Anda di halaman 1dari 7

Berikut ini topik-topik terkait matakuliah Metode Penelitian Komunikasi Kuantitatif: Kualitatif dan Kuantitatif: Materi ini diarahkan

untuk membantu mahasiswa membedakan dua pendekatan penelitian ilmu sosial. Ragam Desain Penelitian Kuantitatif: Bagian ini ingin menunjukkan pada mahasiswa beberapa ragam penelitian kuantitatif yang dapat digunakan dalam ilmu komunikasi. Subyek/obyek Penelitian Komunikasi: Apa saja yang sangat mungkin menjadi subyek/obyek penelitian. Sebelum Mendesain Sampel: Membahas hal-hal yang sebaiknya menjadi dasar pertimbangan sebelum menentukan sampel. Konsep Dasar Sampel: Penjelasan beberapa istilah terkait dengan sampel. Menentukan Informan/Responden/Sampel: Bagian ini memuat metode yang digunakan untuk menentukan sampel secara umum, kualitatif dan kuantitatif. Kualitatif dan Kuantitatif M. Aswan Zanynu Peminat Isu Komunikasi

SETELAH menentukan topik penelitian, peneliti lazimnya menetapkan model penelitian yang akan mereka gunakan. Kualitatif atau kuantitatif. Untuk pemula, menjadi penting bagi mereka untuk dapat membedakan kedua model penelitian ini. Tapi secara gamblang, model kulitatif sering digambarkan sebagai penelitian yang lebih menekankan pada data deskriptif. Sedangkan kuantitatif codong pada data numerik. Kualitatif fokus pada kasus tertentu. Sedangkan kuantitatif lebih berupaya untuk menggeralisasikan hasil penelitian. Dari model analisisnya, kedua model ini juga berbeda. Kualitatif menjadikan akal peneliti sebagai alat analisis dalam memetakan pola dan kecenderungan data penelitian. Sedangkan kuantitatif, mengandalkan rumus atau metode statistik dalam analisisnya. Berikut ini penggambaran W. Lawrence Neuman (2007) tentang kedua model penelitian tersebut. Pendekatan. Kualitatif bertujuan menggambarkan sebuah fenomena secara utuh, lengkap dengan konteksnya. Kuantitatif lebih bertujuan untuk melihat variabel tertentu dan menguji hipotesis yang terkait dengannya. Alur. Kualitatif tidak bersifat linear. Tahap-tahapan penelitian tidak penting. Model ini lebih bersifat sirkular. Seperti spiral yang melingkar, untuk sampai pada tujuan akhir penelitian, peneliti dapat kembali ke tahap yang tadi telah ia lewati. Sedangkan kuantitatif, tahap-tahapan penelitiannya linear atau satu arah. Mulai dari persiapan lapangan, pengumpulan data, analisis, dan interpretasi. Ketika telah melawati satu tahap, peneliti biasanya berpindah pada tahap berikutnya. Rumusan pertanyaan. Kualitatif tidak secara kaku menetapkan apa yang menjadi rumusan pertanyaan penelitiannya. Ketika penelitian dimulai, ia bersifat samar bahkan memiliki lingkup yang lebih luas. Berbeda dengan kuantitatif, sebelum memulai penelitian, rumusan pertanyaan yang akan dijawab dalam penelitian ditetapkan secara jelas. Pengumpulan data. Kualitatif mengumpulkan data secara terbuka. Apa saja yang terkait dengan topik penelitian, dapat diambil untuk menggambarkan fenomena dan konteksnya. Berbeda dengan kuantitatif yang hanya terfokus pada data yang terkait dengan variabel dan hipotesis penelitian. Gaya. Pada akhirnya kita dapat menggambarkan bahwa model kualitatif lebih bersifat fleksibel dalam menjalankan penelitian. Sedangkan model kuantitatif lebih tertata. Patuh pada tahap-tahapan yang telah menjadi standar prosedur penelian.***

Ragam Desain Penelitian Kuantitatif M. Aswan Zanynu Peminat Isu Komunikasi

SETELAH menetapkan topik yang akan diteliti, menentukan fokus pertanyaan (masalah) menelitian, juga teori yang digunakan, selanjutnya calon peneliti membuat desain penelitian yang akan digunakan. Khusus untuk model penelitian kuantitatif, Mary John Smith (1988) menyebutkan empat desain yang dapat digunakan: eksperimen, survei, wacana interaktif, dan wacana naratif. Desain Eksperimen. Desain ini digunakan untuk penelitian komunikasi yang bertujuan untuk melakukan pengujian perlakuan tertentu pada variabel yang diteliti. Misalnya, seorang peneliti ingin melihat bagaimana respon yang diberikan oleh ibu-ibu yang diterpa sebuah iklan produk rumah tangga. Pengujian dapat dilakukan dengan sedikitnya dua bentuk: post-pre test dan post test. Post-pre test maksudnya, pengujian dilakukan sebelum dan setelah obyek penelitian dikenai sebuah perlakuan (seperti menonton iklan). Sedangkan post test hanya difokuskan pada pengujian setelah obyek penelitian dikenai perlakuan. Desain Survei. Jika sebuah penelitian ingin menggambarkan karakter sebuah populasi melalui sampel (yang lebih sedikit), desain survei yang tepat untuk digunakan. Misalnya seorang peneliti ingin menggambarkan perilaku komunikasi online remaja. Untuk tujuan itu, tentu tidak perlu semua remaja yang diteliti. Yang dipilih hanya sebagian sampel saja. Generalisasi dari hasil penelitian menjadi ciri yang menonjol dari desain survei. Desain Wacana Interaktif. Ketika topik penelitian terkait dengan komunikasi yang sifatnya interaktif, desain ini yang paling tepat untuk digunakan. Misalnya untuk penelitian yang berkaitan dengan dialog, debat, wawancara, atau komunikasi dua arah yang sifatnya seketika. Intinya, desain wacana interaktif lebih terfokus pada perilaku komunikasi yang timbal balik. Mereka yang menjadi obyek penelitian dalam waktu yang sama dapat menjadi komunikator sekaligus komunikan. Desain Wacana Naratif. Jika wacana interaktif fokus pada perilaku komunikasi, wacana naratif lebih pada pesan yang dipertukankan. Singkatnya, desain ini mengkhususkan diri pada penelitian pesan. Pesan apa saja. Pidato, program tv/radio, berita (cetak/elektronik), iklan, film, foto berita, poster pemilu, dan segala pesan yang mungkin digunakan dalam komunikasi manusia. Bermedia maupun tanpa media. Untuk model kuantitatif, desain ini lazim dijalankan dengan teknik penelitian yang disebut Analisis Isi (Content Analysis).***

Subyek/obyek Penelitian Komunikasi M. Aswan Zanynu Peminat Isu Komunikasi

KETIKA hendak memulai sebuah penelitian, calon peneliti umumnya bingung dalam menentukan subyek/obyek penelitian. Beberapa diantaranya juga tidak dapat memberi batasan yang tegas antara penelitian yang akan dijalankannya dengan penelitian serupa yang mungkin dilakukan oleh calon peneliti dari disiplin ilmu yang berbeda. Misalnya, ketika seseorang meneliti efek iklan pada penjualan, dia tidak dapat memisahkan secara tegas batasan disiplin ilmu komunikasi yang menjadi ranah penelitiannya dengan penelitian serupa yang mungkin akan dilakukan oleh calon peneliti dari disiplin ilmu ekonomi pemasaran (marketing). Lalu apa yang menjadi subyek/obyek penelitian komunikasi? Mengembangkan konsep yang dikemukakan oleh Mary John Smith (1988), subyek/obyek penelitian komunikasi secara umum dapat dibagi dua. Pertama, subyek/obyek komunikator/komunikan yaitu orang atau pihak yang terlibat dalam sebuah proses komunikasi. Kedua, hasil/pesan yang dibuat/dipertukar dalam proses komunikasi. Kedua subyek/obyek ini dapat dikembangkan sesuai dengan minat atau masalah yang ingin diteliti. Subyek/obyek pertama dapat meliputi: (1) studi komunikator, (2) studi lembaga/media, (3) studi komunikan/efek. Studi komunikator berkaitan dengan perencanaan, gaya, dan tujuan komunikasai. Studi lembaga/media membatasi diri pada aspek manajemen atau kebijakan interen yang terkait dengan output komunikasi lembaga/media. Terakhir studi komunikan/efek, terkait dengan perubahan yang ditimbulkan dalam diri komunikan. Baik pada tingkat kognitif maupun efektif. Untuk peneliti pemula tidak direkomendasikan melakukan penelitian pada ranah perilaku mengingat banyak faktor yang menyertai sebuah perubahan perilaku. Subyek/obyek kedua yang berkenaan dengan pesan, dapat dikelompokkan lagi menurut aspek dan jenis pesannya. Aspek pesan yang dapat diteliti meliputi: (1) komposisi pesan; (2) pesan yang menonjol, manifest (nyata), atau terselubung (laten); (3) kemasan pesan. Adapun jenis pesan yang lazim diteliti antara lain: (1) artikel/liputan berita, (2) artikel/program non berita, (3) film, (4) iklan. Pastikan subyek/obyek penelitian yang akan dilakukan. Ini akan memudahkan peneliti menentukan teori yang akan digunakan untuk memandu penelitian.*** Sebelum Mendesain Sampel M. Aswan Zanynu Peminat Isu Komunikasi

METODOLOGI sampel memberikan petunjuk dalam memilih sekelompok kecil subyek/obyek yang dapat mewakili populasi. Inti dari sampel adalah keterwakilan populasi. Sebelum melakukan penarikan sampel Eriyanto (2007) menyebutkan beberapa hal yang sebaiknya menjadi bahan pertimbangan sebelum mendesai sampel yaitu tujuan survei, waktu survei, pendekatan, anggaran (budget). Desain sampel untuk penelitian yang bertujuan eksplorasi, berbeda dengan penelitian deskripsi atau analisis. Penelitian eksplorasi adalah jenis penelitian penjajakan. Dalam penelitian ini tidak ada masalah spesifik yang ingin dicari jawabannya. Dari namanya tergambar bahwa penelitian jenis ini baru memulai memetakan subyek/obyek yang akan diteliti. Penelitian deskripsi tujuannya menggambarkan aspek tertentu dari subyek/obyek penelitian. Sedangkan penelitian analisis lebih mendalam dari dua penelitian sebelumnya. Penelitian ini sudah berupaya untuk mencari atau menguji hubungan antarvaribel atau mencari tahu hal yang melatarbelakangi suatu fenomena. Sampel yang dipilih harus disesuikan dengan tujuan survei. Setidaknya ada tiga waktu survei: snapshot, panel, dan tracking. Dalam snapshot, penarikan sampel hanya dilakukan sekali waktu. Sedangkan panel, sampel yang dipilih dalam satu rangkaian waktu tertentu. Misalanya, setelah setahun masa kerja presiden, kita ingin meneliti bagaimana menilaian masyarakat atas kinerjanya. Survei serupa kita lakukan lagi saat tahun kedua, ketiga, keempat, dan kelima masa pemerintahannya. Mereka yang dipilih sebagai sampel adalah orang yang sama dari tahun ke tahun. Serupa dengan panel, tracking juga dilakukan dalam kurun waktu tertentu secara terpola. Bedanya, dalam tracking sampel yang diambil tidak harus sama dari waktu ke waktu. Jadi mereka yang disampel pada tahun pertama, belum tentu menjadi sampel di tahun berikutnya. Sebelum melakukan penarikan sampel, kita juga mesti mempertimbangkan, apakah hasil yang diperoleh dari penelitian tersebut akan digeneralisasikan atau tidak. Jika ingin digeneralisasikan, maka kita harus memilih metode probabilitas yang memungkinkan semua anggota populasi untuk terpilih sebagai sampel. Jika tidak ingin menggenaralisasikan hasil survei, kita dapat menggunakan pendekatan non-probabilitas. Dalam pendekatan ini, tidak semua anggota populasi memiliki peluang terpilih menjadi sampel. Mereka dipilih dengan sengaja oleh peneliti dengan pertimbangan ilmiah tertentu. Terakhir, jangan lupa mempertimbangkan kesesuaian anggaran penelitian dengan metode sampling yang kita pilih. Metode yang menggunakan banyak biaya belum tentu adalah metode yang terbaik. Kualitas penarikan sampel (sekali lagi) terletak pada keandalannya dalam mewakili populasi. ***

Konsep Dasar Sampel M. Aswan Zanynu Peminat Isu Komunikasi

METODOLOGI sampling memberikan petunjuk dalam memilih sekelompok kecil obyek yang dapat mewakili populasi. Inti dari sampel adalah keterwakilan populasi dimana dia berasal. Prosedur sampling mempengaruhi validitas hasil penelitian. Mart John Smith (1988) mengemukakan delapan konsep dasar dalam memahami prosedur sampling: populasi, unit sampling, kerangka sampling, sampel, elemen, unit observasi, statistik dan parameter, dan sampling error. Populasi adalah kelompok yang menjadi subyek/obyek penelitian. Target populasi adalah kelompok populasi yang telah didefinisikan dengan jelas dan spesifik. Sedangkan target survei adalah kelompok populasi yang telah didefinisikan dengan jelas, spesifik, dan secara aktual akan menjadi sasaran survei. Unit sampel adalah pengelompokan yang menjadi dasar pertimbangan dalam memilih sampel. Misal meneliti mahasiswa di Kota X. Unit sampel yang kita gunakan adalah universitas yang ada di Kota X. Setelah menetapkan universitasnya, kita menggunakan unit sampel fakultas untuk menentukan mahasiswa yang diambil. Dari fakultas tadi, kita tetapkan lagi jurusan sebagai unit sampel yang akan menjadi bahan pertimbangan dalam memilih sampel. Kerangka sampling adalah panduan yang akan menjadi rujukan peneliti sebelum menentukan sampel. Misalnya, kita ingin mengetahui tanggapan pelanggan PLN atas layanan listrik yang mereka terima. Kerangka sampling berupa daftar nama pelanggan dapat menjadi kerangka atau daftar sampling kita. Sedangkan sampel adalah bagian dari populasi penelitian yang akan diteliti. Elemen adalah unit dasar atau hal yang dikumpulkan/diteliti dari sampel. Elemen dalam komunikasi ada dua: berkenaan dengan komunikator/kominikan dan keluaran (outputs) dari komunikasi. Sedangkan unit observasi adalah bagian dari elemen yang diobservasi atau diteliti. Misal dari keluaran komunikasi antarpersona berupa pesan, kita fokuskan diri pada pesan non-verbalnya. Pesan ini yang disebut unit observasi. Tiap jenis penelitian memiliki teknik pengukuran tertentu, baik jenis penelitian kualitatif maupun kuantitatif. Metode kuantitatif umumnya sangat ketat dalam menentukan pendekatan statistik dan parameter yang akan

digunakan dalam mengukut unit observasi. Sampling error adalah penyimpangan sampel yang dipilih dari, sifat karakteristik, perilaku, kualitas atau gambar dari seluruh populasi yang sebenarnya. Makin kecil sampling error, makin tinggi tingkat akurasi penelitian.***

Menentukan Informan/Responden/Sampel M. Aswan Zanynu Peminat Isu Komunikasi

SAMPEL adalah subyek/obyek yang menjadi sumber peneliti dalam memperoleh data. Saya menyebutkan subyek jika ia adalah orang. Tapi kalau berupa dokumen seperti berita, program acara, atau iklan, kita dapat menyebutnya obyek. Penelitian jenis kualitatif umumnya tidak menggunakan istilah sampel. Tetapi "informan" untuk menjadi pembeda. Berikut ini beberapa teknik penarikan sampel atau penentuan informan yang dikemukakan oleh W. Lawrence Neuman (2007). Teknik penerikan sampel atau penentuan informan dikelompokkan ke dalam dua kategori besar: Kualitatif dan Kuantitatif. (Berikut link yang dapat membantu Anda membedakan jenis penelitian Kualitatif dan Kuantitatif). KUALITATIF Purposive. Peneliti memilih informan menurut kriteria tertentu yang telah ditetapkan. Kriteria ini harus sesuai dengan topik penelitian. Mereka yang dipilih pun harus dianggap kredibel untuk menjawab masalah penelitian. Kuota. Informan yang dipilih bertujuan untuk memenuhi kuota yang telah ditentukan sebelumnya. Misalnya, seorang peneliti ingin mengumpulkan data dari sejumlah orang di sebuah desa terpencil. Peneliti memutuskan untuk memilih 20 orang perempuan dan 20 orang laki-laki. Mereka yang dipilih ini diambil begitu saja, tanpa metode/cara tentu. Snowball atau bola salju. Informan yang dipilih merupakan hasil rekomendasi dari informan sebelumnya. Ini umumnya digunakan bila peneliti tidak mengetahui dengan pasti orang-orang yang layak untuk menjadi sumber. Misalnya ketika peneliti ingin mengetahui pola komunikasi antarpribadi para pengguna narkoba. Tidak ada daftar nama yang bisa jadi rujukan. Salah satu cara yang bisa digunakan adalah dengan meminta rekomendasi dari seseorang. Dari seorang informan, jumlah sumber data dapat berlipat ganda jumlahnya. Seperti bola salju yang menggelinding. Sequential. Informan yang dipilih tidak ditentukan batasannya. Jumlahnya terus bertambah dan bertambah sampai peneliti menilai data yang dikumpulkan dari sejumlah informan tersebut telah mencapai titik jenuh. Maksudnya, tidak ada hal baru lagi yang dapat dikembangkan.

KUANTITATIF Simple Random atau acak sederhana. Mereka yang dipilih sebagai responden atau sampel diambil begitu saja melalui proses acak sederhana. Seperti cara mengundi nama saat arisan atau pemilihan kartu pos yang berhak untuk memenangkan sebuah undian. Systematic Random atau acak sistematik. Serupa dengan acak sederhana, bedanya dalam acak sistematik, peneliti menetapkan interval atau cara tertentu dalam penerikan sampel secara acak. Misalnya peneliti mengocok 100 kartu yang berisi nama calon responden. Peneliti menetapkan, setiap kocokan ke-5, kartu yang paling atas akan dipilih sebagai sampel/responden. Jadi peneliti selalu mengulang mengocok kartu per 5 kali untuk memilih satu demi satu kartu yang berisi nama (calon) sampel/responden. Stratified atau berjenjang. Sampel dipilih berjenjang menurut kategori umum ke khusus. Misalnya, untuk menentukan sampel dari populasi mahasiswa di sebuah universitas, peneliti mengelompokkan mahasiswa menurut fakultas, jurusan, lalu program studi. Di jenjang program studi, peneliti mengelompokkan lagi sampel menurut angkatannya. Jadi dengan demikian, mahasiswa di setiap angkatan pada universitas tersebut (apa pun program studi atau jurusannya) terwakili dari sampel yang ditarik. Cluster atau perkelas. Sebelum dipilih, sampel dikelompokkan menurut kategori sosial tertentu. Misalnya jenis kelamin, usia, tingkat ekonomi, atau tempat bermukim. Serupa dengan sampel berjenjang, bedanya pengelompokkan ini lebih menjadikan kategori sosial sebagai dasar pengelompokkan. Sedangkan sampel berjenjang lebih fokus pada pendekatan kerangka sampling. Setiap metode sampling dapat dipilih dan disesuaikan dengan tujuan penelitian. Intinya, apapun metode yang digunakan, diharapkan informan, sampel, atau responden yang dipilih dapat memberi jawaban dan merepresentasikan apa yang ingin diteliti.****