P. 1
Dahlan Iskan - Ganti Hati

Dahlan Iskan - Ganti Hati

|Views: 14|Likes:
Dipublikasikan oleh Dini Azika

More info:

Published by: Dini Azika on Aug 28, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/24/2014

pdf

text

original

Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver

Oleh: Dahlan Iskan iskan@jawapos.co.id

Ganti Hati 01 - Harus Turun Mesin, karena Organ-Organ Saya Rusak Parah
26 Agusutus 2007 Pagi ini, hari ke-20 saya hidup dengan liver baru. Kelihatannya akan baik-baik saja. Tidak ada tandatanda kegagalan seperti yang dialami Cak Nur (Nurcholish Madjid, tokoh yang digadang-gadang menjadi salah satu calon presiden), yang menjalani transplantasi liver di Tiongkok pada 19 Juli 2004. Kadar protein dalam darah saya yang tidak pernah bisa normal, kini menjadi sangat baik. Salah satu unsur penting di protein itu, albumin, sejak liver saya diganti sudah mencapai angka 3,6. Selama lebih dari 10 tahun saya hidup dengan kadar albumin yang hanya 2,7. Padahal, normalnya paling tidak 3,2. Rendahnya kadar albumin membuat tubuh saya tak mampu membuang kelebihan air, baik dalam bentuk keringat maupun kencing. Sehingga air yang berlebih ikut darah beredar ke seluruh tubuh. Akibatnya, tubuh saya jadi “gemuk”. Karena itu, kalau ada orang memuji badan saya terlihat lebih gemuk dan segar, dalam hati sebenarnya saya menderita. Sebab, saya tahu, tubuh saya tidak sedang gemuk, tapi bengkak! Begitu liver diganti dan albumin normal, badan saya langsung susut. Tapi tidak kuyu, melainkan sebaliknya: lebih segar. Dua hari pertama pascatransplantasi, kencing saya bisa mencapai 10 liter sehari. Sebagian karena memang banyak cairan yang masuk ke badan, sebagian lagi karena air yang tadinya beredar bersama darah, sudah bisa dipisahkan oleh albumin dan dikirim ke kandung kemih. Platelet atau trombosit saya, yang seharusnya minimal 200, pernah tinggal 55. Dengan platelet serendah itu, saya terancam mengalami perdarahan dari mana pun: mulut, hidung, lubang kemaluan, telinga, dan mata. Untuk menyelamatkan saya dari ancaman itu, dokter lantas memotong limpa saya hingga sepertiga. Setelah limpa dipotong, platelet saya naik sampai 120. Sayangnya, itu tidak lama. Perlahan-lahan angka itu menurun secara konstan. Terakhir tinggal 70. Hampir sama dengan sebelum limpa saya dipotong. Tapi, setelah liver saya diganti, platelet saya langsung naik. Tiga hari lalu angkanya sudah mencapai 260. Normalnya, antara 200 sampai 300. Mengapa saya memutuskan ganti liver? Tidakkah takut gagal? Mengapa liver saya sakit? Separah apa? Bagaimana jalannya penggantian liver? Bagaimana mempersiapkan diri? Bahkan sampai ke doa apa yang saya ucapkan? Semua akan saya tulis untuk berbagi pengalaman dengan pembaca.

1

by Moezhanks

Cerita ini mungkin akan agak panjang (bisa 50 hari). Bukan karena saya mau berpanjang-panjang, tapi karena redaksi membatasi saya untuk menulis hanya sekitar 1.000 kata di setiap seri. Berikut saya mulai dengan seri pertama ini. (Nama-nama dokter, rumah sakit, sengaja baru akan disebutkan di bagian-bagian akhir tulisan): *** Di umur 55 tahun ternyata saya harus “turun mesin”. Begitu parahnya kerusakan organ-organ di dalam badan saya sampai harus pada keputusan menambal seluruh saluran pencernaan saya, memotong sepertiga limpa saya, dan mengganti sama sekali organ terbesar yang dimiliki manusia: liver. Turun mesin total itu harus diatur sedemikian rupa karena mesin yang sama harus tetap menjalankan tugas sehari-hari, yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Maka, saya pun mulai membuat jadwal turun mesin. Dimulai yang paling membahayakan agar yang penting nyawa bisa selamat dulu. Ternyata saya memang terancam meninggal dunia dari tiga jenis penyakit. Yang pertama adalah yang bisa membuat saya meninggal mendadak kapan saja tanpa penyebab apa pun. Tiba-tiba bisa saja saya muntah darah dan tak tertolong lagi. Ini karena seluruh saluran pencernaan saya, mulai tenggorok sampai perut sudah penuh dengan varises yang menor-menor karena sudah matang dan siap pecah. Ibarat kumpulan balon-balon kecil berwarna merah, yang kulitnya sudah tipis seperti balon yang ditiup terlalu keras. Kapan meletusnya bisa setiap saat. Saat meletus itulah orang akan muntah darah dan tak tertolong lagi. Penyakit kedua, yang bisa membuat saya meninggal dalam hitungan bulan adalah jumlah darah putih saya yang terus merosot. Mengapa? Karena limpa saya sudah membesar tiga kali lipat dari ukuran normal. Limpa yang tugasnya antara lain mengubur sel-sel darah merah yang mati (dengan darah putih yang diproduksinya), tidak mampu lagi berfungsi baik. Platelet saya yang seharusnya antara 200-300, hari itu tinggal 60. Itu pun dalam posisi terus menurun. Pada penurunan beberapa poin lagi, saya akan menderita perdarahan dari mana saja: bisa dari hidung, dari telinga, dari mulut, atau dari mata. Limpa sendiri bisa juga pecah karena sudah tidak kuat lagi akibat terus membesar. Yang ketiga, ya liver saya sendiri, yang ternyata sudah amat rusak. Setelah liver saya dibuang setahun kemudian, tampaklah nyata bahwa liver saya sudah seperti daging yang dipanggang terlalu masak. Padahal, seharusnya mulus seperti pipi bayi. Ini yang bisa membuat saya meninggal dunia dalam hitungan dua-tiga tahun. Bahkan, sebenarnya liver itu yang membuat limpa saya membesar dan membuat seluruh saluran darah di sepanjang pencernakan saya penuh dengan balon-balon darah yang siap pecah. Maka, satu per satu harus saya selesaikan. Saya mulai dari mengatasi agar tidak terjadi muntah darah. Lalu, setengah tahun kemudian memotong limpa saya. Dan, terakhir 6 Agustus lalu, beberapa hari sebelum ulang tahun ke-56 saya, saya lakukan transplantasi liver: membuang liver lama, diganti dengan liver baru. Semua proses itu memakan waktu hampir dua tahun. Ini karena saya tetap harus menjalankan aktivitas, baik sebagai pimpinan Grup Jawa Pos maupun sebagai CEO perusahaan daerah Jatim yang lagi giat-giatnya membangun tiga proyek besar: pabrik conveyor belt, gedung ekspo, dan shorebase. Semua tahap itu saya jalani dengan keputusan yang mantap, tanpa keraguan sedikit pun mengenai kegagalan hasilnya. Banyak teman yang bertanya mengapa saya bisa tegas membuat keputusan yang
2
by Moezhanks

begitu membahayakan hidup saya. Saya jawab bahwa percaya sepenuhnya dengan takdir -sesuai dengan tafsir yang saya yakini, yakni mirip dengan uraian buku Saudara Agus Mustofa Takdir Itu Bisa Berubah. Faktor lain adalah bahwa rupanya, kebiasaan saya membuat keputusan berani, keputusan besar dan keputusan yang cepat di perusahaan ikut memengaruhi keberanian membuat keputusan dengan kualitas yang sama untuk diri sendiri. Lalu, keyakinan bahwa saya mampu me-manage hal-hal yang rumit selama ini, tentu juga akan mampu me-manage kerumitan persoalan yang ternyata ada di dalam tubuh saya. Apakah tidak ada kekhawatiran sama sekali akan gagal dan kemudian meninggal? Tentu ada. Tapi, amat kecil. Saya tahu kapan harus ngotot dan kapan harus sumeleh. Keluarga saya yang miskin dan menganut tasawuf Syathariyah sudah mengajarkan sejak awal tentang sangkan paraning dumadi (dari mana dan akan ke mana hidup dan semua kejadian). Ini membuat saya akan ngotot melakukan apa pun untuk berhasil, tapi juga tahu batas kapan harus berakhir. Tentu ada penyebab lain: Banyak keluarga saya mati muda, sehingga saya pun seperti sudah siap sejak kecil bahwa saya juga akan mati muda. Ibu saya meninggal dalam usia 36 tahun (muntah darah). Kakak saya, yang digelari agennya Nurcholish Madjid di Jatim untuk urusan pembaharuan pemikiran Islam, meninggal dalam usia 32 tahun (muntah darah). Dia sering memarahi saya, mengapa masih kecil sudah belajar filsafat/tasawuf dan mengapa sering pergi ke pondok salaf. Tapi, tahun depannya saya masih tetap ke pondok salaf Kaliwungu, 25 km sebelah barat Semarang. Paman saya dan pakde saya juga meninggal muda. Penyebabnya juga sama: muntah darah. Muntah darah sebenarnya bukan penyebab, tapi begitulah orang di desa mengatakannya, karena tidak tahu bahwa semua itu berawal dari persoalan liver. Tapi, ada juga sedikit harapan bahwa saya bisa berumur panjang: Bapak saya meninggal dalam usia 93 tahun. Kakak tertua saya yang amat baik, Khosiyatun, yang juga ketua umum Aisyiah Kaltim, kini berumur hampir 70 tahun dan masih aktif mengajar di SD swasta di Samarinda. Entahlah, saya ikut yang mana. (bersambung)

Ganti Hati 02 - Tiga Jam Jelang Operasi Masih Ditawari ’Take Over’ Koran
27 Agustus 2007 Mudah-mudahan rencana operasi kali ini tidak gagal lagi. Yu Shi Gan Xian Sheng (nama saya di Tiongkok), besok mendapat giliran operasi. Itu kata seorang dokter di rumah sakit ini pada Minggu 5 Agustus 2007 kepada saya. Dia memakai istilah “mudah-mudahan tidak gagal lagi” karena memang sudah beberapa kali saya diberi tahu dapat giliran operasi, tapi selalu tertunda karena liver yang datang tidak cocok untuk mengganti liver saya. Kali ini kelihatannya cocok. Golongan darahnya sama. Juga sudah dinilai akan memenuhi syarat untuk ditransplantasikan ke saya. Harapan bahwa kali ini tidak gagal lagi kian besar setelah sore harinya, petugas cukur datang ke kamar saya. Dia harus mencukur rambut yang ada di badan saya, sebagai salah satu syarat dilakukannya operasi besar. Tugasnya sore itu ringan sekali karena hanya perlu mencukur rambut di sekitar kemaluan. Saya tidak punya rambut di dada atau di paha.

3

by Moezhanks

kakak saya yang di Samarinda. sementara luka akibat sayatan yang panjang di situ belum menyatu kembali. Setengah jam kemudian dilakukan lagi hal yang sama. Pendek sekali. Bangun pagi 6 Agustus 2007. Saya tidak ingin ada kuman yang menempel di badan saya yang akan menjadi penyebab infeksi setelah operasi. Sore sebelum tidur. Kepada kakak saya yang di Samarinda. nanti sore saya harus operasi.” kata seorang perawat. adik saya yang di Madiun. Yakni. Saya juga membayangkan bagaimana kalau bulu dada itu cepat tumbuh. Itu kakak saya yang amat baik hatinya. seperti yang banyak dimiliki pasien dari negara-negara Arab. “Mbakyu.30 saya diberi tahu tentang kepastian operasi. Saya harus hati-hati menjelaskannya.Saya lalu membayangkan bagaimana dengan pasien yang punya bulu dada lebat dan cepat tumbuh kembali. saya lantas mandi lebih bersih daripada biasanya. Dia pernah menyerahkan seluruh gajinya sebagai guru SD untuk biaya sekolah dan hidup saya selama lebih dari lima tahun. Perut harus kosong sejak malamnya. dan beberapa pemegang saham. saya potong rambut. dan saya mengangkatnya sebagai kakak ketiga. Saya tidak berani menjelaskan apa adanya. Kalau tidak. kalau mau cuci rambut lebih gampang. kata saya dalam hati. Saya ingin agar setelah operasi kelak. ikut paman saya. Misalnya. saya tidak punya kekhawatiran apa-apa. Maka saat itu dianggap perut saya sudah bersih. sekitar pukul 09. Dia merasa kasihan saya hidup dengan Bapak yang tidak punya penghasilan tetap. “Bapak harus masuk ruang operasi pukul 14. masih ada satu adik lagi yang masih kecil. Itu sebagai tanggung jawabnya karena dia harus pergi meninggalkan kami tanpa ibu di Magetan untuk pergi ke Kaltim. “Operasi apa?” tanyanya. Sebentar dan sederhana sekali tugasnya untuk saya malam itu. Tapi. bagaimana dengan rambut yang telanjur dicukur? Apa saya akan minta ditempelkan lagi? Prioritas saya kemudian adalah menghubungi kantor. Kurang dari lima menit kemudian saya lari ke toilet karena semua isi perut seperti mau keluar. saya bertanya kepada perawat kira-kira operasinya jam berapa. Meski itulah malam menghadapi operasi besar. Di Kaltim dia harus mengajar di dua sekolah agar masih punya penghasilan untuk hidupnya sendiri.” tulis saya di sms. Di toilet saya lihat tak ada lagi benda apa pun yang keluar kecuali air bening yang dimasukkan tadi. Tentu ini kurang masuk akal. Setidaknya jam berapa harus berangkat ke ruang operasi. saya bicara langsung melalui telepon. Namun. Terutama Mr Guo yang sejak 10 tahun lalu mengangkat saya sebagai adik kelima.00. Perawat belum bisa menjawab. Beberapa sahabat penting saya di Tiongkok datang. 4 by Moezhanks .00 nanti. seluruh badan saya akan diolesi cairan antiinfeksi yang biasanya berwarna merah kecokelatan itu. Malam itu saya tidur nyenyak sebagaimana biasa. meski saya akan menjalani penggantian organ terbesar dalam tubuh seorang manusia. Pagi itu saya sudah tidak boleh makan apa pun. khawatir mengganggu pikirannya. Tidak punya perasaan galau sedikit pun. Karena itu. Kakak pertama adalah seorang pensiunan jenderal polisi yang juga tinggal di kota ini. Memang jadwal transplantasi besar seperti ini tidak gampang dibuat. “Saya akan operasi jam 14. bayangan-bayangan saya itu lenyap karena tiba-tiba tukang cukur menyatakan tugasnya sudah selesai. karena dalam proses operasi ada prosedur sterilisasi di badan saya. nyaris gundul. Apalagi. Alhamdulillah.00 perut saya masih harus dibesihkan dari kotoran dengan cara dimasuki cairan bening sekitar seperempat liter melalui pantat.” kata saya. Pukul 09.

saya masih sempat membalas sms itu: tidak perlu saya yang tanda tangan. di rumah sakit ini hampir tiap hari juga dilakukan operasi penggantian jantung. sampai ke anak perusahaan. Seorang teman lama menawarkan agar saya membeli tabloidnya yang mengalami kesulitan. Dalam waktu sekejap sms pemberitahuan operasi itu rupanya menyebar. Saya lantas memberi tahu siapa yang bisa menggantikan tanda tangan saya. Mulai Aceh sampai Jayapura. “Ya. dia kami jagokan sebagai tokoh keluarga. Setengah jam kemudian. Kalau perlu. SMS dari Bambang Sujiyono. Dia justru bertanya berat mana transplantasi ginjal dibanding liver. sangat dramatik. Dia tidak saya beri tahu betapa berisikonya penggantian liver ini. tabloid itu akan sukses kalau di tangan saya. Semua mengirimkan doa untuk keberhasilan operasi saya. “Transplantasi ginjal itu sekarang sudah dianggap biasa. Sekitar pukul 10.” tambah saya. (bersambung) 5 by Moezhanks . tukar dengan kematian saya. Lalu dia tidak emosional lagi. juga kirim sms. “Mas Bambang.” katanya datar. Liver paling sulit. Dia kaget saya kok tiba-tiba memberitahunya akan operasi besar. Tanpa tahu bahwa saya segera memasuki meja operasi yang bisa memakan waktu 12 jam dan entah apa hasilnya. seorang direksi saya di Jakarta menanyakan lewat sms apakah dokumen tender listrik yang disiapkan sudah saya tanda tangani.” kata saya. Saya balas tangisannya itu dengan tegar dan setengah guyon. Sesaat sebelum saya berganti baju dengan baju operasi. saya doakan semoga berhasil. “Juga operasi penggantian ginjal dan organ yang lain.” tulis saya. Dia bilang. seniman Surabaya itu.” tulisnya. Saat mahasiswa. Orangnya pintar dan karirnya bagus. “Allah.” jawab saya. Saya balas sms itu. Mbak Sofwati adalah kakak saya yang meninggal umur 32 tahun setelah muntah darah. Isinya: apakah saya berminat mengambil alih koran berbahasa Inggris yang terbit di Jakarta? Saya jawab: saya perlu informasi lebih lengkap. Juga beredar di antara teman-teman. Dia sendiri dalam keadaan sakit jantung. “Selamatkan nyawa rekan saya ini. Lalu petugas pembawa baju operasi saya datang membuka bungkusan sterilnya. dia jadi ketua Korps Himpunan Mahasiswa Islam Wanita Jatim. Ini saya ketahui dari sms yang segera mengalir ke telepon saya. Padahal. Bahkan.” Bambang memang orang yang sangat humanis. teman lama yang lain. dan dia saya minta kirim email. agar tidak sampai terjadi seperti yang mengakibatkan ibu dan Mbak Sofwati meninggal muda. agar dia menunggu keputusan saya beberapa minggu lagi. Dia menangis dalam SMS-nya.30 saya terima sms dari Jakarta.“Saya akan operasi.

Ini seperti juga Bung Karno yang dikecam telah menyelewengkan kemurnian Pancasila yang dia temukan sendiri.” Maksud saya. Teman-teman Jawa Pos. ketika Bung Karno meng-compress Pancasila yang panjang itu menjadi satu kata yang simpel dan pas: gotong royong. doanya 6 by Moezhanks . Mereka akan berdoa terus selama saya dioperasi. Setelah telepon siap. Tentu dengan sistem borongan. Tapi. telepon saya tutup. SMS juga masuk dari teman-teman Kristen dan Katolik. saya bertanya kepada yang hadir: apakah ada pertanyaan? “Saya siap menjawab pertanyaan apa pun. Mereka akan melakukan sembahyang dan doa bersama. saya sudah akan bisa bicara lagi. yang akan menjadi imam pada acara itu. waktu yang diperlukan tidak perlu teralu lama. Saya segera menelepon Misbahul Huda. yakni mendengungkan kata “hu” bersama-sama sebanyak 99. saya siap sekali.000 penganut Buddha di shi mian fo (Buddha empat wajah) di Kenjeran. entah siapa yang punya inisiatif. Agar. Kalau di-decompression. semua yang hadir di rumah saya bisa ikut mendengar kata-kata saya. “Kalimat syahadat kok dipadatkan. Siapa menyangka bahwa zikir pun sejak dulu sudah di-compress seperti itu. Tokoh Buddha Surabaya juga mengirim SMS dan memberitahukan bahwa hari itu berkumpul lebih 1.000 kali dirasa akan memakan waktu yang lama sekali. pertanda waktu operasi sudah akan tiba. Ada yang bertanya.00 Senin (6/8) siang itu saya sudah diminta melepas baju saya. Ibu Eric Samola. Saya Berdoa Pendek 28 Agustus 2007 PUKUL 12. berdasarkan pengalaman mereka. Kepala saya juga dipasangi topi kertas dengan warna yang sama. Ada lagi beberapa pertanyaan dan harapan yang disampaikan dengan penuh suasana prihatin. Mungkin.Banyak Yang Doakan Panjang-Panjang. Setelah tidak ada pertanyaan. Dari Madiun menceritakan bahwa keluarga tasawuf sathariyah lagi berkumpul untuk ber-zikir-pidak. Saya pun sudah siap mental segera menuju ruang operasi di lantai 13. dan dua hari memulihkan badan. Memang begitulah yang dikatakan dokter kepada saya. tiga hari di ICU (juga pasti belum bisa bicara). Saya minta suara teleponnya dibesarkan. lagi berkumpul di rumah saya di belakang Graha Pena Surabaya. dia minta dikabari kalau operasi sudah selesai.000 kali. kira-kira operasinya berlangsung berapa jam? Saya jawab sekitar 12 jam. sehingga perlu di-compress menjadi satu dengungan “hu” saja. Dirut Percetakan Temprina. Untuk membuat agar suasana mereka tidak sedih.” kata saya. Karena itu. Genap satu minggu. sistem compression zikir seperti inilah yang banyak dikecam aliran tasawuf lain dan terutama oleh kalangan syariah formal. SMS terus mengalir masuk. mengirimkan doa paling panjang. istri mendiang Pak Eric Samola. saya tutup pembicaraan saya dengan kata-kata. Yakni. Saya jawab. Mereka mengirimkan doa-doa yang saya ketahui diambilkan dari Alkitab. Diganti baju kertas biru muda. Artinya.” kata mereka. kalau harus mengucapkan kalimat yang begitu panjang sebanyak 99. “Sampai jumpa minggu depan. kira-kira saya perlu waktu satu minggu untuk bisa bicara lagi dengan teman-teman itu: satu hari operasi (pasti saya tidak bisa bicara). kata “hu” itu akan menjadi kalimat panjang: aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah. Tapi. kalau yang mengucapkan lebih banyak orang. Dengungan “hu” adalah hasil compression (untuk meminjam istilah software komputer) dari kalimat syahadat. dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusam Allah. Kalau tidak.Ganti Hati 03 . Salah seorang di antaranya bertanya apakah saya dalam kondisi siap. saya pikir. yang dulu punya inisiatif mengambil alih Jawa Pos dari keluarga The Chung Shen. SMS masih terus mengalir masuk.

dia terlihat mengepalkan tangan ke arah saya. Anak laki-laki saya sibuk memotret. panah naik menyala. Robert Lai adalah orang yang rajin berpesan kepada siapa pun. Sebenarnya saya bisa berjalan sendiri ke ruang operasi. dia akhirnya berteriak: “jia you!” tiga kali. Saudara angkat saya. Lift terbuka. memaksa bicara untuk memberi dorongan semangat agar saya kuat memasuki ruang operasi. Mereka melakukan doa berdasar kepercayaan mereka untuk keberhasilan operasi saya. Pukul 14. Gedung rumah sakit ini memang terdiri atas dua tower. Dua lift ukuran normal. Ada lima lift di situ. memegangi tangan saya. kereta brankar sudah datang dengan beberapa orang yang berbaju biru muda. “You” artinya bensin. Tapi. *** Kereta didorong amat cepat. mengirimkan doa panjang yang biasa diucapkan Sai Baba di India sana. agar saat mengantar saya ke lantai 13 nanti. Rupanya saya harus segera tiba di ruang operasi. Istri saya terus komat-kamit. rupanya. “jia you” dalam bahasa Mandarin berarti “semangatlah!” . yang rupanya ikut makan siang. Sambil menahan tangis. Saya berpesan kepada istri agar jangan lupa memberi tahu mereka nanti. “Jia” artinya tambah. Demikian juga penganut aliran Sai Baba.tentu tidak akan dihentikan. akuntan terkemuka Surabaya. 7 by Moezhanks . Tak sampai 5 menit saya sudah tiba di lobi lantai 11. dia lagi makan siang dengan para pengusaha teman saya di Hotel Shangri-La Surabaya. peraturan tidak membolehkannya. saudara angkat saya. di depan lift yang akan membawa saya ke lantai 13. Alim Markus juga pernah tiba-tiba sakit yang amat membahayakan hidupnya. Setelah itu semua harus melepaskan tangan dari tubuh saya. tapi hanya bisa sampai di pintu tertentu. Saya harus segera berbaring di kereta itu. Tapi. Itulah petugas ruang operasi. karena sedikit agak terlambat dari jadwal. saya beri tahu bahwa saya sudah tidak punya waktu bicara. Saya tidak bisa lagi melihat istri. telepon minta bicara. Juga jangan ada yang mengeluarkan air mata. Mr Guo dan sahabat karib saya Robert Lai dari Singapura. Badan saya sangat sehat. jangan ada yang menangis. Tempat ibadah itu memang saya yang meresmikan beberapa tahun lalu. Ketika melewati kamar pasien dari Jepang. harus menyeberang ke gedung sebelah. Tapi. Lalu pintu ditutup. Kereta pun didorong keluar dari ruang saya di lantai 11 untuk dibawa ke lift naik ke lantai 13. Juga mata Robert Lai. dan Robert Lai mengantar ke lantai 13. bahwa siang itu 200-an tokohnya berkumpul di Pujon. anak. Lalu. Pak Alim Markus. Zoom! Tibalah saya di lantai 13. Teman-teman dari penganut aliran kebatinan Sapta Dharma juga mengirim SMS. tiga lift ukuran besar untuk mengangkut kereta pasien. Saudara Guo. Saya sering mengatakan padanya. tanda ikut memberi semangat. Saya sudah di atas kereta yang siap berangkat ke ruang operasi.00 kurang 15 menit. Malang. anak. semangatnya untuk sembuh luar biasa. Ternyata. saya lihat dia sendiri ternyata terisak-isak ketika melepas saya untuk dibawa petugas ke tempat yang dia tidak bisa lagi menyertai saya. Mata istri saya kelihatan sembap. Pak Mustofa. Saya amati lorong-lorong apa saja yang dilewati kereta ini. Rupanya berdoa dengan serius. tombol 13 dipencet. Istri. Tapi. Tinggal saya dan beberapa petugas yang terus mendorong kereta itu ke ruang operasi. semangatnya itulah yang ikut mendorong saya punya semangat yang sama. Oh. dan Robert Lai. Saat saya sudah berbaring di kereta.

Begitu masuk. sambil menunggu kedatangan saya. secara khusus maupun secara tangis-menangis. mata.Sudah Tiga Jam Dimatikan. Tuhan punya sistem file-Nya sendiri. beberapa petugas 8 by Moezhanks . saya memutuskan tidak akan banyak-banyak mengajukan doa.masing-masing berlantai 15. ada lorong untuk menyeberang dari gedung kiri ke gedung kanan. Ruangnya sangat bersih. Saya tidak mau ada kesan bahwa saya sombong kepada Tuhan. saya juga tahu bahwa sistem file di kerajaan Tuhan tidak membedakan doa yang dikirim secara biasa. entah seperti apa. Kalau sudah dalam posisi sulit saja dia merengek-rengek setengah mati. Mulai ganti ginjal. Belakangan saya tahu judul lagu tersebut adalah Mei Fei Se Wu yang artinya “bulu mata menarinari”. Rumah sakit ini. Tapi. kinclong (karena didominasi stainless steel). Apalagi. Kalau saya harus hidup. Satu doa yang pendek dan mencerminkan kepribadian saya sendiri: Tuhan. Dalam perjalanan sepanjang lorong-lorong itu saya menyadari bahwa saya tadi belum sempat berdoa. Saya harus berdoa. Saya tidak mau Tuhan mengatakan kepada saya: untuk apa kamu saya beri otak kalau sedikit-sedikit masih juga minta kepada-Ku? Karena itu. yang terdengar adalah musik soft-rock berbahasa Mandarin yang lagi digemari anak muda sekarang. hidupkanlah! Selesai. Rupanya. Perdebatan di hati saya belum selesai. Apakah saya harus berdoa dengan biasa saja atau harus sampai menangis? Kalau doa itu saya sampaikan biasa-biasa saja. kalau harus saya ucapkan sampai menangis dan mengiba-iba. Di lantai 12 sampai 14.co. nanti akan lupa kalau sudah dalam keadaan gembira! Saya tidak ingin Tuhan memberikan penilaian seperti itu.id) (bersambung) Ganti Hati 04 . dalam waktu bersamaan. saya tertegun. segera saja saya terlibat perdebatan dengan diri saya sendiri: harus mengajukan permintaan apa kepada Tuhan? Bukankah manusia cenderung minta apa saja kepada Tuhan sehingga terkesan dia sendiri malas berusaha? Saya tidak mau Tuhan mengejek saya sebagai orang yang bisanya hanya berdoa. Kalau saya minta-minta terus kepada Tuhan. masih ada pertanyaan yang tiba-tiba muncul. Tapi. apakah Tuhan melihat saya sedang serius memintanya? Tapi. Padahal. jantung sampai ganti liver seperti saya. Suara musik itu cukup keras sehingga suasananya ingar-bingar. Plong. Tapi. yang dibawakan oleh penyanyi top Hongkong Zheng Xiu Wen. Belum Juga Di-”Garap” 29 Agustus 2007 Ketika memasuki ruang operasi. Waktu terus berjalan. Kalau saya harus mati. Kereta pun tiba di depan ruang operasi. Seluruh lantai 13 adalah ruang operasi. Akhirnya saya putuskan berdoa menurut keyakinan saya. Saya akan dioperasi di gedung kanan. dan modern. terserah engkau sajalah! Terjadilah yang harus terjadi. matikanlah. apakah Tuhan tidak akan menilai begini: lihat tuh Dahlan. Perasaan saya tiba-tiba lega sekali. bisa melakukan 30 operasi penggantian organ. (iskan@jawapos. kereta sudah hampir sampai di ruang operasi. kapan saya menggunakan pemberian Tuhan yang paling berharga itu: otak? Maka saya putuskan akan berdoa se-simple mungkin. Saya tidak mau serakah.

00. Robert ingin kamar saya lebih bersih lagi. di sebuah kursi yang kalau siang bisa untuk menambah kapasitas sofa. Di dapur kering ini ada microwave. Meja ini saya pakai untuk “kantor dalam pengasingan”. Saya ingin tahu apa saja yang ada di ruang itu agar. Beberapa perawat membicarakan saya. Melihat tangan saya sudah dipasangi selang selama 3 bulan lebih. water boiler. 9 by Moezhanks . Lalu.” jawab yang lain. Kami pasang komputer. Di ruang tamu ini ada satu set TV besar. Tapi. Harus bergeser sini dikit dan harus naik sedikit. kalau operasi berhasil. Rumah sakit juga sudah memberi kami buku panduan mengenai bagaimana menjaga agar tidak terkena virus. “Ini orang asing. Dari alat ke alat. Rumah sakit ini. tapi bisa berbahasa Mandarin. bukan seperti di sebuah tempat yang menyeramkan. dispenser air mineral. Robert yang sudah 11 bulan menemani saya ke mana pun pergi memutuskan untuk membersihkan kamar saya. Mereka merasa lega. “Dia orang Indonesia. lemari es besar. Beberapa perawat mengikuti suara musik itu dengan suara mulutnya tanpa kata-kata. terutama gedung baru ini. Penerjemahan ini sangat bermanfaat karena banyak sekali pasien dari negara-negara Arab dan Pakistan yang kemudian minta kopinya kepada kami. rice cooker. saya bisa bahasa Mandarin sedikit-sedikit. Buku itu berbahasa Mandarin.muda menyenangi lagu itu. perawat memutuskan tidak mau pakai itu. dan satu set dapur kering. Di ruang tamu ini ada kamar mandi dan toiletnya. ada satu ruang tamu yang besar di sebelahnya. kita harus pakai bahasa apa?” ujar salah seorang di antara mereka. Kamar saya di lantai 11 terdiri atas dua ruang. kami tidak makan di situ. dan keran panas dingin. Sudah diketahui bahwa virus pascaoperasi adalah pembunuh paling utama bagi pasien yang baru melakukan transplantasi organ. Saya memang dapat menggunakan internet kecepatan tinggi di ruang saya ini. dan internet. lalu kami terjemahkan ke dalam bahasa Inggris agar seluruh keluarga saya memahami isinya. Saya baru akan dihidupkan lagi. Maka saya sela pembicaraan mereka: Ya. karena memang pada tahap ini semua pekerjaan masih urusan perawat. Yakni. Tepatnya kamar 1102. tapi kalau malam bisa dipanjangkan menjadi tempat tidur biasa. istri. memang sudah sangat bersih. 18 jam kemudian. Tapi. Saya sudah dimatikan untuk persiapan operasi. dia minta lengan kanan saya dimasuki jarum untuk memasukkan beberapa zat kimia ke badan saya. satu set sofa. lalu memberikan beberapa perintah mengenai posisi badan saya. Istri saya tidur di ruang ini. Suasananya pun menjadi seperti di sebuah disko. Ada ruang tidur pasien dengan kamar mandi khusus dan ruang pakaian. Di kamar ini mereka menantikan perkembangan operasi saya. Hanya dalam beberapa saat. Sementara menunggu kabar. Lalu. Mata saya terus beredar dari dinding ke dinding. anak. saya bisa menuliskan deskripsinya secara baik. printer. saya tidak lagi mendengar suara musik itu. laptop. Tidak boleh ada virus atau sumber virus yang akan membahayakan pascaoperasi saya. Rupanya dia sangat menikmati lagu itu. Perawat yang lain mulai memasukkan cairan tertentu ke lengan saya. Musik soft-rock masih terus ingar-bingar. dan sahabat saya Robert Lai kembali ke kamar saya di lantai 11. lengan saya diperiksa seperti akan memasang selang. ada satu meja makan dari kaca besar untuk makan bersama. *** Sejak saya masuk ruang operasi pukul 14. Di belakang sofa. Perawat akan selalu mengabarkan apa pun yang terjadi di ruang operasi. nanti. Juga tidak mendengar apa-apa lagi. Dokter belum pada datang. Maka.

Di dinding-dinding kamar tamu yang kosong. 10 by Moezhanks .00 itu saya belum dioperasi. Tapi. Misalnya. Bukan saja untuk rapat. “Livernya baru akan datang sekitar pukul 17. Lalu.Dari kamar inilah saya bisa membaca semua laporan perusahaan. besok saya sudah tidak akan bisa lagi memanfaatkan hasil belajar saya ini. “Hah?” gumam Robert seperti tidak percaya. Semua kursi dan meja dicuci. saya memang memutuskan untuk meneruskan belajar bahasa Mandarin. Sampai sehari sebelum operasi saya masih “masuk kelas”. atau salah memilih huruf. semua peralatan yang ada di kamar ini dibersihkan. Terutama rapat dengan partner-partner usaha yang dari Tiongkok. saya harus panggil partner yang membangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Kalimantan untuk mencari jalan agar proyek selesai sesuai dengan jadwal. Toh. juga untuk saya pakai belajar bahasa Mandarin. seperti besok tidak akan terjadi apa-apa. baru 10 menit lagi livernya tiba?” tanya istri saya sambil melihat ke jam dinding. “Tiwas kita sudah tegang selama tiga jam.” katanya. Berarti sudah hampir tiga jam saya di ruang operasi dan sudah dalam keadaan dimatikan. (Bersambung) Ganti Hati 05 – Tunggu Operasi. di belakang meja besar saya pasangi white board. dan kertas-kertas yang selama ini di mana-mana diangkut ke apartemen. lantas saya pasangi asesori. Tiga orang guru secara bergantian mengajari saya bahasa Mandarin. Tempat tidur saya lebih-lebih lagi. krisis listrik di daerah itu sudah tidak ketulungan. Di dinding satunya saya pasang peta Indoensia.00. Ternyata belum diapa-apakan. Lalu. dan tak jarang juga mengadakan rapat. ya?) bahasa malaikat sendiri. koran-koran. disterilkan. Bukubuku. guru saya tinggal melihat sorotan proyektor. Saya mendatangkan guru dari IKIP di kota ini. dari kursi di sebelah saya. Dinding sebelah kanan saya tempeli peta Tiongkok yang besar sehingga mudah bagi saya untuk melihat negara ini secara keseluruhan. Malaikat toh akan bertanya kepada saya di akhirat sana dengan (eh. kalau operasi gagal. memberikan koreksi mana yang saya salah dalam menggunakan kata-kata. Ini saya pakai untuk latihan menulis cerita dalam bahasa dan tulisan Mandarin. Saya juga beli proyektor yang saya hubungkan dengan laptop yang software-nya Mandarin.00. perawat masuk memberikan kabar bahwa sampai menjelang pukul 17. Lantainya menjadi mengilap. Suasana seperti Siaran Langsung Sepak Bola 30 Agustus 2007 Setelah diberi tahu bahwa liver yang akan dipasangkan di dalam tubuh saya ternyata baru akan tiba sekitar pukul 17. Robert lantas menerjemahkan informasi dalam bahasa Mandarin itu kepada istri dan anak saya.” ujar perawat itu. Sebab. untuk apa ya saya susah-susah belajar begini. pakai bahasa apa. Sambil menunggu giliran operasi yang tidak menentu waktunya. Dua jam setelah operasi bersih-bersih itu. mengirim dan menjawab e-mail. Robert Lai terperangah. “Berarti. Ada juga sedikit tebersit perasaan. Lalu. sore dua jam. Bersih dan kinclong. Sehari empat jam: pagi dua jam. tapi belum juga di”garap”. ketika saya berada di ruang operasi.

agar warna-warni kembang apinya lebih jelas. dan saudara angkat Guo naik lift ke lantai 13.” kata seorang dokter. terlihat juga pemandangan sungai yang bersih yang dipakai untuk arena mainan anak-anak serta keluarga. Apalagi. siapa pun memang bisa melihat apa yang terjadi di luar sana. bahwa kalau ada suara “nguing…nguing…” masuk ke rumah sakit. Dia punya khayalan. Dari ruang tamu di kamar saya itu. Sejumlah dokter membawa barang berdarah dan meletakkannya di lantai. Kegagalan tersebut. Ketegangan selama menunggu berlangsungnya operasi digambarkan oleh Yoto. terdapat tambahan tiga lantai bulat. Yakni. Itu pertanda malam tersebut banyak pesta perkawinan. Dirut grup anak perusahaan Jawa Pos di Papua. Bangunannya dari luar mirip hotel. Lalu. “Go!” tambahnya. pintu lorong tempat saya dimasukkan menuju ruang operasi sore tadi terbuka. Maka. “Ini liver bapak yang sudah kami keluarkan. Tentu mereka tidak diberi tahu bahwa operasinya belum jadi dilaksanakan pada pukul 14. Dinding kamar tersebut terbuat dari kaca. Di seberang kamar itu terlihat gedung pertama rumah sakit yang tingginya 17 lantai.00.” kata Robert kepada istri dan anak saya dalam bahasa Melayu yang agak sulit dimengerti. mengudaranya kembang api berjam-jam di berbagai tempat. Mereka hanya diberi jawaban “Belum ada kabar baru dari kamar operasi”. Dari kamar itu juga terlihat simpang susun jalan layang yang melingkar-lingkar di depan rumah sakit. anak. Mereka menunggu di depan lift untuk menerima instruksi berikutnya. dari dalam kamar saya. jam-jam itu sibuk membalas SMS yang masuk. Di atas gedung itu. “Kita diminta naik ke lantai 13. Istri saya kali ini tidak memperhatikan semua itu. tapi dalam keadaan musuh selalu mengancam ke gawang kita! Semua itu saya nilai wajar karena operasi penggantian liver tidaklah gampang. Tak lama kemudian. Istri saya juga memperhatikan puncak gedung tersebut. dan kengeriannya. Robert. pastilah itu suara ambulans yang membawa liver.Dia lantas memperhatikan pintu masuk rumah sakit dari lantai 11. melihat keluar masuknya ambulans di pintu gerbang depan sana. Dari kamar tersebut. Kalau sudah ada pesta kembang api seperti itu. sering bisa melihat pemandangan indah. Dia mengira salah satu ambulans yang masuk pada jam-jam itu pastilah yang membawa liver yang akan menggantikan liver saya yang sudah rusak. Di situlah helikopter yang membawa pasien darurat atau helikopter yang membawa liver yang urgen mendarat. kegagalan transplantasi liver di Tiongkok yang dialami tokoh seperti Nurcholish Madjid mendapat pemberitaan yang sangat besar. kalau Sabtu dan Minggu malam. Istri saya ingin melihat masuknya ambulans yang mungkin membawa liver yang akan dipasangkan ke dalam tubuh saya. Anak lelaki saya.00. Kabar pertama dari ruang operasi masuk pukul 22. seperti ini: Kami tiap 10 menit SMS ke Mas Azrul (Posko di Tiongkok) atau ke Mbak Nany Wijaya (Posko di Surabaya). siapa tahu livernya dibawa dengan helikopter. seperti baru terjadi beberapa minggu lalu. Dia lebih memfokuskan perhatian ke bawah. kami biasanya mematikan lampu kamar. istri. Lamanya tidak ada “kabar baru” itu rupanya semakin membuat teman-teman di Indonesia kian tegang. Kami seperti sedang mendengarkan siaran langsung sepak bola lewat radio. 11 by Moezhanks . di bagian tengahnya. Semua seperti tidak sabar menanyakan perkembangan operasi saya. Lantai paling atas rata. Kepada kita akan ditunjukkan sesuatu. katanya.

“Kira-kira 6 jam lagi. Pintu ditutup lagi. apakah kankernya telanjur menyebar atau tidak. 4 cm. Di situlah berbagai 12 by Moezhanks .” kata dokter sambil jarinya menuding ke arah benda yang dimaksud. Dibenggangkannya irisan itu dengan jarinya yang masih terbungkus sarung karet. “Jepret. Tapi. sepertinya pemain kita anti menyerang terus. Diteruskan juga ke warga Sapto Dharmo di Pujon. Surabaya. berita berikutnya disampaikan. “Waktu bersujud itu. Bukan hanya mengenai apa saja yang ada di dalamnya. Saudara ketiga Guo pulang ke rumahnya. Itu berarti saya baru akan siuman sekitar pukul 07. masih harus menunggu hasil penelitian. dokter menjelaskan bagaimana keadaan liver saya yang sudah dikeluarkan itu. tentu mungkin masih akan terlihat anak-anak dan cucu-cucunya.Melihat “barang” tersebut. “Doa apa saja yang bisa saya ucapkan. Kita lantas seperti sedang menantikan terjadinya golgol ke gawang lawan. menurut hasil MRI sebelumnya. di dalam liver saya sudah ada tiga kanker yang besar (ukuran 6 cm. para dokter meneruskan lagi pekerjaannya.00. “Suasananya lantas seperti mendengar siaran radio pertandingan sepak bola. Keluarga di Samarinda. Keluaga saya sudah lebih tenang. Demikian pula dengan seluruh rekan yang memonitor perkembangan operasi dari Aceh sampai Papua. istri dan anak saya langsung bisa tidur. masih ada dua lagi calon kanker baru.” kata anak saya. “Seperti daging yang dipanggang kematangan. Liver itu sudah begitu rusaknya. “Liver ini kami bawa kembali. Suatu berita yang menggembirakan. dan Surabaya diberi tahu perkembangan itu. Saya tergolek menunggu siuman di ruang ICU di lantai 12. Robert kembali ke apartemen. “Itu lihat. Malam itu. Hanya boleh difoto. Lalu.” ujar dokter sambil kembali membungkusnya. Anda mengucapkan doa apa?” tanya saya beberapa hari kemudian. Madiun. bagaimana persisnya keadaan liver lama saya itu. “Pak Yu Shi Gan (baca: i-se-kan) akan segera dibawa ke ICU untuk menunggu siuman di sana. yang lebih penting.” anak saya memotret lagi bagian itu. di mana lawan sudah tidak memborbardir gawang kita lagi. Dan. Mengapa? Liver itu masih akan dimasukkan ke laboratorium untuk dianalisis lagi lebih teliti. Lalu. terlihat jelas bahwa wajah-wajah mereka sudah tidak tegang. dan 2 cm). Lalu. Dari foto mereka ketika mendengarkan penjelasan itu. Operasi sudah selesai. “Masya Allah. “Pukul berapa akan siuman?” kata Robert. menyayat-nyayatkan pisau di beberapa tempat untuk melihat dalamnya. Kabar selesainya operasi juga dikirim ke umat Buddha yang terus bersemedi di Kenjeran.00 keesokan harinya.” ungkapnya. Semua disampaikan anak saya kepada teman-teman yang menanyakan perkembangan operasi saya. Dan. Dokter lantas mengiris lagi bagian lain. menyelesaikan operasi terhadap saya.” jelas seorang dokter kepada Robert. Anak saya memotretnya dari berbagai sudut.” ujar dokter. Pukul 24. melainkan juga untuk melihat sudah ada berapa kanker yang muncul. dia bersujud di dekat seonggok daging berdarah itu. Sebab.” ujarnya. Mereka sudah bisa menghentikan peribadatannya. Liver lama tersebut memang tidak boleh dibawa. Sesaat kemudian. Kami baru akan diberi tahu sekitar seminggu kemudian. Ada kanker di dalamnya. Digulanggulingkannya. istri saya langsung lemas dan terduduk.” tulis Yoto di SMS-nya dari Papua. Bahkan sudah tersenyum-senyum. Bahkan.

barangkali juga tidak ada oksigen yang dialirkan ke hidung saya. “Saya hidup. mata tidak mau membuka. Tentu saya amat bersyukur. Tapi. tapi ingin sekali membuka mata sebentar agar bisa melihat sekeliling. Begitulah kalau sadar dan tidak sadar bercampur jadi satu. Saya bersyukur kepada Tuhan sekaligus hormat kepada ilmuwan. Saya yakin bahwa saya segera mengatasi persoalan sesak napas itu. Operasi tidak gagal. Di ruang perawatan khusus setelah menjalani penggantian liver. Mungkin juga yang terjadi sebenarnya tidak seperti itu. Sesaat kemudian. Kelihatanlah samar-samar bahwa saya sedang di ICU. Seperti orang yang lagi kekurangan oksigen. Tapi. tapi tetap saja tidak punya kemampuan membuka kelopak mata sendiri. kok sulit sekali ya? Maka. napas terasa sesak. Apalagi seperti saya. Perasaan saya saja bahwa saya sedang menggerak-gerakkan jari. tapi Tak Terucap 31 Agustus 2007 Begitu Sadar. Antara sadar dan tidak. Rasanya kok seperti mau mati karena kekurangan udara. seperti untuk sementara menggantikan nyawa saya. Berharap karena ternyata masih bisa bernapas. Teriak “Saya Hidup”. Tapi. 13 by Moezhanks . Napas bisa ditarik dengan normal seperti biasa. tapi sebenarnya tidak ada jari yang bergerak sama sekali. Agak berat memang. tapi Tak Terucap Suasana orang yang lagi mau siuman selalu saja begini: Mula-mula terdengar dulu pembicaraan orang-orang yang berada di sekitar kita. Saya yang sudah pengalaman beberapa kali dibius (meski dulu tidak sampai 18 jam seperti saat penggantian liver kali ini). Kesadaran ini datang tujuh jam setelah operasi. sadar bahwa saya ini sedang dalam proses dari tidak sadar ke sadar. (bersambung) Ganti Hati 06 – Begitu Sadar. Seperti orang yang ngantuknya luar biasa. yang baru saja dibius selama 18 jam. Saya hidup. mungkin perawat tidak melihat isyarat di tangan saya. saya tetap berusaha sekuat tenaga. putus asa karena jumlah oksigen kok seperti tidak segera cukup dan seperti mengancam kehidupan. rasa sesak itu berkurang. Ingin sekali mata melihat siapa saja yang bersuara itu. menjadi lega. syukur saya tidak sampai mengabaikan rasa hormat saya kepada mereka yang telah belajar keras di universitas dan menggunakan akalnya secara sungguh-sungguh hingga melahirkan ilmu pengetahuan yang sangat maju. Mata pun lama-lama bisa membuka. Suara-suara itu tambah lama tambah jelas. Maksud saya. Teriak “Saya Hidup”. setengah putus asa. saya coba menggerakkan jari-jari tangan saya seperti sedang memutar keran.jenis kabel dan selang menempel dan menancap di tubuh saya. ini permintaan agar keran oksigen diperbesar. Saya hidup. Lalu. Bahkan. tapi tak terucapkan. Perasaan lantas seperti setengah berharap. Tapi. sebenarnya. Saya lantas memberikan isyarat kepada perawat dengan tangan saya. Lama-lama.” komentar spontan yang muncul. Saya gerak-gerakkan terus jari-jari saya dengan gerakan seperti memutar keran.

” ujar perawat lebih lanjut. dan saluran infus seperti bertaut-tautan. Satu selang masuk lewat lubang yang sengaja dibuat di bagian depan leher. saya meraskan tidak ada kesulitan. Dalam praktik.” kata perawat. akan membahayakan paru-paru. Sebatuk-batuknya. sejak beberapa hari sebelum operasi. barulah saya sadar bahwa begitu banyak instrumen yang ada di sekitar tempat saya berbaring. Tapi. peritonium (selaput dinding perut). “Apakah saya terlalu meremehkan saat latihan?” tanya saya.” Selain itu. Yang lain untuk mengirimkan makanan langsung ke usus saya. selang-selang. masih ada empat selang lain yang menancap di leher saya. Sehingga perlu ada yang “mencarikan. Tiga lainnya masuk lewat pembuluh darah besar di leher kanan. Kedua. tenaga pun rupanya ikut hilang. Namun. seperti yang sudah diajarkan perawat. Akhirnya broll! Dahak yang amat banyak bisa keluar. Sehingga perlu dibantu. “Apa sih sulitnya batuk?” kata saya dalam hati. Kalau tidak. kedua selang itu dikenal dengan sebutan sonde. yakni lewat tenggorokan. Mengapa langsung ke usus? Sebab. ternyata saya sulit sekali lulus. Yang satu untuk membuang sisa makanan dari lambung saya. Saya berusaha terus membatukkan diri. perawat mengatakan bahwa itu normal saja. Kabel-kabel. saya harus berbuat seperti membatukkan diri keras-keras.Setelah senang karena masih hidup. Perawat menyatakan saya berhasil menjalani latihan dengan tingkat kelulusan summa cum laude. Agar “bantuan” itu bisa cepat sampai ke paru-paru. Dan karena belum bisa bernapas sendiri. maka diambillah jalan pintas. Satu selang yang dimasukkan lewat leher depan -di antara tulang belikat. Dalam dunia kedokteran. Untuk mengeluarkan lendir itu. Saya diberi napas bantuan karena sampai beberapa jam pascaoperasi. Waktu latihan. Dua selang kecil itu punya tugas sendiri-sendiri. Sebagian mungkin karena saat itu saya sudah tidak lagi punya tenaga sebaik saat latihan. karena pembuluh darah di esofagus (jalan makan yang menghubungkan mulut dengan lambung). Bahkan. latihan dan kenyataan ternyata sangat berbeda. “Uhuk! Uhuk!” Selesai. Napas terasa amat lega. saya kan belum bisa bernapas sendiri. Mula-mula rasa dada penuh dengan cairan lendir. saya belum bisa makan sendiri. Karena di lubang hidung masih ada dua selang yang dimasukkan sampai ke perut saya. perawat sudah melatih cara berbatuk yang bisa mengeluarkan dahak. Suara tat-tit-tat-tit dari mesin-mesin elektronik di sekitar saya mendominasi pendengaran saya. Setelah hampir dua hari tidak ada makanan apa pun yang masuk ke perut. “Bagi perokok lebih sulit lagi mengeluarkan dahak itu. Begitulah bunyi petunjuk yang saya baca sebelum operasi. Cara demikian juga saya ketahui dari buku petunjuk. Meski sudah berhasil mendapatkan dua jenis kelegaan (bisa bernapas normal dan bisa mengeluarkan dahak dalam jumlah besar). 14 by Moezhanks . Cairan itu harus segera bisa keluar sebagai dahak.gunanya untuk mengalirkan napas bantuan dan membersihkan kelebihan lendir di paru-paru (broncho toilet). Rasa-rasa tidak enak mulai muncul satu per satu. pertama. itu hanya untuk menyenangkan hati saya. Saya tahu. maka sisa lendir di paru-paru pun tidak bisa saya keluarkan sendiri dengan cara batuk atau berdahak. tapi masih banyak yang membuat badan saya sangat tidak nyaman. dan usus saya masih rawan pecah sehingga perlu dilindungi. Ketiga. saya juga takut akan bahaya dahak itu terhadap paru-paru. “Tidak. Sudah saya usahakan batuk semirip-miripnya batuk waktu summa cum laude. Ketika saya tanya mengapa begitu sulit saya mengeluarkan dahak itu. karena liver baru saya belum bisa “cari makan” sendiri. tapi tidak juga berhasil.

botol. sebenarnya. Sebab. tapi meninggal oleh penyebab yang amat sepele. Saya berusaha tidak memikirkan itu. salah satu ujung tri lumen bisa dihubungkan dengan alat monitor yang bisa menunjukkan perubahan kadar air di tubuh saya setiap menit. saya mencoba untuk tidak merasa terganggu.” Apa kejatuhan singkong di jalan raya bisa membuat orang sampai meninggal? “Lha singkongnya satu truk. Ketidaknyamanan lain yang saya rasakan saat itu adalah adanya alat pengukur tekanan darah yang dipasang di lengan kiri. konsentrasinya sangat tinggi sehingga bisa merusak dinding pembuluh yang dilewati. Infus jenis ini memang harus lewat pembuluh darah besar. Kabel itu juga terhubung dengan layar monitor. “Jangan sampai nanti meninggalnya justru hanya gara-gara kejatuhan singkong di jalan raya. Gunanya untuk mengalirkan semacam infus yang mengandung protein dan kalori tinggi. Ujung selang infus itu bercabang-cabang karena lima macam cairan dari botol yang berbeda harus mengalir ke tubuh saya lewat satu jarum tersebut. secara otomatis.Sedangkan tiga selang lainnya masuk lewat pembuluh darah besar. Dirut anak perusahan di Grup Kalimantan yang kini jadi direktur Jawa Pos. tidak boleh lewat pembuluh darah di tangan seperti biasanya orang diinfus. Humor ludrukan. Itu belum semuanya. Tapi. Sebab. Bahwa di tangan saya masih ada semacam pentil yang biasa dihubungkan dengan selang infus. truknya nabrak kita!” Humor khas orang Surabaya. dan kabel yang saling berhubungan di tubuh saya. Ini agar saya bisa menggambarkannya dengan baik 15 by Moezhanks . Angka-angka tekanan darah otomatis keluar di layar monitor. itu bukan disiapkan untuk cairan infus atau injeksi. Saya justru teringat humornya rekan Zainal Muttaqien. Melainkan untuk transfusi (tambah darah) bila diperlukan. Fungsi lain tri lumen adalah untuk memasukkan obat-obat injeksi yang harus lewat pembuluh darah dan mengambil sampel darah. Melihat keruwetan di sekitar tubuh saya. Ujung jari tangan dan kaki juga dijepit dengan alat yang dihubungkan dengan kabel ke layar yang lain lagi. Yang lebih istimewa dari tri lumen adalah bisa untuk memonitor kadar air dalam tubuh (central venus pressure=CVP). yang dalam istilah kedokteran disebut dengan tri lumen atau central IV (baca : ai vi) line. Lalu. saya ingin menghitung berapa banyak selang. itu bisa mengalihkan perhatian saya dari rasa ruwet dibeliti selang dan kabel. Lengan kanan saya juga sedang dipasang jarum untuk mengalirkan berbagai jenis infus. tak perlu lagi dengan menusuk-nusuk tangan saya. Alat itu secara otomatis akan mencengkeram lengan saya sangat kuat setiap setengah jam sekali. bila perawat ingin mengambil sampel darah atau menyuntikkan obat. Karena masih ada sejumlah alat dan kabel yang ditempelkan di dada kiri dan kanan untuk mengecek denyut jantung. Setidaknya untuk sementara. Dinding pembuluh darah utama yang leher lebih kuat sehingga cukup kuat untuk dilewati infus jenis ini meski sampai tiga bulan secara terus-menerus. Yakni mengenai susah payahnya seseorang untuk menyelamatkan hidup (mungkin seperti saya ini). *** Pagi tanggal 7 Agustus 2007 itu. Dengan begitu.

saya melihat anak lelaki dan istri saya mendekat. ya hanya dengan melihat jam di dinding sana itu. Namun. Saya segera melambaikan tangan ke arah istri dan anak saya. 16 by Moezhanks . kesadaran saya dan tenaga saya tidak terlalu komplet pagi itu. “Ji dian?” Jawabnya. Lalu. putra Kiai Faqih. Maka. Kelopak mata berat sekali. Oh. namun tidak bisa. Kalau saya paksakan omong. saya tanya lagi. Saya tidak mungkin bisa menoleh karena begitu banyak selang di leher. Baluran. Satu-satunya cara untuk bisa mengetahui situasi waktu. saya bertanya. Dan tahulah saya bahwa pandangan saya benar-benar gak sempurna. informasi bahwa malam itu santri Pondok Langitan berdoa bersama dipimpin langsung oleh Gus Dulloh dan Gus Maksum. Hanya secara timbul tenggelam saya melihat secara kabur bahwa itu seperti jam 11. Tidak mungkin.00-an. Orang yang baru siuman setelah dibius selama 18 jam tidak memiliki tingkat konsentrasi yang sempurna. sedang tidak menggunakan kacamata. Berarti sudah satu malam saya tidak sadar sama sekali. Sepanjang. sulit sekali untuk bisa melihat dengan jelas. Saya berusaha untuk tersenyum sebagai ganti kata-kata bahwa saya baik-baik saja. saya tidak tahu apakah terang di balik kepala itu karena dinding kaca atau karena ada lampu yang dipasang di situ. Ketika saya lihat ada perawat mendekat. saya ragu apakah itu terangnya matahari atau terangnya lampu? Saya berusaha melihat jauh ke dinding. bisa jadi tenggorokan saya akan terluka dan itu akan menyulitkan diri saya sendiri akhirnya. Jarum yang menunjuk jam 9 saya kira menunjuk angka 11. pandangan saya lamur. Kedua. Juga dari Panti Asuhan Yatim Piatu Zainudin. jam sembilan siang! Tahulah saya bahwa saat itu sudah pagi hari. ke arah jam besar dipasang. Kecuali orang asing yang memerlukan penerjemah. saya tidak sepenuhnya mengerti apakah ketika saya mulai sadar itu. Lama sekali saya menebak-nebak: siangkah ini? Malamkah ini? Memang suasana ruang ICU sangat terang. “Jam sembilan”. Tapi 11 malam atau 11 siang. Misalnya. Tapi. Tapi. Bahkan. Anak saya menceritakan apa yang sedang terjadi dan apa yang mereka lakukan malam sebelumnya. ya memang saya belum sepenuhnya punya kemampuan normal. Ingin sekali saya berusaha mengalihkan pandangan ke kiri atau ke kanan. ini jam besuk ke ICU. Memang hanya dua orang dari pihak keluarga yang boleh masuk ICU.kalau kelak harus menuliskannya untuk pembaca. Apalagi kalau harus mendongakkan kepala untuk melihat sumber terang di belakang kepala saya. Saya memang tidak bisa omong jelas karena banyaknya selang di tenggorokan. Tapi. hai shi shang wu?” Dia jawab. Pertama. saya sungguh ragu dengan kemampuan saya memperkirakan. (bersambung) Ganti Hati 07 – Tahan Tak Bergerak 24 Jam di ICU karena Terbiasa 12 Jam di Jawa Pos 1 September 2007 SATU jam setelah sadar. Juga menyampaikan daftar nama yang mengirim salam dan memberikan dukungan batin lewat SMS. maka ditambah satu penerjemah. “Wan shang. waktunya sudah siang atau masih malam.

Kali ini saya juga harus mampu memenuhi persyaratan untuk tidak bergerak selama 24 jam! Sejak kecil pun. Saya harus sekolah sejauh 6 km dengan jalan kaki. ternyata memang bisa. Ini operasi besaaar! Kalau setelah operasi ada rasa sakit. Lama-lama. cita-cita saya bukan itu. saya belum punya sepatu. saya berada di sungai. Maka. saya bisa beli sepatu (sepatu kets bekas yang ujung jempolnya sudah bolong dan bagian tumitnya sudah berserabut). Penatnya bukan main. bapak melarang saya untuk belajar naik sepeda. 30 hari sebulan. Karena itu. Saya berhasil menjalani itu dulu. kalau kali ini saya harus tidak bergerak selama 24 jam pun. Kadang. tidak bergerak selama delapan jam. Mengeluh hanya akan menambah penderitaan. saya sadar sepenuhnya memang begitulah pascaoperasi. ketika kelas 3 SMA. namun belok ke sungai di tengah jalan. bagaimana kita bisa menggantinya?” katanya. Saya juga merasa bersalah kepada kakak saya yang telah meninggalkan gajinya untuk saya dan adik saya. Dan. akibatnya bisa berupa penderitaan yang panjang. Maka. Tinggal saya sendiri lagi menghadapi ketidaknyamanan keadaan. saya nikmati saja proses ini. saya hemat benar pemakaiannya. tapi juga oleh kerasnya sikap bapak saya. saya sudah belajar tahan menderita. Saya cari ikan karena takut dengan guru bahasa Inggris. kecuali ilmu bumi yang mendapat angka enam. Bagian ini juga harus saya jalani dan saya lewati sebagaimana saya harus menjalani dan melewati proses pembiusan. Hanya tiap Senin sepatu itu saya pakai. mereka pamit. kalau lagi ada pelajaran bahasa Inggris hari itu. Saya sudah bertekad bagian ini pun harus bisa saya lewati dengan baik. saya kelihatan agak pinter di kelas.Istri saya diam saja seperti tertegun melihat ruwetnya jaringan kabel dan selang di sekitar badan saya. Yang berat adalah menahan diri untuk tidak menggerakkan badan sama sekali. saya belum bisa naik sepeda. Karena dalam hati saya tersiksa. pembukaan rongga dada. Saat mulai membangun Jawa Pos dulu. 360 hari setahun. Maka. jadilah saya inspektur upacara dengan sepatu di kaki. Sejak itu. Akibatnya. Rapor saya merah semua. Banggakah saya? Ternyata tidak. tiap pelajaran bahasa Inggris. Misalnya. Ini agar luka-luka akibat operasi dan penyambungan pembuluh darah di liver tidak terganggu. Juga sering ditunjuk sebagai inspektur upacara pada tiap Senin. Bukan saja oleh kemiskinan. saya merasa akan mampu melakukannya. Apalagi harus selama 24 jam. kalau bisa. tiap malam saya harus berdiri di ruang layout lebih dari 12 jam. Satu jam berangkat dan satu jam pulang. Mengapa? “Kalau sepeda itu rusak. tapi itulah bagian yang harus dijalani untuk sukses. Maka. Ini bukan operasi kecil. Saya anggap saja sebagai yoga yang panjang. Dua-duanya mengharuskan saya. Tiap malam. Bahwa akan amat penat. dan pemasangan liver baru. Atau sebagai bagian dari zikir-pidak di tarekat Sathariyah. pastilah demikian. kemudian sering jadi ketua berbagai kegiatan. Tiap hari ke sekolah dengan telanjang kaki. Kalau saya bergerak untuk tujuan mengenakkan badan sesaat. saya tidak naik dari kelas 1 ke kelas 2. Sampai kelas 2 SMA. bahkan menimbulkan luka. Bapak marah besar. ya itu sudah risikonya. Bahkan. Saya tidak mengeluh. Sepatu itu menimbulkan rasa tidak nyaman yang hebat. sampai kelas tiga SMA (aliyah). Tujuh hari seminggu. 17 by Moezhanks . saya tetap berangkat dari rumah. Tapi. Cita-cita saya adalah “bagaimana agar punya sepatu”. Saya pernah menjalani dua operasi sebelumnya. pembuangan liver lama. Tapi. Setelah memotret-motret secukupnya.

Perawat ICU memuji ketahanan saya. Sambil merasa memang saya bersalah. masuk ke kantong penampungnya. Begitulah. apalah beratnya. Ujung lain dari masing-masing selang itu masuk ke kantong plastik penampung cairan yang digantungkan di pinggir ranjang pasien. air kencing di kantong itu diukur dan dianalisis. uang itu ikut saya ambil untuk saya belikan dawet. Dan. dia tidak ingin kotak dan labelnya dibuang. saya tak perlu lagi merasa akan kencing. Semua cairan itu juga ditampung di kantong plastik. ada yang mungkin tidak sadar. tapi juga karena di kotak itu ternyata ayah menyimpan uang. Ujung selang yang satunya dimasukkan ke kandung kemih melalui lubang kemaluan. Puluhan tahun saya menderita. Bahkan. Secara teratur. Begitu penuhnya sehingga istrinya suatu saat bilang kepada saya. *** Sebenarnya. anak-anak pasah itu (alat untuk menghaluskan kayu) saya gandeng-gandeng.” Saya juga pernah dipukuli bapak dengan sapu. akan timbul bunyi “crek-crek”. Hanya dia jejer di lantai rumah. ayah menggosok-gosok alat-alat itu sampai tajam. tapi itulah satu-satunya tabungan ayah. tangannya berusaha mencabut selang-selang yang memenuhi tenggorokannya. saya hanya tersenyum ketika melihat anak saya mempunyai sepatu sampai lebih dari 300 dan semuanya branded alias bermerek. untuk dipandang setiap hari. Satu bunyi yang penting dalam memainkan wayang. Dan. saya menangis. Sebab. Ini gara-gara saya sering menggunakan alat-alat pertukangannya untuk ndalang. air kencing saya keluar dengan sendirinya melalui selang. juga lantaran ujung dua dari tiga selang-selang itu dimasukkan ke dalam rongga perut saya melalui pinggang kanan dan kiri. dalam posisi menumpuk. Kaki saya dalam posisi akan sering menyentuh kecrek tersebut sehingga bisa menimbulkan bunyi “crek-crek”. Kalau disentuh. Jumlah dan warnanya menunjukkan normal tidaknya ginjal dan berfungsi atau tidaknya organ penting itu. bapak malah menghentikan pukulannya. Kalau tidak lagi ada orang yang minta memperbaiki rumahnya. Mula-mula. Dia memang hobi mengoleksi sepatu. Selain karena ukurannya yang cukup besar. Sama dengan yang di ujung kemaluan. Kalau beli sepatu. kata saya dalam hati. 18 by Moezhanks . kelirnya terbuat dari sarung saya. Saya duduk mendalang di sebelahnya. kalau hanya akan ditambah 24 jam di ICU ini. Namun. selama di ICU. tangan saya tidak perlu diikat. begitu kandung kemih saya penuh. Dengan adanya selang yang di lubang kemaluan itu. Padahal. Bapak sangat sayang pada alat pertukangannya. selang yang di pinggang juga untuk mengeluarkan cairancairan yang tidak dibutuhkan tubuh saya. Saya diam dan menikmati pukulan itu. Wayangnya terbuat dari rumput. Karena itu. saya pikir tidak ada gunanya. Ternyata. Ayah bukan hanya marah karena alat-alat cari uangnya dipakai secara salah. Gamelannya adalah mulut beberapa teman sepermainan.Karena itu. Kecrek itulah. meski hanya cukup untuk beli dawet (minuman khas di desa). Dia juga tidak pakai sepatu itu. Banyak pasien yang tangan dan badannya harus diikat karena selalu berusaha untuk bergerak. kecreknya dari alat pertukangan ayah. Saya pilih menjalani proses tidak bergerak dengan kesadaran sendiri daripada harus diikat seperti itu. “Sampai jalan masuk ke kamar tinggal satu galengan (pematang). suatu hari. masih ada tiga selang lagi yang juga amat mengganggu. lalu secara teratur diukur dan dianalisis. Tapi. yang saya pasang di kotak kayu.

Dan akhirnya berhenti karena luka-luka bekas sayatan operasi itu sudah “kering”. Lukanya lebar. Jika ada sesuatu yang tidak terdaftar sebagai “penghuni rongga perut”. Kain yang tidak pernah dipertimbangkan bersih atau tidak karena ya baru disobek saat itu juga. (bersambung) 19 by Moezhanks . Selama saya di ICU. sakitnya. lalu kami bebat dengan kain sobekan dari kaus atau sarung. masih bisa saya rasakan. Yakni luka yang sengaja dibuat dengan pisau bedah di sepanjang dada dan perut saya untuk mengeluarkan liver yang lama dan memasukkan liver yang baru. maka selaput dinding rongga perut -yang dalam istilah kedokteran disebut dengan peritonium. protes. Liver dan empedu baru saya tidak termasuk dalam kategori “barang asing” yang ditolak karena kedua organ itu kan sebenarnya penghuni rongga perut juga. posisi ujung selangnya ada di dekat kedua organ yang baru ditransplantasikan itu. Sakit ini. Jumlahnya pun makin hari juga semakin sedikit. meski sakit sekali. Waktu kecil saya memang sering ikut jadi buruh tani. mencangkul di sawah. yang disiapkan untuk menanam padi.akan bereaksi. Saya tidak mengeluh kepada siapa pun. Sama dengan yang di pinggang kanan. Bersamaan dengan keluarnya sisa darah dari pinggang kanan. Cairan itu merupakan kelebihan cairan di rongga perut yang bercampur dengan sisa darah operasi yang tercecer dan berkeliaran. Kadang. Ini berarti semua ceceran darah sisa operasi sudah didorong keluar dari rongga perut. seperti ceceran darah. sel tumor atau kanker. Sehingga selangnya pun bisa dicabut. dan berdarah-darah. makin berbahaya karena peritonium bisa pecah dan orangnya meninggal. selang di pinggang kiri juga mengeluarkan cairan kuning kemerahan. Makin banyak cairan yang keluar. Kalau saya merasa kesakitan. Rongga perut memang harus bersih dari “barang asing”. bisa dirasakan. Tak lagi berdarah. Ini pertanda tak ada lagi kelebihan cairan di rongga perut saya. sekali lagi. ya mesti saja. Makin hari. dengan cara mengeluarkan lebih banyak cairan. saya tahu paling-paling hanya akan diberi obat penghilang rasa sakit. saya bertekad untuk tidak mengeluh. sepanjang sakitnya masih masuk akal. Tapi. Bahwa sebenarnya badan tidak enak. saya bilang tidak ada. cairan yang keluar dari pinggang kiri saya pun makin hari makin berkurang warna merahnya. tapi saya berusaha tabah menjalaninya. Tentu tidak ada obat. Yakni sakit akibat luka.Bedanya. saya sudah sering mengalami rasa sakit seperti itu. Sakitnya saat habis operasi ya kurang lebih seperti itu. Karena itu. Saya gak mau itu. Kadang masih bercampur lumpur juga. Hari-hari pertama di ICU itu memang harus saya lalui dengan amat menderita. Saat dokter bertanya apakah ada masalah. Tidak mungkin setelah perut ditutup tidak menimbulkan rasa sakit. Itu berarti satu racun lagi akan dimasukkan dalam tubuh saya. Biasanya hanya kami siram dengan minyak tanah. cairan itu makin sedikit keluarnya. Dan. painkiller. Apalagi seminggu sebelumnya saya baru saja baca bahwa Australia melarang penggunaan painkiller tertentu karena terbukti membuat pasien yang baru menjalani transplantasi liver meninggal dunia. selang yang di pinggang kanan berfungsi untuk mengeluarkan sisa darah yang mungkin masih menetes dari luka bekas sayatan operasi di liver dan kantong empedu baru saya. Tapi. memutih. selang di pinggang kanan mengeluarkan cairan pekat berwarna merah. cangkul meleset dan mengenai telapak kaki. ketika kecil. Yakni ketika telapak kaki terkena cangkul. bukankah memang harus demikian? Bukankah ini operasi yang sangat besar? Yang tidak mungkin tidak sakit? Tapi.

Perhatian saya menjadi tidak hanya kepada banyaknya selang yang menancap di sekujur tubuh. Sambil mata tetap terpejam pikiran saya jalan ke mana-mana. Agak lega sedikit. Yakni. Saya juga bisa melupakan rasa penat akibat tekad saya sendiri untuk tidak akan menggerakkan tubuh sedikit pun selama 24 jam. Baik luka di kulit akibat sayatan pisau atau luka di dalam akibat terjadinya penyambungan-penyambungan pembuluh darah. agar tidak berakibat buruk pada luka-luka operasi saya. Dasar bekas wartawan! Kata hati saya. Tidak tahan. Agak lebih sore lagi. Lalu dikemo. Saya juga suka memperhatikan kesibukan di ruang ICU itu. mata terus terpejam. Saya pernah mengalami rasa sakit yang “sampai nggak bisa dirasakan”. Ke Surabaya. tinggi. Kini dia kembali cantik dan sudah melupakan penderitaan kemonya. Saya minta mati saja. Rasanya saya tidak punya kekuatan untuk membuka kelopak mata saya sendiri. Tapi. ke Medan. masih ada dua selang yang menancap di leher yang dilubangi itu. Sore itu. atau umur paman-paman saya. Yakni sakit. Dalam hal ini saya merasa kalah dengan Sara. (Kelak akan saya jelaskan apa itu di-TACE). Saya bilang kepada Robert Lai yang menunggui saya di Singapura. Tapi. Saya akan cari jalan lain saja. Toh saya sudah berumur 55 tahun. Ini bukan untuk menunjukkan bahwa saya pernah hampir putus asa. Bengkulu. Lebih 20 by Moezhanks . dan diserang kanker. Pasti painkiller. Saya diberi obat tertentu. Pelan-pelan rasa tidak karu-karuannya berkurang. Karena tidak melulu tercurah ke rasa sakit. Tak terasa sore pun tiba. Memperhatikan dengan mata terpejam. Sampai-sampai saya tak bisa memisah-misahkan bentuk sakitnya itu terdiri atas berapa macam rasa sakit. Setelah dikemo itu. Sudah berbuat sesuatu yang lumayan. Yakni. Semua saya catat dalam ingatan saya. melainkan untuk menunjukkan kekaguman saya kepada orang-orang yang mampu menjalani kemo berkali-kali. dilepas. satu selang yang dimasukkan lewat leher kanan saya dicabut. dan entah berapa jenis rasa sakit menjadi satu. Juga sudah melebihi umur ibu saya. kalau dalam satu hari itu tidak juga reda. Sedang saya tidak tahan. mual. Saya pernah mengalami rasa sakit sampai tidak tahan lagi menanggungkannya. saya kemudian memutuskan tidak mau lagi dikemo. Ini baik. Memperhatikan apa saja yang terjadi di ICU itu membuat perhatian saya terbagi. melintir-lintir. mulas. Dia muda. Hanya. rasanya luar biasa tidak karuan. Atau lebih baik mati saja. saya pilih mati. salah satu manajer keuangan saya.Ganti Hati 08 – Sempat Berpikir Lebih Baik Mati daripada Melanjutkan Kemo 2 September 2007 KALAU saya sangat tahan menerima penderitaan selama di ICU. kata saya kepadanya. Bukan. Lalu kanker itu dicoba dibunuh dengan cara di-TACE. kembung. ketika setahun lalu harus menjalani kemoterapi. bukan saya jagoan dalam menerima rasa sakit. atau umur kakak saya. Dia harus menjalani kemo berpuluh kali hingga kepalanya gundul. selang yang dimasukkan ke rongga perut lewat lubang hidung juga dicabut. cantik. *** Hari pertama di ICU itu saya tidak merasa mengantuk. Tidak ada gunanya hidup dalam keadaan seperti itu. Waktu itu diketahui (lewat scanner) bahwa di liver saya sudah ada kankernya. Batam sampai ke Palu. Mereka jelas lebih hebat dari saya. Lalu dia lapor ke dokter.

di Bangkalan. koran ini berkembang sedemikian rupa hingga menjadi sebuah grup media yang membawahkan lebih dari 100 koran harian dan mingguan. Sebuah koran nasional dari daerah dengan oplah lebih dari 300 ribu eksemplar per hari. Rasanya. kalau dalam perjalanannya menghadapi batu besar. dituntun pun tidak bisa. pimpinan KH Ilyas Khotib.lega lagi. dan dicatat. waktu pertama punya sepeda (juga bekas) bahagianya melebihi saat punya Jaguar. kalau orang berpegang teguh pada cita-cita. Maka. Tiap-tiap pasien memerlukan begitu banyak obat. sehingga menjadi seperti Grup Jawa Pos sekarang. Khawatir berharap terlalu banyak. saya wujudkan dengan konstan. selang-selang itu satu per satu akan dilepas. Saya tidak mau bertanya jadwal melepaskan selang-selang sisanya. Orang akan merasa kecewa kalau keinginannya tidak tercapai. Bahkan. Ini belum termasuk koran-koran Grup Jawa Pos yang terbit di Jakarta dan di kota-kota lain di luar pulau. menurut pendapat saya. kalau bisa. Hidupnya lebih fleksibel. Terpaksalah saya menggendongnya. Baru setelah ternyata mudah sekali membuat koran yang bisa sebesar 50 persennya Surabaya Post. Bahkan. Dulu pun saya hanya ingin Jawa Pos menjadi koran yang oplahnya separonya dari Surabaya Post. Hanya. Jadi. Saya terus berharap. Semuanya baru saja menjalani penggantian organ tubuh. pabrik kertas. Tapi. delapan televisi lokal. Ini karena tiap tiga perawat mengurus lima pasien ICU.00 keesokan harinya. biar pun rombengan. Sepanjang malam mereka bekerja tanpa istirahat sedikit pun. lha kalau kepalanya yang pecah gimana? Cita-cita saya semula hanya ingin punya sepatu. Waktu itu. Padahal. Madura. Tapi. dan power plant. Hanya desain-desain kecil yang saya buat. Perawat shift malam itu mulai bekerja pukul 19. Iya kalau batunya yang menggelundung. Karena tidak punya cita-cita. Bukankah bahagia dan kecewa sebenarnya bisa kita ciptakan sendiri? Orang akan merasa bahagia kalau keinginannya tercapai. Malamnya saya juga tidak mengantuk. baik. ia akan membelok. 18 jam dibius. Keinginan itu meningkat terus secara bertahap. Saya punya prinsip semuanya sebaiknya mengalir saja seperti air. Malam itu saya menyaksikan kerja perawat di ruang ICU yang luar biasa sibuknya. kalau ada yang menganalisis bahwa saya punya grand design untuk membuat Jawa Pos seperti sekarang. ada yang ganti ginjal. tidaknya begitu kenyataannya. Dengan istikamah. untuk mencapai kebahagiaan sangatlah mudah: Jangan pasang keinginan terlalu tinggi. Karena akan membuat saya merasa lebih bahagia. diganti.00 dan baru akan pulang pukul 07. dalam istilah Pesantren Miftahul Ulum Al Islami. Itu menangnya orang yang tidak punya cita-cita tinggi sejak awal. ada yang ganti jantung. alirannya yang deras. begitu banyak alat deteksi yang terus-menerus harus dipantau. bertemu batu pun akan ditabrak. Tidak perlu lebih besar dari itu. sepeda itu pernah putus as rodanya sehingga tidak bisa dinaiki. kalah dengan air yang deras. 21 by Moezhanks . Menggendong dengan bahagia. Saya sudah biasa dengan sikap untuk tidak berharap banyak pada apa pun dan pada siapa pun. Kedungdung. meningkatlah keinginan untuk bisa sebesar Surabaya Post. Mungkin sudah kelamaan ditidurkan! Yakni. begitu banyak macam cairan infus. Ada yang ganti liver seperti saya. ini saya. Lalu ingin punya sepeda. Ini. Jangan menaruh harapan terlalu banyak. rasanya tidak mungkin mengejar Surabaya Post yang sudah merajalela kehebatannya. Setidaknya tidak akan membuat saya terlalu kecewa. Batu pun kadang bisa menggelundung.

yang juga tak kalah penting adalah dibuatkan invoice-nya untuk menagihkan kepada pasien. Inilah yang membuat organ di dalam tubuh saya menderita. Yakni. Saya tahu dia akan libur besoknya. Suara tat-tit-tat-tit mesin yang memonitor organ-organ tubuh saya terdengar kian jelas. Sudah pasti saya belum punya kemampuan bersujud. Namun. Saya memang bertekad untuk tidak akan mendemonstrasikan rasa syukur itu dalam bentuk yang ekstrem. Tidak ada yang lihat. “Anda luar biasa sekali. Tiba-tiba saya terlibat diskusi lagi dengan pikiran sendiri mengenai apa bentuk syukur yang harus saya lakukan. berarti rumah sakit akan menderita. pagi-pagi. waktu mulai membangun Jawa Pos dari sebuah koran yang hampir bangkrut. Sampai malam lagi.” kata saya. Ini penting sekali.” kata hati saya. Berbeda dengan muda saya dulu. Sudah lama minta untuk tidak diperlakukan seperti itu. Semakin banyak orang yang saya undang untuk syukuran. karena tidak dipedulikan. 360 hari setahun. Tidak libur. semakin saya “sudah merasa bersyukur”. Selama kirakira 15 tahun berturut-turut.” batin saya lagi. saya harus bekerja sepanjang malam. Sepi sekali ing pamrih. Besoknya tidak pakai libur. Kalau sudah tua. “Alhamdulillah.Dan. sepanjang siang lagi dan sepanjang malam lagi. Paginya. Di tengah malam yang sepi itu.” kata saya. sujud kan tidak harus dengan kepala? Kan bisa juga yang sujud hati? Maka saya sujud dengan hati saya. (bersambung) Ganti Hati 09 – Kesadaran Pulih. Sebab. Setiap ada kesempatan saya selalu memuji mereka. Karena dia pimpinan. apa pun yang di ICU terlihat jelas dan terekam baik dalam ingatan. “Untung Anda masih sangat muda. tibatiba pikiran saya jernih sekali. yang menyertainya banyak sekali.” jawabnya. Sudah lama komplain ke sana kemari. sudah harus bekerja sejak pagi lagi. Jadi masih lumayan. Sebentar tapi menenangkan batin. menderita kerugian. Hari kedua di ICU itu. 30 hari sebulan. “Terima kasih. Lalu minta diistirahatkan seterusnya. dengan sepanjang-panjangnya mengucapkan kalimat-kalimat tertentu atau bahkan sampai menitikkan air mata. harus dicatat berapa harganya dan lalu di-invoice-kan. bagi RS tentunya. Tujuh hari seminggu. “Ze me yang?” tanyanya 22 by Moezhanks . Puji Tuhan. Atau memotong sapi untuk acara besar-besaran. Besoknya sepanjang malam lagi. nggak mungkin bisa bekerja tanpa henti dengan konsentrasi tinggi sepanjang malam. Saya akhirnya berkesimpulan akan bersyukur dengan cara “memanfaatkan umur tambahan ini dengan seproduktif-produktifnya”. semakin saya “sudah merasa bersyukur banyak”. Saya ingat waktu itu. Rasanya malah lebih ikhlas. Bahkan. Misalnya. tapi Saya Tak Mampu Sujud Syukur 3 September 2007 SAYA memperoleh kesadaran penuh pada malam kedua di ICU. Begitu seterusnya. Saya khawatir. “Saya benar-benar masih hidup. kalau salah dalam meng-invoice-kan. Liver saya kalah. Maka setiap habis menggunakan bahan. Dia sebenarnya sudah lama menangis-nangis minta diperhatikan. semakin panjang kalimat yang saya ucapkan. Tapi. Satu malam suntuk bekerja tanpa istirahat. pimpinan rumah sakit yang juga kepala tim dokter yang menangani penggantian liver saya datang menjenguk. lantas ngambek seperti ini.

” kata saya kepada pimpinan rumah sakit itu.sambil memegangi tubuh saya menanyakan apa kabar dalam bahasa Mandarin. saya kira memang tidak perlu ada kata-kata apa pun. Tanggung jawab kepada keselamatan pasien. Bukan mengenai keluhan saya. tanpa mengunjungi saya pun dia sudah bisa baca dari laporan komputer mengenai perkembangan keadaan saya. sehingga cukup dipanggil nama depannya saja (Yu) yang dikira nama marga saya. Lalu dia mendekat ke arah perawat dan memegang-megang pundaknya. melakukan pekerjaan cepat. Di Tiongkok nama saya memang Yu Shi Gan (baca: i-se-kan). perawat-perawat rumah sakit ini luar biasa. Yakni. Toh. Jangan-jangan hasil scanner yang menyatakan liver saya sudah rusak dulu itu hanya karena alat scanner-nya “salah lihat”. Dan. apakah ada kesulitan yang berarti untuk melakukan operasi tadi malam? Apakah liver saya yang lama benar-benar telah rusak seperti yang diperkirakan? Atau sebenarnya masih baik. Misalnya. cermat dengan ketelitian yang tinggi di waktu malam yang sepi. bahwa sebenarnya saya tinggal punya kesempatan hidup enam bulan lagi? Karena kanker sudah menjalar ke beberapa bagian di dalam liver saya? Tapi. tanpa istirahat sedikit pun. pertanyaan itu terlalu banyak untuk diajukan pagi itu. Bahkan. Masih ada waku di lain hari. Terutama kebaikannya itu. yang akan membuat saya menyesal melakukan operasi? Soalnya. “Dokter. mungkin masih berminggu atau (kalau operasi ini gagal) masih akan berbulan lagi. Bukankah pagi itu dokter hanya mengunjungi saya untuk menunjukkan perhatian kepada saya? Untuk menunjukkan rasa persahabatan yang tulus? Sebab. Kerja yang luar biasa keras itu harus ada yang mencatatnya. ada juga sedikit kekhawatiran bahwa jangan-jangan setelah perut dibuka. melainkan soal-soal lain yang membuat saya penasaran. Tentu itu basa-basi. Sebenarnya banyak sekali yang ingin saya katakan. saya urung mengajukan pertanyaan-pertanyaan tadi. Tidak ada kata-kata yang diucapkannya. Rasanya kurang pas kalau saya sudah bertanya sejauh itu. Para perawat itu tidak hanya harus membuat laporan yang baik. Saya justru bergegas menunjuk ke perawat yang berdiri di arah kaki saya. saya masih akan berhari-hari di rumah sakit ini. tapi mereka sendiri juga harus dilaporkan. Saya memang benar-benar ingin memujinya. Saya tidak basa-basi memuji para perawat itu. Mr Yu memuji saya di depan pimpinan. Benarkah sudah ada kanker di liver lama saya? Benarkah tanpa operasi ini sebenarnya saya masih bisa hidup lima tahun lagi? Benarkah. seperti kata sebagian dokter.” kata perawat itu kepada saya setelah rombongan pimpinan berlalu. “Terima kasih. Bukankah memang ada kasus-kasus “salah diagnosis” semacam itu? Ada juga pertanyaan yang lebih penting yang ingin segera saya ketahui. Tadi malam mereka bekerja keras sepanjang malam. Yang membuat saya ingin segera tahu. Maka. ternyata liver saya baik-baik saja. “Hen hao. Para perawat itu bekerja dengan penuh tanggung jawab. Saya bilang bahwa saya baik-baik saja dan tidak punya keluhan apa pun. Kalau saja tidak teliti pun siapa yang tahu? 23 by Moezhanks . Juga terlalu dini. Tepukan tangan ke pundak anak buah seperti itu sudah melebihi pujian yang diucapkan dengan ribuan kata.” jawab saya. Saya malah berubah pikiran dengan cepat. Sang pimpinan tersenyum senang.

Dan Isna sudah di sini. Dan kerja kerasnya.100) pun harus dicatat rapi dan dibuatkan perhitungannya. dan seterusnya. Karena itu. “Bapak kan sudah aman. “Terima kasih Bapak telah memuji saya di depan pimpinan saya. Pagi ini saya kembali ke Surabaya. Tidak akan lupa ekspresi kegembiraannya. Saya tidak mungkin memberinya uang. Saya sendiri sejak awal tidak ingin dia kerja di koran. keduanya langsung ke USA. Bahkan. Saya hampir tidak pernah bicara soal perusahaan kepadanya. Saya mungkin juga tidak berada lagi di ICU karena pagi itu sudah bisa kembali ke kamar saya di lantai 11. jarum. Wajahnya kelihatan bersorak gembira. Juga belum tentu menghasilkan kekayaan. masuk SMA di sana. Saya kan dalam keadaan telanjang! Mana bisa membawa dompet? Apalagi sudah menjadi kebiasaan saya. Apalagi selang. Hari ini mereka dapat giliran libur. Saya perlu memuji perawat tersebut sebagai bentuk ucapan terima kasih saya yang tulus kepada mereka. membawa dompet pun belum tentu ada duitnya. tapi karena bapak angkatnya itu. Bukan karena saya. saya membiarkan proses manajemen berjalan apa adanya. Tiap hari dia ajak anak saya ke kantor korannya. Dia ajari jurnalistik. Setiap ada pemakaian bahan harus dicatat harganya dan dibuatkan invoice penagihannya. Ternyata. Sebelumnya. Anak-anak saya memang sudah terpisah sejak mereka masih amat remaja. John tidak punya anak laki-laki. Dia ajari fotografi. Begitu tamat SMP. Kali ini bersama adiknya. dengan cara tidak ceroboh mencatat harga-harga barang yang saya gunakan malam itu: obat. Rupanya. kami tidak pernah tahu di rumah siapa dia akan tinggal di AS. Jarum pun ada harganya. infus.” ujar Azrul. “DBL harus segera dimulai. Juga juragan koran.Mereka juga bekerja dengan penuh tanggung jawab kepada rumah sakit. Hari itu rupanya saya akan diserahterimakan.” tambahnya. Maka. Besok sudah akan menjalani kehidupan baru dengan pasien berikutnya lagi. plester. Bukan hanya penulisannya. Maka sejak tamat SMP saya kirim dia ke AS agar bisa punya pilihan 24 by Moezhanks . Yakni. Azrul Ananda. Jadilah Azrul anak yang mencintai koran. rumah sakit akan rugi. *** Tiba-tiba anak saya laki-laki. Saya mengangguk karena rasanya memang tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Perasaan saya baik-baik saja. Pemakaian barang seharga 1 yuan (sekitar Rp 1. Saya tidak akan lupa wajahnya. dan obat-obatan. DBL (DetEksi Basketball League) adalah liga basket SMP/SMA terbesar di Indonesia yang dia prakarsai. tisu. Isna Fitriana. Azrul dia anggap sebagai anak laki-lakinya. berarti tidak perlu ada hubungan yang khusus. Dia seorang master jurnalistik. Terlalu menyiksa. kapas secuil ada harganya. Saya perlu memujinya karena setelah hari itu saya tidak mungkin lagi bisa bertemu mereka. Azrul dapat orang tua angkat yang sama sekali tidak diperkirakan. Tidak akan lupa keterampilannya. Namanya John Mohn. Yakni. masuk ICU. baru selama sakit ini saya punya komunikasi yang intensif dengan anak-anak saya. tapi juga kemerdekaan dan filsafatnya. Seperti mendapatkan uang berjuta. Meski anak lelaki saya juga di Jawa Pos. selang. Karena dia bukan bawahan langsung. cairan infus. yang baru malam harinya tiba dari Surabaya. sarung tangan. Keberadaan dia di Jawa Pos malah membuat hubungan saya sebagai bapak dan anak menjadi seperti hubungan atasan dan bawahan. seorang bapak yang ternyata juga pemilik surat kabar daerah di Kansas. Ikut orang tua angkatnya yang didapat melalui proses undian. Kalau tidak.” kata perawat itu. saya ternyata jarang sekali berbicara dengan mereka. Terlalu berat. Azrul sampai tujuh tahun di sana.

dia balik bertanya: saya harus cari uang? Saya mau jurnalistik.” kata Isna kepada kakaknya. katanya. dan anak-anak saya. Oh. ya. Mereka pilih tinggal di rumah sendiri. Setidaknya agar bisa berbahasa Inggris. Saya masih punya pikiran jangan-jangan lubangnya masih menganga. Jangan Anggap Sudah Merdeka 4 September 2007 SEPANJANG sore sampai malam (hari kedua di ICU). kalau ada yang menganggap saya sejak awal menyiapkan anak saya untuk di Jawa Pos. “Ternyata saya punya anak. Lubang bekas selang-selang itu lantas ditutup dengan plester. Itu membuat pikiran saya lari ke mana-mana. hanya akan mau bekerja sama kalau tetap dibolehkan makan babi? Atau dia begitu baiknya sehingga akan ikut saja peran apa yang harus dia jalankan? 25 by Moezhanks . tapi seperti sampai dada. (bersambung) Ganti Hati 10 – Meski Keluar ICU. terjadilah. Dua hari kemudian lubang itu sudah menutup. Sepanjang malam saya tidak bisa tidur. Mereka sudah terbiasa mandiri. yang nama-nama hari dalam bahasa Inggris pun tidak hafal. Termasuk tidak mau lagi tinggal bersama kami di rumah. Juga belum bisa buang angin. Sepulang dari USA anak-anak saya praktis jadi dirinya sendiri-sendiri. ketika sudah berada di kamar biasa. Lalu jadi pengusaha yang mandiri. sungguh tidak demikian maunya. Jadi. Baru ketika saya sakit ini. Makanya perut seperti penuh sekali. perut saya mulai merasa kembung. siang itu dua selang yang masuk ke rongga dada lewat leher kanan saya juga dicabut. Menyikapi kedua penilaian itu saya pasrah saja. rupanya saya belum bisa buang air besar. atau lagi pasang kuda-kuda untuk saling bermusuhan? Apakah liver baru itu sedang tawar-menawar pekerjaan dengan organ lain? Apakah liver baru itu sedang mengajukan syarat-syarat kerja sama? Misalnya. Ini saya sadari setelah beberapa kali perawat menanyakan soal yang kelihatannya sepele itu. saya masih sering meraba-raba bekas lubang di leher itu. Tidak seperti bapaknya yang hanya tamatan SMA (aliyah). Lebih menggembirakan lagi. Sekarang ditambah dengan menantu-menantu dan seorang cucu. Kami pun sering dalam keadaan lengkap berada dalam satu ruangan: saya. istri saya. “Ternyata kita punya bapak. Sambil tertawa cekikikan. ada juga yang menilai bahwa saya harus bersyukur karena ada anak yang masih punya idealisme di bidang jurnalistik. Suasana yang sangat mengurangi rasa sakit saya selama di ICU. Saya berkhayal sedang apakah dia? Lagi saling berkenalan dengan organ saya yang lain.lebih baik. Sangat tidak enak. seorang cucu dan calon seorang cucu lagi. Yang terjadi. Justru ketika sakit ini saya seperti menemukan keluarga saya. Ketika hal ini saya kemukakan kepada Azrul. Kelak. mereka sering menemani saya. Tapi. Saya justru mau anak saya bekerja di luar negeri dulu. Penuhnya bukan hanya di perut. Termasuk ke liver baru saya. Eh.” gurau saya kepada keduanya. Apakah saya menyesal? Ya dan tidak.

Maka suara bom pun bergelegaran. Ternyata rasa sakitnya tidak seberat yang saya bayangkan. “Kencing pertama sampai ketiga nanti mungkin agak sakit. Rasa plongnya bukan main.Yang tak kalah penting adalah perbedaan umur yang mencolok antara liver baru dan organ saya yang lain. Urusan buang hajat pun selesai. kan tetap harus dicabut? Sakit tapi lega. saya harus merasakannya. Ternyata untuk urusan buang air besar ini ada perawat khusus. Agak sakit rasanya. Sekitar pukul 10. Kalau saja pagi itu saya belum punya “rasa”. hari ketiga di ICU.” kata perawat setelah berhasil mencabut selang itu. Lega tapi memang sakit. Bukan khayalan yang ilmiah. Tapi. akan dilakukan rekayasa. Kereta ini yang membawa saya turun ke lantai 11. Khayalan orang yang tidak bisa tidur saja. dengan organ baru di dalamnya. ternyata tidak. Apalagi. Mekanisme tubuh saya. Selang yang sudah 56 jam berada di lubang kemaluan saya dicabut. Semua dicatat oleh perawat. Lalu. apakah tidak akan mengajak balapan organ lain seperti jantung. Ya. Kata-kata itu terus melekat di ingatan saya. Semua berjalan natural. Paginya. Rupanya keluar atau tidak dari ICU. yang sudah lebih tua umurnya. yang bisa saja membuat badan saya berubah posisi dan menimbulkan bahaya bagi bekas-bekas operasi. Juga kabel-kabel yang dihubungkan ke ujungujung jari. tapi sakit yang menimbulkan kelegaan. selang yang masuk ke rongga perut melalui pinggang kanan juga dicabut. dan ginjal? Kalau organ-organ lain saya sudah berumur 56 tahun. apakah tidak akan terjadi konflik anak-bapak yang diakibatkan perbedaan zaman? Juga perbedaan gaya hidup? Apakah tidak akan terjadi adu balap? Apakah jantung tua saya kuat melayani balapan itu? Panjang sekali khayalan saya. 26 by Moezhanks . ke kamar lama saya yang sudah dibuat bersih sebersih-bersihnya. Ini untuk memudahkan memindah badan saya dari ranjang ICU. Untunglah saya tidak perlu melalui tahapan darurat itu. Alat untuk mengukur tekanan darah juga dilepas.00 saya sudah dipindahkan dari ranjang ICU ke kereta angkut. Kabel-kabel yang menempel di dada kanan dan dada kiri dicabut. Dia perawat yang berbaju biru. Saya panggil perawat. Dalam proses keluar dari ICU itulah saya baru tahu bahwa ruang ICU ini amat-amat panjangnya. sehingga sakit-sakit kelas seperti itu sudah saya anggap bukan sakit lagi. Tapi. Memang seluruh lantai 12 adalah ICU. Dari kereta itu secara otomatis menjulur sebuah papan besi menyekop ke bawah badan saya. Atau barangkali karena saya sudah merasakan yang paling sakit. Saya pun sebenarnya sudah membayangkan akan keluar ICU dalam keadaan seperti itu. salah satu ukuran yang menentukan adalah ada atau tidaknya “rasa” tadi. terjadi generation gap yang tajam? Bukankah liver baru itu belum sampai berumur 25 tahun. Perut saya akan dimasuki cairan lewat pantat. Satu jam kemudian persiapan mengeluarkan saya dari ICU dilakukan. Tiap pasien dapat satu kapling yang dibatasi dengan kaca terhadap pasien lain. Semuanya hilang sudah. Saya bersyukur. berjalan dengan normal. Rasanya juga sakit. Kereta ini dilengkapi sistem hidrolis. Tidak perlu ada orang yang mengangkat. Setelah itu tiba-tiba saya merasa seperti ingin buang angin banyak-banyak. karena saya toh harus kencing. barulah saya “rasa” itu muncul. paru. Badan saya terbawa di atasnya. Apakah tidak akan menimbulkan persoalan? Misalnya. Dialah yang memasang tadah kotoran dan membersihkannya. kalau saya ingat banyak pasien yang keluar ICU masih dengan selang yang menancap di leher. sakitnya seperti apa kan belum dirasakan. Tapi. Sampai-sampai timbul rasa takut setiap merasa akan kencing. Rumah sakit ini memang bisa melakukan transplantasi organ sebanyak 30 orang dalam waktu bersamaan. Pagi itu juga diputuskan saya boleh keluar dari ICU. Berarti ruang ICU-nya memang harus banyak sekali.

semua sudah ada di kepala. tekanan darah bisa naik. Itu membahayakan hasil operasi. obat sinkronisasi liver baru saya punya efek samping menaikkan tekanan darah. Lalu tinggal dua jam. (bersambung) 27 by Moezhanks . Contoh lainnya. apa yang mau saya tulis ini semuanya sudah lengkap dan memenuhi kepala saya. Pertama. Tapi. Terpaksa perutnya dibuka lagi. Lalu satu jam. Anda bukan dokter. Terutama di seminggu pertama keluar dari ICU. dia harus menunggu kondisi badannya membaik dulu. boleh membuka. Kalau ditambah dengan penuhnya bahan tulisan di otak saya. Saya sudah bertekad akan taat peraturan setaat-taatnya. serta membalas dan mengirim email. orang Jepang. Dia terjatuh dan harus masuk ICU lagi. Berbagai usaha sudah disiapkan. kali ini dia kecele. teman saya itu. melambaikan tangan. Tiap hari saya masih harus diinfus beberapa obat dan vitamin. Diadakan perbaikan lagi di dalamnya. keadaannya sudah sangat payah. Tapi. Masih sederet contoh tragedi seperti itu. termasuk akan dilakukan transplantasi liver lagi. Kalau tidak segera saya tuangkan di komputer. Pasien lain yang belum operasi menyambut kepulangan saya dari ICU. Perawat yang sudah tiga bulan lebih saya kenali dengan baik. *** “Meski sudah keluar ICU. tiap seri harus dibuka dengan kalimat apa dan ditutup dengan cara bagaimana. Sayangnya. Pasien dari Taiwan mengucapkan selamat atas kesuksesan operasi saya. Mereka segera membuat lubang baru di lengan saya untuk keperluan infus-infus berikutnya. Itu alasan Anda saja untuk diperbolehkan menulis. Lalu ke rumah sakit di negaranya sendiri untuk mengeluarkan “barang titipan sementara” itu. membaca. jangan Anda anggap sudah merdeka. Sebelah kamar saya. Memang sudah diizinkan pulang. Setelah tidak bisa diatasi di negaranya. Dia lantas menakut-nakuti saya dengan kisah banyaknya pasien yang sukses dalam menjalani operasi. Saya mendengarkan baik-baik nasihat itu. Kondisi yang ditunggu itulah yang tidak datang.Tiba di lantai 11. Kedua. para perawat menyambut. Termasuk yang nekat pulang meski baru satu bulan setelah operasi. Dari kamar yang lain. Saya mengakui Robert benar. saya tetap bermohon untuk dapat dispensasi melakukan dua pekerjaan itu. tapi gagal menjauhkan diri dari virus dan infeksi. Robert tahu saya sering maunya sendiri. Mula-mula tiga jam sehari. boleh mulai menulis cerita ini. Lalu tidak perlu infus sama sekali. Saya sendiri sudah sering memberikan ucapan selamat seperti itu kepada pasien yang baru menjalani operasi sebelum saya. Apa saja yang akan saya tulis.” ujar Robert Lai. Tapi. untuk mengambil “barang” yang masih dititipkan di dalam. Sebab. Sebab. Namun. Orang tersebut merasa sudah sangat normal. proses tersebut tidak mulus. terpaksa balik lagi ke rumah sakit ini. Seorang kenalan dari Pakistan terkena infeksi setelah tiga hari keluar ICU. ada pasien yang merasa kuat dan jalan sendiri ke kamar mandi. Yakni. Saya hanya minta kelonggaran dua saja. harus balik lagi ke Tiongkok tiga bulan kemudian. Kini saya diserahterimakan dari perawat ICU ke perawat ruang rawat inap. orang Arab Saudi. Dia terkena infeksi. Tapi.” ujar Robert Lai. Akhirnya dia meninggal dunia di rumah sakit ini bulan lalu. berapa seri tulisan itu nanti. apakah tekanan darah tidak akan semakin tinggi? “Itu logika Anda saja. mengucapkan salam. “Mana ada baru tujuh hari setelah transplantasi liver sudah memeras otak untuk menulis begitu panjang?” sergahnya.

Tepatnya bukan peringatan. Datangnya dari dalam diri saya sendiri. Kalau sedang tidak ada yang ditertawakan. kontraktor yang membangun gedung Jatim Expo dan asrama mahasiswa Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya. bisa diteruskan dengan turun dari tempat tidur dan mencoba berdiri. pendiri majalah TEMPO yang juga amat humoris. jahitan di perut yang panjaaaang ini masih basah. apakah liver baru saya tidak jatuh? Apakah sambungannya sudah kuat? Tali apakah yang dipakai untung menggantung liver baru itu? Setengah serius. Untuk memberikan gambaran bahwa saya sudah bisa bergurau lagi. Sekaligus memberi kabar baik mengenai kemajuan demi kemajuan yang saya peroleh.” tambahnya. Kalau tidak pusing. redaktur pelaksana Jawa Pos yang pendiam. Dan memang. “Hari ini saya sudah diharuskan mulai turun dari tempat tidur.” kata Margiono yang pandai mendalang itu.” tulisnya. Itu hari kelima setelah operasi atau hari kedua setelah keluar dari ICU. Jawaban dari beberapa teman berdatangan. “Kalau sampai jatuh di rumah Gong Li. Harus ada orang yang memegangi. Saya juga lega bahwa hati saya yang baru tenyata tidak mengubah selera humor saya. bagi orang Surabaya lucu sekali. Kekhawatiran-ngawur saya itu saya SMS-kan ke beberapa teman. tidak ada suara benda jatuh. Bahkan ingin tertawa lebar. tapi humornya sering cerdas. setengah bergurau. sudah lima hari saya terus dalam posisi berbaring. saya lupa bertanya kepada dokter apakah tali yang dipakai menggantung liver baru saya cukup kuat. Banyak sekali peringatan yang disampaikan kepada kami sebelum pertama saya turun dari tempat tidur. Masih mudah mencarinya.” Gong Li adalah artis yang paling terkenal dan konon juga paling cantik di antara artis Hongkong. Saya masih dapat peringatan tambahan. apa juga bersuara? 28 by Moezhanks . Tapi. menimpali Margiono. Mas Goenawan Mohamad. jangan-jangan kalau teralu banyak tertawa. masih di perut. kontan membalas. Padahal. Leak Kustiya. Tapi. saya sering mencoba menertawakan diri sendiri. Saya tertawa. Sekali lagi. Saya memang suka bergurau. jahitannya bisa mrotoli. Bisa tiba-tiba pusing dan jatuh. “Yang bahaya kalau jatuhnya di dekat pasar loak. Margiono. Dirut Rakyat Merdeka yang lucunya bukan main. Dimarahi Saudara di Desa 5 September 2007 JANGAN begini. Dan lagi. tapi pertanyaan. kalau toh jatuh. Tapi. Diam-diam saya sudah bisa menjadi juri lomba humor di hari kelima setelah operasi saya. jangan sampai langsung berdiri. saya harus menahan tawa. sih itu bukan jatuh. Kata njatuh. Jangan begitu. Kalau saya nanti berdiri. begitu saya berdiri. Saya justru takut hati baru itu jatuh di rumah Gong Li. Saya takut liver baru saya jatuh. Maklum. “Lebih berbahaya daripada jatuh di dekat pasar loak. Misalnya. Humor khas Surabaya datang dari Jamhadi. empat itulah yang saya pilih sebagai yang paling lucu. Juga lima hari tidak makan. Masih banyak SMS yang masuk di sekitar jatuh-menjatuh itu. Tidak sedikit kasus pasien jatuh saat pertama mencoba berdiri. Harus duduk lebih dulu. Meski ada cairan infus yang menggantikannya. mungkin tidak bisa dipahami di luar Surabaya. Tenang beberapa saat untuk lihat-lihat keadaan. Tapi njatuh. Bahkan sudah harus latihan berdiri.” tulis saya. Kalau dibuat tertawa masih sakit. Bergurau soal Liver. menambahkan: “Ha ha. “Ha ha… Kalaupun jatuh.Ganti Hati 11 – Mulai Berdiri. Tapi.” tulisnya.

Saya tidak akan menaikkan karir bawahan yang seperti itu. pasti Aku kabulkan’. Tidak harus selalu keinginan atasan yang berlaku. Hanya.. Kalau ada karyawan yang sedikit-sedikit mengeluhkan atasannya. Takeran. Sekali lagi. Ini karena enam kiai utama di pesantren kami (yang tidak lain paman-paman ibu saya) dibunuh orang Partai Komunis Indonesia (PKI). Itu tahun 1948. penulis buku Takdir Bisa Diubah yang laris itu. biasanya saya menasihatinya berdasar ilmu mantiq itu. Dia sudah terpaksa jadi kiai ketika masih amat remaja. Mas Dahlan sendiri guyon. Tidak pantas. Orang yang tidak pernah belajar ilmu mantiq bisa salah paham. “pada dasarnya adalah memerintah Tuhan”. Bukan hanya atasan yang bisa me-manage bawahan. seperti yang sudah saya utarakan di bab terdahulu.” ujar Agus. ini soal cara.” tambahnya. 29 by Moezhanks . Saya pernah belajar ilmu mantiq (logika) sewaktu di Madrasah Aliyah Pesantren Sabilil Muttaqien.” balas Agus segera. malas menggunakan pemberian Tuhan yang amat penting itu: otak. Saya harus mengenang guru saya itu. Misalnya. bawahan itu sebenarnya juga boleh me-manage atasan. sama dengan kita memerintah Tuhan agar memasukkan kita ke surga? Bukankah kata “masukkanlah” itu “kata perintah?”. Kata saya kepada karyawan yang suka mengeluhkan atasannya itu: “Kita ini bisa dan sering memerintah…. Kepada atasan. sedikit-sedikit berdoa seperti kita ini malas berusaha. masukkanlah saya ke surga. Lalu. Demikian juga guru-guru terkemuka lainnya. termasuk guru yang didatangkan pesantren kami dari Mesir.Keceriaan saya hari itu padam manakala masuk SMS dari keluarga saya di desa. tidak pernah takut mengatakan apa adanya. Jadi. misalnya. Saya lantas memanfaatkan ilmu mantiq itu dalam praktik manajemen. Bahkan. “Apakah ada perintah untuk memperbanyak doa?” tanya saya. 16 km dari Kota Magetan. Ada alasan lain mengapa saya memilih sumeleh kepada Tuhan daripada sedikit-sedikit minta sesuatu kepada-Nya. kalau memang cukup cerdas. ketika meletus peristiwa Madiun yang terkenal dalam sejarah itu. Takut orang salah paham. guru ilmu mantiq saya dulu. “Yang diperintahkan beberapa kali adalah perbanyaklah mengingat Tuhan (zikir) dan perbanyaklah berbuat baik.” tambahnya. Pesantren keluarga kami sendiri. Tentu sebelum mengucapkan kata-kata tersebut saya berpesan agar jangan membicarakan istilah saya ini dengan orang lain. Semua itu tinggal soal cara.” tulisnya. Dia marah. “Yang ada hanyalah ’Mintalah kepadaKu. saya SMS ke Ir Agus Mustofa. pesantren kami yang sangat maju dan terkemuka mengalami kemunduran. mengapa memerintah atasan yang masih bernama manusia saja tidak bisa?” Takut juga saya mengisi “titik-titik” itu. Padahal. Kalau seorang bawahan tidak mampu melakukan itu. Soal kemampuan kita memanajemeni atasan. Intinya: seorang bawahan. “Berdoa itu. harus bisa membuat atasannya memenuhi keinginannya. Bukankah. Dia marah karena seharusnya saya tidak berhenti berdoa minta keselamatan dan kesembuhan dari Tuhan. “Nyawa kok dibuat guyonan. saya tidak pernah membaca ada ajaran seperti itu. dikemas secara halus dalam wujud yang bernama doa? Mengapa kita selalu memerintah Tuhan untuk memasukkan kita ke surga? Mengapa tidak kita sendiri berusaha sekuat tenaga. doa ini: Ya Tuhan. dengan jalan banyak beribadah (termasuk kerja keras)? Ilmu inilah yang juga saya bawa ke praktik manajemen. Soalnya. kita menggunakan cara yang disebut berdoa. Magetan. menurut ilmu itu. lalu ditimbuni batu. KH Hamim Tafsir. Kepada Tuhan.” menurut ilmu mantiq. Tidak guyon seperti itu. Sejak itu. Mereka dimasukkan sumur hidup-hidup. berarti bukan bawahan yang cerdas. “Tidak ada perintah memperbanyak doa. “Kita di sini tidak henti-hentinya berdoa.

(Akan ada uraian tersendiri untuk ini di bab-bab berikutnya. Tapi.) Untuk menjaga jangan sampai terjadi infeksi itulah. Obat yang menyinkronkan liver baru dan organ-organ lain yang lama. Termasuk yang diterapkan kepada saya. Bukan lagi akibat badan menolak kedatangan liver baru. Bahkan. keinginan kita yang kita yakini benar bisa dipenuhi oleh atasan. Saya sudah bermohon kepadanya untuk jangan sekali-kali kangen akan daging babi. Demikian juga tidak lagi banyak staf yang mengeluhkan rekan kerjanya. Termasuk bab mengapa liver saya sakit. Dia mencari jalan beraneka cara untuk mencoba bisa me-manage atasannya dengan bijak.” Tapi. saya sering juga menggunakan gaya ini kalau hati sudah amat jengkel melihat kamar kecil yang kotor. kita bisa menggunakan gaya “minta tolong”. Kalau toh terjadi. ketika pasien terkena infeksi. Ini agar pimpinan juga menggunakan kamar kecil umum. Banyak manajer saya yang kemudian tidak mudah mengeluhkan “ketidakmampuan atasannya”. (bersambung) Ganti Hati 12 – Perawat Sekaligus Menjadi Polisi Penjaga Virus 6 September 2007 KELUAR dari ICU tidak berarti merdeka. kepada sesama kita minta tolong. terlalu banyak kasus kegagalan transplantasi liver terjadi justru pada minggu pertama setelah keluar dari ICU. monitoring dilakukan ketat. kepada bawahan pun kata “minta tolong” akan lebih efektif daripada kata “saya perintahkan” -meski atasan berhak memerintah bawahan. Untuk mengatasi penolakan itu. Mengapa tidak bisa ditanggulangi. Yakni. Yang penting. sejak masih dalam bentuk gejala. Infeksilah yang banyak mengakibatkan kegagalan. Mengeluh berarti tidak cerdas. Di kantor-kantor Grup Jawa Pos. Saya sendiri kini masih terus berpikir bagaimana saya bisa me-manage liver baru saya. saya memang melarang pembuatan kamar kecil khusus di ruang pimpinan. Apa sebabnya. Saya membayangkan dia memang pernah belajar kungfu. kalau dia lebih pintar dan mampu me-manage saya agar saya mau memenuhi keinginannya. Bukankah kepada sesama rekan staf. Kini ancaman kegagalan transplantasi liver bukan lagi seperti dulu. Padahal. Tentu tidak pas kalau kepada bawahan Anda mengatakan. tidak ada lagi mata pelajaran ilmu mantiq itu. itu baru persoalan. Karena itu. Ini karena ruang biasa tidak dilengkapi peralatan monitor yang serbaotomatis. dan kepada bawahan… teserahlah mau pakai yang mana. Ilmu mantiq ternyata banyak membantu saya dalam menjalankan praktik manajemen. bisa diketahui secara dini. kini sudah ada obat yang sangat modern. Dan saya dengar di kurikulum madrasah aliyah sekarang ini. Justru harus lebih hati-hati. tapi saya berharap liver baru saya itu belum pernah belajar ilmu mantiq untuk mengalahkan saya. “Saya berdoa kepadamu mudah-mudahan engkau mau membersihkan kamar kecil itu lebih bersih lagi. Bahkan. Jadi. kemungkinan infeksi pun kini sudah bisa diturunkan maksimal karena adanya cara baru. kepada atasan kita bermohon. kepada Tuhan kita berdoa.mungkin dengan gaya “bermohon atau minta petunjuk atau mengiba atau apa sajalah”. suhu badan diukur tiap dua 30 by Moezhanks . tapi juga agar bisa ikut mengontrol kebersihan kamar kecil umum. Bukan saja agar sesekali bertemu bawahan di forum itu.

” kata dokter. Bukan karena pankreas saya tidak berfungsi. Saya harus tahu persis apa-siapanya. semua orang yang masuk ruang saya harus taat akan peraturan ini. gula darah saya sudah normal. dan apa efek sampingnya. 31 by Moezhanks . USG tidak lagi dilakukan. Ini pertanda bahwa infeksi tidak terjadi di dalam tubuh saya. Tapi. Paru-paru bersih. Tekanan darah saya juga tinggi jika dibandingkan dengan sebelum operasi. Pertama. harus diukur dulu tekanan darah dan gula darah. dulunya saya amat cerewet kalau diberi obat. saya juga di USG. saya harus minum obat penyinkron liver baru. Siang sedikit.” ujar seorang suster. Misalnya. Selalu antara 35. antara 76 sampai 85. Termasuk untuk melihat apakah ada masalah pada ginjal saya.5 sampai 36. tidak perlu takut karena ada obatnya. Hasil ronsen itu juga menggembirakan. dokter meminta saya tidak waswas.5 (sebelum makan). Karena itu. Ini untuk melihat apakah ada genangan air atau dahak di paru-paru. Hasil USG tiap hari itu menunjukkan tidak ada tanda-tanda kegagalan penyambungan liver baru saya. Kebetulan.jam. Karena itu. Obat ini memang punya efek samping yang kuat. suhu badan saya sangat menggembirakan. Jangan sampai orang yang menjenguk menularkan virus yang sangat membahayakan. Tapi. Semua harus menggunakan masker penutup mulut dan hidung. gula darah saya 17 (sebelum makan). Biasa juga disebut obat antirejection. Obat ini berupa kapsul kecil-kecil tiga butir. pada hari berikutnya. Pada hari pertama. “Banyak juga yang sukses operasinya. Sewaktu saya kemukakan kekhawatiran saya akan tingginya gula darah itu. paru saya juga dironsen. Untuk dites kadar gulanya. Bahkan. Kedua. Demikian juga tekanan darah dan denyut jantung. Untuk itu pun. kali ini saya putuskan “tidak akan jadi dokter untuk diri saya sendiri”. Padahal. Tapi. Namanya afk. tapi tidak kuat jantungnya. sebelum makan. sampai malam.7 derajat Celsius.” ujar dokter. Karena itu. Pada hari pertama di luar ICU. Lega rasanya meski baru lega tahap satu. Selain obat anti penolakan itu. Bukan takut hamil. apa kegunaannya. Lalu. Tidak sekali pun dalam minggu pertama itu suhu badan saya naik di atas angka itu. diminum dua kali sehari. diukur lagi. Ujung jari saya di-”ceklik” beberapa kali sehari untuk mengeluarkan sedikit darah. ini juga karena pengaruh obat saja. kali ini saya tidak bertanya obat apa saja itu. Bukan karena fungsi pankreas yang jelek. “Kita akan terus memonitornya. Sekitar 4 sampai 6. tidak diperlukan lagi pemeriksaaan gula darah. sebelum makan. Setelah makan. karena saya memang bukan dokter. “Itu hanya karena efek obat. Yakni bisa membuat gula darah dan tekanan darah naik. saya disuntik dulu untuk menurunkannya. banyak juga yang logika saya ternyata salah. bayangan saya akan transplantasi liver sama sekali berbeda dengan kenyataan dalam praktiknya. melainkan karena afk tadi. selalu antara 80/120 sampai 85/130. Tapi. Tiap pagi. Juga untuk melihat apakah ada genangan air atau darah di dalam rongga perut saya. Kali ini saya serahkan saja sepenuhnya pada keahlian dokter. Pada hari ketiga. Sangat prima. saya juga harus minum beberapa obat lainnya. Maka. ada “polisi” keras yang menjaganya: Robert Lai. Sedangkan denyut jantung sangat normal. Anti penolakan terhadap liver baru. pada hari kelima. sering saya cek lagi kebenarannya lewat internet. Pankreas Anda sempurna. Apalagi keadaan badan saya terus membaik sehingga saya semakin percaya saja pada keputusan dokter. Memang. Bangun tidur bisa mencapai 90/140. tapi khawatir jangan-jangan ada yang tidak beres pada sambungan-sambungan pembuluh darah lama dan baru. Ini sangat-sangat tinggi.

Dia tahu persis gejala-gejala yang baik dan gejala-gejala yang kurang baik dalam perkembangan pasien. sama sekali tidak boleh. Salah atau tidak. Jasa mereka itu juga penting karena ternyata banyak juga pasien yang tidak ditunggui keluarganya. 32 by Moezhanks . menjaga kebersihan pakaian. Pak Dahlannya yang kamu pasangi masker. dia memutuskan menempatkan perawat khusus di kamar saya. Kalau sudah waktunya minum obat. ahli hukum dari Singapura lulusan Inggris itu. Semula Melinda dan suaminya hanya ingin menengok saya karena kebetulan lagi di Tiongkok. bisa bicara Mandarin dan beberapa bahasa daerah di Tiongkok. Untungnya. meski bahasa pertamanya adalah Inggris. Sudah sebelas bulan ini selalu menemani saya pergi ke mana pun. bahkan dengan logat yang sangat daerah.Mengingat indikator-indikator badan saya sudah begitu baik. handuk. Untuk meminumnya. Dia menjadi seperti perawat spesialis pasien ganti liver. Perawat itu disiplinnya bukan main. tidak boleh lupa. pengalaman para perawat khusus ini sangat banyak. dan punya keterampilan sebagai perawat. Selama 24 jam sehari. Yang tidak pakai masker. obat sinkronisasi itu dikurangi 30 persen. Obat ini merupakan obat terpenting dalam menjaga keberhasilan transplantasi liver. dia memang hanya bisa berbahasa Mandarin. pada hari keenam. Dia sudah hafal jenis-jenis obat yang disediakan dan jam-jam penggunaannya. dua kali sehari. Tidak boleh terlambat. Agar tidak lupa itulah. Jangan ditegur. tidak pernah ada dokter yang tidak disiplin. Mengingat begitu banyak pasien ganti liver yang pernah mereka rawat. dia ikut melakukan “operasi nonteknik” pada malam menjelang operasi. Orangnya umumnya sudah agak tua. Petunjuk itu memang sudah diberikan jauh-jauh hari sebelumnya sehingga saya juga tahu pentingnya kedisiplinan meminumnya. dia tegur. perawat yang khusus melayani kepentingan saya selama 24 jam. masuk ke ruang operasi tanpa satu pun ada anggota keluarga yang mengantarkannya. sabar. Tahu kalau saya segera operasi. Robert. but control is better. Juga tidak boleh dipercepat.” ujar Robert Lai. Bahkan. dia juga guru bahasa Mandarin. Bahkan. dia memaksa saya minum obat. Tidak kurang satu menit pun atau lebih satu menit pun. Kehadiran perawat khusus seperti itu amat penting karena belum tentu keluarga kita mengetahui detail mengenai pengobatan. harus tetap seperti itu. Robert memang menugaskan itu khusus kepadanya. perawat khusus tersebut yang melakukan. untuk mengukur tekanan darah. Karena itu.” pesan Robert kepadanya. Dia orang yang amat disiplin. Kini tinggal dua kapsul kecil sekali minum. Saya lihat beberapa orang Jepang. Dia yang juga ikut mengawasi orang keluar masuk kamar. Rumah sakit ini punya semacam unit usaha yang menyediakan jasa perawat khusus seperti itu. Bagaimana kalau lupa juga? Tetap. diciptakan sistem kontrol. dan kamar. Dan bagi saya. dan pekerjaan sejenis itu. Tapi. “Kalau ada dokter masuk yang tidak pakai masker. Dalil “manusia itu tempatnya salah dan lupa” tidak berlaku di sini. “Trust is good. dia memtuskan menunggu saya sampai beberapa hari setelah operasi. Yakni. ada petunjuk khusus mengenai waktunya. Terutama menjaga ketepatan waktu minum obat. Kalau sudah ditetapkan jam enam pagi dan malam. Mereka memang para pensiunan perawat yang masih ingin terus bekerja. air. suhu badan. Tepat jam enam. Dia akan melakukan cek ulang. Untuk mewujudkan prinsip yang dipegangnya itu. Apalagi lupa. tentu Anda tidak berani menegur. Berarti 24 jam saya bisa belajar Mandarin secara tidak langsung. apa pun harus kalah. Melinda dan suaminya sampai membuka sepatu ketika masuk ruang saya. Sebab. Perawat itu juga menjadi polisi penjaga virus. Juga memandikan saya. apakah obat yang diberikan lengkap atau tidak.

(Bersambung) Ganti Hati 13 – Boleh Tak Mengaku. bos Pakuwon Jati itu mengatakan.” Kenapa tidak tahu? “Karena tidak berpendidikan dan tidak cukup pengetahuan.” Saya tahu sepatunya amat mahal dan tentu juga amat bersih.Ketika saya beri tahu tidak perlulah masuk kamar sampai copot sepatu. “Saya tidak mau dituduh sebagai pembunuh Pak Dahlan.” tambahnya.” Mengapa liver saya bisa sirosis? “Karena saya mengidap virus hepatitis B. virus yang semula tidur saja di dalam liver punya kesempatan melakukan aksinya tanpa perlawanan yang berarti dari badan saya yang sedang lemah. mengeras. Juga karena negara waktu itu masih sangat miskin dan pemerintah sibuk mengurus politik atau rebutan posisi. Saat badan lemah. dan rusak.” Mengapa sering lelah? “Masak itu ditanyakan.” 33 by Moezhanks . Virus itu menjadi aktif dan merusak liver karena kondisi badan saya sering sangat lelah. 25 Juta Orang Menghadapi seperti Saya 7 September 2007 MENGAPA saya harus menjalani transplantasi liver? “Karena sudah ada kanker di liver saya dan sudah mulai menyebar ke beberapa tempat meski semuanya masih di dalam liver.” Mengapa ada kanker di liver saya? “Karena liver saya sudah tidak normal.” katanya. “Dia lao da saya. “Kamar ini harus lebih bersih daripada sepatu saya.” Kenapa badan saya tidak kebal? “Karena saya tidak pernah menjalani vaksinasi antihepatitis B saat saya masih bayi/kecil. Tapi. Bikin saya malu. sudah mengecil. Masak saya harus jadi pembunuh saudara tua saya. dia tetap copot sepatu.” Kenapa waktu itu tidak menjalani vaksinasi? “Karena tidak tahu. He… he…. yang gagal saya usir atau saya matikan. Istilahnya.” Kenapa ada virus hepatitis B di liver saya? “Karena liver saya tidak kebal ketika virus untuk pertama kalinya datang dan masuk ke dalam liver saya. sudah mencapai tahap terjadi sirosis.

*** Meski ilmu pengetahuan semakin maju dan keterampilan dokter juga kian sempurna. Artinya. seperti yang dilakukan Tiongkok saat ini. Kalau toh banyak yang mampu. kita tidak akan pernah tahu harus menunggu sampai berapa lama. Yang juga berarti terus berjalannya argometer biaya. Sebab. Keluarga saya. “Di Tiongkok sendiri kini terdapat 120 juta orang yang mengidap hepatitis B.” Kenapa miskin? “Karena tidak berpendidikan. Tiap negara kini cenderung melindungi rakyatnya sendiri sehingga. Penantian yang tidak jelas harus berapa lama. sekali lagi. tapi kalau sumber donor untuk liver makin terbatas. sekitar 25 juta orang sedang menghadapi masa depan seperti saya. Di Tiongkok.000. Tiap suntik harga obatnya sekitar Rp 75. itu soal lain.Soal pemerintah tidak perlu ditanyakan lebih lanjut. belum tentu semuanya mendapatkan kesempatan sebaik saya: bisa menjalani transplantasi liver. Ini sangat wajar karena persoalan seperti ini akan bisa jadi isu nasional di negara tersebut. bagaimana? Bukankah kesempatan untuk menjalani transplantasi di masa depan kian langka? Termasuk bagi yang mampu transplantasi sekalipun? Bukankah lantas antrean untuk dapat giliran transplan kian panjang? Dan kian lama? Saya sendiri perlu empat bulan menunggu. seluruh bayi sejak 1982 harus tiga kali divaksin antihepatitis. Dalam keadaan harus terus siap. direktur Asian Liver Centre di Stanford University AS. Padahal. sekitar 10 persen penduduk kita terkena hepatitis B. Maka. hampir semuanya. bahwa 40 persen di antara segala macam penularan virus terjadi dari ibu ke anaknya. Artinya. Tapi.” ujar Deputi Menteri Kesehatan Tiongkok Hao Yang saat melakukan kampanye vaksinasi hepatitis B pekan lalu seperti yang disiarkan China Daily 1 September barusan. liver yang ada harus diprioritaskan untuk penduduk Tiongkok sendiri. Soal jarang yang mengakui.” Kenapa tidak berpendidikan? “Karena miskin!” *** Itu bukan kata-kata juru penerang PKK yang setelah zaman reformasi tidak lagi berperan aktif. tapi akan sangat baik kalau dipakai menyadarkan ibu-ibu untuk memvaksinkan bayinya agar kebal terhadap virus hepatitis B. Seluruhnya ditanggung negara. Hao Yang lantas mengutip angka dari Samuel So. kenapa Anda tidak berpendidikan dan tidak cukup pengetahuan? “Karena miskin sekali. pencegahan sangat penting. petani atau buruh tani. juga tidak akan tahu masih harus berapa banyak lagi uang yang disiapkan. Padahal. Empat bulan harus tinggal di luar negeri dan dengan keluarga yang harus mondar-mandir tentu bukan hal yang sederhana. Kesempatan menjalani transplantasi juga kian kecil. 34 by Moezhanks . belum tentu operasinya bisa berhasil.

Kini sudah terasa gejalanya.” ujar dr Tong Ming Chuan. melarang sama sekali liver orang Singapura untuk orang non-Singapura. Bahkan. maka akan menjadi isu kesenjangan sosial. Mereka tentu akan semakin mampu dalam ikut “memperebutkan” donor yang kian terbatas. kelak. donor jantung harus satu jantung utuh. Tapi. mendonorkan organ tubuh? Apakah boleh organ dari orang yang baru meninggal diambil untuk menyelamatkan orang lain? Soal itu di masa depan tidak hanya akan jadi isu agama. Akan menjadi isu politik yang sensitif bagi Tiongkok yang lagi gencar-gencarnya memerangi kesenjangan sosial. Sebanyak 555 orang antre untuk transplan ginjal dan 16 orang antre liver.Dengan logikanya yang sederhana. Suatu celetukan yang mungkin juga mencerminkan rasa jenuh karena begitu lamanya menunggu. Artinya. “Tiga di antara empat orang yang dicoret dari daftar antre itu tak lama kemudian memang meninggal. Awal bulan ini. “Donor liver atau ginjal bisa berupa separo organ tersebut. maka di masa depan orang Indonesia tidak boleh menerima sumbangan organ dari warga negara lain. tidak kuat bayar. Tentu tidak sesederhana itu. Tiongkok sudah mengubahnya empat bulan lalu. kini. Kalau mereka tidak terlayani karena miskin. Di antara lima orang yang antre transplan jantung. orang kaya di Tiongkok bertambah-tambah dengan drastisnya. Istri saya lantas menyebut banyaknya orang Timur Tengah yang antre di rumah sakit ini. Tapi. Belum lagi. donor jantung lebih sulit. “Begini sulit ya mempertahankan satu nyawa. Yang terkena hepatitis B saja mencapai 120 juta orang. panjang antrean itu ratusan orang di Singapura.” ujar dr Tong sebagaimana disiarkan The Strait Times 2 September lalu.” katanya. Selama penantian. “Bukankah di sana banyak sumber liver? Dari mereka yang begitu banyak meninggal muda itu? Dan pasti lebih pas karena dari ras yang sama?” celetuk istri saya.” katanya. 35 by Moezhanks . Mengapa? “Sudah tidak layak antre. istri saya sering nyeletuk. Yakni apakah boleh. mendaftar sekarang baru akan dapat liver 10 tahun lagi. saah seorang direktur program jantungparu Singapura. Bisa jadi. Ada soal yang bagi orang Islam lebih prinsip. Isu yang akan lebih mendominasi masa depan dunia. Misalnya. diberitakan antrean transplantasi di Singapura sudah sampai 10 tahun. Kok di Timur Tengah itu tiap hari orang dengan gampang menghilangkan nyawa. akan ada aturan bahwa suatu negara tidak boleh mendonorkan organ kepada penduduk suatu negara yang negara itu atau penduduknya melarang melakukan donor organ. Sebab. Karena itu. Orang asing tidak akan gampang lagi mendapatkan donor dari penduduk setempat. Indonesia tidak mendukung digalakkannya donor organ atau penduduk Indonesia mengharamkan donor organ. Ini berarti pendonornya harus meninggal. Singapura sudah lebih dulu membuat aturan seperti itu. Dimulai dari munculnya kebijakan memprioritaskan penduduk negaranya sendiri. Alasan keadilan lantas memperkuatnya. secara Islam. Kini. di Singapura sendiri antara kesediaan liver dan yang memerlukannya jauh lebih banyak yang terakhir. tinggal satu yang masih memenuhi syarat dalam daftar. kondisi badannya sudah semakin buruk. itu tidak berarti bisa cepat dapat giliran. sudah sama dengan separo penduduk Indonesia. setiap saat selalu ada pasien antre yang dicoret dari daftar antre. Kesadaran seperti itu akan membuat banyak negara ikut mengubah peraturannya. Sebab. Begitu banyak orang Tiongkok sendiri yang memerlukan transplantasi. Tapi juga isu keadilan.

Saya jadi berpikir dan diskusi lagi dengan diri sendiri. Kini kekhususan itu tidak ada lagi. Jadi. Singapura akan menggunakan prinsip ushul-fikh itu. Apakah saya menyesali dilahirkan di keluarga miskin? Sama sekali tidak. Bahkan hampir di semua kampung saya. Kemiskinan rame-rame. Sayang donornya. Artinya. Kemiskinan kami adalah kemiskinan struktural. Singapura akan melangkah lebih jauh. Ini akan tidak bisa dimanfaatkan untuk amal jariyah berikutnya. jangan sampai ada yang menyangka bahwa kami sangat menderita.” katanya. Selama ini. siapa yang harus hidup dan siapa yang harus mati ternyata bisa ditentukan oleh dokter. Kalau selama ini organ hanya diambilkan hanya dari orang yang sudah menyatakan organnya boleh didonorkan. Begitu seriusnya problem defisit donor itu. Kini. Yakni saat-saat kematian batang otak. kalau peraturan lama yang dipakai menentukan tibanya saat kematian. Yang jelas. Kemiskinan yang juga dialami banyak orang di lingkungan saya. aturan menentukan saat kematian itu akan dibuat lebih awal. Di kapupaten saya. Saat kematian ternyata bisa diajukan atau dimundurkan walau hanya sesaat. kecuali yang keberatan saja.Di antara 555 orang itu terakhir. organ semua orang Singapura secara otomatis boleh diambil setelah dia mati. Mendingan diberikan kepada pasien yang kans berhasilnya lebih besar. Maka. Karena itu. Menjadi: hanya orang yang menyatakan keberatan saja. 36 by Moezhanks . Juga di negara saya. Kami miskin bukan karena harta habis untuk main judi atau untuk mabuk-mabukan atau untuk narkoba. yang 139 orang juga sudah tidak memenuhi syarat lagi untuk transplan. Peraturan baru sedang disiapkan. Tidak. Saya sendiri tidak paham istilah-istilahnya. “Peraturan ini juga akan berlaku bagi penduduknya yang beragama Islam. Di antara 139 itu pun. nanti akan dibalik. Khusus untuk yang antre liver saja. sebagaimana yang sudah disepakati di banyak negara maju. Ini seperti prinsip ushul-fikh (kaidah aturan): semua yang tidak dilarang berarti dibolehkan. Kami memang tidak punya harta. aturan transplan selalu dikecualikan bagi yang muslim. yang organnya tidak bisa jadi donor. Kalau toh dipaksakan. Ini terkait dengan keyakinan agama. saya menderita sakit liver. Kami bisa menikmatinya bersama-sama. Bagi yang paham ayat Al Kitab mengenai kematian (idza jaa-a ajal luhum…) tentu satu pekerjaan tersendiri untuk mendiskusikannya. Sudah terlalu terlambat untuk transplan. akan banyak sekali organ yang sudah terlanjur “ikut mati”. peluang berhasilnya tipis. (Bersambung) Ganti Hati 14 – Tersenyum ketika Dioperasi seperti Menikmati Kemiskinan 8 September 2007 JELASLAH bahwa karena kemiskinan dan kejumudan yang melatarbelakangi. Satu perdebatan yang amat teknismedis di sekitar saat kematian datang. tahun lalu enam orang meninggal karena perkembangan sakit livernya lebih cepat daripada waktu antrenya. sehingga Tiongkok juga akan mengubah peraturan di bidang kedokteran tentang “kapan seseorang dinyatakan meninggal”. Terutama apakah yang dimaksud dengan ajal di situ. Ini setelah awal Agustus kemarin diperdebatkan di forum para ahli transplantasi di Beijing. diperkirakan yang 22 orang sudah akan meninggal tidak lama lagi.

Kami juga harus slametan nyepasari. begitu si tamu mengatakan kedatangannya hari itu diutus sang kiai. Daun pembungkusnya harus daun pisang raja agar harumnya khas. Tentu. yakni boros untuk melestarikan adat-istiadat. Ini karena menurut tata bahasa Arab (nahwu). Pokoknya. kami hanya boleh makan sedikit kuahnya. wetonan. Juga harus ada cakar ayam untuk lambang doa kuat melangkah. Sampai tiba saatnya harus dipotong untuk dihaturkan kepada kiai kami yang sebenarnya sudah kaya. Lalu dipeliharanlah ayam tunggal itu. sunatan. Kiai kami adalah gurutarikat kami. Tapi. Agar lontong masak sempurna dan tidak basi sampai seminggu pun. menunduk. Keborosan kami adalah “keborosanreligius”. Dan meyakini bahwa kiainya. bisa memperebutkan daging ayam secuil. dan ngapurancang di depan teman sesama abdi dalem itu. Bukan gaplek. Tentu. rebowekasan.Kalau toh kami boros. KH Imam Mursyid Muttaqien. bapak kedatangan tamu yang dulu sesama abdi dalem di rumah kiai tersebut. dan seterusnya. sikap bapak otomatis berubah. rejeban. Tapi. Itulah saatnya kami. Bapak langsung menggunakan kata-kata kromo inggil (bahasa Jawa level tertinggi) dalam percakapan dengan temannya itu. Punjungan itu berbentuk makanan yang paling istimewa. semua aliran tasawuf punyai klaim yang sama untuk kiai mereka sendiri. Tapi. Itulah saatnya kami bisa makan nasi. tapi semua itu kami niati untuk ibadah -entah apakah seharusnya pakai selamatan segala. kalau nasibnya baik -yakni dapat ambeng yang baik-. megengan. dan seterusnya. Tidak ada ahl-dzikr lain di dunia ini kecuali kiai kami itu. Bapak sangat menjunjung tinggi adat itu. Setiap kupatan. harus ada sayur kluwih untuk menandakan bahwa kita ingin rezeki yang linuwih (berlebih). Dagingnya untuk punjungan. kami dilarang untuk masuk sampai ke dalam rumahnya. Juga “keborosan-yang-beradab”. Kiai kami bukan sembarang kiai. kami tidak mungkin mampu membeli ayam. itu pun jangan disalahkan. kupatan. itu juga kami perlukan sebagai wujud donga-katon (doa yang dipersonifikasikan). Di jalan. Bapak akan langsung bersila. 37 by Moezhanks . Ternyata. kami bisa mengira-ngira nikmatnya makanan yang akan kami antar itu karena kami sudah merasakan rasa kuahnya. Tahunya ya hanya tasawuf Sathariyah. Karena itu. Kami berjalan kaki sejauh 6 kilometer untuk sampai ke rumah sesepuh kami itu. Bahkan sudah kami nantikan sejak berhari-hari sebelumnya. Bapak langsung merasa sedang berhadapan dengan kiainya sendiri. Ibu membuat lontong yang untuk merebusnya saja diperlukan waktu 24 jam. “Ahl-dzikr hanya satu di dunia. Sayurnya harus lima macam. Lalu dititipkan ke tetangga untuk bersama-sama ditetaskan di situ. Kami hanya boleh mengantar sampai teras samping rumah pendapa itu. kami juga harus munjung ke kiai kami. Sesepuh kami. Kami sangat menyenangi selamatan. kata ahl di situ menunjukkan bentuk tunggal (ism mufrad). salah satunya harus opor ayam. bapak bicara seenaknya dan penuh guyon dengan tamunya. Terutama saat kami masih kecil. Sering ibu harus membeli dulu satu telur. Kami harus banyak keluar biaya untuk selamatan Lebaran. kurang hemat. Saya pernah bertugas mengantarkan punjungan yang aromanya sangat harum itu. Ibu sudah menyiapkan ayam itu sejak enam bulan sebelum kupatan. Meski kiai tersebut masih paman ibu saya sendiri. semua kami wujudkan dalam makanan seperti seolah-olah kami bisu. Bukan hanya sambal atau garam. Karena itu. kami hafal benar kapan akan ada mauludan atau megengan. Ibu pandai sekali bikin opor ayam. Satu bentuk selamatan di serambi masjid yang amat kami tunggu-tunggu. mitoni.” kata bapak saya. bapak saya tidak tahu itu. Itulah saatnya kami bisa makan telur. Guru yang oleh bapak dipercaya sebagai wasilah dalam term filsafat ahl-dzikr. Bapak adalah idola kami dalam bersikap tawadluk -hormat kepada sesepuh. Misalnya saja. adalah sang “ahl dzikr” nan tunggal. Tapi. mauludan.

bagian yang kecil untuk popok bayi. seperti juga orang kaya punya cara sendiri menikmati kekayaannya. Padahal. Kalau saya lagi lomba terjun ke sungai dari atas jembatan. Kalau sarung itu robek (biasa waktu dipancal kaki saat tidur kedinginan atau saat kena duri bambu saat mencuri tebu). masih bisa ditambal. waktu kecil. Banyak orang desa yang merasa kasihan kepada Tommy Soeharto yang akhirnya harus menderita. Juga cerita sufi tentang bagaimana orang sakti yang kalau lapar cukup mengganjal perutnya dengan batu. Kalau kami lagi cari sisa-sisa panen kedelai di sawah orang kaya. Kalau saya lagi harus mencuci celana. Sarung inilah pakaian yang. Kalau saya lagi ingin mendalang (waktu kecil saya suka sekali mendalang. jadilah dia pocongan. saya ikatkan kuat-kuat sarung itu di pinggang: jadilah dia pengganjal perut yang andal. sering juga orang miskin merasa kasihan kepada orang kaya. sarung itu saya bentangkan dengan tiang pendek di kiri kanannya: jadilah dia kelir. Apalagi suasananya sering diciptakan demikian. sarung kami bentangkan di atas kepala: jadilah dia layar. Kalau lagi kedinginan. fleksibelnya bukan main. Dia bisa jadi apa saja. Kalau saya lagi mencuci baju. sarung itu bisa saya kemulkan di bagian atas badan saya. Orang miskin punya jalan sendiri untuk menikmati kemiskinannya. yang direbus itu adalah batu. Karena itu. tapi saya masih punya satu sarung! Jangan remehkan kemampuan sarung ini. dengan wayang terbuat dari rumput dan gamelan dari mulut teman-teman). harus dijalani apa adanya. Kalau di tempat jahitan itu robek lagi. 38 by Moezhanks . Mereka tidak tahu bahwa Tommy masih kaya raya. Cerita yang demikian jadi kebanggaan. jadilah dia benda penting menghadap Tuhan. Kalau sembahyang. kesehatan. Mati pun dianggap. Masih bisa dirobekrobek: bagian yang besar bisa untuk sarung bantal. Atau bagaimana nabi hanya memakan kurma dua biji setelah seharian berpuasa. Padahal. harus diterima apa adanya. Kalau tambalannya pun sudah robek. Sakit bisa dinikmati. Kalau lagi mau nakut-nakuti anak kecil. Jangankan terkena kanker atau sirosis atau hepatitis. mencari rezeki. sarung itu bisa jadi bawahan. Kalau lagi musim angin dan kami ingin bermain-main dengan angin itu. orang kaya merasa iba kepada orang miskin. meski hanya satu potong kain. sarung itu masih bisa dijahit. jadilah dia selimut. fashion. sampai jadi alat memeras atau menakut-nakuti.Kami sungguh menikmati kemiskinan kami seperti menikmati khayalan mengenai lezatnya opor ayam yang disiapkan sejak enam bulan sebelumnya itu. Misalnya saja. alat hiburan. Saya belum menemukan bentuk pakaian lain yang fleksibelnya melebihi sarung. bagi orang miskin. Hidup. sarung itu bisa jadi karung. Miskin pun bisa dinikmati. Saya. kisah tentang bagaimana Khalifah Umar menemukan orang miskin yang anaknya menagis terus karena lapar. sarung itu belum akan pensiun. kalau memang sudah garisnya. ibunya pura-pura merebus sesuatu. Mulai jadi alat ibadah. Kalau perut lagi lapar sekali dan di rumah tidak ada makanan sama sekali. Untuk meredam tangis si anak. memang hanya punya satu celana pendek dan satu baju. saya ikat ujung sarung itu: jadilah dia semacam payung parasit. Lapar itu sering luar biasa nikmatnya. Kadang.

ketika untuk kali pertama dalam hidup saya memeriksakan darah. Itulah sedekah yang sudah sejak kecil diajarkan -dan yang dulu satu-satunya yang mampu kami lakukan. marilah kita sering tersenyum. kemungkinan penularannya juga tidak kecil. Bahwa keluarga saya banyak yang demikian. Maka saya harus periksa darah. (Bersambung) Ganti Hati 15 – Setelah Rutin Disuntik. saya boleh mencoba obat baru itu. Menyingkirkan duri dari tengah jalan pun sudah merupakan sedekah. Di Indonesia terutama sejak zaman Orde Baru. Kalau mau. Tidak ada mukjizat. Di Tiongkok sejak 1982. bukan keturunan atau gen. penelitian terhadap hepatitis intensif sekali di Tiongkok. Kisah sedekah yang populer juga terkait dengan kemiskinan. Maka. data terbaru menyebutkan hampir 10 persen penduduknya terkena virus hepatitis. tidak bisa diundur sekejap pun atau dimajukan sedikit pun” menjadi amat populer. Menyangka Hepatitis Sudah Beres 9 September 2007 SAYA menerima kehadiran virus hepatitis B di liver saya sebagai takdir. Saat itu juga saya langsung mengambil langkah. Karena namanya virus. Karena hidup seperti itu dilakukan sejak kecil. Tidak ada keajaiban di proses itu. Dia mendengar ada obat yang masih baru sama sekali. berebut lauk dari piring yang sama. Di Tiongkok. Dan. Konsultasi dengan salah satu dokter ahli penyakit dalam terbaik di Surabaya: Prof Mohamad Hassan (kini almarhum). Karena itu. *** Saya sendiri tahu kalau mengidap hepatitis B sejak sekitar 25 tahun lalu. Proses perkembangan itu lama atau cepat. persentasenya saya kira hampir sama. jangan ada harapan sirosis tidak akan jadi kanker. sejak kecil. Mau dioperasi besar pun saya tersenyum. Diketahuilah bahwa ada virus hepatitis B di liver saya. Namanya interveron. Yakni. Jadi. Di Indonesia. cuci tangan dari kobokan yang sama. kalau badan panas yang dibiarkan saja: toh akan dingin sendiri. Sangat sering diajarkan bahwa sedekah tidak harus dengan harta. Kini interveron sudah amat murah dibanding 39 by Moezhanks . Bahkan. Makan bersama. Semua bisa saja jadi sarana penularan. Kalau kemudian berkembang menjadi sirosis dan kanker. Sebelumnya. Tapi. Melebihi popularitas ayat yang mengajarkan “carilah rezeki di bumi Tuhan ini”. tersenyum pun sudah sedekah. pasti datangnya dari luar. karena memang sebelumnya tidak pernah ditemukan obat untuk melawan virus itu. seperti yang semula saya kira. Jangan harap satu virus hepatitis B tidak akan menjadi sirosis.ayat yang menyatakan “kalau sudah tiba waktunya. karena menyangkut begitu banyak orang. Waktu itu tiba-tiba badan saya panas sekali. tentu itu karena gaya hidup di desa yang memang seperti itu. Tinggal waktu saja yang berbeda. Ini berarti lebih dari 120 juta orang. Ke depan mestinya virus ini amat berkurang karena kesadaran melakukan vaksinasi hepatitis kepada bayi sangat tinggi. Prof Hassan mengingatkan bahwa harganya mahal sekali. Juga harus disiplin tinggi karena obat itu harus disuntikkan 76 kali. setiap dua hari sekali. itu sebagai sunnatullah-Nya -sudah seharusnya begitu.

Badan saya yang selalu fit. Di dalam negeri dan ke luar negeri. Anda sudah berada di rumah sakit. Saya menyangka. 40 by Moezhanks . Tiongkok juga sudah memproduksinya besar-besaran. di poliklinik. virus tidak akan merajalela. baru 25 persen. Sudah saya jelaskan panjang lebar. Pernah suatu saat saya harus ke Ambon. atau di praktik dokter. Sudah puluhan kali lebih kuat daripada 25 tahun lalu -saat saya pertama menggunakannya. Maksudnya. katanya. Di Ambon ternyata sulit sekali mencari dokter yang mau menyuntikkannya. Maklum. saya sudah tidak bingung lagi. Saya pun menyetujuinya. Saya menyimpan interveron itu di termos khusus yang bisa saya bawa bepergian. saya sudah melupakan hepatitis saya. Saya tidak pernah lagi memperhatikannya. Saya bisa menyuntikkan interveron berikutnya di mana pun saya mau. saya juga harus mengejar pesawat. untuk menggambarkan punya kemampuan kerja kuda) membuat saya terlena. Ketika pertama suntik saya harus ngamar di rumah sakit. Memang seharusnya demikian. saya menjadi lengah. Sampailah pada Mei 2005. Lalu saya boleh pulang. Bahkan sampai besoknya pun. Murah untuk ukuran orang sakit liver. Ya. ternyata si demam tidak datang juga. hepatitis saya sudah beres.harga 25 tahun lalu. Maka setiap dua hari saya suntik interveron. Kalau terjadi sesuatu yang membahayakan. Bisa di kantor. tapi memang betul-betul belum tahu obat tersebut. tidak boleh melakukannya. Prof Hassan juga memberitahukan bahwa kemungkinan berhasilnya juga tidak 100 persen. Obat itu berfungsi bukan membunuh virusnya. Pernah juga saya mengalami kesulitan yang sama saat berada di Batam. Saya tunggu kedatangan “suhu tinggi” dan “rasa menggigil” itu sampai sore. Tapi. Yang jadi persoalan adalah bukan tidak mau. Kalau tidak tahu. Pujian bahwa saya adalah orang yang “tidak punya udel” (tidak punya pusar. memang obat yang masih sangat baru. Akhirnya saya minta disuntik di pos kesehatan bandara Batam. Setelah proses itu selesai. Pada hari dilakukan penyuntikan pertama. suhu badan bisa tinggi sekali. Saya terus kerja dan kerja. Tangan sudah selalu siap memegang selimut kalau tiba-tiba harus segera menutupkan ke tubuh saya. Bahkan. Saya tenggelam oleh kesibukan dan kecerobohan saya sendiri. Kalau panas datang dan badan menggigil. Sejak minum interveron itu saya tidak pernah mencari tahu lagi apakah sudah ada obat yang lebih jitu.” katanya. siapa tahu saya masuk yang 25 persen itu. Mulai Surabaya-Jakarta-Pontianak-Kuching-Singapura-Guangzhou-Wenzhou-Jinhua-Hangzhou-NanchangGuangzhou-Jakarta-Makassar-Ambon-Makassar-Kendari-Makssar-Jakarta-Surabaya. Sebab. Barangnya juga sudah lebih mudah didapat. Tentu saya bawa juga interveron itu. Padahal. tetap saja dia tidak mau. Hari itu saya terbang ke 19 kota hanya dalam waktu 8 hari. tapi tetap mahal untuk kebanyakan orang. memang belum ada obat ang bisa membunuhnya. Di sana umumnya dokter tidak tahu obat apa yang saya bawa itu. Ke mana-mana saya membawa termos itu berikut alat suntiknya. Kini. dengan dikurung seperti itu. melainkan hanya mengurungnya. Saya tunggu sampai malam. saya dengar kualitas interveron sudah semakin baik. saya langsung siap-siap selimut tebal. Mengapa harus ngamar? “Akibat suntikan itu. Harganya pun sudah jauh lebih murah dibanding ketika saya harus membeli dulu. membuat saya terlalu percaya diri. Terbang dan terbang. Saya pilih RS Budi Mulia di Jalan Raya Gubeng.

Lalu saya ingat kakak saya yang meninggal tidak lama setelah muntah darah. Perkembangan hasil pilkada itu. menjadi calon wakil wali kota mendampingi calon Wali Kota Bambang D. Saya ternyata memang harus ngamar di rumah sakit. Saya muntahkan saja. Dokter menyesalkan saya. jangan belok kanan ke arah kota. Ikan laut Ambon segarnya. saya ketahui saat saya berbaring di ranjang pasien. Selesai forum bengkel. Mestinya. Meski perut mulas. mengapa begitu muntah darah tidak langsung ke rumah sakit. Mungkin ikan-ikan Ambon cemburu dan marah mengapa malam itu saya melupakannya. Dulu. Rapat pun buru-buru karena harus segera ke Kendari. Aduh naturalnya! Tapi. Perut saya mulai bergolak malam itu. di pinggir jalan depan Masjid Al Fatah. saya tidak tahu lagi di mana restoran yang terkenal itu membuka usaha. Di mana itu? Kalau Anda turun dari pesawat. sejak kerusuhan Ambon. Anak buah saya. Bangun tidur. Papeda malam itu merupakan makanan terpedas yang pernah saya alami setelah makanan yang disebut suai yang ru di Chongqing. Malamnya. Dokter bilang saya beruntung. Mengapa tidak mau sarapan? Setiap ke Ambon saya punya cita-cita khusus: akan makan durian sebanyak-banyaknya. banyak penjual durian.Istri saya. bergabung dengan saya di Makkasar untuk sama-sama ke Ambon. Dari yang tercecer itulah saya lihat banyak onggokan berwarna hitam. Kebetulan di depan kantor. Lupa sudah makan siang. Makannya tidak di pantai Ambon tidak apa-apa. Saya memang merencanakan ke dokter. Di Kendari saya juga punya cita-cita khusus: makan ikan bakar. tapi kedua tangan saya menjadi penadah. Tentu ada yang tercecer di lantai kamar. saya jangan makan papeda malam itu. sudah tidak tahan lagi untuk segera makan durian. Oh. Barulah selesai coblosan saya ke Rumah Sakit Darmo Surabaya. setiap kedatangan saya ke anak perusahaan selalu dimanfaatkan untuk pertemuan dengan wartawan. setelah makan malam dengan menu makanan lokal yang disebut papeda. ternyata warnanya merah: darah. tapi belok kiri ke arah kampung. badan saya rasanya baik-baik saja. tiba-tiba saya mau muntah. Tapi. bukan kepalang. Tiba di Surabaya. Saya harus memilihnya sebagai dukungan ke anak buah. Paman-paman saya. Di forum “bengkel” itulah saya selalu diminta menularkan pengetahuan dan keterampilan jurnalistik. langsung ke kantor harian Ambon Ekspress untuk rapat. 41 by Moezhanks . ternyata saya muntah darah. Saya memang punya forum yang disebut “bengkel wartawan”. rapat dengan harian Kendari Post yang waktu itu juga lagi membangun Graha Pena Kendari. Tapi. Saya selalu merindukannya. tapi besoklah. Setelah saya menghadiri coblosan pemilihan wali kota Surabaya. Tiongkok. Rapat dengan harian Fajar yang kini baru menyelesaikan membangun gedung Graha Pena Makassar. saya ke kantor lagi sambil seperti menangis. Sambil tangan menampung muntahan. pukul empat sudah harus berangkat ke Makassar. Bisa jadi muntah darah itu akan sangat fatal dan mematikan. bersama Ibu Eric Samola. Durian Ambon luar biasa enaknya. barulah saya bisa tidur dengan baik. rapat masih diteruskan dengan mengajar. Setelah onggokan itu saya injak. Mestinya tetap saja makan ikan laut. di mana Bambang-Arief terpilih. manisnya.H. Lalu menyantet perut saya. Juga ibu saya. saya lari ke toilet untuk membuang muntahan yang ada di tangan. Kenyanglah. Tiba di Ambon tidak mau sarapan. Pimred Jawa Pos Arif Afandi. tengah malam itu saya masih harus ke percetakan. Berarti makan siang juga kelewatan. enaknya. Apalagi kalau dimakan di pantai yang sangat natural itu: pantai Ambon yang indah. Hari itu bumbunya juga pedas bukan kepalang. Paginya. keluar dari bandara.

Maklum. Varises esofagus terjadi karena pembuluh darah utama yang masuk ke liver menyempit akibat adanya sirosis. ketika ada acara di Singapura. Dalam istilah medis. Yakni. Baru dua minggu kemudian. Dalam istilah teman saya. Saya diperiksa di situ untuk 42 by Moezhanks . varises di bagian itu lebih gampang meletus. banyak juga yang besar. Dalam kesempatan pertama. melalui pipa esofagus (yang menghubungkan mulut dengan lambung). Bahaya yang sama sekali tidak saya rasakan sebelumnya. tekanan di pembuluh darah utama itu pun jadi meningkat. pembuluh darah esofagus yang menggelembung dinamakan varises esofagus. pasien akan mengalami pendarahan hebat yang sulit dikendalikan. yang sudah sangat ahli dan senior di bidang itu. Tenggorokan saya dimasuki alat yang ujungnya berkamera superkecil. Karena tak segera diturunkan. dokter RS Darmo Surabaya juga mulai melihat dari mana asal darah yang saya muntahkan. Akibatnya bisa sangat fatal. (bersambung) Ganti Hati 16 – Esofagus Ditambal atau Bilang Saja Pencernaan Dilaminating 10 September 2007 KETIKA kartu suara pemilihan wali kota Surabaya dihitung. Kata banyak dokter di Surabaya ketika itu. Ternyata semua itu menipu. Karena tidak kolaps ketika beberapa gelembung varises di esofagus saya pecah dan menyebabkan saya muntah darah dua hari sebelum endoskopi dilakukan. pecah. “Lebih baik dilakukan di sana. alat itu masuk sampai ke lambung saya. Dari gambar yang dipantulkan alat itu terlihat.Pemeriksaan di Rumah Sakit Darmo menunjukkan betapa berbahayanya sakit saya. Saya dibius. saya mampir ke seorang ahli penyakit dalam yang terkenal di RS Mount Elizabeth. Karena pintu masuknya menyempit. pasien meninggal karena kehabisan darah. saya masih belum memahami sepenuhnya bahaya yang saya hadapi. Dari tenggorokan. Hanya. Tahu-tahu saja sudah terlambat sekali. Sebuah kerusakan di dalam. Tindakan ini dalam istilah kedokteran disebut dengan endoskopi. saya termasuk orang yang beruntung. “Sebaiknya Pak Dahlan segera ke Singapura. betapa banyak gelembung darah yang siap pecah di sepanjang esofagus saya. Ada yang kecil. Itu sebabnya mengapa limpa saya juga ikut membesar sampai hampir tiga kali lipat. Jika itu terjadi. Sampai saat itu. rasa badan saya baik-baik saja. Gelembung-gelembung itu sebenarnya adalah pembuluh darah esofagus yang karena tekanannya terlalu besar lantas menggelembung. Disebut varises karena memang mirip varises di betis. Bahaya yang selalu kalah dengan semangat.” ujar Prof Dr dr Boediwarsono SpPD-KHOM yang merawat saya ketika itu. Penyakit tetap datang dan diam-diam menggerogoti onderdil saya. tekanan itu pun merembet sampai ke pembuluh darah esofagus dan limpa. yang tidak segera diketahui di luarnya. Yang mengendoskopi saya ketika di RS Darmo Surabaya saat itu adalah dr Pangestu Adi SpPD-KGEH. karena dinding pembuluh darah esofagus lebih tipis.” tambahnya. penyakit tidak mau mampir ke badan saya karena tidak akan dilayani akibat kesibukannya.

yang sudah meletus dan benar-benar siap meletus. Dia melakukannya secara gratis. saya menggunakan istilah yang lebih sederhana lagi: Saluran pencernaan saya “dilaminating”. persoalan mendesak yang mengancam hidup saya teratasi. Kelak saluran pencernaan saya akan tertekan lagi. 43 by Moezhanks . Dia memberikan banyak sekali koreksi. Seminggu kemudian saya diminta datang lagi untuk operasinya. dua bulan kemudian saya balik ke Singapura. Hari itu. Bulan berikutnya. Karena jumlah gelembung yang harus ditambal begitu banyak. Sebelum operasi. Dengan hanya “melaminating” yang besar-besar. Robert Lai. lawyer lulusan Inggris yang sudah biasa bikin perjanjian dalam bahasa Inggris. Lalu menyerahkan koreksi itu ke direksi perusahaan daerah untuk dipikirkan lebih lanjut. selesai rapat. Saya juga sudah minta tolong agar teman saya. Saya memang biasa begitu. dan memberikan koreksi mana-mana yang akan membuat posisi perusahaan daerah lemah. Teknis penambalan esofagus sebenarnya tidak sesederhana penjelasan saya itu. Tujuannya untuk menambal bagian yang sudah meletus. Langsung dibius dan dioperasi. dengan “laminating” ini. Sesuai jadwal. Antara lain dengan menuangkan semacam lem berwarna putih ke gelembung-gelembung varises di esofagus saya. Selain itu. saya diminta kembali dua bulan kemudian. mencermati. beban bagi tubuh saya akan terlalu berat. Bahkan. Tepatnya. saya ke rumah sakit. teratasi sementara. Seperti pada endoskopi. sekaligus melapisi yang sudah siap meletus. Minggu depannya. Dengan begitu. Hari itu dia sudah telanjur banyak janji dengan pasien lain. ketika meletus. dan menjadi gelembung-gelembung darah lagi. ujung alat itu pun dilengkapi kamera. dokter berharap gelembung yang kecil-kecil akan mengecil dengan sendirinya. Padahal. Sekali lagi.mengetahui apa yang terjadi sebenarnya dan tindakan apa yang harus dilakukan. Tapi. kepada keluarga saya. Dan. Meski yang kecil-kecil tidak membesar. operasinya perlu waktu dua jam sendiri. kalau yang “dilaminating” kebanyakan. saya tidak pernah menggunakan uang perusahaan. Kenapa sementara? Ini karena penyebab terjadinya gelembung-gelembung itu sendiri masih njegog di badan saya: sirosis. Sehingga selama lima tahun sebagai Dirut perusahaan daerah. ketika direksi perusahaan daerah sudah selesai merundingkan draf perjanjian dengan pihak Singapura. untuk melihat. tim dokter di Mount Elizabeth lantas mereparasi esofagus saya. tenggorokan saya dimasuki alat yang bisa masuk sampai pencernaan. Urusan perusahaan daerah selalu saya gabung dengan urusan saya pribadi. saya bikin janji dengan investor Singapura yang bersama perusahaan daerah Jatim akan membangun shore base di Lamongan. Dengan bantuan kamera itu. darahnya tidak semburat ke luar lagi. bengkak lagi. Rapat lagi sambil meneruskan proses “laminating” berikutnya. setidaknya saya bisa mengulur waktu. Dengan cara ini perusahaan daerah tidak perlu keluar uang perjalanan dinas dan biaya-biaya lain. dokter memilih yang aman. hari itu dokter hanya punya waktu untuk mengatasi gelembung yang besar-besar. saya putuskan untuk menandatangi perjanjian setebal bantal itu. Agar kedatangan saya ke Singapura minggu depannya lebih efektif. Berarti setahun kemudian saya masih terancam muntah darah lagi. Gelembung-gelembung kecil yang tersisa “dilaminating” semua. proses “laminating”-nya tak bisa hanya sekali. saya punya waktu membicarakan kelanjutan rencana proyek Rp 250 miliar itu. Saya hanya menyederhanakannya. Untuk memastikan itu. Sudah beberapa kali Robert membantu perusahaan daerah secara sukarela seperti itu.

tidak ada obatnya! *** Saya masih minta butrawali satu lagi: Bagaimana dengan sirosis saya? Maksud saya apakah sudah ada obat untuk memperbaiki sirosis? Atau. “Kalau sesak lagi?” tanya saya lagi.Menjelang tanda tangan perjanjian itulah saya berkonsultasi dengan dokter mengenai problem kesehatan saya yang berikutnya. dua-duanya tidak ada 44 by Moezhanks . Tambah lima tahun menjadi 60. saya merenungkannya. Lima tahun lagi. Tapi. kau bisa dapat tambahan umur lima tahun lagi. “Bagaimana mengatasinya?” tanya saya. Berdarah-darah. Merah rupanya. Menghunjam dalam sekali. Begitu pahitnya kalimat dokter itu. Dahlan. membuat pencernaan seperti mulas dan mau muntah. enteng. Padahal. Seperti pahitnya butrawali. Cukuplah. langsung. Saya sudah oke. Lalu saya muntahkan sekalian kalimat dokter itu: Dalam wujud muntah seperti darah. dan akan jadi sirosis lagi. buah yang dijadikan ukuran terpahit di Jawa. “Kenapa setelah transplantasi hanya bisa hidup lima tahun?” tanya dokter itu pada saya. OK. Jawaban itu memang seperti keluar dari mulut Asmuni-Srimulat. Lalu saya telan sedikit-sedikit lewat tenggorokan saya yang sakit: beli sepatu yang lebih besar.” katanya ketus. dia jawab sendiri pertanyaan itu: karena liver barunya nanti kemungkinan juga terkena hepatitis lagi. “Ya. Semakin dikunyah. Mungkin hidup Anda bisa lebih panjang lima tahun lagi. Pedih. Tidak boleh lebih. tapi saya kunyah lama-lama. Lalu saya tunjukkan kaki saya yang mengembung dan membesar itu kepada dokter yang merawat saya. Jawaban dokter itu sungguh di luar dugaan saya. Dan beli lagi yang lebih besar lagi.” katanya. “Anda lakukan transplantasi saja. dalam bahasa orang awam. merah rasanya. “Sekarang Anda berumur 55 tahun. Sebenarnya pertanyaan itu tidak perlu. bisa jadi bibit kanker itu juga masuk lagi ke liver baru. Dahlan. Misalnya. Terasa seperti lemparan pisau yang langsung mengarah ke liver saya. tajam. Juga tidak mau bertele-tele. Berarti juga tidak ada jalan keluar untuk sirosis. Bisa sampai umur 60 cukuplah. Apalagi kalau saat itu sudah ada kankernya. OK. Tambah lima tahun sudah oke. Bagaimana agar kaki saya tidak bengkak lagi.” katanya. bagaimana mengatasi sirosis saya. Getir jawaban itu. Di atas muntahan itu seperti terbaca peringatan keras: tidak ada obatnya. Berarti juga. Dia seperti menganggap manusia ini benda yang tidak punya perasaan. Bagaimana agar tidak terancam muntah darah lagi. Dokter melemparkan jawaban pendek. memang semakin pahit rasanya. apakah ada jalan keluar untuk membuat liver yang sudah mengeras di sana-sini itu kembali lunak? Dan jalan darah yang sudah banyak yang buntu itu membuka lagi? Dokter rupanya tidak punya banyak waktu. “Beli saja sepatu yang lebih besar. Tapi. beli lagi yang lebih besar lagi!” jawabnya. Saya tidak mau dia memberi saya sekarung butrawali. Lalu menyayat-nyayatnya. Tapi. sirosis itu yang menyebabkan saluran pencernaan bengkak dan membuat gelembung-gelembung darah.

Ini terjadi karena karet di kaus kaki tersebut menekan kaki saya. Satu perkiraan yang tidak terlalu salah. terbang-terbang lagi. Dua minggu sekali. Yakni. Setelah melepas kaus kaki saya. dekok di tengahnya. Karena badan normal-normal saja. Timbul Bunyi seperti Tong Kosong 11 September 2007 SAYA pernah membenci kaus kaki. Semua masakannya terbuat dari kepiting. Tidak ada obatnya.jalan keluar. Jusuf Kalla dan lima menteri yang menyertainya.” katanya sambil melihat bagian kaki yang ’ambles’. Padahal. Restoran itu ada di pojok Jalan Tianjin. *** Dokter itu tidak kenal saya. (Bersambung) Ganti Hati 17 – Dokter Mengetuk Dada. Lihat. perut saya langsung kembung. Dia lantas mengira saya kerja di perusahaan periklanan. Saya sama sekali tidak menyangka akan berhubungan dengan kata transplantasi. Besar atas bawahnya. Artinya sibuk lagi. “Karet kaus kakimu terlalu kuat. Saya masih menganggap kata-kata transplan dari dokter tersebut tidak terlalu meyakinkan. Dia pun. Sampai membuat kakimu seperti ini. makanan kecilnya. Mungkin karena itu. Dia tahu itu karena hampir semua pasiennya mengatakan kenal saya. Tapi juga tetap memerlukannya. ternyata juga menyalahkan kaus kaki. Pelan-pelan. di dinding pendek dekat meja resepsionis terdapat banyak guntingan koran Indonesia yang memuat tentang ceramah dan wawancara dengan dokter itu. kalau mau yang paling tepat lagi disalahkan adalah saya sendiri: Mengapa tidak menjaga baik-baik liver saya? Dua tahun lamanya saya membenci kaus kaki. yang salah adalah kakinya. sampai makanan penutupnya. si ahli refleksi kaget. Apalagi. namun istimewa. Bahkan. saya mampir ke kios pijat kaki. Tidak ada alternatifnya. Tidak ada pula keajaiban yang bisa diharapkan. yang salah sebenarnya liver saya yang tidak lagi mampu mengolah protein secara normal. Tepatnya. seperti saya. setiap akan membuka hasil lab. Pernah saya merasa penat. Setiap pulang dari bepergian. bos Hotel J. Enaknya luar biasa. Saya tidak terlalu memikirkannya. 45 by Moezhanks . Shanghai. saya juga hidup normal lagi. Pulang makan. perasaan saya seperti anak sekolah yang sedang menerima rapor. takut angka-angka merahnya terlihat sekaligus. ancaman kematian tiba-tiba sementara sudah teratasi. Saya terus memonitor darah saya di laboratorium. maka tidak gampang baliknya. Hanya saya lebih care dibanding dulu. sedikit-sedikit.W. Salah satunya adalah koran dari Grup Jawa Pos. kalau tidak pakai kaus kaki. Waktu itu kami makan di satu restoran kecil. Saya tahu alamat restoran itu dari Rajimin. Kadang saya membuka hasil lab itu seperti membuka kartu remi yang tertutup di atas meja. saat habis makan malam dengan Wakil Presiden H M. Sebab. Marriott Surabaya yang juga konsul kehormatan Hongaria. Mulai supnya. Ruang praktiknya memang penuh dengan pasien dan sebagian besar orang Indonesia. Dia hanya tahu saya orang Surabaya. Karena yang dijepit adalah daging kaki yang bengkak. selalu saja kaki saya seperti balon panjang yang ditiup tidak sempurna.

Begitulah. Hubungan saya dengan kaus kaki menjadi sangat unik: Jenis hubungan yang disebut love and hate -cinta dan benci. Dalam situasi terus membenci kaus kaki seperti itulah, saya terus beraktivitas. Terbang berjam-jam. Berkendaraan beratus-ratus kilometer. Di dalam negeri. Di luar negeri. Sampai suatu saat saya punya urusan di kota Tianjin, 100 km dari Beijing. Di sini kebetulan ada kenalan dokter ahli liver yang hebat. Namanya Prof dr Shao. Seorang wanita tepat seumur saya, yang mengepalai bagian liver di suatu rumah sakit di sana. Dia dobel dokter. Dokter ilmu kedokteran Barat dan dokter ilmu kedokteran Tiongkok. Dia juga doktor di spesialisasi liver, limpa, dan empedu. Saya kepingin mencari pendapat pembanding. Benarkah tidak ada jalan keluar untuk problem bengkak saya itu. Benarkah sirosis itu tidak bisa disembuhkan, minimal dihentikan proses memburuknya. Tentu, saya diminta Prof Shao untuk menjalani pemeriksaan ulang. Mulai kencing, kotoran, darah, liver, limpa, paru, sampai prostat. Juga menjalani pemeriksaan fisik yang dia lakukan sendiri. Yakni pemeriksaan secara kedokteran Tiongkok. Dia ketuk-ketuk rongga dada saya dengan jarinya. Timbullah suara seperti tong kosong. “Ini pertanda liver Anda memang sudah mengerut, mengecil,” katanya. “Di rongga dada Anda sudah mulai ada ruang kosongnya,” tambahnya. Setiap Prof Shao memeriksa fisik saya, selalu banyak dokter muda yang diajaknya. Dokter-dokter muda itu menyimak dengan tekun apa saja dijelaskan Prof Shao sehubungan dengan kondisi badan saya. Dia memang juga pengajar di fakultas kedokteran yang terkait dengan rumah sakit itu. “Lihat ini,” kata Prof Shao kepada para dokter muda itu. Sambil berkata demikian, Prof Shao menyingkap baju saya sampai dada saya terbuka. Lalu, dia memegang-megang payudara saya (eh, kalau milik laki-laki apa juga disebut payudara?). “Lihat payudara dia ini. Juga membesar. Seperti payudaranya gadis yang menginjak remaja. Orang yang terkena sirosis akan selalu seperti ini,” ujarnya. Kenapa Prof Shao mengumpamakan payudara saya seperti payudara gadis belia, karena proses pembesaran kelenjar susu lelaki yang menderita sirosis memang mirip pertumbuhan payudara gadis yang beranjak remaja. Yakni dimulai dengan rasa nyeri pada bagian putingnya saat tersentuh sesuatu. Perlahan-lahan rasa nyeri itu berkurang, bersamaan dengan makin besarnya payudara. Seperti umumnya gadis remaja, pembesaran payudara saya juga dimulai dari yang kiri, baru kemudian yang kanan. Jika liver saya tidak keburu ditransplan, payudara saya akan terus membesar menyerupai payudara wanita. Dalam istilah medis, pembesaran payudara yang saya alami itu disebut dengan gynecomasty atau ginekomastia. Lama sekali dia memegang-megang payudara saya. Tapi, bayangan saya lebih kepada sirosis yang mengancam nyawa saya. Tidak hanya hari itu. Berkali-kali Shao menjadikan payudara saya sebagai alat peraga untuk mahasiswanya. Saya menerima saja. Bukan karena merasakan remasannya, melainkan itu memang penting agar orang lain jangan sampai seperti saya. Setelah selesai bagian dada, tangannya turun ke perut. Dia periksa perut saya dengan dua tangannya. Dia pejamkan matanya seolah ingin merasakan benar apa yang berubah dari perut saya senti ke senti. Dia goyang-goyang perut saya. “Masih beruntung. Air belum masuk ke rongga perut,” katanya. Prof Shao memang sangat khawatir air yang sudah memenuhi seluruh badan saya juga sudah mulai mengalir ke rongga perut. Sebab, memang begitulah proses yang akan terjadi berikutnya. Air akan “bocor” dan menggenangi rongga perut. Karena itu, penderita sakit liver seperti saya akan berakhir
46
by Moezhanks

juga dengan keadaan perut membesar penuh air. Mula-mula perut akan seperti balon berisi air: Ginjur-ginjur. Dalam istilah medis, keadaan itu disebut dengan ascites. Semakin lama, jumlah air di perut akan semakin banyak dan memaksa perut untuk membesar. Bersamaan dengan membesarnya perut, biasanya pembuluh-pembuluh darah di permukaan perut juga ikut melebar sehingga tampak seperti sarang laba-laba, tapi warnanya merah. Sesuai dengan tampilannya, para dokter menyebut pelebaran pembuluh darah itu dengan istilah spider veins. Pada tahap berikutnya, perut yang besar itu mengeras. Saya sudah berkali-kali melihat perut orang sakit liver seperti ini dan biasanya sudah akan meninggal kurang dari enam bulan. Begitu juga ibu saya dulu. Satu pemandangan yang saya lihat ketika saya masih berumur 12 tahun dan terus hidup sampai saya sendiri dalam posisi akan mengalaminya. Saya sendiri beruntung karena sampai saat transplantasi, saya tidak mengalami yang disebut ascites maupun spider veins itu. “Ini harus dicegah sedini mungkin, sebisa-bisanya,” kata Shao kepada para dokter muda tersebut. Tapi, itu pun sifatnya hanya usaha untuk buying time. Dokter di Singapura berpendapat sama. Dia memberikan dua jalan: Meminum obat agar kencing lancar dan meminta saya untuk tidak banyak minum. Dua-duanya saya jalani. Sampai-sampai saya pernah merasa takut pada air minum. Setiap mau minum, selalu terbayang bahwa sebagian air itu akan terus membuat badan saya bengkak. Sebagian lain akan membuat perut saya membesar, ginjurginjur, dan akhirnya mengeras. Pada awalnya, saya agak terhibur dengan “pil pelancar kencing”. Tapi, lama-lama satu pil tidak cukup membuat kencing saya mengalir lancar. Harus dua pil. Ini pun lama-lama juga sudah kurang manjur. Terpaksa, saya terus mengurangi minum. Beberapa bulan terakhir saya hanya berani minum satu liter saja sehari. Ini karena kencing saya hanya sekitar 700 sampai 900 mililiter sehari semalam. Di Tianjin, Prof Shao memberi saya obat Tiongkok yang sudah berwujud cairan infus. Tiap hari saya diinfus dengan itu dan bengkak berkurang. Kencing lancar sekali. Tapi, kalau infus dihentikan, tetap saja badan kembali bengkak. Shao menjelaskan mengapa demikian kepada para dokter muda beberapa di antara mereka dokter muda dalam ilmu kedokteran Tiongkok. Ketika saya banyak tanya mengenai khasiat dan bahaya setiap obat yang diberikan kepada saya, Shao bergegas menatap wajah-wajah dokter muda. “Lihat sahabat saya ini. Banyak bertanya. Kelak, semua pasien akan seperti ini. Kalian harus bisa menjelaskannya dengan sebaik-baiknya. Pasien memang punya hak untuk tahu,” ujar Shao sambil tangannya tetap di perut saya. Kadang tangannya mampir lagi ke payudara saya. Ini karena di antara dokter muda hari itu, ada wajah baru yang belum diberi tahu bagaimana payudara saya juga membesar seperti gadis menginjak remaja. Lain hari, saya ingin Prof Shao ganti mengajar saya. Sebelum hari yang ditentukan itu tiba, saya beli kertas putih lebar. Lalu, saya tempelkan di dinding kamar rumah sakit. Saya ingin dia menjelaskan secara gamblang rangkaian penyakit saya. Saya juga beli spidol warna-warni untuk membedakan gambar aliran darah masuk dan keluar. Dia tersenyum melihat persiapan saya hari itu. “Wah, saya harus mengajar berapa jam?” tanyanya bergurau. Pipinya yang padat, hidungnya yang agak mancung, badannya yang tinggi, dan rambutnya yang ikal membuat penampilannya sangat aristokrat. Apalagi kalau berat badannya bisa turun satu kilo lagi. “Satu jam 10.000 yuan ya?” guraunya ketika menyebut uang setara Rp 11 jutaan tersebut.

47

by Moezhanks

Di dinding itu dia menggambar isi tubuh saya. Menjelaskannya sangat detail dan terang-benderang. Dia pandai sekali mengajar. Pasti banyak mahasiswanya yang senang. Saya juga belajar yang lain lagi: bahasa. Sebab, bahasa Mandarin yang dia gunakan sangat teknis dengan logat yang sangat Tianjin. Kini tahulah saya secara gamblang penyakit saya, terutama ancaman mati yang nyata di depan mata saya. “Ini tidak ada obatnya,” katanya tegas. Muncul karakternya sebagai pemimpin. “Kecuali istirahat total,” tambahnya. “Obat hanya memegang peranan kurang dari 15 persen. Yang 85 persen lebih adalah perilaku pasien sendiri,” ujarnya. Prof Shao melarang saya banyak jalan, gerak, dan terlalu lelah. Tidak boleh marah, kemrungsung, dan berada dalam situasi tergesa-gesa. Padahal, salah satu hobi saya “mengejar” pesawat. Saya sering tidak sabar menunggu jadwal pesawat. Kalau pesawat yang akan terbang ke suatu tujuan masih tigaempat jam lagi, biasanya saya cari pesawat ke jurusan yang lain dulu. Saya juga tidak boleh merasa kesal. Tidak memikirkan banyak persoalan sekaligus. Tidak boleh mikir yang berat-berat. Saya harus pensiun. Saya hanya boleh memikirkan badan saya sendiri. Tidak boleh lagi mikir orang lain. “Ibaratnya,” kata Prof Shao, “Rumah tetangga terbakar pun, Anda jangan peduli.” Tegas sekali peringatannya. Terang sekali contohnya. Hanya mahasiswa yang bodoh yang tidak bisa memahaminya. Dan saya ternyata termasuk “mahasiswa”-nya yang amat bodoh. (Bersambung)

Ganti Hati 18 – Dokter Menegur Iba, Ingat Nasib Ayahnya yang Redaktur
12 September 2007 BUKAN. Bukan bodoh. Semua penjelasan Prof Shao mengenai bahayanya penyakit saya, saya mengerti sepenuhnya. Terang-benderang penjelasannya. Saya pasti tidak bodoh. Hanya saya sadari, saya agak ndablek. Dan dia tahu perilaku saya itu. Dia tahu keras kepala saya, sembrono saya. Suatu saat, ketika saya kembali menemuinya setelah setengah bulan menghilang, dia lama memandang saya. “Ke mana saja Anda? Kami di sini prihatin sekali. Takut terjadi sesuatu pada Anda,” katanya dengan nada khawatir. Mungkin juga jengkel. “Saya baru datang dari Indonesia,” jawab saya. Dia setengah tidak percaya, setengah gondok. “Lho, setelah dari sini dulu itu, Anda pulang ke Indonesia? Kenapa? Apa kata saya tentang kebakaran rumah tetangga?” ujarnya. Dia lantas menarik napas panjang sekali. “Dahlan, Anda ini sudah gawat. Saya tidak mau kehilangan Anda,” katanya. Berkata begitu, dia seperti setengah menegur setengah mengiba. Dia kembali menarik napas panjang sekali. Matanya kelihatan berlinang. Dia keluarkan tisu di sakunya. Dia usap air matanya. Beberapa hari kemudian, dia bercerita kepada saya mengapa sampai hampir menangis ketika menasihati saya. Ternyata, dia ingat bapaknya. Bapaknya seorang redaktur surat kabar. Ibunya seorang hakim terkemuka. Bapaknya terus menulis buku sepanjang malam. Lalu meninggal. Ternyata karena sakit liver. Dia tidak tahu itu dan tidak memperhatikan itu. Padahal, dia dokter ahli liver. Waktu itu, katanya, dia juga sedang belajar ekstrakeras selain kerja keras. Sebab, dia akan segera dapat beasiswa untuk sekolah lagi di luar negeri. Tapi, semuanya gagal. Beasiswa tidak jadi. Ayahnya pun pergi. Dia menangis lagi saat menceritakan itu.
48
by Moezhanks

Tapi. Melihat rendahnya kadar platelet saya. Makin banyak darah yang harus ditampung. “Laminating” itu kurang lebih bisa bertahan setahun. dia lihat masih ada sedikit peluang. digunakan standar minimal 150. “Limpa dipotong?” kata saya dalam hati.” katanya. Akibatnya. dan platelet yang “sehat”. memproduksi sel darah merah dan darah putih tipe tertentu. orang akan gampang terkena infeksi dan yang kekurangan platelet akan mudah mengalami pendarahan. Di negara lain. Normalnya 150. Prof Shao memutuskan perlunya mengecilkan limpa saya. adalah sel-sel darah yang rusak. Hasil “laminating” yang dilakukan di Singapura terhadap saluran pencernakan saya yang sudah penuh varises sangat baik. orang yang kekurangan sel darah merah akan mengalami anemia (kekurangan darah). jika dihancurkan semua. Kalau kekurangan darah putih. Mengapa limpa harus dikecilkan? Limpa adalah organ kecil -yang dalam keadaan normal hanya seukuran genggaman kita. luberan sel darah yang berlimpah itu memang menyulitkan. Angka minimal untuk kadar trombosit seharusnya 150 (ini angka dalam standar laboratorium di Tiongkok). bukan hanya kadar platelet saya yang turun. serta menyingkirkan sampah-sampah di pembuluh darah.000 sampai 400. Karena jumlahnya di luar batas normal. Tugasnya melawan infeksi. Mungkin dikurangi sepertiganya dulu. Tapi.” ujarnya. Saya sendiri juga kepingin agar tidak seperti ibu saya. darah mengalir balik ke limpa. Sebab. Bagi limpa. darah akan kekurangan sel darah merah. Dia akan sangat kecewa kalau saya sendiri tidak peduli dengan badan saya. Untuk menampung limpahan itu. Seperti yang pernah saya sebutkan di tulisan terdahulu. ya saya lupa menjelaskan bahwa sebenarnya. Padahal. darah putih. Apalagi dari hasil pemeriksaan total.000 per milimeter kubik darah. Untuk menormalkan kadar sel-sel darah saya itulah. Namanya diembolisasi. Dipotong seberapa banyak? “Sekarang. Tiga-tiganya bisa mengakibatkan kematian. termasuk Indonesia.Dia lantas ingin merawat saya semaksimal mungkin agar tidak seperti bapaknya. platelet akan turun lagi. aliran darah ke liver saya (baca: penderita sirosis) tidak bisa lancar. limpa pun memperlakukan sel-sel darah yang numpuk itu sebagai sampah yang harus disingkirkan. Tapi juga sel darah putih dan sel darah merah saya. sel-sel sehat dan rusak itu akan mengerak dan mengganggu fungsinya. limpa Anda sudah membesar tiga kali ukuran normal. Setelah itu. Yang disebut sampah di pembuluh darah. Limpa saya harus dipotong? “Boleh dibilang begitu. masih bisa “dilaminating” sekali lagi. semakin besar pula ukuran limpa.000. caranya tidak lewat injeksi karena hal itu hanya bisa bertahan dua-tiga hari. Kalau toh ada tanda-tanda bengkak lagi.di bawah iga kiri. Cukup untuk mengulur waktu beberapa bulan. Prof Shao lebih prihatin pada kadar platelet atau trombosit saya yang tinggal 60. 49 by Moezhanks . Saya minta waktu berpikir untuk memutuskannya.” katanya. “Mungkin saya akan mengecilkan limpa Anda. Oh. Prof Shao lantas berpikir keras mencari jalan untuk menaikkan kadar platelet saya. Itu berarti sel-sel darah yang “sehat” pun ikut disingkirkan. limpa lantas “membesarkan diri”. antara lain. jika tidak dihancurkan.

kalau limpa sudah membesar lagi. Sebab. Jadi. Sebagai tamatan aliyah. Kalau salah satu saluran itu dimatikan. PLN langsung untung. saya meyakinkan pimpinan-pimpinan daerah di sana. Pemda setuju asal saya mau jadi direktur utama perusahaan daerah di sana. Seperti yang saya lakukan di Jatim. Itulah suara biawak berkelahi. Dua tahun baru beres. antara lain. Limpa memiliki tiga saluran darah masuk utama. kenal menteri-menteri di bidangnya. saya kenal direksi PLN-nya. Kampusnya di sebuah rumah panggung di Jalan Panglima Batur IV. limpa akan mati sepertiga. Memang. Saya harus kembali ke tanah air karena sudah terlanjur komit untuk mengatasi kelangkaan listrik di Kaltim. Membangun PLTU yang efisien. Saya ingin mendapatkan opini pembanding. Di Jawa saya tidak mungkin bisa masuk universitas karena tidak punya biaya. ikut kakak sulung saya. lilin itulah yang sering mengakibatkan kebakaran. Sudah jadi prinsip saya untuk tidak memanfaatkan keberadaan saya di pers untuk menekan seseorang. setelah dipotong pun. Saya kembali ke Indonesia lagi agar. PLN tidak bisa banyak berbuat karena selalu rugi. Saya tetap minta waktu memikirkannya. termasuk ke limpa. Pembangkit-pembangkit listrik PLN sangat tidak efisien. yang utama lagi memakan batin saya. masuk univeristas masih gampang dan murah. Tahun-tahun belakangan Kaltim mengalami krisis listrik. Padahal. PLN sudah tahu bahwa hari itu perusahaannya akan rugi Rp 1. saya tidak pernah memanfaatkan kedekatan saya itu untuk urusan tersebut. kenal wakil presiden. dua tahap pemotongan limpa tersebut dianggap cukup untuk mengulur waktu sampai lima tahun. logikanya begitu baik. Dari Kaltim-lah. Saya masuk Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel cabang Samarinda. Kalau tahap itu sudah terjadi. agar mau menyisihkan sebagian anggaran untuk investasi di listrik. Maka. Kaltim tidak bisa berharap banyak pada PLN. rakyat hanya dikenai tarif Rp 750. Kalau dijual Rp 750 per watt kepada masyarakat. masih ada satu di antara dua saluran utama yang bisa dimatikan lagi. yang terjadi adalah demo.Ini memang bukan langkah permanen. dan hasilnya bagi PLN juga begitu nyata (dari perusahan rugi akan langsung jadi laba).250 per watt. tapi hidup di darat. bisa mampir ke Singapura. Mematikan salah satu di antara tiga saluran itulah. Nah. Padahal. Setahun PLN Kaltim bisa rugi hampir setengah triliun rupiah (2005). Anggaran Kaltim yang besar karena sumber alamnya yang melimpah jangan habis untuk kebutuhan konsumtif. Tujuan satu: agar bisa kuliah. Kelak. limpa saya masih bisa dipotong lagi. Dan itu akan membuat pletelet juga turun lagi. saya memang ke Kaltim. Tapi. tapi juga energi saya. Dan. yang akan dilakukan Prof Shao. Banyak kampung miskin terbakar karena saat lampu mati. Karena lantai papannya tidak cukup rapat. saya memulai karir sehingga saya anggap Kaltim seperti daerah kelahiran sendiri. kelak limpa membesar lagi? Ya. dan bahkan presidennya. Meski tujuannya begitu hebat. Artinya. mulai gubernur sampai DPRD. Setamat SMA. melelahkan. diperlukan biaya Rp 2. selama liver saya sirosis. sekali lagi. Di Kaltim. Untuk menghasilkan satu watt. saya sering melihat ke bawah. mereka harus menyalakan lilin. yang biaya produksi listriknya hanya Rp 500 per watt. Kalau tarif listrik dinaikkan. Sewaktu kuliah.000-an. Biawak adalah binatang seperti buaya. proses perizinannya ternyata sangat panjang. Pemadaman terjadi bergilir. darah yang tidak bisa masuk liver akan meluber dan menekan ke mana-mana. Sering ada suara “krosak” di kolong itu yang lebih menarik perhatian saya daripada mata kuliah. 50 by Moezhanks . saya memang tidak mendapat ilmu baru dari mata kuliah yang sudah saya pelajari semua di kelas satu SMA itu. sejak sebelum matahari terbit pun. saya bisa menyaksikan apa yang terjadi di kolong yang sering digenangi air. dan menjengkelkan. Tentu pemotongan limpa itu tidak bisa dilakukan tiga kali karena sama artinya dengan membuang limpa sama sekali. Proyek energi yang kelihatannya mulia itu ternyata juga memakan bukan hanya dana saya.

terutama risikonya. Maka. Yang tidak saya pahami adalah mengapa ada peraturan yang menghambat kemajuan seperti itu. kepala saya juga pecah ketika membenturnya. ketika setahun mengurus izin ini tidak berhasil (karena sejumlah peraturan yang tidak mengizinkan PLN menandatangani kontrak jangka panjang). Kalau kontrak tahunan. Kalau toh sudah telanjur ada karena masa lalu yang kelam.000 kaki di atas permukaan laut. Kecil yang saya maksud adalah dari sudut pandang negara. Tepatnya izin dari tiga lembaga. siapa yang mau masuk jadi investor listrik. Kalau Dahlan saja mengalami hal seperti ini. Meski kondisi badan saya sudah sedemikian parah. Saya memahami aturan bank seperti itu. saya akan dicatat sebagai penjebol tembok kebuntuan listrik itu. Memang ada juga salah saya. Tentu sebenarnya juga bukan kecil bagi saya. Apalagi ada bank yang bersedia memberikan pinjaman meski kontraknya hanya tahunan.” kata bos Bank Mega yang namanya meroket tahun-tahun terakhir ini. saya tidak bisa lari dari tanggung jawab itu. Rumah saya sendiri: Kaltim. Bos Bank Mega yang juga bos Trans TV itu yang prihatin dengan keluhan saya. Bayangan saya juga begitu sewaktu saya memiliki semangat untuk ikut mengatasi krisis listrik di Kaltim. bagaimana yang lain?” katanya. saya tidak boleh peduli. Saya malu proyek sekecil itu saja sampai dibahas di forum yang begitu tinggi. tapi karena Chairul Tanjung yang berinisiatif. Tapi. Di PLN hanya sedikit masalah. kan sama artinya dengan menyumbang Rp 500 miliar tiap tahun kepada negara? Bayangan saya pemerintah akan membuat segalanya lancar. 51 by Moezhanks . “Ini memang rusan kecil bagi Anda.” kata saya kepada Chairul Tanjung. Saya harus pulang ke Indonesia untuk terus mengurus semua itu. Saya juga memahami PLN tidak boleh melanggar aturan. ujung-ujungnya. saya kenal Menteri Soegiharto. masing-masing dengan birokrasinya sendiri: kementerian energi. tidak boleh kesal. Tapi. Ini besar bagi saya. Risiko pada keuangan saya dan pada kesehatan saya. dan PLN. Juga rumah besar saya: Indonesia. yang kebakaran ini bukan rumah tetangga. Padahal. Indonesia yang begitu rumit peraturannya. “Saya saja tidak mau. bisa jadi.” tambahnya. Ternyata. Saya baru mau masuk ke listrik kalau urusan ini sudah selesai. Ini bukan karena saya mengadu.Pernah suatu saat saya diajak ke Tiongkok oleh Wapres Jusuf Kalla. Di dalam pesawat yang berada 36. Namun. Ini gara-gara saya terlalu sering ke negeri itu dan melihat bagaimana antusiasnya pemerintah kalau ada investor datang. tidak boleh marah. Tinggi level dan tinggi pula tempatnya. Saya terlalu terpengaruh suasana di Tiongkok. “Ini harus selesai. kementerian BUMN. PLN tidak melanggar peraturan. bank tetap mensyaratkan kontrak jangka panjang. Bahkan. ya. mengapa tidak segera dicabut. Kesalahan kedua saya. Tapi sudah tidak bisa mundur lagi. Menyesal luar biasa. tidak boleh mikir. Pasti pemerintah di segala lapisan akan senang. Di atas pesawat. Sebagian karena malu. Persoalan tersebut membuat saya harus mengabaikan peringatan keras Prof Shao bahwa saya tidak boleh terbang. Wapres mengumpulkan menteri dan direksi PLN untuk membahas kasus Kaltim itu. Tapi kalau tembok ini tidak dijebol. lagi-lagi kami harus mengurus izin kontrak panjang dengan PLN. “Urusan kecil begini kok panjang sekali. Saya menyesal telah berinisiatif mengatasi kelangkaan listrik di Kaltim tersebut. tidak boleh lelah. Di kementerian energi saya tidak punya masalah. Saya ingat kata-kata Prof Shao bahwa walau terjadi kebakaran di rumah tetangga pun. dia juga ikut dalam rapat tingkat tinggi yang benar-benar tinggi itu. saya setuju untuk kompromi. sebagian lagi sebagai ungkapan terima kasih atas inisiatifnya. saya buntu di kantor menteri BUMN. Yakni cukup mendapatkan kontrak tahunan saja dari PLN. Memang. Tembok tersebut terlalu tebal. Kalau proyek tersebut berhasil.

” katanya. tapi juga akibatnya. Atau kalau sedang sikat gigi. Fungsi limpanya bagaimana? “Diganti obat. Uh! Dalam istilah medis. “Setiap orang tidak sama. akhirnya sang menteri mengeluarkan surat persetujuan.” ujarnya.” katanya lagi. saya bisa mampir ke Singapura. infeksi di selaput dada. saya sudah tidak senang.” jawab dr Shao. Tapi. Atau telinga. ketahanan tubuh saya kian habis dan saya akan mengalami perdarahan dari setiap lubang yang saya miliki. Liver baru saya mungkin juga akan ikut berbinar-binar. Ini malah disuruh membuang. Pemotongan limpa.” tambahnya.” katanya. Dalam perjalanan pulang untuk mengurus listrik itu. Bisa timbul infeksi di tiga tempat yang akan mengakibatkan kematian. benarkah limpa saya harus dipotong? Mengapa dokter di Singapura sama sekali tidak pernah menyinggung soal limpa? (Bersambung) Ganti Hati 19 – Waktunya Tiba.” tambahnya. Ini soal krisis listrik yang harus diatasi. Bisa saja tiba-tiba drop jadi 50 atau bahkan di bawahnya. Makanya saya tanya ke dokter di Singapura itu. “Dibuang saja sekalian. dokter Singapura ternyata tidak setuju kalau itu dilakukan dengan cara memotong limpa. memang OK. Dan masih akan turun terus. Ini juga sama dengan penjelasan Prof Shao. “Tidak apa-apa. Kapan platelet saya akan turun sampai angka 50? Berapa minggu lagi? “Tidak bisa diperkirakan begitu. ada juga yang baru perdarahan ketika platelet-nya sudah 50. infeksi di tempat limpa dipotong. insya Allah Kaltim mulai bisa mengatasi kelangkaan listrik. Memang. “Perhatikan saja lubang hidung Anda. sangat berbahaya. Tiga-empat bulan lagi (akhir tahun ini). Saya ingin bertanya ke dokter di Singapura. bukan saja karena prosesnya.” tambah dokter di Singapura itu.” jawabnya. Lambatnya proses ini telah membuat biaya investasi membengkak luar biasa. “Ada yang pada angka 60 seperti Anda sekarang sudah perdarahan. Tiongkok.” tambahnya. Mendengar kata “limpa dipotong” saja. Meski setuju platelet saya harus dinaikkan. tentang rencana pemotongan limpa saya? “Kalau tujuannya untuk menaikkan platelet. menurut dokter Singapura itu. kan lantas tidak terlalu tahan terhadap infeksi. Tetapi. Sudah lebih 15 tahun. Orang bisa hidup tanpa limpa. pembuangan limpa itu disebut dengan splenectomy. 52 by Moezhanks . orang bisa hidup tanpa limpa. Sebuah persetujuan yang sudah sangat mahal. ketika Menggigit Pisang Berlumur Darah 13 September 2007 SETUJUKAH dokter Singapura dengan pendapat Prof Shao dari Tianjin. Waktu itu saya juga tanya ke Prof Shao: Pada angka berapa perdarahan itu akan terjadi? Katakanlah platelet saya (yang seharusnya minimal 150) sekarang tinggal 60. Yang penting. Yakni.Tidak pantas saya sebutkan di sini apa usaha yang saya lakukan untuk mengatasi kebuntuan di kantor (Soegiharto. berturut-turut banyak izin yang ditandatangani PLN untuk investor-investor lain. sebelum dicopot) menteri BUMN. “Tapi. “Singapura sudah lama tidak mau lagi memotong limpa. ini sudah bukan lagi soal untung rugi. Saya dengar setelah soal Kaltim itu selesai. “Membuang limpa sama sekali malah lebih safe. Dia juga setuju kalau sampai platelet turun terus.” katanya.

00. pada 2005. Tapi. juga tahu cara menghindarinya. Di bandara kota itu pukul 24. kalau masih sempat. Indonesia. Ini soal pilihan. “Siapa bilang itu kuno?” sergahnya.Penjelasannya. Biar berkurang. Jawabannya tegas. Tapi.” jawabnya mantap. Maka saya pun memutuskan akan titip nasib ke Prof Shao. “Sudah lebih dari 500. mengapa Indonesia sebagai negara penghasil minyak justru menderita ketika harga minyak dunia membubung? Sampai harus menaikkan harga BBM yang menghebohkan itu? Mengapa tidak justru menikmatinya? Ini semua karena produksi minyak Indonesia terus menurun dari tahun ke tahun. sore itu saya harus ke Dalian. jangan dibuang semua. Saya pilih dipotong saja. dan urusan menepati janji. dia tidak mengelak. Itu cara 60 tahun yang lalu. saya juga berpikir: Masak Prof Shao tidak tahu itu. akan 53 by Moezhanks . Saya sering ke ladang minyak di Tiongkok. Hari itu kebetulan Dirjen Migas punya acara di Shanghai. Kebetulan Dirjen Migas yang baru juga berambisi mengatasi hal itu. Itu. Segera saya gunakan ilmu mantiq saya: sudah berapa kali Prof Shao melakukan pemotongan limpa? “Sudah banyak kali. Saya melihat betapa semangatnya orang di Daqing (Provinsi Heilongjiang) dan di Panjin (Provinsi Liaoning) menggali minyak. karena tengah malam nanti harus menjemput Dirjen Migas di bandara kota itu. “Di Singapura dokter tidak mau lagi memotong limpa. Saya ingin membantunya meski saya hanyalah rakyat biasa. Di sana cara itu sudah dianggap kuno. Saya janjian bertemu di Kota Dalian. Saya ingat usul-fikh ahli sunnah wal jamaah: Sesuatu yang tidak bisa dipakai semua. saya ingin mengajaknya mampir ke Liaoning dan Heilongjiang. sumur-sumur minyak di sana lebih dalam dan iklimnya juga lebih beku. “Banyak itu berapa? Berapa puluh?” tanya saya lagi. Sudah lama saya gemas. Minyak yang didapat pun lebih jelek dibanding minyak mentah Indonesia. meski singkat. “Justru membuang limpa itu yang kuno sekali. Ada beberapa urusan. untuk bertemu Prof Shao. Suaranya meninggi. Tapi. dalam kesempatan saya ke Tiongkok lagi. saya akan menemui Prof Shao untuk ’menguji’-nya. Ketika saya tanya soal risiko infeksi di tiga tempat yang sangat membahayakan. tentu. Kepada ahli penyakit liver ini langsung saja saya semprotkan pertanyaan berdasar pendapat dokter di Singapura. “Tentu saya tahu. rasanya.” kata saya. Ya. Untuk melihat bagaimana negara itu bekerja keras mencukupi kebutuhan minyak. Tapi. yakni saat pesawatnya mendarat dari Shanghai. Dua-duanya masuk akal. Urusan Jawa Pos sendiri. urusan perusahaan daerah Kaltim. Penerbangan dari Tianjin ke Dalian memakan waktu satu jam. Terakhir. Saya bisa menerima sepenuhnya. Nanti. “Saya minta izin ke Dalian dulu. Maka saya tidak begitu saja mengambil keputusan membuang limpa. Dua-duanya bisa diterima secara medis. semangat untuk menggalinya luar biasa. *** Saya memang harus ke Tiongkok lagi. sudah berada di bawah satu juta barel per hari.” katanya.” katanya. Dengan alat-alat yang lebih sederhana mereka bisa menghasilkan minyak lebih banyak. tapi masih ada sisanya. Tinggal saya yang harus memilih lebih percaya kepada yang mana. Rumah besar saya. Tidak mungkin. Paginya saya masih di kota Tianjin. urusan pabrik steel conveyor belt-nya perusahaan daerah Jatim. Sudah sangat tidak layak menjadi anggota OPEC. Maka. Saya sudah berjanji kepada Dirjen minyak dan gas yang baru untuk mengajaknya ke Tiongkok. Giliran saya sendiri yang harus memutuskan. sangat masuk akal. dan percaya diri.”’ katanya. Padahal. mantap. sudah.

“Saya akan operasi kecil.” kata saya dalam hati. Tiba di Dalian sudah agak malam. Saat menyalami kedatangan Dirjen Migas. “Tidak bisa sekarang.” kata saya. Saya pun bertekad tetap memenuhi komitmen saya. Saat makan malam itulah saya kaget.” katanya.” kata saya ingin setengah memuji istri saya. Sorenya bermobil lagi ke kota Shenyang. Ternyata harus tiga hari kemudian. Dan. Setelah ditandatangani istri saya. Istri saya tidak bertanya banyak. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. “Saya bisa usahakan sekarang. Jadi. Ujung-ujungnya luluh juga hatinya. Saya tahu tekadnya kuat sekali untuk memperbaiki perminyakan Indonesia. Tapi. Berkumur. yang tidak tahu apa itu doa. kali ini seperti tidak percaya. “Wo bu guan ni.” kata saya. “Mengapa?” tanyanya lagi. Pagi-pagi Dirjen kembali ke Beijing untuk balik ke Indonesia. Mengapa? Karena ruang operasinya baru saja dirombak.” katanya. “Ini apa?” tanyanya melihat tanda tangan istri saya yang tidak lazim untuk mata orang Tiongkok. Ah. saya tahu dia baik. tidak bisa tanggal 6 Oktober 2006. kita nggak tahu maksudnya. dan karena itu saya antusias membantunya. Saya terbang ke Tianjin untuk pemotongan limpa saya. Satu jam kemudian saya berkumur lagi. Bentuknya tidak penting. saya mengira operasi pemotongan limpa bisa dilakukan hari itu. “Potong saja limpa saya.” katanya. Pagi-pagi bermobil 500 kilometer ke kota Daqing. Hari itu baru selesai. Yakni. Sudah waktunya makan malam.” kata saya tidak ingin menggundahkan hatinya.” tegas saya. Berkumur lagi dan berkumur lagi. Dia sudah sering mengancam untuk tidak mau lagi mengurus saya. tanda tangani saja. Saya lupa kalau dia komunis. Formulirnya dalam bahasa Mandarin. Ketika saya menggigit pisang. doa di balik tekenan itu yang penting. Saya menundukkan kepala sesaat. Memikirkan apa yang harus saya perbuat. “Kalau nanti ada teman Jawa Pos membawa formulir ke rumah. dikirim balik ke Tianjin. Saya terus tersenyum dan memberinya semangat untuk terus membangun dunia minyak. Saya lari ke toilet. Dengan datangnya persetujuan istri saya. “Itu tanda tangan istri saya.” kata saya. saya tidak boleh menjadi pasien pertama yang menggunakannya. Merah airnya.terbakar. Saya memang sudah beberapa kali operasi kecil. Ternyata Prof Shao tidak tersenyum. Pagi-pagi kami bermobil sejauh 400 km ke Panjin. saya tidak menceritakan apa yang terjadi atas diri saya. “Lakukan sekarang!” kata saya begitu bertemu Prof Shao. “Mereka ini benar-benar seperti koret-koret (mengais sisa-sisa) minyak. 54 by Moezhanks . Saya langsung minta formulir persetujuan operasi dan memfaksimilikan ke Surabaya. Juga gondoknya kepada saya meningkat. atau besoknya.” gurau saya kepada Prof Shao. Menarik panjang napasnya. setengah melucu. Tapi. “Apa?” tanyanya. sisa pisang itu berlumur darah! “This is the time! Wo de shi jian dao le. Malamnya terbang ke kota Harbin. tidak ada darahnya. Saya lantas menelepon istri saya. Malam hari balik lagi ke Harbin. Harus ada persetujuan istri Anda. untuk mengeluarkan benjolan yang ada di bawah kulit di beberapa bagian di tubuh saya. Tibalah sudah waktu saya. hilang merahnya. Dirjen serius sekali melihat semua itu. “Ini persetujuan istri saya. Harus 8 Oktober.

Langsung ke bandara untuk pulang ke Surabaya. di kantor saya. Saya tidur di rumah sakit.” kata saya dalam hati. saya ingin operasi itu dilakukan pada 6 Oktober. Saya juga tabik tak hentihentinya. Setelah operasi. Rasa sakit setelah pemotongan itu lebih hebat daripada transplantasi liver. Selama seminggu itu pula Prof Shao dalam ketegangan. Ini untuk mewakili ucapan terima kasih saya kepadanya yang tidak terhingga. naik sangat tinggi: lebih dari 38 derajat Celsius. Bahwa setelah limpa dibuang akan merepotkan pasien seumur hidup. seperti orang sakit. “Semua gara-gara Anda. Perawatan setelah pemotongan ternyata begitu sulit. pada hari-hari pertama. 8 jam saya tidak boleh bergerak. memang tidak dianggap enteng oleh Prof Shao. Namun. Menunggui Anda. kini ganti saya yang amat terharu. dengan mundurnya tanggal operasi. Penampilannya memang agak lecek. Saya minta maaf berkali-kali karena telah membuatnya tidak bisa pulang. Seminggu kemudian. Itulah sebabnya.” katanya segera. Tiga hari setelah libur. Wajahnya masih tidak terlalu cerah. Juga lebih lama: seminggu penuh. semua bisa diatasi. Saat itulah saya mengerti mengapa banyak dokter di Singapura memilih membuang saja limpa saya daripada memotongnya. sebulan kemudian saya sudah akan bisa keluar dari rumah sakit. Saya tidak pernah membayangkan operasi pemotongan limpa ini akan gagal. Kalau sebelum operasi saya lihat dia sering berlinang air mata. itu kan sudah di luar tangung jawab dokter yang membuangnya. Saya mau istirahat. Tapi. Lalu. ketika saya di panggung. Begitu tinggi tanggung jawabnya.Padahal. “Sudah lima hari saya belum pulang. suhu badan saya kembali normal dan stabil. Kebalikannya. Tabik dengan cara Tiongkok. Hari itu. “Mana ada dokter di negara lain yang mau menunggui pasien sampai lima hari tidak pulang. “Sekarang Anda sudah stabil. Keringat dingin memang memenuhi badan saya. barulah Prof Shao menemui saya lagi di kamar rumah sakit. “Dua hari saya flu. Tiga minggu berikutnya harus tetap di rumah sakit. Lalu seminggu tidak boleh turun dari tempat tidur.” pamitnya. Bulu matanya yang hitam seperti bendera setengah tiang. sebagaimana dijelaskan Prof Shao. waktu recovery saya tidak cukup. tanggal 5 sebulan kemudian saya sudah bisa keluar dari rumah sakit. Begitu besar perhatiannya. Matanya yang biasanya tajam.” ujar dr Shao. (Bersambung) Ganti Hati 20 – Baru Tahu Mengapa Dokter Singapura Pilih Potong Limpa Saya 14 September 2007 ANCAMAN infeksi yang serius setelah pemotongan (embolisasi) limpa. Tahu sedang saya perhatikan. kali ini agak memerah. perawatan setelah pembuangan limpa akan lebih mudah. 55 by Moezhanks . Saya ingin operasi itu dilakukan tanggal 6 karena pada tanggal 7 bulan berikutnya ada acara penting di Indonesia: menandatangani persetujuan proyek PLTU Kaltim dan peresmian gedung Expo Jatim. Tidak secantik ketika dalam keadaan segar. dia merasa risi. seharusnya masih di atas tempat tidur di rumah sakit di Tianjin. Maksud saya. Tanggal 7 sudah menandatangani perjanjian PLTU Kaltim dengan konsorsium bank dan meresmikan gedung Expo Jatim. saat upacara tersebut saya terlihat pucat.” tambahnya. suhu badan saya. Apalagi.

dia tidak langsung berkata-kata. Ternyata saya telah menyiksanya. Setengah memuji. “Tapi. Prof Shao seperti kian gondok. Plt saya sudah 120. dan gondok bercampur jadi satu. “Bukankah indikasi-indikasi dalam darah saya sudah menunjukkan bahwa saya kuat terbang jauh?” kata saya memecah kebekuan. Tertutupi oleh jabatan tingginya dan mungkin juga kekomunisannya. Maksud saya yang akan bisa meluluhkan hati Prof Shao. Saya tahu tidak akan diizinkan pulang. Baru pada bait ketiga saya ’memperkosa’-nya. Rupanya. Padahal. Yakni. Lalu ingat lagi acara PLTU Kaltim dan gedung Expo Jatim yang sudah menanti. Saya tidak mengadaada. “Mungkin. Ini soal kebakaran rumah memang. Langkahnya cepat. Lama dia tidak berkata-kata. Guo Qiang saya minta menuliskannya dalam bahasa Mandarin yang indah. ketegangan lima hari yang mencekam dirinya hilang. Lalu saya menunjukkan hasil lab. “Sudah saya duga. seharusnya di bawah 100 saja. setengah memompa dadanya. langsung diubah untuk menemui saya. Pagi-pagi Guo Qiang.” kata saya. tiga hari di rumah tidak bisa menikmati. meski fakta itu memang saya pakai merayu.Sekali lagi saya minta maaf berulang-ulang. kesal. Dari ekspresi wajah dan body language-nya. Kami terdiam lama. Setelah menarik napas panjang.” katanya. Mungkin merasa kok saya seperti sok tahu kedokteran. Tapi.” jawabnya. Mudah-mudahan masih terselip raya sayang di dalam campuran itu. tekanan darah juga normal. dokter-dokter muda yang menyertainya menyerahkan tisu 56 by Moezhanks . yang mestinya melakukan kegiatan rutin. Tiga minggu kemudian. Melihat itu.” katanya seperti ingin bergurau. saya tidak tahu apa hubungannya antara sakit saya dan HBV-DNA. Prof Shao seperti tidak membaca alinea pertama. badan saya sudah terasa enak. HBV-DNA Anda masih 15 juta. Tidak menduga sama sekali dia merahasiakan itu dari saya. Wajahnya merah serius. Tiba-tiba dia masuk kamar saya dengan menggenggam surat itu. “HB saya 13. ada satu data yang saya sembunyikan. “Jadi. “Semua itu benar. SGPT-OT saya mendekati normal. Sampai-sampai banyak dokter muda yang menunduk. Guru besar ternama di bidang liver itu seperti langsung membaca alinea yang ’memperkosa’-nya. Tidak pernah dikemukakan dengan lepas. Kemampuan bahasa Mandarin saya belum sampai pada tingkat untuk bisa dipakai merayu. Bersamaan dengan itu flu datang menyerang. Saya lihat Prof Shao mulai menitikkan air mata. barulah dia mengucapkan kalimat yang bernada putus asa. Beberapa dokter muda yang mengikutinya sampai agak tertinggal di belakang. Bahkan.” katanya. Guraunya selalu ringan-ringan saja. saya minta menerjemahkan surat yang saya buat. Andalah dokter terbaik di muka bumi ini. Pagi itu. Bait kedua saya manfaatkan untuk ucapan terima kasih. saya harus pulang. begitu kondisi saya stabil.” tulis saya di pembukaan surat. memasukkan kalimat-kalimat merendah. Surat itu saya mulai dengan pujian. tapi juga berisi memaksanya agar mengizinkan saya pulang. Saya juga mencoba lagi kemampuan ilmu mantiq yang saya pelajari di aliyah dulu. Rayuan saya ternyata telah diabaikannya. Bertatapan dengan saya. tapi yang terbakar rumah sendiri. Lalu minta maaf. Dia menatap wajah saya dengan tatapan multi-arti: marah. bukan rumah tetangga. Saya terpojok. anak saudara angkat saya Mr Guo. “Mana ada dokter yang mau lima hari tidak pulang untuk menunggui pasiennya?” saya menunjukkan fakta.

Saya dalam posisi sulit. Agar virus yang tidak mungkin lagi dikeluarkan dari liver itu “tidur nyenyak” saja di dalam liver. Saya pakai kursi roda selama dalam perjalanan pulang. Sebulan kemudian sudah normal. Lalu Prof Shao menarik napas panjang. Nama generik obat itu Octreotide (karena saya tak boleh menyebut nama obatnya). mengusahakan pembunuhan atas dua kanker liver saya dengan cara dimasuki alat pembunuh lewat selangkangan saya. tapi belakangan sebenarnya keluar obat baru yang harus diminum tiap hari. Mata saya juga mulai berlinang. Seminggu kemudian sudah menjadi 1. Sakit saya sudah terlewat parah. Apalagi. Yakni. Juga terhindar dari potong-limpa. dari rumah sakit saya langsung ke bandara. HBV-DNA saya juga menurun drastis. Saya harus lebih hati-hati. Kini saya sudah terbebas dari ancaman tiba-tiba meninggal. Kalau toh obat itu juga tidak berhasil. sebelum potong-limpa itu saya juga sudah dua kali melakukan TACE di Singapura. sebenarnya masih ada jalan agar terhindar dari transplantasi. Saya akan izinkan. obat yang saya siapkan nanti harus diminum. Demikian juga istri saya. *** Kian hari kondisi saya kian baik. Dengan diungkapkannya data soal kadar HBV-DNA saya. masih ada obat lain yang lebih mahal. Juga sudah terhindar dari ancaman tibatiba perdarahan dari lubang-lubang tubuh saya. Dia tahu saya tidak pura-pura. Tapi. Tidak bisa dicegah. Tanggung jawab yang juga tidak kecil. (Bersambung) Ganti Hati 21 – Yang Pro dan Yang Anti-Transplan Bertinju Sengit dalam Pikiran 15 September 2007 KALAU saja saya dulu peduli sedikit dengan badan saya. Tanggung jawab dan risiko sebagai pimpinan. setidaknya saya kini punya kesempatan beberapa bulan untuk memikirkan cara terbaik mengatasi sirosis-kanker saya secara permanen.” katanya melemah. Saya sudah hampir menubruk kakinya. “Ya. Termasuk mempertimbangkan untuk transplantasi. buying-time. Prof Shao bergegas mengangkat kepala saya. Maka. Katakanlah suntikan interveron yang saya jalani sampai 70 kali (setiap dua hari sekali) itu tidak berhasil “memingsankan” virus hepatitis B saya. tapi sekaligus minta dengan sangat agar diperbolehkan pulang.5 juta. sudah. Besok paginya. Dia menahan tangis. Kini ganti saya yang lebih banyak menitikkan air mata. Saya terjepit antara keharuan dan romantisme di satu pihak dengan rasa tanggung jawab di pihak lain. Robert Lai juga mengusap-usap matanya. Semua itu hanya usaha untuk ulur-waktu. “Bangun”-nya virus hepatitis B akan langsung menyerang liver hingga kelak jadi sirosis. Ini sebagai tanda bahwa saya minta maaf yang dalam. ternyata saya belum prima. Tanggung jawab kepada rakyat Kaltim dan Perusda Jatim. Turun dari tempat tidur dan ingin bergegas mencium kakinya. saya putuskan untuk berbuat ini di depan Prof Shao.kepadanya. Tapi. Lalu muncullah keteguhan dalam hati saya untuk lebih mementingkan tanggung jawab itu. Obat tersebut harus disuntikkan tiap 57 by Moezhanks . Saya tahu semua itu tidak menyelesaikan persoalan.

sekalipun oleh dokter yang paling pintar. meski telat. Karena itu. pasti akan menjadi kanker. Rekayasa Tuhan? Apakah Tuhan punya hobi merekayasa? Saya lebih percaya bahwa Tuhan akan konsisten dengan sunatullah-Nya. liver saya sudah “dikeroyok” sirosis dan kanker. Meski bentuknya masih pertanyaan “masak harus sampai transplan?”. Yakni. Meski sirosis tidak bisa disembuhkan. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. dokter harus memasukkan sejenis metal berbentuk kail yang punya 58 by Moezhanks . Pendarahan di liver sangat tidak mudah untuk dihentikan. transplantasi masih bisa ditunda. saya harus tetap rasional. Kalau persoalannya hanya sirosis (sirosis kok dibilang “hanya”). Itu tidak mungkin karena sirosis membuat permukaan liver saya mengeras. kosa kata “transplan” sudah mulai masuk di bawah sadar. tapi itu juga berarti secara tidak sadar kata “transplan” sudah mulai masuk dalam proses internalisasi ke pikiran saya. selain kemoterapi. Sedang dua obat yang lain saya ketahui dari Prof Shao. Nama generiknya Thymalfasin atau Thymosin Alpha-1. Sayang. Semua saya ketahui setelah liver saya menjadi sirosis. kalau dipotong. Baru dua tahun lalu saya mendapatkan informasi tentang obat-obat itu. Ke obat tradisional atau ke kekuatan supranatural. “Siapa tahu ada rekayasa Tuhan di situ. Antara satu dokter dengan lainnya memang masih berbeda pendapat mengenai keampuhan obatobat itu. Misalnya.1 juta. Tapi. di-RFA (radio frequency ablation) atau di-TACE (trans arterial chemoembolization). dia akan punya kemungkinan terjangkit hepatitis. Termasuk sunatullah bahwa kalau tidak melakukan imunisasi hepatitis. Termasuk mulai mempertimbangkan kata yang mengerikan itu: transplantasi liver. Sebab. Tetap menggunakan pemberian Tuhan yang sangat berharga itu: otak. Setidaknya. pasti akan mengarah ke sirosis. Satu proses awal dalam sebuah perjalanan spiritual untuk sampai pada kata akhir: siap transplan. Masak saya sampai harus melakukan itu? Masak saya separah itu? Masak tidak ada jalan lain? Masak tidak akan ada keajaiban? Masak tidak ada obat alternatif? Masak tidak ada dukun atau kiai yang linuwih (punya ilmu lebih)? Tapi. Dan kalau sudah sirosis. Untuk memberikan kesempatan bagi saya memikirkan harus melakukan apa yang lebih mendasar. mau dipotong bagian yang ada kankernya. Yang Anticavier saya ketahui dari dokter di Singapura. Mengolor waktu. Dan bahkan ketika sirosis saya sudah berkembang ke kanker. kata “transplantasi” sebenarnya masih jauh dari pikiran. Sebab. bisa membantu saya buying time. Banyak teman menganjurkan juga untuk pindah ke jalur alternatif. Baik yang kejawen maupun yang dibungkus religius. sekitar Rp 1. Begitu pula kalau masalahnya hanya kanker (kanker kok juga dibilang “hanya”). masih ada satu obat baru lagi yang juga harus disuntikkan ke saya selama sembilan bulan berturut-turut.dua hari sekali selama sembilan bulan. masih ada tiga cara lain untuk mengatasinya. untuk sekali suntik. Harga obatnya saja. tapi mungkin masih bisa diperlambat. akan menyebabkan pendarahan hebat yang bisa membunuh saya. Permukaan liver yang mengeras itu. Masalahnya. sehingga tidak mudah untuk mengatasi kankernya. Yang ini nyuntiknya sebulan sekali. dengan memotong bagian yang terkena kanker.” kata teman saya. saya tahunya sudah sangat terlambat. saya tetap memakai obat-obat tersebut. untuk membakar (mengablasi) sel kanker saya. Waktu itu. Begitu pula kalau mau di-RFA atau dibakar dengan energi panas. Selain Octreotide. Karena itu. bagi pasien yang ingin sembuh dan punya uang. pasti tergoda untuk mencobanya. Kalau sudah kena hepatitis.

karena limpa saya terus membesar. Kail itu ditembuskan ke dalam liver melalui perut. limpa bisa pecah: mati. Sementara bangkai sel-sel darah merah makin bertambah. Sel darah merah memang harus mati dalam kurun waktu tertentu dan harus “dikuburkan”. Cara itu tentu sangat membahayakan saya karena mata kail tersebut harus lebih dulu menjebol permukaan liver saya. Padahal. Tindakan itu jelas bisa menyebabkan liver mengalami pendarahan. akibatnya bisa fatal karena sayatan tersebut menembus sampai ke pembuluh darah besar di paha. Seharusnya kadar darah putih saya minimal 200. Darah putihlah yang menguburkannya dengan cara “memakan”-nya. kerusakan pada bagian tubuh yang masih baik akan terus terjadi. sejenis sinar rontgen. obat kemonya tidak diinfuskan seperti umumnya kemoterapi. saat itu. Padahal. darah putih berfungsi. limpa yang membesar membuat darah putih saya menurun. Tindakan medis tersebut memakan waktu kurang lebih dua jam. Limpa saya saja sudah membesar. sehingga terjadi pendarahan. Karena itu. Kalau turun 10 poin lagi. Kalau sampai tahun lalu. Bedanya. Karena darah putih yang sangat kurang itu. transplantasi juga masih bisa ditunda dengan cara di atas. Saat itu tinggal 60-an. Bahkan. kalau problemnya hanya sirosis dan kanker (Huh! Sirosis dan kanker kok masih dibilang “hanya”). menguburkan sel-sel darah merah yang mati. sel-sel darah putih yang baik pun ikut dikubur oleh organ itu. saya sudah tak bisa bertahan dari infeksi. antara lain. Jadi. Setelah obat kemonya menembus sasaran. diputuskanlah untuk membunuh kanker saya dengan metode TACE. persoalannya. Daya tahan tubuh saya sangat menurun. dan paru saya juga segera rusak. Selama hampir semalam saya tidak boleh turun ranjang karena khawatir luka sayatan itu terbuka. Kalau itu terjadi. Cara itu pada prinsipnya sama dengan kemoterapi. saya akan sangat gampang terkena virus. Jadi. Pekerjaan mengubur dan menghancurkan bangkai sel-sel darah merah itu dikerjakan di limpa. ke mana bangkai-bangkai darah merah tersebut? Itu juga membuat problem sendiri pada tubuh saya.beberapa mata kail. empedu. dan limpa saya. kalau pinggang saya kena bola atau kena sodok. platelet saya 59 by Moezhanks . barangkali ginjal. untuk memblokir cabang-cabang arteri di liver yang melewati sel kanker saya. Dengan begitu. Ini perlunya untuk menutup akses makanan ke sel-sel kanker itu. jantung. Kalau saya biarkan. diharapkan sel-sel kanker saya akan kelaparan dan tak lama kemudian mati. Dengan bantuan fluoroscopy. kateter itu lantas didorong masuk sampai ke arteri (pembuluh darah yang membawa darah bersih dan sari makanan dari jantung) yang di hati. Namun. Itu sudah termasuk mencabut kateter di pangkal paha saya dan membalut kuat-kuat bekas sayatan yang di paha. akibat sirosis itu. Tidak pecah pun. Lama-lama. Makanya. bagian-bagian tubuh saya yang lain ikut rusak dan bisa saja jadi penyebab kematian yang lebih besar. Limpa saya itu kian hari masih akan terus membesar. Tapi. saat itu jumlah darah putih saya terus menurun. sebelum masuk ke sel kanker. yang sudah ikutan rusak adalah saluran pencernaan. dokter lantas memasukkan lagi obat lain. melalui kateter yang sama. Sudah tiga kali lipat lebih besar daripada limpa orang normal karena darah yang tidak bisa lancar masuk ke liver mbendal (terpental) masuk ke limpa. melainkan diinjeksikan langsung ke sel kankernya melalui selang kecil panjang (kateter) yang dimasukkan melalui pembuluh darah besar di pangkal paha (arteri femoral). selaput perut.

Bukan secara rasional-teknis-medis. 60 by Moezhanks . Lalu. Takut tulang-tulang kecilnya masuk ke tenggorokan. ketika memulai sembahyang harus mengulangi takbir berkali-kali? Mengapa ada orang yang mudah menangis ketika berdoa? Mengapa ada yang tidak bisa menangis? Gejala agamakah? Gejala psikologiskah? Saya bukan ahli psikologi. Akhirnya. Seperti yang sudah saya singgung sebelum ini. saya sering merenungkan (yang sampai sekarang belum sampai pada kesimpulan) soal yang rumit dan peka ini: khusyuk itu gejala religi atau gejala psikologi? Mengapa ada orang yang mudah khusyuk? Tapi. Atau. Sehingga. hidung. Satu yang punya pendapat jangan transplan. memang transplantasi Cak Nur gagal. “Bukankah terlalu banyak contoh transplan yang gagal?” tambahnya. Setiap saat bisa pecah. Maka. Jadi. ketika air sudah memenuhi rongga perut (ascites). Saya sudah biasa menghitung komposisi psikologis dan rasionalitas dalam setiap mengambil keputusan. telinga. ketika membran selaput dada sudah kena infeksi. Tapi. saya pernah takut makan ikan. Tim yang pro-transplan mengemukakan. Saya ingin mendapat pertimbangan yang arahnya berlawanan. cuma ada satu jalan: transplantasi liver. Ada yang lebih berbahaya lagi. Kita tidak tahu pastinya. saya kalahkan. sewaktu-waktu saya terancam mengalami pendarahan dari mana saja: dari mulut. Artinya. Dan “kubu antitransplan” di tim saya juga tidak tahu mengapa Cak Nur gagal. kalau misalnya kankernya sudah sampai di vena porta (pembuluh darah balik yang utama di liver). Dan. hanya karena terkena benda tajam seperti keripik atau tulang ikan atau roti kering. penyebabnya kan jelas: virus Citomegali. kalau ginjal dan paru sudah ikut rusak. Bahkan. untuk itu. Karena itu. mungkin telanjur sangat parah.” kata pro-transplan. lalu melukai dan menusuk balonbalon itu. Tapi.juga terus menurun. bahkan dari lubang kemaluan. “Pak Dahlan pun. Atau. Satunya lagi yang pro-transplan. saya memang membentuk dua tim. dindingdindingnya berubah jadi balon-balon berisi darah. mungkin juga akan lebih sulit. Semua itu gara-gara liver yang sirosis. status kata “transplan” pun meningkat dalam pikiran saya. Kecuali liver saya segera baik. proses kerusakan di organ lain ternyata tak bisa saya hentikan. Tapi. “Tapi. darah-darah yang mbendal itu juga memenuhi saluran percernaaan saya (varises esofagus). Virus yang munculnya hanya dalam kasus transplantasi. Misalnya. Secara tidak formal. Kuat secara psikologis. bulatlah tekad saya: ganti liver. bisa saja karena kondisi Cak Nur sendiri yang memang sudah lebih parah daripada kondisi saya saat ditransplan. Kegagalan transplantasi yang dilakukan tokoh Nurcholish Madjid (Cak Nur) sungguh menjadi alasan pembenar yang kuat sekali bagi kubu yang tidak setuju transplantasi. sudah pasti pertimbangan yang lebih didominasi perasaan. Juga bukan ahli agama. Dari sekadar tamu yang sedang mampir menjadi penghuni utama. mengapa banyak juga yang sulit khusyuk? Sampai-sampai. meski mungkin saya bisa membunuh sel-sel kanker dengan TACE dan berhasil memperlambat proses kerusakan total liver oleh sisrosis. Atau. Saya bisa mati hanya oleh satu tulang ikan yang amat kecil. kalau gagal gimana?” tanya kubu yang anti-transplan di tim saya.

tali ring menyelamatkannya: Tapi. Keheningan terpecah oleh suara salah satu tim pro-transplan. Kedua tim masih akan terus bertinju. bel sudah menunjukkan bahwa waktu sudah habis. Pemenang sudah harus ditentukan sebelum salah satunya KO. Hasil perkalian tertinggi. kedekatan budaya. “Saya mantap dengan transplan. Saya pernah disekolahkan 61 by Moezhanks . Bertubi-tubi ayunan tinju dihokkan ke wajah tim yang pro-transplan. Akan bisa bertahan hidup berapa tahun lagi?” katanya seperti sedang mulai memberikan pukulan tinju kepada tim saya yang pro-transplan. “Katakanlah transplantasinya berhasil. kita sudah tiba pada kesimpulan transplantasi akan gagal. apakah kita harus membiarkan Pak Dahlan selama lima tahun menjalani kehidupan dengan kualitas yang buruk? Harus selalu dikemo. Dengan segala risikonya. Lalu. “Memang peran pasien sendiri amat menentukan. Satu proses untuk melakukan pembobotan dan penilaian atas semua pilihan. Saya mantap transplan. dan kedekatan bahasa. “Ya. keluar-masuk rumah sakit. Semua diam. kesediaan donor. diTACE. (Bersambung) Ganti Hati 22 – Ingin Naikkan Albumin. barulah saya menentukan langkah. Begitu pasien ragu-ragu. Dari situ baru kami tentukan tempatnya. Lalu mengalikan bobot dan nilai. menjalankan satu proses yang disebut problem solving. tidak bisa makan enak.” katanya. Sampai mau terlempar dari kanvas. dan ketepatan rumah sakitnya.” kata saya. Apakah tidak ada bibit kanker yang akan mbalik ke liver baru? Apakah bibit virus hepatitis B yang sudah ikut beredar di darah tidak menjangkiti liver baru? Lalu jadi sirosis lagi? Jadi kanker lagi? “Katakanlah setelah transplan masih bisa hidup lima tahun lagi. Berburu Banyak Ikan Kutuk 16 September 2007 SETELAH hati mantap melakukan transplantasi. Kemantapan tekad pasien akan menjadi kunci suksesnya. saya melihat tim pro-transplan sempoyongan. kedekatan dengan Indonesia. mengapa harus berjudi dengan transplan? Sebagai dewan juri yang harus adil. dalam setiap akan mengambil keputusan. Lalu masih ada sejumlah “persyaratan keinginan”. juga tidak boleh. Tapi. Misalnya. Kalau kita paksakan transplan tapi pasien tidak mantap. Saya sudah terbiasa. ditutup dengan pukulan upper-cut yang telak: sama-sama bisa bertahan lima tahun. Apakah kalau tidak ransplan tidak bisa bertahan lima tahun lagi? Dengan obat-obat yang kian maju?” tanya tim yang anti-transplan. Ada tiga yang harus dipertimbangkan. Tapi. tidak bisa bekerja dengan baik? “Itukah hidup? Untuk apa hidup kalau kondisinya harus tersiksa seperti itu?” serang tim pro-transplan tibatiba. Seperti kata dokter di Singapura itu.” kata saya.Tapi. Kehebatan dokter. Tiga faktor itu saya sebut sebagai “persyaratan mutlak”. itulah pilihan terbaik. kubu “anti-transplan” di tim saya masih punya alasan lain.

Juga. Maka. dan sedikit banyak sudah bisa berkomunikasi dengan bahasanya. Proses manajemen itu kemudian saya bawa juga ke dalam jurnalistik. Pengalamannya juga luar biasa. Namun. Dari masing-masing negara kita pilih satu nama. Dan. mengindikasikan akan kuat dalam menghadapi tekanan mental maupun fisik. Kalau hanya masuk ’persyaratan keinginan’. bisa saja mempekerjakan juru bahasa. Boleh dikata. Dan. 62 by Moezhanks . Penampilannya meyakinkan. menurut logika saya. Kita pelajari track record-nya. Bahkan. dialah dokter Tiongkok yang paling jago di bidang transplantasi liver. reputasinya yang tinggi sebagai pusat transplantasi liver sudah sangat terkenal. Amerika. rekor transplantasi untuk pasien usia dini (3 tahun). Itulah yang membedakan wartawan Jawa Pos dengan wartawan lain. Sangat bersih dan terawat. sudah membukukan beberapa rekor: Rekor terbanyak. Padahal.untuk itu di Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Manajemen (LPPM) ketika saya masih jadi wartawan majalah berita mingguan TEMPO. sebagaimana yang dilakukan orang-orang Jepang dan orang dari negara-negara Arab. tapi saya sudah mengenalnya dengan sangat baik. mau tidak mau harus dipenuhi. masih ada satu yang meragukan. Sudah melakukan tranplantasi liver lebih dari 500 kali. Masih juga ada satu pertanyaan: maukah dia menangani saya? Ada waktukah dia? Inilah tugas Robert berikutnya. Belanda. Yakni. Wartawan Jawa Pos harus menjalankan ’10 rukun iman’ atau ’Ten Commandments” yang saya tentukan. umurnya. Dia memperoleh pendidikan khusus untuk ini di Jepang. Urat-uratnya kukuh. Tentu hal ini tidak diajarkan di fakultas publisistik atau di akademi wartawan. Tapi. Maka sudah tidak tengok sana-sini lagi: Di sinilah saya akan melakukan transplantasi liver. Kunjungan pertama saya ke sana sekitar 10 tahun lalu. Saya ingin dokter yang berpengalaman. Saya ajarkan sebagai doktrin di Jawa Pos. Saya mengenal baik kotanya. Saya sendiri pun lantas mengunjunginya. tapi saya tidak peduli. yang saya ragukan ini masuk dalam ’persyaratan mutlak’. Singapura. Hasil kunjungan Robert Lai sangat memberi harapan. Jepang. transplantasi untuk pasien tertua (76 tahun). Saya langsung jatuh cinta pada kunjungan pertama. Apa itu? Tempat! Apakah di Tiongkok ada rumah sakit yang bagus sekali? Bukankah rumah sakit di sana terkenal joroknya? Untuk ini Robert Lai memeriksa rumah sakit tempat dokter itu berada. Artinya. rekor transplantasi tanpa transfusi darah. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kalau saya tidak bisa sedikit-sedikit berbahasa Mandarin. Tangan anak muda. akan lebih firm ketika memegang pisau bedah. Saya percaya hanya yang muda yang bisa diajak balapan di segala bidang. Hati saya mantap sekali. Untuk Indonesia kota ini tidak populer. mengenal baik budayanya. tapi masih muda. Memang. Proses yang sama saya terapkan dalam melakukan analisis problem-solving atas tekad saya yang sudah mantap melakukan transplantasi liver. dan Tiongkok. tidak akan semulus kalau diri sendiri yang tahu bahasa itu. Dari proses itulah lantas kami pilih dokter ini. Itulah salah satu sumbangan ilmu manajemen ke dalam praktik jurnalistik di Jawa Pos. di satu kota di belahan utara Tiongkok. tim menyeleksi dokter-dokter ahli transplantasi di dunia: Australia. Saya memang sangat pro anak muda. Alat-alatnya juga amat modern. barangkali bisa diabaikan. Sungguh tak terbayangkan bahwa tekad saya untuk belajar bahasa Mandarin lima tahun lalu ternyata saya sendiri yang akan memetik manfaat terbesarnya. Berkali-kali saya ke kota itu. dia selalu berhasil menjalankan misinya. terutama. Mungkin tidak akan diakui sebagai salah satu teori jurnalistik. Umurnya masih 52 tahun dan badannya tinggi tegap. Khususnya tower yang baru.

mencari sopir. kalau ada sesuatu yang mendadak (misalnya. Lalu dia sumpek sendiri membayangkan sulitnya. saya tahu lebih jelas mengapa dia berontak. 63 by Moezhanks . Karena itu. ayat-ayat mulai Al Fatihah sampai terakhir surat An Nas dari imam salat tarawih di Masjidilharam. tinggal di apartemen. mungkin juga karena sering telepon memang tidak baik bagi pasien seberat dia. Keluarga saya. Suatu saat saya ke Kota Dalian. Apalagi sosok saya yang sosok Asia. Tapi. dan juru masak. Keesokan harinya lengan saya sakit sekali. Mungkin untuk menghemat pulsa. Kita bisa mencoba main squash tanpa harus lari-lari mengejar bola. karena hampir selalu berbahasa Mandarin. pembantu rumah tangga.Bahkan. Suatu malam saya tidak bisa tidur. Pagi 2 jam. Saya main squash cukup lama. Kalau akhir pekan. tapi tidak diizinkan. sore 2 jam. Istri saya tidur di ruang tamu. Apakah dia sudah terkena kanker? Apakah kankernya sudah sampai ke kepala sehingga mengganggu otaknya? Paginya dia berteriak-teriak lagi. Saya lupa akan selang infus di lengan saya. yang ada ruang tamunya. Bahwa kulit saya agak hitam. banyak juga orang dari wilayah selatan atau dari Hainan yang juga berkulit seperti saya. Saya tinggal di rumah sakit. Siangnya. Atau mendengarkan ayat-ayat Alquran yang kasetnya dia beli di Makkah. dapurnya. Dia tahu belum tentu transplantasi bisa dilakukan segera. Pasien dari negara Arab di sebelah kamar saya berteriak-teriak sepanjang malam. Ini saya ketahui setelah saya bicara kepadanya dalam bahasa Arab. Sudah beberapa tahun saya dan istri selalu di Makkah saat akhir Ramadan. Rupanya rumah sakit masih khawatir dia akan berontak sehingga terus diikat. Dia memang tidak bisa berbahasa Inggris. Guo Qiang mencarikan gurunya: tiga gadis yang masih kuliah di tahun terakhir IKIP setempat. Sepanjang selang itu (mulai dari lengan sampai dada) kemeng sekali. saya bisa kembali segera. saya sering tidak dianggap orang asing. dan juga Robert. Problem transplantasi adalah di kesediaan donor. ternyata tidak. Pada hari-hari seperti itu saya terbang ke provinsi lain. Saya mencoba menengoknya. Saya boleh terbang-terbang asal masih dalam radius empat jam penerbangan. Di salah satu plaza di sana. Saya tahu tidak ada operasi pada Sabtu dan Minggu. Yang tidak mengizinkan adalah kerabat yang menunggunya. saya pamit ke kota lain. Ternyata dia berontak karena ada janji. saya sering lupa kalau di lengan saya sudah dipasangi selang kecil yang ujungnya ada di dekat jantung. tiba-tiba ada donor). saluran internetnya. Untuk membunuh waktu saya memutuskan meneruskan belajar bahasa Mandarin. ada penjual raket squash dengan bola yang diikat tali karet. Masa menunggu tidak bisa ditentukan. Dia tahu saya tidak akan bisa hidup tanpa jaringan internet. membeli mobil. Robert juga langsung memesan kamar terbaik. Dia memilih mendengarkan lagu-lagu kasidah dari CD yang dia bawa. Yakni. Tahulah saya bahwa dia masih diikat di ranjang. Dua kali sehari. Ternyata pasien itu ingin menelepon keluarganya. sudah lebih siap. Maksudnya. Robert juga langsung menyewa apartemen untuk setahun. Selang infus itu diperlukan kalau tiba-tiba harus transplan. Bahasa Arab saya sudah banyak yang hilang sehingga perlu waktu lama untuk mengingat banyak kata yang jarang dipakai. Badan saya memang sangat sehat secara fisik lahiriah. satu jam penerbangan dari kota ini. Istri saya sering melihat bagaimana saya belajar. Ini penting untuk kesehatannya sendiri. pagi-pagi ikatan sudah akan dilepas.

masak tidak ada kutuk di Tiongkok. Badan saya harus sehat. karena bentuknya seperti ular yang amat pendek. di Harbin. Di Tiongkok. saya terus menjaga kondisi. di Nanjing. Titik. saya tidak menemukannya. sering untuk tasbih) kini menjadi orang terkaya nomor 200 di Tiongkok. mulailah saya minta istri saya berburu kutuk setiap hari. Prof Eddy Suprayitno. Satu-satunya sumber albumin adalah sahabat kecil saya dulu di desa: ikan kutuk. Saya menghubungi guru besar Unibraw. meningkatkan albumin luar biasa sulitnya. Berminggu-minggu kami mendalami internet untuk mengetahui makanan apa saja yang bisa menaikkan albumin. Dalam masa penantian itu saya tidak boleh terkena flu. tidak terus merosot. dia minta tolong saya untuk memberi tahu perawat agar membantunya menelepon keluarga. Saya menyarankan agar menambah “nol” di pijitan terakhir. Dia mulai kesal dan uringuringan. Karena flu saja bisa mengurangi potensi kesuksesan transplantasi. peneliti seperti itu jadi kaya raya. Ternyata nyambung. berarti nol. Penjual ikan di Pasar Rungkut hafal betul dengan istri saya. Dia mendiktekannya ke suster dengan bahasa Inggris yang amat tidak jelas. Tapi. Tapi. Tapi. karena saya akan tinggal lama di Tiongkok. Mulai daging. Saya juga harus menjaga agar protein di darah saya. buah manikan ternyata mengandung khasiat antikanker. Dia lantas menyodorkan hand phone yang rupanya tidak dibawa pergi oleh penunggunya. tentu saya akan kesulitan membawa kutuk ke sana. dan seterusnya. Saya melakukan senam dan tidak mengenakan baju pasien. di Wuhan. Maka saya mencari kutuk di sana. terutama albumin. Untuk menambah protein banyak sumbernya. Malang. Ternyata dia juga sudah mengantongi secuil kertas lusuh berisi nomor telepon. Sambil menunggu dan menunggu. dalam huruf Arab. Saya hanya perlu transplantasi liver. Luar biasa senangnya. Tapi. Di Kalimantan disebut ikan gabus. Tahulah saya bahwa angka yang dipijit kurang satu digit. Seorang peneliti padi yang dulu hidup di desa selama 20 tahun. Tidak ketemu. Saya lupa bertanya apakah Prof Suprayitno sudah mematenkan penelitiannya dan memikirkannya untuk sebuah industri. sebagaimana umumnya guru besar di Indonesia. di Qingdao. Di setiap kota yang saya singgahi saya perlukan untuk mengunjungi pasar ikannya: di Nanchang.” gurau saya kepada mereka. Entah sudah berapa ton saya mengonsumsi sop kutuk.Ketika penunggunya lagi pergi. 64 by Moezhanks . setiap kali nomor itu dihubungi selalu gagal nyambung. Yang saya tahu kehidupan Prof Suprayitno amat sederhana. juga tidak ditemukan satu pun jenis makanan yang dimaksud. Mengapa? Ini karena ada satu titik di belakang angka-angka itu. Satu orang yang meneliti satu jenis tanaman liar yang disebut ’tear drop’ (di desa saya dulu disebut manikan. putih telur sampai ikan. Tapi. kini menjadi pemegang saham perusahaan pembibitan dengan aset triliunan rupiah. angka-angka itu angka Arab. di Dalian. Satu-satunya orang yang melakukan penelitian terhadap ikan kutuk. Lalu muncul di pikiran. Akhirnya saya rayu dia untuk memberikan cuilan kertas itu. Di Tiongkok. Dalam bahasa Inggris dikatakan “ikan kepala ular”. yang biasa menyediakan menu ribuan macam di internet mereka dalam bahasa Mandarin. “Saya memang tidak sakit. dan melihat saya bisa bicara Arab. Para suster bilang bahwa saya ini bukan seperti orang sakit. Suster tidak tahu dan pasien juga tidak jelas melihatnya. Setelah penjelasannya meyakinkan. Sebab. Ikan kutuk ternyata tidak ada di tempat lain. Jadi amat berharga.

di sana disebut “hei yu” -”hei” artinya hitam. Saya pernah ke desa itu sebelum tahu bahwa saya punya sirosis. Anda bisa menduga sendiri. saya belum terkena peraturan itu karena saya sudah mendaftar sebelum itu. Padahal. saya memutuskan untuk selalu makan banyak. Saya berterima kasih padanya. Saya merasa punya tanggung jawab yang belum saya penuhi. dimakan dengan nasi kuning. mempertahankan albumin menjadi amat penting. ternyata terhalang aturan baru itu. keluar peraturan baru: tidak gampang lagi pasien asing mendapatkan donor. Tapi. Akhirnya. Saya pun datang dengan harapan seperti itu. meski belum fatal. Sebagaimana juga di Kaltim. Juga melakukan perundingan dan penandatangan kontrak mesin-mesin di Tiongkok. Pasien asing banyak yang gelisah. (bersambung) Ganti Hati 23 – Datang Tawaran Liver Hidup dari Orang Muda asal Bandung 17 September 2007 SAYA hampir kehilangan momentum. Di Kalimantan lebih lengkap. dengan bahasa daerah yang tidak saya mengerti. Bapak teman saya.Di Nanchang. “Hei yu” juga banyak. mestinya. Dia naik kendaraan umum selama satu jam untuk bisa sampai ke kota. Kali ini untuk menyelesaikan urusan di Kalimantan Barat. yang di sana disebut ikan gabus. Untuk menunjukkan keseriusan. Tapi. Tapi. Gubernurnya sudah sangat mendambakan turun tangan saya. yang kalau di Kalimantan disebut ikan tomang. liver bisa memproduksi albumin. karena liver saya rusak. “yu” artinya. 65 by Moezhanks . “Kutuk Tiongkok” ini lebih hitam. Karena itu. saya ingin pulang dulu dua hari. Bentuknya memang persis kutuk. Apalagi di lengan saya sudah dipasangi saluran infus sampai ke dada. mengingat krisis listrik di sana sudah berlangsung lebih dari lima tahun. sungguh sulit mengatasinya. enak sekali dimasak bumbu bali. dia datang dengan bapaknya sambil membawa satu ember ikan. Maka saya bersama gubernur dan Dirut PLN menandatangani MoU pembangunan PLTU di Pontianak. Tapi. Dulu-dulunya. “Hei yu”. Sedangkan ikan gabus yang manis. waktu menunggu sering tidak sampai sebulan. saya langsung membeli tanah 20 hektare di lokasi yang paling cocok untuk itu. Badan saya harus sehat menghadapi operasi besar. Sebulan setelah saya menunggu. sangat banyak. Selama di Tiongkok saya kesulitan sumber albumin ini. sebagai persiapan transplantasi yang sudah dekat. Enak tidak enak sudah tidak penting lagi. saya ingin ikut mengatasi krisis listrik di Kalbar. juga bisa tumbuh besar sampai kuat merusak perahu kayu kecil-kecil. “Hei yu” di Kalimantan lebih banyak dimanfaatkan untuk ikan asin. Ibaratnya saya harus seperti kerbau yang akan dijual untuk disembelih: Harus sehat dan gemuk. dagingnya hambar. sebenarnya bukan. Kedatangan saya untuk antre transplantasi liver ini agak terlambat. Krisis listrik di Kalbar lebih parah daripada di Kaltim. Dalam keadaan normal. menjelaskan panjang lebar bagaimana satu hari tadi dia berusaha mencari ikan satu ember itu. Kutuk. Saya memutuskan sabar menunggu. Tapi. Ketika saya ke Nanchang. Saya mengatakan “benar”. Kandungan daging “hei yu” tidak sama dengan kutuk di Jawa. setelah dua bulan tidak juga ada tanda-tanda akan mendapat donor. itulah ikan yang saya cari. teman saya di pelosok desa mengabarkan di desanya banyak ikan kutuk. agar badan tetap sehat. Tapi. tapi bukan kutuk.

Yakni. Dokter mencari-cari saya apakah bisa membatalkan kepergian saya ke Indonesia. tidak ada tanda-tanda fisik mulai membangun PLTU. besok pagi sudah tumbuh lagi. kira-kira dua tahun lalu. ya sampai meninggal. peserta tender ingin mengajak saya bergabung membangun PLTU tersebut. setidaknya saya bertanggung jawab untuk mewujudkan sesuatu di sana. Hanya operasinya lebih sulit: Orang yang sehat dibedah. Dan lagi. Memang. Yakni. Investor yang mau datang pasti mengeluhkan listrik. Pada saat yang sama. Tentu saja tidak. mendatangkan donor dari negaranya. sebenarnya ada donor yang potensial. Karena itu. Karena itu. Saya harus datang ke sana untuk membuat keputusan yang terpenting. beruntung bahwa ternyata donor potensial itu ternyata juga tidak cocok untuk saya.Namun. Tapi. Setelah itu. Hanya dalam tempo dua tiga hari pascaoperasi. ginjalnya tetap satu. saya sudah di atas pesawat. dia sudah boleh latihan berdiri dan berjalan. Seseorang bisa hidup normal dengan liver yang hanya separo karena liver atau hepar atau hati adalah satu-satunya organ yang bisa tumbuh kembali dengan cepat. Dengan begitu. Tentu saya tidak mau kalau modal dia hanya selembar kertas izin. Kami bukan spekulan atau jual beli tanah. Yakni. suatu ketika. Dan dalam tempo tiga minggu sampai maksimal sebulan. donor orang hidup. Saat saya menyelesaikan urukan Kalbar itulah. pemenang tendernya. Tidak kaya sumber alam dan tidak punya proyek besar. lalu livernya dipotong separo. Tender itu berjalan lancar dan itu memang proses yang benar. Saya harus menunggu lagi entah berapa lama. Terutama sebagai ungkapan terima kasih kepada masyarakat setempat bahwa koran kami di sana menjadi yang terbesar. saya memang tidak dalam posisi mencari proyek. Saya hanya ingin ikut mengatasi krisis listrik di Kalbar. Berbeda dengan ginjal dan organ lain. sekali orang kehilangan ginjal. yang mau menyumbangkan separo livernya untuk dicangkokkan ke pasien. Juga nasib (tanah) saya. Banyak pengungsi Madura akibat kerusuhan etnis pada 1999 itu yang mulai bekerja di proyek ini. Mereka mencari salah satu keluarganya. Provinsi itu sangat kasihan. Seminggu berikutnya 66 by Moezhanks . mengolah hasil pertanian rakyat yang selama ini harganya selalu hancurhancuran di musim panen. Orang-orang Pakistan mulai mencari jalan sendiri. Jelek sekali nasib Kalbar. liver yang dipotong itu sudah akan utuh kembali. beberapa waktu kemudian ternyata PLN melakukan tender untuk pembangunan PLTU itu. Kami tidak mau ikut tender itu karena merasa PLN tidak beretika sama sekali. Ini mungkin karena liver adalah satu-satunya organ tubuh yang kalau dipotong bisa tumbuh utuh lagi. Hari ini separo livernya didonorkan. tanpa sedikit pun memberi informasi kepada saya bagaimana nasib MoU yang sudah dibuat. sebagai awal dari membangun Kalbar lebih lanjut. Tapi. saya bertekad menggunakan dana yang sudah saya siapkan untuk PLTU ke proyek lain: perkebunan rakyat. Kami serius membeli tanah tersebut untuk PLTU. sampai tulisan ini dibuat. Dia juga menanyakan apakah tanah kami akan dijual. potongan liver yang sudah dilepas dari tubuh pemiliknya ditanamkan ke tubuh si penerima. si calon penerima (resipien) liver juga dibedah untuk membuang (seluruh) livernya yang sudah rusak. Memang bukan salah saya kalau sampai hari ini belum ada tanda-tanda konkret krisis listrik Kalbar akan teratasi. Proyek itu harus berjalan. Beda dengan donor liver. Berarti Kalbar kehilangan lagi waktu tiga tahun. Tapi. atau sukarelawan. seorang donor juga tak perlu tinggal berlama-lama di rumah sakit. Tapi.

Badannya yang tinggi tegap sangat sehat. Di Tiongkok. baik yang masih di dalam tubuhnya maupun yang sudah pindah ke tubuh orang lain. Apakah harus dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri? Dia bilang. yang bahasa Inggrisnya bagus sekali. Termasuk saya. Jadi. Mobilnya juga masih gres dari merek yang tidak murah. sel-sel kanker yang mungkin masih tersisa di liver saya bisa menyebar (metastase) ke mana-mana. Karena itu. Saya butuh melangkah cepat. Dia menjadi amat yakin itu juga akan berhasil. 67 by Moezhanks . Dan. Darah maupun rhesus-nya cocok sekali dengan saya. Mengapa dia begitu berani? Karena. dia sudah menghitung risikonya. Tim kami segera ke Bandung melihat keadaan rumah tangganya. seseorang dari Jakarta menghubungi kami. Sikap istrinya.” katanya sambil menggambar di papan tulis tentang bagaimana livernya tumbuh kembali. yang semula hanya 11 cm. Handphonenya pun Communicator seri terbaru. “Sekarang sudah jalan-jalan dan mau saya ajak ke sini. dan keponakan-keponakan. Mulailah saya melihat ke istri. Lalu mengajak salah satu pendonor ke kamar saya. Beberapa teman dekat yang siap mendonorkan separo livernya juga tidak ada yang cocok darahnya. Anak muda itu mengatakan tidak menginginkan apa pun kecuali menyelamatkan nyawa saya. potongan itu sudah akan tumbuh menjadi liver yang utuh sebagaimana orang normal. Liver saya yang di sana.dia sudah bisa beraktivitas lagi. Tapi.” tambahnya. umumnya masih satu liver untuk satu pasien. Bagaimana dengan penerima livernya? “Bapak itu juga mulai baik. livernya dibagi dua. di kompleks perumahan yang cukup mewah. memang masih harus ekstrahati-hati karena tiga sayatan panjang bekas operasi di perutnya masih basah.” kata Robert sambil menepuk bahu anak muda Pakistan itu. “Liver saya yang setelah dipotong tinggal 9 cm.” katanya. Ternyata. dia cukup berada. Saya amat yakin dengan jalan itu. Memberitahukan perihal seorang anak muda dari Bandung yang mau secara sukarela mendonorkan livernya. Saya juga memutuskan akan melakukannya. bisa jadi fungsi liver saya akan keburu memburuk. Saya harus berhitung dengan sirosis dan kanker saya yang sedang berlomba dengan waktu. Robert menemui keluarga-keluarga Pakistan itu untuk mempelajari bagaimana praktik cangkok liver dengan donor hidup. mengapa berani. lantas menceritakan mengapa mau melakukan itu. Umurnya masih 32 tahun. tidak kecil. hari ini sudah 17 cm. Saya tidak yakin bisa dapat donor utuh dalam waktu dekat. “Dia mendonorkan livernya dua minggu yang lalu. Tapi. dia ingin menebus penyesalannya yang tak sempat menyelamatkan bapaknya yang keburu meninggal sebelum tranplantasi dilakukan. satu liver untuk dua pasien. Semula kami memperkirakan harus membantu kehidupannya. Lalu dia menunjukkan perutnya yang masih dibebat untuk mengeringkan luka akibat pembedahan. jalan tidak buntu. dia bilang. Anak keduanya baru bisa berjalan. Kalau saya menunggu terlalu lama. Menjelang transplantasi. Dua minggu lagi sudah kembali utuh seperti semula. Ternyata. sekarang sudah menjadi 16 cm lagi. Lantas bagaimana nasib potongan liver yang sudah berpindah tubuh tadi? Ini pun tak perlu dikhawatirkan karena dalam tempo maksimal tiga bulan. di negara-negara yang jumlah donor mayat (cadaver)-nya terbatas. karena penurunan fungsi itu bisa merusak pertahanan tubuh saya. Rumahnya baru. Tanpa kami cari. anak-anak. di luar dugaan: Sangat mendukung keputusan suaminya. tidak satu pun yang darah dan rhesus-nya sama dengan saya. dan bagaimana kondisinya sampai saat itu. Anak itu sendiri.

selalu saya jawab apa adanya. Tetap saja persoalan rumit-rumit. (Bersambung) Ganti Hati 24 – Istri Khawatir Saya Meninggal dengan Wajah Menghitam 18 September 2007 SAYA tidak berhasil menyembunyikan perubahan di wajah saya. 68 by Moezhanks . Yang harus dimarahi. “Kalau tahu seperti ini. tapi saya sampaikan dengan nada yang menyenangkan.” kata Robert. Tapi. saya tidak akan sampai hati mengejar-ngejarnya selama ini. Ya. Saya punya filsafat tersendiri dalam menyikapi umur. jawaban saya jujur. Saya masih keberatan. rapat. saya sebenarnya tidak sengaja menyembunyikannya. saya berhasil menyembunyikan keloyoan fisik saya. tapi diam-diam tim kami terus menyiapkan saudara dari Bandung itu untuk siap berangkat ke Tiongkok.” tulis Lusye. seperti para manajer di Perusda PT PWU Jatim. barangkali karena saya melihat kok ibu saya. direktur di perusahaan minyak kami. filsafat “intensifikasi umur”. diskusi. Kalau ada yang bertanya pun. manajer di perusahaan minyak milik Pemda Jatim. tapi juga politis.” ujar Hadi Ismoyo. dua tahun lamanya saya berhasil menyembunyikan bengkaknya kaki. Juga bahayabahayanya. Padahal. Dia juga akan memiliki kembali livernya secara utuh. Setelah itu rapat evaluasi berjalan seperti biasa. Cuma. Saya kurang melihat bahwa bapak saya dan kakak sulung saya berumur panjang sekali. saya sendiri juga masih berpikir. Bersamaan dengan persiapan pemberangkatan saudara dari Bandung itulah. Yang tak kalah penting. Yang harus dipuji. Juga bengkak di badan. pecinta Jawa Pos dari Manyar Jaya. ya dimarahi.Kami pun makin percaya bahwa tidak ada motif komersial di balik niatnya yang mulia itu. Perusahaan minyak itu masih baru sehingga saya harus banyak belajar. memang tidak banyak yang bertanya. Terutama Robert Lai. Menceritakan penyakit dengan cara yang menyenangkan. persoalan Perusda tidak hanya soal bisnis. itulah kuncinya. Dia juga menyatakan sudah siap kapan pun harus berangkat. “Dia tidak akan jadi korban. dan negosiasi. saya memang berhasil menyembunyikan semuanya. saya jelaskan semua penyakit saya. Menyembunyikan membesarnya payudara. Kalau ada yang bertanya tentang penyakit saya. Tapi. “Empat tahun saya bekerja dengan Anda. haruskah sampai mengorbankan nyawa orang lain? Tidakkah lebih baik saya menunggu dengan risiko tidak keburu sekali pun? Bukankah membuat keputusan melakukan transplantasi saja sudah tersirat tekad untuk mungkin mati? Saya benar-benar sudah siap kalau harus mati. Yakni. Sikap ini muncul. ya dipuji. Sedikit pun saya tidak merasakan bahwa Anda mengidap penyakit begitu gawatnya. tapi juga tertawa-tawa. paman-paman saya berumur pendek. kakak saya. Padahal. Mereka memang ngeri mendengarnya. Umur pendek tidak apa-apa asal penggunaannya sangat intensif. Pernah dalam satu rapat evaluasi bulanan yang amat disiplin di PT PWU. “Selama ini tidak tampak kegelisahan sedikit pun tatkala tampil di banyak kegiatan masyarakat.” ujar Gunawan. Transplantasi pun dilakukan dengan cara membuang sama sekali hati saya yang lama dan menggantinya dengan hati baru made in 1985-an secara utuh. Tim kami terus mendesak agar saya jangan berpikir bahwa saya akan mengorbankan orang lain. ada kabar bahwa saya mendapatkan donor. harus dipecahkan.

dosa orang kaya yang pelit. Begitu hebatnya tentangan akan langkah Cak Nur tersebut sehingga sampai ada yang memvonis Cak Nur sudah murtad. tapi saya menolak. Para kiai sepuh (enam orang bersaudara. dibunuh PKI dalam peristiwa Madiun. sebenarnya. Kedua. pamanpaman ibu saya). Ada yang menilai. 69 by Moezhanks . Ada nada sedih ketika mengucapkan itu. tokoh dari Ambon. Terutama di dahi dan sekitar mata. bagaimana caranya? Atau pakai make up saja. ini gosip yang benar. Pertama. Saya tahu dia menyimpan dua kekhawatiran. Sudah menjadi opini awam bahwa seseorang yang meninggal dalam keadaan wajah yang menghitam. dosa sebagai pribadi yang sombong. Apalagi dia aktif di kegiatan keagamaan. Ini karena dosa-dosanya yang tidak terampunkan. Hitam yang tidak merata itulah yang kian mencurigakan. menggosipkan wajah saya. saya bergegas mengambil keputusan pindah ke jalur hidup sama sekali. Karena itu. Kebetulan yang dari jalur laki-laki masih kanak-kanak. Saya bukan intelektual. Saya mengambil kesimpulan. Tapi. Terutama psikis istri saya. Karena banyak sekali dosa yang diperbuatnya. dialah yang punya hak mewarisi pesantren itu. Saya memang pernah mau didapuk jadi kiai di pesantren saya. Bukan karena ngambek.Tapi. saya harus tahu diri bahwa kalau dia sudah dewasa. Pembicaraan seperti itu kian kuat ketika Cak Nur meninggal dalam keadaan wajah menghitam. tapi sudah masuk ke tataran psikis. ketika memelopori pembaharuan pemikiran dalam Islam yang menghebohkan pada 1970-an. Tuhan murka padanya. Bukan sarjana. Dan. kalah dengan Yusuf Rahimi. Tapi. Karena itu. menjauh. tandanya tidak diterima oleh Tuhan. merasa malu kalau saja saya meninggal dalam keadaan wajah yang menghitam. Mengapa masih kanak-kanak? Karena pesantren kami kehilangan dua generasi sekaligus. Bukan ahli agama. khawatir akan kesehatan saya. Saya lantas memilih ’uzlah’ -menyingkir. dosa karena dia telah menyekulerkan Islam. Bukan budayawan. kadang dia hanya memperhatikan wajah saya tanpa mengucapkan komentar apa-apa. Yakni. saya tidak berhasil menyembunyikan berubahnya wajah. yang mungkin tidak kalah besarnya. Gosip yang tidak menyenangkan. Ini karena saya sadar bahwa saya turunan dari jalur wanita (ibu) di struktur pesantren itu. dosa sebagai suami yang amat sibuk. Untunglah. Saya akan menyembunyikannya dengan cara meratakannya. Lalu memberikan komentar yang sudah sering saya dengar itu. dosa sebagai atasan yang kejam. Apalagi saya juga baru gagal dalam pemilihan ketua umum pengurus besar Pelajar Islam Indonesia (PII) di Bandung. saya sudah sering digosipkan sehingga sudah agak kebal. pada 1948. Sedih bercampur perasaan malu. memprihatinkan. Kulit saya yang aslinya memang agak hitam menjadi kian hitam. Tapi saya kan laki-laki? Bahkan laki-laki yang bukan metroseksual? Tak pelak lagi. Suatu saat istri saya memandangi wajah saya lama sekali. Pandangannya penuh keprihatinan. Kalau sampai itu terjadi pada saya. Psikis seorang wanita yang sangat kuat memegang prinsip agama. Suaminya meninggal dalam keadaan dimurkai Tuhan. Dosa sebagai lelaki. dan anak-anak mereka yang sudah dewasa. itu sebagai bukti bahwa Cak Nur dimurkai Tuhan. Tentu saya bukan apa-apa dibanding Cak Nur. dan merenungkan masa depan. tidak akan bisa jadi kiai dan tidak bakat jadi politisi. tapi sebagai perwujudan sikap tawaduk seperti yang dicontohkan bapak saya. Tapi. dan tentu masih banyak sekali sisi negatif yang bisa dihubunghubungkan. banyak orang yang mulai rasan-rasan. Yakni. alangkah malunya istri saya. Sampai-sampai disebutkan Cak Nur lagi mendirikan neo-Islam. Toh saya akan tetap bisa berperan di pesantren itu kelak. Gosip itu bukan lagi masih menyangkut fisik.

Tapi. Apalagi. saya tetap tidak mau jadi Dirut. bank percaya. Si tamu ternyata berharap akan ketemu seorang direktur keuangan keturunan India. sakitnya beliau amat berat sehingga tidak punya kemampuan menandatangani dokumen perusahaan. termasuk Prancis dan Parsi. bisa banyak bahasa. Sebagian lagi karena saya berdosa kepada leluhur. jatuh sakit. Bahwa ada kesulitan di bank. Meski saya bukan direktur utama lagi (karena jabatan itu sekarang dipegang Ratna Dewi Wonoatmodjo). direktur sebagai CEO (Dirutnya bukan CEO). saya SMA di Desa Takeran. sampai harus dengan cara sikut sana-sini. He he…” kata saya dalam hati. “CEO yang tidak ada SK dan legal formalnya. setelah beliau sendiri yang minta. Saya memilih mengerjakan saja semua pekerjaan direktur utama. sehingga kalau ada tamu yang menanyakan. Karena hal itu sudah berlangsung tiga tahun. Cak Nur seorang intelektual. Maklum namanya Ratna Dewi. Ketika Pak Eric Samola. Sama dengan saya. Apalagi mereka juga tahu sayalah yang selama ini yang selalu mengambil keputusan. Bukan “Bu Wenny”. Dia SMA di kota Surabaya (Petra). Terutama karena saya ’uzlah’. Magetan (aliyah). Baru setelah lima tahun lebih. dan Arab. pikir saya. Saya dan Cak Nur seperti langit dan sumur -untuk menunjukkan jarak langit-bumi kurang jauh. “Kami tidak menyangka kalau dia seorang Tionghoa. Kami sendiri tidak terlalu mengenal nama Ratna Dewi.Sikap tawaduk yang sama saya lakukan juga di Jawa Pos pada 1980-an. Banyak dokumen bank yang harus direktur utama yang boleh tanda tangan. bahkan general manager sebagai CEO (semua direktur bukan CEO). Sebutan CEO telanjur melekat. lari dari tanggung jawab menjadi kiai. Sebagian mengira saya dimurka Tuhan karena kurang taat beragama. tiba-tiba saya punya ide baru yang barangkali tidak lazim.” kata tamu itu sambil tertawa ngakak. Saya ciptakan sendiri jabatan baru. Gosip bahwa “saya segera meninggal dengan wajah hitam” juga beredar di kalangan pesantren saya sendiri. Saya hanya seperti itu tadi. Setidaknya samasama hanya tamatan SMA. Lebh dari itu sekarang ini berkembang seperti di AS. Bahkan. Apalagi Ratna Dewi juga amat mampu. saya mau jadi Dirut. doktor lulusan Chicago. Saya tetap direktur saja. Beliau terkena stroke yang sampai mengakibatkan tidak bisa bicara dan harus diopname bertahun-tahun. Tidak bisa hanya direktur seperti saya waktu itu. Jangan sampai saya minta jadi Dirut. direktur utama Jawa Pos saat itu. saya yang tetap jadi CEO. ’Chairman yang CEO’. Mereka tidak tahu kalau ’uzlah’ itu saya lakukan sebagai wujud sikap tawaduk saya. tapi “Cik Wenny”. saya membuat sebutan (untuk membedakan dengan ’jabatan’) CEO lebih fleksibel lagi di grup yang saya pimpin. Inggris. Pernah ada tamu dari India yang ingin bertemu dengannya. Hanya namanya yang sering bikin salah paham orang asing. Maka lahirlah “jabatan CEO”. 70 by Moezhanks . Inilah gunanya ilmu mantiq (logika). Tentu tidak lagi seperti ketika Dirut merangkap CEO. tapi saya ini CEO. Tapi. saya tidak mau menggantikannya sebagai Dirut. Tentu ada juga yang menyamakannya dengan Cak Nur. lantas muncul kesulitan teknis. meski hanya untuk sebutan: CEO (chief executive officer). Agar saya bisa meyakinkan bank bahwa meski saya hanya direktur. “Apakah bisa bertemu ibu Ratna Dewi”. Waktu itu Ratna Dewi masih menjabat direktur keuangan. staf-staf kami sering bengong. saya dan Cak Nur jauh sekali derajatnya. tanpa menyandang jabatannya. Banyak hal sudah harus dialihkan menjadi tanggung jawab Dirut. Lalu keterusan sampai sekarang. Dia kami kenal sebagai Wenny saja. Padahal. Padahal. ahli agama. Bisa saja Dirut sebagai CEO.

Satu-satunya yang menyamakan saya dan Nur adalah sakitnya. Sama-sama sakit liver, sama-sama sirosis. Karena itu, juga sama-sama menghitam di wajah. (Bersambung)

Ganti Hati 25 – Prihatin atas Keprihatinan terhadap Wajah Hitam Saya
19 September 2007 “SAYA nanti juga akan meninggal dengan wajah hitam,” kata saya kepada istri saya. Saya ingin menyiapkan mental istri saya bagaimana harus menahan rasa malu. Terutama di mata keluarga dan teman-teman pengajiannya. Istri saya memang aktif di perkumpulan Pengajian Wanita Surabaya (Pengawas), satu perkumpulan yang amat besar dan aktif. “Saya nanti akan seperti Cak Nur,” tambah saya. Itu saya lakukan karena istri saya juga mendengar omongan orang tentang Cak Nur. Dia juga mendengar ada khatib di sembahyang Jumat yang mengatakan Tuhan murka pada Cak Nur (Nurcholish Madjid, tokoh pembaruan pemikiran Islam). Buktinya, ketika meninggal, wajahnya menghitam. Istri saya memang sudah beberapa lama kelihatan prihatin melihat perubahan di wajah saya. Saya prihatin atas keprihatinannya itu. Maka, saya perlukan bicara soal mengapa wajah saya menghitam dan mengapa ada orang menilai Cak Nur seperti itu. Saya jelaskan sebisa-bisa saya bahwa “wajah hitam” Cak Nur sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kemurkaan Tuhan. Tuhan itu tidak punya hobi murka seperti khatib yang mengecam Cak Nur itu. Tuhan itu Maha Pengasih dan Penyayang. Sampai di sini saya sadar bahwa istri saya sudah sangat sering mendengar khotbah sehingga saya tidak perlu menambahinya. Apalagi khotbah saya kurang meyakinkan. Saya memilih menjelaskannya secara ilmiah saja. Mengapa wajah Cak Nur, juga wajah saya, menghitam? Ya, begitulah memang salah satu perubahan fisik yang dihasilkan oleh liver yang terkena sirosis. Ini berlaku pada siapa saja. Yang Islam, yang Kristen, yang Buddha, yang Hindu, yang Kejawen, yang komunis, dan yang tidak punya aliran apa pun -free thinker. Wajah hitam adalah tanda-tanda perubahan fisik dari sirosis yang parah. Karena itu, kalau Anda sakit liver, minta saja meninggal sebelum sirosis parah. Terutama kalau Anda ingin meninggal dengan wajah yang tidak hitam. Terjadinya wajah hitam itu sama dengan akibat sirosis yang lain: Kaki yang bengkak, payudara yang membesar, dan kemudian muntah darah. Untung, tidak ada penilaian bahwa siapa yang meninggal dengan payudara besar berarti dimurkai Tuhan. Sebenarnya, masih banyak lagi tanda fisik lain. Yakni kulit menguning, mata juga menjadi kekuningkuningan, bibir pucat, dan telapak tangan seperti tidak berdarah. Terutama kalau telapak tangan baru saja digenggamkan. Begitu genggaman dibuka, darah seperti tidak segera kembali memerahkan telapak tangan. Bahwa ada khatib yang menilai wajah Cak Nur yang menghitam sebagai tanda bahwa Tuhan tidak mau menerima rohnya, sebabnya mungkin si pengkhotbah tidak sempat belajar ilmu yang lain misalnya, karena terlalu larisnya. Bahkan, sang khatib begitu sibuk berkhotbah, kadang isi

71

by Moezhanks

khotbahnya ya hanya yang diketahuinya itu saja. Diulang-ulang. Seperti kaset lama yang diputar terus-menerus. Pasti si pengkhotbah juga tidak pernah melihat wajah mayat Mao Zedong. Setidaknya tidak pernah membaca tentang itu. Setidaknya lagi, kalau toh pernah membaca, tidak sampai menjadikannya pertimbangan. Mao adalah pendiri partai komunis Tiongkok yang tentu saja tidak mengakui adanya Tuhan. Namun, bagaimana wujud wajah mayatnya? Saya pernah melihatnya dua kali. Wajahnya putih, bersih, dan amat cerah. Bibirnya menunjukkan senyum kecil seperti amat bahagia di akhir hayatnya. Mayat itu sampai sekarang masih bisa dilihat di Beijing. Orang antre untuk menyaksikannya. Demikian juga di Kremlin, Moskow. Mayat Lenin, salah satu pendiri komunisme sedunia, terlihat putih, bersih, dan manis sekali. Saya juga pernah mengunjunginya. Apakah itu pertanda roh Lenin diterima dengan senang oleh Tuhan? Lebih diterima daripada Nurcholish Madjid? Meski Cak Nur tokoh Islam dan Lenin tidak mau mengakui adanya Tuhan? Bahkan menjadi pelopornya? Wallahu a’lam. Yang jelas, Lenin, dan juga Mao, tidak meninggal karena sirosis. Saya sangat prihatin atas keprihatinan istri saya. Tapi, saya juga prihatin memikirkan bagaimana umat di masa depan. Dengan pola berpikir seperti itu, apakah umat akan bisa maju? Apakah tidak semakin ketinggalan dan kemudian terpojok? Lalu, introvert dan mencari kompensasi dalam bentuk ekstremitas? Saya prihatin karena dengan pola pikir yang seperti itu, keseimbangan antara dunia dan akhirat tidak memadai. Banyak memang orang yang terlalu berat ke duniawi, tapi juga bukan berarti harus dibalas dengan bersikap lebih berat ke ukhrowi. Semua harus seimbang: beribadah sungguh-sungguh seperti besok akan mati saja, bekerja sungguh-sungguh seperti akan hidup seribu tahun. Kalau ukuran diterima Tuhan atau tidaknya seseorang dilihat dari wajah mayatnya, betapa suramnya kemajuan ilmu pengetahuan di masa depan. Bagaimana kita bisa mengharapkan kemajuan dan kemodernan sebuah negeri kalau penduduknya -terutama para pemimpin penduduk itu- berpikiran demikian. Dan lagi, ada satu kenyataan yang lebih pahit. Bukankah kini sudah ditemukan cara membuat wajah orang yang meninggal kelihatan tersenyum? Cerah dan bahagia? Lantas, apakah itu berarti ukuran diterima atau tidaknya sebuah roh oleh Tuhan ditentukan oleh para ahli perias mayat? Saya punya teman yang bisnisnya event organizer (EO). Tapi, EO khusus untuk orang meninggal. Mulai penyediaan pakaiannya, membentuk tubuh dan wajahnya, menyediakan peti matinya, angkutan ke kuburannya, sampai mencarikan siapa yang akan jadi pengkhotbahnya. Dia begitu menghayati bisnisnya itu sehingga akan terus mendalami ilmu di bidang itu. Satu-satunya anaknya (perempuan) dia sekolahkan khusus bagaimana memelihara mayat. Bagaimana membuat wajah orang meninggal menjadi lebih ganteng dan cantik daripada ketika masih dalam hidupnya. Bahkan, ilmu itu juga berkembang ke arah sebelum kliennya meninggal. Yakni bagaimana menyiapkan agar bisa meninggal dengan wajah tersenyum. Tapi, saya juga sadar bahwa istri saya mungkin tidak gampang menerima penjelasan saya itu. Sebab, penjelasan seperti itu amat jarang dilakukan orang. Tapi, setidaknya, dia bisa menutup sedikit rasa malu karena suaminya meninggal dengan wajah menghitam. Bisa punya alasan -yang meskipun mungkin juga dia ragukan kebenarannya. Ragu karena bukan penjelasan seperti yang saya ucapkan
72
by Moezhanks

tersebut tidak pernah didengarnya. Yang sering diperdengarkan kepadanya adalah kaset lama yang diputar tidak henti-hentinya itu. Dalam teori komunikasi, kebohongan pun kalau terus-menerus dijejalkan akan jadi seperti kebenaran. Padahal, kaset lama itu bukan juga kebohongan. Tapi, penafsiran. Sebuah penafsiran yang sangat bisa memuaskan orang dari sisi emosinya. Kebohongan saja bisa menang, apalagi bukan kebohongan. Berdasar teori itu, satu penjelasan yang benar tidak akan bisa menang atas kebohongan yang terusmenerus dikampanyekan. Agama memang akan menghadapi tantangan yang hebat. Kini bukan hanya Islam, tapi juga Kristen. Setelah abad informasi sekarang ini, akan ada abad baru lagi. Dulu kita masih meraba-raba “abad apa gerangan yang akan menggantikan abad informasi?”. Kita pernah mengalami berturut-turut, “zaman batu”, “zaman besi”, “zaman cocok tanam”, “zaman industri”, “zaman teknologi”, dan “zaman informasi”. Kini semakin jelas dunia akan mengalir ke zaman apa. Saya kira, zaman baru yang akan kita masuki adalah “zaman biologi”. Di zaman itu kehidupan akan bisa direkayasa, diperbaiki, bahkan diciptakan. Kehidupan tanaman, binatang, dan juga manusia. Tidak perlu lagi transplantasi seperti saya, tapi liver (dan organ apa pun) bisa direparasi dengan penemuan lebih lanjut dari pendalaman terhadap DNA manusia. Dan, itu bukan lagi akan ditemukan, tapi sudah ditemukan. Penemunya kini lagi merahasiakannya sampai pada akhirnya dia akan bisa memproduksi sesuatu yang bisa dijual secara masal dan terjangkau. Agar bisnis di bidang ini menjadi amat besar. Operasi tidak perlu lagi. Transplantasi tidak dibutuhkan. Bahkan, orang tidak perlu sakit. Sehat terusmenerus. Cukup membeli produk baru itu nanti. Kini pun barang itu sudah bisa diproduksi sebenarnya. Tapi, karena belum ditemukan kombinasi-kombinasinya, harganya bisa jadi masih Rp 10 miliaran. Dengan harga setinggi itu, meski saya pun akan membelinya, tapi hanya berapa juta yang mampu beli? Bandingkan, kalau kelak, harganya tinggal Rp 1 jutaan. Betapa besar bisnis itu. Ia akan mengalahkan bisnis obat yang sudah amat raksasa itu. Bahkan akan mengalahkan bisnis minyak dan gas. Mengapa? Penemuan lebih lanjut dari itu adalah lahirnya sumber energi baru yang sama sekali tidak kita bayangkan. Kalau kehidupan sudah bisa dibikin, bagaimana kita akan menafsirkan ajaran agama? Orang boleh tidak percaya seperti juga zaman dulu tidak percaya akan bentuk dunia yang bulat. Tapi, ini akan menjadi kenyataan. “Akan” di situ tidak lama lagi. Kata “akan” mungkin kurang tepat. Yang tepat “segera”. Maka, apa yang ditulis Agus Mustofa di buku-bukunya, terutama mengenai Kitab Kejadian, sungguh menarik dan akan cocok dengan zaman baru itu nanti. Yakni jangan lagi kita membayangkan bahwa manusia pertama dulu dibuat dari lempung, lalu lempung itu di-emek-emek, dibentuk seperti boneka, kemudian Tuhan meniupkan roh ke ubun-ubunnya. Penggambaran seperti itu, meski ternyata memang tidak ada di kitab suci, amat melekat di setiap manusia. Juga melekat di pikiran saya. Saya tidak pernah mempersoalkannya secara kritis. Bahkan tidak pernah mengecek ulang apa bunyi ayat yang sebenarnya dari penggambaran seperti itu. Cerita itu sama melekatnya dengan istilah “memanjatkan doa” yang sering kita lakukan sampai sekarang. Kita, terutama saya, tidak pernah mempersoalkan apakah teknik menyampaikan doa seperti itu masih cocok dengan abad informasi seperti sekarang. Mengapa di zaman komputer, e73
by Moezhanks

Atau ’patah jantung’ (broken heart). kalau melihat hati seperti itu. dalam bahasa Mandarin disebut xin? Rupanya dia baru berpikir ulang. “Saya tadi salah. Pandangan kedua akan datang dari kalangan agama yang berpandangan sempit. Alangkah lambatnya doa itu akan sampai. si penyantet membeli hati sapi dulu. dan SMS ini kita masih mengirim doa dengan menggunakan teknik “memanjat”. agar mirip dengan ayat Quran yang sangat terkenal. Udi spontan menjawab: qalb artinya hati! Lantas saya tanya lagi. “Pasti ini karena disantet”. orang yang paling jago bahasa Arabnya di lingkungan Group Jawa Pos. Bahkan. (Bersambung) Ganti Hati 26 – Transplantasi Berhasil. mantan rektor ITS yang kini menteri informasi. Bayangkan. akan langsung mengambil kesimpulan: Tuhan telah murka padanya. Karena maraknya pandangan santet di masyarakat kita. Kalangan ini sudah kritis lagi. penggunaan term “panjat” juga mencerminkan ketertinggalan kita dalam menggunakan teknologi yang tersedia. Asapnya lantas di-email-kan ke dalam tubuh saya. Direktur Radar Banyuwangi. Mengapa kok lambang cinta itu gambar jantung? Mengapa dalam bahasa Inggris disebut heart? Dan. Begitu jugalah dulu penilaian terhadap ibu saya.mail. atau yang di-compresskan seperti yang dilakukan golongan tasawuf Shatariyah. kita lupa mempersoalkan mengapa para ahli bahasa dulu menerjemahkan kata ’liver’ (bahasa Inggris) menjadi ’hati’ dalam bahasa Indonesia? Kini sudah sulit mengubah agar liver jangan lagi diterjemahkan menjadi ’hati’. “… fasadat qulubuhum”. termasuk di mimbar Jumat. Pak Nuh. Lupa bahwa ’qalb’ itu artinya jantung. Juga terhadap kakak saya. Liver saya memang seperti daging yang dibakar setengah matang! Pasti ketika menyantet saya. Yang suka marahmarah. Begitu saya tanya. Tentu kata “memanjat” hanya simboliasi atau penyastraan. Lalu memanggangnya. Tapi. Orang di desa saya akan langsung mengatakan. Samsudin Adlawi (Udi). Tuhan toh tidak akan membedakan doa yang dikirim dengan cara dipanjatkan. Ini karena saya juga ragu akan ingatan bahasa Arab saya. bisa malu. Bahkan. nanti bisa banyak sekali konsekuensinya. pernah saya Tanya arti ’qalb’. 74 by Moezhanks . karena emosi lebih besar daripada rasio. Istri Gembira karena Wajah Berubah 20 September 2007 KALAU saja foto liver lama saya dimuat di koran tanpa penjelasan (foto-foto itu akan dimuat di edisi buku). Lalu bergegas meralat jawaban pertamanya. Ini memang agak kacau. yang di-e-mail-kan. Kalangan ini. tapi sudah memasyarakat. lupa bahwa kata dalam bahasa Arab ’qalb’ (kalbu) artinya bukan hati -dalam pengertian liver. Liver bahasa Arabnya ’kabid’. Memang qalb itu artinya jantung. Dan lagi. setidaknya akan muncul tiga versi tanggapan. Misalnya kata ’patah hati’ harus diubah menjadi ’patah liver’. Memang. Sudah telanjur begitu mendarah-mendaging. Udi yang demikian mahir bahasa Arab terbius oleh sesuatu yang salah. bisa-bisa mengerasnya liver saya diterjemahkan ke dalam bahasa Arab ’sadat qulbuha’ (sudah keras hatinya). maka yang maju lantas dunia mistik dan bukan rasionalitasnya. Sedang liver adalah……” kata Udi yang juga sastrawan itu. Kalau diubah.

setiap itu pula saya disadarkan bahwa keajaiban tidak berlaku di bidang yang amat scientific ini. kita akan semakin terbiasa tidak menggunakan ciptaan-Nya itu. Dia tidak perlu lagi menghadapi rasa malu karena suaminya meninggal dalam keadaan wajah menghitam. yang meski sudah dipotong sepertiga. dulu tidak jadi minta dikembalikan. saya masih sering memijit-mijitnya. setiap kali saya memijit kaki. Limpa saya. tapi sudah mulai mengencang. lama-lama juga akan kembali normal. Ternyata biarpun saya pijit kuat-kuat. orang yang paling pinter pun baru menggunakan sebagian saja otaknya. sebaiknya. bukan lagi dekoknya cepat kembali. Kini wajah saya sudah boleh dibilang kembali seperti hitamnya kereta api (duile!). “Untung. Kini saya kembali sering memijit kaki saya dengan sangkaan sebaliknya: jangan-jangan bengkak lagi. tapi masih dua kali lipat lebih besar dari limpa asli. Masih tetap besar. Kalau toh dikaitkan. apalagi ketakhayulan. kalau istri saya merasa sangat gembira akan keberhasilan transplantasi liver ini. harus dalam rangka dzikir. Imbuhan kata terakhir itu bukan asli ciptaan saya. Dokter bilang. Padahal. lama-lama juga akan kembali normal. untuk sedikit mengangkat derajat mereka. Kita tidak boleh memubazirkan rezeki dari-Nya itu. Begitu hebat pemberian itu sehingga harus digunakan sebanyak-banyaknya.Jadi. suasana pengajian di rumah juga lebih ceria. wajah saya yang sudah dua tahun menghitam. urusan ilmiah memang jangan terlalu dikait-kaitkan dengan keyakinan keagamaan. Tapi. Tapi. Tiap tiga bulan sekali di rumah saya 75 by Moezhanks . Anak kalimat itu adalah keputusan yang diambil dalam kongres para pemilik kulit keruh. selalu berharap ada mukjizat atau keajaiban. bahwa Tuhan telah memberikan manusia otak yang luar biasa cerdasnya. Tanpa kaus kaki pun kini perut tidak merasa kembung. Saya belum bisa memperkirakan apakah saya akan lebih senang dengan payudara saya yang asli. sana: “Apakah bulunya yang dicukur juga sudah kembali normal?” tulisnya di SMS. Kita-kita barangkali baru menggunakan lima persennya. Bukan hitam karena sirosis. justru saya tidak terlalu memerlukannya. Minggu lalu diadakan acara pengajian dan hafalan Alquran sehari penuh hingga tarawih. Maka. meski hitam banyak yang antre. Dulu. Bagaimana dengan payudara saya? Tiap hari saya masih meraba-rabanya. Saya makin sembuh.5 bulan transplantasi. Atau justru sudah terbiasa nyaman dengan payudara seperti gadis yang menginjak remaja. seorang teman masih sempat menggoda saya dari Musi Banyuasin. pada keadaan ’tidak membenci kaus kaki’ itu. antara lain karena wajah saya kini sudah sedikit berubah. Maksud saya kembali ke hitam yang aslinya. setengahnya lagi untuk mengetes apakah dekok akibat pijatan itu bisa cepat kembali. setiap memijat kaki.” tambahnya. Sumsel. bahkan tidak bisa dekok sama sekali. Setengahnya karena sudah menjadi kebiasaan selama dua tahun terakhir. Saat itu suasananya murung. Memang setelah 1. Kini kaki saya juga tidak bengkak lagi. Meski begitu. Bisa-bisa susternya marah dan mengembalikannya ke dekat payudara. Para hafidz (penghafal) Alquran di Surabaya memang aktif berkumpul sebulan sekali di tempat berpindahpindah. Membaca SMS mengenai mulai pulihnya organ-orang di tubuh saya. Demikian juga saluran pencernakan yang telanjur ’dilaminating’. Berbeda dengan saat para karyawan berkumpul untuk berdoa di rumah menjelang saya operasi. Saya juga tidak lagi membenci kaus kaki. kini kembali … hitam. Kalau sedikit-sedikit sudah harus lari ke doktrin. Tidak perlu lagi dilaminating kedua atau ketiga.

wahai keluarga Daud. begitu sembuh. Anaknya tumbuh dewasa. Maksudnya akan memeriksakan ginjalnya setelah lebih dari 10 tahun transplantasi. Karena masih keturunan Arab. si kecil pergi ke taman bermain dengan pamannya yang juga membawa ciri fisik keturunan Arab. tertulis “Bekerjalah. Tinggal. Saat menangis itulah. Si kecil kian berontak dan berteriak-teriak. si bapak kembali ke Guangzhou bersama anaknya yang masih kecil yang seperti anak Tionghoa itu. Khawatir Berubah Tak Bisa Menulis Baik 21 September 2007 KARENA yang diganti ini adalah hati. Bahkan. Ada yang menerima informasi bahwa kenalannya langsung berubah menjadi amat jeleknya. Perencanaan pertama yang muncul di pikiran saya adalah apa yang diucapkan Cak Nur. seperti dikatakan Cak Nur. anaknya seperti Tionghoa. Bersyukur dengan cara bekerja keras. Anehnya.Kini saya sudah bisa membuat perencanaan. literatur yang mengatakan bahwa banyak kasus si penerima organ akan mengalami perubahan. Ini karena donornya dari India. Setahun kemudian.” kata Cak Nur. Terpaksa si paman menelepon bapak si kecil. Waktu senja sudah tiba. si paman mengajak si kecil kembali ke hotel. badannya menjadi berbulu. Ketika di rumah sakit. Saya sendiri. bekerja adalah tingkatan syukur yang tertinggi setelah mengucapkan alhamdulillah dan istighfar (minta ampun). begitu tidak pastinya penyembuhan sakit saya. Bahkan sampai menangis. Apalagi. Saya akan mensyukuri keberhasilan transplantasi liver saya dengan meneruskan kerja keras. Tim saya juga mengatakan begitu. kirim SMS bahwa temannya ganti ginjal. Gara-garanya. sebagai tanda syukur kepada-Ku”. Anaknya harus transplantasi ginjal di Guangzhou. ketika pemikir itu ditanya mengenai apa bagaimana berislam yang baik dan enak. Suatu saat. Tapi. setelah istrinya melahirkan. Saya sudah beberapa kali mengucapkan alhamdulillah. si paman memaksa menggendongnya pergi. Kulitnya putih bersih. Operasi itu sukses sekali. tentu anaknya juga masih membawa ciri-ciri fisik bapaknya. pemilik pabrik sepatu di Surabaya yang asli Gorontalo itu. membawa koran lokal yang juga memberitakan kejadian serupa. tidak berani bikin janji kapan menerima tamu dan kapan harus rapat. Itulah juga yang akan saya tiru. kerja keras lagi. Yakni. Si paman diamankan dengan sangkaan melarikan anak penduduk setempat. Liong Pangkiey. Kecuali yang amat penting. Bahkan. Sejak sebelum dilakukan transplan sampai sesudahnya. Melihat orang Arab membawa pergi anak Tionghoa sampai menjerit-jerit itu. ketika baru sebulan antre untuk mendapatkan donor. si kecil tidak mau. “Bekerjalah yang sungguh-sungguh. keluarga salah satu direksi Grup Jawa Pos sendiri mengalaminya. Di akhir ayat yang mengisahkan soal ini. Juga sudah sering mengucapkan istighfar. Kali ini menyangkut wanita Shanghai yang baru transplantasi jantung 76 by Moezhanks . saya tidak berani bikin perencanaan yang agak panjang. kemudian berumah tangga. (Bersambung) Ganti Hati 27 – Liver Ganti. Akhirnya. urusan selesai. Lalu mengisahkan keberhasilan Daud mengalahkan Jalut (Goliat). Dulu. polisi turun tangan. apakah perasaan saya tidak berubah? Pertanyaan itu bahkan datang dari diri saya sendiri.

Kalimat-kalimat yang panjang membuat dada pembaca sesak. dia mulai menyenangi internet. dan introvert. “Bahkan kalau naik mobil suka ngebut. Tapi. tidak mau keluar rumah. di koran lagi. Deskripsi yang kuat bisa membuat pembaca seolah-olah merasakan sendiri kejadian itu. harus wartawan yang menuliskan ceritanya. Kalau itu sampai terjadi. seminggu setelah operasi. Mengapa? Ada dua tujuan. Saya memaksakan diri untuk memulai menuliskan pengalaman saya ini. saya harus mau menuliskannya. Sebuah tulisan yang deskripsinya kuat.” ujar suaminya seperti diberitakan China Daily. saya sudah minta laptop. saya akan mengetes diri sendiri agar dalam tulisan ini memberikan sebanyak mungkin deskripsi. tulisan itu bisa membuat pembaca seolah-olah bercakap-cakap sendiri dengan sumber berita. Karena itu. sebagian lagi untuk mengetes apakah saya masih bisa menulis dengan baik. Mengutip kata seorang sumber berita dalam sebuah kalimat panjang sama saja dengan mengajak pembaca mendengarkan khotbah. wanita itu kemudian suka main saham di pasar modal. Secara terbuka. bisa membawa pembaca seolah-olah menyaksikan sendiri suatu kejadian. langsung dilarikan ke RS dan harus menjalani transplantasi. mengendarai mobil. mantan redaktur Jawa Pos yang kini menjadi redaktur majalah Swa. begitu saya mengajar. Saya jawab: Kali ini saya memang minta jangan ada satu foto pun yang disertakan dalam tulisan ini. Karena itu. akan membuat tulisan menjadi lincah. apakah yang paling saya takutkan? Kekhawatiran utama saya ternyata ini: tidak bisa lagi menulis baik. Pertama. semakin membuat tulisan itu seperti kucing yang banal. Turun pesawat. penakut. Saya sering mengajarkan kepada wartawan kami agar jangan mengabaikan diskripsi. mengapa tidak disertai foto-foto? “Bukankah Anda dulu mengajarkan setiap features harus disertai foto? Kalau perlu pinjam ke sumber berita?” tanya Edy Aruman. Tidak semua orang bisa menulis baik. sering menugasi wartawan agar mewawancarai tokoh-tokoh yang berhasil mengatasi penyakitnya. Kini giliran saya bertanya kepada pembaca: Apakah ada perubahan dalam gaya penulisan saya? Memang. Kepadanya saya jelaskan bahwa saya dulu.” kata suaminya. “Saya menjadi agak khawatir pada istri saya. begitu saya mengajarkan.di Kota Shenyang. Saya juga sering membayangkan jangan-jangan mengalami hal yang sama. Saya juga selalu mengajarkan agar dalam menulis kalimat-kalimatnya harus pendek. Wanita itu biasanya pemurung. Kalimat pendek. Waktu itu jantungnya mogok di atas pesawat dalam penerbangan ShanghaiShenyang. dan banyak omong. Tapi. Tapi. beberapa bulan setelah operasi. Apalagi kalau di sana-sini diselipkan kutipan omongan orang. tapi sebenarnya penting. Kutipan itu -direct quotation-juga harus pendek-pendek. Yakni menceritakan hal-hal detil yang dianggap sepele. Imajinasi pembaca kadang lebih hidup daripada sebuah foto. 77 by Moezhanks . Ketika saya sendiri mengalami itu. ketika masih jadi pemimpin redaksi Jawa Pos. Inilah salah satu kunci kalau jurnalistik tulis masih diharapkan bisa bertahan di tengah arus jurnalistik audio visual. Deskripsi yang kuat bahkan bisa menghidupkan imajinasi pembaca. Yang lebih mengherankan lagi. Sebagian agar tidak ada catatan di otak saya yang hilang. saya harus fair. Koran tersebut juga menampilkan foto keluarga itu yang lagi bergurau di rumahnya. Semakin pendek sebuah kalimat. dengan selingan kutipan-kutipan pendek. Karena itu. ada seorang teman yang setengah bertanya dan setengah menyesalkan: Penyakit kok diberitahukan ke orang-orang.

tanggung jawabnya jelas. Jawa Pos-lah yang pertama menerapkannya. Kalau tidak. 78 by Moezhanks . Setiap pertanyaan disertai kolom isian. Maka. si reporter tidak bisa menekan tombol “kirim”. Misalnya: Apakah Anda sudah membaca ulang tulisan Anda? Di belakangnya dimunculkan kolom isian: sudah dan belum. Setiap kali reporter selesai menulis berita kan harus mengirimkannya ke redaktur untuk diedit. tanggung jawab justru lebih besar. Setiap membicarakan persiapan transplantasi. Dalam alam demokrasi seperti ini. tim saya ternyata juga sering menyinggung kemungkinan perubahan perilaku saya pascatransplantasi. Misalnya mengenai cover both side. apa salahnya dilakukan. Saya tidak puas dengan lambatnya pelaksanaan ide ini karena saya tidak lagi dalam posisi pemimpin redaksi. saat menekan tombol “kirim” itulah.” tambahnya. Dan jangan-jangan. Laura yang dimaksud adalah “lanang ora. Melinda Teja. saya ingin di setiap komputer yang digunakan reporter dilengkapi software check-list. berarti juga ada kemunduran dalam kemampuan saya menulis. Kalau “belum”. Kalau tidak mengisinya. Kalau kelak ada reporter yang menipu dengan cara mengisi kolom yang salah.” tambahnya. Sampai hari ini. Sumbang-menyumbang dari satu disiplin ilmu ke ilmu yang lain. reporter harus menekan tombol “kirim”. “Saya justru khawatir kalau itu liver Laura.Alasan kedua mengapa foto tidak disertakan di tulisan ini adalah: Semua foto akan dimuat ketika tulisan ini diterbitkan dalam bentuk buku.” gurau Melinda. Saya sendiri tidak tahu apakah tulisan saya mengenai pengalaman ganti liver ini masih mencerminkan doktrin jurnalistik saya itu. Tapi. dia tidak akan bisa menekan tombol “kirim”. “Kalian yang laki-laki harus waspada. pertanyaan sudah berimbangkah berita yang Anda tulis? Apakah pihak-pihak yang Anda tulis sudah diwawancara? Dan seterusnya. Lalu. Orang lainlah yang tahu. menyumbangkan software untuk prinsip cover both side yang penting itu. bos Pakuwon Jati itu. tapi juga sumbangan IT ke dalam jurnalistik. Jangan hanya dijadikan bahan gosip semata. itu karena saya ganti liver. saya ingin agar di layar komputer muncul dulu sejumlah pertanyaan yang harus diisi si reporter. Lalu. Lalu. termasuk foto-foto liver saya yang lama. ide ini penting justru untuk menyesuaikan praktik jurnalistik di alam kebebasan mutlak seperti sekarang. Sebenarnya. Saya berharap software yang saya inginkan itu segera dibuat. Prinsip-prinsip jurnalistik yang baik harus lebih dipentingkan. masih ada satu lagi ide saya yang akan saya sumbangkan ke dunia jurnalistik. saya bisa menyumbangkan ilmu manajemen ke dalam jurnalistik melalui penerapan “rukun iman” Jawa Pos. Ide ini sudah saya kemukakan lima tahun yang lalu. pemberitaan yang berimbang. tentu saya berharap segera diberi tahu. saya belum merasakan perubahan apa-apa. misalnya. Foto-foto seputar operasi. “Saya sangat khawatir kalau liver yang didonorkan itu punya sifat asli seorang gay.” ujar yang lain. Di tulisan mendatang saya juga akan menceritakan sumbangan “ilmu tauhid” ke dalam bisnis dan manajemen. Dalam proses pengiriman berita dari komputer ke komputer itu. Kalau saja seperti itu. “Kita harus segera carikan pekerjaan yang cocok. namun penerapannya masih memerlukan pembuatan software komputer. wedok ora” (tidak laki-laki dan juga tidak perempuan). Maka. diri sendiri kadang memang tidak bisa merasakan. Tentu dengan nada penuh humor. Padahal. Untuk kemajuan. Itu bukan saja menjadi sumbangan saya ke dunia jurnalistik berikutnya. Nah.

Dulu Budi itu. kalau pulang. pasien langsung membuat rencana tanggal berapa akan pulang. Lebih terutama lagi ibu-ibu di Amerika. misteri kampung halaman. dia tidak nyambung. Ada cara yang katanya cukup mujarab. Itu sebabnya bahasa Inggris membedakan mana kata “rumah” (house) dan mana kata “rumah” (home). Kromo inggil pas sekali kalau dipakai bicara soal ajaran sangkan paraning dumadi. Tawaf (berjalan memutari Ka’bah) dilakukan berkali-kali -meski “tawaf” di mal dan supermarket juga tidak bosan-bosannya. Agar tidak lupa bahasa Jawa tinggi itu. sebuah batu hitam (blackstone) di pojok Ka’bah. Sejak itu. saya selalu kromo inggil kepadanya. “Kalau selama ini sudah sabar enam bulan. perancang Gedung Jatim Expo dan Rumah Cepat Tsunami Aceh. Suasana kebatinan setelah operasi mirip dengan setelah berhaji di Makkah. Yakni silicon scar treatment. “Apakah tidak ke gereja?” tanya saya saat dia mengajak rapat soal Aceh di hari Minggu. Tapi. seorang Kristen.” jawabnya. “Rupanya. Pak. Sebab. 6 September yang lalu sebenarnya saya sudah bisa kembali ke Indonesia. bicaranya kromo inggil. tim dokter tidak membawa ahli obras malam itu. Kalau saja usaha itu tidak berhasil. Fokus pikiran sudah berubah: Pulang! Pulang! Pulang! Ini bagian dari misteri rumah. kulit perut saya tidak mulus lagi. Saya yang Jawa bicara Mandarin. Makanya. seorang pembaca mengirim SMS ke saya: Tiongkok sudah pula membeli hajar aswad?) 79 by Moezhanks . biar dua bulan menunggu pun asyik-asyik saja. saya kira. terutama Robert Lai. Akibat sayatan pisau bedah yang panjang. ada yang minta biar enam bulan baru pulang juga lebih baik. Sebelum tiba hari pelaksanaan haji. tim saya. Dia Tionghoa. dokter sudah mengizinkan saya pulang. (Waktu saya menulis bahwa Tiongkok dengan kekayaan barunya sudah mampu membeli saham perusahaan raksasa Amerika yang bernama Blackstone. Semangat menjalani ibadah luar biasa. mengapa tambah dua bulan lagi tidak kuat?” tambah Ir Budiyanto.” jawabnya. di rumah saya menggunakan bahasa Banjar. Dia tahu. filsafat ojo dumeh dan hukum “timba sing kudu nggoleki sumur”. kemudian. Sudah tawaf siang hari. ketika menjenguk saya. Aneh. Tim Surabaya juga demikian. Sebuah konotasi yang ternyata salah.” ujar tim kami. “Saya penganut Sapto Dharmo. saya tahu dia salah satu tokohnya. Ada sederet bekas jahitan yang kasar. apa kromo inggil untuk forward? Keinginan pasien untuk cepat-cepat pulang memang agak ajaib. Dia Tionghoa dan lulusan Fakultas Teknik Universitas Kristen Petra Surabaya. “Saya bukan Kristen. Saya masih memesannya lewat internet karena hanya di AS barang itu dijual. Rasanya ingin terus dekat dengan Ka’bah dan mencium berkali-kali hajar aswad. Nah. berarti dia Konghucu atau Buddha. minta saya lebih bersabar. Ini baru saya ketahui setelah bertahun-tahun kenal.Yang jelas sudah berubah adalah perut saya. Saling SMS dan email pun pakai kromo inggil hingga suatu saat kebentur kata forward. Saingi Cucu 22 September 2007 TEPAT sebulan setelah transplantasi. Karena itu. saya lagi mengusahakan untuk memperhalusnya. Oh. saya pasti langsung lupa diri. Begitu seminggu setelah operasi berhasil (umumnya mereka tandai dengan bisa jalan-jalan). Bahkan. ketika saya ajak omong Mandarin. Jadi. Saya berpikir salah sekali lagi. Terutama yang biasa digunakan ibu-ibu yang melahirkan secara caesar. anggaplah saya baru saja melakukan caesar tiga kali berturut-turut. mencoba sore hari. Sudah pagi hari mencoba malam hari. (Bersambung) Ganti Hati 28 – Tunggu Pulang Diimunisasi Hepatitis B. Bahkan.

Karena teman-teman se-”angkatan” saya sudah pada pulang. Kadang dengan cara menyikut dan menyingkirkan orang lain. Hasil tes terakhir memang menunjukkan bahwa liver baru saya bersih. Kecut. luar biasa tidak sabarnya. Bahkan.” tulisnya di SMS-nya. Tentu. rasanya sudah amat berbeda. Pasien dari Taiwan umumnya sudah pulang sebulan setelah transplantasi. Tidak kejangkitan hepatitis atau sel bibit kanker. Saya sudah amat senang kalau tulisan saya ini memberikan manfaat. Saya perlu sejumlah tenaga yang punya antusiasme menangani pekerjaan tersebut. saya memutuskan baru akan kembali ke Surabaya sekitar seminggu setelah Lebaran. Tentu. Tidak ada lagi teman-teman lama yang saya kunjungi setiap hari. Saya tidak sampai hati melihat pemandangan itu. sudah terlalu lama menunggu di rumah sakit ini. Mungkin akan ada manajemen yang lebih baik untuk mengatur antrean itu. tekun. Syayidina Umar pernah mengatakan. Saya tersenyum mendengar bahwa saya harus menjalani beberapa kali suntikan imunisasi. Berarti juga harus mau menjadi narasumber untuk bagi-bagi pengalaman kepada 80 by Moezhanks . Ternyata benar juga bahwa saya tidak buru-buru pulang. Sedang kalau saya pulang.” kata saya pada suster yang akan menyuntik. agak siang sedikit. Begitu bisa jalan. apalagi begitu selesai salat Idul Adha. suasana di sekitar Ka’bah tidak pernah sepi. Yakni pada hari saya mengungkapkan mengapa saya sampai menderita penyakit seperti itu. begitu pulang dari Padang Arafah. Saya akan membiayai kegiatan itu. Tuhan pasti tahu isi pedalaman saya. Tapi. saya selalu berusaha menciumnya dengan hati saya yang dalam. Mereka berebut menciumnya. Maka. “Hati” dalam pengertian pedalaman saya -bukan hati dalam pengertian liver saya. Begitu juga pasien transplan liver. “Sudah umur 56 tahun baru imunisasi. kalau terjadi apa-apa. Kok tumben. Di dua negara itu ada rumah sakit yang punya pengalaman merawat pasien pascatransplan. pikirannya sudah langsung fokus ke pulang. Kebiasaan saya Lebaran di Makkah tidak bisa saya lakukan lagi tahun ini. cucu saya.Karena itu. “Kalau bukan karena Rasulullah pernah menciumnya. “Departemen Kesehatan harus membayar Anda. tinggal saya sendiri yang dari Angkatan April 2007. Pasti pagi-pagi mereka sudah baca Jawa Pos. Saya kembali tersenyum. saya tidak mengharapkan bayaran itu. Sudah antiklimaks.” tambahnya. saya belum bisa mencium hajar aswad -secara fisik. Karena itu harus segera dilindungi dari dua makhluk halus (karena hanya bisa dilihat oleh mikroskop) yang pernah mengancam jiwa saya itu. suatu saat saya akan menciumnya. saya tidak akan sudi menciumnya”. Oh. Pasien Jepang bahkan tiga minggu sudah check-out. Diam-diam. Kemacetan manusia selalu terjadi di sekitar hajar aswad. Karena itu.” kata Pinto Janir dari Padang kirim SMS ke saya. saya berencana mendirikan lembaga yang tugasnya gerilya ke kawasan-kawasan miskin untuk mencari anak yang belum diimunisasi. Saya masih harus menjalani satu proses yang amat lucu: Imunisasi hepatitis B. Suster tertawa. Saya tidak tega kalau harus berebut seperti itu caranya. “Jam lima pagi sudah lima ibu yang mendaftar. Bagi yang masih lama dapat giliran pulang. Kampanye yang berhasil. “Uda. Toh mencium hajar aswad itu bukan rukun tawaf. rumah sakit mana yang punya pengalaman cukup untuk pasien seperti saya? Walhasil. Bersaing dengan Icha. saya baru tahu sebabnya. Bahkan. Ada terus kegiatan orang di Makkah sebelum hari haji. Antiklimaks yang tajam. Bahkan sudah menjadi seperti satu network dengan pusat transplan di Tiongkok ini. Maklum. “Saya kaget.” kata dr Wawan yang dulu pernah jadi anggota yang aktif di Dewan Pembaca Jawa Pos. meski entah sudah berapa kali saya ke Makkah. Tuhan kita adalah Tuhan yang cerdas. Saya harus mencari kawan baru. Mereka memang tidak perlu khawatir. Saya dapat informasi bahwa dokter-dokter anak di Surabaya juga kebanjiran bayi yang minta diimunisasi hepatitis B. dan njlimet.

Dilakukan sendiri oleh dokter setempat karena dia juga ahli. Mungkin memang politisi yang sibuk. Wisatawankah mereka? “Mereka adalah orang-orang yang dua-tiga tahun lalu transplantasi di sini. Tapi. “Lihat ini. Pasien ketiga juga sama.” pikir saya. Tiap dua minggu harus dibersihkan dan dirawat. dipasangi masker. Tiba-tiba saya penasaran. Pasien kedua yang saya lihat pun begitu. Dia seorang wanita 60-an tahun dari Pakistan. Badannya lebih kurus daripada yang saya lihat sebelum operasi. hanya seminggu! Sudah bisa jalan! Kau nanti juga harus begitu! Kalau perlu lima hari! Dengan melihat contoh nyata itu. Agar bisa bicara lebih santai. Bahkan. Slang itu. Seminggu sudah bisa jalan! Saya pun akan begitu nanti! Seminggu.” katanya sambil menyingkap bajunya. begini ya orang habis transplantasi. Juga lebih merah. Saya merasa mereka beri semangat. tiga orang di antara mereka (antara umur 60 dan 70 tahun) mau saya ajak masuk kamar saya. Selama empat bulan menunggu operasi. Bahkan. Atau ke keluarga mereka. Untuk menunjukkan di sinilah dulu mereka dapat sambungan nyawa. tanpa harus merasakan enaktidaknya.mereka. berikut kantong plastik kecil. napasnya sudah tersengal-sengal. Dahlan. 81 by Moezhanks . tiga bulan kemudian. memang masih terus akan di situ selama tiga bulan. Saya lebih semangat makan. ingin bertanya masak kini mereka bisa begitu sehatnya. Lebih segar dan merah daripada yang saya lihat sebelum operasi. Lalu. Meski badannya kelihatan lemah. Saya pun merasa dapat semangat yang sama dari pasien yang menjalani transplan sebelum saya. Semua kurang lebih sama. “Oh. dia tidak ke Tiongkok. pasien yang sebelum operasi kelihatan matanya sudah amat keruh. Jadi. Terlihatlah di kulit perutnya bekas sayatan dan jahitan yang panjang. saya tertegun. Jawaban-jawaban itu tidak terlalu memengaruhi psikologi saya. Toh. Perawatan terhadap slang yang masih ada di pinggangnya pun dilakukan di negerinya. wajahnya segar. yang badannya memang sudah kurus dan umurnya sudah 62 tahun. optimisme saya kian menyala-nyala. seminggu sudah bisa jalan.” jawabnya. Saya kian rajin senam untuk membuat badan saya lebih segar. tentu lima hari setelah operasi sudah bisa jalan. Hati baru. Yakni yang transplantasi enam bulan sebelumnya. Lengannya dipegangi oleh suster. waktu seharusnya dia kembali ke Tiongkok untuk mengeluarkan benda yang dipasang untuk menyambung livernya dulu. Oh! Baru seminggu yang lalu! Sudah bisa jalan. saya tidak harus membeli semangat. Begitu jugalah saya nanti. Juga kian segar badannya. sudah tergeletak tidak bisa berjalan. Dia saja. Sebelum operasi. Konon. Kian hari kian cepat jalannya. saya hanya sekali mendengar orang meninggal. begitu pertama melihat pasien yang jalan-jalan di koridor rumah sakit dengan kantong plastik berisi cairan merah menggantung di pinggangnya. pikir saya. Kalau badan saya lebih kuat. Di kamar saya semangatnya menjadi-jadi. meski thimik-thimik. Rasa optimistis kian hari kian besar setelah melihat pasien tadi di hari-hari berikutnya. Saya melakukannya dengan senang hati. Pasien keempat. ajaib memang transplantasi ini. kelima. saya memang suka bertanya kepada pasien yang baru saja menjalani operasi. Serombongan besar orang Korea memenuhi lantai 11. saya tanya kepada susternya: Sudah berapa hari dia operasi? “Tepat seminggu yang lalu. seorang anggota parlemen. dan seterusnya. Mulutnya. Jalannya thimik-thimik pelan. Bahkan. Sebulan setelah transplantasi langsung pulang. tentunya. juga mulut susternya. Saya ingin ikut memberikan semangat agar mereka optimistis menghadapi operasi besar. Suatu saat ada contoh-hidup yang lain. Di negaranya langsung aktif karena memang terasa sudah amat sehat.” kata seorang perawat. seminggu setelah operasi juga sudah bisa jalan. Ternyata dengan suka rela mereka menceritakan segala pengalamannya. Transplantasinya sukses dan amat sehat. Agar tidak jadi sumber infeksi. Giliran saya memberikan semangat. Ada pemandu wisatanya. Mereka ingin datang lagi bersama keluarga dan kerabat.

Wanita yang dari Harbin lebih mengeluh lagi. dia bahkan pergi naik haji. Tapi. Dua wanita itu juga amat mengesankan.Beberapa saat setelah itu. Dia juga tidak bisa berbahasa Mandarin sehingga hanya saya pasien yang bisa dia ajak ngobrol dalam bahasa Inggris. Saya sering sekali mengunjungi kamar masing-masing dan ngobrol berlama-lama. saya kehilangan dua teman wanita yang paling saya akrabi. dan intelektualnya bisa nyambung dengan saya. Bukan saja mengenai umurnya. Saya ceritakan kenyataan bahwa ada pasien lain yang juga punya sakit gula toh berhasil dengan baik juga. Saya memahami keadaannya. “Umur saya juga sudah 69 tahun. Keduanya tinggal di lantai yang sama. Satu dari Jepang. “Umur saya sudah 72 tahun. Juga sudah tak terhitung lagi berapa kali saya ke Harbin sesudah itu. “Saya nanti pulangnya mungkin paling belakangan. guraunya.” tambahnya. “Kalian sudah pulang semua. “Saya nanti tidak sesukses kamu. Saya juga berjanji kepadanya untuk terus memberinya semangat. namun menunggu kondisi badannya stabil. 82 by Moezhanks . sirosis. Yang ditunggu tidak segera tiba. Bicaranya. Saya cepat akrab dengan wanita Harbin ini. Kami biasa saling curhat.” tambahnya. Dan akhirnya meninggal. Entah proses pengambilan benda asing itu yang salah atau karena kegiatannya yang berlebihan. saat keduanya masih kira-kira berumur 30 tahun. Tidak satu pun keluarganya mendampingi. Dua-duanya juga amat cantik -terutama kalau penilaian ini saya berikan 35 tahun yang lalu. saya tidak menceritakan bagian ini padanya. Yang wanita Jepang amat modis. Apalagi mereka senasib: juga hepatitis. Dia ngiri melihat badan saya yang sehat dan agak gemuk. Terutama kalau istri saya pergi belanja. Sepatunya seperti Cinderella. Lebih dari itu dia juga mengidap sakit gula. antara lain. “Perut saya sudah berisi air. dia terkena infeksi.” kata wanita yang dari Jepang itu suatu saat kepada saya. Sendirian. Saya tidak harus buru-buru pulang. Tiongkok. Di lain waktu wanita Harbin tadi curhat yang lain lagi. karena saya pernah lama di sana: Belajar bahasa Mandarin dengan cara home stay. Lalu datang lagi ke Tiongkok untuk menyelamatkannya. tapi juga kondisi badannya. Saya memang tidak menceritakan bahwa gemuk saya waktu itu karena bengkak. satunya lagi dari Harbin.” katanya. Kian lama kian parah. saya akan masih di sini. Saya harus belajar dari pengalaman itu.” katanya. Bajunya bagus-bagus dan mahal-mahal. Rambutnya disasak tinggi. Saya tahu bahwa sakit gula akan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sukses tidaknya transplantasi. dan kanker hati. Bahkan memburuk. tentu orang akan mengira dia hamil. Di Tiongkok dia akan ditransplantasi sekali lagi. Kalau saja dia masih muda. Dia sendirian. (Bersambung) Ganti Hati 29 – Sering Kaget Disapa Wanita Modis dan Ceria dalam Lift 23 September 2007 DI masa menanti waktu pulang ini. Saya menjawab: Saya juga tidak akan buru-buru pulang.” katanya.

Kami sering diskusi soal kemiskinan di Indonesia dan Tiongkok.” katanya dengan meraba-raba perutnya. begitu pulang. Pasien yang kerasan di rumah sakit. Yang wanita Harbin juga sudah menjalani transplantasi. Terutama pada jam-jam pulang atau berangkat kerja.” sering saya bertanya dalam hati. satu moto: “Kaya Bermanfaat. Dan ini menjadi salah satu sumber kemajuan Tiongkok. tapi saya seperti tidak kenal lagi siapa dia. Tapi. Tentu kami tetap menampakkan kegembiraan kami bahwa dia begitu sukses dengan transplantasinya. Menjalani perawatan di sana. juga kalau bertemu orang seperti tidak punya rasa rendah diri. Sewaktu bertugas mengepel kamar saya. baru sadar bahwa mereka adalah perawat atau pesuruh yang tadi melayani saya. Mengapa orang di Tiongkok yang juga banyak sekali yang lebih miskin dari orang miskin Indonesia. Juga sukses. meski kalau tertawa lantas kian terlihat umurnya yang sebenarnya. Miskin Bermartabat”. Sebaliknya. Mereka juga hafal pada saya. dan banyak lagi yang lain. Meski begitu hafal. dan dokter di rumah sakit ini. Bank Dunia menyebutkan social-capital ini menjadi faktor penting kemajuan Tiongkok di samping modal finansial. Saya ingat direktur saya Zainal Muttaqien. “Siapa ya wanita cantik ini. Setiap masuk kerja mereka mandi dulu dan baru ganti baju perawat. Tidak buru-buru pulang. Juga sudah bisa tertawa. saya sangat hafal pada perawat. Bajunya. sudah hilang. Dan. harga dirinya lebih baik. Juga benar bahwa seminggu setelah operasi dia sudah menentukan tanggal pulang. Bukan saja jarang lihat pengemis. ketika kerja tidak ogah-ogahan. ketika sudah kaya (duille!) tidak sewenang-wenang. Yakni. Rumah pun masih menyewa di satu gang sempit di belakang pasar Kertajaya. Bajunya you can see.Benar saja. sungguh membelalakkan mata. Penghuni lama. Rupanya mereka biasa ganti-ganti baju. Sepatunya sepatu kungfu yang murahan. Yang kamar 83 by Moezhanks . si Cinderella sangat berhasil operasinya. tatanan rambutnya. akan bisa jadi model perjuangan itu. sama sekali tidak menyangka kalau dia tadi yang pakai baju perawat dengan topi putih. Meski memang lebih lambat mulai bisa turun dari tempat tidur. Mereka sama sekali tidak punya rasa rendah diri meski pekerjaannya tukang pel lantai. Saya dan Zainal. musim panas) dan rambutnya dimain-mainkan seperti artis Korea. Ini agar kuman yang terbawa perawat saat berangkat kerja tidak terbawa ke pasien. Surabaya. Bagaimana ketika miskin dulu tidak jatuh sampai menjual harga diri dan jabatan. Muncullah istilah dari Zainal yang akan selalu saya ingat dan yang akan kami perjuangkan sebagai inti dimulainya pembangunan harga diri ini. Pesuruh dan tukang pel lantai pun idem ditto. Rumah separo tembok separo kayu. cara membawa tasnya. Karena ’yuan lao’. Eh. pakaiannya baju-kerja penyapu lantai. Perawat di sini memang disediakan kamar mandi dan ganti baju. Ini yang disebut social-capital -modal sosial. para perawat itu ganti pakaian seperti model. “Perut saya yang mulai buncit dulu itu. Pasti semakin modis dia nanti. saya belum punya sepeda. Yang seperti itu tidak hanya perawat. saya lihat perutnya “sudah hilang”. Saya ingat. pegawai. meski waktu itu sudah menyandang gelar wartawan majalah TEMPO yang begitu ternama. saya masih sering kecele kalau suatu saat disapa wanita yang sangat modis dan ceria di dalam lift atau di lobi. Dia sering menyapa. bicaranya sudah keras dan tegas. Begitu selesai bertugas. Benar.” katanya seperti minta pengertian. apalagi sepeda motor. “Dokter saya di Jepang yang minta saya segera pulang. Saya sendiri akhirnya mendapat gelar ’yuan lao’ di rumah sakit ini. celananya hot pants (maklum. meski berangkat kerja dengan amat modis. Demikian juga ketika pulang kerja.

Hampir dua jam. Maka. tapi berjilbab pun akan dicarikan jilbab yang modis. Sebab. saya bilang kepada sopir agar boleh naik di kursi dekat sopir. Saya tahu isinya pasti uang. Hanya cukup untuk naik bemo berangkatnya. tentu banyak orang yang akan memberi saya tiket. bangsa yang kalau melihat orang kaya yang muncul kecemburuannya. “Istri saya hamil muda. misalnya. kalau di rumah sakit ini. para wanita yang lalu lalang di kota itu harus juga terlihat cantik. kalau tidak mau dibilang kurang ajar. saya pilih naik kapal kayu ke Banjarmasin dulu. saya hanya punya uang Rp 75 di saku. Sedangkan kita. (Bersambung) 84 by Moezhanks . Salah satu kesimpulan saya. Ide itu tentu tidak mungkin dilakukan. eye shadow. tulisan ini tidak akan bisa selesai tepat waktunya. Karena beberapa kali harus berhenti untuk menghindar dari panasnya Surabaya. ditanggung sendiri. di Graha Pena kami akan mencoba memberikannya secara cuma-cuma kepada pegawai bagian cleaning service-nya. Dari penampilan para perawat dan tukang pel di rumah sakit ini. lalu dari Jembatan Merah ke Tandes Rp 50. Belum ada bus waktu itu. Tentu tidak harus sampai pada hot pants. ternyata ada baiknya juga dia pulang lebih dulu. agar murah. Petugas cleaning service tidak harus merasa rendah diri. Bangsa yang mudah disogok dan dipermainkan. Maka. penampilan Graha Pena juga akan lebih “keren”. ’tawaduk’. Kalaupun dilakukan. Saya sudah minta manajemen Graha Pena untuk menghitung konsekuensi biayanya. yang sebenarnya tetap bisa kita lakukan tanpa harus jatuh ke derajat ’rendah diri’. Yang juga mudah dibayar untuk. kalau yang lalu-lalang di dalamnya kumuh-kumuh. Kembali ke dua wanita tadi (eh. Betapapun bersihnya sebuah kota. Yang kasur tipisnya harus dihampar di lantai. Waktu harus wawancara ke daerah industri di Tandes Margomulyo. Tentu semua biaya seperti itu. sepatu. sering terbelit filsafat ’unggah-ungguh’. sekadar berdemo. Dan harga diri pegawai yang di situ sama tingginya. saya belajar bagaimana menjalani pekerjaan rendahan dengan jiwa yang kuat. Miskin Bermartabat” belum menjadi budaya. Tapi. Saya khawatir dengan istri saya. Saya menolaknya meski di saku tidak ada lagi uang sepeser pun. Tapi. Untuk membuat kota-kota di Indonesia cantik. Lalu muncul ide gila yang tidak masuk akal. Saya kepingin sekali meniru ini di Graha Pena. membangun kepercayaan diri begitu pentingnya. Saya pulang dengan jalan kaki. Atau. filsafat “Kaya Bermanfaat. nggak menarik jadinya. Mereka bisa membedakan ’rendah diri’ dan ’rendah hati’. pemda yang menginginkan kotanya cantik dan menarik harus memberikan penduduknya yang wanita barangbarang ini secara gratis: Baju. Kalau upaya meniru ini berhasil. Jarang saya lihat orang Tiongkok yang merasa rendah diri. Yang airnya dari sumur yang harus ditimba sendiri. “Kaya Bermanfaat. Miskin Bermartabat” akan membuat bangsa ini tidak gampang jatuh ke derajat bangsa-pengemis.mandinya dipakai bersama beberapa rumah tangga. Lalu naik kendaraan umum berupa jip terbuka yang penuh sesak dengan penumpang. saya diberi amplop. Waktu harus pulang ke Kaltim. ’sopansantun’. belum tentu lipstiknya digunakan. Bisabisa dijual. kok ingat dia lagi sih?). dan biaya ke salon. Meski Tandes-Kertajaya begitu jauhnya.” kata saya. Dari Kertajaya ke Jembatan Merah Rp 25. lipstik. Kalau tidak. Selesai wawancara.

Mereka mengatakan semua ini karena Allah. Jepang. Selama makan sang istri merengut saja. Bagaimana bisa punya pengalaman transplantasi liver 150 kali setahun kalau di negeri itu orang tidak bisa mendonorkan organnya? Mengenai kecanggihan peralatan. Setelah sang suci pulang. Sang istri sehari penuh sibuk menyiapkan makanan yang lezat-lezat. Saya tidak ingin para dokter menjadi ngambek seperti humor ngambek-nya seorang istri yang sudah terkenal itu: Suatu saat sebuah keluarga ingin mengundang makan malam seorang suci.Ganti Hati 30 – Banyak Faktor Keberhasilan. Keberadaan donor yang sangat prima. Sudah tentu tidak hanya faktor keahlian dokter yang menjadi satu-satunya kunci sukses. Soal keahlian dokter. Selesai. kalau jawabnya itu. Keahliannya pasti tidak kalah dengan dokter Singapura. dan di rumah sakit ini. 3. 5. Tapi.” Ucap sang suci mengakhiri doanya. 2. jawabnya ini: semua itu berkat tangan Tuhan. Waktu mau makan. 4. Terutama ingin menulis sesuatu agar para dokter tidak kehilangan semangat karena tidak dipuji sama sekali. Kemampuan manajemen rumah sakit dan tim operasinya. sang suami meminta sang suci membacakan doa. Engkau telah menyediakan makanan yang lezatlezat ini. Saya tidak diberi tahu alat yang mana. ada satu alat yang hanya empat di dunia: di AS. Kalau mau pendek dan tampak religius. Siapa yang bisa membantahnya? Siapa yang berani mempersoalkannya? SMS yang masuk ke saya pun hampir semuanya bernada begitu. rumah sakit ini tergolong yang terbaik di dunia. Tapi. Baik karena langkanya donor maupun minimnya peralatan. Tapi. Tersedianya peralatan yang canggih ini sangat terkait dengan kemampuan dana dan 85 by Moezhanks .” Tapi. Kondisi badan saya yang masih baik. 6. rasanya sulit menentukan. Keahlian dan pengalaman dokternya. saya tidak perlu lagi menulis. Saya mencoba merincinya sebagai berikut: 1. saya ingin menulis. tapi Jangan Buru-Buru Merasa Sehat 24 September 2007 MENGAPA operasi transplantasi liver saya berhasil? Setidaknya sampai hari ini? Faktor apa saja yang memengaruhinya? Jawabnya dua macam: mau yang pendek atau yang panjang. Korea. Tidak perlu lagi tambahan apa-apa. Hanya satu-dua yang mengatakan. kalau ada waktu membahasnya lebih dalam. Faktor mana yang terpenting. kesempatan untuk memperoleh pengalaman yang banyak sangatlah minim. Saya ingin memujinya. Bahkan. Saya pernah menerima keluhan dokter ahli bedah jantung seperti Prof Dr dr Paul Tahalele. si istri menggugat suaminya: Tidakkah tadi kau laporkan kepada sang suci bahwa sayalah yang sehari penuh menyiapkan makanan ini? Saya tidak ingin para dokter njegol seperti si istri itu. Tuhan. di Indonesia pun tidak akan kalah. “Terima kasih. Mau yang religius atau yang ilmiah. Kemajuan obat-obatannya. pasti juga akan diketahui ranking-nya. Kecanggihan peralatannya. “Semua ini karena Allah dan kepintaran para dokternya.

Tentu. masak bisa diralat? Yah. Hanya saya dan tim saya yang tahu. Ini karena jantungnya memburuk. tapi saya yakin sudah telanjur melukai hati mereka. mungkin banyak yang pesimistis. Tapi mulai lemas di hari-hari berikutnya. Begitulah nasib dokter kita meski itu juga dialami bidang yang lain. Lantas. Ada yang cuma Rp 5 juta. Mendapatkan donor yang prima pun. Maksud saya ketika organ-organ lain saya masih baik. Saya juga sering mengadakan khataman Alquran yang diikuti para hafiz (orang yang hafal Quran). saya sudah menghitung semua faktor di atas. Obat sinkronisasi liver baru dengan organ lain sudah amat sempurna. Salah satu pasien yang saya kenal kelihatan gembira sekali di hari pertama dan kedua setelah keluar dari ICU. sudah bengkak. “Apakah Pak Dahlan sudah mau mati? Mau khusnul khotimah?” komentar seorang teman secara diam-diam tapi sampai juga ke telinga saya.” katanya. Asal kemudian ikut diundang. dua-duanya belum bisa banyak dinanti. Mungkin akan mendapat juga donor. semua itu tidak saya informasikan kepada keluarga atau teman-teman. saya tidak memiliki bakat darah tinggi maupun gula darah. Kalau sejak sebelum operasi saya optimistis bahwa transplantasi ini akan berhasil. antara lain. Kadang saya sadari bahwa ternyata tidak seharusnya saya marah karena ternyata dia tidak salah. Mereka juga melihat tanda-tanda nonfisik yang saya lakukan. Kalau saja terlambat mengambil keputusan. saya berikan uang. Untuk kegagalan transplantasi liver karena rejection. antara lain. Tapi kalau sudah telanjur marah. Bahkan. Misalnya. tentunya donor seperti apa pun akan diterima. Kebetulan.keinginan pemimpinnya. Kegagalan yang terbanyak kini karena tekanan darah tinggi dan gula darah. Itulah sebabnya. Atau. Sebab. Rupanya. Misalnya. akan lain hasilnya. Di bidang kemajuan obat-obatan harus diakui bahwa kemajuan penemuan obat baru bukan main cepatnya. kalau saja saya tidak sabar menunggu. juga ditentukan oleh kondisi pasien. saya tiba-tiba mengundang teman-teman yang ketika bekerja di Jawa Pos dulu pernah saya marahi. Kondisi pasien yang prima memegang peran penting karena banyaknya komplikasi juga akan menyulitkan. Kalau saja kemajuan obat-obatan tidak seperti sekarang. Tergantung perasaan saya seberapa saya merasa bersalah. Bahwa ada kualitas I atau II. juga para pemegang saham. “Boleh nggak sekarang saja dimarahi. saya sering juga kemudian minta maaf. Untuk Indonesia. tapi kondisi badan saya sudah tidak bisa lagi menunggu lebih lama. dia menghubungi saya lewat SMS: saya menyesal mengapa dulu tidak pernah dimarahi. dan wajah sudah menghitam. ada yang sampai Rp 100 juta. sekarang jumlahnya hampir nol. obat-obatan yang harus dimakan setelah transplan menimbulkan efek samping di dua sektor itu. kalau saya sabar. Apalagi saya juga menyelenggarakan zikir-pidak dan ikut mendengungkan kalimat syahadat yang sudah di-compress menjadi kata pendek hu itu ribuan kali. 86 by Moezhanks . tapi kualitasnya belum tentu sebaik yang ada di dalam badan saya sekarang. Teman-teman. mungkin juga banyak halangannya. Toh semua donor sudah diperiksa kualitasnya. Mereka aktif berpindah-pindah di Surabaya dan tiga bulan sekali di rumah saya. saya membuat keputusan justru harus melakukan transplantasi ketika saya masih sehat. obat antiinfeksi juga sudah membuat kegagalan karena infeksi amat minim. bagi-bagi uang ini terdengar juga oleh pensiunan karyawan yang lain. Kepada mereka (baik yang sudah pensiun maupun yang belum). itu tentu ada kelas-kelasnya. Terutama kalau mereka melihat tanda-tanda fisik saya: mulai dari sudah muntah darah.

Para pemegang saham juga sangat khawatir ketika saya minta bertemu dan menyampaikan sesuatu yang amat sangat pentingnya. Akhirnya. Ini menambah kuat tekad saya untuk melakukan transplan ketika kondisi badan saya masih kuat. “Apakah yang Anda lakukan ini ada hubungannya dengan sakit Anda?” tanya seorang pemegang saham.” Maksudnya jangan membaca yang seperti memberikan isyaratisyarat bahwa saya akan gagal dan meninggal. istri perdana menteri Singapura yang juga CEO Temasek Group. Itu bisa dilakukan dalam rangkaian perjalanan saya pulang kelak. Sampai-sampai tim saya bilang. Kankernya sudah telanjur menyebar ke bagian tubuhnya yang lain. Baju kami. Akhirnya meninggal dunia. Artis itu sudah amat terlambat melakukannya. dia harus transplantasi lagi di kota ini. cobek (mangkuk terbuat dari tanah). Berhasil. sekeluarga. Transplantasi pertama dilakukan di Beijing. saya akan mampir dulu di Singapura beberapa hari. juga minta agar saya menjalani review di negaranya. (Bersambung) Ganti Hati 31 – Setelah Transplantasi. kanker sudah lebih menyebar lagi. Lemari yang ada itu bikinan bapak sendiri untuk menyimpan apa saja: kaleng bekas. termasuk talk show dan jumpa fans di kotakota yang jauh. Yakni di balik pintu lemari kayu yang kasar. Itu bukan lemari pakaian karena kami tidak perlu lemari untuk pakaian. Kian Tidak Jelas Hitungan Umur Saya 25 September 2007 UMUR berapakah saya sekarang? Tepatnya saya tidak tahu. Pelajaran lain yang saya dapat adalah: Jangan buru-buru merasa sehat dulu. Cukup disangkut-sangkutkan di paku yang menancap di dinding. Padahal. dan leper (tempat mengulek sambal. Kakak sulung saya memang pernah mencatat tanggal kelahiran saya. Juga karena kami tidak bisa beli lemari. buku yang saya baca adalah buku kisah artis terkemuka Tiongkok yang meninggal muda setelah transplantasi liver. Sambil menunggu saatnya transplantasi pun. terbuat dari tanah). Madame Ho Ching. Tapi. Kebetulan. Singapura sudah amat berpengalaman. “Saya yang akan atur. Apalagi setelah melakukan transplantasi liver ini. Bahkan. Belum dua bulan sudah sibuk menghadiri berbagai acara. Ditulis dengan kapur lunak. sepulang dari Tiongkok nanti. Makanan juga disimpan di situ -kalau kebetulan ada. Juga berhasil.” tulis Madame Ho Ching dalam emailnya kepada saya. 87 by Moezhanks . untuk transplantasi “separo hati”. Singapura memang punya reputasi yang baik untuk perawatan pascaoperasi. tidak lebih dari sepuluh. Pelajaran penting yang saya peroleh dari buku itu adalah ini: jangan terlambat ambil keputusan transplantasi. dia melakukan transplantasi dalam keadaan sudah amat terlambat. Karena itu. Mereka tidak tahu bahwa saya ingin belajar dari buku itu. Terutama: mengapa gagal? Apa yang tidak boleh saya tiru agar saya tidak gagal? Juga ada maksud saya yang lain lagi: belajar membaca huruf Mandarin. dan sebangsanya. diambilkan dari kapur yang biasa dipakai nenek untuk makan sirih. piring seng untuk makan. “Mbok jangan baca buku yang begituan.

alat-alat tukang bapak yang bisa dirombengkan. Dan ketika terjadi Gestapu/PKI di tahun 1965. Ibadahnya pakai aliran NU ahli sunnah wal jamaah: tarwihnya 21 rakaat (sampai sekarang). salatnya pakai doa kunut. Posisi duduk anak kecil seperti saya sangat minggir -kadang hanya dapat separo pantat saja yang di atas tikar. Tanggal itu penting bagi anak-anak miskin karena berarti akan ada selamatan. kami selamatan Rebo Wekasan. Di lain kali saya tidak diterima di kalangan Muhammadiyah. bulan berapa. gambar pertama yang bisa saya buat ketika kecil adalah lambang partai itu: Bulan bintang. Dari segi ini. saya ingat. pergilah lemari dari rumah kami -dan hilanglah catatan tanggal lahir saya. Kalau bulan Syura. Setelah ibu sakit (seperti sakit saya ini). setiap Selasa Legi. tapi bisa mengurangi rasa malu. lantai tanah sangat ramah lingkungan -setidaknya hidung kami sudah biasa tidak menghiraukannya. Kalau mau makan. Di atas tikar itu juga kami tidur. Di desa. Lagi pula. Dengan ciduk yang sama: tidak terpikirkan itu sebagai sarana yang efektif untuk menularkan virus hepatitis. orang memang tidak peduli dengan tanggal lahir. Pada selamatan ini. kini. Kami makan sambil duduk di lantai. Selasa Legi yang tanggal berapa. Bau kencing itu akan hilang dengan sendirinya kalau tanahnya sudah kering lagi. Paginya. Saya sangat ahli me-ngepyur-kan air ke lantai ini. Pakai selamatan dan tahlilan. Tapi. Tapi. Perbedaan dua golongan itu sudah kian cair. kami antre minum airnya. Tidak ada kursi atau meja makan. Lantai itu terbuat dari tanah karena tidak mampu menyemennya. Kami hafal semua kapan meninggalnya siapa. nyekar ke kuburan. wiridannya pakai tahlil. putra Sayidina Ali dan Sayidah Fatimah. “Lihat dia dari keluarga Masyumi. Meski akan menghabiskan air lebih banyak. Misalnya. kami juga ikut Kejawen: Bersih desa. sering ada gambar pulau di lantai tanahnya: ngompol. “Dia tahlil. Karena itu. Lebih aneh lagi. Saya sendiri tidak peduli. aliran politik keluarga kami adalah ini: Masyumi. apa pun dijual. Ke dalamnya dimasukkan rajah kertas yang ditulisi huruf Arab yang ruwet. tidak ingat. Kami keluarga santri. Kalau toh ada orang yang selamatan kecil dikaitkan dengan hari kelahirannya. Kalau musim hujan. suasana juga sudah tidak seperti itu lagi. salat id tidak mau di lapangan. kiai kami menaruh gentong (tempat air yang besar terbuat dari tanah) dengan air yang penuh. sepupu-sepupu saya yang sudah dewasa semua jadi anggota Banser.” kata seorang tokoh. Untuk apa diingat? Untuk ulang tahun? Emangnya perlu ulang tahun? Bahwa orang itu ternyata bisa diulangtahuni belum pernah saya dengar sampai saya masuk SMA. sebelum disapu harus dikepyur-kepyur dulu dengan air. saya ini orang apa. Bahkan. barulah dihamparkan tikar. wayangan Murwad Kolo. Juga menyenanginya -terutama saya punya kesempatan untuk me-ngepyur-kan air lebih banyak di dekat pulau ompol untuk mengamuflasekannya. ketika tikar dilipat. 88 by Moezhanks . saya sudah harus bisa menyapu lantai. Yang selalu diingat hanya hari dan pasarannya. Jangan gusar. Yang biasa diulangtahuni adalah orang mati. bukan Naqsyabandiyah. Karena lantai itu akan menimbulkan debu.Itulah satu-satunya perabot rumah tangga bapak saya. Tiap pagi. itulah tugas pertama masa kecil saya: menyapu lantai. Sawah warisan yang hanya secuil. Itulah peringatan meninggalnya Sayidina Hasan dan Husein. Namun. keluarga kami tidak mengenal itu karena kurang kejawen. Suatu saat saya dicap sebagai Muhammadiyah. Semoga di langit sana tidak ada pengelompokan seperti itu. entah apa bunyinya. bapak ingat saya lahir Selasa Legi. dan juga lemari satu-satunya itu. aliran tarikat kami Syatariyah. Inilah keunggulan yang tak tertandingi dari lantai tanah: Bisa menyerap ompol sebanyak-banyaknya! Dia seperti popok abadi! Tidak perlu dibuang yang sampahnya bisa merusak lingkungan. gambar pulaunya lebih banyak dan lebih lama hilangnya. Anehnya. yang berarti cucu Rasulullah. itu dilakukan setiap 35 hari sekali. Maka. Setelah kenduri. Sejak masih ngompol.” kata yang lain. yang aslinya milik aliran Syiah.

tapi hati saya belum lagi berumur 25 tahun. kemudian jatuh ke buruh tani. Ini karena liver lama saya juga mengecil. Ulang tahun saya adalah Selasa Legi. Jadilah bapak-ibu saya tinggal di desa. Yang juga menggembirakan saya adalah: sekarang saya bisa berkeringat. Itulah tanggal lahir yang secara resmi saya pakai di dokumen apa pun sampai sekarang. Ibu harus ikut bapak saya. Bagi saya. Semua parameter darah normal. Habis jalan jauh pun tidak berkeringat. ketika Gunung Kelud meletus. Untunglah. Badan saya berumur 56 tahun. saya sudah mulai bisa merangkak! Kini. Para panglima perangnya melarikan diri. terutama yang bisa membuat dada saya mekar lagi. saya malas melakukan riset kapan saja Gunung Kelud meletus. tapi kemudian kawin dengan ibu saya. rasanya bisa. tidak tahu tanggal lahir tidak penting-penting amat. Sampai 1. Bukankah bisa ditelusuri kapan Gunung Kelud meletus? Soalnya bukan hanya itu. setelah ganti liver. Sekaligus jadi pusat Pesantren Sabilil Muttaqin. Tahunya ketika anak wanita saya bertanya kepada dokter: apa saja kesulitan dokter dalam melakukan transplantasi liver malam itu? Dokter mengatakan. Kini. Kecuali satu: Rongga dada saya sudah mengecil. “Hampir tidak ada kesulitan apa pun”. secara alamiah. saya belum pernah merayakan ulang tahun sehingga tidak kian ruwet memikirkannya. antara lain ke timur. 89 by Moezhanks . bobot dan nilai dikalikan seperti ajaran ilmu manajemen problem-solving yang sangat memengaruhi saya kalau ambil keputusan? Untuk apa juga saya pikirkan. Titik. Buktinya. Dan. kondisi saya terus saja membaik. bukankah setiap 35 hari ada Selasa Legi? “Waktu itu. Jadi keluarga tani. Ketika sudah amat dewasa dan saya bertanya kepada bapak mengenai kapan saya dilahirkan. kian tidak jelas lagi saya ini berumur berapa. Tapi sudah diakui di banyak negara. Apakah harus dijumlah lalu dibagi dua? Atau masingmasing diberi bobot dan nilai? Lalu. Bapak saya kemudian menyebut. Hidup di desa.” Maksudnya ketika Gunung Kelud meletus. ke Banjarsari di selatan Ponorogo. saya belum peduli dengan tanggal lahir dan karena itu juga tidak pernah bertanya ke bapak. Sudah tiga tahun saya tidak pernah berkeringat.” kata bapak saya sambil berpikir keras. Yang lebih saya pikirkan adalah bagaimana hati baru itu bisa kerasan menjadi “keluarga besar Dahlan Iskan”. Juga setelah sedikit senam atau joging. Tiwas nanti merasa ge-er karena hitungannya jatuh bahwa saya baru berumur 38 tahun atau 45 tahun. memang tidak boleh ada ruang kosong. Saya putuskan sendiri saja: Saya lahir tanggal 17 Agustus 1951. saya tidak dianggap memalsukannya. langsung berkeringat. Sampai tamat SMA. Tapi. Mengapa? Selama ini rongga dada saya ternyata dalam proses mengecil.Asal-usul keluarga kami adalah pelarian dari Jogja. tulang iga menyesuaikannya. begitu habis makan. berusaha menyesuaikan dengan ruang yang dilindunginya. waktu itu. 6 km dari pusat keluarga itu. Yakni setelah Pangeran Diponegoro kalah karena ditipu oleh Belanda. Saya sendiri tidak menyadari dan tidak mengetahui itu. “ada hujan abu yang sangat hebat. Karena saya dari jalur wanita. Tentu.5 bulan setelah ganti hati ini. Bapak saya adalah abdi di pusat keluarga itu. jawabnya tegas: Selasa Legi. Tanpa dukungan surat kenal lahir. Ketika hati mengecil. ibu saya tidak tinggal di pusat keluarga itu. Antara hati dan tulang iga. tidak ada administrasi yang memerlukan tanggal lahir. Begitu hebatnya sampai desa saya yang jaraknya lebih 100 km dari gunung di Blitar itu dalam keadaan gelap selama sepekan. Lalu beranak-pinak dan ada yang membuka hutan di timur Gunung Lawu untuk dijadikan kampung: Takeran. Jadi tulangtulang iga ikut bergerak ke dalam. Saya memang harus banyak senam.

lebih baik. saya kurang pandai menjelaskan bahwa sakit saya ini bukan karena kerja keras. Tentu. Kebiasaan lama orang-orangnya tidak bisa begitu saja berubah. Ternyata. setelah virus itu berkembang menjadi sirosis dan kemudian kanker. jangan sampai terkena virus hepatitis seperti Pak Dahlan Iskan! *** Kesan yang lain dari serial tulisan saya ini adalah bahwa rumah sakit-rumah sakit di Tiongkok hebat.Akibatnya. Saya memilih berumur pendek tapi bermanfaat. bahkan di Malaysia sekalipun. 90 by Moezhanks . melainkan memperlambat saja perkembangannya. belakangan ini semakin banyak rumah sakit di Tiongkok yang lebih modern. secara umum. daripada umur panjang tapi tidak bisa berbuat banyak. Ini karena. Kepada para dokter itu. ruangnya agak terasa kesempitan. Memang. Manajemen dan pelayanan rumah sakit-rumah sakit kita. Sehingga menaruhnya jadi agak sulit. tapi karena saya terkena virus hepatitis B. carry over problems masih terbawa. saya tidak memilih itu karena saya punya filsafat sendiri dalam menyikapi umur manusia. teman di Batam yang lahir di Padang itu. sebaiknya tidak kerja keras lagi. Misalnya. Hanya. Liver baru masih dalam ukuran normal. Masih perlu satu kurun lagi untuk mencapai tahap itu. (bersambung) Ganti Hati 32 – Kini Ada Simbol Mercy di Perut Saya (Sebuah Penutup) 26 September 2007 ADA kesan yang mendalam bahwa sakit saya yang parah kemarin-kemarin itu karena saya kerja terlalu keras. saya akan merasa sangat berdosa kalau gara-gara tulisan saya ini banyak orang takut bekerja keras. Kalau saya akan dijadikan contoh jelek. ya bermanfaat. meski secara fisik dan peralatan sudah amat modern. Memang. ketika dokter mau “memasang” liver baru di ruang yang ditinggalkan liver lama. itu bukan berarti akan menyembuhkan sakitnya. Bangsa ini memerlukan puluhan juta orang yang gigih. Sampai-sampai beberapa dokter menghubungi saya bagaimana kalau mereka studi banding ke Tiongkok untuk belajar manajemennya. Misalnya. Belajar manajemen dan pelayanan rumah sakit jangan ke Tiongkok. tapi masih belum mencapai tingkat kecanggihan seperti di Singapura. jangan dikaitkan dengan kerja keras. melainkan kaitkan saja dengan kecerobohan. Terutama yang swasta. Tapi. Sesak. saya bilang bahwa ide tersebut kurang tepat. Nanti seperti Pak Dahlan Iskan! Setelah menerima SMS dari Saudara Socrates. Tentu kalau masih ada pilihan lain. saya akan memilih yang terbaik. ya berumur panjang. Seorang ibu sampai menasihati anaknya begini: Jangan kerja terus seperti itu. bukan? Itulah sebabnya saya memperbanyak senam agar liver baru saya bisa “bernafas” dengan lebih lega dan itu berarti membuatnya semakin kerasan tinggal di dalam badan saya. Jalan pikiran saya itu biasanya saya ungkapkan ke temanteman dengan istilah: intensifikasi umur. saya jadi merasa bersalah. Tentu memperlambat juga amat baik.

Imunisasi yang sekali suntik Rp 70. Itu pun sewa saja. biaya operasinya sendiri tidak sampai 20 persennya. termasuk alatalat tukang kayunya. saya yakin tidak lama lagi rumah sakit di Tiongkok akan mencapai tahap seperti Singapura. wira-wiri saya sekeluarga dari Indonesia ke Tiongkok. *** Berapakah biaya yang saya keluarkan untuk mereparasi organ-organ saya itu? Kalau di penutup tulisan ini saya memberikan isyarat jumlahnya. Kecepatan itu akan fantastis kalau saja Tiongkok mengizinkan berdirinya rumah sakit swasta. Tapi. semua rumah sakit masih milik pemerintah. Rumah sakit juga menjadi sentral semua urusan kesehatan karena tidak boleh ada dokter praktik di sana. yang terbanyak adalah untuk pendukungnya. Dari seluruh pengeluaran. tapi cari apartemen murah saja. itu sudah meliputi semua pengeluaran. Tapi. saya akan jual kalau harus melakukan transplantasi ini. Satu orang dan yang lain tidak akan sama. sewa enam bulan (tidak bisa sewa kurang dari enam bulan). Makan dengan masak sendiri atau setiap makan ke restoran? Dan banyak lagi. saya hanya memberikan contoh dengan cara mengelap sendiri bagian-bagian yang kurang bersih itu di depan dia. Tapi.000 memang mahal. Jadi. itu karena tidak akan ada orang yang mau membeli rumah lantai tanah di pelosok desa. Di Tiongkok juga jangan tinggal di hotel. Kalau toh mau belajar ke Tiongkok adalah mengenai keseriusan riset dan semangat untuk majunya. Biaya itu juga sudah termasuk pengobatan sejak terjadinya muntah darah pada 2005. Sampai sekarang. memang perlu waktu dan kesabaran. Semua dokter fokus bekerja di rumah sakit. Misalnya. Transportasi yang bagaimana juga memengaruhi besarnya biaya. Misalnya. akomodasi. *** Semua itu tidak ada artinya dibanding nilai kesehatan yang saya peroleh. membatasi keluarga yang harus wira-wiri. Biasanya. dan konsumsi saya sekeluarga. petugas menilai “sudah amat bersih”. Itu juga yang dilakukan bapak saya ketika ibu sakit: Menjual apa pun. Tapi. Kalau waktu itu tidak menjual rumah. apa artinya dibanding yang harus saya keluarkan ini? 91 by Moezhanks . Naik kendaraan umum? Taksi? Beli mobil sendiri? (Kebetulan saya beli mobil kelas Toyota Corolla dan itu berarti juga harus punya sopir). Biaya operasinya sendiri tidak besar untuk ukuran saya. dan satu-satunya. Kalau semua biaya itu ditotal. transportasi lokal. lebih cepat daripada waktu yang kita perlukan. dan sebagainya. Karena mereka sangat unggul di situ. Saya tidak bisa marah karena tahu berapa gajinya dan bagaimana latar belakang ekonominya. untuk kasus saya ini. Misalnya. Saya bisa memahami itu karena toilet ini mungkin sudah lebih bersih daripada kamar tidur di rumahnya sekalipun. biaya terbesar sebenarnya bisa ditekan sesuai dengan kemampuan. Seandainya saya hanya punya rumah seperti itu pun. Mungkin seharga rumah tipe 100 di lokasi yang sedang. Lama-lama standar kebersihannya berubah. juga sekaligus menyadarkan betapa mahalnya sehat itu.Saya sendiri sering berdebat dengan petugas kebersihan toilet di Graha Pena Jawa Pos Surabaya mengenai pertanyaan ini: sudah bersihkah toilet ini? Saya menilai belum.

yang di rumah. Boleh juga dibilang sayatan dari satu titik di tengah ke tiga arah. Jelek tapi tetap terlihat Mercy-nya. Atau sekadar hobi. Satunya lagi “Mercy” di kulit perut saya. Barmen. tidak tahu seri berapa. adalah Mercy seri 500 keluaran 2005 yang dibeli dengan harga sekitar Rp 3 miliar. Kini saya punya dua Mercy. tapi juga dengan tanda baru di kulit perut saya. tokoh olahraga di Surabaya. tapi kira-kira sama harganya. 92 by Moezhanks . Di dunia ini banyak orang yang kerja keras tanpa bermaksud kerja keras. Dan lagi. Mainannya ya mengurus sepak bola itu. tetap mahal citranya. Jelek. Tapi. Yang satu. tanda mirip simbol mobil Mercy (Mercedes Benz). Seperti simbol Mercy yang digambar oleh anak berumur tiga tahun. saya tidak gagal. Waktu tua menghabiskan kekayaan itu untuk membeli kembali kesehatannya -dan banyak yang gagal.Saya ingat kata-kata bijak di laboratorium Prodia: Waktu muda mati-matian bekerja sampai mengorbankan kesehatan untuk memperoleh kekayaan. bekas sayatan dari tiga arah yang menyatu di tengah. Mulai besok disambung dengan Hati Baru Menjawab. simbol Mercy di kulit perut saya itu tidak sempurna. Seperti Pak Moh. saya kerja keras tidak semata-mata untuk mencari kekayaan. *** Kini saya tidak hanya hidup baru dengan liver baru. Juga banyak sekali orang kerja keras yang karena didorong niat mulia -dan kekayaan hanya datang membuntutinya. Mainannya ya kerja keras itu. Yakni. Dahlan Iskan akan menjawab e-mail dan SMS dari pembaca. Kebetulan. (TAMAT) _________________________________________ Tulisan bersambung Pengalaman Pribadi Dahlan Iskan Ganti Liver berakhir hari ini pada seri ke-32. Jelek wujudnya.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->