Anda di halaman 1dari 50

Bahaya Demam Dengue (DD) & Demam Berdarah Dengue (DBD) 03-10-2010 | Bekti-medicastore.

com Diambil dari berbagai sumber EMAIL | PRINT | RSS


Memasuki musim hujan, maka banyak penyakit yang mulai menyebar di masyarakat seperti demam berdarah, chikungunya, diare, filariasis dll. Demam berdarah & chikungunya merupakan penyakit yang disebarkan oleh nyamuk, dimana untuk demam berdarah merupakan salah satu penyakit yang banyak menelan korban di Indonesia. DKI Jakarta sendiri pernah mengalami kejadian luar biasa demam berdarah pada tahun 2007 lalu, dimana sejak bulan Januari - 8 April 2007 tercatat 10.942 kasus demam berdarah dengan jumlah kematian mencapai 41 pasien. Kematian pasien sendiri biasanya terjadi karena keterlambatan penanganannya akibat pasien datang ke rumah sakit sudah dalam kondisi yang kritis & membahayakan.

Demam dengue merupakan penyakit demam akut yang disebabkan oleh virus dengue & disebarkan melalui perantara nyamuk Aedes aegypti yang telah terinfeksi dengan virus dengue tersebut. Demam dengue sendiri terbagi menjadi 2 yaitu demam dengue (DD) & demam berdarah dengue (DBD). Demam berdarah dengue merupakan bentuk yang lebih parah dari demam dengue, dimana pendarahan & syok terkadang dapat terjadi yang berakibat pada kematian. Penyakit ini ditandai dengan timbulnya demam yang tinggi mendadak, sakit perut, muntah, & sakit kepala, dimana untuk demam berdarah dengue biasanya disertai dengan gejala lain yaitu terjadinya pendarahan yang biasanya akan muncul pada hari ke 3-5 paska demam & syok akibat pendarahan. Berikut adalah gejala lengkap demam dengue & demam berdarah dengue : Demam dengue : Demam tinggi mendadak secara terus menerus. Sakit kepala terutama dibagian dahi. Sakit di bagian belakang bola mata. Sakit pada bagian tubuh atau sendi. Mual / muntah. Muka kemerahan.

Untuk demam berdarah dengue & syok gejalanya serupa dengan gejala demam dengue, namun disertai dengan tambahan kondisi sebagai berikut : Sakit / nyeri pada ulu hati yang terus menerus. Pendarahan pada hidung, mulut, gusi atau memar pada kulit. Muntah yang terus menerus, kadang disertai dengan darah. Kotoran feses yang berwarna kehitaman, akibat terjadinya pendarahan di organ dalam. Rasa haus yang berlebihan. Kulit yang pucat & dingin.

Penurunan kesadaran & mengantuk.

Bintik-bintik merah pada pasien demam berdarah yang tidak hilang saat kulit di regangkan

Sampai saat ini belum ada pengobatan yang spesifik yang dapat mengatasi demam berdarah dengue. Meskipun demikian pengobatan secara dini akan dapat meredakan gejala yang timbul & dapat mencegah terjadinya komplikasi serta kematian. Untuk mengobati demam, sakit kepala & nyeri sendi, paracetamol merupakan obat yang di rekomendasikan oleh WHO, kemudian tranfusi darah & trombosit dapat dilakukan apabila terjadi pendarahan masif. Jika satu atau lebih gejala demam dengue atau demam berdarah dengue timbul, maka disarankan untuk segera membawa pasien ke rumah sakit, terlebih lagi setelah hari pertama & kedua paska demam yang biasanya merupakan fase kritis dari penyakit ini. Untuk mencegah terjadinya dehidrasi akibat demam maka sebaiknya berikan cairan terus menerus pada pasien, baik berupa air putih, oralit, jus buah dll. Selain itu yang penting adalah untuk menjauhkan pasien dari nyamuk supaya tidak menyebarkan penyakit tersebut kepada orang lain.

Saat ini, metode utama yang digunakan untuk mengontrol & mencegah terjadinya demam berdarah dengue adalah dengan melakukan pemberantasan terhadap nyamuk Aedes aegypti sebagai penyebar virus dengue. Nyamuk Aedes aegypti ini dapat berada di dalam rumah ataupun luar rumah. Di dalam rumah biasanya nyamuk tersebut suka bersembunyi di tempat yang gelap seperti di lemari, gantungan baju, di bawah tempat tidur dll. Sedangkan apabila di luar rumah nyamuk Aedes aegypti tersebut menyukai tempat yang teduh & lembab. Nyamuk betinanya biasanya akan menaruh telur-telurnya pada wadah air di sekitar rumah, sekolah, perkantoran dll, dimana telur tersebut dapat menetas dalam waktu 10 hari. Oleh sebab itu gerakan 3 M (menguras bak air, menutup tempat-tempat yang berisi air & mengubur barang-barang bekas yang dapat menjadi genangan air) sangat penting untuk dilakukan, bukan hanya oleh pemerintah saja melainkan oleh semua anggota masyarakat supaya nyamuk Aedes aegypti tersebut dapat dibatasi keberadaannya.

PEMERIKSAAN VIROTEC DENGUE IgG/IgM XP DALAM MENEGAKAN DIAGNOSA PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE

Disusun Oleh : Farikhah Lutfiana G0C.007.018 I.1. Latar Belakang Demam berdarah (DB) atau demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit demam yang disertai perdarahan bawah kulit, selaput hidung dan lambung, yang ditemukan di daerah tropis, dengan penyebaran geografis yang mirip dengan malaria. Penyakit ini disebabkan oleh empat serotipe virus dengue (DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4) dari genus Flavivirus, famili Flaviviridae dengan daya infeksi tinggi pada manusia. Setiap serotipe cukup berbeda sehingga tidak ada proteksi-silang dan wabah yang disebabkan beberapa serotipe (hiperendemisitas) dapat terjadi. Virus dengue ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang sebelumnya sudah menggigit orang yang terinfeksi dengue. (Soegijanto S, 2004) Nyamuk Aedes aegypti hidup dengan subur didaerah tropis dan subtropis. Perkembangan hidup nyamuk Aedes aegypti dari telur hingga dewasa memerlukan waktu sekitar 10-12 hari. Hanya nyamuk betina yang menggigit dan menghisap darah serta memilih darah manusia untuk mematangkan telurnya. Sedangkan nyamuk jantan tidak bisa menggigit/menghisap darah, melainkan hidup dari sari bunga tumbuh-tumbuhan. Umur nyamuk Aedes aegypti betina sekitar 2-3 bulan, tergantung dari suhu kelembaban udara disekelilingnya. (Rejeki, sri. Hadinegoro dan Hindra Irawan Satari.1999). Klasifikasi nyamuk Aedes aegypti Kingdom :Animalia Filum :Invertebrata Kelas :Insecta Ordo :Dipera Famili :Culicidae Subfamili :Culicinae Genus :Aedes Subgenus :Stegomiya Spesies : Aedes aegypti (women. M. 1993) Populasi nyamuk Aedes aegypti akan meningkat pesat saat musim hujan namun nyamuk ini juga dapat hidup dan berkembang biak pada bak-bak penampungan air sepanjang tahun. Satu gigitan nyamuk yang telah terinfeksi sudah mampu untuk menimbulkan penyakit dengue pada orang yang sehat, setelah tergigit nyamuk pembawa virus. Masa inkubasi akan berlangsung antara 3 sampai 15 hari sampai gejala demam dengue muncul. (Woman M.1993). Gejala demam dengue akan diawali oleh perasaan menggigil, nyeri kepala, nyeri saat menggerakan bola mata dan nyeri punggung. Kesakitan pada tungkai dan sendi akan terjadi beberapa jam sejak gejala demam dengue mulai dirasakan. Suhu tubuh akan meningkat dengan

cepat mencapai 40 derajat celcius dengan detak nadi yang normal serta tekanan darah yang cenderung turun. Bola mata akan tampak kemerahan. Kemerahan juga tampak pada wajah yang dengan cepat akan menghilang. Kelenjar pada leher dan tenggorokan terkadang ikut membesar. Setelah itu mulai muncul antibodi yang spesifik untuk penyakit dengue. (Soegijanto S, 2004) Antibodi yang muncul pada umumnya adalah IgG dan IgM, untuk Infeksi primer ditandai dengan timbulnya antibodi IgM terhadap dengue sekitar tiga sampai lima hari setelah timbulnya demam, meningkat tajam dalam satu sampai tiga minggu serta dapat dideteksi sampai tiga bulan. Antibodi IgG terhadap dengue diproduksi sekitar dua minggu sesudah infeksi. Titer IgG ini meningkat cepat, kemudian menurun secara lambat dalam waktu yang lama dan biasanya bertahan seumur hidup. Pada infeksi sekunder terjadi reaksi anamnestik dari pembentukan antibodi, khususnya dari kelas IgG dimana pada hari kedua saja, IgG ini sudah dapat meningkat tajam. (Rejeki, sri. Hadinegoro dan Hindra Irawan Satari.1999). Dalam tubuh manusia virus dengue berkembang biak didalam sel retikuloendotelial, kemudian terjadi viraemia yang diikuti dengan respon imun terhadap virus dengue baik humoral maupun seluler. Virus bersirkulasi dalam darah perifer di dalam sel monosit, sel limfosit B dan sel limfosit T. Sebagi reaksi terhadap infeksi virus, tubuh akan membuat antibodi anti-dengue, baik berupa anti netralisasi, anti-hemaglutinasi dan anti komplemen. Diduga bahwa kebocoran vaskuler pada DBD disebabkan oleh pelepasan sitokin (IL-1 dan TNF-) serta PAI oleh monosit dan pelepasan IL-2, IL-1 serta TNF- oleh limfosit T yang terinfeksi oleh infeksi virus tersebut. ( Aryati, Yolanda Probohoesodo. 2000) Penemuan virus dengue dari sampel darah atau jaringan adalah cara yang paling konklusif untuk menunjukkan infeksi dengue, meskipun demikian perlakuannya tidak mudah karena virus dengue tumbuh kurang baik di hewan atau biakan sel serta membutuhkan waktu lebih dari dua minggu untuk mendapatkan hasil yang positif. Isolasi virus merupakan cara diagnosa laboratorium yang terbaik karena hasilnya langsung akan dapat diketahui sampai pada serotipenya, namun cara ini sulit, lama dan mahal. (Rezeki Sri H. Hadinegoro , Hindra Irawan Satari . 1999) Lima uji serologi berdasarkan atas timbulnya antibodi pada penderita DBD yang terjadi setelah infeksi yaitu: 1. Uji HI (Hemaglitination Inhibition test) Uji HI merupakan uji serologi yang paling banyak dipakai secara rutin. Selain sederhana, mudah, murah juga sensitive dan hasilnya bisa dipercaya apabila dilakukan sesuai prosedur yang ada. Tapi antibodi HI akan berada di dalam darah untuk waktu yang sangat lama (> 50 thn). Hal ini menjadi masalah besar karena uji laboratorium tersebut tidak dapat memberikan hasil yang cepat, dan dapat menimbulkan keraguan atas penerapan secara umum, uji ini dalam klasifikasi dengue. 2. Uji Pengikatan Komplemen (Complement Fixation test) Uji ini tidak banyak dipakai untuk diagnosis serologi secara rutin. Selain rumit caranya juga memerlukan keahlian tersendiri. Antibodi pengikatan komplemen (CF antibody) biasanya timbul setelah antibodi HI timbul dan sifatnya lebih spesifik pada infeksi primer dan biasanya cepat menghilang dari darah. 3. Uji Neutralisasi (Neutralization tes) Uji ini merupakan uji serologi yang paling sensitif dan spesifik untuk infeksi dengue dibandingkan dengan uji serologi yang lain. Antibodi netralisasi timbul bersamaan atau sedikit lebih lambat dari antibodi HI tetapi lebih cepat dari timbulnya antibodi pengikatan komplemen.

Antibodi ini akan bertahan di dalam darah untuk waktu yang lama (>50 th). Uji netralisasi ini tidak dipakai secara rutin karena caranya sangat rumit, mahal, dan memerlukan ketrampilan khusus. 4. Uji Mac.Elisa (IgM capture enzyme-linked immunosorbent assay) Uji ini berdasarkan atas adanya antibody IgM pada serum penderita yang ditanggap oleh Goat anti Human IgM yang sebelumnya dilekatkan pada suatu permukaan yang kasar. Untuk memberikan kepastian maka pemeriksaan ulang terhadap specimen konvalasen sangat diperlukan IgM Mac-Elisa sedikit kurang sensitive dibandingkan dengan uji HI dan konplemen.

5. Uji IgG Elisa indirek Uji IgG Elisa indirek merupakan uji serelogi yang sebanding dengan uji HI karena uji ini harus menggunakan dua specimen yaitu akut dan konvalesen. Uji Elisa sangat tidak spesifik, banyak reaksi silang dengan flafirus yang lain, juga tidak dapat menentukan serotif. (Rezeki Sri H. Hadinegoro , Hindra Irawan Satari . 1999) Akhir-akhir ini beredar uji cepat dalam bentuk kit untuk mendeteksi antibodi IgM atau IgG salah satunya yaitu pemeriksaan VIROTEC DENGUE IgG/IgM XP. Pemeriksaan ini merupakan tes cepat generasi terbaru secara Immunochromatographic untuk membedakan infeksi dengue primer dan sekunder. Tes ini juga dapat mendeteksi semua serotip Dengue, yaitu 1-4. (Suroso, torry Chrishantoro.2004) I.2. Permasalahan Dari uraian latar belakang diatas terdapat permasalahan yaitu bagaimana pemeriksaan serologi Virotec Dengue IgG/IgM XP untuk deteksi kualitatif antibodi IgG atau IgM terhadap virus dengue dalam serum atau darah manusia. I.3. Tujuan Untuk mengetahui pemeriksaan serologi Virotec Dengue IgG/IgM Xp, untuk deteksi kualitatif antibodi IgG atau IgM terhadap virus dengue dalam serum atau darah manusia serta untuk membedakan antara infeksi dengue primer dan sekunder. BAB II METODE PEMERIKSAAN II.1. Bahan Pemeriksaan (Alat dan Reagen) Bahan yang digunakan dalam pemeriksaan ini antara lain Komponen Kit yang terdiri dari Tes device Virotec Dengue IgG/IgM XP, dilluent dalam dropper vial, dan plastic loops (1 l) II.2. Bahan Pemeriksaan (Sampel) Sampel yang digunakan adalah Serum atau darah manusia dari darah vena, serum atau darah manusia yang segar akan memberikan hasil yang terbaik. II.3. Prinsip Sampel apabila mengandung antibodi IgG dan atau IgM yang diteteskan pada tes devis, maka akan bergerak ke arah konjugat yaitu blue particle conjugated with purified recombinant dengue envelope protein membentuk complexes. Senyawa complexes ini akan terus bergerak ke area tes yang merupakan bagian membran, dimana masing-masing sudah dilapisi dengan purified

monoclonal anti human IgM yang diimobilisasikan pada area IgG. Selanjutnya akan terjadi ikatan sesuai dengan jenis antibody yang terdapat pada sampel ditandai dengan terbentuknya garis berwarna biru pucat pada area IgG dan atau IgM. Hal ini menunjukan hasil positif dari antibody IgG dan atau IGM.intensitas garis yang terbentuk tersebut bervariasi tergantung dari jumlah/kadar antibody yang terdapat dalam sampel. Garis warna merah pada area control menandakan bahwa tes bekerja dengan baik. II.4. Cara Kerja Pemeriksaan Verotex Dengue IgG/IgM XP 1. tes device terlebih dahulu diadaptasikan pada suhu kamar 2. sejumlah tes devis yang diperlukan disiapkan, kemudian tes devis diletakan pada tempat yang datar dan bersih 3. sampel diambil menggunakan plastic loops yang tersedia dalam kemasan, untuk serum sebanyak 1 loops (1 l) atau 2 loops (2 l) untuk darah, tanpa adanya gelembung udara. Kemudian plastic loops ditempelkan pada lubang sampel (S) dengan posisi sekitar 45, plastic loops dibalik dan diulang penekannya untuk mendapatkan hasil yang optimal. Serum dipastikan tidak tersisa dalam plastic loops 4. ditambah 4 tetes dilluent buffer pada lubang sampel (S) 5. dibaca hasilnya dalam waktu 15-30 menit. Hasil yang Negatif dapat dikonfirmasikan setelah 30 menit. Dengan catatan : 1. tidak boleh menukar dilluent buffer maupun tes devis dari satu lot ke lot yang laen. 2. untuk mendapatkan hasil yang valid, sebaiknya tes devis dibaca dengan bantuan lampu/cahaya. 3. hasil sebaiknya tidak dibaca setelah 60 menit. BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN III.1. HASIL Adanya perbedaan warna pada area Kontrol dan area tes. I. Positif Tampak 1 atau 2 garis biru pada salah satu atau kedua area dan garis merah pada area Kontrol dari Virotec Dengue IgG/IgM XP. I.1 Infeksi Dengue Primer Pemeriksaan dinyatakan positif untuk dengue primer apabila IgM positif (garis biru pada area 1), IgG negative (tidak tampak garis pada area 2) dan adanya garis merah pada area Kontrol (C). I.2. Infeksi Dengue Sekunder Pemeriksaan dinyatakan positif untuk dengue sekunder apabila IgM positif (garis biru pada area 1), IgM positif (garis biru pada area 2) dan adanya garis merah pada control (C) atau IgM negatif (tidak tampak garis pada area 1), IgG positif (garis biru pada area 2) dan adanya garis merah pada area control (C). 2. Negatif Pemeriksaan dinyatakan negatif apabila hanya terdapat garis merah pada area control (C) yang terlihat pada saat 15 sampai 30 menit. Pemeriksaan diulangi dalam 4 sampai 7 hari apabila gejala klinis tetap muncul. 3. Invalid

Pemeriksaan dinyatakan invalid apabila IgM positif (terdapat garis biru pada area 1), IgG positif (terdapat garis biru pada area 2) dan tidak terdapat garis merah pada area Kontrol (C). III.2. Pembahasan Pemeriksaan VIROTEC DENGUE IgG atau IgM XP menggunakan membran dengan kapasitas pengikatan dan daya alir yang tinggi, Monoklonal anti human IgM antibodi dan Monoklonal anti human IgG antibodi berafinitas tinggi yang dilapiskan pada membran, konjugat yakni recombinant dengue envelope protein yang dikonjugasi dengan blue particle. Pemeriksaan ini menghasilkan sensitifitas dan spesifisitas tinggi. Perbedaan garis warna pada area control dan area memberikan kemudahan dan akurasi pada interpretasi hasil.

BAB IV KESIMPULAN Demam berdarah (DB) atau demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit febril akut yang ditemukan di daerah tropis, dengan penyebaran geografis yang mirip dengan malaria. Penyakit ini disebabkan oleh empat serotipe virus dengue (DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4) dari genus Flavivirus, famili Flaviviridae dengan daya infeksi tinggi pada manusia. Virus dengue ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang sebelumnya sudah menggigit orang yang terinfeksi dengue. Nyamuk Aedes aegypti hidup dengan subur didaerah tropis dan subtropis. Infeksi primer ditandai dengan timbulnya antibodi IgM terhadap dengue sekitar tiga sampai lima hari setelah timbulnya demam, meningkat tajam dalam satu sampai tiga minggu serta dapat dideteksi sampai tiga bulan. Antibodi IgG terhadap dengue diproduksi sekitar dua minggu sesudah infeksi. Titer IgG ini meningkat cepat, kemudian menurun secara lambat dalam waktu yang lama dan biasanya bertahan seumur hidup. Pada infeksi sekunder terjadi reaksi anamnestik dari pembentukan antibodi, khususnya dari kelas IgG dimana pada hari kedua saja, IgG ini sudah dapat meningkat tajam. Virotec Dengue IgM atau IgG XP berbentuk strip memiliki nilai diagnostic yang tinggi dalam membantu menegakan diagnose DBD karena sensitifitas dan spesitifitas diagnostic yang tinggi, disamping itu pemeriksaan ini juga sangat praktis, cepat dan mudah dalam pelaksanaanya. BAB V DAFTAR PUSTAKA Aryati, Yolanda Probohoesodo. 2009. Mendeteksi Demam Berdarah Dengan Cepat. Vol 3 (6) Rezeki Sri H. Hadinegoro, Hindra Irawan Satari. 1999. Demam Berdarah Dengue. Jakarta: FKUI. Soegijanto S, 2004. Demam Berdarah Dengue. Airlangga University Press Surabaya. Hal 99. Suroso, Torry Chrishantoro.2004. Panbio Dengue Fever Rapid Strip Igg dan Igg . Jakarta: Pasific Biotekindo. Woman, M.1993. The Yellow Fever Mosquito,Aedes Aegypti wing beats vol 5 (4) 4.

Penyebab

Demam Berdarah
Demam berdarah disebabkan oleh virus Dengue, itulah sebabnya penyakit ini disebut juga dengan Demam Berdarah Dengue yang disingkat menjadi DBD. Ada 4 jenis virus Demam Berdarah, itulah sebabnya pada beberapa kasus penderita demam berdarah yang satu menunjukkan gejala yang berbeda dengan penderita Demam berdarah lainnya. Penyakit ini menular dari satu penderita ke penderita lainnya melalui nyamuk aedes aegypti. Nyamuk ini biasa menggigit pada siang hari. Nyamuk yang mengisap darah dari penderita DBD kemudian menggigit orang lain yang sehat membuat virus yang ada berpindah ke orang yang sehat dan akan menyebabkan orang tersebut menderita Demam Berdarah.

Tifus
Tifus disebabkan oleh bakteri yang bernama Salmonella typhi. Bakteri ini ada pada berkembang cepat pada tempat-tempat yang kotor. Penyebaran bakteri ini dibantu oleh serangga-serangga pembawa bakteri seperti lalat atau serangga lainnya. Bakteri ini bisa ada pada makanan atau minuman dan akan masuk ke tubuh orang yang mengkonsumsinya. Itulah penyebab seseorang bisa terkena tifus.

Bagian yang Diserang

Demam Berdarah
Virus demam berdarah menyebabkan terjadinya pendarahan pada organ tubuh penderitanya. Bintik merah yang biasa muncul pada penderita menunjukkan adanya pendarahan dalam tubuhnya. Jika sudah parah, pendarahan dapat terjadi pada organ-organ penting yang dapat menyebabkan kematian.

Tifus
Bakteri tifus menyerang usus sehingga menyebabkan luka pada usus. Selanjutnya akan menyerang hati, limpa dan kantung empedu.

Gejala

Demam Berdarah
Pada penderita demam berdarah, gejala-gejala yang biasa ditemui adalah:
o o o

Panas tinggi, umumnya > 38 derajat Celcius. Badan pegal-pegal atau nyeri otot, sakit kepala, menggigil, buang-buang air atau muntah. Muncul bintik-bintik merah. Gejala ini mungkin tidak muncul jika demam yang dialami baru sebentar. Cara melihat bintik merah ini dengan tes tourniquet yaitu dengan menjepit pembuluh darah mirip seperti saat Anda hendak memeriksa tekanan darah. Setelah tahap ini, biasanya bintik merah akan terlihat. Setelah hari ketiga, biasanya demam akan turun dan penderita mungkin merasa sudah sembuh tetapi setelah itu demam dapat menyerang kembali. Pada masa ini sebaiknya berhati-hati agar tidak menganggap sudah sembuh dan tidak menjaga kesehatannya.

Tifus
Pada penderita tifus, gejalanya adalah sebagai berikut:
o o o o

Awalnya, demam yang dialami tidak terlalu tinggi dan suhu akan terus meningkat bertahap sampai > 38 derajat Celcius. Khususnya pada malam hari, suhu akan meningkat dan akan turun pada pagi hari. Inilah yang membedakan demam tifus dengan demam pada demam berdarah. Nyeri perut dan diare. Batuk dan sakit tenggorokan.

Pemeriksaan
Cara paling tepat untuk mengetahui apakah seseorang menderita demam berdarah atau tifus adalah dengan melakukan pemeriksaan. Berkonsultasi dengan dokter dan biasanya untuk memastikan, dokter akan meminta untuk melakukan pemeriksaan darah. Dengan mengambil darah penderita bisa diketahui secara pasti penyakit apa yang diderita.

Demam Berdarah
Pada pasien demam berdarah, pemeriksaan dilakukan dengan memeriksa jumlah trombosit. Jika trombosit menurun, biasanya < 100.000/ul, seseorang akan didiagnosis mengalami demam berdarah. Tetapi, jika demam baru satu hari belum bisa diketahui karena jumlah trombosit yang masih normal. Pada kasus seperti ini, Anda dapat berkunjung kembali ke dokter untuk memeriksa jumlah trombosit jika masih mengalami demam. Pada pemeriksaan yang lebih canggih, dapat diketahui apakah darah mengandung virus dengue atau tidak. Jadi, jika jumlah

trombosit masih normal tetapi pada darah positif mengandung virus dengue berarti Anda mengalami demam berdarah.

Tifus
Untuk mengetahui apakah Anda mengalami tifus atau tidak, maka akan dilakukan tes Widal. Yang diperiksa pada tes ini adalah apakah pada darah mengandung antibodi terhadap bakteri Salmonella typhi. Jika hasil menunjukkan > 1/160 berarti Anda menderita tifus. Pemeriksaan lain dapat dilakukan dengan memeriksa tinja penderita karena pada tinja penderita tifus mengandung bakteri Salmonella typhi.

Pengobatan

Demam Berdarah
Tidak ada obat khusus untuk mengobati penderita demam berdarah karena tidak ada vaksin untuk membunuh virus dengue. Hal yang dapat dilakukan adalah dengan menjaga agar penderita tidak mengalami dehidrasi. Jika penderita tidak dapat makan dengan baik, mengalami diare atau muntah, ada baiknya penderita dirawat di rumah sakit agar dapat dibantu dengan infus sehingga daya tahan penderita lebih kuat. Pada penderita demam berdarah tidak ada pantangan makanan.

Tifus
Untuk pengobatan tifus, biasanya akan diberikan antibiotik untuk membunuh bakteri. Untuk menyembuhkan usus yang luka, makanan yang dimakan tidak boleh keras agar tidak memaksa kerja usus yang sedang sakit. Nasi tim atau bubur menjadi makanan yang dikonsumsi penderita. Hindari juga makanan yang asam dan pedas.

Cara Pencegahan

Demam Berdarah
Seperti yang sering didengungkan, untuk mencegah, khususnya mecegah perkembangbiakan nyamuk aedes aegypti yang merupakan sarana penularan demam berdarah adalah dengan melakukan gerakan 3 M. Yang dimaksud gerakan 3 M adalah Menguras bak mandi minimal 1 minggu sekali, menutup tempat penampungan air, dan mengubur barang-barang bekas yang tidak terpakai yang berpotensi menjadi tempat genangan air hujan.

Tifus
Sedangkan untuk mencegah tifus adalah dengan menjaga lingkungan tetap bersih sehingga bakteri tifus tidak dapat berkembang biak. Pilihlah makanan dan minuman yang bersih untuk dikonsumsi.

Selain itu, penting menjaga kondisi tubuh tetap fit. Dengan daya tahan tubuh yang kuat mencegah penyakit demam berdarah atau DBD dan tifus menimpa kita.

HIDUP SEHAT
hidup sehat adalah pilihan

Archive for the demam berdarah Category Kemiripan DBD dan Penyakit Lainnya
leave a comment

Nyamuk JAKARTA, KOMPAS.com Ayah seorang penderita demam berdarah dengue (DBD) yang baru saja meninggal sempat bingung. Sebelum meninggal sudah 3 kali anaknya dibawa ke dokter dan 3 kali itu juga mendapat diagnosis yang berbeda. Hari pertama ia didiagnosis infeksi tenggorok, pada hari ketiga setelah cek darah, diagnosis berubah menjadi tifus, dan akhirnya pada hari kelima ia divonis DBD sebagai penyebab kematiannya. Peritiwa ini sering dialami oleh penderita DBD, karena gejala awalnya mirip dengan banyak penyakit lain. Oleh karena itu, masyarakat dituntut mempunyai pengetahuan yang baik dan kecermatan yang tinggi untuk membedakan DBD dari penyakit lainnya. Sedangkan seorang klinisi atau dokter dituntut kejelian dan pemahamannya tentang perjalanan penyakit infeksi virus dengue; dari proses terjadinya penyakit, ketajaman pengamatan klinis, sampai interpretasi terhadap hasil tes laboratorium yang benar. Keterlambatan diagnosis berakibat keterlambatan penanganan yang berpotensi meningkatkan risiko kematian. Gejala Bervariasi Diagnosis penyakit DBD paling sering tertukar dengan demam tifoid, faringitis akut (infeksi tenggorok), ensefalitis (infeksi otak), campak, flu atau infeksi sa-luran napas lainnya yang disebabkan virus. Bahkan belakangan ini terdapat beberapa kasus yang awalnya dicurigai flu burung tetapi ternyata penyakit DBD. Hal ini terjadi karena infeksi virus dengue yang menyebabkan DBD sangat bervariasi. Ada yang menimbulkan gejala klinis asimtomatik atau tidak jelas, dan ada pula yang menyebabkan gejala

klinis berat. Penderita DBD dapat menunjukkan gejala batuk, pilek, muntah, mual, nyeri tenggorok, nyeri perut, nyeri otot atau tulang, nyeri kepala, diare, kejang atau kesadaran menurun. Gejala ini juga dijumpai pada berbagai penyakit infeksi virus atau infeksi bakteri lainnya yang menyerang tubuh. Menurut kriteria WHO (World Health Organization) diagnosis DBD hanya dibuat berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan laboratorium trombosit dan hematokrit. Gejala DB diawali demam tinggi mendadak dalam 2-7 hari (38C- 40C) disertai pendarahan berupa bintik perdarahan di kulit, pendarahan selaput putih mata, mimisan, atau berak darah. Penyakit ini ditandai oleh pembesaran hati, syok atau tekanan nadi menurun menjadi 20 mmHg atau kurang, dan tekanan sistolik sampai 80 mmHg atau lebih rendah. Pemeriksaan laboratorium juga menunjukkan penurunan trombosit sampai ku-rang dari 100.000/mm+ pada hari ke-3 sampai ke-5 dan me-ningkatnya nilai hematokrit (>40%). Bila tanda dan gejala di atas sudah cukup jelas, maka pemeriksaan laboratorium lain untuk konfirmasi diagnosis secara umum mungkin tidak diperlukan. Pemeriksaan dengue blot IgG dan IgM, isolasi virus dan pemeriksaan serologi mungkin hanya diperlukan dalam bidang penelitian atau kasus yang sulit. Karena pemeriksaan tersebut sangat mahal dan khususnya pemeriksaan dengue blot sensitivitasnya tidak terlalu tinggi. Beda Gejaka DBD & Tifus Kesalahan lain, demam akibat penyakit DBD sering dianggap muncul bersamaan dengan demam akibat tifus. Kesalahan ini sering terjadi karena pemahaman yang kurang baik tentang dasar diagnosis penyakit, perjalanan penyakit, dan interpretasi laboratorium. Pola demam pada DBD biasa-nya mendadak tinggi, terus-me-nerus tidak pernah turun dalam 2 hari pertama, menurun pada hari ke-3 dan meningkat lagi di hari ke-4 atau ke-5. Sedangkan demam pada penyakit tifus biasa-nya tinggi terutama malam hari. Pada penderita DBD sering ditemukan juga peningkatan hasil Widal. Pemeriksaan Widal adalah identifikasi antibodi tubuh terha-dap penyakit tifus. Kejadian seperti inilah yang menimbulkan kerancuan diagnosis DBD. Padahal pada minggu awal terjadinya panas, biasanya pada penyakit tifus malah tidak terdeteksi peningkatan titer Widal tersebut. Jadi, bila hasil pemeriksaan Widal meningkat tinggi pada awal minggu pertama, hal itu tidak harus dicurigai sebagai penyakit tifus. Pada beberapa penelitian terlihat gangguan mekanisme pertahanan tubuh pada penderita hipersensitif atau alergi sering menimbulkan hasil Widal false positive. Artinya positif tetapi belum tentu benar mengalami penyakit tifus. Hal lain yang harus diketahui, antibodi Widal dapat bertahan terus pada penderita selama 6 bulan hingga 2 tahun meskipun penyakit tifusnya sudah membaik. Jadi sebaiknya, pemeriksaan Widal dilakukan menjelang akhir minggu pertama panas atau awal minggu ke dua panas.

Sejauh ini akurasi tes Widal sebagai diagnosis penyakit tifus memang masih banyak memiliki kelemahan. Diagnosis pasti pe-nyakit tifus adalah dengan peme-riksaan kultur darah, bukan dengan pemeriksaan Widal. Penulis telah mengadakan pengamatan terhadap 24 penderita DBD yang disertai pemeriksaan Widal yang positif. Ternyata dalam evaluasi lebih lanjut, didapatkan hasil kultur darah kuman tifus negatif. Artinya, meskipun hasil Widal positif penyebabnya bukanlah penyakit tifus. Beda Gejala DBD & Campak Manifestasi yang tidak biasa pada penderita DBD adalah timbul rash atau bercak kemerahan yang mirip dengan penyakit campak. Hal ini sering terjadi pada penderita yang sebelumnya sering mengalami riwayat hipersensitif atau alergi pada kulit. Pada penyakit campak, bercak merah timbul biasanya pada demam hari ke-3 sampai 5, kemudian akan berkurang pada minggu kedua dan menimbulkan bekas terkelupas dan bercak kehitaman. Penyakit campak harus diawali dengan keluhan pilek dan batuk mulai demam hari pertama. Sedangkan pada penderita DBD, biasanya bercak ini timbul saat hari ke-2 sampai 3. Pada hari ke-4 dan 5 bercak menghilang tanpa diikuti proses terkelupas dan bercak kehitaman pada kulit. Beda Gejala DBD dan ISPA Pada awal perjalanan penyakit, DBD juga sangat sulit dibedakan dengan infeksi saluran napas akut (ISPA) seperti flu, infeksi tenggorok atau infeksi lainnya yang disebabkan virus. Gejala batuk, pilek, dan demamnya hampir sama. Mungkin yang sedikit dapat menjadi perhatian adalah penyakit flu biasanya diawali dengan batuk dan pilek pada saat demam hari pertama, dan akan menghilang secara bertahap setelah 7-14 hari. Sedangkan pada penyakit DBD, biasanya timbul batuk dan pilek saat demam hari ke-3 sampai 5, lalu setelah hari ke-6 batuk drastis menghilang. Penderita DBD yang mengalami keluhan batuk atau pilek, biasanya sebe-lumnya mempunyai riwayat hipersensitif pada saluran napas atas yang sering mengalami pilek, batuk berulang, batuk lama, atau asma. Berjaga-jaga Hasil pemeriksaan laboratorium tertentu bukan satu-satunya konfirmasi diagnosis. Karenanya, harus diikuti dengan ketajaman pengamatan klinis dan interpretasi yang benar. Penanganan ideal suatu penyakit juga bukan sekadar mengobati hasil laboratorium tetapi memberikan terapi yang benar berdasarkan tanda dan gejala penyakit yang ada pada penderita. Memang benar, bukan berarti setiap demam harus dicurigai sebagai gejala DBD. Namun dengan meningkatnya kasus penyakit DBD seperti sekarang ini, sikap berjaga-jaga sangat dibutuhkan. Artinya, meskipun tanda dan gejala DBD disertai penetapan diagnosis penyakit lain, maka sebaiknya fokus utama diletakkan pada penatalaksanaan kecurigaan penyakit DBD.

Dengan kata lain, dalam keadaan tertentu mungkin lebih baik terjadi overdiagnosis DBD dibandingkan underdiagnosis. Alasannya, keterlambatan penanganan penyakit DBD lebih fatal dibandingkan penyakit lainnya yang memiliki gejala sama.

Memasuki musim penghujan ini, penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali mengganas dimana-mana. Kecemasan orangtua semakin luar biasa, bila saat ini anaknya mengalami demam apa pun penyebabnya. Pikiran pertama yang muncul di kepala adalah apakah anak saya menderita demam berdarah dengue (DBD)? DBD adalah penyakit infeksi yang demikian ganas. Bila terlambat ditangani, dalam beberapa hari bahkan dalam hitungan jam kondisi anak bisa masuk dalam keadaan kritis. Adakalanya seorang penderita DBD terlambat dalam penegakan diagnosis. Saat hari pertama demam didiagnosis dokter sebagai infeksi tenggorokan, kemudian hari berikutnya berubah diagnosisnya menjadi penyakit campak. Saat hari ke 3, setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium ditambah diagnosis gejala tifus. Baru saat hari ke 4 dan ke 5 keadaan memburuk dan meninggal, ternyata diagnosis penyebab kematiannya adalah DBD. Masyarakat awam, bahkan seorang dokter berpengalaman sekaliber profesorpun kadang sulit mendeteksi lebih awal diagnosis DBD ini. Gejala DBD amat luas, hampir semua infeksi akut pada awal penyakitnya menyerupai DBD. Sehingga saat awal penyakit, DBD seringkali dikelirukan dengan penyakit lainnya. Gejala khas seperti perdarahan pada kulit atau tanda perdarahan lainnya kadang terjadi hanya di akhir periode penyakit. Tragisnya bila penyakit ini terlambat didiagnosis, maka kondisi penderita sulit diselamatkan. Untuk menghindari keterlambatan diagnosis DBD, mungkin perlu diketahui penyakit apa sajakah yang menyerupai DBD ? Demam Berdarah Dengue Virus dengue penyebab DBD termasuk famili Flaviviridae, yang berukuran kecil sekali, yaitu 35-45 nm. Manifestasi klinisnya ditandai gejala-gejala klinik berupa demam, nyeri pada seluruh tubuh, ruam dan perdarahan. Demam yang terjadi pada infeksi ini timbulnya mendadak, tinggi (dapat mencapai 39-40 derajat Celcius) dan dapat disertai dengan menggigil. Pada saat anak mulai panas ini biasanya sudah tidak mau bermain. Demam ini hanya berlangsung sekitar lima hari. Pada saat demamnya berakhir, sering kali dalam bentuk turun mendadak dan disertai dengan berkeringat banyak. Saat itu anak tampak agak loyo. Kadangkadang dikenal istilah demam biphasik, yaitu demam yang berlangsung selama beberapa hari itu sempat turun di tengahnya menjadi normal kemudian naik lagi dan baru turun lagi saat penderita sembuh (gambaran kurva panas sebagai punggung unta). Kadang-kadang ruam tersebut hanya timbul pada daerah tangan atau kaki saja sehingga memberi bentuk spesifik seperti kaos tangan dan kaki. Manifestasi klinis lainya adalah sakit kepala, nyeri perut, mual, muntah, kadang disertai diare atau sulit BAB. Gejala lain yang menyertai adalah perfarahan di kulit, hidung atau saluran cerna. PENYAKIT YANG MENYERUPAI Melihat banyaknya tanda dan gejala klinis yang ditimbulkan DBD seringkali terjadi kekeliruan diagnosis pada awalnya. Pada awal penyakit, infeksi DBD menyerupai berbagai penyakit bakteri, virus atau infeksi prozoa. Penyakit tersebut meliputi demam tifoid, campak, influenza, infeksi tenggorokan (faringitis), demam cikungunya, leptospiros, malaria atau kelaianan darah. Bahkan beberapa kasus DBD sering dikelirukan dengan infeksi usus buntu.

Demam Tifus Demam tifus adalah penyakit yang sering dikelirukan dengan DBD. Seringkali seseorang didiagnosis DBD bersamaan dengan penyakit tifus. Padahal sangat mungkin penyakit yang terjadi bersamaan tersebut seharusnya relatif jarang, tetapi kejadian fenomena tersebut sangat sering dijumpai. Penyebab pitfall atau kekeliruan tersebut adalah kerancuan dalam menginterpretasi hasil pemeriksaan Widal atau uji laboratorium untuk mendiagnosis demam tifus. Ternyata seringkali pada penderita hasil pemeriksaan widal juga meningkat, padahal belum tentu mengalami infeksi tifus. Pemeriksaan widal adalah mendeteksi antibodi atau kekebalan tubuh terhadap tifus, bukan mendeteksi adanya kuman atau berat ringannya penyakit tifus. Pada penyakit tifus pemeriksaan widal biasanya meningkat saat minggu ke dua. Bila saat minggu pertama hasil pemeriksaan widal tinggi maka mungkin harus dicurigai adanya false positif, atau kesalahan hasil positif yang diakibatkan faktor lain. Ternyata pada pada beberapa penelitian pendahuluan ddidapatkan beberapa penyakit infeksi virus atau infeksi DBD, dapat meningkatkan reaksi tes widal. Manifestasi ini sering terjadi pada penderita hipersensitif atau penderita yang sering mengalami riwayat alergi. Manifestasi klinis demam tifoid pada anak seringkali tidak khas dan sangat bervariasi yang sesuai dengan patogenesis demam tifoid. Spektrum klinis demam tifoid tidak khas dan sangat lebar, dari asimtomatik atau gejala saluran cerna seperti nyeri mual, muntah, diare dan sulit BAB.Hal ini mempersulit penegakan diagnosis berdasarkan gambaran klinisnya saja. Perbedaan sederhana dan mudah dilihat adalah pola kenaikkan demamnya. Pada infeksi virus atau DBD seringkali demam mendadak tinggi dalam 2 hari awal dan akan menurun pada hari ke 3-5. Sedangkan sebaliknya pada demam tifus, demam akan semakin meningkat sangat tinggi setelah hari ke 3-5. Campak Penyakit DBD sering mirip dengan penyakit Campak karena timbulnya ruam pada kulit. Ruam yang terjadi dapat timbul pada saat awal panas yang berupa flushing, yaitu berupa kemerahan pada daerah muka, leher, dan dada. Ruam juga dapat timbul pada hari ke-4 sakit berupa bercakbercak merah kecil seperti bercak pada penyakit campak. Perbedaan khas yang terjadi, pada DBD biasanya ruang akan berkurang saat hari ke 4 dan ke 5 dan akan menghilang setelah hari ke 6. Sedangkan pada campak, ruam timbul hari ke 3 setelah itu semakin banyak setelah hari ke 6-7 warna merah berubah menjadi kehitaman hingga seminggu. Demam Cikungunya DBD seringkali mirip dengan infeksi virus yang lain seperti Demam Cikungunya (DC). Perbedaannya, pada DC beberpa anggota keluarga dapat terseng dengan gejala yang mirip. Manifestasi DC adalah demam mendadak, masa demam lebih pendek, suhu lebih tinggi, hampir selalu disertai ruam,mata kemerahan dan nyeri sendi. Apendicitis akut (Usus buntu)

Terdapat sebuah kasus yang tragis dan memilukan yaitu seorang anak dilakukan operasi usus buntu (apendiktomi). Ternyata penderita tidak mengalami infeksi usus buntu (apendicitis akut) tetapi mengalami DBD. Penderita akhirnya meninggal karena penyakit DBDnya. Ternyata anak yang mempunyai riwayat sering nyeri perut dalam keadaan sehat, saat mengalami infeksi virus atau DBD timbul gejala nyeri perut yang sangat berat yang sangat mirip keluhan infeksi usus buntu. Kelainan darah Perdarahan pada penyakit DBD seringkali mirip dengan penyakit lain sseperti infeksi meningitis, sepsis atau kelainan darah ITP (Idiopatic Trombocytopenic Purpura (ITP), leukimia dan anemia aplastik. Meskipun beberapa penyekit tersebut relatif sangat jarang terjadi. MEMASTIKAN DBD Berbagai pengalaman dan manifestasi klinis penyakit yang menyerupai DBD tersebut menjadi pelajaran terbaik bagi para klinisi dan masyarakat. Kecermatan dan ketelitian sangat diperlukan dalam mencurigai penyakit yang mirip DBD. Manifestasi klinis yang khas pada DBD adalah memperhatikan secara cermat pola demamnya. Pola demam DBD saat hari pertama dan kedua demam sangat tinggi, hari ketiga turun disusul hari ke 4-5 demam naik tetapi tidak setinggi.awal demam. Gejala lain yang khas adalah saat hari ke 3-5 penderita tampak lemas, loyo atau berbaring dan tidur sepanjang hari. Hal paling penting untuk membedakannya adalah adanya pemeriksaan darah yang menunjukkan trombosit menurun (trombositopenia) dan hematokrit (PCV/HCT) yang meningkat (hemokonsentrasi). Tetapi repotnya, perubahan hasil laboratorium tersebut hanya terjadi setelah hari ketiga fase demam. Sebaiknya dalam pemeriksaan darah dilakukan saat hari ke 3, pada hari pertama dan kedua hasil normal tidak menyingkirkan adanya DBD. Pemeriksaan widal (untuk mendiagnosis tifus) sebaiknya dilakukan saat awal minggu kedua. Saat demam minggu pertama bila curiga demam tifus dapat digunakan IgM Tifoid. Meskipun spesifitas dan sensitifitas pemeriksaan ini juga belumlah terlalu baik. Overdiagnosis DBD atau overestimate DBD mungkin lebih baik saat terjadi kenaikkan angka kejadian DBD seperti musim penghujan ini. Karena keterlambatan diagnosis DBD akan lebih menyulitkan penanganan dan dapat meningkatkan angka kematian yang lebih tinggi.

Deteksi Dini Demam Berdarah dengan USG Kurangi Tingkat Risiko Kematian
Kamis, 06/05/2010 09:00 WIB - Ikrob Didik Irawan

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) saat ini masih menjadi masalah serius karena selalu merenggut korban jiwa terutama saat musim penghujan. Akibat kurang tepatnya penanganan dan diagnosis yang dilakukan, penyakit yang ditularkan lewat gigitan nyamuk ini sering menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB). Demam pada DBD terkadang kurang dimengerti karena memiliki ciri-ciri yang mirip dengan penyakit tifus. Umumnya untuk mengetahui menjangkitnya virus DBD dalam tubuh dengan pemeriksaan laboratorium seperti mengambil sampel darah. Namun, saat ini telah berkembang cara deteksi dini DBD menggunakan ultrasonografi (USG) yang dapat membantu mengetahui kebocoran plasma sehingga risiko syok hipovolemia dapat diantisipasi lebih awal. USG adalah alat untuk mendeteksi adanya objek-objek di dalam tubuh dengan memanfaatkan gelombang suara berfrekuensi tinggi yang diubah menjadi tampilan gambar pada monitor. Sehingga akan diketahui bentuk, ukuran anatomis, gerakan, serta hubungan dengan jaringan sekitarnya dalam tubuh. Pemeriksaan dengan USG bersifat noninvasif (tanpa pembedahan), aman, praktis dan data yang diperoleh mempunyai nilai diagnostik yang tinggi. USG menggunakan gelombang suara dengan frekuensi 1 hingga 10 MHz, yang mana gelombang yang dapat didengar oleh manusia adalah 20 hingga 20.000 Hz. Gelombang suara berfrekuensi tinggi ini dihasilkan oleh kristal-kristal yang terdapat dalam transduser yang akan dipancarkan ke bagian tubuh. Kemudian sebagian gelombang akan menembus jaringan dan sebagian akan dipantulkan. Hingga akhirnya membentuk suatu gambar yang akan terlihat di layar. Pada umumnya kematian pada penderita DBD karena adanya syok hipovolemia yang disebabkan merembesnya cairan plasma ke ruang ekstravasculer atau pendarahan yang masif. Pemeriksaan USG dapat membantu menemukan ekstravasasi (rembesan) plasma pada penderita DBD. Sehingga USG sebenarnya tidak hanya identik dengan pemeriksaan janin ibu hamil, ujar dr Hardyanto Eko P, asal Rumah Sakit Dr Oen Surakarta. Ekstravasasi plasma ini berupa penebalan dinding kandung empedu, asites, dan efusi pleura. Penebalan dinding kandung empedu dan asites atau efusi merupakan refleksi atau akibat dari kebocoran cairan intravaskuler ke ruang interstitial (ekstravaskuler) yang banyak mengakibatkan kematian penderita DBD. Sulit Mendeteksi Jangankan masyarakat awam, bahkan seorang dokter pun terkadang sulit mendeteksi lebih awal diagnosis DBD. Gejala awal DBD tidak khas, hampir semua infeksi akut pada awal penyakitnya menyerupai DBD. Gejala khas seperti pendarahan pada kulit atau tanda pendarahan lainnya kadang terjadi hanya di akhir periode penyakit. Tragisnya bila penyakit ini terlambat didiagnosis, maka kondisi penderita sulit diselamatkan. Karena perjalanan penyakit juga sangat cepat, dalam beberapa hari bahkan dalam hitungan jam penderita dalam keadaan kritis (syok). Sehingga untuk menghindari keterlambatan diagnosis DBD, perlu diketahui deteksi dini dan tanda bahaya DBD. Menurut Hardyanto, umumnya pemeriksaan untuk mendiagnosis DBD adalah pemeriksaan darah atau sering disebut pemeriksaan darah lengkap. Gambaran hasil laboratorium yang khas adalah terjadi peningkatan kadar hemoglobin (Hb) dan peningkatan hematokrit (HCT) disertai penurunan trombosit kurang dari 150.000/uL. Perubahan tersebut biasanya terjadi pada hari ke-3 hingga ke-5 panas. Pemeriksaan darah seringnya dilakukan ketika trombosit sudah turun dan itu pun terkadang belum bisa menentukan DBD atau bukan. Padahal, bisa jadi pada saat itu telah terjadi kebocoran

plasma sehingga bisa saja pasien dalam waktu singkat mengalami syok. Ketika hal itu telah terjadi, maka penanganan DBD akan menjadi semakin sulit, terangnya. Dalam hal ini peranan USG sangat penting dalam membantu penatalaksanaan DBD karena lebih sensitif dalam melihat adanya kelainan kebocoran dibandingkan dengan pemeriksaan lain. Pada USG, adanya cairan sekitar 30 hingga 40 cc pada morrison pounch akan dapat terlihat, demikian juga dengan adanya effuse pleura sebanyak 3 hingga 5 cc yang akan terlihat di mana foto thorak belum terlihat. Sehingga dengan mengetahui sejak awal kebocoran tersebut diharapkan penatalaksanaan akan lebih akurat dan kasus kematian akibat DBD dapat ditekan. Biasanya USG dilakukan ketika kebocoran telah terjadi cukup parah untuk mengetahui di mana lokasi terjadinya. Padahal ketika dilakukan lebih awal maka penanganan pasien akan lebih efektif. Maka fungsi USG di sini sebagai penegak diagnostik dari pemeriksaan darah, ujarnya. Pemeriksaan USG, lanjut Hardyanto, dilakukan setelah pasien menjalani puasa selama enam jam untuk memungkinkan distensi kandung empedu secara optimal. Dinding kandung empedu dikatakan abnormal bila tebal dinding posterior pada potongan yang tegak lurus dengan sumbu panjang dan sumbu pendek melebihi 3 milimeter dan terlihat zona anechoic (dinding berlapis dua). Hemokonsentrasi didefinisikan bila terjadi peningkatan kadar hematokrit lebih dari 20 persen. Setelah diketahui adanya efusi dan asites melalui pemeriksaan USG, maka keadaan klinis tersebut digunakan sebagai gold standard adanya kebocoran dinding vaskuler. Lalu hasilnya akan dibandingkan dengan peningkatan hemotokrit lebih dari 20 persen untuk kemudian dilakukan uji diagnosis. (Ikrob Didik Irawan)

DEMAM BERDARAH DENGUE, CARA MENCEGAH DAN MENANGGULANGINYA


(

Artikel Kesehatan

) Dari Berbagai Sumber

Hindari Gigitan Nyamuk Dengan Turunkan Populasinya


30 April 2009 Surabaya, eHealth. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) sudah tidak asing lagi bagi masyarakat. Perilaku masyarakat terhadap lingkungan menjadi salah satu kunci menurun atau meningkatnya DBD. Namun tidak jarang dari mereka mengambil langkah fogging untuk mengatasi kasus DBD di lingkungannya, padahal mencegah DBD lebih mudah, aman, dan lebih menjamin untuk menekan kasus DBD. Demam Berdarah Dengue merupakan salah satu penyakit yang hampir tidak pernah absen kehadirannya setiap tahun. Kota Surabaya sendiri jumlah kasus DBD dari tahun 2008 sampai tahun 2009 relatif sama, seperti yang diungkapkan oleh dr. Ina Aniati Aniati, Kepala Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Surabaya. PSJN (Pemberantasan Sarang Jentik dan Nyamuk, Red) paling efektif untuk cegah DBD, papar alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga ini mengenai upaya pencegahan DBD. Ia menjelaskan bahwa hingga saat ini PSJN menjadi primadona dalam sosialisasi pencegahan DBD, karena PSJN mencegah jentik menjadi nyamuk, Tempat jentik pun jelas, yakni di penampungan air, tidak seperti nyamuk yang bebas berterbangan kemana saja, jelas ibu dua orang anak ini. Terdapat beberapa upaya lain untuk mencegah dan memberantas DBD, namun sebelum kita beranjak pada upaya-upaya tersebut, ada baiknya kita kenali terlebih dahulu bagaimana sebenarnya DBD, sehingga dalam mengaplikasikan pencegahannya dapat lebih baik dan efektif. Apa itu DBD DBD Merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue. Sejak tahun 1968 kasusnya cenderung meningkat dan penyebarannya bertambah luas. Keadaan ini erat kaitannya dengan peningkatan mobilitas penduduk sejalan dengan semakin lancarnya hubungan transportasi serta

tersebar luasnya virus dengue dan nyamuk penularnya di berbagai wilayah di Indonesia. Padatnya penduduk membuat nyamuk senang, karena nyamuk lebih mudah menggigit, ungkap dr. Ina. Selain itu, seperti yang dijelaskan olehnya, bahwa kepadatan penduduk menjadikan produksi sampah meningkat, sehingga menambah tempat bagi nyamuk untuk bersarang. Gejala dan Tanda DBD Pada umumnya penderita DBD dikenal dengan gejala bintik-bintik atau ruam merah pada kulit yang apabila diregangkan malah terlihat jelas bintik-bintiknya. Hal itu memang menjadi salah satu tanda bahwa telah tergigit nyamuk Aedes agypti. Untuk lebih waspada dan menindaklanjuti kasus DBD, berikut beberapa gejala DBD :
1. Demam

Penyakit ini didahului oleh demam tinggi yang mendadak, terus menerus berlangsung 2-7 hari. Panas dapat turun pada hari ke-3 yang kemudian naik lagi, dan pada hari ke-6 atau ke-7 mendadak turun. Jika digambarkan, maka grafiknya menyerupai pelana kuda. Jangan tunggu hingga 7 hari, lepas hari ketiga panas tetap tinggi, dianjurkan untuk memeriksakan diri dengan tes darah. Karena apabila dalam waktu kurang dari 7 hari penderita tidak ditangani dengan cepat dan tepat, penderita dapat meninggal dunia.
2. Tanda-tanda pendarahan

Perdarahan ini terjadi di semua organ. Bentuk perdarahan dapat hanya berupa uji Torniquet (Rumple Leede) positif atau dalam bentuk satu atau lebih manifestasi perdarahan sebagai berikut : Petekie, Purpura, Ekimosis, Perdarahan konjungtiva, Epistaksis, Perdarahan gusi, Hematemesis, Melena, dan Hematuri. Petekie sering sulit dibedakan dengan bekas gigitan nyamuk. Untuk membedakannya, regangkan kulit, jika bintik merah pada kulit tersebut hilang maka bukan Petekie. Petekie merupakan tanda pendarahan yang tersering ditemukan. Tanda ini dapat muncul pada hari-hari pertama demam. Uji Torniquet dinyatakan positif, jika terdapat 10 atau lebih Petekie pada kulit seluas 1 inci persegi (2,5 x 2,5 cm) di lengan bawah bagian depan (volar) dekat lipat siku (fossa cubiti).
3. Pembesaran Hati (Hepatomegali)

Sifat pembesaran hati :


1. Pembesaran hati pada umumnya dapat ditemukan pada permulaan penyakit 2. Pembesaran hati tidak sejajar dengan beratnya penyakit 3. Nyeri tekan sering ditemukan tanpa disertai ikterus 4. Renjatan (Syok)

Tanda-tanda renjatan:
1. 2. 3. 4. 5. Kulit teraba dingin dan lembab terutama pada ujung hidung, jari tangan dan kaki Penderita menjadi gelisah Sianosis di sekitar mulut Nadi cepat, lemah, kecil sampai tak teraba Tekanan nadi menurun, sistolik menurun sampai 80 mmHg atau kurang

Penyebab renjatan: karena perdarahan, atau karena kebocoran plasma ke daerah ekstra vaskuler melalui kapiler yang terganggu.
5. Trombositopeni 1. Jumlah trombosit < 100.000/l biasanya ditemukan diantara hari ke 3-7 sakit 2. Pemeriksaan trombosit perlu diulang sampai terbukti bahwa jumlah trombosit dalam batas normal atau menurun. 3. Pemeriksaan dilakukan pada saat pasien diduga menderita DBD, bila normal maka diulang tiap hari sampai suhu turun.

6. Hemokonsentrasi (Peningkatan Hematokrit)

Meningkatnya nilai hematokrit (Ht) menggambarkan hemokonsentrasi selalu dijumpai pada DBD, merupakan indikator yang peka terjadinya perembesan plasma, sehingga dilakukan pemeriksaan hematokrit secara berkala. Pada umumnya penurunan trombosit mendahului peningkatan hematokrit.
7. Gejala Klinik lain 1. Gejala klinik lain yang dapat menyertai penderita DBD ialah nyeri otot, anoreksia, lemah, mual, muntah, sakit perut, diare atau konstipasi, dan kejang 2. Pada beberapa kasus terjadi hiperpireksia disertai kejang dan penurunan kesadaran sehingga sering di diagnosis sebagai ensefalitis 3. Keluhan sakit perut yang hebat sering kali timbul mendahului perdarahan gastrointestinal dan renjatan

Pertolongan Bagi Penderita DBD


1. 2. 3. 4. Penderita diberi minum yang banyak Penderita dikompres dengan air dingin Penderita diberi obat penurun panas Secepatnya penderita dibawa ke dokter, Puskesmas atau Rumah Sakit, khususnya bila penderita tampak gelisah, ujung kaki dan tangannya dingin dan berkeringat.

Penularan DBD DBD dapat dengan mudah menular melalui vektor penularnya, yakni nyamuk Aedes aegypti melalui gigitannya. Meskipun nyamuk Aedes albopictus dapat menularkan DBD tetapi peranannya dalam penyebaran penyakit sangat kecil, karena biasanya hidup di kebun-kebun. Seminggu setelah digigit oleh nyamuk Aedes aegypti yang mengandung virus dengue, maka orang tersebut akan jatuh sakit demam berdarah, atau dapat juga tetap sehat tetapi menjadi carrier (sumber penular dengan menyimpan virus dengue). Karena nyamuk yang menggigit orang yang darahnya mengandung virus dengue, sepanjang nyamuk tersebut hidup akan tetap mengandung virus dengue dan setiap saat dapat ditularkan kepada orang lain melalui gigitannya pula (menggigit pada siang hari). Apabila terdapat tetangga Anda yang menderita DBD dan lokasi rumahnya berada tidak jauh dari rumah Anda, maka perlu diwaspadai akan keberadaan nyamuk Aedes aegypti, hal ini karena kemampuan terbang nyamuk tersebut +40 m, dan jangkauan terbang maksimal sejauh 100 m. Sehingga secepatnya melakukan pembersihan terhadap tempat-tempat penampungan air di sekitar Anda atau menghubungi Puskesmas terdekat. Sehingga setiap orang dapat terserang demam berdarah setelah digigit oleh nyamuk Aedes aegypti yang mengandung virus dengue. Hanya saja ketahanan tubuh setiap orang yang memungkinkan tingkat kasus DBD berbeda satu sama lain. Sehingga selain memberantas vektor penular dan menghindarinya, ada baiknya setiap orang menjaga imunitasnya sehingga dapat terhindar dari kasus DBD. Tempat Penularan Bagi Penularan DBD Penularan DBD dapat terjadi di semua tempat yang terdapat nyamuk penularnya. Tempat potensial untuk terjadi penularan DBD adalah :
1. Wilayah yang banyak kasus DBD (endemis) 2. Tempat-tempat umum yang menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang datang dari berbagai wilayah. Tempat-tempat tersebut antara lain : 1. Sekolah, karena anak/murid sekolah berasal dari berbagai wilayah selain itu merupakan kelompok umur yang paling susceptible terserang DBD 2. Rumah sakit/Puskesmas dan sarana pelayanan kesehatan lainnya. Karena dalam hal ini orang yang datang dari berbagai wilayan dan kemungkinan diantaranya adalah penderita DBD atau carier virus dengue 3. Tempat umum lainnya seperti : hotel, pertokoan, pasar, restoran, dan tempat ibadah 3. Pemukiman baru di pinggir kota

Karena di lokasi ini penduduknya berasal dari berbagai wilayah, maka kemungkinan diantaranya terdapat penderita atau carier yang membawa virus dengue yang berlainan dari masing-masing lokasi asal.

Pencegahan DBD Umumnya kebanyakan orang terparadigma dengan pemberantasan DBD melalui fogging atau penyemprotan. Padahal untuk melakukan fogging tersebut diperlukan beberapa ketentuan, mulai dari PE dan kemudian pengajuan surat penyemprotan kepada Rumah Sakit terdekat. Hal ini karena fogging tidak baik apabila diterapkan terlalu sering. Disamping itu, untuk memberantas nyamuk dan juga jentik, terdapat beberapa cara sederhana dan hanya diperlukan kepedulian, ketelitian dan keuletan setiap penghuni rumah akan keadaan lingkungan. Cara paling efektif untuk mencegah penularan DBD adalah dengan menghindari gigitan nyamuk penular, mengurangi populasi nyamuk penular, dan mengenali cara hidup nyamuknya. Mengapa tindakan menghindari vektor penular itu penting, karena seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa apabila penderita DBD digigit nyamuk penular, maka virus dalam darah akan ikut terhisap masuk ke dalam lambung nyamuk, selanjutnya virus akan memperbanyak diri dan tersebar di berbagai jaringan tubuh nyamuk termasuk di dalam kelenjar liurnya. Kira-kira satu minggu setelah mengisap darah penderita, nyamuk tersebut siap untuk menularkan kepada orang lain (masa inkubasi ekstrinsik). Penularan ini terjadi karena setiap kali nyamuk menusuk (menggigit), sebelum mengisap darah akan mengeluarkan air liur melalui saluran alat tusuknya (proboscis), agar darah yang dihisap tidak membeku. Bersama air liur inilah virus dengue dipindahkan dari nyamuk ke orang lain. Virus ini akan tetap berada di dalam tubuh nyamuk sepanjang hidupnya. Oleh karena itu nyamuk Aedes aegypti yang telah mengisap virus dengue menjadi penular (infektif) sepanjang hidupnya. Maka dari itu perlu bagi masyarakat mengetahui lebih dalam sifat, ataupun cara hidup dari nyamuk pembawa virus dengue ini, sehingga dapat menghindari gigitannya. Pertama-tama kita kenali dulu tamu di siang hari ini.
1. Nyamuk Aedes aegypti merupakan nyamuk domestik, yakni nyamuk yang berada di bangunanbangunan seperti contohnya rumah dan tersebar luas di daerah tropis 2. Kemampuan terbang + 40 m, maksimal 100 m 3. Senang dengan benda yang bergantungan dan di tempat yang lembab/gelap 4. Siklus hidup : telur jentik kepompong dalam air ( + 7 10 hari ) 5. Sekali bertelur menghasilkan 100-200 telur 6. Tempat perkembangbiakan adalah di TPA (Tempat Penampungan Air)

Sehingga dari itu cara yang untuk menurunkan populasi nyamuk Aedes aegypti adalah melalui cara yang telah dikenal oleh masyarakat yakni melalui 3 M, yakni :
1. Menutup TPA 2. Menguras TPA seminggu sekali dan terus menerus 3. Mengubur barang-barang bekas yang menjadi TPA

Akhir-akhir ini pencegahan dan pemberantasan DBD tidak hanya dapat ditempuh melalui 3M, cara terefektif adalah melalui PSJN (Pemberantasan Sarang Jentik dan Nyamuk). Seperti yang telah diungkapkan oleh dr. Ina di awal artikel bahwa PSJN merupakan cara paling mujarab untuk menekan angka kasus DBD. Selain karena tempat jentiknya yang jelas, yakni di Tempat Penampungan Air (TPA), juga karena jentik merupakan awal fase hidup nyamuk. Dan upaya dalam menerapkan PSJN ini ditempuh dengan beberapa cara diantaranya adalah melalui :
1. Pemberdayaan masyarakat dengan pembinaan ratusan Kader Wamantik (Siswa Pemantau Jentik) dan Bumantik (Ibu Pemantau Jentik), yang bertugas memantau 10 rumah di sekitarnya menyangkut keberadaan jentik di rumah mereka. Tidak lupa juga memberikan penyuluhan 2. Ikanisasi 3. Abatesasi (temephos) 4. Fogging, dengan syarat dan persetujuan dari Rumah Sakit sekitar

Kesadaran dan kepedulian masyarakat merupakan kunci awal dari menurunnya angka DBD di suatu wilayah. Sehingga DBD dapat terjadi di wilayah mana pun, termasuk di wilayah elit. Hindari gigitan nyamuk dengan turunkan populasi, pesan dr. Ina. Melalui kesadaran akan pentingnya kebersihan lingkungan, maka secara otomatis akan menghambat perkembangan jentik, dengan adanya kepedulian maka aplikasi dari upaya-upaya memberantas DBD pun akan terealisasi, dengan begitu tidak akan memberi kesempatan bagi si nyamuk untuk berkembang.(fie)

Deteksi dini dan tanda penyakit DBD


Forum Pelajar Indonesia :: Hobi Dan Kegiatan :: Kesehatan
Halaman 1 dari 1 Share Actions !

Deteksi dini dan tanda penyakit DBD


by @pache on Fri Sep 28, 2007 6:58 pm
Deteksi dini dan tanda bahaya penyakit dbd 19/01/2007 - Dr Widodo Judarwanto SpA Si Udin yang berusia 5 tahun meninggal secara tragis karena penyakit DBD (Demam Berdarah Dengue). Orangtuanya menolak bila dikatakan oleh dokter bahwa penderita terlambat dibawa ke rumah sakit. Saat panas hari ke 1-2 anaknya berturut turut dibawa ke dokter dan hanya dikatakan menderita infeksi tengorokan. Selama rawat jalan saat hari ke 3 diagnosis berubah menjadi gejala tifus. Selanjutnya pada hari ke 5 dinyatakan meninggal karena penyakit DBD hanya berselang beberapa jam setelah masuk rumah sakit. Tampaknya kasus ini terjadi karena deteksi dini dan tanda bahaya DBD tidak dipahami dengan baik. Bagaimana agar DBD khususnya pada anak dapat diketahui secara dini? Tanda bahaya apakah yang harus dicurigai agar tidak terjadi keterlambatan? Masyarakat awam, bahkan seorang dokter yang ahli pun kadang sulit mendeteksi lebih awal diagnosis DBD. Gejala awal DBD tidak khas, hampir semua infeksi akut pada awal penyakitnya menyerupai DBD. Gejala khas seperti perdarahan pada kulit atau tanda perdarahan lainnya kadang terjadi hanya di akhir periode penyakit. Tragisnya bila penyakit ini terlambat didiagnosis, maka kondisi penderita sulit diselamatkan. Perjalanan penyakitnya sangat cepat, dalam beberapa hari bahkan dalam hitungan jam penderita bisa masuk dalam keadaan kritis. Untuk menghindari keterlambatan diagnosis DBD, perlu diketahui deteksi

dini dan tanda bahaya DBD. Penyakit DBD setiap saat terus mengancam masyarakat Indonesia. Penyakit yang bisa menjadi sangat fatal ini dapat terjadi setiap saat tidak melihat musim, meskipun kasusnya meningkat dalam bulan-bulan tertentu. Dalam beberapa hari bahkan dalam hitungan jam penderita bisa masuk dalam keadaan kritis. Kecemasan semakin meningkat, bila saat ini anaknya mengalami panas badan apa pun penyebabnya. Pikiran pertama yang muncul di kepala adalah apakah anak saya menderita demam DBD? Mekanisme Terjadinya Penyakit Virus dengue penyebab DBD termasuk famili Flaviviridae, yang berukuran kecil sekali, yaitu 35-45 nm. Virus tersebut memasuki tubuh manusia melalui gigitan nyamuk yang menembus kulit. Setelah itu disusul oleh periode tenang selama kurang lebih empat hari, saat virus melakukan replikasi secara cepat dalam tubuh manusia. Apabila jumlah virus sudah cukup, virus akan memasuki sirkulasi darah (viraemia). Pada saat ini manusia yang terinfeksi akan mengalami gejala panas. Dengan adanya virus dengue dalam tubuh manusia, tubuh akan memberi reaksi. Bentuk reaksi tubuh terhadap virus ini antara manusia yang satu dan manusia yang lain dapat berbeda. Perbedaan reaksi ini akan memanifestasikan perbedaan penampilan gejala klinis dan perjalanan penyakit. Pada prinsipnya, bentuk reaksi tubuh manusia terhadap keberadaan virus dengue melalui beberapa tahapan. 1. Bentuk reaksi pertama adalah terjadi netralisasi virus dan disusul dengan mengendapkan bentuk netralisasi virus pada pembuluh darah kecil di kulit berupa gejala ruam (rash). 2. Bentuk reaksi kedua terjadi gangguan fungsi pembekuan darah sebagai akibat dari penurunan jumlah dan kualitas komponen-komponen beku darah yang menimbulkan manifestasi perdarahan. 3. Bentuk reaksi ketiga terjadi kebocoran pada pembuluh darah yang mengakibatkan keluarnya komponen plasma (cairan) darah dari dalam pembuluh darah menuju ke rongga perut berupa gejala ascites dan rongga selaput paru berupa gejala efusi pleura.

Manifestasi Klinis Manifestasi klinis infeksi dengue ditandai gejala-gejala klinik berupa demam, nyeri pada seluruh tubuh, ruam dan perdarahan. Demam yang terjadi pada infeksi virus dengue ini timbulnya mendadak, tinggi (dapat mencapai 39-40 derajat Celcius) dan dapat disertai menggigil. Demam ini hanya berlangsung sekitar lima hari. Pada saat demamnya berakhir, sering kali dalam bentuk turun mendadak (lysis), dan

disertai dengan berkeringat banyak. Saat itu anak tampak agak loyo. Kadang-kadang dikenal istilah demam biphasik, yaitu demam yang berlangsung selama beberapa hari itu sempat turun di tengahnya menjadi normal kemudian naik lagi dan baru turun lagi saat penderita sembuh (gambaran kurva panas sebagai punggung unta). Gejala panas pada penderita infeksi virus dengue akan segera disusul dengan timbulnya keluhan nyeri pada seluruh tubuh. Pada umumnya yang dikeluhkan adalah nyeri otot, nyeri sendi, nyeri punggung, dan nyeri pada bola mata yang semakin meningkat apabila digerakkan. Karena adanya gejala nyeri ini, di kalangan masyarakat awam ada istilah flu tulang. Dengan sembuhnya penderita gejala-gejala nyeri pada seluruh tubuh ini juga akan hilang. Ruam yang terjadi pada infeksi virus dengue ini dapat timbul pada saat awal panas yang berupa flushing, yaitu berupa kemerahan pada daerah muka, leher, dan dada. Ruam juga dapat timbul pada hari ke-4 sakit berupa bercak-bercak merah kecil seperti bercak pada penyakit campak. Kadang-kadang ruam tersebut hanya timbul pada daerah tangan atau kaki saja sehingga memberi bentuk spesifik seperti kaos tangan dan kaki. Yang terakhir ini biasanya timbul setelah panas turun atau setelah hari ke-5. Pada infeksi virus dengue apalagi pada bentuk klinis DBD selalu disertai dengan tanda perdarahan. Hanya saja tanda perdarahan ini tidak selalu didapat secara spontan oleh penderita, bahkan pada sebagian besar penderita tanda perdarahan ini muncul setelah dilakukan tes tourniquet. Bentuk-bentuk perdarahan spontan yang dapat terjadi pada penderita demam dengue dapat berupa perdarahan kecil-kecil di kulit (petechiae), perdarahan agak besar di kulit (echimosis), perdarahan gusi, perdarahan hidung dan kadang-kadang dapat terjadi perdarahan yang masif yang dapat berakhir pada kematian. Demam Berdarah Dengue versus Demam Dengue Penyakit DBD adalah salah satu bentuk klinis dari penyakit akibat infeksi dengan virus dengue pada manusia. Manifestasi klinis dari infeksi virus dengue dapat berupa "Demam Dengue(DD)" atau "Demam Berdarah Dengue (DBD)". DD tidak membahayakan atau tidak mengancam jiwa seperti DBD. Biasanya kasus seperti ini sering diistilahkan masyarakat awam sebagai gejala demam berdarah. DD tidak akan berubah menjadi DBD. Jadi, pendapat yang mengatakan bahwa bila penanganan tidak baik dan terlambat akan DD akan menjadi DBD tidak benar. Masyarakat awam sulit membedakan DD dan DBD, karena hanya diketahui dokter berdasarkan pemeriksaan darah dan keadaan klinis penderita. Secara klinis yang membedakan adalah pada DBD terjadi reaksi keluarnya plasma (cairan) darah dari dalam pembuluh darah keluar dan masuk ke dalam rongga perut dan rongga selaput paru.

Fenomena ini apabila tidak segera ditanggulangi dapat mempengaruhi manifestasi gejala perdarahan menjadi sangat masif. Dalam praktik kedokteran sering kali membuat seorang dokter terpaksa memberikan transfusi darah dalam jumlah cukup banyak. Gejala klinis DBD dan DD hampir sama, yaitu panas tinggi, perdarahan, trombosit menurun dan pemeriksaan serologi IgG atau IgM positif. Pada DBD trombosit yang menurun sangat drastis hingga kurang dari 90.000, perdarahan yang terjadi lebih berat dan dapat disertai sesak napas karena adanya cairan di rongga paru (efusi pleura) Deteksi Dini Penyakit DBD Deteksi dini DBD perlu diketahui karena bila terjadi keterlambatan penyakit ini sangat fatal. Gejala awal penyakit ini hampir sama dengan penyakit infeksi virus lainnya. Tetapi ada beberapa karakteristik klinis yang bisa diamati untuk mencurigai penyakit DBD. Beberapa gejala yang diwaspadai adalah bila panas yang timbulnya mendadak, langsung tinggi di atas 39 derajat C. Begitu mendadaknya, sering kali dalam praktik sehari-hari kita mendengar cerita ibu bahwa pada saat melepas putranya berangkat sekolah dalam keadaan sehat walafiat, tetapi pada saat pulang putranya sudah mengeluh panas dan ternyata panasnya langsung tinggi. Pada saat anak mulai panas ini biasanya sudah tidak mau bermain. Biasanya hari ke tiga panas sedikit menurun namun hari ke IV dan ke V meningkat lagi akhirnya hari ke VI panas tidak meningkat lagi. Selain itu bila panas tidak disertai batuk, pilek dan sakit tenggorokan dan di lingkungan rumah tidak ada yang menderita penyakit flu kita harus mewaspadai. Harus waspada juga bila dalam beberapa waktu terakhir di sekitar rumah ada yang mengalami penyakit DBD. Atau, dalam waktu dekat sebelumnya pernah ada fogging (pengasapan), karena kalau ada fogging biasanya ada penderita DBD di sekitarnya. Gejala khas yang terjadi biasanya anak tampak lemas, loyo, tidak mau bermain di bawah, minta gendong dan tidur terus menerus sepanjang hari. Bila lemasnya hanya saat panas tinggi, tetapi begitu panas turun anak aktif lagi biasanya tidak harus dikawatirkan dan merupakan hal yang wajar. Tanda Bahaya Tanda bahaya yang harus diketahui pada penyakit DBD adalah tanda perdarahan kulit (bintik merah), hidung, gusi atau berak darah warna kehitaman dan berbau. Tanda bahaya lainnya adalah bila panas yang berangsur dingin, tetapi anak tampak loyo dan pada perabaan dirasakan ujung-ujung tangan atau kaki dingin. Gejala yang dingin ini sering dianggap anak telah sembuh, padahal merupakan tanda bahaya. Kondisi tersebut mengakibatkan orangtua tidak segera membawa putra mereka ke fasilitas kesehatan terdekat.

Tanda bahaya lain yang menyertai adalah penampilan anak tampak sangat gelisah, kesadarannya menurun, kejang dan napas sesak. Pada keadaan tersebut penderita harus segera dibawa ke dokter, bila terlambat akan menimbulkan komplikasi yang berbahaya seperti syok, perdarahan kepala, perdarahan hebat di seluruh tubuh (DIC) atau gangguan fungsi otot jantung. Dalam keadaan ini penderita biasanya sulit untuk diselamatkan. Seringkali orang tua disalahkan oleh dokter karena keterlambatan membawa ke dokter. Orangtua sering menolak pendapat ini karena sejak hari pertama dan ke dua panas anak selalu kontrol ke dokter. Tetapi panas hari ke I II tidak bisa terdeteksi gejala demam berdarah dan tidak ada penanganan secara khusus. Manifestasi berbahaya biasanya justru timbul pada panas hari ke III V. Keterlambatan penanganan yang terjadi justru saat periode tersebut. Bila terjadi maka jangan ditunda saat itu juga harus segera ke dokter atau ke rumah sakit terdekat. Jadi monitor tanda bahaya itu justru harus dilakukan saat panas hari ke III V. Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan penunjang untuk mendiagnosis DBD adalah pemeriksaan darah atau sering diistilahkan pemeriksaan darah lengkap. Gambaran hasil laboratorium yang khas adalah terjadi peningkatan kadar hemoglobin (Hb) dan peningkatan hematokrit (HCT) disertai penurunan trombosit kurang dari 150.000 Perubahan tersebut biasanya terjadi pada hari ke-3 hingga ke-5 panas. Pemeriksaan darah pada hari pertama atau kedua panas tidak bermanfaat dan malah menyesatkan karena hasilnya masih dalam normal, tetapi belum menyingkirkan penyakit DBD. Dalam perjalanannya trombosit akan terus menurun pada hari ke-3, ke-4, dan hari ke-5, sementara pada hari ke-6 dan selanjutnya akan meningkat terus kembali ke nilai normal. Peningkatan jumlah trombosit setelah hari ke-6 inilah mungkin yang sering dianggap karena pengaruh pemberian jambu biji. Biasanya setelah hari ke-6 jumlah trombosit di atas 50.000, bila tidak disertai komplikasi penderita diperbolehkan pulang. Pemeriksaan laboratorium yang sering dilakukan adalah pemeriksaan serologi imunoglobulin G (IgG) dan imunoglobulin M (IgM). Pemeriksaan ini selain tidak spesifik tetapi juga harganya relatif mahal. Pada keadaan manifestasi klinis dan hasil laboratorium sudah jelas pemeriksaan ini sebenarnya tidak perlu dilakukan. Pada kasus yang tidak jelas mungkin pemeriksaan ini sering membantu menunjang menegakkan diagnosis DBD. Hal lain yang sering dijumpai penderita DBD didiagnosis sebagai sebagai penyakit tifus. Pada penderita DBD sering ditemukan juga peningkatan hasil Widal. Pemeriksaan Widal adalah identifikasi antibodi tubuh terhadap penyakit demam tiphoid (tifus). Kejadian seperti inilah yang menimbulkan kerancuan

diagnosis DBD. Padahal pada penyakit demam tiphoid pada minggu awal panas biasanya malah tidak terdeteksi peningkatan titer Widal tersebut. Bila hasil pemeriksaan widal meningkat tinggi pada awal minggu pertama, tidak harus dicurigai sebagai penyakit tifus. Sebaiknya, pemeriksaan Widal dilakukan menjelang akhir minggu pertama panas atau awal minggu ke dua panas. Prinsip Pengobatan DBD Secara medis sebenarnya tidak ada pengobatan secara khusus pada penderita DBD. Penyakit ini adalah self limiting disease atau penyakit yang dapat sembuh sendiri. Prinsip pengobatan secara umum adalah pemberian cairan berupa elektrolit (khususnya natrium) dan glukosa. Pemberian minum yang mengandung elektrolit dan glukosa, seperti air buah atau minuman lain yang manis, dapat membantu mengatasi kekurangan cairan pada penderita DBD. Sampai pada saat ini belum ada penelitian secara klinis yang membuktikan bahwa pemberian jambu biji kepada penderita DBD dapat meningkatkan jumlah trombosit dalam darah.

Cetak Halaman Ini

DEMAM DENGUE DAN DEMAM BERDARAH DENGUE


By admin on October 13, 2008 BATASAN Demam Dengue (DD) dan Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit demam akut yang disebabkan oleh infeksi virus dengue. ETIOLOGI DD dan DBD disebabkan oleh infeksi virus dengue yang mempunyai 4 serotipe yaitu den-1, den2, den-3, dan den-4. Virus dengue serotipe den-3 merupakan serotipe yang dominan di Indonesia dan paling banyak berhubungan dengan kasus berat. MANIFESTASI KLINIS Infeksi virus dengue mempunyai spektrum klinis yang luas mulai dari asimptomatik (silent dengue infection), demam dengue (DD), demam berdarah dengue (DBD), dan demam berdarah dengue disertai syok (sindrom syok dengue, SSD). Tabel 1. Manifestasi klinis infeksi virus dengue
Spektrum Klinis Manifestasi Klinis Demam akut selama 2-7 hari, disertai dua atau lebih manifestasi berikut: nyeri kepala, nyeri retroorbita, mialgia, manifestasi perdarahan, dan leukopenia. Dapat disertai trombositopenia. Hari ke-3-5 ==> fase pemulihan (saat suhu turun), klinis membaik.

DD

DBD

Demam tinggi mendadak selama 2-7 hari disertai nyeri kepala, nyeri retroorbita, mialgia dan nyeri perut. Uji torniquet positif. Ruam kulit : petekiae, ekimosis, purpura. Perdarahan mukosa/saluran cerna/saluran kemih : epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis, melena, hem Hepatomegali. Perembesan plasma: efusi pleura, efusi perikard, atau perembesan ke rongga peritoneal. Trombositopenia. Hemokonsentrasi. Hari ke 3-5 ==> fase kritis (saat suhu turun), perjalanan penyakit dapat berkembang menjadi syok

Manifestasi klinis seperti DBD, disertai kegagalan sirkulasi (syok). Gejala syok : SSD

Anak gelisah, hingga terjadi penurunan kesadaran, sianosis. Nafas cepat, nadi teraba lembut hingga tidak teraba. Tekanan darah turun, tekanan nadi < 10 mmHg. Akral dingin, capillary refill turun. Diuresis turun, hingga anuria.

Keterangan:

Manifestasi klinis nyeri perut, hepatomegali, dan perdarahan terutama perdarahan GIT lebih dominan pada DBD. Perbedaan utama DBD dengan DD adalah pada DBD terjadi peningkatan permeabilitas kapiler sehingga terjadi perembesan plasma yang mengakibatkan haemokonsentrasi, hipovolemia dan syok. Uji torniquet positif : terdapat 10 - 20 atau lebih petekiae dalam diameter 2,8 cm (1 inchi).

PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan untuk menegakkan diagnosis adalah :

Pemeriksaan darah perifer: Hb, leukosit dan hitung jenis, hematokrit, dan trombosit. Pada DBD berat/SSD : monitor hematokrit tiap 4-6 jam, trombosit, AGD, kadar elektrolit, ureum, kreatinin, SGOT, SGPT, protein serum, PT dan APTT.

DIAGNOSIS

Diagnosis DD ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan penunjang sesuai tabel 1, dan tidak ditemukan adanya tanda-tanda perembesan plasma (hemokonsentrasi, hipovolemia, dan syok). Sedangkan diagnosis DBD ditegakkan berdasarkan kriteria diagnosis WHO sebagai berikut: 1. Kriteria klinis Demam tinggi mendadak, tanpa sebab jelas, berlangsung terus menerus selama 2-7 hari. Terdapat manifestasi perdarahan : uji torniquet positif, petekiae, ekimosis, epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis, dan atau melena. Hepatomegali. Syok 2. Kriteri laboratoris Trombositopenia (trombosit =100.000 mm3) Hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit =20% menurut standar umur dan jenis kelamin)

Diagnosis DBD dapat ditegakkan bila memenuhi kriteria : 2 kriteria klinis pertama + trombositopenia dan hemokonsentrasi.

Pada DBD harus dinilai derajat penyakit, karena membutuhkan penatalaksanaan yang berbeda.

Tabel 2. Derajat penyakit DBD


Derajat Penyakit DBD derajat I DBD derajat II DBD derajat III DBD derajat IV Kriteria

Demam disertai gejala tidak khas, dan satu-satunya manifestasi perdarahan ialah uji torniquet pos Seperti derajat I, disertai perdarahan spontan di kulit atau perdarahan lain. Terdapat kegagalan sirkulasi (nadi cepat dan lembut, tekanan nadi menurun ( < 20 mmHg) atau hipotensi, sianosis disekitar mulut, kulit dingin dan lembab, dan anak tampak gelisah. Syok berat (profound shock): nadi tidak dapat diraba, dan tekanan darah tidak dapat diukur.

KOMPLIKASI DBD Pada DD tidak terdapat komplikasi berat namun anak dapat mengeluh lemah/lelah (fatigue) saat fase pemulihan. Komplikasi berat dapat terjadi pada DBD yaitu ensefalopati dengue, gagal ginjal akut, atau udem paru akut. PENATALAKSANAAN 1. Demam Dengue Medikamentosa:

Antipiretik (apabila diperlukan) : paracetamol 10 15 mg/kg BB/kali, 3 kali/hari. Tidak dianjurkan pemberian asam asetilsalisilat/ibuprofen pada anak yang dicurigai DD/DBD.

Edukasi orang tua:


Anjurkan anak tirah baring selama masih demam. Bila perlu, anjurkan kompres air hangat. Perbanyak asupan cairan per oral: air putih, ASI, cairan elektrolit, jus buah, atau sup. Tidak ada larangan konsumsi makanan tertentu. Monitor keadaan dan suhu anak dirumah, terutama selama 2 hari saat suhu turun. Pada fase demam, kita sulit membedakan antara DD dan DBD, sehingga orang tua perlu waspada. Segera bawa anak ke rumah sakit bila : anak gelisah, lemas, muntah terus menerus, tidak sadar, tangan/kaki teraba dingin, atau timbul perdarahan.

2. Demam Berdarah Dengue Fase demam

Prinsip tatalaksana DBD fase demam sama dengan tatalaksana DD. Antipiretik: paracetamol 10 15 mg/kg BB/kali, 3 kali/hari. Perbanyak asupan cairan oral. Monitor keadaan anak (tanda-tanda syok) terutama selama 2 hari saat suhu turun. Monitor trombosit dan hematokrit secara berkala.

Penggantian volume plasma


Anak cenderung menjadi dehidrasi. Penggantian cairan sesuai status dehidrasi pasien dilanjutkan dengan terapi cairan rumatan. Jenis cairan adalah kristaloid : RL, 5% glukosa dalam RL, atau NaCl.

Tabel 3. Kebutuhan cairan pada rehidrasi ringan-sedang


Berat Badan (Kg) <7 7 11 12 18 >18 Jumlah Cairan (ml/kg BB/hari) 220 165 132 88

Tabel 4. Kebutuhan cairan rumatan


Berat Badan (Kg) 10 10 20 >20 Jumlah cairan (ml) 100 per kg BB 1000 + 50 x kg BB (untuk BB di atas 10 kg) 1500 + 20 x kg BB (untuk BB di atas 20 kg)

Tabel 5. Kriteria rawat inap dan memulangkan pasien


Kriteria rawat inap Ada kedaruratan: Syok Kriteria memulangkan pasien Tidak demam selama 24 jam tanpa antipiretik

Muntah terus menerus Kejang Kesadaran turun Muntah darah Berak hitam Hematokrit cenderung meningkat setelah 2 kali pemeriksaan berturut-turut Hemokonsentrasi (Ht meningkat = 20%)

Nafsu makan membaik Secara klinis tampak perbaikan Hematokrit stabil Tiga hari setelah syok teratasi Trombosit > 50.000/uL Tidak dijumpai distres pernafasan

Referensi 1. Demam Berdarah Dengue: Pelatihan bagi pelatih, dokter spesialis anak, dan dokter spesialis penyakit dalam, dalam tatalaksana kasus DBD. Balai Penerbit FKUI; Jakarta, 1999. 2. Dengue Haemorrhagic Fever: Diagnosis, treatment, prevention and control, second edition. WHO: 1997. Algoritma 1. Diagnosis Demam Dengue dan DBD

Algoritma 2. Tatalaksana DBD Derajat II

Algoritma 3. Tatalaksana DBD Derajat III/IV atau SSD

Deteksi
Selasa,

Dini
30

DAN

TANDA
Jan

BAHAYA
2007

Penyakit

DBD
13:19:14

Pdpersi, Jakarta - Deteksi Dini DAN TANDA BAHAYA Penyakit DBD Dr Widodo Judarwanto SpA Si Udin yang berusia 5 tahun meninggal secara tragis karena penyakit DBD (Demam Berdarah Dengue). Orangtuanya menolak bila dikatakan oleh dokter bahwa penderita terlambat dibawa ke rumah sakit. Saat panas hari ke 1-2 anaknya berturut turut dibawa ke dokter dan hanya dikatakan menderita infeksi tengorokan. Selama rawat jalan saat hari ke 3 diagnosis berubah menjadi gejala tifus. Selanjutnya pada hari ke 5 dinyatakan meninggal karena penyakit DBD hanya berselang beberapa jam setelah masuk rumah sakit. Tampaknya kasus ini terjadi karena deteksi dini dan tanda bahaya DBD tidak dipahami dengan baik. Bagaimana agar DBD khususnya pada anak dapat diketahui secara dini? Tanda bahaya apakah yang harus dicurigai agar tidak terjadi keterlambatan?. Masyarakat awam, bahkan seorang dokter yang ahli pun kadang sulit mendeteksi lebih awal diagnosis DBD. Gejala awal DBD tidak khas, hampir semua infeksi akut pada awal penyakitnya menyerupai DBD. Gejala khas seperti perdarahan pada kulit atau tanda perdarahan lainnya kadang terjadi hanya di akhir periode penyakit. Tragisnya bila penyakit ini terlambat didiagnosis, maka kondisi penderita sulit diselamatkan. Perjalanan penyakitnya sangat cepat, dalam beberapa hari bahkan dalam hitungan jam penderita bisa masuk dalam keadaan kritis. Untuk menghindari keterlambatan diagnosis DBD, perlu diketahui deteksi dini dan tanda bahaya DBD. Penyakit DBD setiap saat terus mengancam masyarakat Indonesia. Penyakit yang bisa menjadi sangat fatal ini dapat terjadi setiap saat tidak melihat musim, meskipun kasusnya meningkat dalam bulan-bulan tertentu. Dalam beberapa hari bahkan dalam hitungan jam penderita bisa masuk dalam keadaan kritis. Kecemasan semakin meningkat, bila saat ini anaknya mengalami panas badan apa pun penyebabnya. Pikiran pertama yang muncul di kepala adalah apakah anak saya menderita demam DBD? MEKANISME TERJADINYA PENYAKIT DAN MANIFESTASI KLINIS Virus dengue penyebab DBD termasuk famili Flaviviridae, yang berukuran kecil sekali, yaitu 35-45 nm. Virus tersebut memasuki tubuh manusia melalui gigitan nyamuk yang menembus kulit. Setelah itu disusul oleh periode tenang selama kurang lebih empat hari, saat virus melakukan replikasi secara cepat dalam tubuh manusia. Apabila jumlah virus sudah cukup, virus akan memasuki sirkulasi darah (viraemia). Pada saat ini manusia yang terinfeksi akan mengalami gejala panas. Dengan adanya virus dengue dalam tubuh manusia, tubuh akan memberi reaksi. Bentuk reaksi tubuh terhadap virus ini antara manusia yang satu dan manusia yang lain dapat berbeda. Perbedaan reaksi ini akan memanifestasikan perbedaan penampilan gejala klinis dan perjalanan penyakit. Pada prinsipnya, bentuk reaksi tubuh manusia terhadap keberadaan virus dengue melalui beberapa tahapan. Bentuk reaksi pertama adalah terjadi netralisasi virus dan disusul dengan mengendapkan bentuk netralisasi virus pada pembuluh darah kecil di kulit berupa gejala ruam (rash). Bentuk reaksi kedua terjadi gangguan fungsi pembekuan darah sebagai akibat dari penurunan jumlah dan kualitas komponen-komponen beku darah yang menimbulkan manifestasi perdarahan. Bentuk reaksi ketiga terjadi kebocoran pada pembuluh darah yang mengakibatkan keluarnya komponen plasma (cairan) darah dari dalam pembuluh darah menuju ke rongga perut berupa gejala ascites dan rongga selaput paru berupa gejala efusi pleura.

Manifestasi klinis infeksi dengue ditandai gejala-gejala klinik berupa demam, nyeri pada seluruh tubuh, ruam dan perdarahan. Demam yang terjadi pada infeksi virus dengue ini timbulnya mendadak, tinggi (dapat mencapai 39-400Celcius) dan dapat disertai menggigil. Demam ini hanya berlangsung sekitar lima hari. Pada saat demamnya berakhir, sering kali dalam bentuk turun mendadak (lysis), dan disertai dengan berkeringat banyak. Saat itu anak tampak agak loyo. Kadang-kadang dikenal istilah demam biphasik, yaitu demam yang berlangsung selama beberapa hari itu sempat turun di tengahnya menjadi normal kemudian naik lagi dan baru turun lagi saat penderita sembuh (gambaran kurva panas sebagai punggung unta). Gejala panas pada penderita infeksi virus dengue akan segera disusul dengan timbulnya keluhan nyeri pada seluruh tubuh. Pada umumnya yang dikeluhkan adalah nyeri otot, nyeri sendi, nyeri punggung, dan nyeri pada bola mata yang semakin meningkat apabila digerakkan. Karena adanya gejala nyeri ini, di kalangan masyarakat awam ada istilah flu tulang. Dengan sembuhnya penderita gejala-gejala nyeri pada seluruh tubuh ini juga akan hilang. Ruam yang terjadi pada infeksi virus dengue ini dapat timbul pada saat awal panas yang berupa flushing, yaitu berupa kemerahan pada daerah muka, leher, dan dada. Ruam juga dapat timbul pada hari ke-4 sakit berupa bercak-bercak merah kecil seperti bercak pada penyakit campak. Kadang-kadang ruam tersebut hanya timbul pada daerah tangan atau kaki saja sehingga memberi bentuk spesifik seperti kaos tangan dan kaki. Yang terakhir ini biasanya timbul setelah panas turun atau setelah hari ke-5. Pada infeksi virus dengue apalagi pada bentuk klinis DBD selalu disertai dengan tanda perdarahan. Hanya saja tanda perdarahan ini tidak selalu didapat secara spontan oleh penderita, bahkan pada sebagian besar penderita tanda perdarahan ini muncul setelah dilakukan tes tourniquet. Bentuk-bentuk perdarahan spontan yang dapat terjadi pada penderita demam dengue dapat berupa perdarahan kecilkecil di kulit (petechiae), perdarahan agak besar di kulit (echimosis), perdarahan gusi, perdarahan hidung dan kadang-kadang dapat terjadi perdarahan yang masif yang dapat berakhir pada kematian. DEMAM BERDARAH DENGUE DAN DEMAM DENGUE Penyakit DBD adalah salah satu bentuk klinis dari penyakit akibat infeksi dengan virus dengue pada manusia. Manifestasi klinis dari infeksi virus dengue dapat berupa "Demam Dengue(DD)" atau "Demam Berdarah Dengue (DBD)". DD tidak membahayakan atau tidak mengancam jiwa seperti DBD. Biasanya kasus seperti ini sering diistilahkan masyarakat awam sebagai gejala demam berdarah. DD tidak akan berubah menjadi DBD. Jadi, pendapat yang mengatakan bahwa bila penanganan tidak baik dan terlambat akan DD akan menjadi DBD tidak benar. Masyarakat awam sulit membedakan DD dan DBD, karena hanya diketahui dokter berdasarkan pemeriksaan darah dan keadaan klinis penderita. Secara klinis yang membedakan adalah pada DBD terjadi reaksi keluarnya plasma (cairan) darah dari dalam pembuluh darah keluar dan masuk ke dalam rongga perut dan rongga selaput paru. Fenomena ini apabila tidak segera ditanggulangi dapat mempengaruhi manifestasi gejala perdarahan menjadi sangat masif. Dalam praktik kedokteran sering kali membuat seorang dokter terpaksa memberikan transfusi darah dalam jumlah cukup banyak. Gejala klinis DBD dan DD hampir sama, yaitu panas tinggi, perdarahan, trombosit menurun dan pemeriksaan serologi IgG atau IgM positif. Pada DBD trombosit yang menurun sangat drastis hingga kurang dari 90.000, perdarahan yang terjadi lebih berat dan dapat disertai sesak napas karena adanya cairan di rongga paru (efusi pleura)

DETEKSI DINI PENYAKIT DBD Deteksi dini DBD perlu diketahui karena bila terjadi keterlambatan penyakit ini sangat fatal. Gejala awal penyakit ini hampir sama dengan penyakit infeksi virus lainnya. Tetapi ada beberapa karakteristik klinis yang bisa diamati untuk mencurigai penyakit DBD. Beberapa gejala yang diwaspadai adalah bila panas yang timbulnya mendadak, langsung tinggi di atas 390C. Begitu mendadaknya, sering kali dalam praktik sehari-hari kita mendengar cerita ibu bahwa pada saat melepas putranya berangkat sekolah dalam keadaan sehat walafiat, tetapi pada saat pulang putranya sudah mengeluh panas dan ternyata panasnya langsung tinggi. Pada saat anak mulai panas ini biasanya sudah tidak mau bermain. Biasanya hari ke tiga panas sedikit menurun namun hari ke IV dan ke V meningkat lagi akhirnya hari ke VI panas tidak meningkat lagi. Selain itu bila panas tidak disertai batuk, pilek dan sakit tenggorokan dan di lingkungan rumah tidak ada yang menderita penyakit flu kita harus mewaspadai. Harus waspada juga bila dalam beberapa waktu terakhir di sekitar rumah ada yang mengalami penyakit DBD. Atau, dalam waktu dekat sebelumnya pernah ada fogging (pengasapan), karena kalau ada fogging biasanya ada penderita DBD di sekitarnya. Gejala khas yang terjadi biasanya anak tampak lemas, loyo, tidak mau bermain di bawah, minta gendong dan tidur terus menerus sepanjang hari. Bila lemasnya hanya saat panas tinggi, tetapi begitu panas turun anak aktif lagi biasanya tidak harus dikawatirkan dan merupakan hal yang wajar. TANDA BAHAYA Tanda bahaya yang harus diketahui pada penyakit DBD adalah tanda perdarahan kulit (bintik merah), hidung, gusi atau berak darah warna kehitaman dan berbau. Tanda bahaya lainnya adalah bila panas yang berangsur dingin, tetapi anak tampak loyo dan pada perabaan dirasakan ujung-ujung tangan atau kaki dingin. Gejala yang ingin ini sering dianggap anak telah sembuh, padahal merupakan tanda bahaya. Kondisi tersebut mengakibatkan orangtua tidak segera membawa putra mereka ke fasilitas kesehatan terdekat. Tanda bahaya lain yang menyertai adalah penampilan anak tampak sangat gelisah, kesadarannya menurun, kejang dan napas sesak. Pada keadaan tersebut penderita harus segera dibawa ke dokter, bila terlambat akan menimbulkan komplikasi yang berbahaya seperti syok, perdarahan kepala, perdarahan hebat di seluruh tubuh (DIC) atau gangguan fungsi otot jantung. Dalam keadaan ini penderita biasanya sulit untuk diselamtkan. Seringkali orang tua disalahkan oleh dokter karena keterlambatan membawa ke dokter. Orangtua sering menolak pendapat ini karena sejak hari pertama dan ke dua panas anak selalu kontrol ke dokter. Tetapi panas hari ke I II tidak bisa terdeteksi gejala demam berdarah dan tidak ada penanganan secara khusus. Manifestasi berbahaya biasanya justru timbul pada panas hari ke III V. Keterlambatan penanganan yang terjadi justru saat periode tersebut. Bila terjadi maka jangan ditunda saat itu juga harus segera ke dokter atau ke rumah sakit terdekat. Jadi monitor tanda bahaya itu justru harus dilakukan saat panas hari ke III V. PEMERIKSAAN LABORATORIUM Pemeriksaan penunjang untuk mendiagnosis DBD adalah pemeriksaan darah atau sering diistilahkan pemeriksaan darah lengkap. Gambaran hasil laboratorium yang khas adalah terjadi peningkatan kadar hemoglobin (Hb) dan peningkatan hematokrit (HCT) disertai penurunan trombosis kurang dari 150.00. Perubahan tersebut biasanya terjadi pada hari ke-3 hingga ke-5 panas. Pemeriksaan darah pada hari pertama atau kedua panas tidak bermanfaat dan malah menyesatkan karena hasilnya masih dalam normal, tgetapi belum menyingkirkan penyakit DBD. Dalam perjalanannya trombosis akan terus

menurun pada hari ke-3, ke-4, dan hari ke-5, sementara pada hari ke-6 dan selanjutnya akan meningkat terus kembali ke nilai normal. Peningkatan jumlah trombosit setelah hari ke-6 inilah mungkin yang sering dianggap karena pengaruh pemberian jambu biji. Biasanya setelah hari ke-6 jumlah trombosit di atas 50.000, bila tidak disertai komplikasi penderita diperbolehkan pulang. Pemeriksaan laboratorium yang sering dilakukan adalah pemeriksaan serologi imunoglobulin G (IgG) dan imunoglobulin M (IgM). Pemeriksaan ini selain tidak spesifik tetapi juga harganya relatif mahal. Pada keadaan manifestasi klinis dan hasil laboratorium sudah jelas pemeriksaan ini sebenarnya tidak perlu dilakukan. Pada kasus yang tidak jelas mungkin pemeriksaan ini sering membantu menunjang menegakkan diagnosis DBD. Hal lain yang sering dijumpai penderita DBD di diagnosis sebagai sebagai penyakit tifus. Pada penderita DBD sering ditemukan juga peningkatan hasil Widal. Pemeriksaan Widal adalah identifikasi antibodi tubuh terhadap penyakit demam tiphoid (tifus). Kejadian seperti inilah yang menimbulkan kerancuan diagnosis DBD. Padahal pada penyakit demam tiphoid pada minggu awal panas biasanya malah tidak terdeteksi peningkatan titer Widal tersebut. Bila hasil pemeriksaan widal meningkat tinggi pada awal minggu pertama, tidak harus dicurigai sebagai penyakit tifus. Sebaiknya, pemeriksaan Widal dilakukan menjelang akhir minggu pertama panas atau awal minggu ke dua panas. Secara medis sebenarnya tidak ada pengobatan secara khusus pada penderita DBD. Penyakit ini adalah self limiting disease atau penyakit yang dapat sembuh sendiri. Prinsip pengobatan secara umum adalah pemberian cairan berupa elektrolit (khususnya natrium) dan glukosa. Sehingga pemberian minum yang mengandung elektrolit dan glukosa, seperti air buah atau minuman lain yang manis, dapat membantu mengatasi kekurangan cairan pada penderita DBD. Sampai pada saat ini belum ada penelitian secara klinis yang membuktikan bahwa pemberian jambu biji kepada penderita DBD dapat meningkatkan jumlah trombosit dalam darah.

Demam berdarah lagi dan demam berdarah lagi. Ga ada habis2 nya topic ini dibahas. Walaupun begitu angka kematian yang disebabkan oleh penyakit ini masih tetap saja tinggi di Indonesia. Maka penulis mencoba mengangkat lagi tema ini. Dengan harapan memberantas ketidaktahuan kita juga akan membantu memberantas penyakit demam berdarah ini

Pengertian Demam Berdarah :Demam berdarah adalah penyakit infeksi daerah tropis yang disebabkan oleh virus dengue dengan gejala klinis demam, nyeri otot dan atau nyeri sendi, nyeri kepala, disertai leucopenia dan trombositopenia. Penyebab Demam berdarah Demam berdarah disebabkan oleh virus dengue yang termasuk genus Flavivirus, Family Flaviviridae. Terdapat 4 jenis Virus Dengue di Indonesia, DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4 dengan jumlah paling banyak di Indonesia adalah DEN-3 Penularan Demam berdarah ditularkan melalui gigitan nyamuk.Nyamuk Aedes aegepty betina merupakan vector utama pembawa penyakit ini.

Gejala Demam Berdarah gejala DBD meliputi - Demam atau Riwayat demam akut antara 2-7 hari, tipe demam bifasik - Terdapat tanda perdarahan 1. Uji bendung (rumple lead positif) [Rumple lead dilakukan oleh dokter atau tenaga medis yang berwenang 2. Petechie (bintik perdarahan sebesar ujung bolpoin), ekimosis ( bercak perdarahan kira2 sebesar ujung spidol whiteboard), dan purpura (lebam) 3. Perdarahan selaput lendir, biasanya mimisan ataupun perdarahan gusi 4. Hematemesis (muntah berisi darah yang berwarna kehitaman), dan melena (berak berisi lendir dan berwarna kehitaman seperti aspal)

- Pembesaran hati dan Limpa (yang ini yang meriksa dokternya - Dapat disertai Gejala Shock seperti 1. Nadi lemah, cepat, kecil, sampai tak teraba 2. Tekanan darah turun drastic sampai di bawah 80/20 3. Kulit teraba lemban dan dingin. Bila ujung kuku ditekan, maka perlu lebih dari dua detik agar daerah yang ditekan kembali merah kembali 4. Ujung jari tangan, kaki, dan mulut berwarna kebiruan

Pencegahan Demam Berdarah Tidak ada vaksin apapun yang mampu mencegah Demam Berdarah. Pencegahan Demam berdarah hanya dapat dilakukan melalui 1. Menjaga kondisi tubuh tetap fit. Makan makanan bergizi, istirahat, olahraga teratur dapat meningkatkan daya tahan tubuh anda, 2. 3 M - Menguras Bak mandi 2 kali seminggu - Menutup tempat penampungan air - Mengubur barang bekas yang berpotensi menampung air - Plus menghindari gigitan nyamuk (memasang kelambu, mengoleskan anti nyamuk, menyemprot, dsb) NB : Di Singapura yang iklimnya sama dengan kita angka demam berdarahnya jauh lebih rendah. Ternyata pemerintah Singapura menetapkan denda cukup tinggi bagi rumah tangga yang terbukti memiliki jentik nyamuk di rumahnya. Ini adalah bukti bahwa cara memberantas demam berdarah adalah memberantas kebiasaan buruk kita sendiri. Maka dari itu, segeralah lakukan 3 M di atas. Pengobatan Segera bawa ke dokter ataupun pelayanan kesehatan yang terdekat. Demam berdarah bukan penyakit yang sulit ditangani tapi merupakan penyakit yang cukup berbahaya dan dapat menimbulkan kematian.

Pada dasarnya tidak ada pengobatan untuk memberantas virus Demam Berdarah ini, pengobatan yang dilakukan lebih bersifat menjaga keseimbangan cairan, mencegah komplikasi, dan memantau adanya perdarahan.

Demam Berdarah Dengue


Pengertian . demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit febril akut yang ditemukan di daerah tropis, dengan penyebaran geografis yang mirip dengan malaria. Penyakit ini disebabkan oleh salah satu dari empat serotipe virus dari genus Flavivirus, famili Flaviviridae. Setiap serotipe cukup berbeda sehingga tidak ada proteksi-silang dan wabah yang disebabkan beberapa serotipe (hiperendemisitas) dapat terjadi. Demam berdarah disebarkan kepada manusia oleh nyamuk Aedes aegypti. Tanda dan gejala Demam berdarah umumnya lamanya sekitar enam atau tujuh hari dengan puncak demam yang lebih kecil terjadi pada akhir masa demam. Secara klinis, jumlah platelet akan jatuh hingga pasien dianggap afebril. Sesudah masa tunas / inkubasi selama 3 - 15 hari orang yang tertular dapat mengalami / menderita penyakit ini dalam salah satu dari 4 bentuk berikut ini : Bentuk abortif, penderita tidak merasakan suatu gejala apapun. Dengue klasik, penderita mengalami demam tinggi selama 4 - 7 hari, nyeri-nyeri pada tulang, diikuti dengan munculnya bintik-bintik atau bercak-bercak perdarahan di bawah kulit. Dengue Haemorrhagic Fever (Demam berdarah dengue/DBD) gejalanya sama dengan dengue klasik ditambah dengan perdarahan dari hidung (epistaksis/mimisan), mulut, dubur, dsb. Dengue Syok Sindrom, gejalanya sama dengan DBD ditambah dengan syok / presyok. Bentuk ini sering berujung pada kematian. Hasil Test Laboratorium : 1. Trombositopeni (?100.000/uL). 2. Hemokonsentrasi (kenaikan Ht ?20% diatas nilai rata-rata hematokrit penduduk menurut umur dan kelamin). Untuk kehati-hatian kita segeralah ke dokter Rumah sakit agar segera mendapatkan pertolongan, karena siklus DBD biasanya sangat cepat dan kita biasanya lengah. Pada saat epidemi sering sekali penderita menjadi panik dan memaksa untuk dirawat di rumah sakit sehingga fasilitas rawat inap di rumah sakit tidak memenuhi kebutuhan/keinginan penderita untuk dirawat di rumah sakit, dalam keadaan ini seyogyanya hanya penderita yang benar-benar memerlukan pengawasan di rumah sakit saja yang dirawat. Diagnosis klinis Definisi kasus DBD (case definition) menurut kriteria WHO (1997) harus memenuhi semua keadaan di bawah ini, meliputi: 1) Demam atau riwayat demam akut selama 2-7 hari, kadang-kadang bersifat bifasik. 2) Manifestasi perdarahan bersifat sebagai salah satu di bawah ini: Tes tourniquet positif Petekie, ekimosis purpura Perdarahan mukosa, saluran cerna, bekas suntikan atau tempat lain Hematemesis atau melena

3) Trombositopeni (?100.000/uL). 4) Bukti adanya kebocoran plasma karena meningkatnya per-meabilitas vaskuler, bermanifestasi sebagai salah satu di bawah ini: Kenaikan hematokrit ?20% diatas nilai rata-rata hematokrit untuk populasi, umur dan jenis kelamin. Penurunan nilai hematokrit ?20% dari nilai dasar setelah pengobatan cairan untuk mengatasi hipovolemi. Tanda kebocoran plasma seperti efusi pleura, ascites dan hipoproteinemi. Berdasarkan kriteria tersebut untuk diagnosis klinik harus dipenuhi kriteria kenaikan hematokrit ?20% sebagai bukti ada-nya kebocoran plasma. Laboratorium Pemeriksaan laboratorium yang penting ialah hemokonsentrasi ( Nilai Hematokrit ) dan trombositopeni ( jumlah trombosit menurun). Hemokonsentrasi sesuai dengan patokan WHO baru dapat dinilai setelah penderita sembuh. Penderita DBD yang sepenuhnya memenuhi kriteria klinis WHO yaitu trombosit ?100.000/uL dan hemokonsentrasi ?20% hanya berjumlah 20%. Bila patokan hemokonsentrasi dan trombositopeni menurut kriteria WHO dipakai secara murni maka banyak penderita DBD yang tidak terjaring dan luput dari pengawasan. Dalam kenyataan di klinik tidak mungkin mengukur kenaikan hemokonsentrasi pada saat penderita pertama kali datang sehingga nilai hematokritlah yang dapat dipakai sebagai pegangan. Penelitian pada penderita DBD berkesimpulan nilai hematokrit ?40% dapat dipakai sebagai petunjuk adanya hemokonsentrasi dan selanjutnya diperhatikan kenaikannya selama pengawasan. Radiologi Pencitraan dengan foto paru dapat menunjukan adanya efusi pleura dan pengalaman menunjukkan bahwa posisi lateral dekubitus kanan lebih baik dalam mendeteksi cairan dibandingkan dengan posisi berdiri apalagi berbaring. Ultrasonografis Pencitraan USG pada anak lebih disukai dengan pertimbangan dan yang penting tidak menggunakan sistim pengion (sinar X) dan dapat diperiksa sekaligus berbagai organ dalam perut. Adanya ascites dan cairan pleura pada pemeriksaan USG sangat membantu dalam penatalaksanaan DBD. Pemeriksaan USG dapat pula dipakai sebagai alat diagnostik bantu untuk meramalkan kemungkinan penyakit yang lebih berat misalnya dengan melihat penebalan dinding kandung empedu dan penebalan pankreas . Serologik Diagnosis pasti DBD ditegakkan dengan pemeriksaan serologis (tes hemaglutinasi inhibisi, fiksasi komplemen, tes netralisasi, Elisa IgM dan IgG, PCR) serta isolasi virus. Tes baku yang dianjurkan WHO ialah tes hemaglutinasi inhibisi (HI). Untuk konfirmasi dilakukan pemeriksaan hemaglutinasi inhibisi (HI) dari sampel darah akut saat masuk dirawat, sampel darah saat keluar, rumah sakit dan penderita diminta untuk kontrol kembali setelah 1 minggu pulang sekalian diambil sampel darah ketiga. Dari pengalaman hanya sekitar 50% penderita kembali untuk pengambilan darah ketiga, akan tetapi hal ini sangat berarti dalam penilaian hasil serologik. PATOFISIOLOGI Kelainan utama pada DBD ialah

(1) bertambahnya per-meabilitas vaskuler yang menyebabkan terjadinya kebocoran plasma dan terjadinya hipovolemi intravaskuler, (2) gangguan hemostasis (angiopati, trombositopeni dan koagulopati). Pemulihan volume cairan intravaskuler secara dini dan adekuat Koagulasi Intravaskuler Diseminata (KID). Secara teoritis tahapan perubahan pada permeabilitas dinding vaskuler dan pengaruhnya terhadap perbedaan tekanan onkotik cairan intravaskuler dan ekstravaskuler . Pada saat terjadi kebocoran plasma, albumin, air dan elektrolit keluar dari kompartemen intravaskuler kedalam kompartemen ektravaskuler . Dengan adanya protein dalam kompartemen ektravaskuler tekanan osmotik cairan ekstra-vaskuler meningkat dan perbedaan (gradien) tekanan osmotik infra dan ektra vaskuler menurun dengan akibat penarikan masuk air dan elektrolit pada sisi kapiler venus menurun. Berkurangnya cairan yang masuk kembali ke kompartemen intravaskuler menyebabkan terjadinya hipovolemi intravaskuler, hemokonsentrasi, viskositas darah meningkat, aliran darah menurun, perfusi jaringan berkurang dan mungkin terjadi renjatan dengan komplikasi yang berat yaitu KID yang dapat menyebabkan intravaskuler menyebabkan terkumpulnya cairan di kompartemen ektravaskuler yang dapat bermanifestasi se-bagai cairan pleura, ascites dan cairan pada dinding organ di perut.

DEMAM BERDARAH - Pemeriksaan penunjang RATING KUNJUNGAN HALAMAN PADA DOKTERSAHABATKITA - HALAMAN YANG SERING DIKUNJUNGI Article Index DEMAM BERDARAH Perjalanan penyakit Gejala penyakit Diagnosa Derajat penyakit Pemeriksaan penunjang Diagnosa banding Pengobatan DHF + syok All Pages Page 6 of 9

Pemeriksaan Penunjang
Darah. Pada DD terdapat leukopenia pada hari ke-2 atau hari ke-3. Pada DBD dijumpai trombositopenia dan hemokonsentrasi. Masa pembekuan masih normal, masa perdarahan biasanya memanjang, dapat ditemukan penurunan faktor II, V, VII, IX, dan XII. Pada pemeriksaan kimia darah tampak hipoproteinernia, hiponatremia, hipoklorernia. SGOT, serum glutamik piruvat transaminase (SGPT), ureum, dan pH darah mungkin meningkat. reverse alkali menurun. Air seni. Mungkin ditemukan albuminuria ringan. Sumsum tulang. Pada awal sakit biasanya hiposelular, kemudian menjadi hiperseluler, pada hari ke-S dengan gangguan maturasi dan pada hari ke-IO sudah kembali normal untuk semua sistem. Uji serologi ~Uji serologi memakai serum ganda, yaitu serum diambil pada masa akut dan konvalesen, yaitu uji pengikatan komplemen (PK), uji netralisasi (NT), dan uji dengue blot. Pada uji ini dicari kenaikan antibodi antidengue sebanyak minimal empat kali. ~Uji serologi memakai serum tunggal, yaitu uji dengue blot yang mengukur antibodi antidengue tanpa memandang kelas antibodinya, uji IgM anti dengue yang mengukur hanya antibodi antidengue dari kelas IgM, Pada uji ini yang dicari adalah ada-tidaknya atau titer tertentu antibodi antidengue. Isolasi virus, yang diperiksa adalah darah pasien dan jaringan.