Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver

Oleh: Dahlan Iskan iskan@jawapos.co.id

Ganti Hati 01 - Harus Turun Mesin, karena Organ-Organ Saya Rusak Parah
26 Agusutus 2007 Pagi ini, hari ke-20 saya hidup dengan liver baru. Kelihatannya akan baik-baik saja. Tidak ada tandatanda kegagalan seperti yang dialami Cak Nur (Nurcholish Madjid, tokoh yang digadang-gadang menjadi salah satu calon presiden), yang menjalani transplantasi liver di Tiongkok pada 19 Juli 2004. Kadar protein dalam darah saya yang tidak pernah bisa normal, kini menjadi sangat baik. Salah satu unsur penting di protein itu, albumin, sejak liver saya diganti sudah mencapai angka 3,6. Selama lebih dari 10 tahun saya hidup dengan kadar albumin yang hanya 2,7. Padahal, normalnya paling tidak 3,2. Rendahnya kadar albumin membuat tubuh saya tak mampu membuang kelebihan air, baik dalam bentuk keringat maupun kencing. Sehingga air yang berlebih ikut darah beredar ke seluruh tubuh. Akibatnya, tubuh saya jadi “gemuk”. Karena itu, kalau ada orang memuji badan saya terlihat lebih gemuk dan segar, dalam hati sebenarnya saya menderita. Sebab, saya tahu, tubuh saya tidak sedang gemuk, tapi bengkak! Begitu liver diganti dan albumin normal, badan saya langsung susut. Tapi tidak kuyu, melainkan sebaliknya: lebih segar. Dua hari pertama pascatransplantasi, kencing saya bisa mencapai 10 liter sehari. Sebagian karena memang banyak cairan yang masuk ke badan, sebagian lagi karena air yang tadinya beredar bersama darah, sudah bisa dipisahkan oleh albumin dan dikirim ke kandung kemih. Platelet atau trombosit saya, yang seharusnya minimal 200, pernah tinggal 55. Dengan platelet serendah itu, saya terancam mengalami perdarahan dari mana pun: mulut, hidung, lubang kemaluan, telinga, dan mata. Untuk menyelamatkan saya dari ancaman itu, dokter lantas memotong limpa saya hingga sepertiga. Setelah limpa dipotong, platelet saya naik sampai 120. Sayangnya, itu tidak lama. Perlahan-lahan angka itu menurun secara konstan. Terakhir tinggal 70. Hampir sama dengan sebelum limpa saya dipotong. Tapi, setelah liver saya diganti, platelet saya langsung naik. Tiga hari lalu angkanya sudah mencapai 260. Normalnya, antara 200 sampai 300. Mengapa saya memutuskan ganti liver? Tidakkah takut gagal? Mengapa liver saya sakit? Separah apa? Bagaimana jalannya penggantian liver? Bagaimana mempersiapkan diri? Bahkan sampai ke doa apa yang saya ucapkan? Semua akan saya tulis untuk berbagi pengalaman dengan pembaca.

1

by Moezhanks

Cerita ini mungkin akan agak panjang (bisa 50 hari). Bukan karena saya mau berpanjang-panjang, tapi karena redaksi membatasi saya untuk menulis hanya sekitar 1.000 kata di setiap seri. Berikut saya mulai dengan seri pertama ini. (Nama-nama dokter, rumah sakit, sengaja baru akan disebutkan di bagian-bagian akhir tulisan): *** Di umur 55 tahun ternyata saya harus “turun mesin”. Begitu parahnya kerusakan organ-organ di dalam badan saya sampai harus pada keputusan menambal seluruh saluran pencernaan saya, memotong sepertiga limpa saya, dan mengganti sama sekali organ terbesar yang dimiliki manusia: liver. Turun mesin total itu harus diatur sedemikian rupa karena mesin yang sama harus tetap menjalankan tugas sehari-hari, yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Maka, saya pun mulai membuat jadwal turun mesin. Dimulai yang paling membahayakan agar yang penting nyawa bisa selamat dulu. Ternyata saya memang terancam meninggal dunia dari tiga jenis penyakit. Yang pertama adalah yang bisa membuat saya meninggal mendadak kapan saja tanpa penyebab apa pun. Tiba-tiba bisa saja saya muntah darah dan tak tertolong lagi. Ini karena seluruh saluran pencernaan saya, mulai tenggorok sampai perut sudah penuh dengan varises yang menor-menor karena sudah matang dan siap pecah. Ibarat kumpulan balon-balon kecil berwarna merah, yang kulitnya sudah tipis seperti balon yang ditiup terlalu keras. Kapan meletusnya bisa setiap saat. Saat meletus itulah orang akan muntah darah dan tak tertolong lagi. Penyakit kedua, yang bisa membuat saya meninggal dalam hitungan bulan adalah jumlah darah putih saya yang terus merosot. Mengapa? Karena limpa saya sudah membesar tiga kali lipat dari ukuran normal. Limpa yang tugasnya antara lain mengubur sel-sel darah merah yang mati (dengan darah putih yang diproduksinya), tidak mampu lagi berfungsi baik. Platelet saya yang seharusnya antara 200-300, hari itu tinggal 60. Itu pun dalam posisi terus menurun. Pada penurunan beberapa poin lagi, saya akan menderita perdarahan dari mana saja: bisa dari hidung, dari telinga, dari mulut, atau dari mata. Limpa sendiri bisa juga pecah karena sudah tidak kuat lagi akibat terus membesar. Yang ketiga, ya liver saya sendiri, yang ternyata sudah amat rusak. Setelah liver saya dibuang setahun kemudian, tampaklah nyata bahwa liver saya sudah seperti daging yang dipanggang terlalu masak. Padahal, seharusnya mulus seperti pipi bayi. Ini yang bisa membuat saya meninggal dunia dalam hitungan dua-tiga tahun. Bahkan, sebenarnya liver itu yang membuat limpa saya membesar dan membuat seluruh saluran darah di sepanjang pencernakan saya penuh dengan balon-balon darah yang siap pecah. Maka, satu per satu harus saya selesaikan. Saya mulai dari mengatasi agar tidak terjadi muntah darah. Lalu, setengah tahun kemudian memotong limpa saya. Dan, terakhir 6 Agustus lalu, beberapa hari sebelum ulang tahun ke-56 saya, saya lakukan transplantasi liver: membuang liver lama, diganti dengan liver baru. Semua proses itu memakan waktu hampir dua tahun. Ini karena saya tetap harus menjalankan aktivitas, baik sebagai pimpinan Grup Jawa Pos maupun sebagai CEO perusahaan daerah Jatim yang lagi giat-giatnya membangun tiga proyek besar: pabrik conveyor belt, gedung ekspo, dan shorebase. Semua tahap itu saya jalani dengan keputusan yang mantap, tanpa keraguan sedikit pun mengenai kegagalan hasilnya. Banyak teman yang bertanya mengapa saya bisa tegas membuat keputusan yang
2
by Moezhanks

begitu membahayakan hidup saya. Saya jawab bahwa percaya sepenuhnya dengan takdir -sesuai dengan tafsir yang saya yakini, yakni mirip dengan uraian buku Saudara Agus Mustofa Takdir Itu Bisa Berubah. Faktor lain adalah bahwa rupanya, kebiasaan saya membuat keputusan berani, keputusan besar dan keputusan yang cepat di perusahaan ikut memengaruhi keberanian membuat keputusan dengan kualitas yang sama untuk diri sendiri. Lalu, keyakinan bahwa saya mampu me-manage hal-hal yang rumit selama ini, tentu juga akan mampu me-manage kerumitan persoalan yang ternyata ada di dalam tubuh saya. Apakah tidak ada kekhawatiran sama sekali akan gagal dan kemudian meninggal? Tentu ada. Tapi, amat kecil. Saya tahu kapan harus ngotot dan kapan harus sumeleh. Keluarga saya yang miskin dan menganut tasawuf Syathariyah sudah mengajarkan sejak awal tentang sangkan paraning dumadi (dari mana dan akan ke mana hidup dan semua kejadian). Ini membuat saya akan ngotot melakukan apa pun untuk berhasil, tapi juga tahu batas kapan harus berakhir. Tentu ada penyebab lain: Banyak keluarga saya mati muda, sehingga saya pun seperti sudah siap sejak kecil bahwa saya juga akan mati muda. Ibu saya meninggal dalam usia 36 tahun (muntah darah). Kakak saya, yang digelari agennya Nurcholish Madjid di Jatim untuk urusan pembaharuan pemikiran Islam, meninggal dalam usia 32 tahun (muntah darah). Dia sering memarahi saya, mengapa masih kecil sudah belajar filsafat/tasawuf dan mengapa sering pergi ke pondok salaf. Tapi, tahun depannya saya masih tetap ke pondok salaf Kaliwungu, 25 km sebelah barat Semarang. Paman saya dan pakde saya juga meninggal muda. Penyebabnya juga sama: muntah darah. Muntah darah sebenarnya bukan penyebab, tapi begitulah orang di desa mengatakannya, karena tidak tahu bahwa semua itu berawal dari persoalan liver. Tapi, ada juga sedikit harapan bahwa saya bisa berumur panjang: Bapak saya meninggal dalam usia 93 tahun. Kakak tertua saya yang amat baik, Khosiyatun, yang juga ketua umum Aisyiah Kaltim, kini berumur hampir 70 tahun dan masih aktif mengajar di SD swasta di Samarinda. Entahlah, saya ikut yang mana. (bersambung)

Ganti Hati 02 - Tiga Jam Jelang Operasi Masih Ditawari ’Take Over’ Koran
27 Agustus 2007 Mudah-mudahan rencana operasi kali ini tidak gagal lagi. Yu Shi Gan Xian Sheng (nama saya di Tiongkok), besok mendapat giliran operasi. Itu kata seorang dokter di rumah sakit ini pada Minggu 5 Agustus 2007 kepada saya. Dia memakai istilah “mudah-mudahan tidak gagal lagi” karena memang sudah beberapa kali saya diberi tahu dapat giliran operasi, tapi selalu tertunda karena liver yang datang tidak cocok untuk mengganti liver saya. Kali ini kelihatannya cocok. Golongan darahnya sama. Juga sudah dinilai akan memenuhi syarat untuk ditransplantasikan ke saya. Harapan bahwa kali ini tidak gagal lagi kian besar setelah sore harinya, petugas cukur datang ke kamar saya. Dia harus mencukur rambut yang ada di badan saya, sebagai salah satu syarat dilakukannya operasi besar. Tugasnya sore itu ringan sekali karena hanya perlu mencukur rambut di sekitar kemaluan. Saya tidak punya rambut di dada atau di paha.

3

by Moezhanks

Setidaknya jam berapa harus berangkat ke ruang operasi. 4 by Moezhanks . dan saya mengangkatnya sebagai kakak ketiga.” tulis saya di sms. dan beberapa pemegang saham. Maka saat itu dianggap perut saya sudah bersih. saya bertanya kepada perawat kira-kira operasinya jam berapa. “Bapak harus masuk ruang operasi pukul 14.Saya lalu membayangkan bagaimana dengan pasien yang punya bulu dada lebat dan cepat tumbuh kembali. Kurang dari lima menit kemudian saya lari ke toilet karena semua isi perut seperti mau keluar. karena dalam proses operasi ada prosedur sterilisasi di badan saya. Namun. Perut harus kosong sejak malamnya. Karena itu. Bangun pagi 6 Agustus 2007. Itu sebagai tanggung jawabnya karena dia harus pergi meninggalkan kami tanpa ibu di Magetan untuk pergi ke Kaltim. saya potong rambut. Tentu ini kurang masuk akal. meski saya akan menjalani penggantian organ terbesar dalam tubuh seorang manusia. seperti yang banyak dimiliki pasien dari negara-negara Arab. Meski itulah malam menghadapi operasi besar. saya bicara langsung melalui telepon. khawatir mengganggu pikirannya. Yakni. ikut paman saya. saya tidak punya kekhawatiran apa-apa.00 nanti. Apalagi. Itu kakak saya yang amat baik hatinya. Misalnya. Terutama Mr Guo yang sejak 10 tahun lalu mengangkat saya sebagai adik kelima. sekitar pukul 09. Saya tidak berani menjelaskan apa adanya.30 saya diberi tahu tentang kepastian operasi. Perawat belum bisa menjawab. Saya ingin agar setelah operasi kelak. bayangan-bayangan saya itu lenyap karena tiba-tiba tukang cukur menyatakan tugasnya sudah selesai. Pagi itu saya sudah tidak boleh makan apa pun. Kakak pertama adalah seorang pensiunan jenderal polisi yang juga tinggal di kota ini. Dia pernah menyerahkan seluruh gajinya sebagai guru SD untuk biaya sekolah dan hidup saya selama lebih dari lima tahun. Beberapa sahabat penting saya di Tiongkok datang. Pendek sekali. Pukul 09.00.” kata seorang perawat. Sore sebelum tidur. adik saya yang di Madiun. masih ada satu adik lagi yang masih kecil. Saya harus hati-hati menjelaskannya. Di toilet saya lihat tak ada lagi benda apa pun yang keluar kecuali air bening yang dimasukkan tadi.00 perut saya masih harus dibesihkan dari kotoran dengan cara dimasuki cairan bening sekitar seperempat liter melalui pantat. Alhamdulillah. “Saya akan operasi jam 14. Memang jadwal transplantasi besar seperti ini tidak gampang dibuat. Dia merasa kasihan saya hidup dengan Bapak yang tidak punya penghasilan tetap.” kata saya. kakak saya yang di Samarinda. nanti sore saya harus operasi. Tidak punya perasaan galau sedikit pun. “Mbakyu. saya lantas mandi lebih bersih daripada biasanya. Kalau tidak. Di Kaltim dia harus mengajar di dua sekolah agar masih punya penghasilan untuk hidupnya sendiri. Saya juga membayangkan bagaimana kalau bulu dada itu cepat tumbuh. kata saya dalam hati. Setengah jam kemudian dilakukan lagi hal yang sama. nyaris gundul. Sebentar dan sederhana sekali tugasnya untuk saya malam itu. Tapi. kalau mau cuci rambut lebih gampang. Saya tidak ingin ada kuman yang menempel di badan saya yang akan menjadi penyebab infeksi setelah operasi. Malam itu saya tidur nyenyak sebagaimana biasa. seluruh badan saya akan diolesi cairan antiinfeksi yang biasanya berwarna merah kecokelatan itu. bagaimana dengan rambut yang telanjur dicukur? Apa saya akan minta ditempelkan lagi? Prioritas saya kemudian adalah menghubungi kantor. “Operasi apa?” tanyanya. sementara luka akibat sayatan yang panjang di situ belum menyatu kembali. Kepada kakak saya yang di Samarinda.

Saya lantas memberi tahu siapa yang bisa menggantikan tanda tangan saya. juga kirim sms. Isinya: apakah saya berminat mengambil alih koran berbahasa Inggris yang terbit di Jakarta? Saya jawab: saya perlu informasi lebih lengkap.” jawab saya. agar dia menunggu keputusan saya beberapa minggu lagi. Lalu petugas pembawa baju operasi saya datang membuka bungkusan sterilnya. tukar dengan kematian saya. Bahkan. di rumah sakit ini hampir tiap hari juga dilakukan operasi penggantian jantung. “Transplantasi ginjal itu sekarang sudah dianggap biasa. Sesaat sebelum saya berganti baju dengan baju operasi. Kalau perlu. SMS dari Bambang Sujiyono. “Allah. Lalu dia tidak emosional lagi. (bersambung) 5 by Moezhanks . Sekitar pukul 10. Saat mahasiswa. Saya balas tangisannya itu dengan tegar dan setengah guyon. Tanpa tahu bahwa saya segera memasuki meja operasi yang bisa memakan waktu 12 jam dan entah apa hasilnya. agar tidak sampai terjadi seperti yang mengakibatkan ibu dan Mbak Sofwati meninggal muda. Dalam waktu sekejap sms pemberitahuan operasi itu rupanya menyebar.” tulis saya. saya doakan semoga berhasil. Setengah jam kemudian. Ini saya ketahui dari sms yang segera mengalir ke telepon saya. dia jadi ketua Korps Himpunan Mahasiswa Islam Wanita Jatim. Seorang teman lama menawarkan agar saya membeli tabloidnya yang mengalami kesulitan. Juga beredar di antara teman-teman.” tulisnya. “Juga operasi penggantian ginjal dan organ yang lain. teman lama yang lain. Orangnya pintar dan karirnya bagus. Mulai Aceh sampai Jayapura.” katanya datar. sangat dramatik. Dia tidak saya beri tahu betapa berisikonya penggantian liver ini. Dia menangis dalam SMS-nya. Dia justru bertanya berat mana transplantasi ginjal dibanding liver.” kata saya. dia kami jagokan sebagai tokoh keluarga.30 saya terima sms dari Jakarta. Dia kaget saya kok tiba-tiba memberitahunya akan operasi besar. Dia sendiri dalam keadaan sakit jantung. Saya balas sms itu. saya masih sempat membalas sms itu: tidak perlu saya yang tanda tangan. sampai ke anak perusahaan. seniman Surabaya itu. seorang direksi saya di Jakarta menanyakan lewat sms apakah dokumen tender listrik yang disiapkan sudah saya tanda tangani. Semua mengirimkan doa untuk keberhasilan operasi saya. tabloid itu akan sukses kalau di tangan saya. Liver paling sulit.” tambah saya.” Bambang memang orang yang sangat humanis. “Selamatkan nyawa rekan saya ini.“Saya akan operasi. “Mas Bambang. Padahal. Dia bilang. “Ya. Mbak Sofwati adalah kakak saya yang meninggal umur 32 tahun setelah muntah darah. dan dia saya minta kirim email.

Mereka mengirimkan doa-doa yang saya ketahui diambilkan dari Alkitab. Untuk membuat agar suasana mereka tidak sedih. Tapi. Ada yang bertanya. Kepala saya juga dipasangi topi kertas dengan warna yang sama. kalau yang mengucapkan lebih banyak orang. SMS terus mengalir masuk.00 Senin (6/8) siang itu saya sudah diminta melepas baju saya. Setelah telepon siap. saya tutup pembicaraan saya dengan kata-kata. Ibu Eric Samola. Dengungan “hu” adalah hasil compression (untuk meminjam istilah software komputer) dari kalimat syahadat. Agar. kata “hu” itu akan menjadi kalimat panjang: aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah. saya sudah akan bisa bicara lagi. Teman-teman Jawa Pos. tiga hari di ICU (juga pasti belum bisa bicara). sehingga perlu di-compress menjadi satu dengungan “hu” saja.000 kali dirasa akan memakan waktu yang lama sekali. istri mendiang Pak Eric Samola. Saya segera menelepon Misbahul Huda. berdasarkan pengalaman mereka. entah siapa yang punya inisiatif.000 penganut Buddha di shi mian fo (Buddha empat wajah) di Kenjeran.Banyak Yang Doakan Panjang-Panjang. telepon saya tutup. Mungkin. semua yang hadir di rumah saya bisa ikut mendengar kata-kata saya. “Kalimat syahadat kok dipadatkan. kalau harus mengucapkan kalimat yang begitu panjang sebanyak 99. kira-kira saya perlu waktu satu minggu untuk bisa bicara lagi dengan teman-teman itu: satu hari operasi (pasti saya tidak bisa bicara). kira-kira operasinya berlangsung berapa jam? Saya jawab sekitar 12 jam. Ini seperti juga Bung Karno yang dikecam telah menyelewengkan kemurnian Pancasila yang dia temukan sendiri. Kalau di-decompression. doanya 6 by Moezhanks . ketika Bung Karno meng-compress Pancasila yang panjang itu menjadi satu kata yang simpel dan pas: gotong royong. lagi berkumpul di rumah saya di belakang Graha Pena Surabaya. Memang begitulah yang dikatakan dokter kepada saya. Artinya. Setelah tidak ada pertanyaan. Tokoh Buddha Surabaya juga mengirim SMS dan memberitahukan bahwa hari itu berkumpul lebih 1. pertanda waktu operasi sudah akan tiba. saya pikir. Ada lagi beberapa pertanyaan dan harapan yang disampaikan dengan penuh suasana prihatin. dia minta dikabari kalau operasi sudah selesai. Mereka akan berdoa terus selama saya dioperasi.” kata mereka.000 kali. Genap satu minggu. Siapa menyangka bahwa zikir pun sejak dulu sudah di-compress seperti itu.Ganti Hati 03 . mengirimkan doa paling panjang. SMS masih terus mengalir masuk. Saya pun sudah siap mental segera menuju ruang operasi di lantai 13.” Maksud saya. Saya jawab. Tentu dengan sistem borongan. Dirut Percetakan Temprina. Karena itu. yakni mendengungkan kata “hu” bersama-sama sebanyak 99. Saya Berdoa Pendek 28 Agustus 2007 PUKUL 12. sistem compression zikir seperti inilah yang banyak dikecam aliran tasawuf lain dan terutama oleh kalangan syariah formal. Tapi. dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusam Allah. Kalau tidak. saya siap sekali. saya bertanya kepada yang hadir: apakah ada pertanyaan? “Saya siap menjawab pertanyaan apa pun. Dari Madiun menceritakan bahwa keluarga tasawuf sathariyah lagi berkumpul untuk ber-zikir-pidak. yang akan menjadi imam pada acara itu. “Sampai jumpa minggu depan.” kata saya. Saya minta suara teleponnya dibesarkan. Diganti baju kertas biru muda. Mereka akan melakukan sembahyang dan doa bersama. Salah seorang di antaranya bertanya apakah saya dalam kondisi siap. yang dulu punya inisiatif mengambil alih Jawa Pos dari keluarga The Chung Shen. Yakni. dan dua hari memulihkan badan. waktu yang diperlukan tidak perlu teralu lama. SMS juga masuk dari teman-teman Kristen dan Katolik.

Ketika melewati kamar pasien dari Jepang. Rupanya saya harus segera tiba di ruang operasi. Sambil menahan tangis. Pak Mustofa. Saya harus segera berbaring di kereta itu. memaksa bicara untuk memberi dorongan semangat agar saya kuat memasuki ruang operasi. telepon minta bicara. Malang. Istri saya terus komat-kamit. Saudara Guo. dia terlihat mengepalkan tangan ke arah saya. kereta brankar sudah datang dengan beberapa orang yang berbaju biru muda. akuntan terkemuka Surabaya. Saudara angkat saya. Badan saya sangat sehat. tombol 13 dipencet. Gedung rumah sakit ini memang terdiri atas dua tower. saya beri tahu bahwa saya sudah tidak punya waktu bicara. “jia you” dalam bahasa Mandarin berarti “semangatlah!” . tapi hanya bisa sampai di pintu tertentu. jangan ada yang menangis. Tapi. panah naik menyala. Tempat ibadah itu memang saya yang meresmikan beberapa tahun lalu. Saya sudah di atas kereta yang siap berangkat ke ruang operasi. Tak sampai 5 menit saya sudah tiba di lobi lantai 11. Mata istri saya kelihatan sembap. Istri. dan Robert Lai mengantar ke lantai 13. Sebenarnya saya bisa berjalan sendiri ke ruang operasi. Rupanya berdoa dengan serius. yang rupanya ikut makan siang. bahwa siang itu 200-an tokohnya berkumpul di Pujon. Saat saya sudah berbaring di kereta. 7 by Moezhanks . dan Robert Lai. Lalu. Oh. Ada lima lift di situ. semangatnya untuk sembuh luar biasa. tiga lift ukuran besar untuk mengangkut kereta pasien. agar saat mengantar saya ke lantai 13 nanti.tentu tidak akan dihentikan. Lalu pintu ditutup. Tinggal saya dan beberapa petugas yang terus mendorong kereta itu ke ruang operasi. Juga jangan ada yang mengeluarkan air mata. Demikian juga penganut aliran Sai Baba. Ternyata. dia akhirnya berteriak: “jia you!” tiga kali. di depan lift yang akan membawa saya ke lantai 13. “Jia” artinya tambah. dia lagi makan siang dengan para pengusaha teman saya di Hotel Shangri-La Surabaya. *** Kereta didorong amat cepat. saudara angkat saya. memegangi tangan saya. Saya amati lorong-lorong apa saja yang dilewati kereta ini. Mr Guo dan sahabat karib saya Robert Lai dari Singapura. tanda ikut memberi semangat. Robert Lai adalah orang yang rajin berpesan kepada siapa pun. anak. Zoom! Tibalah saya di lantai 13. Anak laki-laki saya sibuk memotret. saya lihat dia sendiri ternyata terisak-isak ketika melepas saya untuk dibawa petugas ke tempat yang dia tidak bisa lagi menyertai saya. “You” artinya bensin. Tapi. Lift terbuka. Kereta pun didorong keluar dari ruang saya di lantai 11 untuk dibawa ke lift naik ke lantai 13. harus menyeberang ke gedung sebelah. karena sedikit agak terlambat dari jadwal. Tapi. mengirimkan doa panjang yang biasa diucapkan Sai Baba di India sana. semangatnya itulah yang ikut mendorong saya punya semangat yang sama. Alim Markus juga pernah tiba-tiba sakit yang amat membahayakan hidupnya. peraturan tidak membolehkannya. Pak Alim Markus. Mereka melakukan doa berdasar kepercayaan mereka untuk keberhasilan operasi saya. Setelah itu semua harus melepaskan tangan dari tubuh saya. Saya tidak bisa lagi melihat istri. Juga mata Robert Lai. Pukul 14. Dua lift ukuran normal. Itulah petugas ruang operasi. rupanya. Saya berpesan kepada istri agar jangan lupa memberi tahu mereka nanti. Tapi. Teman-teman dari penganut aliran kebatinan Sapta Dharma juga mengirim SMS.00 kurang 15 menit. Saya sering mengatakan padanya. anak.

kinclong (karena didominasi stainless steel). Rupanya. secara khusus maupun secara tangis-menangis. Mulai ganti ginjal. Tapi. Saya tidak mau serakah. apakah Tuhan melihat saya sedang serius memintanya? Tapi. (iskan@jawapos. Apakah saya harus berdoa dengan biasa saja atau harus sampai menangis? Kalau doa itu saya sampaikan biasa-biasa saja. Satu doa yang pendek dan mencerminkan kepribadian saya sendiri: Tuhan. Tapi. Apalagi. Akhirnya saya putuskan berdoa menurut keyakinan saya.co. saya juga tahu bahwa sistem file di kerajaan Tuhan tidak membedakan doa yang dikirim secara biasa. Saya tidak mau Tuhan mengatakan kepada saya: untuk apa kamu saya beri otak kalau sedikit-sedikit masih juga minta kepada-Ku? Karena itu. matikanlah. Saya harus berdoa. Kalau saya harus mati.masing-masing berlantai 15. terserah engkau sajalah! Terjadilah yang harus terjadi. Kalau saya harus hidup. yang terdengar adalah musik soft-rock berbahasa Mandarin yang lagi digemari anak muda sekarang. Di lantai 12 sampai 14. Plong. Kalau saya minta-minta terus kepada Tuhan. dalam waktu bersamaan. Perdebatan di hati saya belum selesai. mata. beberapa petugas 8 by Moezhanks . Ruangnya sangat bersih. saya tertegun. Tapi. Begitu masuk. Suara musik itu cukup keras sehingga suasananya ingar-bingar. yang dibawakan oleh penyanyi top Hongkong Zheng Xiu Wen. bisa melakukan 30 operasi penggantian organ. entah seperti apa. segera saja saya terlibat perdebatan dengan diri saya sendiri: harus mengajukan permintaan apa kepada Tuhan? Bukankah manusia cenderung minta apa saja kepada Tuhan sehingga terkesan dia sendiri malas berusaha? Saya tidak mau Tuhan mengejek saya sebagai orang yang bisanya hanya berdoa. hidupkanlah! Selesai. masih ada pertanyaan yang tiba-tiba muncul.id) (bersambung) Ganti Hati 04 . Belakangan saya tahu judul lagu tersebut adalah Mei Fei Se Wu yang artinya “bulu mata menarinari”.Sudah Tiga Jam Dimatikan. Tuhan punya sistem file-Nya sendiri. saya memutuskan tidak akan banyak-banyak mengajukan doa. sambil menunggu kedatangan saya. Saya akan dioperasi di gedung kanan. Rumah sakit ini. Padahal. ada lorong untuk menyeberang dari gedung kiri ke gedung kanan. kalau harus saya ucapkan sampai menangis dan mengiba-iba. Kalau sudah dalam posisi sulit saja dia merengek-rengek setengah mati. dan modern. kapan saya menggunakan pemberian Tuhan yang paling berharga itu: otak? Maka saya putuskan akan berdoa se-simple mungkin. Kereta pun tiba di depan ruang operasi. Seluruh lantai 13 adalah ruang operasi. kereta sudah hampir sampai di ruang operasi. Waktu terus berjalan. Perasaan saya tiba-tiba lega sekali. apakah Tuhan tidak akan menilai begini: lihat tuh Dahlan. nanti akan lupa kalau sudah dalam keadaan gembira! Saya tidak ingin Tuhan memberikan penilaian seperti itu. Saya tidak mau ada kesan bahwa saya sombong kepada Tuhan. Belum Juga Di-”Garap” 29 Agustus 2007 Ketika memasuki ruang operasi. Dalam perjalanan sepanjang lorong-lorong itu saya menyadari bahwa saya tadi belum sempat berdoa. jantung sampai ganti liver seperti saya.

kita harus pakai bahasa apa?” ujar salah seorang di antara mereka. Penerjemahan ini sangat bermanfaat karena banyak sekali pasien dari negara-negara Arab dan Pakistan yang kemudian minta kopinya kepada kami. Meja ini saya pakai untuk “kantor dalam pengasingan”. Di dapur kering ini ada microwave. saya bisa menuliskan deskripsinya secara baik. “Dia orang Indonesia. dan keran panas dingin. Robert yang sudah 11 bulan menemani saya ke mana pun pergi memutuskan untuk membersihkan kamar saya. lengan saya diperiksa seperti akan memasang selang. Sudah diketahui bahwa virus pascaoperasi adalah pembunuh paling utama bagi pasien yang baru melakukan transplantasi organ. Robert ingin kamar saya lebih bersih lagi. Buku itu berbahasa Mandarin. Perawat akan selalu mengabarkan apa pun yang terjadi di ruang operasi. dan internet. 18 jam kemudian. Dari alat ke alat. dia minta lengan kanan saya dimasuki jarum untuk memasukkan beberapa zat kimia ke badan saya. Mereka merasa lega. satu set sofa. Ada ruang tidur pasien dengan kamar mandi khusus dan ruang pakaian. Saya baru akan dihidupkan lagi. memang sudah sangat bersih. Melihat tangan saya sudah dipasangi selang selama 3 bulan lebih. Tapi. perawat memutuskan tidak mau pakai itu. Dokter belum pada datang. Maka. lalu memberikan beberapa perintah mengenai posisi badan saya. bukan seperti di sebuah tempat yang menyeramkan. Tepatnya kamar 1102. Di kamar ini mereka menantikan perkembangan operasi saya. Di ruang tamu ini ada kamar mandi dan toiletnya. nanti. kalau operasi berhasil. Tidak boleh ada virus atau sumber virus yang akan membahayakan pascaoperasi saya. Beberapa perawat membicarakan saya. Sementara menunggu kabar. 9 by Moezhanks . Saya memang dapat menggunakan internet kecepatan tinggi di ruang saya ini. Kamar saya di lantai 11 terdiri atas dua ruang. Kami pasang komputer. Hanya dalam beberapa saat.00. water boiler. lemari es besar. dispenser air mineral. saya tidak lagi mendengar suara musik itu. Di ruang tamu ini ada satu set TV besar. Juga tidak mendengar apa-apa lagi. “Ini orang asing. tapi bisa berbahasa Mandarin. Saya ingin tahu apa saja yang ada di ruang itu agar. dan satu set dapur kering. printer. Harus bergeser sini dikit dan harus naik sedikit. Mata saya terus beredar dari dinding ke dinding. rice cooker. Suasananya pun menjadi seperti di sebuah disko. Rupanya dia sangat menikmati lagu itu. *** Sejak saya masuk ruang operasi pukul 14. Perawat yang lain mulai memasukkan cairan tertentu ke lengan saya. Saya sudah dimatikan untuk persiapan operasi. Di belakang sofa. Rumah sakit ini. Tapi.muda menyenangi lagu itu. Lalu. kami tidak makan di situ. istri. laptop. terutama gedung baru ini. saya bisa bahasa Mandarin sedikit-sedikit. ada satu meja makan dari kaca besar untuk makan bersama. Istri saya tidur di ruang ini. dan sahabat saya Robert Lai kembali ke kamar saya di lantai 11. Yakni.” jawab yang lain. di sebuah kursi yang kalau siang bisa untuk menambah kapasitas sofa. Beberapa perawat mengikuti suara musik itu dengan suara mulutnya tanpa kata-kata. Musik soft-rock masih terus ingar-bingar. Maka saya sela pembicaraan mereka: Ya. anak. lalu kami terjemahkan ke dalam bahasa Inggris agar seluruh keluarga saya memahami isinya. tapi kalau malam bisa dipanjangkan menjadi tempat tidur biasa. ada satu ruang tamu yang besar di sebelahnya. Lalu. Rumah sakit juga sudah memberi kami buku panduan mengenai bagaimana menjaga agar tidak terkena virus. karena memang pada tahap ini semua pekerjaan masih urusan perawat.

Lalu.00. saya memang memutuskan untuk meneruskan belajar bahasa Mandarin. guru saya tinggal melihat sorotan proyektor. Semua kursi dan meja dicuci. Suasana seperti Siaran Langsung Sepak Bola 30 Agustus 2007 Setelah diberi tahu bahwa liver yang akan dipasangkan di dalam tubuh saya ternyata baru akan tiba sekitar pukul 17. “Livernya baru akan datang sekitar pukul 17. mengirim dan menjawab e-mail. Ini saya pakai untuk latihan menulis cerita dalam bahasa dan tulisan Mandarin.00. Sambil menunggu giliran operasi yang tidak menentu waktunya. Di dinding satunya saya pasang peta Indoensia. disterilkan. Terutama rapat dengan partner-partner usaha yang dari Tiongkok. koran-koran. (Bersambung) Ganti Hati 05 – Tunggu Operasi.” katanya. Sampai sehari sebelum operasi saya masih “masuk kelas”. sore dua jam. Saya mendatangkan guru dari IKIP di kota ini. besok saya sudah tidak akan bisa lagi memanfaatkan hasil belajar saya ini. Toh. memberikan koreksi mana yang saya salah dalam menggunakan kata-kata. Bukubuku. Ternyata belum diapa-apakan. ketika saya berada di ruang operasi. Robert Lai terperangah. Tapi. Berarti sudah hampir tiga jam saya di ruang operasi dan sudah dalam keadaan dimatikan. Lalu. Lantainya menjadi mengilap. krisis listrik di daerah itu sudah tidak ketulungan.Dari kamar inilah saya bisa membaca semua laporan perusahaan. juga untuk saya pakai belajar bahasa Mandarin. dan tak jarang juga mengadakan rapat. perawat masuk memberikan kabar bahwa sampai menjelang pukul 17. pakai bahasa apa. dari kursi di sebelah saya.00 itu saya belum dioperasi. dan kertas-kertas yang selama ini di mana-mana diangkut ke apartemen. lantas saya pasangi asesori. baru 10 menit lagi livernya tiba?” tanya istri saya sambil melihat ke jam dinding. Di dinding-dinding kamar tamu yang kosong. Dua jam setelah operasi bersih-bersih itu. Dinding sebelah kanan saya tempeli peta Tiongkok yang besar sehingga mudah bagi saya untuk melihat negara ini secara keseluruhan.” ujar perawat itu. Tiga orang guru secara bergantian mengajari saya bahasa Mandarin. Tempat tidur saya lebih-lebih lagi. Lalu. 10 by Moezhanks . Saya juga beli proyektor yang saya hubungkan dengan laptop yang software-nya Mandarin. Bukan saja untuk rapat. ya?) bahasa malaikat sendiri. Misalnya. Ada juga sedikit tebersit perasaan. atau salah memilih huruf. Robert lantas menerjemahkan informasi dalam bahasa Mandarin itu kepada istri dan anak saya. Bersih dan kinclong. Malaikat toh akan bertanya kepada saya di akhirat sana dengan (eh. di belakang meja besar saya pasangi white board. Sehari empat jam: pagi dua jam. semua peralatan yang ada di kamar ini dibersihkan. Sebab. “Berarti. tapi belum juga di”garap”. seperti besok tidak akan terjadi apa-apa. saya harus panggil partner yang membangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Kalimantan untuk mencari jalan agar proyek selesai sesuai dengan jadwal. kalau operasi gagal. untuk apa ya saya susah-susah belajar begini. “Tiwas kita sudah tegang selama tiga jam. “Hah?” gumam Robert seperti tidak percaya.

Istri saya ingin melihat masuknya ambulans yang mungkin membawa liver yang akan dipasangkan ke dalam tubuh saya. Ketegangan selama menunggu berlangsungnya operasi digambarkan oleh Yoto. Semua seperti tidak sabar menanyakan perkembangan operasi saya. siapa tahu livernya dibawa dengan helikopter. Tak lama kemudian. Mereka menunggu di depan lift untuk menerima instruksi berikutnya. dan kengeriannya. Dinding kamar tersebut terbuat dari kaca. Dari kamar itu juga terlihat simpang susun jalan layang yang melingkar-lingkar di depan rumah sakit. Lantai paling atas rata. Kami seperti sedang mendengarkan siaran langsung sepak bola lewat radio. seperti ini: Kami tiap 10 menit SMS ke Mas Azrul (Posko di Tiongkok) atau ke Mbak Nany Wijaya (Posko di Surabaya). Di atas gedung itu.Dia lantas memperhatikan pintu masuk rumah sakit dari lantai 11. Lalu. pintu lorong tempat saya dimasukkan menuju ruang operasi sore tadi terbuka. Bangunannya dari luar mirip hotel. terlihat juga pemandangan sungai yang bersih yang dipakai untuk arena mainan anak-anak serta keluarga. Kegagalan tersebut. sering bisa melihat pemandangan indah. Kepada kita akan ditunjukkan sesuatu. Tentu mereka tidak diberi tahu bahwa operasinya belum jadi dilaksanakan pada pukul 14. kegagalan transplantasi liver di Tiongkok yang dialami tokoh seperti Nurcholish Madjid mendapat pemberitaan yang sangat besar. Robert. melihat keluar masuknya ambulans di pintu gerbang depan sana. katanya. kami biasanya mematikan lampu kamar. Dari ruang tamu di kamar saya itu. seperti baru terjadi beberapa minggu lalu. Dirut grup anak perusahaan Jawa Pos di Papua. Di situlah helikopter yang membawa pasien darurat atau helikopter yang membawa liver yang urgen mendarat. terdapat tambahan tiga lantai bulat. Lamanya tidak ada “kabar baru” itu rupanya semakin membuat teman-teman di Indonesia kian tegang. siapa pun memang bisa melihat apa yang terjadi di luar sana. Dari kamar tersebut. Dia punya khayalan. Dia mengira salah satu ambulans yang masuk pada jam-jam itu pastilah yang membawa liver yang akan menggantikan liver saya yang sudah rusak. mengudaranya kembang api berjam-jam di berbagai tempat. dari dalam kamar saya. Istri saya kali ini tidak memperhatikan semua itu.” kata Robert kepada istri dan anak saya dalam bahasa Melayu yang agak sulit dimengerti. 11 by Moezhanks . “Go!” tambahnya. agar warna-warni kembang apinya lebih jelas. kalau Sabtu dan Minggu malam. dan saudara angkat Guo naik lift ke lantai 13. Mereka hanya diberi jawaban “Belum ada kabar baru dari kamar operasi”. Istri saya juga memperhatikan puncak gedung tersebut. Itu pertanda malam tersebut banyak pesta perkawinan. Yakni. “Ini liver bapak yang sudah kami keluarkan.00. tapi dalam keadaan musuh selalu mengancam ke gawang kita! Semua itu saya nilai wajar karena operasi penggantian liver tidaklah gampang. Sejumlah dokter membawa barang berdarah dan meletakkannya di lantai. Di seberang kamar itu terlihat gedung pertama rumah sakit yang tingginya 17 lantai. Maka.” kata seorang dokter. di bagian tengahnya. Anak lelaki saya. bahwa kalau ada suara “nguing…nguing…” masuk ke rumah sakit. Kabar pertama dari ruang operasi masuk pukul 22. anak. pastilah itu suara ambulans yang membawa liver. Kalau sudah ada pesta kembang api seperti itu. jam-jam itu sibuk membalas SMS yang masuk. “Kita diminta naik ke lantai 13. Apalagi. istri. Dia lebih memfokuskan perhatian ke bawah.00.

Tapi. Keluarga di Samarinda. Bahkan. Pintu ditutup lagi. Madiun. “Seperti daging yang dipanggang kematangan. “Liver ini kami bawa kembali. Sebab. Hanya boleh difoto. Dibenggangkannya irisan itu dengan jarinya yang masih terbungkus sarung karet. Saya tergolek menunggu siuman di ruang ICU di lantai 12. terlihat jelas bahwa wajah-wajah mereka sudah tidak tegang.” ungkapnya. Dan. Lalu. Operasi sudah selesai. bagaimana persisnya keadaan liver lama saya itu.00 keesokan harinya. Keluaga saya sudah lebih tenang. dokter menjelaskan bagaimana keadaan liver saya yang sudah dikeluarkan itu. berita berikutnya disampaikan. istri saya langsung lemas dan terduduk. Bahkan sudah tersenyum-senyum. “Masya Allah.” kata anak saya. Semua disampaikan anak saya kepada teman-teman yang menanyakan perkembangan operasi saya. dan 2 cm). melainkan juga untuk melihat sudah ada berapa kanker yang muncul. Suatu berita yang menggembirakan. para dokter meneruskan lagi pekerjaannya. Demikian pula dengan seluruh rekan yang memonitor perkembangan operasi dari Aceh sampai Papua. Di situlah berbagai 12 by Moezhanks . Dari foto mereka ketika mendengarkan penjelasan itu. Bukan hanya mengenai apa saja yang ada di dalamnya.” kata dokter sambil jarinya menuding ke arah benda yang dimaksud. istri dan anak saya langsung bisa tidur. Malam itu.” jelas seorang dokter kepada Robert. menyayat-nyayatkan pisau di beberapa tempat untuk melihat dalamnya. dan Surabaya diberi tahu perkembangan itu. Lalu. “Jepret. Pukul 24.” ujar dokter. menurut hasil MRI sebelumnya. Robert kembali ke apartemen. menyelesaikan operasi terhadap saya.” ujarnya. “Kira-kira 6 jam lagi. Itu berarti saya baru akan siuman sekitar pukul 07. Mereka sudah bisa menghentikan peribadatannya. Liver lama tersebut memang tidak boleh dibawa.” anak saya memotret lagi bagian itu. Liver itu sudah begitu rusaknya. masih ada dua lagi calon kanker baru. Kami baru akan diberi tahu sekitar seminggu kemudian. masih harus menunggu hasil penelitian. sepertinya pemain kita anti menyerang terus. tentu mungkin masih akan terlihat anak-anak dan cucu-cucunya. 4 cm. dia bersujud di dekat seonggok daging berdarah itu. Lalu. “Waktu bersujud itu. Saudara ketiga Guo pulang ke rumahnya.” ujar dokter sambil kembali membungkusnya. yang lebih penting. Kabar selesainya operasi juga dikirim ke umat Buddha yang terus bersemedi di Kenjeran. Mengapa? Liver itu masih akan dimasukkan ke laboratorium untuk dianalisis lagi lebih teliti. di mana lawan sudah tidak memborbardir gawang kita lagi. “Itu lihat. di dalam liver saya sudah ada tiga kanker yang besar (ukuran 6 cm. Dokter lantas mengiris lagi bagian lain. Anak saya memotretnya dari berbagai sudut. Anda mengucapkan doa apa?” tanya saya beberapa hari kemudian.” tulis Yoto di SMS-nya dari Papua.00. Ada kanker di dalamnya. “Suasananya lantas seperti mendengar siaran radio pertandingan sepak bola.Melihat “barang” tersebut. Kita lantas seperti sedang menantikan terjadinya golgol ke gawang lawan. Sesaat kemudian. apakah kankernya telanjur menyebar atau tidak. Dan. “Pukul berapa akan siuman?” kata Robert. “Doa apa saja yang bisa saya ucapkan. “Pak Yu Shi Gan (baca: i-se-kan) akan segera dibawa ke ICU untuk menunggu siuman di sana. Digulanggulingkannya. Surabaya. Diteruskan juga ke warga Sapto Dharmo di Pujon.

Agak berat memang. Napas bisa ditarik dengan normal seperti biasa. Tapi. Lalu. tapi Tak Terucap 31 Agustus 2007 Begitu Sadar. putus asa karena jumlah oksigen kok seperti tidak segera cukup dan seperti mengancam kehidupan. kok sulit sekali ya? Maka. Perasaan lantas seperti setengah berharap. menjadi lega. Saya gerak-gerakkan terus jari-jari saya dengan gerakan seperti memutar keran. Suara-suara itu tambah lama tambah jelas.” komentar spontan yang muncul. Kelihatanlah samar-samar bahwa saya sedang di ICU. Mungkin juga yang terjadi sebenarnya tidak seperti itu. Saya bersyukur kepada Tuhan sekaligus hormat kepada ilmuwan. Saya hidup. tapi tetap saja tidak punya kemampuan membuka kelopak mata sendiri. yang baru saja dibius selama 18 jam. mata tidak mau membuka. (bersambung) Ganti Hati 06 – Begitu Sadar. Berharap karena ternyata masih bisa bernapas. tapi tak terucapkan. Bahkan. setengah putus asa. Tapi. Saya lantas memberikan isyarat kepada perawat dengan tangan saya. Teriak “Saya Hidup”. mungkin perawat tidak melihat isyarat di tangan saya. Seperti orang yang lagi kekurangan oksigen. barangkali juga tidak ada oksigen yang dialirkan ke hidung saya. Operasi tidak gagal.jenis kabel dan selang menempel dan menancap di tubuh saya. Di ruang perawatan khusus setelah menjalani penggantian liver. rasa sesak itu berkurang. saya tetap berusaha sekuat tenaga. Saya yang sudah pengalaman beberapa kali dibius (meski dulu tidak sampai 18 jam seperti saat penggantian liver kali ini). Saya hidup. Mata pun lama-lama bisa membuka. napas terasa sesak. ini permintaan agar keran oksigen diperbesar. Sesaat kemudian. Antara sadar dan tidak. 13 by Moezhanks . tapi Tak Terucap Suasana orang yang lagi mau siuman selalu saja begini: Mula-mula terdengar dulu pembicaraan orang-orang yang berada di sekitar kita. Tapi. Seperti orang yang ngantuknya luar biasa. Saya yakin bahwa saya segera mengatasi persoalan sesak napas itu. tapi ingin sekali membuka mata sebentar agar bisa melihat sekeliling. saya coba menggerakkan jari-jari tangan saya seperti sedang memutar keran. Ingin sekali mata melihat siapa saja yang bersuara itu. tapi sebenarnya tidak ada jari yang bergerak sama sekali. “Saya hidup. Rasanya kok seperti mau mati karena kekurangan udara. sebenarnya. seperti untuk sementara menggantikan nyawa saya. Teriak “Saya Hidup”. Begitulah kalau sadar dan tidak sadar bercampur jadi satu. sadar bahwa saya ini sedang dalam proses dari tidak sadar ke sadar. Tapi. Maksud saya. Lama-lama. syukur saya tidak sampai mengabaikan rasa hormat saya kepada mereka yang telah belajar keras di universitas dan menggunakan akalnya secara sungguh-sungguh hingga melahirkan ilmu pengetahuan yang sangat maju. Perasaan saya saja bahwa saya sedang menggerak-gerakkan jari. Tentu saya amat bersyukur. Apalagi seperti saya. Kesadaran ini datang tujuh jam setelah operasi.

“Apa sih sulitnya batuk?” kata saya dalam hati. masih ada empat selang lain yang menancap di leher saya. Saya tahu. Mengapa langsung ke usus? Sebab. akan membahayakan paru-paru. Ketiga. barulah saya sadar bahwa begitu banyak instrumen yang ada di sekitar tempat saya berbaring. Namun. Ketika saya tanya mengapa begitu sulit saya mengeluarkan dahak itu. ternyata saya sulit sekali lulus. “Tidak. Saya berusaha terus membatukkan diri. Dan karena belum bisa bernapas sendiri. Mula-mula rasa dada penuh dengan cairan lendir. 14 by Moezhanks . itu hanya untuk menyenangkan hati saya. Rasa-rasa tidak enak mulai muncul satu per satu. Dua selang kecil itu punya tugas sendiri-sendiri. saya harus berbuat seperti membatukkan diri keras-keras. Napas terasa amat lega. karena pembuluh darah di esofagus (jalan makan yang menghubungkan mulut dengan lambung).” kata perawat. Kedua. peritonium (selaput dinding perut). saya kan belum bisa bernapas sendiri. sejak beberapa hari sebelum operasi. Agar “bantuan” itu bisa cepat sampai ke paru-paru. Setelah hampir dua hari tidak ada makanan apa pun yang masuk ke perut. dan usus saya masih rawan pecah sehingga perlu dilindungi. Perawat menyatakan saya berhasil menjalani latihan dengan tingkat kelulusan summa cum laude. saya belum bisa makan sendiri. seperti yang sudah diajarkan perawat. Sebagian mungkin karena saat itu saya sudah tidak lagi punya tenaga sebaik saat latihan.” Selain itu. Akhirnya broll! Dahak yang amat banyak bisa keluar. Cairan itu harus segera bisa keluar sebagai dahak. “Uhuk! Uhuk!” Selesai. Untuk mengeluarkan lendir itu. Dalam dunia kedokteran. “Apakah saya terlalu meremehkan saat latihan?” tanya saya. “Bagi perokok lebih sulit lagi mengeluarkan dahak itu. Meski sudah berhasil mendapatkan dua jenis kelegaan (bisa bernapas normal dan bisa mengeluarkan dahak dalam jumlah besar). Cara demikian juga saya ketahui dari buku petunjuk. maka diambillah jalan pintas. Tapi. saya meraskan tidak ada kesulitan. perawat mengatakan bahwa itu normal saja.” ujar perawat lebih lanjut. saya juga takut akan bahaya dahak itu terhadap paru-paru. tenaga pun rupanya ikut hilang. Sebatuk-batuknya. Tiga lainnya masuk lewat pembuluh darah besar di leher kanan. Sehingga perlu dibantu. kedua selang itu dikenal dengan sebutan sonde. dan saluran infus seperti bertaut-tautan. maka sisa lendir di paru-paru pun tidak bisa saya keluarkan sendiri dengan cara batuk atau berdahak. Kalau tidak. tapi tidak juga berhasil. Yang satu untuk membuang sisa makanan dari lambung saya. perawat sudah melatih cara berbatuk yang bisa mengeluarkan dahak. Karena di lubang hidung masih ada dua selang yang dimasukkan sampai ke perut saya. Sehingga perlu ada yang “mencarikan. Saya diberi napas bantuan karena sampai beberapa jam pascaoperasi. Satu selang yang dimasukkan lewat leher depan -di antara tulang belikat. pertama.Setelah senang karena masih hidup. Sudah saya usahakan batuk semirip-miripnya batuk waktu summa cum laude. latihan dan kenyataan ternyata sangat berbeda. yakni lewat tenggorokan. Yang lain untuk mengirimkan makanan langsung ke usus saya. Dalam praktik. Begitulah bunyi petunjuk yang saya baca sebelum operasi.gunanya untuk mengalirkan napas bantuan dan membersihkan kelebihan lendir di paru-paru (broncho toilet). selang-selang. tapi masih banyak yang membuat badan saya sangat tidak nyaman. Suara tat-tit-tat-tit dari mesin-mesin elektronik di sekitar saya mendominasi pendengaran saya. Waktu latihan. Kabel-kabel. karena liver baru saya belum bisa “cari makan” sendiri. Satu selang masuk lewat lubang yang sengaja dibuat di bagian depan leher. Bahkan.

Fungsi lain tri lumen adalah untuk memasukkan obat-obat injeksi yang harus lewat pembuluh darah dan mengambil sampel darah. Setidaknya untuk sementara. Karena masih ada sejumlah alat dan kabel yang ditempelkan di dada kiri dan kanan untuk mengecek denyut jantung. Dinding pembuluh darah utama yang leher lebih kuat sehingga cukup kuat untuk dilewati infus jenis ini meski sampai tiga bulan secara terus-menerus. saya mencoba untuk tidak merasa terganggu. Sebab. *** Pagi tanggal 7 Agustus 2007 itu. Kabel itu juga terhubung dengan layar monitor. itu bisa mengalihkan perhatian saya dari rasa ruwet dibeliti selang dan kabel. Lalu. truknya nabrak kita!” Humor khas orang Surabaya. Ujung selang infus itu bercabang-cabang karena lima macam cairan dari botol yang berbeda harus mengalir ke tubuh saya lewat satu jarum tersebut. Tapi. Saya justru teringat humornya rekan Zainal Muttaqien. salah satu ujung tri lumen bisa dihubungkan dengan alat monitor yang bisa menunjukkan perubahan kadar air di tubuh saya setiap menit. Bahwa di tangan saya masih ada semacam pentil yang biasa dihubungkan dengan selang infus. Melainkan untuk transfusi (tambah darah) bila diperlukan. sebenarnya. tak perlu lagi dengan menusuk-nusuk tangan saya. Ketidaknyamanan lain yang saya rasakan saat itu adalah adanya alat pengukur tekanan darah yang dipasang di lengan kiri. secara otomatis. Yakni mengenai susah payahnya seseorang untuk menyelamatkan hidup (mungkin seperti saya ini). dan kabel yang saling berhubungan di tubuh saya. Ujung jari tangan dan kaki juga dijepit dengan alat yang dihubungkan dengan kabel ke layar yang lain lagi. Ini agar saya bisa menggambarkannya dengan baik 15 by Moezhanks . Dirut anak perusahan di Grup Kalimantan yang kini jadi direktur Jawa Pos. bila perawat ingin mengambil sampel darah atau menyuntikkan obat. Gunanya untuk mengalirkan semacam infus yang mengandung protein dan kalori tinggi. tidak boleh lewat pembuluh darah di tangan seperti biasanya orang diinfus. tapi meninggal oleh penyebab yang amat sepele. Humor ludrukan. botol. Dengan begitu. yang dalam istilah kedokteran disebut dengan tri lumen atau central IV (baca : ai vi) line. Lengan kanan saya juga sedang dipasang jarum untuk mengalirkan berbagai jenis infus. Melihat keruwetan di sekitar tubuh saya. Sebab. Alat itu secara otomatis akan mencengkeram lengan saya sangat kuat setiap setengah jam sekali. Yang lebih istimewa dari tri lumen adalah bisa untuk memonitor kadar air dalam tubuh (central venus pressure=CVP). Itu belum semuanya. Infus jenis ini memang harus lewat pembuluh darah besar. konsentrasinya sangat tinggi sehingga bisa merusak dinding pembuluh yang dilewati. Angka-angka tekanan darah otomatis keluar di layar monitor. Saya berusaha tidak memikirkan itu. “Jangan sampai nanti meninggalnya justru hanya gara-gara kejatuhan singkong di jalan raya. saya ingin menghitung berapa banyak selang. itu bukan disiapkan untuk cairan infus atau injeksi.Sedangkan tiga selang lainnya masuk lewat pembuluh darah besar.” Apa kejatuhan singkong di jalan raya bisa membuat orang sampai meninggal? “Lha singkongnya satu truk.

saya tanya lagi. saya tidak tahu apakah terang di balik kepala itu karena dinding kaca atau karena ada lampu yang dipasang di situ. Berarti sudah satu malam saya tidak sadar sama sekali. Tapi. “Ji dian?” Jawabnya. Tapi. Saya berusaha untuk tersenyum sebagai ganti kata-kata bahwa saya baik-baik saja. Saya memang tidak bisa omong jelas karena banyaknya selang di tenggorokan. ya hanya dengan melihat jam di dinding sana itu. Tapi 11 malam atau 11 siang. Juga menyampaikan daftar nama yang mengirim salam dan memberikan dukungan batin lewat SMS. saya sungguh ragu dengan kemampuan saya memperkirakan. saya bertanya. saya tidak sepenuhnya mengerti apakah ketika saya mulai sadar itu. Saya tidak mungkin bisa menoleh karena begitu banyak selang di leher. kesadaran saya dan tenaga saya tidak terlalu komplet pagi itu. Bahkan. ini jam besuk ke ICU. Hanya secara timbul tenggelam saya melihat secara kabur bahwa itu seperti jam 11. Juga dari Panti Asuhan Yatim Piatu Zainudin. Jarum yang menunjuk jam 9 saya kira menunjuk angka 11. informasi bahwa malam itu santri Pondok Langitan berdoa bersama dipimpin langsung oleh Gus Dulloh dan Gus Maksum. Kelopak mata berat sekali. Kedua. Tidak mungkin. waktunya sudah siang atau masih malam. Ketika saya lihat ada perawat mendekat. Anak saya menceritakan apa yang sedang terjadi dan apa yang mereka lakukan malam sebelumnya. bisa jadi tenggorokan saya akan terluka dan itu akan menyulitkan diri saya sendiri akhirnya. Baluran. saya melihat anak lelaki dan istri saya mendekat.00-an. putra Kiai Faqih. Satu-satunya cara untuk bisa mengetahui situasi waktu. 16 by Moezhanks . maka ditambah satu penerjemah. Saya segera melambaikan tangan ke arah istri dan anak saya. Misalnya. Kecuali orang asing yang memerlukan penerjemah. (bersambung) Ganti Hati 07 – Tahan Tak Bergerak 24 Jam di ICU karena Terbiasa 12 Jam di Jawa Pos 1 September 2007 SATU jam setelah sadar. Pertama. Maka. hai shi shang wu?” Dia jawab. Lama sekali saya menebak-nebak: siangkah ini? Malamkah ini? Memang suasana ruang ICU sangat terang. “Jam sembilan”. saya ragu apakah itu terangnya matahari atau terangnya lampu? Saya berusaha melihat jauh ke dinding. Tapi. Apalagi kalau harus mendongakkan kepala untuk melihat sumber terang di belakang kepala saya. Dan tahulah saya bahwa pandangan saya benar-benar gak sempurna. pandangan saya lamur. ya memang saya belum sepenuhnya punya kemampuan normal. Oh. ke arah jam besar dipasang. Sepanjang. namun tidak bisa. Orang yang baru siuman setelah dibius selama 18 jam tidak memiliki tingkat konsentrasi yang sempurna. Kalau saya paksakan omong. Memang hanya dua orang dari pihak keluarga yang boleh masuk ICU. “Wan shang. Ingin sekali saya berusaha mengalihkan pandangan ke kiri atau ke kanan.kalau kelak harus menuliskannya untuk pembaca. sedang tidak menggunakan kacamata. sulit sekali untuk bisa melihat dengan jelas. Lalu. jam sembilan siang! Tahulah saya bahwa saat itu sudah pagi hari. Namun.

Tinggal saya sendiri lagi menghadapi ketidaknyamanan keadaan. Saya sudah bertekad bagian ini pun harus bisa saya lewati dengan baik. Maka. Tiap malam. Bukan saja oleh kemiskinan. namun belok ke sungai di tengah jalan. Sepatu itu menimbulkan rasa tidak nyaman yang hebat. kalau bisa. sampai kelas tiga SMA (aliyah). Saya cari ikan karena takut dengan guru bahasa Inggris. pembuangan liver lama. Saya juga merasa bersalah kepada kakak saya yang telah meninggalkan gajinya untuk saya dan adik saya. jadilah saya inspektur upacara dengan sepatu di kaki. Saat mulai membangun Jawa Pos dulu. Sejak itu. saya kelihatan agak pinter di kelas. Tapi. kalau kali ini saya harus tidak bergerak selama 24 jam pun. Bahwa akan amat penat. Mengeluh hanya akan menambah penderitaan. akibatnya bisa berupa penderitaan yang panjang. Maka. Ini bukan operasi kecil. Karena dalam hati saya tersiksa. Tiap hari ke sekolah dengan telanjang kaki. Hanya tiap Senin sepatu itu saya pakai. bagaimana kita bisa menggantinya?” katanya. Saya tidak mengeluh. 360 hari setahun. Saya pernah menjalani dua operasi sebelumnya. Kali ini saya juga harus mampu memenuhi persyaratan untuk tidak bergerak selama 24 jam! Sejak kecil pun. Yang berat adalah menahan diri untuk tidak menggerakkan badan sama sekali. saya merasa akan mampu melakukannya. Atau sebagai bagian dari zikir-pidak di tarekat Sathariyah. kemudian sering jadi ketua berbagai kegiatan. saya berada di sungai. Kalau saya bergerak untuk tujuan mengenakkan badan sesaat. Banggakah saya? Ternyata tidak. pastilah demikian. Saya berhasil menjalani itu dulu. tapi itulah bagian yang harus dijalani untuk sukses. saya nikmati saja proses ini. ketika kelas 3 SMA. Saya anggap saja sebagai yoga yang panjang. Rapor saya merah semua. saya tidak naik dari kelas 1 ke kelas 2. Karena itu. tapi juga oleh kerasnya sikap bapak saya. kecuali ilmu bumi yang mendapat angka enam. 17 by Moezhanks . dan pemasangan liver baru. Setelah memotret-motret secukupnya. Dua-duanya mengharuskan saya. bapak melarang saya untuk belajar naik sepeda. saya tetap berangkat dari rumah. Tapi. Cita-cita saya adalah “bagaimana agar punya sepatu”. tiap malam saya harus berdiri di ruang layout lebih dari 12 jam. Bahkan. saya sudah belajar tahan menderita. Apalagi harus selama 24 jam. Bagian ini juga harus saya jalani dan saya lewati sebagaimana saya harus menjalani dan melewati proses pembiusan. Penatnya bukan main. Kadang. 30 hari sebulan. ternyata memang bisa. tidak bergerak selama delapan jam. Tujuh hari seminggu. kalau lagi ada pelajaran bahasa Inggris hari itu. Satu jam berangkat dan satu jam pulang. Saya harus sekolah sejauh 6 km dengan jalan kaki. Lama-lama. mereka pamit. Akibatnya. tiap pelajaran bahasa Inggris. Ini operasi besaaar! Kalau setelah operasi ada rasa sakit. saya belum bisa naik sepeda.Istri saya diam saja seperti tertegun melihat ruwetnya jaringan kabel dan selang di sekitar badan saya. bahkan menimbulkan luka. Maka. cita-cita saya bukan itu. Misalnya. saya sadar sepenuhnya memang begitulah pascaoperasi. Juga sering ditunjuk sebagai inspektur upacara pada tiap Senin. Sampai kelas 2 SMA. saya hemat benar pemakaiannya. Maka. ya itu sudah risikonya. Mengapa? “Kalau sepeda itu rusak. saya belum punya sepatu. Dan. saya bisa beli sepatu (sepatu kets bekas yang ujung jempolnya sudah bolong dan bagian tumitnya sudah berserabut). pembukaan rongga dada. Ini agar luka-luka akibat operasi dan penyambungan pembuluh darah di liver tidak terganggu. Bapak marah besar.

Kecrek itulah. untuk dipandang setiap hari. Dia juga tidak pakai sepatu itu. Perawat ICU memuji ketahanan saya. Kalau tidak lagi ada orang yang minta memperbaiki rumahnya. lalu secara teratur diukur dan dianalisis. *** Sebenarnya. Gamelannya adalah mulut beberapa teman sepermainan. Padahal. Bahkan. Karena itu. air kencing saya keluar dengan sendirinya melalui selang. yang saya pasang di kotak kayu. tangannya berusaha mencabut selang-selang yang memenuhi tenggorokannya. dia tidak ingin kotak dan labelnya dibuang. Hanya dia jejer di lantai rumah. Sebab. masih ada tiga selang lagi yang juga amat mengganggu. Tapi. Satu bunyi yang penting dalam memainkan wayang. dalam posisi menumpuk. apalah beratnya. Saya duduk mendalang di sebelahnya. Wayangnya terbuat dari rumput. juga lantaran ujung dua dari tiga selang-selang itu dimasukkan ke dalam rongga perut saya melalui pinggang kanan dan kiri. 18 by Moezhanks . Sambil merasa memang saya bersalah. Jumlah dan warnanya menunjukkan normal tidaknya ginjal dan berfungsi atau tidaknya organ penting itu. air kencing di kantong itu diukur dan dianalisis. saya tak perlu lagi merasa akan kencing. ada yang mungkin tidak sadar. Dan. Saya diam dan menikmati pukulan itu. Namun.” Saya juga pernah dipukuli bapak dengan sapu. Begitulah. Sama dengan yang di ujung kemaluan. saya pikir tidak ada gunanya. Ujung selang yang satunya dimasukkan ke kandung kemih melalui lubang kemaluan. Selain karena ukurannya yang cukup besar. Dengan adanya selang yang di lubang kemaluan itu. saya menangis. Puluhan tahun saya menderita. selang yang di pinggang juga untuk mengeluarkan cairancairan yang tidak dibutuhkan tubuh saya. Begitu penuhnya sehingga istrinya suatu saat bilang kepada saya. ayah menggosok-gosok alat-alat itu sampai tajam. Ayah bukan hanya marah karena alat-alat cari uangnya dipakai secara salah. anak-anak pasah itu (alat untuk menghaluskan kayu) saya gandeng-gandeng. selama di ICU. masuk ke kantong penampungnya. Semua cairan itu juga ditampung di kantong plastik. Ternyata. tangan saya tidak perlu diikat. akan timbul bunyi “crek-crek”. tapi itulah satu-satunya tabungan ayah. Ini gara-gara saya sering menggunakan alat-alat pertukangannya untuk ndalang. Mula-mula.Karena itu. begitu kandung kemih saya penuh. suatu hari. kalau hanya akan ditambah 24 jam di ICU ini. uang itu ikut saya ambil untuk saya belikan dawet. Kaki saya dalam posisi akan sering menyentuh kecrek tersebut sehingga bisa menimbulkan bunyi “crek-crek”. Banyak pasien yang tangan dan badannya harus diikat karena selalu berusaha untuk bergerak. kelirnya terbuat dari sarung saya. kecreknya dari alat pertukangan ayah. Kalau beli sepatu. Dan. Secara teratur. Saya pilih menjalani proses tidak bergerak dengan kesadaran sendiri daripada harus diikat seperti itu. bapak malah menghentikan pukulannya. saya hanya tersenyum ketika melihat anak saya mempunyai sepatu sampai lebih dari 300 dan semuanya branded alias bermerek. tapi juga karena di kotak itu ternyata ayah menyimpan uang. “Sampai jalan masuk ke kamar tinggal satu galengan (pematang). Bapak sangat sayang pada alat pertukangannya. Kalau disentuh. kata saya dalam hati. Ujung lain dari masing-masing selang itu masuk ke kantong plastik penampung cairan yang digantungkan di pinggir ranjang pasien. Dia memang hobi mengoleksi sepatu. meski hanya cukup untuk beli dawet (minuman khas di desa).

sekali lagi. protes. Saya tidak mengeluh kepada siapa pun. lalu kami bebat dengan kain sobekan dari kaus atau sarung. Dan akhirnya berhenti karena luka-luka bekas sayatan operasi itu sudah “kering”. saya tahu paling-paling hanya akan diberi obat penghilang rasa sakit. Tapi. Kain yang tidak pernah dipertimbangkan bersih atau tidak karena ya baru disobek saat itu juga. Bahwa sebenarnya badan tidak enak. Karena itu. saya sudah sering mengalami rasa sakit seperti itu. cairan yang keluar dari pinggang kiri saya pun makin hari makin berkurang warna merahnya. sakitnya.akan bereaksi. meski sakit sekali. tapi saya berusaha tabah menjalaninya. selang di pinggang kiri juga mengeluarkan cairan kuning kemerahan. Makin banyak cairan yang keluar. maka selaput dinding rongga perut -yang dalam istilah kedokteran disebut dengan peritonium. Sehingga selangnya pun bisa dicabut. Tidak mungkin setelah perut ditutup tidak menimbulkan rasa sakit. dan berdarah-darah. Sakit ini. ketika kecil. Waktu kecil saya memang sering ikut jadi buruh tani. saya bilang tidak ada. makin berbahaya karena peritonium bisa pecah dan orangnya meninggal. Cairan itu merupakan kelebihan cairan di rongga perut yang bercampur dengan sisa darah operasi yang tercecer dan berkeliaran. ya mesti saja. saya bertekad untuk tidak mengeluh. seperti ceceran darah. Sama dengan yang di pinggang kanan. Dan. bukankah memang harus demikian? Bukankah ini operasi yang sangat besar? Yang tidak mungkin tidak sakit? Tapi. Lukanya lebar. Kadang masih bercampur lumpur juga. Ini berarti semua ceceran darah sisa operasi sudah didorong keluar dari rongga perut. Saya gak mau itu. Tapi. Yakni ketika telapak kaki terkena cangkul. Itu berarti satu racun lagi akan dimasukkan dalam tubuh saya. Sakitnya saat habis operasi ya kurang lebih seperti itu. dengan cara mengeluarkan lebih banyak cairan. memutih. Rongga perut memang harus bersih dari “barang asing”. Biasanya hanya kami siram dengan minyak tanah. bisa dirasakan. Liver dan empedu baru saya tidak termasuk dalam kategori “barang asing” yang ditolak karena kedua organ itu kan sebenarnya penghuni rongga perut juga. Yakni luka yang sengaja dibuat dengan pisau bedah di sepanjang dada dan perut saya untuk mengeluarkan liver yang lama dan memasukkan liver yang baru. mencangkul di sawah. Ini pertanda tak ada lagi kelebihan cairan di rongga perut saya. Saat dokter bertanya apakah ada masalah. selang yang di pinggang kanan berfungsi untuk mengeluarkan sisa darah yang mungkin masih menetes dari luka bekas sayatan operasi di liver dan kantong empedu baru saya. cangkul meleset dan mengenai telapak kaki. Kalau saya merasa kesakitan. cairan itu makin sedikit keluarnya. Yakni sakit akibat luka. sepanjang sakitnya masih masuk akal. painkiller. yang disiapkan untuk menanam padi.Bedanya. Selama saya di ICU. Jumlahnya pun makin hari juga semakin sedikit. Makin hari. Apalagi seminggu sebelumnya saya baru saja baca bahwa Australia melarang penggunaan painkiller tertentu karena terbukti membuat pasien yang baru menjalani transplantasi liver meninggal dunia. sel tumor atau kanker. posisi ujung selangnya ada di dekat kedua organ yang baru ditransplantasikan itu. Kadang. Tak lagi berdarah. Tentu tidak ada obat. Bersamaan dengan keluarnya sisa darah dari pinggang kanan. Jika ada sesuatu yang tidak terdaftar sebagai “penghuni rongga perut”. (bersambung) 19 by Moezhanks . selang di pinggang kanan mengeluarkan cairan pekat berwarna merah. Hari-hari pertama di ICU itu memang harus saya lalui dengan amat menderita. masih bisa saya rasakan.

Dasar bekas wartawan! Kata hati saya. tinggi. Dia muda. Lalu dikemo. mata terus terpejam. Semua saya catat dalam ingatan saya. satu selang yang dimasukkan lewat leher kanan saya dicabut. Sudah berbuat sesuatu yang lumayan. Tapi.Ganti Hati 08 – Sempat Berpikir Lebih Baik Mati daripada Melanjutkan Kemo 2 September 2007 KALAU saya sangat tahan menerima penderitaan selama di ICU. Sedang saya tidak tahan. Lebih 20 by Moezhanks . Waktu itu diketahui (lewat scanner) bahwa di liver saya sudah ada kankernya. Mereka jelas lebih hebat dari saya. saya kemudian memutuskan tidak mau lagi dikemo. Bengkulu. dilepas. kalau dalam satu hari itu tidak juga reda. Lalu kanker itu dicoba dibunuh dengan cara di-TACE. Juga sudah melebihi umur ibu saya. Saya diberi obat tertentu. masih ada dua selang yang menancap di leher yang dilubangi itu. Tapi. Saya juga bisa melupakan rasa penat akibat tekad saya sendiri untuk tidak akan menggerakkan tubuh sedikit pun selama 24 jam. salah satu manajer keuangan saya. Baik luka di kulit akibat sayatan pisau atau luka di dalam akibat terjadinya penyambungan-penyambungan pembuluh darah. Karena tidak melulu tercurah ke rasa sakit. Atau lebih baik mati saja. Sambil mata tetap terpejam pikiran saya jalan ke mana-mana. cantik. Tidak tahan. Saya bilang kepada Robert Lai yang menunggui saya di Singapura. Ke Surabaya. Memperhatikan dengan mata terpejam. *** Hari pertama di ICU itu saya tidak merasa mengantuk. Pelan-pelan rasa tidak karu-karuannya berkurang. Bukan. atau umur paman-paman saya. Ini bukan untuk menunjukkan bahwa saya pernah hampir putus asa. Saya juga suka memperhatikan kesibukan di ruang ICU itu. melainkan untuk menunjukkan kekaguman saya kepada orang-orang yang mampu menjalani kemo berkali-kali. Agak lega sedikit. Pasti painkiller. Tak terasa sore pun tiba. Dia harus menjalani kemo berpuluh kali hingga kepalanya gundul. selang yang dimasukkan ke rongga perut lewat lubang hidung juga dicabut. bukan saya jagoan dalam menerima rasa sakit. Batam sampai ke Palu. ke Medan. dan entah berapa jenis rasa sakit menjadi satu. Setelah dikemo itu. melintir-lintir. Hanya. atau umur kakak saya. mulas. (Kelak akan saya jelaskan apa itu di-TACE). saya pilih mati. ketika setahun lalu harus menjalani kemoterapi. Kini dia kembali cantik dan sudah melupakan penderitaan kemonya. Yakni. Sore itu. kata saya kepadanya. Saya minta mati saja. dan diserang kanker. Agak lebih sore lagi. Rasanya saya tidak punya kekuatan untuk membuka kelopak mata saya sendiri. mual. Saya pernah mengalami rasa sakit yang “sampai nggak bisa dirasakan”. Saya akan cari jalan lain saja. agar tidak berakibat buruk pada luka-luka operasi saya. Tidak ada gunanya hidup dalam keadaan seperti itu. Dalam hal ini saya merasa kalah dengan Sara. Yakni. Saya pernah mengalami rasa sakit sampai tidak tahan lagi menanggungkannya. Toh saya sudah berumur 55 tahun. Yakni sakit. Sampai-sampai saya tak bisa memisah-misahkan bentuk sakitnya itu terdiri atas berapa macam rasa sakit. Ini baik. rasanya luar biasa tidak karuan. Lalu dia lapor ke dokter. Perhatian saya menjadi tidak hanya kepada banyaknya selang yang menancap di sekujur tubuh. Memperhatikan apa saja yang terjadi di ICU itu membuat perhatian saya terbagi. kembung.

kalau dalam perjalanannya menghadapi batu besar. pimpinan KH Ilyas Khotib. alirannya yang deras. Saya sudah biasa dengan sikap untuk tidak berharap banyak pada apa pun dan pada siapa pun. biar pun rombengan. Waktu itu. Ini karena tiap tiga perawat mengurus lima pasien ICU. Sebuah koran nasional dari daerah dengan oplah lebih dari 300 ribu eksemplar per hari. rasanya tidak mungkin mengejar Surabaya Post yang sudah merajalela kehebatannya. Tapi. ada yang ganti ginjal. Saya punya prinsip semuanya sebaiknya mengalir saja seperti air. begitu banyak macam cairan infus. ia akan membelok. kalah dengan air yang deras. waktu pertama punya sepeda (juga bekas) bahagianya melebihi saat punya Jaguar. Bukankah bahagia dan kecewa sebenarnya bisa kita ciptakan sendiri? Orang akan merasa bahagia kalau keinginannya tercapai. Sepanjang malam mereka bekerja tanpa istirahat sedikit pun. meningkatlah keinginan untuk bisa sebesar Surabaya Post. diganti. Perawat shift malam itu mulai bekerja pukul 19. Saya tidak mau bertanya jadwal melepaskan selang-selang sisanya. sepeda itu pernah putus as rodanya sehingga tidak bisa dinaiki. Rasanya. Ini. Padahal. Jadi.00 dan baru akan pulang pukul 07. Malamnya saya juga tidak mengantuk. menurut pendapat saya. Ini belum termasuk koran-koran Grup Jawa Pos yang terbit di Jakarta dan di kota-kota lain di luar pulau.lega lagi. Bahkan. Hanya. baik. Iya kalau batunya yang menggelundung. Setidaknya tidak akan membuat saya terlalu kecewa. kalau bisa. Tiap-tiap pasien memerlukan begitu banyak obat. Maka. pabrik kertas. di Bangkalan.00 keesokan harinya. kalau orang berpegang teguh pada cita-cita. Karena tidak punya cita-cita. Dulu pun saya hanya ingin Jawa Pos menjadi koran yang oplahnya separonya dari Surabaya Post. Hanya desain-desain kecil yang saya buat. Orang akan merasa kecewa kalau keinginannya tidak tercapai. 18 jam dibius. Keinginan itu meningkat terus secara bertahap. Tapi. Itu menangnya orang yang tidak punya cita-cita tinggi sejak awal. koran ini berkembang sedemikian rupa hingga menjadi sebuah grup media yang membawahkan lebih dari 100 koran harian dan mingguan. Hidupnya lebih fleksibel. Madura. ini saya. Karena akan membuat saya merasa lebih bahagia. delapan televisi lokal. dan power plant. Baru setelah ternyata mudah sekali membuat koran yang bisa sebesar 50 persennya Surabaya Post. Khawatir berharap terlalu banyak. Semuanya baru saja menjalani penggantian organ tubuh. Batu pun kadang bisa menggelundung. Saya terus berharap. sehingga menjadi seperti Grup Jawa Pos sekarang. dituntun pun tidak bisa. Menggendong dengan bahagia. Mungkin sudah kelamaan ditidurkan! Yakni. kalau ada yang menganalisis bahwa saya punya grand design untuk membuat Jawa Pos seperti sekarang. Terpaksalah saya menggendongnya. Kedungdung. 21 by Moezhanks . untuk mencapai kebahagiaan sangatlah mudah: Jangan pasang keinginan terlalu tinggi. Lalu ingin punya sepeda. Malam itu saya menyaksikan kerja perawat di ruang ICU yang luar biasa sibuknya. Dengan istikamah. ada yang ganti jantung. begitu banyak alat deteksi yang terus-menerus harus dipantau. dan dicatat. Ada yang ganti liver seperti saya. bertemu batu pun akan ditabrak. selang-selang itu satu per satu akan dilepas. dalam istilah Pesantren Miftahul Ulum Al Islami. Bahkan. saya wujudkan dengan konstan. lha kalau kepalanya yang pecah gimana? Cita-cita saya semula hanya ingin punya sepatu. tidaknya begitu kenyataannya. Jangan menaruh harapan terlalu banyak. Tidak perlu lebih besar dari itu.

30 hari sebulan. tibatiba pikiran saya jernih sekali. semakin panjang kalimat yang saya ucapkan.” kata saya. Hari kedua di ICU itu. “Ze me yang?” tanyanya 22 by Moezhanks . Yakni. Liver saya kalah. Saya memang bertekad untuk tidak akan mendemonstrasikan rasa syukur itu dalam bentuk yang ekstrem. Besoknya sepanjang malam lagi. Paginya. sepanjang siang lagi dan sepanjang malam lagi. Saya tahu dia akan libur besoknya. Tidak ada yang lihat. yang juga tak kalah penting adalah dibuatkan invoice-nya untuk menagihkan kepada pasien. Maka setiap habis menggunakan bahan. tapi Saya Tak Mampu Sujud Syukur 3 September 2007 SAYA memperoleh kesadaran penuh pada malam kedua di ICU. kalau salah dalam meng-invoice-kan. Suara tat-tit-tat-tit mesin yang memonitor organ-organ tubuh saya terdengar kian jelas. menderita kerugian. waktu mulai membangun Jawa Pos dari sebuah koran yang hampir bangkrut. Di tengah malam yang sepi itu.Dan. Tiba-tiba saya terlibat diskusi lagi dengan pikiran sendiri mengenai apa bentuk syukur yang harus saya lakukan. Namun. yang menyertainya banyak sekali. Kalau sudah tua. Selama kirakira 15 tahun berturut-turut. harus dicatat berapa harganya dan lalu di-invoice-kan. Rasanya malah lebih ikhlas. dengan sepanjang-panjangnya mengucapkan kalimat-kalimat tertentu atau bahkan sampai menitikkan air mata. Sebab. Sudah lama minta untuk tidak diperlakukan seperti itu. Saya khawatir. semakin saya “sudah merasa bersyukur”. lantas ngambek seperti ini. Sepi sekali ing pamrih. “Anda luar biasa sekali. Jadi masih lumayan. “Saya benar-benar masih hidup. “Untung Anda masih sangat muda. Semakin banyak orang yang saya undang untuk syukuran. “Alhamdulillah. Satu malam suntuk bekerja tanpa istirahat. semakin saya “sudah merasa bersyukur banyak”.” batin saya lagi. saya harus bekerja sepanjang malam. Ini penting sekali. Sampai malam lagi. Besoknya tidak pakai libur.” jawabnya. Setiap ada kesempatan saya selalu memuji mereka.” kata saya. Begitu seterusnya. (bersambung) Ganti Hati 09 – Kesadaran Pulih. apa pun yang di ICU terlihat jelas dan terekam baik dalam ingatan. berarti rumah sakit akan menderita. Tapi. karena tidak dipedulikan. Puji Tuhan. Sudah pasti saya belum punya kemampuan bersujud.” kata hati saya. pagi-pagi. Bahkan. Sudah lama komplain ke sana kemari. nggak mungkin bisa bekerja tanpa henti dengan konsentrasi tinggi sepanjang malam. pimpinan rumah sakit yang juga kepala tim dokter yang menangani penggantian liver saya datang menjenguk. Misalnya. Berbeda dengan muda saya dulu. Lalu minta diistirahatkan seterusnya. Inilah yang membuat organ di dalam tubuh saya menderita. Tidak libur. sudah harus bekerja sejak pagi lagi. 360 hari setahun. Atau memotong sapi untuk acara besar-besaran. Saya ingat waktu itu. “Terima kasih. Tujuh hari seminggu. Karena dia pimpinan. sujud kan tidak harus dengan kepala? Kan bisa juga yang sujud hati? Maka saya sujud dengan hati saya. bagi RS tentunya. Dia sebenarnya sudah lama menangis-nangis minta diperhatikan. Sebentar tapi menenangkan batin. Saya akhirnya berkesimpulan akan bersyukur dengan cara “memanfaatkan umur tambahan ini dengan seproduktif-produktifnya”.

Kalau saja tidak teliti pun siapa yang tahu? 23 by Moezhanks . Dan. pertanyaan itu terlalu banyak untuk diajukan pagi itu. Bukan mengenai keluhan saya. Tidak ada kata-kata yang diucapkannya. Sang pimpinan tersenyum senang. Bukankah memang ada kasus-kasus “salah diagnosis” semacam itu? Ada juga pertanyaan yang lebih penting yang ingin segera saya ketahui. Saya tidak basa-basi memuji para perawat itu. melakukan pekerjaan cepat. Rasanya kurang pas kalau saya sudah bertanya sejauh itu. saya masih akan berhari-hari di rumah sakit ini. Bukankah pagi itu dokter hanya mengunjungi saya untuk menunjukkan perhatian kepada saya? Untuk menunjukkan rasa persahabatan yang tulus? Sebab. saya urung mengajukan pertanyaan-pertanyaan tadi. Mr Yu memuji saya di depan pimpinan. “Terima kasih. Toh. Sebenarnya banyak sekali yang ingin saya katakan. Saya memang benar-benar ingin memujinya. tapi mereka sendiri juga harus dilaporkan. Tepukan tangan ke pundak anak buah seperti itu sudah melebihi pujian yang diucapkan dengan ribuan kata.” kata saya kepada pimpinan rumah sakit itu. ternyata liver saya baik-baik saja. apakah ada kesulitan yang berarti untuk melakukan operasi tadi malam? Apakah liver saya yang lama benar-benar telah rusak seperti yang diperkirakan? Atau sebenarnya masih baik. ada juga sedikit kekhawatiran bahwa jangan-jangan setelah perut dibuka. saya kira memang tidak perlu ada kata-kata apa pun. Yakni. yang akan membuat saya menyesal melakukan operasi? Soalnya. Terutama kebaikannya itu. bahwa sebenarnya saya tinggal punya kesempatan hidup enam bulan lagi? Karena kanker sudah menjalar ke beberapa bagian di dalam liver saya? Tapi.” jawab saya. “Hen hao. perawat-perawat rumah sakit ini luar biasa. Bahkan. Tadi malam mereka bekerja keras sepanjang malam. Juga terlalu dini. Saya justru bergegas menunjuk ke perawat yang berdiri di arah kaki saya. sehingga cukup dipanggil nama depannya saja (Yu) yang dikira nama marga saya. Yang membuat saya ingin segera tahu. mungkin masih berminggu atau (kalau operasi ini gagal) masih akan berbulan lagi. melainkan soal-soal lain yang membuat saya penasaran. Tentu itu basa-basi. Di Tiongkok nama saya memang Yu Shi Gan (baca: i-se-kan). Saya bilang bahwa saya baik-baik saja dan tidak punya keluhan apa pun. cermat dengan ketelitian yang tinggi di waktu malam yang sepi. “Dokter.sambil memegangi tubuh saya menanyakan apa kabar dalam bahasa Mandarin. Jangan-jangan hasil scanner yang menyatakan liver saya sudah rusak dulu itu hanya karena alat scanner-nya “salah lihat”. Tanggung jawab kepada keselamatan pasien. Lalu dia mendekat ke arah perawat dan memegang-megang pundaknya. tanpa mengunjungi saya pun dia sudah bisa baca dari laporan komputer mengenai perkembangan keadaan saya. Maka. seperti kata sebagian dokter.” kata perawat itu kepada saya setelah rombongan pimpinan berlalu. tanpa istirahat sedikit pun. Benarkah sudah ada kanker di liver lama saya? Benarkah tanpa operasi ini sebenarnya saya masih bisa hidup lima tahun lagi? Benarkah. Saya malah berubah pikiran dengan cepat. Masih ada waku di lain hari. Kerja yang luar biasa keras itu harus ada yang mencatatnya. Para perawat itu tidak hanya harus membuat laporan yang baik. Para perawat itu bekerja dengan penuh tanggung jawab. Misalnya.

Keberadaan dia di Jawa Pos malah membuat hubungan saya sebagai bapak dan anak menjadi seperti hubungan atasan dan bawahan. Apalagi selang. rumah sakit akan rugi. yang baru malam harinya tiba dari Surabaya. Setiap ada pemakaian bahan harus dicatat harganya dan dibuatkan invoice penagihannya. infus. Tidak akan lupa ekspresi kegembiraannya. Saya kan dalam keadaan telanjang! Mana bisa membawa dompet? Apalagi sudah menjadi kebiasaan saya. Yakni. Dia ajari fotografi. “Bapak kan sudah aman. Bahkan. Azrul Ananda. Perasaan saya baik-baik saja. Tidak akan lupa keterampilannya.Mereka juga bekerja dengan penuh tanggung jawab kepada rumah sakit. Namanya John Mohn. Begitu tamat SMP. “Terima kasih Bapak telah memuji saya di depan pimpinan saya. “DBL harus segera dimulai. Saya mungkin juga tidak berada lagi di ICU karena pagi itu sudah bisa kembali ke kamar saya di lantai 11. plester. Dia seorang master jurnalistik. Dan Isna sudah di sini.” kata perawat itu. Wajahnya kelihatan bersorak gembira. Saya tidak akan lupa wajahnya. dan seterusnya. sarung tangan. Sebelumnya. jarum. DBL (DetEksi Basketball League) adalah liga basket SMP/SMA terbesar di Indonesia yang dia prakarsai. John tidak punya anak laki-laki. keduanya langsung ke USA. Pemakaian barang seharga 1 yuan (sekitar Rp 1. Pagi ini saya kembali ke Surabaya. Maka. Saya hampir tidak pernah bicara soal perusahaan kepadanya. Maka sejak tamat SMP saya kirim dia ke AS agar bisa punya pilihan 24 by Moezhanks . cairan infus. Bukan hanya penulisannya. Meski anak lelaki saya juga di Jawa Pos. Seperti mendapatkan uang berjuta. Juga juragan koran. Azrul dia anggap sebagai anak laki-lakinya. Besok sudah akan menjalani kehidupan baru dengan pasien berikutnya lagi. Juga belum tentu menghasilkan kekayaan.” tambahnya. Bukan karena saya. baru selama sakit ini saya punya komunikasi yang intensif dengan anak-anak saya. seorang bapak yang ternyata juga pemilik surat kabar daerah di Kansas. kapas secuil ada harganya. *** Tiba-tiba anak saya laki-laki. Karena itu. Terlalu berat. selang. masuk ICU. Ternyata. Kali ini bersama adiknya. saya membiarkan proses manajemen berjalan apa adanya.100) pun harus dicatat rapi dan dibuatkan perhitungannya. Dan kerja kerasnya. kami tidak pernah tahu di rumah siapa dia akan tinggal di AS. Saya mengangguk karena rasanya memang tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. saya ternyata jarang sekali berbicara dengan mereka. dan obat-obatan. masuk SMA di sana. berarti tidak perlu ada hubungan yang khusus. Kalau tidak. Jadilah Azrul anak yang mencintai koran. Rupanya. Azrul dapat orang tua angkat yang sama sekali tidak diperkirakan. Saya perlu memuji perawat tersebut sebagai bentuk ucapan terima kasih saya yang tulus kepada mereka. tapi juga kemerdekaan dan filsafatnya.” ujar Azrul. tisu. Tiap hari dia ajak anak saya ke kantor korannya. Azrul sampai tujuh tahun di sana. Karena dia bukan bawahan langsung. membawa dompet pun belum tentu ada duitnya. Anak-anak saya memang sudah terpisah sejak mereka masih amat remaja. Dia ajari jurnalistik. tapi karena bapak angkatnya itu. Saya perlu memujinya karena setelah hari itu saya tidak mungkin lagi bisa bertemu mereka. dengan cara tidak ceroboh mencatat harga-harga barang yang saya gunakan malam itu: obat. Saya tidak mungkin memberinya uang. Saya sendiri sejak awal tidak ingin dia kerja di koran. Hari itu rupanya saya akan diserahterimakan. Hari ini mereka dapat giliran libur. Yakni. Jarum pun ada harganya. Ikut orang tua angkatnya yang didapat melalui proses undian. Isna Fitriana. Terlalu menyiksa.

“Ternyata saya punya anak. yang nama-nama hari dalam bahasa Inggris pun tidak hafal. Oh. terjadilah. Lubang bekas selang-selang itu lantas ditutup dengan plester. Justru ketika sakit ini saya seperti menemukan keluarga saya. mereka sering menemani saya. Lebih menggembirakan lagi. Lalu jadi pengusaha yang mandiri.” gurau saya kepada keduanya. Juga belum bisa buang angin. Sambil tertawa cekikikan. Saya berkhayal sedang apakah dia? Lagi saling berkenalan dengan organ saya yang lain. rupanya saya belum bisa buang air besar. Kami pun sering dalam keadaan lengkap berada dalam satu ruangan: saya. Dua hari kemudian lubang itu sudah menutup. Ini saya sadari setelah beberapa kali perawat menanyakan soal yang kelihatannya sepele itu. Termasuk ke liver baru saya. Sepanjang malam saya tidak bisa tidur. atau lagi pasang kuda-kuda untuk saling bermusuhan? Apakah liver baru itu sedang tawar-menawar pekerjaan dengan organ lain? Apakah liver baru itu sedang mengajukan syarat-syarat kerja sama? Misalnya. (bersambung) Ganti Hati 10 – Meski Keluar ICU. Tidak seperti bapaknya yang hanya tamatan SMA (aliyah). Penuhnya bukan hanya di perut. Itu membuat pikiran saya lari ke mana-mana. istri saya. Apakah saya menyesal? Ya dan tidak. Sekarang ditambah dengan menantu-menantu dan seorang cucu. Termasuk tidak mau lagi tinggal bersama kami di rumah. Yang terjadi. Jadi. siang itu dua selang yang masuk ke rongga dada lewat leher kanan saya juga dicabut.” kata Isna kepada kakaknya. Kelak. hanya akan mau bekerja sama kalau tetap dibolehkan makan babi? Atau dia begitu baiknya sehingga akan ikut saja peran apa yang harus dia jalankan? 25 by Moezhanks . Saya masih punya pikiran jangan-jangan lubangnya masih menganga. Mereka pilih tinggal di rumah sendiri. tapi seperti sampai dada. Menyikapi kedua penilaian itu saya pasrah saja. Saya justru mau anak saya bekerja di luar negeri dulu. ketika sudah berada di kamar biasa. Baru ketika saya sakit ini. perut saya mulai merasa kembung. saya masih sering meraba-raba bekas lubang di leher itu. Jangan Anggap Sudah Merdeka 4 September 2007 SEPANJANG sore sampai malam (hari kedua di ICU). Ketika hal ini saya kemukakan kepada Azrul. Sepulang dari USA anak-anak saya praktis jadi dirinya sendiri-sendiri. Tapi. Suasana yang sangat mengurangi rasa sakit saya selama di ICU. Mereka sudah terbiasa mandiri. ada juga yang menilai bahwa saya harus bersyukur karena ada anak yang masih punya idealisme di bidang jurnalistik. sungguh tidak demikian maunya. Setidaknya agar bisa berbahasa Inggris. “Ternyata kita punya bapak. Makanya perut seperti penuh sekali. dan anak-anak saya. Eh. ya. kalau ada yang menganggap saya sejak awal menyiapkan anak saya untuk di Jawa Pos. dia balik bertanya: saya harus cari uang? Saya mau jurnalistik.lebih baik. Sangat tidak enak. seorang cucu dan calon seorang cucu lagi. katanya.

Badan saya terbawa di atasnya. Rasanya juga sakit. Lega tapi memang sakit. Maka suara bom pun bergelegaran. karena saya toh harus kencing. Tiap pasien dapat satu kapling yang dibatasi dengan kaca terhadap pasien lain. Apakah tidak akan menimbulkan persoalan? Misalnya. Dari kereta itu secara otomatis menjulur sebuah papan besi menyekop ke bawah badan saya. salah satu ukuran yang menentukan adalah ada atau tidaknya “rasa” tadi. Dia perawat yang berbaju biru. Juga kabel-kabel yang dihubungkan ke ujungujung jari. Kereta ini yang membawa saya turun ke lantai 11. Rumah sakit ini memang bisa melakukan transplantasi organ sebanyak 30 orang dalam waktu bersamaan. Memang seluruh lantai 12 adalah ICU. Berarti ruang ICU-nya memang harus banyak sekali.Yang tak kalah penting adalah perbedaan umur yang mencolok antara liver baru dan organ saya yang lain. terjadi generation gap yang tajam? Bukankah liver baru itu belum sampai berumur 25 tahun. Setelah itu tiba-tiba saya merasa seperti ingin buang angin banyak-banyak. Alat untuk mengukur tekanan darah juga dilepas.” kata perawat setelah berhasil mencabut selang itu. Ini untuk memudahkan memindah badan saya dari ranjang ICU. Khayalan orang yang tidak bisa tidur saja. Mekanisme tubuh saya. hari ketiga di ICU. tapi sakit yang menimbulkan kelegaan. Semua dicatat oleh perawat. Saya bersyukur. Apalagi. Tidak perlu ada orang yang mengangkat. Tapi.00 saya sudah dipindahkan dari ranjang ICU ke kereta angkut. Perut saya akan dimasuki cairan lewat pantat. Saya panggil perawat. berjalan dengan normal. Ternyata untuk urusan buang air besar ini ada perawat khusus. yang bisa saja membuat badan saya berubah posisi dan menimbulkan bahaya bagi bekas-bekas operasi. Sekitar pukul 10. “Kencing pertama sampai ketiga nanti mungkin agak sakit. Urusan buang hajat pun selesai. kalau saya ingat banyak pasien yang keluar ICU masih dengan selang yang menancap di leher. Saya pun sebenarnya sudah membayangkan akan keluar ICU dalam keadaan seperti itu. akan dilakukan rekayasa. sehingga sakit-sakit kelas seperti itu sudah saya anggap bukan sakit lagi. ke kamar lama saya yang sudah dibuat bersih sebersih-bersihnya. kan tetap harus dicabut? Sakit tapi lega. paru. barulah saya “rasa” itu muncul. Bukan khayalan yang ilmiah. 26 by Moezhanks . Satu jam kemudian persiapan mengeluarkan saya dari ICU dilakukan. dengan organ baru di dalamnya. apakah tidak akan terjadi konflik anak-bapak yang diakibatkan perbedaan zaman? Juga perbedaan gaya hidup? Apakah tidak akan terjadi adu balap? Apakah jantung tua saya kuat melayani balapan itu? Panjang sekali khayalan saya. Dialah yang memasang tadah kotoran dan membersihkannya. Kabel-kabel yang menempel di dada kanan dan dada kiri dicabut. Pagi itu juga diputuskan saya boleh keluar dari ICU. Ya. Paginya. dan ginjal? Kalau organ-organ lain saya sudah berumur 56 tahun. Kata-kata itu terus melekat di ingatan saya. ternyata tidak. Lalu. Agak sakit rasanya. Tapi. Untunglah saya tidak perlu melalui tahapan darurat itu. Ternyata rasa sakitnya tidak seberat yang saya bayangkan. Semuanya hilang sudah. Atau barangkali karena saya sudah merasakan yang paling sakit. Rupanya keluar atau tidak dari ICU. Dalam proses keluar dari ICU itulah saya baru tahu bahwa ruang ICU ini amat-amat panjangnya. Semua berjalan natural. Rasa plongnya bukan main. Sampai-sampai timbul rasa takut setiap merasa akan kencing. Kalau saja pagi itu saya belum punya “rasa”. saya harus merasakannya. Selang yang sudah 56 jam berada di lubang kemaluan saya dicabut. Tapi. selang yang masuk ke rongga perut melalui pinggang kanan juga dicabut. sakitnya seperti apa kan belum dirasakan. apakah tidak akan mengajak balapan organ lain seperti jantung. yang sudah lebih tua umurnya. Kereta ini dilengkapi sistem hidrolis.

Saya mengakui Robert benar. Pasien dari Taiwan mengucapkan selamat atas kesuksesan operasi saya. Lalu tinggal dua jam. apakah tekanan darah tidak akan semakin tinggi? “Itu logika Anda saja. untuk mengambil “barang” yang masih dititipkan di dalam. Lalu ke rumah sakit di negaranya sendiri untuk mengeluarkan “barang titipan sementara” itu. Kalau ditambah dengan penuhnya bahan tulisan di otak saya. apa yang mau saya tulis ini semuanya sudah lengkap dan memenuhi kepala saya. tekanan darah bisa naik. Tapi. Terpaksa perutnya dibuka lagi. Memang sudah diizinkan pulang. (bersambung) 27 by Moezhanks . teman saya itu. Lalu tidak perlu infus sama sekali. Tapi.” ujar Robert Lai. semua sudah ada di kepala. Sebab. Perawat yang sudah tiga bulan lebih saya kenali dengan baik.” ujar Robert Lai. jangan Anda anggap sudah merdeka. Dari kamar yang lain. Sayangnya. kali ini dia kecele. “Mana ada baru tujuh hari setelah transplantasi liver sudah memeras otak untuk menulis begitu panjang?” sergahnya. tiap seri harus dibuka dengan kalimat apa dan ditutup dengan cara bagaimana. Orang tersebut merasa sudah sangat normal. ada pasien yang merasa kuat dan jalan sendiri ke kamar mandi. proses tersebut tidak mulus. Berbagai usaha sudah disiapkan. mengucapkan salam. Namun. Mereka segera membuat lubang baru di lengan saya untuk keperluan infus-infus berikutnya. keadaannya sudah sangat payah. *** “Meski sudah keluar ICU. Kalau tidak segera saya tuangkan di komputer.Tiba di lantai 11. orang Jepang. berapa seri tulisan itu nanti. saya tetap bermohon untuk dapat dispensasi melakukan dua pekerjaan itu. Tiap hari saya masih harus diinfus beberapa obat dan vitamin. Tapi. Yakni. Kedua. Diadakan perbaikan lagi di dalamnya. Itu alasan Anda saja untuk diperbolehkan menulis. Pertama. boleh mulai menulis cerita ini. Akhirnya dia meninggal dunia di rumah sakit ini bulan lalu. Dia lantas menakut-nakuti saya dengan kisah banyaknya pasien yang sukses dalam menjalani operasi. terpaksa balik lagi ke rumah sakit ini. Dia terkena infeksi. Kini saya diserahterimakan dari perawat ICU ke perawat ruang rawat inap. Robert tahu saya sering maunya sendiri. Mula-mula tiga jam sehari. Setelah tidak bisa diatasi di negaranya. obat sinkronisasi liver baru saya punya efek samping menaikkan tekanan darah. Masih sederet contoh tragedi seperti itu. Lalu satu jam. Sebelah kamar saya. Apa saja yang akan saya tulis. Itu membahayakan hasil operasi. Kondisi yang ditunggu itulah yang tidak datang. Seorang kenalan dari Pakistan terkena infeksi setelah tiga hari keluar ICU. Dia terjatuh dan harus masuk ICU lagi. harus balik lagi ke Tiongkok tiga bulan kemudian. tapi gagal menjauhkan diri dari virus dan infeksi. serta membalas dan mengirim email. Saya sudah bertekad akan taat peraturan setaat-taatnya. melambaikan tangan. Termasuk yang nekat pulang meski baru satu bulan setelah operasi. Anda bukan dokter. Contoh lainnya. Sebab. membaca. Pasien lain yang belum operasi menyambut kepulangan saya dari ICU. dia harus menunggu kondisi badannya membaik dulu. Terutama di seminggu pertama keluar dari ICU. Saya sendiri sudah sering memberikan ucapan selamat seperti itu kepada pasien yang baru menjalani operasi sebelum saya. Saya hanya minta kelonggaran dua saja. orang Arab Saudi. para perawat menyambut. boleh membuka. termasuk akan dilakukan transplantasi liver lagi. Saya mendengarkan baik-baik nasihat itu. Tapi.

Harus ada orang yang memegangi. sudah lima hari saya terus dalam posisi berbaring. jahitan di perut yang panjaaaang ini masih basah. kontan membalas. masih di perut. apa juga bersuara? 28 by Moezhanks . Saya juga lega bahwa hati saya yang baru tenyata tidak mengubah selera humor saya. Dimarahi Saudara di Desa 5 September 2007 JANGAN begini. redaktur pelaksana Jawa Pos yang pendiam. jahitannya bisa mrotoli. apakah liver baru saya tidak jatuh? Apakah sambungannya sudah kuat? Tali apakah yang dipakai untung menggantung liver baru itu? Setengah serius. menambahkan: “Ha ha. “Hari ini saya sudah diharuskan mulai turun dari tempat tidur. Dan memang. Tapi. jangan sampai langsung berdiri. Tidak sedikit kasus pasien jatuh saat pertama mencoba berdiri. Untuk memberikan gambaran bahwa saya sudah bisa bergurau lagi. Leak Kustiya.” tulisnya. Tenang beberapa saat untuk lihat-lihat keadaan. tapi humornya sering cerdas. Banyak sekali peringatan yang disampaikan kepada kami sebelum pertama saya turun dari tempat tidur. Tapi. Harus duduk lebih dulu. Itu hari kelima setelah operasi atau hari kedua setelah keluar dari ICU.” tulis saya. Tapi. Meski ada cairan infus yang menggantikannya. pendiri majalah TEMPO yang juga amat humoris. “Yang bahaya kalau jatuhnya di dekat pasar loak. Saya masih dapat peringatan tambahan. Kekhawatiran-ngawur saya itu saya SMS-kan ke beberapa teman. Kata njatuh. jangan-jangan kalau teralu banyak tertawa. Juga lima hari tidak makan. Kalau saya nanti berdiri. Masih banyak SMS yang masuk di sekitar jatuh-menjatuh itu. “Lebih berbahaya daripada jatuh di dekat pasar loak. Mas Goenawan Mohamad. Bahkan ingin tertawa lebar. tapi pertanyaan. Sekali lagi. Humor khas Surabaya datang dari Jamhadi. Datangnya dari dalam diri saya sendiri. saya sering mencoba menertawakan diri sendiri. Masih mudah mencarinya. bisa diteruskan dengan turun dari tempat tidur dan mencoba berdiri. Bahkan sudah harus latihan berdiri.” Gong Li adalah artis yang paling terkenal dan konon juga paling cantik di antara artis Hongkong.” kata Margiono yang pandai mendalang itu. menimpali Margiono. Saya memang suka bergurau. Kalau sedang tidak ada yang ditertawakan. “Ha ha… Kalaupun jatuh. Maklum. Sekaligus memberi kabar baik mengenai kemajuan demi kemajuan yang saya peroleh.” tambahnya. Tapi njatuh. Saya tertawa. saya lupa bertanya kepada dokter apakah tali yang dipakai menggantung liver baru saya cukup kuat. Jawaban dari beberapa teman berdatangan. kontraktor yang membangun gedung Jatim Expo dan asrama mahasiswa Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya. Saya justru takut hati baru itu jatuh di rumah Gong Li. Dan lagi. Padahal. Saya takut liver baru saya jatuh.” tulisnya. kalau toh jatuh. Bergurau soal Liver. Margiono. Kalau tidak pusing. Misalnya. saya harus menahan tawa. tidak ada suara benda jatuh.Ganti Hati 11 – Mulai Berdiri. Dirut Rakyat Merdeka yang lucunya bukan main. mungkin tidak bisa dipahami di luar Surabaya. begitu saya berdiri. bagi orang Surabaya lucu sekali. sih itu bukan jatuh. empat itulah yang saya pilih sebagai yang paling lucu. Kalau dibuat tertawa masih sakit. Tapi. Bisa tiba-tiba pusing dan jatuh. “Kalau sampai jatuh di rumah Gong Li. setengah bergurau. Jangan begitu. Tepatnya bukan peringatan. Diam-diam saya sudah bisa menjadi juri lomba humor di hari kelima setelah operasi saya.

Itu tahun 1948. Saya tidak akan menaikkan karir bawahan yang seperti itu. kalau memang cukup cerdas. Kalau seorang bawahan tidak mampu melakukan itu. ini soal cara.” menurut ilmu mantiq. Saya lantas memanfaatkan ilmu mantiq itu dalam praktik manajemen. Soalnya. ketika meletus peristiwa Madiun yang terkenal dalam sejarah itu. bawahan itu sebenarnya juga boleh me-manage atasan.” tambahnya. lalu ditimbuni batu. “Nyawa kok dibuat guyonan. Bukan hanya atasan yang bisa me-manage bawahan. Takut orang salah paham. Demikian juga guru-guru terkemuka lainnya. mengapa memerintah atasan yang masih bernama manusia saja tidak bisa?” Takut juga saya mengisi “titik-titik” itu. Tentu sebelum mengucapkan kata-kata tersebut saya berpesan agar jangan membicarakan istilah saya ini dengan orang lain.” tambahnya. Dia sudah terpaksa jadi kiai ketika masih amat remaja. Magetan. 16 km dari Kota Magetan.” ujar Agus. pesantren kami yang sangat maju dan terkemuka mengalami kemunduran. Orang yang tidak pernah belajar ilmu mantiq bisa salah paham. Tidak guyon seperti itu. Ada alasan lain mengapa saya memilih sumeleh kepada Tuhan daripada sedikit-sedikit minta sesuatu kepada-Nya. termasuk guru yang didatangkan pesantren kami dari Mesir. Ini karena enam kiai utama di pesantren kami (yang tidak lain paman-paman ibu saya) dibunuh orang Partai Komunis Indonesia (PKI). malas menggunakan pemberian Tuhan yang amat penting itu: otak. Mereka dimasukkan sumur hidup-hidup. saya SMS ke Ir Agus Mustofa. Kata saya kepada karyawan yang suka mengeluhkan atasannya itu: “Kita ini bisa dan sering memerintah…. Saya pernah belajar ilmu mantiq (logika) sewaktu di Madrasah Aliyah Pesantren Sabilil Muttaqien. “Yang diperintahkan beberapa kali adalah perbanyaklah mengingat Tuhan (zikir) dan perbanyaklah berbuat baik. Mas Dahlan sendiri guyon. Tidak harus selalu keinginan atasan yang berlaku. pasti Aku kabulkan’. menurut ilmu itu. “Kita di sini tidak henti-hentinya berdoa. Sejak itu. Misalnya. sama dengan kita memerintah Tuhan agar memasukkan kita ke surga? Bukankah kata “masukkanlah” itu “kata perintah?”. “Yang ada hanyalah ’Mintalah kepadaKu. “Tidak ada perintah memperbanyak doa. 29 by Moezhanks . Takeran. “Apakah ada perintah untuk memperbanyak doa?” tanya saya. berarti bukan bawahan yang cerdas. Jadi.. Saya harus mengenang guru saya itu. “Berdoa itu. guru ilmu mantiq saya dulu. kita menggunakan cara yang disebut berdoa. Tidak pantas. KH Hamim Tafsir. Intinya: seorang bawahan. Padahal. tidak pernah takut mengatakan apa adanya.Keceriaan saya hari itu padam manakala masuk SMS dari keluarga saya di desa. penulis buku Takdir Bisa Diubah yang laris itu. biasanya saya menasihatinya berdasar ilmu mantiq itu. masukkanlah saya ke surga. Semua itu tinggal soal cara. Sekali lagi. dengan jalan banyak beribadah (termasuk kerja keras)? Ilmu inilah yang juga saya bawa ke praktik manajemen. dikemas secara halus dalam wujud yang bernama doa? Mengapa kita selalu memerintah Tuhan untuk memasukkan kita ke surga? Mengapa tidak kita sendiri berusaha sekuat tenaga. doa ini: Ya Tuhan.” tulisnya. Bukankah. Bahkan. Pesantren keluarga kami sendiri. Kepada Tuhan. sedikit-sedikit berdoa seperti kita ini malas berusaha. “pada dasarnya adalah memerintah Tuhan”. Dia marah. misalnya. Dia marah karena seharusnya saya tidak berhenti berdoa minta keselamatan dan kesembuhan dari Tuhan. seperti yang sudah saya utarakan di bab terdahulu. harus bisa membuat atasannya memenuhi keinginannya. Hanya. saya tidak pernah membaca ada ajaran seperti itu.” balas Agus segera. Lalu. Soal kemampuan kita memanajemeni atasan. Kalau ada karyawan yang sedikit-sedikit mengeluhkan atasannya. Kepada atasan.

terlalu banyak kasus kegagalan transplantasi liver terjadi justru pada minggu pertama setelah keluar dari ICU.” Tapi. Tentu tidak pas kalau kepada bawahan Anda mengatakan. Termasuk bab mengapa liver saya sakit. dan kepada bawahan… teserahlah mau pakai yang mana. Bukan lagi akibat badan menolak kedatangan liver baru. kalau dia lebih pintar dan mampu me-manage saya agar saya mau memenuhi keinginannya. kita bisa menggunakan gaya “minta tolong”. Bukan saja agar sesekali bertemu bawahan di forum itu. Ini karena ruang biasa tidak dilengkapi peralatan monitor yang serbaotomatis. Mengeluh berarti tidak cerdas. itu baru persoalan. Infeksilah yang banyak mengakibatkan kegagalan. bisa diketahui secara dini. kini sudah ada obat yang sangat modern. saya sering juga menggunakan gaya ini kalau hati sudah amat jengkel melihat kamar kecil yang kotor. tidak ada lagi mata pelajaran ilmu mantiq itu. Saya sendiri kini masih terus berpikir bagaimana saya bisa me-manage liver baru saya. Demikian juga tidak lagi banyak staf yang mengeluhkan rekan kerjanya.mungkin dengan gaya “bermohon atau minta petunjuk atau mengiba atau apa sajalah”. Termasuk yang diterapkan kepada saya. Dia mencari jalan beraneka cara untuk mencoba bisa me-manage atasannya dengan bijak. (Akan ada uraian tersendiri untuk ini di bab-bab berikutnya. kepada sesama kita minta tolong. Bahkan. Dan saya dengar di kurikulum madrasah aliyah sekarang ini. Saya sudah bermohon kepadanya untuk jangan sekali-kali kangen akan daging babi. Karena itu. Bahkan. sejak masih dalam bentuk gejala. Di kantor-kantor Grup Jawa Pos. Obat yang menyinkronkan liver baru dan organ-organ lain yang lama. kemungkinan infeksi pun kini sudah bisa diturunkan maksimal karena adanya cara baru. “Saya berdoa kepadamu mudah-mudahan engkau mau membersihkan kamar kecil itu lebih bersih lagi. Justru harus lebih hati-hati. Mengapa tidak bisa ditanggulangi. Kalau toh terjadi. Saya membayangkan dia memang pernah belajar kungfu. ketika pasien terkena infeksi. suhu badan diukur tiap dua 30 by Moezhanks . Bukankah kepada sesama rekan staf. Ini agar pimpinan juga menggunakan kamar kecil umum. kepada Tuhan kita berdoa. keinginan kita yang kita yakini benar bisa dipenuhi oleh atasan. Ilmu mantiq ternyata banyak membantu saya dalam menjalankan praktik manajemen. saya memang melarang pembuatan kamar kecil khusus di ruang pimpinan. Untuk mengatasi penolakan itu. Jadi. kepada bawahan pun kata “minta tolong” akan lebih efektif daripada kata “saya perintahkan” -meski atasan berhak memerintah bawahan. monitoring dilakukan ketat. kepada atasan kita bermohon.) Untuk menjaga jangan sampai terjadi infeksi itulah. Tapi. (bersambung) Ganti Hati 12 – Perawat Sekaligus Menjadi Polisi Penjaga Virus 6 September 2007 KELUAR dari ICU tidak berarti merdeka. Yakni. Kini ancaman kegagalan transplantasi liver bukan lagi seperti dulu. Apa sebabnya. Yang penting. tapi juga agar bisa ikut mengontrol kebersihan kamar kecil umum. tapi saya berharap liver baru saya itu belum pernah belajar ilmu mantiq untuk mengalahkan saya. Padahal. Banyak manajer saya yang kemudian tidak mudah mengeluhkan “ketidakmampuan atasannya”.

Ini sangat-sangat tinggi. Tekanan darah saya juga tinggi jika dibandingkan dengan sebelum operasi. Demikian juga tekanan darah dan denyut jantung. Bukan karena fungsi pankreas yang jelek. Saya harus tahu persis apa-siapanya. sering saya cek lagi kebenarannya lewat internet. Pada hari pertama. kali ini saya tidak bertanya obat apa saja itu. 31 by Moezhanks . gula darah saya sudah normal. selalu antara 80/120 sampai 85/130. pada hari kelima. gula darah saya 17 (sebelum makan). Bukan takut hamil. Hasil USG tiap hari itu menunjukkan tidak ada tanda-tanda kegagalan penyambungan liver baru saya. Sedangkan denyut jantung sangat normal. melainkan karena afk tadi. Kedua. Tapi. Termasuk untuk melihat apakah ada masalah pada ginjal saya. Tidak sekali pun dalam minggu pertama itu suhu badan saya naik di atas angka itu. Obat ini berupa kapsul kecil-kecil tiga butir. banyak juga yang logika saya ternyata salah. dokter meminta saya tidak waswas. Untuk dites kadar gulanya. saya juga harus minum beberapa obat lainnya. tapi tidak kuat jantungnya. semua orang yang masuk ruang saya harus taat akan peraturan ini. antara 76 sampai 85. Jangan sampai orang yang menjenguk menularkan virus yang sangat membahayakan. Setelah makan. Karena itu. apa kegunaannya. sebelum makan. USG tidak lagi dilakukan. diminum dua kali sehari. Pertama.jam. Karena itu. sebelum makan. Tiap pagi. Sangat prima. ini juga karena pengaruh obat saja. saya harus minum obat penyinkron liver baru. Tapi.7 derajat Celsius. Lalu. kali ini saya putuskan “tidak akan jadi dokter untuk diri saya sendiri”. Selalu antara 35. Lega rasanya meski baru lega tahap satu. bayangan saya akan transplantasi liver sama sekali berbeda dengan kenyataan dalam praktiknya. Padahal. Maka. “Itu hanya karena efek obat. Siang sedikit. Karena itu. tapi khawatir jangan-jangan ada yang tidak beres pada sambungan-sambungan pembuluh darah lama dan baru. karena saya memang bukan dokter. ada “polisi” keras yang menjaganya: Robert Lai.” kata dokter. Sekitar 4 sampai 6. Misalnya. Obat ini memang punya efek samping yang kuat. “Kita akan terus memonitornya. Yakni bisa membuat gula darah dan tekanan darah naik. dulunya saya amat cerewet kalau diberi obat. Paru-paru bersih. harus diukur dulu tekanan darah dan gula darah. paru saya juga dironsen. Tapi.” ujar dokter. Kali ini saya serahkan saja sepenuhnya pada keahlian dokter. Bukan karena pankreas saya tidak berfungsi. Hasil ronsen itu juga menggembirakan. Selain obat anti penolakan itu. Ini untuk melihat apakah ada genangan air atau dahak di paru-paru. Ujung jari saya di-”ceklik” beberapa kali sehari untuk mengeluarkan sedikit darah.5 (sebelum makan). Bahkan. sampai malam. Namanya afk. “Banyak juga yang sukses operasinya. suhu badan saya sangat menggembirakan. Pada hari pertama di luar ICU. diukur lagi. Kebetulan. pada hari berikutnya. tidak diperlukan lagi pemeriksaaan gula darah. Anti penolakan terhadap liver baru. tidak perlu takut karena ada obatnya. Ini pertanda bahwa infeksi tidak terjadi di dalam tubuh saya. Untuk itu pun. Pada hari ketiga.” ujar seorang suster. Semua harus menggunakan masker penutup mulut dan hidung. Bangun tidur bisa mencapai 90/140. Pankreas Anda sempurna. Tapi. saya disuntik dulu untuk menurunkannya. Apalagi keadaan badan saya terus membaik sehingga saya semakin percaya saja pada keputusan dokter. Sewaktu saya kemukakan kekhawatiran saya akan tingginya gula darah itu. saya juga di USG. Juga untuk melihat apakah ada genangan air atau darah di dalam rongga perut saya.5 sampai 36. Memang. Biasa juga disebut obat antirejection. dan apa efek sampingnya.

suhu badan. Semula Melinda dan suaminya hanya ingin menengok saya karena kebetulan lagi di Tiongkok. Untuk mewujudkan prinsip yang dipegangnya itu. Saya lihat beberapa orang Jepang. Perawat itu disiplinnya bukan main. perawat yang khusus melayani kepentingan saya selama 24 jam. Karena itu. Yang tidak pakai masker. Untuk meminumnya. tentu Anda tidak berani menegur. Dia akan melakukan cek ulang. “Kalau ada dokter masuk yang tidak pakai masker. Sebab. Bagaimana kalau lupa juga? Tetap. ahli hukum dari Singapura lulusan Inggris itu. dia tegur. Tepat jam enam. but control is better. apa pun harus kalah. Tahu kalau saya segera operasi. dia ikut melakukan “operasi nonteknik” pada malam menjelang operasi. dan pekerjaan sejenis itu. Apalagi lupa. Tidak boleh terlambat. menjaga kebersihan pakaian. Agar tidak lupa itulah. dia memaksa saya minum obat. Dalil “manusia itu tempatnya salah dan lupa” tidak berlaku di sini. dia memtuskan menunggu saya sampai beberapa hari setelah operasi. Kini tinggal dua kapsul kecil sekali minum. Jangan ditegur. Salah atau tidak. apakah obat yang diberikan lengkap atau tidak. Obat ini merupakan obat terpenting dalam menjaga keberhasilan transplantasi liver. Dan bagi saya. Orangnya umumnya sudah agak tua. Selama 24 jam sehari. air. pengalaman para perawat khusus ini sangat banyak. dua kali sehari. “Trust is good. 32 by Moezhanks . Mengingat begitu banyak pasien ganti liver yang pernah mereka rawat. masuk ke ruang operasi tanpa satu pun ada anggota keluarga yang mengantarkannya. dia memang hanya bisa berbahasa Mandarin.” pesan Robert kepadanya. Juga memandikan saya. Kehadiran perawat khusus seperti itu amat penting karena belum tentu keluarga kita mengetahui detail mengenai pengobatan. dan kamar. Sudah sebelas bulan ini selalu menemani saya pergi ke mana pun. dia juga guru bahasa Mandarin. Terutama menjaga ketepatan waktu minum obat.” ujar Robert Lai. bahkan dengan logat yang sangat daerah. Dia yang juga ikut mengawasi orang keluar masuk kamar. Yakni. perawat khusus tersebut yang melakukan. Petunjuk itu memang sudah diberikan jauh-jauh hari sebelumnya sehingga saya juga tahu pentingnya kedisiplinan meminumnya. Bahkan. dia memutuskan menempatkan perawat khusus di kamar saya. Kalau sudah ditetapkan jam enam pagi dan malam. sabar. Pak Dahlannya yang kamu pasangi masker. diciptakan sistem kontrol. Robert memang menugaskan itu khusus kepadanya. Mereka memang para pensiunan perawat yang masih ingin terus bekerja. meski bahasa pertamanya adalah Inggris. Tapi. Bahkan.Mengingat indikator-indikator badan saya sudah begitu baik. dan punya keterampilan sebagai perawat. tidak pernah ada dokter yang tidak disiplin. Kalau sudah waktunya minum obat. Dia sudah hafal jenis-jenis obat yang disediakan dan jam-jam penggunaannya. Berarti 24 jam saya bisa belajar Mandarin secara tidak langsung. ada petunjuk khusus mengenai waktunya. Dia orang yang amat disiplin. bisa bicara Mandarin dan beberapa bahasa daerah di Tiongkok. Rumah sakit ini punya semacam unit usaha yang menyediakan jasa perawat khusus seperti itu. sama sekali tidak boleh. Perawat itu juga menjadi polisi penjaga virus. Jasa mereka itu juga penting karena ternyata banyak juga pasien yang tidak ditunggui keluarganya. Untungnya. obat sinkronisasi itu dikurangi 30 persen. Robert. tidak boleh lupa. Dia tahu persis gejala-gejala yang baik dan gejala-gejala yang kurang baik dalam perkembangan pasien. harus tetap seperti itu. handuk. Dia menjadi seperti perawat spesialis pasien ganti liver. untuk mengukur tekanan darah. Tidak kurang satu menit pun atau lebih satu menit pun. pada hari keenam. Juga tidak boleh dipercepat. Melinda dan suaminya sampai membuka sepatu ketika masuk ruang saya.

sudah mengecil. bos Pakuwon Jati itu mengatakan.” Mengapa ada kanker di liver saya? “Karena liver saya sudah tidak normal.” Kenapa tidak tahu? “Karena tidak berpendidikan dan tidak cukup pengetahuan.” tambahnya. Virus itu menjadi aktif dan merusak liver karena kondisi badan saya sering sangat lelah.” Mengapa sering lelah? “Masak itu ditanyakan.” Kenapa badan saya tidak kebal? “Karena saya tidak pernah menjalani vaksinasi antihepatitis B saat saya masih bayi/kecil. 25 Juta Orang Menghadapi seperti Saya 7 September 2007 MENGAPA saya harus menjalani transplantasi liver? “Karena sudah ada kanker di liver saya dan sudah mulai menyebar ke beberapa tempat meski semuanya masih di dalam liver.” Kenapa waktu itu tidak menjalani vaksinasi? “Karena tidak tahu. “Dia lao da saya. “Saya tidak mau dituduh sebagai pembunuh Pak Dahlan. He… he…. dan rusak. Bikin saya malu. yang gagal saya usir atau saya matikan. Juga karena negara waktu itu masih sangat miskin dan pemerintah sibuk mengurus politik atau rebutan posisi. virus yang semula tidur saja di dalam liver punya kesempatan melakukan aksinya tanpa perlawanan yang berarti dari badan saya yang sedang lemah. Saat badan lemah. sudah mencapai tahap terjadi sirosis.” 33 by Moezhanks . Masak saya harus jadi pembunuh saudara tua saya. dia tetap copot sepatu.Ketika saya beri tahu tidak perlulah masuk kamar sampai copot sepatu.” Kenapa ada virus hepatitis B di liver saya? “Karena liver saya tidak kebal ketika virus untuk pertama kalinya datang dan masuk ke dalam liver saya. Istilahnya.” Saya tahu sepatunya amat mahal dan tentu juga amat bersih.” Mengapa liver saya bisa sirosis? “Karena saya mengidap virus hepatitis B. mengeras. Tapi.” katanya. (Bersambung) Ganti Hati 13 – Boleh Tak Mengaku. “Kamar ini harus lebih bersih daripada sepatu saya.

“Di Tiongkok sendiri kini terdapat 120 juta orang yang mengidap hepatitis B. belum tentu operasinya bisa berhasil. Hao Yang lantas mengutip angka dari Samuel So. sekitar 25 juta orang sedang menghadapi masa depan seperti saya. Kesempatan menjalani transplantasi juga kian kecil.Soal pemerintah tidak perlu ditanyakan lebih lanjut. Keluarga saya. Kalau toh banyak yang mampu. itu soal lain. direktur Asian Liver Centre di Stanford University AS.000. Di Tiongkok. Yang juga berarti terus berjalannya argometer biaya. seperti yang dilakukan Tiongkok saat ini.” ujar Deputi Menteri Kesehatan Tiongkok Hao Yang saat melakukan kampanye vaksinasi hepatitis B pekan lalu seperti yang disiarkan China Daily 1 September barusan. tapi kalau sumber donor untuk liver makin terbatas. Tiap negara kini cenderung melindungi rakyatnya sendiri sehingga. Dalam keadaan harus terus siap. Tapi. Sebab. pencegahan sangat penting. Seluruhnya ditanggung negara. tapi akan sangat baik kalau dipakai menyadarkan ibu-ibu untuk memvaksinkan bayinya agar kebal terhadap virus hepatitis B. bagaimana? Bukankah kesempatan untuk menjalani transplantasi di masa depan kian langka? Termasuk bagi yang mampu transplantasi sekalipun? Bukankah lantas antrean untuk dapat giliran transplan kian panjang? Dan kian lama? Saya sendiri perlu empat bulan menunggu. Penantian yang tidak jelas harus berapa lama. Padahal. juga tidak akan tahu masih harus berapa banyak lagi uang yang disiapkan. Soal jarang yang mengakui. hampir semuanya. Ini sangat wajar karena persoalan seperti ini akan bisa jadi isu nasional di negara tersebut.” Kenapa miskin? “Karena tidak berpendidikan. petani atau buruh tani. belum tentu semuanya mendapatkan kesempatan sebaik saya: bisa menjalani transplantasi liver. sekali lagi. Artinya. kita tidak akan pernah tahu harus menunggu sampai berapa lama. sekitar 10 persen penduduk kita terkena hepatitis B.” Kenapa tidak berpendidikan? “Karena miskin!” *** Itu bukan kata-kata juru penerang PKK yang setelah zaman reformasi tidak lagi berperan aktif. kenapa Anda tidak berpendidikan dan tidak cukup pengetahuan? “Karena miskin sekali. liver yang ada harus diprioritaskan untuk penduduk Tiongkok sendiri. Padahal. Tiap suntik harga obatnya sekitar Rp 75. Empat bulan harus tinggal di luar negeri dan dengan keluarga yang harus mondar-mandir tentu bukan hal yang sederhana. Artinya. Maka. bahwa 40 persen di antara segala macam penularan virus terjadi dari ibu ke anaknya. 34 by Moezhanks . *** Meski ilmu pengetahuan semakin maju dan keterampilan dokter juga kian sempurna. seluruh bayi sejak 1982 harus tiga kali divaksin antihepatitis.

Kini sudah terasa gejalanya. Suatu celetukan yang mungkin juga mencerminkan rasa jenuh karena begitu lamanya menunggu. donor jantung harus satu jantung utuh. Di antara lima orang yang antre transplan jantung. Yang terkena hepatitis B saja mencapai 120 juta orang. setiap saat selalu ada pasien antre yang dicoret dari daftar antre. akan ada aturan bahwa suatu negara tidak boleh mendonorkan organ kepada penduduk suatu negara yang negara itu atau penduduknya melarang melakukan donor organ. Bahkan. saah seorang direktur program jantungparu Singapura. Sebanyak 555 orang antre untuk transplan ginjal dan 16 orang antre liver.” katanya. Istri saya lantas menyebut banyaknya orang Timur Tengah yang antre di rumah sakit ini. Dimulai dari munculnya kebijakan memprioritaskan penduduk negaranya sendiri. Tentu tidak sesederhana itu. maka di masa depan orang Indonesia tidak boleh menerima sumbangan organ dari warga negara lain. Mengapa? “Sudah tidak layak antre. orang kaya di Tiongkok bertambah-tambah dengan drastisnya. mendonorkan organ tubuh? Apakah boleh organ dari orang yang baru meninggal diambil untuk menyelamatkan orang lain? Soal itu di masa depan tidak hanya akan jadi isu agama.” ujar dr Tong sebagaimana disiarkan The Strait Times 2 September lalu. “Tiga di antara empat orang yang dicoret dari daftar antre itu tak lama kemudian memang meninggal. Ada soal yang bagi orang Islam lebih prinsip. Selama penantian. “Bukankah di sana banyak sumber liver? Dari mereka yang begitu banyak meninggal muda itu? Dan pasti lebih pas karena dari ras yang sama?” celetuk istri saya. Tapi. Kesadaran seperti itu akan membuat banyak negara ikut mengubah peraturannya. kini. 35 by Moezhanks . Kok di Timur Tengah itu tiap hari orang dengan gampang menghilangkan nyawa. Alasan keadilan lantas memperkuatnya. melarang sama sekali liver orang Singapura untuk orang non-Singapura. Artinya. kelak. Awal bulan ini. maka akan menjadi isu kesenjangan sosial. tinggal satu yang masih memenuhi syarat dalam daftar. “Begini sulit ya mempertahankan satu nyawa. di Singapura sendiri antara kesediaan liver dan yang memerlukannya jauh lebih banyak yang terakhir.” katanya.” ujar dr Tong Ming Chuan. secara Islam. Singapura sudah lebih dulu membuat aturan seperti itu. Sebab. Isu yang akan lebih mendominasi masa depan dunia.Dengan logikanya yang sederhana. Bisa jadi. Tiongkok sudah mengubahnya empat bulan lalu. Misalnya. Kini. Akan menjadi isu politik yang sensitif bagi Tiongkok yang lagi gencar-gencarnya memerangi kesenjangan sosial. mendaftar sekarang baru akan dapat liver 10 tahun lagi. sudah sama dengan separo penduduk Indonesia. Kalau mereka tidak terlayani karena miskin. tidak kuat bayar. diberitakan antrean transplantasi di Singapura sudah sampai 10 tahun. Ini berarti pendonornya harus meninggal. Orang asing tidak akan gampang lagi mendapatkan donor dari penduduk setempat. Indonesia tidak mendukung digalakkannya donor organ atau penduduk Indonesia mengharamkan donor organ. Mereka tentu akan semakin mampu dalam ikut “memperebutkan” donor yang kian terbatas. Begitu banyak orang Tiongkok sendiri yang memerlukan transplantasi. “Donor liver atau ginjal bisa berupa separo organ tersebut. kondisi badannya sudah semakin buruk. istri saya sering nyeletuk. donor jantung lebih sulit. itu tidak berarti bisa cepat dapat giliran. Sebab. Tapi. Belum lagi. Tapi juga isu keadilan. panjang antrean itu ratusan orang di Singapura. Yakni apakah boleh. Karena itu.

Ini terkait dengan keyakinan agama. akan banyak sekali organ yang sudah terlanjur “ikut mati”. Di kapupaten saya. Sayang donornya. yang organnya tidak bisa jadi donor. Kalau toh dipaksakan. Saya sendiri tidak paham istilah-istilahnya. tahun lalu enam orang meninggal karena perkembangan sakit livernya lebih cepat daripada waktu antrenya. sebagaimana yang sudah disepakati di banyak negara maju. Mendingan diberikan kepada pasien yang kans berhasilnya lebih besar. Artinya. Menjadi: hanya orang yang menyatakan keberatan saja. kecuali yang keberatan saja. sehingga Tiongkok juga akan mengubah peraturan di bidang kedokteran tentang “kapan seseorang dinyatakan meninggal”. Yakni saat-saat kematian batang otak. Sudah terlalu terlambat untuk transplan. Ini setelah awal Agustus kemarin diperdebatkan di forum para ahli transplantasi di Beijing. peluang berhasilnya tipis. “Peraturan ini juga akan berlaku bagi penduduknya yang beragama Islam. Kemiskinan rame-rame.” katanya. Kemiskinan kami adalah kemiskinan struktural. Kami memang tidak punya harta. Kalau selama ini organ hanya diambilkan hanya dari orang yang sudah menyatakan organnya boleh didonorkan. Peraturan baru sedang disiapkan. Ini seperti prinsip ushul-fikh (kaidah aturan): semua yang tidak dilarang berarti dibolehkan. nanti akan dibalik. Karena itu. Jadi. saya menderita sakit liver. Bagi yang paham ayat Al Kitab mengenai kematian (idza jaa-a ajal luhum…) tentu satu pekerjaan tersendiri untuk mendiskusikannya. Selama ini. Apakah saya menyesali dilahirkan di keluarga miskin? Sama sekali tidak. Ini akan tidak bisa dimanfaatkan untuk amal jariyah berikutnya. Saat kematian ternyata bisa diajukan atau dimundurkan walau hanya sesaat. yang 139 orang juga sudah tidak memenuhi syarat lagi untuk transplan. Juga di negara saya. Kemiskinan yang juga dialami banyak orang di lingkungan saya. Kami miskin bukan karena harta habis untuk main judi atau untuk mabuk-mabukan atau untuk narkoba. Begitu seriusnya problem defisit donor itu. Tidak. Terutama apakah yang dimaksud dengan ajal di situ. Kini. Singapura akan melangkah lebih jauh. organ semua orang Singapura secara otomatis boleh diambil setelah dia mati. Kami bisa menikmatinya bersama-sama. Satu perdebatan yang amat teknismedis di sekitar saat kematian datang. Di antara 139 itu pun. (Bersambung) Ganti Hati 14 – Tersenyum ketika Dioperasi seperti Menikmati Kemiskinan 8 September 2007 JELASLAH bahwa karena kemiskinan dan kejumudan yang melatarbelakangi. 36 by Moezhanks . aturan menentukan saat kematian itu akan dibuat lebih awal. diperkirakan yang 22 orang sudah akan meninggal tidak lama lagi. Kini kekhususan itu tidak ada lagi. kalau peraturan lama yang dipakai menentukan tibanya saat kematian. Maka. siapa yang harus hidup dan siapa yang harus mati ternyata bisa ditentukan oleh dokter. Bahkan hampir di semua kampung saya. Khusus untuk yang antre liver saja. Saya jadi berpikir dan diskusi lagi dengan diri sendiri. aturan transplan selalu dikecualikan bagi yang muslim. Singapura akan menggunakan prinsip ushul-fikh itu. jangan sampai ada yang menyangka bahwa kami sangat menderita. Yang jelas.Di antara 555 orang itu terakhir.

menunduk. Dan meyakini bahwa kiainya. Saya pernah bertugas mengantarkan punjungan yang aromanya sangat harum itu. Ternyata. kurang hemat. Lalu dititipkan ke tetangga untuk bersama-sama ditetaskan di situ. KH Imam Mursyid Muttaqien. Karena itu. Karena itu. sikap bapak otomatis berubah. Dagingnya untuk punjungan. harus ada sayur kluwih untuk menandakan bahwa kita ingin rezeki yang linuwih (berlebih). Tapi. Tapi. Di jalan. tapi semua itu kami niati untuk ibadah -entah apakah seharusnya pakai selamatan segala. semua aliran tasawuf punyai klaim yang sama untuk kiai mereka sendiri. kalau nasibnya baik -yakni dapat ambeng yang baik-. kami hafal benar kapan akan ada mauludan atau megengan. dan ngapurancang di depan teman sesama abdi dalem itu. Tahunya ya hanya tasawuf Sathariyah. bisa memperebutkan daging ayam secuil. semua kami wujudkan dalam makanan seperti seolah-olah kami bisu. rejeban. Itulah saatnya kami bisa makan nasi. Bapak langsung menggunakan kata-kata kromo inggil (bahasa Jawa level tertinggi) dalam percakapan dengan temannya itu. Juga harus ada cakar ayam untuk lambang doa kuat melangkah. Sesepuh kami. Kiai kami bukan sembarang kiai. Keborosan kami adalah “keborosanreligius”. Bahkan sudah kami nantikan sejak berhari-hari sebelumnya. Kami harus banyak keluar biaya untuk selamatan Lebaran. Bapak akan langsung bersila. mauludan. Sering ibu harus membeli dulu satu telur. kupatan. begitu si tamu mengatakan kedatangannya hari itu diutus sang kiai. Kami juga harus slametan nyepasari. yakni boros untuk melestarikan adat-istiadat. rebowekasan. Itulah saatnya kami bisa makan telur. kami hanya boleh makan sedikit kuahnya. Bukan gaplek. salah satunya harus opor ayam. dan seterusnya. Ibu pandai sekali bikin opor ayam. itu juga kami perlukan sebagai wujud donga-katon (doa yang dipersonifikasikan). Tapi.” kata bapak saya. 37 by Moezhanks . Tentu. “Ahl-dzikr hanya satu di dunia. kami dilarang untuk masuk sampai ke dalam rumahnya. Juga “keborosan-yang-beradab”. Kami berjalan kaki sejauh 6 kilometer untuk sampai ke rumah sesepuh kami itu. Sampai tiba saatnya harus dipotong untuk dihaturkan kepada kiai kami yang sebenarnya sudah kaya. Ibu membuat lontong yang untuk merebusnya saja diperlukan waktu 24 jam. Satu bentuk selamatan di serambi masjid yang amat kami tunggu-tunggu. Sayurnya harus lima macam. kami juga harus munjung ke kiai kami. kata ahl di situ menunjukkan bentuk tunggal (ism mufrad). Ini karena menurut tata bahasa Arab (nahwu). bapak kedatangan tamu yang dulu sesama abdi dalem di rumah kiai tersebut. Daun pembungkusnya harus daun pisang raja agar harumnya khas. Misalnya saja. kami bisa mengira-ngira nikmatnya makanan yang akan kami antar itu karena kami sudah merasakan rasa kuahnya. Terutama saat kami masih kecil. Kami sangat menyenangi selamatan. Bapak sangat menjunjung tinggi adat itu. Guru yang oleh bapak dipercaya sebagai wasilah dalam term filsafat ahl-dzikr. Itulah saatnya kami. Kiai kami adalah gurutarikat kami. bapak saya tidak tahu itu. dan seterusnya.Kalau toh kami boros. Ibu sudah menyiapkan ayam itu sejak enam bulan sebelum kupatan. Agar lontong masak sempurna dan tidak basi sampai seminggu pun. Pokoknya. adalah sang “ahl dzikr” nan tunggal. Setiap kupatan. Kami hanya boleh mengantar sampai teras samping rumah pendapa itu. Bukan hanya sambal atau garam. Tentu. Bapak adalah idola kami dalam bersikap tawadluk -hormat kepada sesepuh. itu pun jangan disalahkan. kami tidak mungkin mampu membeli ayam. Tidak ada ahl-dzikr lain di dunia ini kecuali kiai kami itu. Bapak langsung merasa sedang berhadapan dengan kiainya sendiri. Lalu dipeliharanlah ayam tunggal itu. sunatan. Tapi. megengan. Meski kiai tersebut masih paman ibu saya sendiri. bapak bicara seenaknya dan penuh guyon dengan tamunya. Punjungan itu berbentuk makanan yang paling istimewa. wetonan. mitoni.

Karena itu. meski hanya satu potong kain. ibunya pura-pura merebus sesuatu. tapi saya masih punya satu sarung! Jangan remehkan kemampuan sarung ini. fashion. Kalau saya lagi ingin mendalang (waktu kecil saya suka sekali mendalang. Mati pun dianggap. jadilah dia benda penting menghadap Tuhan. Kalau di tempat jahitan itu robek lagi. Kadang. Mereka tidak tahu bahwa Tommy masih kaya raya. fleksibelnya bukan main. memang hanya punya satu celana pendek dan satu baju. bagi orang miskin. Orang miskin punya jalan sendiri untuk menikmati kemiskinannya. Kalau saya lagi lomba terjun ke sungai dari atas jembatan. Kalau perut lagi lapar sekali dan di rumah tidak ada makanan sama sekali. sarung itu bisa jadi karung. Dia bisa jadi apa saja. waktu kecil. sarung itu saya bentangkan dengan tiang pendek di kiri kanannya: jadilah dia kelir. bagian yang kecil untuk popok bayi. Kalau saya lagi mencuci baju. saya ikatkan kuat-kuat sarung itu di pinggang: jadilah dia pengganjal perut yang andal. dengan wayang terbuat dari rumput dan gamelan dari mulut teman-teman). sampai jadi alat memeras atau menakut-nakuti. Sarung inilah pakaian yang. jadilah dia selimut. Misalnya saja. jadilah dia pocongan. Saya. Juga cerita sufi tentang bagaimana orang sakti yang kalau lapar cukup mengganjal perutnya dengan batu. Padahal. Untuk meredam tangis si anak. Masih bisa dirobekrobek: bagian yang besar bisa untuk sarung bantal. Atau bagaimana nabi hanya memakan kurma dua biji setelah seharian berpuasa. sarung itu belum akan pensiun. mencari rezeki. Hidup. Kalau sembahyang. Kalau kami lagi cari sisa-sisa panen kedelai di sawah orang kaya. sarung itu bisa jadi bawahan. alat hiburan. saya ikat ujung sarung itu: jadilah dia semacam payung parasit. sarung kami bentangkan di atas kepala: jadilah dia layar. 38 by Moezhanks . Banyak orang desa yang merasa kasihan kepada Tommy Soeharto yang akhirnya harus menderita. Kalau sarung itu robek (biasa waktu dipancal kaki saat tidur kedinginan atau saat kena duri bambu saat mencuri tebu). Miskin pun bisa dinikmati. Apalagi suasananya sering diciptakan demikian. Jangankan terkena kanker atau sirosis atau hepatitis. Saya belum menemukan bentuk pakaian lain yang fleksibelnya melebihi sarung. Kalau lagi kedinginan. Kalau saya lagi harus mencuci celana. Lapar itu sering luar biasa nikmatnya. harus dijalani apa adanya. orang kaya merasa iba kepada orang miskin.Kami sungguh menikmati kemiskinan kami seperti menikmati khayalan mengenai lezatnya opor ayam yang disiapkan sejak enam bulan sebelumnya itu. Padahal. sarung itu bisa saya kemulkan di bagian atas badan saya. yang direbus itu adalah batu. Sakit bisa dinikmati. kesehatan. kalau memang sudah garisnya. seperti juga orang kaya punya cara sendiri menikmati kekayaannya. Kalau lagi mau nakut-nakuti anak kecil. harus diterima apa adanya. Cerita yang demikian jadi kebanggaan. kisah tentang bagaimana Khalifah Umar menemukan orang miskin yang anaknya menagis terus karena lapar. sarung itu masih bisa dijahit. Kalau lagi musim angin dan kami ingin bermain-main dengan angin itu. Kalau tambalannya pun sudah robek. masih bisa ditambal. sering juga orang miskin merasa kasihan kepada orang kaya. Mulai jadi alat ibadah.

Tinggal waktu saja yang berbeda. Konsultasi dengan salah satu dokter ahli penyakit dalam terbaik di Surabaya: Prof Mohamad Hassan (kini almarhum). Karena itu. Sangat sering diajarkan bahwa sedekah tidak harus dengan harta. Maka. Bahkan. Kalau kemudian berkembang menjadi sirosis dan kanker. Tidak ada mukjizat. Jangan harap satu virus hepatitis B tidak akan menjadi sirosis. kalau badan panas yang dibiarkan saja: toh akan dingin sendiri. persentasenya saya kira hampir sama. Ini berarti lebih dari 120 juta orang. Menyangka Hepatitis Sudah Beres 9 September 2007 SAYA menerima kehadiran virus hepatitis B di liver saya sebagai takdir. seperti yang semula saya kira. Ke depan mestinya virus ini amat berkurang karena kesadaran melakukan vaksinasi hepatitis kepada bayi sangat tinggi. Waktu itu tiba-tiba badan saya panas sekali. Kisah sedekah yang populer juga terkait dengan kemiskinan. Menyingkirkan duri dari tengah jalan pun sudah merupakan sedekah. karena memang sebelumnya tidak pernah ditemukan obat untuk melawan virus itu. Di Indonesia terutama sejak zaman Orde Baru. marilah kita sering tersenyum. Jadi. Kalau mau. berebut lauk dari piring yang sama. kemungkinan penularannya juga tidak kecil. Dia mendengar ada obat yang masih baru sama sekali. tentu itu karena gaya hidup di desa yang memang seperti itu. ketika untuk kali pertama dalam hidup saya memeriksakan darah. Proses perkembangan itu lama atau cepat. Tidak ada keajaiban di proses itu. Diketahuilah bahwa ada virus hepatitis B di liver saya. Melebihi popularitas ayat yang mengajarkan “carilah rezeki di bumi Tuhan ini”. Yakni. sejak kecil. pasti datangnya dari luar. Namanya interveron. Itulah sedekah yang sudah sejak kecil diajarkan -dan yang dulu satu-satunya yang mampu kami lakukan. saya boleh mencoba obat baru itu. (Bersambung) Ganti Hati 15 – Setelah Rutin Disuntik. cuci tangan dari kobokan yang sama. bukan keturunan atau gen.ayat yang menyatakan “kalau sudah tiba waktunya. Makan bersama. Karena hidup seperti itu dilakukan sejak kecil. jangan ada harapan sirosis tidak akan jadi kanker. penelitian terhadap hepatitis intensif sekali di Tiongkok. Karena namanya virus. Saat itu juga saya langsung mengambil langkah. Di Indonesia. Maka saya harus periksa darah. itu sebagai sunnatullah-Nya -sudah seharusnya begitu. Prof Hassan mengingatkan bahwa harganya mahal sekali. *** Saya sendiri tahu kalau mengidap hepatitis B sejak sekitar 25 tahun lalu. Tapi. Mau dioperasi besar pun saya tersenyum. Sebelumnya. data terbaru menyebutkan hampir 10 persen penduduknya terkena virus hepatitis. Kini interveron sudah amat murah dibanding 39 by Moezhanks . karena menyangkut begitu banyak orang. setiap dua hari sekali. Bahwa keluarga saya banyak yang demikian. Juga harus disiplin tinggi karena obat itu harus disuntikkan 76 kali. Dan. Semua bisa saja jadi sarana penularan. tidak bisa diundur sekejap pun atau dimajukan sedikit pun” menjadi amat populer. Di Tiongkok. Di Tiongkok sejak 1982. tersenyum pun sudah sedekah.

Prof Hassan juga memberitahukan bahwa kemungkinan berhasilnya juga tidak 100 persen. suhu badan bisa tinggi sekali. Pernah juga saya mengalami kesulitan yang sama saat berada di Batam. Di sana umumnya dokter tidak tahu obat apa yang saya bawa itu. Anda sudah berada di rumah sakit. Saya tunggu sampai malam. Ke mana-mana saya membawa termos itu berikut alat suntiknya. Tiongkok juga sudah memproduksinya besar-besaran. memang belum ada obat ang bisa membunuhnya. Kalau tidak tahu. Sejak minum interveron itu saya tidak pernah mencari tahu lagi apakah sudah ada obat yang lebih jitu. Saya menyangka. Tentu saya bawa juga interveron itu. tetap saja dia tidak mau. Sampailah pada Mei 2005. Badan saya yang selalu fit. Pujian bahwa saya adalah orang yang “tidak punya udel” (tidak punya pusar. Terbang dan terbang. Bahkan. Saya menyimpan interveron itu di termos khusus yang bisa saya bawa bepergian. Sudah saya jelaskan panjang lebar. hepatitis saya sudah beres. memang obat yang masih sangat baru. melainkan hanya mengurungnya. Mengapa harus ngamar? “Akibat suntikan itu. tapi memang betul-betul belum tahu obat tersebut.” katanya. Kalau terjadi sesuatu yang membahayakan. Memang seharusnya demikian.harga 25 tahun lalu. Maka setiap dua hari saya suntik interveron. saya juga harus mengejar pesawat. saya sudah tidak bingung lagi. Maklum. Bahkan sampai besoknya pun. Saya terus kerja dan kerja. Pernah suatu saat saya harus ke Ambon. atau di praktik dokter. Saya tenggelam oleh kesibukan dan kecerobohan saya sendiri. di poliklinik. untuk menggambarkan punya kemampuan kerja kuda) membuat saya terlena. ternyata si demam tidak datang juga. Maksudnya. tidak boleh melakukannya. katanya. Di Ambon ternyata sulit sekali mencari dokter yang mau menyuntikkannya. Setelah proses itu selesai. dengan dikurung seperti itu. tapi tetap mahal untuk kebanyakan orang. Barangnya juga sudah lebih mudah didapat. Kini. 40 by Moezhanks . saya sudah melupakan hepatitis saya. Kalau panas datang dan badan menggigil. Murah untuk ukuran orang sakit liver. Yang jadi persoalan adalah bukan tidak mau. Tangan sudah selalu siap memegang selimut kalau tiba-tiba harus segera menutupkan ke tubuh saya. Di dalam negeri dan ke luar negeri. Hari itu saya terbang ke 19 kota hanya dalam waktu 8 hari. Lalu saya boleh pulang. Mulai Surabaya-Jakarta-Pontianak-Kuching-Singapura-Guangzhou-Wenzhou-Jinhua-Hangzhou-NanchangGuangzhou-Jakarta-Makassar-Ambon-Makassar-Kendari-Makssar-Jakarta-Surabaya. saya langsung siap-siap selimut tebal. Harganya pun sudah jauh lebih murah dibanding ketika saya harus membeli dulu. saya menjadi lengah. virus tidak akan merajalela. Sebab. Bisa di kantor. Saya bisa menyuntikkan interveron berikutnya di mana pun saya mau. Saya pun menyetujuinya. saya dengar kualitas interveron sudah semakin baik. Padahal. Saya tidak pernah lagi memperhatikannya. Tapi. Sudah puluhan kali lebih kuat daripada 25 tahun lalu -saat saya pertama menggunakannya. siapa tahu saya masuk yang 25 persen itu. membuat saya terlalu percaya diri. baru 25 persen. Saya tunggu kedatangan “suhu tinggi” dan “rasa menggigil” itu sampai sore. Obat itu berfungsi bukan membunuh virusnya. Ya. Saya pilih RS Budi Mulia di Jalan Raya Gubeng. Ketika pertama suntik saya harus ngamar di rumah sakit. Akhirnya saya minta disuntik di pos kesehatan bandara Batam. Pada hari dilakukan penyuntikan pertama.

banyak penjual durian. Mestinya. Aduh naturalnya! Tapi. Lalu saya ingat kakak saya yang meninggal tidak lama setelah muntah darah. Tiongkok. Dulu. saya ketahui saat saya berbaring di ranjang pasien. sudah tidak tahan lagi untuk segera makan durian. di pinggir jalan depan Masjid Al Fatah. Rapat pun buru-buru karena harus segera ke Kendari. Tiba di Ambon tidak mau sarapan. Mengapa tidak mau sarapan? Setiap ke Ambon saya punya cita-cita khusus: akan makan durian sebanyak-banyaknya. rapat masih diteruskan dengan mengajar. Lupa sudah makan siang. Bisa jadi muntah darah itu akan sangat fatal dan mematikan. Dari yang tercecer itulah saya lihat banyak onggokan berwarna hitam. Tapi. saya ke kantor lagi sambil seperti menangis. Mungkin ikan-ikan Ambon cemburu dan marah mengapa malam itu saya melupakannya. Barulah selesai coblosan saya ke Rumah Sakit Darmo Surabaya. Mestinya tetap saja makan ikan laut. bersama Ibu Eric Samola. Paman-paman saya. Paginya. Perkembangan hasil pilkada itu. Juga ibu saya. Saya memang merencanakan ke dokter. Dokter menyesalkan saya. ternyata saya muntah darah. Setelah onggokan itu saya injak. Malamnya. Saya memang punya forum yang disebut “bengkel wartawan”. tiba-tiba saya mau muntah. saya jangan makan papeda malam itu. bergabung dengan saya di Makkasar untuk sama-sama ke Ambon. Papeda malam itu merupakan makanan terpedas yang pernah saya alami setelah makanan yang disebut suai yang ru di Chongqing. pukul empat sudah harus berangkat ke Makassar. keluar dari bandara. ternyata warnanya merah: darah. langsung ke kantor harian Ambon Ekspress untuk rapat. Berarti makan siang juga kelewatan. Di mana itu? Kalau Anda turun dari pesawat. Selesai forum bengkel. jangan belok kanan ke arah kota. rapat dengan harian Kendari Post yang waktu itu juga lagi membangun Graha Pena Kendari. Saya selalu merindukannya.H. menjadi calon wakil wali kota mendampingi calon Wali Kota Bambang D. Kebetulan di depan kantor. enaknya. Anak buah saya. di mana Bambang-Arief terpilih. Perut saya mulai bergolak malam itu. saya tidak tahu lagi di mana restoran yang terkenal itu membuka usaha. Tapi. Dokter bilang saya beruntung. tengah malam itu saya masih harus ke percetakan. Tentu ada yang tercecer di lantai kamar. Saya ternyata memang harus ngamar di rumah sakit. Makannya tidak di pantai Ambon tidak apa-apa. mengapa begitu muntah darah tidak langsung ke rumah sakit. saya lari ke toilet untuk membuang muntahan yang ada di tangan. tapi belok kiri ke arah kampung. 41 by Moezhanks . Bangun tidur. setiap kedatangan saya ke anak perusahaan selalu dimanfaatkan untuk pertemuan dengan wartawan. Setelah saya menghadiri coblosan pemilihan wali kota Surabaya. sejak kerusuhan Ambon. Durian Ambon luar biasa enaknya. Di forum “bengkel” itulah saya selalu diminta menularkan pengetahuan dan keterampilan jurnalistik.Istri saya. Meski perut mulas. tapi besoklah. Lalu menyantet perut saya. Di Kendari saya juga punya cita-cita khusus: makan ikan bakar. Ikan laut Ambon segarnya. Sambil tangan menampung muntahan. Tiba di Surabaya. badan saya rasanya baik-baik saja. barulah saya bisa tidur dengan baik. Oh. Pimred Jawa Pos Arif Afandi. tapi kedua tangan saya menjadi penadah. setelah makan malam dengan menu makanan lokal yang disebut papeda. Hari itu bumbunya juga pedas bukan kepalang. manisnya. Saya harus memilihnya sebagai dukungan ke anak buah. Rapat dengan harian Fajar yang kini baru menyelesaikan membangun gedung Graha Pena Makassar. Kenyanglah. Apalagi kalau dimakan di pantai yang sangat natural itu: pantai Ambon yang indah. bukan kepalang. Saya muntahkan saja.

Sebuah kerusakan di dalam. Saya diperiksa di situ untuk 42 by Moezhanks .” ujar Prof Dr dr Boediwarsono SpPD-KHOM yang merawat saya ketika itu. varises di bagian itu lebih gampang meletus. banyak juga yang besar. saya termasuk orang yang beruntung. melalui pipa esofagus (yang menghubungkan mulut dengan lambung). Tenggorokan saya dimasuki alat yang ujungnya berkamera superkecil. alat itu masuk sampai ke lambung saya. yang tidak segera diketahui di luarnya. tekanan itu pun merembet sampai ke pembuluh darah esofagus dan limpa. Tindakan ini dalam istilah kedokteran disebut dengan endoskopi. “Sebaiknya Pak Dahlan segera ke Singapura. Hanya. Ternyata semua itu menipu. karena dinding pembuluh darah esofagus lebih tipis. Jika itu terjadi. Karena pintu masuknya menyempit. dokter RS Darmo Surabaya juga mulai melihat dari mana asal darah yang saya muntahkan. Dari tenggorokan. Bahaya yang selalu kalah dengan semangat. (bersambung) Ganti Hati 16 – Esofagus Ditambal atau Bilang Saja Pencernaan Dilaminating 10 September 2007 KETIKA kartu suara pemilihan wali kota Surabaya dihitung. Dalam istilah medis. Dari gambar yang dipantulkan alat itu terlihat. betapa banyak gelembung darah yang siap pecah di sepanjang esofagus saya. Yakni. Disebut varises karena memang mirip varises di betis. Karena tidak kolaps ketika beberapa gelembung varises di esofagus saya pecah dan menyebabkan saya muntah darah dua hari sebelum endoskopi dilakukan. Ada yang kecil. Yang mengendoskopi saya ketika di RS Darmo Surabaya saat itu adalah dr Pangestu Adi SpPD-KGEH. “Lebih baik dilakukan di sana. ketika ada acara di Singapura. rasa badan saya baik-baik saja. tekanan di pembuluh darah utama itu pun jadi meningkat. Itu sebabnya mengapa limpa saya juga ikut membesar sampai hampir tiga kali lipat. Dalam kesempatan pertama. saya mampir ke seorang ahli penyakit dalam yang terkenal di RS Mount Elizabeth. pecah.Pemeriksaan di Rumah Sakit Darmo menunjukkan betapa berbahayanya sakit saya. saya masih belum memahami sepenuhnya bahaya yang saya hadapi. Bahaya yang sama sekali tidak saya rasakan sebelumnya. penyakit tidak mau mampir ke badan saya karena tidak akan dilayani akibat kesibukannya. Varises esofagus terjadi karena pembuluh darah utama yang masuk ke liver menyempit akibat adanya sirosis. Dalam istilah teman saya. Tahu-tahu saja sudah terlambat sekali. Karena tak segera diturunkan. Maklum. yang sudah sangat ahli dan senior di bidang itu. Gelembung-gelembung itu sebenarnya adalah pembuluh darah esofagus yang karena tekanannya terlalu besar lantas menggelembung. pasien akan mengalami pendarahan hebat yang sulit dikendalikan. Saya dibius. Sampai saat itu.” tambahnya. Penyakit tetap datang dan diam-diam menggerogoti onderdil saya. pembuluh darah esofagus yang menggelembung dinamakan varises esofagus. Akibatnya bisa sangat fatal. pasien meninggal karena kehabisan darah. Baru dua minggu kemudian. Kata banyak dokter di Surabaya ketika itu.

ketika meletus. Seminggu kemudian saya diminta datang lagi untuk operasinya. lawyer lulusan Inggris yang sudah biasa bikin perjanjian dalam bahasa Inggris. Lalu menyerahkan koreksi itu ke direksi perusahaan daerah untuk dipikirkan lebih lanjut. saya bikin janji dengan investor Singapura yang bersama perusahaan daerah Jatim akan membangun shore base di Lamongan. selesai rapat. Sehingga selama lima tahun sebagai Dirut perusahaan daerah. Kelak saluran pencernaan saya akan tertekan lagi. Robert Lai. sekaligus melapisi yang sudah siap meletus. Sesuai jadwal. Padahal. Hari itu. dan menjadi gelembung-gelembung darah lagi. Dia melakukannya secara gratis. Dengan hanya “melaminating” yang besar-besar. saya putuskan untuk menandatangi perjanjian setebal bantal itu. saya diminta kembali dua bulan kemudian. Untuk memastikan itu. setidaknya saya bisa mengulur waktu. Saya hanya menyederhanakannya. Dengan begitu. Saya juga sudah minta tolong agar teman saya. kepada keluarga saya. hari itu dokter hanya punya waktu untuk mengatasi gelembung yang besar-besar. Dan. dengan “laminating” ini. Tapi. Minggu depannya. Dia memberikan banyak sekali koreksi. Bulan berikutnya. proses “laminating”-nya tak bisa hanya sekali. persoalan mendesak yang mengancam hidup saya teratasi. Langsung dibius dan dioperasi. Selain itu. teratasi sementara. dua bulan kemudian saya balik ke Singapura. Teknis penambalan esofagus sebenarnya tidak sesederhana penjelasan saya itu. tim dokter di Mount Elizabeth lantas mereparasi esofagus saya. saya tidak pernah menggunakan uang perusahaan. Karena jumlah gelembung yang harus ditambal begitu banyak. Agar kedatangan saya ke Singapura minggu depannya lebih efektif. Meski yang kecil-kecil tidak membesar. ujung alat itu pun dilengkapi kamera. saya menggunakan istilah yang lebih sederhana lagi: Saluran pencernaan saya “dilaminating”. Sekali lagi. Dengan bantuan kamera itu. mencermati. Saya memang biasa begitu. Dengan cara ini perusahaan daerah tidak perlu keluar uang perjalanan dinas dan biaya-biaya lain. yang sudah meletus dan benar-benar siap meletus. bengkak lagi. saya ke rumah sakit. Urusan perusahaan daerah selalu saya gabung dengan urusan saya pribadi. operasinya perlu waktu dua jam sendiri. 43 by Moezhanks .mengetahui apa yang terjadi sebenarnya dan tindakan apa yang harus dilakukan. dokter memilih yang aman. saya punya waktu membicarakan kelanjutan rencana proyek Rp 250 miliar itu. beban bagi tubuh saya akan terlalu berat. Kenapa sementara? Ini karena penyebab terjadinya gelembung-gelembung itu sendiri masih njegog di badan saya: sirosis. Hari itu dia sudah telanjur banyak janji dengan pasien lain. Sebelum operasi. Bahkan. Berarti setahun kemudian saya masih terancam muntah darah lagi. Tepatnya. Seperti pada endoskopi. Gelembung-gelembung kecil yang tersisa “dilaminating” semua. Rapat lagi sambil meneruskan proses “laminating” berikutnya. Sudah beberapa kali Robert membantu perusahaan daerah secara sukarela seperti itu. tenggorokan saya dimasuki alat yang bisa masuk sampai pencernaan. dokter berharap gelembung yang kecil-kecil akan mengecil dengan sendirinya. kalau yang “dilaminating” kebanyakan. dan memberikan koreksi mana-mana yang akan membuat posisi perusahaan daerah lemah. Tujuannya untuk menambal bagian yang sudah meletus. untuk melihat. darahnya tidak semburat ke luar lagi. Antara lain dengan menuangkan semacam lem berwarna putih ke gelembung-gelembung varises di esofagus saya. ketika direksi perusahaan daerah sudah selesai merundingkan draf perjanjian dengan pihak Singapura.

kau bisa dapat tambahan umur lima tahun lagi. langsung. Sebenarnya pertanyaan itu tidak perlu. Bagaimana agar tidak terancam muntah darah lagi. tidak ada obatnya! *** Saya masih minta butrawali satu lagi: Bagaimana dengan sirosis saya? Maksud saya apakah sudah ada obat untuk memperbaiki sirosis? Atau. beli lagi yang lebih besar lagi!” jawabnya. merah rasanya. Dan beli lagi yang lebih besar lagi.” katanya ketus. Jawaban dokter itu sungguh di luar dugaan saya. Getir jawaban itu. membuat pencernaan seperti mulas dan mau muntah. Apalagi kalau saat itu sudah ada kankernya. “Sekarang Anda berumur 55 tahun. Tapi. dan akan jadi sirosis lagi. dua-duanya tidak ada 44 by Moezhanks . Juga tidak mau bertele-tele. Berarti juga tidak ada jalan keluar untuk sirosis. Tapi. “Beli saja sepatu yang lebih besar. Jawaban itu memang seperti keluar dari mulut Asmuni-Srimulat. Bagaimana agar kaki saya tidak bengkak lagi. Menghunjam dalam sekali. tajam. Dahlan. dalam bahasa orang awam. dia jawab sendiri pertanyaan itu: karena liver barunya nanti kemungkinan juga terkena hepatitis lagi. Dahlan. apakah ada jalan keluar untuk membuat liver yang sudah mengeras di sana-sini itu kembali lunak? Dan jalan darah yang sudah banyak yang buntu itu membuka lagi? Dokter rupanya tidak punya banyak waktu. saya merenungkannya. Padahal. Begitu pahitnya kalimat dokter itu. “Bagaimana mengatasinya?” tanya saya. Dokter melemparkan jawaban pendek. buah yang dijadikan ukuran terpahit di Jawa. Mungkin hidup Anda bisa lebih panjang lima tahun lagi. Lalu saya telan sedikit-sedikit lewat tenggorokan saya yang sakit: beli sepatu yang lebih besar. Tambah lima tahun sudah oke. bisa jadi bibit kanker itu juga masuk lagi ke liver baru. Saya sudah oke. “Kenapa setelah transplantasi hanya bisa hidup lima tahun?” tanya dokter itu pada saya. Lalu menyayat-nyayatnya.Menjelang tanda tangan perjanjian itulah saya berkonsultasi dengan dokter mengenai problem kesehatan saya yang berikutnya. Berarti juga. Lalu saya tunjukkan kaki saya yang mengembung dan membesar itu kepada dokter yang merawat saya. Dia seperti menganggap manusia ini benda yang tidak punya perasaan. Pedih. tapi saya kunyah lama-lama. Tambah lima tahun menjadi 60. Semakin dikunyah.” katanya. memang semakin pahit rasanya. enteng. Tapi. Seperti pahitnya butrawali. sirosis itu yang menyebabkan saluran pencernaan bengkak dan membuat gelembung-gelembung darah. OK. Misalnya.” katanya. “Anda lakukan transplantasi saja. Terasa seperti lemparan pisau yang langsung mengarah ke liver saya. Bisa sampai umur 60 cukuplah. OK. “Ya. Saya tidak mau dia memberi saya sekarung butrawali. Lalu saya muntahkan sekalian kalimat dokter itu: Dalam wujud muntah seperti darah. “Kalau sesak lagi?” tanya saya lagi. Cukuplah. Di atas muntahan itu seperti terbaca peringatan keras: tidak ada obatnya. Berdarah-darah. Tidak boleh lebih. Merah rupanya. bagaimana mengatasi sirosis saya. Lima tahun lagi.

Shanghai. Apalagi. Satu perkiraan yang tidak terlalu salah.” katanya sambil melihat bagian kaki yang ’ambles’. Lihat. terbang-terbang lagi. perasaan saya seperti anak sekolah yang sedang menerima rapor. namun istimewa. Waktu itu kami makan di satu restoran kecil. sampai makanan penutupnya. Dua minggu sekali. Hanya saya lebih care dibanding dulu. Jusuf Kalla dan lima menteri yang menyertainya. Dia hanya tahu saya orang Surabaya. sedikit-sedikit. Dia tahu itu karena hampir semua pasiennya mengatakan kenal saya. Karena yang dijepit adalah daging kaki yang bengkak. Tidak ada pula keajaiban yang bisa diharapkan. Sebab. selalu saja kaki saya seperti balon panjang yang ditiup tidak sempurna. saya juga hidup normal lagi. Ruang praktiknya memang penuh dengan pasien dan sebagian besar orang Indonesia. Karena badan normal-normal saja. Tidak ada alternatifnya. ternyata juga menyalahkan kaus kaki. *** Dokter itu tidak kenal saya. 45 by Moezhanks . Pernah saya merasa penat. Setelah melepas kaus kaki saya. kalau tidak pakai kaus kaki. Sampai membuat kakimu seperti ini. Salah satunya adalah koran dari Grup Jawa Pos. Semua masakannya terbuat dari kepiting. saat habis makan malam dengan Wakil Presiden H M. Mulai supnya. yang salah sebenarnya liver saya yang tidak lagi mampu mengolah protein secara normal. Tepatnya. Mungkin karena itu. perut saya langsung kembung. Saya terus memonitor darah saya di laboratorium. saya mampir ke kios pijat kaki.jalan keluar. Setiap pulang dari bepergian. Tapi juga tetap memerlukannya. Yakni. Kadang saya membuka hasil lab itu seperti membuka kartu remi yang tertutup di atas meja. Enaknya luar biasa. “Karet kaus kakimu terlalu kuat. setiap akan membuka hasil lab.W. bos Hotel J. Artinya sibuk lagi. dekok di tengahnya. Saya sama sekali tidak menyangka akan berhubungan dengan kata transplantasi. Besar atas bawahnya. takut angka-angka merahnya terlihat sekaligus. kalau mau yang paling tepat lagi disalahkan adalah saya sendiri: Mengapa tidak menjaga baik-baik liver saya? Dua tahun lamanya saya membenci kaus kaki. Saya masih menganggap kata-kata transplan dari dokter tersebut tidak terlalu meyakinkan. yang salah adalah kakinya. Pelan-pelan. Tidak ada obatnya. Saya tahu alamat restoran itu dari Rajimin. makanan kecilnya. seperti saya. di dinding pendek dekat meja resepsionis terdapat banyak guntingan koran Indonesia yang memuat tentang ceramah dan wawancara dengan dokter itu. si ahli refleksi kaget. Bahkan. Timbul Bunyi seperti Tong Kosong 11 September 2007 SAYA pernah membenci kaus kaki. (Bersambung) Ganti Hati 17 – Dokter Mengetuk Dada. Saya tidak terlalu memikirkannya. maka tidak gampang baliknya. ancaman kematian tiba-tiba sementara sudah teratasi. Padahal. Restoran itu ada di pojok Jalan Tianjin. Marriott Surabaya yang juga konsul kehormatan Hongaria. Pulang makan. Dia lantas mengira saya kerja di perusahaan periklanan. Dia pun. Ini terjadi karena karet di kaus kaki tersebut menekan kaki saya.

Begitulah. Hubungan saya dengan kaus kaki menjadi sangat unik: Jenis hubungan yang disebut love and hate -cinta dan benci. Dalam situasi terus membenci kaus kaki seperti itulah, saya terus beraktivitas. Terbang berjam-jam. Berkendaraan beratus-ratus kilometer. Di dalam negeri. Di luar negeri. Sampai suatu saat saya punya urusan di kota Tianjin, 100 km dari Beijing. Di sini kebetulan ada kenalan dokter ahli liver yang hebat. Namanya Prof dr Shao. Seorang wanita tepat seumur saya, yang mengepalai bagian liver di suatu rumah sakit di sana. Dia dobel dokter. Dokter ilmu kedokteran Barat dan dokter ilmu kedokteran Tiongkok. Dia juga doktor di spesialisasi liver, limpa, dan empedu. Saya kepingin mencari pendapat pembanding. Benarkah tidak ada jalan keluar untuk problem bengkak saya itu. Benarkah sirosis itu tidak bisa disembuhkan, minimal dihentikan proses memburuknya. Tentu, saya diminta Prof Shao untuk menjalani pemeriksaan ulang. Mulai kencing, kotoran, darah, liver, limpa, paru, sampai prostat. Juga menjalani pemeriksaan fisik yang dia lakukan sendiri. Yakni pemeriksaan secara kedokteran Tiongkok. Dia ketuk-ketuk rongga dada saya dengan jarinya. Timbullah suara seperti tong kosong. “Ini pertanda liver Anda memang sudah mengerut, mengecil,” katanya. “Di rongga dada Anda sudah mulai ada ruang kosongnya,” tambahnya. Setiap Prof Shao memeriksa fisik saya, selalu banyak dokter muda yang diajaknya. Dokter-dokter muda itu menyimak dengan tekun apa saja dijelaskan Prof Shao sehubungan dengan kondisi badan saya. Dia memang juga pengajar di fakultas kedokteran yang terkait dengan rumah sakit itu. “Lihat ini,” kata Prof Shao kepada para dokter muda itu. Sambil berkata demikian, Prof Shao menyingkap baju saya sampai dada saya terbuka. Lalu, dia memegang-megang payudara saya (eh, kalau milik laki-laki apa juga disebut payudara?). “Lihat payudara dia ini. Juga membesar. Seperti payudaranya gadis yang menginjak remaja. Orang yang terkena sirosis akan selalu seperti ini,” ujarnya. Kenapa Prof Shao mengumpamakan payudara saya seperti payudara gadis belia, karena proses pembesaran kelenjar susu lelaki yang menderita sirosis memang mirip pertumbuhan payudara gadis yang beranjak remaja. Yakni dimulai dengan rasa nyeri pada bagian putingnya saat tersentuh sesuatu. Perlahan-lahan rasa nyeri itu berkurang, bersamaan dengan makin besarnya payudara. Seperti umumnya gadis remaja, pembesaran payudara saya juga dimulai dari yang kiri, baru kemudian yang kanan. Jika liver saya tidak keburu ditransplan, payudara saya akan terus membesar menyerupai payudara wanita. Dalam istilah medis, pembesaran payudara yang saya alami itu disebut dengan gynecomasty atau ginekomastia. Lama sekali dia memegang-megang payudara saya. Tapi, bayangan saya lebih kepada sirosis yang mengancam nyawa saya. Tidak hanya hari itu. Berkali-kali Shao menjadikan payudara saya sebagai alat peraga untuk mahasiswanya. Saya menerima saja. Bukan karena merasakan remasannya, melainkan itu memang penting agar orang lain jangan sampai seperti saya. Setelah selesai bagian dada, tangannya turun ke perut. Dia periksa perut saya dengan dua tangannya. Dia pejamkan matanya seolah ingin merasakan benar apa yang berubah dari perut saya senti ke senti. Dia goyang-goyang perut saya. “Masih beruntung. Air belum masuk ke rongga perut,” katanya. Prof Shao memang sangat khawatir air yang sudah memenuhi seluruh badan saya juga sudah mulai mengalir ke rongga perut. Sebab, memang begitulah proses yang akan terjadi berikutnya. Air akan “bocor” dan menggenangi rongga perut. Karena itu, penderita sakit liver seperti saya akan berakhir
46
by Moezhanks

juga dengan keadaan perut membesar penuh air. Mula-mula perut akan seperti balon berisi air: Ginjur-ginjur. Dalam istilah medis, keadaan itu disebut dengan ascites. Semakin lama, jumlah air di perut akan semakin banyak dan memaksa perut untuk membesar. Bersamaan dengan membesarnya perut, biasanya pembuluh-pembuluh darah di permukaan perut juga ikut melebar sehingga tampak seperti sarang laba-laba, tapi warnanya merah. Sesuai dengan tampilannya, para dokter menyebut pelebaran pembuluh darah itu dengan istilah spider veins. Pada tahap berikutnya, perut yang besar itu mengeras. Saya sudah berkali-kali melihat perut orang sakit liver seperti ini dan biasanya sudah akan meninggal kurang dari enam bulan. Begitu juga ibu saya dulu. Satu pemandangan yang saya lihat ketika saya masih berumur 12 tahun dan terus hidup sampai saya sendiri dalam posisi akan mengalaminya. Saya sendiri beruntung karena sampai saat transplantasi, saya tidak mengalami yang disebut ascites maupun spider veins itu. “Ini harus dicegah sedini mungkin, sebisa-bisanya,” kata Shao kepada para dokter muda tersebut. Tapi, itu pun sifatnya hanya usaha untuk buying time. Dokter di Singapura berpendapat sama. Dia memberikan dua jalan: Meminum obat agar kencing lancar dan meminta saya untuk tidak banyak minum. Dua-duanya saya jalani. Sampai-sampai saya pernah merasa takut pada air minum. Setiap mau minum, selalu terbayang bahwa sebagian air itu akan terus membuat badan saya bengkak. Sebagian lain akan membuat perut saya membesar, ginjurginjur, dan akhirnya mengeras. Pada awalnya, saya agak terhibur dengan “pil pelancar kencing”. Tapi, lama-lama satu pil tidak cukup membuat kencing saya mengalir lancar. Harus dua pil. Ini pun lama-lama juga sudah kurang manjur. Terpaksa, saya terus mengurangi minum. Beberapa bulan terakhir saya hanya berani minum satu liter saja sehari. Ini karena kencing saya hanya sekitar 700 sampai 900 mililiter sehari semalam. Di Tianjin, Prof Shao memberi saya obat Tiongkok yang sudah berwujud cairan infus. Tiap hari saya diinfus dengan itu dan bengkak berkurang. Kencing lancar sekali. Tapi, kalau infus dihentikan, tetap saja badan kembali bengkak. Shao menjelaskan mengapa demikian kepada para dokter muda beberapa di antara mereka dokter muda dalam ilmu kedokteran Tiongkok. Ketika saya banyak tanya mengenai khasiat dan bahaya setiap obat yang diberikan kepada saya, Shao bergegas menatap wajah-wajah dokter muda. “Lihat sahabat saya ini. Banyak bertanya. Kelak, semua pasien akan seperti ini. Kalian harus bisa menjelaskannya dengan sebaik-baiknya. Pasien memang punya hak untuk tahu,” ujar Shao sambil tangannya tetap di perut saya. Kadang tangannya mampir lagi ke payudara saya. Ini karena di antara dokter muda hari itu, ada wajah baru yang belum diberi tahu bagaimana payudara saya juga membesar seperti gadis menginjak remaja. Lain hari, saya ingin Prof Shao ganti mengajar saya. Sebelum hari yang ditentukan itu tiba, saya beli kertas putih lebar. Lalu, saya tempelkan di dinding kamar rumah sakit. Saya ingin dia menjelaskan secara gamblang rangkaian penyakit saya. Saya juga beli spidol warna-warni untuk membedakan gambar aliran darah masuk dan keluar. Dia tersenyum melihat persiapan saya hari itu. “Wah, saya harus mengajar berapa jam?” tanyanya bergurau. Pipinya yang padat, hidungnya yang agak mancung, badannya yang tinggi, dan rambutnya yang ikal membuat penampilannya sangat aristokrat. Apalagi kalau berat badannya bisa turun satu kilo lagi. “Satu jam 10.000 yuan ya?” guraunya ketika menyebut uang setara Rp 11 jutaan tersebut.

47

by Moezhanks

Di dinding itu dia menggambar isi tubuh saya. Menjelaskannya sangat detail dan terang-benderang. Dia pandai sekali mengajar. Pasti banyak mahasiswanya yang senang. Saya juga belajar yang lain lagi: bahasa. Sebab, bahasa Mandarin yang dia gunakan sangat teknis dengan logat yang sangat Tianjin. Kini tahulah saya secara gamblang penyakit saya, terutama ancaman mati yang nyata di depan mata saya. “Ini tidak ada obatnya,” katanya tegas. Muncul karakternya sebagai pemimpin. “Kecuali istirahat total,” tambahnya. “Obat hanya memegang peranan kurang dari 15 persen. Yang 85 persen lebih adalah perilaku pasien sendiri,” ujarnya. Prof Shao melarang saya banyak jalan, gerak, dan terlalu lelah. Tidak boleh marah, kemrungsung, dan berada dalam situasi tergesa-gesa. Padahal, salah satu hobi saya “mengejar” pesawat. Saya sering tidak sabar menunggu jadwal pesawat. Kalau pesawat yang akan terbang ke suatu tujuan masih tigaempat jam lagi, biasanya saya cari pesawat ke jurusan yang lain dulu. Saya juga tidak boleh merasa kesal. Tidak memikirkan banyak persoalan sekaligus. Tidak boleh mikir yang berat-berat. Saya harus pensiun. Saya hanya boleh memikirkan badan saya sendiri. Tidak boleh lagi mikir orang lain. “Ibaratnya,” kata Prof Shao, “Rumah tetangga terbakar pun, Anda jangan peduli.” Tegas sekali peringatannya. Terang sekali contohnya. Hanya mahasiswa yang bodoh yang tidak bisa memahaminya. Dan saya ternyata termasuk “mahasiswa”-nya yang amat bodoh. (Bersambung)

Ganti Hati 18 – Dokter Menegur Iba, Ingat Nasib Ayahnya yang Redaktur
12 September 2007 BUKAN. Bukan bodoh. Semua penjelasan Prof Shao mengenai bahayanya penyakit saya, saya mengerti sepenuhnya. Terang-benderang penjelasannya. Saya pasti tidak bodoh. Hanya saya sadari, saya agak ndablek. Dan dia tahu perilaku saya itu. Dia tahu keras kepala saya, sembrono saya. Suatu saat, ketika saya kembali menemuinya setelah setengah bulan menghilang, dia lama memandang saya. “Ke mana saja Anda? Kami di sini prihatin sekali. Takut terjadi sesuatu pada Anda,” katanya dengan nada khawatir. Mungkin juga jengkel. “Saya baru datang dari Indonesia,” jawab saya. Dia setengah tidak percaya, setengah gondok. “Lho, setelah dari sini dulu itu, Anda pulang ke Indonesia? Kenapa? Apa kata saya tentang kebakaran rumah tetangga?” ujarnya. Dia lantas menarik napas panjang sekali. “Dahlan, Anda ini sudah gawat. Saya tidak mau kehilangan Anda,” katanya. Berkata begitu, dia seperti setengah menegur setengah mengiba. Dia kembali menarik napas panjang sekali. Matanya kelihatan berlinang. Dia keluarkan tisu di sakunya. Dia usap air matanya. Beberapa hari kemudian, dia bercerita kepada saya mengapa sampai hampir menangis ketika menasihati saya. Ternyata, dia ingat bapaknya. Bapaknya seorang redaktur surat kabar. Ibunya seorang hakim terkemuka. Bapaknya terus menulis buku sepanjang malam. Lalu meninggal. Ternyata karena sakit liver. Dia tidak tahu itu dan tidak memperhatikan itu. Padahal, dia dokter ahli liver. Waktu itu, katanya, dia juga sedang belajar ekstrakeras selain kerja keras. Sebab, dia akan segera dapat beasiswa untuk sekolah lagi di luar negeri. Tapi, semuanya gagal. Beasiswa tidak jadi. Ayahnya pun pergi. Dia menangis lagi saat menceritakan itu.
48
by Moezhanks

Mungkin dikurangi sepertiganya dulu. limpa pun memperlakukan sel-sel darah yang numpuk itu sebagai sampah yang harus disingkirkan.” katanya. Mengapa limpa harus dikecilkan? Limpa adalah organ kecil -yang dalam keadaan normal hanya seukuran genggaman kita.di bawah iga kiri. ya saya lupa menjelaskan bahwa sebenarnya. Kalau kekurangan darah putih. Angka minimal untuk kadar trombosit seharusnya 150 (ini angka dalam standar laboratorium di Tiongkok). platelet akan turun lagi. Setelah itu. Dipotong seberapa banyak? “Sekarang. Saya sendiri juga kepingin agar tidak seperti ibu saya. limpa Anda sudah membesar tiga kali ukuran normal. Tapi. Prof Shao memutuskan perlunya mengecilkan limpa saya. “Limpa dipotong?” kata saya dalam hati. Namanya diembolisasi. Sebab. aliran darah ke liver saya (baca: penderita sirosis) tidak bisa lancar. Oh. Tiga-tiganya bisa mengakibatkan kematian. bukan hanya kadar platelet saya yang turun. darah mengalir balik ke limpa. Bagi limpa. orang akan gampang terkena infeksi dan yang kekurangan platelet akan mudah mengalami pendarahan. Itu berarti sel-sel darah yang “sehat” pun ikut disingkirkan.000 per milimeter kubik darah. jika tidak dihancurkan. serta menyingkirkan sampah-sampah di pembuluh darah.000. Tugasnya melawan infeksi. Yang disebut sampah di pembuluh darah. Tapi. digunakan standar minimal 150. Di negara lain. Akibatnya. Makin banyak darah yang harus ditampung.000 sampai 400. orang yang kekurangan sel darah merah akan mengalami anemia (kekurangan darah).” ujarnya. Dia akan sangat kecewa kalau saya sendiri tidak peduli dengan badan saya. 49 by Moezhanks . memproduksi sel darah merah dan darah putih tipe tertentu. darah akan kekurangan sel darah merah. “Mungkin saya akan mengecilkan limpa Anda. jika dihancurkan semua. Kalau toh ada tanda-tanda bengkak lagi. “Laminating” itu kurang lebih bisa bertahan setahun. termasuk Indonesia. Apalagi dari hasil pemeriksaan total. Prof Shao lantas berpikir keras mencari jalan untuk menaikkan kadar platelet saya. sel-sel sehat dan rusak itu akan mengerak dan mengganggu fungsinya. adalah sel-sel darah yang rusak. Seperti yang pernah saya sebutkan di tulisan terdahulu. Melihat rendahnya kadar platelet saya. Karena jumlahnya di luar batas normal. Prof Shao lebih prihatin pada kadar platelet atau trombosit saya yang tinggal 60. masih bisa “dilaminating” sekali lagi. dia lihat masih ada sedikit peluang.Dia lantas ingin merawat saya semaksimal mungkin agar tidak seperti bapaknya. darah putih. Limpa saya harus dipotong? “Boleh dibilang begitu. Cukup untuk mengulur waktu beberapa bulan. Saya minta waktu berpikir untuk memutuskannya. semakin besar pula ukuran limpa. limpa lantas “membesarkan diri”. Normalnya 150. Hasil “laminating” yang dilakukan di Singapura terhadap saluran pencernakan saya yang sudah penuh varises sangat baik. Untuk menampung limpahan itu. caranya tidak lewat injeksi karena hal itu hanya bisa bertahan dua-tiga hari. dan platelet yang “sehat”. luberan sel darah yang berlimpah itu memang menyulitkan. Untuk menormalkan kadar sel-sel darah saya itulah. Padahal. antara lain.” katanya. Tapi juga sel darah putih dan sel darah merah saya.

limpa akan mati sepertiga. Pemda setuju asal saya mau jadi direktur utama perusahaan daerah di sana. Saya masuk Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel cabang Samarinda. PLN langsung untung. Sudah jadi prinsip saya untuk tidak memanfaatkan keberadaan saya di pers untuk menekan seseorang. Kaltim tidak bisa berharap banyak pada PLN. Pembangkit-pembangkit listrik PLN sangat tidak efisien. saya bisa menyaksikan apa yang terjadi di kolong yang sering digenangi air. termasuk ke limpa. Tujuan satu: agar bisa kuliah. proses perizinannya ternyata sangat panjang. saya sering melihat ke bawah. Membangun PLTU yang efisien.Ini memang bukan langkah permanen. saya kenal direksi PLN-nya. Dan itu akan membuat pletelet juga turun lagi. Mematikan salah satu di antara tiga saluran itulah. Sering ada suara “krosak” di kolong itu yang lebih menarik perhatian saya daripada mata kuliah. darah yang tidak bisa masuk liver akan meluber dan menekan ke mana-mana. kenal wakil presiden. Setahun PLN Kaltim bisa rugi hampir setengah triliun rupiah (2005). Di Kaltim. Sewaktu kuliah. Setamat SMA. bisa mampir ke Singapura. Dari Kaltim-lah. Limpa memiliki tiga saluran darah masuk utama. Sebagai tamatan aliyah. Saya kembali ke Indonesia lagi agar. saya memulai karir sehingga saya anggap Kaltim seperti daerah kelahiran sendiri. yang akan dilakukan Prof Shao. Memang. kenal menteri-menteri di bidangnya. PLN tidak bisa banyak berbuat karena selalu rugi.000-an.250 per watt. saya tidak pernah memanfaatkan kedekatan saya itu untuk urusan tersebut. mereka harus menyalakan lilin. yang utama lagi memakan batin saya. Tentu pemotongan limpa itu tidak bisa dilakukan tiga kali karena sama artinya dengan membuang limpa sama sekali. saya memang tidak mendapat ilmu baru dari mata kuliah yang sudah saya pelajari semua di kelas satu SMA itu. Saya ingin mendapatkan opini pembanding. Saya tetap minta waktu memikirkannya. 50 by Moezhanks . Banyak kampung miskin terbakar karena saat lampu mati. Karena lantai papannya tidak cukup rapat. masih ada satu di antara dua saluran utama yang bisa dimatikan lagi. dua tahap pemotongan limpa tersebut dianggap cukup untuk mengulur waktu sampai lima tahun. ikut kakak sulung saya. Padahal. Kelak. Dua tahun baru beres. setelah dipotong pun. antara lain. Proyek energi yang kelihatannya mulia itu ternyata juga memakan bukan hanya dana saya. Tahun-tahun belakangan Kaltim mengalami krisis listrik. masuk univeristas masih gampang dan murah. Meski tujuannya begitu hebat. Untuk menghasilkan satu watt. Kalau tarif listrik dinaikkan. kelak limpa membesar lagi? Ya. limpa saya masih bisa dipotong lagi. saya memang ke Kaltim. dan menjengkelkan. Artinya. diperlukan biaya Rp 2. rakyat hanya dikenai tarif Rp 750. yang biaya produksi listriknya hanya Rp 500 per watt. Di Jawa saya tidak mungkin bisa masuk universitas karena tidak punya biaya. PLN sudah tahu bahwa hari itu perusahaannya akan rugi Rp 1. Kalau salah satu saluran itu dimatikan. dan hasilnya bagi PLN juga begitu nyata (dari perusahan rugi akan langsung jadi laba). Nah. Jadi. selama liver saya sirosis. Pemadaman terjadi bergilir. Dan. Itulah suara biawak berkelahi. lilin itulah yang sering mengakibatkan kebakaran. sekali lagi. dan bahkan presidennya. Sebab. Anggaran Kaltim yang besar karena sumber alamnya yang melimpah jangan habis untuk kebutuhan konsumtif. Tapi. sejak sebelum matahari terbit pun. tapi hidup di darat. yang terjadi adalah demo. Kalau dijual Rp 750 per watt kepada masyarakat. Saya harus kembali ke tanah air karena sudah terlanjur komit untuk mengatasi kelangkaan listrik di Kaltim. Biawak adalah binatang seperti buaya. agar mau menyisihkan sebagian anggaran untuk investasi di listrik. kalau limpa sudah membesar lagi. Padahal. saya meyakinkan pimpinan-pimpinan daerah di sana. Kalau tahap itu sudah terjadi. mulai gubernur sampai DPRD. Kampusnya di sebuah rumah panggung di Jalan Panglima Batur IV. Seperti yang saya lakukan di Jatim. logikanya begitu baik. tapi juga energi saya. Maka. melelahkan.

Kalau proyek tersebut berhasil. Tapi. Pasti pemerintah di segala lapisan akan senang. bisa jadi. bank tetap mensyaratkan kontrak jangka panjang. Bahkan. tidak boleh lelah. Kalau toh sudah telanjur ada karena masa lalu yang kelam. “Saya saja tidak mau. kepala saya juga pecah ketika membenturnya. ketika setahun mengurus izin ini tidak berhasil (karena sejumlah peraturan yang tidak mengizinkan PLN menandatangani kontrak jangka panjang). yang kebakaran ini bukan rumah tetangga. Tapi kalau tembok ini tidak dijebol. Saya terlalu terpengaruh suasana di Tiongkok. Yang tidak saya pahami adalah mengapa ada peraturan yang menghambat kemajuan seperti itu. Saya memahami aturan bank seperti itu. terutama risikonya. siapa yang mau masuk jadi investor listrik. ujung-ujungnya. Ini gara-gara saya terlalu sering ke negeri itu dan melihat bagaimana antusiasnya pemerintah kalau ada investor datang. Indonesia yang begitu rumit peraturannya. “Ini harus selesai. Apalagi ada bank yang bersedia memberikan pinjaman meski kontraknya hanya tahunan. Bos Bank Mega yang juga bos Trans TV itu yang prihatin dengan keluhan saya. Ini besar bagi saya. Saya ingat kata-kata Prof Shao bahwa walau terjadi kebakaran di rumah tetangga pun. Memang ada juga salah saya. Di kementerian energi saya tidak punya masalah. tidak boleh mikir. saya setuju untuk kompromi. tapi karena Chairul Tanjung yang berinisiatif. Rumah saya sendiri: Kaltim. sebagian lagi sebagai ungkapan terima kasih atas inisiatifnya. Di PLN hanya sedikit masalah. Yakni cukup mendapatkan kontrak tahunan saja dari PLN.Pernah suatu saat saya diajak ke Tiongkok oleh Wapres Jusuf Kalla. Memang. Namun. “Ini memang rusan kecil bagi Anda. Saya menyesal telah berinisiatif mengatasi kelangkaan listrik di Kaltim tersebut. kementerian BUMN. saya akan dicatat sebagai penjebol tembok kebuntuan listrik itu. Ternyata. ya. Saya baru mau masuk ke listrik kalau urusan ini sudah selesai.000 kaki di atas permukaan laut. Persoalan tersebut membuat saya harus mengabaikan peringatan keras Prof Shao bahwa saya tidak boleh terbang. Ini bukan karena saya mengadu. saya tidak boleh peduli. Sebagian karena malu. Juga rumah besar saya: Indonesia. Kalau Dahlan saja mengalami hal seperti ini. Padahal. saya tidak bisa lari dari tanggung jawab itu.” kata bos Bank Mega yang namanya meroket tahun-tahun terakhir ini. Risiko pada keuangan saya dan pada kesehatan saya. Maka. Kalau kontrak tahunan. Saya malu proyek sekecil itu saja sampai dibahas di forum yang begitu tinggi. Saya juga memahami PLN tidak boleh melanggar aturan. Menyesal luar biasa. tidak boleh kesal. PLN tidak melanggar peraturan. 51 by Moezhanks . Tembok tersebut terlalu tebal. Di dalam pesawat yang berada 36. kan sama artinya dengan menyumbang Rp 500 miliar tiap tahun kepada negara? Bayangan saya pemerintah akan membuat segalanya lancar. tidak boleh marah. Saya harus pulang ke Indonesia untuk terus mengurus semua itu. mengapa tidak segera dicabut. Bayangan saya juga begitu sewaktu saya memiliki semangat untuk ikut mengatasi krisis listrik di Kaltim. dia juga ikut dalam rapat tingkat tinggi yang benar-benar tinggi itu. Tinggi level dan tinggi pula tempatnya. Kesalahan kedua saya. Di atas pesawat. “Urusan kecil begini kok panjang sekali. Tapi. Tapi sudah tidak bisa mundur lagi. Tentu sebenarnya juga bukan kecil bagi saya.” kata saya kepada Chairul Tanjung. dan PLN. saya buntu di kantor menteri BUMN. masing-masing dengan birokrasinya sendiri: kementerian energi. Kecil yang saya maksud adalah dari sudut pandang negara. Tepatnya izin dari tiga lembaga. saya kenal Menteri Soegiharto.” tambahnya. Wapres mengumpulkan menteri dan direksi PLN untuk membahas kasus Kaltim itu. Meski kondisi badan saya sudah sedemikian parah. bagaimana yang lain?” katanya. lagi-lagi kami harus mengurus izin kontrak panjang dengan PLN.

Dia juga setuju kalau sampai platelet turun terus. “Setiap orang tidak sama.” katanya. sebelum dicopot) menteri BUMN. “Membuang limpa sama sekali malah lebih safe. orang bisa hidup tanpa limpa.” tambahnya. “Tapi. Mendengar kata “limpa dipotong” saja. Tapi. infeksi di selaput dada. Sebuah persetujuan yang sudah sangat mahal. tentang rencana pemotongan limpa saya? “Kalau tujuannya untuk menaikkan platelet. Kapan platelet saya akan turun sampai angka 50? Berapa minggu lagi? “Tidak bisa diperkirakan begitu. Tiga-empat bulan lagi (akhir tahun ini).” katanya. “Dibuang saja sekalian. ketahanan tubuh saya kian habis dan saya akan mengalami perdarahan dari setiap lubang yang saya miliki. ini sudah bukan lagi soal untung rugi. saya sudah tidak senang.” katanya. Sudah lebih 15 tahun. Yakni. Ini soal krisis listrik yang harus diatasi. Tetapi. pembuangan limpa itu disebut dengan splenectomy. Dalam perjalanan pulang untuk mengurus listrik itu. Lambatnya proses ini telah membuat biaya investasi membengkak luar biasa. Makanya saya tanya ke dokter di Singapura itu. Bisa timbul infeksi di tiga tempat yang akan mengakibatkan kematian.” tambahnya.” tambahnya. Ini juga sama dengan penjelasan Prof Shao. “Ada yang pada angka 60 seperti Anda sekarang sudah perdarahan.” katanya lagi. insya Allah Kaltim mulai bisa mengatasi kelangkaan listrik. bukan saja karena prosesnya. Saya dengar setelah soal Kaltim itu selesai. Bisa saja tiba-tiba drop jadi 50 atau bahkan di bawahnya. Uh! Dalam istilah medis. Fungsi limpanya bagaimana? “Diganti obat. ada juga yang baru perdarahan ketika platelet-nya sudah 50. Orang bisa hidup tanpa limpa. akhirnya sang menteri mengeluarkan surat persetujuan.” jawab dr Shao.Tidak pantas saya sebutkan di sini apa usaha yang saya lakukan untuk mengatasi kebuntuan di kantor (Soegiharto.” tambah dokter di Singapura itu. memang OK. tapi juga akibatnya. saya bisa mampir ke Singapura. sangat berbahaya. Memang. berturut-turut banyak izin yang ditandatangani PLN untuk investor-investor lain. Dan masih akan turun terus. Saya ingin bertanya ke dokter di Singapura. “Tidak apa-apa. infeksi di tempat limpa dipotong. Meski setuju platelet saya harus dinaikkan. Ini malah disuruh membuang. menurut dokter Singapura itu. benarkah limpa saya harus dipotong? Mengapa dokter di Singapura sama sekali tidak pernah menyinggung soal limpa? (Bersambung) Ganti Hati 19 – Waktunya Tiba. Liver baru saya mungkin juga akan ikut berbinar-binar.” jawabnya. kan lantas tidak terlalu tahan terhadap infeksi. Atau telinga. Waktu itu saya juga tanya ke Prof Shao: Pada angka berapa perdarahan itu akan terjadi? Katakanlah platelet saya (yang seharusnya minimal 150) sekarang tinggal 60. Tiongkok. dokter Singapura ternyata tidak setuju kalau itu dilakukan dengan cara memotong limpa. “Singapura sudah lama tidak mau lagi memotong limpa. 52 by Moezhanks . Atau kalau sedang sikat gigi. Yang penting. ketika Menggigit Pisang Berlumur Darah 13 September 2007 SETUJUKAH dokter Singapura dengan pendapat Prof Shao dari Tianjin.” ujarnya. Pemotongan limpa. “Perhatikan saja lubang hidung Anda.

sumur-sumur minyak di sana lebih dalam dan iklimnya juga lebih beku. Tapi. Paginya saya masih di kota Tianjin.” kata saya. Saya janjian bertemu di Kota Dalian. Segera saya gunakan ilmu mantiq saya: sudah berapa kali Prof Shao melakukan pemotongan limpa? “Sudah banyak kali. urusan pabrik steel conveyor belt-nya perusahaan daerah Jatim. Kepada ahli penyakit liver ini langsung saja saya semprotkan pertanyaan berdasar pendapat dokter di Singapura. Giliran saya sendiri yang harus memutuskan. Saya bisa menerima sepenuhnya. Dua-duanya masuk akal. dan urusan menepati janji. Saya melihat betapa semangatnya orang di Daqing (Provinsi Heilongjiang) dan di Panjin (Provinsi Liaoning) menggali minyak. saya akan menemui Prof Shao untuk ’menguji’-nya. pada 2005. mantap. Sudah lama saya gemas. Untuk melihat bagaimana negara itu bekerja keras mencukupi kebutuhan minyak. “Justru membuang limpa itu yang kuno sekali. Tinggal saya yang harus memilih lebih percaya kepada yang mana. untuk bertemu Prof Shao. Kebetulan Dirjen Migas yang baru juga berambisi mengatasi hal itu.” katanya. Di bandara kota itu pukul 24. Saya ingin membantunya meski saya hanyalah rakyat biasa. *** Saya memang harus ke Tiongkok lagi. Dua-duanya bisa diterima secara medis. Di sana cara itu sudah dianggap kuno. Tidak mungkin. “Tentu saya tahu. rasanya. Indonesia. jangan dibuang semua. Tapi. Ini soal pilihan. Padahal. sangat masuk akal.”’ katanya.” katanya. sore itu saya harus ke Dalian. Dengan alat-alat yang lebih sederhana mereka bisa menghasilkan minyak lebih banyak. Saya sering ke ladang minyak di Tiongkok. Saya sudah berjanji kepada Dirjen minyak dan gas yang baru untuk mengajaknya ke Tiongkok. dia tidak mengelak. “Saya minta izin ke Dalian dulu. akan 53 by Moezhanks . Maka. Nanti. Ya. mengapa Indonesia sebagai negara penghasil minyak justru menderita ketika harga minyak dunia membubung? Sampai harus menaikkan harga BBM yang menghebohkan itu? Mengapa tidak justru menikmatinya? Ini semua karena produksi minyak Indonesia terus menurun dari tahun ke tahun. Sudah sangat tidak layak menjadi anggota OPEC. semangat untuk menggalinya luar biasa.00. urusan perusahaan daerah Kaltim. Saya pilih dipotong saja. saya ingin mengajaknya mampir ke Liaoning dan Heilongjiang. sudah berada di bawah satu juta barel per hari. Rumah besar saya. Itu cara 60 tahun yang lalu. Minyak yang didapat pun lebih jelek dibanding minyak mentah Indonesia. sudah. Ada beberapa urusan. Ketika saya tanya soal risiko infeksi di tiga tempat yang sangat membahayakan. yakni saat pesawatnya mendarat dari Shanghai. Suaranya meninggi. “Sudah lebih dari 500. Penerbangan dari Tianjin ke Dalian memakan waktu satu jam. dalam kesempatan saya ke Tiongkok lagi. Maka saya pun memutuskan akan titip nasib ke Prof Shao. Terakhir. Tapi. Jawabannya tegas. Saya ingat usul-fikh ahli sunnah wal jamaah: Sesuatu yang tidak bisa dipakai semua. Hari itu kebetulan Dirjen Migas punya acara di Shanghai. “Siapa bilang itu kuno?” sergahnya. dan percaya diri. juga tahu cara menghindarinya. saya juga berpikir: Masak Prof Shao tidak tahu itu.Penjelasannya. meski singkat. kalau masih sempat. Biar berkurang. karena tengah malam nanti harus menjemput Dirjen Migas di bandara kota itu. Maka saya tidak begitu saja mengambil keputusan membuang limpa. tapi masih ada sisanya. Urusan Jawa Pos sendiri. tentu.” jawabnya mantap. Tapi. “Banyak itu berapa? Berapa puluh?” tanya saya lagi. “Di Singapura dokter tidak mau lagi memotong limpa. Itu.

“Saya bisa usahakan sekarang. sisa pisang itu berlumur darah! “This is the time! Wo de shi jian dao le. dikirim balik ke Tianjin. tidak bisa tanggal 6 Oktober 2006. Ah. “Lakukan sekarang!” kata saya begitu bertemu Prof Shao. Saya tahu tekadnya kuat sekali untuk memperbaiki perminyakan Indonesia. Pagi-pagi kami bermobil sejauh 400 km ke Panjin. Formulirnya dalam bahasa Mandarin. Juga gondoknya kepada saya meningkat. “Ini persetujuan istri saya. setengah melucu.” kata saya. Pagi-pagi Dirjen kembali ke Beijing untuk balik ke Indonesia.” katanya. Dengan datangnya persetujuan istri saya.” kata saya. Hari itu baru selesai. Dan. Saya langsung minta formulir persetujuan operasi dan memfaksimilikan ke Surabaya. Ujung-ujungnya luluh juga hatinya. “Apa?” tanyanya. Harus ada persetujuan istri Anda. atau besoknya. Saya lari ke toilet. Berkumur lagi dan berkumur lagi. Satu jam kemudian saya berkumur lagi.” tegas saya.terbakar. “Mengapa?” tanyanya lagi. Dia sudah sering mengancam untuk tidak mau lagi mengurus saya. Saya terus tersenyum dan memberinya semangat untuk terus membangun dunia minyak. Yakni. doa di balik tekenan itu yang penting. tidak ada darahnya. Harus 8 Oktober. kita nggak tahu maksudnya. Saya pun bertekad tetap memenuhi komitmen saya. “Kalau nanti ada teman Jawa Pos membawa formulir ke rumah. “Potong saja limpa saya. Saya memang sudah beberapa kali operasi kecil. Sorenya bermobil lagi ke kota Shenyang. Saya menundukkan kepala sesaat. Merah airnya. “Mereka ini benar-benar seperti koret-koret (mengais sisa-sisa) minyak. Tiba di Dalian sudah agak malam. untuk mengeluarkan benjolan yang ada di bawah kulit di beberapa bagian di tubuh saya. Pagi-pagi bermobil 500 kilometer ke kota Daqing. Saat menyalami kedatangan Dirjen Migas. dan karena itu saya antusias membantunya. Tapi. “Tidak bisa sekarang.” gurau saya kepada Prof Shao. Dirjen serius sekali melihat semua itu. Jadi. Malam hari balik lagi ke Harbin. “Itu tanda tangan istri saya. Malamnya terbang ke kota Harbin.” kata saya ingin setengah memuji istri saya. yang tidak tahu apa itu doa. Menarik panjang napasnya. Saya lantas menelepon istri saya. saya mengira operasi pemotongan limpa bisa dilakukan hari itu. Bentuknya tidak penting. Memikirkan apa yang harus saya perbuat. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Ternyata harus tiga hari kemudian. Berkumur. saya tahu dia baik.” kata saya tidak ingin menggundahkan hatinya. hilang merahnya. saya tidak menceritakan apa yang terjadi atas diri saya. tanda tangani saja. Saya terbang ke Tianjin untuk pemotongan limpa saya.” katanya. Ternyata Prof Shao tidak tersenyum. Istri saya tidak bertanya banyak. Mengapa? Karena ruang operasinya baru saja dirombak. “Ini apa?” tanyanya melihat tanda tangan istri saya yang tidak lazim untuk mata orang Tiongkok. Saat makan malam itulah saya kaget.” katanya. “Wo bu guan ni. 54 by Moezhanks . Ketika saya menggigit pisang.” kata saya dalam hati. Setelah ditandatangani istri saya. Tibalah sudah waktu saya. “Saya akan operasi kecil. kali ini seperti tidak percaya. Sudah waktunya makan malam. saya tidak boleh menjadi pasien pertama yang menggunakannya. Tapi. Saya lupa kalau dia komunis.” kata saya.

Langsung ke bandara untuk pulang ke Surabaya. Lalu. Saya tidur di rumah sakit. dia merasa risi. “Semua gara-gara Anda. memang tidak dianggap enteng oleh Prof Shao. Saya juga tabik tak hentihentinya. Tiga hari setelah libur. Begitu tinggi tanggung jawabnya. itu kan sudah di luar tangung jawab dokter yang membuangnya. Perawatan setelah pemotongan ternyata begitu sulit. Menunggui Anda. Bulu matanya yang hitam seperti bendera setengah tiang. di kantor saya. Rasa sakit setelah pemotongan itu lebih hebat daripada transplantasi liver.Padahal. Tidak secantik ketika dalam keadaan segar. Tiga minggu berikutnya harus tetap di rumah sakit. semua bisa diatasi. pada hari-hari pertama. saya ingin operasi itu dilakukan pada 6 Oktober. perawatan setelah pembuangan limpa akan lebih mudah. Apalagi. barulah Prof Shao menemui saya lagi di kamar rumah sakit. (Bersambung) Ganti Hati 20 – Baru Tahu Mengapa Dokter Singapura Pilih Potong Limpa Saya 14 September 2007 ANCAMAN infeksi yang serius setelah pemotongan (embolisasi) limpa. waktu recovery saya tidak cukup. Keringat dingin memang memenuhi badan saya. Namun. Itulah sebabnya. Saya mau istirahat. sebulan kemudian saya sudah akan bisa keluar dari rumah sakit. Saya minta maaf berkali-kali karena telah membuatnya tidak bisa pulang. sebagaimana dijelaskan Prof Shao. “Sekarang Anda sudah stabil. Juga lebih lama: seminggu penuh. Kebalikannya. Seminggu kemudian. seharusnya masih di atas tempat tidur di rumah sakit di Tianjin. Tapi. kali ini agak memerah. 55 by Moezhanks . tanggal 5 sebulan kemudian saya sudah bisa keluar dari rumah sakit. Kalau sebelum operasi saya lihat dia sering berlinang air mata. Ini untuk mewakili ucapan terima kasih saya kepadanya yang tidak terhingga. ketika saya di panggung. kini ganti saya yang amat terharu. Begitu besar perhatiannya. suhu badan saya kembali normal dan stabil.” kata saya dalam hati. Matanya yang biasanya tajam.” tambahnya. Lalu seminggu tidak boleh turun dari tempat tidur. Hari itu.” pamitnya. 8 jam saya tidak boleh bergerak. suhu badan saya. Penampilannya memang agak lecek. Tanggal 7 sudah menandatangani perjanjian PLTU Kaltim dengan konsorsium bank dan meresmikan gedung Expo Jatim. “Dua hari saya flu. saat upacara tersebut saya terlihat pucat. Saya tidak pernah membayangkan operasi pemotongan limpa ini akan gagal. naik sangat tinggi: lebih dari 38 derajat Celsius. Setelah operasi. Saya ingin operasi itu dilakukan tanggal 6 karena pada tanggal 7 bulan berikutnya ada acara penting di Indonesia: menandatangani persetujuan proyek PLTU Kaltim dan peresmian gedung Expo Jatim. Saat itulah saya mengerti mengapa banyak dokter di Singapura memilih membuang saja limpa saya daripada memotongnya. Selama seminggu itu pula Prof Shao dalam ketegangan. Bahwa setelah limpa dibuang akan merepotkan pasien seumur hidup. seperti orang sakit. “Sudah lima hari saya belum pulang. dengan mundurnya tanggal operasi. “Mana ada dokter di negara lain yang mau menunggui pasien sampai lima hari tidak pulang. Tahu sedang saya perhatikan. Tabik dengan cara Tiongkok.” ujar dr Shao.” katanya segera. Maksud saya. Wajahnya masih tidak terlalu cerah.

kesal. Pagi-pagi Guo Qiang. Andalah dokter terbaik di muka bumi ini. Guru besar ternama di bidang liver itu seperti langsung membaca alinea yang ’memperkosa’-nya. Bertatapan dengan saya. Wajahnya merah serius. Saya tahu tidak akan diizinkan pulang. Tertutupi oleh jabatan tingginya dan mungkin juga kekomunisannya. meski fakta itu memang saya pakai merayu. Surat itu saya mulai dengan pujian. Ini soal kebakaran rumah memang. Lalu ingat lagi acara PLTU Kaltim dan gedung Expo Jatim yang sudah menanti. Prof Shao seperti kian gondok. Dari ekspresi wajah dan body language-nya. Guraunya selalu ringan-ringan saja.Sekali lagi saya minta maaf berulang-ulang. tiga hari di rumah tidak bisa menikmati. anak saudara angkat saya Mr Guo. Pagi itu. Tidak pernah dikemukakan dengan lepas. ada satu data yang saya sembunyikan. “Jadi. dan gondok bercampur jadi satu. seharusnya di bawah 100 saja. saya tidak tahu apa hubungannya antara sakit saya dan HBV-DNA. Kami terdiam lama. Bahkan. Tapi. Kemampuan bahasa Mandarin saya belum sampai pada tingkat untuk bisa dipakai merayu. “HB saya 13. Setelah menarik napas panjang. Yakni. bukan rumah tetangga. langsung diubah untuk menemui saya. Maksud saya yang akan bisa meluluhkan hati Prof Shao. Saya terpojok. Sampai-sampai banyak dokter muda yang menunduk. Langkahnya cepat. Melihat itu. dia tidak langsung berkata-kata. Bersamaan dengan itu flu datang menyerang. Lama dia tidak berkata-kata. yang mestinya melakukan kegiatan rutin. “Sudah saya duga. barulah dia mengucapkan kalimat yang bernada putus asa. Lalu minta maaf. Dia menatap wajah saya dengan tatapan multi-arti: marah. “Bukankah indikasi-indikasi dalam darah saya sudah menunjukkan bahwa saya kuat terbang jauh?” kata saya memecah kebekuan. “Mungkin. tapi yang terbakar rumah sendiri. SGPT-OT saya mendekati normal.” katanya seperti ingin bergurau. Bait kedua saya manfaatkan untuk ucapan terima kasih. Saya tidak mengadaada. Ternyata saya telah menyiksanya. tekanan darah juga normal. Beberapa dokter muda yang mengikutinya sampai agak tertinggal di belakang. begitu kondisi saya stabil. memasukkan kalimat-kalimat merendah. Setengah memuji. setengah memompa dadanya. Padahal. Tidak menduga sama sekali dia merahasiakan itu dari saya.” tulis saya di pembukaan surat.” katanya. HBV-DNA Anda masih 15 juta. tapi juga berisi memaksanya agar mengizinkan saya pulang. Baru pada bait ketiga saya ’memperkosa’-nya. Lalu saya menunjukkan hasil lab.” kata saya. Mudah-mudahan masih terselip raya sayang di dalam campuran itu. Saya juga mencoba lagi kemampuan ilmu mantiq yang saya pelajari di aliyah dulu.” jawabnya. Tiga minggu kemudian. saya minta menerjemahkan surat yang saya buat. Guo Qiang saya minta menuliskannya dalam bahasa Mandarin yang indah. Tiba-tiba dia masuk kamar saya dengan menggenggam surat itu. Mungkin merasa kok saya seperti sok tahu kedokteran. saya harus pulang. “Tapi. badan saya sudah terasa enak. “Semua itu benar. “Mana ada dokter yang mau lima hari tidak pulang untuk menunggui pasiennya?” saya menunjukkan fakta. Saya lihat Prof Shao mulai menitikkan air mata. Rayuan saya ternyata telah diabaikannya. ketegangan lima hari yang mencekam dirinya hilang.” katanya. Rupanya. dokter-dokter muda yang menyertainya menyerahkan tisu 56 by Moezhanks . Plt saya sudah 120. Prof Shao seperti tidak membaca alinea pertama.

(Bersambung) Ganti Hati 21 – Yang Pro dan Yang Anti-Transplan Bertinju Sengit dalam Pikiran 15 September 2007 KALAU saja saya dulu peduli sedikit dengan badan saya. Juga sudah terhindar dari ancaman tibatiba perdarahan dari lubang-lubang tubuh saya.kepadanya. sebelum potong-limpa itu saya juga sudah dua kali melakukan TACE di Singapura. Apalagi. Kini saya sudah terbebas dari ancaman tiba-tiba meninggal. Semua itu hanya usaha untuk ulur-waktu. Dengan diungkapkannya data soal kadar HBV-DNA saya. Saya sudah hampir menubruk kakinya. “Ya. saya putuskan untuk berbuat ini di depan Prof Shao. Sakit saya sudah terlewat parah. Lalu Prof Shao menarik napas panjang. Yakni. obat yang saya siapkan nanti harus diminum.” katanya melemah. Sebulan kemudian sudah normal. Dia menahan tangis. tapi belakangan sebenarnya keluar obat baru yang harus diminum tiap hari.5 juta. mengusahakan pembunuhan atas dua kanker liver saya dengan cara dimasuki alat pembunuh lewat selangkangan saya. Tapi. Maka. Termasuk mempertimbangkan untuk transplantasi. Kalau toh obat itu juga tidak berhasil. buying-time. Dia tahu saya tidak pura-pura. Tidak bisa dicegah. Tanggung jawab kepada rakyat Kaltim dan Perusda Jatim. Saya terjepit antara keharuan dan romantisme di satu pihak dengan rasa tanggung jawab di pihak lain. Turun dari tempat tidur dan ingin bergegas mencium kakinya. dari rumah sakit saya langsung ke bandara. tapi sekaligus minta dengan sangat agar diperbolehkan pulang. setidaknya saya kini punya kesempatan beberapa bulan untuk memikirkan cara terbaik mengatasi sirosis-kanker saya secara permanen. Demikian juga istri saya. sebenarnya masih ada jalan agar terhindar dari transplantasi. Tapi. Juga terhindar dari potong-limpa. Lalu muncullah keteguhan dalam hati saya untuk lebih mementingkan tanggung jawab itu. Ini sebagai tanda bahwa saya minta maaf yang dalam. Obat tersebut harus disuntikkan tiap 57 by Moezhanks . Tanggung jawab dan risiko sebagai pimpinan. Kini ganti saya yang lebih banyak menitikkan air mata. Robert Lai juga mengusap-usap matanya. Mata saya juga mulai berlinang. Saya pakai kursi roda selama dalam perjalanan pulang. Nama generik obat itu Octreotide (karena saya tak boleh menyebut nama obatnya). Saya tahu semua itu tidak menyelesaikan persoalan. ternyata saya belum prima. “Bangun”-nya virus hepatitis B akan langsung menyerang liver hingga kelak jadi sirosis. Prof Shao bergegas mengangkat kepala saya. Saya harus lebih hati-hati. Tanggung jawab yang juga tidak kecil. masih ada obat lain yang lebih mahal. Seminggu kemudian sudah menjadi 1. Besok paginya. sudah. *** Kian hari kondisi saya kian baik. Katakanlah suntikan interveron yang saya jalani sampai 70 kali (setiap dua hari sekali) itu tidak berhasil “memingsankan” virus hepatitis B saya. Saya akan izinkan. Agar virus yang tidak mungkin lagi dikeluarkan dari liver itu “tidur nyenyak” saja di dalam liver. Saya dalam posisi sulit. HBV-DNA saya juga menurun drastis.

Sedang dua obat yang lain saya ketahui dari Prof Shao. kalau dipotong. dokter harus memasukkan sejenis metal berbentuk kail yang punya 58 by Moezhanks . Kalau sudah kena hepatitis. bagi pasien yang ingin sembuh dan punya uang. kata “transplantasi” sebenarnya masih jauh dari pikiran. Harga obatnya saja. di-RFA (radio frequency ablation) atau di-TACE (trans arterial chemoembolization). Meski bentuknya masih pertanyaan “masak harus sampai transplan?”. dengan memotong bagian yang terkena kanker. Banyak teman menganjurkan juga untuk pindah ke jalur alternatif. Masak saya sampai harus melakukan itu? Masak saya separah itu? Masak tidak ada jalan lain? Masak tidak akan ada keajaiban? Masak tidak ada obat alternatif? Masak tidak ada dukun atau kiai yang linuwih (punya ilmu lebih)? Tapi. Selain Octreotide. Termasuk mulai mempertimbangkan kata yang mengerikan itu: transplantasi liver. Ke obat tradisional atau ke kekuatan supranatural. untuk sekali suntik. dia akan punya kemungkinan terjangkit hepatitis. Sebab. saya harus tetap rasional. selain kemoterapi. untuk membakar (mengablasi) sel kanker saya. Begitu pula kalau masalahnya hanya kanker (kanker kok juga dibilang “hanya”). Baru dua tahun lalu saya mendapatkan informasi tentang obat-obat itu. Nama generiknya Thymalfasin atau Thymosin Alpha-1. Setidaknya. akan menyebabkan pendarahan hebat yang bisa membunuh saya. pasti akan menjadi kanker. bisa membantu saya buying time. saya tetap memakai obat-obat tersebut. Untuk memberikan kesempatan bagi saya memikirkan harus melakukan apa yang lebih mendasar. Baik yang kejawen maupun yang dibungkus religius. masih ada tiga cara lain untuk mengatasinya. Tapi. liver saya sudah “dikeroyok” sirosis dan kanker. Misalnya. Semua saya ketahui setelah liver saya menjadi sirosis. Permukaan liver yang mengeras itu. Yang Anticavier saya ketahui dari dokter di Singapura. tapi mungkin masih bisa diperlambat. tapi itu juga berarti secara tidak sadar kata “transplan” sudah mulai masuk dalam proses internalisasi ke pikiran saya. sekalipun oleh dokter yang paling pintar. Karena itu. Sayang. kosa kata “transplan” sudah mulai masuk di bawah sadar. transplantasi masih bisa ditunda. Masalahnya. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Waktu itu. Mengolor waktu. Meski sirosis tidak bisa disembuhkan. Itu tidak mungkin karena sirosis membuat permukaan liver saya mengeras. Dan bahkan ketika sirosis saya sudah berkembang ke kanker. masih ada satu obat baru lagi yang juga harus disuntikkan ke saya selama sembilan bulan berturut-turut.” kata teman saya.dua hari sekali selama sembilan bulan.1 juta. saya tahunya sudah sangat terlambat. “Siapa tahu ada rekayasa Tuhan di situ. Dan kalau sudah sirosis. sehingga tidak mudah untuk mengatasi kankernya. pasti tergoda untuk mencobanya. Yakni. mau dipotong bagian yang ada kankernya. sekitar Rp 1. Karena itu. Tetap menggunakan pemberian Tuhan yang sangat berharga itu: otak. pasti akan mengarah ke sirosis. Antara satu dokter dengan lainnya memang masih berbeda pendapat mengenai keampuhan obatobat itu. Pendarahan di liver sangat tidak mudah untuk dihentikan. Rekayasa Tuhan? Apakah Tuhan punya hobi merekayasa? Saya lebih percaya bahwa Tuhan akan konsisten dengan sunatullah-Nya. Satu proses awal dalam sebuah perjalanan spiritual untuk sampai pada kata akhir: siap transplan. Kalau persoalannya hanya sirosis (sirosis kok dibilang “hanya”). Termasuk sunatullah bahwa kalau tidak melakukan imunisasi hepatitis. Yang ini nyuntiknya sebulan sekali. Begitu pula kalau mau di-RFA atau dibakar dengan energi panas. meski telat. Sebab.

sel-sel darah putih yang baik pun ikut dikubur oleh organ itu. Kalau saya biarkan. karena limpa saya terus membesar. Darah putihlah yang menguburkannya dengan cara “memakan”-nya. obat kemonya tidak diinfuskan seperti umumnya kemoterapi. transplantasi juga masih bisa ditunda dengan cara di atas. Bedanya. Cara itu tentu sangat membahayakan saya karena mata kail tersebut harus lebih dulu menjebol permukaan liver saya. Namun. Bahkan. Makanya. ke mana bangkai-bangkai darah merah tersebut? Itu juga membuat problem sendiri pada tubuh saya. sehingga terjadi pendarahan. kalau pinggang saya kena bola atau kena sodok. Pekerjaan mengubur dan menghancurkan bangkai sel-sel darah merah itu dikerjakan di limpa. Jadi. Limpa saya saja sudah membesar. saat itu jumlah darah putih saya terus menurun. Tindakan itu jelas bisa menyebabkan liver mengalami pendarahan. Sudah tiga kali lipat lebih besar daripada limpa orang normal karena darah yang tidak bisa lancar masuk ke liver mbendal (terpental) masuk ke limpa. Kail itu ditembuskan ke dalam liver melalui perut. Lama-lama. Kalau sampai tahun lalu. saya akan sangat gampang terkena virus. Itu sudah termasuk mencabut kateter di pangkal paha saya dan membalut kuat-kuat bekas sayatan yang di paha. Seharusnya kadar darah putih saya minimal 200. diputuskanlah untuk membunuh kanker saya dengan metode TACE. limpa yang membesar membuat darah putih saya menurun. yang sudah ikutan rusak adalah saluran pencernaan. empedu. kateter itu lantas didorong masuk sampai ke arteri (pembuluh darah yang membawa darah bersih dan sari makanan dari jantung) yang di hati. darah putih berfungsi. Cara itu pada prinsipnya sama dengan kemoterapi. untuk memblokir cabang-cabang arteri di liver yang melewati sel kanker saya. Tidak pecah pun. diharapkan sel-sel kanker saya akan kelaparan dan tak lama kemudian mati. Selama hampir semalam saya tidak boleh turun ranjang karena khawatir luka sayatan itu terbuka. selaput perut. kalau problemnya hanya sirosis dan kanker (Huh! Sirosis dan kanker kok masih dibilang “hanya”). melainkan diinjeksikan langsung ke sel kankernya melalui selang kecil panjang (kateter) yang dimasukkan melalui pembuluh darah besar di pangkal paha (arteri femoral). melalui kateter yang sama. akibatnya bisa fatal karena sayatan tersebut menembus sampai ke pembuluh darah besar di paha. Sementara bangkai sel-sel darah merah makin bertambah. Tapi. limpa bisa pecah: mati. akibat sirosis itu. saya sudah tak bisa bertahan dari infeksi. kerusakan pada bagian tubuh yang masih baik akan terus terjadi. saat itu. bagian-bagian tubuh saya yang lain ikut rusak dan bisa saja jadi penyebab kematian yang lebih besar. menguburkan sel-sel darah merah yang mati. Karena itu. Saat itu tinggal 60-an. Kalau turun 10 poin lagi. persoalannya. sejenis sinar rontgen. Dengan begitu. Daya tahan tubuh saya sangat menurun. Setelah obat kemonya menembus sasaran. antara lain. Padahal. platelet saya 59 by Moezhanks . Jadi. Kalau itu terjadi. Padahal. Dengan bantuan fluoroscopy. barangkali ginjal. Karena darah putih yang sangat kurang itu. jantung.beberapa mata kail. Ini perlunya untuk menutup akses makanan ke sel-sel kanker itu. sebelum masuk ke sel kanker. dokter lantas memasukkan lagi obat lain. dan limpa saya. dan paru saya juga segera rusak. Tindakan medis tersebut memakan waktu kurang lebih dua jam. Limpa saya itu kian hari masih akan terus membesar. Sel darah merah memang harus mati dalam kurun waktu tertentu dan harus “dikuburkan”.

Jadi. Akhirnya. Kegagalan transplantasi yang dilakukan tokoh Nurcholish Madjid (Cak Nur) sungguh menjadi alasan pembenar yang kuat sekali bagi kubu yang tidak setuju transplantasi. kalau misalnya kankernya sudah sampai di vena porta (pembuluh darah balik yang utama di liver). Seperti yang sudah saya singgung sebelum ini. mungkin juga akan lebih sulit. hidung. kalau ginjal dan paru sudah ikut rusak. mengapa banyak juga yang sulit khusyuk? Sampai-sampai. Setiap saat bisa pecah. memang transplantasi Cak Nur gagal. Kita tidak tahu pastinya. saya pernah takut makan ikan. Atau. “Pak Dahlan pun. bahkan dari lubang kemaluan. 60 by Moezhanks . kalau gagal gimana?” tanya kubu yang anti-transplan di tim saya. Semua itu gara-gara liver yang sirosis. lalu melukai dan menusuk balonbalon itu. Saya sudah biasa menghitung komposisi psikologis dan rasionalitas dalam setiap mengambil keputusan. meski mungkin saya bisa membunuh sel-sel kanker dengan TACE dan berhasil memperlambat proses kerusakan total liver oleh sisrosis. sudah pasti pertimbangan yang lebih didominasi perasaan. “Bukankah terlalu banyak contoh transplan yang gagal?” tambahnya. cuma ada satu jalan: transplantasi liver. Dari sekadar tamu yang sedang mampir menjadi penghuni utama. penyebabnya kan jelas: virus Citomegali.” kata pro-transplan. mungkin telanjur sangat parah. ketika membran selaput dada sudah kena infeksi. Juga bukan ahli agama. bulatlah tekad saya: ganti liver. status kata “transplan” pun meningkat dalam pikiran saya. Karena itu. Misalnya. bisa saja karena kondisi Cak Nur sendiri yang memang sudah lebih parah daripada kondisi saya saat ditransplan. sewaktu-waktu saya terancam mengalami pendarahan dari mana saja: dari mulut. darah-darah yang mbendal itu juga memenuhi saluran percernaaan saya (varises esofagus). ketika air sudah memenuhi rongga perut (ascites). Lalu. Artinya. untuk itu. Secara tidak formal. Atau. Maka. Saya ingin mendapat pertimbangan yang arahnya berlawanan. Bukan secara rasional-teknis-medis. dindingdindingnya berubah jadi balon-balon berisi darah. Sehingga. Tapi. Satunya lagi yang pro-transplan. Tapi. saya memang membentuk dua tim. telinga. ketika memulai sembahyang harus mengulangi takbir berkali-kali? Mengapa ada orang yang mudah menangis ketika berdoa? Mengapa ada yang tidak bisa menangis? Gejala agamakah? Gejala psikologiskah? Saya bukan ahli psikologi.juga terus menurun. Virus yang munculnya hanya dalam kasus transplantasi. Atau. saya kalahkan. “Tapi. Bahkan. Dan “kubu antitransplan” di tim saya juga tidak tahu mengapa Cak Nur gagal. Kuat secara psikologis. Tapi. Tim yang pro-transplan mengemukakan. saya sering merenungkan (yang sampai sekarang belum sampai pada kesimpulan) soal yang rumit dan peka ini: khusyuk itu gejala religi atau gejala psikologi? Mengapa ada orang yang mudah khusyuk? Tapi. Kecuali liver saya segera baik. Takut tulang-tulang kecilnya masuk ke tenggorokan. Saya bisa mati hanya oleh satu tulang ikan yang amat kecil. hanya karena terkena benda tajam seperti keripik atau tulang ikan atau roti kering. Dan. Ada yang lebih berbahaya lagi. proses kerusakan di organ lain ternyata tak bisa saya hentikan. Satu yang punya pendapat jangan transplan.

Begitu pasien ragu-ragu. tidak bisa bekerja dengan baik? “Itukah hidup? Untuk apa hidup kalau kondisinya harus tersiksa seperti itu?” serang tim pro-transplan tibatiba. “Saya mantap dengan transplan.” kata saya. kedekatan budaya. Kedua tim masih akan terus bertinju. kedekatan dengan Indonesia. bel sudah menunjukkan bahwa waktu sudah habis. “Katakanlah transplantasinya berhasil. Tapi. Lalu. Akan bisa bertahan hidup berapa tahun lagi?” katanya seperti sedang mulai memberikan pukulan tinju kepada tim saya yang pro-transplan. kita sudah tiba pada kesimpulan transplantasi akan gagal. Ada tiga yang harus dipertimbangkan. Bertubi-tubi ayunan tinju dihokkan ke wajah tim yang pro-transplan. ditutup dengan pukulan upper-cut yang telak: sama-sama bisa bertahan lima tahun. “Memang peran pasien sendiri amat menentukan. Kehebatan dokter. Lalu mengalikan bobot dan nilai. Tiga faktor itu saya sebut sebagai “persyaratan mutlak”. menjalankan satu proses yang disebut problem solving. dan ketepatan rumah sakitnya. Dari situ baru kami tentukan tempatnya. mengapa harus berjudi dengan transplan? Sebagai dewan juri yang harus adil. Keheningan terpecah oleh suara salah satu tim pro-transplan. Hasil perkalian tertinggi. tali ring menyelamatkannya: Tapi. “Ya. Seperti kata dokter di Singapura itu. Saya sudah terbiasa. apakah kita harus membiarkan Pak Dahlan selama lima tahun menjalani kehidupan dengan kualitas yang buruk? Harus selalu dikemo. Apakah kalau tidak ransplan tidak bisa bertahan lima tahun lagi? Dengan obat-obat yang kian maju?” tanya tim yang anti-transplan. kubu “anti-transplan” di tim saya masih punya alasan lain. juga tidak boleh. Sampai mau terlempar dari kanvas. barulah saya menentukan langkah. Apakah tidak ada bibit kanker yang akan mbalik ke liver baru? Apakah bibit virus hepatitis B yang sudah ikut beredar di darah tidak menjangkiti liver baru? Lalu jadi sirosis lagi? Jadi kanker lagi? “Katakanlah setelah transplan masih bisa hidup lima tahun lagi. tidak bisa makan enak. diTACE. Berburu Banyak Ikan Kutuk 16 September 2007 SETELAH hati mantap melakukan transplantasi. dalam setiap akan mengambil keputusan. saya melihat tim pro-transplan sempoyongan. Satu proses untuk melakukan pembobotan dan penilaian atas semua pilihan. Pemenang sudah harus ditentukan sebelum salah satunya KO. itulah pilihan terbaik. Kemantapan tekad pasien akan menjadi kunci suksesnya. (Bersambung) Ganti Hati 22 – Ingin Naikkan Albumin. Kalau kita paksakan transplan tapi pasien tidak mantap. dan kedekatan bahasa. Dengan segala risikonya. Saya mantap transplan.” kata saya. Tapi. keluar-masuk rumah sakit. Saya pernah disekolahkan 61 by Moezhanks . kesediaan donor.” katanya.Tapi. Misalnya. Semua diam. Lalu masih ada sejumlah “persyaratan keinginan”.

Proses manajemen itu kemudian saya bawa juga ke dalam jurnalistik. dialah dokter Tiongkok yang paling jago di bidang transplantasi liver. Tapi. rekor transplantasi tanpa transfusi darah. Belanda. Umurnya masih 52 tahun dan badannya tinggi tegap. Khususnya tower yang baru. Dari proses itulah lantas kami pilih dokter ini. bisa saja mempekerjakan juru bahasa. Yakni. Juga. Mungkin tidak akan diakui sebagai salah satu teori jurnalistik. Pengalamannya juga luar biasa. di satu kota di belahan utara Tiongkok. Tangan anak muda. terutama. Singapura.untuk itu di Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Manajemen (LPPM) ketika saya masih jadi wartawan majalah berita mingguan TEMPO. Saya memang sangat pro anak muda. tapi masih muda. tidak akan semulus kalau diri sendiri yang tahu bahasa itu. Urat-uratnya kukuh. mengenal baik budayanya. Berkali-kali saya ke kota itu. mengindikasikan akan kuat dalam menghadapi tekanan mental maupun fisik. Boleh dikata. Dari masing-masing negara kita pilih satu nama. Saya mengenal baik kotanya. Amerika. barangkali bisa diabaikan. Masih juga ada satu pertanyaan: maukah dia menangani saya? Ada waktukah dia? Inilah tugas Robert berikutnya. Itulah yang membedakan wartawan Jawa Pos dengan wartawan lain. Itulah salah satu sumbangan ilmu manajemen ke dalam praktik jurnalistik di Jawa Pos. Namun. Maka. sebagaimana yang dilakukan orang-orang Jepang dan orang dari negara-negara Arab. akan lebih firm ketika memegang pisau bedah. Artinya. Dan. Wartawan Jawa Pos harus menjalankan ’10 rukun iman’ atau ’Ten Commandments” yang saya tentukan. Padahal. Penampilannya meyakinkan. menurut logika saya. tapi saya sudah mengenalnya dengan sangat baik. transplantasi untuk pasien tertua (76 tahun). Dan. mau tidak mau harus dipenuhi. Hasil kunjungan Robert Lai sangat memberi harapan. Sudah melakukan tranplantasi liver lebih dari 500 kali. dia selalu berhasil menjalankan misinya. Tentu hal ini tidak diajarkan di fakultas publisistik atau di akademi wartawan. Maka sudah tidak tengok sana-sini lagi: Di sinilah saya akan melakukan transplantasi liver. sudah membukukan beberapa rekor: Rekor terbanyak. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kalau saya tidak bisa sedikit-sedikit berbahasa Mandarin. Sangat bersih dan terawat. Bahkan. Kunjungan pertama saya ke sana sekitar 10 tahun lalu. tapi saya tidak peduli. Saya langsung jatuh cinta pada kunjungan pertama. Proses yang sama saya terapkan dalam melakukan analisis problem-solving atas tekad saya yang sudah mantap melakukan transplantasi liver. reputasinya yang tinggi sebagai pusat transplantasi liver sudah sangat terkenal. Saya sendiri pun lantas mengunjunginya. Kita pelajari track record-nya. dan sedikit banyak sudah bisa berkomunikasi dengan bahasanya. Hati saya mantap sekali. Sungguh tak terbayangkan bahwa tekad saya untuk belajar bahasa Mandarin lima tahun lalu ternyata saya sendiri yang akan memetik manfaat terbesarnya. tim menyeleksi dokter-dokter ahli transplantasi di dunia: Australia. Untuk Indonesia kota ini tidak populer. masih ada satu yang meragukan. Saya ingin dokter yang berpengalaman. Memang. Apa itu? Tempat! Apakah di Tiongkok ada rumah sakit yang bagus sekali? Bukankah rumah sakit di sana terkenal joroknya? Untuk ini Robert Lai memeriksa rumah sakit tempat dokter itu berada. dan Tiongkok. Saya percaya hanya yang muda yang bisa diajak balapan di segala bidang. Alat-alatnya juga amat modern. Saya ajarkan sebagai doktrin di Jawa Pos. Dia memperoleh pendidikan khusus untuk ini di Jepang. rekor transplantasi untuk pasien usia dini (3 tahun). yang saya ragukan ini masuk dalam ’persyaratan mutlak’. 62 by Moezhanks . umurnya. Jepang. Kalau hanya masuk ’persyaratan keinginan’.

Saya tahu tidak ada operasi pada Sabtu dan Minggu. Pasien dari negara Arab di sebelah kamar saya berteriak-teriak sepanjang malam. saya sering lupa kalau di lengan saya sudah dipasangi selang kecil yang ujungnya ada di dekat jantung. Maksudnya. saya tahu lebih jelas mengapa dia berontak. saya sering tidak dianggap orang asing. Pagi 2 jam. Ini saya ketahui setelah saya bicara kepadanya dalam bahasa Arab. Problem transplantasi adalah di kesediaan donor.Bahkan. Tapi. Atau mendengarkan ayat-ayat Alquran yang kasetnya dia beli di Makkah. Saya mencoba menengoknya. pagi-pagi ikatan sudah akan dilepas. Dia tahu belum tentu transplantasi bisa dilakukan segera. Bahasa Arab saya sudah banyak yang hilang sehingga perlu waktu lama untuk mengingat banyak kata yang jarang dipakai. Suatu malam saya tidak bisa tidur. banyak juga orang dari wilayah selatan atau dari Hainan yang juga berkulit seperti saya. Rupanya rumah sakit masih khawatir dia akan berontak sehingga terus diikat. Ternyata pasien itu ingin menelepon keluarganya. membeli mobil. Tahulah saya bahwa dia masih diikat di ranjang. Apalagi sosok saya yang sosok Asia. Istri saya tidur di ruang tamu. sore 2 jam. Dia memilih mendengarkan lagu-lagu kasidah dari CD yang dia bawa. Robert juga langsung menyewa apartemen untuk setahun. Ternyata dia berontak karena ada janji. mungkin juga karena sering telepon memang tidak baik bagi pasien seberat dia. ayat-ayat mulai Al Fatihah sampai terakhir surat An Nas dari imam salat tarawih di Masjidilharam. Di salah satu plaza di sana. tinggal di apartemen. Suatu saat saya ke Kota Dalian. Dua kali sehari. Ini penting untuk kesehatannya sendiri. Mungkin untuk menghemat pulsa. Dia tahu saya tidak akan bisa hidup tanpa jaringan internet. satu jam penerbangan dari kota ini. Kita bisa mencoba main squash tanpa harus lari-lari mengejar bola. Saya tinggal di rumah sakit. Saya lupa akan selang infus di lengan saya. Karena itu. Apakah dia sudah terkena kanker? Apakah kankernya sudah sampai ke kepala sehingga mengganggu otaknya? Paginya dia berteriak-teriak lagi. dan juga Robert. tapi tidak diizinkan. saluran internetnya. Lalu dia sumpek sendiri membayangkan sulitnya. saya bisa kembali segera. sudah lebih siap. Pada hari-hari seperti itu saya terbang ke provinsi lain. yang ada ruang tamunya. Saya boleh terbang-terbang asal masih dalam radius empat jam penerbangan. Sudah beberapa tahun saya dan istri selalu di Makkah saat akhir Ramadan. ternyata tidak. Siangnya. Keesokan harinya lengan saya sakit sekali. Selang infus itu diperlukan kalau tiba-tiba harus transplan. dapurnya. karena hampir selalu berbahasa Mandarin. Kalau akhir pekan. Bahwa kulit saya agak hitam. Masa menunggu tidak bisa ditentukan. mencari sopir. pembantu rumah tangga. Saya main squash cukup lama. tiba-tiba ada donor). ada penjual raket squash dengan bola yang diikat tali karet. dan juru masak. Untuk membunuh waktu saya memutuskan meneruskan belajar bahasa Mandarin. Yang tidak mengizinkan adalah kerabat yang menunggunya. Yakni. Keluarga saya. kalau ada sesuatu yang mendadak (misalnya. 63 by Moezhanks . saya pamit ke kota lain. Istri saya sering melihat bagaimana saya belajar. Robert juga langsung memesan kamar terbaik. Guo Qiang mencarikan gurunya: tiga gadis yang masih kuliah di tahun terakhir IKIP setempat. Badan saya memang sangat sehat secara fisik lahiriah. Dia memang tidak bisa berbahasa Inggris. Sepanjang selang itu (mulai dari lengan sampai dada) kemeng sekali.

64 by Moezhanks . Luar biasa senangnya. Saya menyarankan agar menambah “nol” di pijitan terakhir. Ternyata dia juga sudah mengantongi secuil kertas lusuh berisi nomor telepon. Seorang peneliti padi yang dulu hidup di desa selama 20 tahun. sering untuk tasbih) kini menjadi orang terkaya nomor 200 di Tiongkok. Satu-satunya orang yang melakukan penelitian terhadap ikan kutuk. Saya juga harus menjaga agar protein di darah saya. Penjual ikan di Pasar Rungkut hafal betul dengan istri saya. dan seterusnya. Dalam masa penantian itu saya tidak boleh terkena flu. Sambil menunggu dan menunggu. Tapi. Tapi. mulailah saya minta istri saya berburu kutuk setiap hari. Yang saya tahu kehidupan Prof Suprayitno amat sederhana. Ikan kutuk ternyata tidak ada di tempat lain. Karena flu saja bisa mengurangi potensi kesuksesan transplantasi. Sebab. Ternyata nyambung. Akhirnya saya rayu dia untuk memberikan cuilan kertas itu. Untuk menambah protein banyak sumbernya. Mulai daging. Saya hanya perlu transplantasi liver. sebagaimana umumnya guru besar di Indonesia. Tapi. Jadi amat berharga. Saya menghubungi guru besar Unibraw. kini menjadi pemegang saham perusahaan pembibitan dengan aset triliunan rupiah. Tahulah saya bahwa angka yang dipijit kurang satu digit. Dalam bahasa Inggris dikatakan “ikan kepala ular”. di Nanjing. Tapi. Dia mendiktekannya ke suster dengan bahasa Inggris yang amat tidak jelas. Di Tiongkok. berarti nol. “Saya memang tidak sakit. Tapi. Badan saya harus sehat. dan melihat saya bisa bicara Arab. yang biasa menyediakan menu ribuan macam di internet mereka dalam bahasa Mandarin. saya terus menjaga kondisi. Lalu muncul di pikiran. Titik. Dia mulai kesal dan uringuringan. tentu saya akan kesulitan membawa kutuk ke sana. terutama albumin. Prof Eddy Suprayitno. meningkatkan albumin luar biasa sulitnya. Di setiap kota yang saya singgahi saya perlukan untuk mengunjungi pasar ikannya: di Nanchang. saya tidak menemukannya. Satu orang yang meneliti satu jenis tanaman liar yang disebut ’tear drop’ (di desa saya dulu disebut manikan. Saya lupa bertanya apakah Prof Suprayitno sudah mematenkan penelitiannya dan memikirkannya untuk sebuah industri. Di Tiongkok. buah manikan ternyata mengandung khasiat antikanker. Di Kalimantan disebut ikan gabus. Tidak ketemu. di Dalian. Saya melakukan senam dan tidak mengenakan baju pasien. Suster tidak tahu dan pasien juga tidak jelas melihatnya. karena saya akan tinggal lama di Tiongkok. Malang. di Harbin. angka-angka itu angka Arab. Para suster bilang bahwa saya ini bukan seperti orang sakit.Ketika penunggunya lagi pergi. masak tidak ada kutuk di Tiongkok. setiap kali nomor itu dihubungi selalu gagal nyambung.” gurau saya kepada mereka. Satu-satunya sumber albumin adalah sahabat kecil saya dulu di desa: ikan kutuk. di Qingdao. karena bentuknya seperti ular yang amat pendek. tidak terus merosot. juga tidak ditemukan satu pun jenis makanan yang dimaksud. Setelah penjelasannya meyakinkan. di Wuhan. Mengapa? Ini karena ada satu titik di belakang angka-angka itu. Maka saya mencari kutuk di sana. dia minta tolong saya untuk memberi tahu perawat agar membantunya menelepon keluarga. Entah sudah berapa ton saya mengonsumsi sop kutuk. Dia lantas menyodorkan hand phone yang rupanya tidak dibawa pergi oleh penunggunya. dalam huruf Arab. Berminggu-minggu kami mendalami internet untuk mengetahui makanan apa saja yang bisa menaikkan albumin. peneliti seperti itu jadi kaya raya. putih telur sampai ikan.

Badan saya harus sehat menghadapi operasi besar. keluar peraturan baru: tidak gampang lagi pasien asing mendapatkan donor. mempertahankan albumin menjadi amat penting. setelah dua bulan tidak juga ada tanda-tanda akan mendapat donor. Akhirnya. itulah ikan yang saya cari. Sebagaimana juga di Kaltim. menjelaskan panjang lebar bagaimana satu hari tadi dia berusaha mencari ikan satu ember itu. Ibaratnya saya harus seperti kerbau yang akan dijual untuk disembelih: Harus sehat dan gemuk. Saya memutuskan sabar menunggu. teman saya di pelosok desa mengabarkan di desanya banyak ikan kutuk. ternyata terhalang aturan baru itu. “yu” artinya. waktu menunggu sering tidak sampai sebulan. saya ingin pulang dulu dua hari. (bersambung) Ganti Hati 23 – Datang Tawaran Liver Hidup dari Orang Muda asal Bandung 17 September 2007 SAYA hampir kehilangan momentum. Anda bisa menduga sendiri. Tapi. Kali ini untuk menyelesaikan urusan di Kalimantan Barat. Saya pernah ke desa itu sebelum tahu bahwa saya punya sirosis. Bapak teman saya. saya ingin ikut mengatasi krisis listrik di Kalbar. Saya merasa punya tanggung jawab yang belum saya penuhi. Kutuk. Saya mengatakan “benar”. sungguh sulit mengatasinya. yang kalau di Kalimantan disebut ikan tomang. sangat banyak. enak sekali dimasak bumbu bali. “Hei yu”. saya belum terkena peraturan itu karena saya sudah mendaftar sebelum itu. Karena itu. Pasien asing banyak yang gelisah. mengingat krisis listrik di sana sudah berlangsung lebih dari lima tahun. juga bisa tumbuh besar sampai kuat merusak perahu kayu kecil-kecil. mestinya. “Kutuk Tiongkok” ini lebih hitam. Dalam keadaan normal. Padahal. liver bisa memproduksi albumin. Kedatangan saya untuk antre transplantasi liver ini agak terlambat. dia datang dengan bapaknya sambil membawa satu ember ikan. Dulu-dulunya. dimakan dengan nasi kuning.Di Nanchang. “Hei yu” di Kalimantan lebih banyak dimanfaatkan untuk ikan asin. tapi bukan kutuk. saya langsung membeli tanah 20 hektare di lokasi yang paling cocok untuk itu. Dia naik kendaraan umum selama satu jam untuk bisa sampai ke kota. saya memutuskan untuk selalu makan banyak. Tapi. sebenarnya bukan. Bentuknya memang persis kutuk. Saya pun datang dengan harapan seperti itu. Tapi. Juga melakukan perundingan dan penandatangan kontrak mesin-mesin di Tiongkok. Tapi. Krisis listrik di Kalbar lebih parah daripada di Kaltim. Gubernurnya sudah sangat mendambakan turun tangan saya. Untuk menunjukkan keseriusan. sebagai persiapan transplantasi yang sudah dekat. karena liver saya rusak. di sana disebut “hei yu” -”hei” artinya hitam. Maka saya bersama gubernur dan Dirut PLN menandatangani MoU pembangunan PLTU di Pontianak. Tapi. Sedangkan ikan gabus yang manis. Di Kalimantan lebih lengkap. Saya berterima kasih padanya. yang di sana disebut ikan gabus. agar badan tetap sehat. Apalagi di lengan saya sudah dipasangi saluran infus sampai ke dada. Tapi. Enak tidak enak sudah tidak penting lagi. Ketika saya ke Nanchang. Kandungan daging “hei yu” tidak sama dengan kutuk di Jawa. meski belum fatal. Selama di Tiongkok saya kesulitan sumber albumin ini. Sebulan setelah saya menunggu. dengan bahasa daerah yang tidak saya mengerti. 65 by Moezhanks . dagingnya hambar. “Hei yu” juga banyak.

suatu ketika. Juga nasib (tanah) saya. Tentu saya tidak mau kalau modal dia hanya selembar kertas izin. Tapi. potongan liver yang sudah dilepas dari tubuh pemiliknya ditanamkan ke tubuh si penerima. ginjalnya tetap satu. beberapa waktu kemudian ternyata PLN melakukan tender untuk pembangunan PLTU itu. sebagai awal dari membangun Kalbar lebih lanjut. Jelek sekali nasib Kalbar. mendatangkan donor dari negaranya. Kami bukan spekulan atau jual beli tanah. Hari ini separo livernya didonorkan. Investor yang mau datang pasti mengeluhkan listrik. Beda dengan donor liver. donor orang hidup. saya bertekad menggunakan dana yang sudah saya siapkan untuk PLTU ke proyek lain: perkebunan rakyat. si calon penerima (resipien) liver juga dibedah untuk membuang (seluruh) livernya yang sudah rusak. Berarti Kalbar kehilangan lagi waktu tiga tahun. peserta tender ingin mengajak saya bergabung membangun PLTU tersebut. Dan dalam tempo tiga minggu sampai maksimal sebulan.Namun. Dengan begitu. tidak ada tanda-tanda fisik mulai membangun PLTU. Kami serius membeli tanah tersebut untuk PLTU. Pada saat yang sama. Memang bukan salah saya kalau sampai hari ini belum ada tanda-tanda konkret krisis listrik Kalbar akan teratasi. Saya hanya ingin ikut mengatasi krisis listrik di Kalbar. seorang donor juga tak perlu tinggal berlama-lama di rumah sakit. sebenarnya ada donor yang potensial. Tapi. Dia juga menanyakan apakah tanah kami akan dijual. Provinsi itu sangat kasihan. Hanya dalam tempo dua tiga hari pascaoperasi. beruntung bahwa ternyata donor potensial itu ternyata juga tidak cocok untuk saya. Kami tidak mau ikut tender itu karena merasa PLN tidak beretika sama sekali. yang mau menyumbangkan separo livernya untuk dicangkokkan ke pasien. Seminggu berikutnya 66 by Moezhanks . Tapi. Yakni. Dan lagi. Yakni. Saat saya menyelesaikan urukan Kalbar itulah. pemenang tendernya. Karena itu. sampai tulisan ini dibuat. Terutama sebagai ungkapan terima kasih kepada masyarakat setempat bahwa koran kami di sana menjadi yang terbesar. Berbeda dengan ginjal dan organ lain. Tender itu berjalan lancar dan itu memang proses yang benar. Tidak kaya sumber alam dan tidak punya proyek besar. saya memang tidak dalam posisi mencari proyek. Tapi. Ini mungkin karena liver adalah satu-satunya organ tubuh yang kalau dipotong bisa tumbuh utuh lagi. Yakni. atau sukarelawan. kira-kira dua tahun lalu. setidaknya saya bertanggung jawab untuk mewujudkan sesuatu di sana. sekali orang kehilangan ginjal. Seseorang bisa hidup normal dengan liver yang hanya separo karena liver atau hepar atau hati adalah satu-satunya organ yang bisa tumbuh kembali dengan cepat. Mereka mencari salah satu keluarganya. Setelah itu. Karena itu. saya sudah di atas pesawat. Proyek itu harus berjalan. besok pagi sudah tumbuh lagi. Saya harus menunggu lagi entah berapa lama. dia sudah boleh latihan berdiri dan berjalan. Dokter mencari-cari saya apakah bisa membatalkan kepergian saya ke Indonesia. liver yang dipotong itu sudah akan utuh kembali. Orang-orang Pakistan mulai mencari jalan sendiri. Saya harus datang ke sana untuk membuat keputusan yang terpenting. Banyak pengungsi Madura akibat kerusuhan etnis pada 1999 itu yang mulai bekerja di proyek ini. mengolah hasil pertanian rakyat yang selama ini harganya selalu hancurhancuran di musim panen. lalu livernya dipotong separo. ya sampai meninggal. tanpa sedikit pun memberi informasi kepada saya bagaimana nasib MoU yang sudah dibuat. Hanya operasinya lebih sulit: Orang yang sehat dibedah. Memang. Tentu saja tidak.

memang masih harus ekstrahati-hati karena tiga sayatan panjang bekas operasi di perutnya masih basah. Beberapa teman dekat yang siap mendonorkan separo livernya juga tidak ada yang cocok darahnya. Liver saya yang di sana. Di Tiongkok. Tanpa kami cari. yang semula hanya 11 cm. dan bagaimana kondisinya sampai saat itu. dia sudah menghitung risikonya. Tapi. Semula kami memperkirakan harus membantu kehidupannya. Anak itu sendiri. Dan. tidak kecil. “Sekarang sudah jalan-jalan dan mau saya ajak ke sini. Mengapa dia begitu berani? Karena.” kata Robert sambil menepuk bahu anak muda Pakistan itu. yang bahasa Inggrisnya bagus sekali. hari ini sudah 17 cm. Apakah harus dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri? Dia bilang. sekarang sudah menjadi 16 cm lagi. Ternyata. lantas menceritakan mengapa mau melakukan itu. dia bilang. anak-anak. “Liver saya yang setelah dipotong tinggal 9 cm.” katanya sambil menggambar di papan tulis tentang bagaimana livernya tumbuh kembali. Tapi. Saya tidak yakin bisa dapat donor utuh dalam waktu dekat. Lalu mengajak salah satu pendonor ke kamar saya. satu liver untuk dua pasien. Termasuk saya. mengapa berani. dia ingin menebus penyesalannya yang tak sempat menyelamatkan bapaknya yang keburu meninggal sebelum tranplantasi dilakukan. seseorang dari Jakarta menghubungi kami.dia sudah bisa beraktivitas lagi.” tambahnya. dia cukup berada. bisa jadi fungsi liver saya akan keburu memburuk. Mobilnya juga masih gres dari merek yang tidak murah. Anak muda itu mengatakan tidak menginginkan apa pun kecuali menyelamatkan nyawa saya. karena penurunan fungsi itu bisa merusak pertahanan tubuh saya. Saya amat yakin dengan jalan itu. di negara-negara yang jumlah donor mayat (cadaver)-nya terbatas. di luar dugaan: Sangat mendukung keputusan suaminya. dan keponakan-keponakan. Handphonenya pun Communicator seri terbaru. Lantas bagaimana nasib potongan liver yang sudah berpindah tubuh tadi? Ini pun tak perlu dikhawatirkan karena dalam tempo maksimal tiga bulan. Rumahnya baru. Mulailah saya melihat ke istri. Saya juga memutuskan akan melakukannya. Bagaimana dengan penerima livernya? “Bapak itu juga mulai baik. Jadi. 67 by Moezhanks . Karena itu. Dia menjadi amat yakin itu juga akan berhasil. Ternyata. umumnya masih satu liver untuk satu pasien. Anak keduanya baru bisa berjalan. Sikap istrinya. livernya dibagi dua. Tim kami segera ke Bandung melihat keadaan rumah tangganya. tidak satu pun yang darah dan rhesus-nya sama dengan saya. “Dia mendonorkan livernya dua minggu yang lalu.” katanya. Lalu dia menunjukkan perutnya yang masih dibebat untuk mengeringkan luka akibat pembedahan. Saya harus berhitung dengan sirosis dan kanker saya yang sedang berlomba dengan waktu. Kalau saya menunggu terlalu lama. Saya butuh melangkah cepat. Robert menemui keluarga-keluarga Pakistan itu untuk mempelajari bagaimana praktik cangkok liver dengan donor hidup. Memberitahukan perihal seorang anak muda dari Bandung yang mau secara sukarela mendonorkan livernya. jalan tidak buntu. Menjelang transplantasi. di kompleks perumahan yang cukup mewah. Dua minggu lagi sudah kembali utuh seperti semula. Darah maupun rhesus-nya cocok sekali dengan saya. baik yang masih di dalam tubuhnya maupun yang sudah pindah ke tubuh orang lain. sel-sel kanker yang mungkin masih tersisa di liver saya bisa menyebar (metastase) ke mana-mana. potongan itu sudah akan tumbuh menjadi liver yang utuh sebagaimana orang normal. Umurnya masih 32 tahun. Badannya yang tinggi tegap sangat sehat.

haruskah sampai mengorbankan nyawa orang lain? Tidakkah lebih baik saya menunggu dengan risiko tidak keburu sekali pun? Bukankah membuat keputusan melakukan transplantasi saja sudah tersirat tekad untuk mungkin mati? Saya benar-benar sudah siap kalau harus mati. seperti para manajer di Perusda PT PWU Jatim. Mereka memang ngeri mendengarnya. Menceritakan penyakit dengan cara yang menyenangkan. Tapi. dua tahun lamanya saya berhasil menyembunyikan bengkaknya kaki. saya jelaskan semua penyakit saya. direktur di perusahaan minyak kami. Bersamaan dengan persiapan pemberangkatan saudara dari Bandung itulah. Menyembunyikan membesarnya payudara. “Dia tidak akan jadi korban. kakak saya. “Empat tahun saya bekerja dengan Anda. Ya. paman-paman saya berumur pendek. ada kabar bahwa saya mendapatkan donor. Yang harus dipuji. barangkali karena saya melihat kok ibu saya. Dia juga akan memiliki kembali livernya secara utuh.” kata Robert. “Selama ini tidak tampak kegelisahan sedikit pun tatkala tampil di banyak kegiatan masyarakat. Cuma. jawaban saya jujur. saya tidak akan sampai hati mengejar-ngejarnya selama ini. tapi saya sampaikan dengan nada yang menyenangkan. Tim kami terus mendesak agar saya jangan berpikir bahwa saya akan mengorbankan orang lain. Juga bahayabahayanya. Pernah dalam satu rapat evaluasi bulanan yang amat disiplin di PT PWU. tapi juga politis. 68 by Moezhanks . Yang harus dimarahi. Tetap saja persoalan rumit-rumit. Sedikit pun saya tidak merasakan bahwa Anda mengidap penyakit begitu gawatnya. persoalan Perusda tidak hanya soal bisnis. tapi diam-diam tim kami terus menyiapkan saudara dari Bandung itu untuk siap berangkat ke Tiongkok. Padahal. “Kalau tahu seperti ini. (Bersambung) Ganti Hati 24 – Istri Khawatir Saya Meninggal dengan Wajah Menghitam 18 September 2007 SAYA tidak berhasil menyembunyikan perubahan di wajah saya. Tapi. dan negosiasi. Padahal. ya dipuji. selalu saya jawab apa adanya. Saya punya filsafat tersendiri dalam menyikapi umur. saya sebenarnya tidak sengaja menyembunyikannya. harus dipecahkan. Sikap ini muncul. ya dimarahi. tapi juga tertawa-tawa. Kalau ada yang bertanya pun. pecinta Jawa Pos dari Manyar Jaya. manajer di perusahaan minyak milik Pemda Jatim. Saya masih keberatan. Transplantasi pun dilakukan dengan cara membuang sama sekali hati saya yang lama dan menggantinya dengan hati baru made in 1985-an secara utuh.Kami pun makin percaya bahwa tidak ada motif komersial di balik niatnya yang mulia itu. memang tidak banyak yang bertanya. Yakni. diskusi. Kalau ada yang bertanya tentang penyakit saya.” ujar Gunawan.” tulis Lusye. Perusahaan minyak itu masih baru sehingga saya harus banyak belajar. saya berhasil menyembunyikan keloyoan fisik saya. Saya kurang melihat bahwa bapak saya dan kakak sulung saya berumur panjang sekali. Dia juga menyatakan sudah siap kapan pun harus berangkat. Setelah itu rapat evaluasi berjalan seperti biasa. Terutama Robert Lai. itulah kuncinya. rapat. saya sendiri juga masih berpikir. Juga bengkak di badan. saya memang berhasil menyembunyikan semuanya.” ujar Hadi Ismoyo. Yang tak kalah penting. filsafat “intensifikasi umur”. Umur pendek tidak apa-apa asal penggunaannya sangat intensif.

saya harus tahu diri bahwa kalau dia sudah dewasa. Toh saya akan tetap bisa berperan di pesantren itu kelak. bagaimana caranya? Atau pakai make up saja. Suaminya meninggal dalam keadaan dimurkai Tuhan. dosa sebagai suami yang amat sibuk. Begitu hebatnya tentangan akan langkah Cak Nur tersebut sehingga sampai ada yang memvonis Cak Nur sudah murtad. dan merenungkan masa depan. dosa sebagai atasan yang kejam. Para kiai sepuh (enam orang bersaudara. Ada nada sedih ketika mengucapkan itu. Hitam yang tidak merata itulah yang kian mencurigakan. Mengapa masih kanak-kanak? Karena pesantren kami kehilangan dua generasi sekaligus. Sampai-sampai disebutkan Cak Nur lagi mendirikan neo-Islam. Bukan budayawan. Kedua. Karena banyak sekali dosa yang diperbuatnya. Tapi. Kalau sampai itu terjadi pada saya. Dosa sebagai lelaki. Karena itu. Saya lantas memilih ’uzlah’ -menyingkir. yang mungkin tidak kalah besarnya. banyak orang yang mulai rasan-rasan. Sudah menjadi opini awam bahwa seseorang yang meninggal dalam keadaan wajah yang menghitam. Lalu memberikan komentar yang sudah sering saya dengar itu. Untunglah. Tapi saya kan laki-laki? Bahkan laki-laki yang bukan metroseksual? Tak pelak lagi. dan tentu masih banyak sekali sisi negatif yang bisa dihubunghubungkan. merasa malu kalau saja saya meninggal dalam keadaan wajah yang menghitam. Kebetulan yang dari jalur laki-laki masih kanak-kanak. Ini karena dosa-dosanya yang tidak terampunkan. kalah dengan Yusuf Rahimi. dosa sebagai pribadi yang sombong. itu sebagai bukti bahwa Cak Nur dimurkai Tuhan. pada 1948. Apalagi dia aktif di kegiatan keagamaan. tidak akan bisa jadi kiai dan tidak bakat jadi politisi. Dan. Bukan ahli agama. Pandangannya penuh keprihatinan. memprihatinkan. Terutama psikis istri saya. Saya bukan intelektual. Tentu saya bukan apa-apa dibanding Cak Nur. Yakni. tapi sudah masuk ke tataran psikis. tapi sebagai perwujudan sikap tawaduk seperti yang dicontohkan bapak saya. dosa karena dia telah menyekulerkan Islam. saya tidak berhasil menyembunyikan berubahnya wajah. dosa orang kaya yang pelit. menjauh. tandanya tidak diterima oleh Tuhan.Tapi. saya bergegas mengambil keputusan pindah ke jalur hidup sama sekali. saya sudah sering digosipkan sehingga sudah agak kebal. Bukan karena ngambek. Gosip yang tidak menyenangkan. Karena itu. Kulit saya yang aslinya memang agak hitam menjadi kian hitam. alangkah malunya istri saya. Apalagi saya juga baru gagal dalam pemilihan ketua umum pengurus besar Pelajar Islam Indonesia (PII) di Bandung. Sedih bercampur perasaan malu. tokoh dari Ambon. Ini karena saya sadar bahwa saya turunan dari jalur wanita (ibu) di struktur pesantren itu. Tuhan murka padanya. ketika memelopori pembaharuan pemikiran dalam Islam yang menghebohkan pada 1970-an. dibunuh PKI dalam peristiwa Madiun. pamanpaman ibu saya). tapi saya menolak. Terutama di dahi dan sekitar mata. kadang dia hanya memperhatikan wajah saya tanpa mengucapkan komentar apa-apa. dialah yang punya hak mewarisi pesantren itu. Yakni. khawatir akan kesehatan saya. Saya memang pernah mau didapuk jadi kiai di pesantren saya. ini gosip yang benar. Suatu saat istri saya memandangi wajah saya lama sekali. Pertama. Saya akan menyembunyikannya dengan cara meratakannya. Bukan sarjana. Saya mengambil kesimpulan. Pembicaraan seperti itu kian kuat ketika Cak Nur meninggal dalam keadaan wajah menghitam. Ada yang menilai. sebenarnya. 69 by Moezhanks . Gosip itu bukan lagi masih menyangkut fisik. Saya tahu dia menyimpan dua kekhawatiran. Psikis seorang wanita yang sangat kuat memegang prinsip agama. menggosipkan wajah saya. dan anak-anak mereka yang sudah dewasa. Tapi. Tapi.

lantas muncul kesulitan teknis. Saya ciptakan sendiri jabatan baru. saya yang tetap jadi CEO. Bahwa ada kesulitan di bank. Tentu tidak lagi seperti ketika Dirut merangkap CEO. setelah beliau sendiri yang minta. saya membuat sebutan (untuk membedakan dengan ’jabatan’) CEO lebih fleksibel lagi di grup yang saya pimpin. termasuk Prancis dan Parsi. “Kami tidak menyangka kalau dia seorang Tionghoa. saya dan Cak Nur jauh sekali derajatnya. Bisa saja Dirut sebagai CEO. Mereka tidak tahu kalau ’uzlah’ itu saya lakukan sebagai wujud sikap tawaduk saya.Sikap tawaduk yang sama saya lakukan juga di Jawa Pos pada 1980-an. pikir saya. staf-staf kami sering bengong. Si tamu ternyata berharap akan ketemu seorang direktur keuangan keturunan India. sampai harus dengan cara sikut sana-sini. Hanya namanya yang sering bikin salah paham orang asing. Apalagi mereka juga tahu sayalah yang selama ini yang selalu mengambil keputusan. Dia kami kenal sebagai Wenny saja. “Apakah bisa bertemu ibu Ratna Dewi”. Banyak hal sudah harus dialihkan menjadi tanggung jawab Dirut. Tidak bisa hanya direktur seperti saya waktu itu. Sama dengan saya. Kami sendiri tidak terlalu mengenal nama Ratna Dewi. Bahkan. Lebh dari itu sekarang ini berkembang seperti di AS. Saya memilih mengerjakan saja semua pekerjaan direktur utama. jatuh sakit. He he…” kata saya dalam hati. Waktu itu Ratna Dewi masih menjabat direktur keuangan. Saya tetap direktur saja. bank percaya. bahkan general manager sebagai CEO (semua direktur bukan CEO). Tapi. Lalu keterusan sampai sekarang. Sebagian lagi karena saya berdosa kepada leluhur. Jangan sampai saya minta jadi Dirut. direktur sebagai CEO (Dirutnya bukan CEO). Setidaknya samasama hanya tamatan SMA. Tentu ada juga yang menyamakannya dengan Cak Nur. Terutama karena saya ’uzlah’. Beliau terkena stroke yang sampai mengakibatkan tidak bisa bicara dan harus diopname bertahun-tahun. direktur utama Jawa Pos saat itu. Banyak dokumen bank yang harus direktur utama yang boleh tanda tangan. sakitnya beliau amat berat sehingga tidak punya kemampuan menandatangani dokumen perusahaan. dan Arab. Inggris. Cak Nur seorang intelektual. Inilah gunanya ilmu mantiq (logika). Karena hal itu sudah berlangsung tiga tahun. sehingga kalau ada tamu yang menanyakan. doktor lulusan Chicago. Sebagian mengira saya dimurka Tuhan karena kurang taat beragama. Meski saya bukan direktur utama lagi (karena jabatan itu sekarang dipegang Ratna Dewi Wonoatmodjo). lari dari tanggung jawab menjadi kiai. saya SMA di Desa Takeran. Bukan “Bu Wenny”. Baru setelah lima tahun lebih. Padahal. Tapi. tapi “Cik Wenny”. Saya dan Cak Nur seperti langit dan sumur -untuk menunjukkan jarak langit-bumi kurang jauh. “CEO yang tidak ada SK dan legal formalnya. Apalagi Ratna Dewi juga amat mampu. saya tidak mau menggantikannya sebagai Dirut. Maka lahirlah “jabatan CEO”. 70 by Moezhanks . Saya hanya seperti itu tadi. Pernah ada tamu dari India yang ingin bertemu dengannya. Apalagi. ’Chairman yang CEO’. Padahal. saya tetap tidak mau jadi Dirut.” kata tamu itu sambil tertawa ngakak. meski hanya untuk sebutan: CEO (chief executive officer). Ketika Pak Eric Samola. Sebutan CEO telanjur melekat. bisa banyak bahasa. saya mau jadi Dirut. tiba-tiba saya punya ide baru yang barangkali tidak lazim. Magetan (aliyah). Gosip bahwa “saya segera meninggal dengan wajah hitam” juga beredar di kalangan pesantren saya sendiri. Maklum namanya Ratna Dewi. Agar saya bisa meyakinkan bank bahwa meski saya hanya direktur. tanpa menyandang jabatannya. tapi saya ini CEO. ahli agama. Dia SMA di kota Surabaya (Petra).

Satu-satunya yang menyamakan saya dan Nur adalah sakitnya. Sama-sama sakit liver, sama-sama sirosis. Karena itu, juga sama-sama menghitam di wajah. (Bersambung)

Ganti Hati 25 – Prihatin atas Keprihatinan terhadap Wajah Hitam Saya
19 September 2007 “SAYA nanti juga akan meninggal dengan wajah hitam,” kata saya kepada istri saya. Saya ingin menyiapkan mental istri saya bagaimana harus menahan rasa malu. Terutama di mata keluarga dan teman-teman pengajiannya. Istri saya memang aktif di perkumpulan Pengajian Wanita Surabaya (Pengawas), satu perkumpulan yang amat besar dan aktif. “Saya nanti akan seperti Cak Nur,” tambah saya. Itu saya lakukan karena istri saya juga mendengar omongan orang tentang Cak Nur. Dia juga mendengar ada khatib di sembahyang Jumat yang mengatakan Tuhan murka pada Cak Nur (Nurcholish Madjid, tokoh pembaruan pemikiran Islam). Buktinya, ketika meninggal, wajahnya menghitam. Istri saya memang sudah beberapa lama kelihatan prihatin melihat perubahan di wajah saya. Saya prihatin atas keprihatinannya itu. Maka, saya perlukan bicara soal mengapa wajah saya menghitam dan mengapa ada orang menilai Cak Nur seperti itu. Saya jelaskan sebisa-bisa saya bahwa “wajah hitam” Cak Nur sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kemurkaan Tuhan. Tuhan itu tidak punya hobi murka seperti khatib yang mengecam Cak Nur itu. Tuhan itu Maha Pengasih dan Penyayang. Sampai di sini saya sadar bahwa istri saya sudah sangat sering mendengar khotbah sehingga saya tidak perlu menambahinya. Apalagi khotbah saya kurang meyakinkan. Saya memilih menjelaskannya secara ilmiah saja. Mengapa wajah Cak Nur, juga wajah saya, menghitam? Ya, begitulah memang salah satu perubahan fisik yang dihasilkan oleh liver yang terkena sirosis. Ini berlaku pada siapa saja. Yang Islam, yang Kristen, yang Buddha, yang Hindu, yang Kejawen, yang komunis, dan yang tidak punya aliran apa pun -free thinker. Wajah hitam adalah tanda-tanda perubahan fisik dari sirosis yang parah. Karena itu, kalau Anda sakit liver, minta saja meninggal sebelum sirosis parah. Terutama kalau Anda ingin meninggal dengan wajah yang tidak hitam. Terjadinya wajah hitam itu sama dengan akibat sirosis yang lain: Kaki yang bengkak, payudara yang membesar, dan kemudian muntah darah. Untung, tidak ada penilaian bahwa siapa yang meninggal dengan payudara besar berarti dimurkai Tuhan. Sebenarnya, masih banyak lagi tanda fisik lain. Yakni kulit menguning, mata juga menjadi kekuningkuningan, bibir pucat, dan telapak tangan seperti tidak berdarah. Terutama kalau telapak tangan baru saja digenggamkan. Begitu genggaman dibuka, darah seperti tidak segera kembali memerahkan telapak tangan. Bahwa ada khatib yang menilai wajah Cak Nur yang menghitam sebagai tanda bahwa Tuhan tidak mau menerima rohnya, sebabnya mungkin si pengkhotbah tidak sempat belajar ilmu yang lain misalnya, karena terlalu larisnya. Bahkan, sang khatib begitu sibuk berkhotbah, kadang isi

71

by Moezhanks

khotbahnya ya hanya yang diketahuinya itu saja. Diulang-ulang. Seperti kaset lama yang diputar terus-menerus. Pasti si pengkhotbah juga tidak pernah melihat wajah mayat Mao Zedong. Setidaknya tidak pernah membaca tentang itu. Setidaknya lagi, kalau toh pernah membaca, tidak sampai menjadikannya pertimbangan. Mao adalah pendiri partai komunis Tiongkok yang tentu saja tidak mengakui adanya Tuhan. Namun, bagaimana wujud wajah mayatnya? Saya pernah melihatnya dua kali. Wajahnya putih, bersih, dan amat cerah. Bibirnya menunjukkan senyum kecil seperti amat bahagia di akhir hayatnya. Mayat itu sampai sekarang masih bisa dilihat di Beijing. Orang antre untuk menyaksikannya. Demikian juga di Kremlin, Moskow. Mayat Lenin, salah satu pendiri komunisme sedunia, terlihat putih, bersih, dan manis sekali. Saya juga pernah mengunjunginya. Apakah itu pertanda roh Lenin diterima dengan senang oleh Tuhan? Lebih diterima daripada Nurcholish Madjid? Meski Cak Nur tokoh Islam dan Lenin tidak mau mengakui adanya Tuhan? Bahkan menjadi pelopornya? Wallahu a’lam. Yang jelas, Lenin, dan juga Mao, tidak meninggal karena sirosis. Saya sangat prihatin atas keprihatinan istri saya. Tapi, saya juga prihatin memikirkan bagaimana umat di masa depan. Dengan pola berpikir seperti itu, apakah umat akan bisa maju? Apakah tidak semakin ketinggalan dan kemudian terpojok? Lalu, introvert dan mencari kompensasi dalam bentuk ekstremitas? Saya prihatin karena dengan pola pikir yang seperti itu, keseimbangan antara dunia dan akhirat tidak memadai. Banyak memang orang yang terlalu berat ke duniawi, tapi juga bukan berarti harus dibalas dengan bersikap lebih berat ke ukhrowi. Semua harus seimbang: beribadah sungguh-sungguh seperti besok akan mati saja, bekerja sungguh-sungguh seperti akan hidup seribu tahun. Kalau ukuran diterima Tuhan atau tidaknya seseorang dilihat dari wajah mayatnya, betapa suramnya kemajuan ilmu pengetahuan di masa depan. Bagaimana kita bisa mengharapkan kemajuan dan kemodernan sebuah negeri kalau penduduknya -terutama para pemimpin penduduk itu- berpikiran demikian. Dan lagi, ada satu kenyataan yang lebih pahit. Bukankah kini sudah ditemukan cara membuat wajah orang yang meninggal kelihatan tersenyum? Cerah dan bahagia? Lantas, apakah itu berarti ukuran diterima atau tidaknya sebuah roh oleh Tuhan ditentukan oleh para ahli perias mayat? Saya punya teman yang bisnisnya event organizer (EO). Tapi, EO khusus untuk orang meninggal. Mulai penyediaan pakaiannya, membentuk tubuh dan wajahnya, menyediakan peti matinya, angkutan ke kuburannya, sampai mencarikan siapa yang akan jadi pengkhotbahnya. Dia begitu menghayati bisnisnya itu sehingga akan terus mendalami ilmu di bidang itu. Satu-satunya anaknya (perempuan) dia sekolahkan khusus bagaimana memelihara mayat. Bagaimana membuat wajah orang meninggal menjadi lebih ganteng dan cantik daripada ketika masih dalam hidupnya. Bahkan, ilmu itu juga berkembang ke arah sebelum kliennya meninggal. Yakni bagaimana menyiapkan agar bisa meninggal dengan wajah tersenyum. Tapi, saya juga sadar bahwa istri saya mungkin tidak gampang menerima penjelasan saya itu. Sebab, penjelasan seperti itu amat jarang dilakukan orang. Tapi, setidaknya, dia bisa menutup sedikit rasa malu karena suaminya meninggal dengan wajah menghitam. Bisa punya alasan -yang meskipun mungkin juga dia ragukan kebenarannya. Ragu karena bukan penjelasan seperti yang saya ucapkan
72
by Moezhanks

tersebut tidak pernah didengarnya. Yang sering diperdengarkan kepadanya adalah kaset lama yang diputar tidak henti-hentinya itu. Dalam teori komunikasi, kebohongan pun kalau terus-menerus dijejalkan akan jadi seperti kebenaran. Padahal, kaset lama itu bukan juga kebohongan. Tapi, penafsiran. Sebuah penafsiran yang sangat bisa memuaskan orang dari sisi emosinya. Kebohongan saja bisa menang, apalagi bukan kebohongan. Berdasar teori itu, satu penjelasan yang benar tidak akan bisa menang atas kebohongan yang terusmenerus dikampanyekan. Agama memang akan menghadapi tantangan yang hebat. Kini bukan hanya Islam, tapi juga Kristen. Setelah abad informasi sekarang ini, akan ada abad baru lagi. Dulu kita masih meraba-raba “abad apa gerangan yang akan menggantikan abad informasi?”. Kita pernah mengalami berturut-turut, “zaman batu”, “zaman besi”, “zaman cocok tanam”, “zaman industri”, “zaman teknologi”, dan “zaman informasi”. Kini semakin jelas dunia akan mengalir ke zaman apa. Saya kira, zaman baru yang akan kita masuki adalah “zaman biologi”. Di zaman itu kehidupan akan bisa direkayasa, diperbaiki, bahkan diciptakan. Kehidupan tanaman, binatang, dan juga manusia. Tidak perlu lagi transplantasi seperti saya, tapi liver (dan organ apa pun) bisa direparasi dengan penemuan lebih lanjut dari pendalaman terhadap DNA manusia. Dan, itu bukan lagi akan ditemukan, tapi sudah ditemukan. Penemunya kini lagi merahasiakannya sampai pada akhirnya dia akan bisa memproduksi sesuatu yang bisa dijual secara masal dan terjangkau. Agar bisnis di bidang ini menjadi amat besar. Operasi tidak perlu lagi. Transplantasi tidak dibutuhkan. Bahkan, orang tidak perlu sakit. Sehat terusmenerus. Cukup membeli produk baru itu nanti. Kini pun barang itu sudah bisa diproduksi sebenarnya. Tapi, karena belum ditemukan kombinasi-kombinasinya, harganya bisa jadi masih Rp 10 miliaran. Dengan harga setinggi itu, meski saya pun akan membelinya, tapi hanya berapa juta yang mampu beli? Bandingkan, kalau kelak, harganya tinggal Rp 1 jutaan. Betapa besar bisnis itu. Ia akan mengalahkan bisnis obat yang sudah amat raksasa itu. Bahkan akan mengalahkan bisnis minyak dan gas. Mengapa? Penemuan lebih lanjut dari itu adalah lahirnya sumber energi baru yang sama sekali tidak kita bayangkan. Kalau kehidupan sudah bisa dibikin, bagaimana kita akan menafsirkan ajaran agama? Orang boleh tidak percaya seperti juga zaman dulu tidak percaya akan bentuk dunia yang bulat. Tapi, ini akan menjadi kenyataan. “Akan” di situ tidak lama lagi. Kata “akan” mungkin kurang tepat. Yang tepat “segera”. Maka, apa yang ditulis Agus Mustofa di buku-bukunya, terutama mengenai Kitab Kejadian, sungguh menarik dan akan cocok dengan zaman baru itu nanti. Yakni jangan lagi kita membayangkan bahwa manusia pertama dulu dibuat dari lempung, lalu lempung itu di-emek-emek, dibentuk seperti boneka, kemudian Tuhan meniupkan roh ke ubun-ubunnya. Penggambaran seperti itu, meski ternyata memang tidak ada di kitab suci, amat melekat di setiap manusia. Juga melekat di pikiran saya. Saya tidak pernah mempersoalkannya secara kritis. Bahkan tidak pernah mengecek ulang apa bunyi ayat yang sebenarnya dari penggambaran seperti itu. Cerita itu sama melekatnya dengan istilah “memanjatkan doa” yang sering kita lakukan sampai sekarang. Kita, terutama saya, tidak pernah mempersoalkan apakah teknik menyampaikan doa seperti itu masih cocok dengan abad informasi seperti sekarang. Mengapa di zaman komputer, e73
by Moezhanks

nanti bisa banyak sekali konsekuensinya. 74 by Moezhanks . Kalangan ini. Lalu memanggangnya. Begitu jugalah dulu penilaian terhadap ibu saya. Mengapa kok lambang cinta itu gambar jantung? Mengapa dalam bahasa Inggris disebut heart? Dan. “Pasti ini karena disantet”. Kalangan ini sudah kritis lagi. agar mirip dengan ayat Quran yang sangat terkenal. Direktur Radar Banyuwangi. yang di-e-mail-kan. pernah saya Tanya arti ’qalb’. Alangkah lambatnya doa itu akan sampai. lupa bahwa kata dalam bahasa Arab ’qalb’ (kalbu) artinya bukan hati -dalam pengertian liver. bisa-bisa mengerasnya liver saya diterjemahkan ke dalam bahasa Arab ’sadat qulbuha’ (sudah keras hatinya). Memang. Lupa bahwa ’qalb’ itu artinya jantung. Liver bahasa Arabnya ’kabid’. Juga terhadap kakak saya. Bahkan. Tapi. Memang qalb itu artinya jantung. Udi spontan menjawab: qalb artinya hati! Lantas saya tanya lagi. maka yang maju lantas dunia mistik dan bukan rasionalitasnya. Sudah telanjur begitu mendarah-mendaging. dan SMS ini kita masih mengirim doa dengan menggunakan teknik “memanjat”. Begitu saya tanya. “Saya tadi salah. orang yang paling jago bahasa Arabnya di lingkungan Group Jawa Pos. kalau melihat hati seperti itu. Lalu bergegas meralat jawaban pertamanya. Ini karena saya juga ragu akan ingatan bahasa Arab saya.mail. Kalau diubah. Tentu kata “memanjat” hanya simboliasi atau penyastraan. “… fasadat qulubuhum”. karena emosi lebih besar daripada rasio. Misalnya kata ’patah hati’ harus diubah menjadi ’patah liver’. mantan rektor ITS yang kini menteri informasi. si penyantet membeli hati sapi dulu. Bayangkan. Samsudin Adlawi (Udi). Orang di desa saya akan langsung mengatakan. Asapnya lantas di-email-kan ke dalam tubuh saya. Dan lagi. Pak Nuh. atau yang di-compresskan seperti yang dilakukan golongan tasawuf Shatariyah. Bahkan. Yang suka marahmarah. Karena maraknya pandangan santet di masyarakat kita. akan langsung mengambil kesimpulan: Tuhan telah murka padanya. Udi yang demikian mahir bahasa Arab terbius oleh sesuatu yang salah. Liver saya memang seperti daging yang dibakar setengah matang! Pasti ketika menyantet saya. Atau ’patah jantung’ (broken heart). tapi sudah memasyarakat. setidaknya akan muncul tiga versi tanggapan. dalam bahasa Mandarin disebut xin? Rupanya dia baru berpikir ulang. penggunaan term “panjat” juga mencerminkan ketertinggalan kita dalam menggunakan teknologi yang tersedia. Sedang liver adalah……” kata Udi yang juga sastrawan itu. Tuhan toh tidak akan membedakan doa yang dikirim dengan cara dipanjatkan. bisa malu. (Bersambung) Ganti Hati 26 – Transplantasi Berhasil. kita lupa mempersoalkan mengapa para ahli bahasa dulu menerjemahkan kata ’liver’ (bahasa Inggris) menjadi ’hati’ dalam bahasa Indonesia? Kini sudah sulit mengubah agar liver jangan lagi diterjemahkan menjadi ’hati’. Istri Gembira karena Wajah Berubah 20 September 2007 KALAU saja foto liver lama saya dimuat di koran tanpa penjelasan (foto-foto itu akan dimuat di edisi buku). termasuk di mimbar Jumat. Ini memang agak kacau. Pandangan kedua akan datang dari kalangan agama yang berpandangan sempit.

Ternyata biarpun saya pijit kuat-kuat. Minggu lalu diadakan acara pengajian dan hafalan Alquran sehari penuh hingga tarawih. Maka. Dulu. Tanpa kaus kaki pun kini perut tidak merasa kembung. Meski begitu. bahkan tidak bisa dekok sama sekali. Tidak perlu lagi dilaminating kedua atau ketiga. lama-lama juga akan kembali normal.5 bulan transplantasi. selalu berharap ada mukjizat atau keajaiban. Maksud saya kembali ke hitam yang aslinya. suasana pengajian di rumah juga lebih ceria. justru saya tidak terlalu memerlukannya. sebaiknya. Tiap tiga bulan sekali di rumah saya 75 by Moezhanks . seorang teman masih sempat menggoda saya dari Musi Banyuasin. Dokter bilang. Membaca SMS mengenai mulai pulihnya organ-orang di tubuh saya. Anak kalimat itu adalah keputusan yang diambil dalam kongres para pemilik kulit keruh. kita akan semakin terbiasa tidak menggunakan ciptaan-Nya itu. Kini kaki saya juga tidak bengkak lagi. saya masih sering memijit-mijitnya.” tambahnya. yang meski sudah dipotong sepertiga. Tapi. kalau istri saya merasa sangat gembira akan keberhasilan transplantasi liver ini. Kini saya kembali sering memijit kaki saya dengan sangkaan sebaliknya: jangan-jangan bengkak lagi. Saya juga tidak lagi membenci kaus kaki. dulu tidak jadi minta dikembalikan. urusan ilmiah memang jangan terlalu dikait-kaitkan dengan keyakinan keagamaan. harus dalam rangka dzikir. Bisa-bisa susternya marah dan mengembalikannya ke dekat payudara. pada keadaan ’tidak membenci kaus kaki’ itu. tapi masih dua kali lipat lebih besar dari limpa asli. Kalau sedikit-sedikit sudah harus lari ke doktrin. untuk sedikit mengangkat derajat mereka.Jadi. Bukan hitam karena sirosis. Kalau toh dikaitkan. antara lain karena wajah saya kini sudah sedikit berubah. orang yang paling pinter pun baru menggunakan sebagian saja otaknya. bukan lagi dekoknya cepat kembali. kini kembali … hitam. Tapi. setiap itu pula saya disadarkan bahwa keajaiban tidak berlaku di bidang yang amat scientific ini. Bagaimana dengan payudara saya? Tiap hari saya masih meraba-rabanya. Saya belum bisa memperkirakan apakah saya akan lebih senang dengan payudara saya yang asli. bahwa Tuhan telah memberikan manusia otak yang luar biasa cerdasnya. Begitu hebat pemberian itu sehingga harus digunakan sebanyak-banyaknya. Memang setelah 1. Kini wajah saya sudah boleh dibilang kembali seperti hitamnya kereta api (duile!). Masih tetap besar. “Untung. wajah saya yang sudah dua tahun menghitam. setengahnya lagi untuk mengetes apakah dekok akibat pijatan itu bisa cepat kembali. Saat itu suasananya murung. Setengahnya karena sudah menjadi kebiasaan selama dua tahun terakhir. tapi sudah mulai mengencang. apalagi ketakhayulan. Kita-kita barangkali baru menggunakan lima persennya. Limpa saya. Imbuhan kata terakhir itu bukan asli ciptaan saya. Dia tidak perlu lagi menghadapi rasa malu karena suaminya meninggal dalam keadaan wajah menghitam. lama-lama juga akan kembali normal. Saya makin sembuh. setiap memijat kaki. Padahal. Sumsel. Kita tidak boleh memubazirkan rezeki dari-Nya itu. Berbeda dengan saat para karyawan berkumpul untuk berdoa di rumah menjelang saya operasi. Para hafidz (penghafal) Alquran di Surabaya memang aktif berkumpul sebulan sekali di tempat berpindahpindah. sana: “Apakah bulunya yang dicukur juga sudah kembali normal?” tulisnya di SMS. Demikian juga saluran pencernakan yang telanjur ’dilaminating’. meski hitam banyak yang antre. Atau justru sudah terbiasa nyaman dengan payudara seperti gadis yang menginjak remaja. setiap kali saya memijit kaki.

Melihat orang Arab membawa pergi anak Tionghoa sampai menjerit-jerit itu. Liong Pangkiey. literatur yang mengatakan bahwa banyak kasus si penerima organ akan mengalami perubahan. kirim SMS bahwa temannya ganti ginjal. Gara-garanya. Karena masih keturunan Arab. Maksudnya akan memeriksakan ginjalnya setelah lebih dari 10 tahun transplantasi. si bapak kembali ke Guangzhou bersama anaknya yang masih kecil yang seperti anak Tionghoa itu. Perencanaan pertama yang muncul di pikiran saya adalah apa yang diucapkan Cak Nur. bekerja adalah tingkatan syukur yang tertinggi setelah mengucapkan alhamdulillah dan istighfar (minta ampun). Yakni. Anaknya harus transplantasi ginjal di Guangzhou. Waktu senja sudah tiba. membawa koran lokal yang juga memberitakan kejadian serupa. Saya sudah beberapa kali mengucapkan alhamdulillah. Khawatir Berubah Tak Bisa Menulis Baik 21 September 2007 KARENA yang diganti ini adalah hati. Terpaksa si paman menelepon bapak si kecil. keluarga salah satu direksi Grup Jawa Pos sendiri mengalaminya. si paman memaksa menggendongnya pergi. (Bersambung) Ganti Hati 27 – Liver Ganti. setelah istrinya melahirkan. sebagai tanda syukur kepada-Ku”. si kecil pergi ke taman bermain dengan pamannya yang juga membawa ciri fisik keturunan Arab. begitu sembuh. tentu anaknya juga masih membawa ciri-ciri fisik bapaknya. Setahun kemudian. Suatu saat. Ada yang menerima informasi bahwa kenalannya langsung berubah menjadi amat jeleknya. seperti dikatakan Cak Nur. Juga sudah sering mengucapkan istighfar. Tim saya juga mengatakan begitu. apakah perasaan saya tidak berubah? Pertanyaan itu bahkan datang dari diri saya sendiri. Dulu. Operasi itu sukses sekali. Kulitnya putih bersih. ketika pemikir itu ditanya mengenai apa bagaimana berislam yang baik dan enak. Saat menangis itulah. Si paman diamankan dengan sangkaan melarikan anak penduduk setempat. Bahkan. Akhirnya. ketika baru sebulan antre untuk mendapatkan donor. Tapi. Saya sendiri. Itulah juga yang akan saya tiru. kemudian berumah tangga. tertulis “Bekerjalah. urusan selesai. kerja keras lagi. Ini karena donornya dari India. badannya menjadi berbulu. Anaknya tumbuh dewasa. tidak berani bikin janji kapan menerima tamu dan kapan harus rapat. si kecil tidak mau. Tinggal. pemilik pabrik sepatu di Surabaya yang asli Gorontalo itu. si paman mengajak si kecil kembali ke hotel. “Bekerjalah yang sungguh-sungguh. Kecuali yang amat penting. saya tidak berani bikin perencanaan yang agak panjang. begitu tidak pastinya penyembuhan sakit saya. Sejak sebelum dilakukan transplan sampai sesudahnya. Di akhir ayat yang mengisahkan soal ini. Bersyukur dengan cara bekerja keras. Saya akan mensyukuri keberhasilan transplantasi liver saya dengan meneruskan kerja keras. Anehnya. Lalu mengisahkan keberhasilan Daud mengalahkan Jalut (Goliat). Bahkan.Kini saya sudah bisa membuat perencanaan. polisi turun tangan. wahai keluarga Daud. anaknya seperti Tionghoa. Apalagi. Bahkan sampai menangis. Si kecil kian berontak dan berteriak-teriak. Ketika di rumah sakit.” kata Cak Nur. Kali ini menyangkut wanita Shanghai yang baru transplantasi jantung 76 by Moezhanks .

Mengapa? Ada dua tujuan. sering menugasi wartawan agar mewawancarai tokoh-tokoh yang berhasil mengatasi penyakitnya. tidak mau keluar rumah. dan introvert. mengendarai mobil. Yakni menceritakan hal-hal detil yang dianggap sepele. langsung dilarikan ke RS dan harus menjalani transplantasi. Waktu itu jantungnya mogok di atas pesawat dalam penerbangan ShanghaiShenyang. Karena itu. 77 by Moezhanks . Koran tersebut juga menampilkan foto keluarga itu yang lagi bergurau di rumahnya.” ujar suaminya seperti diberitakan China Daily. Kalimat-kalimat yang panjang membuat dada pembaca sesak. ada seorang teman yang setengah bertanya dan setengah menyesalkan: Penyakit kok diberitahukan ke orang-orang. mantan redaktur Jawa Pos yang kini menjadi redaktur majalah Swa. Tapi. Sebuah tulisan yang deskripsinya kuat. Kepadanya saya jelaskan bahwa saya dulu. Semakin pendek sebuah kalimat. penakut. akan membuat tulisan menjadi lincah. Imajinasi pembaca kadang lebih hidup daripada sebuah foto. Mengutip kata seorang sumber berita dalam sebuah kalimat panjang sama saja dengan mengajak pembaca mendengarkan khotbah. sebagian lagi untuk mengetes apakah saya masih bisa menulis dengan baik. Kutipan itu -direct quotation-juga harus pendek-pendek. ketika masih jadi pemimpin redaksi Jawa Pos. Tapi. Inilah salah satu kunci kalau jurnalistik tulis masih diharapkan bisa bertahan di tengah arus jurnalistik audio visual. Tapi. seminggu setelah operasi. di koran lagi. harus wartawan yang menuliskan ceritanya. bisa membawa pembaca seolah-olah menyaksikan sendiri suatu kejadian. apakah yang paling saya takutkan? Kekhawatiran utama saya ternyata ini: tidak bisa lagi menulis baik. Tidak semua orang bisa menulis baik. Saya jawab: Kali ini saya memang minta jangan ada satu foto pun yang disertakan dalam tulisan ini. begitu saya mengajar. semakin membuat tulisan itu seperti kucing yang banal. Saya memaksakan diri untuk memulai menuliskan pengalaman saya ini. Pertama. dengan selingan kutipan-kutipan pendek. Saya juga selalu mengajarkan agar dalam menulis kalimat-kalimatnya harus pendek. “Bahkan kalau naik mobil suka ngebut. Saya juga sering membayangkan jangan-jangan mengalami hal yang sama. Secara terbuka. Deskripsi yang kuat bisa membuat pembaca seolah-olah merasakan sendiri kejadian itu. Turun pesawat. Karena itu.” kata suaminya. Saya sering mengajarkan kepada wartawan kami agar jangan mengabaikan diskripsi. Wanita itu biasanya pemurung. begitu saya mengajarkan. Kalimat pendek. saya akan mengetes diri sendiri agar dalam tulisan ini memberikan sebanyak mungkin deskripsi. Ketika saya sendiri mengalami itu. saya sudah minta laptop.di Kota Shenyang. mengapa tidak disertai foto-foto? “Bukankah Anda dulu mengajarkan setiap features harus disertai foto? Kalau perlu pinjam ke sumber berita?” tanya Edy Aruman. Karena itu. dia mulai menyenangi internet. Deskripsi yang kuat bahkan bisa menghidupkan imajinasi pembaca. Sebagian agar tidak ada catatan di otak saya yang hilang. tulisan itu bisa membuat pembaca seolah-olah bercakap-cakap sendiri dengan sumber berita. Yang lebih mengherankan lagi. beberapa bulan setelah operasi. Kalau itu sampai terjadi. Kini giliran saya bertanya kepada pembaca: Apakah ada perubahan dalam gaya penulisan saya? Memang. saya harus fair. “Saya menjadi agak khawatir pada istri saya. saya harus mau menuliskannya. wanita itu kemudian suka main saham di pasar modal. tapi sebenarnya penting. Apalagi kalau di sana-sini diselipkan kutipan omongan orang. dan banyak omong.

Saya berharap software yang saya inginkan itu segera dibuat. Kalau tidak mengisinya. 78 by Moezhanks .” ujar yang lain. Prinsip-prinsip jurnalistik yang baik harus lebih dipentingkan. Tentu dengan nada penuh humor. si reporter tidak bisa menekan tombol “kirim”. reporter harus menekan tombol “kirim”. Lalu. Jangan hanya dijadikan bahan gosip semata. Sampai hari ini. Tapi. Melinda Teja. berarti juga ada kemunduran dalam kemampuan saya menulis. Orang lainlah yang tahu. Lalu.Alasan kedua mengapa foto tidak disertakan di tulisan ini adalah: Semua foto akan dimuat ketika tulisan ini diterbitkan dalam bentuk buku. ide ini penting justru untuk menyesuaikan praktik jurnalistik di alam kebebasan mutlak seperti sekarang. wedok ora” (tidak laki-laki dan juga tidak perempuan). dia tidak akan bisa menekan tombol “kirim”. tanggung jawab justru lebih besar. tanggung jawabnya jelas. itu karena saya ganti liver. Kalau saja seperti itu. termasuk foto-foto liver saya yang lama. misalnya. Nah. “Saya justru khawatir kalau itu liver Laura. Laura yang dimaksud adalah “lanang ora. “Saya sangat khawatir kalau liver yang didonorkan itu punya sifat asli seorang gay. tim saya ternyata juga sering menyinggung kemungkinan perubahan perilaku saya pascatransplantasi. Kalau “belum”. Foto-foto seputar operasi. saya bisa menyumbangkan ilmu manajemen ke dalam jurnalistik melalui penerapan “rukun iman” Jawa Pos. Kalau kelak ada reporter yang menipu dengan cara mengisi kolom yang salah. Dalam alam demokrasi seperti ini. pertanyaan sudah berimbangkah berita yang Anda tulis? Apakah pihak-pihak yang Anda tulis sudah diwawancara? Dan seterusnya. “Kita harus segera carikan pekerjaan yang cocok. saya ingin di setiap komputer yang digunakan reporter dilengkapi software check-list. Dalam proses pengiriman berita dari komputer ke komputer itu.” tambahnya. Saya sendiri tidak tahu apakah tulisan saya mengenai pengalaman ganti liver ini masih mencerminkan doktrin jurnalistik saya itu. Kalau tidak. Jawa Pos-lah yang pertama menerapkannya. masih ada satu lagi ide saya yang akan saya sumbangkan ke dunia jurnalistik. Saya tidak puas dengan lambatnya pelaksanaan ide ini karena saya tidak lagi dalam posisi pemimpin redaksi.” tambahnya. Setiap membicarakan persiapan transplantasi. apa salahnya dilakukan. bos Pakuwon Jati itu. Setiap kali reporter selesai menulis berita kan harus mengirimkannya ke redaktur untuk diedit. Sumbang-menyumbang dari satu disiplin ilmu ke ilmu yang lain. Maka. namun penerapannya masih memerlukan pembuatan software komputer. Setiap pertanyaan disertai kolom isian. saat menekan tombol “kirim” itulah. Maka.” gurau Melinda. Dan jangan-jangan. Misalnya: Apakah Anda sudah membaca ulang tulisan Anda? Di belakangnya dimunculkan kolom isian: sudah dan belum. Sebenarnya. Misalnya mengenai cover both side. Untuk kemajuan. saya belum merasakan perubahan apa-apa. Di tulisan mendatang saya juga akan menceritakan sumbangan “ilmu tauhid” ke dalam bisnis dan manajemen. Padahal. saya ingin agar di layar komputer muncul dulu sejumlah pertanyaan yang harus diisi si reporter. tapi juga sumbangan IT ke dalam jurnalistik. Itu bukan saja menjadi sumbangan saya ke dunia jurnalistik berikutnya. menyumbangkan software untuk prinsip cover both side yang penting itu. Ide ini sudah saya kemukakan lima tahun yang lalu. Lalu. “Kalian yang laki-laki harus waspada. diri sendiri kadang memang tidak bisa merasakan. pemberitaan yang berimbang. tentu saya berharap segera diberi tahu.

Begitu seminggu setelah operasi berhasil (umumnya mereka tandai dengan bisa jalan-jalan). Kalau saja usaha itu tidak berhasil. Yakni silicon scar treatment. Akibat sayatan pisau bedah yang panjang. saya pasti langsung lupa diri. Sejak itu. (Waktu saya menulis bahwa Tiongkok dengan kekayaan barunya sudah mampu membeli saham perusahaan raksasa Amerika yang bernama Blackstone. Tim Surabaya juga demikian. bicaranya kromo inggil. Itu sebabnya bahasa Inggris membedakan mana kata “rumah” (house) dan mana kata “rumah” (home). dokter sudah mengizinkan saya pulang. ketika saya ajak omong Mandarin. Semangat menjalani ibadah luar biasa. seorang pembaca mengirim SMS ke saya: Tiongkok sudah pula membeli hajar aswad?) 79 by Moezhanks . Tapi. Terutama yang biasa digunakan ibu-ibu yang melahirkan secara caesar. pasien langsung membuat rencana tanggal berapa akan pulang. apa kromo inggil untuk forward? Keinginan pasien untuk cepat-cepat pulang memang agak ajaib. terutama Robert Lai. Sebab. biar dua bulan menunggu pun asyik-asyik saja. Makanya. Lebih terutama lagi ibu-ibu di Amerika. Dia tahu. kemudian. berarti dia Konghucu atau Buddha. Aneh. Kromo inggil pas sekali kalau dipakai bicara soal ajaran sangkan paraning dumadi. dia tidak nyambung. Saling SMS dan email pun pakai kromo inggil hingga suatu saat kebentur kata forward. saya lagi mengusahakan untuk memperhalusnya. Saya masih memesannya lewat internet karena hanya di AS barang itu dijual. Pak. Suasana kebatinan setelah operasi mirip dengan setelah berhaji di Makkah. Nah. “Saya bukan Kristen. Oh. Dia Tionghoa dan lulusan Fakultas Teknik Universitas Kristen Petra Surabaya. Bahkan. tim saya. Sebuah konotasi yang ternyata salah. perancang Gedung Jatim Expo dan Rumah Cepat Tsunami Aceh. Bahkan. Sebelum tiba hari pelaksanaan haji. Agar tidak lupa bahasa Jawa tinggi itu. di rumah saya menggunakan bahasa Banjar. Saingi Cucu 22 September 2007 TEPAT sebulan setelah transplantasi. misteri kampung halaman. “Kalau selama ini sudah sabar enam bulan.” ujar tim kami. anggaplah saya baru saja melakukan caesar tiga kali berturut-turut. mencoba sore hari. Sudah tawaf siang hari. kulit perut saya tidak mulus lagi. Dia Tionghoa. Rasanya ingin terus dekat dengan Ka’bah dan mencium berkali-kali hajar aswad. tim dokter tidak membawa ahli obras malam itu.” jawabnya. Dulu Budi itu. ada yang minta biar enam bulan baru pulang juga lebih baik. Fokus pikiran sudah berubah: Pulang! Pulang! Pulang! Ini bagian dari misteri rumah. kalau pulang. Ini baru saya ketahui setelah bertahun-tahun kenal. Sudah pagi hari mencoba malam hari. 6 September yang lalu sebenarnya saya sudah bisa kembali ke Indonesia. Ada cara yang katanya cukup mujarab. (Bersambung) Ganti Hati 28 – Tunggu Pulang Diimunisasi Hepatitis B. saya selalu kromo inggil kepadanya. Jadi. “Rupanya. Ada sederet bekas jahitan yang kasar. “Apakah tidak ke gereja?” tanya saya saat dia mengajak rapat soal Aceh di hari Minggu. saya tahu dia salah satu tokohnya. filsafat ojo dumeh dan hukum “timba sing kudu nggoleki sumur”. “Saya penganut Sapto Dharmo. ketika menjenguk saya. mengapa tambah dua bulan lagi tidak kuat?” tambah Ir Budiyanto. Karena itu.” jawabnya. Tawaf (berjalan memutari Ka’bah) dilakukan berkali-kali -meski “tawaf” di mal dan supermarket juga tidak bosan-bosannya. saya kira.Yang jelas sudah berubah adalah perut saya. sebuah batu hitam (blackstone) di pojok Ka’bah. Saya berpikir salah sekali lagi. seorang Kristen. minta saya lebih bersabar. Saya yang Jawa bicara Mandarin.

rumah sakit mana yang punya pengalaman cukup untuk pasien seperti saya? Walhasil. Tidak kejangkitan hepatitis atau sel bibit kanker. Saya harus mencari kawan baru. tekun.” kata saya pada suster yang akan menyuntik. Saya tidak sampai hati melihat pemandangan itu. Saya perlu sejumlah tenaga yang punya antusiasme menangani pekerjaan tersebut. Sedang kalau saya pulang. Saya tidak tega kalau harus berebut seperti itu caranya. “Saya kaget. Karena itu. begitu pulang dari Padang Arafah. Berarti juga harus mau menjadi narasumber untuk bagi-bagi pengalaman kepada 80 by Moezhanks . saya berencana mendirikan lembaga yang tugasnya gerilya ke kawasan-kawasan miskin untuk mencari anak yang belum diimunisasi. Saya sudah amat senang kalau tulisan saya ini memberikan manfaat. saya selalu berusaha menciumnya dengan hati saya yang dalam. Suster tertawa. Yakni pada hari saya mengungkapkan mengapa saya sampai menderita penyakit seperti itu. Saya masih harus menjalani satu proses yang amat lucu: Imunisasi hepatitis B.” tulisnya di SMS-nya. saya belum bisa mencium hajar aswad -secara fisik.” kata Pinto Janir dari Padang kirim SMS ke saya. apalagi begitu selesai salat Idul Adha. Kebiasaan saya Lebaran di Makkah tidak bisa saya lakukan lagi tahun ini. Saya tersenyum mendengar bahwa saya harus menjalani beberapa kali suntikan imunisasi. Di dua negara itu ada rumah sakit yang punya pengalaman merawat pasien pascatransplan. Mungkin akan ada manajemen yang lebih baik untuk mengatur antrean itu. meski entah sudah berapa kali saya ke Makkah. Saya akan membiayai kegiatan itu. Hasil tes terakhir memang menunjukkan bahwa liver baru saya bersih. “Sudah umur 56 tahun baru imunisasi. Tapi. Saya kembali tersenyum. Maka. Antiklimaks yang tajam. Tidak ada lagi teman-teman lama yang saya kunjungi setiap hari. Saya dapat informasi bahwa dokter-dokter anak di Surabaya juga kebanjiran bayi yang minta diimunisasi hepatitis B. Bahkan. Mereka memang tidak perlu khawatir. Sudah antiklimaks. Bahkan. “Hati” dalam pengertian pedalaman saya -bukan hati dalam pengertian liver saya. Oh. saya tidak akan sudi menciumnya”. Begitu bisa jalan.Karena itu.” tambahnya. Bersaing dengan Icha. Kampanye yang berhasil. Kemacetan manusia selalu terjadi di sekitar hajar aswad. suatu saat saya akan menciumnya. tinggal saya sendiri yang dari Angkatan April 2007. suasana di sekitar Ka’bah tidak pernah sepi. Mereka berebut menciumnya. cucu saya. Pasti pagi-pagi mereka sudah baca Jawa Pos. saya memutuskan baru akan kembali ke Surabaya sekitar seminggu setelah Lebaran. Tuhan pasti tahu isi pedalaman saya. pikirannya sudah langsung fokus ke pulang. “Jam lima pagi sudah lima ibu yang mendaftar. kalau terjadi apa-apa. Karena itu harus segera dilindungi dari dua makhluk halus (karena hanya bisa dilihat oleh mikroskop) yang pernah mengancam jiwa saya itu. saya baru tahu sebabnya. Pasien Jepang bahkan tiga minggu sudah check-out. Diam-diam. Tuhan kita adalah Tuhan yang cerdas. Bahkan sudah menjadi seperti satu network dengan pusat transplan di Tiongkok ini. “Uda. “Departemen Kesehatan harus membayar Anda. Tentu. Begitu juga pasien transplan liver. dan njlimet. Karena teman-teman se-”angkatan” saya sudah pada pulang. “Kalau bukan karena Rasulullah pernah menciumnya. Kecut. Kadang dengan cara menyikut dan menyingkirkan orang lain. luar biasa tidak sabarnya. saya tidak mengharapkan bayaran itu. Ada terus kegiatan orang di Makkah sebelum hari haji.” kata dr Wawan yang dulu pernah jadi anggota yang aktif di Dewan Pembaca Jawa Pos. Kok tumben. Toh mencium hajar aswad itu bukan rukun tawaf. Maklum. Syayidina Umar pernah mengatakan. rasanya sudah amat berbeda. Ternyata benar juga bahwa saya tidak buru-buru pulang. Bagi yang masih lama dapat giliran pulang. Pasien dari Taiwan umumnya sudah pulang sebulan setelah transplantasi. sudah terlalu lama menunggu di rumah sakit ini. Tentu. agak siang sedikit.

Lebih segar dan merah daripada yang saya lihat sebelum operasi. Bahkan. Pasien kedua yang saya lihat pun begitu.” katanya sambil menyingkap bajunya. Dilakukan sendiri oleh dokter setempat karena dia juga ahli. Saya melakukannya dengan senang hati. Terlihatlah di kulit perutnya bekas sayatan dan jahitan yang panjang. Bahkan. Begitu jugalah saya nanti. dan seterusnya. Slang itu. Jadi. Perawatan terhadap slang yang masih ada di pinggangnya pun dilakukan di negerinya.” kata seorang perawat. seminggu sudah bisa jalan. Juga kian segar badannya. Saya kian rajin senam untuk membuat badan saya lebih segar. juga mulut susternya. Lalu. Giliran saya memberikan semangat. Yakni yang transplantasi enam bulan sebelumnya. Tapi. Dia saja. Pasien keempat. pikir saya. waktu seharusnya dia kembali ke Tiongkok untuk mengeluarkan benda yang dipasang untuk menyambung livernya dulu. tiga orang di antara mereka (antara umur 60 dan 70 tahun) mau saya ajak masuk kamar saya. “Oh. saya tidak harus membeli semangat. Serombongan besar orang Korea memenuhi lantai 11. meski thimik-thimik. Jawaban-jawaban itu tidak terlalu memengaruhi psikologi saya. tentu lima hari setelah operasi sudah bisa jalan. begitu pertama melihat pasien yang jalan-jalan di koridor rumah sakit dengan kantong plastik berisi cairan merah menggantung di pinggangnya. saya memang suka bertanya kepada pasien yang baru saja menjalani operasi. optimisme saya kian menyala-nyala. Ternyata dengan suka rela mereka menceritakan segala pengalamannya.” jawabnya. Jalannya thimik-thimik pelan. Mereka ingin datang lagi bersama keluarga dan kerabat. dipasangi masker. Pasien ketiga juga sama. pasien yang sebelum operasi kelihatan matanya sudah amat keruh. Selama empat bulan menunggu operasi. Saya ingin ikut memberikan semangat agar mereka optimistis menghadapi operasi besar. Agar bisa bicara lebih santai. Sebulan setelah transplantasi langsung pulang. Untuk menunjukkan di sinilah dulu mereka dapat sambungan nyawa. seminggu setelah operasi juga sudah bisa jalan. Dia seorang wanita 60-an tahun dari Pakistan. napasnya sudah tersengal-sengal. Kalau badan saya lebih kuat. sudah tergeletak tidak bisa berjalan. Mulutnya. Transplantasinya sukses dan amat sehat. Hati baru. Suatu saat ada contoh-hidup yang lain. Meski badannya kelihatan lemah. tiga bulan kemudian. Rasa optimistis kian hari kian besar setelah melihat pasien tadi di hari-hari berikutnya. kelima. Oh! Baru seminggu yang lalu! Sudah bisa jalan.mereka. Saya pun merasa dapat semangat yang sama dari pasien yang menjalani transplan sebelum saya. Dahlan. Juga lebih merah. Semua kurang lebih sama. “Lihat ini. Kian hari kian cepat jalannya. Tiba-tiba saya penasaran. Agar tidak jadi sumber infeksi. tentunya. saya hanya sekali mendengar orang meninggal. wajahnya segar. Saya lebih semangat makan. hanya seminggu! Sudah bisa jalan! Kau nanti juga harus begitu! Kalau perlu lima hari! Dengan melihat contoh nyata itu. Bahkan. dia tidak ke Tiongkok. begini ya orang habis transplantasi. tanpa harus merasakan enaktidaknya. Badannya lebih kurus daripada yang saya lihat sebelum operasi. saya tertegun. Seminggu sudah bisa jalan! Saya pun akan begitu nanti! Seminggu. berikut kantong plastik kecil. Sebelum operasi. Saya merasa mereka beri semangat. memang masih terus akan di situ selama tiga bulan. ajaib memang transplantasi ini. 81 by Moezhanks . Mungkin memang politisi yang sibuk. Di kamar saya semangatnya menjadi-jadi. Di negaranya langsung aktif karena memang terasa sudah amat sehat. Atau ke keluarga mereka. Toh. Konon. ingin bertanya masak kini mereka bisa begitu sehatnya. Wisatawankah mereka? “Mereka adalah orang-orang yang dua-tiga tahun lalu transplantasi di sini. yang badannya memang sudah kurus dan umurnya sudah 62 tahun. seorang anggota parlemen. saya tanya kepada susternya: Sudah berapa hari dia operasi? “Tepat seminggu yang lalu. Tiap dua minggu harus dibersihkan dan dirawat. Lengannya dipegangi oleh suster.” pikir saya. Ada pemandu wisatanya.

Dia ngiri melihat badan saya yang sehat dan agak gemuk. Tapi. Bicaranya. satunya lagi dari Harbin. Rambutnya disasak tinggi. tapi juga kondisi badannya. karena saya pernah lama di sana: Belajar bahasa Mandarin dengan cara home stay. Dia sendirian. Sendirian. “Saya nanti pulangnya mungkin paling belakangan. antara lain. namun menunggu kondisi badannya stabil. dia terkena infeksi. Saya juga berjanji kepadanya untuk terus memberinya semangat. sirosis.” katanya. Saya memahami keadaannya.” katanya. Tiongkok. “Perut saya sudah berisi air. “Umur saya juga sudah 69 tahun. Juga sudah tak terhitung lagi berapa kali saya ke Harbin sesudah itu. Bukan saja mengenai umurnya. “Umur saya sudah 72 tahun. dan intelektualnya bisa nyambung dengan saya. guraunya. tentu orang akan mengira dia hamil. 82 by Moezhanks . Dia juga tidak bisa berbahasa Mandarin sehingga hanya saya pasien yang bisa dia ajak ngobrol dalam bahasa Inggris. Di lain waktu wanita Harbin tadi curhat yang lain lagi. (Bersambung) Ganti Hati 29 – Sering Kaget Disapa Wanita Modis dan Ceria dalam Lift 23 September 2007 DI masa menanti waktu pulang ini. Kian lama kian parah.” kata wanita yang dari Jepang itu suatu saat kepada saya. Lalu datang lagi ke Tiongkok untuk menyelamatkannya. dia bahkan pergi naik haji. Satu dari Jepang. Bajunya bagus-bagus dan mahal-mahal. Di Tiongkok dia akan ditransplantasi sekali lagi. Saya tidak harus buru-buru pulang. Lebih dari itu dia juga mengidap sakit gula. saya kehilangan dua teman wanita yang paling saya akrabi. Kami biasa saling curhat. Yang ditunggu tidak segera tiba. Tidak satu pun keluarganya mendampingi. “Kalian sudah pulang semua.” tambahnya. Saya menjawab: Saya juga tidak akan buru-buru pulang. Saya memang tidak menceritakan bahwa gemuk saya waktu itu karena bengkak. Saya cepat akrab dengan wanita Harbin ini. Sepatunya seperti Cinderella. Wanita yang dari Harbin lebih mengeluh lagi. Kalau saja dia masih muda. Saya harus belajar dari pengalaman itu. Saya tahu bahwa sakit gula akan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sukses tidaknya transplantasi. Terutama kalau istri saya pergi belanja. dan kanker hati. “Saya nanti tidak sesukses kamu. Apalagi mereka senasib: juga hepatitis. Keduanya tinggal di lantai yang sama. Saya ceritakan kenyataan bahwa ada pasien lain yang juga punya sakit gula toh berhasil dengan baik juga. Dua-duanya juga amat cantik -terutama kalau penilaian ini saya berikan 35 tahun yang lalu. Entah proses pengambilan benda asing itu yang salah atau karena kegiatannya yang berlebihan.” tambahnya. Saya sering sekali mengunjungi kamar masing-masing dan ngobrol berlama-lama. saya tidak menceritakan bagian ini padanya. Dua wanita itu juga amat mengesankan. Bahkan memburuk. Dan akhirnya meninggal. saya akan masih di sini.” katanya. saat keduanya masih kira-kira berumur 30 tahun.Beberapa saat setelah itu. Yang wanita Jepang amat modis.

Bajunya. Miskin Bermartabat”. Rumah pun masih menyewa di satu gang sempit di belakang pasar Kertajaya. celananya hot pants (maklum. Juga sukses. juga kalau bertemu orang seperti tidak punya rasa rendah diri. Sewaktu bertugas mengepel kamar saya. Saya dan Zainal. musim panas) dan rambutnya dimain-mainkan seperti artis Korea. Tapi. Tentu kami tetap menampakkan kegembiraan kami bahwa dia begitu sukses dengan transplantasinya. Demikian juga ketika pulang kerja. Mengapa orang di Tiongkok yang juga banyak sekali yang lebih miskin dari orang miskin Indonesia. satu moto: “Kaya Bermanfaat. ketika sudah kaya (duille!) tidak sewenang-wenang. Begitu selesai bertugas. Saya ingat direktur saya Zainal Muttaqien. Penghuni lama. akan bisa jadi model perjuangan itu. Mereka juga hafal pada saya.” katanya seperti minta pengertian. “Siapa ya wanita cantik ini. Pesuruh dan tukang pel lantai pun idem ditto. Bagaimana ketika miskin dulu tidak jatuh sampai menjual harga diri dan jabatan. Mereka sama sekali tidak punya rasa rendah diri meski pekerjaannya tukang pel lantai. Setiap masuk kerja mereka mandi dulu dan baru ganti baju perawat. Terutama pada jam-jam pulang atau berangkat kerja. saya sangat hafal pada perawat. pegawai. “Dokter saya di Jepang yang minta saya segera pulang. pakaiannya baju-kerja penyapu lantai. Muncullah istilah dari Zainal yang akan selalu saya ingat dan yang akan kami perjuangkan sebagai inti dimulainya pembangunan harga diri ini. Pasien yang kerasan di rumah sakit. para perawat itu ganti pakaian seperti model. sudah hilang. saya masih sering kecele kalau suatu saat disapa wanita yang sangat modis dan ceria di dalam lift atau di lobi. dan banyak lagi yang lain. apalagi sepeda motor. Perawat di sini memang disediakan kamar mandi dan ganti baju. Dan. Meski begitu hafal. harga dirinya lebih baik. dan dokter di rumah sakit ini. Eh. meski waktu itu sudah menyandang gelar wartawan majalah TEMPO yang begitu ternama. Yakni. tapi saya seperti tidak kenal lagi siapa dia. Ini yang disebut social-capital -modal sosial. Rumah separo tembok separo kayu. Dan ini menjadi salah satu sumber kemajuan Tiongkok. Bukan saja jarang lihat pengemis. meski kalau tertawa lantas kian terlihat umurnya yang sebenarnya. Kami sering diskusi soal kemiskinan di Indonesia dan Tiongkok. Saya ingat. Menjalani perawatan di sana. Benar.” katanya dengan meraba-raba perutnya. Meski memang lebih lambat mulai bisa turun dari tempat tidur. sama sekali tidak menyangka kalau dia tadi yang pakai baju perawat dengan topi putih. Sepatunya sepatu kungfu yang murahan. Saya sendiri akhirnya mendapat gelar ’yuan lao’ di rumah sakit ini. Bajunya you can see. bicaranya sudah keras dan tegas. sungguh membelalakkan mata. si Cinderella sangat berhasil operasinya. meski berangkat kerja dengan amat modis. tatanan rambutnya. saya lihat perutnya “sudah hilang”. Juga benar bahwa seminggu setelah operasi dia sudah menentukan tanggal pulang. Dia sering menyapa. ketika kerja tidak ogah-ogahan. cara membawa tasnya. Yang seperti itu tidak hanya perawat. saya belum punya sepeda. Tidak buru-buru pulang. Surabaya.” sering saya bertanya dalam hati. Yang wanita Harbin juga sudah menjalani transplantasi. Pasti semakin modis dia nanti. Juga sudah bisa tertawa. Yang kamar 83 by Moezhanks . begitu pulang. baru sadar bahwa mereka adalah perawat atau pesuruh yang tadi melayani saya. Karena ’yuan lao’. Sebaliknya.Benar saja. Ini agar kuman yang terbawa perawat saat berangkat kerja tidak terbawa ke pasien. “Perut saya yang mulai buncit dulu itu. Bank Dunia menyebutkan social-capital ini menjadi faktor penting kemajuan Tiongkok di samping modal finansial. Rupanya mereka biasa ganti-ganti baju.

ternyata ada baiknya juga dia pulang lebih dulu. Atau. saya pilih naik kapal kayu ke Banjarmasin dulu. ditanggung sendiri. Kalau upaya meniru ini berhasil. kalau di rumah sakit ini. sering terbelit filsafat ’unggah-ungguh’. kalau yang lalu-lalang di dalamnya kumuh-kumuh. Waktu harus pulang ke Kaltim. tentu banyak orang yang akan memberi saya tiket. saya belajar bagaimana menjalani pekerjaan rendahan dengan jiwa yang kuat. Sebab.” kata saya. Saya sudah minta manajemen Graha Pena untuk menghitung konsekuensi biayanya. membangun kepercayaan diri begitu pentingnya. kok ingat dia lagi sih?). nggak menarik jadinya. sekadar berdemo. Lalu naik kendaraan umum berupa jip terbuka yang penuh sesak dengan penumpang. Lalu muncul ide gila yang tidak masuk akal. belum tentu lipstiknya digunakan. tulisan ini tidak akan bisa selesai tepat waktunya. kalau tidak mau dibilang kurang ajar. saya diberi amplop. ’sopansantun’. Betapapun bersihnya sebuah kota. para wanita yang lalu lalang di kota itu harus juga terlihat cantik. Tapi. lipstik. Waktu harus wawancara ke daerah industri di Tandes Margomulyo. “Istri saya hamil muda. Meski Tandes-Kertajaya begitu jauhnya. Miskin Bermartabat” belum menjadi budaya. Dari Kertajaya ke Jembatan Merah Rp 25. dan biaya ke salon. filsafat “Kaya Bermanfaat. saya hanya punya uang Rp 75 di saku. Saya tahu isinya pasti uang. Hampir dua jam. Maka. Mereka bisa membedakan ’rendah diri’ dan ’rendah hati’. sepatu. agar murah. Belum ada bus waktu itu. saya bilang kepada sopir agar boleh naik di kursi dekat sopir. Salah satu kesimpulan saya. Sedangkan kita. tapi berjilbab pun akan dicarikan jilbab yang modis. penampilan Graha Pena juga akan lebih “keren”. di Graha Pena kami akan mencoba memberikannya secara cuma-cuma kepada pegawai bagian cleaning service-nya. Yang kasur tipisnya harus dihampar di lantai. misalnya.mandinya dipakai bersama beberapa rumah tangga. yang sebenarnya tetap bisa kita lakukan tanpa harus jatuh ke derajat ’rendah diri’. Tentu semua biaya seperti itu. lalu dari Jembatan Merah ke Tandes Rp 50. Petugas cleaning service tidak harus merasa rendah diri. Kembali ke dua wanita tadi (eh. Karena beberapa kali harus berhenti untuk menghindar dari panasnya Surabaya. Maka. Hanya cukup untuk naik bemo berangkatnya. Tapi. ’tawaduk’. Kalaupun dilakukan. Jarang saya lihat orang Tiongkok yang merasa rendah diri. Kalau tidak. Tentu tidak harus sampai pada hot pants. Saya menolaknya meski di saku tidak ada lagi uang sepeser pun. Bisabisa dijual. Yang airnya dari sumur yang harus ditimba sendiri. Bangsa yang mudah disogok dan dipermainkan. bangsa yang kalau melihat orang kaya yang muncul kecemburuannya. (Bersambung) 84 by Moezhanks . Saya pulang dengan jalan kaki. Dan harga diri pegawai yang di situ sama tingginya. Saya kepingin sekali meniru ini di Graha Pena. eye shadow. Ide itu tentu tidak mungkin dilakukan. “Kaya Bermanfaat. Untuk membuat kota-kota di Indonesia cantik. Saya khawatir dengan istri saya. Yang juga mudah dibayar untuk. pemda yang menginginkan kotanya cantik dan menarik harus memberikan penduduknya yang wanita barangbarang ini secara gratis: Baju. Miskin Bermartabat” akan membuat bangsa ini tidak gampang jatuh ke derajat bangsa-pengemis. Selesai wawancara. Dari penampilan para perawat dan tukang pel di rumah sakit ini.

kalau ada waktu membahasnya lebih dalam. Engkau telah menyediakan makanan yang lezatlezat ini. Keahliannya pasti tidak kalah dengan dokter Singapura. Saya tidak diberi tahu alat yang mana.Ganti Hati 30 – Banyak Faktor Keberhasilan. Waktu mau makan. 6. tapi Jangan Buru-Buru Merasa Sehat 24 September 2007 MENGAPA operasi transplantasi liver saya berhasil? Setidaknya sampai hari ini? Faktor apa saja yang memengaruhinya? Jawabnya dua macam: mau yang pendek atau yang panjang. Saya mencoba merincinya sebagai berikut: 1. Saya tidak ingin para dokter menjadi ngambek seperti humor ngambek-nya seorang istri yang sudah terkenal itu: Suatu saat sebuah keluarga ingin mengundang makan malam seorang suci. kalau jawabnya itu. Tapi. Sang istri sehari penuh sibuk menyiapkan makanan yang lezat-lezat. 4. Kecanggihan peralatannya. sang suami meminta sang suci membacakan doa. Faktor mana yang terpenting. Setelah sang suci pulang. rasanya sulit menentukan. Jepang. 3. Hanya satu-dua yang mengatakan. Bahkan. Terutama ingin menulis sesuatu agar para dokter tidak kehilangan semangat karena tidak dipuji sama sekali. Tersedianya peralatan yang canggih ini sangat terkait dengan kemampuan dana dan 85 by Moezhanks . Siapa yang bisa membantahnya? Siapa yang berani mempersoalkannya? SMS yang masuk ke saya pun hampir semuanya bernada begitu. dan di rumah sakit ini. saya tidak perlu lagi menulis. saya ingin menulis. Selama makan sang istri merengut saja. Tapi. Kalau mau pendek dan tampak religius. Kemampuan manajemen rumah sakit dan tim operasinya. Mau yang religius atau yang ilmiah. Korea. Saya ingin memujinya. ada satu alat yang hanya empat di dunia: di AS. Sudah tentu tidak hanya faktor keahlian dokter yang menjadi satu-satunya kunci sukses. si istri menggugat suaminya: Tidakkah tadi kau laporkan kepada sang suci bahwa sayalah yang sehari penuh menyiapkan makanan ini? Saya tidak ingin para dokter njegol seperti si istri itu. pasti juga akan diketahui ranking-nya. kesempatan untuk memperoleh pengalaman yang banyak sangatlah minim. Keberadaan donor yang sangat prima. Keahlian dan pengalaman dokternya.” Tapi. di Indonesia pun tidak akan kalah. Saya pernah menerima keluhan dokter ahli bedah jantung seperti Prof Dr dr Paul Tahalele. 5. Kemajuan obat-obatannya. jawabnya ini: semua itu berkat tangan Tuhan. Mereka mengatakan semua ini karena Allah. Tapi. Tuhan. Baik karena langkanya donor maupun minimnya peralatan.” Ucap sang suci mengakhiri doanya. Tidak perlu lagi tambahan apa-apa. Soal keahlian dokter. Bagaimana bisa punya pengalaman transplantasi liver 150 kali setahun kalau di negeri itu orang tidak bisa mendonorkan organnya? Mengenai kecanggihan peralatan. Kondisi badan saya yang masih baik. rumah sakit ini tergolong yang terbaik di dunia. Selesai. “Semua ini karena Allah dan kepintaran para dokternya. “Terima kasih. 2.

Salah satu pasien yang saya kenal kelihatan gembira sekali di hari pertama dan kedua setelah keluar dari ICU. Kegagalan yang terbanyak kini karena tekanan darah tinggi dan gula darah. Kadang saya sadari bahwa ternyata tidak seharusnya saya marah karena ternyata dia tidak salah. bagi-bagi uang ini terdengar juga oleh pensiunan karyawan yang lain. Tergantung perasaan saya seberapa saya merasa bersalah. Begitulah nasib dokter kita meski itu juga dialami bidang yang lain. Ini karena jantungnya memburuk. Atau. Misalnya. Tentu. Saya juga sering mengadakan khataman Alquran yang diikuti para hafiz (orang yang hafal Quran). itu tentu ada kelas-kelasnya. Itulah sebabnya. Bahkan. tapi kondisi badan saya sudah tidak bisa lagi menunggu lebih lama. saya sudah menghitung semua faktor di atas. obat-obatan yang harus dimakan setelah transplan menimbulkan efek samping di dua sektor itu. Mereka juga melihat tanda-tanda nonfisik yang saya lakukan. saya membuat keputusan justru harus melakukan transplantasi ketika saya masih sehat. Untuk Indonesia. kalau saja saya tidak sabar menunggu. “Apakah Pak Dahlan sudah mau mati? Mau khusnul khotimah?” komentar seorang teman secara diam-diam tapi sampai juga ke telinga saya. saya tiba-tiba mengundang teman-teman yang ketika bekerja di Jawa Pos dulu pernah saya marahi. Ada yang cuma Rp 5 juta.keinginan pemimpinnya. Mungkin akan mendapat juga donor. tentunya donor seperti apa pun akan diterima. Maksud saya ketika organ-organ lain saya masih baik. Di bidang kemajuan obat-obatan harus diakui bahwa kemajuan penemuan obat baru bukan main cepatnya. akan lain hasilnya. juga ditentukan oleh kondisi pasien. dan wajah sudah menghitam. antara lain. Kalau saja terlambat mengambil keputusan. mungkin banyak yang pesimistis. dia menghubungi saya lewat SMS: saya menyesal mengapa dulu tidak pernah dimarahi. tapi kualitasnya belum tentu sebaik yang ada di dalam badan saya sekarang. sekarang jumlahnya hampir nol. ada yang sampai Rp 100 juta. Kalau sejak sebelum operasi saya optimistis bahwa transplantasi ini akan berhasil. Kondisi pasien yang prima memegang peran penting karena banyaknya komplikasi juga akan menyulitkan. Tapi kalau sudah telanjur marah. Mereka aktif berpindah-pindah di Surabaya dan tiga bulan sekali di rumah saya. dua-duanya belum bisa banyak dinanti. Misalnya. Teman-teman.” katanya. semua itu tidak saya informasikan kepada keluarga atau teman-teman. Tapi mulai lemas di hari-hari berikutnya. tapi saya yakin sudah telanjur melukai hati mereka. Obat sinkronisasi liver baru dengan organ lain sudah amat sempurna. Asal kemudian ikut diundang. Lantas. Terutama kalau mereka melihat tanda-tanda fisik saya: mulai dari sudah muntah darah. Kebetulan. “Boleh nggak sekarang saja dimarahi. Kalau saja kemajuan obat-obatan tidak seperti sekarang. Kepada mereka (baik yang sudah pensiun maupun yang belum). sudah bengkak. antara lain. Untuk kegagalan transplantasi liver karena rejection. saya sering juga kemudian minta maaf. saya berikan uang. masak bisa diralat? Yah. Rupanya. kalau saya sabar. juga para pemegang saham. Bahwa ada kualitas I atau II. Mendapatkan donor yang prima pun. Hanya saya dan tim saya yang tahu. Apalagi saya juga menyelenggarakan zikir-pidak dan ikut mendengungkan kalimat syahadat yang sudah di-compress menjadi kata pendek hu itu ribuan kali. mungkin juga banyak halangannya. Toh semua donor sudah diperiksa kualitasnya. saya tidak memiliki bakat darah tinggi maupun gula darah. obat antiinfeksi juga sudah membuat kegagalan karena infeksi amat minim. 86 by Moezhanks . Sebab.

dia melakukan transplantasi dalam keadaan sudah amat terlambat. Kian Tidak Jelas Hitungan Umur Saya 25 September 2007 UMUR berapakah saya sekarang? Tepatnya saya tidak tahu. Kakak sulung saya memang pernah mencatat tanggal kelahiran saya. sepulang dari Tiongkok nanti. Juga berhasil. Singapura memang punya reputasi yang baik untuk perawatan pascaoperasi. Pelajaran lain yang saya dapat adalah: Jangan buru-buru merasa sehat dulu. Artis itu sudah amat terlambat melakukannya. Madame Ho Ching. (Bersambung) Ganti Hati 31 – Setelah Transplantasi. cobek (mangkuk terbuat dari tanah). “Saya yang akan atur. 87 by Moezhanks . saya akan mampir dulu di Singapura beberapa hari. Singapura sudah amat berpengalaman. Karena itu. “Apakah yang Anda lakukan ini ada hubungannya dengan sakit Anda?” tanya seorang pemegang saham. dia harus transplantasi lagi di kota ini. sekeluarga. dan leper (tempat mengulek sambal. Tapi. Apalagi setelah melakukan transplantasi liver ini. Ditulis dengan kapur lunak. Ini menambah kuat tekad saya untuk melakukan transplan ketika kondisi badan saya masih kuat. diambilkan dari kapur yang biasa dipakai nenek untuk makan sirih. Cukup disangkut-sangkutkan di paku yang menancap di dinding.” Maksudnya jangan membaca yang seperti memberikan isyaratisyarat bahwa saya akan gagal dan meninggal.” tulis Madame Ho Ching dalam emailnya kepada saya. Lemari yang ada itu bikinan bapak sendiri untuk menyimpan apa saja: kaleng bekas. tidak lebih dari sepuluh. “Mbok jangan baca buku yang begituan. Kankernya sudah telanjur menyebar ke bagian tubuhnya yang lain. terbuat dari tanah). Itu bisa dilakukan dalam rangkaian perjalanan saya pulang kelak. Juga karena kami tidak bisa beli lemari. piring seng untuk makan. kanker sudah lebih menyebar lagi.Para pemegang saham juga sangat khawatir ketika saya minta bertemu dan menyampaikan sesuatu yang amat sangat pentingnya. dan sebangsanya. Yakni di balik pintu lemari kayu yang kasar. Padahal. Bahkan. Sampai-sampai tim saya bilang. Sambil menunggu saatnya transplantasi pun. Kebetulan. buku yang saya baca adalah buku kisah artis terkemuka Tiongkok yang meninggal muda setelah transplantasi liver. Berhasil. Pelajaran penting yang saya peroleh dari buku itu adalah ini: jangan terlambat ambil keputusan transplantasi. Terutama: mengapa gagal? Apa yang tidak boleh saya tiru agar saya tidak gagal? Juga ada maksud saya yang lain lagi: belajar membaca huruf Mandarin. termasuk talk show dan jumpa fans di kotakota yang jauh. Makanan juga disimpan di situ -kalau kebetulan ada. istri perdana menteri Singapura yang juga CEO Temasek Group. Mereka tidak tahu bahwa saya ingin belajar dari buku itu. Belum dua bulan sudah sibuk menghadiri berbagai acara. Itu bukan lemari pakaian karena kami tidak perlu lemari untuk pakaian. juga minta agar saya menjalani review di negaranya. Akhirnya meninggal dunia. Baju kami. Transplantasi pertama dilakukan di Beijing. untuk transplantasi “separo hati”. Akhirnya.

Pakai selamatan dan tahlilan. Selasa Legi yang tanggal berapa. sebelum disapu harus dikepyur-kepyur dulu dengan air. gambar pulaunya lebih banyak dan lebih lama hilangnya. Saya sendiri tidak peduli. Dan ketika terjadi Gestapu/PKI di tahun 1965. Tidak ada kursi atau meja makan. putra Sayidina Ali dan Sayidah Fatimah. kami juga ikut Kejawen: Bersih desa. salat id tidak mau di lapangan. itulah tugas pertama masa kecil saya: menyapu lantai. dan juga lemari satu-satunya itu. setiap Selasa Legi. Sejak masih ngompol. aliran tarikat kami Syatariyah. barulah dihamparkan tikar. Setelah ibu sakit (seperti sakit saya ini). Meski akan menghabiskan air lebih banyak. Untuk apa diingat? Untuk ulang tahun? Emangnya perlu ulang tahun? Bahwa orang itu ternyata bisa diulangtahuni belum pernah saya dengar sampai saya masuk SMA. sering ada gambar pulau di lantai tanahnya: ngompol. Kami keluarga santri. Sawah warisan yang hanya secuil. Di atas tikar itu juga kami tidur. Setelah kenduri. Ibadahnya pakai aliran NU ahli sunnah wal jamaah: tarwihnya 21 rakaat (sampai sekarang). wayangan Murwad Kolo. Lantai itu terbuat dari tanah karena tidak mampu menyemennya. Kami makan sambil duduk di lantai. Yang selalu diingat hanya hari dan pasarannya. Bahkan. bapak ingat saya lahir Selasa Legi. bukan Naqsyabandiyah. tapi bisa mengurangi rasa malu. yang berarti cucu Rasulullah. Bau kencing itu akan hilang dengan sendirinya kalau tanahnya sudah kering lagi. lantai tanah sangat ramah lingkungan -setidaknya hidung kami sudah biasa tidak menghiraukannya. Kalau musim hujan.” kata yang lain. Maka. Jangan gusar. tidak ingat.” kata seorang tokoh. kami selamatan Rebo Wekasan. ketika tikar dilipat. “Dia tahlil. Karena lantai itu akan menimbulkan debu. Perbedaan dua golongan itu sudah kian cair. entah apa bunyinya. bulan berapa. Dengan ciduk yang sama: tidak terpikirkan itu sebagai sarana yang efektif untuk menularkan virus hepatitis. Kami hafal semua kapan meninggalnya siapa. Pada selamatan ini. itu dilakukan setiap 35 hari sekali. salatnya pakai doa kunut. Inilah keunggulan yang tak tertandingi dari lantai tanah: Bisa menyerap ompol sebanyak-banyaknya! Dia seperti popok abadi! Tidak perlu dibuang yang sampahnya bisa merusak lingkungan. Dari segi ini. kiai kami menaruh gentong (tempat air yang besar terbuat dari tanah) dengan air yang penuh. Itulah peringatan meninggalnya Sayidina Hasan dan Husein. kami antre minum airnya. Yang biasa diulangtahuni adalah orang mati. Kalau mau makan. Misalnya.Itulah satu-satunya perabot rumah tangga bapak saya. Namun. pergilah lemari dari rumah kami -dan hilanglah catatan tanggal lahir saya. Paginya. Tanggal itu penting bagi anak-anak miskin karena berarti akan ada selamatan. Suatu saat saya dicap sebagai Muhammadiyah. yang aslinya milik aliran Syiah. suasana juga sudah tidak seperti itu lagi. Tapi. saya sudah harus bisa menyapu lantai. saya ini orang apa. Juga menyenanginya -terutama saya punya kesempatan untuk me-ngepyur-kan air lebih banyak di dekat pulau ompol untuk mengamuflasekannya. 88 by Moezhanks . Tiap pagi. wiridannya pakai tahlil. orang memang tidak peduli dengan tanggal lahir. aliran politik keluarga kami adalah ini: Masyumi. Di desa. Lebih aneh lagi. apa pun dijual. Ke dalamnya dimasukkan rajah kertas yang ditulisi huruf Arab yang ruwet. keluarga kami tidak mengenal itu karena kurang kejawen. alat-alat tukang bapak yang bisa dirombengkan. kini. Anehnya. “Lihat dia dari keluarga Masyumi. Tapi. sepupu-sepupu saya yang sudah dewasa semua jadi anggota Banser. Karena itu. Posisi duduk anak kecil seperti saya sangat minggir -kadang hanya dapat separo pantat saja yang di atas tikar. Saya sangat ahli me-ngepyur-kan air ke lantai ini. Semoga di langit sana tidak ada pengelompokan seperti itu. gambar pertama yang bisa saya buat ketika kecil adalah lambang partai itu: Bulan bintang. Lagi pula. Kalau toh ada orang yang selamatan kecil dikaitkan dengan hari kelahirannya. nyekar ke kuburan. Kalau bulan Syura. saya ingat. Di lain kali saya tidak diterima di kalangan Muhammadiyah.

89 by Moezhanks . 6 km dari pusat keluarga itu.Asal-usul keluarga kami adalah pelarian dari Jogja. Bapak saya kemudian menyebut. Hidup di desa. Tapi. Sudah tiga tahun saya tidak pernah berkeringat. Karena saya dari jalur wanita.5 bulan setelah ganti hati ini. Saya putuskan sendiri saja: Saya lahir tanggal 17 Agustus 1951. Yakni setelah Pangeran Diponegoro kalah karena ditipu oleh Belanda. bukankah setiap 35 hari ada Selasa Legi? “Waktu itu. Lalu beranak-pinak dan ada yang membuka hutan di timur Gunung Lawu untuk dijadikan kampung: Takeran. ke Banjarsari di selatan Ponorogo. Sampai 1. Ini karena liver lama saya juga mengecil. saya belum pernah merayakan ulang tahun sehingga tidak kian ruwet memikirkannya. saya sudah mulai bisa merangkak! Kini. Titik. bobot dan nilai dikalikan seperti ajaran ilmu manajemen problem-solving yang sangat memengaruhi saya kalau ambil keputusan? Untuk apa juga saya pikirkan.” Maksudnya ketika Gunung Kelud meletus. memang tidak boleh ada ruang kosong. Apakah harus dijumlah lalu dibagi dua? Atau masingmasing diberi bobot dan nilai? Lalu. Para panglima perangnya melarikan diri. Ibu harus ikut bapak saya. Tahunya ketika anak wanita saya bertanya kepada dokter: apa saja kesulitan dokter dalam melakukan transplantasi liver malam itu? Dokter mengatakan. Kecuali satu: Rongga dada saya sudah mengecil. Bukankah bisa ditelusuri kapan Gunung Kelud meletus? Soalnya bukan hanya itu. Ulang tahun saya adalah Selasa Legi. rasanya bisa. berusaha menyesuaikan dengan ruang yang dilindunginya. Kini. Tanpa dukungan surat kenal lahir. Tentu. tulang iga menyesuaikannya. Tiwas nanti merasa ge-er karena hitungannya jatuh bahwa saya baru berumur 38 tahun atau 45 tahun. Yang juga menggembirakan saya adalah: sekarang saya bisa berkeringat. ibu saya tidak tinggal di pusat keluarga itu. Sampai tamat SMA. secara alamiah. Saya sendiri tidak menyadari dan tidak mengetahui itu. saya tidak dianggap memalsukannya. “ada hujan abu yang sangat hebat. Jadi tulangtulang iga ikut bergerak ke dalam. ketika Gunung Kelud meletus. kemudian jatuh ke buruh tani. kian tidak jelas lagi saya ini berumur berapa. kondisi saya terus saja membaik. Sekaligus jadi pusat Pesantren Sabilil Muttaqin. Jadilah bapak-ibu saya tinggal di desa. Buktinya. saya malas melakukan riset kapan saja Gunung Kelud meletus. jawabnya tegas: Selasa Legi. Tapi sudah diakui di banyak negara. Juga setelah sedikit senam atau joging. Antara hati dan tulang iga. Jadi keluarga tani. begitu habis makan. setelah ganti liver. Ketika sudah amat dewasa dan saya bertanya kepada bapak mengenai kapan saya dilahirkan. tapi kemudian kawin dengan ibu saya. langsung berkeringat. Yang lebih saya pikirkan adalah bagaimana hati baru itu bisa kerasan menjadi “keluarga besar Dahlan Iskan”. waktu itu. Bagi saya.” kata bapak saya sambil berpikir keras. Bapak saya adalah abdi di pusat keluarga itu. Habis jalan jauh pun tidak berkeringat. Dan. terutama yang bisa membuat dada saya mekar lagi. Ketika hati mengecil. Begitu hebatnya sampai desa saya yang jaraknya lebih 100 km dari gunung di Blitar itu dalam keadaan gelap selama sepekan. Itulah tanggal lahir yang secara resmi saya pakai di dokumen apa pun sampai sekarang. saya belum peduli dengan tanggal lahir dan karena itu juga tidak pernah bertanya ke bapak. “Hampir tidak ada kesulitan apa pun”. antara lain ke timur. Badan saya berumur 56 tahun. Semua parameter darah normal. tidak tahu tanggal lahir tidak penting-penting amat. Untunglah. tidak ada administrasi yang memerlukan tanggal lahir. tapi hati saya belum lagi berumur 25 tahun. Saya memang harus banyak senam. Mengapa? Selama ini rongga dada saya ternyata dalam proses mengecil.

ya bermanfaat. Ternyata. saya akan merasa sangat berdosa kalau gara-gara tulisan saya ini banyak orang takut bekerja keras. Tentu kalau masih ada pilihan lain. Kebiasaan lama orang-orangnya tidak bisa begitu saja berubah. tapi masih belum mencapai tingkat kecanggihan seperti di Singapura. Jalan pikiran saya itu biasanya saya ungkapkan ke temanteman dengan istilah: intensifikasi umur. Manajemen dan pelayanan rumah sakit-rumah sakit kita. saya kurang pandai menjelaskan bahwa sakit saya ini bukan karena kerja keras. Memang. meski secara fisik dan peralatan sudah amat modern. belakangan ini semakin banyak rumah sakit di Tiongkok yang lebih modern. Misalnya. Hanya. tapi karena saya terkena virus hepatitis B. Nanti seperti Pak Dahlan Iskan! Setelah menerima SMS dari Saudara Socrates. saya akan memilih yang terbaik.Akibatnya. saya jadi merasa bersalah. secara umum. setelah virus itu berkembang menjadi sirosis dan kemudian kanker. Misalnya. teman di Batam yang lahir di Padang itu. melainkan kaitkan saja dengan kecerobohan. Sampai-sampai beberapa dokter menghubungi saya bagaimana kalau mereka studi banding ke Tiongkok untuk belajar manajemennya. Masih perlu satu kurun lagi untuk mencapai tahap itu. jangan sampai terkena virus hepatitis seperti Pak Dahlan Iskan! *** Kesan yang lain dari serial tulisan saya ini adalah bahwa rumah sakit-rumah sakit di Tiongkok hebat. daripada umur panjang tapi tidak bisa berbuat banyak. lebih baik. Sehingga menaruhnya jadi agak sulit. Saya memilih berumur pendek tapi bermanfaat. jangan dikaitkan dengan kerja keras. bukan? Itulah sebabnya saya memperbanyak senam agar liver baru saya bisa “bernafas” dengan lebih lega dan itu berarti membuatnya semakin kerasan tinggal di dalam badan saya. (bersambung) Ganti Hati 32 – Kini Ada Simbol Mercy di Perut Saya (Sebuah Penutup) 26 September 2007 ADA kesan yang mendalam bahwa sakit saya yang parah kemarin-kemarin itu karena saya kerja terlalu keras. Tapi. 90 by Moezhanks . ketika dokter mau “memasang” liver baru di ruang yang ditinggalkan liver lama. Belajar manajemen dan pelayanan rumah sakit jangan ke Tiongkok. itu bukan berarti akan menyembuhkan sakitnya. Ini karena. Terutama yang swasta. Kepada para dokter itu. Seorang ibu sampai menasihati anaknya begini: Jangan kerja terus seperti itu. Liver baru masih dalam ukuran normal. Sesak. Tentu memperlambat juga amat baik. Memang. bahkan di Malaysia sekalipun. sebaiknya tidak kerja keras lagi. melainkan memperlambat saja perkembangannya. Tentu. Bangsa ini memerlukan puluhan juta orang yang gigih. ya berumur panjang. Kalau saya akan dijadikan contoh jelek. ruangnya agak terasa kesempitan. saya tidak memilih itu karena saya punya filsafat sendiri dalam menyikapi umur manusia. carry over problems masih terbawa. saya bilang bahwa ide tersebut kurang tepat.

biaya operasinya sendiri tidak sampai 20 persennya. Karena mereka sangat unggul di situ. juga sekaligus menyadarkan betapa mahalnya sehat itu. Misalnya. Biaya operasinya sendiri tidak besar untuk ukuran saya. Misalnya. yang terbanyak adalah untuk pendukungnya. saya hanya memberikan contoh dengan cara mengelap sendiri bagian-bagian yang kurang bersih itu di depan dia. Itu pun sewa saja. Naik kendaraan umum? Taksi? Beli mobil sendiri? (Kebetulan saya beli mobil kelas Toyota Corolla dan itu berarti juga harus punya sopir). Semua dokter fokus bekerja di rumah sakit.Saya sendiri sering berdebat dengan petugas kebersihan toilet di Graha Pena Jawa Pos Surabaya mengenai pertanyaan ini: sudah bersihkah toilet ini? Saya menilai belum. Tapi. itu karena tidak akan ada orang yang mau membeli rumah lantai tanah di pelosok desa. akomodasi. Rumah sakit juga menjadi sentral semua urusan kesehatan karena tidak boleh ada dokter praktik di sana. Kalau waktu itu tidak menjual rumah. Misalnya. Kalau semua biaya itu ditotal. Tapi. termasuk alatalat tukang kayunya. Saya tidak bisa marah karena tahu berapa gajinya dan bagaimana latar belakang ekonominya. memang perlu waktu dan kesabaran. Jadi. biaya terbesar sebenarnya bisa ditekan sesuai dengan kemampuan. Makan dengan masak sendiri atau setiap makan ke restoran? Dan banyak lagi. itu sudah meliputi semua pengeluaran. Transportasi yang bagaimana juga memengaruhi besarnya biaya. *** Berapakah biaya yang saya keluarkan untuk mereparasi organ-organ saya itu? Kalau di penutup tulisan ini saya memberikan isyarat jumlahnya. Itu juga yang dilakukan bapak saya ketika ibu sakit: Menjual apa pun.000 memang mahal. wira-wiri saya sekeluarga dari Indonesia ke Tiongkok. Kecepatan itu akan fantastis kalau saja Tiongkok mengizinkan berdirinya rumah sakit swasta. semua rumah sakit masih milik pemerintah. Kalau toh mau belajar ke Tiongkok adalah mengenai keseriusan riset dan semangat untuk majunya. Imunisasi yang sekali suntik Rp 70. Mungkin seharga rumah tipe 100 di lokasi yang sedang. saya yakin tidak lama lagi rumah sakit di Tiongkok akan mencapai tahap seperti Singapura. Biaya itu juga sudah termasuk pengobatan sejak terjadinya muntah darah pada 2005. lebih cepat daripada waktu yang kita perlukan. apa artinya dibanding yang harus saya keluarkan ini? 91 by Moezhanks . Dari seluruh pengeluaran. saya akan jual kalau harus melakukan transplantasi ini. Seandainya saya hanya punya rumah seperti itu pun. Biasanya. Satu orang dan yang lain tidak akan sama. Tapi. dan konsumsi saya sekeluarga. Tapi. *** Semua itu tidak ada artinya dibanding nilai kesehatan yang saya peroleh. tapi cari apartemen murah saja. Sampai sekarang. untuk kasus saya ini. petugas menilai “sudah amat bersih”. membatasi keluarga yang harus wira-wiri. Lama-lama standar kebersihannya berubah. dan satu-satunya. Di Tiongkok juga jangan tinggal di hotel. Saya bisa memahami itu karena toilet ini mungkin sudah lebih bersih daripada kamar tidur di rumahnya sekalipun. sewa enam bulan (tidak bisa sewa kurang dari enam bulan). dan sebagainya. transportasi lokal.

Juga banyak sekali orang kerja keras yang karena didorong niat mulia -dan kekayaan hanya datang membuntutinya. Kebetulan. saya tidak gagal. Barmen. Seperti Pak Moh. tidak tahu seri berapa. Mainannya ya kerja keras itu. Di dunia ini banyak orang yang kerja keras tanpa bermaksud kerja keras. Boleh juga dibilang sayatan dari satu titik di tengah ke tiga arah. tokoh olahraga di Surabaya. 92 by Moezhanks . Satunya lagi “Mercy” di kulit perut saya. Kini saya punya dua Mercy. Mulai besok disambung dengan Hati Baru Menjawab. tanda mirip simbol mobil Mercy (Mercedes Benz). Yang satu. Mainannya ya mengurus sepak bola itu. Atau sekadar hobi. tapi kira-kira sama harganya. Tapi. saya kerja keras tidak semata-mata untuk mencari kekayaan. Yakni. adalah Mercy seri 500 keluaran 2005 yang dibeli dengan harga sekitar Rp 3 miliar.Saya ingat kata-kata bijak di laboratorium Prodia: Waktu muda mati-matian bekerja sampai mengorbankan kesehatan untuk memperoleh kekayaan. bekas sayatan dari tiga arah yang menyatu di tengah. Seperti simbol Mercy yang digambar oleh anak berumur tiga tahun. Dan lagi. tetap mahal citranya. (TAMAT) _________________________________________ Tulisan bersambung Pengalaman Pribadi Dahlan Iskan Ganti Liver berakhir hari ini pada seri ke-32. yang di rumah. Jelek. simbol Mercy di kulit perut saya itu tidak sempurna. Jelek wujudnya. tapi juga dengan tanda baru di kulit perut saya. *** Kini saya tidak hanya hidup baru dengan liver baru. Dahlan Iskan akan menjawab e-mail dan SMS dari pembaca. Jelek tapi tetap terlihat Mercy-nya. Waktu tua menghabiskan kekayaan itu untuk membeli kembali kesehatannya -dan banyak yang gagal.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful