Anda di halaman 1dari 30

TEORI TEORI MOTIVASI Motivasi merupakan satu penggerak dari dalam hati seseorang untuk melakukan atau mencapai

sesuatu tujuan. Motivasi juga bisa dikatakan sebagai rencana atau keinginan untuk menuju kesuksesan dan menghindari kegagalan hidup. Dengan kata lain motivasi adalah sebuah proses untuk tercapainya suatu tujuan. Seseorang yang mempunyai motivasi berarti ia telah mempunyai kekuatan untuk memperoleh kesuksesan dalam kehidupan.. Motivasi dapat berupa motivasi intrinsic dan ekstrinsic. Motivasi yang bersifat intinsik adalah manakala sifat pekerjaan itu sendiri yang membuat seorang termotivasi, orang tersebut mendapat kepuasan dengan melakukan pekerjaan tersebut bukan karena rangsangan lain seperti status ataupun uang atau bisa juga dikatakan seorang melakukan hobbynya. Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah manakala elemen elemen diluar pekerjaan yang melekat di pekerjaan tersebut menjadi faktor utama yang membuat seorang termotivasi seperti status ataupun kompensasi. Banyak teori motivasi yang dikemukakan oleh para ahli yang dimaksudkan untuk memberikan uraian yang menuju pada apa sebenarnya manusia dan manusia akan dapat menjadi seperti apa. Landy dan Becker membuat pengelompokan pendekatan teori motivasi ini menjadi 5 kategori yaitu teori kebutuhan,teori penguatan,teori keadilan,teori harapan,teori penetapan sasaran. A. TEORI MOTIVASI ABRAHAM MASLOW (1943-1970) Abraham Maslow (1943;1970) mengemukakan bahwa pada dasarnya semua manusia memiliki kebutuhan pokok. Ia menunjukkannya dalam 5 tingkatan yang berbentuk piramid, orang memulai dorongan dari tingkatan terbawah. Lima tingkat kebutuhan itu dikenal dengan sebutan Hirarki Kebutuhan Maslow, dimulai dari kebutuhan biologis dasar sampai motif psikologis yang lebih kompleks; yang hanya akan penting setelah kebutuhan dasar terpenuhi. Kebutuhan pada suatu peringkat paling tidak harus terpenuhi sebagian sebelum kebutuhan pada peringkat berikutnya menjadi penentu tindakan yang penting.

Aktualisasi diri penghargaan sosial keamanan Faali

Kebutuhan fisiologis (rasa lapar, rasa haus, dan sebagainya) Kebutuhan rasa aman (merasa aman dan terlindung, jauh dari bahaya) Kebutuhan akan rasa cinta dan rasa memiliki (berafiliasi dengan orang lain, diterima, memiliki) Kebutuhan akan penghargaan (berprestasi, berkompetensi, dan mendapatkan dukungan serta pengakuan) Kebutuhan aktualisasi diri (kebutuhan kognitif: mengetahui, memahami, dan menjelajahi; kebutuhan estetik: keserasian, keteraturan, dan keindahan; kebutuhan aktualisasi diri: mendapatkan kepuasan diri dan menyadari potensinya) Bila makanan dan rasa aman sulit diperoleh, pemenuhan kebutuhan tersebut akan mendominasi tindakan seseorang dan motif-motif yang lebih tinggi akan menjadi kurang signifikan. Orang hanya akan mempunyai waktu dan energi untuk menekuni minat estetika dan intelektual, jika kebutuhan dasarnya sudah dapat dipenuhi dengan mudah. Karya seni dan karya ilmiah tidak akan tumbuh subur dalam masyarakat yang anggotanya masih harus bersusah payah mencari makan, perlindungan, dan rasa aman. B. TEORI MOTIVASI HERZBERG (1966) Menurut Herzberg (1966), ada dua jenis faktor yang mendorong seseorang untuk berusaha mencapai kepuasan dan menjauhkan diri dari ketidakpuasan. Dua faktor itu disebutnya faktorhigiene (faktor ekstrinsik) dan faktor motivator (faktor intrinsik). Faktor higiene memotivasi seseorang untuk keluar dari ketidakpuasan, termasuk didalamnya adalah hubungan antar manusia, imbalan, kondisi lingkungan, dan sebagainya (faktor ekstrinsik), sedangkan faktor motivator memotivasi seseorang untuk berusaha mencapai

kepuasan, yang termasuk didalamnya adalah achievement, pengakuan, kemajuan tingkat kehidupan, dsb (faktor intrinsik). C. TEORI MOTIVASI DOUGLAS McGREGOR Mengemukakan dua pandangan manusia yaitu teori X (negative) dan teori y (positif), Menurut teori x empat pengandaian yag dipegang manajer a. karyawan secara inheren tertanam dalam dirinya tidak menyukai kerja b. karyawan tidak menyukai kerja mereka harus diawasi atau diancam dengan hukuman untuk mencapai tujuan. c. Karyawan akan menghindari tanggung jawab. d. Kebanyakan karyawan menaruh keamanan diatas semua factor yang dikaitkan dengan kerja. Kontras dengan pandangan negative ini mengenai kodrat manusia ada empat teori Y : a. karyawan dapat memandang kerjasama dengan sewajarnya seperti istirahat dan bermain. b. Orang akan menjalankan pengarahan diri dan pengawasan diri jika mereka komit pada sasaran. c. Rata rata orang akan menerima tanggung jawab. d. Kemampuan untuk mengambil keputusan inovatif. D. TEORI MOTIVASI VROOM (1964) Teori dari Vroom (1964) tentang cognitive theory of motivation menjelaskan mengapa seseorang tidak akan melakukan sesuatu yang ia yakini ia tidak dapat melakukannya, sekalipun hasil dari pekerjaan itu sangat dapat ia inginkan. Menurut Vroom, tinggi rendahnya motivasi seseorang ditentukan oleh tiga komponen, yaitu: Ekspektasi (harapan) keberhasilan pada suatu tugas Instrumentalis, yaitu penilaian tentang apa yang akan terjadi jika berhasil dalam melakukan suatu tugas (keberhasilan tugas untuk mendapatkan outcome tertentu). Valensi, yaitu respon terhadap outcome seperti perasaan posistif, netral, atau

negatif.Motivasi tinggi jika usaha menghasilkan sesuatu yang melebihi harapanMotivasi rendah jika usahanya menghasilkan kurang dari yang diharapkan E. Achievement TheoryTeori achievement Mc Clelland (1961), yang dikemukakan oleh Mc Clelland (1961), menyatakan bahwa ada tiga hal penting yang menjadi kebutuhan manusia, yaitu: Need for achievement (kebutuhan akan prestasi) Need for afiliation (kebutuhan akan hubungan sosial/hampir sama dengan soscialneednya Maslow) Need for Power (dorongan untuk mengatur) F. Clayton Alderfer ERG Clayton Alderfer mengetengahkan teori motivasi ERG yang didasarkan pada kebutuhan manusia akan keberadaan (exsistence), hubungan (relatedness), dan pertumbuhan (growth). Teori ini sedikit berbeda dengan teori maslow. Disini Alfeder mngemukakan bahwa jika kebutuhan yang lebih tinggi tidak atau belum dapat dipenuhi maka manusia akan kembali pada gerakk yang fleksibel dari pemenuhan kebutuhan dari waktu kewaktu dan dari situasi ke situasi.

Kaedah Pengajaran Murid Sederhana dan Lemah Kaedah Pengajaran Murid Berpencapaian Sederhana, Lemah, GALUS, atau GARUK (Untuk rakan-rakan guru Bahasa Melayu terutamanya guru-guru SMKBBST) Oleh: Cikgu Mohd. Khir Kassim

Pengenalan Memang sudah menjadi lumrah alam bahawa murid-murid yang kita ajar mempunyai tahap pencapaian yang berbeza-beza. Ada yang cepat faham akan isi kandungan pelajaran yang diajarkan oleh guru, namun ada juga yang lambat untuk memahami isi pengajaran yang diajarkan oleh guru. Oleh hal yang demikian, terdapat pelbagai cara atau kaedah yang boleh digunakan untuk mengajar murid sama ada yang cerdik dan pintar ataupun yang sederhana ataupun lemah. Penulis cuma akan menyentuh cara atau kaedah untuk mengajar murid yang sederhana dan lemah sahaja dalam perbincangan kali ini. Kaedah yang digunakan perlu dipelbagaikan kerana kelemahan murid pun berbeza-beza. Perkara yang sudah pasti ialah pelajar yang lemah juga, tidak menguasai kemahiran bahasa yang baik dan sering dikaitkan dengan masalah disiplin. Sering kali juga kita mendengar bahawa guru-guru akan melabel murid-murid tersebut dengan berbagai-bagai label atau panggilan yang negatif. Perkara ini perlulah dielakkan jika kita benar-benar hendak membantu murid yang lemah ini. Cabaran dan Tanggungjawab Guru Oleh hal yang demikian, cabaran yang terpaksa dihadapi oleh guru yang mengajar murid kelas lemah berbanding dengan kelas pandai adalah lebih hebat. Namun demikian, jadikan cabaran itu sebagai peluang untuk berbakti kepada anak bangsa. Selain itu apabila kita mengajar murid lemah, otak kita sentiasa bergerak cergas kerana kita memaksanya berfikir untuk mencari kaedah yang menarik dan sesuai untuk menangani pelbagai masalah di dalam kelas murid lemah ini. Satu aspek yang paling penting dan perlu diberikan penekanan ialah kemahiran dalam kawalan kelas. Guru perlu mengawal kelas agar disiplin murid di dalam kelas murid lemah itu terkawal. Selain itu, terangkan kepada mereka sebab atau faktor yang menyebabkan guru mengambil tindakan tegas terhadap mana-mana murid yang tidak mendengar arahan guru. Terangkan kepada murid, bahawa kita hidup memang dikawal oleh peraturan. Tidak kira kita berada di mana pun, sudah pasti ada peraturan atau

undang-undang yang perlu dipatuhi. Di jalan raya, kita perlu mengikut peraturan, malahan di rumah pun ada peraturan yang perlu dipatuhi. Jadi, ketika berada di dalam kelas sudah tentu murid-murid perlu mematuhi peraturan yang ditetapkan oleh guru dan pihak sekolah. Apabila kelas sudah dapat dikawal, barulah guru memulakan pelajaran. Biasanya bagi kelas murid lemah ini, guru-guru perlu menggunakan silibus minimum kerana tahap pencapaian mereka memang rendah. Jika mereka menguasai silibus minimum ini pun sudah bolehlah dibanggakan, kerana mereka kurang bermotivasi untuk mencapai tahap yang lebih tinggi seperti murid-murid pintar yang lain. Namun begitu kita perlu memotivasikan mereka dengan memberikan peluang, harapan dan mereka juga perlulah berfikir secara positif. Elakkan sikap merendah-rendahkan kebolehan atau pencapaian mereka kerana perkara itu akan mematikan semangat mereka dan yang lebih buruk lagi akan menyebabkan mereka benci kepada guru dan mata pelajaran yang diajarkan oleh guru itu. Sebagai guru, kita perlu menekankan pembelajaran yang berkesan di dalam kelas. Pengajaran yang berkesan merupakan pengajaran yang membolehkan pelajar memperoleh kemahiran, pengetahuan, sikap dan objektif yang telah ditetapkan. Pakarpakar pendidikan juga mengatakan bahawa pengajaran yang berkesan ialah pengajaran yang menarik. Pengajaran berkesan atau efektif juga sebenarnya merupakan pengajaran yang digemari oleh pelajar. Oleh hal yang demikian, pengajaran yang efektif dapat ditakrifkan sebagai suatu aktiviti yang berupaya meningkatkan hasil pembelajaran dalam suasana yang sihat, demokratik dan bersemangat. Hasil pembelajaran yang dimaksudkan ialah perubahan tingkah laku pelajar dari segi jasmani, emosi, rohani, dan intelek akibat penerimaan pengetahuan atau kepercayaan baharu. Menurut Wan Zah Wan Ali (2000), guru yang efektif mempunyai sikap yang adil dan tidak pilih kasih, bertimbang rasa, baik hati, bertanggungjawab, suka menolong individu yang lain, banyak bersabar dalam melayani kerenah pelajar, tenang, dan stabil emosinya.

Guru juga perlu mengamalkan sikap peramah dan mudah didekati. Dengan cara yang demikian, pelajar tidak akan berasa takut untuk bertanya soalan atau berkomunikasi dengan guru. Seterusnya, guru perlulah memberikan pujian walaupun jawapan mereka kurang tepat dan jangan sekali-kali menghina atau memandang rendah terhadap mereka walaupun jawapan yang diberikan oleh mereka itu tidak tepat atau salah. Perkara ini akan memberikan keyakinan kepada mereka untuk menjawab soalan yang lain pada masa akan datang. Hal ini juga akan menimbulkan tanggapan positif pelajar terhadap guru. Pelajar akan menganggap guru mudah dihampiri dan guru juga perlulah menyelitkan unsur humor atau jenaka di dalam kelas agar tidak membosankan murid. Perkara ini penting kerana mereka berasa selesa, tertarik dan lebih yakin untuk belajar dalam keadaan yang sedemikian. Guru juga seharusnya mempunyai personaliti dinamik, iaitu menarik, aktif, dan bersungguh-sungguh semasa mengajar murid. Selain itu, guru juga perlu memberikan contoh teladan yang baik serta memakai pakaian yang kemas dan sesuai untuk menggambarkan imej sebagai seorang pendidik yang cemerlang. Kajian Tindakan Guru-guru seharusnya menjalankan kajian tindakan di dalam kelas. Kajian tindakan perlu dijalankan kerana guru dapat mengenal pasti kelemahan murid di dalam kelasnya sendiri dan cuba untuk membimbing atau merawat murid-murid yang lemah. Sudah tentu guruguru yang mengajar murid-murid di dalam kelasnya sendiri yang mengetahui kelemahan yang dihadapi oleh murid-muridnya. Oleh hal yang demikian, guru-guru perlulah mencari cara atau teknik yang sesuai untuk mengatasi kelemahan murid-muridnya itu. Sekurangkurangnya guru perlu memikirkan cara atau teknik untuk membantu murid-muridnya dalam mata pelajaran yang diajarnya itu. Sekiranya cara atau teknik yang digunakan itu kurang berkesan untuk mengatasi kelemahan muridnya itu, maka guru bolehlah mencuba cara atau teknik yang lain. Guru-guru boleh berbincang dengan rakan-rakan sejawatan untuk mencari cara dan teknik yang berkesan itu. Perkara yang lebih penting ialah semangat guru itu untuk mencari cara atau teknik yang berkesan perlulah diberikan pujian dan mereka tidak seharusnya mudah berputus asa jika gagal buat kali pertama.

Guru perlu mencuba pelbagai cara atau teknik, walaupun beberapa kali sehinggalah bertemu dengan cara atau kaedah yang berkesan. Guru boleh bertanya kepada murid-murid dan berbincang dengan mereka tentang caracara atau teknik-teknik yang disukai oleh mereka semasa di dalam kelas. Guru bolehlah menggunakan cara yang disukai oleh murid agar pengajaran dan pembelajaran lebih menarik dan berkesan. Selain itu guru boleh mendapatkan pandangan murid tentang cara yang digunakan oleh guru sebelum ini, sama ada cara itu membosankan atau menarik perhatian mereka. Jika jawapannya negatif, guru harus mengubah teknik tersebut. Guru juga perlu mendapatkan komen atau pandangan murid tentang perkara-perkara yang tidak disukai oleh mereka terhadap guru semasa proses pengajaran dan pembelajaran sedang berlangsung. Selain secara lisan, guru juga boleh mengedarkan soal selidik yang ringkas ataupun murid-murid menulis sebarang komen tentang cara guru mengajar murid. Teknik Pengajaran yang Berkesan Guru-guru seharusnya peka dengan tuntutan Kementerian Pelajaran yang mahu kaedah pengajaran guru mestilah berpusatkan pelajar dan tidak berpusatkan guru. Dengan menggunakan kaedah tersebut, sudah tentu kaedah pengajaran mesti menarik perhatian mereka. Tambahan pula murid-murid yang lemah ini lebih berminat terhadap pengajaran guru jika mereka dilibatkan sama dengan aktiviti yang disukai oleh mereka. Murid-murid tersebut hendaklah diberikan aktiviti yang berbentuk "hands on" dan perkara ini tidak membosankan mereka. Untuk menarik perhatian murid, guru-guru perlulah menggunakan pendekatan pengajaran dan pembelajaran yang berasaskan bahan bantu belajar (BBB). Oleh yang demikian sudah tentulah memerlukan BBB yang digunakan untuk menarik perhatian murid selain faktor guru yang mesra dan tidak terlalu serius semasa pengajaran dan pembelajaran. Pakar-pakar dalam bidang pendidikan juga sering mengaitkan bahawa pengajaran yang berkesan ialah pengajaran yang menarik. Dalam mengendalikan kelas yang lemah dan bermasalah ini, guru perlulah bersikap tegas terhadap murid tetapi bukannya garang. Hal ini demikian kerana, murid-murid perlu diberikan penerangan tentang sebab-sebab guru perlu bertindak dengan tegas semasa

pengajaran dan pembelajaran sedang berlangsung. Oleh itu guru-guru perlu mendampingi murid-murid dan bimbinglah mereka kerana mereka sebenarnya memerlukan bimbingan. Selain itu guru juga tidak seharusnya bersikap prejudis dan pilih kasih semasa mengajar murid di dalam kelas. Hal ini demikian kerana murid-murid tidak suka akan guru-guru yang bersikap sedemikian. Oleh itu guru-guru perlu menghormati murid-muridnya dan insyaallah, murid-murid juga akan hormat kepada guru. Perkara ini sudah menjadi lumrah iaitu murid-murid ini juga manusia biasa dan perlu dihormati untuk meningkatkan harga diri mereka. Biasanya murid-murid yang selalunya biadap terhadap guru juga akan tunduk kepada guru yang menghormati mereka dan meningkatkan harga diri mereka. Guru-guru perlulah memberikan harapan dan sokongan moral kepada pelajar untuk berjaya atau lulus dalam peperiksaan. Selalu ingatkan mereka agar berfikir secara positif dan yakinkan mereka bahawa mereka boleh lulus dalam peperiksaan tetapi mestilah diikuti dengan usaha gigih dan berterusan tanpa mengenal putus asa. Guru-guru hendaklah selalu memberikan pujian dan kata-kata semangat terhadap murid sebagai dorongan untuk mereka belajar dan lulus dalam peperiksaan. Selain itu cari perkara disukai oleh mereka dalam pengajaran dan pembelajaran. Sekiranya ada murid yang pandai melukis, minta mereka melukis perkara yang berkaitan dengan pengajaran dan pembelajaran pada hari itu di dalam kelas. Guru-guru juga harus kreatif dan mencipta kaedah sendiri yang berkesan dan biasanya berbentuk formula yang memudahkan murid mengingat sesuatu fakta. Sebagai contohnya, gunakan formula IniKah Cinta (Isi, Kesan dan Contoh) untuk menghurai isi karangan dalam satu perenggan. Selain itu, guru-guru perlu memberi latihan kepada murid mengikut tahap dan kemampuan mereka. Beri latihan yang mudah kepada pelajar lemah atau permudahkan latihan itu dengan memberikan latihan terarah atau mengisi tempat kosong. Di samping itu guru-guru juga perlu melatih pelajar untuk membuat pembetulan terhadap kesalahan yang dilakukan dan guru perlu menyemak latihan murid dengan teliti. Pastikan murid membuat pembetulan bagi setiap kesalahan yang ditandakan. Seterusnya langkah yang akhir ialah teknik latih tubi atau teknik hafalan perlulah dilakukan dan kalau perlu lengkapkan murid dengan fakta-fakta penting yang

mungkin ditanya dalam peperiksaan. Hal ini boleh membantu mereka sekurangkurangnya untuk lulus dalam peperiksaan.

FAKTOR-FAKTOR MEMPENGARUHI ASPEK PENCAPAIAN AKADEMIK DAN LANGKAH-LANGKAH MENGATASI 1.0 Pengenalan Setiap individu yang dilahirkan adalah berbeza daripada individu yang lain. Di dalam sesebuah kelas, terdapat perbezaan individu antara setiap murid tersebut. Terdapat murid yang lemah, sederhana dan pandai. Menurut Henson dan Eller (1999) di dalam bukunya Educational Psycholigy for Effective, kepelbagaian individu merujuk kepada ciri atau sifat manusia yang mempunyai potensi sama ada memajukan keupayaan seseorang (contohnya seperti optimistik, sentiasa berani mencuba ) atau membataskan keupayaan seseorang untuk belajar di dalam persekitaran sekolah ( contohnya seperti takut melakukan, takut bertanya). Satu kajian telah dilakukan ke atas dua orang murid sekolah rendah yang berbeza pencapaian akademik. Kajian tersebut dilakukan melalui kaedah temu bual berdasarkan beberapa soalan. Seorang mempunyai tahap pencapaian akademik yang baik dan seorang lagi mempunyai pencapaian akademik yang lemah. Kedua orang murid tersebut adalah murid lelaki, berumur sembilan tahun, jantina yang sama dan berada di dalam kelas yang sama. Hasil dapatan daripada sesi temu bual, terdapat beberapa faktor yang telah mempengaruhi pencapaian akademik kedua orang murid tersebut. Antaranya, faktor personaliti, gaya kognitif dan gaya belajar, kesihatan, jantina dan lokasi/tempat tinggal murid. Justeru itu, beberapa langkah perlu diambil oleh guru untuk mengatasi masalah pencapaian akademik kedua orang murid tersebut. Pertama, kaedah kumpulan, pembelajaran koperatif, memberi peneguhan positif dan negatif, mempelbagaikan strategi pengajaran dan pembelajaran serta mempelbagaikan bahan bantu mengajar.

2.0 Kajian Literatur Menurut Carl Jung personaliti terbahagi kepada tiga jenis iaitu ekstrovert, introvert dan ambivert. Murid yang memilikki ciri-ciri ekstrovert iaitu suka bergaul, cepat mengeluarkan pendapat, mudah mesra, kreatif dan bersikap lebih terbuka mempunyai pencapaian akademik yang lebih baik. Menurut Honey dan Mumford (1992) dengan mengenalpasti gaya pembelajaran individu, ia bukan sahaja hanya dapat mengeksploitasi gaya pembelajaran yang diamalkan oleh individu malahan dapat meningkatkan potensi seseorang dalam proses pembelajaran. Menurut Maccoby dan Jacklin (1974) pelajar perempuan lebih baik daripada kecerdasan lisan atau bahasa, sementara pelajar lelaki pula lebih baik dari segi kecerdasan ruang. Ini bermakna pelajar perempuan lebih baik di dalam perbendaharaan kata, tugasan mengeja perkataan dan membaca. Sementara, pelajar lelaki pula lebih baik di dalam tugasan membaca peta, teka silang kata atau tugasan berkaitan ruang. Pelajar lelaki turut mempunyai pencapaian akademik yang cemerlang dalam mata pelajaran matematik , contohnya dalam menyelesaikan tugasan geometri. 3.0 Faktor-faktor mempengaruhi Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pencapaian akademik murid. Antaranya faktor personaliti, gaya kognitif dan gaya belajar, jantina, kesihatan dan lokasi atau tempat tinggal. 3.1 Personaliti Setiap murid mempunyai personaliti yang tersendiri. Faktor personaliti memainkan peranan penting dalam mempengaruhi pencapaian akademik seseorang pelajar (Eysenck 1979). Menurut ahli psikologi, personaliti merangkumi pemikiran, persepsi, nilai, sikap, watak, keupayaan, kepercayaan, kecerdasan, motivasi, kebiasaan dan sebagainya. Menurut Carl Jung personaliti terbahagi kepada tiga jenis iaitu ekstrovert, introvert dan ambivert. Murid yang memiliki ciri-ciri ekstrovert iaitu suka bergaul, cepat mengeluarkan

pendapat, mudah mesra, kreatif dan bersikap lebih terbuka mempunyai pencapaian akademik yang lebih baik. Pelajar sekolah rendah didapati lebih ekstrovert serta mampu memperolehi pencapaian akademik yang cemerlang (Elliot,1972;Anthony,1977 dan Riding 1979). Murid yang peramah, suka bergaul dan ceria mudah mendapat ramai kawan. Ini dapat meningkatkan pencapaian akademik apabila mereka dapat belajar secara berkumpulan. Pada kebiasaannya, murid akan menjadi baik dan berjaya apabila mereka bersahabat dengan rakan yang baik dan rajin. Jika mereka bersahabat dengan rakan yang tidak bermoral maka mereka turut gagal mengekalkan kejayaan yang dicapai sebelumnya ( Sulaiman, 1996 ). Ini bermaksud seseorang murid yang mempunyai kecemerlangan dalam bidang akademik akan menjadi sebaliknya jika berkawan dengan rakan-rakan yang mempunyai sikap yang malas dan tidak suka kepada sesuatu kejayaan dalam bidang akademik. Hal ini kerana, seseorang rakan itu dapat mempengaruhi rakan yang lain untuk mengikuti jejaknya. Faktor personaliti ini dapat disokong oleh Teori Sigmund Freud bahawa perkembangan personaliti manusia terbahagi kepada tiga iaitu ego, id, dan superego. Murid yang berkebolehan dan pintar cerdas kognitif dalam pencapaian akademik tergolong dalam personaliti ego. Ego ialah realiti komponen psikologi yang mengutamakan realiti dan pemikiran logik. Murid yang memiliki elemen ego penuh dengan persepsi, inginkan kemajuan dan boleh menyesuaikan fungsinya mengikut keadaan semasa. Manakala, murid yang mempunyai personaliti id ialah murid yang mementingkan keseronokkan, tidak rasional dan penuh dengan orientasi berkehendakkan kepuasan. Murid superego pula lebih menyerupai hati nurani atau conscience seseorang individu. Murid ini mempunyai kedua-dua personaliti ego dan id. 3.2 Gaya belajar dan gaya kognitif Gaya kognitif ialah cara individu mempersepsi maklumat mengenai persekitarannya. Sementara, gaya belajar merujuk kepada pendekatan individu kepada cara belajar yang digemarinya. Menurut Honey dan Mumford (1992) dengan mengenalpasti gaya pembelajaran individu, ia bukan sahaja hanya dapat mengeksploitasi

gaya pembelajaran yang diamalkan oleh individu malahan dapat meningkatkan potensi seseorang dalam proses pembelajaran. Gaya belajar yang bersesuaian dengan diri seseorang murid adalah salah satu penentuan ke arah kecekapan dan kebolehan mengasimilasikan ilmu yang dipelajari dengan cemerlang dan berkesan. Gaya pembelajaran yang sesuai penting untuk meningkatkan pencapaian akademik pelajar. Ini kerana, cara yang bersesuaian dengan ciri-ciri pembelajaran akan menyebabkan pelajar di semua peringkat lebih bermotivasi dan seterusnya akan meningkatkan pencapaian akademik (Chambers, 1991). Faktor ini turut disokong oleh Herman Witkin dan Gooddenough (1977) yang memperkenalkan gaya bebas medan dan bersandar medan. Antara ciri-ciri pelajar gaya bebas medan ialah , suka berinteraksi secara formal dengan guru, matlamat pembelajaran daripada punca dalaman dan suka merancang sendiri cara pembelajaran. Manakala,ciriciri pelajar bersandar medan ialah suka berinteraksi secara informal dengan guru, matlamat pembelajaran daripada punca luaran iaitu ibu, bapa atau guru dan suka pembelajaran terancang dan berstruktur. Oleh yang demikian, pelajar yang mempunyai ciri bersandar medan mempunyai pencapaian akademik yang lebih cemerlang berbanding pelajar bebas medan. Pencapaian akademik murid yang berbeza turut merujuk kepada gaya kognitif impulsif dan reflektif. Menurut Slavin (1997) gaya impulsif merujuk seseorang yang gemar memberi respons secara tepat, yang biasanya tidak menitikberatkan ketepatan. Pelajar impulsif suka membuat kerja dengan cepat, tetapi membuat kesilapan kerana belajar mengikut gerak hati. Manakala, pelajar reflektif seseorang yang sentiasa menganalisis diri dan pemikiran sendiri. Pelajar reflektif lambat menyiapkan tugasan tetapi kurang membuat kesilpan. Mereka lebih mementingkan ketepatan jawapan atau kesempurnaan tugasan daripada menepati masa yang ditetapkan. Perasaan kurang yakin diri ini menyebabkan mereka lambat menyiapkan tugasan. 3.3 Kesihatan Murid yang sihat sentiasa riang, cerdas, suka bertanya dan dapat mengikuti pengajaran dan pembelajaran guru dengan baik. Manakala, murid yang tidak sihat kelihatan lemah, kurang bertenaga, tidak menumpukan perhatian di dalam kelas dan tidak

mempunyai ramai kawan. Selain itu, murid lemah kerana menghadapi masalah kesihatan seperti asthma, talassemia, hepatitis B dan sebagainya. Penjagaan kesihatan merupakan salah satu tanggungjawab penting kepada murid. Kesihatan fizikal dan kesejahteraan mental akan membolehkan murid mengikuti pelajaran dengan baik dan sempurna. Pemakanan yang tidak mencukupi sama ada dari segi kuantiti ataupun kualiti boleh melambatkan proses kematangan. Kekurangan pemakanan yang seimbang boleh menggangu pola-pola pertumbuhan kerana kurangnya pengambilan vitamin, mineral dan protein. Dengan pengabaian tersebut, keupayaan fizikal dan mental murid-murid tersebut agak terbatas dan lemah menyebabkan tumpuan mereka terhadap pembelajaran adalah lemah. Keadaan ini menyumbang kepada kemerosotan pencapaian akademik dalam mata pelajaran yang dipelajarinya. Faktor ini turut disokong dengan adanya Teori Hirarki Keperluan Maslow. Keperluan Fisiologi merupakan peringkat keperluan yang paling asas. Keperluan ini adalah penting bagi kehidupan sesuatu organisme, apatah lagi manusia. Keperluan asas ini merangkumi apa yang diperlukan untuk diri atau fizikal seseorang seperti keperluan mendapatkan makanan, minuman dan tempat tinggal. Oleh itu, dalam konteks pendidikan murid-murid yang kurang mendapat makanan tidak dapat menumpukan perhatian yang sepenuhnya terhadap pelajaran mereka. Ini kerana kesan daripada kekurangan keperluan ini akan mengakibatkan kesihatan murid terganggu atau terjejas. 4.0 Jantina Pengaruh jantina adalah amat besar dalam mempengaruhi pencapaian akademik seseorang individu. Jantina boleh mempengaruhi individu dalam berbagai cara dan keadaan contohnya dalam cara berpakaian, berfikir, kesopanan, sikap, personaliti dan juga dalam pencapaian akademik (Campbell dan Clewell 1999). Menurut Maccoby dan Jacklin (1974) pelajar perempuan lebih baik daripada kecerdasan lisan atau bahasa, sementara pelajar lelaki pula lebih baik dari segi kecerdasan ruang. Ini bermakna pelajar perempuan lebih baik di dalam perbendaharaan kata, tugasan mengeja perkataan dan membaca. Sementara, pelajar lelaki pula lebih baik

di dalam tugasan membaca peta, teka silang kata atau tugasan berkaitan ruang. Pelajar lelaki turut mempunyai pencapaian akademik yang cemerlang dalam mata pelajaran matematik , contohnya dalam menyelesaikan tugasan geometri. Faktor ini turut disokong oleh Teori Kecerdasan Pelbagai oleh Howard Gardner. Pencapaian akademik murid perempuan lebih baik daripada murid lelaki kerana murid perempuan mempunyai kecerdasan verbal linguistik. Menurut Howard Gardners, (1983), seseorang yang mempunyai kecerdasan verbal-linguistik mampu memahami, bertutur, menulis pelbagai jenis bahasa dan mampu menguasai bahasa asing dengan baik dan fasih Oleh itu, murid perempuan dikatakan memiliki kecerdasan verbal linguistik kerana cemerlang pada peringkat persekolahan dalam bidang bahasa. Murid perempuan sering melibatkan diri dalam pertandingan berkaitan bahasa, meminati ilmu falsafah dan isu-isu sosial dan suka membaca bacaan yang luas serta membaca dengan pantas. 5.0 Lokasi atau tempat tinggal Murid yang tinggal dan membesar di kawasan persekitaran yang sihat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan dirinya. Menurut Papalia (2001) persekitaran merupakan perkara yang bukan genetik yang mempengaruhi seseorang individu. Ini dapat dilihat melalui asuhan dan interaksi dengan kedua orang ibu bapanya, pengaruh adik-beradik, ahli keluarga lain, guru, kawan-kawan, bahan media cetak dan media elektronik serta bahan daripada komputer. Menurut Baumrind ( di dalam Santrock, 2001), terdapat empat bentuk asuhan keluarga iaitu authoritarian, autoritatif, mengabaikan dan indulgent. Ibu bapa yang mengamalkan bentuk asuhan keluarga autoritatif dapat membantu pencapaian akademik murid-murid di sekolah. Ini kerana, ibu bapa autoritatif adalah ibu bapa yang memberikan kebebasan yang terbatas kepada anak mereka. Antara ciri ibu bapa autoritatif ialah menggalakkan anak-anak berdikari di samping memberi sedikit kawalan ke atas tingkah laku mereka dan anak-anak bebas berkomunikasi secara lisan dengan ibu bapa yang bersifat menyokong dan membantu perkembangan anak-anak mereka. Oleh yang demikian, anakanak yang dibesarkan dengan cara asuhan autoritatif ini menunjukkan tingkah laku bersosial yang baik.

Faktor ini turut disokong dengan Teori Perkembangan Ekologi Bronfenbrenner. Mengikut Urie Bronfenbrenner (1917) terdapat lima sistem yang mempengaruhi ekologi iaitu sistem mikro, sistem meso, sistem ekso, sistem makro dan sistem krono. Sistem mikro adalah seting di mana seseorang individu menghabiskan masa bersama-sama keluarga, rakan sebaya, berada di sekolah atau berada di kawasan setaman atau sekampung. Di dalam sistem ini, individu mempunyai hubungan yang langsung dengan ibu bapa, adik beradik, guru, rakan sebaya, jiran dan lain-lain. Justeru itu, murid yang tinggal di dalam ekologi sistem mikro dapat membesar dengan sihat dan sekaligus dapat meningkatkan pencapaian akademiknya. Ini kerana kawasan persekitarannya telah membantu menjadikannya murid yang seimbang dari segi intelek, rohani, emosi dan jasmani. 5.0 Langkah-langkah mengatasi Antara langkah-langkah mengatasi yang boleh diambil ialah mengadakan kaedah kumpulan, pembelajaran, peneguhan positif dan negatif, mempelbagaikan strategi pengajaran dan pembelajaran serta mempelbagaikan bahan bantu mengajar. 5.1 Kaedah kumpulan Di dalam sesebuah kelas terdapat beberapa orang murid yang mempunyai tahap keupayaan yang berbeza-beza. Oleh itu, guru boleh menggunakan kaedah kumpulan untuk menjalankan aktiviti pengajaran dan pembelajaran berdasarkan tahap keupayaan murid. Ini dapat memudahkan guru menyediakan latihan atau bahan sumber pengajaran dan pembelajaran. Guru boleh mengasingkan murid yang lemah, sederhana dan pandai dalam kumpulan yang ditetapkan. Dengan cara ini, guru dapat memantau prestasi setiap kumpulan berdasarkan tahap keupayaan dan kecerdasan murid-murid tersebut. Aktiviti pengajaran dan pembelajaran juga tidak membebankan murid kerana guru menggunakan aras yang berbeza untuk setiap kumpulan.Guru juga perlu membuat carta kemajuan dan rekod profil untuk setiap murid-muridnya. Hasil pemerhatian guru dan pencapaian murid perlu dicatat dari masa ke masa.

5.2 Pembelajaran Koperatif Pembelajaran koperatif ialah pembelajaran di dalam kumpulan heterogenius di mana biasanya terdapat murid cerdas dan lambat. Di dalam aktiviti pembelajaran ini, murid cerdas dikehendaki membantu murid lemah. Murid yang cerdas akan bersungguhsungguh membantu murid yang lemah kerana markah yang diperoleh setiap individu di dalam kumpulan akan menjadi markah kumpulan. Secara tidak langsung, dapat memupuk semangat bekerjasama apabila setiap kumpulan bersaing satu sama lain. Kaedah pengajaran ini adalah menggunakan idea perancah (scaffolding) dalam Teori Perkembangan Kognitif Vygotsky, di mana murid cerdas akan membimbing pelajar lemah di dalam zon perkembangan proksimal. Ini kerana, ada kalanya pengajaran rakan sebaya lebih berkesan daripada guru, kerana pemikiran lateral boleh digunakan oleh pelajar yang cerdas ini. 5.3 Peneguhan positif dan negative Semasa berlakunya aktiviti pengajaran dan pembelajaran di dalam kelas, guru hendaklah memberi peneguhan positif kepada murid yang menunjukkan tingkah laku yang baik. Murid-murid akan berasa dihargai apabila dipuji oleh guru. Guru boleh membuat peneguhan positif dengan mengatakan bagusapabila murid dapat memberi jawapan yang betul ketika sesi soal jawab di dalam kelas. Peneguhan positif juga boleh diberikan dengan memberikan simbol bintang pada buku latihan murid kerana dapat menyiapkan kerja dengan tulisan yang kemas dan cantik. Manakala, peneguhan negatif untuk mengelakkan tingkah laku yang yang tidak disukai. Contoh, guru yang hendak mengelakkan muridnya membuat bising akan mengatakan bahawa, Saya akan membenarkan murid yang telah menyiapkan kerja keluar rehat lebih awal. Oleh itu, murid akan menyiapkan kerja yang diberikan untuk keluar rehat lebih awal. Selain itu, guru juga boleh menggunakan prinsip Premack atau grandmothers rule, iaitu dengan menyatakan , Murid yang membuat kerja dengan tulisan yang cantik dan kemas akan dibenarkan membaca komik Naruto. Ini bermakna murid akan membuat latihan yang diberikan dengan teliti untuk mendapatkan sesuatu yang disukainya.

5.4 Mempelbagaikan strategi pengajaran dan pembelajaran Strategi dan kaedah pengajaran guru berfungsi sebagai satu panduan pengajaran ke arah keberkesanan pengajaran dan pembelajaran guru di dalam kelas. Guru perlu mempelbagaikan aktiviti pengajaran dan pembelajaran untuk menarik minat murid supaya dapat mengikuti pengajaran dan pembelajaran sehingga tamat. Antaranya, kuiz, perbincangan, percambahan idea, lakonan, simulasi, kaedah penyoalan, projek dan lawatan. Guru juga boleh menngunakan pelbagai soalan bagi mengetahui tahap pencapaian dan kebolehan muridnya. Penyoalan boleh dilakukan dalam bentuk pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan penilaian. Contoh, guru boleh memulakan pengajaran dan pembelajaran di dalam kelas dengan memulakan set induksi menggunakan tayangan video, bercerita, bernasyid dan sebagainya. Secara langsung dapat menggalakkan penglibatan murid-murid dan meningkatkan motivasi untuk belajar.

3.5 Mempelbagaikan bahan Bantu mengajar Guru perlu menggunakan pelbagai bahan bantu mengajar seperti penyampaian maklumat melalui transperansi, laman web atau pencarian internet, carta dan lain-lain lagi. Ini adalah sesuai kerana di dalam sesebuah kelas ada murid yang peka kepada audio, ada yang tertarik kepada visual dan yang tertarik kepada kinestetik. Pembelajaran melalui akhbar di dalam bilik darjah adalah satu cara pengajaran yang boleh merangsang minda murid berfikir, kerana terdapat banyak pengetahuan yang boleh didapati di dalam surat khabar tersebut. Pembelajaran berbantukan komputer juga dapat merangsang minat murid untuk belajar. Soalan-soalan yang diberikan adalah mengikut aras soalan daripada yang mudah hingga susah. Oleh itu, murid yang lemah, sederhana dan pandai dapat menjawab soalan mengikut tahap keupayaan masing-masing. Pembelajaran berbantukan komputer amat menarik digunakan kerana mengandungi elemen-elemen visual grafik yang dapat menarik perhatian murid contohnya animasi kartun.

4.0 Kesimpulan Pencapaian akademik murid yang berbeza adalah disebabkan oleh faktor personaliti, gaya kognitif dan gaya belajar, jantina, kesihatan dan faktor lokasi. Ini kerana setiap murid mempunyai perbezaan individu tersendiri. Oleh itu, setiap guru perlu mengenalpasti apakah tahap kecerdasan murid di dalam kelas. Ini untuk memudahkan guru menjalankan aktiviti pengajaran dan pembelajaran mengikut tahap keupayaan seseorang murid itu. Langkah-langkah mengatasi yang boleh di ambil oleh guru ialah mengaplikasikan kaedah kumpulan, pembelajaran koperatif, memberi peneguhan positif dan negatif, mempelbagaikan strategi pengajaran dan pembelajaran serta mempelbagaikan bahan bantu mengajar. Guru juga perlu mengenalpasti dan memahami setiap masalah yang berlaku pada murid-muridnya. Keprihatinan dan kerjasama guru membantu murid yang mengalami masalah perbezaan individu ini akan dapat melahirkan modal insan yang cemerlang suatu hari nanti. Ini sejajar dengan hasrat Falsafah Pendidikan kebangsaan bahawa modal insan yang dilahirkan haruslah seimbang dari segi intelek, rohani, emosi dan jasmani. Guru bukan sahaja menyampaikan ilmu pengajaran dan pembelajaran di dalam kelas malah memainkan peranan amat penting iaitu mendidik dan membimbing murid menjadi insan yang berguna, cemerlang, gemilang dan terbilang pada masa hadapan.

TEORI HIERARKI KEPERLUAN MASLOW Abraham Maslow dilahirkan pada 1 April 1908 di Brooklyn, New York dan meninggal pada tahun1970 di usia 62 tahun kerana sakit jantung. Abraham Maslow dibesarkan dalam sebuah keluarga Yahudi dari Rusia dan merupakan anak sulung daripada tujuh orang adik-beradik. Hubungan Maslow dengan kedua orang tuanya tidak rapat sewaktu mudanya. Semasa kanak-kanak dan remaja Maslow menderita dengan perlakuan kedua orang tuanya terutama ibunya. Beliau hidup miskin dan mempunyai pendidikan yang rendah. Sewaktu kecil kehidupan Maslow amat susah. Pengalaman kehidupannya tidak menyeronokan, penuh dengan kekecewaan dan rasa kesunyian. Beliau kurang mendapat kasih sayang daripada ibu bapanya dan sering disingkirkan oleh kawan-kawannya. Masalah persekitaran di luar rumah dan faktor keluarga banyak mempengaruhi kehidupannya. Keluarganya amat berharap Maslow berjaya dalam bidang pelajaran terutamanya dalam jurusan undang-undang tetapi beliau tidak meneruskannya malah beralih ke bidang psaikologi. Apabila meningkat dewasa beliau telah melanjutkan pelajarannya di City College of New York(CCNY) dalam jurusan undang-undang. Namun beberapa tahun kemudian, beliau telah bertukar ke Universiti of Wisconsis kerana lebih berminat dalam jurusan psaikologi. Universiti of Wisconsis. Hasil daripada kelulusan itu beliau telah mendapat MA pada tahun 1931 dan phD pada tahun 1934 dalam bidang psaikologi di Beliau juga telah menjadi The chair of psychology Sepanjang menjadi ahli Department di Brandeis dari tahun 1951 hingga 1969.

psaikologi beliau telah berjaya menulis buku The Organism. Beliau telah dilantik sebagai Presiden Pertubuhan Psaikologi Amerika pada tahun 1969. Maslow adalah merupakan pelopor di bidang Psaikologi Humanistik. Teorinya amat terkenal sehingga ke hari ini tentang kaedah heiraki. Abraham Maslow melihat individu sebagai sesuatu yang berintergrasi dan penyusunan keseluruhan. Contohnya seorang insan yang lapar, ianya bukan sebahagian daripada individu tersebut sebaliknya keseluruhan diri individu menunjukkan rasa lapar. motivasi. Teori Maslow ini ada berkaitan dengan personaliti dan menitikberatkan beberapa andaian yang berkaitan dengan Beliau menekankan keseluruhan diri individu bergerak, bukan hanya Pendekatan Humanistik melibatkan teori-teori yang sebahagian daripada individu.

melihat kepada nilai-nilai kemanusiaan dalam perkembangan potensi individu.

Pendekatan Humanistik mementingkan pendekatan moral dan potensi individu. Konsep Humanistik sangat penting kerana ia melihat beberapa aspek iaitu dari segi nilai manusia, hak individu, tindakan diri dan harga diri dalam menentukan sesuatu tindakan yang diambil. Pendekatan Humanistik berpendapat pembelajaran manusia bergantung kepada emosi dan perasaannya. Setiap individu mempunyai potensi dan keinginan mencapai kecemerlangan kendiri. Dalam Teori Hieraki Keperluan Maslow menerima tentang adanya tenaga manusia untuk berkembang dengan sihat dan mampu mencapai kesempurnaan. Abraham Maslow memandang manusia dengan penuh optimistik. Teori ini dikenali sebagai Teori Hieraki Keperluan. Beliau berpendapat bahawa perkembangan personaliti atau sahsiah individu banyak bergantung kepada keperluan yang paling dominan pada dirinya. Pada tahun 1954 Teori Hieraki Abraham Maslow mula diperkenalkan setelah terbit bukunya yang berjudul Mativation and Personality. Abraham Maslow menganggap motivasi sebagai sesuatu yang kompleks di mana tingkah laku luaran yang diperlihat oleh manusia. Beliau juga menganggap individu akan terus bermotivasi oleh kerana sesuatu matlamat. Matlamat ini dianggap sebagai satu keperluan yang perlu dipenuhi oleh semua manusia tanpa mengambil kira budaya, persekitaran dan perbezaan generasi. Abraham Maslow melihat manusia dengan pandangan optimistik. Kajian Maslow adalah terhadap kesihatan psaikologi berbanding penyakit, tentang perkembangan manusia berbanding kejumudan, tentang potensi dan kebaikan manusia berbanding kelemahan manusia. Setiap individu memiliki kebebasan dan dengan kebebasan yang dimiliki akan menentukan individu untuk mencapai kesempurnaan serta dapat mencapai makna kehidupan yang sebenar. Kebebasan adalah tanda manusia sempurna, manusia boleh memilih yang mana baik dan mana yang buruk bagi memenuhi keperluan serta memperkembangkan potensinya. Keperluan adalah diwarisi tetapi tingkah laku untuk mencapainya adalah dipelajari. Personaliti adalah ditentukan melalui faktor interaksi antara alam dan kehidupan serta asuhan sejak kecil, warisan dan persekitaran, faktor personal dan persekitarannya. Personaliti manusia adalah unik dan Maslow berpendapat sungguhpun motivasi dan keperluan itu adalah berbeza di antara satu sama lain kerana tingkah laku dipelajari. Keadaan ini menyebabkan tingkah laku manusia tidak sama. Zaman di awal kanak-kanak adalah penting dalam membentuk perkembangan personaliti

seseorang tetapi beliau percaya manusia mempunyai potensi untuk menguruskan kehidupannya. Manusia akan lebih produktif dan lebih gembira jika dia dapat Beliau tidak menafikan akan mempelajari dan menggunakan segala potensi ini.

kewujudan kejahatan walaupun pada dasarnya warisan manusia adalah baik. Maslow berpendapat kejahatan bukanlah sebahagian dari kehidupan tetapi disebabkan oleh persekitaran yang tidak sempurna. Berdasarkan teori Abraham Maslow ini manusia itu sesungguhnya bersifat baik dan berpandangan positif, jika wujud sifat negatif seperti agresif atau egoistik itu menunjukkan tanda-tanda penyakit yang berpunca daripada rasa kecewa. Dalam had-had tertentu manusia juga bersifat bebas membuat keputusan dan memilih aktiviti yang sesuai. Personaliti yang dibincangkan oleh Abraham Maslow lebih kepada keperluan individu. Maslow sering mengaitkan perkembangan personaliti dengan motivasi. Motivasi lahir dari keperluan yang diperolehi oleh setiap individu. Maslow berpendapat sebilangan keperluan dalaman yang menggerak dan mengarahkan perlakuan yang dipamerkan oleh individu. Keperluan yang ditunjukkan oleh Maslow boleh dilihat dalam bentuk hieraki. Motivasi intrinsik mendorong manusia mencapai kejayaan dengan cemerlang dan biasanya berlaku secara spontan tanpa kawalan atau rangsangan luar. Abraham Maslow menerangkan segala keperluan ini sebagai semulajadi yang bermakna kualiti yang diperturunkan secara biologi yang kuat pengaruhnya terhadap tingkah laku. Segala keperluan ini dapat dihapuskan melalui proses pembelajaran, tuntutan budaya, ketakutan dan tidak menyetujuinya. Segala keperluan ini diwarisi sejak lahir tetapi tingkah laku untuk memenuhi segala keinginan adalah dipelajari dan menyebabkan tingkah laku ini berbeza daripada seseorang dengan seseorang yang lain. Keperluan-keperluan ini mengikut urutan dari keperluan paling utama kepada keperluan yang lemah. Keperluan di peringkat bawah sekali adalah keperluan yang mesti dipenuhi sebelum keperluan di peringkat yang lebih tinggi diberi keutamaan. Bukan kesemua keinginan ini perlu dipenuhi pada masa sama. Hanya satu keperluan yang akan mendominasikan personaliti kita. Keperluan ini adalah bergantung kepada keperluan-keperluan lain yang telah dipenuhi. Pada pendapat Maslow keutamaan keperluan ini boleh berubah-ubah ataupun bertukar mengikut situasi.

Ciri-ciri keperluan dan fungsi keperluan menurut Maslow adalah keperluan yang terletak paling bawah dalam senarai hieraki adalah keperluan yang paling perlu diberi keutamaan dan keperluan yang paling tinggi dalam hieraki adalah keperluan yang paling lemah. Keperluan yang terletak pada bahagian atas hieraki hanya timbul setelah segala keperluan fisiologi dan keperluan keselamatan dipenuhi. Pada zaman kanak-kanak Semasa remaja keperluan fisiologi dan keperluan keselamatan amat diperlukan.

keperluan kasih sayang dan penghargaan akan diperlukan. Sewaktu pertengahan umur keperluan kesempurnaan kendiri hanya akan wujud. Kegagalan memenuhi keperluankeperluan yang terletak pada bahagian bawah hieraki akan menimbulkan pelbagai masalah. Maslow menamakan keperluan peringkat bawahan ini sebagai deficit atau deficiency of needs. Keperluan peringkat atasan dapat dipenuhi atau dipuaskan maka didapati hidup akan menjadi lebih bermakna, jangka hayat akan lebih panjang dan menambah kecekapan biologi. Maslow menamakan keperluan peringkat atasan sebagai keperluan growth atau being of needs. Kepuasan memenuhi keperluan peringkat atasan memerlukan keadaan atau suasana luaran dari sudut sosial, ekonomi dan politik yang baik dan harmoni. Dengan memenuhi kepuasan peringkat bawahan tidak bergantung kepada suasana atau faktor luaran. Menurut kajian Maslow sesuatu keperluan itu tidak semestinya dipenuhi dengan sepenuhnya sebelum sesuatu keperluan lain dalam hieraki menjadi penting atau dipenuhi. Maslow menerangkan bahawa hanya 85% keperluan fisiologi yang mesti dipenuhi, 70% keperluan keselamatan, 50% keperluan penghargaan dan kasih sayang, 40% penghargaan kendiri dan hanya 10% keperluan kesempurnaan kendiri. Menurut beliau keperluan di tahap yang paling bawah ialah keperluan fisiologi harus dipenuhi terlebih dahulu sebelum seseorang individu memikirkan tahap kedua. Dengan kata lain keperluan tahap kedua tidak akan wujud jika keperluan di peringkat pertama tidak mencapai tahap kesempurnaan. Keperluan ini bersifat biologikal dan jika keperluan ini tidak dipenuhi maka keperluan-keperluan lain akan menjadi tidak penting. Keperluan ini merupakan keperluan utama yang diperlukan oleh setiap individu seperti keperluan makanan, minuman, tempat tidur, rehat, seks, pakaian dan lain-lain. Keperluan keselamatan termasuk keperluan kepada kestabilan, pergantungan, perlindungan bebas daripada rasa takut dan bimbang. Pada pendapat Maslow keperluan keselamatan sangat

penting pada peringkat kanak-kanak dan orang dewasa yang mengalami kejiwaan. Sewaktu zaman kanak-kanak rasa ketakutan pada orang yang tidak dikenali dan menunjukkan rasa kegelisahan jika ketiadaan ibunya. Kanak-kanak memerlukan rutin, kestabilan dan persekitaran yang aman. Orang dewasa pula keperluan ini dapat dipenuhi dengan kewujudan undang-undang dalam masyarakat. Ia amat menolong memenuhi keperluan ketenteraman, kedamaian, bebas dari perasaan resah dan gelisah serta boleh mengancam nyawa, fizikal dan emosi. Keadaan yang membahayakan manusia akan timbul jika gagal memenuhi keperluan ini. Keperluan kasih sayang merupakan keperluan yang diperlukan setelah segala keperluan fisiologi dan keperluan keselamatan dipenuhi. Kanak-kanak telah merasa selamat dalam persekitarannya akan mula mengalih perhatiannya kepada orang lain iaitu memerlukan kasih sayang daripada ibu bapa atau ahli keluarganya. Pada peringkat remaja keinginan kasih sayang perlu dipenuhi untuk mendapatkan penerimaan daripada sahabat dan rakan sebaya. Keadaan masyarakat yang sentiasa berubah keperluan untuk merasai diri dihargai sebenarnya sukar untuk dicapai. Individu akan memenuhi keperluan tersebut dengan pelbagai cara jika berlaku perubahan tempat tinggal, tempat kerja, tempat belajar dan sebagainya. Menurut Maslow keperluan memenuhi keinginan seks juga adalah salah satu cara bagi menyatakan kasih sayang. Sekiranya keperluan ini tidak dapat dipenuhi manusia akan rasa gelisah, kecewa dan tidak tenteram. Ia juga menyebabkan gangguan emosi. Keperluan kasih sayang ini juga akan menyebabkan manusia terus berkembang dengan sempurna terutamanya dari aspek perkembangan emosi. Keperluan penghargaan kendiri merupakan keperluan untuk mendapatkan pengiktirafan tentang diri sendiri, penghormatan daripada orang lain, rasadikenali dan mendapat kejayaan sosial. Keperluan penghargaan kendiri dibahagikan kepada dua jenis iaitu penghargaan terhadap diri sendiri dan penghargaan yang diberikan oleh orang lain. Jika keperluan penghargaan kendiri dapat dipenuhi dengan sebaiknya ia boleh membuatkan individu memiliki keyakinan diri dan lebih berdikari. Keadaan ini akan menyebabkan individu tersebut menjadi lebih produktif. Bagi mendapatkan penghargaan daripada orang lain diperlihatkan daripada keperluan untuk mendapatkan kemasyhuran, pengiktirafan, penghormatan dan sebagainya. Jika keperluan ini tidak tercapai ia akan menimbulkan masalah seperti tidak bermotivasi, berserah, sentiasa

mengharapkan pertolongan orang lain, rasa rendah diri, takut, tidak bermaya, takut dikritik oleh orang lain dan suka melihat kekurangan diri sendiri. Maslow juga menyebut terdapat perbezaan di antara keperluan di peringkat tinggi. Antaranya keperluan di peringkat tinggi wujud lewat di dalam pertumbuhan diri kita dan kewujudannya secara beransur-ansur. Oleh kerana lebih tinggi keperluan itu ianya lebih istimewa kepada individu tersebut. Keperluan fisiologi wujud sebaik sahaja individu lahir ke dunia. Keperluan penghargaan kendiri timbul di peringkat remaja dan dewasa. Manakala keperluan kesempurnaan kendiri wujud selepas pertengahan umur. Kepuasan memenuhi keperluan di peringkat tinggi akan membawa erti yang mendalam kepada diri individu tersebut seperti gembira. Keperluan di peringkat tertinggi iaitu keperluan kesempurnaan kendiri dianggap sebagai keperluan pertumbuhan. Keperluan-keperluan di peringkat rendah adalah keperluan yang semestinya dilalui oleh setiap individu bagi mengekalkan kestabilan. Abraham Harold Maslow (1908-1970) menghasilkan peringkat keperluan manusia untuk mencapai potensi keperluan-keperluan masing-masing. Peringkat keperluan ini terbahagi kepada dua bahagian iaitu keperluan kekurangan dan keperluan perkembangan. Di dalam keperluan kekurangan terdapat beberapa keperluan fisiologi, keselamatan, kasih sayang dan penghargaan yang perlu dicapai agar manusia terus bermotivasi ke arah pencapaian yang lebih tinggi. Dalam keperluan perkembangan pula, pencapaian intelek, estetika dan penyempurnaan kendiri akan tercapai apabila keperluan kekurangan dipenuhi. Kita akan cuba merealisaikan kebolehan kita agar menjadi manusia yang sempurna. Dalam heiraki Maslow implikasi terhadap guru adalah guru sebagai model peniruan. Guru menggunakan kaedah demonstrasi dengan contoh-contoh yang relevan. Di samping itu guru perlu menyediakan situasi pembelajaran tanpa gangguan dan menarik perhatian murid dengan motivasi yang sesuai. Oleh itu ia dapat mengekalkan ingatan murid dengan mendemonstrasikan langkah-langkah secara lebih sistematik. Guru perlu memberi peneguhan yang positif selepas reproduksi. Abraham Maslow ialah seorang tokoh humanistik yang mengaitkan motivasi instriktik dengan pembelajaran individu dalam teori keperluan beliau. Keperluan adalah kehendak manusia bagi menyempurnakan keadaan kekurangan, gangguan dan ketidakseimbangan dalam dirinya. Keperluan manusia dapat diklasifikasikan kepada

keperluan fisiologi dan keperluan psaikologi ialah keperluan sekunder. sebelum memenuhi keperluan sekunder.

Abraham

Maslow (1970) berpendapat individu akan memenuhi keperluan asas terlebih dahulu Maslow menjelaskan keperluan-keperluan manusia itu secara berperingkatperingkat. Peringkat keperluan yang lebih tinggi tidak mungkin diperolehi sekiranya keperluan yang lebih rendah tidak dipenuhi terlebih dahulu. Pada peringkat paling asas terdapat keperluan hayat atau keperluan fisiologi. Selepas keperluan ini dipenuhi barulah keperluan keselamatan, kasih sayang, penghargaan kendiri, penghormatan kendiri dan penyempurnaan kendiri dapat dikecapi. Peringkat tertinggi atau puncak bagi keperluan manusia adalah peringkat keperluan bagi penyempurnaan kendiri. Model Maslow berbentuk peringkat itu adalah perkembangan ontologi individu kerana setiap peringkat perkembangan perlu dilalui oleh individu. Contohnya sewaktu bayi memerlukan perlindungan keselamatan, diikuti dengan kasih sayang dan penghormatan diri. Keperluan ini terus bertambah sehingga ke peringkat penyempurnaan kendiri. Kajian Maslow mendapati semakin tinggi keperluan individu, semakin berkurangan pergantungan pada persekitaran sosial. Ini kerana individu menggunakan pengalaman lampau bagi menentukan tingkah lakunya. Pada masa ini, motivasi bergantung kepada kemahuan dalaman, kemampuan, potensi, bakat dan kreativiti impuls individu. Sementara itu persekitaran sosial adalah faktor desakan dalam mencapai kemahuan ini. Sebab itulah Maslow menamakan keperluan peringkat terbawah sebagai keperluan kekurangan dan peringkat paling tinggi sebagai peringkat perkembangan. Teori heiraki keperluan Maslow (1970) menurutnya keperluan kesempuraan kendiri mempunyai ciri-ciri manusia seperti berkemampuan melihat diri sendiri, orang lain dan alam sekeliling, mempunyai kecekapan yang tinggi, mempunyai perasaan yang sentiasa dihargai, kreatif, mempunyai ciri-ciri orang yang demokratik, mempunyai hubungan interpersonal, bersikap sopan santun, bersikap spontan, mempunyai sikap kasih-mengasihi dan pergaulan ramah. Individu yang sempurna tidak semestinya mencapai ciri-ciri kesempurnaan kendiri sekali gus. Jika individu mencapai kesemua ciricirinya ia dikenali individu unggul. Keperluan kesempurnaan kendiri berada di peringkat

paling atas. kebolehan.

Setiap individu berbeza dalam mengisi keperluan ini.

Keperluan ini

merangkumi kebolehan menggunakan

sepenuhnya potensi yang dimiliki, bakat dan

Kegagalan individu memenuhi keperluan kesempurnaan kendiri akan

menyebabkan individu rasa kehilangan atau kecewa dan tidak mempunyai kepuasan dalam kehidupannya. Insan yang berjaya mencapai peringkat ini memiliki keyakinan diri yang tinggi, kepuasan dalam kehidupan, ketenangan dan kebahagiaan dalam kehidupan. Ciri-ciri yang menunjukkan bahawa seseorang itu telah mencapai tahap kesempurnaan kendiri ialah mempunyai persepsi yang jelas tentang realiti, penerimaan terhadap diri sendiri, orang lain dan persekitaran, suka mempermudahkan dan berkecuali, berdedikasi terhadap sesuatu sebab, memerlukan kepada hak diri, menikmati pengalaman hidup walaupun mudah dan asas, minat untuk bersosial, toleransi dan dapat menerima orang lain, kreativiti dan keaslian serta penolakan terhadap tekanan sosial. Oleh yang demikian tingkah laku manusia berubah apabila terdapat kekurangan keperluan terhadap dirinya. Keperluan kesempurnaan kendiri di kalangan murid-murid adalah amat penting untuk mengelakkan berlakunya kemerosotan disiplin. Teori pembelajaran psaikologi humanistik mempunyai banyak pendekatan yang berbeza dan berkongsi pengajaran manusia berbeza dengan haiwan, bercirikan kesedaran mereka sebagai insan yang unik, mempunyai potensi yang unggul dan mereka sedaya upaya mengembangkan potensi tersebut sepenuhnya. Pendekatan Humanistik menekankan keseluruhan murid dengan kata lain aspek emosi dan sosial kehidupan murid. Pendekatan ini mengandaikan bahawa murid bermotivasi secara semulajadi untuk belajar, dengan syarat pengalaman pendidikan adalah bermakna. Pendekatan ini juga menekankan betapa pentingnya peranan guru dalam memberi sokongan dan mengambil berat serta bergantung lebih kepada menerangkan sebab sesuatu perkara perlu dilakukan dengan cara tertentu.Teori ini juga berpendapat pembelajaran hanya bergantung kepada emosi dan perasaan. Ia menegaskan setiap individu mempunyai cara belajar yang berbeza dengan individu yang lain. Oleh itu pengajaran dan pembelajaran hendaklah diatur mengikut kehendak dan perkembangan emosi murid-murid sendiri. Mengikut Psaikologi Humanistik mempunyai keinginan mencapai kecemerlangan kendiri, maka guru memberi bimbingan supaya potensi mereka dapat diperkembangkan lagi ke tahap optimum. Teori Humanistik mengiktiraf murid-murid adalah manusia biasa mempunyai

sikap, perasaan, emosi, kepercayaan dan harapan yang tertentu. yang dapat mematuhi kehendak individu mengikut

kendiri yang unik. emosinya.

Justeru itu, Teori Humanistik menegaskan kepentingan cara pengajaran dan pembelajaran perkembangan Humanisme mementingkan keunikan murid dan kewibawaan guru serta aspek afektif dalam proses pengajaran dan pembelajaran. Faktor penyebab kegagalan manusia mencapai kesempurnaan kendiri ialah semakin tinggi kedudukan keperluan dalam susunan hieraki semakin lemah atau semakin sukar atau tidak perlu mencapainya. Faktor corak atau amalan pendidikan diterima menyebabkan keinginan mendapatkan keperluan yang tinggi tidak timbul. Kawalan yang keterlaluan ke atas kanak-kanak . Individu tersebut takut mengembangkan potensi yang ada pada dirinya kerana takut menemui kegagalan atau melihat kekurangan yang ada pada dirinya. Teori Humanistik, Maslow memberi penekanan bahawa setiap manusia dilahirkan dengan keperluan-keperluan tertentu yang akan membolehkan seseorang itu terus membesar, berkembang dan mencapai kepada kesempurnaan. Maslow menerangkan keperluan manusia secara hieraki seperti piramid kerana mempunyai peringkat yang tersusun iaitu bermula dengan keperluan fisiologi, keperluan keselamatan, keperluan kasih sayang, keperluan penghargaan kendiri dan keperluan kesempurnaan kendiri. Bagi memenuhi keperluan ini keperluan yang paling bawah dalam hieraki adalah paling diutamakan dan mesti dipenuhi sebelum keperluan lain dipenuhi. Sekiranya keperluan di peringkat bawah tidak dipenuhi atau dipuaskan maka terjadilah masalah psaikologi pada individu tersebut. Ciri-ciri yang berbeza di antara individu menyebabkannya sebagai kendiri yang unik. Justeru itu, Teori Humanistik menegaskan kepentingan cara pengajaran dan pembelajaran yang dapat mematuhi kehendak individu mengikut perkembangan emosinya. Humanisme mementingkan keunikan murid dan kewibawaan guru serta aspek afektif dalam proses pengajaran dan pembelajaran. Faktor penyebab kegagalan manusia mencapai kesempurnaan kendiri ialah semakin tinggi kedudukan keperluan dalam susunan hieraki semakin lemah atau semakin sukar atau tidak perlu mencapainya. Faktor corak atau amalan pendidikan diterima menyebabkan keinginan mendapatkan keperluan yang tinggi tidak timbul. Kawalan yang keterlaluan ke atas kanak-kanak . Individu tersebut takut mengembangkan potensi yang

ada pada dirinya kerana takut menemui kegagalan atau melihat kekurangan yang ada pada dirinya. Teori Humanistik, Maslow memberi penekanan bahawa setiap manusia dilahirkan dengan keperluan-keperluan tertentu yang akan membolehkan seseorang itu terus membesar, berkembang dan mencapai kepada kesempurnaan. Maslow menerangkan keperluan manusia secara hieraki seperti piramid kerana mempunyai peringkat yang tersusun iaitu bermula dengan keperluan fisiologi, keperluan keselamatan, keperluan kasih sayang, keperluan penghargaan kendiri dan keperluan kesempurnaan kendiri. Bagi memenuhi keperluan ini keperluan yang paling bawah dalam hieraki adalah paling diutamakan dan mesti dipenuhi sebelum keperluan lain dipenuhi. Sekiranya keperluan di peringkat bawah tidak dipenuhi atau dipuaskan maka terjadilah masalah psaikologi pada individu tersebut.

Motivasi merupakan satu penggerak dari dalam hati seseorang untuk melakukan atau mencapai sesuatu tujuan. Motivasi juga bisa dikatakan sebagai rencana atau keinginan untuk menuju kesuksesan dan menghindari kegagalan hidup. Dengan kata lain motivasi adalah sebuah proses untuk tercapainya suatu tujuan. Seseorang yang mempunyai motivasi berarti ia telah mempunyai kekuatan untuk memperoleh kesuksesan dalam kehidupan.. Motivasi dapat berupa motivasi intrinsic dan ekstrinsic. Motivasi yang bersifat intinsik adalah manakala sifat pekerjaan itu sendiri yang membuat seorang termotivasi, orang tersebut mendapat kepuasan dengan melakukan pekerjaan tersebut bukan karena rangsangan lain seperti status ataupun uang atau bisa juga dikatakan seorang melakukan hobbynya. Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah manakala elemen elemen diluar pekerjaan yang melekat di pekerjaan tersebut menjadi faktor utama yang membuat seorang termotivasi seperti status ataupun kompensasi. Banyak teori motivasi yang dikemukakan oleh para ahli yang dimaksudkan untuk memberikan uraian yang menuju pada apa sebenarnya manusia dan manusia akan dapat menjadi seperti apa. Landy dan Becker membuat pengelompokan

pendekatan teori motivasi ini menjadi 5 kategori yaitu teori kebutuhan,teori penguatan,teori keadilan,teori harapan,teori penetapan sasaran.