Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN INDIVIDU BLOK I BUDAYA ILMIAH SKENARIO I

PENULARAN FLU BURUNG : BENARKAH SUDAH ANTARMANUSIA?

OLEH : Nama : Saverina Nungky D H NIM : G0008165 Kelompok : 10 Nama Tutor : Drs. Gunawan PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2008

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada akhir tahun 2003 sampai awal tahun 2004, wabah flu burung kembali merebak di berbagai negara Asia yang Korea Selatan, Jepang, Cina, Vietnam, Kamboja, dan Laos. Di Indonesia, pada bulan Juli 2005, untuk pertama kali ditemukan kasus flu burung pada manusia. Data dari Depkes menunjukkan, hingga 7 April 2007 jumlah kumulatif kasus H5N1 pada manusia yang sudah dikonfirmasi manusia 94 orang, 74 orang di antaranya meninggal dunia ( Tantur Syahdrajat, 2007 ) Kasus flu burung yang merebak di masyarakat, sering kali menimbulkan berbagai persepsi dan kontroversi. Salah satu persepsi yang cukup meresahkan adalah perihal penularan flu burung antarmanusia. Dalam menyikapinya, diperlukan cara berpikir kritis bagi seorang calon dokter. Untuk menuntukan kebenaran dari suatu informasi, dibutuhkan bukti-bukti yang valid, logis, dan ilmiah. Berikut ini scenario yang diangkat dalam budaya ilmiah, yaitu tentang Kontroversi Penularan Flu Burung : Kematian pada ayam kampung secara mendadak telah terjadi di wilayah eks Karisidenan Banyumas dan kali ini terjadi di Kabupaten Banyumas. Sebanyak 28 ekor ayam kampung di Desa Karanggintung, Kecamatan Sumbang, mati mendadak dan positif terjangkit flu burung setelah dilakukan tes cepat (Raditya,2007). Budi, anak seorang peternak ayam dari desa di Kabupaten Banyumas dijauhi kawan-kawan sekolahnya. Kawan-kawanya menganggap Budi dapat menularkan flu burung pada mereka. Mereka membaca adanya kemungkinan kasus flu burung dapat ditularkan antarmanusia seperti kasus di Medan. Guru murid tersebut menjelaskan bahwa penyakit flu burung hanya ditularkan dari unggas ke manusia.

B. Rumusan Masalah 1. Bagaimanakah penularan flu burung? 2. Bagaimana kebenaran kasus flu burung di Medan? 3. Manakah informasi dalam skenario yang lebih valid? 4. Apakah flu burung dapat menular antarmanusia? C. Tujuan Penulisan 1. Mengetahui proses penularan flu burung. 2. Menguji kebenaran kasus flu burung di Medan. 3. Mengetahui kemungkinan flu burung dapat menular antarmanusia. 4. Menentukan informasi yang lebih valid dalam scenario. D. Manfaat Penulisan 1. Agar dapat menerapkan cara berpikir kritis dalm menyelesaikan masalah. 2. Agar mengetahui informasi yang lebih valid dan terpercaya, khususnya tentang masalah penularan flu burung.

BAB II STUDI PUSTAKA Avian Influenza Avian Influenza atau flu burung adalah penyakit menular yang disebabkan virus influenza A dengan subtype H1 sampai H6 dan N1 sampai N9. Virus ini menyerang berbagai jenis unggas, meliputi ayam, kalkun, unggas air, dan burung peliharaan, serta diketahui dapat menginfeksi babi, harimau, kucing, dan macan tutul. Pada umumnya, virus influenza tipe A tidak menyerang manusia, tetapi subtipe H5N1 dan H7N7 yang bersifat patogen dapat menyerang manusia dan menyebabkan kematian. Virus influenza A termasuk orthomixovirus. Terdapat dua jenis protein permukaan, yaitu Hemagglutinin (HA) dan Neuraminidiase (NA). Hemagglutinin bersifat mengaglutinasi sel darah merah dan berfungsi untuk melekat, menginvasi sel hospes dan kemudian bereplikasi. Neuraminidiase merupakan suatu enzim untuk memecahkan ikatan pertikel virus sehingga virus baru terlepas dan dapat menginfeksi sel baru yang lain (Widyasari Kumala, 2005). Penyebaran Virus Influenza Burung-burung air yang liar, terutama yang termasuk dalam orde Anseriformis (bebek dan angsa) dan Charadiformis (burung camar dan burungburung pantai), adalah pembawa (carrier) seluruh varietas subtipe dari virus influenza A dan oleh karenanya, sangat mungkin merupakan penampung (reservoir) alami untuk semua jenis virus influenza dalam saluran cernanya (Webster 1992, Fouchier 2003, Krauss 2004, Widjaja 2004). Sementara semua spesies burung dianggap sebagai rentan terinfeksi, beberapa spesies unggas domestik ayam, kalkun, balam, puyuh dan merak diketahui terutama rentan terhadap infeksi virus influenza. Burung-burung yang terinfeksi menyebarkan virusnya melalui air liur, cairan saluran pernapasan, dan kotorannya. Penyakit flu burung ditularkan ke manusia melalui beberapa cara, antara lain kontak langsung dengan unggas yang sakit, udara yang tercemar virus influenza, kontak dengan air liur dan kotoran unggas yang sakit. Selain itu juga

dapat terjadi melalui alat peternakan, baju, sepatu, sepeda yang terkontaminasi dengan virus flu burung. Tidak ada risiko yang ditimbulkan dalam mengonsumsi daging unggas yang telah dimasak dengan baik dan matang (Mounts AW, et,al. 1999) pada pemanasan minimal 600 C selama 30 menit. Bukti bahwa terjadinya transmisi dari manusia ke manusia sangat jarang ditemukan (Maksum Radji, 2006). Namun demikian, berdasarkan beberapa kejadian, terjadi kematian pasien yang berkerabat dekat yang disebabakan infeksi virus H5N1 (Hien TT, et. all. 2004) , dan transmisi yang terjadi didalam keluarga penderita pada tahun 2004 di Thailand, antara seorang anak perempuan berumur 11 tahun yang tinggal bersama bibinya, diduga telah menularkan virus H5N1 kepada bibi dan ibunya yang dating dari kota lain yang berjauhan untuk merawat anaknya yang sakit terinfeksi H5N1. Putrinya meninggal pada tanggal 8 September 2004 setelah sempat dirawat selama satu hari di rumah sakit. Seminggu kemudian pada tanggal 17 September ibunya dibawa kerumah sakit dan diduga terinfeksi virus H5N1 dan meninggal pada tanggal 20 September 2004. Sedangkan bibinya menderita gejala flu dan dibawa ke rumah sakit pada tanggal 23 September dan diobati dengan oseltamivir (tamiflu). Bibinya berhasil disembuhkan dan pulang dari rumah sakit pada tanggal 7 Oktober 2004. Dari pemeriksaan laboratorium dapat dipastikan bahwa baik ibu maupun bibinya telah terinfeksi virus H5N1 yang berasal dari anaknya, selama mereka merawat anaknya yang sedang sakit (Ungchusak K, et.al. 2005). Menurut Mentri Kesehatan , Siti Fadilah Supari, sampai saat ini belum terjadi penularan flu burung dari manusia ke manusia Indonesia. Penularan baru sebatas dari unggas ke manusia. Hal ini ditandai belum adanya lonjakan kasus penularan flu burung pada manusia atau pandemic global penyakit itu (Evy Rachmawati, 2006). Sedangkan menurut WHO, untuk memastikan terjadinya penularan virus H5N1 dari manusia ke manusia digunakan criteria sinyal epidemiologi dan virologi. Sinyal epidemiologi antara lain ditandai adanya klaster penderita flu burung dengan penularan generasi ke-dua atau lebih tanpa ada hubungan darah antargenerasi atau adanya penularan pada petugas kesehatan yang menderita flu burung.

Kemungkinan Transmisi Antarmanusia Kekhawatiran yang muncul di kalangan para ahli genetika adalah bila terjadi rekombinasi genetik (genetic reassortment) antara virus influenza burung dan virus influenza manusia, sehingga dapat menular antara manusia ke manusia (Maksum Radji, 2006). Ada dua kemungkinan yang dapat menghasilkan subtipe baru dari H5N1 yang dapat menular antara manusia ke manusia adalah : (i). virus dapat menginfeksi manusia dan mengalami mutasi sehingga virus tersebut dapat beradaptasi untuk mengenali linkage RNA pada manusia, atau virus burung tersebut mendapatkan gen dari virus influenza manusia sehingga dapat bereplikasi secara efektif di dalam sel manusia. Subtipe baru virus H5N1 ini bermutasi sedemikian rupa untuk membuat protein tertentu yang dapat mengenali reseptor yang ada pada manusia, untuk jalan masuknya ke dalam sel manusia, atau (ii). Kedua jenis virus, baik virus avian maupun human influenza tersebut dapat secara bersamaan menginfeksi manusia, sehingga terjadi mix atau rekombinasi genetik, sehingga menghasilkan strain virus baru yang sangat virulen bagi manusia (Herman RA & Strorck M. 2005).

BAB III PEMBAHASAN Penularan Flu Burung Virus influenza H5N1 dapat menular dari unggas ke unggas dan unggas ke manusia baik secara langsung maupun tidak langsung melalui udara yang tercemar virus tersebut, baik yang berasal dari tinja atau sekreta unggas yang terserang flu burung. Kebenaran Kasus Flu Burung di Medan Berdasarkan pemeriksaan RT-PCR laboratorium Badan Litbangkes Depkes, 8 orang pasien yang diduga terinfeksi virus flu burung yang dirawat di RSUP Adam Malik, Medan, dipastikan negatif ( Situs Resmi Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, 2007 ). Sebelumnya, 8 orang itu diduga kuat terinfeksi virus flu burung karena selain menunjukkan gejala klinis tertular virus tersebut, faktor risiko penularan korban juga terbukti positif. palagi berdasarkan hasil pemeriksaan dinas kesehatan hewan Sumut, unggas yang berada di lokasi pasien suspect, beberapa unggas ditemukan positif terjangkit virus AI. Sebelumnya Depkes mengaku sangat khawatir dengan kejadian di Medan itu karena 8 orang tersebut tinggal berdekatan. Kondisi ini yang memicu dugaan para pasien itu termasuk dalam cluster (berkelompok) flu burung, yang dapat diindikasikan kasus flu burung antar manusia makin dekat. Informasi yang Lebih Valid Jika melihat kembali dalam skenario, belum bisa ditentukan mana informasi yang lebih valid, karena dalam skenario sendiri tidak begitu jelas (masih rancu). Akan tetapi jika melihat informasi dan bukti yang sudah diperoleh, dapat dinyatakan bahwa informasi tentang penularan flu burung antarmanusia dapat terjadi dan merupakan informasi yang lebih tepat. Walaupun bukti-bukti penularan antarmanusia yang sudah pernah terjadi tidak begitu lengkap, tetapi kasus penularan yang sudah terjadi sudah cukup mewakili.

Penularan Flu Burung Antarmanusia Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan, avian influenza dapat menular antarmanusia. Hal ini dapat terjadi bila virus mengalami perubahan antigen shift, yaitu perubahan mayor yang menghasilkan subtipe baru dari virus influenza A manusia. Kedua virus, avian influenza dan human influenza bersamaan menginfeksi manusia, mengalami rekombinasi genetik, menghasilkan virus baru yang bersifat sangat virulen bagi manusia. Perubahan ini terjadi secara mendadak sehingga dalam waktu singkat dapat mengenai sejumlah besar populasi yang rentan sehingga timbul pandemi.

BAB IV SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan 1. Virus flu burung dapat menular dari unggas ke unggas dan unggas ke manusia melalui udara yang tercemar virus tersebut, baik yang berasal dari tinja atau sekreta unggas yang terserang flu burung. 2. Avian influenza dapat menular antarmanusia bila virus mengalami perubahan antigen shift, yaitu perubahan mayor yang menghasilkan subtipe baru dari virus influenza A manusia. Kedua virus, avian influenza dan human influenza bersamaan menginfeksi manusia, mengalami rekombinasi genetik, menghasilkan virus baru yang bersifat sangat virulen bagi manusia. B. Saran 1. Dalam menyikapi berbagai persepsi dan kontroversi ( dalam hal ini kasus flu burung ), sangat diperlukan bukti yang valid dan cara berpikir kritis, serta penting untuk menyaring informasi yang ada. 2. Walaupun kasus flu burung yang terjadi antarmanusia tidak begitu banyak, sebaiknya tetap waspada akan bahaya penularan tersebut yang sangat mungkin terjadi.

DAFTAR PUSTAKA Penularan Flu Burung Antar Manusia Belum Terjadi. http//:www.kompas.com/index.html. Diakses tanggal 31 Agustus 2008. Radji, Maksum. Avian Influenza (H5N1) : Patogenesis, Pencegahan, dan Penyebaran pada Manusia. Majalah Ilmu Kefarmasian, Vol III, No.2,Agustus 2006, 55-65. Syahdrajat, Tantur. Masalah Avian Influenza di Indonesia. Dexa Media, No.3, Vol.20, Juli-September 2007. Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat?????????????