Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver

Oleh: Dahlan Iskan iskan@jawapos.co.id

Ganti Hati 01 - Harus Turun Mesin, karena Organ-Organ Saya Rusak Parah
26 Agusutus 2007 Pagi ini, hari ke-20 saya hidup dengan liver baru. Kelihatannya akan baik-baik saja. Tidak ada tandatanda kegagalan seperti yang dialami Cak Nur (Nurcholish Madjid, tokoh yang digadang-gadang menjadi salah satu calon presiden), yang menjalani transplantasi liver di Tiongkok pada 19 Juli 2004. Kadar protein dalam darah saya yang tidak pernah bisa normal, kini menjadi sangat baik. Salah satu unsur penting di protein itu, albumin, sejak liver saya diganti sudah mencapai angka 3,6. Selama lebih dari 10 tahun saya hidup dengan kadar albumin yang hanya 2,7. Padahal, normalnya paling tidak 3,2. Rendahnya kadar albumin membuat tubuh saya tak mampu membuang kelebihan air, baik dalam bentuk keringat maupun kencing. Sehingga air yang berlebih ikut darah beredar ke seluruh tubuh. Akibatnya, tubuh saya jadi “gemuk”. Karena itu, kalau ada orang memuji badan saya terlihat lebih gemuk dan segar, dalam hati sebenarnya saya menderita. Sebab, saya tahu, tubuh saya tidak sedang gemuk, tapi bengkak! Begitu liver diganti dan albumin normal, badan saya langsung susut. Tapi tidak kuyu, melainkan sebaliknya: lebih segar. Dua hari pertama pascatransplantasi, kencing saya bisa mencapai 10 liter sehari. Sebagian karena memang banyak cairan yang masuk ke badan, sebagian lagi karena air yang tadinya beredar bersama darah, sudah bisa dipisahkan oleh albumin dan dikirim ke kandung kemih. Platelet atau trombosit saya, yang seharusnya minimal 200, pernah tinggal 55. Dengan platelet serendah itu, saya terancam mengalami perdarahan dari mana pun: mulut, hidung, lubang kemaluan, telinga, dan mata. Untuk menyelamatkan saya dari ancaman itu, dokter lantas memotong limpa saya hingga sepertiga. Setelah limpa dipotong, platelet saya naik sampai 120. Sayangnya, itu tidak lama. Perlahan-lahan angka itu menurun secara konstan. Terakhir tinggal 70. Hampir sama dengan sebelum limpa saya dipotong. Tapi, setelah liver saya diganti, platelet saya langsung naik. Tiga hari lalu angkanya sudah mencapai 260. Normalnya, antara 200 sampai 300. Mengapa saya memutuskan ganti liver? Tidakkah takut gagal? Mengapa liver saya sakit? Separah apa? Bagaimana jalannya penggantian liver? Bagaimana mempersiapkan diri? Bahkan sampai ke doa apa yang saya ucapkan? Semua akan saya tulis untuk berbagi pengalaman dengan pembaca.

1

by Moezhanks

Cerita ini mungkin akan agak panjang (bisa 50 hari). Bukan karena saya mau berpanjang-panjang, tapi karena redaksi membatasi saya untuk menulis hanya sekitar 1.000 kata di setiap seri. Berikut saya mulai dengan seri pertama ini. (Nama-nama dokter, rumah sakit, sengaja baru akan disebutkan di bagian-bagian akhir tulisan): *** Di umur 55 tahun ternyata saya harus “turun mesin”. Begitu parahnya kerusakan organ-organ di dalam badan saya sampai harus pada keputusan menambal seluruh saluran pencernaan saya, memotong sepertiga limpa saya, dan mengganti sama sekali organ terbesar yang dimiliki manusia: liver. Turun mesin total itu harus diatur sedemikian rupa karena mesin yang sama harus tetap menjalankan tugas sehari-hari, yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Maka, saya pun mulai membuat jadwal turun mesin. Dimulai yang paling membahayakan agar yang penting nyawa bisa selamat dulu. Ternyata saya memang terancam meninggal dunia dari tiga jenis penyakit. Yang pertama adalah yang bisa membuat saya meninggal mendadak kapan saja tanpa penyebab apa pun. Tiba-tiba bisa saja saya muntah darah dan tak tertolong lagi. Ini karena seluruh saluran pencernaan saya, mulai tenggorok sampai perut sudah penuh dengan varises yang menor-menor karena sudah matang dan siap pecah. Ibarat kumpulan balon-balon kecil berwarna merah, yang kulitnya sudah tipis seperti balon yang ditiup terlalu keras. Kapan meletusnya bisa setiap saat. Saat meletus itulah orang akan muntah darah dan tak tertolong lagi. Penyakit kedua, yang bisa membuat saya meninggal dalam hitungan bulan adalah jumlah darah putih saya yang terus merosot. Mengapa? Karena limpa saya sudah membesar tiga kali lipat dari ukuran normal. Limpa yang tugasnya antara lain mengubur sel-sel darah merah yang mati (dengan darah putih yang diproduksinya), tidak mampu lagi berfungsi baik. Platelet saya yang seharusnya antara 200-300, hari itu tinggal 60. Itu pun dalam posisi terus menurun. Pada penurunan beberapa poin lagi, saya akan menderita perdarahan dari mana saja: bisa dari hidung, dari telinga, dari mulut, atau dari mata. Limpa sendiri bisa juga pecah karena sudah tidak kuat lagi akibat terus membesar. Yang ketiga, ya liver saya sendiri, yang ternyata sudah amat rusak. Setelah liver saya dibuang setahun kemudian, tampaklah nyata bahwa liver saya sudah seperti daging yang dipanggang terlalu masak. Padahal, seharusnya mulus seperti pipi bayi. Ini yang bisa membuat saya meninggal dunia dalam hitungan dua-tiga tahun. Bahkan, sebenarnya liver itu yang membuat limpa saya membesar dan membuat seluruh saluran darah di sepanjang pencernakan saya penuh dengan balon-balon darah yang siap pecah. Maka, satu per satu harus saya selesaikan. Saya mulai dari mengatasi agar tidak terjadi muntah darah. Lalu, setengah tahun kemudian memotong limpa saya. Dan, terakhir 6 Agustus lalu, beberapa hari sebelum ulang tahun ke-56 saya, saya lakukan transplantasi liver: membuang liver lama, diganti dengan liver baru. Semua proses itu memakan waktu hampir dua tahun. Ini karena saya tetap harus menjalankan aktivitas, baik sebagai pimpinan Grup Jawa Pos maupun sebagai CEO perusahaan daerah Jatim yang lagi giat-giatnya membangun tiga proyek besar: pabrik conveyor belt, gedung ekspo, dan shorebase. Semua tahap itu saya jalani dengan keputusan yang mantap, tanpa keraguan sedikit pun mengenai kegagalan hasilnya. Banyak teman yang bertanya mengapa saya bisa tegas membuat keputusan yang
2
by Moezhanks

begitu membahayakan hidup saya. Saya jawab bahwa percaya sepenuhnya dengan takdir -sesuai dengan tafsir yang saya yakini, yakni mirip dengan uraian buku Saudara Agus Mustofa Takdir Itu Bisa Berubah. Faktor lain adalah bahwa rupanya, kebiasaan saya membuat keputusan berani, keputusan besar dan keputusan yang cepat di perusahaan ikut memengaruhi keberanian membuat keputusan dengan kualitas yang sama untuk diri sendiri. Lalu, keyakinan bahwa saya mampu me-manage hal-hal yang rumit selama ini, tentu juga akan mampu me-manage kerumitan persoalan yang ternyata ada di dalam tubuh saya. Apakah tidak ada kekhawatiran sama sekali akan gagal dan kemudian meninggal? Tentu ada. Tapi, amat kecil. Saya tahu kapan harus ngotot dan kapan harus sumeleh. Keluarga saya yang miskin dan menganut tasawuf Syathariyah sudah mengajarkan sejak awal tentang sangkan paraning dumadi (dari mana dan akan ke mana hidup dan semua kejadian). Ini membuat saya akan ngotot melakukan apa pun untuk berhasil, tapi juga tahu batas kapan harus berakhir. Tentu ada penyebab lain: Banyak keluarga saya mati muda, sehingga saya pun seperti sudah siap sejak kecil bahwa saya juga akan mati muda. Ibu saya meninggal dalam usia 36 tahun (muntah darah). Kakak saya, yang digelari agennya Nurcholish Madjid di Jatim untuk urusan pembaharuan pemikiran Islam, meninggal dalam usia 32 tahun (muntah darah). Dia sering memarahi saya, mengapa masih kecil sudah belajar filsafat/tasawuf dan mengapa sering pergi ke pondok salaf. Tapi, tahun depannya saya masih tetap ke pondok salaf Kaliwungu, 25 km sebelah barat Semarang. Paman saya dan pakde saya juga meninggal muda. Penyebabnya juga sama: muntah darah. Muntah darah sebenarnya bukan penyebab, tapi begitulah orang di desa mengatakannya, karena tidak tahu bahwa semua itu berawal dari persoalan liver. Tapi, ada juga sedikit harapan bahwa saya bisa berumur panjang: Bapak saya meninggal dalam usia 93 tahun. Kakak tertua saya yang amat baik, Khosiyatun, yang juga ketua umum Aisyiah Kaltim, kini berumur hampir 70 tahun dan masih aktif mengajar di SD swasta di Samarinda. Entahlah, saya ikut yang mana. (bersambung)

Ganti Hati 02 - Tiga Jam Jelang Operasi Masih Ditawari ’Take Over’ Koran
27 Agustus 2007 Mudah-mudahan rencana operasi kali ini tidak gagal lagi. Yu Shi Gan Xian Sheng (nama saya di Tiongkok), besok mendapat giliran operasi. Itu kata seorang dokter di rumah sakit ini pada Minggu 5 Agustus 2007 kepada saya. Dia memakai istilah “mudah-mudahan tidak gagal lagi” karena memang sudah beberapa kali saya diberi tahu dapat giliran operasi, tapi selalu tertunda karena liver yang datang tidak cocok untuk mengganti liver saya. Kali ini kelihatannya cocok. Golongan darahnya sama. Juga sudah dinilai akan memenuhi syarat untuk ditransplantasikan ke saya. Harapan bahwa kali ini tidak gagal lagi kian besar setelah sore harinya, petugas cukur datang ke kamar saya. Dia harus mencukur rambut yang ada di badan saya, sebagai salah satu syarat dilakukannya operasi besar. Tugasnya sore itu ringan sekali karena hanya perlu mencukur rambut di sekitar kemaluan. Saya tidak punya rambut di dada atau di paha.

3

by Moezhanks

dan saya mengangkatnya sebagai kakak ketiga. Memang jadwal transplantasi besar seperti ini tidak gampang dibuat. Pagi itu saya sudah tidak boleh makan apa pun. “Bapak harus masuk ruang operasi pukul 14. “Operasi apa?” tanyanya. meski saya akan menjalani penggantian organ terbesar dalam tubuh seorang manusia. Tapi. Saya tidak ingin ada kuman yang menempel di badan saya yang akan menjadi penyebab infeksi setelah operasi. saya lantas mandi lebih bersih daripada biasanya. nanti sore saya harus operasi. Tidak punya perasaan galau sedikit pun.00 nanti. “Saya akan operasi jam 14.” kata saya. Apalagi. Kalau tidak.00. Saya ingin agar setelah operasi kelak. Dia pernah menyerahkan seluruh gajinya sebagai guru SD untuk biaya sekolah dan hidup saya selama lebih dari lima tahun. Di toilet saya lihat tak ada lagi benda apa pun yang keluar kecuali air bening yang dimasukkan tadi. Beberapa sahabat penting saya di Tiongkok datang. Perawat belum bisa menjawab.30 saya diberi tahu tentang kepastian operasi. Namun. Sore sebelum tidur. Terutama Mr Guo yang sejak 10 tahun lalu mengangkat saya sebagai adik kelima. Itu kakak saya yang amat baik hatinya. kakak saya yang di Samarinda. Bangun pagi 6 Agustus 2007. karena dalam proses operasi ada prosedur sterilisasi di badan saya. Tentu ini kurang masuk akal. sementara luka akibat sayatan yang panjang di situ belum menyatu kembali. Itu sebagai tanggung jawabnya karena dia harus pergi meninggalkan kami tanpa ibu di Magetan untuk pergi ke Kaltim. bagaimana dengan rambut yang telanjur dicukur? Apa saya akan minta ditempelkan lagi? Prioritas saya kemudian adalah menghubungi kantor. Setidaknya jam berapa harus berangkat ke ruang operasi. Pendek sekali. Saya harus hati-hati menjelaskannya. Saya tidak berani menjelaskan apa adanya. 4 by Moezhanks .” kata seorang perawat. adik saya yang di Madiun. Maka saat itu dianggap perut saya sudah bersih. bayangan-bayangan saya itu lenyap karena tiba-tiba tukang cukur menyatakan tugasnya sudah selesai. saya bicara langsung melalui telepon.” tulis saya di sms. seluruh badan saya akan diolesi cairan antiinfeksi yang biasanya berwarna merah kecokelatan itu. Sebentar dan sederhana sekali tugasnya untuk saya malam itu. Setengah jam kemudian dilakukan lagi hal yang sama. Di Kaltim dia harus mengajar di dua sekolah agar masih punya penghasilan untuk hidupnya sendiri. Malam itu saya tidur nyenyak sebagaimana biasa. Karena itu. Pukul 09. ikut paman saya. Perut harus kosong sejak malamnya. nyaris gundul. Meski itulah malam menghadapi operasi besar. saya potong rambut. Kepada kakak saya yang di Samarinda.00 perut saya masih harus dibesihkan dari kotoran dengan cara dimasuki cairan bening sekitar seperempat liter melalui pantat. dan beberapa pemegang saham. “Mbakyu. Alhamdulillah. kalau mau cuci rambut lebih gampang. masih ada satu adik lagi yang masih kecil. Dia merasa kasihan saya hidup dengan Bapak yang tidak punya penghasilan tetap. Yakni. Kurang dari lima menit kemudian saya lari ke toilet karena semua isi perut seperti mau keluar. Saya juga membayangkan bagaimana kalau bulu dada itu cepat tumbuh. kata saya dalam hati. sekitar pukul 09.Saya lalu membayangkan bagaimana dengan pasien yang punya bulu dada lebat dan cepat tumbuh kembali. Kakak pertama adalah seorang pensiunan jenderal polisi yang juga tinggal di kota ini. saya tidak punya kekhawatiran apa-apa. saya bertanya kepada perawat kira-kira operasinya jam berapa. khawatir mengganggu pikirannya. Misalnya. seperti yang banyak dimiliki pasien dari negara-negara Arab.

Dia kaget saya kok tiba-tiba memberitahunya akan operasi besar. Mulai Aceh sampai Jayapura. Tanpa tahu bahwa saya segera memasuki meja operasi yang bisa memakan waktu 12 jam dan entah apa hasilnya.” tulisnya. SMS dari Bambang Sujiyono.” tambah saya. Isinya: apakah saya berminat mengambil alih koran berbahasa Inggris yang terbit di Jakarta? Saya jawab: saya perlu informasi lebih lengkap. Dia menangis dalam SMS-nya. Liver paling sulit. “Ya. Sekitar pukul 10. juga kirim sms. Kalau perlu. seniman Surabaya itu.” kata saya. Saya balas tangisannya itu dengan tegar dan setengah guyon.” Bambang memang orang yang sangat humanis. Lalu dia tidak emosional lagi. “Juga operasi penggantian ginjal dan organ yang lain. sampai ke anak perusahaan. agar dia menunggu keputusan saya beberapa minggu lagi. tabloid itu akan sukses kalau di tangan saya. teman lama yang lain. sangat dramatik. di rumah sakit ini hampir tiap hari juga dilakukan operasi penggantian jantung. Setengah jam kemudian.30 saya terima sms dari Jakarta. Mbak Sofwati adalah kakak saya yang meninggal umur 32 tahun setelah muntah darah. saya masih sempat membalas sms itu: tidak perlu saya yang tanda tangan.” jawab saya. Bahkan. Ini saya ketahui dari sms yang segera mengalir ke telepon saya. Padahal. tukar dengan kematian saya. Dia justru bertanya berat mana transplantasi ginjal dibanding liver. dia kami jagokan sebagai tokoh keluarga. Semua mengirimkan doa untuk keberhasilan operasi saya. dan dia saya minta kirim email. “Allah. Dalam waktu sekejap sms pemberitahuan operasi itu rupanya menyebar. Lalu petugas pembawa baju operasi saya datang membuka bungkusan sterilnya.“Saya akan operasi. (bersambung) 5 by Moezhanks . dia jadi ketua Korps Himpunan Mahasiswa Islam Wanita Jatim. Orangnya pintar dan karirnya bagus. Juga beredar di antara teman-teman. Dia bilang. saya doakan semoga berhasil. Saya balas sms itu. Saya lantas memberi tahu siapa yang bisa menggantikan tanda tangan saya. Saat mahasiswa. “Mas Bambang.” tulis saya.” katanya datar. Dia tidak saya beri tahu betapa berisikonya penggantian liver ini. “Transplantasi ginjal itu sekarang sudah dianggap biasa. Sesaat sebelum saya berganti baju dengan baju operasi. Seorang teman lama menawarkan agar saya membeli tabloidnya yang mengalami kesulitan. seorang direksi saya di Jakarta menanyakan lewat sms apakah dokumen tender listrik yang disiapkan sudah saya tanda tangani. agar tidak sampai terjadi seperti yang mengakibatkan ibu dan Mbak Sofwati meninggal muda. Dia sendiri dalam keadaan sakit jantung. “Selamatkan nyawa rekan saya ini.

Artinya. kira-kira saya perlu waktu satu minggu untuk bisa bicara lagi dengan teman-teman itu: satu hari operasi (pasti saya tidak bisa bicara). doanya 6 by Moezhanks . kalau harus mengucapkan kalimat yang begitu panjang sebanyak 99. berdasarkan pengalaman mereka. Diganti baju kertas biru muda. saya pikir. Memang begitulah yang dikatakan dokter kepada saya. “Sampai jumpa minggu depan.” Maksud saya. Kalau tidak. waktu yang diperlukan tidak perlu teralu lama. Salah seorang di antaranya bertanya apakah saya dalam kondisi siap. Saya Berdoa Pendek 28 Agustus 2007 PUKUL 12. saya sudah akan bisa bicara lagi. Setelah telepon siap. Ada lagi beberapa pertanyaan dan harapan yang disampaikan dengan penuh suasana prihatin. Karena itu. Tentu dengan sistem borongan.” kata mereka.000 penganut Buddha di shi mian fo (Buddha empat wajah) di Kenjeran. entah siapa yang punya inisiatif. semua yang hadir di rumah saya bisa ikut mendengar kata-kata saya. saya bertanya kepada yang hadir: apakah ada pertanyaan? “Saya siap menjawab pertanyaan apa pun. Ibu Eric Samola. Yakni. Mereka akan melakukan sembahyang dan doa bersama. Mungkin. lagi berkumpul di rumah saya di belakang Graha Pena Surabaya.00 Senin (6/8) siang itu saya sudah diminta melepas baju saya. Mereka mengirimkan doa-doa yang saya ketahui diambilkan dari Alkitab. ketika Bung Karno meng-compress Pancasila yang panjang itu menjadi satu kata yang simpel dan pas: gotong royong. Agar. Tapi. Tapi. SMS terus mengalir masuk. Ada yang bertanya. Saya segera menelepon Misbahul Huda.Banyak Yang Doakan Panjang-Panjang. tiga hari di ICU (juga pasti belum bisa bicara).” kata saya. istri mendiang Pak Eric Samola. kira-kira operasinya berlangsung berapa jam? Saya jawab sekitar 12 jam. SMS masih terus mengalir masuk. sehingga perlu di-compress menjadi satu dengungan “hu” saja. yang dulu punya inisiatif mengambil alih Jawa Pos dari keluarga The Chung Shen. “Kalimat syahadat kok dipadatkan. telepon saya tutup. kalau yang mengucapkan lebih banyak orang. Ini seperti juga Bung Karno yang dikecam telah menyelewengkan kemurnian Pancasila yang dia temukan sendiri. pertanda waktu operasi sudah akan tiba. saya tutup pembicaraan saya dengan kata-kata. mengirimkan doa paling panjang. yakni mendengungkan kata “hu” bersama-sama sebanyak 99. Untuk membuat agar suasana mereka tidak sedih. dia minta dikabari kalau operasi sudah selesai. Saya minta suara teleponnya dibesarkan. Kalau di-decompression. Setelah tidak ada pertanyaan. sistem compression zikir seperti inilah yang banyak dikecam aliran tasawuf lain dan terutama oleh kalangan syariah formal. saya siap sekali.000 kali dirasa akan memakan waktu yang lama sekali. dan dua hari memulihkan badan. Saya pun sudah siap mental segera menuju ruang operasi di lantai 13. Mereka akan berdoa terus selama saya dioperasi. Dari Madiun menceritakan bahwa keluarga tasawuf sathariyah lagi berkumpul untuk ber-zikir-pidak. Kepala saya juga dipasangi topi kertas dengan warna yang sama. Siapa menyangka bahwa zikir pun sejak dulu sudah di-compress seperti itu.Ganti Hati 03 . Genap satu minggu. kata “hu” itu akan menjadi kalimat panjang: aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah. yang akan menjadi imam pada acara itu. dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusam Allah. Teman-teman Jawa Pos. Saya jawab. Tokoh Buddha Surabaya juga mengirim SMS dan memberitahukan bahwa hari itu berkumpul lebih 1. Dirut Percetakan Temprina.000 kali. Dengungan “hu” adalah hasil compression (untuk meminjam istilah software komputer) dari kalimat syahadat. SMS juga masuk dari teman-teman Kristen dan Katolik.

bahwa siang itu 200-an tokohnya berkumpul di Pujon. Tempat ibadah itu memang saya yang meresmikan beberapa tahun lalu. *** Kereta didorong amat cepat. Saudara Guo.tentu tidak akan dihentikan. Ternyata. Oh. Itulah petugas ruang operasi. Lalu. Zoom! Tibalah saya di lantai 13. agar saat mengantar saya ke lantai 13 nanti. “jia you” dalam bahasa Mandarin berarti “semangatlah!” . Dua lift ukuran normal. Pak Mustofa. Badan saya sangat sehat. “Jia” artinya tambah. dia terlihat mengepalkan tangan ke arah saya. yang rupanya ikut makan siang. dan Robert Lai. Anak laki-laki saya sibuk memotret. Saya sudah di atas kereta yang siap berangkat ke ruang operasi. Pukul 14. Tak sampai 5 menit saya sudah tiba di lobi lantai 11. Teman-teman dari penganut aliran kebatinan Sapta Dharma juga mengirim SMS. Mr Guo dan sahabat karib saya Robert Lai dari Singapura. Rupanya saya harus segera tiba di ruang operasi. saya beri tahu bahwa saya sudah tidak punya waktu bicara. Demikian juga penganut aliran Sai Baba. Tapi. Saudara angkat saya. Lift terbuka. mengirimkan doa panjang yang biasa diucapkan Sai Baba di India sana. Ada lima lift di situ. dia lagi makan siang dengan para pengusaha teman saya di Hotel Shangri-La Surabaya. “You” artinya bensin. Tinggal saya dan beberapa petugas yang terus mendorong kereta itu ke ruang operasi. harus menyeberang ke gedung sebelah. Saya sering mengatakan padanya. Juga jangan ada yang mengeluarkan air mata. Setelah itu semua harus melepaskan tangan dari tubuh saya. Tapi. 7 by Moezhanks . jangan ada yang menangis. akuntan terkemuka Surabaya. anak. Saya berpesan kepada istri agar jangan lupa memberi tahu mereka nanti. Malang. panah naik menyala. Kereta pun didorong keluar dari ruang saya di lantai 11 untuk dibawa ke lift naik ke lantai 13. Saat saya sudah berbaring di kereta. tanda ikut memberi semangat. Mereka melakukan doa berdasar kepercayaan mereka untuk keberhasilan operasi saya. Tapi. dan Robert Lai mengantar ke lantai 13. karena sedikit agak terlambat dari jadwal. dia akhirnya berteriak: “jia you!” tiga kali. saudara angkat saya. telepon minta bicara. Saya tidak bisa lagi melihat istri. Mata istri saya kelihatan sembap. Istri. Istri saya terus komat-kamit. Alim Markus juga pernah tiba-tiba sakit yang amat membahayakan hidupnya. Ketika melewati kamar pasien dari Jepang. di depan lift yang akan membawa saya ke lantai 13. Gedung rumah sakit ini memang terdiri atas dua tower. memegangi tangan saya. saya lihat dia sendiri ternyata terisak-isak ketika melepas saya untuk dibawa petugas ke tempat yang dia tidak bisa lagi menyertai saya. tapi hanya bisa sampai di pintu tertentu.00 kurang 15 menit. Saya amati lorong-lorong apa saja yang dilewati kereta ini. rupanya. Sebenarnya saya bisa berjalan sendiri ke ruang operasi. Rupanya berdoa dengan serius. semangatnya untuk sembuh luar biasa. Juga mata Robert Lai. memaksa bicara untuk memberi dorongan semangat agar saya kuat memasuki ruang operasi. Pak Alim Markus. Tapi. Lalu pintu ditutup. kereta brankar sudah datang dengan beberapa orang yang berbaju biru muda. Saya harus segera berbaring di kereta itu. tiga lift ukuran besar untuk mengangkut kereta pasien. Robert Lai adalah orang yang rajin berpesan kepada siapa pun. peraturan tidak membolehkannya. semangatnya itulah yang ikut mendorong saya punya semangat yang sama. Sambil menahan tangis. anak. tombol 13 dipencet.

hidupkanlah! Selesai. Kalau saya minta-minta terus kepada Tuhan. kinclong (karena didominasi stainless steel). kapan saya menggunakan pemberian Tuhan yang paling berharga itu: otak? Maka saya putuskan akan berdoa se-simple mungkin. Perasaan saya tiba-tiba lega sekali. Kalau saya harus hidup. saya juga tahu bahwa sistem file di kerajaan Tuhan tidak membedakan doa yang dikirim secara biasa. Perdebatan di hati saya belum selesai. Satu doa yang pendek dan mencerminkan kepribadian saya sendiri: Tuhan. Rumah sakit ini. yang dibawakan oleh penyanyi top Hongkong Zheng Xiu Wen. ada lorong untuk menyeberang dari gedung kiri ke gedung kanan.Sudah Tiga Jam Dimatikan. nanti akan lupa kalau sudah dalam keadaan gembira! Saya tidak ingin Tuhan memberikan penilaian seperti itu. matikanlah. sambil menunggu kedatangan saya. masih ada pertanyaan yang tiba-tiba muncul. apakah Tuhan tidak akan menilai begini: lihat tuh Dahlan.id) (bersambung) Ganti Hati 04 . kalau harus saya ucapkan sampai menangis dan mengiba-iba. Mulai ganti ginjal. Saya tidak mau ada kesan bahwa saya sombong kepada Tuhan. segera saja saya terlibat perdebatan dengan diri saya sendiri: harus mengajukan permintaan apa kepada Tuhan? Bukankah manusia cenderung minta apa saja kepada Tuhan sehingga terkesan dia sendiri malas berusaha? Saya tidak mau Tuhan mengejek saya sebagai orang yang bisanya hanya berdoa. entah seperti apa. Tapi. mata. yang terdengar adalah musik soft-rock berbahasa Mandarin yang lagi digemari anak muda sekarang. Plong. dan modern. Kalau saya harus mati. Ruangnya sangat bersih. Kereta pun tiba di depan ruang operasi. secara khusus maupun secara tangis-menangis. terserah engkau sajalah! Terjadilah yang harus terjadi. Belum Juga Di-”Garap” 29 Agustus 2007 Ketika memasuki ruang operasi. (iskan@jawapos. Tapi. jantung sampai ganti liver seperti saya. Saya akan dioperasi di gedung kanan. Apalagi. Saya tidak mau Tuhan mengatakan kepada saya: untuk apa kamu saya beri otak kalau sedikit-sedikit masih juga minta kepada-Ku? Karena itu. Padahal. Saya tidak mau serakah. Tapi. Suara musik itu cukup keras sehingga suasananya ingar-bingar. Dalam perjalanan sepanjang lorong-lorong itu saya menyadari bahwa saya tadi belum sempat berdoa. Tuhan punya sistem file-Nya sendiri. Kalau sudah dalam posisi sulit saja dia merengek-rengek setengah mati. Akhirnya saya putuskan berdoa menurut keyakinan saya. Saya harus berdoa. apakah Tuhan melihat saya sedang serius memintanya? Tapi. bisa melakukan 30 operasi penggantian organ. dalam waktu bersamaan. kereta sudah hampir sampai di ruang operasi. Apakah saya harus berdoa dengan biasa saja atau harus sampai menangis? Kalau doa itu saya sampaikan biasa-biasa saja.masing-masing berlantai 15. saya tertegun.co. Seluruh lantai 13 adalah ruang operasi. Rupanya. beberapa petugas 8 by Moezhanks . Di lantai 12 sampai 14. Waktu terus berjalan. Belakangan saya tahu judul lagu tersebut adalah Mei Fei Se Wu yang artinya “bulu mata menarinari”. saya memutuskan tidak akan banyak-banyak mengajukan doa. Begitu masuk.

terutama gedung baru ini. Saya ingin tahu apa saja yang ada di ruang itu agar. dispenser air mineral. Tapi.00. dan keran panas dingin. Saya sudah dimatikan untuk persiapan operasi. dan internet. *** Sejak saya masuk ruang operasi pukul 14. Saya memang dapat menggunakan internet kecepatan tinggi di ruang saya ini. di sebuah kursi yang kalau siang bisa untuk menambah kapasitas sofa. Rumah sakit ini. Tidak boleh ada virus atau sumber virus yang akan membahayakan pascaoperasi saya. Dari alat ke alat. tapi bisa berbahasa Mandarin. Di belakang sofa. Sementara menunggu kabar. Suasananya pun menjadi seperti di sebuah disko. Sudah diketahui bahwa virus pascaoperasi adalah pembunuh paling utama bagi pasien yang baru melakukan transplantasi organ. Robert yang sudah 11 bulan menemani saya ke mana pun pergi memutuskan untuk membersihkan kamar saya. lalu kami terjemahkan ke dalam bahasa Inggris agar seluruh keluarga saya memahami isinya. Maka. Rupanya dia sangat menikmati lagu itu. Lalu. 18 jam kemudian. Dokter belum pada datang. Lalu. Di ruang tamu ini ada satu set TV besar. rice cooker. istri. dan sahabat saya Robert Lai kembali ke kamar saya di lantai 11. kami tidak makan di situ. “Ini orang asing.muda menyenangi lagu itu. Rumah sakit juga sudah memberi kami buku panduan mengenai bagaimana menjaga agar tidak terkena virus. kalau operasi berhasil. Buku itu berbahasa Mandarin. ada satu meja makan dari kaca besar untuk makan bersama. 9 by Moezhanks .” jawab yang lain. Beberapa perawat mengikuti suara musik itu dengan suara mulutnya tanpa kata-kata. Mereka merasa lega. satu set sofa. water boiler. Harus bergeser sini dikit dan harus naik sedikit. dan satu set dapur kering. Perawat akan selalu mengabarkan apa pun yang terjadi di ruang operasi. Di kamar ini mereka menantikan perkembangan operasi saya. lalu memberikan beberapa perintah mengenai posisi badan saya. Beberapa perawat membicarakan saya. Kami pasang komputer. Robert ingin kamar saya lebih bersih lagi. Yakni. saya bisa bahasa Mandarin sedikit-sedikit. printer. Musik soft-rock masih terus ingar-bingar. karena memang pada tahap ini semua pekerjaan masih urusan perawat. Juga tidak mendengar apa-apa lagi. nanti. ada satu ruang tamu yang besar di sebelahnya. laptop. Di ruang tamu ini ada kamar mandi dan toiletnya. Meja ini saya pakai untuk “kantor dalam pengasingan”. saya tidak lagi mendengar suara musik itu. memang sudah sangat bersih. kita harus pakai bahasa apa?” ujar salah seorang di antara mereka. Tepatnya kamar 1102. Perawat yang lain mulai memasukkan cairan tertentu ke lengan saya. Maka saya sela pembicaraan mereka: Ya. Di dapur kering ini ada microwave. Saya baru akan dihidupkan lagi. Mata saya terus beredar dari dinding ke dinding. dia minta lengan kanan saya dimasuki jarum untuk memasukkan beberapa zat kimia ke badan saya. Penerjemahan ini sangat bermanfaat karena banyak sekali pasien dari negara-negara Arab dan Pakistan yang kemudian minta kopinya kepada kami. lengan saya diperiksa seperti akan memasang selang. “Dia orang Indonesia. saya bisa menuliskan deskripsinya secara baik. perawat memutuskan tidak mau pakai itu. Istri saya tidur di ruang ini. lemari es besar. bukan seperti di sebuah tempat yang menyeramkan. Tapi. anak. Kamar saya di lantai 11 terdiri atas dua ruang. Hanya dalam beberapa saat. tapi kalau malam bisa dipanjangkan menjadi tempat tidur biasa. Ada ruang tidur pasien dengan kamar mandi khusus dan ruang pakaian. Melihat tangan saya sudah dipasangi selang selama 3 bulan lebih.

besok saya sudah tidak akan bisa lagi memanfaatkan hasil belajar saya ini. Misalnya. Saya juga beli proyektor yang saya hubungkan dengan laptop yang software-nya Mandarin. Saya mendatangkan guru dari IKIP di kota ini. Lantainya menjadi mengilap. “Livernya baru akan datang sekitar pukul 17. Dua jam setelah operasi bersih-bersih itu. Sambil menunggu giliran operasi yang tidak menentu waktunya. mengirim dan menjawab e-mail. pakai bahasa apa. krisis listrik di daerah itu sudah tidak ketulungan. Bukan saja untuk rapat. Ternyata belum diapa-apakan. Robert lantas menerjemahkan informasi dalam bahasa Mandarin itu kepada istri dan anak saya. seperti besok tidak akan terjadi apa-apa. Terutama rapat dengan partner-partner usaha yang dari Tiongkok. Sehari empat jam: pagi dua jam. Ini saya pakai untuk latihan menulis cerita dalam bahasa dan tulisan Mandarin. sore dua jam. 10 by Moezhanks . Di dinding-dinding kamar tamu yang kosong. dari kursi di sebelah saya. guru saya tinggal melihat sorotan proyektor. semua peralatan yang ada di kamar ini dibersihkan. Toh. “Hah?” gumam Robert seperti tidak percaya. di belakang meja besar saya pasangi white board. atau salah memilih huruf. Sebab. Semua kursi dan meja dicuci.” ujar perawat itu. Tapi. Lalu. perawat masuk memberikan kabar bahwa sampai menjelang pukul 17. disterilkan. Di dinding satunya saya pasang peta Indoensia. ya?) bahasa malaikat sendiri. Robert Lai terperangah. Lalu. dan tak jarang juga mengadakan rapat. Berarti sudah hampir tiga jam saya di ruang operasi dan sudah dalam keadaan dimatikan. Dinding sebelah kanan saya tempeli peta Tiongkok yang besar sehingga mudah bagi saya untuk melihat negara ini secara keseluruhan. Sampai sehari sebelum operasi saya masih “masuk kelas”. Malaikat toh akan bertanya kepada saya di akhirat sana dengan (eh. Tiga orang guru secara bergantian mengajari saya bahasa Mandarin. saya harus panggil partner yang membangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Kalimantan untuk mencari jalan agar proyek selesai sesuai dengan jadwal. ketika saya berada di ruang operasi.00 itu saya belum dioperasi. kalau operasi gagal.00. Bukubuku. tapi belum juga di”garap”. dan kertas-kertas yang selama ini di mana-mana diangkut ke apartemen. “Berarti.00. lantas saya pasangi asesori. juga untuk saya pakai belajar bahasa Mandarin. Ada juga sedikit tebersit perasaan. koran-koran. saya memang memutuskan untuk meneruskan belajar bahasa Mandarin. untuk apa ya saya susah-susah belajar begini. Suasana seperti Siaran Langsung Sepak Bola 30 Agustus 2007 Setelah diberi tahu bahwa liver yang akan dipasangkan di dalam tubuh saya ternyata baru akan tiba sekitar pukul 17. “Tiwas kita sudah tegang selama tiga jam.Dari kamar inilah saya bisa membaca semua laporan perusahaan. memberikan koreksi mana yang saya salah dalam menggunakan kata-kata.” katanya. Bersih dan kinclong. baru 10 menit lagi livernya tiba?” tanya istri saya sambil melihat ke jam dinding. Tempat tidur saya lebih-lebih lagi. Lalu. (Bersambung) Ganti Hati 05 – Tunggu Operasi.

Tentu mereka tidak diberi tahu bahwa operasinya belum jadi dilaksanakan pada pukul 14. Di situlah helikopter yang membawa pasien darurat atau helikopter yang membawa liver yang urgen mendarat.Dia lantas memperhatikan pintu masuk rumah sakit dari lantai 11.” kata Robert kepada istri dan anak saya dalam bahasa Melayu yang agak sulit dimengerti. siapa pun memang bisa melihat apa yang terjadi di luar sana. Di seberang kamar itu terlihat gedung pertama rumah sakit yang tingginya 17 lantai. Maka. seperti baru terjadi beberapa minggu lalu. melihat keluar masuknya ambulans di pintu gerbang depan sana. pastilah itu suara ambulans yang membawa liver. dan saudara angkat Guo naik lift ke lantai 13. pintu lorong tempat saya dimasukkan menuju ruang operasi sore tadi terbuka. Di atas gedung itu. Anak lelaki saya.” kata seorang dokter. 11 by Moezhanks . Kepada kita akan ditunjukkan sesuatu. Kami seperti sedang mendengarkan siaran langsung sepak bola lewat radio. sering bisa melihat pemandangan indah. Dia mengira salah satu ambulans yang masuk pada jam-jam itu pastilah yang membawa liver yang akan menggantikan liver saya yang sudah rusak. siapa tahu livernya dibawa dengan helikopter. Dari kamar tersebut. Mereka menunggu di depan lift untuk menerima instruksi berikutnya. Kegagalan tersebut. Sejumlah dokter membawa barang berdarah dan meletakkannya di lantai. dan kengeriannya. Robert. Ketegangan selama menunggu berlangsungnya operasi digambarkan oleh Yoto. mengudaranya kembang api berjam-jam di berbagai tempat. Kabar pertama dari ruang operasi masuk pukul 22. Kalau sudah ada pesta kembang api seperti itu. seperti ini: Kami tiap 10 menit SMS ke Mas Azrul (Posko di Tiongkok) atau ke Mbak Nany Wijaya (Posko di Surabaya). terlihat juga pemandangan sungai yang bersih yang dipakai untuk arena mainan anak-anak serta keluarga. “Kita diminta naik ke lantai 13. kegagalan transplantasi liver di Tiongkok yang dialami tokoh seperti Nurcholish Madjid mendapat pemberitaan yang sangat besar. Lantai paling atas rata. agar warna-warni kembang apinya lebih jelas. Dia punya khayalan. jam-jam itu sibuk membalas SMS yang masuk. Dari kamar itu juga terlihat simpang susun jalan layang yang melingkar-lingkar di depan rumah sakit. Tak lama kemudian. Itu pertanda malam tersebut banyak pesta perkawinan. Dinding kamar tersebut terbuat dari kaca. kalau Sabtu dan Minggu malam. bahwa kalau ada suara “nguing…nguing…” masuk ke rumah sakit. Istri saya juga memperhatikan puncak gedung tersebut. “Go!” tambahnya. “Ini liver bapak yang sudah kami keluarkan.00. Mereka hanya diberi jawaban “Belum ada kabar baru dari kamar operasi”. Yakni. di bagian tengahnya. terdapat tambahan tiga lantai bulat.00. kami biasanya mematikan lampu kamar. Dirut grup anak perusahaan Jawa Pos di Papua. Dia lebih memfokuskan perhatian ke bawah. Lalu. Semua seperti tidak sabar menanyakan perkembangan operasi saya. dari dalam kamar saya. Istri saya ingin melihat masuknya ambulans yang mungkin membawa liver yang akan dipasangkan ke dalam tubuh saya. Istri saya kali ini tidak memperhatikan semua itu. tapi dalam keadaan musuh selalu mengancam ke gawang kita! Semua itu saya nilai wajar karena operasi penggantian liver tidaklah gampang. istri. anak. Dari ruang tamu di kamar saya itu. Lamanya tidak ada “kabar baru” itu rupanya semakin membuat teman-teman di Indonesia kian tegang. Apalagi. Bangunannya dari luar mirip hotel. katanya.

Liver lama tersebut memang tidak boleh dibawa. Demikian pula dengan seluruh rekan yang memonitor perkembangan operasi dari Aceh sampai Papua. Saya tergolek menunggu siuman di ruang ICU di lantai 12. Tapi. Mengapa? Liver itu masih akan dimasukkan ke laboratorium untuk dianalisis lagi lebih teliti. Operasi sudah selesai. di dalam liver saya sudah ada tiga kanker yang besar (ukuran 6 cm.” ujarnya. Mereka sudah bisa menghentikan peribadatannya. Sesaat kemudian. dan 2 cm). dokter menjelaskan bagaimana keadaan liver saya yang sudah dikeluarkan itu. dan Surabaya diberi tahu perkembangan itu. Bahkan. Lalu. Keluaga saya sudah lebih tenang. Dan.” kata dokter sambil jarinya menuding ke arah benda yang dimaksud. “Jepret. Dibenggangkannya irisan itu dengan jarinya yang masih terbungkus sarung karet. Liver itu sudah begitu rusaknya. Dari foto mereka ketika mendengarkan penjelasan itu. menyayat-nyayatkan pisau di beberapa tempat untuk melihat dalamnya. sepertinya pemain kita anti menyerang terus. istri dan anak saya langsung bisa tidur. Dokter lantas mengiris lagi bagian lain. Keluarga di Samarinda. di mana lawan sudah tidak memborbardir gawang kita lagi. “Waktu bersujud itu. para dokter meneruskan lagi pekerjaannya. Semua disampaikan anak saya kepada teman-teman yang menanyakan perkembangan operasi saya.” anak saya memotret lagi bagian itu. Lalu.” ungkapnya. Dan. Bahkan sudah tersenyum-senyum.” ujar dokter sambil kembali membungkusnya. tentu mungkin masih akan terlihat anak-anak dan cucu-cucunya. Anda mengucapkan doa apa?” tanya saya beberapa hari kemudian. Hanya boleh difoto. “Itu lihat. bagaimana persisnya keadaan liver lama saya itu. “Pak Yu Shi Gan (baca: i-se-kan) akan segera dibawa ke ICU untuk menunggu siuman di sana. Diteruskan juga ke warga Sapto Dharmo di Pujon. “Masya Allah. Anak saya memotretnya dari berbagai sudut. Digulanggulingkannya. Kita lantas seperti sedang menantikan terjadinya golgol ke gawang lawan.Melihat “barang” tersebut. Bukan hanya mengenai apa saja yang ada di dalamnya. istri saya langsung lemas dan terduduk. Robert kembali ke apartemen. menurut hasil MRI sebelumnya. apakah kankernya telanjur menyebar atau tidak. 4 cm. Di situlah berbagai 12 by Moezhanks . Kabar selesainya operasi juga dikirim ke umat Buddha yang terus bersemedi di Kenjeran.” tulis Yoto di SMS-nya dari Papua. dia bersujud di dekat seonggok daging berdarah itu. Itu berarti saya baru akan siuman sekitar pukul 07.” kata anak saya.” jelas seorang dokter kepada Robert. “Kira-kira 6 jam lagi. Sebab. yang lebih penting. masih ada dua lagi calon kanker baru. Ada kanker di dalamnya. berita berikutnya disampaikan. menyelesaikan operasi terhadap saya. “Suasananya lantas seperti mendengar siaran radio pertandingan sepak bola. Pintu ditutup lagi. “Seperti daging yang dipanggang kematangan. Suatu berita yang menggembirakan. “Liver ini kami bawa kembali.00 keesokan harinya.” ujar dokter. Malam itu. Saudara ketiga Guo pulang ke rumahnya.00. Madiun. melainkan juga untuk melihat sudah ada berapa kanker yang muncul. Pukul 24. Surabaya. masih harus menunggu hasil penelitian. “Doa apa saja yang bisa saya ucapkan. “Pukul berapa akan siuman?” kata Robert. terlihat jelas bahwa wajah-wajah mereka sudah tidak tegang. Lalu. Kami baru akan diberi tahu sekitar seminggu kemudian.

seperti untuk sementara menggantikan nyawa saya. Maksud saya.jenis kabel dan selang menempel dan menancap di tubuh saya. tapi sebenarnya tidak ada jari yang bergerak sama sekali.” komentar spontan yang muncul. Ingin sekali mata melihat siapa saja yang bersuara itu. Teriak “Saya Hidup”. Berharap karena ternyata masih bisa bernapas. Napas bisa ditarik dengan normal seperti biasa. Begitulah kalau sadar dan tidak sadar bercampur jadi satu. Saya gerak-gerakkan terus jari-jari saya dengan gerakan seperti memutar keran. Saya hidup. Lama-lama. barangkali juga tidak ada oksigen yang dialirkan ke hidung saya. Lalu. Saya yang sudah pengalaman beberapa kali dibius (meski dulu tidak sampai 18 jam seperti saat penggantian liver kali ini). sebenarnya. Seperti orang yang ngantuknya luar biasa. saya tetap berusaha sekuat tenaga. Suara-suara itu tambah lama tambah jelas. Kelihatanlah samar-samar bahwa saya sedang di ICU. tapi Tak Terucap 31 Agustus 2007 Begitu Sadar. Saya hidup. saya coba menggerakkan jari-jari tangan saya seperti sedang memutar keran. tapi ingin sekali membuka mata sebentar agar bisa melihat sekeliling. (bersambung) Ganti Hati 06 – Begitu Sadar. ini permintaan agar keran oksigen diperbesar. Tapi. tapi tak terucapkan. Seperti orang yang lagi kekurangan oksigen. syukur saya tidak sampai mengabaikan rasa hormat saya kepada mereka yang telah belajar keras di universitas dan menggunakan akalnya secara sungguh-sungguh hingga melahirkan ilmu pengetahuan yang sangat maju. Sesaat kemudian. Tapi. Rasanya kok seperti mau mati karena kekurangan udara. setengah putus asa. menjadi lega. “Saya hidup. Perasaan lantas seperti setengah berharap. Perasaan saya saja bahwa saya sedang menggerak-gerakkan jari. mata tidak mau membuka. tapi tetap saja tidak punya kemampuan membuka kelopak mata sendiri. Operasi tidak gagal. 13 by Moezhanks . Kesadaran ini datang tujuh jam setelah operasi. tapi Tak Terucap Suasana orang yang lagi mau siuman selalu saja begini: Mula-mula terdengar dulu pembicaraan orang-orang yang berada di sekitar kita. putus asa karena jumlah oksigen kok seperti tidak segera cukup dan seperti mengancam kehidupan. Saya bersyukur kepada Tuhan sekaligus hormat kepada ilmuwan. yang baru saja dibius selama 18 jam. Di ruang perawatan khusus setelah menjalani penggantian liver. kok sulit sekali ya? Maka. Mungkin juga yang terjadi sebenarnya tidak seperti itu. Tapi. Saya lantas memberikan isyarat kepada perawat dengan tangan saya. rasa sesak itu berkurang. Tentu saya amat bersyukur. mungkin perawat tidak melihat isyarat di tangan saya. Mata pun lama-lama bisa membuka. napas terasa sesak. Bahkan. Saya yakin bahwa saya segera mengatasi persoalan sesak napas itu. Apalagi seperti saya. Teriak “Saya Hidup”. Tapi. sadar bahwa saya ini sedang dalam proses dari tidak sadar ke sadar. Antara sadar dan tidak. Agak berat memang.

Tiga lainnya masuk lewat pembuluh darah besar di leher kanan. peritonium (selaput dinding perut). perawat sudah melatih cara berbatuk yang bisa mengeluarkan dahak.Setelah senang karena masih hidup. Mengapa langsung ke usus? Sebab. sejak beberapa hari sebelum operasi. Suara tat-tit-tat-tit dari mesin-mesin elektronik di sekitar saya mendominasi pendengaran saya. Yang satu untuk membuang sisa makanan dari lambung saya. barulah saya sadar bahwa begitu banyak instrumen yang ada di sekitar tempat saya berbaring. saya belum bisa makan sendiri. tapi tidak juga berhasil. itu hanya untuk menyenangkan hati saya. masih ada empat selang lain yang menancap di leher saya. Sehingga perlu dibantu. saya harus berbuat seperti membatukkan diri keras-keras. Saya tahu. Cara demikian juga saya ketahui dari buku petunjuk. “Apa sih sulitnya batuk?” kata saya dalam hati. yakni lewat tenggorokan. Sebatuk-batuknya. selang-selang. Kabel-kabel. Satu selang masuk lewat lubang yang sengaja dibuat di bagian depan leher. Dalam praktik.” ujar perawat lebih lanjut. Perawat menyatakan saya berhasil menjalani latihan dengan tingkat kelulusan summa cum laude. Tapi. karena liver baru saya belum bisa “cari makan” sendiri. Yang lain untuk mengirimkan makanan langsung ke usus saya. ternyata saya sulit sekali lulus.gunanya untuk mengalirkan napas bantuan dan membersihkan kelebihan lendir di paru-paru (broncho toilet). Saya berusaha terus membatukkan diri. Ketika saya tanya mengapa begitu sulit saya mengeluarkan dahak itu. maka sisa lendir di paru-paru pun tidak bisa saya keluarkan sendiri dengan cara batuk atau berdahak. Kedua. dan usus saya masih rawan pecah sehingga perlu dilindungi. pertama. Dua selang kecil itu punya tugas sendiri-sendiri. “Uhuk! Uhuk!” Selesai. Saya diberi napas bantuan karena sampai beberapa jam pascaoperasi. Sebagian mungkin karena saat itu saya sudah tidak lagi punya tenaga sebaik saat latihan. Sehingga perlu ada yang “mencarikan. Meski sudah berhasil mendapatkan dua jenis kelegaan (bisa bernapas normal dan bisa mengeluarkan dahak dalam jumlah besar). Karena di lubang hidung masih ada dua selang yang dimasukkan sampai ke perut saya. dan saluran infus seperti bertaut-tautan. Mula-mula rasa dada penuh dengan cairan lendir. Begitulah bunyi petunjuk yang saya baca sebelum operasi.” Selain itu. saya meraskan tidak ada kesulitan. Kalau tidak. 14 by Moezhanks . Bahkan. Namun. karena pembuluh darah di esofagus (jalan makan yang menghubungkan mulut dengan lambung). Rasa-rasa tidak enak mulai muncul satu per satu. Ketiga.” kata perawat. Cairan itu harus segera bisa keluar sebagai dahak. saya kan belum bisa bernapas sendiri. latihan dan kenyataan ternyata sangat berbeda. “Bagi perokok lebih sulit lagi mengeluarkan dahak itu. kedua selang itu dikenal dengan sebutan sonde. Untuk mengeluarkan lendir itu. seperti yang sudah diajarkan perawat. Napas terasa amat lega. “Tidak. tapi masih banyak yang membuat badan saya sangat tidak nyaman. Sudah saya usahakan batuk semirip-miripnya batuk waktu summa cum laude. Dalam dunia kedokteran. perawat mengatakan bahwa itu normal saja. Akhirnya broll! Dahak yang amat banyak bisa keluar. maka diambillah jalan pintas. “Apakah saya terlalu meremehkan saat latihan?” tanya saya. Satu selang yang dimasukkan lewat leher depan -di antara tulang belikat. saya juga takut akan bahaya dahak itu terhadap paru-paru. akan membahayakan paru-paru. Waktu latihan. Dan karena belum bisa bernapas sendiri. tenaga pun rupanya ikut hilang. Agar “bantuan” itu bisa cepat sampai ke paru-paru. Setelah hampir dua hari tidak ada makanan apa pun yang masuk ke perut.

Ujung selang infus itu bercabang-cabang karena lima macam cairan dari botol yang berbeda harus mengalir ke tubuh saya lewat satu jarum tersebut. Ini agar saya bisa menggambarkannya dengan baik 15 by Moezhanks . Melainkan untuk transfusi (tambah darah) bila diperlukan. Alat itu secara otomatis akan mencengkeram lengan saya sangat kuat setiap setengah jam sekali. konsentrasinya sangat tinggi sehingga bisa merusak dinding pembuluh yang dilewati. botol.Sedangkan tiga selang lainnya masuk lewat pembuluh darah besar. salah satu ujung tri lumen bisa dihubungkan dengan alat monitor yang bisa menunjukkan perubahan kadar air di tubuh saya setiap menit. Dengan begitu. Saya berusaha tidak memikirkan itu. Yang lebih istimewa dari tri lumen adalah bisa untuk memonitor kadar air dalam tubuh (central venus pressure=CVP). Dirut anak perusahan di Grup Kalimantan yang kini jadi direktur Jawa Pos. Angka-angka tekanan darah otomatis keluar di layar monitor. Infus jenis ini memang harus lewat pembuluh darah besar. dan kabel yang saling berhubungan di tubuh saya. Lengan kanan saya juga sedang dipasang jarum untuk mengalirkan berbagai jenis infus. Melihat keruwetan di sekitar tubuh saya. tak perlu lagi dengan menusuk-nusuk tangan saya. “Jangan sampai nanti meninggalnya justru hanya gara-gara kejatuhan singkong di jalan raya. Humor ludrukan.” Apa kejatuhan singkong di jalan raya bisa membuat orang sampai meninggal? “Lha singkongnya satu truk. secara otomatis. Sebab. saya mencoba untuk tidak merasa terganggu. Fungsi lain tri lumen adalah untuk memasukkan obat-obat injeksi yang harus lewat pembuluh darah dan mengambil sampel darah. Lalu. Tapi. bila perawat ingin mengambil sampel darah atau menyuntikkan obat. tapi meninggal oleh penyebab yang amat sepele. yang dalam istilah kedokteran disebut dengan tri lumen atau central IV (baca : ai vi) line. itu bukan disiapkan untuk cairan infus atau injeksi. Itu belum semuanya. truknya nabrak kita!” Humor khas orang Surabaya. saya ingin menghitung berapa banyak selang. Ujung jari tangan dan kaki juga dijepit dengan alat yang dihubungkan dengan kabel ke layar yang lain lagi. sebenarnya. Yakni mengenai susah payahnya seseorang untuk menyelamatkan hidup (mungkin seperti saya ini). Kabel itu juga terhubung dengan layar monitor. Bahwa di tangan saya masih ada semacam pentil yang biasa dihubungkan dengan selang infus. Ketidaknyamanan lain yang saya rasakan saat itu adalah adanya alat pengukur tekanan darah yang dipasang di lengan kiri. Sebab. Dinding pembuluh darah utama yang leher lebih kuat sehingga cukup kuat untuk dilewati infus jenis ini meski sampai tiga bulan secara terus-menerus. Gunanya untuk mengalirkan semacam infus yang mengandung protein dan kalori tinggi. tidak boleh lewat pembuluh darah di tangan seperti biasanya orang diinfus. itu bisa mengalihkan perhatian saya dari rasa ruwet dibeliti selang dan kabel. *** Pagi tanggal 7 Agustus 2007 itu. Karena masih ada sejumlah alat dan kabel yang ditempelkan di dada kiri dan kanan untuk mengecek denyut jantung. Setidaknya untuk sementara. Saya justru teringat humornya rekan Zainal Muttaqien.

Tapi. Kelopak mata berat sekali.00-an. hai shi shang wu?” Dia jawab. saya ragu apakah itu terangnya matahari atau terangnya lampu? Saya berusaha melihat jauh ke dinding. Misalnya. Namun. Kecuali orang asing yang memerlukan penerjemah. Oh. saya tidak tahu apakah terang di balik kepala itu karena dinding kaca atau karena ada lampu yang dipasang di situ. Saya memang tidak bisa omong jelas karena banyaknya selang di tenggorokan. Juga menyampaikan daftar nama yang mengirim salam dan memberikan dukungan batin lewat SMS. Berarti sudah satu malam saya tidak sadar sama sekali. putra Kiai Faqih. Anak saya menceritakan apa yang sedang terjadi dan apa yang mereka lakukan malam sebelumnya. Jarum yang menunjuk jam 9 saya kira menunjuk angka 11. (bersambung) Ganti Hati 07 – Tahan Tak Bergerak 24 Jam di ICU karena Terbiasa 12 Jam di Jawa Pos 1 September 2007 SATU jam setelah sadar. saya sungguh ragu dengan kemampuan saya memperkirakan. Saya segera melambaikan tangan ke arah istri dan anak saya. “Ji dian?” Jawabnya. sedang tidak menggunakan kacamata. saya melihat anak lelaki dan istri saya mendekat. Tapi. sulit sekali untuk bisa melihat dengan jelas. Ketika saya lihat ada perawat mendekat. Hanya secara timbul tenggelam saya melihat secara kabur bahwa itu seperti jam 11. Tidak mungkin. saya tanya lagi. maka ditambah satu penerjemah. pandangan saya lamur. Saya tidak mungkin bisa menoleh karena begitu banyak selang di leher. Ingin sekali saya berusaha mengalihkan pandangan ke kiri atau ke kanan.kalau kelak harus menuliskannya untuk pembaca. Kalau saya paksakan omong. Lalu. ke arah jam besar dipasang. Orang yang baru siuman setelah dibius selama 18 jam tidak memiliki tingkat konsentrasi yang sempurna. “Jam sembilan”. ya hanya dengan melihat jam di dinding sana itu. Saya berusaha untuk tersenyum sebagai ganti kata-kata bahwa saya baik-baik saja. saya bertanya. Dan tahulah saya bahwa pandangan saya benar-benar gak sempurna. Bahkan. bisa jadi tenggorokan saya akan terluka dan itu akan menyulitkan diri saya sendiri akhirnya. Maka. Kedua. namun tidak bisa. Sepanjang. ya memang saya belum sepenuhnya punya kemampuan normal. saya tidak sepenuhnya mengerti apakah ketika saya mulai sadar itu. “Wan shang. jam sembilan siang! Tahulah saya bahwa saat itu sudah pagi hari. 16 by Moezhanks . Baluran. Memang hanya dua orang dari pihak keluarga yang boleh masuk ICU. Tapi 11 malam atau 11 siang. Satu-satunya cara untuk bisa mengetahui situasi waktu. Tapi. informasi bahwa malam itu santri Pondok Langitan berdoa bersama dipimpin langsung oleh Gus Dulloh dan Gus Maksum. Pertama. kesadaran saya dan tenaga saya tidak terlalu komplet pagi itu. Lama sekali saya menebak-nebak: siangkah ini? Malamkah ini? Memang suasana ruang ICU sangat terang. waktunya sudah siang atau masih malam. ini jam besuk ke ICU. Apalagi kalau harus mendongakkan kepala untuk melihat sumber terang di belakang kepala saya. Juga dari Panti Asuhan Yatim Piatu Zainudin.

Bahkan. Bapak marah besar. bapak melarang saya untuk belajar naik sepeda. Yang berat adalah menahan diri untuk tidak menggerakkan badan sama sekali. Saya pernah menjalani dua operasi sebelumnya. saya kelihatan agak pinter di kelas. Ini bukan operasi kecil. jadilah saya inspektur upacara dengan sepatu di kaki. Rapor saya merah semua. Bukan saja oleh kemiskinan. sampai kelas tiga SMA (aliyah). namun belok ke sungai di tengah jalan. tapi itulah bagian yang harus dijalani untuk sukses. Saya cari ikan karena takut dengan guru bahasa Inggris. saya merasa akan mampu melakukannya. Kalau saya bergerak untuk tujuan mengenakkan badan sesaat. tiap malam saya harus berdiri di ruang layout lebih dari 12 jam. saya belum punya sepatu. Tapi. Sejak itu. Kali ini saya juga harus mampu memenuhi persyaratan untuk tidak bergerak selama 24 jam! Sejak kecil pun. saya tetap berangkat dari rumah. Akibatnya. Saya harus sekolah sejauh 6 km dengan jalan kaki. saya bisa beli sepatu (sepatu kets bekas yang ujung jempolnya sudah bolong dan bagian tumitnya sudah berserabut). Saat mulai membangun Jawa Pos dulu.Istri saya diam saja seperti tertegun melihat ruwetnya jaringan kabel dan selang di sekitar badan saya. Saya sudah bertekad bagian ini pun harus bisa saya lewati dengan baik. Tinggal saya sendiri lagi menghadapi ketidaknyamanan keadaan. ya itu sudah risikonya. ketika kelas 3 SMA. Ini agar luka-luka akibat operasi dan penyambungan pembuluh darah di liver tidak terganggu. Dan. Mengapa? “Kalau sepeda itu rusak. saya berada di sungai. Apalagi harus selama 24 jam. kalau lagi ada pelajaran bahasa Inggris hari itu. Hanya tiap Senin sepatu itu saya pakai. pembukaan rongga dada. Misalnya. Juga sering ditunjuk sebagai inspektur upacara pada tiap Senin. Saya berhasil menjalani itu dulu. mereka pamit. 17 by Moezhanks . Saya anggap saja sebagai yoga yang panjang. Lama-lama. kemudian sering jadi ketua berbagai kegiatan. saya sudah belajar tahan menderita. Bagian ini juga harus saya jalani dan saya lewati sebagaimana saya harus menjalani dan melewati proses pembiusan. bagaimana kita bisa menggantinya?” katanya. Saya juga merasa bersalah kepada kakak saya yang telah meninggalkan gajinya untuk saya dan adik saya. Tujuh hari seminggu. saya belum bisa naik sepeda. ternyata memang bisa. Karena itu. pembuangan liver lama. Sampai kelas 2 SMA. cita-cita saya bukan itu. Tiap malam. Satu jam berangkat dan satu jam pulang. Dua-duanya mengharuskan saya. Setelah memotret-motret secukupnya. tapi juga oleh kerasnya sikap bapak saya. Maka. kalau kali ini saya harus tidak bergerak selama 24 jam pun. dan pemasangan liver baru. Bahwa akan amat penat. saya tidak naik dari kelas 1 ke kelas 2. Tapi. 30 hari sebulan. saya sadar sepenuhnya memang begitulah pascaoperasi. Sepatu itu menimbulkan rasa tidak nyaman yang hebat. Banggakah saya? Ternyata tidak. Maka. Maka. akibatnya bisa berupa penderitaan yang panjang. tiap pelajaran bahasa Inggris. Ini operasi besaaar! Kalau setelah operasi ada rasa sakit. Kadang. bahkan menimbulkan luka. saya hemat benar pemakaiannya. Cita-cita saya adalah “bagaimana agar punya sepatu”. kecuali ilmu bumi yang mendapat angka enam. saya nikmati saja proses ini. Karena dalam hati saya tersiksa. kalau bisa. Penatnya bukan main. pastilah demikian. Saya tidak mengeluh. 360 hari setahun. Tiap hari ke sekolah dengan telanjang kaki. tidak bergerak selama delapan jam. Atau sebagai bagian dari zikir-pidak di tarekat Sathariyah. Mengeluh hanya akan menambah penderitaan. Maka.

tapi juga karena di kotak itu ternyata ayah menyimpan uang. selama di ICU. meski hanya cukup untuk beli dawet (minuman khas di desa). tangannya berusaha mencabut selang-selang yang memenuhi tenggorokannya. begitu kandung kemih saya penuh. dia tidak ingin kotak dan labelnya dibuang. Secara teratur. Bapak sangat sayang pada alat pertukangannya. Kecrek itulah. Bahkan. Dengan adanya selang yang di lubang kemaluan itu. Mula-mula. bapak malah menghentikan pukulannya. Tapi. Sama dengan yang di ujung kemaluan. tapi itulah satu-satunya tabungan ayah. Banyak pasien yang tangan dan badannya harus diikat karena selalu berusaha untuk bergerak. suatu hari. air kencing di kantong itu diukur dan dianalisis. Sebab. “Sampai jalan masuk ke kamar tinggal satu galengan (pematang). ayah menggosok-gosok alat-alat itu sampai tajam.Karena itu. Hanya dia jejer di lantai rumah. dalam posisi menumpuk. Semua cairan itu juga ditampung di kantong plastik. *** Sebenarnya. Ujung lain dari masing-masing selang itu masuk ke kantong plastik penampung cairan yang digantungkan di pinggir ranjang pasien. Dan. kata saya dalam hati. kalau hanya akan ditambah 24 jam di ICU ini.” Saya juga pernah dipukuli bapak dengan sapu. yang saya pasang di kotak kayu. saya hanya tersenyum ketika melihat anak saya mempunyai sepatu sampai lebih dari 300 dan semuanya branded alias bermerek. Ini gara-gara saya sering menggunakan alat-alat pertukangannya untuk ndalang. kelirnya terbuat dari sarung saya. Namun. Padahal. Begitulah. Dia memang hobi mengoleksi sepatu. saya menangis. Saya pilih menjalani proses tidak bergerak dengan kesadaran sendiri daripada harus diikat seperti itu. 18 by Moezhanks . juga lantaran ujung dua dari tiga selang-selang itu dimasukkan ke dalam rongga perut saya melalui pinggang kanan dan kiri. Wayangnya terbuat dari rumput. masuk ke kantong penampungnya. tangan saya tidak perlu diikat. ada yang mungkin tidak sadar. Perawat ICU memuji ketahanan saya. Kalau disentuh. saya tak perlu lagi merasa akan kencing. Kalau tidak lagi ada orang yang minta memperbaiki rumahnya. Ayah bukan hanya marah karena alat-alat cari uangnya dipakai secara salah. akan timbul bunyi “crek-crek”. Begitu penuhnya sehingga istrinya suatu saat bilang kepada saya. Sambil merasa memang saya bersalah. lalu secara teratur diukur dan dianalisis. Ternyata. selang yang di pinggang juga untuk mengeluarkan cairancairan yang tidak dibutuhkan tubuh saya. saya pikir tidak ada gunanya. untuk dipandang setiap hari. kecreknya dari alat pertukangan ayah. Kaki saya dalam posisi akan sering menyentuh kecrek tersebut sehingga bisa menimbulkan bunyi “crek-crek”. Kalau beli sepatu. Puluhan tahun saya menderita. Karena itu. Saya duduk mendalang di sebelahnya. Dia juga tidak pakai sepatu itu. anak-anak pasah itu (alat untuk menghaluskan kayu) saya gandeng-gandeng. Gamelannya adalah mulut beberapa teman sepermainan. masih ada tiga selang lagi yang juga amat mengganggu. Saya diam dan menikmati pukulan itu. Satu bunyi yang penting dalam memainkan wayang. Dan. uang itu ikut saya ambil untuk saya belikan dawet. Selain karena ukurannya yang cukup besar. Jumlah dan warnanya menunjukkan normal tidaknya ginjal dan berfungsi atau tidaknya organ penting itu. Ujung selang yang satunya dimasukkan ke kandung kemih melalui lubang kemaluan. air kencing saya keluar dengan sendirinya melalui selang. apalah beratnya.

cangkul meleset dan mengenai telapak kaki. makin berbahaya karena peritonium bisa pecah dan orangnya meninggal. seperti ceceran darah. Jumlahnya pun makin hari juga semakin sedikit. bukankah memang harus demikian? Bukankah ini operasi yang sangat besar? Yang tidak mungkin tidak sakit? Tapi. ya mesti saja. mencangkul di sawah. dengan cara mengeluarkan lebih banyak cairan. tapi saya berusaha tabah menjalaninya. Hari-hari pertama di ICU itu memang harus saya lalui dengan amat menderita. cairan itu makin sedikit keluarnya. Yakni sakit akibat luka. memutih. sekali lagi. Bahwa sebenarnya badan tidak enak. Biasanya hanya kami siram dengan minyak tanah. Yakni ketika telapak kaki terkena cangkul. Saat dokter bertanya apakah ada masalah. Tapi. Sakit ini. Saya gak mau itu. Kadang masih bercampur lumpur juga. lalu kami bebat dengan kain sobekan dari kaus atau sarung. selang di pinggang kiri juga mengeluarkan cairan kuning kemerahan. Saya tidak mengeluh kepada siapa pun. cairan yang keluar dari pinggang kiri saya pun makin hari makin berkurang warna merahnya. saya tahu paling-paling hanya akan diberi obat penghilang rasa sakit. sepanjang sakitnya masih masuk akal. Tidak mungkin setelah perut ditutup tidak menimbulkan rasa sakit. Kain yang tidak pernah dipertimbangkan bersih atau tidak karena ya baru disobek saat itu juga. Tak lagi berdarah. (bersambung) 19 by Moezhanks . protes. Sehingga selangnya pun bisa dicabut. Waktu kecil saya memang sering ikut jadi buruh tani. Selama saya di ICU. Liver dan empedu baru saya tidak termasuk dalam kategori “barang asing” yang ditolak karena kedua organ itu kan sebenarnya penghuni rongga perut juga. saya bertekad untuk tidak mengeluh. Ini pertanda tak ada lagi kelebihan cairan di rongga perut saya. meski sakit sekali. posisi ujung selangnya ada di dekat kedua organ yang baru ditransplantasikan itu. sakitnya. Apalagi seminggu sebelumnya saya baru saja baca bahwa Australia melarang penggunaan painkiller tertentu karena terbukti membuat pasien yang baru menjalani transplantasi liver meninggal dunia. bisa dirasakan. ketika kecil. selang yang di pinggang kanan berfungsi untuk mengeluarkan sisa darah yang mungkin masih menetes dari luka bekas sayatan operasi di liver dan kantong empedu baru saya. Lukanya lebar. sel tumor atau kanker. Karena itu. painkiller. saya sudah sering mengalami rasa sakit seperti itu. Cairan itu merupakan kelebihan cairan di rongga perut yang bercampur dengan sisa darah operasi yang tercecer dan berkeliaran. Dan. Dan akhirnya berhenti karena luka-luka bekas sayatan operasi itu sudah “kering”. Makin banyak cairan yang keluar. Kalau saya merasa kesakitan. selang di pinggang kanan mengeluarkan cairan pekat berwarna merah. yang disiapkan untuk menanam padi. Makin hari. dan berdarah-darah. Kadang. Tapi.akan bereaksi. Jika ada sesuatu yang tidak terdaftar sebagai “penghuni rongga perut”. Bersamaan dengan keluarnya sisa darah dari pinggang kanan. maka selaput dinding rongga perut -yang dalam istilah kedokteran disebut dengan peritonium. Yakni luka yang sengaja dibuat dengan pisau bedah di sepanjang dada dan perut saya untuk mengeluarkan liver yang lama dan memasukkan liver yang baru.Bedanya. Ini berarti semua ceceran darah sisa operasi sudah didorong keluar dari rongga perut. Sama dengan yang di pinggang kanan. Sakitnya saat habis operasi ya kurang lebih seperti itu. saya bilang tidak ada. Itu berarti satu racun lagi akan dimasukkan dalam tubuh saya. Tentu tidak ada obat. Rongga perut memang harus bersih dari “barang asing”. masih bisa saya rasakan.

Agak lega sedikit. Perhatian saya menjadi tidak hanya kepada banyaknya selang yang menancap di sekujur tubuh. Tak terasa sore pun tiba. Memperhatikan dengan mata terpejam. *** Hari pertama di ICU itu saya tidak merasa mengantuk. Dia muda. Waktu itu diketahui (lewat scanner) bahwa di liver saya sudah ada kankernya. dan diserang kanker. selang yang dimasukkan ke rongga perut lewat lubang hidung juga dicabut. Ini bukan untuk menunjukkan bahwa saya pernah hampir putus asa. kalau dalam satu hari itu tidak juga reda. Saya pernah mengalami rasa sakit sampai tidak tahan lagi menanggungkannya. Dalam hal ini saya merasa kalah dengan Sara. Lalu dikemo. cantik. Tapi. mata terus terpejam. (Kelak akan saya jelaskan apa itu di-TACE). kata saya kepadanya. Saya akan cari jalan lain saja. mual. tinggi. Sambil mata tetap terpejam pikiran saya jalan ke mana-mana. Sampai-sampai saya tak bisa memisah-misahkan bentuk sakitnya itu terdiri atas berapa macam rasa sakit. Dasar bekas wartawan! Kata hati saya. Saya juga bisa melupakan rasa penat akibat tekad saya sendiri untuk tidak akan menggerakkan tubuh sedikit pun selama 24 jam. Semua saya catat dalam ingatan saya. Kini dia kembali cantik dan sudah melupakan penderitaan kemonya. kembung. Setelah dikemo itu. Tidak tahan. Saya bilang kepada Robert Lai yang menunggui saya di Singapura. Juga sudah melebihi umur ibu saya. Sudah berbuat sesuatu yang lumayan. Hanya. ketika setahun lalu harus menjalani kemoterapi.Ganti Hati 08 – Sempat Berpikir Lebih Baik Mati daripada Melanjutkan Kemo 2 September 2007 KALAU saya sangat tahan menerima penderitaan selama di ICU. Lebih 20 by Moezhanks . saya kemudian memutuskan tidak mau lagi dikemo. Karena tidak melulu tercurah ke rasa sakit. Saya pernah mengalami rasa sakit yang “sampai nggak bisa dirasakan”. Memperhatikan apa saja yang terjadi di ICU itu membuat perhatian saya terbagi. melintir-lintir. dilepas. Pelan-pelan rasa tidak karu-karuannya berkurang. dan entah berapa jenis rasa sakit menjadi satu. Toh saya sudah berumur 55 tahun. Yakni sakit. Saya diberi obat tertentu. Baik luka di kulit akibat sayatan pisau atau luka di dalam akibat terjadinya penyambungan-penyambungan pembuluh darah. Ke Surabaya. mulas. rasanya luar biasa tidak karuan. Lalu dia lapor ke dokter. satu selang yang dimasukkan lewat leher kanan saya dicabut. Mereka jelas lebih hebat dari saya. Tapi. masih ada dua selang yang menancap di leher yang dilubangi itu. saya pilih mati. Saya juga suka memperhatikan kesibukan di ruang ICU itu. Yakni. Sore itu. Bukan. Rasanya saya tidak punya kekuatan untuk membuka kelopak mata saya sendiri. Agak lebih sore lagi. bukan saya jagoan dalam menerima rasa sakit. Lalu kanker itu dicoba dibunuh dengan cara di-TACE. melainkan untuk menunjukkan kekaguman saya kepada orang-orang yang mampu menjalani kemo berkali-kali. Atau lebih baik mati saja. Sedang saya tidak tahan. atau umur kakak saya. Pasti painkiller. Dia harus menjalani kemo berpuluh kali hingga kepalanya gundul. Saya minta mati saja. ke Medan. Ini baik. Batam sampai ke Palu. salah satu manajer keuangan saya. Bengkulu. atau umur paman-paman saya. Yakni. agar tidak berakibat buruk pada luka-luka operasi saya. Tidak ada gunanya hidup dalam keadaan seperti itu.

kalau ada yang menganalisis bahwa saya punya grand design untuk membuat Jawa Pos seperti sekarang. Baru setelah ternyata mudah sekali membuat koran yang bisa sebesar 50 persennya Surabaya Post. Saya tidak mau bertanya jadwal melepaskan selang-selang sisanya. Iya kalau batunya yang menggelundung. Sebuah koran nasional dari daerah dengan oplah lebih dari 300 ribu eksemplar per hari. Malam itu saya menyaksikan kerja perawat di ruang ICU yang luar biasa sibuknya. meningkatlah keinginan untuk bisa sebesar Surabaya Post. Orang akan merasa kecewa kalau keinginannya tidak tercapai. Dulu pun saya hanya ingin Jawa Pos menjadi koran yang oplahnya separonya dari Surabaya Post. Batu pun kadang bisa menggelundung. Keinginan itu meningkat terus secara bertahap. dan dicatat. Bukankah bahagia dan kecewa sebenarnya bisa kita ciptakan sendiri? Orang akan merasa bahagia kalau keinginannya tercapai. Ada yang ganti liver seperti saya. Semuanya baru saja menjalani penggantian organ tubuh. begitu banyak alat deteksi yang terus-menerus harus dipantau. Menggendong dengan bahagia.lega lagi. kalau bisa. Hanya. Itu menangnya orang yang tidak punya cita-cita tinggi sejak awal. lha kalau kepalanya yang pecah gimana? Cita-cita saya semula hanya ingin punya sepatu. Saya terus berharap. menurut pendapat saya. begitu banyak macam cairan infus. Ini belum termasuk koran-koran Grup Jawa Pos yang terbit di Jakarta dan di kota-kota lain di luar pulau. kalau orang berpegang teguh pada cita-cita. biar pun rombengan. Lalu ingin punya sepeda. 18 jam dibius. rasanya tidak mungkin mengejar Surabaya Post yang sudah merajalela kehebatannya. Tapi. sepeda itu pernah putus as rodanya sehingga tidak bisa dinaiki. kalau dalam perjalanannya menghadapi batu besar. Tiap-tiap pasien memerlukan begitu banyak obat. Perawat shift malam itu mulai bekerja pukul 19. untuk mencapai kebahagiaan sangatlah mudah: Jangan pasang keinginan terlalu tinggi. Dengan istikamah. dituntun pun tidak bisa. alirannya yang deras. kalah dengan air yang deras. 21 by Moezhanks . tidaknya begitu kenyataannya. Jangan menaruh harapan terlalu banyak. Waktu itu.00 dan baru akan pulang pukul 07. dalam istilah Pesantren Miftahul Ulum Al Islami.00 keesokan harinya. bertemu batu pun akan ditabrak. dan power plant. pimpinan KH Ilyas Khotib. koran ini berkembang sedemikian rupa hingga menjadi sebuah grup media yang membawahkan lebih dari 100 koran harian dan mingguan. diganti. Bahkan. Karena tidak punya cita-cita. ia akan membelok. Padahal. pabrik kertas. Ini karena tiap tiga perawat mengurus lima pasien ICU. Tidak perlu lebih besar dari itu. Mungkin sudah kelamaan ditidurkan! Yakni. Sepanjang malam mereka bekerja tanpa istirahat sedikit pun. Karena akan membuat saya merasa lebih bahagia. Setidaknya tidak akan membuat saya terlalu kecewa. sehingga menjadi seperti Grup Jawa Pos sekarang. saya wujudkan dengan konstan. Khawatir berharap terlalu banyak. Saya sudah biasa dengan sikap untuk tidak berharap banyak pada apa pun dan pada siapa pun. Maka. selang-selang itu satu per satu akan dilepas. Saya punya prinsip semuanya sebaiknya mengalir saja seperti air. Hidupnya lebih fleksibel. Terpaksalah saya menggendongnya. Jadi. ini saya. di Bangkalan. Tapi. Kedungdung. delapan televisi lokal. Hanya desain-desain kecil yang saya buat. Bahkan. Madura. ada yang ganti ginjal. waktu pertama punya sepeda (juga bekas) bahagianya melebihi saat punya Jaguar. Malamnya saya juga tidak mengantuk. baik. Ini. Rasanya. ada yang ganti jantung.

“Anda luar biasa sekali. Dia sebenarnya sudah lama menangis-nangis minta diperhatikan. Rasanya malah lebih ikhlas. Saya memang bertekad untuk tidak akan mendemonstrasikan rasa syukur itu dalam bentuk yang ekstrem. semakin panjang kalimat yang saya ucapkan. Saya akhirnya berkesimpulan akan bersyukur dengan cara “memanfaatkan umur tambahan ini dengan seproduktif-produktifnya”. sujud kan tidak harus dengan kepala? Kan bisa juga yang sujud hati? Maka saya sujud dengan hati saya. Sudah lama komplain ke sana kemari. Sudah pasti saya belum punya kemampuan bersujud. karena tidak dipedulikan. Kalau sudah tua. Tiba-tiba saya terlibat diskusi lagi dengan pikiran sendiri mengenai apa bentuk syukur yang harus saya lakukan. (bersambung) Ganti Hati 09 – Kesadaran Pulih. lantas ngambek seperti ini. menderita kerugian.” batin saya lagi. Setiap ada kesempatan saya selalu memuji mereka.” kata saya. pimpinan rumah sakit yang juga kepala tim dokter yang menangani penggantian liver saya datang menjenguk. nggak mungkin bisa bekerja tanpa henti dengan konsentrasi tinggi sepanjang malam. Jadi masih lumayan. “Ze me yang?” tanyanya 22 by Moezhanks . Saya ingat waktu itu. berarti rumah sakit akan menderita. Selama kirakira 15 tahun berturut-turut. 360 hari setahun. sudah harus bekerja sejak pagi lagi. Lalu minta diistirahatkan seterusnya. dengan sepanjang-panjangnya mengucapkan kalimat-kalimat tertentu atau bahkan sampai menitikkan air mata. Tujuh hari seminggu. Sudah lama minta untuk tidak diperlakukan seperti itu. Semakin banyak orang yang saya undang untuk syukuran. harus dicatat berapa harganya dan lalu di-invoice-kan. “Alhamdulillah. semakin saya “sudah merasa bersyukur”. Sebab. Namun. Hari kedua di ICU itu. Misalnya. pagi-pagi. Sebentar tapi menenangkan batin. bagi RS tentunya. Tapi. Sepi sekali ing pamrih.” kata saya. Tidak ada yang lihat. Karena dia pimpinan. Yakni. Maka setiap habis menggunakan bahan. waktu mulai membangun Jawa Pos dari sebuah koran yang hampir bangkrut.” jawabnya. saya harus bekerja sepanjang malam. Besoknya sepanjang malam lagi. 30 hari sebulan. Ini penting sekali. Besoknya tidak pakai libur. “Terima kasih. Paginya. yang menyertainya banyak sekali. yang juga tak kalah penting adalah dibuatkan invoice-nya untuk menagihkan kepada pasien. semakin saya “sudah merasa bersyukur banyak”. kalau salah dalam meng-invoice-kan. Sampai malam lagi. Saya khawatir. Begitu seterusnya. Liver saya kalah. Tidak libur. “Saya benar-benar masih hidup. Atau memotong sapi untuk acara besar-besaran.Dan.” kata hati saya. Berbeda dengan muda saya dulu. Satu malam suntuk bekerja tanpa istirahat. Saya tahu dia akan libur besoknya. Di tengah malam yang sepi itu. Puji Tuhan. Inilah yang membuat organ di dalam tubuh saya menderita. “Untung Anda masih sangat muda. tibatiba pikiran saya jernih sekali. apa pun yang di ICU terlihat jelas dan terekam baik dalam ingatan. sepanjang siang lagi dan sepanjang malam lagi. Suara tat-tit-tat-tit mesin yang memonitor organ-organ tubuh saya terdengar kian jelas. tapi Saya Tak Mampu Sujud Syukur 3 September 2007 SAYA memperoleh kesadaran penuh pada malam kedua di ICU. Bahkan.

Bukankah memang ada kasus-kasus “salah diagnosis” semacam itu? Ada juga pertanyaan yang lebih penting yang ingin segera saya ketahui. ternyata liver saya baik-baik saja. Tidak ada kata-kata yang diucapkannya. Misalnya. tapi mereka sendiri juga harus dilaporkan. Juga terlalu dini. perawat-perawat rumah sakit ini luar biasa. Saya malah berubah pikiran dengan cepat.sambil memegangi tubuh saya menanyakan apa kabar dalam bahasa Mandarin. Saya justru bergegas menunjuk ke perawat yang berdiri di arah kaki saya. Maka.” kata perawat itu kepada saya setelah rombongan pimpinan berlalu. Yakni. Mr Yu memuji saya di depan pimpinan. “Hen hao. Benarkah sudah ada kanker di liver lama saya? Benarkah tanpa operasi ini sebenarnya saya masih bisa hidup lima tahun lagi? Benarkah. Sebenarnya banyak sekali yang ingin saya katakan. Tentu itu basa-basi. Tanggung jawab kepada keselamatan pasien. Kerja yang luar biasa keras itu harus ada yang mencatatnya.” jawab saya. Tepukan tangan ke pundak anak buah seperti itu sudah melebihi pujian yang diucapkan dengan ribuan kata. pertanyaan itu terlalu banyak untuk diajukan pagi itu. melakukan pekerjaan cepat. ada juga sedikit kekhawatiran bahwa jangan-jangan setelah perut dibuka. cermat dengan ketelitian yang tinggi di waktu malam yang sepi. Jangan-jangan hasil scanner yang menyatakan liver saya sudah rusak dulu itu hanya karena alat scanner-nya “salah lihat”. melainkan soal-soal lain yang membuat saya penasaran. Masih ada waku di lain hari. mungkin masih berminggu atau (kalau operasi ini gagal) masih akan berbulan lagi. Kalau saja tidak teliti pun siapa yang tahu? 23 by Moezhanks . Saya bilang bahwa saya baik-baik saja dan tidak punya keluhan apa pun. Para perawat itu tidak hanya harus membuat laporan yang baik. saya masih akan berhari-hari di rumah sakit ini. Di Tiongkok nama saya memang Yu Shi Gan (baca: i-se-kan). Terutama kebaikannya itu. Saya memang benar-benar ingin memujinya. “Terima kasih. Sang pimpinan tersenyum senang. tanpa istirahat sedikit pun. Rasanya kurang pas kalau saya sudah bertanya sejauh itu. yang akan membuat saya menyesal melakukan operasi? Soalnya. apakah ada kesulitan yang berarti untuk melakukan operasi tadi malam? Apakah liver saya yang lama benar-benar telah rusak seperti yang diperkirakan? Atau sebenarnya masih baik. saya urung mengajukan pertanyaan-pertanyaan tadi. bahwa sebenarnya saya tinggal punya kesempatan hidup enam bulan lagi? Karena kanker sudah menjalar ke beberapa bagian di dalam liver saya? Tapi. Saya tidak basa-basi memuji para perawat itu. seperti kata sebagian dokter. Toh. “Dokter. Tadi malam mereka bekerja keras sepanjang malam. Bukan mengenai keluhan saya. sehingga cukup dipanggil nama depannya saja (Yu) yang dikira nama marga saya. Para perawat itu bekerja dengan penuh tanggung jawab. saya kira memang tidak perlu ada kata-kata apa pun. tanpa mengunjungi saya pun dia sudah bisa baca dari laporan komputer mengenai perkembangan keadaan saya. Bahkan. Dan. Bukankah pagi itu dokter hanya mengunjungi saya untuk menunjukkan perhatian kepada saya? Untuk menunjukkan rasa persahabatan yang tulus? Sebab. Lalu dia mendekat ke arah perawat dan memegang-megang pundaknya. Yang membuat saya ingin segera tahu.” kata saya kepada pimpinan rumah sakit itu.

dengan cara tidak ceroboh mencatat harga-harga barang yang saya gunakan malam itu: obat. seorang bapak yang ternyata juga pemilik surat kabar daerah di Kansas. Azrul dia anggap sebagai anak laki-lakinya. “Terima kasih Bapak telah memuji saya di depan pimpinan saya. Saya mengangguk karena rasanya memang tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Bahkan. Saya tidak mungkin memberinya uang. Sebelumnya. Saya perlu memuji perawat tersebut sebagai bentuk ucapan terima kasih saya yang tulus kepada mereka. Ternyata. Saya kan dalam keadaan telanjang! Mana bisa membawa dompet? Apalagi sudah menjadi kebiasaan saya. Karena dia bukan bawahan langsung. Dan Isna sudah di sini. Tidak akan lupa ekspresi kegembiraannya. dan seterusnya. keduanya langsung ke USA. Juga belum tentu menghasilkan kekayaan.Mereka juga bekerja dengan penuh tanggung jawab kepada rumah sakit. Dia ajari jurnalistik. selang. Keberadaan dia di Jawa Pos malah membuat hubungan saya sebagai bapak dan anak menjadi seperti hubungan atasan dan bawahan. Dan kerja kerasnya. Jadilah Azrul anak yang mencintai koran. Dia ajari fotografi. Azrul dapat orang tua angkat yang sama sekali tidak diperkirakan. yang baru malam harinya tiba dari Surabaya. Maka sejak tamat SMP saya kirim dia ke AS agar bisa punya pilihan 24 by Moezhanks . Saya mungkin juga tidak berada lagi di ICU karena pagi itu sudah bisa kembali ke kamar saya di lantai 11. Hari ini mereka dapat giliran libur. Apalagi selang. tisu. Saya sendiri sejak awal tidak ingin dia kerja di koran. baru selama sakit ini saya punya komunikasi yang intensif dengan anak-anak saya. Pemakaian barang seharga 1 yuan (sekitar Rp 1. Tiap hari dia ajak anak saya ke kantor korannya. kapas secuil ada harganya. masuk ICU. saya ternyata jarang sekali berbicara dengan mereka.” ujar Azrul. Pagi ini saya kembali ke Surabaya. Yakni. Rupanya. dan obat-obatan. Wajahnya kelihatan bersorak gembira. “DBL harus segera dimulai. Seperti mendapatkan uang berjuta. Maka. Begitu tamat SMP. Setiap ada pemakaian bahan harus dicatat harganya dan dibuatkan invoice penagihannya. rumah sakit akan rugi. saya membiarkan proses manajemen berjalan apa adanya. Isna Fitriana. masuk SMA di sana. jarum. Terlalu berat. Dia seorang master jurnalistik. “Bapak kan sudah aman. Jarum pun ada harganya. Azrul sampai tujuh tahun di sana. Perasaan saya baik-baik saja. plester. cairan infus. berarti tidak perlu ada hubungan yang khusus. Bukan karena saya. sarung tangan. Terlalu menyiksa. kami tidak pernah tahu di rumah siapa dia akan tinggal di AS. Namanya John Mohn. Kali ini bersama adiknya. infus. Kalau tidak.100) pun harus dicatat rapi dan dibuatkan perhitungannya. Tidak akan lupa keterampilannya. membawa dompet pun belum tentu ada duitnya. Karena itu. Meski anak lelaki saya juga di Jawa Pos. *** Tiba-tiba anak saya laki-laki. tapi karena bapak angkatnya itu.” kata perawat itu. Yakni. Ikut orang tua angkatnya yang didapat melalui proses undian. Hari itu rupanya saya akan diserahterimakan. Saya tidak akan lupa wajahnya. Azrul Ananda. Saya hampir tidak pernah bicara soal perusahaan kepadanya.” tambahnya. DBL (DetEksi Basketball League) adalah liga basket SMP/SMA terbesar di Indonesia yang dia prakarsai. John tidak punya anak laki-laki. Saya perlu memujinya karena setelah hari itu saya tidak mungkin lagi bisa bertemu mereka. Besok sudah akan menjalani kehidupan baru dengan pasien berikutnya lagi. Bukan hanya penulisannya. Anak-anak saya memang sudah terpisah sejak mereka masih amat remaja. tapi juga kemerdekaan dan filsafatnya. Juga juragan koran.

Jadi. ya. “Ternyata kita punya bapak. Dua hari kemudian lubang itu sudah menutup. yang nama-nama hari dalam bahasa Inggris pun tidak hafal. Yang terjadi. tapi seperti sampai dada. Makanya perut seperti penuh sekali. Sambil tertawa cekikikan. Penuhnya bukan hanya di perut. Termasuk tidak mau lagi tinggal bersama kami di rumah. Mereka sudah terbiasa mandiri. istri saya. Jangan Anggap Sudah Merdeka 4 September 2007 SEPANJANG sore sampai malam (hari kedua di ICU).lebih baik. dia balik bertanya: saya harus cari uang? Saya mau jurnalistik. seorang cucu dan calon seorang cucu lagi. siang itu dua selang yang masuk ke rongga dada lewat leher kanan saya juga dicabut. Mereka pilih tinggal di rumah sendiri. kalau ada yang menganggap saya sejak awal menyiapkan anak saya untuk di Jawa Pos. (bersambung) Ganti Hati 10 – Meski Keluar ICU. Sepulang dari USA anak-anak saya praktis jadi dirinya sendiri-sendiri. Saya justru mau anak saya bekerja di luar negeri dulu. sungguh tidak demikian maunya. Apakah saya menyesal? Ya dan tidak. Menyikapi kedua penilaian itu saya pasrah saja. Ini saya sadari setelah beberapa kali perawat menanyakan soal yang kelihatannya sepele itu. Baru ketika saya sakit ini. Itu membuat pikiran saya lari ke mana-mana. Lubang bekas selang-selang itu lantas ditutup dengan plester. ada juga yang menilai bahwa saya harus bersyukur karena ada anak yang masih punya idealisme di bidang jurnalistik. Tidak seperti bapaknya yang hanya tamatan SMA (aliyah). dan anak-anak saya. Juga belum bisa buang angin. ketika sudah berada di kamar biasa. Kami pun sering dalam keadaan lengkap berada dalam satu ruangan: saya. Sepanjang malam saya tidak bisa tidur. mereka sering menemani saya. Saya masih punya pikiran jangan-jangan lubangnya masih menganga. atau lagi pasang kuda-kuda untuk saling bermusuhan? Apakah liver baru itu sedang tawar-menawar pekerjaan dengan organ lain? Apakah liver baru itu sedang mengajukan syarat-syarat kerja sama? Misalnya. Oh. Setidaknya agar bisa berbahasa Inggris. terjadilah. “Ternyata saya punya anak. Saya berkhayal sedang apakah dia? Lagi saling berkenalan dengan organ saya yang lain. rupanya saya belum bisa buang air besar. Lebih menggembirakan lagi.” gurau saya kepada keduanya. katanya. Termasuk ke liver baru saya. hanya akan mau bekerja sama kalau tetap dibolehkan makan babi? Atau dia begitu baiknya sehingga akan ikut saja peran apa yang harus dia jalankan? 25 by Moezhanks . Tapi. Suasana yang sangat mengurangi rasa sakit saya selama di ICU. Sangat tidak enak. Lalu jadi pengusaha yang mandiri. Kelak. Eh.” kata Isna kepada kakaknya. Ketika hal ini saya kemukakan kepada Azrul. perut saya mulai merasa kembung. Justru ketika sakit ini saya seperti menemukan keluarga saya. Sekarang ditambah dengan menantu-menantu dan seorang cucu. saya masih sering meraba-raba bekas lubang di leher itu.

Urusan buang hajat pun selesai. Ini untuk memudahkan memindah badan saya dari ranjang ICU. kalau saya ingat banyak pasien yang keluar ICU masih dengan selang yang menancap di leher. Memang seluruh lantai 12 adalah ICU. Dalam proses keluar dari ICU itulah saya baru tahu bahwa ruang ICU ini amat-amat panjangnya. Rumah sakit ini memang bisa melakukan transplantasi organ sebanyak 30 orang dalam waktu bersamaan. Alat untuk mengukur tekanan darah juga dilepas. Badan saya terbawa di atasnya.” kata perawat setelah berhasil mencabut selang itu. akan dilakukan rekayasa. tapi sakit yang menimbulkan kelegaan. Kata-kata itu terus melekat di ingatan saya. Tapi. Tiap pasien dapat satu kapling yang dibatasi dengan kaca terhadap pasien lain. Dialah yang memasang tadah kotoran dan membersihkannya. Juga kabel-kabel yang dihubungkan ke ujungujung jari. Rasanya juga sakit. paru. Dia perawat yang berbaju biru. Rupanya keluar atau tidak dari ICU. Rasa plongnya bukan main. Setelah itu tiba-tiba saya merasa seperti ingin buang angin banyak-banyak. Kabel-kabel yang menempel di dada kanan dan dada kiri dicabut. terjadi generation gap yang tajam? Bukankah liver baru itu belum sampai berumur 25 tahun. Saya panggil perawat. kan tetap harus dicabut? Sakit tapi lega. Ya. apakah tidak akan terjadi konflik anak-bapak yang diakibatkan perbedaan zaman? Juga perbedaan gaya hidup? Apakah tidak akan terjadi adu balap? Apakah jantung tua saya kuat melayani balapan itu? Panjang sekali khayalan saya. ke kamar lama saya yang sudah dibuat bersih sebersih-bersihnya. saya harus merasakannya. Paginya. Semuanya hilang sudah. Khayalan orang yang tidak bisa tidur saja. Saya bersyukur. “Kencing pertama sampai ketiga nanti mungkin agak sakit. Apakah tidak akan menimbulkan persoalan? Misalnya. Apalagi. hari ketiga di ICU. karena saya toh harus kencing. ternyata tidak. Maka suara bom pun bergelegaran.Yang tak kalah penting adalah perbedaan umur yang mencolok antara liver baru dan organ saya yang lain. yang sudah lebih tua umurnya. Ternyata rasa sakitnya tidak seberat yang saya bayangkan. Saya pun sebenarnya sudah membayangkan akan keluar ICU dalam keadaan seperti itu. barulah saya “rasa” itu muncul. apakah tidak akan mengajak balapan organ lain seperti jantung. Bukan khayalan yang ilmiah. salah satu ukuran yang menentukan adalah ada atau tidaknya “rasa” tadi. yang bisa saja membuat badan saya berubah posisi dan menimbulkan bahaya bagi bekas-bekas operasi. Tapi. Ternyata untuk urusan buang air besar ini ada perawat khusus. 26 by Moezhanks .00 saya sudah dipindahkan dari ranjang ICU ke kereta angkut. Kereta ini dilengkapi sistem hidrolis. Semua dicatat oleh perawat. selang yang masuk ke rongga perut melalui pinggang kanan juga dicabut. Tapi. Kereta ini yang membawa saya turun ke lantai 11. dengan organ baru di dalamnya. Semua berjalan natural. Atau barangkali karena saya sudah merasakan yang paling sakit. Lega tapi memang sakit. Perut saya akan dimasuki cairan lewat pantat. dan ginjal? Kalau organ-organ lain saya sudah berumur 56 tahun. Sekitar pukul 10. Satu jam kemudian persiapan mengeluarkan saya dari ICU dilakukan. Selang yang sudah 56 jam berada di lubang kemaluan saya dicabut. berjalan dengan normal. Dari kereta itu secara otomatis menjulur sebuah papan besi menyekop ke bawah badan saya. Mekanisme tubuh saya. sakitnya seperti apa kan belum dirasakan. Lalu. Untunglah saya tidak perlu melalui tahapan darurat itu. sehingga sakit-sakit kelas seperti itu sudah saya anggap bukan sakit lagi. Tidak perlu ada orang yang mengangkat. Kalau saja pagi itu saya belum punya “rasa”. Agak sakit rasanya. Sampai-sampai timbul rasa takut setiap merasa akan kencing. Pagi itu juga diputuskan saya boleh keluar dari ICU. Berarti ruang ICU-nya memang harus banyak sekali.

ada pasien yang merasa kuat dan jalan sendiri ke kamar mandi.Tiba di lantai 11. Mula-mula tiga jam sehari. apa yang mau saya tulis ini semuanya sudah lengkap dan memenuhi kepala saya. Kalau tidak segera saya tuangkan di komputer. Saya mengakui Robert benar.” ujar Robert Lai. Saya sudah bertekad akan taat peraturan setaat-taatnya. Dia terjatuh dan harus masuk ICU lagi. kali ini dia kecele. boleh membuka. Saya mendengarkan baik-baik nasihat itu. Tiap hari saya masih harus diinfus beberapa obat dan vitamin. Pasien dari Taiwan mengucapkan selamat atas kesuksesan operasi saya. proses tersebut tidak mulus. Saya hanya minta kelonggaran dua saja. Pertama. Sebab. berapa seri tulisan itu nanti. apakah tekanan darah tidak akan semakin tinggi? “Itu logika Anda saja. Sebelah kamar saya. Berbagai usaha sudah disiapkan. Dia terkena infeksi. teman saya itu. Sebab. para perawat menyambut. Tapi. Masih sederet contoh tragedi seperti itu. keadaannya sudah sangat payah. Lalu ke rumah sakit di negaranya sendiri untuk mengeluarkan “barang titipan sementara” itu. untuk mengambil “barang” yang masih dititipkan di dalam. Terutama di seminggu pertama keluar dari ICU. orang Jepang. harus balik lagi ke Tiongkok tiga bulan kemudian. Robert tahu saya sering maunya sendiri.” ujar Robert Lai. Tapi. Mereka segera membuat lubang baru di lengan saya untuk keperluan infus-infus berikutnya. Dari kamar yang lain. melambaikan tangan. Kedua. Setelah tidak bisa diatasi di negaranya. Memang sudah diizinkan pulang. Tapi. jangan Anda anggap sudah merdeka. Kalau ditambah dengan penuhnya bahan tulisan di otak saya. Anda bukan dokter. Namun. Akhirnya dia meninggal dunia di rumah sakit ini bulan lalu. “Mana ada baru tujuh hari setelah transplantasi liver sudah memeras otak untuk menulis begitu panjang?” sergahnya. serta membalas dan mengirim email. Lalu satu jam. orang Arab Saudi. Perawat yang sudah tiga bulan lebih saya kenali dengan baik. dia harus menunggu kondisi badannya membaik dulu. Diadakan perbaikan lagi di dalamnya. Sayangnya. mengucapkan salam. tiap seri harus dibuka dengan kalimat apa dan ditutup dengan cara bagaimana. tekanan darah bisa naik. Kondisi yang ditunggu itulah yang tidak datang. Yakni. Dia lantas menakut-nakuti saya dengan kisah banyaknya pasien yang sukses dalam menjalani operasi. Tapi. Lalu tinggal dua jam. Pasien lain yang belum operasi menyambut kepulangan saya dari ICU. tapi gagal menjauhkan diri dari virus dan infeksi. Termasuk yang nekat pulang meski baru satu bulan setelah operasi. semua sudah ada di kepala. Saya sendiri sudah sering memberikan ucapan selamat seperti itu kepada pasien yang baru menjalani operasi sebelum saya. *** “Meski sudah keluar ICU. Contoh lainnya. Itu alasan Anda saja untuk diperbolehkan menulis. Seorang kenalan dari Pakistan terkena infeksi setelah tiga hari keluar ICU. membaca. saya tetap bermohon untuk dapat dispensasi melakukan dua pekerjaan itu. Lalu tidak perlu infus sama sekali. (bersambung) 27 by Moezhanks . obat sinkronisasi liver baru saya punya efek samping menaikkan tekanan darah. termasuk akan dilakukan transplantasi liver lagi. Terpaksa perutnya dibuka lagi. Kini saya diserahterimakan dari perawat ICU ke perawat ruang rawat inap. Apa saja yang akan saya tulis. Orang tersebut merasa sudah sangat normal. terpaksa balik lagi ke rumah sakit ini. Itu membahayakan hasil operasi. boleh mulai menulis cerita ini.

Tapi njatuh. Mas Goenawan Mohamad. redaktur pelaksana Jawa Pos yang pendiam. tapi pertanyaan. Jawaban dari beberapa teman berdatangan. Sekali lagi. Bahkan sudah harus latihan berdiri. jangan sampai langsung berdiri. Dan lagi.Ganti Hati 11 – Mulai Berdiri. Margiono. “Yang bahaya kalau jatuhnya di dekat pasar loak. Tapi. Saya justru takut hati baru itu jatuh di rumah Gong Li. masih di perut. jahitannya bisa mrotoli. Tapi. Saya masih dapat peringatan tambahan. bisa diteruskan dengan turun dari tempat tidur dan mencoba berdiri. Saya juga lega bahwa hati saya yang baru tenyata tidak mengubah selera humor saya. Masih banyak SMS yang masuk di sekitar jatuh-menjatuh itu. Tidak sedikit kasus pasien jatuh saat pertama mencoba berdiri. “Kalau sampai jatuh di rumah Gong Li. Misalnya. Dirut Rakyat Merdeka yang lucunya bukan main. Untuk memberikan gambaran bahwa saya sudah bisa bergurau lagi. Kalau tidak pusing.” kata Margiono yang pandai mendalang itu. jangan-jangan kalau teralu banyak tertawa. Humor khas Surabaya datang dari Jamhadi. Dimarahi Saudara di Desa 5 September 2007 JANGAN begini. “Ha ha… Kalaupun jatuh. Kalau sedang tidak ada yang ditertawakan. Kalau saya nanti berdiri. sudah lima hari saya terus dalam posisi berbaring. Masih mudah mencarinya. kontan membalas. Saya tertawa. kalau toh jatuh.” tulisnya. saya lupa bertanya kepada dokter apakah tali yang dipakai menggantung liver baru saya cukup kuat. Diam-diam saya sudah bisa menjadi juri lomba humor di hari kelima setelah operasi saya. Saya memang suka bergurau. Banyak sekali peringatan yang disampaikan kepada kami sebelum pertama saya turun dari tempat tidur. Juga lima hari tidak makan. Tapi. Padahal.” tulisnya. Tepatnya bukan peringatan.” tambahnya. Harus duduk lebih dulu. setengah bergurau. Jangan begitu. Leak Kustiya. menambahkan: “Ha ha. Kata njatuh. menimpali Margiono. Meski ada cairan infus yang menggantikannya. empat itulah yang saya pilih sebagai yang paling lucu. Tapi. Datangnya dari dalam diri saya sendiri. Bisa tiba-tiba pusing dan jatuh. mungkin tidak bisa dipahami di luar Surabaya.” Gong Li adalah artis yang paling terkenal dan konon juga paling cantik di antara artis Hongkong. Sekaligus memberi kabar baik mengenai kemajuan demi kemajuan yang saya peroleh. jahitan di perut yang panjaaaang ini masih basah. tapi humornya sering cerdas. apa juga bersuara? 28 by Moezhanks . Itu hari kelima setelah operasi atau hari kedua setelah keluar dari ICU. Kalau dibuat tertawa masih sakit. Kekhawatiran-ngawur saya itu saya SMS-kan ke beberapa teman. saya sering mencoba menertawakan diri sendiri. tidak ada suara benda jatuh. kontraktor yang membangun gedung Jatim Expo dan asrama mahasiswa Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya. apakah liver baru saya tidak jatuh? Apakah sambungannya sudah kuat? Tali apakah yang dipakai untung menggantung liver baru itu? Setengah serius. pendiri majalah TEMPO yang juga amat humoris. Dan memang. Bahkan ingin tertawa lebar. Harus ada orang yang memegangi. Saya takut liver baru saya jatuh. begitu saya berdiri.” tulis saya. saya harus menahan tawa. “Lebih berbahaya daripada jatuh di dekat pasar loak. “Hari ini saya sudah diharuskan mulai turun dari tempat tidur. Tenang beberapa saat untuk lihat-lihat keadaan. Maklum. sih itu bukan jatuh. bagi orang Surabaya lucu sekali. Bergurau soal Liver.

ketika meletus peristiwa Madiun yang terkenal dalam sejarah itu. Tidak harus selalu keinginan atasan yang berlaku. Saya harus mengenang guru saya itu. sama dengan kita memerintah Tuhan agar memasukkan kita ke surga? Bukankah kata “masukkanlah” itu “kata perintah?”. misalnya. Itu tahun 1948. Kepada Tuhan. Mereka dimasukkan sumur hidup-hidup. dengan jalan banyak beribadah (termasuk kerja keras)? Ilmu inilah yang juga saya bawa ke praktik manajemen. pesantren kami yang sangat maju dan terkemuka mengalami kemunduran. Dia marah. Kalau seorang bawahan tidak mampu melakukan itu.” tambahnya. KH Hamim Tafsir. berarti bukan bawahan yang cerdas. Takut orang salah paham. menurut ilmu itu. Ini karena enam kiai utama di pesantren kami (yang tidak lain paman-paman ibu saya) dibunuh orang Partai Komunis Indonesia (PKI). Tidak pantas. dikemas secara halus dalam wujud yang bernama doa? Mengapa kita selalu memerintah Tuhan untuk memasukkan kita ke surga? Mengapa tidak kita sendiri berusaha sekuat tenaga. Saya pernah belajar ilmu mantiq (logika) sewaktu di Madrasah Aliyah Pesantren Sabilil Muttaqien.” tulisnya. kalau memang cukup cerdas. Bukankah. “Kita di sini tidak henti-hentinya berdoa. “Apakah ada perintah untuk memperbanyak doa?” tanya saya. Magetan. Orang yang tidak pernah belajar ilmu mantiq bisa salah paham. bawahan itu sebenarnya juga boleh me-manage atasan. Saya lantas memanfaatkan ilmu mantiq itu dalam praktik manajemen. tidak pernah takut mengatakan apa adanya. “Yang diperintahkan beberapa kali adalah perbanyaklah mengingat Tuhan (zikir) dan perbanyaklah berbuat baik. saya tidak pernah membaca ada ajaran seperti itu. sedikit-sedikit berdoa seperti kita ini malas berusaha. Soal kemampuan kita memanajemeni atasan. “pada dasarnya adalah memerintah Tuhan”. Sekali lagi. “Tidak ada perintah memperbanyak doa. lalu ditimbuni batu. ini soal cara. malas menggunakan pemberian Tuhan yang amat penting itu: otak. Bahkan. Demikian juga guru-guru terkemuka lainnya. guru ilmu mantiq saya dulu. Tentu sebelum mengucapkan kata-kata tersebut saya berpesan agar jangan membicarakan istilah saya ini dengan orang lain. saya SMS ke Ir Agus Mustofa. Pesantren keluarga kami sendiri. pasti Aku kabulkan’.” tambahnya..” menurut ilmu mantiq. kita menggunakan cara yang disebut berdoa. Semua itu tinggal soal cara. “Yang ada hanyalah ’Mintalah kepadaKu. “Berdoa itu. Intinya: seorang bawahan. termasuk guru yang didatangkan pesantren kami dari Mesir. “Nyawa kok dibuat guyonan. masukkanlah saya ke surga. Saya tidak akan menaikkan karir bawahan yang seperti itu. doa ini: Ya Tuhan.Keceriaan saya hari itu padam manakala masuk SMS dari keluarga saya di desa. Lalu. 16 km dari Kota Magetan. Ada alasan lain mengapa saya memilih sumeleh kepada Tuhan daripada sedikit-sedikit minta sesuatu kepada-Nya. Kata saya kepada karyawan yang suka mengeluhkan atasannya itu: “Kita ini bisa dan sering memerintah…. Sejak itu. harus bisa membuat atasannya memenuhi keinginannya. Jadi. Kepada atasan. Misalnya. Soalnya. Hanya. Tidak guyon seperti itu. Dia marah karena seharusnya saya tidak berhenti berdoa minta keselamatan dan kesembuhan dari Tuhan. Kalau ada karyawan yang sedikit-sedikit mengeluhkan atasannya. Takeran. Dia sudah terpaksa jadi kiai ketika masih amat remaja.” ujar Agus. Mas Dahlan sendiri guyon. penulis buku Takdir Bisa Diubah yang laris itu. biasanya saya menasihatinya berdasar ilmu mantiq itu. Bukan hanya atasan yang bisa me-manage bawahan. Padahal.” balas Agus segera. mengapa memerintah atasan yang masih bernama manusia saja tidak bisa?” Takut juga saya mengisi “titik-titik” itu. 29 by Moezhanks . seperti yang sudah saya utarakan di bab terdahulu.

Bahkan. saya sering juga menggunakan gaya ini kalau hati sudah amat jengkel melihat kamar kecil yang kotor. suhu badan diukur tiap dua 30 by Moezhanks . saya memang melarang pembuatan kamar kecil khusus di ruang pimpinan. Termasuk bab mengapa liver saya sakit. Infeksilah yang banyak mengakibatkan kegagalan. itu baru persoalan. sejak masih dalam bentuk gejala. Demikian juga tidak lagi banyak staf yang mengeluhkan rekan kerjanya. bisa diketahui secara dini. Tapi. Ini karena ruang biasa tidak dilengkapi peralatan monitor yang serbaotomatis. tapi juga agar bisa ikut mengontrol kebersihan kamar kecil umum.) Untuk menjaga jangan sampai terjadi infeksi itulah. Ini agar pimpinan juga menggunakan kamar kecil umum. Karena itu. tapi saya berharap liver baru saya itu belum pernah belajar ilmu mantiq untuk mengalahkan saya. monitoring dilakukan ketat. Untuk mengatasi penolakan itu. Bukan lagi akibat badan menolak kedatangan liver baru. kita bisa menggunakan gaya “minta tolong”. kini sudah ada obat yang sangat modern. Saya membayangkan dia memang pernah belajar kungfu. Di kantor-kantor Grup Jawa Pos. kepada sesama kita minta tolong. Saya sendiri kini masih terus berpikir bagaimana saya bisa me-manage liver baru saya. kepada bawahan pun kata “minta tolong” akan lebih efektif daripada kata “saya perintahkan” -meski atasan berhak memerintah bawahan.mungkin dengan gaya “bermohon atau minta petunjuk atau mengiba atau apa sajalah”. ketika pasien terkena infeksi. Bukankah kepada sesama rekan staf. Apa sebabnya. Bahkan. Mengapa tidak bisa ditanggulangi. (Akan ada uraian tersendiri untuk ini di bab-bab berikutnya. Saya sudah bermohon kepadanya untuk jangan sekali-kali kangen akan daging babi. Dia mencari jalan beraneka cara untuk mencoba bisa me-manage atasannya dengan bijak. kalau dia lebih pintar dan mampu me-manage saya agar saya mau memenuhi keinginannya. Tentu tidak pas kalau kepada bawahan Anda mengatakan. Justru harus lebih hati-hati. dan kepada bawahan… teserahlah mau pakai yang mana. (bersambung) Ganti Hati 12 – Perawat Sekaligus Menjadi Polisi Penjaga Virus 6 September 2007 KELUAR dari ICU tidak berarti merdeka. keinginan kita yang kita yakini benar bisa dipenuhi oleh atasan. kepada atasan kita bermohon. Ilmu mantiq ternyata banyak membantu saya dalam menjalankan praktik manajemen. Termasuk yang diterapkan kepada saya. Bukan saja agar sesekali bertemu bawahan di forum itu. “Saya berdoa kepadamu mudah-mudahan engkau mau membersihkan kamar kecil itu lebih bersih lagi. Yang penting. Obat yang menyinkronkan liver baru dan organ-organ lain yang lama. Jadi. Yakni. Banyak manajer saya yang kemudian tidak mudah mengeluhkan “ketidakmampuan atasannya”. terlalu banyak kasus kegagalan transplantasi liver terjadi justru pada minggu pertama setelah keluar dari ICU. Mengeluh berarti tidak cerdas. Kalau toh terjadi. Kini ancaman kegagalan transplantasi liver bukan lagi seperti dulu.” Tapi. kepada Tuhan kita berdoa. kemungkinan infeksi pun kini sudah bisa diturunkan maksimal karena adanya cara baru. tidak ada lagi mata pelajaran ilmu mantiq itu. Dan saya dengar di kurikulum madrasah aliyah sekarang ini. Padahal.

saya disuntik dulu untuk menurunkannya. Tiap pagi. Sekitar 4 sampai 6. saya juga di USG. ini juga karena pengaruh obat saja. Karena itu. Tapi. Memang. dan apa efek sampingnya. Saya harus tahu persis apa-siapanya. Bukan takut hamil. USG tidak lagi dilakukan. 31 by Moezhanks . sebelum makan. dokter meminta saya tidak waswas. gula darah saya 17 (sebelum makan). Ini sangat-sangat tinggi. tidak diperlukan lagi pemeriksaaan gula darah. Ujung jari saya di-”ceklik” beberapa kali sehari untuk mengeluarkan sedikit darah. Biasa juga disebut obat antirejection. Demikian juga tekanan darah dan denyut jantung. diminum dua kali sehari. suhu badan saya sangat menggembirakan.jam. Tidak sekali pun dalam minggu pertama itu suhu badan saya naik di atas angka itu. Obat ini berupa kapsul kecil-kecil tiga butir. paru saya juga dironsen.” ujar dokter. Bukan karena fungsi pankreas yang jelek. Bahkan. Misalnya. Pada hari pertama di luar ICU. ada “polisi” keras yang menjaganya: Robert Lai.5 (sebelum makan).7 derajat Celsius. Pada hari ketiga. tapi tidak kuat jantungnya. kali ini saya tidak bertanya obat apa saja itu. Setelah makan. Yakni bisa membuat gula darah dan tekanan darah naik. selalu antara 80/120 sampai 85/130. Selalu antara 35. Untuk itu pun. Sewaktu saya kemukakan kekhawatiran saya akan tingginya gula darah itu. Ini untuk melihat apakah ada genangan air atau dahak di paru-paru. Siang sedikit. Apalagi keadaan badan saya terus membaik sehingga saya semakin percaya saja pada keputusan dokter. Pada hari pertama. semua orang yang masuk ruang saya harus taat akan peraturan ini.” kata dokter. Lalu. Tapi. kali ini saya putuskan “tidak akan jadi dokter untuk diri saya sendiri”. Bukan karena pankreas saya tidak berfungsi. antara 76 sampai 85. harus diukur dulu tekanan darah dan gula darah. dulunya saya amat cerewet kalau diberi obat. Termasuk untuk melihat apakah ada masalah pada ginjal saya. sampai malam. Karena itu. Anti penolakan terhadap liver baru. Sangat prima. sering saya cek lagi kebenarannya lewat internet. Selain obat anti penolakan itu. Obat ini memang punya efek samping yang kuat. Jangan sampai orang yang menjenguk menularkan virus yang sangat membahayakan. Namanya afk. Tekanan darah saya juga tinggi jika dibandingkan dengan sebelum operasi. Karena itu. Pankreas Anda sempurna.5 sampai 36.” ujar seorang suster. Paru-paru bersih. Bangun tidur bisa mencapai 90/140. Ini pertanda bahwa infeksi tidak terjadi di dalam tubuh saya. apa kegunaannya. “Banyak juga yang sukses operasinya. diukur lagi. pada hari kelima. Hasil ronsen itu juga menggembirakan. Pertama. Tapi. Lega rasanya meski baru lega tahap satu. saya juga harus minum beberapa obat lainnya. Kedua. Maka. Kebetulan. pada hari berikutnya. karena saya memang bukan dokter. Sedangkan denyut jantung sangat normal. “Itu hanya karena efek obat. sebelum makan. “Kita akan terus memonitornya. bayangan saya akan transplantasi liver sama sekali berbeda dengan kenyataan dalam praktiknya. Juga untuk melihat apakah ada genangan air atau darah di dalam rongga perut saya. melainkan karena afk tadi. Kali ini saya serahkan saja sepenuhnya pada keahlian dokter. tapi khawatir jangan-jangan ada yang tidak beres pada sambungan-sambungan pembuluh darah lama dan baru. saya harus minum obat penyinkron liver baru. Tapi. tidak perlu takut karena ada obatnya. banyak juga yang logika saya ternyata salah. Hasil USG tiap hari itu menunjukkan tidak ada tanda-tanda kegagalan penyambungan liver baru saya. Semua harus menggunakan masker penutup mulut dan hidung. Untuk dites kadar gulanya. gula darah saya sudah normal. Padahal.

Kehadiran perawat khusus seperti itu amat penting karena belum tentu keluarga kita mengetahui detail mengenai pengobatan. Juga tidak boleh dipercepat. Dalil “manusia itu tempatnya salah dan lupa” tidak berlaku di sini. Jangan ditegur. bahkan dengan logat yang sangat daerah. apa pun harus kalah. dan pekerjaan sejenis itu. Tahu kalau saya segera operasi. Rumah sakit ini punya semacam unit usaha yang menyediakan jasa perawat khusus seperti itu. Bagaimana kalau lupa juga? Tetap. dia juga guru bahasa Mandarin. Semula Melinda dan suaminya hanya ingin menengok saya karena kebetulan lagi di Tiongkok. obat sinkronisasi itu dikurangi 30 persen. dia ikut melakukan “operasi nonteknik” pada malam menjelang operasi. Tepat jam enam. but control is better. dan kamar. dia memutuskan menempatkan perawat khusus di kamar saya.” pesan Robert kepadanya. Kalau sudah waktunya minum obat. suhu badan. “Trust is good. Bahkan. Dia yang juga ikut mengawasi orang keluar masuk kamar. menjaga kebersihan pakaian. Melinda dan suaminya sampai membuka sepatu ketika masuk ruang saya. dia memaksa saya minum obat. tentu Anda tidak berani menegur. Mereka memang para pensiunan perawat yang masih ingin terus bekerja. Bahkan. Dia tahu persis gejala-gejala yang baik dan gejala-gejala yang kurang baik dalam perkembangan pasien. Salah atau tidak. Agar tidak lupa itulah. Saya lihat beberapa orang Jepang. Yang tidak pakai masker. Tidak boleh terlambat. Orangnya umumnya sudah agak tua. Apalagi lupa. Perawat itu disiplinnya bukan main. Untungnya. Juga memandikan saya.” ujar Robert Lai. sabar. Kalau sudah ditetapkan jam enam pagi dan malam. Kini tinggal dua kapsul kecil sekali minum. Terutama menjaga ketepatan waktu minum obat. perawat yang khusus melayani kepentingan saya selama 24 jam. Robert. air. bisa bicara Mandarin dan beberapa bahasa daerah di Tiongkok. Dia sudah hafal jenis-jenis obat yang disediakan dan jam-jam penggunaannya. pengalaman para perawat khusus ini sangat banyak.Mengingat indikator-indikator badan saya sudah begitu baik. Tidak kurang satu menit pun atau lebih satu menit pun. Berarti 24 jam saya bisa belajar Mandarin secara tidak langsung. meski bahasa pertamanya adalah Inggris. Untuk meminumnya. Perawat itu juga menjadi polisi penjaga virus. Selama 24 jam sehari. dia memtuskan menunggu saya sampai beberapa hari setelah operasi. Obat ini merupakan obat terpenting dalam menjaga keberhasilan transplantasi liver. Dia orang yang amat disiplin. sama sekali tidak boleh. pada hari keenam. dua kali sehari. Dia menjadi seperti perawat spesialis pasien ganti liver. masuk ke ruang operasi tanpa satu pun ada anggota keluarga yang mengantarkannya. diciptakan sistem kontrol. Tapi. tidak pernah ada dokter yang tidak disiplin. untuk mengukur tekanan darah. ahli hukum dari Singapura lulusan Inggris itu. dia tegur. Yakni. Robert memang menugaskan itu khusus kepadanya. “Kalau ada dokter masuk yang tidak pakai masker. Untuk mewujudkan prinsip yang dipegangnya itu. apakah obat yang diberikan lengkap atau tidak. Karena itu. dan punya keterampilan sebagai perawat. Sudah sebelas bulan ini selalu menemani saya pergi ke mana pun. tidak boleh lupa. Dan bagi saya. Dia akan melakukan cek ulang. Jasa mereka itu juga penting karena ternyata banyak juga pasien yang tidak ditunggui keluarganya. harus tetap seperti itu. Sebab. Pak Dahlannya yang kamu pasangi masker. perawat khusus tersebut yang melakukan. handuk. Mengingat begitu banyak pasien ganti liver yang pernah mereka rawat. Petunjuk itu memang sudah diberikan jauh-jauh hari sebelumnya sehingga saya juga tahu pentingnya kedisiplinan meminumnya. dia memang hanya bisa berbahasa Mandarin. 32 by Moezhanks . ada petunjuk khusus mengenai waktunya.

” katanya. Virus itu menjadi aktif dan merusak liver karena kondisi badan saya sering sangat lelah. virus yang semula tidur saja di dalam liver punya kesempatan melakukan aksinya tanpa perlawanan yang berarti dari badan saya yang sedang lemah.” Kenapa ada virus hepatitis B di liver saya? “Karena liver saya tidak kebal ketika virus untuk pertama kalinya datang dan masuk ke dalam liver saya. Tapi. dan rusak.” tambahnya. mengeras.” Kenapa waktu itu tidak menjalani vaksinasi? “Karena tidak tahu.” Saya tahu sepatunya amat mahal dan tentu juga amat bersih.” 33 by Moezhanks .” Mengapa sering lelah? “Masak itu ditanyakan. Juga karena negara waktu itu masih sangat miskin dan pemerintah sibuk mengurus politik atau rebutan posisi. “Saya tidak mau dituduh sebagai pembunuh Pak Dahlan. sudah mencapai tahap terjadi sirosis. yang gagal saya usir atau saya matikan. bos Pakuwon Jati itu mengatakan. “Kamar ini harus lebih bersih daripada sepatu saya. Saat badan lemah. He… he…. (Bersambung) Ganti Hati 13 – Boleh Tak Mengaku.” Kenapa tidak tahu? “Karena tidak berpendidikan dan tidak cukup pengetahuan. Bikin saya malu. dia tetap copot sepatu.” Mengapa liver saya bisa sirosis? “Karena saya mengidap virus hepatitis B.” Mengapa ada kanker di liver saya? “Karena liver saya sudah tidak normal. 25 Juta Orang Menghadapi seperti Saya 7 September 2007 MENGAPA saya harus menjalani transplantasi liver? “Karena sudah ada kanker di liver saya dan sudah mulai menyebar ke beberapa tempat meski semuanya masih di dalam liver. Masak saya harus jadi pembunuh saudara tua saya. sudah mengecil. Istilahnya.” Kenapa badan saya tidak kebal? “Karena saya tidak pernah menjalani vaksinasi antihepatitis B saat saya masih bayi/kecil.Ketika saya beri tahu tidak perlulah masuk kamar sampai copot sepatu. “Dia lao da saya.

000.” Kenapa tidak berpendidikan? “Karena miskin!” *** Itu bukan kata-kata juru penerang PKK yang setelah zaman reformasi tidak lagi berperan aktif. Di Tiongkok. Keluarga saya. Padahal.” ujar Deputi Menteri Kesehatan Tiongkok Hao Yang saat melakukan kampanye vaksinasi hepatitis B pekan lalu seperti yang disiarkan China Daily 1 September barusan. Seluruhnya ditanggung negara. itu soal lain. Artinya. Kalau toh banyak yang mampu. Ini sangat wajar karena persoalan seperti ini akan bisa jadi isu nasional di negara tersebut. Tapi. sekitar 25 juta orang sedang menghadapi masa depan seperti saya. kenapa Anda tidak berpendidikan dan tidak cukup pengetahuan? “Karena miskin sekali. bagaimana? Bukankah kesempatan untuk menjalani transplantasi di masa depan kian langka? Termasuk bagi yang mampu transplantasi sekalipun? Bukankah lantas antrean untuk dapat giliran transplan kian panjang? Dan kian lama? Saya sendiri perlu empat bulan menunggu. tapi kalau sumber donor untuk liver makin terbatas. Artinya. Maka. juga tidak akan tahu masih harus berapa banyak lagi uang yang disiapkan. Sebab. petani atau buruh tani. bahwa 40 persen di antara segala macam penularan virus terjadi dari ibu ke anaknya. pencegahan sangat penting. Dalam keadaan harus terus siap. Padahal. belum tentu semuanya mendapatkan kesempatan sebaik saya: bisa menjalani transplantasi liver. Kesempatan menjalani transplantasi juga kian kecil. Yang juga berarti terus berjalannya argometer biaya. Tiap negara kini cenderung melindungi rakyatnya sendiri sehingga.” Kenapa miskin? “Karena tidak berpendidikan. kita tidak akan pernah tahu harus menunggu sampai berapa lama. Tiap suntik harga obatnya sekitar Rp 75. sekitar 10 persen penduduk kita terkena hepatitis B. Penantian yang tidak jelas harus berapa lama. direktur Asian Liver Centre di Stanford University AS. belum tentu operasinya bisa berhasil. “Di Tiongkok sendiri kini terdapat 120 juta orang yang mengidap hepatitis B. Empat bulan harus tinggal di luar negeri dan dengan keluarga yang harus mondar-mandir tentu bukan hal yang sederhana. Soal jarang yang mengakui. sekali lagi. seluruh bayi sejak 1982 harus tiga kali divaksin antihepatitis. hampir semuanya. tapi akan sangat baik kalau dipakai menyadarkan ibu-ibu untuk memvaksinkan bayinya agar kebal terhadap virus hepatitis B. *** Meski ilmu pengetahuan semakin maju dan keterampilan dokter juga kian sempurna. Hao Yang lantas mengutip angka dari Samuel So.Soal pemerintah tidak perlu ditanyakan lebih lanjut. 34 by Moezhanks . seperti yang dilakukan Tiongkok saat ini. liver yang ada harus diprioritaskan untuk penduduk Tiongkok sendiri.

Mereka tentu akan semakin mampu dalam ikut “memperebutkan” donor yang kian terbatas. mendaftar sekarang baru akan dapat liver 10 tahun lagi. Akan menjadi isu politik yang sensitif bagi Tiongkok yang lagi gencar-gencarnya memerangi kesenjangan sosial. di Singapura sendiri antara kesediaan liver dan yang memerlukannya jauh lebih banyak yang terakhir. sudah sama dengan separo penduduk Indonesia. Sebab. itu tidak berarti bisa cepat dapat giliran. Awal bulan ini.Dengan logikanya yang sederhana. “Tiga di antara empat orang yang dicoret dari daftar antre itu tak lama kemudian memang meninggal. tidak kuat bayar. kelak. Kalau mereka tidak terlayani karena miskin. mendonorkan organ tubuh? Apakah boleh organ dari orang yang baru meninggal diambil untuk menyelamatkan orang lain? Soal itu di masa depan tidak hanya akan jadi isu agama. Karena itu. “Begini sulit ya mempertahankan satu nyawa.” katanya. Bahkan. donor jantung lebih sulit. Sebanyak 555 orang antre untuk transplan ginjal dan 16 orang antre liver. tinggal satu yang masih memenuhi syarat dalam daftar. Artinya. orang kaya di Tiongkok bertambah-tambah dengan drastisnya. panjang antrean itu ratusan orang di Singapura. Tiongkok sudah mengubahnya empat bulan lalu. maka akan menjadi isu kesenjangan sosial. Yang terkena hepatitis B saja mencapai 120 juta orang. Tentu tidak sesederhana itu. Tapi juga isu keadilan.” katanya. Kini sudah terasa gejalanya. istri saya sering nyeletuk. Ada soal yang bagi orang Islam lebih prinsip. Yakni apakah boleh. “Donor liver atau ginjal bisa berupa separo organ tersebut. Selama penantian. Begitu banyak orang Tiongkok sendiri yang memerlukan transplantasi. Isu yang akan lebih mendominasi masa depan dunia. Sebab. kini. Indonesia tidak mendukung digalakkannya donor organ atau penduduk Indonesia mengharamkan donor organ.” ujar dr Tong sebagaimana disiarkan The Strait Times 2 September lalu. maka di masa depan orang Indonesia tidak boleh menerima sumbangan organ dari warga negara lain. “Bukankah di sana banyak sumber liver? Dari mereka yang begitu banyak meninggal muda itu? Dan pasti lebih pas karena dari ras yang sama?” celetuk istri saya. Mengapa? “Sudah tidak layak antre. 35 by Moezhanks .” ujar dr Tong Ming Chuan. Suatu celetukan yang mungkin juga mencerminkan rasa jenuh karena begitu lamanya menunggu. akan ada aturan bahwa suatu negara tidak boleh mendonorkan organ kepada penduduk suatu negara yang negara itu atau penduduknya melarang melakukan donor organ. secara Islam. saah seorang direktur program jantungparu Singapura. Kesadaran seperti itu akan membuat banyak negara ikut mengubah peraturannya. Singapura sudah lebih dulu membuat aturan seperti itu. Ini berarti pendonornya harus meninggal. Kok di Timur Tengah itu tiap hari orang dengan gampang menghilangkan nyawa. Di antara lima orang yang antre transplan jantung. diberitakan antrean transplantasi di Singapura sudah sampai 10 tahun. melarang sama sekali liver orang Singapura untuk orang non-Singapura. donor jantung harus satu jantung utuh. Tapi. Belum lagi. Istri saya lantas menyebut banyaknya orang Timur Tengah yang antre di rumah sakit ini. Bisa jadi. Orang asing tidak akan gampang lagi mendapatkan donor dari penduduk setempat. Tapi. Misalnya. kondisi badannya sudah semakin buruk. Alasan keadilan lantas memperkuatnya. Dimulai dari munculnya kebijakan memprioritaskan penduduk negaranya sendiri. Kini. setiap saat selalu ada pasien antre yang dicoret dari daftar antre.

Apakah saya menyesali dilahirkan di keluarga miskin? Sama sekali tidak. Kami bisa menikmatinya bersama-sama. Kini. Kami miskin bukan karena harta habis untuk main judi atau untuk mabuk-mabukan atau untuk narkoba. kecuali yang keberatan saja. 36 by Moezhanks . Begitu seriusnya problem defisit donor itu. tahun lalu enam orang meninggal karena perkembangan sakit livernya lebih cepat daripada waktu antrenya. Mendingan diberikan kepada pasien yang kans berhasilnya lebih besar. Yang jelas. Kini kekhususan itu tidak ada lagi.” katanya. organ semua orang Singapura secara otomatis boleh diambil setelah dia mati.Di antara 555 orang itu terakhir. Saya jadi berpikir dan diskusi lagi dengan diri sendiri. Kemiskinan rame-rame. Peraturan baru sedang disiapkan. Saya sendiri tidak paham istilah-istilahnya. Bagi yang paham ayat Al Kitab mengenai kematian (idza jaa-a ajal luhum…) tentu satu pekerjaan tersendiri untuk mendiskusikannya. aturan transplan selalu dikecualikan bagi yang muslim. Saat kematian ternyata bisa diajukan atau dimundurkan walau hanya sesaat. Terutama apakah yang dimaksud dengan ajal di situ. kalau peraturan lama yang dipakai menentukan tibanya saat kematian. peluang berhasilnya tipis. Ini seperti prinsip ushul-fikh (kaidah aturan): semua yang tidak dilarang berarti dibolehkan. Ini akan tidak bisa dimanfaatkan untuk amal jariyah berikutnya. Tidak. Yakni saat-saat kematian batang otak. Singapura akan melangkah lebih jauh. (Bersambung) Ganti Hati 14 – Tersenyum ketika Dioperasi seperti Menikmati Kemiskinan 8 September 2007 JELASLAH bahwa karena kemiskinan dan kejumudan yang melatarbelakangi. diperkirakan yang 22 orang sudah akan meninggal tidak lama lagi. Di antara 139 itu pun. Khusus untuk yang antre liver saja. saya menderita sakit liver. yang organnya tidak bisa jadi donor. Kami memang tidak punya harta. siapa yang harus hidup dan siapa yang harus mati ternyata bisa ditentukan oleh dokter. Selama ini. Singapura akan menggunakan prinsip ushul-fikh itu. Juga di negara saya. Satu perdebatan yang amat teknismedis di sekitar saat kematian datang. Bahkan hampir di semua kampung saya. akan banyak sekali organ yang sudah terlanjur “ikut mati”. yang 139 orang juga sudah tidak memenuhi syarat lagi untuk transplan. sebagaimana yang sudah disepakati di banyak negara maju. Ini terkait dengan keyakinan agama. Ini setelah awal Agustus kemarin diperdebatkan di forum para ahli transplantasi di Beijing. Maka. Kemiskinan yang juga dialami banyak orang di lingkungan saya. Menjadi: hanya orang yang menyatakan keberatan saja. Jadi. sehingga Tiongkok juga akan mengubah peraturan di bidang kedokteran tentang “kapan seseorang dinyatakan meninggal”. Artinya. “Peraturan ini juga akan berlaku bagi penduduknya yang beragama Islam. jangan sampai ada yang menyangka bahwa kami sangat menderita. Kalau toh dipaksakan. Sayang donornya. Karena itu. nanti akan dibalik. Sudah terlalu terlambat untuk transplan. aturan menentukan saat kematian itu akan dibuat lebih awal. Kemiskinan kami adalah kemiskinan struktural. Di kapupaten saya. Kalau selama ini organ hanya diambilkan hanya dari orang yang sudah menyatakan organnya boleh didonorkan.

Agar lontong masak sempurna dan tidak basi sampai seminggu pun. Tapi. kalau nasibnya baik -yakni dapat ambeng yang baik-. Bapak sangat menjunjung tinggi adat itu. Kami sangat menyenangi selamatan.Kalau toh kami boros. Keborosan kami adalah “keborosanreligius”. semua aliran tasawuf punyai klaim yang sama untuk kiai mereka sendiri. “Ahl-dzikr hanya satu di dunia. Juga harus ada cakar ayam untuk lambang doa kuat melangkah. Juga “keborosan-yang-beradab”. Bapak akan langsung bersila. Kami juga harus slametan nyepasari. sunatan. Kami berjalan kaki sejauh 6 kilometer untuk sampai ke rumah sesepuh kami itu. Ibu pandai sekali bikin opor ayam. Tentu. harus ada sayur kluwih untuk menandakan bahwa kita ingin rezeki yang linuwih (berlebih). rebowekasan. Punjungan itu berbentuk makanan yang paling istimewa. Saya pernah bertugas mengantarkan punjungan yang aromanya sangat harum itu. wetonan. 37 by Moezhanks . Sampai tiba saatnya harus dipotong untuk dihaturkan kepada kiai kami yang sebenarnya sudah kaya. kami dilarang untuk masuk sampai ke dalam rumahnya. Tapi. semua kami wujudkan dalam makanan seperti seolah-olah kami bisu. Sering ibu harus membeli dulu satu telur. Kami hanya boleh mengantar sampai teras samping rumah pendapa itu. Dagingnya untuk punjungan. Meski kiai tersebut masih paman ibu saya sendiri. rejeban. bapak saya tidak tahu itu. Sesepuh kami. Lalu dititipkan ke tetangga untuk bersama-sama ditetaskan di situ. Kiai kami adalah gurutarikat kami. Bapak langsung merasa sedang berhadapan dengan kiainya sendiri. itu juga kami perlukan sebagai wujud donga-katon (doa yang dipersonifikasikan). bisa memperebutkan daging ayam secuil. megengan. tapi semua itu kami niati untuk ibadah -entah apakah seharusnya pakai selamatan segala. yakni boros untuk melestarikan adat-istiadat. Karena itu. dan seterusnya. bapak bicara seenaknya dan penuh guyon dengan tamunya. Ini karena menurut tata bahasa Arab (nahwu). Sayurnya harus lima macam.” kata bapak saya. mauludan. Pokoknya. dan ngapurancang di depan teman sesama abdi dalem itu. Di jalan. Itulah saatnya kami. kami bisa mengira-ngira nikmatnya makanan yang akan kami antar itu karena kami sudah merasakan rasa kuahnya. Guru yang oleh bapak dipercaya sebagai wasilah dalam term filsafat ahl-dzikr. Bapak adalah idola kami dalam bersikap tawadluk -hormat kepada sesepuh. mitoni. kurang hemat. menunduk. sikap bapak otomatis berubah. Ternyata. Tidak ada ahl-dzikr lain di dunia ini kecuali kiai kami itu. Karena itu. adalah sang “ahl dzikr” nan tunggal. kami juga harus munjung ke kiai kami. kami tidak mungkin mampu membeli ayam. Tentu. KH Imam Mursyid Muttaqien. Dan meyakini bahwa kiainya. itu pun jangan disalahkan. Misalnya saja. Satu bentuk selamatan di serambi masjid yang amat kami tunggu-tunggu. Bukan gaplek. Ibu sudah menyiapkan ayam itu sejak enam bulan sebelum kupatan. Itulah saatnya kami bisa makan nasi. Ibu membuat lontong yang untuk merebusnya saja diperlukan waktu 24 jam. begitu si tamu mengatakan kedatangannya hari itu diutus sang kiai. Tapi. Kami harus banyak keluar biaya untuk selamatan Lebaran. Tahunya ya hanya tasawuf Sathariyah. Terutama saat kami masih kecil. Bukan hanya sambal atau garam. kata ahl di situ menunjukkan bentuk tunggal (ism mufrad). kami hanya boleh makan sedikit kuahnya. Setiap kupatan. Bahkan sudah kami nantikan sejak berhari-hari sebelumnya. Daun pembungkusnya harus daun pisang raja agar harumnya khas. bapak kedatangan tamu yang dulu sesama abdi dalem di rumah kiai tersebut. dan seterusnya. kami hafal benar kapan akan ada mauludan atau megengan. Tapi. kupatan. Itulah saatnya kami bisa makan telur. salah satunya harus opor ayam. Kiai kami bukan sembarang kiai. Lalu dipeliharanlah ayam tunggal itu. Bapak langsung menggunakan kata-kata kromo inggil (bahasa Jawa level tertinggi) dalam percakapan dengan temannya itu.

Misalnya saja. sarung itu bisa jadi karung. sarung itu belum akan pensiun. Hidup. saya ikat ujung sarung itu: jadilah dia semacam payung parasit. Saya belum menemukan bentuk pakaian lain yang fleksibelnya melebihi sarung. Kalau tambalannya pun sudah robek. tapi saya masih punya satu sarung! Jangan remehkan kemampuan sarung ini. fleksibelnya bukan main. harus dijalani apa adanya. Kalau sembahyang. Banyak orang desa yang merasa kasihan kepada Tommy Soeharto yang akhirnya harus menderita. Kalau lagi mau nakut-nakuti anak kecil. Padahal. Karena itu. sarung itu masih bisa dijahit. alat hiburan. mencari rezeki. Kalau saya lagi mencuci baju. Untuk meredam tangis si anak. sarung kami bentangkan di atas kepala: jadilah dia layar. harus diterima apa adanya. Apalagi suasananya sering diciptakan demikian. Kalau lagi musim angin dan kami ingin bermain-main dengan angin itu. sarung itu bisa saya kemulkan di bagian atas badan saya. kesehatan. Padahal. Mati pun dianggap. Masih bisa dirobekrobek: bagian yang besar bisa untuk sarung bantal. Kalau perut lagi lapar sekali dan di rumah tidak ada makanan sama sekali. jadilah dia pocongan.Kami sungguh menikmati kemiskinan kami seperti menikmati khayalan mengenai lezatnya opor ayam yang disiapkan sejak enam bulan sebelumnya itu. jadilah dia benda penting menghadap Tuhan. sering juga orang miskin merasa kasihan kepada orang kaya. bagian yang kecil untuk popok bayi. Mereka tidak tahu bahwa Tommy masih kaya raya. Lapar itu sering luar biasa nikmatnya. Kalau saya lagi ingin mendalang (waktu kecil saya suka sekali mendalang. jadilah dia selimut. Atau bagaimana nabi hanya memakan kurma dua biji setelah seharian berpuasa. orang kaya merasa iba kepada orang miskin. memang hanya punya satu celana pendek dan satu baju. 38 by Moezhanks . sampai jadi alat memeras atau menakut-nakuti. Kalau saya lagi lomba terjun ke sungai dari atas jembatan. Juga cerita sufi tentang bagaimana orang sakti yang kalau lapar cukup mengganjal perutnya dengan batu. waktu kecil. yang direbus itu adalah batu. Sarung inilah pakaian yang. masih bisa ditambal. Miskin pun bisa dinikmati. Sakit bisa dinikmati. kalau memang sudah garisnya. Kalau lagi kedinginan. Kalau kami lagi cari sisa-sisa panen kedelai di sawah orang kaya. sarung itu saya bentangkan dengan tiang pendek di kiri kanannya: jadilah dia kelir. dengan wayang terbuat dari rumput dan gamelan dari mulut teman-teman). Kalau di tempat jahitan itu robek lagi. fashion. meski hanya satu potong kain. seperti juga orang kaya punya cara sendiri menikmati kekayaannya. kisah tentang bagaimana Khalifah Umar menemukan orang miskin yang anaknya menagis terus karena lapar. ibunya pura-pura merebus sesuatu. Kadang. Mulai jadi alat ibadah. Kalau sarung itu robek (biasa waktu dipancal kaki saat tidur kedinginan atau saat kena duri bambu saat mencuri tebu). sarung itu bisa jadi bawahan. bagi orang miskin. Cerita yang demikian jadi kebanggaan. Jangankan terkena kanker atau sirosis atau hepatitis. Saya. Orang miskin punya jalan sendiri untuk menikmati kemiskinannya. saya ikatkan kuat-kuat sarung itu di pinggang: jadilah dia pengganjal perut yang andal. Kalau saya lagi harus mencuci celana. Dia bisa jadi apa saja.

Sangat sering diajarkan bahwa sedekah tidak harus dengan harta. Tinggal waktu saja yang berbeda. Menyangka Hepatitis Sudah Beres 9 September 2007 SAYA menerima kehadiran virus hepatitis B di liver saya sebagai takdir. kalau badan panas yang dibiarkan saja: toh akan dingin sendiri. pasti datangnya dari luar. ketika untuk kali pertama dalam hidup saya memeriksakan darah. cuci tangan dari kobokan yang sama. Karena hidup seperti itu dilakukan sejak kecil. tersenyum pun sudah sedekah. Tidak ada mukjizat. Bahwa keluarga saya banyak yang demikian. data terbaru menyebutkan hampir 10 persen penduduknya terkena virus hepatitis. Proses perkembangan itu lama atau cepat. Kalau kemudian berkembang menjadi sirosis dan kanker. Karena namanya virus. kemungkinan penularannya juga tidak kecil. Bahkan. Di Tiongkok sejak 1982. Melebihi popularitas ayat yang mengajarkan “carilah rezeki di bumi Tuhan ini”. (Bersambung) Ganti Hati 15 – Setelah Rutin Disuntik. itu sebagai sunnatullah-Nya -sudah seharusnya begitu. seperti yang semula saya kira. bukan keturunan atau gen. karena memang sebelumnya tidak pernah ditemukan obat untuk melawan virus itu. Tapi. sejak kecil. karena menyangkut begitu banyak orang. Prof Hassan mengingatkan bahwa harganya mahal sekali. Dan. berebut lauk dari piring yang sama. Maka saya harus periksa darah. Makan bersama. *** Saya sendiri tahu kalau mengidap hepatitis B sejak sekitar 25 tahun lalu. Yakni. Menyingkirkan duri dari tengah jalan pun sudah merupakan sedekah. tidak bisa diundur sekejap pun atau dimajukan sedikit pun” menjadi amat populer. Di Tiongkok. Konsultasi dengan salah satu dokter ahli penyakit dalam terbaik di Surabaya: Prof Mohamad Hassan (kini almarhum). jangan ada harapan sirosis tidak akan jadi kanker. setiap dua hari sekali. Dia mendengar ada obat yang masih baru sama sekali. Di Indonesia terutama sejak zaman Orde Baru. Jadi. saya boleh mencoba obat baru itu. persentasenya saya kira hampir sama. Tidak ada keajaiban di proses itu. Diketahuilah bahwa ada virus hepatitis B di liver saya. tentu itu karena gaya hidup di desa yang memang seperti itu. Namanya interveron. Di Indonesia. Kini interveron sudah amat murah dibanding 39 by Moezhanks . Juga harus disiplin tinggi karena obat itu harus disuntikkan 76 kali. Ini berarti lebih dari 120 juta orang. Semua bisa saja jadi sarana penularan. Karena itu. Mau dioperasi besar pun saya tersenyum. Ke depan mestinya virus ini amat berkurang karena kesadaran melakukan vaksinasi hepatitis kepada bayi sangat tinggi. Jangan harap satu virus hepatitis B tidak akan menjadi sirosis. Maka. Saat itu juga saya langsung mengambil langkah. Kisah sedekah yang populer juga terkait dengan kemiskinan. penelitian terhadap hepatitis intensif sekali di Tiongkok. Kalau mau. Waktu itu tiba-tiba badan saya panas sekali. Itulah sedekah yang sudah sejak kecil diajarkan -dan yang dulu satu-satunya yang mampu kami lakukan. marilah kita sering tersenyum.ayat yang menyatakan “kalau sudah tiba waktunya. Sebelumnya.

Sejak minum interveron itu saya tidak pernah mencari tahu lagi apakah sudah ada obat yang lebih jitu. Bahkan sampai besoknya pun. Saya tidak pernah lagi memperhatikannya. Ke mana-mana saya membawa termos itu berikut alat suntiknya. Saya tenggelam oleh kesibukan dan kecerobohan saya sendiri. Yang jadi persoalan adalah bukan tidak mau. Murah untuk ukuran orang sakit liver. Tangan sudah selalu siap memegang selimut kalau tiba-tiba harus segera menutupkan ke tubuh saya. Barangnya juga sudah lebih mudah didapat. saya menjadi lengah. Kini. Ya. Sudah saya jelaskan panjang lebar. Anda sudah berada di rumah sakit. Di dalam negeri dan ke luar negeri. Sampailah pada Mei 2005. untuk menggambarkan punya kemampuan kerja kuda) membuat saya terlena. di poliklinik. Mengapa harus ngamar? “Akibat suntikan itu. katanya. Pernah suatu saat saya harus ke Ambon. Sebab. Prof Hassan juga memberitahukan bahwa kemungkinan berhasilnya juga tidak 100 persen. virus tidak akan merajalela. Maka setiap dua hari saya suntik interveron. Pada hari dilakukan penyuntikan pertama. saya dengar kualitas interveron sudah semakin baik. Pernah juga saya mengalami kesulitan yang sama saat berada di Batam. melainkan hanya mengurungnya. Hari itu saya terbang ke 19 kota hanya dalam waktu 8 hari. membuat saya terlalu percaya diri. Ketika pertama suntik saya harus ngamar di rumah sakit. Saya pilih RS Budi Mulia di Jalan Raya Gubeng. Bisa di kantor. Harganya pun sudah jauh lebih murah dibanding ketika saya harus membeli dulu. Mulai Surabaya-Jakarta-Pontianak-Kuching-Singapura-Guangzhou-Wenzhou-Jinhua-Hangzhou-NanchangGuangzhou-Jakarta-Makassar-Ambon-Makassar-Kendari-Makssar-Jakarta-Surabaya. dengan dikurung seperti itu. 40 by Moezhanks . tapi tetap mahal untuk kebanyakan orang. saya sudah tidak bingung lagi. Tentu saya bawa juga interveron itu. ternyata si demam tidak datang juga.” katanya. Saya menyimpan interveron itu di termos khusus yang bisa saya bawa bepergian. Di Ambon ternyata sulit sekali mencari dokter yang mau menyuntikkannya. tidak boleh melakukannya. Memang seharusnya demikian. saya juga harus mengejar pesawat. Saya tunggu sampai malam. saya langsung siap-siap selimut tebal. Di sana umumnya dokter tidak tahu obat apa yang saya bawa itu. Tapi. Maklum. saya sudah melupakan hepatitis saya. Kalau terjadi sesuatu yang membahayakan. Badan saya yang selalu fit. Pujian bahwa saya adalah orang yang “tidak punya udel” (tidak punya pusar. Saya bisa menyuntikkan interveron berikutnya di mana pun saya mau. atau di praktik dokter. Saya menyangka. tapi memang betul-betul belum tahu obat tersebut. Lalu saya boleh pulang. tetap saja dia tidak mau. Akhirnya saya minta disuntik di pos kesehatan bandara Batam. memang obat yang masih sangat baru. Bahkan. Saya tunggu kedatangan “suhu tinggi” dan “rasa menggigil” itu sampai sore. memang belum ada obat ang bisa membunuhnya. suhu badan bisa tinggi sekali. Saya pun menyetujuinya. Maksudnya. baru 25 persen. Setelah proses itu selesai. Kalau tidak tahu. Kalau panas datang dan badan menggigil. Padahal. Tiongkok juga sudah memproduksinya besar-besaran. hepatitis saya sudah beres. Saya terus kerja dan kerja.harga 25 tahun lalu. Sudah puluhan kali lebih kuat daripada 25 tahun lalu -saat saya pertama menggunakannya. Terbang dan terbang. Obat itu berfungsi bukan membunuh virusnya. siapa tahu saya masuk yang 25 persen itu.

Mengapa tidak mau sarapan? Setiap ke Ambon saya punya cita-cita khusus: akan makan durian sebanyak-banyaknya. Setelah onggokan itu saya injak. Saya selalu merindukannya. Lupa sudah makan siang. Kenyanglah. setelah makan malam dengan menu makanan lokal yang disebut papeda. tapi kedua tangan saya menjadi penadah. Lalu saya ingat kakak saya yang meninggal tidak lama setelah muntah darah. Hari itu bumbunya juga pedas bukan kepalang. Meski perut mulas. barulah saya bisa tidur dengan baik. Malamnya. langsung ke kantor harian Ambon Ekspress untuk rapat. Ikan laut Ambon segarnya. bergabung dengan saya di Makkasar untuk sama-sama ke Ambon. jangan belok kanan ke arah kota. di pinggir jalan depan Masjid Al Fatah. tiba-tiba saya mau muntah. manisnya. Kebetulan di depan kantor. Makannya tidak di pantai Ambon tidak apa-apa. Mestinya tetap saja makan ikan laut. Perkembangan hasil pilkada itu. bersama Ibu Eric Samola. saya jangan makan papeda malam itu. tapi belok kiri ke arah kampung. Dokter menyesalkan saya. Tentu ada yang tercecer di lantai kamar. Tapi. Saya harus memilihnya sebagai dukungan ke anak buah. Saya muntahkan saja. Tiba di Ambon tidak mau sarapan. Rapat dengan harian Fajar yang kini baru menyelesaikan membangun gedung Graha Pena Makassar. Setelah saya menghadiri coblosan pemilihan wali kota Surabaya. Tiba di Surabaya. rapat dengan harian Kendari Post yang waktu itu juga lagi membangun Graha Pena Kendari. Paman-paman saya. Saya memang merencanakan ke dokter. di mana Bambang-Arief terpilih. Pimred Jawa Pos Arif Afandi. badan saya rasanya baik-baik saja. Dokter bilang saya beruntung. ternyata warnanya merah: darah.Istri saya. saya ke kantor lagi sambil seperti menangis. Bisa jadi muntah darah itu akan sangat fatal dan mematikan. Apalagi kalau dimakan di pantai yang sangat natural itu: pantai Ambon yang indah. Di forum “bengkel” itulah saya selalu diminta menularkan pengetahuan dan keterampilan jurnalistik. Mungkin ikan-ikan Ambon cemburu dan marah mengapa malam itu saya melupakannya. tengah malam itu saya masih harus ke percetakan. saya ketahui saat saya berbaring di ranjang pasien. Juga ibu saya. pukul empat sudah harus berangkat ke Makassar. bukan kepalang. Barulah selesai coblosan saya ke Rumah Sakit Darmo Surabaya. Durian Ambon luar biasa enaknya. rapat masih diteruskan dengan mengajar. setiap kedatangan saya ke anak perusahaan selalu dimanfaatkan untuk pertemuan dengan wartawan. enaknya. Perut saya mulai bergolak malam itu. Saya memang punya forum yang disebut “bengkel wartawan”. mengapa begitu muntah darah tidak langsung ke rumah sakit.H. Oh. menjadi calon wakil wali kota mendampingi calon Wali Kota Bambang D. Dari yang tercecer itulah saya lihat banyak onggokan berwarna hitam. Sambil tangan menampung muntahan. Di mana itu? Kalau Anda turun dari pesawat. Aduh naturalnya! Tapi. Berarti makan siang juga kelewatan. Rapat pun buru-buru karena harus segera ke Kendari. sejak kerusuhan Ambon. Lalu menyantet perut saya. 41 by Moezhanks . sudah tidak tahan lagi untuk segera makan durian. Tiongkok. keluar dari bandara. tapi besoklah. Papeda malam itu merupakan makanan terpedas yang pernah saya alami setelah makanan yang disebut suai yang ru di Chongqing. Tapi. saya tidak tahu lagi di mana restoran yang terkenal itu membuka usaha. Dulu. Anak buah saya. saya lari ke toilet untuk membuang muntahan yang ada di tangan. Mestinya. Selesai forum bengkel. Bangun tidur. ternyata saya muntah darah. Saya ternyata memang harus ngamar di rumah sakit. Paginya. banyak penjual durian. Di Kendari saya juga punya cita-cita khusus: makan ikan bakar.

pasien akan mengalami pendarahan hebat yang sulit dikendalikan. Ternyata semua itu menipu. Dalam istilah teman saya. Tindakan ini dalam istilah kedokteran disebut dengan endoskopi. “Lebih baik dilakukan di sana. ketika ada acara di Singapura. alat itu masuk sampai ke lambung saya. yang tidak segera diketahui di luarnya. Bahaya yang sama sekali tidak saya rasakan sebelumnya. Baru dua minggu kemudian. penyakit tidak mau mampir ke badan saya karena tidak akan dilayani akibat kesibukannya.” tambahnya. Varises esofagus terjadi karena pembuluh darah utama yang masuk ke liver menyempit akibat adanya sirosis. saya termasuk orang yang beruntung. (bersambung) Ganti Hati 16 – Esofagus Ditambal atau Bilang Saja Pencernaan Dilaminating 10 September 2007 KETIKA kartu suara pemilihan wali kota Surabaya dihitung. Dari tenggorokan. Saya dibius. Gelembung-gelembung itu sebenarnya adalah pembuluh darah esofagus yang karena tekanannya terlalu besar lantas menggelembung. Yakni. Karena pintu masuknya menyempit. Yang mengendoskopi saya ketika di RS Darmo Surabaya saat itu adalah dr Pangestu Adi SpPD-KGEH. pasien meninggal karena kehabisan darah. Akibatnya bisa sangat fatal. Bahaya yang selalu kalah dengan semangat. Karena tak segera diturunkan. melalui pipa esofagus (yang menghubungkan mulut dengan lambung). Kata banyak dokter di Surabaya ketika itu. varises di bagian itu lebih gampang meletus. Sebuah kerusakan di dalam. Saya diperiksa di situ untuk 42 by Moezhanks . dokter RS Darmo Surabaya juga mulai melihat dari mana asal darah yang saya muntahkan. pecah. saya mampir ke seorang ahli penyakit dalam yang terkenal di RS Mount Elizabeth.Pemeriksaan di Rumah Sakit Darmo menunjukkan betapa berbahayanya sakit saya. Ada yang kecil. Maklum. Jika itu terjadi. Itu sebabnya mengapa limpa saya juga ikut membesar sampai hampir tiga kali lipat. karena dinding pembuluh darah esofagus lebih tipis. banyak juga yang besar. pembuluh darah esofagus yang menggelembung dinamakan varises esofagus. Dalam kesempatan pertama. Penyakit tetap datang dan diam-diam menggerogoti onderdil saya. “Sebaiknya Pak Dahlan segera ke Singapura. Tahu-tahu saja sudah terlambat sekali. betapa banyak gelembung darah yang siap pecah di sepanjang esofagus saya. yang sudah sangat ahli dan senior di bidang itu. saya masih belum memahami sepenuhnya bahaya yang saya hadapi. Disebut varises karena memang mirip varises di betis. Dari gambar yang dipantulkan alat itu terlihat. rasa badan saya baik-baik saja. Tenggorokan saya dimasuki alat yang ujungnya berkamera superkecil. Hanya. Sampai saat itu. tekanan itu pun merembet sampai ke pembuluh darah esofagus dan limpa. Dalam istilah medis.” ujar Prof Dr dr Boediwarsono SpPD-KHOM yang merawat saya ketika itu. tekanan di pembuluh darah utama itu pun jadi meningkat. Karena tidak kolaps ketika beberapa gelembung varises di esofagus saya pecah dan menyebabkan saya muntah darah dua hari sebelum endoskopi dilakukan.

Kenapa sementara? Ini karena penyebab terjadinya gelembung-gelembung itu sendiri masih njegog di badan saya: sirosis. saya putuskan untuk menandatangi perjanjian setebal bantal itu. 43 by Moezhanks . beban bagi tubuh saya akan terlalu berat. teratasi sementara. Dan. Saya memang biasa begitu. Gelembung-gelembung kecil yang tersisa “dilaminating” semua. saya punya waktu membicarakan kelanjutan rencana proyek Rp 250 miliar itu. Sudah beberapa kali Robert membantu perusahaan daerah secara sukarela seperti itu. Robert Lai. setidaknya saya bisa mengulur waktu. Seperti pada endoskopi. operasinya perlu waktu dua jam sendiri. dan menjadi gelembung-gelembung darah lagi. selesai rapat. Antara lain dengan menuangkan semacam lem berwarna putih ke gelembung-gelembung varises di esofagus saya. dokter memilih yang aman. Dengan hanya “melaminating” yang besar-besar. proses “laminating”-nya tak bisa hanya sekali. ketika meletus. Dia melakukannya secara gratis. Lalu menyerahkan koreksi itu ke direksi perusahaan daerah untuk dipikirkan lebih lanjut. kepada keluarga saya. Minggu depannya. tenggorokan saya dimasuki alat yang bisa masuk sampai pencernaan. untuk melihat. Tujuannya untuk menambal bagian yang sudah meletus.mengetahui apa yang terjadi sebenarnya dan tindakan apa yang harus dilakukan. Langsung dibius dan dioperasi. Dengan bantuan kamera itu. Kelak saluran pencernaan saya akan tertekan lagi. dokter berharap gelembung yang kecil-kecil akan mengecil dengan sendirinya. Berarti setahun kemudian saya masih terancam muntah darah lagi. Tepatnya. mencermati. Bahkan. Hari itu. Karena jumlah gelembung yang harus ditambal begitu banyak. Sehingga selama lima tahun sebagai Dirut perusahaan daerah. Untuk memastikan itu. Rapat lagi sambil meneruskan proses “laminating” berikutnya. Sekali lagi. dua bulan kemudian saya balik ke Singapura. Saya juga sudah minta tolong agar teman saya. Padahal. darahnya tidak semburat ke luar lagi. hari itu dokter hanya punya waktu untuk mengatasi gelembung yang besar-besar. saya ke rumah sakit. saya bikin janji dengan investor Singapura yang bersama perusahaan daerah Jatim akan membangun shore base di Lamongan. lawyer lulusan Inggris yang sudah biasa bikin perjanjian dalam bahasa Inggris. Meski yang kecil-kecil tidak membesar. Tapi. Dengan begitu. dengan “laminating” ini. Urusan perusahaan daerah selalu saya gabung dengan urusan saya pribadi. Agar kedatangan saya ke Singapura minggu depannya lebih efektif. Sesuai jadwal. ketika direksi perusahaan daerah sudah selesai merundingkan draf perjanjian dengan pihak Singapura. ujung alat itu pun dilengkapi kamera. saya diminta kembali dua bulan kemudian. Hari itu dia sudah telanjur banyak janji dengan pasien lain. saya menggunakan istilah yang lebih sederhana lagi: Saluran pencernaan saya “dilaminating”. Selain itu. tim dokter di Mount Elizabeth lantas mereparasi esofagus saya. Seminggu kemudian saya diminta datang lagi untuk operasinya. Teknis penambalan esofagus sebenarnya tidak sesederhana penjelasan saya itu. Saya hanya menyederhanakannya. Sebelum operasi. persoalan mendesak yang mengancam hidup saya teratasi. bengkak lagi. Dengan cara ini perusahaan daerah tidak perlu keluar uang perjalanan dinas dan biaya-biaya lain. sekaligus melapisi yang sudah siap meletus. Bulan berikutnya. saya tidak pernah menggunakan uang perusahaan. Dia memberikan banyak sekali koreksi. yang sudah meletus dan benar-benar siap meletus. kalau yang “dilaminating” kebanyakan. dan memberikan koreksi mana-mana yang akan membuat posisi perusahaan daerah lemah.

Dokter melemparkan jawaban pendek. Lalu saya telan sedikit-sedikit lewat tenggorokan saya yang sakit: beli sepatu yang lebih besar. Padahal. “Sekarang Anda berumur 55 tahun.” katanya. bagaimana mengatasi sirosis saya. Bagaimana agar kaki saya tidak bengkak lagi. “Kalau sesak lagi?” tanya saya lagi. memang semakin pahit rasanya. Sebenarnya pertanyaan itu tidak perlu. Lalu saya muntahkan sekalian kalimat dokter itu: Dalam wujud muntah seperti darah. “Bagaimana mengatasinya?” tanya saya. Tambah lima tahun menjadi 60. Berarti juga. Di atas muntahan itu seperti terbaca peringatan keras: tidak ada obatnya. Lalu saya tunjukkan kaki saya yang mengembung dan membesar itu kepada dokter yang merawat saya. “Kenapa setelah transplantasi hanya bisa hidup lima tahun?” tanya dokter itu pada saya. Saya tidak mau dia memberi saya sekarung butrawali. “Ya. Terasa seperti lemparan pisau yang langsung mengarah ke liver saya. Begitu pahitnya kalimat dokter itu. enteng. Dahlan. Bagaimana agar tidak terancam muntah darah lagi. Lima tahun lagi. Lalu menyayat-nyayatnya. merah rasanya. Mungkin hidup Anda bisa lebih panjang lima tahun lagi. Bisa sampai umur 60 cukuplah. Dahlan. apakah ada jalan keluar untuk membuat liver yang sudah mengeras di sana-sini itu kembali lunak? Dan jalan darah yang sudah banyak yang buntu itu membuka lagi? Dokter rupanya tidak punya banyak waktu. dua-duanya tidak ada 44 by Moezhanks . Tambah lima tahun sudah oke. Jawaban dokter itu sungguh di luar dugaan saya. sirosis itu yang menyebabkan saluran pencernaan bengkak dan membuat gelembung-gelembung darah. Tidak boleh lebih. dan akan jadi sirosis lagi. “Anda lakukan transplantasi saja. Berdarah-darah. OK.” katanya. beli lagi yang lebih besar lagi!” jawabnya. Semakin dikunyah. Merah rupanya. Juga tidak mau bertele-tele. tidak ada obatnya! *** Saya masih minta butrawali satu lagi: Bagaimana dengan sirosis saya? Maksud saya apakah sudah ada obat untuk memperbaiki sirosis? Atau. Pedih. Tapi. Seperti pahitnya butrawali. dalam bahasa orang awam. tajam. Getir jawaban itu. bisa jadi bibit kanker itu juga masuk lagi ke liver baru. Misalnya. membuat pencernaan seperti mulas dan mau muntah. OK. kau bisa dapat tambahan umur lima tahun lagi. tapi saya kunyah lama-lama. Cukuplah. buah yang dijadikan ukuran terpahit di Jawa. langsung.” katanya ketus. Dan beli lagi yang lebih besar lagi. Tapi. dia jawab sendiri pertanyaan itu: karena liver barunya nanti kemungkinan juga terkena hepatitis lagi. saya merenungkannya. Apalagi kalau saat itu sudah ada kankernya. Saya sudah oke. Dia seperti menganggap manusia ini benda yang tidak punya perasaan. “Beli saja sepatu yang lebih besar.Menjelang tanda tangan perjanjian itulah saya berkonsultasi dengan dokter mengenai problem kesehatan saya yang berikutnya. Menghunjam dalam sekali. Tapi. Berarti juga tidak ada jalan keluar untuk sirosis. Jawaban itu memang seperti keluar dari mulut Asmuni-Srimulat.

dekok di tengahnya. namun istimewa. Besar atas bawahnya. kalau tidak pakai kaus kaki. setiap akan membuka hasil lab. perasaan saya seperti anak sekolah yang sedang menerima rapor. bos Hotel J. Marriott Surabaya yang juga konsul kehormatan Hongaria. Tapi juga tetap memerlukannya. Enaknya luar biasa. saat habis makan malam dengan Wakil Presiden H M. Ruang praktiknya memang penuh dengan pasien dan sebagian besar orang Indonesia. Salah satunya adalah koran dari Grup Jawa Pos. perut saya langsung kembung. sampai makanan penutupnya. ancaman kematian tiba-tiba sementara sudah teratasi. sedikit-sedikit. Saya masih menganggap kata-kata transplan dari dokter tersebut tidak terlalu meyakinkan. Tidak ada alternatifnya. Kadang saya membuka hasil lab itu seperti membuka kartu remi yang tertutup di atas meja.W. Satu perkiraan yang tidak terlalu salah. Tidak ada obatnya. Restoran itu ada di pojok Jalan Tianjin. (Bersambung) Ganti Hati 17 – Dokter Mengetuk Dada. Hanya saya lebih care dibanding dulu. selalu saja kaki saya seperti balon panjang yang ditiup tidak sempurna. takut angka-angka merahnya terlihat sekaligus. maka tidak gampang baliknya. terbang-terbang lagi. Karena badan normal-normal saja. Pulang makan. Artinya sibuk lagi.jalan keluar. Dua minggu sekali. makanan kecilnya.” katanya sambil melihat bagian kaki yang ’ambles’. Semua masakannya terbuat dari kepiting. Shanghai. Timbul Bunyi seperti Tong Kosong 11 September 2007 SAYA pernah membenci kaus kaki. kalau mau yang paling tepat lagi disalahkan adalah saya sendiri: Mengapa tidak menjaga baik-baik liver saya? Dua tahun lamanya saya membenci kaus kaki. saya mampir ke kios pijat kaki. *** Dokter itu tidak kenal saya. Yakni. si ahli refleksi kaget. Mungkin karena itu. Saya sama sekali tidak menyangka akan berhubungan dengan kata transplantasi. Jusuf Kalla dan lima menteri yang menyertainya. Bahkan. Sampai membuat kakimu seperti ini. ternyata juga menyalahkan kaus kaki. saya juga hidup normal lagi. “Karet kaus kakimu terlalu kuat. Setelah melepas kaus kaki saya. Sebab. Pelan-pelan. Apalagi. 45 by Moezhanks . yang salah adalah kakinya. Mulai supnya. Dia lantas mengira saya kerja di perusahaan periklanan. Ini terjadi karena karet di kaus kaki tersebut menekan kaki saya. Tepatnya. Karena yang dijepit adalah daging kaki yang bengkak. Tidak ada pula keajaiban yang bisa diharapkan. Lihat. Saya tidak terlalu memikirkannya. yang salah sebenarnya liver saya yang tidak lagi mampu mengolah protein secara normal. Dia pun. Pernah saya merasa penat. Setiap pulang dari bepergian. Dia tahu itu karena hampir semua pasiennya mengatakan kenal saya. Dia hanya tahu saya orang Surabaya. seperti saya. Saya terus memonitor darah saya di laboratorium. di dinding pendek dekat meja resepsionis terdapat banyak guntingan koran Indonesia yang memuat tentang ceramah dan wawancara dengan dokter itu. Saya tahu alamat restoran itu dari Rajimin. Waktu itu kami makan di satu restoran kecil. Padahal.

Begitulah. Hubungan saya dengan kaus kaki menjadi sangat unik: Jenis hubungan yang disebut love and hate -cinta dan benci. Dalam situasi terus membenci kaus kaki seperti itulah, saya terus beraktivitas. Terbang berjam-jam. Berkendaraan beratus-ratus kilometer. Di dalam negeri. Di luar negeri. Sampai suatu saat saya punya urusan di kota Tianjin, 100 km dari Beijing. Di sini kebetulan ada kenalan dokter ahli liver yang hebat. Namanya Prof dr Shao. Seorang wanita tepat seumur saya, yang mengepalai bagian liver di suatu rumah sakit di sana. Dia dobel dokter. Dokter ilmu kedokteran Barat dan dokter ilmu kedokteran Tiongkok. Dia juga doktor di spesialisasi liver, limpa, dan empedu. Saya kepingin mencari pendapat pembanding. Benarkah tidak ada jalan keluar untuk problem bengkak saya itu. Benarkah sirosis itu tidak bisa disembuhkan, minimal dihentikan proses memburuknya. Tentu, saya diminta Prof Shao untuk menjalani pemeriksaan ulang. Mulai kencing, kotoran, darah, liver, limpa, paru, sampai prostat. Juga menjalani pemeriksaan fisik yang dia lakukan sendiri. Yakni pemeriksaan secara kedokteran Tiongkok. Dia ketuk-ketuk rongga dada saya dengan jarinya. Timbullah suara seperti tong kosong. “Ini pertanda liver Anda memang sudah mengerut, mengecil,” katanya. “Di rongga dada Anda sudah mulai ada ruang kosongnya,” tambahnya. Setiap Prof Shao memeriksa fisik saya, selalu banyak dokter muda yang diajaknya. Dokter-dokter muda itu menyimak dengan tekun apa saja dijelaskan Prof Shao sehubungan dengan kondisi badan saya. Dia memang juga pengajar di fakultas kedokteran yang terkait dengan rumah sakit itu. “Lihat ini,” kata Prof Shao kepada para dokter muda itu. Sambil berkata demikian, Prof Shao menyingkap baju saya sampai dada saya terbuka. Lalu, dia memegang-megang payudara saya (eh, kalau milik laki-laki apa juga disebut payudara?). “Lihat payudara dia ini. Juga membesar. Seperti payudaranya gadis yang menginjak remaja. Orang yang terkena sirosis akan selalu seperti ini,” ujarnya. Kenapa Prof Shao mengumpamakan payudara saya seperti payudara gadis belia, karena proses pembesaran kelenjar susu lelaki yang menderita sirosis memang mirip pertumbuhan payudara gadis yang beranjak remaja. Yakni dimulai dengan rasa nyeri pada bagian putingnya saat tersentuh sesuatu. Perlahan-lahan rasa nyeri itu berkurang, bersamaan dengan makin besarnya payudara. Seperti umumnya gadis remaja, pembesaran payudara saya juga dimulai dari yang kiri, baru kemudian yang kanan. Jika liver saya tidak keburu ditransplan, payudara saya akan terus membesar menyerupai payudara wanita. Dalam istilah medis, pembesaran payudara yang saya alami itu disebut dengan gynecomasty atau ginekomastia. Lama sekali dia memegang-megang payudara saya. Tapi, bayangan saya lebih kepada sirosis yang mengancam nyawa saya. Tidak hanya hari itu. Berkali-kali Shao menjadikan payudara saya sebagai alat peraga untuk mahasiswanya. Saya menerima saja. Bukan karena merasakan remasannya, melainkan itu memang penting agar orang lain jangan sampai seperti saya. Setelah selesai bagian dada, tangannya turun ke perut. Dia periksa perut saya dengan dua tangannya. Dia pejamkan matanya seolah ingin merasakan benar apa yang berubah dari perut saya senti ke senti. Dia goyang-goyang perut saya. “Masih beruntung. Air belum masuk ke rongga perut,” katanya. Prof Shao memang sangat khawatir air yang sudah memenuhi seluruh badan saya juga sudah mulai mengalir ke rongga perut. Sebab, memang begitulah proses yang akan terjadi berikutnya. Air akan “bocor” dan menggenangi rongga perut. Karena itu, penderita sakit liver seperti saya akan berakhir
46
by Moezhanks

juga dengan keadaan perut membesar penuh air. Mula-mula perut akan seperti balon berisi air: Ginjur-ginjur. Dalam istilah medis, keadaan itu disebut dengan ascites. Semakin lama, jumlah air di perut akan semakin banyak dan memaksa perut untuk membesar. Bersamaan dengan membesarnya perut, biasanya pembuluh-pembuluh darah di permukaan perut juga ikut melebar sehingga tampak seperti sarang laba-laba, tapi warnanya merah. Sesuai dengan tampilannya, para dokter menyebut pelebaran pembuluh darah itu dengan istilah spider veins. Pada tahap berikutnya, perut yang besar itu mengeras. Saya sudah berkali-kali melihat perut orang sakit liver seperti ini dan biasanya sudah akan meninggal kurang dari enam bulan. Begitu juga ibu saya dulu. Satu pemandangan yang saya lihat ketika saya masih berumur 12 tahun dan terus hidup sampai saya sendiri dalam posisi akan mengalaminya. Saya sendiri beruntung karena sampai saat transplantasi, saya tidak mengalami yang disebut ascites maupun spider veins itu. “Ini harus dicegah sedini mungkin, sebisa-bisanya,” kata Shao kepada para dokter muda tersebut. Tapi, itu pun sifatnya hanya usaha untuk buying time. Dokter di Singapura berpendapat sama. Dia memberikan dua jalan: Meminum obat agar kencing lancar dan meminta saya untuk tidak banyak minum. Dua-duanya saya jalani. Sampai-sampai saya pernah merasa takut pada air minum. Setiap mau minum, selalu terbayang bahwa sebagian air itu akan terus membuat badan saya bengkak. Sebagian lain akan membuat perut saya membesar, ginjurginjur, dan akhirnya mengeras. Pada awalnya, saya agak terhibur dengan “pil pelancar kencing”. Tapi, lama-lama satu pil tidak cukup membuat kencing saya mengalir lancar. Harus dua pil. Ini pun lama-lama juga sudah kurang manjur. Terpaksa, saya terus mengurangi minum. Beberapa bulan terakhir saya hanya berani minum satu liter saja sehari. Ini karena kencing saya hanya sekitar 700 sampai 900 mililiter sehari semalam. Di Tianjin, Prof Shao memberi saya obat Tiongkok yang sudah berwujud cairan infus. Tiap hari saya diinfus dengan itu dan bengkak berkurang. Kencing lancar sekali. Tapi, kalau infus dihentikan, tetap saja badan kembali bengkak. Shao menjelaskan mengapa demikian kepada para dokter muda beberapa di antara mereka dokter muda dalam ilmu kedokteran Tiongkok. Ketika saya banyak tanya mengenai khasiat dan bahaya setiap obat yang diberikan kepada saya, Shao bergegas menatap wajah-wajah dokter muda. “Lihat sahabat saya ini. Banyak bertanya. Kelak, semua pasien akan seperti ini. Kalian harus bisa menjelaskannya dengan sebaik-baiknya. Pasien memang punya hak untuk tahu,” ujar Shao sambil tangannya tetap di perut saya. Kadang tangannya mampir lagi ke payudara saya. Ini karena di antara dokter muda hari itu, ada wajah baru yang belum diberi tahu bagaimana payudara saya juga membesar seperti gadis menginjak remaja. Lain hari, saya ingin Prof Shao ganti mengajar saya. Sebelum hari yang ditentukan itu tiba, saya beli kertas putih lebar. Lalu, saya tempelkan di dinding kamar rumah sakit. Saya ingin dia menjelaskan secara gamblang rangkaian penyakit saya. Saya juga beli spidol warna-warni untuk membedakan gambar aliran darah masuk dan keluar. Dia tersenyum melihat persiapan saya hari itu. “Wah, saya harus mengajar berapa jam?” tanyanya bergurau. Pipinya yang padat, hidungnya yang agak mancung, badannya yang tinggi, dan rambutnya yang ikal membuat penampilannya sangat aristokrat. Apalagi kalau berat badannya bisa turun satu kilo lagi. “Satu jam 10.000 yuan ya?” guraunya ketika menyebut uang setara Rp 11 jutaan tersebut.

47

by Moezhanks

Di dinding itu dia menggambar isi tubuh saya. Menjelaskannya sangat detail dan terang-benderang. Dia pandai sekali mengajar. Pasti banyak mahasiswanya yang senang. Saya juga belajar yang lain lagi: bahasa. Sebab, bahasa Mandarin yang dia gunakan sangat teknis dengan logat yang sangat Tianjin. Kini tahulah saya secara gamblang penyakit saya, terutama ancaman mati yang nyata di depan mata saya. “Ini tidak ada obatnya,” katanya tegas. Muncul karakternya sebagai pemimpin. “Kecuali istirahat total,” tambahnya. “Obat hanya memegang peranan kurang dari 15 persen. Yang 85 persen lebih adalah perilaku pasien sendiri,” ujarnya. Prof Shao melarang saya banyak jalan, gerak, dan terlalu lelah. Tidak boleh marah, kemrungsung, dan berada dalam situasi tergesa-gesa. Padahal, salah satu hobi saya “mengejar” pesawat. Saya sering tidak sabar menunggu jadwal pesawat. Kalau pesawat yang akan terbang ke suatu tujuan masih tigaempat jam lagi, biasanya saya cari pesawat ke jurusan yang lain dulu. Saya juga tidak boleh merasa kesal. Tidak memikirkan banyak persoalan sekaligus. Tidak boleh mikir yang berat-berat. Saya harus pensiun. Saya hanya boleh memikirkan badan saya sendiri. Tidak boleh lagi mikir orang lain. “Ibaratnya,” kata Prof Shao, “Rumah tetangga terbakar pun, Anda jangan peduli.” Tegas sekali peringatannya. Terang sekali contohnya. Hanya mahasiswa yang bodoh yang tidak bisa memahaminya. Dan saya ternyata termasuk “mahasiswa”-nya yang amat bodoh. (Bersambung)

Ganti Hati 18 – Dokter Menegur Iba, Ingat Nasib Ayahnya yang Redaktur
12 September 2007 BUKAN. Bukan bodoh. Semua penjelasan Prof Shao mengenai bahayanya penyakit saya, saya mengerti sepenuhnya. Terang-benderang penjelasannya. Saya pasti tidak bodoh. Hanya saya sadari, saya agak ndablek. Dan dia tahu perilaku saya itu. Dia tahu keras kepala saya, sembrono saya. Suatu saat, ketika saya kembali menemuinya setelah setengah bulan menghilang, dia lama memandang saya. “Ke mana saja Anda? Kami di sini prihatin sekali. Takut terjadi sesuatu pada Anda,” katanya dengan nada khawatir. Mungkin juga jengkel. “Saya baru datang dari Indonesia,” jawab saya. Dia setengah tidak percaya, setengah gondok. “Lho, setelah dari sini dulu itu, Anda pulang ke Indonesia? Kenapa? Apa kata saya tentang kebakaran rumah tetangga?” ujarnya. Dia lantas menarik napas panjang sekali. “Dahlan, Anda ini sudah gawat. Saya tidak mau kehilangan Anda,” katanya. Berkata begitu, dia seperti setengah menegur setengah mengiba. Dia kembali menarik napas panjang sekali. Matanya kelihatan berlinang. Dia keluarkan tisu di sakunya. Dia usap air matanya. Beberapa hari kemudian, dia bercerita kepada saya mengapa sampai hampir menangis ketika menasihati saya. Ternyata, dia ingat bapaknya. Bapaknya seorang redaktur surat kabar. Ibunya seorang hakim terkemuka. Bapaknya terus menulis buku sepanjang malam. Lalu meninggal. Ternyata karena sakit liver. Dia tidak tahu itu dan tidak memperhatikan itu. Padahal, dia dokter ahli liver. Waktu itu, katanya, dia juga sedang belajar ekstrakeras selain kerja keras. Sebab, dia akan segera dapat beasiswa untuk sekolah lagi di luar negeri. Tapi, semuanya gagal. Beasiswa tidak jadi. Ayahnya pun pergi. Dia menangis lagi saat menceritakan itu.
48
by Moezhanks

orang yang kekurangan sel darah merah akan mengalami anemia (kekurangan darah). Sebab. Angka minimal untuk kadar trombosit seharusnya 150 (ini angka dalam standar laboratorium di Tiongkok). Untuk menampung limpahan itu. Itu berarti sel-sel darah yang “sehat” pun ikut disingkirkan. Prof Shao lantas berpikir keras mencari jalan untuk menaikkan kadar platelet saya. Seperti yang pernah saya sebutkan di tulisan terdahulu. semakin besar pula ukuran limpa. dia lihat masih ada sedikit peluang. Limpa saya harus dipotong? “Boleh dibilang begitu. caranya tidak lewat injeksi karena hal itu hanya bisa bertahan dua-tiga hari. termasuk Indonesia. Kalau toh ada tanda-tanda bengkak lagi. Kalau kekurangan darah putih. sel-sel sehat dan rusak itu akan mengerak dan mengganggu fungsinya. darah putih. Akibatnya. limpa lantas “membesarkan diri”. Tapi juga sel darah putih dan sel darah merah saya.Dia lantas ingin merawat saya semaksimal mungkin agar tidak seperti bapaknya. digunakan standar minimal 150. Yang disebut sampah di pembuluh darah. dan platelet yang “sehat”. darah mengalir balik ke limpa. masih bisa “dilaminating” sekali lagi. Saya sendiri juga kepingin agar tidak seperti ibu saya. jika tidak dihancurkan. Setelah itu. Di negara lain. memproduksi sel darah merah dan darah putih tipe tertentu. darah akan kekurangan sel darah merah. Normalnya 150. Tapi. Karena jumlahnya di luar batas normal. Tapi. aliran darah ke liver saya (baca: penderita sirosis) tidak bisa lancar.000 sampai 400. Makin banyak darah yang harus ditampung. Namanya diembolisasi. Prof Shao lebih prihatin pada kadar platelet atau trombosit saya yang tinggal 60. Dia akan sangat kecewa kalau saya sendiri tidak peduli dengan badan saya. Oh. Apalagi dari hasil pemeriksaan total. Padahal.000. Saya minta waktu berpikir untuk memutuskannya. Cukup untuk mengulur waktu beberapa bulan. Bagi limpa. Hasil “laminating” yang dilakukan di Singapura terhadap saluran pencernakan saya yang sudah penuh varises sangat baik. Melihat rendahnya kadar platelet saya.” katanya. orang akan gampang terkena infeksi dan yang kekurangan platelet akan mudah mengalami pendarahan. serta menyingkirkan sampah-sampah di pembuluh darah. “Laminating” itu kurang lebih bisa bertahan setahun. Untuk menormalkan kadar sel-sel darah saya itulah. limpa pun memperlakukan sel-sel darah yang numpuk itu sebagai sampah yang harus disingkirkan.di bawah iga kiri. Tugasnya melawan infeksi. luberan sel darah yang berlimpah itu memang menyulitkan. Mungkin dikurangi sepertiganya dulu. limpa Anda sudah membesar tiga kali ukuran normal. 49 by Moezhanks . “Limpa dipotong?” kata saya dalam hati.” katanya. “Mungkin saya akan mengecilkan limpa Anda. platelet akan turun lagi. jika dihancurkan semua. Prof Shao memutuskan perlunya mengecilkan limpa saya. antara lain.” ujarnya. Mengapa limpa harus dikecilkan? Limpa adalah organ kecil -yang dalam keadaan normal hanya seukuran genggaman kita. adalah sel-sel darah yang rusak. Tiga-tiganya bisa mengakibatkan kematian. bukan hanya kadar platelet saya yang turun. ya saya lupa menjelaskan bahwa sebenarnya. Dipotong seberapa banyak? “Sekarang.000 per milimeter kubik darah.

Limpa memiliki tiga saluran darah masuk utama. Sebab. Maka. Anggaran Kaltim yang besar karena sumber alamnya yang melimpah jangan habis untuk kebutuhan konsumtif.000-an. Kalau tarif listrik dinaikkan. proses perizinannya ternyata sangat panjang. Kaltim tidak bisa berharap banyak pada PLN. darah yang tidak bisa masuk liver akan meluber dan menekan ke mana-mana. yang utama lagi memakan batin saya. dan hasilnya bagi PLN juga begitu nyata (dari perusahan rugi akan langsung jadi laba). Setamat SMA. Sudah jadi prinsip saya untuk tidak memanfaatkan keberadaan saya di pers untuk menekan seseorang. saya bisa menyaksikan apa yang terjadi di kolong yang sering digenangi air. Sebagai tamatan aliyah. Tapi. tapi hidup di darat. Karena lantai papannya tidak cukup rapat. tapi juga energi saya. saya tidak pernah memanfaatkan kedekatan saya itu untuk urusan tersebut. Saya ingin mendapatkan opini pembanding. Itulah suara biawak berkelahi. saya kenal direksi PLN-nya. Untuk menghasilkan satu watt. Kalau tahap itu sudah terjadi. Pemadaman terjadi bergilir. selama liver saya sirosis. PLN sudah tahu bahwa hari itu perusahaannya akan rugi Rp 1. diperlukan biaya Rp 2. Setahun PLN Kaltim bisa rugi hampir setengah triliun rupiah (2005). limpa akan mati sepertiga. mulai gubernur sampai DPRD. Kalau dijual Rp 750 per watt kepada masyarakat. Dan. sekali lagi. saya memang ke Kaltim. antara lain. Tentu pemotongan limpa itu tidak bisa dilakukan tiga kali karena sama artinya dengan membuang limpa sama sekali. sejak sebelum matahari terbit pun. limpa saya masih bisa dipotong lagi. Tujuan satu: agar bisa kuliah. bisa mampir ke Singapura. Padahal. termasuk ke limpa. Biawak adalah binatang seperti buaya. Padahal. dua tahap pemotongan limpa tersebut dianggap cukup untuk mengulur waktu sampai lima tahun. Mematikan salah satu di antara tiga saluran itulah. Kelak. Dua tahun baru beres. Memang. Banyak kampung miskin terbakar karena saat lampu mati. 50 by Moezhanks . Seperti yang saya lakukan di Jatim. melelahkan. Saya tetap minta waktu memikirkannya. saya memulai karir sehingga saya anggap Kaltim seperti daerah kelahiran sendiri. yang terjadi adalah demo. saya sering melihat ke bawah. Dari Kaltim-lah. yang biaya produksi listriknya hanya Rp 500 per watt. Meski tujuannya begitu hebat. Sering ada suara “krosak” di kolong itu yang lebih menarik perhatian saya daripada mata kuliah.Ini memang bukan langkah permanen. yang akan dilakukan Prof Shao. Di Jawa saya tidak mungkin bisa masuk universitas karena tidak punya biaya.250 per watt. Sewaktu kuliah. dan menjengkelkan. Dan itu akan membuat pletelet juga turun lagi. Pemda setuju asal saya mau jadi direktur utama perusahaan daerah di sana. Pembangkit-pembangkit listrik PLN sangat tidak efisien. Tahun-tahun belakangan Kaltim mengalami krisis listrik. kenal wakil presiden. Saya masuk Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel cabang Samarinda. dan bahkan presidennya. mereka harus menyalakan lilin. Di Kaltim. ikut kakak sulung saya. Saya kembali ke Indonesia lagi agar. saya memang tidak mendapat ilmu baru dari mata kuliah yang sudah saya pelajari semua di kelas satu SMA itu. Kalau salah satu saluran itu dimatikan. masih ada satu di antara dua saluran utama yang bisa dimatikan lagi. agar mau menyisihkan sebagian anggaran untuk investasi di listrik. Kampusnya di sebuah rumah panggung di Jalan Panglima Batur IV. PLN tidak bisa banyak berbuat karena selalu rugi. Jadi. Artinya. lilin itulah yang sering mengakibatkan kebakaran. Saya harus kembali ke tanah air karena sudah terlanjur komit untuk mengatasi kelangkaan listrik di Kaltim. masuk univeristas masih gampang dan murah. kalau limpa sudah membesar lagi. rakyat hanya dikenai tarif Rp 750. PLN langsung untung. Nah. Proyek energi yang kelihatannya mulia itu ternyata juga memakan bukan hanya dana saya. logikanya begitu baik. Membangun PLTU yang efisien. kelak limpa membesar lagi? Ya. saya meyakinkan pimpinan-pimpinan daerah di sana. kenal menteri-menteri di bidangnya. setelah dipotong pun.

mengapa tidak segera dicabut. Saya baru mau masuk ke listrik kalau urusan ini sudah selesai. ujung-ujungnya. ya. siapa yang mau masuk jadi investor listrik. Kalau Dahlan saja mengalami hal seperti ini. terutama risikonya. dia juga ikut dalam rapat tingkat tinggi yang benar-benar tinggi itu. Padahal. PLN tidak melanggar peraturan. Maka. tidak boleh mikir. Juga rumah besar saya: Indonesia. Kecil yang saya maksud adalah dari sudut pandang negara. saya tidak bisa lari dari tanggung jawab itu. bagaimana yang lain?” katanya. masing-masing dengan birokrasinya sendiri: kementerian energi. Wapres mengumpulkan menteri dan direksi PLN untuk membahas kasus Kaltim itu. Ini bukan karena saya mengadu. Menyesal luar biasa. Tapi sudah tidak bisa mundur lagi. kementerian BUMN. Meski kondisi badan saya sudah sedemikian parah. Pasti pemerintah di segala lapisan akan senang. ketika setahun mengurus izin ini tidak berhasil (karena sejumlah peraturan yang tidak mengizinkan PLN menandatangani kontrak jangka panjang). Ini gara-gara saya terlalu sering ke negeri itu dan melihat bagaimana antusiasnya pemerintah kalau ada investor datang. Saya malu proyek sekecil itu saja sampai dibahas di forum yang begitu tinggi. Saya menyesal telah berinisiatif mengatasi kelangkaan listrik di Kaltim tersebut.” kata bos Bank Mega yang namanya meroket tahun-tahun terakhir ini. Tentu sebenarnya juga bukan kecil bagi saya. sebagian lagi sebagai ungkapan terima kasih atas inisiatifnya. kan sama artinya dengan menyumbang Rp 500 miliar tiap tahun kepada negara? Bayangan saya pemerintah akan membuat segalanya lancar. Rumah saya sendiri: Kaltim. saya tidak boleh peduli. Bos Bank Mega yang juga bos Trans TV itu yang prihatin dengan keluhan saya. Bahkan. saya setuju untuk kompromi. Tepatnya izin dari tiga lembaga. Tembok tersebut terlalu tebal. bisa jadi. Kalau toh sudah telanjur ada karena masa lalu yang kelam. Tapi kalau tembok ini tidak dijebol. bank tetap mensyaratkan kontrak jangka panjang. Yang tidak saya pahami adalah mengapa ada peraturan yang menghambat kemajuan seperti itu.Pernah suatu saat saya diajak ke Tiongkok oleh Wapres Jusuf Kalla. saya kenal Menteri Soegiharto. lagi-lagi kami harus mengurus izin kontrak panjang dengan PLN. Memang ada juga salah saya. kepala saya juga pecah ketika membenturnya. yang kebakaran ini bukan rumah tetangga. Di PLN hanya sedikit masalah. saya akan dicatat sebagai penjebol tembok kebuntuan listrik itu. Saya memahami aturan bank seperti itu. Ini besar bagi saya. Saya harus pulang ke Indonesia untuk terus mengurus semua itu. tapi karena Chairul Tanjung yang berinisiatif. Risiko pada keuangan saya dan pada kesehatan saya. Saya terlalu terpengaruh suasana di Tiongkok. Yakni cukup mendapatkan kontrak tahunan saja dari PLN. “Ini memang rusan kecil bagi Anda. tidak boleh kesal.000 kaki di atas permukaan laut. Kalau proyek tersebut berhasil.” tambahnya. Tapi. Saya juga memahami PLN tidak boleh melanggar aturan. Indonesia yang begitu rumit peraturannya. saya buntu di kantor menteri BUMN. “Ini harus selesai. Tinggi level dan tinggi pula tempatnya. Apalagi ada bank yang bersedia memberikan pinjaman meski kontraknya hanya tahunan. Di atas pesawat. Kesalahan kedua saya. Saya ingat kata-kata Prof Shao bahwa walau terjadi kebakaran di rumah tetangga pun. Tapi. Di dalam pesawat yang berada 36.” kata saya kepada Chairul Tanjung. Memang. Persoalan tersebut membuat saya harus mengabaikan peringatan keras Prof Shao bahwa saya tidak boleh terbang. “Urusan kecil begini kok panjang sekali. 51 by Moezhanks . dan PLN. Namun. Ternyata. tidak boleh lelah. “Saya saja tidak mau. Kalau kontrak tahunan. Sebagian karena malu. tidak boleh marah. Bayangan saya juga begitu sewaktu saya memiliki semangat untuk ikut mengatasi krisis listrik di Kaltim. Di kementerian energi saya tidak punya masalah.

“Tapi.Tidak pantas saya sebutkan di sini apa usaha yang saya lakukan untuk mengatasi kebuntuan di kantor (Soegiharto. Atau kalau sedang sikat gigi. ada juga yang baru perdarahan ketika platelet-nya sudah 50. “Setiap orang tidak sama. “Ada yang pada angka 60 seperti Anda sekarang sudah perdarahan. berturut-turut banyak izin yang ditandatangani PLN untuk investor-investor lain.” tambahnya. 52 by Moezhanks . Ini malah disuruh membuang. saya sudah tidak senang. Yang penting. Tiongkok. Lambatnya proses ini telah membuat biaya investasi membengkak luar biasa. akhirnya sang menteri mengeluarkan surat persetujuan. benarkah limpa saya harus dipotong? Mengapa dokter di Singapura sama sekali tidak pernah menyinggung soal limpa? (Bersambung) Ganti Hati 19 – Waktunya Tiba.” katanya. Kapan platelet saya akan turun sampai angka 50? Berapa minggu lagi? “Tidak bisa diperkirakan begitu. Dalam perjalanan pulang untuk mengurus listrik itu. orang bisa hidup tanpa limpa. Dan masih akan turun terus. saya bisa mampir ke Singapura. infeksi di tempat limpa dipotong.” tambah dokter di Singapura itu. Bisa saja tiba-tiba drop jadi 50 atau bahkan di bawahnya. Dia juga setuju kalau sampai platelet turun terus. Sudah lebih 15 tahun.” tambahnya. tentang rencana pemotongan limpa saya? “Kalau tujuannya untuk menaikkan platelet. kan lantas tidak terlalu tahan terhadap infeksi. dokter Singapura ternyata tidak setuju kalau itu dilakukan dengan cara memotong limpa. “Membuang limpa sama sekali malah lebih safe. Sebuah persetujuan yang sudah sangat mahal.” jawabnya. Memang. memang OK. Makanya saya tanya ke dokter di Singapura itu. Yakni. Pemotongan limpa. insya Allah Kaltim mulai bisa mengatasi kelangkaan listrik. “Singapura sudah lama tidak mau lagi memotong limpa. sangat berbahaya. infeksi di selaput dada. Ini juga sama dengan penjelasan Prof Shao.” katanya.” katanya lagi. tapi juga akibatnya. Waktu itu saya juga tanya ke Prof Shao: Pada angka berapa perdarahan itu akan terjadi? Katakanlah platelet saya (yang seharusnya minimal 150) sekarang tinggal 60. Meski setuju platelet saya harus dinaikkan. Atau telinga. ketahanan tubuh saya kian habis dan saya akan mengalami perdarahan dari setiap lubang yang saya miliki. Mendengar kata “limpa dipotong” saja. Saya ingin bertanya ke dokter di Singapura. Tapi.” katanya. pembuangan limpa itu disebut dengan splenectomy. bukan saja karena prosesnya. Liver baru saya mungkin juga akan ikut berbinar-binar. Uh! Dalam istilah medis. menurut dokter Singapura itu. “Tidak apa-apa.” ujarnya. “Perhatikan saja lubang hidung Anda. Tiga-empat bulan lagi (akhir tahun ini). Bisa timbul infeksi di tiga tempat yang akan mengakibatkan kematian. Orang bisa hidup tanpa limpa. ketika Menggigit Pisang Berlumur Darah 13 September 2007 SETUJUKAH dokter Singapura dengan pendapat Prof Shao dari Tianjin. Ini soal krisis listrik yang harus diatasi. sebelum dicopot) menteri BUMN. Tetapi.” jawab dr Shao. Fungsi limpanya bagaimana? “Diganti obat. Saya dengar setelah soal Kaltim itu selesai. “Dibuang saja sekalian. ini sudah bukan lagi soal untung rugi.” tambahnya.

“Tentu saya tahu. Dua-duanya masuk akal. urusan perusahaan daerah Kaltim. “Siapa bilang itu kuno?” sergahnya. “Di Singapura dokter tidak mau lagi memotong limpa.” katanya. Saya ingat usul-fikh ahli sunnah wal jamaah: Sesuatu yang tidak bisa dipakai semua. yakni saat pesawatnya mendarat dari Shanghai. Jawabannya tegas. Nanti. Tinggal saya yang harus memilih lebih percaya kepada yang mana. Tapi. Saya sudah berjanji kepada Dirjen minyak dan gas yang baru untuk mengajaknya ke Tiongkok. Kepada ahli penyakit liver ini langsung saja saya semprotkan pertanyaan berdasar pendapat dokter di Singapura. karena tengah malam nanti harus menjemput Dirjen Migas di bandara kota itu. Maka saya pun memutuskan akan titip nasib ke Prof Shao. dan urusan menepati janji. Untuk melihat bagaimana negara itu bekerja keras mencukupi kebutuhan minyak. akan 53 by Moezhanks . Padahal. Maka saya tidak begitu saja mengambil keputusan membuang limpa.00. Segera saya gunakan ilmu mantiq saya: sudah berapa kali Prof Shao melakukan pemotongan limpa? “Sudah banyak kali. Tapi. Biar berkurang. Indonesia.” katanya. Saya bisa menerima sepenuhnya. meski singkat. Hari itu kebetulan Dirjen Migas punya acara di Shanghai. Dua-duanya bisa diterima secara medis. juga tahu cara menghindarinya. Ketika saya tanya soal risiko infeksi di tiga tempat yang sangat membahayakan. Tapi. Saya melihat betapa semangatnya orang di Daqing (Provinsi Heilongjiang) dan di Panjin (Provinsi Liaoning) menggali minyak. Ini soal pilihan. sangat masuk akal. mantap. “Sudah lebih dari 500. Giliran saya sendiri yang harus memutuskan. rasanya. Di sana cara itu sudah dianggap kuno. dan percaya diri. dalam kesempatan saya ke Tiongkok lagi. Kebetulan Dirjen Migas yang baru juga berambisi mengatasi hal itu. “Saya minta izin ke Dalian dulu. Saya janjian bertemu di Kota Dalian. Itu. Penerbangan dari Tianjin ke Dalian memakan waktu satu jam. Dengan alat-alat yang lebih sederhana mereka bisa menghasilkan minyak lebih banyak. *** Saya memang harus ke Tiongkok lagi. Maka. “Justru membuang limpa itu yang kuno sekali. Paginya saya masih di kota Tianjin. sore itu saya harus ke Dalian. saya ingin mengajaknya mampir ke Liaoning dan Heilongjiang. Minyak yang didapat pun lebih jelek dibanding minyak mentah Indonesia. tentu. Ada beberapa urusan. Rumah besar saya.” jawabnya mantap. Sudah lama saya gemas. Tidak mungkin. sudah. Terakhir. untuk bertemu Prof Shao.” kata saya. Di bandara kota itu pukul 24. Tapi. Saya sering ke ladang minyak di Tiongkok. Ya. urusan pabrik steel conveyor belt-nya perusahaan daerah Jatim. pada 2005.”’ katanya. kalau masih sempat. dia tidak mengelak. Urusan Jawa Pos sendiri. tapi masih ada sisanya. mengapa Indonesia sebagai negara penghasil minyak justru menderita ketika harga minyak dunia membubung? Sampai harus menaikkan harga BBM yang menghebohkan itu? Mengapa tidak justru menikmatinya? Ini semua karena produksi minyak Indonesia terus menurun dari tahun ke tahun. saya juga berpikir: Masak Prof Shao tidak tahu itu. “Banyak itu berapa? Berapa puluh?” tanya saya lagi. semangat untuk menggalinya luar biasa. sumur-sumur minyak di sana lebih dalam dan iklimnya juga lebih beku. Saya ingin membantunya meski saya hanyalah rakyat biasa. jangan dibuang semua. sudah berada di bawah satu juta barel per hari. Saya pilih dipotong saja. saya akan menemui Prof Shao untuk ’menguji’-nya. Itu cara 60 tahun yang lalu. Suaranya meninggi. Sudah sangat tidak layak menjadi anggota OPEC.Penjelasannya.

Berkumur lagi dan berkumur lagi. Jadi. Setelah ditandatangani istri saya. Yakni. Mengapa? Karena ruang operasinya baru saja dirombak. Tapi.” kata saya tidak ingin menggundahkan hatinya. Saya lari ke toilet. kita nggak tahu maksudnya. setengah melucu. Saya terus tersenyum dan memberinya semangat untuk terus membangun dunia minyak.” katanya. Ternyata Prof Shao tidak tersenyum.” kata saya. Saya tahu tekadnya kuat sekali untuk memperbaiki perminyakan Indonesia. hilang merahnya. Malam hari balik lagi ke Harbin. saya tahu dia baik. atau besoknya.” kata saya dalam hati. Tiba di Dalian sudah agak malam. Satu jam kemudian saya berkumur lagi. Menarik panjang napasnya. Istri saya tidak bertanya banyak. “Wo bu guan ni.” gurau saya kepada Prof Shao. “Tidak bisa sekarang. Hari itu baru selesai. Harus 8 Oktober. Berkumur. Tibalah sudah waktu saya. Saya langsung minta formulir persetujuan operasi dan memfaksimilikan ke Surabaya. Dengan datangnya persetujuan istri saya. Juga gondoknya kepada saya meningkat. “Ini persetujuan istri saya. dikirim balik ke Tianjin. Ketika saya menggigit pisang.” kata saya. Saya lupa kalau dia komunis. doa di balik tekenan itu yang penting. “Apa?” tanyanya. tidak ada darahnya. saya mengira operasi pemotongan limpa bisa dilakukan hari itu. Pagi-pagi Dirjen kembali ke Beijing untuk balik ke Indonesia. “Itu tanda tangan istri saya. Dirjen serius sekali melihat semua itu. Merah airnya. Saya menundukkan kepala sesaat. kali ini seperti tidak percaya. “Saya bisa usahakan sekarang. tidak bisa tanggal 6 Oktober 2006.” kata saya ingin setengah memuji istri saya. “Ini apa?” tanyanya melihat tanda tangan istri saya yang tidak lazim untuk mata orang Tiongkok. Ujung-ujungnya luluh juga hatinya. Saat menyalami kedatangan Dirjen Migas. Dia sudah sering mengancam untuk tidak mau lagi mengurus saya. Bentuknya tidak penting. “Kalau nanti ada teman Jawa Pos membawa formulir ke rumah. Dan. yang tidak tahu apa itu doa.” katanya. Formulirnya dalam bahasa Mandarin. 54 by Moezhanks . saya tidak boleh menjadi pasien pertama yang menggunakannya. Harus ada persetujuan istri Anda. Saya memang sudah beberapa kali operasi kecil. Ah. Pagi-pagi kami bermobil sejauh 400 km ke Panjin. Memikirkan apa yang harus saya perbuat. “Lakukan sekarang!” kata saya begitu bertemu Prof Shao. dan karena itu saya antusias membantunya.terbakar. tanda tangani saja. saya tidak menceritakan apa yang terjadi atas diri saya. untuk mengeluarkan benjolan yang ada di bawah kulit di beberapa bagian di tubuh saya. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. sisa pisang itu berlumur darah! “This is the time! Wo de shi jian dao le. Malamnya terbang ke kota Harbin. Tapi. “Saya akan operasi kecil. “Mengapa?” tanyanya lagi. Saya pun bertekad tetap memenuhi komitmen saya. Sudah waktunya makan malam.” kata saya. “Potong saja limpa saya.” katanya.” tegas saya. Ternyata harus tiga hari kemudian. Saya lantas menelepon istri saya. Pagi-pagi bermobil 500 kilometer ke kota Daqing. Saya terbang ke Tianjin untuk pemotongan limpa saya. Sorenya bermobil lagi ke kota Shenyang. Saat makan malam itulah saya kaget. “Mereka ini benar-benar seperti koret-koret (mengais sisa-sisa) minyak.

Tapi. suhu badan saya kembali normal dan stabil. Saya tidak pernah membayangkan operasi pemotongan limpa ini akan gagal. Langsung ke bandara untuk pulang ke Surabaya. 55 by Moezhanks . Maksud saya. pada hari-hari pertama. Tabik dengan cara Tiongkok. kini ganti saya yang amat terharu. kali ini agak memerah. “Sekarang Anda sudah stabil. Kebalikannya. Saya ingin operasi itu dilakukan tanggal 6 karena pada tanggal 7 bulan berikutnya ada acara penting di Indonesia: menandatangani persetujuan proyek PLTU Kaltim dan peresmian gedung Expo Jatim. Itulah sebabnya. Saya mau istirahat. Menunggui Anda. (Bersambung) Ganti Hati 20 – Baru Tahu Mengapa Dokter Singapura Pilih Potong Limpa Saya 14 September 2007 ANCAMAN infeksi yang serius setelah pemotongan (embolisasi) limpa. “Sudah lima hari saya belum pulang. Rasa sakit setelah pemotongan itu lebih hebat daripada transplantasi liver. “Semua gara-gara Anda. sebulan kemudian saya sudah akan bisa keluar dari rumah sakit. sebagaimana dijelaskan Prof Shao. Wajahnya masih tidak terlalu cerah. perawatan setelah pembuangan limpa akan lebih mudah. Tiga minggu berikutnya harus tetap di rumah sakit. seharusnya masih di atas tempat tidur di rumah sakit di Tianjin. “Dua hari saya flu. Begitu tinggi tanggung jawabnya. dia merasa risi. Keringat dingin memang memenuhi badan saya. barulah Prof Shao menemui saya lagi di kamar rumah sakit. saya ingin operasi itu dilakukan pada 6 Oktober. memang tidak dianggap enteng oleh Prof Shao. Saat itulah saya mengerti mengapa banyak dokter di Singapura memilih membuang saja limpa saya daripada memotongnya. tanggal 5 sebulan kemudian saya sudah bisa keluar dari rumah sakit. Perawatan setelah pemotongan ternyata begitu sulit. Begitu besar perhatiannya.” tambahnya. Seminggu kemudian. Tidak secantik ketika dalam keadaan segar. Lalu seminggu tidak boleh turun dari tempat tidur.” ujar dr Shao. Apalagi. itu kan sudah di luar tangung jawab dokter yang membuangnya. suhu badan saya. Saya tidur di rumah sakit.” katanya segera. Matanya yang biasanya tajam. Juga lebih lama: seminggu penuh. Setelah operasi. saat upacara tersebut saya terlihat pucat. dengan mundurnya tanggal operasi.Padahal. ketika saya di panggung. Tahu sedang saya perhatikan. seperti orang sakit.” pamitnya. Lalu. Bulu matanya yang hitam seperti bendera setengah tiang. Namun. di kantor saya. Kalau sebelum operasi saya lihat dia sering berlinang air mata.” kata saya dalam hati. waktu recovery saya tidak cukup. Saya juga tabik tak hentihentinya. naik sangat tinggi: lebih dari 38 derajat Celsius. Tiga hari setelah libur. Selama seminggu itu pula Prof Shao dalam ketegangan. “Mana ada dokter di negara lain yang mau menunggui pasien sampai lima hari tidak pulang. 8 jam saya tidak boleh bergerak. Hari itu. Penampilannya memang agak lecek. Bahwa setelah limpa dibuang akan merepotkan pasien seumur hidup. Tanggal 7 sudah menandatangani perjanjian PLTU Kaltim dengan konsorsium bank dan meresmikan gedung Expo Jatim. Saya minta maaf berkali-kali karena telah membuatnya tidak bisa pulang. Ini untuk mewakili ucapan terima kasih saya kepadanya yang tidak terhingga. semua bisa diatasi.

Andalah dokter terbaik di muka bumi ini. Lalu saya menunjukkan hasil lab. Bait kedua saya manfaatkan untuk ucapan terima kasih. dan gondok bercampur jadi satu.” katanya. ada satu data yang saya sembunyikan. Maksud saya yang akan bisa meluluhkan hati Prof Shao. “Jadi.” katanya seperti ingin bergurau.” tulis saya di pembukaan surat. Mudah-mudahan masih terselip raya sayang di dalam campuran itu.Sekali lagi saya minta maaf berulang-ulang. tekanan darah juga normal. badan saya sudah terasa enak. Tidak pernah dikemukakan dengan lepas. meski fakta itu memang saya pakai merayu. Saya juga mencoba lagi kemampuan ilmu mantiq yang saya pelajari di aliyah dulu. Setelah menarik napas panjang. saya minta menerjemahkan surat yang saya buat. Guraunya selalu ringan-ringan saja. Kami terdiam lama. Wajahnya merah serius. Saya tahu tidak akan diizinkan pulang. Langkahnya cepat. Padahal. Bahkan. “Tapi.” jawabnya. Lalu minta maaf. tapi yang terbakar rumah sendiri.” kata saya. Lalu ingat lagi acara PLTU Kaltim dan gedung Expo Jatim yang sudah menanti. Tapi. Tertutupi oleh jabatan tingginya dan mungkin juga kekomunisannya. Beberapa dokter muda yang mengikutinya sampai agak tertinggal di belakang. “Semua itu benar. “HB saya 13. Prof Shao seperti tidak membaca alinea pertama. Dia menatap wajah saya dengan tatapan multi-arti: marah. “Sudah saya duga. Lama dia tidak berkata-kata.” katanya. Mungkin merasa kok saya seperti sok tahu kedokteran. anak saudara angkat saya Mr Guo. Baru pada bait ketiga saya ’memperkosa’-nya. ketegangan lima hari yang mencekam dirinya hilang. HBV-DNA Anda masih 15 juta. kesal. dia tidak langsung berkata-kata. yang mestinya melakukan kegiatan rutin. Pagi-pagi Guo Qiang. bukan rumah tetangga. Tiga minggu kemudian. saya tidak tahu apa hubungannya antara sakit saya dan HBV-DNA. Ternyata saya telah menyiksanya. Yakni. Saya lihat Prof Shao mulai menitikkan air mata. Guo Qiang saya minta menuliskannya dalam bahasa Mandarin yang indah. setengah memompa dadanya. Dari ekspresi wajah dan body language-nya. Saya tidak mengadaada. seharusnya di bawah 100 saja. tiga hari di rumah tidak bisa menikmati. Prof Shao seperti kian gondok. saya harus pulang. Tidak menduga sama sekali dia merahasiakan itu dari saya. Setengah memuji. Rupanya. Plt saya sudah 120. Rayuan saya ternyata telah diabaikannya. Bersamaan dengan itu flu datang menyerang. dokter-dokter muda yang menyertainya menyerahkan tisu 56 by Moezhanks . Guru besar ternama di bidang liver itu seperti langsung membaca alinea yang ’memperkosa’-nya. “Mana ada dokter yang mau lima hari tidak pulang untuk menunggui pasiennya?” saya menunjukkan fakta. Melihat itu. memasukkan kalimat-kalimat merendah. Kemampuan bahasa Mandarin saya belum sampai pada tingkat untuk bisa dipakai merayu. “Bukankah indikasi-indikasi dalam darah saya sudah menunjukkan bahwa saya kuat terbang jauh?” kata saya memecah kebekuan. Ini soal kebakaran rumah memang. barulah dia mengucapkan kalimat yang bernada putus asa. Pagi itu. Tiba-tiba dia masuk kamar saya dengan menggenggam surat itu. SGPT-OT saya mendekati normal. tapi juga berisi memaksanya agar mengizinkan saya pulang. Sampai-sampai banyak dokter muda yang menunduk. langsung diubah untuk menemui saya. begitu kondisi saya stabil. Bertatapan dengan saya. “Mungkin. Surat itu saya mulai dengan pujian. Saya terpojok.

Saya harus lebih hati-hati. Apalagi. HBV-DNA saya juga menurun drastis. setidaknya saya kini punya kesempatan beberapa bulan untuk memikirkan cara terbaik mengatasi sirosis-kanker saya secara permanen. masih ada obat lain yang lebih mahal. Lalu Prof Shao menarik napas panjang. Termasuk mempertimbangkan untuk transplantasi. Tanggung jawab dan risiko sebagai pimpinan. saya putuskan untuk berbuat ini di depan Prof Shao. ternyata saya belum prima. Tapi. Agar virus yang tidak mungkin lagi dikeluarkan dari liver itu “tidur nyenyak” saja di dalam liver.” katanya melemah. Kini ganti saya yang lebih banyak menitikkan air mata.kepadanya. Lalu muncullah keteguhan dalam hati saya untuk lebih mementingkan tanggung jawab itu. Saya dalam posisi sulit. Nama generik obat itu Octreotide (karena saya tak boleh menyebut nama obatnya). tapi belakangan sebenarnya keluar obat baru yang harus diminum tiap hari. Maka. Seminggu kemudian sudah menjadi 1. Saya sudah hampir menubruk kakinya. Semua itu hanya usaha untuk ulur-waktu. Tidak bisa dicegah. Sakit saya sudah terlewat parah. obat yang saya siapkan nanti harus diminum. Saya pakai kursi roda selama dalam perjalanan pulang. “Bangun”-nya virus hepatitis B akan langsung menyerang liver hingga kelak jadi sirosis. buying-time. Besok paginya. Turun dari tempat tidur dan ingin bergegas mencium kakinya. Prof Shao bergegas mengangkat kepala saya. sebelum potong-limpa itu saya juga sudah dua kali melakukan TACE di Singapura. sudah. Tanggung jawab kepada rakyat Kaltim dan Perusda Jatim. Yakni. Tanggung jawab yang juga tidak kecil. Tapi. Obat tersebut harus disuntikkan tiap 57 by Moezhanks . “Ya. Dia tahu saya tidak pura-pura. Mata saya juga mulai berlinang. dari rumah sakit saya langsung ke bandara. Dia menahan tangis. Sebulan kemudian sudah normal. Juga sudah terhindar dari ancaman tibatiba perdarahan dari lubang-lubang tubuh saya. sebenarnya masih ada jalan agar terhindar dari transplantasi. *** Kian hari kondisi saya kian baik. Demikian juga istri saya. Dengan diungkapkannya data soal kadar HBV-DNA saya. Ini sebagai tanda bahwa saya minta maaf yang dalam. Saya akan izinkan. Kini saya sudah terbebas dari ancaman tiba-tiba meninggal. Juga terhindar dari potong-limpa. Kalau toh obat itu juga tidak berhasil. (Bersambung) Ganti Hati 21 – Yang Pro dan Yang Anti-Transplan Bertinju Sengit dalam Pikiran 15 September 2007 KALAU saja saya dulu peduli sedikit dengan badan saya.5 juta. Katakanlah suntikan interveron yang saya jalani sampai 70 kali (setiap dua hari sekali) itu tidak berhasil “memingsankan” virus hepatitis B saya. Saya terjepit antara keharuan dan romantisme di satu pihak dengan rasa tanggung jawab di pihak lain. mengusahakan pembunuhan atas dua kanker liver saya dengan cara dimasuki alat pembunuh lewat selangkangan saya. tapi sekaligus minta dengan sangat agar diperbolehkan pulang. Robert Lai juga mengusap-usap matanya. Saya tahu semua itu tidak menyelesaikan persoalan.

Yakni. Harga obatnya saja. Yang ini nyuntiknya sebulan sekali. Masak saya sampai harus melakukan itu? Masak saya separah itu? Masak tidak ada jalan lain? Masak tidak akan ada keajaiban? Masak tidak ada obat alternatif? Masak tidak ada dukun atau kiai yang linuwih (punya ilmu lebih)? Tapi. selain kemoterapi. Rekayasa Tuhan? Apakah Tuhan punya hobi merekayasa? Saya lebih percaya bahwa Tuhan akan konsisten dengan sunatullah-Nya. Termasuk mulai mempertimbangkan kata yang mengerikan itu: transplantasi liver. Yang Anticavier saya ketahui dari dokter di Singapura. mau dipotong bagian yang ada kankernya. bagi pasien yang ingin sembuh dan punya uang. Untuk memberikan kesempatan bagi saya memikirkan harus melakukan apa yang lebih mendasar.dua hari sekali selama sembilan bulan. sekalipun oleh dokter yang paling pintar. saya tahunya sudah sangat terlambat.1 juta. Kalau persoalannya hanya sirosis (sirosis kok dibilang “hanya”). tapi mungkin masih bisa diperlambat. di-RFA (radio frequency ablation) atau di-TACE (trans arterial chemoembolization). untuk sekali suntik. “Siapa tahu ada rekayasa Tuhan di situ. Meski bentuknya masih pertanyaan “masak harus sampai transplan?”. saya tetap memakai obat-obat tersebut. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. dokter harus memasukkan sejenis metal berbentuk kail yang punya 58 by Moezhanks . Sayang. Begitu pula kalau masalahnya hanya kanker (kanker kok juga dibilang “hanya”). Waktu itu. Mengolor waktu. dengan memotong bagian yang terkena kanker. Termasuk sunatullah bahwa kalau tidak melakukan imunisasi hepatitis. Dan bahkan ketika sirosis saya sudah berkembang ke kanker. Ke obat tradisional atau ke kekuatan supranatural. Antara satu dokter dengan lainnya memang masih berbeda pendapat mengenai keampuhan obatobat itu. bisa membantu saya buying time. akan menyebabkan pendarahan hebat yang bisa membunuh saya. meski telat. transplantasi masih bisa ditunda. pasti akan menjadi kanker.” kata teman saya. Dan kalau sudah sirosis. saya harus tetap rasional. Baik yang kejawen maupun yang dibungkus religius. kosa kata “transplan” sudah mulai masuk di bawah sadar. Meski sirosis tidak bisa disembuhkan. sehingga tidak mudah untuk mengatasi kankernya. Nama generiknya Thymalfasin atau Thymosin Alpha-1. Kalau sudah kena hepatitis. Semua saya ketahui setelah liver saya menjadi sirosis. Karena itu. Tapi. masih ada tiga cara lain untuk mengatasinya. Baru dua tahun lalu saya mendapatkan informasi tentang obat-obat itu. untuk membakar (mengablasi) sel kanker saya. Sedang dua obat yang lain saya ketahui dari Prof Shao. kata “transplantasi” sebenarnya masih jauh dari pikiran. Misalnya. liver saya sudah “dikeroyok” sirosis dan kanker. tapi itu juga berarti secara tidak sadar kata “transplan” sudah mulai masuk dalam proses internalisasi ke pikiran saya. Banyak teman menganjurkan juga untuk pindah ke jalur alternatif. Satu proses awal dalam sebuah perjalanan spiritual untuk sampai pada kata akhir: siap transplan. Sebab. Sebab. Setidaknya. dia akan punya kemungkinan terjangkit hepatitis. masih ada satu obat baru lagi yang juga harus disuntikkan ke saya selama sembilan bulan berturut-turut. Karena itu. Permukaan liver yang mengeras itu. Tetap menggunakan pemberian Tuhan yang sangat berharga itu: otak. Begitu pula kalau mau di-RFA atau dibakar dengan energi panas. pasti tergoda untuk mencobanya. kalau dipotong. pasti akan mengarah ke sirosis. Selain Octreotide. Itu tidak mungkin karena sirosis membuat permukaan liver saya mengeras. Masalahnya. sekitar Rp 1. Pendarahan di liver sangat tidak mudah untuk dihentikan.

bagian-bagian tubuh saya yang lain ikut rusak dan bisa saja jadi penyebab kematian yang lebih besar. saat itu jumlah darah putih saya terus menurun. kalau problemnya hanya sirosis dan kanker (Huh! Sirosis dan kanker kok masih dibilang “hanya”).beberapa mata kail. menguburkan sel-sel darah merah yang mati. ke mana bangkai-bangkai darah merah tersebut? Itu juga membuat problem sendiri pada tubuh saya. akibat sirosis itu. sehingga terjadi pendarahan. sel-sel darah putih yang baik pun ikut dikubur oleh organ itu. Sel darah merah memang harus mati dalam kurun waktu tertentu dan harus “dikuburkan”. jantung. dokter lantas memasukkan lagi obat lain. persoalannya. Lama-lama. dan limpa saya. akibatnya bisa fatal karena sayatan tersebut menembus sampai ke pembuluh darah besar di paha. Kail itu ditembuskan ke dalam liver melalui perut. Saat itu tinggal 60-an. Padahal. saya sudah tak bisa bertahan dari infeksi. obat kemonya tidak diinfuskan seperti umumnya kemoterapi. Karena darah putih yang sangat kurang itu. Tindakan medis tersebut memakan waktu kurang lebih dua jam. sejenis sinar rontgen. Cara itu tentu sangat membahayakan saya karena mata kail tersebut harus lebih dulu menjebol permukaan liver saya. Kalau sampai tahun lalu. Kalau saya biarkan. Limpa saya saja sudah membesar. melainkan diinjeksikan langsung ke sel kankernya melalui selang kecil panjang (kateter) yang dimasukkan melalui pembuluh darah besar di pangkal paha (arteri femoral). Darah putihlah yang menguburkannya dengan cara “memakan”-nya. karena limpa saya terus membesar. kerusakan pada bagian tubuh yang masih baik akan terus terjadi. Itu sudah termasuk mencabut kateter di pangkal paha saya dan membalut kuat-kuat bekas sayatan yang di paha. Pekerjaan mengubur dan menghancurkan bangkai sel-sel darah merah itu dikerjakan di limpa. antara lain. diharapkan sel-sel kanker saya akan kelaparan dan tak lama kemudian mati. Seharusnya kadar darah putih saya minimal 200. darah putih berfungsi. Tapi. Jadi. Bedanya. Cara itu pada prinsipnya sama dengan kemoterapi. yang sudah ikutan rusak adalah saluran pencernaan. melalui kateter yang sama. Tindakan itu jelas bisa menyebabkan liver mengalami pendarahan. dan paru saya juga segera rusak. Sementara bangkai sel-sel darah merah makin bertambah. sebelum masuk ke sel kanker. platelet saya 59 by Moezhanks . diputuskanlah untuk membunuh kanker saya dengan metode TACE. transplantasi juga masih bisa ditunda dengan cara di atas. kateter itu lantas didorong masuk sampai ke arteri (pembuluh darah yang membawa darah bersih dan sari makanan dari jantung) yang di hati. Makanya. Ini perlunya untuk menutup akses makanan ke sel-sel kanker itu. Tidak pecah pun. kalau pinggang saya kena bola atau kena sodok. Namun. Limpa saya itu kian hari masih akan terus membesar. Dengan begitu. Jadi. saat itu. empedu. saya akan sangat gampang terkena virus. limpa bisa pecah: mati. Dengan bantuan fluoroscopy. untuk memblokir cabang-cabang arteri di liver yang melewati sel kanker saya. Selama hampir semalam saya tidak boleh turun ranjang karena khawatir luka sayatan itu terbuka. Daya tahan tubuh saya sangat menurun. barangkali ginjal. Karena itu. Kalau turun 10 poin lagi. Kalau itu terjadi. Setelah obat kemonya menembus sasaran. Bahkan. Sudah tiga kali lipat lebih besar daripada limpa orang normal karena darah yang tidak bisa lancar masuk ke liver mbendal (terpental) masuk ke limpa. limpa yang membesar membuat darah putih saya menurun. selaput perut. Padahal.

Tim yang pro-transplan mengemukakan. Atau. Atau. kalau misalnya kankernya sudah sampai di vena porta (pembuluh darah balik yang utama di liver). Satunya lagi yang pro-transplan. Secara tidak formal.” kata pro-transplan. darah-darah yang mbendal itu juga memenuhi saluran percernaaan saya (varises esofagus). Misalnya. Sehingga. Dari sekadar tamu yang sedang mampir menjadi penghuni utama. Bahkan. ketika memulai sembahyang harus mengulangi takbir berkali-kali? Mengapa ada orang yang mudah menangis ketika berdoa? Mengapa ada yang tidak bisa menangis? Gejala agamakah? Gejala psikologiskah? Saya bukan ahli psikologi. Tapi. Saya ingin mendapat pertimbangan yang arahnya berlawanan. ketika membran selaput dada sudah kena infeksi. Bukan secara rasional-teknis-medis. Dan “kubu antitransplan” di tim saya juga tidak tahu mengapa Cak Nur gagal. saya memang membentuk dua tim. Kuat secara psikologis. Akhirnya. Kecuali liver saya segera baik. cuma ada satu jalan: transplantasi liver. status kata “transplan” pun meningkat dalam pikiran saya. sewaktu-waktu saya terancam mengalami pendarahan dari mana saja: dari mulut. hanya karena terkena benda tajam seperti keripik atau tulang ikan atau roti kering. bahkan dari lubang kemaluan. Karena itu. bulatlah tekad saya: ganti liver. bisa saja karena kondisi Cak Nur sendiri yang memang sudah lebih parah daripada kondisi saya saat ditransplan. untuk itu. saya kalahkan. “Bukankah terlalu banyak contoh transplan yang gagal?” tambahnya. Saya bisa mati hanya oleh satu tulang ikan yang amat kecil. hidung. sudah pasti pertimbangan yang lebih didominasi perasaan. memang transplantasi Cak Nur gagal. Seperti yang sudah saya singgung sebelum ini. lalu melukai dan menusuk balonbalon itu.juga terus menurun. telinga. Juga bukan ahli agama. saya pernah takut makan ikan. Tapi. mungkin juga akan lebih sulit. ketika air sudah memenuhi rongga perut (ascites). Ada yang lebih berbahaya lagi. Kegagalan transplantasi yang dilakukan tokoh Nurcholish Madjid (Cak Nur) sungguh menjadi alasan pembenar yang kuat sekali bagi kubu yang tidak setuju transplantasi. Artinya. Semua itu gara-gara liver yang sirosis. mungkin telanjur sangat parah. Maka. “Pak Dahlan pun. Takut tulang-tulang kecilnya masuk ke tenggorokan. Setiap saat bisa pecah. Atau. kalau gagal gimana?” tanya kubu yang anti-transplan di tim saya. mengapa banyak juga yang sulit khusyuk? Sampai-sampai. Jadi. saya sering merenungkan (yang sampai sekarang belum sampai pada kesimpulan) soal yang rumit dan peka ini: khusyuk itu gejala religi atau gejala psikologi? Mengapa ada orang yang mudah khusyuk? Tapi. Satu yang punya pendapat jangan transplan. Virus yang munculnya hanya dalam kasus transplantasi. Dan. “Tapi. Lalu. proses kerusakan di organ lain ternyata tak bisa saya hentikan. meski mungkin saya bisa membunuh sel-sel kanker dengan TACE dan berhasil memperlambat proses kerusakan total liver oleh sisrosis. Saya sudah biasa menghitung komposisi psikologis dan rasionalitas dalam setiap mengambil keputusan. Kita tidak tahu pastinya. 60 by Moezhanks . Tapi. penyebabnya kan jelas: virus Citomegali. dindingdindingnya berubah jadi balon-balon berisi darah. kalau ginjal dan paru sudah ikut rusak.

Saya pernah disekolahkan 61 by Moezhanks . Dengan segala risikonya.” kata saya. tali ring menyelamatkannya: Tapi. Dari situ baru kami tentukan tempatnya. apakah kita harus membiarkan Pak Dahlan selama lima tahun menjalani kehidupan dengan kualitas yang buruk? Harus selalu dikemo. “Saya mantap dengan transplan. tidak bisa makan enak. kita sudah tiba pada kesimpulan transplantasi akan gagal. juga tidak boleh. Saya sudah terbiasa. Satu proses untuk melakukan pembobotan dan penilaian atas semua pilihan. Berburu Banyak Ikan Kutuk 16 September 2007 SETELAH hati mantap melakukan transplantasi.Tapi. Apakah tidak ada bibit kanker yang akan mbalik ke liver baru? Apakah bibit virus hepatitis B yang sudah ikut beredar di darah tidak menjangkiti liver baru? Lalu jadi sirosis lagi? Jadi kanker lagi? “Katakanlah setelah transplan masih bisa hidup lima tahun lagi. keluar-masuk rumah sakit. kedekatan budaya. Tapi. dan ketepatan rumah sakitnya. kubu “anti-transplan” di tim saya masih punya alasan lain. Lalu. Bertubi-tubi ayunan tinju dihokkan ke wajah tim yang pro-transplan. Ada tiga yang harus dipertimbangkan. Keheningan terpecah oleh suara salah satu tim pro-transplan. tidak bisa bekerja dengan baik? “Itukah hidup? Untuk apa hidup kalau kondisinya harus tersiksa seperti itu?” serang tim pro-transplan tibatiba. Sampai mau terlempar dari kanvas.” katanya. Kemantapan tekad pasien akan menjadi kunci suksesnya. diTACE. Pemenang sudah harus ditentukan sebelum salah satunya KO. bel sudah menunjukkan bahwa waktu sudah habis. “Memang peran pasien sendiri amat menentukan. Akan bisa bertahan hidup berapa tahun lagi?” katanya seperti sedang mulai memberikan pukulan tinju kepada tim saya yang pro-transplan. kesediaan donor. Tiga faktor itu saya sebut sebagai “persyaratan mutlak”. Kehebatan dokter. Lalu mengalikan bobot dan nilai. itulah pilihan terbaik. kedekatan dengan Indonesia. Kalau kita paksakan transplan tapi pasien tidak mantap. “Ya. dan kedekatan bahasa. ditutup dengan pukulan upper-cut yang telak: sama-sama bisa bertahan lima tahun. Misalnya. Lalu masih ada sejumlah “persyaratan keinginan”. dalam setiap akan mengambil keputusan. barulah saya menentukan langkah. “Katakanlah transplantasinya berhasil. Tapi.” kata saya. mengapa harus berjudi dengan transplan? Sebagai dewan juri yang harus adil. menjalankan satu proses yang disebut problem solving. saya melihat tim pro-transplan sempoyongan. Begitu pasien ragu-ragu. Apakah kalau tidak ransplan tidak bisa bertahan lima tahun lagi? Dengan obat-obat yang kian maju?” tanya tim yang anti-transplan. Seperti kata dokter di Singapura itu. (Bersambung) Ganti Hati 22 – Ingin Naikkan Albumin. Kedua tim masih akan terus bertinju. Hasil perkalian tertinggi. Semua diam. Saya mantap transplan.

transplantasi untuk pasien tertua (76 tahun). tidak akan semulus kalau diri sendiri yang tahu bahasa itu. yang saya ragukan ini masuk dalam ’persyaratan mutlak’. sebagaimana yang dilakukan orang-orang Jepang dan orang dari negara-negara Arab. Padahal. terutama. Dari masing-masing negara kita pilih satu nama. tim menyeleksi dokter-dokter ahli transplantasi di dunia: Australia. Itulah salah satu sumbangan ilmu manajemen ke dalam praktik jurnalistik di Jawa Pos. sudah membukukan beberapa rekor: Rekor terbanyak. Maka sudah tidak tengok sana-sini lagi: Di sinilah saya akan melakukan transplantasi liver. Saya memang sangat pro anak muda. Pengalamannya juga luar biasa. akan lebih firm ketika memegang pisau bedah. Masih juga ada satu pertanyaan: maukah dia menangani saya? Ada waktukah dia? Inilah tugas Robert berikutnya. Maka. Wartawan Jawa Pos harus menjalankan ’10 rukun iman’ atau ’Ten Commandments” yang saya tentukan. mau tidak mau harus dipenuhi. Kunjungan pertama saya ke sana sekitar 10 tahun lalu. mengenal baik budayanya. Berkali-kali saya ke kota itu. Saya langsung jatuh cinta pada kunjungan pertama. dia selalu berhasil menjalankan misinya. Umurnya masih 52 tahun dan badannya tinggi tegap. Proses manajemen itu kemudian saya bawa juga ke dalam jurnalistik. Dari proses itulah lantas kami pilih dokter ini. reputasinya yang tinggi sebagai pusat transplantasi liver sudah sangat terkenal. barangkali bisa diabaikan. Itulah yang membedakan wartawan Jawa Pos dengan wartawan lain. Alat-alatnya juga amat modern. rekor transplantasi tanpa transfusi darah. Singapura. Kita pelajari track record-nya. Belanda. umurnya. tapi saya tidak peduli. Sudah melakukan tranplantasi liver lebih dari 500 kali. Proses yang sama saya terapkan dalam melakukan analisis problem-solving atas tekad saya yang sudah mantap melakukan transplantasi liver. Dan. tapi masih muda. Saya sendiri pun lantas mengunjunginya. Saya mengenal baik kotanya. dan Tiongkok. Mungkin tidak akan diakui sebagai salah satu teori jurnalistik. Kalau hanya masuk ’persyaratan keinginan’. Sungguh tak terbayangkan bahwa tekad saya untuk belajar bahasa Mandarin lima tahun lalu ternyata saya sendiri yang akan memetik manfaat terbesarnya.untuk itu di Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Manajemen (LPPM) ketika saya masih jadi wartawan majalah berita mingguan TEMPO. Amerika. Hati saya mantap sekali. Tentu hal ini tidak diajarkan di fakultas publisistik atau di akademi wartawan. Namun. Juga. Saya ajarkan sebagai doktrin di Jawa Pos. Apa itu? Tempat! Apakah di Tiongkok ada rumah sakit yang bagus sekali? Bukankah rumah sakit di sana terkenal joroknya? Untuk ini Robert Lai memeriksa rumah sakit tempat dokter itu berada. bisa saja mempekerjakan juru bahasa. Bahkan. Sangat bersih dan terawat. Dia memperoleh pendidikan khusus untuk ini di Jepang. mengindikasikan akan kuat dalam menghadapi tekanan mental maupun fisik. Untuk Indonesia kota ini tidak populer. masih ada satu yang meragukan. Dan. Memang. Hasil kunjungan Robert Lai sangat memberi harapan. tapi saya sudah mengenalnya dengan sangat baik. Artinya. rekor transplantasi untuk pasien usia dini (3 tahun). Khususnya tower yang baru. Jepang. Urat-uratnya kukuh. menurut logika saya. Saya percaya hanya yang muda yang bisa diajak balapan di segala bidang. 62 by Moezhanks . Penampilannya meyakinkan. di satu kota di belahan utara Tiongkok. Tangan anak muda. Tapi. Boleh dikata. Saya ingin dokter yang berpengalaman. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kalau saya tidak bisa sedikit-sedikit berbahasa Mandarin. Yakni. dan sedikit banyak sudah bisa berkomunikasi dengan bahasanya. dialah dokter Tiongkok yang paling jago di bidang transplantasi liver.

Rupanya rumah sakit masih khawatir dia akan berontak sehingga terus diikat. saya sering tidak dianggap orang asing. pagi-pagi ikatan sudah akan dilepas. Atau mendengarkan ayat-ayat Alquran yang kasetnya dia beli di Makkah. 63 by Moezhanks . Bahasa Arab saya sudah banyak yang hilang sehingga perlu waktu lama untuk mengingat banyak kata yang jarang dipakai. tinggal di apartemen. Keesokan harinya lengan saya sakit sekali. Selang infus itu diperlukan kalau tiba-tiba harus transplan. tiba-tiba ada donor). Keluarga saya. Apakah dia sudah terkena kanker? Apakah kankernya sudah sampai ke kepala sehingga mengganggu otaknya? Paginya dia berteriak-teriak lagi. dan juru masak. Yang tidak mengizinkan adalah kerabat yang menunggunya. karena hampir selalu berbahasa Mandarin. Apalagi sosok saya yang sosok Asia. Siangnya. Tapi. Saya tahu tidak ada operasi pada Sabtu dan Minggu. Problem transplantasi adalah di kesediaan donor. dan juga Robert. banyak juga orang dari wilayah selatan atau dari Hainan yang juga berkulit seperti saya. ada penjual raket squash dengan bola yang diikat tali karet. saya sering lupa kalau di lengan saya sudah dipasangi selang kecil yang ujungnya ada di dekat jantung. Istri saya tidur di ruang tamu. Bahwa kulit saya agak hitam. sudah lebih siap. saluran internetnya. Robert juga langsung memesan kamar terbaik. mungkin juga karena sering telepon memang tidak baik bagi pasien seberat dia. Sudah beberapa tahun saya dan istri selalu di Makkah saat akhir Ramadan. saya pamit ke kota lain. Saya boleh terbang-terbang asal masih dalam radius empat jam penerbangan. yang ada ruang tamunya. Dua kali sehari. Ternyata pasien itu ingin menelepon keluarganya. satu jam penerbangan dari kota ini. Dia tahu saya tidak akan bisa hidup tanpa jaringan internet. Badan saya memang sangat sehat secara fisik lahiriah. Ternyata dia berontak karena ada janji. Dia memang tidak bisa berbahasa Inggris. mencari sopir. Pasien dari negara Arab di sebelah kamar saya berteriak-teriak sepanjang malam. tapi tidak diizinkan.Bahkan. ayat-ayat mulai Al Fatihah sampai terakhir surat An Nas dari imam salat tarawih di Masjidilharam. Tahulah saya bahwa dia masih diikat di ranjang. Saya main squash cukup lama. Istri saya sering melihat bagaimana saya belajar. Masa menunggu tidak bisa ditentukan. kalau ada sesuatu yang mendadak (misalnya. Karena itu. Mungkin untuk menghemat pulsa. Saya lupa akan selang infus di lengan saya. Kita bisa mencoba main squash tanpa harus lari-lari mengejar bola. Sepanjang selang itu (mulai dari lengan sampai dada) kemeng sekali. Suatu malam saya tidak bisa tidur. Guo Qiang mencarikan gurunya: tiga gadis yang masih kuliah di tahun terakhir IKIP setempat. Untuk membunuh waktu saya memutuskan meneruskan belajar bahasa Mandarin. membeli mobil. Saya tinggal di rumah sakit. Pagi 2 jam. Lalu dia sumpek sendiri membayangkan sulitnya. Robert juga langsung menyewa apartemen untuk setahun. Suatu saat saya ke Kota Dalian. pembantu rumah tangga. sore 2 jam. ternyata tidak. Kalau akhir pekan. Pada hari-hari seperti itu saya terbang ke provinsi lain. Yakni. Dia memilih mendengarkan lagu-lagu kasidah dari CD yang dia bawa. Ini penting untuk kesehatannya sendiri. Ini saya ketahui setelah saya bicara kepadanya dalam bahasa Arab. saya bisa kembali segera. Dia tahu belum tentu transplantasi bisa dilakukan segera. saya tahu lebih jelas mengapa dia berontak. Maksudnya. Saya mencoba menengoknya. dapurnya. Di salah satu plaza di sana.

Prof Eddy Suprayitno. berarti nol. 64 by Moezhanks . Saya menyarankan agar menambah “nol” di pijitan terakhir. di Nanjing. Seorang peneliti padi yang dulu hidup di desa selama 20 tahun. Dalam masa penantian itu saya tidak boleh terkena flu. Titik. Di Tiongkok. saya terus menjaga kondisi. sebagaimana umumnya guru besar di Indonesia. Saya melakukan senam dan tidak mengenakan baju pasien. kini menjadi pemegang saham perusahaan pembibitan dengan aset triliunan rupiah. Jadi amat berharga. juga tidak ditemukan satu pun jenis makanan yang dimaksud. Mengapa? Ini karena ada satu titik di belakang angka-angka itu. Tahulah saya bahwa angka yang dipijit kurang satu digit. Untuk menambah protein banyak sumbernya. Tapi. terutama albumin. Tapi.” gurau saya kepada mereka. saya tidak menemukannya. Badan saya harus sehat. di Harbin. Lalu muncul di pikiran. Di Tiongkok.Ketika penunggunya lagi pergi. Ternyata dia juga sudah mengantongi secuil kertas lusuh berisi nomor telepon. Dalam bahasa Inggris dikatakan “ikan kepala ular”. Entah sudah berapa ton saya mengonsumsi sop kutuk. Berminggu-minggu kami mendalami internet untuk mengetahui makanan apa saja yang bisa menaikkan albumin. dia minta tolong saya untuk memberi tahu perawat agar membantunya menelepon keluarga. masak tidak ada kutuk di Tiongkok. angka-angka itu angka Arab. buah manikan ternyata mengandung khasiat antikanker. Di setiap kota yang saya singgahi saya perlukan untuk mengunjungi pasar ikannya: di Nanchang. Luar biasa senangnya. sering untuk tasbih) kini menjadi orang terkaya nomor 200 di Tiongkok. Saya hanya perlu transplantasi liver. Tapi. Saya lupa bertanya apakah Prof Suprayitno sudah mematenkan penelitiannya dan memikirkannya untuk sebuah industri. dalam huruf Arab. Tidak ketemu. di Qingdao. Setelah penjelasannya meyakinkan. Satu orang yang meneliti satu jenis tanaman liar yang disebut ’tear drop’ (di desa saya dulu disebut manikan. Maka saya mencari kutuk di sana. meningkatkan albumin luar biasa sulitnya. mulailah saya minta istri saya berburu kutuk setiap hari. tidak terus merosot. Dia lantas menyodorkan hand phone yang rupanya tidak dibawa pergi oleh penunggunya. Sambil menunggu dan menunggu. Dia mulai kesal dan uringuringan. yang biasa menyediakan menu ribuan macam di internet mereka dalam bahasa Mandarin. Malang. dan melihat saya bisa bicara Arab. Satu-satunya sumber albumin adalah sahabat kecil saya dulu di desa: ikan kutuk. di Wuhan. Di Kalimantan disebut ikan gabus. putih telur sampai ikan. Satu-satunya orang yang melakukan penelitian terhadap ikan kutuk. karena bentuknya seperti ular yang amat pendek. Para suster bilang bahwa saya ini bukan seperti orang sakit. karena saya akan tinggal lama di Tiongkok. Karena flu saja bisa mengurangi potensi kesuksesan transplantasi. Suster tidak tahu dan pasien juga tidak jelas melihatnya. Dia mendiktekannya ke suster dengan bahasa Inggris yang amat tidak jelas. Mulai daging. peneliti seperti itu jadi kaya raya. Tapi. dan seterusnya. Saya menghubungi guru besar Unibraw. “Saya memang tidak sakit. Penjual ikan di Pasar Rungkut hafal betul dengan istri saya. di Dalian. Tapi. Ikan kutuk ternyata tidak ada di tempat lain. Saya juga harus menjaga agar protein di darah saya. Yang saya tahu kehidupan Prof Suprayitno amat sederhana. tentu saya akan kesulitan membawa kutuk ke sana. Ternyata nyambung. Sebab. setiap kali nomor itu dihubungi selalu gagal nyambung. Akhirnya saya rayu dia untuk memberikan cuilan kertas itu.

dengan bahasa daerah yang tidak saya mengerti. liver bisa memproduksi albumin. Di Kalimantan lebih lengkap. Tapi. dimakan dengan nasi kuning. Dalam keadaan normal. Sebulan setelah saya menunggu. sebagai persiapan transplantasi yang sudah dekat. Tapi. karena liver saya rusak. saya ingin pulang dulu dua hari. Saya memutuskan sabar menunggu. mengingat krisis listrik di sana sudah berlangsung lebih dari lima tahun. juga bisa tumbuh besar sampai kuat merusak perahu kayu kecil-kecil. tapi bukan kutuk. setelah dua bulan tidak juga ada tanda-tanda akan mendapat donor. saya belum terkena peraturan itu karena saya sudah mendaftar sebelum itu. Krisis listrik di Kalbar lebih parah daripada di Kaltim. Padahal. Sedangkan ikan gabus yang manis. (bersambung) Ganti Hati 23 – Datang Tawaran Liver Hidup dari Orang Muda asal Bandung 17 September 2007 SAYA hampir kehilangan momentum. itulah ikan yang saya cari. Gubernurnya sudah sangat mendambakan turun tangan saya. saya ingin ikut mengatasi krisis listrik di Kalbar. Kedatangan saya untuk antre transplantasi liver ini agak terlambat. “yu” artinya. Dia naik kendaraan umum selama satu jam untuk bisa sampai ke kota. Saya merasa punya tanggung jawab yang belum saya penuhi. Anda bisa menduga sendiri. dagingnya hambar. ternyata terhalang aturan baru itu. sebenarnya bukan. Bapak teman saya. Kandungan daging “hei yu” tidak sama dengan kutuk di Jawa. Tapi. “Hei yu” juga banyak. dia datang dengan bapaknya sambil membawa satu ember ikan. “Hei yu” di Kalimantan lebih banyak dimanfaatkan untuk ikan asin. Saya berterima kasih padanya. “Kutuk Tiongkok” ini lebih hitam. keluar peraturan baru: tidak gampang lagi pasien asing mendapatkan donor. sangat banyak. Untuk menunjukkan keseriusan. mempertahankan albumin menjadi amat penting. Kali ini untuk menyelesaikan urusan di Kalimantan Barat. Badan saya harus sehat menghadapi operasi besar. Karena itu. Enak tidak enak sudah tidak penting lagi. Bentuknya memang persis kutuk. Akhirnya.Di Nanchang. mestinya. Juga melakukan perundingan dan penandatangan kontrak mesin-mesin di Tiongkok. Ibaratnya saya harus seperti kerbau yang akan dijual untuk disembelih: Harus sehat dan gemuk. Tapi. Saya mengatakan “benar”. yang kalau di Kalimantan disebut ikan tomang. Saya pun datang dengan harapan seperti itu. saya memutuskan untuk selalu makan banyak. Pasien asing banyak yang gelisah. menjelaskan panjang lebar bagaimana satu hari tadi dia berusaha mencari ikan satu ember itu. Apalagi di lengan saya sudah dipasangi saluran infus sampai ke dada. Maka saya bersama gubernur dan Dirut PLN menandatangani MoU pembangunan PLTU di Pontianak. Kutuk. Ketika saya ke Nanchang. Dulu-dulunya. Selama di Tiongkok saya kesulitan sumber albumin ini. saya langsung membeli tanah 20 hektare di lokasi yang paling cocok untuk itu. agar badan tetap sehat. enak sekali dimasak bumbu bali. yang di sana disebut ikan gabus. di sana disebut “hei yu” -”hei” artinya hitam. Saya pernah ke desa itu sebelum tahu bahwa saya punya sirosis. Tapi. Tapi. “Hei yu”. Sebagaimana juga di Kaltim. 65 by Moezhanks . sungguh sulit mengatasinya. meski belum fatal. waktu menunggu sering tidak sampai sebulan. teman saya di pelosok desa mengabarkan di desanya banyak ikan kutuk.

Karena itu. Beda dengan donor liver. donor orang hidup. Dia juga menanyakan apakah tanah kami akan dijual. Juga nasib (tanah) saya. Tapi. beberapa waktu kemudian ternyata PLN melakukan tender untuk pembangunan PLTU itu. Ini mungkin karena liver adalah satu-satunya organ tubuh yang kalau dipotong bisa tumbuh utuh lagi. Proyek itu harus berjalan. liver yang dipotong itu sudah akan utuh kembali. Tapi. Mereka mencari salah satu keluarganya. Dokter mencari-cari saya apakah bisa membatalkan kepergian saya ke Indonesia. Terutama sebagai ungkapan terima kasih kepada masyarakat setempat bahwa koran kami di sana menjadi yang terbesar. mendatangkan donor dari negaranya. Kami tidak mau ikut tender itu karena merasa PLN tidak beretika sama sekali. Dan lagi. Berarti Kalbar kehilangan lagi waktu tiga tahun. Tapi. Tidak kaya sumber alam dan tidak punya proyek besar. Saat saya menyelesaikan urukan Kalbar itulah. suatu ketika. Karena itu. beruntung bahwa ternyata donor potensial itu ternyata juga tidak cocok untuk saya. Tentu saya tidak mau kalau modal dia hanya selembar kertas izin. kira-kira dua tahun lalu. Yakni. Jelek sekali nasib Kalbar. Tapi. Orang-orang Pakistan mulai mencari jalan sendiri. Kami serius membeli tanah tersebut untuk PLTU. sekali orang kehilangan ginjal. potongan liver yang sudah dilepas dari tubuh pemiliknya ditanamkan ke tubuh si penerima. Saya hanya ingin ikut mengatasi krisis listrik di Kalbar. sampai tulisan ini dibuat. Kami bukan spekulan atau jual beli tanah. saya bertekad menggunakan dana yang sudah saya siapkan untuk PLTU ke proyek lain: perkebunan rakyat. Tentu saja tidak. lalu livernya dipotong separo. Hari ini separo livernya didonorkan. Saya harus datang ke sana untuk membuat keputusan yang terpenting.Namun. atau sukarelawan. si calon penerima (resipien) liver juga dibedah untuk membuang (seluruh) livernya yang sudah rusak. pemenang tendernya. Memang. Pada saat yang sama. Provinsi itu sangat kasihan. Tender itu berjalan lancar dan itu memang proses yang benar. peserta tender ingin mengajak saya bergabung membangun PLTU tersebut. ginjalnya tetap satu. tidak ada tanda-tanda fisik mulai membangun PLTU. Banyak pengungsi Madura akibat kerusuhan etnis pada 1999 itu yang mulai bekerja di proyek ini. Yakni. Setelah itu. tanpa sedikit pun memberi informasi kepada saya bagaimana nasib MoU yang sudah dibuat. ya sampai meninggal. saya memang tidak dalam posisi mencari proyek. Dengan begitu. sebagai awal dari membangun Kalbar lebih lanjut. setidaknya saya bertanggung jawab untuk mewujudkan sesuatu di sana. yang mau menyumbangkan separo livernya untuk dicangkokkan ke pasien. saya sudah di atas pesawat. Saya harus menunggu lagi entah berapa lama. Memang bukan salah saya kalau sampai hari ini belum ada tanda-tanda konkret krisis listrik Kalbar akan teratasi. Hanya operasinya lebih sulit: Orang yang sehat dibedah. Seseorang bisa hidup normal dengan liver yang hanya separo karena liver atau hepar atau hati adalah satu-satunya organ yang bisa tumbuh kembali dengan cepat. mengolah hasil pertanian rakyat yang selama ini harganya selalu hancurhancuran di musim panen. Yakni. sebenarnya ada donor yang potensial. Investor yang mau datang pasti mengeluhkan listrik. seorang donor juga tak perlu tinggal berlama-lama di rumah sakit. dia sudah boleh latihan berdiri dan berjalan. Berbeda dengan ginjal dan organ lain. Hanya dalam tempo dua tiga hari pascaoperasi. Dan dalam tempo tiga minggu sampai maksimal sebulan. Seminggu berikutnya 66 by Moezhanks . besok pagi sudah tumbuh lagi.

Di Tiongkok. Handphonenya pun Communicator seri terbaru. Saya butuh melangkah cepat. Kalau saya menunggu terlalu lama. Rumahnya baru. Termasuk saya.” tambahnya. mengapa berani. Anak muda itu mengatakan tidak menginginkan apa pun kecuali menyelamatkan nyawa saya. bisa jadi fungsi liver saya akan keburu memburuk. “Liver saya yang setelah dipotong tinggal 9 cm. di luar dugaan: Sangat mendukung keputusan suaminya. Karena itu. Darah maupun rhesus-nya cocok sekali dengan saya. di kompleks perumahan yang cukup mewah. Tapi. karena penurunan fungsi itu bisa merusak pertahanan tubuh saya. Tapi. “Sekarang sudah jalan-jalan dan mau saya ajak ke sini. anak-anak. Anak keduanya baru bisa berjalan. Mulailah saya melihat ke istri. Ternyata. sel-sel kanker yang mungkin masih tersisa di liver saya bisa menyebar (metastase) ke mana-mana. Sikap istrinya. di negara-negara yang jumlah donor mayat (cadaver)-nya terbatas. Anak itu sendiri. satu liver untuk dua pasien. tidak kecil. jalan tidak buntu. dia sudah menghitung risikonya. Lantas bagaimana nasib potongan liver yang sudah berpindah tubuh tadi? Ini pun tak perlu dikhawatirkan karena dalam tempo maksimal tiga bulan. Badannya yang tinggi tegap sangat sehat. Saya tidak yakin bisa dapat donor utuh dalam waktu dekat. dia cukup berada. Beberapa teman dekat yang siap mendonorkan separo livernya juga tidak ada yang cocok darahnya. Robert menemui keluarga-keluarga Pakistan itu untuk mempelajari bagaimana praktik cangkok liver dengan donor hidup. yang bahasa Inggrisnya bagus sekali. Tanpa kami cari. lantas menceritakan mengapa mau melakukan itu. Mengapa dia begitu berani? Karena. Memberitahukan perihal seorang anak muda dari Bandung yang mau secara sukarela mendonorkan livernya. potongan itu sudah akan tumbuh menjadi liver yang utuh sebagaimana orang normal. Menjelang transplantasi. tidak satu pun yang darah dan rhesus-nya sama dengan saya. Saya amat yakin dengan jalan itu. Dua minggu lagi sudah kembali utuh seperti semula. 67 by Moezhanks . dia ingin menebus penyesalannya yang tak sempat menyelamatkan bapaknya yang keburu meninggal sebelum tranplantasi dilakukan. seseorang dari Jakarta menghubungi kami. Liver saya yang di sana. Bagaimana dengan penerima livernya? “Bapak itu juga mulai baik. Jadi. Semula kami memperkirakan harus membantu kehidupannya. Dia menjadi amat yakin itu juga akan berhasil. yang semula hanya 11 cm. Umurnya masih 32 tahun.” katanya. baik yang masih di dalam tubuhnya maupun yang sudah pindah ke tubuh orang lain. hari ini sudah 17 cm. umumnya masih satu liver untuk satu pasien. Dan.dia sudah bisa beraktivitas lagi. dan keponakan-keponakan. sekarang sudah menjadi 16 cm lagi. “Dia mendonorkan livernya dua minggu yang lalu. Saya juga memutuskan akan melakukannya.” kata Robert sambil menepuk bahu anak muda Pakistan itu. Saya harus berhitung dengan sirosis dan kanker saya yang sedang berlomba dengan waktu. Mobilnya juga masih gres dari merek yang tidak murah. memang masih harus ekstrahati-hati karena tiga sayatan panjang bekas operasi di perutnya masih basah. Lalu mengajak salah satu pendonor ke kamar saya. dan bagaimana kondisinya sampai saat itu. Apakah harus dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri? Dia bilang.” katanya sambil menggambar di papan tulis tentang bagaimana livernya tumbuh kembali. Ternyata. Lalu dia menunjukkan perutnya yang masih dibebat untuk mengeringkan luka akibat pembedahan. Tim kami segera ke Bandung melihat keadaan rumah tangganya. dia bilang. livernya dibagi dua.

tapi saya sampaikan dengan nada yang menyenangkan. Kalau ada yang bertanya tentang penyakit saya. Tetap saja persoalan rumit-rumit. Saya kurang melihat bahwa bapak saya dan kakak sulung saya berumur panjang sekali.” ujar Gunawan. itulah kuncinya. kakak saya. dan negosiasi. Juga bengkak di badan. Padahal. ada kabar bahwa saya mendapatkan donor. saya berhasil menyembunyikan keloyoan fisik saya. direktur di perusahaan minyak kami. Pernah dalam satu rapat evaluasi bulanan yang amat disiplin di PT PWU.Kami pun makin percaya bahwa tidak ada motif komersial di balik niatnya yang mulia itu. Saya masih keberatan. Dia juga menyatakan sudah siap kapan pun harus berangkat. Transplantasi pun dilakukan dengan cara membuang sama sekali hati saya yang lama dan menggantinya dengan hati baru made in 1985-an secara utuh. Saya punya filsafat tersendiri dalam menyikapi umur. Ya. pecinta Jawa Pos dari Manyar Jaya. Mereka memang ngeri mendengarnya. Yang tak kalah penting. Menceritakan penyakit dengan cara yang menyenangkan. Tim kami terus mendesak agar saya jangan berpikir bahwa saya akan mengorbankan orang lain. Menyembunyikan membesarnya payudara. “Selama ini tidak tampak kegelisahan sedikit pun tatkala tampil di banyak kegiatan masyarakat. saya jelaskan semua penyakit saya. haruskah sampai mengorbankan nyawa orang lain? Tidakkah lebih baik saya menunggu dengan risiko tidak keburu sekali pun? Bukankah membuat keputusan melakukan transplantasi saja sudah tersirat tekad untuk mungkin mati? Saya benar-benar sudah siap kalau harus mati. Perusahaan minyak itu masih baru sehingga saya harus banyak belajar. “Dia tidak akan jadi korban. ya dimarahi. saya sendiri juga masih berpikir. tapi juga politis. Juga bahayabahayanya. Yang harus dipuji. barangkali karena saya melihat kok ibu saya. Dia juga akan memiliki kembali livernya secara utuh. Sedikit pun saya tidak merasakan bahwa Anda mengidap penyakit begitu gawatnya. selalu saya jawab apa adanya. Setelah itu rapat evaluasi berjalan seperti biasa. Kalau ada yang bertanya pun. tapi diam-diam tim kami terus menyiapkan saudara dari Bandung itu untuk siap berangkat ke Tiongkok. Yakni. Padahal. “Empat tahun saya bekerja dengan Anda.” kata Robert. manajer di perusahaan minyak milik Pemda Jatim. filsafat “intensifikasi umur”.” tulis Lusye. Yang harus dimarahi. saya tidak akan sampai hati mengejar-ngejarnya selama ini. dua tahun lamanya saya berhasil menyembunyikan bengkaknya kaki. (Bersambung) Ganti Hati 24 – Istri Khawatir Saya Meninggal dengan Wajah Menghitam 18 September 2007 SAYA tidak berhasil menyembunyikan perubahan di wajah saya. Umur pendek tidak apa-apa asal penggunaannya sangat intensif. Bersamaan dengan persiapan pemberangkatan saudara dari Bandung itulah. 68 by Moezhanks . Terutama Robert Lai. jawaban saya jujur. memang tidak banyak yang bertanya. saya sebenarnya tidak sengaja menyembunyikannya. persoalan Perusda tidak hanya soal bisnis. Tapi. Tapi. ya dipuji. paman-paman saya berumur pendek. harus dipecahkan. seperti para manajer di Perusda PT PWU Jatim. rapat. Cuma. saya memang berhasil menyembunyikan semuanya. “Kalau tahu seperti ini. tapi juga tertawa-tawa. Sikap ini muncul.” ujar Hadi Ismoyo. diskusi.

Tuhan murka padanya. tapi sebagai perwujudan sikap tawaduk seperti yang dicontohkan bapak saya. Toh saya akan tetap bisa berperan di pesantren itu kelak. Apalagi dia aktif di kegiatan keagamaan. khawatir akan kesehatan saya. Saya memang pernah mau didapuk jadi kiai di pesantren saya. Bukan karena ngambek. Ada nada sedih ketika mengucapkan itu. dosa karena dia telah menyekulerkan Islam. yang mungkin tidak kalah besarnya. Saya akan menyembunyikannya dengan cara meratakannya. banyak orang yang mulai rasan-rasan. Yakni. Karena itu. memprihatinkan. Terutama psikis istri saya. menggosipkan wajah saya. Saya lantas memilih ’uzlah’ -menyingkir. Tapi saya kan laki-laki? Bahkan laki-laki yang bukan metroseksual? Tak pelak lagi. dosa sebagai atasan yang kejam. Dan. Kedua. tokoh dari Ambon. Bukan sarjana. ketika memelopori pembaharuan pemikiran dalam Islam yang menghebohkan pada 1970-an. pamanpaman ibu saya). saya harus tahu diri bahwa kalau dia sudah dewasa. Yakni. tidak akan bisa jadi kiai dan tidak bakat jadi politisi. Mengapa masih kanak-kanak? Karena pesantren kami kehilangan dua generasi sekaligus. Sudah menjadi opini awam bahwa seseorang yang meninggal dalam keadaan wajah yang menghitam. tapi saya menolak. tandanya tidak diterima oleh Tuhan. Pembicaraan seperti itu kian kuat ketika Cak Nur meninggal dalam keadaan wajah menghitam. Terutama di dahi dan sekitar mata. Tapi. Hitam yang tidak merata itulah yang kian mencurigakan. Begitu hebatnya tentangan akan langkah Cak Nur tersebut sehingga sampai ada yang memvonis Cak Nur sudah murtad. Saya bukan intelektual. Tapi. Ini karena saya sadar bahwa saya turunan dari jalur wanita (ibu) di struktur pesantren itu. Apalagi saya juga baru gagal dalam pemilihan ketua umum pengurus besar Pelajar Islam Indonesia (PII) di Bandung. Ada yang menilai. Untunglah. ini gosip yang benar. Dosa sebagai lelaki. Bukan ahli agama. sebenarnya. Kebetulan yang dari jalur laki-laki masih kanak-kanak. Karena banyak sekali dosa yang diperbuatnya. Tentu saya bukan apa-apa dibanding Cak Nur. dan anak-anak mereka yang sudah dewasa. Kalau sampai itu terjadi pada saya. pada 1948. menjauh. Suaminya meninggal dalam keadaan dimurkai Tuhan. Pertama. tapi sudah masuk ke tataran psikis. dialah yang punya hak mewarisi pesantren itu. saya bergegas mengambil keputusan pindah ke jalur hidup sama sekali. dibunuh PKI dalam peristiwa Madiun. Para kiai sepuh (enam orang bersaudara. Psikis seorang wanita yang sangat kuat memegang prinsip agama. itu sebagai bukti bahwa Cak Nur dimurkai Tuhan. dosa sebagai pribadi yang sombong. 69 by Moezhanks . saya sudah sering digosipkan sehingga sudah agak kebal. Karena itu. Saya tahu dia menyimpan dua kekhawatiran. Tapi. Sedih bercampur perasaan malu. Bukan budayawan. bagaimana caranya? Atau pakai make up saja. Sampai-sampai disebutkan Cak Nur lagi mendirikan neo-Islam. Saya mengambil kesimpulan. alangkah malunya istri saya. saya tidak berhasil menyembunyikan berubahnya wajah. Ini karena dosa-dosanya yang tidak terampunkan. Gosip itu bukan lagi masih menyangkut fisik. dan tentu masih banyak sekali sisi negatif yang bisa dihubunghubungkan. dosa sebagai suami yang amat sibuk. kadang dia hanya memperhatikan wajah saya tanpa mengucapkan komentar apa-apa. Gosip yang tidak menyenangkan. Suatu saat istri saya memandangi wajah saya lama sekali. merasa malu kalau saja saya meninggal dalam keadaan wajah yang menghitam. Pandangannya penuh keprihatinan. kalah dengan Yusuf Rahimi.Tapi. Kulit saya yang aslinya memang agak hitam menjadi kian hitam. Lalu memberikan komentar yang sudah sering saya dengar itu. dan merenungkan masa depan. dosa orang kaya yang pelit.

Apalagi. Saya dan Cak Nur seperti langit dan sumur -untuk menunjukkan jarak langit-bumi kurang jauh. setelah beliau sendiri yang minta. Padahal. Agar saya bisa meyakinkan bank bahwa meski saya hanya direktur. lantas muncul kesulitan teknis. Tapi. tapi “Cik Wenny”. Beliau terkena stroke yang sampai mengakibatkan tidak bisa bicara dan harus diopname bertahun-tahun. Tentu ada juga yang menyamakannya dengan Cak Nur. Sebagian lagi karena saya berdosa kepada leluhur. “CEO yang tidak ada SK dan legal formalnya. Bukan “Bu Wenny”. sampai harus dengan cara sikut sana-sini. Maka lahirlah “jabatan CEO”. Lalu keterusan sampai sekarang. Meski saya bukan direktur utama lagi (karena jabatan itu sekarang dipegang Ratna Dewi Wonoatmodjo). Bisa saja Dirut sebagai CEO. tiba-tiba saya punya ide baru yang barangkali tidak lazim. 70 by Moezhanks . pikir saya. Baru setelah lima tahun lebih. tapi saya ini CEO. Sama dengan saya. Sebutan CEO telanjur melekat. Magetan (aliyah). Setidaknya samasama hanya tamatan SMA. Kami sendiri tidak terlalu mengenal nama Ratna Dewi. Sebagian mengira saya dimurka Tuhan karena kurang taat beragama. Bahkan. sehingga kalau ada tamu yang menanyakan. meski hanya untuk sebutan: CEO (chief executive officer). saya mau jadi Dirut.Sikap tawaduk yang sama saya lakukan juga di Jawa Pos pada 1980-an. Dia SMA di kota Surabaya (Petra). saya membuat sebutan (untuk membedakan dengan ’jabatan’) CEO lebih fleksibel lagi di grup yang saya pimpin. Terutama karena saya ’uzlah’. bisa banyak bahasa. Dia kami kenal sebagai Wenny saja. Lebh dari itu sekarang ini berkembang seperti di AS. Hanya namanya yang sering bikin salah paham orang asing. lari dari tanggung jawab menjadi kiai. tanpa menyandang jabatannya. saya tetap tidak mau jadi Dirut. He he…” kata saya dalam hati. Tidak bisa hanya direktur seperti saya waktu itu. Jangan sampai saya minta jadi Dirut. Inggris. Pernah ada tamu dari India yang ingin bertemu dengannya. “Apakah bisa bertemu ibu Ratna Dewi”. Inilah gunanya ilmu mantiq (logika). termasuk Prancis dan Parsi. saya tidak mau menggantikannya sebagai Dirut. ahli agama. Saya tetap direktur saja. Padahal. ’Chairman yang CEO’. Waktu itu Ratna Dewi masih menjabat direktur keuangan. saya yang tetap jadi CEO. Si tamu ternyata berharap akan ketemu seorang direktur keuangan keturunan India. Bahwa ada kesulitan di bank. Maklum namanya Ratna Dewi. direktur sebagai CEO (Dirutnya bukan CEO). jatuh sakit. Mereka tidak tahu kalau ’uzlah’ itu saya lakukan sebagai wujud sikap tawaduk saya. Tentu tidak lagi seperti ketika Dirut merangkap CEO. saya SMA di Desa Takeran. doktor lulusan Chicago. Saya memilih mengerjakan saja semua pekerjaan direktur utama. Cak Nur seorang intelektual. Saya hanya seperti itu tadi. staf-staf kami sering bengong. Gosip bahwa “saya segera meninggal dengan wajah hitam” juga beredar di kalangan pesantren saya sendiri. direktur utama Jawa Pos saat itu. Karena hal itu sudah berlangsung tiga tahun. dan Arab. Tapi. Banyak hal sudah harus dialihkan menjadi tanggung jawab Dirut. Banyak dokumen bank yang harus direktur utama yang boleh tanda tangan. “Kami tidak menyangka kalau dia seorang Tionghoa.” kata tamu itu sambil tertawa ngakak. Apalagi Ratna Dewi juga amat mampu. Apalagi mereka juga tahu sayalah yang selama ini yang selalu mengambil keputusan. bahkan general manager sebagai CEO (semua direktur bukan CEO). Ketika Pak Eric Samola. bank percaya. sakitnya beliau amat berat sehingga tidak punya kemampuan menandatangani dokumen perusahaan. saya dan Cak Nur jauh sekali derajatnya. Saya ciptakan sendiri jabatan baru.

Satu-satunya yang menyamakan saya dan Nur adalah sakitnya. Sama-sama sakit liver, sama-sama sirosis. Karena itu, juga sama-sama menghitam di wajah. (Bersambung)

Ganti Hati 25 – Prihatin atas Keprihatinan terhadap Wajah Hitam Saya
19 September 2007 “SAYA nanti juga akan meninggal dengan wajah hitam,” kata saya kepada istri saya. Saya ingin menyiapkan mental istri saya bagaimana harus menahan rasa malu. Terutama di mata keluarga dan teman-teman pengajiannya. Istri saya memang aktif di perkumpulan Pengajian Wanita Surabaya (Pengawas), satu perkumpulan yang amat besar dan aktif. “Saya nanti akan seperti Cak Nur,” tambah saya. Itu saya lakukan karena istri saya juga mendengar omongan orang tentang Cak Nur. Dia juga mendengar ada khatib di sembahyang Jumat yang mengatakan Tuhan murka pada Cak Nur (Nurcholish Madjid, tokoh pembaruan pemikiran Islam). Buktinya, ketika meninggal, wajahnya menghitam. Istri saya memang sudah beberapa lama kelihatan prihatin melihat perubahan di wajah saya. Saya prihatin atas keprihatinannya itu. Maka, saya perlukan bicara soal mengapa wajah saya menghitam dan mengapa ada orang menilai Cak Nur seperti itu. Saya jelaskan sebisa-bisa saya bahwa “wajah hitam” Cak Nur sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kemurkaan Tuhan. Tuhan itu tidak punya hobi murka seperti khatib yang mengecam Cak Nur itu. Tuhan itu Maha Pengasih dan Penyayang. Sampai di sini saya sadar bahwa istri saya sudah sangat sering mendengar khotbah sehingga saya tidak perlu menambahinya. Apalagi khotbah saya kurang meyakinkan. Saya memilih menjelaskannya secara ilmiah saja. Mengapa wajah Cak Nur, juga wajah saya, menghitam? Ya, begitulah memang salah satu perubahan fisik yang dihasilkan oleh liver yang terkena sirosis. Ini berlaku pada siapa saja. Yang Islam, yang Kristen, yang Buddha, yang Hindu, yang Kejawen, yang komunis, dan yang tidak punya aliran apa pun -free thinker. Wajah hitam adalah tanda-tanda perubahan fisik dari sirosis yang parah. Karena itu, kalau Anda sakit liver, minta saja meninggal sebelum sirosis parah. Terutama kalau Anda ingin meninggal dengan wajah yang tidak hitam. Terjadinya wajah hitam itu sama dengan akibat sirosis yang lain: Kaki yang bengkak, payudara yang membesar, dan kemudian muntah darah. Untung, tidak ada penilaian bahwa siapa yang meninggal dengan payudara besar berarti dimurkai Tuhan. Sebenarnya, masih banyak lagi tanda fisik lain. Yakni kulit menguning, mata juga menjadi kekuningkuningan, bibir pucat, dan telapak tangan seperti tidak berdarah. Terutama kalau telapak tangan baru saja digenggamkan. Begitu genggaman dibuka, darah seperti tidak segera kembali memerahkan telapak tangan. Bahwa ada khatib yang menilai wajah Cak Nur yang menghitam sebagai tanda bahwa Tuhan tidak mau menerima rohnya, sebabnya mungkin si pengkhotbah tidak sempat belajar ilmu yang lain misalnya, karena terlalu larisnya. Bahkan, sang khatib begitu sibuk berkhotbah, kadang isi

71

by Moezhanks

khotbahnya ya hanya yang diketahuinya itu saja. Diulang-ulang. Seperti kaset lama yang diputar terus-menerus. Pasti si pengkhotbah juga tidak pernah melihat wajah mayat Mao Zedong. Setidaknya tidak pernah membaca tentang itu. Setidaknya lagi, kalau toh pernah membaca, tidak sampai menjadikannya pertimbangan. Mao adalah pendiri partai komunis Tiongkok yang tentu saja tidak mengakui adanya Tuhan. Namun, bagaimana wujud wajah mayatnya? Saya pernah melihatnya dua kali. Wajahnya putih, bersih, dan amat cerah. Bibirnya menunjukkan senyum kecil seperti amat bahagia di akhir hayatnya. Mayat itu sampai sekarang masih bisa dilihat di Beijing. Orang antre untuk menyaksikannya. Demikian juga di Kremlin, Moskow. Mayat Lenin, salah satu pendiri komunisme sedunia, terlihat putih, bersih, dan manis sekali. Saya juga pernah mengunjunginya. Apakah itu pertanda roh Lenin diterima dengan senang oleh Tuhan? Lebih diterima daripada Nurcholish Madjid? Meski Cak Nur tokoh Islam dan Lenin tidak mau mengakui adanya Tuhan? Bahkan menjadi pelopornya? Wallahu a’lam. Yang jelas, Lenin, dan juga Mao, tidak meninggal karena sirosis. Saya sangat prihatin atas keprihatinan istri saya. Tapi, saya juga prihatin memikirkan bagaimana umat di masa depan. Dengan pola berpikir seperti itu, apakah umat akan bisa maju? Apakah tidak semakin ketinggalan dan kemudian terpojok? Lalu, introvert dan mencari kompensasi dalam bentuk ekstremitas? Saya prihatin karena dengan pola pikir yang seperti itu, keseimbangan antara dunia dan akhirat tidak memadai. Banyak memang orang yang terlalu berat ke duniawi, tapi juga bukan berarti harus dibalas dengan bersikap lebih berat ke ukhrowi. Semua harus seimbang: beribadah sungguh-sungguh seperti besok akan mati saja, bekerja sungguh-sungguh seperti akan hidup seribu tahun. Kalau ukuran diterima Tuhan atau tidaknya seseorang dilihat dari wajah mayatnya, betapa suramnya kemajuan ilmu pengetahuan di masa depan. Bagaimana kita bisa mengharapkan kemajuan dan kemodernan sebuah negeri kalau penduduknya -terutama para pemimpin penduduk itu- berpikiran demikian. Dan lagi, ada satu kenyataan yang lebih pahit. Bukankah kini sudah ditemukan cara membuat wajah orang yang meninggal kelihatan tersenyum? Cerah dan bahagia? Lantas, apakah itu berarti ukuran diterima atau tidaknya sebuah roh oleh Tuhan ditentukan oleh para ahli perias mayat? Saya punya teman yang bisnisnya event organizer (EO). Tapi, EO khusus untuk orang meninggal. Mulai penyediaan pakaiannya, membentuk tubuh dan wajahnya, menyediakan peti matinya, angkutan ke kuburannya, sampai mencarikan siapa yang akan jadi pengkhotbahnya. Dia begitu menghayati bisnisnya itu sehingga akan terus mendalami ilmu di bidang itu. Satu-satunya anaknya (perempuan) dia sekolahkan khusus bagaimana memelihara mayat. Bagaimana membuat wajah orang meninggal menjadi lebih ganteng dan cantik daripada ketika masih dalam hidupnya. Bahkan, ilmu itu juga berkembang ke arah sebelum kliennya meninggal. Yakni bagaimana menyiapkan agar bisa meninggal dengan wajah tersenyum. Tapi, saya juga sadar bahwa istri saya mungkin tidak gampang menerima penjelasan saya itu. Sebab, penjelasan seperti itu amat jarang dilakukan orang. Tapi, setidaknya, dia bisa menutup sedikit rasa malu karena suaminya meninggal dengan wajah menghitam. Bisa punya alasan -yang meskipun mungkin juga dia ragukan kebenarannya. Ragu karena bukan penjelasan seperti yang saya ucapkan
72
by Moezhanks

tersebut tidak pernah didengarnya. Yang sering diperdengarkan kepadanya adalah kaset lama yang diputar tidak henti-hentinya itu. Dalam teori komunikasi, kebohongan pun kalau terus-menerus dijejalkan akan jadi seperti kebenaran. Padahal, kaset lama itu bukan juga kebohongan. Tapi, penafsiran. Sebuah penafsiran yang sangat bisa memuaskan orang dari sisi emosinya. Kebohongan saja bisa menang, apalagi bukan kebohongan. Berdasar teori itu, satu penjelasan yang benar tidak akan bisa menang atas kebohongan yang terusmenerus dikampanyekan. Agama memang akan menghadapi tantangan yang hebat. Kini bukan hanya Islam, tapi juga Kristen. Setelah abad informasi sekarang ini, akan ada abad baru lagi. Dulu kita masih meraba-raba “abad apa gerangan yang akan menggantikan abad informasi?”. Kita pernah mengalami berturut-turut, “zaman batu”, “zaman besi”, “zaman cocok tanam”, “zaman industri”, “zaman teknologi”, dan “zaman informasi”. Kini semakin jelas dunia akan mengalir ke zaman apa. Saya kira, zaman baru yang akan kita masuki adalah “zaman biologi”. Di zaman itu kehidupan akan bisa direkayasa, diperbaiki, bahkan diciptakan. Kehidupan tanaman, binatang, dan juga manusia. Tidak perlu lagi transplantasi seperti saya, tapi liver (dan organ apa pun) bisa direparasi dengan penemuan lebih lanjut dari pendalaman terhadap DNA manusia. Dan, itu bukan lagi akan ditemukan, tapi sudah ditemukan. Penemunya kini lagi merahasiakannya sampai pada akhirnya dia akan bisa memproduksi sesuatu yang bisa dijual secara masal dan terjangkau. Agar bisnis di bidang ini menjadi amat besar. Operasi tidak perlu lagi. Transplantasi tidak dibutuhkan. Bahkan, orang tidak perlu sakit. Sehat terusmenerus. Cukup membeli produk baru itu nanti. Kini pun barang itu sudah bisa diproduksi sebenarnya. Tapi, karena belum ditemukan kombinasi-kombinasinya, harganya bisa jadi masih Rp 10 miliaran. Dengan harga setinggi itu, meski saya pun akan membelinya, tapi hanya berapa juta yang mampu beli? Bandingkan, kalau kelak, harganya tinggal Rp 1 jutaan. Betapa besar bisnis itu. Ia akan mengalahkan bisnis obat yang sudah amat raksasa itu. Bahkan akan mengalahkan bisnis minyak dan gas. Mengapa? Penemuan lebih lanjut dari itu adalah lahirnya sumber energi baru yang sama sekali tidak kita bayangkan. Kalau kehidupan sudah bisa dibikin, bagaimana kita akan menafsirkan ajaran agama? Orang boleh tidak percaya seperti juga zaman dulu tidak percaya akan bentuk dunia yang bulat. Tapi, ini akan menjadi kenyataan. “Akan” di situ tidak lama lagi. Kata “akan” mungkin kurang tepat. Yang tepat “segera”. Maka, apa yang ditulis Agus Mustofa di buku-bukunya, terutama mengenai Kitab Kejadian, sungguh menarik dan akan cocok dengan zaman baru itu nanti. Yakni jangan lagi kita membayangkan bahwa manusia pertama dulu dibuat dari lempung, lalu lempung itu di-emek-emek, dibentuk seperti boneka, kemudian Tuhan meniupkan roh ke ubun-ubunnya. Penggambaran seperti itu, meski ternyata memang tidak ada di kitab suci, amat melekat di setiap manusia. Juga melekat di pikiran saya. Saya tidak pernah mempersoalkannya secara kritis. Bahkan tidak pernah mengecek ulang apa bunyi ayat yang sebenarnya dari penggambaran seperti itu. Cerita itu sama melekatnya dengan istilah “memanjatkan doa” yang sering kita lakukan sampai sekarang. Kita, terutama saya, tidak pernah mempersoalkan apakah teknik menyampaikan doa seperti itu masih cocok dengan abad informasi seperti sekarang. Mengapa di zaman komputer, e73
by Moezhanks

karena emosi lebih besar daripada rasio. Tapi. Ini karena saya juga ragu akan ingatan bahasa Arab saya. nanti bisa banyak sekali konsekuensinya. “Saya tadi salah. maka yang maju lantas dunia mistik dan bukan rasionalitasnya. Kalangan ini sudah kritis lagi. Kalangan ini. Samsudin Adlawi (Udi). 74 by Moezhanks . agar mirip dengan ayat Quran yang sangat terkenal. termasuk di mimbar Jumat. kalau melihat hati seperti itu. mantan rektor ITS yang kini menteri informasi. Yang suka marahmarah. lupa bahwa kata dalam bahasa Arab ’qalb’ (kalbu) artinya bukan hati -dalam pengertian liver. tapi sudah memasyarakat. Udi spontan menjawab: qalb artinya hati! Lantas saya tanya lagi. Liver bahasa Arabnya ’kabid’. Direktur Radar Banyuwangi. bisa malu. dalam bahasa Mandarin disebut xin? Rupanya dia baru berpikir ulang. Atau ’patah jantung’ (broken heart).mail. Begitu saya tanya. Pak Nuh. Kalau diubah. setidaknya akan muncul tiga versi tanggapan. penggunaan term “panjat” juga mencerminkan ketertinggalan kita dalam menggunakan teknologi yang tersedia. Juga terhadap kakak saya. Tentu kata “memanjat” hanya simboliasi atau penyastraan. Sudah telanjur begitu mendarah-mendaging. orang yang paling jago bahasa Arabnya di lingkungan Group Jawa Pos. Mengapa kok lambang cinta itu gambar jantung? Mengapa dalam bahasa Inggris disebut heart? Dan. Begitu jugalah dulu penilaian terhadap ibu saya. Sedang liver adalah……” kata Udi yang juga sastrawan itu. Bahkan. Istri Gembira karena Wajah Berubah 20 September 2007 KALAU saja foto liver lama saya dimuat di koran tanpa penjelasan (foto-foto itu akan dimuat di edisi buku). dan SMS ini kita masih mengirim doa dengan menggunakan teknik “memanjat”. Alangkah lambatnya doa itu akan sampai. akan langsung mengambil kesimpulan: Tuhan telah murka padanya. (Bersambung) Ganti Hati 26 – Transplantasi Berhasil. Ini memang agak kacau. Misalnya kata ’patah hati’ harus diubah menjadi ’patah liver’. “Pasti ini karena disantet”. Asapnya lantas di-email-kan ke dalam tubuh saya. Memang qalb itu artinya jantung. Pandangan kedua akan datang dari kalangan agama yang berpandangan sempit. si penyantet membeli hati sapi dulu. Udi yang demikian mahir bahasa Arab terbius oleh sesuatu yang salah. pernah saya Tanya arti ’qalb’. Liver saya memang seperti daging yang dibakar setengah matang! Pasti ketika menyantet saya. Lupa bahwa ’qalb’ itu artinya jantung. Lalu memanggangnya. Karena maraknya pandangan santet di masyarakat kita. Tuhan toh tidak akan membedakan doa yang dikirim dengan cara dipanjatkan. Memang. Dan lagi. Lalu bergegas meralat jawaban pertamanya. atau yang di-compresskan seperti yang dilakukan golongan tasawuf Shatariyah. Bahkan. kita lupa mempersoalkan mengapa para ahli bahasa dulu menerjemahkan kata ’liver’ (bahasa Inggris) menjadi ’hati’ dalam bahasa Indonesia? Kini sudah sulit mengubah agar liver jangan lagi diterjemahkan menjadi ’hati’. bisa-bisa mengerasnya liver saya diterjemahkan ke dalam bahasa Arab ’sadat qulbuha’ (sudah keras hatinya). “… fasadat qulubuhum”. yang di-e-mail-kan. Orang di desa saya akan langsung mengatakan. Bayangkan.

Anak kalimat itu adalah keputusan yang diambil dalam kongres para pemilik kulit keruh.Jadi. Tanpa kaus kaki pun kini perut tidak merasa kembung. Dulu. “Untung. Ternyata biarpun saya pijit kuat-kuat. setiap kali saya memijit kaki. Tidak perlu lagi dilaminating kedua atau ketiga. Maksud saya kembali ke hitam yang aslinya. Dokter bilang. Para hafidz (penghafal) Alquran di Surabaya memang aktif berkumpul sebulan sekali di tempat berpindahpindah. Atau justru sudah terbiasa nyaman dengan payudara seperti gadis yang menginjak remaja. Tiap tiga bulan sekali di rumah saya 75 by Moezhanks . Masih tetap besar. Berbeda dengan saat para karyawan berkumpul untuk berdoa di rumah menjelang saya operasi. Tapi. pada keadaan ’tidak membenci kaus kaki’ itu. Maka. Begitu hebat pemberian itu sehingga harus digunakan sebanyak-banyaknya. Padahal. Minggu lalu diadakan acara pengajian dan hafalan Alquran sehari penuh hingga tarawih. yang meski sudah dipotong sepertiga. kalau istri saya merasa sangat gembira akan keberhasilan transplantasi liver ini. Kita tidak boleh memubazirkan rezeki dari-Nya itu. tapi masih dua kali lipat lebih besar dari limpa asli. justru saya tidak terlalu memerlukannya. Kini kaki saya juga tidak bengkak lagi. Kini saya kembali sering memijit kaki saya dengan sangkaan sebaliknya: jangan-jangan bengkak lagi. bahwa Tuhan telah memberikan manusia otak yang luar biasa cerdasnya. Bisa-bisa susternya marah dan mengembalikannya ke dekat payudara. Bukan hitam karena sirosis.” tambahnya. lama-lama juga akan kembali normal. urusan ilmiah memang jangan terlalu dikait-kaitkan dengan keyakinan keagamaan. Memang setelah 1. Saya makin sembuh. suasana pengajian di rumah juga lebih ceria. saya masih sering memijit-mijitnya. bukan lagi dekoknya cepat kembali. Setengahnya karena sudah menjadi kebiasaan selama dua tahun terakhir. harus dalam rangka dzikir. kini kembali … hitam. Kalau toh dikaitkan. setiap memijat kaki. Saya belum bisa memperkirakan apakah saya akan lebih senang dengan payudara saya yang asli. Saat itu suasananya murung. sana: “Apakah bulunya yang dicukur juga sudah kembali normal?” tulisnya di SMS. apalagi ketakhayulan. Demikian juga saluran pencernakan yang telanjur ’dilaminating’. antara lain karena wajah saya kini sudah sedikit berubah. Saya juga tidak lagi membenci kaus kaki. Sumsel. seorang teman masih sempat menggoda saya dari Musi Banyuasin. Limpa saya. Meski begitu. Kita-kita barangkali baru menggunakan lima persennya. dulu tidak jadi minta dikembalikan. sebaiknya. bahkan tidak bisa dekok sama sekali. Kalau sedikit-sedikit sudah harus lari ke doktrin. lama-lama juga akan kembali normal. Imbuhan kata terakhir itu bukan asli ciptaan saya. setiap itu pula saya disadarkan bahwa keajaiban tidak berlaku di bidang yang amat scientific ini. tapi sudah mulai mengencang. meski hitam banyak yang antre. Membaca SMS mengenai mulai pulihnya organ-orang di tubuh saya. orang yang paling pinter pun baru menggunakan sebagian saja otaknya. wajah saya yang sudah dua tahun menghitam. Tapi. setengahnya lagi untuk mengetes apakah dekok akibat pijatan itu bisa cepat kembali. Kini wajah saya sudah boleh dibilang kembali seperti hitamnya kereta api (duile!).5 bulan transplantasi. untuk sedikit mengangkat derajat mereka. Dia tidak perlu lagi menghadapi rasa malu karena suaminya meninggal dalam keadaan wajah menghitam. Bagaimana dengan payudara saya? Tiap hari saya masih meraba-rabanya. kita akan semakin terbiasa tidak menggunakan ciptaan-Nya itu. selalu berharap ada mukjizat atau keajaiban.

Karena masih keturunan Arab. Kulitnya putih bersih. polisi turun tangan. Anehnya. Si kecil kian berontak dan berteriak-teriak. si kecil pergi ke taman bermain dengan pamannya yang juga membawa ciri fisik keturunan Arab. Lalu mengisahkan keberhasilan Daud mengalahkan Jalut (Goliat). wahai keluarga Daud. Ketika di rumah sakit. Juga sudah sering mengucapkan istighfar. “Bekerjalah yang sungguh-sungguh. tentu anaknya juga masih membawa ciri-ciri fisik bapaknya. Yakni. Ada yang menerima informasi bahwa kenalannya langsung berubah menjadi amat jeleknya. kerja keras lagi. setelah istrinya melahirkan. ketika baru sebulan antre untuk mendapatkan donor. (Bersambung) Ganti Hati 27 – Liver Ganti. Suatu saat. si kecil tidak mau. si paman memaksa menggendongnya pergi.Kini saya sudah bisa membuat perencanaan. Tinggal. ketika pemikir itu ditanya mengenai apa bagaimana berislam yang baik dan enak. Saya sudah beberapa kali mengucapkan alhamdulillah. si paman mengajak si kecil kembali ke hotel. Melihat orang Arab membawa pergi anak Tionghoa sampai menjerit-jerit itu. kemudian berumah tangga. literatur yang mengatakan bahwa banyak kasus si penerima organ akan mengalami perubahan.” kata Cak Nur. Bersyukur dengan cara bekerja keras. Waktu senja sudah tiba. Saya sendiri. Di akhir ayat yang mengisahkan soal ini. begitu sembuh. si bapak kembali ke Guangzhou bersama anaknya yang masih kecil yang seperti anak Tionghoa itu. bekerja adalah tingkatan syukur yang tertinggi setelah mengucapkan alhamdulillah dan istighfar (minta ampun). Terpaksa si paman menelepon bapak si kecil. begitu tidak pastinya penyembuhan sakit saya. Si paman diamankan dengan sangkaan melarikan anak penduduk setempat. Apalagi. Saat menangis itulah. tertulis “Bekerjalah. Gara-garanya. sebagai tanda syukur kepada-Ku”. Bahkan sampai menangis. Liong Pangkiey. Bahkan. Anaknya tumbuh dewasa. Itulah juga yang akan saya tiru. urusan selesai. Ini karena donornya dari India. Tapi. badannya menjadi berbulu. Sejak sebelum dilakukan transplan sampai sesudahnya. Setahun kemudian. Tim saya juga mengatakan begitu. Kecuali yang amat penting. Operasi itu sukses sekali. Akhirnya. anaknya seperti Tionghoa. keluarga salah satu direksi Grup Jawa Pos sendiri mengalaminya. Kali ini menyangkut wanita Shanghai yang baru transplantasi jantung 76 by Moezhanks . tidak berani bikin janji kapan menerima tamu dan kapan harus rapat. Dulu. membawa koran lokal yang juga memberitakan kejadian serupa. Maksudnya akan memeriksakan ginjalnya setelah lebih dari 10 tahun transplantasi. Khawatir Berubah Tak Bisa Menulis Baik 21 September 2007 KARENA yang diganti ini adalah hati. seperti dikatakan Cak Nur. Saya akan mensyukuri keberhasilan transplantasi liver saya dengan meneruskan kerja keras. pemilik pabrik sepatu di Surabaya yang asli Gorontalo itu. Anaknya harus transplantasi ginjal di Guangzhou. apakah perasaan saya tidak berubah? Pertanyaan itu bahkan datang dari diri saya sendiri. kirim SMS bahwa temannya ganti ginjal. saya tidak berani bikin perencanaan yang agak panjang. Bahkan. Perencanaan pertama yang muncul di pikiran saya adalah apa yang diucapkan Cak Nur.

penakut. Saya jawab: Kali ini saya memang minta jangan ada satu foto pun yang disertakan dalam tulisan ini. Kalimat pendek. dia mulai menyenangi internet. Yakni menceritakan hal-hal detil yang dianggap sepele. Tapi. tapi sebenarnya penting. sebagian lagi untuk mengetes apakah saya masih bisa menulis dengan baik. harus wartawan yang menuliskan ceritanya. “Bahkan kalau naik mobil suka ngebut. saya sudah minta laptop. saya harus fair. Secara terbuka. mantan redaktur Jawa Pos yang kini menjadi redaktur majalah Swa. Kini giliran saya bertanya kepada pembaca: Apakah ada perubahan dalam gaya penulisan saya? Memang. saya akan mengetes diri sendiri agar dalam tulisan ini memberikan sebanyak mungkin deskripsi. tulisan itu bisa membuat pembaca seolah-olah bercakap-cakap sendiri dengan sumber berita. beberapa bulan setelah operasi. Imajinasi pembaca kadang lebih hidup daripada sebuah foto. Koran tersebut juga menampilkan foto keluarga itu yang lagi bergurau di rumahnya. tidak mau keluar rumah. Saya juga selalu mengajarkan agar dalam menulis kalimat-kalimatnya harus pendek. Ketika saya sendiri mengalami itu. Kalau itu sampai terjadi. semakin membuat tulisan itu seperti kucing yang banal. bisa membawa pembaca seolah-olah menyaksikan sendiri suatu kejadian. Wanita itu biasanya pemurung. Sebuah tulisan yang deskripsinya kuat. Inilah salah satu kunci kalau jurnalistik tulis masih diharapkan bisa bertahan di tengah arus jurnalistik audio visual. ketika masih jadi pemimpin redaksi Jawa Pos. Waktu itu jantungnya mogok di atas pesawat dalam penerbangan ShanghaiShenyang. begitu saya mengajarkan. 77 by Moezhanks . Karena itu. Deskripsi yang kuat bisa membuat pembaca seolah-olah merasakan sendiri kejadian itu. Mengutip kata seorang sumber berita dalam sebuah kalimat panjang sama saja dengan mengajak pembaca mendengarkan khotbah. Tapi. dengan selingan kutipan-kutipan pendek. langsung dilarikan ke RS dan harus menjalani transplantasi. dan banyak omong. ada seorang teman yang setengah bertanya dan setengah menyesalkan: Penyakit kok diberitahukan ke orang-orang. Semakin pendek sebuah kalimat. di koran lagi. Karena itu. akan membuat tulisan menjadi lincah.” kata suaminya. sering menugasi wartawan agar mewawancarai tokoh-tokoh yang berhasil mengatasi penyakitnya. Karena itu.di Kota Shenyang. Mengapa? Ada dua tujuan. mengendarai mobil. mengapa tidak disertai foto-foto? “Bukankah Anda dulu mengajarkan setiap features harus disertai foto? Kalau perlu pinjam ke sumber berita?” tanya Edy Aruman. Turun pesawat. “Saya menjadi agak khawatir pada istri saya. Sebagian agar tidak ada catatan di otak saya yang hilang. Deskripsi yang kuat bahkan bisa menghidupkan imajinasi pembaca. Kepadanya saya jelaskan bahwa saya dulu. wanita itu kemudian suka main saham di pasar modal. saya harus mau menuliskannya. apakah yang paling saya takutkan? Kekhawatiran utama saya ternyata ini: tidak bisa lagi menulis baik. Kalimat-kalimat yang panjang membuat dada pembaca sesak. begitu saya mengajar. Saya juga sering membayangkan jangan-jangan mengalami hal yang sama. Tidak semua orang bisa menulis baik. Saya memaksakan diri untuk memulai menuliskan pengalaman saya ini.” ujar suaminya seperti diberitakan China Daily. seminggu setelah operasi. dan introvert. Pertama. Saya sering mengajarkan kepada wartawan kami agar jangan mengabaikan diskripsi. Tapi. Apalagi kalau di sana-sini diselipkan kutipan omongan orang. Yang lebih mengherankan lagi. Kutipan itu -direct quotation-juga harus pendek-pendek.

” tambahnya. Dalam proses pengiriman berita dari komputer ke komputer itu. tentu saya berharap segera diberi tahu. Prinsip-prinsip jurnalistik yang baik harus lebih dipentingkan. Lalu. Setiap membicarakan persiapan transplantasi. “Kalian yang laki-laki harus waspada. Misalnya: Apakah Anda sudah membaca ulang tulisan Anda? Di belakangnya dimunculkan kolom isian: sudah dan belum. Saya tidak puas dengan lambatnya pelaksanaan ide ini karena saya tidak lagi dalam posisi pemimpin redaksi. Saya sendiri tidak tahu apakah tulisan saya mengenai pengalaman ganti liver ini masih mencerminkan doktrin jurnalistik saya itu. saya ingin agar di layar komputer muncul dulu sejumlah pertanyaan yang harus diisi si reporter. Laura yang dimaksud adalah “lanang ora.Alasan kedua mengapa foto tidak disertakan di tulisan ini adalah: Semua foto akan dimuat ketika tulisan ini diterbitkan dalam bentuk buku. Sumbang-menyumbang dari satu disiplin ilmu ke ilmu yang lain. Maka. namun penerapannya masih memerlukan pembuatan software komputer. Untuk kemajuan.” ujar yang lain. Misalnya mengenai cover both side. Sampai hari ini. Orang lainlah yang tahu. saya bisa menyumbangkan ilmu manajemen ke dalam jurnalistik melalui penerapan “rukun iman” Jawa Pos. Padahal. itu karena saya ganti liver. tanggung jawabnya jelas. si reporter tidak bisa menekan tombol “kirim”. “Kita harus segera carikan pekerjaan yang cocok. bos Pakuwon Jati itu. Dan jangan-jangan. Kalau kelak ada reporter yang menipu dengan cara mengisi kolom yang salah.” gurau Melinda. menyumbangkan software untuk prinsip cover both side yang penting itu. apa salahnya dilakukan. pertanyaan sudah berimbangkah berita yang Anda tulis? Apakah pihak-pihak yang Anda tulis sudah diwawancara? Dan seterusnya. Lalu. Melinda Teja. saya ingin di setiap komputer yang digunakan reporter dilengkapi software check-list. saat menekan tombol “kirim” itulah. Kalau tidak. Lalu. tapi juga sumbangan IT ke dalam jurnalistik. masih ada satu lagi ide saya yang akan saya sumbangkan ke dunia jurnalistik. ide ini penting justru untuk menyesuaikan praktik jurnalistik di alam kebebasan mutlak seperti sekarang. tanggung jawab justru lebih besar. “Saya sangat khawatir kalau liver yang didonorkan itu punya sifat asli seorang gay. Jawa Pos-lah yang pertama menerapkannya. Setiap kali reporter selesai menulis berita kan harus mengirimkannya ke redaktur untuk diedit. Di tulisan mendatang saya juga akan menceritakan sumbangan “ilmu tauhid” ke dalam bisnis dan manajemen. dia tidak akan bisa menekan tombol “kirim”.” tambahnya. Kalau “belum”. tim saya ternyata juga sering menyinggung kemungkinan perubahan perilaku saya pascatransplantasi. 78 by Moezhanks . wedok ora” (tidak laki-laki dan juga tidak perempuan). Saya berharap software yang saya inginkan itu segera dibuat. Setiap pertanyaan disertai kolom isian. Nah. Ide ini sudah saya kemukakan lima tahun yang lalu. berarti juga ada kemunduran dalam kemampuan saya menulis. Tentu dengan nada penuh humor. Kalau tidak mengisinya. pemberitaan yang berimbang. “Saya justru khawatir kalau itu liver Laura. Foto-foto seputar operasi. diri sendiri kadang memang tidak bisa merasakan. Jangan hanya dijadikan bahan gosip semata. Sebenarnya. Maka. reporter harus menekan tombol “kirim”. misalnya. Tapi. termasuk foto-foto liver saya yang lama. saya belum merasakan perubahan apa-apa. Itu bukan saja menjadi sumbangan saya ke dunia jurnalistik berikutnya. Dalam alam demokrasi seperti ini. Kalau saja seperti itu.

Bahkan. pasien langsung membuat rencana tanggal berapa akan pulang. dokter sudah mengizinkan saya pulang. Rasanya ingin terus dekat dengan Ka’bah dan mencium berkali-kali hajar aswad. Ini baru saya ketahui setelah bertahun-tahun kenal. Tawaf (berjalan memutari Ka’bah) dilakukan berkali-kali -meski “tawaf” di mal dan supermarket juga tidak bosan-bosannya. Makanya. kalau pulang. Tim Surabaya juga demikian. mengapa tambah dua bulan lagi tidak kuat?” tambah Ir Budiyanto.Yang jelas sudah berubah adalah perut saya. Yakni silicon scar treatment. filsafat ojo dumeh dan hukum “timba sing kudu nggoleki sumur”. 6 September yang lalu sebenarnya saya sudah bisa kembali ke Indonesia. Saya yang Jawa bicara Mandarin. Tapi. Fokus pikiran sudah berubah: Pulang! Pulang! Pulang! Ini bagian dari misteri rumah.” jawabnya. saya tahu dia salah satu tokohnya. Sebab.” ujar tim kami. sebuah batu hitam (blackstone) di pojok Ka’bah. kemudian. Agar tidak lupa bahasa Jawa tinggi itu. di rumah saya menggunakan bahasa Banjar. Sebelum tiba hari pelaksanaan haji. Lebih terutama lagi ibu-ibu di Amerika. saya kira. Sebuah konotasi yang ternyata salah. apa kromo inggil untuk forward? Keinginan pasien untuk cepat-cepat pulang memang agak ajaib. “Saya bukan Kristen. saya pasti langsung lupa diri.” jawabnya. Nah. berarti dia Konghucu atau Buddha. Dia tahu. (Bersambung) Ganti Hati 28 – Tunggu Pulang Diimunisasi Hepatitis B. ketika menjenguk saya. kulit perut saya tidak mulus lagi. Akibat sayatan pisau bedah yang panjang. Terutama yang biasa digunakan ibu-ibu yang melahirkan secara caesar. Sudah tawaf siang hari. perancang Gedung Jatim Expo dan Rumah Cepat Tsunami Aceh. tim saya. Dia Tionghoa dan lulusan Fakultas Teknik Universitas Kristen Petra Surabaya. tim dokter tidak membawa ahli obras malam itu. dia tidak nyambung. Dulu Budi itu. minta saya lebih bersabar. saya lagi mengusahakan untuk memperhalusnya. Saya berpikir salah sekali lagi. Sudah pagi hari mencoba malam hari. Saling SMS dan email pun pakai kromo inggil hingga suatu saat kebentur kata forward. ketika saya ajak omong Mandarin. Karena itu. Oh. seorang Kristen. “Apakah tidak ke gereja?” tanya saya saat dia mengajak rapat soal Aceh di hari Minggu. saya selalu kromo inggil kepadanya. ada yang minta biar enam bulan baru pulang juga lebih baik. Kalau saja usaha itu tidak berhasil. misteri kampung halaman. bicaranya kromo inggil. Saingi Cucu 22 September 2007 TEPAT sebulan setelah transplantasi. biar dua bulan menunggu pun asyik-asyik saja. Pak. Ada sederet bekas jahitan yang kasar. mencoba sore hari. Saya masih memesannya lewat internet karena hanya di AS barang itu dijual. seorang pembaca mengirim SMS ke saya: Tiongkok sudah pula membeli hajar aswad?) 79 by Moezhanks . Begitu seminggu setelah operasi berhasil (umumnya mereka tandai dengan bisa jalan-jalan). Kromo inggil pas sekali kalau dipakai bicara soal ajaran sangkan paraning dumadi. Suasana kebatinan setelah operasi mirip dengan setelah berhaji di Makkah. “Kalau selama ini sudah sabar enam bulan. anggaplah saya baru saja melakukan caesar tiga kali berturut-turut. Itu sebabnya bahasa Inggris membedakan mana kata “rumah” (house) dan mana kata “rumah” (home). “Saya penganut Sapto Dharmo. (Waktu saya menulis bahwa Tiongkok dengan kekayaan barunya sudah mampu membeli saham perusahaan raksasa Amerika yang bernama Blackstone. “Rupanya. Ada cara yang katanya cukup mujarab. Semangat menjalani ibadah luar biasa. Bahkan. terutama Robert Lai. Jadi. Dia Tionghoa. Sejak itu. Aneh.

Saya tersenyum mendengar bahwa saya harus menjalani beberapa kali suntikan imunisasi. “Saya kaget. Saya harus mencari kawan baru. suatu saat saya akan menciumnya. saya berencana mendirikan lembaga yang tugasnya gerilya ke kawasan-kawasan miskin untuk mencari anak yang belum diimunisasi. Kok tumben. Pasien Jepang bahkan tiga minggu sudah check-out. Kampanye yang berhasil. kalau terjadi apa-apa. Di dua negara itu ada rumah sakit yang punya pengalaman merawat pasien pascatransplan.Karena itu. “Kalau bukan karena Rasulullah pernah menciumnya.” kata saya pada suster yang akan menyuntik. Maka. Antiklimaks yang tajam. Tentu. “Departemen Kesehatan harus membayar Anda. Saya kembali tersenyum. Begitu juga pasien transplan liver. agak siang sedikit. Pasti pagi-pagi mereka sudah baca Jawa Pos.” kata Pinto Janir dari Padang kirim SMS ke saya. Tuhan pasti tahu isi pedalaman saya. Karena itu. Tentu. Kebiasaan saya Lebaran di Makkah tidak bisa saya lakukan lagi tahun ini. Bersaing dengan Icha. tinggal saya sendiri yang dari Angkatan April 2007. dan njlimet. Berarti juga harus mau menjadi narasumber untuk bagi-bagi pengalaman kepada 80 by Moezhanks . Bahkan. meski entah sudah berapa kali saya ke Makkah. Pasien dari Taiwan umumnya sudah pulang sebulan setelah transplantasi. Bagi yang masih lama dapat giliran pulang.” tulisnya di SMS-nya. rasanya sudah amat berbeda. Kecut. Sedang kalau saya pulang. Saya tidak tega kalau harus berebut seperti itu caranya. Saya sudah amat senang kalau tulisan saya ini memberikan manfaat. sudah terlalu lama menunggu di rumah sakit ini. Tidak kejangkitan hepatitis atau sel bibit kanker. rumah sakit mana yang punya pengalaman cukup untuk pasien seperti saya? Walhasil. suasana di sekitar Ka’bah tidak pernah sepi. Tidak ada lagi teman-teman lama yang saya kunjungi setiap hari. Sudah antiklimaks. luar biasa tidak sabarnya. Saya dapat informasi bahwa dokter-dokter anak di Surabaya juga kebanjiran bayi yang minta diimunisasi hepatitis B. Mereka berebut menciumnya. cucu saya. Saya akan membiayai kegiatan itu. saya belum bisa mencium hajar aswad -secara fisik. Hasil tes terakhir memang menunjukkan bahwa liver baru saya bersih. Suster tertawa.” kata dr Wawan yang dulu pernah jadi anggota yang aktif di Dewan Pembaca Jawa Pos. Toh mencium hajar aswad itu bukan rukun tawaf. saya tidak akan sudi menciumnya”. saya tidak mengharapkan bayaran itu. Maklum. Ada terus kegiatan orang di Makkah sebelum hari haji. “Sudah umur 56 tahun baru imunisasi. Karena itu harus segera dilindungi dari dua makhluk halus (karena hanya bisa dilihat oleh mikroskop) yang pernah mengancam jiwa saya itu. pikirannya sudah langsung fokus ke pulang. saya baru tahu sebabnya. begitu pulang dari Padang Arafah. Saya perlu sejumlah tenaga yang punya antusiasme menangani pekerjaan tersebut. Diam-diam. Ternyata benar juga bahwa saya tidak buru-buru pulang. Kadang dengan cara menyikut dan menyingkirkan orang lain. saya memutuskan baru akan kembali ke Surabaya sekitar seminggu setelah Lebaran. tekun. “Hati” dalam pengertian pedalaman saya -bukan hati dalam pengertian liver saya. Mungkin akan ada manajemen yang lebih baik untuk mengatur antrean itu. Tapi. “Jam lima pagi sudah lima ibu yang mendaftar. Saya masih harus menjalani satu proses yang amat lucu: Imunisasi hepatitis B. Tuhan kita adalah Tuhan yang cerdas. Mereka memang tidak perlu khawatir. Syayidina Umar pernah mengatakan. “Uda. Kemacetan manusia selalu terjadi di sekitar hajar aswad. Yakni pada hari saya mengungkapkan mengapa saya sampai menderita penyakit seperti itu. Begitu bisa jalan. Oh. Karena teman-teman se-”angkatan” saya sudah pada pulang. saya selalu berusaha menciumnya dengan hati saya yang dalam.” tambahnya. apalagi begitu selesai salat Idul Adha. Saya tidak sampai hati melihat pemandangan itu. Bahkan. Bahkan sudah menjadi seperti satu network dengan pusat transplan di Tiongkok ini.

” kata seorang perawat. Mulutnya. Lalu. Bahkan. Hati baru. Saya merasa mereka beri semangat. Juga lebih merah. Sebelum operasi. Jawaban-jawaban itu tidak terlalu memengaruhi psikologi saya. Lebih segar dan merah daripada yang saya lihat sebelum operasi. Seminggu sudah bisa jalan! Saya pun akan begitu nanti! Seminggu. Dia seorang wanita 60-an tahun dari Pakistan. Tapi. Serombongan besar orang Korea memenuhi lantai 11. Saya ingin ikut memberikan semangat agar mereka optimistis menghadapi operasi besar. Bahkan. saya tertegun. Transplantasinya sukses dan amat sehat. tiga orang di antara mereka (antara umur 60 dan 70 tahun) mau saya ajak masuk kamar saya. tiga bulan kemudian. saya memang suka bertanya kepada pasien yang baru saja menjalani operasi. seminggu setelah operasi juga sudah bisa jalan. Lengannya dipegangi oleh suster. meski thimik-thimik. “Oh. saya tanya kepada susternya: Sudah berapa hari dia operasi? “Tepat seminggu yang lalu. berikut kantong plastik kecil. Saya kian rajin senam untuk membuat badan saya lebih segar. Suatu saat ada contoh-hidup yang lain. begitu pertama melihat pasien yang jalan-jalan di koridor rumah sakit dengan kantong plastik berisi cairan merah menggantung di pinggangnya. Pasien ketiga juga sama. Juga kian segar badannya. Saya lebih semangat makan.mereka. Giliran saya memberikan semangat. yang badannya memang sudah kurus dan umurnya sudah 62 tahun. tentunya.” jawabnya. Ternyata dengan suka rela mereka menceritakan segala pengalamannya. Konon.” katanya sambil menyingkap bajunya. Dahlan. wajahnya segar. ajaib memang transplantasi ini. waktu seharusnya dia kembali ke Tiongkok untuk mengeluarkan benda yang dipasang untuk menyambung livernya dulu. napasnya sudah tersengal-sengal. Yakni yang transplantasi enam bulan sebelumnya. Di negaranya langsung aktif karena memang terasa sudah amat sehat. begini ya orang habis transplantasi. pikir saya. Toh. hanya seminggu! Sudah bisa jalan! Kau nanti juga harus begitu! Kalau perlu lima hari! Dengan melihat contoh nyata itu. 81 by Moezhanks . Agar tidak jadi sumber infeksi. Mereka ingin datang lagi bersama keluarga dan kerabat. memang masih terus akan di situ selama tiga bulan. Sebulan setelah transplantasi langsung pulang. seorang anggota parlemen. ingin bertanya masak kini mereka bisa begitu sehatnya. kelima. Dilakukan sendiri oleh dokter setempat karena dia juga ahli. tanpa harus merasakan enaktidaknya. dipasangi masker. saya tidak harus membeli semangat. “Lihat ini. saya hanya sekali mendengar orang meninggal. Begitu jugalah saya nanti. Tiap dua minggu harus dibersihkan dan dirawat. tentu lima hari setelah operasi sudah bisa jalan. sudah tergeletak tidak bisa berjalan. Untuk menunjukkan di sinilah dulu mereka dapat sambungan nyawa. juga mulut susternya. optimisme saya kian menyala-nyala. Saya pun merasa dapat semangat yang sama dari pasien yang menjalani transplan sebelum saya. Perawatan terhadap slang yang masih ada di pinggangnya pun dilakukan di negerinya. Saya melakukannya dengan senang hati. Dia saja. Ada pemandu wisatanya. Tiba-tiba saya penasaran. Meski badannya kelihatan lemah. Rasa optimistis kian hari kian besar setelah melihat pasien tadi di hari-hari berikutnya. Jadi. Wisatawankah mereka? “Mereka adalah orang-orang yang dua-tiga tahun lalu transplantasi di sini. Atau ke keluarga mereka. Di kamar saya semangatnya menjadi-jadi. Terlihatlah di kulit perutnya bekas sayatan dan jahitan yang panjang. seminggu sudah bisa jalan. Agar bisa bicara lebih santai. Oh! Baru seminggu yang lalu! Sudah bisa jalan. Bahkan.” pikir saya. Mungkin memang politisi yang sibuk. pasien yang sebelum operasi kelihatan matanya sudah amat keruh. Pasien kedua yang saya lihat pun begitu. Badannya lebih kurus daripada yang saya lihat sebelum operasi. Kalau badan saya lebih kuat. dia tidak ke Tiongkok. Kian hari kian cepat jalannya. Jalannya thimik-thimik pelan. Semua kurang lebih sama. Slang itu. Pasien keempat. Selama empat bulan menunggu operasi. dan seterusnya.

saat keduanya masih kira-kira berumur 30 tahun.” tambahnya.Beberapa saat setelah itu. Tiongkok. Bicaranya. Yang ditunggu tidak segera tiba. dan kanker hati. Bahkan memburuk. tentu orang akan mengira dia hamil. Bajunya bagus-bagus dan mahal-mahal. karena saya pernah lama di sana: Belajar bahasa Mandarin dengan cara home stay. Dua-duanya juga amat cantik -terutama kalau penilaian ini saya berikan 35 tahun yang lalu. Tidak satu pun keluarganya mendampingi. dia terkena infeksi. Lebih dari itu dia juga mengidap sakit gula. Satu dari Jepang. Kian lama kian parah. saya tidak menceritakan bagian ini padanya. Di lain waktu wanita Harbin tadi curhat yang lain lagi. Yang wanita Jepang amat modis. Sendirian. Kami biasa saling curhat. Saya memahami keadaannya.” katanya. “Saya nanti pulangnya mungkin paling belakangan. Kalau saja dia masih muda. Dia ngiri melihat badan saya yang sehat dan agak gemuk. “Umur saya sudah 72 tahun.” katanya. “Perut saya sudah berisi air. Di Tiongkok dia akan ditransplantasi sekali lagi.” katanya. Saya harus belajar dari pengalaman itu. satunya lagi dari Harbin.” tambahnya. Bukan saja mengenai umurnya. tapi juga kondisi badannya. Saya sering sekali mengunjungi kamar masing-masing dan ngobrol berlama-lama. Tapi. Saya tidak harus buru-buru pulang. Dia juga tidak bisa berbahasa Mandarin sehingga hanya saya pasien yang bisa dia ajak ngobrol dalam bahasa Inggris. Sepatunya seperti Cinderella. Rambutnya disasak tinggi. “Umur saya juga sudah 69 tahun. antara lain. dia bahkan pergi naik haji. Lalu datang lagi ke Tiongkok untuk menyelamatkannya. Keduanya tinggal di lantai yang sama. Dan akhirnya meninggal. Entah proses pengambilan benda asing itu yang salah atau karena kegiatannya yang berlebihan. 82 by Moezhanks . Wanita yang dari Harbin lebih mengeluh lagi. Dia sendirian. Dua wanita itu juga amat mengesankan. Apalagi mereka senasib: juga hepatitis. dan intelektualnya bisa nyambung dengan saya.” kata wanita yang dari Jepang itu suatu saat kepada saya. “Kalian sudah pulang semua. Saya juga berjanji kepadanya untuk terus memberinya semangat. Terutama kalau istri saya pergi belanja. Saya memang tidak menceritakan bahwa gemuk saya waktu itu karena bengkak. Saya ceritakan kenyataan bahwa ada pasien lain yang juga punya sakit gula toh berhasil dengan baik juga. Saya menjawab: Saya juga tidak akan buru-buru pulang. guraunya. Saya cepat akrab dengan wanita Harbin ini. saya akan masih di sini. Saya tahu bahwa sakit gula akan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sukses tidaknya transplantasi. (Bersambung) Ganti Hati 29 – Sering Kaget Disapa Wanita Modis dan Ceria dalam Lift 23 September 2007 DI masa menanti waktu pulang ini. namun menunggu kondisi badannya stabil. Juga sudah tak terhitung lagi berapa kali saya ke Harbin sesudah itu. saya kehilangan dua teman wanita yang paling saya akrabi. sirosis. “Saya nanti tidak sesukses kamu.

Saya ingat direktur saya Zainal Muttaqien.Benar saja. celananya hot pants (maklum.” sering saya bertanya dalam hati. Pasti semakin modis dia nanti. pegawai. Yang kamar 83 by Moezhanks . Ini yang disebut social-capital -modal sosial. Eh. si Cinderella sangat berhasil operasinya. Dan ini menjadi salah satu sumber kemajuan Tiongkok. Karena ’yuan lao’. Mereka sama sekali tidak punya rasa rendah diri meski pekerjaannya tukang pel lantai. Muncullah istilah dari Zainal yang akan selalu saya ingat dan yang akan kami perjuangkan sebagai inti dimulainya pembangunan harga diri ini. Juga sudah bisa tertawa. para perawat itu ganti pakaian seperti model. harga dirinya lebih baik. akan bisa jadi model perjuangan itu. Bukan saja jarang lihat pengemis. Bagaimana ketika miskin dulu tidak jatuh sampai menjual harga diri dan jabatan. sungguh membelalakkan mata. Setiap masuk kerja mereka mandi dulu dan baru ganti baju perawat. saya belum punya sepeda. Kami sering diskusi soal kemiskinan di Indonesia dan Tiongkok. Sebaliknya. Saya dan Zainal.” katanya dengan meraba-raba perutnya. Yang seperti itu tidak hanya perawat. Meski memang lebih lambat mulai bisa turun dari tempat tidur. Perawat di sini memang disediakan kamar mandi dan ganti baju. sama sekali tidak menyangka kalau dia tadi yang pakai baju perawat dengan topi putih. ketika kerja tidak ogah-ogahan. Ini agar kuman yang terbawa perawat saat berangkat kerja tidak terbawa ke pasien. saya sangat hafal pada perawat. Dan. Sepatunya sepatu kungfu yang murahan. Begitu selesai bertugas. Benar. meski kalau tertawa lantas kian terlihat umurnya yang sebenarnya. begitu pulang. Menjalani perawatan di sana. Saya sendiri akhirnya mendapat gelar ’yuan lao’ di rumah sakit ini. tatanan rambutnya. Juga benar bahwa seminggu setelah operasi dia sudah menentukan tanggal pulang. Mengapa orang di Tiongkok yang juga banyak sekali yang lebih miskin dari orang miskin Indonesia. tapi saya seperti tidak kenal lagi siapa dia. Meski begitu hafal. Yang wanita Harbin juga sudah menjalani transplantasi. Tentu kami tetap menampakkan kegembiraan kami bahwa dia begitu sukses dengan transplantasinya. Pesuruh dan tukang pel lantai pun idem ditto. musim panas) dan rambutnya dimain-mainkan seperti artis Korea. juga kalau bertemu orang seperti tidak punya rasa rendah diri. Rumah separo tembok separo kayu. baru sadar bahwa mereka adalah perawat atau pesuruh yang tadi melayani saya. “Dokter saya di Jepang yang minta saya segera pulang. saya lihat perutnya “sudah hilang”. ketika sudah kaya (duille!) tidak sewenang-wenang. Dia sering menyapa. cara membawa tasnya. “Siapa ya wanita cantik ini. Pasien yang kerasan di rumah sakit. Bajunya you can see. Demikian juga ketika pulang kerja. Terutama pada jam-jam pulang atau berangkat kerja. Miskin Bermartabat”. apalagi sepeda motor. meski waktu itu sudah menyandang gelar wartawan majalah TEMPO yang begitu ternama. bicaranya sudah keras dan tegas. satu moto: “Kaya Bermanfaat. saya masih sering kecele kalau suatu saat disapa wanita yang sangat modis dan ceria di dalam lift atau di lobi. Tidak buru-buru pulang. pakaiannya baju-kerja penyapu lantai. dan dokter di rumah sakit ini. Sewaktu bertugas mengepel kamar saya. Tapi. dan banyak lagi yang lain. Mereka juga hafal pada saya. meski berangkat kerja dengan amat modis. Saya ingat.” katanya seperti minta pengertian. Bajunya. “Perut saya yang mulai buncit dulu itu. Rumah pun masih menyewa di satu gang sempit di belakang pasar Kertajaya. Juga sukses. Yakni. Surabaya. Bank Dunia menyebutkan social-capital ini menjadi faktor penting kemajuan Tiongkok di samping modal finansial. Rupanya mereka biasa ganti-ganti baju. sudah hilang. Penghuni lama.

tapi berjilbab pun akan dicarikan jilbab yang modis. Dari Kertajaya ke Jembatan Merah Rp 25. Ide itu tentu tidak mungkin dilakukan. saya belajar bagaimana menjalani pekerjaan rendahan dengan jiwa yang kuat.” kata saya. Tentu semua biaya seperti itu. eye shadow. agar murah. bangsa yang kalau melihat orang kaya yang muncul kecemburuannya. nggak menarik jadinya. Betapapun bersihnya sebuah kota. dan biaya ke salon. (Bersambung) 84 by Moezhanks . Kembali ke dua wanita tadi (eh. belum tentu lipstiknya digunakan. saya bilang kepada sopir agar boleh naik di kursi dekat sopir. Hanya cukup untuk naik bemo berangkatnya. Dan harga diri pegawai yang di situ sama tingginya. sepatu. Saya sudah minta manajemen Graha Pena untuk menghitung konsekuensi biayanya. saya hanya punya uang Rp 75 di saku. Saya pulang dengan jalan kaki. Hampir dua jam. di Graha Pena kami akan mencoba memberikannya secara cuma-cuma kepada pegawai bagian cleaning service-nya. tulisan ini tidak akan bisa selesai tepat waktunya. penampilan Graha Pena juga akan lebih “keren”. Tapi. ’tawaduk’. Saya menolaknya meski di saku tidak ada lagi uang sepeser pun. Yang juga mudah dibayar untuk. Bangsa yang mudah disogok dan dipermainkan. Yang airnya dari sumur yang harus ditimba sendiri. “Istri saya hamil muda. membangun kepercayaan diri begitu pentingnya. Atau. Kalau upaya meniru ini berhasil. misalnya. Sedangkan kita. Mereka bisa membedakan ’rendah diri’ dan ’rendah hati’. lipstik. Meski Tandes-Kertajaya begitu jauhnya. saya diberi amplop. lalu dari Jembatan Merah ke Tandes Rp 50. Petugas cleaning service tidak harus merasa rendah diri.mandinya dipakai bersama beberapa rumah tangga. Karena beberapa kali harus berhenti untuk menghindar dari panasnya Surabaya. Waktu harus pulang ke Kaltim. ’sopansantun’. Miskin Bermartabat” akan membuat bangsa ini tidak gampang jatuh ke derajat bangsa-pengemis. sekadar berdemo. kok ingat dia lagi sih?). Maka. Lalu muncul ide gila yang tidak masuk akal. saya pilih naik kapal kayu ke Banjarmasin dulu. Salah satu kesimpulan saya. Lalu naik kendaraan umum berupa jip terbuka yang penuh sesak dengan penumpang. kalau yang lalu-lalang di dalamnya kumuh-kumuh. Saya tahu isinya pasti uang. sering terbelit filsafat ’unggah-ungguh’. ditanggung sendiri. Kalau tidak. Saya khawatir dengan istri saya. Untuk membuat kota-kota di Indonesia cantik. Maka. kalau di rumah sakit ini. “Kaya Bermanfaat. Tentu tidak harus sampai pada hot pants. para wanita yang lalu lalang di kota itu harus juga terlihat cantik. Tapi. Dari penampilan para perawat dan tukang pel di rumah sakit ini. Sebab. Bisabisa dijual. tentu banyak orang yang akan memberi saya tiket. Selesai wawancara. Belum ada bus waktu itu. Yang kasur tipisnya harus dihampar di lantai. Saya kepingin sekali meniru ini di Graha Pena. Waktu harus wawancara ke daerah industri di Tandes Margomulyo. filsafat “Kaya Bermanfaat. Kalaupun dilakukan. Miskin Bermartabat” belum menjadi budaya. pemda yang menginginkan kotanya cantik dan menarik harus memberikan penduduknya yang wanita barangbarang ini secara gratis: Baju. yang sebenarnya tetap bisa kita lakukan tanpa harus jatuh ke derajat ’rendah diri’. kalau tidak mau dibilang kurang ajar. ternyata ada baiknya juga dia pulang lebih dulu. Jarang saya lihat orang Tiongkok yang merasa rendah diri.

Kecanggihan peralatannya. Selesai. Kondisi badan saya yang masih baik. sang suami meminta sang suci membacakan doa. Tuhan. Tapi. Bagaimana bisa punya pengalaman transplantasi liver 150 kali setahun kalau di negeri itu orang tidak bisa mendonorkan organnya? Mengenai kecanggihan peralatan. Engkau telah menyediakan makanan yang lezatlezat ini. dan di rumah sakit ini. Sang istri sehari penuh sibuk menyiapkan makanan yang lezat-lezat. Saya mencoba merincinya sebagai berikut: 1. Kalau mau pendek dan tampak religius. Terutama ingin menulis sesuatu agar para dokter tidak kehilangan semangat karena tidak dipuji sama sekali. Bahkan. Keahliannya pasti tidak kalah dengan dokter Singapura. Faktor mana yang terpenting. Tapi. Sudah tentu tidak hanya faktor keahlian dokter yang menjadi satu-satunya kunci sukses. Saya tidak ingin para dokter menjadi ngambek seperti humor ngambek-nya seorang istri yang sudah terkenal itu: Suatu saat sebuah keluarga ingin mengundang makan malam seorang suci. kalau ada waktu membahasnya lebih dalam. Mereka mengatakan semua ini karena Allah. jawabnya ini: semua itu berkat tangan Tuhan. Tapi. rumah sakit ini tergolong yang terbaik di dunia.” Ucap sang suci mengakhiri doanya.Ganti Hati 30 – Banyak Faktor Keberhasilan. Kemampuan manajemen rumah sakit dan tim operasinya. ada satu alat yang hanya empat di dunia: di AS. Waktu mau makan. Saya pernah menerima keluhan dokter ahli bedah jantung seperti Prof Dr dr Paul Tahalele. 2. Hanya satu-dua yang mengatakan. Saya ingin memujinya. 5. kesempatan untuk memperoleh pengalaman yang banyak sangatlah minim. “Terima kasih. 3. tapi Jangan Buru-Buru Merasa Sehat 24 September 2007 MENGAPA operasi transplantasi liver saya berhasil? Setidaknya sampai hari ini? Faktor apa saja yang memengaruhinya? Jawabnya dua macam: mau yang pendek atau yang panjang. 6. kalau jawabnya itu. saya ingin menulis. “Semua ini karena Allah dan kepintaran para dokternya. Selama makan sang istri merengut saja. Keberadaan donor yang sangat prima. Saya tidak diberi tahu alat yang mana. Setelah sang suci pulang. Tidak perlu lagi tambahan apa-apa. Siapa yang bisa membantahnya? Siapa yang berani mempersoalkannya? SMS yang masuk ke saya pun hampir semuanya bernada begitu. Kemajuan obat-obatannya. Jepang. Tersedianya peralatan yang canggih ini sangat terkait dengan kemampuan dana dan 85 by Moezhanks . Mau yang religius atau yang ilmiah. saya tidak perlu lagi menulis.” Tapi. pasti juga akan diketahui ranking-nya. Keahlian dan pengalaman dokternya. 4. Soal keahlian dokter. Korea. di Indonesia pun tidak akan kalah. Baik karena langkanya donor maupun minimnya peralatan. si istri menggugat suaminya: Tidakkah tadi kau laporkan kepada sang suci bahwa sayalah yang sehari penuh menyiapkan makanan ini? Saya tidak ingin para dokter njegol seperti si istri itu. rasanya sulit menentukan.

” katanya. saya membuat keputusan justru harus melakukan transplantasi ketika saya masih sehat. tapi kualitasnya belum tentu sebaik yang ada di dalam badan saya sekarang. “Apakah Pak Dahlan sudah mau mati? Mau khusnul khotimah?” komentar seorang teman secara diam-diam tapi sampai juga ke telinga saya. Apalagi saya juga menyelenggarakan zikir-pidak dan ikut mendengungkan kalimat syahadat yang sudah di-compress menjadi kata pendek hu itu ribuan kali. saya tidak memiliki bakat darah tinggi maupun gula darah. Kalau saja kemajuan obat-obatan tidak seperti sekarang. tapi kondisi badan saya sudah tidak bisa lagi menunggu lebih lama. Misalnya. Toh semua donor sudah diperiksa kualitasnya. Terutama kalau mereka melihat tanda-tanda fisik saya: mulai dari sudah muntah darah. Bahkan. bagi-bagi uang ini terdengar juga oleh pensiunan karyawan yang lain. akan lain hasilnya. Ini karena jantungnya memburuk. antara lain. kalau saja saya tidak sabar menunggu. tapi saya yakin sudah telanjur melukai hati mereka. obat antiinfeksi juga sudah membuat kegagalan karena infeksi amat minim. Mungkin akan mendapat juga donor. Lantas. Mereka juga melihat tanda-tanda nonfisik yang saya lakukan. Kegagalan yang terbanyak kini karena tekanan darah tinggi dan gula darah. Atau. dua-duanya belum bisa banyak dinanti. Misalnya. juga para pemegang saham. Kalau saja terlambat mengambil keputusan. Untuk Indonesia. Kalau sejak sebelum operasi saya optimistis bahwa transplantasi ini akan berhasil. mungkin juga banyak halangannya. Mereka aktif berpindah-pindah di Surabaya dan tiga bulan sekali di rumah saya. Tergantung perasaan saya seberapa saya merasa bersalah. Sebab. saya berikan uang. Untuk kegagalan transplantasi liver karena rejection. Asal kemudian ikut diundang. Tapi mulai lemas di hari-hari berikutnya. Mendapatkan donor yang prima pun. Kepada mereka (baik yang sudah pensiun maupun yang belum). obat-obatan yang harus dimakan setelah transplan menimbulkan efek samping di dua sektor itu. dia menghubungi saya lewat SMS: saya menyesal mengapa dulu tidak pernah dimarahi. sekarang jumlahnya hampir nol. dan wajah sudah menghitam. 86 by Moezhanks . Kebetulan. Di bidang kemajuan obat-obatan harus diakui bahwa kemajuan penemuan obat baru bukan main cepatnya. Saya juga sering mengadakan khataman Alquran yang diikuti para hafiz (orang yang hafal Quran). Obat sinkronisasi liver baru dengan organ lain sudah amat sempurna. “Boleh nggak sekarang saja dimarahi. Tapi kalau sudah telanjur marah. Salah satu pasien yang saya kenal kelihatan gembira sekali di hari pertama dan kedua setelah keluar dari ICU.keinginan pemimpinnya. Maksud saya ketika organ-organ lain saya masih baik. kalau saya sabar. Kadang saya sadari bahwa ternyata tidak seharusnya saya marah karena ternyata dia tidak salah. juga ditentukan oleh kondisi pasien. sudah bengkak. Tentu. Ada yang cuma Rp 5 juta. saya sering juga kemudian minta maaf. Begitulah nasib dokter kita meski itu juga dialami bidang yang lain. mungkin banyak yang pesimistis. Kondisi pasien yang prima memegang peran penting karena banyaknya komplikasi juga akan menyulitkan. Itulah sebabnya. Teman-teman. itu tentu ada kelas-kelasnya. saya sudah menghitung semua faktor di atas. antara lain. tentunya donor seperti apa pun akan diterima. Rupanya. masak bisa diralat? Yah. ada yang sampai Rp 100 juta. Hanya saya dan tim saya yang tahu. semua itu tidak saya informasikan kepada keluarga atau teman-teman. saya tiba-tiba mengundang teman-teman yang ketika bekerja di Jawa Pos dulu pernah saya marahi. Bahwa ada kualitas I atau II.

(Bersambung) Ganti Hati 31 – Setelah Transplantasi. Baju kami. Akhirnya meninggal dunia. Sambil menunggu saatnya transplantasi pun. cobek (mangkuk terbuat dari tanah). diambilkan dari kapur yang biasa dipakai nenek untuk makan sirih. Bahkan. “Saya yang akan atur. dan sebangsanya. sepulang dari Tiongkok nanti. dia melakukan transplantasi dalam keadaan sudah amat terlambat. Kian Tidak Jelas Hitungan Umur Saya 25 September 2007 UMUR berapakah saya sekarang? Tepatnya saya tidak tahu. Transplantasi pertama dilakukan di Beijing. Cukup disangkut-sangkutkan di paku yang menancap di dinding. Karena itu. dan leper (tempat mengulek sambal. Singapura sudah amat berpengalaman. buku yang saya baca adalah buku kisah artis terkemuka Tiongkok yang meninggal muda setelah transplantasi liver. Terutama: mengapa gagal? Apa yang tidak boleh saya tiru agar saya tidak gagal? Juga ada maksud saya yang lain lagi: belajar membaca huruf Mandarin.Para pemegang saham juga sangat khawatir ketika saya minta bertemu dan menyampaikan sesuatu yang amat sangat pentingnya. Sampai-sampai tim saya bilang. Kakak sulung saya memang pernah mencatat tanggal kelahiran saya. Singapura memang punya reputasi yang baik untuk perawatan pascaoperasi. Belum dua bulan sudah sibuk menghadiri berbagai acara. Itu bisa dilakukan dalam rangkaian perjalanan saya pulang kelak. Kankernya sudah telanjur menyebar ke bagian tubuhnya yang lain. untuk transplantasi “separo hati”. sekeluarga. Artis itu sudah amat terlambat melakukannya. “Apakah yang Anda lakukan ini ada hubungannya dengan sakit Anda?” tanya seorang pemegang saham. saya akan mampir dulu di Singapura beberapa hari. Lemari yang ada itu bikinan bapak sendiri untuk menyimpan apa saja: kaleng bekas. “Mbok jangan baca buku yang begituan. Berhasil. istri perdana menteri Singapura yang juga CEO Temasek Group. Pelajaran lain yang saya dapat adalah: Jangan buru-buru merasa sehat dulu.” tulis Madame Ho Ching dalam emailnya kepada saya.” Maksudnya jangan membaca yang seperti memberikan isyaratisyarat bahwa saya akan gagal dan meninggal. Madame Ho Ching. Itu bukan lemari pakaian karena kami tidak perlu lemari untuk pakaian. Padahal. Kebetulan. Ditulis dengan kapur lunak. tidak lebih dari sepuluh. Pelajaran penting yang saya peroleh dari buku itu adalah ini: jangan terlambat ambil keputusan transplantasi. Juga karena kami tidak bisa beli lemari. piring seng untuk makan. dia harus transplantasi lagi di kota ini. Apalagi setelah melakukan transplantasi liver ini. termasuk talk show dan jumpa fans di kotakota yang jauh. Makanan juga disimpan di situ -kalau kebetulan ada. Akhirnya. terbuat dari tanah). Yakni di balik pintu lemari kayu yang kasar. Juga berhasil. Mereka tidak tahu bahwa saya ingin belajar dari buku itu. kanker sudah lebih menyebar lagi. Tapi. 87 by Moezhanks . juga minta agar saya menjalani review di negaranya. Ini menambah kuat tekad saya untuk melakukan transplan ketika kondisi badan saya masih kuat.

Kalau toh ada orang yang selamatan kecil dikaitkan dengan hari kelahirannya. kami selamatan Rebo Wekasan. nyekar ke kuburan. Tapi. saya sudah harus bisa menyapu lantai. Juga menyenanginya -terutama saya punya kesempatan untuk me-ngepyur-kan air lebih banyak di dekat pulau ompol untuk mengamuflasekannya. saya ingat. Jangan gusar. suasana juga sudah tidak seperti itu lagi. Tiap pagi. Pakai selamatan dan tahlilan. “Lihat dia dari keluarga Masyumi.Itulah satu-satunya perabot rumah tangga bapak saya. itulah tugas pertama masa kecil saya: menyapu lantai. Kami makan sambil duduk di lantai. “Dia tahlil. Itulah peringatan meninggalnya Sayidina Hasan dan Husein.” kata yang lain. Sejak masih ngompol. kami juga ikut Kejawen: Bersih desa. entah apa bunyinya. aliran tarikat kami Syatariyah. Di atas tikar itu juga kami tidur. sering ada gambar pulau di lantai tanahnya: ngompol. Suatu saat saya dicap sebagai Muhammadiyah. Lebih aneh lagi. Di lain kali saya tidak diterima di kalangan Muhammadiyah. Untuk apa diingat? Untuk ulang tahun? Emangnya perlu ulang tahun? Bahwa orang itu ternyata bisa diulangtahuni belum pernah saya dengar sampai saya masuk SMA. lantai tanah sangat ramah lingkungan -setidaknya hidung kami sudah biasa tidak menghiraukannya.” kata seorang tokoh. tidak ingat. Sawah warisan yang hanya secuil. Ke dalamnya dimasukkan rajah kertas yang ditulisi huruf Arab yang ruwet. Perbedaan dua golongan itu sudah kian cair. putra Sayidina Ali dan Sayidah Fatimah. Karena lantai itu akan menimbulkan debu. Lagi pula. Tapi. salatnya pakai doa kunut. keluarga kami tidak mengenal itu karena kurang kejawen. sebelum disapu harus dikepyur-kepyur dulu dengan air. itu dilakukan setiap 35 hari sekali. bukan Naqsyabandiyah. kini. kami antre minum airnya. bapak ingat saya lahir Selasa Legi. yang aslinya milik aliran Syiah. pergilah lemari dari rumah kami -dan hilanglah catatan tanggal lahir saya. Meski akan menghabiskan air lebih banyak. Pada selamatan ini. Paginya. Kami hafal semua kapan meninggalnya siapa. gambar pulaunya lebih banyak dan lebih lama hilangnya. setiap Selasa Legi. Inilah keunggulan yang tak tertandingi dari lantai tanah: Bisa menyerap ompol sebanyak-banyaknya! Dia seperti popok abadi! Tidak perlu dibuang yang sampahnya bisa merusak lingkungan. Lantai itu terbuat dari tanah karena tidak mampu menyemennya. Dari segi ini. Kami keluarga santri. Di desa. Kalau mau makan. Yang biasa diulangtahuni adalah orang mati. Bahkan. tapi bisa mengurangi rasa malu. Selasa Legi yang tanggal berapa. kiai kami menaruh gentong (tempat air yang besar terbuat dari tanah) dengan air yang penuh. Tidak ada kursi atau meja makan. Yang selalu diingat hanya hari dan pasarannya. barulah dihamparkan tikar. Anehnya. alat-alat tukang bapak yang bisa dirombengkan. apa pun dijual. yang berarti cucu Rasulullah. Setelah kenduri. 88 by Moezhanks . wiridannya pakai tahlil. Saya sendiri tidak peduli. Maka. orang memang tidak peduli dengan tanggal lahir. Kalau musim hujan. sepupu-sepupu saya yang sudah dewasa semua jadi anggota Banser. Bau kencing itu akan hilang dengan sendirinya kalau tanahnya sudah kering lagi. Saya sangat ahli me-ngepyur-kan air ke lantai ini. Ibadahnya pakai aliran NU ahli sunnah wal jamaah: tarwihnya 21 rakaat (sampai sekarang). Semoga di langit sana tidak ada pengelompokan seperti itu. Dan ketika terjadi Gestapu/PKI di tahun 1965. Setelah ibu sakit (seperti sakit saya ini). wayangan Murwad Kolo. bulan berapa. salat id tidak mau di lapangan. aliran politik keluarga kami adalah ini: Masyumi. Karena itu. gambar pertama yang bisa saya buat ketika kecil adalah lambang partai itu: Bulan bintang. Tanggal itu penting bagi anak-anak miskin karena berarti akan ada selamatan. ketika tikar dilipat. Posisi duduk anak kecil seperti saya sangat minggir -kadang hanya dapat separo pantat saja yang di atas tikar. saya ini orang apa. dan juga lemari satu-satunya itu. Kalau bulan Syura. Misalnya. Namun. Dengan ciduk yang sama: tidak terpikirkan itu sebagai sarana yang efektif untuk menularkan virus hepatitis.

Untunglah. Saya putuskan sendiri saja: Saya lahir tanggal 17 Agustus 1951. tapi hati saya belum lagi berumur 25 tahun. “ada hujan abu yang sangat hebat. Badan saya berumur 56 tahun. Bapak saya adalah abdi di pusat keluarga itu. Tanpa dukungan surat kenal lahir. Antara hati dan tulang iga. begitu habis makan. bukankah setiap 35 hari ada Selasa Legi? “Waktu itu. 89 by Moezhanks . Ketika sudah amat dewasa dan saya bertanya kepada bapak mengenai kapan saya dilahirkan. kian tidak jelas lagi saya ini berumur berapa. Ketika hati mengecil. Sudah tiga tahun saya tidak pernah berkeringat.” Maksudnya ketika Gunung Kelud meletus. “Hampir tidak ada kesulitan apa pun”. saya belum peduli dengan tanggal lahir dan karena itu juga tidak pernah bertanya ke bapak. Sekaligus jadi pusat Pesantren Sabilil Muttaqin. Jadi keluarga tani. bobot dan nilai dikalikan seperti ajaran ilmu manajemen problem-solving yang sangat memengaruhi saya kalau ambil keputusan? Untuk apa juga saya pikirkan. setelah ganti liver. Sampai 1. Bapak saya kemudian menyebut. ketika Gunung Kelud meletus. Jadilah bapak-ibu saya tinggal di desa. saya tidak dianggap memalsukannya. Juga setelah sedikit senam atau joging. Bukankah bisa ditelusuri kapan Gunung Kelud meletus? Soalnya bukan hanya itu. Tentu. Lalu beranak-pinak dan ada yang membuka hutan di timur Gunung Lawu untuk dijadikan kampung: Takeran. Habis jalan jauh pun tidak berkeringat. Ulang tahun saya adalah Selasa Legi. saya malas melakukan riset kapan saja Gunung Kelud meletus. jawabnya tegas: Selasa Legi. Begitu hebatnya sampai desa saya yang jaraknya lebih 100 km dari gunung di Blitar itu dalam keadaan gelap selama sepekan. Bagi saya. memang tidak boleh ada ruang kosong. Jadi tulangtulang iga ikut bergerak ke dalam. rasanya bisa. Karena saya dari jalur wanita. 6 km dari pusat keluarga itu. Titik. kemudian jatuh ke buruh tani. Sampai tamat SMA. Saya sendiri tidak menyadari dan tidak mengetahui itu. tulang iga menyesuaikannya. Tapi sudah diakui di banyak negara. saya sudah mulai bisa merangkak! Kini. Tapi. Buktinya. terutama yang bisa membuat dada saya mekar lagi. Tahunya ketika anak wanita saya bertanya kepada dokter: apa saja kesulitan dokter dalam melakukan transplantasi liver malam itu? Dokter mengatakan. tidak tahu tanggal lahir tidak penting-penting amat. waktu itu. Yang lebih saya pikirkan adalah bagaimana hati baru itu bisa kerasan menjadi “keluarga besar Dahlan Iskan”. Saya memang harus banyak senam. Tiwas nanti merasa ge-er karena hitungannya jatuh bahwa saya baru berumur 38 tahun atau 45 tahun. antara lain ke timur. ke Banjarsari di selatan Ponorogo. Kecuali satu: Rongga dada saya sudah mengecil. Itulah tanggal lahir yang secara resmi saya pakai di dokumen apa pun sampai sekarang. Kini. Apakah harus dijumlah lalu dibagi dua? Atau masingmasing diberi bobot dan nilai? Lalu.” kata bapak saya sambil berpikir keras.Asal-usul keluarga kami adalah pelarian dari Jogja. saya belum pernah merayakan ulang tahun sehingga tidak kian ruwet memikirkannya. Ini karena liver lama saya juga mengecil. Hidup di desa. Ibu harus ikut bapak saya. tidak ada administrasi yang memerlukan tanggal lahir. Mengapa? Selama ini rongga dada saya ternyata dalam proses mengecil. Yang juga menggembirakan saya adalah: sekarang saya bisa berkeringat. Dan. ibu saya tidak tinggal di pusat keluarga itu. berusaha menyesuaikan dengan ruang yang dilindunginya. secara alamiah.5 bulan setelah ganti hati ini. Para panglima perangnya melarikan diri. Semua parameter darah normal. langsung berkeringat. tapi kemudian kawin dengan ibu saya. Yakni setelah Pangeran Diponegoro kalah karena ditipu oleh Belanda. kondisi saya terus saja membaik.

saya tidak memilih itu karena saya punya filsafat sendiri dalam menyikapi umur manusia. ketika dokter mau “memasang” liver baru di ruang yang ditinggalkan liver lama. jangan sampai terkena virus hepatitis seperti Pak Dahlan Iskan! *** Kesan yang lain dari serial tulisan saya ini adalah bahwa rumah sakit-rumah sakit di Tiongkok hebat. Jalan pikiran saya itu biasanya saya ungkapkan ke temanteman dengan istilah: intensifikasi umur. tapi masih belum mencapai tingkat kecanggihan seperti di Singapura. ruangnya agak terasa kesempitan. setelah virus itu berkembang menjadi sirosis dan kemudian kanker. Tentu. daripada umur panjang tapi tidak bisa berbuat banyak. Kalau saya akan dijadikan contoh jelek. 90 by Moezhanks . Memang. Seorang ibu sampai menasihati anaknya begini: Jangan kerja terus seperti itu. saya kurang pandai menjelaskan bahwa sakit saya ini bukan karena kerja keras. Hanya. Belajar manajemen dan pelayanan rumah sakit jangan ke Tiongkok. Liver baru masih dalam ukuran normal. secara umum.Akibatnya. Bangsa ini memerlukan puluhan juta orang yang gigih. Tapi. itu bukan berarti akan menyembuhkan sakitnya. saya bilang bahwa ide tersebut kurang tepat. tapi karena saya terkena virus hepatitis B. sebaiknya tidak kerja keras lagi. bukan? Itulah sebabnya saya memperbanyak senam agar liver baru saya bisa “bernafas” dengan lebih lega dan itu berarti membuatnya semakin kerasan tinggal di dalam badan saya. lebih baik. Manajemen dan pelayanan rumah sakit-rumah sakit kita. meski secara fisik dan peralatan sudah amat modern. Memang. Misalnya. Saya memilih berumur pendek tapi bermanfaat. ya bermanfaat. Sehingga menaruhnya jadi agak sulit. Terutama yang swasta. Sesak. saya jadi merasa bersalah. Ternyata. belakangan ini semakin banyak rumah sakit di Tiongkok yang lebih modern. Nanti seperti Pak Dahlan Iskan! Setelah menerima SMS dari Saudara Socrates. jangan dikaitkan dengan kerja keras. Sampai-sampai beberapa dokter menghubungi saya bagaimana kalau mereka studi banding ke Tiongkok untuk belajar manajemennya. Misalnya. Masih perlu satu kurun lagi untuk mencapai tahap itu. (bersambung) Ganti Hati 32 – Kini Ada Simbol Mercy di Perut Saya (Sebuah Penutup) 26 September 2007 ADA kesan yang mendalam bahwa sakit saya yang parah kemarin-kemarin itu karena saya kerja terlalu keras. ya berumur panjang. melainkan memperlambat saja perkembangannya. Kepada para dokter itu. bahkan di Malaysia sekalipun. melainkan kaitkan saja dengan kecerobohan. Tentu kalau masih ada pilihan lain. Tentu memperlambat juga amat baik. Ini karena. Kebiasaan lama orang-orangnya tidak bisa begitu saja berubah. teman di Batam yang lahir di Padang itu. saya akan memilih yang terbaik. saya akan merasa sangat berdosa kalau gara-gara tulisan saya ini banyak orang takut bekerja keras. carry over problems masih terbawa.

Dari seluruh pengeluaran. Tapi. juga sekaligus menyadarkan betapa mahalnya sehat itu. saya yakin tidak lama lagi rumah sakit di Tiongkok akan mencapai tahap seperti Singapura. Naik kendaraan umum? Taksi? Beli mobil sendiri? (Kebetulan saya beli mobil kelas Toyota Corolla dan itu berarti juga harus punya sopir). Itu pun sewa saja. Imunisasi yang sekali suntik Rp 70. Transportasi yang bagaimana juga memengaruhi besarnya biaya. Di Tiongkok juga jangan tinggal di hotel. saya hanya memberikan contoh dengan cara mengelap sendiri bagian-bagian yang kurang bersih itu di depan dia. petugas menilai “sudah amat bersih”.Saya sendiri sering berdebat dengan petugas kebersihan toilet di Graha Pena Jawa Pos Surabaya mengenai pertanyaan ini: sudah bersihkah toilet ini? Saya menilai belum. Tapi. Rumah sakit juga menjadi sentral semua urusan kesehatan karena tidak boleh ada dokter praktik di sana. dan konsumsi saya sekeluarga. Seandainya saya hanya punya rumah seperti itu pun. Makan dengan masak sendiri atau setiap makan ke restoran? Dan banyak lagi. Saya bisa memahami itu karena toilet ini mungkin sudah lebih bersih daripada kamar tidur di rumahnya sekalipun. biaya terbesar sebenarnya bisa ditekan sesuai dengan kemampuan. Satu orang dan yang lain tidak akan sama. itu sudah meliputi semua pengeluaran. Biaya itu juga sudah termasuk pengobatan sejak terjadinya muntah darah pada 2005. Biaya operasinya sendiri tidak besar untuk ukuran saya. memang perlu waktu dan kesabaran. Misalnya.000 memang mahal. Sampai sekarang. Jadi. akomodasi. lebih cepat daripada waktu yang kita perlukan. Lama-lama standar kebersihannya berubah. Semua dokter fokus bekerja di rumah sakit. semua rumah sakit masih milik pemerintah. Saya tidak bisa marah karena tahu berapa gajinya dan bagaimana latar belakang ekonominya. apa artinya dibanding yang harus saya keluarkan ini? 91 by Moezhanks . *** Semua itu tidak ada artinya dibanding nilai kesehatan yang saya peroleh. *** Berapakah biaya yang saya keluarkan untuk mereparasi organ-organ saya itu? Kalau di penutup tulisan ini saya memberikan isyarat jumlahnya. Kalau semua biaya itu ditotal. Biasanya. Karena mereka sangat unggul di situ. Mungkin seharga rumah tipe 100 di lokasi yang sedang. membatasi keluarga yang harus wira-wiri. Kalau waktu itu tidak menjual rumah. Tapi. Itu juga yang dilakukan bapak saya ketika ibu sakit: Menjual apa pun. saya akan jual kalau harus melakukan transplantasi ini. Tapi. tapi cari apartemen murah saja. dan sebagainya. transportasi lokal. Kecepatan itu akan fantastis kalau saja Tiongkok mengizinkan berdirinya rumah sakit swasta. Kalau toh mau belajar ke Tiongkok adalah mengenai keseriusan riset dan semangat untuk majunya. Misalnya. dan satu-satunya. wira-wiri saya sekeluarga dari Indonesia ke Tiongkok. untuk kasus saya ini. sewa enam bulan (tidak bisa sewa kurang dari enam bulan). Misalnya. itu karena tidak akan ada orang yang mau membeli rumah lantai tanah di pelosok desa. termasuk alatalat tukang kayunya. yang terbanyak adalah untuk pendukungnya. biaya operasinya sendiri tidak sampai 20 persennya.

Boleh juga dibilang sayatan dari satu titik di tengah ke tiga arah. Seperti simbol Mercy yang digambar oleh anak berumur tiga tahun. 92 by Moezhanks . Juga banyak sekali orang kerja keras yang karena didorong niat mulia -dan kekayaan hanya datang membuntutinya. (TAMAT) _________________________________________ Tulisan bersambung Pengalaman Pribadi Dahlan Iskan Ganti Liver berakhir hari ini pada seri ke-32. Seperti Pak Moh. Jelek wujudnya. Mainannya ya mengurus sepak bola itu. tokoh olahraga di Surabaya. Satunya lagi “Mercy” di kulit perut saya. bekas sayatan dari tiga arah yang menyatu di tengah. Yakni. Di dunia ini banyak orang yang kerja keras tanpa bermaksud kerja keras. Tapi. tetap mahal citranya. Kini saya punya dua Mercy. tidak tahu seri berapa. *** Kini saya tidak hanya hidup baru dengan liver baru. tapi juga dengan tanda baru di kulit perut saya. adalah Mercy seri 500 keluaran 2005 yang dibeli dengan harga sekitar Rp 3 miliar. Mulai besok disambung dengan Hati Baru Menjawab. simbol Mercy di kulit perut saya itu tidak sempurna. Mainannya ya kerja keras itu.Saya ingat kata-kata bijak di laboratorium Prodia: Waktu muda mati-matian bekerja sampai mengorbankan kesehatan untuk memperoleh kekayaan. Atau sekadar hobi. tapi kira-kira sama harganya. Waktu tua menghabiskan kekayaan itu untuk membeli kembali kesehatannya -dan banyak yang gagal. Dahlan Iskan akan menjawab e-mail dan SMS dari pembaca. Jelek tapi tetap terlihat Mercy-nya. Kebetulan. Barmen. saya tidak gagal. yang di rumah. saya kerja keras tidak semata-mata untuk mencari kekayaan. Jelek. Dan lagi. tanda mirip simbol mobil Mercy (Mercedes Benz). Yang satu.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful