Anda di halaman 1dari 11

INKOMPATIBILITAS GOLONGAN DARAH ABO Membran sel darah merah mengandung banyak protein dan karbohidrat berbeda yang

mampu memicu pembentukan antibodi. Saat ini terdapat 26 sistem golongan darah, yang terdiri dari 194 antigen yang merupakan produk dari 27 gen. Untuk sebagian kecil antigen, peran biologiknya sudah diketahui; untuk sebagian kecil lain, komposisi kimiawi molekul sudah diketahui; dan untuk sebagian besar lainnya, struktur, fungsi, dan penyebab imunogenisitasnya masih merupakan misteri. Namun, gen-gen yang menentukan antigen sel darah merah tampaknya mengikuti hukum-hukum pewarisan mendelian. Apabila individu memiliki suatu pola genetik spesifik (genotipe), antigen-antigen ini biasanya mengekspresikan diri pada sel darah merah (fenotipe). Golongan darah A, B, dan O adalah tiga jenis darah utama. Jenis-jenis ini didasarkan pada zat kecil (molekul) pada permukaan sel-sel darah. Ketika seseorang yang memiliki satu jenis darah menerima darah dari seseorang dengan tipe darah yang berbeda, dapat menyebabkan bereaksinya sistem kekebalan tubuh. Hal ini yang disebut dengan inkompatibilitas atau ketidakcocokan ABO. Untuk memahami inkompatibilitas ABO terutama pada neonatus, maka sangatlah penting untuk memahami dasar-dasar jenis darah dan genetika yang terlibat dengan pengelompokkan golongan darah.

INKOMPATIBILITAS ABO

Inkompatibilitas ABO menyebabkan anemia hemolitik yang terjadi sebagai akibat dari ketidakcocokan golongan darah. Seseorang yang memiliki satu jenis darah dapat membentuk protein antibodi yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh bereaksi terhadap satu atau lebih jenis darah lainnya. Hal ini penting diketahui ketika pasien harus menerima darah (transfusi) atau transplantasi organ. Jenis darah harus disesuaikan untuk menghindari reaksi inkompatibilitas ABO (Rubarth, 2011). Pada permukaan eritrosit terdapat berbagai jenis glikoprotein dan glikolipid yang pembentukkannya diatur secara genetis. Karena merupakan produk gen yang spesifik dan bersifat imunogenik sehingga mampu merangsang pembentukan antibodi (aloantibodi) spesifik, bila masuk ke dalam tubuh seseorang yang tidak memiliki antigen tersebut. Reaksi isoantibodi atau aloantibodi eritrosit spesifik terjadi bila ke dalam sirkulasi darah seseorang dimasukkan eritrosit yangg memiliki antigen yg berbeda. Antibodi ini disebut juga immune antibodi. Hal ini dapat terjadi misalnya pada transfusi darah, atau transfusi fetomaternal (kehamilan/persalinan) (Widjaja, 2009). Sebagai contoh: Seorang pasien dengan golongan darah A akan bereaksi terhadap golongan darah B atau AB. Seorang pasien dengan golongan darah B akan bereaksi terhadap golongan darah A atau AB.

Seorang pasien dengan golongan darah O akan bereaksi terhadap golongan darah A, B, atau AB. Seorang pasien dengan golongan darah AB tidak akan bereaksi terhadap golongan darah A, B, atau AB. Golongan darah O tidak menyebabkan respon imun ketika diterima oleh orang dengan tipe A, tipe B, atau jenis AB darah. Inilah sebabnya mengapa jenis sel darah O dapat diberikan kepada pasien dari setiap jenis darah. Orang dengan golongan darah O disebut "donor universal." Namun, orang dengan tipe O hanya dapat menerima golongan darah O. Kedua darah dan transfusi plasma harus disesuaikan untuk menghindari reaksi imunitas. Sebelum ada yang menerima darah, baik darah dan orang yang menerima itu diuji dengan hati-hati untuk menghindari terjadinya reaksi (Goodnough, 2011). Untuk memahami inkompatibilitas ABO terutama pada kehamilan, penting memahami terlebih dahulu dasar-dasar genetika tipe darah dan genetika yang terlibat dengan penggolongan darah. Ada empat jenis darah yang berbeda: O, A, B, dan AB. Gen untuk penggolongan darah ini terdiri dari banyak alel yang berbeda. Setiap golongan darah memiliki alel utama tunggal yang merupakan gen. Ada dua gen (satu dari setiap orangtua, satu pada setiap kromosom) yang menggambarkan genotipe dan fenotipe golongan darah seseorang (Rubarth, 2011).

Gen untuk golongan darah O bersifat resesif, sedangkan gen untuk golongan darah A dan B bersifat dominan. Gen dengan alel O terbentuk dari kedua orang tua yang memiliki golongan darah O. Oleh karena itu, kedua orang tua harus memiliki setidaknya satu gen atau alel O untuk mewariskan kepada anaknya genotipe OO dengan golongan darah O (Rubarth, 2011). Seorang anak dengan golongan darah A memiliki kemungkinan dua genotipe. Genotipe AA (homozigot) diwariskan dari gen A pada kedua orang tuanya, dan genotipe AO (heterozigot) diwariskan dari gen A satu orangtua dan gen O dari yang lain.Gen A dominan menentukan golongan darah A. Demikian pula, seorang anak dengan golongan darah B mungkin memiliki genotipe BB atau genotipe BO. Seorang anak dengan golongan darah AB menerima dua gen A dari salah satu orang tuanya, dan gen B dari yang lainnya (Rubarth, 2011). Antibodi terhadap A atau B (tapi tidak O) sel darah merah diproduksi setelah lahir. Orang dengan golongan darah A dapat menghasilkan antibodi anti-

B. Orang dengan golongan darah B dapat menghasilkan antibodi anti-A. Orang dengan golongan darah O dapat menghasilkan antibodi anti- A maupun anti-B. Orang dengan golongan darah AB tidak menghasilkan kedua jenis antibodi. Antibodi ini diproduksi ketika tubuh terpapar oleh antigen A maupun antigen B

(Rubarth, 2011).

Anti-A dan anti-B bereaksi secara kuat dan spesifik dengan antigen sel darah merah yang sesuai, namun rangsangan bagi terbentuknya anti-A dan anti-B bukanlah pajanan ke sel darah merah. Ikatan galaktosa dengan N-

asetilgalaktosamin yang sama atau galaktosa yang menjadi ciri glikosfingolipid sel darah merah juga dijumpai di dinding sel bakteri. Pajanan lingkungan yang terus menerus terhadap antigen-antigen yang tersebar luas ini memicu pembentukan antibodi pada individu yang mampu mengembangkan imun, asalkan antigennya bukan konstituen diri dari sel darah merah individu yang bersangkutan. Orang dengan golongan A hanya membentuk anti-B, dan mereka dengan golongan B hanya memiliki anti-A. Orang dengan golongan O memiliki

anti-A dan anti-B, sedangkan individu AB tidak memiliki kedua antibodi tersebut (Jouvenceaux, 1978). Sebagian besar aktivitas anti-A dan anti-B terletak pada kelas IgM, yang menghasilkan aglutinasi cepat dan atau hemolisis. Namun, sebagian aktivitas adalah IgG, dan antibodi dari kelas ini melekat ke permukaan sel tanpa langsung mempengaruhi viabilitas. Anti-A atau anti-B kelas IgG mudah melewati plasenta dan dapat menyebabkan penyakit hemolitik pada neonatus. Orang dengan golongan O lebih sering memiliki IgG anti-A dan Anti-B dibandingkan orang dengan golongan A atau B. Penyakit hemolitik ABO pada bayi baru lahir hampir seluruhnya mengenai bayi yang lahir dari ibu dengan golongan O (Jouvenceaux, 1978). Pemeriksaan Antibodi Terdapat dua jenis pemeriksaan antibodi sel darah merah, yaitu direct Coombs test dan indirect Coombs test. 1. Direct Coombs test (Direct Antiglobulin Test = DAT) Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendeteksi antibodi yang telah berikatan dengan eritrosit pasien. Biasanya pemeriksaan ini dilakukan pada bayi yang baru lahir. Pada permukaan eritrosit terdapat antigen yang berikatan dengan antibodi yang spesifik. DAT positif menunjukkan bahwa terdapat antibodi IgG dari ibu yang masuk ke sirkulasi janin melalui plasenta dan berikatan dengan eritrosit bayi, yang kemudian menyebabkan hemolisis. Bayi dengan DAT positif berisiko mengalami hemolisis dengan kadar bilirubin yang tinggi.

2. Indirect Coombs test (Indirect Antiglobulin Test = IAT) Pemeriksaan ini dapat mendeteksi antibody dalam serum, bukan yang berikatan dengan eritrosit. Pemeriksaan dapat dilakukan prenatal pada ibu ataupun pada bayi yang baru lahir. Bayi dengan IAT positif menerima antibodi dari ibu selama kehamilan, tetapi belum berikatan dengan eritrosit. Bayi ini berisiko mengalami hemolisis, tetapi selama antibodi tersebut tidak berikatan dengan eritrosit maka tidak terjadi hemolysis, sehingga bilirubin tidak meningkat.

Inkompatibilitas ABO pada Bayi Baru Lahir Inkompatibilitas ABO terjadi apabila terjadi transfer antibodi dari sirkulasi ibu ke sirkulasi janin melalui plasenta. Biasanya golongan darah ibu adalah O, sedangkan golongan darah bayinya adalah A, B, atau AB. Wanita pada umumnya memproduksi antibodi selama hidup mereka, namun biasanya terdapat dalam kadar rendah selama kehamilan. Antigen untuk antibodi anti-A dan anti-B juga hadir dalam berbagai makanan seperti gula. Oleh karena itu, ibu bergolongan darah O yang membawa janin dengan golongan darah A atau golongan darah B telah memiliki antibodi terhadap antigen A dan B dalam tubuhnya. Antigen ini kemungkinan besar berasal dari makanan yang dikonsumsi ibu, atau karena bakteri yang pernah menginfeksi sebelum kehamilannya. Setelah paparan antigen terjadi, tubuh menghasilkan antibodi terhadap antigen itu. Sistem kekebalan tubuh ibu tidak harus menunggu sensitisasi satu janin untuk menghasilkan antibodi terhadap antigen A atau B (seperti dengan sensitisasi Rh).

Sistem kekebalan tubuhnya telah menghasilkan beberapa antibodi anti-A dan antiB, yang sekarang mudah mengenali dan menyerang eritrosit janin. Perempuan tertentu memiliki titer antibodi lebih tinggi, yang menempatkan bayi pada risiko yang lebih tinggi terhadap inkompatibilitas ABO, hiperbilirubinemia dan selanjutnya terjadi anemia (Rubarth, 2011). Inkompatibilitas ABO biasanya lebih ringan daripada inkompatibilitas Rh. Hal ini disebabkan oleh dilusi antibodi pada janin, karena antigen A dan B tidak hanya diekspresikan di sel darah merah, namun juga pada banyak jaringan lainnya. Dengan demikian, hanya sebagian kecil antibodi yang berikatan dengan sel darah merah dan menyebabkan hemolisis. Namun hal ini tidak menutup kemungkinan terjadinya hemolisis berat yang menyebabkan anemia dan dihasilannya bilirubin dalam jumlah besar (Rubarth, 2011). Sebagian bayi dengan inkompatibilitas ABO dengan DAT positif mengalami peningkatan bilirubin dalam 24 jam pertama setelah lahir. Apabila dilakukan fototerapi, kadar bilirubinnya akan menurun pada hari ketiga atau keempat. Apabila tidak diterapi, peningkatan bilirubin tergantung pada jumlah antibodi yang ditransfer dari ibu dan beratnya hemolisis sel darah merah bayi. Apabila terjadi hemolisis berat dan bayi dipulangkan sebelum mendapatkan terapi, dapat terjadi kernikterus (Rubarth, 2011). DAT negatif dan positif lemah tidak menyingkirkan kemungkinan hemolisis dengan hiperbilirubinemia dan anemia, tetapi memberikan informasi bahwa tidak sedang terjadi hemolisis. DAT positif lemah menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil sel darah merah yang telah berikatan dengan antibodi. Bayi

dengan hasil DAT negatif ataupun positif lemah perlu dipantau selama minggu pertama (Rubarth, 2011).

Inkompatibilitas ABO pada Transfusi Pada keadaan tertentu, seseorang mungkin membutuhkan transfusi darah yang didapatkan dari donor. Gambar berikut menunjukkan kemungkinan transfusi yang dapat dilakukan.

Inkompatibilitas golongan darah ABO akan mengaktifkan sistem komplemen jalur klasik. Apabila sel darah merah dari golongan darah yang inkompatibel diberikan pada transfusi (terutama bila resipien dengan golongan darah resipien menerima transfusi dari golongan darah A, B, atau AB), maka IgM anti A dan IgM anti B resipien akan berikatan dengan sel darah merah yang diterimanya dari donor. Hal ini akan memicu terjadinya fiksasi C1 pada antibodi IgM yang telah berikatan dengan antigen, dan proteolisis C2 dan C4, serta pembentukan kompleks C4b2b yang berfungsi sebangai C3 konvertase. C3 konvertase memcah C2 menjadi C3b, yang tetap melekat pada permukaan tempat komplemen diaktifkan, dan menghasilkan fragmen C3a yang lebih kecil dan berdifusi menjauh.

C3b yang dihasilkan oleh jalur klasik berikatan dengan C3 konvertase dan menghasilkan suatu C5 konvertase, yang memecah C5. C5b tetap melekat pada kompleks dan membentuk suatu substrat untuk pengikatan komponen C6-C9. Polimer C9 membentuk suatu saluran di membrane lemak, yang disebut membrane attack complex, yang memungkinkan cairan dan ion masuk dan menimbulkan lisis sel eritrosit (hemolisis) (Kumar et al, 2010). Gejala dan tanda yang dapat terjadi pada inkompatibilitas ABO pada transfusi pada umumnya adalah demam, hemoglobinuria, hemoglobinemia, gagal ginjal, koagulasi intravaskular diseminata, hipotensi, dan shock. Akan tetapi, pda pasien yang mendapatkan anestesi, satu-satunya perubahan yang terjadi adalah pada tanda-tanda vital, atau perdarahan difus yang tidak dapat dijelaskan. Gejala yang paling sering timbul adalah yang terkait dengan hemolisis akut, yaitu hipotensi ringan sampai berat, hemoglobinuria, dan/atau hemoglobinemia, diikuti dengan penurunan fungsi ginjal atau gagal ginjal dan shock. Koagulasi intravaskular diseminata merupakan manifestasi yang terakhir timbul (Janatpur, KA, et al. 2008).

PENUTUP Inkompatibilitas ABO mengaktifkan sistem komplemen jalur klasik yang menyebabkan terjadinya hemolisis. Eritrosit memiliki berbagai jenis glikoprotein dan glikolipid yang pembentukkannya diatur secara genetis, bersifat imunogenik sehingga mampu merangsang pembentukan antibodi (aloantibodi) spesifik. Sebagian besar aktivitas antibody anti-A dan anti-B terletak pada kelas IgM, yang menghasilkan aglutinasi cepat dan atau hemolisis. Patofisologi yang dapat menjelaskan timbulnya reaksi hemolitik pada inkompatibilas ABO akibat kesalahan transfusi adalah akibat antibodi dalam plasma pasien akan melisiskan sel darah merah yang inkompatibel. Sedangkan patofisologi yang dapat menjelaskan timbulnya penyakit inkompabilitas ABO adalah terjadi ketika sistem imun ibu menghasilkan antibodi yang melawan sel darah merah janin yang dikandungnya.