Anda di halaman 1dari 221

PENGELOLAAN PULAU-PULAU KECIL UNTUK PEMANFAATAN EKOWISATA BERKELANJUTAN DI KECAMATAN MOROTAI SELATAN DAN MOROTAI SELATAN BARAT KABUPATEN

PULAU MOROTAI PROVINSI MALUKU UTARA

Oleh: ABDURRACHMAN BAKSIR

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2010

PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI DAN SUMBER INFORMASI


Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi Pengelolaan pulau-pulau kecil untuk pemanfaatan ekowisata berkelanjutan di Kecamatan Morotai Selatan dan Morotai Selatan Barat, dengan arahan komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dalam karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir disertasi ini

Bogor, Januari 2010

Penulis

ii

ABSTRAK
ABDURRACHMAN BAKSIR. Pengelolaan pulau-pulau kecil untuk pemanfaatan ekowisata berkelanjutan di Kecamatan Morotai Selatan dan Morotai Selatan Barat, Kabupaten Pulau Morotai Provinsi Maluku Utara. Dibimbing oleh FREDINAN YULIANDA sebagai ketua komisi pembimbing, DJAMAR T.F. LUMBANBATU dan M.F. RAHARDJO sebagai anggota komisi pembimbing. Penelitian ini berlokasi di kawasan pulau-pulau kecil Kecamatan Morotai Selatan dan Morotai Selatan Barat bertujuan mengkaji daya dukung dan menyusun model konsep pengelolaan pulau-pulau kecil untuk pemanfaatan ekowisata agar dapat dilakukan secara berkelanjutan. Data dan informasi disusun secara partisipatif dengan menggunakan kuesioner dan survei lapangan. Metode analisis data terdiri dari analisis spasial dengan metode sistem informasi geografis dan analisis kesesuaian lahan, pendekatan pemodelan menggunakan software Stella 9.0.2. Zonasi kawasan pulau-pulau kecil dengan kriteria ekologi, ekonomi, sosial dan kelembagaan, dapat dibagi atas tiga zona pengelolaan, yaitu zona inti dengan luas wilayah 1.618 ha, zona pemanfaatan dengan luas wilayah 12.412 ha, dan zona penyangga dengan luas wilayah 32.381 ha. Kesesuaian lahan untuk pemanfaatan ekowisata terdiri dari ekowisata pantai kategori wisata rekreasi, ekowisata bahari kategori wisata snorkling, wisata selam, dan wisata lamun. Wisata rekreasi panjang pantai 58.809 m dengan daya dukungnya 2.353 orang/hari, wisata snorkling luas kawasan yang dapat dimanfaatkan 226 ha dengan rata-rata persentase penutupan komunitas karang 42 % maka daya dukungnya 7.624 orang/hari, wisata selam luas kawasan yang dapat dimanfaatkan 1.248 ha dengan rata-rata persentase komunitas karang 40 % maka daya dukungnya 39.942 orang/hari, wisata lamun luas kawasannya 102 ha dengan rata-rata persentase tutupan lamun 58 % maka daya dukungnya 4.733 orang/hari. Penekanan model pengelolaan KP2K MS2B untuk ekowisata berkelanjutan pada pelestarian lingkungan ekologi kawasan pulau-pulau kecil dengan sasaran utamanya adalah gugus pulau-pulau kecil, terintegrasi dalam pola persentase laju pemanfaatan keanekaragaman hayati dan kealamian pulau yang diterapkan, jika lingkungan ekologi mengalami gangguan maka akan mempengaruhi keberlanjutan daya dukung dan dampaknya pada pendapatan wisata.

Kata Kunci : Pengelolaan pulau-pulau kecil, Ekowisata berkelanjutan

iii

ABSTRACT
ABDURRACHMAN BAKSIR. The Management of Small Island for Ecotourism Sustainable Used of South Morotai and South-West Morotai District, North Maluku Province. Under the supervision of FREDINAN YULIANDA, DJAMAR T.F. LUMBANBATU and M.F. RAHARDJO This research was located in South Morotai and South-West Morotai District.The objectives of this researchis to study carrying capacity and to establish model concept management small islands for ecotourisms sustainable used. Data and information were collected in participative term by used a questioner and field survey. Analysis methods consist of spatial analysis used geographycal information system and suitable area analysis, for modelling used software Stella 9,02. The small island areas zonation using ecology, economic, social and institution criterias could be divided into 3 management zones such as the center zone with of 1618 ha, used zone with widely of 12.412 ha, and buffer zone with widely of 32.381 ha. Whereas suitable area for ecotourism zone consist of coastal ecotourism for recreation tourism categories, marine ecotourism categories for snorcling tourism, marine ecotourism categories for diving tourism, marine ecotourism category for seagrass. Shore longs of recreation tourism 59.809 m with of carrying capacity is 2.353 person/day, snorcling tourism with widely area used 226 ha with percentage rate of coral cover community 42 % with of carrying capacity 7.624 person/day, diving tourism with widely area 1.248 ha with percentage rate of coral cover community 40% with of carrying capacity 39.942 person/day, seagrass tourism with widely area used 102 ha with percentage rate of seagrass cover 58 % with of carrying capacity 4.733 person/day. Management model KP2K MS2B for ecotourism sustainability base on environmental conservation of ecologycal small island with the primary point were archipelago small island, integration in percentage pattern of the diversity used rate and the naturalism of island, if the invironmental ecological was disturbed, it will influence the sustainability of carrying capacity and the ecotourisms demand will affected too.

Key Words : Small islands Management, Sustainable Ecotourism

iv

RINGKASAN
Kawasan pulau-pulau kecil kecamatan Morotai Selatan dan Morotai Selatan Barat (KP2K MS2B) terdiri atas 23 pulau-pulau kecil yang tersebar dalam wilayah seluas 13.264 ha yang dikelilingi oleh laut dalam. Pulau-pulau kecil Morotai memiliki kekayaan, keanekaragaman sumberdaya alam berupa panorama pantai pasir putih, keindahan bawah laut (terumbu karang dan ikan hias), padang lamun, dan salah satu pulau kecil Zumzum pernah dijadikan sebagai markas pusat komando pasukan Amerika yang dipimpin oleh Jenderal Mac Arthur melawan Jepang dalam perang dunia II, yang menyimpan peralatan perang, antara lain: pistol, rangka pesawat, dan mobil perang. Kekayaan, keanekaragaman sumberdaya alam dan nilai historis dari KP2K MS2B yang unik tersebut dapat menimbulkan daya tarik untuk pariwisata. Salah satu konsep alternatif pengembangan wisata bahari saat ini adalah ekowisata (wisata alam) yang mengandalkan keaslian alam yang dapat memberikan manfaat ekonomi, ekologis dan sosial-budaya. Potensi sumberdaya KP2K MS2B masih belum dimanfaatkan secara optimal bagi wisata bahari. Oleh karena itu hendaknya mempertimbangkan kesesuaian sumberdaya, penataan sistem zonasi, daya dukung dan pola pemanfaatan sumberdaya yang tepat, agar konsep pengelolaan tersebut dapat dikembangkan dalam suatu model pengelolaan pulaupulau kecil yang sesuai dengan dinamika sumberdaya dan kebutuhan masyarakat. Penelitian ini bertujuan mengkaji daya dukung kawasan pulau-pulau kecil untuk pemanfaatan ekowisata berkelanjutan dan menyusun model konsep pengelolaan kawasan pulau-pulau kecil kecamatan Morotai Selatan dan Morotai Selatan Barat untuk pemanfaatan ekowisata agar dapat dilakukan secara berkelanjutan. Dalam pelaksanaan penelitian, ruang lingkup penelitian adalah mendapat data dan informasi mengenai profil sumberdaya pulau-pulau kecil, keadaan perairan dan sosial ekonomi budaya yang dijadikan masukan data untuk membuat pemodelan pengelolaan kawasan pulau-pulau kecil untuk pengembangan ekowisata berkelanjutan. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data profil sumberdaya pulau-pulau kecil, sosial ekonomi dan budaya melibatkan partisipasi masyarakat dilakukan dengan metode PRA (Participatory Rural Appraisal). Pendekatan partisipatif ini dilakukan dengan mengajak sebagian masyarakat/ stakeholder berbincang dalam diskusi kelompok terarah (focus group discussion). Analisis kesesuaian ekowisata menggunakan matriks kesesuaian sampai dengan pemetaan kelas lahan dilakukan dengan program pemetaan spasial dengan menggunakan ArcView 3.2, sedangkan model KP2K MS2B dianalisis dengan pendekatan pemodelan menggunakan software Stella 9.0.2 dibuat model dan mensimulasi faktor-faktor serta menduga kemungkinan di masa depan meliputi model lingkungan ekologi kawasan ekowisata dan model pendapatan kawasan ekowisata. Hasil penelitian menunjukkan KP2K MS2B dibagi dalam tiga zona yaitu zona inti , zona pemanfaatan terbatas dan zona penyangga, pulau yang memiliki nilai tertinggi akan memiliki tingkat pengelolaan yang tinggi pula (beragam). Pulau Rao Utara dan Pulau Mitita masuk dalam zona inti karena memiliki nilai >70 %, Pulau Dodola, Rao Selatan, Galogalo dan Ngelengele masuk dalam zona pemanfaatan terbatas memiliki nilai 60 % - 70%, dan pulau Zumzum dan sekitarnya dan Pulau Ruberube sekitarnya masuk dalam zona penyangga nilainya 58,62 %. Kesesuaian lahan ekowisata terdiri dari

ekowisata pantai kategori wisata rekreasi, ekowisata bahari kategori wisata snorkling, selam dan lamun. Daya dukung KP2K MS2B untuk ekowisata sangat ditentukan oleh luas area yang dapat dimanfaatkan dan persentase penutupan komunitas karang, untuk wisata rekreasi panjang pantai 59.809 m dengan daya dukungnya 2.353 orang/hari, wisata snorkling luas kawasan yang dapat dimanfaatkan 226 Ha dengan rata-rata persentase penutupan komunitas karang 42 % maka daya dukungnya 7.624 orang/hari, wisata selam luas kawasan yang dapat dimanfaatkan 1.248 ha dengan rata-rata persentase komunitas karang selam 40 % maka daya dukungnya 39.942 orang/hari, wisata lamun luas kawasannya 102 ha dengan rata-rata persentase tutupan lamun 58 % maka daya dukungnya 4.733 orang/hari. Hasil simulasi skenario yang dikembangkan menghasilkan nilai prediksi ke depan untuk pengelolaan ekowisata berkelanjutan penekanannya pada pelestarian lingkungan ekologi kawasan pulau-pulau kecil dengan sasaran utamanya adalah gugus pulau-pulau kecil, terintegrasi dalam pola persentase laju pelestarian keanekaragaman hayati pulau dan kealamian pulau yang diterapkan. Apabila lingkungan ekologi mengalami gangguan maka akan mempengaruhi keberlanjutan daya dukung dan dampaknya pada pendapatan wisata.

vi

@ Hak Cipta Milik IPB Tahun 2010 Hak Cipta dilindungi Undang-Undang 1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulisan ini tanpa mencantumkan atau menyebut sumber a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB 2. Dilarang mengumumkan atau memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apapun tanpa izin IPB

vii

PENGELOLAAN PULAU-PULAU KECIL UNTUK PEMANFAATAN EKOWISATA BERKELANJUTAN DI KECAMATAN MOROTAI SELATAN DAN MOROTAI SELATAN BARAT, KABUPATEN PULAU MOROTAI PROVINSI MALUKU UTARA

Oleh: ABDURRACHMAN BAKSIR

Disertasi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor Pada Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2010

viii

HALAMAN PENGESAHAN
Judul Disertasi : Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Untuk Pemanfaatan Ekowisata Berkelanjutan Di Kecamatan Morotai Selatan dan Morotai Selatan Barat, Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara : ABDURRACHMAN BAKSIR : C261040071 : Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan : Doktor (S3) Disetujui Komisi Pembimbing

Nama NRP Program Studi Program

Dr. Ir. Fredinan Yulianda. M.Sc Ketua

Prof.Dr. Ir. Djamar. T.F. Lumbanbatu. M.Agr Anggota Diketahui Ketua Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan

Dr. Ir. M.F. Rahardjo, DEA Anggota

Dekan Sekolah Pascasarjana

Prof. Dr. Ir. Mennofatria Boer, DEA Tanggal Ujian : 17 Desember 2009

Prof. Dr.Ir. Khairil Anwar Notodiputro, MS Tanggal Lulus :

ix

PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas limpahan Rahmat dan KaruniaNya sehingga karya ilmiah ini dapat kami selesaikan. Disertasi ini berjudul Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Untuk Pemanfaatan Ekowisata Berkelanjutan di Kecamatan Morotai Selatan dan Morotai Selatan Barat, Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara, sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor pada program studi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Dalam disertasi ini dikaji potensi ekowisata sumberdaya pulau-pulau kecil yang merupakan aset daerah yang harus dilindungi, untuk keberlanjutan ekowisata pulaupulau kecil dibuat pemodelan untuk menduga hal-hal yang terjadi pada masa yang akan datang, aplikasinya lebih ditekankan pada daya dukung kawasan dalam upaya menjaga kelestarian sumberdaya pulau-pulau kecil yang dampaknya secara tidak langsung pada pendapatan kawasan wisata, ini semua sebagai acuan bagi siapa saja yang terlibat dalam proses pengeloloan pulau-pulau kecil. Kami menyadari bahwa dalam disertasi ini masih banyak kekurangan, diharapkan baik kepada diri sendiri maupun pembaca disertasi ini dengan kelemahan tersebut dapat menjadi inspirasi dan motivasi untuk terus berkarya dan mengembangkan ilmu pengetahuan dikemudian hari. Semoga disertasi ini dapat bermanfaat bagi kita semua

Bogor, Januari 2010

Penulis

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji Syukur kepada Allah SWT yang Maha Pengasih dan Penyayang karena kemurahanNya semata maka penulisan disertasi dapat diselesaikan. Merupakan suatu kebahagian dan kebanggaan bagi penulis, karena dalam penulisan disertasi ini banyak mendapat dukungan dan kerjasama yang baik dari berbagai pihak, oleh karena itu dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1 Komisi pembimbing yang diketuai oleh Bapak Dr. Ir. Fredinan Yulianda M.Sc dan Prof. Dr. Ir. Djamar. T.F. Lumbanbatu. M.Agr, dan Dr. Ir. M.F. Rahardjo, DEA sebagai anggota komisi pembimbing, atas segala bimbingan, arahan dan dukungan sehingga disertasi ini dapat diselesaikan. 2. Rektor Universitas Khairun, yang telah memberikan rekomendasi untuk melanjutkan studi Doktor pada pogram studi pengelolaan sumberdaya pesisir dan lautan IPB 3 Pimpinan dan staf pengajar program studi Sumberdaya Pesisir dan Lautan IPB yang telah memberikan bekal ilmu dan pemahaman berkaitan dengan sumberdaya pesisir dan lautan. 4 Pusat Kajian dan Sumberdaya Pesisir dan Lautan IPB yang telah membantu dalam melakukan penelitian di kawasan pulau-pulau kecil Morotai . 5 Mitra Bahari - COREMAP II Ditjen Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Departemen Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, BPPS Dikti RI, Yayasan Maluku,

Yayasan Damandiri, Pemerintah Daerah Provinsi Maluku Utara dan Walikota Kota Ternate atas santunan dana dalam membantu penulis ke arah penyelesaian studi. 6 Penghargaan juga disampaikan kepada kedua orang tua dan mertua: Ayahanda A.W Baksir, Ibunda Aminah Alammarie (Alm) dan Kuraisin Kuilien, yang telah

membesarkan dan mendidik serta selalu berdoa memberikan dorongan semangat, Istri (Irla Ammarie) dan anak-anak tercinta (Alifah (Alm) dan Ghifar), kakakku (Muh Irvan, Achmad Zuchry dan Nailah), seluruh keluarga besar Baksir- Ammarie serta teman-teman seangkatan 9 pada program studi SPL IPB dan teman-teman yang lain atas dukungan doa, kasih sayang, perhatian, dan dedikasinya selama studi.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat

xi

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Ternate sebagai anak bungsu dari pasangan A.W Baksir dan (Alm) Aminah Ammarie. Pendidikan sarjana ditempuh di Program Studi Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UNSRAT Manado, lulus pada tahun 1994. Pada tahun 1997, penulis diterima pada Program Studi Ilmu Perairan pada Program Pascasarjana IPB dan menamatkannya pada tahun 1999. kesempatan untuk melanjutkan ke program Doktor pada program Studi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan di Sekolah Pascasarjana IPB diperoleh pada tahun 2004. Beasiswa Pendidikan Pascasarjana (BPPS) diperoleh dari Departemen Pendidikan Nasional RI. Penulis bekerja sebagai tenaga pengajar pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UNKHAIR Ternate. Dua buah artikel telah diterbitkan dengan judul Analisis kesesuaian lahan pulau-pulau kecil untuk pemanfaatan ekowisata bahari di Kecamatan Morotai Selatan dan Morotai Selatan Barat , Kabupaten Morotai Provinsi Maluku Utara pada Jurnal Ichtyos Volume 8 No 1 akhir Januari 2009 dan Model pengelolaan ekowisata pulau-pulau kecil berkelanjutan di Kecamatan Morotai Selatan dan Morotai Selatan Barat Kabupaten Morotai Provinsi Maluku Utara pada Jurnal Torani edisi Maret 2009. Karyakarya ilmiah tersebut merupakan bagian dari program S3 penulis.

xii

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL.................................................................................................... DAFTAR GAMBAR............................................................................................. DAFTAR LAMPIRAN............................................................................................

xvi xviii xxiii

PENDAHULUAN........................................................................................... 1.1 1.2 1.3 1.4 1.5 1.6 Latar Belakang........................................................................................ Perumusan Masalah................................................................................. Tujuan Penelitian..................................................................................... Manfaat Penelitian................................................................................... Kerangka Pemikiran................................................................................ Kebaruan.................................................................................................

1 1 3 4 4 5 8

TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................ 2.1 Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil............................................................... 2.2 Pengertian dan Pengembangan Ekowisata Bahari................................ 2.3 Daya Dukung Ekowisata......................................................................... 2.4 Konsep Ekowisata Berkelanjutan............................................................ 2.5 Pemodelan............................................................................................... 2.6 Penelitian Pemodelan Pulau Kecil.........................................................

9 9 12 16 17 20 22

METODE PENELITIAN............................................................................. 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian................................................................... 3.2 Metode Pengumpulan Data Penelitian.................................................... 3.3 Responden dan Focus Group Discussion (FGD)................................... 3.4 Analisis Data........................................................................................... 3.4.1 Analisis Zonasi ...........................................................................

25 25 26 30 34 35 39 41

3.4.2 Analisis Kesesuaian Lahan Ekowisata KP2K MS2B................. 3.4.3 Analisis Daya Dukung Ekowisata Pulau-Pulau Kecil.................

xiii

3.4.4 3.4.5

Analisis Biaya Perjalanan Analisis Keberlanjutan Ekowisata ...........................

42 44

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN.......................................... 4.1 Letak Geografis dan Batas Kawasan.................................. 4.2 Lingkungan Biofisik Kimia Perairan..................................................... 4.2.1 Batimetri Pulau-Pulau Kecil....................................................... 4.2.2 Arus............................................................................................. 4.2.3 Pasang Surut................................................................................ 4.2.4 Suhu dan Salinitas Perairan Laut............................................... 4.2.5 Kualitas Air Laut...................................................................... 4.2.6 Kualitas Air Sumur...................................................................... 4.2.7 Kualitas Air Sungai..................................................................... 4.2.8 Potensi Sumberdaya Pulau-Pulau Kecil...................................... 4.3 Lingkungan Sosial, Ekonomi dan Budaya............................................. 4.3.1 Kependudukan............................................................................ 4.3.2 Sarana Sosial............................................................................... 4.3.3 Perekonomian Rakyat................................................................. 4.3.4 Sosial Budaya..............................................................................

51 51 52 52 52 53 54 54 55 55 56 61 61 64 65 66

HASIL DAN PEMBAHASAN...................................................................... 5.1 5.2 Zonasi Kawasan Pulau-Pulau Kecil Kecamatan Morotai Selatan dan Morotai Selatan Barat............................... ...........................................

70 70 75 77 77

Kesesuaian Lahan Ekowisata Pulau-Pulau Kecil Kecamatan Morotai Selatan dan Morotai Selatan Barat........................................................ 5.2.1 Kesesuaian Lahan Untuk Ekowisata Pantai Kategori Wisata Rekreasi....................................................................................... 5.2.2. Kesesuaian Lahan Untuk Ekowisata Bahari Kategori Wisata Snorkling, Wisata Selam dan Wisata Lamun.... ........................ 5.3 Daya Dukung KP2K MS2B Ekowisata Pantai Kategori Wisata Rekreasi, Ekowisata Bahari Kategori Wisata Snorkling, Selam dan Lamun.................................................................................................... 5.4 Biaya Perjalanan Wisata........................................................................

83 86

xiv

5.5 Keberlanjutan KP2K MS2B................................................................... 5.5.1 Penyusunan Skenario.................................................................. 5.5.2 Pembangunan Model................................................................... 5.5.3 Simulasi Skenario Dasar Pengambilan Kebijakan...................... 5.6 Arahan Pengelolaan Kawasan Pulau-Pulau Kecil Untuk Pemanfaatan Ekowisata Berkelanjutan................................................ 6 KESIMPULAN DAN SARAN.................................................................... 6.1 Kesimpulan............................................................................................. 6.2. Saran.......................................................................................................

86 87 88 91

154 158 158 158 161 168

DAFTAR PUSTAKA........................................................................................... LAMPIRAN..........................................................................................................

xv

DAFTAR TABEL

Halaman
1 Dampak Pariwisata Terhadap Lingkungan Ekologi Pada Pulau-Pulau Pasifik............................................................................................................ Penelitian Pemodelan Pulau Kecil............................................................... Jenis, Tehnik dan Sumber Pengambilan Data Penelitian.............................. Stasiun Penyelaman....................................................................................... Stasiun Pengambilan Contoh Air Laut.......................................................... Parameter dan Metode Kualitas Air Laut Untuk Wisata Bahari................. Parameter, Metode Kualitas Air Sumur........................................................ Parameter, Metode Kualitas Air Sungai....................................................... Komponen Perwakilan Masyarakat Tiap Kecamatan................................. Penilaian Kriteria Kawasan Lindung KP2K MS2B................................... Matriks Kesesuaian Untuk Ekowisata Pantai Kategori Wisata Rekreasi......................................................................................................... Matriks Kesesuaian Untuk Ekowisata Bahari Kategori Wisata Snorkling....................................................................................................... Matriks Kesesuaian Untuk Ekowisata Bahari Kategori Wisata Selam........ Matriks Kesesuaian Untuk Ekowisata Bahari Kategori Wisata Lamun....... Potensi Ekologis Pengunjung (K) dan Luas Areal Kegiatan (Lt)............. Kebutuhan Pelaku yang Terlibat Dalam Pengelolaan KP2K MS2B Untuk Ekowisata Berkelanjutan............................................................................... Nama dan Luas Pulau-Pulau Kecil Kecamatan Morotai Selatan dan Morotai Selatan Barat.................................................................................... Persentase Tutupan Karang .......................................................................... xvi

14 23 26 28 28 29 30 31 32 37

2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

40

12

40 41 41 42

13 14 15 16

45

17

51 57

18

19 20

Persentase Tutupan Karang dan Komunitas Karang.................................... Kelompok Spesies, Jumlah Spesies, Jumlah Individu dan Populasi Dominan Ikan Karang Yang Ditemukan Di Terumbu Karang Kecamatan Morotai Dan Morotai Selatan Barat............................................................. Komposisi Penduduk Menurut Jenis Kelamin Di Kecamatan Morotai Selatan .......................................................................................................... Komposisi Penduduk Menurut Jenis Kelamin Di Kecamatan Morotai Selatan Barat................................................................................................. Jumlah KK Menurut Mata Pencaharian Di Kecamatan Morotai Selatan........................................................................................................... Jumlah KK Menurut Mata Pencaharian Di Kecamatan Morotai Selatan Barat.............................................................................................................. Nilai Persentase Kriteria Pengelolaan KP2K MS2B..................................... Zona Inti, Zona Pemanfaatan Terbatas dan Zona Penyangga Kawasan Lindung Pulau-Pulau Kecil Kecamatan Morotai Selatan dan Morotai Selatan Barat................................................................................................. Kesesuaian Lahan Ekowisata Pantai Kategori Wisata Rekreasi, Ekowisata Bahari Kategori Wisata Snorkling, Wisata Selam, Dan Wisata Lamun KP2K MS2B................................................................................................. Daya Dukung Ekowisata Pantai Kategori Wisata Rekreasi, Ekowisata Bahari Kategori Wisata Snorkling, Wisata Selam, Dan Wisata Lamun ...... Simulasi Skenario Kawasan Lindung Pulau Kecil........................................

57

59

21

61

22

62

23

63

24

63 70

25 26

76

27

82

28

85 92

29

xvii

DAFTAR GAMBAR

Halaman
1 Kerangka Pemikiran Pengelolaan Kawasan Pulau-Pulau Kecil Untuk Pemanfaatan Ekowisata Berkelanjutan.......................................................... Kerangka Berkelanjutan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Laut di PulauPulau Kecil.. Interaksi Yang Tidak Terpisahkan Antara Pulau-Pulau Kecil.. Model Minimal Konsep Wisata Berkelanjutan.. Tahapan Analisis Sistem................................................................................ . Peta Lokasi Penelitian..................................................................................... Peta Stasiun Pengamatan, Pengambilan Contoh Air Laut dan Ekonomi Budaya............................................................................................................ Proses Analisis Data....................................................................................... Proses Penyusunan Zonasi di Kawasan Pulau-Pulau Kecil Kecamatan Morotai Selatan dan Morotai Selatan Barat.................................................... 7

10 11 18 21 25

3 4 5 6 7

27 34

8 9

36

10 Diagram Sebab Akibat (Causal Loop) Pengelolaan KP2K MS2B untuk ekowisata Berkelanjutan................................................................................. 11 Grafik Pasang Surut Hasil Pengukuran Selama 24 jam (25-26 Juni) di Perairan Morotai............................................................................................. 12 Peta Kawasan Lindung KP2K MS2B. 13 Peta Kesesuaian Ekowisata di Posiposi Rao, Saminyamao dan Pantai Wayabula.................. 14 Peta Kesesuaian Lahan Ekowisata Ekowisata Gugus Ngelengele dan Gugus Loleba....... 15 Peta Kesesuaian Ekowisata Gugus Dodola dan Zumzum.. 16 Model Global Keterkaitan Antar Sub Model..................................................

47

53 71

78

79 80 87

xviii

17 Submodel Lingkungan Ekologi Kawasan Lindung Pulau-Pulau Kecil.... 18 Submodel Daya Dukung Ekowisata Pulau-Pulau Kecil......... 19 Submodel Pendapatan Wisata ................ 20 Perilaku Skenario Model Saat Ini Wisata Rekreasi Pulau Dodola Dengan Laju % Pelestarian KHP 1 %, KAP 1 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 1 % dan Laju Degradasi 1 %............................................................. 21 Perilaku Skenario Model Saat Ini Wisata Rekreasi Pulau Dodola Dengan Laju % Pelestarian KHP 1 %, KAP 1 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 1 % dan Laju Degradasi 4 %............................................................. 22 Perilaku Skenario Model Saat Ini Wisata Snorkling Pulau Dodola Dengan Laju % Pelestarian KHP 1 %, KAP 1 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 1 % dan Laju Degradasi 1 %............................................................. 23 Perilaku Skenario Model Saat Ini Wisata Snorkling Pulau Dodola Dengan Laju % Pelestarian KHP 1 %, KAP 1 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 1 % dan Laju Degradasi 4 %............................................................. 24 Perilaku Skenario Model Saat Ini Wisata Selam Pulau Dodola Dengan Laju % Pelestarian KHP 1%, KAP 1%, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 1% dan Laju Degradasi 1%............................................................... 25 Perilaku Skenario Model Saat Ini Wisata Selam Pulau Dodola Dengan Laju % Pelestarian KHP 1 %, KAP 1 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 1 % dan Laju Degradasi 4 %............................................................. 26 Perilaku Skenario Model Saat Ini Wisata Lamun Pulau Dodola Dengan Laju % Pelestarian KHP 1 %, KAP 1 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 1 % dan Laju Degradasi 1 %............................................................. 27 Perilaku Skenario Model Saat Ini Wisata Lamun Pulau Dodola Dengan Laju % Pelestarian KHP 1 %, KAP 1 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 1 % dan Laju Degradasi 4 %............................................................. 28 Perilaku Skenario Model Saat Ini Wisata Rekreasi Rao Selatan Dengan Laju % Pelestarian KHP 1 %, KAP 1 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 1 % dan Laju Degradasi 1 %............................................................ 29 Perilaku Skenario Model Saat Ini Wisata Rekreasi Rao Selatan Dengan Laju % Pelestarian KHP 2 %, KAP 2 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 2 % dan Laju Degradasi 17 %..........................................................

89 90 91

95

96

98

99

100

102

103

104

106

107

xix

30 Perilaku Skenario Model Saat Ini Wisata Snorkling Rao Selatan Dengan Laju % Pelestarian KHP 1 %, KAP 1 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 1 % dan Laju Degradasi 1 %............................................................ 31 Perilaku Skenario Model Saat Ini Wisata Snorkling Rao Selatan Dengan Laju % Pelestarian KHP 2 %, KAP 2 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 2 % dan Laju Degradasi 17 %........................................................... 32 Perilaku Skenario Model Saat Ini Wisata Selam Rao Selatan Dengan Laju % Pelestarian KHP 1 %, KAP 1 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 1 % dan Laju Degradasi 1 %............................................................. 33 Perilaku Skenario Model Saat Ini Wisata Selam Rao Selatan Dengan Laju % Pelestarian KHP 2 %, KAP 2 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 2 % dan Laju Degradasi 17 %........................................................... 34 Perilaku Skenario Model Saat Ini Wisata Rekreasi Ngelengele Dengan Laju % Pelestarian KHP 1 %, KAP 1 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 1 % dan Laju Degradasi 1 %............................................................. 35 Perilaku Skenario Model Saat Ini Wisata Rekreasi Ngelengele Dengan Laju % Pelestarian KHP 1%, KAP 1%, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 1% dan Laju Degradasi 4%............................................................. 36 Perilaku Skenario Model Saat Ini Wisata Snorkling Ngelengele Dengan Laju % Pelestarian KHP 1 %, KAP 1 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 1 % dan Laju Degradasi 1 %............................................................. 37 Perilaku Skenario Model Saat Ini Wisata Snorkling Ngelengele Dengan Laju % Pelestarian KHP 1 %, KAP 1 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 1 % dan Laju Degradasi 4 %............................................................. 38 Perilaku Skenario Model Saat Ini Wisata Selam Ngelengele Dengan Laju % Pelestarian KHP 1 %, KAP 1 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 1 % dan Laju Degradasi 1 %............................................................. 39 Perilaku Skenario Model Saat Ini Wisata Selam Ngelengele Dengan Laju % Pelestarian KHP 1 %, KAP 1 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 1 % dan Laju Degradasi 4 %............................................................. 40 Perilaku Skenario Model Saat Ini Wisata Lamun Ngelengele Dengan Laju % Pelestarian KHP 1 %, KAP 1 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 1 % dan Laju Degradasi 1 %.............................................................

110

111

112

114

116

117

119

120

121

123

124

xx

41 Perilaku Skenario Model Saat Ini Wisata Lamun Ngelengele Dengan Laju % Pelestarian KHP 1 %, KAP 1 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 1 % dan Laju Degradasi 4 %............................................................. 42 Perilaku Skenario Model Saat Ini Wisata Rekreasi Galogalo Dengan Laju % Pelestarian KHP 1 %, KAP 1 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 1 % dan Laju Degradasi 1 %............................................................. 43 Perilaku Skenario Model Saat Ini Wisata Rekreasi Galogalo Dengan Laju % Pelestarian KHP 2 %, KAP 2 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 2 % dan Laju Degradasi 17 %........................................................... 44 Perilaku Skenario Model Saat Ini Wisata Snorkling Galogalo Dengan Laju % Pelestarian KHP 1 %, KAP 1 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 1 % dan Laju Degradasi 1 %............................................................. 45 Perilaku Skenario Model Saat Ini Wisata Snorkling Galogalo Dengan Laju % Pelestarian KHP 2 %, KAP 2 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 2 % dan Laju Degradasi 17 %........................................................... 46 Perilaku Skenario Model Saat Ini Wisata Selam Galogalo Dengan Laju % Pelestarian KHP 1 %, KAP 1 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 1 % dan Laju Degradasi 1 %............................................................. 47 Perilaku Skenario Model Saat Ini Wisata Selam Galogalo Dengan Laju % Pelestarian KHP 2 %, KAP 2 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 2 % dan Laju Degradasi 17 %........................................................... 48 Perilaku Skenario Model Saat Ini Wisata Rekreasi Zumzum Dengan Laju % Pelestarian KHP 2 %, KAP 2 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 3 % dan Laju Degradasi 1 %......................................................... 49 Perilaku Skenario Model Saat Ini Wisata Rekreasi Zumzum Dengan Laju % Pelestarian KHP 1 %, KAP 1 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 1 % dan Laju Degradasi 7 %......................................................... 50 Perilaku Skenario Model Saat Ini Wisata Snorkling Zumzum Dengan Laju % Pelestarian KHP 2 %, KAP 2 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 3 % dan Laju Degradasi 1 %............................................................ 51 Perilaku Skenario Model Saat Ini Wisata Snorkling Zumzum Dengan Laju % Pelestarian KHP 1 %, KAP 1 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 1 % dan Laju Degradasi 7 %.............................................................

125

126

128

130

131

132

134

136

137

138

140

xxi

52 Perilaku Skenario Model Saat Ini Wisata Selam Zumzum Dengan Laju % Pelestarian KHP 2 %, KAP 2 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 3 % dan Laju Degradasi 1 %............................................................. 53 Perilaku Skenario Model Saat Ini Wisata Selam Zumzum Dengan Laju % Pelestarian KHP 1 %, KAP 1 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 1 % dan Laju Degradasi 7 %............................................................. 54 Perilaku Skenario Model Saat Ini Wisata Lamun Zumzum Dengan Laju % Pelestarian KHP 2 %, KAP 2 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 3 % dan Laju Degradasi 1 %............................................................. 55 Perilaku Skenario Model Saat Ini Wisata Lamun Zumzum Dengan Laju % Pelestarian KHP 1 %, KAP 1 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 1 % dan Laju Degradasi 7 %........................................................... 56 Perilaku Skenario Model Saat Ini Wisata Rekrasi Ruberube Dengan Laju % Pelestarian KHP 1 %, KAP 1 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 2 % dan Laju Degradasi 1 %............................................................. 57 Perilaku Skenario Model Saat Ini Wisata Rekrasi Ruberube Dengan Laju % Pelestarian KHP 2 %, KAP 2 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 2 % dan Laju Degradasi 15 %.......................................................... 58 Perilaku Skenario Model Saat Ini Wisata Snorkling Ruberube Dengan Laju % Pelestarian KHP 1 %, KAP 1 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 2 % dan Laju Degradasi 1 %............................................................. 59 Perilaku Skenario Model Saat Ini Wisata Snorkling Ruberube Dengan Laju % Pelestarian KHP 2 %, KAP 2 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 2 % dan Laju Degradasi 15 %.......................................................... 60 Perilaku Skenario Model Saat Ini Wisata Selam Ruberube Dengan Laju % Pelestarian KHP 1 %, KAP 1 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 2 % dan Laju Degradasi 1 %............................................................ 61 Perilaku Skenario Model Saat Ini Wisata Selam Ruberube Dengan Laju % Pelestarian KHP 2 %, KAP 2 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 2 % dan Laju Degradasi 15 %..........................................................

141

142

144

145

147

148

149

151

152

153

xxii

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman
1 2 3 4 5 6 7 Analisis Biaya Perjalanan Wisata........................................................................ Nilai Beberapa Parameter Kualitas Air Laut Untuk Wisata Bahari.................... Nilai Beberapa Parameter Kualitas Air Sumur.... Nilai Beberapa Parameter Kualitas Air Sungai................................................... Sebaran Seagrass Di Perairan Selatan Pulau Morotai, Halmahera 2005............. Penilaian Kriteria Pengelolaan Kawasan Lindung Pulau-Pulau Kecil Morotai.. 169 172 173 174 175 176

Peta Kesesuaian Untuk Ekowisata Pantai Kategori Wisata Rekreasi di Posiposi Rao, Saminyamao dan Pantai Wayabula... 178 Peta Kesesuaian Untuk Ekowisata Pantai Kategori Wisata Rekreasi Gugus Ngelengele dan Gugus Loleba. 179 Peta Kesesuaian Untuk Ekowisata Pantai Kategori Wisata Rekreasi Gugus Dodola dan Gugus Zumzum. 180

10 Peta Kesesuaian Untuk Ekowisata Bahari Kategori Wisata Snorkling di Posiposi Rao, Saminyamao dan Wayabula.. 181 11 Peta Kesesuaian Untuk Ekowisata Bahari Kategori Wisata Snorkling Gugus Ngelengele dan Gugus Loleba..... 182 12 Peta Kesesuaian Untuk Ekowisata Bahari Kategori Wisata Snorkling di Gugus Dodola dan Gugus Zumzum.. 183 13 Peta Kesesuaian Untuk Ekowisata Bahari Kategori Wisata Selam di Posiposi Rao, Saminyamao dan Wayabula.. 184 14 Peta Kesesuaian Untuk Ekowisata Bahari Kategori Wisata Selam Gugus Ngelengele dan Gugus Loleba.. 185 15 Peta Kesesuaian Untuk Ekowisata Bahari Kategori Wisata Selam Gugus Dodola dan Gugus Zumzum.. 186 16 Peta Kesesuaian Untuk Ekowisata Bahari Kategori Wisata Lamun di Pantai Wayabula.. 187 xxiii

17 Peta Kesesuaian Untuk Ekowisata Bahari Kategori Wisata Lamun di Ngelengele Besar, Loleba Besar dan Pesisir Pantai Wabula dan Daruba 188 18 Peta Kesesuaian Untuk Ekowisata Bahari Kategori Wisata Lamun di Dodola Besar, Dodola Kecil, Zumzum dan Pesisir Pantai Daruba.. 19 Contoh Formulasi Simulasi Skenario KP2K MS2B. 20 Foto-Foto Ikan Karang yang Ditemukan di Perairan Morotai Selatan dan Morotai Selatan Barat.......................................................................................... 21 Panorama Pulau Kecil KP2K MS2B..................................................................

189 190

195 196

xxiv

1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Sebagai suatu negara kepulauan terbesar didunia, Indonesia memiliki jumlah pulau-pulau kecil lebih dari 17.000 buah pulau, keberadaan pulau-pulau kecil tersebut sangat penting dalam pembangunan berkelanjutan, bukan saja karena jumlahnya yang banyak melainkan juga karena memiliki kawasan pesisir dan laut yang mengandung sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan yang sangat kaya (Clark 1996; Dahuri 2003; Bengen dan Retraubun 2006). Kekayaan dan keanekaragaman sumberdaya alam serta jasa-jasa lingkungan tersebut merupakan salah satu sumber pertumbuhan baru yang dapat menunjang pembangunan ekonomi dan sosial secara berkelanjutan di pulau-pulau kecil apabila pengelolaannya dilakukan secara bijaksana dengan memperhatikan kapasitas daya dukung lingkungan. Salah satu kawasan pulau-pulau kecil di Indonesia adalah kawasan pulau-pulau kecil Kecamatan Morotai Selatan dan Morotai Selatan Barat (KP2K MS2B) yang merupakan salah satu kawasan pulau-pulau kecil yang baru dimekarkan dari Kabupaten Halmahera Utara berdasarkan Undang Undang RI No 53 Tahun 2008 tentang pembentukan Kabupaten Pulau Morotai, maka secara administratif berubah nama menjadi Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara. Kawasan pulau-pulau kecil ini terdiri dari 23 pulau kecil, diantaranya ada sembilan pulau dihuni secara permanen oleh penduduk, sedangkan yang lainnya tidak berpenduduk. Kawasan pulau-pulau kecil ini memiliki kekayaan dan keanekaragaman sumberdaya alam berupa panorama pantai pasir putih, keindahan bawah laut (terumbu karang dan ikan hias), padang lamun, dan perikanan. Salah satunya adalah panorama pantai pasir putih sepanjang 6 km yang menghubungkan Pulau Dodola Kecil dan Pulau Dodola Besar, sedangkan penelitian dari P2O-LIPI (2006) di perairan Morotai memperlihatkan bahwa jenis lamun (7 jenis), ikan karang (69 jenis) makro algae (40 spesies), fauna ekhinodermata (22 jenis). Krustasea (kepiting 8 jenis), (udang karang 2 jenis), juga terdapat beberapa jenis hewan yang merupakan spesies dilindungi seperti kima raksasa (Tridacna), Lola (Trochus) dan ketam kenari (Birgus latro).

2 Secara umum kawasan pulau-pulau kecil ini dikelilingi ekosistem terumbu

karang pantai (fringing reef) dan terumbu karang penghalang (barrief reef) yang cukup luas. Selain itu juga, memiliki tipologi terumbu karang curam yang sangat cocok untuk wisata pantai (penyelaman dan dive-spot). Kawasan pulau-pulau kecil ini juga menyimpan nilai historis, seperti pulau kecil Zumzum yang memiliki pantai pasir putih pernah dijadikan sebagai markas pusat komando pasukan Amerika yang dipimpin oleh Jenderal Mac Arthur melawan Jepang dalam perang dunia II, pulau ini menyimpan peralatan perang antara lain: Pistol, rangka pesawat, mobil perang. Dibagian Selatan dari ibukota Kecamatan Morotai Selatan terdapat peningggalan bekas perang dunia II Bandara Pitu di Daruba yang dibangun sebagai pangkalan militer Amerika pada saat itu, hingga saat ini sebagian masih dijadikan sebagai pangkalan TNI Angkatan Udara dengan tujuh landasan pacu masing-masing panjangnya 3 km, selain itu masih banyak pulau-pulau kecil lainnya yang memiliki obyek historis. Kekayaan, keanekaragaman sumberdaya alam dan nilai historis dari KP2K

MS2B yang unik tersebut dapat menimbulkan daya tarik untuk pariwisata. Peruntukan kegiatan pariwisata secara riil di lapangan merupakan kegiatan yang menjadi prioritas pengembangan kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil di Kecamatan Morotai Selatan dan Morotai Selatan Barat, dengan berpedoman pada sumberdaya berupa keindahan alam, pasir putih, panorama dasar laut yang indah, serta sosial budaya masyarakat dapat dijadikan sebagai obyek yang menarik untuk dikelola. Salah satu tipologi kegiatan pariwisata yang menjadi alternatif kegiatan wisata saat ini adalah kegiatan ekowisata (wisata alam) yang mengandalkan keaslian alam yang dapat memberikan manfaat ekonomi, ekologis dan sosial-budaya (Bookbinder et al. 2000; Bjork 2000). Secara ekonomis, kawasan yang digunakan untuk ekowisata dan manajemen pengelolaan kawasan ekowisata dapat menerima langsung penghasilan dan pendapatan, serta mampu menghasilkan produk barang dan jasa secara

berkesinambungan dan menguntungkan. Secara ekologis, sumberdaya alamnya dapat dipelihara dan tidak dieksploitasi berlebihan sehingga tidak mengalami degradasi. Secara sosial-budaya meningkatkan kesejahteraan, keuntungan secara nyata terhadap ekonomi masyarakat sehingga menghasilkan kesetaraan dan keadilan yang dapat mengurangi

3 konflik 2000). Oleh karena itu dalam penyusunan arahan pengembangan KP2K MS2B perlu serta mempertahankan keutuhan budaya bagi masyarakat setempat (Fandeli

dikembangkan suatu rencana pengelolaan dengan pendekatan ekowisata yang bisa mengakomodasi kepentingan berbagai pihak, yang bermuara pada kesejahteraan rakyat, keberlanjutan sumberdaya serta ekosistem pulau-pulau kecil. Harapan ini akan lebih realistis dan dapat dipertanggung jawabkan jika arahan pengembangan dan pengelolaan kawasan untuk ekowisata tersebut dikaji secara ilmiah, dengan tetap mempertimbangkan kebutuhan dan realitas dinamika masyarakat.

1.2 Perumusan Masalah Sebagai kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil yang memiliki keindahan, keragaman sumberdaya hayati, nilai budaya dan sejarah maka KP2K MS2B ini berpotensi dijadikan sebagai suatu kawasan pariwisata alami, karena menyediakan sumberdaya alam yang produktif seperti terumbu karang karang, padang lamun, hutan mangrove, perikanan dan kawasan konservasi. Kawasan pulau-pulau kecil ini akan memberikan jasa lingkungan yang besar yang dapat menggerakkan industri pariwisata. Keberadaan pulau-pulau kecil tersebut sebagai kawasan wisata alam tentunya sangat rentan terhadap segala bentuk kegiatan pemanfaatan sumberdaya seperti penggunaan bom dan sianida untuk penangkapan ikan, sehingga di beberapa kawasan pulau-pulau kecil terjadi kerusakan terumbu karang yang merupakan aset wisata alam. Benda-benda peninggalan sejarah perang dunia II seperti kapal ponton, bunker kesemuanya tinggal rangkanya, hal ini akan membawa perubahan pada ekosistemnya. Perubahan-perubahan tersebut akan berpengaruh pada kualitas lingkungan, apabila suatu bentuk pengelolaan yang tidak mengindahkan kaidah-kaidah keberlanjutan sumberdaya alam, maka akan terjadi perubahan-perubahan kualitas lingkungan di kawasan pulaupulau kecil untuk ekowisata. Adanya perubahan kualitas lingkungan suatu kawasan ekowisata akan memberikan dampak pada keberadaan jumlah wisatawan yang berkunjung sehingga mempengaruhi pendapatan wisata. Oleh karena itu diperlukan suatu strategi pengelolaan kawasan pulau-pulau kecil yang mencakup semua komponen kegiatan terkait satu sama

4 lain, dengan memperhatikan jumlah maksimum pengunjung yang secara fisik dapat ditampung di kawasan yang disediakan pada waktu tertentu tanpa menimbulkan gangguan pada alam dan manusia. Untuk menggambarkan komponen-komponen yang terkait dalam pengelolaan pulau-pulau kecil untuk ekowisata, diperlukan suatu model pengelolaan pulau-pulau kecil untuk pemanfaatan ekowisata yang merupakan cerminan dari keadaan sebenarnya di alam, memberikan penjelasan terhadap komponen-komponen yang saling berinterkasi, sehingga membentuk suatu konsep model yang akan digunakan.sesuai dengan dinamika sumberdaya dan kebutuhan masyarakat Berdasarkan uraian di atas maka permasalahan yang ada dapat dirumuskan sebagai berikut: 1) Diperlukan kajian daya dukung pulau-pulau kecil untuk pengembangan

ekowisata berkelanjutan 2) Konsep model pengelolaan pulau-pulau kecil diperlukan sebagai dasar pertimbangan untuk pemanfaatan ekowisata berkelanjutan

1.3 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan : 1) Mengkaji daya dukung kawasan pulau-pulau kecil untuk pemanfaatan ekowisata berkelanjutan 2) Menyusun model konsep pengelolaan kawasan pulau-pulau kecil

kecamatan Morotai Selatan dan Morotai Selatan Barat untuk pemanfaatan ekowisata agar dapat dilakukan secara berkelanjutan.

1.4 Manfaat Penelitian Penelitian ini memberikan informasi daya dukung dan konsep pengelolaan KP2K MS2B bagi para pihak-pihak berkepentingan, terutama pemerintah Kabupaten Morotai dalam melakukan kegiatan pemanfaatan dan pengelolaan KP2K MS2B untuk ekowisata berkelanjutan.

5 1.5 Kerangka Pemikiran Kawasan pulau-pulau kecil Kecamatan Morotai Selatan dan Morotai Selatan Barat berpotensi untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata. Secara geostrategis kawasan pulau kecil ini terletak dari arah selatan pintu masuk ke pasifik dan dapat dijangkau dari berbagai belahan dunia seperti Asia, Eropa, Amerika dan Australia, dengan akses yang dimiliki berupa peninggalan bandara pesawat terbang pada zaman perang dunia II. Kawasan pulau-pulau kecil ini memiliki kekayaan dan keanekaragaman sumberdaya alam dan nilai historis. Panorama pantai pasir putih hampir terdapat di seluruh di pulau-pulau kecil ini, sedangkan karakteristik budaya masyarakatnya merupakan perpaduan budaya adat TobeloGalela, yang sampai saat ini masih

berkembang di masyarakat pulau Morotai adalah gotong royong. Jenis tarian seperti tidetide, cakalele, denge-denge, bobaso, salumbe, tokuwela, yangere dan togal, adapun jenis musik tradisional meliputi musik bambu tiup, gala, bambu hitadi, jangere, upacara adat hibua lamo, adat perkawinan dan sejarah tona malangi. Potensi yang dimiliki pulau-pulau kecil seperti letaknya yang sangat strategis, keindahan bawah laut (terumbu karang dan ikan hias), keanekaragaman hayati terumbu karang, ikan karang, panorama pulau, pasir putih, nilai historis, dan keanekaragaman suku dan budaya merupakan aset untuk pengembangan ekowisata. Namun setelah

dicermati untuk dapat melestarikan potensi yang dimiliki pulau-pulau kecil dilakukan dengan penetapan zonasi kawasan konservasi KP2K MS2B, zonasi ditetapkan dengan maksud untuk mempermudah pengendalian, pemanfaatan dan pemeliharaan

keberlanjutan sumberdaya pulau-pulau kecil. Zonasi kawasan konservasi sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia No 27 tahun 2007 tentang pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil terdiri dari zona inti, zona pemanfaatan terbatas dan zona lain, yang secara obyektif menggunakan penerapan kriteria. Kriteria yang digunakan dikelompokkan atas kelompok kriteria

ekologi, ekonomi, sosial dan kelembagaan (Salm et al. 2000). Zona inti sesuai dengan peruntukannya untuk perlindungan habitat dan populasi sumberdaya pulau-pulau kecil serta pemanfaatannya terbatas untuk penelitian, zona pemanfaatan terbatas bentuk pemanfaatannya hanya boleh dilakukan untuk budidaya

6 pesisir, ekowisata dan perikanan tradisional, sedangkan zona lainnya merupakan zona diluar zona inti dan zona pemanfaatan terbatas karena fungsi dan kondisinya ditetapkan sebagai zona tertentu antara lain: zona rehabilitasi dan sebagainya (Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia nomor 17 tahun 2008 tentang kawasan konservasi di wilayah pulau-pulau kecil). Berdasarkan hal tersebut disesuaikan dengan implementasi pengelolaaan KP2K MS2B maka zonasi kawasan pulau-pulau kecil dibagi atas tiga zona yaitu: zona inti, zona pemanfaatan terbatas dan zona penyangga (perpaduan dari zona pemanfaatan terbatas dan zona lainnya). Khusus untuk zona penyangga sifatnya lebih terbuka tetapi tetap dikontrol dan beberapa pemanfaatan masih diijinkan, zona ini ditujukan untuk menjaga kawasan konservasi dari berbagai aktivitas pemanfaatan yang dapat mengganggu , dan melindungi kawasan konservasi dari pengaruh eksternal (Bengen dan Retraubun 2006). Zona yang telah ditetapkan disesuaikan dengan peruntukannya, sehingga zona pemanfaatan terbatas dan zona penyangga dijadikan sebagai penilaian kesesuaian lahan ekowisata dalam menentukan kawasan wisata rekreasi, snorkling, selam dan lamun. Dalam menunjang keberlanjutan kawasan wisata tersebut harus diketahui daya dukung kawasan ekowisata, karena mengarah pada pertimbangan bahwa betapapun besarnya daya tarik wisata suatu lokasi, secara ekologis tetap akan memiliki keterbatasan daya dukung, sehingga jumlah para wisatawan yang datang dalam suatu ruang dan waktu patut diperhitungkan. Diharapkan studi ini menghasilkan daya dukung kawasan ekowisata, serta suatu konsep yang diwujudkan dalam suatu pemodelan pengelolaan pulau-pulau kecil untuk pemanfaatan ekowisata berkelanjutan yang dapat melestarikan sumberdaya alam kawasan pulau-pulau kecil dapat terjaga dengan baik, secara sosial dapat melestarikan budaya setempat, dan secara ekonomis menjadi sumber pendapatan daerah dan kesejahteraan masyarakat. Secara sistematik, kerangka pemikiran penilitian disajikan pada Gambar 1.

Gambar 1 Kerangka Pemikiran Pengelolaan Kawasan Pulau-Pulau Kecil Untuk Pemanfaatan Ekowisata Berkelanjutan

8 1.6 Kebaruan Berdasarkan hasil penelitian pengelolaan pulau-pulau kecil untuk pemanfaatan ekowisata KP2K MS2B dan penelesuran literatur tentang model pengelolaan pulaupulau kecil, maka didapatkan dua hal yang baru dalam penelitian ini yaitu: Pertama, model dinamik pengelolaan pulau-pulau kecil untuk pemanfatan ekowisata berkelanjutan, penekanan pada simulasi skenario dinamik kriteria ekologi berhubungan dengan daya dukung dan pendapatan wisata. Kedua aplikasi ekowisata merupakan satu pendekatan

baru dalam pengelolaan KP2K MS2B khususnya di Kabupaten Pulau Morotai, sehingga dengan menggunakan ekowisata sebagai bagian dari bentuk pengelolaan pulau-pulau kecil, akan menciptakan produk wisata yang unggul.

2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Secara umum pengelolaan diartikan sebagai suatu kegiatan yang mencakup

perencanaan dan pengawasan, pengorganisasian, pelaksanaan dan evaluasi. Secara spesifik sebagai suatu kegiatan yang dilakukan untuk menentukan pelaksanaan suatu kegiatan berdasarkan tujuannya. Banyak ahli berbeda pendapat tentang definisi pulau kecil. Ada yang menyatakan pulau kecil adalah pulau dengan ukuran <10.000 km2 (Diaz Arenas dan Febrillet Huertas 1986; Beller et al.1990), dipertegas dalam keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan nomor 41 tahun 2000 tantang pedoman umum pengelolaan pulau-pulau kecil yang berkelanjutan dan berbasis masyarakat menyebutkan bahwa pulau kecil adalah pulau yang ukuran luasnya <10.000 km2 dengan jumlah penduduk <200.000 jiwa, sedangkan menurut perundangan terbaru pulau kecil adalah pulau yang luas areanya 2.000 km2 (Peraturan Presiden No. 78 tahun 2005 tentang pengelolaan pulau terluar ; UU RI No. 27 tahun 2007). Pengertian pengelolaan pulau-pulau kecil adalah suatu proses perencanaan, pemanfaatan, pengawasan, dan pengendalian sumberdaya pulau-pulau kecil yang luas areanya 2.000 km2, secara fungsional saling berinteraksi dari sisi ekologis, ekonomi, sosial budaya, baik secara individual maupun secara sinergis dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dalam kaitannya dengan pengelolaan banyak faktor yang harus diperhatikan seperti: Pulau kecil secara fisik memiliki sumberdaya daratan (terestrial) yang sangat terbatas, habitatnya seringkali terisolasi dari habitat lain, area tangkapan air terbatas dan mempunyai lingkungan yang khusus dengan proporsi spesies endemik yang tinggi bila dibandingkan dengan pulau kontinen, secara ekologi memiliki kondisi yang sangat rentan, sehingga interaksi antara lahan dan perairan laut melalui proses hidrologis dan arus laut sebagaimana pergerakan biotanya, mempunyai karakteristik yang spesifik (Salm et al. 2000). Menurut Adrianto (2004), dalam perspektif ekosistem wilayah pesisir, wilayah pulau-pulau kecil dapat dibagi menjadi beberapa sub-wilayah yaitu : (1) wilayah perairan

10

lepas pantai (coastal offshore zone); wilayah pantai (beach zone); (3) wilayah dataran rendah pesisir (coastal lowland zone); (4) wilayah pesisir pedalaman (inland zone). Selanjutnya dalam hubungannya dengan keterpaduan, pendekatan berbasis keberlanjutan sistem wilayah pesisir di pulau-pulau kecil menjadi syarat mutlak pengelolaan lingkungan wilayah pesisir di pulau-pulau kecil harus mempertimbangkan faktor keterpaduan antar komponen yang secara riel tidak dapat dipisahkan satu sama lain, yang akan menjadi tercapainya keberlanjutan pembangunan, pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Ilustrasi pengelolaan wilayah pesisir interkorelasi antar sub-wilayah dalam wilayah pesisir dan laut pulau-pulau kecil disajikan pada Gambar 2

Social Welfare
The Offshore Zone The Beach Zone

IMPLEMENTATION

Interaction Activies

Process

MONITORING

Environmental Integrity The Island Zone

MANAGEMENT

Economic Efficiency The Low-Land Zone

Gambar 2 Kerangka Berkelanjutan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Laut di PulauPulau Kecil (Debance 1999 dalam Adrianto 2004) Kaitan dengan pengelolaan pulau-pulau kecil di Indonesia, menurut peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 20 tahun 2008 tantang pemanfaatan pulau-pulau kecil dan perairan di sekitarnya menyebutkan bahwa pulau dengan luas areanya 2.000 km2 kegiatan yang sesuai mencakup konservasi sumberdaya alam, budidaya laut,

pariwisata bahari, usaha penangkapan ikan berkelanjutan, pendidikan dan penelitian, dan sebagainya. Dari penjelasan di atas, Cambers (1992) dalam Adrianto (2004) menyatakan bahwa strategi pengelolaan pulau-pulau kecil harus dapat mengkaitkan seluruh kegiatan dan pemangku kepentingan yang ada di pulau-pulau kecil, dengan menggunakan sistem yang terkoorganisasi. Selanjutnya dijelaskan sistem terkoordinasi yang dapat

11

diidentifikasi dalam pulau-pulau kecil, paling tidak terdapat lima proses yaitu proses alam, proses sosial, proses ekonomi, perubahan iklim dan proses pertemuan antara daratan dan laut yang masing-masing merupakan komponen dalam sistem pulau-pulau kecil yang tidak bisa dipisahkan satu sama antara lain sistem lingkungan daratan, sistem lingkungan laut dan sistem aktivitas manusia (Gambar 3)

Lingkungan daratan

Aktivitas manusia

Lingkungan laut

Terkait satu sama lain

Gambar 3 Interaksi Yang Tidak Terpisahkan Antar Komponen Pulau-Pulau Kecil (Debance 1999 dalam Adrianto 2004) Dalam mengelola kawasan pulau-pulau kecil ketiga sistem ini saling terkait, tetapi yang paling utama memahami fungsi masing-masing sistem ini, sebagai contoh kawasan pulau-pulau kecil luas lingkungan lautnya lebih luas dari lingkungan daratannya untuk itu diperlukan suatu pemahaman peran lingkungan laut, aspek-aspek apa saja yang ada di dalamnya. Aspek-aspek yang dimaksud seperti terumbu karang, padang lamun dan

mangrove, ketiga ekosistem ini memberikan sumbangan yang besar bagi kegunaan wilayah di pesisir dan pulau-pulau kecil Moberg dan Folke (1999) menyatakan peran terumbu karang, khususnya terumbu karang tepi dan penghalang, berperan penting sebagai pelindung pantai dari hempasan ombak dari laut, lain itu mempunyai utama sebagai habitat (tempat tinggal), tempat mencari makan, tempat asuhan dan pembesaran, tempat pemijahan bagi flora dan biota yang hidup bagi di terumbu karang dan sekitarnya. Selanjutnya dijelaskan bahwa biotabiota ini ada yang beruaya ke ekosistem yang lain seperti lamun dan mangrove, lamun merupakan produsen detritus dan zat hara, sebagai tempat berlindung, mencari makan,

12

tumbuh besar bagi biota yang lain, sedangkan mangrove peredam gelombang, pelindung pantai, dan penghasil sejumlah besar detritus terutama berasal dari daun dahan pohon mangrove yang rontok, juga sebagai daerah asuhan, mencari makan, baik yang hidup di pantai maupun di lepas pantai. Keadaan ini menunjukkan bahwa pengelolaan pembangunan pada kawasan tersebut apabila tidak terencana dengan baik dapat mengakibatkan dampak eksternal yang cukup nyata. Dengan demikian setiap konservasi atau eksploitasi yang dilakukan akan berdampak terhadap fungsi ekosistem lingkungan pulau-pulau kecil, dengan

perkataan lain sesungguhnya pembangunan selalu membawa resiko lingkungan maupun sosial bagi pulau-pulau kecil. Oleh karena itu kajian mendasar yang intensif menduduki posisi penting dalam pengelolaan dan pengembangan sumberdaya pulau-pulau kecil (Kusumastanto 2000).

2.2 Pengertian dan Pengembangan Ekowisata Bahari Istilah ecotourism diterjemahkan menjadi ekowisata, yaitu jenis pariwisata yang berwawasan lingkungan. Maksudnya melalui aktivitas yang berkaitan dengan alam dan lingkungan sehingga membuat orang tergugah untuk mencintai alam (Ziffer 1989; Semua ini sering disebut dengan istilah

Young 1992; Valentine 1993; Scace 1993). kembali ke alam.

Pengertian ekowisata dari waktu ke waktu mengalami perkembangan. Namun pada hakekatnya pengertian ekowisata adalah suatu bentuk wisata yang

bertanggungjawab terhadap kelestarian area yang masih alami, memberi manfaat secara ekonomi dan mempertahankan keutuhan budaya bagi masyarakat setempat (CeballosLascurain 1991; Carter dan Lowman 1994; Honey 1999; Bjork 2000; Wunder 2000) Ekowisata merupakan suatu model pengembangan wisata yang menghargai kaidah-kaidah alam dengan melaksanakan program pembangunan dan pelestarian secara terpadu antara upaya konservasi sumberdaya alam dengan pengembangan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan (Choy 1997; Fandeli 2000; Buchsbaum 2004). Dukungan konservasi sumberdaya alam dilakukan dengan melaksanakan program pembangunan yang memperhatikan kualitas daya dukung kawasan dan bersifat ramah

13

lingkungan. Ekowisata juga meminimalkan dampak negatif terhadap mutu dan kualitas keanekaragaman hayati yang disebabkan kegiatan wisata yang bersifat massal. Ekowisata sesungguhnya adalah suatu perpaduan dari berbagai minat yang

tumbuh berdasarkan keprihatinan lingkungan, ekonomi dan sosial. Akar dari ekowisata terletak pada pariwisata alam dan ruang terbuka. Jadi dengan kata lain ekowisata menggabungkan suatu komitmen yang kuat terhadap alam dan suatu rasa tanggung jawab sosial. Dalam hubungannya dengan ekowisata di pulau-pulau kecil, seperti telah dijelaskan di atas wilayah pulau-pulau kecil dikelilingi oleh wilayah laut yang lebih luas dari daratannya, pengembangan ekowisata lebih mengarah kepada wisata bahari. Dengan demikian wisata bahari merupakan wisata yang lebih banyak dikembangkan di wilayah pulau-pulau kecil. Konsep dan definisi tentang wisata bahari dikemukan para ahli seperti Hall (2001) membagi wisata atas dua bagian yaitu : wisata pesisir dan wisata bahari, wisata pesisir berhubungan dengan kegiatan leisure dan aktivitas rekreasi yang dilakukan di wilayah pesisir dan perairan lepas pantai, meliputi rekreasi menonton ikan paus dari pinggiran pantai, berperahu, memancing, snorkling dan menyelam, sedangkan wisata bahari

berhubungan dengan wisata pantai tetapi lebih mengarah pada perairan laut dalam seperti: memancing di laut dalam dan berlayar dengan kapal pesiar. Orams (1999) menyatakan bahwa wisata bahari merupakan suatu kegiatan rekreasi, dari satu tempat ke tempat lain dimana laut sebagai media tempat mereka, sedangkan Hidayat (2000) menyatakan bahwa wisata bahari merupakan kegiatan wisata yang menyangkut dengan laut seperti santai di pantai menikmati alam sekitar, berenang, berperahu, berselancar, ski air, menyelam dan berwisata ke alam laut (menikmati terumbu karang dan biota laut), obyek purbakala, kapal karam dan pesawat tenggelam, serta berburu ikan-ikan. Secara umum perkembangan pariwisata dari tahun ke tahun makin menjanjikan, badan dunia turis (WTO) memperkirakan selama tahun 1996 ada 592 juta wisatawan internasional yang berkunjung dengan pendapatan sekitar $US 423 milyar, ke depan sampai pada tahun 2020 diperkirakan pertumbuhan wisatawan meningkat rata-rata 4,3% per tahun dengan pendapatan $US 5juta per hari (Orams 1999). Di Indonesia selama dua

14

dekade pertengahan dekade 1980-an sampai tahun 1990-an, jumlah wisatawan mancanegara yang mengunjungi obyek wisata bahari pada akhir pelita VII diperkirakan sebesar 1,64 juta jiwa dengan pendapatan devisa sebesar $US 2,16 milyar. Keadaan tersebut akan memberikan pendapatan devisa bagi negara yang cukup besar terutama kontribusinya pada perkembangan wisata bahari di tanah air. Dalam kasus-kasus tertentu dengan semakin meningkatnya pendapatan, karena meningkatnya jumlah wisatawan, tidak lagi memperhatikan merusak sumberdaya hayati. aspek lingkungan ekologi maka akan

Beberapa kasus yang dilaporkan beberapa peneliti

berhubungan dengan dampak dari wisatawan yang berkunjung ke suatu tempat wisata seperti: Hall (2001) melaporkan sejumlah dampak wisata terhadap lingkungan dan ekologi yang terjadi di pulau-pulau Pasifik (Tabel 1)
Tabel 1 Dampak Pariwisata Terhadap Lingkungan dan Ekologi Pada Pulau-Pulau Pasifik Kerusakan habitat dan kerusakan ekosistem akibat : - pembangunan lapangan golf - pengelolaan kawasan wisata yang buruk sehingga flora dan fauna hilang - peledakan bom (merusakan sumberdaya pesisir laut) - pembangunan jalan, runway, pelabuhan, areal parkir dan - penggunaan kapur di hotel-hotel Terganggunya air tanah - pemakaian air tanah yang berlebihan oleh resort wisata - runoff akibat pengerukan pasir di daerah pesisir Diperkenalkannya spesies eksotik untuk wisata sehingga meningkatkan perburuan flora dan fauna pada suatu ekosistem sehingga dapat merusak: - ekosistem mangrove - ekosistem terumbu karang dan - ekosistem pasir Sumber : Hall (2001)

Kasus yang lain dilaporkan oleh Orams (1999) seperti di Teluk Hanauma Hawai, taman lautnya dipromosikan sebagai daerah tujuan wisata, sehingga berbagai aktivitas di arahkan ke teluk mulai dari bis-bis wisatawan, kegiatan snorkling sampai ikan-ikan di teluk ini menjadi makanan populer, tuntutan perbaikan fasilitas untuk melayani wisatawan seperti jalan diperbaiki, parkiran diperbesar , fasilitas wc dan piknik ditambah. Dari hasil studi ditetapkan 1.000 pengunjung/hari tapi karena popularitas Hanauma terus meningkat pengunjung melebihi 10.000 setiap harinya pada tahun 1981 dan diperkirakan lebih dari 2 juta wisatawan mengunjungi teluk ini setiap tahun sehingga mengakibatkan biomas organisme karang, sponge dan fauna laut menurun.

15

Zakai et al. (2001) menggambarkan dampak dari pariwisata selam di terumbu karang Eilat bagian Utara Laut Merah dengan frekuensi menyelam lebih besar dari 250.000 per tahun dengan panjang garis pantai hanya12 Km, menyebabkan terumbu karang banyak yang rusak. Hal yang sama terjadi di taman laut Gilitungan Philipina, rekreasi menyelam dengan frekuensi menyelam sebanyak 25.925 pada tahun 2003 memberikan kekhawatiran akan rusaknya terumbu karang (Frederick et al. 2005) Studi kasus yang lain di pulau-pulau Karibia, pariwisata bahari mempengaruhi sosial budaya masyarakat seperti pemindahan penduduk lokal dari tempat tinggal mereka di pinggiran pantai, sebelum pengembangan pariwisata di St Thomas, lebih dari 50 pantai merupakan tempat mereka, namun pada tahun 1970 hanya tinggal dua untuk mereka selebihnya untuk wisatawan (Orams 1999). Kasus-kasus tersebut di atas merupakan dampak negatif yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan wisata, tetapi ada juga dampak positif yang dapat dirasakan masyarakat, seperti keadaan ini telah dilakukan di pulau Nusa Lembongan yang merupakan pulau kecil di sebelah selatan pulau Bali. Kegiatan ekowisata yang dilakukan ternyata menambah pendapatan masyarakat dan masyarakat dilibatkan dalam kegiatan tersebut menjaga keletarian sumberdaya hayati (Yuanike 2003). Pengembangan pariwisata

bahari di Kelurahan Pulau Kelapa Kecamatan Pulau Seribu Utara memberikan kontribusi pendapatan keluarga yang ikut serta dalam kegiatan pariwisata bahari rata-rata sebesar 99,56% (Rp 902.000.-) per bulan dari total pendapatan Rp 906.000.- (Aziz 2003). Fenomena tersebut di atas memberikan gambaran dampak pariwisata bahari bisa positif dan negatif tergantung pada penggunaan sumberdaya alam (Orams 1999). Oleh karena itu di dalam ekowisata dilakukan dengan kesederhanaan, memelihara keaslian alam dan lingkungan, memelihara keaslian seni dan budaya, adat istiadat, kebiasaan hidup, menciptakan ketenangan, kesunyian memelihara flora dan fauna, serta terpeliharanya lingkungan hidup sehingga tercipta keseimbangan antara kehidupan manusia dengan alam sekitarnya, wisatawan yang datang tidak semata-mata untuk menikmati alam sekitar tetapi juga mempelajarinya sebagai peningkatan pengetahuan atau pengalaman, dengan demikian maka selaraslah arti ekowisata sebagai wisata yang bertanggung jawab.

16

2.3 Daya Dukung Ekowisata Daya dukung ekowisata tergolong spesifik dan lebih berhubungan dengan daya dukung lingkungan (biofisik dan sosial) terhadap kegiatan pariwisata dan

pengembangannya (McNeely 1994).

Daya dukung ekowisata juga diartikan sebagai

tingkat atau jumlah maksimum pengunjung yang dapat ditampung oleh sarana prasarana (infrastruktur) obyek wisata alam. Jika daya tampung sarana dan prasarana tersebut

dilampaui, maka akan terjadi kemerosotan sumberdaya, kepuasaan pengunjung tidak terpenuhi, dan akan memberikan dampak merugikan terhadap masyarakat, ekonomi dan budaya (Ceballos-Lascurain 1991; Simon et al. 2004). Selanjutnya ditambahkan bahwa kapasitas sosial dan psikologi dari lingkungan ekowisata dapat mendukung aktivitas dan pengembangan ekowisata. Beberapa komponen dasar yang mempengaruhi daya dukung ekowisata antara lain : Komponen Biofisik Komponen biofisik yang mempengaruhi daya dukung terutama berkaitan erat dengan sumberdaya alam. Komponen Sosial Budaya Perubahan sosial budaya pada masyarakat dapat sebagai dampak kegiatan ekowisata pada suatu tingkat tertentu. . Komponen Psikologi Komponen psikologi dari daya dukung ekowisata lebih ditekankan pada jumlah maksimum pengunjung yang dapat ditampung oleh suatu area pada suatu waktu (Ceballos-Lascurain 1991) Komponen Manajerial Daya dukung obyek wisata alam ditinjau dari komponen manajerial merupakan jumlah pengunjung maksimum yang masih dapat dikelola pada suatu area ekowisata (obyek wisata alam). Belum ada sebuah rumus baku yang disepakati untuk mengetahui sampai sejauh mana daya dukung tersebut tidak terlampaui, berapa jumlah wisatawan yang diizinkan, dan seberapa lama wisatawan diizinkan memasuki dan menggunakan daerah tujuan wisata (Simon et al. 2004 ; Wearing dan Neil 1999). Hal itu karena perilaku pengunjung

17

saat mengunjungi daerah tujuan wisata, musim dan regulasi yang ditetapkan berbedabeda akan mempengaruhi analisis yang dilakukan. Wearing dan Neil (1999) menyatakan bahwa dalam kaitannya dengan kegiatan wisata, diskusi tentang daya dukung lingkungan mempunyai tiga elemen yang harus diperhatikan, yakni sebagai berikut: Elemen ekologis, hal yang terkait dengan lingkungan alamiah destinasi wisata Sosiokultural, hal ini pada intinya terkait dengan dampak wisata terhadap populasi masyarakat setempat dan budayanya. Fasilitas yang berkaitan dengan kebutuhan wisatawan Daya dukung bersifat tidak tetap atau dinamis, yaitu dapat berkurang oleh perilaku manusia maupun kerusakan alam serta juga dapat ditingkatkan melalui suatu perlakuan pengelolaan lingkungan secara benar dan terencana (Clark 1996). Daya

dukung memberikan suatu pedoman bagi penyelenggaraan kegiatan pariwisata yang khususnya berkenaan dengan pentingnya pemeliharaan kualitas pembangunan yang berwawasan lingkungan. Dengan demikian merencanakan kawasan wisata dengan mengindahkan daya dukung menjadi faktor yang penting untuk diperhatikan. Wearing dan Neil (1999)

menyatakan bahwa dalam kaitannya dengan pembangunan sektor wisata, isu daya dukung lingkungan harus dimasukkan dalam isu-isu tataguna lahan. Salah satunya

dengan penerapan sistem zonasi yang merupakan strategi yang dapat diterapkan untuk memenuhi daya dukung.

2.4 Konsep Ekowisata Berkelanjutan Ekowisata berkelanjutan banyak diilhami oleh konsep pembangunan

berkelanjutan. Sebagaimana pembangunan berkelanjutan, definisi wisata berkelanjutan juga sangat sulit pada tahap operasional. Namun, serangkaian parameter sering

digunakan untuk merujuk kepada wisata berkelanjutan, antara lain wisata yang mempunyai dampak minimal terhadap lingkungan memberikan dampak yang menguntungkan bagi komunitas atau masyarakat lokal, serta memberikan pendidikan konservasi bagi pengunjung (McMinn 1997).

18

Yudaswara (2004) menganalisa kebijakan pengembangan wisata bahari dalam pengelolaan pulau-pulau kecil secara berkelanjutan (studi kasus Pulau Menjangan Kabupaten Buleleng- Bali), ternyata kawasan pariwisata berkelanjutan terpilih menjadi skenario yang optimal bagi pengelolaan kawasan Pulau Menjangan. Di gugus pulau Kelurahan Pulau Kelapa Kecamatan Kepulauan Pulau Seribu masyarakat memiliki kegiatan ekonomi yang sangat terkait dengan sumberdaya alam yakni perikanan dan pariwisata, masyarakat yang terlibat kegiatan pariwisata memiliki pendapatan yang lebih baik (Ruyani 2003). Tosun (2001) menyatakan bahwa pembangunan berkelanjutan merupakan suatu konsep untuk menjembatani pembangunan kawasan tanpa harus mengorbankan keanekaragaman hayati. Konsep pembangunan berkelanjutan banyak didasari oleh

adanya fakta bahwa penggunaan keanekaragaman hayati pada faktanya cenderung mengarah kepada perilaku eksploitasi (Dymond 1997). Konsep ini menyarankan adanya penggunaan sumber daya alam yang berkelanjutan antar generasi. Secara teoritis konsep wisata berkelanjutan dinyatakan oleh Casagrandi dan Rinaldi (2002) bahwa keberlanjutan wisata pulau-pulau kecil mengikuti model minimalis tergantung dari tiga aspek tiga komponen utama yaitu : kondisi lingkungan (E= Environmental ); Investasi (C=Capital); dan Wisata (T= Tourism). komponen Ketiga

ini saling terkait (Gambar 4). Selanjutnya dijelaskan, wisatawan akan

berkunjung apabila lingkungannya baik, tetapi dengan bertambahnya wisatawan melebih daya dukung akan memperburuk lingkungan, dan akan berakibat pada kapital, sebaliknya wisatawan yang banyak akan menambah kapital, dan kapital ini bisa dikembalikan untuk perbaikan lingkungan
Minimal Model Tourism

Turism Sub Sistem T = Tourist Vector C = Capital Vector E = Environment Vector

Abstract Model of Tourism

Gambar 4 Model Minimal Konsep Wisata Berkelanjutan (Casagrandi dan Rinaldi 2002)

19

Ada hal menarik

berhubungan dengan wisata berkelanjutan yaitu destinasi

berkelanjutan. Sampai saat ini, tidak ada sebuah definisi yang baku tentang apa yang disebut sebagai destinasi wisata berkelanjutan, karena destinasi wisata bersifat unik (Lee 2001; Ryhannen 2001). Demikian juga kriteria untuk merujuk kepada destinasi berkelanjutan sangat beragam, tergantung kepada skema-skema atau cara yang dipakai untuk mendefinisikan destinasi berkelanjutan. Namun, Mc Minn (1997) mengusulkan

bahwa daya dukung lingkungan merupakan salah satu alat yang dapat dipakai untuk mengukur, sejauh mana sebuah destinasi bisa berkelanjutan. Fennel dan Eagles (1990) menyarankan adanya enam prinsip penting yang harus dipenuhi oleh pengunjung dalam penyelenggaraan ekowisata berkaitan dengan keberlangsungan destinasi, yakni sebagai berikut : 1) Semaksimal mungkin berusaha meniadakan dampak negatif dari kehadiran mereka terhadap lingkungan destinasi wisata dan penduduk lokal. 2) Melakukan perjalanan wisata ini dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman terhadap alam dan keunikan lokal. 3) Ikut membantu memaksimal partisipasi awal dan jangka panjang dari masyarakat lokal, dalam proses pembuatan keputusan yang menyangkut penyelenggaraan ekowisata. 4) Selayaknya, pengunjung memberikan kontribusi terhadap usaha-usaha konservasi daerah yang dilindungi. 5) Memberikan keuntungan ekonomi dibandingkan sekadar mengalihkan masyarakat setempat dari pekerjaan tradisional mereka. 6) Membuka peluang bagi mahasiswa masyarakat lokal dan pekerja wisata, untuk memanfaatkan keindahan sumberdaya alam. Konsep-konsep di atas, sangat jelas tergambarkan bahwa untuk mencapai destinasi wisata yang berkelanjutan, dibutuhkan integritas ekologis sebagai usaha mencapai visi pembangunan berkelanjutan. Model di atas membutuhkan komitmen dari banyak pihak dalam mewujudkan destinasi yang berkelanjutan dalam upaya meningkatkan dan mempertahankan sektor wisata, sebagai bagian dari strategi penerimaan devisa. Yang perlu diperhatikan adalah sebagai sebuah proses, hal tersebut membutuhkan waktu yang relatif panjang. Ekosistem yang mengalami kerusakan

membutuhkan waktu untuk memperbaiki dirinya, termasuk kemampuan-kemampuan faktor biotik penyusunnya, yakni tumbuhan dan hewan.

20

2.5 Pemodelan Banyak ahli mendefenisikan model: Jorgensen (1988); Hall and Day (1997); (Suryani 2006); (Hartrisari 2007) menyatakan bahwa model merupakan gambaran (abstraksi) penyederhanaan dari suatu sistem ataupun keadaan yang sebenarnya. Sistem adalah sekelompok komponen yang beroperasi secara bersama-sama untuk mencapai tujuan tertentu dan terorganisasi dalam rangka mencapai suatu tujuan atau gugus tertentu (Forrester 1968; Jeffer 1978; Grant et al. 1997; Aminullah dan Muhammadi 2001; Eriyatno 2003; Hartrisari 2007). Karena sistem sangat kompleks, tidak mungkin membuat model yang dapat menggambarkan seluruh proses yang terjadi dalam sistem, untuk itu model disusun dan digunakan untuk memudahkan dalam pengkajian sistem karena sulit dan hampir tidak mungkin untuk bekerja pada keadaan yang sebenarnya. Oleh sebab itu, model hanya memperhitungkan beberapa faktor dalam sistem dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Pembuat model ingin tahu lebih banyak mengenai struktur dan perilaku alam, baik pada saat ini maupun di masa datang dengan pemodelan. Hannon dan Ruth (1994); Suryani (2006); Hartrisari (2007) menyatakan bahwa pemodelan adalah berfikir dengan mengikuti sekuen logis, secara berstruktur, proses yang kreatif, tidak linier, menampilkan kembali, pembentukan model dari sistem tersebut dengan menggunakan bahasa formal tertentu, dan hasil proses tersebut adalah model. Pemodelan yang efektif merupakan keterkaitan antara dunia nyata sehingga tujuan model sebagai

penyederhanaan sistem akan tercapai. Model disusun untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Eriyatno (2003) dan Hartrisari (2007) menyatakan tahapan-tahapan dalam

pembuatan model yaitu: Analisis kebutuhan, formulasi masalah, dan identifikasi sistem seperti pada Gambar 5.

21

Gambar 5. Tahapan Analisis Sistem (Eriyatno 2003) Selanjutnya dijelaskan tahapan-tahapan dalam pendekatan sistem sebagai berikut Analisis kebutuhan Analisis kebutuhan merupakan tahap awal dari pengkajian suatu sistem. Pada tahap ini diidentifikasi kebutuhan-kebutuhan dari masing-masing pelaku sistem, setiap pelaku sistem memiliki kebutuhan yang berbeda-beda yang dapat mempengaruhi kerja sistem, Formulasi kebutuhan merupakan hal yang penting harus dikenali apakah kontradiktif atau sejalan, kebtuhan yang sinergis bagi semua pelaku sistem tidak akan menimbulkan permasalahan untuk pencapaian tujuan sistem karena semua pelaku menginginkan kebutuhan tersebut. Identifikasi sistem Pada tahap ini harus dikenali hubungan antara pernyataan hubungan dengan pernyataan masalah, salah satunya diagram lingkar sebab akibat (causal loop diagram) atau diagram input-output (black box diagram) Sedangkan Grant et al., (1997) menyatakan bahwa ada empat tahap dalam sistem analisis yaitu: Perumusan Model Konseptual Tujuan dari fase pertama ini adalah untuk menentukan konsep dan tujuan model sistem yang dianalisis. Dalam tahap ini diputuskan komponen mana yang komponen-komponen

berkaitan dengan pencapaian tujuan model tersebut.

22

tersebut digambarkan dengan menggunakan simbol-simbol yang diindikasikan menyerupai keadaan sebenarnya di lapangan Spesifikasi Model Kuantitatif Tujuan tahap ini adalah untuk mengembangkan model kuantitatif dan sistem yang diinginkan. Pembentukan model kuantitatif ini dilakukan dengan

memberikan nilai kuantitatif terhadap masing-masing nilai variabel dan menterjemahkan setiap hubungan antar variabel dan komponen penyusun model sistem tersebut ke dalam persamaan matematik sehingga dapat diopreasikan melalui program simulasi Evaluasi Model Tujuan tahap ini, mengevaluasi model dilakukan untuk mengetahui manfaat model terhadap tujuan pemodelan yang diharapkan, dalam beberapa hal, tahap ini disebut juga sebagai validasi model dimana seringkali dilakukan dengan membandingkan prediksi model dengan kondisi nyata, pada tahap ini juga lebih ditekankan pada analisis terhadap perilaku komponen dan hasilnya terhadap tujuan pemodelan Penggunaan Model Tahap ini merupakan akhir tahapan analisis sistem dimana kita menjawab pertanyaan yang diidentifikasi pada saat mendisain analisis sistem. mencakup analisis, interpretasi, dan prosedur komunikasi hasil simulasi. Sesudah membuat model, maka langkah selanjutnya untuk menentukan keputusan yang diambil berhubungan dengan model yang dibuat adalah dengan simulasi. Eriyatno (2003) dan Suryani (2006): menyatakan bahwa simulasi adalah suatu aktitivitas dimana pengkaji dapat menarik kesimpulan-kesimpulan tentang perilaku dari suatu sistem, melalui penelaahan perilaku model yang selaras, dimana hubungan sebab akibatnya sama dengan atau seperti yang ada pada sistem yang sebenarnya. Hal ini

2.6

Penelitian Pemodelan Pulau Kecil Secara umum penelitian-penelitian tentang pemodelan pulau kecil

menggambarkan suatu keadaan yang terjadi pada pulau tersebut. Keadaan yang terjadi tentunya berhubugan dengan kasus atau merupakan gambaran sebagian dari kenyataan

23

yang ada, sebagai contoh: Brander and Taylor (1998) mengadakan penelitian di Pulau Easter dengan menggambarkan keadaan sumberdaya terbarukan dan dinamika sumberdaya manusia, dilanjutkan oleh Matsumoto (2001) dengan melihat populasi penduduk dan degradasi sumberdaya yang cepat. Di Indonesia penelitian yang berhubungan dengan pemodelan pulau kecil sudah mulai dilakukan, seperti : Maanema (2003) membangun model pariwisata dan model budidaya laut untuk pemanfaatan pulau-pulau kecil studi kasus Gugus Pulau Pari Kepulauan Seribu, Susilo (2003) membangun model ekonomi-ekologis studi kasus

kelurahan Pulau Panggang dan Pari Kepulauan Seribu, Ola (2004) membangun model ekologi, budaya dan ekonomi di Kepulauan Wakatobi dan Parwinia (2007) pemodelan ko eksestensi pariwisata dan perikanan di Selat Lembe Sulawesi Utara. Berikut ini adalah gambaran umum penelitian pulau kecil yang berhubungan dengan pemodelan (Tabel 2) Tabel 2 Penelitian Pemodelan Pulau Kecil
Peneliti
Brander JA and Taylor MS. 1998. Journal The American Economic Review Matsumoto A. 2001. Journal, Discrete Dynamic in Nature and Society

Judul penelitian
The Simple Economc of Easter Island: A Ricardo Malthus Model of Renewable Resource Use

Gambaran umum penelitian


Suatu model ekuilibrium umum sumber daya terbarukan dan dinamika populasi manusia. Mengatasi masalah tersebut dengan membangun model formal yang menghubungkan dinamika populasi dan dinamika sumber daya terbarukan.

Economi Dynamic Model for Small Island

Secara teoritis kebanyakan pulau-pulau di Pasifik mengikuti pola evolusi yang sama seperti dinamika pertumbuhan populasi penduduk yang cepat dan degradasi sumberdaya. Kasus Pulau Easter sekitar abad ke-4 dan pertengahan abad ke18 yang mengindikasikan bahwa model ekonomi menghubungkan dinamika sumberdaya dan dinamika populasi penduduk sehingga dapat dikatakan evolusi sejarah masa lalu di pulaupulau kecil merupakan pertumbuhan keberlanjutan ekonomi dunia. Membangun model pemanfaatan pulau-pulau kecil, yang terdiri dari model untuk pariwisata dan model untuk budidaya laut yang didasarkan pada kesesuaian kondisi perairan, serta model penangkapan ikan yang didasarkan pada kajian stok ikan, selanjutnya menciptakan model integrasi pemanfaatan gugus Pulau Pari yang sesuai dengan daya dukung lingkungannya.

Maanema M. 2003. Disertasi IPB Bogor

Model Pemanfaatan PulauPulau Kecil (Studi Kasus di Gugus Pulau Pari Kepulauan Seribu)

24
Susilo SB. 2003. Disetasi IPB Bogor

Keberlanjutan pembangunan pulau-pulau kecil studi kasus kelurahan Pulau Panggang dan Pulau Pari, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta

Menilai keberlanjutan pulau-pulau kecil di Kelurahan Pulau Panggang dan di Kelurahan Pulau Pari, melalui penyusunan indeks dan status keberlanjutan pembangunan pulau-pulau kecil dan analisis keseimbangan ekonomi ekologis serta mendeterminasi tingkat kemajuan maupun ketertintinggalan atribut-atribut aspek pembangunan di daerah studi serta membuat evaluasi dinamika variabel ekonomi dan ekologi untuk memudahkan perencanaan pembangunan selanjutnya agar sesuai dengan kriteria pembangunan yang berkelanjutan, pada tahapan pembuatan model ekonomi-ekologis dilihat hubungan antara atribut ekonomi (tenaga kerja) dan atribut ekologis (biomas, x) Menjabarkan model pengelolaan pulau-pulau kecil dalam rangka pengembangan wilayah dengan melihat sumberdaya alam lautan dan daratan pulau-pulau kecil di kepulauan Waktobi dikaji dalam 3 aspek yaitu aspek ekologi, budaya dan ekonomi. Aspek ekologi ; pemanfaatan ekosistem mangrove untuk pemukiman penduduk oleh masyarakat dampaknya terhadap penurunan biomassa kepiting pada lingkungan mangrove, penurunan ikan Belanak pada lingkungan lamun, dan ikan Kerapu pada lingkungan terumbu karang. Aspek Budaya ; pemanfaatan ekosistem terumbu karang untuk fondasi rumah dampaknya terhadap degradasi terumbu karang dan penurunan biomassa ikan Kerapu. Aspek ekonomi; kontribusi sektor-sektor dalam pengelolaan wilayah kepulauan Wakatobi. Melakukan analisis komparatif nilai ekonomi antara wisata, konservasi dan kegiatan perikanan, menganalisis skenario perubahan nilai ekonomi pada suatu kawasan konservasi jika harus koeksis dengan kegiatan perikanan, juga menganalisis pola konvergensi/ divergensi antara wisata dan perikanan di daerah konservasi.

Ola OL. 2004. Disertasi IPB Bogor

Model pengelolaan pulaupulau kecil dalam rangka pengembangan wilayah kepulauan wakatobi

Parwinia. 2007. Disertasi IPB Bogor

Pemodelan Ko-eksistensi pariwisata dan perikanan: Analisis konvergensidivergensi (KODI) di selat Lembeh Sulawesi Utara

Dari gambaran substansi kajian yang telah diteliti sebelumnya, semuanya belum menunjukkan adanya kajian tentang aspek ekologi yang mengarah pada

keanekaragaman hayati pulau, kealamian pulau, keunikan pulau dan kerentaan pulau dan skenario dinamik. Oleh karena itu dalam penelitian ini akan dikembangkan suatu model skenario dinamik yang didasarkan pada daya dukung kawasan dalam upaya pengelolaan pulau-pulau kecil untuk pemanfaatan ekowisata berkelanjutan di Kecamatan Morotai Selatan dan Morotai Selatan Barat.

25

3 METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di kawasan pulau-pulau kecil Kecamatan Morotai

Selatan dan Morotai Selatan Barat (KP2K MS2B) Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara yang terdiri dari 23 pulau. Penelitian berlangsung pada bulan Mei 2006 sampai Mei 2007. KP2K MS2B terletak antara 1056LU - 2025LU dan 128010 BT 128025 (Gambar 6).

Gambar 6 Peta Lokasi Penelitian

26 3.2 Metode Pengumpulan Data Penelitian Pengumpulan data untuk KP2K MS2B dilakukan melalui pengumpulan data primer dan data sekunder. Data primer (biofisik dan sosial ekonomi budaya) diperoleh secara langsung di lapangan dengan menerapkan metode transek, pencatatan langsung, dan wawancara melalui kuesioner kepada responden, untuk profil sumberdaya pulaupulau kecil, sosial ekonomi dan budaya melibatkan partisipasi masyarakat dilakukan dengan metode PRA (Participatory Rural Appraisal) yaitu pendekatan partisipatif dilakukan dengan mengajak sebagian masyarakat/stakeholder berbincang dalam diskusi kelompok terarah (focus group discussion). Data sekunder diperoleh melalui menerapkan metode penelurusan informasi yang terdokumentasi di berbagai lembaga, pemerintah dan masyarakat. Jenis data metode pengumpulan dan sumber pengambilan data baik data primer dan sekunder disajikan pada Tabel 3. Tabel 3 Jenis, Tehnik, dan Sumber Pengambilan Data Penelitian
Jenis Data Data Primer Profil sumberdaya pulau-pulau kecil: - Terumbu karang Profil pantai dan perairan Keadaan Perairan - Air laut (Parameter fisika, kimia dan logam berat) - Air Sumur Sungai (Parameter Fisika dan kimia) - Kecepatan arus, kecerahan, pH, suhu, salinitas) Ekonomi budaya - Ekonomi (mata pencaharian, tingkat pendapatan dan pengeluaran, sarana dan prasarana. - Budaya (asal mula penduduk sistem mata pencaharian, sistem nilai-nilai yang berkembang di masyarakat, agama, kerajinan tradisional, dan kesenian Data Sekunder (Kependudukan, batas wilayah, monografi desa, data yang terkait hasil-hasil penelitian wilayah tersebut, padang lamun, ikan karang, terumbu karang) Tehnik Pengambilan Data Pengamatan/pengukuran langsung Line intercept transeck Analisa citra + Sistem informasi geografis (SIG) Sumber Data Lapangan Lapangan Laboratorium SIG

Botol sampel Botol sampel Tali pelampung, sechi disc, pH meter, termometer, hand refraktometer

Laboratorium

Lapangan

Kuesioner Wawancara Individu Kelompok

Lapangan

Penelusuran dokumen laporan penelitian, hasil kajian

Kantor Camat , BPS HALUT PSL UNKHAIR, P2OLIPI, BPS MALUT,

27 Pengambilan data terumbu karang dan pengambilan contoh kualitas air laut dilakukan pada stasiun yang ditetapkan (Gambar 7). Penentuan stasiun penelitian dilakukan secara purposive sampling mewakili seluruh lokasi penelitian.

Gambar 7 Peta Stasiun Penyelaman, Pengambilan Contoh Air Laut dan Ekonomi Budaya

28 Stasiun penyelaman seperti pada Gambar 7 terdiri dari 15 stasiun pengamatan, 7 stasiun merupakan stasiun penyelaman secara langsung (data primer) dan tidak langsung 8 stasiun (data sekunder) (Tabel 4). Tabel 4 Stasiun Penyelaman
Stasiun Penyelaman Secara langsung (Primer) Saminyamao Wayabula Burung Loleba Kecil Dodola Besar Mitita Tidak langsung (Sekunder) Selat Rao Tanjung Tiley Ngelengele Besar Ngelengele Kecil Loleba Besar Galogalo Besar Dodola Kecil Kolorai Posisi Geografis 2017'24" LU dan 1220 9'36" BT 2016'48" LU dan 1280 13'12" BT 2013'12" LU dan 1280 12'36" BT 2018'36" LU dan 1280 13'12" BT 2004'48" LU dan 1280 11'24" BT 1058'12" LU dan 1280 13'48" BT 2017'54" LU dan 1280 11'11" BT 2013'12" LU dan 1280 14'24" BT 2012'32" LU dan 1280 11'10" BT 2010'48" LU dan 128012'36" BT 208'36" LU dan 1280 13'28" BT 207'48" LU dan 1280 11'60" BT 2016'48" LU dan 1280 13'12" BT 203'35" LU dan 128012'45" BT Keterangan No 3 No 4 No 5 No 10 No 12 No 16 No 2 No 7 No 6 No 8 No 9 No 11 No 13 No 14

Stasiun pengambilan contoh kualitas air laut terdiri dari 5 stasiun seperti pada Tabel 5 Tabel 5 Stasiun Pengambilan Contoh Air Laut
Stasiun Pengambilan Contoh Air Laut Posiposi Rao Burung Loleba Kecil Dodola Besar Pelabuhan Posisi Geografis 2018'36" LU dan 1280 10'48" BT 2013'12" LU dan 1280 12'36" BT) 2018'36" LU dan 1280 13'12" BT 2004'48" LU dan 1280 11'24" BT 2002'60" LU dan 1280 17'24" BT Keterangan No 1 No 5 No 10 No 12 No 15

Stasiun pengambilan contoh air sumur, air sungai, dan data sosial, ekonomi budaya, terletak di daerah sekitar Daruba (ibukota kecamatan Morotai Selatan) dan Wayabula (ibukota kecamatan Morotai Selatan Barat) Data persentase penutupan terumbu karang (life form) diperoleh berdasarkan metode line intercept transeck dengan menghitung persentase penutupan suatu jenis karang hidup pada suatu area tertentu dihitung dengan menggunakan rumus (English et al.
1994) sebagai berikut:

29
n

L= Keterangan :

Li
i =1

x100% ........................................................................(3.1)

L = persentase penutupan karang (%) Li = panjang lifeform (intercept colony) jenis ke-i N = panjang transek (50m) n = banyaknya lifeform jenis ke-i Untuk mengetahui kualitas air laut, pengukuran dilakukan secara langsung dan tidak langsung di lapangan. Contoh air laut diambil menggunakan wadah botol plastik dan botol gelas pada stasiun yang telah ditentukan kemudian sampel air laut diawetkan dengan cara dimasukkan kedalam kotak pendingin untuk selanjutnya dianalisis di

laboratorium, begitu pula dengan kualitas air sumur, dan air sungai. Parameter kualitas air laut, air sumur dan air sungai tertera pada Tabel 6, Tabel 7, dan Tabel 8. Tabel 6 Parameter dan Metode Kualitas Air Laut Untuk Wisata Bahari
Parameter Fisika: Warna Bau Kecerahan *) Padatan Tersuspensi Suhu *) Kimia: pH *) Salinitas *) Oksigen Terlarut *) BOD5 Ammonia (NH3-N) Nitrat (NO3-N) Fosfat Sianida (CN) Sulfida (H2S) Minyak dan Lemak Fenol Surfaktan (MBAS) Logam Berat: Raksa (Hg) Khrom Hexavalen (Cr6+) Arsen (As) Kadmium (Cd) Tembaga (Cu) Timah Hitam (Pb) Seng (Zn) Nikel (Ni) *) = Pengukuran in situ Metode/Alat Kolorimetrik -Secchi disc Gravimetrik Termometer

pH meter Refraktometer DO meter Winkler Phenate Brusin Sulfat Acorbic acid Spektrofotometer spektofotometer Gravimetrik Amino Antiferin Metelin Blue

Spektrofotometer AAS AAS AAS AAS AAS AAS AAS

30 Tabel 7 Parameter, Metode Kualitas Air Sumur


Parameter
Fisika Suhu *) Warna Kekeruhan Padatan terlarut (TDS) Bau Rasa Kimia pH *) Kesadahan Total Sulfida (H2S) Chlorida (Cl) Nilai Permanganat (TOM) Nitrat (NO3-N) Nitrit (NO2-N) Sulfat (SO4) Besi (Fe) Barium (Ba) Natrium (Na) Mangan (Mn) Fluorida (F) Seng (Zn) Timbal (Pb) Cadmium (Cd) Argentum (Ag) Mercury (Hg) Arsen (As) Cyanida (CN) Chrom hexavalen (Cr6+) Tembaga (Cu) Selenium (Se) Detergen Alumunium (Al) *) = Pengukuran in situ

Metode/Alat Termometer Kolorometrik Turbiditimeter Gravimetrik ---

pH meter Titrimetrik-EDTA Iodometri Titrimetrik-Perak Nitrat Titrimetrik- KMNO4 Brusin Sulfat-Spektrofotometer Colorimetric-Spektrofotometer Spektrofotometer Spektorofotometer AAS AAS AAS SPADNS AAS AAS AAS AAS AAS Spektrofotometer Spektrofotometer AAS AAS AAS Metelin Blue BAAS

3.3 Responden dan Focus Group Discussion (FGD) Responden yang dipilih dalam penelitian ini adalah komponen masyarakat dari berbagai pihak dan latar belakang dalam kegiatan pengelolaan ekowisata kawasan pulaupulau kecil Morotai, yang terdiri atas masyarakat yang berada di Kecamatan Morotai Selatan dan Morotai Selatan Barat (Tabel 9). Secara umum masyarakat yang diundang diharapkan mewakili seluruh komponen masyarakat di dua Kecamatan dengan jumlah masing-masing 45 orang, namun masyarakat yang hadir pada dua kecamatan ini berbedabeda, di Daruba (ibukota kecamatan Morotai Selatan) 38 orang dan di Wayabula

(ibukota kecamatan Morotai Selatan Barat) mencapai 60 orang.

31
Tabel 8 Parameter, Metode Kualitas Air Sungai
Parameter
Fisika Temperatur *) Residu Terlarut ( TDS ) Residu Tersuspensi ( TSS ) Kimia pH *) BOD5 COD Oksigen Terlarut ( DO ) *) Total Fosfat Nitrat ( NO3-N ) Amonia ( NH3-N ) Nitrit ( NO2-N ) Arsen ( As ) Kobalt ( Co ) Barium ( Ba ) Boron ( B ) Selenium ( Se ) Kadmium ( Cd ) Khrom Heksavalen ( Cr6+ ) Tembaga ( Cu ) Besi ( Fe ) Timbal ( Pb ) Mangan ( Mn ) Air Raksa ( Hg ) Seng ( Zn ) Khlorida ( Cl ) Sianida ( CN ) Fluorida ( F ) Sulfat ( SO4 ) Khlorin bebas ( Cl2 ) Sulfida Kimia Organik Minyak dan Lemak Detergen sebagai MBAS Senyawa Fenol *) = Pengukuran in situ

Metode Termometer Gravimetrik Gravimetrik pH meter Winkler Closed Reflux-Spektrofotometer DO meter Spektrofotometer Brusin Sulfat- Spektrofotometer Phenate- Spektrofotometer Colorimetric- Spektrofotometer Spektrofotometer AAS AAS AAS AAS AAS AAS AAS AAS AAS AAS AAS AAS Titrimetrik-Perak Nitrat Spektrofotometer SPADNS Spektrofotometer Spektrofotometer Iodometri Gravimetrik Metilin Blue Amino Antifirin

Pembagian peserta dalam kelompok dilakukan berdasarkan kehadiran dan ketersediaan fasilitator. Waktu diadakan diskusi kelompok terarah (FGD) di Daruba dan Wayabula peserta dibagi dalam 2 kelompok, pada setiap kelompok selanjutnya dipilih ketua dan sekretaris kelompok. Ketua kelompok memimpin peserta diskusi untuk

mengidentifikasi masalah, potensi dan harapan, kemudian menjadi wakil peserta sebagai presenter hasil diskusi. Pada saat ini fasilitator hanya bertugas sebagai pendamping dan pengarah. masyarakat. Jadi apa yang dihasilkan masyarakat betul-betul mencerminkan aspirasi

32
Tabel 9 Komponen Perwakilan Masyarakat Tiap Kecamatan
Komponen Tokoh Masyarakat Tokoh Pemuda Ormas/LSM Kepala Desa Kepala Dusun Tokoh Agama Nelayan Petani Pedagang/Ketua Kelompok Pihak Industri Bank dan Perkreditan Jasa Wisata Tokoh Wanita/PKK Jumlah Morotai Selatan (orang) 2 2 2 5 5 3 10 10 2 2 2 2 3 45 Morotai Selatan Barat (orang) 2 2 2 5 5 3 10 10 2 2 2 2 3 45

Pendekatan

partisipatif

ini

dilakukan

dengan

mengajak

sebagian

masyarakat/pemangku kepentingan berbincang dalam diskusi kelompok terarah. Selengkapnya metode FGD yang dimodifikasi dari IIRR (1998); Brown et al. (2001) prosesnya sebagai berikut: 1. Penjaringan Masalah Dalam proses ini bertujuan untuk mengetahui, menggali, dan mengumpulkan informasi tentang persoalan-persoalan yang berkembang di masyarakat, mengajak masyarakat untuk mengenali secara seksama masalah-masalah yang mereka hadapi. 2. Identifikasi dan Klarifikasi Proses ini merupakan lanjutan dari tahap penjaringan, setelah masyarakat menulis permasalahan pada potongan kertas dikumpulkan oleh fasilitator. Permasalahan yang telah dituliskan masyarakat pada potongan kertas tersebut kemudian diidentifikasi secara umum dan ditempelkan pada papan tulis sesuai dengan klasifikasi masalah. Klasifikasi dilakukan sesuai dengan jenis dan kategori permasalahan yang diungkapkan masyarakat. Kemudian dari kategori/klasifikasi masalah diurutkan atau dikelompokkan terhadap masalah yang sejenis. Ini dimaksudkan untuk

mempermudah fasilitator dan masyarakat dalam menganalisis masalah dan mencari solusi penyelesaian masalah 3. Analisis Masalah Analisis masalah dilakukan secara terbuka, dimana keaktifan masyarakat dalam menganalisis masalah tersebut lebih diutamakan. Analisis masalah diarahkan agar

33 masyarakat memahami masalah-masalah yang mereka hadapi. Pada tahapan ini, dilakukan pemisahan atas masalah-masalah mana yang dapat dan menjadi kewenangan masyarakat untuk diselesaikan dan masalah-masalah mana yang

menjadi kewenangan institusi desa/kelurahan atau pemerintah daerah. Masalah yang dapat diselesaikan oleh masyarakat sendiri, didiskusikan pada saat itu juga oleh masyarakat. 4. Rumusan Masalah Perumusan masalah adalah tahap lanjut dari hasil penjaringan, klasifikasi, analisis, dan rumusan. Proses analisis sendiri bermakna sebagai tindakan untuk menemukan kaitan antara satu fakta dengan fakta yang lain. Apa yang dirumuskan haruslah sederhana, jelas, dan konkriet. Agar rumusan masalah tersebut mencerminkan kebutuhan dari masyarakat, maka harus melibatkan masyarakat dalam proses tersebut. 5. Pemetaan Proses Pemetaan proses adalah suatu metode untuk menyandingkan dan menempatkan informasi tentang keberadaan, distribusi, akses dan penggunaan sumberdaya dalam kerangka ekonomi dan budaya dari suatu kelompok masyarakat. Pemetaan

sumberdaya ini dapat dilakukan untuk memetakan: Sumberdaya dan ekosistem yang menjadi basis ekonomi, isu dan permasalahan di wilayah perencanaan, sumberdaya masyarakat dan kelembagaan yang berkembang, hak-hak dan pengelolaan masyarakat, infrastruktur dan prasarana wilayah, area konflik (bila terjadi) 6. Pemetaan (Plot Spasial) Metode untuk penyampaian kepentingankepentingan yang beragam (dan

berbenturan) diantara pemakai/pengguna sumber alam melalui batas atau zonasi wilayah dengan memakai pemetaan partisipatif. Sedangkan khusus untuk mengetahui berapa besar biaya yang dikeluarkan

seseorang yang pernah melakukan perjalanan wisata ke kawasan pulau Morotai, maka jumlah responden yang diambil sebanyak 48 orang (Lampiran 1). Pengambilan sampel dilakukan dengan cara purposive sampling yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu, memilih para responden yang telah melakukan perjalanan wisata ke kawasan pulau Morotai (Sugiyono 2005).

34 3.4 Analisis Data Data yang terkumpul selanjutnya ditabulasi dan dikelompokkan berdasarkan lokasi dan kepentingan analisis untuk menjawab permasalahan dan tujuan penelitian. Kerangka analisis data pengelolaan kawasan pulau-pulau kecil Kecamatan Morotai

Selatan dan Morotai Selatan Barat disajikan pada Gambar 8.

Gambar 8 Proses Analisis Data

35 3.4.1 Analisis Zonasi Analisis zonasi bertujuan untuk melakukan konservasi sumberdaya pesisir dan laut dalam mendukung kegiatan ekowisata, sebagai perwujudan UU No 27 tahun 2007 maka KP2K MS2B diwujudkan dalam bentuk zona inti, zona pemanfaatan terbatas dan zona penyangga. Penetapan zonasi KP2K MS2B dilakukan dengan penerapan kriteria (Tabel 10) yang terdiri terdiri atas kelompok kriteria ekologi, ekonomi, sosial kelembagaan (Salm et al. 2000; Soselisa 2006). dan

Kelompok kriteria ekologi yaitu

keanekaragaman hayati, kealamian, keunikan, kerentanan dan keterkaitan pulau. Kelompok kriteria ekonomi yaitu spesies penting, kepentingan perikanan, bentuk ancaman dan pariwisata. Kelompok kriteria sosial yaitu tingkat dukungan masyarakat sekitar, rekreasi, budaya, estetika, konflik kepentingan, keamanan, aksessibilitas, kepedulian dan kepentingan penelitian dan pendidikan. Kelompok kriteria kelembagaan yaitu keberadaan lembaga sosial, dukungan infrastuktur sosial dan dukungan pemerintah. Penentuan zonasi peruntukan KP2K MS2B menggunakan persentase total nilai dari masing-masing pulau yang diperoleh dengan membandingkan penjumlahan nilai kriteria pada masing-masing pulau dengan total nilai keseluruhan kriteria dikalikan 100% (Salm dan Usher 1984 dalam Soselisa 2006). Kemudian dengan menggunakan teknik interval kelas, zonasi peruntukan pulau dibagi atas tiga zona. Pertama zona inti (nilai perhitungan >70%), kedua zona pemanfaatan terbatas (nilai perhitungan 60% - 70%), dan ketiga zona penyangga (nilai perhitungan 50% - <60%). Analisis keruangan dalam penelitian ini menggunakan perangkat lunak Sistem Informasi Geografis (SIG) Arc View, yaitu sistem informasi spasial menggunakan komputer, manampilkan basis data yang mempunyai fungsi pokok menyimpan, memperbaharui, menganalisis dan menyajikan kembali semua bentuk informasi spasial. Proses penyusunan zonasi gugusan pulau-pulau kecil dengan menggunakan SIG disajikan pada Gambar 9

36

KP2K MS2B

DATA PRIMER

DATA SEKUNDER

SURVEI LAPANGAN

BASIS DATA

PETA DASAR

KRITERIA EKOLOGI SOSIAL EKONOMI KELEMBAGAAN

ANALISIS PENENTUAN ZONASI

PLOTTING ZONASI

KESESUAIAN LAHAN KONDISI/PEMANFAATAN SAAT INI

PETA ZONASI KP2K MS2B

Gambar 9 Proses Penyusunan Zonasi di Kawasan Pulau-Pulau Kecil Kecamatan Morotai Selatan dan Kecamatan Morotai Selatan Barat

37

Tabel 10 Penilaian Kriteria Kawasan Lindung KP2K MS2B

KRITERIA Tinggi = 3 I. EKOLOGI 1.1 Keanekaragaman hayati pulau


I.1.1. Ekosistem I.1.2. Life Form Karang I.1.3. Spesies Ikan Karang I.1.4. Spesies Rumput Laut I.1.5. Spesies Lamun I.1.6. Spesies Mangrove I.1.7. Taxa Bentos Bila ada 4 ekosistem Bila ada > 10 life form Bila ada > 120 jenis Bila ada > 19 jenis Bila ada > 5 jenis Bila ada > 5 jenis Bila ada > 7 taxa Tutupan karang >75% Tidak terdapat abrasi pantai Ada semua komponen keunikan

NILAI KRITERIA Sedang = 2

Rendah = 1

Bila ada 2-3 ekosistem Bila ada 6-9 life form Bila ada 61-120 jenis Bila ada 10-19 jenis Bila ada 4-5 jenis Bila ada 4-5 jenis Bila ada 5-7 taxa Tutupan karang 51-75% Abrasi pantai 25-50% Ada 2-3 komponen

Bila ada 1 ekosistem Bila ada < 5 life form Bila ada <61 jenis Bila ada <10 jenis Bila ada 1-3 jenis Bila ada 1-3 jenis Bila ada <5 taxa Tutupan karang <51% Abrasi pantai >50% Ada 1 komponen

1.2 Kealamian pulau


I.2.1. % Penutupan Komunitas Karang I.2.2. Abrasi pantai

1.3 Keunikan pulau


- Sebagai habitat satwa (Burung atau Penyu) - Memiliki bentuk tubir terumbu karang 900 - Ada goa-goa, alur-alur dan lain-lain - Spesis langkah yang dilindungi

1.4 Kerentanan pulau


I.4.1. Status (berpenduduk atau tidak) I.4.2. Tingkat keterbukaan terhadap laut Tidak berpenduduk >50% sisi pulau berhadapan dengan laut terbuka >3 pulau dalam gugusan Berpenduduk sementara 25-50% sisi pulau berhadapan dengan laut terbuka 2-3 pulau dalam gugusan Berpenduduk <25% sisi pulau berhadapan dengan laut terbuka pulau sendiri

1.5 Keterkaitan Pulau


Total Nilai I

II. EKONOMI 2.1 Spesies Penting


- Terdapat ikan pelagis ekonomis penting - Terdapat ikan karang (kelompok target dan Hias), - terdapat echinodermata (teripang) - Terdapat krustasea ekonomis penting (Lobster dan Kepiting), - Terdapat rumput laut ekonomis penting

Memenuhi semua komponen

3-4 komponen

1-2 komponen

2.2 Kepentingan Perikanan 2.3 Bentuk Ancaman 2.4 Pariwisata


Total Nilai II

- Sebagai daerah penangkapan ikan pelagis, - Daerah penangkapan ikan karang, - Daerah penangkapan siput dan gurita, - Daerah penangkapan lobster. Daerah penangkapan teripang, - Daerah perikanan budidaya. memenuhi semua kriteria 4-5 kriteria 1-3 kriteria - Penggunaan bom, sianida, - Jangkar perahu, - Tongkat pendorong perahu, - Tuba Memenuhi semua kriteria memenuhi 2-3 kriteria hanya 1 kriteria - Terdapat wisata bahari, - Terdapat wisata pantai, - Terdapat wisata sejarah Terdapat semua komponen 2 komponen terdapat satu komponen

38

Sambungan Tabel 10 Penilaian Kriteria Kawasan Lindung KP2K MS2B


KRITERIA Tinggi = 3 III SOSIAL 3.1 Tingkat Dukungan Masyarakat 3.2 Tempat Rekreasi 3.3 Budaya 3.4 Estetika NILAI KRITERIA Sedang = 2 Rendah = 1

3.5 Konflik Kepentingan 3.6 Keamanan 3.7 Aksessibilitas 3.8 Kepedulian

3.9 Penelitian dan pendidikan Total Nilai III

- Pemerintah desa,- Tokoh adat, - Tokoh agama, - Masyarakat. Terdapat dukungan semua komponen 2-3 komponen 1 komponen - Terdapat daratan pantai luas, - Perairan pantai tenang, - Perairan lautan yang tenang. Terdapat 3 komponen Terdapat 2 komponen Terdapat 1 komponen - Memiliki sejarah, - Memiliki nilai budaya dan seni, - Memiliki agama. Terdapat semua komponen Terdapat 2 komponen 1 Komponen - Bentuk pulau,- Keanekaragaman ekosistem tinggi, - Keanekaragaman habitat tinggi, - Keanekaragaman habitat tinggi, - Keanekaragaman jenis biota. Bila terdapat semua komponen Terdapat 2-3 komponen 1 komponen - Perorangan, - Warga masyarakat, - Masyarakat. Tidak terdapat semua komponen Ada 1 komponen Ada 2-3 komponen - Aman sepanjang musim, - Aman pada musim barat dan timur Sepanjang musim Salah satu musim Tidak aman sepanjang musim - Berkaitan dengan ketersedian alat transpor laut. Tersedia alat transpor umum Alat transpor masyarakat Alat transpor sewa - Kegiatan pengawasan (monitoring), - Kegiatan pendidikan dan pelatihan. Peduli Acuh tak acuh Tidak peduli - Penelitian dan pendidikan oleh pemerintah, - Penelitian dan pendidikan oleh perguruan tinggi, - Penelitian dan pendidikan oleh LSM. Memenuhi semua kriteria Memenuhi 2 kriteria Memenuhi 1 kriteria

IV Kelembagaan
4.1 Keberadaan lembaga sosial 4.2 Dukungan infrastruktur sosial 4.3 Dukungan pemerintah Total Nilai IV Ada >1 lembaga sosial Ada >1 infrastuktur sosial Dukungan pemerintah pusat dan daerah Ada 1 lembaga sosial Ada 1 infrastuktur sosial Pusat atau daerah Tidak ada lembaga sosial Tidak ada infrastuktur Tidak dukungan

Sumber : Modifikasi Salm et al., (2000); Soselisa (2006)

39 3.4.2 Analisis Kesesuaian Lahan Ekowisata KP2K MS2B Peruntukan kesesuaian lahan ekowisata KP2K MS2K dilakukan di zona

perikanan berkelanjutan (pemanfaatan lansung) dan zona penyangga (pemanfaatan tidak langsung), tehnik yang digunakan oleh Hardjowigeno dan Widiatmaka (2001) sebagai berikut: Pertama, membuat matriks kesesuaian lahan ekowisata meliputi peruntukan ekowisata pantai kategori wisata rekreasi, ekowisata bahari kategori wisata selam, wisata rekreasi dan wisata lamun. Matriks ini sangat penting, mengingat dari matriks tersebut dapat diketahui parameter yang menjadi indikator kesesuaian melalui pembobotan dan nilai pada setiap parameter yang menentukkan bobot terbesar, sedangkan kriteria (batasbatas) yang sesuai diberikan skor tertinggi. Kedua, penghitungan nilai kesesuaian lahan ekowisata pulau-pulau kecil ditentukan berdasarkan total hasil perkalian bobot dan nilai. Ketiga, pembagian kelas lahan dan nilainya. Dalam penelitian ini kelas lahan dibagi dalam tiga kelas yang didefinisikan sebagai berikut : Kelas S1 : Sangat Sesuai Pada kelas ini lahan tidak mempunyai pembatas yang besar untuk pengelolaan yang diberikan, atau hanya mempunyai pembatas yang tidak secara nyata berpengaruh terhadap kegiatan atau hasil produksi. Kelas S2 : Sesuai Pada kelas ini lahan mempunyai pembatas-pembatas yang agak besar untuk mempertahankan tingkat pengelolaan yang harus diterapkan. Pembatas akan mengurangi aktivitas atau produksi dan keuntungan dan meningkatkan masukan yang diperlukan. Kelas N : Tidak Sesuai Pada kelas ini lahan mempunyai pembatas permanen yang mencegah segala kemungkinan penggunaan lahan yang lestari dalam jangka panjang. Keempat, penghitungan nilai interval kelas dari masing-masing nilai kesesuaian lahan ekowisata. Dengan cara ini, kelas kesesuaian lahan ekowisata untuk kategori tertentu diperoleh. Kelima, pemetaan kelas kesesuaian lahan. Pemetaan kelas lahan

dilakukan dengan program pemetaan spasial ArcView 3.2.

40 Kesesuaian lahan ekowisata pantai kategori wisata rekreasi, ekowisata bahari kategori wisata snorkling, wisata selam dan wisata lamun dianalisis dengan menggunakan parameter dan kriteria dari BAKOSURTANAL (1996), Soselisa (2006), dan Yulianda (2007). Parameter, pembobotan dan kriteria dari masing-masing kelas kesesuaian lahan ekowisata disajikan pada Tabel 11, Tabel 12, Tabel 13 dan Tabel 14. Tabel 11 Matriks Kesesuaian Untuk Ekowisata Pantai Kategori Wisata Rekreasi
Parameter Bobot Sangat Sesuai Kedalaman Perairan (m) Tipe pantai Substrat dasar perairan Kecepatan arus (m/det) Kemiringan Pantai (o) Kecerahan perairan (%) Biota berbahaya 5 5 0-3 Pasir putih. Pasir Nilai Sesuai Kategori dan Nilai Nilai Tidak Sesuai Nilai

3 3

>3-8 Pasir putih, sedikit karang Karang berpasir >0,2 0,4

2 2

>8 Lumpur, berbatu, terjal Pasir berlumpur

1 1

0-0,2

>0,4

4 3 3

<10 >80 Tidak ada

3 3 3

10-25 >35-80 Bulu babi

2 2 2

>25 <35 Bulu babi, ikan Pari, Lepu, Hiu

1 1 1

Sumber : Modifikasi BAKOSURTANAL (1996); Yulianda (2007) Tabel 12 Matriks Kesesuaian Untuk Ekowisata Bahari Kategori Wisata Snorkling
Parameter Bobot Sangat Sesuai Kecerahan Perairan (%) Tutupan komunitas karang (%) Jenis life form Jenis ikan karang Kecepatan arus (m/det Kedalaman terumbu karang (m) 5 100 Nilai Sesuai Kategori dan Skor Nilai Tidak Sesuai Nilai

>40-99

<40

5 4

>75 >12

3 3

30-75 6-12

2 2

<30 <6

1 1

>50

20-50

<20

0-0,15

0,15-0,40

>0,40

1-5

>5-10

>10 ; <1

Sumber : Modifikasi BAKOSURTANAL (1996); Yulianda (2007)

41 Tabel 13 Matriks Kesesuaian Untuk Ekowisata Bahari Kategori Wisata Selam


Parameter Bobot Sangat Sesuai Kecerahan Perairan (%) Tutupan komunitas karang (%) Jenis life form Jenis ikan karang Kecepatan arus (m/det) Kedalaman terumbu karang (m) 5 >80 Nilai Sesuai Kategori dan Skor Nilai Tidak Sesuai 2 <35 Nilai

>35-80

5 4 4 3 3

>75 >12 >50 0-0,15 6-15

3 3 3 3 3

30-75 6-12 20-50 0,150,40 >15-25 ; 3-<6

2 2 2 2 2

<30 <6 <20 >0,40 >25 ; <3

1 1 1 1 1

Sumber : Modifikasi BAKOSURTANAL (1996); Yulianda (2007) Tabel 14 Matriks Kesesuaian Untuk Ekowisata Bahari Kategori Wisata Lamun
Parameter Bobot Sangat Sesuai >75 >75 >7 Cymodecea, Halodule, Halophila Pasir berkarang 0-15 1-3 Nilai 3 3 3 3 Kategori dan Skor Sesuai Nilai >40 75 37-75 3-7 Syringodium, Thalassodendron Pasir >15-50 >3-10 2 2 2 2 Tidak Sesuai <40 <37 <3 Enhalus Nilai 1 1 1 1

Tutupan Lamun (%) Kecerahan perairan (%) Jenis ikan Jenis lamun

5 4 4 4

Jenis substrat Kecepatan arus (cm/det) Kedalaman lamun

3 3 3

3 3 3

2 2 2

Pasir berlumpur >50 >10<1

1 1 1

Sumber : Modifikasi BAKOSURTANAL (1996); Yulianda (2007) 3.4.3 Analisis Daya Dukung Ekowisata Pulau-Pulau Kecil Daya dukung didalam pariwisata didefinisikan sebagai maksimum jumlah turis yang dapat ditoleransi tanpa menimbulkan dampak tidak dapat pulih dari ekosistem atau lingkungan dan pada saat yang sama tidak mengurangi kepuasan kunjungan (Davis and Tisdel 1995). Analisis daya dukung ekowisata ditujukan dengan memanfaatkan potensi sumberdaya pulau-pulau kecil secara lestari. Penilaian daya dukung ekowisata mengacu pada metode yang diperkenalkan oleh Yulianda (2007). Daya dukung kawasan (DDK)

42 adalah jumlah maksimum pengunjung yang secara fisik dapat ditampung di kawasan yang disediakan pada waktu tertentu tanpa menimbulkan gangguan pada alam dan manusia. Perhitungan DDK dalam bentuk rumus :

DDK = K Keterangan : DDK K Lp Lt Wt Wp

Lp Wt x ..............................................................................(3.2) Lt Wp

= Daya dukung kawasan = Potensi ekologis pengunjung per satuan unit area = Luas area atau panjang area yang dapat dimanfaatkan = Unit area untuk kategori tertentu = Waktu yang disediakan oleh kawasan untuk kegiatan wisata dalam satu hari = Waktu yang dihabiskan oleh pengunjung untuk setiap kegiatan tertentu.

Potensi ekologis pengunjung ditentukan oleh kondisi sumberdaya dan jenis kegiatan yang dikembangkan (Tabel 15). Tabel 15 Potensi Ekologis Pengunjung (K) dan Luas Areal Kegiatan (Lt)
No Jenis Kegiatan Jumlah Pengunjung (orang) 1 2 1 1 Unit Area (Lt) 50 m 2000 m2 500 m2 500 m2 Keterangan

1 2 3 4

Rekreasi pantai Selam Snorkling Wisata Lamun

1 orang setiap 50m panjang pantai Setiap 2 orang dalam 200 m x 10 m Setiap 1 orang dalam 100 m x 5 m Setiap 1 orang dalam 100 m x 5 m

Sumber: Yulianda 2007 3.4.4 Analisis Biaya Perjalanan Analisis biaya perjalanan dihitung dengan pendekatan Metode Biaya Perjalanan (Travel cost method/ TCM) merupakan metode yang biasa digunakan untuk memperkirakan nilai ekonomi suatu kawasan wisata. Pendekatan TCM didasarkan pada dua asumsi penting yaitu (Gringalunas and Congar 1995 dalam Adrianto 2006): Asumsi 1 : Pengunjung menempuh perjalanan dengan satu tujuan yaitu mengunjungi sebuah tempat, dalam konteks model ini kawasan pulau-pulau kecil. Asumsi 2 : Pengunjung tidak mendapat manfaat tertentu selama perjalanan (misalnya manfaat berupa kepuasaan menikmati pemandangan selama perjalanan), kecuali manfaat ketika sampai di lokasi yang dituju (Kepuasaan terhadap panorama pasir putih, laut yang bersih dan lain-lain. Apabila selama perjalanan pengunjung juga mendapatkan manfaat

43 selain yang dari lokasi, maka manfaat perjalanan dan lokasi dianggap manfaat bersama TCM diperoleh melalui penjumlahan dari total biaya perjalanan dari rumah ke tempat wisata. Dengan menggunakan TCM, dapat diperkirakan fungsi umum sebuah perjalanan wisata sebagai berikut : V = f (TC, S)..........................................................................(3.3) Keterangan : V TC S = jumlah kunjungan = biaya perjalanan pada suatu lokasi waktu = vektor biaya perjalanan pada lokasi wisata alternatif.

Dalam penelitian ini persamaan biaya perjalanan dari lokasi asal ke lokasi tujuan sebagai berikut : V = f (TC,D,I , A).......................................................................................(3.4)

Keterangan : V TC D I A = jumlah kunjungan = biaya perjalanan = jarak dari rumah ke lokasi = pendapatan pertahun. = umur.

Penentuan turunan permintaan kunjungan wisata diperoleh dengan melakukan regresi persamaannya sebagai berikut : Ln Vi = 0 + 1 ln TCi + 2 ln Di + ln 3 ln Ii + 4 ln Ai....................................(3.5) Keterangan : Vi TCi Di Ii Ai = tingkat kunjungan = biaya perjalanan = jarak dari rumah ke lokasi = pendapatan pertahun = umur.

Selanjutnya penghitungan surplus konsumen rata-rata individu dapat diperkirakan dengan menggunakan persamaan, sebagai berikut : CSi = -Vi / 1.................................................................................................(3.6)

44 Keterangan : CSi Vi 1 = konsumen surplus individu = tingkat kunjungan individu = nilai regresi dari biaya perjalanan (TC)

Total manfaat nilai wisata dari suatu kawasan wisata diperoleh dari hasil perkalian konsumen surplus rata-rata individu dengan jumlah pengunjung riil pada tahun tertentu, persamaannya sebagai berikut : TB = CSi x TV ...................................................................................................(3.7) Keterangan : TB CSi TV = total manfaat lokasi wisata = konsumen surplus individu = total kunjungan pertahun (diambil data sekunder).

3.4.5 Analisis Keberlanjutan Ekowisata Keberlanjutan ekowisata KP2K MS2B dianalisis dengan pendekatan pemodelan sistem. Pemodelan merupakan suatu gugus aktivitas pembuatan model. Secara umum pemodelan didefinisikan sebagai suatu abstraksi dari sebuah obyek atau situasi aktual, sedangkan sistem merupakan salah satu cara penyelesaian persoalan yang dimulai dengan dilakukannya identifikasi terhadap adanya sejumlah kebutuhan-kebutuhan, sehingga dapat menghasilkan suatu operasi dari sistem yang dianggap efektif (Eriyatno 2003). Eriyatno (2003); Hartrisari (2007) menyatakan bahwa sebelum membangun suatu model diperlukan tahapan-tahapan sistem yaitu: Analisis kebutuhan, formulasi masalah, dan identifikasi sistem. Analisis Kebutuhan Pengelolaan KP2K MS2B untuk pemanfaatan ekowisata berkelanjutan, dapat melibatkan sejumlah pemangku kepentingan yang memiliki kebutuhan dan pandangan berbeda terhadap pengelolaan KP2K MS2B. Jumlah pemangku kepentingan seperti pada waktu diadakan FGD, sedangkan dari perguruan tinggi (3 responden). Pemangku kepentingan yang terlibat terdiri dari : Pemerintah, yaitu lembaga lokal yang memegang kebijakan pembangunan pariwisata Masyarakat, yaitu masyarakat yang tinggal dan atau bekerja di wilayah KP2K MS2B

45 Perguruan Tinggi, yaitu lembaga yang bertanggung jawab dalam penelitian dan pelestarian lingkungan. Swasta, yaitu kelompok yang menanamkan modal/berinvestasi dalam pembangunan pariwisata Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), yaitu kelompok-kelompok masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap pembangunan pariwisata. Pendapat para pelaku tersebut didapatkan melalui bantuan wawancara waktu diadakan FGD sedangkan kebutuhan pelaku yang terlibat dalam pengelolaan KP2K MS2B untuk ekowisata berkelanjutan seperti pada (Tabel 16). Tabel 16 Kebutuhan Pelaku yang Terlibat Dalam Pengelolaan KP2K MS2B untuk Ekowisata Berkelanjutan Pemangku kepentingan) Kebutuhan Pemerintah Sumberdaya pulau-pulau kecil yang lestari Menciptakan lapangan kerja baru Terwujudnya kawasan pulau-pulau kecil yang integratif. Masyarakat Tersedianya lapangan kerja Pendapatan yang layak Lingkungan yang lestari Kawasan konservasi/lindung Tersedianya lokasi/tempat penelitian dan pendidikan Kualitas lingkungan terjaga Tersedia lahan untuk berinvestasi Keamanan terjamin Perbaikan kualitas lingkungan Terciptanya kerjasama antar LSM dalam mendorong pengembangan masyarakat Formulasi Masalah Formulasi permasalahan merupakan aktivitas merumuskan pemasalahan sistem yang dikaji. Pada umumnya pengusahaan sumberdaya pesisir berhubungan dengan

Perguruan tinggi

Swasta

LSM

beragam variasi dari aktivitas pembangunan, dampak lingkungan serta problematika pengelolaan pesisir (Wong 1988). Secara umum akan sangat mempengaruhi keberadaan sumberdaya masa kini dan masa akan datang. Atas dasar itulah disusun suatu pendekatan

46 desain sistem yang mendorong disusunnya penelitian ini dengan suatu perumusan masalah seperti potensi sumberdaya pulau-pulau kecil yang belum optimal dan degradasi sumberdaya. Beberapa faktor penyebab antara lain belum terinventarisir sumberdaya dan belum adanya konsep pengelolaan pulau-pulau kecil untuk pemanfaatan ekowisata.

Identifikasi Sistem Setelah dilakukan identifikasi terhadap variabel-variabel yang terlibat, kemudian

ditentukan hubungan yang logis antar variabel tersebut, dari hubungan itu dapat ditentukan apakah hubungannya bersifat positif atau negatif. Dengan demikian dapat dibentuk diagram lingkar sebab-akibat (causal loop) pengelolaan KP2K MS2B untuk pemanfaatan ekowisata berkelanjutan masing-masing pulau. Contoh diagram lingkar sebab-akibat Pulau Dodola untuk wisata rekreasi disajikan pada (Gambar 10). Diagram sebab akibat pada Gambar 10 di bawah ini menunjukkan bahwa upaya perbaikan lingkungan ekologi Pulau Dodola saat ini dipengaruhi oleh total persentase kriteria nilai ekologi dan persentase perbaikan lingkungan. Total persentase kriteria nilai ekologi dipengaruhi oleh laju pelestarian keanekaragaman hayati pulau (KHP), laju pelestarian kealamian pulau (KAP), keunikan pulau (KUP), kerentanan pulau (KRP), dan keterkaitan pulau (KTP). Kelima parameter di atas yang paling berpengaruh adalah laju pelestarian KHP dan laju pelestarian KAP sedangkan KUP, KRP dan KTP adalah tetap. Peningkatan laju pelestarian KHP dan KAP akan meningkatkan total persentase kriteria nilai ekologi yang akan meningkatkan upaya perbaikan lingkungan ekologi Dodola, sehingga akan meningkatkan kualitas lingkungan ekologi Dodola saat ini, sebaliknya laju degradasi lingkungan ekologi akan mempengaruhi degradasi lingkungan ekologi. Peningkataan laju degradasi lingkungan ekologi akan menurunkan degradasi lingkungan ekologi, sedangkan penurunan degradasi lingkungan ekologi akan meningkatkan kualitas lingkungan ekologi Dodola saat ini, sebaliknya peningkatan degradasi lingkungan ekologi akan menurunkan kualitas lingkungan ekologi Dodola saat ini. Kualitas lingkungan ekologi Dodola saat ini secara tidak langsung akan menambah jumlah wisatawan. Penambahan jumlah wisatawan ini akan mempengaruhi jumlah wisatawan rekreasi, sebaliknya pengurangan jumlah wisatawan akan

47 mempengaruhi jumlah wisatawan rekreasi yang akan mempengaruhi pula pendapatan wisata rekreasi Dodola.

Gambar 10 Diagram Lingkar Sebab Akibat (Causal Loop) Pengelolaan KP2K MS2B Untuk Ekowisata Berkelanjutan Selanjutnya pendapatan wisata rekreasi Dodola dipengaruhi oleh total manfaat kawasan wisata pertahun, total manfaat kawasan pertahun dipengaruhi oleh jumlah kunjungan wisata per tahun dan konsumen surplus, sedangkan konsumen surplus dipengaruhi oleh tingkat kunjungan wisata per tahun dan koefisien biaya perjalanan. Peningkatan pendapatan wisata rekreasi akan meningkatkan pula total manfaat bersih

48 kawasan wisata per tahun, sedangkan pendapatan wisata rekreasi ini akan dipakai

beberapa persennya sebagai biaya untuk perbaikan lingkungan ekologi, sehingga akan mempengaruhi upaya perbaikan lingkungan Dodola. Keadaan tersebut di atas berlaku yang sama pada tiap-tiap pulau dengan jenis wisata yang berbeda seperti Rao selatan, Ngelengele, Galogalo, Zumzum dan Galogalo.

Pemodelan Sistem Membangun model dilakukan menggunakan software Stella 9.0.2 dibuat model

dan mensimulasi faktor-faktor serta menduga kemungkinan di masa depan (Muhammadi et al. 2001). Dalam pemodelan sistem yang dilakukan disini meliputi sub-sub model sebagai berikut: a) Submodel lingkungan ekologi kawasan lindung pulau-pulau kecil b) Submodel daya dukung kawasan ekowisata pulau-pulau kecil c) pendapatan ekowisata pulau-pulau kecil. - Submodel lingkungan ekologi kawasan lindung pulau-pulau kecil Submodel lingkungan ekologi kawasan lindung pulau-pulau kecil dibangun dengan pendekatan kriteria ekologi kawasan lindung pulau-pulau kecil (Salm et al. 2000; Soselisa 2006). Lingkungan ekologi kawasan lindung pulau-pulau kecil menjelaskan keberadaan parameter kriteria ekologi kawasan lindung seperti keragaman hayati pulau, kealamian pulau, keunikan pulau, kerentanan pulau dan keterkaitan pulau, kemudian untuk menilai kualitas lingkungan ekologi kawasan lindung pulau-pulau kecil dalam kategori baik, sedang dan buruk dihitung dengan model matematis secara umum

menggunakan persamaan sebagai berikut:

NKEKLP 2 K =

(WixNi )
i =1 n

..(3.8)

(WixN max)
i =1

Keterangan: NKEKLP2K = n = Wi = Ni = Nmax =

Nilai Kriteria Ekologi Kawasan Lindung Pulau_Pulau Kecil Banyaknya sub parameter ekologi Bobot sub parameter ekologi pulau i Nilai sub paramater pulau i Nilai maksimum sub parameter ekologi

49 Dengan ketentuan : 0,7 0,4 0,0 < NKEKLP2K 1,0 < NKEKLP2K 0,7 NKEKLP2K 0.4 kondisi baik kondisi sedang kondisi buruk

Persamaan (3,8) merupakan penentuan kualitas lingkungan ekologi, selanjutnya menjadi acuan untuk upaya perbaikan lingkungan ekologi dan degradasi lingkungan ekologi yang secara matematis sebagai berikut: TPNKE = LPKHP+LPKAP+KUP+KRP+KTP.................................................(3.9) Keterangan: TPNKE = Total persentase nilai kriteria ekologi LPKHP = Laju persentase keanekaragaman hayati pulau LPKAP = Laju persentase kealamian pulau KUP = Keunikan pulau KRP = Kerentanan pulau KTP = Keterkaitan pulau Dengan demikian maka: UPL = (PPL + TPNKE) x ( KLEP2K).........................................................(3.10) Keterangan: UPL = Upaya perbaikan lingkungan PPL = Persentase perbaikan lingkungan KLP2k = Kualitas lingkungan ekologi pulau-pulau kecil DLE = KLEP2K x LDLE x FJW..................................................................(3.11) Keterangan DLE = Degradasi lingkungan ekologi LDLE = Laju degradasi lingkungan ekologi FJW = Fraksi jumlah wisatawan Empat persamaan di atas menjadi dasar sub model lingkungan ekologi kawasan lindung pulau-pulau kecil yang dapat dianalisis dan disimulasikan menggunakan software Stella 9.0.2. - Submodel daya dukung kawasan ekowisata pulau-pulau kecil Daya dukung kawasan ekowisata pulau-pulau kecil menjelaskan jumlah maksimum pengunjung yang secara fisik dapat ditampung di kawasan pulau-pulau kecil yang disediakan pada waktu tertentu tanpa menimbulkan gangguan pada alam dan manusia (Yulianda 2007). Sub model ini dibangun berdasarkan persamaan (3.2) yang merupakan gambaran dari jumlah wisatawan kawasan ekowiata pantai kategori wisata

50 rekreasi, ekowisata bahari kategori wisata snorkling, wisata selam dan wisata lamun, selanjutnya jumlah wisatawan saat ini akan mempengaruhi pengurangan wisatawan. Adapun formulasi matematisnya sebagai berikut: PtW = JWW i x FPKL..................................................................................(3.12)

Keterangan: PtW = Penambahan wisatawan JWW i = Jumlah wisatawan wisata i FPKL = fraksi penambahan kualitas lingkungan PkW = JW Wi...............................................................................................(3.13) Keterangan: PkW = Pengurangan wisatawan Persamaan (3.2), (3,12) dan (3,13) menjadi dasar pembangunan model daya dukung kaawasan ekowisata pulau-pulau kecil untuk selanjutnya dianalis dan disimulasikan. - Submodel pendapatan kawasan ekowisata pulau-pulau kecil Model pendapatan wisata yang dibangun melalui pendekatan Metode Biaya Perjalanan (Travel cost method/ TCM) merupakan metode yang biasa digunakan untuk memperkirakan nilai rekreasi dari suatu kawasan wisata. Metode ini merupakan metode pengukuran secara tidak langsung terhadap barang atau jasa yang tidak memiliki nilai pasar (Adrianto 2006). Submodel ini dibangun berdasarkan persamaan (3.4), (3.5), (3.6) dan (3.7) yaitu tingkat kunjungan wisatawan dan koefisien biaya perjalanan akan mempengaruhi konsumen surplus, sedangkan konsumen surplus dan jumlah kunjungan wisatawan pertahun akan mempengaruhi total manfaat kawasan wisata, sehingga model matematisnya sebagai berikut PdW i = TMKWT x PkW...............................................................................(3.13) Keterangan PdW i = Pendapatan wisatawan i TMKWT = Total manfaat kawasan wisata per tahun Persamaan-persamaan tersebut di atas menjadi acuan dalam membangun model pendapatan kawasan ekowisata pulau-pulau kecil untuk selanjutnya dianalsis dan

disimulasikan. Kemudian dari ke tiga submodel ini digabung menjadi suatu model pengelolaan kawasan pulau-pulau kecil untuk pemanfaatan ekowisata berkelanjutan.

51

4 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN


4.1 Letak Geografis dan Batas Kawasan Kawasan pulau-pulau kecil kecamatan Morotai Selatan dan Morotai Selatan

Barat merupakan kumpulan pulau-pulau kecil yang teletak di bagian Selatan dan Selatan Barat pulau Morotai, Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara. Kawasan ini terdiri dari 23 pulau-pulau kecil, 9 pulau dihuni dan, 14 pulau tidak masyarakat (Tabel 17 ). Tabel 17 Nama dan Luas Pulau-Pulau Kecil Kecamatan Morotai Selatan dan Morotai Selatan Barat Nama Pulau Luas (m2) Keterangan
Rao Saminyamao Burung Kacuwawa Ngelengele Besar Ngelengele Kecil Loleba Besar Loleba Kecil Galogalo Besar Galogalo Kecil Pelo Dodola Besar Dodola Kecil Kolorai Kokoya Mitita Zumzum Jojoromu Kapakapa Lungulungu Ruberube Rukeruke Bobongone 61.287.196 522.291 48.972 88.059 1.516.703 152.006 1.237.070 421.241 362.300 218.309 49.128 948.283 121.653 188.705 106.947 380.297 674.228 5.858 9.987 540.803 441.495 258.930 72.860 Ada penduduk Ada penduduk Tidak ada penduduk Tidak ada penduduk Ada penduduk Ada penduduk Tidak ada penduduk Tidak ada penduduk Ada penduduk Ada penduduk Tidak ada penduduk Tidak ada penduduk Tidak ada penduduk Ada penduduk Tidak ada penduduk Tidak ada penduduk Tidak ada penduduk Ada penduduk Ada penduduk Tidak ada penduduk Tidak ada penduduk Tidak ada penduduk Tidak ada penduduk

dihuni oleh

Sumber: Data Primer (2006). Secara administratif pemerintahan, pulau-pulau kecil ini masuk dalam dua wilayah kecamatan yaitu Kecamatan Morotai Selatan dan Morotai Selatan Barat. Kedua kecamatan ini, pusat pemerintahan kecamatannya terletak di Pulau Morotai. Pusat pemerintahan Kecamatan Morotai Selatan di Daruba, sedangkan Morotai Selatan Barat di Wayabula. KP2K MS2B berbatasan dengan Samudera Pasifik di sebelah Utara, Selat Morotai di sebelah Selatan dan Laut Sulawesi di sebelah Barat.

52 4.2 Lingkungan BioFisik-Kimia Perairan 4.2.1 Batimetri Pulau-Pulau Kecil Secara umum kondisi batimetri pulau-pulau kecil dikelilingi terumbu karang pada sisi barat bagian selatan dari Pulau Morotai. Perairan ini terletak antara Tanjung

Wayabula di Selat Rao yang terjal (kedalaman 200 m berada pada jarak 990 m dari pantai) ke selatan sampai tanjung Dehigila di ujung barat pulau Morotai yang sangat terjal (kedalaman 200 m berada hanya 200 m dari garis pantai). Di sekitar perairan antara gugusan pulau-pulau kecil dan terumbu karang ini dengan pulau Morotai, dasar perairan relatif dangkal dengan kedalaman berkisar antara 3-50 m. Batimetri antara gugusan karang terluar ke laut lepas memperlihatkan garis kedalaman 200 m berada pada jarak 100 7.500 m. Kondisi batimetri selat Rao pada bagian yang tersempit tergolong landai pada bagian yang terdangkal, kedalaman bervariasi antara 5 42 m. Pada bagian ini terdapat perairan yang dangkal yang menjorok dari pulau Rao tegak lurus ke tengah selat sejauh 1.500 m dengan kedalaman 8 9 m. Lebar selat Rao tersempit adalah sekitar 2.150 m, sedangkan panjang selat Rao dengan kedalaman kurang dari 200 m hanya 4.000 m. Sedangkan garis pantai di sebelah barat terutama yang terletak pada selat Rao dan beberapa lokasi ke arah selatan yang mempunyai alur bebas ke laut tetapi terlindung dari hantaman gelombang dari laut bebas mempunyai potensi untuk dikembangkan.

4.2.2

Arus Secara umum kecepatan arus bervariasi antara 1,02 m/det 1,28 m/det. Menurut

P20-LIPI (2006) bahwa perairan bagian barat pulau Morotai, pada lapisan termoklin di bawahnya (50 200 m), arus bergerak ke arah utara timur laut dan ke arah utara barat daya. Sedangkan pada lapisan homogen, arus lebih lemah dengan arah dominan ke utaratimur laut. Dengan demikian, pada bagian barat perairan Pulau Morotai, pergerakan arus umumnya ke utara timur laut atau utara barat pada lapisan permukaan hingga kedalaman 600 m, dengan kecepatan yang lebih tinggi di lapisan atas (0,04 0,8 m/det) dan lebih rendah di lapisan dalam (0,05 0,4 m/det). Kecepatan arus ini tergolong kuat karena terletak pada selat sehingga cenderung menyebabkan aliran kuat.

53 Pada bagian selatan perairan pulau Morotai, arus dominan bergerak ke barat daya dan ke barat daya selatan tenggara dengan kecepatan bervariasi antara 0,05 0,8 m/det pada lapisan permukaan. Pada lapisan termoklin dibawahnya, arah arus masih sama yakni dominan ke barat daya dengan kecepatan yang cenderung sama dengan arus dipermukaan dan arah barat daya selatan tenggara. Pada lapisan dalam (> 300 m), arah arus masih cenderung ke barat daya dan di lapisan 800 100 m, arah arus tidak teratur.

4.2.3

Pasang Surut Hasil pengukuran pasang surut yang dicatat secara manual setiap jam dengan

menggunakan tiang pasut berskala yang ditempeli dengan selang plastik transparan dari pukul 8.00 WIT (25 Juni 2006) sampai 8.00 WIT (26 Juni 2006) di Desa Daruba, Kecamatan Morotai Selatan (2o2,9 LU, 128o16,8 BT) ditunjukkan pada Gambar 11. Dari grafik pasang surut tersebut secara visual bahwa tipe pasang surut adalah pasang campuran dominasi semi harian. Kisaran pasang surut dari 24 jam pengukuran tersebut bervariasi antara 1,07 m 1,36 m.

300 250 Elevasi (cm) 200 150 100 50 0 0 5 10 15 20 25 30 35 Waktu (jam)

Gambar 11 Grafik Pasang Surut Hasil Pengukuran selama 24 Jam (25-26 Juni 2006) di Perairan Morotai.

54 4.2.4 Suhu dan Salinitas Perairan Laut Hasil pengukuran lapang suhu perairan laut di lima lokasi pengamatan, diperoleh kisaran antara 29,1 30,4 0C. Suhu perairan ini menggambarkan kondisi alamiah karena perairan tersebut berada di daerah tropis. Perbedaan suhu di atas dikarenakan perbedaan pada saat waktu pengukuran, bila tidak ada arus atau arus sangat lemah, suhu air laut di pagi hari cenderung sedikit lebih rendah dibandingkan dengan suhu air laut pada siang hari. Hal ini karena pada siang hari, permukaan air laut akan mengalami sedikit pemanasan oleh cahaya matahari. Salinitas air laut di semua lokasi sama yaitu 35 %0. Nilai ini menggambarkan nilai salinitas di perairan laut terbuka, karena jauh dari daratan, di titik-titik pengamatan tidak ada pengaruh air tawar, dan perairan laut Pulau Morotai berada di bagian selatan Samudera Pasifik dan pengambilan contoh air dilakukan pada musim kemarau (bulan Juli 2006). Pada musim hujan, perairan laut khususnya yang berdekatan dengan muaramuara sungai, nilai salinitasnya sedikit menurun. Hal ini disebabkan masuknya air tawar yang masuk dari sungai tersebut.

4.2.5 Kualitas Air Laut Hasil pengukuran beberapa parameter kualitas air laut untuk wisata bahari (Lampiran 2), sebagian besar parameter memenuhi kriteria sesuai dengan keputusan Menteri Negara Lingkugan Hidup nomor 51 tahun 2004 tentang baku mutu air laut. Hanya sebagian kecil saja enam parameter yang tidak memenuhi kriteria tersebut yaitu: oksigen, sulfida, fenol, arsen, kadmium dan tembaga. Pada stasiun 5 perairan Daruba (Pelabuhan), mengandung oksigen lebih kecil daripada 5 mg/l (baku mutu air laut untuk wisata bahari adalah lebih besar daripada 5 mg/l). Hal ini karena di perairan tersebut merupakan tempat berlabuhnya berbagai jenis kapal (kapal feri, speed, dan kapal nelayan), banyak sampah organik yang dibuang ke laut oleh penduduk, dan perairannya dangkal sehingga terjadi proses dekomposisi secara aerobik sampah organik tersebut. Oleh karena itu kandungan oksigen di perairan Daruba sedikit lebih kecil dibandingkan dengan perairan perairan lainnya. Kandungan sulfida di stasiun 1, stasiun 4, masing-masing sebesar 0,180 mg/l dan 0,370 mg/l lebih besar daripada nilai baku mutunya yaitu 0,01 mg/l. Keadaan ini tidak terlalu dikhawatirkan

55 karena di perairan tersebut kandungan oksigennya besar yaitu lebih besar daripada 5 mg/l, sehingga diharapkan sulfida yang ada akan berubah bentuk menjadi sulfat yang tidak berbahaya. Kandungan fenol di stasiun 1 (0,009 mg/l) dan stasiun 5 (0,008 mg/l) lebih besar dari nilai baku mutunya yaitu 0,002 mg/l. Fenol di perairan dapat berasal dari pelapukan bahan-bahan organik yang telah berlangsung cukup lama, dan dapat berasal dari ceceran Bahan Bakar Minyak (BBM). Beberapa logam di beberapa stasiun yang nilainya telah melebihi nilai baku mutu untuk biota laut adalah arsen, kadmium, dan tembaga. Logam-logam ini diperkirakan kondisi geologis daerah setempat, karena ditemukan kandungan logam tembaga di sungai yang juga melebihi baku mutu (Lihat Lampiran 3. Kualitas Air Sungai). Hal ini karena di sekitar lokasi perairan Morotai tidak terdapat kegiatan yang berpotensi dapat meningkatkan kandungan logam berat tersebut. Di perairan sekitar Pulau Morotai tidak terlihat adanya kotoran dalam bentuk benda-benda terapung buangan kegiatan penduduk, dan juga tidak terlihat adanya lapisan minyak. Secara umum, kualitas air laut di sekitar Pulau Morotai memenuhi syarat untuk wisata bahari. 4.2.6 Kualitas Air Sumur Secara umum, kualitas air sumur yang diamati semuanya memenuhi syarat sebagai air baku air minum (Lampiran 3). Di Sumur 1, kandungan padatan terlarut (TDS), sulfida, dan khlorida, masing-masing adalah 1.540 mg/l, 0,25 mg/l, dan 999 mg/l. Nilai-nilai tersebut lebih besar daripada nilai baku mutu masing-masing menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 416 tahun1990 tentang syaratsyarat dan pengawasan kualitas air, sumur tersebut sedikit terpengaruh oleh air payau, keadaan ini diperkuat oleh nilai kesadahan (218 mg CaCO3/l), dan sulfat (121 mg/l). 4.2.7 Kualitas Air Sungai Dari empat sungai yang diambil contoh airnya, kandungan residu terlarut, BOD, dan COD telah ada yang melebihi nilai baku mutu berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No. 82 Tahun 2001 Kelas I dan Kelas II (Lampiran 4). Nilai residu terlarut di Stasiun 2 dan Stasiun 3 cukup tinggi. Hal ini karena titik pengambilan contoh berada dekat muara

56 sehingga terkena pengaruh air laut. Kandungan tembaga di semua sungai mempunyai nilai (berkisar dari 0,11 0,17 mg/l) yang lebih besar daripada nilai baku mutunya yaitu 0,02 mg/l. Hal ini diduga karena kondisi geologis dari batuan yang ada. Secara umum ke empat sungai yang diamati memenuhi syarat sebagai air baku air minum dan untuk keperluan perikanan. Untuk waktu ke depan, air sungai tersebut dan sungai sungai lainnya berpotensi untuk digunakan sebagai bahan baku air minum. Di Pulau Morotai, banyak sungai kecil yang berair pada saat musim hujan saja, sedangkan pada musim kemarau sungai tersebut kering. 4.2.8 Potensi Sumberdaya Pulau-Pulau Kecil

Terumbu Karang Hamparan terumbu karang di pulau Morotai terpusat pada pulau-pulau kecil di sebelah barat pulau Morotai dan terumbu juga terdapat di pulau Morotai seperti

Wayabula, dan Mitita. Hampir semua pulau-pulau kecil terdapat terumbu karang. Kondisi terumbu karang di perairan Pulau Morotai relatif baik. Tutupan karang keras berkisar 1,60 57,32 % dengan kategori rusak hingga baik (Tabel 18). Karang keras terdiri dari karang keras Acropora dan Non-Acropora. Karang Non Acropora lebih dominan ditemukan hampir di seluruh perairan pulau Morotai. Kondisi karang keras di Pulau Burung paling buruk dengan persentasi tutupan 1,60 % karang keras non Acropora, sedangkan karang keras yang paling baik ditemukan di Wayabula dengan tutupan 53,20 % karang keras non Acropora. Tutupan komunitas karang di perairan Pulau Morotai berkisar 17,70 84,70 % dengan kategori rusak hingga sangat baik (Tabel 19). Komunitas karang terburuk terdapat di Pulau Burung, dan terbagus di Wayabula dan Mitita. Umumnya kerusakan karang disebabkan kerusakan fisik (bekas pengeboman) dan diantaranya di beberapa tempat di musim-musim tertentu seperti di Pulau Dodola dan Pulau Saminyamau mempunyai partikel terlarut (terutama bahan organik) yang relatif tinggi yang dapat menghambat penetrasi cahaya matahari. Hal ini juga ditandai dengan spesies indikator karang lunak yang dapat lebih menyesuaikan dengan partikel terlarut. Wayabula dan Mitita yang memiliki komunitas karang terbaik juga memiliki karang lunak yang relatif dominan di

57 perairan tersebut. Hal ini juga disebabkan kecepatan arus yang relatif lebih kuat dibandingkan di daerah pulau-pulau kecil sehingga karang lunak dapat hidup lebih baik. Tabel 18 Persentase Tutupan Karang
Lokasi HCA HCNA (%) Tutupan DC ALG Others Abiotik

Wayabula* Dodola Besar* Pulau Burung* Posi-Posi Rao* Saminyamao* Mitita* Loleba Kecil* Loleba Besar** Tanjung Tiley** Ngelengele Besar** Ngelengele Kecil** Kolorai** Galogalo** Selat Rao** Dodola Kecil**

0,00 2,80 0,00 31,70 12,60 7,00 31,70 4,00 0,40 9,98 10,56 32,96 4,22 18,26 1,40

53,20 7,40 1,60 24,00 10,00 28,93 24,00 53,32 13,66 20,48 17,82 3,6 28,14 9,36 28,72

1,00 12,60 7,40 2,70 7,40 5,87 2,70 6,00 7,60 6,9 5,5 5,4 9,9 5,9 10,02

2,40 5,20 10,20 13,90 0,00 7,28 13,90 14,64 19,30 18,2 7,5 7,94 36,58 18,38 36,96

31,50 13,00 16,10 1,00 9,80 43,59 1,00 7,94 33,54 11,08 38,16 3,76 15,86 30,5 18,60

11,90 59,00 64,70 26,70 60,20 7,34 26,70 14,10 25,50 34,36 20,46 46,34 5,30 17,6 4,30

Keterangan * = Data Primer terolah ** = Data Sekunder (Sumber PSL UNKHAIR 2005) HCA = Hard Coral Acropora HCNA = Hard Coral Non-Acropora DC = Dead Coral ALG = Algae

Tabel 19 Persentase Tutupan Karang dan Komunitas Karang


Lokasi % Tututupan Karang Keterangan % Komunitas Karang Keterangan

Wayabula Dodola Besar Pulau Burung Posiposi Rao Saminyamau Mitita Loleba Kecil Loleba Besar Tj tiley Ngelengele Besar Ngelengele Kecil Kolorai Galogalo Selat Rao Dodola Kecil

53,20* 10,20* 1,60* 55,70* 22,60* 35,93* 55,70* 57,32** 14,06** 30,46** 28,38** 36,56** 36,36** 27,62** 30,12**

Baik Rusak Rusak Baik Rusak Sedang Baik Baik Rusak Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang

84,70* 23,20* 17,70* 56,70* 32,40* 79,52* 56,70* 65,26** 47,60** 41,54** 66,54** 40,32** 43,20** 58,12** 48,72**

Sangat baik Rusak Rusak Baik Sedang Sangat baik Baik Baik Sedang Sedang Baik Sedang Sedang Baik Sedang

Keterangan: * = Data primer terolah ** = Data sekunder (Sumber : PSL UNKHAIR 2005)

58
75 % - 100 % 50 % - 74,9% = sangat baik = baik 25% - 49,9% = sedang 0,5% - 24,9% = rusak

Sumber : KEPMEN LH No 4 (2001) tentang Persentase Tutupan Karang

Ikan Karang Ikan karang di ekosistem terumbu karang sekitar pulau-pulau kecil Kecamatan Morotai Selatan, dan Morotai Barat dikelompokkan dalam tiga kategori : 1) spesies indikator 2) spesies target, dan 3) spesies mayor. Secara umum kondisi ikan karang pada masing-masing lokasi bervariasi, baik jumlah spesies, jumlah individu, dan populasi dominan (Tabel 20). Spesies Indikator Spesies indikator merupakan jenis-jenis ikan karang yang berasosiasi sangat erat dengan terumbu karang. Keberadaan jenis-jenis ikan ini digunakan sebagai indikator Kelompok spesies indikator (Famili

untuk mengetahui kondisi terumbu karang.

Chaetodontidae) (Lampiran 20), merupakan contoh yang baik penghuni terumbu karang primer yang tipikal, karena hidupnya selalu berasosiasi dengan terumbu karang, baik sebagai habitat maupun sebagai tempat mencari makanan dan mungkin sebagian besar sejarah hidupnya berlangsung disini (Reese 1989). Ketertarikan Chaetodontidae terhadap terumbu karang kuat sekali. Chaetodontidae pada umumnya bersifat omnivora.

Makanan kegemarannya adalah polip-polip karang. Pada beberapa lokasi, seperti pulau Dodola Besar kondisi terumbu karangnya sudah dalam kategori buruk/rusak (10,20 %), tetapi peluang bertumbuhnya ikan karang khususnya spesies indikator masih dimungkinkan (Tabel 20). Salah satu faktor yang mendukung adalah wilayah terumbu karang yang terhampar luas dan menyambung dari pulau satu ke pulau lain, sehingga walaupun sifat dasar ikan-ikan ini territorial tetapi tempat perpidahannya masih lebar. Spesies Target Populasi ikan karang yang termasuk dalam kelompok spesies target (Lampiran 20), umumnya bernilai ekonomis penting untuk konsumsi/pangan, misalnya ikan kerapu, beronang, kakap, biji nangka, dan lain-lain. Jenis-jenis ikan karang khususnya spesies target yang dominan di perairan terumbu karang kepulauan Morotai yaitu, Caesio spp

59 dan Pterocaesio spp (Tabel 20) walaupun ada juga lokasi yang didominasi oleh ikan karang genus Siganus spp, dan Acanthurus spp. Hasil temuan ini memperlihatkan bahwa ikan-ikan karang ekonomis yang umumnya ditemukan adalah kelompok pelagis karang, dimana sifat ikan-ikan ini tidak menghabiskan seluruh waktunya di daerah terumbu karang. Selain itu, dibandingkan dengan ikan karang jenis lainnya seperti Epinephelus spp, Plectorhinchus spp, Lutjanus spp, Cephalopolis spp. Jenis Caesio spp maupun Pterocaesio spp, memiliki nilai

ekonomis yang lebih rendah. Artinya, potensi perikanan terumbu karang di kepulauan Morotai semakin terancam.
Tabel 20 Kelompok Spesies, Jumlah Spesies, Jumlah Individu dan Populasi Dominan Ikan Karang yang
Ditemukan Di Terumbu Karang Kecamatan Morotai Selatan dan Morotai Selatan Barat
Kelompok Spesies P. Rao Spesies Indikator Spesies Target Spesies Mayor P.Ngelengele Besar Spesies Indikator Spesies Target Spesies Mayor P.Ngelengele Kecil Spesies Indikator Spesies Target Spesies Mayor P. Galogalo Besar Spesies Indikator Spesies Target Spesies Mayor P. Loleba Besar Spesies Indikator Spesies Target Spesies Mayor P. Dodola Besar Spesies Indikator Spesies Target Spesies Mayor P. Kolorai Spesies Indikator Spesies Target Spesies Mayor Tanjung Tiley Spesies Indikator Spesies Target Spesies Mayor Sumber : PSL UNKHAIR 2005 Lokasi Jumlah Spesies 13 60 61 9 47 46 11 60 48 18 73 61 11 52 52 7 45 37 11 41 43 7 34 34 Jumlah Individu 47 727 1482 36 371 604 59 551 986 66 1582 1419 41 1100 1982 32 1024 1682 53 806 1470 23 407 675 Populasi Dominan Chaetodon kleinii Caesio teres Chromis analis Chaetodon Ideinii Acanthurus tompsoni Dascyllus auranus Chaetodon kleinii Acanthurus lineatus Chromis analis Chaetodon kleinii Pterocaesio tile Chromis analis Chaetodon kleinii Caesion cuning Chromis atripes Chaetodon kleinii Caesio teres Abudefduf vaigiiensis Chaetodon kleinii Caesio teres Chromis atripes Chaetodon kleinii Siganus vulpinus Choromis analis

Spesies Mayor Kelompok spesies mayor (Lampiran 20) sering dijumpai melimpah di terumbu karang, terutama populasi dari famili Pomacentridae, Labridae dan Serranidae untuk sub famili Anthiinae. Selain memiliki nilai ekologis, kelompok ikan ini mempunyai nilai

60 ekonomis penting sebagai ikan hias dan sampai saat ini masih kurang diminati untuk dikonsumsi karena mungkin dianggap masih berukuran kecil. Dua genus yang paling banyak jumlah individunya yaitu Chromis sp, dan Dascyllus sp. Kedua genus ini biasanya ditemukan dalam jumlah yang banyak dan mengelompok untuk setiap genus.

Lamun Sebaran lamun cukup luas hampir sama dengan sebaran terumbu karang, meskipun tidak seluas hamparan karang. Jenis lamun yang ditemukan di perairan

Morotai antara lain: Cymodocea serrulata, Cymodocea rotundata, Halodule sp, Syringodium isoetifolium, Enhalus acoroides dan Halophila sp. Persentase tutupan, subsrat dan sebaran padang lamun di pesisir selatan Pulau Morotai dapat di lihat pada (Lampiran 5). Tutupan padang lamun di perairan selatan pulau Morotai berkisar antara 5-95%. Bervariasinya pertumbuhan dan kelebatan padang lamun erat kaitannya dengan habitat dimana lamun itu tumbuh. Wilayah perairan bagian selatan pulau Morotai yang mempunyai ciri-ciri profil pantai yang curam, perairan berombak, tipe subsrat bervariasi seperti pecahan karang, gravel dan pasir kasar, habitat semacam ini di perairan selatan Pulau Morotai didominasi jenis Thalassia hemprichii, sedangkan jenis lainnya yang tersebar secara sporadis seperti Halodule uninervis, Halodule pinifolia dan Halophila ovalis. Jenis lamun seperti Enhalus acoroides, Syringodium isoetifoilium, Cymnodecea rotundata mulai banyak ditemukan pada habitat yang sedikit ada lumpur, pasir halus sampai kasar dan sedikit kerikir yang ditemukan di wilayah perairan Barat Pulau Morotai. Habitat ini dicirikan dengan pesisir pantai banyak dijumpai ekosistem mangrove, sehingga jenis Enhalus acoroides mulai banyak ditemukan. Pesisir barat pulau Morotai jenis-jenis seperti Halophila ovalis, Halodule uninervis, Halodule pinifolia dan Thalassia hemprichii juga tersebar secara sporadis. Persentase tutupan relatif tinggi dapat ditemukan di tanjung pulau Morotai sisi selatan dan barat. Pesisir barat pulau Morotai yang dicirikan dengan profil pantai relatif landai. Banyak pulau-pulau kecil sangat berfungsi sebagai penahan gelombang dan substrat pada umumnya berupa Lumpur, pasir

61 halus sampai pasir kasar dan kerikil sehingga frekuensi jenis Enhalus acoroides lebih banyak ditemukan di pesisir pantai sisi barat pulau Morotai. 4.3 Lingkungan Sosial, Ekonomi dan Budaya 4.3.1 Kependudukan Jumlah penduduk kecamatan Morotai Selatan dan Morotai Selatan Barat secara keseluruhan pada tahun 2005 adalah 30.163 jiwa yang tersebar di 17 desa Kecamatan Morotai Selatan (Tabel 21), 13 desa pesisir dan pulau-pulau kecil Kecamatan Morotai Selatan Barat. Kecamatan Morotai Selatan memiliki jumlah penduduk sebanyak 19.930 jiwa dengan jumlah penduduk laki-laki 10.126 jiwa lebih banyak daripada perempuan 9.804 jiwa.

Tabel 21 Komposisi Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Kecamatan Morotai Selatan


Nama Desa Juanga Pandanga Kolorai Daruba Gotalamo Darame Wamama Totodoku Momojiu Sabatai Baru Sabatai Lama Daeo Sambiki Sangowo Dehegila Pilowo Galogalo Jumlah Laki-laki 242 332 198 2.078 896 300 371 740 131 250 458 894 795 1.014 745 429 253 10.126 Jenis Kelamin Perempuan 236 376 196 1.980 1.002 282 363 734 120 240 275 886 711 1.021 715 428 239 9.804 Jumlah 478 708 394 4.058 1.898 582 734 1.474 251 490 733 1.780 1.506 2.035 1.460 857 492 19.930 Jumlah Keluarga 82 149 65 451 283 110 205 227 47 89 171 253 311 433 316 104 88 3.384

Sumber : Kantor Camat Morotai Selatan 2005

Dibandingkan dengan jumlah penduduk kecamatan Morotai Selatan, kecamatan Morotai Selatan Barat lebih sedikit penduduknya sebanyak 10.336 jiwa dengan jumlah penduduk laki-laki 5.393 jiwa dan penduduk perempuan 10.336 jiwa (Tabel 22), hal ini disebabkan jumlah desanya lebih sedikit dan tersebar di beberapa pulau-pulau kecil.

62 Tabel 22 Komposisi Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Kecamatan Morotai Selatan Barat
Laki-laki 498 282 237 107 165 879 384 580 289 435 795 498 244 5.393 Jenis Kelamin Perempuan 445 240 212 101 164 824 338 564 264 402 718 449 222 4.943 Jumlah 943 522 449 208 329 1703 722 1144 553 837 1513 947 466 10.336 Jumlah Keluarga 201 102 112 50 82 393 155 255 121 195 368 262 103 2.399

Nama Desa Wayabula Ngelengele Kecil Waringin Aru Irian Cocomare Tilei Tutuhu Ciogerong Aru Burung Laomadoro Leoleo Posiposi Saminyamo Jumlah

Sumber: Kecamatan Morotai Selatan Barat dalam Angka Tahun 2005

Mata pencaharian penduduk kecamatan Morotai Selatan dan Morotai Selatan Barat sebagian besar sebagai petani (lebih dari 70 %), sedangkan mata pencaharian lainnya adalah pedagang, Pegawai Negeri Sipil dan TNI/Polri. Di Kecamatan Morotai Selatan, sebagian besar penduduknya memiliki mata pencaharian dari sektor pertanian yaitu sebanyak 2.479 KK atau 73,26 %. Sementara kepala kelaurga yang memiliki mata pencaharian dari sektor jasa berjumlah 501 KK atau 14,80% (Tabel 22). Sama halnya dengan Kecamatan Morotai Selatan, Kecamatan

Morotai Selatan Barat juga penduduknya sebagian besar mata pencahariannya yang paling dominan adalah dari sektor pertanian yaitu sebanyak 2162 KK atau 89,09 %. Sektor lainnya hanya sebanyak 165 KK (6,8%) yang memiliki mata pencaharian dari sektor jasa dan 100 KK (4,21%) dari sektor perdagangan. Sementara untuk sektor

pertambangan/penggalian, dan lainnya, tidak satu KK pun yang menjadikannya sebagai sumber mata pencaharian. Sama halnya dengan kecamatan Morotai Selatan, Kecamatan Morotai Selatan Barat juga penduduknya sebagian besar mata pencahariannya yang paling dominan adalah dari sektor pertanian yaitu sebanyak 2162 KK atau 89,09 %. Sementara sektor lainnya hanya sebanyak 165 KK (6,8 %) yang memiliki mata pencaharian dari sektor jasa dan 100 KK (4,21 %) dari sektor perdagangan (Tabel 23).

63 Sementara untuk sektor pertambangan/penggalian, dan lainnya, tidak satu KK pun yang menjadikannya sebagai sumber mata pencaharian (Tabel 24) Tabel 23 Jumlah KK Menurut Mata Pencaharian di Kecamatan Morotai Selatan
Desa Pertanian Juanga Pandanga Kolorai Daruba Gotalamo Darame Wamama Totodoku Momojiu Sabatai Baru Sabatai Lama Daeo Sambiki Sangowo Dehegila Pilowo Galogalo Jumlah 19 119 40 137 206 68 143 193 33 75 152 233 278 348 278 84 53 2479 Mata Pencaharian Pertambangan/ Industri Penggalian Pengolahan 15 8 7 5 1 2 5 2 2 6 7 16 7 15 98 Perdagangan 6 7 1 190 17 2 21 8 2 3 5 5 12 24 1 1 1 306 Jasa 22 15 17 119 59 40 39 21 12 11 12 13 15 54 21 12 19 501

Sumber : Kantor Camat Morotai Selatan 2005 Tabel 24 Jumlah KK Menurut Mata Pencaharian di Kecamatan Morotai Selatan Barat
Desa Wayabula Ngelengele Kecil Waringin Aru Irian Cocomare Tilei Tutuhu Ciogerong Aru Burung Laomadoro Leoleo Posiposi Saminyamo Jumlah Pertanian 157 90 117 38 72 349 128 229 105 161 338 279 99 2162 Mata Pencaharian Pertambangan/ Industri Perdagangan Penggalian Pengolahan 10 4 3 1 10 8 5 4 7 8 25 1 100 Jasa 20 12 8 6 6 15 7 8 2 7 7 54 5 165

Sumber: Kecamatan Morotai Selatan Barat dalam Angka Tahun 2005

64 Di samping kelompok-kelompok etnik setempat, kelompok-kelompok etnik lain yang berasal dari luar Maluku Utara seperti Sulawesi (Selatan, Tenggara, Tengah, Utara) Jawa, Sumatera, Cina Ambon dan lain-lain datang dan menetap. Diantara mereka ada yang kawin dengan penduduk asli setempat dan ada yang tinggal sementara waktu karena mencari nafkah. Demikian pula dengan penganut agama lain yang disamping Islam dan Kristen, seperti Konghucu, Hindu dan Budha meskipun dalam jumlah yang kecil. Mereka ini hidup berdampingan dan kadangkala ada pula yang membaur dengan suku maupun penganut agama lainnya. Diakui bahwa dengan potensi hasil rempah-rempah di daerah ini, maka bahasa memegang peran penting dalam perdagangan pada abad-abad lampau, namun bersamaan dengan itu pula terjadi infiltrasi kebudayaan dari luar yang kuat terutama pengaruh bahasa Melayu sehingga secara keseluruhan masyarakat yang ada di Maluku Utara umumnya menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa utama sementara bahasa daerah digunakan manakala lawan bicara memiliki suku yang sama atau paling tidak memahami bahasa daerah digunakan pada lingkungan suku bangsa yang sama atau pada mereka yang mengetahui bahasa tersebut.

4.3.2 Sarana Sosial Pada umumnya sarana publik dan pendukung kehidupan serta perekonomian warga yang ditemukan di pulau-pulau terpencil masih tergolong minim. Di Kecamatan Morotai Selatan jalan penghubung antar desa berupa jalan beraspal dan di Kecamatan Morotai Selatan Barat, jalan penghubung antar desa berupa jalan desa yang tidak beraspal. Demikian pula dengan kondisi aliran listrik (PLN) masih bersifat temporer yang menyala sekitar 12.00 jam per hari, yaitu mulai 18.00 06.00WIT. untuk kecamatan Morotai Selatan Barat , pemanfaatan listrik (PLN) sebanyak 172 kepala keluarga dan non PLN sebanyak 360 kepala keluarga. Sedangkan di Kecamatan Morotai Selatan pengguna PLN sebanyak 1.833 kepala keluarga dan yang non PLN sebanyak 39 kepala keluarga. Pelanggan telepon kabel tidak ditemukan di Kecamatan Morotai Selatan sedangkan di Kecamatan Morotai Selatan Barat 250 kepala keluarga. Untuk air minum dan air mandi seluruh desa mengunakan air tanah (sumur).

65 Sarana pendidikan sudah tergolong cukup baik, ketersedian lembaga pendidikan dasar hingga menengah, SD hingga SMU. Jumlah sekolah negeri yang terdapat dalam kecamatan Morotai Selatan Barat SD berjumlah 13, SLTP sebanyak 1, SMU sebanyak 1. Jumlah sekolah swasta yang ada di Kecamatan Morotai Selatan Barat SD sebanyak 5 dan SLTP sebanyak 1. Sarana pendidikan sudah tergolong cukup baik, ketersedian lembaga pendidikan dasar hingga menengah, SD hingga SMU. Jumlah sekolah negeri yang

terdapat dalam Kecamatan Moroai Selatan SD berjumlah 17, SLTP sebanyak 3, SMU sebanyak1. Jumlah sekolah swasta yang ada di Kecamatan Morotai Selatan SD sebanyak 3, SLTP sebanyak 2, dan SMU sebanyak 3. Sarana pendukung publik lainnya mulai dari puskesmas dan tenaga medisnya, transportasi laut dan darat, pos dan telekomunikasi, dan sanitasi lingkungan masingmasing hanya terdapat di ibukota kecamatan dan kondisinya yang kurang dirawat.

4.3.3 Perekonomian Rakyat Selain sektor perikanan dan kelautan, kehutanan dan pariwisata, terdapat juga potensi besi putih yang merupakan industri kerajinan tangan masyarakat setempat. Sektor informal ini berkembang cukup pesat di masyarakat, dan umumnya sebagai salah satu cinderamata khas Morotai. Daerah pemasaran hasil kerajinan besi putih selain dipasarkan di Kota Ternate, juga telah meluas sampai ke Menado (Sulawesi Utara). Salah satu produksi perikanan yang cukup prospektif serta memiliki keunggulan kualitasnya adalah ikan asin (ikan garam) yang dihasilkan masyarakat Morotai sebagai tambahan mata pencaharian penduduk yang umumnya berdomisili di daerah-daerah pesisir pantai dan pulau-pulau kecil. Potensi perairan Morotai yang lain adalah jenis terumbu karang, ikan hias dan konsumsi yang beragam jenisnya serta rumput laut maupun keindahan taman lautnya. Hal tersebut turut memberikan peluang usaha dalam pengembangan budidaya laut seperti rumput laut maupun peningkatan pendapatan dan sektor pariwisata. Sektor pariwisata yang ada di Pulau Morotai beragam dan variatif seperti wisata peninggalan sejarah, wisata pantai maupun keindahan taman bawah laut yang sangat menawan. Potensi pariwisata Morotai yang belum dikembangkan sebagai obyek wisata yang menarik dan mendatangkan devisa antara lain : Telaga Kaca, Pulau Zumzum (bekas

66 kediaman Jenderal Mc Arthur), pulau Galogalo, Panser serta Bunker bekas peninggalan PD II, Taman laut Dodola, Ngelengele dan lain-lain.

4.3.4 Sosial Budaya Mayoritas mata pencaharian penduduk pulau Morotai adalah petani dan nelayan (sebagian besar permukim di pesisir dan pulau-pulau kecil). Tidak mempunyai penduduk asli, pendatang dari pulau Halmahera sebagian besar suku Tobelo dan Galela. Karakteristik budaya masyarakat adalah perpaduan budaya Halmahera secara umum dan lebih khusus budaya dan adat Tobelo Galela. Budaya yang sampai saat ini masih berkembang di masyarakat Pulau Morotai adalah gotong royong. Jenis tarian yaitu: Tide-Tide, Cakalele, Denge-denge, Bobaso, Salumbe, Tokuwela, Yangere, Tari Kabata Talaga Lina, Togal. Sedangkan jenis musik tradisional meliputi Musik Bambu Tiup, Gala, Musik Bambu Hitadi, Musik Jangere, Upacara Adat Hibua Lamo, Adat Perkawinan, Sejarah Tona Malangi (tersebar di tiga Kecamatan di Pulau Morotai). Tarian Tide-tide Tarian Tide-tide adalah merupakan salah satu tarian khas pulau Morotai, Halmahera Utara. Tarian ini dapat dilakukan pada saat-saat tertentu, misalnya pada saat malam syukuran anak atau pada pesta perkawinan secara adat dan juga pada saat acara pesta rakyat serta dipertunjukan untuk menyambut tamu. Selain itu tarian ini dapat disuguhkan pada saat ke tide-tide dapat disebut dengan tarian pergaulan karena pada gerakan-gerakan tertentu memberikan makna yang sangat berarti. Untuk itu para penari sangat berhati-hati dalam gerakannya. Salah satu contoh para penari laki yang berhadapan dengan seorang gadis maka pada gerakan tangan yang diangkat keduanya dapat memberikan makna sangat berarti, disini bisa terjadi ikatan antara seorang pria dan seorang wanita sampai pada tingkat perkawinan atau keduanya memahami isyarat pada gerakan-gerakannya itu. Tarian ini ditarikan oleh sekelompok orang baik laki-laki maupun perempuan yang diikuti oleh tiga kelompok tingkatan usia yaitu Tingkat anakanak, remaja dan dewasa sementara alat yang digunakan pada acara tersebut adalah tifa gong dan biola para pemusik berjumlah 6 orang baik laki-laki maupun perempuan

67 sedangkan para penari minimal berjumlah 12 orang masing-masing 6 laki-laki dan 6 perempuan. Tarian Cakalele Tarian cakalele adalah salah satu tarian ciri khas pulau Morotai Halmahera Utara. Tarian ini disebut sebagai tarian perang dan juga sebagai tarian adat. Tarian cakalele juga dapat dilakukan pada acara-acara tertentu. Misalnya acara penjemputan tamu secara adat, acara perkawinan secara adat atau pada acara pentas budaya. Tarian cakalele dapat dilakukan sekelompok orang atau dua orang laki-laki dan perempuan. Para penari lakilaki biasanya menggunakan alat tari yang disebut parang dan salawaku, sedangkan perempuan menggunakan lenso tangan (saputangan) atau tangan kosong. Tarian ini biasanya seorang perempuan menari sambil berputar mengelilingi laki-laki yang disebut Basisi. Sementara para pemusik yang mengiringi cakalele berjumlah 4 oang dengan alat yang digunakan adalah gong dan tifa dilengkapi dengan alat pemukul yang dibuat dari kayu. Tarian Denge-denge Denge-denge adalah salah satu tarian pergaulan khas Pulau Morotai Halmahera Utara yang biasanya dilakukan oleh sekelompok baik orang laki-laki maupun perempuan ini diiringi dengan nyanyian-nyanyian yang sangat unik karena lantaran lagu memiliki makna yang sangat filosofis, dengan berbalas pantun baik laki maupun perempuan. Tarian ini memiliki gerakan yang sangat halus para penari sangat hati-hati dengan memaknai pukulan musik yang dimainkan oleh pemusik. Tarian ini tidak dapat dielaborasikan dengan tarian lain karena bila terjadi elaborasi tarian maka akan terjadi perubahan makna. Lagu denge denge yang berbalas pantun dapat menyuarakan syair bahasa cinta dan bahasa dan masa depan sehingga ada makna tertentu pada saat beralas pantun diakhiri dengan sebuah kesepakatan bila para pelantun itu seorang pemuda dan seorang gadis maka diakhiri dengan sebuah perkawinan. Denge denge ini hanya terdapat pada suku Galela, Tobelo dan Loloda (hampir punah).

68 Tarian Bobaso Bobaso adalah salah satu tarian pergaulan yang merupakan sebuah perpaduan tarian antara tide-tide dan denge-denge sehingga menghasilkan bobaso dengan memiliki keunikan-keunikan dalam tarian ini. Tarian ini sangat lamban dan halus. Bobaso juga melantunkan syair-syair yang memberikan isyarat-isyarat dalam bahasa cinta dan masa depan dari suara dan makna kalimat menimbulkan sebuah kesepakatan dan juga terjadi penolakan bila tidak memenuhi persyaratan yang dilantunkan oleh seorang perempuan. Tarian ini hanya terdapat pada suku Tobelo, Galela dan Loloda. Tarian Salumbe Tarian salumbe adalah salah satu tarian pergaulan yang hampir punah merupakan tarian tradisional dengan cara berbalas sair dari daerah Galela, Tobelo dan Loloda yang sampai saat ini masih tetap dilestarikan oleh masyarakat Halmahera Utara khususnya masyarakat Morotai Utara. Tarian ini terdiri atas delapan orang laki dan perempuan diiringi dengan alat tifa, gong dan biola. Tokuwela Tokuwela adalah salah satu pertunjukan tadisional berbalas pantun yang membutuhkan personil lebih dari 20 orang yang diiringi dengan lagu Tokuwela laki-laki dan perempuan. Tokuwela mempunyai dua pengertian yaitu : Toku memberikan pengertian berjalan disebuah ketinggian yang memiliki jarak contoh seorang anak kecil yang berjalan diatas tangan yang saling berpegangan antara laki dan perempuan. Wela adalah para pemain tali dengan menyanyikan lagu-lagu tokowela. Karena seorang anak kecil akan berjalan diatas tangan. Acara ini dapat dilakuan oleh suku Galela, Tobelo, dan Loloda pada acara- acara tertentu (hampir punah). Yangere Yangere adalah salah satu musik tradisional pulau Morotai Halmahera Utara. Musik ini dimainkan oleh sekelompok orang baik laki-laki maupun perempuan dengan menggunakan gitar tradisional dari kayu dan berbentuk empat persegi. Musik ini sangat

69 unik bila dibandingkan dengan alat yang digunakan para pemusik tradisional lainnya (Disbudpar Halut 2006). Kerajinan Kerajinan merupakan suatu hasil karya secara tradisional masyarakat Morotai. Kerajinan masyarakat Morotai yang sangat terkenal adalah besi putih (hanya ada di Daruba Kecamatan Morotai Selatan), kerajinan ini sudah di pasarkan baik secara lokal maupun di luar pulau Morotai. Selain itu juga terdapat alat-alat perlengkapan dapur dan berkebun seperti parang, tikar saloi susiru, susaji dan lain-lain yang hampir terdapat di seluruh Kecamatan Morotai.

70

5 HASIL DAN PEMBAHASAN


5.1 Zonasi Kawasan Pulau-Pulau Kecil Kecamatan Morotai Selatan dan Morotai Selatan Barat Wilayah kawasan pulau-pulau kecil Kecamatan Morotai Selatan dan Morotai Selatan Barat memiliki potensi sumberdaya. Berdasarkan hasil penghitungan persentase nilai total untuk menentukan zonasi kawasan pulau-pulau kecil melalui penerapan kriteria ekologi, ekonomi, sosial dan kelembagaan (Lampiran 6), sistem zonasi KP2K MS2B, mengelompok pulau-pulau berdasarkan karakteristik sumberdaya dan sistem ekologi sesuai sistem gugusan pulau. Pulau yang memiliki nilai tertinggi akan memiliki tingkat pengelolaan yang tinggi pula (beragam). Pulau Rao Utara dan Pulau Mitita masuk dalam zona inti karena memiliki nilai >70%, Pulau Dodola, Rao Selatan, Galogalo dan

Ngelengele masuk dalam zona pemanfaatan terbatas memiliki nilai 60%- 70%, dan Pulau Zumzum dan sekitarnya dan Pulau Ruberube sekitarnya masuk dalam zona penyangga nilainya 50% - < 60% (Tabel 25). Tabel 25 Nilai Persentase Kriteria Pengelolaan KP2K MS2B Lokasi Pulau Nilai Total (%) Tipe Zona Rao Utara 72,41 Inti Rao Selatan 64,37 Pemanfaatan terbatas Ngelengele 68,97 Pemanfaatan terbatas Galogalo 62,07 Pemanfaatan terbatas Dodola 68,97 Pemanfaatan terbatas Zumzum dan sekitarnya 58,62 Penyangga Ruberube dan sekitarnya 58,62 Penyangga Mitita 72,41 Inti Sumber Hasil Analisis Selanjutnya dengan menggunakan sistem informasi geografis (GIS) sistem zonasi yang terbentuk sesuai dengan pengembangan ekowisata dalam kawasan konservasi pulau-pulau kecil terdiri dari tiga zona yaitu zona inti, zona pemanfaatan terbatas dan zona penyangga (Gambar 12).

71

Gambar 12 Peta Kawasan Lindung KP2K MS2B

72 Pulau Rao Utara dan Pulau Mitita masuk dalam zona inti karena memiliki nilai 72,41%, Zona ini mempunyai luas 1.660 ha yang terdiri dari Pulau Rao bagian utara dengan luas perairan 1.430 ha, pulau Mitita mempunyai luas 230 ha dengan luas perairan 192 ha, luas daratannya 38 ha (Tabel 26). Pulau Rao bagian utara yang mempunyai topografi berbukit memiliki pantai berpasir, mangrove, dan pantai berbatu dan terdapat sarang burung Walet (Lampiran 21). Daerah ini mempunyai terumbu karang yang relatif masih bagus, pantai yang relatif alami, pemandangan yang indah, mempunyai habitat alami bagi biota laut. Namun demikian arus dan gelombang cukup kuat di daerah ini karena pulau Rao terletak terbuka menghadap laut lepas. Pulau Mitita yang terletak di selatan Pulau Morotai mempunyai kondisi lingkungan laut yang hampir sama dengan Pulau Rao bagian utara. Pulau Mitita mempunyai potensi terumbu karang yang baik (Lampiran 21), pemandangan yang indah, pantai pasir putih, dan habitat penyu. Pantainya agak landai dan mempunyai flat hamparan karang yang cukup lebar. Hal yang sama dilakukan di gugusan Pulau-Pulau

Kecil Padaido, Kabupaten Biak Papua, Gugusan Pulau Padaido Bawah. Pulau-pulau kecil ini memiliki hutan dan semak yang masih asli, dan merupakan habitat dari berbagai jenis burung dan kelelawar, pantai pulang berkarang batu dan pada bagian yang terlindung berpantai pasir, kawasan ini masuk dalam zona inti (Soselisa 2006). Zona inti kawasan lindung pulau-pulau kecil Morotai mempunyai fungsi lindung dan diperuntukan bagi perlindungan mutlak habitat dan populasi sumberdaya pesisir dan pulau-pulau kecil, penelitian dan pendidikan (UU RI No 27 2007). Beberapa ketentuan yang harus diterapkan pada zona inti agar fungsinya dapat dipertahankan adalah ketentuan yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan. Hal-hal yang diperbolehkan dilakukan dalam zona inti adalah pengamatan biota laut tanpa menyentuh atau mengambilnya yang dapat mengganggu kehidupan biota, dan kegiatan-kegiatan untuk kepentingan penelitian dan pendidikan, terutama penelitian yang memberikan kontribusi terhadap kelestarian sumberdaya alam. Hal-hal yang tidak diperbolehkan antara lain: Mengambil biota baik yang hidup maupun mati, melakukan perusakan pada ekosistem terumbu karang seperti dengan mematahkan, mengebom, meracun, dan mencemari karang, melakukan perusakan pada

73 ekosistem lamun seperti dengan mencabut, memotong, dan mencemari lamun, melakukan perusakan pada ekosistem mangrove seperti menebang pohon, mematahkan ranting, mencabut anakan mangrove, mencemari lingkungan mangrove, membuang sampah, limbah cair/padat atau benda apapun di dalam zona inti, dan melakukan pembangunan fisik kecuali pos jaga atau pengawas dan menara. Rao Selatan, gugus Ngelengele dan gugus Galogalo dan gugus Dodola masuk dalam zona pemanfaatan terbatas (Gambar 12) karena memiliki nilai masing-masing 64,37%, 68,97%, 62,07 dan 68,97% dengan luas total 12.412 ha (Tabel 26). Zona pemanfaatan terbatas merupakan kawasan pulau dan pesisir perairan yang karena kondisi ekologi, ekonomi dan sosial difungsikan sebagai kawasan pemanfaatan terbatas. Bentuk pemanfaatan hendaknya mempertimbangkan keseimbangan alam, tidak melebihi daya dukung kawasan, sehingga kegiatan-kegiatan yang akan dikembangkan dalam kawasan ini akan dibatasi. Kawasan ini daratan pantainya berpasir putih yang ditumbuhi vegetasi pantai dan beberapa pohon kelapa serta dihuni oleh penduduk, dengan hamparan rataan terumbu berpasir yang luas dan ditumbuhi sekelompok kecil padang lamun, serta lebih terbuka untuk pemanfaatan tetapi tetap dikontrol. Pemanfaatan sumberdaya perikanan secara tradisional dan beberapa bentuk pemanfaatan wisata masih dapat diizinkan. Dalam pengembangannya, aspek ekologi, ekonomi dan sosial pulau mendapat perhatian yang berimbang, sesuai daya dukung lingkungan. Zona pemanfaatan terbatas dikelola untuk memanfaatkan sumber daya pulaupulau kecil dan lingkungannya melalui kegiatan perikanan budidaya, ekowisata dan perikanan tradisional (UU RI No 27 2007). Pola pemanfaatan di zona ini adalah

pemanfaatan lestari yang mengutamakan pemanfaatan terbatas diperuntukan bagi perlindungan habitat dan populasi sumber daya ikan, penangkapan ikan dengan alat dan cara yang ramah lingkungan, budi daya ramah lingkungan, pariwisata dan rekreasi, penelitian dan pengembangan, dan pendidikan (PERMEN KP No 17 2008). Dengan demikian kegiatan pemanfaatan harus memperhatikan batas daya dukung kawasan sehingga pertumbuhan populasi dan keseimbangan alam dapat dipertahankan. Hal-hal yang diperbolehkan dilakukan dalam zona pemanfaatan terbatas antara lain: Penangkapan ikan dengan alat tangkap yang ramah lingkungan, tangkapan yang

74 lestari, budidaya rumput laut, keramba jaring apung, mutiara, dan budidaya lainnya dengan teknologi yang ramah lingkungan, serta memperhatikan daya dukung lingkungan, kegiatan wisata dan rekreasi yang ramah lingkungan dengan konsep pemanfaatan ekowisata, kegiatan-kegiatan untuk kepentingan penelitian dan pendidikan, terutama penelitian yang memberikan kontribusi terhadap pemanfaatan lestari. Hal-hal yang tidak diperbolehkan dilakukan dalam zona pemanfaatan terbatas antara lain: Melakukan tangkap lebih, dan penangkapan ikan-ikan berukuran belum dewasa, mengambil biota laut yang dilindungi, melakukan perusakan pada ekosistem terumbu karang seperti dengan mematahkan, mengebom, meracun, dan mencemari karang, melakukan perusakan pada ekosistem lamun seperti dengan mencabut, memotong, dan mencemari lamun, melakukan perusakan pada ekosistem mangrove seperti menebang pohon, mematahkan ranting, mencabut anakan mangrove, mencemari lingkungan mangrove, membuang sampah, limbah cair/padat atau benda apapun di dalam kawasan yang menyebabkan penurunan daya dukung kawasan, dan melakukan pembangunan fisik yang merubah bentangan alam yang dapat menurunkan daya dukung kawasan. Pulau Zumzum dan sekitarnya dan pulau Ruberube sekitarnya masuk dalam zona penyangga nilainya 58,62%. Zona penyangga terdiri seluruh daerah di luar zona inti dan zona pemanfaatan yang sudah di plotting termasuk di dalamnya gugus Zumzum dan Ruberube, ekositem mangrove, sempadan pantai dan sempadan sungai dari tanjung wayabula sampai tanjung Gila (Gambar 12) dengan luas total zona penyangga 32.381 ha (Tabel 26). Daerah ini mempunyai fungsi ekologis, serta potensi sumberdaya wisata dan konservasi mangrove yang dapat dikembangkan. Zona penyangga mempunyai fungsi sebagai penyangga habitat dan ekosistem penting (zona inti dan zona pemanfaatan terbatas) agar keseimbangan alam tetap terjaga. Zona ini lebih terbuka tapi tetap dikontrol, dan beberapa bentuk pemanfaatan masih dapat diijinkan dan penyangga disekeliling zona perlindungan ditujukan untuk menjaga kawasan konservasi dari berbagai aktivitas pemanfaatan yang dapat mengganggu, dan melindungi kawasan konservasi dari pengaruh eksternal (Bengen dan Retraubun 2006). Hal-hal yang diperbolehkan dilakukan di dalam zona penyangga adalah pemanfaatan tidak langsung yang tidak mengambil sumberdaya hayati laut, melakukan

75 wisata dan transportasi, dan kegiatan-kegiatan untuk kepentingan penelitian dan

pendidikan yang mendukung lingkungan zona inti dan zona pemanfaatan terbatas. Hal-hal yang tidak diperbolehkan di dalam zona penyangga adalah:

memanfaatkan atau mengambil biota langsung di dalam kawasan yang dapat menimbulkan pengaruh ekologis terhadap zona inti dan zona pemanfaatan terbatas, membuang sampah, limbah cair/padat atau benda apapun di dalam kawasan yang menyebabkan penurunan daya dukung kawasan, dan melakukan pembangunan fisik yang merubah bentangan alam yang dapat menurunkan daya dukung kawasan.

5.2

Kesesuaian Lahan Ekowisata Pulau-Pulau Kecil Kecamatan Morotai Selatan dan Morotai Selatan Barat Kesesuaian lahan ekowisata pulau-pulau kecil Kecamatan Morotai Selatan dan

Morotai Selatan Barat ditujukan untuk menetapkan kegiatan ekowisata yang dapat dikembangkan di zona pemanfaatan terbatas dan zona pennyangga. Berdasarkan hasil analisis kesesuaian lahan pulau-pulau kecil terdiri atas lahan yang sangat sesuai, sesuai dan tidak sesuai, untuk menentukan lahan pulau-pulau kecil yang ditetapkan sebagai kegiatan ekowisata, maka lahan pulau-pulau kecil yang sangat sesuai dan sesuai digabung untuk kemudian dipergunakan sebagai kawasan ekowisata. Kegiatan ekowisata yang dihasilkan adalah ekowisata pantai dan ekowisata bahari. Ekowisata pantai yang dimaksud adalah wisata rekreasi, sedangkan ekowisata bahari terdiri dari wisata snorkling, wisata selam dan wisata lamun. Analisis menggunakan pendekatan metode tumpang susun (overlay) dari Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk menampilkan kesesuaian lahan ekowisata dalam bentuk peta kesesuaian lahan dan besaran luasannya. Kesesuaian lahan diberikan warna yang berbeda untuk menunjukan kekontrasannya sehingga mudah dibedakan (Gambar 13, 14, 15). Berikut adalah hasil analisis kesesuaian lahan ekowisata untuk kegiatan wisata yang direncanakan.

76

Tabel 26 Zona inti, zona pemanfaatan terbatas dan zona penyangga kawasan lindung pulau-pulau kecil kecamatan Morotai Selatan dan Morotai Selatan Barat. Zona Lokasi Karakteristik Ekologi Posisi Geografis Luas (ha)
Inti Rao bagian Utara Mangrove, terumbu karang, sebagian pantai berbatu terjal, sarang walet, migrasi ikan tuna, pemandangan yang unik Terumbu karang bagus, pasir putih, habitat penyu 2023'24" 20 25'48" LU dan 12808'2" 1280 10'48" BT 1057'36" 10 58'12" LU dan 128013'12" 1280 13'48" BT 1057'36" 10 58'12" LU dan 128013'12" 1280 13'48" BT 209'00" 20 13'12" LU dan 128010'12" & 128011'24" - 1280 12'36" & 128013'48" BT 206'00" 20 9'00" LU dan 128010'48" 1280 13'48" BT 200'36" 20 6'00" LU dan 12809'36" & 128012'36" - 1280 11'24" & 128015'00" BT 1) 2025'48"2025'48" LU & 12807'12"1280 11'60" BT, 2) 2014'60"2014'60"LU &12807'12"1280 9'60" BT 3) 207'48"207'48" LU & 12808'60"1280 9'36" BT, 4) 201'48"2014'48" LU & 12808'60"1280 11'24" BT 5) 1057'36"1057'36" LU & 128011'24"1280 15'36" BT Tj. Wayabula 2016'48"LU &128011'60" Tj. Gila 1058'48"LU &128015'36" 1.430 (perairannya saja) 188

Pulau Mitita

Perikanan pemanfaatan terbatas

Rao bagian Selatan

Pantai pasir putih, mangrove, terumbu karang, arus agak kuat Mangrove, Terumbu karang, lamun, pasir putih, perairan tenang

1.743

Gugus Ngelengele

3.308

Gugus Galogalo Loleba Gugus Dodola

Mangrove, Terumbu karang, lamun, pasir putih, perairan tenang Terumbu karang, lamun, mangrove, pasir putih, perairan tenang

2.990

4.371

Penyangga (pemanfaatan tidak langsung)

Seluruh daerah diluar Zona Inti dan Zona pemanfaatan terbatas yang sudah diplotting termasuk di dalamnya Gugus Zumzum& Ruberube, Ekosistem mangrove, Sempadan pantai & Sempadan Sungai dari tj Wayabula tj Gila (Gambar 6)

32.381

Pantai pasir putih, mangrove, kondisi terumbu karang rusak, perairan tenang, mangrove, muara sungai, perairan pantai, vegetasi pantai, Vegetasi pinggir sungai

77 5.2.1 Kesesuaian Lahan Untuk Ekowisata Pantai Kategori Wisata Rekreasi Hampir seluruh pantai dan tepian laut pulau-pulau kecil dimanfaatkan sebagai objek dan daya tarik wisata dan rekreasi. Menikmati keindahan alam pantai, berolahraga pantai, berjemur di pinggiran pantai, menikmati burung-burung (birds watching), berekreasi/piknik, berkemah, berenang, snorkling, memancing dan berlayar merupakan kegiatan-kegiatan wisata pesisir yang berlangsung di daerah pantai, lahan pasang-surut, terumbu karang, gosong karang dan perairan laut. Berdasarkan hasil analisis kesesuaian lahan KP2K MS2B untuk ekowisata pantai kategori wisata rekreasi, seluruh pulau-pulau kecil sesuai untuk wisata rekreasi (Tabel 27), mulai dari Posiposi Rao (pulau Rao) sampai Pulau Bobongone (Lampiran 7, 8, 9) dengan jumlah panjang pantainya 58.509 m. Panjang pantai untuk masing-masing pulau tidak sama walaupun ada pulau yang ukurannya besar tapi memiliki garis pantai yang pendek, contoh Pulau Dodola Besar merupakan pulau dengan panjang pantai paling terpanjang yaitu 4.499 m sedangkan panjang pantai terpendek yaitu Pulau Pelo 437 m. Kesesuaian lahan tersebut didasarkan pada keberadaan panorama alam pantai pasir putih dan perairan yang jernih hampir terdapat di seluruh pulau-pulau kecil. Objek dan daya tarik lahan ekowisata tersebut memungkinkan rekreasi pesisir yang dapat dinikmati adalah menikmati keindahan alam pantai, keindahan bawah laut dengan perahu kaca, olah raga pantai, berjemur, rekreasi atau piknik pantai, berkemah, dan menikmati burung-burung, berenang, memancing dan berperahu. Namun demikian,

pulau-pulau ini memiliki faktor pembatas seperti kurangnya sarana transportasi dan tidak adanya sarana akomodasi, kelistrikan dan telekomunikasi.

5.2.2

Kesesuaian Lahan Untuk Ekowisata Bahari Kategori Wisata Snorkling, Wisata Selam dan Wisata Lamun Hasil analisis kesesuaian lahan ekowisata bahari kategori wisata snorkling, wisata

selam dan wisata lamun (Tabel 26) menunjukan tiap-tiap pulau kecil tidak sama. Wisata snorkling yang mengandalkan keindahan dasar perairan terutama komunitas karang, terdapat di seluruh pulau-pulau kecil mulai dari Posiposi Rao (pulau Rao) sampai pulau Bobongone (Lampiran 10, 11, 12).

78

Gambar 13 Peta Kesesuaian Ekowisata di Posiposi Rao, Saminyamao dan Pantai Wayabula

79

Gambar 14 Peta Kesesuaian Ekowisata Gugus Ngelengele dan Gugus Loleba

80

Gambar 15 Peta Kesesuaian Ekowisata Gugus Dodola dan Gugus Zumzum

81 Kesesuaian wisata snorkling terdapat di seluruh pulau-pulau kecil, dengan luas lahan secara keseluruhan 226,9 ha. Luas lahan ini karena ditunjang dengan keberadaan perairan yang jernih, hampir terdapat di seluruh pulau-pulau kecil, merupakan parameter utama untuk menentukan suatu kawasan dijadikan sebagai kawasan wisata snorkling. Selain itu lahan ini memiliki persentase penutupan komunitas karang yang baik, namun faktor-faktor yang kurang mendukung adalah ketersedian sarana transportasi, keamanan, pondok wisata dan kelistrikan. Seperti wisata snorkling, kesesuaian lahan untuk ekowisata bahari kategori wisata selam merupakan jenis wisata yang mengandalkan keindahan dasar perairan terutama komunitas karang yaitu komunitas penyusun ekosistem terumbu karang selain karang keras adalah karang lunak, spong, zoanthid, anemon laut, dan alga kapur (English. et al, 1994). Selain itu juga faktor-faktor yang lain seperti kecerahan perairan, tutupan

komunitas karang, jenis ikan karang, kecepatan arus, dan kedalaman terumbu karang merupakan faktor yang menentukan kesesuaian lahan wisata selam. Kawasan pulau-pulau kecil seluruhnya sesuai untuk kegiatan wisata selam (Lampiran 13, 14, 15), dengan luas lahan 1.224 ha (Tabel 27). Kesesuaian lahan ini karena dicirikan dengan adanya faktor-faktor pembatas seperti kecerahan perairan,

tutupan komunitas karang, jenis ikan karang, kecepatan arus, dan kedalaman terumbu karang. Kecerahan perairan lebih besar daripada 80 % hampir terdapat di seluruh pulaupulau kecil, sedangkan pulau Saminyamao dan pantai Wayabula kecerahannya 100 %, tutupan komunitas karangnya rata-rata 40 % (kategori sedang) masih dalam kategori sesuai untuk kawasan selam (Yulianda 2007). Kesesuaian lahan untuk wisata lamun mengandalkan keindahan padang lamun di dasar perairan yang disajikan pada (Tabel 27) hanya terdapat di tujuh tempat yaitu pantai Wayabula, Pulau Ngelengele Besar, Pulau Loleba Besar, Pulau Dodola Besar, Pulau Dodola Kecil, Pulau Zumzum, dan pantai Wayabula + Daruba (Lampiran 16, 17, 18) dengan luas lahan wisata lamun 102 ha. Faktor-faktor yang menentukan kesesuaian

wisata lamun seperti faktor tutupan lamunnya rata-rata 58,46 % dan jenis lamun seperti Cymodecea, Halodule, Halophila. Syringodium dan Thalassodendron. Faktor-faktor

yang kurang mendukung adalah jenis substrat berpasir pada saat musim pancaroba airnya keruh, sehingga mengganggu penglihatan.

82

Tabel 27 Kesesuaian Lahan Ekowisata Pantai Kategori Wisata Rekreasi, Ekowisata Bahari Kategori Wisata Snorkling, Wisata Selam dan Wisata Lamun KP2K MS2B
Nama Pulau/Lokasi Wisata Rekreasi Panjang garis pantai (m) 8.644 2.755 8.882 824 3.647 1.489 1.196 3.669 2.546 1.563 2.289 437 4.499 1.291 1.783 1.015 4.078 306 354 2.917 2.556 1.484 585 Kesesuaian Lahan Ekowisata Pantai dan Ekowisata Bahari Wisata Snorkling Wisata Selam Luas (ha) Luas (ha) 20 31 3 7 84 370 2 12 9 56 6 70 2 17 15 241 10 165 11 39 8 39 0,7 2 13 66 3 21 5 10 2 13 10 27 0,1 0,7 0,1 1,5 3 11 4 12 3 10 13 3 Wisata Lamun Luas (ha)

Posiposi Rao Saminyamao Pantai Wayabula Burung Ngelengele Besar Ngelengele Kecil Kacuwawa Loleba Besar Loleba Kecil Galogalo Besar Galogalo Kecil Pelo Dodola Besar Dodola Kecil Kolorai Kokoya Zumzum Jojoromo Kapakapa Lungulungu Ruberube Rukeruke Bobongone Pantai Wayabula + Pantai Daruba 1 Pantai Wayabula + Pantai Daruba 2 Pantai Wayabula + Pantai Daruba 3 Pantai Wayabula + Pantai Daruba 4 Pantai Wayabula + Pantai Daruba 5 Pantai Wayabula + Pantai Daruba 6 Pantai Wayabula + Pantai Daruba 7 Jumlah Sumber : Hasil analisis SIG

16 4

4 2

58.809

226,9

1.224

3 8 14 17 11 10 6 102

83 5.3 Daya Dukung KP2K MS2B Ekowisata Pantai Kategori Wisata Rekreasi, Ekowisata Bahari Kategori Wisata Snorkling, Selam, dan Lamun Daya dukung ekowisata KP2K MS2B adalah jumlah maksimum pengunjung yang secara fisik dapat ditampung di kawasan yang disediakan pada waktu tertentu tanpa menimbulkan gangguan pada alam dan manusia. Berdasarkan hasil analisis daya dukung ekowisata pantai kategori wisata rekreasi KP2K MS2B (Tabel 28), setiap pulau mempunyai daya dukung berbeda-beda tergantung pada panjang pantai. Makin panjang pantai, maka jumlah pengunjung yang dapat ditampung di kawasan wisata rekreasi makin banyak, begitu pula sebaliknya makin pendek panjang garis pantai jumlah pengunjung yang ditampung di kawasan wisata rekreasi makin sedikit. Contoh pantai Wayabula memiliki panjang garis pantai 8.644 m, dengan panjang garis pantai 50 m diperuntukkan untuk 1 orang, waktu yang disediakan kawasan untuk kegiatan wisata rekreasi adalah 6 jam/hari dan waktu yang dihabiskan oleh setiap

pengunjung 3 jam/hari (Yulianda 2007) maka daya dukung kawasannya adalah sebanyak 346 orang/hari. Pulau Jojoromu memiliki panjang garis pantai terpendek 306 m, maka daya dukung kawasannya 12 orang/hari. Daya dukung wisata snorking merupakan daya tampung kawasan snorkling untuk menampung pengunjung yang ingin melakukan kegiatan snorkling menikmati keindahan komunitas karang tanpa menimbulkan kerusakan pada alam dan manusia. Daya dukung wisata snorkling mempertimbangkan kondisi persentase tutupan komunitas karang, sehingga kawasan yang dimanfaatkan mengikuti persentase tutupan komunitas karang dari luas kesesuaian wisata snorkling. Berdasarkan hasil analisis daya dukung untuk kategori wisata snorkling yang disajikan pada (Tabel 28). Contoh pantai Wayabula memiliki luas kawasan wisata snorkling yang sangat luas 84 ha, dengan area untuk 1 orang 500 m2, waktu yang disediakan kawasan untuk kegiatan snorkling 6 jam/hari dan waktu yang dihabiskan oleh setiap pengunjung 3 jam (Yulianda 2007) dengan persentase tutupan komunitas karang 84,70 %, maka pengunjung yang bisa ditampung sebanyak 2.849 orang/hari. Pulau Jojoromo dan Kapakapa memiliki luasan kawasan wisata snorkling yang paling kecil masing-masing 0,1 ha dengan persentase tutupan komunitas karang 31,92 % dan 32,54 % maka pengunjung yang bisa ditampung masing-masing sebanyak 1 dan 2 orang/hari.

84 Sama seperti daya dukung wisata snorkling, daya dukung wisata selam juga merupakan daya tampung suatu kawasan selam menampung pengunjung yang ingin melakukan kegiatan selam menikmati keindahan komunitas karang tanpa menimbulkan kerusakan pada komunitas karang dan manusia. Daya dukung wisata selam juga

mempertimbangkan kondisi persentase tutupan komunitas karang, sehingga kawasan yang dimanfaatkan mengikuti persentase tutupan komunitas karang dari luas kesesuaian wisata selam. Berdasarkan hasil analisis daya dukung ekowisata bahari kategori wisata selam yang disajikan pada (Tabel 28), daya dukung wisata selam sangat tergantung pada persentase tutupan karang. Makin besar persentase tutupan komunitas karang maka semakin besar pula daya dukung suatu kawasan, contoh pantai Wayabula luas kawasan selam 370 ha dengan luas 2000 m2 untuk 2 orang, waktu yang disediakan kawasan untuk kegiatan selam 8 jam/hari dan waktu yang dihabiskan pengunjung untuk kegiatan selama 2 jam (Yulianda 2007), maka daya tampung kawasan adalah 12.563 orang/hari. Berbeda dengan pulau Jojoromo luasan wisata selamnya 0,7 ha dengan persentase tututupan komunitas karang 31,92 % maka daya dukungnya adalah 9 orang/hari. Daya dukung wisata lamun merupakan daya tampung suatu kawasan menampung pengunjung yang ingin menikmati keindahan jenis-jenis lamun terutama dari jenis Cymodecea, Halodule, Halophila, Syringodium dan Thalassodendron. Penghitungan

daya dukung wisata lamun sangat dipengaruhi oleh luas lahan kesesuaian wisata lamun dan persentase tutupan lamun. Berdasarkan hasil analisis daya dukung ekowisata bahari kategori wisata lamun yang disajikan pada Tabel 28, contoh pantai Wayabula luas lahan wisata lamun sebesar 16 ha dengan luas 500 m2 untuk 1 orang, waktu yang disediakan oleh kawasan 4 jam/hari dan waktu yang dihabiskan pengunjung untuk kegiatan wisata lamun 2 jam (Yulianda 2007), sedangkan persentase penutupan lamun sebesar 63 %, maka daya dukung

kawasan lamun adalah 419 orang/hari. Pulau Dodola Kecil luasan wisata lamun 2 ha dengan persentase tutupan lamun 65 % maka daya tampung pengunjung 53 orang/hari.

85

Tabel 28 Daya Dukung Ekowisata Pantai Kategori Wisata Rekreasi, Ekowisata Bahari Kategori Wisata Snorkling, Wisata Selam dan Wisata Lamun
Nama Pulau/Lokasi Daya Dukung Ekowisata Pantai Kategori Wisata Rekreasi, Ekowisata Bahari Kategori Wisata Snorkling, Wisata Selam dan Wisata Lamun Wisata Rekreasi Wisata Snorkling Wisata Selam Wisata Lamun Panjang garis Daya dukung Luas (ha) Daya dukung Luas (ha) Daya Dukung Luas (ha) Daya Dukung pantai (m) (Ha) (orang) (orang) (orang) 8.644 346 20 460 31 716 2.755 110 3 45 7 96 8.882 355 84 2.849 370 12.563 16 419 824 33 2 19 12 150 3.647 146 9 161 56 944 4 124 1.489 60 6 162 70 1.864 1.196 48 2 32 17 238 3.669 147 15 384 241 6.393 3 74 2.546 102 10 240 165 3.748 1.563 63 11 201 39 675 2.289 92 8 133 39 675 437 17 0.7 15 2 44 4499 180 13 123 66 615 4 95 1291 52 3 66 21 416 2 53 1.783 71 5 87 10 158 1.015 41 2 36 13 230 4.078 163 10 171 27 450 4 105 306 12 0,1 1 0,7 9 354 14 0,1 2 1,5 20 2.917 117 3 77 11 131 2.556 102 4 45 12 140 1.484 59 3 34 10 240 585 23 13 14 3 33 3 85 8 193 14 348 17 371 11 177 10 200 6 86 58.809 2.353 226,9 5.357 1.224,2 30.548 102 2.330

Posiposi Rao Saminyamao Pantai Wayabula Burung Ngelengele Besar Ngelengele Kecil Kacuwawa Loleba Besar Loleba Kecil Galogalo Besar Galogalo Kecil Pelo Dodola Besar Dodola Kecil Kolorai Kokoya Zumzum Jojoromo Kapakapa Lungulungu Ruberube Rukeruke Bobongone Pantai Wayabula + Pantai Daruba 1 Pantai Wayabula + Pantai Daruba 2 Pantai Wayabula + Pantai Daruba 3 Pantai Wayabula + Pantai Daruba 4 Pantai Wayabula + Pantai Daruba 5 Pantai Wayabula + Pantai Daruba 6 Pantai Wayabula + Pantai Daruba 7 Jumlah

86 5.4 Biaya Perjalanan Wisata Biaya perjalanan KP2K MS2B untuk wisata diketahui melalui besarnya pengeluaran wisatawan yang datang ke kawasan ekowisata. Adapun biaya yang

dikeluarkan wisatawan yang berkunjung ke kawasan ekowisata antara lain biaya transportasi, biaya konsumsi, biaya akomodasi, belanja souvenir, dan biaya lainnya. Semua biaya ini dihitung dari sejak wisatawan berangkat dari daerah asal hingga di kawasan pulau-pulau kecil Morotai. Kegiatan-kegiatan ini menimbulkan biaya-biaya yang dikeluarkan oleh wisatawan yang menjadi manfaat dari kawasan wisata Morotai. Metode yang digunakan untuk menduga nilai sebuah komoditas yang tidak memiliki nilai pasar (non-market goods) adalah dengan menggunakan biaya-biaya perjalanan/TCM. Metode ini memiliki asumsi dasar bahwa setiap individu baik aktual maupun potensial, bersedia mengunjungi sebuah daerah untuk mendapatkan manfaat tertentu tanpa harus membayar nilai masuk (no entry fee). Manfaat langsung yang

bersifat tidak ekstraktif dari wisata rekreasi, wisata snorkling, wisata selam, dan wisata lamun, diperoleh melalui besaran pengeluaran para wisatawan yang mendatangi kawasan wisata tersebut. Dalam fungsi permintaan yang digunakan dalam penelitian ini, frekuensi kunjungan (V) dipengaruhi oleh biaya pengeluaran wisata (TC), jarak (Di), pendapatan (Ii), dan umur (Ai). Dengan menggunakan regresi linier berganda diperoleh koefisien biaya perjalanan -0,0241 sehingga untuk mendapatkan total manfaat nilai wisata KP2K MS2B, dilakukan perhitungan konsumen surplus yang diperoleh dengan membagi total jumlah tingkat kunjungan wisata dan nilai regresi biaya perjalanan yaitu (63/0,0241) = 2.614, kemudian nilai konsumen surplus dikalikan dengan jumlah pengunjung pada tahun 2006 yaitu (2.614 x 26.455 orang/tahun) = 69.153.370, sehingga total manfaat lokasi wisata Rp 69 juta/tahun. 5.5 Keberlanjutan KP2K MS2B Keberlanjutan KP2K MS2B untuk ekowisata dianalisis dengan pendekatan

pemodelan sistem. Pemodelan sistem merupakan abstraksi dari sebuah obyek atau situasi aktual (Suryani 2006). Dalam hal ini yang akan dimodelkan adalah model global keterkaitan antara submodel lingkungan ekologi kawasan lindung pulau-pulau kecil,

87 submodel daya dukung kawasan ekowisata pulau-pulau kecil dan sub model pendapatan kawasan ekowisata pulau-pulau kecil (Gambar 16)
Lingkungan ekologi kawasan lindung pulau pulau kecil Day a dukung kawasan wisata

Lingkungan ekologi kawasan lindung pulau pulau kecil

Daya dukung kawasan wisata

Pendapatan wisata

Pendapatan wisata

Gambar 16. Model Global Keterkaitan Antar Sub Model

Dalam membangun model keberlanjutan KP2K MS2B

dilakukan dengan

menggunakan software Stella versi 9.0.2, dengan demikian pemodelan dilakukan dengan tahapan-tahapan : (1) penyusunan skenario (2) pembangunan model dan (3) simulasi skenario.

5.5.1 Penyusunan Skenario Skenario merupakan rancangan kebijakan yang memungkinkan dapat dilakukan dalam kondisi nyata yang didasarkan pada perkiraan faktor-faktor di masa mendatang. Perkiraan mengenai kondisi faktor-faktor dimasa mendatang, dapat disusun skenario yang mungkin terjadi di KP2K MS2B. Skenario utama yang dimodelkan, yaitu skenario model kondisi saat ini KP2K MS2B. Skenario model kondisi saat ini akan melihat sejauhmana kecenderungan

kondisi kualitas lingkungan ekologi tiap-tiap pulau akan mempengaruhi daya dukung kawasan ekowisata yang secara langsung mempengaruhi pendapatan wisata. Kecenderungan sebuah sistem dasar dapat memberikan suatu pemahaman dan gambaran bagaimana suatu sumberdaya alam harus dikelola secara benar agar tercapai kesimbangan ekosistem di masa depan. Oleh karena itu dalam penelitian ini dilakukan simulasi dinamis dalam rentan waktu 30 tahun. Simulasi dilakukan berdasarkan asumsi bahwa kecenderungan sistem saat ini akan terus berlanjut di masa akan datang.

88 Beberapa asumsi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) panjang garis pantai wisata rekreasi adalah 50 m untuk 1 orang 2) luas terumbu karang wisata snorkling adalah 500 m2 untuk 1 orang 3) luas terumbu karang wisata selam adalah 2.000 m2 untuk 2 orang 4) luas padang lamun wisata lamun 500 m2 untuk 1 orang 5) waktu yang disediakan oleh kawasan untuk kegiatan wisata rekreasi 6 jam/hari, wisata snorkling 6 jam/hari, wisata selam 8 jam/hari dan wisata lamun 4 jam/hari, sedangkan waktu yang dihabiskan oleh pengunjung untuk wisata rekreasi adalah 3 jam/hari, wisata snorkling 3 jam/hari, wisata selam 2 jam/hari, dan wisata lamun 2 jam/hari, masing-masing jenis wisata waktunya tetap sepanjang tahun. 6) Keunikan pulau, kerentanan pulau dan keterkaitan pulau tidak mengalami perubahan sepanjang tahun.

5.5.2 Pembangunan Model Seperti telah dijelaskan di atas model yang dibangun terdiri dari tiga sub model yaitu; sub model lingkungan ekologi pulau-pulau kecil, sub model daya dukung kawasan ekowisata pulau-pulau kecil, dan sub model pendapatan kawasan ekowisata pulau-pulau kecil. Masing-masing sub model disesuaikan dengan peruntukannya dalam mendukung model yang dibangun, berikut adalah gambaran model: Deskripsi Model Submodel lingkungan ekologi pulau-pulau kecil menggambarkan kualitas lingkungan ekologi kawasan lindung dari masing-masing pulau saat ini. Adapun untuk menggambarkan kualitas lingkungan ekologi kawasan lindung tersebut, diperlukan faktor-faktor ekologi kawasan lindung yang berperan atau faktor-faktor yang mempengaruhinya seperti keanekaragaman hayati pulau (KHP), kealamian pulau (KAP), keunikan pulau (KUP), kerentanan pulau (KRP), keterkaitan pulau (KTP). Diantara kelima faktor di atas, dua faktor yang paling berpengaruh menentukan kualitas lingkungan ekologi kawasan lindung pulau-pulau kecil yaitu KHP dan KAP sedangkan faktor yang lain turut berpengaruh namun merupakan faktor tetap yaitu keunikan pulau, kerentanan pulau dan keterkaitan pulau. Sebagai contoh laju

pelestarian KHP dan laju pelestarian KAP akan meningkatkan total persentase nilai

89 kriteria ekologi yang akan meningkatkan upaya perbaikan lingkungan ekologi Pulau Dodola. Peningkatan upaya perbaikan lingkungan ekologi Dodola akan

meningkatkan kualitas lingkungan ekologi Dodola saat ini, apakah pada keadaan baik, sedang dan buruk, sebaliknya peningkatan laju degradasi lingkungan ekologi akan meningkatkan degradasi lingkungan ekologi yang akan menurunkan kualitas lingkungan ekologi Dodola saat ini. Keadaan yang sama juga berlaku untuk pulaupulau kecil yang lain seperti Rao Selatan, Ngelengele, Galogalo, Zumzum dan Ruberube (Gambar 17)
Lingkungan ekologi kawasan lindung pulau pulau kecil

Laju pelestarian KAP laju pelestarian KHP KUP Total persentase nilai kriteria ekologi kualitas lingkungan ekologi Dodola saat ini laju degradasi

KRP KTP

Upaya perbaikan Lingkungan ekologi Dodola

degradasi lingkungan ekologi

persentase perbaikan lingkungan

Satuan kualitas lingkungan

fraksi penambahan kualitas lingkungan

fraksi jumlah wisatawan

Gambar 17 Submodel Lingkungan Ekologi Kawasan Lindung Pulau-Pulau Kecil

Submodel daya dukung kawasan ekowisata pulau-pulau kecil menggambarkan jumlah maksimum pengunjung yang secara fisik dapat ditampung di suatu kawasan wisata pada waktu tertentu tanpa menimbulkan gangguan pada alam dan manusia. Sub model ini masih berhubungan dengan sub model lingkungan ekologi pulau-pulau kecil, karena daya dukung kawasan ekowisata tiap-tiap pulau selain dipengaruhi oleh faktor-faktor yang mempengaruhinya ekologi, sebagai contoh: Submodel daya dukung kawasan rekreasi Dodola saat ini menggambarkan jumlah wisatawan rekreasi Dodola saat ini yang dipengaruhi oleh penambahan wisatawan yang secara tidak langsung dipengaruhi oleh kualitas lingkungan ekologi Dodola saat ini. Jumlah wisatawan rekreasi Dodola saat ini sebenarnya merupakan formulasi dari daya dukung kawasan wisata yang diperoleh dari potensi ekologis pengunjung per juga dipengaruhi oleh kualitas lingkungan

90 satuan unit area (K rekreasi Dodola) biasanya 1 orang, panjang garis pantai (Lp rekreasi Dodola), Unit area untuk rekreasi (Lt rekreasi Dodola) adalah 50 m panjang garis pantai untuk 1 orang, waktu yang disediakan untuk kawasan rekreasi Dodola dalam satu hari adalah 6 jam/hari (Wt rekreasi Dodola), waktu yang dihabiskan pengunjung untuk setiap kegiatan rekreasi adalah 3 jam/hari (Wp rekreasi Dodola) dan kualitas lingkungan ekologi Pulau Dodola saat ini. Hal yang sama juga untuk daya dukung kawasan snorkling Dodola namun perbedaanya pada nilai dari (K snorkling Dodola) adalah 2 orang, luas area kawasan snorkling Dodola (Lp Dodola) diperoleh dari rata-rata penutupan komunitas karang snorkling Dodola dikalikan dengan Lp Dodola, unit area untuk snorking (Lt snorkling Dodola) adalah 500 m2, waktu yang disediakan kawasan snorkling Dodola dalam satu hari (Wt snorkling Dodola) adalah 6 jam/hari, waktu yang dihabiskan oleh pengunjung untuk kegiatan snorkling (Wp snorkling Dodola) adalah 3 jam/hari. Untuk daya dukung kawasan selam Dodola dan daya dukung kawasan lamun Dodola faktor-faktor yang mempengaruhinya hampir sama dengan daya dukung kawasan snorkling Dodola. Perbedaannya hanya pada nilai-nilai setiap faktor yang mempengaruhinya seperti: daya dukung kawasan selam Dodola (K selam Dodola) adalah 2 orang, (Lt selam Dodola) adalah 2.000 m2, (Lp selam Dodola) dikalikan dengan rata-rata penutupan komunitas karang selam Dodola, (Wt selam Dodola) adalah 8 jam/hari dan (Wp selam Dodola) adalah 2 jam/hari. Untuk Daya dukung kawasan lamun Dodola juga sama disesuaikan dengan nilai yang ada. Keadaan ini berlaku pula untuk daya dukung kawasan ekowisata pulau-pulau kecil yang lain seperti: Rao Selatan, Ngelengele, Galogalo, Zumzum dan Ruberube (Gambar 18)
Daya dukung kawasan wisata

fraksi penambahan Jumlah wisatawan kualitas lingkungan rekreasi Dodola saat ini

fraksi jumlah wisatawan

satuan jumlah wisatawan

Penambahan wisatawan

pengurangan wisatawan

Gambar 18 Submodel Daya Dukung Ekowisata Kawasan Pulau-PulauKecil

91 Submodel pendapatan ekowisata pulau kecil menggambarkan jumlah biaya yang dikeluarkan pengunjung sampai ke tempat wisata. Adapun submodel ini

berhubungan dengan sub model daya dukung kawasan ekowisata pulau-pulau kecil dan submodel pendapatan ekowisata pulau kecil. Contoh pendapatan wisata rekreasi Pulau Dodola. Pendapatan wisata rekreasi Pulau Dodola dipengaruhi oleh total

manfaatan kawasan pertahun, total manfaat kawasan pertahun dipengaruhi oleh konsumen surplus dan jumlah kunjungan wisatawan pertahun, sedangkan konsumen surplus dipengaruhi oleh tingkat kunjungan wisatawan dan koefisien biaya perjalanan. Pendapatan wisata rekreasi juga dipengaruhi oleh jumlah wisatawan

rekreasi Dodola saat ini, dengan demikian peningkatan jumlah wisatawan Dodola saat ini akan meningkatkan pendapatan wisata rekreasi, dan peningkatan pendapatan wisata rekreasi akan meningkatkan total manfaat bersih wisata Dodola per tahun, pendapatan wisata rekreasi ini juga dipakai untuk membiayai perbaikan lingkungan, sehingga akan mempengaruhi kualitas lingkungan ekologi Dodola (Gambar 19).
Pendapatan wisata rekreasi

biaya perbaikan lingkungan

persentase perbaikan lingkungan

pengurangan Total manfaat bersih kawasan wisatawan wisata rekreasi Dodola per tahun

pendapatan wisata rekreasi Dodola

Total manfaat kawasan wisata per tahun

Konsumen surplus

Jumlah kunjungan wisata per tahun

Tingkat kunjungan wisatawan

Koefisien biaya perjalanan

Gambar 19 Submodel Pendapatan Wisata

5.5.3 Simulasi Skenario Dasar Pengambilan Kebijakan Simulasi skenario dilakukan sebagai suatu rancangan kebijakan yang

memungkinkan dilakukan dalam keadaan nyata didasarkan pada model yang dibuat. Sebagai suatu strategi pengelolaan keberlanjutan KP2K MS2B, kebijakan dilakukan

92 melalui penyusunan skenario yang telah dibuat. Skenario yang disimulasikan adalah skenario saat ini tiap-tiap pulau kecil yaitu laju pelestarian keanekaragaman hayati pulau (KHP), laju pelestarian kealamian pulau (KAP), laju degradasi lingkungan ekologi kawasan lindung pulau-pulau kecil dan persentase perbaikan lingkungan ekologi. Simulasi skenario yang dibuat seperti pada Tabel 29. Tabel 29 Simulasi Skenario Kawasan Lindung Pulau-Pulau Kecil
Simulasi Skenario - Pulau Dodola Wisata Rekreasi, Snorkling, Selam dan Lamun Laju pelestarian KHP 1%,KAP 1 %, persentase perbaikan lingkungan ekologi 1% dan laju degradasi 1% Laju pelestarian KHP1%,KAP 1%, persentase perbaikan lingkungan ekologi 1% dan laju degradasi 4% - Rao Selatan Wisata Rekreasi, Snorkling dan Selam Laju pelestarian KHP1%,KAP 1%, persentase perbaikan lingkungan ekologi 1% dan laju degradasi 1% Laju pelestarian KHP2%,KAP 2%, persentase perbaikan lingkungan ekologi 2% dan laju degradasi 17% - Ngelengele Wisata Rekreasi, Snorkling, Selam dan Lamun Laju pelestarian KHP1%,KAP 1%, persentase perbaikan lingkunganekologi 1% dan laju degradasi 1% Laju pelestarian KHP1%,KAP 1%, persentase perbaikan lingkungan ekologi 1% dan laju degradasi 4% Galogalo Wisata Rekreasi, Snorkling dan Selam Laju pelestaarian KHP1%,KAP 1%, persentase perbaikan lingk ekologi 1% dan laju degradasi 1% Laju pelestarian KHP2%,KAP 2%, persentase perbaikan lingkungan ekologi 2% dan laju degradasi 17% Zumzum Wisata Rekreasi, Snorkling, Selam dan Lamun Laju pelestarian KHP2%,KAP 2%, persentase perbaikan lingkungan ekologi 3% dan laju degradasi 1% Laju pelestarian KHP1%,KAP 1%, persentase perbaikan lingkungan ekologi 1% dan laju degradasi 7% - Ruberube Wisata Rekreasi, Snorkling dan Selam Laju pelestarian KHP1%,KAP 1%, persentase perbaikan lingkungan ekologi 2% dan laju degradasi 1% Laju pelestarian KHP2%,KAP 2%, persentase perbaikan lingkungan ekologi 2% dan laju degradasi 15% Hasil Kualitas Lingkungan dan
NKEKLP2K

Sedang ke baik (0,70 ke 0,84) Sedang ke Sedang (0,70 ke 0,66)

Sedang ke baik (0,61 ke 0,73) Sedang ke Buruk (0,61 ke 0,40)

Baik ke baik (0,73 ke 0,87) Baik ke sedang (0,73 ke 0,69)

Sedang ke baik (0,60 ke 0,72) Sedang ke buruk (0,60 ke 0,40)

Sedang ke baik (0,48 ke 0,74) Sedang ke buruk (0,48 ke 0,39)

Sedang ke baik (0,56 ke 0,72) Sedang ke buruk (0,56 ke 0,39)

Simulasi skenario yang dibuat untuk tiap-tiap pulau tidak sama, karena perbedaan kondisi ekologinya, sehingga simulasi skenario yang dibuat pada prinsipnya mencari

93 keadaan kualitas lingkungan ekologi saat ini yang langsung dalam keadaan baik atau buruk sehingga yang lainnya tidak dipakai. Keadaan tersebut akan menentukan pencapaian waktu, kualitas lingkungan ekologi kawasan pulau-pulau kecil yang akan mempengaruhi keberlanjutan daya dukung masing-masing wisata dan pendapatan dari masing-masing jenis wisata. Adapun formula skenario dapat dilihat pada Lampiran 19. Berikut adalah hasil model simulasi skenario yang mewakili KP2K MS2B.

Simulasi Skenario Pulau Dodola Wisata rekreasi Pulau Dododa

Simulasi skenario wisata rekreasi laju pelestarian KHP 1 %, KAP 1 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 1 % dengan laju degradasi 1 % Simulasi skenario dengan laju pelestarian keanekaragaman hayati pulau (KHP)

Dodola, kealamian pulau (KAP) Dodola 1 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 1 % dengan laju degradasi lingkungan ekologi 1 % menggambarkan upaya yang dilakukan dalam melestarikan sumberdaya pulau Dodola, dengan upaya perbaikan lingkungan ekologi Dodola sebesar 3 % dengan laju degradasi lingkungan ekologi yang terjadi sebesar 1% pada tahun-tahun ke depan dalam rentan waktu selama 30 tahun. Hasil simulasi skenario (Gambar 20) menunjukkan kondisi kualitas lingkungan ekologi pulau Dodola dari tahun ke tahun semakin membaik, tahun 2006 sampai tahun 2009 kualitas lingkungan ekologi Pulau Dodola adalah 0,70 (kategori sedang), pada tahun-tahun ini belum ada upaya pengelolaan sumberdaya pulau Dodola karena pada tahun-tahun ini baru mulai dianalisa sumberdaya pulau-pulau kecil yang dapat dijadikan suatu kawasan ekowisata, juga diadakan promosi-promosi wisata untuk memperkenalkan kegiatan wisata yang ada. Kualitas lingkungan ekologi Pulau Dodola 0,70 memberikan pengertian bahwa kondisi saat ini berdasarkan penilaian kriteria ekologi kawasan lindung Pulau Dodola berada dalam keadaan sedang mengarah ke baik seperti mangrove, padang lamun dan pantai pasir putih, dengan keadaan pulau saat ini belum terjadi abrasi pantai dan belum berpenduduk, namun ada beberapa parameter yang memprihatinkan seperti persentase penutupan komunitas karang <51 % yaitu 23,20 %.

94 Semakin membaiknya kualitas lingkungan pada tahun-tahun berikutnya dari tahun 2010 sampai tahun 2021 (NKEKLP2K adalah 0,71 - 0,84) menyebabkan jumlah wisatawan semakin banyak sehingga melampaui daya dukung kawasan rekreasi Pulau Dodola. Hal ini terjadi pada tahun 2016 jumlah wisatawan rekreasi Dodola mencapai 190 orang/hari, padahal daya dukung kawasan rekreasi Dodola dengan panjang garis pantainya saat ini 4.499 m adalah 180 orang/hari. Apabila keadaan tersebut berlanjut terus, maka tahun 2022 sampai tahun 2036 terjadi kecenderungan kualitas lingkungan semakin menurun (NKEKLP2K adalah 0,83 0,54). Seperti dinyatakan (Davis dan Tisdel 1995) bahwa daya dukung terlampaui maka akan berpengaruh pula pada degradasi sumberdaya terutama pada ekosistem terumbu karang . Diupayakan untuk mencapai keadaan yang baik antara kualitas lingkungan ekologi dan jumlah wisatawan rekreasi Dodola belum melampaui daya dukung kawasan rekreasi Dodola, maka kualitas lingkungan ekologi Dodola dipertahankan sampai pada tahun 2021 dengan kualitas lingkungan ekologi 0.84 dan jumlah wisatawan 169 orang/hari pada tahun 2015, artinya untuk mencapai keadaan ini harus ada upaya melestarikan sumberdaya pulau Dodola terutama ekosistem terumbu karang sebelas tahun ke depan (dari tahun 2010- 2021) dengan target pencapaian persentase penutupan komunitas karangnya 60% (kategori baik KEPMEN LH No 4 2001), berarti tiap tahun persentase penutupan komunitas karang harus bertambah 3,34 % dari persentase penutupan komunitas karang saat ini 23.20 %. Keadaan ini juga akan berpengaruh pada pendapatan wisata rekreasi, semakin bertambahnya jumlah wisatawan berarti semakin meningkat pula pendapatan wisata rekreasi, sehingga pada tahun 2015 pendapatan wisata rekreasi Dodola mencapai Rp.11,7 milyar dengan biaya yang dikeluarkan untuk perbaikan lingkungan sebesar Rp.117 juta (1 % dari pendapatan wisata rekreasi Dodola).

95

1: kualitas lingkgi Dodola saat ini 2: Jumlah wisatai Dodola saat ini 3: biay a perbaikan lingkungan 1: 2: 3: 1 1100 800000000 1 2 3 3 1: 2: 3: 1 600 400000000 1 2 1

3 1: 2: 3: Page 1 1 100 0 3 2 2006.00 2013.50 2021.00 Y ears 2028.50 2036.00 6:21 AM Fri, Dec 25, 2009 2

Gambar 20 Perilaku Skenario Model Saat ini Wisata Rekreasi Pulau Dodola dengan Laju Pelestarian KHP 1 %, KAP 1 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 1 % dan laju Degradasi 1 % Simulasi skenario wisata rekreasi Dodola laju pelestarian KHP 1 %, KAP 1 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 1 % dengan laju degradasi 4 % Seperti dengan simulasi skenario di atas, simulasi skenario wisata rekreasi Pulau Dodola dengan laju pelestarian KHP 1 %, KAP 1 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 1 % dengan laju degradasi lingkungan ekologi 4 % menunjukkan upaya perbaikan lingkungan ekologi lebih kecil daripada laju degradasi. Upaya perbaikan lingkungan hanya 3 % bila dibandingkan dengan laju degradasi sebesar 4 %. Hasil simulasi skenario (Gambar 21) menunjukkan telah terjadi penurunan kualitas lingkungan dari tahun ke tahun, pada tahun 2006-2009 kualitas lingkungan (NKEKLP2K 0,70 kategori sedang) mulai mengalami penurunan pada tahun 2010 (NKEKLP2K 0.69) sampai pada tahun 2021 (NKEKLP2K 0,66 kategori sedang). Kondisi ini mengartikan bahwa terjadi penurunan kualitas lingkungan terutama ekosistem mangrove dan telah terjadi abrasi pantai 25-50 %.

96

1: kualitas lingkgi Dodola saat ini 2: Jumlah wisatai Dodola saat ini 3: biay a perbaikan lingkungan 1: 2: 3: 1 130 90000000 2 3

3 2 1: 2: 3: 1 95 45000000 1 3 1 3

1 1: 2: 3: Page 1 1 60 0 2006.00 2013.50

2 2

2021.00 Y ears

2028.50 2036.00 6:28 AM Fri, Dec 25, 2009

Gambar 21 Perilaku Skenario Model Saat ini Wisata Rekreasi Dodola dengan Laju Pelestarian KHP 1%, KAP 1%, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 1% dan laju Degradasi 4% Keadaan tersebut di atas secara tidak langsung akan berpengaruh pada jumlah wisatawan dari tahun-tahun semakin berkurang sampai pada tahun 2021 berjumlah 77 orang/hari dan penurunan jumlah wisatawan akan berpengaruh pula pada pendapatan wisata rekreasi Dodola pada tahun 2021 sebesar Rp. 5,3 milyar dengan biaya perbaikan lingkungan Rp 53 juta. Pada tahun-tahun berikutnya ada upaya ke arah perbaikan lingkungan sehingga jumlah wisatawan juga meningkat pada tahun 2036 berjumlah 84 orang/hari.

Wisata Snorkling Pulau Dodola Simulasi skenario wisata snorkling Pulau Dodola laju pelestarian KHP 1 %, KAP 1 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 1 % dengan laju degradasi 1 % Hasil simulasi skenario wisata snorkling Pulau Dodola dengan laju pelestarian KHP 1 %, laju pelestarian KAP 1 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 1 % dengan laju degradasi 1% menggambarkan upaya yang dilakukan dalam memperbaiki lingkungan ekologi ke arah yang lebih baik sebesar 3 % dibandingkan dengan laju degradasi sebesar 1 %. Hasil simulasi skenario wisata snorkling Pulau Dodola seperti pada (Gambar 22) menunjukkan ada upaya perbaikan lingkungan ekologi Pulau Dodola

97 sebesar 3 % dengan laju degradasi 1 % mengakibatkan kualitas lingkungan ekologi Pulau Dodola saat ini makin membaik, pada tahun 2006-2009 (NKEKLP2K 0,70 kategori sedang) sampai pada tahun 2021 (NKEKLP2K 0,84 kategori baik). Membaiknya kualitas lingkungan ekologi ini diikuti pula dengan semakin bertambahnya jumlah wisatawan snorkling Dodola sampai melampaui daya dukung kawasan wisata snorkling. Pada tahun 2016 jumlah wisatawan untuk wisata snorkling sudah mencapai 129 orang/hari dari daya dukung kawasan wisata snorkling 123 orang/hari dengan luasan kawasan wisata snorkling Pulau Dodola yang dapat dimanfaatkan sebesar 13 ha dengan persentase tutupan komunitas karang sebesar 23,20 %, bertambahnya jumlah wisatawan menyebabkan pada tahun 2022 kualitas lingkungan ekologi mulai menurun sampai pada tahun 2036 (NKEKLP2K 0,54). Upaya pencapaian pada tahun 2015 (lima tahun ke depan dari tahun 2010). Wisata snorkling dengan kualitas lingkungan ekologi 0,79 dengan jumlah wisatawan tidak melebihi daya dukung kawasan wisata snorkling Pulau Dodola, seperti dengan wisata rekreasi. Untuk mencapai keadaan ini harus ada upaya melestarikan sumberdaya pulau Dodola terutama ekosistem terumbu karang sebelas tahun ke depan (dari tahun 2010- 2021) dengan target pencapaian persentase penutupan komunitas karangnya 60 % (kategori baik KEPMEN LH No 4 2001), berarti tiap tahun persentase penutupan komunitas karang harus bertambah 3,34 % dari persentase penutupan komunitas karang saat ini 23.20 %. Adanya upaya pelestarian sumberdaya ke arah yang baik mengakibatkan peningkatan kualitas lingkungan ekologi, dan akan berdampak pada peningkatan jumlah wisatawan yang secara tidak langsung akan menambah pendapatan wisata pada tahun 2015 sebesar Rp 7,9 milyar dengan biaya untuk perbaikan lingkungan sebesar Rp 79 juta.

98

1: kualitas lingkgi Dodola saat ini 2: Jumlah wisatg Dodola saat ini 3: biay a perbaikan lingkungan 1: 2: 3: 1 750 500000000 1 3 1 1: 2: 3: 1 400 250000000 3 2 1 2

3 3 1: 2: 3: Page 1 1 50 0 2 2006.00 2013.50 2021.00 Y ears 2028.50 2036.00 6:31 AM Fri, Dec 25, 2009 2

Gambar 22 Perilaku Skenario Model Saat ini Wisata Snorkling Dodola dengan Laju Pelestarian KHP1 %, KAP 1 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 1 % dan laju Degradasi 1 % Simulasi skenario wisata snorkling laju pelestarian KHP 1 %, KAP 1 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 1 % dengan laju degradasi 4 % Simulasi skenario dengan laju pelestarian KHP 1 %, KAP 1 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 1% dengan laju degradasi 4 % menggambarkan laju degradasi sumberdaya sebesar 4 % lebih besar daripada upaya perbaikan lingkungan ekologi Dodola sebesar 3 %. Hasil simulasi skenario seperti pada (Gambar 23)

menunjukkan kualitas lingkungan dari tahun ke tahun mengarah pada penurunan sumberdaya sampai pada tahun 2021 kualitas lingkungannya (NKEKLP2K 0,66 kategori sedang). Kualitas lingkungan ekologi semakin menurun berdampak pada jumlah wsiatawan, secara tidak langsung mempengaruhi pendapatan wisata snorkling Pulau Dodola sampai pada tahun 2021 sebesar Rp 3,6 milyar dengan biaya perbaikan lingkungan Rp 36 juta. Adanya upaya ke arah perbaikan lingkungan sesudah tahun 2021, menyebabkan jumlah wisatawan terus meningkat sampai pada tahun 2036 berjumlah 57 orang/hari

99

1: kualitas lingkgi Dodola saat ini 2: Jumlah wisatg Dodola saat ini 3: biay a perbaikan lingkungan 1: 2: 3: 1 90 60000000 3 2

3 2 1: 2: 3: 1 65 30000000 1 3 1 3

1 1: 2: 3: Page 1 1 40 0 2006.00 2013.50

2 2 2028.50 2036.00 6:32 AM Fri, Dec 25, 2009

2021.00 Y ears

Gambar 23 Perilaku Skenario Model Saat ini Wisata Snorkling Pulau Dodola dengan Laju Pelestarian KHP1 %, KAP 1 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 1 % dan laju Degradasi 4 % Wisata Selam Pulau Dodola Simulasi skenario wisata selam laju pelestarian KHP 1%, KAP 1% dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 1% dengan laju degradasi 1% Simulasi skenario dengan laju pelestarian KHP 1 %, laju pelestarian KAP 1 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 1 % dengan laju degradasi 1 % menggambarkan upaya yang dilakukan dalam melestarikan sumberdaya pulau Dodola sebesar 3 % lebih besar dari laju degradasi sebesar 1 %. Berdasarkan hasil simulasi skenario pada (Gambar 24) menunjukkan adanya peningkatan upaya pelestarian sumberdaya pulau Dodola sehingga menyebabkan kualitas lingkungan ekologi Dodola makin meningkat sampai pada tahun 2021 (NKEKLP2K 0,84 kategori baik), peningkatan kualitas lingkungan tersebut diikuti pula dengan makin bertambahnya jumlah wisatawan sampai melampaui daya dukung kawasan wisata selam Dodola, yaitu pada tahun 2016 sudah mencapai 647 orang/hari, padahal daya dukung kawasan Dodola adalah 615 orang/hari dengan luas kawasan selam Dodola yang dapat dimanfaatkan sebesar 66 ha dengan persentase penutupan komunitas karang sebesar 23,20%.

100

1: kualitas lingkgi Dodola saat ini 2: Jumlah wisatm Dodola saat ini 3: biay a perbaikan lingkungan 1: 2: 3: 1 4000 3e+009. 1 2 1 3 1: 2: 3: 1 2000 1.5e+009 1 2 1 3

2 1: 2: 3: Page 1 1 0 0 2 3

2006.00

2013.50

2021.00 Y ears

2028.50 2036.00 6:34 AM Fri, Dec 25, 2009

Gambar 24 Perilaku Skenario Model Saat ini Wisata Selam Dodola dengan Laju Pelestarian KHP1 %, KAP 1 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 1 % dan laju Degradasi 1 % Peningkatan jumlah wisatawan yang melebihi daya dukung kawasan wisata selam Dodola menyebabkan kualitas lingkungan ekologi Dodola makin menurun, hal ini terlihat pada tahun 2022-2026 (NKEKLP2K 0,83 0,77 kategori sedang). Sebagai ilustrasi terhadap ekosistem terumbu karang dapat terjadi dengan cepat, laju kerusakan terumbu karang bisa terjadi dalam satu hari karena tekanan wisatawan di zona terumbu karang, sebaliknya, pemulihan ekosistem terumbu karang menuju kondisi semula, memerlukan waktu lama. Laju pertumbuhan spesies karang yang masih diperkirakan tumbuh antara lain adalah 7,5 8,0 mm/tahun pada jenis Astreophora myriophthalmia; 6,7 8,0 mm/tahun untuk Favia speciosa, dan 7,8 mm/tahun untuk Goniastrea retiformis (Supriharyono 2000). Upaya pencapaian pada tahun 2015 (lima tahun ke depan dari tahun 2010) untuk wisata selam dengan tidak melebihi daya dukung kawasan wisata selam Pulau Dodola. Untuk mencapai keadaan ini harus sama seperti simulasi skenario wisata snorkling Pulau Dodola dengan mengupayakan melestarikan sumberdaya pulau Dodola terutama ekosistem terumbu karang sebelas tahun ke depan (dari tahun 2010- 2021) dengan target pencapaian persentase penutupan komunitas karangnya 60% (kategori baik KEPMEN

101 LH No 4 2001). Keadaan ini berarti tiap tahun persentase penutupan komunitas karang harus bertambah 3,34 % dari persentase penutupan komunitas karang saat ini 23.20 %. Upaya pelestarian sumberdaya Pulau Dodola mengakibatkan peningkatan kualitas lingkungan ekologi, dan akan berdampak pada peningkatan jumlah wisatawan yang secara tidak langsung akan menambah pendapatan wisata selam Pulua Dodola pada tahun 2015 sebesar Rp 39,9 milyar dengan biaya untuk perbaikan lingkungan sebesar Rp 399 juta. Simulasi skenario wisata selam laju pelestarian KHP 1 %, KAP 1 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 1 % dengan laju degradasi 4 % Simulasi skenario wisata selam dengan laju pelestarian KHP 1 %, KAP 1 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 1 % dengan laju degradasi 4 % menunjukkan upaya perbaikan lingkungan ekologi lebih kecil daripada laju degradasi. Upaya

perbaikan lingkungan hanya 3 % bila dibandingkan dengan laju degradasi sebesar 4 %, hal ini berarti telah terjadi penurunan keanekaragaman hayati terutama mangrove, begitu pula dengan abrasi pantai dapat mencapai 25-50 % yang sebelumnya tidak terjadi abrasi. Hasil simulasi skenario (Gambar 25) menunjukkan telah terjadi penurunan kualitas lingkungan, pada tahun 2006-2009 kualitas lingkungan (NKEKLP2K 0,70 kategori sedang) mulai mengalami penurunan pada tahun 2010 (NKEKLP2K 0.69) sampai pada tahun 2021 (NKEKLP2K 0,66 kategori sedang). Hal ini juga akan

berpengaruh pada jumlah wisatawan dari tahun ke tahun semakin berkurang pada tahun 2021 berjumlah 262 orang/hari, penurunan jumlah wisatawan akan berpengaruh pula pada pendapatan wisata rekreasi Dodola pada tahun sebesar Rp. 18,1 milyar dengan biaya perbaikan lingkungan Rp 181 juta.

102

1: kualitas lingkgi Dodola saat ini 2: Jumlah wisatm Dodola saat ini 3: biay a perbaikan lingkungan 1: 2: 3: 1 500 300000000 2 3

1: 2: 3:

1 350 150000000

1 2 1 3 3

1 1: 2: 3: Page 1 1 200 0 2006.00 2013.50

2 2

2021.00 Y ears

2028.50 2036.00 6:35 AM Fri, Dec 25, 2009

Gambar 25 Perilaku Skenario Model Saat ini Wisata Selam Dodola dengan Laju Pelestarian KHP1 %, KAP 1 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 1 % dan laju Degradasi 4 % Wisata Lamun Pulau Dodola Simulasi skenario wisata Lamun laju pelestarian KHP 1 %, KAP 1 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 1 % dengan laju degradasi 1 % Simulasi skenario wisata lamun dengan laju pelestarian KHP 1 %, laju pelestarian KAP 1 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 1 % dengan laju degradasi 1 % menggambarkan upaya perbaikan ekologi Dodola sebesar 4 % lebih besar daripada laju degradasi sebesar 1 %. Hasil simulasi skenario seperti pada (Gambar 26) menunjukkan kualitas lingkungan ekologi dari tahun-tahun mengarah pada perbaikan sumberdaya sampai pada tahun 2021 kualitas lingkungannya (NKEKLP2K 0,84 kategori baik). Kualitas lingkungan ekologi yang semakin baik, akan meningkatkan kualitas ekosistem yang lain seperti terumbu karang, mangrove dan lamun. Upaya yang

dilakukan ini akan berdampak pada ekosistem lamun karena ekosistem padang lamun bukan merupakan suatu ekosistem yang terisolasi tetapi, berinteraksi dengan ekosistem lain di sekitarnya seperti Bengen 2006). ekosistem mangrove dan terumbu karang (Retraubun dan

103

1: kualitas lingkgi Dodola saat ini 2: Jumlah wisatn Dodola saat ini 3: biay a perbaikan lingkungan 1: 2: 3: 1 550 400000000 1 3 3 2 2

1 1: 2: 3: 1 300 200000000

3 1: 2: 3: Page 1 1 50 0 3 2 2006.00 2013.50 2021.00 Y ears 2028.50 2036.00 6:37 AM Fri, Dec 25, 2009 2

Gambar 26 Perilaku Skenario Model Saat ini Wisata Lamun Dodola dengan Laju Pelestarian KHP1 %, KAP 1 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 1 % dan laju Degradasi 1 % Keadaan tersebut di atas tetap dijaga, maka pada tahun-tahun berikutnya tidak akan terjadi abrasi pantai. Kondisi ekologis wisata yang semakin baik akan menjaga abrasi dan erosi tanah pesisir. Sebagai contoh kerusakan hutan pantai secara luas dan

drastis terjadi di kawasan Nusa Tenggara akibat pembangunan pariwisata yang tidak memperhatikan aspek-aspek lingkungan. Di Gili Anyer, Gili Meno, dan Gili Trawangan, formasi pes-caprae (sejenis tumbuhan kangkung pantai berbunga terompet ungu Ipomoea pes-caprea) ini pernah menutupi sebagian besar pantai ketiga pulau kecil tersebut, karena dipandang mengotori destinasi wisata tumbuhan ini ditebang dan dibersihkan untuk ditanami kelapa dan pohon-pohon asem serta pembangunan destinasi dan akomodasi pariwisata (Monk et al. 2000) Keadaan ini pula menyebabkan jumlah wisatawan semakin meningkat sampai melampaui daya dukung kawasan wisata lamun Dodola pada tahun 2016 berjumlah 99 orang/hari, saat ini adalah 95 orang/hari dengan luas kawasan wisata lamun Dodola yang dapat dimanfaatkan sebesar 4 ha dengan persentase tutupan lamun sebesar 64 %.

Peningkatan jumlah wisatawan wisata lamun yang melebihi daya dukung kawasan wisata lamun akan menyebabkan penurunan kualitas lingkungan ekologi yang secara tidak

104 langsung akan berdampak pada pendapatan wisata lamun pada tahun 2015 adalah Rp. 6,1 milyar dengan biaya perbaikan lingkungan wisata lamun adalah Rp. 61 juta.

Simulasi skenario wisata lamun laju pelestarian KHP 1 %, KAP 1 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 1 % dengan laju degradasi 4 % Simulasi skenario wisata lamun dengan laju KHP 1 %, KAP 1 % dan persentase

perbaikan lingkungan ekologi 1 % dengan laju degradasi 4 % menggambarkan laju degradasi lebih besar dari upaya perbaikan lingkungan ekologi. Hasil simulasi skenario seperti pada (Gambar 27) menunjukkan kualitas lingkungan ekologi Dodola mengalami penurunan sampai pada tahun 2021 (NKEKLP2K 0,66 kategori sedang).
1: kualitas lingkgi Dodola saat ini 2: Jumlah wisatn Dodola saat ini 3: biay a perbaikan lingkungan 1: 2: 3: 1 70 50000000

3 2 1: 2: 3: 1 50 25000000 1 1 3 3

1 1: 2: 3: Page 1 1 30 0 2006.00 2013.50

2 2 2028.50 2036.00 9:51 AM Thu, Jan 14, 2010

2021.00 Y ears

Gambar 27 Perilaku Skenario Model Saat ini Wisata Lamun Dodola dengan Laju Pelestarian KHP1 %, KAP 1 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 1 % dan laju Degradasi 4 % Penurunan kualitas lingkungan ekologi, akibat dari laju degradasi lebih besar dari upaya perbaikan lingkungan ekologi sehingga menyebabkan jumlah wisatawan Dodola berkurang sampai 40 orang/hari pada tahun 2021 dengan pendapatan wisata lamun Dodola Rp 2,7 milyar dengan biaya perbaikan lingkungan 27 juta.

105 Simulasi Skenario Rao Selatan Wisata rekreasi Rao Selatan Simulasi skenario wisata rekreasi laju pelestarian KHP 1 %, KAP 1 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 1 % dengan laju degradasi 1 % Simulasi skenario dengan laju pelestarian keanekaragaman hayati pulau (KHP) Rao Selatan 1 %, kealamian pulau (KAP) Rao Selatan 1 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 1 % dengan laju degradasi 1 % menggambarkan upaya yang dilakukan dalam melestarikan sumberdaya Rao Selatan, dengan upaya perbaikan lingkungan ekologi Rao Selatan sebesar 3 % dengan laju degradasi yang terjadi sebesar 1 % pada tahun-tahun ke depan dalam rentan waktu selama 30 tahun. Berdasarkan hasil simulasi skenario (Gambar 28) menunjukkan kondisi kualitas lingkungan ekologi Rao Selatan dari tahun-ketahun semakin membaik. Kondisi saat ini kualitas lingkungan ekologi dari tahun 2006-2009 adalah 0,61 (kategori sedang ), pada tahun-tahun ini belum ada upaya pengelolaan sumberdaya Rao Selatan karena pada tahun-tahun ini baru mulai dianalisa sumberdaya pulau-pulau kecil yang dapat dijadikan suatu kawasan ekowisata, juga diadakan promosi-promosi wisata untuk memperkenalkan kegiatan wisata yang ada. Semakin membaiknya kualitas lingkungan pada tahun-tahun berikutnya dari tahun 2010 sampai tahun 2022 (NKEKLP2K adalah 0,62 - 0,73 kategori sedang ke baik) menyebabkan jumlah wisatawan semakin banyak sehingga melampaui daya dukung kawasan rekreasi Rao Selatan, keadaan ini terjadi pada tahun 2017 jumlah wisatawan rekreasi Rao Selatan mencapai 362 orang/hari. Seharusnya daya dukung kawasan

rekreasi Rao Selatan saat ini adalah 346 orang/hari dengan panjang garis pantai rekreasi Rao Selatan yang dapat dimanfaatkan 8.644 m. Apabila keadaan ini terus berlanjut, maka pada tahun 2023 terjadi kecenderungan kualitas lingkungan semakin menurun sampai pada tahun 2036 (NKEKLP2K adalah 0,47). Untuk mencapai keadaan yang baik antara kualitas lingkungan ekologi dan jumlah wisatawan wisata rekreasi Rao Selatan, diupayakan kualitas lingkungan ekologi Rao Selatan dipertahankan sampai pada tahun 2022 dengan kualitas lingkungan ekologi 0,73 dengan jumlah wisatawan pada tahun 2016 berjumlah 318 orang/hari (belum melampaui

106 daya dukung wisata rekreasi Rao Selatan), artinya untuk mencapai keadaan ini harus ada upaya melestarikan sumberdaya Rao Selatan terutama ekosistem mangrove dan ekosistem terumbu karang dengan target pencapaian persentase penutupan komunitas karangnya 60 % (kategori baik KEPMEN LH No 4 2001), berarti 12 tahun ke depan sejak tahun 2010 - tahun 2022 tiap tahun persentase penutupan komunitas karang harus bertambah 0,27 % dari persentase komunitas karang saat ini 56,70 % Keadaan ini juga akan berpengaruh pada pendapatan wisata rekreasi Rao Selatan, semakin bertambahnya jumlah wisatawan berarti semakin meningkat pula pendapatan wisata rekreasi, sehingga pada tahun 2016 pendapatan wisata rekreasi Rao Selatan mencapai Rp.21,9 milyar dengan biaya yang dikeluarkan untuk perbaikan lingkungan sebesar Rp.219 juta (1 % dari pendapatan wisata rekreasi Rao Selatan)
1: kualitas lingko Selatan saat ini 2: Jumlah wisata Selatan saat ini 3: biay a perbaikan lingkungan 1: 2: 3: 1 2000 2e+009.

1: 2: 3:

1 1000 1e+009.

2 3 1 3

2 1: 2: 3: Page 1 0 0 0 2 3 2013.50

2006.00

2021.00 Y ears

2028.50 2036.00 6:39 AM Fri, Dec 25, 2009

Gambar 28 Perilaku Skenario Model Saat ini Wisata Rekreasi Rao Selatan dengan Laju Pelestarian KHP 1 %, KAP 1 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 1 % dan Laju Degradasi 1 %

107 Simulasi skenario wisata rekreasi Rao Selatan laju pelestarian KHP 2 %, KAP 2 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 2 % dengan laju degradasi 17 % Simulasi skenario wisata rekreasi Rao Selatan dengan laju pelestarian KHP 2 %, KAP 2 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 2 % dengan laju degradasi 17 % menunjukkan laju degradasi lebih besar daripada upaya perbaikan lingkungan ekologi. Upaya perbaikan lingkungan hanya 6 % bila dibandingkan dengan laju degradasi sebesar 17 %. Hasil simulasi skenario (Gambar 29) menunjukkan telah terjadi penurunan kualitas lingkungan, pada tahun 2006-2009 kualitas lingkungan (NKEKLP2K 0,61 kategori sedang) mulai mengalami penurunan pada tahun 2010 (NKEKLP2K 0.54) sampai pada tahun 2015 (NKEKLP2K 0,40 kategori buruk). Hal ini berarti telah terjadi degradasi sumberdaya lingkungan ekologi Rao Selatan seperti mangrove, persentase penutupan komunitas karang saat ini 56,70 % (kategori baik KEPMEN LH No 4 2001) menurun sampai pada kondisi buruk lebih kecil dari 25 %, begitu pula dengan ekosistem yang lain seperti ikan karang, rumput laut dan bentos menurun pada kondisi buruk, peningkatan abrasi juga terjadi saat ini 25-50 % meningkat sampai mencapai lebih besar dari 50 %.
1: kualitas lingko Selatan saat ini 2: Jumlah wisata Selatan saat ini 3: biay a perbaikan lingkungan 1: 2: 3: 1 300 300000000 3

2 1

1: 2: 3:

1 150 150000000 1 1 2

1: 2: 3: Page 1

0 0 0 2006.00

3 2 2021.00 Y ears 3 2

1 2013.50

2028.50 2036.00 7:15 AM Fri, Dec 25, 2009

Gambar 29 Perilaku Skenario Model Saat ini Wisata Rekreasi Rao Selatan dengan Laju Pelestarian KHP 2 %, KAP 2 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 2 % dan Laju Degradasi 17 %

108

Keadaan tersebut berlangsung terus-menerus maka secara tidak langsung akan berpengaruh pada jumlah wisatawan dari tahun ke tahun semakin berkurang, pada tahun 2017 berjumlah 21 orang/hari, penurunan jumlah wisatawan akan berpengaruh pula pada pendapatan wisata rekreasi Rao Selatan sebesar Rp. 1,4 milyar dengan biaya perbaikan lingkungan Rp 29 juta. Penurunan jumlah wisatawan ini terus terjadi sampai pada tahun 2027 jumlah wisatawan berjumlah 5 orang/hari, pada tahun-tahun berikutnya ada upaya meningkatkan kembali kualitas lingkungan ekologi Rao Selatan sehingga pada tahun 2036 jumlah wisatawan miningkat 131 orang/hari.

Wisata Snorkling Rao Selatan Simulasi skenario wisata snorkling laju pelestarian KHP 1 %, KAP 1 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 1 % dengan laju degradasi 1 % Simulasi skenario wisata snorkling Rao Selatan dengan laju pelestarian keanekaragaman hayati pulau (KHP) Rao Selatan 1 %, kealamian pulau (KAP) Rao Selatan 1 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 1 % dengan laju degradasi 1 % menggambarkan upaya yang dilakukan dalam melestarikan sumberdaya Rao Selatan, dengan upaya perbaikan lingkungan ekologi Rao Selatan sebesar 3 % dengan laju degradasi yang terjadi sebesar 1 % pada tahun-tahun ke depan dalam rentan waktu selama 30 tahun. Berdasarkan hasil simulasi skenario (Gambar 30) menunjukkan kondisi kualitas lingkungan ekologi Rao Selatan dari tahun-ketahun semakin membaik. Pada tahun 2006 sampai tahun 2009 kualitas lingkungan ekologi Rao Selatan adalah 0,61 (kategori

sedang), pada tahun ini belum ada upaya pengelolaan sumberdaya Rao Selatan karena pada tahun-tahun ini baru mulai dianalisa sumberdaya pulau-pulau kecil yang dapat dijadikan suatu kawasan ekowisata, juga diadakan promosi-promosi wisata untuk memperkenalkan kegiatan wisata yang ada. Kualitas lingkungan ekologi Rao Selatan 0,61 memberikan pengertian bahwa kondisi saat ini berdasarkan penilaian kriteria ekologi kawasan lindung Rao Selatan berada dalam keadaan sedang, seperti mangrove terdiri dari 4-5 jenis, persentase

109 penutupan komunitas karang 56,70 %, dan keadaan pulau ini sudah terjadi abrasi pantai 25-50 %. Semakin membaiknya kualitas lingkungan pada tahun-tahun berikutnya dari tahun 2010 sampai tahun 2022 (NKEKLP2K adalah 0,62 - 0,73 kategori sedang ke baik) menyebabkan jumlah wisatawan semakin banyak sehingga melampaui daya dukung kawasan wisata snorkling Rao Selatan. Keadaan ini terjadi pada tahun 2017 jumlah wisatawan snorkling Rao Selatan mencapai 480 orang/hari, padahal daya dukung kawasan snorking Rao Selatan saat ini 460 orang/hari dengan persentase penutupan komunitas karang 56,70 % dengan kawasan wisata snorkling yang dapat dimanfaatkan sebesar 20 ha. Apabila keadaan ini terus berlanjut, maka pada tahun 2023 terjadi kecenderungan kualitas lingkungan semakin menurun walaupun sampai pada tahun 2026 (NKEKLP2K adalah 0,67). Diupayakan keadaan yang baik antara kualitas lingkungan ekologi dan jumlah wisatawan snorkling Rao Selatan belum melampaui daya dukung kawasan snorkling Rao Selatan, maka kualitas lingkungan ekologi Rao Selatan dapat

dipertahankan sampai pada tahun 2022 dengan kualitas lingkungan ekologi 0,73 dan jumlah wisatawan belum melampaui daya dukung kawasan wisata snorkling Rao Selatan pada tahun 2016 adalah 421 orang/hari. Hal tersebut memberikan gambaran upaya pelestarian sumberdaya pulau Rao Selatan seperti ekosistem mangrove, padang lamun dan ekosistem terumbu karang

dengan target pencapaian dua belas tahun ke depan (dari tahun 2010-2022) persentase penutupan komunitas karangnya 60% (kategori baik KEPMEN LH No 4 2001), berarti tiap tahun persentase penutupan komunitas karang harus bertambah 0,27% dari persentase komunitas karang saat ini 56,70%. Keadaan ini juga akan berpengaruh pada pendapatan wisata snorkling Rao Selatan, semakin bertambahnya jumlah wisatawan berarti semakin meningkat pula pendapatan wisata snorkling Rao Selatan, sehingga pada tahun 2016 pendapatan wisata snorkling Rao Selatan mencapai Rp.29,1 milyar dengan biaya yang dikeluarkan untuk perbaikan lingkungan sebesar Rp.291 juta (1% dari pendapatan wisata snorkling Rao Selatan)

110

1: kualitas lingko selatan saat ini 2: Jumlah wisata selatan saat ini 3: biay a perbaikan lingkungan 1: 2: 3: 1 3000 2e+009.

1 2 3 1: 2: 3: 1 1500 1e+009. 1 2 1 3

1: 2: 3: Page 1

0 0 0

2006.00

2013.50

2021.00 Y ears

2028.50 2036.00 10:57 AM Fri, Dec 25, 2009

Gambar 30 Perilaku Skenario Model Saat ini Wisata Snorkling Rao Selatan dengan Laju Pelestarian KHP 1 %, KAP 1 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 1 % dan Laju Degradasi 1 % Simulasi skenario wisata snorkling Rao Selatan laju pelestarian KHP 2 %, KAP 2 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 2 % dengan laju degradasi 17 % Simulasi skenario wisata snorkling Rao Selatan dengan laju pelestarian KHP 2 %, KAP 2 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 2 % dengan laju degradasi 17 % menunjukkan upaya perbaikan lingkungan ekologi lebih kecil daripada laju degradasi. Upaya perbaikan lingkungan hanya 6 % bila dibandingkan dengan laju degradasi sebesar 17 %, Hasil simulasi skenario (Gambar 31) menunjukkan telah terjadi penurunan kualitas lingkungan, pada tahun 2006-2009 kualitas lingkungan (NKEKLP2K 0,61 kategori sedang) mulai mengalami penurunan pada tahun 2010 (NKEKLP2K 0,54) sampai pada tahun 2015 (NKEKLP2K 0,40 kategori buruk). Penurunan kualitas lingkungan akan menyebabkan ekosistem mangrove, padang lamun, terumbu karang, rumput laut mengalami penurunan. Keadaan ini juga akan berpengaruh pada jumlah wisatawan dari tahun-tahun semakin berkurang pada tahun 2017 berjumlah 28 orang/hari, penurunan jumlah wisatawan akan berpengaruh pula pada pendapatan wisata snorkling Rao Selatan dengan

111 pendapatan wisata snorkling sebesar Rp. 1,9 milyar dengan biaya perbaikan lingkungan Rp 39 juta.
1: kualitas lingko selatan saat ini 2: Jumlah wisata selatan saat ini 3: biay a perbaikan lingkungan 1: 2: 3: 1 300 400000000 2 3

1: 2: 3:

1 150 200000000 1 2 1 3 1 2013.50 2 2021.00 Y ears 3

1: 2: 3: Page 1

0 0 0 2006.00

3 2 2028.50 2036.00 10:58 AM Fri, Dec 25, 2009

Gambar 31 Perilaku Skenario Model Saat ini Wisata Snorkling Rao Selatan dengan Laju Pelestarian KHP 2 %, KAP 2 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 2 % dan Laju Degradasi 17 % Wisata Selam Rao Selatan Simulasi skenario wisata selam Rao Selatan laju pelestarian KHP 1 %, KAP 1 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 1 % dengan laju degradasi 1% Simulasi skenario wisata selam Rao Selatan dengan laju pelestarian

keanekaragaman hayati pulau (KHP) Rao Selatan 1 %, kealamian pulau (KAP) Rao Selatan 1 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 1 % dengan laju degradasi 1 % menggambarkan upaya yang dilakukan dalam melestarikan sumberdaya Rao Selatan, dengan upaya perbaikan lingkungan ekologi Rao Selatan sebesar 3 % dengan laju degradasi yang terjadi sebesar 1 % pada tahun-tahun ke depan dalam rentan waktu selama 30 tahun. Berdasarkan hasil simulasi skenario (Gambar 32) menunjukkan kondisi kualitas lingkungan ekologi Rao Selatan dari tahun ke tahun semakin membaik. Pada tahun 2006 sampai tahun 2009 kualitas lingkungan ekologi Rao Selatan adalah 0,61 (kategori

sedang), pada tahun ini belum ada upaya pengelolaan sumberdaya Rao Selatan karena pada tahun-tahun ini baru mulai dianalisa sumberdaya pulau-pulau kecil yang dapat

112 dijadikan suatu kawasan ekowisata, juga diadakan promosi-promosi wisata untuk memperkenalkan kegiatan wisata yang ada.
1: kualitas lingko selatan saat ini 2: Jumlah wisata Selatan saat ini 3: biay a perbaikan lingkungan 1: 2: 3: 1 4000 3e+009.

1 2

1 3 1: 2: 3: 1 2000 1.5e+009 1 2 1

2 1: 2: 3: Page 1 0 0 0 2 3

2006.00

2013.50

2021.00 Y ears

2028.50 2036.00 11:01 AM Fri, Dec 25, 2009

Gambar 32 Perilaku Skenario Model Saat ini Wisata Selam Rao Selatan dengan Laju Pelestarian KHP 1 %, KAP 1 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 1 % dan Laju Degradasi 1 % Semakin membaiknya kualitas lingkungan pada tahun-tahun berikutnya dari tahun 2010 sampai tahun 2022 (NKEKLP2K adalah 0,62 - 0,73 kategori sedang ke baik) menyebabkan jumlah wisatawan semakin banyak sehingga melampaui daya dukung kawasan wisata selam Rao Selatan. Keadaan ini terjadi pada tahun 2017 jumlah wisatawan wisata selam Rao Selatan mencapai 748 orang/hari, padahal daya dukung kawasan wisata selam Rao Selatan 716 orang/hari dengan persentase penutupan komunitas karang 56,70 % dan kawasan wisata selam yang dapat dimanfaatkan sebesar 31 ha. Apabila keadaan ini terus berlanjut, maka pada tahun 2023 terjadi kecenderungan kualitas lingkungan semakin menurun sampai pada tahun 2036 (NKEKLP2K adalah 0,67). Untuk mencapai keadaan yang baik antara kualitas lingkungan ekologi dan jumlah wisatawan wisata selam Rao Selatan, belum melampaui daya dukung kawasan wisata selam Rao Selatan, maka diupayakan kualitas lingkungan ekologi Rao Selatan dapat dipertahankan sampai pada tahun 2022 dengan kualitas lingkungan ekologi 0,72 dan pada tahun 2016 jumlah wisatawan 656 orang/hari.

113 Keadaan tersebut di atas memberikan pengertian bahwa harus ada upaya melestarikan sumberdaya pulau Rao Selatan dua belas tahun ke depan (dari tahun 20102022) terutama seperti ekosistem mangrove, padang lamun dan ekosistem terumbu

karang dengan target pencapaian persentase penutupan komunitas karangnya 60% (kategori baik KEPMEN LH No 4 2001), berarti tiap tahun persentase penutupan komunitas karang harus bertambah 0,27 % dari persentase komunitas karang saat ini 56,70 % Keadaan ini juga akan berpengaruh pada pendapatan wisata selam Rao Selatan, semakin bertambahnya jumlah wisatawan berarti semakin meningkat pula pendapatan wisata selam Rao selatan, sehingga pada tahun 2016 pendapatan wisata selam Rao Selatan mencapai Rp.45,4 milyar dengan biaya yang dikeluarkan untuk perbaikan

lingkungan sebesar Rp.454 juta (1% dari pendapatan wisata selam Rao Selatan)

Simulasi skenario wisata selam Rao Selatan laju pelestarian KHP 2 %, KAP 2 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 2 % dengan laju degradasi 17 % Simulasi skenario wisata selam Rao Selatan dengan laju pelestarian KHP 2 %,

KAP 2 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 2 % dengan laju degradasi 17 % menunjukkan laju degradasi lebih besar daripada upaya perbaikan lingkungan. Upaya perbaikan lingkungan hanya 6 % bila dibandingkan dengan laju degradasi sebesar 17 %. Hasil simulasi skenario (Gambar 33) sama seperti simulasi skenario wisata snorkling Rao Selatan menunjukan telah terjadi penurunan kualitas lingkungan dari sedang ke buruk, pada tahun 2006-2009 kualitas lingkungan (NKEKLP2K 0,61 kategori sedang) mulai mengalami penurunan pada tahun 2010 (NKEKLP2K 0,54) sampai pada tahun 2015 (NKEKLP2K 0,40 kategori buruk). Penurunan kualitas lingkungan akan menyebabkan ekosistem mangrove, padang lamun, terumbu karang, rumput laut mengalami penurunan. Keadaan ini juga akan berpengaruh pada jumlah wisatawan dari tahun-tahun semakin berkurang pada tahun 2015 berjumlah 99 orang/hari, penurunan jumlah wisatawan akan berpengaruh pula pada pendapatan wisata selam Rao Selatan dengan

114 pendapatan wisata selam sebesar Rp. 6,8 milyar dengan biaya perbaikan lingkungan Rp 136 juta.
1: kualitas lingko selatan saat ini 2: Jumlah wisata Selatan saat ini 3: biay a perbaikan lingkungan 1: 2: 3: 1 500 700000000

1: 2: 3:

1 250 350000000 1 1 3 2006.00 1 2013.50 2 2021.00 Y ears 3

2 1: 2: 3: Page 1 0 0 0

3 2 2028.50 2036.00 11:03 AM Fri, Dec 25, 2009

Gambar 33 Perilaku Skenario Model Saat ini Wisata Selam Rao Selatan dengan Laju Pelestarian KHP 2 %, KAP 2 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 2 % dan Laju Degradasi 17 %

Simulasi Skenario Ngelengele Wisata rekreasi Ngelengele

Simulasi skenario wisata rekreasi Ngelengele laju pelestarian KHP 1 %, KAP 1 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 1% dengan laju degradasi 1% Simulasi skenario wisata rekreasi Ngelengele dengan laju pelestarian

keanekaragaman hayati pulau (KHP) Ngelengele 1 %, kealamian pulau (KAP) Ngelengele 1 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 1 % dengan laju degradasi 1 % menggambarkan upaya yang dilakukan dalam melestarikan sumberdaya Ngelengele, dengan upaya perbaikan lingkungan ekologi Ngelengele sebesar 3 % dengan laju degradasi yang terjadi sebesar 1 % pada tahun-tahun ke depan dalam rentan waktu selama 30 tahun. Berdasarkan hasil simulasi skenario (Gambar 34) menunjukkan kondisi kualitas lingkungan ekologi Ngelngele dari tahun-ketahun semakin membaik, tahun 2006 sampai tahun 2009 kualitas lingkungan ekologi Ngelengele adalah 0,73 (kategori baik), pada

115 tahun ini belum ada upaya pengelolaan sumberdaya Rao Selatan karena pada tahun-tahun ini baru mulai dianalisa sumberdaya pulau-pulau kecil yang dapat dijadikan suatu kawasan ekowisata, juga diadakan promosi-promosi wisata untuk memperkenalkan kegiatan wisata yang ada. Kualitas lingkungan ekologi Ngelengele 0,73 memberikan pengertian bahwa

kondisi saat ini berdasarkan penilaian kriteria ekologi kawasan lindung Ngelengele berada dalam keadaan baik, seperti beberapa parameter ekologi, mangrove, padang lamun dan persentase penutupan komunitas karang 41,54% dengan life form karang lebih besar dari 10, dan keadaan pulau ini sudah terjadi abrasi pantai 25-50%. Semakin membaik kualitas lingkungan pada tahun-tahun berikutnya sampai tahun 2022 (NKEKLP2K adalah 0,87 kategori baik) menyebabkan jumlah wisatawan semakin banyak sehingga melampaui daya dukung kawasan wisata rekreasi Ngelengele, keadaan ini terjadi pada tahun 2016 jumlah wisatawan rekreasi Ngelengele mencapai 160 orang/hari, padahal daya dukung kawasan rekreasi Ngelengele 146 orang/hari dengan panjang garis pantai 3.647 m. Apabila keadaan ini terus berlanjut, maka pada tahun 2023 terjadi kecenderungan kualitas lingkungan semakin menurun walaupun sampai pada tahun 2026 (NKEKLP2K adalah 0,80). Untuk mencapai keadaan yang baik antara kualitas lingkungan ekologi dan jumlah wisatawan rekreasi Ngelengele belum melampaui daya dukung kawasan rekreasi Ngelengele, maka diupayakan kualitas lingkungan ekologi Ngelengele dapat

dipertahankan sampai pada tahun 2022 dengan kualitas lingkungan ekologi 0.87 dan jumlah wisatawan pada tahun 2015 adalah 142 orang/hari. Keadaan tersebut di atas memberikan pengertian bahwa dua belas tahun ke depan (dari 2010-2022) harus ada upaya melestarikan sumberdaya Ngelengele terutama seperti ekosistem mangrove, padang lamun dan ekosistem terumbu karang dengan target

pencapaian persentase penutupan komunitas karangnya 60% (kategori baik KEPMEN LH No 4 2001), berarti tiap tahun persentase penutupan komunitas karang harus bertambah 1,54% dari persentase komunitas karang saat ini 41,54%, keadaan ini dapat dipertahankan maka tidak akan terjadi abrasi pantai. Keadaan ini juga akan berpengaruh pada pendapatan wisata rekreasi Ngelengele, semakin bertambahnya jumlah wisatawan berarti semakin meningkat pula pendapatan

116 wisata rekreasi Ngelengele, sehingga pada tahun 2015 pendapatan wisata rekreasi mencapai Rp.9,8 milyar dengan biaya yang dikeluarkan untuk perbaikan lingkungan sebesar Rp.98 juta (1 % dari pendapatan wisata rekreasi Ngelengele)
1: kualitas lingkgelengele saat ini 2: Jumlah wisataelengele saat ini 3: biay a perbaikan lingkungan 1: 2: 3: 1 900 700000000 1 2

1 1: 2: 3: 1 500 350000000 2 1

3 3

1 3 1: 2: 3: Page 1 1 100 0 3 2 2 2006.00 2013.50 2021.00 Y ears 2028.50 2036.00 12:48 PM Thu, Jan 14, 2010

Gambar 34 Perilaku Skenario Model Saat ini Wisata Rekreasi Ngelengele dengan Laju Pelestarian KHP 1 %, KAP 1 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 1 % dan Laju Degradasi 1 % Simulasi skenario wisata rekreasi Ngelengele laju pelestarian KHP 1 %, KAP 1 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 1 % dengan laju degradasi 4% Simulasi skenario wisata rekreasi Ngelengele dengan laju pelestarian KHP 1 %, KAP 1 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 1 % dengan laju degradasi 4 % menunjukkan laju degradasi lebih besar dari upaya perbaikan lingkungan ekologi. Upaya perbaikan lingkungan ekologi hanya 3 % bila dibandingkan dengan laju degradasi sebesar 4 %. Hasil simulasi skenario (Gambar 35) menunjukkan telah terjadi penurunan kualitas lingkungan dari keadaan baik ke sedang, pada tahun 2006-2009 kualitas lingkungan (NKEKLP2K 0,73 kategori baik) mulai mengalami penurunan pada tahun 2010 (NKEKLP2K 0.72) sampai pada tahun 2021 (NKEKLP2K 0,69 kategori sedang). Kondisi ini mengartikan bahwa terjadi penurunan kualitas lingkungan terutama ekosistem mangrove.

117 Keadaan tersebut di atas secara tidak langsung akan berpengaruh pada jumlah wisatawan semakin berkurang pada tahun 2021 berjumlah 65 orang/hari, penurunan jumlah wisatawan akan berpengaruh pula pada pendapatan wisata rekreasi Ngelengele pada tahun 2021 sebesar Rp. 4,4 milyar dengan biaya perbaikan lingkungan Rp 44 juta. Selanjutnya upaya ke arah perbaikan lingkungan pada tahun-tahun selanjutnya, sehingga jumlah wisatawan pada tahun 2036 meningkat 71 orang/hari.
1: kualitas lingkgelengele saat ini 2: Jumlah wisataelengele saat ini 3: biay a perbaikan lingkungan 1: 2: 3: 1 110 80000000 2

3 2 1: 2: 3: 1 80 40000000 1 3 1

1: 2: 3: Page 1

1 50 0 2006.00

2 1 2021.00 Y ears 2 2028.50 2036.00 11:05 AM Fri, Dec 25, 2009

2013.50

Gambar 35 Perilaku Skenario Model Saat ini Wisata Rekreasi Ngelengele dengan Laju Pelestarian KHP 1 %, KAP 1 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 1 % dan Laju Degradasi 4 %

Wisata Snorkling Ngelengele Simulasi skenario wisata snorkling Ngelengele laju pelestarian KHP 1 %, KAP 1 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 1% dengan laju degradasi 1% Simulasi skenario wisata snorkling Ngelengele dengan laju pelestarian keanekaragaman hayati pulau (KHP) Ngelengele 1 %, kealamian pulau (KAP) Ngelengele 1 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 1 % dengan laju degradasi 1 % menggambarkan upaya yang dilakukan dalam melestarikan sumberdaya Ngelengele, dengan upaya perbaikan lingkungan ekologi Ngelengele sebesar 3 % dengan laju

118 degradasi yang terjadi sebesar 1 % pada tahun-tahun ke depan dalam rentan waktu selama 30 tahun. Berdasarkan hasil simulasi skenario (Gambar 36) menunjukan kondisi kualitas lingkungan ekologi Ngelengele dari tahun-ketahun semakin membaik, tahun 2006 sampai tahun 2009 kualitas lingkungan ekologi Ngelengele adalah 0,73 (kategori baik), pada tahun ini belum ada upaya pengelolaan sumberdaya Ngelengele karena pada tahun-tahun ini baru mulai dianalisa sumberdaya pulau-pulau kecil yang dapat dijadikan suatu kawasan ekowisata, juga diadakan promosi-promosi wisata untuk memperkenalkan kegiatan wisata yang ada. Kualitas lingkungan ekologi Ngelengele 0,73 memberikan pengertian bahwa

kondisi saat ini berdasarkan penilaian kriteria ekologi kawasan lindung Ngelengele berada dalam keadaan baik, seperti beberapa parameter ekologi, mangrove, padang lamun, persentase penutupan komunitas karang 41,54 %, dan keadaan pulau ini sudah terjadi abrasi pantai 25-50%. Semakin membaiknya kualitas lingkungan pada tahun-tahun berikutnya dari tahun 2010 sampai tahun 2022 (NKEKLP2K adalah 0,74 - 0,87 kategori sedang ke baik) menyebabkan jumlah wisatawan semakin banyak sehingga melampaui daya dukung kawasan wisata snorkling Ngelengele, keadaan ini terjadi pada tahun 2016 jumlah wisatawan wisata snorkling Ngelengele mencapai 176 orang/hari, padahal daya dukung kawasan wisata snorkling Ngelengele 161 orang/hari dengan persentase penutupan komunitas karang 41,54 % dan kawasan wisata snorkling yang dapat dimanfaatkan sebesar 9 ha. Apabila keadaan ini terus berlanjut, pada tahun 2023 terjadi kecenderungan

kualitas lingkungan semakin menurun walaupun sampai pada tahun 2036 (NKEKLP2K adalah 0,56). Pencapaian keadaan yang baik antara kualitas lingkungan ekologi dan jumlah wisatawan wisata snorkling Ngelengele, belum melampaui daya dukung kawasan wisata snorkling Ngelengele, maka diupayakan kualitas lingkungan ekologi Ngelengele dapat dipertahankan sampai pada tahun 2022 dengan kualitas lingkungan ekologi 0.87 dan jumlah wisatawan tahun 2015 adalah 157 orang/hari. Keadaan tersebut di atas memberikan pengertian bahwa dua belas tahun ke depan (dari tahun 2010-2022) harus ada upaya melestarikan sumberdaya Ngelengele terutama

119 ekosistem mangrove, padang lamun dan ekosistem terumbu karang dengan target

pencapaian persentase penutupan komunitas karangnya 60 % (kategori baik KEPMEN LH No 4 2001), berarti tiap tahun persentase penutupan komunitas karang harus bertambah 1,54 % dari persentase komunitas karang saat ini 41,54 %.
1: kualitas lingkgelengele saat ini 2: Jumlah wisataelengele saat ini 3: biay a perbaikan lingkungan 1: 2: 3: 1 1000 700000000 1 3 1 1: 2: 3: 1 550 350000000 2 1 1 3 1: 2: 3: Page 1 1 100 0 3 2 2006.00 2013.50 2021.00 Y ears 2028.50 2036.00 11:06 AM Fri, Dec 25, 2009 2 3 2

Gambar 36 Perilaku Skenario Model Saat ini Wisata Snorkling Ngelengele dengan Laju Pelestarian KHP 1 %, KAP 1 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 1 % dan Laju Degradasi 1 % Keadaan ini juga akan berpengaruh pada pendapatan wisata snorkling Ngelengele, semakin bertambahnya jumlah wisatawan berarti semakin meningkat pula pendapatan wisata snorkling Ngelengele, sehingga pada tahun 2015 pendapatan wisata snorkling Ngelengele mencapai Rp.10,8 milyar dengan biaya yang dikeluarkan untuk perbaikan lingkungan sebesar Rp.108 juta (1 % dari pendapatan wisata snorkling Ngelengele)

Simulasi skenario wisata snorkling Ngelengele laju pelestarian KHP 1 %, KAP 1 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 1 % dengan laju degradasi 4% Simulasi skenario wisata snorkling Ngelengele dengan laju pelestarian KHP 1 %,

KAP 1 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 1 % dengan laju degradasi 4 % menunjukkan laju degradasi lebih besar daripada upaya perbaikan lingkungan ekologi. Upaya perbaikan lingkungan ekologi hanya 3 % bila dibandingkan dengan laju degradasi sebesar 4 %.

120 Hasil simulasi skenario (Gambar 37) menunjukkan telah terjadi penurunan kualitas lingkungan dari keadaan baik ke sedang, pada tahun 2006-2009 kualitas lingkungan (NKEKLP2K 0,73 kategori baik) mulai mengalami penurunan pada tahun 2010 (NKEKLP2K 0.72) sampai pada tahun 2021 (NKEKLP2K 0,69 kategori sedang). Kondisi ini mengartikan bahwa terjadi penurunan kualitas lingkungan terutama ekosistem mangrove.
1: kualitas lingkgelengele saat ini 2: Jumlah wisataelengele saat ini 3: biay a perbaikan lingkungan 1: 2: 3: 1 125 90000000

3 2 1: 2: 3: 1 90 45000000 1 3 1 3

1: 2: 3: Page 1

1 55 0 2006.00

1 2021.00 Y ears

2 2 2028.50 2036.00 11:07 AM Fri, Dec 25, 2009

2013.50

Gambar 37 Perilaku Skenario Model Saat ini Wisata Snorkling Ngelengele dengan Laju Pelestarian KHP 1 %, KAP 1 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 1 % dan Laju Degradasi 4 % Keadaan tersebut di atas secara tidak langsung akan berpengaruh pada jumlah wisatawan yang semakin berkurang sampai pada tahun 2021 berjumlah 71 orang/hari, penurunan jumlah wisatawan akan berpengaruh pula pada pendapatan wisata snorkling Ngelengele pada tahun 2021 sebesar Rp. 4,9 milyar dengan biaya perbaikan lingkungan Rp 49 juta. Upaya ke arah perbaikan lingkungan pada tahun-tahun selanjutnya,

menyebabkan jumlah wisatawan wisata snorkling Ngelengele pada tahun 2036 meningkat 78 oranghari.

121 Wisata Selam Ngelengele Simulasi skenario wisata selam Ngelengele pelestarian KHP 1 %, KAP 1 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 1 % dengan laju degradasi 1 % Simulasi skenario wisata selam Ngelengele dengan laju pelestarian

keanekaragaman hayati pulau (KHP) Ngelengele 1 %, kealamian pulau (KAP) Ngelengele 1 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 1 % dengan laju degradasi 1 % menggambarkan upaya yang dilakukan dalam melestarikan sumberdaya Ngelengele, dengan upaya perbaikan lingkungan ekologi Ngelengele sebesar 3 % dengan laju degradasi yang terjadi sebesar 1 % pada tahun-tahun ke depan dalam rentan waktu selama 30 tahun. Berdasarkan hasil simulasi skenario (Gambar 38), seperti hasil simulasi snorkling Ngelengele menunjukkan kondisi kualitas lingkungan ekologi Ngelengele dari tahunketahun semakin membaik. Kualitas lingkungan ekologi Ngelengele 0,73 memberikan pengertian bahwa kondisi saat ini berdasarkan penilaian kriteria ekologi kawasan lindung Ngelengele berada dalam keadaan baik, seperti beberapa parameter ekologi, mangrove, padang, persentase penutupan komunitas karang 41,54 %, dan keadaan pulau ini sudah terjadi abrasi pantai 25-50 %.
1: kualitas lingkgelengele saat ini 2: Jumlah wisataelengele saat ini 3: biay a perbaikan lingkungan 1: 2: 3: 1 6500 4e+009. 1 3 1 1: 2: 3: 1 3500 2e+009. 2 3

1 3 3 1: 2: 3: Page 1 1 500 0 2 2006.00 2013.50 2021.00 Y ears 2028.50 2036.00 11:08 AM Fri, Dec 25, 2009 2

Gambar 38 Perilaku Skenario Model Saat ini Wisata Selam Ngelengele dengan Laju Pelestarian KHP 1 %, KAP 1 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 1 % dan Laju Degradasi 1 %

122 Semakin membaiknya kualitas lingkungan pada tahun-tahun berikutnya dari tahun 2010 sampai tahun 2022 (NKEKLP2K adalah 0,74 - 0,87 kategori sedang ke baik) menyebabkan jumlah wisatawan semakin banyak sehingga melampaui daya dukung kawasan wisata selam Ngelengele. Keadaan ini terjadi pada tahun 2016 jumlah wisatawan wisata selam Ngelengele 1.037 orang/hari, padahal daya dukung kawasan wisata selam Ngelengele 944 orang/hari dengan persentase penutupan komunitas karang 41,54 % dan kawasan wisata selam Ngelengele yang dapat dimanfaatkan sebesar 9 ha. Keadaan ini juga akan berpengaruh pada pendapatan wisata rekreasi, semakin bertambahnya jumlah wisatawan berarti semakin meningkat pula pendapatan wisata rekreasi, sehingga pada tahun 2015 pendapatan wisata rekreasi mencapai Rp.64 milyar dengan biaya yang dikeluarkan untuk perbaikan lingkungan sebesar Rp.640 juta (1 % dari pendapatan wisata selam Ngelengele)

Simulasi skenario wisata selam Ngelengele pelestarian KHP 1 %, KAP 1 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 1 % dengan laju degradasi 4 % Simulasi skenario wisata selam Ngelengele dengan laju pelestarian KHP 1 %,

KAP 1 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 1 % dengan laju degradasi 4 % menunjukkan laju degradasi lebih besar daripada upaya perbaikan lingkungan ekologi. Upaya perbaikan lingkungan ekologi hanya 3 % bila dibandingkan dengan laju degradasi sebesar 4 %. Hasil simulasi skenario (Gambar 39) menunjukkan telah terjadi penurunan kualitas lingkungan dari keadaan baik ke sedang, pada tahun 2006-2009 kualitas lingkungan (NKEKLP2K 0,73 kategori baik) mulai mengalami penurunan pada tahun 2010 (NKEKLP2K 0.72) sampai pada tahun 2021 (NKEKLP2K 0,69 kategori sedang). Kondisi ini mengartikan bahwa terjadi penurunan kualitas lingkungan terutama ekosistem mangrove. Keadaan tersebut di atas secara tidak langsung akan berpengaruh pada jumlah wisatawan semakin berkurang pada tahun 2021 berjumlah 421 orang/hari, penurunan jumlah wisatawan akan berpengaruh pula pada pendapatan wisata selam Ngelengele pada tahun 2021 sebesar Rp. 29,1 milyar dengan biaya perbaikan lingkungan Rp 291 juta.

123 Upaya ke arah perbaikan lingkungan pada tahun-tahun selanjutnya, sehingga jumlah wisatawan pada tahun 2036 meningkat 461 orang/hari.

1: kualitas lingkgelengele saat ini 2: Jumlah wisataelengele saat ini 3: biay a perbaikan lingkungan 1: 2: 3: 1 700 500000000 2 3

3 2

1: 2: 3:

1 500 250000000

3 1

2 1: 2: 3: Page 1 1 300 0 2006.00 1 1 2021.00 Y ears 2

2013.50

2028.50 2036.00 11:08 AM Fri, Dec 25, 2009

Gambar 39 Perilaku Skenario Model Saat ini Wisata Selam Ngelengele dengan Laju Pelestarian KHP 1 %, KAP 1 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 1 % dan Laju Degradasi 4 % Wisata Lamun Ngelengele Simulasi skenario wisata lamun Ngelengele pelestarian KHP 1 %, KAP 1 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 1 % dengan laju degradasi 1 % Simulasi skenario wisata lamun dengan laju pelestarian KHP 1 %, laju pelestarian KAP 1 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 1 % dengan laju degradasi 1 % menggambarkan upaya perbaikan ekologi Ngelengele sebesar 4 % lebih besar daripada laju degradasi sebesar 1%. Hasil simulasi skenario seperti pada (Gambar 40)

menunjukkan kualitas lingkungan ekologi dari tahun-tahun mengarah pada perbaikan sumberdaya sampai pada tahun 2022 kualitas lingkungannya (NKEKLP2K 0,87 kategori baik). Kualitas lingkungan ekologi yang semakin baik, maka akan berdampak pada ekosistem lamun yang merupakan obyek yang menjadi wisata lamun Ngelengele. Keadaan ini di tetap dijaga, maka pada tahun-tahun berikutnya tidak akan terjadi abrasi pantai, dan berdampak pada jumlah wisatawan semakin meningkat sampai melampaui

124 daya dukung kawasan wisata lamun Ngelengele pada tahun 2016 berjumlah 135 orang/hari, saat ini daya dukung kawasan wisata lamun adalah 121 orang/hari dengan luas kawasan wisata lamun Ngelengele yang dapat dimanfaatkan sebesar 4 ha dengan persentase tutupan lamun sebesar 64 %. Peningkatan jumlah wisatawan wisata lamun yang melebihi daya dukung kawasan wisata lamun akan menyebabkan penurunan kualitas lingkungan ekologi yang secara tidak langsung akan berdampak pada pendapatan wisata lamun.
1: kualitas lingkgelengele saat ini 2: Jumlah wisataelengele saat ini 3: biay a perbaikan lingkungan 1: 2: 3: 1 750 600000000 2 1

1 1: 2: 3: 1 400 300000000 2 1

3 3

1 3 1: 2: 3: Page 1 1 50 0 3 2 2006.00 2013.50 2021.00 Y ears 2028.50 2036.00 11:10 AM Fri, Dec 25, 2009 2

Gambar 40 Perilaku Skenario Model Saat ini Wisata lamun Ngelengele dengan Laju Pelestarian KHP 1 %, KAP 1 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 1 % dan Laju Degradasi 1 %

Simulasi skenario wisata lamun Ngelengele pelestarian KHP 1 %, KAP 1 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 1 % dengan laju degradasi 4 % Simulasi skenario wisata lamun Ngelengele dengan laju KHP 1 %, KAP 1 % dan

persentase perbaikan lingkungan ekologi 1 % dengan laju degradasi 4 % menggambarkan laju degradasi lebih besar dari upaya perbaikan lingkungan ekologi. Hasil simulasi

skenario seperti pada (Gambar 41) menunjukkan kualitas lingkungan ekologi Ngelengele mengalami penurunan sampai pada tahun 2021 (NKEKLP2K 0,69 kategori sedang). Penurunan kualitas lingkungan ekologi, akibat dari laju degradasi lebih besar dari upaya perbaikan lingkungan ekologi sehingga menyebabkan jumlah wisatawan lamun

125 Ngelengele berkurang sampai 55 orang/hari pada tahun 2021 dengan pendapatan wisata lamun Ngelengele Rp 3,8 milyar dengan biaya perbaikan lingkungan 38 juta.
1: kualitas lingkgelengele saat ini 2: Jumlah wisataelengele saat ini 3: biay a perbaikan lingkungan 1: 2: 3: 1 90 70000000 2 3

1: 2: 3:

1 65 35000000

1 3 1 3

2 1: 2: 3: Page 1 1 40 0 2006.00 1 1 2021.00 Y ears 2

2013.50

2028.50 2036.00 11:10 AM Fri, Dec 25, 2009

Gambar 41 Perilaku Skenario Model Saat ini Wisata lamun Ngelengele dengan Laju Pelestarian KHP 1 %, KAP 1 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 1 % dan Laju Degradasi 4 % Simulasi Skenario Galogalo Wisata Rekreasi Galogalo Simulasi skenario wisata rekreasi Galogalo pelestarian KHP 1 %, KAP 1 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 1 % dengan laju degradasi 1 % Simulasi skenario dengan laju pelestarian keanekaragaman hayati pulau (KHP) Galogalo 1 %, kealamian pulau (KAP) Galogalo 1 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 1 % dengan laju degradasi 1 % menggambarkan upaya yang dilakukan dalam melestarikan sumberdaya Galogalo, dengan upaya perbaikan lingkungan ekologi Galogalo sebesar 3 % dengan laju degradasi yang terjadi sebesar 1 % pada tahun-tahun ke depan dalam rentan waktu selama 30 tahun. Hasil simulasi skenario (Gambar 42) menunjukan kondisi kualitas lingkungan ekologi Galogalo dari tahun-ketahun semakin membaik. Tahun 2006 sampai tahun 2009 kualitas lingkungan ekologi Gologalo adalah 0,60 (kategori sedang ), pada tahun-tahun ini belum ada upaya pengelolaan sumberdaya Galogalo karena pada tahun-tahun ini baru

126 mulai dianalisa sumberdaya pulau-pulau kecil yang dapat dijadikan suatu kawasan ekowisata, juga diadakan promosi-promosi wisata untuk memperkenalkan kegiatan wisata yang ada. Kualitas lingkungan ekologi Galogalo 0,60 memberikan pengertian bahwa

kondisi saat ini berdasarkan penilaian kriteria ekologi kawasan lindung Galogalo berada dalam keadaan sedang seperti, lamun terdiri 1 3 spesies, persentase penutupan

komunitas karang 43,20%, belum terjadi abrasi pantai dan belum berpenduduk, namun ada beberapa parameter yang memprihatinkan seperti mangrove sangat sedikit dan banyak yang rusak.
1: kualitas lingki Galogalo saat ini 2: Jumlah wisataGalogalo saat ini 3: biay a perbaikan lingkungan 1: 2: 3: 1 400 300000000

1 2 1: 2: 3: 1 200 150000000 3 2 1

1: 2: 3: Page 1

0 0 0

2 3 2013.50

2006.00

2021.00 Y ears

2028.50 2036.00 11:11 AM Fri, Dec 25, 2009

Gambar 42 Perilaku Skenario Model Saat ini Wisata rekreasi Galogalo dengan Laju Pelestarian KHP 1 %, KAP 1 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 1 % dan Laju Degradasi 1 % Semakin membaiknya kualitas lingkungan pada tahun-tahun berikutnya dari tahun 2010 sampai tahun 2021 (NKEKLP2K adalah 0,61 - 0,72) menyebabkan jumlah wisatawan semakin banyak sehingga melampaui daya dukung kawasan rekreasi Galogalo, ini terjadi pada tahun 2018 jumlah wisatawan rekreasi Galogalo mencapai 73 orang/hari, padahal daya dukung kawasan rekreasi Galogalo dengan panjang garis pantainya saat ini 1.563 m adalah 63 orang/hari. Apabila keadaan ini terus berlanjut, maka tahun 2022 terjadi kecenderungan kualitas lingkungan semakin menurun walaupun sampai pada tahun 2026 kualitas lingkungan dalam kategori baik (NKEKLP2K adalah 0,66). Pancapaian keadaan yang

127 baik antara kualitas lingkungan ekologi dan jumlah wisatawan rekreasi Galogalo, belum melampaui daya dukung kawasan rekreasi Galogalo, maka diupayakan kualitas lingkungan ekologi Galogalo dapat dipertahankan sampai pada tahun 2021 dengan kualitas lingkungan ekologi 0.72 dan jumlah wisatawan rekreasi Galogalo pada tahun 2017 adalah 63 orang/hari. Keadaan tersebut di atas memberikan pengertian bahwa harus ada upaya melestarikan sumberdaya Galogalo terutama ekosistem terumbu karang dengan target pencapaian sebelas tahun ke depan (dari tahun 2010-2021) dengan persentase penutupan komunitas karangnya 60 % (kategori sedang KEPMEN LH No 4 2001), berarti tiap tahun persentase penutupan komunitas karang harus bertambah 1,43 % dari persentase penutupan komunitas karang saat ini 43,20 %. Keadaan ini juga akan berpengaruh pada pendapatan wisata rekreasi, semakin bertambahnya jumlah wisatawan berarti semakin meningkat pula pendapatan wisata rekreasi, sehingga pada tahun 2017 pendapatan wisata rekreasi mencapai Rp.4,3 milyar dengan biaya yang dikeluarkan untuk perbaikan lingkungan sebesar Rp.43 juta (1 % dari pendapatan wisata rekreasi Galogalo)

Simulasi skenario wisata rekreasi Galogalo pelestarian KHP 2 %, KAP 2 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 2 % dengan laju degradasi 17 % Simulasi skenario wisata rekreasi Galogalo dengan laju pelestarian KHP 2 %,

KAP 2 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 2 % dengan laju degradasi 17 % menunjukkan laju degradasi lebih besar daripada upaya perbaikan lingkungan ekologi. Upaya perbaikan lingkungan ekologi hanya 6 % bila dibandingkan dengan laju degradasi sebesar 17 %. Hasil simulasi skenario (Gambar 43) menunjukkan telah terjadi penurunan kualitas lingkungan dari keadaan sedang ke buruk, pada tahun 2006-2009 kualitas lingkungan (NKEKLP2K 0,60 kategori sedang) mulai mengalami penurunan pada tahun 2010 (NKEKLP2K 0,53) sampai pada tahun 2016 (NKEKLP2K 0,40 kategori buruk). Kondisi ini mengartikan bahwa terjadi penurunan kualitas lingkungan seperti ekosistem

128 lamun, terumbu karang lebih kecil 20% dan mangrove hampir tidak ada, dan sudah terjadi abrasi pantai sampai lebih besar 50%. Keadaan tersebut berlangsung terus-menerus maka secara tidak langsung akan berpengaruh pada jumlah wisatawan semakin berkurang pada tahun 2016 berjumlah 6 orang/hari, penurunan jumlah wisatawan akan berpengaruh pula pada pendapatan wisata rekreasi Galogalo sebesar Rp. 382 juta dengan biaya perbaikan lingkungan Rp 7,6 juta. Upaya ke arah perbaikan lingkungan pada tahun-tahun selanjutnya, menyebabkan jumlah wisatawan pada tahun 2036 meningkat 23 orang/hari.

1: kualitas lingki Galogalo saat ini 2: Jumlah wisataGalogalo saat ini 3: biay a perbaikan lingkungan 1: 2: 3: 1 40 60000000 2 3

1 1: 2: 3: 1 20 30000000 1 1 2 1: 2: 3: Page 1 0 0 0 2006.00 1 2013.50 3 2 2021.00 Y ears 3 2 3

2028.50 2036.00 11:14 AM Fri, Dec 25, 2009

Gambar 43 Perilaku skenario model saat ini wisata rekreasi Galogalo dengan Laju Pelestarian KHP 2 %, KAP 2 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 2 % dan Laju Degradasi 17 % Wisata Snorkling Galogalo Simulasi skenario wisata snorkling Galogalo pelestarian KHP 1 %, KAP 1 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 1 % dengan laju degradasi 1 % Simulasi skenario wisata snorkling Galogalo dengan laju pelestarian

keanekaragaman hayati pulau (KHP) Galogalo 1 %, kealamian pulau (KAP) Galogalo 1 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 1 % dengan laju degradasi 1 % menggambarkan upaya yang dilakukan dalam melestarikan sumberdaya Galogalo, dengan upaya perbaikan lingkungan ekologi Galogalo sebesar 3 % dengan laju degradasi

129 yang terjadi sebesar 1 % pada tahun-tahun ke depan dalam rentan waktu selama 30 tahun. Hasil simulasi skenario (Gambar 44) menunjukkan kondisi kualitas lingkungan ekologi Galogalo dari tahun-ke tahun semakin membaik, tahun 2006 sampai tahun 2009 kualitas lingkungan ekologi Galogalo adalah 0,60 (kategori sedang), pada tahun ini belum ada upaya pengelolaan sumberdaya Galogalo karena pada tahun-tahun ini baru mulai dianalisa sumberdaya pulau-pulau kecil yang dapat dijadikan suatu kawasan ekowisata, juga diadakan promosi-promosi wisata untuk memperkenalkan kegiatan wisata yang ada. Semakin membaiknya kualitas lingkungan pada tahun-tahun berikutnya dari tahun 2010 sampai tahun 2021 (NKEKLP2K adalah 0,61 - 0,72 kategori sedang ke baik) menyebabkan jumlah wisatawan semakin banyak sehingga melampaui daya dukung kawasan wisata snorkling Galogalo, keadaan ini terjadi pada tahun 2017 jumlah wisatawan wisata snorkling Galogalo mencapai 206 orang/hari, padahal daya dukung kawasan wisata snorkling Galogalo 201 orang/hari dengan persentase penutupan komunitas karang 43,20 % dan kawasan wisata snorkling yang dapat dimanfaatkan sebesar 11 ha. Apabila keadaan ini terus berlanjut, maka pada tahun 2022 terjadi kecenderungan kualitas lingkungan semakin menurun walaupun sampai pada tahun 2026 (NKEKLP2K adalah 0,66). Pencapaian keadaan yang baik antara kualitas lingkungan ekologi dan jumlah wisatawan wisata snorkling Galogalo, belum melampaui daya dukung kawasan wisata snorkling Galogalo, maka diupayakan kualitas lingkungan ekologi Galogalo dapat dipertahankan sampai pada tahun 2021 dengan kualitas lingkungan ekologi 0.72 dan jumlah wisatawan 181 orang/hari. Keadaan tersebut di atas dapat dicapai dengan upaya melestarikan sumberdaya Galogalo sebelas tahun ke depan terutama seperti ekosistem mangrove, padang lamun dan ekosistem terumbu karang dengan target pencapaian persentase penutupan komunitas karangnya 60 % (kategori sedang KEPMEN LH No 4 2001), berarti tiap tahun persentase penutupan komunitas karang harus bertambah 1,53 % dari persentase penutupan komunitas karang saat ini 43,20 %.

130 Keadaan ini juga akan berpengaruh pada pendapatan wisata snorkling Galogalo, semakin bertambahnya jumlah wisatawan berarti semakin meningkat pula pendapatan wisata snorkling Galogalo, sehingga pada tahun 2016 pendapatan wisata snorkling Galogalo mencapai Rp.12,5 milyar dengan biaya yang dikeluarkan untuk perbaikan lingkungan sebesar Rp.125 juta (1 % dari pendapatan wisata snorkling Galogalo)

1: kualitas lingki Galogalo saat ini 2: Jumlah wisataGalogalo saat ini 3: biay a perbaikan lingkungan 1: 2: 3: 1 1000 700000000

1 2 1 3 3 2

1: 2: 3:

1 550 350000000

3 3 1: 2: 3: Page 1 0 100 0 2 2 2006.00 2013.50 2021.00 Y ears 2028.50 2036.00 11:18 AM Fri, Dec 25, 2009

Gambar 44 Perilaku Skenario Model Saat ini Wisata Snorkling Galogalo dengan Laju Pelestarian KHP 1 %, KAP 1 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 1 % dan Laju Degradasi 1 % Simulasi skenario wisata snorkling Galogalo pelestarian KHP 2 %, KAP 2 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 2 % dengan laju degradasi 17 % Simulasi skenario wisata snorkling Galogalo dengan laju pelestarian KHP 2 %, KAP 2 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 2 % dengan laju degradasi 17 % menunjukan laju degradasi lebih besar dari upaya perbaikan lingkungan ekologi. Upaya perbaikan lingkungan ekologi hanya 6 % bila dibandingkan dengan laju degradasi sebesar 17 %. Hasil simulasi skenario (Gambar 45) menunjukkan telah terjadi penurunan kualitas lingkungan dari keadaan sedang ke buruk, pada tahun 2006-2009 kualitas lingkungan (NKEKLP2K 0,60 kategori sedang) mulai mengalami penurunan pada tahun 2010 (NKEKLP2K 0,53) sampai pada tahun 2016 (NKEKLP2K 0,40 kategori buruk).

131 Kondisi ini mengartikan bahwa terjadi penurunan kualitas lingkungan seperti ekosistem lamun, terumbu karang lebih kecil 20 % dan mangrove hampir tidak ada, dan sudah terjadi abrasi pantai sampai lebih besar 50 %. Keadaan tersebut berlangsung terus-menerus maka secara tidak langsung akan berpengaruh pada jumlah wisatawan semakin berkurang pada tahun 2016 berjumlah 18 orang/hari, penurunan jumlah wisatawan akan berpengaruh pula pada pendapatan wisata snorkling Galogalo sebesar Rp. 1,8 milyar dengan biaya perbaikan lingkungan Rp 37 juta. Upaya ke arah perbaikan lingkungan pada tahun-tahun selanjutnya, menyebabkan jumlah wisatawan pada tahun 2036 meningkat 75 orang/hari.

1: kualitas lingki Galogalo saat ini 2: Jumlah wisataGalogalo saat ini 3: biay a perbaikan lingkungan 1: 2: 3: 1 200 200000000 3

2 1: 2: 3: 1 100 100000000 1 1 2

1: 2: 3: Page 1

0 0 0 2006.00

1 2013.50

3 2 2021.00 Y ears 3 2

3 2028.50 2036.00 11:21 AM Fri, Dec 25, 2009

Gambar 45 Perilaku Skenario Model Saat ini Wisata Snorkling Galogalo dengan Laju Pelestarian KHP 2 %, KAP 2 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 2 % dan Laju Degradasi 17 %

Wisata Selam Galogalo Simulasi skenario wisata selam Galogalo pelestarian KHP 1%, KAP 1% dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 1% dengan laju degradasi 1% Simulasi skenario wisata selam Galogalo dengan laju pelestarian KHP 1%, KAP 1 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 1 % dengan laju degradasi 1 % menunjukkan upaya perbaikan lingkungan ekologi lebih besar daripada laju degradasi

132 1 %. Upaya perbaikan lingkungan ekologi 3 % bila dibandingkan dengan laju degradasi sebesar 1 %. Hasil simulasi skenario (Gambar 46) menunjukkan telah terjadi peningkatan kualitas lingkungan dari keadaan sedang ke baik, pada tahun 2006-2009 kualitas lingkungan (NKEKLP2K 0,60 kategori sedang) mulai mengalami penaikan pada tahun 2010 (NKEKLP2K 0.61) sampai pada tahun 2021 (NKEKLP2K 0,72 kategori baik). Kondisi ini mengartikan ada upaya melestarikan sumberdaya Galogalo sama seperti skenario wisata snorkling Galogalo terutama seperti ekosistem mangrove, padang lamun dan ekosistem terumbu karang dengan target pencapaian persentase penutupan komunitas karangnya 60 % (kategori sedang KEPMEN LH No 4 2001), berarti tiap tahun persentase penutupan komunitas karang harus bertambah 2,8 % dari persentase penutupan komunitas karang saat ini 43,20 %.
1: kualitas lingki Galogalo saat ini 2: Jumlah wisataGalogalo saat ini 3: biay a perbaikan lingkungan 1: 2: 3: 1 4000 3e+009.

1 3 1 2 1

1: 2: 3:

1 2000 1.5e+009

2 1: 2: 3: Page 1 0 0 0 2 3

2006.00

2013.50

2021.00 Y ears

2028.50 2036.00 11:22 AM Fri, Dec 25, 2009

Gambar 46 Perilaku Skenario Model Saat ini Wisata Selam Galogalo dengan Laju Pelestarian KHP 1 %, KAP 1 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 1 % dan Laju Degradasi 1 % Keadaan tersebut di atas secara tidak langsung akan berpengaruh pada jumlah wisatawan yang semakin bertambah sampai pada tahun 2016 berjumlah 609 orang/hari, jumlah wisatawan ini belum melampaui daya dukung wisata selam Galogalo yaitu 675 orang/hari dengan luas kawasan wisata selam yang dapat dimanfaatkan 39 ha dengan persentase penutupan komunitas karang 43,20 %. Bertambahnya jumlah wisatawan ini akan berpengaruh pula pada pendapatan wisata selam Galogalo, sehingga pada tahun

133 2015 jumlah wisatawan wisata selam Galogalo sebesar Rp. 37,6 milyar dengan biaya perbaikan lingkungan Rp 376 juta.

Simulasi skenario wisata selam Galogalo pelestarian KHP 2 %, KAP 2 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 2 % dengan laju degradasi 17 % Simulasi skenario wisata selam Galogalo dengan laju pelestarian KHP 2 %, KAP

2 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 2 % dengan laju degradasi 17 % menunjukkan laju degradasi lebih besar daripada upaya perbaikan lingkungan ekologi. Upaya perbaikan lingkungan ekologi hanya 6 % bila dibandingkan dengan laju degradasi sebesar 17 %. Hasil simulasi skenario (Gambar 47) menunjukkan telah terjadi penurunan kualitas lingkungan dari keadaan sedang ke buruk, pada tahun 2006-2009 kualitas lingkungan (NKEKLP2K 0,60 kategori sedang) mulai mengalami penurunan pada tahun 2010 (NKEKLP2K 0,53) sampai pada tahun 2016 (NKEKLP2K 0,40 kategori buruk). Kondisi ini sama seperti simulasi skenario pada wisata snorkling Galogalo mengartikan bahwa terjadi penurunan kualitas lingkungan seperti ekosistem lamun, terumbu karang lebih kecil 20% dan mangrove hampir tidak ada, dan sudah terjadi abrasi pantai sampai lebih besar 50%. Keadaan tersebut berlangsung terus-menerus maka secara tidak langsung akan berpengaruh pada jumlah wisatawan selam Galogalo semakin berkurang pada tahun 2016 berjumlah 60 orang/hari, penurunan jumlah wisatawan akan berpengaruh pula pada pendapatan wisata selam Galogalo sebesar Rp. 4,1 milyar dengan biaya perbaikan lingkungan Rp 83 juta. Upaya ke arah perbaikan lingkungan pada tahun-tahun selanjutnya, menyebabkan jumlah wisatawan selam Galogalo pada tahun 2036 meningkat sampai mencapai 252 orang/hari.

134

1: kualitas lingki Galogalo saat ini 2: Jumlah wisataGalogalo saat ini 3: biay a perbaikan lingkungan 1: 2: 3: 1 500 600000000 2 3

1 1: 2: 3: 1 250 300000000 1 1 2 1: 2: 3: Page 1 0 0 0 2006.00 1 2013.50 3 2 2021.00 Y ears 3 2 2028.50 2036.00 11:24 AM Fri, Dec 25, 2009 3

Gambar 47 Perilaku Skenario Model Saat ini Wisata Selam Galogalo dengan Laju Pelestarian KHP 2 %, KAP 2 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 2 % dan Laju Degradasi 17 % Simulasi Skenario Zumzum Wisata Rekreasi Zumzum Simulasi skenario wisata rekreasi Zumzum pelestarian KHP 2%, KAP 2% dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 3% dengan laju degradasi 1% Simulasi skenario dengan laju pelestarian keanekaragaman hayati pulau (KHP) Zumzum 2 %, kealamian pulau (KAP) Zumzum 2 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 3 % dengan laju degradasi 1 % menggambarkan upaya yang dilakukan dalam melestarikan sumberdaya pulau Zumzum lebih besar daripada laju degradasi, dengan upaya perbaikan lingkungan ekologi Zumzum sebesar 7 % dengan laju degradasi yang terjadi sebesar 1 % pada tahun-tahun ke depan dalam rentan waktu selama 30 tahun. Hasil simulasi skenario (Gambar 48) menunjukan kondisi kualitas lingkungan ekologi pulau Zumzum dari tahun-ke tahun semakin membaik. Tahun 2006 sampai tahun 2009 kualitas lingkungan ekologi Pulau Zumzum adalah 0,48 (kategori sedang ), pada tahun-tahun ini belum ada upaya pengelolaan sumberdaya pulau Zumzum karena pada tahun-tahun ini baru mulai dianalisa sumberdaya pulau-pulau kecil yang dapat dijadikan

135 suatu kawasan ekowisata, juga diadakan promosi-promosi wisata untuk memperkenalkan kegiatan wisata yang ada. Kualitas lingkungan ekologi Pulau Zumzum (NKEKLP2K Zumzum 0.48) memberikan pengertian bahwa kondisi saat ini berdasarkan penilaian kriteria ekologi kawasan lindung Pulau Zumzum berada dalam keadaan sedang artinya berdasarkan kriteria ekologi kawasan lindung pulau Zumzum sumberdaya hayati terutama terumbu karang, persentase komunitas karangnya 41.06 % (kategori sedang KEPMEN LH No 4 2001), mangrove sangat memprihatinkan jumlahnya hanya sedikit, lamunnya masih ada 4-5 jenis, sudah terjadi abrasi pantai masuk dalam kategori sedang 25-50% dan pulau ini belum berpenduduk. Semakin membaiknya kualitas lingkungan pada tahun-tahun berikutnya dari tahun 2010 sampai tahun 2019 (NKEKLP2K adalah 0,51 - 0,74) menyebabkan jumlah wisatawan semakin banyak sehingga melampaui daya dukung kawasan rekreasi Pulau Zumzum, hal ini terjadi pada tahun 2015 jumlah wisatawan rekreasi Pulau Zumzum mencapai 185 orang/hari, padahal daya dukung kawasan rekreasi Pulau Zumzum dengan panjang garis pantainya saat ini 4.078 m adalah 162 orang/hari. Apabila keadaan ini berlanjut terus, maka tahun 2020 terjadi kecenderungan kualitas lingkungan semakin menurun sampai pada tahun 2036 kualitas lingkungan dalam kategori buruk (NKEKLP2K adalah 0,33). Pencapaian keadaan yang baik antara kualitas lingkungan ekologi dan jumlah wisatawan rekreasi Pulau Zumzum, belum melampaui daya dukung kawasan rekreasi Pulau Zumzum, maka diupayakan kualitas lingkungan ekologi Pulau Zumzum dapat dipertahankan sampai pada tahun 2019 dengan kualitas lingkungan ekologi 0.74 dan jumlah wisatawan pada tahun 2014 adalah 139 orang/hari. Keadaaan tersebut di atas dapat dicapai dengan upaya melestarikan sumberdaya Pulau Zumzum terutama ekosistem terumbu karang dengan target pencapaian persentase penutupan komunitas karangnya sembilan tahun ke depan (2019) adalah 60 % (kategori baik KEPMEN LH No 4 2001), berarti tiap tahun persentase penutupan komunitas karang harus bertambah 2,10 % dari persentase penutupan komunitas karang saat ini 41,06 %.

136

1: kualitas linggi Zumzum saat ini 2: Jumlah wisati Zumzum saat ini 3: pendapatan wisata rekreasi 1: 2: 3: 1 3000 2e+011. 1

1 1: 2: 3: 0 1500 1e+011. 1

3 1: 2: 3: Page 1 0 0 0 2 2 2006.00 3 2013.50 2021.00 Y ears

1 2 3 2028.50 2036.00 4:26 PM Fri, Dec 25, 2009

Gambar 48 Perilaku Skenario Model Saat ini Wisata Rekreasi Zumzum dengan Laju Pelestarian KHP 2 %, KAP 2 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 3 % dan Laju Degradasi 1 % Keadaan tersebut di atas tetap dipertahankan akan berpengaruh pada pendapatan wisata rekreasi, semakin bertambahnya jumlah wisatawan berarti semakin meningkat pula pendapatan wisata rekreasi Pulau Zumzum, sehingga pada tahun 2015 pendapatan wisata rekreasi mencapai Rp.11 milyar dengan biaya yang dikeluarkan untuk perbaikan lingkungan sebesar Rp.224 juta (2 % dari pendapatan wisata rekreasi Zumzum)

Simulasi skenario wisata rekreasi Zumzum pelestarian KHP 1 %, KAP 1 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 1 % dengan laju degradasi 7% Simulasi skenario wisata rekrasi Zumzum dengan laju pelestarian KHP 1 %,

KAP 1 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 1 % dengan laju degradasi 7 % menunjukkan laju degradasi lebih besar daripada upaya perbaikan lingkungan ekologi. Upaya perbaikan lingkungan ekologi hanya 3 % bila dibandingkan dengan laju degradasi sebesar 7 %. Hasil simulasi skenario (Gambar 49) menunjukkan telah terjadi penurunan kualitas lingkungan dari keadaan sedang ke buruk, pada tahun 2006-2009 kualitas lingkungan (NKEKLP2K 0,48 kategori sedang) mulai mengalami penurunan pada tahun 2010 (NKEKLP2K 0,46) sampai pada tahun 2019 (NKEKLP2K 0,39 kategori buruk).

137 Kondisi ini mengartikan bahwa terjadi penurunan kualitas lingkungan seperti ekosistem lamun, terumbu karang lebih kecil 20 % dan mangrove hampir tidak ada, dan sudah terjadi abrasi pantai sampai lebih besar 50 %. Keadaan tersebut berlangsung terus-menerus maka secara tidak langsung akan berpengaruh pada jumlah wisatawan semakin berkurang pada tahun 2019 berjumlah 20 orang/hari, penurunan jumlah wisatawan akan berpengaruh pula pada pendapatan wisata rekreasi Zumzum sebesar Rp. 1,4 milyar dengan biaya perbaikan lingkungan Rp 14 juta. Upaya ke arah perbaikan lingkungan pada tahun-tahun selanjutnya, sehingga jumlah wisatawan pada tahun 2036 tetap meningkat sampai mencapai 11 orang/hari.

1: kualitas linggi Zumzum saat ini 2: Jumlah wisati Zumzum saat ini 3: pendapatan wisata rekreasi 1: 2: 3: 1 85 6e+009.

1: 2: 3:

1 45 3e+009.

2 3 1 2 3

1 1: 2: 3: Page 1 0 5 0 2006.00 2013.50

3 2 2028.50 2036.00 4:28 PM Fri, Dec 25, 2009

2021.00 Y ears

Gambar 49 Perilaku Skenario Model Saat ini Wisata Rekreasi Zumzum dengan Laju Pelestarian KHP 1 %, KAP 1 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 1 % dan Laju Degradasi 7 % Wisata Snorkling Zumzum Simulasi skenario wisata snorkling Zumzum pelestarian KHP 2 %, KAP 2 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 3 % dengan laju degradasi 1 % Simulasi skenario wisata snorkling Zumzum dengan laju pelestarian KHP 2 %, KAP 2 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 2 % dengan laju degradasi 1 % menunjukan upaya perbaikan lingkungan ekologi lebih besar 6 % daripada laju degradasi 1 %.

138 Hasil simulasi skenario (Gambar 50) menunjukan telah terjadi peningkatan kualitas lingkungan dari keadaan sedang ke baik, pada tahun 2006-2009 kualitas lingkungan (NKEKLP2K 0,48 kategori sedang) mulai mengalami penaikan sama seperti simulasi skenario wisata rekreasi Zumzum pada tahun 2010 (NKEKLP2K 0,51) sampai pada tahun 2019 (NKEKLP2K 0,74 kategori baik). Kondisi ini mengartikan ada upaya melestarikan sumberdaya pulau Zumzum sembilan tahun ke depan terutama ekosistem mangrove, padang lamun dan terutama ekosistem terumbu karang dengan target

pencapaian persentase penutupan komunitas karangnya 60 % (kategori baik KEPMEN LH No 4 2001), berarti tiap tahun persentase penutupan komunitas karang harus bertambah 2,10 % dari persentase penutupan komunitas karang saat ini 41,06 %.

1: kualitas linggi Zumzum saat ini 2: Jumlah wisat Zumzum saat ini 3: pendapatan wisata snorkling 1: 2: 3: 1 4000 3e+011. 1 2 1 1: 2: 3: 0 2000 1.5e+011 1

1: 2: 3: Page 1

0 0 0

2 2006.00

3 2013.50

1 2 3 2028.50 2036.00 4:31 PM Fri, Dec 25, 2009

2021.00 Y ears

Gambar 50 Perilaku Skenario Model Saat ini Wisata Snorkling Zumzum dengan Laju Pelestarian KHP 2 %, KAP 2 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 3 % dan Laju Degradasi 1 % Keadaan tersebut di atas secara tidak langsung akan berpengaruh pada jumlah wisatawan yang semakin bertambah sampai pada tahun 2014 berjumlah 146 orang/hari, jumlah wisatawan ini belum melampaui daya dukung wisata snorkling Zumzum yaitu 171 orang/hari dengan luas kawasan wisata selam yang dapat dimanfaatkan 10 ha dengan persentase penutupan komunitas karang 41,06 %. Bertambahnya jumlah wisatawan ini akan berpengaruh pula pada pendapatan wisata snorkling Zumzum, sehingga pada tahun 2014 pendapatan wisata snorkling Zumzum sebesar Rp. 10,1 milyar dengan biaya

139 perbaikan lingkungan Rp 304 juta. (2 % dari biaya pendapatan wisata snorkling Zumzum)

Simulasi skenario wisata snorkling Zumzum pelestarian KHP 1 %, KAP 1 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 1 % dengan laju degradasi 7 % Simulasi skenario wisata snorkling Zumzum dengan laju pelestarian KHP 1 %,

KAP 1 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 1 % dengan laju degradasi 7 % menunjukkan laju degradasi lebih besar daripada upaya perbaikan lingkungan ekologi. Upaya perbaikan lingkungan ekologi hanya 3 % bila dibandingkan dengan laju degradasi sebesar 7 %. Hasil simulasi skenario (Gambar 51) menunjukkan telah terjadi penurunan kualitas lingkungan sama seperti pada simulasi skenario wisata snorkling Zumzum dari keadaan sedang ke buruk, pada tahun 2006-2009 kualitas lingkungan (NKEKLP2K 0,48 kategori sedang) mulai mengalami penurunan pada tahun 2010 (NKEKLP2K 0,46) sampai pada tahun 2019 (NKEKLP2K 0,39 kategori buruk). Kondisi ini mengartikan bahwa terjadi penurunan kualitas lingkungan seperti ekosistem lamun, terumbu karang lebih kecil 20 % dan mangrove hampir tidak ada, dan sudah terjadi abrasi pantai sampai lebih besar 50 %. Keadaan tersebut berlangsung terus-menerus maka secara tidak langsung akan berpengaruh pada jumlah wisatawan semakin berkurang pada tahun 2019 berjumlah 21 orang/hari, penurunan jumlah wisatawan akan berpengaruh pula pada pendapatan wisata snorkling Zumzum sebesar Rp. 1,4 milyar dengan biaya perbaikan lingkungan Rp 14 juta. Upaya ke arah perbaikan lingkungan pada tahun-tahun selanjutnya,

menyebabkan jumlah wisatawan pada tahun 2036 meningkat sampai mencapai 11 orang/hari.

140

1: kualitas linggi Zumzum saat ini 2: Jumlah wisat Zumzum saat ini 3: pendapatan wisata snorkling 1: 2: 3: 1 85 6e+009. 2 3

1: 2: 3:

1 45 3e+009.

2 3 1 2 3

1 1: 2: 3: Page 1 0 5 0 2006.00 2013.50

3 2 2028.50 2036.00 4:32 PM Fri, Dec 25, 2009

2021.00 Y ears

Gambar 51 Perilaku Skenario Model Saat ini Wisata Snorkling Zumzum dengan Laju Pelestarian KHP 1 %, KAP 1 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 1 % dan Laju Degradasi 7 % Wisata Selam Zumzum Simulasi skenario wisata selam Zumzum pelestarian KHP 2 %, KAP 2 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 3 % dengan laju degradasi 1 % Simulasi skenario wisata selam Zumzum dengan laju pelestarian KHP 2 %, KAP 2 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 3 % dengan laju degradasi 1 % menunjukan upaya perbaikan lingkungan ekologi lebih besar 7 % daripada laju degradasi 1 %. Hasil simulasi skenario (Gambar 52) sama seperti hasil simulasi skenario wisata rekreasi, snorkling Zumzum menunjukkan telah terjadi peningkatan kualitas lingkungan dari keadaan sedang ke baik, pada tahun 2006-2009 kualitas lingkungan (NKEKLP2K 0,48 kategori sedang), namun mulai mengalami penaikan pada tahun 2010 (NKEKLP2K 0.51) sampai pada tahun 2019 (NKEKLP2K 0,74 kategori baik). Kondisi ini

mengartikan ada upaya melestarikan sumberdaya pulau Zumzum sembilan tahun ke depan terutama ekosistem mangrove, padang lamun dapat mencapai 4-5 jenis dan

terutama ekosistem terumbu karang dengan target pencapaian persentase penutupan komunitas karangnya 60 % (kategori baik KEPMEN LH No 4 2001), berarti tiap tahun

141 persentase penutupan komunitas karang harus bertambah 2,10 % dari persentase penutupan komunitas karang saat ini 41,06 %.
1: kualitas lingi Zumzum saat ini 2: Jumlah wisat Zumzum saat ini 3: biay a perbaikan lingkungan 1: 2: 3: 1 8000 2e+010. 1 2

1 1: 2: 3: 0 4000 1e+010. 1 3

3 1: 2: 3: Page 1 0 0 0 2 2 2006.00 3 2013.50 2021.00 Y ears

1 2 3 2028.50 2036.00 4:34 PM Fri, Dec 25, 2009

Gambar 52 Perilaku Skenario Model Saat ini Wisata Selam Zumzum dengan Laju Pelestarian KHP 2 %, KAP 2 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 3 % dan Laju Degradasi 1 % Keadaan tersebut di atas secara tidak langsung akan berpengaruh pada jumlah wisatawan yang semakin bertambah sampai pada tahun 2015 sudah melampaui jumlah wisatawan wisata selam pulau Zumzum berjumlah 513 orang/hari, padahal daya dukung jumlah wisatawan wisata selam pulau Zumzum adalah 450 orang/hari dengan luas kawasan wisata selam pulau Zumzum yang dapat dimanfaatkan 27 ha dengan persentase penutupan komunitas karang 41,06 %. Bertambahnya jumlah wisatawan ini akan

berpengaruh pula pada pendapatan wisata selam pulau Zumzum, sehingga pada tahun 2014 pendapatan wisata selam pulau Zumzum sebesar Rp. 26 milyar dengan biaya perbaikan lingkungan Rp 801 juta. (3 % dari biaya pendapatan wisata selam Pulau Zumzum).

142 Simulasi skenario wisata selam Zumzum pelestarian KHP 1 %, KAP 1 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 1 % dengan laju degradasi 7 % Simulasi skenario wisata selam Zumzum dengan laju pelestarian KHP 1 %, KAP 1% dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 1 % dengan laju degradasi 7 % menunjukan upaya perbaikan lingkungan ekologi lebih besar 3% daripada laju degradasi 7%. Hasil simulasi skenario (Gambar 53) menunjukkan telah terjadi penurunan kualitas lingkungan sama seperti pada simulasi skenario wisata rekreasi, snorkling Pulau Zumzum dari keadaan sedang ke buruk, pada tahun 2006-2009 kualitas lingkungan (NKEKLP2K 0,48 kategori sedang) mulai mengalami penurunan pada tahun 2010 (NKEKLP2K 0,46) sampai pada tahun 2019 (NKEKLP2K 0,39 kategori buruk). Kondisi ini mengartikan bahwa terjadi penurunan kualitas lingkungan seperti ekosistem lamun 1-3 jenis, terumbu karang lebih kecil 20 % dan mangrove hampir tidak ada, dan sudah terjadi abrasi pantai sampai lebih besar 50 %.
1: kualitas lingi Zumzum saat ini 2: Jumlah wisat Zumzum saat ini 3: biay a perbaikan lingkungan 1: 2: 3: 1 300 200000000

1: 2: 3:

1 150 100000000

1 2 3 1 1 2 3

1: 2: 3: Page 1

0 0 0 2006.00 2013.50 2021.00 Y ears

2028.50 2036.00 4:36 PM Fri, Dec 25, 2009

Gambar 53 Perilaku Skenario Model Saat ini Wisata Selam Zumzum dengan Laju Pelestarian KHP 1 %, KAP 1 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 1 % dan Laju Degradasi 7 % Keadaan tersebut berlangsung terus-menerus maka secara tidak langsung akan berpengaruh pada jumlah wisatawan semakin berkurang pada tahun 2019 berjumlah 54 orang/hari, penurunan jumlah wisatawan akan berpengaruh pula pada pendapatan

143 wisata selam Zumzum sebesar Rp. 3,7 milyar dengan biaya perbaikan lingkungan Rp 37 juta. Upaya ke arah perbaikan lingkungan pada tahun-tahun selanjutnya,

menyebabkan jumlah wisatawan pada tahun 2036 tetap meningkat sampai mencapai 30 orang/hari.

Wisata Lamun Zumzum Simulasi skenario wisata lamun Zumzum pelestarian KHP 2 %, KAP 2 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 3 % dengan laju degradasi 1 % Simulasi skenario wisata lamun Zumzum dengan laju pelestarian KHP 2 %, KAP 2 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 3 % dengan laju degradasi 1 % menunjukkan upaya perbaikan lingkungan ekologi lebih besar 7 % daripada laju degradasi 1%. Hasil simulasi skenario (Gambar 54) menunjukkan telah terjadi peningkatan kualitas lingkungan dari keadaan sedang ke baik, pada tahun 2006-2009 kualitas lingkungan (NKEKLP2K 0,48 kategori sedang), pada tahun 2010 (NKEKLP2K 0.51) sampai pada tahun 2019 (NKEKLP2K 0,74 kategori baik). Kondisi ini mengartikan ada upaya melestarikan sumberdaya pulau Zumzum sembilan tahun ke depan terutama ekosistem mangrove, padang lamun dan ekosistem terumbu karang dengan target pencapaian persentase penutupan komunitas karangnya 60 % (kategori baik KEPMEN LH No 4 2001), berarti tiap tahun persentase penutupan komunitas karang harus bertambah 2,10% dari persentase penutupan komunitas karang saat ini 41,06 %. Keadaan tersebut di atas secara tidak langsung akan berpengaruh pada jumlah wisatawan yang semakin bertambah sampai pada tahun 2014 berjumlah 89 orang/hari, jumlah wisatawan ini belum melampaui daya dukung wisata selam Zumzum yaitu 105 orang/hari dengan luas kawasan wisata lamun yang dapat dimanfaatkan 4 ha dengan persentase tutupan lamun 61%. Bertambahnya jumlah wisatawan ini akan berpengaruh pula pada pendapatan wisata lamun Pulau Zumzum, sehingga pada tahun 2014 pendapatan wisata lamun Pulau Zumzum sebesar Rp. 6,1 milyar dengan biaya perbaikan lingkungan Rp 185 juta. (3 % dari biaya pendapatan wisata Pulau Zumzum)

144

1: kualitas linggi Zumzum saat ini 2: Jumlah wisat Zumzum saat ini 3: biay a perbaikan lingkungan 1: 2: 3: 1 2000 4e+009. 2 1

1 1: 2: 3: 0 1000 2e+009. 1 3

3 1: 2: 3: Page 1 0 0 0 2 2 2006.00 3 2013.50 2021.00 Y ears

1 2 3 2028.50 2036.00 4:37 PM Fri, Dec 25, 2009

Gambar 54 Perilaku Skenario Model Saat ini Wisata Lamun Zumzum dengan Laju Pelestarian KHP 2 %, KAP 2 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 3 % dan Laju Degradasi 1 %

Simulasi skenario wisata lamun Zumzum pelestarian KHP 1 %, KAP 1 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 1 % dengan laju degradasi 7 % Simulasi skenario wisata lamun Pulau Zumzum dengan laju pelestarian KHP

1 %, KAP 1 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 1 % dengan laju degradasi 7 % menunjukkan upaya perbaikan lingkungan ekologi lebih kecil 3 % daripada laju degradasi 7 %. Hasil simulasi skenario (Gambar 55) menunjukkan telah terjadi penurunan kualitas lingkungan sama seperti pada simulasi skenario wisata rekreasi, snorkling, dan selam pulau Zumzum dari keadaan sedang ke buruk, pada tahun 2006-2009 kualitas lingkungan (NKEKLP2K 0,48 kategori sedang) mulai mengalami penurunan pada tahun 2010 (NKEKLP2K 0,46 kategori sedang) sampai pada tahun 2019 (NKEKLP2K 0,39 kategori buruk), kondisi ini mengartikan bahwa terjadi penurunan kualitas lingkungan seperti ekosistem lamun, terumbu karang lebih kecil 20 % dan mangrove hampir tidak ada, dan sudah terjadi abrasi pantai sampai lebih besar 50 %.

145

1: kualitas linggi Zumzum saat ini 2: Jumlah wisat Zumzum saat ini 3: biay a perbaikan lingkungan 1: 2: 3: 1 50 40000000 2 3

1: 2: 3:

1 25 20000000

2 1 3 1 1 2 3 2 3 1

1: 2: 3: Page 1

0 0 0 2006.00 2013.50 2021.00 Y ears

2028.50 2036.00 4:38 PM Fri, Dec 25, 2009

Gambar 55 Perilaku Skenario Model Saat ini Wisata Lamun Zumzum dengan Laju Pelestarian KHP 1 %, KAP 1 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 1 % dan Laju Degradasi 7 % Keadaan tersebut berlangsung terus-menerus maka secara tidak langsung akan berpengaruh pada jumlah wisatawan lamun semakin berkurang pada tahun 2019 berjumlah 13 orang/hari, penurunan jumlah wisatawan akan berpengaruh pula pada pendapatan wisata lamun Pulau Zumzum sebesar Rp. 871 juta dengan biaya perbaikan lingkungan Rp 8,7 juta. Upaya ke arah perbaikan lingkungan pada tahun-tahun

selanjutnya, menyebabkan jumlah wisatawan pada tahun 2036 meningkat sampai mencapai 7 orang/hari. Simulasi Skenario Ruberube Wisata Rekreasi Ruberube Simulasi skenario wisata rekreasi Ruberube pelestarian KHP 1 %, KAP 1 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 2 % dengan laju degradasi 1 % Simulasi skenario dengan laju pelestarian keanekaragaman hayati pulau (KHP) Ruberube 1 %, kealamian pulau (KAP) Ruberube 1 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 2 % dengan laju degradasi 1 % menggambarkan upaya yang dilakukan dalam melestarikan sumberdaya pulau Ruberube lebih besar daripada laju

146 degradasi, dengan upaya perbaikan lingkungan ekologi Ruberube sebesar 4 % dengan laju degradasi yang terjadi sebesar 1 % pada tahun-tahun ke depan dalam rentan waktu selama 30 tahun. Hasil simulasi skenario (Gambar 56) menunjukan kondisi kualitas lingkungan ekologi pulau Ruberube dari tahun-ketahun semakin membaik, tahun 2006 sampai tahun 2009 kualitas lingkungan ekologi Pulau Ruberube adalah 0,56 (kategori sedang ), pada tahun-tahun ini belum ada upaya pengelolaan sumberdaya Pulau Ruberube karena pada tahun-tahun ini baru mulai dianalisa sumberdaya pulau-pulau kecil yang dapat dijadikan suatu kawasan ekowisata, juga diadakan promosi-promosi wisata untuk memperkenalkan kegiatan wisata yang ada. Kualitas lingkungan ekologi Pulau Ruberube (NKEKLP2K Ruberube 0.56) memberikan pengertian bahwa kondisi saat ini berdasarkan penilaian kriteria ekologi kawasan lindung Pulau Ruberube berada dalam keadaan sedang artinya berdasarkan kriteria ekologi kawasan lindung pulau Ruberube sumberdaya hayati terutama terumbu karang, persentase komunitas karangnya 29,30 % (kategori sedang KEPMEN LH No 4 2001), mangrove sangat memprihatinkan jumlahnya hanya sedikit, lamunnya masih ada 4-5 jenis, sudah terjadi abrasi pantai masuk dalam kategori sedang 25-50 %. Semakin membaiknya kualitas lingkungan pada tahun-tahun berikutnya dari tahun 2010 sampai tahun 2021 (NKEKLP2K adalah 0,58 - 0,72) menyebabkan jumlah wisatawan semakin banyak sehingga melampaui daya dukung kawasan rekreasi Pulau Ruberube, hal ini terjadi pada tahun 2016 jumlah wisatawan rekreasi pulau Ruberube mencapai 105 orang/hari, padahal daya dukung kawasan rekreasi pulau Ruberube dengan panjang garis pantainya saat ini 2.556 m adalah102 orang/hari. Apabila keadaan ini berlanjut terus, maka tahun 2022 terjadi kecenderungan kualitas lingkungan semakin menurun sampai pada tahun 2026 kualitas lingkungan

dalam kategori buruk (NKEKLP2K adalah 0,54). Pencapaian keadaan yang baik antara kualitas lingkungan ekologi dan jumlah wisatawan rekreasi Pulau Ruberube, belum melampaui daya dukung kawasan rekreasi Pulau Ruberube, maka diupayakan kualitas lingkungan ekologi Pulau Ruberube dapat dipertahankan sampai pada tahun 2021 dengan kualitas lingkungan ekologi 0.72 dan jumlah wisatawan tidak melebihi daya dukung kawasan wisata rekreasi Pulau Ruberube.

147 Keadaan tersebut di atas dapat dicapai dengan upaya melestarikan sumberdaya Pulau Ruberube terutama ekosistem terumbu karang dengan target pencapaian persentase penutupan komunitas karangnya 11 tahun ke depan (2021) adalah 60 % (kategori baik KEPMEN LH No 4 2001), berarti tiap tahun persentase penutupan komunitas karang harus bertambah 2,79 % dari persentase penutupan komunitas karang saat ini 29,30 %.
1: kualitas ling Ruberube saat ini 2: Jumlah wisatRuberube saat ini 3: pendapatan wisata rekreasi 1: 2: 3: 1 800 6e+010.

1 3 1 2

1: 2: 3:

1 400 3e+010.

2 1: 2: 3: Page 1 0 0 0 2 2006.00 3 2013.50

3 1

2021.00 Y ears

2028.50 2036.00 4:40 PM Fri, Dec 25, 2009

Gambar 56 Perilaku Skenario Model Saat ini Wisata Rekreasi Ruberube dengan Laju Pelestarian KHP 1 %, KAP 1 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 2 % dan Laju Degradasi 1 % Keadaan ini juga akan berpengaruh pada pendapatan wisata rekreasi Ruberube, semakin bertambahnya jumlah wisatawan berarti semakin meningkat pula pendapatan wisata rekreasi Ruberube, sehingga pada tahun 2015 pendapatan wisata rekreasi mencapai Rp. 6,1 milyar dengan biaya yang dikeluarkan untuk perbaikan lingkungan sebesar Rp.122 juta (2 % dari pendapatan wisata rekreasi Ruberube) Simulasi skenario wisata rekreasi Ruberube pelestarian KHP 2 %, KAP 2 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 2 % dengan laju degradasi 15 % Simulasi skenario wisata rekreasi Ruberube dengan laju pelestarian KHP 2 %, KAP 2 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 2 % dengan laju degradasi 15 % menunjukan laju degradasi lebih besar daripada upaya perbaikan lingkungan ekologi.

148 Upaya perbaikan lingkungan ekologi hanya 6 % bila dibandingkan dengan laju degradasi sebesar 15 %. Hasil simulasi skenario (Gambar 57) menunjukan telah terjadi penurunan kualitas lingkungan dari keadaan sedang ke buruk, pada tahun 2006-2009 kualitas lingkungan (NKEKLP2K 0,56 kategori sedang) mulai mengalami penurunan pada tahun 2010 (NKEKLP2K 0,51) sampai pada tahun 2015 (NKEKLP2K 0,39 kategori buruk). Kondisi ini mengartikan bahwa terjadi penurunan kualitas lingkungan seperti ekosistem lamun, terumbu karang lebih kecil 20 % dan mangrove hampir tidak ada, dan sudah terjadi abrasi pantai sampai lebih besar 50 %. Keadaan tersebut berlangsung terus-menerus maka secara tidak langsung akan berpengaruh pada jumlah wisatawan semakin berkurang pada tahun 2015 berjumlah 17 orang/hari, penurunan jumlah wisatawan akan berpengaruh pula pada pendapatan wisata rekreasi Ruberube sebesar Rp. 1,1 milyar dengan biaya perbaikan lingkungan Rp 23 juta. Upaya ke arah perbaikan lingkungan pada tahun-tahun selanjutnya, menyebabkan jumlah wisatawan pada tahun 2036 meningkat sampai mencapai 67 orang/hari

1: kualitas ling Ruberube saat ini 2: Jumlah wisatRuberube saat ini 3: pendapatan wisata rekreasi 1: 2: 3: 1 70 5e+009. 2 3 1 1: 2: 3: 1 35 2.5e+009 1 1 2 1: 2: 3: Page 1 0 0 0 2006.00 1 2013.50 3 2 2021.00 Y ears 3 2028.50 2036.00 4:55 PM Fri, Dec 25, 2009 2 3

Gambar 57 Perilaku Skenario Model Saat ini Wisata Rekreasi Ruberube dengan Laju Pelestarian KHP 2 %, KAP 2 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 2 % dan Laju Degradasi 15 %

149 Wisata Snorkling Ruberube Simulasi skenario wisata snorkling Ruberube pelestarian KHP 1 %, KAP 1 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 2 % dengan laju degradasi 1 % Simulasi skenario wisata snorkling Ruberube dengan laju pelestarian KHP 1 %, KAP 1 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 2 % dengan laju degradasi 1 % menunjukan upaya perbaikan lingkungan ekologi lebih besar 4 % dari laju degradasi 1 %. Hasil simulasi skenario (Gambar 58) menunjukkan telah terjadi peningkatan kualitas lingkungan dari keadaan sedang ke baik, pada tahun 2006-2009 kualitas lingkungan (NKEKLP2K 0,56 kategori sedang) mulai mengalami penaikan, pada tahun 2010 (NKEKLP2K 0.58) sampai pada tahun 2021 (NKEKLP2K 0,72 kategori baik). Kondisi ini mengartikan ada upaya melestarikan sumberdaya Pulau Ruberube sebelas tahun ke depan terutama ekosistem mangrove, padang lamun dan ekosistem terumbu karang dengan target pencapaian persentase penutupan komunitas karangnya 60 % (kategori baik KEPMEN LH No 4 2001), berarti tiap tahun persentase penutupan komunitas karang harus bertambah 2,79 % dari persentase penutupan komunitas karang saat ini 29,30 %.
1: kualitas ling Ruberube saat ini 2: Jumlah wisatRuberube saat ini 3: pendapatan wisata snorkling 1: 2: 3: 1 400 3e+010.

1 2 1: 2: 3: 1 200 1.5e+010 1

1: 2: 3: Page 1

0 0 0

2 2 2006.00 3 2013.50

2021.00 Y ears

2028.50 2036.00 5:01 PM Fri, Dec 25, 2009

Gambar 58 Perilaku Skenario Model Saat ini Wisata Snorkling Ruberube dengan Laju Pelestarian KHP 1 %, KAP 1 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 2 % dan Laju Degradasi 1 %

150 Keadaan tersebut di atas secara tidak langsung akan berpengaruh pada jumlah wisatawan yang semakin bertambah sampai pada tahun 2015 berjumlah 39 orang/hari, jumlah wisatawan ini belum melampaui daya dukung wisata snorkling Ruberube yaitu 45 orang/hari dengan luas kawasan wisata selam yang dapat dimanfaatkan 4 ha dengan persentase penutupan komunitas karang 29,30 %. Bertambahnya jumlah wisatawan ini akan berpengaruh pula pada pendapatan wisata snorkling Ruberube, sehingga pada tahun 2015 pendapatan wisata snorkling Ruberube sebesar Rp. 2,7 milyar dengan biaya perbaikan lingkungan Rp 54 juta. (2 % dari biaya pendapatan wisata snorkling Ruberube) Simulasi skenario wisata snorkling Ruberube pelestarian KHP 2%, KAP 2 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 2 % dengan laju degradasi 15 % Simulasi skenario wisata snorkling Ruberube dengan laju pelestarian KHP 2 %, KAP 2 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 2 % dengan laju degradasi 15 % menunjukkan laju degradasi lebih besar daripada upaya perbaikan lingkungan ekologi. Upaya perbaikan lingkungan ekologi hanya 6 % bila dibandingkan dengan laju degradasi sebesar 15 %. Hasil simulasi skenario (Gambar 59) menunjukkan telah terjadi penurunan kualitas lingkungan dari keadaan sedang ke buruk, pada tahun 2006-2009 kualitas lingkungan (NKEKLP2K 0,56 kategori sedang) mulai mengalami penurunan pada tahun 2010 (NKEKLP2K 0,51) sampai pada tahun 2015 (NKEKLP2K 0,39 kategori buruk). Kondisi ini mengartikan bahwa terjadi penurunan kualitas lingkungan seperti ekosistem lamun, terumbu karang lebih kecil 20 % dan mangrove hampir tidak ada, dan sudah terjadi abrasi pantai sampai lebih besar 50 %.

151

1: kualitas ling Ruberube saat ini 2: Jumlah wisatRuberube saat ini 3: pendapatan wisata snorkling 1: 2: 3: 1 30 3e+009. 2

1 3 1: 2: 3: 1 15 1.5e+009 1 1 2 1: 2: 3: Page 1 0 0 0 2006.00 1 2013.50 3 2 2021.00 Y ears 3 2028.50 2036.00 5:03 PM Fri, Dec 25, 2009 2 3

Gambar 59 Perilaku Skenario Model Saat ini Wisata Snorkling Ruberube dengan Laju Pelestarian KHP 2 %, KAP 2 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 2 % dan Laju Degradasi 15 %

Keadaan tersebut berlangsung terus-menerus maka secara tidak langsung akan berpengaruh pada jumlah wisatawan semakin berkurang pada tahun 2015 berjumlah 7 orang/hari, penurunan jumlah wisatawan akan berpengaruh pula pada pendapatan wisata snorkling Ruberube sebesar Rp. 509 juta dengan biaya perbaikan lingkungan Rp 10 juta. Upaya ke arah perbaikan lingkungan pada tahun-tahun selanjutnya, menyebabkan jumlah wisatawan pada tahun 2036 meningkat 29 orang/hari.

Wisata Selam Ruberube Simulasi skenario wisata selam Ruberube pelestarian KHP 1 %, KAP 1 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 2 % dengan laju degradasi 1 % Simulasi skenario wisata selam Ruberube dengan laju pelestarian KHP 1 %, KAP 1% dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 2 % dengan laju degradasi 1 % menunjukan upaya perbaikan lingkungan ekologi lebih besar 4 % daripada laju degradasi 1 %. Hasil simulasi skenario (Gambar 60) sama seperti simulasi skenario wisata snorkling Ruberube menunjukkan telah terjadi peningkatan kualitas lingkungan dari

152 keadaan sedang ke baik, pada tahun 2006-2009 kualitas lingkungan (NKEKLP2K 0,56 kategori sedang) mulai mengalami penaikan, pada tahun 2010 (NKEKLP2K 0.58) sampai pada tahun 2021 (NKEKLP2K 0,72 kategori baik). Kondisi ini mengartikan ada upaya melestarikan sumberdaya Pulau Ruberube sebelas tahun ke depan terutama ekosistem mangrove, padang lamun dan ekosistem terumbu karang dengan target pencapaian persentase penutupan komunitas karangnya 60% (kategori baik KEPMEN LH No 4 2001), berarti tiap tahun persentase penutupan komunitas karang harus bertambah 2,79 % dari persentase penutupan komunitas karang saat ini 29,30 %.
1: kualitas ling Ruberube saat ini 2: Jumlah wisatRuberube saat ini 3: pendapatan wisata selam 1: 2: 3: 1 2000 8e+010.

1 3 1

1: 2: 3:

1 1000 4e+010.

1 2

2 3 1: 2: 3: Page 1 0 0 0 2 2006.00 3 2013.50 2 2021.00 Y ears 1

2028.50 2036.00 5:06 PM Fri, Dec 25, 2009

Gambar 60 Perilaku Skenario Model Saat ini Wisata Selam Ruberube dengan Laju Pelestarian KHP 1 %, KAP 1 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 2% dan Laju Degradasi 1 % Keadaan tersebut di atas secara tidak langsung akan berpengaruh pada jumlah wisatawan yang semakin bertambah sampai pada tahun 2015 berjumlah 121 orang/hari, jumlah wisatawan ini belum melampaui daya dukung wisata snorkling Ruberube yaitu 140 orang/hari dengan luas kawasan wisata selam yang dapat dimanfaatkan 12 ha dengan persentase penutupan komunitas karang 29,30%. Bertambahnya jumlah wisatawan ini akan berpengaruh pula pada pendapatan wisata selam Ruberube, sehingga pada tahun 2015 pendapatan wisata selam Ruberube sebesar Rp. 8,4 milyar dengan biaya perbaikan lingkungan Rp 167 juta. (2 % dari biaya pendapatan wisata selam Ruberube)

153 Simulasi skenario wisata selam Ruberube pelestarian KHP 2 %, KAP 2 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 2 % dengan laju degradasi 15 % Simulasi skenario wisata selam Ruberube dengan laju pelestarian KHP 2%, KAP 2% dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 2 % dengan laju degradasi 15% menunjukan laju degradasi lebih besar dari upaya perbaikan lingkungan ekologi. Upaya perbaikan lingkungan ekologi hanya 6% bila dibandingkan dengan laju degradasi sebesar 15%. Hasil simulasi skenario (Gambar 61) sama seperti simulasi skenario wisata snorkling Ruberube menunjukkan telah terjadi penurunan kualitas lingkungan dari keadaan sedang ke buruk, pada tahun 2006-2009 kualitas lingkungan (NKEKLP2K 0,56 kategori sedang) mulai mengalami penurunan pada tahun 2010 (NKEKLP2K 0,51) sampai pada tahun 2015 (NKEKLP2K 0,39 kategori buruk). Kondisi ini mengartikan bahwa terjadi penurunan kualitas lingkungan seperti ekosistem lamun, terumbu karang lebih kecil 20 % dan mangrove hampir tidak ada, dan sudah terjadi abrasi pantai sampai lebih besar 50 %.

1: kualitas ling Ruberube saat ini 2: Jumlah wisatRuberube saat ini 3: pendapatan wisata selam 1: 2: 3: 1 100 7e+009. 2 3 1 1: 2: 3: 1 50 3.5e+009 1 1 2 1: 2: 3: Page 1 0 0 0 2006.00 1 2013.50 3 2 2021.00 Y ears 3 2028.50 2036.00 5:15 PM Fri, Dec 25, 2009 2 3

Gambar 61 Perilaku Skenario Model Saat ini Wisata Selam Ruberube dengan Laju Pelestarian KHP 2 %, KAP 2 %, Persentase Perbaikan Lingkungan Ekologi 2 % dan Laju Degradasi 15 %

154 Keadaan tersebut berlangsung terus-menerus maka secara tidak langsung akan berpengaruh pada jumlah wisatawan semakin berkurang pada tahun 2015 berjumlah 23 orang/hari, penurunan jumlah wisatawan akan berpengaruh pula pada pendapatan wisata selam Ruberube sebesar Rp. 1,5 milyar dengan biaya perbaikan lingkungan Rp 31 juta. Upaya ke arah perbaikan lingkungan pada tahun-tahun selanjutnya,

menyebabkan jumlah wisatawan pada tahun 2036 meningkat 91 orang/hari. 5.6 Arahan Pengelolaan Kawasan Pulau-Pulau Kecil Untuk Pemanfaatan Ekowisata Berkelanjutan Pengelolaan KP2K MS2B untuk pemanfaatan ekowisita berkelanjutan dalam bentuk zona inti, zona pemanfaatan terbatas dan zona penyangga, harus di wujudkan oleh semua pihak dalam rangka melindungi habitat-habitat yang kritis, mempertahankan keanekaragaman hayati, melindungi lokasi-lokasi yang bernilai sejarah dan budaya, menyediakan lokasi rekreasi dan pariwisata, serta mempromosikan pembangunan kelautan berkelanjutan. Tindakan yang direkomendasikan sebagai berikut : Peningkatan kesadaran masyarakat dalam melestarikan KP2K MS2B melalui penyuluhan peningkatan kualitas SDM baik formal maupun tidak formal. Pelibatan masyarakat dalam proses perencanaan seperti : penetapan tata ruang termasuk zonasi, pengembangan usaha-usaha ekonomi masyarakat dan

pengembangan wisata di KP2K MS2B yang diagendakan oleh pemerintah setempat. Proses partisipasi masyarakat yang dinilai efektif adalah dengan

pertemuan melalui metode FGD (focus group discussion) melibatkan unsur masyarakat, instansi pemerintah terkait, dan pengguna atau stakehorders dalam setiap rencana pengelolaan KP2K MS2B untuk pemanfaatan ekowisata berkelanjutan. Sesuai dengan analisis kesesuaian lahan untuk ekowisata, yang meliputi ekowisata pantai kategori wisata rekreasi, ekowisata bahari kategori wisata snorkling, selam dan lamun, memperhatikan daya dukung kawasan ekowisata atau jumlah maksimum individu/wisatawan yang dapat ditampung oleh kawasan tersebut tanpa

mengakibatkan kerusakan sumberdaya. Daya dukung pengunjung ditujukan pada pengembangan ekowisata dengan memanfaatkan potensi pulau-pulau kecil, pantai

155 dan perairan, dengan pengembangan wisata alam tidak bersifat turis massal, mudah rusak dan ruang untuk pengunjung sangat terbatas. Untuk kegiatan ekowisata pantai diasumsikan setiap orang membutuhkan 50 m panjang pantai, karena pengunjung akan melakukan berbagai aktivitas yang memerlukan ruang yang luas, seperti berjemur, berjalan-jalan, menikmati panorama alam, memancing, berenang sekitar pulau dan lain-lain, sedangkan ekowisata bahari seperti penyelaman setiap 2 orang membutuhkan 2000 m2 atau 200 m x 10 m , untuk snorkling dan lamun setiap orang membutuhkan 500 m2 atau 100 m x 5 m. Adapun tindakan yang direkomendasikan : Melakukan evaluasi/ atau pemantauan terhadap sumberdaya alam, secara berkala setahun dua kali, dalam upaya mengetahui daya dukung kawasan untuk keberlangusungan ekowisata. Sosialisaikan program yang berhubungan dengan pelestarian sumberdaya kepada para pengunjung, hal ini dilakukan dalam rangka menjaga daya dukung kawasan ekowisata. Pengelolaan KP2K MS2B untuk pemanfaatan ekowisata berkelanjutan yang terintegrasi adalah sebuah model pembangunan pariwisata yang terencana dan didesain untuk menghindari konsekuensi-konsekuensi yang tidak diinginkan. Oleh karena itu arahan model pengelolaan kawasan pulau-pulau kecil untuk ekowisata berkelanjutan yang diusulkan penekanannya adalah pada pelestarian lingkungan ekologi kawasan pulau-pulau kecil dengan sasaran utamanya adalah gugus pulaupulau kecil. Adapun upaya-upaya yang dilakukan adalah: Gugus Rao Selatan, terdiri dari Posiposi Rao, Pulau Saminyamao dan Pantai Wayabula dengan kondisi saat sekarang memiliki mangrove 4-5 jenis dan persentase penutupan komunitas karangnya 56,70%. Apabila laju pelestarian keanekaragaman hayati pulau (KHP) Rao Selatan 1%, kealamian pulau (KAP) Rao Selatan 1% dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 1 % dengan laju degradasi 1 %, maka target pencapaian 12 tahun ke depan dari tahun 2010 tahun 2022 dengan ekosistem mangrove dapat tumbuh melebihi dari kondisi saat ini, ekosistem terumbu karang persentase penutupan komunitas karangnya mencapai 60 % (kategori baik KEPMEN LH No 4 2001), berarti ke depan sejak tahun 2010

156 - tahun 2022 tiap tahun persentase penutupan komunitas karang harus bertambah 0,27 %. Gugus Ngelengele, terdiri dari pulau Burung, pulau Ngelengele Besar, pulau Ngelengele Kecil dan Pulau Kacuwawa dengan kondisi saat ini seperti mangrove, padang lamun teridiri dari 4-5 jenis dengan persentase penutupan komunitas karangnya 41,54 % dan sudah terjadi abrasi pantai 25-50 %. Apabila laju

pelestarian keanekaragaman hayati pulau (KHP) Ngelengele 1%, kealamian pulau (KAP) Ngelengele 1 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 1 % dengan laju degradasi 1 %, maka target pencapaian selama 12 tahun ke depan dari tahun 2010 - tahun 2022, dengan upaya melestarikan sumberdaya hayati seperti ekosistem mangrove, padang lamun melebihi dari kondisi saat ini, dan persentase penutupan komunitas karangnya mencapai 60 % (kategori baik KEPMEN LH No 4 2001), berarti tiap tahun persentase penutupan komunitas karang harus bertambah 1,54 %, keadaan ini dapat dipertahankan maka tidak akan terjadi abrasi pantai. Gugus Galogalo yang terdiri dari pulau Lolobe Besar, pulau Loleba Kecil, pulau Galogalo Besar, Pulau Galogalo Kecil dan Pulau Pelo dengan kondisi saat ini seperti lamun terdiri dari 1-3 jenis, dengan persentase penutupan komunitas karangnya 43,20 %, mangrove sangat sedikit banyak yang rusak. Apabila laju pelestarian keanekaragaman hayati pulau (KHP) Galogalo 1 %, kealamian pulau (KAP) Galogalo 1 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 1 % dengan laju degradasi 1 %, maka target pencapaian 11 tahun ke depan (dari tahun 20102021) sumberdaya mengalami peningkatan ke kategori baik dengan cara

mereboisasi mangrove, dan persentase penutupan komunitas karangnya 60 % (kategori sedang KEPMEN LH No 4 2001), berarti tiap tahun persentase penutupan komunitas karang harus bertambah 1,43 %. Gugus Dodola terdiri dari Pulau Dodola Besar, Pulau Dodola Kecil, Pulau Kolorai dan Pulau Kokoya dengan kondisi saat ini seperti spesies magrove 4-5 jenis dengan persentase penutupan komunitas karang memprihatinkan 23,20 % . Apabila laju pelestarian keanekaragaman hayati pulau (KHP) Dodola, kealamian pulau (KAP) Dodola 1 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 1 %

157 dengan laju degradasi 1 %, maka upaya yang dilakukan lebih meningkatkan sumberdaya pulau-pulau kecil ke depan, dengan target pencapaian sebelas tahun ke depan (dari tahun 2010 - 2021), pelestarian sumberdaya terutama mangrove dan lamun ditingkatkan dari kondisi saat ini dan persentase penutupan komunitas karangnya mencapai 60 % (kategori baik KEPMEN LH No 4 2001), berarti tiap tahun persentase penutupan komunitas karang harus bertambah 3,34 %. Gugus Zumzum terdiri dari Pulau Zumzum, Pulau Jojoromu, Pulau Kapakapa, Pulau Lungulungu, Pulau Ruberube, Pulau Rukeruke dan Pulau Bobongone dengan kondisi saat ini seperti mangrovenya sangat memprihatinkan jumlahnya sangat sedikit, persentase penutupan komunitas karangnya 41,06 % dan sudah terjadi abrasi pantai 25-50 %. Apabila laju pelestarian keanekaragaman hayati pulau (KHP) Zumzum 2 %, kealamian pulau (KAP) Zumzum 2 % dan persentase perbaikan lingkungan ekologi 2 % dengan laju degradasi 1 %, maka target pencapaian 9 tahun ke depan terutama sumberdaya yang kritis seperti ekosistem mangrove dapat tumbuh melebihi kondisi saat ini, persentase penutupan komunitas karangnya mencapai 60 % (kategori baik KEPMEN LH No 4 2001), berarti tiap tahun persentase penutupan komunitas karang harus bertambah 2,10 %. Pengelolaan KP2K MS2B untuk pemanfaatan ekowisata berkelanjutan dapat terlaksana dengan baik apabila semua pemangku kepentingan mempunyai komitmen untuk melestarikan sumberdaya pulau-pulau kecil. Implementasinya dapat berupa dukungan legal melalui keputusan formal dalam bentuk peraturan pemerintah daerah (PERDA). Dewasa ini satu hal yang harus dihadapi dalam pengelolaan pulau-pulau kecil adalah perubahan iklim yang menyebabkan menaiknya permukaan air laut diakibatkan oleh terjadinya pemanasan global. Kenaikan ini akan mempengaruhi keberadaan pulaupulau kecil bahkan hilang dan tenggelam. Peneliti dari Commonwealth Scientific and Industry Research Organization (CSIRO) Australia telah membuat

perbandingan model pengukuran dari kenaikan permukaan air laut regional terhadap hasil observasi dari catatan pengukuran pasang surut dan pengukuran altimeter dari satelit. Mereka menyimpulkan bahwa perkiraan terbaik tentang rata-rata kenaikan

158 permukaan air laut secara global untuk periode tahun 1950 sampai dengan tahun 2000 berkisar antara 1,8 sampai 1,9 mm pertahun (berada di bawah 10 cm). Hal ini dibuktikan oleh kenaikan air laut tertinggi (sekitar 3 mm pertahun atau 30 cm per abad) terjadi di daerah Pasifik Barat dekat khatulistiwa dan samudera Hindia pada daerah Ekuator Barat. Pittock (2005) memperkirakan adanya kenaikan suhu udara (rata-rata) selama 3 tahun berturut-turut pada akhir abad 20, diperkirakan suhu atmosfer bumi akan meningkat antara 1,40C sampai dengan 5,80C selama periode tahun 1990 sampai dengan tahun 2100, sedangkan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan suhu permukaan global akan meningkat 1.10C sampai dengan 6.4 C (2.0 hingga 11.5 F) pada tahun yang sama. Mencermati hal tersebut, KP2K MS2B memiliki elevasi yang rendah, kaya akan keanekaragaman hayati, namun belum memiliki suatu kajian yang

mempertimbangkan fenomena pemanasan global berakibat pada menaiknya permukaan air laut, sebagai suatu cara mengantisipasi ke depan hilangnya pulaupulau kecil. Untuk itu diperlukan suatu kajian sebagai berikut: - Perlu kajian mengenai menaiknya permukaan air laut pulau-pulau kecil Kecamatan Morotai Selatan dan Morotai Selatan Barat. - Perlu mengantisipasi dengan melakukan pengelolaan kawasan pulau-pulau kecil secara terpadu dan berkesinambungan.

159

6 KESIMPULAN DAN SARAN


6.1 KESIMPULAN Daya dukung KP2K MS2B untuk ekowisata sangat ditentukan oleh luas area yang dapat dimanfaatkan dengan kondisi kualitas lingkungan saat ini dalam keadaan sedang-baik, untuk wisata rekreasi panjang pantai 58.809 m daya dukungnya 2.353 orang/hari, wisata snorkling kawasan yang dapat dimanfaatkan 226,9 ha daya dukungnya 7.624 orang/hari, wisata selam 1.248 ha daya dukungnya 39.942 orang/hari dan wisata lamun luas kawasannya 102 ha daya dukungnya 4.733 orang/hari. Model pengelolaan KP2K MS2B untuk ekowisata berkelanjutan penekanannya pada pelestarian lingkungan ekologi kawasan pulau-pulau kecil dengan sasaran utamanya adalah gugus pulau-pulau kecil, terintegrasi dalam pola persentase laju pelestarian keanekaragaman hayati pulau (KHP), laju pelestarian kealamian pulau (KAP),

persentase perbaikan pulau dan laju degradasi yang diterapkan. Untuk pelestarian lingkungan ekologi gugus Rao Selatan dan Ngelengele target pencapaian 12 tahun ke depan (tahun 2010 2022), gugus Galogalo dan Dodola target pencapaian 11 tahun ke depan (tahun 2010 2021), gugus Dodola 11 tahun ke depan (tahun 2010 2011) dan gugus Zumzum 9 tahun ke depan (tahun 2010 2019)

6.2

Saran Diperlukan penelitian lanjutan tentang model keberlanjutan pulau-pulau kecil yang didasari atas perilaku sistem yang ada seperti aspek sosial budaya, ekonomi dan kelembagaan dan lebih terfokus pada salah satu pulau kecil

Diperlukan upaya rehabilitasi dan konservasi terhadap ekosistem yang ada di pulaupulau kecil, khususnya sumberdaya alam seperti ekosistem terumbu karang dan pantai pasir putih tempat bertelurnya penyu. Rehabilitasi bertujuan memperbaiki kondisi ekosistem yang ada agar dapat pulih dan menambah daya saing terhadap objek yang akan dijadikan daya tarik ekowisata, sedangkan konservasi menjaga keberadaan ekosistem yang telah direhabilitasi agar tetap terjaga dengan baik.

160 Diperlukan kerjasama semua komponen yang terlibat dalam pengelolaan kawasan pulau-pulau kecil untuk pengembangan ekowisata seperti pemerintah, swasta,

masyarakat, dan pihak keamanan dalam mengantisipasi penangkapan ikan masih mempergunakan bom dan sianida yang dapat merusak terumbu karang merupakan aset untuk wisata, pengambilan benda-benda sejarah oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Diperlukan upaya mengantisipasi pemanasan global menyebabkan perubahan iklim yang bisa berpengaruh pada menaiknya permukaan air laut yang dapat berpengaruh pada hilangnya keberadaan dari pulau-pulau kecil ini.

161

DAFTAR PUSTAKA
Adrianto L. 2004. Pembangunan dan Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil yang Berkelanjutan. PKSPL IPB. _________. 2006. Pengenalan Konsep dan Metodologi Valuasi Ekonomi Sumberdaya Pesisir dan Laut. PKSPL IPB. Aminullah E dan Muhammadi. 2001. Konsep Dasar Sistem Dinamis dalam Analisis Sistem Dinamis, Lingkungan Hidup, Sosial, Ekonomi, Manajemen. UMJ Press. Jakarta. Aziz A. 2003. Kajian Pengembangan Pariwisata Bahari di Kelurahan Pulau Kelapa Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Daerah Khusus Ibukota Jakarta. (Tesis). Bogor: Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Badan Pusat Statistik (BPS) Morotai Selatan. 2003. Kecamatan Morotai Selatan dalam Angka. BPS MORSEL. Badan Pusat Statistik (BPS) Morotai Selatan Barat. 2005. Kecamatan Morotai Selatan Barat dalam Angka. BPS MORSELBAR. Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional (BAKOSURTANAL). 1996. Pengembangan Protipe Wilayah Pesisir dan Marin Kupang Nusa Tenggara Timur. Pusat Bina Aplikasi Inderaja dan SIG. Cibinong. Brander JA dan Taylor MS. 1998. The Simple Economic of Easter Island: A RicardoMalthus Model of Renewable Resource Use. The American Economic Review 88(1) : 119-138 Bengen DG dan Retraubun ASW. 2006. Menguak Realitas Eko-Sosio Sistem PulauPulau Kecil. Pusat Pembelajaran dan Pengembangan Pesisir dan Laut (P42L). Bogor. Beller W,d Ayala and Hein P, 1990. Sustainable Development and Environmental Management of Small Islands. UNESCO, Paris Bjork P. 2000. Ecotourism From a Conceptual Perspective, an Extended Definition of Unique Tourism Form. International Journal of Tourism Research. 2: 189-202. Bookbinder MP, Dinerstein E, Rijal A, Cauley H and Rajouria A. 2000. Ecotourisms Support of Biodiversity Conservation. Conservation Biology 12(6) : 1399-1404.

162

Brown K, Tompkins E and Adger W.E. 2001. Trade off Analysis for Participatory Coastal Zone Decision Making. Overseas of East Anglia. Norwich. Buchsbaum BD. 2004. Ecotourism and Sustainable Development in Costa Rica. Virginia Polytechnic and State University. USA. Carter E and Lowman G. 1994. Ecotourism ; A Sustainable Option. John Willey & Sons. New York Casagrandi R and Rinaldi S. 2002. A Theoritical Approach to Tourism Sustanaibility. Conservation Ecology. 6(1) : 13. Ceballos-Lascurain H. 1991. Tourism, Ecotourism and Protected Areas. Parks. Journal of Sustainable Tourism. 2: 31-35 Choy DL. 1997. Perencanaan Ekowisata, Belajar dari Pengalaman di South East Queensland. Procedings on the Training and Workshop of Planning Sustainable Tourism. Penerbit ITB. Bandung. Clark JR. 1996. Coastal Zone Management Handbook. Lewis Publisher, Boca Raton. Florida. Dahuri R, Ginting SP, Rais J dan Sitepu MJ. 1996. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. P.T. Pradnya Paramita. Jakarta. Dahuri R. 2003. Keanekaragaman Hayati Laut Aset Pembangunan Berkelanjutan Indonesia. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. Davis D and Tisdell C. 1995. Recreational Scuba-Diving and Carrying Capacity in Marine Protected Areas. Ocean & Coastal Management. 26(1): 19-40. Diaz Arenas A and Febrillet Huertas J. 1986. Hydrology and Water Balance of Small Islands: A Review of Existing Knowledge. Technical Documents in Hydrology. UNESCO, Paris. Dinas Budaya dan Pariwisata Halmahera Utara (DISBUDPAR HALUT). 2006. JenisJenis Tarian dan Kerajinan Halmahera Utara. DISBUDPAR HALUT. Dymond SJ. 1997. Indicators of Sustainable Tourism in New Zealand : A Local Government Perspective. Journal of Sustainable Tourism 5(4): 279-293. English S, Wilkinson S and Baker V. 1994. Survey Manual for Tropical Marine Resources. Australian Institut of Marine Science. Townsville.

163

Eriyatno. 2003. Ilmu Sistem Meningkatkan Mutu dan Efektifitas Manajemen. IPB Press. Bogor Fandeli C. 2000. Perencanaan Kepariwisataan Alam. Dalam Fandeli, C dan Mukhlisin (Editor). Pengusahaan Ekowisata. Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. 157-167 Hal. Fennel D and Eagles PFJ. 1990. Ecotourism in Costa Rica: A Conceptual Framework. Journal of Park and recreacion administration 8 (1):3-34. Forrester JW. 1968. Principles of System. Wright-Allen. Press, Inc. Massachusetts Frederick A, Victoria ECC, Jeddah LDP and Danilo TD. 2005. Impacts of Recrational Scuba Diving on A Marine Protected Area in Central Philippines: A Case of Gilutongan Marine Sanctuari. Philip. Scient 42: 144-158. Grant WE, Pederson EK, and Marin SL. 1997. Ecology and Natural Resource Management ; System Analysis and Simulation. John Wiley & Sons. New York.

Hall C.M. 2001. Trends in Ocean and Coastal Tourism: The End of the Last Frontier. Ocean & Coastal Management 44: 601-608. Hannon B and Ruth M. 1994. Dynamic Modeling. Springer-Verlag. New York. Hardjowigeno S. dan Widiatmaka. 2001. Kesesuaian Lahan dan Perencanaan Tataguna Tanah. Jurusan Tanah. Fakultas Pertanian. IPB. Hartrisari. 2007. Sistem Dinamik. Konsep Sistem dan Pemodelan untuk Industri dan Lingkungan. SEAMEO BIOTROP. Bogor Hidayat A. 2000. Konsep dan Kebijakan Pengembangan Wisata Bahari. Seawatch Indonesia. BPPT Jakarta. Honey M. 1999. Ecotourism and Sustainable Development : How Owns Paradise. Washington DC: Island Press. International Institute of Rural Reconstruction (IIRR). 1998. Participatory Methods in Community Based Coastal Resource Management 3 Vols. Silang. Cavite Philippiness. Jeffer JNR. 1978. An Introduction to System Analysis : With Ecological application. Edward Arnold. London.

164

Jorgensen SE. 1988. Fundamentalis of Ecological Modeling. Publishers. Amsterdam.

Elsevier Science

Kay R and Alder J. 1999. Coastal Planning And Management. Routledge. New York. Kusumastanto T. 2000. Perencanaan dan Pengembangan Pulau-Pulau Kecil. Makalah pada Lokakarya Pendekatan Penataan Ruang dalam Menunjang Pengembangan Wilayah Pulau-Pulau Kecil. Kerjasama Direktorat Tata Ruang Pesisir, Pantai dan Pulau-Pulau Kecil, DITJEN P3K Departemen Perikanan dan Kelautan tanggal 10 Oktober 2000 di Jakarta. Lee KF. 2001. Sustainable Tourism Destination: The Importance of Cleaner Production. Journal of Cleaner Production, 9: 313-323.

Maanema M. 2003. Model pemanfaatan Pulau-Pulau Kecil (Studi Kasus di Gugus Pulau Pari Kepulauan Seribu). (Disertasi). Bogor: Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Matsumoto A. 2001. Economic Dynamic Model for Small Island. Discrete Dynamics in Nature and Society 7: 121-132. McNeely JA. 1994. An Introduction to Protected Area Economics and Policy (In: Protected area Economics And Policy, Munasinghe, M and J. McNeelye eds. 111) The Worl Bank, Washington DC. McMinn S. 1997. The Challenge of Sustainable Tourism. The Environmentalis, 17: 135 141. Muhammmadi, Aminullah E dan Soesilo B. 2001. Analisis Sistem Dinamis (Lingkungan Hidup, Sosial, Ekonomi, Manajemen). UMJ Press. Jakarta. Moberg F and Folke C. 1999. Ecological Good and Services of Coral Reef Ecosystem. Ecological economic 29: 215-233. Monk AK, de Fretes Y and Lilley GY. 2000. The Ecology of Nusa Tenggara and Maluku. Dalhousie University CIDA.

Ola OL. 2006. Model Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil, Dalam Rangka Pengembangan Wilayah Kepulauan Wakatobi. (Disertasi). Bogor: Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Orams M. 1999. Marine Tourism. Routledge. London and New York. Development, Impact and Management.

165

Parwinia. 2007. Pemodelan Ko-Eksistensi Pariwisata dan Perikanan: Analisis Konvergensi-Divergensi (KODI) di Selat Lembeh Sulawesi Utara. (Disertasi). Bogor: Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Pusat Studi Lingkungan (PSL UNKHAIR), 2005. Rencana Tata Ruang Laut Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kecamatan Morotai Selatan Dan Morotai Selatan Barat Kabupaten Halmahera Utara Provinasi Maluku Utara. PSL UNKHAIR Ternate. Pusat Penelitian Oseanografi LIPI. 2006. Ekspedisi Halmahera. Jakarta. Retraubun ASW. 2006. Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil. Seminar Sehari Musyawarah Kerja Nasional Himpunan Mahasiswa Ilmu dan Teknologi Kelautan Indonesia(HIMiTEKINDO) IPB. 16 Januari 2006. Reese ES. 1989. Orientation Behavior of Butterflyfishes (Family Chaetodontidae) on Coral Reef Spatial Learning of Route Specific Landmarks and cognitive maps. Enviromental Biology of Fishes 25:79-86. Ruyani I. 2003. Kajian Pemanfaatan dan Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Gugus Pulau di Kelurahan Pulau Kelapa Kecamatan Kepulauan Pulau Seribu Utara, Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu. (Tesis). Bogor: Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Ryhanen H. 2001. Local Involvement in Ecotourism: How to Get Local People and Villages Interested in Nature Tourism? Paper Presented in International Seminar on Ecotourism in Petrozavodsk. Salm RV, Clark JR and Siirila E. 2000. Marine and Coastal Protected Areas: A Guide for Planners and Managers. Third Edition. Internasional Union For Conservation of Nature and Natural Resources, Bland, Switzerland. Salm R.V and Usher G.F. 1984. Zoining Plan for Bunaken Islands Marine Park. Prepared for Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam. IUCN/WWF Conservation for Development Programme. Scace, 1993. An Ecotourism Perspective in Nelson J., Butler, R. and Wall, G. (Editors). Tourism and Sustainable Development : Monitoring, Planning, Managing. Waterlooo: Heritage Reseource Centre. University of Waterloo. p59-82. Simon FJG, Narangajavana Y and Marques DP. 2004. Carrying Capacity in the Tourism Industry : A Case Study of Hengisbury Head, Tourism Management, 25: 275-283.

166

Soselisa A. 2006. Kajian Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut Gugusan PulauPulau Padaido, Distrik Padaido, Kabupaten Biak Numfor, Papua. (Disertasi). Bogor: Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Sugiyono. 2005. Metode Penelitian Administrasi. Alfabeta Bandung. Supriharyono. 2000. Djambatan. Pengelolaan Ekosistem Terumbu Karang. Jakarta. Penerbit

Suryani E. 2006. Pemodelan Simulasi. Graha Ilmu. Yogyakarta. Susilo SB. 2003. Kerberlanjutan Pembangunan Pulau-Pulau Kecil Studi Kasus Kelurahan Pulau Panggang dan Pulau Pari, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. (Disertasi). Bogor: Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.

Tosun C. 2001. Challenges of Sustainable Tourism Development in Developing World: the Case of Turkey. Tourism Management. 25: 289-303. Valentine P. 1993. Ecotourism and Nature Conservation. A Definition With Some Recent Development in Micronesia. Tourism Management. 142: 107-115. Wearing S and Neil S. 1999. Ecotourism: Impact, Potentials and Possibilities. Oxford: Butterworth-Heinemann. Wunder S. 2000. Ecotourism and Economic An Empirical Approuch. Ecological Economics. 29:465-479. Yuanike. 2003. Kajian Pengembangan Ekowisata Mangrove dan Patisipasi Masyarakat Di Kawasan Nusa Lembongan, Bali. (Tesis). Bogor: Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Yudaswara. 2004. Kebijakan Pengembangan Wisata Bahari Dalam Pengelolaan PulauPulau Kecil Secara Berkelanjutan (Studi Kasus Pulau Menjangan Kabupaten Buleleng Bali). (Tesis). Bogor: Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Young M. (1992). Ecotourism-Profitable Conservation? In Hay, J.E (Editor), Ecotourism Business in The Pacific: Promoting a Sustainable Experience. Conference Proceedings. Environmental Science, University of Auckland: Auckland. 55-60. Yulianda F. 2007. Ekowisata Bahari Sebagai Alternatif Pemanfaatan Sumberdaya Pesisir Berbasis Konservasi. Seminar Sains Departemen MSP, 21 Februari. Bogor

167

Zakai D, Nanette E and Furman C. 2001. Impact of Intensive Recreational Diving on Reef Coral at Eilat, Northen Red Sea. Biological Conservation. 105:179187 Ziffer K. 1989. Ecotourism : The Uneasy Alliance. Washington DC. Coservation International, Ernst and Young.

168

LAMPIRAN

169

Lampiran 1 Analisa Biaya Perjalanan Wisata


No. Kunjungan (V) Total Pengeluaran (TC) (Rp) 2.050.000 235.000 920.000 228.000 1.055.000 1.220.000 2.240.000 700.000 300.000 2.375.000 820.000 1.450.000 700.000 240.000 1.000.000 1.675.000 2.145.000 1.680.000 1.030.000 330.000 Jarak dari rumah (D) (km) 385 1 185 1 200 150 200 200 1 375 100 314 200 1 1 50 400 1 175 1 Pendapatan per tahun (I) (Rp) 9.000.000 2.100.000 2.700.000 900.000 3.300.000 9.000.000 5.700.000 9.000.000 1.500.000 9.000.000 3.300.000 9.000.000 9.000.000 2.700.000 3.900.000 1.500.000 5.700.000 1.500.000 2.100.000 900.000 Umur(A) (tahun) Ln V Ln TC Ln D Ln I Ln A

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

2 1 1 1 1 2 1 3 3 1 1 1 2 1 1 1 1 1 2 1

22 20 24 25 23 27 29 30 21 20 19 25 23 18 25 20 20 31 17 20 0.00

0.69 0.00 0.00 0.00 0.00 0.69 0.00 1.10 1.10 0.00 0.00 0.00 0.69 0.00 0.00 0.00 0.00

14.53 12.37 13.73 12.34 13.87 14.01 14.62 13.46 12.61 14.68 13.62 14.19 13.46 12.39 13.82 14.33 14.58 14.33

5.95 0.00 5.22 0.00 5.30 5.01 5.30 5.30 0.00 5.93 4.61 5.75 5.30 0.00 0.00 3.91 5.99 0.00 5.16 0.00

16.01 14.56 14.81 13.71 15.01 16.01 15.56 16.01 14.22 16.01 15.01 16.01 16.01 14.81 15.18 14.22 15.56 14.22 14.56 13.71

3.09 3.00 3.18 3.22 3.14 3.30 3.37 3.40 3.04 3.00 2.94 3.22 3.14 2.89 3.22 3.00 3.00 3.43 2.83 3.00

0.69 0.00

13.85 12.71

170

21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43

1 1 4 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 2 1 1 1

435.000 250.000 620.000 460.000 307.000 525.000 240.000 1.275.000 645.000 292.000 850.000 1.050.000 700.000 400.000 1.200.000 5.990.000 4.192.000 1.452.000 536.000 1.500.000 910.000 200.000 275.000

1 1 376 360 410 367 1 367 1 1 368 200 190 1 500 250 340 1 100 378 410 1 1

900.000 5.100.000 900.000 900.000 900.000 900.000 3,900.000 9.000.000 6.600.000 9.000.000 5.100.000 9.000.000 5.700.000 9.000.000 2.100.000 9.000.000 9.000.000 5.700.000 1.500.000 2.100.000 1.500.000 900.000 2.700.000

20 25 30 32 29 30 34 26 38 23 40 24 30 25 22 21 23 25 20 34 20 17 23

0.00 0.00 1.39 0.00 0.00 0.69 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.69 0.00 0.00 0.00 0.69 0.00 0.00 0.00

12.98 12.43 13.34 13.04 12.63 13.17 12.39 14.06 13.38 12.58 13.65 13.86 13.46 12.90 14.00 15.61 15.25 14.19 13.19 14.22 13.72 12.21 12.52

0.00 0.00 5.93 5.89 6.02 5.91 0.00 5.91 0.00 0.00 5.91 5.30 5.25 0.00 6.21 5.52 5.83 6.91 4.61 5.93 6.02 0.00 0.00

13.71 15.44 13.71 13.71 13.71 13.71 15.18 16.01 15.70 16.01 15.44 16.01 15.56 16.01 14.56 16.01 16.01 15.56 14.22 14.56 14.22 13.71 14.81

3.00 3.22 3.40 3.47 3.37 3.40 3.53 3.26 3.64 3.14 3.69 3.18 3.40 3.22 3.09 3.04 3.14 3.22 3.00 3.53 3.00 2.83 3.14

171

44 1 45 46 47 48 jumlah 1 1 2 1 63 250.000 950.000 1.841.000 1.500.000 1.731.000 52.969.000 1 75 200 275 455 9.571 900.000 3.900.000 9.000.000 9.000.000 9.000.000 225,000,000.00 18 24 24 22 21 1,179 0.00 0.00 0.00 0.69 0.00 9.13 12.43 13.76 14.43 14.22 14.36 651.48 0.00 4.32 5.30 5.62 6.12 177.21 13.71 15.18 16.01 16.01 16.01 721.71 2.89 3.18 3.18 3.09 3.04 152.64

172

Lampiran 2 Nilai Beberapa Parameter Kualitas Air Laut Untuk Wisata Bahari
No. Fisika: Warna Bau Kecerahan *) Padatan Tersuspensi Suhu *) Kimia : pH *) Salinitas *) Oksigen Terlarut *) BOD5 Ammonia (NH3-N) Nitrat (NO3-N) Phosphat Sianida (CN) Sulfida (H2S) Minyak dan Lemak Phenol Sutrfaktan (MBAS) Logam Berat Raksa (Hg) Khrom Hexavalen (Cr6+) Arsen (As) Kadmium (Cd) Tembaga (Cu) Timah Hitam (Pb) Seng (Zn) Nikel (Ni) Parameter Satuan BAKU MUTU **) 30 Tidak bau Coral : >5 Coral : 20 Alami Tdk bau 100 48 29,8 Tdk bau 100 47 29,1 Tdk bau 100 47 29,4 Tdk bau 100 46 30,4 Tdk bau 51 29,4 ST.1 ST.2 STASIUN PENGAMATAN ST.3 ST.4 ST.5

1 2 3 4 5

Pt Co m mg/l o C

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 19

/oo mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l
O

7 - 8,5 Coral:34-35%0 >5 20 0,3 0,008 0,015 0,5 0,01 1 0,002 1

8,15 35 7,44 5,16 0,045 0,044 <0,001 <0,001 0,180 <0,01 0.009 <0,001

8,00 35 6,96 5,12 0,048 0,049 <0,001 <0,001 <0,03 <0,01 <0,001 <0,001

8,05 35 6,73 5,20 0,089 0,058 0,002 <0,001 <0,03 <0,01 <0,001 <0,001

8,00 35 7,75 4,13 0,034 0,053 <0,001 <0,001 0.,370 <0,01 <0,001 <0,001

7,95 35 3,98 3,65 0,069 0,042 <0,001 <0,001 <0,03 <0,01

0.008
<0,001

11 12 13 14 15 16 17 18

mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l

0,002 0,002 0,025 0,002 0,050 0,005 0,095 0,075

<0,001 0,01 0,016 0,002 0,048 0,003 0,012 0,003

<0,001 0,01 0,045 <0,001 0,510 0,003 0,019 0,002

<0,001 0,01 0,009 <0,001 0,550 0,002 0,019 0,001

<0,001 0,01 0,016 0,002 0,440 0,002 0,015 0,002

<0,001 <0,01 0,014 0,002 0,470 0,002 0,014 0,002

Keterangan Stasiun : St 1 = Perairan Dodola St 2 = Perairan Ngelengele Besar St 3 = Perairan Selat Rao St 4 = Perairan Loleba St 5 = Perairan Daruba (Pelabuhan) *) = Pengukuran in situ **) = Kep. Men LH No 51 Tahun 2004, untuk wisata bahari.

173

Lampiran 3 Nilai Beberapa Parameter Kualitas Air Sumur


NO. PARAMETER I. Fisika 1 2 3 4 5 6 Suhu *) Warna Kekeruhan Padatan terlarut (TDS) Bau Rasa II. Kimia pH *) Kesadahan Total Sulfida (H2S) Chlorida (Cl) Nilai Permanganat (TOM) Nitrat (NO3-N) Nitrit (NO2-N) Sulfat (SO4) Besi (Fe) Barium (Ba) Natrium (Na) Mangan (Mn) Fluorida (F) Seng (Zn) Timbal (Pb) Cadmium (Cd) Argentum (Ag) Mercury (Hg) Arsen (As) Cyanida (CN) Chrom hexavalen (Cr6+) Tembaga (Cu) Selenium (Se) Detergen Alumunium (Al) C Pt.Co NTU mg/l o

SATUAN ST. 1 27,3 3 0,4 1540 alami Tb

STASIUN PENGAMATAN ST. 2 27,9 2 0,5 730 alami tb ST. 3 29,2 1 0,3 650 alami tb ST. 4 27,4 1 0,5 440 alami tb

BM **) dev. 3oC 15 5 1000 alami tb

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25

mgCaCO3/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l

6,91 218,78 0,5 999,69 9,16 0,051 <0,002 121,32 12,128 <0,001 34,6 0,046 0,057 0,058 <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 0,013 <0,001 <0,001 0,15 <0,001 <0,001 <0,001

7,29 205,79 <0,03 97,49 7,9 0,064 <0,002 7,99 0,333 <0,001 32,8 0,042 0,054 0,056 <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 0,041 0.003 <0,001 0,05 <0,001 <0,001 <0,001

7,07 54,15 0,19 6,03 5,37 0,272 0,002 5,23 0,227 <0,001 36,4 0,038 0,037 0,086 <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 0,018 0.003 0.01 0,05 <0,001 <0,001 <0,001

6,84 99,64 0,27 18,43 8,53 0,339 <0,002 27,07 0,44 <0,001 36,1 0,035 0,035 0,082 <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 0,023 0.003 <0,001 0,12 <0,001 <0,001 <0,001

6,5 - 8,5 500 0,05 250 10 10 1,0 400 0,3 1,0 200 0,1 1,5 5,0 0,05 0,005 0,05 0,001 0,05 0,1 0,05 1,0 0,01 0,05 0,2

**) Baku Mutu Air Minum menurut Menteri Kesehatan RI NO.416/MENKES/PER/IX/1990 Keterangan Stasiun : ST. 1 = Stasiun 1 (Sumur) ST. 2 = Stasiun 3 (Sumur) ST. 3 = Stasiun 4 (Sumur) ST. 4 = Bere-bere (Sumur beratap)

174

Lampiran 4 Nilai Beberapa Parameter Kualitas Air Sungai


No. I 1 2 3 II 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 III 1 2 3 Fisika Temperatur *) Residu Terlarut ( TDS ) Residu Tersuspensi Kimia pH *) BOD5 *) COD Oksigen Terlarut ( DO ) *) Total Fosfat Nitrat ( NO3-N ) Amonia ( NH3-N ) Nitrit ( NO2-N ) Arsen ( As ) Kobalt ( Co ) Barium ( Ba ) Boron ( B ) Selenium ( Se ) Kadmium ( Cd ) Khrom Heksavalen ( Cr6+ ) Tembaga ( Cu ) Besi ( Fe ) Timbal ( Pb ) Mangan ( Mn ) Air Raksa ( Hg ) Seng ( Zn ) Khlorida ( Cl ) Sianida ( CN ) Fluorida ( F ) Sulfat ( SO4 ) Khlorin bebas ( Cl2 ) Sulfida Kimia Organik Minyak dan Lemak Detergen sebagai MBAS Senyawa Fenol C mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/L mg/l mg/l mg/l 29,9 260 6 7,85 4,57 12,05 3,54 0,045 0,072 0,025 <0,002 0,026 <0,001 0,008 <0,001 0,016 <0,001 <0,001 0,110 0,188 <0,001 0,036 <0,001 0.054 7.09 0.003 <0,001 5,34 0,02 0.025 <0,01 <0,001 <0,001 28,7 4520 17 7,91 4,8 78,27 9,01 0,114 0,062 0,104 <0,002 0,02 <0,001 0,008 <0,001 0,018 <0,001 <0,001 0,130 0,248 <0,001 0,032 <0,001 0.052 2730 0.004 <0,001 138,67 0,03 <0,03 <0,01 <0,001 <0,001 26,8 4640 22 7,71 4,43 72,25 4,67 0,059 0,088 0,067 <0,002 0,02 <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 0,170 0,265 <0,001 0,028 <0,001 0.045 6930 0.002 <0,001 190,29 0,02 <0,03 <0,01 <0,001 <0,001 30,1 370 16.00 6,84 0,7 45,16 3,51 0,045 1,652 0,02 0.152 0,02 <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 0,140 0,248 <0,001 0,026 <0,001 0.043 886.00 0.004 <0,001 27,27 0,02 0,9 <0,01 <0,001 <0,001 deviasi3 1000 50 6-9 2 10 6 0,2 10 0,5 0,06 0,05 0,2 1 1 0,01 0,01 0,05 0,02 0,3 0,03 0,1 0,001 0,05 600 0.02 0,5 400 0,03 0,002 1000 200 1 deviasi 3 1000 50 6-9 3 25 4 0,2 10 (-) 0.06 1 0,2 (-) 1 0,05 0,01 0,05 0,02 (-) 0,03 (-) 0,002 0,05 (-) 0.02 1.5 (-) 0,03 0,002 1000 200 1 Parameter Satuan STASIUN PENGAMATAN ST. 1 ST. 2 ST. 3 ST. 4 Baku Mutu **) Gol. I Gol. II

**) Baku Mutu berdasarkan peraturan pemerintah nomor 82 tahun 2001 tentang pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran *) Data lapang Keterangan Stasiun: ST.1 = Stasiun 2 sungai ST.2 = Sopi (dekat ke Muara) ST.3 = Takawele (dekat ke Muara) ST.4 = Sungai Wayabula

175

Lampiran 5 Sebaran Seagrass Di Perairan Selatan Pulau Morotai, Halmahera 2005


Transek 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Posisi Lon 128,3247 128,3125 128,2930 128,2716 128,2603 128,2660 128,2765 128,2859 128,2847 128,2898 128,2847 lat 2,0339 2,0237 2,0082 2,0005 1,9781 1,9834 1,9921 2,0026 2,0208 2,0357 2,0208 jam 10 11 14 15 15 16 16 16 17 17 Waktu Menit 45 05 45 05 50 08 30 50 11 11 Tutupan Seagrass (%) 5 5 25 25 80 95 95 80 65 40 65 80 65 95 80 95 95 95 95 95 x 5 18,3 90 90 36,7 50 63,3 90 90 90 substrat kerikir kerikir kirikir Pasir kasar Fine sand Pasir kasar Pasir kasar Pasir kasar, kerikir Lumpur Lumpur Jenis Th Th,Hu,En,Ho Th,Cr,Hu,Hp Th,Si,Hu,Hp Hp,Th Ea,Th,Si,Hp Ea,Th,Si Th,Ea,Si,Ho Th,Ea,Si,Hp Ea,Hp Th,Ea,Si,Hp

5 5 95 95 5 5 30 95 80 80

Lon 1 128,2851 2 128,2686 3 128,2446 4 128,2454 5 128,2449 6 128,2431 7 128,2398 9 128,2446 Sumber : (P2O-LIPI 2006) Keterangan: Th = Thalassia hemprichii Hu = Halodule uninervis

Transek

Posisi lat 2,0691 2,0777 2,1009 2,1237 2,1436 2,1639 2,2065 2,2433 jam 10 11 11 11 12 12 12 -

Waktu Menit 12 45 15 40 05 25 50 -

5 30 5 95 5 5 30 30

Tutupan Seagrass (%) 5 5 5 5 5 5 95 5 5 5 5 30 30 65 95

x 5 5 95 5 5 30 50

substrat lumpur Karang, kerikil Pasir halus. lumpur lumpur Kerikir Pasir halus pasir

jenis Ea Ho,Ea,Si Ea Ea,Si.Th,Hp,Ho Ea,Ho,Th Ho,Ea,Si Ho,Ea,Th Ea,Th, Ho,Hu,Si

Ea = Enhalus acoroides Ho = Halophila ovalis

176

Lampiran 6 Penilaian Kriteria Pengelolaan Kawasan Lindung Pulau-Pulau Kecil Morotai


KRITERIA I. EKOLOGI I.1. Keragaman hayati pulau I.1.1. Ekosistem I.1.2. Life Form Karang I.1.3. Spesies Ikan Karang I.1.4. Spesies Rumput Laut I.1.5. Spesies Lamun I.1.6. Spesies Mangrove I.1.7. Taxa Bentos I.2. Kealamian pulau I.2.1. % Penutupan Karang I.2.2. Abrasi pantai I.3. Keunikan pulau I.4. Kerentanan pulau I.4.1. Status (berpenduduk atau tidak) I.4.2. Tingkat keterbukaan terhadap laut I.5. Keterkaitan Pulau Total Nilai I II. EKONOMI 2.1. Spesies Penting 2.2. Kepentingan Perikanan 2.3. Bentuk Ancaman 2.4. Pariwisata Total Nilai II III. SOSIAL 3.1. Tingkat Dukungan Masyarakat 3.2. Rekreasi 3.3. Budaya 3.4. Estetika 3.5. Konflik Kepentingan 3.6. Keamanan 3.7. Aksessibilitas 3.8. Kepedulian 3.9. Penelitian dan pendidikan Total Nilai III 3 3 1 3 1 3 1 2 2 19 3 2 1 3 1 2 1 1 2 16 3 2 1 2 1 2 3 1 1 16 3 2 1 3 1 3 1 1 1 16 3 3 1 3 1 3 1 1 1 17 3 2 2 2 2 2 1 1 2 17 3 2 1 2 2 3 1 1 1 16 3 3 1 3 1 2 1 2 1 17 2 1 3 2 8 3 2 3 2 10 2 2 3 2 9 2 1 3 2 8 2 2 3 2 9 1 1 3 3 8 1 2 3 2 8 3 2 2 2 9 3 2 3 28 3 3 2 31 1 2 2 24 3 2 3 25 3 2 3 29 3 1 2 19 2 1 3 22 3 3 1 32 1 3 2 2 2 3 2 2 2 1 3 2 2 3 2 1 2 1 1 2 1 3 3 3 3 2 2 2 1 2 2 3 3 3 2 1 2 2 3 2 2 2 1 2 1 3 2 2 2 1 0 1 3 3 2 2 2 2 1 2 2 1 1 2 0 1 3 2 2 2 2 0 1 2 3 3 3 2 1 2 Lokasi / Nilai DD RU RS GL NG ZM RB MT

177

Tabel Lanjutan
KRITERIA IV. Kelembagaan 4.1. Keberadaan lembaga sosial 4.2. Dukungan infrastruktur sosial 4.3. Dukungan pemerintah Total Nilai IV Total Nilai I + II + III + IV 1 1 3 5 60 1 2 3 6 63 2 2 3 7 56 1 1 3 5 54 1 1 3 5 60 1 2 3 7 51 1 1 3 5 51 1 1 3 5 63 Lokasi DD RU RS GL NG ZM RB MT

Persentase dari nilai total (87) 68,97 72,41 64,37 62,07 68,97 58,62 58,62 72,41 Sumber : Hasil Analisis. Keterangan : DD = Dodola, RU = Rao Utara,RS = Rao Selatan GL = Galogalo, NG = Ngelengele, ZM= Zumzum dan sekitarnya RB = Ruberube dan sekitarnya, MT = P. Mitita

178

Lampiran 7 Peta Kesesuaian Untuk Ekowisata Pantai Kategori Wisata Rekreasi Di Posiposi Rao, Saminyamo, Dan Pantai Wayabula

179

Lampiran 8 Peta Kesesuaian Untuk Ekowisata Pantai Kategori Wisata Rekreasi Gugus Ngelengele Dan Gugus Loleba

180

Lampiran 9 Peta Kesesuaian Untuk Ekowisata Pantai Kategori Wisata Rekreasi Gugus Dodola Dan Gugus Zumzum

181

Lampiran 10 Peta Kesesuaian Untuk Ekowisata Bahari Kategori Wisata Snorkling Di Posiposi Rao, Saminyamao Dan Pantai Wayabula

182

Lampiran 11 Peta Kesesuaian Untuk Ekowisata Bahari Kategori Wisata Snorkling Gugus Ngelengele Dan Gugus Loleba

183

Lampiran 12 Peta Kesesuaian Untuk Ekowisata Bahari Kategori Wisata Snorkling Gugus Dodola dan Gugus Zumzum

184

Lampiran 13 Peta Kesesuaian Untuk Ekowisata Bahari Kategori Wisata Selam Di Posiposi Rao, Saminyamao Dan Pantai Wayabula

185

Lampiran 14 Peta Kesesuaian Untuk Ekowisata Bahari Kategori Wisata Selam Gugus Ngelengele Dan Gugus Loleba

186

Lampiran 15 Peta Kesesuaian Untuk Ekowisata Bahari Kategori Wisata Selam Gugus Dodola Dan Gugus Zumzum

187

Lampiran 16 Peta Kesesuaian Untuk Ekowisata Bahari Kategori Wisata Lamun Di Pantai Wayabula

188

Lampiran 17 Peta Kesesuaian Ekowisata Bahari Kategori Wisata Lamun Di Ngelengele Besar, Loleba Besar Dan Pesisir Pantai Wayabula Dan Daruba

189

Lampiran 18 Peta Kesesuaian Untuk Ekowisata Bahari Kategori Wisata Lamun Dodola Besar, Dodola Kecil, Zumzum dan Pesisir Pantai Daruba

190

Lampiran 19 Contoh Formulasi Simulasi Skenario KP2K MS2B - Pulau Dodola


Daya dukung kawasan wisata rekreasi Jumlah_wisatawan_rekreasi_Dodola_saat_ini(t) = Jumlah_wisatawan_rekreasi_Dodola_saat_ini(t - dt) + (Penambahan__wisatawan - pengurangan_wisatawan) * dtINIT Jumlah_wisatawan_rekreasi_Dodola_saat_ini = 126 INFLOWS: Penambahan__wisatawan = Jumlah_wisatawan_rekreasi_Dodola_saat_ini*fraksi_penambahan__kualitas_lingkungan OUTFLOWS: pengurangan_wisatawan = Jumlah_wisatawan_rekreasi_Dodola_saat_ini fraksi_jumlah_wisatawan = Jumlah_wisatawan_rekreasi_Dodola_saat_ini/satuan_jumlah_wisatawan satuan_jumlah_wisatawan = 126 Lingkungan ekologi kawasan lindung pulau-pulau kecil kualitas_lingkungan_ekologi_Dodola_saat_ini(t) = kualitas_lingkungan_ekologi_Dodola_saat_ini(t - dt) + (Upaya_perbaikan_Lingkungan_ekologi__Dodola - degradasi_lingkungan_ekologi) * dtINIT kualitas_lingkungan_ekologi_Dodola_saat_ini = 0.7 INFLOWS: Upaya_perbaikan_Lingkungan_ekologi__Dodola = if time >=2009 Then (persentase__perbaikan_lingkungan+Total_persentase_nilai_kriteria_ekologi)* kualitas_lingkungan_ekologi_Dodola_saat_ini else 0 OUTFLOWS: degradasi_lingkungan_ekologi = if time >=2009 Then kualitas_lingkungan_ekologi_Dodola_saat_ini*laju_degradasi*fraksi_jumlah_wisatawan else 0 fraksi_penambahan__kualitas_lingkungan = kualitas_lingkungan_ekologi_Dodola_saat_ini/Satuan__kualitas_lingkungan KRP = 0 KTP = 0 KUP = 0 laju_degradasi = 0.01 Laju_pelestarian_KAP = 0.01 laju_pelestarian_KHP = 0.01 Satuan__kualitas_lingkungan = 0.7 Total_persentase_nilai_kriteria_ekologi = laju_pelestarian_KHP+Laju_pelestarian_KAP+KUP+KRP+KTP Pendapatan wisata rekreasi Total_manfaat_bersih_kawasan__wisata_rekreasi_Dodola_per_tahun(t) = Total_manfaat_bersih_kawasan__wisata_rekreasi_Dodola_per_tahun(t - dt) + (pendapatan_wisata__rekreasi) *dtINIT Total_manfaat_bersih_kawasan__wisata_rekreasi_Dodola_per_tahun = 0 INFLOWS: pendapatan_wisata__rekreasi = if time >=2009 Then (Total_manfaat_kawasan_wisata_per_tahun*pengurangan_wisatawan) else 0 biaya_perbaikan_lingkungan = pendapatan_wisata__rekreasi*persentase__perbaikan_lingkungan Jumlah_kunjungan__wisata_per_tahun = 26455 Koefisien_biaya__perjalanan = 0.02406

191

Konsumen_surplus = Tingkat_kunjungan_wisatawan/Koefisien_biaya__perjalanan persentase__perbaikan_lingkungan = 0.01 Tingkat_kunjungan_wisatawan = 63 Total_manfaat_kawasan_wisata_per_tahun = Konsumen_surplus*Jumlah_kunjungan__wisata_per_tahun

Daya dukung kawasan wisata snorkling Jumlah_wisatawan_snorkling_Dodola_saat_ini(t) = Jumlah_wisatawan_snorkling_Dodola_saat_ini(t - dt) + (Penambahan__wisatawan - pengurangan_wisatawan) * dtINIT Jumlah_wisatawan_snorkling_Dodola_saat_ini = 86 INFLOWS: Penambahan__wisatawan = Jumlah_wisatawan_snorkling_Dodola_saat_ini*fraksi_penambahan__kualitas_lingkungan OUTFLOWS: pengurangan_wisatawan = Jumlah_wisatawan_snorkling_Dodola_saat_ini fraksi_jumlah_wisatawan = Jumlah_wisatawan_snorkling_Dodola_saat_ini/satuan_jumlah_wisatawan satuan_jumlah_wisatawan = 86 Lingkungan ekologi kawasan lindung pulau-pulau kecil kualitas_lingkungan_ekologi_Dodola_saat_ini(t) = kualitas_lingkungan_ekologi_Dodola_saat_ini(t - dt) + (Upaya_perbaikan_Lingkungan_ekologi__Dodola - degradasi_lingkungan_ekologi) * dtINIT kualitas_lingkungan_ekologi_Dodola_saat_ini = 0.7 INFLOWS: Upaya_perbaikan_Lingkungan_ekologi__Dodola = if time >=2009 Then (persentase__perbaikan_lingkungan+Total_persentase_nilai_kriteria_ekologi) *kualitas_lingkungan_ekologi_Dodola_saat_ini else 0 OUTFLOWS: degradasi_lingkungan_ekologi = if time >=2009 Then kualitas_lingkungan_ekologi_Dodola_saat_ini*laju_degradasi*fraksi_jumlah_wisatawan else 0 fraksi_penambahan__kualitas_lingkungan = kualitas_lingkungan_ekologi_Dodola_saat_ini/Satuan__kualitas_lingkungan KRP = 0 KTP = 0 KUP = 0 laju_degradasi = 0.01 Laju_pelestarian_KAP = 0.01 laju_pelestarian_KHP = 0.01 Satuan__kualitas_lingkungan = 0.7 Total_persentase_nilai_kriteria_ekologi = laju_pelestarian_KHP+Laju_pelestarian_KAP+KUP+KRP+KTP Pendapatan wisata snorkling Total_manfaat_bersih_kawasan__Snorkling_Dodola__per_tahun(t) = Total_manfaat_bersih_kawasan__Snorkling_Dodola__per_tahun(t - dt) + (pendapatan_wisata__snorkling) * dtINIT Total_manfaat_bersih_kawasan__Snorkling_Dodola__per_tahun = 0 INFLOWS: pendapatan_wisata__snorkling = if time >=2009 Then (Total_manfaat_kawasan_wisata_per_tahun*pengurangan_wisatawan) else 0 biaya_perbaikan_lingkungan = pendapatan_wisata__snorkling*persentase__perbaikan_lingkungan Jumlah_kunjungan__wisata_per_tahun = 26455

192

Koefisien_biaya__perjalanan = 0.02406 Konsumen_surplus = Tingkat_kunjungan_wisatawan/Koefisien_biaya__perjalanan persentase__perbaikan_lingkungan = 0.01 Tingkat_kunjungan_wisatawan = 63 Total_manfaat_kawasan_wisata_per_tahun = Konsumen_surplus*Jumlah_kunjungan__wisata_per_tahun

Daya dukung kawasan wisata selam Jumlah_wisatawan_selam_Dodola_saat_ini(t) = Jumlah_wisatawan_selam_Dodola_saat_ini(t - dt) + (Penambahan__wisatawan - pengurangan_wisatawan) * dtINIT Jumlah_wisatawan_selam_Dodola_saat_ini = 430 INFLOWS: Penambahan__wisatawan = Jumlah_wisatawan_selam_Dodola_saat_ini*fraksi_penambahan__kualitas_lingkungan OUTFLOWS: pengurangan_wisatawan = Jumlah_wisatawan_selam_Dodola_saat_ini fraksi_jumlah_wisatawan = Jumlah_wisatawan_selam_Dodola_saat_ini/satuan_jumlah_wisatawan satuan_jumlah_wisatawan = 430 Lingkungan ekologi kawasan lindung pulau-pulau kecil kualitas_lingkungan_ekologi_Dodola_saat_ini(t) = kualitas_lingkungan_ekologi_Dodola_saat_ini(t - dt) + (Upaya_perbaikan_Lingkungan_ekologi__Dodola - degradasi_lingkungan_ekologi) * dtINIT kualitas_lingkungan_ekologi_Dodola_saat_ini = 0.7 INFLOWS: Upaya_perbaikan_Lingkungan_ekologi__Dodola = if time >=2009 Then (persentase__perbaikan_lingkungan+ Total_persentase_nilai_kriteria_ekologi)*kualitas_lingkungan_ekologi_Dodola_saat_ini else 0 OUTFLOWS: degradasi_lingkungan_ekologi = if time >=2009 Then kualitas_lingkungan_ekologi_Dodola_saat_ini*laju_degradasi*fraksi_jumlah_wisatawan else 0 fraksi_penambahan__kualitas_lingkungan = kualitas_lingkungan_ekologi_Dodola_saat_ini/Satuan__kualitas_lingkungan KRP = 0 KTP = 0 KUP = 0 laju_degradasi = 0.01 Laju_pelestarian_KAP = 0.01 laju_pelestarian_KHP = 0.01 Satuan__kualitas_lingkungan = 0.7 Total_persentase_nilai_kriteria_ekologi = laju_pelestarian_KHP+Laju_pelestarian_KAP+KUP+KRP+KTP Pendapatan wisata selam Total_manfaat_bersih_kawasan__wisata_selam_Dodola_per_tahun(t) = Total_manfaat_bersih_kawasan__wisata_selam_Dodola_per_tahun(t - dt) + (pendapatan_wisata__selam) * dtINIT Total_manfaat_bersih_kawasan__wisata_selam_Dodola_per_tahun = 0 INFLOWS: pendapatan_wisata__selam = if time >=2009 Then (Total_manfaat_kawasan_wisata_per_tahun*pengurangan_wisatawan) else 0 biaya_perbaikan_lingkungan = pendapatan_wisata__selam*persentase__perbaikan_lingkungan

193

Jumlah_kunjungan__wisata_per_tahun = 26455 Koefisien_biaya__perjalanan = 0.02406 Konsumen_surplus = Tingkat_kunjungan_wisatawan/Koefisien_biaya__perjalanan persentase__perbaikan_lingkungan = 0.01 Tingkat_kunjungan_wisatawan = 63 Total_manfaat_kawasan_wisata_per_tahun = Konsumen_surplus*Jumlah_kunjungan__wisata_per_tahun

Daya dukung kawasan wisata lamun Jumlah_wisatawan_lamun_Dodola_saat_ini(t) = Jumlah_wisatawan_lamun_Dodola_saat_ini(t - dt) + (Penambahan__wisatawan - pengurangan_wisatawan) * dtINIT Jumlah_wisatawan_lamun_Dodola_saat_ini = 66 INFLOWS: Penambahan__wisatawan = Jumlah_wisatawan_lamun_Dodola_saat_ini*fraksi_penambahan__kualitas_lingkungan OUTFLOWS: pengurangan_wisatawan = Jumlah_wisatawan_lamun_Dodola_saat_ini fraksi_jumlah_wisatawan = Jumlah_wisatawan_lamun_Dodola_saat_ini/satuan_jumlah_wisatawan satuan_jumlah_wisatawan = 66 Lingkungan ekologi kawasan lindung pulau-pulau kecil kualitas_lingkungan_ekologi_Dodola_saat_ini(t) = kualitas_lingkungan_ekologi_Dodola_saat_ini(t - dt) + (Upaya_perbaikan_Lingkungan_ekologi__Dodola - degradasi_lingkungan_ekologi) * dtINIT kualitas_lingkungan_ekologi_Dodola_saat_ini = 0.7 INFLOWS: Upaya_perbaikan_Lingkungan_ekologi__Dodola = if time >=2009 Then (persentase__perbaikan_lingkungan+ Total_persentase_nilai_kriteria_ekologi)*kualitas_lingkungan_ekologi_Dodola_saat_ini else 0 OUTFLOWS: degradasi_lingkungan_ekologi = if time >=2009 Then kualitas_lingkungan_ekologi_Dodola_saat_ini*laju_degradasi*fraksi_jumlah_wisatawan else 0 fraksi_penambahan__kualitas_lingkungan = kualitas_lingkungan_ekologi_Dodola_saat_ini/Satuan__kualitas_lingkungan KRP = 0 KTP = 0 KUP = 0 laju_degradasi = 0.01 Laju_pelestarian_KAP = 0.01 laju_pelestarian_KHP = 0.01 Satuan__kualitas_lingkungan = 0.7 Total_persentase_nilai_kriteria_ekologi = laju_pelestarian_KHP+Laju_pelestarian_KAP+KUP+KRP+KTP Pendapatan wisata lamun Total_manfaat_bersih_kawasan__wisata_lamun_Dodola_per_tahun(t) = Total_manfaat_bersih_kawasan__wisata_lamun_Dodola_per_tahun(t - dt) + (pendapatan_wisata__lamun) * dtINIT Total_manfaat_bersih_kawasan__wisata_lamun_Dodola_per_tahun = 0 INFLOWS: pendapatan_wisata__lamun = if time >=2009 Then (Total_manfaat_kawasan_wisata_per_tahun*pengurangan_wisatawan) else 0

194

biaya_perbaikan_lingkungan = pendapatan_wisata__lamun*persentase__perbaikan_lingkungan Jumlah_kunjungan__wisata_per_tahun = 26455 Koefisien_biaya__perjalanan = 0.02406 Konsumen_surplus = Tingkat_kunjungan_wisatawan/Koefisien_biaya__perjalanan persentase__perbaikan_lingkungan = 0.01 Tingkat_kunjungan_wisatawan = 63 Total_manfaat_kawasan_wisata_per_tahun = Konsumen_surplus*Jumlah_kunjungan__wisata_per_tahun

195

Lampiran 20 Foto-Foto Ikan Karang yang di Temukan di Perairan Morotai Selatan dan Morotai Selatan Barat.

Abudefduf spp., Chromis spp.

Dascyllus spp.

Spesies Ikan Indikator Dominan (Chaetodon kleinii)

Apogonidae

Amphiprion spp

Beberapa Spesies Ikan Mayor Spesies Ikan Target Dominan (Caesio sp)

196

Lampiran 21 Panorama Pulau Kecil KP2K MS2B

Kondisi Pantai dan bawah air Pulau Mitita

Pantai Utara Rao yang terjal dan sarang burung walet

197

Pantai Pulau Dodola dan terumbu karang yang indah