Anda di halaman 1dari 224

TESIS

STUDI TENTANG KEBIJAKAN PENGEMBANGAN


PARIWISATA KOTA KEDIRI PROVINSI JAWA TIMUR

I MADE BRAM SARJANA

PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2006
TESIS

STUDI TENTANG KEBIJAKAN PENGEMBANGAN


PARIWISATA KOTA KEDIRI PROVINSI JAWA TIMUR

I MADE BRAM SARJANA


NIM 0213106110

PROGRAM MAGISTER
PROGRAM STUDI KAJIAN PARIWISATA
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2006
STUDI TENTANG KEBIJAKAN PENGEMBANGAN
PARIWISATA KOTA KEDIRI PROVINSI JAWA TIMUR

Tesis untuk memperoleh Gelar Magister


pada Program Magister, Program Studi Kajian Pariwisata
Program Pascasarjana Universitas Udayana

I MADE BRAM SARJANA


NIM 0213106110

PROGRAM MAGISTER
PROGRAM STUDI KAJIAN PARIWISATA
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2006

i
Lembar Pengesahan

TESIS INI TELAH DISETUJUI


PADA TANGGAL 18 JULI 2006

Pembimbing I Pembimbing II

Dr. I Wayan Tjatera, M.Sc Dr. Ir. A.A.P. Agung Suryawan W., M.Sc
NIP 130369687 NIP 131843096

Mengetahui

Ketua Program Studi Direktur


Magister Kajian Pariwisata Program Pascasarjana
Program Pascasarjana Universitas Udayana
Universitas Udayana

Prof. Dr. I Nyoman Sirtha, SH, MS Prof. Dr. Ir. Dewa Ngurah Suprapta, M.Sc
NIP 130369678 NIP 131475047

ii
Tesis ini Telah Diuji pada
Tanggal 11 Juli 2006

Panitia Penguji Tesis, berdasarkan SK Direktur Program Pascasarjana


Universitas Udayana, No : 268/J14.4/HK.01.23/2006, tanggal 7 Juli 2006

Ketua : Dr. I Wayan Tjatera, M.Sc


Sekretaris : Dr. Ir. A. A. P. Agung Suryawan Wiranatha, M.Sc.
Anggota :
1. Prof. Dr. I Nyoman Sirtha,SH, MS.
2. Prof. Dr. Dra. N.K. Mardani, MS.
3. Drs. I Nyoman Sunartha, M.Si.

iii
UCAPAN TERIMA KASIH

Perkenankan penulis menghaturkan angayu bagia ke hadapan Ida Sang

Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa, karena atas asung kertha wara

nugraha-Nya tesis ini dapat diselesaikan.

Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang

sebesar-besarnya kepada para dosen pembimbing, Dr. I Wayan Tjatera, M.Sc dan

Dr. Ir. Anak Agung Putu Agung Suryawan Wiranatha, M.Sc atas dukungan dan

bimbingannya dalam proses penyusunan tesis ini.

Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Rektor Universitas

Udayana, Prof. Dr. dr. I Made Bakta, Sp.PD (KHOM) dan Prof. Dr. Ir. Dewa

Ngurah Suprapta, M.Sc selaku Direktur Program Pascasarjana Universitas

Udayana atas kesempatan yang diberikan kepada penulis untuk mengikuti dan

menyelesaikan Program Magister di Universitas Udayana. Penulis juga

menyampaikan terima kasih kepada Prof. Dr. I Nyoman Sirtha, SH, M.S. dan Dra.

Henny Urmila Dewi, M.Si selaku Ketua dan Sekretaris Program Magister Kajian

Pariwisata Universitas Udayana, serta para dosen penguji, Prof. Dr. Dra. N.K.

Mardani, MS dan Drs. I Nyoman Sunartha, M.Si atas berbagai masukan yang

konstruktif dalam rangka penyempurnaan tulisan ini. Terima kasih juga penulis

ucapkan kepada seluruh dosen atas pencerahan dan inspirasi yang diberikan

selama masa-masa perkuliahan, serta para staf sekretariat program atas pelayanan

administrasinya yang prima sehingga sangat membantu proses pendidikan penulis

pada Program Magister Kajian Pariwisata Universitas Udayana.

iv
Tidak lupa penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Rony Yusianto

dan Beni di Kediri, Ibu Eka Mahadewi dan Sri Sadjuni, Bapak Arcana dan

Sukardi, serta rekan-rekan mahasiswa Program Magister Kajian Pariwisata

Universitas Udayana khususnya angkatan 2002, Bapak Wayan Suambara, SH,

MM, A.A.G. Raka Yuda, SE dan rekan-rekan pada Bagian Humas dan Protokol

Setda Kabupaten Badung atas motivasi dan kebersamaan yang selalu diberikan,

kakak I Gede Pram Sanjaya dan I Gusti Ayu Wisalawaty termasuk si kecil Jessy,

serta Ketut Widya Purnawati (Tuti), yang senantiasa menjadi pemacu semangat

bagi penulis.

Penulis juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada

keluarga Alm. Prof. Dr. I Wayan Bawa dan keluarga Drs. HA Maschut yang

selalu memberikan dukungan dan dorongan kepada penulis. Akhirnya penulis

mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua, Alm. Drs. I Made Darsana

dan Dra. Ni Ketut Suati, atas curahan kasih sayangnya yang teramat tulus dan

berlimpah sejak penulis pertama kali melihat wajah dunia. Tanpa sentuhan tangan

Tuhan melalui perantara mereka, penulis tidak akan pernah mencapai tahapan

kehidupan seperti yang dirasakan saat ini. Kepada merekalah tulisan ini

didedikasikan sepenuhnya.

Proses pendidikan penulis ini juga dapat diselesaikan berkat dukungan dan

kontribusi berbagai pihak lainnya secara langsung maupun tidak langsung.

Kepada mereka penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang

setinggi-tingginya. Semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa

senantiasa memberikan rahmat-Nya kepada kita sekalian.

v
ABSTRACT

STUDY ON TOURISM DEVELOPMENT POLICY OF KEDIRI CITY, EAST


JAVA

Public policy is a product of a complex process connected with many


aspects, wide concepts, and many parties involved. Various changes in local,
national, and international level have driven the complexity of contemporary
world. In accordance with the big changes of the three policy environment levels,
tourism industry plays an important role and becomes a strategic instrument for
the local government to develop local economy.
The government of Kediri City, East Java also considers the tourism
industry as a strategic aspect devised to support local economic development.
However, because of the complexity of problems in those three levels, it seems
very difficult to implement this effort.
Based on the structure of problems, systemic approach was used, and it
was completed with descriptive analysis. This study applied field research to find
out the tourism policy development of Kediri City, some problems that might have
existed, and some efforts that may be done for further development.
The conclusion of this research shows that Kediri is a potential city for
developing historical and spiritual tourism. Policy made by the local government
has aimed to develop tourism resources, but they need to do some restructuring
efforts for further development.

Key words: policy, system, tourism development

vi
ABSTRAK

STUDI TENTANG KEBIJAKAN PENGEMBANGAN PARIWISATA


KOTA KEDIRI PROVINSI JAWA TIMUR

Kebijakan publik merupakan sebuah produk dari proses yang bersifat


kompleks karena hal itu terkait dengan banyak aspek, luasnya wawasan yang
terpaut, serta banyaknya pihak yang terlibat. Kompleksitas dunia saat ini
disebabkan oleh berbagai perubahan besar yang terjadi pada level lokal, nasional,
dan internasional. Dalam konteks perubahan-perubahan besar pada ketiga level
lingkungan kebijakan itu industri pariwisata menjadi media yang strategis bagi
kepala daerah untuk memasarkan potensi-potensi ekonomi daerahnya.
Pemerintah Kota Kediri di Provinsi Jawa Timur juga memandang itu
sebagai aspek yang strategis, sehingga pengembangan pariwisata diupayakan
untuk menunjang pembangunan ekonomi daerah. Upaya ini tidak mudah
diwujudkan, karena adanya berbagai permasalahan di tingkat lokal, nasional, dan
internasional.
Berdasarkan struktur permasalahan, penulis menggunakan pendekatan
sistem yang didukung oleh analisa deskriptif serta penelitian lapangan untuk
mengetahui kebijakan pengembangan pariwisata Kota Kediri, permasalahan yang
dihadapi dalam upaya pengembangan pariwisata, serta upaya yang perlu
dilakukan untuk pengembangan pariwisata lebih lanjut.
Dari hasil penelitian diketahui bahwa Kota Kediri adalah kota yang
memiliki potensi untuk pengembangan pariwisata sejarah dan spiritual. Kebijakan
yang ditempuh telah mengarah pada pengembangan potensi tersebut, namun
Pemerintah Kota Kediri perlu melakukan sejumlah upaya restrukturisasi untuk
pengembangan pariwisata pada tahap lebih lanjut.

Kata kunci: kebijakan, sistem, pengembangan pariwisata

vii
DAFTAR ISI

Halaman
Prasyarat Gelar ...................................................................................................... i
Lembar Pengesahan.............................................................................................. ii
Penetapan Panitia Penguji .................................................................................. iii
Ucapan Terima Kasih.......................................................................................... iv
ABSTRACT.......................................................................................................... vi
ABSTRAK ........................................................................................................... vii
DAFTAR ISI....................................................................................................... viii
DAFTAR TABEL ................................................................................................ xi
DAFTAR GAMBAR........................................................................................... xii

BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1
1.1 Latar Belakang ..................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah ..............................................................................................9
1.3 Tujuan Penelitian .............................................................................................10
1.4 Manfaat Penelitian ...........................................................................................10
BAB II TINJAUAN PUSTAKA .........................................................................11
2.1 Kerangka Konseptual.......................................................................................11
2.1.1 Kebijakan ................................................................................................12
2.1.2 Analisis kebijakan ..................................................................................15
2.1.3 Lingkungan kebijakan ............................................................................17
2.1.4 Pariwisata ................................................................................................18
2.1.5 Perencanaan pariwisata ...........................................................................25
2.1.6 Kebijakan pariwisata...............................................................................30
2.2 Landasan Teori.................................................................................................32
2.3 Model Penelitian ..............................................................................................35
BAB III METODE PENELITIAN .....................................................................37
3.1 Rancangan Penelitian.......................................................................................37

viii
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ...........................................................................39
3.3 Jenis dan Sumber Data.....................................................................................40
3.4 Instrumen Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data......................................41
3.5 Analisis Data ....................................................................................................42
3.6 Cara Penyajian Hasil Analisis Data .................................................................44
BAB IV GAMBARAN UMUM DAN DAYA TARIK WISATA KOTA
KEDIRI .................................................................................................................45
4.1 Kondisi Geografis ............................................................................................45
4.2 Kependudukan dan Tenaga Kerja ....................................................................46
4.3 Perekonomian ..................................................................................................48
4.4 Objek dan Daya Tarik Wisata Kota Kediri......................................................51
4.4.1 Wisata budaya.........................................................................................51
4.4.1.1 Peninggalan bersejarah ...............................................................53
4.5.1.2 Kesenian dan budaya daerah.......................................................54
4.4.2 Wisata spiritual dan ziarah......................................................................59
4.4.3 Wisata alam.............................................................................................60
4.4.4 Wisata olah raga......................................................................................61
4.4.5 Wisata belanja .........................................................................................63
4.4.6 Wisata pendidikan...................................................................................65
4.4.7 Fasilitas akomodasi .................................................................................66
4.5 Pendapat Masyarakat Tentang Kepariwisataan Kota Kediri ...........................66
BAB V PEMBAHASAN ......................................................................................70
5.1 Kebijakan Kepariwisataan Kota Kediri ...........................................................77
5.1.1 Kebijakan strategis pengembangan pariwisata .......................................71
5.1.2 Sasaran dan arah kebijakan pariwisata....................................................72
5.1.3 Rencana strategis pengembangan pariwisata..........................................73
5.1.4 Promosi pariwisata..................................................................................76
5.2 Permasalahan yang Dihadapi Pemerintah Kota Kediri....................................81
5.2.1 Lingkungan internasional........................................................................81
5.2.2 Lingkungan nasional ...............................................................................86
5.2.3 Lingkungan lokal ....................................................................................88

ix
5.3 Kebijakan Pengembangan Pariwisata Lebih Lanjut ........................................95
BAB VI SIMPULAN DAN SARAN .................................................................123
6.1 Simpulan ........................................................................................................123
6.2 Saran ..............................................................................................................125
DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................126
LAMPIRAN........................................................................................................131

x
DAFTAR TABEL

Halaman
4.1 Jumlah Penduduk Kota Kediri Tahun 1997-2004............................................47
4.2 Mata Pencaharian Penduduk Menurut Lapangan Usaha Tahun 2004 .............48
4.3 Kontribusi Sektor Pembangunan Terhadap PDRB Tahun 1999-2003 ............49
4.4 Pertumbuhan Ekonomi Kota Kediri Tahun 1999-2003 ...................................50
5.1 Rencana Strategi Program Peningkatan Pariwisata dan Pelestarian Budaya...74
5.2 Realisasi Belanja Pembangunan Sektor Pariwisata 2000-2004.......................74
5.3 Peta Masalah Lingkungan Kebijakan Pariwisata Kota Kediri.........................95
5.4 Implementasi Konsep Inskeep Tentang Daya Tarik Wisata............................98
5.5 Objek dan Tipe Aktivitas Wisata di Dalam Kawasan Selomangleng..............99
5.6 Objek dan Tipe Aktivitas Wisata di Luar Kawasan Selomangleng.................99
5.7 Masalah Pada Objek dan Daya Tarik Wisata Kota Kediri.............................107
5.8 Realisasi Pendapatan Sektor Pariwisata Tahun 2001-2003 ...........................109

xi
DAFTAR GAMBAR

Halaman
2.1 Lingkungan Kebijakan.....................................................................................18
2.2 Pariwisata Sebagai Mobilitas Spasial ..............................................................22
2.3 Model Sistem Politik David Easton .................................................................34
2.4 Model Penelitian ..............................................................................................36
3.1 Model Interaktif Analisis Data Miles-Huberman ............................................43
5.1 Implementasi Model Sistem Pada Perumusan Kebijakan Pengembangan
Pariwisata Kota Kediri .....................................................................................97
5.2 Zonasi Aktivitas Kepariwisataan di Kota Kediri ...........................................103
5.3 Restrukturisasi Pengembangan Pariwisata Kota Kediri.................................122

xii
DAFTAR LAMPIRAN

Halaman
Lampiran 1 Tabel Jadwal Kegiatan Penelitian ....................................................131
Lampiran 2 Peta Jawa Timur ...............................................................................132
Lampiran 3 Peta Kota Kediri ...............................................................................133
Lampiran 4 Sketsa Site Plan Kawasan Wisata Selomangleng.............................134
Lampiran 5 Goa Selomangleng............................................................................135
Lampiran 6 Relief Pertapa di Goa Selomangleng................................................136
Lampiran 7 Museum Airlangga ...........................................................................137
Lampiran 8 Tumpeng Tosaren.............................................................................138
Lampiran 9 Kesenian Jaranan ..............................................................................139
Lampiran 10 Ritual Manusuk Sima .....................................................................140
Lampiran 11 Kirab Prasasti Kediri Jayati ............................................................141
Lampiran 12 Pentas Wayang Orang Dalam Rangka Hari Jadi Kota Kediri........142
Lampiran 13 Festival Panji-Galuh .......................................................................143
Lampiran 14 Pura Dewi Sekartaji........................................................................144
Lampiran 15 Mesjid Agung Kota Kediri .............................................................145
Lampiran 16 Walikota Kediri Memantau Hutan Maskumambang......................146
Lampiran 17 Pawai Budaya Dalam Rangka Hari Jadi.........................................147
Lampiran 18 Taman Hiburan Pagora...................................................................148
Lampiran 19 Pertandingan Sepak Bola................................................................149
Lampiran 20 Wisata Olah Raga di Lebak Tumpang-Selomangleng ...................150
Lampiran 21 Pusat Penjualan Tahu Takwa di Kota Kediri .................................151
Lampiran 22 Objek Wisata Pendidikan di Pabrik Rokok Gudang Garam ..........152
Lampiran 23 Pedagang di Bibir Goa Selomangleng............................................153
Lampiran 24 Coretan di Dinding Goa Selomangleng..........................................154

xiii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Proses pembuatan kebijakan tidak terjadi dalam ruang sosial yang vakum.

Para pembuat kebijakan politik maupun bisnis bekerja dalam lingkungan eksternal

dan internal yang sangat kompleks dan saling terkait antara satu sama lainnya

(Rosenau, 1980: 368). Kebijakan publik sendiri merupakan sebuah produk dari

proses yang pada umumnya bersifat kompleks karena terkait dengan banyak aspek,

luasnya wawasan yang terpaut, serta banyaknya pihak yang terlibat (Abidin, 2002:

75).

Kompleksitas pada lingkungan kebijakan tersebut didorong oleh

liberalisasi ekonomi serta kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang

sangat cepat sehingga arus informasi, modal, jasa, dan manusia bergerak secara

bebas menembus batas-batas ruang dan waktu. Fenomena tersebut menunjukkan

bahwa dunia telah terintegrasi menjadi suatu jaringan kerja tanpa batas, yang

selalu berubah dengan sangat cepat (Ohmae, 1991: 20). Tidak ada satu masalah

yang hanya bisa dilihat sebagai satu aspek yang berdiri sendiri. Berbagai aspek

saling terkait dan mempengaruhi. Keterkaitan ini tidak terbatas dalam suatu

lingkungan saja, namun juga bisa dipengaruhi dan mempengaruhi lingkungan

yang lebih luas, menyangkut aspek yang berbeda, dan berlangsung dalam waktu

yang sangat cepat (Abidin, 2002 : 14). Kondisi tersebut memunculkan berbagai

peluang sekaligus tantangan, sehingga pembuat kebijakan harus benar-benar

1
2

memahami lingkungan kebijakannya (Abidin, 2002: 81) serta meresponsnya

dengan membuat pilihan-pilihan secara konstan sepanjang waktu (Holsti, 1992:

271). Kompleksitas lingkungan kebijakan tersebut membuat masa depan menjadi

semakin sulit diprediksi, sehingga para pembuat kebijakan harus memiliki

kemampuan untuk mengenali tanda-tanda perubahan yang akan mempengaruhi

kesuksesan mereka dan segera melakukan inovasi-inovasi (Stigson dalam WRI,

2002: 3).

Dari perspektif pemasaran, Kartajaya (2005: 3) menjelaskan bahwa

kompleksitas dunia saat ini disebabkan oleh berbagai perubahan besar yang terjadi

pada level lokal, nasional, dan regional-internasional. Perubahan di tingkat lokal

didorong oleh implementasi sistem otonomi daerah, yang berimplikasi pada

menguatnya peran pemerintah kabupaten/kota dalam pembangunan wilayah.

Undang-undang No 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-

undang No 34 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah

Daerah dan Pemerintah Pusat merupakan kerangka kerja pelaksanaannya. Pada

sistem ini urusan pemerintahan semakin didekatkan kepada rakyat, sehingga

pemerintah menjadi lebih efektif dan efisien. Pemerintahan menjadi efektif karena

penyelenggaraan pemerintahan berlangsung pada wilayah yang lebih kecil

sehingga dapat lebih memudahkan penguasaan materi permasalahan dan

penyerapan aspirasi masyarakat dalam proses perumusan kebijakan (Abidin,

2002 : 135).

Perubahan yang terjadi di tingkat nasional adalah perubahan sistem politik

yang ditandai dengan runtuhnya rezim orde baru oleh gerakan reformasi.
3

Akibatnya, terjadi penguatan peran masyarakat sipil pada setiap aspek kehidupan

negara. Perubahan sistem ini menuntut pelaksana pemerintahan untuk mengubah

kerangka berpikir dan cara kerjanya dari sentralistik-otoriter pada masa lalu

menjadi desentralistik-partisipatif di masa kini.

Sedangkan pada tingkat regional-global, telah terjadi pola-pola kerja sama

ekonomi kawasan seperti ASEAN Free Trade Area (AFTA) di kawasan Asia

Tenggara, Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) di kawasan Asia Pasifik,

dan berbagai forum kerja sama ekonomi kawasan lainnya yang bertujuan

melaksanakan liberalisasi ekonomi. Tren perubahan ekonomi-politik pada ketiga

level itulah yang membuat kepala daerah di masa kini harus mendesain ulang pola

pikir dan cara kerjanya menyerupai cara kerja wirausahawan. Hal ini bermakna

bahwa kepala daerah haruslah inovatif, cerdas membaca tren perubahan, dan

mampu membangun jaringan kerja pada berbagai level untuk membangun

daerahnya. Potensi ekonomi lokal tidak lagi hanya berorientasi pada pasar lokal,

namun dikelola untuk memiliki kemampuan menjangkau pasar global sehingga

dapat memberikan kontribusi ekonomi yang lebih besar. Dalam konteks

perubahan-perubahan besar pada ketiga level lingkungan kebijakan itulah industri

pariwisata menjadi wahana yang strategis bagi kepala daerah untuk memasarkan

potensi-potensi ekonomi daerahnya.

Pada level global, industri pariwisata memberikan kontribusi besar dalam

mendorong pertumbuhan ekonomi dunia. World Tourism Organization (WTO)

mencatat, pariwisata dan industri yang terkait dengannya membentuk 11 persen

Produk Domestik Bruto (PDB) dunia dan menciptakan lapangan pekerjaan untuk
4

200 juta orang di seluruh dunia. Selain itu pariwisata juga membentuk 34 persen

ekspor jasa dunia. Setiap tahunnya terdapat sekitar 700 juta orang yang

diperkirakan melakukan perjalanan internasional (Williams, 2002: 1). Di masa

depan industri pariwisata juga diproyeksikan akan terus berkembang menjadi

industri yang besar. Kenyataan itu membuat pariwisata menjadi salah satu sektor

yang menjadi pilihan bagi banyak negara maju dan berkembang untuk

membangun perekonomiannya.

Demikian pula halnya pada tingkat nasional di Indonesia, pariwisata

merupakan sektor ekonomi penyumbang devisa terbesar kedua setelah ekspor

minyak dan gas (migas). Pada tahun 2002 misalnya, sektor pariwisata

memberikan devisa sebesar 4,5 milyar dolar AS (Bali Post, 5 Juli 2004, hlm 14).

Kontribusi sektor pariwisata yang cukup besar terhadap perekonomian nasional

membuat pemerintah berupaya untuk mengembangkan sektor ini lebih lanjut, dan

menjadikannya sebagai salah satu sektor ekonomi strategis. Kebijakan tersebut

memang sangat beralasan bila melihat wilayah Indonesia yang terdiri dari 17.508

pulau, garis pantai sepanjang 81.000 km, luas laut 5,8 juta km², dan penduduk

mencapai lebih dari 220 juta jiwa. Sumber daya ekonomi yang ada menunjukkan

bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan pariwisata

domestik maupun internasional. Namun potensi tersebut belum dikelola secara

optimal dan merata di berbagai daerah, sehingga kemajuan industri pariwisata

terpusat di Provinsi Bali.

Provinsi Jawa Timur merupakan salah satu wilayah dengan potensi

pariwisata yang besar, namun belum mengalami perkembangan sepesat Provinsi


5

Bali. Menurut Sujana (2004:123), upaya pengembangan pariwisata di Jawa Timur

tergolong tidak mudah, karena harus melalui sebuah proses transformasi budaya

dari agraris menuju industri. Sekalipun pariwisata telah berkembang di beberapa

tempat di Jawa Timur, perubahan ini belum dapat dilakukan secara efektif karena

pariwisata menuntut dukungan kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM)

dengan kemampuan khusus untuk memberikan pelayanan secara profesional

dengan standar tertentu. Ketersediaan SDM dengan kemampuan khusus ini

menjadi salah satu kendala pengembangan pariwisata Jawa Timur.

Masalah serupa juga dialami oleh Kota Kediri, salah satu kota sedang di

Provinsi Jawa Timur. Kota ini memiliki sejumlah potensi wisata berupa benda-

benda peninggalan bersejarah, kesenian daerah, dan objek alam. Namun

terbatasnya dukungan SDM yang memiliki kemampuan dalam perencanaan dan

pengelolaan pariwisata menjadi salah satu kendala dalam pengembangan

pariwisata.

Seperti lazimnya daerah-daerah lain yang mengembangkan sektor

pariwisata, salah satu motif yang menjadi dasar pengembangan pariwisata di Kota

Kediri adalah peningkatan ekonomi daerah. Selama ini perekonomian Kota

Kediri utamanya masih digerakkan oleh sektor industri pengolahan dan

perdagangan. Berdasarkan data Bappeda Kota Kediri, pada kurun waktu tahun

1998 hingga 2000, 78 persen lebih Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) Kota Kediri dibentuk oleh sektor industri

pengolahan, terutama rokok kretek. Sedangkan sektor perdagangan, hotel dan

restoran berada pada peringkat kedua, dan menunjukkan adanya tren peningkatan.
6

Pada tahun 1998, sektor ini memberi kontribusi sebesar 17,09 persen. Pada tahun

1999 kontribusi sektor ini meningkat menjadi 17,53 persen dan selanjutnya pada

tahun 2000 naik lagi menjadi 17,56 persen. Data tersebut menunjukkan bahwa

sektor yang terkait dengan pariwisata memang berpotensi untuk ditingkatkan

kontribusinya dalam upaya peningkatan perekonomian daerah.

Sebagai pijakan dalam upaya pembangunan ekonomi kota, termasuk di

dalamnya pengembangan sektor pariwisata, Walikota Kediri H.A. Maschut yang

menjadi kepala daerah sejak tahun 1999 hingga 2004 untuk periode pertama dan

mulai tahun 2004 hingga 2009 untuk periode yang kedua, menetapkan visi Tri

Bina Cita Kota. Melalui visi tersebut pemerintah berupaya mengembangkan Kota

Kediri sebagai kota industri, perdagangan dan jasa, serta pendidikan. Pada visi

ini upaya pengembangan sub sektor pariwisata termasuk ke dalam sektor

perdagangan dan jasa. Pemerintah berupaya mengembangkan ketiga sektor ini

secara simultan untuk meningkatkan kesejahteraaan masyarakat. Pengembangan

ketiga potensi ekonomi lokal tersebut diharapkan dapat menciptakan lapangan

kerja yang lebih besar, peningkatan investasi, perdagangan, kualitas SDM, serta

peningkatan derajat hidup masyarakat.

Langkah konkrit upaya pengembangan pariwisata Kota Kediri ditunjukkan

pemerintah dengan mengeluarkan sejumlah kebijakan strategis yang didukung

anggaran cukup besar mulai tahun 2002, seperti perayaan hari jadi Kota Kediri

yang selanjutnya ditetapkan sebagai acara rutin tahunan, pembangunan dermaga

di bantaran Sungai Brantas untuk menunjang wisata bahari, rehabilitasi, penataan,

dan pengembangan objek wisata baru. Program prestisius yang ditempuh


7

pemerintah Kota Kediri adalah pengembangan Kawasan Wisata Selomangleng

yang diproyeksikan menjadi pusat kegiatan kepariwisataan di Kota Kediri, bahkan

Provinsi Jawa Timur.

Untuk merealisasikan megaproyek ini pemerintah telah mengalokasikan

anggaran daerah mencapai Rp 19 milyar lebih. Megaproyek ini berupa

pembangunan fasilitas kolam renang dan taman hiburan yang berdasarkan

perencanaan dilengkapi dengan berbagai fasilitas permainan anak-anak, salah

satunya berupa wahana permainan jetcoaster, menyerupai yang terdapat di Taman

Impian Jaya Ancol, Jakarta. Walikota Maschut memandang bahwa taman hiburan

dengan fasilitas seperti itu belum terdapat di wilayah Jawa Timur, sehingga Kota

Kediri ingin mengambil peluang tersebut. Dengan demikian, wisatawan yang

ingin menikmati suasana layaknya taman hiburan di Ancol tidak perlu jauh-jauh

pergi ke Jakarta, namun cukup datang ke Kota Kediri (Radar Kediri, 23 Desember

2002, hlm. 26). Di dalam kawasan ini juga terdapat objek-objek yang dapat

menunjang aktivitas wisata spiritual, budaya, dan alam, sehingga pengembangan

kawasan ini sebagai pusat kegiatan pariwisata di Kota Kediri dinilai sangat tepat.

Namun di tengah upaya gencar pemerintah untuk mengembangkan

pariwisata, berbagai masalah kemudian bermunculan. Pada program

pengembangan kawasan wisata Selomangleng, masalah terjadi karena

perencanaan pengembangan yang terlampau prestisius. Pengembangan taman

hiburan di dalam kawasan wisata Selomangleng yang direncanakan semegah

Ancol dan direncanakan tuntas pada tahun 2004, hingga tulisan ini dilaporkan

ternyata belum dapat direalisasikan. Pemerintah juga belum mampu melakukan


8

penataan kawasan wisata secara memadai. Padahal di sisi lain antusiasme

masyarakat kota untuk memanfaatkan kawasan tersebut sebagai wahana berwisata

semakin tinggi. Hal ini terjadi karena lokasinya yang jauh dari pusat keramaian

kota dan adanya bentangan alam berupa pegunungan. Sejak dahulu kawasan ini

memang telah digunakan masyarakat Kota Kediri untuk berwisata. Akibatnya

pada saat pengunjung yang selalu padat pada hari libur, terjadi kesemrawutan

karena tidak adanya alokasi ruang yang terpisah antara pengunjung, pedagang,

tempat parkir, dan jalur lalu lintas kendaraan.

Upaya-upaya pemeliharaan lingkungan dan aset sejarah yang ada di dalam

kawasan juga belum dilakukan dengan baik sehingga banyak yang terancam

mengalami kerusakan. Sebagian benda-benda bersejarah yang ada terancam rusak

akibat perilaku pengunjung yang tidak bertanggung jawab. Demikian pula dengan

kondisi alamnya yang tergolong kering dan berbatu, sehingga saat musim

kemarau sering terjadi kebakaran hutan, dan di musim hujan terancam dari

longsoran bebatuan yang terdapat di lereng pegunungan.

Demikian pula halnya dengan perayaan hari jadi Kota Kediri yang

ditetapkan setiap tanggal 27 Juli. Perayaan hari jadi yang dirancang sebagai

program pengembangan pariwisata budaya sekaligus promosi tersebut

nampaknya belum dapat menarik minat wisatawan. Masyarakat sebenarnya sangat

menantikan acara ini sebagai ajang untuk menyalurkan kreasi seninya dan

mendapatkan hiburan secara murah-meriah. Namun biaya yang harus ditanggung

pemerintah untuk melaksanakannya sangat besar. Pihak swasta belum ada yang

berminat untuk berpartisipasi sebagai sponsor utama. Setelah dua kali


9

pelaksanaan secara besar-besaran dan meriah sejak tahun 2002, perayaannya

mulai Juli 2004 lalu dibuat menjadi jauh lebih sederhana karena keterbatasan

anggaran.

Pencanangan wisata bahari di bantaran Sungai Brantas pun akhirnya

mengalami kemacetan. Setelah dermaga berdiri, pemerintah tidak memiliki

mekanisme pengelolaan yang jelas. Akibatnya dermaga dan perahu yang telah

disediakan tidak terawat dan rusak. Perkembangan pariwisata di kota ini belum

jelas arah dan sasarannya.

Berbagai perkembangan yang kurang menggembirakan tersebut

menunjukkan bahwa pemerintah sudah selayaknya melakukan evaluasi terhadap

perencanaan pengembangan pariwisata secara keseluruhan. Untuk melakukan

analisis terhadap kebijakan pengembangan pariwisata Kota Kediri tersebut penulis

menggunakan pendekatan sistem dengan analisa deskriptif.

1.2 Rumusan Masalah

Dari uraian di atas terdapat sejumlah masalah yang terkait dengan

fenomena pengembangan dan perkembangan pariwisata di Kota Kediri, yang

dikaji lebih lanjut melalui pertanyaan penelitian sebagai berikut:

1. Bagaimanakah kebijakan kepariwisataan Kota Kediri pada umumnya?

2. Bagaimana peta permasalahan yang dihadapi pemerintah dalam konteks

perubahan di tingkat lokal, nasional, dan global yang perlu menjadi bahan

pertimbangan dalam upaya pengembangan pariwisata?


10

3. Kebijakan apa yang dapat dilakukan pemerintah untuk pengembangan

pariwisata ke depan?

1.3 Tujuan Penelitian

1. Mendeskripsikan kebijakan pengembangan pariwisata di Kota Kediri.

2. Memberikan gambaran umum tentang permasalahan yang dihadapi

pemerintah Kota Kediri dalam upaya pengembangan pariwisata.

3. Memberikan rekomendasi kebijakan pengembangan pariwisata sesuai

dengan potensi dan permasalahan yang ada.

1.4 Manfaat Penelitian

Secara akademis penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi

ilmiah dalam khasanah penelitian kajian pariwisata di Universitas Udayana

melalui studi interdisipliner. Sedangkan dari sisi praktis, penelitian ini diharapkan

dapat menjadi bahan-bahan masukan (input) untuk pengembangan pariwisata

Kota Kediri lebih lanjut.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kerangka Konseptual

Analisis kebijakan merupakan disiplin ilmu sosial terapan yang

interdisipliner, sehingga tidak hanya memanfaatkan perangkat keilmuan ilmu

sosial dan perilaku, namun juga administrasi publik, hukum, etika, serta berbagai

macam cabang analisis sistem dan matematika terapan. Analisis kebijakan

bertujuan menghasilkan informasi yang bersifat deskriptif, evaluatif dan

preskriptif/normatif tentang suatu kebijakan (Dunn, 2003 : 97).

Praktek analisis kebijakan secara interdisipliner ini misalnya dilakukan

oleh Hamel (1999) yang menggunakan pendekatan ekonomi-politik dalam

mengkaji kebijakan pemberantasan kemiskinan di pedesaan Indonesia. Menurut

Hamel, alasan yang mendasari pentingnya analisis dengan pendekatan ekonomi-

politik adalah karena pendekatan ini lebih komprehensif, sehingga relatif mampu

mengatasi kelemahan pada pendekatan uni dimensional dari segi ekonomi,

pendekatan sosio-kultural, dan pendekatan kemanusiaan semata. Pendekatan

ekonomi-politik akan dapat mengatasi kelemahan-kelemahan yang terdapat pada

ilmu ekonomi, sekaligus kelemahan pada ilmu politik dalam melakukan analisis

kebijakan ( Hamel, 1999 : 12).

11
12

2.1.1 Kebijakan

Untuk tujuan ilmiah, kebijakan publik dapat dipandang sebagai variabel

dependen maupun variabel independen. Kebijakan publik dikatakan sebagai

variabel dependen bila perhatiannya tertuju pada faktor politik dan lingkungan

yang mempengaruhi/menentukan isi kebijakan. Bila kebijakan publik dipandang

sebagai variabel dependen maka kajian ditujukan kepada dampak kebijakan

publik terhadap sistem politik dan lingkungannya (Agustino, 2006 : 5).

Banyak definisi yang digunakan oleh para ahli untuk menjelaskan arti

kebijakan. Dye (1978, seperti dikutip dalam Abidin, 2002: 20) menyebutkan

makna kebijakan sebagai pilihan pemerintah untuk melakukan atau tidak

melakukan sesuatu (whatever government chooses to do or not to do). Sedangkan

Lasswell dan Kaplan yang menjelaskan bahwa kebijakan merupakan sarana untuk

mencapai tujuan, menyebutkan kebijakan sebagai program yang diproyeksikan

berdasarkan tujuan, nilai-nilai, dan praktek tertentu (a projected programs of

goals, values, and practices). Ahli lainnya, Heglo, menjelaskan kebijakan sebagai

a course of action intended to accomplish some end atau suatu tindakan yang

bermaksud untuk mencapai tujuan tertentu.

Kebijakan mencakup keterkaitan antara kehendak, tindakan, dan hasil.

Pada level kehendak, kebijakan terefleksikan pada sikap pemerintah, misalnya

pernyataan pemerintah tentang apa yang akan dilakukannya. Pada level tindakan,

kebijakan terefleksikan pada perilaku pemerintah, yaitu apa yang benar-benar

dilakukan pemerintah. Sedangkan pada level hasil, kebijakan terefleksikan pada

konsekuensi dari tindakan-tindakan yang dilakukan pemerintah (Heywood, 1997:


13

382). Kebijakan juga mengandung makna sebuah manifestasi dari penilaian yang

penuh pertimbangan, sehingga kebijakan adalah usaha untuk mendefinisikan dan

menyusun basis rasional untuk melakukan atau tidak melakukan suatu tindakan

(Parsons, 2001 : 15). Sedangkan kebijakan negara merupakan kebijakan yang

dikembangkan atau dirumuskan oleh instansi-instansi serta pejabat-pejabat

pemerintah. Aktor yang terlibat dan mempengaruhi proses pembuatan kebijakan

tidak saja aktor negara, tetapi juga aktor-aktor non negara seperti LSM,

pengusaha, kelompok mahasiswa, dan sebagainya (Wahab, 2002 : 5).

Selanjutnya Young dan Quinn (1991, seperti dikutip dalam Suharto,

2005:44) merangkum beberapa konsep kunci tentang kebijakan publik, yaitu:

a. Tindakan pemerintah yang berwenang. Kebijakan publik adalah

tindakan yang dibuat dan diimplementasikan oleh badan pemerintah

yang memiliki kewenangan hukum, politis, dan finansial untuk

melakukannya

b. Sebuah reaksi terhadap kebutuhan dan masalah dunia nyata. Kebijakan

publik berupaya merespons masalah atau kebutuhan kongkrit yang

berkembang di masyarakat

c. Seperangkat tindakan yang berorientasi pada tujuan. Kebijakan publik

biasanya bukanlah sebuah keputusan tunggal, melainkan terdiri dari

beberapa pilihan tindakan atau strategi yang dibuat untuk mencapai

tujuan tertentu demi kepentingan orang banyak

d. Sebuah keputusan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.

Kebijakan publik pada umumnya merupakan tindakan kolektif untuk


14

memecahkan masalah sosial. Namun, kebijakan publik juga bisa

dirumuskan berdasarkan keyakinan bahwa masalah sosial akan dapat

dipecahkan oleh kerangka kebijakan yang sudah ada dan karenanya

tidak memerlukan tindakan tertentu

e. Sebuah justifikasi yang dibuat oleh seorang atau beberapa orang aktor.

Kebijakan publik berisi pernyataan atau justifikasi terhadap langkah-

langkah atau rencana tindakan yang telah dirumuskan, bukan sebuah

maksud atau janji yang belum dirumuskan. Keputusan yang telah

dirumuskan dalam kebijakan publik bisa dibuat oleh sebuah badan

pemerintah, maupun oleh beberapa perwakilan lembaga pemerintah.

Menurut Anderson (1984, seperti dikutip dalam Abidin, 2002 : 41),

kebijakan publik merupakan strategi pemerintah untuk mencapai tujuannya.

Tujuan dari tindakan pemerintah tersebut tidak mudah dirumuskan dan tidak

selalu sama, namun secara umum kebijakan publik selalu menunjukkan sejumlah

ciri tertentu, yaitu:

a. Setiap kebijakan merupakan tindakan dan perilaku yang berorientasi

pada tujuan yang jelas, bukan sekadar tindakan yang acak atau

dilakukan karena ada kesempatan membuatnya.

b. Kebijakan publik merupakan kesatuan dari beberapa tindakan.

Kebijakan tidak berdiri sendiri, terpisah dari kebijakan yang lain, yang

dilakukan oleh aparat pemerintah

c. Kebijakan adalah sesuatu yang dilakukan oleh pemerintah, bukan

sesuatu yang dikatakan akan dilaksanakan atau ingin dilaksanakan.


15

d. Kebijakan dapat berupa larangan atau arahan dan anjuran untuk

melaksanakan sesuatu.

e. Kebijakan publik didasarkan pada hukum dan memiliki kewenangan

untuk memaksa masyarakat mematuhinya.

2.1.2 Analisis kebijakan

Kaplan (1971 seperti dikutip dalam Dunn, 2003 : 1) menerangkan analisis

kebijakan sebagai aktivitas menciptakan pengetahuan tentang proses pembuatan

kebijakan. Dalam menciptakan pengetahuan tentang proses pembuatan kebijakan,

analis kebijakan meneliti sebab, akibat, kinerja kebijakan, dan program publik.

Sedangkan menurut Quade (1975 seperti dikutip dalam Dunn, 2003 : 95), analisis

kebijakan adalah suatu bentuk analisis yang menghasilkan dan menyajikan

informasi yang dapat menjadi landasan bagi para pembuat kebijakan dalam

membuat keputusan.

Dalam analisis kebijakan, kata analisis digunakan dalam pengertian yang

paling umum, termasuk penggunaan intuisi dan pengungkapan pendapat yang

mencakup tidak hanya pengujian kebijakan dengan memilah-milahkannya ke

dalam sejumlah komponen-komponen, tetapi juga perancangan dan sintesis

alternatif-alternatif baru. Kegiatan-kegiatan yang tercakup dapat direntangkan

mulai dari penelitian untuk menjelaskan atau memberikan pandangan-pandangan

terhadap isu-isu atau masalah-masalah yang terantisipasi sampai mengevaluasi

suatu program yang lengkap. Beberapa analisis kebijakan ada yang bersifat

informal, sehingga meliputi tidak lebih dari proses berpikir yang keras dan cermat,
16

sementara lainnya ada pula yang memerlukan pengumpulan data secara ekstensif

disertai penghitungan teliti melalui proses matematis yang canggih. Tujuan

analisis kebijakan lebih dari sekadar menghasilkan fakta-fakta, namun juga

mencari cara untuk menghasilkan informasi mengenai nilai-nilai dan arah

tindakan yang lebih baik, sehingga analisis kebijakan meliputi evaluasi kebijakan

dan anjurannya.

Analis kebijakan dapat menghasilkan informasi dan argumen-argumen

yang rasional mengenai tiga macam pertanyaan, yaitu :

1. Nilai, yang pencapaiannya merupakan tolok ukur utama untuk melihat

apakah masalah telah teratasi

2. Fakta, yang keberadaannya dapat membatasi atau meningkatkan

pencapaian nilai-nilai

3. Tindakan yang penerapannya dapat menghasilkan pencapaian nilai-

nilai.

Dalam menghasilkan informasi dan argumen tersebut, analis dapat

menggunakan satu atau lebih pendekatan dalam analisis kebijakan, yaitu empiris,

evaluatif, dan normatif. Pendekatan empiris berupaya menjelaskan sebab dan

akibat dari kebijakan publik, sehingga pertanyaan yang berupaya dijawab adalah

mengenai suatu fakta (apakah sesuatu itu ada dan akan ada). Pada pendekatan ini

analis misalnya dapat menjelaskan atau meramal belanja publik untuk kesehatan,

pendidikan, atau transportasi. Pada pendekatan evaluatif, kegiatan analis

utamanya adalah menentukan nilai dari suatu kebijakan. Pada pendekatan ketiga,

yaitu normatif, analis berupaya memberikan usulan mengenai arah-arah tindakan


17

untuk memecahkan suatu problem kebijakan, sehingga tipe pertanyaannya

mengenai tindakan apa yang harus dilakukan dan tipe informasi yang dihasilkan

bersifat anjuran.

2.1.3 Lingkungan kebijakan

Lingkungan kebijakan merupakan konteks spesifik di mana peristiwa-

peristiwa di sekitar isu-isu kebijakan terjadi (Dunn, 2003: 133). Menurut Evan

(1980, seperti dikutip dalam Abidin, 2002: 158), proses perumusan kebijakan

dapat dipandang sebagai sebuah hubungan antarorganisasi (interorganizational

relations). Lingkungan kebijakan yang mempengaruhi proses pengambilan

keputusan organisasi dibagi dalam tiga lapisan seperti dideskripsikan pada

Gambar 2.1.

Dari perspektif Evan, instansi pemerintah merupakan suatu organisasi

yang berada dalam lingkup wawasan yang lebih luas, dan merupakan salah satu

elemen dari suatu sistem nasional dan internasional. Lapisan pertama pada model

Evan tersebut adalah lingkungan terdekat (intimate environment), yaitu

lingkungan yang dibatasi oleh batasan unit organisasi. Pada lingkungan ini

elemen-elemen dalam satu unit organisasi berintegrasi secara rutin di dalamnya.

Pada lapisan berikutnya yang berada di luar organisasi terdapat unit-unit

organisasi lain yang berinteraksi dalam lingkungan yang lebih luas, disebut

dengan lingkungan antara (intermediate environment). Interaksi pada lingkungan

ini tidak berlangsung secara rutin, hanya sewaktu-waktu. Berikutnya terdapat


18

lingkungan luar (external environment) yang meliputi lingkungan-lingkungan

antara. Lingkungan ini berupa negara, kawasan, atau dunia secara menyeluruh.

Lingkungan Eksternal

Lingkungan Intermediate

Lingkungan
Intim

Gambar 2.1
Lingkungan Kebijakan

Sumber: Abidin, 2002: 163.

2.1.4 Pariwisata

World Tourism Oganization (WTO) mengembangkan definisi-definisi

mendasar tentang konsep-konsep kunci yang terkait dengan kepariwisataan (Gee,

2000 : 267) yaitu:

1. Pariwisata : merupakan aktivitas perjalanan dan tinggal dari orang-

orang menuju ke luar lingkungan mereka yang biasa selama tidak lebih

dari setahun untuk bersenang-senang, bisnis, atau tujuan lainnya


19

2. Wisatawan: merupakan pengunjung yang menginap sedikitnya selama

satu malam pada fasilitas akomodasi di lokasi yang dikunjungi

3. Ekskursionis : pengunjung yang tidak menginap pada fasilitas

akomodasi di lokasi yang dikunjungi

4. Pengunjung : setiap orang melakukan perjalanan ke luar lingkungan

mereka yang biasa selama kurang dari 12 bulan secara berturut-turut

yang tujuan kunjungannya tidak untuk bekerja pada tempat yang

dikunjungi

Sedangkan Soekadijo (2000 : 2) menyebutkan pariwisata sebagai segala

kegiatan dalam masyarakat yang berhubungan dengan wisatawan. Dalam

pengertian tersebut wisatawan dimaknai sebagai orang yang mengadakan

perjalanan dari tempat kediamannya tanpa menetap di tempat yang didatanginya.

Sementara Burkart dan Medlik (1987, seperti dikutip dalam Soekadijo, 2000 : 3)

menyebutkan pariwisata sebagai perpindahan orang untuk sementara dan dalam

jangka waktu pendek, ke tujuan-tujuan di luar tempat di mana mereka biasanya

hidup dan bekerja, termasuk kegiatan-kegiatan mereka selama tinggal di tempat-

tempat itu.

Bila merujuk pada Undang-Undang No 9 tahun 1990 tentang

kepariwisataan, pariwisata adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan

wisata, termasuk pengusahaan objek dan daya tarik wisata serta unsur-unsur yang

terkait di bidang itu. Sedangkan wisata adalah kegiatan perjalanan atau sebagian

dari kegiatan tersebut yang dilakukan secara suka rela serta bersifat sementara

untuk menikmati objek dan daya tarik wisata. Sebaliknya, yang dimaksud daya
20

tarik wisata bisa berhubungan pada budaya atau lingkungan alam yang dimiliki

oleh masyarakat lokal. Lebih lanjut disebutkan bahwa kepariwisataan adalah

segala sesuatu yang berhubungan dengan penyelenggaraan pariwisata. Dengan

memperhatikan pengertian pariwisata seperti uraian di atas, maka dapat

disimpulkan bahwa pariwisata merupakan gejala sosial yang sangat kompleks,

menyangkut manusia seutuhnya dan memiliki berbagai aspek seperti sosiologis,

budaya, politik, psikologis, ekonomis, dan ekologis.

Pengembangan pariwisata di suatu daerah tentu memiliki tujuan-tujuan

khusus dalam rangka meningkatkan tingkat kehidupan di daerah tersebut. Dalam

UU No 9 tahun 1990 tentang kepariwisataan, tujuan pengembangan

kepariwisataan disebutkan sebagai berikut:

1. Memperkenalkan, mendayagunakan, melestarikan, dan meningkatkan

mutu objek dan daya tarik wisata.

2. Memupuk rasa cinta tanah air dan meningkatkan persahabatan

antarbangsa.

3. Memperluas dan memeratakan kesempatan berusaha serta

memperluas lapangan kerja.

4. Meningkatkan pendapatan nasional dalam rangka meningkatkan

kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.

5. Mendorong pendayagunaan produksi nasional.

Dengan perspektif sistem, Soekadijo (2000) mengkaji pariwisata sebagai

suatu mobilitas spasial. Dalam model mobilitas spasial tersebut Soekadijo

menetapkan sejumlah variabel yang menjadi determinan mobilitas spasial yang


21

terdiri dari motif wisata, atraksi wisata, jasa wisata, dan transferabilitas. Walau

demikian determinan tersebut masih berupa potensi, yang hanya dapat

diaktualisasikan bila didukung oleh aktivitas pemasaran yaitu publikasi, promosi,

dan penjualan seperti terdapat pada Gambar 2.3.

Lebih lanjut Soekadijo (2000 : 34) menjelaskan, mobilitas spasial tersebut

hanya akan terjadi bila ada kesesuaian antara atraksi wisata dan motif wisata.

Manusia hanya dapat bergerak ke suatu tempat untuk mencari sesuatu bila ia

memiliki gambaran bahwa yang dicarinya ada di tempat tersebut. Motif wisata

setiap orang yang mendorong terjadinya perjalanan ini berbeda-beda menurut

tingkat kebudayaannya. Semakin tinggi tingkat kebudayaannya, semakin beragam

kebutuhan dan motifnya.

McIntosh (1972, seperti dikutip dalam Soekadijo, 2000 : 37)

mengklasifikasikan motif-motif wisata sebagai berikut:

a. Motif fisik, yaitu motif-motif yang berhubungan dengan kebutuhan

badaniah seperti olah raga, istirahat, kesehatan, dan sebagainya.

b. Motif budaya, yang harus diperhatikan di sini adalah bahwa yang

bersifat budaya itu motif wisatawan, bukan atraksinya yang dapat

berupa pemandangan alam, flora dan fauna. Wisatawan dengan motif

budaya sering datang ke tempat tujuan wisata ke tempat tujuan wisata

untuk mempelajari atau sekadar mengenal atau memahami tata cara

serta kebudayaan bangsa atau daerah lain yang mencakup kebiasaan,

kehidupan sehari-hari, bangunan unik, musik, tarian, dan sebagainya


22

c. Motif interpersonal, yang berhubungan dengan keinginan untuk

bertemu keluarga, teman, tetangga, atau berkenalan dengan orang-

orang tertentu, berjumpa atau sekadar dapat melihat tokoh-tokoh

terkenal seperti penyanyi, penari, bintang film, tokoh-tokoh politik,

dan sebagainya.

d. Motif status atau prestise. Banyak orang beranggapan bahwa orang

yang pernah mengunjungi tempat-tempat lain dengan sendirinya dapat

melebihi sesamanya yang tidak pernah bepergian. Orang yang pernah

bepergian ke daerah-daerah lain merasa naik gengsi atau statusnya.

Wisatawan

Motif Kebutuhan
Wisata Wisata
Aktualisasi Perjalanan

Transferabilitas
Pemasaran

Angkutan

Atraksi Jasa
WIsata Wisata

Daerah Tujuan Wisata

= Komplementaritas

Gambar 2.2
Pariwisata Sebagai Mobilitas Spasial

Sumber : Soekadijo ( 2000: 25).


23

Berdasarkan uraian McIntosh tersebut Soekadijo (2000 : 38) membuat

sejumlah subkelas motif wisata dan tipe aktivitas wisatanya, yaitu:

1. Motif bersenang-senang atau tamasya : wisatawan tipe ini ingin

mengumpulkan pengalaman sebanyak-banyaknya, mendengarkan, dan

menikmati apa saja yang menarik perhatiannya.

2. Motif rekreasi : kegiatan-kegiatannya dapat berupa olah raga, tamasya,

atau sekadar bersantai menikmati hari libur.

3. Motif kebudayaan : dalam tipe wisata kebudayaan, orang tidak hanya

menyaksikan dan menikmati atraksi, namun juga mengadakan

penelitian tentang keadaan setempat.

4. Wisata Olah raga : merupakan pariwisata di mana wisatawan

mengadakan perjalanan karena motif olah raga, baik untuk

melaksanakan kegiatan berolah raga maupun untuk menyaksikan suatu

event olah raga.

5. Wisata Bisnis : bentuknya berupa kunjungan, pertemuan, pameran,

yang membuat kontak dalam kegiatan ini berkembang menjadi

hubungan bisnis yang mantap.

6. Wisata Konvensi : bentuknya berupa pertemuan-pertemuan berskala

nasional, global untuk membicarakan suatu masalah tertentu.

Pertemuan ini ada yang diselenggarakan secara rutin oleh suatu

organisasi profesi.
24

7. Motif Spiritual: merupakan tipe wisata yang tertua. Sebelum orang

mengadakan perjalanan untuk rekreasi dan bisnis orang sudah

mengadakan perjalanan untuk berziarah atau untuk keperluan

keagamaan lainnya. Wisata ziarah merupakan bagian dari aktivitas

wisata spiritual ini.

8. Motif Interpersonal: suatu aktivitas perjalanan wisata yang didorong

oleh keinginan untuk bertemu orang lain

9. Motif Kesehatan : suatu bentuk perjalanan wisata yang berorientasi

pada penyembuhan dari suatu penyakit

Faktor mendasar yang mendorong wisatawan melakukan perjalanan wisata

adalah daya tarik yang dimiliki suatu destinasi. Inskeep (1991: 77)

mengelompokkan daya tarik wisata ke dalam tiga kategori yaitu :

a. Daya tarik alam, yang berdasarkan pada kondisi lingkungan alam.

b. Daya tarik budaya, yang berdasar pada aktivitas manusia.

c. Daya tarik khusus, yang merupakan buatan manusia.

Daya tarik alamiah tersebut seperti dijelaskan Inskeep, meliputi iklim,

pemandangan indah seperti pantai dan lautan, flora dan fauna, bentangan alam

khusus, taman nasional dan wilayah konservasi. Daya tarik budaya mencakup

beberapa hal seperti situs arkeologis, situs bersejarah, budaya lokal yang khas,

kesenian, kerajinan tangan, aktivitas ekonomi yang menarik, wilayah perkotaan

yang bagus, museum, fasilitas budaya lainnya, festival budaya, dan keramah-

tamahan penduduk. Daya tarik khusus tersebut tidak terkait dengan daya tarik

alam atau budaya, melainkan dirancang oleh manusia sehingga memiliki nilai
25

daya tarik. Yang termasuk dalam daya tarik khusus ini misalnya taman hiburan,

sirkus, pusat perbelanjaan, pertemuan, konferensi dan pameran, acara-acara

khusus, kasino, hiburan, rekreasi dan olah raga.

Di samping berbagai daya tarik yang telah disebutkan tadi, fasilitas-

fasilitas penunjang aktivitas kepariwisataan juga dapat menjadi daya tarik bagi

wisatawan. Fasilitas wisatawan yang khas dan luar biasa juga dapat menjadi

sumber daya tarik, misalnya hotel dan resort dengan desain yang indah. Mode

transportasi yang unik dan khas pun dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan.

Selain itu, makanan juga termasuk faktor yang tidak dapat ditinggalkan sebagai

daya tarik. Ini terjadi bila makanan tersebut disajikan dengan sangat baik dan

bercita rasa tinggi. Tidak itu saja, masih ada banyak faktor lainnya yang perlu

diperhitungkan sebagai sumber daya tarik suatu destinasi, seperti asosiasi

keagamaan, suku bangsa, dan nostalgia. Di luar faktor-faktor tersebut, stabilitas

politik, kesehatan dan keselamatan publik turut menjadi pertimbangan bagi daya

tarik wisatawan. Yang tidak kalah penting, besarnya biaya yang harus dikeluarkan

untuk melakukan perjalanan juga menjadi faktor penting.

2.1.5 Perencanaan pariwisata

Terkait dengan penjelasan Soekadijo, Yoeti (1997:2) mengatakan bahwa

pariwisata bukanlah kegiatan yang dapat diwujudkan secara spontan karena

terdapat sejumlah aspek yang eksistensinya dibutuhkan, dan perlu menjadi bahan

kajian dalam perencanaan dan pengembangan pariwisata, yaitu:


26

1. Wisatawan: pengembangan pariwisata harus didahului dengan

penelitian tentang karakteristik wisatawan yang diharapkan datang.

Dari negara mana saja mereka datang, anak muda atau orang tua,

pensiunan atau pegawai biasa, apa kesukaannya, dan pada musim apa

saja mereka melakukan perjalanan.

2. Pengangkutan: penelitian selanjutnya adalah bagaimana fasilitas

transportasi yang tersedia atau yang akan digunakan, baik untuk

membawa wisatawan dari negara asal ke daerah tujuan wisata yang

akan dituju. Selain itu, bagaimana pula transportasi lokal bila

melakukan perjalanan wisata di daerah tujuan wisata yang dikunjungi.

3. Atraksi/objek wisata: bagaimana objek dan atraksi yang akan dijual,

apakah memenuhi tiga syarat seperti:

- apa yang dapat dilihat (something to see)

- apa yang dapat dilakukan (something to do)

- apa yang dapat dibeli (something to buy), di daerah tujuan wisata

yang akan dikunjungi

4. Fasilitas pelayanan: fasilitas apa saja yang tersedia di daerah tujuan

wisata tersebut, bagaimana akomodasi, perhotelan, restoran, pelayanan

umum seperti bank/money changer, kantor pos, telepon, faksimili,

internet, di daerah tujuan wisata yang akan dikunjungi wisatawan.

5. Informasi dan Promosi: calon wisatawan perlu memperoleh informasi

tentang daerah tujuan wisata yang akan dikunjunginya. Untuk itu perlu

dipikirkan cara-cara publikasi atau promosi yang akan dilakukan.


27

Kapan iklan harus dipasang, ke mana leaflets/brosur harus disebarkan,

sehingga calon wisatawan mengetahui tiap paket wisata yang ada dan

memudahkan calon wisatawan dalam mengambil keputusan.

Agar perkembangan pariwisata di suatu daerah dapat berjalan sesuai

harapan, maka sudah sewajarnya para pembuat kebijakan yang bermaksud

mengembangkan pariwisata di wilayah kerjanya harus melakukan serangkaian

kegiatan perencanaan. Pentingnya perencanaan dalam pengembangan pariwisata

disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut (Paturusi, 2003) :

1. Kegiatan pariwisata merupakan suatu kegiatan ekonomi yang relatif

baru. Dengan demikian pemerintah dan pihak swasta memiliki

informasi dan pengalaman yang terbatas tentang bagaimana

mengembangkan sektor ini dengan baik. Perencanaan pariwisata dapat

menjadi arahan dan pedoman dalam mengembangkannya.

2. Kegiatan pariwisata merupakan kegiatan yang sangat kompleks,

multisektoral, dan melibatkan berbagai bidang seperti pertanian,

perikanan, manufakturing, kebudayaan, pertamanan, berbagai fasilitas

pelayanan dan jasa, transportasi, dan infrastruktur lainnya.

Perencanaan dan koordinasi untuk memadukan unsur-unsur tersebut

menjadi mutlak.

3. Pariwisata dapat mendatangkan keuntungan ekonomis baik secara

langsung maupun tidak langsung. Dengan perencanaan yang baik,

keuntungan ini dapat dioptimalkan.


28

Inskeep (1991:49) menjelaskan serangkaian tahapan yang harus ditempuh

dalam proses perencanaan, sebagai berikut:

1. Persiapan Studi

2. Penentuan Tujuan

3. Survei

4. Analisis dan Sintesis

5. Formulasi Kebijakan dan Perencanaan

6. Rekomendasi

7. Implementasi dan Pengawasan. Ini merupakan tahap akhir dari seluruh

proses perencanaan pengembangan pariwisata.

Tentang perencanaan, strategi pengelolaan, dan evaluasi pariwisata,

Spillane (1997: 28) memaparkan beberapa pendekatan yang dapat digunakan,

yaitu:

1. Pendekatan advocacy: pendekatan ini mendukung pariwisata dan

menekankan keuntungan ekonomis dari pariwisata. Potensi pariwisata

bisa dipakai untuk mendukung bermacam-macam kegiatan ekonomis,

menciptakan lapangan kerja baru, dan memperoleh devisa asing yang

dibutuhkan bagi pembangunan. Perkembangan pendekatan ini

mencapai puncaknya pada tahun 1960-an dan terus menarik perhatian

pengkaji dan pengembang pariwisata

2. Pendekatan cautionary: karena pariwisata baru dipandang dari satu

sisi saja, ada dorongan untuk memunculkan pendekatan lain yang

kemudian dikenal sebagai pendekatan cautionary. Pendekatan ini


29

muncul pada tahun 1970-an, baik yang mempertanyakan maupun yang

menolak sama sekali pendekatan advocacy. Mereka yang berada pada

sisi pendekatan cautionary menekankan bahwa pariwisata dapat

menyebabkan banyak kerugian (disbenefits) dalam berbagai aspek

sosio-ekonomi, seperti menimbulkan lapangan kerja musiman dan

kasar (rendahan), mengakibatkan kebocoran devisa, komersialisasi

budaya, serta menyebabkan berbagai macam konflik.

3. Pendekatan adaptacy: karena kedua pendekatan tersebut saling

berlawanan, muncul bentuk pendekatan baru yang berpandangan

bahwa pariwisata mempunyai unsur positif maupun negatif.

Pendekatan adaptacy menyebutkan bahwa pengaruh negatif pariwisata

dapat dikontrol dengan mencari bentuk lain perkembangan pariwisata

dari yang selama ini dikenal umum, atau dengan menyesuaikan

pariwisata dengan kondisi di negara atau daerah tujuan wisata. Cara

berpikir baru ini didasarkan pada pandangan bahwa alam dan budaya

dapat digabungkan dalam satu konteks. Pendekatan ini mengusulkan

strategi pembangunan pada skala kecil, pariwisata yang terkontrol,

pariwisata yang dapat bertahan lama (sustainable), pariwisata dengan

cara menikmati kehidupan masyarakat setempat, dan pariwisata yang

berkaitan dengan ekologi (eco-tourism). Pendekatan ini membuat

manusia sadar akan bahaya pariwisata massa (mass tourism). Karena

itu pendekatan ini mengusulkan beraneka ragam bentuk alternatif

untuk mengembangkan pariwisata. Contohnya adalah agrowisata,


30

community tourism, cottage tourism, rural tourism. Semua alternatif

tersebut dikenal sebagai pendekatan developmental. Alternatif ini

menganggap bahwa pariwisata dapat disesuaikan dengan keadaan

masyarakat tuan rumah dan peka akan selera masyarakat tuan rumah.

4. Pendekatan knowledge based: pendekatan ini adalah pandangan yang

didasarkan pada ilmu pengetahuan. Dengan memanfaatkan beberapa

hal yang positif dan negatif dari semua pandangan di atas, pendekatan

ini menggunakan pandangan sistematis terhadap pariwisata. Selain itu,

pendekatan ini juga menganggap bahwa pariwisata adalah bidang

penelitian yang multidisipliner dan cenderung menerapkan teori dan

metode dari berbagai bidang yang berkaitan dengan pariwisata.

Pendekatan ini menggabungkan beberapa bidang pengetahuan sebagai

landasannya. Di samping itu, pendekatan ini tetap membuka diri

terhadap ketiga pendekatan lainnya. Pendekatan knowledge based ini

secara selektif menggabungkan ketiga pendekatan lain dengan masing-

masing memberikan kontribusinya sendiri.

2.1.6 Kebijakan pariwisata

Kebijakan pariwisata umumnya dipandang sebagai bagian dari kebijakan

ekonomi. Kebijakan ekonomi terkait dengan struktur dan pertumbuhan ekonomi

yang biasanya diwujudkan dalam suatu perencanaan, misalnya berjangka waktu

10 tahun, yang memproyeksikan kondisi-kondisi yang ingin dicapai pada dekade

mendatang, serta merencanakan pertumbuhan ekonomi pada kurun waktu


31

tersebut. Beberapa faktor kunci yang menjadi perhatian kebijakan ekonomi

misalnya ketenagakerjaan, investasi dan keuangan, industri-industri yang penting,

serta perdagangan (Gee, 2000 : 287).

Berbagai kebijakan suatu negara sangatlah terkait dan merefleksikan

kompleksitas dan dinamika kemajuan masyarakatnya. Perubahan pada satu area

kebijakan akan mempengaruhi terjadinya perubahan pada area kebijakan lainnya.

Karena itu, para pembuat kebijakan pariwisata harus mengadopsi suatu perspektif

yang komprehensif dengan mempertimbangkan berbagai dampak yang mungkin

terjadi, serta keterkaitan antara pariwisata dengan masyarakat.

Lebih lanjut Gee menjelaskan bahwa formulasi kebijakan pariwisata

merupakan tanggung jawab penting yang harus dilakukan oleh pemerintah yang

ingin mengembangkan atau mempertahankan pariwisata sebagai bagian yang

integral dalam perekonomian. Kebijakan pariwisata menunjukkan tujuan-tujuan

dan arah, strategi dan sasaran yang dilakukan untuk mewujudkan kemajuan-

kemajuan dan pembangunan yang diinginkan masyarakatnya.

Hal tersebut membuat kebijakan pariwisata harus mempertimbangkan

sejumlah isu kebijakan misalnya seperti (Gee, 2000 : 287) :

- Peran pariwisata dalam perekonomian (Seberapa penting peran

pariwisata terhadap ekonomia secara keseluruhan?, Seberapa

penting peran pariwisata terhadap industri lainnya?)

- Pengendalian pengembangan pariwisata. (Pengembangan

pariwisata seperti apa yang diinginkan dan sesuai denga kondisi

yang ada? Di mana pengembangan harus dilakukan?)


32

- Administrasi pariwisata. (Pada level mana pariwisata perlu

diwakili pada struktur kelembagaan pemerintah?)

- Dukungan pemerintah terhadap pariwisata. (Seberapa besar jumlah

sumber daya pemerintah yang harus diarahkan untuk mendukung

dan menumbuhkan pariwisata?)

- Dampak pariwisata. (Dampak-dampak seperti apa, baik positif

maupun negatif, yang akan ditimbulkan pariwisata terhadap

masyarakat, kebudayaan, dan lingkungan?)

2.2 Landasan Teori

Teori sistem dalam ilmu sosial merupakan pengembangan dari konsep

sistem yang digunakan dalam ilmu biologi. Sistem sosial termasuk politik

dipandang seperti sistem biologi, yang menjelaskan bahwa setiap sub-sistem

saling memiliki keterkaitan antara satu sama lainnya. Perubahan pada satu

komponen akan mengakibatkan perubahan pada komponen lainnya. Tradisi ini

berkembang pada sekitar abad ke-19, dengan menggunakan konsep-konsep

biologi dalam ilmu politik sebagai pengganti penggunaan konsep fisika yang

sempat banyak digunakan pada abad ke-18. Dalam pendekatan ini negara tidak

lagi dipandang sebagai mesin, melainkan mahluk yang hidup dan berkembang

biak. Karena itu negara harus dipahami dengan teori tentang kehidupan organik

yang berakar dari pemikiran Darwin, bukan teori tentang jagad raya oleh Newton.

(Roskin, et.al, 1994:20). Dengan cara pandang yang baru tersebut maka

pemerintahan juga dipandang sebagai suatu entitas yang dipengaruhi dan diubah
33

oleh lingkungan. Seperti dijelaskan Bronowski (1970, dalam Mas’oed, 1994:

212), pemerintahan dibentuk untuk menjalankan fungsi-fungsi tertentu, dan

fungsi-fungsi itu dijalankan karena desakan untuk hidup atau demi

mempertahankan eksistensinya.

Easton mengadaptasi konsep sistem pada ilmu biologi tersebut menjadi

pendekatan sistem yang intinya menjelaskan bahwa suatu kebijakan tidak

mungkin terbentuk dalam suatu ruang sosial yang vakum, namun suatu kebijakan

terbentuk karena interaksnya dengan lingkungan sekitar. Dalam model ini terdapat

lima instrumen penting untuk memahami proses pengambilan keputusan sebuah

kebijakan yaitu input, proses, output, feedback/umpan balik, dan lingkungan itu

sendiri, seperti terdapat pada Gambar 2.3.

Input dalam sistem politik mencakup tuntutan, dukungan, maupun sikap

apatis yang berasal dari partai politik, warga negara, kelompok kepentingan dan

berbagai komponen infrastruktur politik lainnya yang oleh pembuat kebijakan di

pemerintahan selanjutnya diproses menjadi output berupa tindakan-tindakan dan

keputusan-keputusan yang otoritatif (Apter, 1987: 252). Output dari suatu sistem

politik juga merupakan alokasi nilai-nilai yang otoritatif, dan alokasi-alokasi ini

dinyatakan sebagai kebijakan publik (Thoha, 2002: 117).

Pada tahap berikutnya output ini memberikan dampak kepada lingkungan

ekonomi, politik, dan sosial, baik yang disukai atau tidak disukai masyarakat.

Dampak tersebut selanjutnya menjadi umpan balik berupa input baru, yaitu

tuntutan dan dukungan yang bisa membuat pembuat kebijakan akhirnya

mengubah keputusan sebelumnya. Apa yang terjadi dalam elemen proses pada
34

model ini tidak diungkap, sehingga disebut dengan kotak hitam/black box.

Menurut Easton apa yang terjadi di dalam black box jauh lebih rumit daripada

sekadar pemrosesan tuntutan. Di dalamnya terjadi tarik-menarik kepentingan

antara berbagai komponen di dalam pemerintahan (Roskin, et.al, 1994 : 21).

Lingkungan Ekonomi, Sosial, dan Politik

Tuntutan
Keputusan
dan tindakan
Input Apatisme Proses konversi oleh
Output
Pembuat Kebijakan di
Pemerintahan
Dukungan

Umpan Balik

Gambar 2.3
Model Sistem Politik David Easton

Sumber: Roskin, et.al, 1994: 21

Teori sistem sangat membantu dalam mengorganisasikan variabel-variabel

dalam analisis kebijakan, seperti bagaimana input lingkungan mempengaruhi

kebijakan publik dan sifat sistem politik? Bagaimana kebijakan publik

mempengaruhi lingkungan dan permintaan kegiatan selanjutnya? Kekuatan dan

faktor lingkungan apakah yang bertindak dalam menimbulkan permintaan pada

sistem politik? Bagaimana sistem politik dapat mengubah tuntutan dalam

kebijakan publik dan mempertahankan dirinya sepanjang waktu? (Agustino, 2006

: 21).
35

2.3 Model Penelitian

Kebijakan publik merupakan sebuah fenomena yang kompleks, sehingga

untuk memahaminya perlu dilakukan penyederhanaan melalui pengorganisasian

konsep dan ide melalui model-model dan pemetaan (Parsons, 2005 : 59). Model

merupakan abstraksi dari fenomena, yang dibuat untuk memudahkan

memudahkan pemahaman. Dengan penggunaan model, pemikiran tentang

fenomena yang dikaji menjadi lebih sederhana dan jelas, variabel-variabel penting

dalam fenomena akan lebih mudah diidentifikasi, sehingga membantu

mengarahkan penelitian (Mas’oed, 1994 : 217).

Berdasarkan model sistem politik Easton tersebut, penulis selanjutnya

mengkonstruksi model teoritik yang menjadi panduan dalam penelitian ini.

Variabel yang dimasukan ke dalam komponen input adalah lingkungan kebijakan

adalah pariwisata internasional, pariwisata nasional, dan kondisi kepariwisataan di

tingkat lokal. Input tersebut selanjutnya menjalani proses yang menghasilkan

output berupa kebijakan pengembangan pariwisata di Kota Kediri. Model yang

dibangun tersebut digambarkan pada Gambar 2.4.


36

INPUT

PERKEMBANGAN
KEPARIWISATAAN
DI TINGKAT
INTERNASIONAL
OUTPUT

KEBIJAKAN
PENGEMBANGAN
PERKEMBANGAN PROSES
KEPARIWISATAAN PARIWISATA
PEMBUATAN
DI TINGKAT KEBIJAKAN
NASIONAL

TUNTUTAN DAN
DUKUNGAN
TERHADAP
PENGEMBANGAN
PARIWISATA DI
TINGKAT LOKAL

Umpan Balik

Gambar 2.4
Model Penelitian
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode kualitatif, yang

didukung dengan penggunaan teknik-teknik pada studi literatur dan penelitian

lapangan. Studi literatur dilakukan pada literatur teknis dan literatur non teknis

berupa pengkajian terhadap data dan informasi yang relevan tentang kebijakan

dan kepariwisataan Kota Kediri seperti peraturan daerah, dokumen perencanaan

pembangunan daerah, buku profil Kota Kediri, buku laporan pertanggungjawaban

walikota, laporan APBD, petikan data dan informasi dari buku-buku teks dan

penelitian terkait, serta laporan media cetak lokal dan nasional yang terkait

dengan masalah penelitian. Metode ini terutama sekali digunakan untuk

menjawab pertanyaan penelitian no 1 dan 2 pada penelitian ini, yaitu kebijakan

pengembangan pariwisata Kota Kediri serta peta permasalahan kepariwisataan di

tingkat internasional, nasional yang melingkupi kepariwisataan Kota Kediri.

Teknik-teknik pada penelitian lapangan digunakan untuk memecahkan persoalan

seperti terangkum pada pertanyaan penelitian no 3, yaitu kebijakan yang perlu

ditempuh untuk pengembangan pariwisata lebih lanjut.

Merujuk pada pengertian penelitian lapangan menurut Unaradjan (2000 :

211), kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan pada penelitian lapangan ini bertujuan

untuk melakukan eksplorasi, bukan untuk menguji hipotesis tertentu. Sesuai

dengan penelitian lapangan pada umumnya, sasaran awal yang dituju tidak

37
38

diketahui sebelumnya (open ended), bahkan hasilnya dapat terus berkembang dari

waktu ke waktu.

Berdasarkan penjelasan Neuman (1997 : 344) tentang penelitian lapangan,

maka pada penelitian ini penulis berinteraksi dengan kelompok sosial di Kota

Kediri, seperti kalangan pemerintah, kelompok masyarakat, kalangan pers, untuk

mengetahui dan mempelajari kondisi sosial ekonomi serta masalah-masalah

kepariwisataan Kota Kediri. Selanjutnya tahap-tahap kegiatan yang dilaksanakan

dalam penelitian ini berpedoman pada Neuman (1997) di antaranya yaitu:

1. Membaca literatur-literatur terkait

2. Mencari akses/ijin masuk ke lokasi penelitian.

3. Masuk ke lokasi penelitian dan menjalin hubungan sosial dengan

anggota kelompok sosial.

4. Mengamati, menyimak, dan mengumpulkan data-data penting.

5. Mulai menganalisa data, membangun kerangka pemikiran

6. Melakukan wawancara dengan anggota-anggota kelompok yang

diteliti.

7. Meninggalkan lokasi penelitian.

8. Melengkapi analisis dan menulis laporan.

Berdasarkan panduan Neuman (1997) pula, selama penelitian lapangan ini

penulis melaksanakan sejumlah kegiatan sebagai berikut:

1. Mengamati kejadian-kejadian dan aktivitas harian pemerintahan serta

masyarakat di Kota Kediri, termasuk kejadian-kejadian yang tidak

umum.
39

2. Berinteraksi secara langsung dengan pihak-pihak yang menjadi objek

penelitian dan mengalami secara langsung kehidupan sosial di Kota

Kediri dengan menggunakan beragam teknik dan kemampuan

bersosialisasi yang fleksibel sesuai tuntutan situasi di lingkungan

pemerintah maupun masyarakat Kota Kediri.

3. Mengamati berbagai kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka

pengembangan kepariwisataan secara holistik.

4. Memperhatikan aspek eksplisit maupun implisit budaya masyarakat

setempat.

5. Mengamati proses-proses sosial yang terjadi tanpa melakukan campur

tangan.

6. Mengumpulkan data pendukung berupa catatan-catatan, termasuk

diagram, peta, gambar, foto, untuk memberikan deskripsi yang rinci

tentang kepariwisataan Kota Kediri.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Kota Kediri, Provinsi Jawa Timur.

Pengamatan dan pencarian data dilakukan di objek wisata yang dikembangkan

oleh pemerintah Kota Kediri serta kantor-kantor pemerintahan seperti Kantor

Walikota, Kantor Bappeda, Kantor Pariwisata, dan Perpustakaan Kota Kediri.

Pra penelitian dilakukan pada Januari 2005. Pada tahap ini dilakukan

pengamatan dan pengumpulan informasi-informasi awal, pendataan dokumen-

dokumen yang perlu dicari untuk menunjang dengan penelitian. Selanjutnya


40

dilaksanakan tahap-tahap kegiatan penelitian yang meliputi penyusunan proposal,

seminar proposal, penelitian lapangan, penyusunan laporan, hingga tahap

pelaporan seperti terdapat pada Lampiran 1.

3.3 Jenis dan Sumber Data

Untuk melaksanakan penelitian ini penulis memanfaatkan data primer,

berupa informasi yang didapatkan melalui pengamatan langsung di lapangan dan

wawancara kepada informan-informan baik dari pembuat kebijakan maupun

masyarakat, sehingga sebagian besar data yang didapatkan adalah data kualitatif

berupa kumpulan kata-kata, bukan rangkaian angka.

Selain itu penulis juga memanfaatkan data sekunder yang bersumber dari

literatur teknis seperti laporan tentang kajian penelitian dan karya tulis profesional

yang terkait dengan topik penelitian, maupun literatur non teknis seperti laporan,

kaset video, surat kabar, serta berupa dokumen-dokumen resmi yang diterbitkan

pemerintah Kota Kediri seperti Buku Kota Kediri Dalam Angka, Rencana Strategi

Pemerintah Kota Kediri, Rencana Jangka Pendek dan Menengah (RPJM) Daerah

Kota Kediri, Laporan Pertanggungjawaban Walikota Kediri 1999-2004 yang

menjadi data pendukung dalam pengamatan lapangan.

Sebagai bahan pendukung, penulis juga melakukan pencarian data dan

informasi terkait melalui internet. Situs-situs yang dikunjungi guna mendapatkan

data dimaksud di antaranya seperti situs resmi pemerintah Kota Kediri, yaitu

www.kotakediri.go.id, serta pencarian (browsing) di situs-situs lainnya yang

didapatkan dari mesin pencari (search engine) seperti www.google.com.


41

3.4 Instrumen Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Buku catatan dan tape recorder. Instrumen ini digunakan untuk

mencatat data-data penting serta merekam wawancara kepada

informan.

2. Kamera digital dan handycam, yang berguna untuk

mendokumentasikan kondisi lingkungan dan aktivitas sosial,

dengan format foto (still image) maupun gambar bergerak (video).

Ada pun jenis spesifikasi alat-alat tersebut sebagai berikut:

1) Kamera digital:

a) Fujifilm FinePix seri 2800Z. Spesifikasi: 2.0

megapixels, 6 x optical zoom, lensa Fujinon Zoom

Lens, 1: 2.8 – 3.0. f = 6 – 36 mm.

b) Nikon D 100. Spesifikasi : 6.0 megapixels, lensa

AF-S Nikkor 24-120 mm, 1:3.5-5.6.

2) Handycam, merk Sony seri TRV740E PAL. Spesifikasi:

420 x digital zoom, 15 x optical zoom, f = 3.6-54 mm,

1:1.6. Perangkat lunak editing video yang digunakan

adalah Ulead Media Studio versi 7.0.

Sesuai dengan jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian lapangan,

maka sebagian besar kegiatan pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan

dan pencatatan. Penulis melakukan aktivitas penelitian seperti dijelaskan Neuman

(1997: 361) yang sebagian besar berupa adalah mengamati, mendengarkan, dan
42

membuat catatan-catatan tentang berbagai kegiatan dan kebijakan pemerintah

yang terkait dengan upaya pengembangan pariwisata. Dalam setiap pengamatan

tersebut peneliti membuat catatan-catatan yang memuat peta, rekaman wawancara

dalam bentuk kaset, hingga dokumentasi berupa foto dan video yang di antaranya

tersaji dalam tulisan ini.

Wawancara pada penelitian ini dilaksanakan secara tidak terstruktur

sehingga penulis hanya berpedoman pada pertanyaan yang bersifat garis besar

yang membuat pelaksanaan wawancara tidak kaku, dan dilakukan waktu dan

konteks yang dianggap paling tepat. Pola wawancara yang dilakukan meliputi

pengajuan pertanyaan, menyimak, mengekspresikan ketertarikan, dan merekam

informasi yang disampaikan informan. Dengan demikian wawancara dilakukan

dengan pertanyaan yang mengarah pada kedalaman informasi, serta tidak

dilakukan secara formal terstruktur guna menggali pandangan subjek yang diteliti

tentang banyak hal yang sangat bermanfaat untuk menjadi dasar bagi penelitian

lebih lanjut. Saat menggali informasi tentang pandangan masyarakat misalnya,

penulis memanfaatkan momentum hari minggu saat olah raga di dalam Kawasan

Wisata Selomangleng. Teknik ini merujuk pada Neuman (1997: 371), Unaradjan

(2000: 212), dan Sutopo (2003: 118).

3.5 Analisis Data

Langkah-langkah yang dilakukan untuk menganalisis data berpedoman

pada penjelasan Miles dan Huberman (1992, seperti dikutip dalam Sutopo 2003:

171) yang meliputi 3 kegiatan, yaitu : reduksi data, penyajian data, dan penarikan
43

simpulan. Miles dan Huberman menyebut rangkaian kegiatan analisis data

tersebut sebagai model interaktif seperti terdapat pada Gambar 3.1 berikut:

Pengumpulan Data Penyajian Data

Reduksi Data Penarikan Simpulan-


simpulan/verifikasi

Gambar 3.1
Model Interaktif Analisis Data Miles-Huberman

Sumber: Sutopo ( 2003 : 172)

Penjelasan kegiatan tersebut adalah sebagai berikut:

a. Reduksi Data

Pada tahap ini penulis melakukan proses pemilihan, pemusatan perhatian,

penyederhanan serta pengabstraksian terhadap data yang diperoleh di

lapangan, kemudian dicari tema atau polanya. Reduksi data dilakukan

terus-menerus selama proses penelitian berlangsung. Reduksi data

merupakan bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan,

mengarahkan, membuang yang tidak perlu, dan mengorganisasi data

dengan cara sedemikian rupa hingga kesimpulan-kesimpulan finalnya

dapat ditarik dan diverifikasi.

b. Penyajian Data
44

Penyajian data atau display data dimaksudkan agar memudahkan bagi

peneliti untuk melihat gambaran secara keseluruhan atau bagian-bagian

tertentu dari penelitian. Oleh karena itu penulis menyajikan data dalam

bentuk matriks, grafik, bagan dan tabel.

c. Menarik Simpulan

Verifikasi data dalam penelitian kualitatif ini dilakukan secara terus-

menerus sepanjang proses penelitian berlangsung. Sejak awal memasuki

lapangan dan selama proses pengumpulan data peneliti berusaha untuk

menganalisis dan mencari makna dari data yang dikumpulkan, yaitu

mencari pola, tema, hubungan persamaan, hal-hal yang sering timbul,

hipotesis dan sebagainya yang dituangkan dalam kesimpulan yang bersifat

tentatif, akan tetapi dengan bertambahnya data melalui proses verifikasi

secara terus-menerus maka diperoleh kesimpulan yang bersifat ”grounded”.

Dengan kata lain pada setiap kesimpulan senantiasa terus dilakukan

verifikasi selama penelitian berlangsung.

3.6 Cara Penyajian Hasil Analisis Data

Hasil analisis data-data tersebut selanjutnya disajikan melalui pemaparan

secara naratif yang didukung dengan sajian data dan informasi berupa tabel,

gambar, foto, serta didukung pula dengan cuplikan dokumentasi video objek

penelitian dalam format mpeg/ PAL VCD yang didapatkan langsung oleh penulis

selama proses penelitian di lapangan serta sumber sekunder.


BAB IV

GAMBARAN UMUM DAN DAYA TARIK WISATA KOTA KEDIRI

4.1 Kondisi Geografis

Secara astronomis, Kota Kediri berada di antara 111º05´ - 112º03´ Bujur

Timur dan 7º45´ - 7º55´ Lintang Selatan dengan luas 63,40 km². Seperti terdapat

pada Lampiran 2, Kota Kediri terletak sekitar 125 km dari arah barat daya Kota

Surabaya, ibu kota Provinsi Jawa Timur. Letak Kota Kediri cukup strategis,

karena dilintasi 7 jalur lintasan primer di Provinsi Jawa Timur, salah satunya

adalah jalur arteri primer Kota Surabaya-Kabupaten Tulungagung. Kini Kota

Kediri juga menjadi bagian penting dan salah satu pusat pengembangan wilayah

Jawa Timur dan Indonesia pada umumya.

Kota Kediri memiliki curah hujan rata-rata antara 1000-2500 mm/ tahun

dengan jumlah hari hujan sekitar 97 hari per tahun. Adapun suhu udara rata-rata

28°C, dengan suhu minimum 24°C dan maksimum 34°C. Dari aspek topografi,

Kota Kediri terletak pada ketinggian rata-rata 67 m di atas permukaan laut,

dengan tingkat kemiringan bervariasi antara antara 0-40 persen. Struktur wilayah

Kota Kediri yang terdiri dari 3 kecamatan terbagi menjadi wilayah timur dan barat

Sungai Brantas, yang dideskripsikan pada Lampiran 3.

Wilayah dataran rendah Kota Kediri terletak di bagian timur sungai,

yang meliputi Kecamatan Kota dan Kecamatan Pesantren. Sedangkan dataran

tinggi terletak pada bagian barat sungai yang termasuk dalam wilayah Kecamatan

Mojoroto. Wilayah di bagian barat sungai ini merupakan lahan kurang subur yang

45
46

sebagian besar berada dalam kawasan lereng Gunung Klotok (472 m) dan Gunung

Maskumambang (300 m).

Secara administratif wilayah Kota Kediri terdiri dari 3 wilayah kecamatan,

yaitu:

1. Kecamatan Kota dengan luas wilayah 14,900 km² terdiri dari 17

kelurahan

2. Kecamatan Pesantren dengan luas wilayah 23,903 km² terdiri dari 15

kelurahan

3. Kecamatan Mojoroto dengan luas wilayah 24,601 km² terdiri dari 14

kelurahan

4.2 Kependudukan dan Tenaga Kerja

Berdasarkan data registrasi penduduk dari tahun 1985 hingga tahun 1992,

laju pertumbuhan penduduk rata-rata per tahun untuk seluruh Kota Kediri adalah

sebesar 1,08 persen. Selanjutnya pada periode tahun 1993 hingga 2004 laju

pertumbuhan penduduk sebesar 0,3 persen.

Pada tahun 2004 penduduk Kota Kediri berjumlah 239.329 jiwa yang

terdiri dari jenis kelamin laki-laki sebanyak 117.563 jiwa dan perempuan

sebanyak 121.766 jiwa, dengan tingkat kepadatan penduduk sebesar 3798 jiwa/

km². Bila dirinci per kecamatan, berdasarkan data tahun 2003 maka Kecamatan

Kota mempunyai tingkat kepadatan penduduk tertinggi, yaitu sebesar 5754 jiwa

per km² bila dibandingkan dengan dua kecamatan lainnya. Kepadatan penduduk

di Kecamatan Mojoroto mencapai 3502 jiwa per km² dan 2891 jiwa per km² di
47

Kecamatan Pesantren. Perkembangan jumlah penduduk Kota Kediri antara tahun

1997 hingga 2004 dapat dilihat pada Tabel 4.1 berikut:

Tabel 4.1
Jumlah Penduduk Kota Kediri Tahun 1997-2004

Tahun Laki-laki Perempuan (jiwa) Jumlah Kepadatan


(jiwa) (jiwa) penduduk
(jiwa/ km²)
1997 115.616 119.998 235.614 3716
1998 116.055 120.252 236.307 3727
1999 116.135 120.440 236.575 3731
2000 117.192 121.344 238.536 3762
2001 117.278 121.677 238.955 3769
2002 117.916 122.247 240.163 3788
2003 117.628 121.724 239.352 3775
2004* 117.563 121.766 239.329 3775
* pertengahan tahun 2004
Sumber: BPS Kota Kediri, 2004

Dari jumlah tersebut, penduduk yang terdaftar sebagai pencari kerja di

Kota Kediri pada tahun 2002 sebanyak 2461 orang dan pada tahun 2003 terjadi

peningkatan sebesar 6,95 persen menjadi 2632 orang. Tingkat kenaikan jumlah

pencari kerja ini nampaknya tidak sebanding dengan tingkat pertumbuhan peluang

kerja. Karena itulah pemerintah Kota Kediri berupaya mengembangkan lapangan-

lapangan usaha baru yang berpotensi dikembangkan lebih lanjut untuk mengatasi

masalah pengangguran.

Bila dilihat dari struktur ketenagakerjaan yang ada, sebagian besar

penduduk bermata pencaharian pada sektor industri pengolahan seperti terdapat

pada Tabel 4.2. Berdasarkan data tahun 2004, jumlah penduduk yang bekerja pada

sektor industri pengolahan paling mendominasi bila dibandingkan sektor lainnya,

yaitu mencapai 30.488 jiwa (27,39 persen). Kondisi ini dipengaruhi oleh
48

keberadaan PT Gudang Garam, Tbk beserta anak perusahaannya yang

menggerakkan hampir 98 persen perekonomian Kota Kediri. Mata pencaharian

terbesar kedua di Kota Kediri adalah sektor perdagangan, hotel, dan restoran

sebanyak 26.960 jiwa (24,22 persen).

Tabel 4.2
Mata Pencaharian Penduduk Menurut Lapangan Usaha Tahun 2004

No Lapangan Usaha Jumlah %


(Jiwa)
1 Pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan 4620 4,15
2 Pertambangan dan penggalian 309 0,28
3 Industri pengolahan 30.488 27,39
4 Listrik, gas, dan air minum 308 0,28
5 Bangunan konstruksi 4540 4,02
6 Perdagangan, hotel, dan restoran 26.960 24,22
7 Pengangkutan dan komunikasi 7944 7,14
8 Keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan 1408 1,26
9 Jasa-jasa lain 34.727 31,20
Sumber: BPS Kota Kediri,2004

4.3. Perekonomian

Struktur yang terbentuk pada lapangan usaha mempengaruhi struktur

perekonomian Kota Kediri secara sektoral. Pada kurun waktu tahun 1999 hingga

2003, struktur ekonomi Kota Kediri Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB)

mengalami pergeseran yang relatif kecil. Seperti terdapat pada Tabel 4.3, struktur

perekonomian Kota Kediri pada periode tersebut didominasi oleh sektor industri

pengolahan. Sektor ini memberi kontribusi sebesar 79,44 persen pada tahun 1999,

78,55 persen pada tahun 2000, 79,37 persen pada tahun 2001, selanjutnya

mencapai 78,93 persen pada tahun 2002, dan 76,29 persen pada 2003 (Semester I,

bulan Juni). Menyusul pada peringkat kedua adalah sektor perdagangan, hotel,
49

dan restoran yang memberikan kontribusi berturut-turut sebesar 17,53 persen

pada tahun 1999, 17,56 persen pada tahun 2000, 16,87 persen pada tahun 2001,

17,15 persen pada tahun 2002, dan 19,6 persen pada tahun 2003 (Semester I,

bulan Juni).

Tabel 4.3
Kontribusi Sektor Pembangunan (ADHB) Terhadap PDRB Kota Kediri
Tahun 1999-2003

Kontribusi (%)
No Sektor 1999 2000 2001 2002 2003*
1 Pertanian 0,20 0,19 0,18 0,18 0,17
2 Pertambangan dan Penggalian 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01
3 Industri Pengolahan 79,44 78,55 79,37 78,93 76,29
4 Listrik, Gas dan Air Bersih 0,17 0,17 0,17 0,19 0,20
5 Bangunan 0,22 0,21 0,19 0,20 0,20
6 Perdagangan, Hotel dan 17,53 17,56 16,87 17,15 19,60
Restoran
7 Pengangkutan dan Komunikasi 0,67 0,68 0,68 0,74 0,79
8 Keuangan, Persewaan dan Jasa 1,99 1,85 1,78 1,79 1,93
Perusahaan
9 Jasa-jasa Lainnya 0,76 0,78 0,75 0,80 0,82
*Posisi Juni 2003 (PDRB Semester I)
Sumber: BPS Kota Kediri, 2004

Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Kediri

Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) dan Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) dari

tahun 1999 hingga tahun 2003 mengalami tren peningkatan. Dalam Pidato

Laporan Pertanggungjawaban Akhir Masa Jabatan Walikota Kediri Tahun 1999-

2004 disebutkan bahwa tingkat kenaikan rata-rata PDRB pada kurun waktu

tersebut dapat dikelompokkan sebagai berikut:

a. ADHB (tanpa PT Gudang Garam): 12,6 persen

b. ADHB (dengan PT Gudang Garam): 18,63 persen

c. ADHK (tanpa PT Gudang Garam): 4,04 persen


50

d. ADHK (dengan PT Gudang Garam): 5,57 persen

Pertumbuhan ekonomi Kota Kediri pada tahun 1999 hingga 2003 juga

cenderung mengalami peningkatan seperti terdapat pada Tabel 4.4.

Tabel 4.4
Pertumbuhan Ekonomi Kota Kediri Tahun 1999-2003

Tahun 1999 2000 2001 2002 2003

Tingkat Pertumbuhan 1,41% 5,8% 6,01% 4,94% 5,29%

Sumber: BPS Kota Kediri,2004

Pertumbuhan ekonomi yang progresif tersebut ditunjang oleh kondisi

keamanan yang stabil pada kurun waktu 1999 hingga 2003. Karena itu

berdasarkan penilaian Jawa Pos Institute of Pro Otonomi tahun 2001, Kota Kediri

dinobatkan sebagai daerah teraman se-Jawa Timur. Berdasarkan hasil survei

Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD) dan Kadin Provinsi

Jawa Timur berbagai perusahaan lokal, nasional, asing, dan sejumlah data

sekunder, Kota Kediri masuk dalam kategori kota yang menarik untuk investasi,

secara berturut-turut dari tahun 2002, 2003, dan 2004. Pada survei tahun 2002

Kota Kediri berada pada peringkat 5 untuk wilayah Jawa-Bali, dan peringkat 8

untuk tingkat nasional. Sedangkan pada survei tahun 2004 posisi Kota Kediri naik

pada peringkat ke-1 sebagai kota dengan daya tarik investasi tinggi untuk tingkat

nasional. Selanjutnya pada tahun 2005 kota Kediri ditetapkan menjadi salah satu

kota tujuan investasi untuk kedua kalinya. Yakni sebagai kota dengan faktor

tenaga kerja dan produktivitas terbaik tingkat nasional. Penilaian dan penghargaan

itu diberikan oleh Komite Pemantau Penyelenggaraan Otonomi Daerah (KPPOD),


51

sebuah komite independen yang terdiri dari Kamar Dagang dan Industri (Kadin),

United States Aid for International Development (USAID) dan The Asia

Foundation.

4.4 Objek dan Daya Tarik Wisata Kota Kediri

Pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota

Kediri 2005-2009 disebutkan bahwa sasaran yang ingin dicapai melalui program

tersebut mencakup peningkatan kajian seni budaya dan pengembangan pariwisata

yang sesuai dengan potensi wisata di Kota Kediri, sehingga pengembangan

pariwisata Kota Kediri dititikberatkan pada pariwisata budaya, sejarah dan

spiritual. Wisata sejarah, budaya, dan spiritual tersebut keterkaitan sangat erat

sehingga tidak dapat dipisahkan antara satu sama lainnya. Budaya-budaya lokal

yang berkembang di masyarakat Kota Kediri merupakan produk perjalanan

sejarah Kota Kediri mulai dari era Hindu hingga Islam. Budaya lokal dengan

wujud kesenian serta sistem kepercayaan yang mewakili dua era kesejarahan

Kediri tersebut masih terus hidup dan berlangsung hingga saat ini. Berikut

diuraikan potensi-potensi wisata yang terdapat di Kota Kediri.

4.4.1 Wisata budaya

Kota Kediri memiliki perjalanan sejarah yang sangat tua, karena

kelahirannya yang menurut temuan pada sejumlah prasasti diperkirakan

bersamaan dengan masa berdirinya Kerajaan Kadiri. Hal ini ditunjukkan dengan

banyaknya peninggalan sejarah berupa situs maupun patung, yang pengelolaannya

di masa kini dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata sejarah. Dalam
52

sebuah seminar tahun 2000 yang membahas temuan tim peneliti tentang

penelusuran hari jadi Kota Kediri terungkap bahwa terdapat tiga prasasti yang

dapat menjadi acuan tentang kelahiran Kota Kediri. Berdasarkan Prasasti Hantang,

yang bila dikonversikan pada penanggalan Masehi menunjukkan tanggal 7

September 1135, disebutkan bahwa waktu masa tersebut merupakan era

bersatunya Kerajaan Panjalu dan Jenggala yang mengantarkannya menuju masa

kejayaannya (Panjalu Jayati). Persatuan tersebut diprakarsai oleh Jayabaya, yang

sekaligus mengakhiri konflik berkepanjangan antara dua kerajaan tersebut.

Prasasti lainnya adalah Prasasti Pamwatan yang bila dikonversikan ke

dalam sistem kalender masehi maka kira-kira menunjukkan tanggal 19 Desember

1042. Prasasti ini menjelaskan tentang awal berdirinya Kerajaan Panjalu, suatu era

yang menandakan telah terjadinya perpecahan Kerajaan Kadiri menjadi Kerajaan

Panjalu dan Jenggala. Sedangkan prasasti lainnya adalah Prasasti Kwak yang bila

dikonversikan pada penanggalan sistem Masehi menunjukkan tanggal 27 Juli 879.

Prasasti ini menuliskan bahwa pada masa itu di daerah sekitar Desa Ngadisimo,

Kota Kediri (di masa kini) telah berkembang sebuah komunitas yang religius,

mandiri, dan telah mengembangkan teknologi pertanian untuk membantu

kehidupannya. Catatan sejarah pada Prasasti Kwak ini yang selanjutnya dijadikan

dasar perayaan hari jadi Kota Kediri. Benda-benda peninggalan bersejarah

maupun kesenian daerah yang terdapat di Kota Kediri tersebut merupakan modal

dasar dalam upaya pengembangan pariwisata budaya.


53

4.4.1.1 Peninggalan bersejarah

Kota Kediri sangat kaya akan benda-benda peninggalan bersejarah,

beberapa di antaranya seperti:

1. Goa Selomangleng, yang oleh penduduk setempat diyakini sebagai

tempat petilasan Dewi Kilisuci yang memilih untuk menjalani

kehidupan sebagai seorang pertapa, setelah ayahandanya Prabu

Airlangga berniat mewariskan tahta kerajaan kepadanya. Di sepanjang

dinding goa alam ini terdapat relief-relief yang nampaknya bercerita

tentang kehidupan manusia, namun sejauh ini belum terungkap secara

resmi maknanya. Sumber lain, yaitu Miksic (1997, seperti dikutip

dalam Oey, 1997 : 279) menyebutkan bahwa Goa Selomangleng

merupakan goa meditasi umat Budha. Goa ini terdiri dari 4 ruangan

yang dindingnya dihiasi oleh relief Budha dan adegan-adegan pada

kisah Jataka. Relief-relief pada goa menunjukkan penanggalan pada

dua era yang berbeda, salah satunya pada abad ke-12, dan yang lainnya

pada tahun 1431. Hingga saat ini Goa Selomangleng masih digunakan

oleh sekelompok masyarakat untuk melaksanakan kegiatan ritual dan

meditasi. Gambar Goa Selomangleng dan relief di sepanjang

dindingnya terdapat pada Lampiran 5 dan 6.

2. Koleksi peninggalan sejarah masa Kerajaan Kadiri yang disimpan di

Museum Airlangga. Selain itu, di museum yang diresmikan pada tahun

1993 ini terdapat gedung pameran etnografi sebagai pusat


54

pengumpulan dan restorasi benda-benda etnografis yang ditemukan di

Kota Kediri seperti terdapat pada Lampiran 7.

4.4.1.2 Kesenian dan budaya daerah

Sebagai daerah yang memiiki latar sejarah yang sangat tua, Kota Kediri

juga mewarisi berbagai budaya-budaya lokal yang memiliki kaitan erat dengan

konteks perjalanan sejarahnya. Budaya ini tercermin dalam gaya hidup

masyarakatnya yang religius, serta berbagai bentuk seni budaya masyarakat yang

masih ada. Berbagai kelompok masyarakat secara rutin melaksanakan kegiatan

budaya sebagai bentuk rasa syukur atas limpahan rejeki Sang Pencipta berupa

panen yang sukses, sekaligus mengharapkan berkah untuk kehidupan yang damai

dan tentram, di antaranya Tumpeng Tosaren yang dilaksanakan masyarakat

Kelurahan Tosaren pada setiap bulan Suro. Gambar budaya Tumpeng Tosaren ini

terdapat pada Lampiran 8.

Berbagai kesenian tradisional yang ada kini tengah berupaya dihidupkan

kembali melalui program revitalisasi kelompok-kelompok kesenian. Kesenian-

kesenian tradisional yang masih dikenal dan eksis di kehidupan sehari-hari

masyarakat ini misalnya Jemblung, Jaranan, dan Ronda Thetek yang dijelaskan

sebagai berikut:

1. Kesenian Jemblung. Kesenian Jemblung adalah kesenian daerah

yang berbentuk teater tradisional, biasanya terdiri dari 7 orang,

termasuk di dalamnya panjak sebagai pemukul alat musik dan

seorang dalang sebagai orang yang mengantarkan cerita.


55

Pementasan Jemblung dilengkapi dengan alat-alat musik

tradisional yang terbuat dari kulit dan kayu yang dipukul secara

berirama. Perkembangan kesenian Jemblung di Kota Kediri

terpusat di Desa Bandar dan Lirboyo.

2. Jaranan. Jaranan merupakan kesenian tradisional yang diangkat

dari cerita rakyat. Cerita yang diangkat merupakan kisah berlatar

zaman Kerajaan Ngurawan yang terletak di daerah Kediri, di

bawah pemerintahan Prabu Lembu Amiseno. Kesenian Jaranan,

yang terdapat pada Lampiran 9, dimainkan oleh beberapa orang

dengan mengenakan topeng Singobarong, Celeng, dan sebagainya.

Pada saat memainkan tarian ini, si pemain dapat masuk dalam

kondisi intrans/kesurupan sehingga mereka memakan rumput atau

bunga sesaji yang telah disediakan. Agar kembali ke kondisi

normal, mereka disadarkan oleh pawang dengan jalan membaca

mantra-mantra tertentu.

3. Kesenian Ronda Thethek. Kesenian Ronda Thethek bermula dari

para penjaga kampung/peronda malam yang sedang menjaga

kampungnya. Mereka membunyikan akat-alat bunyian dari bambu

dengan irama tertentu yang dapat menarik siapa pun yang

mendengarnya. Kesenian ini sampai sekarang masih hidup di

beberapa desa di daerah Kota Kediri.


56

4. Kesenian Sendratari. Cerita yang diangkat dalam pentas sendaratari

misalnya Ande-Ande Lumut. Cerita ini merupakan salah satu

legenda yang telah berakar dalam kehidupan masyarakat Kediri.

5. Kethek Ogleng. Kesenian ini merupakan fragmen yang

mengisahkan petualangan Panji Asmoro yang pergi meninggalkan

kerajaan secara diam-diam, ditemani dua orang abdinya.

Sebagai upaya lebih lanjut untuk melestarikan dan mengembangkan

budaya-budaya lokal, setiap tanggal 27 Juli sejak tahun 2002 pemerintah

melaksanakan peringatan Hari Jadi Kota Kediri. Pada kesempatan tersebut digelar

berbagai aktivitas seni budaya tradisional dan modern selama satu bulan penuh,

seperti pentas kesenian jaranan, wayang kulit, wayang orang, hingga panggung

musik. Perayaan hari jadi Kota Kediri yang ke-1123 pada 27 Juli 2002 dan

perayaan hari jadi yang ke-1124 tahun 2003 pemerintah menggelar ritual

Manusuk Sima yang menceritakan ritual pengorbanan hewan berwarna hitam

sebagai simbol upaya menekan sifat-sifat keraksasaan manusia demi terciptanya

kedamaian secara material dan spiritual yang dilanjutkan dengan pembacaan titah

Raja Kediri serta pengarakan prasasti Kwak keliling Kota Kediri seperti terdapat

pada Lampiran 10 dan 11. Selain itu pemerintah juga memprakarsasi Kirab

budaya yang melibatkan berbagai kelompok kesenian dan kepercayaan, serta

pagelaran musik di tiga kecamatan secara serentak. Pada tahun 2002 pemerintah

juga sempat menggelar pagelaran musik selama 30 jam non stop di bantaran

Sungai Brantas yang dihadiri puluhan ribu pengunjung, serta berbagai festival dan

lomba yang melibatkan masyarakat luas.


57

Pemerintah bersama masyarakat juga sukses mencetak rekor penggelaran

tumpeng terpanjang se-Indonesia di Jalan Dhoho, sehingga masuk dalam catatan

Museum Rekor Indonesia (Muri). Untuk menggali kembali warisan budaya lokal,

pada peringatan hari jadi Kota Kediri tahun 2003, pemerintah juga melaksanakan

festival busana khas Kediren untuk menggali kembali budaya leluhur, yang

dirangkaikan pelaksanaan pemilihan Panji-Galuh sebagai duta pariwisata Kota

Kediri.

Pemilihan Panji-Galuh seperti terdapat pada Lampiran 13 ini selanjutnya

menjadi kegiatan rutin pada setiap peringatan hari jadi Kota Kediri. Festival ini

pada perkembangan berikutnya menjadi tonggak mempopulerkan kembali warna

ungu, yang menjadi ciri khas Kota Kediri. Warna ungu tersebut diyakini sebagai

warna busana yang sangat disukai Dewi Kilisuci yang menurut keyakinan

masyarakat pula mencapai moksa di Goa Selomangleng. Karena itulah pada setiap

peringatan hari jadi, Kota Kediri selalu disemarakkan dengan warna ungu di

seluruh pelosok Kota. Popularitas warna khas Kota Kediri ini juga didukung oleh

tim sepak bola Persik Kediri yang menggunakan warna ungu sebagai warna resmi

kostum mereka. Reaktualisasi budaya-budaya khas daerah sebagai warisan leluhur

tersebut juga bertujuan untuk meningkatkan rasa cinta dan kebanggaan

masyarakat terhadap daerahnya.

Selanjutnya pada tahun 2004 dan 2005 peringatan hari jadi dilaksanakan

secara lebih sederhana, lebih difokuskan pada pentas budaya tradisional,

pelaksanaan kegiatan olah raga dan gerakan kebersihan Kota yang dikoordinir

oleh Ketua Tim Penggerak PKK Kota Kediri. Pada peringatan hari jadi ke-1125
58

tersebut, pemerintah menggelar pentas wayang kulit serta pentas Wayang Orang

di halaman kantor Walikota yang melibatkan pejabat-pejabat Pemerintah Kota

Kediri. Kegiatan lainnya lebih difokuskan pada pelaksanaan Pekan Olah Raga

Daerah (Porda) Provinsi Jawa Timur mengingat Kota Kediri mendapat

kepercayaan sebagai tuan rumah.

Perayaan hari jadi ini bertujuan tidak sekadar memberikan hiburan kepada

masyarakat, namun juga untuk memberikan ruang berekspresi bagi kelompok-

kelompok kesenian yang ada di Kota Kediri serta menjadi media untuk pelestarian

seni budaya. Kota Kediri juga memiliki Dewan Kesenian yang perannya dalam

pengembangan seni budaya diupayakan dapat direvitalisasi melalui kegiatan ini.

Target dari peringatan hari jadi juga untuk menambah minat dan perhatian

masyarakat dari luar kota untuk datang ke Kota Kediri. Tujuan lainnnya tentu juga

untuk menunjang wisata budaya di Kota Kediri, sehingga di kemudian hari

diharapkan muncul citra bahwa pada bulan Juli Kota Kediri selalu semarak

dengan berbagai kegiatan dan pentas seni budaya untuk menarik kedatangan

wisatawan ke Kota Kediri. Dalam upaya ini pemerintah Kota Kediri telah

mengambil inisiatif dengan terlibat langsung dalam pementasan wayang orang

serangkaian perayaan hari jadi tersebut. Para pejabat berkolaborasi dengan

seniman wayang orang dalam pentas tersebut ( gambar pada Lampiran 12).

Karena dipandang memiliki peran strategis dalam upaya pengembangan

pariwisata budaya, kegiatan ini ditetapkan menjadi kegiatan rutin tahunan yang

ditetapkan oleh Peraturan Daerah Kota Kediri Nomor 10 Tahun 2001 Tentang
59

Hari Jadi Kota Kediri. Pada pasal 3 Perda No 10 tahun 2001 disebutkan tujuan

penetapan Hari Jadi Kota Kediri sebagai berikut:

1. Menetapkan agenda tahunan yang dapat diperingati dan dibanggakan

oleh setiap warga Kota Kediri

2. Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan Kota Kediri

3. Mengembangkan potensi kepariwisataan dalam upaya

mempertahankan nilai budaya masyarakat Kota Kediri

4. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kota Kediri

4.4.2 Wisata spiritual dan ziarah

Kota Kediri memiliki beberapa objek wisata spiritual bernuansa Hindu dan

Islam. Pura Agung Dewi Sekartaji, (lihat Lampiran 14) sangat menarik wisatawan

untuk dikunjungi. Pura yang berlokasi di dalam Kawasan Wisata Selomangleng

ini merupakan objek yang berpotensi dikembangkan menjadi objek wisata

spiritual bagi umat Hindu. Pura ini memiliki keterkaitan sejarah dengan

keberadaan Goa Selomangleng. Karena itulah pada setiap perayaan Tahun Baru

Saka, umat Hindu Kota Kediri melaksanakan ritual tidak hanya di pura, melainkan

juga di Goa Selomangleng, serta mencari air suci pada mata air yang terdapat di

Gunung Klotok.

Di samping objek wisata spiritual yang bernuansa Hindu, juga ada objek

wisata spiritual dan ziarah bernuansa Islam, seperti Kompleks Pemakaman Setono

Gedong, yang di dalamnya terdapat Makam Mbah Wasil yang dikenal sebagai

tokoh penyebar agama Islam di Kota Kediri. Selain itu juga ada Masjid Agung
60

yang dibangun pada tahun 1814 (situasinya dapat dilihat pada Lampiran 15).

Pada tahun 2002 Pemerintah Kota Kediri telah melakukan rehabilitasi objek

Setono Gedong, yang merupakan kompleks pemakaman tokoh-tokoh penyebar

Agama lslam di Kota Kediri. Rehabilitasi ini dilakukan untuk menjaga nilai

historis serta mengantisipasi semakin banyaknya pengunjung dan masyarakat

yang datang untuk melaksanakan ziarah dan ritual keagamaan. Pemugaran secara

bertahap juga dilakukan terhadap Masjid Agung sejak tahun 2003 yang selesai

pada tahun 2005.

Di samping itu di Kota Kediri juga terdapat pondok-pondok pesantren dari

berbagai aliran dalam Agama Islam. Pesantren ini merupakan tempat santri-santri

dari berbagai daerah di luar Kota Kediri menimba ilmu agama. Pondok Pesantren

yang terbesar adalah Pondok Pesantren Lirboyo di Kecamatan Mojoroto yang

merupakan pusat pendidikan santri warga Nahdlatul Ulama (NU). Pada hari-hari

suci tertentu banyak warga dari luar Kota Kediri yang datang untuk melaksanakan

ibadah di pondok-pondok pesantren tersebut.

Selain wisata sejarah, budaya, dan spiritual, Kota Kediri juga memiliki

sejumlah objek yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi objek wisata alam,

olah raga, belanja, dan pendidikan.

4.4.3 Wisata alam

Objek wisata alam yang berada di Kota Kediri misalnya Hutan Lindung di

Gunung Klotok dan Maskumambang dan Sungai Brantas. Mengingat kondisi

hutan di Gunung Klotok dan Maskumambang tersebut kurang lestari, pemerintah


61

secara bertahap melakukan gerakan penghijauan yang melibatkan berbagai

komponen masyarakat seperti mulai penduduk setempat, mahasiswa / pelajar,

organisasi kepemudaan/massa, dan pegawai pemerintah. Upaya penghijauan

kembali hutan di dalam kawasan wisata Selomangleng ini pernah dilakukan

pemerintah melalui Pekan Penghijauan Nasional (PPN) Kota Kediri pada Pebruari

dan Maret 2003. Selanjutnya pada Januari tahun 2004 dilakukan Gerakan

Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GN-RHL). Pengecekan kondisi hutan di

Gunung Maskumambang juga pernah dipimpin langsung Walikota Maschut pada

16 April 2004, seperti terdapat pada Lampiran 16.

Bagi warga Kota Kediri, Sungai Brantas memiliki makna khusus karena

dipandang telah memberikan kesejahteraan bagi masyarakat. Berdasarkan sejarah

yang diyakini masyarakat setempat, Sungai Brantas muncul karena keinginan

Raja Kediri, Rake Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Airlangga

Anantawikramatunggadewa untuk membagi kerajaan Kadiri kepada kedua

putranya menjadi dua bagian, yakni Kerajaan Janggala dan Panjalu pada sekitar

1042 Masehi. Pembagian tersebut dilakukan atas bantuan Mpu Bharada (Surya,

23 Juli 2004). Berdasarkan keyakinan maka pada setiap perayaan hari jadi Kota

Kediri pemerintah dan masyarakat melakukan larung sesaji di sungai ini.

4.4.4 Wisata olah raga

Objek-objek yang dapat menunjang pengembangan wisata olah raga di

Kota Kediri misalnya:


62

a. Kolam Renang Kuwak, yang di dalamnya memiliki fasilitas berupa

kolam renang rekreasi dan prestasi sehingga dapat digunakan untuk

rekreasi keluarga, sekaligus untuk melaksanakan berbagai ajang

pertandingan olah raga renang. Salah satu kegiatan lingkup luas yang

pernah memanfaatkan fasilitas kolam renang ini adalah saat Kota

Kediri menjadi tuan rumah penyelenggaraan Pekan Olah Raga Daerah

(Porda) Jawa Timur pada Juli 2004.

b. Taman Wisata Tirtoyoso dan Pagora, gambar pada Lampiran 18. Pada

objek yang terdapat di tengah kota ini terdapat fasilitas penunjang

kegiatan rekreasi dan olah raga seperti kolam renang, panggung

hiburan, alat-alat permainan untuk anak-anak, sehingga sangat cocok

untuk menjadi tempat rekreasi keluarga. Pemerintah Kota Kediri

tengah berupaya meningkatkan kualitas kegiatan wisata serta sarana

dan prasarana yang ada di dalamnya sehingga dapat menarik perhatian

masyarakat yang lebih luas. Kelengkapan tersebut berupa sarana

hiburan bagi anak-anak dan remaja, tempat-tempat pameran dan

pertunjukan kesenian daerah, termasuk di dalamnya peningkatan

jaminan keamanan dan kebersihan lingkungan. Sebagai taman rekreasi

warga kota, pada setiap hari libur pihak pengelola secara rutin

melaksanakan hiburan berupa pentas musik dangdut atau kesenian

tradisional.

c. Pertandingan Sepak Bola Divisi Utama PSSI di Stadion Brawijaya.

Pemerintah Kota Kediri menghidupkan kembali tim sepak bola Persik


63

Kediri (Macan Putih) mulai tahun 1999, yang dibarengi dengan

renovasi Stadion Brawijaya berdaya tampung 20 ribu penonton.

Kehadiran tim sepak bola dan stadion yang khusus difungsikan sebagai

markas Persik Kediri tersebut diharapkan dapat mendorong tumbuhnya

wisata olah raga. Apalagi stadion tersebut telah memenuhi standar

nasional sebagai tempat pertandingan klub divisi utama Liga Indonesia,

bahkan memenuhi persyaratan internasional sehingga pernah menjadi

tempat pertandingan Liga Asian Football Confederation (AFC) pada

tahun 2004 yang mendatangkan SeongNam Ilhwa FC dari Korea

Selatan, Binh Dinh dari Vietnam, dan Yokohama F. Marinos dari

Jepang untuk bertanding melawan Persik Kediri. Gambar terdapat pada

Lampiran 19.

d. Jalan Tembus Lebak Tumpang-Selomangleng yang dibangun untuk

menambah akses masuk ke dalam Kawasan Selomangleng pada

perkembangannya juga menjadi objek untuk melaksanakan wisata olah

raga seperti jogging dan bersepeda seperti terdapat pada Lampiran 20.

4.4.5 Wisata belanja

Untuk meningkatkan dampak ekonomis dari pelaksanaan pertandingan

sepak bola tersebut, di luar stadion juga dibangun ruko-ruko yang ditawarkan

kepada pengusaha yang menggelar berbagai macam barang dagangan, seperti

souvenir tim sepak bola Persik Kediri, makanan, dan sebagainya setiap

pertandingan. Keberadaan ruko ini bertujuan agar pedagang ini dapat berjualan
64

secara lebih tertata dan tidak mengganggu lalu lintas. Ruko-ruko ini juga

ditawarkan kepada pengusaha yang berminat mencoba peluang bisnis di Kota

Kediri.

Kawasan pertokoan Jalan Dhoho, pertokoan modern yang paling pertama

ada di Kota Kediri juga menawarkan daya tarik tersendiri sebagai daerah wisata

belanja. Aktivitas perekonomian di sepanjang kawasan jalan ini berjalan hampir

selama 24 jam. Pada siang hari kawasan jalan ini merupakan daerah pertokoan

yang sangat padat. Namun mulai malam hingga dini hari, kawasan ini menjadi

pusat kegiatan bagi warga kota yang beminat menikmati nasi pecel, nasi liwet,

tahu tek, dan berbagai makanan khas Kota Kediri lainnya yang dijual di sepanjang

emper-emper toko jalan ini. Ketika berbelanja di kawasan ini konsumen akan

dikondisikan pada suasana kesederhanaan, keakraban dan tidak formal karena

mereka akan menikmati hidangannya sambil duduk lesehan. Namun bagi

wisatawan yang lebih menyukai suasana bernuansa kosmopolitan, di Kota Kediri

juga telah terdapat beberapa pusat perbelanjaan modern seperti Pasar Raya Sri

Ratu, Plaza Golden, dan Swalayan Borobudur yang menjual beragam produk

buatan lokal, nasional dan impor.

Souvenir merupakan salah satu komponen penting dalam aktivitas wisata

belanja. Kota Kediri menawarkan berbagai souvenir khas, yang paling terkenal

adalah Tahu Takwa yang dapat dengan mudah ditemui di setiap sudut kota.

Namun daerah yang terkenal sebagai pusat penjualan tahu takwa adalah kawasan

Jalan Yos Sudarso seperti terdapat pada Lampiran 21. Tradisi usaha pembuatan

tahu di Kota Kediri sudah sangat tua, di antaranya ada yang telah membuka
65

usahanya sejak tahun 1930-an dan masih berdiri hingga saat ini. Akibatnya Kota

Kediri juga dikenal dengan sebutan sebagai Kota Tahu, karena keberadaan

produksi tahu takwa yang khas tersebut. Oleh-oleh khas Kota Kediri lainnya

adalah beragam jenis kerupuk bumbu yang banyak dijual di daerah Alun-alun

Kota Kediri. Kerupuk ini memiliki cita rasa yang khas karena proses

pembuatannya yang tidak menggunakan minyak goreng, melainkan menggunakan

pasir.

4.4.6 Wisata pendidikan

Kegiatan-kegiatan industri yang terdapat di Kota Kediri seperti pabrik

rokok Gudang Garam, (gambar terdapat pada Lampiran 22), serta pabrik gula

yang tersebar di tiga kecamatan juga berpotensi untuk dikembangkan menjadi

objek wisata pendidikan, untuk memberikan pemahaman kepada wisatawan yang

berminat mengetahui proses produksi industri tersebut. Aktivitas industri dapat

menjadi daya tarik tersendiri karena nuansa sejarah yang dimilikinya. Pabrik

rokok gudang garam yang kini telah beroperasi dengan peralatan canggih dan

produknya telah diekspor ke luar negeri, bermula dari pabrik kecil yang dirintis

oleh warga Kota Kediri keturunan Tionghoa pada tahun 1940-an. Demikian pula

dengan pabrik gula yang kini menjadi aset PTPN XI (BUMN) pada awalnya

merupakan pabrik gula yang didirikan oleh pemerintah Belanda pada masa

kolonialisme. Aktivitas industri yang telah berumur sangat tua dan hingga kini

masih berdiri tersebut memiliki aspek kesejarahan yang memiliki daya tarik

tersendiri.
66

4.4.7 Fasilitas akomodasi

Upaya-upaya pengembangan pariwisata tersebut juga diperkuat dengan

penciptaan iklim investasi yang menarik bagi kalangan swasta untuk dapat turut

berpartisipasi mendirikan berbagai usaha jasa pariwisata seperti hotel dan restoran,

dan fasilitas yang dapat menunjang aktivitas kepariwisataan untuk memberikan

rasa nyaman dan betah kepada wisatawan selama berkunjung di Kota Kediri.

Berdasarkan data BPS Kota Kediri tahun 2004, di Kota Kediri terdapat 21 hotel

yang beroperasi dengan total jumlah kamar sebanyak 687. Dari jumlah tersebut

klasifikasi yang tertinggi adalah hotel bintang 2. Tarif hotel di Kota Kediri

berkisar dari Rp 60.000 hingga Rp 500.000 per kamar per malam. Sepanjang

tahun 2003, jumlah tamu yang menginap di hotel-hotel di Kota Kediri tercatat

sebanyak 124.182 orang. Antusiasme investor swasta untuk berinvestasi pada

sektor ini juga semakin meningkat. Pada tahun 2005, jumlah hotel di Kota Kediri

bertambah satu dengan pendirian Hotel Surya milik PT Gudang Garam yang

berklasifikasi bintang 4. Hotel termegah yang ada saat ini di Kota Kediri tersebut

berlokasi di tengah-tengah pusat perdagangan Kota Kediri, yaitu di Jalan Dhoho.

Hal ini membuktikan bahwa dunia usaha juga mendukung pengembangan

pariwisata di Kota Kediri.

4.5 Pendapat Masyarakat Tentang Kepariwisataan Kota Kediri

Dari hasil penelusuran penulis, informan yang diminta pendapatnya

menunjukkan sikap mendukung kebijakan pengembangan pariwisata pemerintah,

termasuk di dalamnya program pengembangan Kawasan Wisata Selomangleng.


67

Kebijakan ini dirasakan akan mendorong perbaikan infrastruktur dan penataan

lingkungan kota dengan lebih baik. Selain itu pengembangan pariwisata juga

dipandang akan dapat mendorong pertumbuhan peluang kerja. Terkait

pengembangan Kawasan Wisata Selomangleng, warga juga mendukung karena

kawasan ini memang telah menjadi tempat berwisata sejak dulu. Pengembangan

yang dilakukan pemerintah membuat mereka lebih antusias berkunjung secara

rutin, utamanya pada hari libur. Lokasi kawasan yang berada di luar kota

membuat aktivitas wisatawan tidak mengganggu lalu lintas, sekalipun saat

pengunjung cukup ramai. Mereka juga merasa bahwa pariwisata telah menjadi

salah satu kebutuhan untuk melepas kepenatan dari kesibukan sehari-hari. Namun

mereka juga memandang ada beberapa perbaikan yang perlu dilakukan

pemerintah seperti masalah kebersihan, penataan lokasi parkir dan pedagang, serta

masalah perilaku pengunjung. Hal ini penting mengingat dalam kawasan ini juga

terdapat objek tempat suci, yaitu Pura Sekartaji.

Seperti dinyatakan oleh seorang informan yang ditemui di Kota Kediri,

pengembangan kawasan wisata Selomangleng membuat masyarakat semakin

antusias untuk berkunjung ke kawasan tersebut. Ia sangat merasakan manfaat

pengembangan wisata Selomangleng. Berikut ini penuturannya.

“ Kegiatan di kawasan ini tidak mengganggu arus lalu lintas di jalan raya.

Berbeda halnya dengan kegiatan yang dilaksanakan di Kuwak yang berada di

tengah kota, sehingga sering memacetkan arus lalu lintas. Lagi pula di kawasan

Selomangleng udaranya lebih segar,” terangnya.


68

Ia memandang secara umum pemerintah cukup berhasil mengembangkan

pariwisata. “ Kenyataannya stadion (Brawijaya) juga jadi. Drainase kota juga

dibenahi, sehingga tidak ada banjir lagi. Pemerintah memang memperhatikan

perkembangan pariwisata. Hanya saja katanya setiap tanggal 15 atau setiap bulan

purnama akan dilaksanakan pentas seni di Selomangleng. Mengapa sampai saat

ini belum ada realisasinya?,” ungkapnya mempertanyakan.

Informan lainnya berpendapat bahwa kegiatan wisata di Selomangleng

semakin semarak dengan keberadaan pura. “ Upacara adat keagamaan Hindu juga

sudah ada di sini. Pura di sana (Pura Dewi Sekartaji), tidak hanya digunakan oleh

umat Hindu di Kota Kediri, tapi juga dari Kabupaten Kediri, yang juga cukup

banyak datang ke sini,” jelasnya.

Pihaknya juga menyambut pengembangan kawasan wisata, karena merasa

sangat membutuhkan adanya fasilitas wisata yang murah untuk sekadar berolah

raga sekaligus berekreasi bersama keluarga. “Animo masyarakat berwisata ke sini

cukup tinggi. Anda bisa lihat sekarang di sini. Apalagi kalau ada panggung

hiburan,” ungkapnya.

Menurutnya ada fasilitas yang perlu ditambahkan di Selomangleng untuk

menunjang kenyamanan pengunjung, seperti tempat parkir yang rapi. Hal yang

menurutnya perlu diperhatikan pemerintah adalah retribusi masuk kawasan,

karena dipandang berganda. “ Untuk masuk kawasan harus bayar, selanjutnya

masuk kolam harus bayar lagi. Kalau di Pagora kan hanya satu pintu. Kalau bisa

pengunjung membayar satu kali saja,” harapnya.


69

Selanjutnya, pengempon Pura Dewi Sekartaji yang sekaligus menjadi

informan mengungkapkan bahwa pihaknya juga menyambut baik pengembangan

Kawasan Wisata Selomangleng karena akan memajukan ekonomi masyarakat.

“ Mengingat goa ini merupakan peninggalan sejarah yang tak ternilai dan masih

digunakan sebagai tempat aktivitas spiritual, baik oleh penganut kejawen, Hindu,

dan lainnya kami mengharapkan pengembangan pariwisata dilakukan secara

terkendali agar tidak menimbulkan ekses yang mengganggu kesucian Goa

Selomangleng dan objek spiritual lainnya,” ungkapnya.

Ia juga memandang perlu adanya pola pengaturan yang jelas untuk

menciptakan kebersihan lingkungan dan tata perilaku pengunjung. Hal penting

lain yang menurutnya perlu dilakukan adalah pengaturan lokasi yang tertib antara

pedagang, panggung hiburan, serta akses pengunjung kawasan dan pengunjung

pura agar tidak tercampur sehingga menimbulkan kondisi semrawut terutama saat

hari-hari libur akibat jumlah pengunjung yang sangat banyak.

Dari uraian di atas nampak bahwa masyarakat mendukung kebijakan

pemerintah untuk mengembangkan pariwisata, termasuk di dalamnya

pengembangan Kawasan Wisata Selomangleng.


BAB V

PEMBAHASAN

5.1 Kebijakan Kepariwisataan Kota Kediri

Walikota H.A. Maschut yang melaksanakan pemerintahan sejak tahun

1999 hingga 2004 untuk periode pertama dan 2004 hingga 2009 untuk periode

yang kedua menetapkan Tri Bina Cita Kota sebagai pedoman umum pelaksanaan

pembangunan dan pemerintahan Kota Kediri. Dalam Tri Bina Cita Kota,

disebutkan cita-cita untuk mengembangkan Kota Kediri sebagai kota industri,

perdagangan dan jasa, serta pendidikan. Pengembangan pariwisata termasuk

dalam poin perdagangan dan jasa tersebut.

Sebagai pedoman dalam pelaksanaan pemerintahan dalam jangka waktu

lima tahun, ditetapkan visi dan misi daerah. Visi Kota Kediri adalah ”Membangun

Hari Esok yang Lebih Baik”. Selanjutnya untuk merealisasikan visi tersebut,

dirumuskan Misi Kota Kediri yaitu:

1. Mewujudkan kota yang bersih dan masyarakat yang bertakwa

melalui pendekatan kemanusiaan maupun manajemen yang efektif,

efisien, dan berkelanjutan

2. Mewujudkan kota dan masyarakat yang sehat melalui pengaturan

dan pengelolaan kawasan (industri, perdagangan, jasa, hunian dan

fasilitas umum) serta peningkatan kesejahteraan

3. Mewujudkan kota dan masyarakat yang menarik, aman, dan damai

baik bagi warga kota, dunia usaha maupun daerah sekitarnya

70
71

4. Mewujudkan kota dan masyarakat yang mandiri, indah, dan

inovatif melalui pemberdayaan masyarakat maupun peningkatan

kinerja aparatur pemerintah.

5.1.1 Kebijakan strategis pengembangan pariwisata

Kebijakan strategis yang ditempuh dalam upaya pengembangan pariwisata

sesuai misi dan visi Kota Kediri adalah:

2. Pengembangan Kawasan Wisata Selomangleng, dengan tahapan di

antaranya meliputi:

a. Pembangunan Taman Hiburan dan Kolam Renang di Kawasan

Wisata Selomangleng

b. Pembangunan Jalan Tembus Lebak Tumpang-Selomangleng

3. Rehabilitasi Objek-objek wisata lain

4. Perayaan Hari Jadi Kota Kediri sejak tahun 2002, yang selanjutnya

ditetapkan sebagai acara rutin tahunan, yang diperkuat dengan

Peraturan daerah No 10 tahun 2001

5. Pendirian Kantor Pelayanan Perijinan, untuk mempercepat proses

perijinan sebagai upaya meningkatkan daya tarik investasi Kota

Kediri

6. Peluncuran situs resmi pemerintah Kota Kediri,

www.kotakediri.go.id sebagai media untuk menarik investasi dan

melakukan promosi pariwisata.


72

Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 12 tahun 2000 tentang Struktur

Organisasi dan Tata Kerja Badan dan Kantor sebagai Lembaga Teknis Daerah,

pemerintah Kota Kediri membentuk Dinas Informasi, Komunikasi, dan Pariwisata

(Inkoparta) sebagai institusi yang bertugas merumuskan dan melaksanakan

kebijakan teknis bidang pengembangan komunikasi, informasi, dan

kepariwisataan sesuai dengan kebijakan umum pembangunan Kota Kediri. Pada

perkembangan berikutnya sesuai tuntutan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun

2003 tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah, maka melalui Peraturan

Daerah Nomor 4 tahun 2003 tentang Struktur Organisasi dan Tata Kerja

Lembaga Teknis Daerah, pada tahun 2004 pemerintah melakukan restrukturisasi

organisasi perangkat daerah. Berkenaan dengan fungsi pengembangan pariwisata,

seni, dan budaya, pemerintah membentuk Kantor Pariwisata, Seni, dan Budaya

sebagai lembaga yang berfungsi menyusun perencanaan dan melaksanakan

kebijakan operasional di bidang pemberdayaan potensi pariwisata, seni dan

budaya.

5.1.2 Sasaran dan arah kebijakan pariwisata

Sasaran dan arah kebijakan pengembangan pariwisata Kota Kediri adalah

sebagai berikut:

a. Sasaran

1) Berkembangnya potensi wisata, seni, dan kebudayaan daerah

2) Meningkatnya peran serta masyarakat dalam mendukung

kepariwisataan
73

3) Meningkatnya kajian budaya dan kesenian tradisional

4) Meningkatnya kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap

budaya daerah

b. Arah Kebijakan

1) Tersedia dan terpenuhinya kebutuhan wisata bagi masyarakat Kota

Kediri dan sekitarnya termasuk aktualisasi, pengembangan, dan

pelestarian seni budaya daerah

2) Peningkatan sarana dan prasarana pendukung kepariwisataan

3) Peningkatan partisipasi masyarakat dalam mendukung

kepariwisataan

5.1.3 Rencana strategis pengembangan pariwisata

Strategi pengembangan kepariwisataan dan pelestarian budaya terdapat

pada poin 4 dan poin 6 dalam Rencana Strategis (Renstra) Kota Kediri tahun

2003-2005, seperti terdapat pada Tabel 5.1 Sedangkan komitmen pemerintah

terhadap pengembangan pariwisata selanjutnya diwujudkan melalui dukungan

dari sisi anggaran. Pemerintah mengalokasikan belanja pembangunan sektor

pariwisata yang cukup besar pada APBD dari tahun 2000 hingga 2004. Jumlah

belanja pembangunan untuk pengembangan sektor pariwisata cenderung

meningkat seperti terdapat pada Tabel 5.2.


74

Tabel 5.1
Rencana Strategi Program Peningkatan Pariwisata dan Pelestarian Budaya

Strategi Program Pokok Kegiatan Indikator Kinerja


Pembangunan
Peningkatan 3. Program 1. Peningkatan sarana 1. Terpenuhinya kebutuhan
Kemampuan Peningkatan dan prasarana sarana dan prasarana
Pembiayaan Kepariwisataan pendukung pendukung
Pembangunan kepariwisataan 2. Terpenuhinya kerja sama
2. Peningkatan Kerja dengan pengusaha jasa
sama dengan wisata
pengusaha jasa 3. Berkembangnya potensi
wisata wisata dan kebudayaan
3. Pemberdayaan daerah
potensi objek 4. Meningkatnya jumlah
wisata, seni budaya, pengunjung/
dan kerajinan daerah wisatawan
4. Peningkatan 5. Meningkatnya
promosi dan kemampuan SDM
informasi atraksi kepariwisataan
wisata 6. Meningkatnya peran serta
5. Peningkatan kualitas masyarakat dalam
SDM mendukung
kepariwisataan kepariwisataan
6. Peningkatan
partisipasi
masyarakat dalam
mendukung
kepariwisataan
Memperluas 6. Pelestarian 1. Memperluas 1. Meningkatnya kesadaran
Kesempatan Warisan Budaya penggalian masyarakat terhadap
Memperoleh Lokal peninggalan sejarah budaya daerah
Pendidikan dan budaya lokal 2. Terpeliharanya
Peningkatan Kualitas 2. Meningkatkan peninggalan budaya dan
Produk Pendidikan kajian budaya arkeologi
daerah dan kesenian 3. Meningkatnya kajian
budaya tradisional budaya dan kesenian
Kota Kediri tradisional
3. Meningkatkan 4. Meningkatnya apresiasi
apresiasi sejarah sejarah budaya di
budaya di seluruh seluruh lapisan
lapisan masyarakat masyarakat
dan Porseni
Sumber: Bappeda Kota Kediri, 2002

Tabel 5.2
Realisasi Belanja Pembangunan Sektor Pariwisata dan Telekomunikasi
Daerah Tahun 2000-2004

Tahun Realisasi
2000 Rp 72.500.000
2001 Rp 316.250.000
2002 Rp 2.886.696.250
2003 Rp 9.160.000.000
2004 Rp 2.400.000.000
Sumber: LPJ Akhir Masa Jabatan Walikota Kediri, 1999-2004
75

Anggaran tersebut diarahkan untuk melaksanakan dua upaya penting, yang

pertama adalah pemeliharaan dan pengembangan Kawasan Selomangleng menjadi

sebuah kawasan wisata, melalui pembangunan objek baru seperti kolam renang

dan taman hiburan, serta infrastruktur seperti jalan tembus Lebak Tumpang-

Selomangleng. Pembangunan kolam renang dan taman hiburan ini dilakukan

secara bertahap, dengan anggaran mencapai Rp 19 milyar dan luas area yang

dibutuhkan diperkirakan mencapai 25 hektar. Pembangunan objek baru ini

bertujuan untuk menambah daya tarik serta mengembangkan Kawasan

Selomangleng menjadi sebuah kawasan wisata yang diproyeksikan menjadi ikon

pariwisata Kota Kediri. Pengembangan pada kawasan ini dipandang penting

karena di dalamnya terdapat sejumlah objek dan daya tarik wisata sejarah, budaya,

serta spiritual yang didukung oleh bentangan alam yang indah. Selain rekreasi,

kegiatan-kegiatan yang diperbolehkan dilakukan di dalam Kawasan Wisata

Selomangleng adalah olah raga, pendidikan dan penelitian sejarah, perkemahan,

villa, kios makanan, dan suvenir. Sketsa site plan Kawasan Wisata Selomangleng

terdapat pada Lampiran 3.

Upaya-upaya pengembangan dan pemeliharan objek wisata lain yang

terdapat di luar Kawasan Selomangleng juga dilakukan untuk mendukung

pengembangan pariwisata secara umum. Objek penunjang yang turut dibangun

misalnya dermaga di Sungai Brantas untuk mendukung aktivitas wisata bahari,

yang sekaligus dirancang sebagai taman hiburan serta restoran dengan

pemandangan sungai. Pemerintah Kota Kediri juga melakukan rehabilitasi

terhadap objek bersejarah yang terkait erat dengan sejarah perkembangan Agama
76

Islam di Kota Kediri, seperti Makam Setono Gedong yang merupakan makam

para tokoh penyebar Agama Islam di kota ini, serta Masjid Agung Kota Kediri

yang merupakan masjid tertua.

5.1.4 Promosi pariwisata

Untuk mempromosikan daya tarik wisata Kota Kediri, pemerintah juga

mencetak brosur-brosur wisata serta mengikuti festival dan pagelaran-pagelaran

seni budaya di tingkat regional hingga nasional serta pengiriman tim kesenian

pada perayaan hari jadi daerah lainnya. Salah satunya adalah pengiriman tim

kesenian untuk memeriahkan Hari Jadi Kota Negara, Jembrana, Bali pada 15

Agustus 2003. Namun karena keterbatasan anggaran, pengiriman misi kesenian

tidak dapat dilakukan secara berkelanjutan. Demikian pula dengan brosur pesona

wisata Kota Kediri, jumlah cetakan dan penyebarannya amat terbatas.

Upaya-upaya mempromosikan pariwisata Kota Kediri ini dilakukan secara

terus-menerus, baik secara kelembagaan oleh Kantor Pariwisata dan Kebudayaan

Kota Kediri melalui program-program yang telah diuraikan di atas. Namun di

samping itu pada berbagai acara terkait pariwisata baik yang resmi mapun tidak

resmi, promosi bahkan dilakukan langsung oleh pucuk pemerintahan, yaitu oleh

walikota Kediri, Wakil Walikota, serta jajaran pejabat melalui keterlibatan

langsung pada aktivitas pariwisata. Walikota Kediri misalnya, pernah memberikan

keterangan pers dari kolam renang pada suatu kesempatan arisan pejabat

pemerintah Kota Kediri. Demikian pula Wakil Walikota dan pejabat lainnya yang

turut berpartisipasi pada pementasan wayang orang di Balai Kota Kediri dalam
77

rangka perayaan hari jadi. Bentuk keterlibatan langsung dalam mempromosikan

pariwisata ini juga pernah ditunjukkan saat pucuk pimpinan pemerintahan Kota

Kediri dan jajarannya ini juga terlibat pada pawai budaya saat perayaan hari jadi

Kota Kediri tahun 2002 dan 2003.

Terhadap kebijakan strategis tersebut dapat disampaikan sejumlah evaluasi

sebagai berikut:

1. Pengembangan Kawasan Wisata Selomangleng. Terkait dengan upaya

pengembangan Kawasan Selomangleng menjadi sebuah kawasan

wisata ini pemerintah baru sebatas melakukan upaya berupa

pengembangan objek baru seperti kolam renang dan taman hiburan

serta infrastruktur jalan. Untuk pengembangan lebih lanjut menjadi

sebuah kawasan wisata, idealnya pemerintah melaksanakannya

berdasarkan kajian perencanaan yang matang dan terukur, yang

mencakup sejumlah aspek di antaranya seperti pengembangan zonasi,

tata kelola, standarisasi keamanan dan kenyamanan yang terkait

dengan akses masuk ke dalam kawasan, dan sebagainya. Penataan

ruang di dalam kawasan, sejauh ini belum dilakukan oleh pemerintah.

Ini terlihat dengan bercampurnya lokasi pedagang, parkir kendaraan,

lalu lintas pengunjung, hingga pentas kesenian. Di samping untuk

melindungi objek peninggalan bersejarah dan lingkungan di dalam

kawasan, penataan ruang juga perlu dilakukan untuk menciptakan

kenyamanan dan keamanan bagi pengunjung, terlebih pemerintah

berkeinginan untuk mengembangkan kawasan wisata ini menjadi ikon


78

kepariwisataan Kota Kediri. Pengembangan kawasan ini menjadi

sebuah kawasan wisata dapat dilakukan dengan merujuk pada uraian

Gee (2000 : 274) sebagai berikut:

- Menyusun perencanaan yang di dalamnya mencakup pengaturan

pembangunan fasilitas wisata, di antaranya seperti pembuatan

sistem zonasi yang membatasi akses masuk ke lokasi-lokasi yang

sensitif dan mengurangi tekanan pada lokasi-lokasi yang

digunakan secara intensif, membatasi jumlah pengunjung ke dalam

lokasi tertentu, membatasi pelaksanaan pembangunan untuk

mendorong penggunaan arsitektur tradisional, dan

mengembangkan pola pengelolaan limbah secara terpadu

- Membangun infrastruktur pendukung seperti pusat informasi dan

taman

- Mengembangkan rute yang dapat mempermudah aliran

pengunjung di dalam kawasan serta mendorong pengunjung untuk

mengikuti rute yang disarankan

- Mengembangkan program pengawasan untuk mendapatkan

pengetahuan yang tepat tentang perubahan-perubahan yang terjadi

pada lingkungan dan dalam mengembangkan sumber daya yang

ada secara rasional

2. Rehabilitasi Objek-objek wisata lain. Sejauh ini upaya rehabilitasi

telah dilakukan pada sejumlah objek. Namun upaya rehabilitasi ini

perlu dilakukan secara berkelanjutan sehingga dapat memberikan hasil


79

yang optimal. Rehabilitasi ini juga perlu dibarengi dengan upaya

pengelolaan baik sehingga dana yang dikeluarkan tidak terbuang

percuma akibat rusaknya kembali objek yang telah direhabilitasi. Saat

ini objek-objek inti seperti Goa Selomangleng dan Museum Airlangga

tengah membutuhkan rehabilitasi. Berdasarkan pengamatan penulis,

kondisi kedua objek yang justru menjadi objek inti dalam

pengembangan wisata sejarah ini sangatlah kurang, terlihat dari

kondisi goa yang tidak bersih, adanya coretan di dinding goa, serta

kondisi museum dan koleksi yang tidak terawat dan tertata dengan rapi.

Upaya ini berarti harus dibarengi dengan dukungan anggaran yang

memadai untuk objek bersejarah ini, termasuk objek-objek lainnya.

3. Perayaan Hari Jadi Kota Kediri sejak tahun 2002 sebagai agenda

tahunan. Pelaksanaan hari jadi ini pada dasarnya juga ditujukan

menjadi media menarik kedatangan wisatawan ke Kota Kediri.

Mengingat besarnya biaya yang dibutuhkan untuk melaksanakan

kegiatan ini, pemerintah nampaknya perlu membangun jaringan kerja

dengan kalangan swasta tidak terlalu membebani anggaran daerah. Di

samping itu pemerintah juga perlu menggerakkan partisipasi

masyarakat dalam pelaksanaannya, sehingga budaya dan seni di

tingkat masyarakat turut tergerak dalam acara ini, dan kegiatan yang

dilaksanakan pada acara tahunan ini menjadi kian beragam dan tidak

monoton.
80

4. Pendirian Kantor Pelayanan Perijinan, untuk mempercepat proses

perijinan sebagai upaya meningkatkan daya tarik investasi Kota Kediri.

Semangat yang mendasari pendirian kantor pelayanan perijinan ini

adalah pelayanan secara terpadu dan memangkas jalur birokrasi yang

harus ditempuh. Upaya ini sangat sejalan dengan semangat perubahan

pengelolaan pemerintahan dari yang sangat birokratis menjadi

berorientasi kewirausahaan. Pengembangan pariwisata di Kota akan

semakin didukung oleh keberadaan usaha dan jasa yang terkait dengan

pariwisata seperti pusat perbelanjaan, rumah makan, hotel, biro

perjalanan, money changer, warung telekomunikasi/internet dan usaha

lainnya. Keberadaan Kantor Pelayanan Perijinan sangat strategis dalam

mendukung pengembangan pariwisata sehingga perlu dikelola dengan

serius.

5. Peluncuran situs resmi pemerintah Kota Kediri, www.kotakediri.go.id

sebagai media untuk menarik investasi dan melakukan promosi

pariwisata. Media on line sebagai salah satu wujud implementasi

electronic government (e-gov) ini sempat mati suri setelah pertama kali

diluncurkan pada tahun 2002 melalui pengelolaan oleh Dinas

Informasi, Komunikasi, dan Pariwisata. Namun sejak tahun 2005 situs

resmi pemerintah Kota Kediri ini dihidupkan kembali yang dikelola

oleh Bagian Humas. Sesuai dengan tujuan pembuatannya, yaitu

sebagai media pelayanan informasi, promosi wisata dan peluang

investasi, maka pengelolaan situs tersebut perlu dilakukan secara serius


81

oleh lembaga yang diberikan mandat untuk itu serta didukung SDM

dan infrastruktur yang memadai. Pengelolaannya pun dilakukan

melalui pendekatan pemasaran, artinya keberadaan situs resmi

pemerintah ini benar-benar diarahkan dalam rangka pemasaran

potensi-potensi ekonomi dan promosi objek-objek wisata serta seni

budaya Kota Kediri. Aspek kelembagaan ini perlu dibangun, agar

pengelolaan situs dapat berlangsung secara berkelanjutan.

5.2 Permasalahan yang Dihadapi Pemerintah Kota Kediri

5.2.1 Lingkungan internasional

Dalam penyusunan kebijakan pengembangan pariwisata, pembuat

kebijakan di Kota Kediri perlu menyadari adanya saling keterhubungan yang

sangat erat antara lingkungan kebijakan di tingkat lokal, nasional, dan

internasional yang disebut dengan sistem global. Perkembangan global tersebut

menuntut pembuat kebijakan kepariwisataan di Kota Kediri juga harus

mencermati berbagai perkembangan di lingkungan tersebut, yang akan

memunculkan peluang-peluang sekaligus tantangan dalam upaya pengembangan

pariwisata.

Sistem global mencerminkan adanya suatu interdependensi antara satu unit

sosial politik dan unit lainnya di dunia, yang tidak selalu berada dalam kondisi

yang simetris (Holsti, 1992 : 47). Keterhubungan tersebut disebabkan oleh

liberalisasi ekonomi serta kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang

membuat kompetisi ekonomi semakin ketat dan dunia seolah menjadi tanpa batas,
82

menjadi suatu jaringan kerja yang saling tergantung. Karena itulah berbagai isu

strategis di tingkat internasional seperti perdagangan bebas, keamanan global, Hak

Asasi Manusia (HAM), pelestarian lingkungan, pemberdayaan masyarakat, sistem

informasi, dan sebagainya sangat mempengaruhi formulasi dan konstelasi

kegiatan serta pengembangan kepariwisataan di suatu negara dalam sistem

kepariwisataan dunia (Wacik, 2006 : 1 ).

Kondisi ini menyebabkan berbagai destinasi wisata di Indonesia

dihadapkan pada persaingan global yang sangat terbuka. Hal ini menunjukkan

bahwa upaya Kota Kediri dalam mengembangkan pariwisata tidak hanya akan

menghadapi kompetisi dengan sesama destinasi pariwisata lainnya baik di lingkup

Jawa Timur, Pulau Jawa, serta pulau lainnya. Lebih daripada itu, Kota Kediri juga

akan berkompetisi dengan Singapura, Malaysia, Vietnam, Kamboja, dan berbagai

destinasi lainnya di dunia. Kompetisi akan sangat dirasakan Kota Kediri terutama

bila berkeinginan untuk menarik kedatangan wisatawan asing.

Berbagai perkembangan yang terjadi tersebut menuntut adanya perubahan

pola pikir para pembuat kebijakan. Sebelumnya, kebijakan domestik dianggap

sebagai suatu hal yang sangat terpisah dan tidak terkait dengan kebijakan luar

negeri. Kebijakan domestik dianggap sebagai keputusan-keputusan yang hanya

akan mempengaruhi kondisi di dalam batas-batas negara, sedangkan kebijakan

luar negeri hanya mempengaruhi kondisi di luar batas negara. Kini pandangan

tersebut sudah tidak tepat, karena kebijakan domestik suatu negara sebenarnya

menimbulkan konsekuensi tertentu di negara lain, dan kebijakan luar negeri pun

mempengaruhi kondisi internal negara. Karena itu menurut Stern (2000 : 31)
83

keduanya sudah tidak dapat lagi diperlakukan sebagai entitas yang terpisah. Pola

interdependensi tersebut kini sangat berpengaruh besar dalam proses pembuatan

kebijakan di tingkat domestik sekalipun.

Dalam konteks kepariwisataan, bila merujuk tren tengah yang terjadi di

tingkat internasional, aliran pemikiran dan semangat yang kini mendasari setiap

upaya pengembangan pariwisata adalah pariwisata berkelanjutan. Dalam hal ini,

yang dimaksudkan adalah pengembangan pariwisata yang tidak mengakibatkan

terjadinya kerusakan atau degradasi lingkungan alam dan sosial, serta berorientasi

untuk kepentingan generasi masa depan. Artinya, pengembangan pariwisata yang

dilakukan mencerminkan adanya suatu keseimbangan antara motif-motif untuk

mendapatkan keuntungan ekonomis, pelestarian budaya, dan lingkungan (Müller,

1997 : 29).

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pariwisata yang perlu

dikembangkan di Kota Kediri adalah pariwisata berkualitas, yang penekanannya

tidak semata pada sisi jumlah wisatawan, melainkan kualitas wisatawan yang

datang ke suatu daerah tujuan wisata. Pengertian kualitas tersebut merujuk pada

daya beli dan tingkat apresiasi wisatawan terhadap seni budaya masyarakat lokal

lingkungan, kekayaan flora dan fauna setempat. Salah satu bentuk dari pariwisata

berkelanjutan ini adalah ekowisata.

Penelitian yang dilakukan oleh Eagles dan Higgins (1998), Wearing dan

Neil (1999), serta Weaver (2001) menjelaskan bahwa terdapat 12 negara yang

menjadi sumber wisatawan yang menyukai ekowisata di kawasan Asia Tenggara.

Kedua belas negara ini memberi kontribusi sebesar 27 persen dari seluruh
84

wisatawan yang datang ke daratan Asia Tenggara, dan jumlahnya cenderung terus

bertambah. Di antara kedua belas negara tersebut, Amerika Serikat, Inggris,

Jerman, Australia, and Prancis merupakan negara-negara utama yang menjadi

sumber wisatawan tipe ini yang datang ke Asia Tenggara. Survei lainnya yang

dilakukan oleh WTO menunjukkan bahwa wisatawan tipe ini tertarik dengan

kegiatan mengamati spesies langka, mengunjungi warga lokal, mempelajari

benda-benda peninggalan bersejarah, dan mengamati satwa burung. Selain itu

wisatawan tipe ekowisata juga sangat menyukai tambahan wawasan-wawasan

baru dari pemandu wisata yang berkualitas, serta juga menyukai kegiatan

mengunjungi daerah-daerah terpencil yang tidak ramai.

Dalam industri pariwisata, interdependensi antara ketiga lingkungan ini

sangat nyata. Fenomena yang terjadi pada suatu negara di dunia, akan

berimplikasi pada suatu daerah di negara lain yang telah berkembang menjadi

destinasi pariwisata. Gejolak yang terjadi di negara-negara sumber wisatawan

akan sangat mempengaruhi kepariwisataan di negara tujuan wisatawan.

Liberalisasi ekonomi dunia juga membuat frekuensi perjalanan wisata semakin

tinggi, destinasi dan produk-produk pariwisata menjadi kian beragam dan sangat

kompetitif.

Dari perspektif perkembangan ekonomi dunia, para ahli ekonomi

memproyeksikan adanya perubahan paradigma ekonomi yang akan membuat

industri pariwisata menjadi salah satu industri yang memiliki peran besar dalam

ekonomi global. Industri ini tidak hanya tumbuh dan berkembang di negara-

negara maju, karena negara-negara berkembang pun banyak yang mengandalkan


85

ekonominya dari sektor pariwisata. Pada awal abad ke-21, para ahli ekonomi

mikro yaitu Joseph Pine II dan James H. Gilmore menyebutkan bahwa negara-

negara industri telah mereposisi ekonominya dari brand-based economy (ekonomi

manufaktur berbasiskan produk-produk bermerek) menjadi experience economy

(ekonomi berbasiskan kesan/pengalaman). Experience adalah kegiatan ekonomi

produktif yang menimbulkan efek keterlibatan. Dalam konteks kepariwisataan,

kegiatan seperti diving, fishing, dolphin watching, parasailing, dan sebagainya

masuk dalam kategori ini. Semua aktivitas tersebut merupakan kemasan

pariwisata modern yang menimbulkan pengaruh kenaikan lapangan kerja sebesar

5,3 persen jauh di atas jasa yang hanya tumbuh 2,7% atau manufaktur yang hanya

naik 0,5 persen dalam perekonomian Amerika Serikat antara tahun 1959-1996.

Data tersebut menunjukkan pariwisata telah memiliki peran yang besar dalam

perekonomian (Kasali, 2004).

Tren perkembangan lainnya di tingkat internasional adalah kemajuan

teknologi informasi yang berpengaruh erat dengan pola perilaku calon wisatawan.

Capra (2005: 121) menjelaskan bahwa internet telah menjadi suatu jaringan

komunikasi global yang sangat kuat, dan banyak perusahaan memanfaatkan

internet sebagai media penghubung antara jaringan pembeli dan penyalur.

Kemajuan teknologi informasi tersebut membuat biro perjalanan tidak lagi

menjadi satu-satunya sumber informasi tentang daerah tujuan. Calon wisatawan

dapat mencari secara langsung berbagai informasi tentang objek wisata, fasilitas

akomodasi, dan transportasi yang dibutuhkan untuk mengelola perjalanannya ke


86

suatu destinasi wisata tanpa melalui situs-situs yang memuat informasi pariwisata

di internet.

Menurut Santosa (2002), website telah menjadi saluran ideal dan alat yang

sangat strategis untuk mempromosikan dan memasarkan daerah tujuan wisata

dengan biaya yang sangat murah. Ketika suatu destinasi tidak terpublikasikan

secara on line di internet, sebenarnya destinasi tersebut kehilangan peluang untuk

mendapatkan perhatian jutaan calon wisatawan di berbagai pelosok dunia yang

kini telah memiliki akses terhadap internet. Karena itulah menurutnya kualitas

informasi yang disediakan dalam website juga sangat penting, karena wisatawan

akan mendasarkan keputusannya untuk mengunjungi suatu daerah tujuan wisata

atau obyek wisata pada informasi tersebut. Negara-negara sumber wisatawan yang

masyarakatnya telah memanfaatkan teknologi ini adalah Amerika Serikat, Jerman,

Jepang, dan Inggris.

5.2.2 Lingkungan nasional

Berikutnya, perkembangan kepariwisataan di tingkat nasional ditunjukkan

dengan terjadinya berbagai gangguan keamanan terhadap wisatawan yang sangat

merusak citra pariwisata Indonesia. Keterhubungan antara peristiwa yang terjadi

di tingkat internasional dengan kondisi nasional dan lokal sangat terlihat di sini.

Operasi militer AS dan sekutunya di Afghanistan dan Irak pascatragedi WTC

pada 11 September 2001 ternyata juga memicu timbulnya sentimen anti AS dan

bangsa asing lainnya di Indonesia yang selanjutnya merembet pada aksi-aksi

terorisme di daerah. Peristiwa tersebut seperti ledakan bom di Bali sebanyak dua
87

kali, yaitu pada 12 Oktober 2002 dan 1 Oktober 2005. Kejadian tersebut belum

termasuk berbagai ledakan bom di Jakarta yang seluruhnya menimbulkan dengan

banyak korban jiwa baik warga lokal maupun warga asing. Akibatnya negara-

negara sumber wisatawan mengeluarkan kebijakan mulai tingkat travel advisory

hingga travel ban, yang membuat arus kedatangan wisatawan dari negara-negara

tersebut ke Indonesia mengalami penurunan secara drastis. Target pemerintah

untuk mendatangkan enam juta wisatawan mancanegara pada tahun 2005 tidak

tercapai (Kompas, 5 September 2005).

Ancaman terhadap keamanan wisatawan asing tersebut juga terus berlanjut

dan meluas di berbagai tempat di Pulau Jawa seiring dengan kasus pemuatan

karikatur Nabi Muhammad oleh sebuah harian di Denmark pada bulan Pebruari

2006. Aksi-aksi unjuk rasa tersebut selanjutnya merembet pada aksi perusakan

kantor kedutaan besar Denmark dan AS oleh kelompok tertentu. Bagi pasar

pariwisata di luar negeri, maraknya aksi unjuk rasa bernuansa politik tersebut

merupakan ancaman yang tidak hanya ditujukan pada negara tertentu, namun juga

negara-negara sumber wisatawan lainnya. Posisi Indonesia semakin terpuruk

dalam pasar pariwisata internasional.

Ketika masalah gangguan keamanan tersebut belum mereda, Indonesia

juga dilanda wabah flu burung (avian influenza) yang sejak akhir tahun 2005

hingga Pebruari 2006 ini belum tertuntaskan. Angka kematian akibat flu burung di

Indonesia bahkan tercatat sebagai yang tertinggi dari berbagai kasus flu burung di

seluruh dunia (Bali Post, 20 Pebruari 2006). Kondisi tersebut diperburuk lagi oleh

bencana alam yang terjadi secara bertubi-tubi di Pulau Jawa dan beberapa
88

wilayah lainnya di Indonesia. Citra Indonesia sebagai destinasi wisata

internasional menjadi semakin tidak meyakinkan.

Perkembangan-perkembangan yang kurang menguntungkan tersebut

tentunya menuntut pemerintah untuk segera melakukan upaya-upaya terobosan

untuk pemulihan pariwisata, mengingat industri pariwisata telah menjadi sektor

ekonomi yang strategis dan menjadi sumber devisa nomor dua setelah minyak dan

gas bumi. Kebijakan yang ditempuh pemerintah pusat dalam menghadapi masalah

ini adalah mengembangkan pasar wisatawan nusantara yang selama ini belum

dikelola secara optimal. Pemerintah berupaya menciptakan pertumbuhan rata-rata

perjalanan wisatawan nusantara sebesar 1,4 persen per tahun, dan menargetkan

jumlah pengeluarannya menjadi Rp 105,9 trilyun pada akhir tahun 2009. Jumlah

kunjungan yang ditargetkan dapat tercapai pada tahun tersebut sebesar 218,8 juta

dan perjalanan wisatawan nusantara di setiap provinsi, kabupaten/kota juga

ditargetkan terus meningkat (Wacik, 2006 : 2).

5.2.3 Lingkungan lokal

Di tingkat lokal, implementasi sistem otonomi daerah membuat

keterkaitan antara ketiga lingkungan tersebut bertambah erat. Di satu sisi sistem

akan mendatangkan peluang, namun di sisi lain juga memunculkan hambatan

tersendiri. Peluang ini muncul bila pemerintah daerah dapat memahami otonomi

daerah secara benar, yaitu sebagai momentum untuk mengenali, mengembangkan,

dan memberdayakan potensi-potensi ekonomi lokal secara jauh lebih leluasa tanpa

adanya hambatan yang terlalu banyak oleh lingkungan nasional bila dibandingkan
89

era sebelum otonomi daerah. Pemilik modal asing dapat melakukan penetrasi

langsung ke daerah tanpa terlalu banyak hambatan birokrasi di tingkat

pemerintahan pusat. Demikian pula sebaliknya, dengan kemampuan komparatif

dan kompetitif yang dimiliki, para pengelola pembangunan maupun pebisnis di

daerah dapat menjangkau sumber daya-sumber daya ekonomi di tingkat

internasional untuk disinergikan dengan proses pembangunan di daerah secara

lebih mudah. Karena itulah penyelenggara pemerintahan di pusat dan daerah harus

mulai menggunakan pemasaran strategis (strategic marketing approach) di mana

konsep-konsep pemasaran seperti positioning, diferensiasi, dan branding yang

selama ini hanya dikenal di dalam dunia bisnis harus mulai diadopsi. Kepala

daerah juga harus memiliki gambaran mengenai kondisi terakhir maupun prediksi

3 hingga 5 tahun ke depan tentang kompetitornya, wisatawan-pebisnis-investor

sebagai pelanggan daerah, dan kondisi internal daerah (Kartajaya, 2005).

Kondisi ini menuntut kepala daerah harus tanggap dan dapat merespons

berbagai perubahan besar di tingkat lokal, nasional, dan global yang sangat

berpengaruh terhadap pengelolaan pemerintahan. Merujuk pada berbagai

perkembangan yang terjadi di tingkat internasional dan nasional tersebut, maka

pemerintah Kota Kediri nampaknya perlu melakukan penyesuaian-penyesuaian

terhadap kebijakan pengembangan pariwisata yang telah dilakukan. Bagi

Pemerintah Kota Kediri, sistem ini memberikan peluang sekaligus tantangan

untuk melaksanakan pembangunan daerahnya secara lebih baik.

Dalam pengembangan daya tarik wisata di kawasan Selomangleng

misalnya, pemerintah Kota Kediri perlu merujuk pada pola pariwisata


90

berkelanjutan. Sebagai kota berukuran kecil, yaitu 63,40 km² daya dukung

lingkungan Kota Kediri tentu sangat terbatas. Ini berarti pariwisata yang layaknya

dikembangkan di Kota Kediri bukanlah mass tourism, yang ditandainya dengan

kedatangan wisatawan secara massal, karena akan berimplikasi pada beratnya

tekanan terhadap lingkungan.

Lebih lanjut seiring dengan program pemerintah pusat untuk

mengembangkan pariwisata domestik, pemerintah Kota Kediri pun nampaknya

dapat berupaya untuk menyasar segmen ini. Dalam lingkup regional Kota Kediri

memiliki peluang untuk menarik kedatangan wisatawan dari kabupaten/kota yang

berbatasan langsung dan berdekatan dengan Kota Kediri seperti Kabupaten Kediri,

Blitar, dan Nganjuk, maupun Kabupaten Jombang, Mojokerto, Jombang, Sidoarjo,

Kota Surabaya, dan sebagainya. Hal ini sangat memungkinkan mengingat posisi

Kota Kediri yang berada pada lintasan 7 jalur lintasan primer di Provinsi Jawa

Timur, salah satunya adalah jalur arteri primer Kota Surabaya-Kabupaten

Tulungagung.

Sebuah studi yang dilakukan Yahya (2005), ahli statistik dari ITS,

menunjukkan bahwa pada setiap hari libur warga Kota Surabaya memiliki

kecenderungan untuk berlibur ke luar kota. Ia memperkirakan, pada setiap hari

libur terdapat sekitar 100 hingga 200 ribu kendaraan bergerak ke luar Kota

Surabaya yang mengarah ke Kabupaten Sidoarjo dan daerah-daerah sekitarnya.

Para pelancong ini berangkat pada pagi dan balik pada malam atau sore harinya

(Jawa Pos, 7 Pebruari 2005). Jarak Kota Kediri yang cukup jauh dari Kota

Surabaya sebagai titik distribusi menjadi salah satu persoalan dalam upaya
91

menarik kunjungan wisatawan dari ibu kota Provinsi Jawa Timur tersebut. Jarak

sejauh 125 km, dengan kondisi lalu lintas yang selalu padat, sehingga

membutuhkan waktu tempuh sekitar 2 hingga 2,5 jam menuntut adanya upaya

yang serius untuk meningkatkan daya tarik wisata Kota Kediri, karena harus

bersaing dengan daerah lainnya yang berjarak lebih dekat dengan Kota Surabaya

dan telah lebih memiliki infrastruktur penunjang aktivitas pariwisata yang

memadai seperti Kota Batu, Kabupaten/Kota Malang, dan Kabupaten/Kota

Pasuruan.

Terkait dengan tren pemanfaatan teknologi informasi untuk pemasaran

pariwisata, pemerintah Kota Kediri nampaknya belum melakukan upaya-upaya

terukur dan sistematis untuk memasarkan produk-produk pariwisata Kota Kediri.

Idealnya pemerintah mulai memanfaatkan website resmi pemerintah yang telah

dimiliki, yaitu www.kotakediri.go.id sebagai media untuk mempromosikan dan

memasarkan produk-produk kepariwisataan sekaligus peluang-peluang investasi

di Kota Kediri. Saat penelitian ini dilaksanakan, situs tersebut belum

dimanfaatkan secara optimal untuk memperkenalkan Kota Kediri dan menarik

investor dan wisatawan. Dari segi tampilan website ini kurang menarik serta

belum memuat informasi yang memadai untuk dapat menarik minat pengunjung

situs untuk berwisata maupun untuk berinvestasi ke Kota Kediri. Informasi daya

tarik wisata yang disajikan dalam situs dimaksud sangat terbatas, dan tidak

didukung tampilan foto-foto objek setempat. Padahal foto-foto objek dan daya

tarik yang dimiliki Kota Kediri amatlah banyak, yang sebagian di antaranya

disajikan pada bagian lampiran tulisan ini.


92

Di masa kini peran situs internet untuk mempromosikan daya tarik

pariwisata Kota Kediri menjadi kian strategis, mengingat internet merupakan

merupakan wahana informasi yang dapat menjangkau seluruh pelosok dunia serta

dapat diakses sepanjang waktu yaitu 24 jam sehari, 7 hari seminggu sepanjang

tahun tanpa harus terikat dengan jam kerja. Media ini pun sangat penting menjadi

salah satu basis promosi mengingat pariwisata sendiri merupakan sebuah aktivitas

yang melintasi batas-batas wilayah negara. Informasi yang penting disajikan

melalui media situs web pemerintah Kota Kediri ini misalnya apa dan bagaimana

sejarah Kota Kediri sehingga layak dikunjungi, jenis objek wisata yang

ditawarkan, lokasi dan akses menuju Kota Kediri, fasilitas hotel/restoran dan

pendukung aktivitas wisatawan lainnya, potensi-potensi investasi dan

perdagangan, serta informasi dan foto-foto objek setempat yang menarik. Untuk

menarik minat investor maupun pebisnis dari dalam dan luar negeri maka perlu

juga disampaikan produk-produk khas Kota Kediri, syarat-syarat ijin investasi

serta peraturan-peraturan terkait mulai dari tingkat undang-undang, hingga

peraturan daerah setempat.

Keinginan dan inisiatif untuk memanfaatkan teknologi informasi dalam

upaya mendongkrak arus kedatangan wisatawan juga menjadi keinginan Dinas

Pariwisata Provinsi Jawa Timur. Instansi ini tengah berupaya membangun sebuah

kios interaktif berbasis web yang memuat informasi tentang 120 tempat pariwisata

di Provinsi Jawa Timur. Informasi pada website tersebut direncanakan dapat

diperbarui seminggu sekali ( berdasarkan laporan Jawa Pos, 10 Maret 2005).


93

Namun sayangnya dari penelusuran penulis, hingga tulisan ini dilaporkan kiosk

interactive dimaksud ternyata belum diimplementasikan.

Dari sudut pandang kehumasan, internet juga dapat dimanfaatkan sebagai

media untuk melaksanakan fungsi-fungsi kehumasan dan pemasaran. Perspektif

kehumasan yang berkembang seiring dengan maraknya komunikasi melalui media

internet adalah cyber public relations, atau electronic public relations (e-pr).

Pengertian konsep ini merujuk suatu upaya membangun reputasi dengan

mengkomunikasikan informasi dan mendengarkan permintaan pelanggan melalui

media internet (Onggo, 2004 : xiv) .

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi menuntut para praktisi PR

untuk membangun hubungan dengan publik melalui media internet. Onggo

menyebutkan, ribuan one to one relations dapat dibangun secara simultan lewat

media internet, sehingga media ini merupakan sarana yang ampuh untuk

membangun relasi, karena sifatnya yang konstan, cepat, hemat, dan interaktif.

Strategi e-pr ini dapat dimanfaatkan Bagian Humas untuk mempublikasikan

kegiatan-kegiatan di bidang pemerintahan, pembangunan, dan sosial

kemasyarakatan kepada publik dengan cepat dan efisien. Walau demikian, ini

tidak berarti e-pr dapat menggantikan fungsi-fungsi offline pr, melainkan bersifat

mendukung. Sisi hubungan kemanusiaan masih sangat berperan besar, dan e-pr

selanjutnya berfungsi untuk memperkuatnya. Ini menunjukkan bahwa

implementasi teknologi informasi dan komunikasi memang sudah sangat sesuai

dengan tantangan dan kebutuhan tugas-tugas kehumasan termasuk pemasaran

pariwisata daerah di masa kini.


94

Dalam upaya mempromosikan pariwisata dan budaya, pemerintah melalui

Kantor Pariwisata dan Seni Budaya telah memprogramkan berbagai bentuk

kegiatan promosi pariwisata dan budaya, seperti pelaksanaan festival kesenian

jaranan untuk menghidupkan kreativitas kelompok-kelompok kesenian di Kota

Kota Kediri, maupun dengan mengikuti berbagai festival budaya yang

dilaksanakan di berbagai kota di Jawa Timur hingga Jakarta, serta pengiriman

misi kesenian ke Bali. Pemerintah Kota Kediri bahkan pernah mengirimkan tim

kesenian pada hari ulang tahun Kota Negara, Jembrana, pada Agustus 2002 dan

2003.

Sebagai penunjang promosi pariwisata, pemerintah juga telah mencetak

brosur-brosur tentang kepariwisataan Kota Kediri. Biaya yang telah dikeluarkan

pemerintah untuk berbagai promosi tersebut sangat besar, namun keterbatasan

tetap saja ada. Pengiriman misi kesenian ke luar daerah misalnya, memang akan

dapat mempromosikan Kota Kediri namun jika dapat dilakukan didukung secara

rutin dan didukung dengan publikasi yang gencar. Namun pada kenyataannya

kemampuan anggaraan untuk melaksanakan promosi pariwisata ini sangat terbatas,

serta dukungan publikasi yang ada tidak sebesar yang dibutuhkan. Begitu pula

halnya dengan penyebaran brosur. Brosur ini tentu tidak dapat menjangkau

seluruh daerah yang berpotensi untuk mendatangkan wisatawan.

Berbagai masalah di setiap level lingkungan kebijakan yang memiliki

keterhubungan yang erat dengan Kota Kediri dirangkum pada Tabel 5.3.
95

Tabel 5.3
Peta Masalah Lingkungan Kebijakan Pengembangan Pariwisata Kota
Kediri

No Lingkungan Internasional Lingkungan Nasional Lingkungan Lokal


1. Tren meningkatnya pendapatan Kontribusi pariwisata Sistem otonomi
dan pengisian waktu luang untuk terhadap ekonomi nasional daerah mengharuskan
berwisata, sehingga industri cukup besar, menjadi sumber pemerintah
pariwisata kian berperan dalam penghasil devisa nomor 2 mengeluarkan
ekonomi dunia kebijakan
pembangunan yang
inovatif
2. Perkembangan pariwisata yang Banyaknya gangguan, dan Pembangunan
sangat pesat sebagai industri kondisi keamanan tidak ekonomi belum
massal menimbulkan problem- kondusif sehingga arus optimal, anggaran
problem lingkungan, sosial, dan kedatangan wisatawan asing pembangunan masih
budaya, sehingga kini paradigma menunjukkan pertumbuhan tergantung pemerintah
bergeser ke pariwisata negatif pusat
berkelanjutan

3. Kemajuan teknologi informasi Pemerintah berupaya Ada potensi wisata


dan komunikasi (TIK) yang mengembangkan potensi yang belum terkelola,
mengubah pola pengelolaan pasar pariwisata domestik membutuhkan
perjalanan wisatawan yang belum tergarap pemeliharaan
maksimal

5.3 Kebijakan Untuk Pengembangan Pariwisata Lebih Lanjut

Konsekuensi dari semakin eratnya keterkaitan tiga lingkungan tersebut

adalah bahwa pemerintah Kota Kediri harus bekerja dengan kerangka berpikir

yang lebih luas. Pembuat kebijakan dituntut tidak sekadar memiliki pemahaman

terhadap perkembangan yang terjadi pada lingkungan domestik mereka, namun

juga tren perubahan yang sedang terjadi pada lingkungan nasional dan

internasional. Hal ini membuat proses pembuatan kebijakannya pun selayaknya

dilakukan melalui analisis terhadap perkembangan yang terjadi pada ketiga level

lingkungan kebijakan yang melingkupinya. Tujuannya adalah membangun peta

permasalahan yang dapat membantu pemerintah dalam memahami persoalan-


96

persoalan yang dihadapi, beradaptasi dengan perkembangan lingkungannya,

sehingga kebijakan yang dibuat pun akan berdaya guna dan tepat sasaran.

Masalah-masalah di atas selanjutnya menjadi input dalam proses kebijakan

pengembangan pariwisata Kota Kediri. Penjabaran model sistem untuk

menguraikan proses perumusan kebijakan pengembangan pariwisata Kota Kediri

diterangkan pada Gambar 5.1. Berdasarkan model perumusan kebijakan yang

dibangun melalui pendekatan sistem tersebut, pemerintah perlu merumuskan

kembali langkah-langkah perumusan kebijakan pengembangan pariwisatanya agar

sesuai dengan lingkungan yang mengitarinya. Kebijakan tersebut secara garis

besar mencakup pariwisata berkelanjutan, pengembangan pasar domestik, dan

pendayagunaan teknologi informasi sebagai media promosi pariwisata dan budaya.

Berdasarkan kajian penulis, persoalan yang terjadi dalam pengembangan

pariwisata di Kota Kediri adalah lemahnya aspek perencanaan, mulai perencanaan

awal dalam rangka pembangunan fisik hingga perencanaan bisnis. Sejauh ini

dokumen perencanaan yang ada hanyalah sketsa site plan Kawasan Pariwisata

Selomangleng. Padahal objek-objek lain yang berada di luar kawasan juga

merupakan bagian integral yang turut menunjang pengembangan pariwisata. Salah

satu upaya yang perlu dilakukan adalah menyusun peta potensi wisata Kota Kediri.

Dalam tulisan ini penulis menggunakan konsep Inskeep untuk mengenali potensi

wisata yang ada.


97

INPUT
( Lingkungan Eksternal )
Tren
Pariwisata Internasional :
• Pariwisata internasional
terus berkembang pesat
sebagai industri yang dapat
memajukan ekonomi
negara/destinasi
• Paradigma yang
berkembang adalah
pariwisata berkelanjutan
• Kemajuan teknologi OUTPUT
informasi bentuk segmen
wisatawan khusus Kebijakan
Pengembangan
Pariwisata Kota Kediri:
ƒ Pengelolaan potensi
( Lingkungan pariwisata untuk
Intermediate ) mengembangkan
Tren Pariwisata Nasional: pariwisata
• Pariwisata sumber berkelanjutan,
devisa nomor 2
PROSES ƒ Pengembangan
• Pariwisata Indonesia pariwisata
mengalami pertumbuhan menitikberatkan
negatif pada pariwisata
ƒ Pemerintah berupaya domestik
lebih mengembangkan ƒ Pemasaran
pariwisata domestik pariwisata terpadu
berbasis web

( Lingkungan Intim )
Kondisi Pariwisata dan
Ekonomi Lokal:
ƒ Sistem otonomi daerah
mendorong daerah harus
kreatif
ƒ Pembangunan ekonomi
belum optimal, anggaran
pembangunan
tergantung dari
pemerintah pusat
ƒ Ada potensi wisata yang
belum terkelola dengan
baik, butuh pemeliharaan

Umpan Balik

Gambar 5.1
Implementasi Model Sistem Pada Perumusan Kebijakan Pariwisata
Kota Kediri

Melalui implementasi konsep daya tarik wisata menurut Inskeep (1991:77)

dihasilkan pemetaan daya tarik wisata Kota Kediri seperti dijabarkan pada Tabel
98

5.4 yang dapat terus dikembangkan sesuai pengembangan lebih lanjut oleh

instansi terkait.

Tabel 5.4
Implementasi Konsep Inskeep tentang Daya Tarik Wisata di Kota Kediri
Daya Tarik Alam Daya Tarik Daya Tarik Buatan Mode Makanan Khas
Budaya/Sejarah Transportasi
Khas
a. Gunung a. Goa Selomangleng a. Kolam Renang dan Becak a. Nasi Pecel
Maskumbang b. Masjid Agung Taman Hiburan Tumpang
b. Gunung Klotok c. Pura Dewi Selomangleng Kediri
c. Sungai Brantas Sekartaji b. Taman Rekreasi b. Nasi Rawon
d. Makam Mbah Pagora dan Kolam c. Tahu Takwa
Boncolono & Renang Tirtoyoso d. Nasi Liwet
Tumenggung c. Jalan Tembus e. Minuman
Mojoroto Lebak Tumpang- Sari Kelapa
e. Koleksi Museum Selomangleng (Legen)
Airlangga d. Pertandingan Sepak
f. Kesenian Jaranan Bola di Stadion
g. Wayang kulit Brawijaya
h. Festival Budaya e. Mal Sri Ratu &
Hari Jadi Kota Golden
Kediri f. Kawasan pertokoan
i. Pemilihan Panji- Jl.Dhoho
Galuh g. Kawasan penjualan
j. Kompleks Makam tahu takwa Jl. Yos
Setono Gedong Sudarso & Patimura
h. Taman Sekartaji
i. Pabrik Gula PTPN
XI
j. Pabrik Rokok
Gudang Garam
Sumber:Hasil pengamatan penulis

Selanjutnya untuk memudahkan identifikasi yang lebih dalam terhadap

modal kepariwisataan Kota Kediri, penulis membagi objek wisata tersebut ke

dalam dua kelompok, yaitu objek wisata di dalam dan di luar kawasan

Selomangleng. Bila objek yang terdapat di setiap lokasi tersebut dikaitkan dengan

tipe aktivitas wisata yang dapat dilaksanakan, maka dapat disusun pemetaan

seperti terdapat pada Tabel 5.5 dan Tabel 5.6.


99

Tabel 5.5
Objek dan Tipe Aktivitas Wisata di Dalam Kawasan Selomangleng
Tipe Aktivitas Wisata
No Nama Objek Alam Spiritual Olah Sejarah Belanja Keluarga Pendidikan
Raga
1 Goa √ √ √
Selomangleng
2 Koleksi √ √
Museum
Airlangga
3 Pura Dewi √
Sekartaji
4 Gunung Klotok √ √
5 Bukit √
Maskumambang
6 Jalan Tembus √ √
Lebak Tumpang
dan Jalan
Lingkar
Maskumambang
7 Makam Mbah √
Boncolono dan
Tumenggung
Mojoroto
8. Kolam Renang √
dan Taman
Hiburan
Selomangleng

Tabel 5.6
Objek dan Tipe Aktivitas Wisata di Luar Kawasan Selomangleng

Tipe Aktivitas Wisata


No Nama Objek
Alam Spiritual Olah Sejarah Belanja Keluarga Pendidikan
Raga
1 Dermaga dan √ √
Sungai Brantas
2 Kompleks √
Makam Setono
Gedong
3 Mal Sri Ratu √ √
dan Golden
4 Pertokoan Jalan √
Dhoho
5 Kawasan √
Penjualan Tahu
Takwa Jl. Yos
Sudarso dan
Pattimura
6 Taman √ √
Rekreasi
Pagora dan
Kolam Renang
Tirtoyoso
7 Masjid Agung √ √
8 Pertandingan √
100

Sepak Bola di
Stadion
Brawijaya
9 Taman √ √
Sekartaji
10 Pabrik gula √ √
PTPN XI
11 Pabrik Rokok √ √
Gudang Garam
Sumber : Hasil pengamatan penulis

Merujuk pada penjelasan Soekadijo (2000 : 50), maka berdasarkan tabel di

atas maka nampak bahwa Kota Kediri sebenarnya memiliki modal kepariwisataan

yang cukup beragam untuk dikembangkan lebih lanjut. Bila setiap daya tarik

tersebut telah dikelola dengan baik, maka berarti Kota Kediri memiliki banyak

produk-produk pariwisata yang dapat ditawarkan kepada calon wisatawan melalui

biro perjalanan wisata.

Pemetaan terhadap tipe aktivitas kepariwisataan tersebut selanjutnya dapat

dijabarkan dalam model zonasi pariwisata Kota Kediri seperti dijelaskan melalui

Gambar 5.2. Gambar dimaksud memposisikan Goa Selomangleng sebagai objek

inti dan menjadi ikon kepariwisataan Kota Kediri sehingga berada dalam zona inti

aktivitas wisata budaya. Ini berarti bahwa objek ini pula yang idealnya menjadi

fokus pengelolaan pemerintah melalui upaya-upaya pelestarian, penelitian dan

pemanfaatan daya tariknya. Upaya penggalian makna eksistensi kesejarahan goa

ini yang perlu dieksploitasi sebagai daya tarik wisata sejarah dan budaya Kota

Kediri. Hal ini perlu dilakukan mengingat di dalam dan sekitar Goa Selomangleng

terdapat objek-objek berupa relief maupun patung yang memiliki makna sejarah

tinggi, namun sejauh ini belum ada dokumen resmi yang menjelaskan makna dari

setiap objek yang terdapat di dalam maupun di lingkungan sekitar goa tersebut.

Untuk menjaga kelestarian Goa Selomangleng, maka intensitas pengunjung ke


101

dalam goa juga perlu diperhatikan, agar tidak menimbulkan dampak yang

berpotensi merusak keaslian goa.

Aktivitas wisata di objek-objek lainnya yang di dalam kawasan merupakan

tambahan daya tarik untuk menahan wisatawan lebih lama berkunjung di dalam

kawasan yang berada pada zona berikutnya. Objek pada zona ini seperti Museum

Airlangga yang menyimpan benda-benda bersejarah era Hindu merupakan objek

yang masih memiliki keterkaitan erat dengan Goa Selomangleng sebagai objek

inti. Ragam aktivitas pada objek ini berupa wisata sejarah dan budaya, serta

pendidikan seperti telah dipetakan melalui Tabel 5.5, merupakan objek yang

ditujukan bagi wisatawan yang lebih berminat pada jenis aktivitas lainnya seperti

wisata keluarga, alam, dan spiritual.

Selanjutnya keberadaan objek-objek di luar kawasan Selomangleng seperti

telah dijabarkan pada Tabel 5.6 juga dapat dikelola dan dimanfaatkan untuk

menahan wisatawan untuk berkunjung lebih lama di Kota Kediri. Bagi wisatawan

yang berminat dengan aktivitas wisata belanja, aktivitas yang memang identik

selalu ada dalam pariwisata, pemerintah dapat menawarkan kawasan pertokoan

Jalan Dhoho, pertokoan penjual tahu takwa di Jl. Yos Sudarso, serta mal Sri Ratu

dan Golden sebagai pemenuh kebutuhan tersebut. Demikian pula bagi wisatawan

yang memiliki minat terhadap wisata olah raga, khususnya sepak bola, pemerintah

dapat menawarkan pertandingan sepak bola di Stadion Brawijaya sebagai jawaban

atas kebutuhan tersebut. Dalam hal ini tentunya pemerintah perlu berkoordinasi

dengan manajemen Persik Kediri mengenai jadwal dan ketersediaan tiket untuk

menyaksikan pertandingan tersebut. Pola-pola kerja sama antara pemerintah dan


102

kalangan swasta ini sebenarnya telah menjadi bagian dalam program

pengembangan pariwisata, namun nampaknya belum banyak dilakukan.

Pertandingan sepak bola ini misalnya, belum dikelola melalui kerangka

pengelolaan wisata olah raga. Bila sudah, tentunya pihak hotel atau biro wisata

tentunya dapat menawarkan pertandingan sepak bola ini sebagai salah satu produk

pariwisata Kota Kediri kepada wisatawan. Dengan demikian wisatawan yang

sedang berwisata ke Kota Kediri dapat sekaligus memesan tiket pertandingan

melalui pihak hotel/biro perjalanan. Aktivitas lainnya yang merupakan

pengembangan lebih lanjut dikembangkan dengan merujuk pada prinsip-prinsip

pariwisata budaya khas Kota Kediri. Dengan demikian, pengembangan pariwisata

Kota Kediri sesuai dengan potensi yang ada dapat dikelompokkan ke dalam

lapisan-lapisan aktivitas wisata mulai dari zona inti, zona penunjang di dalam

kawasan, dan zona penunjang di luar kawasan. Aktivitas wisata budaya yang

dipadukan dengan wisata sejarah dan spiritual menjadi jiwa dari kepariwisataan

Kota Kediri.

Berdasarkan peta permasalahan yang terbangun tersebut, dalam upaya

pengembangan pariwisata lebih lanjut Pemerintah Kota Kediri perlu melakukan

retrospeksi terhadap kebijakan pengembangan yang telah dilakukan selama ini.

Merujuk pada tujuan pengembangan pariwisata, kebijakan tersebut dibuat dalam

rangka peningkatan perekonomian daerah. Hal ini bermakna bahwa pembuat

kebijakan perlu memperjelas target-target yang ingin dicapai melalui kebijakan

tersebut.
103

Zona Inti

Zona
Penunjang

Zona Penunjang di Luar Kawasan

Gambar 5.2
Zonasi Aktivitas Kepariwisataan Kota Kediri

Kesulitan-kesulitan yang muncul dalam memproyeksikan hasil

pengembangan pariwisata terjadi karena sebelumnya pemerintah kurang

mendapatkan input informasi yang memadai tentang kepariwisataan dalam

lingkup lokal, regional, dan internasional. Hal ini terbukti dengan kenyataan tidak

adanya studi-studi pendahuluan secara menyeluruh tentang perencanaan

pariwisata, sebelum pemerintah memutuskan untuk melakukan pengembangan

pariwisata. Kajian-kajian dan seminar ilmiah yang terkait dengan pengembangan

pariwisata memang pernah dilakukan, namun sifatnya parsial karena hanya


104

membahas fakta-fakta sejarah yang dapat menjadi dasar penetapan hari jadi dan

busana khas Kota Kediri. Penelitian ilmiah yang dilanjutkan hingga tahap seminar

yang pernah dilakukan pada tahun 2002 hanyalah tentang penetapan hari Jadi

Kota Kediri dan busana khas Kediri. Penelitian atau setidaknya survei lainnya

seperti tipe wisatawan yang diharapkan datang ke Kota Kediri belum pernah

dilakukan.

Masalah yang terjadi akibat tidak memadainya survei pendahuluan terjadi

pada proyek pengembangan kawasan wisata Selomangleng. proyek pembangunan

kolam renang dan taman hiburan ini jaraknya sangat berdekatan dengan Goa

Selomangleng, sehingga menimbulkan protes dari Balai Penelitian Peninggalan

Purbakala di Mojokerto. Proyek ini dikhawatirkan akan sangat berpotensi

mengganggu dan merusak struktur fondasi situs bersejarah Goa Selomangleng.

Protes ini bisa dipahami, mengingat keberadaan Goa Selomangleng sebagai situs

bersejarah harus sangat dilindungi pemerintah sesuai dengan UU No 5 tahun 1992

tentang Cagar Budaya. Secara eksplisit, amanat untuk melindungi benda cagar

budaya tersebut disebutkan pada pasal 18 ayat 1 yang menyebutkan bahwa

pengelolaan benda cagar budaya dan situs adalah tanggung jawab pemerintah.

Pengembangan objek-objek wisata buatan di dalam suatu kawasan yang

menyimpan banyak benda bersejarah tentunya harus dilakukan dengan sangat

berhati-hati dan mengembangkan suatu sistem zonasi. Namun di sisi lain,

pemerintah Kota Kediri nampaknya juga menghadapi dilema. Tanpa adanya

pengembangan objek tambahan sebagai penambah daya tarik Goa Selomangleng

sebagai objek inti, maka pengelolaannya objek wisata sejarah, budaya, dan
105

spiritual sulit dilakukan. Padahal selain Goa Selomangleng objek bersejarah

lainnya di dalam kawasan yang harus dilestarikan sangat banyak, tidak seimbang

dengan kemampuan anggaran pemerintah yang sangat minim. Sejak berlakunya

sistem otonomi daerah, pengelolaan benda-benda bersejarah menjadi tidak jelas.

Tanggung jawab pemeliharaan dan perlindungan masih oleh pemerintah pusat,

termasuk anggaran pelestariannya. objek-objek yang secara fisik berada di

wilayah daerah otonom ini akhirnya jarang mendapatkan perhatian dari instansi

terkait. Pemerintah daerah tentu saja tidak bisa melepaskan tanggung jawabnya.

Sayangnya dari sisi anggaran dan SDM, kondisi pemerintah daerah pun tidak

memungkinkan untuk melakukan pelestarian.

Kondisi-kondisi mendesak ini yang nampaknya membuat pemerintah Kota

Kediri mengambil langkah berani untuk mengembangkan kawasan ini dengan

segera. Sekalipun gesekan antara pemerintah Kota Kediri dan pihak Balai

Penelitian Peninggalan Purbakala ini dapat terselesaikan, ini merupakan suatu

pelajaran betapa pentingnya kajian-kajian perencanaan dilakukan sebelum

pemerintah mengambil langkah lebih jauh. Sebagian masalah yang terjadi pada

sejumlah objek dan daya tarik wisata Kota Kediri saat penelitian ini dilakukan

terangkum dalam Tabel 5.7.

Pengembangan pariwisata di Kota Kediri masih berada pada tahap yang

sangat dini, yaitu penyediaan infrastruktur penunjang. Biaya yang dikeluarkan

juga sangat besar, namun berapa target pendapatannya belum dapat diketahui pasti.

Namun secara politis, citra pemerintah dan kota ini menjadi terangkat. Dana yang

dikeluarkan pemerintah untuk pengembangan pariwisata sangat besar, namun


106

belum dapat diketahui dengan jelas, kapan dan berapa banyak pendapatan yang

akan dihasilkan. Namun kondisi objektif menunjukkan bahwa masyarakat

memang membutuhkan fasilitas untuk berwisata, dan sesuatu yang dapat

dibanggakan di daerahnya. Bila pemerintah tidak berani mengambil keputusan

untuk mengembangkan pariwisata, masyarakat akan beranggapan bahwa

pemerintahan saat ini tidak banyak melakukan perubahan-perubahan, sehingga

tidak jauh berbeda dengan pemerintahan-pemerintahan sebelumnya. Kebijakan

berani untuk mengembangkan pariwisata tanpa suatu kajian perencanaan yang

mendalam ini ternyata sangat ampuh mendongkrak citra pemerintah. Hal ini

terbukti dengan terpilihnya kembali HA Maschut sebagai Walikota Kediri periode

2004-2009.

Masalah-masalah lain juga muncul dari sisi lingkungan sosial dan fisik.

Konsep wisata budaya dan spiritual yang sering dipromosikan pemerintah, oleh

sebagian warga telah dibuat menyimpang, akibat sering menggunakan kawasan

ini untuk memadu asmara yang cenderung menjurus ke arah hubungan seksual pra

nikah. Akibatnya citra kawasan ini sebagai objek bagi pecinta alam, berubah

menjadi objek bagi para penggemar “bercinta di alam”. Ini terjadi akibat masih

minimnya fasilitas penerangan di sekitar kawasan, yang dimanfaatkan sejumlah

muda-mudi untuk bermesraan di malam hari. Maraknya aktivitas bermesraan

dalam kegelapan ini akhirnya membuka peluang terjadinya tindak kriminal berupa

pemalakan. Warga masyarakat beberapa kali melaporkan kasus pemalakan oleh

orang-orang tidak bertanggung jawab terhadap pasangan muda-mudi yang tengah


107

berpacaran di suasana keremangan malam. Faktor gangguan keamanan tentu

sangat merugikan upaya pengembangan pariwisata yang sedang dilakukan.

Tabel 5.7
Masalah Pada Objek dan Daya Tarik Wisata Kota Kediri

No Objek Masalah
1. Goa Selomangleng 1. Rendahnya apresiasi pemerintah dan pengunjung terhadap
objek bernilai sejarah tinggi
2. Tidak adanya upaya konservasi terhadap goa sehingga aset
tak ternilai ini terancam rusak akibat ulah tangan jahil yang
melakukan pencoretan dan maupun pembuangan sampah
3. Belum adanya upaya penggalian sejarah keberadaan goa
yang dapat menjadi penambah daya tarik bagi wisatawan
2. Museum Airlangga 1. Rendahnya apresiasi pemerintah dan pengunjung terhadap
objek bernilai sejarah tinggi. Koleksi museum hanya
dipahami sebagai kumpulan patung, belum ada apresiasi
terhadap nilai sejarahnya
2. Tidak adanya informasi lengkap tentang latar belakang
kesejarahan koleksi-koleksi museum
3. Kurangnya perawatan sehingga museum terkesan kumuh dan
tidak terawat
3. Gunung Klotok dan 1. Masih kurangnya upaya-upaya penghijauan secara
Maskumambang berkelanjutan, sehingga fungsi objek sebagai wisata alam
sekaligus konservasi belum optimal
2. Belum adanya upaya perlindungan hutan sehingga masih ada
praktek perladangan yang seringkali menyebabkan
kebakaran
4. Kolam Renang dan 1. Belum adanya kejelasan status pengelolaan, oleh pemerintah
Taman Hiburan atau swasta
Selomangleng 2. Lokasi yang terlalu dekat dengan goa sehingga
dikhawatirkan dapat mengganggu struktur fondasi goa.
5. Kolam Renang 1. Kurangnya pemeliharaan, sehingga kurang nyaman dan
Pagora bersih bagi pengunjung

Sumber: Hasil pengamatan penulis

Masalah kebersihan juga muncul sebagai dampak aktivitas ekonomi yang

belum terkelola baik di dalam kawasan. Pedagang keliling banyak bermunculan

setiap hari libur untuk mengais rejeki. Sayangnya, mereka menjajakan dagangan

di sembarang tempat. Mulai dari tangga menuju goa, bahkan hingga di pelataran

goa, seperti gambar pada Lampiran 23. Akibatnya jelas, sampah menjadi

berserakan mengotori lingkungan sekitar kawasan yang seharusnya selalu terjaga


108

kebersihan dan keasriannya karena menjadi objek wisata. Sebuah papan

pengumuman yang mewajibkan pengunjung menjaga kelestarian lingkungan di

Goa Selomangleng dan lingkungan sekitarnya sebenarnya sudah terpasang di

dekat lokasi goa. Namun himbauan ini belum diperhatikan oleh pengunjung.

Perkembangan-perkembangan ini akhirnya mengusik ketenangan masyarakat

spiritual, yang sangat menghormati kesucian goa dan lingkungan sekitarnya.

Berdasarkan pengamatan penulis, kondisi tersebut memang menimbulkan

kesemrawutan, sehingga ketika pengunjung sedang ramai, situasi di sekitar goa

menyerupai pasar. Goa, kolam renang, museum, panggung hiburan, dan pura

terletak dalam jarak yang berdekatan. Ketika di panggung hiburan sedang

dilaksanakan hiburan musik dangdut, maka jelas pengunjung Pura Sekartaji juga

akan terganggu. Berbagai objek dengan tipe aktivitas yang berbeda terdapat dalam

jarak yang berdekatan, namun hanya dihubungkan dengan satu akses. Objek

wisata olah raga trekking di daerah pegunungan, Wisata spiritual dan sejarah di

Goa Selomangleng, Makam Mbah Boncolono, dan Pura Dewi Sekartaji, serta

wisata pendidikan di Museum Airlangga. Panggung hiburan yang terletak pada

jarak yang dekat, sekali waktu mementaskan kesenian tradisional jaranan, atau

musik dangdut. Akibatnya pada hari Minggu dan hari libur lain, kebisingan sangat

terasa karena lalu lintas dan mobilitas wisatawan yang cukup padat dari satu objek

ke objek lainnya bercampur dengan aktivitas pedagang yang berjualan di trotoar

dan tepi jalan. Belum adanya konsep pengelolaan kawasan secara terpadu menjadi

akar masalah ketidaknyamanan ini.


109

Problem lain yang kini muncul terkait dengan pembangunan kolam renang

dan taman hiburan adalah belum jelasnya konsep pengelolaan, apakah akan

dikelola oleh Kantor Pariwisata, perusahaan daerah, atau pihak swasta. Sehingga

sangat disayangkan, kolam yang secara fisik sangat megah dan dibangun dengan

biaya yang sangat mahal, namun pengelolaannya tidak dipersiapkan dengan

matang untuk mencapai target pemasukan tertentu.

Pengembangan pariwisata di Kota Kediri telah menghabiskan biaya yang

sangat besar. Bila dijumlahkan, biaya yang telah dikeluarkan pemerintah untuk

pengembangan sektor pariwisata dan telekomunikasi melalui APBD tahun 2000

hingga tahun 2004 telah mencapai sekitar Rp 11,9 milyar lebih. Di luar itu, khusus

untuk pembangunan kolam dan pengadaan sarana penunjangnya telah dihabiskan

dana sebesar Rp 19 milyar. Sayangnya hingga kini belum ada data yang jelas

mengenai besarnya pendapatan pemerintah pada kurun waktu yang sama, sebagai

hasil dari investasi dengan jumlah tersebut. Data yang ada terkait hal ini secara

ringkas sempat terungkap dalam Lampiran II LPJ Akhir Masa Jabatan Walikota

Kediri Tahun 1999-2004. Jumlah pendapatan pemerintah dari sektor ini ternyata

masih sangat rendah bila dibandingkan dengan biaya yang telah dikeluarkan.

Pendapatan asli daerah melalui retribusi seperti yang tertera dalam Tabel 5.8

Tabel 5.8
Realisasi Pendapatan Sektor Pariwisata Tahun 2001-2003

Realisasi Pendapatan
No Uraian Tahun Tahun Tahun Anggaran
Anggaran Anggaran 2003 (s.d. 31
2001 2002 Oktober 2003)
1 Retribusi kios kawasan - Rp 2.238.000 Rp 2.694.000
wisata Goa Selomangleng
2 Retribusi tempat khusus Rp 906.200 Rp 1.023.600 Rp 1.289.500
parkir di Selomangleng
110

3 Retribusi tempat rekreasi Rp 13.670.500 Rp 11.450.100 Rp 11.173.100


dan olah raga
4 Ganti rugi kios di Goa Rp 20.000.000 Rp 16.000.000 Rp 16.500.000
Selomangleng
5 Sewa Radio Jayabaya
Sumber: LPJ Akhir Masa Jabatan Walikota Kediri tahun 1999-2004

Pembangunan infrastruktur penunjang pariwisata tentu memang tidak

dapat segera mendatangkan hasil. Namun idealnya pemerintah juga memiliki

target dan proyeksi, kapan bisa mencapai titik impas dan kapan dapat meraih

profit atas investasi yang telah dilakukan. Keberadaan infrastruktur fisik, seperti

kolam renang yang indah serta jalan tembus memang mampu mengangkat citra

pariwisata yang sedang dikembangkan. Namun yang juga penting harus

diperhitungkan ke depan adalah bagaimana agar investasi yang besar ini dapat

mendatangkan keuntungan bagi masyarakat dan daerah secara umum, bukan

sekadar kepentingan mengejar prestise.

Pariwisata harus dipandang sebagai suatu sistem perkaitan sosial

(Soekadijo, 2000: 25), sehingga ada sejumlah aspek yang perlu dipelajari. Aspek

pertama, yaitu wisatawan. Kajian mendalam terhadap aspek ini ternyata belum

terpenuhi karena memang pemerintah belum pernah melakukan survei tipe

wisatawan yang ingin didatangkan ke Kota Kediri. Saat ini memang sudah ada

wisatawan yang datang, namun umumnya mereka adalah penduduk dari daerah di

sekitar Kota Kediri, sebagian besar adalah penduduk dari daerah tetangga yaitu

Kabupaten Kediri. Bila pemerintah mampu melakukan pengelolaan dengan baik,

di masa depan kawasan ini dapat dikembangkan menjadi pusat wisata pada

lingkup regional di sekitar eks karesidenan Kediri, yang meliputi Kota Kediri,

Kabupaten Kediri, Kabupaten Nganjuk, Kota Tulungagung, Kabupaten


111

Trenggalek, dan Kabupaten Blitar. Selama ini wisatawan yang sudah datang ke

Kawasan Wisata Selomangleng dan objek-objek lain di Kota Kediri sebagian

besar masih merupakan warga lokal atau warga dari wilayah tetangga tersebut.

Untuk pengembangan lebih lanjut, pemerintah juga perlu mengkaji data-data

terkait perkembangan pariwisata internasional dan nasional sebagai target segmen

pasar pengembangan pariwisatanya.

Kedua, yaitu daya tarik. Agar dampak ekonomi pengembangan pariwisata

benar-benar optimal, daya tarik yang ada harus dapat menarik kedatangan

wisatawan dari kota-kota besar, bahkan luar pulau. Daya tarik yang dapat dilihat

dan aktivitas dilakukan adalah situs bersejarah Goa Selomangleng dan benda-

benda bersejarah yang dihimpun di Museum Airlangga. Segmen wisatawan

dengan kegiatan ini adalah wisatawan yang berminat pada wisata

sejarah/pendidikan. Dari sisi sejarah, Kota Kediri sebenarnya juga berpotensi

memasarkan produk wisata nostalgia, utamanya kepada wisatawan Belanda. Ini

mengingat pada masa penjajahan, di Kota Kediri banyak didirikan infrastruktur

penunjang kegiatan mereka. Infrastruktur tersebut misalnya pabrik gula dan

jembatan lama Sungai Brantas yang umumnya berada dalam kondisi yang kurang

terawat.

Di dalam Kawasan Wisata Goa Selomangleng terdapat sejumlah objek dan

daya tarik wisata dengan tipe kegiatan wisata yang berbeda dan berpotensi untuk

dikembangkan lebih lanjut, yaitu :

1. Goa Selomangleng
112

Goa Selomangleng merupakan objek inti yang terdapat di dalam kawasan

ini. Karena di goa ini terdapat peninggalan bersejarah yang khas, yang tidak

ditemukan di daerah lainnya di sekitar Kota Kediri. Namun hingga kini belum ada

pemandu wisata yang memiliki pemahaman tentang sejarah goa, dan makna-

makna relief yang terdapat di dalamnya. Akibatnya pengunjung memaknai goa

tidak lebih dari goa yang berisi pahatan, tidak lebih dari itu. Tidak adanya cerita

tentang goa ini membuatnya belum memiliki daya jual sebagai objek wisata.

Untuk itulah Kantor Pariwisata perlu menggali sumber-sumber pustaka yang

dapat memberikan penjelasan tentang serba-serbi goa ini. Keberadaan Goa

Selomangleng dan ratusan patung bersejarah lainnya yang terdapat di Museum

Airlangga sebenarnya dapat menjadi potensi tersendiri untuk menarik kedatangan

wisatawan asing dari segmen khusus. Wisatawan yang tertarik pada objek-objek

bersejarah seperti ini umumnya berasal dari kalangan berpendidikan yang sangat

menghargai kebudayaan dan produk-produk budaya negara yang dikunjungi.

Objek ini selayaknya diposisikan sebagai objek inti, menjadi ikon kepariwisataan

Kota Kediri. Untuk itu pemerintah perlu melakukan upaya-upaya penggalian

sejarah keberadaan goa, makna dan hakekat goa tersebut. Keberadaan

dokumentasi kesejarahan goa inilah yang dapat menjadi daya tarik dan

meningkatkan apresiasi pengunjung terhadap Goa Selomangleng. Sejauh ini

pemerintah hanya menjual daya tarik goa secara “fisik”, tanpa adanya sejarah

yang menjadi “jiwa” goa tersebut.

2. Museum Airlangga
113

Tema objek wisata museum ini masih merupakan kelanjutan dari Goa

Selomangleng, yaitu tentang peninggalan-peninggalan bersejarah. Problemnya

juga sama, harus ada pemandu yang mampu memberikan penjelasan tentang

peninggalan-peninggalan tersebut. Tanpa disertai penjelasan, wisatawan tidak

akan memiliki apresiasi yang lebih mendalam. Mereka hanya akan melihat koleksi

benda bersejarah tersebut tidak lebih dari kumpulan batu-batu yang diukir.Untuk

mengelola museum sebagai daya tarik wisata memang dibutuhkan ketrampilan

dan kerja keras tersendiri. Museum-museum yang terdapat di negara-negara maju

umumnya terawat dengan baik, dan menjadi kebutuhan masyarakat maupun

wisatawan. Kondisi ini sangat jauh berbeda dengan kondisi museum di tanah air

yang umumnya terbengkalai, sekalipun menyimpan koleksi-koleksi yang sangat

berharga. Masalah ini nampaknya menjadi masalah yang rumit dan sistemik di

Indonesia. Umumnya, keterbatasan dana yang selalu menjadi alasan

ditelantarkannya benda-benda bersejarah ini.

Hingga kini Indonesia belum meratifikasi Konvensi Internasional

UNESCO tahun 1972 tentang perlindungan aset budaya atau benda peninggalan

sejarah. Tentu saja kondisi ini sangat ironis, mengingat Indonesia merupakan

negara yang memiliki aset budaya terbesar di dunia. Padahal bila pemerintah

Indonesia meratifikasi konvensi itu, Indonesia dapat mengajukan bantuan dana

internasional untuk pemeliharaan warisan-warisan budaya (Media Indonesia, 25

September 2005, hlm. 1).

3. Pura Agung Dewi Sekartaji


114

Pura ini merupakan tempat persembahyangan umat Hindu di Kota Kediri

dan sekitarnya. Namun pura ini tidak hanya dapat berfungsi sebagai tempat

persembahyangan, melainkan juga objek wisata spiritual. Di kalangan umat hindu

di Bali kini tengah berkembang kebiasaan untuk melaksanakan tirta yatra, yaitu

perjalanan suci untuk melaksanakan persembahyangan. Tempat-tempat yang

dituju oleh umat Hindu di Bali tidak hanya pura-pura di Bali, melainkan juga di

luar daerah, termasuk di Jawa Timur. Pura-pura di Jawa Timur yang telah umum

menjadi objek wisata spiritual umat Hindu misalnya Pura Blambangan dan Alas

Purwo di Banyuwangi, Pura Mandara Giri di Lumajang, dan Pura Semeru di kaki

Gunung Semeru. Bila Pura Dewi Sekartaji telah dikenal luas, para pelaku wisata

spiritual ini akan menjadikannya sebagai salah satu objek yang perlu dikunjungi.

Pura-pura di luar Bali yang telah dikenal luas dan menjadi tujuan tirta yatra tentu

akan memunculkan dampak ekonomi lokal. Berdasarkan informasi dari

pemangku pura setempat, beberapa kali umat Hindu dari Bali telah mulai datang

ke pura ini. Uniknya, informasi yang mereka dapatkan tidak diperoleh melalui

publikasi resmi, melainkan dari wahyu. Selanjutnya informasi tentang keberadaan

pura ini berkembang dari mulut ke mulut. Bila segmen wisata spiritual ini

dikembangkan dengan baik, sebenarnya cukup banyak wisatawan yang bisa

didatangkan, baik dari sekitar Kota Kediri, maupun dari luar pulau, seperti Bali.

Sebagian bagian dari upaya mengembangkan pariwisata spiritual, Pemerintah

Kota Kediri perlu melakukan upaya-upaya untuk lebih mempopulerkan objek ini.

4. Gunung Klotok
115

Gunung selalu menjadi objek yang menarik, termasuk Gunung Klotok.

Kondisi alamnya menunjukkan gunung ini dapat menjadi objek wisata alam,

dengan kegiatan seperti trekking, atau pun pendakian. Masyarakat sebenarnya

telah melakukan aktivitas wisata alam di gunung ini. Yang diperlukan adalah

pembenahan objek ini, seperti reboisasi untuk meningkatkan keasriannya. Selain

itu juga perlu dibuat jalur trekking/pendakian agar wisatawan yang baru datang

pertama kali tidak kesulitan melakukan pendakian.

5. Bukit Maskumambang dan Makam Mbah Boncolono

Bukit Maskumambang yang tidak terlalu tinggi, juga dapat menjadi objek

wisata alam. Selain itu, di puncak bukit ini juga terdapat Makam Mbah Boncolono

dan Tumenggung Mojoroto sehingga wisata spiritual juga dapat dilakukan pada

objek ini. Jalan bertangga yang telah dibangun menuju makam akan semakin

menarik minat masyarakat untuk mengunjungi objek ini.

6. Jalan Tembus Selomangleng-Lebak Tumpang dan Jalan Lingkar


Maskumambang
Keberadaan jalan tembus ini tidak sekadar berfungsi sebagai akses

tambahan bagi wisatawan untuk menuju Kawasan Wisata Selomangleng. Dengan

topografinya yang melintasi perbukitan, jalan ini juga dapat menjadi jalur bagi

olah raga bersepeda atau pun lintas alam. Pemandangan Kota Kediri dari kejauhan

dapat terlihat dari jalan ini, sehingga merupakan daya tarik tersendiri.

7. Kolam Renang dan Taman Rekreasi Selomangleng

Tidak semua orang tertarik dengan wisata sejarah. Ada pula yang ingin

sekadar bersenang-senang. Kolam Renang dan Taman Rekreasi dapat menjadi

daya tarik tambahan di kawasan ini. Ketika penelitian ini dilakukan objek Taman
116

Hiburan belum dibangun. Namun kemegahan kolam renang sudah terlihat, dan

bila taman hiburan ini telah tuntas tentu akan terlihat lebih megah lagi.

Di luar kawasan tersebut juga masih terdapat objek yang dapat menjadi

daya tarik pendukung, seperti Jembatan Lama Sungai Brantas , Dermaga Sungai

Brantas untuk wisata bahari, Makam Mbah Wasil untuk wisata spiritual, Mal Sri

Ratu dan Golden serta kawasan Jalan Dhoho, Yos Sudarso, Pattimura dan Taman

Sekartaji untuk wisata belanja. Objek lainnya, yang sudah ada dari dulu, yaitu

Taman Hiburan Pagora dan Kolam Renang Tirtoyoso juga bisa dikembangkan

menjadi objek wisata keluarga dan olah raga. Keberadaan Stadion Brawijaya dan

klub Sepak Bola Persik sebenarnya juga bisa dikelola menjadi objek wisata olah

raga. Keberadaan pabrik-pabrik industri pengolahan seperti pabrik Gula yang

berada di tiga kecamatan, serta Pabrik Rokok Gudang Garam juga dapat

dikembangkan menjadi objek wisata edukasi/pendidikan. Wisatawannya untuk

objek pabrik ini misalnya para pelajar, untuk memberikan wawasan mengenai

proses pengolahan suatu komoditi mentah hingga menjadi komoditi yang siap

dipasarkan.

Jembatan lama Sungai Brantas merupakan jembatan peninggalan masa

penjajahan Belanda yang hingga saat ini masih digunakan sebagai sarana

transportasi. Daya dukung jembatan ini jelas telah tidak memadai untuk

kebutuhan mobilitas saat ini. Jembatan-jembatan lainnya memang sudah ada,

seperti Jembatan Bandar dan Jembatan Semampir. Namun untuk di wilayah

tengah kota, akses terdekat hanya melalui jembatan lama. Karena itu pemerintah

perlu mempertimbangkan pembangunan jembatan tambahan lainnya untuk


117

menjaga kelestarian jembatan lama sebagai salah satu objek bersejarah. Untuk

mengelola sungai ini sebagai objek wisata, pemerintah juga telah membangun

Dermaga Jayabaya di Sungai Brantas pada tahun 2001. Namun sayangnya fasilitas

yang dibangun untuk menghidupkan aktivitas wisata dan ekonomi seperti

restoran apung dan pusat jual ikan tersebut belum dapat menarik investor

(Kompas, 8 Maret 2002).

Selain itu, yang selama ini nampaknya luput dari perhatian adalah

keberadaan pabrik-pabrik gula di Kediri. Pabrik-pabrik yang dibangun pemerintah

Belanda, dan kini ini menjadi aset pemerintah, dalam hal ini PT Perkebunan

Negara (PTPN) XI. Mungkin saja ada bekas-bekas serdadu Belanda yang

memiliki kenangan tersendiri ketika pernah ditugaskan di kota ini. Sejauh ini

Kantor pariwisata dan Budaya belum memiliki data mengenai wisatawan minat

khusus yang pernah berkunjung ke Kota Kediri.

Aksesibilitas/transferabilitas juga menjadi bagian yang penting dalam

menunjang keberhasilan objek wisata. Sebelum proyek pengembangan Kawasan

Wisata Selomangleng dilaksanakan, hanya terdapat 1 jalur yang menjadi jalan

masuk menuju kawasan wisata Goa Selomangleng, yaitu dari Desa Sukorame,

Kecamatan Mojoroto. Pada tahap awal, masalah aksesibibilitas ini diatasi dengan

memasang lampu penerangan jalan terlebih dahulu di sepanjang jalan menuju

kawasan wisata. Desa yang sebelumnya gelap gulita, kini telah terang-benderang.

Kendaraan umum yang beroperasi pada jalur ini juga sudah ada, namun kondisi

dan ketersediaannya belum teratur.


118

Keberadaan jalan tembus yang baru dari Desa Lebak Tumpang menuju

Selomangleng yang kini telah tuntas 100% dapat menjadi akses alternatif bagi

pengunjung yang akan mengunjungi kawasan wisata ini. Kondisi jalan yang

melalui daerah perbukitan pada perkembanganya kemudian ternyata tidak hanya

sekadar menjadi sarana jalan namun juga menjadi daya tarik tersendiri.

Masyarakat menggunakan jalan tembus ini untuk olah raga bersepeda, jalan santai

atau sekadar melihat-lihat pemandangan untuk menghirup udara yang segar.

Pembangunan infrastruktur penunjang pariwisata di Kawasan

Selomangleng berupa Jalan Tembus Lebak Tumpang Selomangleng dan Kolam

Renang mampu meningkatkan citra kawasan ini sebagai pusat kegiatan wisata di

Kota Kediri. Kawasan ini menjadi kian populer, dan masyarakat semakin

bergairah melaksanakan rekreasi di kawasan ini. Hampir setiap kegiatan yang

melingkupi kota Kediri selalu dilaksanakan pada kawasan ini, seperti sepeda

santai yang mengambil start di balai kota dan berakhir di Selomangleng.

Maraknya aktivitas masyarakat untuk melakukan kegiatan wisata di kawasan ini

bahkan mampu mengundang partisipasi masyarakat dalam pengembangannya.

Ahli waris Mbah Boncolono misalnya, secara swadaya mengeluarkan biaya untuk

membangun jalan bertangga menuju makam yang terletak di puncak Bukit

Maskumambang.

Upaya yang perlu dilakukan selanjutnya adalah mengemas berbagai objek

yang ada menjadi suatu daya tarik wisata, yang dipadukan dengan berbagai atraksi

budaya lainnya. Dengan demikian antara objek-objek yang berada di dalam

Kawasan Selomangleng dan objek lainnya yang berada di Kota Kediri pada
119

dasarnya dapat saling mendukung satu sama lainnya, dan menarik berbagai tipe

wisatawan. Karena itulah kawasan ini sebenarnya menawarkan daya tarik wisata

yang beragam. Mulai dari wisata sejarah, dengan objek berupa Goa Selomangleng

serta barang-barang purbakala yang disimpan di Museum Airlangga. Wisata

spiritual yang ditawarkan misalnya dapat berupa tirta yatra di Pura Dewi Sekartaji

atau berziarah ke Makam Mbah Boncolono. Wisata alam yang ditawarkan

pegunungan dan perbukitan, cocok untuk aktivitas pendakian dan lintas alam,

maupun rekreasi yang ditawarkan oleh kolam renang dan taman hiburan yang

sedang dibangun, maupun yang telah rutin diadakan setiap hari Minggu oleh

pengusaha setempat.

Dampak ekonomi yang muncul karena pengembangan pariwisata di Kota

Kediri telah mulai terlihat. Pedagang mulai bermunculan di sekitar areal Goa

Selomangleng, di sekitar Jalan Lingkar Maskumambang, dan sekitar Jalan

Tembus Lebak Tumpang-Selomangleng. Dengan pengelolaan yang lebih optimal

dan padu, tentu dampak ekonomi pariwisata bagi Kota Kediri akan lebih besar.

Konsekuensi berikutnya dari uraian tersebut terdapat pada pola promosi

yang dilakukan. Sarana-sarana promosi yang dibuat pemerintah, baik berupa iklan,

pencetakan brosur, maupun website, harus pula mengedepankan Goa

Selomangleng beserta sejarahnya sebagai ikon kepariwisataan Kota Kediri.

Objek-objek lainnya menjadi objek pendukung yang juga tak terpisahkan dengan

objek inti. Dengan demikian strategi yang dikembangkan kepada benak

wisatawan adalah membentuk citra Goa Selomangleng merupakan objek wisata


120

yang identik dengan Kota Kediri, atau sebaliknya Kota Kediri merupakan daerah

tujuan wisata identik dengan Goa Selomanglengnya.

Kebijakan mencakup wawasan yang luas, menjangkau jangka waktu yang

panjang, mengandung resiko yang besar dan melibatkan banyak pihak. Karena itu,

dalam penerapan kebijakan diharapkan tidak terjadi kegagalan. Pembuatan

kebijakan idealnya tidak dilakukan dengan cara trial and error (Abidin, 2002: 39).

Demikian pula halnya dengan kebijakan pengembangan pariwisata di Kota Kediri,

idealnya tidak boleh terjadi kegagalan mengingat begitu besarnya tenaga, waktu,

dan biaya yang dikeluarkan.

Untuk pengembangan yang lebih lanjut, pemerintah Kota Kediri perlu

melakukan penataan kembali (restrukturisasi) terhadap kebijakan pengembangan

pariwisata yang telah ditempuh selama ini. Upaya ini dapat diawali dengan

menginventarisasi dan mengidentifikasi kembali potensi-potensi wisata yang ada

di Kota Kediri, yang selanjutnya dituangkan dalam sebuah dokumen resmi. Daftar

inventarisasi inilah yang pada tahap berikutnya menjadi dasar dalam penyusunan

dokumen perencanaan pengembangan pariwisata Kota Kediri. Perencanaan

tersebut akan sangat bermanfaat pada kegiatan tahap berikutnya, yaitu

pengembangan maupun revitalisasi objek dan daya tarik wisata Kota Kediri.

Setelah tahap pengembangan inilah, selanjutnya produk-produk pariwisata Kota

Kediri telah siap untuk dipromosikan dan dipasarkan kepada wisatawan.

Bagaimana strategi dan bentuk pemasaran pariwisata tersebut dipengaruhi oleh

pengembangan yang dilakukan, sehingga citra kepariwisataan yang dipasarkan

dapat sesuai atau tidak jauh berbeda dengan kenyataan yang sebenarnya. Semua
121

tahapan dari awal, yaitu inventarisasi potensi wisata hingga tahap pemasaran

tersebut tentunya perlu merujuk pada perkembangan kepariwisataan di tingkat

lokal, nasional dan internasional untuk mendapatkan kejelasan, segmen wisatawan

mana yang menjadi sasaran pengembangan pariwisata Kota Kediri. Terkait

dengan segmen wisatawan bagi Kota Kediri ini, berdasarkan pengamatan penulis

pemerintah nampaknya dapat lebih memfokuskan perhatian pada wisatawan

wisatawan regional yang datang dari daerah di sekitar Kota Kediri seperti yang

telah berkembang saat penelitian ini dilaksanakan. Selain itu potensi yang ada

juga memungkinkan untuk menarik kedatangan wisatawan dari luar pulau bahkan

mancanegara, melalui wisata budaya yang ada. Hal ini juga seiring dengan

perkembangan kepariwisataan internasional saat ini yang ditandai dengan

meningkatnya apresiasi terhadap benda-benda peninggalan bersejarah.

Selanjutnya bagaimana tahap-tahap restrukturisasi kebijakan

pengembangan pariwisata Kota Kediri dapat dilakukan, telah disusun skemanya

pada Gambar 5.3


Inventarisasi dan Pengembangan Promosi dan
Identifikasi Objek Penyusunan dan Revitalisasi Pemasaran
Daya Tarik Dokumen Objek dan Daya Produk
Wisata serta Tipe Perencanaan Tarik Wisata Pariwisata
Aktivitas Wisata

Lingkungan
Kebijakan Lokal,
Nasional, Dan
Internasional

Gambar 5.3
Restrukturisasi Pengembangan Pariwisata Kota Kediri
124

3. Untuk pengembangan pariwisata lebih lanjut, Pemerintah Kota Kediri

perlu melakukan evaluasi terhadap perkembangan kepariwisataan saat ini,

dan selanjutnya mengeluarkan kebijakan untuk merestrukturisasi pola

pengembangan pariwisata yang merujuk pada perkembangan-

perkembangan kepariwisataan di lingkungan internasional, nasional, dan

lokal. Tahapan restrukturisasi tersebut meliputi:

- Inventarisasi dan identifikasi objek dan daya tarik wisata Kota Kediri

serta tipe aktivitas kepariwisataan yang dapat dilakukan. Untuk

menunjang pariwisata budaya dan spiritual Pemerintah Kota Kediri

juga dapat mengembangkan tipe aktivitas kepariwisataan lainnya

seperti wisata alam, wisata olah raga, wisata belanja, serta wisata

pendidikan.

- Penyusunan dokumen perencanaan pariwisata, khususnya rencana

pengembangan kawasan Selomangleng menjadi suatu kawasan wisata

yang akan menjadi ikon kepariwisataan Kota Kediri

- Pengembangan serta revitalisasi objek dan daya tarik wisata yang ada

sehingga menjadi lebih menarik dan memiliki daya jual yang bersaing

bila dibandingkan dengan objek di daerah lainnya

- Melakukan promosi dan pemasaran produk wisata secara berkelanjutan

untuk mengaktualisasikan daya tarik wisata Kota Kediri. Situs resmi

Pemerintah Kota Kediri yang ada, www.kotakediri.go.id perlu

dioptimalkan pemanfaatannya untuk melakukan promosi pariwisata.

Untuk itu dibutuhkan adanya tim teknis yang secara khusus diberikan
125

tugas dan tanggung jawab untuk menangani promosi pariwisata

melalui media internet. Dalam melaksanakan tugasnya tim ini juga

diarahkan untuk menjalin kerja sama berbagai instansi di dalam

lingkungan pemerintah serta para pengusaha pariwisata, untuk

kepentingan mendukung materi promosi di website, sehingga dapat

menjadi media promosi yang terpadu. Media ini dapat dimanfaatkan

untuk menarik kedatangan wisatawan minat khusus, yang umumnya

merupakan wisatawan mancanegara. Sedangkan untuk menarik

kedatangan wisatawan regional/nusantara, pemasaran pariwisata dapat

dilakukan instansi melalui pembentukan jaringan kerja dengan

kalangan swasta, destinasi wisata di kabupaten/kota sekitar Kota

Kediri, termasuk tentunya pemerintah Provinsi Jawa Timur.

6.2 Saran

Pada penelitian ini penulis hanya melakukan studi secara makro dan

umum terhadap kebijakan pengembangan pariwisata Kota Kediri. Pada penelitian

selanjutnya para peneliti lain kiranya dapat melakukan kajian-kajian terhadap

kebijakan kepariwisataan secara mengkhusus, di antaranya seperti kajian

terhadap dampak ekonomi pengembangan industri pariwisata, upaya Pemerintah

Kota Kediri dalam pengembangan Kawasan Selomangleng menjadi suatu

kawasan wisata, aplikasi teknologi informasi dan komunikasi dalam upaya

promosi pariwisata, serta aspek-aspek lainnya pada level mikro sehingga dapat

dihasilkan kajian yang mendalam.


BAB V

PEMBAHASAN

5.1 Kebijakan Kepariwisataan Kota Kediri

Walikota H.A. Maschut yang melaksanakan pemerintahan sejak tahun

1999 hingga 2004 untuk periode pertama dan 2004 hingga 2009 untuk periode

yang kedua menetapkan Tri Bina Cita Kota sebagai pedoman umum pelaksanaan

pembangunan dan pemerintahan Kota Kediri. Dalam Tri Bina Cita Kota,

disebutkan cita-cita untuk mengembangkan Kota Kediri sebagai kota industri,

perdagangan dan jasa, serta pendidikan. Pengembangan pariwisata termasuk

dalam poin perdagangan dan jasa tersebut.

Sebagai pedoman dalam pelaksanaan pemerintahan dalam jangka waktu

lima tahun, ditetapkan visi dan misi daerah. Visi Kota Kediri adalah ”Membangun

Hari Esok yang Lebih Baik”. Selanjutnya untuk merealisasikan visi tersebut,

dirumuskan Misi Kota Kediri yaitu:

1. Mewujudkan kota yang bersih dan masyarakat yang bertakwa

melalui pendekatan kemanusiaan maupun manajemen yang efektif,

efisien, dan berkelanjutan

2. Mewujudkan kota dan masyarakat yang sehat melalui pengaturan

dan pengelolaan kawasan (industri, perdagangan, jasa, hunian dan

fasilitas umum) serta peningkatan kesejahteraan

3. Mewujudkan kota dan masyarakat yang menarik, aman, dan damai

baik bagi warga kota, dunia usaha maupun daerah sekitarnya

70
71

4. Mewujudkan kota dan masyarakat yang mandiri, indah, dan

inovatif melalui pemberdayaan masyarakat maupun peningkatan

kinerja aparatur pemerintah.

5.1.1 Kebijakan strategis pengembangan pariwisata

Kebijakan strategis yang ditempuh dalam upaya pengembangan pariwisata

sesuai misi dan visi Kota Kediri adalah:

2. Pengembangan Kawasan Wisata Selomangleng, dengan tahapan di

antaranya meliputi:

a. Pembangunan Taman Hiburan dan Kolam Renang di Kawasan

Wisata Selomangleng

b. Pembangunan Jalan Tembus Lebak Tumpang-Selomangleng

3. Rehabilitasi Objek-objek wisata lain

4. Perayaan Hari Jadi Kota Kediri sejak tahun 2002, yang selanjutnya

ditetapkan sebagai acara rutin tahunan, yang diperkuat dengan

Peraturan daerah No 10 tahun 2001

5. Pendirian Kantor Pelayanan Perijinan, untuk mempercepat proses

perijinan sebagai upaya meningkatkan daya tarik investasi Kota

Kediri

6. Peluncuran situs resmi pemerintah Kota Kediri,

www.kotakediri.go.id sebagai media untuk menarik investasi dan

melakukan promosi pariwisata.


72

Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 12 tahun 2000 tentang Struktur

Organisasi dan Tata Kerja Badan dan Kantor sebagai Lembaga Teknis Daerah,

pemerintah Kota Kediri membentuk Dinas Informasi, Komunikasi, dan Pariwisata

(Inkoparta) sebagai institusi yang bertugas merumuskan dan melaksanakan

kebijakan teknis bidang pengembangan komunikasi, informasi, dan

kepariwisataan sesuai dengan kebijakan umum pembangunan Kota Kediri. Pada

perkembangan berikutnya sesuai tuntutan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun

2003 tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah, maka melalui Peraturan

Daerah Nomor 4 tahun 2003 tentang Struktur Organisasi dan Tata Kerja

Lembaga Teknis Daerah, pada tahun 2004 pemerintah melakukan restrukturisasi

organisasi perangkat daerah. Berkenaan dengan fungsi pengembangan pariwisata,

seni, dan budaya, pemerintah membentuk Kantor Pariwisata, Seni, dan Budaya

sebagai lembaga yang berfungsi menyusun perencanaan dan melaksanakan

kebijakan operasional di bidang pemberdayaan potensi pariwisata, seni dan

budaya.

5.1.2 Sasaran dan arah kebijakan pariwisata

Sasaran dan arah kebijakan pengembangan pariwisata Kota Kediri adalah

sebagai berikut:

a. Sasaran

1) Berkembangnya potensi wisata, seni, dan kebudayaan daerah

2) Meningkatnya peran serta masyarakat dalam mendukung

kepariwisataan
73

3) Meningkatnya kajian budaya dan kesenian tradisional

4) Meningkatnya kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap

budaya daerah

b. Arah Kebijakan

1) Tersedia dan terpenuhinya kebutuhan wisata bagi masyarakat Kota

Kediri dan sekitarnya termasuk aktualisasi, pengembangan, dan

pelestarian seni budaya daerah

2) Peningkatan sarana dan prasarana pendukung kepariwisataan

3) Peningkatan partisipasi masyarakat dalam mendukung

kepariwisataan

5.1.3 Rencana strategis pengembangan pariwisata

Strategi pengembangan kepariwisataan dan pelestarian budaya terdapat

pada poin 4 dan poin 6 dalam Rencana Strategis (Renstra) Kota Kediri tahun

2003-2005, seperti terdapat pada Tabel 5.1 Sedangkan komitmen pemerintah

terhadap pengembangan pariwisata selanjutnya diwujudkan melalui dukungan

dari sisi anggaran. Pemerintah mengalokasikan belanja pembangunan sektor

pariwisata yang cukup besar pada APBD dari tahun 2000 hingga 2004. Jumlah

belanja pembangunan untuk pengembangan sektor pariwisata cenderung

meningkat seperti terdapat pada Tabel 5.2.


74

Tabel 5.1
Rencana Strategi Program Peningkatan Pariwisata dan Pelestarian Budaya

Strategi Program Pokok Kegiatan Indikator Kinerja


Pembangunan
Peningkatan 3. Program 1. Peningkatan sarana 1. Terpenuhinya kebutuhan
Kemampuan Peningkatan dan prasarana sarana dan prasarana
Pembiayaan Kepariwisataan pendukung pendukung
Pembangunan kepariwisataan 2. Terpenuhinya kerja sama
2. Peningkatan Kerja dengan pengusaha jasa
sama dengan wisata
pengusaha jasa 3. Berkembangnya potensi
wisata wisata dan kebudayaan
3. Pemberdayaan daerah
potensi objek 4. Meningkatnya jumlah
wisata, seni budaya, pengunjung/
dan kerajinan daerah wisatawan
4. Peningkatan 5. Meningkatnya
promosi dan kemampuan SDM
informasi atraksi kepariwisataan
wisata 6. Meningkatnya peran serta
5. Peningkatan kualitas masyarakat dalam
SDM mendukung
kepariwisataan kepariwisataan
6. Peningkatan
partisipasi
masyarakat dalam
mendukung
kepariwisataan
Memperluas 6. Pelestarian 1. Memperluas 1. Meningkatnya kesadaran
Kesempatan Warisan Budaya penggalian masyarakat terhadap
Memperoleh Lokal peninggalan sejarah budaya daerah
Pendidikan dan budaya lokal 2. Terpeliharanya
Peningkatan Kualitas 2. Meningkatkan peninggalan budaya dan
Produk Pendidikan kajian budaya arkeologi
daerah dan kesenian 3. Meningkatnya kajian
budaya tradisional budaya dan kesenian
Kota Kediri tradisional
3. Meningkatkan 4. Meningkatnya apresiasi
apresiasi sejarah sejarah budaya di
budaya di seluruh seluruh lapisan
lapisan masyarakat masyarakat
dan Porseni
Sumber: Bappeda Kota Kediri, 2002

Tabel 5.2
Realisasi Belanja Pembangunan Sektor Pariwisata dan Telekomunikasi
Daerah Tahun 2000-2004

Tahun Realisasi
2000 Rp 72.500.000
2001 Rp 316.250.000
2002 Rp 2.886.696.250
2003 Rp 9.160.000.000
2004 Rp 2.400.000.000
Sumber: LPJ Akhir Masa Jabatan Walikota Kediri, 1999-2004
75

Anggaran tersebut diarahkan untuk melaksanakan dua upaya penting, yang

pertama adalah pemeliharaan dan pengembangan Kawasan Selomangleng menjadi

sebuah kawasan wisata, melalui pembangunan objek baru seperti kolam renang

dan taman hiburan, serta infrastruktur seperti jalan tembus Lebak Tumpang-

Selomangleng. Pembangunan kolam renang dan taman hiburan ini dilakukan

secara bertahap, dengan anggaran mencapai Rp 19 milyar dan luas area yang

dibutuhkan diperkirakan mencapai 25 hektar. Pembangunan objek baru ini

bertujuan untuk menambah daya tarik serta mengembangkan Kawasan

Selomangleng menjadi sebuah kawasan wisata yang diproyeksikan menjadi ikon

pariwisata Kota Kediri. Pengembangan pada kawasan ini dipandang penting

karena di dalamnya terdapat sejumlah objek dan daya tarik wisata sejarah, budaya,

serta spiritual yang didukung oleh bentangan alam yang indah. Selain rekreasi,

kegiatan-kegiatan yang diperbolehkan dilakukan di dalam Kawasan Wisata

Selomangleng adalah olah raga, pendidikan dan penelitian sejarah, perkemahan,

villa, kios makanan, dan suvenir. Sketsa site plan Kawasan Wisata Selomangleng

terdapat pada Lampiran 3.

Upaya-upaya pengembangan dan pemeliharan objek wisata lain yang

terdapat di luar Kawasan Selomangleng juga dilakukan untuk mendukung

pengembangan pariwisata secara umum. Objek penunjang yang turut dibangun

misalnya dermaga di Sungai Brantas untuk mendukung aktivitas wisata bahari,

yang sekaligus dirancang sebagai taman hiburan serta restoran dengan

pemandangan sungai. Pemerintah Kota Kediri juga melakukan rehabilitasi

terhadap objek bersejarah yang terkait erat dengan sejarah perkembangan Agama
76

Islam di Kota Kediri, seperti Makam Setono Gedong yang merupakan makam

para tokoh penyebar Agama Islam di kota ini, serta Masjid Agung Kota Kediri

yang merupakan masjid tertua.

5.1.4 Promosi pariwisata

Untuk mempromosikan daya tarik wisata Kota Kediri, pemerintah juga

mencetak brosur-brosur wisata serta mengikuti festival dan pagelaran-pagelaran

seni budaya di tingkat regional hingga nasional serta pengiriman tim kesenian

pada perayaan hari jadi daerah lainnya. Salah satunya adalah pengiriman tim

kesenian untuk memeriahkan Hari Jadi Kota Negara, Jembrana, Bali pada 15

Agustus 2003. Namun karena keterbatasan anggaran, pengiriman misi kesenian

tidak dapat dilakukan secara berkelanjutan. Demikian pula dengan brosur pesona

wisata Kota Kediri, jumlah cetakan dan penyebarannya amat terbatas.

Upaya-upaya mempromosikan pariwisata Kota Kediri ini dilakukan secara

terus-menerus, baik secara kelembagaan oleh Kantor Pariwisata dan Kebudayaan

Kota Kediri melalui program-program yang telah diuraikan di atas. Namun di

samping itu pada berbagai acara terkait pariwisata baik yang resmi mapun tidak

resmi, promosi bahkan dilakukan langsung oleh pucuk pemerintahan, yaitu oleh

walikota Kediri, Wakil Walikota, serta jajaran pejabat melalui keterlibatan

langsung pada aktivitas pariwisata. Walikota Kediri misalnya, pernah memberikan

keterangan pers dari kolam renang pada suatu kesempatan arisan pejabat

pemerintah Kota Kediri. Demikian pula Wakil Walikota dan pejabat lainnya yang

turut berpartisipasi pada pementasan wayang orang di Balai Kota Kediri dalam
77

rangka perayaan hari jadi. Bentuk keterlibatan langsung dalam mempromosikan

pariwisata ini juga pernah ditunjukkan saat pucuk pimpinan pemerintahan Kota

Kediri dan jajarannya ini juga terlibat pada pawai budaya saat perayaan hari jadi

Kota Kediri tahun 2002 dan 2003.

Terhadap kebijakan strategis tersebut dapat disampaikan sejumlah evaluasi

sebagai berikut:

1. Pengembangan Kawasan Wisata Selomangleng. Terkait dengan upaya

pengembangan Kawasan Selomangleng menjadi sebuah kawasan

wisata ini pemerintah baru sebatas melakukan upaya berupa

pengembangan objek baru seperti kolam renang dan taman hiburan

serta infrastruktur jalan. Untuk pengembangan lebih lanjut menjadi

sebuah kawasan wisata, idealnya pemerintah melaksanakannya

berdasarkan kajian perencanaan yang matang dan terukur, yang

mencakup sejumlah aspek di antaranya seperti pengembangan zonasi,

tata kelola, standarisasi keamanan dan kenyamanan yang terkait

dengan akses masuk ke dalam kawasan, dan sebagainya. Penataan

ruang di dalam kawasan, sejauh ini belum dilakukan oleh pemerintah.

Ini terlihat dengan bercampurnya lokasi pedagang, parkir kendaraan,

lalu lintas pengunjung, hingga pentas kesenian. Di samping untuk

melindungi objek peninggalan bersejarah dan lingkungan di dalam

kawasan, penataan ruang juga perlu dilakukan untuk menciptakan

kenyamanan dan keamanan bagi pengunjung, terlebih pemerintah

berkeinginan untuk mengembangkan kawasan wisata ini menjadi ikon


78

kepariwisataan Kota Kediri. Pengembangan kawasan ini menjadi

sebuah kawasan wisata dapat dilakukan dengan merujuk pada uraian

Gee (2000 : 274) sebagai berikut:

- Menyusun perencanaan yang di dalamnya mencakup pengaturan

pembangunan fasilitas wisata, di antaranya seperti pembuatan

sistem zonasi yang membatasi akses masuk ke lokasi-lokasi yang

sensitif dan mengurangi tekanan pada lokasi-lokasi yang

digunakan secara intensif, membatasi jumlah pengunjung ke dalam

lokasi tertentu, membatasi pelaksanaan pembangunan untuk

mendorong penggunaan arsitektur tradisional, dan

mengembangkan pola pengelolaan limbah secara terpadu

- Membangun infrastruktur pendukung seperti pusat informasi dan

taman

- Mengembangkan rute yang dapat mempermudah aliran

pengunjung di dalam kawasan serta mendorong pengunjung untuk

mengikuti rute yang disarankan

- Mengembangkan program pengawasan untuk mendapatkan

pengetahuan yang tepat tentang perubahan-perubahan yang terjadi

pada lingkungan dan dalam mengembangkan sumber daya yang

ada secara rasional

2. Rehabilitasi Objek-objek wisata lain. Sejauh ini upaya rehabilitasi

telah dilakukan pada sejumlah objek. Namun upaya rehabilitasi ini

perlu dilakukan secara berkelanjutan sehingga dapat memberikan hasil


79

yang optimal. Rehabilitasi ini juga perlu dibarengi dengan upaya

pengelolaan baik sehingga dana yang dikeluarkan tidak terbuang

percuma akibat rusaknya kembali objek yang telah direhabilitasi. Saat

ini objek-objek inti seperti Goa Selomangleng dan Museum Airlangga

tengah membutuhkan rehabilitasi. Berdasarkan pengamatan penulis,

kondisi kedua objek yang justru menjadi objek inti dalam

pengembangan wisata sejarah ini sangatlah kurang, terlihat dari

kondisi goa yang tidak bersih, adanya coretan di dinding goa, serta

kondisi museum dan koleksi yang tidak terawat dan tertata dengan rapi.

Upaya ini berarti harus dibarengi dengan dukungan anggaran yang

memadai untuk objek bersejarah ini, termasuk objek-objek lainnya.

3. Perayaan Hari Jadi Kota Kediri sejak tahun 2002 sebagai agenda

tahunan. Pelaksanaan hari jadi ini pada dasarnya juga ditujukan

menjadi media menarik kedatangan wisatawan ke Kota Kediri.

Mengingat besarnya biaya yang dibutuhkan untuk melaksanakan

kegiatan ini, pemerintah nampaknya perlu membangun jaringan kerja

dengan kalangan swasta tidak terlalu membebani anggaran daerah. Di

samping itu pemerintah juga perlu menggerakkan partisipasi

masyarakat dalam pelaksanaannya, sehingga budaya dan seni di

tingkat masyarakat turut tergerak dalam acara ini, dan kegiatan yang

dilaksanakan pada acara tahunan ini menjadi kian beragam dan tidak

monoton.
80

4. Pendirian Kantor Pelayanan Perijinan, untuk mempercepat proses

perijinan sebagai upaya meningkatkan daya tarik investasi Kota Kediri.

Semangat yang mendasari pendirian kantor pelayanan perijinan ini

adalah pelayanan secara terpadu dan memangkas jalur birokrasi yang

harus ditempuh. Upaya ini sangat sejalan dengan semangat perubahan

pengelolaan pemerintahan dari yang sangat birokratis menjadi

berorientasi kewirausahaan. Pengembangan pariwisata di Kota akan

semakin didukung oleh keberadaan usaha dan jasa yang terkait dengan

pariwisata seperti pusat perbelanjaan, rumah makan, hotel, biro

perjalanan, money changer, warung telekomunikasi/internet dan usaha

lainnya. Keberadaan Kantor Pelayanan Perijinan sangat strategis dalam

mendukung pengembangan pariwisata sehingga perlu dikelola dengan

serius.

5. Peluncuran situs resmi pemerintah Kota Kediri, www.kotakediri.go.id

sebagai media untuk menarik investasi dan melakukan promosi

pariwisata. Media on line sebagai salah satu wujud implementasi

electronic government (e-gov) ini sempat mati suri setelah pertama kali

diluncurkan pada tahun 2002 melalui pengelolaan oleh Dinas

Informasi, Komunikasi, dan Pariwisata. Namun sejak tahun 2005 situs

resmi pemerintah Kota Kediri ini dihidupkan kembali yang dikelola

oleh Bagian Humas. Sesuai dengan tujuan pembuatannya, yaitu

sebagai media pelayanan informasi, promosi wisata dan peluang

investasi, maka pengelolaan situs tersebut perlu dilakukan secara serius


81

oleh lembaga yang diberikan mandat untuk itu serta didukung SDM

dan infrastruktur yang memadai. Pengelolaannya pun dilakukan

melalui pendekatan pemasaran, artinya keberadaan situs resmi

pemerintah ini benar-benar diarahkan dalam rangka pemasaran

potensi-potensi ekonomi dan promosi objek-objek wisata serta seni

budaya Kota Kediri. Aspek kelembagaan ini perlu dibangun, agar

pengelolaan situs dapat berlangsung secara berkelanjutan.

5.2 Permasalahan yang Dihadapi Pemerintah Kota Kediri

5.2.1 Lingkungan internasional

Dalam penyusunan kebijakan pengembangan pariwisata, pembuat

kebijakan di Kota Kediri perlu menyadari adanya saling keterhubungan yang

sangat erat antara lingkungan kebijakan di tingkat lokal, nasional, dan

internasional yang disebut dengan sistem global. Perkembangan global tersebut

menuntut pembuat kebijakan kepariwisataan di Kota Kediri juga harus

mencermati berbagai perkembangan di lingkungan tersebut, yang akan

memunculkan peluang-peluang sekaligus tantangan dalam upaya pengembangan

pariwisata.

Sistem global mencerminkan adanya suatu interdependensi antara satu unit

sosial politik dan unit lainnya di dunia, yang tidak selalu berada dalam kondisi

yang simetris (Holsti, 1992 : 47). Keterhubungan tersebut disebabkan oleh

liberalisasi ekonomi serta kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang

membuat kompetisi ekonomi semakin ketat dan dunia seolah menjadi tanpa batas,
82

menjadi suatu jaringan kerja yang saling tergantung. Karena itulah berbagai isu

strategis di tingkat internasional seperti perdagangan bebas, keamanan global, Hak

Asasi Manusia (HAM), pelestarian lingkungan, pemberdayaan masyarakat, sistem

informasi, dan sebagainya sangat mempengaruhi formulasi dan konstelasi

kegiatan serta pengembangan kepariwisataan di suatu negara dalam sistem

kepariwisataan dunia (Wacik, 2006 : 1 ).

Kondisi ini menyebabkan berbagai destinasi wisata di Indonesia

dihadapkan pada persaingan global yang sangat terbuka. Hal ini menunjukkan

bahwa upaya Kota Kediri dalam mengembangkan pariwisata tidak hanya akan

menghadapi kompetisi dengan sesama destinasi pariwisata lainnya baik di lingkup

Jawa Timur, Pulau Jawa, serta pulau lainnya. Lebih daripada itu, Kota Kediri juga

akan berkompetisi dengan Singapura, Malaysia, Vietnam, Kamboja, dan berbagai

destinasi lainnya di dunia. Kompetisi akan sangat dirasakan Kota Kediri terutama

bila berkeinginan untuk menarik kedatangan wisatawan asing.

Berbagai perkembangan yang terjadi tersebut menuntut adanya perubahan

pola pikir para pembuat kebijakan. Sebelumnya, kebijakan domestik dianggap

sebagai suatu hal yang sangat terpisah dan tidak terkait dengan kebijakan luar

negeri. Kebijakan domestik dianggap sebagai keputusan-keputusan yang hanya

akan mempengaruhi kondisi di dalam batas-batas negara, sedangkan kebijakan

luar negeri hanya mempengaruhi kondisi di luar batas negara. Kini pandangan

tersebut sudah tidak tepat, karena kebijakan domestik suatu negara sebenarnya

menimbulkan konsekuensi tertentu di negara lain, dan kebijakan luar negeri pun

mempengaruhi kondisi internal negara. Karena itu menurut Stern (2000 : 31)
83

keduanya sudah tidak dapat lagi diperlakukan sebagai entitas yang terpisah. Pola

interdependensi tersebut kini sangat berpengaruh besar dalam proses pembuatan

kebijakan di tingkat domestik sekalipun.

Dalam konteks kepariwisataan, bila merujuk tren tengah yang terjadi di

tingkat internasional, aliran pemikiran dan semangat yang kini mendasari setiap

upaya pengembangan pariwisata adalah pariwisata berkelanjutan. Dalam hal ini,

yang dimaksudkan adalah pengembangan pariwisata yang tidak mengakibatkan

terjadinya kerusakan atau degradasi lingkungan alam dan sosial, serta berorientasi

untuk kepentingan generasi masa depan. Artinya, pengembangan pariwisata yang

dilakukan mencerminkan adanya suatu keseimbangan antara motif-motif untuk

mendapatkan keuntungan ekonomis, pelestarian budaya, dan lingkungan (Müller,

1997 : 29).

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pariwisata yang perlu

dikembangkan di Kota Kediri adalah pariwisata berkualitas, yang penekanannya

tidak semata pada sisi jumlah wisatawan, melainkan kualitas wisatawan yang

datang ke suatu daerah tujuan wisata. Pengertian kualitas tersebut merujuk pada

daya beli dan tingkat apresiasi wisatawan terhadap seni budaya masyarakat lokal

lingkungan, kekayaan flora dan fauna setempat. Salah satu bentuk dari pariwisata

berkelanjutan ini adalah ekowisata.

Penelitian yang dilakukan oleh Eagles dan Higgins (1998), Wearing dan

Neil (1999), serta Weaver (2001) menjelaskan bahwa terdapat 12 negara yang

menjadi sumber wisatawan yang menyukai ekowisata di kawasan Asia Tenggara.

Kedua belas negara ini memberi kontribusi sebesar 27 persen dari seluruh
84

wisatawan yang datang ke daratan Asia Tenggara, dan jumlahnya cenderung terus

bertambah. Di antara kedua belas negara tersebut, Amerika Serikat, Inggris,

Jerman, Australia, and Prancis merupakan negara-negara utama yang menjadi

sumber wisatawan tipe ini yang datang ke Asia Tenggara. Survei lainnya yang

dilakukan oleh WTO menunjukkan bahwa wisatawan tipe ini tertarik dengan

kegiatan mengamati spesies langka, mengunjungi warga lokal, mempelajari

benda-benda peninggalan bersejarah, dan mengamati satwa burung. Selain itu

wisatawan tipe ekowisata juga sangat menyukai tambahan wawasan-wawasan

baru dari pemandu wisata yang berkualitas, serta juga menyukai kegiatan

mengunjungi daerah-daerah terpencil yang tidak ramai.

Dalam industri pariwisata, interdependensi antara ketiga lingkungan ini

sangat nyata. Fenomena yang terjadi pada suatu negara di dunia, akan

berimplikasi pada suatu daerah di negara lain yang telah berkembang menjadi

destinasi pariwisata. Gejolak yang terjadi di negara-negara sumber wisatawan

akan sangat mempengaruhi kepariwisataan di negara tujuan wisatawan.

Liberalisasi ekonomi dunia juga membuat frekuensi perjalanan wisata semakin

tinggi, destinasi dan produk-produk pariwisata menjadi kian beragam dan sangat

kompetitif.

Dari perspektif perkembangan ekonomi dunia, para ahli ekonomi

memproyeksikan adanya perubahan paradigma ekonomi yang akan membuat

industri pariwisata menjadi salah satu industri yang memiliki peran besar dalam

ekonomi global. Industri ini tidak hanya tumbuh dan berkembang di negara-

negara maju, karena negara-negara berkembang pun banyak yang mengandalkan


85

ekonominya dari sektor pariwisata. Pada awal abad ke-21, para ahli ekonomi

mikro yaitu Joseph Pine II dan James H. Gilmore menyebutkan bahwa negara-

negara industri telah mereposisi ekonominya dari brand-based economy (ekonomi

manufaktur berbasiskan produk-produk bermerek) menjadi experience economy

(ekonomi berbasiskan kesan/pengalaman). Experience adalah kegiatan ekonomi

produktif yang menimbulkan efek keterlibatan. Dalam konteks kepariwisataan,

kegiatan seperti diving, fishing, dolphin watching, parasailing, dan sebagainya

masuk dalam kategori ini. Semua aktivitas tersebut merupakan kemasan

pariwisata modern yang menimbulkan pengaruh kenaikan lapangan kerja sebesar

5,3 persen jauh di atas jasa yang hanya tumbuh 2,7% atau manufaktur yang hanya

naik 0,5 persen dalam perekonomian Amerika Serikat antara tahun 1959-1996.

Data tersebut menunjukkan pariwisata telah memiliki peran yang besar dalam

perekonomian (Kasali, 2004).

Tren perkembangan lainnya di tingkat internasional adalah kemajuan

teknologi informasi yang berpengaruh erat dengan pola perilaku calon wisatawan.

Capra (2005: 121) menjelaskan bahwa internet telah menjadi suatu jaringan

komunikasi global yang sangat kuat, dan banyak perusahaan memanfaatkan

internet sebagai media penghubung antara jaringan pembeli dan penyalur.

Kemajuan teknologi informasi tersebut membuat biro perjalanan tidak lagi

menjadi satu-satunya sumber informasi tentang daerah tujuan. Calon wisatawan

dapat mencari secara langsung berbagai informasi tentang objek wisata, fasilitas

akomodasi, dan transportasi yang dibutuhkan untuk mengelola perjalanannya ke


86

suatu destinasi wisata tanpa melalui situs-situs yang memuat informasi pariwisata

di internet.

Menurut Santosa (2002), website telah menjadi saluran ideal dan alat yang

sangat strategis untuk mempromosikan dan memasarkan daerah tujuan wisata

dengan biaya yang sangat murah. Ketika suatu destinasi tidak terpublikasikan

secara on line di internet, sebenarnya destinasi tersebut kehilangan peluang untuk

mendapatkan perhatian jutaan calon wisatawan di berbagai pelosok dunia yang

kini telah memiliki akses terhadap internet. Karena itulah menurutnya kualitas

informasi yang disediakan dalam website juga sangat penting, karena wisatawan

akan mendasarkan keputusannya untuk mengunjungi suatu daerah tujuan wisata

atau obyek wisata pada informasi tersebut. Negara-negara sumber wisatawan yang

masyarakatnya telah memanfaatkan teknologi ini adalah Amerika Serikat, Jerman,

Jepang, dan Inggris.

5.2.2 Lingkungan nasional

Berikutnya, perkembangan kepariwisataan di tingkat nasional ditunjukkan

dengan terjadinya berbagai gangguan keamanan terhadap wisatawan yang sangat

merusak citra pariwisata Indonesia. Keterhubungan antara peristiwa yang terjadi

di tingkat internasional dengan kondisi nasional dan lokal sangat terlihat di sini.

Operasi militer AS dan sekutunya di Afghanistan dan Irak pascatragedi WTC

pada 11 September 2001 ternyata juga memicu timbulnya sentimen anti AS dan

bangsa asing lainnya di Indonesia yang selanjutnya merembet pada aksi-aksi

terorisme di daerah. Peristiwa tersebut seperti ledakan bom di Bali sebanyak dua
87

kali, yaitu pada 12 Oktober 2002 dan 1 Oktober 2005. Kejadian tersebut belum

termasuk berbagai ledakan bom di Jakarta yang seluruhnya menimbulkan dengan

banyak korban jiwa baik warga lokal maupun warga asing. Akibatnya negara-

negara sumber wisatawan mengeluarkan kebijakan mulai tingkat travel advisory

hingga travel ban, yang membuat arus kedatangan wisatawan dari negara-negara

tersebut ke Indonesia mengalami penurunan secara drastis. Target pemerintah

untuk mendatangkan enam juta wisatawan mancanegara pada tahun 2005 tidak

tercapai (Kompas, 5 September 2005).

Ancaman terhadap keamanan wisatawan asing tersebut juga terus berlanjut

dan meluas di berbagai tempat di Pulau Jawa seiring dengan kasus pemuatan

karikatur Nabi Muhammad oleh sebuah harian di Denmark pada bulan Pebruari

2006. Aksi-aksi unjuk rasa tersebut selanjutnya merembet pada aksi perusakan

kantor kedutaan besar Denmark dan AS oleh kelompok tertentu. Bagi pasar

pariwisata di luar negeri, maraknya aksi unjuk rasa bernuansa politik tersebut

merupakan ancaman yang tidak hanya ditujukan pada negara tertentu, namun juga

negara-negara sumber wisatawan lainnya. Posisi Indonesia semakin terpuruk

dalam pasar pariwisata internasional.

Ketika masalah gangguan keamanan tersebut belum mereda, Indonesia

juga dilanda wabah flu burung (avian influenza) yang sejak akhir tahun 2005

hingga Pebruari 2006 ini belum tertuntaskan. Angka kematian akibat flu burung di

Indonesia bahkan tercatat sebagai yang tertinggi dari berbagai kasus flu burung di

seluruh dunia (Bali Post, 20 Pebruari 2006). Kondisi tersebut diperburuk lagi oleh

bencana alam yang terjadi secara bertubi-tubi di Pulau Jawa dan beberapa
88

wilayah lainnya di Indonesia. Citra Indonesia sebagai destinasi wisata

internasional menjadi semakin tidak meyakinkan.

Perkembangan-perkembangan yang kurang menguntungkan tersebut

tentunya menuntut pemerintah untuk segera melakukan upaya-upaya terobosan

untuk pemulihan pariwisata, mengingat industri pariwisata telah menjadi sektor

ekonomi yang strategis dan menjadi sumber devisa nomor dua setelah minyak dan

gas bumi. Kebijakan yang ditempuh pemerintah pusat dalam menghadapi masalah

ini adalah mengembangkan pasar wisatawan nusantara yang selama ini belum

dikelola secara optimal. Pemerintah berupaya menciptakan pertumbuhan rata-rata

perjalanan wisatawan nusantara sebesar 1,4 persen per tahun, dan menargetkan

jumlah pengeluarannya menjadi Rp 105,9 trilyun pada akhir tahun 2009. Jumlah

kunjungan yang ditargetkan dapat tercapai pada tahun tersebut sebesar 218,8 juta

dan perjalanan wisatawan nusantara di setiap provinsi, kabupaten/kota juga

ditargetkan terus meningkat (Wacik, 2006 : 2).

5.2.3 Lingkungan lokal

Di tingkat lokal, implementasi sistem otonomi daerah membuat

keterkaitan antara ketiga lingkungan tersebut bertambah erat. Di satu sisi sistem

akan mendatangkan peluang, namun di sisi lain juga memunculkan hambatan

tersendiri. Peluang ini muncul bila pemerintah daerah dapat memahami otonomi

daerah secara benar, yaitu sebagai momentum untuk mengenali, mengembangkan,

dan memberdayakan potensi-potensi ekonomi lokal secara jauh lebih leluasa tanpa

adanya hambatan yang terlalu banyak oleh lingkungan nasional bila dibandingkan
89

era sebelum otonomi daerah. Pemilik modal asing dapat melakukan penetrasi

langsung ke daerah tanpa terlalu banyak hambatan birokrasi di tingkat

pemerintahan pusat. Demikian pula sebaliknya, dengan kemampuan komparatif

dan kompetitif yang dimiliki, para pengelola pembangunan maupun pebisnis di

daerah dapat menjangkau sumber daya-sumber daya ekonomi di tingkat

internasional untuk disinergikan dengan proses pembangunan di daerah secara

lebih mudah. Karena itulah penyelenggara pemerintahan di pusat dan daerah harus

mulai menggunakan pemasaran strategis (strategic marketing approach) di mana

konsep-konsep pemasaran seperti positioning, diferensiasi, dan branding yang

selama ini hanya dikenal di dalam dunia bisnis harus mulai diadopsi. Kepala

daerah juga harus memiliki gambaran mengenai kondisi terakhir maupun prediksi

3 hingga 5 tahun ke depan tentang kompetitornya, wisatawan-pebisnis-investor

sebagai pelanggan daerah, dan kondisi internal daerah (Kartajaya, 2005).

Kondisi ini menuntut kepala daerah harus tanggap dan dapat merespons

berbagai perubahan besar di tingkat lokal, nasional, dan global yang sangat

berpengaruh terhadap pengelolaan pemerintahan. Merujuk pada berbagai

perkembangan yang terjadi di tingkat internasional dan nasional tersebut, maka

pemerintah Kota Kediri nampaknya perlu melakukan penyesuaian-penyesuaian

terhadap kebijakan pengembangan pariwisata yang telah dilakukan. Bagi

Pemerintah Kota Kediri, sistem ini memberikan peluang sekaligus tantangan

untuk melaksanakan pembangunan daerahnya secara lebih baik.

Dalam pengembangan daya tarik wisata di kawasan Selomangleng

misalnya, pemerintah Kota Kediri perlu merujuk pada pola pariwisata


90

berkelanjutan. Sebagai kota berukuran kecil, yaitu 63,40 km² daya dukung

lingkungan Kota Kediri tentu sangat terbatas. Ini berarti pariwisata yang layaknya

dikembangkan di Kota Kediri bukanlah mass tourism, yang ditandainya dengan

kedatangan wisatawan secara massal, karena akan berimplikasi pada beratnya

tekanan terhadap lingkungan.

Lebih lanjut seiring dengan program pemerintah pusat untuk

mengembangkan pariwisata domestik, pemerintah Kota Kediri pun nampaknya

dapat berupaya untuk menyasar segmen ini. Dalam lingkup regional Kota Kediri

memiliki peluang untuk menarik kedatangan wisatawan dari kabupaten/kota yang

berbatasan langsung dan berdekatan dengan Kota Kediri seperti Kabupaten Kediri,

Blitar, dan Nganjuk, maupun Kabupaten Jombang, Mojokerto, Jombang, Sidoarjo,

Kota Surabaya, dan sebagainya. Hal ini sangat memungkinkan mengingat posisi

Kota Kediri yang berada pada lintasan 7 jalur lintasan primer di Provinsi Jawa

Timur, salah satunya adalah jalur arteri primer Kota Surabaya-Kabupaten

Tulungagung.

Sebuah studi yang dilakukan Yahya (2005), ahli statistik dari ITS,

menunjukkan bahwa pada setiap hari libur warga Kota Surabaya memiliki

kecenderungan untuk berlibur ke luar kota. Ia memperkirakan, pada setiap hari

libur terdapat sekitar 100 hingga 200 ribu kendaraan bergerak ke luar Kota

Surabaya yang mengarah ke Kabupaten Sidoarjo dan daerah-daerah sekitarnya.

Para pelancong ini berangkat pada pagi dan balik pada malam atau sore harinya

(Jawa Pos, 7 Pebruari 2005). Jarak Kota Kediri yang cukup jauh dari Kota

Surabaya sebagai titik distribusi menjadi salah satu persoalan dalam upaya
91

menarik kunjungan wisatawan dari ibu kota Provinsi Jawa Timur tersebut. Jarak

sejauh 125 km, dengan kondisi lalu lintas yang selalu padat, sehingga

membutuhkan waktu tempuh sekitar 2 hingga 2,5 jam menuntut adanya upaya

yang serius untuk meningkatkan daya tarik wisata Kota Kediri, karena harus

bersaing dengan daerah lainnya yang berjarak lebih dekat dengan Kota Surabaya

dan telah lebih memiliki infrastruktur penunjang aktivitas pariwisata yang

memadai seperti Kota Batu, Kabupaten/Kota Malang, dan Kabupaten/Kota

Pasuruan.

Terkait dengan tren pemanfaatan teknologi informasi untuk pemasaran

pariwisata, pemerintah Kota Kediri nampaknya belum melakukan upaya-upaya

terukur dan sistematis untuk memasarkan produk-produk pariwisata Kota Kediri.

Idealnya pemerintah mulai memanfaatkan website resmi pemerintah yang telah

dimiliki, yaitu www.kotakediri.go.id sebagai media untuk mempromosikan dan

memasarkan produk-produk kepariwisataan sekaligus peluang-peluang investasi

di Kota Kediri. Saat penelitian ini dilaksanakan, situs tersebut belum

dimanfaatkan secara optimal untuk memperkenalkan Kota Kediri dan menarik

investor dan wisatawan. Dari segi tampilan website ini kurang menarik serta

belum memuat informasi yang memadai untuk dapat menarik minat pengunjung

situs untuk berwisata maupun untuk berinvestasi ke Kota Kediri. Informasi daya

tarik wisata yang disajikan dalam situs dimaksud sangat terbatas, dan tidak

didukung tampilan foto-foto objek setempat. Padahal foto-foto objek dan daya

tarik yang dimiliki Kota Kediri amatlah banyak, yang sebagian di antaranya

disajikan pada bagian lampiran tulisan ini.


92

Di masa kini peran situs internet untuk mempromosikan daya tarik

pariwisata Kota Kediri menjadi kian strategis, mengingat internet merupakan

merupakan wahana informasi yang dapat menjangkau seluruh pelosok dunia serta

dapat diakses sepanjang waktu yaitu 24 jam sehari, 7 hari seminggu sepanjang

tahun tanpa harus terikat dengan jam kerja. Media ini pun sangat penting menjadi

salah satu basis promosi mengingat pariwisata sendiri merupakan sebuah aktivitas

yang melintasi batas-batas wilayah negara. Informasi yang penting disajikan

melalui media situs web pemerintah Kota Kediri ini misalnya apa dan bagaimana

sejarah Kota Kediri sehingga layak dikunjungi, jenis objek wisata yang

ditawarkan, lokasi dan akses menuju Kota Kediri, fasilitas hotel/restoran dan

pendukung aktivitas wisatawan lainnya, potensi-potensi investasi dan

perdagangan, serta informasi dan foto-foto objek setempat yang menarik. Untuk

menarik minat investor maupun pebisnis dari dalam dan luar negeri maka perlu

juga disampaikan produk-produk khas Kota Kediri, syarat-syarat ijin investasi

serta peraturan-peraturan terkait mulai dari tingkat undang-undang, hingga

peraturan daerah setempat.

Keinginan dan inisiatif untuk memanfaatkan teknologi informasi dalam

upaya mendongkrak arus kedatangan wisatawan juga menjadi keinginan Dinas

Pariwisata Provinsi Jawa Timur. Instansi ini tengah berupaya membangun sebuah

kios interaktif berbasis web yang memuat informasi tentang 120 tempat pariwisata

di Provinsi Jawa Timur. Informasi pada website tersebut direncanakan dapat

diperbarui seminggu sekali ( berdasarkan laporan Jawa Pos, 10 Maret 2005).


93

Namun sayangnya dari penelusuran penulis, hingga tulisan ini dilaporkan kiosk

interactive dimaksud ternyata belum diimplementasikan.

Dari sudut pandang kehumasan, internet juga dapat dimanfaatkan sebagai

media untuk melaksanakan fungsi-fungsi kehumasan dan pemasaran. Perspektif

kehumasan yang berkembang seiring dengan maraknya komunikasi melalui media

internet adalah cyber public relations, atau electronic public relations (e-pr).

Pengertian konsep ini merujuk suatu upaya membangun reputasi dengan

mengkomunikasikan informasi dan mendengarkan permintaan pelanggan melalui

media internet (Onggo, 2004 : xiv) .

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi menuntut para praktisi PR

untuk membangun hubungan dengan publik melalui media internet. Onggo

menyebutkan, ribuan one to one relations dapat dibangun secara simultan lewat

media internet, sehingga media ini merupakan sarana yang ampuh untuk

membangun relasi, karena sifatnya yang konstan, cepat, hemat, dan interaktif.

Strategi e-pr ini dapat dimanfaatkan Bagian Humas untuk mempublikasikan

kegiatan-kegiatan di bidang pemerintahan, pembangunan, dan sosial

kemasyarakatan kepada publik dengan cepat dan efisien. Walau demikian, ini

tidak berarti e-pr dapat menggantikan fungsi-fungsi offline pr, melainkan bersifat

mendukung. Sisi hubungan kemanusiaan masih sangat berperan besar, dan e-pr

selanjutnya berfungsi untuk memperkuatnya. Ini menunjukkan bahwa

implementasi teknologi informasi dan komunikasi memang sudah sangat sesuai

dengan tantangan dan kebutuhan tugas-tugas kehumasan termasuk pemasaran

pariwisata daerah di masa kini.


94

Dalam upaya mempromosikan pariwisata dan budaya, pemerintah melalui

Kantor Pariwisata dan Seni Budaya telah memprogramkan berbagai bentuk

kegiatan promosi pariwisata dan budaya, seperti pelaksanaan festival kesenian

jaranan untuk menghidupkan kreativitas kelompok-kelompok kesenian di Kota

Kota Kediri, maupun dengan mengikuti berbagai festival budaya yang

dilaksanakan di berbagai kota di Jawa Timur hingga Jakarta, serta pengiriman

misi kesenian ke Bali. Pemerintah Kota Kediri bahkan pernah mengirimkan tim

kesenian pada hari ulang tahun Kota Negara, Jembrana, pada Agustus 2002 dan

2003.

Sebagai penunjang promosi pariwisata, pemerintah juga telah mencetak

brosur-brosur tentang kepariwisataan Kota Kediri. Biaya yang telah dikeluarkan

pemerintah untuk berbagai promosi tersebut sangat besar, namun keterbatasan

tetap saja ada. Pengiriman misi kesenian ke luar daerah misalnya, memang akan

dapat mempromosikan Kota Kediri namun jika dapat dilakukan didukung secara

rutin dan didukung dengan publikasi yang gencar. Namun pada kenyataannya

kemampuan anggaraan untuk melaksanakan promosi pariwisata ini sangat terbatas,

serta dukungan publikasi yang ada tidak sebesar yang dibutuhkan. Begitu pula

halnya dengan penyebaran brosur. Brosur ini tentu tidak dapat menjangkau

seluruh daerah yang berpotensi untuk mendatangkan wisatawan.

Berbagai masalah di setiap level lingkungan kebijakan yang memiliki

keterhubungan yang erat dengan Kota Kediri dirangkum pada Tabel 5.3.
95

Tabel 5.3
Peta Masalah Lingkungan Kebijakan Pengembangan Pariwisata Kota
Kediri

No Lingkungan Internasional Lingkungan Nasional Lingkungan Lokal


1. Tren meningkatnya pendapatan Kontribusi pariwisata Sistem otonomi
dan pengisian waktu luang untuk terhadap ekonomi nasional daerah mengharuskan
berwisata, sehingga industri cukup besar, menjadi sumber pemerintah
pariwisata kian berperan dalam penghasil devisa nomor 2 mengeluarkan
ekonomi dunia kebijakan
pembangunan yang
inovatif
2. Perkembangan pariwisata yang Banyaknya gangguan, dan Pembangunan
sangat pesat sebagai industri kondisi keamanan tidak ekonomi belum
massal menimbulkan problem- kondusif sehingga arus optimal, anggaran
problem lingkungan, sosial, dan kedatangan wisatawan asing pembangunan masih
budaya, sehingga kini paradigma menunjukkan pertumbuhan tergantung pemerintah
bergeser ke pariwisata negatif pusat
berkelanjutan

3. Kemajuan teknologi informasi Pemerintah berupaya Ada potensi wisata


dan komunikasi (TIK) yang mengembangkan potensi yang belum terkelola,
mengubah pola pengelolaan pasar pariwisata domestik membutuhkan
perjalanan wisatawan yang belum tergarap pemeliharaan
maksimal

5.3 Kebijakan Untuk Pengembangan Pariwisata Lebih Lanjut

Konsekuensi dari semakin eratnya keterkaitan tiga lingkungan tersebut

adalah bahwa pemerintah Kota Kediri harus bekerja dengan kerangka berpikir

yang lebih luas. Pembuat kebijakan dituntut tidak sekadar memiliki pemahaman

terhadap perkembangan yang terjadi pada lingkungan domestik mereka, namun

juga tren perubahan yang sedang terjadi pada lingkungan nasional dan

internasional. Hal ini membuat proses pembuatan kebijakannya pun selayaknya

dilakukan melalui analisis terhadap perkembangan yang terjadi pada ketiga level

lingkungan kebijakan yang melingkupinya. Tujuannya adalah membangun peta

permasalahan yang dapat membantu pemerintah dalam memahami persoalan-


96

persoalan yang dihadapi, beradaptasi dengan perkembangan lingkungannya,

sehingga kebijakan yang dibuat pun akan berdaya guna dan tepat sasaran.

Masalah-masalah di atas selanjutnya menjadi input dalam proses kebijakan

pengembangan pariwisata Kota Kediri. Penjabaran model sistem untuk

menguraikan proses perumusan kebijakan pengembangan pariwisata Kota Kediri

diterangkan pada Gambar 5.1. Berdasarkan model perumusan kebijakan yang

dibangun melalui pendekatan sistem tersebut, pemerintah perlu merumuskan

kembali langkah-langkah perumusan kebijakan pengembangan pariwisatanya agar

sesuai dengan lingkungan yang mengitarinya. Kebijakan tersebut secara garis

besar mencakup pariwisata berkelanjutan, pengembangan pasar domestik, dan

pendayagunaan teknologi informasi sebagai media promosi pariwisata dan budaya.

Berdasarkan kajian penulis, persoalan yang terjadi dalam pengembangan

pariwisata di Kota Kediri adalah lemahnya aspek perencanaan, mulai perencanaan

awal dalam rangka pembangunan fisik hingga perencanaan bisnis. Sejauh ini

dokumen perencanaan yang ada hanyalah sketsa site plan Kawasan Pariwisata

Selomangleng. Padahal objek-objek lain yang berada di luar kawasan juga

merupakan bagian integral yang turut menunjang pengembangan pariwisata. Salah

satu upaya yang perlu dilakukan adalah menyusun peta potensi wisata Kota Kediri.

Dalam tulisan ini penulis menggunakan konsep Inskeep untuk mengenali potensi

wisata yang ada.


97

INPUT
( Lingkungan Eksternal )
Tren
Pariwisata Internasional :
• Pariwisata internasional
terus berkembang pesat
sebagai industri yang dapat
memajukan ekonomi
negara/destinasi
• Paradigma yang
berkembang adalah
pariwisata berkelanjutan
• Kemajuan teknologi OUTPUT
informasi bentuk segmen
wisatawan khusus Kebijakan
Pengembangan
Pariwisata Kota Kediri:
ƒ Pengelolaan potensi
( Lingkungan pariwisata untuk
Intermediate ) mengembangkan
Tren Pariwisata Nasional: pariwisata
• Pariwisata sumber berkelanjutan,
devisa nomor 2
PROSES ƒ Pengembangan
• Pariwisata Indonesia pariwisata
mengalami pertumbuhan menitikberatkan
negatif pada pariwisata
ƒ Pemerintah berupaya domestik
lebih mengembangkan ƒ Pemasaran
pariwisata domestik pariwisata terpadu
berbasis web

( Lingkungan Intim )
Kondisi Pariwisata dan
Ekonomi Lokal:
ƒ Sistem otonomi daerah
mendorong daerah harus
kreatif
ƒ Pembangunan ekonomi
belum optimal, anggaran
pembangunan
tergantung dari
pemerintah pusat
ƒ Ada potensi wisata yang
belum terkelola dengan
baik, butuh pemeliharaan

Umpan Balik

Gambar 5.1
Implementasi Model Sistem Pada Perumusan Kebijakan Pariwisata
Kota Kediri

Melalui implementasi konsep daya tarik wisata menurut Inskeep (1991:77)

dihasilkan pemetaan daya tarik wisata Kota Kediri seperti dijabarkan pada Tabel
98

5.4 yang dapat terus dikembangkan sesuai pengembangan lebih lanjut oleh

instansi terkait.

Tabel 5.4
Implementasi Konsep Inskeep tentang Daya Tarik Wisata di Kota Kediri
Daya Tarik Alam Daya Tarik Daya Tarik Buatan Mode Makanan Khas
Budaya/Sejarah Transportasi
Khas
a. Gunung a. Goa Selomangleng a. Kolam Renang dan Becak a. Nasi Pecel
Maskumbang b. Masjid Agung Taman Hiburan Tumpang
b. Gunung Klotok c. Pura Dewi Selomangleng Kediri
c. Sungai Brantas Sekartaji b. Taman Rekreasi b. Nasi Rawon
d. Makam Mbah Pagora dan Kolam c. Tahu Takwa
Boncolono & Renang Tirtoyoso d. Nasi Liwet
Tumenggung c. Jalan Tembus e. Minuman
Mojoroto Lebak Tumpang- Sari Kelapa
e. Koleksi Museum Selomangleng (Legen)
Airlangga d. Pertandingan Sepak
f. Kesenian Jaranan Bola di Stadion
g. Wayang kulit Brawijaya
h. Festival Budaya e. Mal Sri Ratu &
Hari Jadi Kota Golden
Kediri f. Kawasan pertokoan
i. Pemilihan Panji- Jl.Dhoho
Galuh g. Kawasan penjualan
j. Kompleks Makam tahu takwa Jl. Yos
Setono Gedong Sudarso & Patimura
h. Taman Sekartaji
i. Pabrik Gula PTPN
XI
j. Pabrik Rokok
Gudang Garam
Sumber:Hasil pengamatan penulis

Selanjutnya untuk memudahkan identifikasi yang lebih dalam terhadap

modal kepariwisataan Kota Kediri, penulis membagi objek wisata tersebut ke

dalam dua kelompok, yaitu objek wisata di dalam dan di luar kawasan

Selomangleng. Bila objek yang terdapat di setiap lokasi tersebut dikaitkan dengan

tipe aktivitas wisata yang dapat dilaksanakan, maka dapat disusun pemetaan

seperti terdapat pada Tabel 5.5 dan Tabel 5.6.


99

Tabel 5.5
Objek dan Tipe Aktivitas Wisata di Dalam Kawasan Selomangleng
Tipe Aktivitas Wisata
No Nama Objek Alam Spiritual Olah Sejarah Belanja Keluarga Pendidikan
Raga
1 Goa √ √ √
Selomangleng
2 Koleksi √ √
Museum
Airlangga
3 Pura Dewi √
Sekartaji
4 Gunung Klotok √ √
5 Bukit √
Maskumambang
6 Jalan Tembus √ √
Lebak Tumpang
dan Jalan
Lingkar
Maskumambang
7 Makam Mbah √
Boncolono dan
Tumenggung
Mojoroto
8. Kolam Renang √
dan Taman
Hiburan
Selomangleng

Tabel 5.6
Objek dan Tipe Aktivitas Wisata di Luar Kawasan Selomangleng

Tipe Aktivitas Wisata


No Nama Objek
Alam Spiritual Olah Sejarah Belanja Keluarga Pendidikan
Raga
1 Dermaga dan √ √
Sungai Brantas
2 Kompleks √
Makam Setono
Gedong
3 Mal Sri Ratu √ √
dan Golden
4 Pertokoan Jalan √
Dhoho
5 Kawasan √
Penjualan Tahu
Takwa Jl. Yos
Sudarso dan
Pattimura
6 Taman √ √
Rekreasi
Pagora dan
Kolam Renang
Tirtoyoso
7 Masjid Agung √ √
8 Pertandingan √
100

Sepak Bola di
Stadion
Brawijaya
9 Taman √ √
Sekartaji
10 Pabrik gula √ √
PTPN XI
11 Pabrik Rokok √ √
Gudang Garam
Sumber : Hasil pengamatan penulis

Merujuk pada penjelasan Soekadijo (2000 : 50), maka berdasarkan tabel di

atas maka nampak bahwa Kota Kediri sebenarnya memiliki modal kepariwisataan

yang cukup beragam untuk dikembangkan lebih lanjut. Bila setiap daya tarik

tersebut telah dikelola dengan baik, maka berarti Kota Kediri memiliki banyak

produk-produk pariwisata yang dapat ditawarkan kepada calon wisatawan melalui

biro perjalanan wisata.

Pemetaan terhadap tipe aktivitas kepariwisataan tersebut selanjutnya dapat

dijabarkan dalam model zonasi pariwisata Kota Kediri seperti dijelaskan melalui

Gambar 5.2. Gambar dimaksud memposisikan Goa Selomangleng sebagai objek

inti dan menjadi ikon kepariwisataan Kota Kediri sehingga berada dalam zona inti

aktivitas wisata budaya. Ini berarti bahwa objek ini pula yang idealnya menjadi

fokus pengelolaan pemerintah melalui upaya-upaya pelestarian, penelitian dan

pemanfaatan daya tariknya. Upaya penggalian makna eksistensi kesejarahan goa

ini yang perlu dieksploitasi sebagai daya tarik wisata sejarah dan budaya Kota

Kediri. Hal ini perlu dilakukan mengingat di dalam dan sekitar Goa Selomangleng

terdapat objek-objek berupa relief maupun patung yang memiliki makna sejarah

tinggi, namun sejauh ini belum ada dokumen resmi yang menjelaskan makna dari

setiap objek yang terdapat di dalam maupun di lingkungan sekitar goa tersebut.

Untuk menjaga kelestarian Goa Selomangleng, maka intensitas pengunjung ke


101

dalam goa juga perlu diperhatikan, agar tidak menimbulkan dampak yang

berpotensi merusak keaslian goa.

Aktivitas wisata di objek-objek lainnya yang di dalam kawasan merupakan

tambahan daya tarik untuk menahan wisatawan lebih lama berkunjung di dalam

kawasan yang berada pada zona berikutnya. Objek pada zona ini seperti Museum

Airlangga yang menyimpan benda-benda bersejarah era Hindu merupakan objek

yang masih memiliki keterkaitan erat dengan Goa Selomangleng sebagai objek

inti. Ragam aktivitas pada objek ini berupa wisata sejarah dan budaya, serta

pendidikan seperti telah dipetakan melalui Tabel 5.5, merupakan objek yang

ditujukan bagi wisatawan yang lebih berminat pada jenis aktivitas lainnya seperti

wisata keluarga, alam, dan spiritual.

Selanjutnya keberadaan objek-objek di luar kawasan Selomangleng seperti

telah dijabarkan pada Tabel 5.6 juga dapat dikelola dan dimanfaatkan untuk

menahan wisatawan untuk berkunjung lebih lama di Kota Kediri. Bagi wisatawan

yang berminat dengan aktivitas wisata belanja, aktivitas yang memang identik

selalu ada dalam pariwisata, pemerintah dapat menawarkan kawasan pertokoan

Jalan Dhoho, pertokoan penjual tahu takwa di Jl. Yos Sudarso, serta mal Sri Ratu

dan Golden sebagai pemenuh kebutuhan tersebut. Demikian pula bagi wisatawan

yang memiliki minat terhadap wisata olah raga, khususnya sepak bola, pemerintah

dapat menawarkan pertandingan sepak bola di Stadion Brawijaya sebagai jawaban

atas kebutuhan tersebut. Dalam hal ini tentunya pemerintah perlu berkoordinasi

dengan manajemen Persik Kediri mengenai jadwal dan ketersediaan tiket untuk

menyaksikan pertandingan tersebut. Pola-pola kerja sama antara pemerintah dan


102

kalangan swasta ini sebenarnya telah menjadi bagian dalam program

pengembangan pariwisata, namun nampaknya belum banyak dilakukan.

Pertandingan sepak bola ini misalnya, belum dikelola melalui kerangka

pengelolaan wisata olah raga. Bila sudah, tentunya pihak hotel atau biro wisata

tentunya dapat menawarkan pertandingan sepak bola ini sebagai salah satu produk

pariwisata Kota Kediri kepada wisatawan. Dengan demikian wisatawan yang

sedang berwisata ke Kota Kediri dapat sekaligus memesan tiket pertandingan

melalui pihak hotel/biro perjalanan. Aktivitas lainnya yang merupakan

pengembangan lebih lanjut dikembangkan dengan merujuk pada prinsip-prinsip

pariwisata budaya khas Kota Kediri. Dengan demikian, pengembangan pariwisata

Kota Kediri sesuai dengan potensi yang ada dapat dikelompokkan ke dalam

lapisan-lapisan aktivitas wisata mulai dari zona inti, zona penunjang di dalam

kawasan, dan zona penunjang di luar kawasan. Aktivitas wisata budaya yang

dipadukan dengan wisata sejarah dan spiritual menjadi jiwa dari kepariwisataan

Kota Kediri.

Berdasarkan peta permasalahan yang terbangun tersebut, dalam upaya

pengembangan pariwisata lebih lanjut Pemerintah Kota Kediri perlu melakukan

retrospeksi terhadap kebijakan pengembangan yang telah dilakukan selama ini.

Merujuk pada tujuan pengembangan pariwisata, kebijakan tersebut dibuat dalam

rangka peningkatan perekonomian daerah. Hal ini bermakna bahwa pembuat

kebijakan perlu memperjelas target-target yang ingin dicapai melalui kebijakan

tersebut.
103

Zona Inti

Zona
Penunjang

Zona Penunjang di Luar Kawasan

Gambar 5.2
Zonasi Aktivitas Kepariwisataan Kota Kediri

Kesulitan-kesulitan yang muncul dalam memproyeksikan hasil

pengembangan pariwisata terjadi karena sebelumnya pemerintah kurang

mendapatkan input informasi yang memadai tentang kepariwisataan dalam

lingkup lokal, regional, dan internasional. Hal ini terbukti dengan kenyataan tidak

adanya studi-studi pendahuluan secara menyeluruh tentang perencanaan

pariwisata, sebelum pemerintah memutuskan untuk melakukan pengembangan

pariwisata. Kajian-kajian dan seminar ilmiah yang terkait dengan pengembangan

pariwisata memang pernah dilakukan, namun sifatnya parsial karena hanya


104

membahas fakta-fakta sejarah yang dapat menjadi dasar penetapan hari jadi dan

busana khas Kota Kediri. Penelitian ilmiah yang dilanjutkan hingga tahap seminar

yang pernah dilakukan pada tahun 2002 hanyalah tentang penetapan hari Jadi

Kota Kediri dan busana khas Kediri. Penelitian atau setidaknya survei lainnya

seperti tipe wisatawan yang diharapkan datang ke Kota Kediri belum pernah

dilakukan.

Masalah yang terjadi akibat tidak memadainya survei pendahuluan terjadi

pada proyek pengembangan kawasan wisata Selomangleng. proyek pembangunan

kolam renang dan taman hiburan ini jaraknya sangat berdekatan dengan Goa

Selomangleng, sehingga menimbulkan protes dari Balai Penelitian Peninggalan

Purbakala di Mojokerto. Proyek ini dikhawatirkan akan sangat berpotensi

mengganggu dan merusak struktur fondasi situs bersejarah Goa Selomangleng.

Protes ini bisa dipahami, mengingat keberadaan Goa Selomangleng sebagai situs

bersejarah harus sangat dilindungi pemerintah sesuai dengan UU No 5 tahun 1992

tentang Cagar Budaya. Secara eksplisit, amanat untuk melindungi benda cagar

budaya tersebut disebutkan pada pasal 18 ayat 1 yang menyebutkan bahwa

pengelolaan benda cagar budaya dan situs adalah tanggung jawab pemerintah.

Pengembangan objek-objek wisata buatan di dalam suatu kawasan yang

menyimpan banyak benda bersejarah tentunya harus dilakukan dengan sangat

berhati-hati dan mengembangkan suatu sistem zonasi. Namun di sisi lain,

pemerintah Kota Kediri nampaknya juga menghadapi dilema. Tanpa adanya

pengembangan objek tambahan sebagai penambah daya tarik Goa Selomangleng

sebagai objek inti, maka pengelolaannya objek wisata sejarah, budaya, dan
105

spiritual sulit dilakukan. Padahal selain Goa Selomangleng objek bersejarah

lainnya di dalam kawasan yang harus dilestarikan sangat banyak, tidak seimbang

dengan kemampuan anggaran pemerintah yang sangat minim. Sejak berlakunya

sistem otonomi daerah, pengelolaan benda-benda bersejarah menjadi tidak jelas.

Tanggung jawab pemeliharaan dan perlindungan masih oleh pemerintah pusat,

termasuk anggaran pelestariannya. objek-objek yang secara fisik berada di

wilayah daerah otonom ini akhirnya jarang mendapatkan perhatian dari instansi

terkait. Pemerintah daerah tentu saja tidak bisa melepaskan tanggung jawabnya.

Sayangnya dari sisi anggaran dan SDM, kondisi pemerintah daerah pun tidak

memungkinkan untuk melakukan pelestarian.

Kondisi-kondisi mendesak ini yang nampaknya membuat pemerintah Kota

Kediri mengambil langkah berani untuk mengembangkan kawasan ini dengan

segera. Sekalipun gesekan antara pemerintah Kota Kediri dan pihak Balai

Penelitian Peninggalan Purbakala ini dapat terselesaikan, ini merupakan suatu

pelajaran betapa pentingnya kajian-kajian perencanaan dilakukan sebelum

pemerintah mengambil langkah lebih jauh. Sebagian masalah yang terjadi pada

sejumlah objek dan daya tarik wisata Kota Kediri saat penelitian ini dilakukan

terangkum dalam Tabel 5.7.

Pengembangan pariwisata di Kota Kediri masih berada pada tahap yang

sangat dini, yaitu penyediaan infrastruktur penunjang. Biaya yang dikeluarkan

juga sangat besar, namun berapa target pendapatannya belum dapat diketahui pasti.

Namun secara politis, citra pemerintah dan kota ini menjadi terangkat. Dana yang

dikeluarkan pemerintah untuk pengembangan pariwisata sangat besar, namun


106

belum dapat diketahui dengan jelas, kapan dan berapa banyak pendapatan yang

akan dihasilkan. Namun kondisi objektif menunjukkan bahwa masyarakat

memang membutuhkan fasilitas untuk berwisata, dan sesuatu yang dapat

dibanggakan di daerahnya. Bila pemerintah tidak berani mengambil keputusan

untuk mengembangkan pariwisata, masyarakat akan beranggapan bahwa

pemerintahan saat ini tidak banyak melakukan perubahan-perubahan, sehingga

tidak jauh berbeda dengan pemerintahan-pemerintahan sebelumnya. Kebijakan

berani untuk mengembangkan pariwisata tanpa suatu kajian perencanaan yang

mendalam ini ternyata sangat ampuh mendongkrak citra pemerintah. Hal ini

terbukti dengan terpilihnya kembali HA Maschut sebagai Walikota Kediri periode

2004-2009.

Masalah-masalah lain juga muncul dari sisi lingkungan sosial dan fisik.

Konsep wisata budaya dan spiritual yang sering dipromosikan pemerintah, oleh

sebagian warga telah dibuat menyimpang, akibat sering menggunakan kawasan

ini untuk memadu asmara yang cenderung menjurus ke arah hubungan seksual pra

nikah. Akibatnya citra kawasan ini sebagai objek bagi pecinta alam, berubah

menjadi objek bagi para penggemar “bercinta di alam”. Ini terjadi akibat masih

minimnya fasilitas penerangan di sekitar kawasan, yang dimanfaatkan sejumlah

muda-mudi untuk bermesraan di malam hari. Maraknya aktivitas bermesraan

dalam kegelapan ini akhirnya membuka peluang terjadinya tindak kriminal berupa

pemalakan. Warga masyarakat beberapa kali melaporkan kasus pemalakan oleh

orang-orang tidak bertanggung jawab terhadap pasangan muda-mudi yang tengah


107

berpacaran di suasana keremangan malam. Faktor gangguan keamanan tentu

sangat merugikan upaya pengembangan pariwisata yang sedang dilakukan.

Tabel 5.7
Masalah Pada Objek dan Daya Tarik Wisata Kota Kediri

No Objek Masalah
1. Goa Selomangleng 1. Rendahnya apresiasi pemerintah dan pengunjung terhadap
objek bernilai sejarah tinggi
2. Tidak adanya upaya konservasi terhadap goa sehingga aset
tak ternilai ini terancam rusak akibat ulah tangan jahil yang
melakukan pencoretan dan maupun pembuangan sampah
3. Belum adanya upaya penggalian sejarah keberadaan goa
yang dapat menjadi penambah daya tarik bagi wisatawan
2. Museum Airlangga 1. Rendahnya apresiasi pemerintah dan pengunjung terhadap
objek bernilai sejarah tinggi. Koleksi museum hanya
dipahami sebagai kumpulan patung, belum ada apresiasi
terhadap nilai sejarahnya
2. Tidak adanya informasi lengkap tentang latar belakang
kesejarahan koleksi-koleksi museum
3. Kurangnya perawatan sehingga museum terkesan kumuh dan
tidak terawat
3. Gunung Klotok dan 1. Masih kurangnya upaya-upaya penghijauan secara
Maskumambang berkelanjutan, sehingga fungsi objek sebagai wisata alam
sekaligus konservasi belum optimal
2. Belum adanya upaya perlindungan hutan sehingga masih ada
praktek perladangan yang seringkali menyebabkan
kebakaran
4. Kolam Renang dan 1. Belum adanya kejelasan status pengelolaan, oleh pemerintah
Taman Hiburan atau swasta
Selomangleng 2. Lokasi yang terlalu dekat dengan goa sehingga
dikhawatirkan dapat mengganggu struktur fondasi goa.
5. Kolam Renang 1. Kurangnya pemeliharaan, sehingga kurang nyaman dan
Pagora bersih bagi pengunjung

Sumber: Hasil pengamatan penulis

Masalah kebersihan juga muncul sebagai dampak aktivitas ekonomi yang

belum terkelola baik di dalam kawasan. Pedagang keliling banyak bermunculan

setiap hari libur untuk mengais rejeki. Sayangnya, mereka menjajakan dagangan

di sembarang tempat. Mulai dari tangga menuju goa, bahkan hingga di pelataran

goa, seperti gambar pada Lampiran 23. Akibatnya jelas, sampah menjadi

berserakan mengotori lingkungan sekitar kawasan yang seharusnya selalu terjaga


108

kebersihan dan keasriannya karena menjadi objek wisata. Sebuah papan

pengumuman yang mewajibkan pengunjung menjaga kelestarian lingkungan di

Goa Selomangleng dan lingkungan sekitarnya sebenarnya sudah terpasang di

dekat lokasi goa. Namun himbauan ini belum diperhatikan oleh pengunjung.

Perkembangan-perkembangan ini akhirnya mengusik ketenangan masyarakat

spiritual, yang sangat menghormati kesucian goa dan lingkungan sekitarnya.

Berdasarkan pengamatan penulis, kondisi tersebut memang menimbulkan

kesemrawutan, sehingga ketika pengunjung sedang ramai, situasi di sekitar goa

menyerupai pasar. Goa, kolam renang, museum, panggung hiburan, dan pura

terletak dalam jarak yang berdekatan. Ketika di panggung hiburan sedang

dilaksanakan hiburan musik dangdut, maka jelas pengunjung Pura Sekartaji juga

akan terganggu. Berbagai objek dengan tipe aktivitas yang berbeda terdapat dalam

jarak yang berdekatan, namun hanya dihubungkan dengan satu akses. Objek

wisata olah raga trekking di daerah pegunungan, Wisata spiritual dan sejarah di

Goa Selomangleng, Makam Mbah Boncolono, dan Pura Dewi Sekartaji, serta

wisata pendidikan di Museum Airlangga. Panggung hiburan yang terletak pada

jarak yang dekat, sekali waktu mementaskan kesenian tradisional jaranan, atau

musik dangdut. Akibatnya pada hari Minggu dan hari libur lain, kebisingan sangat

terasa karena lalu lintas dan mobilitas wisatawan yang cukup padat dari satu objek

ke objek lainnya bercampur dengan aktivitas pedagang yang berjualan di trotoar

dan tepi jalan. Belum adanya konsep pengelolaan kawasan secara terpadu menjadi

akar masalah ketidaknyamanan ini.


109

Problem lain yang kini muncul terkait dengan pembangunan kolam renang

dan taman hiburan adalah belum jelasnya konsep pengelolaan, apakah akan

dikelola oleh Kantor Pariwisata, perusahaan daerah, atau pihak swasta. Sehingga

sangat disayangkan, kolam yang secara fisik sangat megah dan dibangun dengan

biaya yang sangat mahal, namun pengelolaannya tidak dipersiapkan dengan

matang untuk mencapai target pemasukan tertentu.

Pengembangan pariwisata di Kota Kediri telah menghabiskan biaya yang

sangat besar. Bila dijumlahkan, biaya yang telah dikeluarkan pemerintah untuk

pengembangan sektor pariwisata dan telekomunikasi melalui APBD tahun 2000

hingga tahun 2004 telah mencapai sekitar Rp 11,9 milyar lebih. Di luar itu, khusus

untuk pembangunan kolam dan pengadaan sarana penunjangnya telah dihabiskan

dana sebesar Rp 19 milyar. Sayangnya hingga kini belum ada data yang jelas

mengenai besarnya pendapatan pemerintah pada kurun waktu yang sama, sebagai

hasil dari investasi dengan jumlah tersebut. Data yang ada terkait hal ini secara

ringkas sempat terungkap dalam Lampiran II LPJ Akhir Masa Jabatan Walikota

Kediri Tahun 1999-2004. Jumlah pendapatan pemerintah dari sektor ini ternyata

masih sangat rendah bila dibandingkan dengan biaya yang telah dikeluarkan.

Pendapatan asli daerah melalui retribusi seperti yang tertera dalam Tabel 5.8

Tabel 5.8
Realisasi Pendapatan Sektor Pariwisata Tahun 2001-2003

Realisasi Pendapatan
No Uraian Tahun Tahun Tahun Anggaran
Anggaran Anggaran 2003 (s.d. 31
2001 2002 Oktober 2003)
1 Retribusi kios kawasan - Rp 2.238.000 Rp 2.694.000
wisata Goa Selomangleng
2 Retribusi tempat khusus Rp 906.200 Rp 1.023.600 Rp 1.289.500
parkir di Selomangleng
110

3 Retribusi tempat rekreasi Rp 13.670.500 Rp 11.450.100 Rp 11.173.100


dan olah raga
4 Ganti rugi kios di Goa Rp 20.000.000 Rp 16.000.000 Rp 16.500.000
Selomangleng
5 Sewa Radio Jayabaya
Sumber: LPJ Akhir Masa Jabatan Walikota Kediri tahun 1999-2004

Pembangunan infrastruktur penunjang pariwisata tentu memang tidak

dapat segera mendatangkan hasil. Namun idealnya pemerintah juga memiliki

target dan proyeksi, kapan bisa mencapai titik impas dan kapan dapat meraih

profit atas investasi yang telah dilakukan. Keberadaan infrastruktur fisik, seperti

kolam renang yang indah serta jalan tembus memang mampu mengangkat citra

pariwisata yang sedang dikembangkan. Namun yang juga penting harus

diperhitungkan ke depan adalah bagaimana agar investasi yang besar ini dapat

mendatangkan keuntungan bagi masyarakat dan daerah secara umum, bukan

sekadar kepentingan mengejar prestise.

Pariwisata harus dipandang sebagai suatu sistem perkaitan sosial

(Soekadijo, 2000: 25), sehingga ada sejumlah aspek yang perlu dipelajari. Aspek

pertama, yaitu wisatawan. Kajian mendalam terhadap aspek ini ternyata belum

terpenuhi karena memang pemerintah belum pernah melakukan survei tipe

wisatawan yang ingin didatangkan ke Kota Kediri. Saat ini memang sudah ada

wisatawan yang datang, namun umumnya mereka adalah penduduk dari daerah di

sekitar Kota Kediri, sebagian besar adalah penduduk dari daerah tetangga yaitu

Kabupaten Kediri. Bila pemerintah mampu melakukan pengelolaan dengan baik,

di masa depan kawasan ini dapat dikembangkan menjadi pusat wisata pada

lingkup regional di sekitar eks karesidenan Kediri, yang meliputi Kota Kediri,

Kabupaten Kediri, Kabupaten Nganjuk, Kota Tulungagung, Kabupaten


111

Trenggalek, dan Kabupaten Blitar. Selama ini wisatawan yang sudah datang ke

Kawasan Wisata Selomangleng dan objek-objek lain di Kota Kediri sebagian

besar masih merupakan warga lokal atau warga dari wilayah tetangga tersebut.

Untuk pengembangan lebih lanjut, pemerintah juga perlu mengkaji data-data

terkait perkembangan pariwisata internasional dan nasional sebagai target segmen

pasar pengembangan pariwisatanya.

Kedua, yaitu daya tarik. Agar dampak ekonomi pengembangan pariwisata

benar-benar optimal, daya tarik yang ada harus dapat menarik kedatangan

wisatawan dari kota-kota besar, bahkan luar pulau. Daya tarik yang dapat dilihat

dan aktivitas dilakukan adalah situs bersejarah Goa Selomangleng dan benda-

benda bersejarah yang dihimpun di Museum Airlangga. Segmen wisatawan

dengan kegiatan ini adalah wisatawan yang berminat pada wisata

sejarah/pendidikan. Dari sisi sejarah, Kota Kediri sebenarnya juga berpotensi

memasarkan produk wisata nostalgia, utamanya kepada wisatawan Belanda. Ini

mengingat pada masa penjajahan, di Kota Kediri banyak didirikan infrastruktur

penunjang kegiatan mereka. Infrastruktur tersebut misalnya pabrik gula dan

jembatan lama Sungai Brantas yang umumnya berada dalam kondisi yang kurang

terawat.

Di dalam Kawasan Wisata Goa Selomangleng terdapat sejumlah objek dan

daya tarik wisata dengan tipe kegiatan wisata yang berbeda dan berpotensi untuk

dikembangkan lebih lanjut, yaitu :

1. Goa Selomangleng
112

Goa Selomangleng merupakan objek inti yang terdapat di dalam kawasan

ini. Karena di goa ini terdapat peninggalan bersejarah yang khas, yang tidak

ditemukan di daerah lainnya di sekitar Kota Kediri. Namun hingga kini belum ada

pemandu wisata yang memiliki pemahaman tentang sejarah goa, dan makna-

makna relief yang terdapat di dalamnya. Akibatnya pengunjung memaknai goa

tidak lebih dari goa yang berisi pahatan, tidak lebih dari itu. Tidak adanya cerita

tentang goa ini membuatnya belum memiliki daya jual sebagai objek wisata.

Untuk itulah Kantor Pariwisata perlu menggali sumber-sumber pustaka yang

dapat memberikan penjelasan tentang serba-serbi goa ini. Keberadaan Goa

Selomangleng dan ratusan patung bersejarah lainnya yang terdapat di Museum

Airlangga sebenarnya dapat menjadi potensi tersendiri untuk menarik kedatangan

wisatawan asing dari segmen khusus. Wisatawan yang tertarik pada objek-objek

bersejarah seperti ini umumnya berasal dari kalangan berpendidikan yang sangat

menghargai kebudayaan dan produk-produk budaya negara yang dikunjungi.

Objek ini selayaknya diposisikan sebagai objek inti, menjadi ikon kepariwisataan

Kota Kediri. Untuk itu pemerintah perlu melakukan upaya-upaya penggalian

sejarah keberadaan goa, makna dan hakekat goa tersebut. Keberadaan

dokumentasi kesejarahan goa inilah yang dapat menjadi daya tarik dan

meningkatkan apresiasi pengunjung terhadap Goa Selomangleng. Sejauh ini

pemerintah hanya menjual daya tarik goa secara “fisik”, tanpa adanya sejarah

yang menjadi “jiwa” goa tersebut.

2. Museum Airlangga
113

Tema objek wisata museum ini masih merupakan kelanjutan dari Goa

Selomangleng, yaitu tentang peninggalan-peninggalan bersejarah. Problemnya

juga sama, harus ada pemandu yang mampu memberikan penjelasan tentang

peninggalan-peninggalan tersebut. Tanpa disertai penjelasan, wisatawan tidak

akan memiliki apresiasi yang lebih mendalam. Mereka hanya akan melihat koleksi

benda bersejarah tersebut tidak lebih dari kumpulan batu-batu yang diukir.Untuk

mengelola museum sebagai daya tarik wisata memang dibutuhkan ketrampilan

dan kerja keras tersendiri. Museum-museum yang terdapat di negara-negara maju

umumnya terawat dengan baik, dan menjadi kebutuhan masyarakat maupun

wisatawan. Kondisi ini sangat jauh berbeda dengan kondisi museum di tanah air

yang umumnya terbengkalai, sekalipun menyimpan koleksi-koleksi yang sangat

berharga. Masalah ini nampaknya menjadi masalah yang rumit dan sistemik di

Indonesia. Umumnya, keterbatasan dana yang selalu menjadi alasan

ditelantarkannya benda-benda bersejarah ini.

Hingga kini Indonesia belum meratifikasi Konvensi Internasional

UNESCO tahun 1972 tentang perlindungan aset budaya atau benda peninggalan

sejarah. Tentu saja kondisi ini sangat ironis, mengingat Indonesia merupakan

negara yang memiliki aset budaya terbesar di dunia. Padahal bila pemerintah

Indonesia meratifikasi konvensi itu, Indonesia dapat mengajukan bantuan dana

internasional untuk pemeliharaan warisan-warisan budaya (Media Indonesia, 25

September 2005, hlm. 1).

3. Pura Agung Dewi Sekartaji


114

Pura ini merupakan tempat persembahyangan umat Hindu di Kota Kediri

dan sekitarnya. Namun pura ini tidak hanya dapat berfungsi sebagai tempat

persembahyangan, melainkan juga objek wisata spiritual. Di kalangan umat hindu

di Bali kini tengah berkembang kebiasaan untuk melaksanakan tirta yatra, yaitu

perjalanan suci untuk melaksanakan persembahyangan. Tempat-tempat yang

dituju oleh umat Hindu di Bali tidak hanya pura-pura di Bali, melainkan juga di

luar daerah, termasuk di Jawa Timur. Pura-pura di Jawa Timur yang telah umum

menjadi objek wisata spiritual umat Hindu misalnya Pura Blambangan dan Alas

Purwo di Banyuwangi, Pura Mandara Giri di Lumajang, dan Pura Semeru di kaki

Gunung Semeru. Bila Pura Dewi Sekartaji telah dikenal luas, para pelaku wisata

spiritual ini akan menjadikannya sebagai salah satu objek yang perlu dikunjungi.

Pura-pura di luar Bali yang telah dikenal luas dan menjadi tujuan tirta yatra tentu

akan memunculkan dampak ekonomi lokal. Berdasarkan informasi dari

pemangku pura setempat, beberapa kali umat Hindu dari Bali telah mulai datang

ke pura ini. Uniknya, informasi yang mereka dapatkan tidak diperoleh melalui

publikasi resmi, melainkan dari wahyu. Selanjutnya informasi tentang keberadaan

pura ini berkembang dari mulut ke mulut. Bila segmen wisata spiritual ini

dikembangkan dengan baik, sebenarnya cukup banyak wisatawan yang bisa

didatangkan, baik dari sekitar Kota Kediri, maupun dari luar pulau, seperti Bali.

Sebagian bagian dari upaya mengembangkan pariwisata spiritual, Pemerintah

Kota Kediri perlu melakukan upaya-upaya untuk lebih mempopulerkan objek ini.

4. Gunung Klotok
115

Gunung selalu menjadi objek yang menarik, termasuk Gunung Klotok.

Kondisi alamnya menunjukkan gunung ini dapat menjadi objek wisata alam,

dengan kegiatan seperti trekking, atau pun pendakian. Masyarakat sebenarnya

telah melakukan aktivitas wisata alam di gunung ini. Yang diperlukan adalah

pembenahan objek ini, seperti reboisasi untuk meningkatkan keasriannya. Selain

itu juga perlu dibuat jalur trekking/pendakian agar wisatawan yang baru datang

pertama kali tidak kesulitan melakukan pendakian.

5. Bukit Maskumambang dan Makam Mbah Boncolono

Bukit Maskumambang yang tidak terlalu tinggi, juga dapat menjadi objek

wisata alam. Selain itu, di puncak bukit ini juga terdapat Makam Mbah Boncolono

dan Tumenggung Mojoroto sehingga wisata spiritual juga dapat dilakukan pada

objek ini. Jalan bertangga yang telah dibangun menuju makam akan semakin

menarik minat masyarakat untuk mengunjungi objek ini.

6. Jalan Tembus Selomangleng-Lebak Tumpang dan Jalan Lingkar


Maskumambang
Keberadaan jalan tembus ini tidak sekadar berfungsi sebagai akses

tambahan bagi wisatawan untuk menuju Kawasan Wisata Selomangleng. Dengan

topografinya yang melintasi perbukitan, jalan ini juga dapat menjadi jalur bagi

olah raga bersepeda atau pun lintas alam. Pemandangan Kota Kediri dari kejauhan

dapat terlihat dari jalan ini, sehingga merupakan daya tarik tersendiri.

7. Kolam Renang dan Taman Rekreasi Selomangleng

Tidak semua orang tertarik dengan wisata sejarah. Ada pula yang ingin

sekadar bersenang-senang. Kolam Renang dan Taman Rekreasi dapat menjadi

daya tarik tambahan di kawasan ini. Ketika penelitian ini dilakukan objek Taman
116

Hiburan belum dibangun. Namun kemegahan kolam renang sudah terlihat, dan

bila taman hiburan ini telah tuntas tentu akan terlihat lebih megah lagi.

Di luar kawasan tersebut juga masih terdapat objek yang dapat menjadi

daya tarik pendukung, seperti Jembatan Lama Sungai Brantas , Dermaga Sungai

Brantas untuk wisata bahari, Makam Mbah Wasil untuk wisata spiritual, Mal Sri

Ratu dan Golden serta kawasan Jalan Dhoho, Yos Sudarso, Pattimura dan Taman

Sekartaji untuk wisata belanja. Objek lainnya, yang sudah ada dari dulu, yaitu

Taman Hiburan Pagora dan Kolam Renang Tirtoyoso juga bisa dikembangkan

menjadi objek wisata keluarga dan olah raga. Keberadaan Stadion Brawijaya dan

klub Sepak Bola Persik sebenarnya juga bisa dikelola menjadi objek wisata olah

raga. Keberadaan pabrik-pabrik industri pengolahan seperti pabrik Gula yang

berada di tiga kecamatan, serta Pabrik Rokok Gudang Garam juga dapat

dikembangkan menjadi objek wisata edukasi/pendidikan. Wisatawannya untuk

objek pabrik ini misalnya para pelajar, untuk memberikan wawasan mengenai

proses pengolahan suatu komoditi mentah hingga menjadi komoditi yang siap

dipasarkan.

Jembatan lama Sungai Brantas merupakan jembatan peninggalan masa

penjajahan Belanda yang hingga saat ini masih digunakan sebagai sarana

transportasi. Daya dukung jembatan ini jelas telah tidak memadai untuk

kebutuhan mobilitas saat ini. Jembatan-jembatan lainnya memang sudah ada,

seperti Jembatan Bandar dan Jembatan Semampir. Namun untuk di wilayah

tengah kota, akses terdekat hanya melalui jembatan lama. Karena itu pemerintah

perlu mempertimbangkan pembangunan jembatan tambahan lainnya untuk


117

menjaga kelestarian jembatan lama sebagai salah satu objek bersejarah. Untuk

mengelola sungai ini sebagai objek wisata, pemerintah juga telah membangun

Dermaga Jayabaya di Sungai Brantas pada tahun 2001. Namun sayangnya fasilitas

yang dibangun untuk menghidupkan aktivitas wisata dan ekonomi seperti

restoran apung dan pusat jual ikan tersebut belum dapat menarik investor

(Kompas, 8 Maret 2002).

Selain itu, yang selama ini nampaknya luput dari perhatian adalah

keberadaan pabrik-pabrik gula di Kediri. Pabrik-pabrik yang dibangun pemerintah

Belanda, dan kini ini menjadi aset pemerintah, dalam hal ini PT Perkebunan

Negara (PTPN) XI. Mungkin saja ada bekas-bekas serdadu Belanda yang

memiliki kenangan tersendiri ketika pernah ditugaskan di kota ini. Sejauh ini

Kantor pariwisata dan Budaya belum memiliki data mengenai wisatawan minat

khusus yang pernah berkunjung ke Kota Kediri.

Aksesibilitas/transferabilitas juga menjadi bagian yang penting dalam

menunjang keberhasilan objek wisata. Sebelum proyek pengembangan Kawasan

Wisata Selomangleng dilaksanakan, hanya terdapat 1 jalur yang menjadi jalan

masuk menuju kawasan wisata Goa Selomangleng, yaitu dari Desa Sukorame,

Kecamatan Mojoroto. Pada tahap awal, masalah aksesibibilitas ini diatasi dengan

memasang lampu penerangan jalan terlebih dahulu di sepanjang jalan menuju

kawasan wisata. Desa yang sebelumnya gelap gulita, kini telah terang-benderang.

Kendaraan umum yang beroperasi pada jalur ini juga sudah ada, namun kondisi

dan ketersediaannya belum teratur.


118

Keberadaan jalan tembus yang baru dari Desa Lebak Tumpang menuju

Selomangleng yang kini telah tuntas 100% dapat menjadi akses alternatif bagi

pengunjung yang akan mengunjungi kawasan wisata ini. Kondisi jalan yang

melalui daerah perbukitan pada perkembanganya kemudian ternyata tidak hanya

sekadar menjadi sarana jalan namun juga menjadi daya tarik tersendiri.

Masyarakat menggunakan jalan tembus ini untuk olah raga bersepeda, jalan santai

atau sekadar melihat-lihat pemandangan untuk menghirup udara yang segar.

Pembangunan infrastruktur penunjang pariwisata di Kawasan

Selomangleng berupa Jalan Tembus Lebak Tumpang Selomangleng dan Kolam

Renang mampu meningkatkan citra kawasan ini sebagai pusat kegiatan wisata di

Kota Kediri. Kawasan ini menjadi kian populer, dan masyarakat semakin

bergairah melaksanakan rekreasi di kawasan ini. Hampir setiap kegiatan yang

melingkupi kota Kediri selalu dilaksanakan pada kawasan ini, seperti sepeda

santai yang mengambil start di balai kota dan berakhir di Selomangleng.

Maraknya aktivitas masyarakat untuk melakukan kegiatan wisata di kawasan ini

bahkan mampu mengundang partisipasi masyarakat dalam pengembangannya.

Ahli waris Mbah Boncolono misalnya, secara swadaya mengeluarkan biaya untuk

membangun jalan bertangga menuju makam yang terletak di puncak Bukit

Maskumambang.

Upaya yang perlu dilakukan selanjutnya adalah mengemas berbagai objek

yang ada menjadi suatu daya tarik wisata, yang dipadukan dengan berbagai atraksi

budaya lainnya. Dengan demikian antara objek-objek yang berada di dalam

Kawasan Selomangleng dan objek lainnya yang berada di Kota Kediri pada
119

dasarnya dapat saling mendukung satu sama lainnya, dan menarik berbagai tipe

wisatawan. Karena itulah kawasan ini sebenarnya menawarkan daya tarik wisata

yang beragam. Mulai dari wisata sejarah, dengan objek berupa Goa Selomangleng

serta barang-barang purbakala yang disimpan di Museum Airlangga. Wisata

spiritual yang ditawarkan misalnya dapat berupa tirta yatra di Pura Dewi Sekartaji

atau berziarah ke Makam Mbah Boncolono. Wisata alam yang ditawarkan

pegunungan dan perbukitan, cocok untuk aktivitas pendakian dan lintas alam,

maupun rekreasi yang ditawarkan oleh kolam renang dan taman hiburan yang

sedang dibangun, maupun yang telah rutin diadakan setiap hari Minggu oleh

pengusaha setempat.

Dampak ekonomi yang muncul karena pengembangan pariwisata di Kota

Kediri telah mulai terlihat. Pedagang mulai bermunculan di sekitar areal Goa

Selomangleng, di sekitar Jalan Lingkar Maskumambang, dan sekitar Jalan

Tembus Lebak Tumpang-Selomangleng. Dengan pengelolaan yang lebih optimal

dan padu, tentu dampak ekonomi pariwisata bagi Kota Kediri akan lebih besar.

Konsekuensi berikutnya dari uraian tersebut terdapat pada pola promosi

yang dilakukan. Sarana-sarana promosi yang dibuat pemerintah, baik berupa iklan,

pencetakan brosur, maupun website, harus pula mengedepankan Goa

Selomangleng beserta sejarahnya sebagai ikon kepariwisataan Kota Kediri.

Objek-objek lainnya menjadi objek pendukung yang juga tak terpisahkan dengan

objek inti. Dengan demikian strategi yang dikembangkan kepada benak

wisatawan adalah membentuk citra Goa Selomangleng merupakan objek wisata


120

yang identik dengan Kota Kediri, atau sebaliknya Kota Kediri merupakan daerah

tujuan wisata identik dengan Goa Selomanglengnya.

Kebijakan mencakup wawasan yang luas, menjangkau jangka waktu yang

panjang, mengandung resiko yang besar dan melibatkan banyak pihak. Karena itu,

dalam penerapan kebijakan diharapkan tidak terjadi kegagalan. Pembuatan

kebijakan idealnya tidak dilakukan dengan cara trial and error (Abidin, 2002: 39).

Demikian pula halnya dengan kebijakan pengembangan pariwisata di Kota Kediri,

idealnya tidak boleh terjadi kegagalan mengingat begitu besarnya tenaga, waktu,

dan biaya yang dikeluarkan.

Untuk pengembangan yang lebih lanjut, pemerintah Kota Kediri perlu

melakukan penataan kembali (restrukturisasi) terhadap kebijakan pengembangan

pariwisata yang telah ditempuh selama ini. Upaya ini dapat diawali dengan

menginventarisasi dan mengidentifikasi kembali potensi-potensi wisata yang ada

di Kota Kediri, yang selanjutnya dituangkan dalam sebuah dokumen resmi. Daftar

inventarisasi inilah yang pada tahap berikutnya menjadi dasar dalam penyusunan

dokumen perencanaan pengembangan pariwisata Kota Kediri. Perencanaan

tersebut akan sangat bermanfaat pada kegiatan tahap berikutnya, yaitu

pengembangan maupun revitalisasi objek dan daya tarik wisata Kota Kediri.

Setelah tahap pengembangan inilah, selanjutnya produk-produk pariwisata Kota

Kediri telah siap untuk dipromosikan dan dipasarkan kepada wisatawan.

Bagaimana strategi dan bentuk pemasaran pariwisata tersebut dipengaruhi oleh

pengembangan yang dilakukan, sehingga citra kepariwisataan yang dipasarkan

dapat sesuai atau tidak jauh berbeda dengan kenyataan yang sebenarnya. Semua
121

tahapan dari awal, yaitu inventarisasi potensi wisata hingga tahap pemasaran

tersebut tentunya perlu merujuk pada perkembangan kepariwisataan di tingkat

lokal, nasional dan internasional untuk mendapatkan kejelasan, segmen wisatawan

mana yang menjadi sasaran pengembangan pariwisata Kota Kediri. Terkait

dengan segmen wisatawan bagi Kota Kediri ini, berdasarkan pengamatan penulis

pemerintah nampaknya dapat lebih memfokuskan perhatian pada wisatawan

wisatawan regional yang datang dari daerah di sekitar Kota Kediri seperti yang

telah berkembang saat penelitian ini dilaksanakan. Selain itu potensi yang ada

juga memungkinkan untuk menarik kedatangan wisatawan dari luar pulau bahkan

mancanegara, melalui wisata budaya yang ada. Hal ini juga seiring dengan

perkembangan kepariwisataan internasional saat ini yang ditandai dengan

meningkatnya apresiasi terhadap benda-benda peninggalan bersejarah.

Selanjutnya bagaimana tahap-tahap restrukturisasi kebijakan

pengembangan pariwisata Kota Kediri dapat dilakukan, telah disusun skemanya

pada Gambar 5.3


Inventarisasi dan Pengembangan Promosi dan
Identifikasi Objek Penyusunan dan Revitalisasi Pemasaran
Daya Tarik Dokumen Objek dan Daya Produk
Wisata serta Tipe Perencanaan Tarik Wisata Pariwisata
Aktivitas Wisata

Lingkungan
Kebijakan Lokal,
Nasional, Dan
Internasional

Gambar 5.3
Restrukturisasi Pengembangan Pariwisata Kota Kediri
BAB VI

SIMPULAN DAN SARAN

6.1 Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan beberapa hal sebagai

berikut:

1. Kebijakan pengembangan pariwisata Kota Kediri diarahkan kepada

pengembangan pariwisata sejarah dan spiritual. Hal ini terlihat dengan

pengembangan-pengembangan yang dilakukan seperti rehabilitasi Makam

Setono Gedong, Masjid Agung, pelaksanaan berbagai pagelaran kesenian

khas pada perayaan hari jadi Kota Kediri.

2. Dalam upayanya mengembangkan pariwisata, Pemerintah Kota Kediri

dihadapkan pada sejumlah persoalan di tingkat internasional, nasional, dan

lokal yang perlu menjadi bahan pertimbangan. Di tingkat internasional

masalah yang ada adalah implementasi paradigma pariwisata

berkelanjutan dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk

menunjang industri pariwisata. Di tingkat nasional, masalah yang penting

dipertimbangkan adalah menurunnya jumlah kunjungan wisatawan asing

sehingga kepariwisataan nasional tengah diarahkan kepada optimalisasi

pasar wisatawan domestik. Sedangkan permasalahan di tingkat lokal

adalah adanya kebutuhan masyarakat terhadap keberadaan tempat untuk

berwisata serta keberadaan benda-benda bersejarah yang tidak terkelola

dengan baik.

123
124

3. Untuk pengembangan pariwisata lebih lanjut, Pemerintah Kota Kediri

perlu melakukan evaluasi terhadap perkembangan kepariwisataan saat ini,

dan selanjutnya mengeluarkan kebijakan untuk merestrukturisasi pola

pengembangan pariwisata yang merujuk pada perkembangan-

perkembangan kepariwisataan di lingkungan internasional, nasional, dan

lokal. Tahapan restrukturisasi tersebut meliputi:

- Inventarisasi dan identifikasi objek dan daya tarik wisata Kota Kediri

serta tipe aktivitas kepariwisataan yang dapat dilakukan. Untuk

menunjang pariwisata budaya dan spiritual Pemerintah Kota Kediri

juga dapat mengembangkan tipe aktivitas kepariwisataan lainnya

seperti wisata alam, wisata olah raga, wisata belanja, serta wisata

pendidikan.

- Penyusunan dokumen perencanaan pariwisata, khususnya rencana

pengembangan kawasan Selomangleng menjadi suatu kawasan wisata

yang akan menjadi ikon kepariwisataan Kota Kediri

- Pengembangan serta revitalisasi objek dan daya tarik wisata yang ada

sehingga menjadi lebih menarik dan memiliki daya jual yang bersaing

bila dibandingkan dengan objek di daerah lainnya

- Melakukan promosi dan pemasaran produk wisata secara berkelanjutan

untuk mengaktualisasikan daya tarik wisata Kota Kediri. Situs resmi

Pemerintah Kota Kediri yang ada, www.kotakediri.go.id perlu

dioptimalkan pemanfaatannya untuk melakukan promosi pariwisata.

Untuk itu dibutuhkan adanya tim teknis yang secara khusus diberikan
125

tugas dan tanggung jawab untuk menangani promosi pariwisata

melalui media internet. Dalam melaksanakan tugasnya tim ini juga

diarahkan untuk menjalin kerja sama berbagai instansi di dalam

lingkungan pemerintah serta para pengusaha pariwisata, untuk

kepentingan mendukung materi promosi di website, sehingga dapat

menjadi media promosi yang terpadu. Media ini dapat dimanfaatkan

untuk menarik kedatangan wisatawan minat khusus, yang umumnya

merupakan wisatawan mancanegara. Sedangkan untuk menarik

kedatangan wisatawan regional/nusantara, pemasaran pariwisata dapat

dilakukan instansi melalui pembentukan jaringan kerja dengan

kalangan swasta, destinasi wisata di kabupaten/kota sekitar Kota

Kediri, termasuk tentunya pemerintah Provinsi Jawa Timur.

6.2 Saran

Pada penelitian ini penulis hanya melakukan studi secara makro dan

umum terhadap kebijakan pengembangan pariwisata Kota Kediri. Pada penelitian

selanjutnya para peneliti lain kiranya dapat melakukan kajian-kajian terhadap

kebijakan kepariwisataan secara mengkhusus, di antaranya seperti kajian

terhadap dampak ekonomi pengembangan industri pariwisata, upaya Pemerintah

Kota Kediri dalam pengembangan Kawasan Selomangleng menjadi suatu

kawasan wisata, aplikasi teknologi informasi dan komunikasi dalam upaya

promosi pariwisata, serta aspek-aspek lainnya pada level mikro sehingga dapat

dihasilkan kajian yang mendalam.


DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Said Zainal. 2002. Kebijakan Publik. Jakarta: Yayasan Pancur Siwah.
Agustino, Leo. 2006. Dasar-Dasar Kebijakan Publik. Bandung : Alfabeta.
Anonim. 1999. Perencanaan Pariwisata I. Sekolah Tinggi Pariwisata Bali.
---------- 2005. Microsoft Encarta Encyclopedia. Microsoft Corporation.
----------. 2004. Undang-undang No 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan
Daerah. Departemen Dalam Negeri RI.
Apter, David E. 1987. Pengantar Analisis Politik (terjemahan). Jakarta: LP3ES.
Badan Pusat Statistik Kota Kediri. 2004. Kota Kediri Dalam Angka 2003.
Bafadal, Ibrahim. 2003. Teknik Analisis Data Penelitian Kualitatif dalam
Masykuri Bakri (ed.). Metodologi Penelitian Kualitatif: Tinjauan Teoritis
dan Praktis. Surabaya : Lembaga Penelitian Universitas Islam Malang dan
Visipress.
Bali Post, 5 Juli 2004. Pariwisata Nasional Belum Digarap Maksimal, hlm. 14,
kol.7
Bali Post, 20 Pebruari 2006. Pasien Flu Burung Meningkat, hlm. 1, kol. 6.
Bappeda Kota Kediri. 2000. Data Hasil Pelaksanaan Pembangunan Kota Kediri,
Tahun Anggaran 1998/1999 sampai 2000.
------------------------- 2005. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM)
Daerah 2005-2009.
Bisnis Internasional. 2005. Harmoni Dalam Perbedaan. Edisi 15 April-15 Mei
2005, hlm. 7.
Capra, Fritjof. 2005. The Hidden Connections: Strategi Sistemik Melawan
Kapitalisme Baru (terjemahan). Yogyakarta: Jalasutra.
Dunn, William N. 2003 Pengantar Analisis Kebijakan Publik (terjemahan).
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Dwidjowijoto, Riant Nugroho. 2006. Kebijakan Publik Untuk Negara-Negara
Berkembang. Jakarta : Gramedia.

126
127

Gee, Chuck Y. (ed.). 2000. International Tourism : A Global Perspective. Hawaii:


WTO Education Network.
Hamel, Victor A. 1999. Retrospeksi Ekonomi-Politik Kebijakan Pemberantasan
Kemiskinan di Pedesaan. Jurnal Kebijakan dan Administrasi Publik
Volume 3 Nomor 2. Yogyakarta : Program Magister Administrasi Publik
Universitas Gadjah Mada.
Heywood, Andrew. 1997. Politics. Houndmills: Macmillan.
Holsti, K.J. 1992. International Politics: A Framework for Analysis. New Jersey:
Prentice-Hall.
Iida, Akira. 2004. Paradigm Theory & Policy Making : Reconfiguring The Future.
Singapore: Tuttle Publishing.
Inskeep, Edward. 1991. Tourism Planning: An Integrated and Sustainable
Development Approach. New York: Van Nostrand Reinhold.
Jawa Pos, 7 Pebruari 2005. Libur, 200 Ribu Kendaraan ke Luar Surabaya, hlm. 9,
kol.1.
Jawa Pos, 10 Maret 2005. Dispar Rilis Kiosk Interactive, hlm. 7, kol.1.
Kartajaya, Hermawan & Yuswohady. 2005. Attracting Tourists Traders Investors:
Strategi Memasarkan Daerah di Era Otonomi. Jakarta: Gramedia.
----------------. 2005. Kepala Daerah Adalah Marketer, Jawa Pos, 7 Juni 2005
halaman 1.
Kasali, Rhenald. 2004. Jangan Abaikan Sektor Bisnis Pariwisata, Kompas, 23
Agustus 2004, hlm. 15.
Kompas, 8 Maret 2002. Wisata Dermaga Jayabaya Akhirnya Mati Suri, hal. 32,
kol. Kol 1.
Kompas, 5 September 2005. Target Enam Juta Wisman Tak Tercapai, hal. 18,
kol.5.
Mas’oed, Mohtar. 1994. Ilmu Hubungan Internasional: Disiplin dan Metodologi.
Jakarta: LP3ES.
Media Indonesia, 25 September 2005. Lemahnya Perlindungan Aset Budaya
Indonesia, hlm. 1, kol.6.
128

Metro, 18 Desember 2002. Wisata Goa Selomangleng Ancolnya Kediri, hal. 6,


kol.2.
Miksic, John. 1997. The Kediri-Blitar Area dalam Eric Oey (ed.). Java. Singapore:
Periplus Editions.
Müller, Hansruedi. 1997. The Thorny Path to Sustainable Tourism Development
dalam Leslie France, (ed.). The Earthscan Reader in Sustainable Tourism.
London: WWF-UK and International Institute for Environment dan
Development.
Neuman, William Lawrence. 1997. Social Research Methods: Qualitative and
Quantitative Approaches, Boston: Allyn & Bacon.
Ohmae, Kenichi. 1991. Dunia Tanpa Batas: Kekuatan dan Strategi di Dalam
Ekonomi yang Saling Mengait (terjemahan). Jakarta: Binarupa Aksara.
----------------------. 2005. The Next Global Stage: Tantangan dan Peluang di
Dunia yang Tidak Mengenal Batas Kewilayahan (terjemahan). Jakarta:
Indeks.
Onggo, Bob Julius. 2004. E-PR: Menggapai Publisitas di Era Interaktif Lewat
Media Online, Yogyakarta: Andi.
Otonomi, Media. Edisi No 7 Tahun I 2005.
Parsons, Wayne. 2005. Public Policy: Pengantar Teori dan Praktik Analisis
Kebijakan (terjemahan). Jakarta: Kencana.
Paturusi, Syamsul Alam. 2003. Perencanaan Kawasan Pariwisata, bahan ajar
Program Magister Kajian Pariwisata Universitas Udayana (tidak
diterbitkan).
Program Pascasarjana Universitas Udayana. 2003. Buku Pedoman Penulisan
Usulan Penelitian, Tesis, dan Disertasi. Denpasar: Universitas Udayana
Radar Kediri, 23 Desember 2002. Paduan Wisata Modern, Religi, Budaya, dan
Alam, hal. 26, kol.2
Radar Kediri, 9 Desember 2003. Awas, Wisata Selomangleng Longsor, hlm. 30,
kol.2.
Radar Kediri, 31 Januari 2004, Hijaukan 100 Hektare Lahan, hal. 29, kol.2.
129

Rosenau, James N. 1980. The Scientific Study of Foreign Policy. London: Frances
Pinter.
Roskin, Michael G., Robert L. Cord, James A. Medeiros, Walter S. Jones. 1994.
Poltical Science: An Introduction. New Jersey: Prentice Hall.
Santosa, Setyanto P. 2002. Pengembangan Pariwisata Indonesia dalam
http://kolom.pacific.net.id/ind/setyanto_p._santosa/artikel_setyanto_p._san
tosa/pengembangan__pariwisata__indonesia.html, diakses pada
September 2005.
Silalahi, Ulber. 1999. Metode dan Metodologi Penelitian. Bandung : Bina
Budhaya.
Soekadijo, R.G. 2000. Anatomi Pariwisata: Memahami Pariwisata Sebagai
Systemic Linkage. Jakarta: Gramedia.
Spillane, James. 1997. Pariwisata Indonesia: Siasat Ekonomi dan Rekayasa
Kebudayaan.Yogyakarta: Kanisius.
Stern. Geoffrey. 2000. The Structure of International Society: An Introduction to
the Study of International Relations. London: Pinter.
Strauss, Anselm & Julia Corbin. 2003. Dasar-dasar Penelitian Kualitatif
(terjemahan). Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Suharto, Edi. 2005. Analisis Kebijakan Publik: Panduan Praktis Mengkaji
Masalah dan Kebijakan Sosial. Bandung: Alfabeta.
Sujana, Naya. 2004. Pendekatan Kebudayaan dalam Pembangunan Industri
Pariwisata di Jawa Timur. Dalam Ayu Sutarto & Setya Yuwana Sudikan
(ed.). Pendekatan Kebudayaan dalam Pembangunan Provinsi Jawa Timur.
Jember: Kompyawisda. hlm 123.
Surya, 7 Pebruari 2003. Menanam 26.000 Pohon Untuk Selamatkan
Selomangleng, hal. 17, kol.2.
Surya, 23 Juli 2004. Buang Buceng Robyong Agar Kota Kediri Aman, hal. 18, kol.
1.
Sutopo, H.B. 2003. Pengumpulan dan Pengolahan Data Dalam Penelitian
Kualitatif dalam Masykuri Bakri (ed.). Metodologi Penelitian Kualitatif:
130

Tinjauan Teoritis dan Praktis. Surabaya : Lembaga Penelitian Universitas


Islam Malang dan Visipress.
Syaukani,HR, Affan Gaffar, Ryaas Rasyid. 2002. Otonomi Daerah Dalam Negara
Kesatuan. Yogyakarta : Pustaka Pelajar dan Puskap.
Thoha, Miftah. 2002. Dimensi-Dimensi Prima Ilmu Administrasi Negara. Jakarta:
RajaGrafindo Persada.
Wacik, Jero. 2006. Rencana Strategik Pariwisata Indonesia-Bali dan Peran
Swasta. Makalah pada seminar dan lokakarya nasional Kadin Provinsi Bali,
25 Pebruari 2006, tidak diterbitkan.
Wahab, Solichin Abdul. 2002. Analisis Kebijaksanaan: Dari Formulasi ke
Implementasi Kebijaksanaan Negara. Jakarta: Bumi Aksara.
Warta Bali, 8 September 2005. Kendala Pariwisata Indonesia, hlm. 8, kol. 1.
Williams, Mariama. 2002. The Political Economy of Tourism Liberalization,
Gender, and the GATS . URL:
http://www.genderandtrade.net/GATS/GATStourism.pdf, diakses pada
Desember 2004.
World Resources Institute (WRI), United Nations Environment Programme
(UNEP), World Business Council for Sustainable Development (WBCSD).
2002. Tomorrow’s Markets: Global Trends and Their Implications for
Business. Baltimore: Hopkins Fulfillment Service.
World Tourism Organization (WTO). 2004. National and Regional Tourism
Planning: Methodologies and Case Studies. Madrid: WTO.
Yoeti, Oka A. 1997. Perencanaan dan Pengembangan Pariwisata. Jakarta:
Pradnya Paramita.
http://research.amnh.org/biodiversity/symposia/archives/tigerintheforest/highlight
s/files/tiger_whtPaper02.htm, diakses pada September 2005.
http://www.sinarharapan.co.id/feature/wisata/2004/0115/wis02.html diakses pada
September 2005.
http://www.pata.org/patasite/index.php?id=95 diakses pada September 2005.

www.kotakediri.go.id
131

Lampiran 1

Jadwal Kegiatan Penelitian

Jan- Mar- Mei- Juli- Sept- Nop- Jan- Mar- Mei-


Bulan Peb April Juni Agust Okt Des Peb April Juni
2005 2005 2005 2005 2005 2005 2006 2006 2006

Kegiatan
Pra
Penelitian
Penyusunan
Proposal
Seminar
Proposal
Perbaikan
Proposal
Penelitian
Lapangan
Penyusunan
Laporan

Seminar
Hasil
Penelitian
Perbaikan
Sidang
132

Lampiran 2

Peta Jawa Timur


133

Lampiran 3
Peta Kota Kediri
134

Lampiran 4

Sketsa Site Plan Kawasan Wisata Selomangleng


135

Lampiran 5
Goa Selomangleng
136

Lampiran 6
Relief Pertapa di Dalam Goa Selomangleng
137

Lampiran 7
Museum Airlangga
138

Lampiran 8
Tumpeng Tosaren
139

Lampiran 9
Kesenian Jaranan
140

Lampiran 10
Ritual Manusuk Sima
141

Lampiran 11
Kirab Prasasti Kediri Jayati
142

Lampiran 12
Pentas Wayang Orang Dalam Rangka Hari Jadi Kota Kediri
143

Lampiran 13
Festival Panji-Galuh
144

Lampiran 14
Pura Dewi Sekartaji
145

Lampiran 15
Mesjid Agung
146

Lampiran 16
Walikota, Pejabat, dan Masyarakat Memantau Hutan Maskumambang
147

Lampiran 17
Pawai Budaya Dalam Rangka Hari Jadi
148

Lampiran 18
Taman Hiburan Pagora
149

Lampiran 19
Pertandingan Sepak Bola di Stadion Brawijaya
150

Lampiran 20
Wisata Olah Raga di Jalan Tembus Lebak Tumpang-Selomangleng
151

Lampiran 21
Pusat Penjualan Tahu Takwa di Kota Kediri
152

Lampiran 22
Objek Wisata Pendidikan di Pabrik Rokok Gudang Garam
153

Lampiran 23
Pedagang di Bibir Goa Selomangleng
154

Lampiran 24
Coretan di Dinding Goa Selomangleng