Anda di halaman 1dari 16

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Dokter Keluarga Se-dunia (WONCA) telah menekankan pentingnya peranan dokter keluarga ini dalam mencapai pemerataan pelayanan kesehatan. Sistem pelayanan kesehatan perlu diarahkan agar terstruktur dan berjenjang dan ditingkatkan mutunya melalui penerapan pelayanan kedokteran keluarga strata pertama yang dapat menjamin efektifitas, efisiensi, pemerataan, dan berkesinambungan pelayanan kesehatan. Dokter keluarga yang mendapat peran utama dalam pencapaian tingkat tersebut harus memilki kompetensi yang memadai dalam pelayanan individu dan mampu mengintegrasikan pelayanan kesehatan individu, keluarga, dan komunitas. Masalah mendasar dalam mencapai pelayanan kesehatan yang optimal adalah adanya kesenjangan antara das sollen (cita-cita ideal akan pelayanan yang baik) dengan das sain(kondisi nyata yang ada dilapangan. Cita-cita model pelayanan kesehatan ideal seringkali terbentur pada kenyataan bahwa perspektif pembuat kebijakan, profesional kesehatan, institusi akademis, manajer kesehatan masyarakat dan komunitas, seringkali berbenturan karena perbedaan sisi pandang. Dalam pelayanan kesehatan sekarang terdapat beberapa karakteristik yang pertama yaitu consumer ignorance artinya dalam pelayanan kesehatan kedudukan pasien tidak sejajar dengan dokter, Hingga saat ini banyak yang menganggap bahwa transaksi antara pasien dan dokter adalah lebih kearah hubungan sosial daripada hubungan bisnis, yaitu hubungan antara orang yang memahami pengobatan terhadap penyakit dan orang yang tidak paham akan pengobatan, hubungan antara penolong dan yang ditolong. Asumsi ini menjadikan hubungan antara dokter pasien menjadi tidak simetris. Dokter menganggap dirinya dapat berbuat apasaja demi menolong pasien, sedangkan pasien harus dapat menerima semua pertolongan dokter tanpa bisa menolah. Kedua, supply induced demand, yaitu ketersediaan fasilitas dan sarana pelayanan kesehatan yang melimpah justru menyebabkan kebutuhan akan fasilitas dan sarana pelayanan tersebut akan semakin meningkat. Sebelum peralatan kedokteran modern ditemukan, dokter lebih mengandalkan keterampilan dan pengetahuan medis mereka dalam menegakkan diagnosa dan menetapkan terapi. Dengan ditemukannya peralatan kedokteran modern, para dokter menjadi cenderung

bergantung pada perlatan modern. Pemeriksaan dengan peralatan kedokteran modern saat ini seakan-akan menjadi prosedur yang harus dilakukan, bahkan dapat dikatakan cenderung berlebihan. Akibatnya biaya pelayanan akan menjadi semakin mahal. Supply induced demand terjadi akibat ketidaktahuan pasien terhadap pelayanan kesehatan yang seharusnya diterima. Pasien tidak memiliki daya pilih ataupun daya tawar yang tinggi dalam menentukan jenis pemeriksaan/tindakan yang diberikan untuk dirinya. Akibatnya, bila selama dalam proses perawatan, pasien tidak merasakan mendapatkan hasil yang sesuai yang diharapkan, maka oasien akan dengan mudah menyalahkan petugas kesehatan yang tidak melayani dengan baik. Ketidakpuasan pasien tersebut akan menimbulkan persepsi terhadap kualitas pelayanan kesehatab yang diterima. Dalam praktik kedokteran keluarrga diperlukan konsep managed care. Konsep ini terdapat kendali mutu dan kendali biaya. Sehingga dalam sistem penyelenggaraan pelayanan kesehatan berbasiskan dokter keluarga menerapkan manajemen

pengendalian utilisasi dan biaya tanpa meninggalkan mutu untuk memberikan pelayanan kesehatan yang efektif dan efisien. Pelayanan kesehatan yang bermutu sangan penting dalam praktik kedokteran keluarga, bermutu berarti memberikan pelayanan secara benar dan baik serta dapat terjangkau dan merata bagi seluruh masyarakat tanpa terkecuali.

1.2 Rumusan Masalah Bagaimana kendali mutu dalam praktik kedokteran keluarga ?

1.3 Tujuan dan Manfaat Untuk mengetahui kendali mutu dalam praktik kedokteran keluarga.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Mutu Philip. B. Crosby berpendapat bahwa : 1. Mutu adalah derajat dipenuhinya persyaratan yang ditentukan. 2. Mutu adalah kesesuaian terhadap kebutuhan, bila mutu rendah merupakan hasil dari ketidak sesuaian. Mutu tidak sama dengan kemewahan. Suatu produk atau pelayanan yang sesuai dengan segala spesifikasinya akan dikatakan bermutu, apapun bentuk produknya. Diakui bahwa ada korelasi erat antara beaya dan mutu. Mutu harus dapat dicapai, dapat diukur, dapat memberi keuntungan dan untuk mencapainya diperlukan kerja keras. Suatu sistem yang berorientasi pada peningkatan mutu akan dapat mencegah kesalahan-kesalahan dalam penilaian. Crosby mengidentifikasi 14 langkah peningkatan mutu. Kata kunci mutu: kerjakan sesuatu dengan benar sejak awal dan kerjakan tugas yang benar dengan baik.

Mutu produk dan jasa adalah seluruh gabungan sifat-sifat produk atau jasa pelayanan dari pemasaran, engineering, manufaktur, dan pemeliharaan di mana produk atau jasa pelayanan dalam penggunaannya akan bertemu dengan harapan pelanggan (Dr. Armand V. Feigenbaum)

Mutu adalah gambaran total sifat dari suatu produk atau jasa pelayanan yang berhubungan dengan kemampuannya untuk memberikan kebutuhan kepuasan (American Society for Quality Control).

Mutu adalah Fitness for use, atau kemampuan kecocokan penggunaan (J.M. Juran). Mutu adalah kesesuaian terhadap permintaan persyaratan (The conformance of requirements-Philip B. Crosby, 1979). Mutu adalah suatu sifat yang dimiliki dan merupakan suatu keputusan terhadap unit pelayanan tertentu dan bahwa pelayanan dibagi ke dalam paling sedikit dua bagian : teknik dan interpersonal (Avedis Donabedian, 1980).

Walaupun fokus utama dari setiap teori tentang "mutu" nampak ada perbedaan, namun secara umum menunjukkan persamaan bila diterapkan dalam pelayanan kesehatan. Persamaan yang bisa dipetik dari teori-teori tersebut adalah sebagai berikut: 1. Mutu dapat didefinisikan dan diukur, dengan basis spesifikasi suatu organisasi disatu sisi dan harapan pelanggan disisi yang lain. Aplikasi prinsip-prinsip bisnis kedalam pelayanan kesehatan, bisa dikembangkan. Spesifikasi menjadi pertimbangan terhadap kepuasan pelanggan. 2. Mutu itu dinamis. Mutu yang baik, tidak saja untuk dicapai kemudian diacuhkan, tetapi dikembangkan berkelanjutan. Tom Peter menyatakan bahwa mutu itu relatif. Setiap hari, setiap produk, khususnya pelayanan akan menjadi relatif baik atau relatif buruk, dan tidak pemah berdiri tegak. Ini merupakan kenyataan dalam bisnis pelayanan kesehatan, karena tidak mungkin melakukan inventarisasi suatu produk pelayanan. 3. Mutu melibatkan kompetisi tanpa batas. Crosby menyatakan mutu itu bebas, bukan pemberian. Mutu dan beaya berjalan dan berkaitan erat. 4. Mutu harus dilakukan dengan mengerjakan sesuatu yang "benar" dengan cara benar pula. 5. Mutu berhubungan dengan hasil, fokus dari semua usaha adalah untuk memperoleh hasil. Dalam pekerjaan banyak orang dibingungkan bagaimana menemukan sesuatu untuk dikerjakan, karena kurang memahami essensi mutu dan kaitannya dengan pekerjaannya.Perhatian utama semestinya dicurahkan pada apa yang telah dicapai bukan Apa yang sudah dikerjakan. Peter Drucker mendukung pendapat ini dengan penyatannya "Mutu suatu produk atau pelayanan bukan apa yang diberikan, tetapi apa yang diperoleh oleh pelanggan dan pantas untuk dibayar. Pendekatan ini juga berorientasi pada hasil. Semua penilaian terhadap mutu dalam pelayanan kesehatan di dunia, akan menjadi mubasir, bilamana hasil kinerja klinisnya tidak meningkat. 6. Mutu menjadi tanggung jawab setiap orang. Peter dan Waterman menganjurkan perhatian terhadap akontabilitas yang besar dari semua karyawan. Sikap dan pandangan bahwa "setiap anggota adalah perusahan itu sendiri" harus berlaku. O'Leary, President JCAHO, menyatakan bahwa sudah terlalu lama berlaku tradisi tidak ada suatu kelebihan yang bisa diberikan, kecuali lip service saja. Mutu adalah urusan stan kepentingan setiap orang. Komitmen harus dimulai dari

stakeholders dan merasuk pada sistem dalam organisasi. Ini semestinya menjadi agenda utama dari setiap orang dan dari sebagian besar pemikir. Seperti slogan dari Ford company "Mutu adalah satu tugas". 7. Mutu dan beaya sangat terkait, peningkatan mutu dapat menjadi kunci untuk mengendalikan pengeluaran dan peningkatan revenue, tetapi proses dari peningkatan mutu itu sendiri dapat memberikan kerugian yang hebat bila tidak dikontrol atau bila organisasi meningkatkan proses yang salah.. 8. Mutu dan kinerja merupakan kata sinonim atau mempunyai makna yang hampir sama. Garvin mendefinisikan kinerja merupakan karakteristik operasional utama dari suatu produk pelayanan. Apa yang terjadi dalarn pelayanan kesehatan adalah kurangnya pengertian terl1adap arti "mutu" dalam setiap kegiatannya. "The National Association of Quality Assurance Professional"

menggambarkan "Mutu" sebagai produk dan pendokumentasiannya berada pada tingkat prima, diterapkan berdasarkan tingkat pengetahuan terbaik dalam proses pelayanan kesehatan serta dapat dicapai pada suasana khusus. 2.2 Pengertian Mutu Pelayanan Kesehatan Mutu Pelayanan Kesehatan adalah penampilan yang pantas dan sesuai (yang berhubungan dengan standar-standar) dari suatu intervensi yang diketahui aman, yang dapat memberikan hasil kepada masyarakat yang bersangkutan dan yang telah mempunyai kemampuan untuk menghasilkan dampak pada kematian, kesakitan, ketidakmampuan dan kekurangan gizi (Milton I Roemer dan C Montoya Aguilar, WHO, 1988). Arti Mutu Pelayanan Kesehatan dari beberapa sudut pandang yaitu: Pasien, Petugas Kesehatan dan Manajer Mutu merupakan fokus sentral dari tiap uapaya untuk memberikan pelayanan kesehatan. Pasien dan Masyarakat Mutu pelayanan berarti suatu empathi, respek dan tanggap akan kebutuhannya, pelayanan harus sesuai dengan kebutuhan mereka diberikan dengan cara yang ramah pada waktu mereka berkunjung.

Petugas Kesehatan Mutu pelayanan berarti bebas melakukan segala sesuatu secara profesional untuk meningkatkan derajat kesehatan pasien dan masyarakat sesuai dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang maju, mutu peralatan yang baik dan memenuhi standar yang baik. Kepuasan Praktisioner Suatu ketetapan kebagusan terhadap penyediaan dan keadaan dari pekerja praktisioner, untuk pelayanan oleh kolega-kolega atau dirinya sendiri Manajer Bagi yayasan atau pemilik rumah sakit Mutu" adalah tingkat dimana pelayanan kesehatan pasien ditingkatkan mendekati hasil yang diharapkan dan mengurangi faktor-faktor yang tidak diinginkan (JCAHO 1993). Definisi tersebut semula melahirkan faktor-faktor yang menentukan mutu pelayanan kesehatan yaitu : 1. Kelayakan adalah tingkat dimana perawatan atau tindakan yang dilakukan relevan terhadap kebutuhan klinis pasien dan memperoleh pengetahuan yang berhubungan dengan keadaannya. 2. Kesiapan adalah tingkat dimana kesiapan perawatan atau tindakan yang layak dapat memenuhi kebutuhan pasien sesuai keperluannya. 3. Kesinambungan adalah tingkat dimana perawatan atau tindakan bagi pasien terkoordinasi dengan baik setiap saat, diantara tim kesehatan dalam organisasi . 4. Efektifitas adalah tingkat dimana perawatan atau tindakan terhadap pasien dilakukan dengan benar, serta mendapat penjelasan dan pengetahuan sesuai dengan keadaannya, dalam rangka memenuhi harapan pasien. 5. Kemanjuran adalah tingkat dimana perawatan atau tindakan yang diterima pasien dapat diwujudkan atau ditunjukkan untuk menyempurnakan hasil sesuai harapan pasien. 6. Efisiensi adalah ratio hasil pelayanan atau tindakan bagi pasien terhadap sumbersumber yang dipergunakan dalam memberikan layanan bagi pasen. 7. Penghormatan dan perhatian adalah tingkat dimana pasien dilibatkan dalam pengambilan keputusan tentang perawatan dirinya. Berkaitan dengan hal tersebut

perhatian terhadap pemenuhan kebutuhan pasien serta harapan-harapannya dihargai. 8. Keamanan adalah tingkat dimana bahaya lingkungan perawatan diminimalisasi untuk melindungi pasien dan orang lain, termasuk petugas kesehatan. 9. Ketepatan waktu adalah tingkat dimana perawatan atau tindakan diberikan kepada pasien tepat waktu sangat penting dan bermanfaat. 2.3 Dimensi Mutu Zeithmalh, dkk (1990: 23) menyatakan bahwa dalam menilai kualitas jasa/pelayanan, terdapat sepuluh ukuran kualitas jasa/ pelayanan, yaitu : 1) Tangible (nyata/berwujud) 2) Reliability (keandalan) 3) Responsiveness (Cepat tanggap) 4) Competence (kompetensi) 5) Access (kemudahan) 6) Courtesy (keramahan) 7) Communication (komunikasi) 8) Credibility (kepercayaan) 9) Security (keamanan) 10) Understanding the Customer (Pemahaman pelanggan)

Namun, dalam perkembangan selanjutnya dalam penelitian dirasakan adanya dimensi mutu pelayanan yang saling tumpang tindih satu dengan yang lainnya yang dikaitkan dengan kepuasan pelanggan. Selanjutnya oleh Parasuraman (1990) dimensi tersebut difokuskan menjadi 5 dimensi (ukuran) kualitas jasa/pelayanan, yaitu : 1) Tangible (berwujud); meliputi penampilan fisik dari fasilitas, peralatan,karyawan dan alat-alat komunikasi. 2) Realibility (keandalan); yakni kemampuan untuk melaksanakan jasa yang telah dijanjikan secara konsisten dan dapat diandalkan (akurat). 3) Responsiveness (cepat tanggap); yaitu kemauan untuk membantu pelanggan (konsumen) dan menyediakan jasa/ pelayanan yang cepat dan tepat.

4) Assurance (kepastian); mencakup pengetahuan dan keramah-tamahan para karyawan dan kemampuan mereka untuk menimbulkan kepercayaan dan keyakinan, kesopanan dan sifat dapat dipercaya yang dimiliki para staf, bebas dari bahaya, risiko atau keragu-raguan. 5) Empaty (empati); meliputi pemahaman pemberian perhatian secara individual kepada pelanggan, kemudahan dalam melakukan komunikasi yang baik, dan memahami kebutuhan pelanggan.

2.4. Bentuk Praktik Kedokteran Keluarga Bentuk praktik kedokteran keluarga secara umum dapat dibedakan atas tiga macam, yaitu : 1. Pelayanan dokter keluarga sebagai bagian dari pelayanan rumah sakit (Hospital Based) Pada bentuk ini pelayanan dokter keluarga diselenggarakan dirumah sakit. Untuk ini dibentuklah suatu unit khusus yang diserahkan tanggung jawab

menyelenggarakan pelayanan dokter keluarga. Unit khusus ini dikenal dengan nama bagian dokter keluarga (departement of family medicine). Semua pasien baru yang berkunjung ke rumah sakit, diwajibkan melalui bagian khusus ini. Apabila pasien tersebut ternyata membutuhkan pelayanan spesialistis, baru kemudian dirujuk ke bagian lain yang ada dirumah sakit. 2. Pelayanan dokter keluarag dilaksanakan oleh klinik dokter keluarga (Family clinic) Pada bentuk ini sarana yang menyelenggarakan pelayanan dokter keluarga adalah suatu klinik yang didirikan secara khusus disebut dengan nama klinik dokter keluarga (family clinic center). Pada dasarnya klinik dokter keluarga ini ada dua macam. Pertama, klinik keluarga mandiri (free-standing family clinic). Kedua, sepakat bagian dari rumah sakit tetapi didirikan diluar kompleks rumah sakit (satelite family clinic). Klinik dokter keluarga ini dapat digunakan sendiri (solo practice) atau bersamasama dalam suatu kelompok (group practice). Dari dua bentuk klinik dokter keluarga ini, yang paling dianjurkan adalah klinik dokter keluarga yang dikelola secara berkelompok. Biasanya merupakan gabungan dari 2 sampai 3 orang dokter keluarga.

Pada klinik dokter keluarga secara berkelompok ini diterapkan satu sistem manajemen yang sama. Dalam arti para dokter yang tergabung dalam klinik dokter keluarga tersebut secara bersama-sama membeli dan memakai alat-alat praktik yang sama. Untuk kemudianmenyelenggarakan pelayanan dokter keluarga yang dikelola oleh satu sistem manajemen keuangan, manajemen personalia serta manajemen sistem informasi yang sama pula. 2.4 Kendali mutu dalam praktik kedokteran keluarga Suatu pengendalian kualitas/mutu dari suatu pelayanan kesehatan dalam praktik kedokteran keluarga. Dalam praktik kedokteran keluarga bentuk praktik yang baik adalah suatu bentuk praktik yang berkelompok, karena dapat diperoleh beberapa keuntungan sebagai berikut : 1. Pelayanan dokter keluarga yang diselenggarakan akan lebih bermutu Penyebab utamanya adalah karena pada klinik dokter keluarga yang dikelola secara berkelompok, para dokter keluarga yang terlibat akan dapat saling tukar-menukar pengalaman, pengetahuan dan keterampilan. Disamping itu, karena waktu praktik dapat diatur, para dokter memiliki cukup waktu pula untuk menambah pengetahuan dan keterampilan. Kesemuanya ini, ditambah dengan adanya kerjasama tim (team work) disatu pihak, serta lancarnya hubungan dokter pasien dipihak lain akan menyebabkan pelayanan dokter keluarga yang diselenggarakan akan lebih bermutu. 2. Pelayanan dokter keluarga yang diselenggarakan akan lebih terjangkau Penyebab utamanya adalah karena pada klinik dokter keluarga yang dikelola secara berkelompok, pembelian serta pemakaian berbagai peralatan medis dan nonmedis dapat dilakukan bersama-sama (cost sharing). Lebih daripada itu, karena pendapatan dikelola bersama, menyebabkan penghasilan dokter akan lebih terjamin. Keadaan seperti ini akan mengurangi kecenderungan penyelenggaraan pelayanan yang berlebihan. Kesemuanya ini apabila berhasil dilaksanakan, pada gilirannya akan menghasilkan pelayanan dokter keluarga yang lebih terjangkau.

3. Pelayanan dokter keluarga dilaksanakan melalui praktik dokter keluarga (family practice) Pada bentuk ini, saranan yang menyelenggarakan pelayanan dokter keluarga adalah praktik dokter keluarga. Pada dasarnya bentuk pelayanan dokter keluarga ini sama dengan pelayanan dokter keluarga yang diselenggarakan melalui klinik dokter keluarga. Disini para dokter yang menyelenggarakan praktik, menerapkan prinsip-prinsip pelayanan dokter keluarga pada pelayanan kedokteran yang diselenggarakannya. Praktik dokter keluarga tersebut dapat dibedakan pula atas dua macam. Pertama, praktik dokter keluarga yang diselenggarakan sendiri (solo practice). Kedua, praktik dokter keluarga yang diselenggarakan secara berkelompok (group practice).

2.4.1

Pelayanan pada praktik kedokteran keluarga Pelayanan yang diselenggarakan pada praktik dokter keluarga banyak macamnya. Secara umum dapat dibedakan atas tiga macam, yaitu : 1. Menyelenggarakan pelayanan rawat jalan Pada bentuk ini, pelayanan yang diselenggarakan pada praktik dokter keluarga hanya pelayanan rawat jalan saja. Dokter yang menyelenggarakan praktik dokter keluarga tersebut tidak melakukan pelayanan kunjungan dan perawatan pasien di rumah atau pelayanan rawat inap dirumah sakit. Semua pasien yang membutuhkan pertolongan diharuskan datang ketempat praktik keluarga. Jika kebetulan pasien tersebut memerlukan pelayanan rawat inap, pasien tersebut dirujuk ke rumah sakit. 2. Menyelenggarakan pelayanan rawat jalan, kunjungan dan perawatan pasien dirumah Pada bentuk ini, pelayanan yang diselenggarakan pada praktik dokter keluarga mencakup pelayanan rawat jalan serta pelayanan kunjungan dan perawatan pasien dirumah. Pelayanan bentuk ini lazimnya dilaksanakan oleh dokter keluarga yang tidak mempunyai akses dengan rumah sakit.

3. Menyelenggarakan pelayanan rawat jalan, kunjungan dan perawatan pasien di rumah, serta pelayanan rawat inap di rumah sakit Pada bentuk ini pelayanan yang diselenggarakan pada praktik kedokteran keluarga telah mencakup pelayanan rawat jalan, kunjungan dan perawatan pasien di rumah, serta perawatan rawat inap di rumah sakit. Pelayanan bentuk ini lazimnya

diselenggarakan oleh dokter keluarga yang telah berhasil menjalin kerjasama dengan rumah sakit terdekat, dan rumah sakit tersebut memberi kesempatan kepada dokter keluarga untuk merawat sendiri pasiennya di rumah sakit.

Tentu saja penerapan dari ketiga bentuk pelayanan dokter keluarga ini tidak sama antara satu negara dengan negara lainnya, dan bahkan dapat tidak sama antara satu daerah dengan daerah lainnya.

Pelayanan kedokteran yang diselenggarakan pada praktik dokter keluarga memang agak berbeda dengan pelayanan kedokteran yang diselenggarakan oleh dokter umum dan atau dokter spesialis. Pelayanan kedokteran yang diselenggarakan pada praktik dokter keluarga pada umumnya antara lain : 1. Lebih aktif dan bertanggung jawab Karena pelayanan kedokteran yang diselenggarakan pada praktik dokter keluarga mengenani pelayanan kunjungan dan atau perwatan pasien dirumah , bertanggung jawab mengatur pelayanan rujukan dan konsultasi, dan bahkan apabila memungkinkan, turut menangani pasien yang memerlukan pelayanan rawat inap di rumah sakit, maka pelayanan kedokteran yang diselenggarakan pada praktik dokter keluarga umumnya lebih aktif dan bertanggung jawab daripada dokter umum.

2. Lebih lengkap dan bervariasi Kesehatan yang ditemykan pada semua anggota keluarga, maka pelayanan dokter keluarga pada umumnya lebih lengkap dan bervariasi daripada dokter umum. 3. Menangani penyakit pasien pada stadium awal Sekalipun praktik dokter keluarga dapat menangani pasien yang telah membutuhkan pelayanan rawat inap, bukan berarti praktik dokter keluarga sama dengan dokter spesialis. Praktik dokter keluarga hanya sesuai untuk penyakitpenyakit pada stadium awal saja. Sedangkan, untuk penyakit yang telah lanjut atau yang terlalu spesialistik, karena memang berada diluar wewenang dan tanggung jawab dokter keluarga, tetap dan harus dikonsultasikan dan atau dirujuk ke dokter spesialis.

Seperti yang dikatakan oleh Malerich (1970), praktik dokter keluarga memang sesuai untuk penyakit-penyakit yang masih dalam stadium dini atatu yang bersifat umum saja.

2.4.2

Kuantitas dan mutu pelayanan kesehatan Akses adalah faktor untuk menilai mutu pelayanan kesehatan dalam hubungannya dengan kuantitas pelayanan kesehatan. Bila pelayanan kesehatan tidak cukup memberi keuntungan nyata pada kesehatan dan kesejahteraan pasien, jelas pelayanan kesehatan ini tidak cukup kuantitasnya, juga berarti tidak bermutu baik. Bila pelayanan tidak diterimakan sama sekali pada pasien, maka berarti ada kegagalan pada sistem pelayanan kesehatan dan kinerja berobat pasien itu sendiri. Bila pelayanan kesehatan diterima oleh seorang pasien selama jangka waktu tertentu ( agak lama), kekosongan pelayanan kesehatan pada episode jangka waktu tertentu ini dapat dipakai sebagai kategori pelayanan kesehatan yang tidak cukup, yang berarti tidak bermutu baik. Sebaliknya bila pelayanan kesehatan yang diberikan sebenarnya tidak perlu, atatu dalam derajat tertentu berlebihan yang dapat dipastikan tidak diharapkan untuk dilakukan baik secara keseluruhan, maupun hanya sebagian, bisa disebut sebagai pelayanan

kesehatan yang tidak berguna dan tidak bermutu baik. Demikian pula bila pelayanan kesehatan tidak diperlukan tapi tidak menyakiti, pelayanan kesehatan ini juga tidak bermutu karena : Pelayanan kesehatan tersebut tidak diharapkan memberi keuntungan Pemborosan, mengurangi kesejahteraan individu maupun masyarakat melalui penyalahgunaan sumber daya waktu, dan uang sehingga mengurangi kesempatan individu pasien untuk menggunakan hal lain yang lebih bernilai bagi dirinya. Hal yang sama juga berarti untuk masyarakat. Karena pelayanan kesehatan yang berlebihan untuk beberapa orang, maka masyarakat telah berkurang alokasi kemampuannya untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi lebih banyak orang yang memerlukan.

Maka dari itu menilai kegunaan atau ketepatan dalam kuantitas pelayanan kesehatan, maka sudah termasuk penilaian mutu pelayanan kesehatan.

2.4.3 Biaya dan mutu pelayanan kesehatan Biaya dan mutu pelayanan kesehatan saling berkaitan dalam beberapa cara diantaranya melalui kaitan biaya dan kuantitas pelayanan kesehatan. Kecukupan pelayanan kesehatan yang bermutu, dan kecukupan pelayanan kesehatan memerlukan biaya. Dari segi biaya untuk mencapai pelayanan kesehatan yang bermutu harus selalu diingat kemungkinan memotong pelayanan yang tidak berguna dan memproduksi pelayanan yang lebih efisien untuk uang yang tersedia atau untuk mendapatkan mutu yang sama dengan biaya yang lebih murah. Biaya bukan merupakan faktor untuk menilai mutu pelayanan kesehatan. Namun, bisa dipakai untuk menilai mutu pelayanan kesehatan bila resiko sebagai konsekuensi pelayanan yang tidak dikehendaki dimasukkan sebagai faktor penilaian. Hal imi sesuai dengan prinsip keseimbangan kerugiannya. antara keuntungan yang diharapkan dan resikonya/

2.4.4. Metoda penjaminan mutu dalam praktik kedokteran keluarga 1. Kontrol keuangan demi kualitas 2. Penilaian klinik dan utilisasi 3. Proses kredensialisasi 4. Protokol pengobatan 5. Kajian jaminan mutu (pemecahan masalah) 6. Perbaikan mutu berkesinambungan (PMB)/ Manajemem mutu total (MMT).

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan Dalam praktik kedokteran keluarrga diperlukan konsep managed care. Konsep ini terdapat kendali mutu dan kendali biaya. Sehingga dalam sistem penyelenggaraan pelayanan kesehatan berbasiskan dokter keluarga menerapkan manajemen pengendalian utilisasi dan biaya tanpa meninggalkan mutu untuk memberikan pelayanan kesehatan yang efektif dan efisien. Pelayanan kesehatan yang bermutu sangan penting dalam praktik kedokteran keluarga, bermutu berarti memberikan pelayanan secara benar dan baik serta dapat terjangkau dan merata bagi seluruh masyarakat tanpa terkecuali. Dengan menilai kegunaan atau ketepatan dalam kuantitas pelayanan kesehatan, maka sudah termasuk penilaian mutu pelayanan kesehatan.

DAFTAR PUSTAKA

Prasetyawati, A.E. 2010. Kedokterran Keluarga. Jakarta ; Rineka Cipta Depkes RI. 2007. Kebijakan Akselerasi Pengembangan Pelayanan Dokter keluarga. Idris, F.2006. Pelayanan Dokter Berbasis Dokter Keluarga Di Indonesia. Palembang ; FK UNSRI.

Munijaya, A.G. 2004. Manajemen Kesehatan Edisi. Jakarta : Buku Kedokteran EGC WHO. 1995. Manajemen Pelayanan Kesehatan Primer. Jakarta: Buku Kedokteran EGC