Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver

Oleh: Dahlan Iskan iskan@jawapos.co.id

Ganti Hati 01 - Harus Turun Mesin, karena Organ-Organ Saya Rusak Parah
26 Agusutus 2007 Pagi ini, hari ke-20 saya hidup dengan liver baru. Kelihatannya akan baik-baik saja. Tidak ada tandatanda kegagalan seperti yang dialami Cak Nur (Nurcholish Madjid, tokoh yang digadang-gadang menjadi salah satu calon presiden), yang menjalani transplantasi liver di Tiongkok pada 19 Juli 2004. Kadar protein dalam darah saya yang tidak pernah bisa normal, kini menjadi sangat baik. Salah satu unsur penting di protein itu, albumin, sejak liver saya diganti sudah mencapai angka 3,6. Selama lebih dari 10 tahun saya hidup dengan kadar albumin yang hanya 2,7. Padahal, normalnya paling tidak 3,2. Rendahnya kadar albumin membuat tubuh saya tak mampu membuang kelebihan air, baik dalam bentuk keringat maupun kencing. Sehingga air yang berlebih ikut darah beredar ke seluruh tubuh. Akibatnya, tubuh saya jadi “gemuk”. Karena itu, kalau ada orang memuji badan saya terlihat lebih gemuk dan segar, dalam hati sebenarnya saya menderita. Sebab, saya tahu, tubuh saya tidak sedang gemuk, tapi bengkak! Begitu liver diganti dan albumin normal, badan saya langsung susut. Tapi tidak kuyu, melainkan sebaliknya: lebih segar. Dua hari pertama pascatransplantasi, kencing saya bisa mencapai 10 liter sehari. Sebagian karena memang banyak cairan yang masuk ke badan, sebagian lagi karena air yang tadinya beredar bersama darah, sudah bisa dipisahkan oleh albumin dan dikirim ke kandung kemih. Platelet atau trombosit saya, yang seharusnya minimal 200, pernah tinggal 55. Dengan platelet serendah itu, saya terancam mengalami perdarahan dari mana pun: mulut, hidung, lubang kemaluan, telinga, dan mata. Untuk menyelamatkan saya dari ancaman itu, dokter lantas memotong limpa saya hingga sepertiga. Setelah limpa dipotong, platelet saya naik sampai 120. Sayangnya, itu tidak lama. Perlahan-lahan angka itu menurun secara konstan. Terakhir tinggal 70. Hampir sama dengan sebelum limpa saya dipotong. Tapi, setelah liver saya diganti, platelet saya langsung naik. Tiga hari lalu angkanya sudah mencapai 260. Normalnya, antara 200 sampai 300. Mengapa saya memutuskan ganti liver? Tidakkah takut gagal? Mengapa liver saya sakit? Separah apa? Bagaimana jalannya penggantian liver? Bagaimana mempersiapkan diri? Bahkan sampai ke doa apa yang saya ucapkan? Semua akan saya tulis untuk berbagi pengalaman dengan pembaca.

1

by Moezhanks

Cerita ini mungkin akan agak panjang (bisa 50 hari). Bukan karena saya mau berpanjang-panjang, tapi karena redaksi membatasi saya untuk menulis hanya sekitar 1.000 kata di setiap seri. Berikut saya mulai dengan seri pertama ini. (Nama-nama dokter, rumah sakit, sengaja baru akan disebutkan di bagian-bagian akhir tulisan): *** Di umur 55 tahun ternyata saya harus “turun mesin”. Begitu parahnya kerusakan organ-organ di dalam badan saya sampai harus pada keputusan menambal seluruh saluran pencernaan saya, memotong sepertiga limpa saya, dan mengganti sama sekali organ terbesar yang dimiliki manusia: liver. Turun mesin total itu harus diatur sedemikian rupa karena mesin yang sama harus tetap menjalankan tugas sehari-hari, yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Maka, saya pun mulai membuat jadwal turun mesin. Dimulai yang paling membahayakan agar yang penting nyawa bisa selamat dulu. Ternyata saya memang terancam meninggal dunia dari tiga jenis penyakit. Yang pertama adalah yang bisa membuat saya meninggal mendadak kapan saja tanpa penyebab apa pun. Tiba-tiba bisa saja saya muntah darah dan tak tertolong lagi. Ini karena seluruh saluran pencernaan saya, mulai tenggorok sampai perut sudah penuh dengan varises yang menor-menor karena sudah matang dan siap pecah. Ibarat kumpulan balon-balon kecil berwarna merah, yang kulitnya sudah tipis seperti balon yang ditiup terlalu keras. Kapan meletusnya bisa setiap saat. Saat meletus itulah orang akan muntah darah dan tak tertolong lagi. Penyakit kedua, yang bisa membuat saya meninggal dalam hitungan bulan adalah jumlah darah putih saya yang terus merosot. Mengapa? Karena limpa saya sudah membesar tiga kali lipat dari ukuran normal. Limpa yang tugasnya antara lain mengubur sel-sel darah merah yang mati (dengan darah putih yang diproduksinya), tidak mampu lagi berfungsi baik. Platelet saya yang seharusnya antara 200-300, hari itu tinggal 60. Itu pun dalam posisi terus menurun. Pada penurunan beberapa poin lagi, saya akan menderita perdarahan dari mana saja: bisa dari hidung, dari telinga, dari mulut, atau dari mata. Limpa sendiri bisa juga pecah karena sudah tidak kuat lagi akibat terus membesar. Yang ketiga, ya liver saya sendiri, yang ternyata sudah amat rusak. Setelah liver saya dibuang setahun kemudian, tampaklah nyata bahwa liver saya sudah seperti daging yang dipanggang terlalu masak. Padahal, seharusnya mulus seperti pipi bayi. Ini yang bisa membuat saya meninggal dunia dalam hitungan dua-tiga tahun. Bahkan, sebenarnya liver itu yang membuat limpa saya membesar dan membuat seluruh saluran darah di sepanjang pencernakan saya penuh dengan balon-balon darah yang siap pecah. Maka, satu per satu harus saya selesaikan. Saya mulai dari mengatasi agar tidak terjadi muntah darah. Lalu, setengah tahun kemudian memotong limpa saya. Dan, terakhir 6 Agustus lalu, beberapa hari sebelum ulang tahun ke-56 saya, saya lakukan transplantasi liver: membuang liver lama, diganti dengan liver baru. Semua proses itu memakan waktu hampir dua tahun. Ini karena saya tetap harus menjalankan aktivitas, baik sebagai pimpinan Grup Jawa Pos maupun sebagai CEO perusahaan daerah Jatim yang lagi giat-giatnya membangun tiga proyek besar: pabrik conveyor belt, gedung ekspo, dan shorebase. Semua tahap itu saya jalani dengan keputusan yang mantap, tanpa keraguan sedikit pun mengenai kegagalan hasilnya. Banyak teman yang bertanya mengapa saya bisa tegas membuat keputusan yang
2
by Moezhanks

begitu membahayakan hidup saya. Saya jawab bahwa percaya sepenuhnya dengan takdir -sesuai dengan tafsir yang saya yakini, yakni mirip dengan uraian buku Saudara Agus Mustofa Takdir Itu Bisa Berubah. Faktor lain adalah bahwa rupanya, kebiasaan saya membuat keputusan berani, keputusan besar dan keputusan yang cepat di perusahaan ikut memengaruhi keberanian membuat keputusan dengan kualitas yang sama untuk diri sendiri. Lalu, keyakinan bahwa saya mampu me-manage hal-hal yang rumit selama ini, tentu juga akan mampu me-manage kerumitan persoalan yang ternyata ada di dalam tubuh saya. Apakah tidak ada kekhawatiran sama sekali akan gagal dan kemudian meninggal? Tentu ada. Tapi, amat kecil. Saya tahu kapan harus ngotot dan kapan harus sumeleh. Keluarga saya yang miskin dan menganut tasawuf Syathariyah sudah mengajarkan sejak awal tentang sangkan paraning dumadi (dari mana dan akan ke mana hidup dan semua kejadian). Ini membuat saya akan ngotot melakukan apa pun untuk berhasil, tapi juga tahu batas kapan harus berakhir. Tentu ada penyebab lain: Banyak keluarga saya mati muda, sehingga saya pun seperti sudah siap sejak kecil bahwa saya juga akan mati muda. Ibu saya meninggal dalam usia 36 tahun (muntah darah). Kakak saya, yang digelari agennya Nurcholish Madjid di Jatim untuk urusan pembaharuan pemikiran Islam, meninggal dalam usia 32 tahun (muntah darah). Dia sering memarahi saya, mengapa masih kecil sudah belajar filsafat/tasawuf dan mengapa sering pergi ke pondok salaf. Tapi, tahun depannya saya masih tetap ke pondok salaf Kaliwungu, 25 km sebelah barat Semarang. Paman saya dan pakde saya juga meninggal muda. Penyebabnya juga sama: muntah darah. Muntah darah sebenarnya bukan penyebab, tapi begitulah orang di desa mengatakannya, karena tidak tahu bahwa semua itu berawal dari persoalan liver. Tapi, ada juga sedikit harapan bahwa saya bisa berumur panjang: Bapak saya meninggal dalam usia 93 tahun. Kakak tertua saya yang amat baik, Khosiyatun, yang juga ketua umum Aisyiah Kaltim, kini berumur hampir 70 tahun dan masih aktif mengajar di SD swasta di Samarinda. Entahlah, saya ikut yang mana. (bersambung)

Ganti Hati 02 - Tiga Jam Jelang Operasi Masih Ditawari ’Take Over’ Koran
27 Agustus 2007 Mudah-mudahan rencana operasi kali ini tidak gagal lagi. Yu Shi Gan Xian Sheng (nama saya di Tiongkok), besok mendapat giliran operasi. Itu kata seorang dokter di rumah sakit ini pada Minggu 5 Agustus 2007 kepada saya. Dia memakai istilah “mudah-mudahan tidak gagal lagi” karena memang sudah beberapa kali saya diberi tahu dapat giliran operasi, tapi selalu tertunda karena liver yang datang tidak cocok untuk mengganti liver saya. Kali ini kelihatannya cocok. Golongan darahnya sama. Juga sudah dinilai akan memenuhi syarat untuk ditransplantasikan ke saya. Harapan bahwa kali ini tidak gagal lagi kian besar setelah sore harinya, petugas cukur datang ke kamar saya. Dia harus mencukur rambut yang ada di badan saya, sebagai salah satu syarat dilakukannya operasi besar. Tugasnya sore itu ringan sekali karena hanya perlu mencukur rambut di sekitar kemaluan. Saya tidak punya rambut di dada atau di paha.

3

by Moezhanks

saya bertanya kepada perawat kira-kira operasinya jam berapa. Tentu ini kurang masuk akal. “Mbakyu. Perut harus kosong sejak malamnya. seluruh badan saya akan diolesi cairan antiinfeksi yang biasanya berwarna merah kecokelatan itu. Itu sebagai tanggung jawabnya karena dia harus pergi meninggalkan kami tanpa ibu di Magetan untuk pergi ke Kaltim. Setengah jam kemudian dilakukan lagi hal yang sama. kata saya dalam hati. ikut paman saya.00 nanti.30 saya diberi tahu tentang kepastian operasi. “Operasi apa?” tanyanya. karena dalam proses operasi ada prosedur sterilisasi di badan saya. Saya juga membayangkan bagaimana kalau bulu dada itu cepat tumbuh. Tapi. saya lantas mandi lebih bersih daripada biasanya. kakak saya yang di Samarinda. seperti yang banyak dimiliki pasien dari negara-negara Arab. Saya harus hati-hati menjelaskannya. bagaimana dengan rambut yang telanjur dicukur? Apa saya akan minta ditempelkan lagi? Prioritas saya kemudian adalah menghubungi kantor. Kalau tidak. Kepada kakak saya yang di Samarinda. Meski itulah malam menghadapi operasi besar. Di toilet saya lihat tak ada lagi benda apa pun yang keluar kecuali air bening yang dimasukkan tadi.” kata saya. Itu kakak saya yang amat baik hatinya. Malam itu saya tidur nyenyak sebagaimana biasa. Di Kaltim dia harus mengajar di dua sekolah agar masih punya penghasilan untuk hidupnya sendiri.00 perut saya masih harus dibesihkan dari kotoran dengan cara dimasuki cairan bening sekitar seperempat liter melalui pantat. Pagi itu saya sudah tidak boleh makan apa pun. Misalnya. Dia pernah menyerahkan seluruh gajinya sebagai guru SD untuk biaya sekolah dan hidup saya selama lebih dari lima tahun. saya bicara langsung melalui telepon. nanti sore saya harus operasi. saya tidak punya kekhawatiran apa-apa. dan saya mengangkatnya sebagai kakak ketiga. Yakni. adik saya yang di Madiun. Apalagi. Sore sebelum tidur. Sebentar dan sederhana sekali tugasnya untuk saya malam itu. kalau mau cuci rambut lebih gampang. “Bapak harus masuk ruang operasi pukul 14. sementara luka akibat sayatan yang panjang di situ belum menyatu kembali. Tidak punya perasaan galau sedikit pun. masih ada satu adik lagi yang masih kecil. Perawat belum bisa menjawab. Memang jadwal transplantasi besar seperti ini tidak gampang dibuat. “Saya akan operasi jam 14. Kurang dari lima menit kemudian saya lari ke toilet karena semua isi perut seperti mau keluar. saya potong rambut. Pendek sekali.” kata seorang perawat. Namun. Saya ingin agar setelah operasi kelak. sekitar pukul 09. Alhamdulillah. Beberapa sahabat penting saya di Tiongkok datang. Terutama Mr Guo yang sejak 10 tahun lalu mengangkat saya sebagai adik kelima. meski saya akan menjalani penggantian organ terbesar dalam tubuh seorang manusia.00. dan beberapa pemegang saham. Saya tidak berani menjelaskan apa adanya.Saya lalu membayangkan bagaimana dengan pasien yang punya bulu dada lebat dan cepat tumbuh kembali. Bangun pagi 6 Agustus 2007. 4 by Moezhanks . Dia merasa kasihan saya hidup dengan Bapak yang tidak punya penghasilan tetap. Kakak pertama adalah seorang pensiunan jenderal polisi yang juga tinggal di kota ini. Setidaknya jam berapa harus berangkat ke ruang operasi. bayangan-bayangan saya itu lenyap karena tiba-tiba tukang cukur menyatakan tugasnya sudah selesai. Maka saat itu dianggap perut saya sudah bersih.” tulis saya di sms. khawatir mengganggu pikirannya. Pukul 09. Karena itu. nyaris gundul. Saya tidak ingin ada kuman yang menempel di badan saya yang akan menjadi penyebab infeksi setelah operasi.

agar tidak sampai terjadi seperti yang mengakibatkan ibu dan Mbak Sofwati meninggal muda.” Bambang memang orang yang sangat humanis. Dia justru bertanya berat mana transplantasi ginjal dibanding liver.” jawab saya. saya doakan semoga berhasil.” kata saya.30 saya terima sms dari Jakarta. Dia kaget saya kok tiba-tiba memberitahunya akan operasi besar. “Transplantasi ginjal itu sekarang sudah dianggap biasa. Sesaat sebelum saya berganti baju dengan baju operasi. Saya lantas memberi tahu siapa yang bisa menggantikan tanda tangan saya. Dia sendiri dalam keadaan sakit jantung.” katanya datar. Dalam waktu sekejap sms pemberitahuan operasi itu rupanya menyebar. seorang direksi saya di Jakarta menanyakan lewat sms apakah dokumen tender listrik yang disiapkan sudah saya tanda tangani. juga kirim sms. Semua mengirimkan doa untuk keberhasilan operasi saya. dia kami jagokan sebagai tokoh keluarga. Mulai Aceh sampai Jayapura.“Saya akan operasi. tabloid itu akan sukses kalau di tangan saya. Saat mahasiswa. Liver paling sulit. dia jadi ketua Korps Himpunan Mahasiswa Islam Wanita Jatim. Seorang teman lama menawarkan agar saya membeli tabloidnya yang mengalami kesulitan. sampai ke anak perusahaan. saya masih sempat membalas sms itu: tidak perlu saya yang tanda tangan. teman lama yang lain. Ini saya ketahui dari sms yang segera mengalir ke telepon saya. Bahkan. Lalu petugas pembawa baju operasi saya datang membuka bungkusan sterilnya. Dia menangis dalam SMS-nya. dan dia saya minta kirim email. “Juga operasi penggantian ginjal dan organ yang lain. SMS dari Bambang Sujiyono. di rumah sakit ini hampir tiap hari juga dilakukan operasi penggantian jantung. “Selamatkan nyawa rekan saya ini. “Ya. Saya balas sms itu.” tambah saya. Sekitar pukul 10. Padahal. (bersambung) 5 by Moezhanks . Lalu dia tidak emosional lagi. Dia bilang. Kalau perlu. Tanpa tahu bahwa saya segera memasuki meja operasi yang bisa memakan waktu 12 jam dan entah apa hasilnya. Isinya: apakah saya berminat mengambil alih koran berbahasa Inggris yang terbit di Jakarta? Saya jawab: saya perlu informasi lebih lengkap. Dia tidak saya beri tahu betapa berisikonya penggantian liver ini. sangat dramatik. seniman Surabaya itu.” tulis saya. Juga beredar di antara teman-teman. Setengah jam kemudian. Mbak Sofwati adalah kakak saya yang meninggal umur 32 tahun setelah muntah darah. Saya balas tangisannya itu dengan tegar dan setengah guyon. agar dia menunggu keputusan saya beberapa minggu lagi.” tulisnya. Orangnya pintar dan karirnya bagus. tukar dengan kematian saya. “Allah. “Mas Bambang.

Saya segera menelepon Misbahul Huda. Saya Berdoa Pendek 28 Agustus 2007 PUKUL 12. Artinya. Mungkin. yang akan menjadi imam pada acara itu. Saya jawab. mengirimkan doa paling panjang. Dari Madiun menceritakan bahwa keluarga tasawuf sathariyah lagi berkumpul untuk ber-zikir-pidak. Dirut Percetakan Temprina. Kalau di-decompression. Kalau tidak. Dengungan “hu” adalah hasil compression (untuk meminjam istilah software komputer) dari kalimat syahadat. waktu yang diperlukan tidak perlu teralu lama. Kepala saya juga dipasangi topi kertas dengan warna yang sama.” Maksud saya. istri mendiang Pak Eric Samola. Mereka mengirimkan doa-doa yang saya ketahui diambilkan dari Alkitab.Ganti Hati 03 . kira-kira operasinya berlangsung berapa jam? Saya jawab sekitar 12 jam. Tapi. Karena itu. ketika Bung Karno meng-compress Pancasila yang panjang itu menjadi satu kata yang simpel dan pas: gotong royong. Genap satu minggu. saya bertanya kepada yang hadir: apakah ada pertanyaan? “Saya siap menjawab pertanyaan apa pun. “Kalimat syahadat kok dipadatkan.000 kali. semua yang hadir di rumah saya bisa ikut mendengar kata-kata saya. Mereka akan berdoa terus selama saya dioperasi. Saya pun sudah siap mental segera menuju ruang operasi di lantai 13. Setelah telepon siap. Ini seperti juga Bung Karno yang dikecam telah menyelewengkan kemurnian Pancasila yang dia temukan sendiri. Memang begitulah yang dikatakan dokter kepada saya. kalau harus mengucapkan kalimat yang begitu panjang sebanyak 99. dia minta dikabari kalau operasi sudah selesai. doanya 6 by Moezhanks .00 Senin (6/8) siang itu saya sudah diminta melepas baju saya. SMS terus mengalir masuk. Teman-teman Jawa Pos. “Sampai jumpa minggu depan. berdasarkan pengalaman mereka.000 kali dirasa akan memakan waktu yang lama sekali. dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusam Allah. pertanda waktu operasi sudah akan tiba. Setelah tidak ada pertanyaan. Siapa menyangka bahwa zikir pun sejak dulu sudah di-compress seperti itu. yakni mendengungkan kata “hu” bersama-sama sebanyak 99.000 penganut Buddha di shi mian fo (Buddha empat wajah) di Kenjeran. entah siapa yang punya inisiatif. Mereka akan melakukan sembahyang dan doa bersama. kata “hu” itu akan menjadi kalimat panjang: aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah. Tapi. Diganti baju kertas biru muda. dan dua hari memulihkan badan. sehingga perlu di-compress menjadi satu dengungan “hu” saja. Agar. Ada yang bertanya. kalau yang mengucapkan lebih banyak orang. lagi berkumpul di rumah saya di belakang Graha Pena Surabaya. Tentu dengan sistem borongan.” kata mereka. Saya minta suara teleponnya dibesarkan. Ibu Eric Samola. yang dulu punya inisiatif mengambil alih Jawa Pos dari keluarga The Chung Shen. SMS masih terus mengalir masuk. Untuk membuat agar suasana mereka tidak sedih. saya siap sekali.” kata saya. SMS juga masuk dari teman-teman Kristen dan Katolik. saya tutup pembicaraan saya dengan kata-kata. saya pikir. sistem compression zikir seperti inilah yang banyak dikecam aliran tasawuf lain dan terutama oleh kalangan syariah formal. Yakni. kira-kira saya perlu waktu satu minggu untuk bisa bicara lagi dengan teman-teman itu: satu hari operasi (pasti saya tidak bisa bicara). telepon saya tutup. Tokoh Buddha Surabaya juga mengirim SMS dan memberitahukan bahwa hari itu berkumpul lebih 1. Salah seorang di antaranya bertanya apakah saya dalam kondisi siap. Ada lagi beberapa pertanyaan dan harapan yang disampaikan dengan penuh suasana prihatin.Banyak Yang Doakan Panjang-Panjang. saya sudah akan bisa bicara lagi. tiga hari di ICU (juga pasti belum bisa bicara).

Sebenarnya saya bisa berjalan sendiri ke ruang operasi. saya beri tahu bahwa saya sudah tidak punya waktu bicara. Mereka melakukan doa berdasar kepercayaan mereka untuk keberhasilan operasi saya. Juga mata Robert Lai. Saya amati lorong-lorong apa saja yang dilewati kereta ini. “jia you” dalam bahasa Mandarin berarti “semangatlah!” . Lalu pintu ditutup. Badan saya sangat sehat. Saya berpesan kepada istri agar jangan lupa memberi tahu mereka nanti. Gedung rumah sakit ini memang terdiri atas dua tower. memegangi tangan saya. yang rupanya ikut makan siang. semangatnya itulah yang ikut mendorong saya punya semangat yang sama. dia terlihat mengepalkan tangan ke arah saya. Lift terbuka. karena sedikit agak terlambat dari jadwal. Tapi. bahwa siang itu 200-an tokohnya berkumpul di Pujon. Ketika melewati kamar pasien dari Jepang. di depan lift yang akan membawa saya ke lantai 13. Tempat ibadah itu memang saya yang meresmikan beberapa tahun lalu. akuntan terkemuka Surabaya. agar saat mengantar saya ke lantai 13 nanti. Kereta pun didorong keluar dari ruang saya di lantai 11 untuk dibawa ke lift naik ke lantai 13. Ada lima lift di situ. Dua lift ukuran normal. 7 by Moezhanks . Saudara Guo. rupanya. dan Robert Lai mengantar ke lantai 13. Juga jangan ada yang mengeluarkan air mata. Pak Alim Markus. Pak Mustofa. Rupanya saya harus segera tiba di ruang operasi. tiga lift ukuran besar untuk mengangkut kereta pasien. Malang. Ternyata. jangan ada yang menangis. Robert Lai adalah orang yang rajin berpesan kepada siapa pun. Anak laki-laki saya sibuk memotret. *** Kereta didorong amat cepat. Istri. Setelah itu semua harus melepaskan tangan dari tubuh saya. Saat saya sudah berbaring di kereta. Zoom! Tibalah saya di lantai 13. Tapi. Saya sering mengatakan padanya. Teman-teman dari penganut aliran kebatinan Sapta Dharma juga mengirim SMS. saudara angkat saya. dia akhirnya berteriak: “jia you!” tiga kali. “You” artinya bensin. Mata istri saya kelihatan sembap. Tapi. Tinggal saya dan beberapa petugas yang terus mendorong kereta itu ke ruang operasi. anak. semangatnya untuk sembuh luar biasa. Sambil menahan tangis.00 kurang 15 menit. tombol 13 dipencet. Tapi. Lalu. Pukul 14. Itulah petugas ruang operasi. Istri saya terus komat-kamit. memaksa bicara untuk memberi dorongan semangat agar saya kuat memasuki ruang operasi. dia lagi makan siang dengan para pengusaha teman saya di Hotel Shangri-La Surabaya. panah naik menyala. Demikian juga penganut aliran Sai Baba. Saya sudah di atas kereta yang siap berangkat ke ruang operasi. Saya tidak bisa lagi melihat istri. Tak sampai 5 menit saya sudah tiba di lobi lantai 11. Rupanya berdoa dengan serius. Saya harus segera berbaring di kereta itu. mengirimkan doa panjang yang biasa diucapkan Sai Baba di India sana. Oh. dan Robert Lai. saya lihat dia sendiri ternyata terisak-isak ketika melepas saya untuk dibawa petugas ke tempat yang dia tidak bisa lagi menyertai saya. Alim Markus juga pernah tiba-tiba sakit yang amat membahayakan hidupnya. telepon minta bicara.tentu tidak akan dihentikan. Mr Guo dan sahabat karib saya Robert Lai dari Singapura. anak. tanda ikut memberi semangat. peraturan tidak membolehkannya. “Jia” artinya tambah. tapi hanya bisa sampai di pintu tertentu. Saudara angkat saya. harus menyeberang ke gedung sebelah. kereta brankar sudah datang dengan beberapa orang yang berbaju biru muda.

jantung sampai ganti liver seperti saya. Belum Juga Di-”Garap” 29 Agustus 2007 Ketika memasuki ruang operasi. Padahal. Waktu terus berjalan. Saya akan dioperasi di gedung kanan. Dalam perjalanan sepanjang lorong-lorong itu saya menyadari bahwa saya tadi belum sempat berdoa. Tapi. Belakangan saya tahu judul lagu tersebut adalah Mei Fei Se Wu yang artinya “bulu mata menarinari”.Sudah Tiga Jam Dimatikan. Satu doa yang pendek dan mencerminkan kepribadian saya sendiri: Tuhan. Rumah sakit ini. Tuhan punya sistem file-Nya sendiri. dalam waktu bersamaan. saya tertegun. Akhirnya saya putuskan berdoa menurut keyakinan saya. sambil menunggu kedatangan saya. apakah Tuhan melihat saya sedang serius memintanya? Tapi. Kalau sudah dalam posisi sulit saja dia merengek-rengek setengah mati. Kereta pun tiba di depan ruang operasi. ada lorong untuk menyeberang dari gedung kiri ke gedung kanan. (iskan@jawapos. Tapi. kalau harus saya ucapkan sampai menangis dan mengiba-iba. kereta sudah hampir sampai di ruang operasi. matikanlah. terserah engkau sajalah! Terjadilah yang harus terjadi.co. Ruangnya sangat bersih. Apalagi. Kalau saya minta-minta terus kepada Tuhan. yang terdengar adalah musik soft-rock berbahasa Mandarin yang lagi digemari anak muda sekarang. Kalau saya harus hidup. Seluruh lantai 13 adalah ruang operasi. Begitu masuk. beberapa petugas 8 by Moezhanks . mata. Plong. apakah Tuhan tidak akan menilai begini: lihat tuh Dahlan. masih ada pertanyaan yang tiba-tiba muncul. Saya tidak mau ada kesan bahwa saya sombong kepada Tuhan. saya memutuskan tidak akan banyak-banyak mengajukan doa. bisa melakukan 30 operasi penggantian organ. Perdebatan di hati saya belum selesai.masing-masing berlantai 15. kapan saya menggunakan pemberian Tuhan yang paling berharga itu: otak? Maka saya putuskan akan berdoa se-simple mungkin. Saya tidak mau serakah. Suara musik itu cukup keras sehingga suasananya ingar-bingar. saya juga tahu bahwa sistem file di kerajaan Tuhan tidak membedakan doa yang dikirim secara biasa. dan modern. Tapi. entah seperti apa. yang dibawakan oleh penyanyi top Hongkong Zheng Xiu Wen. Perasaan saya tiba-tiba lega sekali. Di lantai 12 sampai 14. Rupanya. segera saja saya terlibat perdebatan dengan diri saya sendiri: harus mengajukan permintaan apa kepada Tuhan? Bukankah manusia cenderung minta apa saja kepada Tuhan sehingga terkesan dia sendiri malas berusaha? Saya tidak mau Tuhan mengejek saya sebagai orang yang bisanya hanya berdoa. Mulai ganti ginjal. kinclong (karena didominasi stainless steel). Apakah saya harus berdoa dengan biasa saja atau harus sampai menangis? Kalau doa itu saya sampaikan biasa-biasa saja. Saya tidak mau Tuhan mengatakan kepada saya: untuk apa kamu saya beri otak kalau sedikit-sedikit masih juga minta kepada-Ku? Karena itu. Saya harus berdoa.id) (bersambung) Ganti Hati 04 . nanti akan lupa kalau sudah dalam keadaan gembira! Saya tidak ingin Tuhan memberikan penilaian seperti itu. hidupkanlah! Selesai. secara khusus maupun secara tangis-menangis. Kalau saya harus mati.

“Ini orang asing. Robert ingin kamar saya lebih bersih lagi. lengan saya diperiksa seperti akan memasang selang. lalu memberikan beberapa perintah mengenai posisi badan saya. Robert yang sudah 11 bulan menemani saya ke mana pun pergi memutuskan untuk membersihkan kamar saya. Perawat yang lain mulai memasukkan cairan tertentu ke lengan saya. Kami pasang komputer. Kamar saya di lantai 11 terdiri atas dua ruang. Tapi. Saya baru akan dihidupkan lagi. Saya memang dapat menggunakan internet kecepatan tinggi di ruang saya ini. rice cooker. Dokter belum pada datang. saya tidak lagi mendengar suara musik itu. Di ruang tamu ini ada kamar mandi dan toiletnya. Sementara menunggu kabar. *** Sejak saya masuk ruang operasi pukul 14. nanti. perawat memutuskan tidak mau pakai itu. Istri saya tidur di ruang ini. kita harus pakai bahasa apa?” ujar salah seorang di antara mereka. lalu kami terjemahkan ke dalam bahasa Inggris agar seluruh keluarga saya memahami isinya. 18 jam kemudian. dan sahabat saya Robert Lai kembali ke kamar saya di lantai 11. tapi kalau malam bisa dipanjangkan menjadi tempat tidur biasa. Mata saya terus beredar dari dinding ke dinding. satu set sofa. water boiler. Saya ingin tahu apa saja yang ada di ruang itu agar. Di kamar ini mereka menantikan perkembangan operasi saya. Musik soft-rock masih terus ingar-bingar. dan internet. printer. Suasananya pun menjadi seperti di sebuah disko. Hanya dalam beberapa saat.00. kalau operasi berhasil. kami tidak makan di situ. Saya sudah dimatikan untuk persiapan operasi. Rumah sakit ini. Buku itu berbahasa Mandarin. bukan seperti di sebuah tempat yang menyeramkan. memang sudah sangat bersih. dia minta lengan kanan saya dimasuki jarum untuk memasukkan beberapa zat kimia ke badan saya. saya bisa menuliskan deskripsinya secara baik. Perawat akan selalu mengabarkan apa pun yang terjadi di ruang operasi. 9 by Moezhanks . tapi bisa berbahasa Mandarin. “Dia orang Indonesia. Harus bergeser sini dikit dan harus naik sedikit. lemari es besar. dispenser air mineral. Lalu. dan keran panas dingin. Dari alat ke alat. Rupanya dia sangat menikmati lagu itu. Tapi. Tidak boleh ada virus atau sumber virus yang akan membahayakan pascaoperasi saya. Rumah sakit juga sudah memberi kami buku panduan mengenai bagaimana menjaga agar tidak terkena virus. Ada ruang tidur pasien dengan kamar mandi khusus dan ruang pakaian. terutama gedung baru ini. Di ruang tamu ini ada satu set TV besar. ada satu ruang tamu yang besar di sebelahnya. ada satu meja makan dari kaca besar untuk makan bersama. istri. Di belakang sofa. Beberapa perawat mengikuti suara musik itu dengan suara mulutnya tanpa kata-kata. anak. laptop. Meja ini saya pakai untuk “kantor dalam pengasingan”. Maka saya sela pembicaraan mereka: Ya. Sudah diketahui bahwa virus pascaoperasi adalah pembunuh paling utama bagi pasien yang baru melakukan transplantasi organ. Juga tidak mendengar apa-apa lagi. saya bisa bahasa Mandarin sedikit-sedikit. Melihat tangan saya sudah dipasangi selang selama 3 bulan lebih. Di dapur kering ini ada microwave. Beberapa perawat membicarakan saya. di sebuah kursi yang kalau siang bisa untuk menambah kapasitas sofa. Mereka merasa lega.muda menyenangi lagu itu.” jawab yang lain. Yakni. Tepatnya kamar 1102. Lalu. karena memang pada tahap ini semua pekerjaan masih urusan perawat. Penerjemahan ini sangat bermanfaat karena banyak sekali pasien dari negara-negara Arab dan Pakistan yang kemudian minta kopinya kepada kami. dan satu set dapur kering. Maka.

kalau operasi gagal. untuk apa ya saya susah-susah belajar begini. (Bersambung) Ganti Hati 05 – Tunggu Operasi. Tiga orang guru secara bergantian mengajari saya bahasa Mandarin. semua peralatan yang ada di kamar ini dibersihkan. seperti besok tidak akan terjadi apa-apa. “Berarti. Lalu. Toh. Terutama rapat dengan partner-partner usaha yang dari Tiongkok. Semua kursi dan meja dicuci. Sampai sehari sebelum operasi saya masih “masuk kelas”. Lantainya menjadi mengilap. perawat masuk memberikan kabar bahwa sampai menjelang pukul 17. Di dinding satunya saya pasang peta Indoensia. Malaikat toh akan bertanya kepada saya di akhirat sana dengan (eh. krisis listrik di daerah itu sudah tidak ketulungan. “Hah?” gumam Robert seperti tidak percaya. memberikan koreksi mana yang saya salah dalam menggunakan kata-kata. saya harus panggil partner yang membangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Kalimantan untuk mencari jalan agar proyek selesai sesuai dengan jadwal. Saya mendatangkan guru dari IKIP di kota ini. di belakang meja besar saya pasangi white board. lantas saya pasangi asesori. juga untuk saya pakai belajar bahasa Mandarin. Sebab.00. Tapi. dari kursi di sebelah saya. Robert lantas menerjemahkan informasi dalam bahasa Mandarin itu kepada istri dan anak saya. Sambil menunggu giliran operasi yang tidak menentu waktunya. dan kertas-kertas yang selama ini di mana-mana diangkut ke apartemen. Ini saya pakai untuk latihan menulis cerita dalam bahasa dan tulisan Mandarin. sore dua jam. atau salah memilih huruf. mengirim dan menjawab e-mail. koran-koran. Dinding sebelah kanan saya tempeli peta Tiongkok yang besar sehingga mudah bagi saya untuk melihat negara ini secara keseluruhan. Saya juga beli proyektor yang saya hubungkan dengan laptop yang software-nya Mandarin.00 itu saya belum dioperasi. Robert Lai terperangah. Lalu.” katanya. Bersih dan kinclong. Misalnya. “Tiwas kita sudah tegang selama tiga jam. Ternyata belum diapa-apakan. Lalu. Suasana seperti Siaran Langsung Sepak Bola 30 Agustus 2007 Setelah diberi tahu bahwa liver yang akan dipasangkan di dalam tubuh saya ternyata baru akan tiba sekitar pukul 17. 10 by Moezhanks .Dari kamar inilah saya bisa membaca semua laporan perusahaan.” ujar perawat itu.00. Sehari empat jam: pagi dua jam. Bukubuku. Bukan saja untuk rapat. besok saya sudah tidak akan bisa lagi memanfaatkan hasil belajar saya ini. pakai bahasa apa. Ada juga sedikit tebersit perasaan. guru saya tinggal melihat sorotan proyektor. Berarti sudah hampir tiga jam saya di ruang operasi dan sudah dalam keadaan dimatikan. Di dinding-dinding kamar tamu yang kosong. tapi belum juga di”garap”. Tempat tidur saya lebih-lebih lagi. “Livernya baru akan datang sekitar pukul 17. baru 10 menit lagi livernya tiba?” tanya istri saya sambil melihat ke jam dinding. Dua jam setelah operasi bersih-bersih itu. disterilkan. saya memang memutuskan untuk meneruskan belajar bahasa Mandarin. dan tak jarang juga mengadakan rapat. ketika saya berada di ruang operasi. ya?) bahasa malaikat sendiri.

Lamanya tidak ada “kabar baru” itu rupanya semakin membuat teman-teman di Indonesia kian tegang. Tak lama kemudian. Itu pertanda malam tersebut banyak pesta perkawinan. melihat keluar masuknya ambulans di pintu gerbang depan sana. “Ini liver bapak yang sudah kami keluarkan. Dari kamar tersebut. Kabar pertama dari ruang operasi masuk pukul 22.00. Dinding kamar tersebut terbuat dari kaca. Dari ruang tamu di kamar saya itu. Robert. dan kengeriannya. Apalagi. anak. jam-jam itu sibuk membalas SMS yang masuk.00. pastilah itu suara ambulans yang membawa liver. Bangunannya dari luar mirip hotel. Dirut grup anak perusahaan Jawa Pos di Papua. Kami seperti sedang mendengarkan siaran langsung sepak bola lewat radio. Maka. Anak lelaki saya. Tentu mereka tidak diberi tahu bahwa operasinya belum jadi dilaksanakan pada pukul 14. terlihat juga pemandangan sungai yang bersih yang dipakai untuk arena mainan anak-anak serta keluarga. siapa tahu livernya dibawa dengan helikopter. katanya. mengudaranya kembang api berjam-jam di berbagai tempat. Mereka menunggu di depan lift untuk menerima instruksi berikutnya. “Go!” tambahnya. Istri saya juga memperhatikan puncak gedung tersebut. Dia mengira salah satu ambulans yang masuk pada jam-jam itu pastilah yang membawa liver yang akan menggantikan liver saya yang sudah rusak.” kata Robert kepada istri dan anak saya dalam bahasa Melayu yang agak sulit dimengerti. Dia lebih memfokuskan perhatian ke bawah. kami biasanya mematikan lampu kamar. 11 by Moezhanks . Semua seperti tidak sabar menanyakan perkembangan operasi saya. seperti baru terjadi beberapa minggu lalu.” kata seorang dokter. kalau Sabtu dan Minggu malam. Lalu. dan saudara angkat Guo naik lift ke lantai 13. Di atas gedung itu. kegagalan transplantasi liver di Tiongkok yang dialami tokoh seperti Nurcholish Madjid mendapat pemberitaan yang sangat besar. Dari kamar itu juga terlihat simpang susun jalan layang yang melingkar-lingkar di depan rumah sakit. Yakni.Dia lantas memperhatikan pintu masuk rumah sakit dari lantai 11. Sejumlah dokter membawa barang berdarah dan meletakkannya di lantai. Istri saya kali ini tidak memperhatikan semua itu. dari dalam kamar saya. tapi dalam keadaan musuh selalu mengancam ke gawang kita! Semua itu saya nilai wajar karena operasi penggantian liver tidaklah gampang. Istri saya ingin melihat masuknya ambulans yang mungkin membawa liver yang akan dipasangkan ke dalam tubuh saya. agar warna-warni kembang apinya lebih jelas. pintu lorong tempat saya dimasukkan menuju ruang operasi sore tadi terbuka. Kalau sudah ada pesta kembang api seperti itu. di bagian tengahnya. Di seberang kamar itu terlihat gedung pertama rumah sakit yang tingginya 17 lantai. bahwa kalau ada suara “nguing…nguing…” masuk ke rumah sakit. siapa pun memang bisa melihat apa yang terjadi di luar sana. Lantai paling atas rata. “Kita diminta naik ke lantai 13. seperti ini: Kami tiap 10 menit SMS ke Mas Azrul (Posko di Tiongkok) atau ke Mbak Nany Wijaya (Posko di Surabaya). Di situlah helikopter yang membawa pasien darurat atau helikopter yang membawa liver yang urgen mendarat. Ketegangan selama menunggu berlangsungnya operasi digambarkan oleh Yoto. Mereka hanya diberi jawaban “Belum ada kabar baru dari kamar operasi”. istri. sering bisa melihat pemandangan indah. terdapat tambahan tiga lantai bulat. Kepada kita akan ditunjukkan sesuatu. Dia punya khayalan. Kegagalan tersebut.

Kabar selesainya operasi juga dikirim ke umat Buddha yang terus bersemedi di Kenjeran. berita berikutnya disampaikan. Diteruskan juga ke warga Sapto Dharmo di Pujon. Madiun. sepertinya pemain kita anti menyerang terus. Anak saya memotretnya dari berbagai sudut. Itu berarti saya baru akan siuman sekitar pukul 07. Dan. Tapi. “Jepret. apakah kankernya telanjur menyebar atau tidak. istri saya langsung lemas dan terduduk. “Seperti daging yang dipanggang kematangan. tentu mungkin masih akan terlihat anak-anak dan cucu-cucunya. Mereka sudah bisa menghentikan peribadatannya. “Kira-kira 6 jam lagi.” kata dokter sambil jarinya menuding ke arah benda yang dimaksud. Robert kembali ke apartemen. bagaimana persisnya keadaan liver lama saya itu. Liver lama tersebut memang tidak boleh dibawa.” jelas seorang dokter kepada Robert. di dalam liver saya sudah ada tiga kanker yang besar (ukuran 6 cm. masih harus menunggu hasil penelitian. “Masya Allah. Sesaat kemudian.” ungkapnya. menurut hasil MRI sebelumnya.Melihat “barang” tersebut. Di situlah berbagai 12 by Moezhanks . Malam itu. Mengapa? Liver itu masih akan dimasukkan ke laboratorium untuk dianalisis lagi lebih teliti. Dokter lantas mengiris lagi bagian lain. Suatu berita yang menggembirakan. Keluaga saya sudah lebih tenang. Lalu. Pukul 24.” kata anak saya. Sebab. Dari foto mereka ketika mendengarkan penjelasan itu. yang lebih penting. menyelesaikan operasi terhadap saya.” ujarnya. Liver itu sudah begitu rusaknya. “Waktu bersujud itu. Kita lantas seperti sedang menantikan terjadinya golgol ke gawang lawan. Demikian pula dengan seluruh rekan yang memonitor perkembangan operasi dari Aceh sampai Papua. Bahkan sudah tersenyum-senyum. Surabaya. “Doa apa saja yang bisa saya ucapkan. Lalu.” tulis Yoto di SMS-nya dari Papua. Kami baru akan diberi tahu sekitar seminggu kemudian. Dan. “Pak Yu Shi Gan (baca: i-se-kan) akan segera dibawa ke ICU untuk menunggu siuman di sana. “Itu lihat.00 keesokan harinya. Pintu ditutup lagi. dokter menjelaskan bagaimana keadaan liver saya yang sudah dikeluarkan itu.00. Saya tergolek menunggu siuman di ruang ICU di lantai 12. Digulanggulingkannya. di mana lawan sudah tidak memborbardir gawang kita lagi. terlihat jelas bahwa wajah-wajah mereka sudah tidak tegang. masih ada dua lagi calon kanker baru. “Liver ini kami bawa kembali. menyayat-nyayatkan pisau di beberapa tempat untuk melihat dalamnya. Dibenggangkannya irisan itu dengan jarinya yang masih terbungkus sarung karet. “Suasananya lantas seperti mendengar siaran radio pertandingan sepak bola.” ujar dokter. Lalu.” ujar dokter sambil kembali membungkusnya. Operasi sudah selesai. dan 2 cm). Semua disampaikan anak saya kepada teman-teman yang menanyakan perkembangan operasi saya. Keluarga di Samarinda. Ada kanker di dalamnya. Bukan hanya mengenai apa saja yang ada di dalamnya. 4 cm. dia bersujud di dekat seonggok daging berdarah itu. melainkan juga untuk melihat sudah ada berapa kanker yang muncul. Hanya boleh difoto. para dokter meneruskan lagi pekerjaannya. dan Surabaya diberi tahu perkembangan itu.” anak saya memotret lagi bagian itu. Bahkan. istri dan anak saya langsung bisa tidur. Anda mengucapkan doa apa?” tanya saya beberapa hari kemudian. Saudara ketiga Guo pulang ke rumahnya. “Pukul berapa akan siuman?” kata Robert.

Seperti orang yang ngantuknya luar biasa. mata tidak mau membuka. barangkali juga tidak ada oksigen yang dialirkan ke hidung saya. Lalu. Tapi. Tapi. Kelihatanlah samar-samar bahwa saya sedang di ICU. ini permintaan agar keran oksigen diperbesar.” komentar spontan yang muncul. Saya yakin bahwa saya segera mengatasi persoalan sesak napas itu. setengah putus asa. tapi tetap saja tidak punya kemampuan membuka kelopak mata sendiri. (bersambung) Ganti Hati 06 – Begitu Sadar. Saya bersyukur kepada Tuhan sekaligus hormat kepada ilmuwan. Mungkin juga yang terjadi sebenarnya tidak seperti itu. Begitulah kalau sadar dan tidak sadar bercampur jadi satu. tapi tak terucapkan. Tapi. Perasaan saya saja bahwa saya sedang menggerak-gerakkan jari. saya tetap berusaha sekuat tenaga. “Saya hidup. yang baru saja dibius selama 18 jam. Napas bisa ditarik dengan normal seperti biasa.jenis kabel dan selang menempel dan menancap di tubuh saya. mungkin perawat tidak melihat isyarat di tangan saya. napas terasa sesak. Mata pun lama-lama bisa membuka. seperti untuk sementara menggantikan nyawa saya. Tapi. Bahkan. tapi sebenarnya tidak ada jari yang bergerak sama sekali. Apalagi seperti saya. Saya lantas memberikan isyarat kepada perawat dengan tangan saya. Rasanya kok seperti mau mati karena kekurangan udara. Tentu saya amat bersyukur. Antara sadar dan tidak. sadar bahwa saya ini sedang dalam proses dari tidak sadar ke sadar. Saya gerak-gerakkan terus jari-jari saya dengan gerakan seperti memutar keran. Teriak “Saya Hidup”. Di ruang perawatan khusus setelah menjalani penggantian liver. Ingin sekali mata melihat siapa saja yang bersuara itu. tapi Tak Terucap Suasana orang yang lagi mau siuman selalu saja begini: Mula-mula terdengar dulu pembicaraan orang-orang yang berada di sekitar kita. Maksud saya. tapi Tak Terucap 31 Agustus 2007 Begitu Sadar. Sesaat kemudian. tapi ingin sekali membuka mata sebentar agar bisa melihat sekeliling. Seperti orang yang lagi kekurangan oksigen. Saya yang sudah pengalaman beberapa kali dibius (meski dulu tidak sampai 18 jam seperti saat penggantian liver kali ini). syukur saya tidak sampai mengabaikan rasa hormat saya kepada mereka yang telah belajar keras di universitas dan menggunakan akalnya secara sungguh-sungguh hingga melahirkan ilmu pengetahuan yang sangat maju. rasa sesak itu berkurang. Saya hidup. Berharap karena ternyata masih bisa bernapas. menjadi lega. saya coba menggerakkan jari-jari tangan saya seperti sedang memutar keran. Operasi tidak gagal. putus asa karena jumlah oksigen kok seperti tidak segera cukup dan seperti mengancam kehidupan. Kesadaran ini datang tujuh jam setelah operasi. Agak berat memang. sebenarnya. Saya hidup. kok sulit sekali ya? Maka. Teriak “Saya Hidup”. Perasaan lantas seperti setengah berharap. Lama-lama. 13 by Moezhanks . Suara-suara itu tambah lama tambah jelas.

peritonium (selaput dinding perut).” ujar perawat lebih lanjut. Tiga lainnya masuk lewat pembuluh darah besar di leher kanan. Saya tahu. barulah saya sadar bahwa begitu banyak instrumen yang ada di sekitar tempat saya berbaring. Akhirnya broll! Dahak yang amat banyak bisa keluar. Kabel-kabel. Yang lain untuk mengirimkan makanan langsung ke usus saya. Cara demikian juga saya ketahui dari buku petunjuk. “Uhuk! Uhuk!” Selesai. Namun. seperti yang sudah diajarkan perawat. 14 by Moezhanks . Meski sudah berhasil mendapatkan dua jenis kelegaan (bisa bernapas normal dan bisa mengeluarkan dahak dalam jumlah besar). Satu selang masuk lewat lubang yang sengaja dibuat di bagian depan leher. yakni lewat tenggorokan. tapi tidak juga berhasil. Mula-mula rasa dada penuh dengan cairan lendir. Suara tat-tit-tat-tit dari mesin-mesin elektronik di sekitar saya mendominasi pendengaran saya. “Apakah saya terlalu meremehkan saat latihan?” tanya saya. perawat mengatakan bahwa itu normal saja. “Tidak.Setelah senang karena masih hidup. masih ada empat selang lain yang menancap di leher saya. Kalau tidak. Setelah hampir dua hari tidak ada makanan apa pun yang masuk ke perut. itu hanya untuk menyenangkan hati saya. dan saluran infus seperti bertaut-tautan. sejak beberapa hari sebelum operasi. Untuk mengeluarkan lendir itu. karena pembuluh darah di esofagus (jalan makan yang menghubungkan mulut dengan lambung). saya juga takut akan bahaya dahak itu terhadap paru-paru. Saya berusaha terus membatukkan diri. Dalam praktik. maka diambillah jalan pintas. Begitulah bunyi petunjuk yang saya baca sebelum operasi. “Apa sih sulitnya batuk?” kata saya dalam hati. Bahkan. Sebagian mungkin karena saat itu saya sudah tidak lagi punya tenaga sebaik saat latihan. maka sisa lendir di paru-paru pun tidak bisa saya keluarkan sendiri dengan cara batuk atau berdahak. selang-selang.” kata perawat. Rasa-rasa tidak enak mulai muncul satu per satu. Sebatuk-batuknya. Tapi. Yang satu untuk membuang sisa makanan dari lambung saya. Dan karena belum bisa bernapas sendiri. saya harus berbuat seperti membatukkan diri keras-keras. latihan dan kenyataan ternyata sangat berbeda. Ketiga. Sehingga perlu dibantu. ternyata saya sulit sekali lulus. saya meraskan tidak ada kesulitan. akan membahayakan paru-paru. dan usus saya masih rawan pecah sehingga perlu dilindungi. Agar “bantuan” itu bisa cepat sampai ke paru-paru. Sehingga perlu ada yang “mencarikan.” Selain itu. Napas terasa amat lega. saya kan belum bisa bernapas sendiri. Ketika saya tanya mengapa begitu sulit saya mengeluarkan dahak itu. perawat sudah melatih cara berbatuk yang bisa mengeluarkan dahak. pertama. Saya diberi napas bantuan karena sampai beberapa jam pascaoperasi. tapi masih banyak yang membuat badan saya sangat tidak nyaman. Kedua. Cairan itu harus segera bisa keluar sebagai dahak. tenaga pun rupanya ikut hilang. kedua selang itu dikenal dengan sebutan sonde. Waktu latihan.gunanya untuk mengalirkan napas bantuan dan membersihkan kelebihan lendir di paru-paru (broncho toilet). karena liver baru saya belum bisa “cari makan” sendiri. saya belum bisa makan sendiri. Mengapa langsung ke usus? Sebab. Dalam dunia kedokteran. Sudah saya usahakan batuk semirip-miripnya batuk waktu summa cum laude. Satu selang yang dimasukkan lewat leher depan -di antara tulang belikat. Dua selang kecil itu punya tugas sendiri-sendiri. Perawat menyatakan saya berhasil menjalani latihan dengan tingkat kelulusan summa cum laude. Karena di lubang hidung masih ada dua selang yang dimasukkan sampai ke perut saya. “Bagi perokok lebih sulit lagi mengeluarkan dahak itu.

“Jangan sampai nanti meninggalnya justru hanya gara-gara kejatuhan singkong di jalan raya. Gunanya untuk mengalirkan semacam infus yang mengandung protein dan kalori tinggi. dan kabel yang saling berhubungan di tubuh saya. Melihat keruwetan di sekitar tubuh saya. itu bukan disiapkan untuk cairan infus atau injeksi. Sebab. Saya justru teringat humornya rekan Zainal Muttaqien. truknya nabrak kita!” Humor khas orang Surabaya. salah satu ujung tri lumen bisa dihubungkan dengan alat monitor yang bisa menunjukkan perubahan kadar air di tubuh saya setiap menit. Kabel itu juga terhubung dengan layar monitor. Melainkan untuk transfusi (tambah darah) bila diperlukan. bila perawat ingin mengambil sampel darah atau menyuntikkan obat. Setidaknya untuk sementara. Humor ludrukan. Bahwa di tangan saya masih ada semacam pentil yang biasa dihubungkan dengan selang infus. Yang lebih istimewa dari tri lumen adalah bisa untuk memonitor kadar air dalam tubuh (central venus pressure=CVP). Ini agar saya bisa menggambarkannya dengan baik 15 by Moezhanks . tak perlu lagi dengan menusuk-nusuk tangan saya. Tapi. botol. Sebab. itu bisa mengalihkan perhatian saya dari rasa ruwet dibeliti selang dan kabel. Infus jenis ini memang harus lewat pembuluh darah besar. Ujung jari tangan dan kaki juga dijepit dengan alat yang dihubungkan dengan kabel ke layar yang lain lagi. yang dalam istilah kedokteran disebut dengan tri lumen atau central IV (baca : ai vi) line. secara otomatis. Lengan kanan saya juga sedang dipasang jarum untuk mengalirkan berbagai jenis infus. sebenarnya.” Apa kejatuhan singkong di jalan raya bisa membuat orang sampai meninggal? “Lha singkongnya satu truk. Yakni mengenai susah payahnya seseorang untuk menyelamatkan hidup (mungkin seperti saya ini). tapi meninggal oleh penyebab yang amat sepele. Ketidaknyamanan lain yang saya rasakan saat itu adalah adanya alat pengukur tekanan darah yang dipasang di lengan kiri. Saya berusaha tidak memikirkan itu. saya mencoba untuk tidak merasa terganggu. Dirut anak perusahan di Grup Kalimantan yang kini jadi direktur Jawa Pos. Dinding pembuluh darah utama yang leher lebih kuat sehingga cukup kuat untuk dilewati infus jenis ini meski sampai tiga bulan secara terus-menerus.Sedangkan tiga selang lainnya masuk lewat pembuluh darah besar. Itu belum semuanya. Alat itu secara otomatis akan mencengkeram lengan saya sangat kuat setiap setengah jam sekali. tidak boleh lewat pembuluh darah di tangan seperti biasanya orang diinfus. Ujung selang infus itu bercabang-cabang karena lima macam cairan dari botol yang berbeda harus mengalir ke tubuh saya lewat satu jarum tersebut. Dengan begitu. saya ingin menghitung berapa banyak selang. Lalu. Fungsi lain tri lumen adalah untuk memasukkan obat-obat injeksi yang harus lewat pembuluh darah dan mengambil sampel darah. konsentrasinya sangat tinggi sehingga bisa merusak dinding pembuluh yang dilewati. Angka-angka tekanan darah otomatis keluar di layar monitor. *** Pagi tanggal 7 Agustus 2007 itu. Karena masih ada sejumlah alat dan kabel yang ditempelkan di dada kiri dan kanan untuk mengecek denyut jantung.

Berarti sudah satu malam saya tidak sadar sama sekali. saya melihat anak lelaki dan istri saya mendekat. Kecuali orang asing yang memerlukan penerjemah. jam sembilan siang! Tahulah saya bahwa saat itu sudah pagi hari. saya ragu apakah itu terangnya matahari atau terangnya lampu? Saya berusaha melihat jauh ke dinding. waktunya sudah siang atau masih malam. bisa jadi tenggorokan saya akan terluka dan itu akan menyulitkan diri saya sendiri akhirnya. Dan tahulah saya bahwa pandangan saya benar-benar gak sempurna. Kalau saya paksakan omong. 16 by Moezhanks . ke arah jam besar dipasang. Saya segera melambaikan tangan ke arah istri dan anak saya. Saya memang tidak bisa omong jelas karena banyaknya selang di tenggorokan. Hanya secara timbul tenggelam saya melihat secara kabur bahwa itu seperti jam 11. Saya tidak mungkin bisa menoleh karena begitu banyak selang di leher. putra Kiai Faqih. Misalnya. informasi bahwa malam itu santri Pondok Langitan berdoa bersama dipimpin langsung oleh Gus Dulloh dan Gus Maksum. ya memang saya belum sepenuhnya punya kemampuan normal. sedang tidak menggunakan kacamata. Maka. saya bertanya. Kedua. Tidak mungkin. Tapi 11 malam atau 11 siang. Ketika saya lihat ada perawat mendekat. kesadaran saya dan tenaga saya tidak terlalu komplet pagi itu. Ingin sekali saya berusaha mengalihkan pandangan ke kiri atau ke kanan. Sepanjang. saya tidak sepenuhnya mengerti apakah ketika saya mulai sadar itu. Tapi. pandangan saya lamur. Namun. Anak saya menceritakan apa yang sedang terjadi dan apa yang mereka lakukan malam sebelumnya. Juga menyampaikan daftar nama yang mengirim salam dan memberikan dukungan batin lewat SMS. “Wan shang. Pertama. saya tanya lagi. saya tidak tahu apakah terang di balik kepala itu karena dinding kaca atau karena ada lampu yang dipasang di situ. Apalagi kalau harus mendongakkan kepala untuk melihat sumber terang di belakang kepala saya. hai shi shang wu?” Dia jawab. Tapi. Saya berusaha untuk tersenyum sebagai ganti kata-kata bahwa saya baik-baik saja.kalau kelak harus menuliskannya untuk pembaca. Satu-satunya cara untuk bisa mengetahui situasi waktu. saya sungguh ragu dengan kemampuan saya memperkirakan.00-an. Memang hanya dua orang dari pihak keluarga yang boleh masuk ICU. Orang yang baru siuman setelah dibius selama 18 jam tidak memiliki tingkat konsentrasi yang sempurna. Bahkan. (bersambung) Ganti Hati 07 – Tahan Tak Bergerak 24 Jam di ICU karena Terbiasa 12 Jam di Jawa Pos 1 September 2007 SATU jam setelah sadar. “Jam sembilan”. Juga dari Panti Asuhan Yatim Piatu Zainudin. “Ji dian?” Jawabnya. Baluran. ini jam besuk ke ICU. sulit sekali untuk bisa melihat dengan jelas. Lama sekali saya menebak-nebak: siangkah ini? Malamkah ini? Memang suasana ruang ICU sangat terang. Oh. Jarum yang menunjuk jam 9 saya kira menunjuk angka 11. Lalu. Tapi. Kelopak mata berat sekali. maka ditambah satu penerjemah. ya hanya dengan melihat jam di dinding sana itu. namun tidak bisa.

Saat mulai membangun Jawa Pos dulu. Bukan saja oleh kemiskinan. Sepatu itu menimbulkan rasa tidak nyaman yang hebat. tapi itulah bagian yang harus dijalani untuk sukses. 30 hari sebulan. Setelah memotret-motret secukupnya. 17 by Moezhanks . saya nikmati saja proses ini. jadilah saya inspektur upacara dengan sepatu di kaki. akibatnya bisa berupa penderitaan yang panjang. Karena itu. Tiap malam. Kalau saya bergerak untuk tujuan mengenakkan badan sesaat. pembuangan liver lama. Saya cari ikan karena takut dengan guru bahasa Inggris. Rapor saya merah semua. ketika kelas 3 SMA. Sampai kelas 2 SMA. Ini bukan operasi kecil. saya merasa akan mampu melakukannya. Mengapa? “Kalau sepeda itu rusak. saya kelihatan agak pinter di kelas. Hanya tiap Senin sepatu itu saya pakai. Saya anggap saja sebagai yoga yang panjang. ternyata memang bisa. bapak melarang saya untuk belajar naik sepeda. Maka. Tapi. Misalnya. Mengeluh hanya akan menambah penderitaan. Akibatnya. Ini agar luka-luka akibat operasi dan penyambungan pembuluh darah di liver tidak terganggu. saya sudah belajar tahan menderita. namun belok ke sungai di tengah jalan. Bapak marah besar. Kali ini saya juga harus mampu memenuhi persyaratan untuk tidak bergerak selama 24 jam! Sejak kecil pun. kalau lagi ada pelajaran bahasa Inggris hari itu. 360 hari setahun. Dan. Kadang. Juga sering ditunjuk sebagai inspektur upacara pada tiap Senin. Yang berat adalah menahan diri untuk tidak menggerakkan badan sama sekali. saya sadar sepenuhnya memang begitulah pascaoperasi. ya itu sudah risikonya. Banggakah saya? Ternyata tidak. saya belum punya sepatu. tidak bergerak selama delapan jam. pembukaan rongga dada. saya tidak naik dari kelas 1 ke kelas 2. Saya pernah menjalani dua operasi sebelumnya. Dua-duanya mengharuskan saya. kalau kali ini saya harus tidak bergerak selama 24 jam pun. Bagian ini juga harus saya jalani dan saya lewati sebagaimana saya harus menjalani dan melewati proses pembiusan. tapi juga oleh kerasnya sikap bapak saya. Karena dalam hati saya tersiksa. Satu jam berangkat dan satu jam pulang. tiap malam saya harus berdiri di ruang layout lebih dari 12 jam. Bahwa akan amat penat. Tujuh hari seminggu. saya bisa beli sepatu (sepatu kets bekas yang ujung jempolnya sudah bolong dan bagian tumitnya sudah berserabut). Atau sebagai bagian dari zikir-pidak di tarekat Sathariyah. mereka pamit. Apalagi harus selama 24 jam. Saya harus sekolah sejauh 6 km dengan jalan kaki. kecuali ilmu bumi yang mendapat angka enam. cita-cita saya bukan itu. kalau bisa. Cita-cita saya adalah “bagaimana agar punya sepatu”. bahkan menimbulkan luka. Maka. saya tetap berangkat dari rumah. Tinggal saya sendiri lagi menghadapi ketidaknyamanan keadaan. sampai kelas tiga SMA (aliyah). Tiap hari ke sekolah dengan telanjang kaki. Saya sudah bertekad bagian ini pun harus bisa saya lewati dengan baik. kemudian sering jadi ketua berbagai kegiatan. Bahkan. Sejak itu. Penatnya bukan main. Lama-lama. saya hemat benar pemakaiannya. Saya juga merasa bersalah kepada kakak saya yang telah meninggalkan gajinya untuk saya dan adik saya. dan pemasangan liver baru. saya berada di sungai. Ini operasi besaaar! Kalau setelah operasi ada rasa sakit. Saya berhasil menjalani itu dulu.Istri saya diam saja seperti tertegun melihat ruwetnya jaringan kabel dan selang di sekitar badan saya. bagaimana kita bisa menggantinya?” katanya. Saya tidak mengeluh. Tapi. Maka. Maka. saya belum bisa naik sepeda. pastilah demikian. tiap pelajaran bahasa Inggris.

meski hanya cukup untuk beli dawet (minuman khas di desa). Kalau beli sepatu. Begitulah. Karena itu. untuk dipandang setiap hari. Padahal. Sambil merasa memang saya bersalah. Begitu penuhnya sehingga istrinya suatu saat bilang kepada saya. suatu hari. Tapi. Jumlah dan warnanya menunjukkan normal tidaknya ginjal dan berfungsi atau tidaknya organ penting itu. Ayah bukan hanya marah karena alat-alat cari uangnya dipakai secara salah. akan timbul bunyi “crek-crek”. yang saya pasang di kotak kayu. saya tak perlu lagi merasa akan kencing. ayah menggosok-gosok alat-alat itu sampai tajam. “Sampai jalan masuk ke kamar tinggal satu galengan (pematang). Ujung selang yang satunya dimasukkan ke kandung kemih melalui lubang kemaluan. saya hanya tersenyum ketika melihat anak saya mempunyai sepatu sampai lebih dari 300 dan semuanya branded alias bermerek. Saya duduk mendalang di sebelahnya. apalah beratnya. Ini gara-gara saya sering menggunakan alat-alat pertukangannya untuk ndalang. *** Sebenarnya. bapak malah menghentikan pukulannya. air kencing saya keluar dengan sendirinya melalui selang. Kecrek itulah. kalau hanya akan ditambah 24 jam di ICU ini. Dengan adanya selang yang di lubang kemaluan itu. Dia memang hobi mengoleksi sepatu. selama di ICU. Dan. Kalau disentuh. Puluhan tahun saya menderita. kelirnya terbuat dari sarung saya. selang yang di pinggang juga untuk mengeluarkan cairancairan yang tidak dibutuhkan tubuh saya. Sebab. Hanya dia jejer di lantai rumah. Selain karena ukurannya yang cukup besar. Bapak sangat sayang pada alat pertukangannya. dia tidak ingin kotak dan labelnya dibuang. ada yang mungkin tidak sadar. kecreknya dari alat pertukangan ayah. Secara teratur. tapi juga karena di kotak itu ternyata ayah menyimpan uang. saya menangis. Ujung lain dari masing-masing selang itu masuk ke kantong plastik penampung cairan yang digantungkan di pinggir ranjang pasien. masuk ke kantong penampungnya. dalam posisi menumpuk. Saya diam dan menikmati pukulan itu. Saya pilih menjalani proses tidak bergerak dengan kesadaran sendiri daripada harus diikat seperti itu.Karena itu. Perawat ICU memuji ketahanan saya. anak-anak pasah itu (alat untuk menghaluskan kayu) saya gandeng-gandeng. begitu kandung kemih saya penuh. juga lantaran ujung dua dari tiga selang-selang itu dimasukkan ke dalam rongga perut saya melalui pinggang kanan dan kiri. Semua cairan itu juga ditampung di kantong plastik. kata saya dalam hati. Satu bunyi yang penting dalam memainkan wayang. air kencing di kantong itu diukur dan dianalisis.” Saya juga pernah dipukuli bapak dengan sapu. saya pikir tidak ada gunanya. uang itu ikut saya ambil untuk saya belikan dawet. tangan saya tidak perlu diikat. Sama dengan yang di ujung kemaluan. Banyak pasien yang tangan dan badannya harus diikat karena selalu berusaha untuk bergerak. lalu secara teratur diukur dan dianalisis. masih ada tiga selang lagi yang juga amat mengganggu. Dan. Gamelannya adalah mulut beberapa teman sepermainan. Dia juga tidak pakai sepatu itu. Wayangnya terbuat dari rumput. Bahkan. Mula-mula. tangannya berusaha mencabut selang-selang yang memenuhi tenggorokannya. tapi itulah satu-satunya tabungan ayah. Namun. 18 by Moezhanks . Ternyata. Kaki saya dalam posisi akan sering menyentuh kecrek tersebut sehingga bisa menimbulkan bunyi “crek-crek”. Kalau tidak lagi ada orang yang minta memperbaiki rumahnya.

seperti ceceran darah. makin berbahaya karena peritonium bisa pecah dan orangnya meninggal. Lukanya lebar. Bahwa sebenarnya badan tidak enak. Selama saya di ICU. bisa dirasakan. dengan cara mengeluarkan lebih banyak cairan. Biasanya hanya kami siram dengan minyak tanah. Dan akhirnya berhenti karena luka-luka bekas sayatan operasi itu sudah “kering”. saya tahu paling-paling hanya akan diberi obat penghilang rasa sakit. painkiller. mencangkul di sawah. saya bertekad untuk tidak mengeluh. selang yang di pinggang kanan berfungsi untuk mengeluarkan sisa darah yang mungkin masih menetes dari luka bekas sayatan operasi di liver dan kantong empedu baru saya. saya sudah sering mengalami rasa sakit seperti itu. memutih. Ini berarti semua ceceran darah sisa operasi sudah didorong keluar dari rongga perut. Saat dokter bertanya apakah ada masalah. sakitnya. cangkul meleset dan mengenai telapak kaki. Makin hari. Dan. ya mesti saja. maka selaput dinding rongga perut -yang dalam istilah kedokteran disebut dengan peritonium. Tapi. Jika ada sesuatu yang tidak terdaftar sebagai “penghuni rongga perut”. cairan itu makin sedikit keluarnya. masih bisa saya rasakan. Rongga perut memang harus bersih dari “barang asing”. bukankah memang harus demikian? Bukankah ini operasi yang sangat besar? Yang tidak mungkin tidak sakit? Tapi. tapi saya berusaha tabah menjalaninya.Bedanya. Kain yang tidak pernah dipertimbangkan bersih atau tidak karena ya baru disobek saat itu juga. saya bilang tidak ada. selang di pinggang kanan mengeluarkan cairan pekat berwarna merah. meski sakit sekali. Apalagi seminggu sebelumnya saya baru saja baca bahwa Australia melarang penggunaan painkiller tertentu karena terbukti membuat pasien yang baru menjalani transplantasi liver meninggal dunia. Yakni luka yang sengaja dibuat dengan pisau bedah di sepanjang dada dan perut saya untuk mengeluarkan liver yang lama dan memasukkan liver yang baru. Tentu tidak ada obat. Sakitnya saat habis operasi ya kurang lebih seperti itu. Cairan itu merupakan kelebihan cairan di rongga perut yang bercampur dengan sisa darah operasi yang tercecer dan berkeliaran. selang di pinggang kiri juga mengeluarkan cairan kuning kemerahan. sepanjang sakitnya masih masuk akal. Tak lagi berdarah. cairan yang keluar dari pinggang kiri saya pun makin hari makin berkurang warna merahnya. Waktu kecil saya memang sering ikut jadi buruh tani. sel tumor atau kanker. Yakni sakit akibat luka. Ini pertanda tak ada lagi kelebihan cairan di rongga perut saya. lalu kami bebat dengan kain sobekan dari kaus atau sarung. Karena itu. Hari-hari pertama di ICU itu memang harus saya lalui dengan amat menderita. dan berdarah-darah. Saya gak mau itu. Itu berarti satu racun lagi akan dimasukkan dalam tubuh saya. Tapi. Kadang masih bercampur lumpur juga. Yakni ketika telapak kaki terkena cangkul. posisi ujung selangnya ada di dekat kedua organ yang baru ditransplantasikan itu. Makin banyak cairan yang keluar. Kalau saya merasa kesakitan. ketika kecil. sekali lagi. Sama dengan yang di pinggang kanan. protes.akan bereaksi. Tidak mungkin setelah perut ditutup tidak menimbulkan rasa sakit. Sehingga selangnya pun bisa dicabut. Saya tidak mengeluh kepada siapa pun. Jumlahnya pun makin hari juga semakin sedikit. Bersamaan dengan keluarnya sisa darah dari pinggang kanan. Sakit ini. yang disiapkan untuk menanam padi. Kadang. (bersambung) 19 by Moezhanks . Liver dan empedu baru saya tidak termasuk dalam kategori “barang asing” yang ditolak karena kedua organ itu kan sebenarnya penghuni rongga perut juga.

kalau dalam satu hari itu tidak juga reda. Lalu dia lapor ke dokter. Tapi. Hanya. Lebih 20 by Moezhanks . Atau lebih baik mati saja. dan entah berapa jenis rasa sakit menjadi satu. Ini baik. mata terus terpejam. Yakni. melintir-lintir. Saya bilang kepada Robert Lai yang menunggui saya di Singapura. ke Medan. mual. Tidak ada gunanya hidup dalam keadaan seperti itu. Bukan. Ke Surabaya. kata saya kepadanya. Mereka jelas lebih hebat dari saya. Yakni. Saya akan cari jalan lain saja. rasanya luar biasa tidak karuan. Tak terasa sore pun tiba. *** Hari pertama di ICU itu saya tidak merasa mengantuk. Dia harus menjalani kemo berpuluh kali hingga kepalanya gundul. mulas. Lalu dikemo. Dalam hal ini saya merasa kalah dengan Sara. atau umur paman-paman saya. Tapi. Saya minta mati saja. Rasanya saya tidak punya kekuatan untuk membuka kelopak mata saya sendiri. Ini bukan untuk menunjukkan bahwa saya pernah hampir putus asa. Sedang saya tidak tahan. selang yang dimasukkan ke rongga perut lewat lubang hidung juga dicabut. Karena tidak melulu tercurah ke rasa sakit. saya kemudian memutuskan tidak mau lagi dikemo. agar tidak berakibat buruk pada luka-luka operasi saya. Pasti painkiller. Baik luka di kulit akibat sayatan pisau atau luka di dalam akibat terjadinya penyambungan-penyambungan pembuluh darah. Batam sampai ke Palu. (Kelak akan saya jelaskan apa itu di-TACE). cantik. satu selang yang dimasukkan lewat leher kanan saya dicabut. Semua saya catat dalam ingatan saya. tinggi. salah satu manajer keuangan saya. melainkan untuk menunjukkan kekaguman saya kepada orang-orang yang mampu menjalani kemo berkali-kali. Kini dia kembali cantik dan sudah melupakan penderitaan kemonya. Saya juga suka memperhatikan kesibukan di ruang ICU itu. Agak lebih sore lagi. Tidak tahan. Juga sudah melebihi umur ibu saya. Memperhatikan apa saja yang terjadi di ICU itu membuat perhatian saya terbagi. Setelah dikemo itu. Toh saya sudah berumur 55 tahun. Saya pernah mengalami rasa sakit yang “sampai nggak bisa dirasakan”. atau umur kakak saya. Sore itu. Sudah berbuat sesuatu yang lumayan. ketika setahun lalu harus menjalani kemoterapi. Perhatian saya menjadi tidak hanya kepada banyaknya selang yang menancap di sekujur tubuh. Memperhatikan dengan mata terpejam. Saya diberi obat tertentu. Agak lega sedikit. Lalu kanker itu dicoba dibunuh dengan cara di-TACE. Dia muda. Dasar bekas wartawan! Kata hati saya. Saya juga bisa melupakan rasa penat akibat tekad saya sendiri untuk tidak akan menggerakkan tubuh sedikit pun selama 24 jam. kembung. saya pilih mati.Ganti Hati 08 – Sempat Berpikir Lebih Baik Mati daripada Melanjutkan Kemo 2 September 2007 KALAU saya sangat tahan menerima penderitaan selama di ICU. bukan saya jagoan dalam menerima rasa sakit. Waktu itu diketahui (lewat scanner) bahwa di liver saya sudah ada kankernya. masih ada dua selang yang menancap di leher yang dilubangi itu. Pelan-pelan rasa tidak karu-karuannya berkurang. Yakni sakit. Sampai-sampai saya tak bisa memisah-misahkan bentuk sakitnya itu terdiri atas berapa macam rasa sakit. Sambil mata tetap terpejam pikiran saya jalan ke mana-mana. Saya pernah mengalami rasa sakit sampai tidak tahan lagi menanggungkannya. dan diserang kanker. Bengkulu. dilepas.

18 jam dibius. Kedungdung. Jadi. Dulu pun saya hanya ingin Jawa Pos menjadi koran yang oplahnya separonya dari Surabaya Post. kalah dengan air yang deras. Menggendong dengan bahagia. ada yang ganti jantung. Keinginan itu meningkat terus secara bertahap. ia akan membelok. Tapi. rasanya tidak mungkin mengejar Surabaya Post yang sudah merajalela kehebatannya. 21 by Moezhanks . Malam itu saya menyaksikan kerja perawat di ruang ICU yang luar biasa sibuknya. Setidaknya tidak akan membuat saya terlalu kecewa. kalau orang berpegang teguh pada cita-cita. saya wujudkan dengan konstan. Jangan menaruh harapan terlalu banyak. Mungkin sudah kelamaan ditidurkan! Yakni. Hanya desain-desain kecil yang saya buat. begitu banyak macam cairan infus. Ini belum termasuk koran-koran Grup Jawa Pos yang terbit di Jakarta dan di kota-kota lain di luar pulau. Saya punya prinsip semuanya sebaiknya mengalir saja seperti air. biar pun rombengan. Ini karena tiap tiga perawat mengurus lima pasien ICU. Bahkan. Rasanya. Sepanjang malam mereka bekerja tanpa istirahat sedikit pun.00 dan baru akan pulang pukul 07. Saya tidak mau bertanya jadwal melepaskan selang-selang sisanya. Batu pun kadang bisa menggelundung. tidaknya begitu kenyataannya.lega lagi. Baru setelah ternyata mudah sekali membuat koran yang bisa sebesar 50 persennya Surabaya Post. Karena akan membuat saya merasa lebih bahagia. Ada yang ganti liver seperti saya. Saya terus berharap. sehingga menjadi seperti Grup Jawa Pos sekarang. Bukankah bahagia dan kecewa sebenarnya bisa kita ciptakan sendiri? Orang akan merasa bahagia kalau keinginannya tercapai. Karena tidak punya cita-cita. baik. Iya kalau batunya yang menggelundung. diganti.00 keesokan harinya. dan power plant. bertemu batu pun akan ditabrak. koran ini berkembang sedemikian rupa hingga menjadi sebuah grup media yang membawahkan lebih dari 100 koran harian dan mingguan. Madura. kalau bisa. meningkatlah keinginan untuk bisa sebesar Surabaya Post. Ini. selang-selang itu satu per satu akan dilepas. Bahkan. sepeda itu pernah putus as rodanya sehingga tidak bisa dinaiki. Itu menangnya orang yang tidak punya cita-cita tinggi sejak awal. Lalu ingin punya sepeda. Maka. ada yang ganti ginjal. Sebuah koran nasional dari daerah dengan oplah lebih dari 300 ribu eksemplar per hari. begitu banyak alat deteksi yang terus-menerus harus dipantau. kalau dalam perjalanannya menghadapi batu besar. dalam istilah Pesantren Miftahul Ulum Al Islami. waktu pertama punya sepeda (juga bekas) bahagianya melebihi saat punya Jaguar. Orang akan merasa kecewa kalau keinginannya tidak tercapai. Waktu itu. delapan televisi lokal. dituntun pun tidak bisa. Padahal. Saya sudah biasa dengan sikap untuk tidak berharap banyak pada apa pun dan pada siapa pun. Hidupnya lebih fleksibel. pabrik kertas. alirannya yang deras. Malamnya saya juga tidak mengantuk. Perawat shift malam itu mulai bekerja pukul 19. di Bangkalan. Dengan istikamah. Tapi. kalau ada yang menganalisis bahwa saya punya grand design untuk membuat Jawa Pos seperti sekarang. dan dicatat. Terpaksalah saya menggendongnya. pimpinan KH Ilyas Khotib. Khawatir berharap terlalu banyak. Semuanya baru saja menjalani penggantian organ tubuh. Hanya. menurut pendapat saya. Tidak perlu lebih besar dari itu. ini saya. lha kalau kepalanya yang pecah gimana? Cita-cita saya semula hanya ingin punya sepatu. Tiap-tiap pasien memerlukan begitu banyak obat. untuk mencapai kebahagiaan sangatlah mudah: Jangan pasang keinginan terlalu tinggi.

Atau memotong sapi untuk acara besar-besaran. menderita kerugian. waktu mulai membangun Jawa Pos dari sebuah koran yang hampir bangkrut. Sebab. Setiap ada kesempatan saya selalu memuji mereka. Maka setiap habis menggunakan bahan. Bahkan. 30 hari sebulan. Besoknya sepanjang malam lagi. Sudah lama minta untuk tidak diperlakukan seperti itu. Saya akhirnya berkesimpulan akan bersyukur dengan cara “memanfaatkan umur tambahan ini dengan seproduktif-produktifnya”. Sebentar tapi menenangkan batin.” batin saya lagi. sepanjang siang lagi dan sepanjang malam lagi. saya harus bekerja sepanjang malam. Puji Tuhan. Saya khawatir. yang menyertainya banyak sekali. Suara tat-tit-tat-tit mesin yang memonitor organ-organ tubuh saya terdengar kian jelas. Yakni.” jawabnya. Lalu minta diistirahatkan seterusnya. Liver saya kalah. harus dicatat berapa harganya dan lalu di-invoice-kan. Dia sebenarnya sudah lama menangis-nangis minta diperhatikan.” kata saya. Jadi masih lumayan.” kata hati saya. dengan sepanjang-panjangnya mengucapkan kalimat-kalimat tertentu atau bahkan sampai menitikkan air mata. sudah harus bekerja sejak pagi lagi. Berbeda dengan muda saya dulu. “Alhamdulillah. “Anda luar biasa sekali. Kalau sudah tua. semakin saya “sudah merasa bersyukur banyak”. Hari kedua di ICU itu. semakin panjang kalimat yang saya ucapkan. tapi Saya Tak Mampu Sujud Syukur 3 September 2007 SAYA memperoleh kesadaran penuh pada malam kedua di ICU. “Untung Anda masih sangat muda. Tidak ada yang lihat. Saya tahu dia akan libur besoknya. Saya ingat waktu itu. Semakin banyak orang yang saya undang untuk syukuran. Sudah lama komplain ke sana kemari. sujud kan tidak harus dengan kepala? Kan bisa juga yang sujud hati? Maka saya sujud dengan hati saya. 360 hari setahun. Saya memang bertekad untuk tidak akan mendemonstrasikan rasa syukur itu dalam bentuk yang ekstrem. Sampai malam lagi. Ini penting sekali. nggak mungkin bisa bekerja tanpa henti dengan konsentrasi tinggi sepanjang malam. Tapi. Misalnya. Karena dia pimpinan. pimpinan rumah sakit yang juga kepala tim dokter yang menangani penggantian liver saya datang menjenguk. pagi-pagi. semakin saya “sudah merasa bersyukur”. Satu malam suntuk bekerja tanpa istirahat. Inilah yang membuat organ di dalam tubuh saya menderita. Selama kirakira 15 tahun berturut-turut. Sepi sekali ing pamrih. “Terima kasih. apa pun yang di ICU terlihat jelas dan terekam baik dalam ingatan.” kata saya. yang juga tak kalah penting adalah dibuatkan invoice-nya untuk menagihkan kepada pasien. Begitu seterusnya. Tidak libur. lantas ngambek seperti ini. karena tidak dipedulikan. Di tengah malam yang sepi itu. Besoknya tidak pakai libur. Sudah pasti saya belum punya kemampuan bersujud. Paginya. “Saya benar-benar masih hidup. Tiba-tiba saya terlibat diskusi lagi dengan pikiran sendiri mengenai apa bentuk syukur yang harus saya lakukan. Namun. tibatiba pikiran saya jernih sekali. berarti rumah sakit akan menderita. (bersambung) Ganti Hati 09 – Kesadaran Pulih. bagi RS tentunya.Dan. Tujuh hari seminggu. “Ze me yang?” tanyanya 22 by Moezhanks . Rasanya malah lebih ikhlas. kalau salah dalam meng-invoice-kan.

perawat-perawat rumah sakit ini luar biasa. Tadi malam mereka bekerja keras sepanjang malam. tanpa mengunjungi saya pun dia sudah bisa baca dari laporan komputer mengenai perkembangan keadaan saya. pertanyaan itu terlalu banyak untuk diajukan pagi itu. Tepukan tangan ke pundak anak buah seperti itu sudah melebihi pujian yang diucapkan dengan ribuan kata. Tentu itu basa-basi. Para perawat itu bekerja dengan penuh tanggung jawab. saya kira memang tidak perlu ada kata-kata apa pun. Yang membuat saya ingin segera tahu. Misalnya. Kerja yang luar biasa keras itu harus ada yang mencatatnya. Saya malah berubah pikiran dengan cepat. cermat dengan ketelitian yang tinggi di waktu malam yang sepi. Terutama kebaikannya itu. Sang pimpinan tersenyum senang. ternyata liver saya baik-baik saja. Saya tidak basa-basi memuji para perawat itu. Rasanya kurang pas kalau saya sudah bertanya sejauh itu. Bukankah memang ada kasus-kasus “salah diagnosis” semacam itu? Ada juga pertanyaan yang lebih penting yang ingin segera saya ketahui. ada juga sedikit kekhawatiran bahwa jangan-jangan setelah perut dibuka. Bukankah pagi itu dokter hanya mengunjungi saya untuk menunjukkan perhatian kepada saya? Untuk menunjukkan rasa persahabatan yang tulus? Sebab. Bukan mengenai keluhan saya.” kata perawat itu kepada saya setelah rombongan pimpinan berlalu. Tanggung jawab kepada keselamatan pasien. Dan. apakah ada kesulitan yang berarti untuk melakukan operasi tadi malam? Apakah liver saya yang lama benar-benar telah rusak seperti yang diperkirakan? Atau sebenarnya masih baik. melakukan pekerjaan cepat. Para perawat itu tidak hanya harus membuat laporan yang baik. Saya justru bergegas menunjuk ke perawat yang berdiri di arah kaki saya. Bahkan. Saya memang benar-benar ingin memujinya. Yakni. Di Tiongkok nama saya memang Yu Shi Gan (baca: i-se-kan). “Hen hao. Sebenarnya banyak sekali yang ingin saya katakan. saya masih akan berhari-hari di rumah sakit ini. tapi mereka sendiri juga harus dilaporkan. Jangan-jangan hasil scanner yang menyatakan liver saya sudah rusak dulu itu hanya karena alat scanner-nya “salah lihat”. mungkin masih berminggu atau (kalau operasi ini gagal) masih akan berbulan lagi. yang akan membuat saya menyesal melakukan operasi? Soalnya. Toh. sehingga cukup dipanggil nama depannya saja (Yu) yang dikira nama marga saya. “Terima kasih. Maka. saya urung mengajukan pertanyaan-pertanyaan tadi. Tidak ada kata-kata yang diucapkannya. bahwa sebenarnya saya tinggal punya kesempatan hidup enam bulan lagi? Karena kanker sudah menjalar ke beberapa bagian di dalam liver saya? Tapi. Benarkah sudah ada kanker di liver lama saya? Benarkah tanpa operasi ini sebenarnya saya masih bisa hidup lima tahun lagi? Benarkah. Juga terlalu dini. Mr Yu memuji saya di depan pimpinan. tanpa istirahat sedikit pun.” jawab saya. melainkan soal-soal lain yang membuat saya penasaran. Masih ada waku di lain hari. Saya bilang bahwa saya baik-baik saja dan tidak punya keluhan apa pun. seperti kata sebagian dokter.sambil memegangi tubuh saya menanyakan apa kabar dalam bahasa Mandarin.” kata saya kepada pimpinan rumah sakit itu. Kalau saja tidak teliti pun siapa yang tahu? 23 by Moezhanks . Lalu dia mendekat ke arah perawat dan memegang-megang pundaknya. “Dokter.

Saya perlu memuji perawat tersebut sebagai bentuk ucapan terima kasih saya yang tulus kepada mereka. Kali ini bersama adiknya. Yakni. Wajahnya kelihatan bersorak gembira. Maka sejak tamat SMP saya kirim dia ke AS agar bisa punya pilihan 24 by Moezhanks . Saya perlu memujinya karena setelah hari itu saya tidak mungkin lagi bisa bertemu mereka. Hari ini mereka dapat giliran libur. Yakni. dan obat-obatan. keduanya langsung ke USA. membawa dompet pun belum tentu ada duitnya. Saya tidak akan lupa wajahnya.” ujar Azrul. *** Tiba-tiba anak saya laki-laki. Rupanya. Jarum pun ada harganya.” tambahnya. masuk SMA di sana. Namanya John Mohn. plester. “Terima kasih Bapak telah memuji saya di depan pimpinan saya. Maka. Apalagi selang. Dia ajari fotografi. Terlalu berat. baru selama sakit ini saya punya komunikasi yang intensif dengan anak-anak saya. Saya kan dalam keadaan telanjang! Mana bisa membawa dompet? Apalagi sudah menjadi kebiasaan saya. rumah sakit akan rugi. Bukan karena saya. berarti tidak perlu ada hubungan yang khusus. Seperti mendapatkan uang berjuta. Hari itu rupanya saya akan diserahterimakan.100) pun harus dicatat rapi dan dibuatkan perhitungannya. Azrul Ananda. Pagi ini saya kembali ke Surabaya. yang baru malam harinya tiba dari Surabaya. Karena itu. Saya sendiri sejak awal tidak ingin dia kerja di koran. Ikut orang tua angkatnya yang didapat melalui proses undian. Tidak akan lupa ekspresi kegembiraannya. Juga belum tentu menghasilkan kekayaan. jarum. tapi karena bapak angkatnya itu. Saya hampir tidak pernah bicara soal perusahaan kepadanya. John tidak punya anak laki-laki. Dan kerja kerasnya.” kata perawat itu. Bahkan. dan seterusnya. Besok sudah akan menjalani kehidupan baru dengan pasien berikutnya lagi. Keberadaan dia di Jawa Pos malah membuat hubungan saya sebagai bapak dan anak menjadi seperti hubungan atasan dan bawahan. Dia ajari jurnalistik. kami tidak pernah tahu di rumah siapa dia akan tinggal di AS. Tiap hari dia ajak anak saya ke kantor korannya. Azrul sampai tujuh tahun di sana. tisu. Saya mungkin juga tidak berada lagi di ICU karena pagi itu sudah bisa kembali ke kamar saya di lantai 11. Saya tidak mungkin memberinya uang. Sebelumnya. Azrul dapat orang tua angkat yang sama sekali tidak diperkirakan. Meski anak lelaki saya juga di Jawa Pos. Azrul dia anggap sebagai anak laki-lakinya. DBL (DetEksi Basketball League) adalah liga basket SMP/SMA terbesar di Indonesia yang dia prakarsai. Tidak akan lupa keterampilannya. Juga juragan koran. Perasaan saya baik-baik saja. “DBL harus segera dimulai. Pemakaian barang seharga 1 yuan (sekitar Rp 1. kapas secuil ada harganya. Saya mengangguk karena rasanya memang tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Dan Isna sudah di sini. saya ternyata jarang sekali berbicara dengan mereka. Anak-anak saya memang sudah terpisah sejak mereka masih amat remaja. seorang bapak yang ternyata juga pemilik surat kabar daerah di Kansas. Karena dia bukan bawahan langsung.Mereka juga bekerja dengan penuh tanggung jawab kepada rumah sakit. dengan cara tidak ceroboh mencatat harga-harga barang yang saya gunakan malam itu: obat. Isna Fitriana. Begitu tamat SMP. cairan infus. selang. “Bapak kan sudah aman. Setiap ada pemakaian bahan harus dicatat harganya dan dibuatkan invoice penagihannya. tapi juga kemerdekaan dan filsafatnya. masuk ICU. Jadilah Azrul anak yang mencintai koran. infus. sarung tangan. Dia seorang master jurnalistik. Kalau tidak. Terlalu menyiksa. Bukan hanya penulisannya. saya membiarkan proses manajemen berjalan apa adanya. Ternyata.

Suasana yang sangat mengurangi rasa sakit saya selama di ICU. Jangan Anggap Sudah Merdeka 4 September 2007 SEPANJANG sore sampai malam (hari kedua di ICU). Mereka sudah terbiasa mandiri. Lubang bekas selang-selang itu lantas ditutup dengan plester. katanya. Sambil tertawa cekikikan. Jadi. Lebih menggembirakan lagi. Yang terjadi. saya masih sering meraba-raba bekas lubang di leher itu. Setidaknya agar bisa berbahasa Inggris. Oh. Penuhnya bukan hanya di perut. Justru ketika sakit ini saya seperti menemukan keluarga saya. ketika sudah berada di kamar biasa. Termasuk ke liver baru saya. Saya masih punya pikiran jangan-jangan lubangnya masih menganga. Eh. Tidak seperti bapaknya yang hanya tamatan SMA (aliyah). Sangat tidak enak. kalau ada yang menganggap saya sejak awal menyiapkan anak saya untuk di Jawa Pos. Dua hari kemudian lubang itu sudah menutup. mereka sering menemani saya. dan anak-anak saya. terjadilah. Sepulang dari USA anak-anak saya praktis jadi dirinya sendiri-sendiri. “Ternyata saya punya anak. seorang cucu dan calon seorang cucu lagi. Makanya perut seperti penuh sekali. Saya justru mau anak saya bekerja di luar negeri dulu. Apakah saya menyesal? Ya dan tidak. atau lagi pasang kuda-kuda untuk saling bermusuhan? Apakah liver baru itu sedang tawar-menawar pekerjaan dengan organ lain? Apakah liver baru itu sedang mengajukan syarat-syarat kerja sama? Misalnya. Kelak. siang itu dua selang yang masuk ke rongga dada lewat leher kanan saya juga dicabut. Ini saya sadari setelah beberapa kali perawat menanyakan soal yang kelihatannya sepele itu.” kata Isna kepada kakaknya.lebih baik. Tapi.” gurau saya kepada keduanya. Lalu jadi pengusaha yang mandiri. Baru ketika saya sakit ini. Sekarang ditambah dengan menantu-menantu dan seorang cucu. istri saya. Termasuk tidak mau lagi tinggal bersama kami di rumah. ada juga yang menilai bahwa saya harus bersyukur karena ada anak yang masih punya idealisme di bidang jurnalistik. (bersambung) Ganti Hati 10 – Meski Keluar ICU. Kami pun sering dalam keadaan lengkap berada dalam satu ruangan: saya. Mereka pilih tinggal di rumah sendiri. ya. Menyikapi kedua penilaian itu saya pasrah saja. tapi seperti sampai dada. sungguh tidak demikian maunya. dia balik bertanya: saya harus cari uang? Saya mau jurnalistik. yang nama-nama hari dalam bahasa Inggris pun tidak hafal. perut saya mulai merasa kembung. rupanya saya belum bisa buang air besar. Saya berkhayal sedang apakah dia? Lagi saling berkenalan dengan organ saya yang lain. Sepanjang malam saya tidak bisa tidur. Ketika hal ini saya kemukakan kepada Azrul. “Ternyata kita punya bapak. hanya akan mau bekerja sama kalau tetap dibolehkan makan babi? Atau dia begitu baiknya sehingga akan ikut saja peran apa yang harus dia jalankan? 25 by Moezhanks . Juga belum bisa buang angin. Itu membuat pikiran saya lari ke mana-mana.

Kabel-kabel yang menempel di dada kanan dan dada kiri dicabut. Satu jam kemudian persiapan mengeluarkan saya dari ICU dilakukan. Tidak perlu ada orang yang mengangkat. Tiap pasien dapat satu kapling yang dibatasi dengan kaca terhadap pasien lain. Ini untuk memudahkan memindah badan saya dari ranjang ICU. Lalu. Mekanisme tubuh saya. Semua dicatat oleh perawat. Kata-kata itu terus melekat di ingatan saya. sakitnya seperti apa kan belum dirasakan. ke kamar lama saya yang sudah dibuat bersih sebersih-bersihnya. Agak sakit rasanya. yang bisa saja membuat badan saya berubah posisi dan menimbulkan bahaya bagi bekas-bekas operasi. kalau saya ingat banyak pasien yang keluar ICU masih dengan selang yang menancap di leher. terjadi generation gap yang tajam? Bukankah liver baru itu belum sampai berumur 25 tahun. Perut saya akan dimasuki cairan lewat pantat. “Kencing pertama sampai ketiga nanti mungkin agak sakit.00 saya sudah dipindahkan dari ranjang ICU ke kereta angkut. Apakah tidak akan menimbulkan persoalan? Misalnya. Dalam proses keluar dari ICU itulah saya baru tahu bahwa ruang ICU ini amat-amat panjangnya. Pagi itu juga diputuskan saya boleh keluar dari ICU. Saya panggil perawat. selang yang masuk ke rongga perut melalui pinggang kanan juga dicabut. saya harus merasakannya. 26 by Moezhanks . Rupanya keluar atau tidak dari ICU. apakah tidak akan mengajak balapan organ lain seperti jantung. Dia perawat yang berbaju biru. Ya. Memang seluruh lantai 12 adalah ICU. akan dilakukan rekayasa. Kalau saja pagi itu saya belum punya “rasa”. kan tetap harus dicabut? Sakit tapi lega. Saya bersyukur. Bukan khayalan yang ilmiah. Urusan buang hajat pun selesai. tapi sakit yang menimbulkan kelegaan. Selang yang sudah 56 jam berada di lubang kemaluan saya dicabut. Paginya.” kata perawat setelah berhasil mencabut selang itu. Badan saya terbawa di atasnya. salah satu ukuran yang menentukan adalah ada atau tidaknya “rasa” tadi. sehingga sakit-sakit kelas seperti itu sudah saya anggap bukan sakit lagi. dengan organ baru di dalamnya. yang sudah lebih tua umurnya. Tapi. Ternyata rasa sakitnya tidak seberat yang saya bayangkan. Semuanya hilang sudah. Rumah sakit ini memang bisa melakukan transplantasi organ sebanyak 30 orang dalam waktu bersamaan. Berarti ruang ICU-nya memang harus banyak sekali. Maka suara bom pun bergelegaran. Rasa plongnya bukan main. Lega tapi memang sakit. Saya pun sebenarnya sudah membayangkan akan keluar ICU dalam keadaan seperti itu. Alat untuk mengukur tekanan darah juga dilepas. Kereta ini dilengkapi sistem hidrolis. Ternyata untuk urusan buang air besar ini ada perawat khusus. apakah tidak akan terjadi konflik anak-bapak yang diakibatkan perbedaan zaman? Juga perbedaan gaya hidup? Apakah tidak akan terjadi adu balap? Apakah jantung tua saya kuat melayani balapan itu? Panjang sekali khayalan saya. barulah saya “rasa” itu muncul. Sampai-sampai timbul rasa takut setiap merasa akan kencing. paru. hari ketiga di ICU. Untunglah saya tidak perlu melalui tahapan darurat itu. dan ginjal? Kalau organ-organ lain saya sudah berumur 56 tahun. Atau barangkali karena saya sudah merasakan yang paling sakit. Setelah itu tiba-tiba saya merasa seperti ingin buang angin banyak-banyak. Dari kereta itu secara otomatis menjulur sebuah papan besi menyekop ke bawah badan saya. Rasanya juga sakit. Kereta ini yang membawa saya turun ke lantai 11. Juga kabel-kabel yang dihubungkan ke ujungujung jari. Tapi. Tapi. karena saya toh harus kencing. Apalagi. Sekitar pukul 10. ternyata tidak. berjalan dengan normal. Dialah yang memasang tadah kotoran dan membersihkannya. Khayalan orang yang tidak bisa tidur saja. Semua berjalan natural.Yang tak kalah penting adalah perbedaan umur yang mencolok antara liver baru dan organ saya yang lain.

Dari kamar yang lain. proses tersebut tidak mulus. Dia terjatuh dan harus masuk ICU lagi. Kini saya diserahterimakan dari perawat ICU ke perawat ruang rawat inap. melambaikan tangan. apakah tekanan darah tidak akan semakin tinggi? “Itu logika Anda saja. tiap seri harus dibuka dengan kalimat apa dan ditutup dengan cara bagaimana. Terpaksa perutnya dibuka lagi. Itu membahayakan hasil operasi. Tapi. boleh mulai menulis cerita ini. serta membalas dan mengirim email. ada pasien yang merasa kuat dan jalan sendiri ke kamar mandi. kali ini dia kecele. obat sinkronisasi liver baru saya punya efek samping menaikkan tekanan darah. Tapi. Akhirnya dia meninggal dunia di rumah sakit ini bulan lalu. orang Jepang. Mereka segera membuat lubang baru di lengan saya untuk keperluan infus-infus berikutnya. Pasien dari Taiwan mengucapkan selamat atas kesuksesan operasi saya. Pertama. Tapi. Mula-mula tiga jam sehari. boleh membuka. Memang sudah diizinkan pulang. Termasuk yang nekat pulang meski baru satu bulan setelah operasi. para perawat menyambut. Terutama di seminggu pertama keluar dari ICU. dia harus menunggu kondisi badannya membaik dulu. Sebab. Lalu tinggal dua jam. Kondisi yang ditunggu itulah yang tidak datang. Sebab. Dia terkena infeksi.Tiba di lantai 11. Saya hanya minta kelonggaran dua saja. Saya sendiri sudah sering memberikan ucapan selamat seperti itu kepada pasien yang baru menjalani operasi sebelum saya. Namun. Anda bukan dokter. terpaksa balik lagi ke rumah sakit ini. (bersambung) 27 by Moezhanks . tapi gagal menjauhkan diri dari virus dan infeksi. harus balik lagi ke Tiongkok tiga bulan kemudian. apa yang mau saya tulis ini semuanya sudah lengkap dan memenuhi kepala saya. Perawat yang sudah tiga bulan lebih saya kenali dengan baik. Masih sederet contoh tragedi seperti itu.” ujar Robert Lai. Diadakan perbaikan lagi di dalamnya. saya tetap bermohon untuk dapat dispensasi melakukan dua pekerjaan itu. Tiap hari saya masih harus diinfus beberapa obat dan vitamin. Tapi. Sayangnya. Yakni. keadaannya sudah sangat payah. Saya mendengarkan baik-baik nasihat itu. Dia lantas menakut-nakuti saya dengan kisah banyaknya pasien yang sukses dalam menjalani operasi. Kedua. *** “Meski sudah keluar ICU. Apa saja yang akan saya tulis. semua sudah ada di kepala. Orang tersebut merasa sudah sangat normal. Kalau ditambah dengan penuhnya bahan tulisan di otak saya. Berbagai usaha sudah disiapkan. Seorang kenalan dari Pakistan terkena infeksi setelah tiga hari keluar ICU. Pasien lain yang belum operasi menyambut kepulangan saya dari ICU. Itu alasan Anda saja untuk diperbolehkan menulis. Lalu ke rumah sakit di negaranya sendiri untuk mengeluarkan “barang titipan sementara” itu. Kalau tidak segera saya tuangkan di komputer. “Mana ada baru tujuh hari setelah transplantasi liver sudah memeras otak untuk menulis begitu panjang?” sergahnya. orang Arab Saudi. jangan Anda anggap sudah merdeka.” ujar Robert Lai. berapa seri tulisan itu nanti. Saya sudah bertekad akan taat peraturan setaat-taatnya. termasuk akan dilakukan transplantasi liver lagi. Robert tahu saya sering maunya sendiri. Lalu tidak perlu infus sama sekali. Lalu satu jam. Setelah tidak bisa diatasi di negaranya. Saya mengakui Robert benar. teman saya itu. Sebelah kamar saya. tekanan darah bisa naik. membaca. untuk mengambil “barang” yang masih dititipkan di dalam. Contoh lainnya. mengucapkan salam.

jahitan di perut yang panjaaaang ini masih basah. Saya takut liver baru saya jatuh. Humor khas Surabaya datang dari Jamhadi. Banyak sekali peringatan yang disampaikan kepada kami sebelum pertama saya turun dari tempat tidur. kalau toh jatuh. menambahkan: “Ha ha. Saya tertawa. sih itu bukan jatuh. Kalau saya nanti berdiri. “Ha ha… Kalaupun jatuh. tapi pertanyaan. Tapi.” Gong Li adalah artis yang paling terkenal dan konon juga paling cantik di antara artis Hongkong. Diam-diam saya sudah bisa menjadi juri lomba humor di hari kelima setelah operasi saya. Padahal. mungkin tidak bisa dipahami di luar Surabaya. tapi humornya sering cerdas. jahitannya bisa mrotoli. Saya memang suka bergurau. begitu saya berdiri.Ganti Hati 11 – Mulai Berdiri. Masih banyak SMS yang masuk di sekitar jatuh-menjatuh itu. jangan sampai langsung berdiri. jangan-jangan kalau teralu banyak tertawa. sudah lima hari saya terus dalam posisi berbaring. Tapi. Kekhawatiran-ngawur saya itu saya SMS-kan ke beberapa teman.” tulis saya. Leak Kustiya. Saya juga lega bahwa hati saya yang baru tenyata tidak mengubah selera humor saya. setengah bergurau. Bisa tiba-tiba pusing dan jatuh. menimpali Margiono. Dimarahi Saudara di Desa 5 September 2007 JANGAN begini. Dan memang. Kalau dibuat tertawa masih sakit. Misalnya. masih di perut. Untuk memberikan gambaran bahwa saya sudah bisa bergurau lagi. Kata njatuh. “Yang bahaya kalau jatuhnya di dekat pasar loak. Bergurau soal Liver. Saya justru takut hati baru itu jatuh di rumah Gong Li. bagi orang Surabaya lucu sekali. Sekali lagi. redaktur pelaksana Jawa Pos yang pendiam. apakah liver baru saya tidak jatuh? Apakah sambungannya sudah kuat? Tali apakah yang dipakai untung menggantung liver baru itu? Setengah serius. Itu hari kelima setelah operasi atau hari kedua setelah keluar dari ICU. Dirut Rakyat Merdeka yang lucunya bukan main. Dan lagi. kontan membalas. Jangan begitu. tidak ada suara benda jatuh. Margiono. Kalau tidak pusing. Tapi. “Hari ini saya sudah diharuskan mulai turun dari tempat tidur. saya lupa bertanya kepada dokter apakah tali yang dipakai menggantung liver baru saya cukup kuat. Masih mudah mencarinya. Tapi njatuh. Tepatnya bukan peringatan. Sekaligus memberi kabar baik mengenai kemajuan demi kemajuan yang saya peroleh. Meski ada cairan infus yang menggantikannya. Harus duduk lebih dulu. saya sering mencoba menertawakan diri sendiri. Tenang beberapa saat untuk lihat-lihat keadaan. bisa diteruskan dengan turun dari tempat tidur dan mencoba berdiri. “Kalau sampai jatuh di rumah Gong Li. Tapi. Maklum. Jawaban dari beberapa teman berdatangan. kontraktor yang membangun gedung Jatim Expo dan asrama mahasiswa Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya. saya harus menahan tawa. pendiri majalah TEMPO yang juga amat humoris. apa juga bersuara? 28 by Moezhanks .” tulisnya.” kata Margiono yang pandai mendalang itu. “Lebih berbahaya daripada jatuh di dekat pasar loak. Bahkan sudah harus latihan berdiri. empat itulah yang saya pilih sebagai yang paling lucu. Harus ada orang yang memegangi. Saya masih dapat peringatan tambahan. Datangnya dari dalam diri saya sendiri. Tidak sedikit kasus pasien jatuh saat pertama mencoba berdiri. Juga lima hari tidak makan.” tulisnya.” tambahnya. Kalau sedang tidak ada yang ditertawakan. Mas Goenawan Mohamad. Bahkan ingin tertawa lebar.

penulis buku Takdir Bisa Diubah yang laris itu. mengapa memerintah atasan yang masih bernama manusia saja tidak bisa?” Takut juga saya mengisi “titik-titik” itu. sedikit-sedikit berdoa seperti kita ini malas berusaha. “Tidak ada perintah memperbanyak doa. Soalnya. berarti bukan bawahan yang cerdas. ini soal cara. kalau memang cukup cerdas. Saya lantas memanfaatkan ilmu mantiq itu dalam praktik manajemen. Bahkan. Tidak pantas. tidak pernah takut mengatakan apa adanya. menurut ilmu itu. Kepada Tuhan.” tambahnya. Lalu. Hanya. Mereka dimasukkan sumur hidup-hidup. Kata saya kepada karyawan yang suka mengeluhkan atasannya itu: “Kita ini bisa dan sering memerintah…. “Berdoa itu. malas menggunakan pemberian Tuhan yang amat penting itu: otak. Misalnya. Dia marah karena seharusnya saya tidak berhenti berdoa minta keselamatan dan kesembuhan dari Tuhan.” balas Agus segera. “Nyawa kok dibuat guyonan. “Kita di sini tidak henti-hentinya berdoa. ketika meletus peristiwa Madiun yang terkenal dalam sejarah itu. Takut orang salah paham. Takeran. Magetan. pasti Aku kabulkan’. saya tidak pernah membaca ada ajaran seperti itu. Kepada atasan. Saya tidak akan menaikkan karir bawahan yang seperti itu. Mas Dahlan sendiri guyon. seperti yang sudah saya utarakan di bab terdahulu. Demikian juga guru-guru terkemuka lainnya. Ini karena enam kiai utama di pesantren kami (yang tidak lain paman-paman ibu saya) dibunuh orang Partai Komunis Indonesia (PKI). Dia marah. sama dengan kita memerintah Tuhan agar memasukkan kita ke surga? Bukankah kata “masukkanlah” itu “kata perintah?”. Jadi. Pesantren keluarga kami sendiri. Kalau seorang bawahan tidak mampu melakukan itu. Intinya: seorang bawahan. “pada dasarnya adalah memerintah Tuhan”.” ujar Agus. termasuk guru yang didatangkan pesantren kami dari Mesir. kita menggunakan cara yang disebut berdoa. Dia sudah terpaksa jadi kiai ketika masih amat remaja. Saya harus mengenang guru saya itu. guru ilmu mantiq saya dulu. Orang yang tidak pernah belajar ilmu mantiq bisa salah paham. dengan jalan banyak beribadah (termasuk kerja keras)? Ilmu inilah yang juga saya bawa ke praktik manajemen. Itu tahun 1948. Sekali lagi. harus bisa membuat atasannya memenuhi keinginannya. 16 km dari Kota Magetan. Tidak guyon seperti itu.. Saya pernah belajar ilmu mantiq (logika) sewaktu di Madrasah Aliyah Pesantren Sabilil Muttaqien. pesantren kami yang sangat maju dan terkemuka mengalami kemunduran. Kalau ada karyawan yang sedikit-sedikit mengeluhkan atasannya. “Yang diperintahkan beberapa kali adalah perbanyaklah mengingat Tuhan (zikir) dan perbanyaklah berbuat baik.” tulisnya. Tentu sebelum mengucapkan kata-kata tersebut saya berpesan agar jangan membicarakan istilah saya ini dengan orang lain. saya SMS ke Ir Agus Mustofa.” menurut ilmu mantiq. misalnya.” tambahnya. bawahan itu sebenarnya juga boleh me-manage atasan. Soal kemampuan kita memanajemeni atasan. 29 by Moezhanks . “Yang ada hanyalah ’Mintalah kepadaKu. masukkanlah saya ke surga. Semua itu tinggal soal cara. Bukankah. biasanya saya menasihatinya berdasar ilmu mantiq itu. KH Hamim Tafsir. Padahal.Keceriaan saya hari itu padam manakala masuk SMS dari keluarga saya di desa. dikemas secara halus dalam wujud yang bernama doa? Mengapa kita selalu memerintah Tuhan untuk memasukkan kita ke surga? Mengapa tidak kita sendiri berusaha sekuat tenaga. Tidak harus selalu keinginan atasan yang berlaku. Sejak itu. Ada alasan lain mengapa saya memilih sumeleh kepada Tuhan daripada sedikit-sedikit minta sesuatu kepada-Nya. lalu ditimbuni batu. Bukan hanya atasan yang bisa me-manage bawahan. “Apakah ada perintah untuk memperbanyak doa?” tanya saya. doa ini: Ya Tuhan.

kini sudah ada obat yang sangat modern. monitoring dilakukan ketat. Termasuk yang diterapkan kepada saya. kepada sesama kita minta tolong. Bukan lagi akibat badan menolak kedatangan liver baru. dan kepada bawahan… teserahlah mau pakai yang mana. Saya sendiri kini masih terus berpikir bagaimana saya bisa me-manage liver baru saya. tapi saya berharap liver baru saya itu belum pernah belajar ilmu mantiq untuk mengalahkan saya. tidak ada lagi mata pelajaran ilmu mantiq itu. Yang penting.mungkin dengan gaya “bermohon atau minta petunjuk atau mengiba atau apa sajalah”. ketika pasien terkena infeksi. Dan saya dengar di kurikulum madrasah aliyah sekarang ini. Kalau toh terjadi. Banyak manajer saya yang kemudian tidak mudah mengeluhkan “ketidakmampuan atasannya”.) Untuk menjaga jangan sampai terjadi infeksi itulah. Bukankah kepada sesama rekan staf. Bukan saja agar sesekali bertemu bawahan di forum itu. Obat yang menyinkronkan liver baru dan organ-organ lain yang lama. Demikian juga tidak lagi banyak staf yang mengeluhkan rekan kerjanya. Mengapa tidak bisa ditanggulangi. Tapi. Kini ancaman kegagalan transplantasi liver bukan lagi seperti dulu. Mengeluh berarti tidak cerdas. kepada bawahan pun kata “minta tolong” akan lebih efektif daripada kata “saya perintahkan” -meski atasan berhak memerintah bawahan.” Tapi. Termasuk bab mengapa liver saya sakit. suhu badan diukur tiap dua 30 by Moezhanks . tapi juga agar bisa ikut mengontrol kebersihan kamar kecil umum. sejak masih dalam bentuk gejala. Untuk mengatasi penolakan itu. Dia mencari jalan beraneka cara untuk mencoba bisa me-manage atasannya dengan bijak. Karena itu. “Saya berdoa kepadamu mudah-mudahan engkau mau membersihkan kamar kecil itu lebih bersih lagi. kita bisa menggunakan gaya “minta tolong”. Ini agar pimpinan juga menggunakan kamar kecil umum. kepada atasan kita bermohon. terlalu banyak kasus kegagalan transplantasi liver terjadi justru pada minggu pertama setelah keluar dari ICU. Ilmu mantiq ternyata banyak membantu saya dalam menjalankan praktik manajemen. Bahkan. saya sering juga menggunakan gaya ini kalau hati sudah amat jengkel melihat kamar kecil yang kotor. (Akan ada uraian tersendiri untuk ini di bab-bab berikutnya. Padahal. Apa sebabnya. itu baru persoalan. keinginan kita yang kita yakini benar bisa dipenuhi oleh atasan. Saya membayangkan dia memang pernah belajar kungfu. kalau dia lebih pintar dan mampu me-manage saya agar saya mau memenuhi keinginannya. kepada Tuhan kita berdoa. bisa diketahui secara dini. Ini karena ruang biasa tidak dilengkapi peralatan monitor yang serbaotomatis. kemungkinan infeksi pun kini sudah bisa diturunkan maksimal karena adanya cara baru. Infeksilah yang banyak mengakibatkan kegagalan. Justru harus lebih hati-hati. saya memang melarang pembuatan kamar kecil khusus di ruang pimpinan. (bersambung) Ganti Hati 12 – Perawat Sekaligus Menjadi Polisi Penjaga Virus 6 September 2007 KELUAR dari ICU tidak berarti merdeka. Di kantor-kantor Grup Jawa Pos. Saya sudah bermohon kepadanya untuk jangan sekali-kali kangen akan daging babi. Tentu tidak pas kalau kepada bawahan Anda mengatakan. Jadi. Yakni. Bahkan.

5 (sebelum makan). Lalu. diminum dua kali sehari. Selalu antara 35. gula darah saya 17 (sebelum makan). Demikian juga tekanan darah dan denyut jantung. semua orang yang masuk ruang saya harus taat akan peraturan ini. Biasa juga disebut obat antirejection. ada “polisi” keras yang menjaganya: Robert Lai. Tidak sekali pun dalam minggu pertama itu suhu badan saya naik di atas angka itu. Pada hari pertama. sebelum makan. suhu badan saya sangat menggembirakan. sampai malam.” ujar dokter. antara 76 sampai 85. paru saya juga dironsen. Hasil USG tiap hari itu menunjukkan tidak ada tanda-tanda kegagalan penyambungan liver baru saya. banyak juga yang logika saya ternyata salah.5 sampai 36. Pada hari pertama di luar ICU.” ujar seorang suster. Karena itu. Tapi. Sedangkan denyut jantung sangat normal. Pada hari ketiga. tapi khawatir jangan-jangan ada yang tidak beres pada sambungan-sambungan pembuluh darah lama dan baru. Ini pertanda bahwa infeksi tidak terjadi di dalam tubuh saya.jam. Kali ini saya serahkan saja sepenuhnya pada keahlian dokter. Maka. saya disuntik dulu untuk menurunkannya. Semua harus menggunakan masker penutup mulut dan hidung. Juga untuk melihat apakah ada genangan air atau darah di dalam rongga perut saya. Lega rasanya meski baru lega tahap satu. tapi tidak kuat jantungnya. Kebetulan. kali ini saya tidak bertanya obat apa saja itu. Yakni bisa membuat gula darah dan tekanan darah naik. Paru-paru bersih. Karena itu. Padahal. Sekitar 4 sampai 6. Apalagi keadaan badan saya terus membaik sehingga saya semakin percaya saja pada keputusan dokter. tidak diperlukan lagi pemeriksaaan gula darah. ini juga karena pengaruh obat saja. Siang sedikit. Tapi. Hasil ronsen itu juga menggembirakan. dan apa efek sampingnya. Bukan karena fungsi pankreas yang jelek. gula darah saya sudah normal. Termasuk untuk melihat apakah ada masalah pada ginjal saya. diukur lagi. Pankreas Anda sempurna. Bukan takut hamil. Untuk itu pun. Setelah makan. Tiap pagi. karena saya memang bukan dokter. Obat ini memang punya efek samping yang kuat. Tapi.7 derajat Celsius.” kata dokter. pada hari berikutnya. Sangat prima. harus diukur dulu tekanan darah dan gula darah. Bahkan. dulunya saya amat cerewet kalau diberi obat. bayangan saya akan transplantasi liver sama sekali berbeda dengan kenyataan dalam praktiknya. Namanya afk. Bukan karena pankreas saya tidak berfungsi. “Kita akan terus memonitornya. sering saya cek lagi kebenarannya lewat internet. Pertama. Bangun tidur bisa mencapai 90/140. selalu antara 80/120 sampai 85/130. “Itu hanya karena efek obat. Selain obat anti penolakan itu. tidak perlu takut karena ada obatnya. 31 by Moezhanks . saya harus minum obat penyinkron liver baru. Ujung jari saya di-”ceklik” beberapa kali sehari untuk mengeluarkan sedikit darah. Ini untuk melihat apakah ada genangan air atau dahak di paru-paru. Jangan sampai orang yang menjenguk menularkan virus yang sangat membahayakan. Kedua. Misalnya. melainkan karena afk tadi. apa kegunaannya. Sewaktu saya kemukakan kekhawatiran saya akan tingginya gula darah itu. Karena itu. Untuk dites kadar gulanya. Anti penolakan terhadap liver baru. USG tidak lagi dilakukan. Tekanan darah saya juga tinggi jika dibandingkan dengan sebelum operasi. kali ini saya putuskan “tidak akan jadi dokter untuk diri saya sendiri”. Obat ini berupa kapsul kecil-kecil tiga butir. Memang. Saya harus tahu persis apa-siapanya. dokter meminta saya tidak waswas. pada hari kelima. saya juga harus minum beberapa obat lainnya. “Banyak juga yang sukses operasinya. Ini sangat-sangat tinggi. saya juga di USG. sebelum makan. Tapi.

Juga tidak boleh dipercepat. Sebab.” pesan Robert kepadanya. dia memaksa saya minum obat. tidak boleh lupa. Semula Melinda dan suaminya hanya ingin menengok saya karena kebetulan lagi di Tiongkok. 32 by Moezhanks . Dan bagi saya. Petunjuk itu memang sudah diberikan jauh-jauh hari sebelumnya sehingga saya juga tahu pentingnya kedisiplinan meminumnya. perawat yang khusus melayani kepentingan saya selama 24 jam. Bahkan. dan punya keterampilan sebagai perawat. sama sekali tidak boleh. tentu Anda tidak berani menegur. ada petunjuk khusus mengenai waktunya. Untuk mewujudkan prinsip yang dipegangnya itu. Terutama menjaga ketepatan waktu minum obat. Robert. Kini tinggal dua kapsul kecil sekali minum.Mengingat indikator-indikator badan saya sudah begitu baik. pengalaman para perawat khusus ini sangat banyak. masuk ke ruang operasi tanpa satu pun ada anggota keluarga yang mengantarkannya. Untungnya. Melinda dan suaminya sampai membuka sepatu ketika masuk ruang saya. Selama 24 jam sehari. harus tetap seperti itu. Yang tidak pakai masker. Kalau sudah ditetapkan jam enam pagi dan malam. Dia akan melakukan cek ulang. menjaga kebersihan pakaian. Pak Dahlannya yang kamu pasangi masker. Tahu kalau saya segera operasi. meski bahasa pertamanya adalah Inggris. Bahkan. Dia sudah hafal jenis-jenis obat yang disediakan dan jam-jam penggunaannya. Tidak boleh terlambat. Juga memandikan saya. dia memutuskan menempatkan perawat khusus di kamar saya. Apalagi lupa. diciptakan sistem kontrol. Dalil “manusia itu tempatnya salah dan lupa” tidak berlaku di sini. Tidak kurang satu menit pun atau lebih satu menit pun. handuk. Kehadiran perawat khusus seperti itu amat penting karena belum tentu keluarga kita mengetahui detail mengenai pengobatan. ahli hukum dari Singapura lulusan Inggris itu. tidak pernah ada dokter yang tidak disiplin. Robert memang menugaskan itu khusus kepadanya.” ujar Robert Lai. Obat ini merupakan obat terpenting dalam menjaga keberhasilan transplantasi liver. Mereka memang para pensiunan perawat yang masih ingin terus bekerja. but control is better. Jasa mereka itu juga penting karena ternyata banyak juga pasien yang tidak ditunggui keluarganya. Berarti 24 jam saya bisa belajar Mandarin secara tidak langsung. Perawat itu juga menjadi polisi penjaga virus. Rumah sakit ini punya semacam unit usaha yang menyediakan jasa perawat khusus seperti itu. Jangan ditegur. dua kali sehari. Mengingat begitu banyak pasien ganti liver yang pernah mereka rawat. apa pun harus kalah. Tapi. suhu badan. apakah obat yang diberikan lengkap atau tidak. Tepat jam enam. bisa bicara Mandarin dan beberapa bahasa daerah di Tiongkok. Yakni. Dia menjadi seperti perawat spesialis pasien ganti liver. “Kalau ada dokter masuk yang tidak pakai masker. Saya lihat beberapa orang Jepang. Untuk meminumnya. air. Agar tidak lupa itulah. sabar. “Trust is good. Karena itu. Dia yang juga ikut mengawasi orang keluar masuk kamar. Dia tahu persis gejala-gejala yang baik dan gejala-gejala yang kurang baik dalam perkembangan pasien. Sudah sebelas bulan ini selalu menemani saya pergi ke mana pun. dia memang hanya bisa berbahasa Mandarin. perawat khusus tersebut yang melakukan. dia memtuskan menunggu saya sampai beberapa hari setelah operasi. dia juga guru bahasa Mandarin. Dia orang yang amat disiplin. dia tegur. Bagaimana kalau lupa juga? Tetap. pada hari keenam. bahkan dengan logat yang sangat daerah. dan pekerjaan sejenis itu. dia ikut melakukan “operasi nonteknik” pada malam menjelang operasi. untuk mengukur tekanan darah. Kalau sudah waktunya minum obat. obat sinkronisasi itu dikurangi 30 persen. Orangnya umumnya sudah agak tua. Salah atau tidak. Perawat itu disiplinnya bukan main. dan kamar.

Istilahnya. yang gagal saya usir atau saya matikan.” Mengapa liver saya bisa sirosis? “Karena saya mengidap virus hepatitis B.” Kenapa badan saya tidak kebal? “Karena saya tidak pernah menjalani vaksinasi antihepatitis B saat saya masih bayi/kecil.” 33 by Moezhanks . “Dia lao da saya.” Saya tahu sepatunya amat mahal dan tentu juga amat bersih. (Bersambung) Ganti Hati 13 – Boleh Tak Mengaku. bos Pakuwon Jati itu mengatakan. 25 Juta Orang Menghadapi seperti Saya 7 September 2007 MENGAPA saya harus menjalani transplantasi liver? “Karena sudah ada kanker di liver saya dan sudah mulai menyebar ke beberapa tempat meski semuanya masih di dalam liver.Ketika saya beri tahu tidak perlulah masuk kamar sampai copot sepatu. “Kamar ini harus lebih bersih daripada sepatu saya. Masak saya harus jadi pembunuh saudara tua saya. sudah mencapai tahap terjadi sirosis. Tapi. He… he…. Juga karena negara waktu itu masih sangat miskin dan pemerintah sibuk mengurus politik atau rebutan posisi. “Saya tidak mau dituduh sebagai pembunuh Pak Dahlan. Virus itu menjadi aktif dan merusak liver karena kondisi badan saya sering sangat lelah. virus yang semula tidur saja di dalam liver punya kesempatan melakukan aksinya tanpa perlawanan yang berarti dari badan saya yang sedang lemah. mengeras. dan rusak.” Kenapa tidak tahu? “Karena tidak berpendidikan dan tidak cukup pengetahuan. Bikin saya malu. sudah mengecil.” Kenapa ada virus hepatitis B di liver saya? “Karena liver saya tidak kebal ketika virus untuk pertama kalinya datang dan masuk ke dalam liver saya.” tambahnya.” Kenapa waktu itu tidak menjalani vaksinasi? “Karena tidak tahu. dia tetap copot sepatu.” Mengapa ada kanker di liver saya? “Karena liver saya sudah tidak normal. Saat badan lemah.” katanya.” Mengapa sering lelah? “Masak itu ditanyakan.

Dalam keadaan harus terus siap. direktur Asian Liver Centre di Stanford University AS. pencegahan sangat penting. Empat bulan harus tinggal di luar negeri dan dengan keluarga yang harus mondar-mandir tentu bukan hal yang sederhana. Yang juga berarti terus berjalannya argometer biaya. Ini sangat wajar karena persoalan seperti ini akan bisa jadi isu nasional di negara tersebut. bagaimana? Bukankah kesempatan untuk menjalani transplantasi di masa depan kian langka? Termasuk bagi yang mampu transplantasi sekalipun? Bukankah lantas antrean untuk dapat giliran transplan kian panjang? Dan kian lama? Saya sendiri perlu empat bulan menunggu. Di Tiongkok. hampir semuanya. “Di Tiongkok sendiri kini terdapat 120 juta orang yang mengidap hepatitis B. juga tidak akan tahu masih harus berapa banyak lagi uang yang disiapkan. Artinya. Padahal. Soal jarang yang mengakui. tapi akan sangat baik kalau dipakai menyadarkan ibu-ibu untuk memvaksinkan bayinya agar kebal terhadap virus hepatitis B. Sebab. *** Meski ilmu pengetahuan semakin maju dan keterampilan dokter juga kian sempurna.” ujar Deputi Menteri Kesehatan Tiongkok Hao Yang saat melakukan kampanye vaksinasi hepatitis B pekan lalu seperti yang disiarkan China Daily 1 September barusan. seluruh bayi sejak 1982 harus tiga kali divaksin antihepatitis. Kalau toh banyak yang mampu.” Kenapa tidak berpendidikan? “Karena miskin!” *** Itu bukan kata-kata juru penerang PKK yang setelah zaman reformasi tidak lagi berperan aktif. Tapi.Soal pemerintah tidak perlu ditanyakan lebih lanjut. Kesempatan menjalani transplantasi juga kian kecil.” Kenapa miskin? “Karena tidak berpendidikan. Seluruhnya ditanggung negara. sekali lagi. itu soal lain. Tiap suntik harga obatnya sekitar Rp 75. Tiap negara kini cenderung melindungi rakyatnya sendiri sehingga. Maka. belum tentu semuanya mendapatkan kesempatan sebaik saya: bisa menjalani transplantasi liver. sekitar 10 persen penduduk kita terkena hepatitis B. seperti yang dilakukan Tiongkok saat ini. Keluarga saya. kita tidak akan pernah tahu harus menunggu sampai berapa lama. Penantian yang tidak jelas harus berapa lama. petani atau buruh tani. liver yang ada harus diprioritaskan untuk penduduk Tiongkok sendiri. tapi kalau sumber donor untuk liver makin terbatas. 34 by Moezhanks . bahwa 40 persen di antara segala macam penularan virus terjadi dari ibu ke anaknya. sekitar 25 juta orang sedang menghadapi masa depan seperti saya. belum tentu operasinya bisa berhasil. Padahal.000. kenapa Anda tidak berpendidikan dan tidak cukup pengetahuan? “Karena miskin sekali. Artinya. Hao Yang lantas mengutip angka dari Samuel So.

Selama penantian. “Tiga di antara empat orang yang dicoret dari daftar antre itu tak lama kemudian memang meninggal. Akan menjadi isu politik yang sensitif bagi Tiongkok yang lagi gencar-gencarnya memerangi kesenjangan sosial. mendonorkan organ tubuh? Apakah boleh organ dari orang yang baru meninggal diambil untuk menyelamatkan orang lain? Soal itu di masa depan tidak hanya akan jadi isu agama. mendaftar sekarang baru akan dapat liver 10 tahun lagi. Tapi.Dengan logikanya yang sederhana. Awal bulan ini. Yakni apakah boleh. “Donor liver atau ginjal bisa berupa separo organ tersebut.” ujar dr Tong Ming Chuan. Tapi. Karena itu. Bahkan. Kesadaran seperti itu akan membuat banyak negara ikut mengubah peraturannya. Alasan keadilan lantas memperkuatnya. Tapi juga isu keadilan. akan ada aturan bahwa suatu negara tidak boleh mendonorkan organ kepada penduduk suatu negara yang negara itu atau penduduknya melarang melakukan donor organ. istri saya sering nyeletuk. Suatu celetukan yang mungkin juga mencerminkan rasa jenuh karena begitu lamanya menunggu. tinggal satu yang masih memenuhi syarat dalam daftar. Kini sudah terasa gejalanya. 35 by Moezhanks . maka akan menjadi isu kesenjangan sosial. Belum lagi. orang kaya di Tiongkok bertambah-tambah dengan drastisnya. kini. Di antara lima orang yang antre transplan jantung. maka di masa depan orang Indonesia tidak boleh menerima sumbangan organ dari warga negara lain. donor jantung lebih sulit. setiap saat selalu ada pasien antre yang dicoret dari daftar antre. Singapura sudah lebih dulu membuat aturan seperti itu. Istri saya lantas menyebut banyaknya orang Timur Tengah yang antre di rumah sakit ini. Mengapa? “Sudah tidak layak antre. Mereka tentu akan semakin mampu dalam ikut “memperebutkan” donor yang kian terbatas. Isu yang akan lebih mendominasi masa depan dunia. melarang sama sekali liver orang Singapura untuk orang non-Singapura. Yang terkena hepatitis B saja mencapai 120 juta orang. Begitu banyak orang Tiongkok sendiri yang memerlukan transplantasi. kondisi badannya sudah semakin buruk. Orang asing tidak akan gampang lagi mendapatkan donor dari penduduk setempat. itu tidak berarti bisa cepat dapat giliran. Dimulai dari munculnya kebijakan memprioritaskan penduduk negaranya sendiri.” katanya. panjang antrean itu ratusan orang di Singapura. diberitakan antrean transplantasi di Singapura sudah sampai 10 tahun. Kok di Timur Tengah itu tiap hari orang dengan gampang menghilangkan nyawa. secara Islam.” ujar dr Tong sebagaimana disiarkan The Strait Times 2 September lalu. Indonesia tidak mendukung digalakkannya donor organ atau penduduk Indonesia mengharamkan donor organ. kelak. “Begini sulit ya mempertahankan satu nyawa. “Bukankah di sana banyak sumber liver? Dari mereka yang begitu banyak meninggal muda itu? Dan pasti lebih pas karena dari ras yang sama?” celetuk istri saya. sudah sama dengan separo penduduk Indonesia. Ada soal yang bagi orang Islam lebih prinsip.” katanya. Bisa jadi. di Singapura sendiri antara kesediaan liver dan yang memerlukannya jauh lebih banyak yang terakhir. Kini. Tiongkok sudah mengubahnya empat bulan lalu. Misalnya. donor jantung harus satu jantung utuh. Sebab. Sebanyak 555 orang antre untuk transplan ginjal dan 16 orang antre liver. Tentu tidak sesederhana itu. Ini berarti pendonornya harus meninggal. saah seorang direktur program jantungparu Singapura. Kalau mereka tidak terlayani karena miskin. Sebab. tidak kuat bayar. Artinya.

Kini kekhususan itu tidak ada lagi. aturan menentukan saat kematian itu akan dibuat lebih awal. Begitu seriusnya problem defisit donor itu. Yakni saat-saat kematian batang otak. Juga di negara saya. Saat kematian ternyata bisa diajukan atau dimundurkan walau hanya sesaat. Bahkan hampir di semua kampung saya. Ini seperti prinsip ushul-fikh (kaidah aturan): semua yang tidak dilarang berarti dibolehkan. kalau peraturan lama yang dipakai menentukan tibanya saat kematian. Menjadi: hanya orang yang menyatakan keberatan saja. Satu perdebatan yang amat teknismedis di sekitar saat kematian datang. Maka. Khusus untuk yang antre liver saja. Saya sendiri tidak paham istilah-istilahnya. Kini. Karena itu. akan banyak sekali organ yang sudah terlanjur “ikut mati”. 36 by Moezhanks . Apakah saya menyesali dilahirkan di keluarga miskin? Sama sekali tidak. Peraturan baru sedang disiapkan. Kami memang tidak punya harta. organ semua orang Singapura secara otomatis boleh diambil setelah dia mati. siapa yang harus hidup dan siapa yang harus mati ternyata bisa ditentukan oleh dokter. Singapura akan melangkah lebih jauh. Bagi yang paham ayat Al Kitab mengenai kematian (idza jaa-a ajal luhum…) tentu satu pekerjaan tersendiri untuk mendiskusikannya. aturan transplan selalu dikecualikan bagi yang muslim. Ini akan tidak bisa dimanfaatkan untuk amal jariyah berikutnya. Ini terkait dengan keyakinan agama. Jadi. Di antara 139 itu pun. Terutama apakah yang dimaksud dengan ajal di situ. Yang jelas. Selama ini. Saya jadi berpikir dan diskusi lagi dengan diri sendiri. saya menderita sakit liver. Kalau toh dipaksakan. Di kapupaten saya. Artinya. Sayang donornya. Kemiskinan kami adalah kemiskinan struktural. Mendingan diberikan kepada pasien yang kans berhasilnya lebih besar. jangan sampai ada yang menyangka bahwa kami sangat menderita. Kemiskinan yang juga dialami banyak orang di lingkungan saya. Kemiskinan rame-rame. sebagaimana yang sudah disepakati di banyak negara maju.Di antara 555 orang itu terakhir. diperkirakan yang 22 orang sudah akan meninggal tidak lama lagi. (Bersambung) Ganti Hati 14 – Tersenyum ketika Dioperasi seperti Menikmati Kemiskinan 8 September 2007 JELASLAH bahwa karena kemiskinan dan kejumudan yang melatarbelakangi. Singapura akan menggunakan prinsip ushul-fikh itu. kecuali yang keberatan saja. Sudah terlalu terlambat untuk transplan. yang organnya tidak bisa jadi donor. yang 139 orang juga sudah tidak memenuhi syarat lagi untuk transplan. Kalau selama ini organ hanya diambilkan hanya dari orang yang sudah menyatakan organnya boleh didonorkan. nanti akan dibalik. Tidak. Kami miskin bukan karena harta habis untuk main judi atau untuk mabuk-mabukan atau untuk narkoba. Kami bisa menikmatinya bersama-sama. “Peraturan ini juga akan berlaku bagi penduduknya yang beragama Islam.” katanya. Ini setelah awal Agustus kemarin diperdebatkan di forum para ahli transplantasi di Beijing. tahun lalu enam orang meninggal karena perkembangan sakit livernya lebih cepat daripada waktu antrenya. peluang berhasilnya tipis. sehingga Tiongkok juga akan mengubah peraturan di bidang kedokteran tentang “kapan seseorang dinyatakan meninggal”.

kami bisa mengira-ngira nikmatnya makanan yang akan kami antar itu karena kami sudah merasakan rasa kuahnya. menunduk. kurang hemat. Kiai kami bukan sembarang kiai. Ternyata. Bukan gaplek. dan ngapurancang di depan teman sesama abdi dalem itu. kami tidak mungkin mampu membeli ayam. Tahunya ya hanya tasawuf Sathariyah. Kami harus banyak keluar biaya untuk selamatan Lebaran. Tapi. megengan. Bapak langsung menggunakan kata-kata kromo inggil (bahasa Jawa level tertinggi) dalam percakapan dengan temannya itu. Tidak ada ahl-dzikr lain di dunia ini kecuali kiai kami itu.” kata bapak saya. Bukan hanya sambal atau garam. Ibu sudah menyiapkan ayam itu sejak enam bulan sebelum kupatan. Karena itu.Kalau toh kami boros. Kami sangat menyenangi selamatan. Bapak akan langsung bersila. dan seterusnya. Itulah saatnya kami. bapak kedatangan tamu yang dulu sesama abdi dalem di rumah kiai tersebut. kami hafal benar kapan akan ada mauludan atau megengan. sikap bapak otomatis berubah. Itulah saatnya kami bisa makan nasi. Lalu dipeliharanlah ayam tunggal itu. Guru yang oleh bapak dipercaya sebagai wasilah dalam term filsafat ahl-dzikr. Ini karena menurut tata bahasa Arab (nahwu). Keborosan kami adalah “keborosanreligius”. Ibu pandai sekali bikin opor ayam. Bapak adalah idola kami dalam bersikap tawadluk -hormat kepada sesepuh. Sampai tiba saatnya harus dipotong untuk dihaturkan kepada kiai kami yang sebenarnya sudah kaya. Ibu membuat lontong yang untuk merebusnya saja diperlukan waktu 24 jam. itu juga kami perlukan sebagai wujud donga-katon (doa yang dipersonifikasikan). kami hanya boleh makan sedikit kuahnya. yakni boros untuk melestarikan adat-istiadat. Tentu. kalau nasibnya baik -yakni dapat ambeng yang baik-. Kami hanya boleh mengantar sampai teras samping rumah pendapa itu. Pokoknya. Dagingnya untuk punjungan. rebowekasan. Karena itu. harus ada sayur kluwih untuk menandakan bahwa kita ingin rezeki yang linuwih (berlebih). Sayurnya harus lima macam. Tapi. Tapi. semua kami wujudkan dalam makanan seperti seolah-olah kami bisu. mauludan. adalah sang “ahl dzikr” nan tunggal. Juga “keborosan-yang-beradab”. bapak bicara seenaknya dan penuh guyon dengan tamunya. Bahkan sudah kami nantikan sejak berhari-hari sebelumnya. wetonan. tapi semua itu kami niati untuk ibadah -entah apakah seharusnya pakai selamatan segala. salah satunya harus opor ayam. Setiap kupatan. Bapak sangat menjunjung tinggi adat itu. itu pun jangan disalahkan. kami dilarang untuk masuk sampai ke dalam rumahnya. dan seterusnya. Tentu. Tapi. Dan meyakini bahwa kiainya. Lalu dititipkan ke tetangga untuk bersama-sama ditetaskan di situ. Misalnya saja. bapak saya tidak tahu itu. Agar lontong masak sempurna dan tidak basi sampai seminggu pun. kami juga harus munjung ke kiai kami. Punjungan itu berbentuk makanan yang paling istimewa. Satu bentuk selamatan di serambi masjid yang amat kami tunggu-tunggu. rejeban. Itulah saatnya kami bisa makan telur. kata ahl di situ menunjukkan bentuk tunggal (ism mufrad). Kami berjalan kaki sejauh 6 kilometer untuk sampai ke rumah sesepuh kami itu. mitoni. Juga harus ada cakar ayam untuk lambang doa kuat melangkah. semua aliran tasawuf punyai klaim yang sama untuk kiai mereka sendiri. Kiai kami adalah gurutarikat kami. begitu si tamu mengatakan kedatangannya hari itu diutus sang kiai. Sering ibu harus membeli dulu satu telur. Daun pembungkusnya harus daun pisang raja agar harumnya khas. Di jalan. Meski kiai tersebut masih paman ibu saya sendiri. Saya pernah bertugas mengantarkan punjungan yang aromanya sangat harum itu. Kami juga harus slametan nyepasari. Bapak langsung merasa sedang berhadapan dengan kiainya sendiri. KH Imam Mursyid Muttaqien. “Ahl-dzikr hanya satu di dunia. 37 by Moezhanks . Terutama saat kami masih kecil. kupatan. bisa memperebutkan daging ayam secuil. sunatan. Sesepuh kami.

Kalau lagi musim angin dan kami ingin bermain-main dengan angin itu. Mulai jadi alat ibadah. Kalau di tempat jahitan itu robek lagi. alat hiburan. harus diterima apa adanya. dengan wayang terbuat dari rumput dan gamelan dari mulut teman-teman). orang kaya merasa iba kepada orang miskin. sarung itu belum akan pensiun. Kadang. Jangankan terkena kanker atau sirosis atau hepatitis. sarung kami bentangkan di atas kepala: jadilah dia layar. Kalau kami lagi cari sisa-sisa panen kedelai di sawah orang kaya. kesehatan. Dia bisa jadi apa saja. kisah tentang bagaimana Khalifah Umar menemukan orang miskin yang anaknya menagis terus karena lapar. Atau bagaimana nabi hanya memakan kurma dua biji setelah seharian berpuasa. yang direbus itu adalah batu. seperti juga orang kaya punya cara sendiri menikmati kekayaannya. jadilah dia selimut. jadilah dia benda penting menghadap Tuhan. Sarung inilah pakaian yang. Mereka tidak tahu bahwa Tommy masih kaya raya. waktu kecil.Kami sungguh menikmati kemiskinan kami seperti menikmati khayalan mengenai lezatnya opor ayam yang disiapkan sejak enam bulan sebelumnya itu. Kalau sembahyang. Kalau saya lagi lomba terjun ke sungai dari atas jembatan. sarung itu bisa jadi bawahan. memang hanya punya satu celana pendek dan satu baju. saya ikat ujung sarung itu: jadilah dia semacam payung parasit. 38 by Moezhanks . Padahal. fashion. tapi saya masih punya satu sarung! Jangan remehkan kemampuan sarung ini. sampai jadi alat memeras atau menakut-nakuti. kalau memang sudah garisnya. Masih bisa dirobekrobek: bagian yang besar bisa untuk sarung bantal. Sakit bisa dinikmati. sarung itu masih bisa dijahit. Saya belum menemukan bentuk pakaian lain yang fleksibelnya melebihi sarung. Kalau lagi kedinginan. Kalau lagi mau nakut-nakuti anak kecil. Banyak orang desa yang merasa kasihan kepada Tommy Soeharto yang akhirnya harus menderita. Kalau perut lagi lapar sekali dan di rumah tidak ada makanan sama sekali. Mati pun dianggap. Kalau saya lagi mencuci baju. Untuk meredam tangis si anak. Apalagi suasananya sering diciptakan demikian. meski hanya satu potong kain. bagi orang miskin. ibunya pura-pura merebus sesuatu. Karena itu. saya ikatkan kuat-kuat sarung itu di pinggang: jadilah dia pengganjal perut yang andal. Misalnya saja. Saya. harus dijalani apa adanya. Juga cerita sufi tentang bagaimana orang sakti yang kalau lapar cukup mengganjal perutnya dengan batu. Miskin pun bisa dinikmati. Orang miskin punya jalan sendiri untuk menikmati kemiskinannya. sarung itu bisa saya kemulkan di bagian atas badan saya. fleksibelnya bukan main. Kalau tambalannya pun sudah robek. bagian yang kecil untuk popok bayi. masih bisa ditambal. sarung itu bisa jadi karung. sarung itu saya bentangkan dengan tiang pendek di kiri kanannya: jadilah dia kelir. Kalau saya lagi harus mencuci celana. Hidup. Cerita yang demikian jadi kebanggaan. jadilah dia pocongan. Padahal. Kalau saya lagi ingin mendalang (waktu kecil saya suka sekali mendalang. Kalau sarung itu robek (biasa waktu dipancal kaki saat tidur kedinginan atau saat kena duri bambu saat mencuri tebu). mencari rezeki. sering juga orang miskin merasa kasihan kepada orang kaya. Lapar itu sering luar biasa nikmatnya.

seperti yang semula saya kira. Kalau kemudian berkembang menjadi sirosis dan kanker. Yakni. Di Indonesia. Semua bisa saja jadi sarana penularan. Sebelumnya. Sangat sering diajarkan bahwa sedekah tidak harus dengan harta. tidak bisa diundur sekejap pun atau dimajukan sedikit pun” menjadi amat populer. jangan ada harapan sirosis tidak akan jadi kanker. Menyangka Hepatitis Sudah Beres 9 September 2007 SAYA menerima kehadiran virus hepatitis B di liver saya sebagai takdir. Makan bersama. Prof Hassan mengingatkan bahwa harganya mahal sekali. Namanya interveron. tentu itu karena gaya hidup di desa yang memang seperti itu. Mau dioperasi besar pun saya tersenyum. *** Saya sendiri tahu kalau mengidap hepatitis B sejak sekitar 25 tahun lalu. Maka. saya boleh mencoba obat baru itu. Ke depan mestinya virus ini amat berkurang karena kesadaran melakukan vaksinasi hepatitis kepada bayi sangat tinggi. Karena hidup seperti itu dilakukan sejak kecil. itu sebagai sunnatullah-Nya -sudah seharusnya begitu. Menyingkirkan duri dari tengah jalan pun sudah merupakan sedekah. Jangan harap satu virus hepatitis B tidak akan menjadi sirosis. Ini berarti lebih dari 120 juta orang. Dia mendengar ada obat yang masih baru sama sekali. Bahkan. setiap dua hari sekali. marilah kita sering tersenyum. kalau badan panas yang dibiarkan saja: toh akan dingin sendiri.ayat yang menyatakan “kalau sudah tiba waktunya. Waktu itu tiba-tiba badan saya panas sekali. Tapi. Tidak ada keajaiban di proses itu. Saat itu juga saya langsung mengambil langkah. Konsultasi dengan salah satu dokter ahli penyakit dalam terbaik di Surabaya: Prof Mohamad Hassan (kini almarhum). Kini interveron sudah amat murah dibanding 39 by Moezhanks . Dan. Bahwa keluarga saya banyak yang demikian. Diketahuilah bahwa ada virus hepatitis B di liver saya. karena menyangkut begitu banyak orang. data terbaru menyebutkan hampir 10 persen penduduknya terkena virus hepatitis. cuci tangan dari kobokan yang sama. Tidak ada mukjizat. Jadi. Karena itu. Karena namanya virus. Di Tiongkok sejak 1982. Di Tiongkok. (Bersambung) Ganti Hati 15 – Setelah Rutin Disuntik. pasti datangnya dari luar. Kisah sedekah yang populer juga terkait dengan kemiskinan. ketika untuk kali pertama dalam hidup saya memeriksakan darah. karena memang sebelumnya tidak pernah ditemukan obat untuk melawan virus itu. bukan keturunan atau gen. sejak kecil. berebut lauk dari piring yang sama. persentasenya saya kira hampir sama. Kalau mau. penelitian terhadap hepatitis intensif sekali di Tiongkok. tersenyum pun sudah sedekah. Maka saya harus periksa darah. Tinggal waktu saja yang berbeda. kemungkinan penularannya juga tidak kecil. Melebihi popularitas ayat yang mengajarkan “carilah rezeki di bumi Tuhan ini”. Di Indonesia terutama sejak zaman Orde Baru. Proses perkembangan itu lama atau cepat. Juga harus disiplin tinggi karena obat itu harus disuntikkan 76 kali. Itulah sedekah yang sudah sejak kecil diajarkan -dan yang dulu satu-satunya yang mampu kami lakukan.

Maklum. Ya. Murah untuk ukuran orang sakit liver. katanya. Saya tunggu sampai malam. Ke mana-mana saya membawa termos itu berikut alat suntiknya. Saya bisa menyuntikkan interveron berikutnya di mana pun saya mau. Mulai Surabaya-Jakarta-Pontianak-Kuching-Singapura-Guangzhou-Wenzhou-Jinhua-Hangzhou-NanchangGuangzhou-Jakarta-Makassar-Ambon-Makassar-Kendari-Makssar-Jakarta-Surabaya. saya sudah melupakan hepatitis saya. saya juga harus mengejar pesawat. Saya menyimpan interveron itu di termos khusus yang bisa saya bawa bepergian. Memang seharusnya demikian. saya langsung siap-siap selimut tebal. Tangan sudah selalu siap memegang selimut kalau tiba-tiba harus segera menutupkan ke tubuh saya. memang belum ada obat ang bisa membunuhnya. Sampailah pada Mei 2005. Akhirnya saya minta disuntik di pos kesehatan bandara Batam. Anda sudah berada di rumah sakit. dengan dikurung seperti itu. Saya tenggelam oleh kesibukan dan kecerobohan saya sendiri. ternyata si demam tidak datang juga. Saya terus kerja dan kerja. memang obat yang masih sangat baru. Prof Hassan juga memberitahukan bahwa kemungkinan berhasilnya juga tidak 100 persen. atau di praktik dokter. tidak boleh melakukannya. tapi tetap mahal untuk kebanyakan orang. tapi memang betul-betul belum tahu obat tersebut. Hari itu saya terbang ke 19 kota hanya dalam waktu 8 hari. Padahal. Obat itu berfungsi bukan membunuh virusnya. suhu badan bisa tinggi sekali. melainkan hanya mengurungnya. saya menjadi lengah. Mengapa harus ngamar? “Akibat suntikan itu. Kalau panas datang dan badan menggigil. siapa tahu saya masuk yang 25 persen itu. membuat saya terlalu percaya diri. Sudah puluhan kali lebih kuat daripada 25 tahun lalu -saat saya pertama menggunakannya. Kini. Barangnya juga sudah lebih mudah didapat. 40 by Moezhanks . Sudah saya jelaskan panjang lebar. Sejak minum interveron itu saya tidak pernah mencari tahu lagi apakah sudah ada obat yang lebih jitu.” katanya. Di Ambon ternyata sulit sekali mencari dokter yang mau menyuntikkannya. Saya pun menyetujuinya. virus tidak akan merajalela. Setelah proses itu selesai. Kalau terjadi sesuatu yang membahayakan. Saya pilih RS Budi Mulia di Jalan Raya Gubeng. Pujian bahwa saya adalah orang yang “tidak punya udel” (tidak punya pusar. baru 25 persen. Kalau tidak tahu. Badan saya yang selalu fit. hepatitis saya sudah beres. Pernah suatu saat saya harus ke Ambon. Pernah juga saya mengalami kesulitan yang sama saat berada di Batam. Lalu saya boleh pulang. Saya tidak pernah lagi memperhatikannya. Bisa di kantor. Tapi. Pada hari dilakukan penyuntikan pertama. Di sana umumnya dokter tidak tahu obat apa yang saya bawa itu. Terbang dan terbang. Bahkan. Di dalam negeri dan ke luar negeri. Sebab. Harganya pun sudah jauh lebih murah dibanding ketika saya harus membeli dulu. di poliklinik. saya dengar kualitas interveron sudah semakin baik. Maksudnya. Saya tunggu kedatangan “suhu tinggi” dan “rasa menggigil” itu sampai sore.harga 25 tahun lalu. Ketika pertama suntik saya harus ngamar di rumah sakit. Tiongkok juga sudah memproduksinya besar-besaran. Maka setiap dua hari saya suntik interveron. untuk menggambarkan punya kemampuan kerja kuda) membuat saya terlena. Yang jadi persoalan adalah bukan tidak mau. Saya menyangka. saya sudah tidak bingung lagi. tetap saja dia tidak mau. Bahkan sampai besoknya pun. Tentu saya bawa juga interveron itu.

keluar dari bandara. Oh. Paman-paman saya. Tapi. rapat masih diteruskan dengan mengajar. Saya harus memilihnya sebagai dukungan ke anak buah. barulah saya bisa tidur dengan baik. Apalagi kalau dimakan di pantai yang sangat natural itu: pantai Ambon yang indah. 41 by Moezhanks . tiba-tiba saya mau muntah. ternyata saya muntah darah. pukul empat sudah harus berangkat ke Makassar. Papeda malam itu merupakan makanan terpedas yang pernah saya alami setelah makanan yang disebut suai yang ru di Chongqing. saya jangan makan papeda malam itu. Lupa sudah makan siang. Bisa jadi muntah darah itu akan sangat fatal dan mematikan. jangan belok kanan ke arah kota. Mengapa tidak mau sarapan? Setiap ke Ambon saya punya cita-cita khusus: akan makan durian sebanyak-banyaknya. Meski perut mulas.Istri saya. Juga ibu saya. Dari yang tercecer itulah saya lihat banyak onggokan berwarna hitam. Kenyanglah. Dokter bilang saya beruntung. saya lari ke toilet untuk membuang muntahan yang ada di tangan. Sambil tangan menampung muntahan. banyak penjual durian. menjadi calon wakil wali kota mendampingi calon Wali Kota Bambang D. Di forum “bengkel” itulah saya selalu diminta menularkan pengetahuan dan keterampilan jurnalistik. saya tidak tahu lagi di mana restoran yang terkenal itu membuka usaha. rapat dengan harian Kendari Post yang waktu itu juga lagi membangun Graha Pena Kendari. bergabung dengan saya di Makkasar untuk sama-sama ke Ambon. Saya muntahkan saja. bukan kepalang. Mungkin ikan-ikan Ambon cemburu dan marah mengapa malam itu saya melupakannya. saya ke kantor lagi sambil seperti menangis. Tiongkok. Berarti makan siang juga kelewatan. bersama Ibu Eric Samola. tapi belok kiri ke arah kampung. Mestinya. Perut saya mulai bergolak malam itu. sudah tidak tahan lagi untuk segera makan durian. setelah makan malam dengan menu makanan lokal yang disebut papeda. Di mana itu? Kalau Anda turun dari pesawat. Lalu menyantet perut saya. Dulu. manisnya. Hari itu bumbunya juga pedas bukan kepalang. saya ketahui saat saya berbaring di ranjang pasien. Paginya. Rapat pun buru-buru karena harus segera ke Kendari. ternyata warnanya merah: darah. Di Kendari saya juga punya cita-cita khusus: makan ikan bakar. Aduh naturalnya! Tapi. Rapat dengan harian Fajar yang kini baru menyelesaikan membangun gedung Graha Pena Makassar. Saya memang punya forum yang disebut “bengkel wartawan”. Lalu saya ingat kakak saya yang meninggal tidak lama setelah muntah darah. Makannya tidak di pantai Ambon tidak apa-apa. enaknya.H. tapi besoklah. Malamnya. Pimred Jawa Pos Arif Afandi. Dokter menyesalkan saya. Saya selalu merindukannya. badan saya rasanya baik-baik saja. Tiba di Ambon tidak mau sarapan. Kebetulan di depan kantor. tengah malam itu saya masih harus ke percetakan. di pinggir jalan depan Masjid Al Fatah. Setelah saya menghadiri coblosan pemilihan wali kota Surabaya. Barulah selesai coblosan saya ke Rumah Sakit Darmo Surabaya. Saya memang merencanakan ke dokter. Bangun tidur. Selesai forum bengkel. Tapi. Anak buah saya. Perkembangan hasil pilkada itu. Ikan laut Ambon segarnya. di mana Bambang-Arief terpilih. langsung ke kantor harian Ambon Ekspress untuk rapat. Tiba di Surabaya. Mestinya tetap saja makan ikan laut. mengapa begitu muntah darah tidak langsung ke rumah sakit. tapi kedua tangan saya menjadi penadah. Setelah onggokan itu saya injak. Tentu ada yang tercecer di lantai kamar. Durian Ambon luar biasa enaknya. sejak kerusuhan Ambon. setiap kedatangan saya ke anak perusahaan selalu dimanfaatkan untuk pertemuan dengan wartawan. Saya ternyata memang harus ngamar di rumah sakit.

“Sebaiknya Pak Dahlan segera ke Singapura. yang tidak segera diketahui di luarnya. rasa badan saya baik-baik saja. Saya diperiksa di situ untuk 42 by Moezhanks . Varises esofagus terjadi karena pembuluh darah utama yang masuk ke liver menyempit akibat adanya sirosis. penyakit tidak mau mampir ke badan saya karena tidak akan dilayani akibat kesibukannya. “Lebih baik dilakukan di sana.Pemeriksaan di Rumah Sakit Darmo menunjukkan betapa berbahayanya sakit saya. pasien meninggal karena kehabisan darah. saya mampir ke seorang ahli penyakit dalam yang terkenal di RS Mount Elizabeth. Baru dua minggu kemudian. Disebut varises karena memang mirip varises di betis. (bersambung) Ganti Hati 16 – Esofagus Ditambal atau Bilang Saja Pencernaan Dilaminating 10 September 2007 KETIKA kartu suara pemilihan wali kota Surabaya dihitung. Maklum. Ternyata semua itu menipu. Bahaya yang sama sekali tidak saya rasakan sebelumnya. Dalam istilah medis. Kata banyak dokter di Surabaya ketika itu.” tambahnya. Bahaya yang selalu kalah dengan semangat. tekanan di pembuluh darah utama itu pun jadi meningkat. Karena tak segera diturunkan. tekanan itu pun merembet sampai ke pembuluh darah esofagus dan limpa. Penyakit tetap datang dan diam-diam menggerogoti onderdil saya. ketika ada acara di Singapura. melalui pipa esofagus (yang menghubungkan mulut dengan lambung). Jika itu terjadi. alat itu masuk sampai ke lambung saya. Hanya. Karena pintu masuknya menyempit. betapa banyak gelembung darah yang siap pecah di sepanjang esofagus saya. varises di bagian itu lebih gampang meletus. Dari tenggorokan. karena dinding pembuluh darah esofagus lebih tipis. Sampai saat itu. Sebuah kerusakan di dalam. saya termasuk orang yang beruntung. Tindakan ini dalam istilah kedokteran disebut dengan endoskopi. Karena tidak kolaps ketika beberapa gelembung varises di esofagus saya pecah dan menyebabkan saya muntah darah dua hari sebelum endoskopi dilakukan. Yang mengendoskopi saya ketika di RS Darmo Surabaya saat itu adalah dr Pangestu Adi SpPD-KGEH. dokter RS Darmo Surabaya juga mulai melihat dari mana asal darah yang saya muntahkan. pecah. Dalam kesempatan pertama.” ujar Prof Dr dr Boediwarsono SpPD-KHOM yang merawat saya ketika itu. Dari gambar yang dipantulkan alat itu terlihat. Akibatnya bisa sangat fatal. Itu sebabnya mengapa limpa saya juga ikut membesar sampai hampir tiga kali lipat. Tahu-tahu saja sudah terlambat sekali. Saya dibius. Yakni. pembuluh darah esofagus yang menggelembung dinamakan varises esofagus. Gelembung-gelembung itu sebenarnya adalah pembuluh darah esofagus yang karena tekanannya terlalu besar lantas menggelembung. banyak juga yang besar. Ada yang kecil. Dalam istilah teman saya. Tenggorokan saya dimasuki alat yang ujungnya berkamera superkecil. pasien akan mengalami pendarahan hebat yang sulit dikendalikan. saya masih belum memahami sepenuhnya bahaya yang saya hadapi. yang sudah sangat ahli dan senior di bidang itu.

ujung alat itu pun dilengkapi kamera. Dengan begitu. Sehingga selama lima tahun sebagai Dirut perusahaan daerah. saya punya waktu membicarakan kelanjutan rencana proyek Rp 250 miliar itu. kepada keluarga saya. dengan “laminating” ini. Agar kedatangan saya ke Singapura minggu depannya lebih efektif. sekaligus melapisi yang sudah siap meletus. beban bagi tubuh saya akan terlalu berat. 43 by Moezhanks . dan menjadi gelembung-gelembung darah lagi. Padahal. dua bulan kemudian saya balik ke Singapura. Meski yang kecil-kecil tidak membesar. Dan. teratasi sementara. Dengan bantuan kamera itu. saya diminta kembali dua bulan kemudian. operasinya perlu waktu dua jam sendiri. Hari itu. Hari itu dia sudah telanjur banyak janji dengan pasien lain. Dia melakukannya secara gratis. Selain itu. Sudah beberapa kali Robert membantu perusahaan daerah secara sukarela seperti itu. saya ke rumah sakit. Robert Lai. untuk melihat. Gelembung-gelembung kecil yang tersisa “dilaminating” semua. kalau yang “dilaminating” kebanyakan.mengetahui apa yang terjadi sebenarnya dan tindakan apa yang harus dilakukan. Langsung dibius dan dioperasi. dokter memilih yang aman. Untuk memastikan itu. tim dokter di Mount Elizabeth lantas mereparasi esofagus saya. ketika meletus. Bulan berikutnya. Urusan perusahaan daerah selalu saya gabung dengan urusan saya pribadi. lawyer lulusan Inggris yang sudah biasa bikin perjanjian dalam bahasa Inggris. dokter berharap gelembung yang kecil-kecil akan mengecil dengan sendirinya. Antara lain dengan menuangkan semacam lem berwarna putih ke gelembung-gelembung varises di esofagus saya. bengkak lagi. saya menggunakan istilah yang lebih sederhana lagi: Saluran pencernaan saya “dilaminating”. Sekali lagi. Sebelum operasi. Kelak saluran pencernaan saya akan tertekan lagi. hari itu dokter hanya punya waktu untuk mengatasi gelembung yang besar-besar. Teknis penambalan esofagus sebenarnya tidak sesederhana penjelasan saya itu. Kenapa sementara? Ini karena penyebab terjadinya gelembung-gelembung itu sendiri masih njegog di badan saya: sirosis. Tapi. yang sudah meletus dan benar-benar siap meletus. Sesuai jadwal. Berarti setahun kemudian saya masih terancam muntah darah lagi. Saya juga sudah minta tolong agar teman saya. dan memberikan koreksi mana-mana yang akan membuat posisi perusahaan daerah lemah. Saya memang biasa begitu. persoalan mendesak yang mengancam hidup saya teratasi. selesai rapat. setidaknya saya bisa mengulur waktu. saya bikin janji dengan investor Singapura yang bersama perusahaan daerah Jatim akan membangun shore base di Lamongan. Saya hanya menyederhanakannya. Seminggu kemudian saya diminta datang lagi untuk operasinya. proses “laminating”-nya tak bisa hanya sekali. Seperti pada endoskopi. Lalu menyerahkan koreksi itu ke direksi perusahaan daerah untuk dipikirkan lebih lanjut. Dia memberikan banyak sekali koreksi. Karena jumlah gelembung yang harus ditambal begitu banyak. Dengan cara ini perusahaan daerah tidak perlu keluar uang perjalanan dinas dan biaya-biaya lain. saya putuskan untuk menandatangi perjanjian setebal bantal itu. Bahkan. ketika direksi perusahaan daerah sudah selesai merundingkan draf perjanjian dengan pihak Singapura. Tujuannya untuk menambal bagian yang sudah meletus. tenggorokan saya dimasuki alat yang bisa masuk sampai pencernaan. Minggu depannya. mencermati. Dengan hanya “melaminating” yang besar-besar. Tepatnya. saya tidak pernah menggunakan uang perusahaan. Rapat lagi sambil meneruskan proses “laminating” berikutnya. darahnya tidak semburat ke luar lagi.

Lalu menyayat-nyayatnya. memang semakin pahit rasanya. Lalu saya telan sedikit-sedikit lewat tenggorokan saya yang sakit: beli sepatu yang lebih besar. OK. saya merenungkannya. OK. Berdarah-darah. Tapi. Bisa sampai umur 60 cukuplah. Jawaban dokter itu sungguh di luar dugaan saya. Berarti juga. Cukuplah.” katanya ketus. Tapi. Semakin dikunyah. Tapi. Menghunjam dalam sekali. tapi saya kunyah lama-lama. dia jawab sendiri pertanyaan itu: karena liver barunya nanti kemungkinan juga terkena hepatitis lagi.” katanya. Misalnya. Sebenarnya pertanyaan itu tidak perlu. dua-duanya tidak ada 44 by Moezhanks . Begitu pahitnya kalimat dokter itu. Berarti juga tidak ada jalan keluar untuk sirosis. Merah rupanya. “Sekarang Anda berumur 55 tahun. bisa jadi bibit kanker itu juga masuk lagi ke liver baru. membuat pencernaan seperti mulas dan mau muntah. tajam. tidak ada obatnya! *** Saya masih minta butrawali satu lagi: Bagaimana dengan sirosis saya? Maksud saya apakah sudah ada obat untuk memperbaiki sirosis? Atau. Dokter melemparkan jawaban pendek. Tambah lima tahun sudah oke. Padahal. bagaimana mengatasi sirosis saya. Di atas muntahan itu seperti terbaca peringatan keras: tidak ada obatnya. Bagaimana agar tidak terancam muntah darah lagi. “Bagaimana mengatasinya?” tanya saya. Mungkin hidup Anda bisa lebih panjang lima tahun lagi. Bagaimana agar kaki saya tidak bengkak lagi. Lalu saya muntahkan sekalian kalimat dokter itu: Dalam wujud muntah seperti darah. “Anda lakukan transplantasi saja. Jawaban itu memang seperti keluar dari mulut Asmuni-Srimulat. Saya sudah oke. sirosis itu yang menyebabkan saluran pencernaan bengkak dan membuat gelembung-gelembung darah. Dan beli lagi yang lebih besar lagi. dan akan jadi sirosis lagi. Tidak boleh lebih. dalam bahasa orang awam. Dahlan. Lima tahun lagi. “Ya. Juga tidak mau bertele-tele. apakah ada jalan keluar untuk membuat liver yang sudah mengeras di sana-sini itu kembali lunak? Dan jalan darah yang sudah banyak yang buntu itu membuka lagi? Dokter rupanya tidak punya banyak waktu. kau bisa dapat tambahan umur lima tahun lagi. Dia seperti menganggap manusia ini benda yang tidak punya perasaan. beli lagi yang lebih besar lagi!” jawabnya. Lalu saya tunjukkan kaki saya yang mengembung dan membesar itu kepada dokter yang merawat saya. Apalagi kalau saat itu sudah ada kankernya. “Kalau sesak lagi?” tanya saya lagi. Dahlan. Tambah lima tahun menjadi 60. Pedih. Saya tidak mau dia memberi saya sekarung butrawali.” katanya. Terasa seperti lemparan pisau yang langsung mengarah ke liver saya. Seperti pahitnya butrawali. “Beli saja sepatu yang lebih besar. Getir jawaban itu. “Kenapa setelah transplantasi hanya bisa hidup lima tahun?” tanya dokter itu pada saya. merah rasanya. enteng. langsung.Menjelang tanda tangan perjanjian itulah saya berkonsultasi dengan dokter mengenai problem kesehatan saya yang berikutnya. buah yang dijadikan ukuran terpahit di Jawa.

Enaknya luar biasa. dekok di tengahnya. Setiap pulang dari bepergian. ancaman kematian tiba-tiba sementara sudah teratasi. Saya tidak terlalu memikirkannya. Padahal. Tapi juga tetap memerlukannya. yang salah adalah kakinya. Tidak ada pula keajaiban yang bisa diharapkan. bos Hotel J. Salah satunya adalah koran dari Grup Jawa Pos. setiap akan membuka hasil lab. Ini terjadi karena karet di kaus kaki tersebut menekan kaki saya. Restoran itu ada di pojok Jalan Tianjin. Apalagi. sedikit-sedikit. Besar atas bawahnya. maka tidak gampang baliknya. saya mampir ke kios pijat kaki. Mungkin karena itu. Saya masih menganggap kata-kata transplan dari dokter tersebut tidak terlalu meyakinkan. Tidak ada alternatifnya. namun istimewa. sampai makanan penutupnya. Sebab. Pulang makan. 45 by Moezhanks . Dia pun. yang salah sebenarnya liver saya yang tidak lagi mampu mengolah protein secara normal. Hanya saya lebih care dibanding dulu.” katanya sambil melihat bagian kaki yang ’ambles’. Dia tahu itu karena hampir semua pasiennya mengatakan kenal saya. Dua minggu sekali. Marriott Surabaya yang juga konsul kehormatan Hongaria. Lihat. perut saya langsung kembung. kalau mau yang paling tepat lagi disalahkan adalah saya sendiri: Mengapa tidak menjaga baik-baik liver saya? Dua tahun lamanya saya membenci kaus kaki. ternyata juga menyalahkan kaus kaki. Timbul Bunyi seperti Tong Kosong 11 September 2007 SAYA pernah membenci kaus kaki. Satu perkiraan yang tidak terlalu salah. Artinya sibuk lagi. Sampai membuat kakimu seperti ini. Karena badan normal-normal saja. Shanghai. kalau tidak pakai kaus kaki. makanan kecilnya. terbang-terbang lagi. seperti saya. saat habis makan malam dengan Wakil Presiden H M. (Bersambung) Ganti Hati 17 – Dokter Mengetuk Dada. Saya terus memonitor darah saya di laboratorium. Saya tahu alamat restoran itu dari Rajimin.W. Yakni. Setelah melepas kaus kaki saya. selalu saja kaki saya seperti balon panjang yang ditiup tidak sempurna. Kadang saya membuka hasil lab itu seperti membuka kartu remi yang tertutup di atas meja. Pernah saya merasa penat. Dia lantas mengira saya kerja di perusahaan periklanan. Jusuf Kalla dan lima menteri yang menyertainya. Karena yang dijepit adalah daging kaki yang bengkak. saya juga hidup normal lagi. Dia hanya tahu saya orang Surabaya. *** Dokter itu tidak kenal saya. Saya sama sekali tidak menyangka akan berhubungan dengan kata transplantasi. Bahkan. Tepatnya. di dinding pendek dekat meja resepsionis terdapat banyak guntingan koran Indonesia yang memuat tentang ceramah dan wawancara dengan dokter itu. perasaan saya seperti anak sekolah yang sedang menerima rapor. Semua masakannya terbuat dari kepiting. si ahli refleksi kaget. Waktu itu kami makan di satu restoran kecil. Mulai supnya.jalan keluar. Tidak ada obatnya. “Karet kaus kakimu terlalu kuat. takut angka-angka merahnya terlihat sekaligus. Ruang praktiknya memang penuh dengan pasien dan sebagian besar orang Indonesia. Pelan-pelan.

Begitulah. Hubungan saya dengan kaus kaki menjadi sangat unik: Jenis hubungan yang disebut love and hate -cinta dan benci. Dalam situasi terus membenci kaus kaki seperti itulah, saya terus beraktivitas. Terbang berjam-jam. Berkendaraan beratus-ratus kilometer. Di dalam negeri. Di luar negeri. Sampai suatu saat saya punya urusan di kota Tianjin, 100 km dari Beijing. Di sini kebetulan ada kenalan dokter ahli liver yang hebat. Namanya Prof dr Shao. Seorang wanita tepat seumur saya, yang mengepalai bagian liver di suatu rumah sakit di sana. Dia dobel dokter. Dokter ilmu kedokteran Barat dan dokter ilmu kedokteran Tiongkok. Dia juga doktor di spesialisasi liver, limpa, dan empedu. Saya kepingin mencari pendapat pembanding. Benarkah tidak ada jalan keluar untuk problem bengkak saya itu. Benarkah sirosis itu tidak bisa disembuhkan, minimal dihentikan proses memburuknya. Tentu, saya diminta Prof Shao untuk menjalani pemeriksaan ulang. Mulai kencing, kotoran, darah, liver, limpa, paru, sampai prostat. Juga menjalani pemeriksaan fisik yang dia lakukan sendiri. Yakni pemeriksaan secara kedokteran Tiongkok. Dia ketuk-ketuk rongga dada saya dengan jarinya. Timbullah suara seperti tong kosong. “Ini pertanda liver Anda memang sudah mengerut, mengecil,” katanya. “Di rongga dada Anda sudah mulai ada ruang kosongnya,” tambahnya. Setiap Prof Shao memeriksa fisik saya, selalu banyak dokter muda yang diajaknya. Dokter-dokter muda itu menyimak dengan tekun apa saja dijelaskan Prof Shao sehubungan dengan kondisi badan saya. Dia memang juga pengajar di fakultas kedokteran yang terkait dengan rumah sakit itu. “Lihat ini,” kata Prof Shao kepada para dokter muda itu. Sambil berkata demikian, Prof Shao menyingkap baju saya sampai dada saya terbuka. Lalu, dia memegang-megang payudara saya (eh, kalau milik laki-laki apa juga disebut payudara?). “Lihat payudara dia ini. Juga membesar. Seperti payudaranya gadis yang menginjak remaja. Orang yang terkena sirosis akan selalu seperti ini,” ujarnya. Kenapa Prof Shao mengumpamakan payudara saya seperti payudara gadis belia, karena proses pembesaran kelenjar susu lelaki yang menderita sirosis memang mirip pertumbuhan payudara gadis yang beranjak remaja. Yakni dimulai dengan rasa nyeri pada bagian putingnya saat tersentuh sesuatu. Perlahan-lahan rasa nyeri itu berkurang, bersamaan dengan makin besarnya payudara. Seperti umumnya gadis remaja, pembesaran payudara saya juga dimulai dari yang kiri, baru kemudian yang kanan. Jika liver saya tidak keburu ditransplan, payudara saya akan terus membesar menyerupai payudara wanita. Dalam istilah medis, pembesaran payudara yang saya alami itu disebut dengan gynecomasty atau ginekomastia. Lama sekali dia memegang-megang payudara saya. Tapi, bayangan saya lebih kepada sirosis yang mengancam nyawa saya. Tidak hanya hari itu. Berkali-kali Shao menjadikan payudara saya sebagai alat peraga untuk mahasiswanya. Saya menerima saja. Bukan karena merasakan remasannya, melainkan itu memang penting agar orang lain jangan sampai seperti saya. Setelah selesai bagian dada, tangannya turun ke perut. Dia periksa perut saya dengan dua tangannya. Dia pejamkan matanya seolah ingin merasakan benar apa yang berubah dari perut saya senti ke senti. Dia goyang-goyang perut saya. “Masih beruntung. Air belum masuk ke rongga perut,” katanya. Prof Shao memang sangat khawatir air yang sudah memenuhi seluruh badan saya juga sudah mulai mengalir ke rongga perut. Sebab, memang begitulah proses yang akan terjadi berikutnya. Air akan “bocor” dan menggenangi rongga perut. Karena itu, penderita sakit liver seperti saya akan berakhir
46
by Moezhanks

juga dengan keadaan perut membesar penuh air. Mula-mula perut akan seperti balon berisi air: Ginjur-ginjur. Dalam istilah medis, keadaan itu disebut dengan ascites. Semakin lama, jumlah air di perut akan semakin banyak dan memaksa perut untuk membesar. Bersamaan dengan membesarnya perut, biasanya pembuluh-pembuluh darah di permukaan perut juga ikut melebar sehingga tampak seperti sarang laba-laba, tapi warnanya merah. Sesuai dengan tampilannya, para dokter menyebut pelebaran pembuluh darah itu dengan istilah spider veins. Pada tahap berikutnya, perut yang besar itu mengeras. Saya sudah berkali-kali melihat perut orang sakit liver seperti ini dan biasanya sudah akan meninggal kurang dari enam bulan. Begitu juga ibu saya dulu. Satu pemandangan yang saya lihat ketika saya masih berumur 12 tahun dan terus hidup sampai saya sendiri dalam posisi akan mengalaminya. Saya sendiri beruntung karena sampai saat transplantasi, saya tidak mengalami yang disebut ascites maupun spider veins itu. “Ini harus dicegah sedini mungkin, sebisa-bisanya,” kata Shao kepada para dokter muda tersebut. Tapi, itu pun sifatnya hanya usaha untuk buying time. Dokter di Singapura berpendapat sama. Dia memberikan dua jalan: Meminum obat agar kencing lancar dan meminta saya untuk tidak banyak minum. Dua-duanya saya jalani. Sampai-sampai saya pernah merasa takut pada air minum. Setiap mau minum, selalu terbayang bahwa sebagian air itu akan terus membuat badan saya bengkak. Sebagian lain akan membuat perut saya membesar, ginjurginjur, dan akhirnya mengeras. Pada awalnya, saya agak terhibur dengan “pil pelancar kencing”. Tapi, lama-lama satu pil tidak cukup membuat kencing saya mengalir lancar. Harus dua pil. Ini pun lama-lama juga sudah kurang manjur. Terpaksa, saya terus mengurangi minum. Beberapa bulan terakhir saya hanya berani minum satu liter saja sehari. Ini karena kencing saya hanya sekitar 700 sampai 900 mililiter sehari semalam. Di Tianjin, Prof Shao memberi saya obat Tiongkok yang sudah berwujud cairan infus. Tiap hari saya diinfus dengan itu dan bengkak berkurang. Kencing lancar sekali. Tapi, kalau infus dihentikan, tetap saja badan kembali bengkak. Shao menjelaskan mengapa demikian kepada para dokter muda beberapa di antara mereka dokter muda dalam ilmu kedokteran Tiongkok. Ketika saya banyak tanya mengenai khasiat dan bahaya setiap obat yang diberikan kepada saya, Shao bergegas menatap wajah-wajah dokter muda. “Lihat sahabat saya ini. Banyak bertanya. Kelak, semua pasien akan seperti ini. Kalian harus bisa menjelaskannya dengan sebaik-baiknya. Pasien memang punya hak untuk tahu,” ujar Shao sambil tangannya tetap di perut saya. Kadang tangannya mampir lagi ke payudara saya. Ini karena di antara dokter muda hari itu, ada wajah baru yang belum diberi tahu bagaimana payudara saya juga membesar seperti gadis menginjak remaja. Lain hari, saya ingin Prof Shao ganti mengajar saya. Sebelum hari yang ditentukan itu tiba, saya beli kertas putih lebar. Lalu, saya tempelkan di dinding kamar rumah sakit. Saya ingin dia menjelaskan secara gamblang rangkaian penyakit saya. Saya juga beli spidol warna-warni untuk membedakan gambar aliran darah masuk dan keluar. Dia tersenyum melihat persiapan saya hari itu. “Wah, saya harus mengajar berapa jam?” tanyanya bergurau. Pipinya yang padat, hidungnya yang agak mancung, badannya yang tinggi, dan rambutnya yang ikal membuat penampilannya sangat aristokrat. Apalagi kalau berat badannya bisa turun satu kilo lagi. “Satu jam 10.000 yuan ya?” guraunya ketika menyebut uang setara Rp 11 jutaan tersebut.

47

by Moezhanks

Di dinding itu dia menggambar isi tubuh saya. Menjelaskannya sangat detail dan terang-benderang. Dia pandai sekali mengajar. Pasti banyak mahasiswanya yang senang. Saya juga belajar yang lain lagi: bahasa. Sebab, bahasa Mandarin yang dia gunakan sangat teknis dengan logat yang sangat Tianjin. Kini tahulah saya secara gamblang penyakit saya, terutama ancaman mati yang nyata di depan mata saya. “Ini tidak ada obatnya,” katanya tegas. Muncul karakternya sebagai pemimpin. “Kecuali istirahat total,” tambahnya. “Obat hanya memegang peranan kurang dari 15 persen. Yang 85 persen lebih adalah perilaku pasien sendiri,” ujarnya. Prof Shao melarang saya banyak jalan, gerak, dan terlalu lelah. Tidak boleh marah, kemrungsung, dan berada dalam situasi tergesa-gesa. Padahal, salah satu hobi saya “mengejar” pesawat. Saya sering tidak sabar menunggu jadwal pesawat. Kalau pesawat yang akan terbang ke suatu tujuan masih tigaempat jam lagi, biasanya saya cari pesawat ke jurusan yang lain dulu. Saya juga tidak boleh merasa kesal. Tidak memikirkan banyak persoalan sekaligus. Tidak boleh mikir yang berat-berat. Saya harus pensiun. Saya hanya boleh memikirkan badan saya sendiri. Tidak boleh lagi mikir orang lain. “Ibaratnya,” kata Prof Shao, “Rumah tetangga terbakar pun, Anda jangan peduli.” Tegas sekali peringatannya. Terang sekali contohnya. Hanya mahasiswa yang bodoh yang tidak bisa memahaminya. Dan saya ternyata termasuk “mahasiswa”-nya yang amat bodoh. (Bersambung)

Ganti Hati 18 – Dokter Menegur Iba, Ingat Nasib Ayahnya yang Redaktur
12 September 2007 BUKAN. Bukan bodoh. Semua penjelasan Prof Shao mengenai bahayanya penyakit saya, saya mengerti sepenuhnya. Terang-benderang penjelasannya. Saya pasti tidak bodoh. Hanya saya sadari, saya agak ndablek. Dan dia tahu perilaku saya itu. Dia tahu keras kepala saya, sembrono saya. Suatu saat, ketika saya kembali menemuinya setelah setengah bulan menghilang, dia lama memandang saya. “Ke mana saja Anda? Kami di sini prihatin sekali. Takut terjadi sesuatu pada Anda,” katanya dengan nada khawatir. Mungkin juga jengkel. “Saya baru datang dari Indonesia,” jawab saya. Dia setengah tidak percaya, setengah gondok. “Lho, setelah dari sini dulu itu, Anda pulang ke Indonesia? Kenapa? Apa kata saya tentang kebakaran rumah tetangga?” ujarnya. Dia lantas menarik napas panjang sekali. “Dahlan, Anda ini sudah gawat. Saya tidak mau kehilangan Anda,” katanya. Berkata begitu, dia seperti setengah menegur setengah mengiba. Dia kembali menarik napas panjang sekali. Matanya kelihatan berlinang. Dia keluarkan tisu di sakunya. Dia usap air matanya. Beberapa hari kemudian, dia bercerita kepada saya mengapa sampai hampir menangis ketika menasihati saya. Ternyata, dia ingat bapaknya. Bapaknya seorang redaktur surat kabar. Ibunya seorang hakim terkemuka. Bapaknya terus menulis buku sepanjang malam. Lalu meninggal. Ternyata karena sakit liver. Dia tidak tahu itu dan tidak memperhatikan itu. Padahal, dia dokter ahli liver. Waktu itu, katanya, dia juga sedang belajar ekstrakeras selain kerja keras. Sebab, dia akan segera dapat beasiswa untuk sekolah lagi di luar negeri. Tapi, semuanya gagal. Beasiswa tidak jadi. Ayahnya pun pergi. Dia menangis lagi saat menceritakan itu.
48
by Moezhanks

aliran darah ke liver saya (baca: penderita sirosis) tidak bisa lancar. limpa pun memperlakukan sel-sel darah yang numpuk itu sebagai sampah yang harus disingkirkan.000. Apalagi dari hasil pemeriksaan total.Dia lantas ingin merawat saya semaksimal mungkin agar tidak seperti bapaknya. Saya sendiri juga kepingin agar tidak seperti ibu saya. memproduksi sel darah merah dan darah putih tipe tertentu. Prof Shao memutuskan perlunya mengecilkan limpa saya. Seperti yang pernah saya sebutkan di tulisan terdahulu. “Limpa dipotong?” kata saya dalam hati. Yang disebut sampah di pembuluh darah. termasuk Indonesia. Akibatnya.000 sampai 400.” ujarnya. Namanya diembolisasi. Di negara lain. Cukup untuk mengulur waktu beberapa bulan. Bagi limpa. Prof Shao lantas berpikir keras mencari jalan untuk menaikkan kadar platelet saya. Limpa saya harus dipotong? “Boleh dibilang begitu. Makin banyak darah yang harus ditampung. bukan hanya kadar platelet saya yang turun. luberan sel darah yang berlimpah itu memang menyulitkan. Kalau toh ada tanda-tanda bengkak lagi. limpa Anda sudah membesar tiga kali ukuran normal. jika dihancurkan semua. darah mengalir balik ke limpa. dia lihat masih ada sedikit peluang. semakin besar pula ukuran limpa. serta menyingkirkan sampah-sampah di pembuluh darah. Mengapa limpa harus dikecilkan? Limpa adalah organ kecil -yang dalam keadaan normal hanya seukuran genggaman kita. caranya tidak lewat injeksi karena hal itu hanya bisa bertahan dua-tiga hari. Dipotong seberapa banyak? “Sekarang. Setelah itu. ya saya lupa menjelaskan bahwa sebenarnya. orang akan gampang terkena infeksi dan yang kekurangan platelet akan mudah mengalami pendarahan. jika tidak dihancurkan. masih bisa “dilaminating” sekali lagi.” katanya.” katanya. Hasil “laminating” yang dilakukan di Singapura terhadap saluran pencernakan saya yang sudah penuh varises sangat baik. “Mungkin saya akan mengecilkan limpa Anda. Sebab. “Laminating” itu kurang lebih bisa bertahan setahun. Tapi juga sel darah putih dan sel darah merah saya. antara lain. sel-sel sehat dan rusak itu akan mengerak dan mengganggu fungsinya. Karena jumlahnya di luar batas normal. Tiga-tiganya bisa mengakibatkan kematian. adalah sel-sel darah yang rusak. limpa lantas “membesarkan diri”. Padahal. Kalau kekurangan darah putih. Untuk menampung limpahan itu. Saya minta waktu berpikir untuk memutuskannya. dan platelet yang “sehat”. darah putih. darah akan kekurangan sel darah merah. Mungkin dikurangi sepertiganya dulu. Tapi. Itu berarti sel-sel darah yang “sehat” pun ikut disingkirkan. digunakan standar minimal 150. 49 by Moezhanks . Dia akan sangat kecewa kalau saya sendiri tidak peduli dengan badan saya. Angka minimal untuk kadar trombosit seharusnya 150 (ini angka dalam standar laboratorium di Tiongkok).di bawah iga kiri. orang yang kekurangan sel darah merah akan mengalami anemia (kekurangan darah). Tugasnya melawan infeksi.000 per milimeter kubik darah. Tapi. Oh. Untuk menormalkan kadar sel-sel darah saya itulah. Prof Shao lebih prihatin pada kadar platelet atau trombosit saya yang tinggal 60. platelet akan turun lagi. Melihat rendahnya kadar platelet saya. Normalnya 150.

50 by Moezhanks . Kalau tarif listrik dinaikkan. Maka. Kaltim tidak bisa berharap banyak pada PLN. saya bisa menyaksikan apa yang terjadi di kolong yang sering digenangi air. bisa mampir ke Singapura. Kelak. Dari Kaltim-lah. rakyat hanya dikenai tarif Rp 750. Sudah jadi prinsip saya untuk tidak memanfaatkan keberadaan saya di pers untuk menekan seseorang. Proyek energi yang kelihatannya mulia itu ternyata juga memakan bukan hanya dana saya. Padahal. PLN sudah tahu bahwa hari itu perusahaannya akan rugi Rp 1. logikanya begitu baik. saya kenal direksi PLN-nya. Nah. lilin itulah yang sering mengakibatkan kebakaran. Banyak kampung miskin terbakar karena saat lampu mati. Untuk menghasilkan satu watt. Pemda setuju asal saya mau jadi direktur utama perusahaan daerah di sana.250 per watt. melelahkan. kenal wakil presiden. kalau limpa sudah membesar lagi. kelak limpa membesar lagi? Ya. Tentu pemotongan limpa itu tidak bisa dilakukan tiga kali karena sama artinya dengan membuang limpa sama sekali. Kalau dijual Rp 750 per watt kepada masyarakat. dan bahkan presidennya. diperlukan biaya Rp 2. Kampusnya di sebuah rumah panggung di Jalan Panglima Batur IV. yang utama lagi memakan batin saya. saya tidak pernah memanfaatkan kedekatan saya itu untuk urusan tersebut. setelah dipotong pun. masuk univeristas masih gampang dan murah. kenal menteri-menteri di bidangnya. Saya ingin mendapatkan opini pembanding. tapi hidup di darat. masih ada satu di antara dua saluran utama yang bisa dimatikan lagi. Dua tahun baru beres. saya memang ke Kaltim. saya memang tidak mendapat ilmu baru dari mata kuliah yang sudah saya pelajari semua di kelas satu SMA itu. proses perizinannya ternyata sangat panjang. dua tahap pemotongan limpa tersebut dianggap cukup untuk mengulur waktu sampai lima tahun. Biawak adalah binatang seperti buaya. Dan. Saya tetap minta waktu memikirkannya. Membangun PLTU yang efisien. Sewaktu kuliah. Tujuan satu: agar bisa kuliah. ikut kakak sulung saya. PLN tidak bisa banyak berbuat karena selalu rugi. Itulah suara biawak berkelahi. selama liver saya sirosis. Jadi. Dan itu akan membuat pletelet juga turun lagi. darah yang tidak bisa masuk liver akan meluber dan menekan ke mana-mana. PLN langsung untung. termasuk ke limpa. Artinya. saya meyakinkan pimpinan-pimpinan daerah di sana.Ini memang bukan langkah permanen. yang terjadi adalah demo. Pembangkit-pembangkit listrik PLN sangat tidak efisien. mereka harus menyalakan lilin. Mematikan salah satu di antara tiga saluran itulah. Di Jawa saya tidak mungkin bisa masuk universitas karena tidak punya biaya. Pemadaman terjadi bergilir. Tapi. Saya harus kembali ke tanah air karena sudah terlanjur komit untuk mengatasi kelangkaan listrik di Kaltim. yang akan dilakukan Prof Shao. saya sering melihat ke bawah. sekali lagi. Kalau salah satu saluran itu dimatikan.000-an. Limpa memiliki tiga saluran darah masuk utama. Saya kembali ke Indonesia lagi agar. Meski tujuannya begitu hebat. yang biaya produksi listriknya hanya Rp 500 per watt. Karena lantai papannya tidak cukup rapat. agar mau menyisihkan sebagian anggaran untuk investasi di listrik. Di Kaltim. mulai gubernur sampai DPRD. Sering ada suara “krosak” di kolong itu yang lebih menarik perhatian saya daripada mata kuliah. saya memulai karir sehingga saya anggap Kaltim seperti daerah kelahiran sendiri. tapi juga energi saya. Padahal. Saya masuk Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel cabang Samarinda. Memang. Anggaran Kaltim yang besar karena sumber alamnya yang melimpah jangan habis untuk kebutuhan konsumtif. dan hasilnya bagi PLN juga begitu nyata (dari perusahan rugi akan langsung jadi laba). dan menjengkelkan. Tahun-tahun belakangan Kaltim mengalami krisis listrik. limpa akan mati sepertiga. limpa saya masih bisa dipotong lagi. Setahun PLN Kaltim bisa rugi hampir setengah triliun rupiah (2005). antara lain. Seperti yang saya lakukan di Jatim. Sebab. Setamat SMA. sejak sebelum matahari terbit pun. Sebagai tamatan aliyah. Kalau tahap itu sudah terjadi.

Tapi. Maka. “Saya saja tidak mau. Tapi kalau tembok ini tidak dijebol. Namun. Bayangan saya juga begitu sewaktu saya memiliki semangat untuk ikut mengatasi krisis listrik di Kaltim. Tapi. kementerian BUMN. Di PLN hanya sedikit masalah. Indonesia yang begitu rumit peraturannya. Apalagi ada bank yang bersedia memberikan pinjaman meski kontraknya hanya tahunan. PLN tidak melanggar peraturan. Saya ingat kata-kata Prof Shao bahwa walau terjadi kebakaran di rumah tetangga pun. Saya malu proyek sekecil itu saja sampai dibahas di forum yang begitu tinggi. mengapa tidak segera dicabut. 51 by Moezhanks . Bahkan. ya. Kalau kontrak tahunan. Sebagian karena malu. ketika setahun mengurus izin ini tidak berhasil (karena sejumlah peraturan yang tidak mengizinkan PLN menandatangani kontrak jangka panjang). Saya terlalu terpengaruh suasana di Tiongkok. terutama risikonya. Bos Bank Mega yang juga bos Trans TV itu yang prihatin dengan keluhan saya. tidak boleh mikir. Saya memahami aturan bank seperti itu. Tentu sebenarnya juga bukan kecil bagi saya. tidak boleh marah. yang kebakaran ini bukan rumah tetangga. Di atas pesawat. Saya juga memahami PLN tidak boleh melanggar aturan. Kalau toh sudah telanjur ada karena masa lalu yang kelam. Risiko pada keuangan saya dan pada kesehatan saya. Di kementerian energi saya tidak punya masalah. Saya harus pulang ke Indonesia untuk terus mengurus semua itu. Kalau Dahlan saja mengalami hal seperti ini. Padahal. Wapres mengumpulkan menteri dan direksi PLN untuk membahas kasus Kaltim itu. Tapi sudah tidak bisa mundur lagi. Rumah saya sendiri: Kaltim. tidak boleh lelah. Tinggi level dan tinggi pula tempatnya. Ternyata. Di dalam pesawat yang berada 36. bank tetap mensyaratkan kontrak jangka panjang. tidak boleh kesal. kan sama artinya dengan menyumbang Rp 500 miliar tiap tahun kepada negara? Bayangan saya pemerintah akan membuat segalanya lancar. Menyesal luar biasa. Persoalan tersebut membuat saya harus mengabaikan peringatan keras Prof Shao bahwa saya tidak boleh terbang. masing-masing dengan birokrasinya sendiri: kementerian energi. Kecil yang saya maksud adalah dari sudut pandang negara. Yakni cukup mendapatkan kontrak tahunan saja dari PLN. Memang ada juga salah saya. bisa jadi. Saya menyesal telah berinisiatif mengatasi kelangkaan listrik di Kaltim tersebut. Juga rumah besar saya: Indonesia. siapa yang mau masuk jadi investor listrik. saya tidak boleh peduli. Ini gara-gara saya terlalu sering ke negeri itu dan melihat bagaimana antusiasnya pemerintah kalau ada investor datang. Meski kondisi badan saya sudah sedemikian parah. Memang. “Urusan kecil begini kok panjang sekali. ujung-ujungnya. Tepatnya izin dari tiga lembaga. Pasti pemerintah di segala lapisan akan senang. Ini besar bagi saya. lagi-lagi kami harus mengurus izin kontrak panjang dengan PLN. saya kenal Menteri Soegiharto. dia juga ikut dalam rapat tingkat tinggi yang benar-benar tinggi itu. Kesalahan kedua saya.” kata bos Bank Mega yang namanya meroket tahun-tahun terakhir ini. sebagian lagi sebagai ungkapan terima kasih atas inisiatifnya. bagaimana yang lain?” katanya. saya akan dicatat sebagai penjebol tembok kebuntuan listrik itu. saya buntu di kantor menteri BUMN. saya tidak bisa lari dari tanggung jawab itu. Saya baru mau masuk ke listrik kalau urusan ini sudah selesai. Yang tidak saya pahami adalah mengapa ada peraturan yang menghambat kemajuan seperti itu. saya setuju untuk kompromi. “Ini harus selesai. kepala saya juga pecah ketika membenturnya. Ini bukan karena saya mengadu. “Ini memang rusan kecil bagi Anda.000 kaki di atas permukaan laut.” kata saya kepada Chairul Tanjung. dan PLN. Kalau proyek tersebut berhasil.Pernah suatu saat saya diajak ke Tiongkok oleh Wapres Jusuf Kalla.” tambahnya. tapi karena Chairul Tanjung yang berinisiatif. Tembok tersebut terlalu tebal.

ini sudah bukan lagi soal untung rugi. kan lantas tidak terlalu tahan terhadap infeksi. berturut-turut banyak izin yang ditandatangani PLN untuk investor-investor lain. Tapi. Liver baru saya mungkin juga akan ikut berbinar-binar.” katanya. “Tidak apa-apa. akhirnya sang menteri mengeluarkan surat persetujuan. Sebuah persetujuan yang sudah sangat mahal.” tambahnya. Tiga-empat bulan lagi (akhir tahun ini). Saya dengar setelah soal Kaltim itu selesai.Tidak pantas saya sebutkan di sini apa usaha yang saya lakukan untuk mengatasi kebuntuan di kantor (Soegiharto. bukan saja karena prosesnya. “Ada yang pada angka 60 seperti Anda sekarang sudah perdarahan. infeksi di selaput dada. Mendengar kata “limpa dipotong” saja. 52 by Moezhanks . “Membuang limpa sama sekali malah lebih safe. Yakni. Pemotongan limpa. orang bisa hidup tanpa limpa. infeksi di tempat limpa dipotong. saya bisa mampir ke Singapura. Meski setuju platelet saya harus dinaikkan. dokter Singapura ternyata tidak setuju kalau itu dilakukan dengan cara memotong limpa.” jawabnya. ketahanan tubuh saya kian habis dan saya akan mengalami perdarahan dari setiap lubang yang saya miliki. menurut dokter Singapura itu. “Setiap orang tidak sama. “Tapi. tentang rencana pemotongan limpa saya? “Kalau tujuannya untuk menaikkan platelet. “Dibuang saja sekalian. ketika Menggigit Pisang Berlumur Darah 13 September 2007 SETUJUKAH dokter Singapura dengan pendapat Prof Shao dari Tianjin. Orang bisa hidup tanpa limpa. Fungsi limpanya bagaimana? “Diganti obat.” jawab dr Shao. Atau telinga. Tetapi. ada juga yang baru perdarahan ketika platelet-nya sudah 50. Lambatnya proses ini telah membuat biaya investasi membengkak luar biasa.” katanya. Kapan platelet saya akan turun sampai angka 50? Berapa minggu lagi? “Tidak bisa diperkirakan begitu. “Singapura sudah lama tidak mau lagi memotong limpa. sangat berbahaya. Waktu itu saya juga tanya ke Prof Shao: Pada angka berapa perdarahan itu akan terjadi? Katakanlah platelet saya (yang seharusnya minimal 150) sekarang tinggal 60. Makanya saya tanya ke dokter di Singapura itu. memang OK. Yang penting. Saya ingin bertanya ke dokter di Singapura. Uh! Dalam istilah medis. Bisa saja tiba-tiba drop jadi 50 atau bahkan di bawahnya. benarkah limpa saya harus dipotong? Mengapa dokter di Singapura sama sekali tidak pernah menyinggung soal limpa? (Bersambung) Ganti Hati 19 – Waktunya Tiba. pembuangan limpa itu disebut dengan splenectomy. “Perhatikan saja lubang hidung Anda. Dia juga setuju kalau sampai platelet turun terus. saya sudah tidak senang. sebelum dicopot) menteri BUMN.” katanya. Sudah lebih 15 tahun.” tambahnya. Ini soal krisis listrik yang harus diatasi. Dan masih akan turun terus.” ujarnya. tapi juga akibatnya.” tambah dokter di Singapura itu. Bisa timbul infeksi di tiga tempat yang akan mengakibatkan kematian. Dalam perjalanan pulang untuk mengurus listrik itu.” katanya lagi. Tiongkok. Ini malah disuruh membuang. Atau kalau sedang sikat gigi. Ini juga sama dengan penjelasan Prof Shao. insya Allah Kaltim mulai bisa mengatasi kelangkaan listrik.” tambahnya. Memang.

karena tengah malam nanti harus menjemput Dirjen Migas di bandara kota itu. Ya. Saya sering ke ladang minyak di Tiongkok. Ketika saya tanya soal risiko infeksi di tiga tempat yang sangat membahayakan. saya juga berpikir: Masak Prof Shao tidak tahu itu. Dua-duanya bisa diterima secara medis. Sudah sangat tidak layak menjadi anggota OPEC.”’ katanya. Rumah besar saya. Saya melihat betapa semangatnya orang di Daqing (Provinsi Heilongjiang) dan di Panjin (Provinsi Liaoning) menggali minyak. Saya bisa menerima sepenuhnya. sudah.Penjelasannya. dalam kesempatan saya ke Tiongkok lagi. Kepada ahli penyakit liver ini langsung saja saya semprotkan pertanyaan berdasar pendapat dokter di Singapura. sangat masuk akal. Ini soal pilihan. meski singkat. tapi masih ada sisanya. Biar berkurang. Padahal. Indonesia. Saya janjian bertemu di Kota Dalian. Terakhir. Itu. semangat untuk menggalinya luar biasa.” kata saya. saya ingin mengajaknya mampir ke Liaoning dan Heilongjiang. mengapa Indonesia sebagai negara penghasil minyak justru menderita ketika harga minyak dunia membubung? Sampai harus menaikkan harga BBM yang menghebohkan itu? Mengapa tidak justru menikmatinya? Ini semua karena produksi minyak Indonesia terus menurun dari tahun ke tahun. yakni saat pesawatnya mendarat dari Shanghai. Tidak mungkin. Tapi. Di sana cara itu sudah dianggap kuno. “Sudah lebih dari 500. Maka saya tidak begitu saja mengambil keputusan membuang limpa. Paginya saya masih di kota Tianjin. sudah berada di bawah satu juta barel per hari. Ada beberapa urusan. dan percaya diri. dia tidak mengelak. Tinggal saya yang harus memilih lebih percaya kepada yang mana. Suaranya meninggi. dan urusan menepati janji. sumur-sumur minyak di sana lebih dalam dan iklimnya juga lebih beku. “Di Singapura dokter tidak mau lagi memotong limpa. “Saya minta izin ke Dalian dulu. urusan pabrik steel conveyor belt-nya perusahaan daerah Jatim.” jawabnya mantap. jangan dibuang semua. pada 2005. sore itu saya harus ke Dalian. Saya pilih dipotong saja. *** Saya memang harus ke Tiongkok lagi.” katanya. Dengan alat-alat yang lebih sederhana mereka bisa menghasilkan minyak lebih banyak. Tapi. Itu cara 60 tahun yang lalu. Segera saya gunakan ilmu mantiq saya: sudah berapa kali Prof Shao melakukan pemotongan limpa? “Sudah banyak kali. rasanya. Urusan Jawa Pos sendiri.” katanya. Saya sudah berjanji kepada Dirjen minyak dan gas yang baru untuk mengajaknya ke Tiongkok. “Tentu saya tahu. Untuk melihat bagaimana negara itu bekerja keras mencukupi kebutuhan minyak. Giliran saya sendiri yang harus memutuskan. untuk bertemu Prof Shao. mantap. “Siapa bilang itu kuno?” sergahnya. Saya ingat usul-fikh ahli sunnah wal jamaah: Sesuatu yang tidak bisa dipakai semua. urusan perusahaan daerah Kaltim. Maka saya pun memutuskan akan titip nasib ke Prof Shao. juga tahu cara menghindarinya. Penerbangan dari Tianjin ke Dalian memakan waktu satu jam. tentu. saya akan menemui Prof Shao untuk ’menguji’-nya. Nanti. “Justru membuang limpa itu yang kuno sekali. Tapi. Dua-duanya masuk akal. Di bandara kota itu pukul 24. akan 53 by Moezhanks . Hari itu kebetulan Dirjen Migas punya acara di Shanghai.00. Kebetulan Dirjen Migas yang baru juga berambisi mengatasi hal itu. Tapi. Sudah lama saya gemas. Saya ingin membantunya meski saya hanyalah rakyat biasa. Jawabannya tegas. Minyak yang didapat pun lebih jelek dibanding minyak mentah Indonesia. kalau masih sempat. “Banyak itu berapa? Berapa puluh?” tanya saya lagi. Maka.

setengah melucu. “Mengapa?” tanyanya lagi. Merah airnya. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.” kata saya dalam hati. “Saya akan operasi kecil. Saya lari ke toilet. Bentuknya tidak penting.” tegas saya. Saat makan malam itulah saya kaget. “Wo bu guan ni. Tapi. Saya menundukkan kepala sesaat. Sudah waktunya makan malam. kita nggak tahu maksudnya. 54 by Moezhanks . “Apa?” tanyanya. Harus ada persetujuan istri Anda. “Ini apa?” tanyanya melihat tanda tangan istri saya yang tidak lazim untuk mata orang Tiongkok.” katanya. “Itu tanda tangan istri saya.” kata saya. Harus 8 Oktober. Dan. “Mereka ini benar-benar seperti koret-koret (mengais sisa-sisa) minyak. Ternyata Prof Shao tidak tersenyum. Saya memang sudah beberapa kali operasi kecil. Tapi. Dirjen serius sekali melihat semua itu.” katanya. Malam hari balik lagi ke Harbin.” kata saya tidak ingin menggundahkan hatinya. Hari itu baru selesai. saya tahu dia baik. Saya lupa kalau dia komunis. Saya terus tersenyum dan memberinya semangat untuk terus membangun dunia minyak. Dengan datangnya persetujuan istri saya. dikirim balik ke Tianjin. “Lakukan sekarang!” kata saya begitu bertemu Prof Shao. saya tidak boleh menjadi pasien pertama yang menggunakannya. Ah. Istri saya tidak bertanya banyak. yang tidak tahu apa itu doa. Berkumur lagi dan berkumur lagi.” katanya. Jadi. Berkumur. Saya terbang ke Tianjin untuk pemotongan limpa saya. kali ini seperti tidak percaya. “Potong saja limpa saya. “Tidak bisa sekarang. Tiba di Dalian sudah agak malam. Sorenya bermobil lagi ke kota Shenyang. “Saya bisa usahakan sekarang. untuk mengeluarkan benjolan yang ada di bawah kulit di beberapa bagian di tubuh saya. Mengapa? Karena ruang operasinya baru saja dirombak.terbakar.” kata saya. “Kalau nanti ada teman Jawa Pos membawa formulir ke rumah. Ujung-ujungnya luluh juga hatinya. doa di balik tekenan itu yang penting. tanda tangani saja. Saya lantas menelepon istri saya. Ternyata harus tiga hari kemudian. Dia sudah sering mengancam untuk tidak mau lagi mengurus saya. Pagi-pagi kami bermobil sejauh 400 km ke Panjin. Juga gondoknya kepada saya meningkat. saya tidak menceritakan apa yang terjadi atas diri saya. Satu jam kemudian saya berkumur lagi. tidak ada darahnya. atau besoknya. tidak bisa tanggal 6 Oktober 2006. Saat menyalami kedatangan Dirjen Migas. Memikirkan apa yang harus saya perbuat. Saya pun bertekad tetap memenuhi komitmen saya. Tibalah sudah waktu saya. Yakni. saya mengira operasi pemotongan limpa bisa dilakukan hari itu. Menarik panjang napasnya. “Ini persetujuan istri saya. dan karena itu saya antusias membantunya.” gurau saya kepada Prof Shao. Ketika saya menggigit pisang. Formulirnya dalam bahasa Mandarin. Setelah ditandatangani istri saya.” kata saya. Saya tahu tekadnya kuat sekali untuk memperbaiki perminyakan Indonesia. Pagi-pagi bermobil 500 kilometer ke kota Daqing. Pagi-pagi Dirjen kembali ke Beijing untuk balik ke Indonesia. sisa pisang itu berlumur darah! “This is the time! Wo de shi jian dao le. Saya langsung minta formulir persetujuan operasi dan memfaksimilikan ke Surabaya.” kata saya ingin setengah memuji istri saya. Malamnya terbang ke kota Harbin. hilang merahnya.

naik sangat tinggi: lebih dari 38 derajat Celsius. Penampilannya memang agak lecek. Perawatan setelah pemotongan ternyata begitu sulit. itu kan sudah di luar tangung jawab dokter yang membuangnya. Saya ingin operasi itu dilakukan tanggal 6 karena pada tanggal 7 bulan berikutnya ada acara penting di Indonesia: menandatangani persetujuan proyek PLTU Kaltim dan peresmian gedung Expo Jatim. Tiga hari setelah libur.” kata saya dalam hati. tanggal 5 sebulan kemudian saya sudah bisa keluar dari rumah sakit. Keringat dingin memang memenuhi badan saya. Begitu tinggi tanggung jawabnya. dengan mundurnya tanggal operasi. Namun. “Semua gara-gara Anda.” pamitnya. Kalau sebelum operasi saya lihat dia sering berlinang air mata. Langsung ke bandara untuk pulang ke Surabaya. Lalu. sebulan kemudian saya sudah akan bisa keluar dari rumah sakit. “Dua hari saya flu.” ujar dr Shao. Maksud saya. Tahu sedang saya perhatikan. seharusnya masih di atas tempat tidur di rumah sakit di Tianjin. “Sekarang Anda sudah stabil. waktu recovery saya tidak cukup. dia merasa risi. Wajahnya masih tidak terlalu cerah. ketika saya di panggung. Lalu seminggu tidak boleh turun dari tempat tidur. memang tidak dianggap enteng oleh Prof Shao. suhu badan saya kembali normal dan stabil. Saya minta maaf berkali-kali karena telah membuatnya tidak bisa pulang. Tabik dengan cara Tiongkok. pada hari-hari pertama. sebagaimana dijelaskan Prof Shao. Hari itu. kini ganti saya yang amat terharu. seperti orang sakit. Saat itulah saya mengerti mengapa banyak dokter di Singapura memilih membuang saja limpa saya daripada memotongnya. Apalagi. Kebalikannya. Setelah operasi. Itulah sebabnya.” katanya segera. di kantor saya. Ini untuk mewakili ucapan terima kasih saya kepadanya yang tidak terhingga. saya ingin operasi itu dilakukan pada 6 Oktober. Saya tidak pernah membayangkan operasi pemotongan limpa ini akan gagal. Saya mau istirahat. Selama seminggu itu pula Prof Shao dalam ketegangan. kali ini agak memerah. 55 by Moezhanks . barulah Prof Shao menemui saya lagi di kamar rumah sakit. Saya tidur di rumah sakit. Tidak secantik ketika dalam keadaan segar. Juga lebih lama: seminggu penuh. Bahwa setelah limpa dibuang akan merepotkan pasien seumur hidup.Padahal. Matanya yang biasanya tajam. “Sudah lima hari saya belum pulang. suhu badan saya. Menunggui Anda. semua bisa diatasi. Bulu matanya yang hitam seperti bendera setengah tiang.” tambahnya. Seminggu kemudian. (Bersambung) Ganti Hati 20 – Baru Tahu Mengapa Dokter Singapura Pilih Potong Limpa Saya 14 September 2007 ANCAMAN infeksi yang serius setelah pemotongan (embolisasi) limpa. “Mana ada dokter di negara lain yang mau menunggui pasien sampai lima hari tidak pulang. Tapi. Begitu besar perhatiannya. saat upacara tersebut saya terlihat pucat. Tiga minggu berikutnya harus tetap di rumah sakit. Tanggal 7 sudah menandatangani perjanjian PLTU Kaltim dengan konsorsium bank dan meresmikan gedung Expo Jatim. perawatan setelah pembuangan limpa akan lebih mudah. Saya juga tabik tak hentihentinya. Rasa sakit setelah pemotongan itu lebih hebat daripada transplantasi liver. 8 jam saya tidak boleh bergerak.

Rupanya. Lalu minta maaf. “Semua itu benar. memasukkan kalimat-kalimat merendah. Pagi itu. Saya lihat Prof Shao mulai menitikkan air mata. Baru pada bait ketiga saya ’memperkosa’-nya. Dari ekspresi wajah dan body language-nya. Wajahnya merah serius.” katanya. Saya tahu tidak akan diizinkan pulang. “Jadi. Guru besar ternama di bidang liver itu seperti langsung membaca alinea yang ’memperkosa’-nya. Kami terdiam lama. bukan rumah tetangga.” katanya. Lama dia tidak berkata-kata. “Mana ada dokter yang mau lima hari tidak pulang untuk menunggui pasiennya?” saya menunjukkan fakta. anak saudara angkat saya Mr Guo. “Tapi. badan saya sudah terasa enak. Prof Shao seperti tidak membaca alinea pertama. Setengah memuji. yang mestinya melakukan kegiatan rutin. Ternyata saya telah menyiksanya. Lalu saya menunjukkan hasil lab.” tulis saya di pembukaan surat. setengah memompa dadanya. Maksud saya yang akan bisa meluluhkan hati Prof Shao. Tidak menduga sama sekali dia merahasiakan itu dari saya. Bertatapan dengan saya. Mungkin merasa kok saya seperti sok tahu kedokteran. HBV-DNA Anda masih 15 juta. Tidak pernah dikemukakan dengan lepas. Yakni. Plt saya sudah 120. ada satu data yang saya sembunyikan.” katanya seperti ingin bergurau. tekanan darah juga normal. Pagi-pagi Guo Qiang. ketegangan lima hari yang mencekam dirinya hilang.” jawabnya. Padahal. Kemampuan bahasa Mandarin saya belum sampai pada tingkat untuk bisa dipakai merayu. saya tidak tahu apa hubungannya antara sakit saya dan HBV-DNA. Setelah menarik napas panjang. seharusnya di bawah 100 saja. Bersamaan dengan itu flu datang menyerang. Tiba-tiba dia masuk kamar saya dengan menggenggam surat itu. Langkahnya cepat. Guraunya selalu ringan-ringan saja. meski fakta itu memang saya pakai merayu. dan gondok bercampur jadi satu. “HB saya 13. barulah dia mengucapkan kalimat yang bernada putus asa. Sampai-sampai banyak dokter muda yang menunduk. Bahkan. Beberapa dokter muda yang mengikutinya sampai agak tertinggal di belakang. SGPT-OT saya mendekati normal. Tiga minggu kemudian. Andalah dokter terbaik di muka bumi ini. Surat itu saya mulai dengan pujian. Melihat itu. Bait kedua saya manfaatkan untuk ucapan terima kasih. begitu kondisi saya stabil. “Sudah saya duga. “Mungkin. Tapi.” kata saya. Lalu ingat lagi acara PLTU Kaltim dan gedung Expo Jatim yang sudah menanti. saya minta menerjemahkan surat yang saya buat. Saya tidak mengadaada. Guo Qiang saya minta menuliskannya dalam bahasa Mandarin yang indah. Saya terpojok. Dia menatap wajah saya dengan tatapan multi-arti: marah. Tertutupi oleh jabatan tingginya dan mungkin juga kekomunisannya. langsung diubah untuk menemui saya. tapi juga berisi memaksanya agar mengizinkan saya pulang. tiga hari di rumah tidak bisa menikmati. Ini soal kebakaran rumah memang. dokter-dokter muda yang menyertainya menyerahkan tisu 56 by Moezhanks . Prof Shao seperti kian gondok. Mudah-mudahan masih terselip raya sayang di dalam campuran itu. “Bukankah indikasi-indikasi dalam darah saya sudah menunjukkan bahwa saya kuat terbang jauh?” kata saya memecah kebekuan. Rayuan saya ternyata telah diabaikannya. dia tidak langsung berkata-kata.Sekali lagi saya minta maaf berulang-ulang. tapi yang terbakar rumah sendiri. Saya juga mencoba lagi kemampuan ilmu mantiq yang saya pelajari di aliyah dulu. kesal. saya harus pulang.

Saya akan izinkan. setidaknya saya kini punya kesempatan beberapa bulan untuk memikirkan cara terbaik mengatasi sirosis-kanker saya secara permanen. Apalagi. Prof Shao bergegas mengangkat kepala saya. Mata saya juga mulai berlinang. Dia tahu saya tidak pura-pura. Saya tahu semua itu tidak menyelesaikan persoalan. sebenarnya masih ada jalan agar terhindar dari transplantasi. obat yang saya siapkan nanti harus diminum. Ini sebagai tanda bahwa saya minta maaf yang dalam. “Ya. Katakanlah suntikan interveron yang saya jalani sampai 70 kali (setiap dua hari sekali) itu tidak berhasil “memingsankan” virus hepatitis B saya. Juga sudah terhindar dari ancaman tibatiba perdarahan dari lubang-lubang tubuh saya. (Bersambung) Ganti Hati 21 – Yang Pro dan Yang Anti-Transplan Bertinju Sengit dalam Pikiran 15 September 2007 KALAU saja saya dulu peduli sedikit dengan badan saya.kepadanya. Dengan diungkapkannya data soal kadar HBV-DNA saya. Lalu muncullah keteguhan dalam hati saya untuk lebih mementingkan tanggung jawab itu. Semua itu hanya usaha untuk ulur-waktu. *** Kian hari kondisi saya kian baik. sudah.5 juta.” katanya melemah. Tidak bisa dicegah. Maka. Seminggu kemudian sudah menjadi 1. Saya dalam posisi sulit. Robert Lai juga mengusap-usap matanya. Besok paginya. HBV-DNA saya juga menurun drastis. ternyata saya belum prima. Kini saya sudah terbebas dari ancaman tiba-tiba meninggal. Agar virus yang tidak mungkin lagi dikeluarkan dari liver itu “tidur nyenyak” saja di dalam liver. mengusahakan pembunuhan atas dua kanker liver saya dengan cara dimasuki alat pembunuh lewat selangkangan saya. Saya terjepit antara keharuan dan romantisme di satu pihak dengan rasa tanggung jawab di pihak lain. buying-time. Tapi. Kalau toh obat itu juga tidak berhasil. Demikian juga istri saya. Sakit saya sudah terlewat parah. saya putuskan untuk berbuat ini di depan Prof Shao. Saya pakai kursi roda selama dalam perjalanan pulang. sebelum potong-limpa itu saya juga sudah dua kali melakukan TACE di Singapura. Tanggung jawab kepada rakyat Kaltim dan Perusda Jatim. Turun dari tempat tidur dan ingin bergegas mencium kakinya. Tanggung jawab yang juga tidak kecil. Tanggung jawab dan risiko sebagai pimpinan. Saya sudah hampir menubruk kakinya. Sebulan kemudian sudah normal. Lalu Prof Shao menarik napas panjang. dari rumah sakit saya langsung ke bandara. Yakni. tapi sekaligus minta dengan sangat agar diperbolehkan pulang. Termasuk mempertimbangkan untuk transplantasi. tapi belakangan sebenarnya keluar obat baru yang harus diminum tiap hari. masih ada obat lain yang lebih mahal. Juga terhindar dari potong-limpa. Kini ganti saya yang lebih banyak menitikkan air mata. Dia menahan tangis. Saya harus lebih hati-hati. Nama generik obat itu Octreotide (karena saya tak boleh menyebut nama obatnya). “Bangun”-nya virus hepatitis B akan langsung menyerang liver hingga kelak jadi sirosis. Obat tersebut harus disuntikkan tiap 57 by Moezhanks . Tapi.

pasti tergoda untuk mencobanya. Yang ini nyuntiknya sebulan sekali. Begitu pula kalau mau di-RFA atau dibakar dengan energi panas. Dan bahkan ketika sirosis saya sudah berkembang ke kanker. Permukaan liver yang mengeras itu. transplantasi masih bisa ditunda. Setidaknya. Rekayasa Tuhan? Apakah Tuhan punya hobi merekayasa? Saya lebih percaya bahwa Tuhan akan konsisten dengan sunatullah-Nya. Yakni. sekalipun oleh dokter yang paling pintar. Sebab.” kata teman saya. Yang Anticavier saya ketahui dari dokter di Singapura. bisa membantu saya buying time. Semua saya ketahui setelah liver saya menjadi sirosis. untuk membakar (mengablasi) sel kanker saya. Termasuk sunatullah bahwa kalau tidak melakukan imunisasi hepatitis. saya tetap memakai obat-obat tersebut. kata “transplantasi” sebenarnya masih jauh dari pikiran. masih ada tiga cara lain untuk mengatasinya. Meski bentuknya masih pertanyaan “masak harus sampai transplan?”. tapi mungkin masih bisa diperlambat. Begitu pula kalau masalahnya hanya kanker (kanker kok juga dibilang “hanya”). Meski sirosis tidak bisa disembuhkan. liver saya sudah “dikeroyok” sirosis dan kanker. Harga obatnya saja. Masak saya sampai harus melakukan itu? Masak saya separah itu? Masak tidak ada jalan lain? Masak tidak akan ada keajaiban? Masak tidak ada obat alternatif? Masak tidak ada dukun atau kiai yang linuwih (punya ilmu lebih)? Tapi. Sayang. Satu proses awal dalam sebuah perjalanan spiritual untuk sampai pada kata akhir: siap transplan. Baik yang kejawen maupun yang dibungkus religius. bagi pasien yang ingin sembuh dan punya uang. Waktu itu. Karena itu. Tapi. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. selain kemoterapi. Untuk memberikan kesempatan bagi saya memikirkan harus melakukan apa yang lebih mendasar. mau dipotong bagian yang ada kankernya. untuk sekali suntik. Karena itu. Tetap menggunakan pemberian Tuhan yang sangat berharga itu: otak. dia akan punya kemungkinan terjangkit hepatitis. Mengolor waktu. sekitar Rp 1. sehingga tidak mudah untuk mengatasi kankernya. Sebab. Kalau persoalannya hanya sirosis (sirosis kok dibilang “hanya”). Baru dua tahun lalu saya mendapatkan informasi tentang obat-obat itu. tapi itu juga berarti secara tidak sadar kata “transplan” sudah mulai masuk dalam proses internalisasi ke pikiran saya.1 juta. pasti akan menjadi kanker. Itu tidak mungkin karena sirosis membuat permukaan liver saya mengeras. “Siapa tahu ada rekayasa Tuhan di situ. Misalnya. saya harus tetap rasional. Nama generiknya Thymalfasin atau Thymosin Alpha-1. Ke obat tradisional atau ke kekuatan supranatural. Selain Octreotide. dokter harus memasukkan sejenis metal berbentuk kail yang punya 58 by Moezhanks . Banyak teman menganjurkan juga untuk pindah ke jalur alternatif. akan menyebabkan pendarahan hebat yang bisa membunuh saya.dua hari sekali selama sembilan bulan. meski telat. Sedang dua obat yang lain saya ketahui dari Prof Shao. Pendarahan di liver sangat tidak mudah untuk dihentikan. Dan kalau sudah sirosis. kalau dipotong. saya tahunya sudah sangat terlambat. di-RFA (radio frequency ablation) atau di-TACE (trans arterial chemoembolization). Termasuk mulai mempertimbangkan kata yang mengerikan itu: transplantasi liver. dengan memotong bagian yang terkena kanker. Masalahnya. Antara satu dokter dengan lainnya memang masih berbeda pendapat mengenai keampuhan obatobat itu. pasti akan mengarah ke sirosis. kosa kata “transplan” sudah mulai masuk di bawah sadar. Kalau sudah kena hepatitis. masih ada satu obat baru lagi yang juga harus disuntikkan ke saya selama sembilan bulan berturut-turut.

Tindakan medis tersebut memakan waktu kurang lebih dua jam. Tidak pecah pun. Tapi. melainkan diinjeksikan langsung ke sel kankernya melalui selang kecil panjang (kateter) yang dimasukkan melalui pembuluh darah besar di pangkal paha (arteri femoral). yang sudah ikutan rusak adalah saluran pencernaan. melalui kateter yang sama. Kalau sampai tahun lalu. Bedanya. kalau pinggang saya kena bola atau kena sodok. Limpa saya saja sudah membesar. platelet saya 59 by Moezhanks .beberapa mata kail. Namun. sel-sel darah putih yang baik pun ikut dikubur oleh organ itu. antara lain. Karena darah putih yang sangat kurang itu. saya sudah tak bisa bertahan dari infeksi. Padahal. Kail itu ditembuskan ke dalam liver melalui perut. Sudah tiga kali lipat lebih besar daripada limpa orang normal karena darah yang tidak bisa lancar masuk ke liver mbendal (terpental) masuk ke limpa. Kalau turun 10 poin lagi. Cara itu pada prinsipnya sama dengan kemoterapi. saya akan sangat gampang terkena virus. Darah putihlah yang menguburkannya dengan cara “memakan”-nya. dan limpa saya. jantung. Makanya. sehingga terjadi pendarahan. ke mana bangkai-bangkai darah merah tersebut? Itu juga membuat problem sendiri pada tubuh saya. Saat itu tinggal 60-an. bagian-bagian tubuh saya yang lain ikut rusak dan bisa saja jadi penyebab kematian yang lebih besar. kerusakan pada bagian tubuh yang masih baik akan terus terjadi. Kalau itu terjadi. kalau problemnya hanya sirosis dan kanker (Huh! Sirosis dan kanker kok masih dibilang “hanya”). sebelum masuk ke sel kanker. Jadi. saat itu jumlah darah putih saya terus menurun. karena limpa saya terus membesar. Cara itu tentu sangat membahayakan saya karena mata kail tersebut harus lebih dulu menjebol permukaan liver saya. Selama hampir semalam saya tidak boleh turun ranjang karena khawatir luka sayatan itu terbuka. Pekerjaan mengubur dan menghancurkan bangkai sel-sel darah merah itu dikerjakan di limpa. Kalau saya biarkan. selaput perut. akibatnya bisa fatal karena sayatan tersebut menembus sampai ke pembuluh darah besar di paha. Itu sudah termasuk mencabut kateter di pangkal paha saya dan membalut kuat-kuat bekas sayatan yang di paha. Setelah obat kemonya menembus sasaran. darah putih berfungsi. Padahal. saat itu. persoalannya. Ini perlunya untuk menutup akses makanan ke sel-sel kanker itu. Limpa saya itu kian hari masih akan terus membesar. Seharusnya kadar darah putih saya minimal 200. obat kemonya tidak diinfuskan seperti umumnya kemoterapi. Daya tahan tubuh saya sangat menurun. dan paru saya juga segera rusak. transplantasi juga masih bisa ditunda dengan cara di atas. limpa yang membesar membuat darah putih saya menurun. Dengan bantuan fluoroscopy. Bahkan. kateter itu lantas didorong masuk sampai ke arteri (pembuluh darah yang membawa darah bersih dan sari makanan dari jantung) yang di hati. Sel darah merah memang harus mati dalam kurun waktu tertentu dan harus “dikuburkan”. Sementara bangkai sel-sel darah merah makin bertambah. limpa bisa pecah: mati. empedu. menguburkan sel-sel darah merah yang mati. dokter lantas memasukkan lagi obat lain. Lama-lama. sejenis sinar rontgen. Tindakan itu jelas bisa menyebabkan liver mengalami pendarahan. Karena itu. Dengan begitu. untuk memblokir cabang-cabang arteri di liver yang melewati sel kanker saya. akibat sirosis itu. barangkali ginjal. Jadi. diputuskanlah untuk membunuh kanker saya dengan metode TACE. diharapkan sel-sel kanker saya akan kelaparan dan tak lama kemudian mati.

ketika air sudah memenuhi rongga perut (ascites).” kata pro-transplan. saya kalahkan. dindingdindingnya berubah jadi balon-balon berisi darah. Tapi. ketika membran selaput dada sudah kena infeksi. Kecuali liver saya segera baik. sudah pasti pertimbangan yang lebih didominasi perasaan. bulatlah tekad saya: ganti liver. Tapi. Atau.juga terus menurun. memang transplantasi Cak Nur gagal. Satu yang punya pendapat jangan transplan. saya pernah takut makan ikan. Tim yang pro-transplan mengemukakan. Kegagalan transplantasi yang dilakukan tokoh Nurcholish Madjid (Cak Nur) sungguh menjadi alasan pembenar yang kuat sekali bagi kubu yang tidak setuju transplantasi. Ada yang lebih berbahaya lagi. Misalnya. sewaktu-waktu saya terancam mengalami pendarahan dari mana saja: dari mulut. Setiap saat bisa pecah. Saya sudah biasa menghitung komposisi psikologis dan rasionalitas dalam setiap mengambil keputusan. “Tapi. Juga bukan ahli agama. Semua itu gara-gara liver yang sirosis. Maka. Sehingga. saya memang membentuk dua tim. Takut tulang-tulang kecilnya masuk ke tenggorokan. mungkin telanjur sangat parah. lalu melukai dan menusuk balonbalon itu. Dan. ketika memulai sembahyang harus mengulangi takbir berkali-kali? Mengapa ada orang yang mudah menangis ketika berdoa? Mengapa ada yang tidak bisa menangis? Gejala agamakah? Gejala psikologiskah? Saya bukan ahli psikologi. telinga. bahkan dari lubang kemaluan. Seperti yang sudah saya singgung sebelum ini. Tapi. Akhirnya. status kata “transplan” pun meningkat dalam pikiran saya. Dan “kubu antitransplan” di tim saya juga tidak tahu mengapa Cak Nur gagal. Virus yang munculnya hanya dalam kasus transplantasi. mungkin juga akan lebih sulit. kalau ginjal dan paru sudah ikut rusak. Karena itu. Saya bisa mati hanya oleh satu tulang ikan yang amat kecil. Bukan secara rasional-teknis-medis. Bahkan. 60 by Moezhanks . “Bukankah terlalu banyak contoh transplan yang gagal?” tambahnya. cuma ada satu jalan: transplantasi liver. untuk itu. Saya ingin mendapat pertimbangan yang arahnya berlawanan. Satunya lagi yang pro-transplan. darah-darah yang mbendal itu juga memenuhi saluran percernaaan saya (varises esofagus). Kita tidak tahu pastinya. penyebabnya kan jelas: virus Citomegali. saya sering merenungkan (yang sampai sekarang belum sampai pada kesimpulan) soal yang rumit dan peka ini: khusyuk itu gejala religi atau gejala psikologi? Mengapa ada orang yang mudah khusyuk? Tapi. Artinya. Jadi. mengapa banyak juga yang sulit khusyuk? Sampai-sampai. Atau. Lalu. Secara tidak formal. kalau gagal gimana?” tanya kubu yang anti-transplan di tim saya. hanya karena terkena benda tajam seperti keripik atau tulang ikan atau roti kering. Atau. kalau misalnya kankernya sudah sampai di vena porta (pembuluh darah balik yang utama di liver). bisa saja karena kondisi Cak Nur sendiri yang memang sudah lebih parah daripada kondisi saya saat ditransplan. “Pak Dahlan pun. proses kerusakan di organ lain ternyata tak bisa saya hentikan. hidung. Dari sekadar tamu yang sedang mampir menjadi penghuni utama. Kuat secara psikologis. meski mungkin saya bisa membunuh sel-sel kanker dengan TACE dan berhasil memperlambat proses kerusakan total liver oleh sisrosis.

kubu “anti-transplan” di tim saya masih punya alasan lain.” kata saya. dalam setiap akan mengambil keputusan. bel sudah menunjukkan bahwa waktu sudah habis. Seperti kata dokter di Singapura itu. menjalankan satu proses yang disebut problem solving. kedekatan budaya. “Katakanlah transplantasinya berhasil. “Memang peran pasien sendiri amat menentukan. kedekatan dengan Indonesia. Saya pernah disekolahkan 61 by Moezhanks . dan ketepatan rumah sakitnya. Berburu Banyak Ikan Kutuk 16 September 2007 SETELAH hati mantap melakukan transplantasi. Hasil perkalian tertinggi. Pemenang sudah harus ditentukan sebelum salah satunya KO. kesediaan donor. Akan bisa bertahan hidup berapa tahun lagi?” katanya seperti sedang mulai memberikan pukulan tinju kepada tim saya yang pro-transplan. tidak bisa makan enak. “Saya mantap dengan transplan. diTACE. Tapi. itulah pilihan terbaik. Dari situ baru kami tentukan tempatnya. Lalu masih ada sejumlah “persyaratan keinginan”. Ada tiga yang harus dipertimbangkan. Begitu pasien ragu-ragu. Saya sudah terbiasa. dan kedekatan bahasa. Semua diam. mengapa harus berjudi dengan transplan? Sebagai dewan juri yang harus adil. Lalu mengalikan bobot dan nilai. Satu proses untuk melakukan pembobotan dan penilaian atas semua pilihan. keluar-masuk rumah sakit. kita sudah tiba pada kesimpulan transplantasi akan gagal.” kata saya. Lalu. Kalau kita paksakan transplan tapi pasien tidak mantap. Sampai mau terlempar dari kanvas. juga tidak boleh. (Bersambung) Ganti Hati 22 – Ingin Naikkan Albumin.” katanya. Apakah tidak ada bibit kanker yang akan mbalik ke liver baru? Apakah bibit virus hepatitis B yang sudah ikut beredar di darah tidak menjangkiti liver baru? Lalu jadi sirosis lagi? Jadi kanker lagi? “Katakanlah setelah transplan masih bisa hidup lima tahun lagi. saya melihat tim pro-transplan sempoyongan. tali ring menyelamatkannya: Tapi. Kedua tim masih akan terus bertinju. Keheningan terpecah oleh suara salah satu tim pro-transplan. Saya mantap transplan.Tapi. Kemantapan tekad pasien akan menjadi kunci suksesnya. ditutup dengan pukulan upper-cut yang telak: sama-sama bisa bertahan lima tahun. apakah kita harus membiarkan Pak Dahlan selama lima tahun menjalani kehidupan dengan kualitas yang buruk? Harus selalu dikemo. tidak bisa bekerja dengan baik? “Itukah hidup? Untuk apa hidup kalau kondisinya harus tersiksa seperti itu?” serang tim pro-transplan tibatiba. Tiga faktor itu saya sebut sebagai “persyaratan mutlak”. barulah saya menentukan langkah. “Ya. Dengan segala risikonya. Tapi. Bertubi-tubi ayunan tinju dihokkan ke wajah tim yang pro-transplan. Misalnya. Apakah kalau tidak ransplan tidak bisa bertahan lima tahun lagi? Dengan obat-obat yang kian maju?” tanya tim yang anti-transplan. Kehebatan dokter.

Sungguh tak terbayangkan bahwa tekad saya untuk belajar bahasa Mandarin lima tahun lalu ternyata saya sendiri yang akan memetik manfaat terbesarnya. Tapi. Bahkan. yang saya ragukan ini masuk dalam ’persyaratan mutlak’. dialah dokter Tiongkok yang paling jago di bidang transplantasi liver. Umurnya masih 52 tahun dan badannya tinggi tegap. Saya langsung jatuh cinta pada kunjungan pertama. 62 by Moezhanks . Tentu hal ini tidak diajarkan di fakultas publisistik atau di akademi wartawan. Jepang. terutama. Maka. dia selalu berhasil menjalankan misinya. tapi saya sudah mengenalnya dengan sangat baik. Alat-alatnya juga amat modern. Saya ingin dokter yang berpengalaman. Urat-uratnya kukuh. Mungkin tidak akan diakui sebagai salah satu teori jurnalistik. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kalau saya tidak bisa sedikit-sedikit berbahasa Mandarin. Saya ajarkan sebagai doktrin di Jawa Pos. Dari masing-masing negara kita pilih satu nama. Itulah yang membedakan wartawan Jawa Pos dengan wartawan lain. mau tidak mau harus dipenuhi. Berkali-kali saya ke kota itu. tidak akan semulus kalau diri sendiri yang tahu bahasa itu. Boleh dikata. sudah membukukan beberapa rekor: Rekor terbanyak. Tangan anak muda. Sangat bersih dan terawat. Kalau hanya masuk ’persyaratan keinginan’. dan sedikit banyak sudah bisa berkomunikasi dengan bahasanya. Pengalamannya juga luar biasa. Juga. tim menyeleksi dokter-dokter ahli transplantasi di dunia: Australia. di satu kota di belahan utara Tiongkok. Proses yang sama saya terapkan dalam melakukan analisis problem-solving atas tekad saya yang sudah mantap melakukan transplantasi liver. Dan. Singapura. reputasinya yang tinggi sebagai pusat transplantasi liver sudah sangat terkenal. Saya mengenal baik kotanya. Yakni. Belanda. Saya memang sangat pro anak muda. tapi saya tidak peduli. Dari proses itulah lantas kami pilih dokter ini. tapi masih muda. Itulah salah satu sumbangan ilmu manajemen ke dalam praktik jurnalistik di Jawa Pos. Proses manajemen itu kemudian saya bawa juga ke dalam jurnalistik. mengindikasikan akan kuat dalam menghadapi tekanan mental maupun fisik. Amerika. Apa itu? Tempat! Apakah di Tiongkok ada rumah sakit yang bagus sekali? Bukankah rumah sakit di sana terkenal joroknya? Untuk ini Robert Lai memeriksa rumah sakit tempat dokter itu berada. rekor transplantasi untuk pasien usia dini (3 tahun). dan Tiongkok. bisa saja mempekerjakan juru bahasa. Dia memperoleh pendidikan khusus untuk ini di Jepang. rekor transplantasi tanpa transfusi darah. Saya percaya hanya yang muda yang bisa diajak balapan di segala bidang. Memang. Untuk Indonesia kota ini tidak populer. Artinya. Padahal. Dan. transplantasi untuk pasien tertua (76 tahun). Hasil kunjungan Robert Lai sangat memberi harapan. Khususnya tower yang baru. Wartawan Jawa Pos harus menjalankan ’10 rukun iman’ atau ’Ten Commandments” yang saya tentukan. menurut logika saya. akan lebih firm ketika memegang pisau bedah. umurnya. masih ada satu yang meragukan. Namun. Saya sendiri pun lantas mengunjunginya. Masih juga ada satu pertanyaan: maukah dia menangani saya? Ada waktukah dia? Inilah tugas Robert berikutnya. Penampilannya meyakinkan.untuk itu di Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Manajemen (LPPM) ketika saya masih jadi wartawan majalah berita mingguan TEMPO. Kunjungan pertama saya ke sana sekitar 10 tahun lalu. mengenal baik budayanya. sebagaimana yang dilakukan orang-orang Jepang dan orang dari negara-negara Arab. Kita pelajari track record-nya. barangkali bisa diabaikan. Sudah melakukan tranplantasi liver lebih dari 500 kali. Hati saya mantap sekali. Maka sudah tidak tengok sana-sini lagi: Di sinilah saya akan melakukan transplantasi liver.

saya sering lupa kalau di lengan saya sudah dipasangi selang kecil yang ujungnya ada di dekat jantung. Apalagi sosok saya yang sosok Asia. dan juru masak. pagi-pagi ikatan sudah akan dilepas. Ini saya ketahui setelah saya bicara kepadanya dalam bahasa Arab. sudah lebih siap. Maksudnya. Suatu malam saya tidak bisa tidur. Saya boleh terbang-terbang asal masih dalam radius empat jam penerbangan. tinggal di apartemen. dan juga Robert. tapi tidak diizinkan. Dia tahu belum tentu transplantasi bisa dilakukan segera. Karena itu. Apakah dia sudah terkena kanker? Apakah kankernya sudah sampai ke kepala sehingga mengganggu otaknya? Paginya dia berteriak-teriak lagi. Tahulah saya bahwa dia masih diikat di ranjang. Dia memilih mendengarkan lagu-lagu kasidah dari CD yang dia bawa. Saya tinggal di rumah sakit. Ini penting untuk kesehatannya sendiri. Saya mencoba menengoknya. Guo Qiang mencarikan gurunya: tiga gadis yang masih kuliah di tahun terakhir IKIP setempat. tiba-tiba ada donor). mungkin juga karena sering telepon memang tidak baik bagi pasien seberat dia. Problem transplantasi adalah di kesediaan donor. Dua kali sehari. Sepanjang selang itu (mulai dari lengan sampai dada) kemeng sekali. ternyata tidak. Dia tahu saya tidak akan bisa hidup tanpa jaringan internet. Masa menunggu tidak bisa ditentukan. Istri saya tidur di ruang tamu.Bahkan. Dia memang tidak bisa berbahasa Inggris. pembantu rumah tangga. Istri saya sering melihat bagaimana saya belajar. saya bisa kembali segera. Pada hari-hari seperti itu saya terbang ke provinsi lain. karena hampir selalu berbahasa Mandarin. saluran internetnya. ayat-ayat mulai Al Fatihah sampai terakhir surat An Nas dari imam salat tarawih di Masjidilharam. Saya tahu tidak ada operasi pada Sabtu dan Minggu. Kalau akhir pekan. Siangnya. yang ada ruang tamunya. Sudah beberapa tahun saya dan istri selalu di Makkah saat akhir Ramadan. Ternyata pasien itu ingin menelepon keluarganya. mencari sopir. Badan saya memang sangat sehat secara fisik lahiriah. membeli mobil. Yang tidak mengizinkan adalah kerabat yang menunggunya. Mungkin untuk menghemat pulsa. Suatu saat saya ke Kota Dalian. saya sering tidak dianggap orang asing. dapurnya. Kita bisa mencoba main squash tanpa harus lari-lari mengejar bola. 63 by Moezhanks . satu jam penerbangan dari kota ini. Yakni. kalau ada sesuatu yang mendadak (misalnya. saya pamit ke kota lain. Keesokan harinya lengan saya sakit sekali. Ternyata dia berontak karena ada janji. Selang infus itu diperlukan kalau tiba-tiba harus transplan. sore 2 jam. Saya lupa akan selang infus di lengan saya. Di salah satu plaza di sana. Lalu dia sumpek sendiri membayangkan sulitnya. Robert juga langsung memesan kamar terbaik. Pagi 2 jam. Atau mendengarkan ayat-ayat Alquran yang kasetnya dia beli di Makkah. Saya main squash cukup lama. Robert juga langsung menyewa apartemen untuk setahun. Untuk membunuh waktu saya memutuskan meneruskan belajar bahasa Mandarin. ada penjual raket squash dengan bola yang diikat tali karet. Bahwa kulit saya agak hitam. Pasien dari negara Arab di sebelah kamar saya berteriak-teriak sepanjang malam. Keluarga saya. saya tahu lebih jelas mengapa dia berontak. Bahasa Arab saya sudah banyak yang hilang sehingga perlu waktu lama untuk mengingat banyak kata yang jarang dipakai. Rupanya rumah sakit masih khawatir dia akan berontak sehingga terus diikat. Tapi. banyak juga orang dari wilayah selatan atau dari Hainan yang juga berkulit seperti saya.

Saya menghubungi guru besar Unibraw. yang biasa menyediakan menu ribuan macam di internet mereka dalam bahasa Mandarin. Suster tidak tahu dan pasien juga tidak jelas melihatnya. Dalam masa penantian itu saya tidak boleh terkena flu. dia minta tolong saya untuk memberi tahu perawat agar membantunya menelepon keluarga. meningkatkan albumin luar biasa sulitnya. Dalam bahasa Inggris dikatakan “ikan kepala ular”. dan melihat saya bisa bicara Arab. karena saya akan tinggal lama di Tiongkok. Di setiap kota yang saya singgahi saya perlukan untuk mengunjungi pasar ikannya: di Nanchang. terutama albumin. Yang saya tahu kehidupan Prof Suprayitno amat sederhana. Tapi. Karena flu saja bisa mengurangi potensi kesuksesan transplantasi. dalam huruf Arab. Mengapa? Ini karena ada satu titik di belakang angka-angka itu. Setelah penjelasannya meyakinkan. Tapi. saya terus menjaga kondisi. Dia mendiktekannya ke suster dengan bahasa Inggris yang amat tidak jelas. berarti nol. Akhirnya saya rayu dia untuk memberikan cuilan kertas itu. Sambil menunggu dan menunggu. Malang. Satu orang yang meneliti satu jenis tanaman liar yang disebut ’tear drop’ (di desa saya dulu disebut manikan. “Saya memang tidak sakit. saya tidak menemukannya. Penjual ikan di Pasar Rungkut hafal betul dengan istri saya. tidak terus merosot. Tahulah saya bahwa angka yang dipijit kurang satu digit. tentu saya akan kesulitan membawa kutuk ke sana. Saya menyarankan agar menambah “nol” di pijitan terakhir. Tidak ketemu. Di Kalimantan disebut ikan gabus. Maka saya mencari kutuk di sana. Sebab. Ikan kutuk ternyata tidak ada di tempat lain. di Nanjing. Tapi. di Wuhan. Saya juga harus menjaga agar protein di darah saya. juga tidak ditemukan satu pun jenis makanan yang dimaksud. sering untuk tasbih) kini menjadi orang terkaya nomor 200 di Tiongkok. Luar biasa senangnya.” gurau saya kepada mereka. dan seterusnya.Ketika penunggunya lagi pergi. Satu-satunya sumber albumin adalah sahabat kecil saya dulu di desa: ikan kutuk. peneliti seperti itu jadi kaya raya. di Harbin. Lalu muncul di pikiran. Berminggu-minggu kami mendalami internet untuk mengetahui makanan apa saja yang bisa menaikkan albumin. buah manikan ternyata mengandung khasiat antikanker. masak tidak ada kutuk di Tiongkok. karena bentuknya seperti ular yang amat pendek. putih telur sampai ikan. setiap kali nomor itu dihubungi selalu gagal nyambung. Ternyata nyambung. Dia mulai kesal dan uringuringan. Di Tiongkok. Saya melakukan senam dan tidak mengenakan baju pasien. Prof Eddy Suprayitno. Para suster bilang bahwa saya ini bukan seperti orang sakit. Badan saya harus sehat. Mulai daging. Jadi amat berharga. mulailah saya minta istri saya berburu kutuk setiap hari. angka-angka itu angka Arab. Entah sudah berapa ton saya mengonsumsi sop kutuk. Untuk menambah protein banyak sumbernya. Seorang peneliti padi yang dulu hidup di desa selama 20 tahun. Titik. Tapi. di Dalian. Saya hanya perlu transplantasi liver. Tapi. Saya lupa bertanya apakah Prof Suprayitno sudah mematenkan penelitiannya dan memikirkannya untuk sebuah industri. Ternyata dia juga sudah mengantongi secuil kertas lusuh berisi nomor telepon. sebagaimana umumnya guru besar di Indonesia. Satu-satunya orang yang melakukan penelitian terhadap ikan kutuk. 64 by Moezhanks . kini menjadi pemegang saham perusahaan pembibitan dengan aset triliunan rupiah. Dia lantas menyodorkan hand phone yang rupanya tidak dibawa pergi oleh penunggunya. Di Tiongkok. di Qingdao.

Untuk menunjukkan keseriusan.Di Nanchang. Kali ini untuk menyelesaikan urusan di Kalimantan Barat. enak sekali dimasak bumbu bali. sangat banyak. 65 by Moezhanks . Saya berterima kasih padanya. dimakan dengan nasi kuning. tapi bukan kutuk. Bapak teman saya. Ketika saya ke Nanchang. itulah ikan yang saya cari. Badan saya harus sehat menghadapi operasi besar. Karena itu. Akhirnya. Gubernurnya sudah sangat mendambakan turun tangan saya. Juga melakukan perundingan dan penandatangan kontrak mesin-mesin di Tiongkok. “Hei yu” di Kalimantan lebih banyak dimanfaatkan untuk ikan asin. sebagai persiapan transplantasi yang sudah dekat. juga bisa tumbuh besar sampai kuat merusak perahu kayu kecil-kecil. sebenarnya bukan. Tapi. karena liver saya rusak. “yu” artinya. mengingat krisis listrik di sana sudah berlangsung lebih dari lima tahun. Saya pun datang dengan harapan seperti itu. Pasien asing banyak yang gelisah. dagingnya hambar. Tapi. Tapi. di sana disebut “hei yu” -”hei” artinya hitam. dengan bahasa daerah yang tidak saya mengerti. keluar peraturan baru: tidak gampang lagi pasien asing mendapatkan donor. Maka saya bersama gubernur dan Dirut PLN menandatangani MoU pembangunan PLTU di Pontianak. dia datang dengan bapaknya sambil membawa satu ember ikan. agar badan tetap sehat. Dia naik kendaraan umum selama satu jam untuk bisa sampai ke kota. “Hei yu”. Padahal. Bentuknya memang persis kutuk. Krisis listrik di Kalbar lebih parah daripada di Kaltim. teman saya di pelosok desa mengabarkan di desanya banyak ikan kutuk. saya ingin pulang dulu dua hari. Dalam keadaan normal. liver bisa memproduksi albumin. Dulu-dulunya. (bersambung) Ganti Hati 23 – Datang Tawaran Liver Hidup dari Orang Muda asal Bandung 17 September 2007 SAYA hampir kehilangan momentum. Saya memutuskan sabar menunggu. saya langsung membeli tanah 20 hektare di lokasi yang paling cocok untuk itu. “Hei yu” juga banyak. saya ingin ikut mengatasi krisis listrik di Kalbar. waktu menunggu sering tidak sampai sebulan. menjelaskan panjang lebar bagaimana satu hari tadi dia berusaha mencari ikan satu ember itu. Enak tidak enak sudah tidak penting lagi. yang di sana disebut ikan gabus. meski belum fatal. Anda bisa menduga sendiri. mempertahankan albumin menjadi amat penting. Tapi. Ibaratnya saya harus seperti kerbau yang akan dijual untuk disembelih: Harus sehat dan gemuk. Apalagi di lengan saya sudah dipasangi saluran infus sampai ke dada. saya belum terkena peraturan itu karena saya sudah mendaftar sebelum itu. Tapi. Saya merasa punya tanggung jawab yang belum saya penuhi. sungguh sulit mengatasinya. Sebagaimana juga di Kaltim. Kandungan daging “hei yu” tidak sama dengan kutuk di Jawa. Sedangkan ikan gabus yang manis. saya memutuskan untuk selalu makan banyak. Selama di Tiongkok saya kesulitan sumber albumin ini. Sebulan setelah saya menunggu. Kedatangan saya untuk antre transplantasi liver ini agak terlambat. Di Kalimantan lebih lengkap. yang kalau di Kalimantan disebut ikan tomang. setelah dua bulan tidak juga ada tanda-tanda akan mendapat donor. “Kutuk Tiongkok” ini lebih hitam. mestinya. Saya mengatakan “benar”. Saya pernah ke desa itu sebelum tahu bahwa saya punya sirosis. Tapi. ternyata terhalang aturan baru itu. Kutuk.

Dan dalam tempo tiga minggu sampai maksimal sebulan. tidak ada tanda-tanda fisik mulai membangun PLTU. Memang bukan salah saya kalau sampai hari ini belum ada tanda-tanda konkret krisis listrik Kalbar akan teratasi. Dan lagi. Berbeda dengan ginjal dan organ lain. pemenang tendernya. mengolah hasil pertanian rakyat yang selama ini harganya selalu hancurhancuran di musim panen. peserta tender ingin mengajak saya bergabung membangun PLTU tersebut. Seminggu berikutnya 66 by Moezhanks . Saya harus menunggu lagi entah berapa lama. Yakni. Saya hanya ingin ikut mengatasi krisis listrik di Kalbar. Tidak kaya sumber alam dan tidak punya proyek besar. Tender itu berjalan lancar dan itu memang proses yang benar. suatu ketika. yang mau menyumbangkan separo livernya untuk dicangkokkan ke pasien. beruntung bahwa ternyata donor potensial itu ternyata juga tidak cocok untuk saya. saya bertekad menggunakan dana yang sudah saya siapkan untuk PLTU ke proyek lain: perkebunan rakyat. mendatangkan donor dari negaranya. kira-kira dua tahun lalu. sekali orang kehilangan ginjal. Tapi. Tapi. Karena itu.Namun. Banyak pengungsi Madura akibat kerusuhan etnis pada 1999 itu yang mulai bekerja di proyek ini. Provinsi itu sangat kasihan. Yakni. tanpa sedikit pun memberi informasi kepada saya bagaimana nasib MoU yang sudah dibuat. Dokter mencari-cari saya apakah bisa membatalkan kepergian saya ke Indonesia. Saya harus datang ke sana untuk membuat keputusan yang terpenting. Yakni. saya sudah di atas pesawat. saya memang tidak dalam posisi mencari proyek. potongan liver yang sudah dilepas dari tubuh pemiliknya ditanamkan ke tubuh si penerima. Hanya operasinya lebih sulit: Orang yang sehat dibedah. Tapi. Jelek sekali nasib Kalbar. Berarti Kalbar kehilangan lagi waktu tiga tahun. Hanya dalam tempo dua tiga hari pascaoperasi. Memang. Tentu saya tidak mau kalau modal dia hanya selembar kertas izin. donor orang hidup. ya sampai meninggal. Juga nasib (tanah) saya. Karena itu. si calon penerima (resipien) liver juga dibedah untuk membuang (seluruh) livernya yang sudah rusak. sebenarnya ada donor yang potensial. Seseorang bisa hidup normal dengan liver yang hanya separo karena liver atau hepar atau hati adalah satu-satunya organ yang bisa tumbuh kembali dengan cepat. sebagai awal dari membangun Kalbar lebih lanjut. Terutama sebagai ungkapan terima kasih kepada masyarakat setempat bahwa koran kami di sana menjadi yang terbesar. atau sukarelawan. setidaknya saya bertanggung jawab untuk mewujudkan sesuatu di sana. besok pagi sudah tumbuh lagi. beberapa waktu kemudian ternyata PLN melakukan tender untuk pembangunan PLTU itu. ginjalnya tetap satu. lalu livernya dipotong separo. Proyek itu harus berjalan. Kami bukan spekulan atau jual beli tanah. Pada saat yang sama. Setelah itu. Investor yang mau datang pasti mengeluhkan listrik. dia sudah boleh latihan berdiri dan berjalan. Beda dengan donor liver. Saat saya menyelesaikan urukan Kalbar itulah. Kami tidak mau ikut tender itu karena merasa PLN tidak beretika sama sekali. Tapi. Hari ini separo livernya didonorkan. Kami serius membeli tanah tersebut untuk PLTU. seorang donor juga tak perlu tinggal berlama-lama di rumah sakit. Mereka mencari salah satu keluarganya. Ini mungkin karena liver adalah satu-satunya organ tubuh yang kalau dipotong bisa tumbuh utuh lagi. Orang-orang Pakistan mulai mencari jalan sendiri. sampai tulisan ini dibuat. Dia juga menanyakan apakah tanah kami akan dijual. Dengan begitu. liver yang dipotong itu sudah akan utuh kembali. Tentu saja tidak.

Mengapa dia begitu berani? Karena. Badannya yang tinggi tegap sangat sehat. Lalu mengajak salah satu pendonor ke kamar saya. Beberapa teman dekat yang siap mendonorkan separo livernya juga tidak ada yang cocok darahnya. Anak muda itu mengatakan tidak menginginkan apa pun kecuali menyelamatkan nyawa saya. Tim kami segera ke Bandung melihat keadaan rumah tangganya. Semula kami memperkirakan harus membantu kehidupannya. di luar dugaan: Sangat mendukung keputusan suaminya. Robert menemui keluarga-keluarga Pakistan itu untuk mempelajari bagaimana praktik cangkok liver dengan donor hidup. Kalau saya menunggu terlalu lama. lantas menceritakan mengapa mau melakukan itu. di kompleks perumahan yang cukup mewah. Bagaimana dengan penerima livernya? “Bapak itu juga mulai baik. dan bagaimana kondisinya sampai saat itu. tidak kecil. Saya juga memutuskan akan melakukannya. sekarang sudah menjadi 16 cm lagi. mengapa berani. Sikap istrinya. Di Tiongkok. Saya amat yakin dengan jalan itu. seseorang dari Jakarta menghubungi kami. sel-sel kanker yang mungkin masih tersisa di liver saya bisa menyebar (metastase) ke mana-mana. Lalu dia menunjukkan perutnya yang masih dibebat untuk mengeringkan luka akibat pembedahan. tidak satu pun yang darah dan rhesus-nya sama dengan saya. potongan itu sudah akan tumbuh menjadi liver yang utuh sebagaimana orang normal. Rumahnya baru. Apakah harus dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri? Dia bilang.” katanya sambil menggambar di papan tulis tentang bagaimana livernya tumbuh kembali. Saya tidak yakin bisa dapat donor utuh dalam waktu dekat. “Sekarang sudah jalan-jalan dan mau saya ajak ke sini.” tambahnya. livernya dibagi dua. Tanpa kami cari. Karena itu. yang semula hanya 11 cm. dia bilang. umumnya masih satu liver untuk satu pasien. Dua minggu lagi sudah kembali utuh seperti semula. Lantas bagaimana nasib potongan liver yang sudah berpindah tubuh tadi? Ini pun tak perlu dikhawatirkan karena dalam tempo maksimal tiga bulan. dia ingin menebus penyesalannya yang tak sempat menyelamatkan bapaknya yang keburu meninggal sebelum tranplantasi dilakukan. dan keponakan-keponakan. di negara-negara yang jumlah donor mayat (cadaver)-nya terbatas. Menjelang transplantasi. Saya harus berhitung dengan sirosis dan kanker saya yang sedang berlomba dengan waktu. Dan.” kata Robert sambil menepuk bahu anak muda Pakistan itu. Dia menjadi amat yakin itu juga akan berhasil. Darah maupun rhesus-nya cocok sekali dengan saya. Handphonenya pun Communicator seri terbaru. Anak keduanya baru bisa berjalan. memang masih harus ekstrahati-hati karena tiga sayatan panjang bekas operasi di perutnya masih basah. dia cukup berada. karena penurunan fungsi itu bisa merusak pertahanan tubuh saya. yang bahasa Inggrisnya bagus sekali. Anak itu sendiri. baik yang masih di dalam tubuhnya maupun yang sudah pindah ke tubuh orang lain. Ternyata. bisa jadi fungsi liver saya akan keburu memburuk. Memberitahukan perihal seorang anak muda dari Bandung yang mau secara sukarela mendonorkan livernya. Umurnya masih 32 tahun. Liver saya yang di sana. Termasuk saya. hari ini sudah 17 cm. Tapi. Tapi. Jadi. “Dia mendonorkan livernya dua minggu yang lalu. Saya butuh melangkah cepat. anak-anak. jalan tidak buntu.dia sudah bisa beraktivitas lagi. satu liver untuk dua pasien.” katanya. “Liver saya yang setelah dipotong tinggal 9 cm. 67 by Moezhanks . Mulailah saya melihat ke istri. Mobilnya juga masih gres dari merek yang tidak murah. Ternyata. dia sudah menghitung risikonya.

Menceritakan penyakit dengan cara yang menyenangkan. dua tahun lamanya saya berhasil menyembunyikan bengkaknya kaki. Umur pendek tidak apa-apa asal penggunaannya sangat intensif.Kami pun makin percaya bahwa tidak ada motif komersial di balik niatnya yang mulia itu. Yang harus dipuji. ya dimarahi. Perusahaan minyak itu masih baru sehingga saya harus banyak belajar. jawaban saya jujur. Cuma. Juga bengkak di badan. 68 by Moezhanks . diskusi. Kalau ada yang bertanya pun. direktur di perusahaan minyak kami. haruskah sampai mengorbankan nyawa orang lain? Tidakkah lebih baik saya menunggu dengan risiko tidak keburu sekali pun? Bukankah membuat keputusan melakukan transplantasi saja sudah tersirat tekad untuk mungkin mati? Saya benar-benar sudah siap kalau harus mati. Yang tak kalah penting. Kalau ada yang bertanya tentang penyakit saya. Setelah itu rapat evaluasi berjalan seperti biasa. saya memang berhasil menyembunyikan semuanya. Sikap ini muncul. Bersamaan dengan persiapan pemberangkatan saudara dari Bandung itulah. saya sebenarnya tidak sengaja menyembunyikannya. Dia juga menyatakan sudah siap kapan pun harus berangkat. Mereka memang ngeri mendengarnya. Menyembunyikan membesarnya payudara. harus dipecahkan. Sedikit pun saya tidak merasakan bahwa Anda mengidap penyakit begitu gawatnya. tapi juga politis. ya dipuji. persoalan Perusda tidak hanya soal bisnis. Saya punya filsafat tersendiri dalam menyikapi umur. kakak saya. saya sendiri juga masih berpikir. itulah kuncinya. rapat. Pernah dalam satu rapat evaluasi bulanan yang amat disiplin di PT PWU. Tapi. “Kalau tahu seperti ini. ada kabar bahwa saya mendapatkan donor. saya berhasil menyembunyikan keloyoan fisik saya. seperti para manajer di Perusda PT PWU Jatim. Dia juga akan memiliki kembali livernya secara utuh. pecinta Jawa Pos dari Manyar Jaya. “Dia tidak akan jadi korban. selalu saya jawab apa adanya. manajer di perusahaan minyak milik Pemda Jatim. tapi diam-diam tim kami terus menyiapkan saudara dari Bandung itu untuk siap berangkat ke Tiongkok.” ujar Hadi Ismoyo.” ujar Gunawan. Saya kurang melihat bahwa bapak saya dan kakak sulung saya berumur panjang sekali. Tim kami terus mendesak agar saya jangan berpikir bahwa saya akan mengorbankan orang lain. Saya masih keberatan. Juga bahayabahayanya. dan negosiasi.” kata Robert. Tetap saja persoalan rumit-rumit. filsafat “intensifikasi umur”. Tapi. tapi juga tertawa-tawa. “Empat tahun saya bekerja dengan Anda. Terutama Robert Lai.” tulis Lusye. (Bersambung) Ganti Hati 24 – Istri Khawatir Saya Meninggal dengan Wajah Menghitam 18 September 2007 SAYA tidak berhasil menyembunyikan perubahan di wajah saya. Padahal. paman-paman saya berumur pendek. memang tidak banyak yang bertanya. Yakni. barangkali karena saya melihat kok ibu saya. Transplantasi pun dilakukan dengan cara membuang sama sekali hati saya yang lama dan menggantinya dengan hati baru made in 1985-an secara utuh. saya jelaskan semua penyakit saya. Padahal. Yang harus dimarahi. Ya. saya tidak akan sampai hati mengejar-ngejarnya selama ini. tapi saya sampaikan dengan nada yang menyenangkan. “Selama ini tidak tampak kegelisahan sedikit pun tatkala tampil di banyak kegiatan masyarakat.

Kebetulan yang dari jalur laki-laki masih kanak-kanak. tapi sudah masuk ke tataran psikis. dosa sebagai suami yang amat sibuk. Sedih bercampur perasaan malu. Gosip itu bukan lagi masih menyangkut fisik. Pembicaraan seperti itu kian kuat ketika Cak Nur meninggal dalam keadaan wajah menghitam. khawatir akan kesehatan saya. Sampai-sampai disebutkan Cak Nur lagi mendirikan neo-Islam. alangkah malunya istri saya. Apalagi saya juga baru gagal dalam pemilihan ketua umum pengurus besar Pelajar Islam Indonesia (PII) di Bandung. Tapi. bagaimana caranya? Atau pakai make up saja. Para kiai sepuh (enam orang bersaudara. ini gosip yang benar. saya tidak berhasil menyembunyikan berubahnya wajah. Bukan sarjana. dan merenungkan masa depan. dosa sebagai atasan yang kejam. tapi saya menolak. tandanya tidak diterima oleh Tuhan.Tapi. Karena banyak sekali dosa yang diperbuatnya. Saya akan menyembunyikannya dengan cara meratakannya. pamanpaman ibu saya). Ini karena dosa-dosanya yang tidak terampunkan. Apalagi dia aktif di kegiatan keagamaan. Yakni. Ada nada sedih ketika mengucapkan itu. saya bergegas mengambil keputusan pindah ke jalur hidup sama sekali. Tapi. Karena itu. Karena itu. tidak akan bisa jadi kiai dan tidak bakat jadi politisi. Bukan ahli agama. Tapi. kadang dia hanya memperhatikan wajah saya tanpa mengucapkan komentar apa-apa. yang mungkin tidak kalah besarnya. Ada yang menilai. Pertama. Ini karena saya sadar bahwa saya turunan dari jalur wanita (ibu) di struktur pesantren itu. Kalau sampai itu terjadi pada saya. kalah dengan Yusuf Rahimi. dan tentu masih banyak sekali sisi negatif yang bisa dihubunghubungkan. saya harus tahu diri bahwa kalau dia sudah dewasa. tapi sebagai perwujudan sikap tawaduk seperti yang dicontohkan bapak saya. itu sebagai bukti bahwa Cak Nur dimurkai Tuhan. Yakni. tokoh dari Ambon. Mengapa masih kanak-kanak? Karena pesantren kami kehilangan dua generasi sekaligus. Dosa sebagai lelaki. Psikis seorang wanita yang sangat kuat memegang prinsip agama. Terutama psikis istri saya. Saya mengambil kesimpulan. Saya memang pernah mau didapuk jadi kiai di pesantren saya. Bukan budayawan. Terutama di dahi dan sekitar mata. sebenarnya. Begitu hebatnya tentangan akan langkah Cak Nur tersebut sehingga sampai ada yang memvonis Cak Nur sudah murtad. Sudah menjadi opini awam bahwa seseorang yang meninggal dalam keadaan wajah yang menghitam. Tapi saya kan laki-laki? Bahkan laki-laki yang bukan metroseksual? Tak pelak lagi. Toh saya akan tetap bisa berperan di pesantren itu kelak. banyak orang yang mulai rasan-rasan. Hitam yang tidak merata itulah yang kian mencurigakan. dialah yang punya hak mewarisi pesantren itu. Saya lantas memilih ’uzlah’ -menyingkir. ketika memelopori pembaharuan pemikiran dalam Islam yang menghebohkan pada 1970-an. merasa malu kalau saja saya meninggal dalam keadaan wajah yang menghitam. menjauh. 69 by Moezhanks . Bukan karena ngambek. Tentu saya bukan apa-apa dibanding Cak Nur. memprihatinkan. Saya tahu dia menyimpan dua kekhawatiran. dosa sebagai pribadi yang sombong. Lalu memberikan komentar yang sudah sering saya dengar itu. Dan. Pandangannya penuh keprihatinan. Tuhan murka padanya. Gosip yang tidak menyenangkan. dosa karena dia telah menyekulerkan Islam. Untunglah. saya sudah sering digosipkan sehingga sudah agak kebal. dan anak-anak mereka yang sudah dewasa. pada 1948. Suaminya meninggal dalam keadaan dimurkai Tuhan. Kedua. dosa orang kaya yang pelit. Kulit saya yang aslinya memang agak hitam menjadi kian hitam. Suatu saat istri saya memandangi wajah saya lama sekali. menggosipkan wajah saya. dibunuh PKI dalam peristiwa Madiun. Saya bukan intelektual.

Sama dengan saya. Banyak hal sudah harus dialihkan menjadi tanggung jawab Dirut. Pernah ada tamu dari India yang ingin bertemu dengannya. “Apakah bisa bertemu ibu Ratna Dewi”. direktur sebagai CEO (Dirutnya bukan CEO). Inggris. Apalagi mereka juga tahu sayalah yang selama ini yang selalu mengambil keputusan. Apalagi. Si tamu ternyata berharap akan ketemu seorang direktur keuangan keturunan India. pikir saya. saya yang tetap jadi CEO. 70 by Moezhanks .Sikap tawaduk yang sama saya lakukan juga di Jawa Pos pada 1980-an. Maka lahirlah “jabatan CEO”. Tidak bisa hanya direktur seperti saya waktu itu. sehingga kalau ada tamu yang menanyakan. Sebagian mengira saya dimurka Tuhan karena kurang taat beragama. direktur utama Jawa Pos saat itu. jatuh sakit. tiba-tiba saya punya ide baru yang barangkali tidak lazim. Saya hanya seperti itu tadi.” kata tamu itu sambil tertawa ngakak. saya SMA di Desa Takeran. Magetan (aliyah). Ketika Pak Eric Samola. Tapi. sampai harus dengan cara sikut sana-sini. termasuk Prancis dan Parsi. Saya tetap direktur saja. Gosip bahwa “saya segera meninggal dengan wajah hitam” juga beredar di kalangan pesantren saya sendiri. Apalagi Ratna Dewi juga amat mampu. Saya ciptakan sendiri jabatan baru. Baru setelah lima tahun lebih. bisa banyak bahasa. Tentu ada juga yang menyamakannya dengan Cak Nur. setelah beliau sendiri yang minta. Kami sendiri tidak terlalu mengenal nama Ratna Dewi. tapi saya ini CEO. Jangan sampai saya minta jadi Dirut. saya tidak mau menggantikannya sebagai Dirut. He he…” kata saya dalam hati. saya tetap tidak mau jadi Dirut. doktor lulusan Chicago. Waktu itu Ratna Dewi masih menjabat direktur keuangan. Agar saya bisa meyakinkan bank bahwa meski saya hanya direktur. Inilah gunanya ilmu mantiq (logika). Mereka tidak tahu kalau ’uzlah’ itu saya lakukan sebagai wujud sikap tawaduk saya. saya mau jadi Dirut. lantas muncul kesulitan teknis. Bahkan. Bahwa ada kesulitan di bank. “Kami tidak menyangka kalau dia seorang Tionghoa. lari dari tanggung jawab menjadi kiai. saya dan Cak Nur jauh sekali derajatnya. Saya dan Cak Nur seperti langit dan sumur -untuk menunjukkan jarak langit-bumi kurang jauh. bank percaya. ’Chairman yang CEO’. Saya memilih mengerjakan saja semua pekerjaan direktur utama. meski hanya untuk sebutan: CEO (chief executive officer). Tentu tidak lagi seperti ketika Dirut merangkap CEO. sakitnya beliau amat berat sehingga tidak punya kemampuan menandatangani dokumen perusahaan. Bukan “Bu Wenny”. Karena hal itu sudah berlangsung tiga tahun. tapi “Cik Wenny”. Maklum namanya Ratna Dewi. Lalu keterusan sampai sekarang. bahkan general manager sebagai CEO (semua direktur bukan CEO). Sebutan CEO telanjur melekat. Terutama karena saya ’uzlah’. saya membuat sebutan (untuk membedakan dengan ’jabatan’) CEO lebih fleksibel lagi di grup yang saya pimpin. Dia kami kenal sebagai Wenny saja. dan Arab. “CEO yang tidak ada SK dan legal formalnya. Cak Nur seorang intelektual. Bisa saja Dirut sebagai CEO. Lebh dari itu sekarang ini berkembang seperti di AS. Banyak dokumen bank yang harus direktur utama yang boleh tanda tangan. Tapi. Beliau terkena stroke yang sampai mengakibatkan tidak bisa bicara dan harus diopname bertahun-tahun. Hanya namanya yang sering bikin salah paham orang asing. Padahal. Meski saya bukan direktur utama lagi (karena jabatan itu sekarang dipegang Ratna Dewi Wonoatmodjo). Padahal. staf-staf kami sering bengong. ahli agama. Dia SMA di kota Surabaya (Petra). Sebagian lagi karena saya berdosa kepada leluhur. tanpa menyandang jabatannya. Setidaknya samasama hanya tamatan SMA.

Satu-satunya yang menyamakan saya dan Nur adalah sakitnya. Sama-sama sakit liver, sama-sama sirosis. Karena itu, juga sama-sama menghitam di wajah. (Bersambung)

Ganti Hati 25 – Prihatin atas Keprihatinan terhadap Wajah Hitam Saya
19 September 2007 “SAYA nanti juga akan meninggal dengan wajah hitam,” kata saya kepada istri saya. Saya ingin menyiapkan mental istri saya bagaimana harus menahan rasa malu. Terutama di mata keluarga dan teman-teman pengajiannya. Istri saya memang aktif di perkumpulan Pengajian Wanita Surabaya (Pengawas), satu perkumpulan yang amat besar dan aktif. “Saya nanti akan seperti Cak Nur,” tambah saya. Itu saya lakukan karena istri saya juga mendengar omongan orang tentang Cak Nur. Dia juga mendengar ada khatib di sembahyang Jumat yang mengatakan Tuhan murka pada Cak Nur (Nurcholish Madjid, tokoh pembaruan pemikiran Islam). Buktinya, ketika meninggal, wajahnya menghitam. Istri saya memang sudah beberapa lama kelihatan prihatin melihat perubahan di wajah saya. Saya prihatin atas keprihatinannya itu. Maka, saya perlukan bicara soal mengapa wajah saya menghitam dan mengapa ada orang menilai Cak Nur seperti itu. Saya jelaskan sebisa-bisa saya bahwa “wajah hitam” Cak Nur sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kemurkaan Tuhan. Tuhan itu tidak punya hobi murka seperti khatib yang mengecam Cak Nur itu. Tuhan itu Maha Pengasih dan Penyayang. Sampai di sini saya sadar bahwa istri saya sudah sangat sering mendengar khotbah sehingga saya tidak perlu menambahinya. Apalagi khotbah saya kurang meyakinkan. Saya memilih menjelaskannya secara ilmiah saja. Mengapa wajah Cak Nur, juga wajah saya, menghitam? Ya, begitulah memang salah satu perubahan fisik yang dihasilkan oleh liver yang terkena sirosis. Ini berlaku pada siapa saja. Yang Islam, yang Kristen, yang Buddha, yang Hindu, yang Kejawen, yang komunis, dan yang tidak punya aliran apa pun -free thinker. Wajah hitam adalah tanda-tanda perubahan fisik dari sirosis yang parah. Karena itu, kalau Anda sakit liver, minta saja meninggal sebelum sirosis parah. Terutama kalau Anda ingin meninggal dengan wajah yang tidak hitam. Terjadinya wajah hitam itu sama dengan akibat sirosis yang lain: Kaki yang bengkak, payudara yang membesar, dan kemudian muntah darah. Untung, tidak ada penilaian bahwa siapa yang meninggal dengan payudara besar berarti dimurkai Tuhan. Sebenarnya, masih banyak lagi tanda fisik lain. Yakni kulit menguning, mata juga menjadi kekuningkuningan, bibir pucat, dan telapak tangan seperti tidak berdarah. Terutama kalau telapak tangan baru saja digenggamkan. Begitu genggaman dibuka, darah seperti tidak segera kembali memerahkan telapak tangan. Bahwa ada khatib yang menilai wajah Cak Nur yang menghitam sebagai tanda bahwa Tuhan tidak mau menerima rohnya, sebabnya mungkin si pengkhotbah tidak sempat belajar ilmu yang lain misalnya, karena terlalu larisnya. Bahkan, sang khatib begitu sibuk berkhotbah, kadang isi

71

by Moezhanks

khotbahnya ya hanya yang diketahuinya itu saja. Diulang-ulang. Seperti kaset lama yang diputar terus-menerus. Pasti si pengkhotbah juga tidak pernah melihat wajah mayat Mao Zedong. Setidaknya tidak pernah membaca tentang itu. Setidaknya lagi, kalau toh pernah membaca, tidak sampai menjadikannya pertimbangan. Mao adalah pendiri partai komunis Tiongkok yang tentu saja tidak mengakui adanya Tuhan. Namun, bagaimana wujud wajah mayatnya? Saya pernah melihatnya dua kali. Wajahnya putih, bersih, dan amat cerah. Bibirnya menunjukkan senyum kecil seperti amat bahagia di akhir hayatnya. Mayat itu sampai sekarang masih bisa dilihat di Beijing. Orang antre untuk menyaksikannya. Demikian juga di Kremlin, Moskow. Mayat Lenin, salah satu pendiri komunisme sedunia, terlihat putih, bersih, dan manis sekali. Saya juga pernah mengunjunginya. Apakah itu pertanda roh Lenin diterima dengan senang oleh Tuhan? Lebih diterima daripada Nurcholish Madjid? Meski Cak Nur tokoh Islam dan Lenin tidak mau mengakui adanya Tuhan? Bahkan menjadi pelopornya? Wallahu a’lam. Yang jelas, Lenin, dan juga Mao, tidak meninggal karena sirosis. Saya sangat prihatin atas keprihatinan istri saya. Tapi, saya juga prihatin memikirkan bagaimana umat di masa depan. Dengan pola berpikir seperti itu, apakah umat akan bisa maju? Apakah tidak semakin ketinggalan dan kemudian terpojok? Lalu, introvert dan mencari kompensasi dalam bentuk ekstremitas? Saya prihatin karena dengan pola pikir yang seperti itu, keseimbangan antara dunia dan akhirat tidak memadai. Banyak memang orang yang terlalu berat ke duniawi, tapi juga bukan berarti harus dibalas dengan bersikap lebih berat ke ukhrowi. Semua harus seimbang: beribadah sungguh-sungguh seperti besok akan mati saja, bekerja sungguh-sungguh seperti akan hidup seribu tahun. Kalau ukuran diterima Tuhan atau tidaknya seseorang dilihat dari wajah mayatnya, betapa suramnya kemajuan ilmu pengetahuan di masa depan. Bagaimana kita bisa mengharapkan kemajuan dan kemodernan sebuah negeri kalau penduduknya -terutama para pemimpin penduduk itu- berpikiran demikian. Dan lagi, ada satu kenyataan yang lebih pahit. Bukankah kini sudah ditemukan cara membuat wajah orang yang meninggal kelihatan tersenyum? Cerah dan bahagia? Lantas, apakah itu berarti ukuran diterima atau tidaknya sebuah roh oleh Tuhan ditentukan oleh para ahli perias mayat? Saya punya teman yang bisnisnya event organizer (EO). Tapi, EO khusus untuk orang meninggal. Mulai penyediaan pakaiannya, membentuk tubuh dan wajahnya, menyediakan peti matinya, angkutan ke kuburannya, sampai mencarikan siapa yang akan jadi pengkhotbahnya. Dia begitu menghayati bisnisnya itu sehingga akan terus mendalami ilmu di bidang itu. Satu-satunya anaknya (perempuan) dia sekolahkan khusus bagaimana memelihara mayat. Bagaimana membuat wajah orang meninggal menjadi lebih ganteng dan cantik daripada ketika masih dalam hidupnya. Bahkan, ilmu itu juga berkembang ke arah sebelum kliennya meninggal. Yakni bagaimana menyiapkan agar bisa meninggal dengan wajah tersenyum. Tapi, saya juga sadar bahwa istri saya mungkin tidak gampang menerima penjelasan saya itu. Sebab, penjelasan seperti itu amat jarang dilakukan orang. Tapi, setidaknya, dia bisa menutup sedikit rasa malu karena suaminya meninggal dengan wajah menghitam. Bisa punya alasan -yang meskipun mungkin juga dia ragukan kebenarannya. Ragu karena bukan penjelasan seperti yang saya ucapkan
72
by Moezhanks

tersebut tidak pernah didengarnya. Yang sering diperdengarkan kepadanya adalah kaset lama yang diputar tidak henti-hentinya itu. Dalam teori komunikasi, kebohongan pun kalau terus-menerus dijejalkan akan jadi seperti kebenaran. Padahal, kaset lama itu bukan juga kebohongan. Tapi, penafsiran. Sebuah penafsiran yang sangat bisa memuaskan orang dari sisi emosinya. Kebohongan saja bisa menang, apalagi bukan kebohongan. Berdasar teori itu, satu penjelasan yang benar tidak akan bisa menang atas kebohongan yang terusmenerus dikampanyekan. Agama memang akan menghadapi tantangan yang hebat. Kini bukan hanya Islam, tapi juga Kristen. Setelah abad informasi sekarang ini, akan ada abad baru lagi. Dulu kita masih meraba-raba “abad apa gerangan yang akan menggantikan abad informasi?”. Kita pernah mengalami berturut-turut, “zaman batu”, “zaman besi”, “zaman cocok tanam”, “zaman industri”, “zaman teknologi”, dan “zaman informasi”. Kini semakin jelas dunia akan mengalir ke zaman apa. Saya kira, zaman baru yang akan kita masuki adalah “zaman biologi”. Di zaman itu kehidupan akan bisa direkayasa, diperbaiki, bahkan diciptakan. Kehidupan tanaman, binatang, dan juga manusia. Tidak perlu lagi transplantasi seperti saya, tapi liver (dan organ apa pun) bisa direparasi dengan penemuan lebih lanjut dari pendalaman terhadap DNA manusia. Dan, itu bukan lagi akan ditemukan, tapi sudah ditemukan. Penemunya kini lagi merahasiakannya sampai pada akhirnya dia akan bisa memproduksi sesuatu yang bisa dijual secara masal dan terjangkau. Agar bisnis di bidang ini menjadi amat besar. Operasi tidak perlu lagi. Transplantasi tidak dibutuhkan. Bahkan, orang tidak perlu sakit. Sehat terusmenerus. Cukup membeli produk baru itu nanti. Kini pun barang itu sudah bisa diproduksi sebenarnya. Tapi, karena belum ditemukan kombinasi-kombinasinya, harganya bisa jadi masih Rp 10 miliaran. Dengan harga setinggi itu, meski saya pun akan membelinya, tapi hanya berapa juta yang mampu beli? Bandingkan, kalau kelak, harganya tinggal Rp 1 jutaan. Betapa besar bisnis itu. Ia akan mengalahkan bisnis obat yang sudah amat raksasa itu. Bahkan akan mengalahkan bisnis minyak dan gas. Mengapa? Penemuan lebih lanjut dari itu adalah lahirnya sumber energi baru yang sama sekali tidak kita bayangkan. Kalau kehidupan sudah bisa dibikin, bagaimana kita akan menafsirkan ajaran agama? Orang boleh tidak percaya seperti juga zaman dulu tidak percaya akan bentuk dunia yang bulat. Tapi, ini akan menjadi kenyataan. “Akan” di situ tidak lama lagi. Kata “akan” mungkin kurang tepat. Yang tepat “segera”. Maka, apa yang ditulis Agus Mustofa di buku-bukunya, terutama mengenai Kitab Kejadian, sungguh menarik dan akan cocok dengan zaman baru itu nanti. Yakni jangan lagi kita membayangkan bahwa manusia pertama dulu dibuat dari lempung, lalu lempung itu di-emek-emek, dibentuk seperti boneka, kemudian Tuhan meniupkan roh ke ubun-ubunnya. Penggambaran seperti itu, meski ternyata memang tidak ada di kitab suci, amat melekat di setiap manusia. Juga melekat di pikiran saya. Saya tidak pernah mempersoalkannya secara kritis. Bahkan tidak pernah mengecek ulang apa bunyi ayat yang sebenarnya dari penggambaran seperti itu. Cerita itu sama melekatnya dengan istilah “memanjatkan doa” yang sering kita lakukan sampai sekarang. Kita, terutama saya, tidak pernah mempersoalkan apakah teknik menyampaikan doa seperti itu masih cocok dengan abad informasi seperti sekarang. Mengapa di zaman komputer, e73
by Moezhanks

kalau melihat hati seperti itu. Ini memang agak kacau. kita lupa mempersoalkan mengapa para ahli bahasa dulu menerjemahkan kata ’liver’ (bahasa Inggris) menjadi ’hati’ dalam bahasa Indonesia? Kini sudah sulit mengubah agar liver jangan lagi diterjemahkan menjadi ’hati’. akan langsung mengambil kesimpulan: Tuhan telah murka padanya. Asapnya lantas di-email-kan ke dalam tubuh saya. Bayangkan. Udi spontan menjawab: qalb artinya hati! Lantas saya tanya lagi. Lupa bahwa ’qalb’ itu artinya jantung. Atau ’patah jantung’ (broken heart). termasuk di mimbar Jumat. Kalangan ini sudah kritis lagi. Liver bahasa Arabnya ’kabid’. Mengapa kok lambang cinta itu gambar jantung? Mengapa dalam bahasa Inggris disebut heart? Dan. Samsudin Adlawi (Udi). penggunaan term “panjat” juga mencerminkan ketertinggalan kita dalam menggunakan teknologi yang tersedia. pernah saya Tanya arti ’qalb’. Sudah telanjur begitu mendarah-mendaging. bisa-bisa mengerasnya liver saya diterjemahkan ke dalam bahasa Arab ’sadat qulbuha’ (sudah keras hatinya). Bahkan. Tapi. Misalnya kata ’patah hati’ harus diubah menjadi ’patah liver’. Kalangan ini. 74 by Moezhanks . Sedang liver adalah……” kata Udi yang juga sastrawan itu. lupa bahwa kata dalam bahasa Arab ’qalb’ (kalbu) artinya bukan hati -dalam pengertian liver. atau yang di-compresskan seperti yang dilakukan golongan tasawuf Shatariyah. Alangkah lambatnya doa itu akan sampai. Lalu bergegas meralat jawaban pertamanya. Begitu saya tanya. dalam bahasa Mandarin disebut xin? Rupanya dia baru berpikir ulang. Ini karena saya juga ragu akan ingatan bahasa Arab saya. “Pasti ini karena disantet”. Juga terhadap kakak saya. Pandangan kedua akan datang dari kalangan agama yang berpandangan sempit. agar mirip dengan ayat Quran yang sangat terkenal. dan SMS ini kita masih mengirim doa dengan menggunakan teknik “memanjat”. Memang qalb itu artinya jantung. Istri Gembira karena Wajah Berubah 20 September 2007 KALAU saja foto liver lama saya dimuat di koran tanpa penjelasan (foto-foto itu akan dimuat di edisi buku). Orang di desa saya akan langsung mengatakan. maka yang maju lantas dunia mistik dan bukan rasionalitasnya. Liver saya memang seperti daging yang dibakar setengah matang! Pasti ketika menyantet saya.mail. “Saya tadi salah. Udi yang demikian mahir bahasa Arab terbius oleh sesuatu yang salah. Pak Nuh. Direktur Radar Banyuwangi. Memang. mantan rektor ITS yang kini menteri informasi. karena emosi lebih besar daripada rasio. Begitu jugalah dulu penilaian terhadap ibu saya. Yang suka marahmarah. Tentu kata “memanjat” hanya simboliasi atau penyastraan. “… fasadat qulubuhum”. tapi sudah memasyarakat. (Bersambung) Ganti Hati 26 – Transplantasi Berhasil. setidaknya akan muncul tiga versi tanggapan. Tuhan toh tidak akan membedakan doa yang dikirim dengan cara dipanjatkan. si penyantet membeli hati sapi dulu. yang di-e-mail-kan. Bahkan. orang yang paling jago bahasa Arabnya di lingkungan Group Jawa Pos. bisa malu. Kalau diubah. nanti bisa banyak sekali konsekuensinya. Karena maraknya pandangan santet di masyarakat kita. Dan lagi. Lalu memanggangnya.

Limpa saya. Saya juga tidak lagi membenci kaus kaki. Anak kalimat itu adalah keputusan yang diambil dalam kongres para pemilik kulit keruh. Tapi. Bagaimana dengan payudara saya? Tiap hari saya masih meraba-rabanya. meski hitam banyak yang antre. Tapi. justru saya tidak terlalu memerlukannya. “Untung. Minggu lalu diadakan acara pengajian dan hafalan Alquran sehari penuh hingga tarawih. Kita tidak boleh memubazirkan rezeki dari-Nya itu. Maksud saya kembali ke hitam yang aslinya. Ternyata biarpun saya pijit kuat-kuat. Bisa-bisa susternya marah dan mengembalikannya ke dekat payudara. Setengahnya karena sudah menjadi kebiasaan selama dua tahun terakhir. Para hafidz (penghafal) Alquran di Surabaya memang aktif berkumpul sebulan sekali di tempat berpindahpindah. bahkan tidak bisa dekok sama sekali. yang meski sudah dipotong sepertiga. wajah saya yang sudah dua tahun menghitam. Kini kaki saya juga tidak bengkak lagi. Begitu hebat pemberian itu sehingga harus digunakan sebanyak-banyaknya. Tidak perlu lagi dilaminating kedua atau ketiga. sebaiknya. saya masih sering memijit-mijitnya. antara lain karena wajah saya kini sudah sedikit berubah. bukan lagi dekoknya cepat kembali. setengahnya lagi untuk mengetes apakah dekok akibat pijatan itu bisa cepat kembali. urusan ilmiah memang jangan terlalu dikait-kaitkan dengan keyakinan keagamaan. Tiap tiga bulan sekali di rumah saya 75 by Moezhanks . kini kembali … hitam. kita akan semakin terbiasa tidak menggunakan ciptaan-Nya itu. Kita-kita barangkali baru menggunakan lima persennya. Kalau toh dikaitkan. selalu berharap ada mukjizat atau keajaiban.Jadi. kalau istri saya merasa sangat gembira akan keberhasilan transplantasi liver ini. tapi sudah mulai mengencang. suasana pengajian di rumah juga lebih ceria. Kini saya kembali sering memijit kaki saya dengan sangkaan sebaliknya: jangan-jangan bengkak lagi. setiap itu pula saya disadarkan bahwa keajaiban tidak berlaku di bidang yang amat scientific ini. setiap kali saya memijit kaki. Bukan hitam karena sirosis. seorang teman masih sempat menggoda saya dari Musi Banyuasin. Imbuhan kata terakhir itu bukan asli ciptaan saya. apalagi ketakhayulan. untuk sedikit mengangkat derajat mereka. Sumsel. Saya makin sembuh. pada keadaan ’tidak membenci kaus kaki’ itu. Masih tetap besar.5 bulan transplantasi. harus dalam rangka dzikir. Dulu. Maka. orang yang paling pinter pun baru menggunakan sebagian saja otaknya. Kini wajah saya sudah boleh dibilang kembali seperti hitamnya kereta api (duile!). Tanpa kaus kaki pun kini perut tidak merasa kembung. lama-lama juga akan kembali normal. Demikian juga saluran pencernakan yang telanjur ’dilaminating’. lama-lama juga akan kembali normal. Meski begitu. tapi masih dua kali lipat lebih besar dari limpa asli. Membaca SMS mengenai mulai pulihnya organ-orang di tubuh saya. Dokter bilang.” tambahnya. Atau justru sudah terbiasa nyaman dengan payudara seperti gadis yang menginjak remaja. setiap memijat kaki. Kalau sedikit-sedikit sudah harus lari ke doktrin. bahwa Tuhan telah memberikan manusia otak yang luar biasa cerdasnya. Saya belum bisa memperkirakan apakah saya akan lebih senang dengan payudara saya yang asli. Dia tidak perlu lagi menghadapi rasa malu karena suaminya meninggal dalam keadaan wajah menghitam. Padahal. dulu tidak jadi minta dikembalikan. Berbeda dengan saat para karyawan berkumpul untuk berdoa di rumah menjelang saya operasi. Memang setelah 1. Saat itu suasananya murung. sana: “Apakah bulunya yang dicukur juga sudah kembali normal?” tulisnya di SMS.

Sejak sebelum dilakukan transplan sampai sesudahnya. Juga sudah sering mengucapkan istighfar. Karena masih keturunan Arab. Saat menangis itulah. Bersyukur dengan cara bekerja keras. Akhirnya. membawa koran lokal yang juga memberitakan kejadian serupa. ketika baru sebulan antre untuk mendapatkan donor. Anaknya tumbuh dewasa. si kecil pergi ke taman bermain dengan pamannya yang juga membawa ciri fisik keturunan Arab. polisi turun tangan. Kali ini menyangkut wanita Shanghai yang baru transplantasi jantung 76 by Moezhanks .Kini saya sudah bisa membuat perencanaan. Dulu. Si kecil kian berontak dan berteriak-teriak. Tinggal. setelah istrinya melahirkan. Maksudnya akan memeriksakan ginjalnya setelah lebih dari 10 tahun transplantasi. Suatu saat. si kecil tidak mau. si paman mengajak si kecil kembali ke hotel. Terpaksa si paman menelepon bapak si kecil. Di akhir ayat yang mengisahkan soal ini. begitu tidak pastinya penyembuhan sakit saya. Tim saya juga mengatakan begitu. kemudian berumah tangga. Saya sendiri. Perencanaan pertama yang muncul di pikiran saya adalah apa yang diucapkan Cak Nur. Liong Pangkiey. Saya akan mensyukuri keberhasilan transplantasi liver saya dengan meneruskan kerja keras. kerja keras lagi. Melihat orang Arab membawa pergi anak Tionghoa sampai menjerit-jerit itu. Itulah juga yang akan saya tiru. Ini karena donornya dari India. Kecuali yang amat penting. Yakni.” kata Cak Nur. seperti dikatakan Cak Nur. Si paman diamankan dengan sangkaan melarikan anak penduduk setempat. si paman memaksa menggendongnya pergi. Kulitnya putih bersih. literatur yang mengatakan bahwa banyak kasus si penerima organ akan mengalami perubahan. anaknya seperti Tionghoa. Gara-garanya. “Bekerjalah yang sungguh-sungguh. Lalu mengisahkan keberhasilan Daud mengalahkan Jalut (Goliat). apakah perasaan saya tidak berubah? Pertanyaan itu bahkan datang dari diri saya sendiri. Anaknya harus transplantasi ginjal di Guangzhou. Apalagi. pemilik pabrik sepatu di Surabaya yang asli Gorontalo itu. Tapi. kirim SMS bahwa temannya ganti ginjal. urusan selesai. tertulis “Bekerjalah. Waktu senja sudah tiba. Saya sudah beberapa kali mengucapkan alhamdulillah. keluarga salah satu direksi Grup Jawa Pos sendiri mengalaminya. Bahkan. tidak berani bikin janji kapan menerima tamu dan kapan harus rapat. Bahkan. Ada yang menerima informasi bahwa kenalannya langsung berubah menjadi amat jeleknya. begitu sembuh. Setahun kemudian. si bapak kembali ke Guangzhou bersama anaknya yang masih kecil yang seperti anak Tionghoa itu. wahai keluarga Daud. Ketika di rumah sakit. Anehnya. saya tidak berani bikin perencanaan yang agak panjang. sebagai tanda syukur kepada-Ku”. Khawatir Berubah Tak Bisa Menulis Baik 21 September 2007 KARENA yang diganti ini adalah hati. ketika pemikir itu ditanya mengenai apa bagaimana berislam yang baik dan enak. Bahkan sampai menangis. tentu anaknya juga masih membawa ciri-ciri fisik bapaknya. badannya menjadi berbulu. bekerja adalah tingkatan syukur yang tertinggi setelah mengucapkan alhamdulillah dan istighfar (minta ampun). (Bersambung) Ganti Hati 27 – Liver Ganti. Operasi itu sukses sekali.

Wanita itu biasanya pemurung. tulisan itu bisa membuat pembaca seolah-olah bercakap-cakap sendiri dengan sumber berita. Kepadanya saya jelaskan bahwa saya dulu. Ketika saya sendiri mengalami itu. Saya juga selalu mengajarkan agar dalam menulis kalimat-kalimatnya harus pendek. dan banyak omong. Mengutip kata seorang sumber berita dalam sebuah kalimat panjang sama saja dengan mengajak pembaca mendengarkan khotbah. Deskripsi yang kuat bahkan bisa menghidupkan imajinasi pembaca. ketika masih jadi pemimpin redaksi Jawa Pos. saya harus fair. Tapi.” kata suaminya. seminggu setelah operasi. mengapa tidak disertai foto-foto? “Bukankah Anda dulu mengajarkan setiap features harus disertai foto? Kalau perlu pinjam ke sumber berita?” tanya Edy Aruman. Apalagi kalau di sana-sini diselipkan kutipan omongan orang. di koran lagi. Tapi. Sebagian agar tidak ada catatan di otak saya yang hilang. tidak mau keluar rumah. begitu saya mengajar. Kalimat-kalimat yang panjang membuat dada pembaca sesak. beberapa bulan setelah operasi. Yakni menceritakan hal-hal detil yang dianggap sepele. dia mulai menyenangi internet. Kalau itu sampai terjadi. dengan selingan kutipan-kutipan pendek. akan membuat tulisan menjadi lincah. Waktu itu jantungnya mogok di atas pesawat dalam penerbangan ShanghaiShenyang. Semakin pendek sebuah kalimat. begitu saya mengajarkan. mengendarai mobil. Karena itu. Tidak semua orang bisa menulis baik. saya sudah minta laptop. langsung dilarikan ke RS dan harus menjalani transplantasi. wanita itu kemudian suka main saham di pasar modal. Kutipan itu -direct quotation-juga harus pendek-pendek. dan introvert.” ujar suaminya seperti diberitakan China Daily. harus wartawan yang menuliskan ceritanya. apakah yang paling saya takutkan? Kekhawatiran utama saya ternyata ini: tidak bisa lagi menulis baik. Imajinasi pembaca kadang lebih hidup daripada sebuah foto. saya harus mau menuliskannya. Yang lebih mengherankan lagi. “Bahkan kalau naik mobil suka ngebut. Saya jawab: Kali ini saya memang minta jangan ada satu foto pun yang disertakan dalam tulisan ini. Koran tersebut juga menampilkan foto keluarga itu yang lagi bergurau di rumahnya. Secara terbuka. saya akan mengetes diri sendiri agar dalam tulisan ini memberikan sebanyak mungkin deskripsi.di Kota Shenyang. Kalimat pendek. sering menugasi wartawan agar mewawancarai tokoh-tokoh yang berhasil mengatasi penyakitnya. Turun pesawat. 77 by Moezhanks . Saya sering mengajarkan kepada wartawan kami agar jangan mengabaikan diskripsi. Karena itu. Mengapa? Ada dua tujuan. Sebuah tulisan yang deskripsinya kuat. Saya memaksakan diri untuk memulai menuliskan pengalaman saya ini. Saya juga sering membayangkan jangan-jangan mengalami hal yang sama. Kini giliran saya bertanya kepada pembaca: Apakah ada perubahan dalam gaya penulisan saya? Memang. Inilah salah satu kunci kalau jurnalistik tulis masih diharapkan bisa bertahan di tengah arus jurnalistik audio visual. mantan redaktur Jawa Pos yang kini menjadi redaktur majalah Swa. Deskripsi yang kuat bisa membuat pembaca seolah-olah merasakan sendiri kejadian itu. sebagian lagi untuk mengetes apakah saya masih bisa menulis dengan baik. penakut. ada seorang teman yang setengah bertanya dan setengah menyesalkan: Penyakit kok diberitahukan ke orang-orang. Karena itu. bisa membawa pembaca seolah-olah menyaksikan sendiri suatu kejadian. tapi sebenarnya penting. “Saya menjadi agak khawatir pada istri saya. Tapi. semakin membuat tulisan itu seperti kucing yang banal. Pertama.

Kalau tidak. namun penerapannya masih memerlukan pembuatan software komputer. “Saya justru khawatir kalau itu liver Laura. Jangan hanya dijadikan bahan gosip semata. Saya sendiri tidak tahu apakah tulisan saya mengenai pengalaman ganti liver ini masih mencerminkan doktrin jurnalistik saya itu. saya bisa menyumbangkan ilmu manajemen ke dalam jurnalistik melalui penerapan “rukun iman” Jawa Pos. Kalau saja seperti itu.” gurau Melinda. Dan jangan-jangan. Foto-foto seputar operasi. saya ingin agar di layar komputer muncul dulu sejumlah pertanyaan yang harus diisi si reporter. berarti juga ada kemunduran dalam kemampuan saya menulis. tentu saya berharap segera diberi tahu. Setiap membicarakan persiapan transplantasi. apa salahnya dilakukan. Melinda Teja. Tentu dengan nada penuh humor. Dalam proses pengiriman berita dari komputer ke komputer itu. Untuk kemajuan. pertanyaan sudah berimbangkah berita yang Anda tulis? Apakah pihak-pihak yang Anda tulis sudah diwawancara? Dan seterusnya.” tambahnya. Jawa Pos-lah yang pertama menerapkannya. 78 by Moezhanks . Setiap kali reporter selesai menulis berita kan harus mengirimkannya ke redaktur untuk diedit. masih ada satu lagi ide saya yang akan saya sumbangkan ke dunia jurnalistik. “Saya sangat khawatir kalau liver yang didonorkan itu punya sifat asli seorang gay. Misalnya mengenai cover both side. tim saya ternyata juga sering menyinggung kemungkinan perubahan perilaku saya pascatransplantasi.” ujar yang lain. Dalam alam demokrasi seperti ini. Sebenarnya.Alasan kedua mengapa foto tidak disertakan di tulisan ini adalah: Semua foto akan dimuat ketika tulisan ini diterbitkan dalam bentuk buku. saat menekan tombol “kirim” itulah. termasuk foto-foto liver saya yang lama. Tapi. pemberitaan yang berimbang. tapi juga sumbangan IT ke dalam jurnalistik. saya ingin di setiap komputer yang digunakan reporter dilengkapi software check-list. dia tidak akan bisa menekan tombol “kirim”. Orang lainlah yang tahu. Maka. Kalau tidak mengisinya. Nah. Sumbang-menyumbang dari satu disiplin ilmu ke ilmu yang lain.” tambahnya. Itu bukan saja menjadi sumbangan saya ke dunia jurnalistik berikutnya. “Kalian yang laki-laki harus waspada. Prinsip-prinsip jurnalistik yang baik harus lebih dipentingkan. Kalau kelak ada reporter yang menipu dengan cara mengisi kolom yang salah. bos Pakuwon Jati itu. tanggung jawab justru lebih besar. Di tulisan mendatang saya juga akan menceritakan sumbangan “ilmu tauhid” ke dalam bisnis dan manajemen. saya belum merasakan perubahan apa-apa. ide ini penting justru untuk menyesuaikan praktik jurnalistik di alam kebebasan mutlak seperti sekarang. Padahal. diri sendiri kadang memang tidak bisa merasakan. itu karena saya ganti liver. “Kita harus segera carikan pekerjaan yang cocok. menyumbangkan software untuk prinsip cover both side yang penting itu. Setiap pertanyaan disertai kolom isian. Sampai hari ini. tanggung jawabnya jelas. Maka. Kalau “belum”. wedok ora” (tidak laki-laki dan juga tidak perempuan). Lalu. Lalu. Saya tidak puas dengan lambatnya pelaksanaan ide ini karena saya tidak lagi dalam posisi pemimpin redaksi. Laura yang dimaksud adalah “lanang ora. si reporter tidak bisa menekan tombol “kirim”. Ide ini sudah saya kemukakan lima tahun yang lalu. Misalnya: Apakah Anda sudah membaca ulang tulisan Anda? Di belakangnya dimunculkan kolom isian: sudah dan belum. misalnya. Lalu. reporter harus menekan tombol “kirim”. Saya berharap software yang saya inginkan itu segera dibuat.

apa kromo inggil untuk forward? Keinginan pasien untuk cepat-cepat pulang memang agak ajaib. Ada cara yang katanya cukup mujarab. sebuah batu hitam (blackstone) di pojok Ka’bah.Yang jelas sudah berubah adalah perut saya. kulit perut saya tidak mulus lagi. Karena itu. seorang Kristen. Dulu Budi itu. Dia Tionghoa dan lulusan Fakultas Teknik Universitas Kristen Petra Surabaya. kemudian. Ada sederet bekas jahitan yang kasar. “Apakah tidak ke gereja?” tanya saya saat dia mengajak rapat soal Aceh di hari Minggu. minta saya lebih bersabar. bicaranya kromo inggil. Pak. Itu sebabnya bahasa Inggris membedakan mana kata “rumah” (house) dan mana kata “rumah” (home). Sudah pagi hari mencoba malam hari. mengapa tambah dua bulan lagi tidak kuat?” tambah Ir Budiyanto. “Kalau selama ini sudah sabar enam bulan. terutama Robert Lai. Saingi Cucu 22 September 2007 TEPAT sebulan setelah transplantasi. “Saya bukan Kristen.” jawabnya. saya selalu kromo inggil kepadanya. Kromo inggil pas sekali kalau dipakai bicara soal ajaran sangkan paraning dumadi. tim dokter tidak membawa ahli obras malam itu. Bahkan. Yakni silicon scar treatment. anggaplah saya baru saja melakukan caesar tiga kali berturut-turut. filsafat ojo dumeh dan hukum “timba sing kudu nggoleki sumur”. saya pasti langsung lupa diri. Makanya. di rumah saya menggunakan bahasa Banjar. “Rupanya. Bahkan.” ujar tim kami. Tawaf (berjalan memutari Ka’bah) dilakukan berkali-kali -meski “tawaf” di mal dan supermarket juga tidak bosan-bosannya. (Bersambung) Ganti Hati 28 – Tunggu Pulang Diimunisasi Hepatitis B. dia tidak nyambung. Nah. biar dua bulan menunggu pun asyik-asyik saja. Kalau saja usaha itu tidak berhasil. Lebih terutama lagi ibu-ibu di Amerika. Sejak itu. Begitu seminggu setelah operasi berhasil (umumnya mereka tandai dengan bisa jalan-jalan). Suasana kebatinan setelah operasi mirip dengan setelah berhaji di Makkah. Oh. Sebab. saya tahu dia salah satu tokohnya. tim saya. Semangat menjalani ibadah luar biasa. Dia Tionghoa. Sebuah konotasi yang ternyata salah. Tim Surabaya juga demikian. ketika menjenguk saya. ada yang minta biar enam bulan baru pulang juga lebih baik. Sebelum tiba hari pelaksanaan haji.” jawabnya. Jadi. Fokus pikiran sudah berubah: Pulang! Pulang! Pulang! Ini bagian dari misteri rumah. saya lagi mengusahakan untuk memperhalusnya. Dia tahu. ketika saya ajak omong Mandarin. 6 September yang lalu sebenarnya saya sudah bisa kembali ke Indonesia. “Saya penganut Sapto Dharmo. Saya berpikir salah sekali lagi. Sudah tawaf siang hari. saya kira. berarti dia Konghucu atau Buddha. Saling SMS dan email pun pakai kromo inggil hingga suatu saat kebentur kata forward. Saya yang Jawa bicara Mandarin. Terutama yang biasa digunakan ibu-ibu yang melahirkan secara caesar. Rasanya ingin terus dekat dengan Ka’bah dan mencium berkali-kali hajar aswad. Agar tidak lupa bahasa Jawa tinggi itu. pasien langsung membuat rencana tanggal berapa akan pulang. (Waktu saya menulis bahwa Tiongkok dengan kekayaan barunya sudah mampu membeli saham perusahaan raksasa Amerika yang bernama Blackstone. Aneh. dokter sudah mengizinkan saya pulang. misteri kampung halaman. mencoba sore hari. perancang Gedung Jatim Expo dan Rumah Cepat Tsunami Aceh. Saya masih memesannya lewat internet karena hanya di AS barang itu dijual. Tapi. kalau pulang. Akibat sayatan pisau bedah yang panjang. Ini baru saya ketahui setelah bertahun-tahun kenal. seorang pembaca mengirim SMS ke saya: Tiongkok sudah pula membeli hajar aswad?) 79 by Moezhanks .

Maka. suasana di sekitar Ka’bah tidak pernah sepi. meski entah sudah berapa kali saya ke Makkah. Sudah antiklimaks. Karena teman-teman se-”angkatan” saya sudah pada pulang. Mereka memang tidak perlu khawatir. Kecut. Toh mencium hajar aswad itu bukan rukun tawaf. saya belum bisa mencium hajar aswad -secara fisik. Tapi. “Saya kaget. Saya dapat informasi bahwa dokter-dokter anak di Surabaya juga kebanjiran bayi yang minta diimunisasi hepatitis B. Pasti pagi-pagi mereka sudah baca Jawa Pos. “Departemen Kesehatan harus membayar Anda. Bahkan. Kadang dengan cara menyikut dan menyingkirkan orang lain. Hasil tes terakhir memang menunjukkan bahwa liver baru saya bersih. Kampanye yang berhasil. saya berencana mendirikan lembaga yang tugasnya gerilya ke kawasan-kawasan miskin untuk mencari anak yang belum diimunisasi. Sedang kalau saya pulang. saya selalu berusaha menciumnya dengan hati saya yang dalam. Pasien Jepang bahkan tiga minggu sudah check-out. Bersaing dengan Icha. dan njlimet. saya tidak mengharapkan bayaran itu. Bahkan. Ternyata benar juga bahwa saya tidak buru-buru pulang. Maklum. “Kalau bukan karena Rasulullah pernah menciumnya.Karena itu. Saya akan membiayai kegiatan itu. begitu pulang dari Padang Arafah. Saya masih harus menjalani satu proses yang amat lucu: Imunisasi hepatitis B. “Jam lima pagi sudah lima ibu yang mendaftar. pikirannya sudah langsung fokus ke pulang. Tentu. Tuhan kita adalah Tuhan yang cerdas. Diam-diam. suatu saat saya akan menciumnya. Antiklimaks yang tajam. Saya tidak tega kalau harus berebut seperti itu caranya. Ada terus kegiatan orang di Makkah sebelum hari haji. kalau terjadi apa-apa. “Hati” dalam pengertian pedalaman saya -bukan hati dalam pengertian liver saya. Saya kembali tersenyum. Di dua negara itu ada rumah sakit yang punya pengalaman merawat pasien pascatransplan.” kata Pinto Janir dari Padang kirim SMS ke saya. tinggal saya sendiri yang dari Angkatan April 2007.” kata dr Wawan yang dulu pernah jadi anggota yang aktif di Dewan Pembaca Jawa Pos. Saya perlu sejumlah tenaga yang punya antusiasme menangani pekerjaan tersebut. Saya tidak sampai hati melihat pemandangan itu. “Uda. Kebiasaan saya Lebaran di Makkah tidak bisa saya lakukan lagi tahun ini. Saya tersenyum mendengar bahwa saya harus menjalani beberapa kali suntikan imunisasi. Tidak ada lagi teman-teman lama yang saya kunjungi setiap hari. Bahkan sudah menjadi seperti satu network dengan pusat transplan di Tiongkok ini. Tuhan pasti tahu isi pedalaman saya. saya memutuskan baru akan kembali ke Surabaya sekitar seminggu setelah Lebaran. Bagi yang masih lama dapat giliran pulang. Karena itu. Karena itu harus segera dilindungi dari dua makhluk halus (karena hanya bisa dilihat oleh mikroskop) yang pernah mengancam jiwa saya itu. Tentu. Yakni pada hari saya mengungkapkan mengapa saya sampai menderita penyakit seperti itu. Kemacetan manusia selalu terjadi di sekitar hajar aswad.” tulisnya di SMS-nya. Kok tumben. Begitu bisa jalan. “Sudah umur 56 tahun baru imunisasi. Saya sudah amat senang kalau tulisan saya ini memberikan manfaat. sudah terlalu lama menunggu di rumah sakit ini. cucu saya. Mungkin akan ada manajemen yang lebih baik untuk mengatur antrean itu. Suster tertawa. Pasien dari Taiwan umumnya sudah pulang sebulan setelah transplantasi.” tambahnya.” kata saya pada suster yang akan menyuntik. apalagi begitu selesai salat Idul Adha. Begitu juga pasien transplan liver. tekun. luar biasa tidak sabarnya. Oh. agak siang sedikit. Berarti juga harus mau menjadi narasumber untuk bagi-bagi pengalaman kepada 80 by Moezhanks . saya tidak akan sudi menciumnya”. saya baru tahu sebabnya. rasanya sudah amat berbeda. Syayidina Umar pernah mengatakan. Mereka berebut menciumnya. Saya harus mencari kawan baru. Tidak kejangkitan hepatitis atau sel bibit kanker. rumah sakit mana yang punya pengalaman cukup untuk pasien seperti saya? Walhasil.

begitu pertama melihat pasien yang jalan-jalan di koridor rumah sakit dengan kantong plastik berisi cairan merah menggantung di pinggangnya. Oh! Baru seminggu yang lalu! Sudah bisa jalan. meski thimik-thimik. Pasien ketiga juga sama. Bahkan. Tiba-tiba saya penasaran. saya tanya kepada susternya: Sudah berapa hari dia operasi? “Tepat seminggu yang lalu. Transplantasinya sukses dan amat sehat. Di negaranya langsung aktif karena memang terasa sudah amat sehat. yang badannya memang sudah kurus dan umurnya sudah 62 tahun. Sebulan setelah transplantasi langsung pulang. tentunya. begini ya orang habis transplantasi. Lalu. Pasien kedua yang saya lihat pun begitu. Saya kian rajin senam untuk membuat badan saya lebih segar. Agar bisa bicara lebih santai.” kata seorang perawat. Konon. Bahkan. “Lihat ini. tiga bulan kemudian. saya hanya sekali mendengar orang meninggal. Saya pun merasa dapat semangat yang sama dari pasien yang menjalani transplan sebelum saya. Dahlan. Jadi. pasien yang sebelum operasi kelihatan matanya sudah amat keruh. ingin bertanya masak kini mereka bisa begitu sehatnya. hanya seminggu! Sudah bisa jalan! Kau nanti juga harus begitu! Kalau perlu lima hari! Dengan melihat contoh nyata itu. kelima. saya tidak harus membeli semangat. Meski badannya kelihatan lemah.” katanya sambil menyingkap bajunya. Saya merasa mereka beri semangat. Dia seorang wanita 60-an tahun dari Pakistan. Perawatan terhadap slang yang masih ada di pinggangnya pun dilakukan di negerinya. seminggu setelah operasi juga sudah bisa jalan. tentu lima hari setelah operasi sudah bisa jalan. Saya melakukannya dengan senang hati. Atau ke keluarga mereka.” jawabnya. “Oh. Ada pemandu wisatanya. Agar tidak jadi sumber infeksi. Tiap dua minggu harus dibersihkan dan dirawat. Bahkan. 81 by Moezhanks . Dia saja. Selama empat bulan menunggu operasi. Yakni yang transplantasi enam bulan sebelumnya. Saya lebih semangat makan. Rasa optimistis kian hari kian besar setelah melihat pasien tadi di hari-hari berikutnya. Hati baru. Kian hari kian cepat jalannya. seminggu sudah bisa jalan.mereka. dia tidak ke Tiongkok. Terlihatlah di kulit perutnya bekas sayatan dan jahitan yang panjang. memang masih terus akan di situ selama tiga bulan. Seminggu sudah bisa jalan! Saya pun akan begitu nanti! Seminggu. Begitu jugalah saya nanti. Jawaban-jawaban itu tidak terlalu memengaruhi psikologi saya. Slang itu. Badannya lebih kurus daripada yang saya lihat sebelum operasi. Lebih segar dan merah daripada yang saya lihat sebelum operasi. pikir saya. saya memang suka bertanya kepada pasien yang baru saja menjalani operasi. Toh. sudah tergeletak tidak bisa berjalan. Untuk menunjukkan di sinilah dulu mereka dapat sambungan nyawa. berikut kantong plastik kecil. saya tertegun. Sebelum operasi. juga mulut susternya. Juga kian segar badannya. Serombongan besar orang Korea memenuhi lantai 11. Ternyata dengan suka rela mereka menceritakan segala pengalamannya. Giliran saya memberikan semangat. tiga orang di antara mereka (antara umur 60 dan 70 tahun) mau saya ajak masuk kamar saya. Jalannya thimik-thimik pelan. dan seterusnya.” pikir saya. Suatu saat ada contoh-hidup yang lain. dipasangi masker. Wisatawankah mereka? “Mereka adalah orang-orang yang dua-tiga tahun lalu transplantasi di sini. Tapi. ajaib memang transplantasi ini. waktu seharusnya dia kembali ke Tiongkok untuk mengeluarkan benda yang dipasang untuk menyambung livernya dulu. wajahnya segar. Pasien keempat. Dilakukan sendiri oleh dokter setempat karena dia juga ahli. Mulutnya. napasnya sudah tersengal-sengal. Lengannya dipegangi oleh suster. Juga lebih merah. Saya ingin ikut memberikan semangat agar mereka optimistis menghadapi operasi besar. optimisme saya kian menyala-nyala. seorang anggota parlemen. Mungkin memang politisi yang sibuk. Mereka ingin datang lagi bersama keluarga dan kerabat. Di kamar saya semangatnya menjadi-jadi. Kalau badan saya lebih kuat. Semua kurang lebih sama. tanpa harus merasakan enaktidaknya.

Bajunya bagus-bagus dan mahal-mahal. Saya juga berjanji kepadanya untuk terus memberinya semangat. Bicaranya. saya kehilangan dua teman wanita yang paling saya akrabi. namun menunggu kondisi badannya stabil. Dia juga tidak bisa berbahasa Mandarin sehingga hanya saya pasien yang bisa dia ajak ngobrol dalam bahasa Inggris. Dua-duanya juga amat cantik -terutama kalau penilaian ini saya berikan 35 tahun yang lalu. Saya sering sekali mengunjungi kamar masing-masing dan ngobrol berlama-lama. saat keduanya masih kira-kira berumur 30 tahun. “Kalian sudah pulang semua. Dia sendirian. Tapi. Kalau saja dia masih muda. Saya tahu bahwa sakit gula akan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sukses tidaknya transplantasi. Keduanya tinggal di lantai yang sama. Tidak satu pun keluarganya mendampingi. (Bersambung) Ganti Hati 29 – Sering Kaget Disapa Wanita Modis dan Ceria dalam Lift 23 September 2007 DI masa menanti waktu pulang ini. Saya menjawab: Saya juga tidak akan buru-buru pulang. Terutama kalau istri saya pergi belanja. Saya memahami keadaannya. Dua wanita itu juga amat mengesankan. Saya tidak harus buru-buru pulang. Juga sudah tak terhitung lagi berapa kali saya ke Harbin sesudah itu. “Perut saya sudah berisi air. guraunya. “Saya nanti pulangnya mungkin paling belakangan. Bahkan memburuk. Satu dari Jepang. Apalagi mereka senasib: juga hepatitis. “Umur saya sudah 72 tahun. antara lain. Sendirian. tapi juga kondisi badannya. dia terkena infeksi. Rambutnya disasak tinggi. “Umur saya juga sudah 69 tahun. saya tidak menceritakan bagian ini padanya. sirosis.” kata wanita yang dari Jepang itu suatu saat kepada saya. Yang wanita Jepang amat modis. Kami biasa saling curhat.” katanya.” katanya. saya akan masih di sini. Di Tiongkok dia akan ditransplantasi sekali lagi. Entah proses pengambilan benda asing itu yang salah atau karena kegiatannya yang berlebihan. dan intelektualnya bisa nyambung dengan saya.” tambahnya. Saya cepat akrab dengan wanita Harbin ini. 82 by Moezhanks . Dia ngiri melihat badan saya yang sehat dan agak gemuk. Wanita yang dari Harbin lebih mengeluh lagi. Sepatunya seperti Cinderella. Tiongkok. Saya memang tidak menceritakan bahwa gemuk saya waktu itu karena bengkak. tentu orang akan mengira dia hamil. Lalu datang lagi ke Tiongkok untuk menyelamatkannya. Bukan saja mengenai umurnya. Di lain waktu wanita Harbin tadi curhat yang lain lagi. dan kanker hati. karena saya pernah lama di sana: Belajar bahasa Mandarin dengan cara home stay.” tambahnya. Saya ceritakan kenyataan bahwa ada pasien lain yang juga punya sakit gula toh berhasil dengan baik juga. Dan akhirnya meninggal. Yang ditunggu tidak segera tiba. Lebih dari itu dia juga mengidap sakit gula. Kian lama kian parah.Beberapa saat setelah itu.” katanya. Saya harus belajar dari pengalaman itu. “Saya nanti tidak sesukses kamu. satunya lagi dari Harbin. dia bahkan pergi naik haji.

Begitu selesai bertugas. meski kalau tertawa lantas kian terlihat umurnya yang sebenarnya. Miskin Bermartabat”. Surabaya. satu moto: “Kaya Bermanfaat. Penghuni lama. tapi saya seperti tidak kenal lagi siapa dia. Rumah separo tembok separo kayu. Saya dan Zainal. Rumah pun masih menyewa di satu gang sempit di belakang pasar Kertajaya. Meski memang lebih lambat mulai bisa turun dari tempat tidur. si Cinderella sangat berhasil operasinya. Mereka juga hafal pada saya. ketika sudah kaya (duille!) tidak sewenang-wenang. Ini yang disebut social-capital -modal sosial. Juga benar bahwa seminggu setelah operasi dia sudah menentukan tanggal pulang. pakaiannya baju-kerja penyapu lantai. Mengapa orang di Tiongkok yang juga banyak sekali yang lebih miskin dari orang miskin Indonesia. bicaranya sudah keras dan tegas. Pesuruh dan tukang pel lantai pun idem ditto. musim panas) dan rambutnya dimain-mainkan seperti artis Korea.” katanya seperti minta pengertian. akan bisa jadi model perjuangan itu. Setiap masuk kerja mereka mandi dulu dan baru ganti baju perawat. Perawat di sini memang disediakan kamar mandi dan ganti baju. Dan. Saya ingat direktur saya Zainal Muttaqien. Menjalani perawatan di sana. Pasien yang kerasan di rumah sakit. Yang seperti itu tidak hanya perawat. Muncullah istilah dari Zainal yang akan selalu saya ingat dan yang akan kami perjuangkan sebagai inti dimulainya pembangunan harga diri ini. cara membawa tasnya. “Siapa ya wanita cantik ini. Bukan saja jarang lihat pengemis. sudah hilang. Karena ’yuan lao’. ketika kerja tidak ogah-ogahan. Bajunya you can see. saya lihat perutnya “sudah hilang”. sungguh membelalakkan mata. Kami sering diskusi soal kemiskinan di Indonesia dan Tiongkok. Eh. saya belum punya sepeda. harga dirinya lebih baik. Sebaliknya. dan banyak lagi yang lain. Tapi. Pasti semakin modis dia nanti. Terutama pada jam-jam pulang atau berangkat kerja. Bagaimana ketika miskin dulu tidak jatuh sampai menjual harga diri dan jabatan. meski waktu itu sudah menyandang gelar wartawan majalah TEMPO yang begitu ternama. para perawat itu ganti pakaian seperti model. Yang kamar 83 by Moezhanks .” katanya dengan meraba-raba perutnya. Tentu kami tetap menampakkan kegembiraan kami bahwa dia begitu sukses dengan transplantasinya. meski berangkat kerja dengan amat modis.Benar saja. Sewaktu bertugas mengepel kamar saya. apalagi sepeda motor. Dia sering menyapa. Rupanya mereka biasa ganti-ganti baju. saya sangat hafal pada perawat. Tidak buru-buru pulang. Demikian juga ketika pulang kerja. Benar. Juga sukses. dan dokter di rumah sakit ini. pegawai. begitu pulang. celananya hot pants (maklum. Dan ini menjadi salah satu sumber kemajuan Tiongkok. Saya ingat. Bank Dunia menyebutkan social-capital ini menjadi faktor penting kemajuan Tiongkok di samping modal finansial. Saya sendiri akhirnya mendapat gelar ’yuan lao’ di rumah sakit ini. sama sekali tidak menyangka kalau dia tadi yang pakai baju perawat dengan topi putih. Yakni. Meski begitu hafal. tatanan rambutnya.” sering saya bertanya dalam hati. Ini agar kuman yang terbawa perawat saat berangkat kerja tidak terbawa ke pasien. Yang wanita Harbin juga sudah menjalani transplantasi. “Dokter saya di Jepang yang minta saya segera pulang. Mereka sama sekali tidak punya rasa rendah diri meski pekerjaannya tukang pel lantai. Juga sudah bisa tertawa. baru sadar bahwa mereka adalah perawat atau pesuruh yang tadi melayani saya. Bajunya. Sepatunya sepatu kungfu yang murahan. juga kalau bertemu orang seperti tidak punya rasa rendah diri. “Perut saya yang mulai buncit dulu itu. saya masih sering kecele kalau suatu saat disapa wanita yang sangat modis dan ceria di dalam lift atau di lobi.

(Bersambung) 84 by Moezhanks . Hampir dua jam. Meski Tandes-Kertajaya begitu jauhnya. Saya sudah minta manajemen Graha Pena untuk menghitung konsekuensi biayanya. lipstik. Bisabisa dijual. sekadar berdemo. ’tawaduk’. Yang kasur tipisnya harus dihampar di lantai. Selesai wawancara. Miskin Bermartabat” belum menjadi budaya. eye shadow. Tapi. pemda yang menginginkan kotanya cantik dan menarik harus memberikan penduduknya yang wanita barangbarang ini secara gratis: Baju. Hanya cukup untuk naik bemo berangkatnya. saya hanya punya uang Rp 75 di saku. kalau yang lalu-lalang di dalamnya kumuh-kumuh. Kalaupun dilakukan. penampilan Graha Pena juga akan lebih “keren”. ’sopansantun’. membangun kepercayaan diri begitu pentingnya. kok ingat dia lagi sih?). filsafat “Kaya Bermanfaat. Salah satu kesimpulan saya. Saya pulang dengan jalan kaki. Saya tahu isinya pasti uang. misalnya. Mereka bisa membedakan ’rendah diri’ dan ’rendah hati’. Ide itu tentu tidak mungkin dilakukan. Dari penampilan para perawat dan tukang pel di rumah sakit ini.mandinya dipakai bersama beberapa rumah tangga. Yang juga mudah dibayar untuk. “Kaya Bermanfaat. Saya menolaknya meski di saku tidak ada lagi uang sepeser pun. saya belajar bagaimana menjalani pekerjaan rendahan dengan jiwa yang kuat. belum tentu lipstiknya digunakan. agar murah. bangsa yang kalau melihat orang kaya yang muncul kecemburuannya. Sedangkan kita. ditanggung sendiri. tapi berjilbab pun akan dicarikan jilbab yang modis. nggak menarik jadinya. yang sebenarnya tetap bisa kita lakukan tanpa harus jatuh ke derajat ’rendah diri’. Sebab. Lalu muncul ide gila yang tidak masuk akal. para wanita yang lalu lalang di kota itu harus juga terlihat cantik. Jarang saya lihat orang Tiongkok yang merasa rendah diri. Waktu harus pulang ke Kaltim. kalau di rumah sakit ini. Atau. Maka. kalau tidak mau dibilang kurang ajar. Bangsa yang mudah disogok dan dipermainkan. ternyata ada baiknya juga dia pulang lebih dulu. Saya khawatir dengan istri saya. Yang airnya dari sumur yang harus ditimba sendiri. Waktu harus wawancara ke daerah industri di Tandes Margomulyo. Kalau tidak. dan biaya ke salon. Saya kepingin sekali meniru ini di Graha Pena. saya diberi amplop. Karena beberapa kali harus berhenti untuk menghindar dari panasnya Surabaya. Dan harga diri pegawai yang di situ sama tingginya. saya bilang kepada sopir agar boleh naik di kursi dekat sopir. lalu dari Jembatan Merah ke Tandes Rp 50. sering terbelit filsafat ’unggah-ungguh’. di Graha Pena kami akan mencoba memberikannya secara cuma-cuma kepada pegawai bagian cleaning service-nya. Untuk membuat kota-kota di Indonesia cantik. Kalau upaya meniru ini berhasil. Lalu naik kendaraan umum berupa jip terbuka yang penuh sesak dengan penumpang. Belum ada bus waktu itu. tulisan ini tidak akan bisa selesai tepat waktunya.” kata saya. Kembali ke dua wanita tadi (eh. Tapi. Betapapun bersihnya sebuah kota. Tentu semua biaya seperti itu. Miskin Bermartabat” akan membuat bangsa ini tidak gampang jatuh ke derajat bangsa-pengemis. tentu banyak orang yang akan memberi saya tiket. “Istri saya hamil muda. saya pilih naik kapal kayu ke Banjarmasin dulu. Tentu tidak harus sampai pada hot pants. sepatu. Petugas cleaning service tidak harus merasa rendah diri. Dari Kertajaya ke Jembatan Merah Rp 25. Maka.

4. Korea. 2. kalau ada waktu membahasnya lebih dalam. Selama makan sang istri merengut saja. Hanya satu-dua yang mengatakan. Tidak perlu lagi tambahan apa-apa. Tersedianya peralatan yang canggih ini sangat terkait dengan kemampuan dana dan 85 by Moezhanks . “Semua ini karena Allah dan kepintaran para dokternya.” Tapi. Saya tidak ingin para dokter menjadi ngambek seperti humor ngambek-nya seorang istri yang sudah terkenal itu: Suatu saat sebuah keluarga ingin mengundang makan malam seorang suci. 3. 5. rumah sakit ini tergolong yang terbaik di dunia.” Ucap sang suci mengakhiri doanya. Keberadaan donor yang sangat prima. Engkau telah menyediakan makanan yang lezatlezat ini. Kondisi badan saya yang masih baik. Mau yang religius atau yang ilmiah. Terutama ingin menulis sesuatu agar para dokter tidak kehilangan semangat karena tidak dipuji sama sekali. di Indonesia pun tidak akan kalah. 6. Siapa yang bisa membantahnya? Siapa yang berani mempersoalkannya? SMS yang masuk ke saya pun hampir semuanya bernada begitu. Keahliannya pasti tidak kalah dengan dokter Singapura. jawabnya ini: semua itu berkat tangan Tuhan. saya tidak perlu lagi menulis. Soal keahlian dokter. Saya tidak diberi tahu alat yang mana. si istri menggugat suaminya: Tidakkah tadi kau laporkan kepada sang suci bahwa sayalah yang sehari penuh menyiapkan makanan ini? Saya tidak ingin para dokter njegol seperti si istri itu. Waktu mau makan. rasanya sulit menentukan. Bagaimana bisa punya pengalaman transplantasi liver 150 kali setahun kalau di negeri itu orang tidak bisa mendonorkan organnya? Mengenai kecanggihan peralatan. Sang istri sehari penuh sibuk menyiapkan makanan yang lezat-lezat. Kalau mau pendek dan tampak religius. Kecanggihan peralatannya. Selesai. saya ingin menulis. Mereka mengatakan semua ini karena Allah. Sudah tentu tidak hanya faktor keahlian dokter yang menjadi satu-satunya kunci sukses. Keahlian dan pengalaman dokternya. Baik karena langkanya donor maupun minimnya peralatan. Jepang. Tapi. pasti juga akan diketahui ranking-nya. Faktor mana yang terpenting. tapi Jangan Buru-Buru Merasa Sehat 24 September 2007 MENGAPA operasi transplantasi liver saya berhasil? Setidaknya sampai hari ini? Faktor apa saja yang memengaruhinya? Jawabnya dua macam: mau yang pendek atau yang panjang. kesempatan untuk memperoleh pengalaman yang banyak sangatlah minim. “Terima kasih. dan di rumah sakit ini. Tapi. Bahkan. Setelah sang suci pulang. Saya pernah menerima keluhan dokter ahli bedah jantung seperti Prof Dr dr Paul Tahalele. Tuhan. sang suami meminta sang suci membacakan doa. ada satu alat yang hanya empat di dunia: di AS. Kemampuan manajemen rumah sakit dan tim operasinya. kalau jawabnya itu. Saya mencoba merincinya sebagai berikut: 1. Saya ingin memujinya. Kemajuan obat-obatannya. Tapi.Ganti Hati 30 – Banyak Faktor Keberhasilan.

Kepada mereka (baik yang sudah pensiun maupun yang belum). obat antiinfeksi juga sudah membuat kegagalan karena infeksi amat minim. juga ditentukan oleh kondisi pasien. Misalnya. Teman-teman. masak bisa diralat? Yah. Mungkin akan mendapat juga donor. Toh semua donor sudah diperiksa kualitasnya. Tapi mulai lemas di hari-hari berikutnya. Tergantung perasaan saya seberapa saya merasa bersalah. Mereka juga melihat tanda-tanda nonfisik yang saya lakukan. Bahkan. semua itu tidak saya informasikan kepada keluarga atau teman-teman. tentunya donor seperti apa pun akan diterima. “Apakah Pak Dahlan sudah mau mati? Mau khusnul khotimah?” komentar seorang teman secara diam-diam tapi sampai juga ke telinga saya. dua-duanya belum bisa banyak dinanti. Untuk Indonesia. Atau. tapi kondisi badan saya sudah tidak bisa lagi menunggu lebih lama. Terutama kalau mereka melihat tanda-tanda fisik saya: mulai dari sudah muntah darah. Kalau saja kemajuan obat-obatan tidak seperti sekarang. Saya juga sering mengadakan khataman Alquran yang diikuti para hafiz (orang yang hafal Quran). antara lain. Tapi kalau sudah telanjur marah. Rupanya. 86 by Moezhanks . Kalau sejak sebelum operasi saya optimistis bahwa transplantasi ini akan berhasil. Kebetulan. mungkin banyak yang pesimistis. Apalagi saya juga menyelenggarakan zikir-pidak dan ikut mendengungkan kalimat syahadat yang sudah di-compress menjadi kata pendek hu itu ribuan kali. Hanya saya dan tim saya yang tahu. itu tentu ada kelas-kelasnya. Untuk kegagalan transplantasi liver karena rejection. tapi kualitasnya belum tentu sebaik yang ada di dalam badan saya sekarang. Di bidang kemajuan obat-obatan harus diakui bahwa kemajuan penemuan obat baru bukan main cepatnya. Misalnya. Bahwa ada kualitas I atau II. Begitulah nasib dokter kita meski itu juga dialami bidang yang lain. dia menghubungi saya lewat SMS: saya menyesal mengapa dulu tidak pernah dimarahi. Kondisi pasien yang prima memegang peran penting karena banyaknya komplikasi juga akan menyulitkan. Obat sinkronisasi liver baru dengan organ lain sudah amat sempurna. tapi saya yakin sudah telanjur melukai hati mereka. Kalau saja terlambat mengambil keputusan. Salah satu pasien yang saya kenal kelihatan gembira sekali di hari pertama dan kedua setelah keluar dari ICU. antara lain. Ini karena jantungnya memburuk. Mendapatkan donor yang prima pun. Ada yang cuma Rp 5 juta. Itulah sebabnya. sekarang jumlahnya hampir nol. Kegagalan yang terbanyak kini karena tekanan darah tinggi dan gula darah. Kadang saya sadari bahwa ternyata tidak seharusnya saya marah karena ternyata dia tidak salah. obat-obatan yang harus dimakan setelah transplan menimbulkan efek samping di dua sektor itu. ada yang sampai Rp 100 juta. saya berikan uang. saya tiba-tiba mengundang teman-teman yang ketika bekerja di Jawa Pos dulu pernah saya marahi. “Boleh nggak sekarang saja dimarahi. Asal kemudian ikut diundang. saya sering juga kemudian minta maaf. bagi-bagi uang ini terdengar juga oleh pensiunan karyawan yang lain. Tentu. kalau saja saya tidak sabar menunggu. saya membuat keputusan justru harus melakukan transplantasi ketika saya masih sehat. Mereka aktif berpindah-pindah di Surabaya dan tiga bulan sekali di rumah saya. mungkin juga banyak halangannya. kalau saya sabar. dan wajah sudah menghitam. sudah bengkak. saya sudah menghitung semua faktor di atas. juga para pemegang saham.keinginan pemimpinnya. akan lain hasilnya. Maksud saya ketika organ-organ lain saya masih baik. Sebab. Lantas.” katanya. saya tidak memiliki bakat darah tinggi maupun gula darah.

Para pemegang saham juga sangat khawatir ketika saya minta bertemu dan menyampaikan sesuatu yang amat sangat pentingnya. Itu bukan lemari pakaian karena kami tidak perlu lemari untuk pakaian. “Saya yang akan atur. tidak lebih dari sepuluh. Singapura sudah amat berpengalaman. terbuat dari tanah). Mereka tidak tahu bahwa saya ingin belajar dari buku itu. Akhirnya meninggal dunia. Makanan juga disimpan di situ -kalau kebetulan ada. Lemari yang ada itu bikinan bapak sendiri untuk menyimpan apa saja: kaleng bekas. Apalagi setelah melakukan transplantasi liver ini. Singapura memang punya reputasi yang baik untuk perawatan pascaoperasi. Ditulis dengan kapur lunak. sekeluarga. Pelajaran lain yang saya dapat adalah: Jangan buru-buru merasa sehat dulu. Ini menambah kuat tekad saya untuk melakukan transplan ketika kondisi badan saya masih kuat.” tulis Madame Ho Ching dalam emailnya kepada saya. kanker sudah lebih menyebar lagi. Baju kami. Artis itu sudah amat terlambat melakukannya. Pelajaran penting yang saya peroleh dari buku itu adalah ini: jangan terlambat ambil keputusan transplantasi. buku yang saya baca adalah buku kisah artis terkemuka Tiongkok yang meninggal muda setelah transplantasi liver. termasuk talk show dan jumpa fans di kotakota yang jauh. Karena itu. Belum dua bulan sudah sibuk menghadiri berbagai acara. Kankernya sudah telanjur menyebar ke bagian tubuhnya yang lain. sepulang dari Tiongkok nanti. saya akan mampir dulu di Singapura beberapa hari. Kakak sulung saya memang pernah mencatat tanggal kelahiran saya. istri perdana menteri Singapura yang juga CEO Temasek Group. “Apakah yang Anda lakukan ini ada hubungannya dengan sakit Anda?” tanya seorang pemegang saham. dan sebangsanya. Cukup disangkut-sangkutkan di paku yang menancap di dinding. Tapi. dan leper (tempat mengulek sambal. Akhirnya. “Mbok jangan baca buku yang begituan.” Maksudnya jangan membaca yang seperti memberikan isyaratisyarat bahwa saya akan gagal dan meninggal. Berhasil. Kebetulan. dia harus transplantasi lagi di kota ini. Itu bisa dilakukan dalam rangkaian perjalanan saya pulang kelak. Sampai-sampai tim saya bilang. Kian Tidak Jelas Hitungan Umur Saya 25 September 2007 UMUR berapakah saya sekarang? Tepatnya saya tidak tahu. Yakni di balik pintu lemari kayu yang kasar. 87 by Moezhanks . juga minta agar saya menjalani review di negaranya. dia melakukan transplantasi dalam keadaan sudah amat terlambat. cobek (mangkuk terbuat dari tanah). Bahkan. Terutama: mengapa gagal? Apa yang tidak boleh saya tiru agar saya tidak gagal? Juga ada maksud saya yang lain lagi: belajar membaca huruf Mandarin. Madame Ho Ching. Juga karena kami tidak bisa beli lemari. untuk transplantasi “separo hati”. Sambil menunggu saatnya transplantasi pun. Transplantasi pertama dilakukan di Beijing. Juga berhasil. diambilkan dari kapur yang biasa dipakai nenek untuk makan sirih. Padahal. piring seng untuk makan. (Bersambung) Ganti Hati 31 – Setelah Transplantasi.

pergilah lemari dari rumah kami -dan hilanglah catatan tanggal lahir saya. Yang selalu diingat hanya hari dan pasarannya.” kata yang lain. Kalau toh ada orang yang selamatan kecil dikaitkan dengan hari kelahirannya. Dengan ciduk yang sama: tidak terpikirkan itu sebagai sarana yang efektif untuk menularkan virus hepatitis. Di lain kali saya tidak diterima di kalangan Muhammadiyah. saya ini orang apa. Kalau mau makan. tapi bisa mengurangi rasa malu. gambar pulaunya lebih banyak dan lebih lama hilangnya. Namun. Tapi. sebelum disapu harus dikepyur-kepyur dulu dengan air. bapak ingat saya lahir Selasa Legi. salat id tidak mau di lapangan. Kalau bulan Syura. Kami makan sambil duduk di lantai. Tanggal itu penting bagi anak-anak miskin karena berarti akan ada selamatan. Kalau musim hujan. Suatu saat saya dicap sebagai Muhammadiyah. saya ingat. Posisi duduk anak kecil seperti saya sangat minggir -kadang hanya dapat separo pantat saja yang di atas tikar. saya sudah harus bisa menyapu lantai. sepupu-sepupu saya yang sudah dewasa semua jadi anggota Banser. bukan Naqsyabandiyah. Dan ketika terjadi Gestapu/PKI di tahun 1965. Bau kencing itu akan hilang dengan sendirinya kalau tanahnya sudah kering lagi. kami selamatan Rebo Wekasan. Lagi pula. wayangan Murwad Kolo. Untuk apa diingat? Untuk ulang tahun? Emangnya perlu ulang tahun? Bahwa orang itu ternyata bisa diulangtahuni belum pernah saya dengar sampai saya masuk SMA. Karena itu. yang berarti cucu Rasulullah. Perbedaan dua golongan itu sudah kian cair. salatnya pakai doa kunut. Juga menyenanginya -terutama saya punya kesempatan untuk me-ngepyur-kan air lebih banyak di dekat pulau ompol untuk mengamuflasekannya. 88 by Moezhanks . dan juga lemari satu-satunya itu. suasana juga sudah tidak seperti itu lagi. Dari segi ini. Meski akan menghabiskan air lebih banyak. kami antre minum airnya. lantai tanah sangat ramah lingkungan -setidaknya hidung kami sudah biasa tidak menghiraukannya. barulah dihamparkan tikar. apa pun dijual. Di atas tikar itu juga kami tidur. kini. Maka. Tiap pagi. Bahkan. Inilah keunggulan yang tak tertandingi dari lantai tanah: Bisa menyerap ompol sebanyak-banyaknya! Dia seperti popok abadi! Tidak perlu dibuang yang sampahnya bisa merusak lingkungan. Karena lantai itu akan menimbulkan debu. Selasa Legi yang tanggal berapa. kami juga ikut Kejawen: Bersih desa. Setelah kenduri. Ke dalamnya dimasukkan rajah kertas yang ditulisi huruf Arab yang ruwet. entah apa bunyinya. kiai kami menaruh gentong (tempat air yang besar terbuat dari tanah) dengan air yang penuh. Yang biasa diulangtahuni adalah orang mati. Lantai itu terbuat dari tanah karena tidak mampu menyemennya. “Lihat dia dari keluarga Masyumi. Kami keluarga santri. orang memang tidak peduli dengan tanggal lahir. wiridannya pakai tahlil. Itulah peringatan meninggalnya Sayidina Hasan dan Husein. Anehnya. Di desa. Misalnya. aliran tarikat kami Syatariyah. itu dilakukan setiap 35 hari sekali. Pakai selamatan dan tahlilan. Sejak masih ngompol. yang aslinya milik aliran Syiah. ketika tikar dilipat.” kata seorang tokoh. Tidak ada kursi atau meja makan. setiap Selasa Legi.Itulah satu-satunya perabot rumah tangga bapak saya. aliran politik keluarga kami adalah ini: Masyumi. Saya sangat ahli me-ngepyur-kan air ke lantai ini. bulan berapa. Paginya. “Dia tahlil. putra Sayidina Ali dan Sayidah Fatimah. Pada selamatan ini. keluarga kami tidak mengenal itu karena kurang kejawen. Semoga di langit sana tidak ada pengelompokan seperti itu. alat-alat tukang bapak yang bisa dirombengkan. sering ada gambar pulau di lantai tanahnya: ngompol. Kami hafal semua kapan meninggalnya siapa. tidak ingat. Setelah ibu sakit (seperti sakit saya ini). Tapi. Lebih aneh lagi. Saya sendiri tidak peduli. nyekar ke kuburan. Ibadahnya pakai aliran NU ahli sunnah wal jamaah: tarwihnya 21 rakaat (sampai sekarang). itulah tugas pertama masa kecil saya: menyapu lantai. Sawah warisan yang hanya secuil. gambar pertama yang bisa saya buat ketika kecil adalah lambang partai itu: Bulan bintang. Jangan gusar.

waktu itu. Sampai tamat SMA.5 bulan setelah ganti hati ini.Asal-usul keluarga kami adalah pelarian dari Jogja. Habis jalan jauh pun tidak berkeringat. “Hampir tidak ada kesulitan apa pun”. Saya putuskan sendiri saja: Saya lahir tanggal 17 Agustus 1951. Apakah harus dijumlah lalu dibagi dua? Atau masingmasing diberi bobot dan nilai? Lalu. setelah ganti liver. 6 km dari pusat keluarga itu. saya malas melakukan riset kapan saja Gunung Kelud meletus. Sampai 1. jawabnya tegas: Selasa Legi. Juga setelah sedikit senam atau joging. 89 by Moezhanks . Jadi keluarga tani. kemudian jatuh ke buruh tani. Kini. tapi kemudian kawin dengan ibu saya. Sudah tiga tahun saya tidak pernah berkeringat. Untunglah. Kecuali satu: Rongga dada saya sudah mengecil. Tentu. saya belum peduli dengan tanggal lahir dan karena itu juga tidak pernah bertanya ke bapak. Antara hati dan tulang iga. begitu habis makan. Hidup di desa. memang tidak boleh ada ruang kosong. terutama yang bisa membuat dada saya mekar lagi. antara lain ke timur. Begitu hebatnya sampai desa saya yang jaraknya lebih 100 km dari gunung di Blitar itu dalam keadaan gelap selama sepekan. Dan. Ulang tahun saya adalah Selasa Legi. Badan saya berumur 56 tahun.” kata bapak saya sambil berpikir keras. saya sudah mulai bisa merangkak! Kini. Yang lebih saya pikirkan adalah bagaimana hati baru itu bisa kerasan menjadi “keluarga besar Dahlan Iskan”. saya tidak dianggap memalsukannya. tapi hati saya belum lagi berumur 25 tahun. Bagi saya. Saya sendiri tidak menyadari dan tidak mengetahui itu. “ada hujan abu yang sangat hebat. kian tidak jelas lagi saya ini berumur berapa. Semua parameter darah normal. Tapi. Titik. Sekaligus jadi pusat Pesantren Sabilil Muttaqin. Tiwas nanti merasa ge-er karena hitungannya jatuh bahwa saya baru berumur 38 tahun atau 45 tahun. Tanpa dukungan surat kenal lahir. tidak tahu tanggal lahir tidak penting-penting amat. bukankah setiap 35 hari ada Selasa Legi? “Waktu itu. bobot dan nilai dikalikan seperti ajaran ilmu manajemen problem-solving yang sangat memengaruhi saya kalau ambil keputusan? Untuk apa juga saya pikirkan. Ketika sudah amat dewasa dan saya bertanya kepada bapak mengenai kapan saya dilahirkan. Tapi sudah diakui di banyak negara. ibu saya tidak tinggal di pusat keluarga itu. Itulah tanggal lahir yang secara resmi saya pakai di dokumen apa pun sampai sekarang. secara alamiah. Bapak saya adalah abdi di pusat keluarga itu. rasanya bisa. Karena saya dari jalur wanita. Saya memang harus banyak senam.” Maksudnya ketika Gunung Kelud meletus. berusaha menyesuaikan dengan ruang yang dilindunginya. Lalu beranak-pinak dan ada yang membuka hutan di timur Gunung Lawu untuk dijadikan kampung: Takeran. Ibu harus ikut bapak saya. Bukankah bisa ditelusuri kapan Gunung Kelud meletus? Soalnya bukan hanya itu. Yang juga menggembirakan saya adalah: sekarang saya bisa berkeringat. tulang iga menyesuaikannya. Jadilah bapak-ibu saya tinggal di desa. Yakni setelah Pangeran Diponegoro kalah karena ditipu oleh Belanda. ketika Gunung Kelud meletus. Ini karena liver lama saya juga mengecil. Buktinya. Para panglima perangnya melarikan diri. ke Banjarsari di selatan Ponorogo. tidak ada administrasi yang memerlukan tanggal lahir. Bapak saya kemudian menyebut. Jadi tulangtulang iga ikut bergerak ke dalam. Tahunya ketika anak wanita saya bertanya kepada dokter: apa saja kesulitan dokter dalam melakukan transplantasi liver malam itu? Dokter mengatakan. saya belum pernah merayakan ulang tahun sehingga tidak kian ruwet memikirkannya. kondisi saya terus saja membaik. Ketika hati mengecil. Mengapa? Selama ini rongga dada saya ternyata dalam proses mengecil. langsung berkeringat.

saya kurang pandai menjelaskan bahwa sakit saya ini bukan karena kerja keras. daripada umur panjang tapi tidak bisa berbuat banyak. carry over problems masih terbawa. secara umum. sebaiknya tidak kerja keras lagi. Bangsa ini memerlukan puluhan juta orang yang gigih. bukan? Itulah sebabnya saya memperbanyak senam agar liver baru saya bisa “bernafas” dengan lebih lega dan itu berarti membuatnya semakin kerasan tinggal di dalam badan saya. Tentu memperlambat juga amat baik. Kebiasaan lama orang-orangnya tidak bisa begitu saja berubah. teman di Batam yang lahir di Padang itu. saya tidak memilih itu karena saya punya filsafat sendiri dalam menyikapi umur manusia. jangan dikaitkan dengan kerja keras. melainkan memperlambat saja perkembangannya. jangan sampai terkena virus hepatitis seperti Pak Dahlan Iskan! *** Kesan yang lain dari serial tulisan saya ini adalah bahwa rumah sakit-rumah sakit di Tiongkok hebat. tapi karena saya terkena virus hepatitis B. Sesak. setelah virus itu berkembang menjadi sirosis dan kemudian kanker. ketika dokter mau “memasang” liver baru di ruang yang ditinggalkan liver lama. Saya memilih berumur pendek tapi bermanfaat. Belajar manajemen dan pelayanan rumah sakit jangan ke Tiongkok. ya berumur panjang. saya jadi merasa bersalah. 90 by Moezhanks . Sehingga menaruhnya jadi agak sulit. Kalau saya akan dijadikan contoh jelek. Misalnya. ya bermanfaat. Misalnya. Tapi. saya akan memilih yang terbaik. Hanya. tapi masih belum mencapai tingkat kecanggihan seperti di Singapura. Memang. lebih baik. Seorang ibu sampai menasihati anaknya begini: Jangan kerja terus seperti itu. itu bukan berarti akan menyembuhkan sakitnya. bahkan di Malaysia sekalipun. Liver baru masih dalam ukuran normal. Kepada para dokter itu. belakangan ini semakin banyak rumah sakit di Tiongkok yang lebih modern. Terutama yang swasta. meski secara fisik dan peralatan sudah amat modern. melainkan kaitkan saja dengan kecerobohan. ruangnya agak terasa kesempitan. Nanti seperti Pak Dahlan Iskan! Setelah menerima SMS dari Saudara Socrates. Tentu. (bersambung) Ganti Hati 32 – Kini Ada Simbol Mercy di Perut Saya (Sebuah Penutup) 26 September 2007 ADA kesan yang mendalam bahwa sakit saya yang parah kemarin-kemarin itu karena saya kerja terlalu keras. Ini karena. Jalan pikiran saya itu biasanya saya ungkapkan ke temanteman dengan istilah: intensifikasi umur. Sampai-sampai beberapa dokter menghubungi saya bagaimana kalau mereka studi banding ke Tiongkok untuk belajar manajemennya. Ternyata.Akibatnya. saya bilang bahwa ide tersebut kurang tepat. Manajemen dan pelayanan rumah sakit-rumah sakit kita. Masih perlu satu kurun lagi untuk mencapai tahap itu. Tentu kalau masih ada pilihan lain. Memang. saya akan merasa sangat berdosa kalau gara-gara tulisan saya ini banyak orang takut bekerja keras.

Sampai sekarang. saya hanya memberikan contoh dengan cara mengelap sendiri bagian-bagian yang kurang bersih itu di depan dia. membatasi keluarga yang harus wira-wiri. Makan dengan masak sendiri atau setiap makan ke restoran? Dan banyak lagi. dan sebagainya. lebih cepat daripada waktu yang kita perlukan. saya yakin tidak lama lagi rumah sakit di Tiongkok akan mencapai tahap seperti Singapura. dan konsumsi saya sekeluarga. transportasi lokal. yang terbanyak adalah untuk pendukungnya. Itu pun sewa saja. Tapi. Imunisasi yang sekali suntik Rp 70. Tapi. Semua dokter fokus bekerja di rumah sakit. saya akan jual kalau harus melakukan transplantasi ini. Di Tiongkok juga jangan tinggal di hotel. Seandainya saya hanya punya rumah seperti itu pun. tapi cari apartemen murah saja. Mungkin seharga rumah tipe 100 di lokasi yang sedang. semua rumah sakit masih milik pemerintah.000 memang mahal. juga sekaligus menyadarkan betapa mahalnya sehat itu. Lama-lama standar kebersihannya berubah. untuk kasus saya ini. Kalau waktu itu tidak menjual rumah. Tapi. Rumah sakit juga menjadi sentral semua urusan kesehatan karena tidak boleh ada dokter praktik di sana. Karena mereka sangat unggul di situ. Misalnya. Kalau semua biaya itu ditotal. petugas menilai “sudah amat bersih”. Biaya operasinya sendiri tidak besar untuk ukuran saya. termasuk alatalat tukang kayunya. biaya operasinya sendiri tidak sampai 20 persennya. Biasanya. *** Semua itu tidak ada artinya dibanding nilai kesehatan yang saya peroleh. Saya tidak bisa marah karena tahu berapa gajinya dan bagaimana latar belakang ekonominya. biaya terbesar sebenarnya bisa ditekan sesuai dengan kemampuan.Saya sendiri sering berdebat dengan petugas kebersihan toilet di Graha Pena Jawa Pos Surabaya mengenai pertanyaan ini: sudah bersihkah toilet ini? Saya menilai belum. apa artinya dibanding yang harus saya keluarkan ini? 91 by Moezhanks . Tapi. Misalnya. Satu orang dan yang lain tidak akan sama. Transportasi yang bagaimana juga memengaruhi besarnya biaya. dan satu-satunya. Itu juga yang dilakukan bapak saya ketika ibu sakit: Menjual apa pun. Biaya itu juga sudah termasuk pengobatan sejak terjadinya muntah darah pada 2005. Kalau toh mau belajar ke Tiongkok adalah mengenai keseriusan riset dan semangat untuk majunya. Jadi. Dari seluruh pengeluaran. sewa enam bulan (tidak bisa sewa kurang dari enam bulan). akomodasi. itu karena tidak akan ada orang yang mau membeli rumah lantai tanah di pelosok desa. wira-wiri saya sekeluarga dari Indonesia ke Tiongkok. Kecepatan itu akan fantastis kalau saja Tiongkok mengizinkan berdirinya rumah sakit swasta. *** Berapakah biaya yang saya keluarkan untuk mereparasi organ-organ saya itu? Kalau di penutup tulisan ini saya memberikan isyarat jumlahnya. memang perlu waktu dan kesabaran. Misalnya. Naik kendaraan umum? Taksi? Beli mobil sendiri? (Kebetulan saya beli mobil kelas Toyota Corolla dan itu berarti juga harus punya sopir). Saya bisa memahami itu karena toilet ini mungkin sudah lebih bersih daripada kamar tidur di rumahnya sekalipun. itu sudah meliputi semua pengeluaran.

Yakni. tapi kira-kira sama harganya. simbol Mercy di kulit perut saya itu tidak sempurna. Boleh juga dibilang sayatan dari satu titik di tengah ke tiga arah. saya tidak gagal. Barmen. Juga banyak sekali orang kerja keras yang karena didorong niat mulia -dan kekayaan hanya datang membuntutinya. Dahlan Iskan akan menjawab e-mail dan SMS dari pembaca. Waktu tua menghabiskan kekayaan itu untuk membeli kembali kesehatannya -dan banyak yang gagal. Jelek wujudnya. adalah Mercy seri 500 keluaran 2005 yang dibeli dengan harga sekitar Rp 3 miliar. Seperti simbol Mercy yang digambar oleh anak berumur tiga tahun. tetap mahal citranya. Atau sekadar hobi. (TAMAT) _________________________________________ Tulisan bersambung Pengalaman Pribadi Dahlan Iskan Ganti Liver berakhir hari ini pada seri ke-32. Jelek. Satunya lagi “Mercy” di kulit perut saya. Mulai besok disambung dengan Hati Baru Menjawab. Seperti Pak Moh. Tapi. Mainannya ya mengurus sepak bola itu. tapi juga dengan tanda baru di kulit perut saya. *** Kini saya tidak hanya hidup baru dengan liver baru. 92 by Moezhanks . Jelek tapi tetap terlihat Mercy-nya. Yang satu. yang di rumah. Kini saya punya dua Mercy. tokoh olahraga di Surabaya. tidak tahu seri berapa. bekas sayatan dari tiga arah yang menyatu di tengah. tanda mirip simbol mobil Mercy (Mercedes Benz). Mainannya ya kerja keras itu. Dan lagi. Di dunia ini banyak orang yang kerja keras tanpa bermaksud kerja keras. Kebetulan. saya kerja keras tidak semata-mata untuk mencari kekayaan.Saya ingat kata-kata bijak di laboratorium Prodia: Waktu muda mati-matian bekerja sampai mengorbankan kesehatan untuk memperoleh kekayaan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful