Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah : Ushul Fiqh Dosen Pengampu : Saiful Mujab. SHI.

, MSI

Disusun Oleh:
1 2 M. Muchlisin Yahya Ihsanul Ala : 310007 : 310002

SEKOLAH TINGGI AGAM ISLAM NEGERI KUDUS JURUSAN USHULUDDIN (T.H) 2011

1 1 1

Pendahuluan

Dalam perjalanan sejarah Islam, para ulama mengembangkan berbagai teori, metode, dan prinsip hukum yang sebelumnya tidak dirumuskan secara sistematis, baik dalam Alquran maupun as-Sunnah. Upaya para ulama tersebut berkaitan erat dengan tuntutan realita sosial yang semakin hari semakin kompleks. Berbagai persoalan baru bermunculan yang sebelumnya tidak dibahas secara spesifik dalam Alquran dan Hadits Nabi. Di antara metode penetapan hukum yang dikembangkan para ulama adalah sadd adz-dzariah dan fath adz-dzariah. Metode sadd adz-dzariah merupakan upaya preventif agar tidak terjadi sesuatu yang menimbulkan dampak negatif. Metode hukum ini merupakan salah satu bentuk kekayaan khazanah intelektual Islam yang sepanjang pengetahuan penulistidak dimiliki oleh agama-agama lain. Selain Islam, tidak ada agama yang memiliki sistem hukum yang didokumentasikan dengan baik dalam berbagai karya yang sedemikian banyak. Hukum Islam tidak hanya mengatur tentang perilaku manusia yang sudah dilakukan tetapi juga yang belum dilakukan. Hal ini bukan berarti bahwa hukum Islam cenderung mengekang kebebasan manusia. Tetapi karena memang salah satu tujuan hukum Islam adalah untuk mewujudkan kemaslahatan dan menghindari kerusakan (mafsadah). Jika suatu perbuatan yang belum dilakukan diduga keras akan menimbulkan kerusakan (mafsadah), maka dilaranglah hal-hal yang mengarahkan kepada perbuatan tersebut. Metode hukum inilah yang kemudian dikenal dengan sadd adz-dzariah. Sebaliknya, jika suatu perbuatan diduga kuat akan menjadi sarana terjadinya perbuatan lain yang baik, maka diperintahkanlah perbuatan yang menjadi sarana tersebut. Hal inilah yang kemudian dikenal dengan istilah fath adz-dzariah.

2 2 2

II

Rumusan Masalah

1 2 3

Bagaimana Pengertian Dariah dan Saddu Dzariah? Apa Dasar Hukum Saddu Dzariah? Apa Objek Dzariah?

III

Pembahasan

Pengertian

Pengertian Dzariah. Secara etimologi, dzariah ( ) berarti jalan menuju kepada sesuatu. Ada juga yang mengkhususkan pengertian dzariah dengan sesuatu yang membawa kepada yng dilarang dan mengandung kemadharatan. Akan tetapi Ibn Qayyim Al-Jauziyah mengatakan bahwa pembatasan pengertian dzariah kepada sesuatu yang dilarang saja tidak tepat, karena ada juga dzariah yang bertujuan untuk yang dianjurkan. Oleh sebab itu, menurutnya pengertian dzariah lebih baik dikemukakan yang bersifat umum, sehingga dzariah mengandung dua pengertian, yaitu: yang dilarang ( ) dan yang dituntut untuk dilaksanakan ( )

Pengertian Saddu Dzariah 3 3 3

Yang dimaksud dengan ( ) ialah:


Artinya: mencegah/menyambut sesuatu yang menjadi jalan kerusakan, atau menyumbat jalan yang dapat menyampaikan seseorang pada kerusakan Oleh karena itu, apabila ada perbuatan baik yang akan mengakibatkan terjadinya kerusakan, maka hendaklah perbuatan yang baik itu dicegah/disumbat agar tidak terjadi kerusakan.1

Dasar Hukum Saddu Dzariah

Alquran

.
Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, Karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah kami jadikan 1 Drs. Chaeral Uman. Dkk. Ushul Fiqh1. Pustaka setia. Bandung. 2000. Hal.
187-188

4 4 4

setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan. (QS. al-Anam: 108).

Pada ayat di atas, mencaci maki tuhan atau sembahan agama lain adalah adz-dzariah yang akan menimbulkan adanya sesuatu mafsadah yang dilarang, yaitu mencaci maki Tuhan. Sesuai dengan teori psikologi mechanism defense, orang yang Tuhannya dicaci kemungkinan akan membalas mencaci Tuhan yang diyakini oleh orang sebelumnya mencaci. Karena itulah, sebelum balasan caci maki itu terjadi, maka larangan mencaci maki tuhan agama lain merupakan tindakan preventif (sadd adz-dzariah).


Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): Raaina, tetapi katakanlah: Unzhurna, dan Dengarlah. Dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih. (QS. al-Baqarah: 104).

Pada surah al-Baqarah ayat 104 di atas, bisa dipahami adanya suatu bentuk pelarangan terhadap sesuatu perbuatan karena adanya kekhawatiran terhadap dampak negatif yang akan terjadi. Kata raa ina ( ) berarti: Sudilah kiranya kamu memperhatikan kami. Saat para sahabat menggunakan kata ini terhadap Rasulullah, orang Yahudi pun memakai kata ini dengan nada mengejek dan menghina Rasulullah SAW. Mereka menggunakannya dengan maksud kata 5 5 5

raainan ( ) sebagai bentuk isim fail dari masdar kata ruunah ( ) yang berarti bodoh atau tolol. Karena itulah, Tuhan pun menyuruh para sahabat Nabi SAW mengganti kata raaina yang biasa mereka pergunakan dengan unzhurna yang juga berarti sama dengan raaina. Dari latar belakang dan pemahaman demikian, ayat ini menurut al-Qurthubi dijadikan dasar dari sadd adz-dzariah. b Sunah


Dari Abdullah bin Amr RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: Termasuk di antara dosa besar seorang lelaki melaknat kedua orang tuanya. Beliau kemudian ditanya, Bagaimana caranya seorang lelaki melaknat kedua orang tuanya? Beliau menjawab, Seorang lelaki mencaci maki ayah orang lain, kemudian orang yang dicaci itu pun membalas mencaci maki ayah dan ibu tua lelaki tersebut.

Hadis ini dijadikan oleh Imam Syathibi sebagai salah satu dasar hukum bagi konsep sadd adz-dzariah. Berdasarkan hadits tersebut, menurut tokoh ahli fikih dari Spanyol itu, dugaan (zhann) bisa digunakan sebagai dasar untuk penetapan hukum dalam konteks sadd adz-dzariah. c Kaidah Fikih 6 6 6

Di antara kaidah fikih yang bisa dijadikan dasar penggunaan sadd adz-dzariah adalah:

.
Menolak keburukan (mafsadah) lebih diutamakan daripada meraih kebaikan (maslahah). Kaidah ini merupakan kaidah asasi yang bisa mencakup masalahmasalah turunan di bawahnya. Berbagai kaidah lain juga bersandar pada kaidah ini. Karena itulah, sadd adz-dzariah pun bisa disandarkan kepadanya. Hal ini juga bisa dipahami, karena dalam sadd adz-dzariah terdapat unsur mafsadah yang harus dihindari. d Logika Secara logika, ketika seseorang membolehkan suatu perbuatan, maka mestinya ia juga membolehkan segala hal yang akan mengantarkan kepada hal tersebut. Begitupun sebaliknya, jika seseorang melarang suatu perbuatan, maka mestinya ia pun melarang segala hal yang bisa mengantarkan kepada perbuatan tersebut. Hal ini senada dengan ungkapan Ibnu Qayyim dalam kitab Alm al-Mqin: Ketika Allah melarang suatu hal, maka Allah pun akan melarang dan mencegah segala jalan dan perantara yang bisa mengantarkan kepadanya. Hal itu untuk menguatkan dan menegaskan pelarangan tersebut. Namun jika Allah membolehkan segala jalan dan perantara tersebut, tentu hal ini bertolak belakang dengan pelarangan yang telah ditetapkan.2 2 Objek Dzariah

2 Muhammad bin Ismail Abu Abdullah al-Bukhari al-Jafi, al-Jami ash-Shahih


al-Mukhtashar, (Beirut: Dar Ibn Katsir, 1987), juz 5, hal. 2228.

7 7 7

Pada dasarnya yang menjadi obyek dzariah adalah semua perbuatan ditinjau dari segi akibatnya yang dibagi menjadi empat, yaitu: 1 2 3 Perbuatan yang akibatnya menimbulkan kerusakan/bahaya. Perbuatan yang jarang berakibat kerusakan/bahaya. Perbuatan yang menurut dugaan kuat akan menimbulkan bahaya: tidak diyakini dan tidak pula dianggap nadir (jarang terjadi). 4 Perbuatan yang lebih banyak menimbulkan kerusakan, tetapi belum mencapai tujuan kuat timbulnya kerusakan itu.3

IV

Kesimpulan

Secara etimologi, dzariah ( ) berarti jalan menuju kepada sesuatu. Yang dimaksud dengan ( ) ialah: mencegah/menyambut sesuatu yang menjadi jalan kerusakan, atau menyumbat jalan yang dapat menyampaikan seseorang pada kerusakan

Dasar Hukum Saddu Dzariah adalah Al-Quran, sunnah, kaidah fikih dan logika.

Pada dasarnya yang menjadi obyek dzariah adalah semua perbuatan ditinjau dari segi akibatnya

3 Dr. H. sulaiman Abdullah. Sumber hukum islam. Sinar grafika. Jakarta. 2004.
Hal. 165

8 8 8

Penutup

Demikian makalah yang dapat kami sampaikan, kami sadar makalah kami ini jauh dari kata sempurna, karena keterbatasan wawasan dan buku referensi yang kami pelajari. Untuk itu saran dan kritik yang membangun sangat kami harapkan demi perbaikan makalah kami selanjutnya dikemudian hari. Semoga dapat bermanfaat.

VI

Daftar pustaka

Drs. Chaeral Uman. Dkk. Ushul Fiqh1. Pustaka setia. Bandung. 2000.

Muhammad bin Ismail Abu Abdullah al-Bukhari al-Jafi, al-Jami ash-Shahih al-Mukhtashar, (Beirut: Dar Ibn Katsir, 1987), juz 5

Dr. H. sulaiman Abdullah. Sumber hukum islam. Sinar grafika. Jakarta. 2004

9 9 9