Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver

Oleh: Dahlan Iskan iskan@jawapos.co.id

Ganti Hati 01 - Harus Turun Mesin, karena Organ-Organ Saya Rusak Parah
26 Agusutus 2007 Pagi ini, hari ke-20 saya hidup dengan liver baru. Kelihatannya akan baik-baik saja. Tidak ada tandatanda kegagalan seperti yang dialami Cak Nur (Nurcholish Madjid, tokoh yang digadang-gadang menjadi salah satu calon presiden), yang menjalani transplantasi liver di Tiongkok pada 19 Juli 2004. Kadar protein dalam darah saya yang tidak pernah bisa normal, kini menjadi sangat baik. Salah satu unsur penting di protein itu, albumin, sejak liver saya diganti sudah mencapai angka 3,6. Selama lebih dari 10 tahun saya hidup dengan kadar albumin yang hanya 2,7. Padahal, normalnya paling tidak 3,2. Rendahnya kadar albumin membuat tubuh saya tak mampu membuang kelebihan air, baik dalam bentuk keringat maupun kencing. Sehingga air yang berlebih ikut darah beredar ke seluruh tubuh. Akibatnya, tubuh saya jadi “gemuk”. Karena itu, kalau ada orang memuji badan saya terlihat lebih gemuk dan segar, dalam hati sebenarnya saya menderita. Sebab, saya tahu, tubuh saya tidak sedang gemuk, tapi bengkak! Begitu liver diganti dan albumin normal, badan saya langsung susut. Tapi tidak kuyu, melainkan sebaliknya: lebih segar. Dua hari pertama pascatransplantasi, kencing saya bisa mencapai 10 liter sehari. Sebagian karena memang banyak cairan yang masuk ke badan, sebagian lagi karena air yang tadinya beredar bersama darah, sudah bisa dipisahkan oleh albumin dan dikirim ke kandung kemih. Platelet atau trombosit saya, yang seharusnya minimal 200, pernah tinggal 55. Dengan platelet serendah itu, saya terancam mengalami perdarahan dari mana pun: mulut, hidung, lubang kemaluan, telinga, dan mata. Untuk menyelamatkan saya dari ancaman itu, dokter lantas memotong limpa saya hingga sepertiga. Setelah limpa dipotong, platelet saya naik sampai 120. Sayangnya, itu tidak lama. Perlahan-lahan angka itu menurun secara konstan. Terakhir tinggal 70. Hampir sama dengan sebelum limpa saya dipotong. Tapi, setelah liver saya diganti, platelet saya langsung naik. Tiga hari lalu angkanya sudah mencapai 260. Normalnya, antara 200 sampai 300. Mengapa saya memutuskan ganti liver? Tidakkah takut gagal? Mengapa liver saya sakit? Separah apa? Bagaimana jalannya penggantian liver? Bagaimana mempersiapkan diri? Bahkan sampai ke doa apa yang saya ucapkan? Semua akan saya tulis untuk berbagi pengalaman dengan pembaca.

1

by Moezhanks

Cerita ini mungkin akan agak panjang (bisa 50 hari). Bukan karena saya mau berpanjang-panjang, tapi karena redaksi membatasi saya untuk menulis hanya sekitar 1.000 kata di setiap seri. Berikut saya mulai dengan seri pertama ini. (Nama-nama dokter, rumah sakit, sengaja baru akan disebutkan di bagian-bagian akhir tulisan): *** Di umur 55 tahun ternyata saya harus “turun mesin”. Begitu parahnya kerusakan organ-organ di dalam badan saya sampai harus pada keputusan menambal seluruh saluran pencernaan saya, memotong sepertiga limpa saya, dan mengganti sama sekali organ terbesar yang dimiliki manusia: liver. Turun mesin total itu harus diatur sedemikian rupa karena mesin yang sama harus tetap menjalankan tugas sehari-hari, yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Maka, saya pun mulai membuat jadwal turun mesin. Dimulai yang paling membahayakan agar yang penting nyawa bisa selamat dulu. Ternyata saya memang terancam meninggal dunia dari tiga jenis penyakit. Yang pertama adalah yang bisa membuat saya meninggal mendadak kapan saja tanpa penyebab apa pun. Tiba-tiba bisa saja saya muntah darah dan tak tertolong lagi. Ini karena seluruh saluran pencernaan saya, mulai tenggorok sampai perut sudah penuh dengan varises yang menor-menor karena sudah matang dan siap pecah. Ibarat kumpulan balon-balon kecil berwarna merah, yang kulitnya sudah tipis seperti balon yang ditiup terlalu keras. Kapan meletusnya bisa setiap saat. Saat meletus itulah orang akan muntah darah dan tak tertolong lagi. Penyakit kedua, yang bisa membuat saya meninggal dalam hitungan bulan adalah jumlah darah putih saya yang terus merosot. Mengapa? Karena limpa saya sudah membesar tiga kali lipat dari ukuran normal. Limpa yang tugasnya antara lain mengubur sel-sel darah merah yang mati (dengan darah putih yang diproduksinya), tidak mampu lagi berfungsi baik. Platelet saya yang seharusnya antara 200-300, hari itu tinggal 60. Itu pun dalam posisi terus menurun. Pada penurunan beberapa poin lagi, saya akan menderita perdarahan dari mana saja: bisa dari hidung, dari telinga, dari mulut, atau dari mata. Limpa sendiri bisa juga pecah karena sudah tidak kuat lagi akibat terus membesar. Yang ketiga, ya liver saya sendiri, yang ternyata sudah amat rusak. Setelah liver saya dibuang setahun kemudian, tampaklah nyata bahwa liver saya sudah seperti daging yang dipanggang terlalu masak. Padahal, seharusnya mulus seperti pipi bayi. Ini yang bisa membuat saya meninggal dunia dalam hitungan dua-tiga tahun. Bahkan, sebenarnya liver itu yang membuat limpa saya membesar dan membuat seluruh saluran darah di sepanjang pencernakan saya penuh dengan balon-balon darah yang siap pecah. Maka, satu per satu harus saya selesaikan. Saya mulai dari mengatasi agar tidak terjadi muntah darah. Lalu, setengah tahun kemudian memotong limpa saya. Dan, terakhir 6 Agustus lalu, beberapa hari sebelum ulang tahun ke-56 saya, saya lakukan transplantasi liver: membuang liver lama, diganti dengan liver baru. Semua proses itu memakan waktu hampir dua tahun. Ini karena saya tetap harus menjalankan aktivitas, baik sebagai pimpinan Grup Jawa Pos maupun sebagai CEO perusahaan daerah Jatim yang lagi giat-giatnya membangun tiga proyek besar: pabrik conveyor belt, gedung ekspo, dan shorebase. Semua tahap itu saya jalani dengan keputusan yang mantap, tanpa keraguan sedikit pun mengenai kegagalan hasilnya. Banyak teman yang bertanya mengapa saya bisa tegas membuat keputusan yang
2
by Moezhanks

begitu membahayakan hidup saya. Saya jawab bahwa percaya sepenuhnya dengan takdir -sesuai dengan tafsir yang saya yakini, yakni mirip dengan uraian buku Saudara Agus Mustofa Takdir Itu Bisa Berubah. Faktor lain adalah bahwa rupanya, kebiasaan saya membuat keputusan berani, keputusan besar dan keputusan yang cepat di perusahaan ikut memengaruhi keberanian membuat keputusan dengan kualitas yang sama untuk diri sendiri. Lalu, keyakinan bahwa saya mampu me-manage hal-hal yang rumit selama ini, tentu juga akan mampu me-manage kerumitan persoalan yang ternyata ada di dalam tubuh saya. Apakah tidak ada kekhawatiran sama sekali akan gagal dan kemudian meninggal? Tentu ada. Tapi, amat kecil. Saya tahu kapan harus ngotot dan kapan harus sumeleh. Keluarga saya yang miskin dan menganut tasawuf Syathariyah sudah mengajarkan sejak awal tentang sangkan paraning dumadi (dari mana dan akan ke mana hidup dan semua kejadian). Ini membuat saya akan ngotot melakukan apa pun untuk berhasil, tapi juga tahu batas kapan harus berakhir. Tentu ada penyebab lain: Banyak keluarga saya mati muda, sehingga saya pun seperti sudah siap sejak kecil bahwa saya juga akan mati muda. Ibu saya meninggal dalam usia 36 tahun (muntah darah). Kakak saya, yang digelari agennya Nurcholish Madjid di Jatim untuk urusan pembaharuan pemikiran Islam, meninggal dalam usia 32 tahun (muntah darah). Dia sering memarahi saya, mengapa masih kecil sudah belajar filsafat/tasawuf dan mengapa sering pergi ke pondok salaf. Tapi, tahun depannya saya masih tetap ke pondok salaf Kaliwungu, 25 km sebelah barat Semarang. Paman saya dan pakde saya juga meninggal muda. Penyebabnya juga sama: muntah darah. Muntah darah sebenarnya bukan penyebab, tapi begitulah orang di desa mengatakannya, karena tidak tahu bahwa semua itu berawal dari persoalan liver. Tapi, ada juga sedikit harapan bahwa saya bisa berumur panjang: Bapak saya meninggal dalam usia 93 tahun. Kakak tertua saya yang amat baik, Khosiyatun, yang juga ketua umum Aisyiah Kaltim, kini berumur hampir 70 tahun dan masih aktif mengajar di SD swasta di Samarinda. Entahlah, saya ikut yang mana. (bersambung)

Ganti Hati 02 - Tiga Jam Jelang Operasi Masih Ditawari ’Take Over’ Koran
27 Agustus 2007 Mudah-mudahan rencana operasi kali ini tidak gagal lagi. Yu Shi Gan Xian Sheng (nama saya di Tiongkok), besok mendapat giliran operasi. Itu kata seorang dokter di rumah sakit ini pada Minggu 5 Agustus 2007 kepada saya. Dia memakai istilah “mudah-mudahan tidak gagal lagi” karena memang sudah beberapa kali saya diberi tahu dapat giliran operasi, tapi selalu tertunda karena liver yang datang tidak cocok untuk mengganti liver saya. Kali ini kelihatannya cocok. Golongan darahnya sama. Juga sudah dinilai akan memenuhi syarat untuk ditransplantasikan ke saya. Harapan bahwa kali ini tidak gagal lagi kian besar setelah sore harinya, petugas cukur datang ke kamar saya. Dia harus mencukur rambut yang ada di badan saya, sebagai salah satu syarat dilakukannya operasi besar. Tugasnya sore itu ringan sekali karena hanya perlu mencukur rambut di sekitar kemaluan. Saya tidak punya rambut di dada atau di paha.

3

by Moezhanks

bayangan-bayangan saya itu lenyap karena tiba-tiba tukang cukur menyatakan tugasnya sudah selesai. kata saya dalam hati. Saya ingin agar setelah operasi kelak. Tapi. adik saya yang di Madiun. dan beberapa pemegang saham. dan saya mengangkatnya sebagai kakak ketiga. saya tidak punya kekhawatiran apa-apa. “Saya akan operasi jam 14. Pendek sekali. Maka saat itu dianggap perut saya sudah bersih. Itu sebagai tanggung jawabnya karena dia harus pergi meninggalkan kami tanpa ibu di Magetan untuk pergi ke Kaltim. Dia merasa kasihan saya hidup dengan Bapak yang tidak punya penghasilan tetap.Saya lalu membayangkan bagaimana dengan pasien yang punya bulu dada lebat dan cepat tumbuh kembali. Itu kakak saya yang amat baik hatinya. nyaris gundul.00 perut saya masih harus dibesihkan dari kotoran dengan cara dimasuki cairan bening sekitar seperempat liter melalui pantat. Namun. Setengah jam kemudian dilakukan lagi hal yang sama. Tidak punya perasaan galau sedikit pun. Perawat belum bisa menjawab. Malam itu saya tidur nyenyak sebagaimana biasa. Bangun pagi 6 Agustus 2007. Terutama Mr Guo yang sejak 10 tahun lalu mengangkat saya sebagai adik kelima. ikut paman saya. Setidaknya jam berapa harus berangkat ke ruang operasi.00 nanti.” kata seorang perawat. kakak saya yang di Samarinda. “Mbakyu. Pukul 09. Tentu ini kurang masuk akal. Di toilet saya lihat tak ada lagi benda apa pun yang keluar kecuali air bening yang dimasukkan tadi. saya lantas mandi lebih bersih daripada biasanya. Sebentar dan sederhana sekali tugasnya untuk saya malam itu. Kurang dari lima menit kemudian saya lari ke toilet karena semua isi perut seperti mau keluar. 4 by Moezhanks . kalau mau cuci rambut lebih gampang. saya potong rambut. masih ada satu adik lagi yang masih kecil.” kata saya.00. Sore sebelum tidur. saya bicara langsung melalui telepon. Dia pernah menyerahkan seluruh gajinya sebagai guru SD untuk biaya sekolah dan hidup saya selama lebih dari lima tahun. sementara luka akibat sayatan yang panjang di situ belum menyatu kembali. Kakak pertama adalah seorang pensiunan jenderal polisi yang juga tinggal di kota ini. sekitar pukul 09. Perut harus kosong sejak malamnya. karena dalam proses operasi ada prosedur sterilisasi di badan saya. Saya tidak ingin ada kuman yang menempel di badan saya yang akan menjadi penyebab infeksi setelah operasi. Memang jadwal transplantasi besar seperti ini tidak gampang dibuat. Saya harus hati-hati menjelaskannya. Saya juga membayangkan bagaimana kalau bulu dada itu cepat tumbuh. Meski itulah malam menghadapi operasi besar. Alhamdulillah. Karena itu. Pagi itu saya sudah tidak boleh makan apa pun. nanti sore saya harus operasi. seperti yang banyak dimiliki pasien dari negara-negara Arab. Saya tidak berani menjelaskan apa adanya. seluruh badan saya akan diolesi cairan antiinfeksi yang biasanya berwarna merah kecokelatan itu. Di Kaltim dia harus mengajar di dua sekolah agar masih punya penghasilan untuk hidupnya sendiri. “Bapak harus masuk ruang operasi pukul 14. “Operasi apa?” tanyanya. Apalagi. khawatir mengganggu pikirannya. Yakni. saya bertanya kepada perawat kira-kira operasinya jam berapa.30 saya diberi tahu tentang kepastian operasi. meski saya akan menjalani penggantian organ terbesar dalam tubuh seorang manusia. Kepada kakak saya yang di Samarinda. Kalau tidak.” tulis saya di sms. bagaimana dengan rambut yang telanjur dicukur? Apa saya akan minta ditempelkan lagi? Prioritas saya kemudian adalah menghubungi kantor. Misalnya. Beberapa sahabat penting saya di Tiongkok datang.

seorang direksi saya di Jakarta menanyakan lewat sms apakah dokumen tender listrik yang disiapkan sudah saya tanda tangani. Sesaat sebelum saya berganti baju dengan baju operasi. Dia sendiri dalam keadaan sakit jantung. di rumah sakit ini hampir tiap hari juga dilakukan operasi penggantian jantung. Semua mengirimkan doa untuk keberhasilan operasi saya. “Juga operasi penggantian ginjal dan organ yang lain.” tulis saya. Sekitar pukul 10. Ini saya ketahui dari sms yang segera mengalir ke telepon saya. Dia tidak saya beri tahu betapa berisikonya penggantian liver ini. Saya balas sms itu. Setengah jam kemudian. Lalu petugas pembawa baju operasi saya datang membuka bungkusan sterilnya. saya doakan semoga berhasil. Bahkan. agar dia menunggu keputusan saya beberapa minggu lagi.“Saya akan operasi. sangat dramatik. seniman Surabaya itu. Mulai Aceh sampai Jayapura. dan dia saya minta kirim email. Orangnya pintar dan karirnya bagus. Saat mahasiswa.” Bambang memang orang yang sangat humanis. Juga beredar di antara teman-teman.” katanya datar. Dalam waktu sekejap sms pemberitahuan operasi itu rupanya menyebar. Liver paling sulit. Dia menangis dalam SMS-nya. “Allah. Dia bilang.” jawab saya.30 saya terima sms dari Jakarta. agar tidak sampai terjadi seperti yang mengakibatkan ibu dan Mbak Sofwati meninggal muda. teman lama yang lain.” tambah saya. sampai ke anak perusahaan. (bersambung) 5 by Moezhanks . “Ya. Tanpa tahu bahwa saya segera memasuki meja operasi yang bisa memakan waktu 12 jam dan entah apa hasilnya. Saya lantas memberi tahu siapa yang bisa menggantikan tanda tangan saya. Kalau perlu.” tulisnya. dia jadi ketua Korps Himpunan Mahasiswa Islam Wanita Jatim. Mbak Sofwati adalah kakak saya yang meninggal umur 32 tahun setelah muntah darah. tabloid itu akan sukses kalau di tangan saya. Isinya: apakah saya berminat mengambil alih koran berbahasa Inggris yang terbit di Jakarta? Saya jawab: saya perlu informasi lebih lengkap. Seorang teman lama menawarkan agar saya membeli tabloidnya yang mengalami kesulitan. juga kirim sms. SMS dari Bambang Sujiyono. dia kami jagokan sebagai tokoh keluarga. tukar dengan kematian saya. “Mas Bambang. Saya balas tangisannya itu dengan tegar dan setengah guyon. saya masih sempat membalas sms itu: tidak perlu saya yang tanda tangan. “Selamatkan nyawa rekan saya ini. Padahal. Dia justru bertanya berat mana transplantasi ginjal dibanding liver. “Transplantasi ginjal itu sekarang sudah dianggap biasa. Dia kaget saya kok tiba-tiba memberitahunya akan operasi besar.” kata saya. Lalu dia tidak emosional lagi.

“Kalimat syahadat kok dipadatkan. Kepala saya juga dipasangi topi kertas dengan warna yang sama. Dari Madiun menceritakan bahwa keluarga tasawuf sathariyah lagi berkumpul untuk ber-zikir-pidak. Kalau di-decompression.00 Senin (6/8) siang itu saya sudah diminta melepas baju saya. doanya 6 by Moezhanks . Setelah tidak ada pertanyaan. mengirimkan doa paling panjang. Ada lagi beberapa pertanyaan dan harapan yang disampaikan dengan penuh suasana prihatin. sehingga perlu di-compress menjadi satu dengungan “hu” saja. Mereka akan melakukan sembahyang dan doa bersama. SMS juga masuk dari teman-teman Kristen dan Katolik. saya bertanya kepada yang hadir: apakah ada pertanyaan? “Saya siap menjawab pertanyaan apa pun. berdasarkan pengalaman mereka. Ini seperti juga Bung Karno yang dikecam telah menyelewengkan kemurnian Pancasila yang dia temukan sendiri. Genap satu minggu. Salah seorang di antaranya bertanya apakah saya dalam kondisi siap. Siapa menyangka bahwa zikir pun sejak dulu sudah di-compress seperti itu. yakni mendengungkan kata “hu” bersama-sama sebanyak 99. telepon saya tutup. Mungkin.000 kali. kira-kira saya perlu waktu satu minggu untuk bisa bicara lagi dengan teman-teman itu: satu hari operasi (pasti saya tidak bisa bicara). SMS masih terus mengalir masuk. “Sampai jumpa minggu depan. tiga hari di ICU (juga pasti belum bisa bicara). Teman-teman Jawa Pos. kira-kira operasinya berlangsung berapa jam? Saya jawab sekitar 12 jam.” Maksud saya. pertanda waktu operasi sudah akan tiba. Tapi. ketika Bung Karno meng-compress Pancasila yang panjang itu menjadi satu kata yang simpel dan pas: gotong royong. Memang begitulah yang dikatakan dokter kepada saya. yang akan menjadi imam pada acara itu. Tokoh Buddha Surabaya juga mengirim SMS dan memberitahukan bahwa hari itu berkumpul lebih 1.” kata saya. semua yang hadir di rumah saya bisa ikut mendengar kata-kata saya. Untuk membuat agar suasana mereka tidak sedih.Banyak Yang Doakan Panjang-Panjang. saya siap sekali. waktu yang diperlukan tidak perlu teralu lama. Setelah telepon siap.Ganti Hati 03 . Tapi. dan dua hari memulihkan badan.” kata mereka. Ada yang bertanya. Saya segera menelepon Misbahul Huda. saya pikir. saya tutup pembicaraan saya dengan kata-kata. Dengungan “hu” adalah hasil compression (untuk meminjam istilah software komputer) dari kalimat syahadat. Mereka akan berdoa terus selama saya dioperasi. dia minta dikabari kalau operasi sudah selesai. entah siapa yang punya inisiatif. yang dulu punya inisiatif mengambil alih Jawa Pos dari keluarga The Chung Shen.000 penganut Buddha di shi mian fo (Buddha empat wajah) di Kenjeran. istri mendiang Pak Eric Samola. Karena itu. Agar. lagi berkumpul di rumah saya di belakang Graha Pena Surabaya. dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusam Allah. sistem compression zikir seperti inilah yang banyak dikecam aliran tasawuf lain dan terutama oleh kalangan syariah formal. Ibu Eric Samola. Mereka mengirimkan doa-doa yang saya ketahui diambilkan dari Alkitab. Yakni. Saya jawab. Artinya. Kalau tidak. SMS terus mengalir masuk. Diganti baju kertas biru muda. saya sudah akan bisa bicara lagi. kalau yang mengucapkan lebih banyak orang. kalau harus mengucapkan kalimat yang begitu panjang sebanyak 99. Saya pun sudah siap mental segera menuju ruang operasi di lantai 13. Saya minta suara teleponnya dibesarkan. Tentu dengan sistem borongan. Saya Berdoa Pendek 28 Agustus 2007 PUKUL 12.000 kali dirasa akan memakan waktu yang lama sekali. kata “hu” itu akan menjadi kalimat panjang: aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah. Dirut Percetakan Temprina.

Rupanya saya harus segera tiba di ruang operasi. Sambil menahan tangis. Tapi. Tapi. Juga mata Robert Lai. jangan ada yang menangis. “jia you” dalam bahasa Mandarin berarti “semangatlah!” . Saya amati lorong-lorong apa saja yang dilewati kereta ini. rupanya. semangatnya itulah yang ikut mendorong saya punya semangat yang sama. saudara angkat saya. Mata istri saya kelihatan sembap. *** Kereta didorong amat cepat. Saudara Guo. Lalu. 7 by Moezhanks . Mereka melakukan doa berdasar kepercayaan mereka untuk keberhasilan operasi saya. dan Robert Lai mengantar ke lantai 13. “Jia” artinya tambah. Kereta pun didorong keluar dari ruang saya di lantai 11 untuk dibawa ke lift naik ke lantai 13. mengirimkan doa panjang yang biasa diucapkan Sai Baba di India sana. agar saat mengantar saya ke lantai 13 nanti. Ada lima lift di situ. Lalu pintu ditutup. tanda ikut memberi semangat. semangatnya untuk sembuh luar biasa. Saat saya sudah berbaring di kereta. Pak Alim Markus. Saya berpesan kepada istri agar jangan lupa memberi tahu mereka nanti. akuntan terkemuka Surabaya. panah naik menyala. Tinggal saya dan beberapa petugas yang terus mendorong kereta itu ke ruang operasi. bahwa siang itu 200-an tokohnya berkumpul di Pujon. Alim Markus juga pernah tiba-tiba sakit yang amat membahayakan hidupnya. tombol 13 dipencet. di depan lift yang akan membawa saya ke lantai 13. tapi hanya bisa sampai di pintu tertentu. karena sedikit agak terlambat dari jadwal. Mr Guo dan sahabat karib saya Robert Lai dari Singapura. anak. Saudara angkat saya. anak. Malang. Tempat ibadah itu memang saya yang meresmikan beberapa tahun lalu. Pukul 14.00 kurang 15 menit. tiga lift ukuran besar untuk mengangkut kereta pasien. Lift terbuka. Oh. Saya sering mengatakan padanya. dia terlihat mengepalkan tangan ke arah saya. dia lagi makan siang dengan para pengusaha teman saya di Hotel Shangri-La Surabaya. Demikian juga penganut aliran Sai Baba. Tak sampai 5 menit saya sudah tiba di lobi lantai 11. Saya sudah di atas kereta yang siap berangkat ke ruang operasi. Sebenarnya saya bisa berjalan sendiri ke ruang operasi. Saya tidak bisa lagi melihat istri. Ketika melewati kamar pasien dari Jepang. dia akhirnya berteriak: “jia you!” tiga kali. Tapi. Robert Lai adalah orang yang rajin berpesan kepada siapa pun. Setelah itu semua harus melepaskan tangan dari tubuh saya. Saya harus segera berbaring di kereta itu. Rupanya berdoa dengan serius. Anak laki-laki saya sibuk memotret. Itulah petugas ruang operasi. Istri saya terus komat-kamit. kereta brankar sudah datang dengan beberapa orang yang berbaju biru muda. harus menyeberang ke gedung sebelah. yang rupanya ikut makan siang. Istri. saya lihat dia sendiri ternyata terisak-isak ketika melepas saya untuk dibawa petugas ke tempat yang dia tidak bisa lagi menyertai saya.tentu tidak akan dihentikan. memaksa bicara untuk memberi dorongan semangat agar saya kuat memasuki ruang operasi. memegangi tangan saya. dan Robert Lai. Pak Mustofa. Badan saya sangat sehat. Dua lift ukuran normal. Ternyata. Tapi. peraturan tidak membolehkannya. Juga jangan ada yang mengeluarkan air mata. saya beri tahu bahwa saya sudah tidak punya waktu bicara. Zoom! Tibalah saya di lantai 13. “You” artinya bensin. Gedung rumah sakit ini memang terdiri atas dua tower. Teman-teman dari penganut aliran kebatinan Sapta Dharma juga mengirim SMS. telepon minta bicara.

dalam waktu bersamaan. Perdebatan di hati saya belum selesai. yang terdengar adalah musik soft-rock berbahasa Mandarin yang lagi digemari anak muda sekarang. Di lantai 12 sampai 14. dan modern. nanti akan lupa kalau sudah dalam keadaan gembira! Saya tidak ingin Tuhan memberikan penilaian seperti itu. Saya akan dioperasi di gedung kanan. kereta sudah hampir sampai di ruang operasi. Padahal. kapan saya menggunakan pemberian Tuhan yang paling berharga itu: otak? Maka saya putuskan akan berdoa se-simple mungkin.Sudah Tiga Jam Dimatikan. Rumah sakit ini. terserah engkau sajalah! Terjadilah yang harus terjadi. Kalau saya harus mati. Suara musik itu cukup keras sehingga suasananya ingar-bingar. Apalagi. bisa melakukan 30 operasi penggantian organ. kalau harus saya ucapkan sampai menangis dan mengiba-iba. Begitu masuk. Mulai ganti ginjal. Saya tidak mau ada kesan bahwa saya sombong kepada Tuhan. Belakangan saya tahu judul lagu tersebut adalah Mei Fei Se Wu yang artinya “bulu mata menarinari”. ada lorong untuk menyeberang dari gedung kiri ke gedung kanan. Akhirnya saya putuskan berdoa menurut keyakinan saya. segera saja saya terlibat perdebatan dengan diri saya sendiri: harus mengajukan permintaan apa kepada Tuhan? Bukankah manusia cenderung minta apa saja kepada Tuhan sehingga terkesan dia sendiri malas berusaha? Saya tidak mau Tuhan mengejek saya sebagai orang yang bisanya hanya berdoa. Saya tidak mau serakah. hidupkanlah! Selesai. masih ada pertanyaan yang tiba-tiba muncul. Tapi. Satu doa yang pendek dan mencerminkan kepribadian saya sendiri: Tuhan. secara khusus maupun secara tangis-menangis. matikanlah. (iskan@jawapos. sambil menunggu kedatangan saya.masing-masing berlantai 15. Apakah saya harus berdoa dengan biasa saja atau harus sampai menangis? Kalau doa itu saya sampaikan biasa-biasa saja. Tuhan punya sistem file-Nya sendiri. Saya tidak mau Tuhan mengatakan kepada saya: untuk apa kamu saya beri otak kalau sedikit-sedikit masih juga minta kepada-Ku? Karena itu.co. mata. Kalau saya harus hidup. Kalau saya minta-minta terus kepada Tuhan. Perasaan saya tiba-tiba lega sekali. saya juga tahu bahwa sistem file di kerajaan Tuhan tidak membedakan doa yang dikirim secara biasa. Belum Juga Di-”Garap” 29 Agustus 2007 Ketika memasuki ruang operasi. Rupanya. saya tertegun. Plong. entah seperti apa.id) (bersambung) Ganti Hati 04 . saya memutuskan tidak akan banyak-banyak mengajukan doa. beberapa petugas 8 by Moezhanks . Seluruh lantai 13 adalah ruang operasi. yang dibawakan oleh penyanyi top Hongkong Zheng Xiu Wen. Dalam perjalanan sepanjang lorong-lorong itu saya menyadari bahwa saya tadi belum sempat berdoa. Tapi. Saya harus berdoa. Tapi. kinclong (karena didominasi stainless steel). Ruangnya sangat bersih. Waktu terus berjalan. apakah Tuhan melihat saya sedang serius memintanya? Tapi. Kereta pun tiba di depan ruang operasi. apakah Tuhan tidak akan menilai begini: lihat tuh Dahlan. jantung sampai ganti liver seperti saya. Kalau sudah dalam posisi sulit saja dia merengek-rengek setengah mati.

Di dapur kering ini ada microwave. Lalu. bukan seperti di sebuah tempat yang menyeramkan. lengan saya diperiksa seperti akan memasang selang. 9 by Moezhanks . Saya memang dapat menggunakan internet kecepatan tinggi di ruang saya ini. Suasananya pun menjadi seperti di sebuah disko. Maka. laptop. Hanya dalam beberapa saat. saya tidak lagi mendengar suara musik itu. saya bisa menuliskan deskripsinya secara baik. lalu memberikan beberapa perintah mengenai posisi badan saya. kalau operasi berhasil. di sebuah kursi yang kalau siang bisa untuk menambah kapasitas sofa. Ada ruang tidur pasien dengan kamar mandi khusus dan ruang pakaian. Buku itu berbahasa Mandarin. ada satu meja makan dari kaca besar untuk makan bersama. tapi bisa berbahasa Mandarin. Istri saya tidur di ruang ini. terutama gedung baru ini. Penerjemahan ini sangat bermanfaat karena banyak sekali pasien dari negara-negara Arab dan Pakistan yang kemudian minta kopinya kepada kami. Dari alat ke alat. Di belakang sofa. *** Sejak saya masuk ruang operasi pukul 14. water boiler. Beberapa perawat membicarakan saya. Sudah diketahui bahwa virus pascaoperasi adalah pembunuh paling utama bagi pasien yang baru melakukan transplantasi organ. Mereka merasa lega. Beberapa perawat mengikuti suara musik itu dengan suara mulutnya tanpa kata-kata. Perawat akan selalu mengabarkan apa pun yang terjadi di ruang operasi.00. Harus bergeser sini dikit dan harus naik sedikit. dan keran panas dingin. Sementara menunggu kabar. Tidak boleh ada virus atau sumber virus yang akan membahayakan pascaoperasi saya. Maka saya sela pembicaraan mereka: Ya. Tapi. Lalu.muda menyenangi lagu itu. Dokter belum pada datang. Saya ingin tahu apa saja yang ada di ruang itu agar. lalu kami terjemahkan ke dalam bahasa Inggris agar seluruh keluarga saya memahami isinya. memang sudah sangat bersih. istri. Rumah sakit juga sudah memberi kami buku panduan mengenai bagaimana menjaga agar tidak terkena virus. Saya baru akan dihidupkan lagi. Musik soft-rock masih terus ingar-bingar. kami tidak makan di situ. Perawat yang lain mulai memasukkan cairan tertentu ke lengan saya. Meja ini saya pakai untuk “kantor dalam pengasingan”. dia minta lengan kanan saya dimasuki jarum untuk memasukkan beberapa zat kimia ke badan saya. ada satu ruang tamu yang besar di sebelahnya. Tapi. tapi kalau malam bisa dipanjangkan menjadi tempat tidur biasa. kita harus pakai bahasa apa?” ujar salah seorang di antara mereka. Kamar saya di lantai 11 terdiri atas dua ruang. Di ruang tamu ini ada kamar mandi dan toiletnya. Di ruang tamu ini ada satu set TV besar. perawat memutuskan tidak mau pakai itu. Kami pasang komputer. lemari es besar. 18 jam kemudian. Rupanya dia sangat menikmati lagu itu. dan internet. Yakni. dan satu set dapur kering. nanti. Mata saya terus beredar dari dinding ke dinding. “Dia orang Indonesia.” jawab yang lain. “Ini orang asing. satu set sofa. Juga tidak mendengar apa-apa lagi. saya bisa bahasa Mandarin sedikit-sedikit. Robert yang sudah 11 bulan menemani saya ke mana pun pergi memutuskan untuk membersihkan kamar saya. Rumah sakit ini. Melihat tangan saya sudah dipasangi selang selama 3 bulan lebih. Tepatnya kamar 1102. anak. printer. dan sahabat saya Robert Lai kembali ke kamar saya di lantai 11. karena memang pada tahap ini semua pekerjaan masih urusan perawat. Di kamar ini mereka menantikan perkembangan operasi saya. rice cooker. Robert ingin kamar saya lebih bersih lagi. dispenser air mineral. Saya sudah dimatikan untuk persiapan operasi.

Ternyata belum diapa-apakan. krisis listrik di daerah itu sudah tidak ketulungan. koran-koran. “Tiwas kita sudah tegang selama tiga jam. di belakang meja besar saya pasangi white board. (Bersambung) Ganti Hati 05 – Tunggu Operasi. Di dinding satunya saya pasang peta Indoensia. ya?) bahasa malaikat sendiri. Lalu. guru saya tinggal melihat sorotan proyektor. Bukubuku. Robert lantas menerjemahkan informasi dalam bahasa Mandarin itu kepada istri dan anak saya. Sambil menunggu giliran operasi yang tidak menentu waktunya. memberikan koreksi mana yang saya salah dalam menggunakan kata-kata. kalau operasi gagal. Tempat tidur saya lebih-lebih lagi. Ini saya pakai untuk latihan menulis cerita dalam bahasa dan tulisan Mandarin. Saya juga beli proyektor yang saya hubungkan dengan laptop yang software-nya Mandarin. Dua jam setelah operasi bersih-bersih itu. Robert Lai terperangah. saya memang memutuskan untuk meneruskan belajar bahasa Mandarin. sore dua jam. Bersih dan kinclong. Malaikat toh akan bertanya kepada saya di akhirat sana dengan (eh.Dari kamar inilah saya bisa membaca semua laporan perusahaan. saya harus panggil partner yang membangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Kalimantan untuk mencari jalan agar proyek selesai sesuai dengan jadwal. Tiga orang guru secara bergantian mengajari saya bahasa Mandarin. dari kursi di sebelah saya. seperti besok tidak akan terjadi apa-apa. “Berarti. untuk apa ya saya susah-susah belajar begini. Semua kursi dan meja dicuci. Berarti sudah hampir tiga jam saya di ruang operasi dan sudah dalam keadaan dimatikan. dan tak jarang juga mengadakan rapat. disterilkan. Terutama rapat dengan partner-partner usaha yang dari Tiongkok. ketika saya berada di ruang operasi. Misalnya. semua peralatan yang ada di kamar ini dibersihkan. Lalu. Dinding sebelah kanan saya tempeli peta Tiongkok yang besar sehingga mudah bagi saya untuk melihat negara ini secara keseluruhan. “Livernya baru akan datang sekitar pukul 17. “Hah?” gumam Robert seperti tidak percaya.00. juga untuk saya pakai belajar bahasa Mandarin. Saya mendatangkan guru dari IKIP di kota ini. mengirim dan menjawab e-mail.” ujar perawat itu. Toh. Lantainya menjadi mengilap. tapi belum juga di”garap”. Bukan saja untuk rapat. lantas saya pasangi asesori.00 itu saya belum dioperasi. baru 10 menit lagi livernya tiba?” tanya istri saya sambil melihat ke jam dinding. Suasana seperti Siaran Langsung Sepak Bola 30 Agustus 2007 Setelah diberi tahu bahwa liver yang akan dipasangkan di dalam tubuh saya ternyata baru akan tiba sekitar pukul 17. Tapi. dan kertas-kertas yang selama ini di mana-mana diangkut ke apartemen. Sampai sehari sebelum operasi saya masih “masuk kelas”.” katanya. perawat masuk memberikan kabar bahwa sampai menjelang pukul 17. Sebab. pakai bahasa apa. Lalu. Sehari empat jam: pagi dua jam. besok saya sudah tidak akan bisa lagi memanfaatkan hasil belajar saya ini. 10 by Moezhanks . Ada juga sedikit tebersit perasaan.00. atau salah memilih huruf. Di dinding-dinding kamar tamu yang kosong.

Di situlah helikopter yang membawa pasien darurat atau helikopter yang membawa liver yang urgen mendarat. Robert. melihat keluar masuknya ambulans di pintu gerbang depan sana. Itu pertanda malam tersebut banyak pesta perkawinan. Kami seperti sedang mendengarkan siaran langsung sepak bola lewat radio. mengudaranya kembang api berjam-jam di berbagai tempat. dari dalam kamar saya. Di seberang kamar itu terlihat gedung pertama rumah sakit yang tingginya 17 lantai. Lamanya tidak ada “kabar baru” itu rupanya semakin membuat teman-teman di Indonesia kian tegang. Kabar pertama dari ruang operasi masuk pukul 22. katanya. Dari kamar itu juga terlihat simpang susun jalan layang yang melingkar-lingkar di depan rumah sakit. Semua seperti tidak sabar menanyakan perkembangan operasi saya.00. Dia lebih memfokuskan perhatian ke bawah. agar warna-warni kembang apinya lebih jelas. bahwa kalau ada suara “nguing…nguing…” masuk ke rumah sakit.00. terlihat juga pemandangan sungai yang bersih yang dipakai untuk arena mainan anak-anak serta keluarga.” kata seorang dokter. terdapat tambahan tiga lantai bulat. Di atas gedung itu.” kata Robert kepada istri dan anak saya dalam bahasa Melayu yang agak sulit dimengerti. Dia punya khayalan. siapa tahu livernya dibawa dengan helikopter. kami biasanya mematikan lampu kamar. seperti ini: Kami tiap 10 menit SMS ke Mas Azrul (Posko di Tiongkok) atau ke Mbak Nany Wijaya (Posko di Surabaya). Yakni. Dari ruang tamu di kamar saya itu. 11 by Moezhanks . Maka. Mereka hanya diberi jawaban “Belum ada kabar baru dari kamar operasi”. Istri saya ingin melihat masuknya ambulans yang mungkin membawa liver yang akan dipasangkan ke dalam tubuh saya. seperti baru terjadi beberapa minggu lalu. jam-jam itu sibuk membalas SMS yang masuk. dan saudara angkat Guo naik lift ke lantai 13. Apalagi. siapa pun memang bisa melihat apa yang terjadi di luar sana. Istri saya juga memperhatikan puncak gedung tersebut. “Go!” tambahnya. Tak lama kemudian. “Ini liver bapak yang sudah kami keluarkan. pintu lorong tempat saya dimasukkan menuju ruang operasi sore tadi terbuka. Ketegangan selama menunggu berlangsungnya operasi digambarkan oleh Yoto. Kalau sudah ada pesta kembang api seperti itu. Mereka menunggu di depan lift untuk menerima instruksi berikutnya. kalau Sabtu dan Minggu malam. “Kita diminta naik ke lantai 13. dan kengeriannya. Lantai paling atas rata. kegagalan transplantasi liver di Tiongkok yang dialami tokoh seperti Nurcholish Madjid mendapat pemberitaan yang sangat besar. Kepada kita akan ditunjukkan sesuatu. Dia mengira salah satu ambulans yang masuk pada jam-jam itu pastilah yang membawa liver yang akan menggantikan liver saya yang sudah rusak. anak. istri. Istri saya kali ini tidak memperhatikan semua itu. tapi dalam keadaan musuh selalu mengancam ke gawang kita! Semua itu saya nilai wajar karena operasi penggantian liver tidaklah gampang.Dia lantas memperhatikan pintu masuk rumah sakit dari lantai 11. Sejumlah dokter membawa barang berdarah dan meletakkannya di lantai. Dinding kamar tersebut terbuat dari kaca. Bangunannya dari luar mirip hotel. sering bisa melihat pemandangan indah. Dirut grup anak perusahaan Jawa Pos di Papua. Anak lelaki saya. pastilah itu suara ambulans yang membawa liver. Lalu. di bagian tengahnya. Dari kamar tersebut. Tentu mereka tidak diberi tahu bahwa operasinya belum jadi dilaksanakan pada pukul 14. Kegagalan tersebut.

Liver lama tersebut memang tidak boleh dibawa. Bahkan. Pukul 24. Dokter lantas mengiris lagi bagian lain.00 keesokan harinya. Kabar selesainya operasi juga dikirim ke umat Buddha yang terus bersemedi di Kenjeran. Lalu.” kata anak saya. masih harus menunggu hasil penelitian. Anda mengucapkan doa apa?” tanya saya beberapa hari kemudian. Operasi sudah selesai.” ujar dokter sambil kembali membungkusnya. Dan. Di situlah berbagai 12 by Moezhanks . Lalu. bagaimana persisnya keadaan liver lama saya itu. yang lebih penting. Bahkan sudah tersenyum-senyum. Robert kembali ke apartemen. Sebab. di mana lawan sudah tidak memborbardir gawang kita lagi. Mengapa? Liver itu masih akan dimasukkan ke laboratorium untuk dianalisis lagi lebih teliti.” jelas seorang dokter kepada Robert. “Pukul berapa akan siuman?” kata Robert.” tulis Yoto di SMS-nya dari Papua. menyelesaikan operasi terhadap saya. Tapi. “Waktu bersujud itu. Surabaya. Diteruskan juga ke warga Sapto Dharmo di Pujon. melainkan juga untuk melihat sudah ada berapa kanker yang muncul. dan Surabaya diberi tahu perkembangan itu. Madiun. 4 cm. menyayat-nyayatkan pisau di beberapa tempat untuk melihat dalamnya.00. apakah kankernya telanjur menyebar atau tidak. “Liver ini kami bawa kembali. Kita lantas seperti sedang menantikan terjadinya golgol ke gawang lawan. masih ada dua lagi calon kanker baru.” anak saya memotret lagi bagian itu. Lalu. Bukan hanya mengenai apa saja yang ada di dalamnya. Saudara ketiga Guo pulang ke rumahnya. “Jepret. Saya tergolek menunggu siuman di ruang ICU di lantai 12. Dan. tentu mungkin masih akan terlihat anak-anak dan cucu-cucunya. Pintu ditutup lagi. dia bersujud di dekat seonggok daging berdarah itu. “Seperti daging yang dipanggang kematangan. Keluarga di Samarinda. “Masya Allah.” ujar dokter. Anak saya memotretnya dari berbagai sudut. menurut hasil MRI sebelumnya. Malam itu.” ungkapnya. Semua disampaikan anak saya kepada teman-teman yang menanyakan perkembangan operasi saya. Sesaat kemudian. Itu berarti saya baru akan siuman sekitar pukul 07. dokter menjelaskan bagaimana keadaan liver saya yang sudah dikeluarkan itu. istri dan anak saya langsung bisa tidur. dan 2 cm). Liver itu sudah begitu rusaknya. “Kira-kira 6 jam lagi. Kami baru akan diberi tahu sekitar seminggu kemudian.” kata dokter sambil jarinya menuding ke arah benda yang dimaksud. Hanya boleh difoto. Mereka sudah bisa menghentikan peribadatannya. “Suasananya lantas seperti mendengar siaran radio pertandingan sepak bola. “Doa apa saja yang bisa saya ucapkan. Demikian pula dengan seluruh rekan yang memonitor perkembangan operasi dari Aceh sampai Papua.” ujarnya. berita berikutnya disampaikan. sepertinya pemain kita anti menyerang terus. di dalam liver saya sudah ada tiga kanker yang besar (ukuran 6 cm. Suatu berita yang menggembirakan. Keluaga saya sudah lebih tenang. “Pak Yu Shi Gan (baca: i-se-kan) akan segera dibawa ke ICU untuk menunggu siuman di sana. “Itu lihat. Digulanggulingkannya. Dari foto mereka ketika mendengarkan penjelasan itu. terlihat jelas bahwa wajah-wajah mereka sudah tidak tegang. Dibenggangkannya irisan itu dengan jarinya yang masih terbungkus sarung karet. para dokter meneruskan lagi pekerjaannya.Melihat “barang” tersebut. Ada kanker di dalamnya. istri saya langsung lemas dan terduduk.

Teriak “Saya Hidup”. Antara sadar dan tidak. Tapi. Mata pun lama-lama bisa membuka. seperti untuk sementara menggantikan nyawa saya. ini permintaan agar keran oksigen diperbesar. sebenarnya. Berharap karena ternyata masih bisa bernapas. Napas bisa ditarik dengan normal seperti biasa. Saya gerak-gerakkan terus jari-jari saya dengan gerakan seperti memutar keran. Suara-suara itu tambah lama tambah jelas. Tapi. Tentu saya amat bersyukur. mata tidak mau membuka. Kesadaran ini datang tujuh jam setelah operasi. Saya hidup. Saya yang sudah pengalaman beberapa kali dibius (meski dulu tidak sampai 18 jam seperti saat penggantian liver kali ini). napas terasa sesak. Saya hidup. tapi Tak Terucap 31 Agustus 2007 Begitu Sadar. 13 by Moezhanks . Saya lantas memberikan isyarat kepada perawat dengan tangan saya. Agak berat memang. “Saya hidup. mungkin perawat tidak melihat isyarat di tangan saya. saya coba menggerakkan jari-jari tangan saya seperti sedang memutar keran. tapi ingin sekali membuka mata sebentar agar bisa melihat sekeliling. Ingin sekali mata melihat siapa saja yang bersuara itu. Di ruang perawatan khusus setelah menjalani penggantian liver. rasa sesak itu berkurang. setengah putus asa. Perasaan saya saja bahwa saya sedang menggerak-gerakkan jari. saya tetap berusaha sekuat tenaga. kok sulit sekali ya? Maka.” komentar spontan yang muncul. syukur saya tidak sampai mengabaikan rasa hormat saya kepada mereka yang telah belajar keras di universitas dan menggunakan akalnya secara sungguh-sungguh hingga melahirkan ilmu pengetahuan yang sangat maju. Perasaan lantas seperti setengah berharap.jenis kabel dan selang menempel dan menancap di tubuh saya. Seperti orang yang lagi kekurangan oksigen. Lalu. tapi tetap saja tidak punya kemampuan membuka kelopak mata sendiri. putus asa karena jumlah oksigen kok seperti tidak segera cukup dan seperti mengancam kehidupan. barangkali juga tidak ada oksigen yang dialirkan ke hidung saya. Begitulah kalau sadar dan tidak sadar bercampur jadi satu. Saya bersyukur kepada Tuhan sekaligus hormat kepada ilmuwan. sadar bahwa saya ini sedang dalam proses dari tidak sadar ke sadar. Teriak “Saya Hidup”. Tapi. Apalagi seperti saya. Kelihatanlah samar-samar bahwa saya sedang di ICU. Seperti orang yang ngantuknya luar biasa. Maksud saya. tapi Tak Terucap Suasana orang yang lagi mau siuman selalu saja begini: Mula-mula terdengar dulu pembicaraan orang-orang yang berada di sekitar kita. Tapi. tapi tak terucapkan. yang baru saja dibius selama 18 jam. Mungkin juga yang terjadi sebenarnya tidak seperti itu. Saya yakin bahwa saya segera mengatasi persoalan sesak napas itu. menjadi lega. Sesaat kemudian. Bahkan. Operasi tidak gagal. tapi sebenarnya tidak ada jari yang bergerak sama sekali. (bersambung) Ganti Hati 06 – Begitu Sadar. Lama-lama. Rasanya kok seperti mau mati karena kekurangan udara.

peritonium (selaput dinding perut). tapi masih banyak yang membuat badan saya sangat tidak nyaman.” Selain itu. ternyata saya sulit sekali lulus. Cairan itu harus segera bisa keluar sebagai dahak. 14 by Moezhanks . Saya tahu.” kata perawat. karena pembuluh darah di esofagus (jalan makan yang menghubungkan mulut dengan lambung). Tapi. Saya berusaha terus membatukkan diri. Perawat menyatakan saya berhasil menjalani latihan dengan tingkat kelulusan summa cum laude. “Tidak. dan saluran infus seperti bertaut-tautan. Bahkan. Namun. Dalam dunia kedokteran. Sehingga perlu ada yang “mencarikan. Yang lain untuk mengirimkan makanan langsung ke usus saya. perawat mengatakan bahwa itu normal saja. Kabel-kabel. tapi tidak juga berhasil. Satu selang yang dimasukkan lewat leher depan -di antara tulang belikat. selang-selang. Yang satu untuk membuang sisa makanan dari lambung saya. Suara tat-tit-tat-tit dari mesin-mesin elektronik di sekitar saya mendominasi pendengaran saya. “Bagi perokok lebih sulit lagi mengeluarkan dahak itu. Ketiga. Kalau tidak. Ketika saya tanya mengapa begitu sulit saya mengeluarkan dahak itu. akan membahayakan paru-paru. Dua selang kecil itu punya tugas sendiri-sendiri. Cara demikian juga saya ketahui dari buku petunjuk. Sudah saya usahakan batuk semirip-miripnya batuk waktu summa cum laude. Akhirnya broll! Dahak yang amat banyak bisa keluar. Tiga lainnya masuk lewat pembuluh darah besar di leher kanan. Mula-mula rasa dada penuh dengan cairan lendir. saya juga takut akan bahaya dahak itu terhadap paru-paru. Sebagian mungkin karena saat itu saya sudah tidak lagi punya tenaga sebaik saat latihan.gunanya untuk mengalirkan napas bantuan dan membersihkan kelebihan lendir di paru-paru (broncho toilet). saya harus berbuat seperti membatukkan diri keras-keras. Sehingga perlu dibantu. masih ada empat selang lain yang menancap di leher saya. Setelah hampir dua hari tidak ada makanan apa pun yang masuk ke perut. latihan dan kenyataan ternyata sangat berbeda. Untuk mengeluarkan lendir itu. Waktu latihan. Sebatuk-batuknya. Karena di lubang hidung masih ada dua selang yang dimasukkan sampai ke perut saya. yakni lewat tenggorokan. karena liver baru saya belum bisa “cari makan” sendiri. Meski sudah berhasil mendapatkan dua jenis kelegaan (bisa bernapas normal dan bisa mengeluarkan dahak dalam jumlah besar).Setelah senang karena masih hidup. Saya diberi napas bantuan karena sampai beberapa jam pascaoperasi. sejak beberapa hari sebelum operasi. barulah saya sadar bahwa begitu banyak instrumen yang ada di sekitar tempat saya berbaring. Dan karena belum bisa bernapas sendiri. pertama. kedua selang itu dikenal dengan sebutan sonde. maka diambillah jalan pintas. Begitulah bunyi petunjuk yang saya baca sebelum operasi. “Uhuk! Uhuk!” Selesai. Satu selang masuk lewat lubang yang sengaja dibuat di bagian depan leher. seperti yang sudah diajarkan perawat. Rasa-rasa tidak enak mulai muncul satu per satu. Agar “bantuan” itu bisa cepat sampai ke paru-paru. tenaga pun rupanya ikut hilang. “Apa sih sulitnya batuk?” kata saya dalam hati. Dalam praktik. itu hanya untuk menyenangkan hati saya. Mengapa langsung ke usus? Sebab. dan usus saya masih rawan pecah sehingga perlu dilindungi. maka sisa lendir di paru-paru pun tidak bisa saya keluarkan sendiri dengan cara batuk atau berdahak. “Apakah saya terlalu meremehkan saat latihan?” tanya saya. perawat sudah melatih cara berbatuk yang bisa mengeluarkan dahak. saya kan belum bisa bernapas sendiri. saya meraskan tidak ada kesulitan. Napas terasa amat lega.” ujar perawat lebih lanjut. saya belum bisa makan sendiri. Kedua.

Alat itu secara otomatis akan mencengkeram lengan saya sangat kuat setiap setengah jam sekali. Infus jenis ini memang harus lewat pembuluh darah besar.” Apa kejatuhan singkong di jalan raya bisa membuat orang sampai meninggal? “Lha singkongnya satu truk. Ujung jari tangan dan kaki juga dijepit dengan alat yang dihubungkan dengan kabel ke layar yang lain lagi. truknya nabrak kita!” Humor khas orang Surabaya. Itu belum semuanya. sebenarnya. Dirut anak perusahan di Grup Kalimantan yang kini jadi direktur Jawa Pos. botol. itu bukan disiapkan untuk cairan infus atau injeksi. bila perawat ingin mengambil sampel darah atau menyuntikkan obat. Sebab. Ketidaknyamanan lain yang saya rasakan saat itu adalah adanya alat pengukur tekanan darah yang dipasang di lengan kiri. Yang lebih istimewa dari tri lumen adalah bisa untuk memonitor kadar air dalam tubuh (central venus pressure=CVP). Dinding pembuluh darah utama yang leher lebih kuat sehingga cukup kuat untuk dilewati infus jenis ini meski sampai tiga bulan secara terus-menerus. *** Pagi tanggal 7 Agustus 2007 itu.Sedangkan tiga selang lainnya masuk lewat pembuluh darah besar. Lengan kanan saya juga sedang dipasang jarum untuk mengalirkan berbagai jenis infus. yang dalam istilah kedokteran disebut dengan tri lumen atau central IV (baca : ai vi) line. Tapi. tak perlu lagi dengan menusuk-nusuk tangan saya. Saya berusaha tidak memikirkan itu. Ini agar saya bisa menggambarkannya dengan baik 15 by Moezhanks . secara otomatis. Angka-angka tekanan darah otomatis keluar di layar monitor. itu bisa mengalihkan perhatian saya dari rasa ruwet dibeliti selang dan kabel. Setidaknya untuk sementara. Saya justru teringat humornya rekan Zainal Muttaqien. Kabel itu juga terhubung dengan layar monitor. dan kabel yang saling berhubungan di tubuh saya. Ujung selang infus itu bercabang-cabang karena lima macam cairan dari botol yang berbeda harus mengalir ke tubuh saya lewat satu jarum tersebut. Gunanya untuk mengalirkan semacam infus yang mengandung protein dan kalori tinggi. konsentrasinya sangat tinggi sehingga bisa merusak dinding pembuluh yang dilewati. Yakni mengenai susah payahnya seseorang untuk menyelamatkan hidup (mungkin seperti saya ini). Dengan begitu. Fungsi lain tri lumen adalah untuk memasukkan obat-obat injeksi yang harus lewat pembuluh darah dan mengambil sampel darah. salah satu ujung tri lumen bisa dihubungkan dengan alat monitor yang bisa menunjukkan perubahan kadar air di tubuh saya setiap menit. Lalu. saya mencoba untuk tidak merasa terganggu. “Jangan sampai nanti meninggalnya justru hanya gara-gara kejatuhan singkong di jalan raya. tidak boleh lewat pembuluh darah di tangan seperti biasanya orang diinfus. tapi meninggal oleh penyebab yang amat sepele. Melihat keruwetan di sekitar tubuh saya. saya ingin menghitung berapa banyak selang. Karena masih ada sejumlah alat dan kabel yang ditempelkan di dada kiri dan kanan untuk mengecek denyut jantung. Sebab. Melainkan untuk transfusi (tambah darah) bila diperlukan. Humor ludrukan. Bahwa di tangan saya masih ada semacam pentil yang biasa dihubungkan dengan selang infus.

ke arah jam besar dipasang. Juga dari Panti Asuhan Yatim Piatu Zainudin. Tidak mungkin. Tapi. Satu-satunya cara untuk bisa mengetahui situasi waktu. Apalagi kalau harus mendongakkan kepala untuk melihat sumber terang di belakang kepala saya. (bersambung) Ganti Hati 07 – Tahan Tak Bergerak 24 Jam di ICU karena Terbiasa 12 Jam di Jawa Pos 1 September 2007 SATU jam setelah sadar. ya memang saya belum sepenuhnya punya kemampuan normal. Anak saya menceritakan apa yang sedang terjadi dan apa yang mereka lakukan malam sebelumnya.00-an. Ingin sekali saya berusaha mengalihkan pandangan ke kiri atau ke kanan. Kelopak mata berat sekali. Baluran. Orang yang baru siuman setelah dibius selama 18 jam tidak memiliki tingkat konsentrasi yang sempurna. saya tanya lagi. Oh. Memang hanya dua orang dari pihak keluarga yang boleh masuk ICU. bisa jadi tenggorokan saya akan terluka dan itu akan menyulitkan diri saya sendiri akhirnya. Tapi. kesadaran saya dan tenaga saya tidak terlalu komplet pagi itu. saya ragu apakah itu terangnya matahari atau terangnya lampu? Saya berusaha melihat jauh ke dinding.kalau kelak harus menuliskannya untuk pembaca. saya tidak sepenuhnya mengerti apakah ketika saya mulai sadar itu. waktunya sudah siang atau masih malam. Lalu. “Ji dian?” Jawabnya. saya bertanya. Saya memang tidak bisa omong jelas karena banyaknya selang di tenggorokan. Misalnya. Maka. ya hanya dengan melihat jam di dinding sana itu. Kalau saya paksakan omong. sedang tidak menggunakan kacamata. Bahkan. ini jam besuk ke ICU. Dan tahulah saya bahwa pandangan saya benar-benar gak sempurna. Pertama. hai shi shang wu?” Dia jawab. putra Kiai Faqih. maka ditambah satu penerjemah. jam sembilan siang! Tahulah saya bahwa saat itu sudah pagi hari. Kedua. Juga menyampaikan daftar nama yang mengirim salam dan memberikan dukungan batin lewat SMS. Kecuali orang asing yang memerlukan penerjemah. Saya tidak mungkin bisa menoleh karena begitu banyak selang di leher. 16 by Moezhanks . Saya segera melambaikan tangan ke arah istri dan anak saya. informasi bahwa malam itu santri Pondok Langitan berdoa bersama dipimpin langsung oleh Gus Dulloh dan Gus Maksum. saya melihat anak lelaki dan istri saya mendekat. “Wan shang. Hanya secara timbul tenggelam saya melihat secara kabur bahwa itu seperti jam 11. Ketika saya lihat ada perawat mendekat. Sepanjang. Tapi 11 malam atau 11 siang. namun tidak bisa. saya sungguh ragu dengan kemampuan saya memperkirakan. Tapi. Namun. Lama sekali saya menebak-nebak: siangkah ini? Malamkah ini? Memang suasana ruang ICU sangat terang. saya tidak tahu apakah terang di balik kepala itu karena dinding kaca atau karena ada lampu yang dipasang di situ. Jarum yang menunjuk jam 9 saya kira menunjuk angka 11. Saya berusaha untuk tersenyum sebagai ganti kata-kata bahwa saya baik-baik saja. “Jam sembilan”. sulit sekali untuk bisa melihat dengan jelas. Berarti sudah satu malam saya tidak sadar sama sekali. pandangan saya lamur.

Maka. 30 hari sebulan. Tiap malam. Mengeluh hanya akan menambah penderitaan. saya merasa akan mampu melakukannya. namun belok ke sungai di tengah jalan. saya nikmati saja proses ini. Juga sering ditunjuk sebagai inspektur upacara pada tiap Senin. akibatnya bisa berupa penderitaan yang panjang. Ini operasi besaaar! Kalau setelah operasi ada rasa sakit. bahkan menimbulkan luka. Saya pernah menjalani dua operasi sebelumnya. Sampai kelas 2 SMA. 17 by Moezhanks . ternyata memang bisa. 360 hari setahun. Atau sebagai bagian dari zikir-pidak di tarekat Sathariyah. Karena itu. Sepatu itu menimbulkan rasa tidak nyaman yang hebat. Saat mulai membangun Jawa Pos dulu. Dua-duanya mengharuskan saya. saya belum punya sepatu. Yang berat adalah menahan diri untuk tidak menggerakkan badan sama sekali. Maka. Saya juga merasa bersalah kepada kakak saya yang telah meninggalkan gajinya untuk saya dan adik saya. saya hemat benar pemakaiannya. Kalau saya bergerak untuk tujuan mengenakkan badan sesaat. Saya berhasil menjalani itu dulu. saya kelihatan agak pinter di kelas. Tiap hari ke sekolah dengan telanjang kaki. Cita-cita saya adalah “bagaimana agar punya sepatu”. ya itu sudah risikonya. saya belum bisa naik sepeda. pembuangan liver lama. saya tetap berangkat dari rumah. jadilah saya inspektur upacara dengan sepatu di kaki. tiap pelajaran bahasa Inggris. saya sudah belajar tahan menderita. Bagian ini juga harus saya jalani dan saya lewati sebagaimana saya harus menjalani dan melewati proses pembiusan. Bapak marah besar. saya bisa beli sepatu (sepatu kets bekas yang ujung jempolnya sudah bolong dan bagian tumitnya sudah berserabut). Maka. Saya anggap saja sebagai yoga yang panjang. tidak bergerak selama delapan jam. Sejak itu. Saya harus sekolah sejauh 6 km dengan jalan kaki. Bahwa akan amat penat. Misalnya. Saya tidak mengeluh. Kadang. mereka pamit. Bahkan. pembukaan rongga dada. sampai kelas tiga SMA (aliyah). Tapi. Penatnya bukan main. Saya sudah bertekad bagian ini pun harus bisa saya lewati dengan baik. Kali ini saya juga harus mampu memenuhi persyaratan untuk tidak bergerak selama 24 jam! Sejak kecil pun. bagaimana kita bisa menggantinya?” katanya. saya berada di sungai. kalau lagi ada pelajaran bahasa Inggris hari itu. Saya cari ikan karena takut dengan guru bahasa Inggris. bapak melarang saya untuk belajar naik sepeda. kecuali ilmu bumi yang mendapat angka enam. kalau kali ini saya harus tidak bergerak selama 24 jam pun. kalau bisa. Apalagi harus selama 24 jam. cita-cita saya bukan itu. Hanya tiap Senin sepatu itu saya pakai. Bukan saja oleh kemiskinan. Tujuh hari seminggu. tiap malam saya harus berdiri di ruang layout lebih dari 12 jam. Karena dalam hati saya tersiksa.Istri saya diam saja seperti tertegun melihat ruwetnya jaringan kabel dan selang di sekitar badan saya. Satu jam berangkat dan satu jam pulang. Tapi. Rapor saya merah semua. Mengapa? “Kalau sepeda itu rusak. saya sadar sepenuhnya memang begitulah pascaoperasi. ketika kelas 3 SMA. Tinggal saya sendiri lagi menghadapi ketidaknyamanan keadaan. Lama-lama. Akibatnya. Setelah memotret-motret secukupnya. Banggakah saya? Ternyata tidak. Ini agar luka-luka akibat operasi dan penyambungan pembuluh darah di liver tidak terganggu. Maka. dan pemasangan liver baru. kemudian sering jadi ketua berbagai kegiatan. saya tidak naik dari kelas 1 ke kelas 2. pastilah demikian. Dan. tapi itulah bagian yang harus dijalani untuk sukses. tapi juga oleh kerasnya sikap bapak saya. Ini bukan operasi kecil.

Sama dengan yang di ujung kemaluan. Saya duduk mendalang di sebelahnya. Dia juga tidak pakai sepatu itu. Gamelannya adalah mulut beberapa teman sepermainan. Mula-mula. Dan. selama di ICU. Semua cairan itu juga ditampung di kantong plastik. Ternyata. Kecrek itulah. saya pikir tidak ada gunanya. yang saya pasang di kotak kayu. selang yang di pinggang juga untuk mengeluarkan cairancairan yang tidak dibutuhkan tubuh saya. air kencing saya keluar dengan sendirinya melalui selang. Puluhan tahun saya menderita. kata saya dalam hati. begitu kandung kemih saya penuh. Kaki saya dalam posisi akan sering menyentuh kecrek tersebut sehingga bisa menimbulkan bunyi “crek-crek”. Wayangnya terbuat dari rumput. Banyak pasien yang tangan dan badannya harus diikat karena selalu berusaha untuk bergerak. masuk ke kantong penampungnya. ada yang mungkin tidak sadar. 18 by Moezhanks . Kalau beli sepatu. tangannya berusaha mencabut selang-selang yang memenuhi tenggorokannya. anak-anak pasah itu (alat untuk menghaluskan kayu) saya gandeng-gandeng. Dan. Ujung lain dari masing-masing selang itu masuk ke kantong plastik penampung cairan yang digantungkan di pinggir ranjang pasien. Kalau disentuh. Tapi. Selain karena ukurannya yang cukup besar. Padahal. Saya diam dan menikmati pukulan itu. Ujung selang yang satunya dimasukkan ke kandung kemih melalui lubang kemaluan. saya hanya tersenyum ketika melihat anak saya mempunyai sepatu sampai lebih dari 300 dan semuanya branded alias bermerek. juga lantaran ujung dua dari tiga selang-selang itu dimasukkan ke dalam rongga perut saya melalui pinggang kanan dan kiri. Sebab. Jumlah dan warnanya menunjukkan normal tidaknya ginjal dan berfungsi atau tidaknya organ penting itu. Saya pilih menjalani proses tidak bergerak dengan kesadaran sendiri daripada harus diikat seperti itu. untuk dipandang setiap hari. masih ada tiga selang lagi yang juga amat mengganggu. Karena itu. Perawat ICU memuji ketahanan saya. Begitulah. suatu hari. Kalau tidak lagi ada orang yang minta memperbaiki rumahnya. meski hanya cukup untuk beli dawet (minuman khas di desa). kelirnya terbuat dari sarung saya. air kencing di kantong itu diukur dan dianalisis. apalah beratnya. uang itu ikut saya ambil untuk saya belikan dawet. Begitu penuhnya sehingga istrinya suatu saat bilang kepada saya. Sambil merasa memang saya bersalah. “Sampai jalan masuk ke kamar tinggal satu galengan (pematang).Karena itu. dalam posisi menumpuk. Secara teratur. Bahkan. Dengan adanya selang yang di lubang kemaluan itu. Ayah bukan hanya marah karena alat-alat cari uangnya dipakai secara salah. ayah menggosok-gosok alat-alat itu sampai tajam. bapak malah menghentikan pukulannya. tapi juga karena di kotak itu ternyata ayah menyimpan uang. *** Sebenarnya.” Saya juga pernah dipukuli bapak dengan sapu. Namun. tangan saya tidak perlu diikat. Satu bunyi yang penting dalam memainkan wayang. kecreknya dari alat pertukangan ayah. Hanya dia jejer di lantai rumah. dia tidak ingin kotak dan labelnya dibuang. Bapak sangat sayang pada alat pertukangannya. lalu secara teratur diukur dan dianalisis. tapi itulah satu-satunya tabungan ayah. Dia memang hobi mengoleksi sepatu. saya tak perlu lagi merasa akan kencing. kalau hanya akan ditambah 24 jam di ICU ini. akan timbul bunyi “crek-crek”. saya menangis. Ini gara-gara saya sering menggunakan alat-alat pertukangannya untuk ndalang.

Kadang. Tidak mungkin setelah perut ditutup tidak menimbulkan rasa sakit. tapi saya berusaha tabah menjalaninya. lalu kami bebat dengan kain sobekan dari kaus atau sarung. mencangkul di sawah. yang disiapkan untuk menanam padi. cairan yang keluar dari pinggang kiri saya pun makin hari makin berkurang warna merahnya. Jika ada sesuatu yang tidak terdaftar sebagai “penghuni rongga perut”. memutih. selang di pinggang kanan mengeluarkan cairan pekat berwarna merah. ketika kecil. Kalau saya merasa kesakitan. Jumlahnya pun makin hari juga semakin sedikit. saya sudah sering mengalami rasa sakit seperti itu. Sehingga selangnya pun bisa dicabut. Tapi. Yakni ketika telapak kaki terkena cangkul. Dan akhirnya berhenti karena luka-luka bekas sayatan operasi itu sudah “kering”. Yakni sakit akibat luka. cangkul meleset dan mengenai telapak kaki. masih bisa saya rasakan. bisa dirasakan. Biasanya hanya kami siram dengan minyak tanah. Dan. saya tahu paling-paling hanya akan diberi obat penghilang rasa sakit. Kain yang tidak pernah dipertimbangkan bersih atau tidak karena ya baru disobek saat itu juga. sepanjang sakitnya masih masuk akal. Kadang masih bercampur lumpur juga. protes. sakitnya. painkiller. cairan itu makin sedikit keluarnya. Tapi. bukankah memang harus demikian? Bukankah ini operasi yang sangat besar? Yang tidak mungkin tidak sakit? Tapi. Ini berarti semua ceceran darah sisa operasi sudah didorong keluar dari rongga perut. Selama saya di ICU. meski sakit sekali. Itu berarti satu racun lagi akan dimasukkan dalam tubuh saya. Cairan itu merupakan kelebihan cairan di rongga perut yang bercampur dengan sisa darah operasi yang tercecer dan berkeliaran. Saat dokter bertanya apakah ada masalah. Saya tidak mengeluh kepada siapa pun. Ini pertanda tak ada lagi kelebihan cairan di rongga perut saya. Tak lagi berdarah.Bedanya. Waktu kecil saya memang sering ikut jadi buruh tani. makin berbahaya karena peritonium bisa pecah dan orangnya meninggal. Makin banyak cairan yang keluar. Tentu tidak ada obat. Hari-hari pertama di ICU itu memang harus saya lalui dengan amat menderita. sel tumor atau kanker. dengan cara mengeluarkan lebih banyak cairan. saya bertekad untuk tidak mengeluh. dan berdarah-darah. (bersambung) 19 by Moezhanks . Bersamaan dengan keluarnya sisa darah dari pinggang kanan. maka selaput dinding rongga perut -yang dalam istilah kedokteran disebut dengan peritonium. Makin hari. selang di pinggang kiri juga mengeluarkan cairan kuning kemerahan. Liver dan empedu baru saya tidak termasuk dalam kategori “barang asing” yang ditolak karena kedua organ itu kan sebenarnya penghuni rongga perut juga. Rongga perut memang harus bersih dari “barang asing”. Sakitnya saat habis operasi ya kurang lebih seperti itu. selang yang di pinggang kanan berfungsi untuk mengeluarkan sisa darah yang mungkin masih menetes dari luka bekas sayatan operasi di liver dan kantong empedu baru saya. Apalagi seminggu sebelumnya saya baru saja baca bahwa Australia melarang penggunaan painkiller tertentu karena terbukti membuat pasien yang baru menjalani transplantasi liver meninggal dunia. Saya gak mau itu. Sakit ini. sekali lagi. Bahwa sebenarnya badan tidak enak. Sama dengan yang di pinggang kanan. ya mesti saja. Yakni luka yang sengaja dibuat dengan pisau bedah di sepanjang dada dan perut saya untuk mengeluarkan liver yang lama dan memasukkan liver yang baru. seperti ceceran darah. saya bilang tidak ada. Karena itu. posisi ujung selangnya ada di dekat kedua organ yang baru ditransplantasikan itu.akan bereaksi. Lukanya lebar.

Saya diberi obat tertentu. Lalu kanker itu dicoba dibunuh dengan cara di-TACE. Dasar bekas wartawan! Kata hati saya. Baik luka di kulit akibat sayatan pisau atau luka di dalam akibat terjadinya penyambungan-penyambungan pembuluh darah. Saya bilang kepada Robert Lai yang menunggui saya di Singapura. Atau lebih baik mati saja. Sambil mata tetap terpejam pikiran saya jalan ke mana-mana. Tapi. Ini bukan untuk menunjukkan bahwa saya pernah hampir putus asa. Saya juga bisa melupakan rasa penat akibat tekad saya sendiri untuk tidak akan menggerakkan tubuh sedikit pun selama 24 jam. Lalu dia lapor ke dokter. (Kelak akan saya jelaskan apa itu di-TACE). agar tidak berakibat buruk pada luka-luka operasi saya. bukan saya jagoan dalam menerima rasa sakit. cantik. Tidak tahan. *** Hari pertama di ICU itu saya tidak merasa mengantuk. Saya akan cari jalan lain saja. ke Medan. Yakni. Dia harus menjalani kemo berpuluh kali hingga kepalanya gundul. Saya minta mati saja. tinggi. Dalam hal ini saya merasa kalah dengan Sara. Agak lega sedikit. Juga sudah melebihi umur ibu saya. atau umur kakak saya. Dia muda. Perhatian saya menjadi tidak hanya kepada banyaknya selang yang menancap di sekujur tubuh. Sore itu. salah satu manajer keuangan saya. Bengkulu. Pelan-pelan rasa tidak karu-karuannya berkurang. Bukan. Mereka jelas lebih hebat dari saya. Karena tidak melulu tercurah ke rasa sakit. Saya pernah mengalami rasa sakit yang “sampai nggak bisa dirasakan”. Pasti painkiller. Rasanya saya tidak punya kekuatan untuk membuka kelopak mata saya sendiri. Waktu itu diketahui (lewat scanner) bahwa di liver saya sudah ada kankernya. melintir-lintir. Semua saya catat dalam ingatan saya. Sedang saya tidak tahan. Batam sampai ke Palu. kalau dalam satu hari itu tidak juga reda. kembung. Setelah dikemo itu. Tapi. selang yang dimasukkan ke rongga perut lewat lubang hidung juga dicabut. Saya juga suka memperhatikan kesibukan di ruang ICU itu. Ini baik. saya kemudian memutuskan tidak mau lagi dikemo. Memperhatikan dengan mata terpejam. Kini dia kembali cantik dan sudah melupakan penderitaan kemonya. satu selang yang dimasukkan lewat leher kanan saya dicabut. mual. Saya pernah mengalami rasa sakit sampai tidak tahan lagi menanggungkannya. mata terus terpejam. Yakni. dilepas. dan entah berapa jenis rasa sakit menjadi satu. Sudah berbuat sesuatu yang lumayan. Tidak ada gunanya hidup dalam keadaan seperti itu. Toh saya sudah berumur 55 tahun. Ke Surabaya. Hanya. dan diserang kanker. Agak lebih sore lagi. Lebih 20 by Moezhanks . Lalu dikemo.Ganti Hati 08 – Sempat Berpikir Lebih Baik Mati daripada Melanjutkan Kemo 2 September 2007 KALAU saya sangat tahan menerima penderitaan selama di ICU. rasanya luar biasa tidak karuan. atau umur paman-paman saya. Yakni sakit. Sampai-sampai saya tak bisa memisah-misahkan bentuk sakitnya itu terdiri atas berapa macam rasa sakit. masih ada dua selang yang menancap di leher yang dilubangi itu. Tak terasa sore pun tiba. mulas. saya pilih mati. ketika setahun lalu harus menjalani kemoterapi. melainkan untuk menunjukkan kekaguman saya kepada orang-orang yang mampu menjalani kemo berkali-kali. kata saya kepadanya. Memperhatikan apa saja yang terjadi di ICU itu membuat perhatian saya terbagi.

18 jam dibius. Mungkin sudah kelamaan ditidurkan! Yakni. Itu menangnya orang yang tidak punya cita-cita tinggi sejak awal. Dengan istikamah. Sepanjang malam mereka bekerja tanpa istirahat sedikit pun. ini saya. waktu pertama punya sepeda (juga bekas) bahagianya melebihi saat punya Jaguar. Hanya desain-desain kecil yang saya buat.lega lagi. selang-selang itu satu per satu akan dilepas. Terpaksalah saya menggendongnya. Jangan menaruh harapan terlalu banyak. di Bangkalan. Semuanya baru saja menjalani penggantian organ tubuh. Batu pun kadang bisa menggelundung. Saya tidak mau bertanya jadwal melepaskan selang-selang sisanya. Tapi. Lalu ingin punya sepeda. delapan televisi lokal. ada yang ganti jantung. Sebuah koran nasional dari daerah dengan oplah lebih dari 300 ribu eksemplar per hari. begitu banyak macam cairan infus. Malamnya saya juga tidak mengantuk. untuk mencapai kebahagiaan sangatlah mudah: Jangan pasang keinginan terlalu tinggi. dan dicatat. Karena tidak punya cita-cita. Orang akan merasa kecewa kalau keinginannya tidak tercapai. koran ini berkembang sedemikian rupa hingga menjadi sebuah grup media yang membawahkan lebih dari 100 koran harian dan mingguan. ia akan membelok. rasanya tidak mungkin mengejar Surabaya Post yang sudah merajalela kehebatannya. Kedungdung. Baru setelah ternyata mudah sekali membuat koran yang bisa sebesar 50 persennya Surabaya Post. kalau orang berpegang teguh pada cita-cita. Saya sudah biasa dengan sikap untuk tidak berharap banyak pada apa pun dan pada siapa pun. Padahal. Ini karena tiap tiga perawat mengurus lima pasien ICU. Tidak perlu lebih besar dari itu. kalah dengan air yang deras. Iya kalau batunya yang menggelundung. alirannya yang deras. Maka. Saya punya prinsip semuanya sebaiknya mengalir saja seperti air. Jadi. biar pun rombengan. lha kalau kepalanya yang pecah gimana? Cita-cita saya semula hanya ingin punya sepatu. Menggendong dengan bahagia. Bahkan. meningkatlah keinginan untuk bisa sebesar Surabaya Post. kalau bisa. kalau dalam perjalanannya menghadapi batu besar. Khawatir berharap terlalu banyak. kalau ada yang menganalisis bahwa saya punya grand design untuk membuat Jawa Pos seperti sekarang. Saya terus berharap. dalam istilah Pesantren Miftahul Ulum Al Islami. sehingga menjadi seperti Grup Jawa Pos sekarang. diganti. sepeda itu pernah putus as rodanya sehingga tidak bisa dinaiki. Tapi. Madura. Ini belum termasuk koran-koran Grup Jawa Pos yang terbit di Jakarta dan di kota-kota lain di luar pulau. Hanya. Tiap-tiap pasien memerlukan begitu banyak obat. Bahkan. saya wujudkan dengan konstan.00 dan baru akan pulang pukul 07. Ini. Keinginan itu meningkat terus secara bertahap. Dulu pun saya hanya ingin Jawa Pos menjadi koran yang oplahnya separonya dari Surabaya Post. Bukankah bahagia dan kecewa sebenarnya bisa kita ciptakan sendiri? Orang akan merasa bahagia kalau keinginannya tercapai.00 keesokan harinya. menurut pendapat saya. Karena akan membuat saya merasa lebih bahagia. dan power plant. tidaknya begitu kenyataannya. pabrik kertas. pimpinan KH Ilyas Khotib. Waktu itu. Malam itu saya menyaksikan kerja perawat di ruang ICU yang luar biasa sibuknya. bertemu batu pun akan ditabrak. 21 by Moezhanks . dituntun pun tidak bisa. ada yang ganti ginjal. Rasanya. Ada yang ganti liver seperti saya. Hidupnya lebih fleksibel. begitu banyak alat deteksi yang terus-menerus harus dipantau. baik. Perawat shift malam itu mulai bekerja pukul 19. Setidaknya tidak akan membuat saya terlalu kecewa.

“Saya benar-benar masih hidup. waktu mulai membangun Jawa Pos dari sebuah koran yang hampir bangkrut. Setiap ada kesempatan saya selalu memuji mereka. pagi-pagi. Namun.” kata saya. Sebab. sujud kan tidak harus dengan kepala? Kan bisa juga yang sujud hati? Maka saya sujud dengan hati saya. Jadi masih lumayan. Berbeda dengan muda saya dulu. pimpinan rumah sakit yang juga kepala tim dokter yang menangani penggantian liver saya datang menjenguk.” kata saya. Saya ingat waktu itu. Lalu minta diistirahatkan seterusnya. Atau memotong sapi untuk acara besar-besaran. “Terima kasih. (bersambung) Ganti Hati 09 – Kesadaran Pulih. Sudah pasti saya belum punya kemampuan bersujud. tapi Saya Tak Mampu Sujud Syukur 3 September 2007 SAYA memperoleh kesadaran penuh pada malam kedua di ICU. nggak mungkin bisa bekerja tanpa henti dengan konsentrasi tinggi sepanjang malam. tibatiba pikiran saya jernih sekali. Selama kirakira 15 tahun berturut-turut. Hari kedua di ICU itu. bagi RS tentunya. Inilah yang membuat organ di dalam tubuh saya menderita. Tidak ada yang lihat. Saya khawatir. Tujuh hari seminggu. Tapi.” kata hati saya. Sudah lama komplain ke sana kemari. kalau salah dalam meng-invoice-kan. Dia sebenarnya sudah lama menangis-nangis minta diperhatikan. Bahkan. semakin saya “sudah merasa bersyukur”. “Ze me yang?” tanyanya 22 by Moezhanks . semakin saya “sudah merasa bersyukur banyak”. Yakni. Karena dia pimpinan. Misalnya. Begitu seterusnya. sepanjang siang lagi dan sepanjang malam lagi. 30 hari sebulan. karena tidak dipedulikan. Besoknya tidak pakai libur. Sampai malam lagi. Maka setiap habis menggunakan bahan. semakin panjang kalimat yang saya ucapkan. “Alhamdulillah. saya harus bekerja sepanjang malam. Suara tat-tit-tat-tit mesin yang memonitor organ-organ tubuh saya terdengar kian jelas. Tidak libur. dengan sepanjang-panjangnya mengucapkan kalimat-kalimat tertentu atau bahkan sampai menitikkan air mata. Semakin banyak orang yang saya undang untuk syukuran. “Untung Anda masih sangat muda. Saya tahu dia akan libur besoknya.” jawabnya. Sepi sekali ing pamrih. Rasanya malah lebih ikhlas. menderita kerugian. Paginya. harus dicatat berapa harganya dan lalu di-invoice-kan. Sudah lama minta untuk tidak diperlakukan seperti itu. Satu malam suntuk bekerja tanpa istirahat. Puji Tuhan. Saya akhirnya berkesimpulan akan bersyukur dengan cara “memanfaatkan umur tambahan ini dengan seproduktif-produktifnya”. Tiba-tiba saya terlibat diskusi lagi dengan pikiran sendiri mengenai apa bentuk syukur yang harus saya lakukan. 360 hari setahun. Ini penting sekali. Besoknya sepanjang malam lagi. Liver saya kalah. yang menyertainya banyak sekali.Dan. “Anda luar biasa sekali. lantas ngambek seperti ini. Saya memang bertekad untuk tidak akan mendemonstrasikan rasa syukur itu dalam bentuk yang ekstrem. Kalau sudah tua. apa pun yang di ICU terlihat jelas dan terekam baik dalam ingatan. berarti rumah sakit akan menderita. Di tengah malam yang sepi itu. Sebentar tapi menenangkan batin. yang juga tak kalah penting adalah dibuatkan invoice-nya untuk menagihkan kepada pasien. sudah harus bekerja sejak pagi lagi.” batin saya lagi.

pertanyaan itu terlalu banyak untuk diajukan pagi itu. Saya malah berubah pikiran dengan cepat. saya masih akan berhari-hari di rumah sakit ini. bahwa sebenarnya saya tinggal punya kesempatan hidup enam bulan lagi? Karena kanker sudah menjalar ke beberapa bagian di dalam liver saya? Tapi. Di Tiongkok nama saya memang Yu Shi Gan (baca: i-se-kan). Kalau saja tidak teliti pun siapa yang tahu? 23 by Moezhanks . Tadi malam mereka bekerja keras sepanjang malam. melakukan pekerjaan cepat.” jawab saya. Maka.sambil memegangi tubuh saya menanyakan apa kabar dalam bahasa Mandarin. Yakni. melainkan soal-soal lain yang membuat saya penasaran. ada juga sedikit kekhawatiran bahwa jangan-jangan setelah perut dibuka. Dan. seperti kata sebagian dokter. yang akan membuat saya menyesal melakukan operasi? Soalnya. Toh. Saya memang benar-benar ingin memujinya. Kerja yang luar biasa keras itu harus ada yang mencatatnya. Terutama kebaikannya itu.” kata saya kepada pimpinan rumah sakit itu. ternyata liver saya baik-baik saja. Benarkah sudah ada kanker di liver lama saya? Benarkah tanpa operasi ini sebenarnya saya masih bisa hidup lima tahun lagi? Benarkah. Para perawat itu tidak hanya harus membuat laporan yang baik. saya kira memang tidak perlu ada kata-kata apa pun. apakah ada kesulitan yang berarti untuk melakukan operasi tadi malam? Apakah liver saya yang lama benar-benar telah rusak seperti yang diperkirakan? Atau sebenarnya masih baik. Misalnya. perawat-perawat rumah sakit ini luar biasa. tanpa mengunjungi saya pun dia sudah bisa baca dari laporan komputer mengenai perkembangan keadaan saya. Bukan mengenai keluhan saya. Jangan-jangan hasil scanner yang menyatakan liver saya sudah rusak dulu itu hanya karena alat scanner-nya “salah lihat”. Bukankah memang ada kasus-kasus “salah diagnosis” semacam itu? Ada juga pertanyaan yang lebih penting yang ingin segera saya ketahui. Tidak ada kata-kata yang diucapkannya. Saya justru bergegas menunjuk ke perawat yang berdiri di arah kaki saya. Tentu itu basa-basi. mungkin masih berminggu atau (kalau operasi ini gagal) masih akan berbulan lagi. Rasanya kurang pas kalau saya sudah bertanya sejauh itu. Sebenarnya banyak sekali yang ingin saya katakan. “Terima kasih. tapi mereka sendiri juga harus dilaporkan. Saya bilang bahwa saya baik-baik saja dan tidak punya keluhan apa pun. Saya tidak basa-basi memuji para perawat itu. cermat dengan ketelitian yang tinggi di waktu malam yang sepi. Lalu dia mendekat ke arah perawat dan memegang-megang pundaknya. Tepukan tangan ke pundak anak buah seperti itu sudah melebihi pujian yang diucapkan dengan ribuan kata. Bahkan. Mr Yu memuji saya di depan pimpinan. “Dokter. Juga terlalu dini. Bukankah pagi itu dokter hanya mengunjungi saya untuk menunjukkan perhatian kepada saya? Untuk menunjukkan rasa persahabatan yang tulus? Sebab. Para perawat itu bekerja dengan penuh tanggung jawab. saya urung mengajukan pertanyaan-pertanyaan tadi.” kata perawat itu kepada saya setelah rombongan pimpinan berlalu. tanpa istirahat sedikit pun. Sang pimpinan tersenyum senang. “Hen hao. Masih ada waku di lain hari. Tanggung jawab kepada keselamatan pasien. sehingga cukup dipanggil nama depannya saja (Yu) yang dikira nama marga saya. Yang membuat saya ingin segera tahu.

Tidak akan lupa ekspresi kegembiraannya. rumah sakit akan rugi. Azrul dapat orang tua angkat yang sama sekali tidak diperkirakan. tisu. DBL (DetEksi Basketball League) adalah liga basket SMP/SMA terbesar di Indonesia yang dia prakarsai. Ternyata. baru selama sakit ini saya punya komunikasi yang intensif dengan anak-anak saya. Perasaan saya baik-baik saja. Setiap ada pemakaian bahan harus dicatat harganya dan dibuatkan invoice penagihannya. Terlalu berat. sarung tangan. dan obat-obatan. Hari ini mereka dapat giliran libur. Anak-anak saya memang sudah terpisah sejak mereka masih amat remaja. “Bapak kan sudah aman. Karena dia bukan bawahan langsung. Bukan karena saya. Seperti mendapatkan uang berjuta. Dia ajari fotografi. dengan cara tidak ceroboh mencatat harga-harga barang yang saya gunakan malam itu: obat.Mereka juga bekerja dengan penuh tanggung jawab kepada rumah sakit. saya ternyata jarang sekali berbicara dengan mereka. saya membiarkan proses manajemen berjalan apa adanya. Yakni. Saya mungkin juga tidak berada lagi di ICU karena pagi itu sudah bisa kembali ke kamar saya di lantai 11. Saya tidak mungkin memberinya uang. Saya kan dalam keadaan telanjang! Mana bisa membawa dompet? Apalagi sudah menjadi kebiasaan saya. Dan kerja kerasnya. Saya tidak akan lupa wajahnya. cairan infus.100) pun harus dicatat rapi dan dibuatkan perhitungannya. Pagi ini saya kembali ke Surabaya. Dia seorang master jurnalistik. Saya perlu memujinya karena setelah hari itu saya tidak mungkin lagi bisa bertemu mereka. *** Tiba-tiba anak saya laki-laki. Pemakaian barang seharga 1 yuan (sekitar Rp 1. jarum. Bukan hanya penulisannya. Azrul dia anggap sebagai anak laki-lakinya. Saya perlu memuji perawat tersebut sebagai bentuk ucapan terima kasih saya yang tulus kepada mereka. Karena itu. Kali ini bersama adiknya. Wajahnya kelihatan bersorak gembira. “DBL harus segera dimulai. John tidak punya anak laki-laki. Besok sudah akan menjalani kehidupan baru dengan pasien berikutnya lagi. Kalau tidak. tapi juga kemerdekaan dan filsafatnya. Maka. masuk SMA di sana. Tidak akan lupa keterampilannya. masuk ICU. kapas secuil ada harganya. Dan Isna sudah di sini. Saya hampir tidak pernah bicara soal perusahaan kepadanya. Maka sejak tamat SMP saya kirim dia ke AS agar bisa punya pilihan 24 by Moezhanks . Rupanya. Juga juragan koran. infus. Begitu tamat SMP. Namanya John Mohn. Keberadaan dia di Jawa Pos malah membuat hubungan saya sebagai bapak dan anak menjadi seperti hubungan atasan dan bawahan. Juga belum tentu menghasilkan kekayaan. Yakni. Bahkan. seorang bapak yang ternyata juga pemilik surat kabar daerah di Kansas.” ujar Azrul. Ikut orang tua angkatnya yang didapat melalui proses undian. Hari itu rupanya saya akan diserahterimakan. “Terima kasih Bapak telah memuji saya di depan pimpinan saya. Apalagi selang. Terlalu menyiksa. plester. Saya mengangguk karena rasanya memang tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Tiap hari dia ajak anak saya ke kantor korannya. Sebelumnya. yang baru malam harinya tiba dari Surabaya. tapi karena bapak angkatnya itu. Isna Fitriana. dan seterusnya. Jadilah Azrul anak yang mencintai koran. Azrul sampai tujuh tahun di sana. selang. Meski anak lelaki saya juga di Jawa Pos. keduanya langsung ke USA. Azrul Ananda.” kata perawat itu. Saya sendiri sejak awal tidak ingin dia kerja di koran. membawa dompet pun belum tentu ada duitnya.” tambahnya. Dia ajari jurnalistik. Jarum pun ada harganya. berarti tidak perlu ada hubungan yang khusus. kami tidak pernah tahu di rumah siapa dia akan tinggal di AS.

Yang terjadi. Sangat tidak enak. Mereka pilih tinggal di rumah sendiri. Saya berkhayal sedang apakah dia? Lagi saling berkenalan dengan organ saya yang lain. Makanya perut seperti penuh sekali. ada juga yang menilai bahwa saya harus bersyukur karena ada anak yang masih punya idealisme di bidang jurnalistik. Tidak seperti bapaknya yang hanya tamatan SMA (aliyah). Justru ketika sakit ini saya seperti menemukan keluarga saya. kalau ada yang menganggap saya sejak awal menyiapkan anak saya untuk di Jawa Pos. Sepulang dari USA anak-anak saya praktis jadi dirinya sendiri-sendiri. ketika sudah berada di kamar biasa. saya masih sering meraba-raba bekas lubang di leher itu. tapi seperti sampai dada. Tapi. hanya akan mau bekerja sama kalau tetap dibolehkan makan babi? Atau dia begitu baiknya sehingga akan ikut saja peran apa yang harus dia jalankan? 25 by Moezhanks . Juga belum bisa buang angin. Lebih menggembirakan lagi. terjadilah. “Ternyata kita punya bapak. Sepanjang malam saya tidak bisa tidur. Jangan Anggap Sudah Merdeka 4 September 2007 SEPANJANG sore sampai malam (hari kedua di ICU). katanya. Ini saya sadari setelah beberapa kali perawat menanyakan soal yang kelihatannya sepele itu. atau lagi pasang kuda-kuda untuk saling bermusuhan? Apakah liver baru itu sedang tawar-menawar pekerjaan dengan organ lain? Apakah liver baru itu sedang mengajukan syarat-syarat kerja sama? Misalnya. Ketika hal ini saya kemukakan kepada Azrul. (bersambung) Ganti Hati 10 – Meski Keluar ICU. yang nama-nama hari dalam bahasa Inggris pun tidak hafal. Termasuk tidak mau lagi tinggal bersama kami di rumah. dan anak-anak saya. Lubang bekas selang-selang itu lantas ditutup dengan plester. Apakah saya menyesal? Ya dan tidak. Suasana yang sangat mengurangi rasa sakit saya selama di ICU. Kami pun sering dalam keadaan lengkap berada dalam satu ruangan: saya. Menyikapi kedua penilaian itu saya pasrah saja. Jadi. istri saya. “Ternyata saya punya anak. Kelak. Sekarang ditambah dengan menantu-menantu dan seorang cucu. Mereka sudah terbiasa mandiri. Saya masih punya pikiran jangan-jangan lubangnya masih menganga. Termasuk ke liver baru saya. Lalu jadi pengusaha yang mandiri. Oh. Dua hari kemudian lubang itu sudah menutup. Sambil tertawa cekikikan. rupanya saya belum bisa buang air besar. mereka sering menemani saya. seorang cucu dan calon seorang cucu lagi. Itu membuat pikiran saya lari ke mana-mana. sungguh tidak demikian maunya. Saya justru mau anak saya bekerja di luar negeri dulu. siang itu dua selang yang masuk ke rongga dada lewat leher kanan saya juga dicabut.” kata Isna kepada kakaknya.lebih baik. Eh. Setidaknya agar bisa berbahasa Inggris. ya. perut saya mulai merasa kembung. Penuhnya bukan hanya di perut.” gurau saya kepada keduanya. dia balik bertanya: saya harus cari uang? Saya mau jurnalistik. Baru ketika saya sakit ini.

Semuanya hilang sudah. ternyata tidak. Rasa plongnya bukan main. paru. Tapi. Lega tapi memang sakit. Satu jam kemudian persiapan mengeluarkan saya dari ICU dilakukan. Ya. sakitnya seperti apa kan belum dirasakan. Badan saya terbawa di atasnya. Tapi. Maka suara bom pun bergelegaran. Rupanya keluar atau tidak dari ICU. Dialah yang memasang tadah kotoran dan membersihkannya. Bukan khayalan yang ilmiah. Urusan buang hajat pun selesai. yang sudah lebih tua umurnya. Rasanya juga sakit. apakah tidak akan terjadi konflik anak-bapak yang diakibatkan perbedaan zaman? Juga perbedaan gaya hidup? Apakah tidak akan terjadi adu balap? Apakah jantung tua saya kuat melayani balapan itu? Panjang sekali khayalan saya. akan dilakukan rekayasa. saya harus merasakannya. Setelah itu tiba-tiba saya merasa seperti ingin buang angin banyak-banyak. barulah saya “rasa” itu muncul. Kereta ini dilengkapi sistem hidrolis. Apakah tidak akan menimbulkan persoalan? Misalnya. Apalagi. Kabel-kabel yang menempel di dada kanan dan dada kiri dicabut. Selang yang sudah 56 jam berada di lubang kemaluan saya dicabut. selang yang masuk ke rongga perut melalui pinggang kanan juga dicabut. Dia perawat yang berbaju biru. Agak sakit rasanya. Untunglah saya tidak perlu melalui tahapan darurat itu. Semua dicatat oleh perawat. karena saya toh harus kencing. Saya panggil perawat. Tapi. Pagi itu juga diputuskan saya boleh keluar dari ICU. Saya bersyukur. Tidak perlu ada orang yang mengangkat. Perut saya akan dimasuki cairan lewat pantat. Dari kereta itu secara otomatis menjulur sebuah papan besi menyekop ke bawah badan saya. Mekanisme tubuh saya. Memang seluruh lantai 12 adalah ICU. Sekitar pukul 10. salah satu ukuran yang menentukan adalah ada atau tidaknya “rasa” tadi.” kata perawat setelah berhasil mencabut selang itu. dengan organ baru di dalamnya. Saya pun sebenarnya sudah membayangkan akan keluar ICU dalam keadaan seperti itu. 26 by Moezhanks . Juga kabel-kabel yang dihubungkan ke ujungujung jari. yang bisa saja membuat badan saya berubah posisi dan menimbulkan bahaya bagi bekas-bekas operasi. Tiap pasien dapat satu kapling yang dibatasi dengan kaca terhadap pasien lain. Ini untuk memudahkan memindah badan saya dari ranjang ICU. kalau saya ingat banyak pasien yang keluar ICU masih dengan selang yang menancap di leher. Ternyata rasa sakitnya tidak seberat yang saya bayangkan. sehingga sakit-sakit kelas seperti itu sudah saya anggap bukan sakit lagi. Kata-kata itu terus melekat di ingatan saya. “Kencing pertama sampai ketiga nanti mungkin agak sakit. Khayalan orang yang tidak bisa tidur saja.00 saya sudah dipindahkan dari ranjang ICU ke kereta angkut. Semua berjalan natural. ke kamar lama saya yang sudah dibuat bersih sebersih-bersihnya. berjalan dengan normal. Sampai-sampai timbul rasa takut setiap merasa akan kencing. Rumah sakit ini memang bisa melakukan transplantasi organ sebanyak 30 orang dalam waktu bersamaan. Ternyata untuk urusan buang air besar ini ada perawat khusus. Dalam proses keluar dari ICU itulah saya baru tahu bahwa ruang ICU ini amat-amat panjangnya. Lalu. terjadi generation gap yang tajam? Bukankah liver baru itu belum sampai berumur 25 tahun. Kereta ini yang membawa saya turun ke lantai 11. apakah tidak akan mengajak balapan organ lain seperti jantung. Paginya. hari ketiga di ICU. dan ginjal? Kalau organ-organ lain saya sudah berumur 56 tahun. Atau barangkali karena saya sudah merasakan yang paling sakit. kan tetap harus dicabut? Sakit tapi lega. Alat untuk mengukur tekanan darah juga dilepas. Kalau saja pagi itu saya belum punya “rasa”. Berarti ruang ICU-nya memang harus banyak sekali. tapi sakit yang menimbulkan kelegaan.Yang tak kalah penting adalah perbedaan umur yang mencolok antara liver baru dan organ saya yang lain.

Itu alasan Anda saja untuk diperbolehkan menulis. Dia terjatuh dan harus masuk ICU lagi. Apa saja yang akan saya tulis. Saya mendengarkan baik-baik nasihat itu. terpaksa balik lagi ke rumah sakit ini. Masih sederet contoh tragedi seperti itu. saya tetap bermohon untuk dapat dispensasi melakukan dua pekerjaan itu. Pertama. Lalu satu jam. para perawat menyambut. boleh mulai menulis cerita ini. Robert tahu saya sering maunya sendiri. Contoh lainnya. Itu membahayakan hasil operasi. Terpaksa perutnya dibuka lagi. berapa seri tulisan itu nanti. jangan Anda anggap sudah merdeka. teman saya itu. Dia lantas menakut-nakuti saya dengan kisah banyaknya pasien yang sukses dalam menjalani operasi. Sebab. keadaannya sudah sangat payah. Sebab. orang Jepang. Sebelah kamar saya. Lalu tinggal dua jam. Mereka segera membuat lubang baru di lengan saya untuk keperluan infus-infus berikutnya. membaca. Mula-mula tiga jam sehari. Terutama di seminggu pertama keluar dari ICU. Saya mengakui Robert benar. Kondisi yang ditunggu itulah yang tidak datang. “Mana ada baru tujuh hari setelah transplantasi liver sudah memeras otak untuk menulis begitu panjang?” sergahnya. Yakni. apa yang mau saya tulis ini semuanya sudah lengkap dan memenuhi kepala saya. Lalu tidak perlu infus sama sekali. orang Arab Saudi. Anda bukan dokter. *** “Meski sudah keluar ICU.” ujar Robert Lai. Berbagai usaha sudah disiapkan. ada pasien yang merasa kuat dan jalan sendiri ke kamar mandi. Tapi. boleh membuka. Diadakan perbaikan lagi di dalamnya. Namun. Perawat yang sudah tiga bulan lebih saya kenali dengan baik. tekanan darah bisa naik. termasuk akan dilakukan transplantasi liver lagi. Orang tersebut merasa sudah sangat normal. Tiap hari saya masih harus diinfus beberapa obat dan vitamin. Setelah tidak bisa diatasi di negaranya. Kini saya diserahterimakan dari perawat ICU ke perawat ruang rawat inap. Dia terkena infeksi. Saya sudah bertekad akan taat peraturan setaat-taatnya. serta membalas dan mengirim email. tiap seri harus dibuka dengan kalimat apa dan ditutup dengan cara bagaimana. Termasuk yang nekat pulang meski baru satu bulan setelah operasi. mengucapkan salam. Tapi. semua sudah ada di kepala. Tapi. Memang sudah diizinkan pulang. Sayangnya. melambaikan tangan. Pasien dari Taiwan mengucapkan selamat atas kesuksesan operasi saya. Lalu ke rumah sakit di negaranya sendiri untuk mengeluarkan “barang titipan sementara” itu. Tapi. harus balik lagi ke Tiongkok tiga bulan kemudian. (bersambung) 27 by Moezhanks . tapi gagal menjauhkan diri dari virus dan infeksi.Tiba di lantai 11. dia harus menunggu kondisi badannya membaik dulu. Kalau tidak segera saya tuangkan di komputer. untuk mengambil “barang” yang masih dititipkan di dalam. proses tersebut tidak mulus. Seorang kenalan dari Pakistan terkena infeksi setelah tiga hari keluar ICU. Kalau ditambah dengan penuhnya bahan tulisan di otak saya. Akhirnya dia meninggal dunia di rumah sakit ini bulan lalu. obat sinkronisasi liver baru saya punya efek samping menaikkan tekanan darah. kali ini dia kecele. Saya hanya minta kelonggaran dua saja. Kedua. Saya sendiri sudah sering memberikan ucapan selamat seperti itu kepada pasien yang baru menjalani operasi sebelum saya. Pasien lain yang belum operasi menyambut kepulangan saya dari ICU.” ujar Robert Lai. apakah tekanan darah tidak akan semakin tinggi? “Itu logika Anda saja. Dari kamar yang lain.

Tepatnya bukan peringatan. Banyak sekali peringatan yang disampaikan kepada kami sebelum pertama saya turun dari tempat tidur. Humor khas Surabaya datang dari Jamhadi. Saya memang suka bergurau. Tapi.” tulis saya. sudah lima hari saya terus dalam posisi berbaring. Kata njatuh. tapi humornya sering cerdas. setengah bergurau. sih itu bukan jatuh. Kalau saya nanti berdiri. Tapi. jahitan di perut yang panjaaaang ini masih basah. begitu saya berdiri. Saya tertawa. apa juga bersuara? 28 by Moezhanks .” tulisnya. Sekaligus memberi kabar baik mengenai kemajuan demi kemajuan yang saya peroleh. Dan lagi. Kekhawatiran-ngawur saya itu saya SMS-kan ke beberapa teman. menimpali Margiono. Untuk memberikan gambaran bahwa saya sudah bisa bergurau lagi. Maklum. Bisa tiba-tiba pusing dan jatuh. tidak ada suara benda jatuh. Bergurau soal Liver. Margiono. Kalau sedang tidak ada yang ditertawakan. Tidak sedikit kasus pasien jatuh saat pertama mencoba berdiri. Tapi njatuh. Harus ada orang yang memegangi.Ganti Hati 11 – Mulai Berdiri. Kalau tidak pusing. masih di perut. bisa diteruskan dengan turun dari tempat tidur dan mencoba berdiri. kontan membalas. Meski ada cairan infus yang menggantikannya.” kata Margiono yang pandai mendalang itu. Misalnya. Harus duduk lebih dulu. jangan-jangan kalau teralu banyak tertawa. Masih banyak SMS yang masuk di sekitar jatuh-menjatuh itu. Dimarahi Saudara di Desa 5 September 2007 JANGAN begini. “Yang bahaya kalau jatuhnya di dekat pasar loak. empat itulah yang saya pilih sebagai yang paling lucu. Dan memang. saya harus menahan tawa. “Hari ini saya sudah diharuskan mulai turun dari tempat tidur. Bahkan sudah harus latihan berdiri. Saya takut liver baru saya jatuh. bagi orang Surabaya lucu sekali. Tenang beberapa saat untuk lihat-lihat keadaan. Jawaban dari beberapa teman berdatangan.” tulisnya. Dirut Rakyat Merdeka yang lucunya bukan main. “Kalau sampai jatuh di rumah Gong Li. Saya justru takut hati baru itu jatuh di rumah Gong Li. Masih mudah mencarinya. jangan sampai langsung berdiri. Datangnya dari dalam diri saya sendiri. kalau toh jatuh. apakah liver baru saya tidak jatuh? Apakah sambungannya sudah kuat? Tali apakah yang dipakai untung menggantung liver baru itu? Setengah serius. Saya juga lega bahwa hati saya yang baru tenyata tidak mengubah selera humor saya. saya sering mencoba menertawakan diri sendiri. Itu hari kelima setelah operasi atau hari kedua setelah keluar dari ICU.” Gong Li adalah artis yang paling terkenal dan konon juga paling cantik di antara artis Hongkong. Bahkan ingin tertawa lebar. Sekali lagi.” tambahnya. saya lupa bertanya kepada dokter apakah tali yang dipakai menggantung liver baru saya cukup kuat. Kalau dibuat tertawa masih sakit. mungkin tidak bisa dipahami di luar Surabaya. Leak Kustiya. jahitannya bisa mrotoli. menambahkan: “Ha ha. Diam-diam saya sudah bisa menjadi juri lomba humor di hari kelima setelah operasi saya. Jangan begitu. redaktur pelaksana Jawa Pos yang pendiam. Saya masih dapat peringatan tambahan. pendiri majalah TEMPO yang juga amat humoris. “Lebih berbahaya daripada jatuh di dekat pasar loak. Tapi. Tapi. Juga lima hari tidak makan. tapi pertanyaan. Mas Goenawan Mohamad. Padahal. “Ha ha… Kalaupun jatuh. kontraktor yang membangun gedung Jatim Expo dan asrama mahasiswa Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya.

Mas Dahlan sendiri guyon. “Apakah ada perintah untuk memperbanyak doa?” tanya saya. Takut orang salah paham. Itu tahun 1948. doa ini: Ya Tuhan.” ujar Agus. “Nyawa kok dibuat guyonan. Mereka dimasukkan sumur hidup-hidup. Ada alasan lain mengapa saya memilih sumeleh kepada Tuhan daripada sedikit-sedikit minta sesuatu kepada-Nya. harus bisa membuat atasannya memenuhi keinginannya. Kepada Tuhan.. saya SMS ke Ir Agus Mustofa. Soalnya. Tentu sebelum mengucapkan kata-kata tersebut saya berpesan agar jangan membicarakan istilah saya ini dengan orang lain. Tidak pantas. Jadi. ketika meletus peristiwa Madiun yang terkenal dalam sejarah itu.” menurut ilmu mantiq. Sejak itu. pesantren kami yang sangat maju dan terkemuka mengalami kemunduran. KH Hamim Tafsir. Sekali lagi. Tidak harus selalu keinginan atasan yang berlaku. Dia marah. penulis buku Takdir Bisa Diubah yang laris itu. Ini karena enam kiai utama di pesantren kami (yang tidak lain paman-paman ibu saya) dibunuh orang Partai Komunis Indonesia (PKI). tidak pernah takut mengatakan apa adanya. masukkanlah saya ke surga. Dia marah karena seharusnya saya tidak berhenti berdoa minta keselamatan dan kesembuhan dari Tuhan.” tambahnya. “pada dasarnya adalah memerintah Tuhan”. termasuk guru yang didatangkan pesantren kami dari Mesir. Misalnya. “Yang ada hanyalah ’Mintalah kepadaKu. biasanya saya menasihatinya berdasar ilmu mantiq itu.Keceriaan saya hari itu padam manakala masuk SMS dari keluarga saya di desa. mengapa memerintah atasan yang masih bernama manusia saja tidak bisa?” Takut juga saya mengisi “titik-titik” itu. Bukan hanya atasan yang bisa me-manage bawahan. dengan jalan banyak beribadah (termasuk kerja keras)? Ilmu inilah yang juga saya bawa ke praktik manajemen. “Kita di sini tidak henti-hentinya berdoa.” tulisnya. Pesantren keluarga kami sendiri. berarti bukan bawahan yang cerdas. kita menggunakan cara yang disebut berdoa. bawahan itu sebenarnya juga boleh me-manage atasan. Semua itu tinggal soal cara. Bukankah. guru ilmu mantiq saya dulu. “Berdoa itu. Saya lantas memanfaatkan ilmu mantiq itu dalam praktik manajemen. Orang yang tidak pernah belajar ilmu mantiq bisa salah paham. Kalau seorang bawahan tidak mampu melakukan itu. 29 by Moezhanks . Hanya. kalau memang cukup cerdas. Demikian juga guru-guru terkemuka lainnya. sedikit-sedikit berdoa seperti kita ini malas berusaha. sama dengan kita memerintah Tuhan agar memasukkan kita ke surga? Bukankah kata “masukkanlah” itu “kata perintah?”. malas menggunakan pemberian Tuhan yang amat penting itu: otak. seperti yang sudah saya utarakan di bab terdahulu.” tambahnya.” balas Agus segera. Kata saya kepada karyawan yang suka mengeluhkan atasannya itu: “Kita ini bisa dan sering memerintah…. pasti Aku kabulkan’. “Yang diperintahkan beberapa kali adalah perbanyaklah mengingat Tuhan (zikir) dan perbanyaklah berbuat baik. Kalau ada karyawan yang sedikit-sedikit mengeluhkan atasannya. Saya pernah belajar ilmu mantiq (logika) sewaktu di Madrasah Aliyah Pesantren Sabilil Muttaqien. menurut ilmu itu. Kepada atasan. Lalu. Saya tidak akan menaikkan karir bawahan yang seperti itu. “Tidak ada perintah memperbanyak doa. Magetan. dikemas secara halus dalam wujud yang bernama doa? Mengapa kita selalu memerintah Tuhan untuk memasukkan kita ke surga? Mengapa tidak kita sendiri berusaha sekuat tenaga. Tidak guyon seperti itu. Takeran. Soal kemampuan kita memanajemeni atasan. Dia sudah terpaksa jadi kiai ketika masih amat remaja. misalnya. 16 km dari Kota Magetan. saya tidak pernah membaca ada ajaran seperti itu. Intinya: seorang bawahan. ini soal cara. lalu ditimbuni batu. Padahal. Bahkan. Saya harus mengenang guru saya itu.

Dia mencari jalan beraneka cara untuk mencoba bisa me-manage atasannya dengan bijak. Banyak manajer saya yang kemudian tidak mudah mengeluhkan “ketidakmampuan atasannya”. Bahkan. kepada Tuhan kita berdoa. kepada atasan kita bermohon. Mengapa tidak bisa ditanggulangi. monitoring dilakukan ketat. Kalau toh terjadi. Apa sebabnya. terlalu banyak kasus kegagalan transplantasi liver terjadi justru pada minggu pertama setelah keluar dari ICU. Ini karena ruang biasa tidak dilengkapi peralatan monitor yang serbaotomatis. Bukankah kepada sesama rekan staf. Termasuk yang diterapkan kepada saya. Bahkan. Jadi. keinginan kita yang kita yakini benar bisa dipenuhi oleh atasan. Bukan lagi akibat badan menolak kedatangan liver baru. “Saya berdoa kepadamu mudah-mudahan engkau mau membersihkan kamar kecil itu lebih bersih lagi.” Tapi. Saya membayangkan dia memang pernah belajar kungfu. Justru harus lebih hati-hati. suhu badan diukur tiap dua 30 by Moezhanks . Termasuk bab mengapa liver saya sakit. dan kepada bawahan… teserahlah mau pakai yang mana. itu baru persoalan. kepada bawahan pun kata “minta tolong” akan lebih efektif daripada kata “saya perintahkan” -meski atasan berhak memerintah bawahan. kalau dia lebih pintar dan mampu me-manage saya agar saya mau memenuhi keinginannya. Tapi. tapi juga agar bisa ikut mengontrol kebersihan kamar kecil umum.mungkin dengan gaya “bermohon atau minta petunjuk atau mengiba atau apa sajalah”. tidak ada lagi mata pelajaran ilmu mantiq itu. Karena itu. Kini ancaman kegagalan transplantasi liver bukan lagi seperti dulu. Demikian juga tidak lagi banyak staf yang mengeluhkan rekan kerjanya.) Untuk menjaga jangan sampai terjadi infeksi itulah. (bersambung) Ganti Hati 12 – Perawat Sekaligus Menjadi Polisi Penjaga Virus 6 September 2007 KELUAR dari ICU tidak berarti merdeka. Bukan saja agar sesekali bertemu bawahan di forum itu. bisa diketahui secara dini. sejak masih dalam bentuk gejala. kini sudah ada obat yang sangat modern. Saya sendiri kini masih terus berpikir bagaimana saya bisa me-manage liver baru saya. Untuk mengatasi penolakan itu. Ilmu mantiq ternyata banyak membantu saya dalam menjalankan praktik manajemen. Tentu tidak pas kalau kepada bawahan Anda mengatakan. saya sering juga menggunakan gaya ini kalau hati sudah amat jengkel melihat kamar kecil yang kotor. Obat yang menyinkronkan liver baru dan organ-organ lain yang lama. Yakni. Di kantor-kantor Grup Jawa Pos. Saya sudah bermohon kepadanya untuk jangan sekali-kali kangen akan daging babi. Dan saya dengar di kurikulum madrasah aliyah sekarang ini. ketika pasien terkena infeksi. saya memang melarang pembuatan kamar kecil khusus di ruang pimpinan. Infeksilah yang banyak mengakibatkan kegagalan. Yang penting. kita bisa menggunakan gaya “minta tolong”. Mengeluh berarti tidak cerdas. (Akan ada uraian tersendiri untuk ini di bab-bab berikutnya. Ini agar pimpinan juga menggunakan kamar kecil umum. kemungkinan infeksi pun kini sudah bisa diturunkan maksimal karena adanya cara baru. tapi saya berharap liver baru saya itu belum pernah belajar ilmu mantiq untuk mengalahkan saya. Padahal. kepada sesama kita minta tolong.

Memang. Hasil USG tiap hari itu menunjukkan tidak ada tanda-tanda kegagalan penyambungan liver baru saya. Lega rasanya meski baru lega tahap satu. Pankreas Anda sempurna. suhu badan saya sangat menggembirakan. Tapi. Setelah makan. “Itu hanya karena efek obat. Kali ini saya serahkan saja sepenuhnya pada keahlian dokter. Ini sangat-sangat tinggi.5 (sebelum makan).” ujar seorang suster. paru saya juga dironsen. Termasuk untuk melihat apakah ada masalah pada ginjal saya. Kebetulan. Demikian juga tekanan darah dan denyut jantung. Bukan karena pankreas saya tidak berfungsi. Untuk dites kadar gulanya. Sewaktu saya kemukakan kekhawatiran saya akan tingginya gula darah itu. Obat ini memang punya efek samping yang kuat. Pertama. “Banyak juga yang sukses operasinya. diminum dua kali sehari. semua orang yang masuk ruang saya harus taat akan peraturan ini. Bukan takut hamil. ini juga karena pengaruh obat saja. “Kita akan terus memonitornya.5 sampai 36. Semua harus menggunakan masker penutup mulut dan hidung. saya harus minum obat penyinkron liver baru. Karena itu. saya juga harus minum beberapa obat lainnya. bayangan saya akan transplantasi liver sama sekali berbeda dengan kenyataan dalam praktiknya.” ujar dokter. Tekanan darah saya juga tinggi jika dibandingkan dengan sebelum operasi. apa kegunaannya. Selalu antara 35. Tidak sekali pun dalam minggu pertama itu suhu badan saya naik di atas angka itu.” kata dokter. tapi khawatir jangan-jangan ada yang tidak beres pada sambungan-sambungan pembuluh darah lama dan baru. Lalu. Apalagi keadaan badan saya terus membaik sehingga saya semakin percaya saja pada keputusan dokter. melainkan karena afk tadi. saya disuntik dulu untuk menurunkannya. Juga untuk melihat apakah ada genangan air atau darah di dalam rongga perut saya. gula darah saya 17 (sebelum makan). Sangat prima. Ini untuk melihat apakah ada genangan air atau dahak di paru-paru. Yakni bisa membuat gula darah dan tekanan darah naik. Saya harus tahu persis apa-siapanya. Ujung jari saya di-”ceklik” beberapa kali sehari untuk mengeluarkan sedikit darah. pada hari berikutnya. Bukan karena fungsi pankreas yang jelek. dokter meminta saya tidak waswas. dan apa efek sampingnya. USG tidak lagi dilakukan. Sekitar 4 sampai 6. Selain obat anti penolakan itu. 31 by Moezhanks . Maka. Karena itu. Tiap pagi. kali ini saya putuskan “tidak akan jadi dokter untuk diri saya sendiri”. sebelum makan. dulunya saya amat cerewet kalau diberi obat. Tapi. Pada hari pertama di luar ICU. karena saya memang bukan dokter. tapi tidak kuat jantungnya. selalu antara 80/120 sampai 85/130. Kedua. Namanya afk. Untuk itu pun. Anti penolakan terhadap liver baru. Padahal. Obat ini berupa kapsul kecil-kecil tiga butir. banyak juga yang logika saya ternyata salah. diukur lagi. Tapi. Jangan sampai orang yang menjenguk menularkan virus yang sangat membahayakan. kali ini saya tidak bertanya obat apa saja itu. Misalnya. antara 76 sampai 85. pada hari kelima. gula darah saya sudah normal. sampai malam. saya juga di USG. Sedangkan denyut jantung sangat normal.7 derajat Celsius. harus diukur dulu tekanan darah dan gula darah. tidak perlu takut karena ada obatnya. tidak diperlukan lagi pemeriksaaan gula darah. ada “polisi” keras yang menjaganya: Robert Lai. sebelum makan. Tapi. Pada hari ketiga. Hasil ronsen itu juga menggembirakan. Biasa juga disebut obat antirejection. Pada hari pertama. Siang sedikit.jam. Bahkan. Ini pertanda bahwa infeksi tidak terjadi di dalam tubuh saya. Karena itu. sering saya cek lagi kebenarannya lewat internet. Paru-paru bersih. Bangun tidur bisa mencapai 90/140.

Perawat itu juga menjadi polisi penjaga virus. Tidak kurang satu menit pun atau lebih satu menit pun. Robert. Orangnya umumnya sudah agak tua. Dia orang yang amat disiplin.” ujar Robert Lai. Mereka memang para pensiunan perawat yang masih ingin terus bekerja. Petunjuk itu memang sudah diberikan jauh-jauh hari sebelumnya sehingga saya juga tahu pentingnya kedisiplinan meminumnya. air. tentu Anda tidak berani menegur. dia memutuskan menempatkan perawat khusus di kamar saya. Bagaimana kalau lupa juga? Tetap. Rumah sakit ini punya semacam unit usaha yang menyediakan jasa perawat khusus seperti itu. Yakni. Juga memandikan saya. harus tetap seperti itu. obat sinkronisasi itu dikurangi 30 persen. Bahkan. dia memang hanya bisa berbahasa Mandarin. suhu badan. bisa bicara Mandarin dan beberapa bahasa daerah di Tiongkok. Tahu kalau saya segera operasi. “Trust is good. pengalaman para perawat khusus ini sangat banyak. Dalil “manusia itu tempatnya salah dan lupa” tidak berlaku di sini. Dia tahu persis gejala-gejala yang baik dan gejala-gejala yang kurang baik dalam perkembangan pasien. Sebab. Yang tidak pakai masker. Dia menjadi seperti perawat spesialis pasien ganti liver. tidak boleh lupa. Kehadiran perawat khusus seperti itu amat penting karena belum tentu keluarga kita mengetahui detail mengenai pengobatan. diciptakan sistem kontrol. Jasa mereka itu juga penting karena ternyata banyak juga pasien yang tidak ditunggui keluarganya. Kalau sudah ditetapkan jam enam pagi dan malam. Berarti 24 jam saya bisa belajar Mandarin secara tidak langsung. dua kali sehari. dan kamar. dia ikut melakukan “operasi nonteknik” pada malam menjelang operasi. Tapi.” pesan Robert kepadanya. but control is better. Dan bagi saya. bahkan dengan logat yang sangat daerah. sabar. Dia akan melakukan cek ulang. Melinda dan suaminya sampai membuka sepatu ketika masuk ruang saya. Pak Dahlannya yang kamu pasangi masker. “Kalau ada dokter masuk yang tidak pakai masker. Terutama menjaga ketepatan waktu minum obat. Tidak boleh terlambat. Untungnya. Saya lihat beberapa orang Jepang. menjaga kebersihan pakaian. masuk ke ruang operasi tanpa satu pun ada anggota keluarga yang mengantarkannya.Mengingat indikator-indikator badan saya sudah begitu baik. Dia sudah hafal jenis-jenis obat yang disediakan dan jam-jam penggunaannya. apa pun harus kalah. dan pekerjaan sejenis itu. dia memaksa saya minum obat. perawat yang khusus melayani kepentingan saya selama 24 jam. Juga tidak boleh dipercepat. Perawat itu disiplinnya bukan main. Dia yang juga ikut mengawasi orang keluar masuk kamar. Apalagi lupa. dia tegur. Agar tidak lupa itulah. Untuk meminumnya. Kalau sudah waktunya minum obat. untuk mengukur tekanan darah. tidak pernah ada dokter yang tidak disiplin. Selama 24 jam sehari. Bahkan. Robert memang menugaskan itu khusus kepadanya. sama sekali tidak boleh. ada petunjuk khusus mengenai waktunya. Sudah sebelas bulan ini selalu menemani saya pergi ke mana pun. Untuk mewujudkan prinsip yang dipegangnya itu. Obat ini merupakan obat terpenting dalam menjaga keberhasilan transplantasi liver. dia memtuskan menunggu saya sampai beberapa hari setelah operasi. apakah obat yang diberikan lengkap atau tidak. Karena itu. Salah atau tidak. Semula Melinda dan suaminya hanya ingin menengok saya karena kebetulan lagi di Tiongkok. dia juga guru bahasa Mandarin. ahli hukum dari Singapura lulusan Inggris itu. pada hari keenam. Jangan ditegur. Mengingat begitu banyak pasien ganti liver yang pernah mereka rawat. meski bahasa pertamanya adalah Inggris. Tepat jam enam. 32 by Moezhanks . Kini tinggal dua kapsul kecil sekali minum. dan punya keterampilan sebagai perawat. perawat khusus tersebut yang melakukan. handuk.

” Kenapa waktu itu tidak menjalani vaksinasi? “Karena tidak tahu. Masak saya harus jadi pembunuh saudara tua saya. Bikin saya malu. yang gagal saya usir atau saya matikan.” Mengapa liver saya bisa sirosis? “Karena saya mengidap virus hepatitis B. “Saya tidak mau dituduh sebagai pembunuh Pak Dahlan.” Mengapa sering lelah? “Masak itu ditanyakan.” Mengapa ada kanker di liver saya? “Karena liver saya sudah tidak normal. Tapi. Virus itu menjadi aktif dan merusak liver karena kondisi badan saya sering sangat lelah.” Kenapa ada virus hepatitis B di liver saya? “Karena liver saya tidak kebal ketika virus untuk pertama kalinya datang dan masuk ke dalam liver saya. He… he…. dan rusak. bos Pakuwon Jati itu mengatakan. virus yang semula tidur saja di dalam liver punya kesempatan melakukan aksinya tanpa perlawanan yang berarti dari badan saya yang sedang lemah. sudah mengecil.” katanya.” 33 by Moezhanks .Ketika saya beri tahu tidak perlulah masuk kamar sampai copot sepatu. “Dia lao da saya. “Kamar ini harus lebih bersih daripada sepatu saya. Istilahnya. sudah mencapai tahap terjadi sirosis.” Kenapa badan saya tidak kebal? “Karena saya tidak pernah menjalani vaksinasi antihepatitis B saat saya masih bayi/kecil. 25 Juta Orang Menghadapi seperti Saya 7 September 2007 MENGAPA saya harus menjalani transplantasi liver? “Karena sudah ada kanker di liver saya dan sudah mulai menyebar ke beberapa tempat meski semuanya masih di dalam liver. (Bersambung) Ganti Hati 13 – Boleh Tak Mengaku. Juga karena negara waktu itu masih sangat miskin dan pemerintah sibuk mengurus politik atau rebutan posisi. mengeras.” Kenapa tidak tahu? “Karena tidak berpendidikan dan tidak cukup pengetahuan.” Saya tahu sepatunya amat mahal dan tentu juga amat bersih. Saat badan lemah.” tambahnya. dia tetap copot sepatu.

sekali lagi. sekitar 10 persen penduduk kita terkena hepatitis B. tapi kalau sumber donor untuk liver makin terbatas. kita tidak akan pernah tahu harus menunggu sampai berapa lama. itu soal lain. Penantian yang tidak jelas harus berapa lama.” ujar Deputi Menteri Kesehatan Tiongkok Hao Yang saat melakukan kampanye vaksinasi hepatitis B pekan lalu seperti yang disiarkan China Daily 1 September barusan. liver yang ada harus diprioritaskan untuk penduduk Tiongkok sendiri. tapi akan sangat baik kalau dipakai menyadarkan ibu-ibu untuk memvaksinkan bayinya agar kebal terhadap virus hepatitis B. seperti yang dilakukan Tiongkok saat ini. Yang juga berarti terus berjalannya argometer biaya. sekitar 25 juta orang sedang menghadapi masa depan seperti saya. petani atau buruh tani. Ini sangat wajar karena persoalan seperti ini akan bisa jadi isu nasional di negara tersebut. Soal jarang yang mengakui. “Di Tiongkok sendiri kini terdapat 120 juta orang yang mengidap hepatitis B. Tiap suntik harga obatnya sekitar Rp 75.” Kenapa miskin? “Karena tidak berpendidikan. belum tentu operasinya bisa berhasil. bahwa 40 persen di antara segala macam penularan virus terjadi dari ibu ke anaknya. Tiap negara kini cenderung melindungi rakyatnya sendiri sehingga. Kesempatan menjalani transplantasi juga kian kecil. 34 by Moezhanks . bagaimana? Bukankah kesempatan untuk menjalani transplantasi di masa depan kian langka? Termasuk bagi yang mampu transplantasi sekalipun? Bukankah lantas antrean untuk dapat giliran transplan kian panjang? Dan kian lama? Saya sendiri perlu empat bulan menunggu. direktur Asian Liver Centre di Stanford University AS. Padahal. juga tidak akan tahu masih harus berapa banyak lagi uang yang disiapkan. Artinya. Artinya.000. kenapa Anda tidak berpendidikan dan tidak cukup pengetahuan? “Karena miskin sekali. Tapi. Hao Yang lantas mengutip angka dari Samuel So. seluruh bayi sejak 1982 harus tiga kali divaksin antihepatitis. Dalam keadaan harus terus siap. Keluarga saya.” Kenapa tidak berpendidikan? “Karena miskin!” *** Itu bukan kata-kata juru penerang PKK yang setelah zaman reformasi tidak lagi berperan aktif. Kalau toh banyak yang mampu.Soal pemerintah tidak perlu ditanyakan lebih lanjut. Seluruhnya ditanggung negara. hampir semuanya. Di Tiongkok. Sebab. *** Meski ilmu pengetahuan semakin maju dan keterampilan dokter juga kian sempurna. Padahal. pencegahan sangat penting. belum tentu semuanya mendapatkan kesempatan sebaik saya: bisa menjalani transplantasi liver. Maka. Empat bulan harus tinggal di luar negeri dan dengan keluarga yang harus mondar-mandir tentu bukan hal yang sederhana.

Yakni apakah boleh. Kok di Timur Tengah itu tiap hari orang dengan gampang menghilangkan nyawa. Alasan keadilan lantas memperkuatnya. Kalau mereka tidak terlayani karena miskin. Selama penantian. Tapi. akan ada aturan bahwa suatu negara tidak boleh mendonorkan organ kepada penduduk suatu negara yang negara itu atau penduduknya melarang melakukan donor organ. Yang terkena hepatitis B saja mencapai 120 juta orang. Mengapa? “Sudah tidak layak antre. Suatu celetukan yang mungkin juga mencerminkan rasa jenuh karena begitu lamanya menunggu. Sebab.” ujar dr Tong Ming Chuan. Ini berarti pendonornya harus meninggal. orang kaya di Tiongkok bertambah-tambah dengan drastisnya. di Singapura sendiri antara kesediaan liver dan yang memerlukannya jauh lebih banyak yang terakhir. Begitu banyak orang Tiongkok sendiri yang memerlukan transplantasi. tinggal satu yang masih memenuhi syarat dalam daftar. Indonesia tidak mendukung digalakkannya donor organ atau penduduk Indonesia mengharamkan donor organ. Dimulai dari munculnya kebijakan memprioritaskan penduduk negaranya sendiri. 35 by Moezhanks .Dengan logikanya yang sederhana. Kini sudah terasa gejalanya.” katanya. Sebanyak 555 orang antre untuk transplan ginjal dan 16 orang antre liver. Ada soal yang bagi orang Islam lebih prinsip. Isu yang akan lebih mendominasi masa depan dunia. Artinya. donor jantung lebih sulit.” katanya. Bisa jadi. mendonorkan organ tubuh? Apakah boleh organ dari orang yang baru meninggal diambil untuk menyelamatkan orang lain? Soal itu di masa depan tidak hanya akan jadi isu agama. kelak. setiap saat selalu ada pasien antre yang dicoret dari daftar antre. kini. Karena itu. “Tiga di antara empat orang yang dicoret dari daftar antre itu tak lama kemudian memang meninggal. sudah sama dengan separo penduduk Indonesia. Bahkan. Di antara lima orang yang antre transplan jantung. “Donor liver atau ginjal bisa berupa separo organ tersebut. tidak kuat bayar. Singapura sudah lebih dulu membuat aturan seperti itu.” ujar dr Tong sebagaimana disiarkan The Strait Times 2 September lalu. Sebab. secara Islam. “Begini sulit ya mempertahankan satu nyawa. Istri saya lantas menyebut banyaknya orang Timur Tengah yang antre di rumah sakit ini. Kini. kondisi badannya sudah semakin buruk. mendaftar sekarang baru akan dapat liver 10 tahun lagi. melarang sama sekali liver orang Singapura untuk orang non-Singapura. Akan menjadi isu politik yang sensitif bagi Tiongkok yang lagi gencar-gencarnya memerangi kesenjangan sosial. Awal bulan ini. maka di masa depan orang Indonesia tidak boleh menerima sumbangan organ dari warga negara lain. Tiongkok sudah mengubahnya empat bulan lalu. maka akan menjadi isu kesenjangan sosial. “Bukankah di sana banyak sumber liver? Dari mereka yang begitu banyak meninggal muda itu? Dan pasti lebih pas karena dari ras yang sama?” celetuk istri saya. Tapi juga isu keadilan. saah seorang direktur program jantungparu Singapura. Misalnya. Tapi. Mereka tentu akan semakin mampu dalam ikut “memperebutkan” donor yang kian terbatas. donor jantung harus satu jantung utuh. Orang asing tidak akan gampang lagi mendapatkan donor dari penduduk setempat. panjang antrean itu ratusan orang di Singapura. itu tidak berarti bisa cepat dapat giliran. diberitakan antrean transplantasi di Singapura sudah sampai 10 tahun. Tentu tidak sesederhana itu. Kesadaran seperti itu akan membuat banyak negara ikut mengubah peraturannya. istri saya sering nyeletuk. Belum lagi.

tahun lalu enam orang meninggal karena perkembangan sakit livernya lebih cepat daripada waktu antrenya. Sayang donornya. Ini terkait dengan keyakinan agama. Kemiskinan rame-rame. sebagaimana yang sudah disepakati di banyak negara maju. Kami miskin bukan karena harta habis untuk main judi atau untuk mabuk-mabukan atau untuk narkoba. nanti akan dibalik. Begitu seriusnya problem defisit donor itu. kalau peraturan lama yang dipakai menentukan tibanya saat kematian. kecuali yang keberatan saja. Bahkan hampir di semua kampung saya. Jadi. Terutama apakah yang dimaksud dengan ajal di situ. Kini kekhususan itu tidak ada lagi. Yang jelas. Saya jadi berpikir dan diskusi lagi dengan diri sendiri. Satu perdebatan yang amat teknismedis di sekitar saat kematian datang. Kemiskinan yang juga dialami banyak orang di lingkungan saya. peluang berhasilnya tipis. Saat kematian ternyata bisa diajukan atau dimundurkan walau hanya sesaat. Kami memang tidak punya harta. saya menderita sakit liver. sehingga Tiongkok juga akan mengubah peraturan di bidang kedokteran tentang “kapan seseorang dinyatakan meninggal”. Kini. Sudah terlalu terlambat untuk transplan. Kemiskinan kami adalah kemiskinan struktural. Kalau toh dipaksakan. Artinya. Kalau selama ini organ hanya diambilkan hanya dari orang yang sudah menyatakan organnya boleh didonorkan. Peraturan baru sedang disiapkan. organ semua orang Singapura secara otomatis boleh diambil setelah dia mati. Selama ini. yang 139 orang juga sudah tidak memenuhi syarat lagi untuk transplan. (Bersambung) Ganti Hati 14 – Tersenyum ketika Dioperasi seperti Menikmati Kemiskinan 8 September 2007 JELASLAH bahwa karena kemiskinan dan kejumudan yang melatarbelakangi. Saya sendiri tidak paham istilah-istilahnya. diperkirakan yang 22 orang sudah akan meninggal tidak lama lagi. Singapura akan melangkah lebih jauh. Khusus untuk yang antre liver saja. “Peraturan ini juga akan berlaku bagi penduduknya yang beragama Islam. Di antara 139 itu pun. Mendingan diberikan kepada pasien yang kans berhasilnya lebih besar. Di kapupaten saya. akan banyak sekali organ yang sudah terlanjur “ikut mati”. Maka. Bagi yang paham ayat Al Kitab mengenai kematian (idza jaa-a ajal luhum…) tentu satu pekerjaan tersendiri untuk mendiskusikannya. Ini seperti prinsip ushul-fikh (kaidah aturan): semua yang tidak dilarang berarti dibolehkan. Menjadi: hanya orang yang menyatakan keberatan saja. 36 by Moezhanks . aturan menentukan saat kematian itu akan dibuat lebih awal. yang organnya tidak bisa jadi donor. aturan transplan selalu dikecualikan bagi yang muslim. Kami bisa menikmatinya bersama-sama. Juga di negara saya. Karena itu. Ini akan tidak bisa dimanfaatkan untuk amal jariyah berikutnya. Ini setelah awal Agustus kemarin diperdebatkan di forum para ahli transplantasi di Beijing.Di antara 555 orang itu terakhir. Tidak.” katanya. Yakni saat-saat kematian batang otak. Apakah saya menyesali dilahirkan di keluarga miskin? Sama sekali tidak. Singapura akan menggunakan prinsip ushul-fikh itu. jangan sampai ada yang menyangka bahwa kami sangat menderita. siapa yang harus hidup dan siapa yang harus mati ternyata bisa ditentukan oleh dokter.

Lalu dipeliharanlah ayam tunggal itu. kupatan. Sering ibu harus membeli dulu satu telur. Bapak sangat menjunjung tinggi adat itu. itu pun jangan disalahkan. dan ngapurancang di depan teman sesama abdi dalem itu. dan seterusnya. salah satunya harus opor ayam. semua aliran tasawuf punyai klaim yang sama untuk kiai mereka sendiri. Bapak adalah idola kami dalam bersikap tawadluk -hormat kepada sesepuh. Sesepuh kami. Tentu. Agar lontong masak sempurna dan tidak basi sampai seminggu pun. dan seterusnya. Bapak langsung merasa sedang berhadapan dengan kiainya sendiri. Itulah saatnya kami. kami hafal benar kapan akan ada mauludan atau megengan. Sampai tiba saatnya harus dipotong untuk dihaturkan kepada kiai kami yang sebenarnya sudah kaya. Juga harus ada cakar ayam untuk lambang doa kuat melangkah. Tapi. kami dilarang untuk masuk sampai ke dalam rumahnya. bapak saya tidak tahu itu. kurang hemat. Guru yang oleh bapak dipercaya sebagai wasilah dalam term filsafat ahl-dzikr. semua kami wujudkan dalam makanan seperti seolah-olah kami bisu. Ternyata. Dan meyakini bahwa kiainya. Bahkan sudah kami nantikan sejak berhari-hari sebelumnya.” kata bapak saya. bapak bicara seenaknya dan penuh guyon dengan tamunya. Dagingnya untuk punjungan. bapak kedatangan tamu yang dulu sesama abdi dalem di rumah kiai tersebut. Kiai kami adalah gurutarikat kami. Lalu dititipkan ke tetangga untuk bersama-sama ditetaskan di situ. Ibu pandai sekali bikin opor ayam. wetonan. Pokoknya. Bapak langsung menggunakan kata-kata kromo inggil (bahasa Jawa level tertinggi) dalam percakapan dengan temannya itu. Misalnya saja. Tapi. Juga “keborosan-yang-beradab”. mitoni. Setiap kupatan. Itulah saatnya kami bisa makan telur. bisa memperebutkan daging ayam secuil. kami hanya boleh makan sedikit kuahnya. Daun pembungkusnya harus daun pisang raja agar harumnya khas. kami tidak mungkin mampu membeli ayam. Kami harus banyak keluar biaya untuk selamatan Lebaran. Bapak akan langsung bersila. “Ahl-dzikr hanya satu di dunia. Sayurnya harus lima macam. sikap bapak otomatis berubah. begitu si tamu mengatakan kedatangannya hari itu diutus sang kiai. Satu bentuk selamatan di serambi masjid yang amat kami tunggu-tunggu. Punjungan itu berbentuk makanan yang paling istimewa. Ibu membuat lontong yang untuk merebusnya saja diperlukan waktu 24 jam. rebowekasan.Kalau toh kami boros. tapi semua itu kami niati untuk ibadah -entah apakah seharusnya pakai selamatan segala. Ibu sudah menyiapkan ayam itu sejak enam bulan sebelum kupatan. megengan. Meski kiai tersebut masih paman ibu saya sendiri. rejeban. mauludan. kalau nasibnya baik -yakni dapat ambeng yang baik-. Di jalan. menunduk. kami juga harus munjung ke kiai kami. Keborosan kami adalah “keborosanreligius”. harus ada sayur kluwih untuk menandakan bahwa kita ingin rezeki yang linuwih (berlebih). Kiai kami bukan sembarang kiai. Tahunya ya hanya tasawuf Sathariyah. Karena itu. Karena itu. Kami berjalan kaki sejauh 6 kilometer untuk sampai ke rumah sesepuh kami itu. KH Imam Mursyid Muttaqien. Tentu. Tapi. Tapi. sunatan. Bukan gaplek. Kami hanya boleh mengantar sampai teras samping rumah pendapa itu. Terutama saat kami masih kecil. Ini karena menurut tata bahasa Arab (nahwu). Itulah saatnya kami bisa makan nasi. itu juga kami perlukan sebagai wujud donga-katon (doa yang dipersonifikasikan). kata ahl di situ menunjukkan bentuk tunggal (ism mufrad). adalah sang “ahl dzikr” nan tunggal. Saya pernah bertugas mengantarkan punjungan yang aromanya sangat harum itu. Bukan hanya sambal atau garam. Kami juga harus slametan nyepasari. 37 by Moezhanks . Kami sangat menyenangi selamatan. Tidak ada ahl-dzikr lain di dunia ini kecuali kiai kami itu. kami bisa mengira-ngira nikmatnya makanan yang akan kami antar itu karena kami sudah merasakan rasa kuahnya. yakni boros untuk melestarikan adat-istiadat.

Hidup. jadilah dia pocongan. Saya. sarung itu belum akan pensiun. memang hanya punya satu celana pendek dan satu baju. harus dijalani apa adanya. seperti juga orang kaya punya cara sendiri menikmati kekayaannya. meski hanya satu potong kain. yang direbus itu adalah batu. orang kaya merasa iba kepada orang miskin. mencari rezeki. jadilah dia benda penting menghadap Tuhan. ibunya pura-pura merebus sesuatu. tapi saya masih punya satu sarung! Jangan remehkan kemampuan sarung ini. 38 by Moezhanks . Mati pun dianggap. masih bisa ditambal. Cerita yang demikian jadi kebanggaan. kisah tentang bagaimana Khalifah Umar menemukan orang miskin yang anaknya menagis terus karena lapar. dengan wayang terbuat dari rumput dan gamelan dari mulut teman-teman). Kalau saya lagi mencuci baju. saya ikat ujung sarung itu: jadilah dia semacam payung parasit. sarung itu saya bentangkan dengan tiang pendek di kiri kanannya: jadilah dia kelir. Karena itu. Atau bagaimana nabi hanya memakan kurma dua biji setelah seharian berpuasa. saya ikatkan kuat-kuat sarung itu di pinggang: jadilah dia pengganjal perut yang andal. Kadang. sering juga orang miskin merasa kasihan kepada orang kaya. Lapar itu sering luar biasa nikmatnya. Apalagi suasananya sering diciptakan demikian. kalau memang sudah garisnya. Padahal. fleksibelnya bukan main. sarung itu bisa saya kemulkan di bagian atas badan saya. sarung kami bentangkan di atas kepala: jadilah dia layar. Masih bisa dirobekrobek: bagian yang besar bisa untuk sarung bantal. Orang miskin punya jalan sendiri untuk menikmati kemiskinannya. sarung itu bisa jadi bawahan. bagian yang kecil untuk popok bayi. Kalau di tempat jahitan itu robek lagi. bagi orang miskin. Kalau sarung itu robek (biasa waktu dipancal kaki saat tidur kedinginan atau saat kena duri bambu saat mencuri tebu). Mulai jadi alat ibadah. sampai jadi alat memeras atau menakut-nakuti. fashion. Kalau saya lagi lomba terjun ke sungai dari atas jembatan. alat hiburan. Untuk meredam tangis si anak. Saya belum menemukan bentuk pakaian lain yang fleksibelnya melebihi sarung. Miskin pun bisa dinikmati. Kalau lagi musim angin dan kami ingin bermain-main dengan angin itu. harus diterima apa adanya. sarung itu bisa jadi karung. Misalnya saja. Kalau saya lagi harus mencuci celana. Sakit bisa dinikmati. Kalau saya lagi ingin mendalang (waktu kecil saya suka sekali mendalang. Kalau lagi mau nakut-nakuti anak kecil. kesehatan. waktu kecil. Kalau sembahyang.Kami sungguh menikmati kemiskinan kami seperti menikmati khayalan mengenai lezatnya opor ayam yang disiapkan sejak enam bulan sebelumnya itu. Dia bisa jadi apa saja. sarung itu masih bisa dijahit. Padahal. Kalau tambalannya pun sudah robek. Kalau kami lagi cari sisa-sisa panen kedelai di sawah orang kaya. Banyak orang desa yang merasa kasihan kepada Tommy Soeharto yang akhirnya harus menderita. Juga cerita sufi tentang bagaimana orang sakti yang kalau lapar cukup mengganjal perutnya dengan batu. Mereka tidak tahu bahwa Tommy masih kaya raya. Sarung inilah pakaian yang. Kalau perut lagi lapar sekali dan di rumah tidak ada makanan sama sekali. jadilah dia selimut. Jangankan terkena kanker atau sirosis atau hepatitis. Kalau lagi kedinginan.

(Bersambung) Ganti Hati 15 – Setelah Rutin Disuntik. marilah kita sering tersenyum. Maka. Itulah sedekah yang sudah sejak kecil diajarkan -dan yang dulu satu-satunya yang mampu kami lakukan. Karena hidup seperti itu dilakukan sejak kecil. kemungkinan penularannya juga tidak kecil. tidak bisa diundur sekejap pun atau dimajukan sedikit pun” menjadi amat populer. Saat itu juga saya langsung mengambil langkah. Sangat sering diajarkan bahwa sedekah tidak harus dengan harta. Juga harus disiplin tinggi karena obat itu harus disuntikkan 76 kali. Namanya interveron. tentu itu karena gaya hidup di desa yang memang seperti itu. Menyangka Hepatitis Sudah Beres 9 September 2007 SAYA menerima kehadiran virus hepatitis B di liver saya sebagai takdir. Melebihi popularitas ayat yang mengajarkan “carilah rezeki di bumi Tuhan ini”. Tidak ada keajaiban di proses itu. Bahwa keluarga saya banyak yang demikian. Karena itu. Mau dioperasi besar pun saya tersenyum. karena memang sebelumnya tidak pernah ditemukan obat untuk melawan virus itu. Tapi. karena menyangkut begitu banyak orang. Prof Hassan mengingatkan bahwa harganya mahal sekali. Tinggal waktu saja yang berbeda. setiap dua hari sekali. itu sebagai sunnatullah-Nya -sudah seharusnya begitu. jangan ada harapan sirosis tidak akan jadi kanker. Maka saya harus periksa darah. tersenyum pun sudah sedekah. sejak kecil. Jangan harap satu virus hepatitis B tidak akan menjadi sirosis. ketika untuk kali pertama dalam hidup saya memeriksakan darah. Di Tiongkok sejak 1982. Waktu itu tiba-tiba badan saya panas sekali. Tidak ada mukjizat. *** Saya sendiri tahu kalau mengidap hepatitis B sejak sekitar 25 tahun lalu. Yakni. bukan keturunan atau gen. Dan. Ke depan mestinya virus ini amat berkurang karena kesadaran melakukan vaksinasi hepatitis kepada bayi sangat tinggi. Kisah sedekah yang populer juga terkait dengan kemiskinan. seperti yang semula saya kira. Di Indonesia terutama sejak zaman Orde Baru. cuci tangan dari kobokan yang sama. Sebelumnya. Konsultasi dengan salah satu dokter ahli penyakit dalam terbaik di Surabaya: Prof Mohamad Hassan (kini almarhum). Semua bisa saja jadi sarana penularan. Diketahuilah bahwa ada virus hepatitis B di liver saya. Di Indonesia. persentasenya saya kira hampir sama. Menyingkirkan duri dari tengah jalan pun sudah merupakan sedekah. data terbaru menyebutkan hampir 10 persen penduduknya terkena virus hepatitis. pasti datangnya dari luar. Di Tiongkok. kalau badan panas yang dibiarkan saja: toh akan dingin sendiri. Dia mendengar ada obat yang masih baru sama sekali. Jadi. berebut lauk dari piring yang sama. Bahkan. Makan bersama. saya boleh mencoba obat baru itu. Karena namanya virus. Ini berarti lebih dari 120 juta orang.ayat yang menyatakan “kalau sudah tiba waktunya. Kini interveron sudah amat murah dibanding 39 by Moezhanks . penelitian terhadap hepatitis intensif sekali di Tiongkok. Kalau kemudian berkembang menjadi sirosis dan kanker. Proses perkembangan itu lama atau cepat. Kalau mau.

Saya tunggu sampai malam. Saya tidak pernah lagi memperhatikannya. saya langsung siap-siap selimut tebal. Pada hari dilakukan penyuntikan pertama. Saya bisa menyuntikkan interveron berikutnya di mana pun saya mau. Barangnya juga sudah lebih mudah didapat. Tangan sudah selalu siap memegang selimut kalau tiba-tiba harus segera menutupkan ke tubuh saya. saya dengar kualitas interveron sudah semakin baik. katanya. tapi tetap mahal untuk kebanyakan orang. siapa tahu saya masuk yang 25 persen itu. Lalu saya boleh pulang. saya sudah melupakan hepatitis saya. Prof Hassan juga memberitahukan bahwa kemungkinan berhasilnya juga tidak 100 persen. hepatitis saya sudah beres. Badan saya yang selalu fit. saya menjadi lengah. Sudah puluhan kali lebih kuat daripada 25 tahun lalu -saat saya pertama menggunakannya. Bisa di kantor. Saya tenggelam oleh kesibukan dan kecerobohan saya sendiri. Tentu saya bawa juga interveron itu. atau di praktik dokter. virus tidak akan merajalela. Di sana umumnya dokter tidak tahu obat apa yang saya bawa itu. Murah untuk ukuran orang sakit liver. Sejak minum interveron itu saya tidak pernah mencari tahu lagi apakah sudah ada obat yang lebih jitu. Mengapa harus ngamar? “Akibat suntikan itu. Terbang dan terbang. saya juga harus mengejar pesawat. suhu badan bisa tinggi sekali. Pujian bahwa saya adalah orang yang “tidak punya udel” (tidak punya pusar. Sudah saya jelaskan panjang lebar. Tapi. tetap saja dia tidak mau. membuat saya terlalu percaya diri. Kalau tidak tahu. Sebab. Kalau terjadi sesuatu yang membahayakan. Ya. Harganya pun sudah jauh lebih murah dibanding ketika saya harus membeli dulu. baru 25 persen. di poliklinik. Ketika pertama suntik saya harus ngamar di rumah sakit. Maka setiap dua hari saya suntik interveron. Maksudnya. melainkan hanya mengurungnya. Obat itu berfungsi bukan membunuh virusnya. Kini. Akhirnya saya minta disuntik di pos kesehatan bandara Batam. 40 by Moezhanks . Saya pun menyetujuinya. Saya tunggu kedatangan “suhu tinggi” dan “rasa menggigil” itu sampai sore. Mulai Surabaya-Jakarta-Pontianak-Kuching-Singapura-Guangzhou-Wenzhou-Jinhua-Hangzhou-NanchangGuangzhou-Jakarta-Makassar-Ambon-Makassar-Kendari-Makssar-Jakarta-Surabaya. ternyata si demam tidak datang juga. Tiongkok juga sudah memproduksinya besar-besaran. Maklum. Saya menyimpan interveron itu di termos khusus yang bisa saya bawa bepergian. Di dalam negeri dan ke luar negeri. Bahkan sampai besoknya pun. Saya pilih RS Budi Mulia di Jalan Raya Gubeng. Memang seharusnya demikian.” katanya. memang obat yang masih sangat baru. Ke mana-mana saya membawa termos itu berikut alat suntiknya. Yang jadi persoalan adalah bukan tidak mau. Saya menyangka. Saya terus kerja dan kerja. untuk menggambarkan punya kemampuan kerja kuda) membuat saya terlena.harga 25 tahun lalu. Pernah suatu saat saya harus ke Ambon. tidak boleh melakukannya. saya sudah tidak bingung lagi. Bahkan. tapi memang betul-betul belum tahu obat tersebut. Kalau panas datang dan badan menggigil. dengan dikurung seperti itu. Setelah proses itu selesai. Di Ambon ternyata sulit sekali mencari dokter yang mau menyuntikkannya. Hari itu saya terbang ke 19 kota hanya dalam waktu 8 hari. memang belum ada obat ang bisa membunuhnya. Padahal. Pernah juga saya mengalami kesulitan yang sama saat berada di Batam. Anda sudah berada di rumah sakit. Sampailah pada Mei 2005.

Anak buah saya. Mengapa tidak mau sarapan? Setiap ke Ambon saya punya cita-cita khusus: akan makan durian sebanyak-banyaknya. barulah saya bisa tidur dengan baik. Saya memang punya forum yang disebut “bengkel wartawan”. Tiba di Surabaya. keluar dari bandara. sudah tidak tahan lagi untuk segera makan durian. Meski perut mulas. pukul empat sudah harus berangkat ke Makassar. Berarti makan siang juga kelewatan. Tentu ada yang tercecer di lantai kamar. Tapi. Mestinya. Tapi. tengah malam itu saya masih harus ke percetakan. Setelah onggokan itu saya injak. Oh. Papeda malam itu merupakan makanan terpedas yang pernah saya alami setelah makanan yang disebut suai yang ru di Chongqing. sejak kerusuhan Ambon. 41 by Moezhanks . Ikan laut Ambon segarnya. Mungkin ikan-ikan Ambon cemburu dan marah mengapa malam itu saya melupakannya. saya tidak tahu lagi di mana restoran yang terkenal itu membuka usaha. Malamnya. di mana Bambang-Arief terpilih. menjadi calon wakil wali kota mendampingi calon Wali Kota Bambang D. Bangun tidur. bersama Ibu Eric Samola. Di forum “bengkel” itulah saya selalu diminta menularkan pengetahuan dan keterampilan jurnalistik. Dulu. Rapat pun buru-buru karena harus segera ke Kendari. Sambil tangan menampung muntahan. Paman-paman saya. Di Kendari saya juga punya cita-cita khusus: makan ikan bakar. Selesai forum bengkel. manisnya. rapat masih diteruskan dengan mengajar. Saya memang merencanakan ke dokter. tapi besoklah. jangan belok kanan ke arah kota. Tiongkok. Saya harus memilihnya sebagai dukungan ke anak buah. Barulah selesai coblosan saya ke Rumah Sakit Darmo Surabaya. bukan kepalang. Tiba di Ambon tidak mau sarapan. tiba-tiba saya mau muntah. Perkembangan hasil pilkada itu. Saya selalu merindukannya. Juga ibu saya. Hari itu bumbunya juga pedas bukan kepalang. Pimred Jawa Pos Arif Afandi. Bisa jadi muntah darah itu akan sangat fatal dan mematikan. Kenyanglah. badan saya rasanya baik-baik saja. setiap kedatangan saya ke anak perusahaan selalu dimanfaatkan untuk pertemuan dengan wartawan. bergabung dengan saya di Makkasar untuk sama-sama ke Ambon. Makannya tidak di pantai Ambon tidak apa-apa.Istri saya. ternyata saya muntah darah. Apalagi kalau dimakan di pantai yang sangat natural itu: pantai Ambon yang indah. Di mana itu? Kalau Anda turun dari pesawat. Kebetulan di depan kantor. tapi kedua tangan saya menjadi penadah. Durian Ambon luar biasa enaknya. rapat dengan harian Kendari Post yang waktu itu juga lagi membangun Graha Pena Kendari. Lalu menyantet perut saya. Dari yang tercecer itulah saya lihat banyak onggokan berwarna hitam. Saya ternyata memang harus ngamar di rumah sakit. Saya muntahkan saja. banyak penjual durian. Lupa sudah makan siang. mengapa begitu muntah darah tidak langsung ke rumah sakit. Aduh naturalnya! Tapi. tapi belok kiri ke arah kampung. Dokter menyesalkan saya. Mestinya tetap saja makan ikan laut. saya ke kantor lagi sambil seperti menangis. Setelah saya menghadiri coblosan pemilihan wali kota Surabaya. di pinggir jalan depan Masjid Al Fatah. langsung ke kantor harian Ambon Ekspress untuk rapat. Dokter bilang saya beruntung. Paginya.H. ternyata warnanya merah: darah. Rapat dengan harian Fajar yang kini baru menyelesaikan membangun gedung Graha Pena Makassar. saya lari ke toilet untuk membuang muntahan yang ada di tangan. saya jangan makan papeda malam itu. Lalu saya ingat kakak saya yang meninggal tidak lama setelah muntah darah. setelah makan malam dengan menu makanan lokal yang disebut papeda. saya ketahui saat saya berbaring di ranjang pasien. enaknya. Perut saya mulai bergolak malam itu.

“Sebaiknya Pak Dahlan segera ke Singapura. Dari tenggorokan. penyakit tidak mau mampir ke badan saya karena tidak akan dilayani akibat kesibukannya. pasien akan mengalami pendarahan hebat yang sulit dikendalikan. Penyakit tetap datang dan diam-diam menggerogoti onderdil saya. Saya diperiksa di situ untuk 42 by Moezhanks . Dalam istilah teman saya. pembuluh darah esofagus yang menggelembung dinamakan varises esofagus. saya mampir ke seorang ahli penyakit dalam yang terkenal di RS Mount Elizabeth. Sebuah kerusakan di dalam. Karena tidak kolaps ketika beberapa gelembung varises di esofagus saya pecah dan menyebabkan saya muntah darah dua hari sebelum endoskopi dilakukan. saya termasuk orang yang beruntung. yang sudah sangat ahli dan senior di bidang itu. Tindakan ini dalam istilah kedokteran disebut dengan endoskopi. melalui pipa esofagus (yang menghubungkan mulut dengan lambung). karena dinding pembuluh darah esofagus lebih tipis. Dari gambar yang dipantulkan alat itu terlihat. Akibatnya bisa sangat fatal. Yang mengendoskopi saya ketika di RS Darmo Surabaya saat itu adalah dr Pangestu Adi SpPD-KGEH. (bersambung) Ganti Hati 16 – Esofagus Ditambal atau Bilang Saja Pencernaan Dilaminating 10 September 2007 KETIKA kartu suara pemilihan wali kota Surabaya dihitung. Dalam istilah medis. pasien meninggal karena kehabisan darah. Hanya. rasa badan saya baik-baik saja. Tahu-tahu saja sudah terlambat sekali. Kata banyak dokter di Surabaya ketika itu. tekanan di pembuluh darah utama itu pun jadi meningkat. betapa banyak gelembung darah yang siap pecah di sepanjang esofagus saya. Saya dibius. Disebut varises karena memang mirip varises di betis. Tenggorokan saya dimasuki alat yang ujungnya berkamera superkecil. banyak juga yang besar. Jika itu terjadi.” tambahnya. yang tidak segera diketahui di luarnya.” ujar Prof Dr dr Boediwarsono SpPD-KHOM yang merawat saya ketika itu. Itu sebabnya mengapa limpa saya juga ikut membesar sampai hampir tiga kali lipat. Sampai saat itu. Gelembung-gelembung itu sebenarnya adalah pembuluh darah esofagus yang karena tekanannya terlalu besar lantas menggelembung. Dalam kesempatan pertama. varises di bagian itu lebih gampang meletus. alat itu masuk sampai ke lambung saya. Karena tak segera diturunkan. pecah. Ternyata semua itu menipu. Yakni. Varises esofagus terjadi karena pembuluh darah utama yang masuk ke liver menyempit akibat adanya sirosis. “Lebih baik dilakukan di sana. Bahaya yang selalu kalah dengan semangat. Bahaya yang sama sekali tidak saya rasakan sebelumnya. Baru dua minggu kemudian. Maklum. Ada yang kecil. saya masih belum memahami sepenuhnya bahaya yang saya hadapi. Karena pintu masuknya menyempit. ketika ada acara di Singapura. dokter RS Darmo Surabaya juga mulai melihat dari mana asal darah yang saya muntahkan.Pemeriksaan di Rumah Sakit Darmo menunjukkan betapa berbahayanya sakit saya. tekanan itu pun merembet sampai ke pembuluh darah esofagus dan limpa.

dan menjadi gelembung-gelembung darah lagi. beban bagi tubuh saya akan terlalu berat. Robert Lai. kepada keluarga saya. saya menggunakan istilah yang lebih sederhana lagi: Saluran pencernaan saya “dilaminating”. Saya juga sudah minta tolong agar teman saya. selesai rapat. Sehingga selama lima tahun sebagai Dirut perusahaan daerah. teratasi sementara. kalau yang “dilaminating” kebanyakan. Minggu depannya. hari itu dokter hanya punya waktu untuk mengatasi gelembung yang besar-besar. Antara lain dengan menuangkan semacam lem berwarna putih ke gelembung-gelembung varises di esofagus saya. Agar kedatangan saya ke Singapura minggu depannya lebih efektif. lawyer lulusan Inggris yang sudah biasa bikin perjanjian dalam bahasa Inggris. saya tidak pernah menggunakan uang perusahaan. saya punya waktu membicarakan kelanjutan rencana proyek Rp 250 miliar itu. ketika meletus. Selain itu. dan memberikan koreksi mana-mana yang akan membuat posisi perusahaan daerah lemah. Tujuannya untuk menambal bagian yang sudah meletus. yang sudah meletus dan benar-benar siap meletus. Lalu menyerahkan koreksi itu ke direksi perusahaan daerah untuk dipikirkan lebih lanjut. Urusan perusahaan daerah selalu saya gabung dengan urusan saya pribadi. dengan “laminating” ini. Seperti pada endoskopi. bengkak lagi. Dengan bantuan kamera itu. Kelak saluran pencernaan saya akan tertekan lagi. Langsung dibius dan dioperasi. Tapi. proses “laminating”-nya tak bisa hanya sekali. setidaknya saya bisa mengulur waktu. sekaligus melapisi yang sudah siap meletus. dua bulan kemudian saya balik ke Singapura. Sekali lagi. saya ke rumah sakit. ujung alat itu pun dilengkapi kamera. saya diminta kembali dua bulan kemudian. Gelembung-gelembung kecil yang tersisa “dilaminating” semua. saya putuskan untuk menandatangi perjanjian setebal bantal itu. saya bikin janji dengan investor Singapura yang bersama perusahaan daerah Jatim akan membangun shore base di Lamongan. Hari itu. Dan. Meski yang kecil-kecil tidak membesar. untuk melihat. operasinya perlu waktu dua jam sendiri. ketika direksi perusahaan daerah sudah selesai merundingkan draf perjanjian dengan pihak Singapura. tim dokter di Mount Elizabeth lantas mereparasi esofagus saya.mengetahui apa yang terjadi sebenarnya dan tindakan apa yang harus dilakukan. Sudah beberapa kali Robert membantu perusahaan daerah secara sukarela seperti itu. mencermati. dokter memilih yang aman. Kenapa sementara? Ini karena penyebab terjadinya gelembung-gelembung itu sendiri masih njegog di badan saya: sirosis. Sesuai jadwal. Bahkan. tenggorokan saya dimasuki alat yang bisa masuk sampai pencernaan. Karena jumlah gelembung yang harus ditambal begitu banyak. Tepatnya. Dengan hanya “melaminating” yang besar-besar. Saya memang biasa begitu. 43 by Moezhanks . Sebelum operasi. darahnya tidak semburat ke luar lagi. Dengan begitu. persoalan mendesak yang mengancam hidup saya teratasi. Dia memberikan banyak sekali koreksi. Padahal. Hari itu dia sudah telanjur banyak janji dengan pasien lain. dokter berharap gelembung yang kecil-kecil akan mengecil dengan sendirinya. Saya hanya menyederhanakannya. Teknis penambalan esofagus sebenarnya tidak sesederhana penjelasan saya itu. Dia melakukannya secara gratis. Dengan cara ini perusahaan daerah tidak perlu keluar uang perjalanan dinas dan biaya-biaya lain. Untuk memastikan itu. Rapat lagi sambil meneruskan proses “laminating” berikutnya. Bulan berikutnya. Seminggu kemudian saya diminta datang lagi untuk operasinya. Berarti setahun kemudian saya masih terancam muntah darah lagi.

Merah rupanya. “Kalau sesak lagi?” tanya saya lagi. “Anda lakukan transplantasi saja. Tambah lima tahun menjadi 60. Misalnya. Apalagi kalau saat itu sudah ada kankernya. Terasa seperti lemparan pisau yang langsung mengarah ke liver saya. Juga tidak mau bertele-tele. membuat pencernaan seperti mulas dan mau muntah. buah yang dijadikan ukuran terpahit di Jawa. Dahlan. tapi saya kunyah lama-lama. Saya sudah oke. dalam bahasa orang awam. tajam. dan akan jadi sirosis lagi. “Sekarang Anda berumur 55 tahun. bisa jadi bibit kanker itu juga masuk lagi ke liver baru. Pedih. saya merenungkannya. Tidak boleh lebih. langsung. Getir jawaban itu. Menghunjam dalam sekali. memang semakin pahit rasanya. enteng. Jawaban dokter itu sungguh di luar dugaan saya. “Kenapa setelah transplantasi hanya bisa hidup lima tahun?” tanya dokter itu pada saya. Begitu pahitnya kalimat dokter itu. Berdarah-darah. Berarti juga. OK. “Beli saja sepatu yang lebih besar. apakah ada jalan keluar untuk membuat liver yang sudah mengeras di sana-sini itu kembali lunak? Dan jalan darah yang sudah banyak yang buntu itu membuka lagi? Dokter rupanya tidak punya banyak waktu. dia jawab sendiri pertanyaan itu: karena liver barunya nanti kemungkinan juga terkena hepatitis lagi. Lalu saya tunjukkan kaki saya yang mengembung dan membesar itu kepada dokter yang merawat saya. Semakin dikunyah.” katanya. sirosis itu yang menyebabkan saluran pencernaan bengkak dan membuat gelembung-gelembung darah. Bisa sampai umur 60 cukuplah. merah rasanya. Di atas muntahan itu seperti terbaca peringatan keras: tidak ada obatnya. Lalu menyayat-nyayatnya.” katanya ketus. Bagaimana agar kaki saya tidak bengkak lagi. Dahlan. OK. Berarti juga tidak ada jalan keluar untuk sirosis.” katanya. Tambah lima tahun sudah oke. Seperti pahitnya butrawali. “Bagaimana mengatasinya?” tanya saya. Jawaban itu memang seperti keluar dari mulut Asmuni-Srimulat. Cukuplah. Dan beli lagi yang lebih besar lagi. Dokter melemparkan jawaban pendek. beli lagi yang lebih besar lagi!” jawabnya.Menjelang tanda tangan perjanjian itulah saya berkonsultasi dengan dokter mengenai problem kesehatan saya yang berikutnya. “Ya. bagaimana mengatasi sirosis saya. Tapi. Tapi. kau bisa dapat tambahan umur lima tahun lagi. Padahal. Tapi. Sebenarnya pertanyaan itu tidak perlu. Dia seperti menganggap manusia ini benda yang tidak punya perasaan. dua-duanya tidak ada 44 by Moezhanks . Lima tahun lagi. Mungkin hidup Anda bisa lebih panjang lima tahun lagi. Bagaimana agar tidak terancam muntah darah lagi. Lalu saya telan sedikit-sedikit lewat tenggorokan saya yang sakit: beli sepatu yang lebih besar. tidak ada obatnya! *** Saya masih minta butrawali satu lagi: Bagaimana dengan sirosis saya? Maksud saya apakah sudah ada obat untuk memperbaiki sirosis? Atau. Lalu saya muntahkan sekalian kalimat dokter itu: Dalam wujud muntah seperti darah. Saya tidak mau dia memberi saya sekarung butrawali.

Padahal. terbang-terbang lagi. kalau mau yang paling tepat lagi disalahkan adalah saya sendiri: Mengapa tidak menjaga baik-baik liver saya? Dua tahun lamanya saya membenci kaus kaki. Dua minggu sekali. maka tidak gampang baliknya.jalan keluar. sedikit-sedikit. Hanya saya lebih care dibanding dulu. Satu perkiraan yang tidak terlalu salah. takut angka-angka merahnya terlihat sekaligus. di dinding pendek dekat meja resepsionis terdapat banyak guntingan koran Indonesia yang memuat tentang ceramah dan wawancara dengan dokter itu. Pernah saya merasa penat. Pelan-pelan.W. Tapi juga tetap memerlukannya. namun istimewa. ancaman kematian tiba-tiba sementara sudah teratasi. perut saya langsung kembung. selalu saja kaki saya seperti balon panjang yang ditiup tidak sempurna. Tidak ada pula keajaiban yang bisa diharapkan. si ahli refleksi kaget. saat habis makan malam dengan Wakil Presiden H M. Kadang saya membuka hasil lab itu seperti membuka kartu remi yang tertutup di atas meja. Pulang makan. *** Dokter itu tidak kenal saya. yang salah sebenarnya liver saya yang tidak lagi mampu mengolah protein secara normal. Yakni. saya juga hidup normal lagi. Ruang praktiknya memang penuh dengan pasien dan sebagian besar orang Indonesia. Semua masakannya terbuat dari kepiting. bos Hotel J. Restoran itu ada di pojok Jalan Tianjin. Karena badan normal-normal saja. Bahkan. Artinya sibuk lagi. setiap akan membuka hasil lab. makanan kecilnya. sampai makanan penutupnya. Setiap pulang dari bepergian. Ini terjadi karena karet di kaus kaki tersebut menekan kaki saya. Mulai supnya. Dia lantas mengira saya kerja di perusahaan periklanan. Jusuf Kalla dan lima menteri yang menyertainya. Timbul Bunyi seperti Tong Kosong 11 September 2007 SAYA pernah membenci kaus kaki. Saya tidak terlalu memikirkannya. Mungkin karena itu. Dia hanya tahu saya orang Surabaya. saya mampir ke kios pijat kaki. “Karet kaus kakimu terlalu kuat. (Bersambung) Ganti Hati 17 – Dokter Mengetuk Dada. Tidak ada obatnya. Enaknya luar biasa. Saya masih menganggap kata-kata transplan dari dokter tersebut tidak terlalu meyakinkan. Dia pun. 45 by Moezhanks . Marriott Surabaya yang juga konsul kehormatan Hongaria. Dia tahu itu karena hampir semua pasiennya mengatakan kenal saya. yang salah adalah kakinya. Tepatnya. Sebab. kalau tidak pakai kaus kaki. Setelah melepas kaus kaki saya. Saya terus memonitor darah saya di laboratorium. ternyata juga menyalahkan kaus kaki. Lihat. perasaan saya seperti anak sekolah yang sedang menerima rapor. Shanghai. Sampai membuat kakimu seperti ini. seperti saya. Apalagi. Waktu itu kami makan di satu restoran kecil. Karena yang dijepit adalah daging kaki yang bengkak.” katanya sambil melihat bagian kaki yang ’ambles’. Besar atas bawahnya. Saya tahu alamat restoran itu dari Rajimin. Saya sama sekali tidak menyangka akan berhubungan dengan kata transplantasi. Tidak ada alternatifnya. dekok di tengahnya. Salah satunya adalah koran dari Grup Jawa Pos.

Begitulah. Hubungan saya dengan kaus kaki menjadi sangat unik: Jenis hubungan yang disebut love and hate -cinta dan benci. Dalam situasi terus membenci kaus kaki seperti itulah, saya terus beraktivitas. Terbang berjam-jam. Berkendaraan beratus-ratus kilometer. Di dalam negeri. Di luar negeri. Sampai suatu saat saya punya urusan di kota Tianjin, 100 km dari Beijing. Di sini kebetulan ada kenalan dokter ahli liver yang hebat. Namanya Prof dr Shao. Seorang wanita tepat seumur saya, yang mengepalai bagian liver di suatu rumah sakit di sana. Dia dobel dokter. Dokter ilmu kedokteran Barat dan dokter ilmu kedokteran Tiongkok. Dia juga doktor di spesialisasi liver, limpa, dan empedu. Saya kepingin mencari pendapat pembanding. Benarkah tidak ada jalan keluar untuk problem bengkak saya itu. Benarkah sirosis itu tidak bisa disembuhkan, minimal dihentikan proses memburuknya. Tentu, saya diminta Prof Shao untuk menjalani pemeriksaan ulang. Mulai kencing, kotoran, darah, liver, limpa, paru, sampai prostat. Juga menjalani pemeriksaan fisik yang dia lakukan sendiri. Yakni pemeriksaan secara kedokteran Tiongkok. Dia ketuk-ketuk rongga dada saya dengan jarinya. Timbullah suara seperti tong kosong. “Ini pertanda liver Anda memang sudah mengerut, mengecil,” katanya. “Di rongga dada Anda sudah mulai ada ruang kosongnya,” tambahnya. Setiap Prof Shao memeriksa fisik saya, selalu banyak dokter muda yang diajaknya. Dokter-dokter muda itu menyimak dengan tekun apa saja dijelaskan Prof Shao sehubungan dengan kondisi badan saya. Dia memang juga pengajar di fakultas kedokteran yang terkait dengan rumah sakit itu. “Lihat ini,” kata Prof Shao kepada para dokter muda itu. Sambil berkata demikian, Prof Shao menyingkap baju saya sampai dada saya terbuka. Lalu, dia memegang-megang payudara saya (eh, kalau milik laki-laki apa juga disebut payudara?). “Lihat payudara dia ini. Juga membesar. Seperti payudaranya gadis yang menginjak remaja. Orang yang terkena sirosis akan selalu seperti ini,” ujarnya. Kenapa Prof Shao mengumpamakan payudara saya seperti payudara gadis belia, karena proses pembesaran kelenjar susu lelaki yang menderita sirosis memang mirip pertumbuhan payudara gadis yang beranjak remaja. Yakni dimulai dengan rasa nyeri pada bagian putingnya saat tersentuh sesuatu. Perlahan-lahan rasa nyeri itu berkurang, bersamaan dengan makin besarnya payudara. Seperti umumnya gadis remaja, pembesaran payudara saya juga dimulai dari yang kiri, baru kemudian yang kanan. Jika liver saya tidak keburu ditransplan, payudara saya akan terus membesar menyerupai payudara wanita. Dalam istilah medis, pembesaran payudara yang saya alami itu disebut dengan gynecomasty atau ginekomastia. Lama sekali dia memegang-megang payudara saya. Tapi, bayangan saya lebih kepada sirosis yang mengancam nyawa saya. Tidak hanya hari itu. Berkali-kali Shao menjadikan payudara saya sebagai alat peraga untuk mahasiswanya. Saya menerima saja. Bukan karena merasakan remasannya, melainkan itu memang penting agar orang lain jangan sampai seperti saya. Setelah selesai bagian dada, tangannya turun ke perut. Dia periksa perut saya dengan dua tangannya. Dia pejamkan matanya seolah ingin merasakan benar apa yang berubah dari perut saya senti ke senti. Dia goyang-goyang perut saya. “Masih beruntung. Air belum masuk ke rongga perut,” katanya. Prof Shao memang sangat khawatir air yang sudah memenuhi seluruh badan saya juga sudah mulai mengalir ke rongga perut. Sebab, memang begitulah proses yang akan terjadi berikutnya. Air akan “bocor” dan menggenangi rongga perut. Karena itu, penderita sakit liver seperti saya akan berakhir
46
by Moezhanks

juga dengan keadaan perut membesar penuh air. Mula-mula perut akan seperti balon berisi air: Ginjur-ginjur. Dalam istilah medis, keadaan itu disebut dengan ascites. Semakin lama, jumlah air di perut akan semakin banyak dan memaksa perut untuk membesar. Bersamaan dengan membesarnya perut, biasanya pembuluh-pembuluh darah di permukaan perut juga ikut melebar sehingga tampak seperti sarang laba-laba, tapi warnanya merah. Sesuai dengan tampilannya, para dokter menyebut pelebaran pembuluh darah itu dengan istilah spider veins. Pada tahap berikutnya, perut yang besar itu mengeras. Saya sudah berkali-kali melihat perut orang sakit liver seperti ini dan biasanya sudah akan meninggal kurang dari enam bulan. Begitu juga ibu saya dulu. Satu pemandangan yang saya lihat ketika saya masih berumur 12 tahun dan terus hidup sampai saya sendiri dalam posisi akan mengalaminya. Saya sendiri beruntung karena sampai saat transplantasi, saya tidak mengalami yang disebut ascites maupun spider veins itu. “Ini harus dicegah sedini mungkin, sebisa-bisanya,” kata Shao kepada para dokter muda tersebut. Tapi, itu pun sifatnya hanya usaha untuk buying time. Dokter di Singapura berpendapat sama. Dia memberikan dua jalan: Meminum obat agar kencing lancar dan meminta saya untuk tidak banyak minum. Dua-duanya saya jalani. Sampai-sampai saya pernah merasa takut pada air minum. Setiap mau minum, selalu terbayang bahwa sebagian air itu akan terus membuat badan saya bengkak. Sebagian lain akan membuat perut saya membesar, ginjurginjur, dan akhirnya mengeras. Pada awalnya, saya agak terhibur dengan “pil pelancar kencing”. Tapi, lama-lama satu pil tidak cukup membuat kencing saya mengalir lancar. Harus dua pil. Ini pun lama-lama juga sudah kurang manjur. Terpaksa, saya terus mengurangi minum. Beberapa bulan terakhir saya hanya berani minum satu liter saja sehari. Ini karena kencing saya hanya sekitar 700 sampai 900 mililiter sehari semalam. Di Tianjin, Prof Shao memberi saya obat Tiongkok yang sudah berwujud cairan infus. Tiap hari saya diinfus dengan itu dan bengkak berkurang. Kencing lancar sekali. Tapi, kalau infus dihentikan, tetap saja badan kembali bengkak. Shao menjelaskan mengapa demikian kepada para dokter muda beberapa di antara mereka dokter muda dalam ilmu kedokteran Tiongkok. Ketika saya banyak tanya mengenai khasiat dan bahaya setiap obat yang diberikan kepada saya, Shao bergegas menatap wajah-wajah dokter muda. “Lihat sahabat saya ini. Banyak bertanya. Kelak, semua pasien akan seperti ini. Kalian harus bisa menjelaskannya dengan sebaik-baiknya. Pasien memang punya hak untuk tahu,” ujar Shao sambil tangannya tetap di perut saya. Kadang tangannya mampir lagi ke payudara saya. Ini karena di antara dokter muda hari itu, ada wajah baru yang belum diberi tahu bagaimana payudara saya juga membesar seperti gadis menginjak remaja. Lain hari, saya ingin Prof Shao ganti mengajar saya. Sebelum hari yang ditentukan itu tiba, saya beli kertas putih lebar. Lalu, saya tempelkan di dinding kamar rumah sakit. Saya ingin dia menjelaskan secara gamblang rangkaian penyakit saya. Saya juga beli spidol warna-warni untuk membedakan gambar aliran darah masuk dan keluar. Dia tersenyum melihat persiapan saya hari itu. “Wah, saya harus mengajar berapa jam?” tanyanya bergurau. Pipinya yang padat, hidungnya yang agak mancung, badannya yang tinggi, dan rambutnya yang ikal membuat penampilannya sangat aristokrat. Apalagi kalau berat badannya bisa turun satu kilo lagi. “Satu jam 10.000 yuan ya?” guraunya ketika menyebut uang setara Rp 11 jutaan tersebut.

47

by Moezhanks

Di dinding itu dia menggambar isi tubuh saya. Menjelaskannya sangat detail dan terang-benderang. Dia pandai sekali mengajar. Pasti banyak mahasiswanya yang senang. Saya juga belajar yang lain lagi: bahasa. Sebab, bahasa Mandarin yang dia gunakan sangat teknis dengan logat yang sangat Tianjin. Kini tahulah saya secara gamblang penyakit saya, terutama ancaman mati yang nyata di depan mata saya. “Ini tidak ada obatnya,” katanya tegas. Muncul karakternya sebagai pemimpin. “Kecuali istirahat total,” tambahnya. “Obat hanya memegang peranan kurang dari 15 persen. Yang 85 persen lebih adalah perilaku pasien sendiri,” ujarnya. Prof Shao melarang saya banyak jalan, gerak, dan terlalu lelah. Tidak boleh marah, kemrungsung, dan berada dalam situasi tergesa-gesa. Padahal, salah satu hobi saya “mengejar” pesawat. Saya sering tidak sabar menunggu jadwal pesawat. Kalau pesawat yang akan terbang ke suatu tujuan masih tigaempat jam lagi, biasanya saya cari pesawat ke jurusan yang lain dulu. Saya juga tidak boleh merasa kesal. Tidak memikirkan banyak persoalan sekaligus. Tidak boleh mikir yang berat-berat. Saya harus pensiun. Saya hanya boleh memikirkan badan saya sendiri. Tidak boleh lagi mikir orang lain. “Ibaratnya,” kata Prof Shao, “Rumah tetangga terbakar pun, Anda jangan peduli.” Tegas sekali peringatannya. Terang sekali contohnya. Hanya mahasiswa yang bodoh yang tidak bisa memahaminya. Dan saya ternyata termasuk “mahasiswa”-nya yang amat bodoh. (Bersambung)

Ganti Hati 18 – Dokter Menegur Iba, Ingat Nasib Ayahnya yang Redaktur
12 September 2007 BUKAN. Bukan bodoh. Semua penjelasan Prof Shao mengenai bahayanya penyakit saya, saya mengerti sepenuhnya. Terang-benderang penjelasannya. Saya pasti tidak bodoh. Hanya saya sadari, saya agak ndablek. Dan dia tahu perilaku saya itu. Dia tahu keras kepala saya, sembrono saya. Suatu saat, ketika saya kembali menemuinya setelah setengah bulan menghilang, dia lama memandang saya. “Ke mana saja Anda? Kami di sini prihatin sekali. Takut terjadi sesuatu pada Anda,” katanya dengan nada khawatir. Mungkin juga jengkel. “Saya baru datang dari Indonesia,” jawab saya. Dia setengah tidak percaya, setengah gondok. “Lho, setelah dari sini dulu itu, Anda pulang ke Indonesia? Kenapa? Apa kata saya tentang kebakaran rumah tetangga?” ujarnya. Dia lantas menarik napas panjang sekali. “Dahlan, Anda ini sudah gawat. Saya tidak mau kehilangan Anda,” katanya. Berkata begitu, dia seperti setengah menegur setengah mengiba. Dia kembali menarik napas panjang sekali. Matanya kelihatan berlinang. Dia keluarkan tisu di sakunya. Dia usap air matanya. Beberapa hari kemudian, dia bercerita kepada saya mengapa sampai hampir menangis ketika menasihati saya. Ternyata, dia ingat bapaknya. Bapaknya seorang redaktur surat kabar. Ibunya seorang hakim terkemuka. Bapaknya terus menulis buku sepanjang malam. Lalu meninggal. Ternyata karena sakit liver. Dia tidak tahu itu dan tidak memperhatikan itu. Padahal, dia dokter ahli liver. Waktu itu, katanya, dia juga sedang belajar ekstrakeras selain kerja keras. Sebab, dia akan segera dapat beasiswa untuk sekolah lagi di luar negeri. Tapi, semuanya gagal. Beasiswa tidak jadi. Ayahnya pun pergi. Dia menangis lagi saat menceritakan itu.
48
by Moezhanks

Tapi. Seperti yang pernah saya sebutkan di tulisan terdahulu. Kalau toh ada tanda-tanda bengkak lagi.000 per milimeter kubik darah. Saya minta waktu berpikir untuk memutuskannya. platelet akan turun lagi. Untuk menormalkan kadar sel-sel darah saya itulah. luberan sel darah yang berlimpah itu memang menyulitkan. ya saya lupa menjelaskan bahwa sebenarnya. orang yang kekurangan sel darah merah akan mengalami anemia (kekurangan darah). sel-sel sehat dan rusak itu akan mengerak dan mengganggu fungsinya. semakin besar pula ukuran limpa. limpa lantas “membesarkan diri”. darah putih. Yang disebut sampah di pembuluh darah. Oh. masih bisa “dilaminating” sekali lagi. Mengapa limpa harus dikecilkan? Limpa adalah organ kecil -yang dalam keadaan normal hanya seukuran genggaman kita. Normalnya 150. darah akan kekurangan sel darah merah.” katanya. aliran darah ke liver saya (baca: penderita sirosis) tidak bisa lancar. termasuk Indonesia.Dia lantas ingin merawat saya semaksimal mungkin agar tidak seperti bapaknya. “Limpa dipotong?” kata saya dalam hati. Dipotong seberapa banyak? “Sekarang. caranya tidak lewat injeksi karena hal itu hanya bisa bertahan dua-tiga hari. Untuk menampung limpahan itu. Bagi limpa. Cukup untuk mengulur waktu beberapa bulan. Tugasnya melawan infeksi. Dia akan sangat kecewa kalau saya sendiri tidak peduli dengan badan saya. digunakan standar minimal 150. limpa pun memperlakukan sel-sel darah yang numpuk itu sebagai sampah yang harus disingkirkan.000. Tiga-tiganya bisa mengakibatkan kematian.” ujarnya. adalah sel-sel darah yang rusak. Prof Shao lebih prihatin pada kadar platelet atau trombosit saya yang tinggal 60. Saya sendiri juga kepingin agar tidak seperti ibu saya.di bawah iga kiri. Melihat rendahnya kadar platelet saya. jika dihancurkan semua. limpa Anda sudah membesar tiga kali ukuran normal. Akibatnya. Mungkin dikurangi sepertiganya dulu. antara lain. Makin banyak darah yang harus ditampung. Prof Shao lantas berpikir keras mencari jalan untuk menaikkan kadar platelet saya. Kalau kekurangan darah putih. Sebab. “Laminating” itu kurang lebih bisa bertahan setahun. Padahal.000 sampai 400. jika tidak dihancurkan. Prof Shao memutuskan perlunya mengecilkan limpa saya. Apalagi dari hasil pemeriksaan total. bukan hanya kadar platelet saya yang turun. Setelah itu. dia lihat masih ada sedikit peluang. dan platelet yang “sehat”. Hasil “laminating” yang dilakukan di Singapura terhadap saluran pencernakan saya yang sudah penuh varises sangat baik. Tapi. orang akan gampang terkena infeksi dan yang kekurangan platelet akan mudah mengalami pendarahan. darah mengalir balik ke limpa. Limpa saya harus dipotong? “Boleh dibilang begitu. Tapi juga sel darah putih dan sel darah merah saya. Karena jumlahnya di luar batas normal. memproduksi sel darah merah dan darah putih tipe tertentu. Angka minimal untuk kadar trombosit seharusnya 150 (ini angka dalam standar laboratorium di Tiongkok). Di negara lain. 49 by Moezhanks .” katanya. “Mungkin saya akan mengecilkan limpa Anda. Itu berarti sel-sel darah yang “sehat” pun ikut disingkirkan. serta menyingkirkan sampah-sampah di pembuluh darah. Namanya diembolisasi.

yang akan dilakukan Prof Shao. Biawak adalah binatang seperti buaya. Membangun PLTU yang efisien. Maka. Sering ada suara “krosak” di kolong itu yang lebih menarik perhatian saya daripada mata kuliah. dan menjengkelkan. Saya ingin mendapatkan opini pembanding. Itulah suara biawak berkelahi. Tentu pemotongan limpa itu tidak bisa dilakukan tiga kali karena sama artinya dengan membuang limpa sama sekali. Saya masuk Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel cabang Samarinda. kalau limpa sudah membesar lagi. Jadi. Kelak.Ini memang bukan langkah permanen. Dari Kaltim-lah. tapi hidup di darat. Limpa memiliki tiga saluran darah masuk utama. Saya tetap minta waktu memikirkannya. darah yang tidak bisa masuk liver akan meluber dan menekan ke mana-mana. Karena lantai papannya tidak cukup rapat. rakyat hanya dikenai tarif Rp 750. mereka harus menyalakan lilin. Sudah jadi prinsip saya untuk tidak memanfaatkan keberadaan saya di pers untuk menekan seseorang. Meski tujuannya begitu hebat. Nah. lilin itulah yang sering mengakibatkan kebakaran. Setamat SMA. saya memulai karir sehingga saya anggap Kaltim seperti daerah kelahiran sendiri. kelak limpa membesar lagi? Ya. Mematikan salah satu di antara tiga saluran itulah. logikanya begitu baik. tapi juga energi saya. Untuk menghasilkan satu watt. saya tidak pernah memanfaatkan kedekatan saya itu untuk urusan tersebut. termasuk ke limpa. yang biaya produksi listriknya hanya Rp 500 per watt. Dan itu akan membuat pletelet juga turun lagi. agar mau menyisihkan sebagian anggaran untuk investasi di listrik. Kalau tahap itu sudah terjadi. saya bisa menyaksikan apa yang terjadi di kolong yang sering digenangi air. saya memang tidak mendapat ilmu baru dari mata kuliah yang sudah saya pelajari semua di kelas satu SMA itu. Dan. Tahun-tahun belakangan Kaltim mengalami krisis listrik. limpa akan mati sepertiga. Banyak kampung miskin terbakar karena saat lampu mati. proses perizinannya ternyata sangat panjang. yang utama lagi memakan batin saya. dua tahap pemotongan limpa tersebut dianggap cukup untuk mengulur waktu sampai lima tahun. yang terjadi adalah demo. PLN langsung untung. Saya harus kembali ke tanah air karena sudah terlanjur komit untuk mengatasi kelangkaan listrik di Kaltim. sekali lagi.000-an. saya sering melihat ke bawah. dan bahkan presidennya. Setahun PLN Kaltim bisa rugi hampir setengah triliun rupiah (2005). Kalau salah satu saluran itu dimatikan. Seperti yang saya lakukan di Jatim. Kalau dijual Rp 750 per watt kepada masyarakat. Proyek energi yang kelihatannya mulia itu ternyata juga memakan bukan hanya dana saya. ikut kakak sulung saya. Pemadaman terjadi bergilir. saya memang ke Kaltim. Di Kaltim. Padahal. Memang. selama liver saya sirosis. Kaltim tidak bisa berharap banyak pada PLN. mulai gubernur sampai DPRD. PLN tidak bisa banyak berbuat karena selalu rugi. limpa saya masih bisa dipotong lagi. masuk univeristas masih gampang dan murah. Kampusnya di sebuah rumah panggung di Jalan Panglima Batur IV. bisa mampir ke Singapura. 50 by Moezhanks . diperlukan biaya Rp 2. saya kenal direksi PLN-nya. Artinya. saya meyakinkan pimpinan-pimpinan daerah di sana. Tujuan satu: agar bisa kuliah. Tapi. Sebab. Sewaktu kuliah. dan hasilnya bagi PLN juga begitu nyata (dari perusahan rugi akan langsung jadi laba). antara lain. Pemda setuju asal saya mau jadi direktur utama perusahaan daerah di sana. Padahal. Saya kembali ke Indonesia lagi agar. Kalau tarif listrik dinaikkan. kenal wakil presiden. PLN sudah tahu bahwa hari itu perusahaannya akan rugi Rp 1. Dua tahun baru beres. sejak sebelum matahari terbit pun. Di Jawa saya tidak mungkin bisa masuk universitas karena tidak punya biaya. setelah dipotong pun. melelahkan. masih ada satu di antara dua saluran utama yang bisa dimatikan lagi. kenal menteri-menteri di bidangnya. Pembangkit-pembangkit listrik PLN sangat tidak efisien. Sebagai tamatan aliyah. Anggaran Kaltim yang besar karena sumber alamnya yang melimpah jangan habis untuk kebutuhan konsumtif.250 per watt.

saya kenal Menteri Soegiharto. saya buntu di kantor menteri BUMN. Memang ada juga salah saya. Tapi. Menyesal luar biasa. saya tidak boleh peduli. Kalau toh sudah telanjur ada karena masa lalu yang kelam. Tembok tersebut terlalu tebal. terutama risikonya. Bayangan saya juga begitu sewaktu saya memiliki semangat untuk ikut mengatasi krisis listrik di Kaltim. sebagian lagi sebagai ungkapan terima kasih atas inisiatifnya. Tinggi level dan tinggi pula tempatnya. ketika setahun mengurus izin ini tidak berhasil (karena sejumlah peraturan yang tidak mengizinkan PLN menandatangani kontrak jangka panjang).Pernah suatu saat saya diajak ke Tiongkok oleh Wapres Jusuf Kalla. Saya harus pulang ke Indonesia untuk terus mengurus semua itu. Kalau Dahlan saja mengalami hal seperti ini. “Saya saja tidak mau. “Urusan kecil begini kok panjang sekali. Saya ingat kata-kata Prof Shao bahwa walau terjadi kebakaran di rumah tetangga pun. kepala saya juga pecah ketika membenturnya. Tapi. Kesalahan kedua saya. dan PLN. Persoalan tersebut membuat saya harus mengabaikan peringatan keras Prof Shao bahwa saya tidak boleh terbang. Saya baru mau masuk ke listrik kalau urusan ini sudah selesai. PLN tidak melanggar peraturan. Tepatnya izin dari tiga lembaga. Risiko pada keuangan saya dan pada kesehatan saya.” kata bos Bank Mega yang namanya meroket tahun-tahun terakhir ini. Wapres mengumpulkan menteri dan direksi PLN untuk membahas kasus Kaltim itu. lagi-lagi kami harus mengurus izin kontrak panjang dengan PLN. bagaimana yang lain?” katanya. yang kebakaran ini bukan rumah tetangga. Ini gara-gara saya terlalu sering ke negeri itu dan melihat bagaimana antusiasnya pemerintah kalau ada investor datang. Apalagi ada bank yang bersedia memberikan pinjaman meski kontraknya hanya tahunan. Ini bukan karena saya mengadu. saya akan dicatat sebagai penjebol tembok kebuntuan listrik itu. siapa yang mau masuk jadi investor listrik.” tambahnya. tidak boleh kesal. “Ini harus selesai. Tentu sebenarnya juga bukan kecil bagi saya. Padahal. Tapi sudah tidak bisa mundur lagi. Di kementerian energi saya tidak punya masalah. Kalau proyek tersebut berhasil. bank tetap mensyaratkan kontrak jangka panjang. saya tidak bisa lari dari tanggung jawab itu. Namun.” kata saya kepada Chairul Tanjung. mengapa tidak segera dicabut. Maka. Memang. Yakni cukup mendapatkan kontrak tahunan saja dari PLN. Di PLN hanya sedikit masalah. Sebagian karena malu. Meski kondisi badan saya sudah sedemikian parah. tidak boleh lelah. Juga rumah besar saya: Indonesia. Pasti pemerintah di segala lapisan akan senang. masing-masing dengan birokrasinya sendiri: kementerian energi. Indonesia yang begitu rumit peraturannya. Kalau kontrak tahunan. Saya memahami aturan bank seperti itu. Rumah saya sendiri: Kaltim. tidak boleh mikir. saya setuju untuk kompromi. Bahkan. “Ini memang rusan kecil bagi Anda. Saya terlalu terpengaruh suasana di Tiongkok. Tapi kalau tembok ini tidak dijebol. Saya malu proyek sekecil itu saja sampai dibahas di forum yang begitu tinggi. tapi karena Chairul Tanjung yang berinisiatif. Bos Bank Mega yang juga bos Trans TV itu yang prihatin dengan keluhan saya. Di dalam pesawat yang berada 36.000 kaki di atas permukaan laut. Saya juga memahami PLN tidak boleh melanggar aturan. ujung-ujungnya. Yang tidak saya pahami adalah mengapa ada peraturan yang menghambat kemajuan seperti itu. ya. kan sama artinya dengan menyumbang Rp 500 miliar tiap tahun kepada negara? Bayangan saya pemerintah akan membuat segalanya lancar. tidak boleh marah. bisa jadi. Saya menyesal telah berinisiatif mengatasi kelangkaan listrik di Kaltim tersebut. Kecil yang saya maksud adalah dari sudut pandang negara. Ternyata. dia juga ikut dalam rapat tingkat tinggi yang benar-benar tinggi itu. kementerian BUMN. Di atas pesawat. Ini besar bagi saya. 51 by Moezhanks .

ketika Menggigit Pisang Berlumur Darah 13 September 2007 SETUJUKAH dokter Singapura dengan pendapat Prof Shao dari Tianjin. ketahanan tubuh saya kian habis dan saya akan mengalami perdarahan dari setiap lubang yang saya miliki. “Perhatikan saja lubang hidung Anda. ini sudah bukan lagi soal untung rugi. orang bisa hidup tanpa limpa. Waktu itu saya juga tanya ke Prof Shao: Pada angka berapa perdarahan itu akan terjadi? Katakanlah platelet saya (yang seharusnya minimal 150) sekarang tinggal 60. “Singapura sudah lama tidak mau lagi memotong limpa. memang OK. Tapi.” katanya lagi. Tiga-empat bulan lagi (akhir tahun ini). berturut-turut banyak izin yang ditandatangani PLN untuk investor-investor lain. Yakni. menurut dokter Singapura itu. “Membuang limpa sama sekali malah lebih safe. Memang. Saya dengar setelah soal Kaltim itu selesai.Tidak pantas saya sebutkan di sini apa usaha yang saya lakukan untuk mengatasi kebuntuan di kantor (Soegiharto. Tiongkok.” katanya. ada juga yang baru perdarahan ketika platelet-nya sudah 50. “Ada yang pada angka 60 seperti Anda sekarang sudah perdarahan. Meski setuju platelet saya harus dinaikkan. Pemotongan limpa. akhirnya sang menteri mengeluarkan surat persetujuan. kan lantas tidak terlalu tahan terhadap infeksi. Ini juga sama dengan penjelasan Prof Shao. Orang bisa hidup tanpa limpa. Dia juga setuju kalau sampai platelet turun terus.” katanya. pembuangan limpa itu disebut dengan splenectomy. benarkah limpa saya harus dipotong? Mengapa dokter di Singapura sama sekali tidak pernah menyinggung soal limpa? (Bersambung) Ganti Hati 19 – Waktunya Tiba. Saya ingin bertanya ke dokter di Singapura.” tambah dokter di Singapura itu. “Setiap orang tidak sama. sebelum dicopot) menteri BUMN. Dan masih akan turun terus. sangat berbahaya. Liver baru saya mungkin juga akan ikut berbinar-binar. Lambatnya proses ini telah membuat biaya investasi membengkak luar biasa.” ujarnya. “Tapi. Kapan platelet saya akan turun sampai angka 50? Berapa minggu lagi? “Tidak bisa diperkirakan begitu. saya sudah tidak senang. Atau kalau sedang sikat gigi. Makanya saya tanya ke dokter di Singapura itu. Mendengar kata “limpa dipotong” saja. Yang penting.” tambahnya. Ini soal krisis listrik yang harus diatasi. 52 by Moezhanks . Atau telinga. “Tidak apa-apa. dokter Singapura ternyata tidak setuju kalau itu dilakukan dengan cara memotong limpa.” katanya. Dalam perjalanan pulang untuk mengurus listrik itu. tentang rencana pemotongan limpa saya? “Kalau tujuannya untuk menaikkan platelet. bukan saja karena prosesnya. Fungsi limpanya bagaimana? “Diganti obat.” tambahnya. insya Allah Kaltim mulai bisa mengatasi kelangkaan listrik. Uh! Dalam istilah medis. tapi juga akibatnya. Bisa saja tiba-tiba drop jadi 50 atau bahkan di bawahnya. Bisa timbul infeksi di tiga tempat yang akan mengakibatkan kematian. Sebuah persetujuan yang sudah sangat mahal.” jawabnya.” jawab dr Shao.” tambahnya. Tetapi. Ini malah disuruh membuang. infeksi di selaput dada. infeksi di tempat limpa dipotong. Sudah lebih 15 tahun. saya bisa mampir ke Singapura. “Dibuang saja sekalian.

Saya bisa menerima sepenuhnya. Di sana cara itu sudah dianggap kuno. dalam kesempatan saya ke Tiongkok lagi. Saya ingin membantunya meski saya hanyalah rakyat biasa. Dua-duanya bisa diterima secara medis. Saya janjian bertemu di Kota Dalian.” jawabnya mantap. Maka saya pun memutuskan akan titip nasib ke Prof Shao. Di bandara kota itu pukul 24. Saya melihat betapa semangatnya orang di Daqing (Provinsi Heilongjiang) dan di Panjin (Provinsi Liaoning) menggali minyak. Tapi. Nanti. yakni saat pesawatnya mendarat dari Shanghai. karena tengah malam nanti harus menjemput Dirjen Migas di bandara kota itu. Terakhir. Jawabannya tegas. Tinggal saya yang harus memilih lebih percaya kepada yang mana.” kata saya. Paginya saya masih di kota Tianjin. akan 53 by Moezhanks . pada 2005. Itu cara 60 tahun yang lalu. Biar berkurang. Segera saya gunakan ilmu mantiq saya: sudah berapa kali Prof Shao melakukan pemotongan limpa? “Sudah banyak kali. sumur-sumur minyak di sana lebih dalam dan iklimnya juga lebih beku.Penjelasannya. Urusan Jawa Pos sendiri. saya juga berpikir: Masak Prof Shao tidak tahu itu. Saya sering ke ladang minyak di Tiongkok. Saya ingat usul-fikh ahli sunnah wal jamaah: Sesuatu yang tidak bisa dipakai semua. saya ingin mengajaknya mampir ke Liaoning dan Heilongjiang. *** Saya memang harus ke Tiongkok lagi. Giliran saya sendiri yang harus memutuskan. tentu. tapi masih ada sisanya. Rumah besar saya. Saya sudah berjanji kepada Dirjen minyak dan gas yang baru untuk mengajaknya ke Tiongkok. sudah berada di bawah satu juta barel per hari. Ketika saya tanya soal risiko infeksi di tiga tempat yang sangat membahayakan. Ya. “Siapa bilang itu kuno?” sergahnya. mantap. “Sudah lebih dari 500.” katanya. jangan dibuang semua. Untuk melihat bagaimana negara itu bekerja keras mencukupi kebutuhan minyak. Dengan alat-alat yang lebih sederhana mereka bisa menghasilkan minyak lebih banyak. urusan perusahaan daerah Kaltim. Sudah sangat tidak layak menjadi anggota OPEC. Sudah lama saya gemas. Hari itu kebetulan Dirjen Migas punya acara di Shanghai. Tidak mungkin. meski singkat.” katanya. mengapa Indonesia sebagai negara penghasil minyak justru menderita ketika harga minyak dunia membubung? Sampai harus menaikkan harga BBM yang menghebohkan itu? Mengapa tidak justru menikmatinya? Ini semua karena produksi minyak Indonesia terus menurun dari tahun ke tahun. Itu. rasanya. Ada beberapa urusan. “Banyak itu berapa? Berapa puluh?” tanya saya lagi. Saya pilih dipotong saja. juga tahu cara menghindarinya. “Saya minta izin ke Dalian dulu. dan percaya diri. dia tidak mengelak. Kepada ahli penyakit liver ini langsung saja saya semprotkan pertanyaan berdasar pendapat dokter di Singapura. saya akan menemui Prof Shao untuk ’menguji’-nya. dan urusan menepati janji. “Justru membuang limpa itu yang kuno sekali. sore itu saya harus ke Dalian. Suaranya meninggi. urusan pabrik steel conveyor belt-nya perusahaan daerah Jatim. Maka saya tidak begitu saja mengambil keputusan membuang limpa. Kebetulan Dirjen Migas yang baru juga berambisi mengatasi hal itu. sangat masuk akal. semangat untuk menggalinya luar biasa. untuk bertemu Prof Shao. Tapi. Dua-duanya masuk akal. Ini soal pilihan. “Tentu saya tahu. Minyak yang didapat pun lebih jelek dibanding minyak mentah Indonesia. sudah. Penerbangan dari Tianjin ke Dalian memakan waktu satu jam. Maka.00. “Di Singapura dokter tidak mau lagi memotong limpa.”’ katanya. kalau masih sempat. Padahal. Indonesia. Tapi. Tapi.

kali ini seperti tidak percaya. Dengan datangnya persetujuan istri saya. “Kalau nanti ada teman Jawa Pos membawa formulir ke rumah. Dia sudah sering mengancam untuk tidak mau lagi mengurus saya. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Setelah ditandatangani istri saya.” kata saya dalam hati. Satu jam kemudian saya berkumur lagi. “Itu tanda tangan istri saya. Saya lupa kalau dia komunis.” kata saya. “Saya akan operasi kecil.” katanya. Istri saya tidak bertanya banyak. saya tidak boleh menjadi pasien pertama yang menggunakannya. Tapi. saya tahu dia baik. “Saya bisa usahakan sekarang. Saya lantas menelepon istri saya. sisa pisang itu berlumur darah! “This is the time! Wo de shi jian dao le. Malamnya terbang ke kota Harbin. Memikirkan apa yang harus saya perbuat. tidak bisa tanggal 6 Oktober 2006. tidak ada darahnya. “Ini persetujuan istri saya. Malam hari balik lagi ke Harbin. Berkumur lagi dan berkumur lagi. Dirjen serius sekali melihat semua itu. Juga gondoknya kepada saya meningkat. Saya lari ke toilet. Saya terbang ke Tianjin untuk pemotongan limpa saya. Tiba di Dalian sudah agak malam. Sorenya bermobil lagi ke kota Shenyang. Saya langsung minta formulir persetujuan operasi dan memfaksimilikan ke Surabaya. Hari itu baru selesai. Yakni.” katanya. saya tidak menceritakan apa yang terjadi atas diri saya. yang tidak tahu apa itu doa. Ketika saya menggigit pisang. Saya menundukkan kepala sesaat. Pagi-pagi Dirjen kembali ke Beijing untuk balik ke Indonesia.” kata saya.terbakar. Formulirnya dalam bahasa Mandarin.” gurau saya kepada Prof Shao.” kata saya. hilang merahnya. “Lakukan sekarang!” kata saya begitu bertemu Prof Shao. Jadi. Sudah waktunya makan malam. Ternyata harus tiga hari kemudian. Saya terus tersenyum dan memberinya semangat untuk terus membangun dunia minyak. “Potong saja limpa saya. “Mereka ini benar-benar seperti koret-koret (mengais sisa-sisa) minyak. Tapi. dan karena itu saya antusias membantunya.” kata saya ingin setengah memuji istri saya. “Mengapa?” tanyanya lagi. Saya memang sudah beberapa kali operasi kecil. Dan. Ujung-ujungnya luluh juga hatinya. doa di balik tekenan itu yang penting. “Apa?” tanyanya. Saat menyalami kedatangan Dirjen Migas.” kata saya tidak ingin menggundahkan hatinya. Berkumur.” katanya. 54 by Moezhanks . atau besoknya. Ternyata Prof Shao tidak tersenyum. Pagi-pagi bermobil 500 kilometer ke kota Daqing. “Wo bu guan ni. Saya pun bertekad tetap memenuhi komitmen saya. “Ini apa?” tanyanya melihat tanda tangan istri saya yang tidak lazim untuk mata orang Tiongkok. saya mengira operasi pemotongan limpa bisa dilakukan hari itu. Menarik panjang napasnya.” tegas saya. Saya tahu tekadnya kuat sekali untuk memperbaiki perminyakan Indonesia. tanda tangani saja. Pagi-pagi kami bermobil sejauh 400 km ke Panjin. kita nggak tahu maksudnya. Merah airnya. Harus ada persetujuan istri Anda. setengah melucu. Saat makan malam itulah saya kaget. untuk mengeluarkan benjolan yang ada di bawah kulit di beberapa bagian di tubuh saya. Mengapa? Karena ruang operasinya baru saja dirombak. dikirim balik ke Tianjin. Tibalah sudah waktu saya. Bentuknya tidak penting. Ah. “Tidak bisa sekarang. Harus 8 Oktober.

Namun. Juga lebih lama: seminggu penuh. Keringat dingin memang memenuhi badan saya. Tiga hari setelah libur. (Bersambung) Ganti Hati 20 – Baru Tahu Mengapa Dokter Singapura Pilih Potong Limpa Saya 14 September 2007 ANCAMAN infeksi yang serius setelah pemotongan (embolisasi) limpa. Hari itu. memang tidak dianggap enteng oleh Prof Shao. dia merasa risi. Saya juga tabik tak hentihentinya. semua bisa diatasi. Saat itulah saya mengerti mengapa banyak dokter di Singapura memilih membuang saja limpa saya daripada memotongnya. suhu badan saya. Wajahnya masih tidak terlalu cerah. Langsung ke bandara untuk pulang ke Surabaya. Lalu seminggu tidak boleh turun dari tempat tidur. Selama seminggu itu pula Prof Shao dalam ketegangan. Seminggu kemudian. 55 by Moezhanks . Saya minta maaf berkali-kali karena telah membuatnya tidak bisa pulang. di kantor saya. waktu recovery saya tidak cukup. ketika saya di panggung. Saya ingin operasi itu dilakukan tanggal 6 karena pada tanggal 7 bulan berikutnya ada acara penting di Indonesia: menandatangani persetujuan proyek PLTU Kaltim dan peresmian gedung Expo Jatim. Saya tidur di rumah sakit. Kalau sebelum operasi saya lihat dia sering berlinang air mata. Kebalikannya. Tanggal 7 sudah menandatangani perjanjian PLTU Kaltim dengan konsorsium bank dan meresmikan gedung Expo Jatim. “Mana ada dokter di negara lain yang mau menunggui pasien sampai lima hari tidak pulang. seperti orang sakit. barulah Prof Shao menemui saya lagi di kamar rumah sakit.” katanya segera. sebulan kemudian saya sudah akan bisa keluar dari rumah sakit. Maksud saya. Saya mau istirahat. Tabik dengan cara Tiongkok. Rasa sakit setelah pemotongan itu lebih hebat daripada transplantasi liver.” tambahnya. Penampilannya memang agak lecek. Tidak secantik ketika dalam keadaan segar. Bulu matanya yang hitam seperti bendera setengah tiang. Menunggui Anda. Perawatan setelah pemotongan ternyata begitu sulit. saya ingin operasi itu dilakukan pada 6 Oktober. Bahwa setelah limpa dibuang akan merepotkan pasien seumur hidup.Padahal. Begitu besar perhatiannya. “Sudah lima hari saya belum pulang. tanggal 5 sebulan kemudian saya sudah bisa keluar dari rumah sakit. Tapi. Setelah operasi. “Dua hari saya flu. dengan mundurnya tanggal operasi. Apalagi. perawatan setelah pembuangan limpa akan lebih mudah. seharusnya masih di atas tempat tidur di rumah sakit di Tianjin. saat upacara tersebut saya terlihat pucat. Lalu. Itulah sebabnya. Matanya yang biasanya tajam. Ini untuk mewakili ucapan terima kasih saya kepadanya yang tidak terhingga. “Semua gara-gara Anda. itu kan sudah di luar tangung jawab dokter yang membuangnya. Begitu tinggi tanggung jawabnya. pada hari-hari pertama. sebagaimana dijelaskan Prof Shao. suhu badan saya kembali normal dan stabil. kini ganti saya yang amat terharu.” ujar dr Shao. kali ini agak memerah. Saya tidak pernah membayangkan operasi pemotongan limpa ini akan gagal. “Sekarang Anda sudah stabil.” kata saya dalam hati. 8 jam saya tidak boleh bergerak. Tahu sedang saya perhatikan.” pamitnya. naik sangat tinggi: lebih dari 38 derajat Celsius. Tiga minggu berikutnya harus tetap di rumah sakit.

barulah dia mengucapkan kalimat yang bernada putus asa.” katanya seperti ingin bergurau. tapi juga berisi memaksanya agar mengizinkan saya pulang. setengah memompa dadanya. “Mungkin. Tiga minggu kemudian. Lalu minta maaf. ketegangan lima hari yang mencekam dirinya hilang. Mudah-mudahan masih terselip raya sayang di dalam campuran itu. dan gondok bercampur jadi satu. Lama dia tidak berkata-kata.” tulis saya di pembukaan surat.” katanya. Plt saya sudah 120. Pagi itu. Bersamaan dengan itu flu datang menyerang.” katanya. langsung diubah untuk menemui saya. “Sudah saya duga. Prof Shao seperti tidak membaca alinea pertama. Dari ekspresi wajah dan body language-nya. Bait kedua saya manfaatkan untuk ucapan terima kasih. “Jadi. saya minta menerjemahkan surat yang saya buat. Ini soal kebakaran rumah memang. HBV-DNA Anda masih 15 juta. Saya juga mencoba lagi kemampuan ilmu mantiq yang saya pelajari di aliyah dulu. Kami terdiam lama. Surat itu saya mulai dengan pujian. Dia menatap wajah saya dengan tatapan multi-arti: marah. Mungkin merasa kok saya seperti sok tahu kedokteran. Saya lihat Prof Shao mulai menitikkan air mata.” jawabnya. Melihat itu. Saya tidak mengadaada. Rayuan saya ternyata telah diabaikannya.” kata saya. Wajahnya merah serius. SGPT-OT saya mendekati normal. Tiba-tiba dia masuk kamar saya dengan menggenggam surat itu. “Mana ada dokter yang mau lima hari tidak pulang untuk menunggui pasiennya?” saya menunjukkan fakta. Andalah dokter terbaik di muka bumi ini. Lalu saya menunjukkan hasil lab. Pagi-pagi Guo Qiang. Maksud saya yang akan bisa meluluhkan hati Prof Shao. Sampai-sampai banyak dokter muda yang menunduk. Yakni. Prof Shao seperti kian gondok. Rupanya. saya harus pulang. Saya terpojok. Tidak menduga sama sekali dia merahasiakan itu dari saya. tekanan darah juga normal. tapi yang terbakar rumah sendiri. memasukkan kalimat-kalimat merendah. Guo Qiang saya minta menuliskannya dalam bahasa Mandarin yang indah. “HB saya 13. Lalu ingat lagi acara PLTU Kaltim dan gedung Expo Jatim yang sudah menanti. bukan rumah tetangga. Beberapa dokter muda yang mengikutinya sampai agak tertinggal di belakang. Setelah menarik napas panjang. Tidak pernah dikemukakan dengan lepas. Bertatapan dengan saya. “Tapi. Tapi. tiga hari di rumah tidak bisa menikmati. badan saya sudah terasa enak. Tertutupi oleh jabatan tingginya dan mungkin juga kekomunisannya. Ternyata saya telah menyiksanya. “Semua itu benar. “Bukankah indikasi-indikasi dalam darah saya sudah menunjukkan bahwa saya kuat terbang jauh?” kata saya memecah kebekuan. meski fakta itu memang saya pakai merayu. Bahkan. Padahal. Saya tahu tidak akan diizinkan pulang. begitu kondisi saya stabil. saya tidak tahu apa hubungannya antara sakit saya dan HBV-DNA. Baru pada bait ketiga saya ’memperkosa’-nya. Kemampuan bahasa Mandarin saya belum sampai pada tingkat untuk bisa dipakai merayu. ada satu data yang saya sembunyikan. Langkahnya cepat. Guru besar ternama di bidang liver itu seperti langsung membaca alinea yang ’memperkosa’-nya. kesal. anak saudara angkat saya Mr Guo.Sekali lagi saya minta maaf berulang-ulang. dia tidak langsung berkata-kata. dokter-dokter muda yang menyertainya menyerahkan tisu 56 by Moezhanks . Setengah memuji. Guraunya selalu ringan-ringan saja. seharusnya di bawah 100 saja. yang mestinya melakukan kegiatan rutin.

Lalu Prof Shao menarik napas panjang. dari rumah sakit saya langsung ke bandara. Dengan diungkapkannya data soal kadar HBV-DNA saya. Seminggu kemudian sudah menjadi 1. setidaknya saya kini punya kesempatan beberapa bulan untuk memikirkan cara terbaik mengatasi sirosis-kanker saya secara permanen. masih ada obat lain yang lebih mahal. *** Kian hari kondisi saya kian baik. Saya pakai kursi roda selama dalam perjalanan pulang. sebenarnya masih ada jalan agar terhindar dari transplantasi. Tanggung jawab kepada rakyat Kaltim dan Perusda Jatim. Dia menahan tangis. Nama generik obat itu Octreotide (karena saya tak boleh menyebut nama obatnya). tapi belakangan sebenarnya keluar obat baru yang harus diminum tiap hari. Tanggung jawab yang juga tidak kecil. obat yang saya siapkan nanti harus diminum. “Ya. Tapi. buying-time. Lalu muncullah keteguhan dalam hati saya untuk lebih mementingkan tanggung jawab itu. Saya terjepit antara keharuan dan romantisme di satu pihak dengan rasa tanggung jawab di pihak lain. Obat tersebut harus disuntikkan tiap 57 by Moezhanks . Saya harus lebih hati-hati. Dia tahu saya tidak pura-pura. saya putuskan untuk berbuat ini di depan Prof Shao. Agar virus yang tidak mungkin lagi dikeluarkan dari liver itu “tidur nyenyak” saja di dalam liver. Besok paginya. Juga sudah terhindar dari ancaman tibatiba perdarahan dari lubang-lubang tubuh saya. mengusahakan pembunuhan atas dua kanker liver saya dengan cara dimasuki alat pembunuh lewat selangkangan saya. Tanggung jawab dan risiko sebagai pimpinan. Katakanlah suntikan interveron yang saya jalani sampai 70 kali (setiap dua hari sekali) itu tidak berhasil “memingsankan” virus hepatitis B saya. ternyata saya belum prima. Kalau toh obat itu juga tidak berhasil. Saya tahu semua itu tidak menyelesaikan persoalan. Mata saya juga mulai berlinang. Yakni. Ini sebagai tanda bahwa saya minta maaf yang dalam. Kini saya sudah terbebas dari ancaman tiba-tiba meninggal. Semua itu hanya usaha untuk ulur-waktu.kepadanya. Tapi. Kini ganti saya yang lebih banyak menitikkan air mata. Saya akan izinkan. (Bersambung) Ganti Hati 21 – Yang Pro dan Yang Anti-Transplan Bertinju Sengit dalam Pikiran 15 September 2007 KALAU saja saya dulu peduli sedikit dengan badan saya. Turun dari tempat tidur dan ingin bergegas mencium kakinya. Sebulan kemudian sudah normal. sudah. Apalagi.5 juta. Juga terhindar dari potong-limpa. Tidak bisa dicegah. Sakit saya sudah terlewat parah. Robert Lai juga mengusap-usap matanya. Demikian juga istri saya. Termasuk mempertimbangkan untuk transplantasi. “Bangun”-nya virus hepatitis B akan langsung menyerang liver hingga kelak jadi sirosis. Saya dalam posisi sulit. Saya sudah hampir menubruk kakinya. HBV-DNA saya juga menurun drastis. Maka. Prof Shao bergegas mengangkat kepala saya.” katanya melemah. tapi sekaligus minta dengan sangat agar diperbolehkan pulang. sebelum potong-limpa itu saya juga sudah dua kali melakukan TACE di Singapura.

Banyak teman menganjurkan juga untuk pindah ke jalur alternatif. Termasuk mulai mempertimbangkan kata yang mengerikan itu: transplantasi liver. Sayang. Dan bahkan ketika sirosis saya sudah berkembang ke kanker. Tetap menggunakan pemberian Tuhan yang sangat berharga itu: otak. sekalipun oleh dokter yang paling pintar. Baru dua tahun lalu saya mendapatkan informasi tentang obat-obat itu. tapi mungkin masih bisa diperlambat. meski telat. sekitar Rp 1. akan menyebabkan pendarahan hebat yang bisa membunuh saya. Kalau persoalannya hanya sirosis (sirosis kok dibilang “hanya”). Untuk memberikan kesempatan bagi saya memikirkan harus melakukan apa yang lebih mendasar. Tapi. dia akan punya kemungkinan terjangkit hepatitis. Yang ini nyuntiknya sebulan sekali. pasti akan menjadi kanker. saya tahunya sudah sangat terlambat. saya harus tetap rasional. Harga obatnya saja. mau dipotong bagian yang ada kankernya. saya tetap memakai obat-obat tersebut. Masalahnya. “Siapa tahu ada rekayasa Tuhan di situ. transplantasi masih bisa ditunda. Meski sirosis tidak bisa disembuhkan. Rekayasa Tuhan? Apakah Tuhan punya hobi merekayasa? Saya lebih percaya bahwa Tuhan akan konsisten dengan sunatullah-Nya. Satu proses awal dalam sebuah perjalanan spiritual untuk sampai pada kata akhir: siap transplan. masih ada tiga cara lain untuk mengatasinya. Meski bentuknya masih pertanyaan “masak harus sampai transplan?”. Yang Anticavier saya ketahui dari dokter di Singapura. kosa kata “transplan” sudah mulai masuk di bawah sadar. kalau dipotong. dokter harus memasukkan sejenis metal berbentuk kail yang punya 58 by Moezhanks . Sebab. pasti tergoda untuk mencobanya. selain kemoterapi. Kalau sudah kena hepatitis. Sebab. masih ada satu obat baru lagi yang juga harus disuntikkan ke saya selama sembilan bulan berturut-turut. Begitu pula kalau masalahnya hanya kanker (kanker kok juga dibilang “hanya”). Mengolor waktu. Yakni. Karena itu. sehingga tidak mudah untuk mengatasi kankernya. Nama generiknya Thymalfasin atau Thymosin Alpha-1. Baik yang kejawen maupun yang dibungkus religius. Misalnya.1 juta. Permukaan liver yang mengeras itu. Begitu pula kalau mau di-RFA atau dibakar dengan energi panas. bisa membantu saya buying time. liver saya sudah “dikeroyok” sirosis dan kanker. Antara satu dokter dengan lainnya memang masih berbeda pendapat mengenai keampuhan obatobat itu. dengan memotong bagian yang terkena kanker. Waktu itu. Pendarahan di liver sangat tidak mudah untuk dihentikan. tapi itu juga berarti secara tidak sadar kata “transplan” sudah mulai masuk dalam proses internalisasi ke pikiran saya. Itu tidak mungkin karena sirosis membuat permukaan liver saya mengeras. Ke obat tradisional atau ke kekuatan supranatural. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Karena itu. Dan kalau sudah sirosis.” kata teman saya. untuk sekali suntik. pasti akan mengarah ke sirosis. Sedang dua obat yang lain saya ketahui dari Prof Shao.dua hari sekali selama sembilan bulan. Semua saya ketahui setelah liver saya menjadi sirosis. Setidaknya. Selain Octreotide. untuk membakar (mengablasi) sel kanker saya. Masak saya sampai harus melakukan itu? Masak saya separah itu? Masak tidak ada jalan lain? Masak tidak akan ada keajaiban? Masak tidak ada obat alternatif? Masak tidak ada dukun atau kiai yang linuwih (punya ilmu lebih)? Tapi. kata “transplantasi” sebenarnya masih jauh dari pikiran. bagi pasien yang ingin sembuh dan punya uang. Termasuk sunatullah bahwa kalau tidak melakukan imunisasi hepatitis. di-RFA (radio frequency ablation) atau di-TACE (trans arterial chemoembolization).

Dengan bantuan fluoroscopy. melalui kateter yang sama. Karena darah putih yang sangat kurang itu. Jadi. karena limpa saya terus membesar. barangkali ginjal. kalau pinggang saya kena bola atau kena sodok. diputuskanlah untuk membunuh kanker saya dengan metode TACE. saya akan sangat gampang terkena virus. Kalau turun 10 poin lagi. kerusakan pada bagian tubuh yang masih baik akan terus terjadi. Sel darah merah memang harus mati dalam kurun waktu tertentu dan harus “dikuburkan”. yang sudah ikutan rusak adalah saluran pencernaan. Lama-lama. Kail itu ditembuskan ke dalam liver melalui perut. untuk memblokir cabang-cabang arteri di liver yang melewati sel kanker saya. Daya tahan tubuh saya sangat menurun. Dengan begitu. Pekerjaan mengubur dan menghancurkan bangkai sel-sel darah merah itu dikerjakan di limpa. kateter itu lantas didorong masuk sampai ke arteri (pembuluh darah yang membawa darah bersih dan sari makanan dari jantung) yang di hati. Darah putihlah yang menguburkannya dengan cara “memakan”-nya. selaput perut. darah putih berfungsi. Tidak pecah pun. Padahal. Kalau itu terjadi.beberapa mata kail. Saat itu tinggal 60-an. Namun. Tindakan itu jelas bisa menyebabkan liver mengalami pendarahan. diharapkan sel-sel kanker saya akan kelaparan dan tak lama kemudian mati. Ini perlunya untuk menutup akses makanan ke sel-sel kanker itu. saat itu jumlah darah putih saya terus menurun. Limpa saya itu kian hari masih akan terus membesar. sebelum masuk ke sel kanker. saya sudah tak bisa bertahan dari infeksi. empedu. Karena itu. Selama hampir semalam saya tidak boleh turun ranjang karena khawatir luka sayatan itu terbuka. transplantasi juga masih bisa ditunda dengan cara di atas. bagian-bagian tubuh saya yang lain ikut rusak dan bisa saja jadi penyebab kematian yang lebih besar. Tindakan medis tersebut memakan waktu kurang lebih dua jam. antara lain. dokter lantas memasukkan lagi obat lain. Kalau saya biarkan. Bedanya. limpa bisa pecah: mati. sehingga terjadi pendarahan. Padahal. Setelah obat kemonya menembus sasaran. melainkan diinjeksikan langsung ke sel kankernya melalui selang kecil panjang (kateter) yang dimasukkan melalui pembuluh darah besar di pangkal paha (arteri femoral). persoalannya. sejenis sinar rontgen. platelet saya 59 by Moezhanks . sel-sel darah putih yang baik pun ikut dikubur oleh organ itu. Limpa saya saja sudah membesar. saat itu. Itu sudah termasuk mencabut kateter di pangkal paha saya dan membalut kuat-kuat bekas sayatan yang di paha. Cara itu pada prinsipnya sama dengan kemoterapi. akibat sirosis itu. Bahkan. jantung. obat kemonya tidak diinfuskan seperti umumnya kemoterapi. dan paru saya juga segera rusak. Jadi. Kalau sampai tahun lalu. Cara itu tentu sangat membahayakan saya karena mata kail tersebut harus lebih dulu menjebol permukaan liver saya. Tapi. akibatnya bisa fatal karena sayatan tersebut menembus sampai ke pembuluh darah besar di paha. dan limpa saya. Sudah tiga kali lipat lebih besar daripada limpa orang normal karena darah yang tidak bisa lancar masuk ke liver mbendal (terpental) masuk ke limpa. menguburkan sel-sel darah merah yang mati. kalau problemnya hanya sirosis dan kanker (Huh! Sirosis dan kanker kok masih dibilang “hanya”). ke mana bangkai-bangkai darah merah tersebut? Itu juga membuat problem sendiri pada tubuh saya. Sementara bangkai sel-sel darah merah makin bertambah. Seharusnya kadar darah putih saya minimal 200. limpa yang membesar membuat darah putih saya menurun. Makanya.

Saya bisa mati hanya oleh satu tulang ikan yang amat kecil. Atau. Takut tulang-tulang kecilnya masuk ke tenggorokan. Setiap saat bisa pecah. Seperti yang sudah saya singgung sebelum ini. hidung. Juga bukan ahli agama. Virus yang munculnya hanya dalam kasus transplantasi. “Pak Dahlan pun. kalau gagal gimana?” tanya kubu yang anti-transplan di tim saya. darah-darah yang mbendal itu juga memenuhi saluran percernaaan saya (varises esofagus). Bahkan. Satu yang punya pendapat jangan transplan. Secara tidak formal. telinga. ketika air sudah memenuhi rongga perut (ascites). bisa saja karena kondisi Cak Nur sendiri yang memang sudah lebih parah daripada kondisi saya saat ditransplan. Dan “kubu antitransplan” di tim saya juga tidak tahu mengapa Cak Nur gagal. ketika memulai sembahyang harus mengulangi takbir berkali-kali? Mengapa ada orang yang mudah menangis ketika berdoa? Mengapa ada yang tidak bisa menangis? Gejala agamakah? Gejala psikologiskah? Saya bukan ahli psikologi. Atau. penyebabnya kan jelas: virus Citomegali. Bukan secara rasional-teknis-medis. kalau misalnya kankernya sudah sampai di vena porta (pembuluh darah balik yang utama di liver). sewaktu-waktu saya terancam mengalami pendarahan dari mana saja: dari mulut. cuma ada satu jalan: transplantasi liver. saya pernah takut makan ikan. dindingdindingnya berubah jadi balon-balon berisi darah. Dan. Jadi. Tim yang pro-transplan mengemukakan. saya sering merenungkan (yang sampai sekarang belum sampai pada kesimpulan) soal yang rumit dan peka ini: khusyuk itu gejala religi atau gejala psikologi? Mengapa ada orang yang mudah khusyuk? Tapi. Saya ingin mendapat pertimbangan yang arahnya berlawanan. untuk itu. Kegagalan transplantasi yang dilakukan tokoh Nurcholish Madjid (Cak Nur) sungguh menjadi alasan pembenar yang kuat sekali bagi kubu yang tidak setuju transplantasi. Artinya. Saya sudah biasa menghitung komposisi psikologis dan rasionalitas dalam setiap mengambil keputusan. mungkin telanjur sangat parah. “Bukankah terlalu banyak contoh transplan yang gagal?” tambahnya. bulatlah tekad saya: ganti liver. Maka. memang transplantasi Cak Nur gagal. proses kerusakan di organ lain ternyata tak bisa saya hentikan. ketika membran selaput dada sudah kena infeksi. kalau ginjal dan paru sudah ikut rusak. Kita tidak tahu pastinya. Lalu. Sehingga. Semua itu gara-gara liver yang sirosis.juga terus menurun. 60 by Moezhanks . Ada yang lebih berbahaya lagi. mungkin juga akan lebih sulit. status kata “transplan” pun meningkat dalam pikiran saya. mengapa banyak juga yang sulit khusyuk? Sampai-sampai. meski mungkin saya bisa membunuh sel-sel kanker dengan TACE dan berhasil memperlambat proses kerusakan total liver oleh sisrosis. “Tapi. sudah pasti pertimbangan yang lebih didominasi perasaan. Karena itu. Atau. saya memang membentuk dua tim. saya kalahkan. hanya karena terkena benda tajam seperti keripik atau tulang ikan atau roti kering. Misalnya. bahkan dari lubang kemaluan. Akhirnya. Tapi. lalu melukai dan menusuk balonbalon itu. Kecuali liver saya segera baik. Tapi. Satunya lagi yang pro-transplan.” kata pro-transplan. Kuat secara psikologis. Tapi. Dari sekadar tamu yang sedang mampir menjadi penghuni utama.

tidak bisa bekerja dengan baik? “Itukah hidup? Untuk apa hidup kalau kondisinya harus tersiksa seperti itu?” serang tim pro-transplan tibatiba. Dari situ baru kami tentukan tempatnya. Satu proses untuk melakukan pembobotan dan penilaian atas semua pilihan. Pemenang sudah harus ditentukan sebelum salah satunya KO. Lalu masih ada sejumlah “persyaratan keinginan”. kubu “anti-transplan” di tim saya masih punya alasan lain. itulah pilihan terbaik. “Katakanlah transplantasinya berhasil. Seperti kata dokter di Singapura itu. Saya sudah terbiasa. “Saya mantap dengan transplan. Akan bisa bertahan hidup berapa tahun lagi?” katanya seperti sedang mulai memberikan pukulan tinju kepada tim saya yang pro-transplan. kita sudah tiba pada kesimpulan transplantasi akan gagal. barulah saya menentukan langkah. mengapa harus berjudi dengan transplan? Sebagai dewan juri yang harus adil. ditutup dengan pukulan upper-cut yang telak: sama-sama bisa bertahan lima tahun. “Memang peran pasien sendiri amat menentukan. Kedua tim masih akan terus bertinju. Tapi. Saya mantap transplan. tidak bisa makan enak. Lalu. kedekatan dengan Indonesia. Apakah tidak ada bibit kanker yang akan mbalik ke liver baru? Apakah bibit virus hepatitis B yang sudah ikut beredar di darah tidak menjangkiti liver baru? Lalu jadi sirosis lagi? Jadi kanker lagi? “Katakanlah setelah transplan masih bisa hidup lima tahun lagi. apakah kita harus membiarkan Pak Dahlan selama lima tahun menjalani kehidupan dengan kualitas yang buruk? Harus selalu dikemo. Tapi. Tiga faktor itu saya sebut sebagai “persyaratan mutlak”. kesediaan donor. keluar-masuk rumah sakit. “Ya. Keheningan terpecah oleh suara salah satu tim pro-transplan. Begitu pasien ragu-ragu.” katanya. Kehebatan dokter. juga tidak boleh. bel sudah menunjukkan bahwa waktu sudah habis.Tapi. Bertubi-tubi ayunan tinju dihokkan ke wajah tim yang pro-transplan.” kata saya. dalam setiap akan mengambil keputusan.” kata saya. kedekatan budaya. tali ring menyelamatkannya: Tapi. Misalnya. Sampai mau terlempar dari kanvas. Kalau kita paksakan transplan tapi pasien tidak mantap. dan ketepatan rumah sakitnya. saya melihat tim pro-transplan sempoyongan. Semua diam. diTACE. Apakah kalau tidak ransplan tidak bisa bertahan lima tahun lagi? Dengan obat-obat yang kian maju?” tanya tim yang anti-transplan. menjalankan satu proses yang disebut problem solving. Saya pernah disekolahkan 61 by Moezhanks . dan kedekatan bahasa. Kemantapan tekad pasien akan menjadi kunci suksesnya. Lalu mengalikan bobot dan nilai. Ada tiga yang harus dipertimbangkan. (Bersambung) Ganti Hati 22 – Ingin Naikkan Albumin. Berburu Banyak Ikan Kutuk 16 September 2007 SETELAH hati mantap melakukan transplantasi. Dengan segala risikonya. Hasil perkalian tertinggi.

mengindikasikan akan kuat dalam menghadapi tekanan mental maupun fisik. Itulah salah satu sumbangan ilmu manajemen ke dalam praktik jurnalistik di Jawa Pos. dia selalu berhasil menjalankan misinya. Mungkin tidak akan diakui sebagai salah satu teori jurnalistik. rekor transplantasi tanpa transfusi darah. Untuk Indonesia kota ini tidak populer. Dan. Saya ajarkan sebagai doktrin di Jawa Pos. Padahal. Berkali-kali saya ke kota itu. yang saya ragukan ini masuk dalam ’persyaratan mutlak’. Sungguh tak terbayangkan bahwa tekad saya untuk belajar bahasa Mandarin lima tahun lalu ternyata saya sendiri yang akan memetik manfaat terbesarnya. di satu kota di belahan utara Tiongkok. Yakni. tapi saya tidak peduli. sudah membukukan beberapa rekor: Rekor terbanyak. Alat-alatnya juga amat modern. tidak akan semulus kalau diri sendiri yang tahu bahasa itu. Dari masing-masing negara kita pilih satu nama. Kalau hanya masuk ’persyaratan keinginan’. barangkali bisa diabaikan. Tentu hal ini tidak diajarkan di fakultas publisistik atau di akademi wartawan. Namun. Umurnya masih 52 tahun dan badannya tinggi tegap. mau tidak mau harus dipenuhi. Wartawan Jawa Pos harus menjalankan ’10 rukun iman’ atau ’Ten Commandments” yang saya tentukan. Urat-uratnya kukuh. Khususnya tower yang baru. Dan. Singapura. Tapi. Saya ingin dokter yang berpengalaman.untuk itu di Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Manajemen (LPPM) ketika saya masih jadi wartawan majalah berita mingguan TEMPO. Masih juga ada satu pertanyaan: maukah dia menangani saya? Ada waktukah dia? Inilah tugas Robert berikutnya. transplantasi untuk pasien tertua (76 tahun). dialah dokter Tiongkok yang paling jago di bidang transplantasi liver. Sangat bersih dan terawat. Saya memang sangat pro anak muda. akan lebih firm ketika memegang pisau bedah. reputasinya yang tinggi sebagai pusat transplantasi liver sudah sangat terkenal. Maka sudah tidak tengok sana-sini lagi: Di sinilah saya akan melakukan transplantasi liver. mengenal baik budayanya. Hasil kunjungan Robert Lai sangat memberi harapan. Apa itu? Tempat! Apakah di Tiongkok ada rumah sakit yang bagus sekali? Bukankah rumah sakit di sana terkenal joroknya? Untuk ini Robert Lai memeriksa rumah sakit tempat dokter itu berada. bisa saja mempekerjakan juru bahasa. dan Tiongkok. tapi masih muda. Saya langsung jatuh cinta pada kunjungan pertama. rekor transplantasi untuk pasien usia dini (3 tahun). Artinya. Memang. Juga. dan sedikit banyak sudah bisa berkomunikasi dengan bahasanya. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kalau saya tidak bisa sedikit-sedikit berbahasa Mandarin. Kunjungan pertama saya ke sana sekitar 10 tahun lalu. tim menyeleksi dokter-dokter ahli transplantasi di dunia: Australia. terutama. Saya sendiri pun lantas mengunjunginya. Pengalamannya juga luar biasa. Boleh dikata. Bahkan. tapi saya sudah mengenalnya dengan sangat baik. 62 by Moezhanks . Itulah yang membedakan wartawan Jawa Pos dengan wartawan lain. umurnya. Proses yang sama saya terapkan dalam melakukan analisis problem-solving atas tekad saya yang sudah mantap melakukan transplantasi liver. Sudah melakukan tranplantasi liver lebih dari 500 kali. masih ada satu yang meragukan. Dia memperoleh pendidikan khusus untuk ini di Jepang. menurut logika saya. sebagaimana yang dilakukan orang-orang Jepang dan orang dari negara-negara Arab. Dari proses itulah lantas kami pilih dokter ini. Maka. Penampilannya meyakinkan. Belanda. Proses manajemen itu kemudian saya bawa juga ke dalam jurnalistik. Jepang. Amerika. Tangan anak muda. Hati saya mantap sekali. Kita pelajari track record-nya. Saya mengenal baik kotanya. Saya percaya hanya yang muda yang bisa diajak balapan di segala bidang.

Siangnya. Pasien dari negara Arab di sebelah kamar saya berteriak-teriak sepanjang malam. Apalagi sosok saya yang sosok Asia. Guo Qiang mencarikan gurunya: tiga gadis yang masih kuliah di tahun terakhir IKIP setempat. Keluarga saya. Robert juga langsung memesan kamar terbaik. 63 by Moezhanks .Bahkan. Suatu malam saya tidak bisa tidur. Dia memilih mendengarkan lagu-lagu kasidah dari CD yang dia bawa. Karena itu. mungkin juga karena sering telepon memang tidak baik bagi pasien seberat dia. pagi-pagi ikatan sudah akan dilepas. membeli mobil. Masa menunggu tidak bisa ditentukan. kalau ada sesuatu yang mendadak (misalnya. Dua kali sehari. Saya tahu tidak ada operasi pada Sabtu dan Minggu. tiba-tiba ada donor). dan juga Robert. saya sering tidak dianggap orang asing. dan juru masak. Saya main squash cukup lama. Yang tidak mengizinkan adalah kerabat yang menunggunya. saya bisa kembali segera. Tahulah saya bahwa dia masih diikat di ranjang. Keesokan harinya lengan saya sakit sekali. saya tahu lebih jelas mengapa dia berontak. ternyata tidak. Ini saya ketahui setelah saya bicara kepadanya dalam bahasa Arab. Atau mendengarkan ayat-ayat Alquran yang kasetnya dia beli di Makkah. Robert juga langsung menyewa apartemen untuk setahun. Yakni. Untuk membunuh waktu saya memutuskan meneruskan belajar bahasa Mandarin. Pagi 2 jam. Ini penting untuk kesehatannya sendiri. Rupanya rumah sakit masih khawatir dia akan berontak sehingga terus diikat. Dia tahu saya tidak akan bisa hidup tanpa jaringan internet. Sepanjang selang itu (mulai dari lengan sampai dada) kemeng sekali. Ternyata pasien itu ingin menelepon keluarganya. ayat-ayat mulai Al Fatihah sampai terakhir surat An Nas dari imam salat tarawih di Masjidilharam. Pada hari-hari seperti itu saya terbang ke provinsi lain. Ternyata dia berontak karena ada janji. Sudah beberapa tahun saya dan istri selalu di Makkah saat akhir Ramadan. Dia tahu belum tentu transplantasi bisa dilakukan segera. satu jam penerbangan dari kota ini. Suatu saat saya ke Kota Dalian. mencari sopir. saya pamit ke kota lain. ada penjual raket squash dengan bola yang diikat tali karet. Mungkin untuk menghemat pulsa. tapi tidak diizinkan. Badan saya memang sangat sehat secara fisik lahiriah. Saya mencoba menengoknya. Tapi. banyak juga orang dari wilayah selatan atau dari Hainan yang juga berkulit seperti saya. Maksudnya. Istri saya sering melihat bagaimana saya belajar. Saya lupa akan selang infus di lengan saya. Bahwa kulit saya agak hitam. sore 2 jam. Dia memang tidak bisa berbahasa Inggris. Di salah satu plaza di sana. Lalu dia sumpek sendiri membayangkan sulitnya. saya sering lupa kalau di lengan saya sudah dipasangi selang kecil yang ujungnya ada di dekat jantung. tinggal di apartemen. sudah lebih siap. Bahasa Arab saya sudah banyak yang hilang sehingga perlu waktu lama untuk mengingat banyak kata yang jarang dipakai. karena hampir selalu berbahasa Mandarin. Problem transplantasi adalah di kesediaan donor. pembantu rumah tangga. yang ada ruang tamunya. saluran internetnya. Selang infus itu diperlukan kalau tiba-tiba harus transplan. Saya tinggal di rumah sakit. Apakah dia sudah terkena kanker? Apakah kankernya sudah sampai ke kepala sehingga mengganggu otaknya? Paginya dia berteriak-teriak lagi. Istri saya tidur di ruang tamu. Kalau akhir pekan. dapurnya. Kita bisa mencoba main squash tanpa harus lari-lari mengejar bola. Saya boleh terbang-terbang asal masih dalam radius empat jam penerbangan.

Ternyata dia juga sudah mengantongi secuil kertas lusuh berisi nomor telepon. di Qingdao. Badan saya harus sehat. Satu-satunya sumber albumin adalah sahabat kecil saya dulu di desa: ikan kutuk. Entah sudah berapa ton saya mengonsumsi sop kutuk. Setelah penjelasannya meyakinkan. putih telur sampai ikan. Mengapa? Ini karena ada satu titik di belakang angka-angka itu. Tapi. Di Tiongkok. Saya menghubungi guru besar Unibraw. Dalam bahasa Inggris dikatakan “ikan kepala ular”. terutama albumin. Malang. Prof Eddy Suprayitno. Para suster bilang bahwa saya ini bukan seperti orang sakit. Tapi. mulailah saya minta istri saya berburu kutuk setiap hari.Ketika penunggunya lagi pergi. Di Kalimantan disebut ikan gabus. Di setiap kota yang saya singgahi saya perlukan untuk mengunjungi pasar ikannya: di Nanchang. Tapi. Ikan kutuk ternyata tidak ada di tempat lain. Suster tidak tahu dan pasien juga tidak jelas melihatnya. Penjual ikan di Pasar Rungkut hafal betul dengan istri saya. Dalam masa penantian itu saya tidak boleh terkena flu. tentu saya akan kesulitan membawa kutuk ke sana. Jadi amat berharga. Yang saya tahu kehidupan Prof Suprayitno amat sederhana. Dia mendiktekannya ke suster dengan bahasa Inggris yang amat tidak jelas. berarti nol. Dia mulai kesal dan uringuringan. dan seterusnya. “Saya memang tidak sakit. peneliti seperti itu jadi kaya raya. tidak terus merosot. Untuk menambah protein banyak sumbernya. Lalu muncul di pikiran. Tidak ketemu. di Dalian. karena saya akan tinggal lama di Tiongkok. sering untuk tasbih) kini menjadi orang terkaya nomor 200 di Tiongkok. Mulai daging. Tapi. Sambil menunggu dan menunggu. buah manikan ternyata mengandung khasiat antikanker. dan melihat saya bisa bicara Arab. Ternyata nyambung. Saya melakukan senam dan tidak mengenakan baju pasien. Titik. karena bentuknya seperti ular yang amat pendek. setiap kali nomor itu dihubungi selalu gagal nyambung. saya tidak menemukannya. di Wuhan. Saya hanya perlu transplantasi liver. masak tidak ada kutuk di Tiongkok. kini menjadi pemegang saham perusahaan pembibitan dengan aset triliunan rupiah. Saya menyarankan agar menambah “nol” di pijitan terakhir. sebagaimana umumnya guru besar di Indonesia. Seorang peneliti padi yang dulu hidup di desa selama 20 tahun. Maka saya mencari kutuk di sana. dalam huruf Arab. Luar biasa senangnya. Satu-satunya orang yang melakukan penelitian terhadap ikan kutuk. meningkatkan albumin luar biasa sulitnya. dia minta tolong saya untuk memberi tahu perawat agar membantunya menelepon keluarga. Satu orang yang meneliti satu jenis tanaman liar yang disebut ’tear drop’ (di desa saya dulu disebut manikan. Di Tiongkok. Akhirnya saya rayu dia untuk memberikan cuilan kertas itu. Karena flu saja bisa mengurangi potensi kesuksesan transplantasi.” gurau saya kepada mereka. juga tidak ditemukan satu pun jenis makanan yang dimaksud. yang biasa menyediakan menu ribuan macam di internet mereka dalam bahasa Mandarin. Sebab. 64 by Moezhanks . Tapi. Berminggu-minggu kami mendalami internet untuk mengetahui makanan apa saja yang bisa menaikkan albumin. angka-angka itu angka Arab. Tahulah saya bahwa angka yang dipijit kurang satu digit. Saya juga harus menjaga agar protein di darah saya. Dia lantas menyodorkan hand phone yang rupanya tidak dibawa pergi oleh penunggunya. di Harbin. Saya lupa bertanya apakah Prof Suprayitno sudah mematenkan penelitiannya dan memikirkannya untuk sebuah industri. saya terus menjaga kondisi. di Nanjing.

Bentuknya memang persis kutuk. “Hei yu” di Kalimantan lebih banyak dimanfaatkan untuk ikan asin. Enak tidak enak sudah tidak penting lagi. enak sekali dimasak bumbu bali. Bapak teman saya. Ketika saya ke Nanchang. Tapi. Tapi. Dalam keadaan normal. Selama di Tiongkok saya kesulitan sumber albumin ini. Apalagi di lengan saya sudah dipasangi saluran infus sampai ke dada. di sana disebut “hei yu” -”hei” artinya hitam. saya belum terkena peraturan itu karena saya sudah mendaftar sebelum itu. Saya memutuskan sabar menunggu. sungguh sulit mengatasinya. mestinya. sangat banyak. Sebagaimana juga di Kaltim. Karena itu. saya ingin ikut mengatasi krisis listrik di Kalbar. Kutuk. saya langsung membeli tanah 20 hektare di lokasi yang paling cocok untuk itu. Tapi. Saya pernah ke desa itu sebelum tahu bahwa saya punya sirosis. liver bisa memproduksi albumin. Juga melakukan perundingan dan penandatangan kontrak mesin-mesin di Tiongkok. dagingnya hambar. Kandungan daging “hei yu” tidak sama dengan kutuk di Jawa. Sebulan setelah saya menunggu. yang di sana disebut ikan gabus. “Hei yu”. dia datang dengan bapaknya sambil membawa satu ember ikan. menjelaskan panjang lebar bagaimana satu hari tadi dia berusaha mencari ikan satu ember itu. Di Kalimantan lebih lengkap. Ibaratnya saya harus seperti kerbau yang akan dijual untuk disembelih: Harus sehat dan gemuk. Kali ini untuk menyelesaikan urusan di Kalimantan Barat. Tapi. dimakan dengan nasi kuning. Tapi. sebagai persiapan transplantasi yang sudah dekat. karena liver saya rusak. meski belum fatal. Saya mengatakan “benar”. teman saya di pelosok desa mengabarkan di desanya banyak ikan kutuk. saya ingin pulang dulu dua hari. Saya pun datang dengan harapan seperti itu. Dulu-dulunya. saya memutuskan untuk selalu makan banyak. Akhirnya. Padahal. setelah dua bulan tidak juga ada tanda-tanda akan mendapat donor. Gubernurnya sudah sangat mendambakan turun tangan saya. mengingat krisis listrik di sana sudah berlangsung lebih dari lima tahun. Maka saya bersama gubernur dan Dirut PLN menandatangani MoU pembangunan PLTU di Pontianak. Badan saya harus sehat menghadapi operasi besar. Sedangkan ikan gabus yang manis. Kedatangan saya untuk antre transplantasi liver ini agak terlambat. tapi bukan kutuk. Krisis listrik di Kalbar lebih parah daripada di Kaltim. 65 by Moezhanks . Anda bisa menduga sendiri. “yu” artinya. waktu menunggu sering tidak sampai sebulan. Untuk menunjukkan keseriusan. “Hei yu” juga banyak. Tapi. itulah ikan yang saya cari. dengan bahasa daerah yang tidak saya mengerti. (bersambung) Ganti Hati 23 – Datang Tawaran Liver Hidup dari Orang Muda asal Bandung 17 September 2007 SAYA hampir kehilangan momentum. ternyata terhalang aturan baru itu. juga bisa tumbuh besar sampai kuat merusak perahu kayu kecil-kecil. agar badan tetap sehat. Saya merasa punya tanggung jawab yang belum saya penuhi. mempertahankan albumin menjadi amat penting. Saya berterima kasih padanya. Dia naik kendaraan umum selama satu jam untuk bisa sampai ke kota. keluar peraturan baru: tidak gampang lagi pasien asing mendapatkan donor. “Kutuk Tiongkok” ini lebih hitam. sebenarnya bukan.Di Nanchang. yang kalau di Kalimantan disebut ikan tomang. Pasien asing banyak yang gelisah.

beberapa waktu kemudian ternyata PLN melakukan tender untuk pembangunan PLTU itu. Saya hanya ingin ikut mengatasi krisis listrik di Kalbar. sekali orang kehilangan ginjal. Hanya operasinya lebih sulit: Orang yang sehat dibedah. Ini mungkin karena liver adalah satu-satunya organ tubuh yang kalau dipotong bisa tumbuh utuh lagi. lalu livernya dipotong separo. setidaknya saya bertanggung jawab untuk mewujudkan sesuatu di sana. Hanya dalam tempo dua tiga hari pascaoperasi. Mereka mencari salah satu keluarganya. Dengan begitu. saya memang tidak dalam posisi mencari proyek. Karena itu. Pada saat yang sama. Yakni. Jelek sekali nasib Kalbar. Tapi. sampai tulisan ini dibuat. mendatangkan donor dari negaranya. beruntung bahwa ternyata donor potensial itu ternyata juga tidak cocok untuk saya. tanpa sedikit pun memberi informasi kepada saya bagaimana nasib MoU yang sudah dibuat. besok pagi sudah tumbuh lagi. Banyak pengungsi Madura akibat kerusuhan etnis pada 1999 itu yang mulai bekerja di proyek ini. yang mau menyumbangkan separo livernya untuk dicangkokkan ke pasien. Proyek itu harus berjalan. Dokter mencari-cari saya apakah bisa membatalkan kepergian saya ke Indonesia. Tidak kaya sumber alam dan tidak punya proyek besar. Seminggu berikutnya 66 by Moezhanks . seorang donor juga tak perlu tinggal berlama-lama di rumah sakit. Saya harus datang ke sana untuk membuat keputusan yang terpenting. Dan dalam tempo tiga minggu sampai maksimal sebulan. Hari ini separo livernya didonorkan. donor orang hidup. sebenarnya ada donor yang potensial. Karena itu. liver yang dipotong itu sudah akan utuh kembali. Kami serius membeli tanah tersebut untuk PLTU. saya bertekad menggunakan dana yang sudah saya siapkan untuk PLTU ke proyek lain: perkebunan rakyat. kira-kira dua tahun lalu. Berarti Kalbar kehilangan lagi waktu tiga tahun. dia sudah boleh latihan berdiri dan berjalan. Saat saya menyelesaikan urukan Kalbar itulah. saya sudah di atas pesawat. sebagai awal dari membangun Kalbar lebih lanjut. pemenang tendernya. Juga nasib (tanah) saya. Tender itu berjalan lancar dan itu memang proses yang benar. Dia juga menanyakan apakah tanah kami akan dijual. Memang. Beda dengan donor liver. Yakni. Orang-orang Pakistan mulai mencari jalan sendiri. Seseorang bisa hidup normal dengan liver yang hanya separo karena liver atau hepar atau hati adalah satu-satunya organ yang bisa tumbuh kembali dengan cepat. ginjalnya tetap satu. Kami tidak mau ikut tender itu karena merasa PLN tidak beretika sama sekali. Tapi. mengolah hasil pertanian rakyat yang selama ini harganya selalu hancurhancuran di musim panen. Kami bukan spekulan atau jual beli tanah. atau sukarelawan. Tapi. peserta tender ingin mengajak saya bergabung membangun PLTU tersebut. Tapi. Provinsi itu sangat kasihan. tidak ada tanda-tanda fisik mulai membangun PLTU. Investor yang mau datang pasti mengeluhkan listrik. ya sampai meninggal.Namun. si calon penerima (resipien) liver juga dibedah untuk membuang (seluruh) livernya yang sudah rusak. Saya harus menunggu lagi entah berapa lama. Tentu saya tidak mau kalau modal dia hanya selembar kertas izin. Dan lagi. Berbeda dengan ginjal dan organ lain. Setelah itu. Terutama sebagai ungkapan terima kasih kepada masyarakat setempat bahwa koran kami di sana menjadi yang terbesar. suatu ketika. Tentu saja tidak. Yakni. Memang bukan salah saya kalau sampai hari ini belum ada tanda-tanda konkret krisis listrik Kalbar akan teratasi. potongan liver yang sudah dilepas dari tubuh pemiliknya ditanamkan ke tubuh si penerima.

bisa jadi fungsi liver saya akan keburu memburuk. Dia menjadi amat yakin itu juga akan berhasil. Anak keduanya baru bisa berjalan. Anak itu sendiri. Darah maupun rhesus-nya cocok sekali dengan saya. “Sekarang sudah jalan-jalan dan mau saya ajak ke sini.dia sudah bisa beraktivitas lagi. potongan itu sudah akan tumbuh menjadi liver yang utuh sebagaimana orang normal.” tambahnya. Umurnya masih 32 tahun. di luar dugaan: Sangat mendukung keputusan suaminya. Dua minggu lagi sudah kembali utuh seperti semula. satu liver untuk dua pasien. Rumahnya baru. dia bilang. Memberitahukan perihal seorang anak muda dari Bandung yang mau secara sukarela mendonorkan livernya. di negara-negara yang jumlah donor mayat (cadaver)-nya terbatas. Di Tiongkok. Menjelang transplantasi. lantas menceritakan mengapa mau melakukan itu. tidak satu pun yang darah dan rhesus-nya sama dengan saya. yang semula hanya 11 cm. Tim kami segera ke Bandung melihat keadaan rumah tangganya. memang masih harus ekstrahati-hati karena tiga sayatan panjang bekas operasi di perutnya masih basah. Semula kami memperkirakan harus membantu kehidupannya. mengapa berani. Sikap istrinya. jalan tidak buntu. Beberapa teman dekat yang siap mendonorkan separo livernya juga tidak ada yang cocok darahnya. Saya juga memutuskan akan melakukannya. sekarang sudah menjadi 16 cm lagi. Bagaimana dengan penerima livernya? “Bapak itu juga mulai baik. Dan. Lalu mengajak salah satu pendonor ke kamar saya. Termasuk saya. Handphonenya pun Communicator seri terbaru. yang bahasa Inggrisnya bagus sekali. Ternyata.” katanya. Jadi. Saya tidak yakin bisa dapat donor utuh dalam waktu dekat. Ternyata. baik yang masih di dalam tubuhnya maupun yang sudah pindah ke tubuh orang lain. Karena itu. dan keponakan-keponakan. “Liver saya yang setelah dipotong tinggal 9 cm. Tapi. 67 by Moezhanks . dia sudah menghitung risikonya. Tanpa kami cari. livernya dibagi dua.” kata Robert sambil menepuk bahu anak muda Pakistan itu. Saya butuh melangkah cepat. Lalu dia menunjukkan perutnya yang masih dibebat untuk mengeringkan luka akibat pembedahan. Liver saya yang di sana. Robert menemui keluarga-keluarga Pakistan itu untuk mempelajari bagaimana praktik cangkok liver dengan donor hidup. karena penurunan fungsi itu bisa merusak pertahanan tubuh saya. Mulailah saya melihat ke istri. hari ini sudah 17 cm. Lantas bagaimana nasib potongan liver yang sudah berpindah tubuh tadi? Ini pun tak perlu dikhawatirkan karena dalam tempo maksimal tiga bulan. sel-sel kanker yang mungkin masih tersisa di liver saya bisa menyebar (metastase) ke mana-mana. Tapi. Mengapa dia begitu berani? Karena. dia cukup berada. tidak kecil. Anak muda itu mengatakan tidak menginginkan apa pun kecuali menyelamatkan nyawa saya. Saya harus berhitung dengan sirosis dan kanker saya yang sedang berlomba dengan waktu. “Dia mendonorkan livernya dua minggu yang lalu. Kalau saya menunggu terlalu lama. di kompleks perumahan yang cukup mewah. Apakah harus dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri? Dia bilang. dia ingin menebus penyesalannya yang tak sempat menyelamatkan bapaknya yang keburu meninggal sebelum tranplantasi dilakukan. seseorang dari Jakarta menghubungi kami. Badannya yang tinggi tegap sangat sehat. dan bagaimana kondisinya sampai saat itu. Mobilnya juga masih gres dari merek yang tidak murah. umumnya masih satu liver untuk satu pasien. Saya amat yakin dengan jalan itu.” katanya sambil menggambar di papan tulis tentang bagaimana livernya tumbuh kembali. anak-anak.

Yakni. diskusi. Setelah itu rapat evaluasi berjalan seperti biasa. ya dipuji. Transplantasi pun dilakukan dengan cara membuang sama sekali hati saya yang lama dan menggantinya dengan hati baru made in 1985-an secara utuh. Yang harus dimarahi. Tapi. tapi juga tertawa-tawa. Dia juga akan memiliki kembali livernya secara utuh. saya tidak akan sampai hati mengejar-ngejarnya selama ini. Saya punya filsafat tersendiri dalam menyikapi umur. harus dipecahkan. Tapi. Kalau ada yang bertanya pun. jawaban saya jujur. Bersamaan dengan persiapan pemberangkatan saudara dari Bandung itulah. Menyembunyikan membesarnya payudara. paman-paman saya berumur pendek. Sikap ini muncul. “Selama ini tidak tampak kegelisahan sedikit pun tatkala tampil di banyak kegiatan masyarakat. Ya. Juga bengkak di badan. itulah kuncinya. Pernah dalam satu rapat evaluasi bulanan yang amat disiplin di PT PWU.” tulis Lusye. Kalau ada yang bertanya tentang penyakit saya. dan negosiasi. Dia juga menyatakan sudah siap kapan pun harus berangkat. Saya masih keberatan. filsafat “intensifikasi umur”. barangkali karena saya melihat kok ibu saya. seperti para manajer di Perusda PT PWU Jatim. direktur di perusahaan minyak kami. Terutama Robert Lai. rapat. 68 by Moezhanks . tapi diam-diam tim kami terus menyiapkan saudara dari Bandung itu untuk siap berangkat ke Tiongkok.” kata Robert. Yang harus dipuji. kakak saya.Kami pun makin percaya bahwa tidak ada motif komersial di balik niatnya yang mulia itu. manajer di perusahaan minyak milik Pemda Jatim. Perusahaan minyak itu masih baru sehingga saya harus banyak belajar. saya jelaskan semua penyakit saya. Umur pendek tidak apa-apa asal penggunaannya sangat intensif. Menceritakan penyakit dengan cara yang menyenangkan. Sedikit pun saya tidak merasakan bahwa Anda mengidap penyakit begitu gawatnya. saya memang berhasil menyembunyikan semuanya. saya sebenarnya tidak sengaja menyembunyikannya. Yang tak kalah penting. tapi saya sampaikan dengan nada yang menyenangkan. tapi juga politis. Tim kami terus mendesak agar saya jangan berpikir bahwa saya akan mengorbankan orang lain.” ujar Hadi Ismoyo. saya berhasil menyembunyikan keloyoan fisik saya. “Dia tidak akan jadi korban. Padahal.” ujar Gunawan. “Kalau tahu seperti ini. Tetap saja persoalan rumit-rumit. Padahal. ya dimarahi. haruskah sampai mengorbankan nyawa orang lain? Tidakkah lebih baik saya menunggu dengan risiko tidak keburu sekali pun? Bukankah membuat keputusan melakukan transplantasi saja sudah tersirat tekad untuk mungkin mati? Saya benar-benar sudah siap kalau harus mati. saya sendiri juga masih berpikir. Saya kurang melihat bahwa bapak saya dan kakak sulung saya berumur panjang sekali. Mereka memang ngeri mendengarnya. selalu saya jawab apa adanya. persoalan Perusda tidak hanya soal bisnis. “Empat tahun saya bekerja dengan Anda. ada kabar bahwa saya mendapatkan donor. Juga bahayabahayanya. pecinta Jawa Pos dari Manyar Jaya. (Bersambung) Ganti Hati 24 – Istri Khawatir Saya Meninggal dengan Wajah Menghitam 18 September 2007 SAYA tidak berhasil menyembunyikan perubahan di wajah saya. Cuma. dua tahun lamanya saya berhasil menyembunyikan bengkaknya kaki. memang tidak banyak yang bertanya.

Toh saya akan tetap bisa berperan di pesantren itu kelak. Gosip yang tidak menyenangkan. Dosa sebagai lelaki. Tapi. Tentu saya bukan apa-apa dibanding Cak Nur. Hitam yang tidak merata itulah yang kian mencurigakan. dan anak-anak mereka yang sudah dewasa. saya bergegas mengambil keputusan pindah ke jalur hidup sama sekali. tapi saya menolak.Tapi. Kedua. bagaimana caranya? Atau pakai make up saja. Yakni. Bukan sarjana. dibunuh PKI dalam peristiwa Madiun. Lalu memberikan komentar yang sudah sering saya dengar itu. tandanya tidak diterima oleh Tuhan. dosa karena dia telah menyekulerkan Islam. Tuhan murka padanya. tapi sebagai perwujudan sikap tawaduk seperti yang dicontohkan bapak saya. Saya mengambil kesimpulan. dosa orang kaya yang pelit. Karena itu. Suaminya meninggal dalam keadaan dimurkai Tuhan. Apalagi saya juga baru gagal dalam pemilihan ketua umum pengurus besar Pelajar Islam Indonesia (PII) di Bandung. saya harus tahu diri bahwa kalau dia sudah dewasa. Sedih bercampur perasaan malu. Dan. kalah dengan Yusuf Rahimi. alangkah malunya istri saya. dialah yang punya hak mewarisi pesantren itu. tokoh dari Ambon. menjauh. Karena itu. Pandangannya penuh keprihatinan. Saya lantas memilih ’uzlah’ -menyingkir. Saya bukan intelektual. Saya akan menyembunyikannya dengan cara meratakannya. Sudah menjadi opini awam bahwa seseorang yang meninggal dalam keadaan wajah yang menghitam. sebenarnya. Begitu hebatnya tentangan akan langkah Cak Nur tersebut sehingga sampai ada yang memvonis Cak Nur sudah murtad. saya tidak berhasil menyembunyikan berubahnya wajah. tapi sudah masuk ke tataran psikis. Kulit saya yang aslinya memang agak hitam menjadi kian hitam. Kebetulan yang dari jalur laki-laki masih kanak-kanak. yang mungkin tidak kalah besarnya. 69 by Moezhanks . Ini karena dosa-dosanya yang tidak terampunkan. Apalagi dia aktif di kegiatan keagamaan. Tapi. menggosipkan wajah saya. Yakni. Suatu saat istri saya memandangi wajah saya lama sekali. Psikis seorang wanita yang sangat kuat memegang prinsip agama. Ada nada sedih ketika mengucapkan itu. dan merenungkan masa depan. pamanpaman ibu saya). dan tentu masih banyak sekali sisi negatif yang bisa dihubunghubungkan. Tapi. Terutama psikis istri saya. dosa sebagai atasan yang kejam. Tapi saya kan laki-laki? Bahkan laki-laki yang bukan metroseksual? Tak pelak lagi. Gosip itu bukan lagi masih menyangkut fisik. pada 1948. merasa malu kalau saja saya meninggal dalam keadaan wajah yang menghitam. Pembicaraan seperti itu kian kuat ketika Cak Nur meninggal dalam keadaan wajah menghitam. itu sebagai bukti bahwa Cak Nur dimurkai Tuhan. Terutama di dahi dan sekitar mata. Sampai-sampai disebutkan Cak Nur lagi mendirikan neo-Islam. dosa sebagai suami yang amat sibuk. Bukan karena ngambek. Para kiai sepuh (enam orang bersaudara. Bukan budayawan. Kalau sampai itu terjadi pada saya. Saya tahu dia menyimpan dua kekhawatiran. Karena banyak sekali dosa yang diperbuatnya. khawatir akan kesehatan saya. Bukan ahli agama. tidak akan bisa jadi kiai dan tidak bakat jadi politisi. Untunglah. Ini karena saya sadar bahwa saya turunan dari jalur wanita (ibu) di struktur pesantren itu. saya sudah sering digosipkan sehingga sudah agak kebal. Mengapa masih kanak-kanak? Karena pesantren kami kehilangan dua generasi sekaligus. Ada yang menilai. Saya memang pernah mau didapuk jadi kiai di pesantren saya. Pertama. kadang dia hanya memperhatikan wajah saya tanpa mengucapkan komentar apa-apa. memprihatinkan. ketika memelopori pembaharuan pemikiran dalam Islam yang menghebohkan pada 1970-an. banyak orang yang mulai rasan-rasan. ini gosip yang benar. dosa sebagai pribadi yang sombong.

Tapi. Bukan “Bu Wenny”. Tentu tidak lagi seperti ketika Dirut merangkap CEO. Tidak bisa hanya direktur seperti saya waktu itu. Magetan (aliyah). direktur utama Jawa Pos saat itu. Banyak dokumen bank yang harus direktur utama yang boleh tanda tangan. saya yang tetap jadi CEO. He he…” kata saya dalam hati. Dia SMA di kota Surabaya (Petra). Agar saya bisa meyakinkan bank bahwa meski saya hanya direktur. Banyak hal sudah harus dialihkan menjadi tanggung jawab Dirut. Apalagi. “CEO yang tidak ada SK dan legal formalnya. Tapi. ahli agama. Bahwa ada kesulitan di bank. Tentu ada juga yang menyamakannya dengan Cak Nur. Padahal. bank percaya. Lebh dari itu sekarang ini berkembang seperti di AS. Sebutan CEO telanjur melekat. Inggris. dan Arab. saya membuat sebutan (untuk membedakan dengan ’jabatan’) CEO lebih fleksibel lagi di grup yang saya pimpin. Kami sendiri tidak terlalu mengenal nama Ratna Dewi. Sama dengan saya. saya mau jadi Dirut. Dia kami kenal sebagai Wenny saja. termasuk Prancis dan Parsi. saya SMA di Desa Takeran. Jangan sampai saya minta jadi Dirut.Sikap tawaduk yang sama saya lakukan juga di Jawa Pos pada 1980-an. saya tidak mau menggantikannya sebagai Dirut. lari dari tanggung jawab menjadi kiai. jatuh sakit. saya dan Cak Nur jauh sekali derajatnya. doktor lulusan Chicago. Apalagi mereka juga tahu sayalah yang selama ini yang selalu mengambil keputusan. Saya tetap direktur saja. tiba-tiba saya punya ide baru yang barangkali tidak lazim. Meski saya bukan direktur utama lagi (karena jabatan itu sekarang dipegang Ratna Dewi Wonoatmodjo). tapi “Cik Wenny”. Ketika Pak Eric Samola. direktur sebagai CEO (Dirutnya bukan CEO). Maklum namanya Ratna Dewi. Sebagian mengira saya dimurka Tuhan karena kurang taat beragama. bahkan general manager sebagai CEO (semua direktur bukan CEO). Saya hanya seperti itu tadi. Bisa saja Dirut sebagai CEO. ’Chairman yang CEO’. Karena hal itu sudah berlangsung tiga tahun. setelah beliau sendiri yang minta. meski hanya untuk sebutan: CEO (chief executive officer). sakitnya beliau amat berat sehingga tidak punya kemampuan menandatangani dokumen perusahaan. “Kami tidak menyangka kalau dia seorang Tionghoa. tapi saya ini CEO. Lalu keterusan sampai sekarang. Hanya namanya yang sering bikin salah paham orang asing. 70 by Moezhanks . Terutama karena saya ’uzlah’. Apalagi Ratna Dewi juga amat mampu. Saya ciptakan sendiri jabatan baru. sehingga kalau ada tamu yang menanyakan. sampai harus dengan cara sikut sana-sini. Saya dan Cak Nur seperti langit dan sumur -untuk menunjukkan jarak langit-bumi kurang jauh. Padahal. Waktu itu Ratna Dewi masih menjabat direktur keuangan. Beliau terkena stroke yang sampai mengakibatkan tidak bisa bicara dan harus diopname bertahun-tahun. Baru setelah lima tahun lebih. bisa banyak bahasa. Pernah ada tamu dari India yang ingin bertemu dengannya. Setidaknya samasama hanya tamatan SMA. Sebagian lagi karena saya berdosa kepada leluhur. Maka lahirlah “jabatan CEO”. saya tetap tidak mau jadi Dirut. lantas muncul kesulitan teknis. Bahkan. Inilah gunanya ilmu mantiq (logika). Cak Nur seorang intelektual. tanpa menyandang jabatannya. “Apakah bisa bertemu ibu Ratna Dewi”. Saya memilih mengerjakan saja semua pekerjaan direktur utama. Mereka tidak tahu kalau ’uzlah’ itu saya lakukan sebagai wujud sikap tawaduk saya. pikir saya. Si tamu ternyata berharap akan ketemu seorang direktur keuangan keturunan India.” kata tamu itu sambil tertawa ngakak. Gosip bahwa “saya segera meninggal dengan wajah hitam” juga beredar di kalangan pesantren saya sendiri. staf-staf kami sering bengong.

Satu-satunya yang menyamakan saya dan Nur adalah sakitnya. Sama-sama sakit liver, sama-sama sirosis. Karena itu, juga sama-sama menghitam di wajah. (Bersambung)

Ganti Hati 25 – Prihatin atas Keprihatinan terhadap Wajah Hitam Saya
19 September 2007 “SAYA nanti juga akan meninggal dengan wajah hitam,” kata saya kepada istri saya. Saya ingin menyiapkan mental istri saya bagaimana harus menahan rasa malu. Terutama di mata keluarga dan teman-teman pengajiannya. Istri saya memang aktif di perkumpulan Pengajian Wanita Surabaya (Pengawas), satu perkumpulan yang amat besar dan aktif. “Saya nanti akan seperti Cak Nur,” tambah saya. Itu saya lakukan karena istri saya juga mendengar omongan orang tentang Cak Nur. Dia juga mendengar ada khatib di sembahyang Jumat yang mengatakan Tuhan murka pada Cak Nur (Nurcholish Madjid, tokoh pembaruan pemikiran Islam). Buktinya, ketika meninggal, wajahnya menghitam. Istri saya memang sudah beberapa lama kelihatan prihatin melihat perubahan di wajah saya. Saya prihatin atas keprihatinannya itu. Maka, saya perlukan bicara soal mengapa wajah saya menghitam dan mengapa ada orang menilai Cak Nur seperti itu. Saya jelaskan sebisa-bisa saya bahwa “wajah hitam” Cak Nur sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kemurkaan Tuhan. Tuhan itu tidak punya hobi murka seperti khatib yang mengecam Cak Nur itu. Tuhan itu Maha Pengasih dan Penyayang. Sampai di sini saya sadar bahwa istri saya sudah sangat sering mendengar khotbah sehingga saya tidak perlu menambahinya. Apalagi khotbah saya kurang meyakinkan. Saya memilih menjelaskannya secara ilmiah saja. Mengapa wajah Cak Nur, juga wajah saya, menghitam? Ya, begitulah memang salah satu perubahan fisik yang dihasilkan oleh liver yang terkena sirosis. Ini berlaku pada siapa saja. Yang Islam, yang Kristen, yang Buddha, yang Hindu, yang Kejawen, yang komunis, dan yang tidak punya aliran apa pun -free thinker. Wajah hitam adalah tanda-tanda perubahan fisik dari sirosis yang parah. Karena itu, kalau Anda sakit liver, minta saja meninggal sebelum sirosis parah. Terutama kalau Anda ingin meninggal dengan wajah yang tidak hitam. Terjadinya wajah hitam itu sama dengan akibat sirosis yang lain: Kaki yang bengkak, payudara yang membesar, dan kemudian muntah darah. Untung, tidak ada penilaian bahwa siapa yang meninggal dengan payudara besar berarti dimurkai Tuhan. Sebenarnya, masih banyak lagi tanda fisik lain. Yakni kulit menguning, mata juga menjadi kekuningkuningan, bibir pucat, dan telapak tangan seperti tidak berdarah. Terutama kalau telapak tangan baru saja digenggamkan. Begitu genggaman dibuka, darah seperti tidak segera kembali memerahkan telapak tangan. Bahwa ada khatib yang menilai wajah Cak Nur yang menghitam sebagai tanda bahwa Tuhan tidak mau menerima rohnya, sebabnya mungkin si pengkhotbah tidak sempat belajar ilmu yang lain misalnya, karena terlalu larisnya. Bahkan, sang khatib begitu sibuk berkhotbah, kadang isi

71

by Moezhanks

khotbahnya ya hanya yang diketahuinya itu saja. Diulang-ulang. Seperti kaset lama yang diputar terus-menerus. Pasti si pengkhotbah juga tidak pernah melihat wajah mayat Mao Zedong. Setidaknya tidak pernah membaca tentang itu. Setidaknya lagi, kalau toh pernah membaca, tidak sampai menjadikannya pertimbangan. Mao adalah pendiri partai komunis Tiongkok yang tentu saja tidak mengakui adanya Tuhan. Namun, bagaimana wujud wajah mayatnya? Saya pernah melihatnya dua kali. Wajahnya putih, bersih, dan amat cerah. Bibirnya menunjukkan senyum kecil seperti amat bahagia di akhir hayatnya. Mayat itu sampai sekarang masih bisa dilihat di Beijing. Orang antre untuk menyaksikannya. Demikian juga di Kremlin, Moskow. Mayat Lenin, salah satu pendiri komunisme sedunia, terlihat putih, bersih, dan manis sekali. Saya juga pernah mengunjunginya. Apakah itu pertanda roh Lenin diterima dengan senang oleh Tuhan? Lebih diterima daripada Nurcholish Madjid? Meski Cak Nur tokoh Islam dan Lenin tidak mau mengakui adanya Tuhan? Bahkan menjadi pelopornya? Wallahu a’lam. Yang jelas, Lenin, dan juga Mao, tidak meninggal karena sirosis. Saya sangat prihatin atas keprihatinan istri saya. Tapi, saya juga prihatin memikirkan bagaimana umat di masa depan. Dengan pola berpikir seperti itu, apakah umat akan bisa maju? Apakah tidak semakin ketinggalan dan kemudian terpojok? Lalu, introvert dan mencari kompensasi dalam bentuk ekstremitas? Saya prihatin karena dengan pola pikir yang seperti itu, keseimbangan antara dunia dan akhirat tidak memadai. Banyak memang orang yang terlalu berat ke duniawi, tapi juga bukan berarti harus dibalas dengan bersikap lebih berat ke ukhrowi. Semua harus seimbang: beribadah sungguh-sungguh seperti besok akan mati saja, bekerja sungguh-sungguh seperti akan hidup seribu tahun. Kalau ukuran diterima Tuhan atau tidaknya seseorang dilihat dari wajah mayatnya, betapa suramnya kemajuan ilmu pengetahuan di masa depan. Bagaimana kita bisa mengharapkan kemajuan dan kemodernan sebuah negeri kalau penduduknya -terutama para pemimpin penduduk itu- berpikiran demikian. Dan lagi, ada satu kenyataan yang lebih pahit. Bukankah kini sudah ditemukan cara membuat wajah orang yang meninggal kelihatan tersenyum? Cerah dan bahagia? Lantas, apakah itu berarti ukuran diterima atau tidaknya sebuah roh oleh Tuhan ditentukan oleh para ahli perias mayat? Saya punya teman yang bisnisnya event organizer (EO). Tapi, EO khusus untuk orang meninggal. Mulai penyediaan pakaiannya, membentuk tubuh dan wajahnya, menyediakan peti matinya, angkutan ke kuburannya, sampai mencarikan siapa yang akan jadi pengkhotbahnya. Dia begitu menghayati bisnisnya itu sehingga akan terus mendalami ilmu di bidang itu. Satu-satunya anaknya (perempuan) dia sekolahkan khusus bagaimana memelihara mayat. Bagaimana membuat wajah orang meninggal menjadi lebih ganteng dan cantik daripada ketika masih dalam hidupnya. Bahkan, ilmu itu juga berkembang ke arah sebelum kliennya meninggal. Yakni bagaimana menyiapkan agar bisa meninggal dengan wajah tersenyum. Tapi, saya juga sadar bahwa istri saya mungkin tidak gampang menerima penjelasan saya itu. Sebab, penjelasan seperti itu amat jarang dilakukan orang. Tapi, setidaknya, dia bisa menutup sedikit rasa malu karena suaminya meninggal dengan wajah menghitam. Bisa punya alasan -yang meskipun mungkin juga dia ragukan kebenarannya. Ragu karena bukan penjelasan seperti yang saya ucapkan
72
by Moezhanks

tersebut tidak pernah didengarnya. Yang sering diperdengarkan kepadanya adalah kaset lama yang diputar tidak henti-hentinya itu. Dalam teori komunikasi, kebohongan pun kalau terus-menerus dijejalkan akan jadi seperti kebenaran. Padahal, kaset lama itu bukan juga kebohongan. Tapi, penafsiran. Sebuah penafsiran yang sangat bisa memuaskan orang dari sisi emosinya. Kebohongan saja bisa menang, apalagi bukan kebohongan. Berdasar teori itu, satu penjelasan yang benar tidak akan bisa menang atas kebohongan yang terusmenerus dikampanyekan. Agama memang akan menghadapi tantangan yang hebat. Kini bukan hanya Islam, tapi juga Kristen. Setelah abad informasi sekarang ini, akan ada abad baru lagi. Dulu kita masih meraba-raba “abad apa gerangan yang akan menggantikan abad informasi?”. Kita pernah mengalami berturut-turut, “zaman batu”, “zaman besi”, “zaman cocok tanam”, “zaman industri”, “zaman teknologi”, dan “zaman informasi”. Kini semakin jelas dunia akan mengalir ke zaman apa. Saya kira, zaman baru yang akan kita masuki adalah “zaman biologi”. Di zaman itu kehidupan akan bisa direkayasa, diperbaiki, bahkan diciptakan. Kehidupan tanaman, binatang, dan juga manusia. Tidak perlu lagi transplantasi seperti saya, tapi liver (dan organ apa pun) bisa direparasi dengan penemuan lebih lanjut dari pendalaman terhadap DNA manusia. Dan, itu bukan lagi akan ditemukan, tapi sudah ditemukan. Penemunya kini lagi merahasiakannya sampai pada akhirnya dia akan bisa memproduksi sesuatu yang bisa dijual secara masal dan terjangkau. Agar bisnis di bidang ini menjadi amat besar. Operasi tidak perlu lagi. Transplantasi tidak dibutuhkan. Bahkan, orang tidak perlu sakit. Sehat terusmenerus. Cukup membeli produk baru itu nanti. Kini pun barang itu sudah bisa diproduksi sebenarnya. Tapi, karena belum ditemukan kombinasi-kombinasinya, harganya bisa jadi masih Rp 10 miliaran. Dengan harga setinggi itu, meski saya pun akan membelinya, tapi hanya berapa juta yang mampu beli? Bandingkan, kalau kelak, harganya tinggal Rp 1 jutaan. Betapa besar bisnis itu. Ia akan mengalahkan bisnis obat yang sudah amat raksasa itu. Bahkan akan mengalahkan bisnis minyak dan gas. Mengapa? Penemuan lebih lanjut dari itu adalah lahirnya sumber energi baru yang sama sekali tidak kita bayangkan. Kalau kehidupan sudah bisa dibikin, bagaimana kita akan menafsirkan ajaran agama? Orang boleh tidak percaya seperti juga zaman dulu tidak percaya akan bentuk dunia yang bulat. Tapi, ini akan menjadi kenyataan. “Akan” di situ tidak lama lagi. Kata “akan” mungkin kurang tepat. Yang tepat “segera”. Maka, apa yang ditulis Agus Mustofa di buku-bukunya, terutama mengenai Kitab Kejadian, sungguh menarik dan akan cocok dengan zaman baru itu nanti. Yakni jangan lagi kita membayangkan bahwa manusia pertama dulu dibuat dari lempung, lalu lempung itu di-emek-emek, dibentuk seperti boneka, kemudian Tuhan meniupkan roh ke ubun-ubunnya. Penggambaran seperti itu, meski ternyata memang tidak ada di kitab suci, amat melekat di setiap manusia. Juga melekat di pikiran saya. Saya tidak pernah mempersoalkannya secara kritis. Bahkan tidak pernah mengecek ulang apa bunyi ayat yang sebenarnya dari penggambaran seperti itu. Cerita itu sama melekatnya dengan istilah “memanjatkan doa” yang sering kita lakukan sampai sekarang. Kita, terutama saya, tidak pernah mempersoalkan apakah teknik menyampaikan doa seperti itu masih cocok dengan abad informasi seperti sekarang. Mengapa di zaman komputer, e73
by Moezhanks

Udi spontan menjawab: qalb artinya hati! Lantas saya tanya lagi. Bahkan. Memang qalb itu artinya jantung.mail. atau yang di-compresskan seperti yang dilakukan golongan tasawuf Shatariyah. Liver bahasa Arabnya ’kabid’. Istri Gembira karena Wajah Berubah 20 September 2007 KALAU saja foto liver lama saya dimuat di koran tanpa penjelasan (foto-foto itu akan dimuat di edisi buku). akan langsung mengambil kesimpulan: Tuhan telah murka padanya. Alangkah lambatnya doa itu akan sampai. Pandangan kedua akan datang dari kalangan agama yang berpandangan sempit. Lalu bergegas meralat jawaban pertamanya. Yang suka marahmarah. dalam bahasa Mandarin disebut xin? Rupanya dia baru berpikir ulang. karena emosi lebih besar daripada rasio. “Pasti ini karena disantet”. Mengapa kok lambang cinta itu gambar jantung? Mengapa dalam bahasa Inggris disebut heart? Dan. Sudah telanjur begitu mendarah-mendaging. Dan lagi. Direktur Radar Banyuwangi. Tapi. penggunaan term “panjat” juga mencerminkan ketertinggalan kita dalam menggunakan teknologi yang tersedia. Pak Nuh. Udi yang demikian mahir bahasa Arab terbius oleh sesuatu yang salah. Orang di desa saya akan langsung mengatakan. Kalau diubah. dan SMS ini kita masih mengirim doa dengan menggunakan teknik “memanjat”. tapi sudah memasyarakat. Karena maraknya pandangan santet di masyarakat kita. yang di-e-mail-kan. Sedang liver adalah……” kata Udi yang juga sastrawan itu. Lupa bahwa ’qalb’ itu artinya jantung. Tentu kata “memanjat” hanya simboliasi atau penyastraan. Memang. bisa malu. Begitu jugalah dulu penilaian terhadap ibu saya. orang yang paling jago bahasa Arabnya di lingkungan Group Jawa Pos. “Saya tadi salah. nanti bisa banyak sekali konsekuensinya. Atau ’patah jantung’ (broken heart). Bahkan. 74 by Moezhanks . Lalu memanggangnya. kalau melihat hati seperti itu. lupa bahwa kata dalam bahasa Arab ’qalb’ (kalbu) artinya bukan hati -dalam pengertian liver. mantan rektor ITS yang kini menteri informasi. Asapnya lantas di-email-kan ke dalam tubuh saya. Juga terhadap kakak saya. Liver saya memang seperti daging yang dibakar setengah matang! Pasti ketika menyantet saya. agar mirip dengan ayat Quran yang sangat terkenal. (Bersambung) Ganti Hati 26 – Transplantasi Berhasil. termasuk di mimbar Jumat. maka yang maju lantas dunia mistik dan bukan rasionalitasnya. Tuhan toh tidak akan membedakan doa yang dikirim dengan cara dipanjatkan. Begitu saya tanya. kita lupa mempersoalkan mengapa para ahli bahasa dulu menerjemahkan kata ’liver’ (bahasa Inggris) menjadi ’hati’ dalam bahasa Indonesia? Kini sudah sulit mengubah agar liver jangan lagi diterjemahkan menjadi ’hati’. Ini karena saya juga ragu akan ingatan bahasa Arab saya. pernah saya Tanya arti ’qalb’. si penyantet membeli hati sapi dulu. Bayangkan. Samsudin Adlawi (Udi). Misalnya kata ’patah hati’ harus diubah menjadi ’patah liver’. “… fasadat qulubuhum”. Kalangan ini. setidaknya akan muncul tiga versi tanggapan. bisa-bisa mengerasnya liver saya diterjemahkan ke dalam bahasa Arab ’sadat qulbuha’ (sudah keras hatinya). Kalangan ini sudah kritis lagi. Ini memang agak kacau.

wajah saya yang sudah dua tahun menghitam. Masih tetap besar. Saat itu suasananya murung. Saya makin sembuh. Ternyata biarpun saya pijit kuat-kuat. tapi masih dua kali lipat lebih besar dari limpa asli. Tiap tiga bulan sekali di rumah saya 75 by Moezhanks . setiap kali saya memijit kaki. Maksud saya kembali ke hitam yang aslinya. Saya belum bisa memperkirakan apakah saya akan lebih senang dengan payudara saya yang asli. Tapi. kalau istri saya merasa sangat gembira akan keberhasilan transplantasi liver ini. tapi sudah mulai mengencang. Meski begitu. Dokter bilang. meski hitam banyak yang antre. Atau justru sudah terbiasa nyaman dengan payudara seperti gadis yang menginjak remaja. Tidak perlu lagi dilaminating kedua atau ketiga. Berbeda dengan saat para karyawan berkumpul untuk berdoa di rumah menjelang saya operasi. setiap itu pula saya disadarkan bahwa keajaiban tidak berlaku di bidang yang amat scientific ini. apalagi ketakhayulan. kini kembali … hitam. lama-lama juga akan kembali normal. Imbuhan kata terakhir itu bukan asli ciptaan saya. Kita-kita barangkali baru menggunakan lima persennya. Kalau sedikit-sedikit sudah harus lari ke doktrin. selalu berharap ada mukjizat atau keajaiban. Dia tidak perlu lagi menghadapi rasa malu karena suaminya meninggal dalam keadaan wajah menghitam.5 bulan transplantasi. bahkan tidak bisa dekok sama sekali. untuk sedikit mengangkat derajat mereka. Limpa saya. pada keadaan ’tidak membenci kaus kaki’ itu. dulu tidak jadi minta dikembalikan. lama-lama juga akan kembali normal. Bagaimana dengan payudara saya? Tiap hari saya masih meraba-rabanya. Kalau toh dikaitkan. Bukan hitam karena sirosis. Tapi. saya masih sering memijit-mijitnya. Tanpa kaus kaki pun kini perut tidak merasa kembung. Memang setelah 1. Dulu. yang meski sudah dipotong sepertiga. Bisa-bisa susternya marah dan mengembalikannya ke dekat payudara. justru saya tidak terlalu memerlukannya. antara lain karena wajah saya kini sudah sedikit berubah. Padahal. setengahnya lagi untuk mengetes apakah dekok akibat pijatan itu bisa cepat kembali. kita akan semakin terbiasa tidak menggunakan ciptaan-Nya itu. “Untung.” tambahnya. Minggu lalu diadakan acara pengajian dan hafalan Alquran sehari penuh hingga tarawih. bahwa Tuhan telah memberikan manusia otak yang luar biasa cerdasnya. Kini saya kembali sering memijit kaki saya dengan sangkaan sebaliknya: jangan-jangan bengkak lagi. setiap memijat kaki. Maka. orang yang paling pinter pun baru menggunakan sebagian saja otaknya. sana: “Apakah bulunya yang dicukur juga sudah kembali normal?” tulisnya di SMS. Membaca SMS mengenai mulai pulihnya organ-orang di tubuh saya. Demikian juga saluran pencernakan yang telanjur ’dilaminating’. harus dalam rangka dzikir. Saya juga tidak lagi membenci kaus kaki. seorang teman masih sempat menggoda saya dari Musi Banyuasin. Sumsel. Kini kaki saya juga tidak bengkak lagi. Anak kalimat itu adalah keputusan yang diambil dalam kongres para pemilik kulit keruh. bukan lagi dekoknya cepat kembali. urusan ilmiah memang jangan terlalu dikait-kaitkan dengan keyakinan keagamaan. sebaiknya. Kita tidak boleh memubazirkan rezeki dari-Nya itu.Jadi. Para hafidz (penghafal) Alquran di Surabaya memang aktif berkumpul sebulan sekali di tempat berpindahpindah. Begitu hebat pemberian itu sehingga harus digunakan sebanyak-banyaknya. suasana pengajian di rumah juga lebih ceria. Kini wajah saya sudah boleh dibilang kembali seperti hitamnya kereta api (duile!). Setengahnya karena sudah menjadi kebiasaan selama dua tahun terakhir.

Saya akan mensyukuri keberhasilan transplantasi liver saya dengan meneruskan kerja keras. literatur yang mengatakan bahwa banyak kasus si penerima organ akan mengalami perubahan. si paman memaksa menggendongnya pergi. Ketika di rumah sakit. Kecuali yang amat penting. Di akhir ayat yang mengisahkan soal ini. begitu sembuh. Apalagi. Bahkan. membawa koran lokal yang juga memberitakan kejadian serupa. Juga sudah sering mengucapkan istighfar. Liong Pangkiey. Tinggal. Saat menangis itulah. Si kecil kian berontak dan berteriak-teriak. Tim saya juga mengatakan begitu. tentu anaknya juga masih membawa ciri-ciri fisik bapaknya. Bersyukur dengan cara bekerja keras. Suatu saat. Bahkan. Melihat orang Arab membawa pergi anak Tionghoa sampai menjerit-jerit itu. seperti dikatakan Cak Nur. Waktu senja sudah tiba. si kecil pergi ke taman bermain dengan pamannya yang juga membawa ciri fisik keturunan Arab. Operasi itu sukses sekali. “Bekerjalah yang sungguh-sungguh. Yakni. ketika baru sebulan antre untuk mendapatkan donor. Setahun kemudian. anaknya seperti Tionghoa. Saya sendiri. si bapak kembali ke Guangzhou bersama anaknya yang masih kecil yang seperti anak Tionghoa itu. Kulitnya putih bersih. kirim SMS bahwa temannya ganti ginjal. bekerja adalah tingkatan syukur yang tertinggi setelah mengucapkan alhamdulillah dan istighfar (minta ampun). si paman mengajak si kecil kembali ke hotel. Itulah juga yang akan saya tiru. pemilik pabrik sepatu di Surabaya yang asli Gorontalo itu. si kecil tidak mau. ketika pemikir itu ditanya mengenai apa bagaimana berislam yang baik dan enak. begitu tidak pastinya penyembuhan sakit saya. Bahkan sampai menangis. tidak berani bikin janji kapan menerima tamu dan kapan harus rapat. saya tidak berani bikin perencanaan yang agak panjang. keluarga salah satu direksi Grup Jawa Pos sendiri mengalaminya. Sejak sebelum dilakukan transplan sampai sesudahnya. Khawatir Berubah Tak Bisa Menulis Baik 21 September 2007 KARENA yang diganti ini adalah hati. Anehnya. Gara-garanya. setelah istrinya melahirkan.” kata Cak Nur. Tapi. wahai keluarga Daud. Ada yang menerima informasi bahwa kenalannya langsung berubah menjadi amat jeleknya. Dulu. Anaknya tumbuh dewasa. polisi turun tangan. tertulis “Bekerjalah. Anaknya harus transplantasi ginjal di Guangzhou. Ini karena donornya dari India. Karena masih keturunan Arab. urusan selesai. kemudian berumah tangga. apakah perasaan saya tidak berubah? Pertanyaan itu bahkan datang dari diri saya sendiri. Perencanaan pertama yang muncul di pikiran saya adalah apa yang diucapkan Cak Nur. Si paman diamankan dengan sangkaan melarikan anak penduduk setempat. badannya menjadi berbulu. Saya sudah beberapa kali mengucapkan alhamdulillah. Maksudnya akan memeriksakan ginjalnya setelah lebih dari 10 tahun transplantasi. Terpaksa si paman menelepon bapak si kecil. (Bersambung) Ganti Hati 27 – Liver Ganti.Kini saya sudah bisa membuat perencanaan. Kali ini menyangkut wanita Shanghai yang baru transplantasi jantung 76 by Moezhanks . Lalu mengisahkan keberhasilan Daud mengalahkan Jalut (Goliat). kerja keras lagi. Akhirnya. sebagai tanda syukur kepada-Ku”.

Semakin pendek sebuah kalimat. dia mulai menyenangi internet. dan introvert. begitu saya mengajarkan. “Saya menjadi agak khawatir pada istri saya.” ujar suaminya seperti diberitakan China Daily. Saya memaksakan diri untuk memulai menuliskan pengalaman saya ini. Sebagian agar tidak ada catatan di otak saya yang hilang. Turun pesawat. “Bahkan kalau naik mobil suka ngebut. Karena itu. mengendarai mobil. Karena itu. Kalimat pendek. Mengutip kata seorang sumber berita dalam sebuah kalimat panjang sama saja dengan mengajak pembaca mendengarkan khotbah. Inilah salah satu kunci kalau jurnalistik tulis masih diharapkan bisa bertahan di tengah arus jurnalistik audio visual. mengapa tidak disertai foto-foto? “Bukankah Anda dulu mengajarkan setiap features harus disertai foto? Kalau perlu pinjam ke sumber berita?” tanya Edy Aruman. akan membuat tulisan menjadi lincah. harus wartawan yang menuliskan ceritanya. Ketika saya sendiri mengalami itu. Tapi. Deskripsi yang kuat bahkan bisa menghidupkan imajinasi pembaca. dan banyak omong. saya sudah minta laptop. seminggu setelah operasi. sebagian lagi untuk mengetes apakah saya masih bisa menulis dengan baik. Secara terbuka. langsung dilarikan ke RS dan harus menjalani transplantasi. tulisan itu bisa membuat pembaca seolah-olah bercakap-cakap sendiri dengan sumber berita. Kalau itu sampai terjadi. ada seorang teman yang setengah bertanya dan setengah menyesalkan: Penyakit kok diberitahukan ke orang-orang. Kutipan itu -direct quotation-juga harus pendek-pendek. Saya juga sering membayangkan jangan-jangan mengalami hal yang sama. mantan redaktur Jawa Pos yang kini menjadi redaktur majalah Swa. Kini giliran saya bertanya kepada pembaca: Apakah ada perubahan dalam gaya penulisan saya? Memang. Tapi. wanita itu kemudian suka main saham di pasar modal. bisa membawa pembaca seolah-olah menyaksikan sendiri suatu kejadian.” kata suaminya. Wanita itu biasanya pemurung. tidak mau keluar rumah. tapi sebenarnya penting. Sebuah tulisan yang deskripsinya kuat. saya akan mengetes diri sendiri agar dalam tulisan ini memberikan sebanyak mungkin deskripsi. Yakni menceritakan hal-hal detil yang dianggap sepele. Saya juga selalu mengajarkan agar dalam menulis kalimat-kalimatnya harus pendek.di Kota Shenyang. sering menugasi wartawan agar mewawancarai tokoh-tokoh yang berhasil mengatasi penyakitnya. Waktu itu jantungnya mogok di atas pesawat dalam penerbangan ShanghaiShenyang. Mengapa? Ada dua tujuan. Karena itu. Pertama. Tapi. 77 by Moezhanks . di koran lagi. penakut. ketika masih jadi pemimpin redaksi Jawa Pos. Koran tersebut juga menampilkan foto keluarga itu yang lagi bergurau di rumahnya. dengan selingan kutipan-kutipan pendek. Apalagi kalau di sana-sini diselipkan kutipan omongan orang. Saya sering mengajarkan kepada wartawan kami agar jangan mengabaikan diskripsi. beberapa bulan setelah operasi. Imajinasi pembaca kadang lebih hidup daripada sebuah foto. saya harus fair. Kepadanya saya jelaskan bahwa saya dulu. Kalimat-kalimat yang panjang membuat dada pembaca sesak. apakah yang paling saya takutkan? Kekhawatiran utama saya ternyata ini: tidak bisa lagi menulis baik. Yang lebih mengherankan lagi. begitu saya mengajar. semakin membuat tulisan itu seperti kucing yang banal. Deskripsi yang kuat bisa membuat pembaca seolah-olah merasakan sendiri kejadian itu. saya harus mau menuliskannya. Saya jawab: Kali ini saya memang minta jangan ada satu foto pun yang disertakan dalam tulisan ini. Tidak semua orang bisa menulis baik.

saya ingin agar di layar komputer muncul dulu sejumlah pertanyaan yang harus diisi si reporter.” tambahnya. 78 by Moezhanks . tapi juga sumbangan IT ke dalam jurnalistik. Kalau tidak mengisinya. “Saya sangat khawatir kalau liver yang didonorkan itu punya sifat asli seorang gay. itu karena saya ganti liver.” tambahnya. “Kalian yang laki-laki harus waspada. Jangan hanya dijadikan bahan gosip semata. Ide ini sudah saya kemukakan lima tahun yang lalu. Kalau “belum”. Lalu. masih ada satu lagi ide saya yang akan saya sumbangkan ke dunia jurnalistik. Itu bukan saja menjadi sumbangan saya ke dunia jurnalistik berikutnya. Sumbang-menyumbang dari satu disiplin ilmu ke ilmu yang lain.” gurau Melinda. menyumbangkan software untuk prinsip cover both side yang penting itu. Jawa Pos-lah yang pertama menerapkannya. termasuk foto-foto liver saya yang lama. Padahal. pertanyaan sudah berimbangkah berita yang Anda tulis? Apakah pihak-pihak yang Anda tulis sudah diwawancara? Dan seterusnya. saya bisa menyumbangkan ilmu manajemen ke dalam jurnalistik melalui penerapan “rukun iman” Jawa Pos. Tapi. Orang lainlah yang tahu. berarti juga ada kemunduran dalam kemampuan saya menulis. Melinda Teja. diri sendiri kadang memang tidak bisa merasakan. Maka. reporter harus menekan tombol “kirim”. Laura yang dimaksud adalah “lanang ora. “Kita harus segera carikan pekerjaan yang cocok. misalnya. tentu saya berharap segera diberi tahu. Maka. Kalau tidak. Saya berharap software yang saya inginkan itu segera dibuat. saya belum merasakan perubahan apa-apa.” ujar yang lain. Di tulisan mendatang saya juga akan menceritakan sumbangan “ilmu tauhid” ke dalam bisnis dan manajemen. Foto-foto seputar operasi. Saya tidak puas dengan lambatnya pelaksanaan ide ini karena saya tidak lagi dalam posisi pemimpin redaksi. Misalnya: Apakah Anda sudah membaca ulang tulisan Anda? Di belakangnya dimunculkan kolom isian: sudah dan belum. Prinsip-prinsip jurnalistik yang baik harus lebih dipentingkan. Sampai hari ini. ide ini penting justru untuk menyesuaikan praktik jurnalistik di alam kebebasan mutlak seperti sekarang. Dalam alam demokrasi seperti ini. Setiap membicarakan persiapan transplantasi. Setiap pertanyaan disertai kolom isian. pemberitaan yang berimbang. Untuk kemajuan. apa salahnya dilakukan.Alasan kedua mengapa foto tidak disertakan di tulisan ini adalah: Semua foto akan dimuat ketika tulisan ini diterbitkan dalam bentuk buku. tim saya ternyata juga sering menyinggung kemungkinan perubahan perilaku saya pascatransplantasi. Dan jangan-jangan. Setiap kali reporter selesai menulis berita kan harus mengirimkannya ke redaktur untuk diedit. tanggung jawabnya jelas. Tentu dengan nada penuh humor. “Saya justru khawatir kalau itu liver Laura. Nah. Saya sendiri tidak tahu apakah tulisan saya mengenai pengalaman ganti liver ini masih mencerminkan doktrin jurnalistik saya itu. saat menekan tombol “kirim” itulah. Kalau kelak ada reporter yang menipu dengan cara mengisi kolom yang salah. Lalu. bos Pakuwon Jati itu. saya ingin di setiap komputer yang digunakan reporter dilengkapi software check-list. Lalu. Misalnya mengenai cover both side. dia tidak akan bisa menekan tombol “kirim”. tanggung jawab justru lebih besar. Kalau saja seperti itu. wedok ora” (tidak laki-laki dan juga tidak perempuan). Dalam proses pengiriman berita dari komputer ke komputer itu. si reporter tidak bisa menekan tombol “kirim”. namun penerapannya masih memerlukan pembuatan software komputer. Sebenarnya.

ketika saya ajak omong Mandarin. kalau pulang. Dia tahu. Akibat sayatan pisau bedah yang panjang. Yakni silicon scar treatment.Yang jelas sudah berubah adalah perut saya. dokter sudah mengizinkan saya pulang. Saya masih memesannya lewat internet karena hanya di AS barang itu dijual. apa kromo inggil untuk forward? Keinginan pasien untuk cepat-cepat pulang memang agak ajaib. saya tahu dia salah satu tokohnya. saya lagi mengusahakan untuk memperhalusnya. Agar tidak lupa bahasa Jawa tinggi itu. ketika menjenguk saya. Dia Tionghoa dan lulusan Fakultas Teknik Universitas Kristen Petra Surabaya. Pak. Saya berpikir salah sekali lagi. “Saya bukan Kristen. Saingi Cucu 22 September 2007 TEPAT sebulan setelah transplantasi. Karena itu. Rasanya ingin terus dekat dengan Ka’bah dan mencium berkali-kali hajar aswad. Fokus pikiran sudah berubah: Pulang! Pulang! Pulang! Ini bagian dari misteri rumah. dia tidak nyambung. Saya yang Jawa bicara Mandarin.” jawabnya. 6 September yang lalu sebenarnya saya sudah bisa kembali ke Indonesia. Sejak itu. perancang Gedung Jatim Expo dan Rumah Cepat Tsunami Aceh. Bahkan. Jadi. kulit perut saya tidak mulus lagi. (Waktu saya menulis bahwa Tiongkok dengan kekayaan barunya sudah mampu membeli saham perusahaan raksasa Amerika yang bernama Blackstone. Kalau saja usaha itu tidak berhasil. “Apakah tidak ke gereja?” tanya saya saat dia mengajak rapat soal Aceh di hari Minggu. kemudian. Nah. seorang pembaca mengirim SMS ke saya: Tiongkok sudah pula membeli hajar aswad?) 79 by Moezhanks . minta saya lebih bersabar. sebuah batu hitam (blackstone) di pojok Ka’bah. Dia Tionghoa. ada yang minta biar enam bulan baru pulang juga lebih baik. Saling SMS dan email pun pakai kromo inggil hingga suatu saat kebentur kata forward. Makanya. Sebelum tiba hari pelaksanaan haji. filsafat ojo dumeh dan hukum “timba sing kudu nggoleki sumur”. mencoba sore hari. Tim Surabaya juga demikian. Dulu Budi itu. seorang Kristen. bicaranya kromo inggil. “Kalau selama ini sudah sabar enam bulan. Ini baru saya ketahui setelah bertahun-tahun kenal. biar dua bulan menunggu pun asyik-asyik saja. Sebuah konotasi yang ternyata salah. Terutama yang biasa digunakan ibu-ibu yang melahirkan secara caesar. “Saya penganut Sapto Dharmo. anggaplah saya baru saja melakukan caesar tiga kali berturut-turut. Semangat menjalani ibadah luar biasa. saya kira. saya pasti langsung lupa diri. Sudah tawaf siang hari. Ada cara yang katanya cukup mujarab. Sudah pagi hari mencoba malam hari.” jawabnya. Lebih terutama lagi ibu-ibu di Amerika. Suasana kebatinan setelah operasi mirip dengan setelah berhaji di Makkah. “Rupanya. Bahkan. Begitu seminggu setelah operasi berhasil (umumnya mereka tandai dengan bisa jalan-jalan). Itu sebabnya bahasa Inggris membedakan mana kata “rumah” (house) dan mana kata “rumah” (home). Sebab. misteri kampung halaman. Tawaf (berjalan memutari Ka’bah) dilakukan berkali-kali -meski “tawaf” di mal dan supermarket juga tidak bosan-bosannya. Tapi. (Bersambung) Ganti Hati 28 – Tunggu Pulang Diimunisasi Hepatitis B. Aneh. di rumah saya menggunakan bahasa Banjar. Ada sederet bekas jahitan yang kasar. terutama Robert Lai. tim saya. tim dokter tidak membawa ahli obras malam itu. saya selalu kromo inggil kepadanya. Oh.” ujar tim kami. berarti dia Konghucu atau Buddha. pasien langsung membuat rencana tanggal berapa akan pulang. mengapa tambah dua bulan lagi tidak kuat?” tambah Ir Budiyanto. Kromo inggil pas sekali kalau dipakai bicara soal ajaran sangkan paraning dumadi.

Tidak kejangkitan hepatitis atau sel bibit kanker. Bagi yang masih lama dapat giliran pulang. Di dua negara itu ada rumah sakit yang punya pengalaman merawat pasien pascatransplan.” kata Pinto Janir dari Padang kirim SMS ke saya.” tambahnya. tekun. Saya sudah amat senang kalau tulisan saya ini memberikan manfaat. Diam-diam. begitu pulang dari Padang Arafah. pikirannya sudah langsung fokus ke pulang. Oh. saya berencana mendirikan lembaga yang tugasnya gerilya ke kawasan-kawasan miskin untuk mencari anak yang belum diimunisasi. sudah terlalu lama menunggu di rumah sakit ini. Suster tertawa. Tuhan kita adalah Tuhan yang cerdas. Kecut.” kata saya pada suster yang akan menyuntik. Saya masih harus menjalani satu proses yang amat lucu: Imunisasi hepatitis B. Syayidina Umar pernah mengatakan. Maka. Bahkan sudah menjadi seperti satu network dengan pusat transplan di Tiongkok ini. suatu saat saya akan menciumnya. Kebiasaan saya Lebaran di Makkah tidak bisa saya lakukan lagi tahun ini. meski entah sudah berapa kali saya ke Makkah. suasana di sekitar Ka’bah tidak pernah sepi. Begitu juga pasien transplan liver. Bahkan. Saya perlu sejumlah tenaga yang punya antusiasme menangani pekerjaan tersebut. Saya akan membiayai kegiatan itu. saya selalu berusaha menciumnya dengan hati saya yang dalam. Pasien Jepang bahkan tiga minggu sudah check-out. saya memutuskan baru akan kembali ke Surabaya sekitar seminggu setelah Lebaran. kalau terjadi apa-apa. Bahkan. Saya kembali tersenyum. rasanya sudah amat berbeda. Saya tersenyum mendengar bahwa saya harus menjalani beberapa kali suntikan imunisasi. Toh mencium hajar aswad itu bukan rukun tawaf. luar biasa tidak sabarnya. Tuhan pasti tahu isi pedalaman saya. tinggal saya sendiri yang dari Angkatan April 2007. Mereka memang tidak perlu khawatir. Tentu. Hasil tes terakhir memang menunjukkan bahwa liver baru saya bersih. “Uda. Karena itu. Yakni pada hari saya mengungkapkan mengapa saya sampai menderita penyakit seperti itu. Kemacetan manusia selalu terjadi di sekitar hajar aswad. Tentu.” kata dr Wawan yang dulu pernah jadi anggota yang aktif di Dewan Pembaca Jawa Pos. Tidak ada lagi teman-teman lama yang saya kunjungi setiap hari. Kadang dengan cara menyikut dan menyingkirkan orang lain. “Saya kaget. Saya harus mencari kawan baru. apalagi begitu selesai salat Idul Adha. Begitu bisa jalan. saya baru tahu sebabnya. cucu saya. Kampanye yang berhasil. Ada terus kegiatan orang di Makkah sebelum hari haji. saya tidak mengharapkan bayaran itu. Karena itu harus segera dilindungi dari dua makhluk halus (karena hanya bisa dilihat oleh mikroskop) yang pernah mengancam jiwa saya itu. Karena teman-teman se-”angkatan” saya sudah pada pulang. Sedang kalau saya pulang. Saya dapat informasi bahwa dokter-dokter anak di Surabaya juga kebanjiran bayi yang minta diimunisasi hepatitis B.” tulisnya di SMS-nya. Mungkin akan ada manajemen yang lebih baik untuk mengatur antrean itu. Saya tidak sampai hati melihat pemandangan itu. Pasien dari Taiwan umumnya sudah pulang sebulan setelah transplantasi. Sudah antiklimaks. Tapi. “Jam lima pagi sudah lima ibu yang mendaftar. “Sudah umur 56 tahun baru imunisasi. Mereka berebut menciumnya. agak siang sedikit. saya belum bisa mencium hajar aswad -secara fisik. “Departemen Kesehatan harus membayar Anda. Antiklimaks yang tajam. “Kalau bukan karena Rasulullah pernah menciumnya. Kok tumben. Saya tidak tega kalau harus berebut seperti itu caranya. Pasti pagi-pagi mereka sudah baca Jawa Pos. Ternyata benar juga bahwa saya tidak buru-buru pulang. saya tidak akan sudi menciumnya”. “Hati” dalam pengertian pedalaman saya -bukan hati dalam pengertian liver saya. Berarti juga harus mau menjadi narasumber untuk bagi-bagi pengalaman kepada 80 by Moezhanks . rumah sakit mana yang punya pengalaman cukup untuk pasien seperti saya? Walhasil. Maklum. Bersaing dengan Icha. dan njlimet.Karena itu.

” kata seorang perawat. Begitu jugalah saya nanti. Saya merasa mereka beri semangat. Saya melakukannya dengan senang hati. Selama empat bulan menunggu operasi. tanpa harus merasakan enaktidaknya. Agar tidak jadi sumber infeksi. Serombongan besar orang Korea memenuhi lantai 11. dipasangi masker. Juga kian segar badannya. Atau ke keluarga mereka. Jawaban-jawaban itu tidak terlalu memengaruhi psikologi saya. tentu lima hari setelah operasi sudah bisa jalan. Tiba-tiba saya penasaran.” katanya sambil menyingkap bajunya. Konon. dia tidak ke Tiongkok. Jalannya thimik-thimik pelan. seorang anggota parlemen. Lebih segar dan merah daripada yang saya lihat sebelum operasi. waktu seharusnya dia kembali ke Tiongkok untuk mengeluarkan benda yang dipasang untuk menyambung livernya dulu. saya memang suka bertanya kepada pasien yang baru saja menjalani operasi. meski thimik-thimik. tiga bulan kemudian. hanya seminggu! Sudah bisa jalan! Kau nanti juga harus begitu! Kalau perlu lima hari! Dengan melihat contoh nyata itu. Ternyata dengan suka rela mereka menceritakan segala pengalamannya. ajaib memang transplantasi ini. Pasien ketiga juga sama. Ada pemandu wisatanya. pasien yang sebelum operasi kelihatan matanya sudah amat keruh. Kian hari kian cepat jalannya. Di negaranya langsung aktif karena memang terasa sudah amat sehat. Suatu saat ada contoh-hidup yang lain. seminggu sudah bisa jalan. Pasien keempat. Tiap dua minggu harus dibersihkan dan dirawat. Saya pun merasa dapat semangat yang sama dari pasien yang menjalani transplan sebelum saya. Yakni yang transplantasi enam bulan sebelumnya. 81 by Moezhanks . saya tanya kepada susternya: Sudah berapa hari dia operasi? “Tepat seminggu yang lalu. Dahlan. Bahkan. memang masih terus akan di situ selama tiga bulan.” jawabnya. Toh. wajahnya segar. napasnya sudah tersengal-sengal. Kalau badan saya lebih kuat. Pasien kedua yang saya lihat pun begitu. yang badannya memang sudah kurus dan umurnya sudah 62 tahun. juga mulut susternya. Wisatawankah mereka? “Mereka adalah orang-orang yang dua-tiga tahun lalu transplantasi di sini.” pikir saya. “Oh. Untuk menunjukkan di sinilah dulu mereka dapat sambungan nyawa. ingin bertanya masak kini mereka bisa begitu sehatnya. Semua kurang lebih sama. Terlihatlah di kulit perutnya bekas sayatan dan jahitan yang panjang. Saya lebih semangat makan. pikir saya. Meski badannya kelihatan lemah. kelima. Tapi. Lalu. Dia saja. seminggu setelah operasi juga sudah bisa jalan. saya tidak harus membeli semangat. Juga lebih merah. tentunya. dan seterusnya. Oh! Baru seminggu yang lalu! Sudah bisa jalan. Perawatan terhadap slang yang masih ada di pinggangnya pun dilakukan di negerinya. Sebulan setelah transplantasi langsung pulang. Mulutnya. “Lihat ini. Saya kian rajin senam untuk membuat badan saya lebih segar. begitu pertama melihat pasien yang jalan-jalan di koridor rumah sakit dengan kantong plastik berisi cairan merah menggantung di pinggangnya. saya tertegun. tiga orang di antara mereka (antara umur 60 dan 70 tahun) mau saya ajak masuk kamar saya. Bahkan. Seminggu sudah bisa jalan! Saya pun akan begitu nanti! Seminggu. Hati baru. sudah tergeletak tidak bisa berjalan. Slang itu. Badannya lebih kurus daripada yang saya lihat sebelum operasi.mereka. Dia seorang wanita 60-an tahun dari Pakistan. berikut kantong plastik kecil. Lengannya dipegangi oleh suster. optimisme saya kian menyala-nyala. Jadi. Bahkan. begini ya orang habis transplantasi. Dilakukan sendiri oleh dokter setempat karena dia juga ahli. Mungkin memang politisi yang sibuk. Agar bisa bicara lebih santai. Transplantasinya sukses dan amat sehat. Sebelum operasi. Saya ingin ikut memberikan semangat agar mereka optimistis menghadapi operasi besar. Giliran saya memberikan semangat. Mereka ingin datang lagi bersama keluarga dan kerabat. saya hanya sekali mendengar orang meninggal. Di kamar saya semangatnya menjadi-jadi. Rasa optimistis kian hari kian besar setelah melihat pasien tadi di hari-hari berikutnya.

Bukan saja mengenai umurnya. Bahkan memburuk. antara lain. Bicaranya. Dua wanita itu juga amat mengesankan. Keduanya tinggal di lantai yang sama. Saya memang tidak menceritakan bahwa gemuk saya waktu itu karena bengkak. Tidak satu pun keluarganya mendampingi. Bajunya bagus-bagus dan mahal-mahal. Juga sudah tak terhitung lagi berapa kali saya ke Harbin sesudah itu. saat keduanya masih kira-kira berumur 30 tahun. Dia juga tidak bisa berbahasa Mandarin sehingga hanya saya pasien yang bisa dia ajak ngobrol dalam bahasa Inggris. saya kehilangan dua teman wanita yang paling saya akrabi.” katanya. Dua-duanya juga amat cantik -terutama kalau penilaian ini saya berikan 35 tahun yang lalu. Satu dari Jepang. Kami biasa saling curhat. Dia sendirian. Entah proses pengambilan benda asing itu yang salah atau karena kegiatannya yang berlebihan. (Bersambung) Ganti Hati 29 – Sering Kaget Disapa Wanita Modis dan Ceria dalam Lift 23 September 2007 DI masa menanti waktu pulang ini. karena saya pernah lama di sana: Belajar bahasa Mandarin dengan cara home stay. “Umur saya juga sudah 69 tahun. Sepatunya seperti Cinderella. Apalagi mereka senasib: juga hepatitis. “Saya nanti tidak sesukses kamu. Saya cepat akrab dengan wanita Harbin ini. Sendirian. Dia ngiri melihat badan saya yang sehat dan agak gemuk. Lebih dari itu dia juga mengidap sakit gula.” kata wanita yang dari Jepang itu suatu saat kepada saya. Rambutnya disasak tinggi. dan kanker hati. Kalau saja dia masih muda. Dan akhirnya meninggal. Tiongkok. “Kalian sudah pulang semua. “Perut saya sudah berisi air.” tambahnya. “Saya nanti pulangnya mungkin paling belakangan. Kian lama kian parah.” katanya. Tapi. “Umur saya sudah 72 tahun. satunya lagi dari Harbin. saya akan masih di sini. Saya tahu bahwa sakit gula akan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sukses tidaknya transplantasi. Saya menjawab: Saya juga tidak akan buru-buru pulang. Saya sering sekali mengunjungi kamar masing-masing dan ngobrol berlama-lama. sirosis. Saya tidak harus buru-buru pulang. Yang ditunggu tidak segera tiba. guraunya. Di lain waktu wanita Harbin tadi curhat yang lain lagi. Saya ceritakan kenyataan bahwa ada pasien lain yang juga punya sakit gula toh berhasil dengan baik juga. tentu orang akan mengira dia hamil. namun menunggu kondisi badannya stabil. Saya harus belajar dari pengalaman itu. Wanita yang dari Harbin lebih mengeluh lagi. Di Tiongkok dia akan ditransplantasi sekali lagi. Yang wanita Jepang amat modis. dia terkena infeksi. dan intelektualnya bisa nyambung dengan saya.” tambahnya. saya tidak menceritakan bagian ini padanya. 82 by Moezhanks . tapi juga kondisi badannya. Lalu datang lagi ke Tiongkok untuk menyelamatkannya. dia bahkan pergi naik haji.Beberapa saat setelah itu. Terutama kalau istri saya pergi belanja. Saya juga berjanji kepadanya untuk terus memberinya semangat.” katanya. Saya memahami keadaannya.

Juga sudah bisa tertawa.” katanya dengan meraba-raba perutnya. Saya ingat direktur saya Zainal Muttaqien. tatanan rambutnya. begitu pulang. Pesuruh dan tukang pel lantai pun idem ditto. Sewaktu bertugas mengepel kamar saya. “Dokter saya di Jepang yang minta saya segera pulang. celananya hot pants (maklum. Miskin Bermartabat”. Setiap masuk kerja mereka mandi dulu dan baru ganti baju perawat. Sepatunya sepatu kungfu yang murahan.” sering saya bertanya dalam hati. Tentu kami tetap menampakkan kegembiraan kami bahwa dia begitu sukses dengan transplantasinya. saya belum punya sepeda. saya lihat perutnya “sudah hilang”. Yang kamar 83 by Moezhanks . Ini agar kuman yang terbawa perawat saat berangkat kerja tidak terbawa ke pasien. sudah hilang. Bajunya. saya masih sering kecele kalau suatu saat disapa wanita yang sangat modis dan ceria di dalam lift atau di lobi. Dan. Sebaliknya. tapi saya seperti tidak kenal lagi siapa dia. Bajunya you can see. meski berangkat kerja dengan amat modis. ketika kerja tidak ogah-ogahan. dan banyak lagi yang lain. Surabaya. Rumah separo tembok separo kayu. sungguh membelalakkan mata. Karena ’yuan lao’. Pasien yang kerasan di rumah sakit. Bukan saja jarang lihat pengemis.Benar saja. akan bisa jadi model perjuangan itu. musim panas) dan rambutnya dimain-mainkan seperti artis Korea. Yang seperti itu tidak hanya perawat. Mereka juga hafal pada saya. Rupanya mereka biasa ganti-ganti baju. Yakni. Begitu selesai bertugas. Yang wanita Harbin juga sudah menjalani transplantasi. Dia sering menyapa. satu moto: “Kaya Bermanfaat. Perawat di sini memang disediakan kamar mandi dan ganti baju. Demikian juga ketika pulang kerja. Muncullah istilah dari Zainal yang akan selalu saya ingat dan yang akan kami perjuangkan sebagai inti dimulainya pembangunan harga diri ini. Saya sendiri akhirnya mendapat gelar ’yuan lao’ di rumah sakit ini. Saya dan Zainal. “Perut saya yang mulai buncit dulu itu. harga dirinya lebih baik. meski kalau tertawa lantas kian terlihat umurnya yang sebenarnya. Kami sering diskusi soal kemiskinan di Indonesia dan Tiongkok. baru sadar bahwa mereka adalah perawat atau pesuruh yang tadi melayani saya. si Cinderella sangat berhasil operasinya. bicaranya sudah keras dan tegas. pakaiannya baju-kerja penyapu lantai. Rumah pun masih menyewa di satu gang sempit di belakang pasar Kertajaya. Juga sukses. saya sangat hafal pada perawat. Penghuni lama. Pasti semakin modis dia nanti. Saya ingat. sama sekali tidak menyangka kalau dia tadi yang pakai baju perawat dengan topi putih. cara membawa tasnya. Meski begitu hafal. para perawat itu ganti pakaian seperti model. Tidak buru-buru pulang. Terutama pada jam-jam pulang atau berangkat kerja. Ini yang disebut social-capital -modal sosial. pegawai. juga kalau bertemu orang seperti tidak punya rasa rendah diri. Eh. Bank Dunia menyebutkan social-capital ini menjadi faktor penting kemajuan Tiongkok di samping modal finansial. dan dokter di rumah sakit ini. ketika sudah kaya (duille!) tidak sewenang-wenang. Juga benar bahwa seminggu setelah operasi dia sudah menentukan tanggal pulang. Mereka sama sekali tidak punya rasa rendah diri meski pekerjaannya tukang pel lantai. Dan ini menjadi salah satu sumber kemajuan Tiongkok. Menjalani perawatan di sana. apalagi sepeda motor. meski waktu itu sudah menyandang gelar wartawan majalah TEMPO yang begitu ternama.” katanya seperti minta pengertian. “Siapa ya wanita cantik ini. Bagaimana ketika miskin dulu tidak jatuh sampai menjual harga diri dan jabatan. Benar. Meski memang lebih lambat mulai bisa turun dari tempat tidur. Tapi. Mengapa orang di Tiongkok yang juga banyak sekali yang lebih miskin dari orang miskin Indonesia.

Ide itu tentu tidak mungkin dilakukan. saya diberi amplop. tentu banyak orang yang akan memberi saya tiket. filsafat “Kaya Bermanfaat.” kata saya. Maka. Dan harga diri pegawai yang di situ sama tingginya. Saya kepingin sekali meniru ini di Graha Pena. Bisabisa dijual. Saya tahu isinya pasti uang. Salah satu kesimpulan saya. Saya menolaknya meski di saku tidak ada lagi uang sepeser pun. sering terbelit filsafat ’unggah-ungguh’. Miskin Bermartabat” belum menjadi budaya. Tentu semua biaya seperti itu. misalnya. sekadar berdemo. Betapapun bersihnya sebuah kota. Yang juga mudah dibayar untuk. Untuk membuat kota-kota di Indonesia cantik. para wanita yang lalu lalang di kota itu harus juga terlihat cantik. Waktu harus wawancara ke daerah industri di Tandes Margomulyo. kalau di rumah sakit ini. Saya khawatir dengan istri saya. belum tentu lipstiknya digunakan. saya hanya punya uang Rp 75 di saku. Yang airnya dari sumur yang harus ditimba sendiri. Tapi. kalau yang lalu-lalang di dalamnya kumuh-kumuh. Saya pulang dengan jalan kaki. Atau. membangun kepercayaan diri begitu pentingnya. Tentu tidak harus sampai pada hot pants. tapi berjilbab pun akan dicarikan jilbab yang modis. lalu dari Jembatan Merah ke Tandes Rp 50. tulisan ini tidak akan bisa selesai tepat waktunya. Kalau tidak. Sebab. Dari penampilan para perawat dan tukang pel di rumah sakit ini. lipstik. kok ingat dia lagi sih?). “Kaya Bermanfaat. Waktu harus pulang ke Kaltim. Meski Tandes-Kertajaya begitu jauhnya. kalau tidak mau dibilang kurang ajar. agar murah. Maka. saya pilih naik kapal kayu ke Banjarmasin dulu. Bangsa yang mudah disogok dan dipermainkan. nggak menarik jadinya. ’tawaduk’. Belum ada bus waktu itu. Karena beberapa kali harus berhenti untuk menghindar dari panasnya Surabaya. Selesai wawancara. sepatu. (Bersambung) 84 by Moezhanks . Lalu muncul ide gila yang tidak masuk akal. Dari Kertajaya ke Jembatan Merah Rp 25. penampilan Graha Pena juga akan lebih “keren”. Tapi. Kalaupun dilakukan. saya belajar bagaimana menjalani pekerjaan rendahan dengan jiwa yang kuat. Kalau upaya meniru ini berhasil. Yang kasur tipisnya harus dihampar di lantai. Mereka bisa membedakan ’rendah diri’ dan ’rendah hati’. ternyata ada baiknya juga dia pulang lebih dulu. Lalu naik kendaraan umum berupa jip terbuka yang penuh sesak dengan penumpang. saya bilang kepada sopir agar boleh naik di kursi dekat sopir. Miskin Bermartabat” akan membuat bangsa ini tidak gampang jatuh ke derajat bangsa-pengemis. yang sebenarnya tetap bisa kita lakukan tanpa harus jatuh ke derajat ’rendah diri’.mandinya dipakai bersama beberapa rumah tangga. pemda yang menginginkan kotanya cantik dan menarik harus memberikan penduduknya yang wanita barangbarang ini secara gratis: Baju. Kembali ke dua wanita tadi (eh. Jarang saya lihat orang Tiongkok yang merasa rendah diri. di Graha Pena kami akan mencoba memberikannya secara cuma-cuma kepada pegawai bagian cleaning service-nya. ditanggung sendiri. Saya sudah minta manajemen Graha Pena untuk menghitung konsekuensi biayanya. ’sopansantun’. “Istri saya hamil muda. Hampir dua jam. Petugas cleaning service tidak harus merasa rendah diri. bangsa yang kalau melihat orang kaya yang muncul kecemburuannya. dan biaya ke salon. Hanya cukup untuk naik bemo berangkatnya. eye shadow. Sedangkan kita.

” Tapi. Keahliannya pasti tidak kalah dengan dokter Singapura. Tapi. Terutama ingin menulis sesuatu agar para dokter tidak kehilangan semangat karena tidak dipuji sama sekali. sang suami meminta sang suci membacakan doa. rumah sakit ini tergolong yang terbaik di dunia. Kondisi badan saya yang masih baik. Tidak perlu lagi tambahan apa-apa. Tersedianya peralatan yang canggih ini sangat terkait dengan kemampuan dana dan 85 by Moezhanks . Tapi. Korea. kalau ada waktu membahasnya lebih dalam. Engkau telah menyediakan makanan yang lezatlezat ini. Faktor mana yang terpenting. Soal keahlian dokter. Kemampuan manajemen rumah sakit dan tim operasinya. 5. Saya pernah menerima keluhan dokter ahli bedah jantung seperti Prof Dr dr Paul Tahalele. Jepang. Keahlian dan pengalaman dokternya. Bahkan. Setelah sang suci pulang. tapi Jangan Buru-Buru Merasa Sehat 24 September 2007 MENGAPA operasi transplantasi liver saya berhasil? Setidaknya sampai hari ini? Faktor apa saja yang memengaruhinya? Jawabnya dua macam: mau yang pendek atau yang panjang. 6. Selesai. Selama makan sang istri merengut saja. pasti juga akan diketahui ranking-nya. “Semua ini karena Allah dan kepintaran para dokternya. “Terima kasih. Sudah tentu tidak hanya faktor keahlian dokter yang menjadi satu-satunya kunci sukses. dan di rumah sakit ini. Mereka mengatakan semua ini karena Allah.Ganti Hati 30 – Banyak Faktor Keberhasilan. di Indonesia pun tidak akan kalah. 2. Saya tidak diberi tahu alat yang mana. saya ingin menulis. Kemajuan obat-obatannya.” Ucap sang suci mengakhiri doanya. kesempatan untuk memperoleh pengalaman yang banyak sangatlah minim. Sang istri sehari penuh sibuk menyiapkan makanan yang lezat-lezat. 4. Saya mencoba merincinya sebagai berikut: 1. Kecanggihan peralatannya. Saya tidak ingin para dokter menjadi ngambek seperti humor ngambek-nya seorang istri yang sudah terkenal itu: Suatu saat sebuah keluarga ingin mengundang makan malam seorang suci. ada satu alat yang hanya empat di dunia: di AS. Siapa yang bisa membantahnya? Siapa yang berani mempersoalkannya? SMS yang masuk ke saya pun hampir semuanya bernada begitu. si istri menggugat suaminya: Tidakkah tadi kau laporkan kepada sang suci bahwa sayalah yang sehari penuh menyiapkan makanan ini? Saya tidak ingin para dokter njegol seperti si istri itu. Bagaimana bisa punya pengalaman transplantasi liver 150 kali setahun kalau di negeri itu orang tidak bisa mendonorkan organnya? Mengenai kecanggihan peralatan. Saya ingin memujinya. jawabnya ini: semua itu berkat tangan Tuhan. Keberadaan donor yang sangat prima. Hanya satu-dua yang mengatakan. Waktu mau makan. saya tidak perlu lagi menulis. kalau jawabnya itu. 3. Tapi. Kalau mau pendek dan tampak religius. rasanya sulit menentukan. Mau yang religius atau yang ilmiah. Tuhan. Baik karena langkanya donor maupun minimnya peralatan.

Misalnya. Ada yang cuma Rp 5 juta. Toh semua donor sudah diperiksa kualitasnya. Saya juga sering mengadakan khataman Alquran yang diikuti para hafiz (orang yang hafal Quran). Kalau saja kemajuan obat-obatan tidak seperti sekarang. obat antiinfeksi juga sudah membuat kegagalan karena infeksi amat minim. Teman-teman.keinginan pemimpinnya. Kebetulan. mungkin juga banyak halangannya. juga ditentukan oleh kondisi pasien. sudah bengkak. Kondisi pasien yang prima memegang peran penting karena banyaknya komplikasi juga akan menyulitkan. Sebab. dua-duanya belum bisa banyak dinanti. “Apakah Pak Dahlan sudah mau mati? Mau khusnul khotimah?” komentar seorang teman secara diam-diam tapi sampai juga ke telinga saya. Rupanya. Bahwa ada kualitas I atau II. Mendapatkan donor yang prima pun. Misalnya. Kegagalan yang terbanyak kini karena tekanan darah tinggi dan gula darah. tentunya donor seperti apa pun akan diterima. mungkin banyak yang pesimistis. Begitulah nasib dokter kita meski itu juga dialami bidang yang lain. antara lain. Di bidang kemajuan obat-obatan harus diakui bahwa kemajuan penemuan obat baru bukan main cepatnya. Kepada mereka (baik yang sudah pensiun maupun yang belum). kalau saja saya tidak sabar menunggu. saya sudah menghitung semua faktor di atas. Terutama kalau mereka melihat tanda-tanda fisik saya: mulai dari sudah muntah darah. Lantas. semua itu tidak saya informasikan kepada keluarga atau teman-teman. ada yang sampai Rp 100 juta. juga para pemegang saham. Atau. Asal kemudian ikut diundang. saya membuat keputusan justru harus melakukan transplantasi ketika saya masih sehat. tapi saya yakin sudah telanjur melukai hati mereka. Mereka juga melihat tanda-tanda nonfisik yang saya lakukan.” katanya. Mereka aktif berpindah-pindah di Surabaya dan tiga bulan sekali di rumah saya. sekarang jumlahnya hampir nol. tapi kondisi badan saya sudah tidak bisa lagi menunggu lebih lama. Kalau sejak sebelum operasi saya optimistis bahwa transplantasi ini akan berhasil. saya berikan uang. Tapi kalau sudah telanjur marah. Tentu. Kadang saya sadari bahwa ternyata tidak seharusnya saya marah karena ternyata dia tidak salah. Apalagi saya juga menyelenggarakan zikir-pidak dan ikut mendengungkan kalimat syahadat yang sudah di-compress menjadi kata pendek hu itu ribuan kali. Ini karena jantungnya memburuk. “Boleh nggak sekarang saja dimarahi. Tapi mulai lemas di hari-hari berikutnya. dan wajah sudah menghitam. masak bisa diralat? Yah. Mungkin akan mendapat juga donor. antara lain. saya sering juga kemudian minta maaf. 86 by Moezhanks . obat-obatan yang harus dimakan setelah transplan menimbulkan efek samping di dua sektor itu. Maksud saya ketika organ-organ lain saya masih baik. bagi-bagi uang ini terdengar juga oleh pensiunan karyawan yang lain. Hanya saya dan tim saya yang tahu. Bahkan. kalau saya sabar. Obat sinkronisasi liver baru dengan organ lain sudah amat sempurna. Itulah sebabnya. Untuk Indonesia. tapi kualitasnya belum tentu sebaik yang ada di dalam badan saya sekarang. saya tiba-tiba mengundang teman-teman yang ketika bekerja di Jawa Pos dulu pernah saya marahi. itu tentu ada kelas-kelasnya. Tergantung perasaan saya seberapa saya merasa bersalah. Salah satu pasien yang saya kenal kelihatan gembira sekali di hari pertama dan kedua setelah keluar dari ICU. saya tidak memiliki bakat darah tinggi maupun gula darah. Untuk kegagalan transplantasi liver karena rejection. dia menghubungi saya lewat SMS: saya menyesal mengapa dulu tidak pernah dimarahi. akan lain hasilnya. Kalau saja terlambat mengambil keputusan.

Akhirnya. Kakak sulung saya memang pernah mencatat tanggal kelahiran saya. Berhasil. Karena itu. dan leper (tempat mengulek sambal.” tulis Madame Ho Ching dalam emailnya kepada saya. Padahal. Itu bisa dilakukan dalam rangkaian perjalanan saya pulang kelak. Ditulis dengan kapur lunak. tidak lebih dari sepuluh. Apalagi setelah melakukan transplantasi liver ini. dia harus transplantasi lagi di kota ini. Singapura memang punya reputasi yang baik untuk perawatan pascaoperasi. Madame Ho Ching. untuk transplantasi “separo hati”. Kebetulan. Tapi. saya akan mampir dulu di Singapura beberapa hari. Akhirnya meninggal dunia. Bahkan. terbuat dari tanah). Juga berhasil.” Maksudnya jangan membaca yang seperti memberikan isyaratisyarat bahwa saya akan gagal dan meninggal. (Bersambung) Ganti Hati 31 – Setelah Transplantasi. buku yang saya baca adalah buku kisah artis terkemuka Tiongkok yang meninggal muda setelah transplantasi liver. “Mbok jangan baca buku yang begituan. Kian Tidak Jelas Hitungan Umur Saya 25 September 2007 UMUR berapakah saya sekarang? Tepatnya saya tidak tahu. Pelajaran penting yang saya peroleh dari buku itu adalah ini: jangan terlambat ambil keputusan transplantasi. diambilkan dari kapur yang biasa dipakai nenek untuk makan sirih. dan sebangsanya. Singapura sudah amat berpengalaman. istri perdana menteri Singapura yang juga CEO Temasek Group. “Apakah yang Anda lakukan ini ada hubungannya dengan sakit Anda?” tanya seorang pemegang saham. Belum dua bulan sudah sibuk menghadiri berbagai acara. Baju kami. “Saya yang akan atur. Cukup disangkut-sangkutkan di paku yang menancap di dinding. Transplantasi pertama dilakukan di Beijing. Lemari yang ada itu bikinan bapak sendiri untuk menyimpan apa saja: kaleng bekas. Yakni di balik pintu lemari kayu yang kasar. Mereka tidak tahu bahwa saya ingin belajar dari buku itu. piring seng untuk makan. sepulang dari Tiongkok nanti. cobek (mangkuk terbuat dari tanah). Artis itu sudah amat terlambat melakukannya. sekeluarga. Sambil menunggu saatnya transplantasi pun. juga minta agar saya menjalani review di negaranya. kanker sudah lebih menyebar lagi. Itu bukan lemari pakaian karena kami tidak perlu lemari untuk pakaian. Ini menambah kuat tekad saya untuk melakukan transplan ketika kondisi badan saya masih kuat. termasuk talk show dan jumpa fans di kotakota yang jauh. Makanan juga disimpan di situ -kalau kebetulan ada. Juga karena kami tidak bisa beli lemari. dia melakukan transplantasi dalam keadaan sudah amat terlambat. Pelajaran lain yang saya dapat adalah: Jangan buru-buru merasa sehat dulu.Para pemegang saham juga sangat khawatir ketika saya minta bertemu dan menyampaikan sesuatu yang amat sangat pentingnya. 87 by Moezhanks . Kankernya sudah telanjur menyebar ke bagian tubuhnya yang lain. Sampai-sampai tim saya bilang. Terutama: mengapa gagal? Apa yang tidak boleh saya tiru agar saya tidak gagal? Juga ada maksud saya yang lain lagi: belajar membaca huruf Mandarin.

gambar pertama yang bisa saya buat ketika kecil adalah lambang partai itu: Bulan bintang. tapi bisa mengurangi rasa malu. Selasa Legi yang tanggal berapa. Yang selalu diingat hanya hari dan pasarannya. Kami hafal semua kapan meninggalnya siapa. sepupu-sepupu saya yang sudah dewasa semua jadi anggota Banser. bukan Naqsyabandiyah. Tapi. Inilah keunggulan yang tak tertandingi dari lantai tanah: Bisa menyerap ompol sebanyak-banyaknya! Dia seperti popok abadi! Tidak perlu dibuang yang sampahnya bisa merusak lingkungan. Sejak masih ngompol. Jangan gusar. tidak ingat. Ibadahnya pakai aliran NU ahli sunnah wal jamaah: tarwihnya 21 rakaat (sampai sekarang). kami juga ikut Kejawen: Bersih desa. Tapi. Saya sendiri tidak peduli. Di atas tikar itu juga kami tidur. Lagi pula. gambar pulaunya lebih banyak dan lebih lama hilangnya. apa pun dijual. bapak ingat saya lahir Selasa Legi. salat id tidak mau di lapangan. ketika tikar dilipat. Kalau bulan Syura. Karena itu. Lantai itu terbuat dari tanah karena tidak mampu menyemennya.” kata yang lain. saya sudah harus bisa menyapu lantai. Suatu saat saya dicap sebagai Muhammadiyah. Kami makan sambil duduk di lantai. Tiap pagi. kiai kami menaruh gentong (tempat air yang besar terbuat dari tanah) dengan air yang penuh. setiap Selasa Legi. dan juga lemari satu-satunya itu. nyekar ke kuburan. Sawah warisan yang hanya secuil. itu dilakukan setiap 35 hari sekali. 88 by Moezhanks . kami selamatan Rebo Wekasan. “Dia tahlil. kini. salatnya pakai doa kunut. Di desa. Semoga di langit sana tidak ada pengelompokan seperti itu. Pada selamatan ini. aliran politik keluarga kami adalah ini: Masyumi. Anehnya. keluarga kami tidak mengenal itu karena kurang kejawen. yang berarti cucu Rasulullah. Kalau musim hujan.” kata seorang tokoh. Itulah peringatan meninggalnya Sayidina Hasan dan Husein. “Lihat dia dari keluarga Masyumi. kami antre minum airnya. Yang biasa diulangtahuni adalah orang mati. saya ini orang apa. sering ada gambar pulau di lantai tanahnya: ngompol. Juga menyenanginya -terutama saya punya kesempatan untuk me-ngepyur-kan air lebih banyak di dekat pulau ompol untuk mengamuflasekannya. wiridannya pakai tahlil. saya ingat. Pakai selamatan dan tahlilan. Dengan ciduk yang sama: tidak terpikirkan itu sebagai sarana yang efektif untuk menularkan virus hepatitis. wayangan Murwad Kolo. sebelum disapu harus dikepyur-kepyur dulu dengan air. Saya sangat ahli me-ngepyur-kan air ke lantai ini. orang memang tidak peduli dengan tanggal lahir. yang aslinya milik aliran Syiah. Tidak ada kursi atau meja makan. Bahkan. Di lain kali saya tidak diterima di kalangan Muhammadiyah. entah apa bunyinya. Maka. alat-alat tukang bapak yang bisa dirombengkan. Kalau toh ada orang yang selamatan kecil dikaitkan dengan hari kelahirannya. Namun. Misalnya. Paginya. barulah dihamparkan tikar. Untuk apa diingat? Untuk ulang tahun? Emangnya perlu ulang tahun? Bahwa orang itu ternyata bisa diulangtahuni belum pernah saya dengar sampai saya masuk SMA. Ke dalamnya dimasukkan rajah kertas yang ditulisi huruf Arab yang ruwet.Itulah satu-satunya perabot rumah tangga bapak saya. Dan ketika terjadi Gestapu/PKI di tahun 1965. Dari segi ini. Setelah kenduri. Perbedaan dua golongan itu sudah kian cair. itulah tugas pertama masa kecil saya: menyapu lantai. lantai tanah sangat ramah lingkungan -setidaknya hidung kami sudah biasa tidak menghiraukannya. Tanggal itu penting bagi anak-anak miskin karena berarti akan ada selamatan. aliran tarikat kami Syatariyah. Meski akan menghabiskan air lebih banyak. Lebih aneh lagi. Kami keluarga santri. bulan berapa. Setelah ibu sakit (seperti sakit saya ini). pergilah lemari dari rumah kami -dan hilanglah catatan tanggal lahir saya. Karena lantai itu akan menimbulkan debu. Kalau mau makan. suasana juga sudah tidak seperti itu lagi. Bau kencing itu akan hilang dengan sendirinya kalau tanahnya sudah kering lagi. Posisi duduk anak kecil seperti saya sangat minggir -kadang hanya dapat separo pantat saja yang di atas tikar. putra Sayidina Ali dan Sayidah Fatimah.

Tapi sudah diakui di banyak negara. 6 km dari pusat keluarga itu. 89 by Moezhanks . Ibu harus ikut bapak saya. Sampai 1. antara lain ke timur. Titik. Buktinya. Bagi saya. Saya memang harus banyak senam. Apakah harus dijumlah lalu dibagi dua? Atau masingmasing diberi bobot dan nilai? Lalu. Kecuali satu: Rongga dada saya sudah mengecil. Sudah tiga tahun saya tidak pernah berkeringat. Ulang tahun saya adalah Selasa Legi. rasanya bisa. Bukankah bisa ditelusuri kapan Gunung Kelud meletus? Soalnya bukan hanya itu. ibu saya tidak tinggal di pusat keluarga itu. Para panglima perangnya melarikan diri. Jadi keluarga tani. Juga setelah sedikit senam atau joging. secara alamiah. begitu habis makan. saya malas melakukan riset kapan saja Gunung Kelud meletus. saya belum peduli dengan tanggal lahir dan karena itu juga tidak pernah bertanya ke bapak. terutama yang bisa membuat dada saya mekar lagi. saya sudah mulai bisa merangkak! Kini. Tahunya ketika anak wanita saya bertanya kepada dokter: apa saja kesulitan dokter dalam melakukan transplantasi liver malam itu? Dokter mengatakan. tulang iga menyesuaikannya. Badan saya berumur 56 tahun. Ketika hati mengecil. Yakni setelah Pangeran Diponegoro kalah karena ditipu oleh Belanda. kemudian jatuh ke buruh tani. waktu itu. “Hampir tidak ada kesulitan apa pun”. Semua parameter darah normal. tapi kemudian kawin dengan ibu saya. bobot dan nilai dikalikan seperti ajaran ilmu manajemen problem-solving yang sangat memengaruhi saya kalau ambil keputusan? Untuk apa juga saya pikirkan. bukankah setiap 35 hari ada Selasa Legi? “Waktu itu. langsung berkeringat. tidak ada administrasi yang memerlukan tanggal lahir. Saya sendiri tidak menyadari dan tidak mengetahui itu. Tapi. “ada hujan abu yang sangat hebat. kian tidak jelas lagi saya ini berumur berapa. Saya putuskan sendiri saja: Saya lahir tanggal 17 Agustus 1951. ke Banjarsari di selatan Ponorogo. Ketika sudah amat dewasa dan saya bertanya kepada bapak mengenai kapan saya dilahirkan. Untunglah. Ini karena liver lama saya juga mengecil. Lalu beranak-pinak dan ada yang membuka hutan di timur Gunung Lawu untuk dijadikan kampung: Takeran.” kata bapak saya sambil berpikir keras. Sampai tamat SMA. jawabnya tegas: Selasa Legi. tapi hati saya belum lagi berumur 25 tahun. Antara hati dan tulang iga.5 bulan setelah ganti hati ini. Jadi tulangtulang iga ikut bergerak ke dalam. Kini. Jadilah bapak-ibu saya tinggal di desa. saya belum pernah merayakan ulang tahun sehingga tidak kian ruwet memikirkannya. Hidup di desa. berusaha menyesuaikan dengan ruang yang dilindunginya. Yang lebih saya pikirkan adalah bagaimana hati baru itu bisa kerasan menjadi “keluarga besar Dahlan Iskan”. Bapak saya adalah abdi di pusat keluarga itu. Karena saya dari jalur wanita. memang tidak boleh ada ruang kosong. Itulah tanggal lahir yang secara resmi saya pakai di dokumen apa pun sampai sekarang. Sekaligus jadi pusat Pesantren Sabilil Muttaqin. Tanpa dukungan surat kenal lahir. saya tidak dianggap memalsukannya. kondisi saya terus saja membaik. setelah ganti liver. Habis jalan jauh pun tidak berkeringat. Bapak saya kemudian menyebut. Tentu.” Maksudnya ketika Gunung Kelud meletus.Asal-usul keluarga kami adalah pelarian dari Jogja. tidak tahu tanggal lahir tidak penting-penting amat. Mengapa? Selama ini rongga dada saya ternyata dalam proses mengecil. ketika Gunung Kelud meletus. Tiwas nanti merasa ge-er karena hitungannya jatuh bahwa saya baru berumur 38 tahun atau 45 tahun. Yang juga menggembirakan saya adalah: sekarang saya bisa berkeringat. Begitu hebatnya sampai desa saya yang jaraknya lebih 100 km dari gunung di Blitar itu dalam keadaan gelap selama sepekan. Dan.

saya kurang pandai menjelaskan bahwa sakit saya ini bukan karena kerja keras. setelah virus itu berkembang menjadi sirosis dan kemudian kanker. saya tidak memilih itu karena saya punya filsafat sendiri dalam menyikapi umur manusia. Sehingga menaruhnya jadi agak sulit. Memang. Tentu memperlambat juga amat baik. jangan dikaitkan dengan kerja keras. Belajar manajemen dan pelayanan rumah sakit jangan ke Tiongkok. saya bilang bahwa ide tersebut kurang tepat. sebaiknya tidak kerja keras lagi. teman di Batam yang lahir di Padang itu. tapi karena saya terkena virus hepatitis B. saya akan merasa sangat berdosa kalau gara-gara tulisan saya ini banyak orang takut bekerja keras. Sesak. 90 by Moezhanks . Tentu kalau masih ada pilihan lain. Kebiasaan lama orang-orangnya tidak bisa begitu saja berubah. ya berumur panjang. Liver baru masih dalam ukuran normal. Ini karena. Masih perlu satu kurun lagi untuk mencapai tahap itu. Saya memilih berumur pendek tapi bermanfaat. secara umum. Kalau saya akan dijadikan contoh jelek. ya bermanfaat. bahkan di Malaysia sekalipun. jangan sampai terkena virus hepatitis seperti Pak Dahlan Iskan! *** Kesan yang lain dari serial tulisan saya ini adalah bahwa rumah sakit-rumah sakit di Tiongkok hebat. Sampai-sampai beberapa dokter menghubungi saya bagaimana kalau mereka studi banding ke Tiongkok untuk belajar manajemennya. meski secara fisik dan peralatan sudah amat modern. Manajemen dan pelayanan rumah sakit-rumah sakit kita. belakangan ini semakin banyak rumah sakit di Tiongkok yang lebih modern. Nanti seperti Pak Dahlan Iskan! Setelah menerima SMS dari Saudara Socrates. Misalnya. ruangnya agak terasa kesempitan. Tapi. carry over problems masih terbawa.Akibatnya. daripada umur panjang tapi tidak bisa berbuat banyak. Jalan pikiran saya itu biasanya saya ungkapkan ke temanteman dengan istilah: intensifikasi umur. Tentu. Terutama yang swasta. Hanya. Bangsa ini memerlukan puluhan juta orang yang gigih. Seorang ibu sampai menasihati anaknya begini: Jangan kerja terus seperti itu. saya akan memilih yang terbaik. bukan? Itulah sebabnya saya memperbanyak senam agar liver baru saya bisa “bernafas” dengan lebih lega dan itu berarti membuatnya semakin kerasan tinggal di dalam badan saya. Memang. Misalnya. melainkan kaitkan saja dengan kecerobohan. Ternyata. itu bukan berarti akan menyembuhkan sakitnya. melainkan memperlambat saja perkembangannya. (bersambung) Ganti Hati 32 – Kini Ada Simbol Mercy di Perut Saya (Sebuah Penutup) 26 September 2007 ADA kesan yang mendalam bahwa sakit saya yang parah kemarin-kemarin itu karena saya kerja terlalu keras. saya jadi merasa bersalah. lebih baik. Kepada para dokter itu. tapi masih belum mencapai tingkat kecanggihan seperti di Singapura. ketika dokter mau “memasang” liver baru di ruang yang ditinggalkan liver lama.

Makan dengan masak sendiri atau setiap makan ke restoran? Dan banyak lagi. saya hanya memberikan contoh dengan cara mengelap sendiri bagian-bagian yang kurang bersih itu di depan dia. Rumah sakit juga menjadi sentral semua urusan kesehatan karena tidak boleh ada dokter praktik di sana. Karena mereka sangat unggul di situ. biaya terbesar sebenarnya bisa ditekan sesuai dengan kemampuan. saya yakin tidak lama lagi rumah sakit di Tiongkok akan mencapai tahap seperti Singapura. dan satu-satunya. apa artinya dibanding yang harus saya keluarkan ini? 91 by Moezhanks . Itu juga yang dilakukan bapak saya ketika ibu sakit: Menjual apa pun. Imunisasi yang sekali suntik Rp 70. akomodasi. petugas menilai “sudah amat bersih”. transportasi lokal. Sampai sekarang. Mungkin seharga rumah tipe 100 di lokasi yang sedang. Lama-lama standar kebersihannya berubah. Biaya itu juga sudah termasuk pengobatan sejak terjadinya muntah darah pada 2005. Tapi. Kecepatan itu akan fantastis kalau saja Tiongkok mengizinkan berdirinya rumah sakit swasta. Tapi. Biasanya.000 memang mahal. untuk kasus saya ini. tapi cari apartemen murah saja. Seandainya saya hanya punya rumah seperti itu pun. *** Berapakah biaya yang saya keluarkan untuk mereparasi organ-organ saya itu? Kalau di penutup tulisan ini saya memberikan isyarat jumlahnya. Misalnya. juga sekaligus menyadarkan betapa mahalnya sehat itu. Tapi. itu sudah meliputi semua pengeluaran. Satu orang dan yang lain tidak akan sama. saya akan jual kalau harus melakukan transplantasi ini. Semua dokter fokus bekerja di rumah sakit. Kalau semua biaya itu ditotal. itu karena tidak akan ada orang yang mau membeli rumah lantai tanah di pelosok desa. lebih cepat daripada waktu yang kita perlukan. Di Tiongkok juga jangan tinggal di hotel. Jadi. Dari seluruh pengeluaran. *** Semua itu tidak ada artinya dibanding nilai kesehatan yang saya peroleh. memang perlu waktu dan kesabaran. dan sebagainya. Transportasi yang bagaimana juga memengaruhi besarnya biaya. biaya operasinya sendiri tidak sampai 20 persennya. termasuk alatalat tukang kayunya. Tapi. Kalau waktu itu tidak menjual rumah. membatasi keluarga yang harus wira-wiri. Naik kendaraan umum? Taksi? Beli mobil sendiri? (Kebetulan saya beli mobil kelas Toyota Corolla dan itu berarti juga harus punya sopir). Misalnya. dan konsumsi saya sekeluarga. sewa enam bulan (tidak bisa sewa kurang dari enam bulan). Saya tidak bisa marah karena tahu berapa gajinya dan bagaimana latar belakang ekonominya. Itu pun sewa saja. Misalnya. wira-wiri saya sekeluarga dari Indonesia ke Tiongkok.Saya sendiri sering berdebat dengan petugas kebersihan toilet di Graha Pena Jawa Pos Surabaya mengenai pertanyaan ini: sudah bersihkah toilet ini? Saya menilai belum. yang terbanyak adalah untuk pendukungnya. semua rumah sakit masih milik pemerintah. Kalau toh mau belajar ke Tiongkok adalah mengenai keseriusan riset dan semangat untuk majunya. Biaya operasinya sendiri tidak besar untuk ukuran saya. Saya bisa memahami itu karena toilet ini mungkin sudah lebih bersih daripada kamar tidur di rumahnya sekalipun.

Jelek. saya kerja keras tidak semata-mata untuk mencari kekayaan. Kini saya punya dua Mercy. tokoh olahraga di Surabaya. *** Kini saya tidak hanya hidup baru dengan liver baru. Jelek tapi tetap terlihat Mercy-nya. Yang satu. Kebetulan. Mainannya ya kerja keras itu. tapi kira-kira sama harganya. tetap mahal citranya. bekas sayatan dari tiga arah yang menyatu di tengah. Dahlan Iskan akan menjawab e-mail dan SMS dari pembaca. Boleh juga dibilang sayatan dari satu titik di tengah ke tiga arah.Saya ingat kata-kata bijak di laboratorium Prodia: Waktu muda mati-matian bekerja sampai mengorbankan kesehatan untuk memperoleh kekayaan. Di dunia ini banyak orang yang kerja keras tanpa bermaksud kerja keras. yang di rumah. (TAMAT) _________________________________________ Tulisan bersambung Pengalaman Pribadi Dahlan Iskan Ganti Liver berakhir hari ini pada seri ke-32. Mulai besok disambung dengan Hati Baru Menjawab. Seperti Pak Moh. simbol Mercy di kulit perut saya itu tidak sempurna. Jelek wujudnya. tidak tahu seri berapa. tanda mirip simbol mobil Mercy (Mercedes Benz). Atau sekadar hobi. adalah Mercy seri 500 keluaran 2005 yang dibeli dengan harga sekitar Rp 3 miliar. tapi juga dengan tanda baru di kulit perut saya. Satunya lagi “Mercy” di kulit perut saya. Barmen. Tapi. saya tidak gagal. Mainannya ya mengurus sepak bola itu. Juga banyak sekali orang kerja keras yang karena didorong niat mulia -dan kekayaan hanya datang membuntutinya. Yakni. Waktu tua menghabiskan kekayaan itu untuk membeli kembali kesehatannya -dan banyak yang gagal. Dan lagi. Seperti simbol Mercy yang digambar oleh anak berumur tiga tahun. 92 by Moezhanks .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful