Anda di halaman 1dari 13

OBSESI

I. PENDAHULUAN Obsesi adalah gagasan, khayalan, atau dorongan yang berulang, tidak diinginkan dan mengganggu, yang tampaknya konyol, aneh, atau menakutkan. Obsesi juga merupakan isi pikiran yang timbul secara persistent atau kukuh, walaupun tidak dikehendakinya dan diketahui bahwa hal itu tidak wajar. Obsesi dapat menyebabkan kompulsi, contohnya: obsesi bahwa barang kesayangannya hilang, menimbulkan kompulsi berupa tindakan selalu membuka lemari untuk melihat kalau barangnya masih ada di dalamnya. Istilah obsesi menunjuk pada suatu ide yang mendesak ke dalam pikiran. Istilah kompulsi menunjuk pada dorongan atau impuls yang tidak dapat ditahan untuk melakukan sesuatu. Kompulsi adalah desakan atau paksaan untuk melakukan sesuatu yang akan meringankan rasa tidak nyaman akibat obsesi.1,2 Seseorang dengan ganguan obsesif kompulsif merupakan suatu kondisi yang ditandai dengan adanya pengulangan pikiran obsesif atau kompulsif, dimana membutuhkan banyak waktu (lebih dari satu jam perhari) dan dapat menyebabkan penderitaan. Gangguan ini prevalensinya diperkirakan 2 3% dari populasi.1 Gangguan obsesif kompulsif menduduki peringkat keempat dari gangguan jiwa setelah fobia, gangguan penyalahgunaan zat dan gangguan depresi berat. Kebanyakan pasien dengan gangguan obsesif kompulsif datang ke beberapa dokter sebelum mereka ke psikiater dan umumnya 9 tahun mendapat terapi, baru kemudian mendapat diagnosis yang benar. Hal ini menunjukkan bahwa dokter selain psikiater penting untuk mendapat diagnosis yang benar. II. DEFINISI Suatu obsesi adalah pikiran, perasaan, ide, atau sensasi yang mengganggu (intrusif). Obsesi adalah ketekunan yang patologis dari suatu pikiran atau perasaan yang tidak dapat ditentang yang tidak dapat dihilangkan dari kesadaran oleh usaha logika, yang disertai dengan kecemasan. Sedangkan suatu kompulsi adalah pikiran atau perilaku yang disadari, dibakukan, dan rekuren, seperti menghitung, memeriksa atau menghindari. Kompulsi adalah kebutuhan yang patologis untuk melakukan suatu impuls yang jika ditahan menyebabkan kecemasan. Obsesi 1

meningkatkan kecemasan seseorang, sedangkan melakukan kompulsi menurunkan kecemasan seseorang.1 Gangguan obsesif kompulsif merupakan suatu kondisi yang ditandai dengan adanya pengulangan pikiran obsesif atau kompulsif, dimana membutuhkan banyak waktu (lebih dari satu jam perhari) dan dapat menyebabkan penderitaan (distress) karena obsesi dapat menghabiskan waktu dan dapat mengganggu secara bermakna pada rutinitas normal seseorang, fungsi pekerjaan, aktifitas sosial yang biasanya, atau hubungan dengan teman dan anggota keluarga. III. EPIDEMIOLOGI Prevalensi dari gangguan obsesif kompulsif pada populasi umum adalah 2 -3%. Beberapa peneliti memperkirakan bahwa gangguan obsesif-kompulsif ditemukan pada sebanyak 10% pasien rawat jalan di klinik psikiatrik. Angka tersebut menyebabkan gangguan obsesif-kompulsif sebagai diagnosis psikiatrik tersering keempat setelah fobia, gangguan yang berhubungan dengan zat, dan gangguan depresif berat. Pada sepertiga pasien obsesif kompulsif, onset gangguan ini adalah sekitar usia 20 tahun, pada pria sekitar 19 tahun dan pada wanita sekitar 22 tahun. Perbandingan yang sama dijumpai pada laki-laki dan perempuan dewasa, akan tetapi remaja laki laki lebih mudah terkena daripada remaja perempuan. Orang yang hidup sendirian lebih banyak terkena gangguan obsesif-kompulsif dibandingkan orang yang menikah.1,3,4,5 Pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif umumnya dipengaruhi oleh gangguan mental lain. Prevalensi seumur hidup untuk gangguan depresif berat pada pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif adalah kira-kira 67% dan untuk fobia sosial adalah kira-kira 25%. Diagnosis psikiatrik komorbid lainnya pada pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif adalah gangguan penggunaan alkohol, fobia spesifik, gangguan panik, dan gangguan makan.1 IV. ETIOLOGI a. Faktor Biologis Banyak penelitian yang mendukung adanya hipotesis bahwa disregulasi serotonin berpengaruh pada pembentukan gejala gangguan obsesif kompulsif, tetapi serotonin sebagai penyebab gangguan obsesif kompulsif masih belum jelas. Genetik juga diduga berpengaruh untuk terjadinya 2

gangguan obsesif kompulsif dimana ditemukan perbedaan yang bermakna antara kembar monozigot dan dizigot.1 b. Faktor Tingkah Laku Menurut teori, obsesi adalah stimulus yang terkondisi. Sebuah stimulus yang relatif netral diasosiasikan dengan rasa takut atau cemas melalui proses pengkondisian responden yaitu dengan dihubungkan dengan peristiwa peristiwa yang menimbulkan rasa cemas atau tidak nyaman. Kompulsi terjadi dengan cara yang berbeda. Ketika seseorang menyadari bahwa perbuatan tertentu dapat mengurangi kecemasan akibat obsesif, orang tersebut mengembangkan suatu strategi penghindaran aktif dalam bentuk kompulsi atau ritual untuk mengendalikan kecemasan tersebut. Secara perlahan, karena efikasinya dalam mengurangi kecemasan, strategi penghindaran ini menjadi suatu pola tetap dalam kompulsi.1 c. Faktor Psikososial Menurut Sigmund Frued, gangguan obsesif kompulsif bisa disebabkan karena regresi dari fase anal dalam fase perkembangannya. Mekanisme pertahanan psikologis mungkin memegang peranan pada beberapa manifestasi gangguan obsesif kompulsi. Represi perasaan marah terhadap seseorang mungkin menjadi alas an timbulnya pikiran berulang untuk menyakiti orang tersebut.1 V. GEJALA KLINIS Umumnya obsesi dan kompulsi mempunyai gambaran tertentu seperti4: 1. Adanya ide atau impuls yang terus menerus menekan kedalam kesadaran individu 2. Perasaan cemas / takut akan ide atau impuls yang aneh 3. Obsesi dan kompulsi yang ia alami sebagai asing bagi pengalaman seseorang tentang dirinya sendiri sebagai makhluk psikologis (ego-alien) 4. Pasien mengenali obsesi dan kompulsi merupakan sesuatu yang abstrak dan irasional 5. Individu yang menderita obsesi kompulsi merasa adanya keinginan kuat untuk melawan

Gejala pasien gangguan obsesif kompulsif mungkin berubah sewaktu waktu tetapi gangguan ini mempunyai empat pola gejala yang paling sering ditemui, yaitu : 1. Kontaminasi Obsesi akan kontaminasi biasanya diikuti oleh pembersihan atau kompulsi menghindar dari objek yang dirasa terkontaminasi. Objek yang ditakuti biasanya sulit untuk dihindari, misalnya feces, urine, debu, atau kuman. 2. Keraguan Patologis Obsesi ini biasanya diikuti oleh kompulsi pemeriksaan berulang. Pasien memiliki keraguan obsesif dan merasa selalu merasa bersalah tentang melupakan sesuatu atau melakukan sesuatu. 3. Pemikiran yang Mengganggu Obsesi ini biasanya meliputi pikiran berulang tentang tindakan agresif atau seksual yang salah oleh pasien. 4. Simetri Kebutuhan untuk simetri atau ketepatan akan menimbulkan kompulsi kelambanan. Pasien membutuhkan waktu berjam jam untuk menghabiskan makanan atau bercukur.1 Beberapa gejala yang berhubungan dengan gangguan obsesif kompulsif adalah sebagai berikut5 : Perhatian OBSESI terhadap kebersihan Ritual KOMPULSI mandi, mencuci dan

(kotoran, kuman, kontaminasi) membersihkan yang berlebihan Perhatian terhadap ketepatan Ritual mengatur posisi berulang ulang Perhatian terhadap peralatan rumah Memeriksa berulang ulang dan tangga (piring, sendok) Perhatian terhadap sekresi (ludah, feces, urine) Obsesi religius membuat inventaris peralatan tubuh Ritual menghindari kontak dengan

sekret tubuh, menghindari sentuhan Ritual keagamaan yang berlebihan

(berdoa sepanjang hari) Obsesi seksual (nafsu terlarang atau Ritual berhubungan seksual yang kaku tindakan seksual yang agresif) Obsesi terhadap kesehatan (sesuatu Rituall berulang (pemeriksaan tanda

yang

buruk

akan

terjadi

dan vital berulang, diet yang terbatas, mencari informasi tentang kesehatan dan kematian diri Pemeriksaan pintu, kompor, gembok

menimbulkan kematian) Obsesi ketakutan (menyakiti

sendiri atau orang lain) dan rem darurat berulang ulang Pemikiran mengganggu tentang suara, Menghitung, berbicara, menulis, kata kata atau musik memainkan alat musik dengan suatu ritual yang beragam VI. DIAGNOSIS Kriteria diagnostik untuk gangguan obsesif-kompulsif menurut DSM IV: 1. Salah satu obsesi atau kompulsi Obsesi seperti yang didefinisikan sebagai berikut: Pikiran, impuls, atau bayangan-bayangan yang rekuren dan persisten yang dialami, pada suatu saat dimana selama gangguan, sebagai intrusif dan tidak sesuai, dan menyebabkan kecemasan dan penderitaan yang jelas. Pikiran, impuls, atau bayangan-bayangan tidak semata-mata kekhawatiran yang berlebihan tentang masalah kehidupan yang nyata. Orang berusaha untuk mengabaikan atau menekan pikiran, impuls, atau bayangan-bayangan tersebut untuk mentralkannya dengan pikiran atau tindakan lain. Orang menyadari bahwa pikiran, impuls, atau bayangan-bayangan obsesional adalah keluar dari pikirannya sendiri( tidak disebabkan dari luar seperti penyisipan pikiran). Kompulsi seperti yang didefinisikan sebagai berikut: Perilaku (misalnya, mencuci tangan, mengurutkan, memeriksa) atau tindakan mental (misalnya berdoa, menghitung, mengulangi kata-kata dalam hati) yang berulang yang dirasakannya mendorong untuk melakukannya sebagai respon terhadap suatu obsesi, atau menurut dengan aturan yang harus dipatuhi secara kaku. Perilaku atau tindakan mental ditujukan untuk mencegah atau menurunkan penderitaan atau mencegah suatu kejadian atau situasi yang menakutkan, tetapi perilaku atau tindakan mental tersebut tidak dihubungkan dengan

cara yang realistik dengan apa mereka dianggap untuk menetralkan atau mencegah, atau jelas berlebihan. 2. Pada suatu waktu selama perjalanan gangguan, orang telah menyadari bahwa obsesi atau kompulsi adalah berlebihan atau tidak beralasan. Catatan: ini tidak berlaku bagi anak-anak 3. Obsesi atau kompulsi menyebabkan penderitaan yang jelas, menghabiskan waktu (menghabiskan lebih dari satu jam sehari), atau secara bermakna mengganggu rutinitas normal orang, fungsi pekerjaan (atau akademik), atau aktifitas atau hubungan sosial yang biasanya. 4. Jika terdapat gangguan aksis I lainnya, isi obsesi atau kompulsi tidak terbatas padanya (misalnya preokupasi dengan makanan jika terdapat gangguan makan, menarik rambut jika terdapat trikotilomania, permasalahan pada penampilan jika terdapat gangguan dismorfik tubuh, preokupasi dengan obat jika terdapat suatu gangguan penggunaan zat, preokupasi dengan menderita suatu penyakit serius jika terdapat hipokondriasis, preokupasi dengan dorongan atau fanatasi seksual jika terdapat parafilia, atau perenungan bersalah jika terdapat gangguan depresif berat). 5. Tidak disebabkan oleh efek langsung suatu zat (misalnya obat yang disalahgunakan, medikasi) atau kondisi medis umum. Sebutkan jika: Dengan tilikan buruk:jika selama sebagian besar waktu selama episode terakhir, orang tidak menyadari bahwa obsesi dan kompulsi adalah berlebihan atau tidak beralasan.1 Pedoman diagnosis menurut PPDGJ III: Untuk menegakkan diagnosis pasti, gejala-gejala obsesif atau tindakan kompulsif, atau kedua-duanya, harus ada hampir setiap hari selama sedikitnya dua minggu berturut-turut. Hal tersebut merupakan sumber penderitaan (distress) atau mengganggu aktivitas penderita. Gejala-gejala obsesif harus mencakup hal-hal berikut: Harus disadari sebagai pikiran atau impuls diri sendiri. Sedikitnya ada satu pikiran atau tindakan yang tidak berhasil dilawan, meskipun ada lainnya yang tidak lagi dilawan oleh penderita.

Pikiran untuk melakukan tindakan tersebut di atas bukan merupakan hal yang memberi kepuasan atau kesenangan (sekedar perasaan lega dari ketegangan atau anxietas, tidak dianggap sebagai kesenangan seperti dimaksud di atas.

Gagasan, bayangan pikiran, atau impuls tersebut harus merupakan pengulangan yang tidak menyenangkan (unpleasantly repetitive)

Ada kaitan erat antara gejala obsesif, terutama pikiran obsesif, dengan depresi. penderita gangguan obsesif kompulsif seringkali juga menunjukkan gejala depresif, dan sebaliknya penderita gangguan depresi berulang dapat menunjukkan pikiran-pikiran obsesif selama episode depresifnya. Dalam berbagai situasi dari kedua hal tersebut, meningkat atau

menurunnya gejala depresif umumnya dibarengi secara paralel dengan perubahan gejala obsesif. Bila terjadi episode akut dari gangguan tersebut, maka diagnosis diutamakan dari gejala-gejala yang timbul lebih dahulu. Diagnosis gangguan obsesif kompulsif ditegakkan hanya bila tidak ada gangguan depresif pada saat gejalobsesif kompulsif tersebut timbul. Bila dari keduanya tidak adayang menonjol, maka baik menganggap depresi sebagai diagnosis yang primer. Pada gangguan menahun, maka prioritas diberikan pada gejala yang paling bertahan saat gejala yang lain menghilang. Gejala obsesif sekunder yang terjadi pada gangguan skizofrenia, sindrom Tourette, atau gangguan mental organk, harus dianggap sebagai bagian dari kondisi tersebut. 5 F42.0 Predominan Pikiran Obsesif atau Pengulangan Pedoman Diagnostik Keadaan ini dapat berupa gagasan, bayangan pikiran, atau impuls ( dorongan perbuatan), yang sifatnya mengganggu (ego alien) Meskipun isi pikiran tersebut berbeda-beda, umumnya hampir selalu menyebabkan penderitaan (distress)5 F42.1 Predominan Tindakan Kompulsif ( obsesional ritual) Pedoman Diagnostik

Umumnya tindakan kompulsif berkaitan dengan kebersihan (khususnya mencuci tangan), memeriksa berulang untuk meyakinkan bahwa suatu situasi yang dianggap berpotensi bahaya terjadi, atau masalah kerapian dan keteraturan. Hal tersebut dilatarbelakangi perasaan takut terhadap bahaya yang mengancam dirinya atau bersumber dari dirinya, dan tindakan ritual tersebut merupakan ikhtiar simbolik dan tidak efektif untuk menghindari bahaya tersebut.

Tindakan ritual kompulsif tersebut menyita banyak waktu sampai beberapa jam dalam sehari dan kadang-kadang berkaitan dengan ketidakmampuan mengambil keputusan dan kelambanan.5

F42.2 Campuran Pikiran dan Tindakan Obsesif Pedoman Diagnostik Kebanyakn dari penderita obsesif kompulsif memperlihatkan pikiran obsesif serta tindakan kompulsif. Diagnosis ini digunakan bialmana kedua hal tersebut sama-sama menonjol, yang umumnya memang demikian. Apabila salah satu memang jelas lebih dominan,sebaiknya dinyatakan dalam diagnosis F42.0 atau F42.1. hal ini berkaitan dengan respon yang berbeda terhadap pengobatan. Tindakan kompulsif lebih respondif terhadap terapi perilaku.5 F42.8 Gangguan Obsesif Kompulsif Lainnya5 F42.9 Gangguan Obsesif Kompulsif YTT5 VII. PENATALAKSANAAN Farmakoterapi Data yang tersedia menyatakan bahwa semua obat yang digunakan untuk mengobati gangguan depresif atau gangguan mental lain, dapat digunakan dalam rentang dosis yang biasanya. Efek awal biasanya terlihat setelah empat sampai enam minggu pengobatan, walaupun biasanya diperlukan waktu delapan sampai enam belas minggu untuk mendapatkan manfaat terapeutik yang maksimum. Walaupun pengobatan dengan obat antidepresan adalah masih kontroversial, sebagian pasien dengan gangguan 8

obsesif-kompulsif yang berespon terhadap pengobatan dengan antidepresan tampaknya mengalami relaps jika terapi obat dihentikan. Pengobatan standar adalah memulai dengan obat spesifik-serotonin, contohnya clomipramine (Anafranil) atau inhibitor ambilan kembali spesifik serotonin (SSRI-serotonin specific reuptake inhibitor), seperti Fluoxetine (Prozac).1,6 Penggolongan 1. Obat Anti-obsesif kompulsif TRISIKLIK e.g. Clomipramine 2. Obat Anti-obsesif kompulsif SSRI(Serotonin Reuptake Inhibitors) e.g. Sertraline, Paroxetine, Fluvoxamine, Fluoxetine, Citalopram.7 Respon penderita gangguan obsesif kompulsif terhadap farmakoterapi seringkali hanya mencapai pengurangan gejala sekitar 30%-60%, dan kebanyakan masih menunjukkan gejala secara menahun. Namun demikian, umumnya penderita sudah merasa sangat tertolong. Untuk mendapatkan hasil pengobatan yang lebih baik, perlu disertai dengan terapi perilaku (behavior therapy)7 Clomipramine. Clomipramine biasanya dimulai dengan dosis 25 sampai 50 mg sebelum tidur dan dapat ditingkatkan dengan peningkatan 25 mg sehari setiap dua sampai tiga hari, sampai dosis maksimum 250 mg sehari atau tampak efek samping yang membatasi dosis. Karena Clopramine adalah suatu obat trisiklik, obat ini disertai dengan efek samping berupa sedasi, hipotensi, disfungsi seksual dan efek samping antikolinergik, seperti mulut kering.1,6 SSRI. Penelitian tentang Fluoxetine dalam gangguan obsesifkompulsif menggunakan dosis sampai 80 mg setiap hari untuk mencapai manfaat terapeutik. Walaupun SSRI mempunyai efek seperti overstimulasi, kegelisahan, nyeri kepala, insomnia, mual, dan efek samping gastrointestinal, SSRI dapat ditoleransi dengan lebih baik daripada obat trisiklik. Dengan demikian, kadang-kadang SSRI digunakan sebagai obat lini pertama dalam pengobatan gangguan obsesif kompulsif.1,6 Jika pengobatan dengan Clomipramine atau SSRI tidak berhasil, banyak ahli terapi menambahkan lithium (Eskalith). Obat lain yang dapat digunakan dalam pengobatan gangguan obsesif kompulsif adalah inhibitor 9

monoamin oksidase (MAOI, monoamine oxidase inhibitor), khususnya Phenelzine (Nardil).1,6 Terapi perilaku Walaupun beberapa perbandinga telah dilakukan, terapi perilaku sama efektifnya dengan farmakoterapi pada gangguan obsesif-kompulsif. Dengan demikian, banyak klinisi mempertimbangkan terapi perilaku sebagai terapi terpilih untuk gangguan obsesif-kompulsif. Terapi perilaku dapat dilakukan pada situasi rawat inap maupun rawat jalan. Pendekatan perilaku utama pada gangguan obsesif-kompulsif adalah pemaparan dan pencegahan respon. Desensitisasi, menghentikan pikiran, pembanjiran, terapi implosi, dan pembiasaan tegas juga telah digunakan pada pasien gangguan obsesif kompulsif. Dalam terapi perilaku pasien harus benar-benar menjalankannya untuk mendapatkan perbaikan.1 Terapi tingkah laku ini dimulai dengan pasien membuat daftar tentang obsesinya kemudian diatur sesuai hierarki mulai dari yang kurang membuat cemas sampai yang paling membuat cemas. Dengan melakukan paparan berulang terhadap stimulus diharapkan akan menghasilkan kecemasan yang minimal karena adanya habituasi.1 Psikoterapi Psikoterapi suportif jelas memiliki bagiannya, khususnya untuk pasien gangguan obsesif-kompulsif, walaupun gejalanya memiliki berbagai derajat keparahan, adalah mampu untuk bekerja dan membuat penyesuaian sosial. Dengan kontak yang kontinu dan teratur dengan tenaga yang profesional, simpatik, dan mendorong, pasien mungkin mampu untuk berfungsi berdasarkan bantuan tersebut, tanpa hal tersebut gejalanya akan menyebabkna gangguan. Kadang-kadang jika ritual dan kecemasan obsesional mencapai intensitas yang tidak dapat ditoleraansi, perlu untuk merawat pasien di rumah sakit sampai tempat penampungan institusi dan menghilangkan stres lingkungan eksternal menurunkan gejala sampai tingkat yang dapat ditoleransi.1

10

Anggota keluarga pasien seringkali menjadi putus asa karena perilaku pasien. Tiap usaha psikoterapik harus termasuk perhatian pada anggota keluarga melalui dukungan emosional, penentraman, penjelasan dan nasihat tentang bagaimana menangani dan berespons terhadap pasien.1 Terapi lain Terapi keluarga seringkali berguna dalam mendukung keluarga, membantu menurunkan percekcokan perkawinan yang disebabkan gangguan, dan membangun ikatan terapi dengan anggota keluarga untuk kebaikan pasien. Terapi kelompok berguna sebagai sistem pendukung bagi beberapa pasien. Untuk pasien yang sangat kebal terhadap pengobatan, terapi elektrokonvulsif (ECT) dan bedah psiko (psychosurgery) harus dipertimbangkan. ECT tidak seefektif bedah psiko tetapi kemungkinan harus dicoba sebelum pembedahan. Prosedur bedah psiko yang paling sering dilakukan untuk gangguan obsesif kompulsif adalah singulotomi, yang berhasil dalam mengobati 25 sampai 30 persen pasien yang tidak responsif terhadap pengobatan lain. Komplikasi yang paling sering dari bedah psiko adalah perkembangan kejang, yang hampir selalu dikendalikan dengan pengobatan Phenytoin (Dilantin). Beberapa pasien yang tidak respon dengan bedah psiko saja dan dengan farmakoterapi atau terapi perilaku sebelum operasi menjadi respon terhadap farmakoterapi atau terapi perilaku setelah bedah psiko.1 VIII. PROGNOSIS Sebagian besar gejala muncul secara tiba-tiba, terutama setelah suatu peristiwa yang menyebabkan stres, seperti kehamilan, masalah seksual, atau kematian seorang sanak saudara. Perjalanan penyakit biasanya lama dan bervariasi, beberapa befluktuasi namun ada pula yang konstan. Prognosis buruk bila pasien mengalah pada kompulsi, berawal pada masa anak-anak, kompulsi yang aneh, perlu perawatan di RS, gangguan depresi berat yang menyertai, kepercayaan waham, adanya gagasan yang terlalu dipegang, dan adanya gangguan kepribadian. Prognosis baik ditandai oleh penyesuaian sosial dan pekerjaan yang baik, adanya peristiwa pencetus, dan sifat gejala episodik.8 11

IX.

KESIMPULAN Suatu obsesi adalah pikiran, perasaan, ide, atau sensasi yang mengganggu (intrusif). Obsesi adalah ketekunan yang patologis dari suatu pikiran atau perasaan yang tidak dapat ditentang yang tidak dapat dihilangkan dari kesadaran oleh usaha logika, yang disertai dengan kecemasan. Sedangkan suatu kompulsi adalah pikiran atau perilaku yang disadari, dibakukan, dan rekuren, seperti menghitung, memeriksa atau menghindari. Kompulsi adalah kebutuhan yang patologis untuk melakukan suatu impuls yang jika ditahan menyebabkan kecemasan. Obsesi meningkatkan kecemasan seseorang, sedangkan melakukan kompulsi menurunkan kecemasan seseorang. Gangguan ini prevalensinya diperkirakan 2 3% dari populasi.1 Umumnya obsesi dan kompulsi mempunyai gambaran tertentu seperti adanya ide atau impuls yang terus menerus menekan kedalam kesadaran individu, perasaan cemas / takut akan ide atau impuls yang aneh, dan sebagainya. Gejala pasien mungkin berubah sewaktu waktu tetapi gangguan ini mempunyai empat pola gejala yang paling sering ditemui, yaitu : kontaminasi, keraguan patologis, pemikiran yang mengganggu, dan simetri. Untuk menegakkan diagnosis pasti, gejala-gejala obsesif atau tindakan kompulsif, atau kedua-duanya, harus ada hampir setiap hari selama sedikitnya dua minggu berturut-turut. Hal tersebut merupakan sumber penderitaan (distress) atau mengganggu aktivitas penderita. Beberapa faktor berperan dalam terbentuknya gangguan obsesif-kompulsif diantaranya adalah faktor biologis, faktor tingkah laku, dan faktor psikososial. Ada beberapa terapi yang bisa dilakukan untuk penatalaksanaan antara lain terapi farmakologi (farmakoterapi) dan terapi perilaku, dan psikoterapi. Prognosis pasien dinyatakan baik apabila kehidupan sosial dan pekerjaan baik, adanya peristiwa pencetus, dan sifat gejala episodik.

12

DAFTAR PUSTAKA 1. Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. Gangguan Kepribadian Obsesif Kompulsif. In: Wiguna IM, editor. Sinopsis Psikiatri. 7 ed. Jakarta: Binarupa Aksara; 1997. 2. Greenberg W.M. Obsessive Compulsive Disorder. Available from: http://emedicine.medscape.com/article/1934139-overview#showall. [30 Mei 2013] 3. Stern TA, Herman JB. Personality Disorders. Massachusetts General Hospital Psychiatry Update and Board Preparation. 2 nd ed. United States of America: McGrawHill; 2004. 4. Maramis WF. Nerosa Obsesif-Kompulsif. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga: Airlangga University Press; 2005. 5. Maslim R. Gangguan Obsesif-Kompulsif. Dalam : Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa; Rujukan Ringkas dari PPDGJ III. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya; 2003. 6. Elvira SD. Buku Ajar Psikiatri. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2010. 7. Maslim R. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik. 3 ed. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya; 2007. 8. Arif M. Gangguan Obsesif Kompulsif. Kapita Selekta Kedokteran. 3 ed. Jakarta: Media Aesculapius; 2005.

13