Anda di halaman 1dari 19

1

Framework Kajian Orientalis Dalam Filsafat Islam


Oleh:.Hamid Fahmy Zarkasyi MA M.Phil

Pendahuluan Sebelum membahas framework orientalis dalam bidang filsafat, diperlukan penjelasan tentang status filsafat sebagai salah satu cabang ilmu dalam khazanah pengetahuan Islam. Jika hal ini tidak dilakukan, dan status filsafat dalam Islam masih problematis, maka kajian kritis terhadap framwework orientalis menjadi tidak perlu. Sebab, jika Muslim menafikan filsafat sebagai salah satu cabang ilmu dalam Islam, maka implikasinya tidak beda dari framework orientalis, seperti yang akan kita bahas nanti, yaitu sama-sama menafikan wujud pemikiran sistimatis, rasional, konseptual dan filosofis dalam Islam. Sejatinya, untuk menjadi salah satu cabang ilmu dalam khazanah pengetahuan Islam, filsafat memerlukan proses panjang yang berbeda dari cabang-cabang ilmu dalam Islam, seperti Ilmu Fiqih, Tafsir, Hadith dsb. Sebab ketika ummat Islam mengenal filsafat, ia telah merupakan cabang pengetahuan yang telah memiliki disiplin tersendiri. Oleh sebab itu respon cendekiawan Muslim terhadap filsafat pun beraneka ragam. Para ulama1 yang umumnya fuqaha menolak filsafat, terutama ilmu mantiq (logika),

Diantara yang menolak logika adalah Hasan ibn Musa al-Nawbakhti (w.300 A.H./912). Ia adalah pemikir Muslim awal yang sezaman dengan Thabit ibn Qurrah (d.288 A.H/900). Bukunya Kitab alAra wa al-Diyanat menunjukkan kerancuan logika Aristotle. Yang menarik al-Nazzam (d.231 A.H/845) dan al-Jubbai (d.303 A.H/915) tokoh Mutazilah yang dianggap rationalis itu juga menolak filsafat Aristotle. Kritik terhadap filsafat Aristotle yang lain datang dari Abu Zakariyya alRazii (d.313 A.H./925), dan Ibn Hazm al-Andalusi (d.456 A.H./1063), tapi al-Razii setuju dengan ide-ide Pythagoras. Selain itu Hibat Allah Ibn Ali Abu al-Barakat al-Baghdadi (d.548 A.H/1155) pengarang buku Kitab al-Mutabar fi al-Hikmah juga menentang filsafat Aristotle. Lihat M.M.Sharif, A History of Muslim Philosophy, Otto Harrassowitz Wiesbaden, 1966, pp. 804-805.

karena berkaitan dengan metafisika.2 Sementara yang lain, seperti al-Ghazzali, Fakhr al-Din al-Razi dsb menerimanya sejauh masih sejalan dengan ajaran Islam dan menolak konsep-konsep yang bertentangan. Yang lain lagi seperti al-Kindi, al-Farabi, Ibn Sina dsb. menerima filsafat Yunani dan memodifikasinya agar sesuai dengan prinsip-prinsip penting dalam ajaran Islam. Namun penolakan dan penerimaan para cendekiawan Muslim diatas bukan hanya sekedar karena filsafat itu berasal dari ilmu asing, tapi lebih karena adanya beberapa prinsip dalam filsafat yang dianggap bertentangan dengan Islam. Ibn Taymiyyah yang termasuk diantara yang penolak keras filsafat ternyata juga menerima filsafat, tapi dengan prasyarat. Yaitu asal berdasarkan pada akal dan berpijak pada kebenaran yang dibawa oleh para Nabi. Filsafat yang demikian itu ia sebut al-falsafah al-aah (filsafat yang betul) atau al-falsafah al-aqqiyyah (Filsafat yang sebenarnya).3 Imam Al-Ghazzali sendiri sebenarnya juga tidak menolak filsafat, tapi mengkritik prinsip-prinsip berfikir para filosof. Jadi para ulama menolak, menerima secara selektif atau menerima dan memodifikasi prinsip-prinsip filsafat Yunani, karena konsepkonsepnya yang tidak sejalan dengan konsep-konsep dalam Islam. Selain itu juga karena mereka percaya akan adanya konsep Islam sendiri yang berbeda dari konsep asing itu. Ini berarti bahwa para ulama menganggap bahwa dalam Islam terdapat prinsip berfikir filosofisnya sendiri yang berbeda dari Yunani. Sementara itu para orientalis menekankan adanya unsur asing dalam filsafat Islam dan karena itu menolak adanya filsafat dalam Islam. Penolakan itu juga disertai alasan bahwa dalam Islam tidak terdapat hal-hal yang rasional dan filosofis. Keduanya tentu
2

Tokohnya yang terkenal dalam hal ini adalah Ibn Taymiyyah, lihat Ibn Taymiyyah al-Radd ala al-Mantiqiyyin, di edit oleh .R.Ajam, vol.II, Dar al-Fikri al-Lubnani, Beirut, 1993. hal. 84-86.. Ibn Taymiyyah, Minhj al-Sunnah al-Nabawiyyah fi Naqd Kalam al-Shiah alQadariyyah, ed. R. Slim, vol. I, , ed. Rashad Salim, Maktabah alKhayyat, 2 vols. n.d. p. 258.

mempunyai implikasi kerangka kerja (framework) kajian masingmasing. Namun dalam pembahasan ini akan dipaparkan kerangka kerja (framework) kajian yang dikembangkan oleh para orientalis terhadap filsafat Islam dan yang dapat dilacak dari pandangan mereka terhadap asal usul filsafat Islam. Asal usul dan Substansi Filsafat Islam Pada umumnya para orientalis, dengan beberapa pengecualian,4 sependapat bahwa geneologi filsafat dalam Islam harus dilacak dari Yunani, sebab ia tidak ada akarnya dalam tradisi intelektual Islam. Yang paling umum di jadikan bukti tentang asal usul ini adalah nama filsafat itu sendiri, sebab falsafah di derivasi dari bahasa Yunani philosophia. Sesudah mempersoalkan masalah asal usul nama falsafah, Peter, misalnya menyimpulkan bahwa dalam Islam tidak ada filsafat, bahkan Ilmu Kalam sekalipun ia anggap sebagai saudara tiri filsafat yang juga berasal dari Yunani (the stepsisters borne by the same mother).5 Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Professor Ueberweg dalam bukunya History of Philosophy vol. i, (hal. 405), bahwa: The whole philosophy of the Arabians was only a form of Aristotelianisme, tempered more or less with Neo-Platonic conceptions.6 Ini bermakna bahwa filsafat Islam tidak berasal dari Yunani dari namanya saja tapi juga substansinya.

Oliver Leaman misalnya menyatakan bahwa Usul Fiqih memiliki peran penting dalam melahirkan filsafat dalam Islam. Lihat Oliver Leaman, An Introduction to Medieval Islamic Philosophy, Cambridge University Press, Cambridge, 1985, hal.5. Peter, F.E., Aristotle and The Arabs, The Aristotelian Tradition in Islam, New York University Press, (New York, 1968) hal. xxi-xxiii. Juga Richard Walzer, Islamic Philosophy dalam Greek into Arabic: Essays on Islamic Philosophy, Oxford,: Bruno Cassirer, 1962, hal. 1-28. Lihat juga Gustave E.von Grunebaun, Islam and Medieval Hellenism: Social and Cultural Perspectives, Variorom Reprints, (London 1976), hal.25. Seperti dikutip oleh Thomas Patrick Hughes dalam, Dictionary of Islam, Being A Cylopaedia of the Doctrines, ritets, ceremonies and custom, together with the technical and theological terms, of the Muhammadan Religion, London W.H.Allen & Co, 1927, s.v. Philosophy Muslim, hal. 452.

Dengan argumentasi lain De Boer, orientalis periode awal, dengan tegas menyatakan bahwa Islam datang ke dunia ini tanpa filsafat, sebab, katanya, pada abad pertama masyarakat Islam tidak mempunyai kesadaran akan metode atau sistim. Filsafat dalam Islam hanyalah eklektisism yang terkait dengan hasil terjemahan karya Yunani, dan karena itu kajian kesejarahannya lebih merupakan assimilasi dari pada originasi.7 Tidak aneh jika bukunya The History of Philosophy in Islam dimulai dengan pemaparan Sains Yunani dan Wisdom dari Timur dengan porsi yang berlebihan. Jika De Boer mengasumsikan ketiadaaan metode dan sistim filsafat dalam Islam, maka Gustave E von Grunebaum menyinggung ketiadaan pemikiran rasional, konsep-konsep dan prinsip klassifikasi dalam Islam, ia menulis begini: Hellenisme memberikan bentuk pemikiran yang rasional kepada peradaban Muslim.bahkan dalam beberapa kasus menyediakan seperangkat konsep-konsep, dan pada banyak kasus menyuguhkan prinsip-prinsip klassifikasi.
8

Tidak hanya filsafat, ilmu tasawwuf dalam Islam sekalipun, tetap dia anggap berasal dari aspirasi Yunani, kalaupun tidak bisa disebut transmisi kata per kata. Bahkan sistimatika tasawwuf dalam Islam menurutnya merrupakan kelanjutan dari mistikisme dalam Kristen. Kalaupun ada sumbangan Muslim, itu hanyalah hasil dari upaya wajar yang lebih menonjol faktor manusianya ketimbang Islamnya. Jadi, menurutnya konsep-konsep filsafat Yunani itu telah

De Boer, T.J., The History of Philosophy in Islam, Curzon Press, Richmond, U.K., 1994, pp. .28-29,309. The emphasize on translation see Myers, Eugene A., Arabic Thought and The Western World, Fredrick Ungar Publishing Co, New York, 1964, hal. 7-8. Gustave E. von Grunebaum, Islam and Medieval Hellenism: Social and Cultural Perspectives, di edit dan diberi Pendahuluan oleh Dunning S Wilson, diberi pengantar oleh Speros Vryonis, Jr. Variorum Reprints, London, 1976, hal. 25

dimodifikasi oleh Muslim, tapi elemen-elemen Yunani masih tetap dipertahankan.9 Kalau Gustave mementahkan prestasi Muslim dalam bidang Tasawwuf dan filsafat M.W.Watt dalam bidang filsafat dan ilmu Kalam. Kalam yang menggunakan argumentasi rasional itu, menurutnya, memperkenalkan dan mendiskusikan konsep-konsep non-Qurani, yang kebanyakan diambil dari filsafat dan sains Yunani.10 Sejalan dengan Watt, Joseph van Ess dan Michael Cook menganggap formula perdebatan dalam ilmu Kalam diambil dari Yunani atau dari teks Syriac.11 Tapi, mereka umumnya tidak memberikan bukti yang kuat tentang bagaimana proses pengambilan dari Yunani itu berlangsung. Watt sendiri mengakui bagaimana Mutakallimn berhubungan dengan Yunani hanya merupakan asumsi yang mash perlu dibuktikan. Dalam buku A History of Philosophical System, Edward J. Jurji menulis artikel berjudul Arabic and Islamic Philosophy. Dalam artikel itu ia mengakui adanya sumbangan peradaban Arab-Islam kepada peradaban Barat Baru (New West). Tapi ia dengan tegas menyatakan bahwa itu semua tidak berasal dari jazirah Arab. Sebab sebelum orang-orang Arab itu berhubungan dengan bangsa Syria, Yahudi dan Iran yang masuk Islam, mereka berwawasan sempit (narrow horizon). Lebih tegas lagi ia menyatakan bahwa Muslim pada abad ke 7 M mustahil bisa faham arti logika dan filsafat Yunani. Kemampuan mereka dalam disiplin filsafat baru muncul setelah orang-orang Kristen dan Yahudi mengungguli mereka.12

9 10

Ibid Wat, M.W, Formative Period of Islam, University Press, Edinburgh, 1969, hal. 183. Lihat M.Cook, The Origin of Kalam dalam Bulletin of the School of Oriental and African Studies, 43 (1980): 42-43.; lihat juga M.Abdul Haleem, Early Kalam dalam Seyyed Hossein Nasr et al, ed. History of Islamic Philosophy, Routledge, London, 1998, vol.I,72-73 Lihat dalam Vergilius Ferm, A History of Philosophical System, Rider and Company New York, 1950, hal. 159-160

11

12

Pernyataan ini agak berlebihan, sebab penterjemah dari kalangan Kristen seperti Hunayn Ibn Ishaq (m.873), Thabit in Qurra (m.901), Yahya ibn Adi (m.974) dsb. adalah penerjemah bayaran. Sesudah proses penterjemahan, tidak lagi punya peran apa-apa. Para cendekiawan dan filosof Muslim lah yang kemudian mengolahnya dalam bentuk komentar, penjelasan, adapsi dan tentu Islamisasi konsep-konsep pentingnya.13 Pernyataan Edward sebenarnya bertentangan dengan temuan Peter, bahwa orang Kristen tidak bisa menyelesaikan terjemahan Organon karya Aristotle karena khawatir akan membahayakan keimanan mereka.14 Ini berarti, menurut teori worldview Alparslan, mereka tidak mampu menyerap pemikiran Yunani yang canggih (baca sophisticated) karena miskinnya mekanisme untuk menghasilkan kerangka konsep keilmuan (scientific conceptual scheme) dalam pandangan hidup mereka.15 Jadi kalau fakta yang dikemukakan Peter ini dipahami dalam perspektif pandangan hidup (worldview) Islam, asumsi Edward tidak bisa dipertahankan lagi. Malah asumsi itu bisa menjadi terbalik yaitu bahwa kerangka konsep keilmuan Barat itu muncul hanya setelah mereka bersentuhan dengan peradaban Muslim yang berdasarkan pada pandangan hidup yang canggih. Proses ini diakui oleh penulis Barat lain sebagai appropriaing and developing tradisi Yunani kedalam Islamic cultural milieu.16 Lebih tegas lagi Marmura menyatakan: Thus, the falasifah did not simply accept ideas they received through the translations. They criticized, selected, and rejected; they made distinction, refined and remolded concepts to formulate their own philosophies. But the

13 14 15 16

The Harper Collins Dictionary of Religion, hal. 533 Peter, F.E. Aristotle and The Arabs, p.57. Acikgenc, Alparsalan, Islamic Science, pp.14-15. The Harper Collins Dictionary of Religion, HarperSan Fransisco, 1986, hal. 533

conceptual building block, so to speak, of these philosophies remained Greek.


17

Disini pengakuan Marmura sangat tepat, yaitu bahwa cendekiawan Muslim bukan hanya sekedar menterjemahkan karyakarya Yunani tanpa memprosesnya lebih lanjut. Tidak semua konsep Yunani diterima, ada proses seleksi, pemurnian, modifikasi dan reormulasi konsep. Pengakuan serupa juga dilakuan oleh Sabra. Dalam kajiannya tentang filsafat dan sains Islam menyatakan: Philosophy, in Islamic consciousness, has always been the foreign science par excellence (to use a current word for the disciplines of knowledge acquired by Islamic civilization from antiquity), and it has retained its Greek name in an Arabicized form up to our own day. ..but the Arabicized name falsafah, is also a sign of successful naturalization. 18 Meskipun Sabra mengakui keberhasilan proses naturalisasi filsafat Yunani ke dalam Islam dan Marmura mengakui adanya proses seleksi dan modifikasinya yang dilakukan oleh cendekiawan Muslim, namun satu hal yang selalu mereka tekankan adalah secara konsisten adalah bahwa filsafat itu ilmu asing dalam Islam dan unsur-unsur Yunani masih terdapat didalamnya. Dari pandangan para orientalis mengenai asal usul filsafat dalam Islam diatas dapat ditangkap suatu indikasi bahwa dibalik menafikan asal usul filsafat Islam itu adalah pengingkaran adanya sistim, konsep dan pemikiran rasional dalam Islam. Pemikiran rasional hanya dimiliki oleh Yunani. Implikasi logisnya, Islam tidak memiliki konsep dan sistim pemikiran. Selain itu terdapat sikap ambivalen dalam cara berfikir mereka. Ilmu Kalam dalam Islam
17

Michael Marmura, dalam The Encyclopedia of Religion, ed. Mircea Eliade, MacMillan Publishing Company, New York, Collier Macmillan Publisher, London, hal. 268, s.v. Falsafah Sabra, A.I., Science and Philosophy in Medieval Islamic Theology, dalam Zeitschrift fur Geschichte der Arabish Islamichen Wissenschaften , 1995, hal.2.

18

tidak dikategorikan kedalam filsafat, sebab ia berdasarkan pada teologi atau berangkat dari doktrin-doktrin keagamaan. Namun disisi lain mereka menganggap para teolog Kristen pada abad pertengahan sebagai filosof. Framework orientalis Framework kajian filsafat Islam para orientalis sudah tentu mengikuti prinsip asal usul seperti yang telah dikemukakan diatas. Lebih dari sekedar memposisikan filsafat dalam Islam sebagai berasal dari Yunani, para orientalis juga menganggap konsepkonsep dan sistim pemikiran dalam Islam sebagai berasal dari dan didominasi oleh filsafat Yunani. Oleh karena itu tidak heran jika Alfred Gullimaune secara tegas menyarankan agar framework, skop dan materi Filsafat Arab dilacak dari bidang-bidang dimana Filsafat Yunani mendominasi sistim ummat Islam.19 Tidak dijelaskan bagaimana filsafat Yunani mendominasi sistim ummat Islam. Tidak dielaborasi pula sistim apa saja dalam Islam yang didominasi oleh filsafat Yunani. Asumsi bahwa pemikiran Islam telah didominasi oleh pemikiran Yunani, membawa implikasi bahwa tidak ada pemikiran Islam yang dominan disitu. Jika asumsi ini benar sudah tentu unsurunsur penting dalam Islam, seperti konsep tawhid, konsep Tuhan, konsep penciptaan, konsep alam semesta dsb. yang secara diametris berseberangan dengan Yunani sudah tentu tidak wujud dalam pemikiran Islam. Malahan jika benar bahwa konsep dan sistim filsafat Yunani dominan, Islam tidak dapat berkembang menjadi peradaban yang kuat dimasa itu. Framework yang mencoba mengesampingkan peran Islam juga dilakukan oleh OLeary dalam karyanya Arabic Thought and Its

19

Alfred Gullimaune, Philosophy and Theology in The Legacy of Islam, Oxford University Press, 1948, p.239.

Place in History.20 Ia meletakkan pemikiran Arab hanya sebagai transmitter filsafat Yunani dari Hellenisme versi Syriac kedalam peradaban Barat Latin. Framework seperti OLeary ini diterima luas oleh para orientalis. Apa yang tidak dipertimbangkan dalam framework ini adalah bahwa proses mentrasmisikan pemikiran memerlukan kerja rumit yang tidak hanya sebatas penterjemahan. Pengakuan Marmura dalam hal ini benar, namun sayang ia tidak menyebutkan bahwa ketika Muslim menterjemahkan teks-teks Yunani, didalam pikiran mereka telah terdapat pandangan hidup (worldview) yang teratur, rasional dan mampu mengakomodir pemikiran dalam teks-teks yang diterjemahkan itu. Sejatinya alasan mengapa kalangan Kristen pada waktu itu tidak berani menterjemahkan Organon Aristotle, karena pandangan hidup (worldview) Kristen tidak dapat mengakomodir sistim pemikiran Aristotle. Jika mereka mampu, tentu bangsa Syriac yang umumnya adalah penganut Kristen itu sudah maju mendahului ummat Islam dalam bidang filsafat dan sains. Tapi kenyataannya mereka tidak dapat melalukan kerja-kerja saintifik seperti yang dilakukan ummat Islam. Framework yang digunakan Watt juga sangat jelas bahwa filsafat dan teologi Islam tumbuh dari hasil dua gelombang Hellenisme, yaitu periode penterjemahan dan periode munculnya filosof Muslim Neoplatonis Aristotelian, seperti al-Farabi, Ibn Sina dan lainnya.21 Majid Fakhry bahkan menambahkan bahwa pengaruh asing yang masuk kedalam pemikiran filsafat Islam bukan hanya dari Yunani, tapi juga dari India dan Persia.22 Framework semacam

20

OLeary, De Lacy, Arabic Thought and Its Place in History, Routledge & Kegan Paul Ltd, London, 1963.p.viii. Watt, M.W, Islamic Philosophy and Theology, University of Edinburgh Press, Edinburgh, 1985, pp.33-64; 69-128. Fakhry, Majid, A History of Islamic Philosophy, Columbia University Press, New York, 1983, p.viii-ix.

21

22

10

ini sangat umum dijumpai dalam tulisan sejarah filsafat Islam, seperti Radhakrishnan,23 dan lain-lain. Framework filsafat Islam yang menekankan pada latar belakang komunitas Kristen juga sangat menyolok dalam tulisan Edward. Kajian filsafat Islam, menurutnya harus dimulai dari kajian situasi peradaban di Timur Dekat (yakni kawasan Timur Tengah sekarang). Di kawasan itu kajian terhadap warisan Yunani kuno menjadi semakin inten karena tersebarnya agama Kristen saat itu. Jadi, menurut Edward, sejarah filsafat Arab (yakni filsafat Islam) berakar pada pengikut gereja Nestorian dan Jacobite.24 Dari framework kajian diatas, sudah dapat dipastikan bahwa hampir seluruh buku sejarah filsafat Islam, atau artikel tentang filsafat Islam dimulai dari tokoh yang bernama al-Kindi. Sebab alKindi dianggap cendekiawan Muslim yang pertama kali bersentuhan dengan filsafat Yunani. Dan orang-orang yang menyerang filsafat Yunani seperti al-Ghazzali, Fakhr al-Din al-Razi dan lain-lain tidak disebut filosof. Nampaknya frameworks kajian sejarah mereka berdasarkan pada hypotesa yang dijustifikasi dengan teori. Namun hypotesa dan teori boleh jadi tidak relevan dengan realitas alam pikiran Islam, meskipun secara kronologis boleh jadi benar. Mengapa hypotesa dan teori oritentalis tidak relevan, mungkin bisa dirujuk kepada kesimpulan Edward Said bahwa orientalisme adalah merupakan gambaran tentang pengalaman manusia Barat sehingga menghasilkan gambaran yang salah tentang kebudayaan Arab dan

23

Radhakrishnan, History of Philosophy, Eastern and Western, George Allan & Unwin Ltd. London, lihat Islamic Philosophy, Bab XXXII, hal.120-149. Lihat dalam Vergilius Ferm, A History of Philosophical System, hal. 160; bandingkan Michael Marmura Falsafa dalam The Encyclopedia of Religion, 268

24

10

11

Islam. Selain itu meskipun kajian orientalis nampak obyektif dan tanpa kepentingan, namun ia berfungsi untuk tujuan politik.25 Kronologi yang mereka ungkapkan bahwa filsafat Islam lahir dari hasil penetrasi unsur asing kedalam alam pikiran Islam hanya bisa diterima dalam kasus lahirnya falsafah dalam Islam. Namun untuk munculnya filsafat Islam secara umum hal itu justru merupakan penafian kenyataan bahwa sebelum bersentuhan dengan Yunani dalam alam pikiran Islam telah terdapat elemenelemen filsafat. Ini akan menjadi jelas jika Islam dipahami sebagai pandangan hidup (worldview) yang sangat menghargai penggunaan akal yang kemudian tumbuh menjadi suatu peradaban yang maju dan terbuka untuk meminjam unsur-unsur asing. Nomenklatur Filsafat Islam Salah satu bagian terpenting dalam framework kajian orientalis adalah nomenklatur filsafat Islam. Sebab ia berkaitan dengan framework kajian yang digunakan atau sebaliknya framework kajian mereka itu menentukan pemberian nama kepada filsafat Islam. Para orientalis umumnya berpegang bahwa nama filsafat Islam identik dengan falsafah. Falsafah tidak hanya dalam pengertian kosakata yang diambil dari bahasa Yunani Philo dan Sophia), tapi juga dalam arti konseptualnya. Pernyataan Sabra diatas menunjukkan bahwa filsafat adalah ilmu asing dalam Islam, sebab terminologinya berasal dari Yunani dalam bentuk yang di Arabkan (Arabicized), meskipun ia mengakui bahwa filsafat Yunani telah mengalami proses naturalisasi sebelum ia menjadi bagian dari ilmu Islam.26 Hal ini menunjukkan bahwa dengan membawa fakta bahwa kata falsafah berasal dari kosakata Yunani yang di Arabkan Sabra berkesimpulan filsafat juga sebagai disiplin ilmu pengetahuan
25

Keith Windschuttle Edward Saids Orientalism revisited The New Criterion Vol. 17, No. 5, January 1999, hal. 5) Sabra, A.I., Science and Philosophy in Medieval Islamic Theology, dalam Zeitschrift fur Geschichte der Arabish Islamichen Wissenschaften , 1995, hal.2.

26

11

12

berasal dari peradaban asing. Materi yang dikaji pun pada mulanya berasal dari philosophia. Sehingga dengan nomenklatur ini yang diangap ahli falsafah dan disebut falsifah (filosof) hanyalah pemikir Muslim seperti al-Kindi 800-870M), al-Farabi (870-950 M), Ibn Sina (980-1037M), Ibn Rushd (1128-1196M), dll., padahal mereka dalam tradisi intelektual Islam hanyalah representasi dari apa yang kemudian disebut Muslim peripatetik (al-mashaun). Dalam kajian modern nomenklatur filsafat Islam tidak lagi bertumpu pada kata falsafah. Para orientalis seperti Montgomery Watt, Majid Fakhry, George Hourani, George Anawati, Henry Corbin, Michael Marmura, dan lain-lain menggunakan istilah Islamic Philosophy (Filsafat Islam), tapi makna substantifnya masih tetap falsafah dalam pengertian aslinya. Kata sifat Islam atau Islamic tidak mencerminkan substansi Islam dalam filsafat. Jadi hanya persoalan teknis kebahasaan saja. Fakhry misalnya, menggunakan istilah filsafat Islam, tapi ia setuju kalau Filsafat Islam disebut juga Filsafat Arab. Alasannya, filsafat dalam Islam merupakan produk dari proses intelektual yang kompleks yang melibatkan peran serta bangsa-bangsa Syria, Arab, Persia, Turki, Barbar dan lain-lain. Namun karena unsur Arab lebih dominan maka akan lebih mudah disebut dengan Filsafat Arab.27 Namun, anehnya, penulis-penulis Arab sendiri tidak pernah menggunakan istilah al-Falsafah alArabiyyah. Penekanan pada elemen Arab atau Yunani, agaknya menunjukkan suatu kesengajaan untuk menyembunyikan elemen Islam dalam filsafat. T.J.De Boer, malah memberi judul bukunya The History of Philosophy in Islam, yang bisa berarti Sejarah Filsafat Yunani dalam Islam. Dalam buku Vergilius Ferm berjudul A History of Philosophical Systems, bab ke 13 tentang filsafat Islam diberi judul The Arabic and Islamic Philosophy, tapi didalamnya lebih banyak menggunakan istilah Arab philosophy.
27

Fakhry, Majid, A History of Islamic Philosophy, Columbia University Press, (New Tork, 1983), p.xv.

12

13

Dalam sebuah Kamus tentang Islam yang diterbitkan pada sekitar tahun 1920-an, filsafat Islam dimasukkan kedalam entri Muslim Philosophy, Arabic falsafah or ilmu l-ikmah. Penamaan ini agak aneh, sebab falsafah disamakan dengan ikmah. Artinya ikmah itu sama dengan Aristotelianisme yang dicampur dengan Neo-Platonisme.28 Keanehan yang lain juga terbaca ketika dinyatakan dengan hanya sekilas bahwa Albertus Magnus ( 11931280 M) menggunakan argumentasi tentang eksistensi Tuhan dari metafisika al-Farabi. Padahal para orientalis pada umumnya bersumsi bahwa filsafat Yunani telah lama berkembang dilingkungan Kristen, sehingga yang dikembangkan oleh para filosof Muslim adalah sesuatu yang telah lama berkembang ditengah orang-orang Kristen. Tapi mengapa Albertus Magnus, Thomas Aquinas dan lain-lain masih harus membaca karya-karya Yunani itu dari cara pandang cendekiawam Muslim. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa dalam sejarah intelektual Islam, filsafat merupakan penjelasan, penafsiran dan adapsi (appropriating) elemen-elemen penting filsafat Yunani. Tapi fakta yang juga tidak dapat diingkari adalah bahwa cendekiawan Muslim telah menyeleksi dan mengembangkan elemen-elemen asing itu kedalam millieu peradaban Islam.29 Namun perlu dicatat bahwa cendekiawan Muslim tidak akan mampu menjelaskan, menafsirkan, mengadapsi elemen penting dalam filsafat Yunani dan memasukkannya kedalam peradaban Islam, kecuali dengan bekal pandangan hidup Islam yang mereka miliki. Dikalangan Muslim sendiri, pada mulanya nama falsafah dipakai sebagai julukan yang diberikan kepada aktifitas ilmiyah pada sekitar abad ke 8 M. yang utamanya mengkaji teks-teks
28

Thomas Patrick Hughes, Dictionary of Islam, Being A Cylopaedia of the Doctrines, ritets, ceremonies and custom, together with the technical and theological terms, of the Muhammadan Religion, London W.H.Allen & Co, 1927, s.v. Philosophy Muslim, hal. 452. The Harper Collins Dictionary of Religion, hal. 533

29

13

14

Yunani. Namun, setelah proses, sebut saja, Islamisasi terjadi, nama falsafah difahami sebagai istilah umum yang dapat diterima sebagai salah satu cabang pengethuan dalam Islam. Asal usul nama falsafah pun akhirnya tidak lagi dipermasalahkan, yang lebih penting falsafah adalah ilmu tentang Wujud.30 Ibn Taymiyyah juga tidak keberatan dengan istilah falsafah ini, asal ditambah dengan predikat al-aah. Demikian pula definisi filsafat sebagai ilmu tentang Wujud. 31 Ini berarti falsafah tidak lagi dipahami dalam kaitannya dengan pemikiran Yunani, tapi dipahami dalam arti luas dan bahkan dihubungkan dengan ikmah. Istilah ikmah disebut sekitar 20 kali dalam al-Quran itu sepadan dengan kata sophy atau sophia. Dikalangan masyarakat Muslim tradisional filsafat masih dipahami sebagai ikmah yang berkaitan dengan para Nabi dan para wali. Bahkan banyak orang yang tidak sadar bahwa wujud filsafat dalam Islam bisa ditemukan dalam ilmu-ilmu Islam seperti Tafsir, Hadith, Kalm, Usl al-Fiqh, Tasawwuf dan sudah tentu ilmu-ilmu alam dan mathematika, yang memiliki akar secara mendasar dalam al-Quran, sumber hikmah itu sendiri.32 Mungkin pernyataan Oliver Leaman bisa menggambarkan realitas ini. Ia manyatakan bahwa: philosophy arose in Islamic theology and was without any direct contact with (Greek)
30

Al-Kindi, On First Philosophy, quoted by A.F.El-Ehwany in A History of Muslim Philosophy (Wiesbaden, 1963), vol.I. hal.42; Ibn Sn, Uyn al-ikmah, Cairo, 1326 AH, hal.30. Minhj al-Sunnah, ed.R.Slim, vol. I, p. 261. Wujud yang ia maksud disni adalah Tuhan, oleh karena itu filsafat baginya adalah ilmu tentang Tuhan.. Hanya saja Ibn Taymiyyah tidak sepakat dengan mereka dalam soal titik awal (starting point) pencarian tentang wujud. Bagi filosof ilmu tentang wujud maksudnya adalah ilmu tentang realitas sesuatu dan harus dicari melalui realitas tersebut. Ilmu tentang Tuhan harus dicari melalui ciptaannya. Namun bagi Ibn Taymiyyah pencarian tentang Wujud tidak bisa dilakukan melalui wujud yang diciptakan. Ilmu tentang Tuhan, menurutnya harus dicari melalui Tuhan (wahyu). Nasr, S.H.Philosophy Literature and Fine Art, King Abd Aziz University, (Jeddah,.. ) p.4. Tentang ikmah lihat Encyclopedia of Islam, s.v; Franz Rosenthal, Knowledge Triumphant, Leiden, E.J.Brill, 1970, hal. 35-40. Lihat juga Carmela Bsffioni, Defining ikmah, Some preliminary Notes Symposium Graeco-arabicum II, Archivum-Arabicum: 2, Amsterdam, 1989, hal. 1-9.

31

32

14

15

philosophy, tapi melalui perkembangan prinsip-prinsip penalaran dibidang hukum. Assimilasi pemikiran asing menjadi suatu keharusan ketika terjadi ekspansi Islam yang begitu cepat, sehingga Muslim menguasai peradaban yang sangat canggih. Meskipun demikian, asimilasi tersebut dilakukan melalui proses Islamisasi. 33 Artinya wacana-wacana dalam ilmu-ilmu Islam yang meliputi masalah-masalah Tuhan, akhlak, alam semesta, penciptaan, kehidupan dunia-akherat dsb. sudah dapat diklasifikasi kedalam metafisika, ontologi dan cosmologi, dan masuk kedalam kategori filsafat ketimbang teologi per se. Terdapat kerancuan nomenklatur dikalangan orientalis. Disatu sisi mereka ingin berpegang pada nama falsafah yang merupakan kata pinjaman dari Yunani, namun disisi lain mereka menyamakan filsafat Islam dengan filsafat Muslim, filsafat Arab dan juga ikmah. Padahal nama-nama itu membawa implikasi sendiri. Istilah falsafah merujuk kepada filsafat Yunani, istilah filsafat Arab sekedar untuk menunjukkan bahasa yang dipakai dalam wacana filsafat pada waktu itu. Filsafat Muslim dan filsafat Islam dipakai untuk menunjukkan lingkungan kultural. Yang nampak rancu adalah ketika falsafah dicamakan dengan ikmah dan kemudian mengartikannya sebagai warisan dari Yunani. Meski para orientalis memakai berbagai nama unuk filsafat Islam, namun mereka tetap konsisten pada pendapat bahwa filsafat dalam Islam sepenuhnya berasal dari Yunani. Untuk itu sebaiknya kita menginjak pada pembahasan tentag kajian orientalis tentang asal usul filsafat Islam. Respon cendekiawan Muslim Mengaitkan filsafat Islam dengan Yunani secara berlebihan justru menunjukkan kerancuan yang fatal. Sebab konskuensi
33

Oliver Leaman, An Introduction to Medieval Islamic Philosophy, Cambridge University Press, Cambridge, 1985, pp.5-6

15

16

logisnya berarti tidak ada kegiatan ilmiyah dalam Islam sebelum periode penterjemahan karya-karya Yunani. Kerancuan lain juga dapat ditemui dalam soal penamaan filsafat yang melulu merujuk kepada pengertian Yunani. Mereka menyebut diskursus di Ionia mengenai awal kejadian alam semesta dan asal usul segala sesuatu sebagai diskursus filsafat. Sementara diskursus ummat Islam tentang masalah-masalah Tuhan, alam semesta, moralitas, dan lainlain yang metafisis pada awal datangnya Islam tidak disebut filsafat. Oleh sebab itu para cendekiawan Muslim memberikan respon yang menentang framework kajian orientalis. C.A.Qadir misalnya menyatakan bahwa klaim-klaim orientalis itu ini jauh dari benar. Sumber aspirasi yang asli dan riel para pemikir Muslim adalah al-Quran dan Hadith. Pemikiran Yunani hanyalah memberi stimulasi dan membuka jalan untuknya. Karena itu fakta bahwa Muslim berhutang pada Yunani dan pada saat yang sama juga menyimpang dari Yunani adalah sama benarnya. Dalam masalah Tuhan, manusia dan alam semesta para pemikir Muslim memiliki konsep mereka sendiri yang justru tidak terdapat dalam pemikiran Yunani.34 Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam perkembangannya Muslim bersentuhan dengan elemen-elemen peradaban asing yang telah maju. Namun hal ini tidak otomatis berarti Islam dikuasai elemen-elemen peradaban asing. Dalam kasus filsafat Islam, yang terjadi sebenarnya adalah bahwa ikmah dalam Islam telah menemukan sparing-partner-nya untuk berkembang. 35 Nama yang dipakai oleh cendekiawan Muslim untkuk filsafat Islam adalah Filsafat Islam atau Filsafat Muslim. Di anak benua India para cendekiawan Muslim lebih suka menyebut Muslim Philosophy (filsafat Muslim) ketimbang Islamic Philosophy (Filsafat Islam).
34

Qadir, C.A., Philosophy and Science in The Islamic World, Routledge, (London 1988) hal..28. Abd al-Laf Muhammad, Dirst f al-Falsafah al-Islmiyyah, Maktaba alNaha, (Mesir 1978) hal. 4-5.

35

16

17

Tokohnya M.M.Sharif menulis dan mengedit buku sejarah filsafat Islam dan diberi judul A History of Muslim philos0ophy. Alasannya, dalam filsafat Muslim filosofnya mungkin ada yang berfikiran yang anti ajaran dan kepercayaan Islam, sedangkan filosof Islam adalah nama yang ditrapkan kepada mereka yang mengambil aspirasi dari al-Quran dan Sunnah namun masih tetap berfikir secara filosofis. Filsafat Muslim mungkin saja menjadi tidak Islami tapi bisa dikembangkan menjadi Islami. Sementara filsafat Islam bisa menjadi norma dan ideal yang dapat dirujuk bagi menetapkan kesuksesan dan kegagalan filsafat Muslim. Jadi filsafat Islam adalah tujuan dan aspirasi masa depan.36 Nampaknya, pandangan ini ingin membedakan filsafat Muslim dari filsafat Islam untuk dapat memisahkan antara hal-hal yang lahir dari kreasi seorang Muslim dan hal-hal yang diambil langsung dari al-Quran. Oleh sebab itu MM Sharif mengibaratkan pemikiran Islam dan Muslim sebagai kain sedangkan pemikiran Yunani sebagai sulaman, meskipun sulaman itu dari emas, kita hendaknya jangan menganggap sulaman itu sebagai kain. 37 Meskipun didalam filsafat Islam terdapat unsur-unsur Yunani, tapi filsafat Islam bukanlah filsafat Yunani. Di Barat sendiri filsafat yang berasal dari Yunani, Islam dan Kristen di lihat menurut framework Barat sehingga dinamakan Filsafat Barat. Jadi sangat tidak salah untuk melihat filsafat Islam yang aslinya memang dari wahyu dan diperkaya oleh unsur-unsur asing yang tidak bertentnangan dengan Islam dari perspektif Islam. Dalam framework ini para pemikir Muslim yang terpengaruh oleh pemikiran Aristotle, Phytagoras, Neoplatonisme dan pemikiran asing lainnya tidak dapat dikatergorikan sebagai filosof Islam. Bagi Iqbal semangat Islam adalah anti-klasik, maksudnya adalah anti36

M.Saeed Sheikh, Reorientation of Islamic philosophy, Pakistan Philosophical Congress, (Lahore, 1964). P.1; bandingkan Qadir, Philosophy. hal. 70 M.M. Sharif, (Ed), A History of Muslim Philosophy, Low Price Publication, Delhi, vol., 1995, p.4.

37

17

18

Yunani.38 Seyyed Hossein Nasr bahkan dengan menyatakan bahwa Aristotle telah dikirim kembali ketempat asalnya di Barat, bersamaan dengan Averroes, murid terbesarnya.39 Meskipun begitu Nasr menyadari bahwa dalam filsafat terdapat unsur-unsur Yunani. Hanya saja ketika unsur-unsurnya yang sesuai dengan semangat Islam itu diintegrasikan kedalam peradaban Islam, ia menjadi Islami, khususnya jika hal itu berkaitan dengan ikmah dalam pengertian yang universal.40 Jadi filsafat Islam dapat di definisikan sesuai dengan standar Islam, dalam artian masih berkaitan dengan wahyu dan berpijak pada doktrin tawhid. Caranya dengan membuang pemikiran yang selama ini bercokol dalam otak kita bahwa filsafat adalah skeptisisme, keraguan dan aktifitas manusia yang individualistis yang melawan Tuhan.41 Penutup Dari uraian diatas jelaslah bahwa framework kajian filsafat Islam para orientalis berangkat dari definisi, makna dan asal usul filsafat dalam Islam. Padahal makna filsafat sendiri sebagai cabang pengetahuan telah mengalami pergeseran. Membedakan makna filsafat dari kalam hanya karena filsafat menggunakan metode demontrasi (burhan) sedangkan kalam menggunakan menggunakan metode dialektika (jadal) sudah tidak dapat dipertahanka lagi. Jika framework kajian suatu ilmu berangkat dan bertumpu pada asal usul, maka seharusnya sains di Barat itu adalah sains Islam, karena asal usul sains di Barat tidak lepas dari peran kreatif para cendekiawan Muslim. Selain itu, jika yang menjadi masalah adalah substansi filsafat dalam Islam, yang dalam hal ini dikhususkan kepada metodologi, maka kesamaan-kesamaan antara filsafat Islam
38 39

Qadir, Philosophy, hal.71 Nasr,S.H. Science and civilization in Islam, Cambridge, Islamic text society, (1987) p.7. Nasr, S.H. Islamic Studies, Librairie Du Liban, Beirut, (1970) p. 112) Ibid p.5

40 41

18

19

dan filsafat Yunani bukan pada masalah yang prinsipil. Dalam masalah konsep Tuhan misalnya, terdapat perbedaan yang menyolok antara Islam dan Yunani, wal hal konsep ini merupakan fondasi bagi konsep-konsep lainnya. Jika dalam masalah fondasi ini saja sudah berbeda maka bangunan yang tercipta dari fondasi ini sudah tentu akan berbeda.

19