulans yang mungkin membawa liver yang akan dipasangkan ke dalam tubuh saya. 11 by Moezhanks . Di atas gedung itu. Di situlah helikopter yang membawa pasien darurat atau helikopter yang membawa liver yang urgen mendarat. “Ini liver bapak yang sudah kami keluarkan.

dan 2 cm). Bahkan. sepertinya pemain kita anti menyerang terus. menurut hasil MRI sebelumnya. Itu berarti saya baru akan siuman sekitar pukul 07. “Liver ini kami bawa kembali. “Waktu bersujud itu. Dan. Keluaga saya sudah lebih tenang. 4 cm.” kata dokter sambil jarinya menuding ke arah benda yang dimaksud. Anda mengucapkan doa apa?” tanya saya beberapa hari kemudian. dia bersujud di dekat seonggok daging berdarah itu. Hanya boleh difoto. Dari foto mereka ketika mendengarkan penjelasan itu. Mereka sudah bisa menghentikan peribadatannya.” ungkapnya. Di situlah berbagai 12 by Moezhanks . Malam itu. Madiun.00 keesokan harinya. tentu mungkin masih akan terlihat anak-anak dan cucu-cucunya. terlihat jelas bahwa wajah-wajah mereka sudah tidak tegang.” ujar dokter sambil kembali membungkusnya. Demikian pula dengan seluruh rekan yang memonitor perkembangan operasi dari Aceh sampai Papua.” ujar dokter.Melihat “barang” tersebut. melainkan juga untuk melihat sudah ada berapa kanker yang muncul. Semua disampaikan anak saya kepada teman-teman yang menanyakan perkembangan operasi saya. di mana lawan sudah tidak memborbardir gawang kita lagi. istri dan anak saya langsung bisa tidur. Suatu berita yang menggembirakan.” tulis Yoto di SMS-nya dari Papua. “Itu lihat. Lalu. Sesaat kemudian. Liver lama tersebut memang tidak boleh dibawa. Bahkan sudah tersenyum-senyum. Operasi sudah selesai. yang lebih penting. di dalam liver saya sudah ada tiga kanker yang besar (ukuran 6 cm. Tapi. istri saya langsung lemas dan terduduk. berita berikutnya disampaikan. Saya tergolek menunggu siuman di ruang ICU di lantai 12. “Pak Yu Shi Gan (baca: i-se-kan) akan segera dibawa ke ICU untuk menunggu siuman di sana. Sebab. Liver itu sudah begitu rusaknya. Pintu ditutup lagi. dokter menjelaskan bagaimana keadaan liver saya yang sudah dikeluarkan itu. apakah kankernya telanjur menyebar atau tidak.” kata anak saya. Robert kembali ke apartemen. menyelesaikan operasi terhadap saya. Kami baru akan diberi tahu sekitar seminggu kemudian. “Pukul berapa akan siuman?” kata Robert. Dibenggangkannya irisan itu dengan jarinya yang masih terbungkus sarung karet. masih harus menunggu hasil penelitian. Surabaya. “Doa apa saja yang bisa saya ucapkan.” anak saya memotret lagi bagian itu. “Kira-kira 6 jam lagi. Saudara ketiga Guo pulang ke rumahnya. Lalu. Digulanggulingkannya. “Suasananya lantas seperti mendengar siaran radio pertandingan sepak bola. “Jepret. dan Surabaya diberi tahu perkembangan itu. Ada kanker di dalamnya. Mengapa? Liver itu masih akan dimasukkan ke laboratorium untuk dianalisis lagi lebih teliti. Kabar selesainya operasi juga dikirim ke umat Buddha yang terus bersemedi di Kenjeran. Anak saya memotretnya dari berbagai sudut. Lalu. Pukul 24.00.” jelas seorang dokter kepada Robert.” ujarnya. Dan. Diteruskan juga ke warga Sapto Dharmo di Pujon. Keluarga di Samarinda. Bukan hanya mengenai apa saja yang ada di dalamnya. Kita lantas seperti sedang menantikan terjadinya golgol ke gawang lawan. “Masya Allah. menyayat-nyayatkan pisau di beberapa tempat untuk melihat dalamnya. “Seperti daging yang dipanggang kematangan. masih ada dua lagi calon kanker baru. bagaimana persisnya keadaan liver lama saya itu. Dokter lantas mengiris lagi bagian lain. para dokter meneruskan lagi pekerjaannya.

” komentar spontan yang muncul. putus asa karena jumlah oksigen kok seperti tidak segera cukup dan seperti mengancam kehidupan. Agak berat memang. Rasanya kok seperti mau mati karena kekurangan udara. Saya bersyukur kepada Tuhan sekaligus hormat kepada ilmuwan. Suara-suara itu tambah lama tambah jelas. tapi Tak Terucap Suasana orang yang lagi mau siuman selalu saja begini: Mula-mula terdengar dulu pembicaraan orang-orang yang berada di sekitar kita. Saya lantas memberikan isyarat kepada perawat dengan tangan saya. Saya yang sudah pengalaman beberapa kali dibius (meski dulu tidak sampai 18 jam seperti saat penggantian liver kali ini). sebenarnya. Sesaat kemudian. Apalagi seperti saya. saya tetap berusaha sekuat tenaga. Operasi tidak gagal. Mata pun lama-lama bisa membuka. Seperti orang yang ngantuknya luar biasa. Lalu. Mungkin juga yang terjadi sebenarnya tidak seperti itu. ini permintaan agar keran oksigen diperbesar. Di ruang perawatan khusus setelah menjalani penggantian liver. (bersambung) Ganti Hati 06 – Begitu Sadar. seperti untuk sementara menggantikan nyawa saya. Saya gerak-gerakkan terus jari-jari saya dengan gerakan seperti memutar keran. tapi tetap saja tidak punya kemampuan membuka kelopak mata sendiri. Seperti orang yang lagi kekurangan oksigen. Saya hidup. Saya hidup. Antara sadar dan tidak. kok sulit sekali ya? Maka. Tapi. 13 by Moezhanks . Teriak “Saya Hidup”. Tapi. Lama-lama. tapi sebenarnya tidak ada jari yang bergerak sama sekali. mata tidak mau membuka. Berharap karena ternyata masih bisa bernapas. Napas bisa ditarik dengan normal seperti biasa. barangkali juga tidak ada oksigen yang dialirkan ke hidung saya. tapi Tak Terucap 31 Agustus 2007 Begitu Sadar. “Saya hidup. Bahkan. Kesadaran ini datang tujuh jam setelah operasi. Tentu saya amat bersyukur. sadar bahwa saya ini sedang dalam proses dari tidak sadar ke sadar. mungkin perawat tidak melihat isyarat di tangan saya. Tapi. Teriak “Saya Hidup”. Kelihatanlah samar-samar bahwa saya sedang di ICU. Perasaan saya saja bahwa saya sedang menggerak-gerakkan jari. syukur saya tidak sampai mengabaikan rasa hormat saya kepada mereka yang telah belajar keras di universitas dan menggunakan akalnya secara sungguh-sungguh hingga melahirkan ilmu pengetahuan yang sangat maju. tapi ingin sekali membuka mata sebentar agar bisa melihat sekeliling. Tapi. yang baru saja dibius selama 18 jam. Saya yakin bahwa saya segera mengatasi persoalan sesak napas itu. Begitulah kalau sadar dan tidak sadar bercampur jadi satu. rasa sesak itu berkurang. setengah putus asa. napas terasa sesak. Ingin sekali mata melihat siapa saja yang bersuara itu. menjadi lega.jenis kabel dan selang menempel dan menancap di tubuh saya. saya coba menggerakkan jari-jari tangan saya seperti sedang memutar keran. tapi tak terucapkan. Maksud saya. Perasaan lantas seperti setengah berharap.

dan usus saya masih rawan pecah sehingga perlu dilindungi. Setelah hampir dua hari tidak ada makanan apa pun yang masuk ke perut. Dalam dunia kedokteran. Sehingga perlu dibantu. Saya tahu. “Bagi perokok lebih sulit lagi mengeluarkan dahak itu. Dua selang kecil itu punya tugas sendiri-sendiri. Karena di lubang hidung masih ada dua selang yang dimasukkan sampai ke perut saya. Ketika saya tanya mengapa begitu sulit saya mengeluarkan dahak itu. perawat mengatakan bahwa itu normal saja. saya juga takut akan bahaya dahak itu terhadap paru-paru. Sebatuk-batuknya. Satu selang yang dimasukkan lewat leher depan -di antara tulang belikat. latihan dan kenyataan ternyata sangat berbeda. itu hanya untuk menyenangkan hati saya. Tapi. Sebagian mungkin karena saat itu saya sudah tidak lagi punya tenaga sebaik saat latihan. Sudah saya usahakan batuk semirip-miripnya batuk waktu summa cum laude. perawat sudah melatih cara berbatuk yang bisa mengeluarkan dahak. akan membahayakan paru-paru. Rasa-rasa tidak enak mulai muncul satu per satu. Ketiga. ternyata saya sulit sekali lulus. yakni lewat tenggorokan. Dalam praktik. Yang lain untuk mengirimkan makanan langsung ke usus saya. seperti yang sudah diajarkan perawat. Yang satu untuk membuang sisa makanan dari lambung saya. Kabel-kabel. Meski sudah berhasil mendapatkan dua jenis kelegaan (bisa bernapas normal dan bisa mengeluarkan dahak dalam jumlah besar). maka diambillah jalan pintas. Namun. sejak beberapa hari sebelum operasi. Kedua. “Uhuk! Uhuk!” Selesai. Bahkan. dan saluran infus seperti bertaut-tautan. Perawat menyatakan saya berhasil menjalani latihan dengan tingkat kelulusan summa cum laude. peritonium (selaput dinding perut).gunanya untuk mengalirkan napas bantuan dan membersihkan kelebihan lendir di paru-paru (broncho toilet). karena pembuluh darah di esofagus (jalan makan yang menghubungkan mulut dengan lambung). 14 by Moezhanks . saya meraskan tidak ada kesulitan. tapi tidak juga berhasil. saya harus berbuat seperti membatukkan diri keras-keras.” ujar perawat lebih lanjut.” Selain itu. Mengapa langsung ke usus? Sebab. Mula-mula rasa dada penuh dengan cairan lendir.” kata perawat. “Apakah saya terlalu meremehkan saat latihan?” tanya saya. Begitulah bunyi petunjuk yang saya baca sebelum operasi. Satu selang masuk lewat lubang yang sengaja dibuat di bagian depan leher. Cara demikian juga saya ketahui dari buku petunjuk. Agar “bantuan” itu bisa cepat sampai ke paru-paru. Kalau tidak. barulah saya sadar bahwa begitu banyak instrumen yang ada di sekitar tempat saya berbaring. masih ada empat selang lain yang menancap di leher saya. Suara tat-tit-tat-tit dari mesin-mesin elektronik di sekitar saya mendominasi pendengaran saya. saya kan belum bisa bernapas sendiri. maka sisa lendir di paru-paru pun tidak bisa saya keluarkan sendiri dengan cara batuk atau berdahak. selang-selang. pertama. tenaga pun rupanya ikut hilang. Saya diberi napas bantuan karena sampai beberapa jam pascaoperasi. tapi masih banyak yang membuat badan saya sangat tidak nyaman. Sehingga perlu ada yang “mencarikan. “Apa sih sulitnya batuk?” kata saya dalam hati. “Tidak. karena liver baru saya belum bisa “cari makan” sendiri.Setelah senang karena masih hidup. saya belum bisa makan sendiri. kedua selang itu dikenal dengan sebutan sonde. Waktu latihan. Tiga lainnya masuk lewat pembuluh darah besar di leher kanan. Dan karena belum bisa bernapas sendiri. Napas terasa amat lega. Saya berusaha terus membatukkan diri. Untuk mengeluarkan lendir itu. Akhirnya broll! Dahak yang amat banyak bisa keluar. Cairan itu harus segera bisa keluar sebagai dahak.

Setidaknya untuk sementara. Dengan begitu. konsentrasinya sangat tinggi sehingga bisa merusak dinding pembuluh yang dilewati. Angka-angka tekanan darah otomatis keluar di layar monitor.” Apa kejatuhan singkong di jalan raya bisa membuat orang sampai meninggal? “Lha singkongnya satu truk. Dinding pembuluh darah utama yang leher lebih kuat sehingga cukup kuat untuk dilewati infus jenis ini meski sampai tiga bulan secara terus-menerus. Lalu. Lengan kanan saya juga sedang dipasang jarum untuk mengalirkan berbagai jenis infus. tak perlu lagi dengan menusuk-nusuk tangan saya. Karena masih ada sejumlah alat dan kabel yang ditempelkan di dada kiri dan kanan untuk mengecek denyut jantung. bila perawat ingin mengambil sampel darah atau menyuntikkan obat. Melainkan untuk transfusi (tambah darah) bila diperlukan. Tapi. Itu belum semuanya. Saya justru teringat humornya rekan Zainal Muttaqien. itu bukan disiapkan untuk cairan infus atau injeksi. yang dalam istilah kedokteran disebut dengan tri lumen atau central IV (baca : ai vi) line. dan kabel yang saling berhubungan di tubuh saya. Ini agar saya bisa menggambarkannya dengan baik 15 by Moezhanks . Ujung selang infus itu bercabang-cabang karena lima macam cairan dari botol yang berbeda harus mengalir ke tubuh saya lewat satu jarum tersebut. sebenarnya. truknya nabrak kita!” Humor khas orang Surabaya. itu bisa mengalihkan perhatian saya dari rasa ruwet dibeliti selang dan kabel. secara otomatis. Ketidaknyamanan lain yang saya rasakan saat itu adalah adanya alat pengukur tekanan darah yang dipasang di lengan kiri. salah satu ujung tri lumen bisa dihubungkan dengan alat monitor yang bisa menunjukkan perubahan kadar air di tubuh saya setiap menit. “Jangan sampai nanti meninggalnya justru hanya gara-gara kejatuhan singkong di jalan raya. Yakni mengenai susah payahnya seseorang untuk menyelamatkan hidup (mungkin seperti saya ini). Gunanya untuk mengalirkan semacam infus yang mengandung protein dan kalori tinggi. Yang lebih istimewa dari tri lumen adalah bisa untuk memonitor kadar air dalam tubuh (central venus pressure=CVP). saya ingin menghitung berapa banyak selang. Bahwa di tangan saya masih ada semacam pentil yang biasa dihubungkan dengan selang infus. Kabel itu juga terhubung dengan layar monitor. *** Pagi tanggal 7 Agustus 2007 itu. Infus jenis ini memang harus lewat pembuluh darah besar. botol. Dirut anak perusahan di Grup Kalimantan yang kini jadi direktur Jawa Pos. Melihat keruwetan di sekitar tubuh saya. Fungsi lain tri lumen adalah untuk memasukkan obat-obat injeksi yang harus lewat pembuluh darah dan mengambil sampel darah. tidak boleh lewat pembuluh darah di tangan seperti biasanya orang diinfus. Alat itu secara otomatis akan mencengkeram lengan saya sangat kuat setiap setengah jam sekali. Ujung jari tangan dan kaki juga dijepit dengan alat yang dihubungkan dengan kabel ke layar yang lain lagi.Sedangkan tiga selang lainnya masuk lewat pembuluh darah besar. Saya berusaha tidak memikirkan itu. Sebab. Sebab. saya mencoba untuk tidak merasa terganggu. tapi meninggal oleh penyebab yang amat sepele. Humor ludrukan.

sedang tidak menggunakan kacamata. Lalu. (bersambung) Ganti Hati 07 – Tahan Tak Bergerak 24 Jam di ICU karena Terbiasa 12 Jam di Jawa Pos 1 September 2007 SATU jam setelah sadar. ya hanya dengan melihat jam di dinding sana itu. Tapi 11 malam atau 11 siang. sulit sekali untuk bisa melihat dengan jelas. saya sungguh ragu dengan kemampuan saya memperkirakan. Kecuali orang asing yang memerlukan penerjemah. Saya berusaha untuk tersenyum sebagai ganti kata-kata bahwa saya baik-baik saja. saya bertanya. “Wan shang. Bahkan. ya memang saya belum sepenuhnya punya kemampuan normal. waktunya sudah siang atau masih malam. Oh. maka ditambah satu penerjemah.00-an. Sepanjang. Anak saya menceritakan apa yang sedang terjadi dan apa yang mereka lakukan malam sebelumnya. Berarti sudah satu malam saya tidak sadar sama sekali. Baluran. Ketika saya lihat ada perawat mendekat. Tapi. Hanya secara timbul tenggelam saya melihat secara kabur bahwa itu seperti jam 11. Satu-satunya cara untuk bisa mengetahui situasi waktu. Misalnya. Orang yang baru siuman setelah dibius selama 18 jam tidak memiliki tingkat konsentrasi yang sempurna. jam sembilan siang! Tahulah saya bahwa saat itu sudah pagi hari. “Ji dian?” Jawabnya. Tidak mungkin. saya melihat anak lelaki dan istri saya mendekat. informasi bahwa malam itu santri Pondok Langitan berdoa bersama dipimpin langsung oleh Gus Dulloh dan Gus Maksum. Kedua. saya tidak tahu apakah terang di balik kepala itu karena dinding kaca atau karena ada lampu yang dipasang di situ. Kalau saya paksakan omong. 16 by Moezhanks . Saya memang tidak bisa omong jelas karena banyaknya selang di tenggorokan. Juga dari Panti Asuhan Yatim Piatu Zainudin. Tapi. Maka. Pertama. Dan tahulah saya bahwa pandangan saya benar-benar gak sempurna. Tapi. Juga menyampaikan daftar nama yang mengirim salam dan memberikan dukungan batin lewat SMS. saya ragu apakah itu terangnya matahari atau terangnya lampu? Saya berusaha melihat jauh ke dinding. Ingin sekali saya berusaha mengalihkan pandangan ke kiri atau ke kanan. saya tidak sepenuhnya mengerti apakah ketika saya mulai sadar itu. Namun. ini jam besuk ke ICU. Kelopak mata berat sekali. putra Kiai Faqih. kesadaran saya dan tenaga saya tidak terlalu komplet pagi itu. Apalagi kalau harus mendongakkan kepala untuk melihat sumber terang di belakang kepala saya. pandangan saya lamur. bisa jadi tenggorokan saya akan terluka dan itu akan menyulitkan diri saya sendiri akhirnya.kalau kelak harus menuliskannya untuk pembaca. Saya tidak mungkin bisa menoleh karena begitu banyak selang di leher. “Jam sembilan”. Lama sekali saya menebak-nebak: siangkah ini? Malamkah ini? Memang suasana ruang ICU sangat terang. hai shi shang wu?” Dia jawab. Memang hanya dua orang dari pihak keluarga yang boleh masuk ICU. ke arah jam besar dipasang. Jarum yang menunjuk jam 9 saya kira menunjuk angka 11. namun tidak bisa. saya tanya lagi. Saya segera melambaikan tangan ke arah istri dan anak saya.

Kadang. Dua-duanya mengharuskan saya. Karena itu. akibatnya bisa berupa penderitaan yang panjang. saya hemat benar pemakaiannya. namun belok ke sungai di tengah jalan. pembuangan liver lama. Saya cari ikan karena takut dengan guru bahasa Inggris. saya tidak naik dari kelas 1 ke kelas 2. ya itu sudah risikonya. Rapor saya merah semua. Saya pernah menjalani dua operasi sebelumnya. tidak bergerak selama delapan jam. Banggakah saya? Ternyata tidak. saya bisa beli sepatu (sepatu kets bekas yang ujung jempolnya sudah bolong dan bagian tumitnya sudah berserabut). cita-cita saya bukan itu. Ini operasi besaaar! Kalau setelah operasi ada rasa sakit. Sepatu itu menimbulkan rasa tidak nyaman yang hebat. Hanya tiap Senin sepatu itu saya pakai. Setelah memotret-motret secukupnya. kecuali ilmu bumi yang mendapat angka enam. saya sadar sepenuhnya memang begitulah pascaoperasi. Sejak itu. kalau bisa. Tapi. pembukaan rongga dada. bahkan menimbulkan luka. ternyata memang bisa. Tiap malam. 17 by Moezhanks . Saya anggap saja sebagai yoga yang panjang. Tiap hari ke sekolah dengan telanjang kaki. saya berada di sungai. Saya sudah bertekad bagian ini pun harus bisa saya lewati dengan baik. bapak melarang saya untuk belajar naik sepeda. Tapi. pastilah demikian. Maka. Apalagi harus selama 24 jam.Istri saya diam saja seperti tertegun melihat ruwetnya jaringan kabel dan selang di sekitar badan saya. kalau kali ini saya harus tidak bergerak selama 24 jam pun. Karena dalam hati saya tersiksa. kemudian sering jadi ketua berbagai kegiatan. tiap malam saya harus berdiri di ruang layout lebih dari 12 jam. Akibatnya. Atau sebagai bagian dari zikir-pidak di tarekat Sathariyah. sampai kelas tiga SMA (aliyah). Maka. 360 hari setahun. Penatnya bukan main. Saat mulai membangun Jawa Pos dulu. Bagian ini juga harus saya jalani dan saya lewati sebagaimana saya harus menjalani dan melewati proses pembiusan. bagaimana kita bisa menggantinya?” katanya. Maka. Yang berat adalah menahan diri untuk tidak menggerakkan badan sama sekali. Bahkan. 30 hari sebulan. ketika kelas 3 SMA. Saya berhasil menjalani itu dulu. Bapak marah besar. saya tetap berangkat dari rumah. Kali ini saya juga harus mampu memenuhi persyaratan untuk tidak bergerak selama 24 jam! Sejak kecil pun. Bukan saja oleh kemiskinan. Maka. jadilah saya inspektur upacara dengan sepatu di kaki. Bahwa akan amat penat. Saya harus sekolah sejauh 6 km dengan jalan kaki. kalau lagi ada pelajaran bahasa Inggris hari itu. Lama-lama. Cita-cita saya adalah “bagaimana agar punya sepatu”. saya merasa akan mampu melakukannya. mereka pamit. Tinggal saya sendiri lagi menghadapi ketidaknyamanan keadaan. tiap pelajaran bahasa Inggris. Saya tidak mengeluh. tapi itulah bagian yang harus dijalani untuk sukses. Misalnya. Tujuh hari seminggu. saya belum punya sepatu. Satu jam berangkat dan satu jam pulang. Ini agar luka-luka akibat operasi dan penyambungan pembuluh darah di liver tidak terganggu. tapi juga oleh kerasnya sikap bapak saya. Ini bukan operasi kecil. saya sudah belajar tahan menderita. Dan. dan pemasangan liver baru. Mengeluh hanya akan menambah penderitaan. Sampai kelas 2 SMA. saya nikmati saja proses ini. saya kelihatan agak pinter di kelas. Mengapa? “Kalau sepeda itu rusak. Juga sering ditunjuk sebagai inspektur upacara pada tiap Senin. saya belum bisa naik sepeda. Saya juga merasa bersalah kepada kakak saya yang telah meninggalkan gajinya untuk saya dan adik saya. Kalau saya bergerak untuk tujuan mengenakkan badan sesaat.

suatu hari. tangannya berusaha mencabut selang-selang yang memenuhi tenggorokannya. Kalau beli sepatu. tangan saya tidak perlu diikat.Karena itu. kelirnya terbuat dari sarung saya. masuk ke kantong penampungnya. Dengan adanya selang yang di lubang kemaluan itu. saya hanya tersenyum ketika melihat anak saya mempunyai sepatu sampai lebih dari 300 dan semuanya branded alias bermerek. Banyak pasien yang tangan dan badannya harus diikat karena selalu berusaha untuk bergerak. Sebab. juga lantaran ujung dua dari tiga selang-selang itu dimasukkan ke dalam rongga perut saya melalui pinggang kanan dan kiri. selang yang di pinggang juga untuk mengeluarkan cairancairan yang tidak dibutuhkan tubuh saya. Tapi. Wayangnya terbuat dari rumput. Sambil merasa memang saya bersalah. Karena itu. tapi juga karena di kotak itu ternyata ayah menyimpan uang. Sama dengan yang di ujung kemaluan. apalah beratnya. Kalau tidak lagi ada orang yang minta memperbaiki rumahnya. ada yang mungkin tidak sadar. Kaki saya dalam posisi akan sering menyentuh kecrek tersebut sehingga bisa menimbulkan bunyi “crek-crek”. Mula-mula. Ayah bukan hanya marah karena alat-alat cari uangnya dipakai secara salah. Begitu penuhnya sehingga istrinya suatu saat bilang kepada saya. Dan. air kencing saya keluar dengan sendirinya melalui selang. Dan. Hanya dia jejer di lantai rumah. Ternyata. yang saya pasang di kotak kayu. Namun. masih ada tiga selang lagi yang juga amat mengganggu. Ujung lain dari masing-masing selang itu masuk ke kantong plastik penampung cairan yang digantungkan di pinggir ranjang pasien. bapak malah menghentikan pukulannya. uang itu ikut saya ambil untuk saya belikan dawet. Selain karena ukurannya yang cukup besar. Satu bunyi yang penting dalam memainkan wayang. Bahkan. begitu kandung kemih saya penuh. air kencing di kantong itu diukur dan dianalisis. saya menangis. saya tak perlu lagi merasa akan kencing. 18 by Moezhanks . Bapak sangat sayang pada alat pertukangannya. Saya pilih menjalani proses tidak bergerak dengan kesadaran sendiri daripada harus diikat seperti itu. dia tidak ingin kotak dan labelnya dibuang. Ini gara-gara saya sering menggunakan alat-alat pertukangannya untuk ndalang. Perawat ICU memuji ketahanan saya. anak-anak pasah itu (alat untuk menghaluskan kayu) saya gandeng-gandeng. Jumlah dan warnanya menunjukkan normal tidaknya ginjal dan berfungsi atau tidaknya organ penting itu. akan timbul bunyi “crek-crek”. Begitulah. Puluhan tahun saya menderita. meski hanya cukup untuk beli dawet (minuman khas di desa). kata saya dalam hati. Ujung selang yang satunya dimasukkan ke kandung kemih melalui lubang kemaluan. Semua cairan itu juga ditampung di kantong plastik. Saya duduk mendalang di sebelahnya. “Sampai jalan masuk ke kamar tinggal satu galengan (pematang). Dia memang hobi mengoleksi sepatu. Gamelannya adalah mulut beberapa teman sepermainan. Secara teratur. kecreknya dari alat pertukangan ayah. Kalau disentuh. selama di ICU. kalau hanya akan ditambah 24 jam di ICU ini. saya pikir tidak ada gunanya. ayah menggosok-gosok alat-alat itu sampai tajam. dalam posisi menumpuk. lalu secara teratur diukur dan dianalisis. tapi itulah satu-satunya tabungan ayah. Kecrek itulah.” Saya juga pernah dipukuli bapak dengan sapu. Padahal. Saya diam dan menikmati pukulan itu. untuk dipandang setiap hari. Dia juga tidak pakai sepatu itu. *** Sebenarnya.

painkiller. memutih. Ini pertanda tak ada lagi kelebihan cairan di rongga perut saya. ya mesti saja. (bersambung) 19 by Moezhanks . Sakit ini. sakitnya. masih bisa saya rasakan. lalu kami bebat dengan kain sobekan dari kaus atau sarung. Sakitnya saat habis operasi ya kurang lebih seperti itu. ketika kecil. sel tumor atau kanker. meski sakit sekali. saya bertekad untuk tidak mengeluh. cangkul meleset dan mengenai telapak kaki. Karena itu. bisa dirasakan. Kalau saya merasa kesakitan. Yakni luka yang sengaja dibuat dengan pisau bedah di sepanjang dada dan perut saya untuk mengeluarkan liver yang lama dan memasukkan liver yang baru.Bedanya. Saya gak mau itu. Itu berarti satu racun lagi akan dimasukkan dalam tubuh saya.akan bereaksi. maka selaput dinding rongga perut -yang dalam istilah kedokteran disebut dengan peritonium. Selama saya di ICU. Liver dan empedu baru saya tidak termasuk dalam kategori “barang asing” yang ditolak karena kedua organ itu kan sebenarnya penghuni rongga perut juga. Tapi. selang di pinggang kiri juga mengeluarkan cairan kuning kemerahan. Jumlahnya pun makin hari juga semakin sedikit. seperti ceceran darah. protes. Sehingga selangnya pun bisa dicabut. saya sudah sering mengalami rasa sakit seperti itu. Saat dokter bertanya apakah ada masalah. Biasanya hanya kami siram dengan minyak tanah. selang di pinggang kanan mengeluarkan cairan pekat berwarna merah. Bersamaan dengan keluarnya sisa darah dari pinggang kanan. Bahwa sebenarnya badan tidak enak. Kain yang tidak pernah dipertimbangkan bersih atau tidak karena ya baru disobek saat itu juga. Jika ada sesuatu yang tidak terdaftar sebagai “penghuni rongga perut”. Saya tidak mengeluh kepada siapa pun. Tidak mungkin setelah perut ditutup tidak menimbulkan rasa sakit. Dan. Tentu tidak ada obat. yang disiapkan untuk menanam padi. saya bilang tidak ada. cairan yang keluar dari pinggang kiri saya pun makin hari makin berkurang warna merahnya. makin berbahaya karena peritonium bisa pecah dan orangnya meninggal. Ini berarti semua ceceran darah sisa operasi sudah didorong keluar dari rongga perut. tapi saya berusaha tabah menjalaninya. Makin banyak cairan yang keluar. bukankah memang harus demikian? Bukankah ini operasi yang sangat besar? Yang tidak mungkin tidak sakit? Tapi. Kadang masih bercampur lumpur juga. selang yang di pinggang kanan berfungsi untuk mengeluarkan sisa darah yang mungkin masih menetes dari luka bekas sayatan operasi di liver dan kantong empedu baru saya. dan berdarah-darah. saya tahu paling-paling hanya akan diberi obat penghilang rasa sakit. Sama dengan yang di pinggang kanan. Tapi. mencangkul di sawah. Yakni ketika telapak kaki terkena cangkul. dengan cara mengeluarkan lebih banyak cairan. Yakni sakit akibat luka. cairan itu makin sedikit keluarnya. posisi ujung selangnya ada di dekat kedua organ yang baru ditransplantasikan itu. sekali lagi. Hari-hari pertama di ICU itu memang harus saya lalui dengan amat menderita. Apalagi seminggu sebelumnya saya baru saja baca bahwa Australia melarang penggunaan painkiller tertentu karena terbukti membuat pasien yang baru menjalani transplantasi liver meninggal dunia. Lukanya lebar. Tak lagi berdarah. sepanjang sakitnya masih masuk akal. Makin hari. Rongga perut memang harus bersih dari “barang asing”. Kadang. Waktu kecil saya memang sering ikut jadi buruh tani. Cairan itu merupakan kelebihan cairan di rongga perut yang bercampur dengan sisa darah operasi yang tercecer dan berkeliaran. Dan akhirnya berhenti karena luka-luka bekas sayatan operasi itu sudah “kering”.

Saya minta mati saja. cantik. Semua saya catat dalam ingatan saya. masih ada dua selang yang menancap di leher yang dilubangi itu. Memperhatikan dengan mata terpejam. Saya juga suka memperhatikan kesibukan di ruang ICU itu. satu selang yang dimasukkan lewat leher kanan saya dicabut. Lalu kanker itu dicoba dibunuh dengan cara di-TACE. Pelan-pelan rasa tidak karu-karuannya berkurang.Ganti Hati 08 – Sempat Berpikir Lebih Baik Mati daripada Melanjutkan Kemo 2 September 2007 KALAU saya sangat tahan menerima penderitaan selama di ICU. Dia muda. dan diserang kanker. Atau lebih baik mati saja. salah satu manajer keuangan saya. Setelah dikemo itu. Sore itu. melainkan untuk menunjukkan kekaguman saya kepada orang-orang yang mampu menjalani kemo berkali-kali. Baik luka di kulit akibat sayatan pisau atau luka di dalam akibat terjadinya penyambungan-penyambungan pembuluh darah. Bengkulu. Dasar bekas wartawan! Kata hati saya. Lebih 20 by Moezhanks . Saya juga bisa melupakan rasa penat akibat tekad saya sendiri untuk tidak akan menggerakkan tubuh sedikit pun selama 24 jam. rasanya luar biasa tidak karuan. Saya pernah mengalami rasa sakit sampai tidak tahan lagi menanggungkannya. Memperhatikan apa saja yang terjadi di ICU itu membuat perhatian saya terbagi. (Kelak akan saya jelaskan apa itu di-TACE). Yakni sakit. kalau dalam satu hari itu tidak juga reda. Sampai-sampai saya tak bisa memisah-misahkan bentuk sakitnya itu terdiri atas berapa macam rasa sakit. Sedang saya tidak tahan. Tapi. Toh saya sudah berumur 55 tahun. Sambil mata tetap terpejam pikiran saya jalan ke mana-mana. selang yang dimasukkan ke rongga perut lewat lubang hidung juga dicabut. ke Medan. ketika setahun lalu harus menjalani kemoterapi. Yakni. mata terus terpejam. dilepas. Ini baik. Batam sampai ke Palu. *** Hari pertama di ICU itu saya tidak merasa mengantuk. atau umur kakak saya. Tak terasa sore pun tiba. mual. Yakni. Mereka jelas lebih hebat dari saya. Hanya. Juga sudah melebihi umur ibu saya. kata saya kepadanya. Ke Surabaya. bukan saya jagoan dalam menerima rasa sakit. Agak lebih sore lagi. Ini bukan untuk menunjukkan bahwa saya pernah hampir putus asa. atau umur paman-paman saya. Karena tidak melulu tercurah ke rasa sakit. tinggi. kembung. Sudah berbuat sesuatu yang lumayan. Saya diberi obat tertentu. Tapi. melintir-lintir. Lalu dia lapor ke dokter. saya kemudian memutuskan tidak mau lagi dikemo. Lalu dikemo. Saya bilang kepada Robert Lai yang menunggui saya di Singapura. mulas. Tidak tahan. Agak lega sedikit. dan entah berapa jenis rasa sakit menjadi satu. Rasanya saya tidak punya kekuatan untuk membuka kelopak mata saya sendiri. Waktu itu diketahui (lewat scanner) bahwa di liver saya sudah ada kankernya. saya pilih mati. Saya pernah mengalami rasa sakit yang “sampai nggak bisa dirasakan”. Pasti painkiller. Dalam hal ini saya merasa kalah dengan Sara. agar tidak berakibat buruk pada luka-luka operasi saya. Perhatian saya menjadi tidak hanya kepada banyaknya selang yang menancap di sekujur tubuh. Tidak ada gunanya hidup dalam keadaan seperti itu. Saya akan cari jalan lain saja. Bukan. Kini dia kembali cantik dan sudah melupakan penderitaan kemonya. Dia harus menjalani kemo berpuluh kali hingga kepalanya gundul.

ada yang ganti ginjal. begitu banyak alat deteksi yang terus-menerus harus dipantau. Iya kalau batunya yang menggelundung. Ini belum termasuk koran-koran Grup Jawa Pos yang terbit di Jakarta dan di kota-kota lain di luar pulau. Malam itu saya menyaksikan kerja perawat di ruang ICU yang luar biasa sibuknya. delapan televisi lokal. menurut pendapat saya. Semuanya baru saja menjalani penggantian organ tubuh. Batu pun kadang bisa menggelundung. diganti. begitu banyak macam cairan infus. Jangan menaruh harapan terlalu banyak. sepeda itu pernah putus as rodanya sehingga tidak bisa dinaiki. Saya terus berharap. bertemu batu pun akan ditabrak. Orang akan merasa kecewa kalau keinginannya tidak tercapai. dituntun pun tidak bisa. Menggendong dengan bahagia. kalau orang berpegang teguh pada cita-cita.00 keesokan harinya. waktu pertama punya sepeda (juga bekas) bahagianya melebihi saat punya Jaguar. Sepanjang malam mereka bekerja tanpa istirahat sedikit pun. Saya sudah biasa dengan sikap untuk tidak berharap banyak pada apa pun dan pada siapa pun. kalau dalam perjalanannya menghadapi batu besar. Sebuah koran nasional dari daerah dengan oplah lebih dari 300 ribu eksemplar per hari. Karena akan membuat saya merasa lebih bahagia. Malamnya saya juga tidak mengantuk. Rasanya. Tapi. dan power plant. Saya tidak mau bertanya jadwal melepaskan selang-selang sisanya. lha kalau kepalanya yang pecah gimana? Cita-cita saya semula hanya ingin punya sepatu. Ini. Karena tidak punya cita-cita. 21 by Moezhanks . kalah dengan air yang deras. Jadi. Tidak perlu lebih besar dari itu. Tapi. kalau ada yang menganalisis bahwa saya punya grand design untuk membuat Jawa Pos seperti sekarang. alirannya yang deras. ini saya. Hanya. Kedungdung. Keinginan itu meningkat terus secara bertahap. dalam istilah Pesantren Miftahul Ulum Al Islami.lega lagi. Perawat shift malam itu mulai bekerja pukul 19. selang-selang itu satu per satu akan dilepas. sehingga menjadi seperti Grup Jawa Pos sekarang. Itu menangnya orang yang tidak punya cita-cita tinggi sejak awal. di Bangkalan. kalau bisa. Waktu itu. Mungkin sudah kelamaan ditidurkan! Yakni. meningkatlah keinginan untuk bisa sebesar Surabaya Post. Tiap-tiap pasien memerlukan begitu banyak obat. biar pun rombengan. saya wujudkan dengan konstan. untuk mencapai kebahagiaan sangatlah mudah: Jangan pasang keinginan terlalu tinggi. tidaknya begitu kenyataannya. rasanya tidak mungkin mengejar Surabaya Post yang sudah merajalela kehebatannya. pabrik kertas. Lalu ingin punya sepeda. ia akan membelok. Padahal. Saya punya prinsip semuanya sebaiknya mengalir saja seperti air. Madura. dan dicatat. Maka. Baru setelah ternyata mudah sekali membuat koran yang bisa sebesar 50 persennya Surabaya Post. Hidupnya lebih fleksibel. Hanya desain-desain kecil yang saya buat. 18 jam dibius. Khawatir berharap terlalu banyak. baik. Bukankah bahagia dan kecewa sebenarnya bisa kita ciptakan sendiri? Orang akan merasa bahagia kalau keinginannya tercapai. Dulu pun saya hanya ingin Jawa Pos menjadi koran yang oplahnya separonya dari Surabaya Post. pimpinan KH Ilyas Khotib. Terpaksalah saya menggendongnya. Dengan istikamah. ada yang ganti jantung. Bahkan. Ini karena tiap tiga perawat mengurus lima pasien ICU. Ada yang ganti liver seperti saya. koran ini berkembang sedemikian rupa hingga menjadi sebuah grup media yang membawahkan lebih dari 100 koran harian dan mingguan. Setidaknya tidak akan membuat saya terlalu kecewa.00 dan baru akan pulang pukul 07. Bahkan.

Paginya. semakin panjang kalimat yang saya ucapkan. Saya memang bertekad untuk tidak akan mendemonstrasikan rasa syukur itu dalam bentuk yang ekstrem. 30 hari sebulan. Berbeda dengan muda saya dulu. Jadi masih lumayan. Begitu seterusnya. Tapi. Saya akhirnya berkesimpulan akan bersyukur dengan cara “memanfaatkan umur tambahan ini dengan seproduktif-produktifnya”. “Untung Anda masih sangat muda. “Anda luar biasa sekali. Besoknya tidak pakai libur. “Ze me yang?” tanyanya 22 by Moezhanks . harus dicatat berapa harganya dan lalu di-invoice-kan.” kata hati saya. berarti rumah sakit akan menderita. 360 hari setahun. sudah harus bekerja sejak pagi lagi.” batin saya lagi.” jawabnya. sujud kan tidak harus dengan kepala? Kan bisa juga yang sujud hati? Maka saya sujud dengan hati saya. Lalu minta diistirahatkan seterusnya. Sebab. “Terima kasih. menderita kerugian. karena tidak dipedulikan. tapi Saya Tak Mampu Sujud Syukur 3 September 2007 SAYA memperoleh kesadaran penuh pada malam kedua di ICU. Kalau sudah tua. Puji Tuhan. Bahkan. pagi-pagi. lantas ngambek seperti ini. Suara tat-tit-tat-tit mesin yang memonitor organ-organ tubuh saya terdengar kian jelas. Hari kedua di ICU itu. sepanjang siang lagi dan sepanjang malam lagi. Sampai malam lagi. Saya tahu dia akan libur besoknya. dengan sepanjang-panjangnya mengucapkan kalimat-kalimat tertentu atau bahkan sampai menitikkan air mata. “Saya benar-benar masih hidup. Tidak libur. Rasanya malah lebih ikhlas. Di tengah malam yang sepi itu. Satu malam suntuk bekerja tanpa istirahat.” kata saya. kalau salah dalam meng-invoice-kan. Sudah lama minta untuk tidak diperlakukan seperti itu. Ini penting sekali.Dan. Selama kirakira 15 tahun berturut-turut. Sepi sekali ing pamrih. Liver saya kalah. Setiap ada kesempatan saya selalu memuji mereka. Sudah pasti saya belum punya kemampuan bersujud. (bersambung) Ganti Hati 09 – Kesadaran Pulih. Saya ingat waktu itu. Karena dia pimpinan. Besoknya sepanjang malam lagi. Dia sebenarnya sudah lama menangis-nangis minta diperhatikan. saya harus bekerja sepanjang malam. Tujuh hari seminggu. Semakin banyak orang yang saya undang untuk syukuran. “Alhamdulillah. Inilah yang membuat organ di dalam tubuh saya menderita. yang juga tak kalah penting adalah dibuatkan invoice-nya untuk menagihkan kepada pasien. semakin saya “sudah merasa bersyukur banyak”. nggak mungkin bisa bekerja tanpa henti dengan konsentrasi tinggi sepanjang malam. Misalnya. semakin saya “sudah merasa bersyukur”. Sebentar tapi menenangkan batin. apa pun yang di ICU terlihat jelas dan terekam baik dalam ingatan. bagi RS tentunya. Tiba-tiba saya terlibat diskusi lagi dengan pikiran sendiri mengenai apa bentuk syukur yang harus saya lakukan.” kata saya. pimpinan rumah sakit yang juga kepala tim dokter yang menangani penggantian liver saya datang menjenguk. Namun. Maka setiap habis menggunakan bahan. tibatiba pikiran saya jernih sekali. Yakni. Sudah lama komplain ke sana kemari. waktu mulai membangun Jawa Pos dari sebuah koran yang hampir bangkrut. Saya khawatir. Atau memotong sapi untuk acara besar-besaran. Tidak ada yang lihat. yang menyertainya banyak sekali.

Saya bilang bahwa saya baik-baik saja dan tidak punya keluhan apa pun. Saya justru bergegas menunjuk ke perawat yang berdiri di arah kaki saya. “Dokter. yang akan membuat saya menyesal melakukan operasi? Soalnya. Para perawat itu bekerja dengan penuh tanggung jawab. saya masih akan berhari-hari di rumah sakit ini. melainkan soal-soal lain yang membuat saya penasaran. Masih ada waku di lain hari. Kerja yang luar biasa keras itu harus ada yang mencatatnya.sambil memegangi tubuh saya menanyakan apa kabar dalam bahasa Mandarin. Saya malah berubah pikiran dengan cepat. Toh. melakukan pekerjaan cepat. Bahkan. Tanggung jawab kepada keselamatan pasien. Juga terlalu dini. saya kira memang tidak perlu ada kata-kata apa pun. Bukankah memang ada kasus-kasus “salah diagnosis” semacam itu? Ada juga pertanyaan yang lebih penting yang ingin segera saya ketahui. Di Tiongkok nama saya memang Yu Shi Gan (baca: i-se-kan). Tidak ada kata-kata yang diucapkannya. perawat-perawat rumah sakit ini luar biasa. Maka. Sebenarnya banyak sekali yang ingin saya katakan. Sang pimpinan tersenyum senang. ternyata liver saya baik-baik saja. Tepukan tangan ke pundak anak buah seperti itu sudah melebihi pujian yang diucapkan dengan ribuan kata. tanpa istirahat sedikit pun. sehingga cukup dipanggil nama depannya saja (Yu) yang dikira nama marga saya. mungkin masih berminggu atau (kalau operasi ini gagal) masih akan berbulan lagi. Kalau saja tidak teliti pun siapa yang tahu? 23 by Moezhanks . Dan. saya urung mengajukan pertanyaan-pertanyaan tadi. pertanyaan itu terlalu banyak untuk diajukan pagi itu. Yang membuat saya ingin segera tahu. “Hen hao.” jawab saya. Terutama kebaikannya itu. Yakni. Saya tidak basa-basi memuji para perawat itu. Mr Yu memuji saya di depan pimpinan. tapi mereka sendiri juga harus dilaporkan. tanpa mengunjungi saya pun dia sudah bisa baca dari laporan komputer mengenai perkembangan keadaan saya.” kata saya kepada pimpinan rumah sakit itu. Tentu itu basa-basi. Bukan mengenai keluhan saya. Tadi malam mereka bekerja keras sepanjang malam. Bukankah pagi itu dokter hanya mengunjungi saya untuk menunjukkan perhatian kepada saya? Untuk menunjukkan rasa persahabatan yang tulus? Sebab. bahwa sebenarnya saya tinggal punya kesempatan hidup enam bulan lagi? Karena kanker sudah menjalar ke beberapa bagian di dalam liver saya? Tapi. cermat dengan ketelitian yang tinggi di waktu malam yang sepi. Benarkah sudah ada kanker di liver lama saya? Benarkah tanpa operasi ini sebenarnya saya masih bisa hidup lima tahun lagi? Benarkah.” kata perawat itu kepada saya setelah rombongan pimpinan berlalu. Lalu dia mendekat ke arah perawat dan memegang-megang pundaknya. ada juga sedikit kekhawatiran bahwa jangan-jangan setelah perut dibuka. Rasanya kurang pas kalau saya sudah bertanya sejauh itu. Para perawat itu tidak hanya harus membuat laporan yang baik. Saya memang benar-benar ingin memujinya. Jangan-jangan hasil scanner yang menyatakan liver saya sudah rusak dulu itu hanya karena alat scanner-nya “salah lihat”. seperti kata sebagian dokter. apakah ada kesulitan yang berarti untuk melakukan operasi tadi malam? Apakah liver saya yang lama benar-benar telah rusak seperti yang diperkirakan? Atau sebenarnya masih baik. Misalnya. “Terima kasih.

Saya tidak akan lupa wajahnya. Juga belum tentu menghasilkan kekayaan. tapi juga kemerdekaan dan filsafatnya. Dia ajari fotografi. Bukan hanya penulisannya. Saya mungkin juga tidak berada lagi di ICU karena pagi itu sudah bisa kembali ke kamar saya di lantai 11. Tidak akan lupa keterampilannya. Pagi ini saya kembali ke Surabaya. “Terima kasih Bapak telah memuji saya di depan pimpinan saya. Azrul dapat orang tua angkat yang sama sekali tidak diperkirakan.” kata perawat itu. plester. Yakni. Maka. dan obat-obatan. Saya mengangguk karena rasanya memang tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Azrul dia anggap sebagai anak laki-lakinya. berarti tidak perlu ada hubungan yang khusus. Namanya John Mohn. Rupanya. cairan infus. Pemakaian barang seharga 1 yuan (sekitar Rp 1. kami tidak pernah tahu di rumah siapa dia akan tinggal di AS. Tiap hari dia ajak anak saya ke kantor korannya. membawa dompet pun belum tentu ada duitnya. Karena itu.” ujar Azrul. Wajahnya kelihatan bersorak gembira. masuk SMA di sana. *** Tiba-tiba anak saya laki-laki.100) pun harus dicatat rapi dan dibuatkan perhitungannya. Dan Isna sudah di sini. Hari itu rupanya saya akan diserahterimakan. masuk ICU. baru selama sakit ini saya punya komunikasi yang intensif dengan anak-anak saya. Juga juragan koran. “DBL harus segera dimulai. Perasaan saya baik-baik saja. saya membiarkan proses manajemen berjalan apa adanya. Saya perlu memuji perawat tersebut sebagai bentuk ucapan terima kasih saya yang tulus kepada mereka. Bahkan. Dan kerja kerasnya. Saya tidak mungkin memberinya uang. “Bapak kan sudah aman. kapas secuil ada harganya. Kali ini bersama adiknya. Dia ajari jurnalistik. Meski anak lelaki saya juga di Jawa Pos. Jarum pun ada harganya. infus. Dia seorang master jurnalistik. keduanya langsung ke USA.” tambahnya. Azrul sampai tujuh tahun di sana. Ikut orang tua angkatnya yang didapat melalui proses undian. dan seterusnya. Terlalu menyiksa. Apalagi selang. Saya perlu memujinya karena setelah hari itu saya tidak mungkin lagi bisa bertemu mereka. yang baru malam harinya tiba dari Surabaya. Jadilah Azrul anak yang mencintai koran. dengan cara tidak ceroboh mencatat harga-harga barang yang saya gunakan malam itu: obat. Tidak akan lupa ekspresi kegembiraannya. Yakni. tapi karena bapak angkatnya itu. selang. tisu. Kalau tidak. Hari ini mereka dapat giliran libur. Bukan karena saya. Sebelumnya. John tidak punya anak laki-laki. Azrul Ananda. saya ternyata jarang sekali berbicara dengan mereka. Seperti mendapatkan uang berjuta. Saya sendiri sejak awal tidak ingin dia kerja di koran. Ternyata.Mereka juga bekerja dengan penuh tanggung jawab kepada rumah sakit. Begitu tamat SMP. Setiap ada pemakaian bahan harus dicatat harganya dan dibuatkan invoice penagihannya. jarum. DBL (DetEksi Basketball League) adalah liga basket SMP/SMA terbesar di Indonesia yang dia prakarsai. Keberadaan dia di Jawa Pos malah membuat hubungan saya sebagai bapak dan anak menjadi seperti hubungan atasan dan bawahan. Terlalu berat. Isna Fitriana. Anak-anak saya memang sudah terpisah sejak mereka masih amat remaja. seorang bapak yang ternyata juga pemilik surat kabar daerah di Kansas. Maka sejak tamat SMP saya kirim dia ke AS agar bisa punya pilihan 24 by Moezhanks . Besok sudah akan menjalani kehidupan baru dengan pasien berikutnya lagi. Saya kan dalam keadaan telanjang! Mana bisa membawa dompet? Apalagi sudah menjadi kebiasaan saya. Karena dia bukan bawahan langsung. Saya hampir tidak pernah bicara soal perusahaan kepadanya. rumah sakit akan rugi. sarung tangan.

Oh. terjadilah. “Ternyata kita punya bapak. Justru ketika sakit ini saya seperti menemukan keluarga saya. Sangat tidak enak. Sekarang ditambah dengan menantu-menantu dan seorang cucu. Itu membuat pikiran saya lari ke mana-mana. Kami pun sering dalam keadaan lengkap berada dalam satu ruangan: saya.” kata Isna kepada kakaknya. Lubang bekas selang-selang itu lantas ditutup dengan plester. mereka sering menemani saya. yang nama-nama hari dalam bahasa Inggris pun tidak hafal. Termasuk ke liver baru saya. ketika sudah berada di kamar biasa. Ini saya sadari setelah beberapa kali perawat menanyakan soal yang kelihatannya sepele itu. Yang terjadi. Termasuk tidak mau lagi tinggal bersama kami di rumah. dan anak-anak saya. Dua hari kemudian lubang itu sudah menutup. seorang cucu dan calon seorang cucu lagi. Sambil tertawa cekikikan. Menyikapi kedua penilaian itu saya pasrah saja. hanya akan mau bekerja sama kalau tetap dibolehkan makan babi? Atau dia begitu baiknya sehingga akan ikut saja peran apa yang harus dia jalankan? 25 by Moezhanks . Suasana yang sangat mengurangi rasa sakit saya selama di ICU. Tapi. Lalu jadi pengusaha yang mandiri. Kelak. Saya masih punya pikiran jangan-jangan lubangnya masih menganga.lebih baik. ada juga yang menilai bahwa saya harus bersyukur karena ada anak yang masih punya idealisme di bidang jurnalistik. Baru ketika saya sakit ini. Setidaknya agar bisa berbahasa Inggris. Ketika hal ini saya kemukakan kepada Azrul. Tidak seperti bapaknya yang hanya tamatan SMA (aliyah). Saya justru mau anak saya bekerja di luar negeri dulu. atau lagi pasang kuda-kuda untuk saling bermusuhan? Apakah liver baru itu sedang tawar-menawar pekerjaan dengan organ lain? Apakah liver baru itu sedang mengajukan syarat-syarat kerja sama? Misalnya. perut saya mulai merasa kembung. siang itu dua selang yang masuk ke rongga dada lewat leher kanan saya juga dicabut. Lebih menggembirakan lagi. Juga belum bisa buang angin. Mereka pilih tinggal di rumah sendiri. Penuhnya bukan hanya di perut. saya masih sering meraba-raba bekas lubang di leher itu. Apakah saya menyesal? Ya dan tidak. Sepanjang malam saya tidak bisa tidur. katanya. Eh. Jangan Anggap Sudah Merdeka 4 September 2007 SEPANJANG sore sampai malam (hari kedua di ICU). Makanya perut seperti penuh sekali. tapi seperti sampai dada. Mereka sudah terbiasa mandiri. (bersambung) Ganti Hati 10 – Meski Keluar ICU. rupanya saya belum bisa buang air besar. dia balik bertanya: saya harus cari uang? Saya mau jurnalistik. sungguh tidak demikian maunya. istri saya.” gurau saya kepada keduanya. ya. Jadi. Saya berkhayal sedang apakah dia? Lagi saling berkenalan dengan organ saya yang lain. Sepulang dari USA anak-anak saya praktis jadi dirinya sendiri-sendiri. kalau ada yang menganggap saya sejak awal menyiapkan anak saya untuk di Jawa Pos. “Ternyata saya punya anak.

apakah tidak akan terjadi konflik anak-bapak yang diakibatkan perbedaan zaman? Juga perbedaan gaya hidup? Apakah tidak akan terjadi adu balap? Apakah jantung tua saya kuat melayani balapan itu? Panjang sekali khayalan saya. Dalam proses keluar dari ICU itulah saya baru tahu bahwa ruang ICU ini amat-amat panjangnya. apakah tidak akan mengajak balapan organ lain seperti jantung. Rasanya juga sakit. Saya bersyukur. Semua dicatat oleh perawat. dan ginjal? Kalau organ-organ lain saya sudah berumur 56 tahun. Tapi. Kata-kata itu terus melekat di ingatan saya. hari ketiga di ICU. yang sudah lebih tua umurnya. Ya. saya harus merasakannya. sakitnya seperti apa kan belum dirasakan. paru. Selang yang sudah 56 jam berada di lubang kemaluan saya dicabut. Kalau saja pagi itu saya belum punya “rasa”. Tidak perlu ada orang yang mengangkat. kalau saya ingat banyak pasien yang keluar ICU masih dengan selang yang menancap di leher. karena saya toh harus kencing. akan dilakukan rekayasa. Saya pun sebenarnya sudah membayangkan akan keluar ICU dalam keadaan seperti itu. Kereta ini dilengkapi sistem hidrolis.” kata perawat setelah berhasil mencabut selang itu. Kereta ini yang membawa saya turun ke lantai 11. Maka suara bom pun bergelegaran. Atau barangkali karena saya sudah merasakan yang paling sakit. Setelah itu tiba-tiba saya merasa seperti ingin buang angin banyak-banyak. dengan organ baru di dalamnya. Semua berjalan natural. Lega tapi memang sakit. Pagi itu juga diputuskan saya boleh keluar dari ICU.00 saya sudah dipindahkan dari ranjang ICU ke kereta angkut. sehingga sakit-sakit kelas seperti itu sudah saya anggap bukan sakit lagi. Apakah tidak akan menimbulkan persoalan? Misalnya. Rasa plongnya bukan main. kan tetap harus dicabut? Sakit tapi lega. selang yang masuk ke rongga perut melalui pinggang kanan juga dicabut.Yang tak kalah penting adalah perbedaan umur yang mencolok antara liver baru dan organ saya yang lain. ternyata tidak. Rumah sakit ini memang bisa melakukan transplantasi organ sebanyak 30 orang dalam waktu bersamaan. Perut saya akan dimasuki cairan lewat pantat. Agak sakit rasanya. terjadi generation gap yang tajam? Bukankah liver baru itu belum sampai berumur 25 tahun. Dia perawat yang berbaju biru. Tapi. Semuanya hilang sudah. Memang seluruh lantai 12 adalah ICU. Paginya. Juga kabel-kabel yang dihubungkan ke ujungujung jari. Alat untuk mengukur tekanan darah juga dilepas. Lalu. Dialah yang memasang tadah kotoran dan membersihkannya. Ini untuk memudahkan memindah badan saya dari ranjang ICU. Kabel-kabel yang menempel di dada kanan dan dada kiri dicabut. Saya panggil perawat. Ternyata untuk urusan buang air besar ini ada perawat khusus. ke kamar lama saya yang sudah dibuat bersih sebersih-bersihnya. Sekitar pukul 10. Apalagi. Bukan khayalan yang ilmiah. Khayalan orang yang tidak bisa tidur saja. Untunglah saya tidak perlu melalui tahapan darurat itu. Mekanisme tubuh saya. salah satu ukuran yang menentukan adalah ada atau tidaknya “rasa” tadi. Tapi. Urusan buang hajat pun selesai. 26 by Moezhanks . berjalan dengan normal. Tiap pasien dapat satu kapling yang dibatasi dengan kaca terhadap pasien lain. Ternyata rasa sakitnya tidak seberat yang saya bayangkan. yang bisa saja membuat badan saya berubah posisi dan menimbulkan bahaya bagi bekas-bekas operasi. Dari kereta itu secara otomatis menjulur sebuah papan besi menyekop ke bawah badan saya. tapi sakit yang menimbulkan kelegaan. Satu jam kemudian persiapan mengeluarkan saya dari ICU dilakukan. Sampai-sampai timbul rasa takut setiap merasa akan kencing. Badan saya terbawa di atasnya. Berarti ruang ICU-nya memang harus banyak sekali. barulah saya “rasa” itu muncul. Rupanya keluar atau tidak dari ICU. “Kencing pertama sampai ketiga nanti mungkin agak sakit.

membaca. Saya mengakui Robert benar. Sayangnya. Pasien dari Taiwan mengucapkan selamat atas kesuksesan operasi saya. Mereka segera membuat lubang baru di lengan saya untuk keperluan infus-infus berikutnya. apa yang mau saya tulis ini semuanya sudah lengkap dan memenuhi kepala saya. Contoh lainnya. untuk mengambil “barang” yang masih dititipkan di dalam. Lalu ke rumah sakit di negaranya sendiri untuk mengeluarkan “barang titipan sementara” itu. semua sudah ada di kepala. saya tetap bermohon untuk dapat dispensasi melakukan dua pekerjaan itu. orang Jepang. teman saya itu. Lalu tidak perlu infus sama sekali. tiap seri harus dibuka dengan kalimat apa dan ditutup dengan cara bagaimana. dia harus menunggu kondisi badannya membaik dulu. terpaksa balik lagi ke rumah sakit ini. Terutama di seminggu pertama keluar dari ICU. Masih sederet contoh tragedi seperti itu. Orang tersebut merasa sudah sangat normal. Namun. Lalu tinggal dua jam. termasuk akan dilakukan transplantasi liver lagi. proses tersebut tidak mulus. serta membalas dan mengirim email. Akhirnya dia meninggal dunia di rumah sakit ini bulan lalu. Dia terjatuh dan harus masuk ICU lagi. (bersambung) 27 by Moezhanks . Robert tahu saya sering maunya sendiri. Tiap hari saya masih harus diinfus beberapa obat dan vitamin. keadaannya sudah sangat payah. harus balik lagi ke Tiongkok tiga bulan kemudian. Kalau tidak segera saya tuangkan di komputer. berapa seri tulisan itu nanti. Dia terkena infeksi. Berbagai usaha sudah disiapkan. Setelah tidak bisa diatasi di negaranya. Seorang kenalan dari Pakistan terkena infeksi setelah tiga hari keluar ICU. para perawat menyambut. ada pasien yang merasa kuat dan jalan sendiri ke kamar mandi. Saya sudah bertekad akan taat peraturan setaat-taatnya. melambaikan tangan. Tapi. Apa saja yang akan saya tulis. Terpaksa perutnya dibuka lagi. Dari kamar yang lain. Kini saya diserahterimakan dari perawat ICU ke perawat ruang rawat inap. Memang sudah diizinkan pulang. “Mana ada baru tujuh hari setelah transplantasi liver sudah memeras otak untuk menulis begitu panjang?” sergahnya. Sebab. jangan Anda anggap sudah merdeka. Dia lantas menakut-nakuti saya dengan kisah banyaknya pasien yang sukses dalam menjalani operasi. mengucapkan salam. Termasuk yang nekat pulang meski baru satu bulan setelah operasi. boleh membuka. Tapi. Lalu satu jam. Anda bukan dokter. obat sinkronisasi liver baru saya punya efek samping menaikkan tekanan darah. Kedua. tekanan darah bisa naik. boleh mulai menulis cerita ini. orang Arab Saudi. Itu membahayakan hasil operasi. Saya hanya minta kelonggaran dua saja. kali ini dia kecele. Sebab. *** “Meski sudah keluar ICU.Tiba di lantai 11. Diadakan perbaikan lagi di dalamnya. Saya mendengarkan baik-baik nasihat itu. Yakni. Tapi. Pasien lain yang belum operasi menyambut kepulangan saya dari ICU. Pertama. Mula-mula tiga jam sehari. Itu alasan Anda saja untuk diperbolehkan menulis.” ujar Robert Lai. Kondisi yang ditunggu itulah yang tidak datang. apakah tekanan darah tidak akan semakin tinggi? “Itu logika Anda saja. Saya sendiri sudah sering memberikan ucapan selamat seperti itu kepada pasien yang baru menjalani operasi sebelum saya. Kalau ditambah dengan penuhnya bahan tulisan di otak saya. Tapi.” ujar Robert Lai. Sebelah kamar saya. Perawat yang sudah tiga bulan lebih saya kenali dengan baik. tapi gagal menjauhkan diri dari virus dan infeksi.

“Kalau sampai jatuh di rumah Gong Li. jangan-jangan kalau teralu banyak tertawa. Saya tertawa. bagi orang Surabaya lucu sekali. Dimarahi Saudara di Desa 5 September 2007 JANGAN begini. Kalau saya nanti berdiri. Masih mudah mencarinya. Tidak sedikit kasus pasien jatuh saat pertama mencoba berdiri.” tulis saya. Meski ada cairan infus yang menggantikannya. Kalau sedang tidak ada yang ditertawakan.” Gong Li adalah artis yang paling terkenal dan konon juga paling cantik di antara artis Hongkong. jangan sampai langsung berdiri. Jangan begitu. Harus duduk lebih dulu. Untuk memberikan gambaran bahwa saya sudah bisa bergurau lagi. Tapi. Bisa tiba-tiba pusing dan jatuh. Kata njatuh. Masih banyak SMS yang masuk di sekitar jatuh-menjatuh itu. redaktur pelaksana Jawa Pos yang pendiam. Tapi.” tulisnya. “Ha ha… Kalaupun jatuh. Tepatnya bukan peringatan. jahitannya bisa mrotoli. menambahkan: “Ha ha. apa juga bersuara? 28 by Moezhanks . saya lupa bertanya kepada dokter apakah tali yang dipakai menggantung liver baru saya cukup kuat. apakah liver baru saya tidak jatuh? Apakah sambungannya sudah kuat? Tali apakah yang dipakai untung menggantung liver baru itu? Setengah serius. jahitan di perut yang panjaaaang ini masih basah. tapi pertanyaan. Saya memang suka bergurau. Leak Kustiya. Maklum. tidak ada suara benda jatuh. Saya juga lega bahwa hati saya yang baru tenyata tidak mengubah selera humor saya. empat itulah yang saya pilih sebagai yang paling lucu. Misalnya. mungkin tidak bisa dipahami di luar Surabaya. Bahkan ingin tertawa lebar. Tapi njatuh. Tapi. Kalau tidak pusing. masih di perut. kalau toh jatuh. Mas Goenawan Mohamad. Juga lima hari tidak makan. Saya masih dapat peringatan tambahan. Saya justru takut hati baru itu jatuh di rumah Gong Li. kontan membalas. Bergurau soal Liver. saya harus menahan tawa. Margiono. sih itu bukan jatuh. pendiri majalah TEMPO yang juga amat humoris. “Hari ini saya sudah diharuskan mulai turun dari tempat tidur. Jawaban dari beberapa teman berdatangan. Datangnya dari dalam diri saya sendiri. Itu hari kelima setelah operasi atau hari kedua setelah keluar dari ICU. Kekhawatiran-ngawur saya itu saya SMS-kan ke beberapa teman. “Yang bahaya kalau jatuhnya di dekat pasar loak. sudah lima hari saya terus dalam posisi berbaring. Sekali lagi. kontraktor yang membangun gedung Jatim Expo dan asrama mahasiswa Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya. saya sering mencoba menertawakan diri sendiri. tapi humornya sering cerdas. begitu saya berdiri. Tenang beberapa saat untuk lihat-lihat keadaan. Diam-diam saya sudah bisa menjadi juri lomba humor di hari kelima setelah operasi saya. Dan memang. Dan lagi. Padahal. Kalau dibuat tertawa masih sakit.” tambahnya.” tulisnya. Harus ada orang yang memegangi. Tapi. Humor khas Surabaya datang dari Jamhadi.” kata Margiono yang pandai mendalang itu. bisa diteruskan dengan turun dari tempat tidur dan mencoba berdiri. setengah bergurau. Sekaligus memberi kabar baik mengenai kemajuan demi kemajuan yang saya peroleh. “Lebih berbahaya daripada jatuh di dekat pasar loak.Ganti Hati 11 – Mulai Berdiri. Saya takut liver baru saya jatuh. Dirut Rakyat Merdeka yang lucunya bukan main. menimpali Margiono. Banyak sekali peringatan yang disampaikan kepada kami sebelum pertama saya turun dari tempat tidur. Bahkan sudah harus latihan berdiri.

Misalnya. pesantren kami yang sangat maju dan terkemuka mengalami kemunduran. Saya tidak akan menaikkan karir bawahan yang seperti itu. Itu tahun 1948. Dia sudah terpaksa jadi kiai ketika masih amat remaja. Kata saya kepada karyawan yang suka mengeluhkan atasannya itu: “Kita ini bisa dan sering memerintah…. misalnya. saya tidak pernah membaca ada ajaran seperti itu. Saya lantas memanfaatkan ilmu mantiq itu dalam praktik manajemen. termasuk guru yang didatangkan pesantren kami dari Mesir. Kepada atasan. Pesantren keluarga kami sendiri. Bukankah. Lalu. Bahkan. KH Hamim Tafsir. malas menggunakan pemberian Tuhan yang amat penting itu: otak.” tambahnya.” menurut ilmu mantiq. Kalau seorang bawahan tidak mampu melakukan itu. menurut ilmu itu. Mas Dahlan sendiri guyon. kalau memang cukup cerdas. Kalau ada karyawan yang sedikit-sedikit mengeluhkan atasannya. doa ini: Ya Tuhan. Tentu sebelum mengucapkan kata-kata tersebut saya berpesan agar jangan membicarakan istilah saya ini dengan orang lain. guru ilmu mantiq saya dulu. biasanya saya menasihatinya berdasar ilmu mantiq itu. Demikian juga guru-guru terkemuka lainnya. Tidak guyon seperti itu.” tambahnya.” tulisnya. Semua itu tinggal soal cara. masukkanlah saya ke surga. sedikit-sedikit berdoa seperti kita ini malas berusaha. berarti bukan bawahan yang cerdas. “Berdoa itu. sama dengan kita memerintah Tuhan agar memasukkan kita ke surga? Bukankah kata “masukkanlah” itu “kata perintah?”. “Tidak ada perintah memperbanyak doa. ketika meletus peristiwa Madiun yang terkenal dalam sejarah itu. “Yang diperintahkan beberapa kali adalah perbanyaklah mengingat Tuhan (zikir) dan perbanyaklah berbuat baik. Tidak pantas. Intinya: seorang bawahan. harus bisa membuat atasannya memenuhi keinginannya. “Nyawa kok dibuat guyonan. kita menggunakan cara yang disebut berdoa. Dia marah. Tidak harus selalu keinginan atasan yang berlaku. Takut orang salah paham.” ujar Agus. “pada dasarnya adalah memerintah Tuhan”. 16 km dari Kota Magetan. pasti Aku kabulkan’. tidak pernah takut mengatakan apa adanya. “Yang ada hanyalah ’Mintalah kepadaKu. Takeran. Hanya. Mereka dimasukkan sumur hidup-hidup..Keceriaan saya hari itu padam manakala masuk SMS dari keluarga saya di desa. saya SMS ke Ir Agus Mustofa. Dia marah karena seharusnya saya tidak berhenti berdoa minta keselamatan dan kesembuhan dari Tuhan. Ini karena enam kiai utama di pesantren kami (yang tidak lain paman-paman ibu saya) dibunuh orang Partai Komunis Indonesia (PKI). mengapa memerintah atasan yang masih bernama manusia saja tidak bisa?” Takut juga saya mengisi “titik-titik” itu. Orang yang tidak pernah belajar ilmu mantiq bisa salah paham. Soalnya. Saya pernah belajar ilmu mantiq (logika) sewaktu di Madrasah Aliyah Pesantren Sabilil Muttaqien. Sekali lagi. “Apakah ada perintah untuk memperbanyak doa?” tanya saya. Jadi. dikemas secara halus dalam wujud yang bernama doa? Mengapa kita selalu memerintah Tuhan untuk memasukkan kita ke surga? Mengapa tidak kita sendiri berusaha sekuat tenaga. Magetan. Bukan hanya atasan yang bisa me-manage bawahan. Ada alasan lain mengapa saya memilih sumeleh kepada Tuhan daripada sedikit-sedikit minta sesuatu kepada-Nya. Padahal. Kepada Tuhan.” balas Agus segera. ini soal cara. 29 by Moezhanks . dengan jalan banyak beribadah (termasuk kerja keras)? Ilmu inilah yang juga saya bawa ke praktik manajemen. bawahan itu sebenarnya juga boleh me-manage atasan. lalu ditimbuni batu. Sejak itu. seperti yang sudah saya utarakan di bab terdahulu. Soal kemampuan kita memanajemeni atasan. “Kita di sini tidak henti-hentinya berdoa. Saya harus mengenang guru saya itu. penulis buku Takdir Bisa Diubah yang laris itu.

Infeksilah yang banyak mengakibatkan kegagalan.” Tapi. Bahkan. Yakni. Bahkan. itu baru persoalan. kepada Tuhan kita berdoa. saya memang melarang pembuatan kamar kecil khusus di ruang pimpinan. dan kepada bawahan… teserahlah mau pakai yang mana. Ilmu mantiq ternyata banyak membantu saya dalam menjalankan praktik manajemen. Saya sendiri kini masih terus berpikir bagaimana saya bisa me-manage liver baru saya. Kalau toh terjadi. Justru harus lebih hati-hati. Mengeluh berarti tidak cerdas. Termasuk bab mengapa liver saya sakit. Bukan saja agar sesekali bertemu bawahan di forum itu. Obat yang menyinkronkan liver baru dan organ-organ lain yang lama. bisa diketahui secara dini. Padahal. keinginan kita yang kita yakini benar bisa dipenuhi oleh atasan.) Untuk menjaga jangan sampai terjadi infeksi itulah. Banyak manajer saya yang kemudian tidak mudah mengeluhkan “ketidakmampuan atasannya”. Tapi. Tentu tidak pas kalau kepada bawahan Anda mengatakan. (bersambung) Ganti Hati 12 – Perawat Sekaligus Menjadi Polisi Penjaga Virus 6 September 2007 KELUAR dari ICU tidak berarti merdeka. Apa sebabnya. tidak ada lagi mata pelajaran ilmu mantiq itu. Untuk mengatasi penolakan itu. “Saya berdoa kepadamu mudah-mudahan engkau mau membersihkan kamar kecil itu lebih bersih lagi. Karena itu. ketika pasien terkena infeksi. Dan saya dengar di kurikulum madrasah aliyah sekarang ini. kalau dia lebih pintar dan mampu me-manage saya agar saya mau memenuhi keinginannya. kemungkinan infeksi pun kini sudah bisa diturunkan maksimal karena adanya cara baru. sejak masih dalam bentuk gejala. tapi juga agar bisa ikut mengontrol kebersihan kamar kecil umum. Kini ancaman kegagalan transplantasi liver bukan lagi seperti dulu. kepada sesama kita minta tolong. saya sering juga menggunakan gaya ini kalau hati sudah amat jengkel melihat kamar kecil yang kotor. Dia mencari jalan beraneka cara untuk mencoba bisa me-manage atasannya dengan bijak. Di kantor-kantor Grup Jawa Pos. tapi saya berharap liver baru saya itu belum pernah belajar ilmu mantiq untuk mengalahkan saya. terlalu banyak kasus kegagalan transplantasi liver terjadi justru pada minggu pertama setelah keluar dari ICU. Ini karena ruang biasa tidak dilengkapi peralatan monitor yang serbaotomatis. Jadi. Saya membayangkan dia memang pernah belajar kungfu. Ini agar pimpinan juga menggunakan kamar kecil umum. Saya sudah bermohon kepadanya untuk jangan sekali-kali kangen akan daging babi. Demikian juga tidak lagi banyak staf yang mengeluhkan rekan kerjanya. (Akan ada uraian tersendiri untuk ini di bab-bab berikutnya. kepada atasan kita bermohon. kepada bawahan pun kata “minta tolong” akan lebih efektif daripada kata “saya perintahkan” -meski atasan berhak memerintah bawahan.mungkin dengan gaya “bermohon atau minta petunjuk atau mengiba atau apa sajalah”. Termasuk yang diterapkan kepada saya. Bukankah kepada sesama rekan staf. kini sudah ada obat yang sangat modern. suhu badan diukur tiap dua 30 by Moezhanks . Mengapa tidak bisa ditanggulangi. kita bisa menggunakan gaya “minta tolong”. Bukan lagi akibat badan menolak kedatangan liver baru. Yang penting. monitoring dilakukan ketat.

Anti penolakan terhadap liver baru. paru saya juga dironsen. tidak perlu takut karena ada obatnya. “Banyak juga yang sukses operasinya. gula darah saya 17 (sebelum makan).jam. semua orang yang masuk ruang saya harus taat akan peraturan ini. Bukan karena pankreas saya tidak berfungsi. Sewaktu saya kemukakan kekhawatiran saya akan tingginya gula darah itu. kali ini saya putuskan “tidak akan jadi dokter untuk diri saya sendiri”. Karena itu. ini juga karena pengaruh obat saja. saya juga di USG. USG tidak lagi dilakukan.” ujar seorang suster. Selain obat anti penolakan itu. sebelum makan. Tiap pagi. Pada hari ketiga. “Kita akan terus memonitornya. Pertama. Memang. tidak diperlukan lagi pemeriksaaan gula darah. Paru-paru bersih. Ini sangat-sangat tinggi. Saya harus tahu persis apa-siapanya. diminum dua kali sehari.5 (sebelum makan). harus diukur dulu tekanan darah dan gula darah. Sekitar 4 sampai 6. Apalagi keadaan badan saya terus membaik sehingga saya semakin percaya saja pada keputusan dokter. Bukan karena fungsi pankreas yang jelek.” kata dokter. tapi khawatir jangan-jangan ada yang tidak beres pada sambungan-sambungan pembuluh darah lama dan baru. Tapi. Obat ini berupa kapsul kecil-kecil tiga butir. Hasil ronsen itu juga menggembirakan. Tekanan darah saya juga tinggi jika dibandingkan dengan sebelum operasi. apa kegunaannya. Misalnya.” ujar dokter. Biasa juga disebut obat antirejection. Kedua. Tapi. Hasil USG tiap hari itu menunjukkan tidak ada tanda-tanda kegagalan penyambungan liver baru saya. Maka. Ujung jari saya di-”ceklik” beberapa kali sehari untuk mengeluarkan sedikit darah. “Itu hanya karena efek obat. Karena itu. suhu badan saya sangat menggembirakan. Ini pertanda bahwa infeksi tidak terjadi di dalam tubuh saya. diukur lagi. Setelah makan. saya harus minum obat penyinkron liver baru. sampai malam. Yakni bisa membuat gula darah dan tekanan darah naik. Semua harus menggunakan masker penutup mulut dan hidung. Untuk dites kadar gulanya. tapi tidak kuat jantungnya. dokter meminta saya tidak waswas. Tidak sekali pun dalam minggu pertama itu suhu badan saya naik di atas angka itu. Lega rasanya meski baru lega tahap satu. sering saya cek lagi kebenarannya lewat internet. Namanya afk. Selalu antara 35. Tapi. Karena itu. Pada hari pertama di luar ICU. Kali ini saya serahkan saja sepenuhnya pada keahlian dokter. Tapi. Lalu. Pankreas Anda sempurna. banyak juga yang logika saya ternyata salah. Termasuk untuk melihat apakah ada masalah pada ginjal saya. pada hari kelima. Sangat prima. bayangan saya akan transplantasi liver sama sekali berbeda dengan kenyataan dalam praktiknya. Bahkan. antara 76 sampai 85. 31 by Moezhanks . Siang sedikit.7 derajat Celsius. saya juga harus minum beberapa obat lainnya. Pada hari pertama. pada hari berikutnya. dulunya saya amat cerewet kalau diberi obat. Sedangkan denyut jantung sangat normal. karena saya memang bukan dokter. kali ini saya tidak bertanya obat apa saja itu. saya disuntik dulu untuk menurunkannya. Untuk itu pun. Padahal. melainkan karena afk tadi. selalu antara 80/120 sampai 85/130. Bangun tidur bisa mencapai 90/140. Demikian juga tekanan darah dan denyut jantung. Kebetulan. dan apa efek sampingnya. sebelum makan. Obat ini memang punya efek samping yang kuat. Bukan takut hamil.5 sampai 36. Jangan sampai orang yang menjenguk menularkan virus yang sangat membahayakan. Juga untuk melihat apakah ada genangan air atau darah di dalam rongga perut saya. Ini untuk melihat apakah ada genangan air atau dahak di paru-paru. gula darah saya sudah normal. ada “polisi” keras yang menjaganya: Robert Lai.

but control is better. Yakni. dia memaksa saya minum obat. Selama 24 jam sehari. suhu badan. Perawat itu disiplinnya bukan main. Terutama menjaga ketepatan waktu minum obat. Kehadiran perawat khusus seperti itu amat penting karena belum tentu keluarga kita mengetahui detail mengenai pengobatan. Petunjuk itu memang sudah diberikan jauh-jauh hari sebelumnya sehingga saya juga tahu pentingnya kedisiplinan meminumnya. Karena itu. “Trust is good. Tahu kalau saya segera operasi. Kalau sudah ditetapkan jam enam pagi dan malam. Kalau sudah waktunya minum obat. dua kali sehari. pada hari keenam. Sebab. Yang tidak pakai masker. Sudah sebelas bulan ini selalu menemani saya pergi ke mana pun. sama sekali tidak boleh. dia memang hanya bisa berbahasa Mandarin. Mereka memang para pensiunan perawat yang masih ingin terus bekerja. handuk. dia memtuskan menunggu saya sampai beberapa hari setelah operasi. Juga memandikan saya. dia memutuskan menempatkan perawat khusus di kamar saya. Robert memang menugaskan itu khusus kepadanya. untuk mengukur tekanan darah. Obat ini merupakan obat terpenting dalam menjaga keberhasilan transplantasi liver. bahkan dengan logat yang sangat daerah. Tidak boleh terlambat. Untuk mewujudkan prinsip yang dipegangnya itu. Dia yang juga ikut mengawasi orang keluar masuk kamar. diciptakan sistem kontrol. sabar. Dia orang yang amat disiplin. dia ikut melakukan “operasi nonteknik” pada malam menjelang operasi. Rumah sakit ini punya semacam unit usaha yang menyediakan jasa perawat khusus seperti itu. perawat khusus tersebut yang melakukan. Jangan ditegur. Saya lihat beberapa orang Jepang. Mengingat begitu banyak pasien ganti liver yang pernah mereka rawat. Bagaimana kalau lupa juga? Tetap. Agar tidak lupa itulah. Berarti 24 jam saya bisa belajar Mandarin secara tidak langsung. apakah obat yang diberikan lengkap atau tidak. apa pun harus kalah.” ujar Robert Lai. Apalagi lupa. Juga tidak boleh dipercepat. Bahkan. Tidak kurang satu menit pun atau lebih satu menit pun. Dia akan melakukan cek ulang. perawat yang khusus melayani kepentingan saya selama 24 jam. pengalaman para perawat khusus ini sangat banyak. Dia tahu persis gejala-gejala yang baik dan gejala-gejala yang kurang baik dalam perkembangan pasien. ahli hukum dari Singapura lulusan Inggris itu. tentu Anda tidak berani menegur. Jasa mereka itu juga penting karena ternyata banyak juga pasien yang tidak ditunggui keluarganya.” pesan Robert kepadanya. 32 by Moezhanks . Dia sudah hafal jenis-jenis obat yang disediakan dan jam-jam penggunaannya. harus tetap seperti itu. dia juga guru bahasa Mandarin.Mengingat indikator-indikator badan saya sudah begitu baik. Tepat jam enam. dia tegur. tidak boleh lupa. dan pekerjaan sejenis itu. Dia menjadi seperti perawat spesialis pasien ganti liver. Pak Dahlannya yang kamu pasangi masker. Dan bagi saya. air. tidak pernah ada dokter yang tidak disiplin. Salah atau tidak. dan kamar. Untungnya. menjaga kebersihan pakaian. Bahkan. Perawat itu juga menjadi polisi penjaga virus. obat sinkronisasi itu dikurangi 30 persen. “Kalau ada dokter masuk yang tidak pakai masker. Robert. Melinda dan suaminya sampai membuka sepatu ketika masuk ruang saya. bisa bicara Mandarin dan beberapa bahasa daerah di Tiongkok. dan punya keterampilan sebagai perawat. masuk ke ruang operasi tanpa satu pun ada anggota keluarga yang mengantarkannya. Semula Melinda dan suaminya hanya ingin menengok saya karena kebetulan lagi di Tiongkok. Kini tinggal dua kapsul kecil sekali minum. Dalil “manusia itu tempatnya salah dan lupa” tidak berlaku di sini. Tapi. meski bahasa pertamanya adalah Inggris. Untuk meminumnya. ada petunjuk khusus mengenai waktunya. Orangnya umumnya sudah agak tua.

Istilahnya. Juga karena negara waktu itu masih sangat miskin dan pemerintah sibuk mengurus politik atau rebutan posisi. Bikin saya malu.” katanya. dia tetap copot sepatu.” Saya tahu sepatunya amat mahal dan tentu juga amat bersih.” Mengapa sering lelah? “Masak itu ditanyakan. He… he…. sudah mencapai tahap terjadi sirosis. virus yang semula tidur saja di dalam liver punya kesempatan melakukan aksinya tanpa perlawanan yang berarti dari badan saya yang sedang lemah. sudah mengecil.” 33 by Moezhanks . “Dia lao da saya.” Kenapa waktu itu tidak menjalani vaksinasi? “Karena tidak tahu. Masak saya harus jadi pembunuh saudara tua saya. dan rusak. “Saya tidak mau dituduh sebagai pembunuh Pak Dahlan.” Kenapa ada virus hepatitis B di liver saya? “Karena liver saya tidak kebal ketika virus untuk pertama kalinya datang dan masuk ke dalam liver saya. Saat badan lemah. 25 Juta Orang Menghadapi seperti Saya 7 September 2007 MENGAPA saya harus menjalani transplantasi liver? “Karena sudah ada kanker di liver saya dan sudah mulai menyebar ke beberapa tempat meski semuanya masih di dalam liver. Virus itu menjadi aktif dan merusak liver karena kondisi badan saya sering sangat lelah.” Mengapa liver saya bisa sirosis? “Karena saya mengidap virus hepatitis B. bos Pakuwon Jati itu mengatakan.” Kenapa badan saya tidak kebal? “Karena saya tidak pernah menjalani vaksinasi antihepatitis B saat saya masih bayi/kecil.Ketika saya beri tahu tidak perlulah masuk kamar sampai copot sepatu. Tapi.” Mengapa ada kanker di liver saya? “Karena liver saya sudah tidak normal.” Kenapa tidak tahu? “Karena tidak berpendidikan dan tidak cukup pengetahuan.” tambahnya. (Bersambung) Ganti Hati 13 – Boleh Tak Mengaku. mengeras. “Kamar ini harus lebih bersih daripada sepatu saya. yang gagal saya usir atau saya matikan.

Maka. “Di Tiongkok sendiri kini terdapat 120 juta orang yang mengidap hepatitis B. Di Tiongkok. Keluarga saya. Sebab. bagaimana? Bukankah kesempatan untuk menjalani transplantasi di masa depan kian langka? Termasuk bagi yang mampu transplantasi sekalipun? Bukankah lantas antrean untuk dapat giliran transplan kian panjang? Dan kian lama? Saya sendiri perlu empat bulan menunggu. Kalau toh banyak yang mampu. tapi kalau sumber donor untuk liver makin terbatas. 34 by Moezhanks . liver yang ada harus diprioritaskan untuk penduduk Tiongkok sendiri. belum tentu operasinya bisa berhasil. sekitar 25 juta orang sedang menghadapi masa depan seperti saya. Ini sangat wajar karena persoalan seperti ini akan bisa jadi isu nasional di negara tersebut. sekitar 10 persen penduduk kita terkena hepatitis B. belum tentu semuanya mendapatkan kesempatan sebaik saya: bisa menjalani transplantasi liver. Tapi. Artinya. itu soal lain. juga tidak akan tahu masih harus berapa banyak lagi uang yang disiapkan. Artinya. direktur Asian Liver Centre di Stanford University AS. sekali lagi. tapi akan sangat baik kalau dipakai menyadarkan ibu-ibu untuk memvaksinkan bayinya agar kebal terhadap virus hepatitis B. Padahal. seperti yang dilakukan Tiongkok saat ini. kenapa Anda tidak berpendidikan dan tidak cukup pengetahuan? “Karena miskin sekali. pencegahan sangat penting. kita tidak akan pernah tahu harus menunggu sampai berapa lama. Hao Yang lantas mengutip angka dari Samuel So.” ujar Deputi Menteri Kesehatan Tiongkok Hao Yang saat melakukan kampanye vaksinasi hepatitis B pekan lalu seperti yang disiarkan China Daily 1 September barusan.Soal pemerintah tidak perlu ditanyakan lebih lanjut.000. Soal jarang yang mengakui. Seluruhnya ditanggung negara. *** Meski ilmu pengetahuan semakin maju dan keterampilan dokter juga kian sempurna. Tiap suntik harga obatnya sekitar Rp 75. Penantian yang tidak jelas harus berapa lama. petani atau buruh tani. Dalam keadaan harus terus siap. Empat bulan harus tinggal di luar negeri dan dengan keluarga yang harus mondar-mandir tentu bukan hal yang sederhana.” Kenapa miskin? “Karena tidak berpendidikan. Kesempatan menjalani transplantasi juga kian kecil. Padahal. hampir semuanya. Tiap negara kini cenderung melindungi rakyatnya sendiri sehingga. seluruh bayi sejak 1982 harus tiga kali divaksin antihepatitis. Yang juga berarti terus berjalannya argometer biaya.” Kenapa tidak berpendidikan? “Karena miskin!” *** Itu bukan kata-kata juru penerang PKK yang setelah zaman reformasi tidak lagi berperan aktif. bahwa 40 persen di antara segala macam penularan virus terjadi dari ibu ke anaknya.

Belum lagi. maka akan menjadi isu kesenjangan sosial. Artinya. Sebab. Isu yang akan lebih mendominasi masa depan dunia. Yakni apakah boleh. Begitu banyak orang Tiongkok sendiri yang memerlukan transplantasi. donor jantung lebih sulit. Kesadaran seperti itu akan membuat banyak negara ikut mengubah peraturannya. sudah sama dengan separo penduduk Indonesia.” ujar dr Tong Ming Chuan.” ujar dr Tong sebagaimana disiarkan The Strait Times 2 September lalu. “Bukankah di sana banyak sumber liver? Dari mereka yang begitu banyak meninggal muda itu? Dan pasti lebih pas karena dari ras yang sama?” celetuk istri saya. Dimulai dari munculnya kebijakan memprioritaskan penduduk negaranya sendiri. Bahkan. Kini. kini. Orang asing tidak akan gampang lagi mendapatkan donor dari penduduk setempat.” katanya.Dengan logikanya yang sederhana. Kok di Timur Tengah itu tiap hari orang dengan gampang menghilangkan nyawa. Bisa jadi. Kini sudah terasa gejalanya. Sebanyak 555 orang antre untuk transplan ginjal dan 16 orang antre liver. mendaftar sekarang baru akan dapat liver 10 tahun lagi. Mereka tentu akan semakin mampu dalam ikut “memperebutkan” donor yang kian terbatas. tinggal satu yang masih memenuhi syarat dalam daftar. Alasan keadilan lantas memperkuatnya. Selama penantian. Mengapa? “Sudah tidak layak antre. Tapi juga isu keadilan. Ada soal yang bagi orang Islam lebih prinsip. tidak kuat bayar. Tiongkok sudah mengubahnya empat bulan lalu. Di antara lima orang yang antre transplan jantung. mendonorkan organ tubuh? Apakah boleh organ dari orang yang baru meninggal diambil untuk menyelamatkan orang lain? Soal itu di masa depan tidak hanya akan jadi isu agama. Ini berarti pendonornya harus meninggal. “Tiga di antara empat orang yang dicoret dari daftar antre itu tak lama kemudian memang meninggal. saah seorang direktur program jantungparu Singapura. Misalnya. istri saya sering nyeletuk. akan ada aturan bahwa suatu negara tidak boleh mendonorkan organ kepada penduduk suatu negara yang negara itu atau penduduknya melarang melakukan donor organ. Yang terkena hepatitis B saja mencapai 120 juta orang. Istri saya lantas menyebut banyaknya orang Timur Tengah yang antre di rumah sakit ini. Kalau mereka tidak terlayani karena miskin. secara Islam. Tapi. Tapi. melarang sama sekali liver orang Singapura untuk orang non-Singapura. kondisi badannya sudah semakin buruk. setiap saat selalu ada pasien antre yang dicoret dari daftar antre. orang kaya di Tiongkok bertambah-tambah dengan drastisnya. Tentu tidak sesederhana itu. di Singapura sendiri antara kesediaan liver dan yang memerlukannya jauh lebih banyak yang terakhir. “Begini sulit ya mempertahankan satu nyawa. “Donor liver atau ginjal bisa berupa separo organ tersebut. donor jantung harus satu jantung utuh. Karena itu. itu tidak berarti bisa cepat dapat giliran. maka di masa depan orang Indonesia tidak boleh menerima sumbangan organ dari warga negara lain. 35 by Moezhanks . Sebab. panjang antrean itu ratusan orang di Singapura. Awal bulan ini. kelak. Akan menjadi isu politik yang sensitif bagi Tiongkok yang lagi gencar-gencarnya memerangi kesenjangan sosial. diberitakan antrean transplantasi di Singapura sudah sampai 10 tahun. Indonesia tidak mendukung digalakkannya donor organ atau penduduk Indonesia mengharamkan donor organ.” katanya. Singapura sudah lebih dulu membuat aturan seperti itu. Suatu celetukan yang mungkin juga mencerminkan rasa jenuh karena begitu lamanya menunggu.

Khusus untuk yang antre liver saja. Ini setelah awal Agustus kemarin diperdebatkan di forum para ahli transplantasi di Beijing. kalau peraturan lama yang dipakai menentukan tibanya saat kematian. Satu perdebatan yang amat teknismedis di sekitar saat kematian datang. Kalau toh dipaksakan. Singapura akan menggunakan prinsip ushul-fikh itu. Bagi yang paham ayat Al Kitab mengenai kematian (idza jaa-a ajal luhum…) tentu satu pekerjaan tersendiri untuk mendiskusikannya. Saya sendiri tidak paham istilah-istilahnya. Mendingan diberikan kepada pasien yang kans berhasilnya lebih besar. organ semua orang Singapura secara otomatis boleh diambil setelah dia mati. Yakni saat-saat kematian batang otak. Ini seperti prinsip ushul-fikh (kaidah aturan): semua yang tidak dilarang berarti dibolehkan. Karena itu. yang 139 orang juga sudah tidak memenuhi syarat lagi untuk transplan. Di antara 139 itu pun. Tidak. sebagaimana yang sudah disepakati di banyak negara maju. Maka. Jadi. Ini terkait dengan keyakinan agama. “Peraturan ini juga akan berlaku bagi penduduknya yang beragama Islam. diperkirakan yang 22 orang sudah akan meninggal tidak lama lagi. peluang berhasilnya tipis. Di kapupaten saya. 36 by Moezhanks . Bahkan hampir di semua kampung saya.” katanya. aturan transplan selalu dikecualikan bagi yang muslim. Begitu seriusnya problem defisit donor itu. Saya jadi berpikir dan diskusi lagi dengan diri sendiri. Kalau selama ini organ hanya diambilkan hanya dari orang yang sudah menyatakan organnya boleh didonorkan. Kemiskinan rame-rame. Sayang donornya. Kini kekhususan itu tidak ada lagi. Peraturan baru sedang disiapkan. saya menderita sakit liver. kecuali yang keberatan saja. aturan menentukan saat kematian itu akan dibuat lebih awal. Kami miskin bukan karena harta habis untuk main judi atau untuk mabuk-mabukan atau untuk narkoba. jangan sampai ada yang menyangka bahwa kami sangat menderita. (Bersambung) Ganti Hati 14 – Tersenyum ketika Dioperasi seperti Menikmati Kemiskinan 8 September 2007 JELASLAH bahwa karena kemiskinan dan kejumudan yang melatarbelakangi. Artinya. Saat kematian ternyata bisa diajukan atau dimundurkan walau hanya sesaat. Kami memang tidak punya harta. Kini. siapa yang harus hidup dan siapa yang harus mati ternyata bisa ditentukan oleh dokter. Terutama apakah yang dimaksud dengan ajal di situ. nanti akan dibalik. Kemiskinan kami adalah kemiskinan struktural. sehingga Tiongkok juga akan mengubah peraturan di bidang kedokteran tentang “kapan seseorang dinyatakan meninggal”.Di antara 555 orang itu terakhir. Singapura akan melangkah lebih jauh. Kami bisa menikmatinya bersama-sama. Juga di negara saya. akan banyak sekali organ yang sudah terlanjur “ikut mati”. yang organnya tidak bisa jadi donor. Sudah terlalu terlambat untuk transplan. Kemiskinan yang juga dialami banyak orang di lingkungan saya. Ini akan tidak bisa dimanfaatkan untuk amal jariyah berikutnya. tahun lalu enam orang meninggal karena perkembangan sakit livernya lebih cepat daripada waktu antrenya. Menjadi: hanya orang yang menyatakan keberatan saja. Selama ini. Yang jelas. Apakah saya menyesali dilahirkan di keluarga miskin? Sama sekali tidak.

sunatan. adalah sang “ahl dzikr” nan tunggal. Karena itu. Kami berjalan kaki sejauh 6 kilometer untuk sampai ke rumah sesepuh kami itu. Juga “keborosan-yang-beradab”. Itulah saatnya kami bisa makan nasi. Sesepuh kami. Tapi. Bapak adalah idola kami dalam bersikap tawadluk -hormat kepada sesepuh. begitu si tamu mengatakan kedatangannya hari itu diutus sang kiai. kalau nasibnya baik -yakni dapat ambeng yang baik-. Ini karena menurut tata bahasa Arab (nahwu). tapi semua itu kami niati untuk ibadah -entah apakah seharusnya pakai selamatan segala. Keborosan kami adalah “keborosanreligius”. Juga harus ada cakar ayam untuk lambang doa kuat melangkah. dan ngapurancang di depan teman sesama abdi dalem itu. Kami harus banyak keluar biaya untuk selamatan Lebaran. Ibu pandai sekali bikin opor ayam. Kami sangat menyenangi selamatan. Tapi. Bapak akan langsung bersila. yakni boros untuk melestarikan adat-istiadat. Karena itu. mitoni. mauludan. Ibu membuat lontong yang untuk merebusnya saja diperlukan waktu 24 jam. Tidak ada ahl-dzikr lain di dunia ini kecuali kiai kami itu. sikap bapak otomatis berubah. Saya pernah bertugas mengantarkan punjungan yang aromanya sangat harum itu. Di jalan. Sayurnya harus lima macam. megengan. kami hafal benar kapan akan ada mauludan atau megengan.Kalau toh kami boros. 37 by Moezhanks . KH Imam Mursyid Muttaqien. bisa memperebutkan daging ayam secuil. itu pun jangan disalahkan. kami tidak mungkin mampu membeli ayam. Tapi. Tentu. Kiai kami bukan sembarang kiai. Bahkan sudah kami nantikan sejak berhari-hari sebelumnya. Satu bentuk selamatan di serambi masjid yang amat kami tunggu-tunggu. harus ada sayur kluwih untuk menandakan bahwa kita ingin rezeki yang linuwih (berlebih). dan seterusnya. kata ahl di situ menunjukkan bentuk tunggal (ism mufrad). kurang hemat. Tapi. Tahunya ya hanya tasawuf Sathariyah. Lalu dititipkan ke tetangga untuk bersama-sama ditetaskan di situ. Misalnya saja. salah satunya harus opor ayam. Agar lontong masak sempurna dan tidak basi sampai seminggu pun. “Ahl-dzikr hanya satu di dunia. kami dilarang untuk masuk sampai ke dalam rumahnya. menunduk. bapak kedatangan tamu yang dulu sesama abdi dalem di rumah kiai tersebut. rebowekasan. Bukan gaplek. Ibu sudah menyiapkan ayam itu sejak enam bulan sebelum kupatan. kami juga harus munjung ke kiai kami. Kiai kami adalah gurutarikat kami. Sampai tiba saatnya harus dipotong untuk dihaturkan kepada kiai kami yang sebenarnya sudah kaya. Guru yang oleh bapak dipercaya sebagai wasilah dalam term filsafat ahl-dzikr. bapak bicara seenaknya dan penuh guyon dengan tamunya. Dagingnya untuk punjungan.” kata bapak saya. bapak saya tidak tahu itu. Sering ibu harus membeli dulu satu telur. rejeban. Bapak sangat menjunjung tinggi adat itu. Bapak langsung merasa sedang berhadapan dengan kiainya sendiri. Bukan hanya sambal atau garam. Kami hanya boleh mengantar sampai teras samping rumah pendapa itu. itu juga kami perlukan sebagai wujud donga-katon (doa yang dipersonifikasikan). Meski kiai tersebut masih paman ibu saya sendiri. kami bisa mengira-ngira nikmatnya makanan yang akan kami antar itu karena kami sudah merasakan rasa kuahnya. semua aliran tasawuf punyai klaim yang sama untuk kiai mereka sendiri. kupatan. Lalu dipeliharanlah ayam tunggal itu. Terutama saat kami masih kecil. Itulah saatnya kami bisa makan telur. Pokoknya. Daun pembungkusnya harus daun pisang raja agar harumnya khas. Dan meyakini bahwa kiainya. Itulah saatnya kami. Bapak langsung menggunakan kata-kata kromo inggil (bahasa Jawa level tertinggi) dalam percakapan dengan temannya itu. Kami juga harus slametan nyepasari. Tentu. wetonan. Setiap kupatan. Ternyata. dan seterusnya. semua kami wujudkan dalam makanan seperti seolah-olah kami bisu. kami hanya boleh makan sedikit kuahnya. Punjungan itu berbentuk makanan yang paling istimewa.

sarung itu saya bentangkan dengan tiang pendek di kiri kanannya: jadilah dia kelir. 38 by Moezhanks . alat hiburan. Atau bagaimana nabi hanya memakan kurma dua biji setelah seharian berpuasa. Kalau lagi musim angin dan kami ingin bermain-main dengan angin itu. mencari rezeki. kisah tentang bagaimana Khalifah Umar menemukan orang miskin yang anaknya menagis terus karena lapar. harus dijalani apa adanya. Jangankan terkena kanker atau sirosis atau hepatitis. Kalau perut lagi lapar sekali dan di rumah tidak ada makanan sama sekali. Apalagi suasananya sering diciptakan demikian. Misalnya saja. Miskin pun bisa dinikmati. sarung itu bisa jadi bawahan. Kadang. dengan wayang terbuat dari rumput dan gamelan dari mulut teman-teman). Untuk meredam tangis si anak. Mulai jadi alat ibadah. saya ikat ujung sarung itu: jadilah dia semacam payung parasit. memang hanya punya satu celana pendek dan satu baju. orang kaya merasa iba kepada orang miskin. Juga cerita sufi tentang bagaimana orang sakti yang kalau lapar cukup mengganjal perutnya dengan batu. sarung kami bentangkan di atas kepala: jadilah dia layar. Kalau di tempat jahitan itu robek lagi. jadilah dia pocongan. Kalau saya lagi mencuci baju. ibunya pura-pura merebus sesuatu. Karena itu. waktu kecil. Kalau saya lagi lomba terjun ke sungai dari atas jembatan. Cerita yang demikian jadi kebanggaan. sampai jadi alat memeras atau menakut-nakuti. sarung itu bisa jadi karung. Kalau sembahyang. Dia bisa jadi apa saja. fleksibelnya bukan main. masih bisa ditambal. kesehatan. Masih bisa dirobekrobek: bagian yang besar bisa untuk sarung bantal. Kalau lagi mau nakut-nakuti anak kecil. sarung itu belum akan pensiun. tapi saya masih punya satu sarung! Jangan remehkan kemampuan sarung ini. Saya belum menemukan bentuk pakaian lain yang fleksibelnya melebihi sarung. Hidup. Kalau kami lagi cari sisa-sisa panen kedelai di sawah orang kaya. Kalau tambalannya pun sudah robek. harus diterima apa adanya. Lapar itu sering luar biasa nikmatnya. sarung itu masih bisa dijahit. Padahal. Sakit bisa dinikmati. Orang miskin punya jalan sendiri untuk menikmati kemiskinannya. bagi orang miskin. Saya. yang direbus itu adalah batu. sering juga orang miskin merasa kasihan kepada orang kaya. sarung itu bisa saya kemulkan di bagian atas badan saya. Kalau lagi kedinginan. saya ikatkan kuat-kuat sarung itu di pinggang: jadilah dia pengganjal perut yang andal. Kalau saya lagi ingin mendalang (waktu kecil saya suka sekali mendalang. Padahal. meski hanya satu potong kain. Mati pun dianggap. Kalau sarung itu robek (biasa waktu dipancal kaki saat tidur kedinginan atau saat kena duri bambu saat mencuri tebu). jadilah dia benda penting menghadap Tuhan. Banyak orang desa yang merasa kasihan kepada Tommy Soeharto yang akhirnya harus menderita. Mereka tidak tahu bahwa Tommy masih kaya raya. fashion. kalau memang sudah garisnya. jadilah dia selimut.Kami sungguh menikmati kemiskinan kami seperti menikmati khayalan mengenai lezatnya opor ayam yang disiapkan sejak enam bulan sebelumnya itu. Kalau saya lagi harus mencuci celana. Sarung inilah pakaian yang. bagian yang kecil untuk popok bayi. seperti juga orang kaya punya cara sendiri menikmati kekayaannya.

Melebihi popularitas ayat yang mengajarkan “carilah rezeki di bumi Tuhan ini”. penelitian terhadap hepatitis intensif sekali di Tiongkok. jangan ada harapan sirosis tidak akan jadi kanker. Tapi. Tidak ada mukjizat. Saat itu juga saya langsung mengambil langkah. Karena hidup seperti itu dilakukan sejak kecil. karena memang sebelumnya tidak pernah ditemukan obat untuk melawan virus itu. Bahkan. data terbaru menyebutkan hampir 10 persen penduduknya terkena virus hepatitis. pasti datangnya dari luar. kemungkinan penularannya juga tidak kecil. Karena itu. Waktu itu tiba-tiba badan saya panas sekali. marilah kita sering tersenyum. karena menyangkut begitu banyak orang. Yakni. Ini berarti lebih dari 120 juta orang. seperti yang semula saya kira. Menyangka Hepatitis Sudah Beres 9 September 2007 SAYA menerima kehadiran virus hepatitis B di liver saya sebagai takdir. Sebelumnya. Maka. Semua bisa saja jadi sarana penularan. Prof Hassan mengingatkan bahwa harganya mahal sekali. itu sebagai sunnatullah-Nya -sudah seharusnya begitu. Mau dioperasi besar pun saya tersenyum. Namanya interveron. Di Indonesia. tidak bisa diundur sekejap pun atau dimajukan sedikit pun” menjadi amat populer. Tidak ada keajaiban di proses itu. Itulah sedekah yang sudah sejak kecil diajarkan -dan yang dulu satu-satunya yang mampu kami lakukan. Maka saya harus periksa darah. Makan bersama. Karena namanya virus. Dan. Sangat sering diajarkan bahwa sedekah tidak harus dengan harta. Kini interveron sudah amat murah dibanding 39 by Moezhanks . persentasenya saya kira hampir sama. bukan keturunan atau gen. *** Saya sendiri tahu kalau mengidap hepatitis B sejak sekitar 25 tahun lalu. Di Tiongkok sejak 1982. ketika untuk kali pertama dalam hidup saya memeriksakan darah. Diketahuilah bahwa ada virus hepatitis B di liver saya. Tinggal waktu saja yang berbeda.ayat yang menyatakan “kalau sudah tiba waktunya. cuci tangan dari kobokan yang sama. Ke depan mestinya virus ini amat berkurang karena kesadaran melakukan vaksinasi hepatitis kepada bayi sangat tinggi. sejak kecil. Jadi. (Bersambung) Ganti Hati 15 – Setelah Rutin Disuntik. tentu itu karena gaya hidup di desa yang memang seperti itu. Bahwa keluarga saya banyak yang demikian. saya boleh mencoba obat baru itu. Di Indonesia terutama sejak zaman Orde Baru. Di Tiongkok. setiap dua hari sekali. Kisah sedekah yang populer juga terkait dengan kemiskinan. Juga harus disiplin tinggi karena obat itu harus disuntikkan 76 kali. Proses perkembangan itu lama atau cepat. Jangan harap satu virus hepatitis B tidak akan menjadi sirosis. Menyingkirkan duri dari tengah jalan pun sudah merupakan sedekah. Kalau kemudian berkembang menjadi sirosis dan kanker. Kalau mau. tersenyum pun sudah sedekah. kalau badan panas yang dibiarkan saja: toh akan dingin sendiri. berebut lauk dari piring yang sama. Dia mendengar ada obat yang masih baru sama sekali. Konsultasi dengan salah satu dokter ahli penyakit dalam terbaik di Surabaya: Prof Mohamad Hassan (kini almarhum).

untuk menggambarkan punya kemampuan kerja kuda) membuat saya terlena. Kalau panas datang dan badan menggigil. Di dalam negeri dan ke luar negeri.” katanya. membuat saya terlalu percaya diri. Setelah proses itu selesai. Sampailah pada Mei 2005. Yang jadi persoalan adalah bukan tidak mau. Badan saya yang selalu fit. Ke mana-mana saya membawa termos itu berikut alat suntiknya. suhu badan bisa tinggi sekali. saya menjadi lengah. saya juga harus mengejar pesawat. Maksudnya. Saya bisa menyuntikkan interveron berikutnya di mana pun saya mau. Pujian bahwa saya adalah orang yang “tidak punya udel” (tidak punya pusar. Ya. Saya menyangka. Tapi. Saya pilih RS Budi Mulia di Jalan Raya Gubeng. dengan dikurung seperti itu. saya dengar kualitas interveron sudah semakin baik. Kalau tidak tahu. Hari itu saya terbang ke 19 kota hanya dalam waktu 8 hari. saya langsung siap-siap selimut tebal. Sejak minum interveron itu saya tidak pernah mencari tahu lagi apakah sudah ada obat yang lebih jitu. siapa tahu saya masuk yang 25 persen itu. Saya terus kerja dan kerja. Memang seharusnya demikian. Sudah puluhan kali lebih kuat daripada 25 tahun lalu -saat saya pertama menggunakannya. memang obat yang masih sangat baru. saya sudah melupakan hepatitis saya. tapi memang betul-betul belum tahu obat tersebut. Di sana umumnya dokter tidak tahu obat apa yang saya bawa itu. Kini. Di Ambon ternyata sulit sekali mencari dokter yang mau menyuntikkannya. Maklum. Pernah juga saya mengalami kesulitan yang sama saat berada di Batam. hepatitis saya sudah beres. Ketika pertama suntik saya harus ngamar di rumah sakit. Bahkan. atau di praktik dokter. Bahkan sampai besoknya pun. Kalau terjadi sesuatu yang membahayakan. Tangan sudah selalu siap memegang selimut kalau tiba-tiba harus segera menutupkan ke tubuh saya. ternyata si demam tidak datang juga. tetap saja dia tidak mau. Saya pun menyetujuinya. Saya tidak pernah lagi memperhatikannya. saya sudah tidak bingung lagi. Anda sudah berada di rumah sakit. Tentu saya bawa juga interveron itu. Saya tunggu kedatangan “suhu tinggi” dan “rasa menggigil” itu sampai sore. Pada hari dilakukan penyuntikan pertama. Lalu saya boleh pulang. memang belum ada obat ang bisa membunuhnya. Mengapa harus ngamar? “Akibat suntikan itu. Pernah suatu saat saya harus ke Ambon. tidak boleh melakukannya. Saya tunggu sampai malam. Terbang dan terbang. Obat itu berfungsi bukan membunuh virusnya. melainkan hanya mengurungnya.harga 25 tahun lalu. Saya menyimpan interveron itu di termos khusus yang bisa saya bawa bepergian. Tiongkok juga sudah memproduksinya besar-besaran. baru 25 persen. katanya. Akhirnya saya minta disuntik di pos kesehatan bandara Batam. Bisa di kantor. Sudah saya jelaskan panjang lebar. Padahal. Barangnya juga sudah lebih mudah didapat. Maka setiap dua hari saya suntik interveron. Harganya pun sudah jauh lebih murah dibanding ketika saya harus membeli dulu. virus tidak akan merajalela. Saya tenggelam oleh kesibukan dan kecerobohan saya sendiri. di poliklinik. Murah untuk ukuran orang sakit liver. Prof Hassan juga memberitahukan bahwa kemungkinan berhasilnya juga tidak 100 persen. 40 by Moezhanks . Mulai Surabaya-Jakarta-Pontianak-Kuching-Singapura-Guangzhou-Wenzhou-Jinhua-Hangzhou-NanchangGuangzhou-Jakarta-Makassar-Ambon-Makassar-Kendari-Makssar-Jakarta-Surabaya. Sebab. tapi tetap mahal untuk kebanyakan orang.

Sambil tangan menampung muntahan. mengapa begitu muntah darah tidak langsung ke rumah sakit. enaknya. Tiba di Surabaya. Aduh naturalnya! Tapi. langsung ke kantor harian Ambon Ekspress untuk rapat. Saya memang punya forum yang disebut “bengkel wartawan”. Lalu saya ingat kakak saya yang meninggal tidak lama setelah muntah darah. Selesai forum bengkel. Meski perut mulas. Tentu ada yang tercecer di lantai kamar. Tapi. bergabung dengan saya di Makkasar untuk sama-sama ke Ambon. Perut saya mulai bergolak malam itu. Mestinya. Bangun tidur. setelah makan malam dengan menu makanan lokal yang disebut papeda. Barulah selesai coblosan saya ke Rumah Sakit Darmo Surabaya. 41 by Moezhanks . tapi belok kiri ke arah kampung. bukan kepalang. Di forum “bengkel” itulah saya selalu diminta menularkan pengetahuan dan keterampilan jurnalistik. Berarti makan siang juga kelewatan. barulah saya bisa tidur dengan baik. bersama Ibu Eric Samola. jangan belok kanan ke arah kota. Lupa sudah makan siang. keluar dari bandara. Mestinya tetap saja makan ikan laut. tapi kedua tangan saya menjadi penadah. Makannya tidak di pantai Ambon tidak apa-apa. sudah tidak tahan lagi untuk segera makan durian. saya ke kantor lagi sambil seperti menangis. Saya ternyata memang harus ngamar di rumah sakit. Pimred Jawa Pos Arif Afandi. Anak buah saya. saya jangan makan papeda malam itu. saya ketahui saat saya berbaring di ranjang pasien. Hari itu bumbunya juga pedas bukan kepalang. rapat dengan harian Kendari Post yang waktu itu juga lagi membangun Graha Pena Kendari. Setelah saya menghadiri coblosan pemilihan wali kota Surabaya. Kebetulan di depan kantor. Dulu. Saya selalu merindukannya. tapi besoklah. tengah malam itu saya masih harus ke percetakan. Saya muntahkan saja. Perkembangan hasil pilkada itu. Papeda malam itu merupakan makanan terpedas yang pernah saya alami setelah makanan yang disebut suai yang ru di Chongqing. Paman-paman saya. di mana Bambang-Arief terpilih. Apalagi kalau dimakan di pantai yang sangat natural itu: pantai Ambon yang indah. Rapat dengan harian Fajar yang kini baru menyelesaikan membangun gedung Graha Pena Makassar. sejak kerusuhan Ambon. di pinggir jalan depan Masjid Al Fatah. ternyata warnanya merah: darah. Saya harus memilihnya sebagai dukungan ke anak buah.Istri saya. Lalu menyantet perut saya. Dokter menyesalkan saya. Rapat pun buru-buru karena harus segera ke Kendari. ternyata saya muntah darah. Mungkin ikan-ikan Ambon cemburu dan marah mengapa malam itu saya melupakannya. Di Kendari saya juga punya cita-cita khusus: makan ikan bakar. badan saya rasanya baik-baik saja.H. Di mana itu? Kalau Anda turun dari pesawat. Ikan laut Ambon segarnya. Malamnya. Dokter bilang saya beruntung. Mengapa tidak mau sarapan? Setiap ke Ambon saya punya cita-cita khusus: akan makan durian sebanyak-banyaknya. Setelah onggokan itu saya injak. menjadi calon wakil wali kota mendampingi calon Wali Kota Bambang D. banyak penjual durian. Tiba di Ambon tidak mau sarapan. Bisa jadi muntah darah itu akan sangat fatal dan mematikan. saya lari ke toilet untuk membuang muntahan yang ada di tangan. Dari yang tercecer itulah saya lihat banyak onggokan berwarna hitam. manisnya. setiap kedatangan saya ke anak perusahaan selalu dimanfaatkan untuk pertemuan dengan wartawan. Durian Ambon luar biasa enaknya. saya tidak tahu lagi di mana restoran yang terkenal itu membuka usaha. Oh. Saya memang merencanakan ke dokter. Tapi. Tiongkok. pukul empat sudah harus berangkat ke Makassar. Paginya. Juga ibu saya. rapat masih diteruskan dengan mengajar. tiba-tiba saya mau muntah. Kenyanglah.

tekanan di pembuluh darah utama itu pun jadi meningkat. pasien akan mengalami pendarahan hebat yang sulit dikendalikan. Penyakit tetap datang dan diam-diam menggerogoti onderdil saya. Yakni. Bahaya yang sama sekali tidak saya rasakan sebelumnya. saya mampir ke seorang ahli penyakit dalam yang terkenal di RS Mount Elizabeth. Yang mengendoskopi saya ketika di RS Darmo Surabaya saat itu adalah dr Pangestu Adi SpPD-KGEH. (bersambung) Ganti Hati 16 – Esofagus Ditambal atau Bilang Saja Pencernaan Dilaminating 10 September 2007 KETIKA kartu suara pemilihan wali kota Surabaya dihitung. saya masih belum memahami sepenuhnya bahaya yang saya hadapi. karena dinding pembuluh darah esofagus lebih tipis. Tenggorokan saya dimasuki alat yang ujungnya berkamera superkecil. Dalam istilah medis. Akibatnya bisa sangat fatal. yang sudah sangat ahli dan senior di bidang itu. Dari gambar yang dipantulkan alat itu terlihat. Dari tenggorokan. Gelembung-gelembung itu sebenarnya adalah pembuluh darah esofagus yang karena tekanannya terlalu besar lantas menggelembung. varises di bagian itu lebih gampang meletus. tekanan itu pun merembet sampai ke pembuluh darah esofagus dan limpa. ketika ada acara di Singapura. penyakit tidak mau mampir ke badan saya karena tidak akan dilayani akibat kesibukannya. banyak juga yang besar. Ada yang kecil. Disebut varises karena memang mirip varises di betis. “Sebaiknya Pak Dahlan segera ke Singapura. Varises esofagus terjadi karena pembuluh darah utama yang masuk ke liver menyempit akibat adanya sirosis. pecah. Dalam istilah teman saya. pasien meninggal karena kehabisan darah. Baru dua minggu kemudian. Dalam kesempatan pertama. Tahu-tahu saja sudah terlambat sekali. pembuluh darah esofagus yang menggelembung dinamakan varises esofagus. Ternyata semua itu menipu. rasa badan saya baik-baik saja. melalui pipa esofagus (yang menghubungkan mulut dengan lambung). Karena tidak kolaps ketika beberapa gelembung varises di esofagus saya pecah dan menyebabkan saya muntah darah dua hari sebelum endoskopi dilakukan. Hanya. “Lebih baik dilakukan di sana. Saya dibius. alat itu masuk sampai ke lambung saya.” ujar Prof Dr dr Boediwarsono SpPD-KHOM yang merawat saya ketika itu. Tindakan ini dalam istilah kedokteran disebut dengan endoskopi. yang tidak segera diketahui di luarnya. Itu sebabnya mengapa limpa saya juga ikut membesar sampai hampir tiga kali lipat. Karena tak segera diturunkan. saya termasuk orang yang beruntung. Sampai saat itu. Kata banyak dokter di Surabaya ketika itu. Sebuah kerusakan di dalam. Jika itu terjadi. Bahaya yang selalu kalah dengan semangat. Karena pintu masuknya menyempit. Maklum. Saya diperiksa di situ untuk 42 by Moezhanks .” tambahnya. betapa banyak gelembung darah yang siap pecah di sepanjang esofagus saya. dokter RS Darmo Surabaya juga mulai melihat dari mana asal darah yang saya muntahkan.Pemeriksaan di Rumah Sakit Darmo menunjukkan betapa berbahayanya sakit saya.

dokter berharap gelembung yang kecil-kecil akan mengecil dengan sendirinya. Dan. saya diminta kembali dua bulan kemudian. Saya memang biasa begitu. Agar kedatangan saya ke Singapura minggu depannya lebih efektif. Seperti pada endoskopi. Padahal. Tepatnya. Hari itu. Kenapa sementara? Ini karena penyebab terjadinya gelembung-gelembung itu sendiri masih njegog di badan saya: sirosis. dokter memilih yang aman. Sehingga selama lima tahun sebagai Dirut perusahaan daerah. Untuk memastikan itu. beban bagi tubuh saya akan terlalu berat. saya putuskan untuk menandatangi perjanjian setebal bantal itu. teratasi sementara. hari itu dokter hanya punya waktu untuk mengatasi gelembung yang besar-besar. persoalan mendesak yang mengancam hidup saya teratasi. Meski yang kecil-kecil tidak membesar. dua bulan kemudian saya balik ke Singapura. darahnya tidak semburat ke luar lagi. Lalu menyerahkan koreksi itu ke direksi perusahaan daerah untuk dipikirkan lebih lanjut. selesai rapat. ketika meletus. lawyer lulusan Inggris yang sudah biasa bikin perjanjian dalam bahasa Inggris. Teknis penambalan esofagus sebenarnya tidak sesederhana penjelasan saya itu. operasinya perlu waktu dua jam sendiri. dan menjadi gelembung-gelembung darah lagi. yang sudah meletus dan benar-benar siap meletus. Seminggu kemudian saya diminta datang lagi untuk operasinya. Minggu depannya. Selain itu. Dengan cara ini perusahaan daerah tidak perlu keluar uang perjalanan dinas dan biaya-biaya lain.mengetahui apa yang terjadi sebenarnya dan tindakan apa yang harus dilakukan. Tapi. kepada keluarga saya. mencermati. setidaknya saya bisa mengulur waktu. untuk melihat. Urusan perusahaan daerah selalu saya gabung dengan urusan saya pribadi. 43 by Moezhanks . saya bikin janji dengan investor Singapura yang bersama perusahaan daerah Jatim akan membangun shore base di Lamongan. Robert Lai. kalau yang “dilaminating” kebanyakan. Dengan bantuan kamera itu. Saya hanya menyederhanakannya. Berarti setahun kemudian saya masih terancam muntah darah lagi. saya punya waktu membicarakan kelanjutan rencana proyek Rp 250 miliar itu. proses “laminating”-nya tak bisa hanya sekali. Hari itu dia sudah telanjur banyak janji dengan pasien lain. saya ke rumah sakit. saya tidak pernah menggunakan uang perusahaan. ketika direksi perusahaan daerah sudah selesai merundingkan draf perjanjian dengan pihak Singapura. Rapat lagi sambil meneruskan proses “laminating” berikutnya. Gelembung-gelembung kecil yang tersisa “dilaminating” semua. Sekali lagi. bengkak lagi. dan memberikan koreksi mana-mana yang akan membuat posisi perusahaan daerah lemah. tenggorokan saya dimasuki alat yang bisa masuk sampai pencernaan. Karena jumlah gelembung yang harus ditambal begitu banyak. Saya juga sudah minta tolong agar teman saya. dengan “laminating” ini. Sudah beberapa kali Robert membantu perusahaan daerah secara sukarela seperti itu. Dengan hanya “melaminating” yang besar-besar. saya menggunakan istilah yang lebih sederhana lagi: Saluran pencernaan saya “dilaminating”. Bahkan. Tujuannya untuk menambal bagian yang sudah meletus. Sesuai jadwal. ujung alat itu pun dilengkapi kamera. Dia melakukannya secara gratis. tim dokter di Mount Elizabeth lantas mereparasi esofagus saya. Langsung dibius dan dioperasi. sekaligus melapisi yang sudah siap meletus. Dengan begitu. Sebelum operasi. Dia memberikan banyak sekali koreksi. Kelak saluran pencernaan saya akan tertekan lagi. Antara lain dengan menuangkan semacam lem berwarna putih ke gelembung-gelembung varises di esofagus saya. Bulan berikutnya.

Dahlan. Semakin dikunyah. Tidak boleh lebih. “Kalau sesak lagi?” tanya saya lagi. Jawaban itu memang seperti keluar dari mulut Asmuni-Srimulat. OK. Lalu saya telan sedikit-sedikit lewat tenggorokan saya yang sakit: beli sepatu yang lebih besar. enteng. Bagaimana agar tidak terancam muntah darah lagi. Tambah lima tahun sudah oke. saya merenungkannya. Bagaimana agar kaki saya tidak bengkak lagi. Menghunjam dalam sekali. merah rasanya. Cukuplah. Di atas muntahan itu seperti terbaca peringatan keras: tidak ada obatnya. “Anda lakukan transplantasi saja. tapi saya kunyah lama-lama. Berarti juga tidak ada jalan keluar untuk sirosis. kau bisa dapat tambahan umur lima tahun lagi. buah yang dijadikan ukuran terpahit di Jawa. Mungkin hidup Anda bisa lebih panjang lima tahun lagi. “Beli saja sepatu yang lebih besar. Lalu menyayat-nyayatnya. “Kenapa setelah transplantasi hanya bisa hidup lima tahun?” tanya dokter itu pada saya. Saya sudah oke. Jawaban dokter itu sungguh di luar dugaan saya. Berdarah-darah. tajam. Seperti pahitnya butrawali. Tambah lima tahun menjadi 60. Tapi.Menjelang tanda tangan perjanjian itulah saya berkonsultasi dengan dokter mengenai problem kesehatan saya yang berikutnya. dalam bahasa orang awam.” katanya. Juga tidak mau bertele-tele. Tapi. Bisa sampai umur 60 cukuplah. Lalu saya tunjukkan kaki saya yang mengembung dan membesar itu kepada dokter yang merawat saya.” katanya ketus. Misalnya. Begitu pahitnya kalimat dokter itu. Dia seperti menganggap manusia ini benda yang tidak punya perasaan.” katanya. Getir jawaban itu. Lalu saya muntahkan sekalian kalimat dokter itu: Dalam wujud muntah seperti darah. Tapi. Lima tahun lagi. bagaimana mengatasi sirosis saya. tidak ada obatnya! *** Saya masih minta butrawali satu lagi: Bagaimana dengan sirosis saya? Maksud saya apakah sudah ada obat untuk memperbaiki sirosis? Atau. Pedih. Saya tidak mau dia memberi saya sekarung butrawali. dan akan jadi sirosis lagi. Berarti juga. Dahlan. apakah ada jalan keluar untuk membuat liver yang sudah mengeras di sana-sini itu kembali lunak? Dan jalan darah yang sudah banyak yang buntu itu membuka lagi? Dokter rupanya tidak punya banyak waktu. Merah rupanya. bisa jadi bibit kanker itu juga masuk lagi ke liver baru. Dokter melemparkan jawaban pendek. OK. membuat pencernaan seperti mulas dan mau muntah. “Bagaimana mengatasinya?” tanya saya. dia jawab sendiri pertanyaan itu: karena liver barunya nanti kemungkinan juga terkena hepatitis lagi. “Ya. memang semakin pahit rasanya. sirosis itu yang menyebabkan saluran pencernaan bengkak dan membuat gelembung-gelembung darah. Terasa seperti lemparan pisau yang langsung mengarah ke liver saya. Dan beli lagi yang lebih besar lagi. beli lagi yang lebih besar lagi!” jawabnya. Padahal. Sebenarnya pertanyaan itu tidak perlu. langsung. Apalagi kalau saat itu sudah ada kankernya. dua-duanya tidak ada 44 by Moezhanks . “Sekarang Anda berumur 55 tahun.

kalau tidak pakai kaus kaki. kalau mau yang paling tepat lagi disalahkan adalah saya sendiri: Mengapa tidak menjaga baik-baik liver saya? Dua tahun lamanya saya membenci kaus kaki. namun istimewa. Padahal. Karena yang dijepit adalah daging kaki yang bengkak. Yakni. Dia pun. Saya tahu alamat restoran itu dari Rajimin. Setiap pulang dari bepergian. Tidak ada alternatifnya. perasaan saya seperti anak sekolah yang sedang menerima rapor. Tidak ada pula keajaiban yang bisa diharapkan. Waktu itu kami makan di satu restoran kecil. (Bersambung) Ganti Hati 17 – Dokter Mengetuk Dada. Saya tidak terlalu memikirkannya. yang salah adalah kakinya. Ini terjadi karena karet di kaus kaki tersebut menekan kaki saya. Dia lantas mengira saya kerja di perusahaan periklanan. 45 by Moezhanks . Enaknya luar biasa. Restoran itu ada di pojok Jalan Tianjin.jalan keluar. perut saya langsung kembung. setiap akan membuka hasil lab. selalu saja kaki saya seperti balon panjang yang ditiup tidak sempurna. makanan kecilnya. sedikit-sedikit. saya mampir ke kios pijat kaki. takut angka-angka merahnya terlihat sekaligus. Tepatnya. yang salah sebenarnya liver saya yang tidak lagi mampu mengolah protein secara normal. Shanghai. Dua minggu sekali. saya juga hidup normal lagi. Mungkin karena itu. *** Dokter itu tidak kenal saya. Sebab. Salah satunya adalah koran dari Grup Jawa Pos. Satu perkiraan yang tidak terlalu salah. si ahli refleksi kaget. di dinding pendek dekat meja resepsionis terdapat banyak guntingan koran Indonesia yang memuat tentang ceramah dan wawancara dengan dokter itu. Semua masakannya terbuat dari kepiting. Saya masih menganggap kata-kata transplan dari dokter tersebut tidak terlalu meyakinkan. Apalagi. “Karet kaus kakimu terlalu kuat. Kadang saya membuka hasil lab itu seperti membuka kartu remi yang tertutup di atas meja. dekok di tengahnya.” katanya sambil melihat bagian kaki yang ’ambles’. sampai makanan penutupnya. Ruang praktiknya memang penuh dengan pasien dan sebagian besar orang Indonesia. Pernah saya merasa penat. ternyata juga menyalahkan kaus kaki. Timbul Bunyi seperti Tong Kosong 11 September 2007 SAYA pernah membenci kaus kaki. Pelan-pelan. Saya terus memonitor darah saya di laboratorium. Sampai membuat kakimu seperti ini. ancaman kematian tiba-tiba sementara sudah teratasi. bos Hotel J. Tidak ada obatnya. maka tidak gampang baliknya. Karena badan normal-normal saja. Hanya saya lebih care dibanding dulu. Besar atas bawahnya. Dia hanya tahu saya orang Surabaya. Marriott Surabaya yang juga konsul kehormatan Hongaria. Jusuf Kalla dan lima menteri yang menyertainya. Mulai supnya. Pulang makan. Artinya sibuk lagi. seperti saya. Setelah melepas kaus kaki saya. Lihat. Dia tahu itu karena hampir semua pasiennya mengatakan kenal saya.W. Saya sama sekali tidak menyangka akan berhubungan dengan kata transplantasi. terbang-terbang lagi. Bahkan. saat habis makan malam dengan Wakil Presiden H M. Tapi juga tetap memerlukannya.

Begitulah. Hubungan saya dengan kaus kaki menjadi sangat unik: Jenis hubungan yang disebut love and hate -cinta dan benci. Dalam situasi terus membenci kaus kaki seperti itulah, saya terus beraktivitas. Terbang berjam-jam. Berkendaraan beratus-ratus kilometer. Di dalam negeri. Di luar negeri. Sampai suatu saat saya punya urusan di kota Tianjin, 100 km dari Beijing. Di sini kebetulan ada kenalan dokter ahli liver yang hebat. Namanya Prof dr Shao. Seorang wanita tepat seumur saya, yang mengepalai bagian liver di suatu rumah sakit di sana. Dia dobel dokter. Dokter ilmu kedokteran Barat dan dokter ilmu kedokteran Tiongkok. Dia juga doktor di spesialisasi liver, limpa, dan empedu. Saya kepingin mencari pendapat pembanding. Benarkah tidak ada jalan keluar untuk problem bengkak saya itu. Benarkah sirosis itu tidak bisa disembuhkan, minimal dihentikan proses memburuknya. Tentu, saya diminta Prof Shao untuk menjalani pemeriksaan ulang. Mulai kencing, kotoran, darah, liver, limpa, paru, sampai prostat. Juga menjalani pemeriksaan fisik yang dia lakukan sendiri. Yakni pemeriksaan secara kedokteran Tiongkok. Dia ketuk-ketuk rongga dada saya dengan jarinya. Timbullah suara seperti tong kosong. “Ini pertanda liver Anda memang sudah mengerut, mengecil,” katanya. “Di rongga dada Anda sudah mulai ada ruang kosongnya,” tambahnya. Setiap Prof Shao memeriksa fisik saya, selalu banyak dokter muda yang diajaknya. Dokter-dokter muda itu menyimak dengan tekun apa saja dijelaskan Prof Shao sehubungan dengan kondisi badan saya. Dia memang juga pengajar di fakultas kedokteran yang terkait dengan rumah sakit itu. “Lihat ini,” kata Prof Shao kepada para dokter muda itu. Sambil berkata demikian, Prof Shao menyingkap baju saya sampai dada saya terbuka. Lalu, dia memegang-megang payudara saya (eh, kalau milik laki-laki apa juga disebut payudara?). “Lihat payudara dia ini. Juga membesar. Seperti payudaranya gadis yang menginjak remaja. Orang yang terkena sirosis akan selalu seperti ini,” ujarnya. Kenapa Prof Shao mengumpamakan payudara saya seperti payudara gadis belia, karena proses pembesaran kelenjar susu lelaki yang menderita sirosis memang mirip pertumbuhan payudara gadis yang beranjak remaja. Yakni dimulai dengan rasa nyeri pada bagian putingnya saat tersentuh sesuatu. Perlahan-lahan rasa nyeri itu berkurang, bersamaan dengan makin besarnya payudara. Seperti umumnya gadis remaja, pembesaran payudara saya juga dimulai dari yang kiri, baru kemudian yang kanan. Jika liver saya tidak keburu ditransplan, payudara saya akan terus membesar menyerupai payudara wanita. Dalam istilah medis, pembesaran payudara yang saya alami itu disebut dengan gynecomasty atau ginekomastia. Lama sekali dia memegang-megang payudara saya. Tapi, bayangan saya lebih kepada sirosis yang mengancam nyawa saya. Tidak hanya hari itu. Berkali-kali Shao menjadikan payudara saya sebagai alat peraga untuk mahasiswanya. Saya menerima saja. Bukan karena merasakan remasannya, melainkan itu memang penting agar orang lain jangan sampai seperti saya. Setelah selesai bagian dada, tangannya turun ke perut. Dia periksa perut saya dengan dua tangannya. Dia pejamkan matanya seolah ingin merasakan benar apa yang berubah dari perut saya senti ke senti. Dia goyang-goyang perut saya. “Masih beruntung. Air belum masuk ke rongga perut,” katanya. Prof Shao memang sangat khawatir air yang sudah memenuhi seluruh badan saya juga sudah mulai mengalir ke rongga perut. Sebab, memang begitulah proses yang akan terjadi berikutnya. Air akan “bocor” dan menggenangi rongga perut. Karena itu, penderita sakit liver seperti saya akan berakhir
46
by Moezhanks

juga dengan keadaan perut membesar penuh air. Mula-mula perut akan seperti balon berisi air: Ginjur-ginjur. Dalam istilah medis, keadaan itu disebut dengan ascites. Semakin lama, jumlah air di perut akan semakin banyak dan memaksa perut untuk membesar. Bersamaan dengan membesarnya perut, biasanya pembuluh-pembuluh darah di permukaan perut juga ikut melebar sehingga tampak seperti sarang laba-laba, tapi warnanya merah. Sesuai dengan tampilannya, para dokter menyebut pelebaran pembuluh darah itu dengan istilah spider veins. Pada tahap berikutnya, perut yang besar itu mengeras. Saya sudah berkali-kali melihat perut orang sakit liver seperti ini dan biasanya sudah akan meninggal kurang dari enam bulan. Begitu juga ibu saya dulu. Satu pemandangan yang saya lihat ketika saya masih berumur 12 tahun dan terus hidup sampai saya sendiri dalam posisi akan mengalaminya. Saya sendiri beruntung karena sampai saat transplantasi, saya tidak mengalami yang disebut ascites maupun spider veins itu. “Ini harus dicegah sedini mungkin, sebisa-bisanya,” kata Shao kepada para dokter muda tersebut. Tapi, itu pun sifatnya hanya usaha untuk buying time. Dokter di Singapura berpendapat sama. Dia memberikan dua jalan: Meminum obat agar kencing lancar dan meminta saya untuk tidak banyak minum. Dua-duanya saya jalani. Sampai-sampai saya pernah merasa takut pada air minum. Setiap mau minum, selalu terbayang bahwa sebagian air itu akan terus membuat badan saya bengkak. Sebagian lain akan membuat perut saya membesar, ginjurginjur, dan akhirnya mengeras. Pada awalnya, saya agak terhibur dengan “pil pelancar kencing”. Tapi, lama-lama satu pil tidak cukup membuat kencing saya mengalir lancar. Harus dua pil. Ini pun lama-lama juga sudah kurang manjur. Terpaksa, saya terus mengurangi minum. Beberapa bulan terakhir saya hanya berani minum satu liter saja sehari. Ini karena kencing saya hanya sekitar 700 sampai 900 mililiter sehari semalam. Di Tianjin, Prof Shao memberi saya obat Tiongkok yang sudah berwujud cairan infus. Tiap hari saya diinfus dengan itu dan bengkak berkurang. Kencing lancar sekali. Tapi, kalau infus dihentikan, tetap saja badan kembali bengkak. Shao menjelaskan mengapa demikian kepada para dokter muda beberapa di antara mereka dokter muda dalam ilmu kedokteran Tiongkok. Ketika saya banyak tanya mengenai khasiat dan bahaya setiap obat yang diberikan kepada saya, Shao bergegas menatap wajah-wajah dokter muda. “Lihat sahabat saya ini. Banyak bertanya. Kelak, semua pasien akan seperti ini. Kalian harus bisa menjelaskannya dengan sebaik-baiknya. Pasien memang punya hak untuk tahu,” ujar Shao sambil tangannya tetap di perut saya. Kadang tangannya mampir lagi ke payudara saya. Ini karena di antara dokter muda hari itu, ada wajah baru yang belum diberi tahu bagaimana payudara saya juga membesar seperti gadis menginjak remaja. Lain hari, saya ingin Prof Shao ganti mengajar saya. Sebelum hari yang ditentukan itu tiba, saya beli kertas putih lebar. Lalu, saya tempelkan di dinding kamar rumah sakit. Saya ingin dia menjelaskan secara gamblang rangkaian penyakit saya. Saya juga beli spidol warna-warni untuk membedakan gambar aliran darah masuk dan keluar. Dia tersenyum melihat persiapan saya hari itu. “Wah, saya harus mengajar berapa jam?” tanyanya bergurau. Pipinya yang padat, hidungnya yang agak mancung, badannya yang tinggi, dan rambutnya yang ikal membuat penampilannya sangat aristokrat. Apalagi kalau berat badannya bisa turun satu kilo lagi. “Satu jam 10.000 yuan ya?” guraunya ketika menyebut uang setara Rp 11 jutaan tersebut.

47

by Moezhanks

Di dinding itu dia menggambar isi tubuh saya. Menjelaskannya sangat detail dan terang-benderang. Dia pandai sekali mengajar. Pasti banyak mahasiswanya yang senang. Saya juga belajar yang lain lagi: bahasa. Sebab, bahasa Mandarin yang dia gunakan sangat teknis dengan logat yang sangat Tianjin. Kini tahulah saya secara gamblang penyakit saya, terutama ancaman mati yang nyata di depan mata saya. “Ini tidak ada obatnya,” katanya tegas. Muncul karakternya sebagai pemimpin. “Kecuali istirahat total,” tambahnya. “Obat hanya memegang peranan kurang dari 15 persen. Yang 85 persen lebih adalah perilaku pasien sendiri,” ujarnya. Prof Shao melarang saya banyak jalan, gerak, dan terlalu lelah. Tidak boleh marah, kemrungsung, dan berada dalam situasi tergesa-gesa. Padahal, salah satu hobi saya “mengejar” pesawat. Saya sering tidak sabar menunggu jadwal pesawat. Kalau pesawat yang akan terbang ke suatu tujuan masih tigaempat jam lagi, biasanya saya cari pesawat ke jurusan yang lain dulu. Saya juga tidak boleh merasa kesal. Tidak memikirkan banyak persoalan sekaligus. Tidak boleh mikir yang berat-berat. Saya harus pensiun. Saya hanya boleh memikirkan badan saya sendiri. Tidak boleh lagi mikir orang lain. “Ibaratnya,” kata Prof Shao, “Rumah tetangga terbakar pun, Anda jangan peduli.” Tegas sekali peringatannya. Terang sekali contohnya. Hanya mahasiswa yang bodoh yang tidak bisa memahaminya. Dan saya ternyata termasuk “mahasiswa”-nya yang amat bodoh. (Bersambung)

Ganti Hati 18 – Dokter Menegur Iba, Ingat Nasib Ayahnya yang Redaktur
12 September 2007 BUKAN. Bukan bodoh. Semua penjelasan Prof Shao mengenai bahayanya penyakit saya, saya mengerti sepenuhnya. Terang-benderang penjelasannya. Saya pasti tidak bodoh. Hanya saya sadari, saya agak ndablek. Dan dia tahu perilaku saya itu. Dia tahu keras kepala saya, sembrono saya. Suatu saat, ketika saya kembali menemuinya setelah setengah bulan menghilang, dia lama memandang saya. “Ke mana saja Anda? Kami di sini prihatin sekali. Takut terjadi sesuatu pada Anda,” katanya dengan nada khawatir. Mungkin juga jengkel. “Saya baru datang dari Indonesia,” jawab saya. Dia setengah tidak percaya, setengah gondok. “Lho, setelah dari sini dulu itu, Anda pulang ke Indonesia? Kenapa? Apa kata saya tentang kebakaran rumah tetangga?” ujarnya. Dia lantas menarik napas panjang sekali. “Dahlan, Anda ini sudah gawat. Saya tidak mau kehilangan Anda,” katanya. Berkata begitu, dia seperti setengah menegur setengah mengiba. Dia kembali menarik napas panjang sekali. Matanya kelihatan berlinang. Dia keluarkan tisu di sakunya. Dia usap air matanya. Beberapa hari kemudian, dia bercerita kepada saya mengapa sampai hampir menangis ketika menasihati saya. Ternyata, dia ingat bapaknya. Bapaknya seorang redaktur surat kabar. Ibunya seorang hakim terkemuka. Bapaknya terus menulis buku sepanjang malam. Lalu meninggal. Ternyata karena sakit liver. Dia tidak tahu itu dan tidak memperhatikan itu. Padahal, dia dokter ahli liver. Waktu itu, katanya, dia juga sedang belajar ekstrakeras selain kerja keras. Sebab, dia akan segera dapat beasiswa untuk sekolah lagi di luar negeri. Tapi, semuanya gagal. Beasiswa tidak jadi. Ayahnya pun pergi. Dia menangis lagi saat menceritakan itu.
48
by Moezhanks

serta menyingkirkan sampah-sampah di pembuluh darah. Tapi. Apalagi dari hasil pemeriksaan total. Prof Shao lebih prihatin pada kadar platelet atau trombosit saya yang tinggal 60.” katanya. Seperti yang pernah saya sebutkan di tulisan terdahulu. jika dihancurkan semua. Untuk menormalkan kadar sel-sel darah saya itulah. Hasil “laminating” yang dilakukan di Singapura terhadap saluran pencernakan saya yang sudah penuh varises sangat baik. Akibatnya. luberan sel darah yang berlimpah itu memang menyulitkan.000 per milimeter kubik darah. caranya tidak lewat injeksi karena hal itu hanya bisa bertahan dua-tiga hari. Tugasnya melawan infeksi. Padahal. Bagi limpa. darah akan kekurangan sel darah merah. Makin banyak darah yang harus ditampung. Tiga-tiganya bisa mengakibatkan kematian. Saya sendiri juga kepingin agar tidak seperti ibu saya. Tapi juga sel darah putih dan sel darah merah saya. ya saya lupa menjelaskan bahwa sebenarnya. Kalau kekurangan darah putih. orang akan gampang terkena infeksi dan yang kekurangan platelet akan mudah mengalami pendarahan. darah putih. limpa lantas “membesarkan diri”. Melihat rendahnya kadar platelet saya. adalah sel-sel darah yang rusak. darah mengalir balik ke limpa. memproduksi sel darah merah dan darah putih tipe tertentu. Mungkin dikurangi sepertiganya dulu. jika tidak dihancurkan. “Mungkin saya akan mengecilkan limpa Anda. Di negara lain. semakin besar pula ukuran limpa. Namanya diembolisasi. Yang disebut sampah di pembuluh darah. termasuk Indonesia. masih bisa “dilaminating” sekali lagi. limpa Anda sudah membesar tiga kali ukuran normal. dan platelet yang “sehat”. “Limpa dipotong?” kata saya dalam hati. orang yang kekurangan sel darah merah akan mengalami anemia (kekurangan darah). Mengapa limpa harus dikecilkan? Limpa adalah organ kecil -yang dalam keadaan normal hanya seukuran genggaman kita. Karena jumlahnya di luar batas normal.000 sampai 400. Prof Shao lantas berpikir keras mencari jalan untuk menaikkan kadar platelet saya. Setelah itu. aliran darah ke liver saya (baca: penderita sirosis) tidak bisa lancar.Dia lantas ingin merawat saya semaksimal mungkin agar tidak seperti bapaknya. Dia akan sangat kecewa kalau saya sendiri tidak peduli dengan badan saya. dia lihat masih ada sedikit peluang. Normalnya 150. Tapi. platelet akan turun lagi. 49 by Moezhanks . “Laminating” itu kurang lebih bisa bertahan setahun. Cukup untuk mengulur waktu beberapa bulan.” ujarnya.000. Oh.di bawah iga kiri. Kalau toh ada tanda-tanda bengkak lagi. Sebab. Limpa saya harus dipotong? “Boleh dibilang begitu. Saya minta waktu berpikir untuk memutuskannya. antara lain. digunakan standar minimal 150. sel-sel sehat dan rusak itu akan mengerak dan mengganggu fungsinya. bukan hanya kadar platelet saya yang turun.” katanya. Dipotong seberapa banyak? “Sekarang. Prof Shao memutuskan perlunya mengecilkan limpa saya. Itu berarti sel-sel darah yang “sehat” pun ikut disingkirkan. Angka minimal untuk kadar trombosit seharusnya 150 (ini angka dalam standar laboratorium di Tiongkok). limpa pun memperlakukan sel-sel darah yang numpuk itu sebagai sampah yang harus disingkirkan. Untuk menampung limpahan itu.

Kalau tahap itu sudah terjadi. Tujuan satu: agar bisa kuliah. 50 by Moezhanks . Dari Kaltim-lah. dan hasilnya bagi PLN juga begitu nyata (dari perusahan rugi akan langsung jadi laba).000-an. yang biaya produksi listriknya hanya Rp 500 per watt. Pemda setuju asal saya mau jadi direktur utama perusahaan daerah di sana. kenal menteri-menteri di bidangnya. kalau limpa sudah membesar lagi. Membangun PLTU yang efisien. Kaltim tidak bisa berharap banyak pada PLN. mereka harus menyalakan lilin. proses perizinannya ternyata sangat panjang. Mematikan salah satu di antara tiga saluran itulah. saya tidak pernah memanfaatkan kedekatan saya itu untuk urusan tersebut. Padahal. Limpa memiliki tiga saluran darah masuk utama. rakyat hanya dikenai tarif Rp 750. masuk univeristas masih gampang dan murah. Sudah jadi prinsip saya untuk tidak memanfaatkan keberadaan saya di pers untuk menekan seseorang. kelak limpa membesar lagi? Ya. tapi hidup di darat. yang akan dilakukan Prof Shao. Padahal. Sebagai tamatan aliyah. Kampusnya di sebuah rumah panggung di Jalan Panglima Batur IV. Saya masuk Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel cabang Samarinda. antara lain. dan bahkan presidennya. bisa mampir ke Singapura. sekali lagi.Ini memang bukan langkah permanen. Setamat SMA. Tapi. Jadi. Kelak. Anggaran Kaltim yang besar karena sumber alamnya yang melimpah jangan habis untuk kebutuhan konsumtif. selama liver saya sirosis. Karena lantai papannya tidak cukup rapat. dua tahap pemotongan limpa tersebut dianggap cukup untuk mengulur waktu sampai lima tahun. darah yang tidak bisa masuk liver akan meluber dan menekan ke mana-mana. saya memang ke Kaltim. limpa saya masih bisa dipotong lagi. diperlukan biaya Rp 2. Dan. Saya tetap minta waktu memikirkannya. Dan itu akan membuat pletelet juga turun lagi. saya meyakinkan pimpinan-pimpinan daerah di sana. yang utama lagi memakan batin saya. Sering ada suara “krosak” di kolong itu yang lebih menarik perhatian saya daripada mata kuliah. masih ada satu di antara dua saluran utama yang bisa dimatikan lagi. Sebab. Kalau salah satu saluran itu dimatikan. PLN tidak bisa banyak berbuat karena selalu rugi. logikanya begitu baik. saya sering melihat ke bawah. Sewaktu kuliah. Saya harus kembali ke tanah air karena sudah terlanjur komit untuk mengatasi kelangkaan listrik di Kaltim. termasuk ke limpa. Setahun PLN Kaltim bisa rugi hampir setengah triliun rupiah (2005). Meski tujuannya begitu hebat. Pemadaman terjadi bergilir. Proyek energi yang kelihatannya mulia itu ternyata juga memakan bukan hanya dana saya. mulai gubernur sampai DPRD. Saya kembali ke Indonesia lagi agar. Seperti yang saya lakukan di Jatim. saya memang tidak mendapat ilmu baru dari mata kuliah yang sudah saya pelajari semua di kelas satu SMA itu. Banyak kampung miskin terbakar karena saat lampu mati. dan menjengkelkan. Itulah suara biawak berkelahi. PLN sudah tahu bahwa hari itu perusahaannya akan rugi Rp 1. Tentu pemotongan limpa itu tidak bisa dilakukan tiga kali karena sama artinya dengan membuang limpa sama sekali. Saya ingin mendapatkan opini pembanding. Kalau dijual Rp 750 per watt kepada masyarakat. Dua tahun baru beres. Biawak adalah binatang seperti buaya. Untuk menghasilkan satu watt. Artinya. saya kenal direksi PLN-nya. PLN langsung untung. kenal wakil presiden. Maka. Memang. Di Jawa saya tidak mungkin bisa masuk universitas karena tidak punya biaya.250 per watt. tapi juga energi saya. yang terjadi adalah demo. agar mau menyisihkan sebagian anggaran untuk investasi di listrik. setelah dipotong pun. Kalau tarif listrik dinaikkan. Pembangkit-pembangkit listrik PLN sangat tidak efisien. lilin itulah yang sering mengakibatkan kebakaran. melelahkan. Nah. ikut kakak sulung saya. limpa akan mati sepertiga. saya bisa menyaksikan apa yang terjadi di kolong yang sering digenangi air. Di Kaltim. saya memulai karir sehingga saya anggap Kaltim seperti daerah kelahiran sendiri. Tahun-tahun belakangan Kaltim mengalami krisis listrik. sejak sebelum matahari terbit pun.

PLN tidak melanggar peraturan. Wapres mengumpulkan menteri dan direksi PLN untuk membahas kasus Kaltim itu. Memang. Kalau Dahlan saja mengalami hal seperti ini. Bos Bank Mega yang juga bos Trans TV itu yang prihatin dengan keluhan saya. Sebagian karena malu. tapi karena Chairul Tanjung yang berinisiatif. sebagian lagi sebagai ungkapan terima kasih atas inisiatifnya. Rumah saya sendiri: Kaltim. Padahal. dan PLN. Kalau kontrak tahunan. Tapi kalau tembok ini tidak dijebol.000 kaki di atas permukaan laut. Apalagi ada bank yang bersedia memberikan pinjaman meski kontraknya hanya tahunan. Tentu sebenarnya juga bukan kecil bagi saya. saya tidak bisa lari dari tanggung jawab itu. Yang tidak saya pahami adalah mengapa ada peraturan yang menghambat kemajuan seperti itu. masing-masing dengan birokrasinya sendiri: kementerian energi. Tapi. Saya harus pulang ke Indonesia untuk terus mengurus semua itu. Namun. Tapi sudah tidak bisa mundur lagi. Tinggi level dan tinggi pula tempatnya. saya akan dicatat sebagai penjebol tembok kebuntuan listrik itu. Saya ingat kata-kata Prof Shao bahwa walau terjadi kebakaran di rumah tetangga pun. Juga rumah besar saya: Indonesia. kan sama artinya dengan menyumbang Rp 500 miliar tiap tahun kepada negara? Bayangan saya pemerintah akan membuat segalanya lancar. tidak boleh kesal. terutama risikonya. Di kementerian energi saya tidak punya masalah. Di PLN hanya sedikit masalah. Yakni cukup mendapatkan kontrak tahunan saja dari PLN. ujung-ujungnya. 51 by Moezhanks . Kesalahan kedua saya. yang kebakaran ini bukan rumah tetangga. Tembok tersebut terlalu tebal. Indonesia yang begitu rumit peraturannya. saya tidak boleh peduli. kepala saya juga pecah ketika membenturnya. Saya juga memahami PLN tidak boleh melanggar aturan. tidak boleh marah. Saya terlalu terpengaruh suasana di Tiongkok. bagaimana yang lain?” katanya. Meski kondisi badan saya sudah sedemikian parah. Saya baru mau masuk ke listrik kalau urusan ini sudah selesai. siapa yang mau masuk jadi investor listrik. Kecil yang saya maksud adalah dari sudut pandang negara. “Ini harus selesai. Kalau proyek tersebut berhasil. Memang ada juga salah saya. saya setuju untuk kompromi. Saya memahami aturan bank seperti itu. Maka. saya buntu di kantor menteri BUMN. tidak boleh mikir. Bahkan. bank tetap mensyaratkan kontrak jangka panjang. ketika setahun mengurus izin ini tidak berhasil (karena sejumlah peraturan yang tidak mengizinkan PLN menandatangani kontrak jangka panjang). dia juga ikut dalam rapat tingkat tinggi yang benar-benar tinggi itu. Ini gara-gara saya terlalu sering ke negeri itu dan melihat bagaimana antusiasnya pemerintah kalau ada investor datang. “Saya saja tidak mau. Pasti pemerintah di segala lapisan akan senang. kementerian BUMN. Tepatnya izin dari tiga lembaga.Pernah suatu saat saya diajak ke Tiongkok oleh Wapres Jusuf Kalla. lagi-lagi kami harus mengurus izin kontrak panjang dengan PLN. Tapi. Kalau toh sudah telanjur ada karena masa lalu yang kelam. Bayangan saya juga begitu sewaktu saya memiliki semangat untuk ikut mengatasi krisis listrik di Kaltim. mengapa tidak segera dicabut. “Urusan kecil begini kok panjang sekali. Saya malu proyek sekecil itu saja sampai dibahas di forum yang begitu tinggi. bisa jadi. Di atas pesawat. Menyesal luar biasa. Risiko pada keuangan saya dan pada kesehatan saya.” kata saya kepada Chairul Tanjung. ya. saya kenal Menteri Soegiharto. Ini bukan karena saya mengadu. Ini besar bagi saya. Persoalan tersebut membuat saya harus mengabaikan peringatan keras Prof Shao bahwa saya tidak boleh terbang. tidak boleh lelah. Saya menyesal telah berinisiatif mengatasi kelangkaan listrik di Kaltim tersebut.” tambahnya. Di dalam pesawat yang berada 36. “Ini memang rusan kecil bagi Anda.” kata bos Bank Mega yang namanya meroket tahun-tahun terakhir ini. Ternyata.

Liver baru saya mungkin juga akan ikut berbinar-binar. ketika Menggigit Pisang Berlumur Darah 13 September 2007 SETUJUKAH dokter Singapura dengan pendapat Prof Shao dari Tianjin. tentang rencana pemotongan limpa saya? “Kalau tujuannya untuk menaikkan platelet.” katanya. Ini malah disuruh membuang. Lambatnya proses ini telah membuat biaya investasi membengkak luar biasa. kan lantas tidak terlalu tahan terhadap infeksi. memang OK. Tiga-empat bulan lagi (akhir tahun ini). Tapi. Bisa saja tiba-tiba drop jadi 50 atau bahkan di bawahnya. Waktu itu saya juga tanya ke Prof Shao: Pada angka berapa perdarahan itu akan terjadi? Katakanlah platelet saya (yang seharusnya minimal 150) sekarang tinggal 60. Mendengar kata “limpa dipotong” saja.” katanya.” jawabnya. Saya dengar setelah soal Kaltim itu selesai. menurut dokter Singapura itu. Meski setuju platelet saya harus dinaikkan. Saya ingin bertanya ke dokter di Singapura. Orang bisa hidup tanpa limpa. Tetapi.” katanya. “Dibuang saja sekalian. Fungsi limpanya bagaimana? “Diganti obat. sangat berbahaya. ini sudah bukan lagi soal untung rugi. akhirnya sang menteri mengeluarkan surat persetujuan.” jawab dr Shao. berturut-turut banyak izin yang ditandatangani PLN untuk investor-investor lain. Dan masih akan turun terus. Atau kalau sedang sikat gigi.” katanya lagi. tapi juga akibatnya. ada juga yang baru perdarahan ketika platelet-nya sudah 50. Yakni. Ini juga sama dengan penjelasan Prof Shao. “Setiap orang tidak sama. Tiongkok. Makanya saya tanya ke dokter di Singapura itu. bukan saja karena prosesnya. dokter Singapura ternyata tidak setuju kalau itu dilakukan dengan cara memotong limpa. Dalam perjalanan pulang untuk mengurus listrik itu. pembuangan limpa itu disebut dengan splenectomy. Bisa timbul infeksi di tiga tempat yang akan mengakibatkan kematian.” ujarnya. Memang. Pemotongan limpa. Uh! Dalam istilah medis.” tambahnya. “Tidak apa-apa. benarkah limpa saya harus dipotong? Mengapa dokter di Singapura sama sekali tidak pernah menyinggung soal limpa? (Bersambung) Ganti Hati 19 – Waktunya Tiba. Kapan platelet saya akan turun sampai angka 50? Berapa minggu lagi? “Tidak bisa diperkirakan begitu. orang bisa hidup tanpa limpa. “Perhatikan saja lubang hidung Anda. infeksi di tempat limpa dipotong.” tambahnya. ketahanan tubuh saya kian habis dan saya akan mengalami perdarahan dari setiap lubang yang saya miliki. Ini soal krisis listrik yang harus diatasi. Sebuah persetujuan yang sudah sangat mahal. Yang penting. “Tapi. Sudah lebih 15 tahun. sebelum dicopot) menteri BUMN. saya bisa mampir ke Singapura. insya Allah Kaltim mulai bisa mengatasi kelangkaan listrik.Tidak pantas saya sebutkan di sini apa usaha yang saya lakukan untuk mengatasi kebuntuan di kantor (Soegiharto. “Membuang limpa sama sekali malah lebih safe. 52 by Moezhanks . “Ada yang pada angka 60 seperti Anda sekarang sudah perdarahan. Atau telinga.” tambahnya. Dia juga setuju kalau sampai platelet turun terus. “Singapura sudah lama tidak mau lagi memotong limpa. infeksi di selaput dada.” tambah dokter di Singapura itu. saya sudah tidak senang.

” kata saya. saya ingin mengajaknya mampir ke Liaoning dan Heilongjiang. semangat untuk menggalinya luar biasa.” katanya. Saya melihat betapa semangatnya orang di Daqing (Provinsi Heilongjiang) dan di Panjin (Provinsi Liaoning) menggali minyak. untuk bertemu Prof Shao.00. Tapi. sore itu saya harus ke Dalian. tentu. Ada beberapa urusan. Dengan alat-alat yang lebih sederhana mereka bisa menghasilkan minyak lebih banyak. Sudah lama saya gemas. Untuk melihat bagaimana negara itu bekerja keras mencukupi kebutuhan minyak. Saya pilih dipotong saja. dan urusan menepati janji. Tapi. dan percaya diri.”’ katanya. Nanti. Ini soal pilihan. Di bandara kota itu pukul 24. tapi masih ada sisanya. “Sudah lebih dari 500. sumur-sumur minyak di sana lebih dalam dan iklimnya juga lebih beku. dalam kesempatan saya ke Tiongkok lagi. akan 53 by Moezhanks . Maka saya pun memutuskan akan titip nasib ke Prof Shao. Hari itu kebetulan Dirjen Migas punya acara di Shanghai. juga tahu cara menghindarinya. Giliran saya sendiri yang harus memutuskan. Maka saya tidak begitu saja mengambil keputusan membuang limpa. Paginya saya masih di kota Tianjin. Dua-duanya masuk akal. Itu cara 60 tahun yang lalu. Tinggal saya yang harus memilih lebih percaya kepada yang mana. sudah.” katanya.Penjelasannya. Sudah sangat tidak layak menjadi anggota OPEC. sangat masuk akal. Saya sering ke ladang minyak di Tiongkok. Ya. Saya bisa menerima sepenuhnya. Dua-duanya bisa diterima secara medis. rasanya. meski singkat. Minyak yang didapat pun lebih jelek dibanding minyak mentah Indonesia. saya akan menemui Prof Shao untuk ’menguji’-nya. Tapi. karena tengah malam nanti harus menjemput Dirjen Migas di bandara kota itu. jangan dibuang semua. yakni saat pesawatnya mendarat dari Shanghai. Urusan Jawa Pos sendiri. Tapi. pada 2005. Padahal. saya juga berpikir: Masak Prof Shao tidak tahu itu. Saya ingat usul-fikh ahli sunnah wal jamaah: Sesuatu yang tidak bisa dipakai semua. Di sana cara itu sudah dianggap kuno. “Banyak itu berapa? Berapa puluh?” tanya saya lagi. Jawabannya tegas. Tidak mungkin. “Siapa bilang itu kuno?” sergahnya. urusan pabrik steel conveyor belt-nya perusahaan daerah Jatim. kalau masih sempat. Kepada ahli penyakit liver ini langsung saja saya semprotkan pertanyaan berdasar pendapat dokter di Singapura. Indonesia. “Tentu saya tahu. “Di Singapura dokter tidak mau lagi memotong limpa. Suaranya meninggi. Biar berkurang. Penerbangan dari Tianjin ke Dalian memakan waktu satu jam. Kebetulan Dirjen Migas yang baru juga berambisi mengatasi hal itu. Saya ingin membantunya meski saya hanyalah rakyat biasa. “Justru membuang limpa itu yang kuno sekali. “Saya minta izin ke Dalian dulu. Itu. Ketika saya tanya soal risiko infeksi di tiga tempat yang sangat membahayakan. Terakhir. Saya sudah berjanji kepada Dirjen minyak dan gas yang baru untuk mengajaknya ke Tiongkok.” jawabnya mantap. Saya janjian bertemu di Kota Dalian. Segera saya gunakan ilmu mantiq saya: sudah berapa kali Prof Shao melakukan pemotongan limpa? “Sudah banyak kali. Rumah besar saya. *** Saya memang harus ke Tiongkok lagi. Maka. mantap. urusan perusahaan daerah Kaltim. dia tidak mengelak. mengapa Indonesia sebagai negara penghasil minyak justru menderita ketika harga minyak dunia membubung? Sampai harus menaikkan harga BBM yang menghebohkan itu? Mengapa tidak justru menikmatinya? Ini semua karena produksi minyak Indonesia terus menurun dari tahun ke tahun. sudah berada di bawah satu juta barel per hari.

Tiba di Dalian sudah agak malam. tidak bisa tanggal 6 Oktober 2006. Pagi-pagi Dirjen kembali ke Beijing untuk balik ke Indonesia. 54 by Moezhanks . Saya menundukkan kepala sesaat. “Potong saja limpa saya. hilang merahnya. “Wo bu guan ni. Saat makan malam itulah saya kaget. “Tidak bisa sekarang. Bentuknya tidak penting. Mengapa? Karena ruang operasinya baru saja dirombak. Dia sudah sering mengancam untuk tidak mau lagi mengurus saya. Saya terbang ke Tianjin untuk pemotongan limpa saya. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.” kata saya dalam hati. Dengan datangnya persetujuan istri saya. Saya langsung minta formulir persetujuan operasi dan memfaksimilikan ke Surabaya. dan karena itu saya antusias membantunya. Saya memang sudah beberapa kali operasi kecil. “Lakukan sekarang!” kata saya begitu bertemu Prof Shao. Sudah waktunya makan malam. Formulirnya dalam bahasa Mandarin. saya tidak menceritakan apa yang terjadi atas diri saya. saya mengira operasi pemotongan limpa bisa dilakukan hari itu. saya tidak boleh menjadi pasien pertama yang menggunakannya.” katanya.” kata saya ingin setengah memuji istri saya. Istri saya tidak bertanya banyak. Saya lupa kalau dia komunis.” kata saya tidak ingin menggundahkan hatinya. “Ini persetujuan istri saya. Yakni. Hari itu baru selesai.terbakar. atau besoknya. Malamnya terbang ke kota Harbin. “Saya bisa usahakan sekarang. Pagi-pagi kami bermobil sejauh 400 km ke Panjin. Setelah ditandatangani istri saya.” katanya.” tegas saya. Ah. setengah melucu. Memikirkan apa yang harus saya perbuat. Malam hari balik lagi ke Harbin. Pagi-pagi bermobil 500 kilometer ke kota Daqing. “Ini apa?” tanyanya melihat tanda tangan istri saya yang tidak lazim untuk mata orang Tiongkok. Ternyata Prof Shao tidak tersenyum. Berkumur lagi dan berkumur lagi. “Mengapa?” tanyanya lagi. yang tidak tahu apa itu doa. “Mereka ini benar-benar seperti koret-koret (mengais sisa-sisa) minyak. Saya lari ke toilet. Merah airnya. Menarik panjang napasnya. Satu jam kemudian saya berkumur lagi. Tibalah sudah waktu saya. Jadi. Saya lantas menelepon istri saya. sisa pisang itu berlumur darah! “This is the time! Wo de shi jian dao le. tidak ada darahnya. Saya tahu tekadnya kuat sekali untuk memperbaiki perminyakan Indonesia. Harus 8 Oktober.” kata saya. Tapi. “Saya akan operasi kecil. Dirjen serius sekali melihat semua itu. Tapi.” gurau saya kepada Prof Shao. Saya terus tersenyum dan memberinya semangat untuk terus membangun dunia minyak. “Apa?” tanyanya. Juga gondoknya kepada saya meningkat. Sorenya bermobil lagi ke kota Shenyang. untuk mengeluarkan benjolan yang ada di bawah kulit di beberapa bagian di tubuh saya.” kata saya. tanda tangani saja. Ternyata harus tiga hari kemudian. Harus ada persetujuan istri Anda. Saat menyalami kedatangan Dirjen Migas. Berkumur. kita nggak tahu maksudnya.” katanya. Saya pun bertekad tetap memenuhi komitmen saya.” kata saya. Ketika saya menggigit pisang. dikirim balik ke Tianjin. saya tahu dia baik. kali ini seperti tidak percaya. “Itu tanda tangan istri saya. Dan. “Kalau nanti ada teman Jawa Pos membawa formulir ke rumah. Ujung-ujungnya luluh juga hatinya. doa di balik tekenan itu yang penting.

tanggal 5 sebulan kemudian saya sudah bisa keluar dari rumah sakit. Perawatan setelah pemotongan ternyata begitu sulit. Bahwa setelah limpa dibuang akan merepotkan pasien seumur hidup. waktu recovery saya tidak cukup. 55 by Moezhanks . Juga lebih lama: seminggu penuh. barulah Prof Shao menemui saya lagi di kamar rumah sakit. Apalagi. “Dua hari saya flu. suhu badan saya. Rasa sakit setelah pemotongan itu lebih hebat daripada transplantasi liver. (Bersambung) Ganti Hati 20 – Baru Tahu Mengapa Dokter Singapura Pilih Potong Limpa Saya 14 September 2007 ANCAMAN infeksi yang serius setelah pemotongan (embolisasi) limpa.Padahal. Kalau sebelum operasi saya lihat dia sering berlinang air mata.” pamitnya. Penampilannya memang agak lecek. “Mana ada dokter di negara lain yang mau menunggui pasien sampai lima hari tidak pulang. Saya ingin operasi itu dilakukan tanggal 6 karena pada tanggal 7 bulan berikutnya ada acara penting di Indonesia: menandatangani persetujuan proyek PLTU Kaltim dan peresmian gedung Expo Jatim. Saya juga tabik tak hentihentinya. “Semua gara-gara Anda. semua bisa diatasi. Maksud saya. Saya mau istirahat. suhu badan saya kembali normal dan stabil. saat upacara tersebut saya terlihat pucat. Setelah operasi. Tabik dengan cara Tiongkok. Seminggu kemudian. Saya tidur di rumah sakit. “Sekarang Anda sudah stabil. Saya tidak pernah membayangkan operasi pemotongan limpa ini akan gagal. 8 jam saya tidak boleh bergerak. Lalu. Keringat dingin memang memenuhi badan saya. perawatan setelah pembuangan limpa akan lebih mudah.” kata saya dalam hati. Matanya yang biasanya tajam. Namun. di kantor saya. “Sudah lima hari saya belum pulang. Ini untuk mewakili ucapan terima kasih saya kepadanya yang tidak terhingga. saya ingin operasi itu dilakukan pada 6 Oktober. seharusnya masih di atas tempat tidur di rumah sakit di Tianjin. Hari itu. kini ganti saya yang amat terharu. Begitu tinggi tanggung jawabnya.” ujar dr Shao. Wajahnya masih tidak terlalu cerah. dengan mundurnya tanggal operasi. Saat itulah saya mengerti mengapa banyak dokter di Singapura memilih membuang saja limpa saya daripada memotongnya. Kebalikannya. Menunggui Anda. pada hari-hari pertama. Bulu matanya yang hitam seperti bendera setengah tiang. Itulah sebabnya. Tapi. Tiga hari setelah libur. ketika saya di panggung. Lalu seminggu tidak boleh turun dari tempat tidur. Tidak secantik ketika dalam keadaan segar. sebulan kemudian saya sudah akan bisa keluar dari rumah sakit. sebagaimana dijelaskan Prof Shao.” tambahnya. naik sangat tinggi: lebih dari 38 derajat Celsius. itu kan sudah di luar tangung jawab dokter yang membuangnya. memang tidak dianggap enteng oleh Prof Shao. seperti orang sakit. Tahu sedang saya perhatikan. Tanggal 7 sudah menandatangani perjanjian PLTU Kaltim dengan konsorsium bank dan meresmikan gedung Expo Jatim. Selama seminggu itu pula Prof Shao dalam ketegangan. kali ini agak memerah. Saya minta maaf berkali-kali karena telah membuatnya tidak bisa pulang. Langsung ke bandara untuk pulang ke Surabaya.” katanya segera. dia merasa risi. Begitu besar perhatiannya. Tiga minggu berikutnya harus tetap di rumah sakit.

Lama dia tidak berkata-kata. “Mungkin. Maksud saya yang akan bisa meluluhkan hati Prof Shao. begitu kondisi saya stabil. tiga hari di rumah tidak bisa menikmati. Lalu ingat lagi acara PLTU Kaltim dan gedung Expo Jatim yang sudah menanti. yang mestinya melakukan kegiatan rutin. meski fakta itu memang saya pakai merayu. Dia menatap wajah saya dengan tatapan multi-arti: marah. Wajahnya merah serius. Melihat itu. Pagi-pagi Guo Qiang.” katanya seperti ingin bergurau. Sampai-sampai banyak dokter muda yang menunduk. anak saudara angkat saya Mr Guo. bukan rumah tetangga. seharusnya di bawah 100 saja. SGPT-OT saya mendekati normal.” katanya. saya minta menerjemahkan surat yang saya buat. “Mana ada dokter yang mau lima hari tidak pulang untuk menunggui pasiennya?” saya menunjukkan fakta. Mudah-mudahan masih terselip raya sayang di dalam campuran itu. Kemampuan bahasa Mandarin saya belum sampai pada tingkat untuk bisa dipakai merayu. Rayuan saya ternyata telah diabaikannya. Saya lihat Prof Shao mulai menitikkan air mata. dan gondok bercampur jadi satu. saya harus pulang. Tidak menduga sama sekali dia merahasiakan itu dari saya. Surat itu saya mulai dengan pujian. Setengah memuji. Lalu minta maaf. “Bukankah indikasi-indikasi dalam darah saya sudah menunjukkan bahwa saya kuat terbang jauh?” kata saya memecah kebekuan. tapi juga berisi memaksanya agar mengizinkan saya pulang. ada satu data yang saya sembunyikan.” katanya. Setelah menarik napas panjang. tekanan darah juga normal. Langkahnya cepat. ketegangan lima hari yang mencekam dirinya hilang. tapi yang terbakar rumah sendiri. Ternyata saya telah menyiksanya. badan saya sudah terasa enak. Tertutupi oleh jabatan tingginya dan mungkin juga kekomunisannya. kesal. “Sudah saya duga. setengah memompa dadanya. Saya tahu tidak akan diizinkan pulang. Bertatapan dengan saya.Sekali lagi saya minta maaf berulang-ulang. “Tapi.” jawabnya. Padahal. Yakni. Beberapa dokter muda yang mengikutinya sampai agak tertinggal di belakang.” tulis saya di pembukaan surat. Saya terpojok. saya tidak tahu apa hubungannya antara sakit saya dan HBV-DNA. Baru pada bait ketiga saya ’memperkosa’-nya. “Jadi. Bersamaan dengan itu flu datang menyerang. Bait kedua saya manfaatkan untuk ucapan terima kasih. Bahkan. Rupanya. Tidak pernah dikemukakan dengan lepas. “Semua itu benar. memasukkan kalimat-kalimat merendah.” kata saya. Kami terdiam lama. Prof Shao seperti kian gondok. Guru besar ternama di bidang liver itu seperti langsung membaca alinea yang ’memperkosa’-nya. Tiga minggu kemudian. Guo Qiang saya minta menuliskannya dalam bahasa Mandarin yang indah. Prof Shao seperti tidak membaca alinea pertama. HBV-DNA Anda masih 15 juta. Guraunya selalu ringan-ringan saja. dia tidak langsung berkata-kata. dokter-dokter muda yang menyertainya menyerahkan tisu 56 by Moezhanks . Plt saya sudah 120. Andalah dokter terbaik di muka bumi ini. Saya juga mencoba lagi kemampuan ilmu mantiq yang saya pelajari di aliyah dulu. Lalu saya menunjukkan hasil lab. Saya tidak mengadaada. Dari ekspresi wajah dan body language-nya. Tapi. barulah dia mengucapkan kalimat yang bernada putus asa. “HB saya 13. Ini soal kebakaran rumah memang. Pagi itu. langsung diubah untuk menemui saya. Mungkin merasa kok saya seperti sok tahu kedokteran. Tiba-tiba dia masuk kamar saya dengan menggenggam surat itu.

Kalau toh obat itu juga tidak berhasil. Termasuk mempertimbangkan untuk transplantasi. sudah. Juga terhindar dari potong-limpa. tapi belakangan sebenarnya keluar obat baru yang harus diminum tiap hari. Ini sebagai tanda bahwa saya minta maaf yang dalam. Kini saya sudah terbebas dari ancaman tiba-tiba meninggal. Dia menahan tangis. masih ada obat lain yang lebih mahal. Lalu Prof Shao menarik napas panjang. tapi sekaligus minta dengan sangat agar diperbolehkan pulang. setidaknya saya kini punya kesempatan beberapa bulan untuk memikirkan cara terbaik mengatasi sirosis-kanker saya secara permanen. Dia tahu saya tidak pura-pura. Nama generik obat itu Octreotide (karena saya tak boleh menyebut nama obatnya). “Bangun”-nya virus hepatitis B akan langsung menyerang liver hingga kelak jadi sirosis. Sebulan kemudian sudah normal. Saya harus lebih hati-hati. *** Kian hari kondisi saya kian baik. Saya sudah hampir menubruk kakinya.kepadanya. mengusahakan pembunuhan atas dua kanker liver saya dengan cara dimasuki alat pembunuh lewat selangkangan saya. Kini ganti saya yang lebih banyak menitikkan air mata. Besok paginya. Tanggung jawab kepada rakyat Kaltim dan Perusda Jatim. Turun dari tempat tidur dan ingin bergegas mencium kakinya. obat yang saya siapkan nanti harus diminum. buying-time. Dengan diungkapkannya data soal kadar HBV-DNA saya. Tanggung jawab yang juga tidak kecil. Seminggu kemudian sudah menjadi 1. Yakni. Tanggung jawab dan risiko sebagai pimpinan. Lalu muncullah keteguhan dalam hati saya untuk lebih mementingkan tanggung jawab itu. Saya dalam posisi sulit. sebenarnya masih ada jalan agar terhindar dari transplantasi. Apalagi. HBV-DNA saya juga menurun drastis. Demikian juga istri saya.5 juta. Tapi.” katanya melemah. Saya akan izinkan. (Bersambung) Ganti Hati 21 – Yang Pro dan Yang Anti-Transplan Bertinju Sengit dalam Pikiran 15 September 2007 KALAU saja saya dulu peduli sedikit dengan badan saya. Mata saya juga mulai berlinang. Obat tersebut harus disuntikkan tiap 57 by Moezhanks . Tidak bisa dicegah. ternyata saya belum prima. Katakanlah suntikan interveron yang saya jalani sampai 70 kali (setiap dua hari sekali) itu tidak berhasil “memingsankan” virus hepatitis B saya. Robert Lai juga mengusap-usap matanya. sebelum potong-limpa itu saya juga sudah dua kali melakukan TACE di Singapura. Prof Shao bergegas mengangkat kepala saya. dari rumah sakit saya langsung ke bandara. Agar virus yang tidak mungkin lagi dikeluarkan dari liver itu “tidur nyenyak” saja di dalam liver. Tapi. Maka. Saya pakai kursi roda selama dalam perjalanan pulang. Saya terjepit antara keharuan dan romantisme di satu pihak dengan rasa tanggung jawab di pihak lain. saya putuskan untuk berbuat ini di depan Prof Shao. Sakit saya sudah terlewat parah. Semua itu hanya usaha untuk ulur-waktu. “Ya. Saya tahu semua itu tidak menyelesaikan persoalan. Juga sudah terhindar dari ancaman tibatiba perdarahan dari lubang-lubang tubuh saya.

Begitu pula kalau masalahnya hanya kanker (kanker kok juga dibilang “hanya”). Sebab. kosa kata “transplan” sudah mulai masuk di bawah sadar. Setidaknya. tapi mungkin masih bisa diperlambat. saya tetap memakai obat-obat tersebut. pasti akan menjadi kanker. mau dipotong bagian yang ada kankernya. kalau dipotong. Dan bahkan ketika sirosis saya sudah berkembang ke kanker. dia akan punya kemungkinan terjangkit hepatitis. untuk membakar (mengablasi) sel kanker saya. Baru dua tahun lalu saya mendapatkan informasi tentang obat-obat itu. Permukaan liver yang mengeras itu. Harga obatnya saja. Kalau sudah kena hepatitis. Misalnya. liver saya sudah “dikeroyok” sirosis dan kanker. “Siapa tahu ada rekayasa Tuhan di situ. bagi pasien yang ingin sembuh dan punya uang. Tetap menggunakan pemberian Tuhan yang sangat berharga itu: otak. meski telat. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Kalau persoalannya hanya sirosis (sirosis kok dibilang “hanya”).dua hari sekali selama sembilan bulan.” kata teman saya. Karena itu. Nama generiknya Thymalfasin atau Thymosin Alpha-1. Pendarahan di liver sangat tidak mudah untuk dihentikan. Rekayasa Tuhan? Apakah Tuhan punya hobi merekayasa? Saya lebih percaya bahwa Tuhan akan konsisten dengan sunatullah-Nya. masih ada tiga cara lain untuk mengatasinya. kata “transplantasi” sebenarnya masih jauh dari pikiran. Antara satu dokter dengan lainnya memang masih berbeda pendapat mengenai keampuhan obatobat itu. Termasuk mulai mempertimbangkan kata yang mengerikan itu: transplantasi liver. Karena itu. Termasuk sunatullah bahwa kalau tidak melakukan imunisasi hepatitis. Masalahnya. Baik yang kejawen maupun yang dibungkus religius. Sebab. Yang Anticavier saya ketahui dari dokter di Singapura. Satu proses awal dalam sebuah perjalanan spiritual untuk sampai pada kata akhir: siap transplan. saya harus tetap rasional. sekalipun oleh dokter yang paling pintar. Banyak teman menganjurkan juga untuk pindah ke jalur alternatif. Tapi. sehingga tidak mudah untuk mengatasi kankernya. Untuk memberikan kesempatan bagi saya memikirkan harus melakukan apa yang lebih mendasar. dokter harus memasukkan sejenis metal berbentuk kail yang punya 58 by Moezhanks . Itu tidak mungkin karena sirosis membuat permukaan liver saya mengeras. Semua saya ketahui setelah liver saya menjadi sirosis. Sayang. masih ada satu obat baru lagi yang juga harus disuntikkan ke saya selama sembilan bulan berturut-turut. Meski sirosis tidak bisa disembuhkan. dengan memotong bagian yang terkena kanker. Waktu itu. Begitu pula kalau mau di-RFA atau dibakar dengan energi panas. Yakni. untuk sekali suntik. tapi itu juga berarti secara tidak sadar kata “transplan” sudah mulai masuk dalam proses internalisasi ke pikiran saya. Ke obat tradisional atau ke kekuatan supranatural. Sedang dua obat yang lain saya ketahui dari Prof Shao. Selain Octreotide. transplantasi masih bisa ditunda. Masak saya sampai harus melakukan itu? Masak saya separah itu? Masak tidak ada jalan lain? Masak tidak akan ada keajaiban? Masak tidak ada obat alternatif? Masak tidak ada dukun atau kiai yang linuwih (punya ilmu lebih)? Tapi. Yang ini nyuntiknya sebulan sekali. akan menyebabkan pendarahan hebat yang bisa membunuh saya. bisa membantu saya buying time. Mengolor waktu. saya tahunya sudah sangat terlambat. Meski bentuknya masih pertanyaan “masak harus sampai transplan?”. selain kemoterapi. di-RFA (radio frequency ablation) atau di-TACE (trans arterial chemoembolization). sekitar Rp 1. Dan kalau sudah sirosis.1 juta. pasti tergoda untuk mencobanya. pasti akan mengarah ke sirosis.

sel-sel darah putih yang baik pun ikut dikubur oleh organ itu. akibatnya bisa fatal karena sayatan tersebut menembus sampai ke pembuluh darah besar di paha. Itu sudah termasuk mencabut kateter di pangkal paha saya dan membalut kuat-kuat bekas sayatan yang di paha. selaput perut. Makanya. kerusakan pada bagian tubuh yang masih baik akan terus terjadi. Ini perlunya untuk menutup akses makanan ke sel-sel kanker itu. dan limpa saya. transplantasi juga masih bisa ditunda dengan cara di atas. Kalau saya biarkan. untuk memblokir cabang-cabang arteri di liver yang melewati sel kanker saya. diputuskanlah untuk membunuh kanker saya dengan metode TACE. menguburkan sel-sel darah merah yang mati.beberapa mata kail. Jadi. platelet saya 59 by Moezhanks . Dengan bantuan fluoroscopy. limpa yang membesar membuat darah putih saya menurun. Namun. diharapkan sel-sel kanker saya akan kelaparan dan tak lama kemudian mati. sejenis sinar rontgen. dokter lantas memasukkan lagi obat lain. Sementara bangkai sel-sel darah merah makin bertambah. Kalau itu terjadi. kalau pinggang saya kena bola atau kena sodok. kateter itu lantas didorong masuk sampai ke arteri (pembuluh darah yang membawa darah bersih dan sari makanan dari jantung) yang di hati. darah putih berfungsi. Kail itu ditembuskan ke dalam liver melalui perut. Sel darah merah memang harus mati dalam kurun waktu tertentu dan harus “dikuburkan”. Karena darah putih yang sangat kurang itu. kalau problemnya hanya sirosis dan kanker (Huh! Sirosis dan kanker kok masih dibilang “hanya”). jantung. Tapi. ke mana bangkai-bangkai darah merah tersebut? Itu juga membuat problem sendiri pada tubuh saya. saya akan sangat gampang terkena virus. Daya tahan tubuh saya sangat menurun. Cara itu tentu sangat membahayakan saya karena mata kail tersebut harus lebih dulu menjebol permukaan liver saya. persoalannya. dan paru saya juga segera rusak. Pekerjaan mengubur dan menghancurkan bangkai sel-sel darah merah itu dikerjakan di limpa. Padahal. Bahkan. Dengan begitu. sebelum masuk ke sel kanker. Setelah obat kemonya menembus sasaran. Limpa saya saja sudah membesar. Tidak pecah pun. akibat sirosis itu. saat itu jumlah darah putih saya terus menurun. Selama hampir semalam saya tidak boleh turun ranjang karena khawatir luka sayatan itu terbuka. Saat itu tinggal 60-an. limpa bisa pecah: mati. Darah putihlah yang menguburkannya dengan cara “memakan”-nya. saat itu. melainkan diinjeksikan langsung ke sel kankernya melalui selang kecil panjang (kateter) yang dimasukkan melalui pembuluh darah besar di pangkal paha (arteri femoral). Limpa saya itu kian hari masih akan terus membesar. Cara itu pada prinsipnya sama dengan kemoterapi. saya sudah tak bisa bertahan dari infeksi. bagian-bagian tubuh saya yang lain ikut rusak dan bisa saja jadi penyebab kematian yang lebih besar. Tindakan itu jelas bisa menyebabkan liver mengalami pendarahan. Kalau sampai tahun lalu. sehingga terjadi pendarahan. yang sudah ikutan rusak adalah saluran pencernaan. Kalau turun 10 poin lagi. empedu. Bedanya. melalui kateter yang sama. Jadi. Seharusnya kadar darah putih saya minimal 200. Tindakan medis tersebut memakan waktu kurang lebih dua jam. karena limpa saya terus membesar. antara lain. Padahal. Lama-lama. Karena itu. barangkali ginjal. obat kemonya tidak diinfuskan seperti umumnya kemoterapi. Sudah tiga kali lipat lebih besar daripada limpa orang normal karena darah yang tidak bisa lancar masuk ke liver mbendal (terpental) masuk ke limpa.

mungkin juga akan lebih sulit. mungkin telanjur sangat parah. kalau gagal gimana?” tanya kubu yang anti-transplan di tim saya. Juga bukan ahli agama. “Tapi. memang transplantasi Cak Nur gagal. ketika membran selaput dada sudah kena infeksi. hidung. Seperti yang sudah saya singgung sebelum ini. Bahkan. lalu melukai dan menusuk balonbalon itu. status kata “transplan” pun meningkat dalam pikiran saya. Kita tidak tahu pastinya. Takut tulang-tulang kecilnya masuk ke tenggorokan. Atau. Semua itu gara-gara liver yang sirosis. Tim yang pro-transplan mengemukakan. Artinya. Virus yang munculnya hanya dalam kasus transplantasi. Tapi. Dan “kubu antitransplan” di tim saya juga tidak tahu mengapa Cak Nur gagal. darah-darah yang mbendal itu juga memenuhi saluran percernaaan saya (varises esofagus). telinga.juga terus menurun. bisa saja karena kondisi Cak Nur sendiri yang memang sudah lebih parah daripada kondisi saya saat ditransplan. “Pak Dahlan pun. sudah pasti pertimbangan yang lebih didominasi perasaan. meski mungkin saya bisa membunuh sel-sel kanker dengan TACE dan berhasil memperlambat proses kerusakan total liver oleh sisrosis. Satunya lagi yang pro-transplan. cuma ada satu jalan: transplantasi liver. Tapi. ketika memulai sembahyang harus mengulangi takbir berkali-kali? Mengapa ada orang yang mudah menangis ketika berdoa? Mengapa ada yang tidak bisa menangis? Gejala agamakah? Gejala psikologiskah? Saya bukan ahli psikologi. saya kalahkan. hanya karena terkena benda tajam seperti keripik atau tulang ikan atau roti kering. Sehingga.” kata pro-transplan. Kecuali liver saya segera baik. Karena itu. Dan. Lalu. Setiap saat bisa pecah. Atau. “Bukankah terlalu banyak contoh transplan yang gagal?” tambahnya. ketika air sudah memenuhi rongga perut (ascites). Jadi. kalau misalnya kankernya sudah sampai di vena porta (pembuluh darah balik yang utama di liver). Maka. Kegagalan transplantasi yang dilakukan tokoh Nurcholish Madjid (Cak Nur) sungguh menjadi alasan pembenar yang kuat sekali bagi kubu yang tidak setuju transplantasi. Atau. bulatlah tekad saya: ganti liver. Bukan secara rasional-teknis-medis. saya sering merenungkan (yang sampai sekarang belum sampai pada kesimpulan) soal yang rumit dan peka ini: khusyuk itu gejala religi atau gejala psikologi? Mengapa ada orang yang mudah khusyuk? Tapi. bahkan dari lubang kemaluan. saya memang membentuk dua tim. Dari sekadar tamu yang sedang mampir menjadi penghuni utama. Saya ingin mendapat pertimbangan yang arahnya berlawanan. Secara tidak formal. Saya bisa mati hanya oleh satu tulang ikan yang amat kecil. Akhirnya. Misalnya. sewaktu-waktu saya terancam mengalami pendarahan dari mana saja: dari mulut. 60 by Moezhanks . Satu yang punya pendapat jangan transplan. proses kerusakan di organ lain ternyata tak bisa saya hentikan. Tapi. Saya sudah biasa menghitung komposisi psikologis dan rasionalitas dalam setiap mengambil keputusan. saya pernah takut makan ikan. penyebabnya kan jelas: virus Citomegali. untuk itu. Kuat secara psikologis. dindingdindingnya berubah jadi balon-balon berisi darah. mengapa banyak juga yang sulit khusyuk? Sampai-sampai. Ada yang lebih berbahaya lagi. kalau ginjal dan paru sudah ikut rusak.

apakah kita harus membiarkan Pak Dahlan selama lima tahun menjalani kehidupan dengan kualitas yang buruk? Harus selalu dikemo. Berburu Banyak Ikan Kutuk 16 September 2007 SETELAH hati mantap melakukan transplantasi. itulah pilihan terbaik. Tiga faktor itu saya sebut sebagai “persyaratan mutlak”.” kata saya. Dengan segala risikonya. Satu proses untuk melakukan pembobotan dan penilaian atas semua pilihan. saya melihat tim pro-transplan sempoyongan. mengapa harus berjudi dengan transplan? Sebagai dewan juri yang harus adil. Saya sudah terbiasa. Apakah tidak ada bibit kanker yang akan mbalik ke liver baru? Apakah bibit virus hepatitis B yang sudah ikut beredar di darah tidak menjangkiti liver baru? Lalu jadi sirosis lagi? Jadi kanker lagi? “Katakanlah setelah transplan masih bisa hidup lima tahun lagi. (Bersambung) Ganti Hati 22 – Ingin Naikkan Albumin. Kemantapan tekad pasien akan menjadi kunci suksesnya. “Memang peran pasien sendiri amat menentukan. Bertubi-tubi ayunan tinju dihokkan ke wajah tim yang pro-transplan. kesediaan donor. “Ya. ditutup dengan pukulan upper-cut yang telak: sama-sama bisa bertahan lima tahun. barulah saya menentukan langkah. Seperti kata dokter di Singapura itu.Tapi. Keheningan terpecah oleh suara salah satu tim pro-transplan. Sampai mau terlempar dari kanvas. keluar-masuk rumah sakit.” katanya. kita sudah tiba pada kesimpulan transplantasi akan gagal. “Saya mantap dengan transplan. Pemenang sudah harus ditentukan sebelum salah satunya KO. Begitu pasien ragu-ragu. Tapi. Akan bisa bertahan hidup berapa tahun lagi?” katanya seperti sedang mulai memberikan pukulan tinju kepada tim saya yang pro-transplan. Lalu masih ada sejumlah “persyaratan keinginan”. Apakah kalau tidak ransplan tidak bisa bertahan lima tahun lagi? Dengan obat-obat yang kian maju?” tanya tim yang anti-transplan. Hasil perkalian tertinggi. Saya mantap transplan. Misalnya. Kedua tim masih akan terus bertinju.” kata saya. Kehebatan dokter. juga tidak boleh. Ada tiga yang harus dipertimbangkan. menjalankan satu proses yang disebut problem solving. Lalu. Lalu mengalikan bobot dan nilai. dan ketepatan rumah sakitnya. tali ring menyelamatkannya: Tapi. Dari situ baru kami tentukan tempatnya. tidak bisa makan enak. tidak bisa bekerja dengan baik? “Itukah hidup? Untuk apa hidup kalau kondisinya harus tersiksa seperti itu?” serang tim pro-transplan tibatiba. “Katakanlah transplantasinya berhasil. kubu “anti-transplan” di tim saya masih punya alasan lain. Saya pernah disekolahkan 61 by Moezhanks . bel sudah menunjukkan bahwa waktu sudah habis. Semua diam. dalam setiap akan mengambil keputusan. kedekatan budaya. kedekatan dengan Indonesia. diTACE. Tapi. dan kedekatan bahasa. Kalau kita paksakan transplan tapi pasien tidak mantap.

Namun. Tapi. yang saya ragukan ini masuk dalam ’persyaratan mutlak’. Wartawan Jawa Pos harus menjalankan ’10 rukun iman’ atau ’Ten Commandments” yang saya tentukan. Saya sendiri pun lantas mengunjunginya. Mungkin tidak akan diakui sebagai salah satu teori jurnalistik. Saya ingin dokter yang berpengalaman. Amerika. Kalau hanya masuk ’persyaratan keinginan’. Jepang. tapi saya sudah mengenalnya dengan sangat baik. Saya langsung jatuh cinta pada kunjungan pertama. Sungguh tak terbayangkan bahwa tekad saya untuk belajar bahasa Mandarin lima tahun lalu ternyata saya sendiri yang akan memetik manfaat terbesarnya. Dari proses itulah lantas kami pilih dokter ini. Belanda. Itulah salah satu sumbangan ilmu manajemen ke dalam praktik jurnalistik di Jawa Pos. Saya percaya hanya yang muda yang bisa diajak balapan di segala bidang. dan Tiongkok. Hati saya mantap sekali. Padahal. Proses yang sama saya terapkan dalam melakukan analisis problem-solving atas tekad saya yang sudah mantap melakukan transplantasi liver. Saya mengenal baik kotanya. akan lebih firm ketika memegang pisau bedah. mau tidak mau harus dipenuhi. menurut logika saya. Hasil kunjungan Robert Lai sangat memberi harapan. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kalau saya tidak bisa sedikit-sedikit berbahasa Mandarin. sebagaimana yang dilakukan orang-orang Jepang dan orang dari negara-negara Arab. di satu kota di belahan utara Tiongkok. tapi masih muda. Khususnya tower yang baru. Maka. Yakni. Sudah melakukan tranplantasi liver lebih dari 500 kali. Masih juga ada satu pertanyaan: maukah dia menangani saya? Ada waktukah dia? Inilah tugas Robert berikutnya. 62 by Moezhanks . Tangan anak muda. tidak akan semulus kalau diri sendiri yang tahu bahasa itu. bisa saja mempekerjakan juru bahasa. Dan. sudah membukukan beberapa rekor: Rekor terbanyak. Pengalamannya juga luar biasa. rekor transplantasi untuk pasien usia dini (3 tahun). dia selalu berhasil menjalankan misinya. Untuk Indonesia kota ini tidak populer. Juga. Dan. masih ada satu yang meragukan. Saya ajarkan sebagai doktrin di Jawa Pos. Artinya. Dari masing-masing negara kita pilih satu nama. Boleh dikata. Bahkan. dan sedikit banyak sudah bisa berkomunikasi dengan bahasanya. Alat-alatnya juga amat modern. Penampilannya meyakinkan. reputasinya yang tinggi sebagai pusat transplantasi liver sudah sangat terkenal. Memang. Itulah yang membedakan wartawan Jawa Pos dengan wartawan lain. Proses manajemen itu kemudian saya bawa juga ke dalam jurnalistik. transplantasi untuk pasien tertua (76 tahun).untuk itu di Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Manajemen (LPPM) ketika saya masih jadi wartawan majalah berita mingguan TEMPO. Tentu hal ini tidak diajarkan di fakultas publisistik atau di akademi wartawan. Maka sudah tidak tengok sana-sini lagi: Di sinilah saya akan melakukan transplantasi liver. Singapura. mengenal baik budayanya. Berkali-kali saya ke kota itu. terutama. tim menyeleksi dokter-dokter ahli transplantasi di dunia: Australia. Sangat bersih dan terawat. Saya memang sangat pro anak muda. umurnya. dialah dokter Tiongkok yang paling jago di bidang transplantasi liver. Kunjungan pertama saya ke sana sekitar 10 tahun lalu. Urat-uratnya kukuh. Dia memperoleh pendidikan khusus untuk ini di Jepang. Umurnya masih 52 tahun dan badannya tinggi tegap. mengindikasikan akan kuat dalam menghadapi tekanan mental maupun fisik. rekor transplantasi tanpa transfusi darah. barangkali bisa diabaikan. Apa itu? Tempat! Apakah di Tiongkok ada rumah sakit yang bagus sekali? Bukankah rumah sakit di sana terkenal joroknya? Untuk ini Robert Lai memeriksa rumah sakit tempat dokter itu berada. Kita pelajari track record-nya. tapi saya tidak peduli.

Lalu dia sumpek sendiri membayangkan sulitnya. Saya tahu tidak ada operasi pada Sabtu dan Minggu. Saya main squash cukup lama. Saya boleh terbang-terbang asal masih dalam radius empat jam penerbangan. Ternyata pasien itu ingin menelepon keluarganya. Atau mendengarkan ayat-ayat Alquran yang kasetnya dia beli di Makkah. dapurnya. Suatu saat saya ke Kota Dalian. Maksudnya. sudah lebih siap. Saya lupa akan selang infus di lengan saya. Guo Qiang mencarikan gurunya: tiga gadis yang masih kuliah di tahun terakhir IKIP setempat. Rupanya rumah sakit masih khawatir dia akan berontak sehingga terus diikat. membeli mobil. Tapi. Yang tidak mengizinkan adalah kerabat yang menunggunya. dan juga Robert. Karena itu. Dia memang tidak bisa berbahasa Inggris. Istri saya tidur di ruang tamu. Kita bisa mencoba main squash tanpa harus lari-lari mengejar bola. Badan saya memang sangat sehat secara fisik lahiriah. saya sering lupa kalau di lengan saya sudah dipasangi selang kecil yang ujungnya ada di dekat jantung. kalau ada sesuatu yang mendadak (misalnya. Dua kali sehari. Keesokan harinya lengan saya sakit sekali. ayat-ayat mulai Al Fatihah sampai terakhir surat An Nas dari imam salat tarawih di Masjidilharam. tapi tidak diizinkan. saluran internetnya. Pada hari-hari seperti itu saya terbang ke provinsi lain. Kalau akhir pekan. Tahulah saya bahwa dia masih diikat di ranjang. saya pamit ke kota lain. Suatu malam saya tidak bisa tidur. Sudah beberapa tahun saya dan istri selalu di Makkah saat akhir Ramadan. sore 2 jam. satu jam penerbangan dari kota ini. tinggal di apartemen. Bahasa Arab saya sudah banyak yang hilang sehingga perlu waktu lama untuk mengingat banyak kata yang jarang dipakai. Keluarga saya. pagi-pagi ikatan sudah akan dilepas.Bahkan. saya bisa kembali segera. Selang infus itu diperlukan kalau tiba-tiba harus transplan. Siangnya. Apalagi sosok saya yang sosok Asia. tiba-tiba ada donor). Pagi 2 jam. 63 by Moezhanks . Dia tahu saya tidak akan bisa hidup tanpa jaringan internet. Masa menunggu tidak bisa ditentukan. Saya tinggal di rumah sakit. Dia tahu belum tentu transplantasi bisa dilakukan segera. Dia memilih mendengarkan lagu-lagu kasidah dari CD yang dia bawa. Di salah satu plaza di sana. Untuk membunuh waktu saya memutuskan meneruskan belajar bahasa Mandarin. Apakah dia sudah terkena kanker? Apakah kankernya sudah sampai ke kepala sehingga mengganggu otaknya? Paginya dia berteriak-teriak lagi. mencari sopir. Mungkin untuk menghemat pulsa. banyak juga orang dari wilayah selatan atau dari Hainan yang juga berkulit seperti saya. karena hampir selalu berbahasa Mandarin. yang ada ruang tamunya. ada penjual raket squash dengan bola yang diikat tali karet. mungkin juga karena sering telepon memang tidak baik bagi pasien seberat dia. Robert juga langsung memesan kamar terbaik. Ternyata dia berontak karena ada janji. saya sering tidak dianggap orang asing. ternyata tidak. Yakni. Sepanjang selang itu (mulai dari lengan sampai dada) kemeng sekali. Bahwa kulit saya agak hitam. saya tahu lebih jelas mengapa dia berontak. dan juru masak. Robert juga langsung menyewa apartemen untuk setahun. Saya mencoba menengoknya. Problem transplantasi adalah di kesediaan donor. Ini penting untuk kesehatannya sendiri. pembantu rumah tangga. Pasien dari negara Arab di sebelah kamar saya berteriak-teriak sepanjang malam. Istri saya sering melihat bagaimana saya belajar. Ini saya ketahui setelah saya bicara kepadanya dalam bahasa Arab.

Yang saya tahu kehidupan Prof Suprayitno amat sederhana. Setelah penjelasannya meyakinkan. Dia lantas menyodorkan hand phone yang rupanya tidak dibawa pergi oleh penunggunya. Badan saya harus sehat. Seorang peneliti padi yang dulu hidup di desa selama 20 tahun. di Qingdao. Jadi amat berharga. Untuk menambah protein banyak sumbernya. Saya hanya perlu transplantasi liver. Luar biasa senangnya. “Saya memang tidak sakit. saya tidak menemukannya. Di setiap kota yang saya singgahi saya perlukan untuk mengunjungi pasar ikannya: di Nanchang. tentu saya akan kesulitan membawa kutuk ke sana. Tahulah saya bahwa angka yang dipijit kurang satu digit. Saya juga harus menjaga agar protein di darah saya. Lalu muncul di pikiran. Mulai daging. Dia mendiktekannya ke suster dengan bahasa Inggris yang amat tidak jelas. meningkatkan albumin luar biasa sulitnya. di Wuhan. buah manikan ternyata mengandung khasiat antikanker. Satu orang yang meneliti satu jenis tanaman liar yang disebut ’tear drop’ (di desa saya dulu disebut manikan. sering untuk tasbih) kini menjadi orang terkaya nomor 200 di Tiongkok. dia minta tolong saya untuk memberi tahu perawat agar membantunya menelepon keluarga. Penjual ikan di Pasar Rungkut hafal betul dengan istri saya. Ikan kutuk ternyata tidak ada di tempat lain. masak tidak ada kutuk di Tiongkok. Prof Eddy Suprayitno. putih telur sampai ikan. karena bentuknya seperti ular yang amat pendek. Di Tiongkok.Ketika penunggunya lagi pergi. karena saya akan tinggal lama di Tiongkok. Dia mulai kesal dan uringuringan. Akhirnya saya rayu dia untuk memberikan cuilan kertas itu. juga tidak ditemukan satu pun jenis makanan yang dimaksud. Dalam bahasa Inggris dikatakan “ikan kepala ular”. Malang. dan melihat saya bisa bicara Arab. Titik. di Dalian. Di Tiongkok. 64 by Moezhanks . terutama albumin. Tidak ketemu. Ternyata nyambung. setiap kali nomor itu dihubungi selalu gagal nyambung. dan seterusnya. peneliti seperti itu jadi kaya raya. Tapi. Para suster bilang bahwa saya ini bukan seperti orang sakit. Mengapa? Ini karena ada satu titik di belakang angka-angka itu. Entah sudah berapa ton saya mengonsumsi sop kutuk. mulailah saya minta istri saya berburu kutuk setiap hari. saya terus menjaga kondisi. yang biasa menyediakan menu ribuan macam di internet mereka dalam bahasa Mandarin. sebagaimana umumnya guru besar di Indonesia. kini menjadi pemegang saham perusahaan pembibitan dengan aset triliunan rupiah. Saya menyarankan agar menambah “nol” di pijitan terakhir. Satu-satunya sumber albumin adalah sahabat kecil saya dulu di desa: ikan kutuk. Tapi. Sebab. di Nanjing. Saya lupa bertanya apakah Prof Suprayitno sudah mematenkan penelitiannya dan memikirkannya untuk sebuah industri. Di Kalimantan disebut ikan gabus. Ternyata dia juga sudah mengantongi secuil kertas lusuh berisi nomor telepon. Saya menghubungi guru besar Unibraw. Sambil menunggu dan menunggu. di Harbin. Dalam masa penantian itu saya tidak boleh terkena flu. Karena flu saja bisa mengurangi potensi kesuksesan transplantasi. Tapi.” gurau saya kepada mereka. berarti nol. tidak terus merosot. Satu-satunya orang yang melakukan penelitian terhadap ikan kutuk. Saya melakukan senam dan tidak mengenakan baju pasien. Berminggu-minggu kami mendalami internet untuk mengetahui makanan apa saja yang bisa menaikkan albumin. Suster tidak tahu dan pasien juga tidak jelas melihatnya. dalam huruf Arab. Maka saya mencari kutuk di sana. Tapi. Tapi. angka-angka itu angka Arab.

saya belum terkena peraturan itu karena saya sudah mendaftar sebelum itu. Tapi. Tapi. saya ingin ikut mengatasi krisis listrik di Kalbar. dengan bahasa daerah yang tidak saya mengerti. Kandungan daging “hei yu” tidak sama dengan kutuk di Jawa. liver bisa memproduksi albumin. dia datang dengan bapaknya sambil membawa satu ember ikan. saya ingin pulang dulu dua hari. di sana disebut “hei yu” -”hei” artinya hitam. Sebulan setelah saya menunggu. Badan saya harus sehat menghadapi operasi besar. Di Kalimantan lebih lengkap. “Hei yu” di Kalimantan lebih banyak dimanfaatkan untuk ikan asin. Enak tidak enak sudah tidak penting lagi. Kedatangan saya untuk antre transplantasi liver ini agak terlambat. Tapi. teman saya di pelosok desa mengabarkan di desanya banyak ikan kutuk. ternyata terhalang aturan baru itu. Ketika saya ke Nanchang. keluar peraturan baru: tidak gampang lagi pasien asing mendapatkan donor. meski belum fatal. saya memutuskan untuk selalu makan banyak. Saya memutuskan sabar menunggu. Ibaratnya saya harus seperti kerbau yang akan dijual untuk disembelih: Harus sehat dan gemuk. “Hei yu”. Tapi. Bentuknya memang persis kutuk. mestinya. sungguh sulit mengatasinya. 65 by Moezhanks . mempertahankan albumin menjadi amat penting. Dulu-dulunya. Bapak teman saya. Anda bisa menduga sendiri. dimakan dengan nasi kuning. Dia naik kendaraan umum selama satu jam untuk bisa sampai ke kota. saya langsung membeli tanah 20 hektare di lokasi yang paling cocok untuk itu. agar badan tetap sehat. Apalagi di lengan saya sudah dipasangi saluran infus sampai ke dada. Akhirnya.Di Nanchang. (bersambung) Ganti Hati 23 – Datang Tawaran Liver Hidup dari Orang Muda asal Bandung 17 September 2007 SAYA hampir kehilangan momentum. Selama di Tiongkok saya kesulitan sumber albumin ini. yang kalau di Kalimantan disebut ikan tomang. Saya mengatakan “benar”. Kutuk. Kali ini untuk menyelesaikan urusan di Kalimantan Barat. Saya pernah ke desa itu sebelum tahu bahwa saya punya sirosis. karena liver saya rusak. menjelaskan panjang lebar bagaimana satu hari tadi dia berusaha mencari ikan satu ember itu. Untuk menunjukkan keseriusan. Karena itu. waktu menunggu sering tidak sampai sebulan. Padahal. Tapi. Dalam keadaan normal. dagingnya hambar. “Hei yu” juga banyak. sebenarnya bukan. sangat banyak. “Kutuk Tiongkok” ini lebih hitam. tapi bukan kutuk. enak sekali dimasak bumbu bali. Krisis listrik di Kalbar lebih parah daripada di Kaltim. Pasien asing banyak yang gelisah. sebagai persiapan transplantasi yang sudah dekat. Sedangkan ikan gabus yang manis. Gubernurnya sudah sangat mendambakan turun tangan saya. mengingat krisis listrik di sana sudah berlangsung lebih dari lima tahun. “yu” artinya. yang di sana disebut ikan gabus. Tapi. Saya pun datang dengan harapan seperti itu. setelah dua bulan tidak juga ada tanda-tanda akan mendapat donor. Sebagaimana juga di Kaltim. Juga melakukan perundingan dan penandatangan kontrak mesin-mesin di Tiongkok. Saya merasa punya tanggung jawab yang belum saya penuhi. Saya berterima kasih padanya. juga bisa tumbuh besar sampai kuat merusak perahu kayu kecil-kecil. Maka saya bersama gubernur dan Dirut PLN menandatangani MoU pembangunan PLTU di Pontianak. itulah ikan yang saya cari.

si calon penerima (resipien) liver juga dibedah untuk membuang (seluruh) livernya yang sudah rusak. Tender itu berjalan lancar dan itu memang proses yang benar. Ini mungkin karena liver adalah satu-satunya organ tubuh yang kalau dipotong bisa tumbuh utuh lagi. Juga nasib (tanah) saya. besok pagi sudah tumbuh lagi. Tapi. Dengan begitu. peserta tender ingin mengajak saya bergabung membangun PLTU tersebut. Hari ini separo livernya didonorkan. Pada saat yang sama. ya sampai meninggal. Dia juga menanyakan apakah tanah kami akan dijual. sekali orang kehilangan ginjal. Jelek sekali nasib Kalbar. saya sudah di atas pesawat. Saya harus menunggu lagi entah berapa lama. yang mau menyumbangkan separo livernya untuk dicangkokkan ke pasien. mengolah hasil pertanian rakyat yang selama ini harganya selalu hancurhancuran di musim panen. Mereka mencari salah satu keluarganya. Dan lagi. Orang-orang Pakistan mulai mencari jalan sendiri. saya bertekad menggunakan dana yang sudah saya siapkan untuk PLTU ke proyek lain: perkebunan rakyat. mendatangkan donor dari negaranya. Saat saya menyelesaikan urukan Kalbar itulah. Seseorang bisa hidup normal dengan liver yang hanya separo karena liver atau hepar atau hati adalah satu-satunya organ yang bisa tumbuh kembali dengan cepat. donor orang hidup. Memang bukan salah saya kalau sampai hari ini belum ada tanda-tanda konkret krisis listrik Kalbar akan teratasi. ginjalnya tetap satu. Yakni. suatu ketika. Yakni. Saya hanya ingin ikut mengatasi krisis listrik di Kalbar. Kami tidak mau ikut tender itu karena merasa PLN tidak beretika sama sekali. dia sudah boleh latihan berdiri dan berjalan. Karena itu. Proyek itu harus berjalan. Setelah itu. beruntung bahwa ternyata donor potensial itu ternyata juga tidak cocok untuk saya. kira-kira dua tahun lalu. Tapi. Karena itu. potongan liver yang sudah dilepas dari tubuh pemiliknya ditanamkan ke tubuh si penerima. Tapi. atau sukarelawan. beberapa waktu kemudian ternyata PLN melakukan tender untuk pembangunan PLTU itu. setidaknya saya bertanggung jawab untuk mewujudkan sesuatu di sana. Seminggu berikutnya 66 by Moezhanks . Terutama sebagai ungkapan terima kasih kepada masyarakat setempat bahwa koran kami di sana menjadi yang terbesar. Kami serius membeli tanah tersebut untuk PLTU. sampai tulisan ini dibuat. tanpa sedikit pun memberi informasi kepada saya bagaimana nasib MoU yang sudah dibuat. Kami bukan spekulan atau jual beli tanah.Namun. Tentu saya tidak mau kalau modal dia hanya selembar kertas izin. Dan dalam tempo tiga minggu sampai maksimal sebulan. Yakni. lalu livernya dipotong separo. Banyak pengungsi Madura akibat kerusuhan etnis pada 1999 itu yang mulai bekerja di proyek ini. seorang donor juga tak perlu tinggal berlama-lama di rumah sakit. Saya harus datang ke sana untuk membuat keputusan yang terpenting. Tentu saja tidak. pemenang tendernya. Hanya dalam tempo dua tiga hari pascaoperasi. Berbeda dengan ginjal dan organ lain. Hanya operasinya lebih sulit: Orang yang sehat dibedah. Provinsi itu sangat kasihan. Memang. sebagai awal dari membangun Kalbar lebih lanjut. Tidak kaya sumber alam dan tidak punya proyek besar. Dokter mencari-cari saya apakah bisa membatalkan kepergian saya ke Indonesia. sebenarnya ada donor yang potensial. Beda dengan donor liver. tidak ada tanda-tanda fisik mulai membangun PLTU. Investor yang mau datang pasti mengeluhkan listrik. saya memang tidak dalam posisi mencari proyek. Tapi. Berarti Kalbar kehilangan lagi waktu tiga tahun. liver yang dipotong itu sudah akan utuh kembali.

tidak satu pun yang darah dan rhesus-nya sama dengan saya. Anak keduanya baru bisa berjalan. potongan itu sudah akan tumbuh menjadi liver yang utuh sebagaimana orang normal. Umurnya masih 32 tahun. Lalu mengajak salah satu pendonor ke kamar saya. Tapi. Karena itu. Dan. Badannya yang tinggi tegap sangat sehat. jalan tidak buntu. dan bagaimana kondisinya sampai saat itu. dan keponakan-keponakan. Mulailah saya melihat ke istri. “Dia mendonorkan livernya dua minggu yang lalu. Beberapa teman dekat yang siap mendonorkan separo livernya juga tidak ada yang cocok darahnya. livernya dibagi dua. Mengapa dia begitu berani? Karena. satu liver untuk dua pasien. di kompleks perumahan yang cukup mewah. Anak itu sendiri. karena penurunan fungsi itu bisa merusak pertahanan tubuh saya. Anak muda itu mengatakan tidak menginginkan apa pun kecuali menyelamatkan nyawa saya. Apakah harus dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri? Dia bilang. Handphonenya pun Communicator seri terbaru. Robert menemui keluarga-keluarga Pakistan itu untuk mempelajari bagaimana praktik cangkok liver dengan donor hidup. Semula kami memperkirakan harus membantu kehidupannya.” katanya. Lalu dia menunjukkan perutnya yang masih dibebat untuk mengeringkan luka akibat pembedahan. sekarang sudah menjadi 16 cm lagi. Rumahnya baru. “Sekarang sudah jalan-jalan dan mau saya ajak ke sini. Bagaimana dengan penerima livernya? “Bapak itu juga mulai baik. Menjelang transplantasi. sel-sel kanker yang mungkin masih tersisa di liver saya bisa menyebar (metastase) ke mana-mana. Liver saya yang di sana. seseorang dari Jakarta menghubungi kami. umumnya masih satu liver untuk satu pasien. di negara-negara yang jumlah donor mayat (cadaver)-nya terbatas. yang bahasa Inggrisnya bagus sekali. Ternyata. Tapi. dia cukup berada. Kalau saya menunggu terlalu lama. Jadi. Saya tidak yakin bisa dapat donor utuh dalam waktu dekat. dia ingin menebus penyesalannya yang tak sempat menyelamatkan bapaknya yang keburu meninggal sebelum tranplantasi dilakukan. Sikap istrinya. dia bilang.dia sudah bisa beraktivitas lagi. anak-anak. Darah maupun rhesus-nya cocok sekali dengan saya. Dia menjadi amat yakin itu juga akan berhasil.” kata Robert sambil menepuk bahu anak muda Pakistan itu. di luar dugaan: Sangat mendukung keputusan suaminya. memang masih harus ekstrahati-hati karena tiga sayatan panjang bekas operasi di perutnya masih basah. Dua minggu lagi sudah kembali utuh seperti semula. Lantas bagaimana nasib potongan liver yang sudah berpindah tubuh tadi? Ini pun tak perlu dikhawatirkan karena dalam tempo maksimal tiga bulan. bisa jadi fungsi liver saya akan keburu memburuk. “Liver saya yang setelah dipotong tinggal 9 cm. Di Tiongkok. Saya harus berhitung dengan sirosis dan kanker saya yang sedang berlomba dengan waktu. baik yang masih di dalam tubuhnya maupun yang sudah pindah ke tubuh orang lain. hari ini sudah 17 cm. Tim kami segera ke Bandung melihat keadaan rumah tangganya. Saya juga memutuskan akan melakukannya. dia sudah menghitung risikonya. Termasuk saya. Ternyata. Saya amat yakin dengan jalan itu. Memberitahukan perihal seorang anak muda dari Bandung yang mau secara sukarela mendonorkan livernya. mengapa berani. Saya butuh melangkah cepat. 67 by Moezhanks . lantas menceritakan mengapa mau melakukan itu. Mobilnya juga masih gres dari merek yang tidak murah.” katanya sambil menggambar di papan tulis tentang bagaimana livernya tumbuh kembali.” tambahnya. Tanpa kami cari. yang semula hanya 11 cm. tidak kecil.

ada kabar bahwa saya mendapatkan donor.” kata Robert. Tetap saja persoalan rumit-rumit. tapi diam-diam tim kami terus menyiapkan saudara dari Bandung itu untuk siap berangkat ke Tiongkok. Bersamaan dengan persiapan pemberangkatan saudara dari Bandung itulah. harus dipecahkan. Terutama Robert Lai. Yang harus dimarahi. tapi juga politis. Juga bengkak di badan. Yang tak kalah penting. ya dimarahi. kakak saya. direktur di perusahaan minyak kami. Tapi. Pernah dalam satu rapat evaluasi bulanan yang amat disiplin di PT PWU. Juga bahayabahayanya. saya sendiri juga masih berpikir. selalu saya jawab apa adanya. Saya punya filsafat tersendiri dalam menyikapi umur. 68 by Moezhanks . Ya.Kami pun makin percaya bahwa tidak ada motif komersial di balik niatnya yang mulia itu. Tim kami terus mendesak agar saya jangan berpikir bahwa saya akan mengorbankan orang lain. Sikap ini muncul. Kalau ada yang bertanya pun. haruskah sampai mengorbankan nyawa orang lain? Tidakkah lebih baik saya menunggu dengan risiko tidak keburu sekali pun? Bukankah membuat keputusan melakukan transplantasi saja sudah tersirat tekad untuk mungkin mati? Saya benar-benar sudah siap kalau harus mati. Mereka memang ngeri mendengarnya. Padahal. Tapi.” tulis Lusye. rapat. diskusi. saya sebenarnya tidak sengaja menyembunyikannya. jawaban saya jujur. tapi juga tertawa-tawa. Padahal.” ujar Hadi Ismoyo. Setelah itu rapat evaluasi berjalan seperti biasa. saya jelaskan semua penyakit saya. seperti para manajer di Perusda PT PWU Jatim. memang tidak banyak yang bertanya. “Dia tidak akan jadi korban. dua tahun lamanya saya berhasil menyembunyikan bengkaknya kaki. persoalan Perusda tidak hanya soal bisnis.” ujar Gunawan. Dia juga akan memiliki kembali livernya secara utuh. Dia juga menyatakan sudah siap kapan pun harus berangkat. “Empat tahun saya bekerja dengan Anda. itulah kuncinya. saya memang berhasil menyembunyikan semuanya. manajer di perusahaan minyak milik Pemda Jatim. “Selama ini tidak tampak kegelisahan sedikit pun tatkala tampil di banyak kegiatan masyarakat. barangkali karena saya melihat kok ibu saya. Menceritakan penyakit dengan cara yang menyenangkan. Sedikit pun saya tidak merasakan bahwa Anda mengidap penyakit begitu gawatnya. Saya masih keberatan. Yakni. filsafat “intensifikasi umur”. saya tidak akan sampai hati mengejar-ngejarnya selama ini. Cuma. tapi saya sampaikan dengan nada yang menyenangkan. Menyembunyikan membesarnya payudara. Transplantasi pun dilakukan dengan cara membuang sama sekali hati saya yang lama dan menggantinya dengan hati baru made in 1985-an secara utuh. Perusahaan minyak itu masih baru sehingga saya harus banyak belajar. Saya kurang melihat bahwa bapak saya dan kakak sulung saya berumur panjang sekali. Umur pendek tidak apa-apa asal penggunaannya sangat intensif. “Kalau tahu seperti ini. Kalau ada yang bertanya tentang penyakit saya. (Bersambung) Ganti Hati 24 – Istri Khawatir Saya Meninggal dengan Wajah Menghitam 18 September 2007 SAYA tidak berhasil menyembunyikan perubahan di wajah saya. dan negosiasi. pecinta Jawa Pos dari Manyar Jaya. Yang harus dipuji. paman-paman saya berumur pendek. saya berhasil menyembunyikan keloyoan fisik saya. ya dipuji.

itu sebagai bukti bahwa Cak Nur dimurkai Tuhan. Tapi. alangkah malunya istri saya. kalah dengan Yusuf Rahimi. Saya bukan intelektual. Bukan ahli agama. saya harus tahu diri bahwa kalau dia sudah dewasa. dan tentu masih banyak sekali sisi negatif yang bisa dihubunghubungkan. Pertama. Karena itu. saya bergegas mengambil keputusan pindah ke jalur hidup sama sekali. Gosip itu bukan lagi masih menyangkut fisik. memprihatinkan. Saya tahu dia menyimpan dua kekhawatiran. Apalagi saya juga baru gagal dalam pemilihan ketua umum pengurus besar Pelajar Islam Indonesia (PII) di Bandung. tandanya tidak diterima oleh Tuhan. Tapi. dosa sebagai suami yang amat sibuk. merasa malu kalau saja saya meninggal dalam keadaan wajah yang menghitam. Bukan budayawan. Para kiai sepuh (enam orang bersaudara. menggosipkan wajah saya. ini gosip yang benar. Hitam yang tidak merata itulah yang kian mencurigakan. dan anak-anak mereka yang sudah dewasa. Tapi. Tuhan murka padanya. Suaminya meninggal dalam keadaan dimurkai Tuhan. bagaimana caranya? Atau pakai make up saja. Terutama di dahi dan sekitar mata. Psikis seorang wanita yang sangat kuat memegang prinsip agama. Dan. tapi sebagai perwujudan sikap tawaduk seperti yang dicontohkan bapak saya. Kedua. khawatir akan kesehatan saya. pada 1948. dosa sebagai pribadi yang sombong. dosa sebagai atasan yang kejam. Saya memang pernah mau didapuk jadi kiai di pesantren saya. Begitu hebatnya tentangan akan langkah Cak Nur tersebut sehingga sampai ada yang memvonis Cak Nur sudah murtad. Karena banyak sekali dosa yang diperbuatnya. Ini karena saya sadar bahwa saya turunan dari jalur wanita (ibu) di struktur pesantren itu. yang mungkin tidak kalah besarnya. Bukan karena ngambek. Dosa sebagai lelaki. Yakni. pamanpaman ibu saya). Ini karena dosa-dosanya yang tidak terampunkan. Pandangannya penuh keprihatinan. Lalu memberikan komentar yang sudah sering saya dengar itu. Apalagi dia aktif di kegiatan keagamaan. 69 by Moezhanks . Tapi saya kan laki-laki? Bahkan laki-laki yang bukan metroseksual? Tak pelak lagi. Sudah menjadi opini awam bahwa seseorang yang meninggal dalam keadaan wajah yang menghitam. dan merenungkan masa depan. tidak akan bisa jadi kiai dan tidak bakat jadi politisi. saya tidak berhasil menyembunyikan berubahnya wajah. Saya akan menyembunyikannya dengan cara meratakannya. banyak orang yang mulai rasan-rasan. dibunuh PKI dalam peristiwa Madiun.Tapi. Sedih bercampur perasaan malu. Terutama psikis istri saya. Mengapa masih kanak-kanak? Karena pesantren kami kehilangan dua generasi sekaligus. menjauh. dialah yang punya hak mewarisi pesantren itu. ketika memelopori pembaharuan pemikiran dalam Islam yang menghebohkan pada 1970-an. Gosip yang tidak menyenangkan. Bukan sarjana. Suatu saat istri saya memandangi wajah saya lama sekali. sebenarnya. Pembicaraan seperti itu kian kuat ketika Cak Nur meninggal dalam keadaan wajah menghitam. Yakni. Kalau sampai itu terjadi pada saya. Saya mengambil kesimpulan. Sampai-sampai disebutkan Cak Nur lagi mendirikan neo-Islam. Tentu saya bukan apa-apa dibanding Cak Nur. saya sudah sering digosipkan sehingga sudah agak kebal. Ada yang menilai. dosa orang kaya yang pelit. Karena itu. Ada nada sedih ketika mengucapkan itu. tapi saya menolak. Kulit saya yang aslinya memang agak hitam menjadi kian hitam. Untunglah. dosa karena dia telah menyekulerkan Islam. tokoh dari Ambon. kadang dia hanya memperhatikan wajah saya tanpa mengucapkan komentar apa-apa. tapi sudah masuk ke tataran psikis. Toh saya akan tetap bisa berperan di pesantren itu kelak. Kebetulan yang dari jalur laki-laki masih kanak-kanak. Saya lantas memilih ’uzlah’ -menyingkir.

Bukan “Bu Wenny”. Karena hal itu sudah berlangsung tiga tahun. Ketika Pak Eric Samola. Agar saya bisa meyakinkan bank bahwa meski saya hanya direktur. doktor lulusan Chicago. Sebagian lagi karena saya berdosa kepada leluhur. Gosip bahwa “saya segera meninggal dengan wajah hitam” juga beredar di kalangan pesantren saya sendiri. bank percaya. pikir saya. Sebutan CEO telanjur melekat. Tentu ada juga yang menyamakannya dengan Cak Nur. Maklum namanya Ratna Dewi. Apalagi Ratna Dewi juga amat mampu. Dia SMA di kota Surabaya (Petra). ahli agama. Si tamu ternyata berharap akan ketemu seorang direktur keuangan keturunan India. “Apakah bisa bertemu ibu Ratna Dewi”. Setidaknya samasama hanya tamatan SMA. Magetan (aliyah). Tapi. Tapi. Bahwa ada kesulitan di bank. Saya ciptakan sendiri jabatan baru. lari dari tanggung jawab menjadi kiai. direktur utama Jawa Pos saat itu. Apalagi mereka juga tahu sayalah yang selama ini yang selalu mengambil keputusan. Bisa saja Dirut sebagai CEO. Banyak hal sudah harus dialihkan menjadi tanggung jawab Dirut. jatuh sakit. Saya memilih mengerjakan saja semua pekerjaan direktur utama. He he…” kata saya dalam hati. setelah beliau sendiri yang minta. tiba-tiba saya punya ide baru yang barangkali tidak lazim. “CEO yang tidak ada SK dan legal formalnya. lantas muncul kesulitan teknis. Tidak bisa hanya direktur seperti saya waktu itu. Dia kami kenal sebagai Wenny saja. meski hanya untuk sebutan: CEO (chief executive officer). Tentu tidak lagi seperti ketika Dirut merangkap CEO. Bahkan. saya tidak mau menggantikannya sebagai Dirut. sampai harus dengan cara sikut sana-sini. staf-staf kami sering bengong. Sama dengan saya. Sebagian mengira saya dimurka Tuhan karena kurang taat beragama. Baru setelah lima tahun lebih. Terutama karena saya ’uzlah’. Inilah gunanya ilmu mantiq (logika). tapi “Cik Wenny”. direktur sebagai CEO (Dirutnya bukan CEO). Hanya namanya yang sering bikin salah paham orang asing. Saya tetap direktur saja. Saya hanya seperti itu tadi. sakitnya beliau amat berat sehingga tidak punya kemampuan menandatangani dokumen perusahaan. Meski saya bukan direktur utama lagi (karena jabatan itu sekarang dipegang Ratna Dewi Wonoatmodjo). termasuk Prancis dan Parsi. Pernah ada tamu dari India yang ingin bertemu dengannya. Maka lahirlah “jabatan CEO”. saya mau jadi Dirut. Beliau terkena stroke yang sampai mengakibatkan tidak bisa bicara dan harus diopname bertahun-tahun. dan Arab. saya dan Cak Nur jauh sekali derajatnya. tapi saya ini CEO. 70 by Moezhanks . saya SMA di Desa Takeran. Banyak dokumen bank yang harus direktur utama yang boleh tanda tangan. Inggris.” kata tamu itu sambil tertawa ngakak. Lebh dari itu sekarang ini berkembang seperti di AS. saya tetap tidak mau jadi Dirut. tanpa menyandang jabatannya. Jangan sampai saya minta jadi Dirut. Padahal. saya yang tetap jadi CEO. Apalagi. ’Chairman yang CEO’. Kami sendiri tidak terlalu mengenal nama Ratna Dewi. Saya dan Cak Nur seperti langit dan sumur -untuk menunjukkan jarak langit-bumi kurang jauh. sehingga kalau ada tamu yang menanyakan.Sikap tawaduk yang sama saya lakukan juga di Jawa Pos pada 1980-an. Padahal. bisa banyak bahasa. Cak Nur seorang intelektual. “Kami tidak menyangka kalau dia seorang Tionghoa. Mereka tidak tahu kalau ’uzlah’ itu saya lakukan sebagai wujud sikap tawaduk saya. bahkan general manager sebagai CEO (semua direktur bukan CEO). saya membuat sebutan (untuk membedakan dengan ’jabatan’) CEO lebih fleksibel lagi di grup yang saya pimpin. Waktu itu Ratna Dewi masih menjabat direktur keuangan. Lalu keterusan sampai sekarang.

Satu-satunya yang menyamakan saya dan Nur adalah sakitnya. Sama-sama sakit liver, sama-sama sirosis. Karena itu, juga sama-sama menghitam di wajah. (Bersambung)

Ganti Hati 25 – Prihatin atas Keprihatinan terhadap Wajah Hitam Saya
19 September 2007 “SAYA nanti juga akan meninggal dengan wajah hitam,” kata saya kepada istri saya. Saya ingin menyiapkan mental istri saya bagaimana harus menahan rasa malu. Terutama di mata keluarga dan teman-teman pengajiannya. Istri saya memang aktif di perkumpulan Pengajian Wanita Surabaya (Pengawas), satu perkumpulan yang amat besar dan aktif. “Saya nanti akan seperti Cak Nur,” tambah saya. Itu saya lakukan karena istri saya juga mendengar omongan orang tentang Cak Nur. Dia juga mendengar ada khatib di sembahyang Jumat yang mengatakan Tuhan murka pada Cak Nur (Nurcholish Madjid, tokoh pembaruan pemikiran Islam). Buktinya, ketika meninggal, wajahnya menghitam. Istri saya memang sudah beberapa lama kelihatan prihatin melihat perubahan di wajah saya. Saya prihatin atas keprihatinannya itu. Maka, saya perlukan bicara soal mengapa wajah saya menghitam dan mengapa ada orang menilai Cak Nur seperti itu. Saya jelaskan sebisa-bisa saya bahwa “wajah hitam” Cak Nur sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kemurkaan Tuhan. Tuhan itu tidak punya hobi murka seperti khatib yang mengecam Cak Nur itu. Tuhan itu Maha Pengasih dan Penyayang. Sampai di sini saya sadar bahwa istri saya sudah sangat sering mendengar khotbah sehingga saya tidak perlu menambahinya. Apalagi khotbah saya kurang meyakinkan. Saya memilih menjelaskannya secara ilmiah saja. Mengapa wajah Cak Nur, juga wajah saya, menghitam? Ya, begitulah memang salah satu perubahan fisik yang dihasilkan oleh liver yang terkena sirosis. Ini berlaku pada siapa saja. Yang Islam, yang Kristen, yang Buddha, yang Hindu, yang Kejawen, yang komunis, dan yang tidak punya aliran apa pun -free thinker. Wajah hitam adalah tanda-tanda perubahan fisik dari sirosis yang parah. Karena itu, kalau Anda sakit liver, minta saja meninggal sebelum sirosis parah. Terutama kalau Anda ingin meninggal dengan wajah yang tidak hitam. Terjadinya wajah hitam itu sama dengan akibat sirosis yang lain: Kaki yang bengkak, payudara yang membesar, dan kemudian muntah darah. Untung, tidak ada penilaian bahwa siapa yang meninggal dengan payudara besar berarti dimurkai Tuhan. Sebenarnya, masih banyak lagi tanda fisik lain. Yakni kulit menguning, mata juga menjadi kekuningkuningan, bibir pucat, dan telapak tangan seperti tidak berdarah. Terutama kalau telapak tangan baru saja digenggamkan. Begitu genggaman dibuka, darah seperti tidak segera kembali memerahkan telapak tangan. Bahwa ada khatib yang menilai wajah Cak Nur yang menghitam sebagai tanda bahwa Tuhan tidak mau menerima rohnya, sebabnya mungkin si pengkhotbah tidak sempat belajar ilmu yang lain misalnya, karena terlalu larisnya. Bahkan, sang khatib begitu sibuk berkhotbah, kadang isi

71

by Moezhanks

khotbahnya ya hanya yang diketahuinya itu saja. Diulang-ulang. Seperti kaset lama yang diputar terus-menerus. Pasti si pengkhotbah juga tidak pernah melihat wajah mayat Mao Zedong. Setidaknya tidak pernah membaca tentang itu. Setidaknya lagi, kalau toh pernah membaca, tidak sampai menjadikannya pertimbangan. Mao adalah pendiri partai komunis Tiongkok yang tentu saja tidak mengakui adanya Tuhan. Namun, bagaimana wujud wajah mayatnya? Saya pernah melihatnya dua kali. Wajahnya putih, bersih, dan amat cerah. Bibirnya menunjukkan senyum kecil seperti amat bahagia di akhir hayatnya. Mayat itu sampai sekarang masih bisa dilihat di Beijing. Orang antre untuk menyaksikannya. Demikian juga di Kremlin, Moskow. Mayat Lenin, salah satu pendiri komunisme sedunia, terlihat putih, bersih, dan manis sekali. Saya juga pernah mengunjunginya. Apakah itu pertanda roh Lenin diterima dengan senang oleh Tuhan? Lebih diterima daripada Nurcholish Madjid? Meski Cak Nur tokoh Islam dan Lenin tidak mau mengakui adanya Tuhan? Bahkan menjadi pelopornya? Wallahu a’lam. Yang jelas, Lenin, dan juga Mao, tidak meninggal karena sirosis. Saya sangat prihatin atas keprihatinan istri saya. Tapi, saya juga prihatin memikirkan bagaimana umat di masa depan. Dengan pola berpikir seperti itu, apakah umat akan bisa maju? Apakah tidak semakin ketinggalan dan kemudian terpojok? Lalu, introvert dan mencari kompensasi dalam bentuk ekstremitas? Saya prihatin karena dengan pola pikir yang seperti itu, keseimbangan antara dunia dan akhirat tidak memadai. Banyak memang orang yang terlalu berat ke duniawi, tapi juga bukan berarti harus dibalas dengan bersikap lebih berat ke ukhrowi. Semua harus seimbang: beribadah sungguh-sungguh seperti besok akan mati saja, bekerja sungguh-sungguh seperti akan hidup seribu tahun. Kalau ukuran diterima Tuhan atau tidaknya seseorang dilihat dari wajah mayatnya, betapa suramnya kemajuan ilmu pengetahuan di masa depan. Bagaimana kita bisa mengharapkan kemajuan dan kemodernan sebuah negeri kalau penduduknya -terutama para pemimpin penduduk itu- berpikiran demikian. Dan lagi, ada satu kenyataan yang lebih pahit. Bukankah kini sudah ditemukan cara membuat wajah orang yang meninggal kelihatan tersenyum? Cerah dan bahagia? Lantas, apakah itu berarti ukuran diterima atau tidaknya sebuah roh oleh Tuhan ditentukan oleh para ahli perias mayat? Saya punya teman yang bisnisnya event organizer (EO). Tapi, EO khusus untuk orang meninggal. Mulai penyediaan pakaiannya, membentuk tubuh dan wajahnya, menyediakan peti matinya, angkutan ke kuburannya, sampai mencarikan siapa yang akan jadi pengkhotbahnya. Dia begitu menghayati bisnisnya itu sehingga akan terus mendalami ilmu di bidang itu. Satu-satunya anaknya (perempuan) dia sekolahkan khusus bagaimana memelihara mayat. Bagaimana membuat wajah orang meninggal menjadi lebih ganteng dan cantik daripada ketika masih dalam hidupnya. Bahkan, ilmu itu juga berkembang ke arah sebelum kliennya meninggal. Yakni bagaimana menyiapkan agar bisa meninggal dengan wajah tersenyum. Tapi, saya juga sadar bahwa istri saya mungkin tidak gampang menerima penjelasan saya itu. Sebab, penjelasan seperti itu amat jarang dilakukan orang. Tapi, setidaknya, dia bisa menutup sedikit rasa malu karena suaminya meninggal dengan wajah menghitam. Bisa punya alasan -yang meskipun mungkin juga dia ragukan kebenarannya. Ragu karena bukan penjelasan seperti yang saya ucapkan
72
by Moezhanks

tersebut tidak pernah didengarnya. Yang sering diperdengarkan kepadanya adalah kaset lama yang diputar tidak henti-hentinya itu. Dalam teori komunikasi, kebohongan pun kalau terus-menerus dijejalkan akan jadi seperti kebenaran. Padahal, kaset lama itu bukan juga kebohongan. Tapi, penafsiran. Sebuah penafsiran yang sangat bisa memuaskan orang dari sisi emosinya. Kebohongan saja bisa menang, apalagi bukan kebohongan. Berdasar teori itu, satu penjelasan yang benar tidak akan bisa menang atas kebohongan yang terusmenerus dikampanyekan. Agama memang akan menghadapi tantangan yang hebat. Kini bukan hanya Islam, tapi juga Kristen. Setelah abad informasi sekarang ini, akan ada abad baru lagi. Dulu kita masih meraba-raba “abad apa gerangan yang akan menggantikan abad informasi?”. Kita pernah mengalami berturut-turut, “zaman batu”, “zaman besi”, “zaman cocok tanam”, “zaman industri”, “zaman teknologi”, dan “zaman informasi”. Kini semakin jelas dunia akan mengalir ke zaman apa. Saya kira, zaman baru yang akan kita masuki adalah “zaman biologi”. Di zaman itu kehidupan akan bisa direkayasa, diperbaiki, bahkan diciptakan. Kehidupan tanaman, binatang, dan juga manusia. Tidak perlu lagi transplantasi seperti saya, tapi liver (dan organ apa pun) bisa direparasi dengan penemuan lebih lanjut dari pendalaman terhadap DNA manusia. Dan, itu bukan lagi akan ditemukan, tapi sudah ditemukan. Penemunya kini lagi merahasiakannya sampai pada akhirnya dia akan bisa memproduksi sesuatu yang bisa dijual secara masal dan terjangkau. Agar bisnis di bidang ini menjadi amat besar. Operasi tidak perlu lagi. Transplantasi tidak dibutuhkan. Bahkan, orang tidak perlu sakit. Sehat terusmenerus. Cukup membeli produk baru itu nanti. Kini pun barang itu sudah bisa diproduksi sebenarnya. Tapi, karena belum ditemukan kombinasi-kombinasinya, harganya bisa jadi masih Rp 10 miliaran. Dengan harga setinggi itu, meski saya pun akan membelinya, tapi hanya berapa juta yang mampu beli? Bandingkan, kalau kelak, harganya tinggal Rp 1 jutaan. Betapa besar bisnis itu. Ia akan mengalahkan bisnis obat yang sudah amat raksasa itu. Bahkan akan mengalahkan bisnis minyak dan gas. Mengapa? Penemuan lebih lanjut dari itu adalah lahirnya sumber energi baru yang sama sekali tidak kita bayangkan. Kalau kehidupan sudah bisa dibikin, bagaimana kita akan menafsirkan ajaran agama? Orang boleh tidak percaya seperti juga zaman dulu tidak percaya akan bentuk dunia yang bulat. Tapi, ini akan menjadi kenyataan. “Akan” di situ tidak lama lagi. Kata “akan” mungkin kurang tepat. Yang tepat “segera”. Maka, apa yang ditulis Agus Mustofa di buku-bukunya, terutama mengenai Kitab Kejadian, sungguh menarik dan akan cocok dengan zaman baru itu nanti. Yakni jangan lagi kita membayangkan bahwa manusia pertama dulu dibuat dari lempung, lalu lempung itu di-emek-emek, dibentuk seperti boneka, kemudian Tuhan meniupkan roh ke ubun-ubunnya. Penggambaran seperti itu, meski ternyata memang tidak ada di kitab suci, amat melekat di setiap manusia. Juga melekat di pikiran saya. Saya tidak pernah mempersoalkannya secara kritis. Bahkan tidak pernah mengecek ulang apa bunyi ayat yang sebenarnya dari penggambaran seperti itu. Cerita itu sama melekatnya dengan istilah “memanjatkan doa” yang sering kita lakukan sampai sekarang. Kita, terutama saya, tidak pernah mempersoalkan apakah teknik menyampaikan doa seperti itu masih cocok dengan abad informasi seperti sekarang. Mengapa di zaman komputer, e73
by Moezhanks

Ini memang agak kacau. Alangkah lambatnya doa itu akan sampai. Ini karena saya juga ragu akan ingatan bahasa Arab saya. Atau ’patah jantung’ (broken heart). Sudah telanjur begitu mendarah-mendaging. akan langsung mengambil kesimpulan: Tuhan telah murka padanya. Kalangan ini. Istri Gembira karena Wajah Berubah 20 September 2007 KALAU saja foto liver lama saya dimuat di koran tanpa penjelasan (foto-foto itu akan dimuat di edisi buku).mail. Bahkan. “Saya tadi salah. Tentu kata “memanjat” hanya simboliasi atau penyastraan. Sedang liver adalah……” kata Udi yang juga sastrawan itu. Asapnya lantas di-email-kan ke dalam tubuh saya. Misalnya kata ’patah hati’ harus diubah menjadi ’patah liver’. bisa-bisa mengerasnya liver saya diterjemahkan ke dalam bahasa Arab ’sadat qulbuha’ (sudah keras hatinya). nanti bisa banyak sekali konsekuensinya. si penyantet membeli hati sapi dulu. (Bersambung) Ganti Hati 26 – Transplantasi Berhasil. dan SMS ini kita masih mengirim doa dengan menggunakan teknik “memanjat”. dalam bahasa Mandarin disebut xin? Rupanya dia baru berpikir ulang. Lalu bergegas meralat jawaban pertamanya. Direktur Radar Banyuwangi. lupa bahwa kata dalam bahasa Arab ’qalb’ (kalbu) artinya bukan hati -dalam pengertian liver. karena emosi lebih besar daripada rasio. bisa malu. “… fasadat qulubuhum”. Lupa bahwa ’qalb’ itu artinya jantung. 74 by Moezhanks . mantan rektor ITS yang kini menteri informasi. Udi yang demikian mahir bahasa Arab terbius oleh sesuatu yang salah. kalau melihat hati seperti itu. Pandangan kedua akan datang dari kalangan agama yang berpandangan sempit. maka yang maju lantas dunia mistik dan bukan rasionalitasnya. Tuhan toh tidak akan membedakan doa yang dikirim dengan cara dipanjatkan. Begitu saya tanya. agar mirip dengan ayat Quran yang sangat terkenal. orang yang paling jago bahasa Arabnya di lingkungan Group Jawa Pos. Begitu jugalah dulu penilaian terhadap ibu saya. Memang. Lalu memanggangnya. Udi spontan menjawab: qalb artinya hati! Lantas saya tanya lagi. pernah saya Tanya arti ’qalb’. kita lupa mempersoalkan mengapa para ahli bahasa dulu menerjemahkan kata ’liver’ (bahasa Inggris) menjadi ’hati’ dalam bahasa Indonesia? Kini sudah sulit mengubah agar liver jangan lagi diterjemahkan menjadi ’hati’. Liver saya memang seperti daging yang dibakar setengah matang! Pasti ketika menyantet saya. Samsudin Adlawi (Udi). Karena maraknya pandangan santet di masyarakat kita. Juga terhadap kakak saya. Liver bahasa Arabnya ’kabid’. penggunaan term “panjat” juga mencerminkan ketertinggalan kita dalam menggunakan teknologi yang tersedia. atau yang di-compresskan seperti yang dilakukan golongan tasawuf Shatariyah. Memang qalb itu artinya jantung. Yang suka marahmarah. Tapi. Bahkan. Mengapa kok lambang cinta itu gambar jantung? Mengapa dalam bahasa Inggris disebut heart? Dan. Orang di desa saya akan langsung mengatakan. termasuk di mimbar Jumat. “Pasti ini karena disantet”. Kalau diubah. setidaknya akan muncul tiga versi tanggapan. Kalangan ini sudah kritis lagi. yang di-e-mail-kan. Bayangkan. Dan lagi. Pak Nuh. tapi sudah memasyarakat.

Sumsel. orang yang paling pinter pun baru menggunakan sebagian saja otaknya. bahwa Tuhan telah memberikan manusia otak yang luar biasa cerdasnya. justru saya tidak terlalu memerlukannya.” tambahnya. dulu tidak jadi minta dikembalikan. pada keadaan ’tidak membenci kaus kaki’ itu. Kalau toh dikaitkan. Kalau sedikit-sedikit sudah harus lari ke doktrin.5 bulan transplantasi.Jadi. “Untung. bahkan tidak bisa dekok sama sekali. Bukan hitam karena sirosis. Demikian juga saluran pencernakan yang telanjur ’dilaminating’. saya masih sering memijit-mijitnya. kini kembali … hitam. tapi sudah mulai mengencang. apalagi ketakhayulan. yang meski sudah dipotong sepertiga. Meski begitu. Memang setelah 1. Tapi. Kita tidak boleh memubazirkan rezeki dari-Nya itu. Anak kalimat itu adalah keputusan yang diambil dalam kongres para pemilik kulit keruh. kita akan semakin terbiasa tidak menggunakan ciptaan-Nya itu. Tanpa kaus kaki pun kini perut tidak merasa kembung. Atau justru sudah terbiasa nyaman dengan payudara seperti gadis yang menginjak remaja. Padahal. Ternyata biarpun saya pijit kuat-kuat. antara lain karena wajah saya kini sudah sedikit berubah. Para hafidz (penghafal) Alquran di Surabaya memang aktif berkumpul sebulan sekali di tempat berpindahpindah. kalau istri saya merasa sangat gembira akan keberhasilan transplantasi liver ini. Saya makin sembuh. Masih tetap besar. Minggu lalu diadakan acara pengajian dan hafalan Alquran sehari penuh hingga tarawih. setiap kali saya memijit kaki. Tiap tiga bulan sekali di rumah saya 75 by Moezhanks . lama-lama juga akan kembali normal. Dulu. seorang teman masih sempat menggoda saya dari Musi Banyuasin. Saya juga tidak lagi membenci kaus kaki. Saat itu suasananya murung. Kini saya kembali sering memijit kaki saya dengan sangkaan sebaliknya: jangan-jangan bengkak lagi. Tidak perlu lagi dilaminating kedua atau ketiga. wajah saya yang sudah dua tahun menghitam. untuk sedikit mengangkat derajat mereka. sana: “Apakah bulunya yang dicukur juga sudah kembali normal?” tulisnya di SMS. setiap itu pula saya disadarkan bahwa keajaiban tidak berlaku di bidang yang amat scientific ini. Berbeda dengan saat para karyawan berkumpul untuk berdoa di rumah menjelang saya operasi. Kini kaki saya juga tidak bengkak lagi. Tapi. Kini wajah saya sudah boleh dibilang kembali seperti hitamnya kereta api (duile!). Bagaimana dengan payudara saya? Tiap hari saya masih meraba-rabanya. setengahnya lagi untuk mengetes apakah dekok akibat pijatan itu bisa cepat kembali. Bisa-bisa susternya marah dan mengembalikannya ke dekat payudara. Setengahnya karena sudah menjadi kebiasaan selama dua tahun terakhir. tapi masih dua kali lipat lebih besar dari limpa asli. Dia tidak perlu lagi menghadapi rasa malu karena suaminya meninggal dalam keadaan wajah menghitam. Kita-kita barangkali baru menggunakan lima persennya. harus dalam rangka dzikir. Limpa saya. setiap memijat kaki. Saya belum bisa memperkirakan apakah saya akan lebih senang dengan payudara saya yang asli. selalu berharap ada mukjizat atau keajaiban. Maka. sebaiknya. urusan ilmiah memang jangan terlalu dikait-kaitkan dengan keyakinan keagamaan. Begitu hebat pemberian itu sehingga harus digunakan sebanyak-banyaknya. Imbuhan kata terakhir itu bukan asli ciptaan saya. lama-lama juga akan kembali normal. Maksud saya kembali ke hitam yang aslinya. meski hitam banyak yang antre. Membaca SMS mengenai mulai pulihnya organ-orang di tubuh saya. suasana pengajian di rumah juga lebih ceria. Dokter bilang. bukan lagi dekoknya cepat kembali.

Saat menangis itulah.” kata Cak Nur. Sejak sebelum dilakukan transplan sampai sesudahnya. Suatu saat. seperti dikatakan Cak Nur. bekerja adalah tingkatan syukur yang tertinggi setelah mengucapkan alhamdulillah dan istighfar (minta ampun). Bahkan. Akhirnya. Karena masih keturunan Arab. Dulu. apakah perasaan saya tidak berubah? Pertanyaan itu bahkan datang dari diri saya sendiri. urusan selesai. ketika pemikir itu ditanya mengenai apa bagaimana berislam yang baik dan enak. sebagai tanda syukur kepada-Ku”. Anaknya tumbuh dewasa. Kali ini menyangkut wanita Shanghai yang baru transplantasi jantung 76 by Moezhanks . membawa koran lokal yang juga memberitakan kejadian serupa. Juga sudah sering mengucapkan istighfar. Ada yang menerima informasi bahwa kenalannya langsung berubah menjadi amat jeleknya. Kulitnya putih bersih. “Bekerjalah yang sungguh-sungguh. si bapak kembali ke Guangzhou bersama anaknya yang masih kecil yang seperti anak Tionghoa itu. setelah istrinya melahirkan. begitu sembuh. Ini karena donornya dari India. si paman mengajak si kecil kembali ke hotel. badannya menjadi berbulu. Waktu senja sudah tiba. Saya akan mensyukuri keberhasilan transplantasi liver saya dengan meneruskan kerja keras. si kecil pergi ke taman bermain dengan pamannya yang juga membawa ciri fisik keturunan Arab. Apalagi. Bersyukur dengan cara bekerja keras. si paman memaksa menggendongnya pergi. Anehnya. tidak berani bikin janji kapan menerima tamu dan kapan harus rapat. tertulis “Bekerjalah. Bahkan sampai menangis. polisi turun tangan. Liong Pangkiey. Di akhir ayat yang mengisahkan soal ini. Perencanaan pertama yang muncul di pikiran saya adalah apa yang diucapkan Cak Nur. Itulah juga yang akan saya tiru. Gara-garanya. Si kecil kian berontak dan berteriak-teriak. Tinggal. Maksudnya akan memeriksakan ginjalnya setelah lebih dari 10 tahun transplantasi. Si paman diamankan dengan sangkaan melarikan anak penduduk setempat.Kini saya sudah bisa membuat perencanaan. Kecuali yang amat penting. kemudian berumah tangga. Melihat orang Arab membawa pergi anak Tionghoa sampai menjerit-jerit itu. Anaknya harus transplantasi ginjal di Guangzhou. saya tidak berani bikin perencanaan yang agak panjang. wahai keluarga Daud. Setahun kemudian. pemilik pabrik sepatu di Surabaya yang asli Gorontalo itu. Khawatir Berubah Tak Bisa Menulis Baik 21 September 2007 KARENA yang diganti ini adalah hati. ketika baru sebulan antre untuk mendapatkan donor. Saya sudah beberapa kali mengucapkan alhamdulillah. Tapi. kerja keras lagi. literatur yang mengatakan bahwa banyak kasus si penerima organ akan mengalami perubahan. Terpaksa si paman menelepon bapak si kecil. tentu anaknya juga masih membawa ciri-ciri fisik bapaknya. begitu tidak pastinya penyembuhan sakit saya. Operasi itu sukses sekali. Yakni. (Bersambung) Ganti Hati 27 – Liver Ganti. Lalu mengisahkan keberhasilan Daud mengalahkan Jalut (Goliat). kirim SMS bahwa temannya ganti ginjal. si kecil tidak mau. Bahkan. keluarga salah satu direksi Grup Jawa Pos sendiri mengalaminya. Ketika di rumah sakit. Tim saya juga mengatakan begitu. Saya sendiri. anaknya seperti Tionghoa.

Kalau itu sampai terjadi. saya harus fair. Kepadanya saya jelaskan bahwa saya dulu. Semakin pendek sebuah kalimat. Saya juga sering membayangkan jangan-jangan mengalami hal yang sama. beberapa bulan setelah operasi. Tidak semua orang bisa menulis baik. Turun pesawat. Kalimat-kalimat yang panjang membuat dada pembaca sesak. Secara terbuka. Sebuah tulisan yang deskripsinya kuat. 77 by Moezhanks . Karena itu. Tapi. Mengapa? Ada dua tujuan. mengendarai mobil. dia mulai menyenangi internet. mantan redaktur Jawa Pos yang kini menjadi redaktur majalah Swa. Imajinasi pembaca kadang lebih hidup daripada sebuah foto. Saya juga selalu mengajarkan agar dalam menulis kalimat-kalimatnya harus pendek. Inilah salah satu kunci kalau jurnalistik tulis masih diharapkan bisa bertahan di tengah arus jurnalistik audio visual. penakut. semakin membuat tulisan itu seperti kucing yang banal. Saya jawab: Kali ini saya memang minta jangan ada satu foto pun yang disertakan dalam tulisan ini. dan banyak omong. tapi sebenarnya penting. mengapa tidak disertai foto-foto? “Bukankah Anda dulu mengajarkan setiap features harus disertai foto? Kalau perlu pinjam ke sumber berita?” tanya Edy Aruman. Tapi. Karena itu. Deskripsi yang kuat bisa membuat pembaca seolah-olah merasakan sendiri kejadian itu. Yang lebih mengherankan lagi. tidak mau keluar rumah. “Saya menjadi agak khawatir pada istri saya. Saya memaksakan diri untuk memulai menuliskan pengalaman saya ini. ada seorang teman yang setengah bertanya dan setengah menyesalkan: Penyakit kok diberitahukan ke orang-orang. Kini giliran saya bertanya kepada pembaca: Apakah ada perubahan dalam gaya penulisan saya? Memang.di Kota Shenyang. di koran lagi. harus wartawan yang menuliskan ceritanya. Apalagi kalau di sana-sini diselipkan kutipan omongan orang. Ketika saya sendiri mengalami itu. Deskripsi yang kuat bahkan bisa menghidupkan imajinasi pembaca. bisa membawa pembaca seolah-olah menyaksikan sendiri suatu kejadian. tulisan itu bisa membuat pembaca seolah-olah bercakap-cakap sendiri dengan sumber berita. Pertama. Kalimat pendek. saya harus mau menuliskannya. langsung dilarikan ke RS dan harus menjalani transplantasi. Koran tersebut juga menampilkan foto keluarga itu yang lagi bergurau di rumahnya. begitu saya mengajar. akan membuat tulisan menjadi lincah.” ujar suaminya seperti diberitakan China Daily. Sebagian agar tidak ada catatan di otak saya yang hilang. Wanita itu biasanya pemurung. sering menugasi wartawan agar mewawancarai tokoh-tokoh yang berhasil mengatasi penyakitnya. Yakni menceritakan hal-hal detil yang dianggap sepele. apakah yang paling saya takutkan? Kekhawatiran utama saya ternyata ini: tidak bisa lagi menulis baik. Kutipan itu -direct quotation-juga harus pendek-pendek. begitu saya mengajarkan. seminggu setelah operasi. Mengutip kata seorang sumber berita dalam sebuah kalimat panjang sama saja dengan mengajak pembaca mendengarkan khotbah. sebagian lagi untuk mengetes apakah saya masih bisa menulis dengan baik. dengan selingan kutipan-kutipan pendek. ketika masih jadi pemimpin redaksi Jawa Pos. Karena itu. Saya sering mengajarkan kepada wartawan kami agar jangan mengabaikan diskripsi. saya akan mengetes diri sendiri agar dalam tulisan ini memberikan sebanyak mungkin deskripsi. Waktu itu jantungnya mogok di atas pesawat dalam penerbangan ShanghaiShenyang. dan introvert. wanita itu kemudian suka main saham di pasar modal.” kata suaminya. “Bahkan kalau naik mobil suka ngebut. Tapi. saya sudah minta laptop.

tanggung jawab justru lebih besar. tim saya ternyata juga sering menyinggung kemungkinan perubahan perilaku saya pascatransplantasi. Lalu. Kalau kelak ada reporter yang menipu dengan cara mengisi kolom yang salah. Kalau “belum”.” gurau Melinda. masih ada satu lagi ide saya yang akan saya sumbangkan ke dunia jurnalistik. wedok ora” (tidak laki-laki dan juga tidak perempuan). pertanyaan sudah berimbangkah berita yang Anda tulis? Apakah pihak-pihak yang Anda tulis sudah diwawancara? Dan seterusnya. Maka. Melinda Teja. Setiap pertanyaan disertai kolom isian. Lalu. Setiap kali reporter selesai menulis berita kan harus mengirimkannya ke redaktur untuk diedit. bos Pakuwon Jati itu. Kalau saja seperti itu. “Kalian yang laki-laki harus waspada. “Saya justru khawatir kalau itu liver Laura. saya ingin di setiap komputer yang digunakan reporter dilengkapi software check-list. Setiap membicarakan persiapan transplantasi. Maka. Prinsip-prinsip jurnalistik yang baik harus lebih dipentingkan.” tambahnya. Sebenarnya. saya belum merasakan perubahan apa-apa. Saya sendiri tidak tahu apakah tulisan saya mengenai pengalaman ganti liver ini masih mencerminkan doktrin jurnalistik saya itu. diri sendiri kadang memang tidak bisa merasakan.” ujar yang lain. tentu saya berharap segera diberi tahu. Itu bukan saja menjadi sumbangan saya ke dunia jurnalistik berikutnya. Jawa Pos-lah yang pertama menerapkannya. 78 by Moezhanks . Lalu. Dalam alam demokrasi seperti ini. menyumbangkan software untuk prinsip cover both side yang penting itu. Nah. “Kita harus segera carikan pekerjaan yang cocok. Di tulisan mendatang saya juga akan menceritakan sumbangan “ilmu tauhid” ke dalam bisnis dan manajemen. Misalnya: Apakah Anda sudah membaca ulang tulisan Anda? Di belakangnya dimunculkan kolom isian: sudah dan belum. Orang lainlah yang tahu. termasuk foto-foto liver saya yang lama. dia tidak akan bisa menekan tombol “kirim”.Alasan kedua mengapa foto tidak disertakan di tulisan ini adalah: Semua foto akan dimuat ketika tulisan ini diterbitkan dalam bentuk buku. Foto-foto seputar operasi. berarti juga ada kemunduran dalam kemampuan saya menulis. Saya berharap software yang saya inginkan itu segera dibuat. Kalau tidak mengisinya. apa salahnya dilakukan. namun penerapannya masih memerlukan pembuatan software komputer. ide ini penting justru untuk menyesuaikan praktik jurnalistik di alam kebebasan mutlak seperti sekarang. saat menekan tombol “kirim” itulah. tapi juga sumbangan IT ke dalam jurnalistik. Padahal. saya bisa menyumbangkan ilmu manajemen ke dalam jurnalistik melalui penerapan “rukun iman” Jawa Pos. Sampai hari ini. “Saya sangat khawatir kalau liver yang didonorkan itu punya sifat asli seorang gay. Dan jangan-jangan. Tapi. Tentu dengan nada penuh humor.” tambahnya. Kalau tidak. misalnya. Laura yang dimaksud adalah “lanang ora. Ide ini sudah saya kemukakan lima tahun yang lalu. si reporter tidak bisa menekan tombol “kirim”. Untuk kemajuan. pemberitaan yang berimbang. tanggung jawabnya jelas. Jangan hanya dijadikan bahan gosip semata. Sumbang-menyumbang dari satu disiplin ilmu ke ilmu yang lain. itu karena saya ganti liver. Dalam proses pengiriman berita dari komputer ke komputer itu. reporter harus menekan tombol “kirim”. Misalnya mengenai cover both side. Saya tidak puas dengan lambatnya pelaksanaan ide ini karena saya tidak lagi dalam posisi pemimpin redaksi. saya ingin agar di layar komputer muncul dulu sejumlah pertanyaan yang harus diisi si reporter.

Bahkan. Jadi. saya lagi mengusahakan untuk memperhalusnya. Agar tidak lupa bahasa Jawa tinggi itu. misteri kampung halaman. “Apakah tidak ke gereja?” tanya saya saat dia mengajak rapat soal Aceh di hari Minggu. Makanya. minta saya lebih bersabar.” jawabnya. (Bersambung) Ganti Hati 28 – Tunggu Pulang Diimunisasi Hepatitis B. ketika menjenguk saya. seorang pembaca mengirim SMS ke saya: Tiongkok sudah pula membeli hajar aswad?) 79 by Moezhanks . Sudah pagi hari mencoba malam hari. Ada sederet bekas jahitan yang kasar.Yang jelas sudah berubah adalah perut saya. Saya berpikir salah sekali lagi. Terutama yang biasa digunakan ibu-ibu yang melahirkan secara caesar. saya kira. Dia Tionghoa. biar dua bulan menunggu pun asyik-asyik saja. Sebelum tiba hari pelaksanaan haji. tim saya. saya pasti langsung lupa diri. Dulu Budi itu. Aneh. Saya yang Jawa bicara Mandarin. Begitu seminggu setelah operasi berhasil (umumnya mereka tandai dengan bisa jalan-jalan). filsafat ojo dumeh dan hukum “timba sing kudu nggoleki sumur”. Suasana kebatinan setelah operasi mirip dengan setelah berhaji di Makkah. Semangat menjalani ibadah luar biasa. perancang Gedung Jatim Expo dan Rumah Cepat Tsunami Aceh. Rasanya ingin terus dekat dengan Ka’bah dan mencium berkali-kali hajar aswad. Yakni silicon scar treatment. “Saya bukan Kristen. dokter sudah mengizinkan saya pulang. di rumah saya menggunakan bahasa Banjar.” ujar tim kami. Kromo inggil pas sekali kalau dipakai bicara soal ajaran sangkan paraning dumadi. Ini baru saya ketahui setelah bertahun-tahun kenal. “Rupanya. sebuah batu hitam (blackstone) di pojok Ka’bah. Sejak itu. Tawaf (berjalan memutari Ka’bah) dilakukan berkali-kali -meski “tawaf” di mal dan supermarket juga tidak bosan-bosannya. bicaranya kromo inggil. Nah. Sebab. Tapi. mencoba sore hari. Saling SMS dan email pun pakai kromo inggil hingga suatu saat kebentur kata forward. Itu sebabnya bahasa Inggris membedakan mana kata “rumah” (house) dan mana kata “rumah” (home). Saingi Cucu 22 September 2007 TEPAT sebulan setelah transplantasi. saya tahu dia salah satu tokohnya. terutama Robert Lai. Bahkan. pasien langsung membuat rencana tanggal berapa akan pulang. Tim Surabaya juga demikian. tim dokter tidak membawa ahli obras malam itu. Saya masih memesannya lewat internet karena hanya di AS barang itu dijual. apa kromo inggil untuk forward? Keinginan pasien untuk cepat-cepat pulang memang agak ajaib. kalau pulang. saya selalu kromo inggil kepadanya. Dia tahu. Sudah tawaf siang hari. dia tidak nyambung. (Waktu saya menulis bahwa Tiongkok dengan kekayaan barunya sudah mampu membeli saham perusahaan raksasa Amerika yang bernama Blackstone. mengapa tambah dua bulan lagi tidak kuat?” tambah Ir Budiyanto. Kalau saja usaha itu tidak berhasil. “Saya penganut Sapto Dharmo. kulit perut saya tidak mulus lagi. seorang Kristen. “Kalau selama ini sudah sabar enam bulan. Akibat sayatan pisau bedah yang panjang.” jawabnya. ketika saya ajak omong Mandarin. 6 September yang lalu sebenarnya saya sudah bisa kembali ke Indonesia. Lebih terutama lagi ibu-ibu di Amerika. Karena itu. ada yang minta biar enam bulan baru pulang juga lebih baik. berarti dia Konghucu atau Buddha. Sebuah konotasi yang ternyata salah. Dia Tionghoa dan lulusan Fakultas Teknik Universitas Kristen Petra Surabaya. Oh. Ada cara yang katanya cukup mujarab. kemudian. anggaplah saya baru saja melakukan caesar tiga kali berturut-turut. Fokus pikiran sudah berubah: Pulang! Pulang! Pulang! Ini bagian dari misteri rumah. Pak.

” tulisnya di SMS-nya.” tambahnya. kalau terjadi apa-apa. Kok tumben. sudah terlalu lama menunggu di rumah sakit ini. Tapi. Pasien dari Taiwan umumnya sudah pulang sebulan setelah transplantasi. Syayidina Umar pernah mengatakan. Kecut. meski entah sudah berapa kali saya ke Makkah. Mereka memang tidak perlu khawatir. “Jam lima pagi sudah lima ibu yang mendaftar. Yakni pada hari saya mengungkapkan mengapa saya sampai menderita penyakit seperti itu. Saya tidak tega kalau harus berebut seperti itu caranya. suatu saat saya akan menciumnya. Antiklimaks yang tajam. luar biasa tidak sabarnya. Tidak ada lagi teman-teman lama yang saya kunjungi setiap hari. Di dua negara itu ada rumah sakit yang punya pengalaman merawat pasien pascatransplan. Bagi yang masih lama dapat giliran pulang.Karena itu. Tidak kejangkitan hepatitis atau sel bibit kanker. “Saya kaget. tinggal saya sendiri yang dari Angkatan April 2007. Saya sudah amat senang kalau tulisan saya ini memberikan manfaat. Kemacetan manusia selalu terjadi di sekitar hajar aswad. Saya harus mencari kawan baru. Karena teman-teman se-”angkatan” saya sudah pada pulang. Tuhan kita adalah Tuhan yang cerdas. agak siang sedikit. saya baru tahu sebabnya. Saya akan membiayai kegiatan itu. Saya perlu sejumlah tenaga yang punya antusiasme menangani pekerjaan tersebut. Bersaing dengan Icha. saya belum bisa mencium hajar aswad -secara fisik. Sedang kalau saya pulang. Saya tersenyum mendengar bahwa saya harus menjalani beberapa kali suntikan imunisasi. Begitu bisa jalan. Oh. Toh mencium hajar aswad itu bukan rukun tawaf. tekun. Maka. “Uda.” kata dr Wawan yang dulu pernah jadi anggota yang aktif di Dewan Pembaca Jawa Pos. Mereka berebut menciumnya.” kata Pinto Janir dari Padang kirim SMS ke saya. Bahkan. “Departemen Kesehatan harus membayar Anda. “Kalau bukan karena Rasulullah pernah menciumnya. Mungkin akan ada manajemen yang lebih baik untuk mengatur antrean itu. Saya tidak sampai hati melihat pemandangan itu. Hasil tes terakhir memang menunjukkan bahwa liver baru saya bersih. Sudah antiklimaks. Tentu. rumah sakit mana yang punya pengalaman cukup untuk pasien seperti saya? Walhasil. Saya masih harus menjalani satu proses yang amat lucu: Imunisasi hepatitis B. suasana di sekitar Ka’bah tidak pernah sepi. Begitu juga pasien transplan liver. Saya dapat informasi bahwa dokter-dokter anak di Surabaya juga kebanjiran bayi yang minta diimunisasi hepatitis B. Suster tertawa. saya tidak akan sudi menciumnya”. begitu pulang dari Padang Arafah. apalagi begitu selesai salat Idul Adha. saya memutuskan baru akan kembali ke Surabaya sekitar seminggu setelah Lebaran. Tentu. Kadang dengan cara menyikut dan menyingkirkan orang lain. cucu saya. Bahkan sudah menjadi seperti satu network dengan pusat transplan di Tiongkok ini. saya tidak mengharapkan bayaran itu. Diam-diam. pikirannya sudah langsung fokus ke pulang. Karena itu harus segera dilindungi dari dua makhluk halus (karena hanya bisa dilihat oleh mikroskop) yang pernah mengancam jiwa saya itu. Ternyata benar juga bahwa saya tidak buru-buru pulang. Karena itu. Tuhan pasti tahu isi pedalaman saya. Berarti juga harus mau menjadi narasumber untuk bagi-bagi pengalaman kepada 80 by Moezhanks . “Sudah umur 56 tahun baru imunisasi. Ada terus kegiatan orang di Makkah sebelum hari haji. Maklum. “Hati” dalam pengertian pedalaman saya -bukan hati dalam pengertian liver saya. Pasti pagi-pagi mereka sudah baca Jawa Pos. saya berencana mendirikan lembaga yang tugasnya gerilya ke kawasan-kawasan miskin untuk mencari anak yang belum diimunisasi.” kata saya pada suster yang akan menyuntik. Saya kembali tersenyum. rasanya sudah amat berbeda. Bahkan. dan njlimet. Kampanye yang berhasil. saya selalu berusaha menciumnya dengan hati saya yang dalam. Pasien Jepang bahkan tiga minggu sudah check-out. Kebiasaan saya Lebaran di Makkah tidak bisa saya lakukan lagi tahun ini.

Kian hari kian cepat jalannya. Transplantasinya sukses dan amat sehat. tanpa harus merasakan enaktidaknya. Badannya lebih kurus daripada yang saya lihat sebelum operasi. Agar bisa bicara lebih santai. Agar tidak jadi sumber infeksi. Meski badannya kelihatan lemah. saya hanya sekali mendengar orang meninggal. seminggu sudah bisa jalan. Rasa optimistis kian hari kian besar setelah melihat pasien tadi di hari-hari berikutnya. seminggu setelah operasi juga sudah bisa jalan. Pasien keempat. waktu seharusnya dia kembali ke Tiongkok untuk mengeluarkan benda yang dipasang untuk menyambung livernya dulu. Sebelum operasi. pikir saya. Lebih segar dan merah daripada yang saya lihat sebelum operasi. hanya seminggu! Sudah bisa jalan! Kau nanti juga harus begitu! Kalau perlu lima hari! Dengan melihat contoh nyata itu. Perawatan terhadap slang yang masih ada di pinggangnya pun dilakukan di negerinya. kelima. begitu pertama melihat pasien yang jalan-jalan di koridor rumah sakit dengan kantong plastik berisi cairan merah menggantung di pinggangnya. Suatu saat ada contoh-hidup yang lain. seorang anggota parlemen. tiga orang di antara mereka (antara umur 60 dan 70 tahun) mau saya ajak masuk kamar saya. Mereka ingin datang lagi bersama keluarga dan kerabat. Sebulan setelah transplantasi langsung pulang. meski thimik-thimik.” jawabnya. Di kamar saya semangatnya menjadi-jadi. Juga lebih merah. Jalannya thimik-thimik pelan. Mulutnya. “Oh.” katanya sambil menyingkap bajunya. begini ya orang habis transplantasi. saya memang suka bertanya kepada pasien yang baru saja menjalani operasi. Untuk menunjukkan di sinilah dulu mereka dapat sambungan nyawa. Giliran saya memberikan semangat. Ternyata dengan suka rela mereka menceritakan segala pengalamannya.mereka. Dahlan. Wisatawankah mereka? “Mereka adalah orang-orang yang dua-tiga tahun lalu transplantasi di sini. optimisme saya kian menyala-nyala. Pasien ketiga juga sama. Selama empat bulan menunggu operasi. Oh! Baru seminggu yang lalu! Sudah bisa jalan. Terlihatlah di kulit perutnya bekas sayatan dan jahitan yang panjang. berikut kantong plastik kecil. Begitu jugalah saya nanti. 81 by Moezhanks . Jawaban-jawaban itu tidak terlalu memengaruhi psikologi saya. yang badannya memang sudah kurus dan umurnya sudah 62 tahun. dan seterusnya. saya tertegun. Saya kian rajin senam untuk membuat badan saya lebih segar. Konon. ajaib memang transplantasi ini. Kalau badan saya lebih kuat. Bahkan. Atau ke keluarga mereka. Dia saja. Tiba-tiba saya penasaran. Ada pemandu wisatanya. Mungkin memang politisi yang sibuk. Hati baru. memang masih terus akan di situ selama tiga bulan. tentu lima hari setelah operasi sudah bisa jalan. Di negaranya langsung aktif karena memang terasa sudah amat sehat. Tiap dua minggu harus dibersihkan dan dirawat.” kata seorang perawat. Seminggu sudah bisa jalan! Saya pun akan begitu nanti! Seminggu. ingin bertanya masak kini mereka bisa begitu sehatnya. saya tidak harus membeli semangat. Dilakukan sendiri oleh dokter setempat karena dia juga ahli. Saya pun merasa dapat semangat yang sama dari pasien yang menjalani transplan sebelum saya. Serombongan besar orang Korea memenuhi lantai 11. tiga bulan kemudian. Saya ingin ikut memberikan semangat agar mereka optimistis menghadapi operasi besar. Tapi. Lengannya dipegangi oleh suster. Lalu. Toh. tentunya. wajahnya segar. “Lihat ini. Bahkan. Saya lebih semangat makan. Jadi. Saya melakukannya dengan senang hati. Semua kurang lebih sama. napasnya sudah tersengal-sengal. Yakni yang transplantasi enam bulan sebelumnya. juga mulut susternya. dipasangi masker. Juga kian segar badannya. Slang itu. Pasien kedua yang saya lihat pun begitu. Saya merasa mereka beri semangat. Bahkan. dia tidak ke Tiongkok. Dia seorang wanita 60-an tahun dari Pakistan.” pikir saya. sudah tergeletak tidak bisa berjalan. pasien yang sebelum operasi kelihatan matanya sudah amat keruh. saya tanya kepada susternya: Sudah berapa hari dia operasi? “Tepat seminggu yang lalu.

dan intelektualnya bisa nyambung dengan saya. tentu orang akan mengira dia hamil. “Kalian sudah pulang semua. Bahkan memburuk. Rambutnya disasak tinggi. dan kanker hati. Kalau saja dia masih muda.” tambahnya. Tidak satu pun keluarganya mendampingi. Di Tiongkok dia akan ditransplantasi sekali lagi. guraunya. dia bahkan pergi naik haji. Dia juga tidak bisa berbahasa Mandarin sehingga hanya saya pasien yang bisa dia ajak ngobrol dalam bahasa Inggris. Bajunya bagus-bagus dan mahal-mahal. Bukan saja mengenai umurnya. satunya lagi dari Harbin. saya tidak menceritakan bagian ini padanya. karena saya pernah lama di sana: Belajar bahasa Mandarin dengan cara home stay. Dua-duanya juga amat cantik -terutama kalau penilaian ini saya berikan 35 tahun yang lalu. Keduanya tinggal di lantai yang sama.Beberapa saat setelah itu. saat keduanya masih kira-kira berumur 30 tahun. “Umur saya juga sudah 69 tahun.” kata wanita yang dari Jepang itu suatu saat kepada saya. 82 by Moezhanks . Tapi. Lebih dari itu dia juga mengidap sakit gula. Kian lama kian parah. tapi juga kondisi badannya.” katanya. Sendirian. Terutama kalau istri saya pergi belanja.” katanya. “Umur saya sudah 72 tahun. Yang ditunggu tidak segera tiba. Saya tidak harus buru-buru pulang. Dia sendirian. Dua wanita itu juga amat mengesankan. Satu dari Jepang. antara lain. dia terkena infeksi. “Saya nanti tidak sesukses kamu. Juga sudah tak terhitung lagi berapa kali saya ke Harbin sesudah itu.” tambahnya. Tiongkok. Saya menjawab: Saya juga tidak akan buru-buru pulang. Yang wanita Jepang amat modis. Lalu datang lagi ke Tiongkok untuk menyelamatkannya. Wanita yang dari Harbin lebih mengeluh lagi. sirosis. Saya tahu bahwa sakit gula akan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sukses tidaknya transplantasi. Di lain waktu wanita Harbin tadi curhat yang lain lagi.” katanya. namun menunggu kondisi badannya stabil. Saya memahami keadaannya. Dan akhirnya meninggal. Saya memang tidak menceritakan bahwa gemuk saya waktu itu karena bengkak. Bicaranya. saya kehilangan dua teman wanita yang paling saya akrabi. Saya cepat akrab dengan wanita Harbin ini. Saya sering sekali mengunjungi kamar masing-masing dan ngobrol berlama-lama. (Bersambung) Ganti Hati 29 – Sering Kaget Disapa Wanita Modis dan Ceria dalam Lift 23 September 2007 DI masa menanti waktu pulang ini. “Saya nanti pulangnya mungkin paling belakangan. Dia ngiri melihat badan saya yang sehat dan agak gemuk. Kami biasa saling curhat. Sepatunya seperti Cinderella. Saya harus belajar dari pengalaman itu. Entah proses pengambilan benda asing itu yang salah atau karena kegiatannya yang berlebihan. Saya ceritakan kenyataan bahwa ada pasien lain yang juga punya sakit gula toh berhasil dengan baik juga. saya akan masih di sini. “Perut saya sudah berisi air. Apalagi mereka senasib: juga hepatitis. Saya juga berjanji kepadanya untuk terus memberinya semangat.

Sewaktu bertugas mengepel kamar saya.Benar saja. Benar. begitu pulang. Dan ini menjadi salah satu sumber kemajuan Tiongkok. ketika sudah kaya (duille!) tidak sewenang-wenang. akan bisa jadi model perjuangan itu. Rumah pun masih menyewa di satu gang sempit di belakang pasar Kertajaya. Saya sendiri akhirnya mendapat gelar ’yuan lao’ di rumah sakit ini. Saya dan Zainal. ketika kerja tidak ogah-ogahan. Juga sukses. Meski memang lebih lambat mulai bisa turun dari tempat tidur. Pesuruh dan tukang pel lantai pun idem ditto. dan dokter di rumah sakit ini. Begitu selesai bertugas. Saya ingat. Ini agar kuman yang terbawa perawat saat berangkat kerja tidak terbawa ke pasien. saya belum punya sepeda. Yang kamar 83 by Moezhanks .” katanya dengan meraba-raba perutnya. Bank Dunia menyebutkan social-capital ini menjadi faktor penting kemajuan Tiongkok di samping modal finansial. Bagaimana ketika miskin dulu tidak jatuh sampai menjual harga diri dan jabatan. Muncullah istilah dari Zainal yang akan selalu saya ingat dan yang akan kami perjuangkan sebagai inti dimulainya pembangunan harga diri ini. sudah hilang. Mengapa orang di Tiongkok yang juga banyak sekali yang lebih miskin dari orang miskin Indonesia. Ini yang disebut social-capital -modal sosial. cara membawa tasnya. apalagi sepeda motor. si Cinderella sangat berhasil operasinya. satu moto: “Kaya Bermanfaat. para perawat itu ganti pakaian seperti model. sama sekali tidak menyangka kalau dia tadi yang pakai baju perawat dengan topi putih. sungguh membelalakkan mata. Tapi. Menjalani perawatan di sana. Tidak buru-buru pulang. Setiap masuk kerja mereka mandi dulu dan baru ganti baju perawat. Dia sering menyapa. meski waktu itu sudah menyandang gelar wartawan majalah TEMPO yang begitu ternama. Sepatunya sepatu kungfu yang murahan. juga kalau bertemu orang seperti tidak punya rasa rendah diri. Juga benar bahwa seminggu setelah operasi dia sudah menentukan tanggal pulang. Bukan saja jarang lihat pengemis. Yang seperti itu tidak hanya perawat. musim panas) dan rambutnya dimain-mainkan seperti artis Korea. Mereka sama sekali tidak punya rasa rendah diri meski pekerjaannya tukang pel lantai. pakaiannya baju-kerja penyapu lantai. tapi saya seperti tidak kenal lagi siapa dia. Saya ingat direktur saya Zainal Muttaqien. meski berangkat kerja dengan amat modis. Mereka juga hafal pada saya. celananya hot pants (maklum. Perawat di sini memang disediakan kamar mandi dan ganti baju. Demikian juga ketika pulang kerja. harga dirinya lebih baik. Kami sering diskusi soal kemiskinan di Indonesia dan Tiongkok. saya lihat perutnya “sudah hilang”. Karena ’yuan lao’. Sebaliknya. dan banyak lagi yang lain. Yang wanita Harbin juga sudah menjalani transplantasi. meski kalau tertawa lantas kian terlihat umurnya yang sebenarnya. Penghuni lama. Eh. Tentu kami tetap menampakkan kegembiraan kami bahwa dia begitu sukses dengan transplantasinya. pegawai. “Siapa ya wanita cantik ini. Dan. Terutama pada jam-jam pulang atau berangkat kerja. Bajunya. Pasien yang kerasan di rumah sakit.” sering saya bertanya dalam hati. “Dokter saya di Jepang yang minta saya segera pulang. Surabaya. Yakni. saya sangat hafal pada perawat.” katanya seperti minta pengertian. Rumah separo tembok separo kayu. “Perut saya yang mulai buncit dulu itu. Miskin Bermartabat”. tatanan rambutnya. baru sadar bahwa mereka adalah perawat atau pesuruh yang tadi melayani saya. saya masih sering kecele kalau suatu saat disapa wanita yang sangat modis dan ceria di dalam lift atau di lobi. Juga sudah bisa tertawa. bicaranya sudah keras dan tegas. Rupanya mereka biasa ganti-ganti baju. Bajunya you can see. Meski begitu hafal. Pasti semakin modis dia nanti.

Tapi. Sedangkan kita. sering terbelit filsafat ’unggah-ungguh’. Meski Tandes-Kertajaya begitu jauhnya. Tapi. Lalu muncul ide gila yang tidak masuk akal. saya hanya punya uang Rp 75 di saku. Dan harga diri pegawai yang di situ sama tingginya. kok ingat dia lagi sih?). Tentu tidak harus sampai pada hot pants. dan biaya ke salon. Saya khawatir dengan istri saya. Saya tahu isinya pasti uang. Hampir dua jam. Miskin Bermartabat” akan membuat bangsa ini tidak gampang jatuh ke derajat bangsa-pengemis. Untuk membuat kota-kota di Indonesia cantik. Yang juga mudah dibayar untuk. Bisabisa dijual. nggak menarik jadinya. Maka. Hanya cukup untuk naik bemo berangkatnya. Waktu harus wawancara ke daerah industri di Tandes Margomulyo. Mereka bisa membedakan ’rendah diri’ dan ’rendah hati’. Jarang saya lihat orang Tiongkok yang merasa rendah diri. “Kaya Bermanfaat. pemda yang menginginkan kotanya cantik dan menarik harus memberikan penduduknya yang wanita barangbarang ini secara gratis: Baju. belum tentu lipstiknya digunakan.mandinya dipakai bersama beberapa rumah tangga. sepatu. yang sebenarnya tetap bisa kita lakukan tanpa harus jatuh ke derajat ’rendah diri’. Belum ada bus waktu itu. “Istri saya hamil muda. eye shadow. Saya menolaknya meski di saku tidak ada lagi uang sepeser pun. di Graha Pena kami akan mencoba memberikannya secara cuma-cuma kepada pegawai bagian cleaning service-nya. Tentu semua biaya seperti itu. penampilan Graha Pena juga akan lebih “keren”. kalau yang lalu-lalang di dalamnya kumuh-kumuh. Dari penampilan para perawat dan tukang pel di rumah sakit ini. para wanita yang lalu lalang di kota itu harus juga terlihat cantik. Kalaupun dilakukan. Betapapun bersihnya sebuah kota. Salah satu kesimpulan saya. ternyata ada baiknya juga dia pulang lebih dulu. Ide itu tentu tidak mungkin dilakukan. sekadar berdemo. Yang kasur tipisnya harus dihampar di lantai. filsafat “Kaya Bermanfaat. Kalau upaya meniru ini berhasil. Yang airnya dari sumur yang harus ditimba sendiri. Miskin Bermartabat” belum menjadi budaya. saya bilang kepada sopir agar boleh naik di kursi dekat sopir. kalau di rumah sakit ini. Bangsa yang mudah disogok dan dipermainkan. tulisan ini tidak akan bisa selesai tepat waktunya. (Bersambung) 84 by Moezhanks . saya diberi amplop. Maka. kalau tidak mau dibilang kurang ajar. Lalu naik kendaraan umum berupa jip terbuka yang penuh sesak dengan penumpang. Dari Kertajaya ke Jembatan Merah Rp 25. tapi berjilbab pun akan dicarikan jilbab yang modis. membangun kepercayaan diri begitu pentingnya. lipstik. saya pilih naik kapal kayu ke Banjarmasin dulu. saya belajar bagaimana menjalani pekerjaan rendahan dengan jiwa yang kuat. Karena beberapa kali harus berhenti untuk menghindar dari panasnya Surabaya. Atau. Kembali ke dua wanita tadi (eh. lalu dari Jembatan Merah ke Tandes Rp 50. bangsa yang kalau melihat orang kaya yang muncul kecemburuannya. Kalau tidak. Petugas cleaning service tidak harus merasa rendah diri. agar murah. Waktu harus pulang ke Kaltim. Saya kepingin sekali meniru ini di Graha Pena. ditanggung sendiri. tentu banyak orang yang akan memberi saya tiket. Saya pulang dengan jalan kaki. Sebab. ’tawaduk’. ’sopansantun’. Selesai wawancara. Saya sudah minta manajemen Graha Pena untuk menghitung konsekuensi biayanya.” kata saya. misalnya.

saya ingin menulis.” Tapi. ada satu alat yang hanya empat di dunia: di AS. si istri menggugat suaminya: Tidakkah tadi kau laporkan kepada sang suci bahwa sayalah yang sehari penuh menyiapkan makanan ini? Saya tidak ingin para dokter njegol seperti si istri itu. Kemampuan manajemen rumah sakit dan tim operasinya. kalau ada waktu membahasnya lebih dalam. Kalau mau pendek dan tampak religius. Baik karena langkanya donor maupun minimnya peralatan. 5. Engkau telah menyediakan makanan yang lezatlezat ini. pasti juga akan diketahui ranking-nya. Korea. Siapa yang bisa membantahnya? Siapa yang berani mempersoalkannya? SMS yang masuk ke saya pun hampir semuanya bernada begitu. Keahlian dan pengalaman dokternya. “Semua ini karena Allah dan kepintaran para dokternya. Terutama ingin menulis sesuatu agar para dokter tidak kehilangan semangat karena tidak dipuji sama sekali. Tuhan. Saya pernah menerima keluhan dokter ahli bedah jantung seperti Prof Dr dr Paul Tahalele. dan di rumah sakit ini. Mereka mengatakan semua ini karena Allah. Bagaimana bisa punya pengalaman transplantasi liver 150 kali setahun kalau di negeri itu orang tidak bisa mendonorkan organnya? Mengenai kecanggihan peralatan. Waktu mau makan. di Indonesia pun tidak akan kalah. Keahliannya pasti tidak kalah dengan dokter Singapura. 6.Ganti Hati 30 – Banyak Faktor Keberhasilan. kesempatan untuk memperoleh pengalaman yang banyak sangatlah minim. Kemajuan obat-obatannya. jawabnya ini: semua itu berkat tangan Tuhan. rasanya sulit menentukan. Selesai. tapi Jangan Buru-Buru Merasa Sehat 24 September 2007 MENGAPA operasi transplantasi liver saya berhasil? Setidaknya sampai hari ini? Faktor apa saja yang memengaruhinya? Jawabnya dua macam: mau yang pendek atau yang panjang. Saya ingin memujinya.” Ucap sang suci mengakhiri doanya. 2. saya tidak perlu lagi menulis. Sang istri sehari penuh sibuk menyiapkan makanan yang lezat-lezat. Saya tidak diberi tahu alat yang mana. Tapi. 4. Faktor mana yang terpenting. Bahkan. “Terima kasih. Tidak perlu lagi tambahan apa-apa. Tapi. Tersedianya peralatan yang canggih ini sangat terkait dengan kemampuan dana dan 85 by Moezhanks . rumah sakit ini tergolong yang terbaik di dunia. sang suami meminta sang suci membacakan doa. kalau jawabnya itu. Sudah tentu tidak hanya faktor keahlian dokter yang menjadi satu-satunya kunci sukses. Hanya satu-dua yang mengatakan. Soal keahlian dokter. Saya mencoba merincinya sebagai berikut: 1. Jepang. Kecanggihan peralatannya. 3. Selama makan sang istri merengut saja. Mau yang religius atau yang ilmiah. Setelah sang suci pulang. Tapi. Saya tidak ingin para dokter menjadi ngambek seperti humor ngambek-nya seorang istri yang sudah terkenal itu: Suatu saat sebuah keluarga ingin mengundang makan malam seorang suci. Kondisi badan saya yang masih baik. Keberadaan donor yang sangat prima.

tapi kualitasnya belum tentu sebaik yang ada di dalam badan saya sekarang. Rupanya. Mereka aktif berpindah-pindah di Surabaya dan tiga bulan sekali di rumah saya. tentunya donor seperti apa pun akan diterima. Tergantung perasaan saya seberapa saya merasa bersalah. saya berikan uang. Ini karena jantungnya memburuk. Itulah sebabnya. Lantas. saya membuat keputusan justru harus melakukan transplantasi ketika saya masih sehat. Kadang saya sadari bahwa ternyata tidak seharusnya saya marah karena ternyata dia tidak salah. Bahwa ada kualitas I atau II. itu tentu ada kelas-kelasnya. sudah bengkak. dua-duanya belum bisa banyak dinanti. kalau saya sabar. obat-obatan yang harus dimakan setelah transplan menimbulkan efek samping di dua sektor itu. Asal kemudian ikut diundang. Atau. Kalau sejak sebelum operasi saya optimistis bahwa transplantasi ini akan berhasil. juga ditentukan oleh kondisi pasien. sekarang jumlahnya hampir nol. masak bisa diralat? Yah. kalau saja saya tidak sabar menunggu. Kegagalan yang terbanyak kini karena tekanan darah tinggi dan gula darah. Misalnya. Kondisi pasien yang prima memegang peran penting karena banyaknya komplikasi juga akan menyulitkan. Obat sinkronisasi liver baru dengan organ lain sudah amat sempurna. Hanya saya dan tim saya yang tahu. antara lain. 86 by Moezhanks . Tentu.keinginan pemimpinnya. Bahkan. Kepada mereka (baik yang sudah pensiun maupun yang belum). akan lain hasilnya. “Apakah Pak Dahlan sudah mau mati? Mau khusnul khotimah?” komentar seorang teman secara diam-diam tapi sampai juga ke telinga saya. Untuk Indonesia. Kalau saja kemajuan obat-obatan tidak seperti sekarang. Toh semua donor sudah diperiksa kualitasnya. Kebetulan. Saya juga sering mengadakan khataman Alquran yang diikuti para hafiz (orang yang hafal Quran). Mereka juga melihat tanda-tanda nonfisik yang saya lakukan. Terutama kalau mereka melihat tanda-tanda fisik saya: mulai dari sudah muntah darah. saya tiba-tiba mengundang teman-teman yang ketika bekerja di Jawa Pos dulu pernah saya marahi. Misalnya. Teman-teman. juga para pemegang saham. Untuk kegagalan transplantasi liver karena rejection. mungkin banyak yang pesimistis. Begitulah nasib dokter kita meski itu juga dialami bidang yang lain. Ada yang cuma Rp 5 juta. saya sudah menghitung semua faktor di atas. semua itu tidak saya informasikan kepada keluarga atau teman-teman. Di bidang kemajuan obat-obatan harus diakui bahwa kemajuan penemuan obat baru bukan main cepatnya. Mungkin akan mendapat juga donor. “Boleh nggak sekarang saja dimarahi. dia menghubungi saya lewat SMS: saya menyesal mengapa dulu tidak pernah dimarahi. ada yang sampai Rp 100 juta. antara lain. saya sering juga kemudian minta maaf. dan wajah sudah menghitam.” katanya. tapi kondisi badan saya sudah tidak bisa lagi menunggu lebih lama. obat antiinfeksi juga sudah membuat kegagalan karena infeksi amat minim. Apalagi saya juga menyelenggarakan zikir-pidak dan ikut mendengungkan kalimat syahadat yang sudah di-compress menjadi kata pendek hu itu ribuan kali. Sebab. bagi-bagi uang ini terdengar juga oleh pensiunan karyawan yang lain. Kalau saja terlambat mengambil keputusan. Salah satu pasien yang saya kenal kelihatan gembira sekali di hari pertama dan kedua setelah keluar dari ICU. Mendapatkan donor yang prima pun. mungkin juga banyak halangannya. tapi saya yakin sudah telanjur melukai hati mereka. saya tidak memiliki bakat darah tinggi maupun gula darah. Tapi mulai lemas di hari-hari berikutnya. Tapi kalau sudah telanjur marah. Maksud saya ketika organ-organ lain saya masih baik.

diambilkan dari kapur yang biasa dipakai nenek untuk makan sirih. “Mbok jangan baca buku yang begituan.” Maksudnya jangan membaca yang seperti memberikan isyaratisyarat bahwa saya akan gagal dan meninggal. Kakak sulung saya memang pernah mencatat tanggal kelahiran saya. dan sebangsanya. Yakni di balik pintu lemari kayu yang kasar. Artis itu sudah amat terlambat melakukannya. untuk transplantasi “separo hati”. Kian Tidak Jelas Hitungan Umur Saya 25 September 2007 UMUR berapakah saya sekarang? Tepatnya saya tidak tahu. Mereka tidak tahu bahwa saya ingin belajar dari buku itu. Terutama: mengapa gagal? Apa yang tidak boleh saya tiru agar saya tidak gagal? Juga ada maksud saya yang lain lagi: belajar membaca huruf Mandarin. Ditulis dengan kapur lunak. terbuat dari tanah). Belum dua bulan sudah sibuk menghadiri berbagai acara. Itu bukan lemari pakaian karena kami tidak perlu lemari untuk pakaian. Akhirnya. dia melakukan transplantasi dalam keadaan sudah amat terlambat. Pelajaran lain yang saya dapat adalah: Jangan buru-buru merasa sehat dulu. kanker sudah lebih menyebar lagi. “Apakah yang Anda lakukan ini ada hubungannya dengan sakit Anda?” tanya seorang pemegang saham. Karena itu. Kebetulan. juga minta agar saya menjalani review di negaranya. saya akan mampir dulu di Singapura beberapa hari. Baju kami. tidak lebih dari sepuluh. Madame Ho Ching. 87 by Moezhanks . (Bersambung) Ganti Hati 31 – Setelah Transplantasi. Sambil menunggu saatnya transplantasi pun. Juga karena kami tidak bisa beli lemari. Kankernya sudah telanjur menyebar ke bagian tubuhnya yang lain. Makanan juga disimpan di situ -kalau kebetulan ada. Apalagi setelah melakukan transplantasi liver ini. Lemari yang ada itu bikinan bapak sendiri untuk menyimpan apa saja: kaleng bekas. Ini menambah kuat tekad saya untuk melakukan transplan ketika kondisi badan saya masih kuat.Para pemegang saham juga sangat khawatir ketika saya minta bertemu dan menyampaikan sesuatu yang amat sangat pentingnya. piring seng untuk makan. Akhirnya meninggal dunia. Sampai-sampai tim saya bilang. sepulang dari Tiongkok nanti. sekeluarga. Cukup disangkut-sangkutkan di paku yang menancap di dinding. “Saya yang akan atur. Pelajaran penting yang saya peroleh dari buku itu adalah ini: jangan terlambat ambil keputusan transplantasi. Transplantasi pertama dilakukan di Beijing. dia harus transplantasi lagi di kota ini.” tulis Madame Ho Ching dalam emailnya kepada saya. Berhasil. Bahkan. dan leper (tempat mengulek sambal. Singapura memang punya reputasi yang baik untuk perawatan pascaoperasi. termasuk talk show dan jumpa fans di kotakota yang jauh. Juga berhasil. Tapi. Singapura sudah amat berpengalaman. istri perdana menteri Singapura yang juga CEO Temasek Group. buku yang saya baca adalah buku kisah artis terkemuka Tiongkok yang meninggal muda setelah transplantasi liver. Itu bisa dilakukan dalam rangkaian perjalanan saya pulang kelak. cobek (mangkuk terbuat dari tanah). Padahal.

“Lihat dia dari keluarga Masyumi.” kata seorang tokoh. salat id tidak mau di lapangan. yang berarti cucu Rasulullah. aliran tarikat kami Syatariyah. Lantai itu terbuat dari tanah karena tidak mampu menyemennya. Di lain kali saya tidak diterima di kalangan Muhammadiyah. Itulah peringatan meninggalnya Sayidina Hasan dan Husein. Meski akan menghabiskan air lebih banyak. Karena itu. “Dia tahlil. Tapi. gambar pertama yang bisa saya buat ketika kecil adalah lambang partai itu: Bulan bintang. tapi bisa mengurangi rasa malu. Dari segi ini. Anehnya. Untuk apa diingat? Untuk ulang tahun? Emangnya perlu ulang tahun? Bahwa orang itu ternyata bisa diulangtahuni belum pernah saya dengar sampai saya masuk SMA. Semoga di langit sana tidak ada pengelompokan seperti itu. Dengan ciduk yang sama: tidak terpikirkan itu sebagai sarana yang efektif untuk menularkan virus hepatitis. Misalnya. Selasa Legi yang tanggal berapa. Sejak masih ngompol. wiridannya pakai tahlil. kiai kami menaruh gentong (tempat air yang besar terbuat dari tanah) dengan air yang penuh. aliran politik keluarga kami adalah ini: Masyumi.” kata yang lain. nyekar ke kuburan. Karena lantai itu akan menimbulkan debu. orang memang tidak peduli dengan tanggal lahir. itulah tugas pertama masa kecil saya: menyapu lantai. Pada selamatan ini. sepupu-sepupu saya yang sudah dewasa semua jadi anggota Banser. Inilah keunggulan yang tak tertandingi dari lantai tanah: Bisa menyerap ompol sebanyak-banyaknya! Dia seperti popok abadi! Tidak perlu dibuang yang sampahnya bisa merusak lingkungan. Pakai selamatan dan tahlilan. Jangan gusar. yang aslinya milik aliran Syiah. Maka. Bau kencing itu akan hilang dengan sendirinya kalau tanahnya sudah kering lagi. Kalau bulan Syura. bapak ingat saya lahir Selasa Legi. Suatu saat saya dicap sebagai Muhammadiyah. saya ini orang apa. salatnya pakai doa kunut. Juga menyenanginya -terutama saya punya kesempatan untuk me-ngepyur-kan air lebih banyak di dekat pulau ompol untuk mengamuflasekannya. sering ada gambar pulau di lantai tanahnya: ngompol. wayangan Murwad Kolo. ketika tikar dilipat. Lebih aneh lagi. kini. Tidak ada kursi atau meja makan. Setelah kenduri. Bahkan. bulan berapa. suasana juga sudah tidak seperti itu lagi. lantai tanah sangat ramah lingkungan -setidaknya hidung kami sudah biasa tidak menghiraukannya. bukan Naqsyabandiyah. Setelah ibu sakit (seperti sakit saya ini). Lagi pula. kami juga ikut Kejawen: Bersih desa. Kalau mau makan. Kami keluarga santri. Saya sangat ahli me-ngepyur-kan air ke lantai ini. pergilah lemari dari rumah kami -dan hilanglah catatan tanggal lahir saya. Di atas tikar itu juga kami tidur. alat-alat tukang bapak yang bisa dirombengkan. kami antre minum airnya. saya ingat. Perbedaan dua golongan itu sudah kian cair. Posisi duduk anak kecil seperti saya sangat minggir -kadang hanya dapat separo pantat saja yang di atas tikar. saya sudah harus bisa menyapu lantai.Itulah satu-satunya perabot rumah tangga bapak saya. entah apa bunyinya. Kalau toh ada orang yang selamatan kecil dikaitkan dengan hari kelahirannya. Ke dalamnya dimasukkan rajah kertas yang ditulisi huruf Arab yang ruwet. Tiap pagi. setiap Selasa Legi. Tapi. Paginya. barulah dihamparkan tikar. Sawah warisan yang hanya secuil. Saya sendiri tidak peduli. apa pun dijual. itu dilakukan setiap 35 hari sekali. keluarga kami tidak mengenal itu karena kurang kejawen. Namun. gambar pulaunya lebih banyak dan lebih lama hilangnya. Ibadahnya pakai aliran NU ahli sunnah wal jamaah: tarwihnya 21 rakaat (sampai sekarang). Kalau musim hujan. Kami makan sambil duduk di lantai. Kami hafal semua kapan meninggalnya siapa. Dan ketika terjadi Gestapu/PKI di tahun 1965. 88 by Moezhanks . putra Sayidina Ali dan Sayidah Fatimah. Di desa. tidak ingat. Yang biasa diulangtahuni adalah orang mati. Yang selalu diingat hanya hari dan pasarannya. sebelum disapu harus dikepyur-kepyur dulu dengan air. kami selamatan Rebo Wekasan. Tanggal itu penting bagi anak-anak miskin karena berarti akan ada selamatan. dan juga lemari satu-satunya itu.

Jadi keluarga tani. jawabnya tegas: Selasa Legi. Jadilah bapak-ibu saya tinggal di desa.Asal-usul keluarga kami adalah pelarian dari Jogja. Antara hati dan tulang iga. Dan. Bapak saya adalah abdi di pusat keluarga itu. Itulah tanggal lahir yang secara resmi saya pakai di dokumen apa pun sampai sekarang. langsung berkeringat. Ulang tahun saya adalah Selasa Legi. Para panglima perangnya melarikan diri. Bukankah bisa ditelusuri kapan Gunung Kelud meletus? Soalnya bukan hanya itu. Titik. Tahunya ketika anak wanita saya bertanya kepada dokter: apa saja kesulitan dokter dalam melakukan transplantasi liver malam itu? Dokter mengatakan. memang tidak boleh ada ruang kosong. Ibu harus ikut bapak saya. tidak ada administrasi yang memerlukan tanggal lahir. Juga setelah sedikit senam atau joging. kondisi saya terus saja membaik. saya belum pernah merayakan ulang tahun sehingga tidak kian ruwet memikirkannya. tulang iga menyesuaikannya.5 bulan setelah ganti hati ini. Ketika sudah amat dewasa dan saya bertanya kepada bapak mengenai kapan saya dilahirkan. ke Banjarsari di selatan Ponorogo. Saya memang harus banyak senam. bobot dan nilai dikalikan seperti ajaran ilmu manajemen problem-solving yang sangat memengaruhi saya kalau ambil keputusan? Untuk apa juga saya pikirkan. waktu itu. Sekaligus jadi pusat Pesantren Sabilil Muttaqin. Tiwas nanti merasa ge-er karena hitungannya jatuh bahwa saya baru berumur 38 tahun atau 45 tahun. Karena saya dari jalur wanita. Sampai tamat SMA. Buktinya. tidak tahu tanggal lahir tidak penting-penting amat. Tanpa dukungan surat kenal lahir. kian tidak jelas lagi saya ini berumur berapa. ibu saya tidak tinggal di pusat keluarga itu. bukankah setiap 35 hari ada Selasa Legi? “Waktu itu. tapi kemudian kawin dengan ibu saya. ketika Gunung Kelud meletus. Sampai 1. Tentu. Semua parameter darah normal. Bapak saya kemudian menyebut. Badan saya berumur 56 tahun. Tapi.” Maksudnya ketika Gunung Kelud meletus. Sudah tiga tahun saya tidak pernah berkeringat. Saya sendiri tidak menyadari dan tidak mengetahui itu. Untunglah. Begitu hebatnya sampai desa saya yang jaraknya lebih 100 km dari gunung di Blitar itu dalam keadaan gelap selama sepekan. Kecuali satu: Rongga dada saya sudah mengecil. Apakah harus dijumlah lalu dibagi dua? Atau masingmasing diberi bobot dan nilai? Lalu. Yang juga menggembirakan saya adalah: sekarang saya bisa berkeringat. Jadi tulangtulang iga ikut bergerak ke dalam. Ketika hati mengecil. Saya putuskan sendiri saja: Saya lahir tanggal 17 Agustus 1951. tapi hati saya belum lagi berumur 25 tahun. Yakni setelah Pangeran Diponegoro kalah karena ditipu oleh Belanda. “Hampir tidak ada kesulitan apa pun”. Tapi sudah diakui di banyak negara. saya tidak dianggap memalsukannya. antara lain ke timur. 89 by Moezhanks . saya sudah mulai bisa merangkak! Kini.” kata bapak saya sambil berpikir keras. saya malas melakukan riset kapan saja Gunung Kelud meletus. Bagi saya. berusaha menyesuaikan dengan ruang yang dilindunginya. Habis jalan jauh pun tidak berkeringat. begitu habis makan. rasanya bisa. saya belum peduli dengan tanggal lahir dan karena itu juga tidak pernah bertanya ke bapak. secara alamiah. “ada hujan abu yang sangat hebat. Ini karena liver lama saya juga mengecil. terutama yang bisa membuat dada saya mekar lagi. Kini. Lalu beranak-pinak dan ada yang membuka hutan di timur Gunung Lawu untuk dijadikan kampung: Takeran. Hidup di desa. Mengapa? Selama ini rongga dada saya ternyata dalam proses mengecil. 6 km dari pusat keluarga itu. Yang lebih saya pikirkan adalah bagaimana hati baru itu bisa kerasan menjadi “keluarga besar Dahlan Iskan”. kemudian jatuh ke buruh tani. setelah ganti liver.

melainkan memperlambat saja perkembangannya. daripada umur panjang tapi tidak bisa berbuat banyak. melainkan kaitkan saja dengan kecerobohan. Jalan pikiran saya itu biasanya saya ungkapkan ke temanteman dengan istilah: intensifikasi umur. carry over problems masih terbawa. secara umum. ruangnya agak terasa kesempitan. Tentu memperlambat juga amat baik. Sehingga menaruhnya jadi agak sulit. 90 by Moezhanks . Liver baru masih dalam ukuran normal. saya akan merasa sangat berdosa kalau gara-gara tulisan saya ini banyak orang takut bekerja keras. ya bermanfaat. (bersambung) Ganti Hati 32 – Kini Ada Simbol Mercy di Perut Saya (Sebuah Penutup) 26 September 2007 ADA kesan yang mendalam bahwa sakit saya yang parah kemarin-kemarin itu karena saya kerja terlalu keras. bahkan di Malaysia sekalipun. tapi masih belum mencapai tingkat kecanggihan seperti di Singapura. Saya memilih berumur pendek tapi bermanfaat. Kepada para dokter itu. saya tidak memilih itu karena saya punya filsafat sendiri dalam menyikapi umur manusia. Memang. Tentu kalau masih ada pilihan lain. Sesak. Tapi. saya akan memilih yang terbaik. Kebiasaan lama orang-orangnya tidak bisa begitu saja berubah. lebih baik. Manajemen dan pelayanan rumah sakit-rumah sakit kita. Memang. sebaiknya tidak kerja keras lagi. Masih perlu satu kurun lagi untuk mencapai tahap itu. Tentu. Seorang ibu sampai menasihati anaknya begini: Jangan kerja terus seperti itu. ketika dokter mau “memasang” liver baru di ruang yang ditinggalkan liver lama. setelah virus itu berkembang menjadi sirosis dan kemudian kanker. Bangsa ini memerlukan puluhan juta orang yang gigih. Ini karena. saya jadi merasa bersalah. saya kurang pandai menjelaskan bahwa sakit saya ini bukan karena kerja keras. Nanti seperti Pak Dahlan Iskan! Setelah menerima SMS dari Saudara Socrates. Sampai-sampai beberapa dokter menghubungi saya bagaimana kalau mereka studi banding ke Tiongkok untuk belajar manajemennya. belakangan ini semakin banyak rumah sakit di Tiongkok yang lebih modern. Misalnya. itu bukan berarti akan menyembuhkan sakitnya. Misalnya. Terutama yang swasta. jangan dikaitkan dengan kerja keras. Ternyata. saya bilang bahwa ide tersebut kurang tepat. jangan sampai terkena virus hepatitis seperti Pak Dahlan Iskan! *** Kesan yang lain dari serial tulisan saya ini adalah bahwa rumah sakit-rumah sakit di Tiongkok hebat. Kalau saya akan dijadikan contoh jelek. bukan? Itulah sebabnya saya memperbanyak senam agar liver baru saya bisa “bernafas” dengan lebih lega dan itu berarti membuatnya semakin kerasan tinggal di dalam badan saya. ya berumur panjang. Belajar manajemen dan pelayanan rumah sakit jangan ke Tiongkok. Hanya. teman di Batam yang lahir di Padang itu. tapi karena saya terkena virus hepatitis B. meski secara fisik dan peralatan sudah amat modern.Akibatnya.

*** Berapakah biaya yang saya keluarkan untuk mereparasi organ-organ saya itu? Kalau di penutup tulisan ini saya memberikan isyarat jumlahnya. tapi cari apartemen murah saja. Mungkin seharga rumah tipe 100 di lokasi yang sedang. apa artinya dibanding yang harus saya keluarkan ini? 91 by Moezhanks . Karena mereka sangat unggul di situ. Makan dengan masak sendiri atau setiap makan ke restoran? Dan banyak lagi. saya yakin tidak lama lagi rumah sakit di Tiongkok akan mencapai tahap seperti Singapura. *** Semua itu tidak ada artinya dibanding nilai kesehatan yang saya peroleh. transportasi lokal. Saya bisa memahami itu karena toilet ini mungkin sudah lebih bersih daripada kamar tidur di rumahnya sekalipun. membatasi keluarga yang harus wira-wiri. Itu pun sewa saja. Kalau semua biaya itu ditotal. Biasanya. dan satu-satunya. Semua dokter fokus bekerja di rumah sakit. Naik kendaraan umum? Taksi? Beli mobil sendiri? (Kebetulan saya beli mobil kelas Toyota Corolla dan itu berarti juga harus punya sopir). yang terbanyak adalah untuk pendukungnya. Jadi. memang perlu waktu dan kesabaran. petugas menilai “sudah amat bersih”. sewa enam bulan (tidak bisa sewa kurang dari enam bulan). Kalau waktu itu tidak menjual rumah.000 memang mahal. Di Tiongkok juga jangan tinggal di hotel. Biaya operasinya sendiri tidak besar untuk ukuran saya. Sampai sekarang. akomodasi. dan konsumsi saya sekeluarga. Lama-lama standar kebersihannya berubah. Rumah sakit juga menjadi sentral semua urusan kesehatan karena tidak boleh ada dokter praktik di sana. Itu juga yang dilakukan bapak saya ketika ibu sakit: Menjual apa pun. biaya terbesar sebenarnya bisa ditekan sesuai dengan kemampuan. Satu orang dan yang lain tidak akan sama. Tapi. biaya operasinya sendiri tidak sampai 20 persennya.Saya sendiri sering berdebat dengan petugas kebersihan toilet di Graha Pena Jawa Pos Surabaya mengenai pertanyaan ini: sudah bersihkah toilet ini? Saya menilai belum. lebih cepat daripada waktu yang kita perlukan. Dari seluruh pengeluaran. Imunisasi yang sekali suntik Rp 70. Misalnya. Seandainya saya hanya punya rumah seperti itu pun. Misalnya. dan sebagainya. semua rumah sakit masih milik pemerintah. wira-wiri saya sekeluarga dari Indonesia ke Tiongkok. Kecepatan itu akan fantastis kalau saja Tiongkok mengizinkan berdirinya rumah sakit swasta. saya akan jual kalau harus melakukan transplantasi ini. Biaya itu juga sudah termasuk pengobatan sejak terjadinya muntah darah pada 2005. Misalnya. Kalau toh mau belajar ke Tiongkok adalah mengenai keseriusan riset dan semangat untuk majunya. Tapi. Tapi. Tapi. Saya tidak bisa marah karena tahu berapa gajinya dan bagaimana latar belakang ekonominya. itu karena tidak akan ada orang yang mau membeli rumah lantai tanah di pelosok desa. juga sekaligus menyadarkan betapa mahalnya sehat itu. itu sudah meliputi semua pengeluaran. untuk kasus saya ini. termasuk alatalat tukang kayunya. saya hanya memberikan contoh dengan cara mengelap sendiri bagian-bagian yang kurang bersih itu di depan dia. Transportasi yang bagaimana juga memengaruhi besarnya biaya.

tidak tahu seri berapa. Jelek wujudnya. Yakni. Yang satu. Di dunia ini banyak orang yang kerja keras tanpa bermaksud kerja keras. tapi juga dengan tanda baru di kulit perut saya. simbol Mercy di kulit perut saya itu tidak sempurna. yang di rumah. tanda mirip simbol mobil Mercy (Mercedes Benz). Jelek tapi tetap terlihat Mercy-nya. Satunya lagi “Mercy” di kulit perut saya. (TAMAT) _________________________________________ Tulisan bersambung Pengalaman Pribadi Dahlan Iskan Ganti Liver berakhir hari ini pada seri ke-32. Juga banyak sekali orang kerja keras yang karena didorong niat mulia -dan kekayaan hanya datang membuntutinya. Tapi. Jelek. Mainannya ya kerja keras itu.Saya ingat kata-kata bijak di laboratorium Prodia: Waktu muda mati-matian bekerja sampai mengorbankan kesehatan untuk memperoleh kekayaan. Kebetulan. Barmen. Mulai besok disambung dengan Hati Baru Menjawab. tokoh olahraga di Surabaya. Mainannya ya mengurus sepak bola itu. Atau sekadar hobi. tetap mahal citranya. Boleh juga dibilang sayatan dari satu titik di tengah ke tiga arah. saya kerja keras tidak semata-mata untuk mencari kekayaan. Waktu tua menghabiskan kekayaan itu untuk membeli kembali kesehatannya -dan banyak yang gagal. saya tidak gagal. 92 by Moezhanks . Seperti Pak Moh. *** Kini saya tidak hanya hidup baru dengan liver baru. Dahlan Iskan akan menjawab e-mail dan SMS dari pembaca. adalah Mercy seri 500 keluaran 2005 yang dibeli dengan harga sekitar Rp 3 miliar. Seperti simbol Mercy yang digambar oleh anak berumur tiga tahun. tapi kira-kira sama harganya. Kini saya punya dua Mercy. bekas sayatan dari tiga arah yang menyatu di tengah. Dan lagi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful