Anda di halaman 1dari 38

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Masalah Dalam kehidupan manusia pendidikan memegang peranan yang

sangat penting karena pendidikan merupakan wahana untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Sejalan dengan perkembangan dunia pendidikan yang semakin pesat menuntut lembaga pendidikan untuk lebih dapat menyesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Banyak perhatian khusus yang diarahkan pada perkembangan pendidikan guna meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan pembaharuan system pendidikan. Pendidikan berfungsi untuk membantu siswa dalam pengembangan dirinya, yaitu pengembangan semua potensi, kecakapan, serta krakristik ke arah yang positif baik bagi dirinya maupun lingkungannya. Pada saat sekarang ini di berbagai jenjang pendidikan mulai dari taman kanak-kanak hingga ke jenjang sekolah menengah atas, masih banyak guru belum memahami metode-metode mengajar yang baik sehingga menimbulkan perasaan kurang bersemangat pada siswa. Gambaran semacam ini masih terlihat di SDN 4 Pringgajurang. Guru lebih cendrung mengadopsi metode lama seperti metode ceramah dan hanya terpaku pada materi yang ada pada buku bacaan saja. Tidak ada inovasi yang dimiliki oleh seorang guru untuk menciptakan suasana belajar yang efektif, kreatif, inovatif, dan menyenangkan bagi siswa. Sehingga tidak heran apabila kondisi siswa yang mengikuti pelajaran di kelas tidak memiliki motivasi yang tinggi dan mereka cendrung

mengalami kejenuhan saat mengikuti kegiatan pembelajaran. Siswa merasa terpaksa untuk mengikuti pelajaran, siswa terpaksa untuk belajar karena takut dimarahi oleh guru. Hal semacam ini sangat berdampak pada hasil belajar siswa yang cendrung rendah dan tidak sesuai dengan yang diaharpkan. Sehingga tidak heran apabila kita mendengar ada anak yang tidak naik kelas dan tidak lulus UN. Ini semua disesbabkan oleh kurangnya inovasi guru dalam menggunakan metode pembelajaran yang tepat. Sementara itu, Untuk menunjang proses pembelajaran di sekolah orang yang paling berperan penting adalah guru. Peran guru yang hebat tentunya harus ditunjang dengan peningkatan mutu diri secara kontinu. Guru dituntut untuk berperan aktif sebagai fasilitaor yang memudahkan siswa dalam pembelajaran, sebagai narasumber yang mampu mengundang pemikiran dan daya kreasi siswa. Banyak upaya yang dilakukan oleh berbagai pihak terkait untuk memperbaiki paradigm pembelajaran di sekolah, terutama pemerintah. Pemerintah dengan berbagai cara melakukan perbaikan-perbaikan di sector pendidikan dengan meningkatkan mutu pendidikan melalui pelatihan guru ataupun sertifikasi. Melalui pelatihan peningkatan mutu guru ini, diharapkan guru mmampu memnjadi agen perubahan dalam menjalankan transfer of knowlegade pada siswa. Untuk itu, pemerintah berusaha menerjemahkan cara mendidik yang benar dengan mengeluarkan materi dan metode pokok penunjang

profesionalisme guru, seperti metode PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan). PAKEM merupakan metode belajar yang modern yang harus dikuasai oleh guru agar peroses pembelajaran semakin

maksimal dan berenergi. Dasar metode pembelajaran ini banyak terdapat pada metode modern terutama quantum learning. Bisa dikatakan, sesungguhnya PAKEM adalah quantum learning yang sudah diindonesiakan. Mendidik dengan menggunakan metode PAKEM diharapkan mampu mengubah wajah pendidikan di tanah air yang hanya terkesan monolog, guru berbicara dan siswa mendenngarkan, seakan-akan proses pembelajaran yang tidak menyenangkan bahkan membuat siswa terhambat secara intlektual. Penerapan metode PAKEM diharapkan pembelajaran menjadi aktif

membangun makna dan pemahaman dari informasi, ilmu pengetahuan maupun pengalaman oleh siswa sendiri. Selanjutnya, diharapkan menjadi inovatif dalam memunculkan ide-ide baru yang lebih baik dan menjadi

alternative dalam mengembangkan potensi siswa karena pada dasarnya setiap individu memiliki imajinasi dan rasa ingin tahu yang tidak pernah terhenti. Selain itu, dengan peneraapan metode ini diharapkan mampu membantu siswa untuk menjadi orang yang berprestasi. Berdasrkan uraian di atas metode PAKEM sangat tepat digunakan oleh kalangan guru khususnya di sekolah dasar (SD). Anak yang berada di SD adalah anak yang berada pada rentangan usia dini. Masa usia dini ini merupakan masa perkembangan anak yang pendek tetapi merupakan masa yang sangat penting bagi kehidupannya. Oleh karena itu, pada masa ini seluruh potensi yang dimiliki anak perlu didorong sehingga akan berkembang secara optimal. Orang yang paling banyak berperan dalam mendidik dan membimbing untuk menumbuhkan potensi yang dimiliki siswa di sekolah adalah guru. Oleh sebab itu, penelitian ini dipokuskan pada Peran Guru

dalam Proses Pembelajaran PAKEM dalam Peningkatan Prestasi Belajar IPA Siswa Kelas III SDN 4 Pringga Jurang. B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, identifikasi maslah yang dapat dikemukakan terkait dengan peran guru dalam meningkatkan prestasi belajar siswa di SDN 4 Pringgajurang, adalah sebagai berikut: 1. Prestasi belajar IPA siswa kelas III SDN 4 Pringgajurang masih rendah. 2. Guru dalam menunjang proses belajar mengajar masih belum maksimal. 3. Guru menggunakan metode lama dalam mengajar di depan kelas sehingga suasana belajar yang dialami siswa sangat membosankan. 4. Guru cendrung menggunakan kekerasan dalam mengajar sehingga merasa tertekan dan terpaksa untuk mengikuti kegiati kegiatan pembelajaran di kelas. 5. Guru masih terpaku terhadap buku paket, tidak ada inovasi dalam mengembangkan pembelajaran. C. Batasan Masalah Berdasarkan identifikasi masalah di atas, masalah yang muncul dalam penelitian ini cukup banyak sehingga perlu dibatasi karena kurangnya biaya yang digunakan dalam penelitian ini. Oleh karena itu, permasalahan yang akan diangkat dalam penelitian ini adalah peran guru dalam menggunakan metode PAKEM untuk meningkatkan prestasi belajar IPA siswa kelas III SDN 4 Pringgajurang. D. Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan masalah di atas, rumusan masalah yang dapat diangkat dalam penelitian ini adalah: Bagaimanakah penerapan metode PAKEM untuk meningkatkan prestasi belajar IPA siswa kelas III SDN 4 Pringgajurang tahun ajaran 2012/2013? E. Tujuan Penelitian Dari permaslahan yang sudah dipaparkan sebelumnya, adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: 1. Peran guru dalam pemanfaatan metode PAKEM untuk meningkatkan prestasi belajar IPA siswa kelas III SDN 4 Pringga Jurang tahun pelajaran 2012/2013. 2. Penerapan Metode PAKEM dalam meningkatkan prestasi belajar IPA siswa kelas III SDN 4 Pringga Jurang tahun pelajaran 2012/2013. F. Manfaat Penelitian Secara teoritis hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah dan mengembangkan berbagai teori pembelajaran yang inovatif untuk menunjang kemajuan dunia pendidikan. Adapun manfaat praktis yang diharapkan melalui penelitian ini, antara lain: 1. Bagi Siswa Dengan peran guru dalam proses pembelajaran PAKEM siswa dapat mengembangkan kreatifitas, prestasi, inovasi dan kemandirian dalam belajar tanpa merasa tertekan. 2. Bagi Guru Penerapan metode PAKEM ini dapat membantu para guru atau peneliti dalam dalam proses pembelajaran agar tercipta suasana yang

menyenangkan bagi siswa serta menciptakan iklim belajar yang mampu membentuk pribadi siswa menjadi orang yang berprestasi. 3. Bagi Sekolah Bagi sekolah, penerapan PAKEM diharapkan dapat menjadi acuan untuk membina dan membimbing para guru yang lain agar lebih inovatif dalam mendisain proses pembelajaran agar tercipta suasana belajar yang menyenangkan bagi siswa.

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Deskripsi Teoritis 1. Pengertian Belajar Menurut Gage (dalam Syaiful, 2011:13) belajar adalah suatu proses dimana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat dari pengalaman. Sedangkan menurut Henry E Garret berpendapat yang dimaksud dengan belajar adalah proses yang berlangsung dalam jangka waktu lama dan melalui latihan maupun pengalaman yang membawa pada perubahan diri dan perubahan cara mereaksi terhadap suatu perangsang tertentu. Sedangkan, belajar menurut Slameto adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkahlaku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya, Salemto (1995:2). Menurut Uzer belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku atau kecakapan manusia. Perubahan tingkah laku ini bukan disebabkan oleh proses pertumbuhan yang bersifat fisiologis atau proses kematangan. Perubahan yang terjadi karena belajar dapat berupa perubahan-perubahan dalam kebiasaan, kecakapan atau dalam ketigaaspek yakni pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), dan ketrampilan (psikomotorik), Uzer (1993:5). Sementara itu, Menurut Morris L. Bigge (1992 : 1) Learning is an enduring change in aliving individual that is not haralded by a genetic in heritance (belajar adalah perubahan yang menetap dalam kehidupan seseorang yang tidak diwariskan secara genetis) (Max

Darsono, 2000: 3). Menurut James O. Whittaker (1970 : 215) Learning may be defined as the process by which behavior originates or is alfered through training or experience (Belajar dapat didefinisikan sebagai proses yang menimbulkan atau mengubah perilaku melalui latihan atau pengalaman) (Max darsono, 2000: 4). Menurut W.S Winkel (1987 : 36) belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan dalam pengetahuan pemahaman keterampilan dan nilai sikap. Aoron Quinn Sartain (1958 : 229). Learning may be defines as a result of experience (belajar dapat didefinisikan sebagai suatu perubahan perilaku sebagai hasil pengalaman). Dari definisi tersebut belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil dari berbagai bentuk seperti : perubahan pengetahuan, pemahaman sikap, tingkah laku, keterampilan, kecakapan, kebiasaan, serta perubahan aspek aspek lain yang ada pada individu yang belajar. Proses terjadinya belajar sangat sulit diamati. Karena itu orang cenderung memprevikasikan tingkah laku manusia untuk disusun menjadi pola tingkah laku yang akhirnya tersusunlah suatu model yang menjadi prinsip-prinsip belajar yang bermanfaat sebagai bekal untuk memahami, mendorong, dan memberi arah kegiatan belajar. a. Ciri-Ciri Belajar Karakteristik perilaku belajar dapat dilihat dari sudut psikologi pendidikan disebut juga prinsip-prinsip belajar. Setiap perilaku belajar itu

ditandai oleh ciri-ciri perubahan yang spesifik antara lain seperti yang dikemukakan dibawah ini: a. Belajar menyebabkan perubahan pada aspek-aspek keperibadian yang berfungsi terus menerus yang berpengaruh pada proses belajar selanjutnya. b. Belajar hanya terjadi melalui pengalaman yang bersifat individual. c. Belajar merupakan kegiatan yang bertujuan, yaitu arah yang ingin dicapai melalui proses belajar. d. Belajar menghasilkan perubahan yang menyeluruh, melibatkan keseluruhan tinkah laku secara integral. e. Belajar adalah proses intraksi. f. Belajar berlangsung dari yang paling sederhana sampai pada kompleks. (Sagala, 20011:53). 2. Pembelajaran a. Pengertian Pembelajaran Pembelajaran adalah komunikasi dua arah, mengajar dilakukan oleh pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik atau murid, Sagala (2011:61). Sedangkan menurut Corey (1986:195) pembelajaran adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang secara disengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respon terhadap situasi tertentu. Sedangkan pembelajaran menurut Dimayati (dalam Sagala, 2011:62) pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional untuk membuat siswa belajar secara aktif yang menekankan pada penyetiaan sumber belajar.
9

Selanjutnya, pembelajara menurut Isjoni (2010:14) adalah suatu yang dilakukan oleh siswa, bukan dibuat untuk siswa. Pembelajaran pada dasarnya merupakan upaya pendidik untuk membantu peserta didik melakukan kegiatan belajar. Sedangkan Menurut Gagne, Briggs, dan wagner dalam Udin S. Winataputra (2008) pengertian pembelajaran adalah serangkaian kegiatan yang dirancang untuk memungkinkan terjadinya proses belajar pada siswa Tujuan dari pembelajaran adalah terwujudnya efesiensi dan efektifitas kegiatan belajar yang dilakukan peserta didik. b. Komponen-Komponen dalam Pembelajaran Kegiatan pembelajaran yang merupakan rangkaian kegiatan belajar dan mengajar memiliki berapa komponen,yaitu: 1) Siswa Siswa adalah seorang yang bertindak sebagai pencari, penerima, dan penyimpan isi pelajaran yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. 2) Guru Guru adalah seseorang yang bertindak sebagai pengelola, katalisator, dan peran lainnya yang memungkinkan berlangsungnya kegiatan belajar mengajar yang efektif. 3) Tujuan Tujuan adalah pernyataan tentang perubahan perilaku (kognitif, psikomotorik, afektif) yang diinginkan terjadi pada siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran.

10

4) Isi Pelajaran Isi pengajaran adalah segala informasi berupa fakta, prinsip, dan konsep yang diperlukan untuk mencapai tujuan. 5) Metode Metode adalah cara yang teratur untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk mendapat informasi yang dibutuhkan mereka untuk mencapai tujuan. 6) Media Media adalah bahan pengajaran dengan atau tanpa peralatan yang digunakan untuk menyajikan informasi kepada siswa. 7) Evaluasi Evaluasi adalah cara tertentu yang digunakan untuk menilai suatu proses dan hasilnya. c. Karaktristik Pembelajaran Menurut Prof. Dr. Syaiful Sagala, (2011) karaktristik pembelajaran dibagi menjadi dua bagian yaitu: 1) Dalam proses pembelajaran melibatkan proses mental siswa secara maksimal, bukan hanya menuntut siswa sekedar mencatat, mendengarkan, akan tetapi menghendaki aktivitas siswa dalam proses berfikir. 2) Dalam pembelajaran membangun suasana dialogis dan proses tanya jawab terus menerus yang diarahkan untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan berfikir siswa yang pada giliranya kemampuan berfikir itu dapat membantu siswa untuk memperoleh pengetahuan yang mereka konstruksi sendiri.

11

Menurut Oemar Hamlik dalam http://gurulia.wordpress.com, Ada tiga ciri khas atau karaktristik dalam sistem pembelajaran, yaitu sebagai berikut : a. Rencana ialah penataan ketenagaan, material, dan prosedur yang merupakan unsur-unsur sistem pembelajaran dalam suatu rencana khusus. b. Kesalingtergantungan (interdepence), antara unsur sistem pembelajaran yang serasi dalam suatu keseluruhan. Tiap unsur bersifat esensial, dan masing masing memberikan sumbangannya kepada sistem pembelajaran. c. Tujuan, sistem pembelajaran mempunyai tujuan tertentu yang hendak dicapai. Seperti sistem transportasi, sistem komunikasi, sistem

pemerintahan, semuanya memiliki tujuan. 3. Tinjuan tentang Prestasi a. Pengertian Prestasi Kata prestasi berasal dari bahasa belanda yaitu Presesatie yang kemudian dalam bahasa Indonesia menjadi Prestasi yang berarti hasil usaha. Prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, optimis dirilah yang dapat membantu untuk mencapainya, (Zuhairini, 1983:86). Masud Ha san Abdul Qohar be rpendapat Prestasi adalah apa yang telah diciptakan, hasil yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja diciptakan baik secara individu maupun kelompok. Menurut Slameto (1991), prestasi merupakan nilai angka yang menunjukan kualitas keberhasilan. Semua siswa berhasil mencapai dengan terlebih dahulu mengikuti evaluasi yang diselenggarakan guru atau sekolah. Untuk mencapai prestasi maka diperlukan sifat dan tingkahlaku
12

seperti: keaktifan individu, keaktifan secara kelompok, nilai ulangan harian dan uji praktek, ketepatan waktu mengerjakan tugas, memilki indikator materi pembelajaran, siswa memperhatikan ketika guru menjelaskan dan siswa tanggap terhadap instruksi guru. Sifat dan ciriciri yang dituntut dalam kegiatan belajar itu hanya terdapat pada individu yang mempunyai motivasi yang tinggi, sedangkan yang mempunyai motivasi yang rendah tidak ada sehingga akan menghambat kegiatan

belajarnya. Pada dasarnya prestasi belajar adalah akibat dari belajar, terutama belajar yang mempunyai motivasi tinggi. Semakin tinggi motivasi belajar siswa kemungkinan semakin besar peluang untuk mencapai prestasi yang baik atau tinggi. Dapat disimpulkan bahwa prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan, yang menyenangkan hati, yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja, baik secara individual maupun secara kelompok dalam bidang kegiatan tertentu. Berdasarkan pengertian prestasi dan belajar maka dapat diambil pengertian prestasi belajar adalah hasil atau taraf kemampuan yang telah dicapai siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar dalam waktu tertentu baik berupa perubahan tingkah laku, keterampilan dan pengetahuan dan kemudian akan diukur dan dinilai yang kemudian diwujudkan dalam angka atau pernyataan.

13

b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar 1) Faktor dari Dalam Diri Siswa (Intern) Sehubungan dengan faktor intern ini ada tingkat yang perlu dibahas menurut Slameto (1991:54) yaitu faktor jasmani, faktor psikologi dan faktor kelelahan. a) Faktor Jasmani Dalam faktor jasmaniah ini dapat dibagi menjadi dua yaitu faktor kesehatan dan faktor cacat tubuh. Faktor kesehatan sangat berpengaruh terhadap proses belajar siswa, jika kesehatan seseorang terganggu atau cepat lelah, kurang bersemangat, mudah pusing, ngantuk, jika keadaan badannya lemah dan kurang darah ataupun ada gangguan kelainan alat inderanya. Sedangkan, cacat tubuh adalah sesuatu yang menyebabkan kurang baik atau kurang sempurnanya mengenai tubuh atau badan. Cacat ini berupa buta, setengah buta, tulis, patah kaki, patah tangan, lumpuh, dan lain-lain (Slameto, 2003 : 55). b) Faktor psikologis Dapat berupa intelegensi, perhatian, bakat, minat, motivasi kematangan, kesiapan. b. Intelegensi Slameto (2003: 56) mengemukakan bahwa intelegensi atau kecakapan terdiri dari tiga jenis yaitu kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan ke dalam situasi yang baru dan cepat efektif mengetahui/menggunakan konsep-konsep yang

14

abstrak secara efektif, mengetahui relasi dan mempelajarinya dengan cepat. c. Perhatian Menurut al-Ghazali dalam Slameto (2003 : 56) bahwa perhatian adalah keaktifan jiwa yang dipertinggi jiwa itu pun bertujuan semata-mata kepada suatu benda atau hal atau sekumpulan obyek. Untuk menjamin belajar yang lebih baik maka siswa harus mempunyai perhatian terhadap bahan yang

dipelajarinya. Jika bahan pelajaran tidak menjadi perhatian siswa, maka timbulah kebosanan, sehingga ia tidak lagi suka belajar. Agar siswa belajar dengan baik, usahakan buku pelajaran itu sesuai dengan hobi dan bakatnya.

d. Bakat Menurut Hilgard dalam Slameto (2003 : 57) bahwa bakat adalah the capacity to learn. Dengan kata lain, bakat adalah kemampuan untuk belajar. Kemampuan itu akan terealisasi pencapaian kecakapan yang nyata sesudah belajar atau terlatih. Kemudian menurut Muhibbin (2003:136) bahwa bakat adalah kemampuan potensial yang dimiliki oleh seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang. e. Minat Menurut Jersild dan Taisch dalam Nurkencana (1996 : 214) bahwa minat adalah menyakut aktivitas-aktivitas yang dipilih

15

secara bebas oleh individu. Minat besar pengaruhnya terhadap aktivitas belajar siswa, siswa yang gemar membaca akan dapat memperoleh berbagai pengetahuan dan teknologi. Dengan

demikian, wawasan akan bertambah luas sehingga akan sangat mempengaruhi peningkatan atau pencapaian prestasi belajar siswa yang seoptimal mungkin karena siswa yang memiliki minat terhadap sesuatu pelajaran akan mempelajari dengan sungguhsungguh karena ada daya tarik baginya. f. Motivasi Menurut Slameto (2003 : 58) bahwa motivasi erat sekali hubungannya dengan tujuan yang akan dicapai dalam belajar, di dalam menentukan tujuan itu dapat disadari atau tidak, akan tetapi untuk mencapai tujuan itu perlu berbuat, sedangkan yang menjadi penyebab berbuat adalah motivasi itu sendiri sebagai daya penggerak atau pendorongnya. g. Kematangan Menurut Slameto (2003 : 58) bahwa kematangan adalah sesuatu tingkah atau fase dalam pertumbuhan seseorang di mana alat-alat tubuhnya sudah siap melaksanakan kecakapan baru. Berdasarkan pendapat di atas, maka kematangan adalah suatu organ atau alat tubuhnya dikatakan sudah matang apabila dalam diri makhluk telah mencapai kesanggupan untuk menjalankan fungsinya masing-masing kematang itu datang atau tiba waktunya dengan sendirinya, sehingga dalam belajarnya akan lebih berhasil

16

jika anak itu sudah siap atau matang untuk mengikuti proses belajar mengajar. h. Kesiapan Kesiapan menurut James Drever seperti yang dikutip oleh Slameto (2003 : 59) adalah preparedes to respon or react, artinya kesediaan untuk memberikan respon atau reaksi. Jadi, dari pendapat di atas dapat diasumsikan bahwa kesiapan siswa dalam proses belajar mengajar, sangat mempengaruhi prestasi belajar siswa, dengan demikian prestasi belajar siswa dapat berdampak positif bilamana siswa itu sendiri mempunyai kesiapan dalam menerima suatu mata pelajaran dengan baik. c) Faktor kelelahan Ada beberapa faktor kelelahan yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa antara lain dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu kelelahan jasmani dan kelelahan rohani. Sebagaimana dikemukakan oleh Slameto (1995:59) sebagai berikut:Kelelahan jasmani terlihat dengan lemah lunglainya tubuh dan timbul kecendrungan untuk membaringkan tubuh. Kelelahan jasmani terjadi karena ada substansi sisa pembakaran di dalam tubuh, sehingga darah kurang lancar pada bagian tertentu. Sedangkan kelelahan rohani dapat terus menerus karena memikirkan masalah yang berarti tanpa istirahat, mengerjakan sesuatu karena terpaksa, tidak sesuai dengan minat dan perhatian.

17

Dari uraian di atas maka kelelahan jasmani dan rohani dapat mempengaruhi prestasi belajar dan agar siswa belajar dengan baik haruslah menghindari jangan sampai terjadi kelelahan dalam belajarnya seperti lemah lunglainya tubuh. Sehingga perlu diusahakan kondisi yang bebas dari kelelahan rohani seperti memikirkan masalah yang berarti tanpa istirahat, mengerjakan sesuatu karena terpaksa tidak sesuai dengan minat dan perhatian. Ini semua besar sekali pengaruhnya terhadap pencapaian prestasi belajar siswa. Agar siswa selaku pelajar dengan baik harus tidak terjadi kelelahan fisik dan psikis. d.Faktor yang Berasal dari Luar (Faktor Ekstern) Faktor ekstern yang berpengaruh terhadap prestasi belajar dapatlah dikelompokkan menjadi tiga faktor yaitu faktor keluarga, faktor sekolah dan faktor masyarakat (Slameto, 1995 : 60). 1. Faktor Keluarga Faktor keluarga sangat berperan aktif bagi siswa dan dapat mempengaruhi dari keluarga antara lain: cara orang tua mendidik, relasi antara anggota keluarga, keadaan keluarga, pengertian orang tua, keadaan ekonomi keluarga, latar belakang kebudayaan dan suasana rumah. 2. Cara Orang Tua Mendidik Cara orang tua mendidik besar sekali pengaruhnya terhadap prestasi belajar anak, hal ini dipertegas oleh Wirowidjojo dalam Slameto (2003 : 60) mengemukakan bahwa keluarga adalah lembaga pendidikan yang pertama dan utama. Keluarga yang sehat besar artinya untuk

18

mendidik dalam ukuran kecil, tetapi bersifat menentukan mutu pendidikan dalam ukuran besar yaitu pendidikan bangsa dan negara. 3. Relasi antar Anggota Keluarga Menurut Slameto (2003 : 60) bahwa yang penting dalam keluarga adalah relasi orang tua dan anaknya. Selain itu juga relasi anak dengan saudaranya atau dengan keluarga yang lain turut mempengaruhi belajar anak. Wujud dari relasi adalah apakah ada kasih sayang atau kebencian, sikap terlalu keras atau sikap acuh tak acuh, dan sebagainya. 4. Keadaan Keluarga Menurut Hamalik (2002 : 160) mengemukakan bahwa keadaan keluarga sangat mempengaruhi prestasi belajar anak karena dipengaruhi oleh beberapa faktor dari keluarga yang dapat menimbulkan perbedaan individu seperti kultur keluarga, pendidikan orang tua, tingkat ekonomi, hubungan antara orang tua, sikap keluarga terhadap masalah sosial dan realitas kehidupan. Berdasarkan pendapat tersebut bahwa keadaan keluarga dapa mempengaruhi prestasi belajar anak sehingga faktor inilah yang memberikan pengalaman kepada anak untuk dapat menimbulkan prestasi, minat, sikap dan pemahamannya sehingga proses belajar yang dicapai oleh anak itu dapat dipengaruhi oleh orang tua yang tidak berpendidikan atau kurang ilmu pengetahuannya. 5. Keadaan Ekonomi Keluarga Menurut Slameto (2003 : 63) bahwa keadaan ekonomi keluarga erat hubungannya dengan belajar anak. Anak yang sedang belajar selain terpenuhi kebutuhan pokoknya, misalnya makanan, pakaian,

19

perlindungan kesehatan, dan lain-lain, juga membutuhkan fasilitas belajar seperti ruang belajar, meja, kursi, penerangan, alat tulis menulis, dan sebagainya. 6. Latar belakang kebudayaan Tingkat pendidikan atau kebiasaan di dalam keluarga

mempengaruhi sikap anak dalam belajar (Roestiyah, 1989: 156). Oleh karena itu perlu kepada anak ditanamkan kebiasaan-kebiasaan baik, agar mendorong tercapainya hasil belajar yang optimal. 4. PAKEM a. Pengertian PAKEM PAKEM dikembangkan dari istilah AJEL ( Active Joyfull and Efective Learning). Untuk pertama kali di Indonesia pada tahun 1999 dikenal dengan istilah PEAM (Pembelajaran Efektif, Aktif dan Menyenangkan). PAKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan. Belajar memang merupakan suatu proses aktif dari si pembelajar dalam membangun pengetahuannya, bukan proses pasif yang hanya menerima kucuran ceramah guru tentang pengetahuan. Sehingga, jika pembelajaran tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif, maka pembelajaran tersebut bertentangan dengan hakikat belajar. Peran aktif dari siswa sangat penting dalam rangka pembentukan

20

generasi yang kreatif, yang mampu menghasilkan sesuatu untuk kepentingan dirinya dan orang lain. Kreatif juga dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa. menyenangkan adalah suasana belajar-mengajar yang

menyenangkan sehingga siswa memusatkan perhatiannya secara penuh pada belajar sehingga waktu curah perhatiannya tinggi. Menurut hasil penelitian, tingginya waktu curah terbukti meningkatkan hasil belajar. Keadaan aktif dan menyenangkan tidaklah cukup jika proses

pembelajaran tidak efektif, yaitu tidak menghasilkan apa yang harus dikuasai siswa setelah proses pembelajaran berlangsung, sebab pembelajaran memiliki sejumlah tujuan pembelajaran yang harus dicapai. Jika pembelajaran hanya aktif dan menyenangkan tetapi tidak efektif, maka pembelajaran tersebut tak ubahnya seperti bermain biasa. Secara garis besar, gambaran PAKEM adalah sebagai berikut: 1) Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat.
2) Guru menggunakan berbagai alat bantu dan cara membangkitkan

semangat, termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik, menyenangkan, dan cocok bagi siswa. 3) Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang lebih menarik dan menyediakan pojok baca

21

4) Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif, termasuk cara belajar kelompok. 5) Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah, untuk mengungkapkan gagasannya, dan melibatkam siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya. Sedangkan, PAKEM menurut pendapat Suparlan dan Budimansyah (2008:70) adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan. Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan

mengemukakan gagasan. b. Ciri-Ciri PAKEM Ciri-ciri PAKEM secara singkat digambarkan dalam buku pelatihan awal program MBS kerja sama Pemerintah Indonesia dengan UNESCO dan UNICEF (2003: 3-4) adalah sebagai berikut: 1) Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat (learning to do). 2) Guru menggunakan berbagai alat bantu dan berbagai cara dalam membangkitkan semangat, termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik,

menyenangkan dan cocok bagi siswa. 3) Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan ajar yang lebih menarik dan menyediakan pojok baca.

22

4) Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif, termasuk belajar kelompok. 5) Guru mendorong siswa untuk menemukan cara sendiri dalam pemecahan suatu masalah, untuk mengungkapkan gagasannya, dan melibatkan siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya, (world Press.com). c. Peran Guru dalam PAKEM Agar pelaksanaan PAKEM berjalan sebagaimana diharapkan, John B. Biggs and Ross Telfer, (dalam Syaiful:2012:70) menyebutkan paling tidak ada 12 aspek dari sebuah pembelajaran kreatif, yang harus dipahami dan dilakukan oleh seorang guru yang baik dalam proses pembelajaran terhadap siswa: 1) Memahami potensi siswa yang tersembunyi dan mendorongnya untuk berkembang sesuai dengan kecenderungan bakat dan minat mereka. 2) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar meningkatkan rasa tanggung jawab dalam melaksanakan tugas dan bantuan jika mereka membutuhkan. 3) Menghargai potensi siswa yang lemah/lamban dan memperlihatkan entuisme terhadap ide serta gagasan mereka. 4) Mendorong siswa untuk terus maju mencapai sukses dalam bidang yang diminati dan penghargaan atas prestasi mereka. 5) Mengakui pekerjaan siswa dalam satu bidang untuk memberikan semangat pada pekerjaan lain berikutnya. 6) Menggunakan kemampuan fantasi dalam proses pembelajaran untuk

23

membangun hubungan dengan realitas dan kehidupan nyata. 6) Memuji keindahan perbedaan potensi, karakter, bakat dan minat serta modalitas gaya belajar individu siswa. 7) Mendorong dan menghargai keterlibatan individu siswa secara penuh dalam proyek-proyek pembelajaran mandiri. 8) Menyatakan kapada para siswa bahwa guru-guru merupakan mitra mereka dan perannya sebagai motivator dan fasilitator bagi siswa. 9) Menciptakan suasana belajar yang kondusif dan bebas dari tekanan dan intimidasi dalam usaha meyakinkan minat belajar siswa, 10) Mendorong terjadinya proses pembelajaran interaktif, kolaboratif, inkuiri dan diskaveri agar terbentuk budaya belajar yang bermakna (meaningful learning) pada siswa. 11) Memberikan tes/ujian yang bisa mendorong terjadinya umpan balik dan semangat/gairah pada siswa untuk ingin mempelajari materi lebih dalam. Sumber: Artikel Fuady. 5. Tinjauan Tentang Belajar IPA Mata pelajaran IPA merupakan salah satu bidang studi yang memegang peranan penting dalam ikut membentuk pengetahuan dan pemahaman siswa dalam mempelajari seluk beluk alam semesta. Selain itu, dalam tataran formal akademik mata pelajaran IPA termasuk salah satu mata pelajaran yang diujikan secara nasional oleh pemerintah melalui UASBN. Oleh karena menjadi suatu hal yang penting bagi siswa untuk dapat menguasai pokok bahasan yang terdapat pada mata pelajaran IPA.

24

Pembelajaran IPA pada Sekolah Dasar (SD) sangat penting dalam menumbuhkan dan mengembangkan pengetahuan siswa tentang konsep pengatahuan alam di sekitarnya. Pada tingkat sekolah dasar siswa diharapkan mampu untuk mengembangkan dirinya dan meningkatkan pengetahuan dalam mempersiapkan diri untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.Proses pembelajaran IPA SD dibentuk sedemikian rupa dan pelaksanaannya dilaksanakan sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Dalam proses pembelajaran IPA, siwa akan mendapatkan

pengetahuannya baik itu dari dalam dirinya maupun lingkungan yang ada di sekitarnya. Jadi, siswa akan mendapatkan pengetahuannya dengan

menemukan dari proses pembelajaran yang dilaksanakan. Pembelajaran IPA sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari siswa. Siswa dapat mengaplikasikan langsung akan pengetahuan yang mereka miliki dari sekolah dengan kehidupan atau lingkungan yang berada di sekitarnya. Jadi, pembelajaran IPA sangat bermakna dan nyata alam kehidupan sehari-hari. B. Penelitian yang Relevan Penelitian mengenai peran guru dalam meningkatkan prestasi siswa masih belum banyak dilakukan oleh peneliti sebelumnya. Namun, terdapat penelitian-penelitian yang relevan dengan penelitian ini. Setidaknya relevan dalam hal pemakaian metode, media maupun desain penelitian. Penelitian yang relevan dengan metode penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Anjani (2010) dengan judul Penerapan PAKEM untuk meningkatkan prestasi siswa kelas IV SDN 7 Jenggik Tahun Pelajaran 2010/2011. Dalam penelitian tersebut menyimpulkan bahwa terjadi peningkatan prestasi siswa
25

dalam pembelajaran. Peningkatan rata-rata kelas yaitu pada siklus I sebesar 67,48% dan pada siklus II menjadi 86,48%, sedangkan nilai rata-rata yang diraih oleh siswa adalah 73,81 dan mengalami ketuntasan belajar hingga 94,59%. Selanjutnya penelitian yang relevan terkait dengan penggunaan metode PAKEM pernal dilakukan oleh Indrayani (2008) dengan judul Penerapan metode PAKEm untuk Meningkatkan Motivasi dan Prestasi Belajar IPA Siswa kelas V SDN 2 Keruak Tahun Pelajar 2008/2009. Pada penelitian ini menyimpulkan bahwa terjadi peningkatan motivasi dan prestasi siswa dalam belajar IPA siswa kelas V SDN 2 Keruak pada pelajaran 2008/2009. berdasarkan penelitian yang relevan di atas, maka penelitian tentang peranan guru dalam proses pembelajaran PAKEM dalam peningkatan prestasi belajar siswa kelas III SDN 4 Pringgajurang belum pernah dilakukan oleh peneliti sebelumnya. Oleh sebab itu, peneliti akan berusaha semaksimal mungkin untuk meneliti peran guru dalam penerapan metode PAKEM untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas III SDN 4 Pringgajurang. C. Kerangka Berpikir Salah satu yang akan dicapai dalam proses belajar mengajar adalah meningkatkan prestasi belajar siswa serta meningkatkan aktivitas pembelajaran yang dilakukan siswa. Peningkatan prestasi belajar siswa sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya metode pembelajaran yang diterapkan guru dalam setiap pembelajaran, media yang digunakan dalam belajar dan suasana belajar. Pembelajaran yang dilakukan dengan menggunakan metode PAKEM
26

membuat anak akan lebih aktif, kreatif, inovatif, kreatif dan menyenangkan sehingga dapat meningkatkan prestasi dan motivasi belajar di kalangan siswa. E. Hipotesis Tindakan Hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah: Jika peran guru dalam menerapkan metode PAKEM dilakukan secara optimal maka dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas III SDN 4 Pringgajurang.

27

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian adalah proses keseluruhan yang dipaparkan dalam perencanaan dan pelaksanaaan penelitin. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas adalah kegiatan mencermati sekelompok siswa yang sedang melakukan proses belajar dengan suatu cara tertentu dengan tujuan meningkatkan hasil belajar siswa menjadi lebih memuaskan. B. Setting Penelitian 1. Tempat dan Waktu Penelitian Tempat pelaksanaan penelitian ini adalah di SDN 4 Pringgajurang. Alasan peneliti mengambil SDN 4 Pringgajurang sebagai tempat penelitian adalah disamping jarak tempat tinggal peneliti cukup dekat, peneliti juga termasuk setaf pengajar di SDN 4 Pringgajurang. Adapun waktu penelitian ini akan dilaksanakan selama 3 bulan, mulai dari bulan Oktober sampai Desember 2012. 2. Subjek Penelitian Subjek penelitian adalah sesuatu, baik orang, benda ataupun lembaga (organisasi), yang sifat-keadaannya (Attribut-nya) akan diteliti. Dengan kata lain subjek penelitian adalah sesuatu yang di dalam dirinya melekat atau terkandung objek penelitian. Dalam bukunya Suharsimi Arikunto

(Manajemen Penelitian), Subjek penelitian adalah subjek yang dituju untuk diteliti oleh peneliti. Jika kita bicara tentang subjek penelitian, sebetulnya kita

28

berbicara tentang unit analisis, yaitu subjek yang menjadi pusat perhatian atau sasaran peneliti, (subliyanto.blogspot.com). Berdasarkan pengertian subjek penelitian di atas, maka dalam penelitian ini yang termasuk dari subjek penelitian ini adalah guru dan siswa kelas III SDN 4 Peringga Jurang yang berjumlah 22 orang. C. Desain Penelitian Penelitian dalam skripsi ini menggunakan model tindakan kelas.

Penelitian tindakan kelas adalah salah satu strategi pemecahan masalah yang memanfaatkan tindakan nyata dan proses pengembangan keterampilan dalam mendeteksi dan pemecahkan masalah. Peneliti memilih rancangan penelitian tindakan kelas karena keterampilan belajar IPA Siswa kelas III SDN 04 Pringgajurang masih rendah. Dengan rancangan ini peneliti berharap agar prestasi belajar IPA siswa kelas III SDN 04 Pringgajurang semakin meningkat. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus. Tiap siklus terdiri atas langkah yaitu: 1) Perencanaan adalah rencana tindakan yang akan dilakukan untuk meningkatkan keterampilan menulis cerpen. 2) Tindakan adalah pembelajaran macam apa yang dilakukan peneliti sebagai upaya peningkatan keterampilan menulis cerpen. 3) Observasi atau pengamatan adalah pengamatan terhadap kinerja siswa selama proses pembelajaran dan pengamatan terhadap hasil kerja siswa. 4) Refleksi adalah kegiatan mengkaji dan mempertimbangkan hasil pengamatan sehingga dapat dilakukan revisi terhadap proses belajar mengajar selanjutnya empat

29

Pelaksanaan penelitian tindakan kelas dalam dua siklus ini dapat digambarkan dengan mengikuti alur sebagai berikut:
MASALAH
Siswa kurang trampil dalam menulis cerpen

HASIL
Siswa trampil dalam menulis cerpen

1.PERENCANAAN

1..PERENCANAAN

4.Refleksi

Siklus I

2.Tindakan

4.Refleksi

3. Pengamatan

2.Tindakan 3. Pengamatan

Siklus II

D. Prosedur Penelitian Prosedur dalam penelitian ini menggunakan tindakan kelas. Secara singkat penelitian tindakan kelas dapat didefinisikan sebagai sutau bentuk kajian yang bersifat refleksi oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan rasional dari tindakan dalam melaksanakan tugas, memperdalam tahap tindakan yang dilakukan serta memperbaiki kondisi dimana praktik-praktik pembelajaran dilakukan. Untuk mewujudkan tujuantujuan tersebut penelitian tindakan kelas dilaksanakan berupa proses pengkajian berdaur. Penelitian ini menggunakan dua siklus seperti yang tergambar berikut: 1. Pelaksanaan Siklus I Adapun langkah-langkah pelaksanaan siklus I adalah sebagai berikut: a) Perencanaan Tindakan Perencanaan tindakan didasarkan pada hasil observasi dan tes awal, pada tahap ini peneliti mempersiapkan rencana yang akan dilakukan seperti menyusun perangkat pembelajaran yang berupa RPP, LKS, lembar pengamatan, dan penentuan materi pelajaran. b) Pelaksanaan Tindakan Tindakan adalah realisasi dari rencana pembelajaran. Tindakan
30

dilaksanakan berdasarkan rencana pembelajaran yang telah dibuat pada tahap perencanaan. Tahap ini terwujud dalam bentuk proses belajar mengajar dan dilaksanakan guru dan sisa di dalam kelas. Secara garis besar tindakan yang dilakukan adalah kegiatan belajar-mengajar di kelas III SDN 4 Pringgajurang dengan pendekatam PAKEM. Pada tahap ini dilakukan tiga proses pembelajaran, yaitu pendahuluan, inti dan penutup sebagaimana yang tertera dalam RPP. c) Observasi Observasi dilaksanakan pada proses pelaksanaan tindakan dengan mennggunakan lembar observasi yang telah disiapkan. Hasil observasi digunakan untuk mengetahui peran guru dan kemajuan siswa dalam proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan PAKEM. Pengamatan dilakukan oleh penelitian selama proses pembelajaran berlangsung. d) Refleksi Refleksi dilaksanakan untuk melihat proses pelaksanaan tindakan atas penerapan pendekatan PAKEM sebagai upaya untuk meningkatkan prestasi siswa kelas III SDN 4 Pringgajurang. Refleksi dilakukan untuk menilai keterlaksanaan tindakan pembelajaran, dan hasilnya merupakan temuan-temuan korektif guru dan peneliti ke siklus berikutnya. Pada tahap refleksi, peneliti akan melihat hasil dari tahap

tindakan dan pengamatan siklus I. Jika masih banyak siswa yang bersikap negatif terhadap proses pemmbelajaran atau guru kurang menggunakan

31

pendekatan PAKEM dengan optimal seperti yang dijelaskan dalam hasil observasi, hal ini dapat dijadikan sebagai bahan perbaikan untuk tindakan pada siklus II. 2. Pelaksanaan Siklus II Tahapan pelaksanaan tindakan dalam siklus II sama dengan proses yang dilaksanakan pada siklus I. Pelaksanaan siklus II merupakan tindak lanjut, koreksi, dan penilaian proses pembelajaran berdasarkan hasil refleksi siklus I. Proses pelaksanaan siklus II menurut peneliti belum perlu diuraikan, mengingat belum ada temuan-temuan yang perlu diinterpretasikan baik guru maupun penelliti, dan akan diungkapkan setelah penelitian ini telah dilaksanakan secara utuh sesuai rencana tindakan dan tujuan yang ingin dicapai. E. Tehnik Pengumpulan Data Untuk memperoleh data dalam penelitian ini diperlukan alat pengumpul data sebagai berikut : 1. Dokumentasi Digunakan untuk mendapatkan data-data yang diperlukan sebagai abstrak untuk mengadakan penelitian, yakni daftar nama dan jumlah siswa dalam penelitian. 2. Angket Untuk menganalisa informasi berdasarkan keterangan yang relevan dengan permasalahan yang dihadapi dan yang dapat dijelaskan oleh responden, dan untuk memperoleh informasi tentang kesulitan-kesulitan yang dialami siswa dalam mempelajari IPA.

32

3. Metode wawancara Digunakan untuk mengetahui pendapat guru tentang pembelajaran PAKEM, dan data yang diperoleh digunakan untuk membahas kelebihan pembelajaran PAKEM. 4. Metode Tes Instrumen tes, yaitu tes tentang materi IPA. Tes tersebut dilakukan dua kali yaitu : 1) Tes pertama, yaitu tes untuk memperoleh nilai awal sebelum menggunakan model PAKEM. 2) Tes kedua, yaitu tes sesudah menggunakan model PAKEM. F. Instrumen Penelitian Instrumen adalah alat yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam suatu penelitian dan penilaian. Instrumen merupakan alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan informasi kuantitatif dan kualitatif tentang variasi karakteristik variabel penelitian secara objektif. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1. Lembar Observasi Lembar observasi untuk memperoleh data tentang aktivitas guru dalam PAKEM dan berisi aktivitas-aktivitas siswa kelas III SDN 4 Pringgajurang selama mengikuti pembelajaran. Adapun format lembar aktivitas guru dan siswa dalam pembelajaran PAKEM dilampirkan. 2. Lembar Tes Adapun tes yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan dengan dua kali tes, yaitu tes akhir siklus pertama dan tes akhir siklus kedua

33

berupa soal pilihan ganda sebanyak 25 butir soal yang mencakup seluruh materi tiap pertemuan pada setiap siklus kegiatan. Soal pilihan ganda yang digunakan dalam tes ini diharapakan dapat mewakili seluruh materi dan pertanyaan yang pernah muncul pada tiap kali siswa melakukan kegiatan mencocokkan kartu pertanyaan dan kartu jawaban. Soal dalam bentuk essei tidak digunakan dalam tes karena soal essei akan diberikan dalam bentuk LKS pada setiap akhir pertemuan. G. Teknik Analisis Data 1. Analisis PAKEM Kegiatan analisis meliputi analisis hasil observasi aktivitas guru. Hal ini bertujuan untuk mengetahui tindakan yang telah dilakukan. Data yang dipeorleh dari hasil observasi selama proses pembelajaran selanjutnya dianalisis secara deskriptif kualitatif sehingga dapat diketahui apakah tujuan penerapan pendekatan PAKEM yang digunakan dalam proses pembelajaran sudah mencapai sasaran atau bahkan tidak mencapai sasaran.untuk menghitung prsentase aktivitas guru digunakan rumus sebagai berikut:
Jumlah Skor

Data

Aktivitas

Guru

dalam

Penerapan

Skor Akhir=
Skor Maksimal

x 100%

34

Kriteria Keberhasilan Tindakan Guru Prsentase Tingkat keberhasilan Klasifikasi 90% < SA < 100% 80% < SA < 90% 70% < SA < 80% 60% < SA < 70% 0% < SA < 60% 2. Sangat Baik Baik Cukup Kurang Sangat Kurang

Analisi Data Aktivitas dan Prestasi Belajar Siswa Pengkajian atau analisis data dilakukan dengan metode kuantitatif untuk pengamatan kinerja siswa dan penilaian hasil belajar siswa dengan pendekatan PAKEM. Data yang diperoleh dari pengamatan kinerja setiap siswa pada siklus pertama dan siklus kedua berupa skor dijumlahkan dan diubah menjadi nilai kuantitatif dengan rumus : N1= JSx10 N2=JSx10 Keterangan: N1= Nilai Siklus 1 N2= Nilai Siklus 2 JS= Jumlah skor 10= Bobot Tiap skor Nilai seluruh siswa dijumlahkan dan dirata-ratakan kemudian dibandingkan antara hasil siklus pertama dengan siklus kedua. Selisih rata-rata nilai dari siklus pertama dan kedua. Setelah rata-rata nilai dari siklus pertama dan kedua diprsentasekan dengan rumus:
NR2-NR1 NR1

PP=

x 100%
35

Keterangan: PP NR1 NR2 = Prosentase kenaikan nilai menulis cerpen siswa = Rata-rata siklus I = Rata-rata siklus 2 Persentase tesebut digunakan sebagai bahan kajian dan bahan pembanding dalam menjawab permasalahan seberapa besar peningkatan prestasi belajar siswa dengan menggunakan pendekatan PAKEM. H. Indikator Keberhasilan Indikator keberhasilan penelitian tindakan kelas ini adalah bila skor ratarata hasil tes siswa melalui penerapan pendekatan PAKEM mengalami peningkatan hasil rata-rata yaitu mencapai 75% siswa yang memperoleh skor minimum 65 dari skor ideal 100 dan terjadi perubahan sikap selama mengikuti proses pembelajaran yang ditandai dengan peningkatan aktivitas belajar siswa dalam hal: 1) keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran, 2) kreatifitas

siswa dalam mengemukakan pendapat, 3) kemampuan siswa dalam bekerjasama dan 4) berdiskusi dengan teman dan semanat serta antusias siswa dalam mengikuti pembelajaran yang dibuktikan dengan peningkatan perhatian siswa terhadap materi pelajaran, sehingga PAKEM merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

36

DAFTAR PUSTAKA Adil, Deden Marrah. 2012. Pembelajaran Matimatika Model PAKEM.dedenbenalobe.web.id, diakses pada tanggal 30/9/2012 pukul 15.30 Wita.

Anjani. 2010. Penerapan PAKEM untuk meningkatkan prestasi siswa kelas IV SDN 7 Jenggik Tahun Pelajaran 2010/2011. Selong: STKIP. Arikunto,suharsimi.1997.Prosedur penelitian:Rineka Cipta. Darsono,Max.2004.Belajar dan Pembelajaran.Semarang:IKIP Semarang. Hamalik, Oemar.2002.Psikologi Belajar dan Mengajar.Bandung:Sinar Baru. Harry,P. 2009. Model Pakem Dengan Pendekatan Tematik Untuk Sains Kelas II SD Negeri Sekaran I Tahun 2008/2009.FMIPA: UNS. Indrayani. 2008. Penerapan metode PAKEM untuk Meningkatkan Motivasi dan Prestasi Belajar IPA Siswa kelas V SDN 2 Keruak Tahun Pelajar 2008/2009. Selong:STKIP. Mahfudz, Asep. 2012.Cara Cerdas Mendidik Yang Menyenangkan. Bandung: PT Rosdakarya. Moleong, Lexy J. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Rosdakarya Murni, Wahid. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Malang: UM Press. Sagala, Saiful. 2011. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.

Seifiret Kelvin.2009. Manajmen Pembelajaran&Instruksi Pendidikan.Jogjakarta: Icisod. Slameto. 2003. Belajar dan Faktor Faktor yang Mempengaruhinya . Jakarta : Rineka Cipta. Soemanto, wasty. 1990. Psikologois Pendidikan. Jakarta:PT.Renika. Subana, M. 2009. Strategi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia. Bandung: Pustaka Setia.

37

Syah, Muhibbin. 2009. Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif Dan Menyenangkan (Paikem). Bandung: UIN Gunung Jati. Uno, Hamzah B. 2011. Teori Motivasi & Pengukurannya. Jakarta: Bumi Aksara.

38