Anda di halaman 1dari 7

Perbandingan Hasil Belajar Siswa pada Pokok Bahasan Kepadatan Populasi Manusia Antara yang Menggunakan Model Cooperative

Learning Scramble dengan Cooperative Script di SMP Negeri 4 Banda Aceh


CUT ZAITUN UMARA

Abstrak Model-model pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa banyak digunakan oleh guru dalam proses belajar mengajar. Namun terkadang penggunaan model-model pembelajaran tersebut tidak efektif apabila tidak sesuai dengan materi yang disampaikan, sehingga pembelajaran siswa tidak tuntas dan hasil pembelajaran tidak sesuai yang diharapkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa antara yang menggunakan model cooperative learning scramble dengan cooperative script pada pokok bahasan kepadatan populasi manusia di SMP Negeri 4 Banda Aceh. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Data penelitian diperoleh melalui tes tertulis berupa pos-test yang dianalisis dengan bantuan computer melalui program SPSS 15 ( statistical product and service solution). Berdasarkan hasil perolehan data, hasil belajar siswa yang menggunakan model cooperative learning scramble adalah 60,24 (sd= 17,355) dan hasil belajar siswa yang menggunakan model cooperative script adalah 61,43 (sd= 11,307), dengan pengujian statistik uji-t yang menghasilkan nilai t hitung sebesar 0,217 dan nilai t tabel sebesar 2,086. Kesimpulan dari penelitian ini adalah hasil belajar siswa yang menggunakan model cooperative learning scramble tidak berbeda dengan siswa yang menggunakan model cooperative script. Kata kunci : Scramble, Cooperative Script, Kepadatan Populasi Manusia.

Pendahuluan Salah satu di antara masalah besar dalam bidang pendidikan di Indonesia yang banyak diperbincangkan adalah rendahnya mutu

kualitas

sumber

daya

manusia

(SDM).

Secanggih apapun teknologi yang dihasilkan, SDM-lah yang memegang peranan penting. Oleh sebab itu, peningkatan kualitas SDM merupakan suatu kebutuhan yang mendesak di era globalisasi ini. Penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia pendidikan
1

pendidikan yang tercermin dari rendahnya rata-rata prestasi belajar, khususnya siswa sekolah menengah pertama (SMP). Padahal menurut Harun (2003:186), pendidikan

salah dalam

satunya sistem

adalah

proses

adalah salah satu sarana untuk meningkatkan

persekolahan

umumnya belum menerapkan pembelajaran sampai siswa menguasai materi pembelajaran secara tuntas. Akibatnya, tidak aneh bila banyak siswa yang tidak menguasai materi pembelajaran meskipun sudah dinyatakan tamat dari sekolah. Untuk mengatasi masalah ini, dikembangkan

scramble menyatakan persentase siswa yang kurang perhatian, bengong dan mengobrol pada awalnya 50% turun menjadi 19%, siswa yang aktif dan berani mengungkapkan

pendapat mengalami kenaikan dari 28% menjadi 69%.

model-model pembelajaran alternatif seperti Berbeda dengan model cooperative learning cooperative learning yang diharapkan dapat scramble, model cooperative script diterapkan meningkatkan motivasi dan semangat belajar secara berpasangan, yakni satu orang sebagai siswa (Sudrajat, 2007:1). Beberapa model pendengar dan satu orang lagi sebagai cooperative learning yang dapat digunakan pembicara atau sebaliknya. Hasil penelitian sebagai alat untuk memotivasi dan memacu Kusumawati semangat cooperative belajar siswa adalah scramble model model cooperative script pada pelajaran learning dan biologi siswa kelas XI mengalami peningkatan cooperative script. Dalam penggunaan model ketuntasan hasil belajar dari rata-rata nilai cooperative learning scramble, siswa hasil belajar sebesar 63,3 meningkat menjadi diharuskan bekerjasama dan berdiskusi dalam 79,3 dengan ketuntasan belajar siswa 37,5% kelompoknya untuk membahas materi yang meningkat menjadi 93,8%. Dilihat dari hasil diberikan. Penerapan model cooperative penelitian di atas, dapat disimpulkan bahwa learning scramble cukup efektif dan mampu model cooperative learning scramble dan meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil cooperative script dapat meningkatkan hasil penelitian Sugiharti (2011:46) yang belajar siswa. menggunakan model cooperative learning
2

(2009:1)

yang

mengunakan

Dalam penelitian ini, penulis memilih pokok bahasan kepadatan populasi manusia sebagai materi yang akan diajarkan. Kepadatan

Metode Penelitian Metode dalam penelitian yang digunakan adalah eksperimen. Sedangkan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas VII SMP Negeri 4 Banda Aceh yang berjumlah 75 siswa yang terdiri dari 3 kelas. Sampel dalam penelitian ini adalah dua kelas, yaitu kelas VII1 dan VII2. Penentuan sampel dilakukan berdasarkan random

populasi manusia adalah pokok bahasan pada pelajaran biologi kelas VII semester II yang membahas tentang pengaruh kepadatan

populasi manusia terhadap lingkungan. Penggunaan model cooperative learning

scramble dan cooperative script diharapkan mampu meningkatkan hasil belajar siswa sehingga nilai KKM sebanyak 65 tercapai. Namun belum diketahui model pembelajaran mana yang lebih cocok digunakan untuk konsep kepadatan populasi manusia. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian untuk membandingkan model pembelajaran mana yang lebih efektif digunakan untuk

sampling. Jumlah siswa yang dijadikan sampel sebanyak 42 siswa. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1. Test, yang dilakukan dalam dua tahap, yaitu pre-test dan post-test. 2. Silabus. 3. RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran).

meningkatkan hasil belajar siswa pada pokok bahasan kepadatan populasi manusia di SMP Negeri 4 Banda Aceh.

Hasil dan Pembahasan Penelitian dilakukan pada kelas VII SMP Negeri 4 Banda Aceh dengan jumlah sampel sebanyak 42 orang siswa. Kelas VII1 sebagai
3

kelas eksperimen 1 diajarkan dengan model cooperative learning scramble dan kelas VII2 sebagai kelas eksperimen 2 diajarkan dengan model cooperative script. Hasil penelitian diperoleh dari nilai post-test siswa yang diambil untuk dibandingkan nilai post-test kelas eksperimen mana yang lebih tinggi setelah diajarkan sehingga dapat diketahui adanya perbedaan hasil belajar.

Selanjutnya hasil test tersebut dianalisis dengan menggunakan rumus uji-t. Untuk mencari thitung digunakan bantuan komputer melalui program SPSS 15 (Statistical Product and Service Solution) dengan hasil sebagai berikut: Tabel 4.2 Perbandingan Hasil Belajar Kelas Eksperimen 1 dan 2 N o. Model Pembelaj aran Scramble Cooperati ve Script N Rat arat a 2 60, 1 24 2 61, 1 43 SD Thit
ung

Tta
bel

1. Tabel 4.1 Perbandingan Nilai Pre-test dan 2. Post-test Kelas Eksperimen 1 dan 2 No. Model Pembelajaran N Nilai Ratarata Pretest 40,96 39,77 Nilai Ratarata Posttest 60,24 61,43

17,3 55 11,3 07

0,21 7

2,0 86

Berdasarkan Tabel 4.2, nilai siswa yang diajarkan dengan menggunakan model

1. 2.

Scramble Cooperative Script

21 21

cooperative learning scramble rata-ratanya adalah 60,24 (sd= 17,355), sedangkan nilai siswa untuk model cooperative script rata-

Tabel 4.1 menunjukkan nilai rata-rata pre-test ratanya adalah 61,43 (sd= 11,307). Nilai siswa kelas eksperimen 1 dan kelas tersebut dilanjutkan dengan pengujian statistik eksperimen 2 tidak memiliki perbedaan nyata. uji-t yang menghasilkan nilai t hitung sebesar Begitu juga nilai rata-rata post-test siswa kelas 0,217 dan nilai ttabel sebesar 2,086. Setelah eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2.
4

membandingkan nilai t hitung dengan nilai t tabel maka diperoleh nilai t hitung lebih kecil dari nilai ttabel. Jika nilai t hitung dari nilai ttabel maka

setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Menurut Abdullah (2008) dalam Suryadi (2001:59), hasil belajar diklasifikasikan ke dalam 3 ranah yaitu: 1) ranah kognitif

hipotesis alternatif (Ha) ditolak. Berdasarkan hasil penghitungan statistik

(cognitive domain); 2) ranah afektif (affective domain); dan ranah psikomotor (psychomotor domain). Salah satu faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa adalah ketepatan guru dalam pemilihan model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang akan diajarkan, sehingga proses pembelajaran dinyatakan tuntas.

menunjukkan tidak terdapat perbedaan hasil belajar siswa antara yang menggunakan model cooperative learning scramble dengan

cooperative script. Artinya hasil belajar siswa pada pokok bahasan kepadatan populasi manusia yang menggunakan model

cooperative learning scramble tidak berbeda dengan hasil belajar siswa yang menggunakan model cooperative script. Hasil belajar siswa tidak berbeda karena pada dasarnya model cooperative learning

Ketuntasan suatu proses pembelajaran dapat dilihat dari hasil KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yang telah ditentukan oleh guru. Selain faktor di atas, kemampuan siswa dalam belajar pun dapat mempengaruhi hasil belajar. Dalam kegiatan pembelajaran di sekolah, guru dihadapkan dengan karakteristik siswa yang beranekaragam. Ada siswa yang dapat

scramble dan cooperative script sama-sama menerapkan metode diskusi, yang

membedakan kedua model ini adalah pada jumlah anggota dan langkah-langkah

pembelajaran. Hasil belajar menunjukkan kemampuan yang dikuasai oleh siswa yang diperlihatkannya
5

menempuh kegiatan belajarnya secara lancar dan berhasil tanpa mengalami kesulitan, namun di sisi lain tidak sedikit pula siswa

yang justru dalam belajarnya mengalami berbagai kesulitan. Namun apabila guru kreatif dan mampu memilih model

siswa yang menggunakan model cooperative learning scramble tidak berbeda dengan siswa yang menggunakan model cooperative script.

pembelajaran yang cocok dengan materi yang akan diajarkan, maka siswa yang mengalami Daftar Pustaka kesulitan dalam proses belajarnya akan Harun, C. Z. 2003. Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia Melalui Pendidikan Merupakan Kunci Keberhasilan Suatu Lembaga di Era Globalisasi dan Otonomi Daerah. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan, Departemen Pendidikan Nasional. Kusumawati, S. N. 2009. Penerapan Model Membelajaran Cooperative Script untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas XI-IPA SMAN Taman Madya Malang. Skripsi Jurusan Biologi FMIPA: Universitas Negeri Malang. Russefendi, E.T. 1988. Pengajaran Matematika Modern dan Masa Kini: untuk Guru dan SPG. Bandung: Tarsito. Sudrajat, A. 2007. Pembelajaran Cooperative, (Online), (http://akhmad Sudrajat.com. diakses pada tanggal 14 Februari 2011). Sugiharti, P. 2011. Penggunaan Metode Scramble pada Pembelajaran Fisika untuk meningkatkan Motivasi Belajar Siswa. Jurnal Pendidikan Penabur XVI (10): 46. Suryadi. 2001. Hubungan Motivasi Kerja dan Kompetensi Mengajar Dosen Terhadap Prestasi Belajar
6

terbantu. Ini menunjukkan bahwa ketepatan dalam memilih model pembelajaran sangat penting untuk keberhasilan pembelajaran

peserta didik. Seperti yang dikemukakan oleh Russefendi (1988:9), faktor-faktor yang

mempengaruhi prestasi dan keberhasilan siswa dalam belajar diantaranya adalah: kemampuan belajar, model penyajian materi atau ketepatan guru dalam memilih model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang akan diajarkan dan pribadi serta cara guru mengajar.

Simpulan Model pembelajaran scramble dan

cooperative script ternyata sangat efektif untuk menarik minat belajar siswa. Namun berdasarkan hasil penelitian, hasil belajar

Mahasiswa Akademi Kebidanan Muhammadiyah Banda Aceh. Tesis Program Studi Magister Administrasi Pendidikan: Universitas Syiah Kuala.