Anda di halaman 1dari 12

Orientalis dan Studi Al-Quran Oleh: Adnin Armas Pendahuluan Ketika mengkaji al-Quran, para orientalis baik secara

sadar ataupun tidak, telah membawa masuk metode kritik Bibel (biblical criticism), yang diklaim sebagai metode ilmiah. Hasilnya, mereka menunjukkan bahwa al-Quran sebenarnya telah mengalami berbagai penyimpangan (tahrif). Mereka mendobrak keimanan kaum Muslimin yang selama ini masih saja meyakini bahwa al-Quran bersumber dari Allah. Tulisan di bawah ini akan menunjukkan bahwa adopsi metodologi Bibel tidaklah tepat untuk diaplikasikan kepada al-Quran. Sebabnya, sejarah al-Quran tidak memiliki sejumlah permasalahan yang sangat mendasar sebagaimana yang telah terjadi di dalam historisitas Bibel. Metode biblical criticism muncul disebabkan problematika Bibel yang sangat kompleks. Studi Kritis Perjanjian Lama (PL) Selama berabad-abad kalangan Yahudi dan Katolik ortodoks meyakini Musa sebagai pengarang keseluruhan Taurat. Bagaimanapun, saat ini, keyakinan tersebut ditolah oleh mayoritas teolog Yahudi-Kristen. Salah seorang yang menyatakan bahwa Musa bukanlah pengarang keseluruhan isi Taurat adalah Jerome (342-420). Ia menerjemahkan Septuagint ke dalam bahasa Latin (Vulgata) dan terjemahannya dianggap textus receptus bagi kalangan Kristen. Menurut Jerome, terdapat sejumlah paragraph dalam Taurat yang bukan karangan Musa. Namun, paragraf-paragraf tersebut telah dimasukkan oleh penulis lain. Menurutnya, until this day dalam Kejadian 35:4 (LXX) dan Ulangan (34:5-6) menunjukkan paragraph-paragraf tersebut ditulis setelah periode Musa.1
1

C. Houtman, The Pentateuch, dalam The World of the Old Testament: Bible Handbook , ed. A. S. Vand Der Woulde (Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 1989), 2:168, selanjutnya disingkat The Pentateuch.

Pada abad kedua belas, Abraham ibn Ezra (1092-1167), seorang sarjana Yahudi berpendapat sejumlah paragraph di dalam Taurat yang menunjukkan bahwa Musa bukanlah pengarang Taurat. 2 Pada tahun 1520, Andreas Bodenstein, yang lebih dikenal dengan Karlstadt dalam karyanya menulis buku kecil mengenai Kanonisasi Kitab Suci (De canonicis Scripturis libellus). Di dalam karya tersebut, Karlstadt menegaskan Musa bukanlah pengarang keseluruhan isi Taurat.3 Pada zaman modern, kritik terhadap pendapat Musa sebagai pengarang keseluruhan isi Taurat semakin bergema. Thomas Hobbes (1588-1679), seorang filosof dari Inggris dalam karyanya Leviathan, yang diterbitkan pada tahun 1651, misalnya menyatakan Kejadian 12:6 dan Bilangan 21:14, bukanlah karangan Musa. 4 Isaac de la Peyrre (1592-1676), seorang pastor Protestant, berpendapat bahwa pengarang Taurat lebih dari seorang. Sebabnya, banyak kisah dalam Taurat yang kabur (obscurity), membingungkan (confusion), tidak lengkap (unfinished), terdistorsi (distorted), dan bertentangan (contradictions).5 Baruch Spinoza (1632-1677), yang mengganti nama Yahudinya dengan bahasa Latin Benedict de Spinoza, adalah seorang filosof dan teolog Yahudi yang menolak keimanan sebagai titik tolak untuk mengkaji Alkitab. Baginya, Alkitab harus dikaji dengan semangat penuh kebebasan tanpa prejudis keimanan.6 Spinoza, yang diusir dari komunitas Yahudi di Amsterdam, menegaskan Musa bukanlah pengarang Taurat. Alasannya sebagai berikut: (1) Penulis Taurat bukan saja berbicara tentang Musa sebagai orang ketiga, tetapi juga menyaksikan berbagai perkara yang detil mengenainya. Seperti God talked with Moses, God spake with Moses face to face, Moses was the meekest of men, (Numbers 12:3), Moses was wrath with the captains of the host, (Numbers 31:14), Moses, the man of God, (Deuteronomy, 33:1), Moses, the servant of God, died, There has never arisen in Israel a prophet like Moses, dan lain sebagainya. (2) Taurat bukan saja memuat kematian Musa, penguburannya, dan 30 hari ratapan orang-orang Yahudi, tetapi juga perbandingan antara Musa dengan semua Nabi-Nabi yang datang
2

Lihat lebih mendetil kritikan Ibn Ezra dalam Baruch Spinoza, Tractatus Theologico-Philosophicus, Pen. Samuel Shirley (Leiden: E. J. Brill, 1991), 162-63, selanjutnya disingkat Tractatus. 3 Dikutip dari C. Houtman, The Pentateuch, 2:167. 4 Dikutip dari John H. Hayes, An Introduction to Old Testament Study (Tennessee: Abingdon, 1979), 10708, selanjutnya diringkas An Introduction. 5 C. Houtman, The Pentateuch, 2:169. 6 John H. Hayes, An Introduction, 110.

setelahnya. (3) Taurat memuat berbagai nama tempat yang ada setelah zaman Musa. (4) Berbagi kisah terkadang bersambung setelah meninggalnya Musa.7 Akhirnya, Spinoza menyimpulkan: Jadi, dari pemaparan yang telah disebutkan adalah jelas diluar bayangan keraguan bahwa Taurat tidaklah ditulis oleh Musa, tetapi oleh seseorang yang hidup dalam banyak generasi setelah Musa.8 Richard Simon (1638-1712), seorang pendeta Katolik berasal dari Perancis, dalam karyanya, Histoire critique du Vieux Testament (Historis-Kritis Perjanjian Lama, pada tahun 1678), menyatakan Taurat adalah hasil dari proses kompilasi yang panjang (the result of a long process of compilation ).9 Jean le Clerc (1654-1736), pada tahun 1685 memberikan garis panduan yang kemudian disebut sebagai higher criticism, yang bermaksud kebutuhan dan metode untuk menentukan kapan dan tujuan penulisan sebuah karya, dan sebagainya. Menurut Jean le Clerc, Taurat ditulis oleh seorang Pendeta yang kembali dari tahanan ke Samari untuk mengajar kepada penduduk baru tentang agama Israel. Pendeta tersebut telah menggabungkan berbagai sumber untuk memenuhi kebutuhan yang khusus. Dengan usahanya, Jean le Clerc telah menenjukkan unsur yang penting dalam studi kritis-historis: dokumen-dokumen Bibel telah dihasilkan dalam situasi-situasi historis khusus untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan khusus dengan maksud-maksud yang khusus.10 Kajian yang serius untuk meneliti bagaimana Taurat dihimpun, disusun sehingga menjadi sebuah teks yang utuh dilakukakan oleh Jean Astruc (1684-1766). Ia meneliti sumber-sumber yang digunakan untuk Musa untuk menyusun Taurat. Dalam pandangannya, Musa menulis Taurat berdasarkan beberapa dokumentasi tertulis. Belakangan para editor yang tidak diketahui namanya menggabungka dokumentasidokumentasi tersebut ke dalam kisah yang bersambung. Jadi, mereka lah yang sebenarnya bertanggung jawab atas susunan Kejadian (Genesis) yang ada sekarang ini.11 Untuk mendukung wujudnya dokumentasi tertulis, Jean Astruc berargumentasi bahwa Kejadian 1 menggunakan kata Elohim untuk menyebut nama Tuhan, sedangkan
7 8

Baruch Spinoza, Tractatus, 164-65. Baruch Spinoza menyatakan: Thus from the foregoing it is clear beyond a shadow of doubt that the Pentateuch was not written by Moses, but by someone who lived many generations after Moses . Lihat Tractatus, 165. 9 C. Houtman, Pentateuch, 2: 169. 10 John H. Hayes, An Introduction, 112-13. 11 C. Houtman, Pentateuch, 2: 170.

cerita dalam Kejadian 2 dan 4 menggunakan kata Yahweh. Berdasarkan kepada fakta ini, Jean Astruc menyimpulkan Musa memiliki dua sumber dokumen. Dokumen pertama yang dengan teratur menggunakan Elohim dan dokumen yang kedua secara teratur menggunakan kata Yahweh.12 Dengan meneliti sumber yang digunakan untuk mengarang PL, Jean Astruc telah memformulasi apa yang kelak disebut dengan metode kritik sumber ( source criticism). Source criticism mendapat wajah baru setelah Julius Wellhausen (1844-1918) menulis Prolegomena to the History of Israel (1878). Menurut Wellhausen, sumber bagi Musa untuk menulis Taurat berasal dari 4 dokumen, yang disebut dengan dokumen J, E, D dan P. Materi dalam dokumen J (disebut demikian sebagai singkatan kepada Yahweh [Jehovah]) diduga telah ditulis sekitar 850 S.M di kawasan Kerajaan bagian selatan. Dokumen dalam J itu adalah personal, biografis dan anthropormofis. Dokomen dalam J meliputi kenabian seperti etika dan refleksi teologis. Materi dalam dokumen E (disebut demikian sebagai singkatan kepada Elohim [Tuhan]) dan ditulis sekitar tahun 750 S. M. di kawasan Kerajaan bagian Utara. Dokumen dalam E lebih objektif, kurang menyentuh masalah etika dan refleksi teologis serta cenderung kepada kasus partikular yang konkrit. Menurut beberapa sarjana setelah Wellhausen, kedua dokumen tersebut digabungkan sekitar tahun 650 S. M. oleh seorang editor yang tidak diketahui. Hasilnya menjadi JE. Karangan tersebut menjadi lengkap dangan materi D dan P. D ditulis sekitar tahun 621 S.M., dan P ditulis sekitar 570 sampai 445 S.M. Materi dalam dokumen P menyentuh asal-mula dan institusi teokrasi, genealogi, ritual dan pengorbanan (sacrifices).13 Bagaimanapun, dalam pandangan Hermann Gunkel (1862-1932), kritik sumber (source criticism), yang memfokuskan penelitian kepada pengarang dan kapan pengarang tersebut berkarya, bukanlah prioritas dalam studi kritis PL. Sebabnya, metode tersebut tidak cukup untuk menemukan akar-akar pemikiran keagamaan. Menurut Gunkel, fokus penelitian yang lebih penting untuk dilakukan adalah menelusuri latar-belakang teks dan fikiran keagamaan para pengarang, mencari asal mula (Sitz im Leben) dari bentuk (Gattungen) yang digunakan, serta menelusuri asal-mula motif dan tema di dalam
12 13

Ibid., 2: 171. Allen P. Ross, Genesis, dalam The Bible Knowledge Commentary: An Exposition of the Scriptures , editor John F Walvoord dan Roy B. Zuck (Sp Publications, Inc., 1985), 15-16.

dokumen-dokumen. Oleh sebab itu, kembali kepada sejarah ketika zaman transmisi oral, suatu keadaan dimana kehidupan sebenarnya ditemukan sangat penting untuk dikaji.14 Menurut Gunkel, kritik-kritik sumber telah mengabaikan puisi lisan dan bentukbentuk primitif yang masih ada dalam Taurat. 15 Padahal, memahami struktur, setting dan maksud dari setiap unit susastra dibelakang materi PL yang eksis, merupakan hal yang lebih penting. Gunkel mengibaratkan penafsir yang memulai dengan pengarang dan dokumen (yang menjadi fokus penelitian source criticism) bagaikan membangun rumah dengan atap. Gunkel tidak bermaksud menolak pendekatan source criticism yang dilakukan Wellhausen. Namun, dalam pandangannya, penelitian genre (Gattungsforschung) adalah penelitian yang lebih mendasar dan prioritas. Baginya, dengan mengetahui genre atau jenis-jenis sastra (literary types) yang terwakili di dalam PL, maka kesusastraan Israel kuno secara menyeluruh, yaitu hubungannya yang fungsional dengan seluruh kehidupan masyarakat beserta sejarahnya dapat dipahami.16 Terinspirasi dengan analisa sejarah bentuk (Formgeschichte) yang diformulasikan Gunkel, para sarjana lain seperti Gerhard von Rad (1901-1971) dan Martin Noth (19021968) memfokuskan perhatian kepada proses transmisi materi di dalam fase-fase yang berikutnya, bukan kepada fase-fase awal. Mereka meneliti unit-unit yang lebih kecil yang selama berabad-abad mengalami perobahan di dalam bentuk serta isi dan dimasukkan ke dalam Taurat dan sebagainya. Metode ini disebut dengan metode kritis-historis (berlieferungsgeschichtliche).17 Studi Kritis PB Biblical criticism juga telah mapan dalam studi Perjanjian Baru (PB). Naskah Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani kuno baru pertama kali dicetak pada tahun 1514 di Spanyol oleh Universitas Alcal. Tapi, naskah Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani Kuno yang pertama kali mendapat sambutan di pasaran adalah adalah edisi naskah yang diterbitkan oleh Desiderius Erasmus (1469-1536) dari Rotterdam,

14 15

C. Houtman, Pentateuch, 2: 176. Lawrence Boadt, Reading, 106. 16 Dikutip dari John H. Hayes, An Introduction, 127-29. 17 C. Houtman, Pentateuch, 2: 180-82.

Belanda pada tahun 1516. Naskah teks tersebut dijadikan textus receptus dan teks standar hingga tahun 1881.18 Perjanjian Baru versi Erasmus yang dijadikan textus receptus mendapat kritikan untuk pertama kalinya dari Richard Simon (16381712), seorang pendeta Perancis, yang dijuluki the father of Biblical criticism.19 Memanfaatkan karya-karya Simon, John Mill (1645-1707), Dr. Edward Wells (1667-1727), Richard Bentley (1662-1742), Johann Albrecht Bengel (1687-1752), Johann Salomo Semler (1725-1791), Johann Jakob Griesbach (1745-1812), Johann Gottfried Herder (1744-1803) dan Friedrich Daniel Ernst Schleiermacher (1768-1834) telah menganalisa secara kritis textus receptus Perjanjian Baru.20 Di bawah pengaruh Schleiermacher, Karl Lachmann (1793-1851), seorang profesor filologi di Berlin, untuk pertama kalinya meninggalkan textus receptus secara total. Ia menerbitkan Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani kuno pada tahun 1831. Edisi baru tersebut menggunakan analisa teks ketika mengevaluasi varian bacaan. Dalam pandangannya, tidak mungkin teks orisinal Perjanjian Baru akan dapat dihasilkan lagi. Setelah Lachmann, banyak sekali para sarjana Kristen menganalisa teks dan menolak textus receptus, seperti Lobegott Friedrich Constantin von Tischendorf (1815-1874), Samuel Prideaux
18

Bruce M. Metzger, The Text of the New Testament : Its Transmission, Corruption, and Restoration (Oxford: Oxford University Press, edisi kedua, 1968), 96-106, selanjutnya diringkas The Text of the New Testament. 19 Richard Simon menulis beberapa karya kritis mengenai Bibel. A wal tahun 1678, ia menerbitkan Histoire critique du Vieux Testament (Sejarah Kritis Perjanjian Lama). Sebelas tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1689, ia menerbitkan Histoire critique du texte Nouveau Testament (Sejarah Kritis Teks Perjanjian Baru ). Setahun setelah itu, ia menerbitkan Histoire critique des versions du Nouveau Testament (Sejarah Kritis beragam versi Perjanjian Baru). Pada tahun 1693, ia menerbitkan Histoire critique des principaux commentateurs du Nouveau Testament, depuis le commencement du Christianisme jusques ntre temps (Sejarah Kritis Komentator-Komentator Utama Perjanjian Baru dari Awal Kristen sehingga Zaman Sekarang ). Lihat Werner Georg Kmmel, The New Testament: The History of the Investigation of Its Problems , Pen. S. McLean Gilmour dan Howard C. Kee (Tennessee: Abingdon Press, 1972), 40; 412-13. 20 Mengenai kritikan mereka terhadap textus receptus Perjanjian Baru, lihat karya penulis, Metodologi Bibel dalam Studi Al-Qurn: Kajian Kritis (Jakarta: GIP, 2005), 36-43, selanjutnya diringkas Metodologi Bibel.

Tregelles

(1813-1875),

Henry

Alford

(1810-1871),

Brooke

Foss

Westcott (1825-1901), Bernhard Weiss (1827-1918), Hermann Freiherr von Soden (1852-1914), dan lain-lainnya.21 Uraian ringkas di atas menunjukkan pada abad 19, textus receptus Perjanjian Baru sudah ditolak. Berbagai jenis disiplin ilmiah untuk mengkritik Bibel (biblical criticism) telah mapan. Kata kritik (criticism) ketika dikaitkan dengan Perjanjian Baru bukan lagi sesuatu yang negatif. Kata tersebut justru sesuatu yang positif. Kata criticism berasal dari kata kerja Yunani, krin: memisahkan, membedakan, memilih, menentukan atau menilai. Sarjana yang menggunakan metode kritis-historis bertindak sebagai sejarawan dan hakim yang berusaha untuk menentukan kebenaran problema yang sedang dikaji.22 Salah satu bentuk dari biblical criticism adalah metode kritis-historis (historicalcritical method). Ketika diterapkan pada studi Bibel, kritik-historis melibatkan penentuan teks yang paling lama, watak kesastraannya, kondisi-kondisi yang memunculkannya, dan makna asalnya. Ketika diterapkan utuk mengkaji Yesus dan Bibel, kritis-historis melibatkan usaha untuk memisahkan legenda dan mitos dari fakta, mengkaji mengapa para penulis Bibel melaporkan dengan versi yang berbeda-beda, dan berusaha menentukan mana yang betul-betul perkataan Yesus.23 Dalam metode yang luas ini, terdapat beberapa jenis kritik lain yang saling terkait diantaranya kritik teks (textual criticism), kajian filologis (philological study), kritik sastra (literary criticism), kritik bentuk (form criticism) dan kritik redaksi (redaction criticism).24 Studi Kritis Al-Qurn Studi kritis PL dan PB, yang telah berkembang dengan mapan dalam Bibel diadopsi oleh para orientalis untuk diterapkan kepada al-Qur n. Salah seorang tokoh
21 22

Bruce M. Metzger, The Text of the New Testament, 124-46. Edwin D. Freed, The New Testament: A Critical Introduction (California: Wadsworth Publishing Company, edisi kedua 1991), 77, selanjutnya diringkas A Critical Introduction. 23 Ibid. 24 Pemaparan mengenai istilah-istilah tersebut, lihat karya penulis, Metodologi Bibel, 45-46.

orientalis yang mulai menerapkan metodologi Bibel secara sistematis ke dalam studi alQuran adalah Theodore Nldeke, dengan karyanya Sejarah al-Qurn (Geschichte des Qorans).25 Pendeta Edward Sell (m. 1932), salah seorang tokoh misionaris terkemuka di Madras, India, mendesak agar kajian kritis-historis al-Qur n dilakukan dengan menggunakan kritik Bibel (biblical criticism). Ia sendiri merealisasikan gagasannya dengan menulis Historical Development of the Qur n, yang diterbitkan pada tahun 1909 di Madras, India.26 Ia juga menjadikan karya Theodore Nldeke, Geschichte des Qorans, sebagai model untuk kajian kritis al-Qurn.27 Senada dengan Sell, Pendeta Alphonse Mingana (m. 1937) menyatakan: Sudah tiba masanya untuk melakukan kritik teks terhadap al-Quran sebagaimana telah kita lakukan terhadap Bibel Yahudi yang berbahasa Ibrani-Aramaik dan kitab suci Kristen yang berbahasa Yunani.28 Menyamakan problematika semua kitab suci dengan al-Qurn, Arthur Jeffery (m. 1959), seorang orientalis berasal dari Australia berpendapat bahwa sebuah kitab itu dianggap suci karena tindakan komunitas masing-masing agama. Jeffery mengatakan: Komunitaslah yang menentukan masalah ini suci dan tidak. Komunitaslah yang memilih dan mengumpulkan bersama tulisan-tulisan tersebut untuk kegunaannya sendiri, yang mana komunitas merasa bahwa ia mendengar suara otoritas keagamaan yang otentik yang sah untuk pengalaman keagamaan yang khusus.29
25

Mengenai latar belakang sejarah penulisan dan usaha bersama para orientalis Jerman menulis Geschichte des Qorans, lihat karya penulis, Metodologi Bibel, 49-50; 54-57. 26 Lihat Canon Sell, Studies in Islam (Delhi: B. R. Publishing Corporation, 1985; pertama kali terbit tahun 1928) 253-56. 27 Arthur Jeffery, The Quest of the Historical Mohammed, The Moslem World 16 (1926) 330. 28 Mingana menyatakan: The time has surely come to subject the text of the Kur n to the same criticism as that to which we subject the Hebrew and Aramaic of the Jewish Bible, and the Greek of the Christian Scriptures. Lihat Alphonse Mingana, Syiriac Influence on the Style of the Kurn, Bulletin of the John Rylands Library 11: 1927. 29 Arthur Jeffery menyatakan: It was the community which decided this matter of what was and what was not Scripture. It was the community which selected and gathered together for its own use those writings in which it felt that it heard the authentic voice of religious authority valid for its peculiar religious experience . Lihat Arthur

Menurut Jeffery, fenomena seperti itu umum terjadi di dalam komunitas lintas agama. Komunitas Kristen (Christian community) misalnya, memilih 4 dari sekian banyak Gospel, menghimpun sebuah korpus yang terdiri dari 21 Surat (Epistles), Perbuatan-Perbuatan (Acts) dan Apocalypse yang kesemua itu membentuk Perjanjian Baru (New Testament). Sama halnya dengan komunitas Islam. Penduduk Kufah, misalnya, menganggap Muaf Abdullh ibn Masd sebagai al-Qurn edisi mereka (their Recension of the Qurn). Penduduk Basra menganggap Muaf Ab Ms, penduduk Damaskus dengan Muaf Miqdd ibn al-Aswad, dan penduduk Syiria dengan Mu af Ubay.30 Menegaskan persamaan, Jeffery menyatakan sikap awal kaum Muslimin tersebut paralel sekali dengan sikap masing-masing pusat-pusat utama gereja terdahulu yang menetapkan sendiri beragam variasi teks untuk Perjanjian Baru. Teks Perjanjian Baru memiliki berbagai versi seperti teks Alexandria (Alexandrian text),31 teks Netral (Neutral text),32 teks Barat (Western text),33 dan teks Kaisarea (Caesarean text).34 Masing-masing teks tersebut memiliki varian bacaan tersendiri. Bagaimanapun, Jeffery menyayangkan sikap para sarjana Muslim yang belum melakukan kritik teks kepada al-Qurn, sebagaimana yang telah dilakukan kepada Bibel. Hal ini tampak menurut Jeffery, karena belum ada satupun dari para mufasir
Jeffery, The Qurn as Scripture, The Moslem World 40 (1950), 43. 30 Arthur Jeffery, The Qurn as Scripture (New York: Russell F. Moore Company, 1952), 94-95. 31 Menurut Westcott dan Hort, teks Alexandria dalam tahap tertentu terjaga di dalam kodeks Ephraemi (C), kodeks Regius (L), kodeks 33, dan versi-versi Koprik (Khususnya Bohairik), sebagaimana juga kutipankutipan dari Gerejawan Alexandria, Klement, Origen, Dionysius, Didymus dan Cyril. Dikutip dari Bruce M. Metzger, The Text of the New Testament, 133. 32 Dalam pandangan Westcott dan Hort, teks Netral adalah teks yang paling bebas dari kerusakan dan percampuran dan yang paling dekat dengan teks otograf. Kodeks Vaticanus (B) dan kodeks Sinaiticus ( ) yang paling mewakili teks Netral. Lihat lebih lanjut Bruce M. Metzger, The Text of the New Testament , 133. 33 Teks Barat terjaga di dalam manuskrip-manuskrip inci tertentu yang dalam dua bahasa ( certain bilingual uncial manuscripts), utamanya kodeks Bezae tentang Bibel dan Perbuatan-Perbuatan (D) dan kodeks Claromontanus tentang Surat-Surat (Dp) dalam versi Latin Kuno (s) dan dalam manuskrip-manuskrip Kuretonia (Curetonian) yang berbahasa Syiriak Kuno. Lihat penjelasan lebih lanjut di Bruce M. Metzger, The Text of the New Testament, 132; 213-14. 34 Mungkin teks Kaesarea berasal dari Mesir dan dibawa oleh Origen ke Kaesarea, dan dari situ dibawa ke Israil. Karakteristik khusus dari teks Kaesarea adalah percampuran antara bacaan Barat ( Western readings) dan Alexandria (Alexandria readings). Lihat Bruce M. Metzger, The Text of the New Testament, 214-15.

Muslim yang menafsirkan al-Qurn secara kritis. Ia mengharapkan agar tafsir kritis terhadap teks al-Qurn bisa diwujudkan. Caranya dengan mengaplikasikan metode kritis ilmiah (biblical criticism). Jeffery meyatakan: Apa yang kita butuhkan, bagaimanapun, adalah tafsir kritis yang mencontohi karya yang telah dilakukan oleh orientalis modern sekaligus menggunakan metode-metode penelitian kritis modern untuk tafsir alQuran.35 Dengan menggunakan metode-metode penelitian kritis modern (biblical criticism), Jeffery merancang proyek ambisius yaitu mengedit al-Qur n secara kritis (a critical editon of the Qurn). Sekalipun proyek Jeffery gagal disebabkan kematian kolega-koleganya dan perang dunia ke-2 yang menghancurkan 40.000 naskah lebih yang telah dihimpun Di Munich, usaha untuk mengadopsi metodologi Bibel kepada al-Qur n, masih terus berlanjut. Pertengahan abad ke 20, John Wansbrough (m. 2002) dalam karyanya Quranic Studies yang terbit pada tahun 1977 menggunakan kritik sumber (source criticism) ke dalam studi al-Qurn. Ia menyatakan: As a document susceptible of analysis by the instruments and techniques of Biblical criticism it is virtually unknown.36 Berlanjut sehingga kini, orientalis terus-menerus mengaplikasikan metodologi Bibel dalam studi al-Qurn. Baru-baru ini ketika mereview Die syro-aramische Lesart des Koran. Ein Beitrag zur Entsclsselung der Koransprache (Cara membaca alQurn dengan bahasa Syria-Aramaik. Sebuah sumbangsih upaya pemecahan kesulitan memahami bahasa al-Qurn), karya Christoph Luxernberg (nama samaran), Robert R. Phenix Jr. and Cornelia B. Horn menyatakan: Tidak di dalam sejarah tafsir al-Qurn karya seperti ini pernah dihasilkan. Karya-karya yang sama hanya dapat ditemukan di dalam bentuk
35

kesarjanaan

kritis

teks

Bibel .

(Not

in

the

history

of

commentary on the Qurn has a work like this been produced. Similar
Arthur Jeffery menulis: What we needed, however, was a critical commentary which should embody the work done by modern Orientalists as well as apply the methods of modern critical research to the elucidation of the Koran. Lihat Arthur Jeffery, Progress in the Study of the Qur n Text, The Moslem World 25 (1935), 4. 36 John Wansbrough, Quranic Studies; Sources and Methods of Scriptural Interpretation (Oxford: Oxford University Press, 1970), ix

works can only be found in the body of text-critical scholarship on the Bible.)37 Akibat penerapkan biblical criticism dalam studi al-Qurn, para orientalis melontarkan berbagai pendapat yang kontroversial mengenai al-Qurn seperti: alQurn telah mengalami berbagai penyimpangan; standartisasi al-Qurn disebabkan rekayasa politik dan manipulasi kekuasaan; Utsman ibn Affan salah karena telah mengkodifikasi al-Qurn; perlunya mewujudkan al-Qurn edisi kritis; al-Qurn ditulis bukan dengan bahasa Arab tetapi bahasa Aramaik; al-Qur n adalah karangan Muhammad; terdapat sejumlah kesalahan dalam penulisan al-Qurn; tidak ada di dalam al-Qurn yang orisinal dan berasal dari langit karena wujudnya pengaruh YahudiKristen yang sangat dominant dalam al-Qurn, menyamaratakan qirah mutawtirah dengan qirah shdhdhah, merubah kata dan kalimat dalam al-Qurn dan lain sebagainya. Kesimpulan Pemikiran para orientalis mengenai al-Quran tidak terlepas dari pengalaman para teolog Kristian-Yahudi yang mengkaji sejarah Bibel. Setelah menyadari bahawa Bibel bukanlah Gods word, para orientalis juga menganggap hal yang sama terjadi kepada alQuran. Pemikiran para orientalis juga telah mempengaruhi sarjana Muslim. Akibatnya, keraguan kepada al-Quran sebagai kalam ilahi muncul dalam pemikiran sarjana Muslim. Padahal, sepatutnya mereka menyadari status teks Bibel dan al-Quran tidaklah sama. Menggunakan metodologi Bibel ke dalam al-Quran tidak lah tepat. Bibel adalah himpunan karangan beberapa individu sedangkan al-Quran diturunkan dari Allah dan bukan karangan Muhammad. Allah swt. berfirman yang artinya: Yang tidak datang kepadanya (al-Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. 38 Metodologi Bibel sarat dengan sejumlah permasalahan mendasar di dalam Bibel yang memang mustahil
37

Robert R. Phenix Jr. and Cornelia B. Horn, Christoph Luxenberg (ps.) Die syro-aramaeische Lesart des Koran; Ein Beitrag zur Entschsselung der Quransprache. Hugoye: Journal of Syiriac Studies , 1. Dikutip dari http://syrcom.cua.edu/Hugoye/Vol6NO1/HV6N1PRPhenixhorn.html 38 Surah Fussilat (41: 42); lihat juga al-Shuara (26: 192); al-Sajdah (32: 2); al-Zumar (39: 1); al-Mumin (40: 2); Fussilat (41: 2); al-Jathiyah (45: 2); al-Ahqaf (46: 20) al-Waqiah (56: 80); al-Haqqah (69: 43).

untuk diselesaikan. Oleh sebab itu, metodologi Bibel akan berakhir dengan kesimpulan mengedit Bibel secara kritis. Selain itu, keimanan dan keyakinan akan kebenaran al-Qurn sangat penting bagi seorang yang mengkaji al-Qurn. Ini disebabkan status al-Qurn berbeda dengan teks-teks yang lain. Oleh sebab itu, metodologi sembarangan tidak bisa begitu saja diterapkan kepada al-Qurn. Metodologi sekuler akan menggiring kepada kesimpulan yang sekuler. Metodologi Bibel memang tepat diterapkan untuk Bibel, karena Bibel hasil karangan beberapa orang penulis yang hidup dalam zaman yang berlain-lainan. Latar belakang penulis yang beragam mewarnai isi Bibel. Oleh sebab itu, textus receptus dan teks standart Bibel memang harus ditolak karena justru menghilangkan keanekaragaman yang memang sejak awal sudah terjadi. Bagaimanapun permasalahan Bibel tidak tepat untuk digeneralisir kepada alQurn karena status al-Quran berbeda dengan status teks-teks yang lain. Oleh sebab itu, gagasan sarjana Muslim yang ingin melakukan studi kritis al-Quran sangat disayangkan. Disadari ataupun tidak disadari, gagasan seperti itu telah membawa masuk metodologi asing ke dalam studi al-Quran. Padahal, metodologi asing tersebut belum tentu sesuai untuk diterapkan ke dalam studi al-Quran. Wallahu a'lam bis sawab.