Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver

Oleh: Dahlan Iskan iskan@jawapos.co.id

Ganti Hati 01 - Harus Turun Mesin, karena Organ-Organ Saya Rusak Parah
26 Agusutus 2007 Pagi ini, hari ke-20 saya hidup dengan liver baru. Kelihatannya akan baik-baik saja. Tidak ada tandatanda kegagalan seperti yang dialami Cak Nur (Nurcholish Madjid, tokoh yang digadang-gadang menjadi salah satu calon presiden), yang menjalani transplantasi liver di Tiongkok pada 19 Juli 2004. Kadar protein dalam darah saya yang tidak pernah bisa normal, kini menjadi sangat baik. Salah satu unsur penting di protein itu, albumin, sejak liver saya diganti sudah mencapai angka 3,6. Selama lebih dari 10 tahun saya hidup dengan kadar albumin yang hanya 2,7. Padahal, normalnya paling tidak 3,2. Rendahnya kadar albumin membuat tubuh saya tak mampu membuang kelebihan air, baik dalam bentuk keringat maupun kencing. Sehingga air yang berlebih ikut darah beredar ke seluruh tubuh. Akibatnya, tubuh saya jadi “gemuk”. Karena itu, kalau ada orang memuji badan saya terlihat lebih gemuk dan segar, dalam hati sebenarnya saya menderita. Sebab, saya tahu, tubuh saya tidak sedang gemuk, tapi bengkak! Begitu liver diganti dan albumin normal, badan saya langsung susut. Tapi tidak kuyu, melainkan sebaliknya: lebih segar. Dua hari pertama pascatransplantasi, kencing saya bisa mencapai 10 liter sehari. Sebagian karena memang banyak cairan yang masuk ke badan, sebagian lagi karena air yang tadinya beredar bersama darah, sudah bisa dipisahkan oleh albumin dan dikirim ke kandung kemih. Platelet atau trombosit saya, yang seharusnya minimal 200, pernah tinggal 55. Dengan platelet serendah itu, saya terancam mengalami perdarahan dari mana pun: mulut, hidung, lubang kemaluan, telinga, dan mata. Untuk menyelamatkan saya dari ancaman itu, dokter lantas memotong limpa saya hingga sepertiga. Setelah limpa dipotong, platelet saya naik sampai 120. Sayangnya, itu tidak lama. Perlahan-lahan angka itu menurun secara konstan. Terakhir tinggal 70. Hampir sama dengan sebelum limpa saya dipotong. Tapi, setelah liver saya diganti, platelet saya langsung naik. Tiga hari lalu angkanya sudah mencapai 260. Normalnya, antara 200 sampai 300. Mengapa saya memutuskan ganti liver? Tidakkah takut gagal? Mengapa liver saya sakit? Separah apa? Bagaimana jalannya penggantian liver? Bagaimana mempersiapkan diri? Bahkan sampai ke doa apa yang saya ucapkan? Semua akan saya tulis untuk berbagi pengalaman dengan pembaca.

1

by Moezhanks

Cerita ini mungkin akan agak panjang (bisa 50 hari). Bukan karena saya mau berpanjang-panjang, tapi karena redaksi membatasi saya untuk menulis hanya sekitar 1.000 kata di setiap seri. Berikut saya mulai dengan seri pertama ini. (Nama-nama dokter, rumah sakit, sengaja baru akan disebutkan di bagian-bagian akhir tulisan): *** Di umur 55 tahun ternyata saya harus “turun mesin”. Begitu parahnya kerusakan organ-organ di dalam badan saya sampai harus pada keputusan menambal seluruh saluran pencernaan saya, memotong sepertiga limpa saya, dan mengganti sama sekali organ terbesar yang dimiliki manusia: liver. Turun mesin total itu harus diatur sedemikian rupa karena mesin yang sama harus tetap menjalankan tugas sehari-hari, yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Maka, saya pun mulai membuat jadwal turun mesin. Dimulai yang paling membahayakan agar yang penting nyawa bisa selamat dulu. Ternyata saya memang terancam meninggal dunia dari tiga jenis penyakit. Yang pertama adalah yang bisa membuat saya meninggal mendadak kapan saja tanpa penyebab apa pun. Tiba-tiba bisa saja saya muntah darah dan tak tertolong lagi. Ini karena seluruh saluran pencernaan saya, mulai tenggorok sampai perut sudah penuh dengan varises yang menor-menor karena sudah matang dan siap pecah. Ibarat kumpulan balon-balon kecil berwarna merah, yang kulitnya sudah tipis seperti balon yang ditiup terlalu keras. Kapan meletusnya bisa setiap saat. Saat meletus itulah orang akan muntah darah dan tak tertolong lagi. Penyakit kedua, yang bisa membuat saya meninggal dalam hitungan bulan adalah jumlah darah putih saya yang terus merosot. Mengapa? Karena limpa saya sudah membesar tiga kali lipat dari ukuran normal. Limpa yang tugasnya antara lain mengubur sel-sel darah merah yang mati (dengan darah putih yang diproduksinya), tidak mampu lagi berfungsi baik. Platelet saya yang seharusnya antara 200-300, hari itu tinggal 60. Itu pun dalam posisi terus menurun. Pada penurunan beberapa poin lagi, saya akan menderita perdarahan dari mana saja: bisa dari hidung, dari telinga, dari mulut, atau dari mata. Limpa sendiri bisa juga pecah karena sudah tidak kuat lagi akibat terus membesar. Yang ketiga, ya liver saya sendiri, yang ternyata sudah amat rusak. Setelah liver saya dibuang setahun kemudian, tampaklah nyata bahwa liver saya sudah seperti daging yang dipanggang terlalu masak. Padahal, seharusnya mulus seperti pipi bayi. Ini yang bisa membuat saya meninggal dunia dalam hitungan dua-tiga tahun. Bahkan, sebenarnya liver itu yang membuat limpa saya membesar dan membuat seluruh saluran darah di sepanjang pencernakan saya penuh dengan balon-balon darah yang siap pecah. Maka, satu per satu harus saya selesaikan. Saya mulai dari mengatasi agar tidak terjadi muntah darah. Lalu, setengah tahun kemudian memotong limpa saya. Dan, terakhir 6 Agustus lalu, beberapa hari sebelum ulang tahun ke-56 saya, saya lakukan transplantasi liver: membuang liver lama, diganti dengan liver baru. Semua proses itu memakan waktu hampir dua tahun. Ini karena saya tetap harus menjalankan aktivitas, baik sebagai pimpinan Grup Jawa Pos maupun sebagai CEO perusahaan daerah Jatim yang lagi giat-giatnya membangun tiga proyek besar: pabrik conveyor belt, gedung ekspo, dan shorebase. Semua tahap itu saya jalani dengan keputusan yang mantap, tanpa keraguan sedikit pun mengenai kegagalan hasilnya. Banyak teman yang bertanya mengapa saya bisa tegas membuat keputusan yang
2
by Moezhanks

begitu membahayakan hidup saya. Saya jawab bahwa percaya sepenuhnya dengan takdir -sesuai dengan tafsir yang saya yakini, yakni mirip dengan uraian buku Saudara Agus Mustofa Takdir Itu Bisa Berubah. Faktor lain adalah bahwa rupanya, kebiasaan saya membuat keputusan berani, keputusan besar dan keputusan yang cepat di perusahaan ikut memengaruhi keberanian membuat keputusan dengan kualitas yang sama untuk diri sendiri. Lalu, keyakinan bahwa saya mampu me-manage hal-hal yang rumit selama ini, tentu juga akan mampu me-manage kerumitan persoalan yang ternyata ada di dalam tubuh saya. Apakah tidak ada kekhawatiran sama sekali akan gagal dan kemudian meninggal? Tentu ada. Tapi, amat kecil. Saya tahu kapan harus ngotot dan kapan harus sumeleh. Keluarga saya yang miskin dan menganut tasawuf Syathariyah sudah mengajarkan sejak awal tentang sangkan paraning dumadi (dari mana dan akan ke mana hidup dan semua kejadian). Ini membuat saya akan ngotot melakukan apa pun untuk berhasil, tapi juga tahu batas kapan harus berakhir. Tentu ada penyebab lain: Banyak keluarga saya mati muda, sehingga saya pun seperti sudah siap sejak kecil bahwa saya juga akan mati muda. Ibu saya meninggal dalam usia 36 tahun (muntah darah). Kakak saya, yang digelari agennya Nurcholish Madjid di Jatim untuk urusan pembaharuan pemikiran Islam, meninggal dalam usia 32 tahun (muntah darah). Dia sering memarahi saya, mengapa masih kecil sudah belajar filsafat/tasawuf dan mengapa sering pergi ke pondok salaf. Tapi, tahun depannya saya masih tetap ke pondok salaf Kaliwungu, 25 km sebelah barat Semarang. Paman saya dan pakde saya juga meninggal muda. Penyebabnya juga sama: muntah darah. Muntah darah sebenarnya bukan penyebab, tapi begitulah orang di desa mengatakannya, karena tidak tahu bahwa semua itu berawal dari persoalan liver. Tapi, ada juga sedikit harapan bahwa saya bisa berumur panjang: Bapak saya meninggal dalam usia 93 tahun. Kakak tertua saya yang amat baik, Khosiyatun, yang juga ketua umum Aisyiah Kaltim, kini berumur hampir 70 tahun dan masih aktif mengajar di SD swasta di Samarinda. Entahlah, saya ikut yang mana. (bersambung)

Ganti Hati 02 - Tiga Jam Jelang Operasi Masih Ditawari ’Take Over’ Koran
27 Agustus 2007 Mudah-mudahan rencana operasi kali ini tidak gagal lagi. Yu Shi Gan Xian Sheng (nama saya di Tiongkok), besok mendapat giliran operasi. Itu kata seorang dokter di rumah sakit ini pada Minggu 5 Agustus 2007 kepada saya. Dia memakai istilah “mudah-mudahan tidak gagal lagi” karena memang sudah beberapa kali saya diberi tahu dapat giliran operasi, tapi selalu tertunda karena liver yang datang tidak cocok untuk mengganti liver saya. Kali ini kelihatannya cocok. Golongan darahnya sama. Juga sudah dinilai akan memenuhi syarat untuk ditransplantasikan ke saya. Harapan bahwa kali ini tidak gagal lagi kian besar setelah sore harinya, petugas cukur datang ke kamar saya. Dia harus mencukur rambut yang ada di badan saya, sebagai salah satu syarat dilakukannya operasi besar. Tugasnya sore itu ringan sekali karena hanya perlu mencukur rambut di sekitar kemaluan. Saya tidak punya rambut di dada atau di paha.

3

by Moezhanks

saya bicara langsung melalui telepon.” tulis saya di sms. sementara luka akibat sayatan yang panjang di situ belum menyatu kembali. Di Kaltim dia harus mengajar di dua sekolah agar masih punya penghasilan untuk hidupnya sendiri. masih ada satu adik lagi yang masih kecil. Kepada kakak saya yang di Samarinda. Maka saat itu dianggap perut saya sudah bersih. saya tidak punya kekhawatiran apa-apa. Terutama Mr Guo yang sejak 10 tahun lalu mengangkat saya sebagai adik kelima. Saya juga membayangkan bagaimana kalau bulu dada itu cepat tumbuh. Meski itulah malam menghadapi operasi besar. Di toilet saya lihat tak ada lagi benda apa pun yang keluar kecuali air bening yang dimasukkan tadi. Setengah jam kemudian dilakukan lagi hal yang sama. Saya tidak ingin ada kuman yang menempel di badan saya yang akan menjadi penyebab infeksi setelah operasi. Saya tidak berani menjelaskan apa adanya. Pagi itu saya sudah tidak boleh makan apa pun. Sore sebelum tidur. Namun. Yakni. Setidaknya jam berapa harus berangkat ke ruang operasi. Perawat belum bisa menjawab. Kalau tidak. ikut paman saya. Saya harus hati-hati menjelaskannya. Pendek sekali. karena dalam proses operasi ada prosedur sterilisasi di badan saya. Apalagi. Dia pernah menyerahkan seluruh gajinya sebagai guru SD untuk biaya sekolah dan hidup saya selama lebih dari lima tahun. Alhamdulillah. Kakak pertama adalah seorang pensiunan jenderal polisi yang juga tinggal di kota ini. seluruh badan saya akan diolesi cairan antiinfeksi yang biasanya berwarna merah kecokelatan itu. kata saya dalam hati. “Bapak harus masuk ruang operasi pukul 14. adik saya yang di Madiun. meski saya akan menjalani penggantian organ terbesar dalam tubuh seorang manusia. kalau mau cuci rambut lebih gampang. khawatir mengganggu pikirannya. nyaris gundul. seperti yang banyak dimiliki pasien dari negara-negara Arab. bagaimana dengan rambut yang telanjur dicukur? Apa saya akan minta ditempelkan lagi? Prioritas saya kemudian adalah menghubungi kantor. bayangan-bayangan saya itu lenyap karena tiba-tiba tukang cukur menyatakan tugasnya sudah selesai. saya potong rambut. Kurang dari lima menit kemudian saya lari ke toilet karena semua isi perut seperti mau keluar. “Operasi apa?” tanyanya. dan saya mengangkatnya sebagai kakak ketiga. Bangun pagi 6 Agustus 2007. Dia merasa kasihan saya hidup dengan Bapak yang tidak punya penghasilan tetap. Itu sebagai tanggung jawabnya karena dia harus pergi meninggalkan kami tanpa ibu di Magetan untuk pergi ke Kaltim. “Mbakyu. Sebentar dan sederhana sekali tugasnya untuk saya malam itu. Beberapa sahabat penting saya di Tiongkok datang. “Saya akan operasi jam 14.” kata saya.30 saya diberi tahu tentang kepastian operasi. Pukul 09. Tidak punya perasaan galau sedikit pun. Malam itu saya tidur nyenyak sebagaimana biasa. sekitar pukul 09. Saya ingin agar setelah operasi kelak. saya lantas mandi lebih bersih daripada biasanya. 4 by Moezhanks . Itu kakak saya yang amat baik hatinya. Tapi. nanti sore saya harus operasi. dan beberapa pemegang saham. saya bertanya kepada perawat kira-kira operasinya jam berapa. Tentu ini kurang masuk akal. Memang jadwal transplantasi besar seperti ini tidak gampang dibuat.00 nanti.” kata seorang perawat. Perut harus kosong sejak malamnya. Misalnya. Karena itu.00.00 perut saya masih harus dibesihkan dari kotoran dengan cara dimasuki cairan bening sekitar seperempat liter melalui pantat. kakak saya yang di Samarinda.Saya lalu membayangkan bagaimana dengan pasien yang punya bulu dada lebat dan cepat tumbuh kembali.

sangat dramatik.” tulisnya. Liver paling sulit. “Allah. Saya balas tangisannya itu dengan tegar dan setengah guyon. Kalau perlu.30 saya terima sms dari Jakarta. Lalu dia tidak emosional lagi. Sesaat sebelum saya berganti baju dengan baju operasi. saya doakan semoga berhasil. “Juga operasi penggantian ginjal dan organ yang lain. Padahal.” Bambang memang orang yang sangat humanis. SMS dari Bambang Sujiyono. Saat mahasiswa. Dia sendiri dalam keadaan sakit jantung. Dia bilang. Juga beredar di antara teman-teman. Ini saya ketahui dari sms yang segera mengalir ke telepon saya. Dia menangis dalam SMS-nya. “Transplantasi ginjal itu sekarang sudah dianggap biasa.” jawab saya. “Ya. “Mas Bambang. seorang direksi saya di Jakarta menanyakan lewat sms apakah dokumen tender listrik yang disiapkan sudah saya tanda tangani. saya masih sempat membalas sms itu: tidak perlu saya yang tanda tangan. Saya balas sms itu. teman lama yang lain. sampai ke anak perusahaan.” tambah saya. tukar dengan kematian saya. Semua mengirimkan doa untuk keberhasilan operasi saya.” tulis saya. dia kami jagokan sebagai tokoh keluarga. tabloid itu akan sukses kalau di tangan saya. Orangnya pintar dan karirnya bagus.“Saya akan operasi. Sekitar pukul 10. dia jadi ketua Korps Himpunan Mahasiswa Islam Wanita Jatim. dan dia saya minta kirim email. juga kirim sms. seniman Surabaya itu. Tanpa tahu bahwa saya segera memasuki meja operasi yang bisa memakan waktu 12 jam dan entah apa hasilnya. Isinya: apakah saya berminat mengambil alih koran berbahasa Inggris yang terbit di Jakarta? Saya jawab: saya perlu informasi lebih lengkap. (bersambung) 5 by Moezhanks . Seorang teman lama menawarkan agar saya membeli tabloidnya yang mengalami kesulitan. Saya lantas memberi tahu siapa yang bisa menggantikan tanda tangan saya. “Selamatkan nyawa rekan saya ini. Setengah jam kemudian. Mbak Sofwati adalah kakak saya yang meninggal umur 32 tahun setelah muntah darah. Dalam waktu sekejap sms pemberitahuan operasi itu rupanya menyebar. agar dia menunggu keputusan saya beberapa minggu lagi. Mulai Aceh sampai Jayapura. Dia tidak saya beri tahu betapa berisikonya penggantian liver ini. Lalu petugas pembawa baju operasi saya datang membuka bungkusan sterilnya. Dia kaget saya kok tiba-tiba memberitahunya akan operasi besar.” katanya datar.” kata saya. agar tidak sampai terjadi seperti yang mengakibatkan ibu dan Mbak Sofwati meninggal muda. Bahkan. di rumah sakit ini hampir tiap hari juga dilakukan operasi penggantian jantung. Dia justru bertanya berat mana transplantasi ginjal dibanding liver.

semua yang hadir di rumah saya bisa ikut mendengar kata-kata saya. Setelah telepon siap.000 penganut Buddha di shi mian fo (Buddha empat wajah) di Kenjeran. Saya jawab. saya sudah akan bisa bicara lagi. Teman-teman Jawa Pos.Banyak Yang Doakan Panjang-Panjang. dan dua hari memulihkan badan. Tapi. Genap satu minggu. kalau yang mengucapkan lebih banyak orang.” Maksud saya. Salah seorang di antaranya bertanya apakah saya dalam kondisi siap. entah siapa yang punya inisiatif. Saya segera menelepon Misbahul Huda. pertanda waktu operasi sudah akan tiba. yang dulu punya inisiatif mengambil alih Jawa Pos dari keluarga The Chung Shen. Dari Madiun menceritakan bahwa keluarga tasawuf sathariyah lagi berkumpul untuk ber-zikir-pidak. Mungkin. doanya 6 by Moezhanks . “Sampai jumpa minggu depan. saya bertanya kepada yang hadir: apakah ada pertanyaan? “Saya siap menjawab pertanyaan apa pun. saya siap sekali. Siapa menyangka bahwa zikir pun sejak dulu sudah di-compress seperti itu. lagi berkumpul di rumah saya di belakang Graha Pena Surabaya. Saya minta suara teleponnya dibesarkan. Ada lagi beberapa pertanyaan dan harapan yang disampaikan dengan penuh suasana prihatin. sistem compression zikir seperti inilah yang banyak dikecam aliran tasawuf lain dan terutama oleh kalangan syariah formal. Diganti baju kertas biru muda. SMS juga masuk dari teman-teman Kristen dan Katolik. telepon saya tutup. dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusam Allah. SMS masih terus mengalir masuk. kira-kira saya perlu waktu satu minggu untuk bisa bicara lagi dengan teman-teman itu: satu hari operasi (pasti saya tidak bisa bicara). Kalau tidak. tiga hari di ICU (juga pasti belum bisa bicara). dia minta dikabari kalau operasi sudah selesai.” kata saya. Ibu Eric Samola. saya pikir. sehingga perlu di-compress menjadi satu dengungan “hu” saja. Karena itu. Ini seperti juga Bung Karno yang dikecam telah menyelewengkan kemurnian Pancasila yang dia temukan sendiri. kata “hu” itu akan menjadi kalimat panjang: aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah. yang akan menjadi imam pada acara itu. Mereka akan melakukan sembahyang dan doa bersama. Artinya. yakni mendengungkan kata “hu” bersama-sama sebanyak 99.” kata mereka. istri mendiang Pak Eric Samola. Untuk membuat agar suasana mereka tidak sedih. Kepala saya juga dipasangi topi kertas dengan warna yang sama. Yakni. Mereka akan berdoa terus selama saya dioperasi. Saya Berdoa Pendek 28 Agustus 2007 PUKUL 12. Saya pun sudah siap mental segera menuju ruang operasi di lantai 13. Tapi.000 kali. Ada yang bertanya.00 Senin (6/8) siang itu saya sudah diminta melepas baju saya. Mereka mengirimkan doa-doa yang saya ketahui diambilkan dari Alkitab. Tokoh Buddha Surabaya juga mengirim SMS dan memberitahukan bahwa hari itu berkumpul lebih 1. Dirut Percetakan Temprina. Kalau di-decompression. saya tutup pembicaraan saya dengan kata-kata.000 kali dirasa akan memakan waktu yang lama sekali. “Kalimat syahadat kok dipadatkan. SMS terus mengalir masuk. Setelah tidak ada pertanyaan. Memang begitulah yang dikatakan dokter kepada saya. Agar. mengirimkan doa paling panjang. berdasarkan pengalaman mereka. ketika Bung Karno meng-compress Pancasila yang panjang itu menjadi satu kata yang simpel dan pas: gotong royong. kalau harus mengucapkan kalimat yang begitu panjang sebanyak 99. Tentu dengan sistem borongan. waktu yang diperlukan tidak perlu teralu lama. Dengungan “hu” adalah hasil compression (untuk meminjam istilah software komputer) dari kalimat syahadat. kira-kira operasinya berlangsung berapa jam? Saya jawab sekitar 12 jam.Ganti Hati 03 .

Kereta pun didorong keluar dari ruang saya di lantai 11 untuk dibawa ke lift naik ke lantai 13. Tinggal saya dan beberapa petugas yang terus mendorong kereta itu ke ruang operasi. memegangi tangan saya. Mr Guo dan sahabat karib saya Robert Lai dari Singapura. “You” artinya bensin. peraturan tidak membolehkannya. Pak Alim Markus. “jia you” dalam bahasa Mandarin berarti “semangatlah!” . telepon minta bicara. Lalu. Tapi. Lift terbuka. Istri saya terus komat-kamit. Saya amati lorong-lorong apa saja yang dilewati kereta ini. tiga lift ukuran besar untuk mengangkut kereta pasien. saya beri tahu bahwa saya sudah tidak punya waktu bicara. “Jia” artinya tambah. semangatnya untuk sembuh luar biasa. Sambil menahan tangis. saudara angkat saya. dan Robert Lai. Juga jangan ada yang mengeluarkan air mata. yang rupanya ikut makan siang. Pukul 14. Ternyata. anak. semangatnya itulah yang ikut mendorong saya punya semangat yang sama. Mata istri saya kelihatan sembap. bahwa siang itu 200-an tokohnya berkumpul di Pujon. dia terlihat mengepalkan tangan ke arah saya. Saudara angkat saya. Saya tidak bisa lagi melihat istri. Ketika melewati kamar pasien dari Jepang. panah naik menyala. Pak Mustofa. Malang. Juga mata Robert Lai. Anak laki-laki saya sibuk memotret. Tak sampai 5 menit saya sudah tiba di lobi lantai 11. Dua lift ukuran normal.tentu tidak akan dihentikan. Saya sering mengatakan padanya. Tapi. Gedung rumah sakit ini memang terdiri atas dua tower. rupanya. Sebenarnya saya bisa berjalan sendiri ke ruang operasi. Tapi. Saya berpesan kepada istri agar jangan lupa memberi tahu mereka nanti. Alim Markus juga pernah tiba-tiba sakit yang amat membahayakan hidupnya. tanda ikut memberi semangat. Tapi. Lalu pintu ditutup. Teman-teman dari penganut aliran kebatinan Sapta Dharma juga mengirim SMS. 7 by Moezhanks . Itulah petugas ruang operasi. Zoom! Tibalah saya di lantai 13. di depan lift yang akan membawa saya ke lantai 13. anak. saya lihat dia sendiri ternyata terisak-isak ketika melepas saya untuk dibawa petugas ke tempat yang dia tidak bisa lagi menyertai saya. karena sedikit agak terlambat dari jadwal. Oh. Saya sudah di atas kereta yang siap berangkat ke ruang operasi. Setelah itu semua harus melepaskan tangan dari tubuh saya. akuntan terkemuka Surabaya. Ada lima lift di situ. agar saat mengantar saya ke lantai 13 nanti.00 kurang 15 menit. Badan saya sangat sehat. Saat saya sudah berbaring di kereta. memaksa bicara untuk memberi dorongan semangat agar saya kuat memasuki ruang operasi. dan Robert Lai mengantar ke lantai 13. Mereka melakukan doa berdasar kepercayaan mereka untuk keberhasilan operasi saya. Demikian juga penganut aliran Sai Baba. kereta brankar sudah datang dengan beberapa orang yang berbaju biru muda. *** Kereta didorong amat cepat. tapi hanya bisa sampai di pintu tertentu. dia lagi makan siang dengan para pengusaha teman saya di Hotel Shangri-La Surabaya. Saya harus segera berbaring di kereta itu. Istri. harus menyeberang ke gedung sebelah. Rupanya berdoa dengan serius. Robert Lai adalah orang yang rajin berpesan kepada siapa pun. dia akhirnya berteriak: “jia you!” tiga kali. mengirimkan doa panjang yang biasa diucapkan Sai Baba di India sana. Saudara Guo. Rupanya saya harus segera tiba di ruang operasi. tombol 13 dipencet. jangan ada yang menangis. Tempat ibadah itu memang saya yang meresmikan beberapa tahun lalu.

Apalagi. Tapi. entah seperti apa. kalau harus saya ucapkan sampai menangis dan mengiba-iba. kereta sudah hampir sampai di ruang operasi. Saya tidak mau Tuhan mengatakan kepada saya: untuk apa kamu saya beri otak kalau sedikit-sedikit masih juga minta kepada-Ku? Karena itu. dalam waktu bersamaan.co. Seluruh lantai 13 adalah ruang operasi. kinclong (karena didominasi stainless steel). Begitu masuk. (iskan@jawapos. masih ada pertanyaan yang tiba-tiba muncul. saya juga tahu bahwa sistem file di kerajaan Tuhan tidak membedakan doa yang dikirim secara biasa. sambil menunggu kedatangan saya.Sudah Tiga Jam Dimatikan. Tuhan punya sistem file-Nya sendiri. Saya tidak mau serakah. Ruangnya sangat bersih. Padahal. dan modern. matikanlah. apakah Tuhan melihat saya sedang serius memintanya? Tapi. Waktu terus berjalan. Perdebatan di hati saya belum selesai. Di lantai 12 sampai 14. Belum Juga Di-”Garap” 29 Agustus 2007 Ketika memasuki ruang operasi. Satu doa yang pendek dan mencerminkan kepribadian saya sendiri: Tuhan. kapan saya menggunakan pemberian Tuhan yang paling berharga itu: otak? Maka saya putuskan akan berdoa se-simple mungkin. Tapi. Akhirnya saya putuskan berdoa menurut keyakinan saya. Tapi. Suara musik itu cukup keras sehingga suasananya ingar-bingar. Belakangan saya tahu judul lagu tersebut adalah Mei Fei Se Wu yang artinya “bulu mata menarinari”. Kereta pun tiba di depan ruang operasi. yang terdengar adalah musik soft-rock berbahasa Mandarin yang lagi digemari anak muda sekarang. jantung sampai ganti liver seperti saya. bisa melakukan 30 operasi penggantian organ. Kalau saya minta-minta terus kepada Tuhan. Saya akan dioperasi di gedung kanan. hidupkanlah! Selesai. terserah engkau sajalah! Terjadilah yang harus terjadi. Saya harus berdoa. Mulai ganti ginjal. mata. beberapa petugas 8 by Moezhanks . Dalam perjalanan sepanjang lorong-lorong itu saya menyadari bahwa saya tadi belum sempat berdoa. ada lorong untuk menyeberang dari gedung kiri ke gedung kanan. secara khusus maupun secara tangis-menangis. segera saja saya terlibat perdebatan dengan diri saya sendiri: harus mengajukan permintaan apa kepada Tuhan? Bukankah manusia cenderung minta apa saja kepada Tuhan sehingga terkesan dia sendiri malas berusaha? Saya tidak mau Tuhan mengejek saya sebagai orang yang bisanya hanya berdoa. Kalau sudah dalam posisi sulit saja dia merengek-rengek setengah mati. Rumah sakit ini.masing-masing berlantai 15. Saya tidak mau ada kesan bahwa saya sombong kepada Tuhan. saya memutuskan tidak akan banyak-banyak mengajukan doa. saya tertegun. Kalau saya harus mati. apakah Tuhan tidak akan menilai begini: lihat tuh Dahlan. Kalau saya harus hidup. Plong. yang dibawakan oleh penyanyi top Hongkong Zheng Xiu Wen. nanti akan lupa kalau sudah dalam keadaan gembira! Saya tidak ingin Tuhan memberikan penilaian seperti itu.id) (bersambung) Ganti Hati 04 . Perasaan saya tiba-tiba lega sekali. Rupanya. Apakah saya harus berdoa dengan biasa saja atau harus sampai menangis? Kalau doa itu saya sampaikan biasa-biasa saja.

ada satu meja makan dari kaca besar untuk makan bersama. dan keran panas dingin. Di ruang tamu ini ada kamar mandi dan toiletnya. Tidak boleh ada virus atau sumber virus yang akan membahayakan pascaoperasi saya. Saya baru akan dihidupkan lagi. Musik soft-rock masih terus ingar-bingar. Penerjemahan ini sangat bermanfaat karena banyak sekali pasien dari negara-negara Arab dan Pakistan yang kemudian minta kopinya kepada kami.muda menyenangi lagu itu. Mata saya terus beredar dari dinding ke dinding. kalau operasi berhasil. nanti. kita harus pakai bahasa apa?” ujar salah seorang di antara mereka. tapi kalau malam bisa dipanjangkan menjadi tempat tidur biasa. Dokter belum pada datang. printer. ada satu ruang tamu yang besar di sebelahnya. 9 by Moezhanks . Rumah sakit ini. saya bisa menuliskan deskripsinya secara baik. Harus bergeser sini dikit dan harus naik sedikit. *** Sejak saya masuk ruang operasi pukul 14. dan sahabat saya Robert Lai kembali ke kamar saya di lantai 11. di sebuah kursi yang kalau siang bisa untuk menambah kapasitas sofa. water boiler. Juga tidak mendengar apa-apa lagi. lalu memberikan beberapa perintah mengenai posisi badan saya. Di ruang tamu ini ada satu set TV besar. memang sudah sangat bersih.00. Yakni. Saya ingin tahu apa saja yang ada di ruang itu agar. Beberapa perawat mengikuti suara musik itu dengan suara mulutnya tanpa kata-kata. Perawat akan selalu mengabarkan apa pun yang terjadi di ruang operasi. Istri saya tidur di ruang ini. Maka. saya bisa bahasa Mandarin sedikit-sedikit. Tapi. Hanya dalam beberapa saat. Meja ini saya pakai untuk “kantor dalam pengasingan”. Ada ruang tidur pasien dengan kamar mandi khusus dan ruang pakaian. tapi bisa berbahasa Mandarin. satu set sofa. istri. Saya memang dapat menggunakan internet kecepatan tinggi di ruang saya ini. laptop. Perawat yang lain mulai memasukkan cairan tertentu ke lengan saya. Buku itu berbahasa Mandarin. Kamar saya di lantai 11 terdiri atas dua ruang. Di belakang sofa. Mereka merasa lega. Saya sudah dimatikan untuk persiapan operasi. anak. terutama gedung baru ini. Kami pasang komputer.” jawab yang lain. perawat memutuskan tidak mau pakai itu. “Dia orang Indonesia. kami tidak makan di situ. Di dapur kering ini ada microwave. Di kamar ini mereka menantikan perkembangan operasi saya. bukan seperti di sebuah tempat yang menyeramkan. Melihat tangan saya sudah dipasangi selang selama 3 bulan lebih. Lalu. karena memang pada tahap ini semua pekerjaan masih urusan perawat. Lalu. lemari es besar. Rupanya dia sangat menikmati lagu itu. saya tidak lagi mendengar suara musik itu. lengan saya diperiksa seperti akan memasang selang. Tapi. Rumah sakit juga sudah memberi kami buku panduan mengenai bagaimana menjaga agar tidak terkena virus. Maka saya sela pembicaraan mereka: Ya. Beberapa perawat membicarakan saya. rice cooker. dan satu set dapur kering. Dari alat ke alat. dia minta lengan kanan saya dimasuki jarum untuk memasukkan beberapa zat kimia ke badan saya. Suasananya pun menjadi seperti di sebuah disko. Sementara menunggu kabar. Sudah diketahui bahwa virus pascaoperasi adalah pembunuh paling utama bagi pasien yang baru melakukan transplantasi organ. 18 jam kemudian. “Ini orang asing. lalu kami terjemahkan ke dalam bahasa Inggris agar seluruh keluarga saya memahami isinya. Robert yang sudah 11 bulan menemani saya ke mana pun pergi memutuskan untuk membersihkan kamar saya. Tepatnya kamar 1102. Robert ingin kamar saya lebih bersih lagi. dan internet. dispenser air mineral.

atau salah memilih huruf. Toh. Lantainya menjadi mengilap. saya harus panggil partner yang membangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Kalimantan untuk mencari jalan agar proyek selesai sesuai dengan jadwal. 10 by Moezhanks .” katanya. besok saya sudah tidak akan bisa lagi memanfaatkan hasil belajar saya ini. “Hah?” gumam Robert seperti tidak percaya. Tapi. dari kursi di sebelah saya. sore dua jam. saya memang memutuskan untuk meneruskan belajar bahasa Mandarin. mengirim dan menjawab e-mail. “Berarti. Bersih dan kinclong. Ternyata belum diapa-apakan. Ini saya pakai untuk latihan menulis cerita dalam bahasa dan tulisan Mandarin.00. Tiga orang guru secara bergantian mengajari saya bahasa Mandarin. dan kertas-kertas yang selama ini di mana-mana diangkut ke apartemen. Bukubuku.” ujar perawat itu. Malaikat toh akan bertanya kepada saya di akhirat sana dengan (eh. Semua kursi dan meja dicuci. Lalu. Ada juga sedikit tebersit perasaan. Di dinding satunya saya pasang peta Indoensia. untuk apa ya saya susah-susah belajar begini. Robert Lai terperangah. memberikan koreksi mana yang saya salah dalam menggunakan kata-kata. Dinding sebelah kanan saya tempeli peta Tiongkok yang besar sehingga mudah bagi saya untuk melihat negara ini secara keseluruhan. Berarti sudah hampir tiga jam saya di ruang operasi dan sudah dalam keadaan dimatikan. Tempat tidur saya lebih-lebih lagi. juga untuk saya pakai belajar bahasa Mandarin. (Bersambung) Ganti Hati 05 – Tunggu Operasi. “Livernya baru akan datang sekitar pukul 17. tapi belum juga di”garap”. “Tiwas kita sudah tegang selama tiga jam. Lalu. Sampai sehari sebelum operasi saya masih “masuk kelas”. koran-koran. Di dinding-dinding kamar tamu yang kosong.Dari kamar inilah saya bisa membaca semua laporan perusahaan.00. Saya mendatangkan guru dari IKIP di kota ini. Bukan saja untuk rapat. guru saya tinggal melihat sorotan proyektor. kalau operasi gagal. perawat masuk memberikan kabar bahwa sampai menjelang pukul 17. Sehari empat jam: pagi dua jam. Sebab. Sambil menunggu giliran operasi yang tidak menentu waktunya. lantas saya pasangi asesori. disterilkan. baru 10 menit lagi livernya tiba?” tanya istri saya sambil melihat ke jam dinding. Misalnya.00 itu saya belum dioperasi. semua peralatan yang ada di kamar ini dibersihkan. Dua jam setelah operasi bersih-bersih itu. Robert lantas menerjemahkan informasi dalam bahasa Mandarin itu kepada istri dan anak saya. pakai bahasa apa. ketika saya berada di ruang operasi. Saya juga beli proyektor yang saya hubungkan dengan laptop yang software-nya Mandarin. di belakang meja besar saya pasangi white board. Lalu. ya?) bahasa malaikat sendiri. dan tak jarang juga mengadakan rapat. krisis listrik di daerah itu sudah tidak ketulungan. Terutama rapat dengan partner-partner usaha yang dari Tiongkok. Suasana seperti Siaran Langsung Sepak Bola 30 Agustus 2007 Setelah diberi tahu bahwa liver yang akan dipasangkan di dalam tubuh saya ternyata baru akan tiba sekitar pukul 17. seperti besok tidak akan terjadi apa-apa.

kami biasanya mematikan lampu kamar.” kata seorang dokter. “Kita diminta naik ke lantai 13. dari dalam kamar saya. Istri saya juga memperhatikan puncak gedung tersebut. Dia mengira salah satu ambulans yang masuk pada jam-jam itu pastilah yang membawa liver yang akan menggantikan liver saya yang sudah rusak. bahwa kalau ada suara “nguing…nguing…” masuk ke rumah sakit. dan saudara angkat Guo naik lift ke lantai 13. Tentu mereka tidak diberi tahu bahwa operasinya belum jadi dilaksanakan pada pukul 14. Apalagi. Di situlah helikopter yang membawa pasien darurat atau helikopter yang membawa liver yang urgen mendarat. tapi dalam keadaan musuh selalu mengancam ke gawang kita! Semua itu saya nilai wajar karena operasi penggantian liver tidaklah gampang. Dirut grup anak perusahaan Jawa Pos di Papua. terlihat juga pemandangan sungai yang bersih yang dipakai untuk arena mainan anak-anak serta keluarga. Dia punya khayalan. anak. “Ini liver bapak yang sudah kami keluarkan. 11 by Moezhanks . melihat keluar masuknya ambulans di pintu gerbang depan sana. seperti baru terjadi beberapa minggu lalu. Lantai paling atas rata. mengudaranya kembang api berjam-jam di berbagai tempat. katanya. siapa tahu livernya dibawa dengan helikopter. terdapat tambahan tiga lantai bulat. Yakni. seperti ini: Kami tiap 10 menit SMS ke Mas Azrul (Posko di Tiongkok) atau ke Mbak Nany Wijaya (Posko di Surabaya). istri. Dia lebih memfokuskan perhatian ke bawah. kalau Sabtu dan Minggu malam. dan kengeriannya.Dia lantas memperhatikan pintu masuk rumah sakit dari lantai 11. Bangunannya dari luar mirip hotel. Ketegangan selama menunggu berlangsungnya operasi digambarkan oleh Yoto. Kepada kita akan ditunjukkan sesuatu. Di seberang kamar itu terlihat gedung pertama rumah sakit yang tingginya 17 lantai. Dari kamar tersebut.” kata Robert kepada istri dan anak saya dalam bahasa Melayu yang agak sulit dimengerti. Dinding kamar tersebut terbuat dari kaca. siapa pun memang bisa melihat apa yang terjadi di luar sana. Lalu. Kegagalan tersebut. kegagalan transplantasi liver di Tiongkok yang dialami tokoh seperti Nurcholish Madjid mendapat pemberitaan yang sangat besar. Maka.00. Tak lama kemudian. Lamanya tidak ada “kabar baru” itu rupanya semakin membuat teman-teman di Indonesia kian tegang. Istri saya ingin melihat masuknya ambulans yang mungkin membawa liver yang akan dipasangkan ke dalam tubuh saya. Dari ruang tamu di kamar saya itu. Semua seperti tidak sabar menanyakan perkembangan operasi saya. Kabar pertama dari ruang operasi masuk pukul 22. pastilah itu suara ambulans yang membawa liver. Sejumlah dokter membawa barang berdarah dan meletakkannya di lantai. agar warna-warni kembang apinya lebih jelas. Istri saya kali ini tidak memperhatikan semua itu. Itu pertanda malam tersebut banyak pesta perkawinan. pintu lorong tempat saya dimasukkan menuju ruang operasi sore tadi terbuka. jam-jam itu sibuk membalas SMS yang masuk. Kami seperti sedang mendengarkan siaran langsung sepak bola lewat radio. Anak lelaki saya. Dari kamar itu juga terlihat simpang susun jalan layang yang melingkar-lingkar di depan rumah sakit. Di atas gedung itu. di bagian tengahnya. Robert. Mereka hanya diberi jawaban “Belum ada kabar baru dari kamar operasi”. “Go!” tambahnya. sering bisa melihat pemandangan indah.00. Mereka menunggu di depan lift untuk menerima instruksi berikutnya. Kalau sudah ada pesta kembang api seperti itu.

menyayat-nyayatkan pisau di beberapa tempat untuk melihat dalamnya. Ada kanker di dalamnya. Saya tergolek menunggu siuman di ruang ICU di lantai 12. di mana lawan sudah tidak memborbardir gawang kita lagi. Dokter lantas mengiris lagi bagian lain. sepertinya pemain kita anti menyerang terus. Kita lantas seperti sedang menantikan terjadinya golgol ke gawang lawan. tentu mungkin masih akan terlihat anak-anak dan cucu-cucunya. Dibenggangkannya irisan itu dengan jarinya yang masih terbungkus sarung karet. Pukul 24. “Jepret. “Seperti daging yang dipanggang kematangan. Lalu. “Pukul berapa akan siuman?” kata Robert. “Doa apa saja yang bisa saya ucapkan.” kata anak saya. “Itu lihat. Kabar selesainya operasi juga dikirim ke umat Buddha yang terus bersemedi di Kenjeran.00. Dan. Itu berarti saya baru akan siuman sekitar pukul 07. Malam itu. Lalu. Pintu ditutup lagi. dia bersujud di dekat seonggok daging berdarah itu. dan 2 cm). “Kira-kira 6 jam lagi. masih ada dua lagi calon kanker baru. melainkan juga untuk melihat sudah ada berapa kanker yang muncul.” ujar dokter sambil kembali membungkusnya.00 keesokan harinya. “Suasananya lantas seperti mendengar siaran radio pertandingan sepak bola. istri dan anak saya langsung bisa tidur.” tulis Yoto di SMS-nya dari Papua. dan Surabaya diberi tahu perkembangan itu. Kami baru akan diberi tahu sekitar seminggu kemudian. Sebab. Digulanggulingkannya.” ujarnya. menyelesaikan operasi terhadap saya.” kata dokter sambil jarinya menuding ke arah benda yang dimaksud. Lalu. Anda mengucapkan doa apa?” tanya saya beberapa hari kemudian. menurut hasil MRI sebelumnya.Melihat “barang” tersebut. “Waktu bersujud itu. Demikian pula dengan seluruh rekan yang memonitor perkembangan operasi dari Aceh sampai Papua. Dan. di dalam liver saya sudah ada tiga kanker yang besar (ukuran 6 cm. Suatu berita yang menggembirakan. 4 cm. Robert kembali ke apartemen. Dari foto mereka ketika mendengarkan penjelasan itu. Anak saya memotretnya dari berbagai sudut. bagaimana persisnya keadaan liver lama saya itu. Saudara ketiga Guo pulang ke rumahnya.” anak saya memotret lagi bagian itu. Bukan hanya mengenai apa saja yang ada di dalamnya. Diteruskan juga ke warga Sapto Dharmo di Pujon. Keluarga di Samarinda. Madiun.” ujar dokter. para dokter meneruskan lagi pekerjaannya. “Pak Yu Shi Gan (baca: i-se-kan) akan segera dibawa ke ICU untuk menunggu siuman di sana. istri saya langsung lemas dan terduduk. Liver lama tersebut memang tidak boleh dibawa. Sesaat kemudian. dokter menjelaskan bagaimana keadaan liver saya yang sudah dikeluarkan itu. terlihat jelas bahwa wajah-wajah mereka sudah tidak tegang. Mereka sudah bisa menghentikan peribadatannya. yang lebih penting. masih harus menunggu hasil penelitian. Mengapa? Liver itu masih akan dimasukkan ke laboratorium untuk dianalisis lagi lebih teliti. Keluaga saya sudah lebih tenang. “Liver ini kami bawa kembali.” ungkapnya. Bahkan sudah tersenyum-senyum. Bahkan.” jelas seorang dokter kepada Robert. Liver itu sudah begitu rusaknya. Semua disampaikan anak saya kepada teman-teman yang menanyakan perkembangan operasi saya. Operasi sudah selesai. Di situlah berbagai 12 by Moezhanks . apakah kankernya telanjur menyebar atau tidak. “Masya Allah. Hanya boleh difoto. Surabaya. Tapi. berita berikutnya disampaikan.

Kelihatanlah samar-samar bahwa saya sedang di ICU. (bersambung) Ganti Hati 06 – Begitu Sadar. Teriak “Saya Hidup”. Operasi tidak gagal. Saya gerak-gerakkan terus jari-jari saya dengan gerakan seperti memutar keran. syukur saya tidak sampai mengabaikan rasa hormat saya kepada mereka yang telah belajar keras di universitas dan menggunakan akalnya secara sungguh-sungguh hingga melahirkan ilmu pengetahuan yang sangat maju. tapi Tak Terucap 31 Agustus 2007 Begitu Sadar. Tapi. Lalu. Napas bisa ditarik dengan normal seperti biasa. saya coba menggerakkan jari-jari tangan saya seperti sedang memutar keran. Saya yang sudah pengalaman beberapa kali dibius (meski dulu tidak sampai 18 jam seperti saat penggantian liver kali ini). Saya yakin bahwa saya segera mengatasi persoalan sesak napas itu. Sesaat kemudian. mungkin perawat tidak melihat isyarat di tangan saya. Begitulah kalau sadar dan tidak sadar bercampur jadi satu. Seperti orang yang ngantuknya luar biasa. Antara sadar dan tidak. Apalagi seperti saya. Teriak “Saya Hidup”. seperti untuk sementara menggantikan nyawa saya. sebenarnya. Agak berat memang. yang baru saja dibius selama 18 jam. Saya hidup. Maksud saya. Lama-lama. mata tidak mau membuka.jenis kabel dan selang menempel dan menancap di tubuh saya. Tapi. Di ruang perawatan khusus setelah menjalani penggantian liver. tapi sebenarnya tidak ada jari yang bergerak sama sekali. Rasanya kok seperti mau mati karena kekurangan udara. Suara-suara itu tambah lama tambah jelas. Mungkin juga yang terjadi sebenarnya tidak seperti itu. Berharap karena ternyata masih bisa bernapas. Kesadaran ini datang tujuh jam setelah operasi. sadar bahwa saya ini sedang dalam proses dari tidak sadar ke sadar. Tapi. Perasaan saya saja bahwa saya sedang menggerak-gerakkan jari. putus asa karena jumlah oksigen kok seperti tidak segera cukup dan seperti mengancam kehidupan. napas terasa sesak. Perasaan lantas seperti setengah berharap. 13 by Moezhanks . barangkali juga tidak ada oksigen yang dialirkan ke hidung saya. tapi Tak Terucap Suasana orang yang lagi mau siuman selalu saja begini: Mula-mula terdengar dulu pembicaraan orang-orang yang berada di sekitar kita.” komentar spontan yang muncul. Tentu saya amat bersyukur. “Saya hidup. kok sulit sekali ya? Maka. Saya bersyukur kepada Tuhan sekaligus hormat kepada ilmuwan. rasa sesak itu berkurang. Seperti orang yang lagi kekurangan oksigen. setengah putus asa. menjadi lega. tapi ingin sekali membuka mata sebentar agar bisa melihat sekeliling. tapi tak terucapkan. saya tetap berusaha sekuat tenaga. Saya lantas memberikan isyarat kepada perawat dengan tangan saya. Mata pun lama-lama bisa membuka. Ingin sekali mata melihat siapa saja yang bersuara itu. ini permintaan agar keran oksigen diperbesar. Tapi. Bahkan. tapi tetap saja tidak punya kemampuan membuka kelopak mata sendiri. Saya hidup.

Tiga lainnya masuk lewat pembuluh darah besar di leher kanan.” kata perawat. Bahkan. kedua selang itu dikenal dengan sebutan sonde. Sebagian mungkin karena saat itu saya sudah tidak lagi punya tenaga sebaik saat latihan. masih ada empat selang lain yang menancap di leher saya. saya kan belum bisa bernapas sendiri. Sehingga perlu ada yang “mencarikan. karena liver baru saya belum bisa “cari makan” sendiri. pertama. selang-selang. “Apa sih sulitnya batuk?” kata saya dalam hati. “Bagi perokok lebih sulit lagi mengeluarkan dahak itu. Karena di lubang hidung masih ada dua selang yang dimasukkan sampai ke perut saya.Setelah senang karena masih hidup. Dalam dunia kedokteran. Perawat menyatakan saya berhasil menjalani latihan dengan tingkat kelulusan summa cum laude. Sebatuk-batuknya. maka diambillah jalan pintas. Tapi. “Apakah saya terlalu meremehkan saat latihan?” tanya saya. Begitulah bunyi petunjuk yang saya baca sebelum operasi. Cara demikian juga saya ketahui dari buku petunjuk. ternyata saya sulit sekali lulus. Rasa-rasa tidak enak mulai muncul satu per satu. latihan dan kenyataan ternyata sangat berbeda. Saya diberi napas bantuan karena sampai beberapa jam pascaoperasi. Satu selang yang dimasukkan lewat leher depan -di antara tulang belikat. Satu selang masuk lewat lubang yang sengaja dibuat di bagian depan leher. perawat mengatakan bahwa itu normal saja.” Selain itu. perawat sudah melatih cara berbatuk yang bisa mengeluarkan dahak. Napas terasa amat lega. Mengapa langsung ke usus? Sebab. saya belum bisa makan sendiri. Setelah hampir dua hari tidak ada makanan apa pun yang masuk ke perut. saya juga takut akan bahaya dahak itu terhadap paru-paru. Cairan itu harus segera bisa keluar sebagai dahak. Sudah saya usahakan batuk semirip-miripnya batuk waktu summa cum laude. Namun. Saya berusaha terus membatukkan diri. Waktu latihan. Dan karena belum bisa bernapas sendiri. akan membahayakan paru-paru. tapi tidak juga berhasil. Yang lain untuk mengirimkan makanan langsung ke usus saya. Saya tahu. tenaga pun rupanya ikut hilang. maka sisa lendir di paru-paru pun tidak bisa saya keluarkan sendiri dengan cara batuk atau berdahak. Kabel-kabel. dan saluran infus seperti bertaut-tautan. Dua selang kecil itu punya tugas sendiri-sendiri. Agar “bantuan” itu bisa cepat sampai ke paru-paru. saya harus berbuat seperti membatukkan diri keras-keras. tapi masih banyak yang membuat badan saya sangat tidak nyaman. “Tidak. Sehingga perlu dibantu. seperti yang sudah diajarkan perawat. karena pembuluh darah di esofagus (jalan makan yang menghubungkan mulut dengan lambung). Ketiga. Meski sudah berhasil mendapatkan dua jenis kelegaan (bisa bernapas normal dan bisa mengeluarkan dahak dalam jumlah besar). yakni lewat tenggorokan. dan usus saya masih rawan pecah sehingga perlu dilindungi. Yang satu untuk membuang sisa makanan dari lambung saya. Dalam praktik. barulah saya sadar bahwa begitu banyak instrumen yang ada di sekitar tempat saya berbaring. Suara tat-tit-tat-tit dari mesin-mesin elektronik di sekitar saya mendominasi pendengaran saya. Untuk mengeluarkan lendir itu. Akhirnya broll! Dahak yang amat banyak bisa keluar. peritonium (selaput dinding perut).gunanya untuk mengalirkan napas bantuan dan membersihkan kelebihan lendir di paru-paru (broncho toilet). 14 by Moezhanks . Kedua. “Uhuk! Uhuk!” Selesai. Mula-mula rasa dada penuh dengan cairan lendir. sejak beberapa hari sebelum operasi. Kalau tidak. itu hanya untuk menyenangkan hati saya.” ujar perawat lebih lanjut. saya meraskan tidak ada kesulitan. Ketika saya tanya mengapa begitu sulit saya mengeluarkan dahak itu.

truknya nabrak kita!” Humor khas orang Surabaya. Dirut anak perusahan di Grup Kalimantan yang kini jadi direktur Jawa Pos.Sedangkan tiga selang lainnya masuk lewat pembuluh darah besar. Saya justru teringat humornya rekan Zainal Muttaqien. saya mencoba untuk tidak merasa terganggu. Kabel itu juga terhubung dengan layar monitor. Gunanya untuk mengalirkan semacam infus yang mengandung protein dan kalori tinggi. Dengan begitu. dan kabel yang saling berhubungan di tubuh saya. yang dalam istilah kedokteran disebut dengan tri lumen atau central IV (baca : ai vi) line. itu bukan disiapkan untuk cairan infus atau injeksi. Humor ludrukan. Itu belum semuanya. tapi meninggal oleh penyebab yang amat sepele. sebenarnya. Alat itu secara otomatis akan mencengkeram lengan saya sangat kuat setiap setengah jam sekali. konsentrasinya sangat tinggi sehingga bisa merusak dinding pembuluh yang dilewati. Lengan kanan saya juga sedang dipasang jarum untuk mengalirkan berbagai jenis infus.” Apa kejatuhan singkong di jalan raya bisa membuat orang sampai meninggal? “Lha singkongnya satu truk. secara otomatis. Angka-angka tekanan darah otomatis keluar di layar monitor. Dinding pembuluh darah utama yang leher lebih kuat sehingga cukup kuat untuk dilewati infus jenis ini meski sampai tiga bulan secara terus-menerus. tidak boleh lewat pembuluh darah di tangan seperti biasanya orang diinfus. salah satu ujung tri lumen bisa dihubungkan dengan alat monitor yang bisa menunjukkan perubahan kadar air di tubuh saya setiap menit. itu bisa mengalihkan perhatian saya dari rasa ruwet dibeliti selang dan kabel. Infus jenis ini memang harus lewat pembuluh darah besar. Ini agar saya bisa menggambarkannya dengan baik 15 by Moezhanks . Yakni mengenai susah payahnya seseorang untuk menyelamatkan hidup (mungkin seperti saya ini). Fungsi lain tri lumen adalah untuk memasukkan obat-obat injeksi yang harus lewat pembuluh darah dan mengambil sampel darah. Setidaknya untuk sementara. Ujung jari tangan dan kaki juga dijepit dengan alat yang dihubungkan dengan kabel ke layar yang lain lagi. Karena masih ada sejumlah alat dan kabel yang ditempelkan di dada kiri dan kanan untuk mengecek denyut jantung. Ketidaknyamanan lain yang saya rasakan saat itu adalah adanya alat pengukur tekanan darah yang dipasang di lengan kiri. Tapi. Sebab. Melainkan untuk transfusi (tambah darah) bila diperlukan. Saya berusaha tidak memikirkan itu. bila perawat ingin mengambil sampel darah atau menyuntikkan obat. Lalu. *** Pagi tanggal 7 Agustus 2007 itu. Sebab. Yang lebih istimewa dari tri lumen adalah bisa untuk memonitor kadar air dalam tubuh (central venus pressure=CVP). saya ingin menghitung berapa banyak selang. Bahwa di tangan saya masih ada semacam pentil yang biasa dihubungkan dengan selang infus. “Jangan sampai nanti meninggalnya justru hanya gara-gara kejatuhan singkong di jalan raya. tak perlu lagi dengan menusuk-nusuk tangan saya. Ujung selang infus itu bercabang-cabang karena lima macam cairan dari botol yang berbeda harus mengalir ke tubuh saya lewat satu jarum tersebut. Melihat keruwetan di sekitar tubuh saya. botol.

kesadaran saya dan tenaga saya tidak terlalu komplet pagi itu. Maka. pandangan saya lamur. Juga menyampaikan daftar nama yang mengirim salam dan memberikan dukungan batin lewat SMS. saya sungguh ragu dengan kemampuan saya memperkirakan. saya tidak sepenuhnya mengerti apakah ketika saya mulai sadar itu. Ketika saya lihat ada perawat mendekat. Baluran. Saya berusaha untuk tersenyum sebagai ganti kata-kata bahwa saya baik-baik saja. namun tidak bisa. sulit sekali untuk bisa melihat dengan jelas. “Wan shang. Kedua. maka ditambah satu penerjemah.00-an. Memang hanya dua orang dari pihak keluarga yang boleh masuk ICU. Hanya secara timbul tenggelam saya melihat secara kabur bahwa itu seperti jam 11. saya melihat anak lelaki dan istri saya mendekat. saya bertanya. Orang yang baru siuman setelah dibius selama 18 jam tidak memiliki tingkat konsentrasi yang sempurna. “Ji dian?” Jawabnya. Namun. saya tidak tahu apakah terang di balik kepala itu karena dinding kaca atau karena ada lampu yang dipasang di situ. informasi bahwa malam itu santri Pondok Langitan berdoa bersama dipimpin langsung oleh Gus Dulloh dan Gus Maksum. Berarti sudah satu malam saya tidak sadar sama sekali. jam sembilan siang! Tahulah saya bahwa saat itu sudah pagi hari. Bahkan. Misalnya. Tapi. Pertama. ke arah jam besar dipasang. Tidak mungkin. Apalagi kalau harus mendongakkan kepala untuk melihat sumber terang di belakang kepala saya. ya memang saya belum sepenuhnya punya kemampuan normal. Satu-satunya cara untuk bisa mengetahui situasi waktu. saya tanya lagi. Saya tidak mungkin bisa menoleh karena begitu banyak selang di leher. Saya memang tidak bisa omong jelas karena banyaknya selang di tenggorokan. Kalau saya paksakan omong. bisa jadi tenggorokan saya akan terluka dan itu akan menyulitkan diri saya sendiri akhirnya. putra Kiai Faqih. 16 by Moezhanks . (bersambung) Ganti Hati 07 – Tahan Tak Bergerak 24 Jam di ICU karena Terbiasa 12 Jam di Jawa Pos 1 September 2007 SATU jam setelah sadar. Jarum yang menunjuk jam 9 saya kira menunjuk angka 11. Lalu.kalau kelak harus menuliskannya untuk pembaca. Saya segera melambaikan tangan ke arah istri dan anak saya. ya hanya dengan melihat jam di dinding sana itu. Kelopak mata berat sekali. Lama sekali saya menebak-nebak: siangkah ini? Malamkah ini? Memang suasana ruang ICU sangat terang. Tapi. Dan tahulah saya bahwa pandangan saya benar-benar gak sempurna. Juga dari Panti Asuhan Yatim Piatu Zainudin. “Jam sembilan”. Sepanjang. sedang tidak menggunakan kacamata. ini jam besuk ke ICU. saya ragu apakah itu terangnya matahari atau terangnya lampu? Saya berusaha melihat jauh ke dinding. Anak saya menceritakan apa yang sedang terjadi dan apa yang mereka lakukan malam sebelumnya. waktunya sudah siang atau masih malam. hai shi shang wu?” Dia jawab. Kecuali orang asing yang memerlukan penerjemah. Tapi 11 malam atau 11 siang. Ingin sekali saya berusaha mengalihkan pandangan ke kiri atau ke kanan. Tapi. Oh.

Akibatnya. bahkan menimbulkan luka. bagaimana kita bisa menggantinya?” katanya. saya berada di sungai. Bagian ini juga harus saya jalani dan saya lewati sebagaimana saya harus menjalani dan melewati proses pembiusan. Maka. pastilah demikian. Kali ini saya juga harus mampu memenuhi persyaratan untuk tidak bergerak selama 24 jam! Sejak kecil pun. ketika kelas 3 SMA. 360 hari setahun. Rapor saya merah semua. mereka pamit. Maka. pembuangan liver lama. saya merasa akan mampu melakukannya. Karena dalam hati saya tersiksa. saya tetap berangkat dari rumah. tiap pelajaran bahasa Inggris. Ini agar luka-luka akibat operasi dan penyambungan pembuluh darah di liver tidak terganggu. 30 hari sebulan. namun belok ke sungai di tengah jalan.Istri saya diam saja seperti tertegun melihat ruwetnya jaringan kabel dan selang di sekitar badan saya. Misalnya. saya nikmati saja proses ini. Ini operasi besaaar! Kalau setelah operasi ada rasa sakit. ternyata memang bisa. Bapak marah besar. ya itu sudah risikonya. tapi juga oleh kerasnya sikap bapak saya. Dua-duanya mengharuskan saya. saya hemat benar pemakaiannya. Mengapa? “Kalau sepeda itu rusak. bapak melarang saya untuk belajar naik sepeda. Tinggal saya sendiri lagi menghadapi ketidaknyamanan keadaan. akibatnya bisa berupa penderitaan yang panjang. Saya harus sekolah sejauh 6 km dengan jalan kaki. Tapi. saya bisa beli sepatu (sepatu kets bekas yang ujung jempolnya sudah bolong dan bagian tumitnya sudah berserabut). Saya juga merasa bersalah kepada kakak saya yang telah meninggalkan gajinya untuk saya dan adik saya. Yang berat adalah menahan diri untuk tidak menggerakkan badan sama sekali. Sepatu itu menimbulkan rasa tidak nyaman yang hebat. saya sudah belajar tahan menderita. Saya anggap saja sebagai yoga yang panjang. Atau sebagai bagian dari zikir-pidak di tarekat Sathariyah. Kalau saya bergerak untuk tujuan mengenakkan badan sesaat. tiap malam saya harus berdiri di ruang layout lebih dari 12 jam. Karena itu. saya belum punya sepatu. sampai kelas tiga SMA (aliyah). Hanya tiap Senin sepatu itu saya pakai. kemudian sering jadi ketua berbagai kegiatan. kalau bisa. kalau lagi ada pelajaran bahasa Inggris hari itu. jadilah saya inspektur upacara dengan sepatu di kaki. Dan. saya belum bisa naik sepeda. Saya berhasil menjalani itu dulu. Saya tidak mengeluh. 17 by Moezhanks . kecuali ilmu bumi yang mendapat angka enam. tapi itulah bagian yang harus dijalani untuk sukses. Mengeluh hanya akan menambah penderitaan. Sejak itu. kalau kali ini saya harus tidak bergerak selama 24 jam pun. Penatnya bukan main. dan pemasangan liver baru. saya sadar sepenuhnya memang begitulah pascaoperasi. pembukaan rongga dada. Maka. Saya cari ikan karena takut dengan guru bahasa Inggris. Bahkan. Saya pernah menjalani dua operasi sebelumnya. Bahwa akan amat penat. Lama-lama. Saya sudah bertekad bagian ini pun harus bisa saya lewati dengan baik. Cita-cita saya adalah “bagaimana agar punya sepatu”. saya kelihatan agak pinter di kelas. Ini bukan operasi kecil. Sampai kelas 2 SMA. Banggakah saya? Ternyata tidak. Satu jam berangkat dan satu jam pulang. Tapi. cita-cita saya bukan itu. Apalagi harus selama 24 jam. saya tidak naik dari kelas 1 ke kelas 2. Bukan saja oleh kemiskinan. Saat mulai membangun Jawa Pos dulu. Maka. Tiap malam. Tiap hari ke sekolah dengan telanjang kaki. Setelah memotret-motret secukupnya. Tujuh hari seminggu. Juga sering ditunjuk sebagai inspektur upacara pada tiap Senin. Kadang. tidak bergerak selama delapan jam.

Saya diam dan menikmati pukulan itu. air kencing di kantong itu diukur dan dianalisis. Begitulah. Begitu penuhnya sehingga istrinya suatu saat bilang kepada saya. Dengan adanya selang yang di lubang kemaluan itu. kalau hanya akan ditambah 24 jam di ICU ini. “Sampai jalan masuk ke kamar tinggal satu galengan (pematang). Mula-mula. ayah menggosok-gosok alat-alat itu sampai tajam. dalam posisi menumpuk. Gamelannya adalah mulut beberapa teman sepermainan. dia tidak ingin kotak dan labelnya dibuang. saya pikir tidak ada gunanya. Ternyata. Dan. masuk ke kantong penampungnya. Padahal. Dia memang hobi mengoleksi sepatu. Kalau beli sepatu. saya menangis. uang itu ikut saya ambil untuk saya belikan dawet. Bapak sangat sayang pada alat pertukangannya. Saya duduk mendalang di sebelahnya. Tapi. tangannya berusaha mencabut selang-selang yang memenuhi tenggorokannya. Kecrek itulah. Sambil merasa memang saya bersalah. kata saya dalam hati. suatu hari. Karena itu. Kalau disentuh. saya tak perlu lagi merasa akan kencing. meski hanya cukup untuk beli dawet (minuman khas di desa). masih ada tiga selang lagi yang juga amat mengganggu. tapi itulah satu-satunya tabungan ayah. Ayah bukan hanya marah karena alat-alat cari uangnya dipakai secara salah. Sama dengan yang di ujung kemaluan. tapi juga karena di kotak itu ternyata ayah menyimpan uang. Secara teratur. Kalau tidak lagi ada orang yang minta memperbaiki rumahnya. kelirnya terbuat dari sarung saya. Hanya dia jejer di lantai rumah. juga lantaran ujung dua dari tiga selang-selang itu dimasukkan ke dalam rongga perut saya melalui pinggang kanan dan kiri. *** Sebenarnya. selama di ICU. Selain karena ukurannya yang cukup besar. Jumlah dan warnanya menunjukkan normal tidaknya ginjal dan berfungsi atau tidaknya organ penting itu. Satu bunyi yang penting dalam memainkan wayang. ada yang mungkin tidak sadar. Kaki saya dalam posisi akan sering menyentuh kecrek tersebut sehingga bisa menimbulkan bunyi “crek-crek”. bapak malah menghentikan pukulannya. Puluhan tahun saya menderita. 18 by Moezhanks .Karena itu. Saya pilih menjalani proses tidak bergerak dengan kesadaran sendiri daripada harus diikat seperti itu. Bahkan. Namun. Wayangnya terbuat dari rumput. Perawat ICU memuji ketahanan saya.” Saya juga pernah dipukuli bapak dengan sapu. Semua cairan itu juga ditampung di kantong plastik. Ujung lain dari masing-masing selang itu masuk ke kantong plastik penampung cairan yang digantungkan di pinggir ranjang pasien. Dia juga tidak pakai sepatu itu. Ujung selang yang satunya dimasukkan ke kandung kemih melalui lubang kemaluan. anak-anak pasah itu (alat untuk menghaluskan kayu) saya gandeng-gandeng. begitu kandung kemih saya penuh. air kencing saya keluar dengan sendirinya melalui selang. Dan. untuk dipandang setiap hari. lalu secara teratur diukur dan dianalisis. Banyak pasien yang tangan dan badannya harus diikat karena selalu berusaha untuk bergerak. tangan saya tidak perlu diikat. kecreknya dari alat pertukangan ayah. akan timbul bunyi “crek-crek”. selang yang di pinggang juga untuk mengeluarkan cairancairan yang tidak dibutuhkan tubuh saya. Ini gara-gara saya sering menggunakan alat-alat pertukangannya untuk ndalang. Sebab. yang saya pasang di kotak kayu. saya hanya tersenyum ketika melihat anak saya mempunyai sepatu sampai lebih dari 300 dan semuanya branded alias bermerek. apalah beratnya.

meski sakit sekali. Tentu tidak ada obat. Kain yang tidak pernah dipertimbangkan bersih atau tidak karena ya baru disobek saat itu juga. saya sudah sering mengalami rasa sakit seperti itu. Makin banyak cairan yang keluar. Tapi. Bahwa sebenarnya badan tidak enak. Yakni ketika telapak kaki terkena cangkul. seperti ceceran darah. Bersamaan dengan keluarnya sisa darah dari pinggang kanan. yang disiapkan untuk menanam padi. Tapi. makin berbahaya karena peritonium bisa pecah dan orangnya meninggal. Ini berarti semua ceceran darah sisa operasi sudah didorong keluar dari rongga perut. mencangkul di sawah. memutih. Rongga perut memang harus bersih dari “barang asing”. Jumlahnya pun makin hari juga semakin sedikit. dengan cara mengeluarkan lebih banyak cairan. Kadang. selang di pinggang kiri juga mengeluarkan cairan kuning kemerahan. saya bertekad untuk tidak mengeluh. Kalau saya merasa kesakitan. ketika kecil. Dan. dan berdarah-darah. Karena itu. cairan itu makin sedikit keluarnya. Ini pertanda tak ada lagi kelebihan cairan di rongga perut saya. cangkul meleset dan mengenai telapak kaki. Cairan itu merupakan kelebihan cairan di rongga perut yang bercampur dengan sisa darah operasi yang tercecer dan berkeliaran. Sakitnya saat habis operasi ya kurang lebih seperti itu. protes. sakitnya. Saya tidak mengeluh kepada siapa pun. Apalagi seminggu sebelumnya saya baru saja baca bahwa Australia melarang penggunaan painkiller tertentu karena terbukti membuat pasien yang baru menjalani transplantasi liver meninggal dunia. Lukanya lebar. sekali lagi. Waktu kecil saya memang sering ikut jadi buruh tani. Kadang masih bercampur lumpur juga. saya tahu paling-paling hanya akan diberi obat penghilang rasa sakit. Hari-hari pertama di ICU itu memang harus saya lalui dengan amat menderita. Liver dan empedu baru saya tidak termasuk dalam kategori “barang asing” yang ditolak karena kedua organ itu kan sebenarnya penghuni rongga perut juga. selang yang di pinggang kanan berfungsi untuk mengeluarkan sisa darah yang mungkin masih menetes dari luka bekas sayatan operasi di liver dan kantong empedu baru saya. Yakni sakit akibat luka. Itu berarti satu racun lagi akan dimasukkan dalam tubuh saya. Makin hari. bukankah memang harus demikian? Bukankah ini operasi yang sangat besar? Yang tidak mungkin tidak sakit? Tapi. Sama dengan yang di pinggang kanan. (bersambung) 19 by Moezhanks . painkiller. saya bilang tidak ada. masih bisa saya rasakan. sepanjang sakitnya masih masuk akal. Tak lagi berdarah. Saya gak mau itu. posisi ujung selangnya ada di dekat kedua organ yang baru ditransplantasikan itu.akan bereaksi. ya mesti saja. Tidak mungkin setelah perut ditutup tidak menimbulkan rasa sakit. Biasanya hanya kami siram dengan minyak tanah. Saat dokter bertanya apakah ada masalah. Sehingga selangnya pun bisa dicabut. sel tumor atau kanker. lalu kami bebat dengan kain sobekan dari kaus atau sarung. Selama saya di ICU. bisa dirasakan. selang di pinggang kanan mengeluarkan cairan pekat berwarna merah. Sakit ini. Yakni luka yang sengaja dibuat dengan pisau bedah di sepanjang dada dan perut saya untuk mengeluarkan liver yang lama dan memasukkan liver yang baru. Dan akhirnya berhenti karena luka-luka bekas sayatan operasi itu sudah “kering”. cairan yang keluar dari pinggang kiri saya pun makin hari makin berkurang warna merahnya. maka selaput dinding rongga perut -yang dalam istilah kedokteran disebut dengan peritonium. Jika ada sesuatu yang tidak terdaftar sebagai “penghuni rongga perut”.Bedanya. tapi saya berusaha tabah menjalaninya.

Pelan-pelan rasa tidak karu-karuannya berkurang. Dasar bekas wartawan! Kata hati saya. Saya minta mati saja. *** Hari pertama di ICU itu saya tidak merasa mengantuk. Karena tidak melulu tercurah ke rasa sakit. saya kemudian memutuskan tidak mau lagi dikemo. Sambil mata tetap terpejam pikiran saya jalan ke mana-mana. Ini baik. Tidak tahan. dan entah berapa jenis rasa sakit menjadi satu. (Kelak akan saya jelaskan apa itu di-TACE). mata terus terpejam.Ganti Hati 08 – Sempat Berpikir Lebih Baik Mati daripada Melanjutkan Kemo 2 September 2007 KALAU saya sangat tahan menerima penderitaan selama di ICU. mulas. Ini bukan untuk menunjukkan bahwa saya pernah hampir putus asa. Lebih 20 by Moezhanks . Tak terasa sore pun tiba. salah satu manajer keuangan saya. atau umur kakak saya. Dia harus menjalani kemo berpuluh kali hingga kepalanya gundul. Semua saya catat dalam ingatan saya. Bukan. Agak lebih sore lagi. tinggi. Tapi. mual. agar tidak berakibat buruk pada luka-luka operasi saya. Lalu dia lapor ke dokter. kalau dalam satu hari itu tidak juga reda. Pasti painkiller. Rasanya saya tidak punya kekuatan untuk membuka kelopak mata saya sendiri. Saya akan cari jalan lain saja. Perhatian saya menjadi tidak hanya kepada banyaknya selang yang menancap di sekujur tubuh. Saya juga suka memperhatikan kesibukan di ruang ICU itu. Bengkulu. kata saya kepadanya. Kini dia kembali cantik dan sudah melupakan penderitaan kemonya. saya pilih mati. Juga sudah melebihi umur ibu saya. Ke Surabaya. atau umur paman-paman saya. Hanya. satu selang yang dimasukkan lewat leher kanan saya dicabut. Saya juga bisa melupakan rasa penat akibat tekad saya sendiri untuk tidak akan menggerakkan tubuh sedikit pun selama 24 jam. Baik luka di kulit akibat sayatan pisau atau luka di dalam akibat terjadinya penyambungan-penyambungan pembuluh darah. Tidak ada gunanya hidup dalam keadaan seperti itu. Yakni. Yakni. ketika setahun lalu harus menjalani kemoterapi. Dia muda. Mereka jelas lebih hebat dari saya. dilepas. rasanya luar biasa tidak karuan. masih ada dua selang yang menancap di leher yang dilubangi itu. Yakni sakit. Sedang saya tidak tahan. kembung. melintir-lintir. Memperhatikan dengan mata terpejam. Saya pernah mengalami rasa sakit sampai tidak tahan lagi menanggungkannya. Lalu dikemo. bukan saya jagoan dalam menerima rasa sakit. selang yang dimasukkan ke rongga perut lewat lubang hidung juga dicabut. Sudah berbuat sesuatu yang lumayan. Agak lega sedikit. Tapi. Waktu itu diketahui (lewat scanner) bahwa di liver saya sudah ada kankernya. ke Medan. cantik. melainkan untuk menunjukkan kekaguman saya kepada orang-orang yang mampu menjalani kemo berkali-kali. Saya pernah mengalami rasa sakit yang “sampai nggak bisa dirasakan”. Dalam hal ini saya merasa kalah dengan Sara. Sampai-sampai saya tak bisa memisah-misahkan bentuk sakitnya itu terdiri atas berapa macam rasa sakit. Saya diberi obat tertentu. Setelah dikemo itu. Memperhatikan apa saja yang terjadi di ICU itu membuat perhatian saya terbagi. Sore itu. Lalu kanker itu dicoba dibunuh dengan cara di-TACE. dan diserang kanker. Atau lebih baik mati saja. Batam sampai ke Palu. Toh saya sudah berumur 55 tahun. Saya bilang kepada Robert Lai yang menunggui saya di Singapura.

Saya sudah biasa dengan sikap untuk tidak berharap banyak pada apa pun dan pada siapa pun. Baru setelah ternyata mudah sekali membuat koran yang bisa sebesar 50 persennya Surabaya Post. Karena tidak punya cita-cita. di Bangkalan. Bukankah bahagia dan kecewa sebenarnya bisa kita ciptakan sendiri? Orang akan merasa bahagia kalau keinginannya tercapai. Rasanya. lha kalau kepalanya yang pecah gimana? Cita-cita saya semula hanya ingin punya sepatu. ada yang ganti ginjal. pabrik kertas. Padahal. diganti. Semuanya baru saja menjalani penggantian organ tubuh. Kedungdung. kalau dalam perjalanannya menghadapi batu besar. dituntun pun tidak bisa. Jangan menaruh harapan terlalu banyak. Ini karena tiap tiga perawat mengurus lima pasien ICU. rasanya tidak mungkin mengejar Surabaya Post yang sudah merajalela kehebatannya. Terpaksalah saya menggendongnya. ini saya. Ini.lega lagi. Bahkan. Dengan istikamah. Saya terus berharap. Iya kalau batunya yang menggelundung. 18 jam dibius. dalam istilah Pesantren Miftahul Ulum Al Islami. pimpinan KH Ilyas Khotib. kalau ada yang menganalisis bahwa saya punya grand design untuk membuat Jawa Pos seperti sekarang.00 keesokan harinya. Malam itu saya menyaksikan kerja perawat di ruang ICU yang luar biasa sibuknya. Dulu pun saya hanya ingin Jawa Pos menjadi koran yang oplahnya separonya dari Surabaya Post. Waktu itu. sehingga menjadi seperti Grup Jawa Pos sekarang. menurut pendapat saya. Ini belum termasuk koran-koran Grup Jawa Pos yang terbit di Jakarta dan di kota-kota lain di luar pulau. Menggendong dengan bahagia. Itu menangnya orang yang tidak punya cita-cita tinggi sejak awal. alirannya yang deras. bertemu batu pun akan ditabrak. Hidupnya lebih fleksibel. Batu pun kadang bisa menggelundung. ada yang ganti jantung. Bahkan. Keinginan itu meningkat terus secara bertahap. Lalu ingin punya sepeda. Saya tidak mau bertanya jadwal melepaskan selang-selang sisanya. biar pun rombengan.00 dan baru akan pulang pukul 07. kalau orang berpegang teguh pada cita-cita. tidaknya begitu kenyataannya. Tidak perlu lebih besar dari itu. Mungkin sudah kelamaan ditidurkan! Yakni. Perawat shift malam itu mulai bekerja pukul 19. begitu banyak alat deteksi yang terus-menerus harus dipantau. untuk mencapai kebahagiaan sangatlah mudah: Jangan pasang keinginan terlalu tinggi. Sebuah koran nasional dari daerah dengan oplah lebih dari 300 ribu eksemplar per hari. begitu banyak macam cairan infus. koran ini berkembang sedemikian rupa hingga menjadi sebuah grup media yang membawahkan lebih dari 100 koran harian dan mingguan. Tiap-tiap pasien memerlukan begitu banyak obat. Karena akan membuat saya merasa lebih bahagia. Madura. saya wujudkan dengan konstan. Orang akan merasa kecewa kalau keinginannya tidak tercapai. Tapi. sepeda itu pernah putus as rodanya sehingga tidak bisa dinaiki. ia akan membelok. Hanya. selang-selang itu satu per satu akan dilepas. delapan televisi lokal. Maka. Jadi. Tapi. dan power plant. Hanya desain-desain kecil yang saya buat. Setidaknya tidak akan membuat saya terlalu kecewa. 21 by Moezhanks . Malamnya saya juga tidak mengantuk. kalau bisa. Khawatir berharap terlalu banyak. kalah dengan air yang deras. Sepanjang malam mereka bekerja tanpa istirahat sedikit pun. dan dicatat. waktu pertama punya sepeda (juga bekas) bahagianya melebihi saat punya Jaguar. Ada yang ganti liver seperti saya. Saya punya prinsip semuanya sebaiknya mengalir saja seperti air. baik. meningkatlah keinginan untuk bisa sebesar Surabaya Post.

Sudah lama komplain ke sana kemari. Sebentar tapi menenangkan batin. bagi RS tentunya. Tujuh hari seminggu. Puji Tuhan. Begitu seterusnya. sudah harus bekerja sejak pagi lagi. berarti rumah sakit akan menderita. Besoknya tidak pakai libur. Tidak libur. yang juga tak kalah penting adalah dibuatkan invoice-nya untuk menagihkan kepada pasien. saya harus bekerja sepanjang malam. Tiba-tiba saya terlibat diskusi lagi dengan pikiran sendiri mengenai apa bentuk syukur yang harus saya lakukan.” jawabnya. pagi-pagi. Rasanya malah lebih ikhlas. Berbeda dengan muda saya dulu. Suara tat-tit-tat-tit mesin yang memonitor organ-organ tubuh saya terdengar kian jelas. sepanjang siang lagi dan sepanjang malam lagi. Liver saya kalah. sujud kan tidak harus dengan kepala? Kan bisa juga yang sujud hati? Maka saya sujud dengan hati saya. Maka setiap habis menggunakan bahan. 30 hari sebulan. Selama kirakira 15 tahun berturut-turut. Bahkan. Saya ingat waktu itu. Ini penting sekali. “Alhamdulillah. tibatiba pikiran saya jernih sekali. karena tidak dipedulikan. Lalu minta diistirahatkan seterusnya. apa pun yang di ICU terlihat jelas dan terekam baik dalam ingatan. “Ze me yang?” tanyanya 22 by Moezhanks . Saya tahu dia akan libur besoknya. Semakin banyak orang yang saya undang untuk syukuran. Tidak ada yang lihat. Saya khawatir. “Saya benar-benar masih hidup. Tapi.” kata hati saya. Hari kedua di ICU itu. Yakni. Karena dia pimpinan.” kata saya. Inilah yang membuat organ di dalam tubuh saya menderita. Besoknya sepanjang malam lagi. pimpinan rumah sakit yang juga kepala tim dokter yang menangani penggantian liver saya datang menjenguk. “Anda luar biasa sekali. (bersambung) Ganti Hati 09 – Kesadaran Pulih. tapi Saya Tak Mampu Sujud Syukur 3 September 2007 SAYA memperoleh kesadaran penuh pada malam kedua di ICU. Paginya. Saya memang bertekad untuk tidak akan mendemonstrasikan rasa syukur itu dalam bentuk yang ekstrem. Satu malam suntuk bekerja tanpa istirahat. menderita kerugian. harus dicatat berapa harganya dan lalu di-invoice-kan. Sampai malam lagi. Di tengah malam yang sepi itu. Jadi masih lumayan. semakin saya “sudah merasa bersyukur banyak”. Namun. Setiap ada kesempatan saya selalu memuji mereka. Sudah pasti saya belum punya kemampuan bersujud. Sebab. 360 hari setahun. lantas ngambek seperti ini.Dan. nggak mungkin bisa bekerja tanpa henti dengan konsentrasi tinggi sepanjang malam. Sudah lama minta untuk tidak diperlakukan seperti itu. Sepi sekali ing pamrih. kalau salah dalam meng-invoice-kan. waktu mulai membangun Jawa Pos dari sebuah koran yang hampir bangkrut. semakin panjang kalimat yang saya ucapkan.” kata saya. Misalnya. yang menyertainya banyak sekali. Saya akhirnya berkesimpulan akan bersyukur dengan cara “memanfaatkan umur tambahan ini dengan seproduktif-produktifnya”. “Untung Anda masih sangat muda. Dia sebenarnya sudah lama menangis-nangis minta diperhatikan. “Terima kasih. semakin saya “sudah merasa bersyukur”. Atau memotong sapi untuk acara besar-besaran. dengan sepanjang-panjangnya mengucapkan kalimat-kalimat tertentu atau bahkan sampai menitikkan air mata.” batin saya lagi. Kalau sudah tua.

“Dokter. melakukan pekerjaan cepat. Yakni. Benarkah sudah ada kanker di liver lama saya? Benarkah tanpa operasi ini sebenarnya saya masih bisa hidup lima tahun lagi? Benarkah. Rasanya kurang pas kalau saya sudah bertanya sejauh itu. saya masih akan berhari-hari di rumah sakit ini. Toh. Saya malah berubah pikiran dengan cepat.” kata perawat itu kepada saya setelah rombongan pimpinan berlalu. seperti kata sebagian dokter. Juga terlalu dini. melainkan soal-soal lain yang membuat saya penasaran. perawat-perawat rumah sakit ini luar biasa. Tentu itu basa-basi. apakah ada kesulitan yang berarti untuk melakukan operasi tadi malam? Apakah liver saya yang lama benar-benar telah rusak seperti yang diperkirakan? Atau sebenarnya masih baik. Lalu dia mendekat ke arah perawat dan memegang-megang pundaknya. yang akan membuat saya menyesal melakukan operasi? Soalnya. Saya bilang bahwa saya baik-baik saja dan tidak punya keluhan apa pun. Misalnya.” jawab saya. sehingga cukup dipanggil nama depannya saja (Yu) yang dikira nama marga saya. Bukan mengenai keluhan saya. “Terima kasih. Terutama kebaikannya itu.sambil memegangi tubuh saya menanyakan apa kabar dalam bahasa Mandarin. Para perawat itu tidak hanya harus membuat laporan yang baik. Tanggung jawab kepada keselamatan pasien. Bukankah pagi itu dokter hanya mengunjungi saya untuk menunjukkan perhatian kepada saya? Untuk menunjukkan rasa persahabatan yang tulus? Sebab. cermat dengan ketelitian yang tinggi di waktu malam yang sepi. Tadi malam mereka bekerja keras sepanjang malam. ternyata liver saya baik-baik saja. tapi mereka sendiri juga harus dilaporkan. Kerja yang luar biasa keras itu harus ada yang mencatatnya. Maka. mungkin masih berminggu atau (kalau operasi ini gagal) masih akan berbulan lagi. tanpa istirahat sedikit pun. Sang pimpinan tersenyum senang. Sebenarnya banyak sekali yang ingin saya katakan. Jangan-jangan hasil scanner yang menyatakan liver saya sudah rusak dulu itu hanya karena alat scanner-nya “salah lihat”. Bahkan. Mr Yu memuji saya di depan pimpinan. tanpa mengunjungi saya pun dia sudah bisa baca dari laporan komputer mengenai perkembangan keadaan saya. Tidak ada kata-kata yang diucapkannya. “Hen hao.” kata saya kepada pimpinan rumah sakit itu. Di Tiongkok nama saya memang Yu Shi Gan (baca: i-se-kan). saya kira memang tidak perlu ada kata-kata apa pun. Yang membuat saya ingin segera tahu. Tepukan tangan ke pundak anak buah seperti itu sudah melebihi pujian yang diucapkan dengan ribuan kata. saya urung mengajukan pertanyaan-pertanyaan tadi. Dan. Saya memang benar-benar ingin memujinya. bahwa sebenarnya saya tinggal punya kesempatan hidup enam bulan lagi? Karena kanker sudah menjalar ke beberapa bagian di dalam liver saya? Tapi. Kalau saja tidak teliti pun siapa yang tahu? 23 by Moezhanks . Bukankah memang ada kasus-kasus “salah diagnosis” semacam itu? Ada juga pertanyaan yang lebih penting yang ingin segera saya ketahui. Masih ada waku di lain hari. Saya tidak basa-basi memuji para perawat itu. Para perawat itu bekerja dengan penuh tanggung jawab. ada juga sedikit kekhawatiran bahwa jangan-jangan setelah perut dibuka. Saya justru bergegas menunjuk ke perawat yang berdiri di arah kaki saya. pertanyaan itu terlalu banyak untuk diajukan pagi itu.

John tidak punya anak laki-laki. plester. tisu. Kali ini bersama adiknya. Dia ajari fotografi. Yakni. tapi juga kemerdekaan dan filsafatnya. Dia ajari jurnalistik. Saya mungkin juga tidak berada lagi di ICU karena pagi itu sudah bisa kembali ke kamar saya di lantai 11. Besok sudah akan menjalani kehidupan baru dengan pasien berikutnya lagi. tapi karena bapak angkatnya itu. Dan kerja kerasnya. Saya hampir tidak pernah bicara soal perusahaan kepadanya. *** Tiba-tiba anak saya laki-laki. kapas secuil ada harganya. masuk ICU. dan seterusnya. Wajahnya kelihatan bersorak gembira. Begitu tamat SMP. Perasaan saya baik-baik saja. saya membiarkan proses manajemen berjalan apa adanya. Juga belum tentu menghasilkan kekayaan. rumah sakit akan rugi. infus. Karena dia bukan bawahan langsung. Saya sendiri sejak awal tidak ingin dia kerja di koran. Pemakaian barang seharga 1 yuan (sekitar Rp 1. Kalau tidak. Isna Fitriana. Saya tidak akan lupa wajahnya. jarum. kami tidak pernah tahu di rumah siapa dia akan tinggal di AS. DBL (DetEksi Basketball League) adalah liga basket SMP/SMA terbesar di Indonesia yang dia prakarsai. Pagi ini saya kembali ke Surabaya. saya ternyata jarang sekali berbicara dengan mereka. Rupanya. sarung tangan.Mereka juga bekerja dengan penuh tanggung jawab kepada rumah sakit. Tiap hari dia ajak anak saya ke kantor korannya. dan obat-obatan.” ujar Azrul. Saya tidak mungkin memberinya uang. Meski anak lelaki saya juga di Jawa Pos. Anak-anak saya memang sudah terpisah sejak mereka masih amat remaja. cairan infus. seorang bapak yang ternyata juga pemilik surat kabar daerah di Kansas. Jarum pun ada harganya. Jadilah Azrul anak yang mencintai koran. Tidak akan lupa keterampilannya. Maka. Namanya John Mohn. yang baru malam harinya tiba dari Surabaya. Sebelumnya. Seperti mendapatkan uang berjuta. Azrul Ananda.” kata perawat itu. masuk SMA di sana. Azrul dia anggap sebagai anak laki-lakinya. Setiap ada pemakaian bahan harus dicatat harganya dan dibuatkan invoice penagihannya.100) pun harus dicatat rapi dan dibuatkan perhitungannya. Apalagi selang. Bukan karena saya. Saya perlu memujinya karena setelah hari itu saya tidak mungkin lagi bisa bertemu mereka. “Terima kasih Bapak telah memuji saya di depan pimpinan saya. keduanya langsung ke USA. Tidak akan lupa ekspresi kegembiraannya. Keberadaan dia di Jawa Pos malah membuat hubungan saya sebagai bapak dan anak menjadi seperti hubungan atasan dan bawahan. Hari ini mereka dapat giliran libur. Azrul dapat orang tua angkat yang sama sekali tidak diperkirakan. Saya perlu memuji perawat tersebut sebagai bentuk ucapan terima kasih saya yang tulus kepada mereka. Terlalu menyiksa. membawa dompet pun belum tentu ada duitnya. Yakni. Saya kan dalam keadaan telanjang! Mana bisa membawa dompet? Apalagi sudah menjadi kebiasaan saya.” tambahnya. Ternyata. Maka sejak tamat SMP saya kirim dia ke AS agar bisa punya pilihan 24 by Moezhanks . Bukan hanya penulisannya. Karena itu. Saya mengangguk karena rasanya memang tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Bahkan. selang. dengan cara tidak ceroboh mencatat harga-harga barang yang saya gunakan malam itu: obat. “DBL harus segera dimulai. “Bapak kan sudah aman. Ikut orang tua angkatnya yang didapat melalui proses undian. Juga juragan koran. berarti tidak perlu ada hubungan yang khusus. Azrul sampai tujuh tahun di sana. Dia seorang master jurnalistik. Terlalu berat. Dan Isna sudah di sini. Hari itu rupanya saya akan diserahterimakan. baru selama sakit ini saya punya komunikasi yang intensif dengan anak-anak saya.

ketika sudah berada di kamar biasa. Dua hari kemudian lubang itu sudah menutup. dia balik bertanya: saya harus cari uang? Saya mau jurnalistik. katanya. “Ternyata kita punya bapak. Juga belum bisa buang angin. kalau ada yang menganggap saya sejak awal menyiapkan anak saya untuk di Jawa Pos. Ini saya sadari setelah beberapa kali perawat menanyakan soal yang kelihatannya sepele itu. Suasana yang sangat mengurangi rasa sakit saya selama di ICU. Menyikapi kedua penilaian itu saya pasrah saja. seorang cucu dan calon seorang cucu lagi. Baru ketika saya sakit ini. Kelak. Kami pun sering dalam keadaan lengkap berada dalam satu ruangan: saya. tapi seperti sampai dada. siang itu dua selang yang masuk ke rongga dada lewat leher kanan saya juga dicabut. Saya justru mau anak saya bekerja di luar negeri dulu. Justru ketika sakit ini saya seperti menemukan keluarga saya. ada juga yang menilai bahwa saya harus bersyukur karena ada anak yang masih punya idealisme di bidang jurnalistik. dan anak-anak saya. Mereka sudah terbiasa mandiri. hanya akan mau bekerja sama kalau tetap dibolehkan makan babi? Atau dia begitu baiknya sehingga akan ikut saja peran apa yang harus dia jalankan? 25 by Moezhanks . Sangat tidak enak. Jadi. Eh. mereka sering menemani saya. Sepanjang malam saya tidak bisa tidur. atau lagi pasang kuda-kuda untuk saling bermusuhan? Apakah liver baru itu sedang tawar-menawar pekerjaan dengan organ lain? Apakah liver baru itu sedang mengajukan syarat-syarat kerja sama? Misalnya. Sekarang ditambah dengan menantu-menantu dan seorang cucu. Setidaknya agar bisa berbahasa Inggris. Saya masih punya pikiran jangan-jangan lubangnya masih menganga.” kata Isna kepada kakaknya. Tapi. rupanya saya belum bisa buang air besar. ya. yang nama-nama hari dalam bahasa Inggris pun tidak hafal. Lalu jadi pengusaha yang mandiri. Itu membuat pikiran saya lari ke mana-mana. Sepulang dari USA anak-anak saya praktis jadi dirinya sendiri-sendiri. perut saya mulai merasa kembung. saya masih sering meraba-raba bekas lubang di leher itu. Tidak seperti bapaknya yang hanya tamatan SMA (aliyah). terjadilah. “Ternyata saya punya anak. Lebih menggembirakan lagi. Mereka pilih tinggal di rumah sendiri. sungguh tidak demikian maunya.” gurau saya kepada keduanya. Termasuk ke liver baru saya. istri saya. Sambil tertawa cekikikan. (bersambung) Ganti Hati 10 – Meski Keluar ICU. Saya berkhayal sedang apakah dia? Lagi saling berkenalan dengan organ saya yang lain. Oh. Apakah saya menyesal? Ya dan tidak. Jangan Anggap Sudah Merdeka 4 September 2007 SEPANJANG sore sampai malam (hari kedua di ICU).lebih baik. Ketika hal ini saya kemukakan kepada Azrul. Termasuk tidak mau lagi tinggal bersama kami di rumah. Penuhnya bukan hanya di perut. Yang terjadi. Makanya perut seperti penuh sekali. Lubang bekas selang-selang itu lantas ditutup dengan plester.

apakah tidak akan terjadi konflik anak-bapak yang diakibatkan perbedaan zaman? Juga perbedaan gaya hidup? Apakah tidak akan terjadi adu balap? Apakah jantung tua saya kuat melayani balapan itu? Panjang sekali khayalan saya. Apakah tidak akan menimbulkan persoalan? Misalnya. Untunglah saya tidak perlu melalui tahapan darurat itu. Kabel-kabel yang menempel di dada kanan dan dada kiri dicabut. Selang yang sudah 56 jam berada di lubang kemaluan saya dicabut. Rumah sakit ini memang bisa melakukan transplantasi organ sebanyak 30 orang dalam waktu bersamaan. Dialah yang memasang tadah kotoran dan membersihkannya. Kereta ini yang membawa saya turun ke lantai 11. Paginya. Kalau saja pagi itu saya belum punya “rasa”. Atau barangkali karena saya sudah merasakan yang paling sakit. Tiap pasien dapat satu kapling yang dibatasi dengan kaca terhadap pasien lain. Berarti ruang ICU-nya memang harus banyak sekali. sakitnya seperti apa kan belum dirasakan. Setelah itu tiba-tiba saya merasa seperti ingin buang angin banyak-banyak. yang bisa saja membuat badan saya berubah posisi dan menimbulkan bahaya bagi bekas-bekas operasi. Dalam proses keluar dari ICU itulah saya baru tahu bahwa ruang ICU ini amat-amat panjangnya. berjalan dengan normal. ternyata tidak. kalau saya ingat banyak pasien yang keluar ICU masih dengan selang yang menancap di leher. Rasanya juga sakit. Tidak perlu ada orang yang mengangkat. barulah saya “rasa” itu muncul. Agak sakit rasanya. apakah tidak akan mengajak balapan organ lain seperti jantung. Saya bersyukur. Mekanisme tubuh saya. karena saya toh harus kencing. Satu jam kemudian persiapan mengeluarkan saya dari ICU dilakukan. Semuanya hilang sudah. Badan saya terbawa di atasnya. dengan organ baru di dalamnya. Bukan khayalan yang ilmiah. 26 by Moezhanks . Juga kabel-kabel yang dihubungkan ke ujungujung jari. Ternyata untuk urusan buang air besar ini ada perawat khusus. Tapi. Maka suara bom pun bergelegaran. Perut saya akan dimasuki cairan lewat pantat. akan dilakukan rekayasa. Sekitar pukul 10. saya harus merasakannya. Pagi itu juga diputuskan saya boleh keluar dari ICU. Semua dicatat oleh perawat. Ternyata rasa sakitnya tidak seberat yang saya bayangkan. Sampai-sampai timbul rasa takut setiap merasa akan kencing. paru. terjadi generation gap yang tajam? Bukankah liver baru itu belum sampai berumur 25 tahun. Tapi. Dia perawat yang berbaju biru. Memang seluruh lantai 12 adalah ICU. Lega tapi memang sakit. Rupanya keluar atau tidak dari ICU. Alat untuk mengukur tekanan darah juga dilepas. selang yang masuk ke rongga perut melalui pinggang kanan juga dicabut. Ya. Saya pun sebenarnya sudah membayangkan akan keluar ICU dalam keadaan seperti itu. Rasa plongnya bukan main. sehingga sakit-sakit kelas seperti itu sudah saya anggap bukan sakit lagi.” kata perawat setelah berhasil mencabut selang itu. tapi sakit yang menimbulkan kelegaan. Dari kereta itu secara otomatis menjulur sebuah papan besi menyekop ke bawah badan saya. “Kencing pertama sampai ketiga nanti mungkin agak sakit. Khayalan orang yang tidak bisa tidur saja.00 saya sudah dipindahkan dari ranjang ICU ke kereta angkut. Tapi. dan ginjal? Kalau organ-organ lain saya sudah berumur 56 tahun. kan tetap harus dicabut? Sakit tapi lega. Kata-kata itu terus melekat di ingatan saya. Apalagi. Saya panggil perawat. Ini untuk memudahkan memindah badan saya dari ranjang ICU. Kereta ini dilengkapi sistem hidrolis. Lalu. yang sudah lebih tua umurnya.Yang tak kalah penting adalah perbedaan umur yang mencolok antara liver baru dan organ saya yang lain. Semua berjalan natural. Urusan buang hajat pun selesai. ke kamar lama saya yang sudah dibuat bersih sebersih-bersihnya. salah satu ukuran yang menentukan adalah ada atau tidaknya “rasa” tadi. hari ketiga di ICU.

Sebab. Anda bukan dokter. melambaikan tangan. orang Arab Saudi. Itu alasan Anda saja untuk diperbolehkan menulis. harus balik lagi ke Tiongkok tiga bulan kemudian. Pasien lain yang belum operasi menyambut kepulangan saya dari ICU. Kalau ditambah dengan penuhnya bahan tulisan di otak saya. Mula-mula tiga jam sehari. Robert tahu saya sering maunya sendiri. boleh membuka. proses tersebut tidak mulus. Saya sendiri sudah sering memberikan ucapan selamat seperti itu kepada pasien yang baru menjalani operasi sebelum saya. Lalu ke rumah sakit di negaranya sendiri untuk mengeluarkan “barang titipan sementara” itu. Lalu tidak perlu infus sama sekali. untuk mengambil “barang” yang masih dititipkan di dalam. Sebelah kamar saya. Lalu tinggal dua jam. Saya mendengarkan baik-baik nasihat itu. saya tetap bermohon untuk dapat dispensasi melakukan dua pekerjaan itu. Kini saya diserahterimakan dari perawat ICU ke perawat ruang rawat inap. Mereka segera membuat lubang baru di lengan saya untuk keperluan infus-infus berikutnya. berapa seri tulisan itu nanti. Masih sederet contoh tragedi seperti itu. ada pasien yang merasa kuat dan jalan sendiri ke kamar mandi. Contoh lainnya. dia harus menunggu kondisi badannya membaik dulu. Dia terkena infeksi. Berbagai usaha sudah disiapkan. Kondisi yang ditunggu itulah yang tidak datang. apakah tekanan darah tidak akan semakin tinggi? “Itu logika Anda saja. apa yang mau saya tulis ini semuanya sudah lengkap dan memenuhi kepala saya. kali ini dia kecele. semua sudah ada di kepala.” ujar Robert Lai. tapi gagal menjauhkan diri dari virus dan infeksi. Sayangnya. Terpaksa perutnya dibuka lagi. Tapi. Dari kamar yang lain. Dia terjatuh dan harus masuk ICU lagi. Tiap hari saya masih harus diinfus beberapa obat dan vitamin. tekanan darah bisa naik. teman saya itu. Termasuk yang nekat pulang meski baru satu bulan setelah operasi. Saya mengakui Robert benar. Kalau tidak segera saya tuangkan di komputer. Saya hanya minta kelonggaran dua saja. Orang tersebut merasa sudah sangat normal. membaca. Tapi. Akhirnya dia meninggal dunia di rumah sakit ini bulan lalu. termasuk akan dilakukan transplantasi liver lagi. (bersambung) 27 by Moezhanks . Yakni.” ujar Robert Lai. Itu membahayakan hasil operasi.Tiba di lantai 11. Diadakan perbaikan lagi di dalamnya. Dia lantas menakut-nakuti saya dengan kisah banyaknya pasien yang sukses dalam menjalani operasi. Seorang kenalan dari Pakistan terkena infeksi setelah tiga hari keluar ICU. “Mana ada baru tujuh hari setelah transplantasi liver sudah memeras otak untuk menulis begitu panjang?” sergahnya. serta membalas dan mengirim email. orang Jepang. Namun. obat sinkronisasi liver baru saya punya efek samping menaikkan tekanan darah. Terutama di seminggu pertama keluar dari ICU. Perawat yang sudah tiga bulan lebih saya kenali dengan baik. para perawat menyambut. Tapi. tiap seri harus dibuka dengan kalimat apa dan ditutup dengan cara bagaimana. jangan Anda anggap sudah merdeka. Sebab. Saya sudah bertekad akan taat peraturan setaat-taatnya. mengucapkan salam. Pasien dari Taiwan mengucapkan selamat atas kesuksesan operasi saya. keadaannya sudah sangat payah. Tapi. Apa saja yang akan saya tulis. Pertama. Kedua. Lalu satu jam. boleh mulai menulis cerita ini. Setelah tidak bisa diatasi di negaranya. *** “Meski sudah keluar ICU. Memang sudah diizinkan pulang. terpaksa balik lagi ke rumah sakit ini.

Dan memang. Saya memang suka bergurau. Itu hari kelima setelah operasi atau hari kedua setelah keluar dari ICU. menambahkan: “Ha ha. “Kalau sampai jatuh di rumah Gong Li.” tulisnya. Datangnya dari dalam diri saya sendiri. Bahkan sudah harus latihan berdiri. tidak ada suara benda jatuh. Humor khas Surabaya datang dari Jamhadi. Maklum. “Hari ini saya sudah diharuskan mulai turun dari tempat tidur. bisa diteruskan dengan turun dari tempat tidur dan mencoba berdiri. Margiono.” Gong Li adalah artis yang paling terkenal dan konon juga paling cantik di antara artis Hongkong. menimpali Margiono. Dirut Rakyat Merdeka yang lucunya bukan main. Untuk memberikan gambaran bahwa saya sudah bisa bergurau lagi. Kekhawatiran-ngawur saya itu saya SMS-kan ke beberapa teman. Harus duduk lebih dulu. Bisa tiba-tiba pusing dan jatuh. “Ha ha… Kalaupun jatuh. Tidak sedikit kasus pasien jatuh saat pertama mencoba berdiri. kalau toh jatuh. empat itulah yang saya pilih sebagai yang paling lucu. Masih mudah mencarinya.” tulis saya. kontraktor yang membangun gedung Jatim Expo dan asrama mahasiswa Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya. Leak Kustiya. masih di perut. Jawaban dari beberapa teman berdatangan. Sekali lagi. Kata njatuh. pendiri majalah TEMPO yang juga amat humoris. Kalau tidak pusing. jangan sampai langsung berdiri. tapi humornya sering cerdas. Saya masih dapat peringatan tambahan. Tapi. Bergurau soal Liver. Bahkan ingin tertawa lebar. Kalau saya nanti berdiri. saya harus menahan tawa. setengah bergurau. mungkin tidak bisa dipahami di luar Surabaya. Diam-diam saya sudah bisa menjadi juri lomba humor di hari kelima setelah operasi saya. Meski ada cairan infus yang menggantikannya. apa juga bersuara? 28 by Moezhanks .” kata Margiono yang pandai mendalang itu. Misalnya. saya sering mencoba menertawakan diri sendiri. jahitannya bisa mrotoli. apakah liver baru saya tidak jatuh? Apakah sambungannya sudah kuat? Tali apakah yang dipakai untung menggantung liver baru itu? Setengah serius. Jangan begitu. Tapi.Ganti Hati 11 – Mulai Berdiri. Kalau dibuat tertawa masih sakit. Banyak sekali peringatan yang disampaikan kepada kami sebelum pertama saya turun dari tempat tidur. Saya justru takut hati baru itu jatuh di rumah Gong Li. Harus ada orang yang memegangi. sih itu bukan jatuh. Saya takut liver baru saya jatuh. jahitan di perut yang panjaaaang ini masih basah. Sekaligus memberi kabar baik mengenai kemajuan demi kemajuan yang saya peroleh. Dan lagi. bagi orang Surabaya lucu sekali. Tepatnya bukan peringatan. Tapi. kontan membalas. Mas Goenawan Mohamad. Kalau sedang tidak ada yang ditertawakan. Juga lima hari tidak makan. Tenang beberapa saat untuk lihat-lihat keadaan. Tapi njatuh. Saya tertawa. Padahal. Dimarahi Saudara di Desa 5 September 2007 JANGAN begini. sudah lima hari saya terus dalam posisi berbaring. saya lupa bertanya kepada dokter apakah tali yang dipakai menggantung liver baru saya cukup kuat. “Yang bahaya kalau jatuhnya di dekat pasar loak. tapi pertanyaan.” tambahnya.” tulisnya. begitu saya berdiri. “Lebih berbahaya daripada jatuh di dekat pasar loak. redaktur pelaksana Jawa Pos yang pendiam. Tapi. jangan-jangan kalau teralu banyak tertawa. Masih banyak SMS yang masuk di sekitar jatuh-menjatuh itu. Saya juga lega bahwa hati saya yang baru tenyata tidak mengubah selera humor saya.

guru ilmu mantiq saya dulu. seperti yang sudah saya utarakan di bab terdahulu. saya tidak pernah membaca ada ajaran seperti itu. “Nyawa kok dibuat guyonan. menurut ilmu itu. Tidak guyon seperti itu. bawahan itu sebenarnya juga boleh me-manage atasan. tidak pernah takut mengatakan apa adanya. Dia sudah terpaksa jadi kiai ketika masih amat remaja. berarti bukan bawahan yang cerdas. Jadi. Dia marah. “Apakah ada perintah untuk memperbanyak doa?” tanya saya. Itu tahun 1948. Bukankah. malas menggunakan pemberian Tuhan yang amat penting itu: otak. pasti Aku kabulkan’. Bahkan. “Yang ada hanyalah ’Mintalah kepadaKu. harus bisa membuat atasannya memenuhi keinginannya. kalau memang cukup cerdas. misalnya. ini soal cara. Kepada atasan. “Yang diperintahkan beberapa kali adalah perbanyaklah mengingat Tuhan (zikir) dan perbanyaklah berbuat baik.Keceriaan saya hari itu padam manakala masuk SMS dari keluarga saya di desa.” tambahnya. Kepada Tuhan. Orang yang tidak pernah belajar ilmu mantiq bisa salah paham. Padahal. biasanya saya menasihatinya berdasar ilmu mantiq itu. doa ini: Ya Tuhan. Kalau seorang bawahan tidak mampu melakukan itu. “Berdoa itu. Saya harus mengenang guru saya itu. Soal kemampuan kita memanajemeni atasan. masukkanlah saya ke surga. lalu ditimbuni batu.” balas Agus segera. sedikit-sedikit berdoa seperti kita ini malas berusaha. pesantren kami yang sangat maju dan terkemuka mengalami kemunduran. Saya pernah belajar ilmu mantiq (logika) sewaktu di Madrasah Aliyah Pesantren Sabilil Muttaqien. Mereka dimasukkan sumur hidup-hidup. saya SMS ke Ir Agus Mustofa. Takut orang salah paham.” menurut ilmu mantiq. “Tidak ada perintah memperbanyak doa. Kalau ada karyawan yang sedikit-sedikit mengeluhkan atasannya. dengan jalan banyak beribadah (termasuk kerja keras)? Ilmu inilah yang juga saya bawa ke praktik manajemen. Semua itu tinggal soal cara. Intinya: seorang bawahan. Demikian juga guru-guru terkemuka lainnya. 16 km dari Kota Magetan. Misalnya. Magetan. Takeran.. 29 by Moezhanks . Sekali lagi. “Kita di sini tidak henti-hentinya berdoa. dikemas secara halus dalam wujud yang bernama doa? Mengapa kita selalu memerintah Tuhan untuk memasukkan kita ke surga? Mengapa tidak kita sendiri berusaha sekuat tenaga. Tidak harus selalu keinginan atasan yang berlaku. sama dengan kita memerintah Tuhan agar memasukkan kita ke surga? Bukankah kata “masukkanlah” itu “kata perintah?”.” ujar Agus. Ini karena enam kiai utama di pesantren kami (yang tidak lain paman-paman ibu saya) dibunuh orang Partai Komunis Indonesia (PKI). ketika meletus peristiwa Madiun yang terkenal dalam sejarah itu. kita menggunakan cara yang disebut berdoa. Tentu sebelum mengucapkan kata-kata tersebut saya berpesan agar jangan membicarakan istilah saya ini dengan orang lain. mengapa memerintah atasan yang masih bernama manusia saja tidak bisa?” Takut juga saya mengisi “titik-titik” itu.” tulisnya. Saya lantas memanfaatkan ilmu mantiq itu dalam praktik manajemen. Dia marah karena seharusnya saya tidak berhenti berdoa minta keselamatan dan kesembuhan dari Tuhan. Ada alasan lain mengapa saya memilih sumeleh kepada Tuhan daripada sedikit-sedikit minta sesuatu kepada-Nya. Soalnya. Sejak itu. Saya tidak akan menaikkan karir bawahan yang seperti itu.” tambahnya. Mas Dahlan sendiri guyon. Kata saya kepada karyawan yang suka mengeluhkan atasannya itu: “Kita ini bisa dan sering memerintah…. Bukan hanya atasan yang bisa me-manage bawahan. termasuk guru yang didatangkan pesantren kami dari Mesir. “pada dasarnya adalah memerintah Tuhan”. KH Hamim Tafsir. Pesantren keluarga kami sendiri. Tidak pantas. Hanya. penulis buku Takdir Bisa Diubah yang laris itu. Lalu.

suhu badan diukur tiap dua 30 by Moezhanks . Bukan saja agar sesekali bertemu bawahan di forum itu. Karena itu. “Saya berdoa kepadamu mudah-mudahan engkau mau membersihkan kamar kecil itu lebih bersih lagi. Yakni. Jadi.mungkin dengan gaya “bermohon atau minta petunjuk atau mengiba atau apa sajalah”. Ini karena ruang biasa tidak dilengkapi peralatan monitor yang serbaotomatis. Di kantor-kantor Grup Jawa Pos. kemungkinan infeksi pun kini sudah bisa diturunkan maksimal karena adanya cara baru. Untuk mengatasi penolakan itu. (bersambung) Ganti Hati 12 – Perawat Sekaligus Menjadi Polisi Penjaga Virus 6 September 2007 KELUAR dari ICU tidak berarti merdeka. tidak ada lagi mata pelajaran ilmu mantiq itu. Termasuk bab mengapa liver saya sakit. saya sering juga menggunakan gaya ini kalau hati sudah amat jengkel melihat kamar kecil yang kotor. (Akan ada uraian tersendiri untuk ini di bab-bab berikutnya. Tapi. Kalau toh terjadi. kepada Tuhan kita berdoa. Mengeluh berarti tidak cerdas. Saya membayangkan dia memang pernah belajar kungfu. bisa diketahui secara dini. terlalu banyak kasus kegagalan transplantasi liver terjadi justru pada minggu pertama setelah keluar dari ICU. Demikian juga tidak lagi banyak staf yang mengeluhkan rekan kerjanya. Dia mencari jalan beraneka cara untuk mencoba bisa me-manage atasannya dengan bijak. keinginan kita yang kita yakini benar bisa dipenuhi oleh atasan. saya memang melarang pembuatan kamar kecil khusus di ruang pimpinan. Mengapa tidak bisa ditanggulangi. Banyak manajer saya yang kemudian tidak mudah mengeluhkan “ketidakmampuan atasannya”. Saya sendiri kini masih terus berpikir bagaimana saya bisa me-manage liver baru saya. Tentu tidak pas kalau kepada bawahan Anda mengatakan. tapi juga agar bisa ikut mengontrol kebersihan kamar kecil umum. sejak masih dalam bentuk gejala. itu baru persoalan. kepada sesama kita minta tolong. tapi saya berharap liver baru saya itu belum pernah belajar ilmu mantiq untuk mengalahkan saya. Infeksilah yang banyak mengakibatkan kegagalan. Bukan lagi akibat badan menolak kedatangan liver baru.” Tapi. dan kepada bawahan… teserahlah mau pakai yang mana. Apa sebabnya. kepada atasan kita bermohon. ketika pasien terkena infeksi. Bukankah kepada sesama rekan staf. Kini ancaman kegagalan transplantasi liver bukan lagi seperti dulu. Obat yang menyinkronkan liver baru dan organ-organ lain yang lama. Ini agar pimpinan juga menggunakan kamar kecil umum.) Untuk menjaga jangan sampai terjadi infeksi itulah. kini sudah ada obat yang sangat modern. kalau dia lebih pintar dan mampu me-manage saya agar saya mau memenuhi keinginannya. kepada bawahan pun kata “minta tolong” akan lebih efektif daripada kata “saya perintahkan” -meski atasan berhak memerintah bawahan. Bahkan. Padahal. Dan saya dengar di kurikulum madrasah aliyah sekarang ini. Yang penting. Ilmu mantiq ternyata banyak membantu saya dalam menjalankan praktik manajemen. Justru harus lebih hati-hati. monitoring dilakukan ketat. Bahkan. Termasuk yang diterapkan kepada saya. Saya sudah bermohon kepadanya untuk jangan sekali-kali kangen akan daging babi. kita bisa menggunakan gaya “minta tolong”.

Sedangkan denyut jantung sangat normal. sebelum makan. Semua harus menggunakan masker penutup mulut dan hidung. saya disuntik dulu untuk menurunkannya. dan apa efek sampingnya. Bukan karena fungsi pankreas yang jelek. Selalu antara 35. tapi khawatir jangan-jangan ada yang tidak beres pada sambungan-sambungan pembuluh darah lama dan baru. Tekanan darah saya juga tinggi jika dibandingkan dengan sebelum operasi. Siang sedikit. Hasil USG tiap hari itu menunjukkan tidak ada tanda-tanda kegagalan penyambungan liver baru saya. tapi tidak kuat jantungnya. suhu badan saya sangat menggembirakan. pada hari kelima. sampai malam. Bangun tidur bisa mencapai 90/140. Lega rasanya meski baru lega tahap satu. Bukan karena pankreas saya tidak berfungsi.” kata dokter. “Banyak juga yang sukses operasinya. Tidak sekali pun dalam minggu pertama itu suhu badan saya naik di atas angka itu.” ujar seorang suster. dulunya saya amat cerewet kalau diberi obat. dokter meminta saya tidak waswas. melainkan karena afk tadi. Setelah makan. Hasil ronsen itu juga menggembirakan. Padahal. Ujung jari saya di-”ceklik” beberapa kali sehari untuk mengeluarkan sedikit darah. banyak juga yang logika saya ternyata salah. diminum dua kali sehari. Memang. Maka. Namanya afk. “Itu hanya karena efek obat. Bahkan. Biasa juga disebut obat antirejection. saya juga di USG. Sewaktu saya kemukakan kekhawatiran saya akan tingginya gula darah itu. Sangat prima. Yakni bisa membuat gula darah dan tekanan darah naik. Obat ini berupa kapsul kecil-kecil tiga butir. Lalu. Jangan sampai orang yang menjenguk menularkan virus yang sangat membahayakan. Untuk dites kadar gulanya. tidak perlu takut karena ada obatnya. tidak diperlukan lagi pemeriksaaan gula darah. Pertama. Tiap pagi. Ini untuk melihat apakah ada genangan air atau dahak di paru-paru.jam. Tapi. Demikian juga tekanan darah dan denyut jantung. Tapi. karena saya memang bukan dokter. Juga untuk melihat apakah ada genangan air atau darah di dalam rongga perut saya. Ini sangat-sangat tinggi. Pada hari pertama di luar ICU.7 derajat Celsius. paru saya juga dironsen. Kedua. harus diukur dulu tekanan darah dan gula darah. Anti penolakan terhadap liver baru.” ujar dokter. Pada hari pertama. diukur lagi. bayangan saya akan transplantasi liver sama sekali berbeda dengan kenyataan dalam praktiknya. USG tidak lagi dilakukan. antara 76 sampai 85. Tapi. Ini pertanda bahwa infeksi tidak terjadi di dalam tubuh saya. kali ini saya tidak bertanya obat apa saja itu.5 sampai 36. Karena itu. Paru-paru bersih. kali ini saya putuskan “tidak akan jadi dokter untuk diri saya sendiri”. Termasuk untuk melihat apakah ada masalah pada ginjal saya. sering saya cek lagi kebenarannya lewat internet. Selain obat anti penolakan itu. Pankreas Anda sempurna. 31 by Moezhanks . apa kegunaannya. ini juga karena pengaruh obat saja. Bukan takut hamil. Untuk itu pun. Obat ini memang punya efek samping yang kuat. gula darah saya sudah normal. saya juga harus minum beberapa obat lainnya. pada hari berikutnya. Pada hari ketiga. Tapi.5 (sebelum makan). semua orang yang masuk ruang saya harus taat akan peraturan ini. selalu antara 80/120 sampai 85/130. Saya harus tahu persis apa-siapanya. ada “polisi” keras yang menjaganya: Robert Lai. sebelum makan. Kebetulan. Karena itu. Apalagi keadaan badan saya terus membaik sehingga saya semakin percaya saja pada keputusan dokter. gula darah saya 17 (sebelum makan). Misalnya. Karena itu. saya harus minum obat penyinkron liver baru. Sekitar 4 sampai 6. “Kita akan terus memonitornya. Kali ini saya serahkan saja sepenuhnya pada keahlian dokter.

Yang tidak pakai masker. dia juga guru bahasa Mandarin. dia ikut melakukan “operasi nonteknik” pada malam menjelang operasi. dan punya keterampilan sebagai perawat. Juga tidak boleh dipercepat. handuk. “Trust is good. menjaga kebersihan pakaian. Untuk meminumnya. Mereka memang para pensiunan perawat yang masih ingin terus bekerja. dan kamar. Tidak boleh terlambat. Untuk mewujudkan prinsip yang dipegangnya itu. Dia menjadi seperti perawat spesialis pasien ganti liver. Melinda dan suaminya sampai membuka sepatu ketika masuk ruang saya. diciptakan sistem kontrol. Pak Dahlannya yang kamu pasangi masker. Semula Melinda dan suaminya hanya ingin menengok saya karena kebetulan lagi di Tiongkok. Kini tinggal dua kapsul kecil sekali minum. Tahu kalau saya segera operasi. Tepat jam enam. dia memutuskan menempatkan perawat khusus di kamar saya. bisa bicara Mandarin dan beberapa bahasa daerah di Tiongkok.” ujar Robert Lai. Perawat itu disiplinnya bukan main. apa pun harus kalah.” pesan Robert kepadanya. Yakni. air. Sebab. Obat ini merupakan obat terpenting dalam menjaga keberhasilan transplantasi liver. sama sekali tidak boleh. masuk ke ruang operasi tanpa satu pun ada anggota keluarga yang mengantarkannya. bahkan dengan logat yang sangat daerah. Dia tahu persis gejala-gejala yang baik dan gejala-gejala yang kurang baik dalam perkembangan pasien. tidak boleh lupa. ahli hukum dari Singapura lulusan Inggris itu. dia tegur. Kehadiran perawat khusus seperti itu amat penting karena belum tentu keluarga kita mengetahui detail mengenai pengobatan. Sudah sebelas bulan ini selalu menemani saya pergi ke mana pun. Terutama menjaga ketepatan waktu minum obat. Bagaimana kalau lupa juga? Tetap. perawat yang khusus melayani kepentingan saya selama 24 jam. Orangnya umumnya sudah agak tua. sabar. tentu Anda tidak berani menegur. obat sinkronisasi itu dikurangi 30 persen. apakah obat yang diberikan lengkap atau tidak. Berarti 24 jam saya bisa belajar Mandarin secara tidak langsung. Bahkan. Tidak kurang satu menit pun atau lebih satu menit pun. Apalagi lupa. Karena itu. Dia sudah hafal jenis-jenis obat yang disediakan dan jam-jam penggunaannya. Dia akan melakukan cek ulang. Dalil “manusia itu tempatnya salah dan lupa” tidak berlaku di sini. Kalau sudah waktunya minum obat. Perawat itu juga menjadi polisi penjaga virus. pengalaman para perawat khusus ini sangat banyak.Mengingat indikator-indikator badan saya sudah begitu baik. Saya lihat beberapa orang Jepang. but control is better. harus tetap seperti itu. dia memang hanya bisa berbahasa Mandarin. perawat khusus tersebut yang melakukan. dua kali sehari. 32 by Moezhanks . tidak pernah ada dokter yang tidak disiplin. Untungnya. dia memtuskan menunggu saya sampai beberapa hari setelah operasi. Rumah sakit ini punya semacam unit usaha yang menyediakan jasa perawat khusus seperti itu. suhu badan. Dia orang yang amat disiplin. dan pekerjaan sejenis itu. meski bahasa pertamanya adalah Inggris. ada petunjuk khusus mengenai waktunya. pada hari keenam. untuk mengukur tekanan darah. “Kalau ada dokter masuk yang tidak pakai masker. Salah atau tidak. Tapi. dia memaksa saya minum obat. Agar tidak lupa itulah. Kalau sudah ditetapkan jam enam pagi dan malam. Bahkan. Robert. Selama 24 jam sehari. Jangan ditegur. Jasa mereka itu juga penting karena ternyata banyak juga pasien yang tidak ditunggui keluarganya. Mengingat begitu banyak pasien ganti liver yang pernah mereka rawat. Robert memang menugaskan itu khusus kepadanya. Dan bagi saya. Dia yang juga ikut mengawasi orang keluar masuk kamar. Juga memandikan saya. Petunjuk itu memang sudah diberikan jauh-jauh hari sebelumnya sehingga saya juga tahu pentingnya kedisiplinan meminumnya.

” Kenapa tidak tahu? “Karena tidak berpendidikan dan tidak cukup pengetahuan. yang gagal saya usir atau saya matikan.” Mengapa sering lelah? “Masak itu ditanyakan.” 33 by Moezhanks .Ketika saya beri tahu tidak perlulah masuk kamar sampai copot sepatu. He… he…. bos Pakuwon Jati itu mengatakan.” tambahnya. “Dia lao da saya. Istilahnya. dan rusak.” Kenapa waktu itu tidak menjalani vaksinasi? “Karena tidak tahu. (Bersambung) Ganti Hati 13 – Boleh Tak Mengaku. sudah mengecil. Bikin saya malu. “Kamar ini harus lebih bersih daripada sepatu saya.” Kenapa ada virus hepatitis B di liver saya? “Karena liver saya tidak kebal ketika virus untuk pertama kalinya datang dan masuk ke dalam liver saya. sudah mencapai tahap terjadi sirosis. mengeras. Virus itu menjadi aktif dan merusak liver karena kondisi badan saya sering sangat lelah. Tapi. “Saya tidak mau dituduh sebagai pembunuh Pak Dahlan. dia tetap copot sepatu.” Kenapa badan saya tidak kebal? “Karena saya tidak pernah menjalani vaksinasi antihepatitis B saat saya masih bayi/kecil.” Saya tahu sepatunya amat mahal dan tentu juga amat bersih.” katanya.” Mengapa liver saya bisa sirosis? “Karena saya mengidap virus hepatitis B. Masak saya harus jadi pembunuh saudara tua saya. Saat badan lemah. Juga karena negara waktu itu masih sangat miskin dan pemerintah sibuk mengurus politik atau rebutan posisi. virus yang semula tidur saja di dalam liver punya kesempatan melakukan aksinya tanpa perlawanan yang berarti dari badan saya yang sedang lemah. 25 Juta Orang Menghadapi seperti Saya 7 September 2007 MENGAPA saya harus menjalani transplantasi liver? “Karena sudah ada kanker di liver saya dan sudah mulai menyebar ke beberapa tempat meski semuanya masih di dalam liver.” Mengapa ada kanker di liver saya? “Karena liver saya sudah tidak normal.

Soal jarang yang mengakui. Yang juga berarti terus berjalannya argometer biaya. direktur Asian Liver Centre di Stanford University AS. sekitar 10 persen penduduk kita terkena hepatitis B. tapi kalau sumber donor untuk liver makin terbatas. Dalam keadaan harus terus siap.” Kenapa tidak berpendidikan? “Karena miskin!” *** Itu bukan kata-kata juru penerang PKK yang setelah zaman reformasi tidak lagi berperan aktif. hampir semuanya. 34 by Moezhanks . Tapi. Tiap suntik harga obatnya sekitar Rp 75. sekali lagi. petani atau buruh tani. kita tidak akan pernah tahu harus menunggu sampai berapa lama. Maka. Sebab. Artinya. Keluarga saya.” Kenapa miskin? “Karena tidak berpendidikan.Soal pemerintah tidak perlu ditanyakan lebih lanjut. tapi akan sangat baik kalau dipakai menyadarkan ibu-ibu untuk memvaksinkan bayinya agar kebal terhadap virus hepatitis B. bahwa 40 persen di antara segala macam penularan virus terjadi dari ibu ke anaknya. Kesempatan menjalani transplantasi juga kian kecil. Artinya. *** Meski ilmu pengetahuan semakin maju dan keterampilan dokter juga kian sempurna. Di Tiongkok. “Di Tiongkok sendiri kini terdapat 120 juta orang yang mengidap hepatitis B. Padahal. seluruh bayi sejak 1982 harus tiga kali divaksin antihepatitis. belum tentu operasinya bisa berhasil. Penantian yang tidak jelas harus berapa lama.” ujar Deputi Menteri Kesehatan Tiongkok Hao Yang saat melakukan kampanye vaksinasi hepatitis B pekan lalu seperti yang disiarkan China Daily 1 September barusan. pencegahan sangat penting. Kalau toh banyak yang mampu. kenapa Anda tidak berpendidikan dan tidak cukup pengetahuan? “Karena miskin sekali. Hao Yang lantas mengutip angka dari Samuel So. Empat bulan harus tinggal di luar negeri dan dengan keluarga yang harus mondar-mandir tentu bukan hal yang sederhana. Tiap negara kini cenderung melindungi rakyatnya sendiri sehingga. liver yang ada harus diprioritaskan untuk penduduk Tiongkok sendiri. bagaimana? Bukankah kesempatan untuk menjalani transplantasi di masa depan kian langka? Termasuk bagi yang mampu transplantasi sekalipun? Bukankah lantas antrean untuk dapat giliran transplan kian panjang? Dan kian lama? Saya sendiri perlu empat bulan menunggu. Padahal. belum tentu semuanya mendapatkan kesempatan sebaik saya: bisa menjalani transplantasi liver. juga tidak akan tahu masih harus berapa banyak lagi uang yang disiapkan. itu soal lain.000. Seluruhnya ditanggung negara. sekitar 25 juta orang sedang menghadapi masa depan seperti saya. Ini sangat wajar karena persoalan seperti ini akan bisa jadi isu nasional di negara tersebut. seperti yang dilakukan Tiongkok saat ini.

setiap saat selalu ada pasien antre yang dicoret dari daftar antre. istri saya sering nyeletuk. Begitu banyak orang Tiongkok sendiri yang memerlukan transplantasi. Isu yang akan lebih mendominasi masa depan dunia. Yang terkena hepatitis B saja mencapai 120 juta orang. panjang antrean itu ratusan orang di Singapura. Tapi. “Tiga di antara empat orang yang dicoret dari daftar antre itu tak lama kemudian memang meninggal. Awal bulan ini. Istri saya lantas menyebut banyaknya orang Timur Tengah yang antre di rumah sakit ini. Kalau mereka tidak terlayani karena miskin. Sebanyak 555 orang antre untuk transplan ginjal dan 16 orang antre liver. Kini sudah terasa gejalanya. donor jantung lebih sulit. Singapura sudah lebih dulu membuat aturan seperti itu. Belum lagi. Sebab. Artinya. secara Islam. Tapi. “Donor liver atau ginjal bisa berupa separo organ tersebut. Dimulai dari munculnya kebijakan memprioritaskan penduduk negaranya sendiri. kelak. Bisa jadi. di Singapura sendiri antara kesediaan liver dan yang memerlukannya jauh lebih banyak yang terakhir. “Begini sulit ya mempertahankan satu nyawa. Kini. Akan menjadi isu politik yang sensitif bagi Tiongkok yang lagi gencar-gencarnya memerangi kesenjangan sosial. Sebab.” katanya. kini. diberitakan antrean transplantasi di Singapura sudah sampai 10 tahun. Kok di Timur Tengah itu tiap hari orang dengan gampang menghilangkan nyawa. Bahkan. Tiongkok sudah mengubahnya empat bulan lalu. Ini berarti pendonornya harus meninggal. mendaftar sekarang baru akan dapat liver 10 tahun lagi. “Bukankah di sana banyak sumber liver? Dari mereka yang begitu banyak meninggal muda itu? Dan pasti lebih pas karena dari ras yang sama?” celetuk istri saya. Misalnya. itu tidak berarti bisa cepat dapat giliran. maka akan menjadi isu kesenjangan sosial. akan ada aturan bahwa suatu negara tidak boleh mendonorkan organ kepada penduduk suatu negara yang negara itu atau penduduknya melarang melakukan donor organ. melarang sama sekali liver orang Singapura untuk orang non-Singapura.Dengan logikanya yang sederhana. tidak kuat bayar. sudah sama dengan separo penduduk Indonesia. kondisi badannya sudah semakin buruk. donor jantung harus satu jantung utuh. saah seorang direktur program jantungparu Singapura. Suatu celetukan yang mungkin juga mencerminkan rasa jenuh karena begitu lamanya menunggu. Mereka tentu akan semakin mampu dalam ikut “memperebutkan” donor yang kian terbatas.” ujar dr Tong sebagaimana disiarkan The Strait Times 2 September lalu. Karena itu. Indonesia tidak mendukung digalakkannya donor organ atau penduduk Indonesia mengharamkan donor organ. Kesadaran seperti itu akan membuat banyak negara ikut mengubah peraturannya. Di antara lima orang yang antre transplan jantung. 35 by Moezhanks . Alasan keadilan lantas memperkuatnya.” katanya. Ada soal yang bagi orang Islam lebih prinsip. Selama penantian. Mengapa? “Sudah tidak layak antre. mendonorkan organ tubuh? Apakah boleh organ dari orang yang baru meninggal diambil untuk menyelamatkan orang lain? Soal itu di masa depan tidak hanya akan jadi isu agama. Orang asing tidak akan gampang lagi mendapatkan donor dari penduduk setempat. orang kaya di Tiongkok bertambah-tambah dengan drastisnya. Yakni apakah boleh. tinggal satu yang masih memenuhi syarat dalam daftar. Tapi juga isu keadilan.” ujar dr Tong Ming Chuan. maka di masa depan orang Indonesia tidak boleh menerima sumbangan organ dari warga negara lain. Tentu tidak sesederhana itu.

Kami memang tidak punya harta. Mendingan diberikan kepada pasien yang kans berhasilnya lebih besar.” katanya. Di antara 139 itu pun. aturan menentukan saat kematian itu akan dibuat lebih awal. Ini akan tidak bisa dimanfaatkan untuk amal jariyah berikutnya. Maka. Kami bisa menikmatinya bersama-sama. nanti akan dibalik. Satu perdebatan yang amat teknismedis di sekitar saat kematian datang. Kalau toh dipaksakan. aturan transplan selalu dikecualikan bagi yang muslim. Bagi yang paham ayat Al Kitab mengenai kematian (idza jaa-a ajal luhum…) tentu satu pekerjaan tersendiri untuk mendiskusikannya. Kemiskinan yang juga dialami banyak orang di lingkungan saya. kecuali yang keberatan saja. organ semua orang Singapura secara otomatis boleh diambil setelah dia mati. Selama ini. Di kapupaten saya. siapa yang harus hidup dan siapa yang harus mati ternyata bisa ditentukan oleh dokter. Saat kematian ternyata bisa diajukan atau dimundurkan walau hanya sesaat. Yang jelas. Artinya. yang 139 orang juga sudah tidak memenuhi syarat lagi untuk transplan. tahun lalu enam orang meninggal karena perkembangan sakit livernya lebih cepat daripada waktu antrenya. akan banyak sekali organ yang sudah terlanjur “ikut mati”. jangan sampai ada yang menyangka bahwa kami sangat menderita. kalau peraturan lama yang dipakai menentukan tibanya saat kematian. Tidak. Kini. Kalau selama ini organ hanya diambilkan hanya dari orang yang sudah menyatakan organnya boleh didonorkan. Begitu seriusnya problem defisit donor itu. Jadi. Kami miskin bukan karena harta habis untuk main judi atau untuk mabuk-mabukan atau untuk narkoba. Saya jadi berpikir dan diskusi lagi dengan diri sendiri. Singapura akan menggunakan prinsip ushul-fikh itu. Menjadi: hanya orang yang menyatakan keberatan saja. 36 by Moezhanks . Yakni saat-saat kematian batang otak. peluang berhasilnya tipis. saya menderita sakit liver. Apakah saya menyesali dilahirkan di keluarga miskin? Sama sekali tidak. Terutama apakah yang dimaksud dengan ajal di situ. Kini kekhususan itu tidak ada lagi. Kemiskinan kami adalah kemiskinan struktural. Sayang donornya. yang organnya tidak bisa jadi donor. Ini seperti prinsip ushul-fikh (kaidah aturan): semua yang tidak dilarang berarti dibolehkan. Khusus untuk yang antre liver saja. Saya sendiri tidak paham istilah-istilahnya. Juga di negara saya.Di antara 555 orang itu terakhir. Peraturan baru sedang disiapkan. Sudah terlalu terlambat untuk transplan. Ini terkait dengan keyakinan agama. diperkirakan yang 22 orang sudah akan meninggal tidak lama lagi. (Bersambung) Ganti Hati 14 – Tersenyum ketika Dioperasi seperti Menikmati Kemiskinan 8 September 2007 JELASLAH bahwa karena kemiskinan dan kejumudan yang melatarbelakangi. “Peraturan ini juga akan berlaku bagi penduduknya yang beragama Islam. sehingga Tiongkok juga akan mengubah peraturan di bidang kedokteran tentang “kapan seseorang dinyatakan meninggal”. sebagaimana yang sudah disepakati di banyak negara maju. Ini setelah awal Agustus kemarin diperdebatkan di forum para ahli transplantasi di Beijing. Karena itu. Bahkan hampir di semua kampung saya. Kemiskinan rame-rame. Singapura akan melangkah lebih jauh.

kata ahl di situ menunjukkan bentuk tunggal (ism mufrad). kami tidak mungkin mampu membeli ayam. megengan. Daun pembungkusnya harus daun pisang raja agar harumnya khas. Bapak adalah idola kami dalam bersikap tawadluk -hormat kepada sesepuh. Karena itu. Tapi. adalah sang “ahl dzikr” nan tunggal. Kami harus banyak keluar biaya untuk selamatan Lebaran. Setiap kupatan. Kiai kami adalah gurutarikat kami. dan seterusnya. Bukan hanya sambal atau garam. semua aliran tasawuf punyai klaim yang sama untuk kiai mereka sendiri. Punjungan itu berbentuk makanan yang paling istimewa. Dan meyakini bahwa kiainya. Meski kiai tersebut masih paman ibu saya sendiri. Bapak sangat menjunjung tinggi adat itu. dan seterusnya. Bapak akan langsung bersila. salah satunya harus opor ayam. yakni boros untuk melestarikan adat-istiadat. itu juga kami perlukan sebagai wujud donga-katon (doa yang dipersonifikasikan).Kalau toh kami boros. bisa memperebutkan daging ayam secuil. Sampai tiba saatnya harus dipotong untuk dihaturkan kepada kiai kami yang sebenarnya sudah kaya. kami bisa mengira-ngira nikmatnya makanan yang akan kami antar itu karena kami sudah merasakan rasa kuahnya. kalau nasibnya baik -yakni dapat ambeng yang baik-. Kiai kami bukan sembarang kiai. Di jalan. KH Imam Mursyid Muttaqien. Satu bentuk selamatan di serambi masjid yang amat kami tunggu-tunggu. Kami juga harus slametan nyepasari. Dagingnya untuk punjungan. Terutama saat kami masih kecil. “Ahl-dzikr hanya satu di dunia. Pokoknya. Tapi. Juga “keborosan-yang-beradab”. Tapi. Guru yang oleh bapak dipercaya sebagai wasilah dalam term filsafat ahl-dzikr. bapak saya tidak tahu itu. Karena itu. 37 by Moezhanks . bapak bicara seenaknya dan penuh guyon dengan tamunya. kupatan. Kami berjalan kaki sejauh 6 kilometer untuk sampai ke rumah sesepuh kami itu. Agar lontong masak sempurna dan tidak basi sampai seminggu pun. Kami sangat menyenangi selamatan. Sering ibu harus membeli dulu satu telur. kami juga harus munjung ke kiai kami. Sesepuh kami. Tentu. bapak kedatangan tamu yang dulu sesama abdi dalem di rumah kiai tersebut. Lalu dipeliharanlah ayam tunggal itu. harus ada sayur kluwih untuk menandakan bahwa kita ingin rezeki yang linuwih (berlebih). begitu si tamu mengatakan kedatangannya hari itu diutus sang kiai. sunatan. Ternyata. kami hafal benar kapan akan ada mauludan atau megengan. Bapak langsung menggunakan kata-kata kromo inggil (bahasa Jawa level tertinggi) dalam percakapan dengan temannya itu. Keborosan kami adalah “keborosanreligius”. sikap bapak otomatis berubah. Bapak langsung merasa sedang berhadapan dengan kiainya sendiri. mitoni. rejeban. Ibu sudah menyiapkan ayam itu sejak enam bulan sebelum kupatan. kurang hemat. Tapi. Kami hanya boleh mengantar sampai teras samping rumah pendapa itu. rebowekasan.” kata bapak saya. kami dilarang untuk masuk sampai ke dalam rumahnya. tapi semua itu kami niati untuk ibadah -entah apakah seharusnya pakai selamatan segala. mauludan. Tentu. Tahunya ya hanya tasawuf Sathariyah. Misalnya saja. Lalu dititipkan ke tetangga untuk bersama-sama ditetaskan di situ. Bahkan sudah kami nantikan sejak berhari-hari sebelumnya. dan ngapurancang di depan teman sesama abdi dalem itu. Saya pernah bertugas mengantarkan punjungan yang aromanya sangat harum itu. Juga harus ada cakar ayam untuk lambang doa kuat melangkah. Ini karena menurut tata bahasa Arab (nahwu). Itulah saatnya kami bisa makan telur. kami hanya boleh makan sedikit kuahnya. wetonan. Ibu membuat lontong yang untuk merebusnya saja diperlukan waktu 24 jam. Itulah saatnya kami. menunduk. Ibu pandai sekali bikin opor ayam. semua kami wujudkan dalam makanan seperti seolah-olah kami bisu. Tidak ada ahl-dzikr lain di dunia ini kecuali kiai kami itu. Itulah saatnya kami bisa makan nasi. Bukan gaplek. Sayurnya harus lima macam. itu pun jangan disalahkan.

sarung itu bisa saya kemulkan di bagian atas badan saya. jadilah dia selimut. Misalnya saja. sarung itu masih bisa dijahit. bagi orang miskin. sarung itu belum akan pensiun. seperti juga orang kaya punya cara sendiri menikmati kekayaannya. Kalau saya lagi ingin mendalang (waktu kecil saya suka sekali mendalang. sarung kami bentangkan di atas kepala: jadilah dia layar. Kalau lagi musim angin dan kami ingin bermain-main dengan angin itu. Kalau saya lagi harus mencuci celana. Kadang. memang hanya punya satu celana pendek dan satu baju. Saya belum menemukan bentuk pakaian lain yang fleksibelnya melebihi sarung. Banyak orang desa yang merasa kasihan kepada Tommy Soeharto yang akhirnya harus menderita. alat hiburan. sarung itu bisa jadi bawahan. kisah tentang bagaimana Khalifah Umar menemukan orang miskin yang anaknya menagis terus karena lapar. orang kaya merasa iba kepada orang miskin. kesehatan. Miskin pun bisa dinikmati. waktu kecil. Cerita yang demikian jadi kebanggaan. Hidup. harus dijalani apa adanya. Kalau di tempat jahitan itu robek lagi. Kalau lagi kedinginan. masih bisa ditambal. Orang miskin punya jalan sendiri untuk menikmati kemiskinannya. Juga cerita sufi tentang bagaimana orang sakti yang kalau lapar cukup mengganjal perutnya dengan batu. sering juga orang miskin merasa kasihan kepada orang kaya. Apalagi suasananya sering diciptakan demikian. Lapar itu sering luar biasa nikmatnya. sarung itu saya bentangkan dengan tiang pendek di kiri kanannya: jadilah dia kelir. Kalau kami lagi cari sisa-sisa panen kedelai di sawah orang kaya. fashion. Masih bisa dirobekrobek: bagian yang besar bisa untuk sarung bantal. Sakit bisa dinikmati. Jangankan terkena kanker atau sirosis atau hepatitis. Dia bisa jadi apa saja. sampai jadi alat memeras atau menakut-nakuti. sarung itu bisa jadi karung. Padahal. Kalau saya lagi mencuci baju. meski hanya satu potong kain. yang direbus itu adalah batu. ibunya pura-pura merebus sesuatu. mencari rezeki. Kalau lagi mau nakut-nakuti anak kecil. kalau memang sudah garisnya. jadilah dia pocongan. saya ikat ujung sarung itu: jadilah dia semacam payung parasit. Karena itu. Kalau perut lagi lapar sekali dan di rumah tidak ada makanan sama sekali. tapi saya masih punya satu sarung! Jangan remehkan kemampuan sarung ini. saya ikatkan kuat-kuat sarung itu di pinggang: jadilah dia pengganjal perut yang andal. 38 by Moezhanks .Kami sungguh menikmati kemiskinan kami seperti menikmati khayalan mengenai lezatnya opor ayam yang disiapkan sejak enam bulan sebelumnya itu. Kalau tambalannya pun sudah robek. jadilah dia benda penting menghadap Tuhan. Mati pun dianggap. Kalau sembahyang. Mulai jadi alat ibadah. Padahal. harus diterima apa adanya. Saya. fleksibelnya bukan main. Kalau sarung itu robek (biasa waktu dipancal kaki saat tidur kedinginan atau saat kena duri bambu saat mencuri tebu). Untuk meredam tangis si anak. Mereka tidak tahu bahwa Tommy masih kaya raya. Atau bagaimana nabi hanya memakan kurma dua biji setelah seharian berpuasa. bagian yang kecil untuk popok bayi. Sarung inilah pakaian yang. dengan wayang terbuat dari rumput dan gamelan dari mulut teman-teman). Kalau saya lagi lomba terjun ke sungai dari atas jembatan.

Jadi.ayat yang menyatakan “kalau sudah tiba waktunya. ketika untuk kali pertama dalam hidup saya memeriksakan darah. sejak kecil. pasti datangnya dari luar. Menyangka Hepatitis Sudah Beres 9 September 2007 SAYA menerima kehadiran virus hepatitis B di liver saya sebagai takdir. Jangan harap satu virus hepatitis B tidak akan menjadi sirosis. Sebelumnya. Bahwa keluarga saya banyak yang demikian. Mau dioperasi besar pun saya tersenyum. seperti yang semula saya kira. Tidak ada mukjizat. (Bersambung) Ganti Hati 15 – Setelah Rutin Disuntik. Di Indonesia terutama sejak zaman Orde Baru. Bahkan. Juga harus disiplin tinggi karena obat itu harus disuntikkan 76 kali. bukan keturunan atau gen. karena memang sebelumnya tidak pernah ditemukan obat untuk melawan virus itu. tersenyum pun sudah sedekah. Prof Hassan mengingatkan bahwa harganya mahal sekali. Kalau mau. Kini interveron sudah amat murah dibanding 39 by Moezhanks . Dia mendengar ada obat yang masih baru sama sekali. Itulah sedekah yang sudah sejak kecil diajarkan -dan yang dulu satu-satunya yang mampu kami lakukan. kalau badan panas yang dibiarkan saja: toh akan dingin sendiri. Kisah sedekah yang populer juga terkait dengan kemiskinan. Yakni. Karena namanya virus. Dan. Maka saya harus periksa darah. Menyingkirkan duri dari tengah jalan pun sudah merupakan sedekah. Semua bisa saja jadi sarana penularan. Makan bersama. Tinggal waktu saja yang berbeda. itu sebagai sunnatullah-Nya -sudah seharusnya begitu. Ke depan mestinya virus ini amat berkurang karena kesadaran melakukan vaksinasi hepatitis kepada bayi sangat tinggi. berebut lauk dari piring yang sama. setiap dua hari sekali. Karena itu. cuci tangan dari kobokan yang sama. kemungkinan penularannya juga tidak kecil. Maka. marilah kita sering tersenyum. tidak bisa diundur sekejap pun atau dimajukan sedikit pun” menjadi amat populer. Kalau kemudian berkembang menjadi sirosis dan kanker. Di Tiongkok. Konsultasi dengan salah satu dokter ahli penyakit dalam terbaik di Surabaya: Prof Mohamad Hassan (kini almarhum). data terbaru menyebutkan hampir 10 persen penduduknya terkena virus hepatitis. Tapi. Di Indonesia. Diketahuilah bahwa ada virus hepatitis B di liver saya. saya boleh mencoba obat baru itu. *** Saya sendiri tahu kalau mengidap hepatitis B sejak sekitar 25 tahun lalu. persentasenya saya kira hampir sama. Tidak ada keajaiban di proses itu. Saat itu juga saya langsung mengambil langkah. Namanya interveron. penelitian terhadap hepatitis intensif sekali di Tiongkok. Karena hidup seperti itu dilakukan sejak kecil. karena menyangkut begitu banyak orang. Waktu itu tiba-tiba badan saya panas sekali. Sangat sering diajarkan bahwa sedekah tidak harus dengan harta. jangan ada harapan sirosis tidak akan jadi kanker. Melebihi popularitas ayat yang mengajarkan “carilah rezeki di bumi Tuhan ini”. Di Tiongkok sejak 1982. Proses perkembangan itu lama atau cepat. Ini berarti lebih dari 120 juta orang. tentu itu karena gaya hidup di desa yang memang seperti itu.

Maka setiap dua hari saya suntik interveron. memang obat yang masih sangat baru. atau di praktik dokter. Saya terus kerja dan kerja. Pujian bahwa saya adalah orang yang “tidak punya udel” (tidak punya pusar. Maksudnya. Yang jadi persoalan adalah bukan tidak mau. Mulai Surabaya-Jakarta-Pontianak-Kuching-Singapura-Guangzhou-Wenzhou-Jinhua-Hangzhou-NanchangGuangzhou-Jakarta-Makassar-Ambon-Makassar-Kendari-Makssar-Jakarta-Surabaya. Kalau tidak tahu. Badan saya yang selalu fit. Hari itu saya terbang ke 19 kota hanya dalam waktu 8 hari. Saya tunggu sampai malam. Di Ambon ternyata sulit sekali mencari dokter yang mau menyuntikkannya. Padahal. saya juga harus mengejar pesawat. saya menjadi lengah. melainkan hanya mengurungnya. Akhirnya saya minta disuntik di pos kesehatan bandara Batam. Anda sudah berada di rumah sakit. Saya pilih RS Budi Mulia di Jalan Raya Gubeng. Saya tidak pernah lagi memperhatikannya. 40 by Moezhanks . Barangnya juga sudah lebih mudah didapat. Obat itu berfungsi bukan membunuh virusnya. Sudah saya jelaskan panjang lebar. Maklum. Harganya pun sudah jauh lebih murah dibanding ketika saya harus membeli dulu. Di sana umumnya dokter tidak tahu obat apa yang saya bawa itu. virus tidak akan merajalela. Saya menyangka. hepatitis saya sudah beres. Tapi. Tentu saya bawa juga interveron itu. Memang seharusnya demikian.” katanya. Tangan sudah selalu siap memegang selimut kalau tiba-tiba harus segera menutupkan ke tubuh saya. tapi tetap mahal untuk kebanyakan orang. Saya bisa menyuntikkan interveron berikutnya di mana pun saya mau. tetap saja dia tidak mau. tapi memang betul-betul belum tahu obat tersebut. Lalu saya boleh pulang. di poliklinik. Setelah proses itu selesai. baru 25 persen. Terbang dan terbang. ternyata si demam tidak datang juga. suhu badan bisa tinggi sekali. Ketika pertama suntik saya harus ngamar di rumah sakit. Ke mana-mana saya membawa termos itu berikut alat suntiknya. Tiongkok juga sudah memproduksinya besar-besaran. Kalau panas datang dan badan menggigil. memang belum ada obat ang bisa membunuhnya. Sebab. saya dengar kualitas interveron sudah semakin baik. Pada hari dilakukan penyuntikan pertama. saya sudah melupakan hepatitis saya. saya langsung siap-siap selimut tebal. Di dalam negeri dan ke luar negeri. Saya pun menyetujuinya. untuk menggambarkan punya kemampuan kerja kuda) membuat saya terlena.harga 25 tahun lalu. Bahkan. katanya. tidak boleh melakukannya. Bisa di kantor. saya sudah tidak bingung lagi. Sudah puluhan kali lebih kuat daripada 25 tahun lalu -saat saya pertama menggunakannya. Pernah suatu saat saya harus ke Ambon. Sejak minum interveron itu saya tidak pernah mencari tahu lagi apakah sudah ada obat yang lebih jitu. Murah untuk ukuran orang sakit liver. membuat saya terlalu percaya diri. Mengapa harus ngamar? “Akibat suntikan itu. Pernah juga saya mengalami kesulitan yang sama saat berada di Batam. Saya tenggelam oleh kesibukan dan kecerobohan saya sendiri. Bahkan sampai besoknya pun. siapa tahu saya masuk yang 25 persen itu. Saya tunggu kedatangan “suhu tinggi” dan “rasa menggigil” itu sampai sore. Saya menyimpan interveron itu di termos khusus yang bisa saya bawa bepergian. Sampailah pada Mei 2005. Kini. Ya. dengan dikurung seperti itu. Prof Hassan juga memberitahukan bahwa kemungkinan berhasilnya juga tidak 100 persen. Kalau terjadi sesuatu yang membahayakan.

Selesai forum bengkel. Durian Ambon luar biasa enaknya.Istri saya. Perkembangan hasil pilkada itu. Malamnya. Saya muntahkan saja.H. Barulah selesai coblosan saya ke Rumah Sakit Darmo Surabaya. Paman-paman saya. Perut saya mulai bergolak malam itu. tapi besoklah. Mestinya tetap saja makan ikan laut. Mengapa tidak mau sarapan? Setiap ke Ambon saya punya cita-cita khusus: akan makan durian sebanyak-banyaknya. Hari itu bumbunya juga pedas bukan kepalang. barulah saya bisa tidur dengan baik. sudah tidak tahan lagi untuk segera makan durian. langsung ke kantor harian Ambon Ekspress untuk rapat. rapat masih diteruskan dengan mengajar. Tiba di Ambon tidak mau sarapan. saya tidak tahu lagi di mana restoran yang terkenal itu membuka usaha. rapat dengan harian Kendari Post yang waktu itu juga lagi membangun Graha Pena Kendari. Lalu saya ingat kakak saya yang meninggal tidak lama setelah muntah darah. Paginya. Tapi. Ikan laut Ambon segarnya. Dokter bilang saya beruntung. Kenyanglah. Anak buah saya. Lalu menyantet perut saya. Saya memang merencanakan ke dokter. sejak kerusuhan Ambon. Tiongkok. Juga ibu saya. bukan kepalang. Mungkin ikan-ikan Ambon cemburu dan marah mengapa malam itu saya melupakannya. bergabung dengan saya di Makkasar untuk sama-sama ke Ambon. Rapat pun buru-buru karena harus segera ke Kendari. Tiba di Surabaya. tapi kedua tangan saya menjadi penadah. saya jangan makan papeda malam itu. Dokter menyesalkan saya. badan saya rasanya baik-baik saja. Tentu ada yang tercecer di lantai kamar. Saya harus memilihnya sebagai dukungan ke anak buah. Bisa jadi muntah darah itu akan sangat fatal dan mematikan. Dari yang tercecer itulah saya lihat banyak onggokan berwarna hitam. Papeda malam itu merupakan makanan terpedas yang pernah saya alami setelah makanan yang disebut suai yang ru di Chongqing. setiap kedatangan saya ke anak perusahaan selalu dimanfaatkan untuk pertemuan dengan wartawan. pukul empat sudah harus berangkat ke Makassar. saya ke kantor lagi sambil seperti menangis. Tapi. Di mana itu? Kalau Anda turun dari pesawat. tapi belok kiri ke arah kampung. mengapa begitu muntah darah tidak langsung ke rumah sakit. Dulu. Bangun tidur. jangan belok kanan ke arah kota. di pinggir jalan depan Masjid Al Fatah. Aduh naturalnya! Tapi. Oh. Saya ternyata memang harus ngamar di rumah sakit. ternyata saya muntah darah. Saya memang punya forum yang disebut “bengkel wartawan”. Saya selalu merindukannya. banyak penjual durian. Sambil tangan menampung muntahan. menjadi calon wakil wali kota mendampingi calon Wali Kota Bambang D. Rapat dengan harian Fajar yang kini baru menyelesaikan membangun gedung Graha Pena Makassar. Pimred Jawa Pos Arif Afandi. di mana Bambang-Arief terpilih. tengah malam itu saya masih harus ke percetakan. tiba-tiba saya mau muntah. bersama Ibu Eric Samola. Mestinya. manisnya. Kebetulan di depan kantor. keluar dari bandara. saya ketahui saat saya berbaring di ranjang pasien. Makannya tidak di pantai Ambon tidak apa-apa. Setelah onggokan itu saya injak. Apalagi kalau dimakan di pantai yang sangat natural itu: pantai Ambon yang indah. Di forum “bengkel” itulah saya selalu diminta menularkan pengetahuan dan keterampilan jurnalistik. Berarti makan siang juga kelewatan. ternyata warnanya merah: darah. Meski perut mulas. setelah makan malam dengan menu makanan lokal yang disebut papeda. Setelah saya menghadiri coblosan pemilihan wali kota Surabaya. saya lari ke toilet untuk membuang muntahan yang ada di tangan. 41 by Moezhanks . Di Kendari saya juga punya cita-cita khusus: makan ikan bakar. enaknya. Lupa sudah makan siang.

” ujar Prof Dr dr Boediwarsono SpPD-KHOM yang merawat saya ketika itu. “Sebaiknya Pak Dahlan segera ke Singapura.” tambahnya. tekanan di pembuluh darah utama itu pun jadi meningkat. karena dinding pembuluh darah esofagus lebih tipis. Kata banyak dokter di Surabaya ketika itu. “Lebih baik dilakukan di sana. Maklum. Itu sebabnya mengapa limpa saya juga ikut membesar sampai hampir tiga kali lipat. betapa banyak gelembung darah yang siap pecah di sepanjang esofagus saya. Hanya. pecah.Pemeriksaan di Rumah Sakit Darmo menunjukkan betapa berbahayanya sakit saya. Sebuah kerusakan di dalam. Karena tidak kolaps ketika beberapa gelembung varises di esofagus saya pecah dan menyebabkan saya muntah darah dua hari sebelum endoskopi dilakukan. banyak juga yang besar. Saya dibius. saya termasuk orang yang beruntung. tekanan itu pun merembet sampai ke pembuluh darah esofagus dan limpa. saya mampir ke seorang ahli penyakit dalam yang terkenal di RS Mount Elizabeth. (bersambung) Ganti Hati 16 – Esofagus Ditambal atau Bilang Saja Pencernaan Dilaminating 10 September 2007 KETIKA kartu suara pemilihan wali kota Surabaya dihitung. Dari gambar yang dipantulkan alat itu terlihat. Karena pintu masuknya menyempit. penyakit tidak mau mampir ke badan saya karena tidak akan dilayani akibat kesibukannya. Bahaya yang selalu kalah dengan semangat. Karena tak segera diturunkan. Dalam istilah medis. Bahaya yang sama sekali tidak saya rasakan sebelumnya. Yang mengendoskopi saya ketika di RS Darmo Surabaya saat itu adalah dr Pangestu Adi SpPD-KGEH. Sampai saat itu. pasien akan mengalami pendarahan hebat yang sulit dikendalikan. Dalam kesempatan pertama. alat itu masuk sampai ke lambung saya. pembuluh darah esofagus yang menggelembung dinamakan varises esofagus. Ternyata semua itu menipu. Gelembung-gelembung itu sebenarnya adalah pembuluh darah esofagus yang karena tekanannya terlalu besar lantas menggelembung. Akibatnya bisa sangat fatal. varises di bagian itu lebih gampang meletus. Varises esofagus terjadi karena pembuluh darah utama yang masuk ke liver menyempit akibat adanya sirosis. Penyakit tetap datang dan diam-diam menggerogoti onderdil saya. Tindakan ini dalam istilah kedokteran disebut dengan endoskopi. ketika ada acara di Singapura. yang tidak segera diketahui di luarnya. Baru dua minggu kemudian. Dari tenggorokan. Jika itu terjadi. Ada yang kecil. rasa badan saya baik-baik saja. Disebut varises karena memang mirip varises di betis. Dalam istilah teman saya. saya masih belum memahami sepenuhnya bahaya yang saya hadapi. dokter RS Darmo Surabaya juga mulai melihat dari mana asal darah yang saya muntahkan. Tenggorokan saya dimasuki alat yang ujungnya berkamera superkecil. melalui pipa esofagus (yang menghubungkan mulut dengan lambung). Tahu-tahu saja sudah terlambat sekali. Saya diperiksa di situ untuk 42 by Moezhanks . pasien meninggal karena kehabisan darah. yang sudah sangat ahli dan senior di bidang itu. Yakni.

dokter memilih yang aman. teratasi sementara. saya ke rumah sakit. Saya hanya menyederhanakannya. ketika meletus. operasinya perlu waktu dua jam sendiri. dan memberikan koreksi mana-mana yang akan membuat posisi perusahaan daerah lemah. ujung alat itu pun dilengkapi kamera.mengetahui apa yang terjadi sebenarnya dan tindakan apa yang harus dilakukan. dokter berharap gelembung yang kecil-kecil akan mengecil dengan sendirinya. ketika direksi perusahaan daerah sudah selesai merundingkan draf perjanjian dengan pihak Singapura. saya bikin janji dengan investor Singapura yang bersama perusahaan daerah Jatim akan membangun shore base di Lamongan. saya diminta kembali dua bulan kemudian. Selain itu. Karena jumlah gelembung yang harus ditambal begitu banyak. selesai rapat. Sehingga selama lima tahun sebagai Dirut perusahaan daerah. Dia memberikan banyak sekali koreksi. Berarti setahun kemudian saya masih terancam muntah darah lagi. dengan “laminating” ini. Dia melakukannya secara gratis. Seminggu kemudian saya diminta datang lagi untuk operasinya. Padahal. saya tidak pernah menggunakan uang perusahaan. Kelak saluran pencernaan saya akan tertekan lagi. Robert Lai. dan menjadi gelembung-gelembung darah lagi. Untuk memastikan itu. dua bulan kemudian saya balik ke Singapura. Bulan berikutnya. Minggu depannya. tim dokter di Mount Elizabeth lantas mereparasi esofagus saya. darahnya tidak semburat ke luar lagi. Hari itu dia sudah telanjur banyak janji dengan pasien lain. Tepatnya. persoalan mendesak yang mengancam hidup saya teratasi. proses “laminating”-nya tak bisa hanya sekali. Meski yang kecil-kecil tidak membesar. bengkak lagi. Tujuannya untuk menambal bagian yang sudah meletus. hari itu dokter hanya punya waktu untuk mengatasi gelembung yang besar-besar. saya punya waktu membicarakan kelanjutan rencana proyek Rp 250 miliar itu. yang sudah meletus dan benar-benar siap meletus. beban bagi tubuh saya akan terlalu berat. Dengan hanya “melaminating” yang besar-besar. Rapat lagi sambil meneruskan proses “laminating” berikutnya. Langsung dibius dan dioperasi. untuk melihat. 43 by Moezhanks . Saya juga sudah minta tolong agar teman saya. Teknis penambalan esofagus sebenarnya tidak sesederhana penjelasan saya itu. kalau yang “dilaminating” kebanyakan. Sekali lagi. Dengan cara ini perusahaan daerah tidak perlu keluar uang perjalanan dinas dan biaya-biaya lain. setidaknya saya bisa mengulur waktu. Dengan begitu. Saya memang biasa begitu. Dengan bantuan kamera itu. Urusan perusahaan daerah selalu saya gabung dengan urusan saya pribadi. Gelembung-gelembung kecil yang tersisa “dilaminating” semua. tenggorokan saya dimasuki alat yang bisa masuk sampai pencernaan. Sudah beberapa kali Robert membantu perusahaan daerah secara sukarela seperti itu. lawyer lulusan Inggris yang sudah biasa bikin perjanjian dalam bahasa Inggris. Sebelum operasi. Kenapa sementara? Ini karena penyebab terjadinya gelembung-gelembung itu sendiri masih njegog di badan saya: sirosis. sekaligus melapisi yang sudah siap meletus. Dan. mencermati. Bahkan. Sesuai jadwal. Tapi. Antara lain dengan menuangkan semacam lem berwarna putih ke gelembung-gelembung varises di esofagus saya. saya menggunakan istilah yang lebih sederhana lagi: Saluran pencernaan saya “dilaminating”. Agar kedatangan saya ke Singapura minggu depannya lebih efektif. Hari itu. Lalu menyerahkan koreksi itu ke direksi perusahaan daerah untuk dipikirkan lebih lanjut. saya putuskan untuk menandatangi perjanjian setebal bantal itu. kepada keluarga saya. Seperti pada endoskopi.

“Kalau sesak lagi?” tanya saya lagi. “Kenapa setelah transplantasi hanya bisa hidup lima tahun?” tanya dokter itu pada saya. Dan beli lagi yang lebih besar lagi. Terasa seperti lemparan pisau yang langsung mengarah ke liver saya. merah rasanya. Dahlan. dua-duanya tidak ada 44 by Moezhanks . memang semakin pahit rasanya. apakah ada jalan keluar untuk membuat liver yang sudah mengeras di sana-sini itu kembali lunak? Dan jalan darah yang sudah banyak yang buntu itu membuka lagi? Dokter rupanya tidak punya banyak waktu. saya merenungkannya. Berarti juga tidak ada jalan keluar untuk sirosis. Berarti juga. Dia seperti menganggap manusia ini benda yang tidak punya perasaan. Di atas muntahan itu seperti terbaca peringatan keras: tidak ada obatnya. dan akan jadi sirosis lagi. Cukuplah. Misalnya. dia jawab sendiri pertanyaan itu: karena liver barunya nanti kemungkinan juga terkena hepatitis lagi. Semakin dikunyah. Tapi. OK. membuat pencernaan seperti mulas dan mau muntah. Jawaban dokter itu sungguh di luar dugaan saya. “Ya. Sebenarnya pertanyaan itu tidak perlu. Lalu saya muntahkan sekalian kalimat dokter itu: Dalam wujud muntah seperti darah. tapi saya kunyah lama-lama. Bagaimana agar kaki saya tidak bengkak lagi. Dahlan. “Sekarang Anda berumur 55 tahun.” katanya ketus. tidak ada obatnya! *** Saya masih minta butrawali satu lagi: Bagaimana dengan sirosis saya? Maksud saya apakah sudah ada obat untuk memperbaiki sirosis? Atau. “Beli saja sepatu yang lebih besar. Padahal. Bagaimana agar tidak terancam muntah darah lagi. Menghunjam dalam sekali. OK. Getir jawaban itu. Lima tahun lagi. Tambah lima tahun menjadi 60. bisa jadi bibit kanker itu juga masuk lagi ke liver baru. Saya tidak mau dia memberi saya sekarung butrawali. beli lagi yang lebih besar lagi!” jawabnya. Lalu saya tunjukkan kaki saya yang mengembung dan membesar itu kepada dokter yang merawat saya. Mungkin hidup Anda bisa lebih panjang lima tahun lagi.” katanya. Jawaban itu memang seperti keluar dari mulut Asmuni-Srimulat. Tidak boleh lebih. tajam. Tapi. Pedih. Berdarah-darah. “Bagaimana mengatasinya?” tanya saya.Menjelang tanda tangan perjanjian itulah saya berkonsultasi dengan dokter mengenai problem kesehatan saya yang berikutnya. Lalu saya telan sedikit-sedikit lewat tenggorokan saya yang sakit: beli sepatu yang lebih besar. Tapi. sirosis itu yang menyebabkan saluran pencernaan bengkak dan membuat gelembung-gelembung darah. “Anda lakukan transplantasi saja. Bisa sampai umur 60 cukuplah. Merah rupanya. Tambah lima tahun sudah oke. Apalagi kalau saat itu sudah ada kankernya. bagaimana mengatasi sirosis saya. buah yang dijadikan ukuran terpahit di Jawa. langsung. Dokter melemparkan jawaban pendek.” katanya. Seperti pahitnya butrawali. Lalu menyayat-nyayatnya. Juga tidak mau bertele-tele. Begitu pahitnya kalimat dokter itu. Saya sudah oke. enteng. kau bisa dapat tambahan umur lima tahun lagi. dalam bahasa orang awam.

ancaman kematian tiba-tiba sementara sudah teratasi. Pulang makan. Karena yang dijepit adalah daging kaki yang bengkak. Kadang saya membuka hasil lab itu seperti membuka kartu remi yang tertutup di atas meja. Padahal. (Bersambung) Ganti Hati 17 – Dokter Mengetuk Dada. dekok di tengahnya. terbang-terbang lagi. Dia tahu itu karena hampir semua pasiennya mengatakan kenal saya. Tapi juga tetap memerlukannya. Yakni. Karena badan normal-normal saja. seperti saya. Dia lantas mengira saya kerja di perusahaan periklanan. Apalagi. Saya tahu alamat restoran itu dari Rajimin. bos Hotel J. saya juga hidup normal lagi. Restoran itu ada di pojok Jalan Tianjin. Mulai supnya.” katanya sambil melihat bagian kaki yang ’ambles’. yang salah adalah kakinya. *** Dokter itu tidak kenal saya. Marriott Surabaya yang juga konsul kehormatan Hongaria. Dia hanya tahu saya orang Surabaya. Saya sama sekali tidak menyangka akan berhubungan dengan kata transplantasi.W. 45 by Moezhanks . namun istimewa. Sebab. Salah satunya adalah koran dari Grup Jawa Pos. perasaan saya seperti anak sekolah yang sedang menerima rapor. selalu saja kaki saya seperti balon panjang yang ditiup tidak sempurna. Sampai membuat kakimu seperti ini. Hanya saya lebih care dibanding dulu. Saya terus memonitor darah saya di laboratorium. Tepatnya. sampai makanan penutupnya. Bahkan. sedikit-sedikit. kalau mau yang paling tepat lagi disalahkan adalah saya sendiri: Mengapa tidak menjaga baik-baik liver saya? Dua tahun lamanya saya membenci kaus kaki. Saya masih menganggap kata-kata transplan dari dokter tersebut tidak terlalu meyakinkan. Dia pun. maka tidak gampang baliknya. ternyata juga menyalahkan kaus kaki. Ini terjadi karena karet di kaus kaki tersebut menekan kaki saya. Setiap pulang dari bepergian. Tidak ada alternatifnya. Besar atas bawahnya. setiap akan membuka hasil lab. Tidak ada pula keajaiban yang bisa diharapkan. Waktu itu kami makan di satu restoran kecil. Dua minggu sekali. Shanghai. Lihat. Artinya sibuk lagi.jalan keluar. yang salah sebenarnya liver saya yang tidak lagi mampu mengolah protein secara normal. saat habis makan malam dengan Wakil Presiden H M. Jusuf Kalla dan lima menteri yang menyertainya. perut saya langsung kembung. Satu perkiraan yang tidak terlalu salah. Ruang praktiknya memang penuh dengan pasien dan sebagian besar orang Indonesia. Tidak ada obatnya. “Karet kaus kakimu terlalu kuat. saya mampir ke kios pijat kaki. Pelan-pelan. di dinding pendek dekat meja resepsionis terdapat banyak guntingan koran Indonesia yang memuat tentang ceramah dan wawancara dengan dokter itu. takut angka-angka merahnya terlihat sekaligus. si ahli refleksi kaget. Pernah saya merasa penat. Semua masakannya terbuat dari kepiting. Saya tidak terlalu memikirkannya. kalau tidak pakai kaus kaki. Mungkin karena itu. Setelah melepas kaus kaki saya. Enaknya luar biasa. makanan kecilnya. Timbul Bunyi seperti Tong Kosong 11 September 2007 SAYA pernah membenci kaus kaki.

Begitulah. Hubungan saya dengan kaus kaki menjadi sangat unik: Jenis hubungan yang disebut love and hate -cinta dan benci. Dalam situasi terus membenci kaus kaki seperti itulah, saya terus beraktivitas. Terbang berjam-jam. Berkendaraan beratus-ratus kilometer. Di dalam negeri. Di luar negeri. Sampai suatu saat saya punya urusan di kota Tianjin, 100 km dari Beijing. Di sini kebetulan ada kenalan dokter ahli liver yang hebat. Namanya Prof dr Shao. Seorang wanita tepat seumur saya, yang mengepalai bagian liver di suatu rumah sakit di sana. Dia dobel dokter. Dokter ilmu kedokteran Barat dan dokter ilmu kedokteran Tiongkok. Dia juga doktor di spesialisasi liver, limpa, dan empedu. Saya kepingin mencari pendapat pembanding. Benarkah tidak ada jalan keluar untuk problem bengkak saya itu. Benarkah sirosis itu tidak bisa disembuhkan, minimal dihentikan proses memburuknya. Tentu, saya diminta Prof Shao untuk menjalani pemeriksaan ulang. Mulai kencing, kotoran, darah, liver, limpa, paru, sampai prostat. Juga menjalani pemeriksaan fisik yang dia lakukan sendiri. Yakni pemeriksaan secara kedokteran Tiongkok. Dia ketuk-ketuk rongga dada saya dengan jarinya. Timbullah suara seperti tong kosong. “Ini pertanda liver Anda memang sudah mengerut, mengecil,” katanya. “Di rongga dada Anda sudah mulai ada ruang kosongnya,” tambahnya. Setiap Prof Shao memeriksa fisik saya, selalu banyak dokter muda yang diajaknya. Dokter-dokter muda itu menyimak dengan tekun apa saja dijelaskan Prof Shao sehubungan dengan kondisi badan saya. Dia memang juga pengajar di fakultas kedokteran yang terkait dengan rumah sakit itu. “Lihat ini,” kata Prof Shao kepada para dokter muda itu. Sambil berkata demikian, Prof Shao menyingkap baju saya sampai dada saya terbuka. Lalu, dia memegang-megang payudara saya (eh, kalau milik laki-laki apa juga disebut payudara?). “Lihat payudara dia ini. Juga membesar. Seperti payudaranya gadis yang menginjak remaja. Orang yang terkena sirosis akan selalu seperti ini,” ujarnya. Kenapa Prof Shao mengumpamakan payudara saya seperti payudara gadis belia, karena proses pembesaran kelenjar susu lelaki yang menderita sirosis memang mirip pertumbuhan payudara gadis yang beranjak remaja. Yakni dimulai dengan rasa nyeri pada bagian putingnya saat tersentuh sesuatu. Perlahan-lahan rasa nyeri itu berkurang, bersamaan dengan makin besarnya payudara. Seperti umumnya gadis remaja, pembesaran payudara saya juga dimulai dari yang kiri, baru kemudian yang kanan. Jika liver saya tidak keburu ditransplan, payudara saya akan terus membesar menyerupai payudara wanita. Dalam istilah medis, pembesaran payudara yang saya alami itu disebut dengan gynecomasty atau ginekomastia. Lama sekali dia memegang-megang payudara saya. Tapi, bayangan saya lebih kepada sirosis yang mengancam nyawa saya. Tidak hanya hari itu. Berkali-kali Shao menjadikan payudara saya sebagai alat peraga untuk mahasiswanya. Saya menerima saja. Bukan karena merasakan remasannya, melainkan itu memang penting agar orang lain jangan sampai seperti saya. Setelah selesai bagian dada, tangannya turun ke perut. Dia periksa perut saya dengan dua tangannya. Dia pejamkan matanya seolah ingin merasakan benar apa yang berubah dari perut saya senti ke senti. Dia goyang-goyang perut saya. “Masih beruntung. Air belum masuk ke rongga perut,” katanya. Prof Shao memang sangat khawatir air yang sudah memenuhi seluruh badan saya juga sudah mulai mengalir ke rongga perut. Sebab, memang begitulah proses yang akan terjadi berikutnya. Air akan “bocor” dan menggenangi rongga perut. Karena itu, penderita sakit liver seperti saya akan berakhir
46
by Moezhanks

juga dengan keadaan perut membesar penuh air. Mula-mula perut akan seperti balon berisi air: Ginjur-ginjur. Dalam istilah medis, keadaan itu disebut dengan ascites. Semakin lama, jumlah air di perut akan semakin banyak dan memaksa perut untuk membesar. Bersamaan dengan membesarnya perut, biasanya pembuluh-pembuluh darah di permukaan perut juga ikut melebar sehingga tampak seperti sarang laba-laba, tapi warnanya merah. Sesuai dengan tampilannya, para dokter menyebut pelebaran pembuluh darah itu dengan istilah spider veins. Pada tahap berikutnya, perut yang besar itu mengeras. Saya sudah berkali-kali melihat perut orang sakit liver seperti ini dan biasanya sudah akan meninggal kurang dari enam bulan. Begitu juga ibu saya dulu. Satu pemandangan yang saya lihat ketika saya masih berumur 12 tahun dan terus hidup sampai saya sendiri dalam posisi akan mengalaminya. Saya sendiri beruntung karena sampai saat transplantasi, saya tidak mengalami yang disebut ascites maupun spider veins itu. “Ini harus dicegah sedini mungkin, sebisa-bisanya,” kata Shao kepada para dokter muda tersebut. Tapi, itu pun sifatnya hanya usaha untuk buying time. Dokter di Singapura berpendapat sama. Dia memberikan dua jalan: Meminum obat agar kencing lancar dan meminta saya untuk tidak banyak minum. Dua-duanya saya jalani. Sampai-sampai saya pernah merasa takut pada air minum. Setiap mau minum, selalu terbayang bahwa sebagian air itu akan terus membuat badan saya bengkak. Sebagian lain akan membuat perut saya membesar, ginjurginjur, dan akhirnya mengeras. Pada awalnya, saya agak terhibur dengan “pil pelancar kencing”. Tapi, lama-lama satu pil tidak cukup membuat kencing saya mengalir lancar. Harus dua pil. Ini pun lama-lama juga sudah kurang manjur. Terpaksa, saya terus mengurangi minum. Beberapa bulan terakhir saya hanya berani minum satu liter saja sehari. Ini karena kencing saya hanya sekitar 700 sampai 900 mililiter sehari semalam. Di Tianjin, Prof Shao memberi saya obat Tiongkok yang sudah berwujud cairan infus. Tiap hari saya diinfus dengan itu dan bengkak berkurang. Kencing lancar sekali. Tapi, kalau infus dihentikan, tetap saja badan kembali bengkak. Shao menjelaskan mengapa demikian kepada para dokter muda beberapa di antara mereka dokter muda dalam ilmu kedokteran Tiongkok. Ketika saya banyak tanya mengenai khasiat dan bahaya setiap obat yang diberikan kepada saya, Shao bergegas menatap wajah-wajah dokter muda. “Lihat sahabat saya ini. Banyak bertanya. Kelak, semua pasien akan seperti ini. Kalian harus bisa menjelaskannya dengan sebaik-baiknya. Pasien memang punya hak untuk tahu,” ujar Shao sambil tangannya tetap di perut saya. Kadang tangannya mampir lagi ke payudara saya. Ini karena di antara dokter muda hari itu, ada wajah baru yang belum diberi tahu bagaimana payudara saya juga membesar seperti gadis menginjak remaja. Lain hari, saya ingin Prof Shao ganti mengajar saya. Sebelum hari yang ditentukan itu tiba, saya beli kertas putih lebar. Lalu, saya tempelkan di dinding kamar rumah sakit. Saya ingin dia menjelaskan secara gamblang rangkaian penyakit saya. Saya juga beli spidol warna-warni untuk membedakan gambar aliran darah masuk dan keluar. Dia tersenyum melihat persiapan saya hari itu. “Wah, saya harus mengajar berapa jam?” tanyanya bergurau. Pipinya yang padat, hidungnya yang agak mancung, badannya yang tinggi, dan rambutnya yang ikal membuat penampilannya sangat aristokrat. Apalagi kalau berat badannya bisa turun satu kilo lagi. “Satu jam 10.000 yuan ya?” guraunya ketika menyebut uang setara Rp 11 jutaan tersebut.

47

by Moezhanks

Di dinding itu dia menggambar isi tubuh saya. Menjelaskannya sangat detail dan terang-benderang. Dia pandai sekali mengajar. Pasti banyak mahasiswanya yang senang. Saya juga belajar yang lain lagi: bahasa. Sebab, bahasa Mandarin yang dia gunakan sangat teknis dengan logat yang sangat Tianjin. Kini tahulah saya secara gamblang penyakit saya, terutama ancaman mati yang nyata di depan mata saya. “Ini tidak ada obatnya,” katanya tegas. Muncul karakternya sebagai pemimpin. “Kecuali istirahat total,” tambahnya. “Obat hanya memegang peranan kurang dari 15 persen. Yang 85 persen lebih adalah perilaku pasien sendiri,” ujarnya. Prof Shao melarang saya banyak jalan, gerak, dan terlalu lelah. Tidak boleh marah, kemrungsung, dan berada dalam situasi tergesa-gesa. Padahal, salah satu hobi saya “mengejar” pesawat. Saya sering tidak sabar menunggu jadwal pesawat. Kalau pesawat yang akan terbang ke suatu tujuan masih tigaempat jam lagi, biasanya saya cari pesawat ke jurusan yang lain dulu. Saya juga tidak boleh merasa kesal. Tidak memikirkan banyak persoalan sekaligus. Tidak boleh mikir yang berat-berat. Saya harus pensiun. Saya hanya boleh memikirkan badan saya sendiri. Tidak boleh lagi mikir orang lain. “Ibaratnya,” kata Prof Shao, “Rumah tetangga terbakar pun, Anda jangan peduli.” Tegas sekali peringatannya. Terang sekali contohnya. Hanya mahasiswa yang bodoh yang tidak bisa memahaminya. Dan saya ternyata termasuk “mahasiswa”-nya yang amat bodoh. (Bersambung)

Ganti Hati 18 – Dokter Menegur Iba, Ingat Nasib Ayahnya yang Redaktur
12 September 2007 BUKAN. Bukan bodoh. Semua penjelasan Prof Shao mengenai bahayanya penyakit saya, saya mengerti sepenuhnya. Terang-benderang penjelasannya. Saya pasti tidak bodoh. Hanya saya sadari, saya agak ndablek. Dan dia tahu perilaku saya itu. Dia tahu keras kepala saya, sembrono saya. Suatu saat, ketika saya kembali menemuinya setelah setengah bulan menghilang, dia lama memandang saya. “Ke mana saja Anda? Kami di sini prihatin sekali. Takut terjadi sesuatu pada Anda,” katanya dengan nada khawatir. Mungkin juga jengkel. “Saya baru datang dari Indonesia,” jawab saya. Dia setengah tidak percaya, setengah gondok. “Lho, setelah dari sini dulu itu, Anda pulang ke Indonesia? Kenapa? Apa kata saya tentang kebakaran rumah tetangga?” ujarnya. Dia lantas menarik napas panjang sekali. “Dahlan, Anda ini sudah gawat. Saya tidak mau kehilangan Anda,” katanya. Berkata begitu, dia seperti setengah menegur setengah mengiba. Dia kembali menarik napas panjang sekali. Matanya kelihatan berlinang. Dia keluarkan tisu di sakunya. Dia usap air matanya. Beberapa hari kemudian, dia bercerita kepada saya mengapa sampai hampir menangis ketika menasihati saya. Ternyata, dia ingat bapaknya. Bapaknya seorang redaktur surat kabar. Ibunya seorang hakim terkemuka. Bapaknya terus menulis buku sepanjang malam. Lalu meninggal. Ternyata karena sakit liver. Dia tidak tahu itu dan tidak memperhatikan itu. Padahal, dia dokter ahli liver. Waktu itu, katanya, dia juga sedang belajar ekstrakeras selain kerja keras. Sebab, dia akan segera dapat beasiswa untuk sekolah lagi di luar negeri. Tapi, semuanya gagal. Beasiswa tidak jadi. Ayahnya pun pergi. Dia menangis lagi saat menceritakan itu.
48
by Moezhanks

jika dihancurkan semua. Saya minta waktu berpikir untuk memutuskannya. limpa lantas “membesarkan diri”. orang akan gampang terkena infeksi dan yang kekurangan platelet akan mudah mengalami pendarahan. Melihat rendahnya kadar platelet saya. Yang disebut sampah di pembuluh darah. Sebab. ya saya lupa menjelaskan bahwa sebenarnya. Untuk menampung limpahan itu. digunakan standar minimal 150. Angka minimal untuk kadar trombosit seharusnya 150 (ini angka dalam standar laboratorium di Tiongkok). darah putih.Dia lantas ingin merawat saya semaksimal mungkin agar tidak seperti bapaknya. Makin banyak darah yang harus ditampung. Kalau toh ada tanda-tanda bengkak lagi. adalah sel-sel darah yang rusak. Setelah itu. Untuk menormalkan kadar sel-sel darah saya itulah. Limpa saya harus dipotong? “Boleh dibilang begitu.” katanya. Mungkin dikurangi sepertiganya dulu. Saya sendiri juga kepingin agar tidak seperti ibu saya. Tugasnya melawan infeksi. bukan hanya kadar platelet saya yang turun. Karena jumlahnya di luar batas normal.” ujarnya.” katanya. Tapi. darah akan kekurangan sel darah merah. Tapi juga sel darah putih dan sel darah merah saya.000. Mengapa limpa harus dikecilkan? Limpa adalah organ kecil -yang dalam keadaan normal hanya seukuran genggaman kita. Hasil “laminating” yang dilakukan di Singapura terhadap saluran pencernakan saya yang sudah penuh varises sangat baik. Kalau kekurangan darah putih. Apalagi dari hasil pemeriksaan total. jika tidak dihancurkan. serta menyingkirkan sampah-sampah di pembuluh darah. Oh. Padahal. Prof Shao lebih prihatin pada kadar platelet atau trombosit saya yang tinggal 60. caranya tidak lewat injeksi karena hal itu hanya bisa bertahan dua-tiga hari. Namanya diembolisasi. Bagi limpa. semakin besar pula ukuran limpa. aliran darah ke liver saya (baca: penderita sirosis) tidak bisa lancar. Cukup untuk mengulur waktu beberapa bulan. Tiga-tiganya bisa mengakibatkan kematian. orang yang kekurangan sel darah merah akan mengalami anemia (kekurangan darah). termasuk Indonesia. Tapi.di bawah iga kiri. dia lihat masih ada sedikit peluang. antara lain. platelet akan turun lagi. darah mengalir balik ke limpa. “Mungkin saya akan mengecilkan limpa Anda. Prof Shao memutuskan perlunya mengecilkan limpa saya. Di negara lain. Akibatnya. Normalnya 150. luberan sel darah yang berlimpah itu memang menyulitkan. Dia akan sangat kecewa kalau saya sendiri tidak peduli dengan badan saya. memproduksi sel darah merah dan darah putih tipe tertentu. limpa Anda sudah membesar tiga kali ukuran normal. 49 by Moezhanks . Seperti yang pernah saya sebutkan di tulisan terdahulu. masih bisa “dilaminating” sekali lagi. “Laminating” itu kurang lebih bisa bertahan setahun.000 per milimeter kubik darah. limpa pun memperlakukan sel-sel darah yang numpuk itu sebagai sampah yang harus disingkirkan. “Limpa dipotong?” kata saya dalam hati. Dipotong seberapa banyak? “Sekarang. dan platelet yang “sehat”. sel-sel sehat dan rusak itu akan mengerak dan mengganggu fungsinya. Itu berarti sel-sel darah yang “sehat” pun ikut disingkirkan.000 sampai 400. Prof Shao lantas berpikir keras mencari jalan untuk menaikkan kadar platelet saya.

Sering ada suara “krosak” di kolong itu yang lebih menarik perhatian saya daripada mata kuliah. Nah. ikut kakak sulung saya. Kalau dijual Rp 750 per watt kepada masyarakat. 50 by Moezhanks . tapi juga energi saya. PLN langsung untung. rakyat hanya dikenai tarif Rp 750. PLN sudah tahu bahwa hari itu perusahaannya akan rugi Rp 1. mulai gubernur sampai DPRD. Maka. saya bisa menyaksikan apa yang terjadi di kolong yang sering digenangi air. yang biaya produksi listriknya hanya Rp 500 per watt. dan bahkan presidennya. selama liver saya sirosis. yang terjadi adalah demo. Sebagai tamatan aliyah. Saya harus kembali ke tanah air karena sudah terlanjur komit untuk mengatasi kelangkaan listrik di Kaltim. proses perizinannya ternyata sangat panjang. Tentu pemotongan limpa itu tidak bisa dilakukan tiga kali karena sama artinya dengan membuang limpa sama sekali. Tapi. antara lain. dua tahap pemotongan limpa tersebut dianggap cukup untuk mengulur waktu sampai lima tahun. kelak limpa membesar lagi? Ya. Dari Kaltim-lah. yang utama lagi memakan batin saya. Kalau tarif listrik dinaikkan. Mematikan salah satu di antara tiga saluran itulah. saya memang ke Kaltim. agar mau menyisihkan sebagian anggaran untuk investasi di listrik. Di Jawa saya tidak mungkin bisa masuk universitas karena tidak punya biaya. Setamat SMA. limpa saya masih bisa dipotong lagi. Pembangkit-pembangkit listrik PLN sangat tidak efisien. saya memulai karir sehingga saya anggap Kaltim seperti daerah kelahiran sendiri.250 per watt. dan hasilnya bagi PLN juga begitu nyata (dari perusahan rugi akan langsung jadi laba). Kelak. Kalau tahap itu sudah terjadi. Limpa memiliki tiga saluran darah masuk utama. Biawak adalah binatang seperti buaya. dan menjengkelkan. diperlukan biaya Rp 2. melelahkan. Banyak kampung miskin terbakar karena saat lampu mati. Anggaran Kaltim yang besar karena sumber alamnya yang melimpah jangan habis untuk kebutuhan konsumtif. Itulah suara biawak berkelahi. sekali lagi. Pemadaman terjadi bergilir. Tujuan satu: agar bisa kuliah. Memang. limpa akan mati sepertiga. Kalau salah satu saluran itu dimatikan. saya meyakinkan pimpinan-pimpinan daerah di sana.Ini memang bukan langkah permanen. tapi hidup di darat. logikanya begitu baik. masih ada satu di antara dua saluran utama yang bisa dimatikan lagi. Untuk menghasilkan satu watt. kalau limpa sudah membesar lagi. Padahal. lilin itulah yang sering mengakibatkan kebakaran. Sewaktu kuliah. kenal menteri-menteri di bidangnya. saya memang tidak mendapat ilmu baru dari mata kuliah yang sudah saya pelajari semua di kelas satu SMA itu. Saya masuk Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel cabang Samarinda. setelah dipotong pun. PLN tidak bisa banyak berbuat karena selalu rugi. mereka harus menyalakan lilin. saya kenal direksi PLN-nya. Proyek energi yang kelihatannya mulia itu ternyata juga memakan bukan hanya dana saya. Seperti yang saya lakukan di Jatim. masuk univeristas masih gampang dan murah. Kaltim tidak bisa berharap banyak pada PLN. saya tidak pernah memanfaatkan kedekatan saya itu untuk urusan tersebut. Sebab. Artinya. Meski tujuannya begitu hebat. saya sering melihat ke bawah. Dan itu akan membuat pletelet juga turun lagi. darah yang tidak bisa masuk liver akan meluber dan menekan ke mana-mana. Saya kembali ke Indonesia lagi agar. yang akan dilakukan Prof Shao. bisa mampir ke Singapura. Membangun PLTU yang efisien.000-an. termasuk ke limpa. Saya tetap minta waktu memikirkannya. Saya ingin mendapatkan opini pembanding. Sudah jadi prinsip saya untuk tidak memanfaatkan keberadaan saya di pers untuk menekan seseorang. Karena lantai papannya tidak cukup rapat. Kampusnya di sebuah rumah panggung di Jalan Panglima Batur IV. sejak sebelum matahari terbit pun. Padahal. Dua tahun baru beres. Pemda setuju asal saya mau jadi direktur utama perusahaan daerah di sana. Di Kaltim. Setahun PLN Kaltim bisa rugi hampir setengah triliun rupiah (2005). kenal wakil presiden. Tahun-tahun belakangan Kaltim mengalami krisis listrik. Jadi. Dan.

tapi karena Chairul Tanjung yang berinisiatif. Kalau proyek tersebut berhasil. Namun. Sebagian karena malu. ujung-ujungnya. Risiko pada keuangan saya dan pada kesehatan saya. Menyesal luar biasa. saya buntu di kantor menteri BUMN. tidak boleh mikir. Saya juga memahami PLN tidak boleh melanggar aturan. Tembok tersebut terlalu tebal. Ini bukan karena saya mengadu. Rumah saya sendiri: Kaltim. siapa yang mau masuk jadi investor listrik. Pasti pemerintah di segala lapisan akan senang. Juga rumah besar saya: Indonesia. Yang tidak saya pahami adalah mengapa ada peraturan yang menghambat kemajuan seperti itu. mengapa tidak segera dicabut. saya akan dicatat sebagai penjebol tembok kebuntuan listrik itu. Memang ada juga salah saya. Tapi sudah tidak bisa mundur lagi. Saya memahami aturan bank seperti itu. Tentu sebenarnya juga bukan kecil bagi saya. Wapres mengumpulkan menteri dan direksi PLN untuk membahas kasus Kaltim itu. Bos Bank Mega yang juga bos Trans TV itu yang prihatin dengan keluhan saya. kementerian BUMN. Tinggi level dan tinggi pula tempatnya. Maka. Kecil yang saya maksud adalah dari sudut pandang negara. Saya baru mau masuk ke listrik kalau urusan ini sudah selesai. Meski kondisi badan saya sudah sedemikian parah.” kata bos Bank Mega yang namanya meroket tahun-tahun terakhir ini. bagaimana yang lain?” katanya. saya tidak boleh peduli. Tapi kalau tembok ini tidak dijebol. “Ini harus selesai. Kalau kontrak tahunan. Padahal.Pernah suatu saat saya diajak ke Tiongkok oleh Wapres Jusuf Kalla. Tepatnya izin dari tiga lembaga. Yakni cukup mendapatkan kontrak tahunan saja dari PLN. tidak boleh marah.” kata saya kepada Chairul Tanjung. dia juga ikut dalam rapat tingkat tinggi yang benar-benar tinggi itu. Persoalan tersebut membuat saya harus mengabaikan peringatan keras Prof Shao bahwa saya tidak boleh terbang. Saya malu proyek sekecil itu saja sampai dibahas di forum yang begitu tinggi. Ini gara-gara saya terlalu sering ke negeri itu dan melihat bagaimana antusiasnya pemerintah kalau ada investor datang. Apalagi ada bank yang bersedia memberikan pinjaman meski kontraknya hanya tahunan. ketika setahun mengurus izin ini tidak berhasil (karena sejumlah peraturan yang tidak mengizinkan PLN menandatangani kontrak jangka panjang). Kalau toh sudah telanjur ada karena masa lalu yang kelam. bisa jadi. sebagian lagi sebagai ungkapan terima kasih atas inisiatifnya. bank tetap mensyaratkan kontrak jangka panjang. “Ini memang rusan kecil bagi Anda. Di kementerian energi saya tidak punya masalah. Di dalam pesawat yang berada 36.” tambahnya. Di atas pesawat. Ternyata. dan PLN. Saya menyesal telah berinisiatif mengatasi kelangkaan listrik di Kaltim tersebut. saya tidak bisa lari dari tanggung jawab itu. kepala saya juga pecah ketika membenturnya. Memang. ya. kan sama artinya dengan menyumbang Rp 500 miliar tiap tahun kepada negara? Bayangan saya pemerintah akan membuat segalanya lancar. “Saya saja tidak mau. Di PLN hanya sedikit masalah. Saya harus pulang ke Indonesia untuk terus mengurus semua itu. PLN tidak melanggar peraturan.000 kaki di atas permukaan laut. Kesalahan kedua saya. lagi-lagi kami harus mengurus izin kontrak panjang dengan PLN. “Urusan kecil begini kok panjang sekali. Ini besar bagi saya. Saya terlalu terpengaruh suasana di Tiongkok. tidak boleh lelah. Saya ingat kata-kata Prof Shao bahwa walau terjadi kebakaran di rumah tetangga pun. saya kenal Menteri Soegiharto. Tapi. yang kebakaran ini bukan rumah tetangga. Indonesia yang begitu rumit peraturannya. tidak boleh kesal. masing-masing dengan birokrasinya sendiri: kementerian energi. terutama risikonya. Bahkan. Tapi. Bayangan saya juga begitu sewaktu saya memiliki semangat untuk ikut mengatasi krisis listrik di Kaltim. Kalau Dahlan saja mengalami hal seperti ini. 51 by Moezhanks . saya setuju untuk kompromi.

infeksi di tempat limpa dipotong. sangat berbahaya. Pemotongan limpa. “Perhatikan saja lubang hidung Anda. “Dibuang saja sekalian. Sudah lebih 15 tahun. Meski setuju platelet saya harus dinaikkan. ini sudah bukan lagi soal untung rugi. ada juga yang baru perdarahan ketika platelet-nya sudah 50. Dan masih akan turun terus.” katanya. saya sudah tidak senang. Saya ingin bertanya ke dokter di Singapura. tapi juga akibatnya. Liver baru saya mungkin juga akan ikut berbinar-binar. Ini juga sama dengan penjelasan Prof Shao. Kapan platelet saya akan turun sampai angka 50? Berapa minggu lagi? “Tidak bisa diperkirakan begitu. Sebuah persetujuan yang sudah sangat mahal. Ini malah disuruh membuang. Dalam perjalanan pulang untuk mengurus listrik itu. Saya dengar setelah soal Kaltim itu selesai. Uh! Dalam istilah medis. “Tapi.” jawab dr Shao. Bisa timbul infeksi di tiga tempat yang akan mengakibatkan kematian. ketahanan tubuh saya kian habis dan saya akan mengalami perdarahan dari setiap lubang yang saya miliki. “Ada yang pada angka 60 seperti Anda sekarang sudah perdarahan. Mendengar kata “limpa dipotong” saja. memang OK. orang bisa hidup tanpa limpa. Makanya saya tanya ke dokter di Singapura itu. Orang bisa hidup tanpa limpa. Bisa saja tiba-tiba drop jadi 50 atau bahkan di bawahnya. kan lantas tidak terlalu tahan terhadap infeksi.” tambahnya. Fungsi limpanya bagaimana? “Diganti obat.” tambahnya. saya bisa mampir ke Singapura.” tambahnya. 52 by Moezhanks .” katanya. “Singapura sudah lama tidak mau lagi memotong limpa. Tiga-empat bulan lagi (akhir tahun ini). akhirnya sang menteri mengeluarkan surat persetujuan. “Membuang limpa sama sekali malah lebih safe. Tetapi. infeksi di selaput dada. sebelum dicopot) menteri BUMN. tentang rencana pemotongan limpa saya? “Kalau tujuannya untuk menaikkan platelet. “Setiap orang tidak sama. Tiongkok.” katanya lagi.” ujarnya. “Tidak apa-apa. Atau telinga. Waktu itu saya juga tanya ke Prof Shao: Pada angka berapa perdarahan itu akan terjadi? Katakanlah platelet saya (yang seharusnya minimal 150) sekarang tinggal 60. dokter Singapura ternyata tidak setuju kalau itu dilakukan dengan cara memotong limpa.Tidak pantas saya sebutkan di sini apa usaha yang saya lakukan untuk mengatasi kebuntuan di kantor (Soegiharto. Yang penting. bukan saja karena prosesnya. Atau kalau sedang sikat gigi.” katanya. benarkah limpa saya harus dipotong? Mengapa dokter di Singapura sama sekali tidak pernah menyinggung soal limpa? (Bersambung) Ganti Hati 19 – Waktunya Tiba. Tapi.” tambah dokter di Singapura itu. Lambatnya proses ini telah membuat biaya investasi membengkak luar biasa.” jawabnya. insya Allah Kaltim mulai bisa mengatasi kelangkaan listrik. Ini soal krisis listrik yang harus diatasi. berturut-turut banyak izin yang ditandatangani PLN untuk investor-investor lain. menurut dokter Singapura itu. Dia juga setuju kalau sampai platelet turun terus. Memang. ketika Menggigit Pisang Berlumur Darah 13 September 2007 SETUJUKAH dokter Singapura dengan pendapat Prof Shao dari Tianjin. Yakni. pembuangan limpa itu disebut dengan splenectomy.

Sudah lama saya gemas. Kebetulan Dirjen Migas yang baru juga berambisi mengatasi hal itu. Rumah besar saya. sumur-sumur minyak di sana lebih dalam dan iklimnya juga lebih beku. meski singkat. saya ingin mengajaknya mampir ke Liaoning dan Heilongjiang. Nanti. Minyak yang didapat pun lebih jelek dibanding minyak mentah Indonesia. jangan dibuang semua. Terakhir. mengapa Indonesia sebagai negara penghasil minyak justru menderita ketika harga minyak dunia membubung? Sampai harus menaikkan harga BBM yang menghebohkan itu? Mengapa tidak justru menikmatinya? Ini semua karena produksi minyak Indonesia terus menurun dari tahun ke tahun. “Di Singapura dokter tidak mau lagi memotong limpa. Jawabannya tegas.” katanya. Untuk melihat bagaimana negara itu bekerja keras mencukupi kebutuhan minyak. Indonesia. “Saya minta izin ke Dalian dulu. Suaranya meninggi. Kepada ahli penyakit liver ini langsung saja saya semprotkan pertanyaan berdasar pendapat dokter di Singapura. pada 2005. Sudah sangat tidak layak menjadi anggota OPEC. Ketika saya tanya soal risiko infeksi di tiga tempat yang sangat membahayakan. Maka. Itu. saya akan menemui Prof Shao untuk ’menguji’-nya. kalau masih sempat. Saya sudah berjanji kepada Dirjen minyak dan gas yang baru untuk mengajaknya ke Tiongkok. “Sudah lebih dari 500. sangat masuk akal. sore itu saya harus ke Dalian. Tapi. Biar berkurang. Tapi. Paginya saya masih di kota Tianjin. mantap. Dua-duanya bisa diterima secara medis. sudah. dan percaya diri. karena tengah malam nanti harus menjemput Dirjen Migas di bandara kota itu. “Siapa bilang itu kuno?” sergahnya. urusan perusahaan daerah Kaltim. juga tahu cara menghindarinya. semangat untuk menggalinya luar biasa. Dua-duanya masuk akal. Tinggal saya yang harus memilih lebih percaya kepada yang mana. untuk bertemu Prof Shao. Saya ingat usul-fikh ahli sunnah wal jamaah: Sesuatu yang tidak bisa dipakai semua. dalam kesempatan saya ke Tiongkok lagi. Tapi. Maka saya tidak begitu saja mengambil keputusan membuang limpa. tentu. Ya. “Banyak itu berapa? Berapa puluh?” tanya saya lagi. Padahal. Maka saya pun memutuskan akan titip nasib ke Prof Shao. Saya pilih dipotong saja. Tapi. “Justru membuang limpa itu yang kuno sekali.” jawabnya mantap.” katanya. yakni saat pesawatnya mendarat dari Shanghai. Saya janjian bertemu di Kota Dalian. Saya ingin membantunya meski saya hanyalah rakyat biasa.” kata saya. *** Saya memang harus ke Tiongkok lagi.00. Tidak mungkin. saya juga berpikir: Masak Prof Shao tidak tahu itu. Urusan Jawa Pos sendiri. Itu cara 60 tahun yang lalu. Penerbangan dari Tianjin ke Dalian memakan waktu satu jam. Di sana cara itu sudah dianggap kuno. dan urusan menepati janji. Segera saya gunakan ilmu mantiq saya: sudah berapa kali Prof Shao melakukan pemotongan limpa? “Sudah banyak kali. akan 53 by Moezhanks . Saya bisa menerima sepenuhnya. Giliran saya sendiri yang harus memutuskan.”’ katanya. rasanya. Saya sering ke ladang minyak di Tiongkok. Dengan alat-alat yang lebih sederhana mereka bisa menghasilkan minyak lebih banyak. Saya melihat betapa semangatnya orang di Daqing (Provinsi Heilongjiang) dan di Panjin (Provinsi Liaoning) menggali minyak. tapi masih ada sisanya. “Tentu saya tahu. Hari itu kebetulan Dirjen Migas punya acara di Shanghai. Ini soal pilihan. Ada beberapa urusan. dia tidak mengelak. urusan pabrik steel conveyor belt-nya perusahaan daerah Jatim. Di bandara kota itu pukul 24. sudah berada di bawah satu juta barel per hari.Penjelasannya.

Tapi. Ternyata Prof Shao tidak tersenyum. saya tidak menceritakan apa yang terjadi atas diri saya.” kata saya. dan karena itu saya antusias membantunya. tidak bisa tanggal 6 Oktober 2006.” kata saya. yang tidak tahu apa itu doa. saya tidak boleh menjadi pasien pertama yang menggunakannya.” kata saya. Tapi.” katanya. Menarik panjang napasnya.” kata saya tidak ingin menggundahkan hatinya. Berkumur. Sudah waktunya makan malam. Saya pun bertekad tetap memenuhi komitmen saya. Malamnya terbang ke kota Harbin. Memikirkan apa yang harus saya perbuat. saya mengira operasi pemotongan limpa bisa dilakukan hari itu. “Lakukan sekarang!” kata saya begitu bertemu Prof Shao. Sorenya bermobil lagi ke kota Shenyang. “Mereka ini benar-benar seperti koret-koret (mengais sisa-sisa) minyak.” gurau saya kepada Prof Shao. “Mengapa?” tanyanya lagi. tanda tangani saja. sisa pisang itu berlumur darah! “This is the time! Wo de shi jian dao le. Malam hari balik lagi ke Harbin. “Wo bu guan ni. “Apa?” tanyanya. “Potong saja limpa saya. Saya lari ke toilet. Pagi-pagi kami bermobil sejauh 400 km ke Panjin. Jadi. Saya terus tersenyum dan memberinya semangat untuk terus membangun dunia minyak. Saya memang sudah beberapa kali operasi kecil. Pagi-pagi Dirjen kembali ke Beijing untuk balik ke Indonesia. doa di balik tekenan itu yang penting.” kata saya dalam hati. dikirim balik ke Tianjin. “Tidak bisa sekarang. Saat makan malam itulah saya kaget. Mengapa? Karena ruang operasinya baru saja dirombak. Tiba di Dalian sudah agak malam. Harus 8 Oktober. Merah airnya. Tibalah sudah waktu saya. Dengan datangnya persetujuan istri saya. Bentuknya tidak penting. saya tahu dia baik. “Kalau nanti ada teman Jawa Pos membawa formulir ke rumah. Harus ada persetujuan istri Anda. Dia sudah sering mengancam untuk tidak mau lagi mengurus saya. Dan. “Ini apa?” tanyanya melihat tanda tangan istri saya yang tidak lazim untuk mata orang Tiongkok. “Saya akan operasi kecil.” katanya. tidak ada darahnya. Ah.” katanya. Ketika saya menggigit pisang. Saya lupa kalau dia komunis. Saya lantas menelepon istri saya. untuk mengeluarkan benjolan yang ada di bawah kulit di beberapa bagian di tubuh saya. kali ini seperti tidak percaya. “Itu tanda tangan istri saya.” kata saya ingin setengah memuji istri saya.terbakar. Ternyata harus tiga hari kemudian.” tegas saya. Istri saya tidak bertanya banyak. Saya terbang ke Tianjin untuk pemotongan limpa saya. Dirjen serius sekali melihat semua itu. “Ini persetujuan istri saya. atau besoknya. Berkumur lagi dan berkumur lagi. 54 by Moezhanks . Saya menundukkan kepala sesaat. Saat menyalami kedatangan Dirjen Migas. kita nggak tahu maksudnya. Pagi-pagi bermobil 500 kilometer ke kota Daqing. Hari itu baru selesai. setengah melucu. hilang merahnya. Ujung-ujungnya luluh juga hatinya. “Saya bisa usahakan sekarang. Saya tahu tekadnya kuat sekali untuk memperbaiki perminyakan Indonesia. Juga gondoknya kepada saya meningkat. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Satu jam kemudian saya berkumur lagi. Setelah ditandatangani istri saya. Yakni. Formulirnya dalam bahasa Mandarin. Saya langsung minta formulir persetujuan operasi dan memfaksimilikan ke Surabaya.

sebagaimana dijelaskan Prof Shao. Saya juga tabik tak hentihentinya. Lalu seminggu tidak boleh turun dari tempat tidur. saat upacara tersebut saya terlihat pucat. Bahwa setelah limpa dibuang akan merepotkan pasien seumur hidup. Matanya yang biasanya tajam. “Semua gara-gara Anda. Tapi.Padahal.” katanya segera. Apalagi. memang tidak dianggap enteng oleh Prof Shao. Langsung ke bandara untuk pulang ke Surabaya. semua bisa diatasi. dengan mundurnya tanggal operasi. perawatan setelah pembuangan limpa akan lebih mudah. Keringat dingin memang memenuhi badan saya. Itulah sebabnya. Tahu sedang saya perhatikan.” ujar dr Shao.” kata saya dalam hati. naik sangat tinggi: lebih dari 38 derajat Celsius. Saat itulah saya mengerti mengapa banyak dokter di Singapura memilih membuang saja limpa saya daripada memotongnya. dia merasa risi. Tabik dengan cara Tiongkok. pada hari-hari pertama. sebulan kemudian saya sudah akan bisa keluar dari rumah sakit. Perawatan setelah pemotongan ternyata begitu sulit. barulah Prof Shao menemui saya lagi di kamar rumah sakit. Setelah operasi. di kantor saya. Ini untuk mewakili ucapan terima kasih saya kepadanya yang tidak terhingga. Menunggui Anda. suhu badan saya kembali normal dan stabil. Tidak secantik ketika dalam keadaan segar. seperti orang sakit. Kebalikannya. Kalau sebelum operasi saya lihat dia sering berlinang air mata. Tiga minggu berikutnya harus tetap di rumah sakit. Saya tidur di rumah sakit. Saya mau istirahat.” pamitnya. Lalu. Maksud saya. Rasa sakit setelah pemotongan itu lebih hebat daripada transplantasi liver. “Mana ada dokter di negara lain yang mau menunggui pasien sampai lima hari tidak pulang. ketika saya di panggung. Wajahnya masih tidak terlalu cerah. Tiga hari setelah libur.” tambahnya. saya ingin operasi itu dilakukan pada 6 Oktober. Tanggal 7 sudah menandatangani perjanjian PLTU Kaltim dengan konsorsium bank dan meresmikan gedung Expo Jatim. “Sudah lima hari saya belum pulang. tanggal 5 sebulan kemudian saya sudah bisa keluar dari rumah sakit. “Sekarang Anda sudah stabil. Bulu matanya yang hitam seperti bendera setengah tiang. Juga lebih lama: seminggu penuh. Hari itu. Saya minta maaf berkali-kali karena telah membuatnya tidak bisa pulang. 8 jam saya tidak boleh bergerak. suhu badan saya. Begitu besar perhatiannya. Seminggu kemudian. 55 by Moezhanks . seharusnya masih di atas tempat tidur di rumah sakit di Tianjin. Saya tidak pernah membayangkan operasi pemotongan limpa ini akan gagal. (Bersambung) Ganti Hati 20 – Baru Tahu Mengapa Dokter Singapura Pilih Potong Limpa Saya 14 September 2007 ANCAMAN infeksi yang serius setelah pemotongan (embolisasi) limpa. Namun. itu kan sudah di luar tangung jawab dokter yang membuangnya. waktu recovery saya tidak cukup. Saya ingin operasi itu dilakukan tanggal 6 karena pada tanggal 7 bulan berikutnya ada acara penting di Indonesia: menandatangani persetujuan proyek PLTU Kaltim dan peresmian gedung Expo Jatim. kali ini agak memerah. “Dua hari saya flu. kini ganti saya yang amat terharu. Begitu tinggi tanggung jawabnya. Penampilannya memang agak lecek. Selama seminggu itu pula Prof Shao dalam ketegangan.

Mudah-mudahan masih terselip raya sayang di dalam campuran itu. langsung diubah untuk menemui saya. Dari ekspresi wajah dan body language-nya. badan saya sudah terasa enak.” tulis saya di pembukaan surat. Padahal. ada satu data yang saya sembunyikan. Pagi-pagi Guo Qiang. Melihat itu. Lalu minta maaf. tapi yang terbakar rumah sendiri. Rupanya. meski fakta itu memang saya pakai merayu. Tertutupi oleh jabatan tingginya dan mungkin juga kekomunisannya. Tiba-tiba dia masuk kamar saya dengan menggenggam surat itu. Sampai-sampai banyak dokter muda yang menunduk. “Sudah saya duga. anak saudara angkat saya Mr Guo. “Tapi. Kemampuan bahasa Mandarin saya belum sampai pada tingkat untuk bisa dipakai merayu.” jawabnya. Bahkan. bukan rumah tetangga.” katanya. dokter-dokter muda yang menyertainya menyerahkan tisu 56 by Moezhanks . “Bukankah indikasi-indikasi dalam darah saya sudah menunjukkan bahwa saya kuat terbang jauh?” kata saya memecah kebekuan. Kami terdiam lama. Andalah dokter terbaik di muka bumi ini. Beberapa dokter muda yang mengikutinya sampai agak tertinggal di belakang. Lama dia tidak berkata-kata. tekanan darah juga normal. Prof Shao seperti kian gondok. Setengah memuji. barulah dia mengucapkan kalimat yang bernada putus asa.Sekali lagi saya minta maaf berulang-ulang. setengah memompa dadanya. tiga hari di rumah tidak bisa menikmati. Tidak menduga sama sekali dia merahasiakan itu dari saya. tapi juga berisi memaksanya agar mengizinkan saya pulang. Bersamaan dengan itu flu datang menyerang. “HB saya 13. saya minta menerjemahkan surat yang saya buat. ketegangan lima hari yang mencekam dirinya hilang. Bertatapan dengan saya. Tapi. Guo Qiang saya minta menuliskannya dalam bahasa Mandarin yang indah. Saya lihat Prof Shao mulai menitikkan air mata. Tiga minggu kemudian. Baru pada bait ketiga saya ’memperkosa’-nya. Plt saya sudah 120. Yakni. Setelah menarik napas panjang. dan gondok bercampur jadi satu. Saya juga mencoba lagi kemampuan ilmu mantiq yang saya pelajari di aliyah dulu. saya harus pulang. Surat itu saya mulai dengan pujian. yang mestinya melakukan kegiatan rutin. Prof Shao seperti tidak membaca alinea pertama. Mungkin merasa kok saya seperti sok tahu kedokteran. kesal. Saya terpojok. Lalu ingat lagi acara PLTU Kaltim dan gedung Expo Jatim yang sudah menanti. saya tidak tahu apa hubungannya antara sakit saya dan HBV-DNA. Bait kedua saya manfaatkan untuk ucapan terima kasih. Tidak pernah dikemukakan dengan lepas.” katanya seperti ingin bergurau. Ini soal kebakaran rumah memang. Ternyata saya telah menyiksanya. begitu kondisi saya stabil. Lalu saya menunjukkan hasil lab. HBV-DNA Anda masih 15 juta. Guraunya selalu ringan-ringan saja.” kata saya. Pagi itu. dia tidak langsung berkata-kata. “Semua itu benar. “Mungkin. Langkahnya cepat. memasukkan kalimat-kalimat merendah. SGPT-OT saya mendekati normal. seharusnya di bawah 100 saja.” katanya. Dia menatap wajah saya dengan tatapan multi-arti: marah. “Mana ada dokter yang mau lima hari tidak pulang untuk menunggui pasiennya?” saya menunjukkan fakta. Saya tidak mengadaada. Wajahnya merah serius. Rayuan saya ternyata telah diabaikannya. Maksud saya yang akan bisa meluluhkan hati Prof Shao. Guru besar ternama di bidang liver itu seperti langsung membaca alinea yang ’memperkosa’-nya. “Jadi. Saya tahu tidak akan diizinkan pulang.

Lalu Prof Shao menarik napas panjang. saya putuskan untuk berbuat ini di depan Prof Shao. sudah. Termasuk mempertimbangkan untuk transplantasi. obat yang saya siapkan nanti harus diminum. Saya sudah hampir menubruk kakinya. HBV-DNA saya juga menurun drastis. masih ada obat lain yang lebih mahal. Dengan diungkapkannya data soal kadar HBV-DNA saya. Turun dari tempat tidur dan ingin bergegas mencium kakinya. Kini saya sudah terbebas dari ancaman tiba-tiba meninggal. Tapi. Kalau toh obat itu juga tidak berhasil. Yakni. Saya terjepit antara keharuan dan romantisme di satu pihak dengan rasa tanggung jawab di pihak lain. Tapi. Prof Shao bergegas mengangkat kepala saya. Mata saya juga mulai berlinang. dari rumah sakit saya langsung ke bandara. Tanggung jawab kepada rakyat Kaltim dan Perusda Jatim. buying-time. Juga sudah terhindar dari ancaman tibatiba perdarahan dari lubang-lubang tubuh saya. Obat tersebut harus disuntikkan tiap 57 by Moezhanks . Agar virus yang tidak mungkin lagi dikeluarkan dari liver itu “tidur nyenyak” saja di dalam liver. “Bangun”-nya virus hepatitis B akan langsung menyerang liver hingga kelak jadi sirosis. tapi belakangan sebenarnya keluar obat baru yang harus diminum tiap hari. Dia tahu saya tidak pura-pura. Saya akan izinkan. ternyata saya belum prima. Semua itu hanya usaha untuk ulur-waktu. tapi sekaligus minta dengan sangat agar diperbolehkan pulang. setidaknya saya kini punya kesempatan beberapa bulan untuk memikirkan cara terbaik mengatasi sirosis-kanker saya secara permanen. Saya dalam posisi sulit. Ini sebagai tanda bahwa saya minta maaf yang dalam. Robert Lai juga mengusap-usap matanya. “Ya. Nama generik obat itu Octreotide (karena saya tak boleh menyebut nama obatnya). Lalu muncullah keteguhan dalam hati saya untuk lebih mementingkan tanggung jawab itu. Katakanlah suntikan interveron yang saya jalani sampai 70 kali (setiap dua hari sekali) itu tidak berhasil “memingsankan” virus hepatitis B saya. Seminggu kemudian sudah menjadi 1. Maka. Tanggung jawab yang juga tidak kecil. sebenarnya masih ada jalan agar terhindar dari transplantasi. Juga terhindar dari potong-limpa. Saya pakai kursi roda selama dalam perjalanan pulang. Apalagi. Sebulan kemudian sudah normal.kepadanya. Tanggung jawab dan risiko sebagai pimpinan. *** Kian hari kondisi saya kian baik. Saya harus lebih hati-hati. Tidak bisa dicegah. (Bersambung) Ganti Hati 21 – Yang Pro dan Yang Anti-Transplan Bertinju Sengit dalam Pikiran 15 September 2007 KALAU saja saya dulu peduli sedikit dengan badan saya. Demikian juga istri saya. Saya tahu semua itu tidak menyelesaikan persoalan.5 juta. Besok paginya. mengusahakan pembunuhan atas dua kanker liver saya dengan cara dimasuki alat pembunuh lewat selangkangan saya. Sakit saya sudah terlewat parah. Dia menahan tangis. sebelum potong-limpa itu saya juga sudah dua kali melakukan TACE di Singapura. Kini ganti saya yang lebih banyak menitikkan air mata.” katanya melemah.

kata “transplantasi” sebenarnya masih jauh dari pikiran. Mengolor waktu. untuk membakar (mengablasi) sel kanker saya. saya tetap memakai obat-obat tersebut. masih ada tiga cara lain untuk mengatasinya. Itu tidak mungkin karena sirosis membuat permukaan liver saya mengeras. dengan memotong bagian yang terkena kanker. mau dipotong bagian yang ada kankernya. Masalahnya. pasti tergoda untuk mencobanya. Masak saya sampai harus melakukan itu? Masak saya separah itu? Masak tidak ada jalan lain? Masak tidak akan ada keajaiban? Masak tidak ada obat alternatif? Masak tidak ada dukun atau kiai yang linuwih (punya ilmu lebih)? Tapi. bisa membantu saya buying time. Waktu itu. dia akan punya kemungkinan terjangkit hepatitis.1 juta. Yang Anticavier saya ketahui dari dokter di Singapura. kalau dipotong. Harga obatnya saja. Kalau sudah kena hepatitis. Permukaan liver yang mengeras itu. Sebab. pasti akan mengarah ke sirosis. Banyak teman menganjurkan juga untuk pindah ke jalur alternatif. Kalau persoalannya hanya sirosis (sirosis kok dibilang “hanya”). sehingga tidak mudah untuk mengatasi kankernya. dokter harus memasukkan sejenis metal berbentuk kail yang punya 58 by Moezhanks . pasti akan menjadi kanker. Termasuk mulai mempertimbangkan kata yang mengerikan itu: transplantasi liver. akan menyebabkan pendarahan hebat yang bisa membunuh saya. Pendarahan di liver sangat tidak mudah untuk dihentikan. Baik yang kejawen maupun yang dibungkus religius. Selain Octreotide. Sedang dua obat yang lain saya ketahui dari Prof Shao. Rekayasa Tuhan? Apakah Tuhan punya hobi merekayasa? Saya lebih percaya bahwa Tuhan akan konsisten dengan sunatullah-Nya. tapi itu juga berarti secara tidak sadar kata “transplan” sudah mulai masuk dalam proses internalisasi ke pikiran saya. Termasuk sunatullah bahwa kalau tidak melakukan imunisasi hepatitis. Begitu pula kalau mau di-RFA atau dibakar dengan energi panas. Karena itu. kosa kata “transplan” sudah mulai masuk di bawah sadar. Sayang. Semua saya ketahui setelah liver saya menjadi sirosis. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Begitu pula kalau masalahnya hanya kanker (kanker kok juga dibilang “hanya”). di-RFA (radio frequency ablation) atau di-TACE (trans arterial chemoembolization). Misalnya. selain kemoterapi.dua hari sekali selama sembilan bulan.” kata teman saya. Antara satu dokter dengan lainnya memang masih berbeda pendapat mengenai keampuhan obatobat itu. bagi pasien yang ingin sembuh dan punya uang. sekalipun oleh dokter yang paling pintar. Setidaknya. Nama generiknya Thymalfasin atau Thymosin Alpha-1. Yakni. Ke obat tradisional atau ke kekuatan supranatural. Untuk memberikan kesempatan bagi saya memikirkan harus melakukan apa yang lebih mendasar. Meski bentuknya masih pertanyaan “masak harus sampai transplan?”. meski telat. Baru dua tahun lalu saya mendapatkan informasi tentang obat-obat itu. liver saya sudah “dikeroyok” sirosis dan kanker. tapi mungkin masih bisa diperlambat. Tapi. Meski sirosis tidak bisa disembuhkan. untuk sekali suntik. transplantasi masih bisa ditunda. Karena itu. saya harus tetap rasional. Sebab. “Siapa tahu ada rekayasa Tuhan di situ. sekitar Rp 1. Tetap menggunakan pemberian Tuhan yang sangat berharga itu: otak. Dan kalau sudah sirosis. Satu proses awal dalam sebuah perjalanan spiritual untuk sampai pada kata akhir: siap transplan. saya tahunya sudah sangat terlambat. Dan bahkan ketika sirosis saya sudah berkembang ke kanker. masih ada satu obat baru lagi yang juga harus disuntikkan ke saya selama sembilan bulan berturut-turut. Yang ini nyuntiknya sebulan sekali.

Selama hampir semalam saya tidak boleh turun ranjang karena khawatir luka sayatan itu terbuka. saat itu jumlah darah putih saya terus menurun. akibatnya bisa fatal karena sayatan tersebut menembus sampai ke pembuluh darah besar di paha. Seharusnya kadar darah putih saya minimal 200. persoalannya. transplantasi juga masih bisa ditunda dengan cara di atas. Kalau saya biarkan. Jadi. Limpa saya saja sudah membesar. Dengan begitu. sel-sel darah putih yang baik pun ikut dikubur oleh organ itu. dan limpa saya. Padahal. Sel darah merah memang harus mati dalam kurun waktu tertentu dan harus “dikuburkan”. Itu sudah termasuk mencabut kateter di pangkal paha saya dan membalut kuat-kuat bekas sayatan yang di paha. limpa bisa pecah: mati. untuk memblokir cabang-cabang arteri di liver yang melewati sel kanker saya. kateter itu lantas didorong masuk sampai ke arteri (pembuluh darah yang membawa darah bersih dan sari makanan dari jantung) yang di hati. obat kemonya tidak diinfuskan seperti umumnya kemoterapi. diputuskanlah untuk membunuh kanker saya dengan metode TACE. Sudah tiga kali lipat lebih besar daripada limpa orang normal karena darah yang tidak bisa lancar masuk ke liver mbendal (terpental) masuk ke limpa. darah putih berfungsi. Jadi. yang sudah ikutan rusak adalah saluran pencernaan. Limpa saya itu kian hari masih akan terus membesar. saya sudah tak bisa bertahan dari infeksi. kalau pinggang saya kena bola atau kena sodok. jantung. Padahal. Lama-lama. Dengan bantuan fluoroscopy.beberapa mata kail. kerusakan pada bagian tubuh yang masih baik akan terus terjadi. Karena itu. Cara itu pada prinsipnya sama dengan kemoterapi. diharapkan sel-sel kanker saya akan kelaparan dan tak lama kemudian mati. Kalau itu terjadi. Darah putihlah yang menguburkannya dengan cara “memakan”-nya. empedu. Tapi. Ini perlunya untuk menutup akses makanan ke sel-sel kanker itu. antara lain. dokter lantas memasukkan lagi obat lain. Bahkan. limpa yang membesar membuat darah putih saya menurun. Tindakan medis tersebut memakan waktu kurang lebih dua jam. sejenis sinar rontgen. karena limpa saya terus membesar. akibat sirosis itu. Kail itu ditembuskan ke dalam liver melalui perut. melalui kateter yang sama. Daya tahan tubuh saya sangat menurun. barangkali ginjal. Tindakan itu jelas bisa menyebabkan liver mengalami pendarahan. Makanya. selaput perut. menguburkan sel-sel darah merah yang mati. Bedanya. kalau problemnya hanya sirosis dan kanker (Huh! Sirosis dan kanker kok masih dibilang “hanya”). Karena darah putih yang sangat kurang itu. melainkan diinjeksikan langsung ke sel kankernya melalui selang kecil panjang (kateter) yang dimasukkan melalui pembuluh darah besar di pangkal paha (arteri femoral). saat itu. platelet saya 59 by Moezhanks . Sementara bangkai sel-sel darah merah makin bertambah. Cara itu tentu sangat membahayakan saya karena mata kail tersebut harus lebih dulu menjebol permukaan liver saya. saya akan sangat gampang terkena virus. Setelah obat kemonya menembus sasaran. Kalau sampai tahun lalu. Namun. Saat itu tinggal 60-an. Kalau turun 10 poin lagi. Pekerjaan mengubur dan menghancurkan bangkai sel-sel darah merah itu dikerjakan di limpa. ke mana bangkai-bangkai darah merah tersebut? Itu juga membuat problem sendiri pada tubuh saya. sehingga terjadi pendarahan. sebelum masuk ke sel kanker. bagian-bagian tubuh saya yang lain ikut rusak dan bisa saja jadi penyebab kematian yang lebih besar. Tidak pecah pun. dan paru saya juga segera rusak.

kalau misalnya kankernya sudah sampai di vena porta (pembuluh darah balik yang utama di liver). Tapi. status kata “transplan” pun meningkat dalam pikiran saya. hanya karena terkena benda tajam seperti keripik atau tulang ikan atau roti kering. Satu yang punya pendapat jangan transplan. penyebabnya kan jelas: virus Citomegali. Jadi. Atau. cuma ada satu jalan: transplantasi liver. saya sering merenungkan (yang sampai sekarang belum sampai pada kesimpulan) soal yang rumit dan peka ini: khusyuk itu gejala religi atau gejala psikologi? Mengapa ada orang yang mudah khusyuk? Tapi. Lalu. “Pak Dahlan pun. memang transplantasi Cak Nur gagal. Satunya lagi yang pro-transplan. Semua itu gara-gara liver yang sirosis. Kegagalan transplantasi yang dilakukan tokoh Nurcholish Madjid (Cak Nur) sungguh menjadi alasan pembenar yang kuat sekali bagi kubu yang tidak setuju transplantasi. Sehingga. sudah pasti pertimbangan yang lebih didominasi perasaan. mungkin juga akan lebih sulit. proses kerusakan di organ lain ternyata tak bisa saya hentikan. sewaktu-waktu saya terancam mengalami pendarahan dari mana saja: dari mulut. Kuat secara psikologis.juga terus menurun. Juga bukan ahli agama. Karena itu. bahkan dari lubang kemaluan. Dari sekadar tamu yang sedang mampir menjadi penghuni utama. “Bukankah terlalu banyak contoh transplan yang gagal?” tambahnya. saya pernah takut makan ikan. ketika membran selaput dada sudah kena infeksi. Atau. darah-darah yang mbendal itu juga memenuhi saluran percernaaan saya (varises esofagus). meski mungkin saya bisa membunuh sel-sel kanker dengan TACE dan berhasil memperlambat proses kerusakan total liver oleh sisrosis.” kata pro-transplan. Ada yang lebih berbahaya lagi. Seperti yang sudah saya singgung sebelum ini. Atau. Bahkan. Artinya. Tapi. Virus yang munculnya hanya dalam kasus transplantasi. kalau gagal gimana?” tanya kubu yang anti-transplan di tim saya. ketika air sudah memenuhi rongga perut (ascites). “Tapi. Akhirnya. Secara tidak formal. Kecuali liver saya segera baik. Setiap saat bisa pecah. Dan “kubu antitransplan” di tim saya juga tidak tahu mengapa Cak Nur gagal. bulatlah tekad saya: ganti liver. kalau ginjal dan paru sudah ikut rusak. 60 by Moezhanks . Tim yang pro-transplan mengemukakan. mungkin telanjur sangat parah. Misalnya. Tapi. Saya ingin mendapat pertimbangan yang arahnya berlawanan. Kita tidak tahu pastinya. Takut tulang-tulang kecilnya masuk ke tenggorokan. Maka. ketika memulai sembahyang harus mengulangi takbir berkali-kali? Mengapa ada orang yang mudah menangis ketika berdoa? Mengapa ada yang tidak bisa menangis? Gejala agamakah? Gejala psikologiskah? Saya bukan ahli psikologi. Dan. telinga. dindingdindingnya berubah jadi balon-balon berisi darah. Saya sudah biasa menghitung komposisi psikologis dan rasionalitas dalam setiap mengambil keputusan. lalu melukai dan menusuk balonbalon itu. Bukan secara rasional-teknis-medis. bisa saja karena kondisi Cak Nur sendiri yang memang sudah lebih parah daripada kondisi saya saat ditransplan. hidung. saya kalahkan. untuk itu. mengapa banyak juga yang sulit khusyuk? Sampai-sampai. Saya bisa mati hanya oleh satu tulang ikan yang amat kecil. saya memang membentuk dua tim.

Seperti kata dokter di Singapura itu. bel sudah menunjukkan bahwa waktu sudah habis. Tapi. tidak bisa bekerja dengan baik? “Itukah hidup? Untuk apa hidup kalau kondisinya harus tersiksa seperti itu?” serang tim pro-transplan tibatiba. Semua diam. Ada tiga yang harus dipertimbangkan. kesediaan donor. Saya sudah terbiasa. dan ketepatan rumah sakitnya. Kehebatan dokter. tali ring menyelamatkannya: Tapi. juga tidak boleh. kita sudah tiba pada kesimpulan transplantasi akan gagal. Tiga faktor itu saya sebut sebagai “persyaratan mutlak”. kedekatan budaya.Tapi. Kalau kita paksakan transplan tapi pasien tidak mantap. dan kedekatan bahasa.” kata saya. apakah kita harus membiarkan Pak Dahlan selama lima tahun menjalani kehidupan dengan kualitas yang buruk? Harus selalu dikemo. kedekatan dengan Indonesia. mengapa harus berjudi dengan transplan? Sebagai dewan juri yang harus adil. Dari situ baru kami tentukan tempatnya. Saya mantap transplan. dalam setiap akan mengambil keputusan.” kata saya. barulah saya menentukan langkah. Akan bisa bertahan hidup berapa tahun lagi?” katanya seperti sedang mulai memberikan pukulan tinju kepada tim saya yang pro-transplan. ditutup dengan pukulan upper-cut yang telak: sama-sama bisa bertahan lima tahun. saya melihat tim pro-transplan sempoyongan. Lalu mengalikan bobot dan nilai. Keheningan terpecah oleh suara salah satu tim pro-transplan. “Memang peran pasien sendiri amat menentukan. Lalu masih ada sejumlah “persyaratan keinginan”. “Katakanlah transplantasinya berhasil. menjalankan satu proses yang disebut problem solving. “Ya. “Saya mantap dengan transplan. tidak bisa makan enak. Apakah kalau tidak ransplan tidak bisa bertahan lima tahun lagi? Dengan obat-obat yang kian maju?” tanya tim yang anti-transplan. Misalnya. Berburu Banyak Ikan Kutuk 16 September 2007 SETELAH hati mantap melakukan transplantasi. Kedua tim masih akan terus bertinju. Lalu.” katanya. Dengan segala risikonya. Saya pernah disekolahkan 61 by Moezhanks . kubu “anti-transplan” di tim saya masih punya alasan lain. Tapi. Pemenang sudah harus ditentukan sebelum salah satunya KO. Bertubi-tubi ayunan tinju dihokkan ke wajah tim yang pro-transplan. (Bersambung) Ganti Hati 22 – Ingin Naikkan Albumin. Begitu pasien ragu-ragu. keluar-masuk rumah sakit. itulah pilihan terbaik. Satu proses untuk melakukan pembobotan dan penilaian atas semua pilihan. Sampai mau terlempar dari kanvas. Apakah tidak ada bibit kanker yang akan mbalik ke liver baru? Apakah bibit virus hepatitis B yang sudah ikut beredar di darah tidak menjangkiti liver baru? Lalu jadi sirosis lagi? Jadi kanker lagi? “Katakanlah setelah transplan masih bisa hidup lima tahun lagi. Hasil perkalian tertinggi. Kemantapan tekad pasien akan menjadi kunci suksesnya. diTACE.

barangkali bisa diabaikan. Saya ajarkan sebagai doktrin di Jawa Pos. Urat-uratnya kukuh. Sungguh tak terbayangkan bahwa tekad saya untuk belajar bahasa Mandarin lima tahun lalu ternyata saya sendiri yang akan memetik manfaat terbesarnya. tapi saya tidak peduli. Amerika. terutama. mengindikasikan akan kuat dalam menghadapi tekanan mental maupun fisik. Saya sendiri pun lantas mengunjunginya. mau tidak mau harus dipenuhi. dia selalu berhasil menjalankan misinya. Sangat bersih dan terawat. Itulah yang membedakan wartawan Jawa Pos dengan wartawan lain. umurnya. Singapura. akan lebih firm ketika memegang pisau bedah. Masih juga ada satu pertanyaan: maukah dia menangani saya? Ada waktukah dia? Inilah tugas Robert berikutnya. Hasil kunjungan Robert Lai sangat memberi harapan. rekor transplantasi tanpa transfusi darah. Boleh dikata. Saya memang sangat pro anak muda. Saya langsung jatuh cinta pada kunjungan pertama. Juga. Untuk Indonesia kota ini tidak populer. masih ada satu yang meragukan. Berkali-kali saya ke kota itu. Dan. Itulah salah satu sumbangan ilmu manajemen ke dalam praktik jurnalistik di Jawa Pos. menurut logika saya. di satu kota di belahan utara Tiongkok. 62 by Moezhanks . Belanda. Dari proses itulah lantas kami pilih dokter ini. Saya percaya hanya yang muda yang bisa diajak balapan di segala bidang.untuk itu di Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Manajemen (LPPM) ketika saya masih jadi wartawan majalah berita mingguan TEMPO. rekor transplantasi untuk pasien usia dini (3 tahun). Pengalamannya juga luar biasa. Saya mengenal baik kotanya. tapi masih muda. tim menyeleksi dokter-dokter ahli transplantasi di dunia: Australia. Sudah melakukan tranplantasi liver lebih dari 500 kali. reputasinya yang tinggi sebagai pusat transplantasi liver sudah sangat terkenal. Maka sudah tidak tengok sana-sini lagi: Di sinilah saya akan melakukan transplantasi liver. Tentu hal ini tidak diajarkan di fakultas publisistik atau di akademi wartawan. Apa itu? Tempat! Apakah di Tiongkok ada rumah sakit yang bagus sekali? Bukankah rumah sakit di sana terkenal joroknya? Untuk ini Robert Lai memeriksa rumah sakit tempat dokter itu berada. Bahkan. Hati saya mantap sekali. Mungkin tidak akan diakui sebagai salah satu teori jurnalistik. bisa saja mempekerjakan juru bahasa. dan sedikit banyak sudah bisa berkomunikasi dengan bahasanya. Kita pelajari track record-nya. Khususnya tower yang baru. Memang. tidak akan semulus kalau diri sendiri yang tahu bahasa itu. yang saya ragukan ini masuk dalam ’persyaratan mutlak’. Kunjungan pertama saya ke sana sekitar 10 tahun lalu. transplantasi untuk pasien tertua (76 tahun). Tangan anak muda. Proses manajemen itu kemudian saya bawa juga ke dalam jurnalistik. Namun. sudah membukukan beberapa rekor: Rekor terbanyak. Dan. Alat-alatnya juga amat modern. Proses yang sama saya terapkan dalam melakukan analisis problem-solving atas tekad saya yang sudah mantap melakukan transplantasi liver. Artinya. Jepang. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kalau saya tidak bisa sedikit-sedikit berbahasa Mandarin. Penampilannya meyakinkan. Maka. Dari masing-masing negara kita pilih satu nama. Wartawan Jawa Pos harus menjalankan ’10 rukun iman’ atau ’Ten Commandments” yang saya tentukan. Padahal. Saya ingin dokter yang berpengalaman. tapi saya sudah mengenalnya dengan sangat baik. dan Tiongkok. Umurnya masih 52 tahun dan badannya tinggi tegap. dialah dokter Tiongkok yang paling jago di bidang transplantasi liver. mengenal baik budayanya. sebagaimana yang dilakukan orang-orang Jepang dan orang dari negara-negara Arab. Tapi. Yakni. Kalau hanya masuk ’persyaratan keinginan’. Dia memperoleh pendidikan khusus untuk ini di Jepang.

banyak juga orang dari wilayah selatan atau dari Hainan yang juga berkulit seperti saya. Ini penting untuk kesehatannya sendiri. Robert juga langsung menyewa apartemen untuk setahun. saya pamit ke kota lain. Pada hari-hari seperti itu saya terbang ke provinsi lain. Kita bisa mencoba main squash tanpa harus lari-lari mengejar bola. sore 2 jam. Ternyata pasien itu ingin menelepon keluarganya. tinggal di apartemen. Keesokan harinya lengan saya sakit sekali. Pasien dari negara Arab di sebelah kamar saya berteriak-teriak sepanjang malam. Yang tidak mengizinkan adalah kerabat yang menunggunya. ternyata tidak. Badan saya memang sangat sehat secara fisik lahiriah. Tapi. Dia tahu belum tentu transplantasi bisa dilakukan segera. dapurnya. Suatu saat saya ke Kota Dalian. dan juga Robert. Lalu dia sumpek sendiri membayangkan sulitnya. pagi-pagi ikatan sudah akan dilepas. Maksudnya. Apalagi sosok saya yang sosok Asia. Dia memang tidak bisa berbahasa Inggris. Keluarga saya. Apakah dia sudah terkena kanker? Apakah kankernya sudah sampai ke kepala sehingga mengganggu otaknya? Paginya dia berteriak-teriak lagi. Bahasa Arab saya sudah banyak yang hilang sehingga perlu waktu lama untuk mengingat banyak kata yang jarang dipakai. Kalau akhir pekan. Bahwa kulit saya agak hitam. Suatu malam saya tidak bisa tidur. Mungkin untuk menghemat pulsa. saya sering tidak dianggap orang asing. Dia tahu saya tidak akan bisa hidup tanpa jaringan internet. Ternyata dia berontak karena ada janji. Istri saya tidur di ruang tamu. Yakni. Selang infus itu diperlukan kalau tiba-tiba harus transplan. Dua kali sehari. Di salah satu plaza di sana. mungkin juga karena sering telepon memang tidak baik bagi pasien seberat dia. Siangnya. ayat-ayat mulai Al Fatihah sampai terakhir surat An Nas dari imam salat tarawih di Masjidilharam. karena hampir selalu berbahasa Mandarin. satu jam penerbangan dari kota ini. Tahulah saya bahwa dia masih diikat di ranjang. pembantu rumah tangga. Istri saya sering melihat bagaimana saya belajar. yang ada ruang tamunya. Robert juga langsung memesan kamar terbaik. membeli mobil. Atau mendengarkan ayat-ayat Alquran yang kasetnya dia beli di Makkah. Masa menunggu tidak bisa ditentukan. Problem transplantasi adalah di kesediaan donor. saluran internetnya. Saya main squash cukup lama. Untuk membunuh waktu saya memutuskan meneruskan belajar bahasa Mandarin. dan juru masak. tiba-tiba ada donor). saya tahu lebih jelas mengapa dia berontak. saya sering lupa kalau di lengan saya sudah dipasangi selang kecil yang ujungnya ada di dekat jantung. Saya boleh terbang-terbang asal masih dalam radius empat jam penerbangan. Pagi 2 jam. Ini saya ketahui setelah saya bicara kepadanya dalam bahasa Arab. 63 by Moezhanks . ada penjual raket squash dengan bola yang diikat tali karet. tapi tidak diizinkan. kalau ada sesuatu yang mendadak (misalnya. Saya mencoba menengoknya. Saya tahu tidak ada operasi pada Sabtu dan Minggu. Karena itu.Bahkan. saya bisa kembali segera. Dia memilih mendengarkan lagu-lagu kasidah dari CD yang dia bawa. mencari sopir. Sudah beberapa tahun saya dan istri selalu di Makkah saat akhir Ramadan. Guo Qiang mencarikan gurunya: tiga gadis yang masih kuliah di tahun terakhir IKIP setempat. Rupanya rumah sakit masih khawatir dia akan berontak sehingga terus diikat. Saya tinggal di rumah sakit. Saya lupa akan selang infus di lengan saya. sudah lebih siap. Sepanjang selang itu (mulai dari lengan sampai dada) kemeng sekali.

Di Tiongkok. Saya melakukan senam dan tidak mengenakan baju pasien. Karena flu saja bisa mengurangi potensi kesuksesan transplantasi. Berminggu-minggu kami mendalami internet untuk mengetahui makanan apa saja yang bisa menaikkan albumin. di Dalian. Ternyata dia juga sudah mengantongi secuil kertas lusuh berisi nomor telepon. Ternyata nyambung. juga tidak ditemukan satu pun jenis makanan yang dimaksud. dan melihat saya bisa bicara Arab. Tapi. Dalam masa penantian itu saya tidak boleh terkena flu. Saya lupa bertanya apakah Prof Suprayitno sudah mematenkan penelitiannya dan memikirkannya untuk sebuah industri. angka-angka itu angka Arab. Seorang peneliti padi yang dulu hidup di desa selama 20 tahun. karena saya akan tinggal lama di Tiongkok. Tidak ketemu. Titik. Tapi. Lalu muncul di pikiran. Di Tiongkok. di Nanjing. dan seterusnya. Akhirnya saya rayu dia untuk memberikan cuilan kertas itu. Dia lantas menyodorkan hand phone yang rupanya tidak dibawa pergi oleh penunggunya. Saya hanya perlu transplantasi liver. di Wuhan. Dia mulai kesal dan uringuringan. di Qingdao. Para suster bilang bahwa saya ini bukan seperti orang sakit. kini menjadi pemegang saham perusahaan pembibitan dengan aset triliunan rupiah. karena bentuknya seperti ular yang amat pendek. saya terus menjaga kondisi. Sambil menunggu dan menunggu. Tahulah saya bahwa angka yang dipijit kurang satu digit. 64 by Moezhanks . Luar biasa senangnya. Penjual ikan di Pasar Rungkut hafal betul dengan istri saya. Saya menyarankan agar menambah “nol” di pijitan terakhir.” gurau saya kepada mereka. Saya menghubungi guru besar Unibraw. sering untuk tasbih) kini menjadi orang terkaya nomor 200 di Tiongkok. Tapi.Ketika penunggunya lagi pergi. Dia mendiktekannya ke suster dengan bahasa Inggris yang amat tidak jelas. berarti nol. yang biasa menyediakan menu ribuan macam di internet mereka dalam bahasa Mandarin. tidak terus merosot. Jadi amat berharga. Satu-satunya sumber albumin adalah sahabat kecil saya dulu di desa: ikan kutuk. Sebab. Tapi. di Harbin. Entah sudah berapa ton saya mengonsumsi sop kutuk. “Saya memang tidak sakit. Yang saya tahu kehidupan Prof Suprayitno amat sederhana. Maka saya mencari kutuk di sana. Suster tidak tahu dan pasien juga tidak jelas melihatnya. saya tidak menemukannya. Mengapa? Ini karena ada satu titik di belakang angka-angka itu. dalam huruf Arab. Di Kalimantan disebut ikan gabus. Malang. Satu orang yang meneliti satu jenis tanaman liar yang disebut ’tear drop’ (di desa saya dulu disebut manikan. Mulai daging. Badan saya harus sehat. Tapi. mulailah saya minta istri saya berburu kutuk setiap hari. Untuk menambah protein banyak sumbernya. sebagaimana umumnya guru besar di Indonesia. setiap kali nomor itu dihubungi selalu gagal nyambung. Di setiap kota yang saya singgahi saya perlukan untuk mengunjungi pasar ikannya: di Nanchang. tentu saya akan kesulitan membawa kutuk ke sana. Dalam bahasa Inggris dikatakan “ikan kepala ular”. dia minta tolong saya untuk memberi tahu perawat agar membantunya menelepon keluarga. meningkatkan albumin luar biasa sulitnya. Setelah penjelasannya meyakinkan. putih telur sampai ikan. Ikan kutuk ternyata tidak ada di tempat lain. Satu-satunya orang yang melakukan penelitian terhadap ikan kutuk. buah manikan ternyata mengandung khasiat antikanker. peneliti seperti itu jadi kaya raya. terutama albumin. Saya juga harus menjaga agar protein di darah saya. Prof Eddy Suprayitno. masak tidak ada kutuk di Tiongkok.

sangat banyak. liver bisa memproduksi albumin. waktu menunggu sering tidak sampai sebulan. Maka saya bersama gubernur dan Dirut PLN menandatangani MoU pembangunan PLTU di Pontianak. dengan bahasa daerah yang tidak saya mengerti. meski belum fatal. dimakan dengan nasi kuning. di sana disebut “hei yu” -”hei” artinya hitam. Saya mengatakan “benar”. mestinya. Tapi. Saya merasa punya tanggung jawab yang belum saya penuhi. juga bisa tumbuh besar sampai kuat merusak perahu kayu kecil-kecil. “Hei yu”. Saya pernah ke desa itu sebelum tahu bahwa saya punya sirosis. yang kalau di Kalimantan disebut ikan tomang. Saya memutuskan sabar menunggu. “Hei yu” di Kalimantan lebih banyak dimanfaatkan untuk ikan asin. agar badan tetap sehat. teman saya di pelosok desa mengabarkan di desanya banyak ikan kutuk. ternyata terhalang aturan baru itu. Juga melakukan perundingan dan penandatangan kontrak mesin-mesin di Tiongkok. mempertahankan albumin menjadi amat penting. Pasien asing banyak yang gelisah. Tapi. Selama di Tiongkok saya kesulitan sumber albumin ini. “Hei yu” juga banyak. Sedangkan ikan gabus yang manis. Kedatangan saya untuk antre transplantasi liver ini agak terlambat. Kandungan daging “hei yu” tidak sama dengan kutuk di Jawa. Untuk menunjukkan keseriusan. Gubernurnya sudah sangat mendambakan turun tangan saya. sungguh sulit mengatasinya. sebenarnya bukan. Saya pun datang dengan harapan seperti itu. Tapi. itulah ikan yang saya cari. yang di sana disebut ikan gabus. Enak tidak enak sudah tidak penting lagi. menjelaskan panjang lebar bagaimana satu hari tadi dia berusaha mencari ikan satu ember itu. Dalam keadaan normal. dia datang dengan bapaknya sambil membawa satu ember ikan. Tapi. Dulu-dulunya. tapi bukan kutuk. Ketika saya ke Nanchang. Akhirnya. Bentuknya memang persis kutuk. karena liver saya rusak. setelah dua bulan tidak juga ada tanda-tanda akan mendapat donor. Tapi. Saya berterima kasih padanya. saya memutuskan untuk selalu makan banyak. Karena itu. “yu” artinya. saya ingin ikut mengatasi krisis listrik di Kalbar. Apalagi di lengan saya sudah dipasangi saluran infus sampai ke dada. Krisis listrik di Kalbar lebih parah daripada di Kaltim. Tapi. saya belum terkena peraturan itu karena saya sudah mendaftar sebelum itu. saya langsung membeli tanah 20 hektare di lokasi yang paling cocok untuk itu. Kutuk. Di Kalimantan lebih lengkap. Badan saya harus sehat menghadapi operasi besar. Bapak teman saya. dagingnya hambar. Sebagaimana juga di Kaltim.Di Nanchang. Dia naik kendaraan umum selama satu jam untuk bisa sampai ke kota. Kali ini untuk menyelesaikan urusan di Kalimantan Barat. “Kutuk Tiongkok” ini lebih hitam. enak sekali dimasak bumbu bali. keluar peraturan baru: tidak gampang lagi pasien asing mendapatkan donor. (bersambung) Ganti Hati 23 – Datang Tawaran Liver Hidup dari Orang Muda asal Bandung 17 September 2007 SAYA hampir kehilangan momentum. Padahal. Anda bisa menduga sendiri. sebagai persiapan transplantasi yang sudah dekat. Ibaratnya saya harus seperti kerbau yang akan dijual untuk disembelih: Harus sehat dan gemuk. mengingat krisis listrik di sana sudah berlangsung lebih dari lima tahun. saya ingin pulang dulu dua hari. Sebulan setelah saya menunggu. 65 by Moezhanks .

Setelah itu. donor orang hidup. Kami serius membeli tanah tersebut untuk PLTU. Memang. Jelek sekali nasib Kalbar. Saya hanya ingin ikut mengatasi krisis listrik di Kalbar. Kami bukan spekulan atau jual beli tanah. pemenang tendernya. Kami tidak mau ikut tender itu karena merasa PLN tidak beretika sama sekali. Orang-orang Pakistan mulai mencari jalan sendiri. Saya harus datang ke sana untuk membuat keputusan yang terpenting. Tidak kaya sumber alam dan tidak punya proyek besar. Tapi. potongan liver yang sudah dilepas dari tubuh pemiliknya ditanamkan ke tubuh si penerima. sampai tulisan ini dibuat. sebenarnya ada donor yang potensial. Dokter mencari-cari saya apakah bisa membatalkan kepergian saya ke Indonesia. Karena itu. mengolah hasil pertanian rakyat yang selama ini harganya selalu hancurhancuran di musim panen. si calon penerima (resipien) liver juga dibedah untuk membuang (seluruh) livernya yang sudah rusak. Saat saya menyelesaikan urukan Kalbar itulah. Tender itu berjalan lancar dan itu memang proses yang benar. Juga nasib (tanah) saya. liver yang dipotong itu sudah akan utuh kembali. Banyak pengungsi Madura akibat kerusuhan etnis pada 1999 itu yang mulai bekerja di proyek ini. Berarti Kalbar kehilangan lagi waktu tiga tahun. ginjalnya tetap satu. tidak ada tanda-tanda fisik mulai membangun PLTU. saya bertekad menggunakan dana yang sudah saya siapkan untuk PLTU ke proyek lain: perkebunan rakyat. Dia juga menanyakan apakah tanah kami akan dijual. atau sukarelawan. Dan lagi. Ini mungkin karena liver adalah satu-satunya organ tubuh yang kalau dipotong bisa tumbuh utuh lagi. tanpa sedikit pun memberi informasi kepada saya bagaimana nasib MoU yang sudah dibuat. yang mau menyumbangkan separo livernya untuk dicangkokkan ke pasien. Provinsi itu sangat kasihan. Yakni. Yakni. suatu ketika. beberapa waktu kemudian ternyata PLN melakukan tender untuk pembangunan PLTU itu. Hari ini separo livernya didonorkan. lalu livernya dipotong separo. Memang bukan salah saya kalau sampai hari ini belum ada tanda-tanda konkret krisis listrik Kalbar akan teratasi. Yakni. Tentu saja tidak. ya sampai meninggal. Mereka mencari salah satu keluarganya. Tapi. beruntung bahwa ternyata donor potensial itu ternyata juga tidak cocok untuk saya. saya sudah di atas pesawat. Pada saat yang sama.Namun. Karena itu. sekali orang kehilangan ginjal. Dan dalam tempo tiga minggu sampai maksimal sebulan. sebagai awal dari membangun Kalbar lebih lanjut. dia sudah boleh latihan berdiri dan berjalan. Tapi. Saya harus menunggu lagi entah berapa lama. seorang donor juga tak perlu tinggal berlama-lama di rumah sakit. mendatangkan donor dari negaranya. Dengan begitu. Berbeda dengan ginjal dan organ lain. Investor yang mau datang pasti mengeluhkan listrik. setidaknya saya bertanggung jawab untuk mewujudkan sesuatu di sana. Terutama sebagai ungkapan terima kasih kepada masyarakat setempat bahwa koran kami di sana menjadi yang terbesar. Seminggu berikutnya 66 by Moezhanks . Tentu saya tidak mau kalau modal dia hanya selembar kertas izin. Hanya operasinya lebih sulit: Orang yang sehat dibedah. Tapi. Beda dengan donor liver. kira-kira dua tahun lalu. saya memang tidak dalam posisi mencari proyek. peserta tender ingin mengajak saya bergabung membangun PLTU tersebut. Hanya dalam tempo dua tiga hari pascaoperasi. Seseorang bisa hidup normal dengan liver yang hanya separo karena liver atau hepar atau hati adalah satu-satunya organ yang bisa tumbuh kembali dengan cepat. besok pagi sudah tumbuh lagi. Proyek itu harus berjalan.

Sikap istrinya.” tambahnya. Rumahnya baru. Di Tiongkok. Tapi. Liver saya yang di sana. Menjelang transplantasi. baik yang masih di dalam tubuhnya maupun yang sudah pindah ke tubuh orang lain. Saya juga memutuskan akan melakukannya. jalan tidak buntu. dia cukup berada. Saya butuh melangkah cepat. Dua minggu lagi sudah kembali utuh seperti semula. di kompleks perumahan yang cukup mewah. Lalu mengajak salah satu pendonor ke kamar saya. Beberapa teman dekat yang siap mendonorkan separo livernya juga tidak ada yang cocok darahnya. Anak keduanya baru bisa berjalan. Bagaimana dengan penerima livernya? “Bapak itu juga mulai baik. Anak muda itu mengatakan tidak menginginkan apa pun kecuali menyelamatkan nyawa saya. dan keponakan-keponakan. Saya amat yakin dengan jalan itu. Mengapa dia begitu berani? Karena. Jadi.” katanya. Memberitahukan perihal seorang anak muda dari Bandung yang mau secara sukarela mendonorkan livernya. Robert menemui keluarga-keluarga Pakistan itu untuk mempelajari bagaimana praktik cangkok liver dengan donor hidup. dia bilang. memang masih harus ekstrahati-hati karena tiga sayatan panjang bekas operasi di perutnya masih basah. sekarang sudah menjadi 16 cm lagi. yang bahasa Inggrisnya bagus sekali. mengapa berani. Tim kami segera ke Bandung melihat keadaan rumah tangganya. Apakah harus dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri? Dia bilang. Anak itu sendiri. Dan. Lalu dia menunjukkan perutnya yang masih dibebat untuk mengeringkan luka akibat pembedahan. Semula kami memperkirakan harus membantu kehidupannya. lantas menceritakan mengapa mau melakukan itu. Handphonenya pun Communicator seri terbaru. umumnya masih satu liver untuk satu pasien. dia ingin menebus penyesalannya yang tak sempat menyelamatkan bapaknya yang keburu meninggal sebelum tranplantasi dilakukan.” katanya sambil menggambar di papan tulis tentang bagaimana livernya tumbuh kembali. di luar dugaan: Sangat mendukung keputusan suaminya. yang semula hanya 11 cm.dia sudah bisa beraktivitas lagi. Ternyata. “Dia mendonorkan livernya dua minggu yang lalu. Kalau saya menunggu terlalu lama. 67 by Moezhanks . Dia menjadi amat yakin itu juga akan berhasil. anak-anak. tidak satu pun yang darah dan rhesus-nya sama dengan saya. “Liver saya yang setelah dipotong tinggal 9 cm. Mulailah saya melihat ke istri. sel-sel kanker yang mungkin masih tersisa di liver saya bisa menyebar (metastase) ke mana-mana. potongan itu sudah akan tumbuh menjadi liver yang utuh sebagaimana orang normal. karena penurunan fungsi itu bisa merusak pertahanan tubuh saya. Darah maupun rhesus-nya cocok sekali dengan saya. di negara-negara yang jumlah donor mayat (cadaver)-nya terbatas. Tapi. “Sekarang sudah jalan-jalan dan mau saya ajak ke sini. Saya harus berhitung dengan sirosis dan kanker saya yang sedang berlomba dengan waktu.” kata Robert sambil menepuk bahu anak muda Pakistan itu. satu liver untuk dua pasien. Termasuk saya. Saya tidak yakin bisa dapat donor utuh dalam waktu dekat. dan bagaimana kondisinya sampai saat itu. tidak kecil. Mobilnya juga masih gres dari merek yang tidak murah. Lantas bagaimana nasib potongan liver yang sudah berpindah tubuh tadi? Ini pun tak perlu dikhawatirkan karena dalam tempo maksimal tiga bulan. hari ini sudah 17 cm. seseorang dari Jakarta menghubungi kami. Umurnya masih 32 tahun. Badannya yang tinggi tegap sangat sehat. Ternyata. dia sudah menghitung risikonya. Karena itu. livernya dibagi dua. Tanpa kami cari. bisa jadi fungsi liver saya akan keburu memburuk.

rapat. Cuma. dan negosiasi. Padahal. Dia juga akan memiliki kembali livernya secara utuh. “Dia tidak akan jadi korban. Ya. tapi juga tertawa-tawa. memang tidak banyak yang bertanya. Tim kami terus mendesak agar saya jangan berpikir bahwa saya akan mengorbankan orang lain. Perusahaan minyak itu masih baru sehingga saya harus banyak belajar. Tetap saja persoalan rumit-rumit. Bersamaan dengan persiapan pemberangkatan saudara dari Bandung itulah. filsafat “intensifikasi umur”. Yang harus dimarahi. direktur di perusahaan minyak kami. seperti para manajer di Perusda PT PWU Jatim. Juga bengkak di badan. Tapi. Saya masih keberatan. Terutama Robert Lai. Yang harus dipuji. Padahal. “Empat tahun saya bekerja dengan Anda. saya berhasil menyembunyikan keloyoan fisik saya. tapi juga politis. tapi diam-diam tim kami terus menyiapkan saudara dari Bandung itu untuk siap berangkat ke Tiongkok. Kalau ada yang bertanya pun. Yakni. 68 by Moezhanks . pecinta Jawa Pos dari Manyar Jaya. saya memang berhasil menyembunyikan semuanya. kakak saya. Umur pendek tidak apa-apa asal penggunaannya sangat intensif. harus dipecahkan. Menceritakan penyakit dengan cara yang menyenangkan. Tapi.” tulis Lusye. barangkali karena saya melihat kok ibu saya. “Selama ini tidak tampak kegelisahan sedikit pun tatkala tampil di banyak kegiatan masyarakat.” ujar Gunawan. dua tahun lamanya saya berhasil menyembunyikan bengkaknya kaki. Setelah itu rapat evaluasi berjalan seperti biasa. ya dimarahi. Sikap ini muncul. Saya kurang melihat bahwa bapak saya dan kakak sulung saya berumur panjang sekali. diskusi. Kalau ada yang bertanya tentang penyakit saya. paman-paman saya berumur pendek. ya dipuji. itulah kuncinya. Yang tak kalah penting. saya jelaskan semua penyakit saya. “Kalau tahu seperti ini.Kami pun makin percaya bahwa tidak ada motif komersial di balik niatnya yang mulia itu. saya tidak akan sampai hati mengejar-ngejarnya selama ini. saya sendiri juga masih berpikir. Mereka memang ngeri mendengarnya. (Bersambung) Ganti Hati 24 – Istri Khawatir Saya Meninggal dengan Wajah Menghitam 18 September 2007 SAYA tidak berhasil menyembunyikan perubahan di wajah saya. Menyembunyikan membesarnya payudara. manajer di perusahaan minyak milik Pemda Jatim. Pernah dalam satu rapat evaluasi bulanan yang amat disiplin di PT PWU. Transplantasi pun dilakukan dengan cara membuang sama sekali hati saya yang lama dan menggantinya dengan hati baru made in 1985-an secara utuh. Saya punya filsafat tersendiri dalam menyikapi umur.” ujar Hadi Ismoyo. ada kabar bahwa saya mendapatkan donor. Dia juga menyatakan sudah siap kapan pun harus berangkat. Juga bahayabahayanya. Sedikit pun saya tidak merasakan bahwa Anda mengidap penyakit begitu gawatnya. tapi saya sampaikan dengan nada yang menyenangkan. saya sebenarnya tidak sengaja menyembunyikannya. haruskah sampai mengorbankan nyawa orang lain? Tidakkah lebih baik saya menunggu dengan risiko tidak keburu sekali pun? Bukankah membuat keputusan melakukan transplantasi saja sudah tersirat tekad untuk mungkin mati? Saya benar-benar sudah siap kalau harus mati.” kata Robert. jawaban saya jujur. persoalan Perusda tidak hanya soal bisnis. selalu saya jawab apa adanya.

Yakni. kadang dia hanya memperhatikan wajah saya tanpa mengucapkan komentar apa-apa. ketika memelopori pembaharuan pemikiran dalam Islam yang menghebohkan pada 1970-an. Saya tahu dia menyimpan dua kekhawatiran. dibunuh PKI dalam peristiwa Madiun. merasa malu kalau saja saya meninggal dalam keadaan wajah yang menghitam. ini gosip yang benar. Bukan karena ngambek. Apalagi saya juga baru gagal dalam pemilihan ketua umum pengurus besar Pelajar Islam Indonesia (PII) di Bandung. Yakni. Ini karena dosa-dosanya yang tidak terampunkan. Karena itu. Mengapa masih kanak-kanak? Karena pesantren kami kehilangan dua generasi sekaligus. tapi saya menolak. tapi sebagai perwujudan sikap tawaduk seperti yang dicontohkan bapak saya. dosa orang kaya yang pelit. Bukan budayawan. Gosip yang tidak menyenangkan. Saya akan menyembunyikannya dengan cara meratakannya. dosa karena dia telah menyekulerkan Islam. Sampai-sampai disebutkan Cak Nur lagi mendirikan neo-Islam. Ada yang menilai. tapi sudah masuk ke tataran psikis. Hitam yang tidak merata itulah yang kian mencurigakan. dan tentu masih banyak sekali sisi negatif yang bisa dihubunghubungkan. saya tidak berhasil menyembunyikan berubahnya wajah. khawatir akan kesehatan saya. dosa sebagai atasan yang kejam. Tentu saya bukan apa-apa dibanding Cak Nur. dan merenungkan masa depan. Tuhan murka padanya. Saya mengambil kesimpulan. yang mungkin tidak kalah besarnya. Toh saya akan tetap bisa berperan di pesantren itu kelak. Pandangannya penuh keprihatinan. Kebetulan yang dari jalur laki-laki masih kanak-kanak. bagaimana caranya? Atau pakai make up saja. Gosip itu bukan lagi masih menyangkut fisik. Saya lantas memilih ’uzlah’ -menyingkir.Tapi. Psikis seorang wanita yang sangat kuat memegang prinsip agama. kalah dengan Yusuf Rahimi. tidak akan bisa jadi kiai dan tidak bakat jadi politisi. Kedua. Dan. Tapi. Terutama di dahi dan sekitar mata. tandanya tidak diterima oleh Tuhan. dialah yang punya hak mewarisi pesantren itu. pada 1948. Sudah menjadi opini awam bahwa seseorang yang meninggal dalam keadaan wajah yang menghitam. Terutama psikis istri saya. Karena itu. itu sebagai bukti bahwa Cak Nur dimurkai Tuhan. Tapi saya kan laki-laki? Bahkan laki-laki yang bukan metroseksual? Tak pelak lagi. Ada nada sedih ketika mengucapkan itu. saya sudah sering digosipkan sehingga sudah agak kebal. Saya bukan intelektual. Sedih bercampur perasaan malu. Bukan sarjana. sebenarnya. dosa sebagai pribadi yang sombong. Para kiai sepuh (enam orang bersaudara. pamanpaman ibu saya). menggosipkan wajah saya. Bukan ahli agama. Tapi. Karena banyak sekali dosa yang diperbuatnya. Kulit saya yang aslinya memang agak hitam menjadi kian hitam. Begitu hebatnya tentangan akan langkah Cak Nur tersebut sehingga sampai ada yang memvonis Cak Nur sudah murtad. Suatu saat istri saya memandangi wajah saya lama sekali. Tapi. Kalau sampai itu terjadi pada saya. Saya memang pernah mau didapuk jadi kiai di pesantren saya. tokoh dari Ambon. Apalagi dia aktif di kegiatan keagamaan. Dosa sebagai lelaki. dosa sebagai suami yang amat sibuk. banyak orang yang mulai rasan-rasan. dan anak-anak mereka yang sudah dewasa. Untunglah. Ini karena saya sadar bahwa saya turunan dari jalur wanita (ibu) di struktur pesantren itu. saya harus tahu diri bahwa kalau dia sudah dewasa. Lalu memberikan komentar yang sudah sering saya dengar itu. menjauh. Pertama. memprihatinkan. saya bergegas mengambil keputusan pindah ke jalur hidup sama sekali. 69 by Moezhanks . Pembicaraan seperti itu kian kuat ketika Cak Nur meninggal dalam keadaan wajah menghitam. alangkah malunya istri saya. Suaminya meninggal dalam keadaan dimurkai Tuhan.

termasuk Prancis dan Parsi. jatuh sakit. Waktu itu Ratna Dewi masih menjabat direktur keuangan. tiba-tiba saya punya ide baru yang barangkali tidak lazim. dan Arab. Sama dengan saya. Maklum namanya Ratna Dewi.” kata tamu itu sambil tertawa ngakak. Inilah gunanya ilmu mantiq (logika). “Apakah bisa bertemu ibu Ratna Dewi”. Meski saya bukan direktur utama lagi (karena jabatan itu sekarang dipegang Ratna Dewi Wonoatmodjo). Hanya namanya yang sering bikin salah paham orang asing. ’Chairman yang CEO’. Tidak bisa hanya direktur seperti saya waktu itu. Saya hanya seperti itu tadi. Sebagian mengira saya dimurka Tuhan karena kurang taat beragama. Mereka tidak tahu kalau ’uzlah’ itu saya lakukan sebagai wujud sikap tawaduk saya. Padahal. bahkan general manager sebagai CEO (semua direktur bukan CEO). saya yang tetap jadi CEO. Apalagi Ratna Dewi juga amat mampu. Saya memilih mengerjakan saja semua pekerjaan direktur utama. bisa banyak bahasa. Cak Nur seorang intelektual. tapi “Cik Wenny”. Tentu ada juga yang menyamakannya dengan Cak Nur. tapi saya ini CEO. saya tidak mau menggantikannya sebagai Dirut. Tapi. setelah beliau sendiri yang minta. Sebagian lagi karena saya berdosa kepada leluhur. saya membuat sebutan (untuk membedakan dengan ’jabatan’) CEO lebih fleksibel lagi di grup yang saya pimpin. lantas muncul kesulitan teknis. meski hanya untuk sebutan: CEO (chief executive officer). Magetan (aliyah). ahli agama. Maka lahirlah “jabatan CEO”. sehingga kalau ada tamu yang menanyakan. Jangan sampai saya minta jadi Dirut. saya SMA di Desa Takeran. Terutama karena saya ’uzlah’. doktor lulusan Chicago. Si tamu ternyata berharap akan ketemu seorang direktur keuangan keturunan India. direktur utama Jawa Pos saat itu. Banyak hal sudah harus dialihkan menjadi tanggung jawab Dirut. staf-staf kami sering bengong. 70 by Moezhanks . Lalu keterusan sampai sekarang. Dia SMA di kota Surabaya (Petra). Apalagi. Saya ciptakan sendiri jabatan baru. Apalagi mereka juga tahu sayalah yang selama ini yang selalu mengambil keputusan. Saya tetap direktur saja. sakitnya beliau amat berat sehingga tidak punya kemampuan menandatangani dokumen perusahaan. Bahwa ada kesulitan di bank. Kami sendiri tidak terlalu mengenal nama Ratna Dewi. Bisa saja Dirut sebagai CEO. “Kami tidak menyangka kalau dia seorang Tionghoa. lari dari tanggung jawab menjadi kiai. Karena hal itu sudah berlangsung tiga tahun. Gosip bahwa “saya segera meninggal dengan wajah hitam” juga beredar di kalangan pesantren saya sendiri. pikir saya. saya tetap tidak mau jadi Dirut. tanpa menyandang jabatannya. Banyak dokumen bank yang harus direktur utama yang boleh tanda tangan.Sikap tawaduk yang sama saya lakukan juga di Jawa Pos pada 1980-an. Setidaknya samasama hanya tamatan SMA. sampai harus dengan cara sikut sana-sini. Baru setelah lima tahun lebih. Pernah ada tamu dari India yang ingin bertemu dengannya. bank percaya. Bahkan. Dia kami kenal sebagai Wenny saja. “CEO yang tidak ada SK dan legal formalnya. saya mau jadi Dirut. Inggris. Ketika Pak Eric Samola. Tapi. Agar saya bisa meyakinkan bank bahwa meski saya hanya direktur. Sebutan CEO telanjur melekat. Saya dan Cak Nur seperti langit dan sumur -untuk menunjukkan jarak langit-bumi kurang jauh. Beliau terkena stroke yang sampai mengakibatkan tidak bisa bicara dan harus diopname bertahun-tahun. Padahal. He he…” kata saya dalam hati. direktur sebagai CEO (Dirutnya bukan CEO). Bukan “Bu Wenny”. saya dan Cak Nur jauh sekali derajatnya. Lebh dari itu sekarang ini berkembang seperti di AS. Tentu tidak lagi seperti ketika Dirut merangkap CEO.

Satu-satunya yang menyamakan saya dan Nur adalah sakitnya. Sama-sama sakit liver, sama-sama sirosis. Karena itu, juga sama-sama menghitam di wajah. (Bersambung)

Ganti Hati 25 – Prihatin atas Keprihatinan terhadap Wajah Hitam Saya
19 September 2007 “SAYA nanti juga akan meninggal dengan wajah hitam,” kata saya kepada istri saya. Saya ingin menyiapkan mental istri saya bagaimana harus menahan rasa malu. Terutama di mata keluarga dan teman-teman pengajiannya. Istri saya memang aktif di perkumpulan Pengajian Wanita Surabaya (Pengawas), satu perkumpulan yang amat besar dan aktif. “Saya nanti akan seperti Cak Nur,” tambah saya. Itu saya lakukan karena istri saya juga mendengar omongan orang tentang Cak Nur. Dia juga mendengar ada khatib di sembahyang Jumat yang mengatakan Tuhan murka pada Cak Nur (Nurcholish Madjid, tokoh pembaruan pemikiran Islam). Buktinya, ketika meninggal, wajahnya menghitam. Istri saya memang sudah beberapa lama kelihatan prihatin melihat perubahan di wajah saya. Saya prihatin atas keprihatinannya itu. Maka, saya perlukan bicara soal mengapa wajah saya menghitam dan mengapa ada orang menilai Cak Nur seperti itu. Saya jelaskan sebisa-bisa saya bahwa “wajah hitam” Cak Nur sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kemurkaan Tuhan. Tuhan itu tidak punya hobi murka seperti khatib yang mengecam Cak Nur itu. Tuhan itu Maha Pengasih dan Penyayang. Sampai di sini saya sadar bahwa istri saya sudah sangat sering mendengar khotbah sehingga saya tidak perlu menambahinya. Apalagi khotbah saya kurang meyakinkan. Saya memilih menjelaskannya secara ilmiah saja. Mengapa wajah Cak Nur, juga wajah saya, menghitam? Ya, begitulah memang salah satu perubahan fisik yang dihasilkan oleh liver yang terkena sirosis. Ini berlaku pada siapa saja. Yang Islam, yang Kristen, yang Buddha, yang Hindu, yang Kejawen, yang komunis, dan yang tidak punya aliran apa pun -free thinker. Wajah hitam adalah tanda-tanda perubahan fisik dari sirosis yang parah. Karena itu, kalau Anda sakit liver, minta saja meninggal sebelum sirosis parah. Terutama kalau Anda ingin meninggal dengan wajah yang tidak hitam. Terjadinya wajah hitam itu sama dengan akibat sirosis yang lain: Kaki yang bengkak, payudara yang membesar, dan kemudian muntah darah. Untung, tidak ada penilaian bahwa siapa yang meninggal dengan payudara besar berarti dimurkai Tuhan. Sebenarnya, masih banyak lagi tanda fisik lain. Yakni kulit menguning, mata juga menjadi kekuningkuningan, bibir pucat, dan telapak tangan seperti tidak berdarah. Terutama kalau telapak tangan baru saja digenggamkan. Begitu genggaman dibuka, darah seperti tidak segera kembali memerahkan telapak tangan. Bahwa ada khatib yang menilai wajah Cak Nur yang menghitam sebagai tanda bahwa Tuhan tidak mau menerima rohnya, sebabnya mungkin si pengkhotbah tidak sempat belajar ilmu yang lain misalnya, karena terlalu larisnya. Bahkan, sang khatib begitu sibuk berkhotbah, kadang isi

71

by Moezhanks

khotbahnya ya hanya yang diketahuinya itu saja. Diulang-ulang. Seperti kaset lama yang diputar terus-menerus. Pasti si pengkhotbah juga tidak pernah melihat wajah mayat Mao Zedong. Setidaknya tidak pernah membaca tentang itu. Setidaknya lagi, kalau toh pernah membaca, tidak sampai menjadikannya pertimbangan. Mao adalah pendiri partai komunis Tiongkok yang tentu saja tidak mengakui adanya Tuhan. Namun, bagaimana wujud wajah mayatnya? Saya pernah melihatnya dua kali. Wajahnya putih, bersih, dan amat cerah. Bibirnya menunjukkan senyum kecil seperti amat bahagia di akhir hayatnya. Mayat itu sampai sekarang masih bisa dilihat di Beijing. Orang antre untuk menyaksikannya. Demikian juga di Kremlin, Moskow. Mayat Lenin, salah satu pendiri komunisme sedunia, terlihat putih, bersih, dan manis sekali. Saya juga pernah mengunjunginya. Apakah itu pertanda roh Lenin diterima dengan senang oleh Tuhan? Lebih diterima daripada Nurcholish Madjid? Meski Cak Nur tokoh Islam dan Lenin tidak mau mengakui adanya Tuhan? Bahkan menjadi pelopornya? Wallahu a’lam. Yang jelas, Lenin, dan juga Mao, tidak meninggal karena sirosis. Saya sangat prihatin atas keprihatinan istri saya. Tapi, saya juga prihatin memikirkan bagaimana umat di masa depan. Dengan pola berpikir seperti itu, apakah umat akan bisa maju? Apakah tidak semakin ketinggalan dan kemudian terpojok? Lalu, introvert dan mencari kompensasi dalam bentuk ekstremitas? Saya prihatin karena dengan pola pikir yang seperti itu, keseimbangan antara dunia dan akhirat tidak memadai. Banyak memang orang yang terlalu berat ke duniawi, tapi juga bukan berarti harus dibalas dengan bersikap lebih berat ke ukhrowi. Semua harus seimbang: beribadah sungguh-sungguh seperti besok akan mati saja, bekerja sungguh-sungguh seperti akan hidup seribu tahun. Kalau ukuran diterima Tuhan atau tidaknya seseorang dilihat dari wajah mayatnya, betapa suramnya kemajuan ilmu pengetahuan di masa depan. Bagaimana kita bisa mengharapkan kemajuan dan kemodernan sebuah negeri kalau penduduknya -terutama para pemimpin penduduk itu- berpikiran demikian. Dan lagi, ada satu kenyataan yang lebih pahit. Bukankah kini sudah ditemukan cara membuat wajah orang yang meninggal kelihatan tersenyum? Cerah dan bahagia? Lantas, apakah itu berarti ukuran diterima atau tidaknya sebuah roh oleh Tuhan ditentukan oleh para ahli perias mayat? Saya punya teman yang bisnisnya event organizer (EO). Tapi, EO khusus untuk orang meninggal. Mulai penyediaan pakaiannya, membentuk tubuh dan wajahnya, menyediakan peti matinya, angkutan ke kuburannya, sampai mencarikan siapa yang akan jadi pengkhotbahnya. Dia begitu menghayati bisnisnya itu sehingga akan terus mendalami ilmu di bidang itu. Satu-satunya anaknya (perempuan) dia sekolahkan khusus bagaimana memelihara mayat. Bagaimana membuat wajah orang meninggal menjadi lebih ganteng dan cantik daripada ketika masih dalam hidupnya. Bahkan, ilmu itu juga berkembang ke arah sebelum kliennya meninggal. Yakni bagaimana menyiapkan agar bisa meninggal dengan wajah tersenyum. Tapi, saya juga sadar bahwa istri saya mungkin tidak gampang menerima penjelasan saya itu. Sebab, penjelasan seperti itu amat jarang dilakukan orang. Tapi, setidaknya, dia bisa menutup sedikit rasa malu karena suaminya meninggal dengan wajah menghitam. Bisa punya alasan -yang meskipun mungkin juga dia ragukan kebenarannya. Ragu karena bukan penjelasan seperti yang saya ucapkan
72
by Moezhanks

tersebut tidak pernah didengarnya. Yang sering diperdengarkan kepadanya adalah kaset lama yang diputar tidak henti-hentinya itu. Dalam teori komunikasi, kebohongan pun kalau terus-menerus dijejalkan akan jadi seperti kebenaran. Padahal, kaset lama itu bukan juga kebohongan. Tapi, penafsiran. Sebuah penafsiran yang sangat bisa memuaskan orang dari sisi emosinya. Kebohongan saja bisa menang, apalagi bukan kebohongan. Berdasar teori itu, satu penjelasan yang benar tidak akan bisa menang atas kebohongan yang terusmenerus dikampanyekan. Agama memang akan menghadapi tantangan yang hebat. Kini bukan hanya Islam, tapi juga Kristen. Setelah abad informasi sekarang ini, akan ada abad baru lagi. Dulu kita masih meraba-raba “abad apa gerangan yang akan menggantikan abad informasi?”. Kita pernah mengalami berturut-turut, “zaman batu”, “zaman besi”, “zaman cocok tanam”, “zaman industri”, “zaman teknologi”, dan “zaman informasi”. Kini semakin jelas dunia akan mengalir ke zaman apa. Saya kira, zaman baru yang akan kita masuki adalah “zaman biologi”. Di zaman itu kehidupan akan bisa direkayasa, diperbaiki, bahkan diciptakan. Kehidupan tanaman, binatang, dan juga manusia. Tidak perlu lagi transplantasi seperti saya, tapi liver (dan organ apa pun) bisa direparasi dengan penemuan lebih lanjut dari pendalaman terhadap DNA manusia. Dan, itu bukan lagi akan ditemukan, tapi sudah ditemukan. Penemunya kini lagi merahasiakannya sampai pada akhirnya dia akan bisa memproduksi sesuatu yang bisa dijual secara masal dan terjangkau. Agar bisnis di bidang ini menjadi amat besar. Operasi tidak perlu lagi. Transplantasi tidak dibutuhkan. Bahkan, orang tidak perlu sakit. Sehat terusmenerus. Cukup membeli produk baru itu nanti. Kini pun barang itu sudah bisa diproduksi sebenarnya. Tapi, karena belum ditemukan kombinasi-kombinasinya, harganya bisa jadi masih Rp 10 miliaran. Dengan harga setinggi itu, meski saya pun akan membelinya, tapi hanya berapa juta yang mampu beli? Bandingkan, kalau kelak, harganya tinggal Rp 1 jutaan. Betapa besar bisnis itu. Ia akan mengalahkan bisnis obat yang sudah amat raksasa itu. Bahkan akan mengalahkan bisnis minyak dan gas. Mengapa? Penemuan lebih lanjut dari itu adalah lahirnya sumber energi baru yang sama sekali tidak kita bayangkan. Kalau kehidupan sudah bisa dibikin, bagaimana kita akan menafsirkan ajaran agama? Orang boleh tidak percaya seperti juga zaman dulu tidak percaya akan bentuk dunia yang bulat. Tapi, ini akan menjadi kenyataan. “Akan” di situ tidak lama lagi. Kata “akan” mungkin kurang tepat. Yang tepat “segera”. Maka, apa yang ditulis Agus Mustofa di buku-bukunya, terutama mengenai Kitab Kejadian, sungguh menarik dan akan cocok dengan zaman baru itu nanti. Yakni jangan lagi kita membayangkan bahwa manusia pertama dulu dibuat dari lempung, lalu lempung itu di-emek-emek, dibentuk seperti boneka, kemudian Tuhan meniupkan roh ke ubun-ubunnya. Penggambaran seperti itu, meski ternyata memang tidak ada di kitab suci, amat melekat di setiap manusia. Juga melekat di pikiran saya. Saya tidak pernah mempersoalkannya secara kritis. Bahkan tidak pernah mengecek ulang apa bunyi ayat yang sebenarnya dari penggambaran seperti itu. Cerita itu sama melekatnya dengan istilah “memanjatkan doa” yang sering kita lakukan sampai sekarang. Kita, terutama saya, tidak pernah mempersoalkan apakah teknik menyampaikan doa seperti itu masih cocok dengan abad informasi seperti sekarang. Mengapa di zaman komputer, e73
by Moezhanks

Misalnya kata ’patah hati’ harus diubah menjadi ’patah liver’. kita lupa mempersoalkan mengapa para ahli bahasa dulu menerjemahkan kata ’liver’ (bahasa Inggris) menjadi ’hati’ dalam bahasa Indonesia? Kini sudah sulit mengubah agar liver jangan lagi diterjemahkan menjadi ’hati’. Memang. Liver bahasa Arabnya ’kabid’. Ini memang agak kacau. Bayangkan. bisa malu. Udi spontan menjawab: qalb artinya hati! Lantas saya tanya lagi. Alangkah lambatnya doa itu akan sampai. Tuhan toh tidak akan membedakan doa yang dikirim dengan cara dipanjatkan. lupa bahwa kata dalam bahasa Arab ’qalb’ (kalbu) artinya bukan hati -dalam pengertian liver. agar mirip dengan ayat Quran yang sangat terkenal. Juga terhadap kakak saya. Pandangan kedua akan datang dari kalangan agama yang berpandangan sempit. Yang suka marahmarah. Direktur Radar Banyuwangi. Dan lagi. Samsudin Adlawi (Udi). maka yang maju lantas dunia mistik dan bukan rasionalitasnya. karena emosi lebih besar daripada rasio. yang di-e-mail-kan. dan SMS ini kita masih mengirim doa dengan menggunakan teknik “memanjat”. Kalangan ini. “Saya tadi salah. Pak Nuh. Lupa bahwa ’qalb’ itu artinya jantung. Memang qalb itu artinya jantung. Sudah telanjur begitu mendarah-mendaging. nanti bisa banyak sekali konsekuensinya. Mengapa kok lambang cinta itu gambar jantung? Mengapa dalam bahasa Inggris disebut heart? Dan. Tentu kata “memanjat” hanya simboliasi atau penyastraan. Asapnya lantas di-email-kan ke dalam tubuh saya. Karena maraknya pandangan santet di masyarakat kita. Lalu bergegas meralat jawaban pertamanya. Ini karena saya juga ragu akan ingatan bahasa Arab saya. Liver saya memang seperti daging yang dibakar setengah matang! Pasti ketika menyantet saya. Tapi. penggunaan term “panjat” juga mencerminkan ketertinggalan kita dalam menggunakan teknologi yang tersedia. dalam bahasa Mandarin disebut xin? Rupanya dia baru berpikir ulang. orang yang paling jago bahasa Arabnya di lingkungan Group Jawa Pos. “… fasadat qulubuhum”. (Bersambung) Ganti Hati 26 – Transplantasi Berhasil. Begitu saya tanya. Kalau diubah. Orang di desa saya akan langsung mengatakan. setidaknya akan muncul tiga versi tanggapan. bisa-bisa mengerasnya liver saya diterjemahkan ke dalam bahasa Arab ’sadat qulbuha’ (sudah keras hatinya). Istri Gembira karena Wajah Berubah 20 September 2007 KALAU saja foto liver lama saya dimuat di koran tanpa penjelasan (foto-foto itu akan dimuat di edisi buku). “Pasti ini karena disantet”. pernah saya Tanya arti ’qalb’. Lalu memanggangnya. Atau ’patah jantung’ (broken heart).mail. Udi yang demikian mahir bahasa Arab terbius oleh sesuatu yang salah. Kalangan ini sudah kritis lagi. Bahkan. Sedang liver adalah……” kata Udi yang juga sastrawan itu. si penyantet membeli hati sapi dulu. termasuk di mimbar Jumat. Begitu jugalah dulu penilaian terhadap ibu saya. mantan rektor ITS yang kini menteri informasi. 74 by Moezhanks . tapi sudah memasyarakat. atau yang di-compresskan seperti yang dilakukan golongan tasawuf Shatariyah. kalau melihat hati seperti itu. Bahkan. akan langsung mengambil kesimpulan: Tuhan telah murka padanya.

antara lain karena wajah saya kini sudah sedikit berubah. setiap memijat kaki. Anak kalimat itu adalah keputusan yang diambil dalam kongres para pemilik kulit keruh. Dokter bilang. Masih tetap besar. saya masih sering memijit-mijitnya. orang yang paling pinter pun baru menggunakan sebagian saja otaknya. meski hitam banyak yang antre. Begitu hebat pemberian itu sehingga harus digunakan sebanyak-banyaknya. lama-lama juga akan kembali normal. bahwa Tuhan telah memberikan manusia otak yang luar biasa cerdasnya.Jadi. Kalau toh dikaitkan. Demikian juga saluran pencernakan yang telanjur ’dilaminating’. apalagi ketakhayulan. bukan lagi dekoknya cepat kembali. Setengahnya karena sudah menjadi kebiasaan selama dua tahun terakhir. justru saya tidak terlalu memerlukannya. Kini saya kembali sering memijit kaki saya dengan sangkaan sebaliknya: jangan-jangan bengkak lagi. sana: “Apakah bulunya yang dicukur juga sudah kembali normal?” tulisnya di SMS. Saya juga tidak lagi membenci kaus kaki. Kita tidak boleh memubazirkan rezeki dari-Nya itu. harus dalam rangka dzikir. dulu tidak jadi minta dikembalikan. tapi sudah mulai mengencang. Berbeda dengan saat para karyawan berkumpul untuk berdoa di rumah menjelang saya operasi. Kini wajah saya sudah boleh dibilang kembali seperti hitamnya kereta api (duile!). Padahal. untuk sedikit mengangkat derajat mereka. lama-lama juga akan kembali normal. seorang teman masih sempat menggoda saya dari Musi Banyuasin. Saya belum bisa memperkirakan apakah saya akan lebih senang dengan payudara saya yang asli.5 bulan transplantasi. selalu berharap ada mukjizat atau keajaiban. kini kembali … hitam. Tanpa kaus kaki pun kini perut tidak merasa kembung. Memang setelah 1. suasana pengajian di rumah juga lebih ceria. Maksud saya kembali ke hitam yang aslinya. Saat itu suasananya murung. sebaiknya. wajah saya yang sudah dua tahun menghitam.” tambahnya. Kini kaki saya juga tidak bengkak lagi. Tapi. Bagaimana dengan payudara saya? Tiap hari saya masih meraba-rabanya. Bukan hitam karena sirosis. bahkan tidak bisa dekok sama sekali. yang meski sudah dipotong sepertiga. Maka. Limpa saya. Kita-kita barangkali baru menggunakan lima persennya. setiap kali saya memijit kaki. Tidak perlu lagi dilaminating kedua atau ketiga. Atau justru sudah terbiasa nyaman dengan payudara seperti gadis yang menginjak remaja. Meski begitu. setiap itu pula saya disadarkan bahwa keajaiban tidak berlaku di bidang yang amat scientific ini. urusan ilmiah memang jangan terlalu dikait-kaitkan dengan keyakinan keagamaan. Saya makin sembuh. tapi masih dua kali lipat lebih besar dari limpa asli. Tiap tiga bulan sekali di rumah saya 75 by Moezhanks . Minggu lalu diadakan acara pengajian dan hafalan Alquran sehari penuh hingga tarawih. Tapi. kita akan semakin terbiasa tidak menggunakan ciptaan-Nya itu. Bisa-bisa susternya marah dan mengembalikannya ke dekat payudara. Dulu. pada keadaan ’tidak membenci kaus kaki’ itu. Dia tidak perlu lagi menghadapi rasa malu karena suaminya meninggal dalam keadaan wajah menghitam. Imbuhan kata terakhir itu bukan asli ciptaan saya. Membaca SMS mengenai mulai pulihnya organ-orang di tubuh saya. Sumsel. setengahnya lagi untuk mengetes apakah dekok akibat pijatan itu bisa cepat kembali. Ternyata biarpun saya pijit kuat-kuat. kalau istri saya merasa sangat gembira akan keberhasilan transplantasi liver ini. Para hafidz (penghafal) Alquran di Surabaya memang aktif berkumpul sebulan sekali di tempat berpindahpindah. “Untung. Kalau sedikit-sedikit sudah harus lari ke doktrin.

Yakni. apakah perasaan saya tidak berubah? Pertanyaan itu bahkan datang dari diri saya sendiri. Terpaksa si paman menelepon bapak si kecil. kemudian berumah tangga.Kini saya sudah bisa membuat perencanaan. sebagai tanda syukur kepada-Ku”. anaknya seperti Tionghoa. Karena masih keturunan Arab. Kecuali yang amat penting. Lalu mengisahkan keberhasilan Daud mengalahkan Jalut (Goliat). si kecil pergi ke taman bermain dengan pamannya yang juga membawa ciri fisik keturunan Arab. Di akhir ayat yang mengisahkan soal ini. Ada yang menerima informasi bahwa kenalannya langsung berubah menjadi amat jeleknya. Saya sudah beberapa kali mengucapkan alhamdulillah. si kecil tidak mau.” kata Cak Nur. Ini karena donornya dari India. saya tidak berani bikin perencanaan yang agak panjang. Bahkan. Liong Pangkiey. Saya sendiri. Anehnya. Perencanaan pertama yang muncul di pikiran saya adalah apa yang diucapkan Cak Nur. Operasi itu sukses sekali. tidak berani bikin janji kapan menerima tamu dan kapan harus rapat. kirim SMS bahwa temannya ganti ginjal. Anaknya harus transplantasi ginjal di Guangzhou. urusan selesai. Anaknya tumbuh dewasa. Tinggal. membawa koran lokal yang juga memberitakan kejadian serupa. “Bekerjalah yang sungguh-sungguh. ketika baru sebulan antre untuk mendapatkan donor. Kulitnya putih bersih. seperti dikatakan Cak Nur. Tim saya juga mengatakan begitu. Gara-garanya. (Bersambung) Ganti Hati 27 – Liver Ganti. si bapak kembali ke Guangzhou bersama anaknya yang masih kecil yang seperti anak Tionghoa itu. Tapi. ketika pemikir itu ditanya mengenai apa bagaimana berislam yang baik dan enak. Waktu senja sudah tiba. tentu anaknya juga masih membawa ciri-ciri fisik bapaknya. Saat menangis itulah. literatur yang mengatakan bahwa banyak kasus si penerima organ akan mengalami perubahan. wahai keluarga Daud. setelah istrinya melahirkan. Maksudnya akan memeriksakan ginjalnya setelah lebih dari 10 tahun transplantasi. Bahkan. Saya akan mensyukuri keberhasilan transplantasi liver saya dengan meneruskan kerja keras. Itulah juga yang akan saya tiru. Dulu. bekerja adalah tingkatan syukur yang tertinggi setelah mengucapkan alhamdulillah dan istighfar (minta ampun). Melihat orang Arab membawa pergi anak Tionghoa sampai menjerit-jerit itu. badannya menjadi berbulu. tertulis “Bekerjalah. si paman mengajak si kecil kembali ke hotel. Kali ini menyangkut wanita Shanghai yang baru transplantasi jantung 76 by Moezhanks . Apalagi. polisi turun tangan. begitu tidak pastinya penyembuhan sakit saya. Juga sudah sering mengucapkan istighfar. Si kecil kian berontak dan berteriak-teriak. kerja keras lagi. Setahun kemudian. Suatu saat. si paman memaksa menggendongnya pergi. Khawatir Berubah Tak Bisa Menulis Baik 21 September 2007 KARENA yang diganti ini adalah hati. Bahkan sampai menangis. keluarga salah satu direksi Grup Jawa Pos sendiri mengalaminya. begitu sembuh. Akhirnya. Sejak sebelum dilakukan transplan sampai sesudahnya. Si paman diamankan dengan sangkaan melarikan anak penduduk setempat. Bersyukur dengan cara bekerja keras. pemilik pabrik sepatu di Surabaya yang asli Gorontalo itu. Ketika di rumah sakit.

Mengapa? Ada dua tujuan. saya sudah minta laptop. Kepadanya saya jelaskan bahwa saya dulu. Mengutip kata seorang sumber berita dalam sebuah kalimat panjang sama saja dengan mengajak pembaca mendengarkan khotbah. Saya memaksakan diri untuk memulai menuliskan pengalaman saya ini. 77 by Moezhanks . Pertama. Karena itu. sebagian lagi untuk mengetes apakah saya masih bisa menulis dengan baik. Apalagi kalau di sana-sini diselipkan kutipan omongan orang. ketika masih jadi pemimpin redaksi Jawa Pos. Kutipan itu -direct quotation-juga harus pendek-pendek. dengan selingan kutipan-kutipan pendek. penakut. tapi sebenarnya penting. Saya juga selalu mengajarkan agar dalam menulis kalimat-kalimatnya harus pendek. beberapa bulan setelah operasi. bisa membawa pembaca seolah-olah menyaksikan sendiri suatu kejadian. tulisan itu bisa membuat pembaca seolah-olah bercakap-cakap sendiri dengan sumber berita. Tapi.” ujar suaminya seperti diberitakan China Daily.di Kota Shenyang. Saya juga sering membayangkan jangan-jangan mengalami hal yang sama. dan banyak omong. Kalimat pendek. Yang lebih mengherankan lagi. Sebuah tulisan yang deskripsinya kuat. Karena itu. Deskripsi yang kuat bahkan bisa menghidupkan imajinasi pembaca. Turun pesawat. di koran lagi. Saya sering mengajarkan kepada wartawan kami agar jangan mengabaikan diskripsi. “Saya menjadi agak khawatir pada istri saya. Deskripsi yang kuat bisa membuat pembaca seolah-olah merasakan sendiri kejadian itu. apakah yang paling saya takutkan? Kekhawatiran utama saya ternyata ini: tidak bisa lagi menulis baik. tidak mau keluar rumah. saya akan mengetes diri sendiri agar dalam tulisan ini memberikan sebanyak mungkin deskripsi. langsung dilarikan ke RS dan harus menjalani transplantasi. saya harus mau menuliskannya. Kini giliran saya bertanya kepada pembaca: Apakah ada perubahan dalam gaya penulisan saya? Memang. Tapi. semakin membuat tulisan itu seperti kucing yang banal. Imajinasi pembaca kadang lebih hidup daripada sebuah foto. Saya jawab: Kali ini saya memang minta jangan ada satu foto pun yang disertakan dalam tulisan ini. dan introvert.” kata suaminya. begitu saya mengajar. akan membuat tulisan menjadi lincah. Tidak semua orang bisa menulis baik. seminggu setelah operasi. mengapa tidak disertai foto-foto? “Bukankah Anda dulu mengajarkan setiap features harus disertai foto? Kalau perlu pinjam ke sumber berita?” tanya Edy Aruman. Semakin pendek sebuah kalimat. Koran tersebut juga menampilkan foto keluarga itu yang lagi bergurau di rumahnya. harus wartawan yang menuliskan ceritanya. ada seorang teman yang setengah bertanya dan setengah menyesalkan: Penyakit kok diberitahukan ke orang-orang. Kalimat-kalimat yang panjang membuat dada pembaca sesak. begitu saya mengajarkan. “Bahkan kalau naik mobil suka ngebut. Karena itu. wanita itu kemudian suka main saham di pasar modal. sering menugasi wartawan agar mewawancarai tokoh-tokoh yang berhasil mengatasi penyakitnya. Yakni menceritakan hal-hal detil yang dianggap sepele. dia mulai menyenangi internet. Secara terbuka. mengendarai mobil. mantan redaktur Jawa Pos yang kini menjadi redaktur majalah Swa. Inilah salah satu kunci kalau jurnalistik tulis masih diharapkan bisa bertahan di tengah arus jurnalistik audio visual. Tapi. saya harus fair. Waktu itu jantungnya mogok di atas pesawat dalam penerbangan ShanghaiShenyang. Ketika saya sendiri mengalami itu. Kalau itu sampai terjadi. Sebagian agar tidak ada catatan di otak saya yang hilang. Wanita itu biasanya pemurung.

“Saya sangat khawatir kalau liver yang didonorkan itu punya sifat asli seorang gay. Setiap pertanyaan disertai kolom isian. wedok ora” (tidak laki-laki dan juga tidak perempuan). Jangan hanya dijadikan bahan gosip semata. Setiap kali reporter selesai menulis berita kan harus mengirimkannya ke redaktur untuk diedit. “Kalian yang laki-laki harus waspada. Maka. Foto-foto seputar operasi. saya ingin di setiap komputer yang digunakan reporter dilengkapi software check-list. Di tulisan mendatang saya juga akan menceritakan sumbangan “ilmu tauhid” ke dalam bisnis dan manajemen. Ide ini sudah saya kemukakan lima tahun yang lalu. Kalau saja seperti itu. Orang lainlah yang tahu. Saya sendiri tidak tahu apakah tulisan saya mengenai pengalaman ganti liver ini masih mencerminkan doktrin jurnalistik saya itu. masih ada satu lagi ide saya yang akan saya sumbangkan ke dunia jurnalistik. dia tidak akan bisa menekan tombol “kirim”. Misalnya: Apakah Anda sudah membaca ulang tulisan Anda? Di belakangnya dimunculkan kolom isian: sudah dan belum. misalnya. Jawa Pos-lah yang pertama menerapkannya. Nah. Kalau kelak ada reporter yang menipu dengan cara mengisi kolom yang salah. Sampai hari ini.Alasan kedua mengapa foto tidak disertakan di tulisan ini adalah: Semua foto akan dimuat ketika tulisan ini diterbitkan dalam bentuk buku. Untuk kemajuan. Setiap membicarakan persiapan transplantasi. diri sendiri kadang memang tidak bisa merasakan. tanggung jawabnya jelas.” gurau Melinda. Dalam alam demokrasi seperti ini. berarti juga ada kemunduran dalam kemampuan saya menulis. Kalau “belum”. Dalam proses pengiriman berita dari komputer ke komputer itu. Sumbang-menyumbang dari satu disiplin ilmu ke ilmu yang lain. saat menekan tombol “kirim” itulah. Kalau tidak mengisinya. pertanyaan sudah berimbangkah berita yang Anda tulis? Apakah pihak-pihak yang Anda tulis sudah diwawancara? Dan seterusnya. Prinsip-prinsip jurnalistik yang baik harus lebih dipentingkan. “Kita harus segera carikan pekerjaan yang cocok. 78 by Moezhanks . menyumbangkan software untuk prinsip cover both side yang penting itu. ide ini penting justru untuk menyesuaikan praktik jurnalistik di alam kebebasan mutlak seperti sekarang. bos Pakuwon Jati itu. “Saya justru khawatir kalau itu liver Laura. Laura yang dimaksud adalah “lanang ora. Melinda Teja. Dan jangan-jangan. si reporter tidak bisa menekan tombol “kirim”. pemberitaan yang berimbang. Itu bukan saja menjadi sumbangan saya ke dunia jurnalistik berikutnya. Saya berharap software yang saya inginkan itu segera dibuat. Saya tidak puas dengan lambatnya pelaksanaan ide ini karena saya tidak lagi dalam posisi pemimpin redaksi.” tambahnya. Lalu. saya ingin agar di layar komputer muncul dulu sejumlah pertanyaan yang harus diisi si reporter. saya bisa menyumbangkan ilmu manajemen ke dalam jurnalistik melalui penerapan “rukun iman” Jawa Pos. Tentu dengan nada penuh humor. saya belum merasakan perubahan apa-apa. Sebenarnya. tanggung jawab justru lebih besar. Lalu. Lalu. Padahal. termasuk foto-foto liver saya yang lama. Kalau tidak.” tambahnya. tapi juga sumbangan IT ke dalam jurnalistik. namun penerapannya masih memerlukan pembuatan software komputer. apa salahnya dilakukan. Misalnya mengenai cover both side. tim saya ternyata juga sering menyinggung kemungkinan perubahan perilaku saya pascatransplantasi.” ujar yang lain. reporter harus menekan tombol “kirim”. Tapi. Maka. itu karena saya ganti liver. tentu saya berharap segera diberi tahu.

Tawaf (berjalan memutari Ka’bah) dilakukan berkali-kali -meski “tawaf” di mal dan supermarket juga tidak bosan-bosannya. kulit perut saya tidak mulus lagi. anggaplah saya baru saja melakukan caesar tiga kali berturut-turut. di rumah saya menggunakan bahasa Banjar. ada yang minta biar enam bulan baru pulang juga lebih baik. Jadi. saya lagi mengusahakan untuk memperhalusnya. Tapi. “Apakah tidak ke gereja?” tanya saya saat dia mengajak rapat soal Aceh di hari Minggu. seorang pembaca mengirim SMS ke saya: Tiongkok sudah pula membeli hajar aswad?) 79 by Moezhanks . Saingi Cucu 22 September 2007 TEPAT sebulan setelah transplantasi. “Saya penganut Sapto Dharmo. Bahkan. terutama Robert Lai. Dia Tionghoa.” jawabnya. dokter sudah mengizinkan saya pulang. Kalau saja usaha itu tidak berhasil. berarti dia Konghucu atau Buddha. seorang Kristen. Oh. biar dua bulan menunggu pun asyik-asyik saja. Rasanya ingin terus dekat dengan Ka’bah dan mencium berkali-kali hajar aswad. Fokus pikiran sudah berubah: Pulang! Pulang! Pulang! Ini bagian dari misteri rumah. Ada cara yang katanya cukup mujarab. bicaranya kromo inggil. Saling SMS dan email pun pakai kromo inggil hingga suatu saat kebentur kata forward. tim saya. Saya masih memesannya lewat internet karena hanya di AS barang itu dijual. “Rupanya. Semangat menjalani ibadah luar biasa. Begitu seminggu setelah operasi berhasil (umumnya mereka tandai dengan bisa jalan-jalan). Dulu Budi itu. Dia Tionghoa dan lulusan Fakultas Teknik Universitas Kristen Petra Surabaya. Bahkan. dia tidak nyambung. pasien langsung membuat rencana tanggal berapa akan pulang. Tim Surabaya juga demikian. Yakni silicon scar treatment. (Waktu saya menulis bahwa Tiongkok dengan kekayaan barunya sudah mampu membeli saham perusahaan raksasa Amerika yang bernama Blackstone. Saya yang Jawa bicara Mandarin. ketika saya ajak omong Mandarin. Agar tidak lupa bahasa Jawa tinggi itu. Sebuah konotasi yang ternyata salah. Ada sederet bekas jahitan yang kasar. Kromo inggil pas sekali kalau dipakai bicara soal ajaran sangkan paraning dumadi. Pak. minta saya lebih bersabar. Ini baru saya ketahui setelah bertahun-tahun kenal. Itu sebabnya bahasa Inggris membedakan mana kata “rumah” (house) dan mana kata “rumah” (home). “Kalau selama ini sudah sabar enam bulan.” jawabnya. sebuah batu hitam (blackstone) di pojok Ka’bah. ketika menjenguk saya. Makanya. “Saya bukan Kristen. 6 September yang lalu sebenarnya saya sudah bisa kembali ke Indonesia. Suasana kebatinan setelah operasi mirip dengan setelah berhaji di Makkah. Sebab. (Bersambung) Ganti Hati 28 – Tunggu Pulang Diimunisasi Hepatitis B. Akibat sayatan pisau bedah yang panjang. kalau pulang. Sebelum tiba hari pelaksanaan haji. Lebih terutama lagi ibu-ibu di Amerika. Sudah tawaf siang hari. Saya berpikir salah sekali lagi. Karena itu. tim dokter tidak membawa ahli obras malam itu. Nah. apa kromo inggil untuk forward? Keinginan pasien untuk cepat-cepat pulang memang agak ajaib. Sudah pagi hari mencoba malam hari. Terutama yang biasa digunakan ibu-ibu yang melahirkan secara caesar. saya tahu dia salah satu tokohnya. mengapa tambah dua bulan lagi tidak kuat?” tambah Ir Budiyanto. saya kira. mencoba sore hari.” ujar tim kami. Dia tahu. kemudian. Aneh. filsafat ojo dumeh dan hukum “timba sing kudu nggoleki sumur”. saya pasti langsung lupa diri.Yang jelas sudah berubah adalah perut saya. Sejak itu. misteri kampung halaman. saya selalu kromo inggil kepadanya. perancang Gedung Jatim Expo dan Rumah Cepat Tsunami Aceh.

Kampanye yang berhasil. “Uda. Bagi yang masih lama dapat giliran pulang. Pasien dari Taiwan umumnya sudah pulang sebulan setelah transplantasi. Tapi. Saya harus mencari kawan baru. “Saya kaget. begitu pulang dari Padang Arafah. luar biasa tidak sabarnya. Tuhan kita adalah Tuhan yang cerdas. tinggal saya sendiri yang dari Angkatan April 2007. dan njlimet. Sedang kalau saya pulang. suatu saat saya akan menciumnya. Mereka memang tidak perlu khawatir. Tidak kejangkitan hepatitis atau sel bibit kanker. saya tidak akan sudi menciumnya”. Karena teman-teman se-”angkatan” saya sudah pada pulang. Kecut. “Kalau bukan karena Rasulullah pernah menciumnya. rumah sakit mana yang punya pengalaman cukup untuk pasien seperti saya? Walhasil. apalagi begitu selesai salat Idul Adha. tekun. pikirannya sudah langsung fokus ke pulang. meski entah sudah berapa kali saya ke Makkah. Saya tidak tega kalau harus berebut seperti itu caranya. Kok tumben. Kebiasaan saya Lebaran di Makkah tidak bisa saya lakukan lagi tahun ini. Sudah antiklimaks. Saya akan membiayai kegiatan itu. Pasien Jepang bahkan tiga minggu sudah check-out.” kata dr Wawan yang dulu pernah jadi anggota yang aktif di Dewan Pembaca Jawa Pos. Syayidina Umar pernah mengatakan. Begitu bisa jalan. Bahkan sudah menjadi seperti satu network dengan pusat transplan di Tiongkok ini.Karena itu. Saya perlu sejumlah tenaga yang punya antusiasme menangani pekerjaan tersebut. Tentu. Kemacetan manusia selalu terjadi di sekitar hajar aswad. suasana di sekitar Ka’bah tidak pernah sepi. saya belum bisa mencium hajar aswad -secara fisik. agak siang sedikit. Maka. “Sudah umur 56 tahun baru imunisasi. saya berencana mendirikan lembaga yang tugasnya gerilya ke kawasan-kawasan miskin untuk mencari anak yang belum diimunisasi. saya tidak mengharapkan bayaran itu. Saya tidak sampai hati melihat pemandangan itu. Ada terus kegiatan orang di Makkah sebelum hari haji.” tambahnya. Suster tertawa. Begitu juga pasien transplan liver. Saya tersenyum mendengar bahwa saya harus menjalani beberapa kali suntikan imunisasi. Pasti pagi-pagi mereka sudah baca Jawa Pos. Mereka berebut menciumnya. saya memutuskan baru akan kembali ke Surabaya sekitar seminggu setelah Lebaran. cucu saya. Karena itu. Bahkan. Tentu. “Hati” dalam pengertian pedalaman saya -bukan hati dalam pengertian liver saya. rasanya sudah amat berbeda. saya baru tahu sebabnya. saya selalu berusaha menciumnya dengan hati saya yang dalam. Saya dapat informasi bahwa dokter-dokter anak di Surabaya juga kebanjiran bayi yang minta diimunisasi hepatitis B. Toh mencium hajar aswad itu bukan rukun tawaf. Diam-diam. Saya kembali tersenyum. Saya sudah amat senang kalau tulisan saya ini memberikan manfaat. Di dua negara itu ada rumah sakit yang punya pengalaman merawat pasien pascatransplan. sudah terlalu lama menunggu di rumah sakit ini.” tulisnya di SMS-nya. Berarti juga harus mau menjadi narasumber untuk bagi-bagi pengalaman kepada 80 by Moezhanks . Tuhan pasti tahu isi pedalaman saya. Bahkan. Saya masih harus menjalani satu proses yang amat lucu: Imunisasi hepatitis B. “Departemen Kesehatan harus membayar Anda. Tidak ada lagi teman-teman lama yang saya kunjungi setiap hari. Ternyata benar juga bahwa saya tidak buru-buru pulang.” kata saya pada suster yang akan menyuntik. kalau terjadi apa-apa. Mungkin akan ada manajemen yang lebih baik untuk mengatur antrean itu. Kadang dengan cara menyikut dan menyingkirkan orang lain. Bersaing dengan Icha. Oh. Yakni pada hari saya mengungkapkan mengapa saya sampai menderita penyakit seperti itu. “Jam lima pagi sudah lima ibu yang mendaftar. Antiklimaks yang tajam. Karena itu harus segera dilindungi dari dua makhluk halus (karena hanya bisa dilihat oleh mikroskop) yang pernah mengancam jiwa saya itu.” kata Pinto Janir dari Padang kirim SMS ke saya. Maklum. Hasil tes terakhir memang menunjukkan bahwa liver baru saya bersih.

saya tertegun. Tiba-tiba saya penasaran. kelima. Rasa optimistis kian hari kian besar setelah melihat pasien tadi di hari-hari berikutnya. dia tidak ke Tiongkok. Dilakukan sendiri oleh dokter setempat karena dia juga ahli. Lebih segar dan merah daripada yang saya lihat sebelum operasi.” katanya sambil menyingkap bajunya. memang masih terus akan di situ selama tiga bulan. napasnya sudah tersengal-sengal. Saya ingin ikut memberikan semangat agar mereka optimistis menghadapi operasi besar. Bahkan.” jawabnya. Saya merasa mereka beri semangat. Wisatawankah mereka? “Mereka adalah orang-orang yang dua-tiga tahun lalu transplantasi di sini. Kian hari kian cepat jalannya. Slang itu. Mereka ingin datang lagi bersama keluarga dan kerabat. seminggu sudah bisa jalan. Jalannya thimik-thimik pelan. Agar bisa bicara lebih santai. Suatu saat ada contoh-hidup yang lain. “Oh. saya tidak harus membeli semangat. Bahkan. Selama empat bulan menunggu operasi. Begitu jugalah saya nanti. juga mulut susternya. Di kamar saya semangatnya menjadi-jadi. begitu pertama melihat pasien yang jalan-jalan di koridor rumah sakit dengan kantong plastik berisi cairan merah menggantung di pinggangnya. Dia seorang wanita 60-an tahun dari Pakistan. ingin bertanya masak kini mereka bisa begitu sehatnya. Tapi. begini ya orang habis transplantasi. Jadi. saya hanya sekali mendengar orang meninggal. Saya melakukannya dengan senang hati. Konon. Giliran saya memberikan semangat. Saya lebih semangat makan.mereka. Di negaranya langsung aktif karena memang terasa sudah amat sehat. Terlihatlah di kulit perutnya bekas sayatan dan jahitan yang panjang. Saya pun merasa dapat semangat yang sama dari pasien yang menjalani transplan sebelum saya. tiga bulan kemudian. Semua kurang lebih sama. berikut kantong plastik kecil. Meski badannya kelihatan lemah. meski thimik-thimik. wajahnya segar. seorang anggota parlemen. Ternyata dengan suka rela mereka menceritakan segala pengalamannya. Perawatan terhadap slang yang masih ada di pinggangnya pun dilakukan di negerinya. Pasien keempat. seminggu setelah operasi juga sudah bisa jalan.” pikir saya. saya memang suka bertanya kepada pasien yang baru saja menjalani operasi. Untuk menunjukkan di sinilah dulu mereka dapat sambungan nyawa.” kata seorang perawat. ajaib memang transplantasi ini. Pasien ketiga juga sama. Jawaban-jawaban itu tidak terlalu memengaruhi psikologi saya. 81 by Moezhanks . pikir saya. sudah tergeletak tidak bisa berjalan. Dia saja. Atau ke keluarga mereka. dipasangi masker. Saya kian rajin senam untuk membuat badan saya lebih segar. Tiap dua minggu harus dibersihkan dan dirawat. Mungkin memang politisi yang sibuk. hanya seminggu! Sudah bisa jalan! Kau nanti juga harus begitu! Kalau perlu lima hari! Dengan melihat contoh nyata itu. Pasien kedua yang saya lihat pun begitu. Bahkan. Oh! Baru seminggu yang lalu! Sudah bisa jalan. Ada pemandu wisatanya. Mulutnya. Dahlan. optimisme saya kian menyala-nyala. Kalau badan saya lebih kuat. Seminggu sudah bisa jalan! Saya pun akan begitu nanti! Seminggu. Sebelum operasi. “Lihat ini. Toh. dan seterusnya. Serombongan besar orang Korea memenuhi lantai 11. Agar tidak jadi sumber infeksi. Hati baru. Yakni yang transplantasi enam bulan sebelumnya. tanpa harus merasakan enaktidaknya. waktu seharusnya dia kembali ke Tiongkok untuk mengeluarkan benda yang dipasang untuk menyambung livernya dulu. tiga orang di antara mereka (antara umur 60 dan 70 tahun) mau saya ajak masuk kamar saya. saya tanya kepada susternya: Sudah berapa hari dia operasi? “Tepat seminggu yang lalu. Transplantasinya sukses dan amat sehat. pasien yang sebelum operasi kelihatan matanya sudah amat keruh. Sebulan setelah transplantasi langsung pulang. tentunya. yang badannya memang sudah kurus dan umurnya sudah 62 tahun. Lalu. tentu lima hari setelah operasi sudah bisa jalan. Lengannya dipegangi oleh suster. Juga lebih merah. Juga kian segar badannya. Badannya lebih kurus daripada yang saya lihat sebelum operasi.

tentu orang akan mengira dia hamil. karena saya pernah lama di sana: Belajar bahasa Mandarin dengan cara home stay. Bajunya bagus-bagus dan mahal-mahal. Saya juga berjanji kepadanya untuk terus memberinya semangat. dan kanker hati. Dua wanita itu juga amat mengesankan. Saya harus belajar dari pengalaman itu. Tiongkok. Saya sering sekali mengunjungi kamar masing-masing dan ngobrol berlama-lama. Sepatunya seperti Cinderella.Beberapa saat setelah itu. saat keduanya masih kira-kira berumur 30 tahun.” tambahnya. satunya lagi dari Harbin. Rambutnya disasak tinggi. Dan akhirnya meninggal. guraunya. (Bersambung) Ganti Hati 29 – Sering Kaget Disapa Wanita Modis dan Ceria dalam Lift 23 September 2007 DI masa menanti waktu pulang ini. Sendirian. Keduanya tinggal di lantai yang sama. Lebih dari itu dia juga mengidap sakit gula. sirosis. Entah proses pengambilan benda asing itu yang salah atau karena kegiatannya yang berlebihan.” katanya. Yang ditunggu tidak segera tiba. Saya menjawab: Saya juga tidak akan buru-buru pulang. “Perut saya sudah berisi air. Dua-duanya juga amat cantik -terutama kalau penilaian ini saya berikan 35 tahun yang lalu. “Saya nanti tidak sesukses kamu. Saya tidak harus buru-buru pulang. Tapi. dan intelektualnya bisa nyambung dengan saya. Dia juga tidak bisa berbahasa Mandarin sehingga hanya saya pasien yang bisa dia ajak ngobrol dalam bahasa Inggris. dia bahkan pergi naik haji. “Umur saya juga sudah 69 tahun. Satu dari Jepang. Terutama kalau istri saya pergi belanja. Bicaranya. 82 by Moezhanks . Saya memang tidak menceritakan bahwa gemuk saya waktu itu karena bengkak. Dia sendirian.” tambahnya. Dia ngiri melihat badan saya yang sehat dan agak gemuk. “Umur saya sudah 72 tahun. Di Tiongkok dia akan ditransplantasi sekali lagi. namun menunggu kondisi badannya stabil. Wanita yang dari Harbin lebih mengeluh lagi. tapi juga kondisi badannya. “Kalian sudah pulang semua. Bahkan memburuk. saya tidak menceritakan bagian ini padanya. Juga sudah tak terhitung lagi berapa kali saya ke Harbin sesudah itu. Di lain waktu wanita Harbin tadi curhat yang lain lagi. Kian lama kian parah. saya kehilangan dua teman wanita yang paling saya akrabi. saya akan masih di sini. Yang wanita Jepang amat modis. Saya memahami keadaannya. dia terkena infeksi. “Saya nanti pulangnya mungkin paling belakangan.” katanya. Tidak satu pun keluarganya mendampingi. Saya cepat akrab dengan wanita Harbin ini. Kami biasa saling curhat. antara lain. Saya tahu bahwa sakit gula akan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sukses tidaknya transplantasi. Saya ceritakan kenyataan bahwa ada pasien lain yang juga punya sakit gula toh berhasil dengan baik juga.” kata wanita yang dari Jepang itu suatu saat kepada saya.” katanya. Lalu datang lagi ke Tiongkok untuk menyelamatkannya. Bukan saja mengenai umurnya. Apalagi mereka senasib: juga hepatitis. Kalau saja dia masih muda.

begitu pulang. cara membawa tasnya. juga kalau bertemu orang seperti tidak punya rasa rendah diri. Bukan saja jarang lihat pengemis. saya sangat hafal pada perawat. Miskin Bermartabat”. ketika kerja tidak ogah-ogahan. Bajunya. Benar. meski berangkat kerja dengan amat modis. bicaranya sudah keras dan tegas. musim panas) dan rambutnya dimain-mainkan seperti artis Korea. Muncullah istilah dari Zainal yang akan selalu saya ingat dan yang akan kami perjuangkan sebagai inti dimulainya pembangunan harga diri ini. Rupanya mereka biasa ganti-ganti baju. Dan ini menjadi salah satu sumber kemajuan Tiongkok. Kami sering diskusi soal kemiskinan di Indonesia dan Tiongkok. sungguh membelalakkan mata. saya masih sering kecele kalau suatu saat disapa wanita yang sangat modis dan ceria di dalam lift atau di lobi. Ini yang disebut social-capital -modal sosial. Begitu selesai bertugas. “Dokter saya di Jepang yang minta saya segera pulang. Sewaktu bertugas mengepel kamar saya. celananya hot pants (maklum. satu moto: “Kaya Bermanfaat. Rumah separo tembok separo kayu. saya lihat perutnya “sudah hilang”. Tidak buru-buru pulang. Eh. Bajunya you can see. Saya dan Zainal. meski waktu itu sudah menyandang gelar wartawan majalah TEMPO yang begitu ternama. Dia sering menyapa. Karena ’yuan lao’. Sebaliknya. sudah hilang. Penghuni lama. Juga benar bahwa seminggu setelah operasi dia sudah menentukan tanggal pulang. ketika sudah kaya (duille!) tidak sewenang-wenang. Yakni.” katanya dengan meraba-raba perutnya. Pasien yang kerasan di rumah sakit. Tapi.Benar saja. Demikian juga ketika pulang kerja. Saya sendiri akhirnya mendapat gelar ’yuan lao’ di rumah sakit ini. Sepatunya sepatu kungfu yang murahan. Tentu kami tetap menampakkan kegembiraan kami bahwa dia begitu sukses dengan transplantasinya.” sering saya bertanya dalam hati. Mengapa orang di Tiongkok yang juga banyak sekali yang lebih miskin dari orang miskin Indonesia. “Siapa ya wanita cantik ini. para perawat itu ganti pakaian seperti model. tatanan rambutnya. Setiap masuk kerja mereka mandi dulu dan baru ganti baju perawat. Yang seperti itu tidak hanya perawat. Saya ingat direktur saya Zainal Muttaqien. saya belum punya sepeda. si Cinderella sangat berhasil operasinya. pakaiannya baju-kerja penyapu lantai. Meski memang lebih lambat mulai bisa turun dari tempat tidur. Perawat di sini memang disediakan kamar mandi dan ganti baju. Surabaya. Mereka sama sekali tidak punya rasa rendah diri meski pekerjaannya tukang pel lantai. Pasti semakin modis dia nanti. Ini agar kuman yang terbawa perawat saat berangkat kerja tidak terbawa ke pasien. Bank Dunia menyebutkan social-capital ini menjadi faktor penting kemajuan Tiongkok di samping modal finansial. Juga sudah bisa tertawa. Meski begitu hafal. dan banyak lagi yang lain. sama sekali tidak menyangka kalau dia tadi yang pakai baju perawat dengan topi putih. Yang wanita Harbin juga sudah menjalani transplantasi. apalagi sepeda motor. Saya ingat. akan bisa jadi model perjuangan itu. Juga sukses. harga dirinya lebih baik. Bagaimana ketika miskin dulu tidak jatuh sampai menjual harga diri dan jabatan. Terutama pada jam-jam pulang atau berangkat kerja. “Perut saya yang mulai buncit dulu itu. pegawai. Dan. Rumah pun masih menyewa di satu gang sempit di belakang pasar Kertajaya. Yang kamar 83 by Moezhanks . baru sadar bahwa mereka adalah perawat atau pesuruh yang tadi melayani saya. Pesuruh dan tukang pel lantai pun idem ditto. meski kalau tertawa lantas kian terlihat umurnya yang sebenarnya. dan dokter di rumah sakit ini. Menjalani perawatan di sana.” katanya seperti minta pengertian. tapi saya seperti tidak kenal lagi siapa dia. Mereka juga hafal pada saya.

Saya kepingin sekali meniru ini di Graha Pena. lalu dari Jembatan Merah ke Tandes Rp 50. sekadar berdemo. filsafat “Kaya Bermanfaat. Hanya cukup untuk naik bemo berangkatnya. Petugas cleaning service tidak harus merasa rendah diri. Tentu semua biaya seperti itu. saya bilang kepada sopir agar boleh naik di kursi dekat sopir. kalau tidak mau dibilang kurang ajar. di Graha Pena kami akan mencoba memberikannya secara cuma-cuma kepada pegawai bagian cleaning service-nya. Lalu muncul ide gila yang tidak masuk akal. pemda yang menginginkan kotanya cantik dan menarik harus memberikan penduduknya yang wanita barangbarang ini secara gratis: Baju. kalau di rumah sakit ini. Waktu harus pulang ke Kaltim. sepatu. Bangsa yang mudah disogok dan dipermainkan. kalau yang lalu-lalang di dalamnya kumuh-kumuh. nggak menarik jadinya. eye shadow. Untuk membuat kota-kota di Indonesia cantik. Jarang saya lihat orang Tiongkok yang merasa rendah diri.” kata saya. Waktu harus wawancara ke daerah industri di Tandes Margomulyo. ternyata ada baiknya juga dia pulang lebih dulu. saya belajar bagaimana menjalani pekerjaan rendahan dengan jiwa yang kuat. Yang kasur tipisnya harus dihampar di lantai. Sebab. kok ingat dia lagi sih?). membangun kepercayaan diri begitu pentingnya. misalnya. Bisabisa dijual. tapi berjilbab pun akan dicarikan jilbab yang modis. penampilan Graha Pena juga akan lebih “keren”. tentu banyak orang yang akan memberi saya tiket. sering terbelit filsafat ’unggah-ungguh’. Meski Tandes-Kertajaya begitu jauhnya. saya pilih naik kapal kayu ke Banjarmasin dulu. Belum ada bus waktu itu. Hampir dua jam. dan biaya ke salon. Tapi. Kalau upaya meniru ini berhasil. Saya tahu isinya pasti uang. Yang juga mudah dibayar untuk. Saya pulang dengan jalan kaki. belum tentu lipstiknya digunakan. ditanggung sendiri. Saya khawatir dengan istri saya. para wanita yang lalu lalang di kota itu harus juga terlihat cantik. Saya menolaknya meski di saku tidak ada lagi uang sepeser pun. Yang airnya dari sumur yang harus ditimba sendiri. bangsa yang kalau melihat orang kaya yang muncul kecemburuannya. Ide itu tentu tidak mungkin dilakukan. agar murah. Dari penampilan para perawat dan tukang pel di rumah sakit ini. Sedangkan kita. Miskin Bermartabat” akan membuat bangsa ini tidak gampang jatuh ke derajat bangsa-pengemis. yang sebenarnya tetap bisa kita lakukan tanpa harus jatuh ke derajat ’rendah diri’. Lalu naik kendaraan umum berupa jip terbuka yang penuh sesak dengan penumpang. tulisan ini tidak akan bisa selesai tepat waktunya. ’sopansantun’. Dan harga diri pegawai yang di situ sama tingginya. Kalau tidak. ’tawaduk’. “Kaya Bermanfaat. Tapi. Kalaupun dilakukan. lipstik. Saya sudah minta manajemen Graha Pena untuk menghitung konsekuensi biayanya. Dari Kertajaya ke Jembatan Merah Rp 25. Miskin Bermartabat” belum menjadi budaya. Maka. (Bersambung) 84 by Moezhanks .mandinya dipakai bersama beberapa rumah tangga. saya diberi amplop. Atau. Mereka bisa membedakan ’rendah diri’ dan ’rendah hati’. Selesai wawancara. Maka. Betapapun bersihnya sebuah kota. saya hanya punya uang Rp 75 di saku. “Istri saya hamil muda. Kembali ke dua wanita tadi (eh. Salah satu kesimpulan saya. Karena beberapa kali harus berhenti untuk menghindar dari panasnya Surabaya. Tentu tidak harus sampai pada hot pants.

sang suami meminta sang suci membacakan doa. jawabnya ini: semua itu berkat tangan Tuhan. Korea. Tapi. “Semua ini karena Allah dan kepintaran para dokternya. saya ingin menulis. 3. Selama makan sang istri merengut saja. Keberadaan donor yang sangat prima. Siapa yang bisa membantahnya? Siapa yang berani mempersoalkannya? SMS yang masuk ke saya pun hampir semuanya bernada begitu. Bahkan. Faktor mana yang terpenting. 4. Engkau telah menyediakan makanan yang lezatlezat ini. Saya mencoba merincinya sebagai berikut: 1. saya tidak perlu lagi menulis. Kecanggihan peralatannya. rumah sakit ini tergolong yang terbaik di dunia. si istri menggugat suaminya: Tidakkah tadi kau laporkan kepada sang suci bahwa sayalah yang sehari penuh menyiapkan makanan ini? Saya tidak ingin para dokter njegol seperti si istri itu. Saya tidak ingin para dokter menjadi ngambek seperti humor ngambek-nya seorang istri yang sudah terkenal itu: Suatu saat sebuah keluarga ingin mengundang makan malam seorang suci. kesempatan untuk memperoleh pengalaman yang banyak sangatlah minim. Setelah sang suci pulang. Soal keahlian dokter. Kemampuan manajemen rumah sakit dan tim operasinya. Hanya satu-dua yang mengatakan. Baik karena langkanya donor maupun minimnya peralatan. Mereka mengatakan semua ini karena Allah.Ganti Hati 30 – Banyak Faktor Keberhasilan. rasanya sulit menentukan. Waktu mau makan. Keahlian dan pengalaman dokternya. kalau ada waktu membahasnya lebih dalam. Kemajuan obat-obatannya. Selesai. di Indonesia pun tidak akan kalah. “Terima kasih. Kondisi badan saya yang masih baik. Sang istri sehari penuh sibuk menyiapkan makanan yang lezat-lezat. Bagaimana bisa punya pengalaman transplantasi liver 150 kali setahun kalau di negeri itu orang tidak bisa mendonorkan organnya? Mengenai kecanggihan peralatan. Tidak perlu lagi tambahan apa-apa. 5.” Ucap sang suci mengakhiri doanya. Mau yang religius atau yang ilmiah. Tapi. Saya tidak diberi tahu alat yang mana. Tapi. ada satu alat yang hanya empat di dunia: di AS. 2. Tuhan. Sudah tentu tidak hanya faktor keahlian dokter yang menjadi satu-satunya kunci sukses. pasti juga akan diketahui ranking-nya. Tersedianya peralatan yang canggih ini sangat terkait dengan kemampuan dana dan 85 by Moezhanks . Jepang. Saya pernah menerima keluhan dokter ahli bedah jantung seperti Prof Dr dr Paul Tahalele. Kalau mau pendek dan tampak religius. tapi Jangan Buru-Buru Merasa Sehat 24 September 2007 MENGAPA operasi transplantasi liver saya berhasil? Setidaknya sampai hari ini? Faktor apa saja yang memengaruhinya? Jawabnya dua macam: mau yang pendek atau yang panjang. kalau jawabnya itu. dan di rumah sakit ini. Terutama ingin menulis sesuatu agar para dokter tidak kehilangan semangat karena tidak dipuji sama sekali. Saya ingin memujinya. Keahliannya pasti tidak kalah dengan dokter Singapura.” Tapi. 6.

ada yang sampai Rp 100 juta. Kepada mereka (baik yang sudah pensiun maupun yang belum).keinginan pemimpinnya. saya membuat keputusan justru harus melakukan transplantasi ketika saya masih sehat. Begitulah nasib dokter kita meski itu juga dialami bidang yang lain. Tergantung perasaan saya seberapa saya merasa bersalah. Ini karena jantungnya memburuk. Misalnya. masak bisa diralat? Yah. antara lain. Kalau sejak sebelum operasi saya optimistis bahwa transplantasi ini akan berhasil. saya berikan uang. akan lain hasilnya. saya sering juga kemudian minta maaf. Maksud saya ketika organ-organ lain saya masih baik. bagi-bagi uang ini terdengar juga oleh pensiunan karyawan yang lain. juga ditentukan oleh kondisi pasien. Hanya saya dan tim saya yang tahu. sudah bengkak. “Apakah Pak Dahlan sudah mau mati? Mau khusnul khotimah?” komentar seorang teman secara diam-diam tapi sampai juga ke telinga saya. Terutama kalau mereka melihat tanda-tanda fisik saya: mulai dari sudah muntah darah. Kondisi pasien yang prima memegang peran penting karena banyaknya komplikasi juga akan menyulitkan. Misalnya. Mereka aktif berpindah-pindah di Surabaya dan tiga bulan sekali di rumah saya. Asal kemudian ikut diundang. kalau saja saya tidak sabar menunggu. Kegagalan yang terbanyak kini karena tekanan darah tinggi dan gula darah. Kebetulan. Bahkan. Mendapatkan donor yang prima pun. Rupanya. Lantas. juga para pemegang saham. Atau. “Boleh nggak sekarang saja dimarahi. dia menghubungi saya lewat SMS: saya menyesal mengapa dulu tidak pernah dimarahi. Kalau saja terlambat mengambil keputusan. obat-obatan yang harus dimakan setelah transplan menimbulkan efek samping di dua sektor itu. saya sudah menghitung semua faktor di atas. antara lain. Bahwa ada kualitas I atau II. sekarang jumlahnya hampir nol. Itulah sebabnya. Obat sinkronisasi liver baru dengan organ lain sudah amat sempurna. dan wajah sudah menghitam. Teman-teman. Apalagi saya juga menyelenggarakan zikir-pidak dan ikut mendengungkan kalimat syahadat yang sudah di-compress menjadi kata pendek hu itu ribuan kali. tentunya donor seperti apa pun akan diterima. Toh semua donor sudah diperiksa kualitasnya. mungkin banyak yang pesimistis. Tapi kalau sudah telanjur marah. Di bidang kemajuan obat-obatan harus diakui bahwa kemajuan penemuan obat baru bukan main cepatnya. obat antiinfeksi juga sudah membuat kegagalan karena infeksi amat minim.” katanya. mungkin juga banyak halangannya. Sebab. itu tentu ada kelas-kelasnya. Tentu. saya tidak memiliki bakat darah tinggi maupun gula darah. tapi kondisi badan saya sudah tidak bisa lagi menunggu lebih lama. Salah satu pasien yang saya kenal kelihatan gembira sekali di hari pertama dan kedua setelah keluar dari ICU. Saya juga sering mengadakan khataman Alquran yang diikuti para hafiz (orang yang hafal Quran). Mereka juga melihat tanda-tanda nonfisik yang saya lakukan. Tapi mulai lemas di hari-hari berikutnya. Ada yang cuma Rp 5 juta. 86 by Moezhanks . Mungkin akan mendapat juga donor. Untuk kegagalan transplantasi liver karena rejection. tapi saya yakin sudah telanjur melukai hati mereka. dua-duanya belum bisa banyak dinanti. kalau saya sabar. Kadang saya sadari bahwa ternyata tidak seharusnya saya marah karena ternyata dia tidak salah. Untuk Indonesia. semua itu tidak saya informasikan kepada keluarga atau teman-teman. Kalau saja kemajuan obat-obatan tidak seperti sekarang. tapi kualitasnya belum tentu sebaik yang ada di dalam badan saya sekarang. saya tiba-tiba mengundang teman-teman yang ketika bekerja di Jawa Pos dulu pernah saya marahi.

Pelajaran lain yang saya dapat adalah: Jangan buru-buru merasa sehat dulu. Karena itu. “Mbok jangan baca buku yang begituan. buku yang saya baca adalah buku kisah artis terkemuka Tiongkok yang meninggal muda setelah transplantasi liver. sekeluarga. Itu bukan lemari pakaian karena kami tidak perlu lemari untuk pakaian. Cukup disangkut-sangkutkan di paku yang menancap di dinding.” Maksudnya jangan membaca yang seperti memberikan isyaratisyarat bahwa saya akan gagal dan meninggal. Pelajaran penting yang saya peroleh dari buku itu adalah ini: jangan terlambat ambil keputusan transplantasi. Mereka tidak tahu bahwa saya ingin belajar dari buku itu. cobek (mangkuk terbuat dari tanah). dan sebangsanya. saya akan mampir dulu di Singapura beberapa hari. Makanan juga disimpan di situ -kalau kebetulan ada. istri perdana menteri Singapura yang juga CEO Temasek Group. dia melakukan transplantasi dalam keadaan sudah amat terlambat. Baju kami. “Saya yang akan atur. sepulang dari Tiongkok nanti. Sambil menunggu saatnya transplantasi pun. Transplantasi pertama dilakukan di Beijing. Akhirnya. Itu bisa dilakukan dalam rangkaian perjalanan saya pulang kelak. piring seng untuk makan. Ditulis dengan kapur lunak. Tapi. dia harus transplantasi lagi di kota ini. Kakak sulung saya memang pernah mencatat tanggal kelahiran saya. Terutama: mengapa gagal? Apa yang tidak boleh saya tiru agar saya tidak gagal? Juga ada maksud saya yang lain lagi: belajar membaca huruf Mandarin. Ini menambah kuat tekad saya untuk melakukan transplan ketika kondisi badan saya masih kuat. Kian Tidak Jelas Hitungan Umur Saya 25 September 2007 UMUR berapakah saya sekarang? Tepatnya saya tidak tahu. Kebetulan. Madame Ho Ching. Kankernya sudah telanjur menyebar ke bagian tubuhnya yang lain. Singapura sudah amat berpengalaman. dan leper (tempat mengulek sambal. “Apakah yang Anda lakukan ini ada hubungannya dengan sakit Anda?” tanya seorang pemegang saham. untuk transplantasi “separo hati”. terbuat dari tanah). Bahkan. Padahal. Juga berhasil. 87 by Moezhanks .Para pemegang saham juga sangat khawatir ketika saya minta bertemu dan menyampaikan sesuatu yang amat sangat pentingnya. Yakni di balik pintu lemari kayu yang kasar. diambilkan dari kapur yang biasa dipakai nenek untuk makan sirih. Lemari yang ada itu bikinan bapak sendiri untuk menyimpan apa saja: kaleng bekas. Belum dua bulan sudah sibuk menghadiri berbagai acara. Akhirnya meninggal dunia. Apalagi setelah melakukan transplantasi liver ini. Juga karena kami tidak bisa beli lemari. juga minta agar saya menjalani review di negaranya. Singapura memang punya reputasi yang baik untuk perawatan pascaoperasi. Berhasil. (Bersambung) Ganti Hati 31 – Setelah Transplantasi. kanker sudah lebih menyebar lagi. tidak lebih dari sepuluh.” tulis Madame Ho Ching dalam emailnya kepada saya. Sampai-sampai tim saya bilang. Artis itu sudah amat terlambat melakukannya. termasuk talk show dan jumpa fans di kotakota yang jauh.

ketika tikar dilipat. Anehnya. “Dia tahlil. Kami makan sambil duduk di lantai. Suatu saat saya dicap sebagai Muhammadiyah.” kata yang lain. Tanggal itu penting bagi anak-anak miskin karena berarti akan ada selamatan. Paginya. bukan Naqsyabandiyah. Tidak ada kursi atau meja makan. Yang biasa diulangtahuni adalah orang mati. bulan berapa. Kalau mau makan. sebelum disapu harus dikepyur-kepyur dulu dengan air. Kami keluarga santri. kami juga ikut Kejawen: Bersih desa. Di lain kali saya tidak diterima di kalangan Muhammadiyah. Selasa Legi yang tanggal berapa. barulah dihamparkan tikar. aliran politik keluarga kami adalah ini: Masyumi. Itulah peringatan meninggalnya Sayidina Hasan dan Husein. Lebih aneh lagi. Namun. saya sudah harus bisa menyapu lantai. Lagi pula. Di atas tikar itu juga kami tidur. Sawah warisan yang hanya secuil. apa pun dijual. salat id tidak mau di lapangan. tidak ingat. gambar pulaunya lebih banyak dan lebih lama hilangnya. bapak ingat saya lahir Selasa Legi. saya ini orang apa. tapi bisa mengurangi rasa malu. Saya sangat ahli me-ngepyur-kan air ke lantai ini. Meski akan menghabiskan air lebih banyak. Dari segi ini. keluarga kami tidak mengenal itu karena kurang kejawen. Jangan gusar. wayangan Murwad Kolo. entah apa bunyinya. Juga menyenanginya -terutama saya punya kesempatan untuk me-ngepyur-kan air lebih banyak di dekat pulau ompol untuk mengamuflasekannya. aliran tarikat kami Syatariyah. Karena lantai itu akan menimbulkan debu. kini. Ke dalamnya dimasukkan rajah kertas yang ditulisi huruf Arab yang ruwet. Yang selalu diingat hanya hari dan pasarannya. saya ingat. Ibadahnya pakai aliran NU ahli sunnah wal jamaah: tarwihnya 21 rakaat (sampai sekarang). Sejak masih ngompol. nyekar ke kuburan. Maka. Bahkan. Semoga di langit sana tidak ada pengelompokan seperti itu. orang memang tidak peduli dengan tanggal lahir. Perbedaan dua golongan itu sudah kian cair. Pakai selamatan dan tahlilan. yang aslinya milik aliran Syiah. Untuk apa diingat? Untuk ulang tahun? Emangnya perlu ulang tahun? Bahwa orang itu ternyata bisa diulangtahuni belum pernah saya dengar sampai saya masuk SMA. suasana juga sudah tidak seperti itu lagi. gambar pertama yang bisa saya buat ketika kecil adalah lambang partai itu: Bulan bintang. kami antre minum airnya. sering ada gambar pulau di lantai tanahnya: ngompol. Karena itu. Kami hafal semua kapan meninggalnya siapa. Dan ketika terjadi Gestapu/PKI di tahun 1965. Kalau bulan Syura. salatnya pakai doa kunut. Posisi duduk anak kecil seperti saya sangat minggir -kadang hanya dapat separo pantat saja yang di atas tikar. 88 by Moezhanks . setiap Selasa Legi. Tiap pagi. putra Sayidina Ali dan Sayidah Fatimah.” kata seorang tokoh. Kalau musim hujan. Saya sendiri tidak peduli. itu dilakukan setiap 35 hari sekali.Itulah satu-satunya perabot rumah tangga bapak saya. kami selamatan Rebo Wekasan. Tapi. sepupu-sepupu saya yang sudah dewasa semua jadi anggota Banser. Setelah ibu sakit (seperti sakit saya ini). lantai tanah sangat ramah lingkungan -setidaknya hidung kami sudah biasa tidak menghiraukannya. Inilah keunggulan yang tak tertandingi dari lantai tanah: Bisa menyerap ompol sebanyak-banyaknya! Dia seperti popok abadi! Tidak perlu dibuang yang sampahnya bisa merusak lingkungan. Dengan ciduk yang sama: tidak terpikirkan itu sebagai sarana yang efektif untuk menularkan virus hepatitis. pergilah lemari dari rumah kami -dan hilanglah catatan tanggal lahir saya. Bau kencing itu akan hilang dengan sendirinya kalau tanahnya sudah kering lagi. Di desa. yang berarti cucu Rasulullah. Kalau toh ada orang yang selamatan kecil dikaitkan dengan hari kelahirannya. alat-alat tukang bapak yang bisa dirombengkan. Setelah kenduri. “Lihat dia dari keluarga Masyumi. itulah tugas pertama masa kecil saya: menyapu lantai. wiridannya pakai tahlil. dan juga lemari satu-satunya itu. kiai kami menaruh gentong (tempat air yang besar terbuat dari tanah) dengan air yang penuh. Misalnya. Pada selamatan ini. Tapi. Lantai itu terbuat dari tanah karena tidak mampu menyemennya.

Saya memang harus banyak senam. Tentu. antara lain ke timur. Dan. Ibu harus ikut bapak saya. setelah ganti liver. Saya sendiri tidak menyadari dan tidak mengetahui itu. tidak ada administrasi yang memerlukan tanggal lahir. tapi hati saya belum lagi berumur 25 tahun. Yang juga menggembirakan saya adalah: sekarang saya bisa berkeringat. Kecuali satu: Rongga dada saya sudah mengecil. Kini. memang tidak boleh ada ruang kosong. Jadi tulangtulang iga ikut bergerak ke dalam. saya belum peduli dengan tanggal lahir dan karena itu juga tidak pernah bertanya ke bapak.” Maksudnya ketika Gunung Kelud meletus. ke Banjarsari di selatan Ponorogo. Yakni setelah Pangeran Diponegoro kalah karena ditipu oleh Belanda. terutama yang bisa membuat dada saya mekar lagi. Tanpa dukungan surat kenal lahir. Tapi.” kata bapak saya sambil berpikir keras. Hidup di desa. saya sudah mulai bisa merangkak! Kini. Sampai 1. “ada hujan abu yang sangat hebat. Ketika sudah amat dewasa dan saya bertanya kepada bapak mengenai kapan saya dilahirkan. Apakah harus dijumlah lalu dibagi dua? Atau masingmasing diberi bobot dan nilai? Lalu. tidak tahu tanggal lahir tidak penting-penting amat. Karena saya dari jalur wanita. Begitu hebatnya sampai desa saya yang jaraknya lebih 100 km dari gunung di Blitar itu dalam keadaan gelap selama sepekan. Ketika hati mengecil. 89 by Moezhanks . kian tidak jelas lagi saya ini berumur berapa. secara alamiah. Badan saya berumur 56 tahun. Jadilah bapak-ibu saya tinggal di desa. Bukankah bisa ditelusuri kapan Gunung Kelud meletus? Soalnya bukan hanya itu. tulang iga menyesuaikannya. kondisi saya terus saja membaik. bukankah setiap 35 hari ada Selasa Legi? “Waktu itu. begitu habis makan. Semua parameter darah normal. Antara hati dan tulang iga. Ulang tahun saya adalah Selasa Legi. saya malas melakukan riset kapan saja Gunung Kelud meletus. Tapi sudah diakui di banyak negara.Asal-usul keluarga kami adalah pelarian dari Jogja. Juga setelah sedikit senam atau joging. tapi kemudian kawin dengan ibu saya. Untunglah. Titik.5 bulan setelah ganti hati ini. Itulah tanggal lahir yang secara resmi saya pakai di dokumen apa pun sampai sekarang. Bapak saya kemudian menyebut. Mengapa? Selama ini rongga dada saya ternyata dalam proses mengecil. berusaha menyesuaikan dengan ruang yang dilindunginya. ketika Gunung Kelud meletus. rasanya bisa. Sampai tamat SMA. waktu itu. saya tidak dianggap memalsukannya. ibu saya tidak tinggal di pusat keluarga itu. kemudian jatuh ke buruh tani. Para panglima perangnya melarikan diri. “Hampir tidak ada kesulitan apa pun”. Yang lebih saya pikirkan adalah bagaimana hati baru itu bisa kerasan menjadi “keluarga besar Dahlan Iskan”. Jadi keluarga tani. Bapak saya adalah abdi di pusat keluarga itu. Saya putuskan sendiri saja: Saya lahir tanggal 17 Agustus 1951. 6 km dari pusat keluarga itu. langsung berkeringat. bobot dan nilai dikalikan seperti ajaran ilmu manajemen problem-solving yang sangat memengaruhi saya kalau ambil keputusan? Untuk apa juga saya pikirkan. Tahunya ketika anak wanita saya bertanya kepada dokter: apa saja kesulitan dokter dalam melakukan transplantasi liver malam itu? Dokter mengatakan. Sudah tiga tahun saya tidak pernah berkeringat. Habis jalan jauh pun tidak berkeringat. Buktinya. Tiwas nanti merasa ge-er karena hitungannya jatuh bahwa saya baru berumur 38 tahun atau 45 tahun. Lalu beranak-pinak dan ada yang membuka hutan di timur Gunung Lawu untuk dijadikan kampung: Takeran. Bagi saya. jawabnya tegas: Selasa Legi. saya belum pernah merayakan ulang tahun sehingga tidak kian ruwet memikirkannya. Sekaligus jadi pusat Pesantren Sabilil Muttaqin. Ini karena liver lama saya juga mengecil.

jangan sampai terkena virus hepatitis seperti Pak Dahlan Iskan! *** Kesan yang lain dari serial tulisan saya ini adalah bahwa rumah sakit-rumah sakit di Tiongkok hebat. setelah virus itu berkembang menjadi sirosis dan kemudian kanker. meski secara fisik dan peralatan sudah amat modern. Kepada para dokter itu. saya bilang bahwa ide tersebut kurang tepat. ketika dokter mau “memasang” liver baru di ruang yang ditinggalkan liver lama. Ternyata. belakangan ini semakin banyak rumah sakit di Tiongkok yang lebih modern. Nanti seperti Pak Dahlan Iskan! Setelah menerima SMS dari Saudara Socrates. Masih perlu satu kurun lagi untuk mencapai tahap itu. Jalan pikiran saya itu biasanya saya ungkapkan ke temanteman dengan istilah: intensifikasi umur. carry over problems masih terbawa. saya akan memilih yang terbaik. Sehingga menaruhnya jadi agak sulit. bahkan di Malaysia sekalipun. Tentu kalau masih ada pilihan lain. Seorang ibu sampai menasihati anaknya begini: Jangan kerja terus seperti itu. bukan? Itulah sebabnya saya memperbanyak senam agar liver baru saya bisa “bernafas” dengan lebih lega dan itu berarti membuatnya semakin kerasan tinggal di dalam badan saya. Manajemen dan pelayanan rumah sakit-rumah sakit kita. tapi masih belum mencapai tingkat kecanggihan seperti di Singapura. daripada umur panjang tapi tidak bisa berbuat banyak. Kebiasaan lama orang-orangnya tidak bisa begitu saja berubah. saya jadi merasa bersalah. Saya memilih berumur pendek tapi bermanfaat. tapi karena saya terkena virus hepatitis B. Ini karena. Sesak. saya akan merasa sangat berdosa kalau gara-gara tulisan saya ini banyak orang takut bekerja keras. Liver baru masih dalam ukuran normal. Bangsa ini memerlukan puluhan juta orang yang gigih. Tentu. ruangnya agak terasa kesempitan. Memang. Memang. secara umum. Belajar manajemen dan pelayanan rumah sakit jangan ke Tiongkok. saya kurang pandai menjelaskan bahwa sakit saya ini bukan karena kerja keras.Akibatnya. saya tidak memilih itu karena saya punya filsafat sendiri dalam menyikapi umur manusia. ya berumur panjang. Hanya. Misalnya. Kalau saya akan dijadikan contoh jelek. ya bermanfaat. 90 by Moezhanks . melainkan kaitkan saja dengan kecerobohan. sebaiknya tidak kerja keras lagi. jangan dikaitkan dengan kerja keras. itu bukan berarti akan menyembuhkan sakitnya. Tapi. Tentu memperlambat juga amat baik. Sampai-sampai beberapa dokter menghubungi saya bagaimana kalau mereka studi banding ke Tiongkok untuk belajar manajemennya. melainkan memperlambat saja perkembangannya. lebih baik. (bersambung) Ganti Hati 32 – Kini Ada Simbol Mercy di Perut Saya (Sebuah Penutup) 26 September 2007 ADA kesan yang mendalam bahwa sakit saya yang parah kemarin-kemarin itu karena saya kerja terlalu keras. Terutama yang swasta. Misalnya. teman di Batam yang lahir di Padang itu.

*** Semua itu tidak ada artinya dibanding nilai kesehatan yang saya peroleh. Tapi. semua rumah sakit masih milik pemerintah. apa artinya dibanding yang harus saya keluarkan ini? 91 by Moezhanks . Sampai sekarang. Tapi. Misalnya. biaya terbesar sebenarnya bisa ditekan sesuai dengan kemampuan. itu sudah meliputi semua pengeluaran. dan sebagainya. Saya bisa memahami itu karena toilet ini mungkin sudah lebih bersih daripada kamar tidur di rumahnya sekalipun. Naik kendaraan umum? Taksi? Beli mobil sendiri? (Kebetulan saya beli mobil kelas Toyota Corolla dan itu berarti juga harus punya sopir). Misalnya. Biaya operasinya sendiri tidak besar untuk ukuran saya. saya hanya memberikan contoh dengan cara mengelap sendiri bagian-bagian yang kurang bersih itu di depan dia. Kalau toh mau belajar ke Tiongkok adalah mengenai keseriusan riset dan semangat untuk majunya. Kalau waktu itu tidak menjual rumah. Lama-lama standar kebersihannya berubah. juga sekaligus menyadarkan betapa mahalnya sehat itu. Semua dokter fokus bekerja di rumah sakit. Itu juga yang dilakukan bapak saya ketika ibu sakit: Menjual apa pun. Rumah sakit juga menjadi sentral semua urusan kesehatan karena tidak boleh ada dokter praktik di sana. untuk kasus saya ini. lebih cepat daripada waktu yang kita perlukan. memang perlu waktu dan kesabaran. Kecepatan itu akan fantastis kalau saja Tiongkok mengizinkan berdirinya rumah sakit swasta. wira-wiri saya sekeluarga dari Indonesia ke Tiongkok. Imunisasi yang sekali suntik Rp 70.000 memang mahal. saya akan jual kalau harus melakukan transplantasi ini. Itu pun sewa saja. akomodasi. Makan dengan masak sendiri atau setiap makan ke restoran? Dan banyak lagi. Karena mereka sangat unggul di situ. dan satu-satunya.Saya sendiri sering berdebat dengan petugas kebersihan toilet di Graha Pena Jawa Pos Surabaya mengenai pertanyaan ini: sudah bersihkah toilet ini? Saya menilai belum. Satu orang dan yang lain tidak akan sama. Seandainya saya hanya punya rumah seperti itu pun. Tapi. Biasanya. sewa enam bulan (tidak bisa sewa kurang dari enam bulan). dan konsumsi saya sekeluarga. membatasi keluarga yang harus wira-wiri. termasuk alatalat tukang kayunya. Kalau semua biaya itu ditotal. Saya tidak bisa marah karena tahu berapa gajinya dan bagaimana latar belakang ekonominya. saya yakin tidak lama lagi rumah sakit di Tiongkok akan mencapai tahap seperti Singapura. Mungkin seharga rumah tipe 100 di lokasi yang sedang. itu karena tidak akan ada orang yang mau membeli rumah lantai tanah di pelosok desa. Di Tiongkok juga jangan tinggal di hotel. Tapi. yang terbanyak adalah untuk pendukungnya. Biaya itu juga sudah termasuk pengobatan sejak terjadinya muntah darah pada 2005. petugas menilai “sudah amat bersih”. Jadi. transportasi lokal. Misalnya. biaya operasinya sendiri tidak sampai 20 persennya. Dari seluruh pengeluaran. *** Berapakah biaya yang saya keluarkan untuk mereparasi organ-organ saya itu? Kalau di penutup tulisan ini saya memberikan isyarat jumlahnya. Transportasi yang bagaimana juga memengaruhi besarnya biaya. tapi cari apartemen murah saja.

Jelek tapi tetap terlihat Mercy-nya. Jelek wujudnya. Seperti simbol Mercy yang digambar oleh anak berumur tiga tahun. *** Kini saya tidak hanya hidup baru dengan liver baru. tapi kira-kira sama harganya. Yang satu. tanda mirip simbol mobil Mercy (Mercedes Benz). tapi juga dengan tanda baru di kulit perut saya. Yakni. saya tidak gagal. tokoh olahraga di Surabaya. Juga banyak sekali orang kerja keras yang karena didorong niat mulia -dan kekayaan hanya datang membuntutinya. tidak tahu seri berapa. Boleh juga dibilang sayatan dari satu titik di tengah ke tiga arah. Waktu tua menghabiskan kekayaan itu untuk membeli kembali kesehatannya -dan banyak yang gagal. Barmen. Mainannya ya kerja keras itu. yang di rumah. Kini saya punya dua Mercy. Jelek. Seperti Pak Moh. Mulai besok disambung dengan Hati Baru Menjawab. Satunya lagi “Mercy” di kulit perut saya. Atau sekadar hobi. (TAMAT) _________________________________________ Tulisan bersambung Pengalaman Pribadi Dahlan Iskan Ganti Liver berakhir hari ini pada seri ke-32. bekas sayatan dari tiga arah yang menyatu di tengah. saya kerja keras tidak semata-mata untuk mencari kekayaan. 92 by Moezhanks .Saya ingat kata-kata bijak di laboratorium Prodia: Waktu muda mati-matian bekerja sampai mengorbankan kesehatan untuk memperoleh kekayaan. Dahlan Iskan akan menjawab e-mail dan SMS dari pembaca. Dan lagi. tetap mahal citranya. Di dunia ini banyak orang yang kerja keras tanpa bermaksud kerja keras. simbol Mercy di kulit perut saya itu tidak sempurna. Mainannya ya mengurus sepak bola itu. adalah Mercy seri 500 keluaran 2005 yang dibeli dengan harga sekitar Rp 3 miliar. Kebetulan. Tapi.