P. 1
Bank Indonesia, Kajian Stabilitas Keuangan No.12 Maret 2009

Bank Indonesia, Kajian Stabilitas Keuangan No.12 Maret 2009

|Views: 3,861|Likes:
Dipublikasikan oleh Muhammad Arief Billah
Edisi ini sangat penting karena akhir-akhir ini banyak sekali perkembangan yang terjadi yang perlu dikaji dampaknya terhadap stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan.
Hasil kajian menunjukkan bahwa secara umum ketahanan sektor keuangan Indonesia selama semester II tahun 2008 relatif cukup terjaga meskipun tekanan terhadap stabilitas sistem keuangan meningkat tajam karena imbas krisis global.
Edisi ini sangat penting karena akhir-akhir ini banyak sekali perkembangan yang terjadi yang perlu dikaji dampaknya terhadap stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan.
Hasil kajian menunjukkan bahwa secara umum ketahanan sektor keuangan Indonesia selama semester II tahun 2008 relatif cukup terjaga meskipun tekanan terhadap stabilitas sistem keuangan meningkat tajam karena imbas krisis global.

More info:

Published by: Muhammad Arief Billah on Jun 15, 2009
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/11/2014

pdf

text

original

Sections

Penerbit: Bank Indonesia Jl. MH Thamrin No.

2, Jakarta Indonesia

Kajian Stabilitas Keuangan (KSK) ini disusun sebagai bagian dari pelaksanaan
tugas Bank Indonesia dalam mewujudkan misi ≈mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah melalui pemeliharaan kestabilan moneter dan stabilitas sistem keuangan dalam rangka mewujudkan pembangunan ekonomi jangka panjang yang berkesinambungan∆.

KSK diterbitkan secara semesteran dengan tujuan untuk : Meningkatkan wawasan publik dalam memahami stabilitas sistem keuangan Mengkaji risiko-risiko potensial terhadap stabilitas sistem keuangan Menganalisa perkembangan dan permasalahan dalam sistem keuangan Merekomendasi kebijakan untuk mendorong dan memelihara sistem keuangan yang stabil.

Informasi dan Order : KSK ini terbit pada bulan Maret 2009 dan didasarkan pada data dan informasi per Desember 2008, kecuali dinyatakan lain. Dokumen KSK lengkap dalam format pdf tersedia pada web site Bank Indonesia : http://www.bi.go.id Permintaan, komentar dan saran harap ditujukan kepada : Bank Indonesia Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan Biro Stabilitas Sistem Keuangan Jl.MH Thamrin No.2, Jakarta, Indonesia Telepon : (+62-21) 381 8902, 381 8075 Fax : (+62-21) 351 8629 Email : BSSK@bi.go.id

Kajian Stabilitas Keuangan I - 2007 ( No. 12, Maret 2009 )

ii

Daftar Isi

Kata Pengantar Gambaran Umum Bab 1 Kondisi Makroekonomi dan Sektor Riil Kondisi Makroekonomi Kondisi Sektor Riil Boks 1.1. Survei Neraca Rumah Tangga Indonesia 2008 Boks 1.2. Risiko Kredit Sektor Korporasi:

vi 3 9 9 12 15 17 18 21 21 22 22 22 25 31 33 36 36 39 46

Boks 2.3. Segmentasi Pasar Uang Antar Bank (PUAB) 48 Boks 2.4. Structured Products dan Offshore Products : Dampaknya terhadap Stabilitas Sistem Keuangan Boks 2.5. Dampak Utang Luar Negeri terhadap Stabilitas Sistem Keuangan Bab 3 Infrastruktur Keuangan dan Mitigasi Risiko Perkembangan Sistem Pembayaran Pengembangan Biro Informasi Kredit Jaring Pengaman Sistem Keuangan Boks 3.1. Stabilitas Sistem Keuangan dan PERPPU tentang Perubahan Undang Undang Bank Indonesia Boks 3.2. Best Practices Analisis Dampak Sistemik terhadap Sistem Keuangan Bab 4 Prospek Sistem Keuangan Indonesia Prospek Ekonomi dan Persepsi Risiko Profil Risiko Perbankan: Tingkat dan Arah Prospek Sistem Keuangan Indonesia Artikel Artikel 1 Dampak Contagion Risk pada Pasar Modal Indonesia Artikel 2 Corporate Balance Sheet Modelling: Determinants of Indonesian Corporate Debt

50 52

Credit Default Swaps (CDS)
Boks 1.3. Transition Matrices: Potensi Risiko Kredit Korporasi pada 3 Sektor Bab 2 Sektor Keuangan Struktur Sistem Keuangan Indonesia Indeks Stabilitas Keuangan Perbankan Pendanaan dan Risiko Likuiditas Perkembangan dan Risiko Kredit Risiko Pasar Profitabilitas dan Permodalan Lembaga Keuangan Bukan Bank dan Pasar Modal Perusahaan Pembiayaan Pasar Modal Boks 2.1. Kronologis Gejolak Sektor Keuangan 2008 dan Respon Kebijakan Boks 2.2. Pengambilalihan Bank Century, Penutupan Bank Indover dan Stabilitas Sistem Keuangan

55 55 59 63

65 66 69 69 70 72

75

85

47

iii

Daftar Tabel dan Grafik

Tabel
1.1 2.1 2.2 2.3 2.4 2.5 2.6 3.1 3.2 Indikator Ekonomi Dunia Laba/Rugi Perbankan Perkembangan Pembiayaan Perusahaan Pembiayaan Rasio-rasio Keuangan Perusahaan Pembiayaan Perkembangan NPL Perusahaan Pembiayaan Pertumbuhan Indeks Bursa Regional Pertumbuhan Indeks Sektoral Perkembangan Data SID 2006-2008 Kerangka Kerja Jaring Pengaman Sistem Keuangan 4.1 4.2 Proyeksi Beberapa Indikator Ekonomi Persepsi Risiko Indonesia 64 37 37 39 41 41 60 10 34

Grafik
1.1 1.2 1.3 1.4 1.5 1.6 1.7 1.8 1.9 1.10 1.11 69 70 1.12 1.13 Business Confidence Indicators Indeks Harga Beberapa Komoditas Pertumbuhan PDB Negara Industri Pertumbuhan PDB Beberapa Negara Emerging Market Indeks Harga Saham Global Perkembangan Nilai Tukar Rupiah IDR/USD Perkembangan Inflasi ASEAN-5 dan Vietnam Pertumbuhan ROA dan ROE Perusahaan Non Financial Go Public Perkembangan DER dan TL/TA Perusahaan Non Financial Go Public Probability of Default (PD) Perusahaan Non Financial Go Public Komposisi Sumber Pendapatan Rumah Tangga Komposisi Aset Lembaga Keuangan Indeks Stabilitas Keuangan (Financial Stability Index) 46 46 48 49 52 2.3 2.4 2.5 2.6 2.7 2.8 2.9 2.10 2.11 2.12 2.13 2.14 2.15 2.16 Perkembangan DPK Perkembangan DPK Valas Perkembangan DPK Valas vs Nilai Tukar Rupiah Ekses Likuiditas Bank Volume Transaksi PUAB DN (rata-rata per hari) Pertumbuhan Kredit (yoy) Perkembangan Kredit 2007-2008 Pertumbuhan Kredit Kelompok Bank (ytd) Pertumbuhan Kredit Jenis Penggunaan (ytd) Pertumbuhan Kredit Sektor Ekonomi Pertumbuhan KPR, Kartu Kredit & Lainnya Perkembangan Kredit Properti Pertumbuhan Kredit Berdasarkan Valuta Asal Pangsa Kredit Penggunaan 22 23 23 23 23 24 25 25 26 26 26 27 27 27 27 13 14 21 Tingkat Pengangguran Beberapa Negara ASEAN 14 13 13 11 11 11 12 9 10 10

Tingkat Bunga Riil Indonesia, AS dan Singapura 12

Tabel Boks : 1.3.1 Migrasi Kolektibilitas Debitur 3 Sektor 2.1.1 Kronologis Gejolak Sektor Keuangan Indonesia 2008 2.1.2 Respon Kebijakan 2.3.1 Rata-rata per Hari Volume Transaksi PUAB Rupiah Januari s.d Desember 2008 2.3.2 Rata-rata per Hari Volume Transaksi PUAB Valas DN Januari s.d Desember 2008 2.5.1 Utang Luar Negeri Swasta Jatuh Tempo 2009 18 2.1 2.2

iv

2.17 2.18 2.19 2.20 2.21 2.22 2.23 2.24 2.25 2.26 2.27 2.28 2.29 2.30 2.31 2.32 2.33 2.34 2.35 2.36 2.37 2.38 2.39 2.40 2.41 2.42 2.43 2.44 2.45 2.46 2.47 2.48 2.49 2.50 2.51 2.52 2.53

Perkembangan Kredit MKM Non Performing Loans Kredit, NPL, dan PPAP (Rp Triliun) Rasio NPL Gross Kelompok Bank Rasio NPL Gross Sektor Ekonomi Rasio NPL Gross Jenis Penggunaan Rasio NPL Gross Kredit Konsumsi Rasio NPL Gross Kredit Properti (%) Rasio NPL Gross Kredit Rupiah dan Valas (%) Rasio NPL Gross MKM & Non MKM (%) Rasio NPL Gross Kredit MKM (%) Suku Bunga Rp & Nilai Tukar Profil Maturitas Rupiah Profil Maturitas Valas Posisi Devisa Netto Pangsa Kepemilikan SUN Perbankan Perkembangan SUN (Rp T) Profitabilitas Bank-mtm 2008 Pendapatan Bunga Bank Perkembangan Rasio ROA per Kelompok Bank Modal, ATMR, dan CAR Integrated Stress Test terhadap CAR 15 Bank Besar Interbank Stress Test Kegiatan Usaha Perusahaan Pembiayaan Sumber Dana Perusahaan Pembiayaan Komposisi Nominal Pembiayaan PP (Nov'08) NPL Pembiayaan Perkembangan Nominal NPL Arus Kas PP Swasta Nasional Arus Kas PP Patungan Exposure Perbankan Perkembangan Penurunan NPL PP Subsidiary Bank Penanaman Investor Asing: SBI-SUN-Saham Penanaman Investor Asing: SBI-SUN-Saham Kepemilikan SUN dan SBI Investor Asing

28 28 28 29 29 29 29 30 30 30 31 32 32 32 32 33 33 34 34 34 35 36 36 37 37 37 38 38 38 38 39 39 40 40 40

2.54 2.55 2.56 2.57 2.58 2.59 2.60 2.61 2.62 2.63 2.64 2.65 2.66 2.67 2.68 3.1 3.2 3.3 3.4 3.5 3.6 4.1

Penyerapan SUN Lembaga Keuangan Domestik dan Asing Perkembangan IHSG & Indeks Global dan Regional (Diindekskan dengan Indeks 31 Desember 2005) 41 Volatilitas (30 hari) beberapa Indeks Bursa Asia Nilai Transaksi Saham Investor Domestik dan Asing Nilai Kapitalisasi & Nilai Emisi Perkembangan Harga Saham Beberapa Bank P/E Ratio Saham Bank Perkembangan Harga Beberapa Seri FR Yield SUN 1 s.d. 30 tahun SUN: Likuiditas Pasar Berbagai Tenor Emisi dan Posisi Obligasi Korporasi Nilai Aktiva Bersih Reksadana Reksadana : Redemption-Subscription-NAB Reksadana : NAB-Unit Penyertaan Kinerja Penghimpunan Dana Reksadana Perkembangan Transaksi BI-RTGS Perkembangan Transaksi SKN-BI Perkembangan Transaksi APMK Perkembangan Transaksi E-Money Peran Biro Informasi Kredit Kebijakan Strategis BIK Profil Risiko Perbankan dan Arah ke Depan 42 42 42 42 43 43 43 43 44 44 44 44 55 56 56 56 59 60 71 41 40

Perkembangan Rasio BOPO per Kelompok Bank 35

Grafik Boks : 1.1.1 1.1.2 1.2.1 1.2.2 Komposisi Hutang Rumah Tangga (dalam % terhadap Total Hutang) Tujuan Pinjaman Rumah Tangga Perkembangan Harga CDS Indonesia Perkembangan Spread CDS Indonesia 16 16 17 17

Perkembangan Kenaikan NPL PP subsidiary Bank 39

v

Kata Pengantar

Dengan mengucapkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa kami menyambut baik penerbitan Kajian Stabilitas Keuangan (KSK) No.12 Maret 2009 ini. Edisi ini kami pandang sangat penting karena akhir-akhir ini banyak sekali perkembangan yang terjadi yang perlu dikaji dampaknya terhadap stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan. Hasil kajian menunjukkan bahwa secara umum ketahanan sektor keuangan Indonesia selama semester II tahun 2008 relatif cukup terjaga meskipun tekanan terhadap stabilitas sistem keuangan meningkat tajam karena imbas krisis global. Salah satu indikator peningkatan tekanan tersebut adalah Financial Stability Index (FSI) yang melampaui batas maksimum indikatif angka 2 pada bulan November dan Desember 2008. Di pasar modal, peningkatan tekanan terlihat pada merosotnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), sementara di pasar SUN terjadi penurunan harga yang signifikan. Di perbankan, tekanan tersebut tercermin pada peningkatan risiko likuiditas terutama pada bulan Agustus-September 2008. Tekanan likuiditas itu muncul tidak saja karena imbas krisis global, namun juga karena tingginya pertumbuhan kredit yang lebih banyak dibiayai dengan secondary reserves dibandingkan dengan pembiayaan yang berasal dari kenaikan dana masyarakat. Pada saat yang sama, perbankan juga menghadapi peningkatan risiko nilai tukar karena menurunnya nilai mata uang Rupiah. Setelah dikeluarkannya berbagai kebijakan, baik oleh Pemerintah maupun Bank Indonesia, menjelang akhir 2008 tekanan terhadap stabilitas sistem keuangan mulai berkurang meskipun belum sepenuhnya pulih. Salah satu bentuk permasalahan yang belum dapat diatasi secara sempurna adalah segmentasi di Pasar Uang Antar Bank (PUAB). Meskipun tekanan terhadap sektor keuangan meningkat, namun kinerja perbankan sebagai industri yang paling dominan di sektor keuangan, relatif masih cukup baik. Pada akhir Desember 2008, rasio permodalan (CAR) perbankan tercatat masih tinggi (16,2%) dengan kualitas aktiva yang masih tetap terjaga sebagaimana tercermin pada rasio NPL yang relatif rendah, yaitu 3,8% (gross) dan 1,5% (netto). Namun demikian, ke depan perlu terus diwaspadai berbagai sumber instabilitas, termasuk potensi peningkatan risiko kredit dan kemungkinan berulangnya tekanan likuiditas. Masalah lainnya yang juga dapat menimbulkan tekanan adalah semakin lambatnya penyaluran kredit (credit crunch) oleh perbankan yang pada gilirannya dapat mengganggu kinerja sektor riil, baik pada level korporasi maupun pada level households. Terganggunya kinerja sektor riil berpotensi meningkatkan risiko kredit di perbankan.

vi

Semakin banyaknya tantangan di sektor keuangan perlu diantisipasi dengan selalu berupaya untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas surveillance guna mendukung deteksi dini. Dengan mengetahui lebih awal potensi risiko, langkah-langkah mitigasi risiko dapat direncanakan secara cermat sehingga kerugian dapat diminimalisir. Untuk itulah kami memandang penting penerbitan KSK ini karena dapat digunakan sebagai media yang efektif untuk mengkomunikasikan kepada para stakeholders hasil-hasil surveillance yang telah dilakukan. Semoga KSK berhasil mengemban misinya itu dengan baik dan informasi yang disediakannya bermanfaat bagi semua pihak.

Jakarta, Maret 2009 DEPUTI GUBERNUR BANK INDONESIA

Muliaman D. Hadad

vii

viii

Gambaran Umum

Gambaran Umum

1

Gambaran Umum

Halaman ini sengaja dikosongkan

2

Gambaran Umum

Gambaran Umum
Stabilitas sistem keuangan pada semester II 2008 masih tetap terjaga. Selama periode tersebut, terimbas oleh krisis global, tekanan terhadap sektor keuangan domestik menjadi semakin besar. Indeks harga saham gabungan (IHSG) merosot tajam, sementara harga Surat Utang Negara (SUN) mengalami penurunan yang signifikan. Perbankan juga sempat mengalami tekanan likuiditas tidak saja karena pengaruh krisis likuiditas global, namun juga karena tingginya pertumbuhan kredit yang berlangsung s.d. Oktober 2008 yang sebagian besar dibiayai dengan secondary reserves. Selain itu, menurunnya nilai tukar Rupiah sejak awal Oktober 2008 juga meningkatkan risiko di sektor keuangan. Gejolak di sektor keuangan ini telah mengakibatkan Indeks Stabilitas Keuangan selama semester laporan meningkat tajam, bahkan melampaui batas maksimum indikatif angka 2 pada bulan November dan Desember 2008. Untuk menjaga stabilitas sistem keuangan, Pemerintah menerbitkan beberapa Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (PERPPU), sementara Bank Indonesia mengeluarkan beberapa ketentuan baru, termasuk merubah Giro Wajib Minimum (GWM). Dampak positifnya adalah kondisi likuiditas industri perbankan semakin membaik dan nilai tukar Rupiah semakin berkurang volatilitasnya meskipun belum kembali pada level seperti sebelum Oktober 2008. Namun, menjelang akhir 2008 dan awal 2009 terdapat tanda-tanda bahwa pertumbuhan kredit perbankan menjadi semakin melambat. Apabila hal ini terus berlangsung dikhawatirkan akan berdampak negatif terhadap perekonomian mengingat perbankan selama ini merupakan sumber pembiayaan yang paling utama. Ke depan, prospek stabilitas sistem keuangan diperkirakan masih akan tetap positif meskipun tantangan yang dihadapi semakin berat karena akan semakin melambatnya pertumbuhan ekonomi.

1. SUMBER-SUMBER INSTABILITAS 1.1. Krisis Keuangan Global
Krisis keuangan global merupakan sumber instabilitas yang terutama. Hal ini karena perekonomian Indonesia semakin terintegrasi dengan perekonomian global. Selain

itu, sumber dana dari luar negeri selama ini merupakan salah satu sumber dana yang penting, baik bagi perusahaan perbankan maupun perusahaan nonperbankan. Oleh karena itu, krisis keuangan yang dialami sejumlah negara sejak beberapa waktu terakhir ini

3

Gambaran Umum

berpotensi menular ke Indonesia. Tidak saja sektor keuangan domestik menjadi semakin rentan oleh gejolak keuangan, perusahaan-perusahaan Indonesia menjadi semakin sulit mendapatkan dana asing untuk membiayai kegiatan usahanya. Akibatnya, perusahaan-perusahaan di sektor riil yang selama ini tergantung pada sumber pembiayaan dari luar negeri dapat terganggu kinerjanya dan dapat menurunkan debt repayment capacity dari perusahaan-perusahaan tersebut. Di perbankan, hal-hal ini dapat mendorong terjadinya peningkatan kredit bermasalah (NPL), serta perlambatan pertumbuhan kredit dan pembiayaan lainnya dalam valas yang dibutuhkan untuk mendukung kegiatan perekonomian.

menunjukkan bahwa kinerja korporasi pada umumnya mengalami penurunan terutama dari segi profitabilitas dan ketersediaan likuiditas. Selain itu, leverage juga cenderung meningkat sejalan dengan penurunan modal karena berkurangnya profitabilitas. Selanjutnya, meskipun hasil survei tahun 2008 menunjukkan bahwa kondisi sektor rumah tangga (household) masih relatif aman, namun ancaman pemutusan hubungan kerja yang terjadi pada beberapa perusahaan sangat berpotensi mengganggu kinerja household ke depan. Sementara itu, kondisi infrastruktur, dalam enam bulan terakhir juga tidak menunjukkan kemajuan yang berarti. Secara keseluruhan, kondisi sektor riil dan infratsruktur yang masih belum mendukung ini berpotensi menimbulkan tekanan terhadap

1.2. Kondisi Makroekonomi
Stabilitas makroekonomi merupakan prasyarat utama untuk tercapainya stabilitas sistem keuangan. Berbagai pihak memperkirakan bahwa kondisi makroekonomi domestik tahun 2009 tidak lebih baik dibandingkan dengan tahun 2008, terutama karena pengaruh perlambatan ekonomi global. Memburuknya kondisi makroekonomi berpotensi menekan stabilitas keuangan karena dapat mendorong peningkatan NPL. Disamping itu, perbankan kemungkinan menjadi semakin selektif menyalurkan kredit. Untuk itu, perlu dilakukan langkah-langkah antisipatif untuk mencegah

stabilitas sistem keuangan, terutama dalam bentuk peningkatan NPL dan melambatnya penyaluran kredit perbankan.

1.4. Inovasi Keuangan, Structured Products dan

Offshore Products
Dalam KSK edisi sebelumnya (No.11 September 2008) telah dikemukakan pentingnya perbankan memperhatikan aspek manajemen risiko dan perlindungan nasabah dalam melakukan inovasi terhadap produkproduk keuangan yang ditawarkan kepada nasabah, termasuk structured products. Dalam kenyataannya sejak beberapa waktu terakhir sejalan dengan pelemahan nilai tukar mata uang domestik, beberapa negara mengalami kesulitan karena kerugian yang disebabkan oleh structured

meningkatnya risiko perbankan karena memburuknya kondisi makroekonomi, termasuk dengan memperketat monitoring dan mempercepat pelaksanaan restrukturisasi kredit terhadap debitur-debitur yang terkena imbas krisis global.

products sehingga menimbulkan dispute antara bank
dengan nasabahnya. Meskipun di Indonesia, potensi kerugian yang ditimbulkan lebih kecil dibandingkan

1.3. Kondisi Sektor Riil dan Infrastruktur
Potensi instabilitas juga dapat berasal dari kondisi sektor riil dan infrastruktur domestik yang masih belum menggembirakan. Terimbas krisis global, hasil pemantauan

negara-negara lainnya, hal ini perlu mendapat perhatian karena dapat meningkatkan risiko kredit dan risiko nilai tukar di perbankan. Di samping itu, risiko reputasi dan risiko hukum dari bank-bank yang terkait dengan

4

Gambaran Umum

structured products juga berpotensi meningkat, khususnya
jika dispute dengan nasabah tidak berhasil diselesaikan dengan baik. Selain itu, perbankan juga perlu pula meningkatkan kehati-hatian terkait dengan kegiatan keagenan offshore

tahun 2009 juga akan terlaksana dengan aman dan terkendali. Keberhasilan melaksanakan Pemilu dengan damai dan demokratis akan mendorong meningkatnya investasi di dalam negeri, baik yang berasal dari investor lokal maupun investor international.

products. Hal tersebut antara lain karena penanaman yang
berlebihan dalam produk tersebut dapat mendorong terjadinya pelarian dana investor domestik ke luar negeri, membuat bank lebih terekspose risiko reputasi dan risiko hukum, serta meningkatkan potensi terjadinya dispute dengan nasabah, terutama apabila transparansi dan perlindungan konsumen masih belum diprioritaskan.

2. MITIGASI RISIKO 2.1. Memperkuat Manajemen Risiko dan Good Governance
Cara yang terbaik untuk menekan potensi instabilitas di sektor keuangan adalah memperkuat manajemen risiko dan good governance di lembaga-lembaga keuangan, baik bank maupun non-bank. Manajemen risiko yang lebih baik

1.5. Segmentasi Pasar Uang Antar Bank (PUAB)
Secara umum, tekanan likuiditas yang sempat dialami pada semester kedua 2008 dewasa ini telah teratasi dan industri perbankan sudah semakin likuid. Namun demikian, masih ada persoalan yang tersisa yaitu masih terdapatnya segmentasi PUAB dimana bank-bank besar cenderung hanya bertransaksi dengan bank-bank besar pula, sementara bank-bank kecil dan menengah relatif masih mengalami kesulitan dalam mendapatkan dana antar bank. Ke depan, segmentasi PUAB ini perlu segera diatasi karena dapat menimbulkan tekanan pada stabilitas perbankan, khususnya dari sisi likuiditas.

akan sangat membantu dalam pengambilan langkahlangkah yang diperlukan untuk memitigasi risiko untuk menghindarkan potensi kerugian. Sementara itu, penerapan good governance akan membuat lembagalembaga keuangan semakin memperhatikan prinsipprinsip transparansi, akuntabilitas dan fairness yang memungkinkan berjalannya mekanisme disiplin pasar dan perlindungan nasabah yang memadai. Dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, pelaksanaan manajemen risiko dan good governance di perbankan sudah mengalami kemajuan. Namun, untuk

mengantisipasi dampak semakin memburuknya ekonomi global, diperlukan upaya yang lebih keras lagi untuk terus

1.6. Perkembangan Politik dan Keamanan Dalam Negeri
Pelaksanaan Pemilu 2009 dapat berdampak terhadap kondisi politik dan keamanan dalam negeri yang apabila tidak terkendali dapat mengganggu stabilitas keuangan. Namun, dengan mempertimbangkan bahwa rakyat selama ini sudah semakin terbiasa dengan pesta demokrasi seperti halnya Pemilihan Gubernur dan Bupati yang berlangsung terus menerus silih berganti sepanjang tahun di berbagai tempat di dalam negeri, dapat diperkirakan bahwa Pemilu

memperkuat manajemen risiko dan implementasi good

governance di perbankan.

2.2. Memperkuat Surveillance
Mitigasi risiko di sektor keuangan juga dapat dilakukan dengan memperkuat surveillance. Untuk itu, telah dikembangkan berbagai tools dan methodologies seperti stress tests, analisis probability of default, financial

stability index serta survey households untuk mendukung surveillance pada tingkat macroprudential. Dari waktu

5

Gambaran Umum

ke waktu masing-masing pendekatan ini terus direview dan dikembangkan agar dapat menjadi alat deteksi dini (early warning) yang andal. Sementara itu, pada level

persetujuan. Kondisi terakhir, Pemerintah telah mempersiapkan Rancangan Undang-undang tentang JPSK dan sudah mulai dibahas dengan DPR.

microprudential , fungsi pengawasan bank terus
diperkuat, antara lain dengan membenahi sumber daya manusia pengawasan bank, serta terus memperbaiki berbagai pendekatan yang digunakan dalam rangka penerapan Risk-Based Supervision. Disamping itu, sejumlah ketentuan baru di bidang perbankan yang ditujukan antara lain untuk menjaga stabilitas sistem keuangan, juga telah dikeluarkan.

3. PROSPEK STABILITAS SISTEM KEUANGAN
Prospek stabilitas sistem keuangan ke depan diperkirakan masih akan tetap positif meskipun tantangan yang dihadapi akan semakin berat terutama karena belum pulihnya kondisi perekonomian baik domestik maupun global. Sebagaimana yang akan diuraikan lebih rinci pada Bab 4, hal-hal yang mendasari perkiraan ini sebagai berikut. Pertama, gejolak keuangan yang terjadi akhir-akhir ini

2.3. Memperkuat Protokol Manajemen Krisis
Untuk memitigasi risiko dalam konteks yang lebih luas di sektor keuangan telah disusun protokol manajemen krisis yang merupakan bagian penting dalam kerangka Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK). Terkait dengan hal tersebut, untuk memitigasi risiko karena bergejolaknya sektor keuangan pada bulan Oktober 2008, Pemerintah telah menerbitkan 3 PERPPU, yaitu masing-masing tentang (i) Peningkatan penjaminan oleh LPS dari semula maksimal Rp100 juta menjadi Rp2 milyar perorang pernasabah; (ii) Perubahan Undang-undang tentang Bank Indonesia yang memungkinkan penggunaan kredit lancar sebagai agunan dalam mendapatkan fasilitas pendanaan jangka pendek (FPJP) dari Bank Indonesia; dan (iii) Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK). Penerbitan ketiga PERPPU tersebut terbukti membantu meredam tekanan likuiditas perbankan, sehingga perbankan tetap tenang meskipun pada saat tekanan likuiditas terjadi terdapat 1 bank yang diserahkan ke LPS untuk disehatkan. Dalam perkembangan selanjutnya, PERPPU tentang perubahan cakupan penjaminan oleh LPS dan perubahan Undang-undang Bank Indonesia sudah mendapatkan persetujuan dari DPR, sementara PERPPU tentang JPSK tidak mendapat

terjadi lebih banyak karena faktor eksternal, sementara perbankan domestik relatif tidak memiliki masalah seberat perbankan di luar negeri. Kedua, dewasa ini perbankan dan otoritas pengawasan bank lebih siap menghadapi krisis dibandingkan kondisi tahun 1997/1998. Ketiga, infrastruktur sektor keuangan sudah semakin lengkap, antara lain ditandai dengan adanya Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang cukup dipercaya dan menimbulkan ketentraman bagi nasabah penyimpan dana di perbankan. Faktor penting berikutnya yang mendukung prospek positif stabilitas keuangan ke depan adalah Jaring Pengaman Sektor Keuangan (JPSK) yang saat ini rancangan Undangundangnya sudah dipersiapkan dan telah mulai dibahas di DPR. Ditengah-tengah optimisme tersebut di atas, kehatihatian perlu terus lebih ditingkatkan karena krisis global dewasa ini dinilai sebagai yang terberat paska Depresi Besar ( Great Depression ) tahun 1929. Melambatnya pertumbuhan ekonomi global secara kolektif akan sulit dihindarkan dampaknya terhadap ekonomi domestik. Oleh karena itu sangat penting untuk membentengi sektor keuangan domestik dengan membuat jaring pengaman yang memadai serta mengedepankan kehati-hatian dalam menjalankan aktivitas usaha.

6

Bab 1 Kondisi Makroekonomi dan Sektor Riil

Bab 1 Kondisi Makroekonomi dan Sektor Riil

7

Bab 1 Kondisi Makroekonomi dan Sektor Riil

Halaman ini sengaja dikosongkan

8

Bab 1 Kondisi Makroekonomi dan Sektor Riil

Bab 1

Kondisi Makroekonomi dan Sektor Riil

Selama semester II 2008 stabilitas makroekonomi Indonesia masih tetap terjaga meskipun mendapat tekanan dari krisis keuangan global. Penurunan kepercayaan pasar menyebabkan krisis keuangan merambat ke sektor riil sehingga mendorong terjadinya perlambatan ekonomi pada banyak negara termasuk Indonesia. Sementara itu, penurunan daya beli yang diiringi dengan penurunan harga menyebabkan profitabilitas sektor korporasi menurun. Akibatnya, pelaku usaha melakukan efisiensi berupa pengurangan tenaga kerja dan pembatasan kegiatan ekspansi yang pada gilirannya dapat menyebabkan penurunan pendapatan rumah tangga. Jika terus berlanjut, hal ini berpotensi menimbulkan gangguan terhadap stabilitas sistem keuangan domestik.

1. KONDISI MAKROEKONOMI
Perkembangan ekonomi internasional selama semester II 2008 diwarnai oleh meluasnya krisis keuangan global hingga merambat ke sektor riil. Kelangkaan likuiditas dan peningkatan volatilitas di pasar uang memicu penurunan kepercayaan sektor korporasi (produsen) maupun sektor rumah tangga (konsumen) terhadap kondisi perekonomian. Hal ini tergambar pada penurunan Business Confidence Indicator yang dikeluarkan oleh IMF. Kondisi ini menyebabkan produsen dan konsumen melakukan langkah antisipasi dengan menahan diri untuk melakukan investasi dan konsumsi. Hal tersebut berdampak pada perlambatan pertumbuhan ekonomi terutama di negara-negara maju. Selama tahun 2008 perekonomian dunia diperkirakan hanya tumbuh sekitar

3,4%, melambat dibandingkan pertumbuhan tahun 2007 yang sebesar 5,2%. Perlambatan ini diperkirakan akan berlanjut pada tahun 2009 yaitu menjadi hanya sekitar 0,5%. Pada tahun 2010, keadaan diperkirakan akan sedikit membaik dengan pertumbuhan sebesar 3,0%.
Grafik 1.1 Business Confidence Indicators
Manufacturing PMls 65 60 55 50 45 40 35 1985 1990 1995 2000 2005 Okt 2008 Emerging Economies United States (values greater than 50 indicate expansion) Euro Area

Sumber: World Economic Outlook-IMF November, 2008

9

Bab 1 Kondisi Makroekonomi dan Sektor Riil

Tabel 1.1 Indikator Ekonomi Dunia
(%) Kategori World Output: Advanced Economies United States Euro area Emerging & Developing Countries Consumer Price: Advanced Economies Emerging & Developing Countries1) LIBOR2) US Dollar Deposit Euro Deposit Yen Deposit Oil Price (USD) - rata-rata3) 2007 5,2 2,7 2,0 2,6 8,3 2,1 6,4 5,3 4,3 0,9 10,7 2008 3,4 1,0 1,1 1,0 6,3 3,5 9,2 3,0 4,6 1,0 36,4 Proyeksi 2009 0,5 (2,0) (1,6) (2,0) 3,3 0,3 5,8 1,3 2,2 1,0 (48,5) 2010 3,0 1,1 1,6 0,2 5,0 0,8 5,0 2,9 2,7 0,4 20,0
600 500 400 300 200 100 0 2000

Grafik 1.2 Indeks Harga Beberapa Komoditas
1990 = 100
Minyak Timah Minyak Sawit Beras Aluminium Tembaga Emas Kopi Karet

600 500 400 300 200 100 0

2001

2002

2003

2004

2005

2006

2007

2008

Sumber: Bank Indonesia

Eropa yang selama ini menjadi pasar ekspor utama negaranegara emerging market, yang disertai dengan penurunan harga komoditas di pasar global menyebabkan turunnya

Sumber: World Economic Outlook - IMF Januari 2009

Penurunan kegiatan ekonomi di negara-negara maju berdampak pada penurunan permintaan terhadap komoditas yang menyebabkan turunnya harga komoditas di pasar global. Semula, pada semester I 2008, pelemahan nilai tukar dollar AS dan gejolak yang terjadi di pasar uang mendorong beralihnya arus dana investasi ke pasar komoditi yang memicu terjadinya lonjakan harga komoditas. Harga minyak mentah dunia sempat mencapai level tertinggi mendekati USD150 per barrel yang diikuti pula dengan kenaikan harga komoditas lainnya. Namun, memasuki semester II 2008, seiring dengan menurunnya jumlah permintaan akibat penurunan kegiatan ekonomi dan berkurangnya transaksi yang bersifat spekulatif di pasar komoditas, harga minyak mentah dan harga komoditas utama dunia lainnya menurun tajam. Dibandingkan akhir semester I 2008, harga minyak dunia mengalami penurunan lebih dari 50% hingga menjadi USD44,6 per barrel pada akhir semester II 2008. Penurunan tersebut juga diikuti oleh penurunan harga-harga komoditas utama dunia lainnya. Penurunan permintaan terhadap barang dan jasa, khususnya dari negara-negara maju seperti AS dan Uni

kinerja ekspor negara-negara emerging market termasuk Indonesia. Karena pendapatan negara-negara emerging

market umumnya tergantung pada hasil ekspor, maka
penurunan kinerja ekspor tersebut menyebabkan penurunan pertumbuhan ekonomi di masing-masing negara. Akan tetapi penting dicatat bahwa meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat signifikan pada triwulan IV 2008, namun secara keseluruhan selama tahun 2008 pertumbuhan ekonomi Indonesia masih tumbuh cukup kuat, yaitu sebesar 6,1%, atau lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi beberapa negara
Grafik 1.3 Pertumbuhan PDB Negara Industri
% 6,00 5,00 4,00 3,00 2,00 1,00 (1,00) (2,00) (3,00)
Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3Q4 Q1 Q2 Q3Q4 Q1 Q2 Q3Q4 Q1 Q2 Q3Q4 Q1 Q2 Q3Q4 Q1 Q2 Q3Q4 Q1 Q2 Q3Q4 Q1 Q2 Q3Q4

Amerika Serikat Jerman Canada

Jepang Inggris

2000
Sumber: Bloomberg

2001

2002

2003

2004

2005

2006

2007

2008

10

Bab 1 Kondisi Makroekonomi dan Sektor Riil

Grafik 1.4 Pertumbuhan PDB Beberapa Negara Emerging Market
% 12,00 9,00 6,00 3,00 (3,00) (6,00) (9,00) Indonesia Thailand China 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Singapura Korea Selatan India 2007 2008

tukar rupiah melemah sekitar 20,5% hingga mencapai Rp11.120 per dollar AS pada akhir semester II 2008. Pelemahan ini masih terlihat meskipun volatitasnya sudah semakin berkurang.
Grafik 1.5 Indeks Harga Saham Global
35000 30000 25000 20000 15000 10000
Singapore NYA New York Dow Jones Indonesia Nikkei

35000 30000 25000 20000 15000 10000 5000 0 2007 2008

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3Q4 Q1 Q2 Q3Q4 Q1 Q2 Q3Q4 Q1 Q2 Q3Q4 Q1 Q2 Q3Q4 Q1 Q2 Q3Q4 Q1 Q2 Q3Q4 Q1 Q2 Q3Q4

Sumber: Bloomberg

ASEAN lainnya seperti Singapura, Korea Selatan dan Thailand. Kondisi tersebut ditopang oleh masih cukup tingginya pertumbuhan konsumsi swasta, khususnya dari sektor-sektor non tradable seperti sektor pengangkutan dan komunikasi, sehingga mengimbangi penurunan di sektor-sektor yang berorientasi ekspor. Sementara itu, di sisi keuangan, peningkatan intensitas krisis keuangan global memicu para investor menarik investasi portfolionya dari negara-negara

5000 0 2006
Sumber: Bloomberg

Grafik 1.6 Perkembangan Nilai Tukar Rupiah IDR/USD
14.000 Rata-rata bulanan 12.000 10.000 8.000 6.000
9.039 9.210

14.000 Rata-rata semesteran
9.258 9.352

12.000 10.000 8.000 6.000 4.000

emerging market, baik untuk memenuhi kebutuhan
likuiditas (flight to liquidity) maupun mencari tempat penanaman yang dianggap lebih aman (flight to quality). Kondisi ini juga dialami Indonesia. Dibandingkan akhir semester I 2008, indeks harga saham gabungan di Bursa

4.000
9.075 9.077 9.172 9.095 8.842 8.981 9.067 9.358 9.105 9.102 9.267 9.356 9.406 9.180 9.178 9.203 9.281 9.288 9.159 9.151 9.354 9.990 11.803 11.314
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

2.000 0

2.000 0

2007
Sumber: Bloomberg

2008

Efek Indonesia turun tajam sekitar 42,3% dari 2.349,11 menjadi 1.355,41 pada akhir semester II 2008. Aksi pelepasan investasi asing tersebut antara lain menyebabkan neraca modal dan finansial Indonesia pada triwulan IV 2008 mengalami defisit. Selama tahun 2008 neraca pembayaran Indonesia diperkirakan defisit sebesar USD2.302 juta. Gejolak keuangan yang meningkat khususnya sejak awal semester II 2008 juga berdampak kepada terdepresiasinya nilai tukar rupiah dengan volatilitas yang juga meningkat. Dibandingkan akhir semester I 2008, nilai Pada sisi lain, penurunan permintaan dan penurunan harga komoditas di pasar internasional menyebabkan tekanan inflasi yang terjadi cukup kuat pada pertengahan tahun 2008 mulai mereda. Momentum penurunan inflasi ini mendorong bank sentral di beberapa negara melakukan pelonggaran kebijakan moneter melalui penurunan suku bunga guna mendorong pertumbuhan kegiatan ekonomi. Pada bulan Desember 2008 Fed Fund Rate mencapai titik terendahnya 0,25%, sementara suku bunga European Central Bank turun menjadi 2,50%. BI rate juga mengalami

11

Bab 1 Kondisi Makroekonomi dan Sektor Riil

penurunan menjadi 9,25% pada Desember 2008 yang berlanjut hingga menjadi 7,75% pada Maret 2009. Meskipun BI rate mengalami penurunan tetapi iklim investasi di Indonesia diperkirakan masih cukup menarik, karena secara riil tingkat bunga di Indonesia masih lebih tinggi dibandingkan beberapa negara ASEAN lainnya.
Grafik 1.7 Perkembangan Inflasi ASEAN-5 dan Vietnam
y.o.y %

diharapkan dapat mengimbangi tekanan dari sektor eksternal. Stimulus dari sisi moneter adalah penurunan suku bunga, sementara stimulus dari sisi fiskal antara lain adalah pelaksanaan program peningkatan daya beli masyarakat oleh pemerintah melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri, penurunan harga bahan bakar minyak dan tarif angkutan, kenaikan Upah Minimum Regional (UMR) yang diperkirakan melebihi 11%, dan kenaikan gaji pegawai negeri sipil. Tidak kalah pentingnya adalah kegiatan Pemilu maupun Pilkada yang

10

diperkirakan juga akan mendorong pertumbuhan konsumsi swasta yang sangat diperlukan untuk

5

mengimbangi tekanan dari sektor eksternal.

0
Filipina Malaysia Singapura Indonesia Okt Jan Apr Thailand Vietnam Jul Okt

2. KONDISI SEKTOR RIIL
Perlambatan ekspor karena imbas krisis keuangan global berdampak pula kepada kinerja sektor rill dalam negeri, baik korporasi maupun rumah tangga. Hal ini antara lain tercermin pada penurunan kinerja keuangan perusahaan-perusahaan non financial go public yang menyebabkan terjadinya pembatasan kegiatan ekspansi maupun pemutusan hubungan kerja. Kondisi ini pada gilirannya dapat berdampak pada penurunan daya beli rumah tangga.

(5)

Jan

Apr

Jul

2007
Sumber: CEIC

2008

Grafik 1.8 Tingkat Bunga Riil Indonesia, AS dan Singapura
%

4,0 2,0 0,0 (2,0) (4,0) (6,0) (8,0)
Mar Jun Sep Des Mar Jun Sep Des Mar Jun Sep Des Mar Jun Sep Des Mar Jun Sep Des Mar Jun Sep Des Indonesia AS Singapura

Penurunan harga, berkurangnya permintaan ekspor dan melemahnya daya beli masyarakat karena krisis global
2004 2005 2006 2007 2008

2003
Sumber: Bloomberg dan CEIC

menyebabkan sektor korporasi khususnya perusahaan non

financial go public mengalami penurunan margin. Hal ini
Ke depan, tekanan krisis ekonomi global terhadap ekonomi dan keuangan domestik diperkirakan masih berlanjut. Penurunan permintaan barang ekspor akibat perlambatan kegiatan ekonomi global kemungkinan akan semakin menekan pertumbuhan ekonomi nasional. Namun, beberapa stimulus dari dalam negeri baik dari sisi moneter maupun dari sisi fiskal diperkirakan cukup mampu mendorong pertumbuhan konsumsi swasta dan terlihat dari menurunnya pertumbuhan profitabilitas usaha (ROA dan ROE) perusahaan-perusahaan tersebut pada triwulan III 2008 dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara dari sisi pembiayaan, sektor korporasi terlihat mulai mengalami keterbatasan modal. Untuk memenuhi kebutuhan operasionalnya, perusahaan mulai banyak mengandalkan dana dari pihak ketiga, baik

12

Bab 1 Kondisi Makroekonomi dan Sektor Riil

perbankan maupun melalui penerbitan obligasi dan surat berharga lainnya. Hal ini dapat diamati dari meningkatnya

Grafik 1.11 Probability of Default (PD) Perusahaan Non Financial Go Public
Jumlah 250 215 200

debt to equity ratio (DER) dan rasio total liabilities terhadap total assets (TL/TA) pada triwulan III 2008 dibandingkan
dengan triwulan III 2007.

150

Grafik 1.9 Pertumbuhan ROA dan ROE Perusahaan Non Financial Go Public
700 600 500 400 300 200 100 0 -100 -200
Tw1 Tw2 Tw3 Tw4 Tw1 Tw2 Tw3 Tw4 Tw1 Tw2 Tw3 Tw4 Tw1 Tw2 Tw3 Tw4Tw1 Tw2 Tw3 Tw4 Tw1 Tw2 Tw3 ROA (kiri) ROE (kanan)

100 50 5 350 300 250 200 150 100 50 0 -50 -100 -150 0
0,0-0,1 0,1-0,2 0,2-0,3 0,3-0,4 0,4-0,5 0,5-0,6 0,6-0,7 0,7-0,8 0,8-0,9 0,9-0,10

4

3

2

0

1

1

0

19

Probability of Default - September 2008

Jumlah 180 160 140 120 100 80 60 40 20 0
0,0-0,1 0,1-0,2 0,2-0,3 0,3-0,4 0,4-0,5 0,5-0,6 0,6-0,7 0,7-0,8 0,8-0,9 0,9-0,10 21 14 6 9 0 4 1 1 23 171

2003

2004

2005

2006

2007

2008

Sumber: Bursa Efek Indonesia

Grafik 1.10 Perkembangan DER dan TL/TA Perusahaan Non Financial Go Public
1,80 1,60 1,40 1,20 1,00 0,80 0,60 0,40 0,20 0,00
Tw1 Tw2 Tw3 Tw4 Tw1 Tw2 Tw3 Tw4 Tw1 Tw2 Tw3 Tw4 Tw1 Tw2 Tw3 Tw4Tw1 Tw2 Tw3 Tw4 Tw1 Tw2 Tw3

Probability of Default - September 2009

Selain menghadapi potensi peningkatan risiko kredit, perusahaan-perusahaan di sektor riil khususnya
DER Debt/TA

konglomerasi besar Indonesia juga berpotensi mendapat tekanan risiko nilai tukar. Berdasarkan data per September 2008, konglomerasi besar Indonesia tampaknya perlu memperhatikan potensi risiko karena fluktuasi nilai tukar. Namun demikian, hasil stress test terhadap 46 konglomerasi besar yang rutin dipantau menunjukkan bahwa secara umum permodalan masih dapat dipertahankan dan baru akan tertekan sampai 100%

2003
Sumber: Bursa Efek Indonesia

2004

2005

2006

2007

2008

Sejalan dengan menurunnya kinerja perusahaan

apabila nilai tukar rupiah melebihi Rp16.100 per USD. Penurunan profitabilitas akibat penurunan daya beli yang diiringi dengan penurunan harga, mendorong pelaku usaha khususnya di sektor yang berorientasi ekspor untuk melakukan efisiensi berupa pengurangan tenaga kerja dan pembatasan kegiatan ekspansi. Hal ini berpotensi menambah jumlah pengangguran nasional. Berdasarkan data terakhir pada tahun 2008, meskipun cenderung

non financial go public tersebut, hasil estimasi probability of default (PD) juga menunjukkan adanya kenaikan. Jumlah
perusahaan dengan PD lebih besar dari 0,5 meningkat dari 21 perusahaan pada September 2008 menjadi 29 perusahaan pada September 2009. Bagi perbankan, hal ini merupakan salah satu indikasi dini tentang peningkatan risiko kredit ke depan.

13

Bab 1 Kondisi Makroekonomi dan Sektor Riil

bergerak turun tetapi tingkat pengangguran Indonesia sebesar 8,4% masih menjadi yang tertinggi di bandingkan beberapa negara ASEAN lainnya.
Grafik 1.12 Tingkat Pengangguran Beberapa Negara ASEAN
%
2006 2007 2008*)

tangga. Apabila kondisi ini terus berlanjut, dapat menurunkan kemampuan membayar (repayment capacity) rumah tangga. Sementara itu, dilihat dari komposisi asetnya, rumah tangga Indonesia tampaknya masih memiliki eksposur yang kecil terhadap aset keuangan. Aset rumah tangga Indonesia didominasi oleh non financial asset berupa rumah, bangunan dan tanah dengan porsi 76,81% dari total aset. Seiring kecilnya eksposur aset rumah tangga pada sistem keuangan, diperkirakan dampak langsung volatilitas pasar keuangan terhadap kondisi aset rumah tangga relatif kecil. Namun, tetap diperlukan kehati-hatian

10,0 8,0 6,0 4,0 2,0 0,0 Indonesia Thailand Malaysia Singapura
Sumber: CEIC Keterangan: *) : Data untuk Indonesia (Agustus 2008), Thailand (November 2008), Malaysia dan Singapura (September 2008).

mengingat kenaikan nilai aset tersebut diperkirakan lebih dipengaruhi oleh kenaikan indeks harga properti yang terjadi secara persisten sejak tahun 2004. Dalam kondisi

Hasil survey Neraca Rumah Tangga (Household) menunjukkan bahwa pada tahun 2008 secara keseluruhan rumah tangga Indonesia masih mempunyai kemampuan membayar hutang yang cukup baik. Hal ini tergambar dari masih kecilnya rasio hutang terhadap total pendapatan maupun terhadap disposable income, yaitu hanya berada pada kisaran 6,31% s.d. 28,62%. Namun, mengingat 56% dari total pendapatan rumah tangga bersumber dari gaji dan tunjangan, maka pemutusan hubungan kerja oleh perusahaan berpotensi menurunkan pendapatan rumah
Grafik 1.13 Komposisi Sumber Pendapatan Rumah Tangga

ekonomi yang melambat seperti sekarang ini, besar kemungkinan permintaan terhadap properti akan menurun sehingga harga properti juga berpotensi turun. Jika harga properti turun tentunya nilai aset rumah tangga juga akan turun. Penurunan nilai aset dan penurunan pendapatan rumah tangga akan semakin menekan kemampuan membayar rumah tangga. Ke depan, tantangan di sektor rill diperkirakan masih akan tetap tinggi sejalan dengan masih terbatasnya pembangunan infrastruktur di dalam negeri.

Perekonomian diperkirakan juga akan masih dipengaruhi imbas krisis keuangan global. Sebagai antisipasi terhadap tekanan ekspor yang cukup besar, diperlukan langkahlangkah untuk mendorong pertumbuhan sektor-sektor
Penerimaan Pensiun 3% Lainnya 10% Gaji dan Tunjangan 56%

usaha yang non tradable. Dalam jangka pendek, beberapa stimulus yang telah dikeluarkan baik dari sisi moneter maupun fiskal diharapkan dapat mendorong pertumbuhan konsumsi dan ketahanan sektor riil. Jika berhasil diwujudkan maka stabilitas sistem keuangan ke depan diperkirakan akan tetap terpelihara dengan baik.

Pendapatan usaha netto 31%

Sumber: Survey Neraca Rumah Tangga 2008

14

Bab 1 Kondisi Makroekonomi dan Sektor Riil

Boks 1.1 Survei Neraca Rumah Tangga Indonesia 2008

Neraca rumah tangga (household) merupakan indikator penting untuk menganalisis potensi risiko kredit dari sektor rumah tangga. Pada bulan Juni 2008, Bank Indonesia bekerjasama dengan Biro Pusat Statistik (BPS) melakukan survei guna menyusun neraca rumah tangga Indonesia. Survei dilakukan pada 10 propinsi (Sumatera Barat, Sumatera Selatan, DKI Jakarta, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa timur, Bali, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Gorontalo) dengan total responden 3.553 rumah tangga.

(0,39%). Relatif tingginya networth rumah tangga didukung kemampuan menabung. Hal itu tercermin pada rasio total pengeluaran terhadap total pendapatan rumah tangga dan rasio pengeluaran konsumsi terhadap disposable income yang di bawah 100%, yaitu masing-masing sebesar 91,29% dan 90,59%. Namun demikian, kemampuan menabung rumah tangga yang tidak memiliki hutang cenderung lebih besar, terlihat pada rasio total pengeluaran terhadap total pendapatan rumah tangga dan rasio pengeluaran konsumsi terhadap disposable income yang lebih rendah, yaitu masing-masing sebesar 83,64% dan 83,39%. Sementara itu, kemampuan menabung kelompok rumah tangga yang berhutang cenderung kurang memadai sehingga berhutang untuk membiayai kebutuhan dan pembelian asetnya. Hal ini tercermin dari rasio total pengeluaran terhadap total pendapatannya dan rasio pengeluaran konsumsi terhadap disposable income yang di atas 100%, yaitu masing-masing sebesar 102,61%, dan 103,12%.

Gambaran Umum Neraca Rumah Tangga Indonesia

Aset Rumah Tangga
Seperti lazimnya di negara sedang berkembang, aset rumah tangga Indonesia didominasi aset non keuangan (non financial asset) berupa properti seperti rumah, bangunan dan tanah dengan pangsa sebesar 76,81% dari total aset, diikuti oleh aset non keuangan lainnya (15,57%), dan asset keuangan (7,62%). Dibandingkan hasil survei 2007, komposisi aset non keuangan lainnya (emas, ternak dan lainnya) sedikit meningkat. Hal ini dipicu kenaikan harga emas pada pertengahan 2008 yang mendorong rumah tangga mengalihkan sebagian aset keuangannya ke dalam bentuk emas. Sementara itu, aset keuangan rumah tangga didominasi oleh penanaman pada bank (73%), diikuti oleh penanaman pada lembaga keuangan non bank (13%).

Hutang Rumah Tangga
Sebagian besar (sekitar 65%) responden menyatakan bahwa mereka memiliki uang tunai yang disisihkan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tak terduga. Namun, apabila kebutuhan tak terduga tersebut sudah melebihi dana cadangan maka rumah tangga mengatasinya dengan berhutang. Berdasarkan nominalnya, hutang rumah tangga Indonesia didominasi oleh hutang bank (78%), diikuti oleh hutang kepada lembaga keuangan non bank (12%) dan sumber lain diluar lembaga keuangan (10%). Tujuan pinjaman atau berhutang adalah 24% untuk modal usaha, 16% untuk membeli alat transportasi, 14% untuk membangun atau renovasi rumah, dan 13% untuk konsumsi makanan. Sementara rata-rata jangka waktu pengembalian hutang adalah sekitar 20 bulan.

Sumber Dana Rumah Tangga
Sumber dana utama rumah tangga adalah dari penghasilan sendiri (networth), mencapai 96,13% dari total aset. Pembiayaan dari hutang bank hanya 3,01% dari total aset, diikuti oleh pembiayaan dari lembaga keuangan non bank (0,47%) dan sumber dana lainnya

15

Bab 1 Kondisi Makroekonomi dan Sektor Riil

Grafik Boks 1.1.1 Komposisi Hutang Rumah Tangga (dalam % terhadap Total Hutang)

hutang rumah tangga terhadap total pendapatan maupun disposable income kurang dari 100%, yaitu sebesar 10,38% dan 11,22%. Debt servicing ratio (cicilan pokok pinjaman dan biaya bunga terhadap

Hutang LKBB 12%

Hutang Lainnya 10%

disposable income) rumah tangga juga kurang dari
100% yaitu hanya sebesar 6,31%. Kecil angka rasiorasio ini mengindikasikan bahwa rumah tangga mampu
Hutang bank 78%

mengelola pengeluarannya sedemikian rupa sehingga pendapatan yang dihasilkan dapat digunakan untuk membayar kewajibannya yang jatuh tempo. Selanjutnya, meskipun rasio hutang terhadap

disposable income maupun debt servicing ratio dari
kelompok rumah tangga yang berhutang kepada bank
Grafik Boks 1.1.2 Tujuan Pinjaman Rumah Tangga

dan LKBB adalah yang tertinggi (72,11% dan 33,08%), namun kedua rasio tersebut juga masih di bawah 100%. Dengan demikian, kelompok rumah tangga tersebut diperkirakan masih memiliki kemampuan membayar yang baik apabila terdapat kewajiban yang jatuh tempo.
Konsumsi makanan 13%

Elektronik 2% Membeli Alat transportasi 16% Membeli Tanah/Rumah tidak ditempati 2% Membeli Rumah ditempati sendiri 2%

Lainnya 16%

Modal usaha 24%

Solvency Ratio
Rasio ini menggambarkan kemampuan aset rumah tangga untuk meng-cover hutangnya apabila terjadi default . Hasil survei menunjukkan bahwa kemampuan aset rumah tangga Indonesia cukup baik tercermin dari household gearing ratio (rasio total hutang terhadap total aset) maupun rasio total hutang terhadap networth yang sangat rendah, yaitu masingmasing hanya 3,87% dan 4,03%. Nilai household

Membangun/Reno vasi Rumah 14%

Kesehatan 3%

Pendidikan 8%

Potensi Risiko
Potensi risiko terhadap sistem keuangan terutama ditransmisikan melalui volatilitas harga properti mengingat mayoritas aset rumah tangga berupa

gearing ratio yang kecil ini juga merupakan salah satu
indikasi bahwa rumah tangga masih mempunyai kemampuan yang cukup besar untuk mendapatkan tambahan pembiayaan dari bank. Dari pengelompokkan rumah tangga berdasarkan sumber hutangnya, diketahui bahwa kelompok rumah tangga yang berhutang kepada bank dan LKBB mempunyai household gearing ratio tertinggi dibandingkan lainnya. Namun, nilai rasio tersebut juga masih di bawah 100%. Hal tersebut mencerminkan bahwa kelompok rumah tangga yang berhutang cenderung juga masih mempunyai kemampuan membayar yang baik.

housing asset (aset properti seperti rumah, bangunan,
dan tanah). Sementara itu, risiko rumah tangga yang berhutang terhadap sektor keuangan relatif rendah mengingat kemampuan membayar kewajibannya yang jatuh tempo cukup baik. Berikut dikemukakan hasil analisis menggunakan beberapa rasio keuangan:

Liquidity Mismatch Ratio
Rasio ini menggambarkan kemampuan pendapatan rumah tangga untuk membayar kewajibannya. Hasil survei menunjukkan bahwa rasio

16

Bab 1 Kondisi Makroekonomi dan Sektor Riil

Boks 1.2 Risiko Kredit Sektor Korporasi: Credit Default Swaps (CDS)
Sektor riil mencakup 2 komponen yaitu rumah tangga (household) dan korporasi. Perkembangan terakhir sektor rumah tangga telah diungkapkan pada Boks 1.1. Pada Boks 1.2 ini dikemukakan salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk menilai perkembangan risiko kredit sektor korporasi, yaitu dengan menganalisis perkembangan Credit Default Persepsi tersebut cenderung kurang

menggambarkan kondisi yang sebenarnya mengingat harga dan spread CDS yang tinggi tersebut juga dipicu oleh tipisnya pasar. Namun demikian, untuk tujuan surveillance ketahanan sistem keuangan, data tentang harga dan spread CDS ini dapat dijadikan sebagai salah satu alat deteksi dini (early warning).
Grafik Boks 1.2.1 Perkembangan Harga CDS Indonesia
1200 1000 800 600 400 200 0
3 Jul 2 Ags 1 Sep 1 Okt 31 Okt 30 Nov 30 Des 29 Jan

Swaps (CDS).
CDS dikenal luas sebagai salah satu instrument

credit derivative . Secara konseptual, CDS dapat
dipandang sebagai asuransi atau perlindungan atas default-nya kredit atau bonds (Duffie dan Singleton, 2003; Lando, 2004). Secara teknis, risiko kredit tercermin pada spread CDS. Namun demikian, harga (price) CDS juga tetap perlu diperhatikan karena juga dapat menggambarkan perkembangan tekanan pasar. Akhir-akhir ini, sejalan dengan semakin memburuknya pasar keuangan global, perkembangan harga dan spread CDS semakin menjadi pusat perhatian. Bahkan, CDS tidak saja sebagai cerminan risiko kredit korporasi, namun telah berkembang menjadi salah satu indikator sovereign risk. Gejolak pasar keuangan yang sempat terjadi pada semester II 2008 telah menyebabkan harga dan spread CDS Indonesia menjadi melonjak tinggi. Puncaknya adalah sekitar tanggal 28 Oktober 2008 pada saat Bursa Efek Indonesia terpaksa ditutup sementara karena IHSG merosot tajam, mencapai 1111,4 yaitu terendah sejak Desember 2005. Namun, setelah Pemerintah dan Bank Indonesia mengambil sejumlah kebijakan penting, harga dan spread CDS sudah mulai menurun, meskipun tetap lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi sebelum Oktober 2008. Sementara itu, apabila dibandingkan dengan negara-negara tetangga, harga dan spread CDS Indonesia juga masih menjadi yang tertinggi. Hal ini mengindikasikan kentalnya persepsi pasar bahwa risiko kredit korporasi Indonesia masih tergolong tinggi.
370 320 270 220 170 120 70 20 -30 -80
3 Jul

Indonesia Philipin

Korea Thailand

2008
Sumber : Bloomberg

2009

Grafik Boks 1.2.2 Perkembangan Spread CDS Indonesia
Indonesia Philipin Korea Thailand

2 Ags

1 Sep

1 Okt

31 Okt

30 Nov

30 Des

29 Jan

2008
Sumber : Bloomberg

2009

Daftar Pustaka: Lando, D. (2004), Credit Risk Modeling, Princeton University Press, Princeton, New Jersey. Duffie, D. dan Singleton, K.J. (2003), Credit Risk:

Pricing, Measurement, and Management, Princeton
University Press, Princeton, New Jersey.

17

Bab 1 Kondisi Makroekonomi dan Sektor Riil

Boks 1.3

Transition Matrices: Potensi Risiko Kredit Korporasi pada 3 Sektor
probabilitas migrasi ke rating yang memiliki jarak cukup jauh (rating default). Melanjutkan penelitian Hadad et al. (2007), dilakukan penelitian baru untuk mempelajari migrasi kolektibilitas kredit pada 3 sektor (properti, transportasi dan tekstil) selama tahun 2008 dengan menggunakan data triwulanan SID yang mencakup 448.183 debitur. Adapun pendekatan yang digunakan adalah metode

Transition matrices (matriks transisi) merupakan
salah satu alat atau pendekatan yang dapat digunakan untuk mendeteksi risiko kredit pada korporasi, yaitu dengan menghitung probabilitas terjadinya migrasi rating atau perubahan kualitas kredit terakhir suatu perusahaan. Matriks transisi merupakan salah satu input penting dalam berbagai aplikasi manajemen risiko. Bahkan, perhitungan kecukupan modal ( capital

requirements) sesuai rekomendasi New Basel Accord
(BIS, 2001) antara lain harus memperhatikan migrasi rating. Penelitian sebelumnya (Credit Risk Modelling:

Continuous Time dengan pertimbangan lebih unggul
dibandingkan metode Cohort. Hasil estimasi menunjukkan bahwa dari ketiga sektor tersebut, debitur-debitur pada sektor properti cenderung lebih baik dibandingkan 2 sektor lainnya. Hal ini tercermin pada: Peluang migrasi debitur dengan kolektibilitas 1 dan 2 (Performing Loans atau PL) ke kolektibilitas 3, 4 dan 5 (Non Performing Loans atau NPL) pada sektor properti lebih kecil dibandingkan 2 sektor lainnya. Peluang migrasi debitur NPL ke PL pada sektor properti lebih besar dibandingkan 2 sektor lainnya. Peluang migrasi debitur kolektibilitas 3 ke kolektibilitas 5 pada sektor properti lebih kecil dibandingkan 2 sektor lainnya.

Rating Transition Matrices oleh Hadad et al., 2007
dalam KSK No.9 September 2007) menggunakan rating yang dikeluarkan oleh PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) sejak Februari 2001 s.d. Juni 2006. Penelitian tersebut menggunakan dua pendekatan, yaitu metode

Continuous Time dan metode Cohort , serta
mengasumsikan bahwa proses rating kredit mengikuti

Markov chain . Kesimpulannya adalah metode Continuous Time memberikan hasil yang lebih efisien
dibandingkan metode Cohort. Selain itu, metode

Continuous Time juga memungkinkan adanya

Tabel Boks 1.3.1 Migrasi Kolektibilitas Debitur 3 Sektor
Properti Kolek
1 2 3 4 5

1
89,7% 64,4% 37,7% 23,4% 0,0%

2
9,3% 28,0% 19,6% 10,8% 0,0%

3
0,3% 1,7% 5,8% 1,5% 0,0%

4
0,3% 1,5% 3,8% 4,7% 0,0%

5
0,4% 4,4% 33,1% 59,5% 100,0%

Transportasi Kolek
1 2 3 4 5

1
89,5% 53,5% 7,5% 2,9% 0,0%

2
8,0% 28,7% 3,5% 1,1% 0,0%

3
0,5% 1,7% 3,3% 0,3% 0,0%

4
0,4% 2,0% 1,7% 3,0% 0,0%

5
1,7% 14,0% 84,1% 92,6% 100,0%

Tekstil Kolek
1 2 3 4 5

1
94,0% 77,9% 27,0% 0,0% 0,0%

2
3,8% 4,6% 2,3% 0,0% 0,0%

3
0,6% 1,0% 0,7% 0,0% 0,0%

4
0,3% 1,1% 1,5% 0,6% 0,0%

5
1,4% 15,3% 68,6% 99,4% 100,0%

18

Bab 2 Sektor Keuangan

Bab 2 Sektor Keuangan

19

Bab 2 Sektor Keuangan

Halaman ini sengaja dikosongkan

20

Bab 2 Sektor Keuangan

Bab 2

Sektor Keuangan

Selama semester II 2008, sektor keuangan Indonesia terus bertumbuh ditengah semakin beratnya tekanan yang berasal dari krisis keuangan global. Secara umum, ketahanan sistem keuangan dapat tetap terjaga. Perbankan sebagai industri yang paling dominan di sektor keuangan masih tetap menunjukkan kinerja yang positif. Namun, krisis global telah sempat menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan harga Surat Utang Negara (SUN).

2.1. STRUKTUR SISTEM KEUANGAN INDONESIA
Dibandingkan dengan kondisi pada semester sebelumnya, pada semester II 2008 struktur sistem keuangan Indonesia tidak banyak mengalami perubahan. Industri perbankan yang terdiri dari bank umum dan bank perkreditan rakyat (BPR) masih tetap mendominasi dengan pangsa sekitar 74% dari total asset sektor keuangan. Sementara itu, pangsa industri keuangan lainnya, yaitu asuransi, dana pensiun, perusahaan pembiayaan, sekuritas dan pegadaian relatif masih tetap rendah. Pada industri perbankan, 15 bank besar menguasai sebagian besar (70%) total aset industri. Selama semester II 2008, total asset bank umum bertumbuh Rp269,7 triliun (13,2%) menjadi Rp2.310,6 triliun. Pertumbuhan ini merupakan salah satu pertanda bahwa krisis global yang

1.355,41 (Desember 2008) atau turun 42,3%. Sementara, harga SUN juga sempat turun yaitu sekitar 2,3% selama periode 30 Juni s.d. 25 September 2008, meskipun kembali rebound sebesar 8,6% selama periode 25 September 2008 s.d. 31 Desember 2008. Akan tetapi, sejak akhir Desember 2008 s.d. pertengahan Maret 2009, harga SUN kembali mengalami tekanan dan turun sekitar 5,62%.

Grafik 2.1 Komposisi Aset Lembaga Keuangan

3,2% 8,0% 1,1%

0,3% 5,8% 2,7%

Bank Umum BPR Perusahaan Asuransi Dana Pensiun

79,0%

Perusahaan Pembiayaan Perusahaan Sekuritas Pegadaian

tengah terjadi tidak berdampak signifikan terhadap industri perbankan. Namun, krisis global telah memicu merosotnya IHSG dari 2.349,11 (Juni 2008) menjadi

21

Bab 2 Sektor Keuangan

2.2. INDEKS STABILITAS KEUANGAN
Perkembangan stabilitas keuangan dari waktu ke waktu tercermin pada Indeks Stabilitas Keuangan atau

Grafik 2.2 Indeks Stabilitas Keuangan (Financial Stability Index)
3 2,5 2 1,5 1 0,5 0 2003
Proyeksi FSI FSI 2,10 2,13 1,95 1,77

Financial Stability Index (FSI).1 Terpengaruh oleh krisis
keuangan global, sektor keuangan dalam negeri bergejolak sehingga stabilitas keuangan selama semester II 2008 mengalami tekanan (lihat Boks 2.1). Akibatnya, FSI meningkat tajam dari 1,60 pada akhir Juni 2008 menjadi 2,10 pada akhir Desember 2008, dengan posisi tertinggi pada bulan November 2008 sebesar 2,43. Bersamaan dengan itu, sejak Oktober 2008, nilai tukar rupiah juga mengalami tekanan. Dengan demikian, angka FSI dalam dua bulan terakhir 2008 telah melampaui batas indikatif maksimum 2. Tingginya angka FSI tersebut lebih banyak karena merosotnya IHSG dan harga SUN sebagai imbas krisis global. Perkembangan terakhir menunjukkan bahwa tekanan krisis keuangan global mulai sedikit menurun yang ditandai dengan mulai membaiknya IHSG dan harga SUN. Respon kebijakan yang ditempuh Pemerintah dan Bank Indonesia juga berhasil meredam gejolak keuangan yang sempat terjadi. Sejalan dengan itu, FSI semakin menurun, mencapai 2,06 per Januari 2009. Penurunan FSI tersebut mencerminkan bahwa stabilitas keuangan secara umum masih relatif terjaga. Bahkan, ke depan pada akhir Juni 2009, FSI diperkirakan akan mencapai sekitar 1,77 √ 2,13, dengan skenario moderat sebesar 1,95 atau relatif lebih rendah dibandingkan posisi akhir Desember 2008. Oleh karena itu, prospek stabilitas keuangan diperkirakan masih tetap positif dan stabilitas sistem keuangan ke depan akan relatif tetap terpelihara.

2004

2005

2006

2007

2008

2009

2.3. PERBANKAN 2.3.1. Pendanaan dan Risiko Likuiditas

Perkembangan Dana Pihak Ketiga
Dana Pihak Ketiga (DPK), sebagai sumber dana utama perbankan, pada awal semester II 2008 tumbuh negatif, dan baru tumbuh positif sejak pertengahan semester. Kenaikan signifikan DPK sejak bulan September 2008 menyebabkan selama periode laporan, DPK tumbuh positif sekitar 12,87% mencapai Rp1.753,3 triliun. Peningkatan tersebut terjadi pada semua komponen, baik giro, tabungan, maupun deposito. Peningkatan DPK sejak pertengahan semester II 2008 tampaknya terkait dengan tingginya suku bunga pada waktu itu sebelum akhirnya diturunkan di penghujung tahun 2008. Tingginya suku bunga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi naiknya minat masyarakat untuk kembali menanamkan dananya di perbankan. Terlebih di tengah kondisi perekonomian yang belum sepenuhnya stabil, investasi pada lembaga non perbankan dinilai oleh sebagian pemilik dana sebagai berisiko tinggi dan imbal hasil yang diperoleh cenderung tidak pasti dibandingkan dengan menyimpan dana di perbankan. Faktor penting lain yang turut mendorong kenaikan DPK adalah kebijakan Pemerintah melalui PERPPU pada

1 Uraian detail tentang metodologi dan pendekatan yang digunakan untuk menghitung Indeks Stabilitas Keuangan dapat dilihat pada KSK No.8 Maret 2007 dan No.9 September 2007.

pertengahan Oktober 2008 untuk meningkatkan besarnya cakupan penjaminan simpanan oleh LPS dari sebesar

22

Bab 2 Sektor Keuangan

Rp100 juta menjadi Rp2 miliar per nasabah per bank. Kebijakan tersebut dinilai cukup efektif untuk

Grafik 2.5 Perkembangan DPK Valas vs Nilai Tukar Rupiah
USD miliar Rupiah 12.500 11.700 dalam USD (skala kiri)

mempertahankan dan bahkan mendorong peningkatan dana masyarakat di perbankan.

30

27

Grafik 2.3 Perkembangan DPK
Rp triliun 550
Deposito (ka)

10.900 10.100

24 nilai tukar rupiah thd USD (skala kanan)

900 750 600
Tabungan (ki)

21

9.300 8.500

500

18
Des Apr Ags Des Apr Ags Des

2006

2007

2008

450
Giro (ki)

450 300

Kecukupan Likuiditas
Lambatnya pertumbuhan DPK pada awal semester

400 150

II 2008 yang terjadi bersamaan dengan keringnya
350 Des 2007 0 Feb Aprl Jun 2008 Ags Okt Des

likuiditas global menyebabkan kondisi likuiditas perbankan domestik ikut tertekan. Selain itu,

Berdasarkan jenis valuta, pertumbuhan DPK dalam valuta asing tercatat sebesar 18,94% atau sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan DPK rupiah sebesar 18,85%. Namun, karena faktor depresiasi nilai tukar rupiah terhadap USD yang cukup besar selama periode laporan, maka apabila dihitung dalam denominasi valas, pertumbuhan DPK valas selama periode laporan justru turun sebesar USD1,36 miliar, terutama pada komponen deposito dan giro yang masing-masing turun sebesar USD0,98 miliar dan USD0,58 miliar.
Grafik 2.4 Perkembangan DPK Valas
USD miliar 30 DPK va dlm USD (skala kiri) Rp triliun 320

pertumbuhan kredit yang cukup tinggi s.d. bulan Oktober 2008, ternyata sebagian besar dibiayai dengan pencairan

secondary reserves sehingga menekan likuiditas
perbankan. Akibatnya, kecukupan likuiditas semakin berkurang dengan puncaknya pada bulan Agustus 2008, pada saat ekses likuiditas mencapai titik terendah. 2 Sampai dengan bulan tersebut, ekses likuiditas turun sekitar 30,18% (ytd) dengan penurunan terbesar pada Sertifikat Bank Indonesia (SBI).
Grafik 2.6 Ekses Likuiditas Bank
250 200 290

285 SBI (ki) SUN (kn) 280

150
290

27

100
24 DPK va dlm Rp (skala kanan) 21 230 260

50 0 Des 2007

Fasbi/FTK (ki)

275

270 Feb Apr Jun 2008 Ags Okt Des

18 Des 2007 Feb Apr Jun 2008 Ags Okt Des

200

2 Ekses likuiditas terdiri dari SBI, penempatan lainnya pada Bank Indonesia selain Giro pada BI (Fasbi/FTK), dan Surat-surat Berharga.

23

Bab 2 Sektor Keuangan

Selain tercermin pada penurunan jumlah ekses likuiditas, berkurangnya kecukupan likuiditas bank juga ditunjukkan oleh rasio alat likuid terhadap Non Core Deposits (NCD)3 yang terus menurun dan mencapai angka terendah pada bulan Agustus 2008, yaitu 84,9%. Rasio ini menunjukkan kemampuan bank untuk dapat memenuhi penarikan DPK sewaktu-waktu. Dengan angka rasio yang kurang dari 100%, maka ketahanan likuiditas perbankan pada waktu itu cenderung kurang memadai. Namun, seiring dengan kenaikan signifikan DPK sejak awal September 2008, tekanan likuiditas mulai berkurang. Kenaikan DPK tersebut, seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, antara lain karena kebijakan Pemerintah meningkatkan besarnya cakupan penjaminan simpanan oleh LPS. Disamping itu, Bank Indonesia juga telah mengeluarkan beberapa kebijakan untuk mengurangi tekanan likuiditas, termasuk pelonggaran kewajiban GWM rupiah dan valas. Akibatnya, kondisi likuiditas industri perbankan semakin membaik sehingga mendorong meningkatnya ketahanan likuiditas. Perkembangan positif tersebut juga tercermin dari angka rasio alat likuid terhadap NCD yang terus membaik, sehingga pada akhir Desember 2008 berhasil mencapai 109,1%. Hal ini mengindikasikan bahwa kondisi likuiditas perbankan sudah semakin terkendali.

cenderung menurun, baik dalam rupiah maupun valuta asing (valas).
Grafik 2.7 Volume Transaksi PUAB DN (rata-rata per hari)
Rp triliun 14 12 400 10 8 6 4 100 2 PUAB Rupiah 0
Jan Mar Mei Jul

USD juta 500

300

200

PUAB valas
Sep Nov

0

2008

Untuk meminimalkan dampak segmentasi di PUAB, Bank Indonesia telah melakukan enhancement Operasi Pasar Terbuka (OPT) sejak Februari 2008. Setelah mengaktifkan fasilitas Fine Tune Operation (FTO), baik yang bersifat ekspansi (FTE) untuk memberi kelonggaran bagi bank yang kesulitan likuiditas, maupun yang bersifat kontraksi (FTK) sebagai fasilitas penempatan dana bagi bank dengan kelebihan likuiditas, Bank Indonesia kemudian melakukan penyempurnaan pada fitur FTO. Hal ini dilakukan dengan memperpanjang tenor FTE dari maksimum 14 hari menjadi maksimum 3 bulan agar bank dapat memperoleh akses lebih besar terhadap likuiditas dari bank sentral. Sementara itu, Bank Indonesia juga mengadakan transaksi repo dengan tenor lebih panjang

Pasar Uang Antar Bank
Sejalan dengan meningkatnya tekanan likuiditas global, terdapat kecenderungan bank-bank domestik untuk menahan likuiditasnya dan membatasi transaksi antar bank sehingga menimbulkan segmentasi Pasar Uang Antar Bank (PUAB). Bersamaan dengan itu, rata-rata per hari volume transaksi bank pada PUAB Dalam Negeri (DN)
3 Alat likuid terdiri dari kas dan penempatan pada BI (Giro BI, SBI, dan penempatan lainnya). Sedangkan NCD diasumsikan terdiri dari 30% giro + 30% tabungan + 10% deposito jangka waktu s.d 3 bulan.

(2-14 hari) untuk membantu bank yang mengalami kesulitan likuiditas. Langkah-langkah ini terbukti cukup berhasil mengatasi tekanan likuiditas pada industri perbankan. Selanjutnya, dalam rangka mengetahui ketahanan likuiditas perbankan, khususnya terhadap kemungkinan penarikan DPK secara tiba-tiba dan dalam jumlah besar telah dilakukan suatu simulasi dengan mengasumsikan bahwa penurunan/penarikan DPK akan dibiayai dari ekses

24

Bab 2 Sektor Keuangan

likuiditas bank. Hasil simulasi berdasarkan data akhir Desember 2008 menunjukkan bahwa ekses likuiditas yang dimiliki bank masih mencukupi untuk mengcover penurunan DPK hingga 29,27%. Selain itu, juga telah dilakukan stress test risiko likuiditas untuk mengetahui ketahanan permodalan dalam menyerap biaya mendapatkan likuiditas dari PUAB apabila bank menghadapi kesulitan pendanaan. Hasil stress test menunjukkan bahwa secara umum permodalan bank masih cukup kuat menghadapi tekanan risiko likuiditas dimaksud.

dari krisis global. Pertumbuhan kredit yang cukup tinggi tampaknya juga bagian dari strategi bank untuk mempertahankan tingkat laba karena spread antara biaya bunga DPK dengan pendapatan bunga dari penanaman pada PUAB dan SBI cenderung semakin menipis. Pertumbuhan kredit yang tinggi tersebut dapat pula dipandang sebagai hasil dari berbagai kebijakan Bank Indonesia pada waktu-waktu sebelumnya dalam rangka mendorong fungsi intermediasi perbankan.
Grafik 2.8 Pertumbuhan Kredit (yoy)
% 50
Kredit Valas dlm USD Total Kredit Total Kredit (NT Tetap) Kredit Rupiah Kredit Valas dlm Rp

2.3.2. Perkembangan dan Risiko Kredit

45 40 35 30 25

Perkembangan Kredit
Pertumbuhan kredit yang tinggi menjadi hal yang menonjol pada tahun 2008. Gejala pertumbuhan kredit yang pesat sebenarnya sudah mulai terlihat sejak tahun 2007. Waktu itu pertumbuhan kredit mencapai 25% atau lebih tinggi dari target sebesar 22%. Pada tahun 2008, sesuai Rencana Bisnis, perbankan menargetkan pertumbuhan kredit sekitar 24%. Namun, sebelum tahun 2008 berakhir, target kredit tersebut sudah terlampaui hingga mencapai puncaknya pada bulan Oktober 2008 dengan pertumbuhan 37% yoy. Sejalan dengan meningkatnya tekanan karena memburuknya perekonomian, sejak bulan November 2008 pertumbuhan kredit mulai melambat sehingga mencapai 29,5% pada akhir tahun. Mengingat selama periode laporan telah terjadi depresiasi nilai tukar rupiah yang signifikan, maka dengan menghilangkan faktor nilai tukar, pertumbuhan kredit tahun 2008 sebenarnya lebih rendah, yaitu sebesar 25,7%. Tingginya pertumbuhan kredit antara lain didorong oleh tingginya permintaan pengusaha domestik untuk modal kerja dan investasi sejalan dengan semakin sulitnya mendapat pendanaan dari luar negeri sebagai dampak

20 15 10 5 0 Des 2007 Feb Apr Jun 2008 Ags Okt Des

Data Des'08 menggunakan data LHBU

Grafik 2.9 Perkembangan Kredit 2007-2008
2008 2007

Kredit Valas (USD T)

Kredit Valas (Rp T)

Kredit Rupiah (Rp T)

Total Kredit (Rp T) (15) 0 25 65 105 145 185 225 265

Sebelumnya telah dikemukakan bahwa selama periode laporan dana pihak ketiga (DPK) bertumbuh sekitar 12,87%. Pertumbuhan DPK yang lebih rendah dibandingkan pertumbuhan kredit mendorong peningkatan loan to deposit ratio (LDR) dari 76,6% pada Juni 2008 menjadi 77,2% pada Desember 2008. Bahkan

25

Bab 2 Sektor Keuangan

angka LDR sempat mencapai titik tertinggi setelah krisis 1997/1998 yaitu sebesar 81,6% pada Agustus 2008. Dari segi kelompok bank, penyaluran kredit oleh bank Persero dan bank Swasta masih mendominasi. Selama periode laporan, kredit kelompok bank Persero meningkat signifikan, terutama untuk sektor Industri Pengolahan, Lain-Lain (Konsumsi) serta Perdagangan. Sementara itu, walaupun masih tumbuh tinggi, peningkatan kredit bank Swasta cenderung lebih rendah dibandingkan semester sebelumnya. Perlambatan pertumbuhan kredit pada kelompok bank Swasta terutama untuk sektor Perdagangan dan Lain-Lain (Konsumsi), sedangkan sektor Industri Pengolahan masih naik cukup besar.

Komunikasi; sektor Konstruksi; sektor Jasa Dunia Usaha; dan sektor Industri Pengolahan.
Grafik 2.11 Pertumbuhan Kredit Jenis Penggunaan (ytd)
2008 2007

Konsumsi

29%

37%

Investasi

Modal Kerja

32%

0

10

20

30

40 %

Grafik 2.12 Pertumbuhan Kredit Sektor Ekonomi
Listrik Pertambangan
25,9% 11,1% 39,6% 19,1% 42,8% 70,2% 37,9% 29,1% 20,7% 2008 2007 133,8%

Grafik 2.10 Pertumbuhan Kredit Kelompok Bank (ytd)
32% 46%

Jasa Sosial Jasa Dunia Usaha Pertanian Konstruksi Pengangkutan Industri Pengolahan Lain-lain
50%

Industri Asing Campuran BPD Swasta BUMN 0 10 20 30
27%

Perdagangan 0 20

36%

40

60

80

100

120

140 %

32%

2008 2007

Meskipun tidak sebesar pertumbuhan kredit lainnya,
50 %

40

Kredit Konsumsi tetap meningkat sebesar Rp39 triliun selama semester II 2008. Kenaikan kredit konsumsi terutama berasal dari peningkatan kredit Lainnya (mencakup kredit kendaraan bermotor, kredit tanpa agunan, dan lain-lain) sebesar Rp25,6 triliun dan diikuti kredit pemilikan rumah (KPR) sebesar Rp10,1 triliun. Dengan demikian, selama tahun 2008, pertumbuhan kredit Lainnya dan KPR menjadi lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Kartu Kredit. Sementara itu, dari 3 jenis kredit yang termasuk dalam kelompok Kredit Properti (KPR, Kredit Real Estate dan Kredit Konstruksi), KPR menyumbang 54,6% dari total kenaikan kredit Properti selama semester laporan yang mencapai Rp18,5 triliun. Dengan total kredit mencapai Rp198,9 triliun, pangsa

Suatu hal yang menggembirakan dari penyaluran kredit selama semester II 2008 adalah cukup tingginya penyaluran kredit untuk sektor produktif. Hal ini tercermin pada Kredit Modal Kerja dan Kredit Investasi yang mendominasi penyaluran kredit dengan menyumbang masing-masing sebesar 49% dan 27% dari total kenaikan kredit. Dengan demikian, secara keseluruhan pertumbuhan Kredit Modal Kerja dan Kredit Investasi selama tahun 2008 bertumbuh cukup tinggi masingmasing 32% dan 37%. Sementara itu, secara sektoral, pertumbuhan kredit yang cukup tinggi terdapat pada sektor Listrik, Air dan Gas; sektor Pengangkutan dan

26

Bab 2 Sektor Keuangan

kredit Properti mengalami sedikit penurunan dari 15,7% pada akhir Juni 2008 menjadi 15,2% pada akhir Desember 2008.
Grafik 2.13 Pertumbuhan KPR, Kartu Kredit & Lainnya
60 40

Grafik 2.15 Pertumbuhan Kredit Berdasarkan Valuta Asal
% Rp 14.000

12.000 20 (20) 10.000

Lainnya

29% 2008 2007 26%

8.000 (40)
yoy Rp (%) yoy Va USD (%) kurs

Kartu Kredit

(60) 2000

6.000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008

Konsumsi lebih merata, tercermin pada pangsa untuk
29%

KPR

pulau Jawa berkisar antara 50%-60%. Sementara itu,
0 5 10 15 20 25 30 %

kredit di pulau Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi lebih kepada kredit investasi.

Grafik 2.14 Perkembangan Kredit Properti Grafik 2.16 Pangsa Kredit Penggunaan
KPR Maluku + Papua
Pertumbuhan 2007 (%) Pertumbuhan 2008 (% ytd) Delta Kredit 2008 (Rp M)

Bali + NusTra Sulawesi Kalimantan Sumatra

Real Estate

Delta Kredit 2007 (Rp M)

KK KI KMK

Konstruksi

Jawa Timur JaTeng + DIY 0 9 18 27 36 45 DKI Jakarta JaBar + Banten

Kredit rupiah masih mendominasi penyaluran kredit perbankan pada semester laporan, dengan pangsa mencapai 80% dari total kenaikan kredit. Sementara itu, kenaikan kredit valas sebesar Rp32,4 triliun lebih dipengaruhi oleh faktor depresiasi nilai tukar rupiah. Dengan menggunakan denominasi USD, kredit valas sebenarnya turun sebesar USD0,8 miliar menjadi USD23,1 miliar. Penurunan kredit valas terjadi sejalan dengan meningkatnya risiko akibat berfluktuasinya nilai tukar dan kondisi perekonomian dunia yang masih belum menggembirakan. Dari sisi lokasi proyek, penyaluran kredit masih terpusat di pulau Jawa, terutama untuk kredit modal kerja (pangsa 72,9%). Perkembangan Kredit investasi dan Kredit

0

5

10

15

20

25

30

35 %

Pada semester II 2008, kredit MKM (Mikro, Kecil dan Menengah) mengalami peningkatan sebesar Rp58,6 triliun atau tumbuh 26,1% yoy, atau di bawah angka pertumbuhan total kredit perbankan. Akibatnya, pangsanya terhadap total kredit mengalami sedikit penurunan dari 50,1% pada akhir Juni 2008 menjadi 48,5% pada akhir Desember 2008. Secara umum, kredit MKM masih didominasi oleh Kredit Konsumsi dengan peningkatan mencapai 61,5% dari total peningkatan kredit MKM. Kredit produktif pada kredit MKM lebih cenderung dalam bentuk Kredit Modal Kerja untuk kebutuhan operasional sehari-hari yang peningkatannya

27

Bab 2 Sektor Keuangan

selama selama semester laporan mencapai Rp19 triliun (32,4% dari total peningkatan kredit). Sementara itu, sumbangan kredit Investasi relatif kecil yaitu sekitar 6,1% dari total kenaikan kredit MKM. Secara sektoral, sektor yang mengalami kenaikan kredit terbesar adalah sektor Lain-Lain dan Perdagangan.

yang lebih tinggi dibandingkan peningkatan nominal NPL mengindikasikan bahwa perbankan sudah mulai mengantisipasi kemungkinan kenaikan risiko kredit ke depan.
Grafik 2.18 Non Performing Loans
(%) (Triliun) NPL Gross (kr) 75 70 65 60 NPL Nominal (kn) 55 50 45 NPL Net (kr) 40 35 30 Jun 2007 Jun 2008 Jun Des 10 9

Grafik 2.17 Perkembangan Kredit MKM
% 1400 1200 1000 800 48 600 400 200 2006 2007 2008 Des 46
Total Kredit Rp T (kiri) MKM Rp T (kiri) % MKM/Kredit

8

54

7 6

52

5 4 3 2 1 2006

50

44

Grafik 2.19 Kredit, NPL, dan PPAP (Rp Triliun)
75 1600 Nominal NPL (kiri) 1400 Kredit (kanan) 1200 1000 800 600 400 200 2007 2008 Des

Risiko Kredit
Selama semester II 2008, kenaikan nominal NPL cenderung meningkat sejalan dengan meningkatnya tekanan perlambatan perekonomian. Meskipun selama periode laporan nominal NPL hanya naik Rp2,3 triliun menjadi Rp50,9 triliun, namun mengingat rendahnya peningkatan nominal NPL tersebut adalah karena penghapusbukuan kredit yang cukup signifikan pada satu bank besar, maka kenaikan nominal NPL perlu diwaspadai apalagi kondisi ekonomi tengah kurang menggembirakan. Dari sisi rasio NPL, dibandingkan dengan posisi akhir semester I 2008, rasio NPL gross menurun menjadi 3,76%. Rendahnya rasio NPL dipengaruhi oleh tingginya peningkatan kredit yang jauh melebihi peningkatan nominal NPL. Sementara itu, kenaikan nominal NPL juga diiringi dengan kenaikan Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP) dalam jumlah yang lebih tinggi yaitu sebesar Rp4,4 triliun menjadi Rp47,5 triliun selama semester laporan. Hal ini menyebabkan rasio NPL net menurun sebesar 0,2% menjadi 1,47%. Peningkatan PPAP

70 65 60 55 50 45 40 35

30 2006

Dari segi kelompok bank, selama semester laporan, kenaikan nominal NPL terjadi pada kelompok bank Swasta, kantor cabang bank Asing dan bank Campuran, sedangkan nominal NPL bank Persero justru turun Rp3,1 triliun karena penghapusbukuan kredit. Naiknya nominal NPL pada kelompok bank Swasta dan Campuran disertai pula dengan peningkatan rasio NPL gross yang terjadi sejak pertengahan semester II 2008, sementara kenaikan rasio NPL kelompok kantor cabang bank Asing baru terjadi pada akhir semester. Kenaikan kredit bermasalah pada kelompok bank Swasta dan Campuran terutama pada kredit untuk sektor Industri Pengolahan serta sektor Jasa Dunia Usaha, sementara untuk kelompok kantor cabang bank Asing

28

Bab 2 Sektor Keuangan

diikuti pula oleh kredit sektor Lain-Lain (konsumsi), terutama yang berasal dari kartu kredit.
Grafik 2.20 Rasio NPL Gross Kelompok Bank
7 6 5 4 3 2 1 0 BUMN Swasta BPD Campuran Asing
Des-07 Jun-08 Des-08

pada Kredit Investasi dan Kredit Konsumsi mengalami penurunan. Meskipun jumlah nominalnya mengalami peningkatan, secara rasio, NPL gross Kredit Modal Kerja sedikit menurun dibandingkan periode sebelumnya sehingga menjadi 3,4%. Selanjutnya, walaupun secara rasio, NPL tertinggi masih terdapat pada Kredit Investasi, telah terjadi penurunan kredit non-lancar yang cukup signifikan karena adanya hapus buku sehingga rasio NPL gross Kredit Investasi turun dari 4,6% pada akhir Juni 2008 menjadi 3,8% pada akhir Desember 2008. Sementara itu, sejalan dengan penurunan nominal NPL Kredit Konsumsi, rasio NPL grossnya juga mengalami penurunan dari 2,9% menjadi 2,5%.

Peningkatan nominal NPL sektor Jasa Dunia Usaha dan Industri Pengolahan membuat kedua sektor ekonomi tersebut mendominasi kenaikan nominal NPL sektoral industri perbankan, masing-masing sebesar Rp1 triliun dan

Grafik 2.22 Rasio NPL Gross Jenis Penggunaan
7

Rp0,7 triliun. Kedua sektor tercatat memiliki rasio NPL gross masing-masing sebesar 2,12% dan 5,41%. Dengan demikian, Industri Pengolahan tampaknya masih menjadi sektor dengan tingkat risiko kredit yang cukup tinggi, meskipun sedikit membaik pada akhir periode laporan sejalan dengan hapus buku yang dilakukan oleh salah satu bank besar.
Grafik 2.21 Rasio NPL Gross Sektor Ekonomi

6 5 4 3 2 1 0 Modal Kerja Investasi Konsumsi

Des-07 Jun-08 Des-08

Grafik 2.23 Rasio NPL Gross Kredit Konsumsi
% 12

Lain-lain Jasa Dunia Usaha Pengangkutan Perdagangan Konstruksi Ind. Pengolahan Pertambangan Pertanian

Des-07 Jun-08 Des-08

10 8 6 4 2 0

Des-07 Jun-08 Des-08

0,0

1,5

3,0

4,5

6,0

7,5

KPR

Kartu Kredit

Lainnya

Dari segi jenis penggunaan kredit, peningkatan nominal NPL selama semester II 2008 hanya terjadi pada Kredit Modal Kerja, yaitu sebesar Rp1,7 triliun, sementara

Penurunan nominal NPL Kredit Konsumsi terutama karena penurunan nominal kredit KPR yang menyebabkan rasio NPL gross KPR turun menjadi 2,26%. Sementara itu,

29

Bab 2 Sektor Keuangan

rasio NPL gross Kartu Kredit masih cukup tinggi, yaitu 10,8% pada akhir Desember 2008, meskipun sedikit menurun dibandingkan posisi akhir Juni 2008 sebesar 11,6%. Sebagian besar (78,2%) nominal NPL Kartu Kredit terdapat pada kelompok Kantor Cabang Bank Asing. Sementara itu, walaupun nominal NPL KPR sudah mengalami penurunan, secara total, nominal NPL Kredit Properti masih mengalami peningkatan sebesar Rp0,3 triliun. Hal tersebut karena nominal NPL Kredit Real Estate mengalami peningkatan dengan rasio NPL menjadi sebesar 4,51%.
Grafik 2.24 Rasio NPL Gross Kredit Properti (%)
6 5 4 3 2 1 Konstruksi Real Estate KPR
Des-07 Jun-08 Des-08

penghapusbukuan kredit. Ke depan, perlu semakin diwaspadai turunnya ekspor dan pelemahan nilai tukar rupiah karena berpotensi mempengaruhi kemampuan debitur membayar kewajibannya, terutama kewajiban dalam valas.

Grafik 2.25 Rasio NPL Gross Kredit Rupiah dan Valas (%)

5 4 3 2 1 0 Rupiah Valas
Des-07 Des-08 Jun-08

Pada periode laporan, nominal NPL Kredit MKM turun Rp1 triliun menjadi Rp18,8 triliun. Sejalan dengan itu, rasio NPL gross Kredit MKM juga turun menjadi 2,97%. Berdasarkan jenis penggunaan, nominal NPL dari semua jenis Kredit MKM turun, terutama pada Kredit Modal Kerja sebesar Rp0,5 triliun. Dari sisi sektoral, penurunan nominal NPL terjadi pada hampir semua sektor, kecuali sektor Industri Pengolahan, dengan penurunan terbesar pada sektor Perdagangan sebesar Rp1 triliun. Nominal NPL kredit MKM sektor Industri Pengolahan naik Rp0,6 triliun, sehingga rasio NPL gross-nya naik menjadi 7,5%. Hal ini
Grafik 2.26 Rasio NPL Gross MKM & Non MKM (%)
5 4 3
Des-07 Juni-08 Nov-08

Kredit valas menjadi sumber utama peningkatan nominal NPL perbankan. Selama semester II 2008, nominal NPL kredit valas naik Rp1,9 triliun menjadi Rp10,5 triliun antara lain karena pelemahan nilai tukar rupiah. Apabila dinyatakan dalam USD, nominal NPL kredit valas hanya naik USD29,7 juta. Sejalan dengan itu, rasio NPL gross kredit valas juga meningkat menjadi 4,14%. Kenaikan nominal NPL kredit valas terbesar pada kelompok bank Persero sebesar Rp0,8 triliun, diikuti Kantor Cabang Bank Asing sebesar Rp0,7 triliun. Di lain pihak, rasio NPL gross kredit rupiah turun menjadi 2,98% sejalan dengan penurunan nominal NPL kredit rupiah sebesar Rp0,7 triliun. Penurunan nominal NPL kredit rupiah terutama karena menurunnya nominal NPL pada kelompok bank Persero dalam jumlah yang signifikan, yaitu sebesar Rp3,9 triliun yang disebabkab oleh

2 1 0 MKM Non MKM

30

Bab 2 Sektor Keuangan

Grafik 2.27 Rasio NPL Gross Kredit MKM (%)
Des-07 Des-08 Jun-08

masih tinggi pada saat itu juga berpotensi meningkatkan tekanan inflasi ke depan. Sebagai respon atas kondisi tersebut, Bank Indonesia menaikkan suku bunga kebijakannya (BI rate) sebagai upaya untuk meredam

4,0

3,0

tekanan inflasi. Sejak Juli sampai dengan Oktober, secara
2,0

berturut-turut BI rate terus dinaikkan sebesar 25 bps, sehingga mencapai 9,5% pada Oktober.

1,0

Namun, pada perkembangan lebih lanjut,
0,0 Mikro Kecil Menengah

memburuknya kondisi pasar keuangan dunia mulai mempengaruhi kondisi ekonomi domestik, terutama di

menunjukkan bahwa risiko kredit di sektor Industri Pengolahan tidak hanya berasal dari korporasi besar (Non MKM) tetapi juga dari usaha skala kecil dan menengah (MKM). Sebagaimana dikemukakan pada Bab 1, potensi peningkatan risiko kredit tercermin pula pada hasil analisis

pasar keuangan yang menyebabkan menurunnya kinerja pasar saham, dan harga SUN, serta pelemahan nilai tukar Rupiah yang signifikan. Selain itu, perlambatan ekonomi dunia menyebabkan pertumbuhan ekspor Indonesia turun signifikan, sehingga ekonomi domestik mulai tumbuh melambat. Memperhatikan kondisi tersebut, Bank Indonesia mempertahankan level BI rate pada 9,5% pada bulan November. Pada penghujung 2008, Bank Indonesia mulai menurunkan BI rate sebesar 25 bps menjadi 9,25% untuk mendorong kegiatan ekonomi mengingat prospek pertumbuhan ekonomi domestik ke depan diperkirakan melambat cukup dalam. Penurunan BI rate pada akhir 2008 tidak langsung direspon dengan penurunan suku bunga perbankan. Suku bunga perbankan masih meningkat meskipun sudah cenderung melambat. Selama periode laporan, suku bunga deposito 1 bulan naik 356 bps menjadi 10,75%, sedangkan suku bunga kredit naik dalam level yang lebih rendah. Masih tingginya suku bunga perbankan, khususnya suku bunga deposito, terjadi karena perang suku bunga untuk menarik dana masyarakat sebesar-

Probability of Default (PD) yang mengindikasikan bahwa
ke depan risiko kredit yang berasal dari sektor riil (korporasi) akan cenderung meningkat. Berdasarkan analisis Probability of Default ( PD ) dan model ekonometrik, diproyeksikan bahwa pada akhir tahun 2009 rasio NPL gross perbankan akan meningkat menjadi sekitar 4,9%-5,6%. Namun demikian, hasil stress test terhadap 15 bank besar dengan menggunakan skenario pesimis (rasio NPL gross akan meningkat menjadi 5,6% yaitu sebesar proyeksi tertinggi untuk tahun 2009) menunjukkan bahwa secara umum perbankan masih mampu mengatasi kemungkinan kerugian yang akan terjadi sehingga tidak terdapat bank yang CAR-nya turun menjadi di bawah 8%.

2.3.3. Risiko Pasar
Perkembangan ekonomi domestik pada awal semester II 2008 ditandai dengan tingginya inflasi sebagai dampak dari kenaikan harga BBM dan tingginya harga komoditas pokok dunia. Pertumbuhan ekonomi yang

besarnya guna meningkatkan likuiditas perbankan. Sementara itu, suku bunga kredit Kredit Modal Kerja, Kredit Investasi dan Kredit Konsumsi masing-masing naik 222 bps, 139 bps, dan 27 bps, sehingga spread suku bunga cenderung menyempit.

31

Bab 2 Sektor Keuangan

Grafik 2.28 Suku Bunga Rp & Nilai Tukar
% 20 KK (ki) 18 16 14 KI (ki) 12 10 8 Kurs (kn) 6 2006 7500 2007 2008 Des Deposito 1 bln (ki) 8500 9500 10500 KMK (ki) 11500 Rp 12500

pendapatan bunga bersih perbankan lebih tinggi dibandingkan semester I 2008 sebagai akibat dari penyaluran kredit yang masih tinggi, namun ke depan hal ini berpotensi mengurangi profitabilitas. Hasil stress test menunjukkan bahwa apabila suku bunga meningkat 1%, tidak terdapat bank yang mengalami penurunan CAR menjadi di bawah 8%.

Grafik 2.30 Profil Maturitas Valas
M USD 10 5

Grafik 2.29 Profil Maturitas Rupiah
Rp triliun 500 400 300 200 100 0 (100) (200) (300) (400) (500) sd 1 bln 1 - 3 bln 3 - 6 bulan 6 - 12 bln > 12 bln
Des07 Sep08 Mrt08 Des08 Jun08

0 (5)

(10) (15) sd 1 bln 1 - 3 bln 3 - 6 bulan

Des07 Sep08

Mrt08 Des08

Jun08

6 - 12 bln

> 12 bln

Grafik 2.31 Posisi Devisa Netto
% 9 8 7 6 5

Dengan profil maturitas perbankan, baik rupiah maupun valas, yang secara umum cenderung short dalam jangka pendek dan long dalam jangka panjang, kenaikan suku bunga perbankan berpotensi merugikan karena akan mengurangi keuntungan atau meningkatkan kerugian. Pada periode laporan, posisi short aset/kewajiban dalam rupiah untuk jangka waktu sangat pendek (s.d. 1 bulan) cenderung semakin meningkat seiring dengan gencarnya perbankan dalam menarik dana masyarakat untuk meningkatkan likuiditas. Sebaliknya, untuk aset/kewajiban dalam valas, posisi shortnya cenderung menurun sejalan dengan meningkatnya risiko akibat depresiasi rupiah yang cukup tajam. Meningkatnya posisi short jangka pendek ini berpotensi meningkatkan risiko pasar perbankan akibat kenaikan suku bunga, terlebih dengan spread yang semakin menyempit. Meskipun selama semester II 2008

4 3 2 1 0 Des07 BUSN Mrt08 Campuran BPD Jun08 Persero Sep08 Asing Des08 SELURUH

Gejolak pasar keuangan global juga menimbulkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Bahkan rupiah sempat mencapai Rp12.150 per USD pada November 2008, sehingga rata-rata nilai tukar rupiah selama semester II 2008 mencapai Rp10.138 per USD dibandingkan semester I 2008 sebesar Rp9.235 per dolar AS. Namun demikian, rasio PDN perbankan yang relatif rendah (6,2%) menyebabkan eksposur perbankan terhadap risiko nilai tukar relatif terbatas. Hasil stress test menunjukkan bahwa

32

Bab 2 Sektor Keuangan

apabila nilai tukar rupiah mengalami depresiasi sampai dengan Rp5.000 per USD, rasio kecukupan modal (CAR) perbankan masih berada di atas 8%. Namun demikian, perlu diwaspadai pengaruh fluktuasi nilai tukar terhadap perbankan melalui penurunan kemampuan membayar debitur. Tekanan terhadap pasar saham dan pasar utang domestik selama semester II 2008 semakin tinggi akibat krisis pasar keuangan global yang semakin buruk. Salah satu dampaknya adalah harga surat utang negara yang sempat turun signifikan pada Oktober, meski pada akhir 2008 sudah mulai meningkat. Perkembangan ini sangat mempengaruhi neraca dan laba rugi perbankan, karena sebagian besar bank memiliki SUN sebagai salah satu portofolio dalam aktiva produktif. Untuk mengurangi kerugian yang lebih besar, pada tanggal 9 Oktober 2008, Bank Indonesia, Pemerintah (Bapepam-LK), dan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) menerbitkan keputusan bersama yang memungkinkan perbankan untuk menunda penerapan marking to market dalam penetapan nilai wajar untuk SUN. Selain itu, perbankan juga dimungkinkan untuk mengalihkan tujuan kepemilikan SUN dari kategori Trading dan Available for
300 250 200 150 100 50 0
126,8 130,6

Grafik 2.33 Perkembangan SUN (Rp T)
AFS Trading HTM

28,2

Des 2007

Jun

Jul

Ags 2008

Sep

Okt

Nov

Des

pada laporan laba rugi yang menurun pada Desember 2008, setelah sempat meningkat tinggi pada Oktober 2008. Harga SUN yang turun tajam juga mendorong perbankan untuk mengalihkan tujuan kepemilikan SUN dari AFS menjadi HTM untuk mengurangi kerugian. Akibatnya, selama semester II 2008, pangsa kepemilikan SUN untuk AFS turun 10,8% menjadi 36,9%, sedangkan pangsa HTM naik 11,3% menjadi 56,9%. Pangsa kepemilikan SUN trading yang cukup rendah dan penundaan berlakunya

marking to market menjadikan perbankan tidak terlalu
terekspos dengan risiko penurunan harga SUN. Hasil stress

test menunjukkan bahwa apabila harga SUN turun sampai
20%, tidak terdapat bank yang mengalami penurunan CAR menjadi di bawah batas minimum 8%.

Sale (AFS) menjadi kategori Hold to Maturity (HTM).
Kebijakan tersebut memberikan dampak positif terhadap neraca dan laba rugi perbankan. Hal ini tercermin pada

net unrealized loss di neraca dan nilai kerugian bersih
Grafik 2.32 Pangsa Kepemilikan SUN Perbankan
% 60 50 40 30 20 10 0
Des07 Jun08 Des08

2.3.4. Profitabilitas dan Permodalan

Profitabilitas
Di tengah peningkatan tekanan terhadap perekonomian, industri perbankan masih mampu mempertahankan profitabilitasnya, meskipun menurun bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Net Interest

Income (NII), sebagai salah satu indikator profitabilitas,
menunjukkan peningkatan yaitu dari Rp53,2 triliun (Juni 2008) menjadi Rp59,9
HTM AFS Trading

triliun (Desember 2008).

Peningkatan tersebut antara lain karena pertumbuhan

156,4

16,9

101,4

33

Bab 2 Sektor Keuangan

kredit yang tinggi sejak awal tahun dan baru mulai melambat sejak bulan November 2008. Dengan demikian, peningkatan NII lebih ditopang oleh pendapatan bunga kredit.
Grafik 2.34 Profitabilitas Bank-mtm 2008
Rp triliun 25 20
Pend. Bunga Beban Bunga NII

terkait melambatnya pertumbuhan ekonomi ke depan dengan meningkatkan beban Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP). Akibatnya, terjadi penurunan laba operasional sekitar 30,6%, yaitu dari Rp17,6 triliun (Juni 2008) menjadi Rp12,2 triliun (Desember 2008). Setelah memperhitungkan pajak, perolehan laba selama semester II 2008 turun 33,9%, yaitu dari Rp18,4 triliun menjadi Rp12,2 triliun. Penting dicatat bahwa penurunan laba yang terjadi pada paruh kedua tahun 2008 ini, merupakan kecenderungan tahunan yang juga terjadi pada tahun 2007 yang lalu. Hanya saja, meningkatnya tekanan terhadap kondisi perbankan pada tahun 2008,

15 10 5 0

Nov Des Jan 2007

Feb Mar Apr Mei Jun Jul 2008

Ags Sep Okt Nov Des

menyebabkan perolehan laba berjalan menjadi lebih menurun, yaitu dari sebesar Rp35,0 triliun pada akhir 2007

Grafik 2.35 Pendapatan Bunga Bank
250 200 150 100 Lainnya Kredit SSB BI

menjadi Rp30,6 triliun pada akhir 2008. Sementara itu, pada periode yang sama total aset perbankan juga mengalami peningkatan. Hal ini kemudian menyebabkan ROA perbankan juga menjadi menurun.
Grafik 2.36 Perkembangan Rasio ROA per Kelompok Bank
%

50 0 Nov 2007 Des Nov 2008 Des

4

ROA Des'07

ROA Des'08

3

Akan tetapi, profitabilitas yang dihasilkan dari pendapatan bunga tersebut tidak seluruhnya dapat langsung menjadi laba bersih bank. Hal tersebut karena perbankan mengantisipasi memburuknya kualitas kredit
2

1

15 BB S. Menengah S. Kecil BPD Campuran Asing Industri

Tabel 2.1 Laba/Rugi Perbankan
Rp triliun

2007 Semester I Semester II L/R Operasional L/R Non Operasional L/R sebelum Pajak L/R setelah Pajak 18,07 7,10 25,17 18,38 16,97 7,72 24,69 16,63 Total 35,04 14,82 49,86 35,02

2008 Semester I Semester II 17,63 7,23 24,86 18,39 12,23 11,01 23,24 12,16 Total 29,86 18,24 48,10 30,55

34

Bab 2 Sektor Keuangan

Penurunan laba operasional sepanjang tahun 2008 tampaknya juga dipicu oleh tingkat efisiensi yang ikut berkurang. Penurunan efisiensi ini tercermin pada rasio Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) yang meningkat. Oleh karena itu, salah satu agenda penting perbankan ke depan adalah upaya untuk meningkatkan efisiensi. Sementara itu, data yang ada menunjukkan bahwa inefisiensi ternyata lebih banyak terlihat pada kelompok bank kecil dibandingkan kelompok bank lainnya. Dengan demikian, salah satu cara untuk meningkatkan efisiensi adalah dengan memperbesar size atau skala usaha bank.

Sementara itu, rasio modal inti (Tier 1) terhadap Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) juga masih cukup tinggi, yaitu sebesar 14,4%. Dengan demikian, permodalan perbankan diperkirakan masih cukup kuat untuk menyerap berbagai risiko, serta masih memiliki ruang gerak yang mencukupi untuk terus bertumbuh dan melakukan ekspansi kredit.
Grafik 2.38 Modal, ATMR, dan CAR
Rp triliun 2.000
Modal ATMR CAR (kanan)

% 25

1.600

20

1.200

15

Hal ini dapat dilakukan antara lain melalui merger dan akuisisi dalam rangka konsolidasi perbankan.
Grafik 2.37 Perkembangan Rasio BOPO per Kelompok Bank
% 120
BOPO Des'07 BOPO Des'08

800

10

400

5

-

Des 2007

Feb

Apr

Jun 2008

Ags

Okt

Des

0

Ketahanan perbankan terhadap tekanan berbagai risiko tersebut tercermin pada hasil integrated stress test, yang mencakup risiko kredit, risiko suku bunga, risiko nilai tukar, risiko harga SUN dan risiko likuiditas. Stress test ini dilakukan terhadap 15 bank besar yang mencakup sekitar 70% dari total aset industri perbankan. Skenario yang

100 80 60 40 20 15 BB S. Menengah S. Kecil BPD Campuran Asing Industri

digunakan adalah rasio NPL gross meningkat menjadi sebesar 5,6% (proyeksi pesimis rasio NPL tahun 2009),

Permodalan
Secara umum, rasio permodalan (CAR) industri perbankan pada akhir semester II 2008 masih cukup tinggi, yaitu 16,2%. Namun demikian, jika dibandingkan dengan posisi akhir semester sebelumnya sebesar 16,4%, terdapat sedikit penurunan. Hal tersebut disebabkan oleh tingginya pertumbuhan kredit yang dibarengi dengan lambannya peningkatan laba bank. Apabila kredit perbankan ke depan terus bertumbuh pada kisaran 15%-18%, maka CAR industri perbankan pada akhir tahun 2009 diperkirakan akan turun menjadi sekitar 14,3%.

harga SUN turun 20%, suku bunga turun 1% dan rupiah terdepresiasi sampai dengan Rp5.000 per USD. Selain itu,
Grafik 2.39 Integrated Stress Test terhadap CAR 15 Bank Besar
30%
CAR AWAL

25% 20% 15% 10% 5% 0% A B C D E F G H I J K L M

CAR BARU

N

O

35

Bab 2 Sektor Keuangan

kekurangan likuiditas diasumsikan dipenuhi dari dana PUAB. Hasil stress test menunjukkan bahwa tidak terdapat bank yang CARnya turun menjadi di bawah 8%. Selanjutnya, mengingat beberapa bank dewasa ini sedang menghadapi potensi kerugian terkait structured

dampak lanjutannya (second round effects) berpotensi membuat 24 bank lainnya ( multiple failure ) juga menghadapi tekanan permodalan. Sementara itu, apabila dilihat secara individual, beberapa bank masih memiliki modal inti minimum kurang dari Rp100 miliar. Meskipun ketentuan modal inti minimum sebesar Rp100 miliar baru akan berlaku pada akhir tahun 2010, bank-bank yang dewasa ini masih belum memiliki modal inti Rp100 miliar perlu segera menyiapkan langkahlangkah untuk pemenuhannya. Salah satu langkah yang mungkin dapat dilakukan adalah dengan melakukan merger dan akuisisi sehingga dapat mempercepat proses konsolidasi perbankan.

products , telah dilakukan pula stress test untuk
mengetahui ketahanan permodalan dari bank-bank tersebut. Hasil stress test ini menunjukkan bahwa secara umum permodalan bank cukup kuat, meskipun beberapa Kantor Cabang Bank Asing tertentu yang aktif melakukan transaksi structured products harus siap-siap segera meningkatkan modal apabila potensi kerugian menjadi semakin meningkat. Untuk mendapatkan gambaran tentang ketahanan perbankan dalam menghadapi gejolak faktor-faktor makroekonomi, telah dilakukan macroeconomic stress test, khususnya terhadap 15 bank besar. Hasil stress test ini memperlihatkan bahwa pada akhir 2009, sejalan dengan proyeksi perlambatan pertumbuhan ekonomi, maka secara rata-rata rasio NPL 15 bank besar akan meningkat, namun masih pada kisaran 5%. Selain itu, telah dilakukan pula interbank stress test, yaitu untuk mengetahui dampak contagion kegagalan suatu bank terhadap bank lainnya dalam sistem perbankan (contagion risk). Hasil stress test ini menunjukkan bahwa apabila 11 bank pemicu gagal (single failure) terdapat 14 bank yang berpotensi permodalannya tertekan, sementara
Grafik 2.40 Interbank Stress Test
Bank Kena Dampak F M N O P

2.4. LEMBAGA KEUANGAN BUKAN BANK DAN PASAR MODAL 2.4.1. Perusahaan Pembiayaan
Perusahaan Pembiayaan (PP) merupakan salah satu jenis lembaga keuangan bukan bank yang berfungsi melakukan pembiayaan melalui berbagai jenis pembiayaan antara lain pembiayaan konsumen, sewa guna usaha, anjak piutang dan kartu kredit. Selama semester II 2008 (s.d November), kinerja PP meningkat cukup signifikan, tercermin pada peningkatan total asset dan modal masingmasing sebesar 23,80% dan 2,01%, sementara kegiatan pembiayaan meningkat sebesar 16,58%. Pesatnya kegiatan usaha PP ditopang oleh kenaikan pendanaan, terutama yang bersumber dari kredit perbankan yang meningkat cukup pesat yaitu sekitar 24,42% sehingga pangsanya menjadi 42% dari total

Q

R

S

T

U

V

J

W

K

Bank Pemicu

pendanaan. Krisis keuangan global yang memperketat likuiditas menyebabkan tingginya biaya emisi saham dan obligasi. Akibatnya, PP semakin tergantung pada sumber dana kredit perbankan. Dari segi jenis pembiayaan yang diberikan, pangsa pembiayaan konsumen semakin berkurang dan cenderung

A B C D E F G H I J K L

36

Bab 2 Sektor Keuangan

Grafik 2.41 Kegiatan Usaha Perusahaan Pembiayaan
200,00 180,00 160,00 140,00 120,00 100,00 80,00 60,00 40,00 20,00 0,00 Aset Pembiayaan Pendanaan 2,01% 23,80% 16,58% 28,19% Jun 07 Des'07 Jun'08 Nov'08

Tabel 2.2 Perkembangan Pembiayaan Perusahaan Pembiayaan
Jun»08 Sewa Guna Usaha Anjak Piutang Kartu Kredit Pembiayaan Konsumen Nov»08 Sewa Guna Usaha Anjak Piutang Kartu Kredit Pembiayaan Konsumen Total 33,34% 1,82% 1,07% 63,76% Total 37,88% 1,57% 0,83% 59,71% Swasta Nasional 11,31% 3,10% 0,01% 85,59% Swasta Nasional 12,45% 2,56% 0,01% 84,99% Patungan 44,85% 1,05% 1,69% 52,40% Patungan 49,72% 1,07% 1,25% 47,96%

Modal

Grafik 2.42 Sumber Dana Perusahaan Pembiayaan
Rp miliar 140.000 120.000 100.000 80.000 60.000 40.000 20.000 0 Pinjaman Bank Domestik Surat Berharga yang Diterbitkan Total Sumber Dana* -7,33% 24,42% Jun'07 Des'07 Jun'08 Nov'08 28,19%

Sementara itu, keuntungan PP meningkat cukup signifikan, yaitu sebesar Rp2,85 triliun menjadi Rp5,96 triliun. Kenaikan laba tersebut mendorong meningkatnya ROA dan ROE. Efisiensi usaha juga berhasil dipertahankan dengan rasio Biaya Operasi terhadap Pendapatan Operasi (BOPO) sebesar 77%.
Tabel 2.3 Rasio-rasio Keuangan Perusahaan Pembiayaan
Des-06 Mei-07 Des-07 Mei-07

*Total Sumber Dana: SSB, Pinjaman Subordinasi dan Total Pinjaman Dalam dan Luar Negeri

Grafik 2.43 Komposisi Nominal Pembiayaan PP (Nov'08)
Pembiayaan (dalam Rp miliar) 160.000 140.000 120.000 100.000 80.000 60.000 40.000 20.000 0
Piutang pembiayaan Sewa Guna Usaha Anjak Piutang Kartu Kredit Pembiayaan Konsumen

Asset 116.000.000.000 127.000.000.000 Debt (Pinjaman/ Obligasi) 81.524.052.728 90.319.642.214 Kewajiban 95.241.046.752 102.466.196.738 Equity 20.758.953.248 24.533.803.262 Profit Before Tax 2.978.914.227 5.763.866.446 Profit After Tax 2.244.670.921 4.379.780.690 ROA 0,03 0,05 ROE 0,14 0,23 BOPO 0,81 0,83 Debt/Equity 3,93 3,68 Kewajiban/Equity 4,59 4,18

140.649.000.000 174.124.731.707 100.183.895.911 128.423.157.567 113.722.737.895 143.568.726.785 26.926.262.105 30.556.004.922 4.134.560.328 8.078.856.892 3.114.695.467 5.961.654.328 0,03 0,05 0,15 0,26 0,77 0,77 3,72 4,2 4,22 4,7

Total
141.179 53.480 2.222 1.178 84.299

Swasta Nasional
46.257 5.759 1.182 2 39.314

Patungan
93.795 46.634 1.001 1.175 44.985

Tetap baiknya kinerja PP pada semester laporan didukung oleh perkembangan pasar kendaraan bermotor yang masih tetap menggembirakan. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia

didiversifikasi melalui peningkatan pembiayaan sewa guna usaha. Penurunan konsentrasi kegiatan pembiayaan konsumen terutama terjadi pada PP Patungan yaitu dari 52,40% (Juni 2008) menjadi 47,96% (November 2008).

(Gaikindo), sepanjang periode 2008, penjualan mobil di Indonesia meningkat sekitar 40% menyentuh rekor tertinggi mencapai 607,15 unit, meskipun terdapat trend penurunan penjualan pada November dan Desember.

37

Bab 2 Sektor Keuangan

Sementara itu, berdasarkan data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), penjualan sepeda motor selama tahun 2008 juga meningkat mencapai 6,22 juta, atau jauh lebih banyak dibandingkan penjualan pada tahun 2007 sebesar 4,69 juta unit. Suku bunga kredit yang cukup tinggi pada semester laporan meningkatkan potensi risiko pembiayaan oleh PP. Di samping itu, menurunnya pendapatan nasabah sebagai dampak krisis global juga berpotensi meningkatkan NPL. Pada tahun 2008 rasio NPL pembiayaan PP tetap menurun, namun secara nominal terindikasi adanya peningkatan NPL, khususnya pada pembiayaan konsumen dan sewa guna usaha.

Selain itu, risiko likuiditas juga berpotensi meningkat. Hal tersebut terutama karena membesarnya mismatch

liquidity. Arus masuk likuiditas yang bersumber dari
pendanaan sebenarnya cukup tinggi, namun tetap tidak mampu mengimbangi tingginya arus kas keluar karena aktivitas operasi yang meningkat pesat.
Grafik 2.46 Arus Kas PP Swasta Nasional
Rp miliar 4.000 3.000 2.000 1.000 0 -1.000

Grafik 2.44 NPL Pembiayaan
NPL (%) 16,00 14,00 12,00 10,00 8,00 6,00 4,00 2,00 0,00 Jun'07 Des'07 Jun'07 Nov'08 Sewa Guna Usaha 2,67% 2,28% 1,90% 1,67% Anjak Piutang 14,14% 11,59% 11,32% 9,04% Kartu Kredit 4,28% 3,66% 2,79% 3,09% Pembiayaan Konsumen 1,55% 1,68% 1,70% 1,66%

-2.000 -3.000 Jun 07 Arus kas neto dari aktivitas operasi Arus kas neto dari aktivitas investasi Arus kas neto dari aktivitas pendanaan 792 -45 -903 Des 07 1.184 -162 -811 Jun 08 1.312 -177 1.721 Nov 08 1.772 -322 3.109

Grafik 2.47 Arus Kas PP Patungan
Rp miliar 15.000 10.000 5.000 0 -5.000 -10.000

Grafik 2.45 Perkembangan Nominal NPL
Rp miliar 3.000.000.000 2.500.000.000 2.000.000.000 1.500.000.000 1.000.000.000 500.000.000 0

-15.000 Arus kas neto dari aktivitas operasi Arus kas neto dari aktivitas investasi Arus kas neto dari aktivitas pendanaan

Jun-07 3.528 174 4.790

Des-07 7.133 494 7.513

Jun-08 5.221 944 4.480

Nov-08 9.786 724 11.222

SGU AP KK

PK Total

Meningkatnya risiko pembiayaan dan risiko likuiditas tersebut pada gilirannya dapat mengganggu kinerja atau meningkatkan risiko bagi bank yang menjadi sumber dana bagi PP. Dengan demikian, potensi risiko yang lebih besar

Jun 2007

Des

Jun 2008

Nov

akan dihadapi oleh bank-bank yang memiliki anak

38

Bab 2 Sektor Keuangan

perusahaan PP. Sementara itu, meningkatnya kegiatan

channeling dan joint financing antara bank dengan PP
berpotensi meningkatkan tekanan risiko bagi bank. Selama semester II 2008, channeling meningkat 23,74% menjadi Rp9,33 triliun, sedangkan joint financing meningkat 9,8% menjadi Rp49,61 triliun.
Grafik 2.48 Exposure Perbankan
Rp Miliar 50.000 45.000 40.000 35.000 30.000 25.000 20.000 15.000 10.000 5.000 0 Jun 2007 Des Jun 2008 Nov Channelling Joint Financing

Grafik 2.49 Perkembangan Penurunan NPL PP Subsidiary Bank
12000000 10000000 8000000 6000000 4000000 2000000
1 8 Mar Apr 4 Mei 5

12000000 10000000 80000000 60000000 40000000 20000000 0
Jan Feb Jun Jul Ags Sep Okt Nov

0

2008

Grafik 2.50 Perkembangan Kenaikan NPL PP Subsidiary Bank
30000000 25000000 20000000 15000000 10000000
2 3 6 7 9 10

4500000 4000000 3500000 3000000 2500000 2000000 1500000 1000000

Terkait dengan perkembangan tersebut, berdasarkan
50000000

pemantauan terhadap 21 PP yang terafiliasi dengan bank
0

500000
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov

0

diketahui adanya 10 PP yang memiliki NPL dan 6 diantaranya cenderung mengalami peningkatan. Kenaikan nominal NPL yang signifikan terutama terjadi pada PP yang memiliki porsi pembiayaan sewa guna usaha yang tinggi. Sementara, NPL nominal pembiayaan konsumen cenderung mengalami penurunan.
Tabel 2.4 Perkembangan NPL Perusahaan Pembiayaan
Perubahan % NPL PP Jun»08 Nov»08 Jun»08 - Nov»08
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 0,54% 0,37% 1,03% 1,20% 0,00% 0,20% 0,79% 0,00% 0,02% 0,37% 0,37% 0,00% 1,07% 0,06% 0,44% 0,58% 0,66% 0,03% -

2008

2.4.2. Pasar Modal

Portofolio Investasi Asing
Pada semester II 2008, investor asing cenderung melakukan realisasi gain. Akibatnya, terjadi outflows investasi asing pada aset keuangan rupiah sebesar Rp20,4 triliun, padahal pada semester sebelumnya terjadi inflows sebesar Rp18,5 triliun. Outflows tersebut tercermin pada

∆ Perubahan Nominal NPL SGU
93.069.554 799.020 142.127 -540.907 -

turunnya kepemilikan asing pada SBI dan SUN masingmasing Rp25,2 triliun dan Rp6,7 triliun. Sementara itu, sentimen negatif paska kejatuhan institusi keuangan internasional seperti Lehman Brothers di AS dan beberapa bank investasi di Eropa serta kegagalan Asuransi AIG menyebabkan semakin berfluktuasinya harga saham, sehingga meningkatkan peluang profit taking bagi investor asing. Di pasar saham domestik, perilaku profit taking investor asing

Ajk.Ptng KK Pmb.Kons
413.988 -3.558.416 42.591.752 -990.623 -26.578.328 -5.406.096 1.370.608 279.805

32,63% 53,28%

39

Bab 2 Sektor Keuangan

mengakibatkan terjadinya net beli saham sebesar Rp11,5 triliun.
Grafik 2.51 Penanaman Investor Asing: SBI-SUN-Saham
Rp triliun 35
SBI SUN Saham

pelepasan SUN oleh investor domestik (khususnya lembaga keuangan) sekitar Rp10,1 triliun. Akibatnya, pelemahan pasar SUN sangat mendalam dan recovery pasar menjadi sangat lambat. Pada sisi lain, tetap tingginya portofolio SUN yang dimiliki oleh lembaga keuangan domestik, seperti perbankan (sebesar Rp253,9 triliun), asuransi (Rp53,3 triliun), dana pensiun (Rp32,2 triliun) dan reksadana (Rp31,9 triliun), menyebabkan pelemahan pasar SUN akan berdampak negatif terhadap kinerja lembaga keuangan domestik tersebut sehingga perlu diwaspadai.

25 15 5 -5 -15 -25 -35
Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des

2007

2008

Grafik 2.53 Kepemilikan SUN dan SBI Investor Asing
Rp triliun 120
SBI SUN

Grafik 2.52 Penanaman Investor Asing: SBI-SUN-Saham
Rp triliun 35 25

100 80 60

15 5 -5 -15 -25 -35
Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des

40 20 0
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des

2008

2007

2008

Grafik 2.54 Penyerapan SUN Lembaga Keuangan Domestik dan Asing
Rp triliun 20 10 0 -10 -20

Perilaku profit taking oleh investor asing berpotensi menekan stabilitas sistem keuangan karena berpotensi memicu pembalikan arus dana secara tiba-tiba dan serentak ( sudden reversal ). Kerawanan terutama bersumber pada portofolio SUN yang dimiliki investor asing sejumlah Rp87,4 triliun per akhir Desember 2008 yang sebagian besar merupakan portofolio manajer investasi asing. Selain berpotensi memicu sudden reversal , pelepasan SUN oleh investor asing juga akan berpotensi menekan nilai tukar rupiah dan harga SUN. Potensi kerawanan semakin besar karena perilaku investor utama SUN cenderung searah. Hal ini tampak pada perkembangan selama semester laporan yaitu pelepasan SUN oleh investor asing sebesar Rp4,7 triliun diikuti dengan

-30 -40 LK Domestik -50
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul

LK Asing
Ags Sep Okt Nov Des

2008

Pasar Saham
Pada semester laporan, bursa saham global terkoreksi turun terimbas sentimen negatif kejatuhan perusahaanperusahaan investasi peringkat atas serta meningkatnya laporan kerugian lembaga keuangan internasional. Bursa Dow Jones turun pesat sekitar 23% dan sempat

40

Bab 2 Sektor Keuangan

menyentuh level terendah 7.552,2 (pertengahan November 2008). Prospek memburuknya kondisi perekonomian global dan adanya ekspektasi resesi di AS dan beberapa negara di Eropa berdampak pada turunnya kinerja bursa regional Asia. Dalam hal ini, IHSG tercatat turun sekitar 42,3% menjadi 1.355,41 (Desember 2008) dan sempat mencapai level terendah sebesar 1.111,39 pada tanggal 28 Oktober 2008. Dengan perkembangan

pertambangan yang masing-masing turun sekitar 70% dan 74%. Pelemahan cukup besar juga dialami indeks sektoral yang rentan terhadap pelemahan nilai tukar yaitu indeks sektor perdagangan dan indeks sektor aneka industri yang masing-masing turun sekitar 58% dan 40%.
Tabel 2.6 Pertumbuhan Indeks Sektoral
Pertumbuhan (%)

tersebut, rata-rata IHSG selama semester II 2008 sekitar 1.723,06, atau jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata selama semester sebelumnya sebesar 2.485,47.
Tabel 2.5 Pertumbuhan Indeks Bursa Regional
Pertumbuhan Jun 07 Des 07 Jun 08 Sep 08 Des 08
IHSG STI SET KLCI PCOMP NIKKEI HSCI KOSPI FTSE UKX DJIA 2.139,28 3.475,89 776,79 1.354,38 3.660,86 18.138,36 21.772,73 1.743,60 9.873,02 6.607,90 13408,62 2.745,83 3.465,63 858,10 1.445,03 3.621,60 15.307,78 27.812,65 1.897,13 9.740,32 6.456,90 13264,82 2.349,11 2.947,54 768,59 1.186,57 2.459,98 13.484,38 22.102,01 1.674,92 8.660,48 5.625,90 11350,01 1.832,51 2358,91 596,54 1.018,68 2.569,65 11.259,86 18.016,21 1.448,06 7.532,80 4.902,45 10850,66 1.355,41 1.761,56 449,96 876,75 1.872,85 8.859,56 14.387,48 1.124,47 5.757,05 4.434,17 8776,39

Jun 07 Des 07 Jun 08 Sep 08 Des 08

Sem II 07 Sem II 08 Jun-Sep 08 (42,30) (13,45) (69,99) (32,52) (17,94) (38,59) (74,31) (24,89) (58,42) (40,40) (21,99) (0,18) (51,34) (18,55) (4,25) (15,49) (46,33) (12,55) (26,75) (9,57)

(%)

Sem II 07 Sem II 08 Jun-Sep 08
28,35 (0,30) 10,47 6,69 (1,07) (15,61) 27,74 8,81 (1,34) (2,29) (1,07) (42,30) (40,24) (41,46) (26,11) (23,87) (34.28) (34,90) (32,86) (33,53) (21,18) (22,68) (21,99) (19,97) (22,39) (14,15) 4,46 (16,48) (18,49) (13,54) (13,02) (12,86) (4,40)

IHSG 2.139,28 2.745,83 2.349,11 1.832,51 1.355,41 28,35 Indeks Sektor Keuangan 223,14 260,57 203,74 203,37 176,33 16,78 Indeks Sektor Pertanian 1.680,12 2.754,76 3.061,06 1.489,57 918,77 63,96 Indeks Sektor Industri Dasar 196,10 238,05 200,05 162,93 134,99 21,39 Indeks Sektor Konsumsi 437,01 436,04 398,29 381,36 326,84 (0,22) Indeks Sektor Properti 211,72 251,82 168,53 142,42 103,49 18,94 Indeks Sektor Pertambangan 1.647,04 3.270,09 3.415,96 1.833,24 877,68 98,54 Indeks Sektor Infrastruktur 750,43 874,07 652,81 570,91 490,35 16,47 Indeks Sektor Perdagangan 387,38 392,24 356,76 261,33 148,33 1,26 Indeks Sektor Aneka Industri 324,96 477,35 360,65 326,15 214,94 46,89

Sementara itu, berkurangnya tekanan inflasi dan terdapatnya sinyal penurunan suku bunga pada menjelang akhir tahun 2008 berhasil menahan pelemahan indeks sektor keuangan yang hanya turun sekitar 0,18%. Gejolak krisis pasar global sempat membuat volatilitas pasar saham domestik melonjak tinggi pada periode SeptemberNovember 2008. Namun, karena secara rata-rata volatilitas

Grafik 2.55 Perkembangan IHSG & Indeks Global dan Regional (Diindekskan dengan Indeks 31 Desember 2005)

pasar saham domestik cukup moderat, maka minat investor untuk profit taking jangka pendek masih tetap bertahan.

2,20

1,70

Grafik 2.56 Volatilitas (30 hari) beberapa Indeks Bursa Asia
% 120
Indonesia Thailand Singapore Jepang Malaysia Hongkong

1,20

0,70

100 80
Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des

0,20 2007
IHSG PCOMP FTSE FSSTI NKY NYA

2008
SET Hang Seng DJIA KLCI KOSPI

60 40 20

Seluruh indeks sektoral mengalami pelemahan,
0

terutama indeks sektor pertanian dan indeks sektor

Des

Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Ags

Sep

Okt

Nov

Des

2007

2008

41

Bab 2 Sektor Keuangan

Turun tajamnya indeks saham diiringi pula dengan berkurangnya aktivitas transaksi. Hal tersebut antara lain karena adanya libur panjang menjelang akhir tahun 2008. Selama semester II 2008, transaksi saham turun sekitar 64% menjadi Rp34,88 triliun. Transaksi saham investor asing menurun, namun tetap tingginya minat investor mengakibatkan terdapatnya net beli sebesar Rp7,77 triliun. Penurunan harga yang disertai turunnya transaksi perdagangan menyebabkan turunnya kapitalisasi pasar sebesar 45,86% menjadi hanya Rp1,076 triliun. Sementara itu, likuiditas pasar tetap rendah, tercermin pada emisi saham yang hanya meningkat 6,94% menjadi Rp407,46 triliun dengan jumlah emiten yang hanya bertambah 17 perusahaan menjadi 485 perusahaan.

Selama semester laporan, harga sebagian besar saham perbankan melemah signifikan meskipun menjelang akhir semester terindikasi rebound. Sementara itu, dari sisi Price/Earning Ratio (PER), sebagian besar saham bank mengalami penurunan.

Grafik 2.59 Perkembangan Harga Saham Beberapa Bank
9.000,00 8.000,00 7.000,00 6.000,00 5.000,00 600,00 4.000,00 3.000,00 2.000,00 1.000,00 Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des

1.200,00 1.000,00 800,00

400,00 200,00

Grafik 2.57 Nilai Transaksi Saham Investor Domestik dan Asing
Rp triliun 160
Total Indonesia Asing

2007 BCA (LHS) Danamon (LHS) CIMB Niaga (RHS)

2008 BRI (LHS) BNI (LHS) Mandiri (LHS) BII (RHS)

140 120 100 80 60 40 20 0
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des

Grafik 2.60 P/E Ratio Saham Bank
% 90 80 70 60 50 40 30 20 10
Jun 07 Jun 08 Des 07 Des 08

2008

Grafik 2.58 Nilai Kapitalisasi & Nilai Emisi
Rp triliun 3500 3000 2500 2000 1500 1000 500 0
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des N Kap (BEI) N Kap (BEJ) N Kap (BES) IHSG (RHS) N Emisi

0

Danamon

BCA

BRI

Mandiri

BNI

BII

CIMB Niaga

450 400 350 300 250 200 150 100 50 0

Pasar Surat Utang
Tingginya suku bunga sejak awal sampai pertengahan semester II 2008 menyebabkan kinerja pasar surat utang menjadi tertekan. Harga SUN mengalami penurunan, tercermin pada turunnya indeks IDMA sekitar 11% menjadi 88,21. Bahkan, indeks IDMA sempat

2008

42

Bab 2 Sektor Keuangan

mencapai level terendah 67,11 pada tanggal 29 Oktober 2008. Untuk mengurangi potensi kerugian investor karena turun pesatnya harga SUN, telah ditempuh kebijakan untuk melonggarkan aturan marking to market bagi investor SUN. Sejalan dengan penurunan BI rate sejak awal November 2008, pasar mulai rebound, terindikasi pada turunnya yield penanaman rupiah berbagai tenor.

berkembangnya transaksi SUN untuk tenor jangka panjang. Tidak adanya acuan yield yang wajar untuk penanaman rupiah berjangka panjang (berjangka waktu lebih dari 10 tahun) juga menghambat perkembangan transaksi SUN berjangka panjang.
Grafik 2.63 SUN: Likuiditas Pasar Berbagai Tenor
Rp triliun 45 40 35
FR VR ORI Zero Coupon SPN

Grafik 2.61 Perkembangan Harga Beberapa Seri FR
140 120 100 80 60 40 20

30 25 20 15 10 5 0
2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2037 2038

FR02 FR48 Jan Feb Mar Apr Mei Jun

FR49 FR47 Jul Ags

FR27 FR45 Sep Okt Nov Des

Tertekannya pasar surat utang mengurangi minat emiten untuk menghimpun dana melalui penerbitan obligasi. Pada tahun 2008, pembiayaan melalui emisi

2008

Grafik 2.62 Yield SUN 1 s.d. 30 tahun
% 20 18 16 14 12 10 8 6 4
Des Jan Feb 1 tahun 10 tahun Mar Apr Mei 3 tahun 15 tahun Jun Jul Ags 5 tahun 30 tahun Sep Okt Nov Des

obligasi korporasi tercatat rendah, yaitu nilai emisi hanya naik sekitar 9% menjadi Rp145,9 triliun dengan tambahan emiten hanya 3 perusahaan sehingga menjadi 178 perusahaan. Emisi obligasi korporasi tersebut tidak berdampak nyata terhadap likuiditas pasar obligasi korporasi karena sebagian besar emisi merupakan

refinancing. Secara keseluruhan, posisi obligasi korporasi

2007

2008

Grafik 2.64 Emisi dan Posisi Obligasi Korporasi
(Emisi & Posisi Trl Rp) (Emiten) Posisi Emiten 179 178 177 176 175

Dari segi likuiditas, tidak adanya lelang SUN pada Kuartal IV (sejak 14 Oktober 2008) telah menyeimbangkan likuiditas pasar yang diwarnai aksi jual. Sejalan dengan itu, posisi SUN pada semester laporan turun dari Rp515,0 triliun menjadi Rp511,0 triliun. Dari segi tenor, likuiditas pasar SUN tetap terkonsentrasi pada SUN berjangka pendek dan menengah yang menyebabkan kurang

160 140 120 100 80 60 40 20 0
Jan

Emisi

174 173 172 171
Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des

170

2008

43

Bab 2 Sektor Keuangan

pada akhir Desember 2008 tercatat sebesar Rp73 triliun, atau turun sebesar 13,7% dibandingkan posisi pada akhir Desember 2007.

sejalan dengan melemahnya pasar surat utang, NAB reksadana pendapatan tetap turun 15% menjadi Rp14,0 triliun. Sementara itu, pemberlakuan ketentuan Bapepam-

Reksadana
Semakin melemahnya pasar keuangan menyebabkan memburuknya kinerja reksadana. Hal tersebut terlihat pada perkembangan Nilai Aktiva Bersih (NAB) pada semester laporan (s.d Oktober 2008) yang turun 25% menjadi Rp68,9 triliun. Dengan perkembangan tersebut, selama tahun 2008 NAB reksadana turun sekitar 27%. Perkembangan bursa saham yang kurang

LK yang melarang redemption reksadana terproteksi yang belum selesai masa pengelolaannya, menyebabkan NAB reksadana terproteksi tetap meningkat, yaitu naik 21% menjadi Rp24,9 triliun. Sejalan dengan itu, pangsa reksadana terproteksi pada akhir Desember 2008 menjadi yang terbesar yaitu sekitar 36%, padahal pada akhir Desember 2007 pangsanya masih sekitar 17%. Tetap meningkatnya NAB reksadana terproteksi berhasil mengurangi tekanan redemption. Bahkan, selama tahun 2008 redemption tetap lebih kecil dibandingkan dengan

menggembirakan yang disertai meningkatnya volatilitas IHSG mengakibatkan NAB reksadana saham turun sebesar 53% menjadi Rp16,6 triliun, sementara NAB reksadana campuran turun 38% menjadi Rp8,7 triliun. Selanjutnya,
Grafik 2.65 Nilai Aktiva Bersih Reksadana
Rp triliun 40 35 30 25 20 15 10 5 0 Des 2007 Jan Feb Mar Apr Mei Jun 2008 Camp Jul Ags Sep Okt

subscription, yaitu Rp81,6 triliun berbanding Rp83,8
triliun.
Grafik 2.67 Reksadana : NAB-Unit Penyertaan
120 100 80 60 40 20 0 2000 1800 1600 1400 1200 1000 800 600 400 200 Des 2007 Jan Feb Mar Apr Mei Jun 2008 Jul Ags Sep Okt 0

NAB, trl Rp,kr

Unit Penyertaan, mil unit,kr

NAB/Unit,knn

Pend Tetap

Saham

Ps Uang

Terproteksi

Grafik 2.66 Reksadana : Redemption-Subscription-NAB
14 Rdmp, trl Rp,kr 12 10 8 60 6 4 2 0 Des 2007 Jan Feb Mar Apr Mei Jun 2008 Jul Ags Sep Okt 40 20 0 Subscr, trl Rp,kr NAB, trl Rp,knn 100 80 120

Grafik 2.68 Kinerja Penghimpunan Dana Reksadana
160 140 120 100 80 480 60 40 20 0 Des 2007 Jan Feb Mar Apr Mei 2008 Jun Jul Ags Sep 460 440 420
Juml Unit Penyertaan,kr Juml Dana,Trl Rp,kr Juml Reksadana, knn

560 540 520 500

44

Bab 2 Sektor Keuangan

Namun demikian, terdapat tanda-tanda bahwa minat investor terhadap reksadana semakin menurun. Hal tersebut antara lain terlihat pada unit penyertaan. Meskipun sepanjang tahun 2008 terdapat peningkatan unit penyertaan sebesar 17%, namun sejak September 2008 menurun

menjadi sekitar 62,5 miliar unit. Selain itu, peningkatan penghimpunan dana melalui reksadana pada tahun 2008 (s.d September) tergolong kecil yaitu hanya sebesar 2% menjadi Rp135,5 triliun, sementara jumlah reksadana meningkat cukup besar yaitu sekitar 16% menjadi 549.

45

Bab 2 Sektor Keuangan

Boks 2.1

Kronologis Gejolak Sektor Keuangan 2008 dan Respon Kebijakan

Kondisi sektor keuangan pada tahun 2008, khususnya selama semester II, penuh gejolak. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, gejolak tersebut telah membuat Indeks Stabilitas Keuangan (Financial

Berikut ini disampaikan ringkasan kronologis gejolak keuangan di Indonesia selama semester II 2008 dan respon kebijakan yang telah diambil untuk menjaga stabilitas sistem keuangan.
Tabel Boks 2.1.1 Kronologis Gejolak Sektor Keuangan Indonesia 2008
Tanggal Kejadian

Stability Index - FSI) meningkat tajam selama semester
laporan, bahkan pernah melampaui batas indikatif maksimum angka 2 pada bulan November dan Desember 2008. Sementara itu, nilai tukar rupiah juga mengalami tekanan. Dalam perkembangan terakhir, FSI mulai sedikit menurun sejalan dengan membaiknya IHSG dan harga SUN, namun nilai tukar rupiah masih belum kembali kepada level sebelum Oktober 2008, meskipun volatilitasnya sudah semakin berkurang.

8-10 Oktober 2008 Bursa Efek Indonesia ditutup sementara. IHSG: 1.111,39, terendah sejak Desember 2005. 28 Oktober 2008 Indeks Harga SUN (IDMA): 67,11, terendah sejak 29 Oktober 2008 penerbitan SUN pertama kali pada Januari 2005. 20 Nopember 2008 LPS mengambilalih 1 bank yang dinilai berdampak sistemik (Bank Century). 24 Nopember 2008 Nilai tukar Rp/USD: 12.650, terendah sejak krisis 1997/ 1998.

Tabel Boks 2.1.2 Respon Kebijakan
Tanggal 16 September 2008 23 September 2008 13 Oktober 2008 Kejadian BI menurunkan O/N repo rate dari BI rate plus 300 bps menjadi BI rate plus 100 bps. BI menyesuaikan FASBI rate dari BI rate minus 200 bps menjadi BI rate minus 100 bps. BI memperpanjang jangka waktu Fine Tune Operation (FTO) dari 1 hari s.d 14 hari menjadi 1 hari s.d 3 bulan (PBI No.10/14/PBI/2008). BI merubah ketentuan tentang GWM rupiah dan GWM valas bagi Bank Umum (PBI No.10/19/PBI2008). BI meniadakan pembatasan posisi saldo harian Pinjaman Luar Negeri (PLN) jangka pendek (PBI No.10/20/PBI/2008). Penerbitan PERPPU No.2 Tahun 2008 tentang perubahan Undang-Undang Bank Indonesia yang memungkinkan kredit berkolektibilitas lancar dijadikan agunan untuk mendapatkan Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP). Penerbitan PERPPU No.3 Tahun 2008 yang mengatur kenaikan nilai simpanan nasabah yang dijamin LPS dari Rp100 juta menjadi Rp 2 milyar. BI memperpanjang tenor FX Swap dari paling lama 7 hari menjadi 1 bulan (PBI No.10/21/PBI/2008). BI berkomitmen menyediakan valas bagi korporasi domestik melalui perbankan (PBI No.10/22/PBI/2008). Penerbitan PERPPU No.4 Tahun 2008 tentang Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK). BI mengeluarkan perubahan atas PBI No.10/19/PBI2008 untuk menyempurnakan perhitungan GWM Rupiah menjadi GWM utama sebesar 5% dari DPK Rupiah, dan GWM sekunder sebesar 2.5% dari DPK Rupiah (PBI No.10/25/PBI/2008). BI mengeluarkan peraturan tentang Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek bagi Bank Umum (FPJP) (PBI No.10/26/PBI/2008). BI mengeluarkan peraturan yang membatasi transaksi spekulatif valas terhadap rupiah dengan mewajibkan adanya underlying transaksi untuk setiap pembelian valas yang melebihi USD100.000 (PBI No.10/28/PBI/2008). BI mengeluarkan perubahan atas PBI No.10/26/PBI/2008 tentang Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP) bagi Bank Umum (PBI No. 10/30/PBI/2008). BI mengeluarkan aturan mengenai Fasilitas Pinjaman Darurat (FPD) (PBI No.10/31/PBI/2008). BI melarang transaksi derivatif structured product yang terkait transaksi valas (PBI No.10/38/PBI/2008).

15 Oktober 2008

24 Oktober 2008 29 Oktober 2008 13 Nopember 2008 14 Nopember 2008 18 Nopember 2008 16 Desember 2008

46

Bab 2 Sektor Keuangan

Boks 2.2

Pengambilalihan Bank Century, Penutupan Bank Indover dan Stabilitas Sistem Keuangan

Pada semester II 2008 terdapat 2 permasalahan di perbankan yang banyak mendapat perhatian. Yang pertama adalah pengambilalihan Bank Century oleh LPS dan yang kedua adalah penutupan Bank Indover. Pertanyaannya adalah apakah kedua permasalahan tersebut mengganggu stabilitas sistem keuangan Indonesia? Bank Century adalah hasil merger Bank CIC, Bank Pikko dan Bank Danpac pada bulan Desember 2004. Bersamaan dengan terjadinya kekeringan likuiditas global yang berimbas ke dalam negeri, pada bulan Juli 2008 Bank Century mengalami kesulitan likuiditas yang ditandai dengan pelanggaran GWM beberapa kali. Setelah itu, kinerja bank terus menurun sehingga masuk dalam pengawasan khusus (Special

Sementara itu, De Indonesische Overzeese Bank atau lebih dikenal dengan Bank Indover adalah anak perusahaan Bank Indonesia yang berkedudukan di Amsterdam, Belanda. Bank Indover sempat memiliki kinerja yang cukup bagus sebelum mengalami kesulitan likuiditas akibat penurunan secara drastis

money market line sebagai dampak dari gejolak pasar
keuangan global, khususnya yang terjadi di Eropa. Bank ini akhirnya dibekukan oleh pengadilan Belanda pada tanggal 6 Oktober 2008. Salah satu potensi tekanan terhadap stabilitas keuangan adalah penanaman yang dilakukan oleh bank-bank domestik pada Bank Indover. Data yang ada menunjukkan terdapat sekitar 14 bank domestik yang melakukan penanaman pada Bank Indover sebelum ditutup. Mengingat jumlah eksposur ke14 bank domestik pada Bank Indover tersebut hanya sekitar Rp1,6 triliun atau 0,07% dari total asset industri perbankan per Oktober 2008, maka penutupan Bank Indover tidak menimbulkan dampak yang signifikan terhadap ketahanan sistem keuangan Indonesia. Selain itu, dampaknya terhadap rasio permodalan (CAR) industri perbankan juga tidak besar. Penutupan Bank Indover hanya mengakibatkan penurunan CAR dari 16,18% menjadi 16,09%. Hasil

Surveillance ) Bank Indonesia. Namun demikian,
kondisi bank terus memburuk sehingga dinyatakan sebagai bank gagal pada tanggal 20 November 2008. Selanjutnya, mengingat bank tersebut dinilai berdampak sistemik maka Bank Century kemudian diambilalih oleh LPS untuk disehatkan. Dalam kenyataannya pengambilalihan Bank Century oleh LPS tidak menimbulkan gejolak atau

shock yang signifikan di perbankan. Baik nasabah
maupun lembaga perbankan relatif tenang sehingga tidak menimbulkan tekanan terhadap stabilitas sistem keuangan. Pengambilalihan bank yang tidak menimbulkan gejolak ini sekaligus juga merupakan cerminan semakin kuatnya koordinasi antara lembaga-lembaga terkait dalam sistem keuangan di Indonesia dan berjalannya mekanisme protokol manajemen krisis (crisis management protocol) yang telah disepakati bersama.

interbank stress test juga menunjukkan bahwa bankbank yang mengalami penurunan CAR karena penutupan Bank Indover bukanlah bank-bank yang dapat menimbulkan dampak sistemik. Dari sisi likuiditas, juga tidak berdampak signifikan karena hanya mengakibatkan penurunan likuiditas dalam kisaran antara 0,01% s.d 7,28% dari secondary

reserves perbankan.

47

Bab 2 Sektor Keuangan

Boks 2.3 Segmentasi Pasar Uang Antar Bank (PUAB)

Segmentasi PUAB adalah suatu kondisi dimana transaksi antar bank cenderung terbatas dan hanya terjadi antara sesama kelompok bank tertentu saja. Dengan tersegmentasinya PUAB, bank yang memiliki likuiditas menjadi semakin berhati-hati dalam menempatkan atau mengelola likuiditasnya. Sementara, bank yang memerlukan likuiditas menjadi semakin berhati-hati dalam meminjam dana di PUAB, bukan hanya karena keterbatasan supply, namun juga untuk menjaga reputasi. Segmentasi PUAB dapat ditelusuri dari perkembangan penurunan rata-rata perhari volume transaksi PUAB. Pada PUAB Rupiah, penurunan ratarata per hari volume transaksi terjadi sejak bulan September 2008, sementara pada PUAB Valas Dalam

Negeri (DN) penurunan rata-rata per hari volume transaksi baru terjadi satu bulan kemudian, yaitu sejak bulan Oktober 2008. Pada Tabel di bawah ini tahun 2008 dipecah menjadi dua periode. Periode I adalah sebelum terjadinya tekanan likuiditas (Januari s.d. Agustus untuk PUAB Rupiah atau Januari s.d. September untuk PUAB Valas DN), sedangkan periode II adalah setelah terjadi tekanan likuiditas (September s.d. Desember untuk PUAB Rupiah atau Oktober s.d. Desember untuk PUAB Valas DN). Dengan memperbandingkan kedua periode tersebut, terlihat bahwa pada periode II hampir semua kelompok bank membatasi transaksi, baik dalam hal menempatkan dana (placing) maupun dalam hal meminjam (taking). Selain itu, kalaupun ada

Tabel Boks 2.3.1 Rata-rata per Hari Volume Transaksi PUAB Rupiah Januari s.d Desember 2008
Rp juta BANK PEMBERI Kelompok Bank 4 Bank Persero 266.184 17.690 -93,4% 456.839 121.980 -73,3% 49.585 51.991 4,9% 9.382 4.963 -47,1% 10.229 2.500 -75,6% 873.565 225.304 -74,2% 1.665.783 424.429 -74,5% Bank Besar Bank Swasta Bank Swasta Non Persero Menengah Kecil 260.786 30.547 -88,3% 239.003 372.240 55,7% 62.317 100.921 61,9% 53.515 37.090 -30,7% 4.897 11.701 139,0% 695.964 614.915 -11,6% 1.316.482 1.167.415 -11,3% 99.627 4.762 -95,2% 119.152 173.638 45,7% 36.332 126.384 247,9% 63.656 45.772 -28,1% 2.377 2.778 16,9% 197.388 355.914 80,3% 518.532 709.247 36,8% 8.628 0 -100,0% 69.866 20.184 -71,1% 50.926 31.345 -38,5% 36.223 15.076 -58,4% 1.411 0 -100,0% 71.858 15.469 -78,5% 238.913 82.074 -65,6% BPD 706.069 112.154 -84,1% 592.022 367.196 -38,0% 81.815 90.521 10,6% 7.424 1.594 -78,5% 252.279 318.728 26,3% 97.870 51.586 -47,3% 1.737.480 941.778 -45,8% Bank Campuran & KCBA 143.799 3.962 -97,2% 188.310 143.939 -23,6% 17.459 33.659 92,8% 22.954 12.730 -44,5% 0 0 917.118 1.090.923 19,0% 1.289.640 1.285.213 -0,3% Total

4 Bank Persero Bank Besar Non Persero Bank Swasta Menengah Bank Swasta Kecil BPD Bank Campuran & KCBA TOTAL

Periode I Periode II Perubahan Periode I Periode II Perubahan Periode I Periode II Perubahan Periode I Periode II Perubahan Periode I Periode II Perubahan Periode I Periode II Perubahan Periode I Periode II Perubahan

1.485.093 169.115 -88,6% 1.665.192 1.199.177 -28,0% 298.434 434.819 45,7% 193.155 117.226 -39,3% 271.193 335.707 23,8% 2.853.763 2.354.112 -17,5% 6.766.829 4.610.157 -31,9%

48

BANK PEMINJAM

Bab 2 Sektor Keuangan

transaksi, hal itu cenderung hanya terjadi terbatas pada kelompok bank-bank tertentu saja. Bank-bank besar terlihat hanya mau bertransaksi dengan sesama bank besar pula, sementara bank-bank kecil dan menengah relatif kesulitan dalam mendapatkan dana antar bank. Perkembangan terakhir, seiring mulai membaiknya kondisi likuiditas domestik paska

serangkaian kebijakan yang diambil Bank Indonesia dan Pemerintah, maka mulai penghujung tahun 2008, baik PUAB rupiah maupun valas DN, sama-sama menunjukkan peningkatan rata-rata per hari volume transaksinya. Dengan demikian, ke depan diharapkan permasalahan segmentasi PUAB ini segera terselesaikan secara menyeluruh sehingga tidak menimbulkan tekanan terhadap stabilitas keuangan.

Tabel Boks 2.3.2 Rata-rata per Hari Volume Transaksi PUAB Valas DN Januari s.d Desember 2008
USD ribu BANK PEMBERI Kelompok Bank 4 Bank Persero 8.623 4.455 -48,3% 10.481 2.209 -78,9% 2.504 1.170 -53,3% 0 0 32 0 -100,0% 45.668 2.585 -94,3% 67.307 10.419 -84,5% Bank Besar Bank Swasta Bank Swasta Non Persero Menengah Kecil 14.935 16.072 7,6% 9.057 7.193 -20,6% 2.837 1.568 -44,7% 3 0 -100,0% 14 700 5037,9% 60.364 41.127 -31,9% 87.209 66.660 -23,6% 5.980 4.481 -25,1% 6.014 4.530 -24,7% 670 648 -3,3% 78 0 -100,0% 0 19 24.368 13.445 -44,8% 37.110 23.122 -37,7% 759 894 17,6% 1.109 1.065 -4,0% 1.525 1.212 -20,5% 53 18 -66,9% 0 19 5.943 6.093 2,5% 9.390 9.300 -1,0% BPD 1.337 174 -87,0% 52 50 -4,5% 24 8 -65,0% 0 0 0 0 144 0 -100,0% 1.558 232 -85,1% Bank Campuran & KCBA 2.873 4.418 53,8% 6.561 2.121 -67,7% 330 376 14,1% 45 25 -44,7% 94 0 -100,0% 81.611 71.763 -12,1% 91.513 78.703 -14,0% Total

4 Bank Persero Bank Besar Non Persero Bank Swasta Menengah Bank Swasta Kecil BPD Bank Campuran & KCBA TOTAL

Periode I Periode II Perubahan Periode I Periode II Perubahan Periode I Periode II Perubahan Periode I Periode II Perubahan Periode I Periode II Perubahan Periode I Periode II Perubahan Periode I Periode II Perubahan

34.508 30.494 -11,6% 33.274 17.168 -48,4% 7.889 4.982 -36,8% 179 43 -76,2% 139 737 429,7% 218.098 135.014 -38,1% 294.087 188.437 -35,9%

BANK PEMINJAM

49

Bab 2 Sektor Keuangan

Boks 2.4

Structured Products dan Offshore Products: Dampaknya terhadap Stabilitas Sistem Keuangan

Structured Products
Beberapa bank, terutama kantor cabang bank asing dan bank swasta nasional yang dimiliki asing, akhir-akhir ini aktif melakukan penawaran produkproduk investasi yang dikenal di Indonesia sebagai

menyediakan dana untuk memelihara nilai simpanan. Bahkan nasabah structured products tertentu, seperti eksportir, dewasa ini ada yang menghadapi persoalan pembatalan sepihak oleh importir di luar negeri terkait dengan memburuknya perekonomian global. Akibatnya, nasabah ini tidak memiliki dana cukup untuk memelihara nilai simpanan, padahal mereka juga kesulitan untuk membatalkan transaksi

structured products . Secara umum, structured products dapat dipandang sebagai derivatif produk
keuangan konvensional dengan struktur aset yang diharapkan menghasilkan return yang paling optimal atau memberikan yield enhancement bagi nasabah, berdasarkan asumsi-asumsi tertentu dari indikator pasar keuangan yang umum, misalnya suku bunga, nilai tukar dan indeks saham.

structured products karena tingginya biaya
pembatalan transaksi (unwinding cost). Sementara itu, karena bank masih memiliki kewajiban terhadap bank lain terkait transaksi structured products nasabah, maka bank seringkali menutup kewajiban nasabah yang jatuh waktu terlebih dahulu. Namun, praktek tersebut akan meningkatkan eksposur risiko kredit bank, dan dapat menjadi sumber dispute dengan nasabah. Dengan demikian, transaksi structured

Structured products yang berkembang di
Indonesia umumnya merupakan derivatif dari deposito dengan option atau hedging (umumnya forward) dengan option. Data menunjukkan bahwa perkembangan transaksi option sangat pesat, yaitu pada tahun 2007 meningkat 251% dan pada tahun 2008 meningkat 134%. Sementara itu, transaksi forward juga meningkat yaitu pada tahun 2007 dan 2008 masing-masing naik 24% dan 46%. Sementara itu, memburuknya perekonomian global menekan kinerja neraca pembayaran Indonesia. Hal ini kemudian menjadi sentimen negatif yang membuat nilai tukar rupiah terdepresiasi. Pada tahun 2008, nilai tukar Rp/USD melemah sekitar 18,5% sehingga nilai tukar pada akhir Desember mencapai sekitar Rp11.120/USD. Pelemahan nilai tukar rupiah ini kemudian mempengaruhi kinerja structured

products telah menimbulkan suatu kesulitan baru
diperbankan dan apabila tidak diselesaikan secara cermat, berpotensi menekan stabilitas keuangan. Pelajaran berharga yang dapat dipetik dari permasalahan structured products yang saat ini ramai dibicarakan adalah pentingnya perbankan menerapkan kehati-hatian dan keterbukaan dalam memasarkan produk tersebut, termasuk dalam menjelaskan aspek mitigasi risiko dan perlindungan konsumen. Apabila masalah structured products tidak tuntas diselesaikan, hal ini akan meningkatkan risiko reputasi dan risiko hukum dari masing-masing bank yang terkait.

products yang pada umumnya tidak pernah
memperkirakan bahwa nilai tukar rupiah akan terdepresiasi secara signifikan. Dalam perkembangan lebih lanjut, menurunnya kinerja structured products menimbulkan kerugian bagi investor, sementara investor tetap harus

Offshore Products
Sementara itu, maraknya transaksi reksadana telah mendorong perbankan untuk melakukan kegiatan keagenan reksadana. Akibatnya, keagenan reksadana oleh perbankan tidak lagi hanya terbatas

50

Bab 2 Sektor Keuangan

pada reksadana onshore , yaitu reksadana yang diterbitkan oleh manajer investasi (MI) domestik, namun juga mencakup penawaran produk keuangan

negeri pada semester II 2008 turun 14% menjadi sekitar Rp32 triliun. Penurunan tersebut terkait dengan melemahnya pasar keuangan global sehingga mengurangi minat investor terhadap produk-produk investasi terstruktur. Namun demikian, jumlah bank penyelenggara semakin meningkat. Hal tersebut antara lain karena bertambahnya bank domestik yang telah diambil alih pihak asing. Di samping perbankan, penawaran produk keuangan offshore juga dilakukan oleh MI domestik. Berdasarkan data sementara s.d November 2008, penawaran produk keuangan offshore oleh MI domestik jauh lebih rendah, yaitu hanya berkisar Rp2,5 triliun. Bahkan, selama semester II 2008 (data s.d November) jumlahny menurun sekitar 6% sehingga menjadi sekitar Rp2 triliun. Namun demikian, secara keseluruhan, posisi produk keuangan offshore yang ditawarkan oleh bank dan MI domestik relatif kecil, yaitu pangsanya secara rata-rata hanya sekitar 29% dari reksadana onshore. Penawaran produk keuangan offshore yang dilakukan oleh perbankan tampaknya masih cenderung terbatas, yaitu hanya ditujukan bagi calon investor yang telah memiliki pemahaman yang cukup tentang risiko penanaman pada produk keuangan

offshore, baik yang bersifat structured funds maupun structured notes. Pada dasarnya, structured funds
merupakan reksadana yang diterbitkan oleh MI luar negeri, sementara structured notes merupakan jenis produk keuangan terstruktur yang yang diterbitkan oleh investment banks di luar negeri. Beberapa alasan utama dilakukannya kegiatan penawaran produk keuangan offshore oleh perbankan adalah: (i) adanya permintaan dari nasabah utama (prime customers); (ii) dalam rangka memelihara hubungan dengan nasabah atau menjaga agar nasabah tidak pindah ke bank lain; dan (iii) untuk menghadapi persaingan dengan semakin maraknya penawaran produk-produk keuangan luar negeri oleh bank dan MI luar negeri yang dilakukan dengan cara mengunjungi calon investor langsung ke Indonesia. Dengan latar belakang tersebut, kantor cabang bank Asing (KCBA) adalah kelompok bank yang paling aktif dalam melakukan keagenan produk keuangan

offshore, khususnya melalui unit private banking atau unit wealth management. Pada sebagian bank, unit wealth management di Indonesia berhubungan
langsung dan merupakan bagian dari unit wealth

offshore. Meskipun masih cenderung terbatas, kehatihatian perlu ditingkatkan mengingat kegiatan keagenan produk keuangan offshore berpotensi membuat bank lebih terekspose terhadap risiko reputasi dan risiko hukum, disamping memperbesar peluang meningkatnya kesalahpahaman dengan investor, khususnya apabila masalah tranparansi dan perlindungan nasabah kurang diperhatikan. Dampak penting lainnya yang perlu diperhatikan adalah penanaman yang berlebihan dalam offshore products berpotensi mendorong terjadinya pelarian dana investor domestik ke luar negeri.

management pada global office bank yang
bersangkutan di luar negeri. Hal lain yang menyebabkan KCBA menjadi cukup aktif dalam melakukan penawaran produk keuangan offshore adalah karena kegiatan serupa telah sering dilakukan di kantor-kantor cabang bank tersebut di negaranegara lain. Berdasarkan laporan dari beberapa bank penyelenggara keagenan produk keuangan offshore diketahui bahwa penawaran produk keuangan luar

51

Bab 2 Sektor Keuangan

Boks 2.5

Dampak Utang Luar Negeri terhadap Stabilitas Sistem Keuangan

Pengalaman krisis 1997/1998 menunjukkan bahwa utang luar negeri (ULN) perbankan dan korporasi dapat menjadi pemicu krisis, khususnya apabila nilai tukar domestik mengalami penurunan yang signifikan. Belajar dari pengalaman tersebut, bank dewasa ini cukup berhati-hati dalam menjaga Posisi Devisa Netto (PDN), tercermin dari rata-rata PDN industri perbankan yang cukup rendah (6,2%) padahal batas maksimal adalah 20% dari modal. Namun demikian, mengingat profil maturitas valas perbankan menunjukkan cukup tingginya posisi short jangka pendek (tenor s.d. 1 bulan), maka kehati-hatian perlu lebih ditingkatkan. Secara umum diperkirakan kewajiban pembayaran utang luar negeri 2009 masih

yang mencakup kewajiban pembayaran ULN Pemerintah dan Swasta. Jumlah pokok dan bunga ULN swasta perbankan yang jatuh tempo pada tahun 2009 hanya sebesar USD3,1 miliar, sedangkan jumlah ULN swasta non bank adalah sekitar USD14,2 miliar (tidak termasuk jumlah ULN yang standstill ). Bagi perbankan, kewajiban pembayaran ULN diperkirakan akan cukup terkendali, mengingat sekitar 60% dari total ULN yang akan jatuh tempo pada tahun 2009 merupakan

banker»s acceptance. Sementara itu, jumlah ULN
swasta non bank juga masih relatif kecil dibandingkan dengan cadangan devisa. Dengan demikian, tekanan terhadap nilai tukar yang berasal dari ULN swasta termasuk perbankan pada tahun 2009 diperkirakan tidak akan signifikan.

manageable . Selama 2009 diperkirakan akan
dilakukan pembayaran ULN sebesar USD27,5 miliar

Tabel Boks 2.5.1 Utang Luar Negeri Swasta Jatuh Tempo 2009
LOAN_TYPE Tw I-09 4.208,97 1.614,73 755,45 32,94 6.612,08 Tw II-09 2.191,40 750,35 154,43 10,76 3.106,94 Tw III-09 1.919,57 223,03 87,03 3,23 2.232,86 Tw IV-09 3.190,13 93,36 87,55 57,55 3.428,58 USD Juta 11.510,06 2.681,46 1.084,47 104,46 15.380,46

Loan Agreement Securities Trade Credits Other Loan Jumlah
BUNGA LOAN_TYPE

Tw I-09 271,47 54,60 326,07 6.938,14

Tw II-09 555,55 66,11 621,67 3.728,61

Tw III-09 238,14 49,06 287,21 2.520,06

Tw IV-09 699,22 62,66 761,88 4.190,46 Bank Non Bank ULN Swasta*

USD Juta 1.764,38 232,44 1.996,82 17.377,28 3.140,50 14.236,70 17.377,20

Loan Agreement Securities Jumlah Grand Total

* Tidak termasuk surat-surat berharga domestik yang dimiliki asing sebesar USD1.308 juta.

52

Bab 3 Infrastruktur Keuangan dan Mitigasi Risiko

Bab 3 Infrastruktur Keuangan dan Mitigasi Risiko

53

Bab 3 Infrastruktur Keuangan dan Mitigasi Risiko

Halaman ini sengaja dikosongkan

54

Bab 3 Infrastruktur Keuangan dan Mitigasi Risiko

Bab 3

Infrastruktur Keuangan dan Mitigasi Risiko

Kehandalan infrastruktur keuangan selama semester II 2008 tetap terpelihara dengan baik sehingga dapat mendukung aktivitas di sistem keuangan dan perekonomian. Sistem pembayaran terus menunjukkan kemajuan, sementara informasi yang disediakan oleh Biro Informasi Kredit semakin banyak dimanfaatkan. Keberadaan Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK) yang saat ini sedang dipersiapkan undang-undangnya akan semakin memperkuat stabilitas sistem keuangan ke depan.

3.1. PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN
Secara umum, peranan Sistem BI-RTGS dalam sistem pembayaran semakin penting karena dari sisi nilai transaksi, sekitar 93% pembayaran menggunakan sistem ini. Namun, dari sisi volume transaksi, pembayaran dengan menggunakan kartu (Kartu kredit, kartu debit dan kartu ATM) lebih mendominasi, yaitu sebesar 97% dari total pembayaran. Nilai transaksi pembayaran melalui Sistem BI-RTGS mengalami peningkatan sebesar Rp3,1 ribu triliun atau tumbuh 14,68% (yoy) mencapai nilai Rp23,9 ribu triliun (yoy). Seiring dengan peningkatan nilai transaksi, volume transaksi pembayaran melalui Sistem BI-RTGS bertambah 710 ribu transaksi atau tumbuh 14,9% mencapai 5,45 juta transaksi dibandingkan periode sebelumnya. Peningkatan volume transaksi tersebut terutama karena semakin banyaknya transaksi antar nasabah dan transaksi pemerintah yang dilakukan melalui Sistem BI-RTGS.
12,0

Grafik 3.1 Perkembangan Transaksi BI-RTGS
50.000 Volume (jutaan) 10,0 8,0 30.000 6,0 20.000 4,0 2,0 2004 2005 2006 2007 2008 10.000 Nominal (trilyun) 40.000

Sementara

itu,

setelmen

melalui

SKN-BI

menunjukkan pola yang agak berbeda dengan yang melalui BI-RTGS. Selama 2 tahun terakhir sampai dengan akhir semester II 2008, nilai dan volume transaksi pembayaran melalui SKN-BI mengalami tren kenaikan, namun pada semester II 2008 cenderung menurun. Secara lebih khusus, jika dibandingkan dengan semester II 2007, transfer dana ritel melalui SKN-BI mengalami penurunan

55

Bab 3 Infrastruktur Keuangan dan Mitigasi Risiko

Rp105,35 triliun (14,31%) menjadi Rp631 triliun. Dari sisi volume transaksi juga terdapat penurunan yaitu 19,35 juta
500,00

Grafik 3.4 Perkembangan Transaksi E-Money
20,00
Volume (ribu) Nominal (milyar)

transaksi (47,96%) menjadi 21 juta transaksi.
400,00

15,00

Grafik 3.2 Perkembangan Transaksi SKN-BI
Volume 6
Volume (Juta)

300,00 10,00 200,00

Nilai (Rp Juta) 120

100,00 0,00

5,00

5 4 3 2 1 1 2

Nilai (Rp Triliun)

100
0,00
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des

80 60 40 20 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

meningkat sebesar 1,15 juta transaksi (163,75%). Peningkatan ini karena semakin banyaknya penerbit baru

e-money, sehingga sampai dengan akhir tahun 2008 sudah
terdapat 8 penerbit e-money.

2007

2008

Penggunaan alat pembayaran menggunakan kartu (APMK) juga cukup tinggi dengan jumlah transaksi melalui kartu ATM/Debit masih mendominasi hingga mencapai 89%, sedangkan penggunaan kartu kredit hanya sebesar 11%. Dari sisi nilai transaksi, penggunaan kartu ATM/Debit juga tetap tertinggi yaitu sebesar 95%, sedangkan kartu kredit hanya 5%. Transaksi electronic money ( e-money ) dalam semester II 2008 mengalami pertumbuhan secara signifikan dibandingkan dengan semester I 2008. Dari sisi nilai transaksi, penggunaan e-money meningkat sebesar Rp0,05 triliun (398,44%). Sementara, dari sisi volume

3.1.1. Risk Assessment dan Mitigasi Risiko
Dalam rangka mitigasi risiko kredit dalam sistem pembayaran dan dalam upaya mengantisipasi dampak krisis global yang berpotensi membahayakan kebutuhan likuiditas dalam sistem pembayaran, Bank Indonesia telah menyempurnakan ketentuan Fasilitas Likuiditas Intrahari (FLI) dan Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP), serta mengeluarkan ketentuan baru mengenai Fasilitas Pembiayaan Darurat (FPD). Selain itu, dalam rangka mitigasi risiko setelmen dalam penyelenggaraan Sistem Kliring Nasional, Bank Indonesia telah menetapkan prefund sebagai salah satu

Grafik 3.3 Perkembangan Transaksi APMK

5%

11%

95%
Kartu Berbasis (ATM dan ATM + Debit) Kartu Kredit

89%
Kartu Berbasis (ATM dan ATM + Debit) Kartu Kredit

56

Bab 3 Infrastruktur Keuangan dan Mitigasi Risiko

mekanisme failure to settle (FtS) sebagaimana diatur dalam Peraturan Bank Indonesia No.7/18/PBI/2005 tentang Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKN-BI). Mekanisme prefund merupakan kewajiban bank peserta SKN-BI untuk penyediaan dana awal baik berupa dana tunai ( cash prefund ) atau surat berharga ( collateral

tanggal 24 Desember 2008 perihal Perizinan KUPU, yang mencabut ketentuan pelaksanaan sebelumnya (Surat Edaran Bank Indonesia No.8/32/DASP tanggal 20 Desember 2006 perihal Pendaftaran KUPU). Dengan berlakunya SE baru tersebut, masa transisi selama 2 tahun yang diberikan kepada penyelenggara KUPU untuk melakukan pendaftaran kegiatan usaha KUPU telah berakhir dan setiap penyelenggara KUPU diwajibkan untuk memperoleh izin dari Bank Indonesia. Dengan adanya ketentuan baru ini diharapkan penyelenggaraan KUPU dapat termonitor dengan lebih baik dan memiliki standar kegiatan sesuai international best practices. Bank Indonesia juga terus berupaya untuk menyempurnakan ketentuan dan pengawasan APMK guna memastikan bahwa penyelenggara APMK dapat mengelola potensi risiko. Dalam rangka meningkatkan keamanan dan mitigasi potensi risiko penyalahgunaan dan/ atau pemalsuan kartu kredit termasuk keamanan perangkat Electronic Data Capture, Bank Indonesia telah mengeluarkan kebijakan bahwa penggunaan chip pada kartu kredit harus dilakukan selambat-lambatnya 31 Desember 2009. Sementara itu, sebagai tindak lanjut hasil security

prefund ) dalam rekening giro dan agunan di Bank
Indonesia untuk dapat mengikuti kegiatan kliring debet. Dengan adanya kewajiban prefund ini diharapkan dapat meminimalkan risiko terjadinya bank yang tidak memiliki likuiditas yang cukup untuk memenuhi kewajibannya dalam setelmen kliring debet. Kegagalan pemenuhan

prefund pada waktu yang ditetapkan dapat
mengakibatkan bank peserta tidak dapat mengikuti kliring debet pada hari tersebut. Dalam rangka mitigasi risiko gagal bayar dalam penyelesaian hasil kliring transaksi pembayaran debet antar-bank, pada akhir tahun 2008 Bank Indonesia telah mengeluarkan kebijakan untuk menerapkan pula prinsip

no money no game untuk kliring debet.Ω Melalui penerapan
kebijakan penyempurnaan penyelesaian hasil kliring transaksi pembayaran debet antar-bank tersebut, risiko gagal bayar dalam penyelesaian hasil kliring debet dapat dimitigasi, dan Bank Indonesia sebagai Penyelenggara Kliring tidak akan menanggung risiko gagal bayar dari bank peserta kliring debet (mitigasi credit risk yang berpotensi dihadapi oleh Bank Indonesia). Penerapan kebijakan no

assessment dan progress implementasi chip kartu kredit
yang telah dilakukan pada semester I tahun 2008 dapat diinformasikan bahwa 46 temuan atau 58% dari 80 total temuan telah diselesaikan pada akhir semester II tahun 2008. Selanjutnya, Penerbit dan Acquirer diminta menyampaikan laporan progres implementasi chip dan tindak lanjut security assessment secara berkala (triwulanan). Sebagai upaya untuk terus memitigasi potensi risiko dalam sistem pembayaran antar-bank di Indonesia, pada Sistem BI-RTGS direncanakan akan dikembangkan mekanisme Payment-Versus-Payment (PVP) Settlement. Hal ini dimaksudkan untuk memitigasi risiko kegagalan

money no game dengan instrumen pre-fund tersebut akan
membuat seluruh transaksi pembayaran debet dari suatu bank dapat dibatalkan oleh Penyelenggara Kliring apabila

pre-fund untuk meng-cover kewajiban dari hasil kliring
debet-nya tidak mencukupi. Terkait dengan upaya mengurangi risiko dalam penyelenggaraan Kegiatan Usaha Pengiriman Uang (KUPU), Bank Indonesia mengeluarkan ketentuan pelaksana Surat Edaran Bank Indonesia No.10/49/DASP

57

Bab 3 Infrastruktur Keuangan dan Mitigasi Risiko

pembayaran dalam penyelesaian transaksi perdagangan valuta asing (valas) antar-bank di Indonesia (mitigasi FX

Untuk menjaga kelangsungan sistem BI-RTGS pada penyelenggara, Bank Indonesia melaksanakan ujicoba sistem

settlement risk). Dengan PVP settlement, pembayaran mata
uang domestik dan mata uang asing dari transaksi perdagangan valas antar-bank di Indonesia akan dilakukan secara bersamaan (simultaneous settlement), sehingga dua pihak dalam perdagangan valas antar-bank tidak akan mengalami kondisi telah melakukan serah mata uang yang dijualnya namun belum menerima mata uang yang dibelinya (FX settlement risk). Mekanisme PVP settlement yang akan dikembangkan pada Sistem BI-RTGS terutama untuk penyelesaian perdagangan Dolar Amerika Serikat terhadap Rupiah (USD/ IDR). Hal ini karena perdagangan USD/IDR merupakan porsi terbesar dalam perdagangan valas antar-bank di Indonesia. Mekanisme PVP yang dinamai USD/IDR PVP tersebut akan dikembangkan dengan membangun USD/IDR PVP Link yang akan menghubungkan Sistem BI-RTGS (untuk setelmen pembayaran IDR) dengan Sistem USD-CHATS4 di HongKong (untuk setelmen pembayaran USD). Untuk itu, Bank Indonesia dan Hong Kong Monetary Authority telah menandatangani Nota Kesepahaman (Memorandum of

backup secara berkala dengan menggunakan berbagai
skenario. Sementara untuk memastikan keberfungsian sistem backup pada peserta, Bank Indonesia memberikan kesempatan untuk melakukan ujicoba koneksi ke penyelenggara. Selain itu, Bank Indonesia juga menyediakan alternatif mekanisme penyelesaian transaksi yang dapat digunakan oleh peserta dalam kondisi gangguan dan/atau keadaan darurat berupa fasilitas Guest Bank (penggunaan fasilitas hardware dan software di Bank Indonesia) dan penggunaan instrumen Cek dan Bilyet Giro Bank Indonesia. Dalam rangka menjaga kehandalan infrastruktur Sistem BI-RTGS dalam kondisi gangguan atau keadaan darurat, Bank Indonesia terus melakukan ujicoba dan analisa untuk meminimalkan recovery time objective (RTO). RTO adalah target waktu yang ditetapkan dalam proses pemulihan kegiatan operasional dan sistem untuk memastikan kesinambungan kegiatan operasional apabila terjadi gangguan (disaster). Penetapan RTO merupakan

iterative process dan negotiation process yang dilakukan
dengan mempertimbangkan antara biaya dan risiko yang akan ditanggung. Mengingat BI-RTGS merupakan sistem penyelesaian transaksi nilai besar dan merupakan

Understanding) pada tanggal 24 Oktober 2008.

3.1.2. Business Continuity Plan (BCP) Sistem BIRTGS
Kegagalan sistem pembayaran dapat menimbulkan gangguan terhadap stabilitas sistem keuangan. Oleh karena itu, sistem pembayaran harus memiliki kinerja baik, handal, serta termitigasi risikonya. Untuk itu, diperlukan kesiapan sumber daya manusia dan kehandalan infrastruktur (aplikasi, hardware dan jaringan) baik pada penyelenggara maupun peserta dalam menghadapi kondisi darurat.

systemically important payment system (SIPS), maka RTO
diupayakan seminimal mungkin. Dalam kaitan ini, upayaupaya peningkatan percepatan proses recovery terus dilakukan melalui kajian teknis dan penyelenggaran uji coba disaster recovery plan (DRP) secara berkala.

3.1.3. Upaya Pemenuhan CP-SIPS
Bank Indonesia terus berupaya untuk memenuhi standar internasional dalam penyelenggaraan sistem pembayaran yang bersifat sistemik seperti pemenuhan core

principle systemically important payment system (CP-SIPS)
4 CHATS singkatan dari Clearing House Automated Transfer System, yang merupakan salah satu sistem RTGS di HongKong.

yang dikeluarkan oleh Bank for International Settlements

58

Bab 3 Infrastruktur Keuangan dan Mitigasi Risiko

Grafik 3.5 Peran Biro Informasi Kredit

PERTUMBUHAN EKONOMI PERTUMBUHAN SEKTOR RIIL
SEKTOR KEUANGAN
BANK NON BANK

BIRO INFORMASI KREDIT
MEMPERLANCAR FUNGSI INTERMEDIASI MEMINIMALKAN GAP INFORMASI DAN RISIKO MEMPERCEPAT PENGAMBILAN KEPUTUSAN MENURUNKAN BIAYA

MASYARAKAT
BADAN USAHA PERORANGAN

SEKTOR NON KEUANGAN PERUSH. UTILITAS PUBLIK

INFORMASI

INFORMASI

PENGHIMUPUNAN DAN PENYEDIAAN DANA TRANSPARANSI DISIPLIN PASAR PEMERINTAH / REGULATOR

(BIS) untuk penyelenggaraan Sistem BI-RTGS. Upaya yang dilakukan antara lain mencakup peningkatan good

3.2. PENGEMBANGAN BIRO INFORMASI KREDIT
Pembentukan Biro Informasi Kredit (BIK), yang diresmikan pada bulan Juni 2006, merupakan salah satu upaya Bank Indonesia untuk memperkuat infrastruktur sistem perbankan dan sistem keuangan di Indonesia. Hal ini merupakan wujud pelaksanaan Arsitektur Perbankan Indonesia (API) khususnya Pilar V yaitu penguatan infrastruktur untuk menciptakan perbankan yang sehat, kuat dan efisien. Tugas utama BIK adalah menghimpun dan menyimpan data perkreditan, mempertukarkan dan pada akhirnya mendistribusikannya sebagai informasi debitur dalam rangka mendukung pelaksanaan fungsi intermediasi lembaga keuangan. Keberadaan BIK diharapkan dapat membantu meminimalkan permasalahan asymmetric

corporate governance melalui reorganisasi satuan kerja
penyelenggara Sistem BI-RTGS. Pada akhir tahun 2008, Bank Indonesia telah menerbitkan ketentuan internal No.10/86/Intern tanggal 23 Desember 2008 mengenai Reorganisasi Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran (DASP) sebagai salah satu langkah agar penyelenggaraan sistem pembayaran dilakukan secara efektif, dapat dipertanggungjawabkan dan transparan. Reorganisasi DASP merupakan perwujudan dari kewajiban penyelenggara SIPS untuk menerapkan prinsip tata kelola yang baik antara lain melalui adanya pemisahan tanggung jawab pelaporan (reporting line) unit kerja yang menangani pengawasan ( payment system oversight) dengan unit kerja yang melaksanakan operasional Sistem BI-RTGS. Selain itu, Bank Indonesia bekerjasama dengan beberapa peserta Sistem BI-RTGS membentuk suatu

information antara penyedia dana dan penerima dana.
Guna mendukung pencapaian tugas tersebut, BIK mengoperasikan dan mengelola sebuah sistem dengan nama Sistem Informasi Debitur (SID). Sistem ini telah mengalami penyempurnaan secara berkesinambungan dan sejak tahun 2005, telah berbasis web . Dengan demikian pelaporan data disampaikan secara on-line dan permintaan informasi debitur dapat dilakukan secara on-

working group sebagai bagian dari upaya meningkatkan
transparansi antara penyelenggara dan peserta dengan melibatkan para peserta dalam pengembangan Sistem BIRTGS. Pendekatan ini diharapkan akan meningkatkan efisiensi dan kehandalan sistem yang ada.

line dan real-time. Data perkreditan sebagai input SID,

59

Bab 3 Infrastruktur Keuangan dan Mitigasi Risiko

Tabel 3.1 Perkembangan Data SID 2006-2008
Desember 2006 Jumlah Pelapor (Lembaga) Bank Umum BPR PP Jumlah Pelapor (Kantor Cabang) Bank Umum BPR PP Jumlah Debitur (berdasarkan Debtor Identification Number) Bank Umum BPR PP Jumlah Fasilitas Kredit (rekening)*) Bank Umum BPR PP Jumlah Permintaan Informasi Debitur**) Bank Umum BPR PP 486 130 355 1 3.374 2.548 825 1 20.359.850 19.535.979 822.849 1.022 21.689.062 20.863.200 824.839 1.023 782.626 751.769 30.857 0 Desember 2007 751 130 618 3 3.788 2.788 2.633 3 28.187.986 26.312.078 1.780.534 95.374 29.479.139 27.640.264 1.697.186 141.689 1.178.957 1.147.096 30.192 1.669 Desember 2008 777 127 646 4 4.054 2.790 1.260 4 35.900.857 33.070.536 2.521.748 308.573 57.782.495 53.573.464 3.813.657 395.374 2.050.957 1.833.158 206.255 10.915

Catatan: *) Desember 2006, data jumlah fasilitas kredit yang tersedia hanya untuk rekening yang aktif. Sedangkan Desember 2007 dan 2008, jumlah fasilitas kredit mencakup rekening yang aktif dan pasif. **) Jumlah permintaan pada bulan tersebut.

dihimpun dari semua lembaga penyedia dana yang meliputi Bank Umum, Bank Perkreditan Rakyat (BPR), Lembaga Keuangan Non Bank (LKNB) termasuk Penyelenggara Kartu Kredit Selain Bank (PKKSB).

ke atas selama 6 bulan berturut-turut, dan PKKSB. Sedangkan pelapor sukarela adalah BPR yang total asetnya belum sesuai dengan persyaratan menjadi pelapor wajib, LKNB, dan Koperasi Simpan Pinjam. Dari angka statistik, penyelenggaraan BIK telah

Grafik 3.6 Kebijakan Strategis BIK

menunjukan hasil yang cukup menggembirakan. Selama 2 tahun pasca beroperasi, telah terjadi peningkatan yang cukup signifikan pada jumlah pelapor, debitur, fasilitas

KETENTUAN & PENGATURAN SISTEM & APLIKASI BIK

PELAPOR & PENGGUNA

kredit maupun akses terhadap informasi debitur. Namun demikian, dapat dicatat bahwa pelapor SID dari LNKB, khususnya Perusahaan Pembiayaan (PP) masih tergolong

KUALITAS DATA

PRODUK & LAYANAN

EDUKASI MASYARAKAT

minim. Hal tersebut terutama karena kepesertaannya bersifat sukarela, serta adanya gap yang cukup besar antara struktur data yang dimiliki LKNB dengan struktur data yang dipersyaratkan dalam SID.

Saat ini terdapat 2 jenis kepesertaan dalam SID yaitu kepesertaan yang bersifat wajib dan sukarela. Pelapor wajib terdiri dari Bank Umum, BPR dengan total aset Rp10 miliar

Sementara itu, dari sisi pemanfaatan output SID, ratarata permintaan informasi debitur selama tahun 2008 mengalami peningkatan sebesar 55% dibandingkan tahun

60

Bab 3 Infrastruktur Keuangan dan Mitigasi Risiko

2007. Share terbesar dari pemanfaatan informasi debitur dilakukan oleh Bank Umum, sementara pemanfaatan output SID oleh BPR masih sangat rendah. Untuk lebih mengembangkan BIK sekaligus mengatasi kendala-kendala yang masih ada, Bank Indonesia menjalankan beberapa kebijakan strategis yang mencakup aspek peningkatan kualitas data,

Dalam kajian rencana pengembangan BIK, telah dirumuskan rencana pengembangan SID dalam jangka pendek, menengah dan panjang. Pada tahap awal, pengembangan SID akan lebih difokuskan pada peningkatan akurasi data dan performance sistem. Sedangkan untuk tahap selanjutnya, akan dilakukan perubahan terhadap mekanisme penyampaian laporan debitur agar lebih efektif dan efisien. Pelaksanaan dari kajian ini dimulai tahun 2009 dan akan berlangsung sampai dengan 2 tahun ke depan.

penyempurnaan sistem dan aplikasi, perluasan cakupan pelapor dan pengguna, penyempurnaan ketentuan dan pengaturan, pengembangan produk dan layanan, serta edukasi kepada masyarakat.

3.2.3. Perluasan Cakupan Pelapor dan Pengguna 3.2.1. Peningkatan Kualitas Data
Untuk meningkatkan kualitas data dan informasi yang dihasilkan SID, upaya yang dilakukan Bank Indonesia meliputi absensi secara periodik untuk memastikan ketepatan waktu pelaporan, pembersihan data duplikat dan pemberian teguran atas kesalahan pelaporan, dan pemeriksaan terhadap pelapor untuk meningkatkan kesadaran pelapor terhadap ketentuan yang berlaku dan pentingnya pelaporan secara benar. Disamping itu, telah dilakukan pula pelatihan kepada petugas pelapor untuk meningkatkan pengetahuan serta kualitas pelaporan. Upaya lainnya adalah peningkatan layanan help-desk SID. Keandalan informasi debitur yang dihasilkan oleh BIK ditentukan pula oleh luasnya cakupan sumber data. Masih minimnya jumlah LKNB yang melaporkan SID saat ini menunjukan bahwa masih terdapat potensi data yang belum dimanfaatkan. Untuk itu, Bank Indonesia bekerja sama dengan Departemen Keuangan (Bapepam LK) telah berupaya mendorong keikutsertaan LKNB dalam SID melalui penandatanganan Nota Kesepahaman pada bulan September 2007. Sebagai tindak lanjutnya, telah disusun rencana kegiatan sosialisasi kepada pegawai Bapepam LK,

workshop secara bertahap untuk Asosiasi Perusahaan
Pembiayaan Indonesia (APPI) dan LKNB calon pelapor SID, serta penyusunan standard operating procedure (SOP)

3.2.2. Penyempurnaan Sistem dan Aplikasi
Penyempurnaan sistem dan aplikasi SID dilakukan secara berkesinambungan. Kegiatan ini dimulai dengan melakukan evaluasi terhadap existing sistem dan aplikasi, yang dilakukan oleh internal Bank Indonesia maupun dengan melibatkan para pelapor. Evaluasi tersebut tidak hanya sebatas pada aplikasi SID, namun terhadap aplikasi lainnya yang terkait. Hasil evaluasi selanjutnya dipergunakan sebagai dasar penyempurnaan, serta masukan dalam pembuatan kajian rencana

untuk joint procedure pengecekan kepada LKNB pelapor SID mulai tahun 2009. Selain itu, mengikuti standar credit bureau internasional, sumber data SID direncanakan akan diperluas sehingga mencakup data pelanggan perusahaan utilitas publik, seperti Telkom, PLN dan PDAM. Hal ini telah tertuang dalam Paket Kebijakan Sektor Keuangan (PKSK) tahun 2008, dengan target keluaran ≈tercakupnya data perusahaan utilitas publik pada SID∆. Terkait dengan hal tersebut, telah dilakukan kajian terhadap

pengembangan BIK ke depan.

integrasi∆ database dari perusahaan utilitas publik.

61

Bab 3 Infrastruktur Keuangan dan Mitigasi Risiko

Berdasarkan kajian tersebut masih terdapat beberapa kendala, termasuk kendala legal. Untuk itu, akan dilakukan harmonisasi ketentuan yang terkait dengan pemberian data dari perusahaan utilitas publik ke dalam SID. Sementara itu, untuk meningkatkan jumlah penggunaan informasi debitur oleh BPR telah dilakukan sosialisasi serta pelatihan SID kepada pejabat dan petugas BPR.

Checking. Informasi debitur yang dihasilkan mencakup
informasi positif (yaitu informasi kredit yang tidak mengalami kegagalan dalam penyelesaiannya) dan informasi negatif (yaitu informasi kredit yang mengalami kegagalan dalam penyelesaiannya) untuk seluruh penyediaan dana mulai dari Rp1 ke atas, serta mencakup pula informasi tentang historis pembayaran yang dilakukan oleh debitur dalam kurun waktu 24 bulan terakhir. Dengan

3.2.4. Penyempurnaan Ketentuan
Untuk menjamin kelancaran operasional BIK, pada tahun 2007-2008 telah dilakukan penyempurnaan Peraturan Bank Indonesia tentang SID beserta Surat Edaran Bank Indonesia sebagai aturan pelaksanaannya. Secara garis besar, ketentuan SID tersebut mengatur mengenai pihak yang dapat menjadi pelapor; kewajiban pelapor; cakupan dan prosedur penyampaian laporan debitur; pihak yang dapat meminta informasi debitur beserta batasan penggunaannya; pengawasan Bank Indonesia kepada pelapor; serta pengenaan sanksi atas pelanggaran yang dilakukan. Dengan adanya ketentuan ini, seluruh hak dan kewajiban dari pelapor dan debitur dapat lebih diperjelas. Proses penyusunan ketentuan tersebut telah mengakomodir kebutuhan industri perkreditan melalui keterlibatan perwakilan pelapor SID, yang terdiri dari perwakilan Bank Pemerintah, Bank Asing, BPR dan LKNB yang tergabung dalam Working Group SID. Kontribusi aktif dari Working Group tersebut telah memperkaya materi pengaturan SID serta sebagai masukan untuk penyusunan rencana penyempurnaan aplikasi serta pengembangan BIK.

demikian, informasi debitur yang dihasilkan dapat memberikan gambaran mengenai exposure kredit, serta

performance dan kualitas kredit dari debitur yang
bersangkutan. Produk lain yang telah dikembangkan adalah penyediaan consumer report atau informasi debitur yang dapat diminta oleh debitur atas nama dirinya sendiri di Gerai Info - Bank Indonesia atau di lembaga keuangan pelapor SID yang memberikan penyediaan dana kepada debitur tersebut. Penyediaan consumer report ini merupakan salah satu bentuk pelaksanaan transparansi pelapor kepada debitur, serta sebagai sarana cross check debitur atas pelaporan yang telah dilakukan. Lokasi layanan penyediaan consumer report juga diperluas pada Kantor Bank Indonesia di daerah dan counter informasi kredit yang disediakan pada beberapa event khusus seperti Bazar UMKM dan Festival Ekonomi Syariah. Pada credit bureau berstandar internasional, produk yang dihasilkan tidak hanya berupa basic report tetapi mencakup pula value added services yang merupakan olahan dan pengembangan data yang dihimpun dan teknologi yang dimiliki oleh credit bureau tersebut. Value

added services ini dapat berupa credit scoring, fraud alert/

3.2.5. Pengembangan Produk dan Layanan
Pengembangan produk dan layanan BIK terus diarahkan untuk dapat memenuhi standar credit

detection, pengelolaan risiko kredit, jasa konsultasi, dan
sebagainya. Dari sisi sumber data, data yang dihimpun oleh credit bureau internasional mencakup pula data dari perusahaan utilitas publik, koperasi dan keputusan pengadilan. Sebagai bagian dari upaya menjadikan BIK

bureauinternasional. Produk BIK saat ini adalah informasi
debitur atau dikalangan perbankan dikenal dengan namaBI

62

Bab 3 Infrastruktur Keuangan dan Mitigasi Risiko

berstandar internasional, maka penyediaan value added

mengalami tekanan. Secara lebih rinci, manfaat yang dapat diperoleh dari JPSK adalah: terdapat landasan hukum yang kuat dalam melakukan tindakan pencegahan dan penanganan krisis; adanya transparansi dan akuntabilitas dalam

services, khususnya credit scoring dan perluasan sumber
data dari perusahaan utilitas publik, merupakan target pengembangan produk BIK berikutnya.

3.2.6. Edukasi Kepada Masyarakat
Pencapaian sistem perkreditan yang sehat dan efisien, tidak hanya tergantung pada kesadaran dari para penyedia dana dalam melakukan pelaporan, namun juga memerlukan kesadaran dari masyarakat akan pentingnya menjaga reputasi kreditnya. Dengan mengetahui bahwa riwayat kreditnya terdata di BIK dan dapat diakses oleh seluruh lembaga penyedia dana yang menjadi pelapor SID, diharapkan awareness debitur untuk menjaga nama baiknya akan meningkat. Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan keberadaan BIK, antara lain melalui sosialisasi berupa seminar di beberapa daerah, serta edukasi masyarakat melalui advertorial di media massa nasional. Dampaknya adalah semakin meningkatnya jumlah permintaan consumer report melalui Gerai Info Bank Indonesia oleh masyarakat. Hal tersebut sesuatu yang positif bagi pengembangan BIK ke depan, karena dengan semakin seringnya output SID diakses oleh masyarakat, semakin tinggi pula tuntutan untuk meningkatkan kualitas data dan informasi debitur.

mekanisme pengambilan keputusan dalam rangka pencegahan dan penanganan krisis; terdapat mekanisme koordinasi diantara lembaga terkait dalam menghadapi gangguan yang berpotensi mengancam stabilitas sistem keuangan nasional, tanpa mengurangi independensi masing-masing otoritas; penanganan permasalahan lembaga keuangan yang berdampak sistemik dapat dilakukan secara tuntas; terdapat sumber pendanaan yang jelas untuk tindakan pencegahan dan penanganan krisis dengan memperhatikan tatacara dan mekanisme hak budget Dewan Perwakilan Rakyat. Sementara itu, di Indonesia, pada semester II 2008 terdapat beberapa bulan yang penuh tekanan di sektor keuangan, antara lain ditandai dengan keringnya likuiditas rupiah dan valas yang dibarengi dengan penurunan nilai tukar rupiah yang cukup signifikan. Untuk itu, pada pertengahan Oktober 2008, Pemerintah telah menerbitkan beberapa Peraturan Pemerintah Pengganti Undangundang (PERPPU) yang salah satunya adalah mengenai JPSK (PERPPU No.4 Tahun 2008 tanggal 15 Oktober 2008).

3.3. JARING PENGAMAN SISTEM KEUANGAN
Infrastruktur keuangan lainnya yang dinilai sangat penting bagi stabilitas sistem keuangan suatu negara adalah Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK). Secara konseptual, adanya JPSK akan sangat membantu dalam memitigasi risiko sistemik. Lazimnya dalam JPSK diatur protokol manajemen krisis (crisis management protocol) sebagai bagian dari mekanisme koordinasi diantara lembaga-lembaga pada saat sektor keuangan sedang

Berdasarkan PERPPU tersebut, JPSK merupakan suatu mekanisme pengamanan sistem keuangan dari ancaman krisis yang mencakup pencegahan dan penanganan krisis. Adapun tindakan pencegahan dan penanganan krisis meliputi: (i) penanganan kesulitan likuiditas dan/atau masalah solvabilitas bank yang berdampak sistemik, dan (ii) penanganan kesulitan likuiditas dan/atau masalah solvabilitas lembaga keuangan bukan bank (LKBB) yang berdampak sistemik. Untuk mencapai tujuan dari JPSK,

63

Bab 3 Infrastruktur Keuangan dan Mitigasi Risiko

dibentuk Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang beranggotakan Menteri Keuangan (sebagai Ketua) dan Gubernur Bank Indonesia. KSSK berwenang menetapkan kebijakan dan langkah-langkah dalam rangka pencegahan dan penanganan krisis di sektor keuangan dan melakukan koordinasi dengan berbagai otoritas dalam

mengatasi permasalahan: (i) Bank yang mengalami permasalahan likuiditas yang berdampak Sistemik; (ii) Bank yang mengalami permasalahan solvabilitas atau kegagalan pelunasan Fasilitas Pinjaman Darurat (FPD) yang berdampak sistemik; dan (iii) LKBB yang mengalami permasalahan likuiditas dan/atau permasalahan solvabilitas yang berdampak sistemik. Sementara itu, penanganan krisis meliputi tindakan mengatasi permasalahan (i) beberapa bank yang mengalami permasalahan likuiditas dan/atau solvabilitas yang secara individu berdampak sistemik; (ii) Bank yang secara individu dalam keadaan normal tidak berdampak sistemik tetapi dalam kondisi krisis berdampak sistemik dan berpotensi krisis; dan (iii) Beberapa LKBB yang mengalami permasalahan likuiditas dan/atau solvabilitas yang berdampak sistemik. Sementara itu, kerangka kerja yang diusulkan adalah sebagaimana yang tercantum pada Tabel 3.2

pelaksanaannya. Dalam perjalanannya PERPPU No.4 Tahun 2008 tentang JPSK tidak mendapat persetujuan DPR sehingga harus disusun ulang dan diajukan kembali ke DPR. Pada saat ini Rancangan Undang-undang (RUU) JPSK sudah berhasil disusun dan telah mulai dibahas di DPR. Adapun ruang lingkup yang diatur dalam RUU JPSK adalah pencegahan dan penanganan krisis yang meliputi tindakan mengatasi permasalahan likuiditas dan permasalahan solvabilitas pada bank dan LKBB yang berdampak sistemik. Pencegahan krisis meliputi tindakan

Tabel 3.2 Kerangka Kerja Jaring Pengaman Sistem Keuangan
Tujuan/ Ruang Lingkup Pencegahan Krisis 1. Likuiditas Bank 2. Solvabilitas Bank/ Bank Gagal KSSK melakukan: a. Evaluasi masalah b. Penetapan masalah c. Penetapan langkah penanganan masalah 1. Pemberian bantuan likuiditas 2.a. Penyertaan Modal Sementara (PMS) untuk Bank Sistemik. 2. b. Penyelesaian Bank Non-sistemik 3. Pemberian pinjaman atau penyertaan modal untuk LKBB FPD oleh BI, dijamin Pemerintah 2.a. PMS oleh LPS 2.b. Penutupan Bank dan Pembayaran jaminan oleh LPS 3. Pinjaman atau penyertaan modal oleh Pemerintah Sumber pendanaan Pemerintah untuk pencegahan dan penanganan Krisis berasal dari APBN melalui penerbitan SBN (Surat Berharga Negara) atau tunai. BI dapat membeli SBN dimaksud di pasar primer. Penggunaan dana APBN untuk pencegahan dan penanganan krisis harus terlebih dahulu mendapat persetujuan dari DPR Pengambilan Keputusan Keputusan Tool Kits/ Mekanisme Sumber Pendanaan

3. Likuiditas dan/atau solvabilitas Penanganan Krisis 1. Likuiditas dan/atau solvabilitas Bank KSSK melakukan: a. Evaluasi masalah b. Penetapan masalah c. Penetapan langkah penanganan masalah

2. Likuiditas dan/atau solvabilitas LKBB

1.a. Pemberian bantuan likuiditas 1.b. Penyertaan Modal Sementara 2. Pemberian bantuan likuiditas/Penyertaan Modal Sementara

1.a. FPD oleh BI 1.b. PMS oleh LPS atau Pemerintah atau Badan Khusus 2. Pinjaman/PMS oleh Pemerintah atau Badan Khusus

64

Bab 3 Infrastruktur Keuangan dan Mitigasi Risiko

Boks 3.1

Stabilitas Sistem Keuangan dan PERPPU tentang Perubahan Undang Undang Bank Indonesia

Salah satu kebijakan penting yang diambil Pemerintah pada pertengahan Oktober 2008 adalah penerbitan Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang (PERPPU) Republik Indonesia No. 2 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia. PERPPU ini penting artinya bagi stabilitas sistem keuangan karena memberikan dasar hukum bagi Bank Indonesia dalam memberikan Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP) secara lebih luas bagi bank yang memerlukan. Perluasan akses bagi bank tersebut didasarkan atas perubahan terhadap Pasal 11 Undang-Undang Bank Indonesia. Sebelum dilakukan perubahan, Pasal 11 pada intinya mengatur bahwa Bank Indonesia dapat memberikan kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah untuk jangka waktu paling lama 90 hari kepada bank untuk mengatasi kesulitan pendanaan jangka pendek bank. Pelaksanaan pemberian kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah tersebut wajib dijamin oleh bank penerima dengan agunan yang berkualitas tinggi yang nilainya minimal sebesar jumlah kredit atau pembiyaan yang diterimanya. Sedangkan yang dimaksud dengan agunan yang berkualitas tinggi dan mudah dicairkan meliputi surat berharga dan/atau tagihan yang diterbitkan oleh Pemerintah atau badan hukum lain yang mempunyai peringkat tinggi

berdasarkan hasil penilaian lembaga pemeringkat yang kompeten dan sewaktu-waktu dengan mudah dapat dijual ke pasar untuk dijadikan uang tunai. Perubahan yang diatur PERPPU menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan agunan berkualitas tinggi dan mudah dicarikan, tidak saja meliputi surat berharga dan/atau tagihan yang diterbitkan oleh Pemerintah atau badan hukum lain yang mempunyai peringkat tinggi berdasarkan hasil penilaian lembaga pemeringkat yang kompeten dan sewaktu-waktu dengan mudah dapat dijual ke pasar untuk dijadikan uang tunai, namun juga termasuk aset kredit kolektibilitas lancar. Dengan demikian, obyek yang dapat dijadikan sebagai agunan oleh bank untuk mendapatkan FPJP menjadi lebih banyak jenisnya, sehingga memperluas akses bagi bank untuk menggunakan FPJP. Dalam pencegahan maupun penanganan krisis, diperlukan dasar hukum yang kuat serta mekanisme kerja yang jelas untuk mendukung pengambilan keputusan-keputusan yang penting untuk mencegah terjadinya krisis ataupun menyelamatkan perekonomian dari krisis. Perubahan Undang-Undang Bank Indonesia yang dilakukan melalui PERPPU tersebut di atas merupakan contoh langkah antisipatif Pemerintah dari sisi dasar hukum guna menjaga stabilitas sistem keuangan dalam menghadapi krisis global.

65

Bab 3 Infrastruktur Keuangan dan Mitigasi Risiko

Boks 3.2

Best Practices Analisis Dampak Sistemik terhadap Sistem Keuangan

Secara konseptual, dampak sistemik terhadap sistem keuangan terjadi apabila permasalahan dari suatu lembaga keuangan, baik secara individu maupun bersama-sama yang karena ukuran (size) dari lembaga keuangan tersebut dan potensi penyebaran masalah (contagion effect) yang ditimbulkannya, menyebabkan kegagalan pada sistem keuangan secara keseluruhan. Berdasarkan best practices atau praktek yang berlaku umum di dunia internasional, maka kriteria dampak sistemik tidak ditetapkan secara eksplisit dimuka (ex ante) dalam suatu ketentuan perundangundangan, dengan dua alasan pokok sebagai berikut. Pertama, penetapan secara ex ante berpotensi menimbulkan moral hazard. Adanya kriteria yang eksplisit, akan mendorong lembaga keuangan untuk melakukan pengambilan risiko yang tidak terkendali ( excessive risk taking ) karena yakin akan tetap diselamatkan oleh Pemerintah. Kedua, penetapan dampak sistemik cenderung bersifat situasional. Hal itu karena pemicu krisis sistemik dapat berbeda-beda tergantung situasi, baik yang bersifat internal lembaga keuangan, maupun yang bersifat eksternal seperti krisis keuangan global, serangan teroris, dan bencana alam. Oleh karena itu,

dampak sistemik sulit untuk ditetapkan diawal. Suatu lembaga keuangan dapat dinyatakan berdampak sistemik pada situasi tertentu, namun tidak berdampak sistemik pada situasi yang lain. Dengan demikian, penetapan dampak sistemik memerlukan professional

judgement.
Salah satu sumber referensi dalam penilaian dampak sistemik adalah dokumen Memorandum of

Understanding on Cooperation between the Financial Supervisory Authorities, Central Banks and Finance Ministries of the European Union on Cross Border Financial Stability (Annex 2 Template for Systemic Assessment Framework). Dokumen ini antara lain
merekomendasikan bahwa penilaian dampak sistemik perlu memperhatikan dampak kegagalan atau permasalahan yang dihadapi lembaga keuangan terhadap: (i) institusi keuangan lainnya secara keseluruhan, (ii) pasar keuangan, (iii) sistem pembayaran, dan (iv) psikologi pasar. Selain itu, penilaian juga harus mencakup perkiraan kemungkinan akan terganggunya sektor riil dengan memperhatikan peranan atau kontribusi lembaga keuangan yang bersangkutan terhadap sektor tersebut.

66

Bab 4 Prospek Sistem Keuangan Indonesia

Bab 4 Prospek Sistem Keuangan Indonesia

67

Bab 4 Prospek Sistem Keuangan Indonesia

Halaman ini sengaja dikosongkan

68

Bab 4 Prospek Sistem Keuangan Indonesia

Bab 4

Prospek Sistem Keuangan Indonesia

Secara umum, prospek sistem keuangan Indonesia diperkirakan masih akan tetap positif, meskipun tekanan karena belum pulihnya kondisi perekonomian global dan domestik tampaknya masih akan terus menjadi tantangan. Di perbankan, prospek positif tersebut antara lain didukung oleh permodalan yang masih cukup tinggi. Sementara itu, koordinasi antara otoritas perbankan dengan otoritas pasar modal dan lembaga keuangan non-bank diperkirakan akan semakin erat dan menjadi bagian penting dari jaring pengaman sistem keuangan yang mendukung ketahanan sektor keuangan.

4.1. PROSPEK EKONOMI DAN PERSEPSI RISIKO
Perekonomian Indonesia diperkirakan akan mengalami perlambatan dengan pertumbuhan sekitar 45% di tahun 2009 seiring dengan perlambatan ekonomi dunia. Perlambatan pertumbuhan ekonomi akan mengurangi tekanan dari sisi permintaan sehingga inflasi relatif terkendali. Hal-hal lainnya yang diperkirakan akan turut berkontribusi terhadap penurunan inflasi adalah penurunan harga komoditas di pasar global yang mendorong penurunan harga komoditas domestik, penurunan harga BBM pada awal tahun 2009, swasembada dan surplus beras yang diperkirakan akan terus berlanjut pada tahun 2009. Oleh karena itu, pada kuartal II 2009 diperkirakan inflasi berada di bawah satu digit, yaitu 8%, turun dari 11.1% pada akhir 2008. Namun, perlambatan ekonomi dunia dan penurunan harga komoditas di pasar global menyebabkan nilai ekspor menurun sehingga kinerja Neraca Perdagangan 2009 diperkirakan akan mengalami penurunan.
PDB (% yoy)

Tabel 4.1 Proyeksi Beberapa Indikator Ekonomi
2008 Q1 Q2 Q3 Q4 6,3 6,4 6,4 2009* Q1 Q2 Q3 Q4

5,2 4,5 4,3 4,4 4,7

Inflasi (% yoy) Neraca Perdagangan (US$ miliar)

7,6 11,0 12,0 11,1 10,2 8,0 5,8 5,8 7,5 5,3 5,8 8* 6,7 7,1 6,8 7,7

* Prediksi dari Asia Pacific Concensus Forecast

Sementara itu, krisis keuangan global yang berimbas pada sektor keuangan domestik telah semakin meningkatkan persepsi risiko tentang Indonesia. Hal itu tercermin pada yield spread yang cenderung meningkat. Tingginya persepsi risiko tersebut berpotensi menghambat aliran investasi masuk, apalagi di negara asalnya para investor umumnya sedang kesulitan likuiditas karena krisis global. Bagi perbankan, tingginya persepsi risiko akan membuat penyaluran kredit menjadi semakin selektif. Aliran investasi masuk yang rendah cenderung menekan pertumbuhan ekonomi sehingga sektor riil, baik

69

Bab 4 Prospek Sistem Keuangan Indonesia

korporasi maupun rumah tangga (household), dapat terganggu kinerjanya. Pada gilirannya hal ini dapat mendorong peningkatan risiko kredit di perbankan. Disamping itu, rendahnya aliran investasi yang masuk juga berpotensi menimbulkan tekanan pada nilai tukar. Akibatnya, bank-bank yang mengalami posisi short dalam valas berpotensi mengalami kerugian karena risiko nilai tukar. Hal-hal ini perlu diwaspadai agar stabilitas sistem perbankan dan sistem keuangan tetap terjaga.
Tabel 4.2 Persepsi Risiko Indonesia
Yield Spread (bp) Obligasi Rating Ytm (%) September 2008 997,47 932,46 918,30 Desember 2008 1015,41 965,17 925,92

16,2%. Berdasarkan hasil stress test, permodalan tersebut masih mampu menyerap berbagai jenis risiko, seperti risiko pasar (mencakup risiko suku bunga, risiko nilai tukar, dan risiko penurunan harga SUN), risiko likuiditas dan risiko kredit, termasuk pula risiko yang berasal dari kerugian karena structured products. Risiko pasar berada pada level moderat meskipun pada paruh kedua tahun 2008 sempat mengalami peningkatan yang signifikan terutama karena penurunan harga SUN dan nilai tukar rupiah yang terus terdepresiasi, disamping karena trend kenaikan suku bunga pada waktu itu. Namun menjelang akhir 2008, risiko penurunan harga SUN berkurang dengan terbitnya Surat Edaran Bank Indonesia yang membolehkan bank untuk menangguhkan kewajiban marking to market. Sementara, risiko nilai tukar cukup terkendali mengingat Posisi Devisa Netto (PDN) yang dipegang industri perbankan tergolong rendah (sekitar 6,2%) dan kebanyakan bank memiliki posisi long dalam

Indo 49 Indo 48 Indo 45

Ba3 (Moody's) Ba3 (Moody's) Ba3 (Moody's)

11,70 11,86 11,95

4.2. PROFIL RISIKO PERBANKAN: TINGKAT DAN ARAH
Tantangan terhadap stabilitas sistem keuangan yang dialami pada semester I 2008 terus berlanjut pada semester II 2008 dan bahkan semakin besar. Seperti telah diuraikan dalam bab-bab sebelumnya, gejolak pasar keuangan global dan perlambatan ekonomi dunia yang berimbas pada kondisi pasar keuangan dan perekonomian domestik telah menimbulkan tekanan pada sektor keuangan Indonesia. Hal tersebut antara lain ditandai dengan merosotnya Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Indonesia dan menurunnya harga Surat Utang Negara (SUN). Namun demikian, secara keseluruhan kondisi sektor keuangan tetap terkendali. Sementara itu, perbankan yang merupakan industri yang paling dominan dalam sektor keuangan domestik, secara umum masih memiliki ketahanan yang relatif baik yang tercermin dari CAR yang masih cukup tinggi di level

valas. Selanjutnya, risiko suku bunga juga berkurang sejalan dengan penurunan BI rate yang dilakukan berulang-ulang sejak bulan Desember 2008 hingga menjadi sebesar 8,25% pada bulan Februari 2009. Namun demikian, ke depan perbankan tampaknya masih tetap memiliki potensi risiko pasar yang cukup besar mengingat gejolak krisis keuangan global masih belum sepenuhnya mereda. Di samping itu, sejalan dengan pelemahan nilai tukar rupiah, beberapa bank diketahui memiliki potensi kerugian yang terkait dengan structured

products. Meskipun berdasarkan hasil stress test potensi
kerugian tersebut masih dapat diserap oleh permodalan bank. Ke depan perbankan tampaknya perlu lebih meningkatkan kehati-hatian terhadap produk serupa dan transaksi derivatif pada umumnya, termasuk offshore

products.
Risiko likuiditas pada awal semester II 2008, terutama pada bulan Agustus, cenderung meningkat sejalan dengan

70

Bab 4 Prospek Sistem Keuangan Indonesia

Grafik 4.1 Profil Risiko Perbankan dan Arah ke Depan

Risiko Pasar

Risiko Likuiditas

Risiko Kredit

Inherent Risk

Moderate

High

Sem II-2008 Outlook

Sem II-2008 Outlook

Sem II-2008 Outlook

Nilai Tukar

Harga SUN Suku Bunga

Low

Weak

Acceptable

Strong

Weak

Acceptable Risk Control System (RCS)

Strong

Weak

Acceptable

Strong

berkurangnya ekses likuiditas perbankan akibat pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang masih tetap lambat sementara kredit yang disalurkan cenderung sangat ekspansif. Pada saat itu, terimbas krisis keuangan global, kondisi pasar uang antar bank (PUAB) cenderung ketat dan terjadi segmentasi yang membatasi akses bank-bank khususnya dari kelompok menengah dan kecil untuk masuk ke PUAB. Namun, dengan pelonggaran ketentuan GWM yang dilakukan oleh Bank Indonesia dan peningkatan jumlah simpanan yang dijamin LPS, kondisi likuiditas industri perbankan terus membaik. Bahkan sejak November 2008 sejalan dengan peningkatan DPK dan berkurangnya penyaluran kredit, penanaman bank dalam alat likuid seperti SBI kembali mengalami peningkatan yang signifikan. Ke depan, walaupun risiko likuiditas diperkirakan akan relatif stabil, tetap perlu diwaspadai potensi tekanan yang berasal dari belum pulihnya kondisi likuiditas global serta masih adanya segmentasi di PUAB. Sementara itu, risiko kredit perbankan relatif stabil pada tingkat moderat dengan rasio kredit bermasalah (NPL) yang terus menurun. Namun, ke depan perlu diwaspadai potensi kenaikan risiko kredit karena proyeksi akan memburuknya kondisi ekonomi. Sebagaimana dikemukakan pada Bab 1, potensi peningkatan risiko kredit

ke depan juga tercermin pada hasil estimasi Probability of Default (PD) menggunakan data keuangan dari perusahaan non-financial go public yang listed di Bursa Efek Indonesia. Selain itu, potensi kenaikan risiko kredit juga dapat berasal dari debitur yang mengalami kerugian karena pelemahan nilai tukar rupiah yang kemudian mempengaruhi kemampuan mereka dalam menyelesaikan semua jenis kewajiban kepada perbankan. Risiko lain yang juga cukup penting diperhatikan adalah risiko operasional. Secara umum masih banyak tantangan yang harus dihadapi perbankan terkait dengan risiko operasional ini, terutama yang berkaitan dengan kapasitas dan integritas sumber daya manusia untuk meminimalisir human error maupun kemungkinan fraud, serta infrastruktur pendukung seperti teknologi informasi yang memadai dan good governance. Sementara itu, tekanan yang berasal dari krisis global juga perlu diperhitungkan dampaknya terhadap kemampuan perbankan dalam melakukan penilaian terhadap risiko operasional. Untuk meningkatkan kesiapan perbankan di tengah krisis global tersebut, rencana implementasi Basel II yang ditandai dengan kewajiban membentuk capital

charges untuk risiko operasional yang rencananya dimulai
pada tahun 2009 ditunda sampai dengan 2010.

71

Bab 4 Prospek Sistem Keuangan Indonesia

Penundaan tersebut diharapkan tetap membuat perbankan memperhatikan aspek-aspek yang terkait dengan risiko operasional, termasuk memperkuat pelaksanaan fungsi pengendalian intern pada masingmasing bank.

Saat itu, pengawasan bank masih berorientasi pada

compliance-based, tidak risk-based seperti yang sekarang
ini dijalankan. Para pengawas bank dewasa ini diharuskan mengikuti program sertifikasi dan diberi kesempatan yang lebih luas untuk mengikuti training dalam rangka capacity

building . Ke depan, untuk meningkatkan kualitas

4.3. PROSPEK SISTEM KEUANGAN INDONESIA
Prospek sistem keuangan Indonesia ke depan diperkirakan masih tetap positif di tengah-tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan domestik. Beberapa hal yang mendasari perkiraan ini sebagai berikut. Pertama, gejolak keuangan yang terjadi akhir-akhir ini terjadi lebih banyak karena faktor eksternal, sementara perbankan domestik relatif tidak memiliki masalah seberat perbankan di luar negeri. Hal ini sangat berbeda dibandingkan dengan situasi krisis 1997/1998 yang lebih banyak dipicu oleh berbagai kelemahan pada perbankan dalam negeri seperti tingginya NPL serta pelanggaran Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK) dan Posisi Devisa Netto (PDN). Dengan demikian, diperkirakan dampak dari krisis global terhadap sektor keuangan dalam negeri akan sangat terbatas. Kedua, dewasa ini perbankan lebih siap menghadapi krisis dibandingkan kondisi tahun 1997/1998. Kesiapan itu antara lain tercermin pada membaiknya pelaksanaan manajemen risiko dan good governance di perbankan. Dibandingkan satu dawarsa yang lalu, sekarang ini tidak mudah untuk menjadi pengurus dan pemegang saham pengendali bank karena harus lulus Fit and Proper Test. Dengan governance perbankan yang semakin baik, perbankan semakin tahan terhadap gejolak keuangan. Ketiga, otoritas pengawasan bank juga semakin siap menghadapi krisis dibandingkan kondisi tahun 1997/1998.

pengawasan, hasil pengawasan dan pemeriksaan juga akan dibahas dengan panel ahli (expert panel). Prospek positif stabilitas keuangan juga diperkuat oleh telah semakin dipercayanya Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) oleh masyarakat luas. Keberadaan LPS juga sudah semakin teruji dengan penutupan sejumlah Bank Perkreditan Rakyat (BPR) bermasalah serta pengambilalihan 1 bank umum yang dinilai berdampak sistemik pada bulan November 2008. Dalam kenyataannya penutupan BPR maupun pengambilalihan bank umum tersebut sama sekali tidak menimbulkan gejolak di perbankan. Ke depan, upaya memperkuat infrastruktur keuangan tersebut akan semakin mantap apabila rancangan Undang-undang tentang Jaring Pengaman Sektor Keuangan (JPSK) dapat disetujui DPR. Secara keseluruhan, prospek positif stabilitas keuangan tercermin pada Indeks Stabilitas Keuangan (Financial Stability Index - FSI) yang setelah meningkat tajam selama semester II 2008, kemudian mulai menunjukkan penurunan sejak beberapa bulan terakhir. Sebagaimana dikemukakan pada Bab 2, ke depan pada akhir Juni 2009, FSI diperkirakan mencapai sekitar 1,77-2,13, dengan skenario moderat sebesar 1,95 atau relatif lebih rendah dibandingkan posisi akhir Desember 2008 sebesar 2,10. Perkiraan FSI yang relatif akan lebih rendah tersebut memberikan harapan bahwa ketahanan sektor keuangan ke depan masih akan tetap terjaga.

72

Artikel I - Dampak Contagion Risk pada Pasar Modal Indonesia

Artikel

73

Artikel I - Dampak Contagion Risk pada Pasar Modal Indonesia

Halaman ini sengaja dikosongkan

74

Artikel I - Dampak Contagion Risk pada Pasar Modal Indonesia

Artikel I

Dampak Contagion Risk pada Pasar Modal Indonesia
Wimboh Santoso1, Bagus Santoso2, Ita Rulina3, Elis Deriantino4

Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah terdapat contagion risk pada pasar modal Indonesia. Pendekatan yang dipakai adalah Multivariate GARCH/ Dynamic Conditional Correlations (DCC) dan Markov Regime

Switching. Adapun data yang digunakan dalam studi ini adalah data harian indeks saham dari 15 negara yaitu
Indonesia, Australia, Amerika Serikat (Dow Jones dan Nasdaq), Inggris, Jerman, Jepang, Korea, Hong Kong, Cina, Taiwan, India, Filipina, Thailand, Singapura, dan Malaysia, data T-Bill 3 bulan, nilai tukar Rp/USD, suku bunga PUAB dan harga minyak dunia, dengan periode 2 Januari 1995 sampai 13 November 2008. Dengan menggunakan Indonesia sebagai titik referensi, data harian ini dibagi menjadi 4 periode. Hasil estimasi menunjukkan bahwa terdapat contagion antara Indonesia dengan negara-negara lainnya dalam penelitian ini dan Indonesia lebih merupakan shock absorber dan bukan merupakan shock transmitter, terutama untuk negaranegara maju (Jepang, Australia, Jerman, Inggris, dan AS). Key words: Financial Aspect of Economic Integration, International Financial Market, Time Series Model JEL classification: F36, G15, C22

LATAR BELAKANG
Globalisasi keuangan yang menyebabkan terintegrasinya sektor keuangan suatu negara terhadap pasar keuangan global, membuat negara-negara tersebut mengalami eksposur risiko contagion, yaitu krisis yang terjadi di suatu negara dapat menyebar ke negara lain. Devaluasi nilai tukar, default terhadap sovereign obligation

di suatu negara akan berdampak pada negara lainnya. Sebagai contoh, krisis 1997 yang berawal di Thailand akibat devaluasi baht yang diikuti kebijakan pengambangan nilai tukar baht, dengan cepat menyebar ke Indonesia, Malaysia, Korea, Filipina, menyebabkan rata-rata nilai tukar negaranegara tersebut terdepresiasi sekitar 75%. Pada 1998, bangkrutnya pasar obligasi domestik Rusia dan jatuhnya LTCM berimbas pada Hongkong, Brazil dan Mexico dan

1 Kepala Biro Stabilitas Sistem Keuangan, Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan, Bank Indonesia; alamat email: wimboh@bi.go.id 2 Peneliti, Universitas Gadjah Mada, email: bagussantoso@ugm.ac.id 3 Peneliti Senior Biro Stabilitas Sistem Keuangan, Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan, Bank Indonesia, email: rulina@bi.go.id 4 Peneliti Yunior Biro Stabilitas Sistem Keuangan, Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan, Bank Indonesia, email: elis_deriantino@bi.go.id

emerging market lainnya. Yang terakhir adalah krisis subprime mortgage 2007 di AS yang berdampak terutama
pada pasar saham di negara-negara Eropa dan mulai menyebar ke negara-negara lain di dunia.

75

Artikel I - Dampak Contagion Risk pada Pasar Modal Indonesia

Kondisi Indonesia saat ini ditandai dengan semakin derasnya aliran hot money. Kondisi ekonomi AS yang berada diambang resesi sehingga memaksa The Fed menurunkan suku bunganya membuat spread suku bunga antar kedua negara semakin lebar, aset-aset Indonesia menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi dibandingkan AS, sehingga semakin mendorong kuatnya aliran hot

Dimana rt = (r1,t, r2,t,..., rn,t), ai = (a1,i, a2,i,..., an,i), et = (e1,t, e2,t,..., en,t), dan et l Σt-1 ~ N(0, Ht) rt adalah return index saham masing-masing negara dengan n=16 (Indonesia, Singapura, Thailand, Malaysia, Filipina, India, Hongkong, Taiwan, Korea, Jepang, Cina, UK, Jerman, Australia, Dow Jones, dan Nasdaq). Tbill3m adalah Treasury bill √ 3 bulan Amerika Serikat.

money.
Sentimen global negatif berpotensi mendorong terjadinya sudden reversal dalam jumlah yang signifikan yang akan memberikan tekanan ke bawah pada harga aset-aset Indonesia sehingga menurunkan return aset tersebut. Hal ini akan menimbulkan kepanikan bagi investor dalam negeri sehingga ikut melepas saham yang dimilikinya mengikuti investor asing. Akibatnya kejatuhan harga aset yang terjadi semakin dalam. Hal ini juga akan membawa implikasi lain seperti pelemahan nilai tukar rupiah. Oleh karena itu deteksi contagion perlu dilakukan termasuk identifikasi asal contagion tersebut. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat contagion risk pada pasar modal Indonesia sebagaimana digambarkan pada analytical framework berikut:

Multivariate conditional variance dirumuskan sebagai
berikut. H t = Dt Rt D t Dt merupakan matriks diagonal nxn yang elemennya merupakan time varying standard deviation dari model univariat dengan diagonal ke-i dan Rt matriks

time varying correlation nxn.
Dalam model DCC, matriks time varying covariance dituliskan sebagai berikut.

Qt = (1-a-β)Q = aut-1u»t-1 + βQt-1
Qt=(q ij,t) matriks time varying covariance dari u t berukuran nxn, Q = E[ut ut»] matriks unconditional

variance ut berukuran nxn, dan a, β skalar nonnegatif.
Matriks korelasi kemudian dapat dirumuskan dengan:

Rt = (diag(Qt ))1/2 Qt (diag(Qt ))1/2

METODOLOGI PENELITIAN
Untuk menguji apakah terdapat contagion pada pasar modal Indonesia, penelitian ini menggunakan beberapa metode yaitu: 1.

dimana (diag(Qt ))1/2 = diag(1/ q1,t,...1/ qn,t). Model DCC tersebut kemudian diestimasi dengan menggunakan fungsi log likelihood sebagai berikut: » lt (Σ,f ) = - 1 Σ (nlog(2p) + log l Dt l2 + e»tDt2et) + 2 t-1 -1 » - 1 Σ (log l Rt l + u»tRt ut - u»tut) 2 t-1 2. Markov Regime Switching Namun, metode Multivariate GARCH tersebut memiliki kelemahan dalam mendeteksi contagion. Salah satunya dikemukakan oleh Bekaert et al. (2005) yang menyatakan bahwa model GARCH tidak dapat menangkap adanya volatilitas yang tidak simetris dan hal ini dapat mempengaruhi korelasi yang diestimasi

Multivariate GARCH/ Dynamic Conditional Correlations (DCC)
Model GARCH multivariate yang dikemukakan oleh Engle (2002) dapat digunakan untuk mengestimasi

dynamic conditional correlation (DCC). Penelitian ini
menggunakan model multivariate GARCH (1,1) dengan persamaan mean konstanta AR(1) dan tbill3m sebagai world common factor: rt = a0 + ai rt-1 + a2 tbill3m + et

76

Artikel I - Dampak Contagion Risk pada Pasar Modal Indonesia

selama periode krisis. Oleh karena itu digunakan metode regime-switching untuk melakukan deteksi

Dalam keadaan S t tidak dapat diamati secara langsung, diperlukan informasi mengenai sifat stokastik St. Estimasi parameter dilakukan dengan menggunakan metode maximum likelihood.

contagion.
Markov-switching merupakan metode untuk menangkap adanya perubahan sifat stokhastik data time series dengan memodelkan data dalam beberapa persamaan. Keunggulan metode switching regime dibandingkan dengan model GARCH dalam melakukan estimasi adalah kemampuannya dalam mengestimasi data yang memiliki nilai ekstrim yang merupakan indikasi adanya peristiwa yang ekstrim. Metode ini mampu memberikan periode krisis yang secara endogen didefinisikan dalam sistem persamaan. Oleh karena itu, metode switching regime ini dianggap mampu menyelesaikan masalah generasi pertama pengujian contagion yang mensyaratkan bahwa periode krisis dan tranquil didefinisikan terlebih dahulu sebelum pengujian dilakukan. Misalkan return saham dalam suatu pasar memiliki dua keadaan atau state, yaitu tranquil state (St=1) dan volatile state (St=2), untuk menggambarkan perpindahan dari St=1 ke St=2 digunakan prinsip rantai Markov yaitu : Pr (St = j l St-1 = i, St-2 = k,..., yt-1, yt-2,...) = Pr (St = j l 3. 2.

DATA
Data yang digunakan dalam studi ini adalah data harian (berdasarkan 5 hari kerja) indeks saham dari 15 negara: Indonesia, Australia, Amerika Serikat (Dow Jones dan Nasdaq), Inggris, Jerman, Jepang, Korea, Hong Kong, Cina, Taiwan, India, Filipina, Thailand, Singapura, dan Malaysia, data T-Bill 3 bulan, nilai tukar Rp/USD, suku bunga PUAB dan harga minyak dunia, Data harian dimulai dari 2 Januari 1995 sampai 13 November 2008. Dengan menggunakan Indonesia sebagai titik referensi, data harian ini dibagi menjadi 4 periode. Adapun periode-periode tersebut adalah sebagai berikut: 1. Periode Pertama disebut dengan periode sebelum PraKrisis. Krisis Periode ini dimulai dari 2 Januari 1995 sampai 15 Juli 1997. Periode Kedua disebut periode Krisis I Periode ini I. dimulai dari 16 Juli 1997 sampai 29 Desember 2000. Periode Ketiga adalah periode Setelah Krisis Periode Krisis. ini dimulai dari 1 Januari 2001 sampai 14 Agustus 2007. 4. Periode Keempat adalah periode Krisis II Periode ini II. dimulai dari 15 Agustus 2007 sampai 13 November 2008.

St-1 = i ) = pij
Dengan first order Markov-switching, probabilitas transisi (transition probabilities) dapat diformulasikan sebagai berikut.

P=

P11 P12 P21 P22

Salah satu permasalahan dalam studi ini adalah menentukan break pada data harian dan bulanan. Dalam menentukan break, Indonesia merupakan titik referensi atau pusat hubungan dengan negara-negara amatan dalam studi ini, kecuali penentuan break pada estimasi Markov-Switching. Metode estimasi yang digunakan dalam menentukan adanya break pada data harian adalah sebagai berikut:

dimana p11+p12=p21+p22=1 dan

P11 - Pr [St - 1lSt -1- 1] P12 - Pr [St - 2lSt -1- 1] P21 - Pr [St - 1lSt -1- 2] P22 - Pr [St - 2lSt -1- 2]

77

Artikel I - Dampak Contagion Risk pada Pasar Modal Indonesia

Penentuan Periode Kedua sebagai periode Krisis I (16 Juli 1997-29 Desember 2000) dipilih berdasarkan krisis di Indonesia. Break pada periode tersebut dipilih karena

Grafik A1.2 menunjukkan korelasi antara Indonesia dengan negara-negara di Asia (kecuali negara-negara di kawasan Asia Tenggara). Terlihat bahwa Indonesia memiliki korelasi yang relatif rendah untuk negara-negara dalam grafik sampai dengan sebelum Periode Krisis II, kecuali Hong Kong. Indonesia mengalami peningkatan korelasi pada periode Krisis I dengan Hong Kong, yang mengindikasikan adanya contagion antara Indonesia dengan Hong Kong. Periode Krisis II menunjukkan peningkatan korelasi yang cukup signifikan antara

return saham Indonesia menunjukkan volatilitas yang
tinggi. Penentuan break pada Krisis II (15 Agustus 2007-13 November 2008) berdasarkan krisis global. Pada periode itu menunjukkan bahwa indeks harga saham Dow Jones dan Nasdaq mengalami penurunan yang signifikan.

HASIL ESTIMASI DETEKSI CONTAGION
1. Multivariate GARCH/ Dynamic Conditional Correlations (DCC) Grafik A1.1 menunjukkan korelasi antara Indonesia dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Terlihat bahwa korelasi antara Indonesia dengan Thailand lebih rendah dibandingkan dengan korelasi dengan negara lain di kawasan ini pada pertengahan 1997. Namun korelasi ini kemudian meningkat secara signifikan dan mencapai puncaknya pada saat krisis Asia 1998. Hal ini menunjukkan bahwa pada krisis Asia, terdapat contagion antara Indonesia dengan Thailand. Sedangkan pada periode 2007-2008, terdapat peningkatan korelasi yang cukup signifikan antara Indonesia dengan Singapura dan Indonesia dengan Malaysia. Hal ini mengindikasikan bahwa terdapat contagion antara Indonesia dengan kedua negara ini pada Periode Krisis II.
Grafik A1.1 Dynamic Conditional Correlations (DCC) Indonesia dengan Negara-Negara di Asia Tenggara
0,8 0,7 0,6 0,5 0,4 0,3 0,2 0,1 0 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Idn-sin Idn-thai Idn-mly Idn-phl

Indonesia dengan semua negara dalam grafik, kecuali Cina, dengan korelasi yang cukup tinggi antara Indonesia dengan Hong Kong.
Grafik A1.2 Dynamic Conditional Correlations (DCC) Indonesia dengan Negara-Negara di Asia (kecuali Asia Tenggara)
0,8 0,7 0,6 0,5 0,4 0,3 0,2 0,1 0 -0,1 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 R_IND_HK R_IND_TWN R_IND_CHN R_IND_INA R_IND_JPN R_IND_KOR

Grafik A1.3 menggambarkan korelasi antara Indonesia dengan negara-negara maju. Terlihat bahwa Indonesia tidak memiliki korelasi yang tinggi dengan negara-negara dalam grafik. Bahkan pada periode Krisis I, Indonesia memiliki korelasi yang negatif dengan Amerika Serikat (baik untuk Dow Jones Index maupun Nasdaq). Namun pada periode Krisis II, korelasi antara Indonesia dan Australia meningkat secara signifikan. Hal ini mengindikasikan adanya contagion antara Indonesia dengan Australia. Untuk melihat apakah kenaikan korelasi yang diperoleh signifikan, DCC yang diperoleh dari Model 4 dipecah menjadi empat periode, yaitu Periode Sebelum

78

Artikel I - Dampak Contagion Risk pada Pasar Modal Indonesia

Grafik A1.3 Dynamic Conditional Correlations (DCC) Indonesia dengan Negara-Negara Maju
0,7 0,6 0,5 0,4 0,3 0,2 0,1 0 -0,1 -0,2 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 R_IND_UK R_IND_GER R_IND_DOW R_IND_NASDAQ R_IND_AUS

hipotesis alternatif dalam uji ini adalah korelasi pada periode volatilitas tinggi lebih tinggi dibandingkan dengan korelasi pada periode volatilitas rendah (∑i < ∑h). Hasil yang diperoleh berdasarkan Uji Fisher pada tabel A1.1 menunjukkan tidak adanya peningkatan korelasi yang signifikan pada Periode 2 antara return saham Indonesia dengan return saham negara lain. Hal ini berarti pada periode Krisis Asia, tidak ada contagion antara Indonesia dengan negara-negara dalam penelitian ini. Untuk Periode 3, hasil estimasi dengan DCC

Krisis, Krisis I, Setelah Krisis, dan Krisis II. Dari seri korelasi yang diperoleh tersebut kemudian diperoleh nilai rata-rata korelasi untuk keempat periode. Nilai korelasi yang diperoleh ini kemudian diuji dengan menggunakan Uji Fisher. Adanya peningkatan korelasi pada pengujian ini mengindikasikan adanya contagion antara Indonesia dengan negara lain. Null hypothesis dalam uji ini adalah tidak ada perbedaan korelasi antara periode volatilitas rendah dengan periode volatilitas tinggi (∑i = ∑h). Sedangkan

menunjukkan adanya peningkatan korelasi yang signifikan antara Indonesia dengan Jepang dan India pada tingkat signifikansi 5 persen, serta antara Indonesia dengan Korea dan Taiwan pada tingkat signifikansi 1 persen. Hal ini berarti terdapat contagion di Indonesia yang berasal dari negara-negara tersebut. Sedangkan untuk Periode 4, peningkatan korelasi yang signifikan terjadi di hampir di semua negara, kecuali korelasi antara Indonesia dengan Filipina, Jerman, Dow Jones, dan Nasdaq.

Tabel A1.1 Deteksi Contagion dengan Dynamic Conditional Correlation (DCC)-Return Saham harian
P1 IDN - CHN IDN - HK IDN - JPN IDN - KOR IDN - TWN IDN - PHIL IDN - SIN IDN - MLY IDN - THAI IDN - AUS IDN - UK IDN - GER IDN - INA IDN - DOW IDN - NASDAQ
Keterangan: P1: P2: P3: P4: ***: **: *:

P2 0,01949 0,36340 0,21825 0,16979 0,16031 0,32417 0,40541 0,26867 0,33702 0,27669 0,15270 0,18358 0,13356 0,03421 0,00406

P3 0,06040 0,35565 0,27484 0,29427 0,26543 0,25437 0,37972 0,27986 0,30109 0,30222 0,16984 0,15692 0,27282 0,05611 0,04681

P4 0,21785 0,62349 0,44552 0,47997 0,44685 0,37696 0,54769 0,52233 0,44945 0,55227 0,31572 0,26901 0,47507 0,12253 0,11701

Z-Stat P2 0,18315 0,59024 -0,29805 -0,40707 -0,47405 0,77732 0,44598 1,45414 -0,18549 0,24430 0,49313 0,04146 0,84920 0,75542 1,09522

Z-Stat P3 -0,69170 0,85513 -1,65232 ** -3,33905 *** -2,94255 *** 2,53743 1,16358 1,36211 0,66773 -0,33648 0,16669 0,64712 -2,23446 ** 0,36499 0,28916

Z-Stat P4 -2,77582 -4,60957 -3,92898 -5,36774 -4,94937 -0,29511 -2,33810 -3,31258 -2,05835 -4,68655 -2,13033 -1,26861 -4,88472 -0,72521 -0,82877 *** *** *** *** *** *** *** ** *** ** ***

0,02885 0,38930 0,20369 0,14951 0,13661 0,35927 0,42429 0,33618 0,32858 0,28818 0,17723 0,18563 0,17594 0,07272 0,05999

Korelasi Periode 1 (Januari 1995 - Juli 1997) Korelasi Periode 2 (Agustus 1997 - Desember 2000) Korelasi Periode 3 (1 Januari 2001 - 14 Agustus 2007) Korelasi Periode 4 (15 Agustus - 13 November 2008) Signifikan untuk a=1% Signifikan untuk a=5% Signifikan untuk a=10%

79

Artikel I - Dampak Contagion Risk pada Pasar Modal Indonesia

2.

Markov√Switching Regime Estimation Method Pada penelitian ini, metode switching regime

Persamaan

Markov-switching

di

atas,

mengasumsikan bahwa arah contagion terjadi dari negaranegara yang diestimasi ke Indonesia. Variabel independen dalam persamaan mean di atas diperoleh berdasarkan hasil estimasi dengan menggunakan metode Autoregressive

diestimasi dengan menggunakan persamaan GARCH (1,1) dengan persamaan mean dan variansi sebagai berikut: ridn,t = ac,St + a1,St ridn,t-1 + a2,St idn_exe_dlog + a3,St idn_int +

a4,St tbill3m + a5,St oil_dlog + a6,St rm,t + eSt,t eSt,t ~ N(0, s
2

Distributed Lag (ADL) untuk melihat variabel-variabel
keuangan dan ekonomi apakah yang berpengaruh terhadap return saham Indonesia. Dalam penelitian ini dilakukan estimasi dengan

St,t

)

s2St,t = VASt + VBSt e2St,t-1 + VCSt s2St,t-1 Keterangan: ridn,t: return saham Indonesia rm,t: return saham negara lain idn_exe_dlog: rate of depreciation nilai tukar Indonesia idn_int: interest rate Indonesia (PUAB) tbill3m: T-Bill 3 bulan oil_dlog: perubahan harga minyak e : error s2 : variansi St: regime 1 (non krisis) dan regime 2 (krisis)

membagi state menjadi dua regime, yaitu Regime Krisis dan Non-Krisis berdasarkan persistensi dan unconditional

variance yang diperoleh dari conditional variance .
Persistensi yang lebih rendah antara kedua state dikategorikan sebagai Regime 1 (non krisis), sedangkan persistensi yang lebih tinggi dikategorikan sebagai Regime 2 (krisis). Contagion dikatakan terjadi antara Indonesia dengan negara lain apabila terjadi peningkatan signifikan koefisien return negara lain (a6) dari Regime 1 ke Regime 2. Tabel A1.2 memperlihatkan bahwa nilai koefisien a6

Tabel A1.2 Markov Switching Mean Equation a0
IDN - CHN IDN - HK IDN - JPN IDN - KOR IDN - TWN IDN - PHIL IDN - SIN IDN - MLY IDN - THAI IDN - AUS IDN - UK regime 1 regime 2 regime 1 regime 2 regime 1 regime 2 regime 1 regime 2 regime 1 regime 2 regime 1 regime 2 regime 1 regime 2 regime 1 regime 2 regime 1 regime 2 regime 1 regime 2 regime 1 regime 2 0,004 *** -0,006 *** 0,003 *** -0,001 0,003 *** -0,002 0,003 *** -0,004 ** 0,003 *** -0,004 ** 0,004 *** -0,005 *** 0,003 *** -0,001 0,003 *** -0,002 * 0,003 *** -0,004 ** 0,003 *** -0,004 ** 0,003 *** -0,002

a1
0,010 0,714 *** 0,053 ** 0,159 *** 0,002 0,658 *** -0,004 0,484 *** 0,006 0,538 *** -0,010 0,442 *** -0,002 0,243 *** -0,015 0,297 *** 0,009 0,357 *** 0,009 0,357 *** 0,014 0,522 ***

a2
-0,142 -0,696 -0,068 -0,518 -0,132 -0,622 -0,120 -0,614 -0,128 -0,640 -0,116 -0,562 -0,040 -0,415 -0,104 -0,500 -0,127 -0,474 -0,127 -0,474 -0,135 -0,608 *** *** *** *** *** *** *** *** *** *** *** *** ** *** *** *** *** *** *** *** *** ***

a3
-0,014 0,035 -0,009 0,005 -0,010 -0,002 0,014 0,026 -0,014 0,029 -0,013 0,021 -0,012 0,008 -0,014 0,015 -0,011 0,008 -0,011 0,008 -0,016 0,045 *** *** *** *** *** *** *** *** *** *** *** *** ** *** *** *** ***

a4
-0,019 0,017 -0,027 ** 0,035 0,015 0,036 -0,015 0,016 -0,013 -0,001 -0,020 0,033 -0,015 0,007 -0,018 0,020 -0,019 0,065 * -0,019 0,065 * -0,004 -0,080 **

a5
0,005 0,054 * 0,001 0,055 ** 0,003 0,046 -0,001 0,050 * 0,006 0,046 0,003 0,021 -0,006 0,045 *** -0,008 0,051 ** -0,002 0,047 * -0,002 0,047 * 0,015 -0,018

a6
0,011 0,152 *** 0,174 *** 0,616 *** 0,137 *** 0,393 *** 0,090 *** 0,334 *** 0,059 *** 0,451 *** 0,119 *** 0,549 *** 0,194 *** 0,686 *** 0,112 *** 0,672 *** 0,085 *** 0,603 *** 0,085 *** 0,603 *** 0,050 *** 0,754 ***

80

Artikel I - Dampak Contagion Risk pada Pasar Modal Indonesia

Tabel A1.2 Markov Switching Mean Equation (lanjutan) a0
IDN - GER IDN - INA IDN - DOW IDN - NASDAQ regime 1 regime 2 regime 1 regime 2 regime 1 regime 2 regime 1 regime 2 0,003 *** -0,002 0,003 *** -0,004 ** 0,003 *** -0,004 ** 0,003 *** -0,004 **

a1
0,014 0,522 *** 0,004 0,387 *** 0,000 0,796 *** 0,000 0,800 ***

a2
-0,135 -0,608 -0,122 -0,582 -0,142 -0,650 -0,141 -0,651 *** *** *** *** *** *** *** ***

a3
-0,016 0,045 -0,015 0,029 -0,012 0,007 -0,012 0,007 *** *** *** *** *** ***

a4
-0,004 -0,080 ** -0,015 0,008 -0,020 * 0,042 -0,020 0,043

a5
0,015 -0,018 0,001 0,053 ** 0,006 0,042 0,006 0,043

a6
0,050 *** 0,754 *** 0,056 *** 0,437 *** 0,042 ** 0,051 0,034 *** 0,020

signifikan dan mengalami peningkatan pada Regime 2 untuk semua negara, kecuali Amerika Serikat (baik untuk Dow Jones maupun Nasdaq). Berdasarkan analisis dengan metode MarkovSwitching diperoleh kesimpulan bahwa contagion terjadi antara Indonesia dengan hampir semua negara yang diteliti, kecuali dengan Amerika Serikat (Dow Jones dan Nasdaq).

Conditional Correlation-Multivariate GARCH) dan MarkovSwitching. Kedua uji ini merupakan pengujian contagion tanpa memperhitungkan negara yang menjadi awal krisis. Markov-Switching melakukan pengujian adanya contagion tanpa memberikan terlebih dahulu periodisasi krisis. Metode ini merupakan salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan dalam pengujian contagion yang mensyaratkan adanya titik krisis dan non-krisis yang ditetapkan secara arbitrary.

KESIMPULAN
Tabel A1.3 merupakan rangkuman hasil estimasi dengan menggunakan metode DCC-MG (Dynamic
Tabel A1.3 Kesimpulan Hasil Pengujian Deteksi Contagion (1) DCC/Multivariate GARCH P2
IDN-MLY IDN-SIN IDN-THA IDN-PHI IDN-JPN IDN-TWN IDN-HK IDN-CHN IDN-KOR IDN-INA IDN-AUS IDN-GER IDN-UK IDN-US(DJ) IDN-US(NQ)
Keterangan:

Tabel tersebut menunjukkan bahwa terdapat

contagion antara Indonesia dengan negara-negara lainnya
dalam penelitian ini. Contagion terutama terjadi antara Indonesia dengan negara-negara Asia Timur, seperti Jepang, Taiwan, dan Korea. Terdapat pula contagion antara Indonesia dengan India. Selain itu, perilaku pasar saham

P3

P4
√*** √*** √***

Markov-Regime Switching
√*** √*** √*** √*** √*** √*** √*** √*** √*** √*** √*** √*** √***

di Indonesia pun tidak jauh berbeda dengan pasar saham India. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh banyaknya investor asing yang berinvestasi baik di India dan Indonesia. Indonesia dan India memiliki kondisi fundamental dan kondisi sosial yang mirip, sehingga investor menggunakan India sebagai sinyal bagi kondisi pasar di Indonesia, dan sebaliknya menggunakan Indonesia sebagai sinyal bagi kondisi pasar di India. Hal ini menunjukkan adanya wake-

√*** √***

√*** √***

√*** √*** √*** √*** √*** √*** √*** √***

up call hypothesis.
Hasil estimasi juga menunjukkan bahwa tidak ada

contagion antara Indonesia dan Amerika Serikat, baik
***: Signifikan untuk α=1% (critical value: -2,32) **: Signifikan untuk α=5% (critical value: -1,64) *: Signifikan untuk α=10% (critical value: -1,28) Tanda √ menunjukkan bahwa terdapat contagion antara kedua negara.

untuk estimasi dengan menggunakan indeks Dow Jones maupun dengan indeks Nasdaq. Oleh karena itu, apabila

81

Artikel I - Dampak Contagion Risk pada Pasar Modal Indonesia

Indonesia terpengaruh krisis global yang terjadi saat ini, yang berawal dari krisis sub-prime mortgage di Amerika Serikat, pengaruh ini bukan merupakan pengaruh langsung dari pasar Amerika Serikat, melainkan merupakan pengaruh terusan dari pasar-pasar modal di Asia yang memiliki hubungan langsung dengan pasar modal Amerika Serikat. Tabel A1.4 menunjukkan bahwa Indonesia memiliki hubungan contagion dengan negara-negara di kawasan

Asia, seperti Jepang, Taiwan, Korea, Hongkong, dan India. Hubungan contagion ini merupakan hubungan dua arah, dalam artian Indonesia mempengaruhi negara lain dan negara lain pun memiliki pengaruh terhadap Indonesia. Namun berdasarkan uji deteksi error, dapat dilihat bahwa Indonesia lebih merupakan shock absorber dan bukan merupakan shock transmitter terutama untuk negara-negara maju (Jepang, Australia, Jerman, Inggris, dan AS).

Tabel A1.4 Kesimpulan Hasil Pengujian Deteksi Contagion (2)
Data Harian √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ ^^^ ^^^ ^^^ ^^^ ^^^ ^^^ ^^^ ^ ^^^ ^^^ ^ ^ ^ ^ ^ Data Bulanan √ √ √ √ √ √ √ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^^^ √ √ √ √ √ ^ ^ ^ ^ ^ Data Harian P2 P3 √ √ √ √ √ √ √ √ ^ ^^^ ^^^ ^^^ ^^^ ^^^ ^ √ √ √ √ √ √ P4 ^ ^ ^ ^^^ ^^^ ^^^ ^^^ √ ^^^ √ √ √ √ √ √ √ ^ ^^^ ^^^ ^^^ ^^^ ^^^ ^^ P2 Data Bulanan P3*

Negara IDN-MLY IDN-SIN IDN-THA IDN-PHI IDN-JPN IDN-TWN IDN-HK IDN-CHN IDN-KOR IDN-INA IDN-AUS IDN-GER IDN-UK IDN-US(DJ) IDN-US-(NQ)
Keterangan:

√ √

^^^ ^^^

P2 : Periode 2 (data harian: 16 Juli 1997 - 29 Desember 2000; data bulanan Agustus 1997-Desember 2000) P3 : Periode 3 (data harian: 1 Januari 2001 - 14 Agustus 2007; data bulanan Januari 2000-September 2008) P4 : Periode 4 (15 Agustus - 13 November 2008) ^^^ : Hubungan contagion dua arah ^^ : Hubungan contagion dengan Indonesia sebagai asal shock ^ : Hubungan contagion dengan negara lain sebagai asal shock Tanda √ menunjukkan bahwa terdapat contagion antara kedua negara Tingkat signifikansi yang digunakan adalah 5% dan 1%

82

Artikel I - Dampak Contagion Risk pada Pasar Modal Indonesia

Daftar Pustaka

Agenor, Aizenman, dan Hoffmaister. 2008. ≈External Shocks, Bank Lending Spreads, External Shocks,Bank Lending Spreads, and Output Fluctuations∆, Review

Collins dan Gavron, 2004. ≈Channels of Financial Market Contagion∆, Applied Economics, 36:21, 2461- 2469. Collins dan Gavron. 2005. ≈Measuring Equity Market Contagion in Multiple Financial Events∆, Applied

of International Economics,16:1, 1-20.
Arestis, et al. 2005. ≈Testing for Financial Contagion between Developed and Emerging Markets during the 1997 East Asian Crisis∆, International Journal of

Financial Economics, 15:8, 531-538.
Dornbusch, Park, dan Claessens. 2000. ≈Contagion: How It Spreads and How It Can be Stopped∆, Forthcoming

Finance and Economics, 10, 359-367.
Caporale, Cipollini, dan Spagnolo. 2005. ≈Testing for Contagion: a Conditional Correlation Analysis∆,

World Bank Research Observer.
Duggar dan Mitra. 2007. ≈External Linkages and Contagion Risk in Irish Bank∆, IMF Working Paper. Engle, G. 2000. ≈Dynamic Conditional Correlation √ A Simple Class of Multivariate GARCH Models∆, UCSD

Journal of Empirical Finance, 12, 476-489.
Caramazza, Ricci, dan Salgado. 2004. ≈International Financial Contagion in Currency Crisis∆, Journal of

Economics Discussion Paper, 2000-9.
Essaadi, Jouini, dan Khallouli. 2007. ≈The Asian Crisis Contagion: A Dynamic Correlation Approach Analysis∆, Documents De Travail-Working Papers, 0725. Forbes dan Rigobon. 2000. ≈Contagion in Latin America: Definition, Measurement and Policy Implication∆,

International Money and Finance, 23, 51-70.
Cartapanis, Dropsy, dan Mametz. 2002. ≈The Asian Currency Crises: Vulnerability, Contagion, or Unsustainability∆, Review∆of International Economics, 10(1), 79-91. Castiglionesi. 2007. ≈Financial Contagion and the Role of the Central Bank∆, Journal of Banking and Finance, 31, 81-101. Chiang, Bang Nam Jeon, dan Huimin Li. 2007. ≈Dynamic Correlation Analysis Of Financial Contagion: Evidence From Asian Markets∆, Journal of International Money

NBER Working Paper Series, 7885.
Hatemi-J dan Hacker. 2005. ternative Method to Test for Contagion with an Application to the Asian Financial Crisis∆, Applied Financial Economics Letters, 1:6, 343347. Horta, Mendes, dan Vieira. 2008. Contagion Effects of the U.S Subprime Crisis on Developed Countries∆,

and Finance, 26, 1206-1228.
Chu-Sheng Tai. 2004. ≈Contagion: Evidence from International Banking Industry∆, Journal of

CEFAGE-UE Working Paper, 08.
Luo dan Tang. 2007. ≈Capital Openness and Financial Crises: A Financial Contagion Model with Multiple Equilibria∆, Journal of Economic Policy Reform, 10:4, 283-296.

Multinational Financial Management, 14, 353-368.
Cifuentes, Ferrucci, dan Shin. 2005. ≈Liquidity Risk and Contagion∆, Journal of the European Economic

Association, 3(2-3), 556-566.

83

Artikel I - Dampak Contagion Risk pada Pasar Modal Indonesia

Marais dan Bates. 2006. ≈An Empirical Study to Identify Shift Contagion during the Asian Crisis∆, International

Suliman. 2005. ≈Interest Rate Volatility, Exchange Rates, and External Contagion∆, Applied Financial

Financial Markets Institutions and Money, 16, 468479. Marongiu. 2005. ≈Towards a New Set of Leading Indicators of Currency Crisis for Developing Countries: an Application to Argentina∆. Rodriguez. 2007. ≈Measuring Financial Contagion: A Copula Approach∆, Journal of Empirical Finance,14, 401-423. Sojli. 2007. ≈Contagion in Emerging Markets: the Russian Crisis∆, Applied Financial Economics, 17:3, 197-213. Sriananthakumar dan Silvapulle. 2008. ≈Multivariate Conditional Heteroscedasticity Models with Dynamic Correlations for Testing Contagion∆, Applied Financial

Economics, 15:12, 883-894.
Van Horen, Jager, dan Klaassen. 2006. ≈Foreign Exchange Market Contagion in the Asian Crisis: A RegressionBased Approach∆. Walti. 2003. ≈Contagion and Interdependence among Central European Economies: the Impact of≈Common External Shocks∆, HEI Working Paper, 02. Yang dan Lim. 2004. ≈Crisis, Contagion, and East Asian Stock Markets∆, Review of Pacific Basin Financial

Markets and Policies, 7:1, 119-151.
Yoon. 2005. ≈Correlation Coefficients, Heteroskedasticity and Contagion of Financial Crises∆, The Manchester

Economics, 18:4, 267-273.

School, 73:1, 92-100.

84

Artikel II - Corporate Balance Sheet Modelling: Determinants of Indonesian Corporate Debt

Artikel II

Corporate Balance Sheet Modelling: Determinants of Indonesian Corporate Debt
Wimboh Santoso1, Viverita2, Ardiansyah3, Reska Prasetya4, Heny Sulistyaningsih5

Penelitian ini bertujuan untuk menguji faktor-faktor yang mempengaruhi hutang perusahaan Indonesia yang pada gilirannya akan mempengaruhi keputusan pembiayaan dan investasi perusahaan tersebut. Model yang digunakan merupakan pengembangan dari model Gibbard dan Stevens (2006) yang dikombinasikan dengan pendekatan tradisional struktur modal trade-off theory dan pecking order theory. Penelitian ini akan memodelkan corporate leverage dengan mengkombinasikan hutang, equity issuance serta model investasi dan mengaplikasikan Generalized Moment of Method (GMM) dengan panel data dari 218 perusahaan yag sudah go public. Hasil estimasi menunjukkan bahwa penentuan level hutang korporasi di Indonesia dipengaruhi oleh default probability effect, sehingga membutuhkan penilaian yang hati-hati dalam penentuan sumber pendanaan. Diketahui pula bahwa aktivitas Investasi, akuisisi serta ketersediaan kas akan mempengaruhi tingkat hutang korporasi. Selanjutnya, hasil estimasi juga menggambarkan bahwa teori pecking order berkontribusi signifikan terhadap model neraca korporasi. Keywords : Corporate debt; balance sheet; capital structure; speed of adjustment JEL Classification: C51;C33;N65

1. PENDAHULUAN
Meningkatnya volatilitas di pasar komoditas dan pasar uang internasional serta melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia berimbas kepada perlambatan
1 Kepala Biro Stabilitas Sistem Keuangan, Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan, Bank Indonesia; alamat email: wimboh@bi.go.id 2 Peneliti Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia, e-mail address: viverita@gmail.com 3 Peneliti Eksekutif, Biro Stabilitas Sistem Keuangan, Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan; alamat email: ardian@bi.go.id 4 Peneliti Yunior, Biro Stabilitas Sistem Keuangan, Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan; alamat email: reska@bi.go.id 5 Peneliti Yunior, Biro Stabilitas Sistem Keuangan, Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan; alamat email: heny_s@bi.go.id

pertumbuhan ekonomi nasional. Kondisi ini secara tidak langsung berpotensi menurunkan kinerja keuangan sektor korporasi. Melemahnya daya beli konsumen menyebabkan tingkat penjualan korporasi menurun sehingga pendapatan korporasi juga menurun. Penurunan pendapatan yang tidak diiringi dengan penurunan biaya operasional maupun biaya produksi menyebabkan korporasi membutuhkan pinjaman dari pihak ketiga, baik berupa hutang kepada perbankan atau pembiayaan non bank lainnya. Semakin

85

Artikel II - Corporate Balance Sheet Modelling: Determinants of Indonesian Corporate Debt

besar hutang korporasi semakin besar eksposur korporasi terhadap sistem keuangan. Peningkatan jumlah hutang yang diiringi penurunan pendapatan lebih lanjut berpotensi menurunkan kemampuan membayar korporasi. Disisi lain, penurunan pendapatan berpotensi menurunkan kemampuan membayar korporasi terhadap kewajibannya kepada pihak ketiga sehingga dapat menjadi sumber instabilitas sistem keuangan. Terdapat beberapa alasan suatu perusahaan menerbitkan hutang sebagai sumber pembiayaan usahanya. Menurut Jensen (1986), hutang merupakan cara yang efisien untuk mengurangi biaya-biaya yang terkait dengan penerbitan saham sedangkan Klaus dan Litzenberger berpendapat bahwa hutang dapat mengoptimalkan struktur permodalan korporasi melalui keuntungan pajak. Ross (2008) dan Leldan & Pyle (1977) berpendapat bahwa hutang merupakan poin yang penting dari nilai suatu perusahaan. Raviv (1991) menemukan bahwa peningkatan leverage sejalan dengan peningkatan hutang, non-debt tax shield, kesempatan investasi. Sebaliknya, penurunan leverage sejalan dengan peningkatan volatilitas, advertising

mempengaruhi optimal level of debt dari suatu perusahaan dengan menggunakan teori pecking order dan teori trade-

off.

2. TINJAUAN PUSTAKA
Menurut Modigliani dan Miller (1963), korporasi cenderung akan menjaga kapasitas cadangan hutang dalam kondisi pasar yang sempurna. Oleh karena itu, fasilitas pinjaman yang akan diterima perusahaan akan berkurang seiring dengan meningkatnya pinjaman yang telah diterima oleh perusahaan tersebut. Sementara itu, Farrar dan Selwyn (1967) yang berpendapat sama dengan Stiglitz (1972) menyatakan bahwa perbedaan dari pajak

personal income yang dikenakan pada penambahan modal
dan pendapatan tetap mengurangi keyakinan pada teori yang menyatakan bahwa keuntungan pajak dari fasilitas pinjaman akan berdampak pada penolakan penggunaan fasilitas pinjaman sebagai modal. Di sisi lain, literatur mengenai credit rationing menjelaskan sudut pandang kreditur dan perbankan tentang alasan korporasi membatasi jumlah pinjamannya. Jaffe (1971) menggambarkan bahwa ketidakinginan seorang manajer untuk mendapatkan pinjaman disebabkan mereka ingin menjaga posisi dan kesejahteraan mereka. Faktor lain yang dianggap mempengaruhi penggunaan pinjaman adalah besarnya biaya yang dicadangkan apabila terjadi kebangkrutan atau apabila kondisi keuangan sedang buruk (Warner, 1976 dan Robichek dan Myers, 1966). Menurut teori, sebuah perusahaan akan melakukan investasi apabila mempunyai cash. Oleh karena itu, keputusan untuk menggunakan sumber pembiayaan dari internal maupun eksternal tidak hanya bergantung pada waktu berinvestasi, namun juga pada ketersediaan kesempatan investasi. Keputusan untuk tidak menerbitkan saham dan tidak menggunakan kesempatan berinvestasi akan berakibat pada ketidaktepatan pengalokasian dana yang nantinya akan menurunkan nilai perusahaan tersebut

expenditure, default probability dan keunikan dari suatu
produk. Oleh karena itu, optimal debt ratio ditentukan dengan mempertimbangkan keuntungan dan biaya yang dikeluarkan untuk menerbitkan hutang (Frydenberg, 2004). Sampai dengan Juni 2008, perbankan berkontribusi memberikan pembiayaan ke perusahaan berupa kredit modal kerja dan kredit investasi sebesar 71% dari total kredit perbankan. Hal ini mengindikasikan bahwa eksposur terbesar dari perbankan dan institusi keuangan lainnya adalah korporasi Indonesia. Oleh karena itu, sangatlah penting untuk membuat suatu model yang dapat menentukan neraca korporasi Indonesia dengan meneliti peran dari optimal debt dalam mengambil keputusan pembiayaan dan investasi. Penelitian ini bertujuan untuk membangun model neraca korporasi dengan meneliti struktur hutang dan juga faktor-faktor yang

86

Artikel II - Corporate Balance Sheet Modelling: Determinants of Indonesian Corporate Debt

atau dikenal dengan financing trap (Myers dan Majluf, 1984). Berdasarkan perkembangan ini, perusahaan cenderung akan menggunakan hutang sebagai sumber eksternal saat pemegang saham yang ada tergolong sebagai passive investors. Dampaknya, perusahaan yang mempunyai kelonggaran pembiayaan yang cukup besar cenderung akan mengambil kesempatan investasi yang ada. Jensen (1986) berpendapat bahwa sebuah perusahaan yang lebih memilih untuk menerbitkan dan mempergunakan hutang sebagai sumber pembiayaan akan menguntungkan tidak hanya bagi manajer dalam kaitannya dengan hak untuk menunda pemberian future

perusahaan dalam memilih sumber internal sebagai sumber pembiayaan daripada menggunakan hutang. Namun, apabila sumber eksternal sangat dibutuhkan, hutang lebih baik dibandingkan dengan equity (Myers dan Majluf, 1984). Teori ini lebih fokus pada bagaimana cara mengatur perusahaan agar mencapai keseimbangan antara ekonomi dengan stabilitas keuangan. Teori ini dapat dijelaskan sebagai berikut (1) pembiayaan dari internal (modal yang ditahan) digunakan karena dinilai lebih aman dibandingkan dengan hutang yang memiliki default risk, (2) menerbitkan surat hutang sebagai sumber pembiayaan paling aman apabila pembiayaan dari eksternal tidak dapat dihindari lagi. Dalam teori ini pula, menerbitkan saham sebagai sumber pembiayaan merupakan pilihan pembiayaan yang kurang tepat mengingat nantinya tetap akan dibutukan pembiayaan dari sumber lain. Oleh karena itu, kondisi tersebut dapat menciptakan gap antara

dividends, namun juga memberikan hak bagi pemilik
perusahaan untuk mengambil legal action saat terjadi

default. Adanya kenaikan penggunaan hutang akan
meningkatkan leverage dari suatu perusahaan maupun

agency dan bankruptcy cost.
Terdapat 2 (dua) teori yang umum digunakan untuk menjelaskan struktur hutang korporasi yaitu teori trade

corporate expenses dan free cash flow yang membutuhkan
pembiayaan dari hutang (financing gap). Berdasarkan teori ini, perubahan dari hutang harus sama dengan financing

off dan teori pecking order. Teori trade off mengenai
struktur permodalan menjelaskan bahwa tingkat hutang korporasi bisa dijelaskan dengan keseimbangan antara biaya dan keuntungan dari penggunaan hutang sebagai sumber pembiayaan, dengan biaya kebangkrutan sebagai biaya hutang dan pengurangan pajak sebagai keuntungan dari penggunaan hutang. Hal ini menjelaskan adanya trade

gap. Studi lain yang dilakukan oleh Shyam-sunder dan
Myers (1999) mempergunakan debt ratio sebagai proxy untuk optimal level of debt dengan asumsi target level of

debt konstan.
Gibbard dan Stevens (2006) meneliti faktor-faktor penentu hutang korporasi di UK, US, Perancis, dan Jerman. Studi ini menjelaskan peran hutang korporasi dengan menghitung investasi dan penerbitan equity. Dengan menggunakan persamaan, ditemukan bahwa variabel

off antara keuntungan pajak dan biaya karena adanya
tekanan keuangan. Teori ini fokus pada keseimbangan antara keuntungan dari hutang dan tingginya biaya penggunaannya serta kesempatan dari tekanan keuangan. Selain itu, teori ini juga menjelaskan keterkaitan antara hutang dan risiko gagal bayar maupun hutang dan kesempatan pertumbuhan.

pecking order terutama cash flow dan akuisisi mempunyai
pengaruh yang signifikan terhadap corporate debt level. Studi ini juga menemukan bahwa hutang memiliki korelasi yang positif dengan kebutuhan pembiayaan perusahaan, sementara level optimal hutang korporasi berkorelasi negatif dengan market to book ratio. Selanjutnya,

The pecking order theory menyatakan mengenai
strategi pembiayaan jangka panjang dari perusahaan dan penggunaan sumber internal sebagai suatu pilihan pembiayaan. Secara umum, teori ini menjelaskan prioritas

procyclicality hutang merupakan efek dari procyclicality gap pembiayaan. Temuan lain menggambarkan bahwa

87

Artikel II - Corporate Balance Sheet Modelling: Determinants of Indonesian Corporate Debt

pertumbuhan hutang korporasi pada saat ekonomi membaik tidak dapat dijelaskan oleh kenaikan hutang optimal namun dijelaskan oleh gap pembiayaan. Sementara itu, Welch (2002) menyarankan bahwa struktur modal korporasi ditentukan dari return saham (misalnya, nilai equity, perkiraan nilai equity saat ini dan debt equity

Wanzenried (2002) meneliti pengaruh dari faktor-faktor tertentu di perusahaan dan faktor makroekonomi terhadap speed of adjustment untuk target leverage 90 perusahaan di Swiss. Penelitian ini menemukan bahwa makin tinggi tingkat pertumbuhan suatu perusahaan dan makin jauh dari tingkat optimal debt akan makin cepat mencapai target leverage. Selain itu, ditemukan juga bahwa tangibility dan besar kecilnya perusahaan tidak mempunyai hubungan yang positif dengan leverage. Sebaliknya, profitability mempunyai hubungan yang negatif terhadap leverage. Tingginya pertumbuhan perusahaan (market to book ratio) mempunyai leverage yang lebih rendah dibandingkan dengan perusahaan yang memiliki market to book ratio yang rendah. Historis dari

ratio). Oleh sebab itu, faktor penentu utama dari struktur
permodalan adalah pengaruh eksternal daripada struktur internal. Di satu sisi, Welch (2004) menemukan bahwa 40% perubahan di struktur hutang korporasi kemungkinan besar karena pendapatan dari saham. Sementara itu, penerbitan hutang jangka panjang mempengaruhi 30% dari perubahan debt level. Fama dan French (2002) memperkenalkan two-step

regression untuk menentukan level optimal dari hutang
dengan menggabungkan Teori Trade off dan Teori pecking

market to book value digunakan oleh Hovakimian (2003)
untuk meneliti pengaruh dari faktor ini terhadap keputusan investasi dan pembiayaan. Hasilnya ditemukan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan terhadap keputusan investasi dan pembiayaan. Hal ini menunjukkan bahwa current market to book value terhadap hutang gagal menggambarkan kesempatan pertumbuhan suatu perusahaan.

order dan menemukan 4 (empat) faktor penentu yaitu (1) profitability, (2) investment opportunity, (3) ukuran
perusahaan (dilihat dari total aset) dan (4) target dividend

payout . Hasil penelitian ini menunjukkan adanya
perbedaan dan hasil yang bertolak belakang dari aplikasi ke-2 teori tersebut. Contohnya, saat mengaplikasikan teori

trade off, ditemukan bahwa perusahaan dengan investasi
yang besar memiliki hutang yang kecil. Sebaliknya, teori

3. METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini menggabungkan teori trade off dan teori pecking order untuk membangun neraca korporasi di Indonesia. Teori pecking order menyatakan bahwa penggunaan sumber internal merupakan sumber pembiayaan yang lebih utama dibandingkan dengan penerbitan saham. Teori ini berpendapat bahwa penerbitan saham akan dianggap sebagai sentimen negatif oleh investor. Sementara itu, teori trade off mengajukan konsep

pecking order menunjukkan bahwa terdapat hubungan
yang negatif antara expected investment dan book

leverage. Selain itu, terdapat hubungan yang positif antara leverage dan besarnya perusahaan maupun antara dividen payout dengan besarnya perusahaan. Hal ini
mengindikasikan bahwa perusahaan dengan pendapatan yang cukup besar memiliki pengaruh yang signifikan terhadap struktur permodalan. Tsiplakov (2007) menggunakan model dinamis dari

proxy tingkat optimal hutang dengan membandingkan
keuntungan marginal dengan biaya marginal dari penggunaan hutang. Berdasarkan tujuan penelitian ini, selanjutnya akan disusun neraca korporasi Indonesia dengan menggunakan model penelitian empiris mengenai

optimal capital structure dan menemukan adanya
hubungan yang kuat antara pendapatan dari saham perusahaan dan perubahan debt level. Penemuan ini mendukung Welch (2004). Sementara itu, Drobetz dan

88

Artikel II - Corporate Balance Sheet Modelling: Determinants of Indonesian Corporate Debt

struktur permodalan, seperti yang pernah dilakukan oleh Gibbard dan Stevens (2006). Terdapat perbedaan sudut pandang dalam melihat perubahan posisi hutang apabila didasarkan pada 2 (dua) teori tersebut. Teori pecking order berpendapat bahwa perubahan posisi hutang bergantung pada financing gap yaitu gap antara pengeluaran korporasi (investasi & akuisisi) dengan sumber pembiayaan yang berupa cash. Untuk mengatasi keterbatasan cash , perusahaan akan menggunakan hutang sebagai sumber utama dari pembiayaan eksternal. Di satu sisi, teori trade off berpendapat bahwa perubahan posisi hutang adalah perbedaan antara tingkat optimal hutang dengan hutang aktual. Gambar A2.1 menunjukkan kerangka konsep model hutang dari neraca korporasi Indonesia.

(2) rata-rata rasio hutang selama periode penelitian (Sunder dan Myers 1999); dan (3) penentuan tingkat optimum debt dengan meregressi variabel yang mungkin mempengaruhi target debt ratio perusahaan (Fama dan French, 1999). Nilai yang sesuai dari hasil regresi akan menggambarkan

optimal debt dari korporasi.
Beberapa penelitian empiris telah dilakukan untuk memodelkan struktur permodalan korporasi dengan menggunakan beberapa model seperti debt model, equity

issuance model, dan investment model seperti yang
dijelaskan dibawah ini:

3.1. Debt Model
Model ini menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat hutang korporasi. Menurut teori

pecking order, variabel investasi (I) dan akuisisi (A) memiliki
Gambar A2.1 Kerangka Konsep dari Model Neraca Korporasi

hubungan yang positif dengan tingkat hutang korporasi, sementara cash (C) mempunyai hubungan yang negatif

DEBT EQUITY CASH

dengan tingkat hutang. Selain itu, tingkat optimal dari
Use to finance INVESTMENT ACQUISITION

hutang (M) diharapkan memiliki hubungan negatif dengan tingkat aktual hutang korporasi. Penelitian lain yang dilakukan oleh Welch (2002) memberikan kesimpulan yang

Penelitian yang dilakukan Gibbard dan Stevens (2006) menggabungkan 2 (dua) teori mengenai struktur permodalan. Penelitian ini memberikan kemungkinan untuk melihat siklus pergerakan dari hutang korporasi dan menghitung seberapa jauh pergerakan hutang memicu kebutuhan pembiayaan dan kecepatan penyesuaian dari tingkat hutang, seperti yang digambarkan dalam persamaan dibawah ini: Dit = αGit + βDit + (1-β) Di,t-1
*

berbeda, dimana market to book value of debt mempunyai hubungan yang negatif dengan tingkat hutang korporasi. Namun, secara statistik hubungan ini tidak signifikan. Hasil yang ambigu ini dapat dijelaskan melalui dua pendekatan yaitu efek pertumbuhan kesempatan (Myers, 1977) dan efek kemungkinan untuk default (Welch, 2002) seperti dalam persamaan dibawah ini: Dit = α + α1Di,t-1 + α2Iit + α3Ii,t-1 + α4Ait + α5Ai,t-1 + α6Cit +

(1)

α7Ci,t-1 + α8Mit + α9Mi,t-1 + η1 + εit

(2)

Dimana, Dit adalah hutang korporasi pada suatu waktu t;

η 1 di persamaan (2) menggambarkan efek khusus
perusahaan, yang disebabkan oleh ketidakkonsistenan dalam koefisien regresi, namun bisa diselesaikan menggunakan teknik differencing. Namun, dengan mendifferensialkan variabel endogen dapat menyebabkan korelasi antara differenced of error term dan differenced

Git = financing gap; dimana variabel utama yang digunakan
adalah arus kas, pengeluaran investasi dan akuisisi. Dit* adalah optimal debt (dinyatakan oleh teori trade off) dan bisa ditentukan dari salah satu model berikut ini: (1) market

to book value (Gibbard dan Stevens 2006, Welch 2002);

89

Artikel II - Corporate Balance Sheet Modelling: Determinants of Indonesian Corporate Debt

lag of endogenous term. Masalah ini bisa diatasi dengan
menggunakan lebih dari satu lag untuk tingkat variabel. Misalnya, Arellano dan Bond (1991) menggunakan

3.4. Spesifikasi Model
Berdasarkan model-model sebelumnya, model yang disusun untuk penelitian ini terutama menggunakan model dari Gibbard dan Stevens (2006). Penelitian Welch (2002) memasukkan pendapatan saham (R) sebagai salah satu variabel yang mempengaruhi tingkat hutang perusahaan

Generalized Methods of Moment (GMM) yang akan
menghasilkan estimasi yang efisien.

3.2. Equity Issuance Model
Persamaan (3) menggambarkan model dari penerbitan equity yang dipengaruhi oleh financing gap maupun tingkat optimal hutang korporasi, berdasarkan model empiris yang dibangun oleh Benito dan Young (2002). Model ini mendukung debt model dalam persamaan (2) dan digunakan untuk menentukan tingkat hutang korporasi Indonesia. Model ini mengharapkan pengeluaran modal (A & I) memiliki hubungan yang positif dengan kenaikan jumlah saham yang diterbitkan, sementara cash (C) diharapkan memiliki hubungan yang negatif. Tingkat hutang optimal memiliki hubungan yang ambigu dengan kenaikan jumlah saham yang diterbitkan dimana tingkat hutang optimal memiliki hubungan yang positif atau negatif dengan jumlah saham yang diterbitkan.

Indonesia. Penggunaan pendapatan saham bertujuan untuk menguji inertia dari penggunaan hutang di dalam struktur permodalan. Pendekatan perilaku ini secara tidak langsung akan menjelaskan bahwa pendapatan saham yang negatif akan memberikan sinyal yang negatif sehingga akan meningkatkan tingkat hutang korporasi. Model dapat digambarkan sebagai berikut : Dit = α + α1Di,t-1 + α2Iit + α3Ii,t-1 + α4Ait + α5Ai,t-1 + α6Cit +

α7Ci,t-1 + α8Mit + α9Mi,t-1 + α10Ri,t,t-1 + η1 + εit

(5)

dimana, Di,t-1 adalah hutang pada waktu t-1; I adalah investasi pada waktu t; Ait menunjukkan akuisisi pada waktu t; Cit adalah arus kas korporasi pada waktu t; Mit adalah target debt ratio pada waktu t; dan Ri,t,t-1 menggambarkan pendapatan saham perusahaan pada waktu t.

Equity Issuance Model dapat ditunjukkan dalam persamaan
(3) berikut: Eit = α + α1Di,t-1 + α2Iit + α3Ait + α4Cit + α5Mit + η1 + εit (3)

3.4.1. Menentukan Tingkat Optimal Hutang Perusahaan
Menurut Fama dan French (2002), rasio target

leverage dari perusahaan ditentukan oleh nilai tetap dari

3.3. Investment Model
Persamaan (4) memodelkan tingkat investasi dari perusahaan. Model ini mengharapkan bahwa cash (C) memiliki hubungan yang positif dengan nilai investasi perusahaan. Pertama, variabel Q (variabel yang digunakan berdasarkan bukti-bukti empiris dari Blundell, at.al.,1992) dimasukkan di dalam persamaan. Variabel ini diharapkan menjadi pengaruh yang positif terhadap investasi korporasi. Model ini dapat dituliskan dalam persamaan dibawah ini: Iit = α + α1Di,t-1 + α3Ii,t-1 + α4Ait + α6Cit + α7Ci,t-1 + α8Qit +

persamaan (6). Rasio target leverage perusahaan (M) nantinya menjadi model neraca perusahaan Indonesia. Mt = b0 + b1MVt-1 + b2EBITt-1 + b3DPt-1 + b4RDt-1 + b5 ln(At-1) + b6FAt-1 + b7MIt + b8Mt-1 + et+1 (6)

Hal ini diasumsikan bahwa perusahaan memiliki laba sebelum pajak (EBIT) tinggi atau tingkat leverage yang rendah. Rendahnya leverage bisa terjadi di perusahaan yang mempunyai laba ditahan cukup besar atau saat perusahaan membatasi leverage untuk melindungi

franchise dalam menghasilkan laba yang besar. Tingginya leverage menggambarkan kemampuan perusahaan untuk
(4) memenuhi pembayaran hutang diluar relatif tingginya arus

α9Qi,t-1 + η1 + εit

90

Artikel II - Corporate Balance Sheet Modelling: Determinants of Indonesian Corporate Debt

kas. Selanjutnya, tingginya market to book ratio (MV) secara umum menggambarkan pertumbuhan yang lebih baik di masa depan. Dalam hal ini, tingginya pertumbuhan perusahaan cenderung dapat dilindungi dengan membatasi jumlah leverage. Depresiasi (DP) merupakan proporsi total aset. Perusahaan dengan tingkat depresiasi yang tinggi akan memperoleh pengurangan interest terkait dengan besarnya penggunaan leverage sebagai sumber pembiayaan. Perusahaan dengan nilai aset yang tinggi ln(At) cenderung akan menggunakan lebih banyak hutang dibandingkan perusahaan yang memiliki aset yang kecil. Hal ini bisa terjadi karena perusahaan cenderung lebih transparan atau memiliki akses yang lebih mudah ke pasar surat hutang. Perusahaan yang memiliki tangible asset (FA) tinggi cenderung memiliki kapasitas hutang besar, sementara perusahaan yang memiliki intangible asset tinggi dalam bentuk R&D lebih memilih equity sebagai sumber pembiayaan. Selanjutnya, firm»s lagged industry

Tabel A2.1 Deskripsi Statistik Korporasi Indonesia (2004 √ 2007)
All Variabel Total Asset (Trilliun IDR) Current Asset (Trilliun IDR) Fixed Asset (Trilliun IDR) Tangible assets (Trilliun IDR) Intangible Asset (Trilliun IDR) Total Debt (Trilliun IDR) Net Sales (Trilliun IDR) Net income (Trilliun IDR) Depretiation (Trilliun IDR) Amortization (Trilliun IDR) Capital expenditure (Trilliun IDR) EBIT Cash per total asset Depreciation Expense per tangible asset R & D Expense per total asset Size (Log of Total Asset) Fixed asset per total asset Debt per total asset Investment (Capex per total asset) acquisition (Acquisition per total asset) Mean 6.133,65 872,02 1.118,58 6.024,73 90,11 25.471,62 1.935,43 246,87 644,08 46,55 167,08 327,52 0,33 0,27 0,05 27,14 0,38 0,78 0,04 0,03 Standard Deviation 55.821,59 1.891,74 4.157,16 55.745,80 558,83 437.384,39 5.641,06 1.812,31 3.079,11 473,89 992,40 1.658,52 0,34 0,24 1,11 1,85 0,24 1,04 0,10 0,08

Bover (1995). Metode ini digunakan untuk mengurangi

firm specific effect dari sample perusahaan mengingat
perusahaan-perusahaan tersebut berasal dari beragam sektor industri. Mengikuti Fama & French (2002) serta Hovakimian et al (2003), study ini menemukan bahwa level optimal

media debt ratio (MI) digunakan untuk mengontrol
karakteristik industri yang tidak bisa digambarkan oleh variabel independen lainnya.

4. ANALISIS
Penelitian ini menggunakan unbalanced panel data dari 218 perusahaan go public yang terbagi dalam delapan sektor yaitu konsumsi, infrastruktur, mining, property, basic industry, agriculture, trading dan miscellaneous industry dari tahun 2004 sampai dengan 2007. Data bersumber dari Bloomberg dan Bursa Efek Indonesia. Tabel A2.1 menggambarkan bahwa nilai rata-rata hutang perusahaan Indonesia adalah lebih dari 400 kali total aset perusahaan tersebut. Namun, standar deviasi dari masing-masing variabel juga lebih tinggi dari rataratanya. Untuk menguji faktor-faktor yang menentukan level hutang korporasi Indonesia, digunakan estimator

hutang korporasi Indonesia secara negatif dan signifikan dipengaruhi level keuntungan. Hal ini sejalan dengan ekspektasi. Kondisi ini menunjukkan bahwa secara umum korporasi Indonesia lebih menyukai menggunakan keuntungan (internal sources) daripada menggunakan hutang sebagai sumber pembiayaan. Di lain pihak, ditemukan juga bahwa besarnya perusahaan berhubungan secara negatif dan signifikan dengan penggunaan external source sebagai sumber pembiayaan. Tabel A2.2 menunjukkan estimasi persamaan hutang dari perusahaan Indonesia. Tabel tersebut menunjukkan bahwa teori pecking order secara signifikan mampu menjelaskan hutang korporasi. Hal ini digambarkan pula oleh tanda dan koefisien yang signifikan dari 2 faktor

generalised methods of moments mengikuti Arrelano dan

91

Artikel II - Corporate Balance Sheet Modelling: Determinants of Indonesian Corporate Debt

financing gap yaitu investasi dan cash flow. Komponen lain, akuisisi memiliki unexpected sign (negative sign) dan tidak signifikan.
Tabel A2.2 Determinants of Corporate Debt
DEBT EQUATION (GMM Sys) Dependent Variable :DEBT Variable Coefficient t-Statistic 13.0137 -1.2976 0.4581 0.6196 0.6204 2.0067 1.3022 0.5342 -41.0524 -3.0392 -4.1306 Prob. 0.0000 0.1971 0.6478 0.5368 0.5362 0.0472 0.1956 0.5943 0.0000 0.0030 0.0001

ACTA : Hasil regresi menunjukkan hubungan negatif dengan penggunaan hutang korporasi walaupun hasilnya tidak signifikan. Studi empiris menunjukkan hasil koefisien yang berbeda. Hubungan negatif antara akuisisi

mengindikasikan prioritas sumber pembiayaan lain untuk membiayai aktivitas akuisisi. Hasil estimasi seperti tercantum pada Tabel A2.2 menunjukkan bahwa Fitted Values of Debt (OD-1) sebagai suatu proxy level optimal dari hutang korporasi menunjukkan hubungan negatif dan signifikan dengan level hutang aktual. Koefisien negatif ini mendukung efek

DEBT(-1) 0.5740 ACTA -0.1456 ACTA(-1) 0.0692 CASH 0.0574 CASH(-1) 0.0359 INVTA 0.1816 INVTA(-1) 0.1186 OD 0.0054 OD(-1) -0.5757 RETURN -0.0341 RETURN(-1) -0.0158 Cross-section fixed (first differences) R-squared 0.983631 P-value (Chi square) 0.00000 SSE 0.07645 N (Firms) 201
Keterangan DEBT : Total debt per total asset ACTA : Total Acquisition per total asset CASH : Total cash per total asset INVTA : Total Investment per total asset Return : Tingkat pengembalian Saham per year

default probability (Myers, 1977 dan Jensen, 1986). Hal
ini mengindikasikan bahwa keputusan mengambil hutang sebagai sumber pembiayaan merupakan hal penting dan perlu dilakukan perusahaan secara hati-hati. Selanjutnya, variabel stock return perusahaan sebagai proxy ekspektasi pasar menunjukkan bahwa stock return berpengaruh secara negatif dan signifikan terhadap level optimal hutang. Kondisi ini menggambarkan bahwa pasar memiliki ekspektasi tinggi dan positif terhadap kinerja perusahaan di masa depan, karenanya korporasi perlu lebih sedikit

Analisis masing-masing variabel adalah sebagai berikut: INVTA : Koefisien dari investasi terhadap rasio penggunaan hutang korporasi adalah positif (+) dan signifikan pada level 5%. Hal ini mengindikasikan semakin banyak jumlah investasi perusahaan maka penggunaan hutang semakin meningkat. Ini sejalan dengan dengan teori pecking-order. CASH : Koefisien dari investasi terhadap rasio penggunaan hutang korporasi adalah positif (+). Kedua variabel ini sesuai dengan pecking-order

hutang sebagai sumber pembiayaan. Sejalan dengan Welch (2204), stock return perusahaan mempengaruhi variabilitas level hutang yang optimal.

5. KESIMPULAN
Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan neraca korporasi Indonesia dan menguji faktor-faktor yang mempengaruhi level optimal hutang korporasi dengan mengkombinasikan teori trade-off dan pecking order. Dengan menggunakan estimator Generalised Methods of Moment, hasil penelitian ini menangkap dinamika level hutang korporasi yang menyesuaikan dengan level optimalnya. Hasil estimasi menunjukkan bahwa level hutang korporasi Indonesia ditentukan secara signifikan oleh level

theory, dimana semakin untung perusahaan
maka penggunaan hutang semakin meningkat (kelebihan kas digunakan untuk keperluan lain seperti pembayaran deviden).

92

Artikel II - Corporate Balance Sheet Modelling: Determinants of Indonesian Corporate Debt

investasi dan arus kas. Temuan juga mengindikasikan bahwa teori pecking order berkontribusi signifikan terhadap model neraca korporasi Indonesia. Selanjutnya, level hutang optimal mendukung efek default probability seperti yang dijelaskan Myers (1977) dan Jensen (1986). Karena hasil temuan menunjukkan bahwa neraca korporasi Indonesia secara umum dipengaruhi oleh teori pecking

memperhatikan penyesuaian biaya karena level hutang ditentukan oleh efek default probability. Temuan study ini menunjukkan faktor-faktor yang menjadi penentu hutang perusahaan sehingga perusahaan menyesuaikan level hutangnya sedemikan rupa sampai mencapai level optimal hutangnya. Lebih lanjut, temuan tersebut dapat digunakan untuk memonitor hutang perusahaan yang digunakan untuk aktivitas investasi dan akuisisi sehingga pada akhirnya dapat digunakan untuk mnghitung potensi risiko default. Untuk itu, kreditur dan regulator perlu melakukan penilaian komprehensif untuk mengurangi dampak negatif penggunaan hutang yang berlebihan. Pada akhirnya, manajemen level hutang yang baik yang mengarah pada level optimal hutang akan mendorong naiknya nilai perusahaan.

order, hal ini mengindikasikan bahwa aktivitas investasi
dan akuisisi akan mempengaruhi level hutang korporasi. Berdasarkan estimasi GMM-SYS, ditemukan bahwa hutang korporasi Indonesia menyesuaikan sedikit lebih rendah dari level optimalnya, yaitu dengan implied

adjustment rate sebesar 0,43. Artinya bahwa perusahaan
perlu mempertimbangkan seluruh faktor yang mempengaruhi level hutangnya dan secara hati-hati perlu

93

Artikel II - Corporate Balance Sheet Modelling: Determinants of Indonesian Corporate Debt

Daftar Pustaka

Arellano Manuel dan Stephen Bond (1991), ≈Some Tests of Specification of Panel Data: Monte Carlo Evidence dan Application to Employment Equations∆. The

dan France:a comparative analysis for west German dan French incorporated enterprises with special reference to institutional factors∆. Frydenberg,Stein (2004), ≈Theory of capital structure √ a review∆. Sor-Trondelag University College, Department of Business Administration, Jonsvannsun, 82,7004 Trondheim, Norway. http://www.ssrn.com/ abstract=556631. Gibbard, P dan Stevens, I (2006), ≈Corporate debt dan financial balance sheet adjustment: a comparison of the United States, the United Kingdom, France dan Germany∆, WP No. 317, Bank of Engldan. Hovakimian, Harmen (2003), ≈Are Observed Capital Structures Determined by Equity Market Timing?∆. Baruch College, the City University of New York, One Bernard Baruch Way, Box B 10-225, NY 10010. Jaffe, D. M., 1971, Credit Rationing dan the Commercial Loan Market, (Wiley, New York). Jensen, M (1986). ≈Agency costs of free cash flow, corporate finance dan takeovers∆, American

Review of Economic Studies, Vol. 58, No. 2 (Apr.,
1991), pp. 277-297 Antoniou, A., Guney, Y dan Paudyal, K (2003), ≈Determinants of corporate debt ownership structure: evidence from market-based dan bank-based economies∆, mimeo, University of Durham Business School. Blundell, Richard dan Stephen Bond (1998), ≈Initial Conditions dan Moment Restrictions in Dynamic Panel Data Models∆. Journal of Econometrics 87, pp. 115143. Davis, E. P. (1995): Banking, corporate finance dan monetary policy: an empirical perspective, Oxford

Review of Economic Policy, 10, pp. 49-67
Deminguc-Kunt A. dan Maksimovic V. (1996): ≈Financial constraints, uses of funds dan firm growth. An international comparison∆, World Bank, Policy Research Working Paper 1671. Drobetz, Wolfgang dan Gabrielle Wanzenried (2002), ≈What determines the speed of adjustment to the target capital structure?∆. Fama, E dan French, K (2002), ≈Testing trade-off dan pecking order prediction about dividends dan debt∆,

Economic Review, Vol. 76, pages 323-29.
Modigliani, F. dan M. H. Miller (1963). ≈The Cost of Capital, Corporation Finance dan the Theory of Investment: Corrections,∆ American Economic Review 53, 433443 Myers, Stewart C (1977). ≈The determinants of corporate borrowing∆. Journal of Financial Economics, Vol. 5, No. 2. pp. 147-175. Myers dan Majluf, N (1984). ≈Corporate Financing dan Investment Decision when Firms have information that investors do not have∆. Journal of Financial

The Review of financial studies, vol. 15 (1), pp. 1-33.
Farrar, Donald dan Lee Selwyn (1967),∆Taxe, corporate policy, dan return to investors.∆. National Tax Journal 20,pp. 444-54. Friderichs, Hans, Bernard Paranque dan Annie Sauve» (1999), ≈Structures of corporate finance in Germany

Economics, Vol.13, pp. 187-221.

94

Artikel II - Corporate Balance Sheet Modelling: Determinants of Indonesian Corporate Debt

Robichek, A. A. dan S. C. Myers, ≈Problems in the Theory of Optimal Capital Structure ≈Journal of Financial dan

Titman, Sheridan dan Sergei Tsiplakov (2007),∆A dynamic model of optimal capital structure∆. McCombs Research Paper Series No. FIN-03-06. SSRN: http:// ssrn.com/abstract=332042 . Warner, J. B., 1976, ≈Bankruptcy Costs, Absolute Priority dan the Pricing of Risky Debt Claims, Journal of

Quantitative Analysis 1,(12).pp. 1-35.
Ross, Westerfield dan Jaffe (2008), ≈Corporate Fianance∆. McGraw Hill InternationalEdition. Von Thadden, E. L. (1992): The commitment of finance, duplicated monitoring dan the investment horizon, Working Paper, Centre for Economic Policy Research, London Stiglitz, J. E., 1972, ≈On Some Aspects of the Pure Theory of Corporate Finance, Bankruptcies dan Takeovers,∆

Financial Economics, 4.
Welch, Ivo (2002): Columbus» Egg: The real determinant of capital structure, Working Paper,8782, National Bureau of Economics Research. Welch, Ivo (2004): Capital structure dan stock returns.

Bell Journal of Economics 3,458-82.
Shyam-Sunder, Laksmi dan Stewart C. Myers (1999), ≈Testing static trade-off against pecking order models of capital structure. Journal of Financial Economics 51, pp. 219-244.

Journal of Political Economy, Vol.112, No. 1. The
University of Chicago.

95

Artikel II - Corporate Balance Sheet Modelling: Determinants of Indonesian Corporate Debt

Halaman ini sengaja dikosongkan

96

Kajian Stabilitas Keuangan
No. 12, Maret 2009
PENGARAH
Halim Alamsyah Wimboh Santoso Suhaedi

KOORDINATOR & EDITOR
Agusman

TIM PENYUSUN
Ardiansyah, Linda Maulidina, Ratih A. Sekaryuni, Anto Prabowo, Tirta Segara, Wini Purwanti, Endang Kurnia Saputra, Ita Rulina, Boyke Wibowo Suadi, Ida Rumondang, Azka Subhan, Pipih Dewi Purusitawati, Noviati, Rosita Dewi, Erma Kusumawati, Darmawan Tohap B, Sagita Rachmanira, Reska Prasetya, Elis Deriantino, Hero Wonida, Mestika Widantri, Heny Sulistyaningsih, Primitiva Febriarti, Adidoyo Prakoso

KOMPILATOR, LAYOUT & PRODUKSI
Boyke Wibowo Suadi Primitiva Febriarti

KONTRIBUTOR
Direktorat Pengawasan Bank 1 Direktorat Pengawasan Bank 2 Direktorat Pengawasan Bank 3 Direktorat Perbankan Syariah Direktorat Kredit, BPR dan UMKM Direktorat Perizinan dan Informasi Perbankan Direktorat Investigasi dan Mediasi Perbankan Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Diserktorat Pengelolaan Moneter Direktorat Pengelolaan Devisa

PENGOLAHAN DATA
Suharso I Made Yogi

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->