Anda di halaman 1dari 30

PENGARUH KEPATUHAN MENGKONSUMSI TABLET ZAT BESI DAN PENGETAHUAN IBU HAMIL TERHADAP ANEMIA

Disusun oleh : Azhi Ima Awufi (07700173) Dhinar Hendra P (06700227) Laily Yosidian (06700214) Wirdhatul Arofah ( 07700071) Yoanita Susilo P (06700059)

Pembimbing : dr.Suprijati D.Rochadi,MSc BAGIAN ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS WIJAYA KUSUMA SURABAYA 2013

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Data dari Direktorat Kesehatan Keluarga menunjukkan bahwa 40% penyebab kematian pada ibu hamil adalah perdarahan, risiko perdarahan ini akan lebih diperberat apabila ibu hamil menderita anemia (Depkes RI, 2003). Diketahui bahwa 10% - 20% ibu hamil di dunia menderita anemia pada kehamilannya. Di dunia 34 % terjadi anemia pada ibu hamil dimana 75 % berada di negara sedang berkembang (WHO, 2005). Prevalensi anemia pada ibu hamil di negara berkembang 43 % dan 12 % pada wanita hamil di negara maju (Allen, 2007). Di Indonesia prevalensi anemia kehamilan relatif tinggi, yaitu 38% -71.5% dengan rata-rata 63,5%, sedangkan di Amerika Serikat hanya 6% (Saifudin, 2006). Dari hasil pemeriksaan 640 ibu hamil terdapat 500 ibu hamil yang mengatakan tidak rutin meminum tablet zat besi, anemia dalam kehamilan memberikan pengaruh yang kurang baik bagi ibu, baik dalam kehamilan, persalinan, maupun dalam nifas. Berbagai penyakit dapat timbul akibat anemia seperti abortus, partus prematur, partus lama, akibat insersi uteri, perdarahan post partum karena atonia uteri, syok, infeksi baik intra partum maupun post partum (Manuaba, 2001). Dalam mengatasi masalah anemia pada ibu hamil dinas kesehatan propinsi Jawa Tengah mempunyai program suplementasi tablet tambah darah yang bisa didapatkan di Puskesmas daerah. Tablet tambah darah dapat menghindari anemia besi dan anemia asam folat. Pada ibu hamil dianjurkan untuk mengkonsumsi tablet zat besi minimal 90 tablet selama hamil. Pada

beberapa ibu hamil, zat besi yang terkandung dalam vitamin kehamilan bisa menyebabkan sembelit atau diare. Diseluruh dunia frekuensi anemia dalam kehamilan cukup tinggi, berkisar antara 10% dan 20% karena defisiensi makanan memegang peranan yang sangat penting dalam timbulnya anemia maka dapat difahami bahwa frekuensi itu lebih tinggi lagi di negara-negara yang sedang maju. Di BPS Alamanda Ny. Heni parjiman, ibu hamil selalu diberikan tablet Fe setiap ANC namun sebagian besar dari mereka belum mengetahui pentingnya mengkonsumsi tablet Fe sehingga terjadi ketidakpatuhan ibu hamil untuk meminum tablet Fe. Kebutuhan zat besi ibu selama kehamilan adalah 800 mg besi diantaranya 300 mg untuk janin plasenta dan 500 mg untuk pertambahan eritrosit ibu, untuk itulah ibu hamil membutuhkan 2-3 mg zat besi tiap hari (Manuaba, 2001). Secara umum, ketidak patuhan dapat menyebabkan meningkatnya resiko berkembangnya masalah kesehatan atau memperpanjang atau memperburuk kesakitan yang sedang diderita. Perkiraan yang ada menyatakan bahwa 20% opname di rumah sakit merupakan akibat dari ketidakpatuhan pasien terhadap aturan pengobatan. Ketidakpatuhan ibu hamil meminum tablet zat besi dapat mencerminkan seberapa besar peluang untuk terkena anemia. Pemberian informasi tentang anemia akan bertambah. Pengetahuan mereka tentang anemia, karena pengetahuan memegang peranan yang sangat penting sehingga ibu hamil patuh meminum zat besi. Menurut BKKBN (2001) pengetahuan ibu hamil tentang kesehatan khususnya anemia akan berpengaruh terhadap perilaku ibu hamil pada pelaksanaan program pencegahan anemia, sikap tersebut dapat berupa tanggapan

B. Rumusan Masalah Apakah ada hubungan kepatuhan mengkonsumsi tablet fe dan pengetahuan ibu hamil terhadap anemia di puskesmas waru ? C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Menganalisis hubungan kepatuhan mengkonsumsi tablet fe dan pengetahuan ibu hamil terhadap anemia di puskesmas waru.

2. Tujuan Khusus a. Mengidentifikasi pengetahuan ibu hamil tentang anemia pada kehamilan. b. Menganalisa kepatuhan konsumsi tablet zat besi dengan kejadian anemia pada ibu hamil. c. Mengetahui anemia pada ibu hamil di puskesmas waru d. Menganalisis hubungan pengetahuan ibu hamil dengan anemia pada ibu hamil di puskesmas waru e. Menganalisis hubungan pengetahuan dan anemia pada ibu hamil D. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini bermanfaat : 1. Bagi instansi terkait a. Sebagai informasi bagi puskesmas Waru dalam melakukan evaluasi hamil. keberhasilan pencatatan dan pelaporan serta pencapaian target dalam mengatasi kasus anemia pada ibu

b.

Menambah

khasana

ilmu

pengetahuan

untuk

dapat

memberikan informasi, tentang program penanggulangan dan pencegahan penyakit yang ditularkan melalui nyamuk. c. Sebagai sumbangan pemikiran dalam meningkatkan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat. 2. Bagi Masyarakat a. Untuk meningkatkan pemahaman dan pengetahuan

masyarakat tentang anemia pada ibu hamil. b. Untuk memberikan penjelasan kepada masyarakat tentang masalah penyakit anemia pada ibu hamil 3. Bagi Peneliti Untuk dapat melatih peneliti agar bisa berfikir obyektif dalam menghadapi dan memecahkan masalah tentang penyakit anemia pada ibu hamil

2. Bagi pengembangan ilmu Menambah referensi ilmiah tentang faktor yang

mempengaruhi anemia pada ibu hamil dan pengetahuan tentang anemia pada ibu hamil.

10

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Anemia Pada Kehamilan Anemia atau sering disebut kurang adalah keadaan dimana darah merah kurang dari normal.Dan biasanya yang digunakan sebagai dasar adalah keadar Hemoglobin (Hb). Anemia kehamilan adalah anemia karena kekurangan zat besi. Anemia pada kehmailan merupakan masalah nasional mencerminkan nilai kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat, dan pengaruhnya sangat besar terhadap sumber daya manusia. Anemia hamil disebut potensial danger to mother and childanemia (potensial membahayakan ibu dan anak). Kerena itulah anemia memerlukan perhatian serius dan semua pihak yang terkaitdlam pelayanan kesehatan pada masa yang akan dating (Manuaba, 1998). 1. Macam-macam anemia selama kehamilan a. Anemia Defisiensi Besi Penyebab tersering anemia selama kehamilan dan masa nifas adalah defisiensi besi dan kehilangan darah akut. Tidak jarang keduanya saling berkaitan erat, karena pengeluaran darah yang berlebihan disertai hilangnya besi hemoglobin dan terkurasnya simpanan besi pada suatu kehamilan dapat menjadi penyebab penting anemia defisiensi besi pada kehamilan berikutnya.

11

Status gizi yang kurang sering berkaitan dengan anemia defisiensi besi (Scholl, 1998). Pada gestasi biasa dengan satu janin, kebutuhan ibu akan besi yang dipicu oleh kehamilannya rata-rata mendekati 800 mg; sekitar 500 mg, bila tersedia, untuk ekspansi massa hemoglobin ibu sekitar 200 mg atau lebih keluar melalui usus, urin dan kulit. Jumlah total ini 1000 mg jelas melebihi cadangan besi pada sebagian besar wanita. Kecuali apabila perbedaan antara jumlah cadangan besi ibu dan kebutuhan besi selama kehamilan normal yang disebutkan diatas dikompensasi oleh penyerapan besi dari saluran cerna, akan terjadi anemia defisiensi besi. Dengan meningkatnya volume darah yang relatif pesat selama trimester kedua, maka kekurangan besi sering bermanifestasi sebagai penurunan tajam konsentrasi hemoglobin. Walaupun pada trimester ketiga laju peningkatan volume darah tidak terlalu besar, kebutuhan akan besi tetap meningkat karena peningkatan massa hemoglobin ibu berlanjut dan banyak besi yang sekarang disalurkan kepada janin. Karena jumlah besi tidak jauh berbeda dari jumlah yang secara normal dialihkan, neonatus dari ibu dengan anemia berat tidak menderita anemia defisiensi besi ( Arisman, 2007 ). b. Anemia akibat perdarahan akut Sering terjadi pada masa nifas. Solusio plasenta dan plasenta previa dapat menjadi sumber perdarahan serius dan anemia sebelum atau setelah pelahiran. Pada awal kehamilan, anemia akibat perdarahan sering terjadi

12

pada kasus-kasus abortus, kehamilan ektopik, dan mola hidatidosa. Perdarahan masih membutuhkan terapi segera untuk memulihkan dan mempertahankan perfusi di organ-organ vital walaupun jumlah darah yang diganti umumnya tidak mengatasi difisit hemoglobin akibat perdarahan secara tuntas, secara umum apabila hipovolemia yang berbahaya telah teratasi dan hemostasis tercapai, anemia yang tersisa seyogyanya diterapi dengan besi. Untuk wanita dengan anemia sedang yang hemoglobinnya lebih dari 7 g/dl, kondisinya stabil, tidak lagi menghadapi kemungkinan perdarahan serius, dapat berobat jalan tanpa memperlihatkan keluhan, dan tidak demam, terapi besi selama setidaknya 3 bulan merupakan terapi terbaik dibandingkan dengan transfusi darah ( Sarwono, 2005 ). c. Anemia pada penyakit kronik Gejala-gejala tubuh lemah, penurunan berat badan, dan pucat sudah sejak jaman dulu dikenal sebagai ciri penyakit kronik. Berbagai penyakit terutama infeksi kronik dan neoplasma menyebabkan anemia derajat sedang dan kadang-kadang berat, biasanya dengan eritrosit yan sedikit hipokromik dan mikrositik. Dahulu, infeksi khususnya tuberculosis, endokarditis, atau esteomielitis sering menjadi penyebab, tetapi terapi antimikroba telah secara bermakna menurunkan insiden penyakitpenyakit tersebut. Saat ini, gagal ginjal kronik, kanker dan kemoterapi, infeksi virus imunodefisiensi manusia (HIV), dan peradangan kronik merupakan penyebab tersering anemia bentuk ini.

13

Selama kehamilan, sejumlah penyakit kronik dapat menyebabkan anemia. Beberapa diantaranya adalah penyakit ginjal kronik, supurasi, penyakit peradangan usus (inflammatory bowel disease), lupus eritematosus sistemetik, infeksi granulomatosa, keganasan, dan arthritis remotoid. Anemia biasanya semakin berat seiring dengan meningkatnya volume plasma melebihi ekspansi massa sel darah merah. Wanita dengan pielonfritis akut berat sering mengalami anemia nyata. Hal ini tampaknya terjadi akibat meningkatnya destruksi eritosit dengan produksi

eritropoietin normal (Cavenee dkk,1994). d. Defisiensi Vitamin B12/Definisi Megaloblastik Anemia megaloblastik yang disebabkan oleh kekurangan vitamin B12 selama kehamilan sangat jarang terjadi, ditandai oleh kegagalan tubuh menyerap vitamin B12 karena tidak adanya faktor intrinsik. Ini adalah suatu penyakit autoimun yang sangat jarang pada wanita dengan kelainan ini. Defisiensi vitamin B12 pada wanita hamil lebih mungkin dijumapai pada mereka yang menjalani reseksi lambung parsial atau total. Kausa lain adalah penyakit Crohn, reseksi ileum, dan pertumbuhan bakteri berlebihan di usus halus. Kadar vitamin B12 serum diukur dengan radio immunoassay. Selama kehamilan, kadar nonhamil karena berkurangnya konsentrasi protein pengangkut B12 transkobalamin (zamorano dkk, 1985). Wanita yang telah menjalani gastrektomi total harus diberi 1000 mg sianokobalamin (vitamin B12) intramuscular setiap bulan. Mereka yang menjalani

14

gastrektomi parsial biasanya tidak memerlukan terapi ini, tetapi selama kehamilan kadar vitamin B12 perlu dipantau. Tidak ada alasan untuk menunda pemberian asam folat selama kehamilan hanya karena kekhawatiran bahwa akan terjadi gangguan integritas saraf pada wanita yang mungkin hamil dan secara bersamaan mengidap anemia pernisiosa Addisonian yang tidak terdeteksi (sehingga tidak diobati). e. Anemia hemolitik Anemia hemolitik disebabkan penghancuran/pemecahan sel darah merah yang lebih cepat dari pembuatannya. Ini dapat disebabkan oleh : 1) Faktor intra kopuskuler dijumpai pada anemia hemolitik heriditer, talasemia, anemia sel sickle (sabit), hemoglobin, C, D, G, H, I dan paraksismal nokturnal hemoglobinuria 2) Faktor ekstrakorpuskuler, disebabkan malaria, sepsis, keracun zat logam, dan dapat beserta obat-obatan, leukemia, penyakit hodgkin dan lain-lain. Gejala utama adalah anemia dengan kelaina-kelainan gambaran darah, kelelahan, kelemahan, serta gejala komplikasi bila terjadi kelainan pada organ-organ vital Pengobatan bergantung pada jenis anemia hemolitik serta

penyebabnya. Bila disebabkan oleh infeksi maka infeksinya di berantas dan diberikan obat-obat penambah darah. Namun, pada beberapa jenis obat-obatan, hal ini tidak memberikan hasil. Maka transfusi darah yang berulang dapat membantu penderita ini.

15

f. Anemia Aplastik dan Hipoplastik Walaupun jarang dijumpai pada kehamilan, anemia aplastik adalah suatu penyulit yang parah. Diagnosis ditegakkan apabila dijumpai anemia, biasanya disertai trombositopenia, leucopenia, dan sumsum tulang yang sangat hiposeluler (Marsh dll, 1999). Pada sekitar sepertiga kasus, anemua dipicu oleh obat atau zat kimia lain, infeksi, radiasim, leukemia, dan gangguan imunologis. Kelainan fungsional mendasar tampaknya adalah penurunan

mencolok sel induk yang terikat di sumsum tulang. Banyak bukti yang menyatakan bahwa penyakit ini diperantarai oleh proses imunologis (Young dan Maciejewski, 1997). Pada penyakit yang parah, yang didefinisikan sebagai hiposelularitas sumsum tulang yang kurang dari 25 persen, angka kelangsungan hidup 1 tahun hanya 20 persen (Suhemi, 2007). 2. Penyebab Anemia Kehamilan a. Kurangnya mengkonsumsi makanan kaya zat besi, terutama yang berasal dari sumber hewani yang mudah diserap. b. Kekurangan zat besi karena kebutuhan yang meningkat seperti pada kehamialn c. Kehilangan zat besi yang berlebihan pada pendarahan termasuk haid yang berlebihan, sering melahirkan dengan jarak yang dekat. d. Pemecahan eritrosit terlalu cepat (hemolisis) (Gultom, 2005).

16

3. Gejala-gejala yang Muncul pada Anemia Menurut Indoglobal, (2007) gejala-gejala yang sering muncul pada anemia : a. 5 L (letih, lelah, lemah, lesu dan lunglai) b. Nafsu makanan penurun atau anoreksia c. Sakit kepala d. Konsentrasi menurun e. Pandangan berkunang-kunang terutama bila bangkit dari duduk f. Nafas pendek (pada anemia yang parah) Pada pemeriksaan didapat gejala anemia a. Kulit pucat b. Kuku-kuku jari pucat c. Rambut rapuh (pada anemia yang parah) Menurut Sarwono, (2005) Pengaruh Anemia terhadap kehamilan a. Penyakit yang timbul akibat anemia anemia : 1) Abortus 2) Partus prematurus 3) Partus lama karena inerlia uteri 4) Perdarahan post partum karena atonia uteri 5) Syok 6) Infeksi baik intra partum maupun post partum

17

7) Anemia yang sangat berat dengan Hb kurang dari 4 gr/100ml dapat mneyebabkan dekompensasi kordis. b. Bagi hasil konsepsi anemia dalam kehamilan memberi pengaruh kurang baik, seperti : 1) Kematian mudigah 2) Kematian perinatal 3) Prematuritas 4) Dapat terjadi cacat bawan 5) Cadangan besi kurang Menurut Herlina, (2007) Cara mencegah anemia adalah: a. Meningkatkan konsumsi zat besi terutama dari sumber hewani yang mudah diserap. b. Minum 1 tablet tambah darah setiap hari bagi ibu hamil minimal 1 tablet selama kehamilan c. Mengantur jarak kelahiran dengan menjadi peserta keluarga berencana (KB) 4. Kebutuhan zat besi pada wanita hamil Wanita memerlukan Zat besi lebih tinggi dari laki-laki karena terjadi menstruasi dengan pendarahan sebanyak 50 sampai 80 cc setiap bulan dan kehillangan Zatbesi sebesar 30 sampai 40 mgr. Disamping itu kehamilan memerlukan tambahan zat besi untuk meningkatkan jumlah sel darah merah dan membentuk sel darah merah janin dan plasenta.

18

Sebagai gambaran banyak kebutuhan zat besi pada kehamilan adalah : a. Meningkatkan sel darah ibu b. Terdapat dalam plasenta c. Untuk darah janin 500 mgr Fe 300 mgr Fe 100 mgr Fe Jumlah 900 mgr Fe Jika persalinan cadangan Fe minimal, maka setiap kehamilan akan mengurus persendian Fe tubuh dan akhirnya menimbulkan anemia pada kehamilan berikutnya (Zulhaida, 2007). 5. Nutrisi penting selama kehamilan a. Karbohidrat b. Potein c. Mineral d. Vitamin B kompleks e. Vitamin D f. Vitamin E g. Asam folat h. Zat besi i. Kasium

19

B. Pengetahuan 1. Pengertian Pengetahuan Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap obyek tertentu. Penginderaan terhadap obyek terjadi melalui panca indra manusia, yakni: penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2007). Pengetahuan pada hakikatnya merupakan segenap apa yang kita ketahui tentang suatu obyek tertentu termasuk ilmu, jadi ilmu merupakan bagian dari pengetahuan Pengetahuan yang diketahui oleh manusia tujuan (Suriasumantri, menjawab 1998). semua

dikumpulkan

dengan

untuk

permasalahan kehidupan sehari-hari yang dialami oleh manusia dan untuk digunakan dalam menawarkan berbagai kemudahan padanya. Pengetahuan itu sendiri banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain: adalah pendidikan formal. Jadi pengetahuan sangat erat hubungannya dengan pendidikan, di mana diharapkan bahwa dengan pendidikan yang tinggi, maka orang tersebut akan semakin luas pula pengetahuannya. Akan tetapi perlu ditekankan, bukan berarti seseorang yang berpendidikan rendah, mutlak berpengetahuan rendah pula. Hal ini mengingat bahwa, peningkatan pengetahuan tidak mutlak di peroleh dari pendidikan non formal. Pengetahuan seseorang tentang suatu obyek mengandung dua aspek yaitu

20

positif dan negatif. Kedua aspek ilmiah yang pada akhirnya akan menentukan sikap seseorang tentang suatu obyek tertentu. Semakin banyak aspek positif dan obyek yang diketahui, maka akan menimbulkan sikap makin positif terhadap obyek tertentu. 2. Tingkat Pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2007) pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitive mempunyai 6 tingkatan. a. Tahu (know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (Recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. b. Memahami (Comprehension) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui dan dapat

menginterprestasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap obyek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap obyek yang dipelajari. c. Aplikasi (Application) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada suatu situasi atau kondisi sebenarnya (real). Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-

21

hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. Misalnya penggunaan rumus static dalam perhitungan hasil penelitian. d. Analisis (Analysis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu metode kedalam komponen-komponen, tetapi masih didalam struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, seperti dapat menggambarkan, memisahkan, mengelompokkan, dan sebagainya. e. Sintesis (syntesis) Sintesis menunjukkan kepada sesuatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. Misalnya dapat menyusun, merencanakan, menyesuaikan, dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan yang telah ada. f. Evaluasi (Evaluation) Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justification atau penilaian terhadap suatu materi atau obyek. Penilaian-penilaian tersebut didasarkan pada suatu kriteria-kriteria yang telah ada. Misalnya: dapat menafsirkan sebab-sebab mengapa ibu-ibu tidak mau ikut ber-KB, tidak mau memeriksakan kehamilan dan sebagainya.

22

C. Kepatuhan Ibu Hamil Meminum Tablet Zat Besi Kepatuhan berasal dari kata dasar patuh yang berarti taat. Kepatuhan adalah tingkat pasien melaksanakan cara pengobatan dan prilaku yang disarankan dokter atau oleh orang lain (Arisman, 2004). Menurut Sudarwati (1998) tingkat kepatuihan adalah pengukuran

pelaksanaan kegiatan, yang sesuai dengan langkah-langklah yang telah ditetapkan, perhitung tingkat kepatuhan dapat di kontrol bahwa pelaksana program telah melaksanakan kegiatan sesuai standar. Kepatuhan pasien yang berdasarkan rasa terpaksa atau ketidak pahaman tentang pentingnya perilaku tersebut dapat disusul dengan kepatuhan yang berbeda jenisnya, yaitu kepatuhan demi menjaga hubungan baik dengan petugas kesehatan atau dengan tokoh yang menganjurkannya. Motivasi ini belum dapat dijadikan jaminan bahwa pasien akan mematuhi seterusnya karena jika pasien sudah merasa jenuh atau bosan maka dia tidak perlu lagi melanjutkan perilaku tersebut (Sarwono, 1997). Ibu hamil minimal mendapatkan 90 tab, dan bermanfaat bila diminum secara teratur, tablet setiap hari selama kehamilan, Tablet tambah darah diminum

dengan air putih jamgam diminum dengan air teh, susu atau kopi karena dapat menurunkan penyerapan zat besi dalam tubuh sehingga manfaatnya menjadi berkurang (Dep kes, 200). Kadang-kadang tablet tambah darah menimbulkan perasaan tidak enak seperti sakit perut, tidak enak, mual, susah buang air besar, tinja berwarna hitam, ini karena kandungan zat besinya tinggi yaitu 200 mg atau 60 mg besi elemental

23

dan 0,25 mg asam folat untuk mengurangi sebaiknya tablet tambah darah di minum setelah makan malam atau menjelang tidur, Akan tetapi lebih baik bila setelah minum tablet tambah darah disertai makan buah-buahan seperti pisang ambon (Nuri, 2005). Menurut Notoatmodjo (2007) bahwa indikator-indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui tingkat pengetahuan atau kesadaran terhadap kesehatan, dapat dikelompokkan menjadi : a. Pengetahuan tentang sakit dan penyakit. b. pengetahuan tentang cara pemeliharaan tentang kesehatan dan cara hidup sehat. c. Pengetahuan tentang kesehatan lingkungan. Menurut Notoatmodjo (2007), bahwa keilmuan tentang pengetahuan dibagi menjadi 2 yaitu : a. Pengetahuan secara formal Pengetahuan yang didasarkan pada jenjang pendidikan rendah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan didapat dari ilmu pengetahuan melalui tingkat pembelajaran tersebut terdiri dari TK, SD, SMP, SMU dan Perguruan Tinggi. b. Pengetahuan secara informal Pengetahuan informal adalah pengetahuan yang didapat dari luar lingkup pendidikan. Pengetahuan informal didapat melalui media elektronik (TV, radio atau alat elektronik lainnya) dan media masa (koran, majalah atau buku-

24

buku pelajaran) maupun dari orang lain yang memberikan informasi tentang pengetahuan. Menurut Notoatmodjo (2003) faktor-faktor yang mempengaruhan pengetahuan : 1. Tingkat Pendidikan Adalah upaya untuk memberikan pengetahuan sehingga terjadi perubahan prilaku positif yang meningkat. 2. Informasi Seseorang mendapatkan informasi yang lebih banyak akan menambah pengetahuan tentang sesuatu yang bersifat non formal. 3. Pengalaman Sesuatu yang pernah dilakukan seseorang dapat menambah

pengetahuan tentang sesuatu yang bersifat non formal. 4. Budaya Tingkah laku manusia atau kelompok manusia dalam memenuhi kebutuhan yang meliputi sikap dan kepercayaan 5. Sosial Ekonomi Tingkat kemampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhan Pada kenyataannya tidak semua ibu hamil yang mendapat tablet zat besi meminumnya secara rutin, hal ini dapat disebabkan karena faktor ketidaktahuan pentingnya tablet zat besi untuk kehamilannya. Dampak yang diakibatkan minum tablet zat besi dan penyerapan/respon tubuh terhadap tablet zat besi kurang baik sehingga tidak terjadi peningkatan

25

hemoglobin

sesuai dengan yang diharapkan.

Faktor lain yang infeksi bakteri,

berhubungan dengan anemia adalah adanya penyakit

parasit usus seperti cacing tambang, malaria. Faktor sosial ekonomi yang rendah juga memegang peran penting kaitannya dengan asupan gizi ibu selama hamil (Herlina, 2007). Menurut Depkes RI (2002) dalam Niver (2002) faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan ibu hamil meminum tablet zat besi yaitu : 1. Pengetahuan Pengetahuan ibu hamil tentang anemia dan kegunaan dari zat besi didapat dari penyuluhan yang diberikan bidan pada waktu ibu hamil tersebut melakukan pemeriksaan ANC. Tingkat pengetahuan ibu juga mempengaruhi ibu hamil dalam mengkonsumsi tablet zat besi (Depkes, 2002). 2. Tingkat Pendidikan Latar belakang pendidikan ibu hamil juga sangat berpengaruh terhadap kepatuhan ibu meminum tablet besi (Depkes, 2001). 3. Pemeriksaan ANC Pemeriksaan ANC selama hamil sedikitnya 4 x pelayanan antenatal yaitu satu kali untuk trimester I, 1 kali untuk trimester II, dan dua kali untuk trimester III, pemeriksaan meliputi anamnesa dan pemantauan ibu dan janin dengan seksama untuk menilai apakah perkembangan berlangsung normal. Bidan juga harus mengenal kehamilan risiko tinggi khususnya anemia kurang gizi, hipertensi. Bidan juga

26

memberikan nasehat dan penyuluhan kesehatan serta tugas terkait lainnya. Dalam setiap kinjungan ANC bidan menonjolkan kepada ibu hamil apakah persediaannya cukup (Depkes, 2001). Menurut WHO (1995) manfaat dan kepatuhan ibu hamil meminum tablet zat besi yaitu : a. Bisa mencegah anemia defesiensi besi Karena pada wanita hamil cenderung mengalami defesiensi baik zat besi maupun folat. Oleh karena itu penting sekali bagi ibu hamil untuk meminum tablet zat besi setiap hari. b. Bahaya selama kehamilan, persalinan dan nifas dapat dihindari Menurut Smet (1994), beberapa sebab rendahnya kepatuhan ibu hamil meminum tablet zat besi antara lain karena faktor program dan faktor individu yang meliputi : 1) Individu tidak merasa dirinya sakit 2) Ketidaktahuan akan gejala atau tanda-tanda dan dampak yang ditimbulkan 3) Kelainan ibu hamil atau rendahnya motivasi ibu hamil dalam tablet zat besi setiap hari sampai waktu yang cukup lama 4) Adanya efek samping gastrointestinal seperti mual, rasa nyeri lambung 5) Kurang doterimanya warna, rasa dan beberapa karateristik lain dari suplemen besi

27

6) Rasa takut terhadap suplemen besi dapat memperbesar janin dan akan menyulitkan dalam persalinan Menurut WHO (1995) dampak dari ketidakpatuhan ibu hamil meminum tablet Fe yaitu : a. Bisa terjadi anemia defisiensi besi b. Meningkatkan bahaya kehamilan, persalinandan nifas Menurut Never (2002) cara-cara untuk meningkatkan kepatuhan ibu hamil untuk meminum tablet zat besi yaitu : a. Memberikan informasi tujuan dari pemberian tablet zat besi seorang ibu hamil akan dengan senang hati meminum tablet zat besi setiap hari apabila dia tahu manfaat dan tujuan dari tabelt zat besi. b. Perilaku sehat ibu hamil yang menyadari pentingnya untuk mengkonsumsi tablet zat besi setiap hari. c. Tenaga kesehatan memberikan petunjuk cara meminum tablet zat besi d. Motivasi dari keluarga ibu hamil agar patuh meminum tablet zat besi setiap hari. e. Dukungan dari tenaga kesehatan dengan menjalin komunikasi yang baik dan memberikan penghargaan yang positif bagi ibu hamil yang telah mampu meminum tablet zat besi setiap hari.

BAB III KERANGKA KERJA PENELITIAN

A. Kerangka Teori Patuh : Pengetahuan Tingkat Pendidikan Kepatuhan ibu hamil dalam meminum tablet zat besi Mencegah anemia Bahaya kehamilan persalinan dan nifas dapat dihindari

Tidal patuh : Anemia defisiensi besi Meningkatnya bahaya selama kehamilan persalinan dan nifas B. Kerangka Konsep

Pengetahuan tentang anemia

Kepatuhan ibu hamil meminum tablet zat besi

Kerangka konsep penelitian

29

30 BAB IV METODE PENELITIAN

A.

Jenis Penelitian Desain penelitian ini adalah penelitian deskripsi korelasi dengan tujuan utama memberikan gembaran tingkat pengetahuan ibu hamil yang mengalami anemia, memberikan gambaran kepatuhan meminum tablet Fe dan menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan ibu hamil dengan kepatuhan meminum tablet Fe. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah dengan pendekatan crossectional yaitu suatu penelitian dimana variabel yang termasuk faktor resiko dilakukan pengukuran dan pengamatan pada saat bersamaan sekali waktu antara faktor resiko atau paparan dengan penyakit.

B.

Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Agustus-September 20113 sedangkan pengumpulan data penelitian ini akan dilakukan pada bulan 26 Agustus 21 sep

r C.

Populasi dan Sampel 1. Populasi populasi adalah wilayah generalisasi yang berdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karateristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk mempelajari dan kemudian ditarik suatu kesimpulannya. Populasi dari penelitian ini adalah ibu hamil di puskesmas.

2. Sampel

31 Sampel merupakan bagian populasi yang akan diteliti atau sebagian jumlah dari karateristik yang dimiliki oleh populasi. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil di puskesmas C. Variabel Penelitian Variabel penelitian ini adalah tingkat pengetahuan ibu tentang anemia sebagai variabel independen dan kepatuhan ibu hamil meminum tablet Fe sebagai variabel dependen. D. Definisi Operasional Variabel Definisi Operasional Cara ukur Hasil ukur Skala Ukur

32 Independen Tingkat pengetahuan tentang anemia

Merupakan kemampuan responden untuk menjawab pertanyaan tentang pengertian anemia, gejala anemia, terapi anemia dan cara meminum tablet besi. Ketaatan ibu hamil dalam mengkonsum si tablet zat besi setiap hari

Kuesioner 15 item jumlah skor yang diperoleh Jabawan : Benar : 1 Salah : 0

Kategori : Tinggi : 10-15 Sedang : 5-9 Rendah : 0-4

Ordinal

Dependen Kepatuhan ibu dalam mengkonsu msi tablet tambah darah

Kuesioner Kategori : 14 item Patuh : 8-14 jumlah skor Tidak patuh : 0-7 yang diperoleh pertanyaan positif jawaban Ya : 1 Tidak : 0 Pertanyaan negatif Jawaban Ya : 0 Tidak : 1

Ordinal

Data mentah yang didapat dari hasil angket yang diolah kedalam bentuk tabel distribusi dengan menggunakan komputer dengan beberapa langkah sebagai berikut (Basuki, 1999). Pengolahan data yang dilakukan dapat dibagi dalam beberapa tahapan sebagai berikut : 1. Editing

33 Melakukan pengecekan kelengkapan data, kesinambungan data dan keseragaman data sehingga menjamin validitas data. 2. Scoring Penentuan menilai untuk masing-masing jawaban pada kuisioner. 3. Coding Pemberian nomer code pada jawaban yang bersifat kategori 4. Data entry Memasukkan data kedalam komputer 5. Tabulating Pengelompokan data dalam bentuk tabel sesuai bentuk variabel yang akan dianalisis 6. Describing Menggambarkan dan menerangkan data. 7. Analysis Melakukan uji statistik dengan menggunakan komputer. ANALISIS DATA Analisa dengan menggunakan analisis tabel untuk mendapatkan hasil pengaruh jenis penampungan air untuk keperluan sehari-hari dan pengetahuan masyarakat terhadap angka bebas jentik di Desa Tropodo, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo.

34 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS WIJAYA KUSUMA SURABAYA PRAKTEK KERJA LAPANGAN ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS Pengaruh kepatuhan mengkonsumsi tablet zat besi dan pengetahuan ibu hamil terhadap anemia

KUISIONER PENELITIAN KARAKTERISTIK RESPONDEN Nama Responden : Alamat : Jumlah :