Anda di halaman 1dari 24

PSIKIATRI EMERGENCY

DEFINISI Psikiatri emergency adalah gangguan akut perilaku, pikiran atau suasana hati pasien yang jika tidak diobati dengan segera dapat merugikan, baik untuk dirinya atau orang lain dalam lingkungan sekitarnya.

Bunuh Diri (Suicide) Bunuh diri adalah masalah yang kompleks dimana tidak ada satu sebab, satu alasan. Itu dihasilkan dari interaksi yang kompleks secara biologi, genetik, psikologi, sosial, budaya dan faktor lingkungan.Sangat sulit untuk menerangkan mengapa beberapa orang memutuskan untuk bunuh diri padahal orang lain yang juga dalam situasi yang mirip atau mungkin lebih parah tidak berusaha bunuh diri. Bagaimanapun juga, kebanyakan bunuh diri dapat dicegah. Bunuh diri merupakan kematian yang ditimbulkan oleh diri sendiri dan disengaja dimana bukan tindakan yang acak dan tidak bertujuan. Sebaliknya, bunuh diri merupakan jalan keluar dari masalah atau krisis yang hampir selalu menyebabkan penderitaan yang kuat. Bunuh diri merujuk kepada perbuatan memusnahkan diri karena enggan berhadapan dengan suatu perkara yang dianggap tidak dapat ditangani. Bunuh diri adalah tindakan agresif yang merusak diri sendiri dan dapat mengakhiri kehidupan dan merupakan keadaan darurat psikiatri karena individu berada dalam keadaan stres yang tinggi dan menggunakan koping yang maladaptif. Lebih lanjut menurut Keliat, bunuh diri merupakan tindakan merusak integritas diri atau mengakhiri kehidupan, dimana keadaan ini didahului oleh respon maladaptif dan kemungkinan keputusan terakhir individu untuk memecahkan masalah yang dihadapi.

Para klinikus menemukan adanya perbedaan antara bunuh diri yang asli (genuine suicide) dengan bunuh diri yang dimanipulasi (manipulative suicide). Bunuh diri asli adalah bunuh diri
1

yang dilakukan oleh orang yang benar-benar ingin mati dan tindakan yang dilakukan untuk merealisasikan bunuh dirinya tersebut, dilakukan tanpa perhitungan yang salah (miscalculation). Sementara orang yang melakukan bunuh diri yang dimanipulasi tidak sungguh-sungguh ingin membunuh dirinya, tindakan mereka (bunuh diri) adalah percobaan yang terkontrol, yang dilakukan untuk memanipulasi orang lain (Landis & Meyer, Shneidman, dalam Barlow & Durand, 2002). Lyttle (1986) juga membedakan antara bunuh diri ( suicide) dengan usaha bunuh diri (parasuicide). Wilkinson menyebutkan jika bunuh diri (suicide) sebagai tindakan fatal untuk mencederai diri sendiri yang dilakukan dalam kesadaran untuk merusak diri yang kuat atau secara sungguh-sungguh (conscious self-destructive intent). Sementara usaha bunuh diri (parasuicide) merujuk pada tindakan menyakiti diri sendiri yang dilakukan dengan pertimbangan yang mendalam yang biasanya tidak berakibat fatal. Usaha bunuh diri (parasuicide), biasanya juga digambarkan sebagai percobaan bunuh diri (attempted suicide). Heeringan (2001) menyebutkan jika perilaku bunuh diri merupakan istilah yang digunakan untuk mewakili istilah bunuh diri itu sendiri dan usaha bunuh diri sebagai suatu perbuatan yang menghasilkan kejadian fatal maupun tidak fatal. Epidemiologi Insiden bunuh diri di Amerika Serikat terjadi pada usia 15-24 tahun sedangkan dalam survey nasional baru-baru ini terhadap siswa senior sekolah lanjutan 27% dari mereka pernah memikirkan secara serius untuk bunuh diri dan salah satunya pernah mencobanya. Secara internasional, angka bunuh diri yang lebih dari 25 per 100.000 orang terjadi di Skandinavia, Swiss, Jerman, Austria, Negara-negara Eropa Timur, dan Jepang. Sedangkan yang kurang dari 10 per 100.000 orang terjadi di Spanyol, Italia, Irlandia, Mesir, dan Belanda. Tempat bunuh diri nomor satu di dunia adalah Jembatan Golden Gate di San Francisco, dengan lebih dari 800 bunuh diri sejak di buka tahun 1937. Tiap tahun kira-kira 30.000 kematian di Amerika Serikat disebabkan oleh bunuh diri. Angka tersebut adalah untuk bunuh diri yang berhasil; jumlah usaha bunuh diri diperkirakan 8 sampai 10 kali lebih besar dari angka tersebut.

Etiologi Terdapat beberapa faktor yang menjadi penyebab bunuh diri, diantaranya adalah: Faktor Sosial Teori Durkheim. Sumbangan pertama yang besar untuk penelitian pengaruh sosial dan kultural terhadap bunuh diri dilakukan pada akhir abad yang lalu oleh ahli sosiologi Perancis Emile Durkheim. Dalam upaya menjelaskan pola statistikal, Durkheim membagi bunuh diri menjadi tiga kategori sosial : egoistik, altruistik, dan anomik. Bunuh Diri Egoistik diterapkan pada mereka yang tidak terintegrasi secara kuat ke dalam kelompok sosial. Tidak adanya integrasi keluarga dapat digunakan untuk menjelaskan mengapa orang yang tidak menikah adalah lebih rentan terhadap bunuh diri dibandingkan dengan mereka yang menikah dan mengapa pasangan dengan anakanak adalah kelompok yang paling terlindung dari semua kelompok. Masyarakat perkotaan memiliki lebih banyak integrasi sosial dibandingkan dengan daerah pedesaan, jadi lebih sedikit bunuh diri. Bunuh Diri Altruistik terjadi dalam masyarakat yang mempunyai ikatan sosial yang kuat. Bunuh diri ini dimaksudkan demi kelompok, hampir seperti bunuh diri ritual Jepang Seppuku yang dilakukan ketika kekacauan melada masyarakat. Bunuh Diri Anomik terkait dengan apa yang disebut Anomie atau keadaan dimana anda tidak tahu tempat yang tepat bagi seseorang seperti menjadi tunawisma atau yatim piatu. Orang tersebut merasa tidak punya apa-apa dan ini berarti berada dalam keadaan tanpa norma dan peraturan yang membimbing dalam kehidupan sosial seharihari. Hal ini dapat menjelaskan mengapa mereka dengan situasi ekonomi yang berubah secara drastik lebih rentan dibandingkan mereka sebelum perubahan keberuntungan mereka. Anomik juga dimaksudkan pada ketidakstabilan sosial, dengan kehancuran standar dan nilai-nilai masyarakat.
3

Faktor Psikologis Teori Freud Tilikan psikologis pertama yang paling penting ke dalam bunuh diri berasal dari Sigmund Freud. Ia menggambarkan hanya satu pasien yang mencoba bunuh diri, tetapi ia melihat banyak pasien depresi. Dalam tulisannya Mourning and Melancholia, Freud menyatakan keyakinannya bahwa bunuh diri mencerminkan agresi yang dibelokkan ke dalam objek cinta yang terintroyeksi, dan ditangkap secara ambivalen.

Teori Menninger Berdasarkan konsep Freud, Karl Menninger menyimpulkan bahwa bunuh diri adalah pembunuhan yang di retrofleksikan, pembunuhan yang dibalikkan sebagai akibat kemarahan pasien kepada orang lain, yang dibalikkan pada diri sendiri atau digunakan sebagai pengampunan akan hukuman. Ia juga menggambarkan insting kematian yang diarahkan kepada diri sendiri (konsep Thanatos dari Freud). Ia menggambarkan tiga komponen permusuhan dalam bunuh diri : keinginan untuk membunuh, keinginan untuk dibunuh dan keinginan untuk mati.

Teori-teori Baru Peneliti bunuh diri kontemporer tidak yakin bahwa struktur psikodinamika atau kepribadian spesifik berhubungan dengan bunuh diri. Tetapi mereka telah menulis bahwa banyak yang dipelajari tentang psikodinamika pasien bunuh diri dari khayalan mereka seperti apa yang akan terjadi dan apa akibatnya jika mereka melakukan bunuh diri. Khayalan tersebut sering kali termasuk keinginan untuk balas dendam, kekuatan, pengendalian atau hukuman; untuk pertobatan, pengorbanan, atau pemulihan; untuk meloloskan diri atau untuk tidur; atau untuk pembebasan, kelahiran kembali, berkumpul kembali dengan orang yang telah meninggal atau untuk hidup baru. Pasien bunuh diri yang paling mungkin melakukan khayalan bunuh
4

diri adalah mereka yang telah menderita kehilangan objek cinta atau menderita cedera narsisistik, yang mengalami efek berat seperti kemarahan dan rasa bersalah, atau yang teridentifikasi dengan seorang korban bunuh diri. Dinamika kelompok mendasari bunuh diri massal seperti yang terjadi di Masada dan Jonestown.

Faktor Fisiologis Genetika Teori faktor genetik dalam bunuh diri telah diajukan. Penelitian menunjukan bahwa bunuh diri cenderung berjalan di dalam keluarga. Sebagai contohnya, pada orang yang mencoba bunuh diri ditemukan adanya riwayat bunuh diri dalam keluarga lebih banyak secara bermakna daripada orang yang tidak pernah melakukan bunuh diri. Satu penelitian terbesar menemukan bahwa resiko bunuh diri untuk sanak saudara dari pasien psikiatri hampir delapan kali lebih tinggi dibanding sanak saudara dari kontrol. Selain itu, resiko bunuh diri pada sanak saudara pasien psikiatri yang melakukan bunuh diri adalah empat kali lebih tinggi dibandingkan pada sanak saudara pasien psikiatri yang tidak melakukan bunuh diri. Neurokimia Defisiensi serotonin, diukur sebagai penurunan metabolisme 5-hydroxyindo-leacetic acid (5-HIAA), telah ditemukan dalam kelompok pasien depresi yang mencoba bunuh diri. Pasien depresi yang mencoba bunuh diri dengan cara keras (contoh, senjata api atau meloncat) memiliki kadar 5-HIAA yang lebih rendah di dalam cairan serebrospinalisnya dibandingkan pasien depresi yang tidak melakukan bunuh diri atau yang mencoba bunuh diri dengan cara yang kurang keras (overdosis zat). Beberapa penelitian terhadap binatang dan manusia telah menyatakan suatu hubungan antara defisiensi sistem serotonin sentral dan pengendalian impuls yang buruk. Beberapa peneliti telah memandang bunuh diri sebagai salah satu tipe perilaku impulsif. Kelompok
5

pasien lain yang diperkirakan memiliki masalah dengan pengendalian impuls adalah pelaku kekerasan, pembakar rumah dan mereka dengan ketergantungan alkohol. Beberapa peneliti telah menemukan pembesaran ventrikular dan elektroensefalogram (EEG) yang abnormal pada beberapa pasien bunuh diri. Sampel darah dari kelompok sukarelawan normal yang dianalisis untuk monoamin oksidase trombosit menemukan bahwa orang dengan kadar enzim yang terendah didalam trombositnya memiliki prevalensi bunuh diri delapan kali lebih besar didalam keluarganya, dibandingkan dengan orang yang memiliki kadar enzim yang tinggi.

Faktor yang terkait Adapun faktor-faktor yang terkait dengan tindakan bunuh diri adalah: 1. Jenis Kelamin Laki-laki tiga kali lebih sering melakukan bunuh diri dibandingkan wanita. Akan tetapi wanita adalah empat kali lebih mungkin berusaha bunuh diri dibandingkan laki-laki. 2. Metode Lebih tingginya angka bunuh diri yang berhasil pada laki-laki adalah berhubungan dengan metode yang digunakan dimana laki-laki menggunakan pistol, menggantung diri, atau lompat dari tempat yang tinggi. Sedangkan wanita lebih mungkin menggunakan zat psikoaktif secara overdosis atau memotong pergelangan tangannya, tetapi mereka mulai lebih sering menggunakan pistol dibandingkan sebelumnya. 3. Usia Angka bunuh diri meningkat sesuai dengan bertambahnya usia. Pada laki-laki, puncak bunuh diri adalah usia 45 tahun; pada wanita, jumlah terbesar bunuh diri yang berhasil adalah diatas 55 tahun. Orang lanjut usia kurang sering melakukan
6

usaha bunuh diri dibandingkan orang muda tetapi lebih sering berhasil. Angka untuk mereka yang berusia 75 tahun atau lebih adalah lebih dari tiga kali dibandingkan angka untuk orang muda. 4. Ras Angka bunuh diri diantara orang kulit putih adalah hampir dua kali lebih besar dari angka bulan kulit putih, tetapi angka tersebut masih diragukan, karena angka bunuh diri pada kulit hitam adalah meninggi.

5.

Status perkawinan Perkawinan yang diperkuat oleh anak tampaknya secara bermakna menurunkan risiko bunuh diri. Orang yang hidup sendirian dan tidak pernah menikah memiliki angka hampir dua kali lipat angka untuk orang yang menikah. Tetapi, orang yang sebelumnya pernah menikah menunjukan angka yang jelas lebih tinggi dibandingkan orang yang tidak pernah menikah. Bunuh diri lebih sering pada orang yang memiliki riwayat bunuh diri dalam keluarganya dan yang terisolasi secara sosial. Yang disebut bunuh diri ulang tahun ( anniversary suicide) adalah bunuh diri yang dilakukan oleh orang yang mencabut hidupnya pada hari yang sama seperti yang dilakukan oleh anggota keluarganya.

6.

Pekerjaan Semakin tinggi status sosial seseorang, semakin besar resiko bunuh diri, tetapi penurunan status sosial juga meningkatkan risiko. Pada umumnya, pekerjaan menghalangi bunuh diri. Bunuh diri lebih tinggi pada orang yang pengangguran dibandingkan orang yang bekerja. Selama resesi ekonomi dan depresi, angka bunuh diri menjadi meningkat. Selama waktu tingginya pekerjaan dan selama perang, angka bunuh diri menurun. Dokter secara tradisional dianggap memiliki risiko
7

terbesar untuk bunuh diri. Dokter psikiatri dianggap memiliki risiko yang paling tinggi. Populasi yang berada dalam risiko khusus adalah musisi, dokter gigi, petugas hukum, pengacara dan agen asuransi. 7. Kesehatan Fisik Hubungan antara kesehatan fisik dan bunuh diri sangat bermakna. Penelitian postmortem menunjukan bahwa suatu penyakit fisik ditemukan pada 25 sampai 75 persen dari semua korban bunuh diri. 50% orang dengan kanker yang melakukan bunuh diri melakukannya dalam satu tahun setelah mendapatkan diagnosis. Tujuh penyakit sistem saraf pusat yang meningkatkan risiko bunuh diri : epilepsi, sklerosis multipel, cedera kepala, penyakit kardiovaskular, penyakit Huntington, demensia, dan AIDS. Semua adalah penyakit dimana diketahui terjadi gangguan mood yang menyertai. Faktor yang berhubungan dengan penyakit dan terlibat didalam bunuh diri dan usaha bunuh diri adalah hilangnya mobilitas pada orang yang aktivitas fisiknya memiliki kepentingan pekerjaan atau rekreasional; kecacatan, terutama pada wanita; dan rasa sakit kronis yang tidak dapat diobati. Obat tertentu dapat menyebabkan depresi, yang dapat menyebabkan bunuh diri pada beberapa kasus. Diantara obat-obat tersebut adalah reserpine (Serpasil), kortikosteroid, antihipertensi (propanolol/Inderal), dan beberapa obat antikanker. 8. Kesehatan Mental Faktor psikiatrik yang sangat penting dalam bunuh diri adalah penyalahgunaan zat, gangguan depresif, skizofrenia, dan gangguan mental lainnya. Hampir 95 persen dari semua pasien yang melakukan bunuh diri atau berusaha bunuh diri memiliki gangguan mental yang terdiagnosis. Pasien yang menderita depresi delusional berada pada resiko tertinggi untuk bunuh diri sebesar 80%. 25 persen dari semua pasien yang memiliki riwayat perilaki impulsif atau tindakan kekerasan juga berada dalam resiko untuk bunuh diri. Perawatan psikiatrik sebelumnya untuk alasan apapun meningkatkan resiko bunuh diri.
8

9.

Pasien Psikiatrik Resiko pasien psikiatrik untuk melakukan bunuh diri adalah 3 sampai 12 kali lebih besar dibandingkan bukan pasien psikiatrik. Derajat resikonya adalah bervariasi tergantung usia, jenis kelamin, diagnosis, dan status rawat inap atau rawat jalan. Diagnosis psikiatrik yang memiliki resiko tertinggi untuk bunuh diri pada kedua jenis kelamin adalah gangguan mood. Relatif mudanya korban bunuh diri sebagian disebabkan oleh kenyataan bahwa dua gangguan mental kronis yang memiliki onset awal, skizofrenia dan gangguan depresif yang berat rekuren berjumlah lebih dari setengah dari semua bunuh diri tersebut.

Gangguan-gangguan yang beresiko terjadinya bunuh diri :

1.

Gangguan mood Gangguan mood adalah diagnosis yang paling sering berhubungan dengan bunuh diri. Pasien laki-laki lebih banyak yang melakukan bunuh diri dibanding pasien wanita. Kemungkinan orang terdepresi yang melakukan bunuh meningkat jika tidak menikah, dipisahkan, diceraikan, janda atau baru saja mengalami kehilangan.

2.

Skizofrenia Resiko bunuh diri tinggi diantara pasien skizofrenik; sampai 10 persen meninggal akibat bunuh diri. Usia onset skizofrenia biasanya pada masa remaja atau dewasa
9

awal dan sebagian besar pasien skizofrenik yang melakukan bunuh diri melakukannnya selama tahun-tahun pertama penyakitnya; dengan demikian pasien skizofrenia yang melakukan bunuh diri cenderung relatif muda. Gejala depresif berhubungan erat dengan bunuh diri mereka. Hanya sejumlah kecil yang melakukan bunuh diri karena instruksi halusinasi atau untuk melepaskan waham penyiksaan. Jadi, faktor resiko untuk bunuh diri diantara pasien skizofrenik adalah usia yang muda, jenis kelamin laki-laki, status tidak menikah, usaha bunuh diri sebelumnya, kerentanan terhadap gejala depresif, dan baru dipulangkan dari rumah sakit.

3.

Ketergantungan Alkohol 15 persen orang yang ketergantungan alkohol melakukan bunuh diri. Kira-kira 80 persen dari semua korban bunuh diri yang tergantung alkohol adalah laki-laki. Kelompok terbesar pasien laki-laki yang ketergantungan alkohol adalah mereka dengan gangguan kepribadian antisosial. Korban bunuh diri yang tergantung alkohol cenderung merupakan golongan kulit putih, usia pertengahan, tidak menikah, tidak memiliki teman, terisolasi secara sosial dan baru saja mulai minum.

4.

Ketergantungan Zat Lain

Penelitian di berbagai negara telah menemukan peningkatan resiko bunuh diri diantara penyalahgunaan zat. Angka bunuh diri untuk orang yang tergantung heroin kira-kira 20 kali lebih besar dibandingkan angka untuk populasi umum.

5.

Gangguan Kepribadian

10

Sejumlah besar korban bunuh diri memiliki berbagai macam gangguan kepribadian yang menyertai. Menderita suatu gangguan kepribadian mungkin merupakan suatu determinan perilaku bunuh diri dalam beberapa cara : dengan mempredisposisikan pada gangguan mental berat seperti gangguan depresif atau ketergantungan alkohol, dengan menyebabkan kesulitan dalam hubungan dan penyesuaian sosial, dengan mencetuskan peristiwa kehidupan yang tidak diinginkan, dengan mengganggu kemampuan untuk mengatasi gangguan mental atau fisik dan dengan menarik orang ke dalam konflik dengan orang disekitar mereka, termasuk anggota keluarga, dokter dan anggota staf rumah sakit. Depresi adalah berhubungan tidak hanya dengan bunuh diri yang dilakukan tetapi juga dengan usaha bunuh diri yang serius. Jika orang yang melakukan usaha bunuh diri dinyatakan sebagai memiliki maksud bunuh diri yang tinggi dibandingkan dengan mereka yang memiliki maksud bunuh diri yang rendah, mereka secara bermakna lebih banyak adalah laki-laki, berusia lebih tua, tidak menikah atau bercerai dan hidup sendirian. Kesimpulan dari korelasi tersebut adalah bahwa pasien depresi yang melakukan usaha bunuh diri yang serius lebih menyerupai korban bunuh diri dibandingkan dengan mereka yang berusaha bunuh diri.

Terapi Tidak semua pasien memerlukan perawatan di rumah sakit, beberapa dapat diobati dengan rawat jalan. Untuk menentukan apakah dimungkinkan terapi rawat jalan, klinisi harus menggunakan pendekatan klinis yang langsung meminta pasien yang diduga bermaksud bunuh diri untuk setuju menelepon segera jika mencapai titik dimana mereka tidak yakin akan kemampuan mereka untuk mengendalikan impuls bunuh dirinya. Pasien yang dapat membuat persetujuan tersebut memperkuat keyakinan bahwa mereka memiliki kekuatan yang cukup untuk mengendalikan impuls tersebut dan berusaha mencari bantuan. Jika pasien tidak dapat memenuhi komitmen ini, maka perawatan di rumah sakit menjadi indikasi yang harus diambil.

11

Menurut Schnedman, klinisi memiliki beberapa tindakan preventif praktis untuk menghadapi orang yang ingin bunuh diri seperti : 1. Menurunkan penderitaan psikologi dengan memodifikasi lingkungan pasien yang penuh dengan stress, menuliskan bantuan dari pasangan, perusahaan atau teman. 2. Membangun dukungan yang realistik dengan menyadari bahwa pasien mungkin memiliki keluhan yang masuk akal. 3. Menawarkan alternatif terhadap bunuh diri.

Keputusan untuk merawat pasien di rumah sakit tergantung pada diagnosis, keparahan depresi dan gagasan bunuh diri, kemampuan pasien dan keluarga untuk mengatasi masalah, situasi hidup pasien, tersedianya dukungan sosial dan ada atau tidaknya faktor resiko untuk bunuh diri. Dalam rumah sakit pasien mungkin menerima medikasi antidepresan atau antipsikotik sesuai dengan indikasi, terapi individual, terapi kelompok dan pasien mendapatkan dukungan sosial rumah sakit dan rasa aman. Tindakan terapeutik lain tergantung pada diagnosis dasar pasien. Sebagai contohnya, jika ketergantungan alkohol adalah masalah yang berhubungan, terapi harus diarahkan untuk menghilangkan kondisi tersebut. Tindakan yang berguna untuk terapi pasien rawat inap yang mencoba bunuh diri dan mengalami depresi adalah memeriksa barang-barang pasien dan orang yang berkunjung ke bangsal. Hal ini bertujuan untuk mencari benda-benda yang dapat digunakan untuk bunuh diri dan secara berulang mencari eksaserbasi gagasan bunuh diri. Idealnya, pasien rawat inap yang mencoba bunuh diri dan mengalami depresi harus diobati dalam bangsal yang terkunci dimana jendela dipasang terali dan ruangan pasien harus berlokasi dekat dengan tempat perawat untuk memaksimalkan pengamatan oleh staf perawat. Tim yang mengobati harus memeriksa secara berulang atau terus menerus mengawasi secara langsung. Terapi yang efektif dengan medikasi antidepresan harus dimulai. Terapi elektrokonvulsif (ECT) mungkin diperlukan untuk beberapa pasien yang terdepresi parah yang mungkin memerlukan beberapa kali pengobatan.
12

Pasien yang sedang pulih dari depresi bunuh diri berada pada resiko khusus. Saat depresi menghilang, pasien menjadi memiliki energi dan mampu untuk melakukan rencana bunuh dirinya. kadang-kadang pasien depresi dengan atau tanpa terapi secara tiba-tiba tampak damai dengan dirinya sendiri karena mereka telah mengambil keputusan rahasia untuk melakukan bunuh diri. Klinisi harus secara khusus mencurigai perubahan klinis yang dramatis tersebut, yang mungkin meramalkan usaha bunuh diri.

Terapi Psikofarmaka Seseorang yang sedang dalam krisi karena baru ditinggal mati atau baru mengalami suatu kejadian yang jangka waktunya tak lama, biasanya akan berfungsi lebih baik setelah mendapatkan tranquilizer ringan, terutama bila tidurnya terganggu. Obat pilihannya adalah golongan benzodiazepine misalnya lorazepam 3 x 1 mg sehari, selama 2 minggu. hati memberikan benzodiazepine pada pasien yang hostile, karena Hatipenggunaan

benzodiazepine yang teratur dapat meningkatkan iritabilitas pasien. Jangan memberikan obat dalam jumlah banyak sekaligus kepada pasien (resepkan sedikit-sedikit saja) dan pasien harus kontrol dalam beberapa hari. Pemberian antidepresan biasanya tidak dimulai di ruang gawat darurat, meskipun biasanya terapi definitif pasien-pasien yang mempunyai kecenderungan bunuh diri adalah antidepresan. Antidepresan boleh diberikan di instalasi gawat darurat asal dibuat perjanjian kontrol keesokan harinya secara pasti.

13

Gaduh Gelisah DEFINISI Gaduh gelisah adalah suatu keadaan yang menimbulkan tanda gejala psikomotor meningkat, yaitu: Banyak bicara Mondar-mandir Lari-lari Loncat-loncat Destruktif Bingung Afek/emosi excitement, yaitu : Marah-marah Mengancam Agresif Ketakutan Euphoria Penyebab Keadaan Gaduh Gelisah : a. Gangguan mental organik (delirium) b. Psikosis fungsional Gangguan psikotik akut Skizofrenia Keadaan mania c. Amok d. Gangguan panic e. Kebingungan post konvulsi
14

f. Reaksi disosiatif g. Ledakan amarah (temper tantrum) Strategi Umum Pemeriksaan Pasien a. Ketahui sebanyak mungkin mengenai pasien sebelum menjumpai b. Waspada mengenai ancaman kekerasan c. Perhatikan posisi diri jika berada di ruang tertutup d. Pastikan ada orang lain pada saat pemeriksaan e. Usahakan untuk mengadakan relasi sebaik mungkin dengan pasien f. Cegah pasien menciderai diri g. Cegah pasien menciderai orang lain h. Pendekatan pasien dengan sikap tidak mengancam i. j. l. Beri keyakinan pada pasien Tawarkan pengobatan Serahkan prosedur pengikatan kepada mereka yang menguasai

k. Informasikan pasien bahwa pengikatan atau pengurungan mungkin diperlukan m. Pastikan tim selalu siap menahan pasien Pemeriksaan a. Diagnosis awal pemeriksaan fisik wawancara psikiatrik pemeriksaan status mental b. mengidentifikasi faktor pencetus c. mengidentifikasi kebutuhan segera untuk segera mendapat penanganan psikiatrik untuk segera rujuk ke tempat yang paling berkompeten d. pemeriksaan laboratorium yang relevan

15

Penatalaksanaan pengikatan Fisik a. Berbicara secara meyakinkan kepada pasien untuk menghentikan perilakunya. b. Ulangi penjelasan jika tidak menghentikan perilakunya akan dilakukan pengikatan. 1. Tawarkan untuk menggunakan medikasi dari pada dilakukan pengikatan Jangan tawar-menawar dengan pasien. 2. Jangan membiarkan pasien berpikir tentang keraguan kita untuk melakukan pengikatan. 3. Lakukan pengikatan Tiap anggota gerak satu ikatan Ikatan pada posisi sedemikian agar tidak mengganggu aliran cairan IV jika diperlukan Posisi kepala lebih tinggi untuk menghindari aspirasi Lakukakan pemeriksaan vital sign tiap setiap jam Tempatkan pasien pada tempat yang mudah dilihat oleh staf 4. Lanjutkan dengan medikasi 5. Setelah pasien dapat dikendalikan dengan medikasi, mulai dengan melepaskan satu ikatan. 6. Dua ikatan terakhir harus dilakukan bersama-sama (tidak menganjurkan mengikat pasien dengan hanya satu ikatan pada anggota gerak 7. Buat catatan mengapa pasien harus diikat Farmakoterapi a. Golongan benzodiazepine Diazepam Lorazepam Clonazepam b. Golongan antipsikotik
16

Chlorpromazine Haloperidol Olanzapine Fluphenazine Untuk pasien non psikotik Golongan benzodiazepine Untuk pasien psikotik Golongan benzodiazepine Golongan antipsikotik Diazepam ampul 10 mg/2cc Pemberian inj. IM atau IV Pemberian IV hati-hati dengan depresi sistim pernafasan, berikan secara perlahan 1 ampul dalam 10 menit Dapat diulang tiap jam Chlorpromazine ampul 25mg/cc Pemberian 25-100 mg inj. IM Hati-hati hipotensi ortostatik Dapat diulang tiap jam Haloperidol ampul 5 mg/cc Pemberian inj. IM atau IV D of Ch untuk kecurigaan etiologi organic Dapat diulang tiap jam Olanzapine vial 10 mg Pemberian 5 10 mg inj. IM Dapat diulang 2 jam kemudian Maksimal dosis 20 mg/hr Maksimal u 3 hari dilanjutkan dengan p.o. Perhatian
17

a. Medikasi hanya bertujuan untuk mengontrol target symptom b. Pasien eksaserbasi akut sebaiknya diketahui obat yang sedang/terakhir dipakai, kemudian berikan obat yang sama dengan meningkatkan dosisnya. c. Pemberian golongan benzodiazepin dengan antipsikotik akan menurunkan kebutuhan dosis antipsikotik dan mengurangi efek EPS. d. Pemberian obat p.o. harus segera dimulai pada hari itu juga

Psikotik Organik
Delirium Delirium merupakan suatu ganguan metabolisme di otak yang difus di kedua belahan hemisferium yang menyebabkan terjadi perubahan kesadaran bisa secara perlahan-lahan atau mendadak mendadak dan hilang timbul (up and down). Pada Delirium bisa ditemukan gejala gangguan psikiatrik berupa gangguan kognitif secara global atau menyeluruh, antara lain, gangguan mood, persepsi dan gangguan perilaku. Sedangkan gejala neurologis yang umum berupa tremor, nistagmus, inkordinasi dan inkontinensia urin. Delirium onset mendadak (beberapa jam atau hari) berfluktuasi, dan perlangsungan singkat bila penyebab teridentifikasi dan dihilangkan. Kriteria diagnostik Delirium untuk kondisi medik umum (PPDGJ III) Gangguan Kesadaran dan perhatian Mulai kesadaran berkabut sampai koma Menurunnya kemampuan mengarahkan, memusatkan, mempertahankan dan mengalihkan perhatian Gangguan kognitif Distorsi persepsi seperti iusi, halusinasi, paling sering visual. Hendaya daya pikir seperti gangguan pikiran abstrak. Gangguan psikomotor
18

Hipo atau hiperaktif.Impulsivnees (perilaku tidak terduga).Arus pembicaran berubah (bertambah atau berkurang) Gangguan tidur Insomnia, siklus tidur terbalik (mengantuk pada siang hari) gejala memburuk pada mlam hari mimpi buruk. Gangguan emosi Depresi, cemas atau ketakutan, mudah marah, eforia, apatis atau kehilangan akal Onset singkat, perjalanan penakit berfluktuasi sepanjang hari. Berlangsung kurang dari 6 bulan.

Psikotik Fungsional Pada keadaan gaduh gelsah bila kesadaran jernih (kesadaran tidak berkabut atau menurun) maka hal ini merupakan manifestasi dari psikosis fungsional, yaitu psikosis yang tidak berhubunagn dengan gangguan organic. Psikosis fungsional yang sering memperlihatkan gejala gaduh gelisah antara lain:: 1. Gangguan Psikotik Akut 2. Skizofrenia, yaitu Furor Kataton 3. Gangguan Afektif Mania

Psikotik Akut Pasien dengan gejala psikosis sering ditemukan di bagian kegawatdaruratan psikiatrik. Menentukan sumber psikosis dapat menjadi sulit. Kadang pasien masuk ke dalam status psikosis setelah sebelumnya putus dari perawatan yang direncanakan. Pelayanan kegawatdaruratan
19

psikiatrik tidak akan mampu menyediakan penanganan jangka panjang untuk pasien jenis ini, cukup dengan istirahat ringkas dan mengembalikan pasien kepada orang yang menangani kasus mereka dan/atau memberikan lagi pengobatan psikiatrik yang diperlukan. Seseorang dapat juga sedang menderita psikosis akut. Kondisi seperti itu dapat disiapkan untuk diagnosis dengan memperoleh riwayat psikopatologi pasien, melakukan suatu pengujian status mental, pelaksanaan pengujian psikologis, perolehan neuroimages, dan memperoleh pengujian neurofisiologi lain. Berdasarkan ini, tenaga kesehatan dapat memperoleh suatu diagnosa diferensial dan menyiapkan pasien untuk perawatan. Seperti pertimbangan penanganan pasien lainnya, asal psikosis akut dapat sukar ditentukan karena keadaan mental dari pasien. Bagaimanapun, psikosis akut digolongkan sebagai keadaan yang memerlukan penanganan darurat yang segera dan penuh perhatian. Tidak adanya perawatan dan identifikasi dapat mengakibatkan bunuh diri, pembunuhan, atau kekerasan.Psikotik akut onsetnya mendadak tidak lama setelah sesudah terjadi stress psikologik yang sangat hebat sehingga menyebabkan terjadinya gangguan pada pertahanan psikologik seseorang. Kegagalan pertahanan psikologik dapat menyebabkan frustrasi, konflik, tekanan atau krisis. Stres ini terjadi mendadak dan jelas , misalnya kehilangan orang yang dicintai, kegagalan pekerjaan, kerugian atau kebangkrutan dan bencana. Keadaan ini kadang sulit dibedakan dengan Reaksi stress akut. Pada stress akut perhatain pasien dapat dialihkan sehingga dapat tenang kembali dalam waktu beberapa jam, sedangkan pada psikosis akut meskipun usaha membujuk atau mengalihkan perhatian dilakukan tetap memperlihatkan keadaan gaduh gelisah, bahkan mungkin kegaduhan dan kegelisahannya semakin hebat. Hal ini disebabkan pada psikosis akut terdapat halusinasi dan waham terutama waham persekutorik atau referensi (curiga).

Violence (Tindak Kekerasan) Tindak kekerasan adalah suatu tindakan agresi fisik yang dilakukan seseorang terhadap orang lain atau terhadap diri sendiri. Suatu tndak kekerasan bila dilakukan pada diri sendiri dengan melukai atau menyakiti diri sendiri disebut mutilasi, sedangkan untuk mengakhiri hidup sendiri disebut perilaku bunuh diri atau behavior suicide. Penyebab tindak kekerasan bisa karena
20

gangguan psikiatrik, terutama yang berhalusinasi untuk membunuh merupakan indikasi untuk rawat inap di Rumah Sakit Jiwa dan mendapat pengobatan antipsikotik. Meskipun tindak kekerasan pasien pskiatrik sulit diramalkan tapi dapat diprediksi bahwa pasien sebelumnya mempunyai riwayat ; a. Pengguna minuman beralkohol dan atau bahan narkotika. b. Ada riwayat tindak kekerasan c. Ada riwayat penyiksaan pada masa anak-anak

Pertimbangan lain kemungkinan terjadi tindak kekerasan adalah. a. Furor kataton b. Depresi agitatif c. Gangguan kepribadian ambang dan antisocial d. Adanya pernyataan pasien bahwa berniat melakukan tindak kekerasan e. Ada kesempatan atau ada cara untuk terjadi tindak kekerasan f. Laki-laki, usia muda g. Sosioekonomi sangat sederhana h. Pengendalian impuls buruk i. Ada stressor baru

Evaluasi Lindungi diri sendiri Tidak melakukan wawancara dengan pasien bersenjata
21

Tidak melakukan wawancara pasien yang beringas Tidak melakukan wawancara di ruang tertutup atau seorang diri, harus terlihat oleh petugas ruang gawat darurat psikiatri

Pengikatan tidak dilkukan seorang diri, tapi serahkan ke petugas yang memiliki ketrampilan khusus yang sudah terlatih

Wawancara tidak dilakukan di ruangan yang terdapat barang yang dapat digunakan sebagai senjata

Tidak berdekatan dengan pasien, atau yang diduga paranoid Duduk dekat pintu untuk keluar lebih cepat Tidak menentang pendapat atau menantang pasien Tidak membelakangi pasien Jangan memakai dasi Jumlah petugas ruang gawat darurat cukup untuk bertindak secara serentak dan terkoordinir.

Penatalaksanaan Menenangkan dan membujuk pasien Pengikatan Menegakkan diagnosis Bisa melibatkan aparat hukum atau polisi Terapi psikofarmaka - Haloperidol 5 mg/ im (bisa perhari atau tiap 12 jam atau tiap 8 jam)
22

- Olanzapin injeksi 10 mg im, dapat diulangi 1 jam kemudian bila pasien belum tenang. - Lorazepam 2 4 mg atau diazepam 5 10 mg iv (perlahan-lahan, 2 menit atau lebih) Hindari pemberian antipsikotik pada pasien yang memiliki riwayat kejang

23

KESIMPULAN Kondisi pada keadaan kegawatdaruratan psikiatrik meliputi percobaan bunuh diri, ketergantungan obat, intoksikasi alkohol, depresi akut, adanya delusi, kekerasan, serangan panik, dan perubahan tingkah laku yang cepat dan signifikan, serta beberapa kondisi medis lainnya yang mematikan dan muncul dengan gejala psikiatriks umum. Kegawatdaruratan psikiatrik ada untuk mengidentifikasi dan menangani kondisi ini. Kemampuan dokter untuk mengidentifikasi dan menangani kondisi ini sangatlah penting. Saran Jika menemukan anggota keluarga yang memiliki tanda prilaku percobaan bunuh diri atau prilaku menyerang sebaiknya segera bawa orang tersebut ke psikiatri atau bawa ke rumah sakit agar dapat ditangani lebih lanjut dan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

24