Anda di halaman 1dari 17

POKOK-POKOK HASIL PENELITIAN TERPADU DALAM RANGKA PENGKAJIAN PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN DALAM REVIEWRENCANA

TATA RUANG WILAYAH PROVINSI SULAWESI TENGGARA

KEMENTERIAN KEHUTANAN Jakarta, November 2010

POKOK-POKOK HASIL PENELITIAN TERPADU REVISI RTRWP SULAWESI TENGGARA Usulan perubahan kawasan hutan dalam revisi RTRWP Sulawesi Tenggara telah dipresentasikan oleh Gubernur di Kementerian Kehutanan pada tanggal 3 Desember 2009. Sesuai dengan ketentuan Pasal 19 ayat 1 UU No. 41 Tahun 1999, Menteri Kehutanan melalui Kepmenhut No. SK.803/Menhut-VII/2009 tanggal 15 Desember 2009 membentuk Tim Terpadu guna melakukan pengkajian terhadap usulan perubahan peruntukan dan fungsi kawasan hutan dalam usulan revisi RTRWP Sulawesi Tenggara. Proses dan hasil penelitian terpadu secara ringkas adalah sebagai berikut: 1. Dalam penelitian terpadu dilakukan desk study mulai Desember 2009 s/d Agustus 2010 dan field study mulai tanggal 27 s/d sebagai berikut: a. Pemutakhiran (updating) peta penunjukan kawasan hutan b. Identifikasi gap (overlay usulan perubahan dengan peta penunjukan updated) c. Penentuan kriteria evaluasi perubahan peruntukan dan fungsi kawasan hutan d. Analisis evaluasi perubahan peruntukan dan fungsi kawasan hutan e. Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) dan penentuan perubahan peruntukan yang berdampak penting dan cakupan yang luas serta bernilai strategis yang memerlukan persetujuan DPR RI f. Uji konsistensi hasil penelitian terpadu terhadap kebijakan pemerintah (pusat dan daerah) g. Finalisasi rekomendasi akhir dan penyusunan laporan 2. Langkah awal analisis adalah melakukan pemutakhiran peta kawasan hutan berdasarkan Peta Penunjukan Kawasan Hutan dan Perairan dengan mengakomodasikan perkembangan pengukuhan kawasan hutan yang meliputi kegiatan tata batassertaperubahan peruntukan dan fungsi kawasan hutan secara parsial. Basis analisis selanjutnya menggunakan peta kawasan hutan yang telah dimutakhirkan (updated)sebagaimana disajikan pada Tabel 1. berikut: 31 Desember 2010 dengan tahapan

Tabel 1.Luas kawasan hutan berdasarkanPeta Penunjukan Kawasan Hutan dan Pemutakhiran Provinsi Sulawesi Tenggara.
N Fungsi Kawasan o 1 2 3 4 5 A 6 7 B HK HL HPT HP HPK Kawasan Hutan APL Tubuh Air Bukan Kawasan Hutan Jumlah (A+B) Peta Penunjukan KawasanHutan1) Luas (Ha) (%) 274.069 7.19 1.061.270 27.83 419.244 10.99 633.431 16.61 212.123 5.56 2.600.137 68.17 1.213.863 31.83 1.213.863 3.814.000 31.83 100.00 Peta Penunjukan Kawasan Hutan yang Dimutakhirkan2) Luas (Ha) (%)

293.847 1.109.038 463.363 491.583 134.624 2.492.455 1.158.096 2.809 1.160.905 3.653.360

8,04 30,36 12,68 13,46 3,68 68,22 31,70 0,08 31,78 100,00

Keterangan: 1)Luas provinsi berdasarkan Perda, 2) Luas provinsi berdasarkan hasil perhitungan secara digital dengan GIS

3. Usulan perubahan peruntukan dan fungsi kawasan hutan Provinsi Sulawesi Tenggara disampaikan melalui 4 tahap: a. Surat Gubernur No. 640/4952 tanggal 17 November 2009 b. Surat Gubernur No. 522/05 tanggal 4 Januari 2010 c. Surat Gubernur No. 915/977 tanggal 12 Maret 2010 d. Surat Gubernur No. 522.12/1359/2010 tanggal 14 Mei 201 Dalam usulan revisi RTRWP Sulawesi Tenggara terdapat kawasan hutan yang diusulkan perubahannya (selanjutnya disebut lokasi gap) seluas 615.089 Ha yang terdiri dari perubahan peruntukan seluas 310.165 Ha dan perubahan fungsi seluas 304.924 Ha, sedangkan sisanya seluas 1.877.366 Ha tidak ada usulan perubahan (selanjutnya disebut lokasi non gap). Data usulan disajikan pada Tabel 2.berikut.
Tabel 2. Perbandingan luas kawasan hutan menurut SK.454/KPTS-II/1999 updated dan usulan revisi RTRWP Sulawesi Tenggara
Usulan Perubahan Kawasan Hutan Fungsi HK HL HPT HP HPK APL Tubuh Air HK 256.690 891.674 23.706 8.998 3.553 126.405 410.230 HL HPT HP 6.109 60.723 275.493 HPK 22.714 APL 8.334 30.236 29.427 154.376 87.792 1.158.097 1.468.262 2.809 2.809 Tubuh Air Jumlah Luas 293.847 1.109.038 463.362 491.583 134.624 1.158.097 2.809 3.653.360

52.716 43.279

256.690

927.931

536.635

342.325

118.708

4. Sebagai landasan analisis, Tim Terpadu menyusun kriteria berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan memperhatikan kondisi eksisting lapangan, serta mempertimbangkan sebagai berikut: a. Pertimbangan Hukum dan kelembagaan : 1) Perubahan kawasan hutan menghargai perijinan atas kawasan yang telah diterbitkan oleh Pemerintah, seperti : IUPHHK, penggunaan kawasan hutan. 2) Perubahan kawasan hutan menghargai keberadaan proyek-proyek/ aset pemerintah, seperti : realisasi gerhan, reboisasi, dll. 3) Perubahan kawasan menghargai keberadaan atas sertifikat atau bukti-bukti kepemilikan atas tanah. 4) Perubahan kawasan hutan merupakan bagian dari upaya resolusi permasalahan kemantapan kawasan hutan. 5) Perubahan kawasan hutan merupakan bagian dari upaya menghargai dan menguatkan hak-hak sipil masyarakat sebagai warga negara. b. Pertimbangan Ekologi : 1) Pertimbangan ekologi bertujuan untuk membangun keseimbangan jangka panjang interaksi antar komponen sistem lingkungan (abiotik dan biotik), termasuk di dalamnya unsur interaksi sosial manusianya untuk dapat mewujudkan kelestarian dan kelangsungan daya dukung dan daya tampung lingkungan; 2) Perubahan kawasan hutan mempertimbangkan aspek keanekaragaman hayati dan ekosistemnya, sehingga tetap terjaga keberadaan dan kelestariannya. 3) Perubahan kawasan hutan mempertimbangkan fungsi satu kawasan sebagai bagian dari suatu ekosistem. 4) Perubahan kawasan hutan ditujukan untuk memantapkan kesatuan ekosistem kawasan hutan yang dipertahankan. 5) Mendukung upaya global untuk menurunkan emisi karbon dalam rangka mitigasi perubahan iklim

c. Pertimbangan Ekonomi dan Sosial-Budaya : 1) Perubahan kawasan hutan mempertimbangkan keberadaan permukiman dan kebutuhan lahan usahanya dalam luasan yang rasional, utamanya yang telah eksis sejak lama (>10 tahun); 2) Perubahan kawasan hutan untuk permukiman juga mempertimbangkan keberadaan infrastruktur fisik (fasos, fasum)dan kelembagaan desa (organisasi perangkat desa). 3) Perubahan kawasan hutan menghargai keberadaan situs budaya dan obyek-obyek yang menjadi sumber-sumber penghidupan masyarakat. 4) Perubahan kawasan hutan mempertimbangkan upaya daerah untuk mengoptimalisasi pemanfaatan sumberdaya alam untuk kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. 5. Analisis evaluasi perubahan peruntukan dan fungsi kawasan hutan dilakukan melalui tahaapan sebagai berikut: a. Eksekusi tahap 1: dilakukan dengan menggunakan formula yang bisa dijalankan oleh bahasa mesin GIS. Formula ini dibangun dari kriteria umum yang disusun bedasarkan peraturan yang berlaku dan pertimbangan lain yang telah disepakati Tim Terpadu secara pleno. Unit penilaian (assessment unit) dalam tahapan ini adalah poligon. b. Eksekusi tahap 2: penerapan pertimbangan keilmuan (scientific judgement) oleh Tim Terpadu. ekoregional, konservasi. c. Eksekusi tahap 3: proses generalisasi delineasi kawasan yang direkomendasikan perubahannya. Generalisasi memperhatikan aspek kekompakan wilayah untuk mendukung efektifitas dan efisiensi pengelolaan. d. Eksekusi tahap 4: penyelarasan hasil rekomendasi sementara dengan hasil uji konsistensi kebijakan. Uji konsistensi kebijakan, menyangkut keselarasan rekomendasi sementara dengan kebijakan pemerintah (pusat dan daerah), baik yang berwujud perizinan-perizinan yang telah diterbitkan secara sah, maupun kebijakan pembangunan daerah lainnya. Secara khusus, Pemerintah Provinsi
4

Pada tahapan ini dilakukan tinjauan dari perspektif azas keadilan dan keberlanjutan, serta dan

penerapan

pertimbangan spesifik menyangkut kawasan khusus, misalnya kawasan hutan

Sulawesi Tenggara diberi kesempatan untuk menyampaikan tanggapan atas hasil sementara Penelitian Terpadu, terkait dengan kebijakan pemanfaatan ruang untuk mendukung pembangunan daerah. 6. Proses pengambilan keputusan dan hasil analisis Tim Terpadu adalah sebagi berikut: a. Proses pengambilan keputusan final tentang rekomendasi setiap lokus usulan dilakukan secara musyawarah dalam pleno Tim Terpadu. Dalam hal ini ada dua kemungkinan proses pengambilan keputusan, yakni : Rekomendasi diputuskan secara mufakat/aklamasi, atau Tim Terpadu tidak berhasil memutuskan rekomendasi secara mufakat, maka disusun opsi rekomendasi dan terhadap setiap opsi disertakan pertimbangan-pertimbangan atau argumentasi yang mendukung opsi tersebut untuk menentukan pilihan opsi rekomendasi digunakan suara terbanyaksedangkan opsi lainnya diposisikan sebagai dissenting opinion. b. Hasil analisis kelayakan dinyatakan dalam rekomendasi perubahan peruntukan atau fungsi kawasan hutan untuk setiap lokus, yakni : Direkomendasikan untuk disetujui seluruhnya, Direkomendasikan untuk disetujui sebagian, Direkomendasikan untuk tidak disetujui atau kembali ke fungsi atau peruntukan semula, atau Direkomendasikan menjadi peruntukan atau fungsi lain diluar yang diusulkan. 7. Analisis difokuskan pada lokasi gap, dengan rekomendasi sebagai berikut: a. Perubahan peruntukan kawasan hutan. 1) Usulan perubahan peruntukan kawasan hutan menjadi APL seluas 310.165 Ha, dan selanjutnya dapat direkomendasikan untuk disetujui menjadi APL seluas 166.036 Ha (53,53% dari usulan), yang terdiri dari: HK menjadi APL seluas HL menjadi APL seluas HPT menjadi APL seluas HP menjadi APL seluas HPK menjadi APL seluas = = = = = + + + + + 2.862 3.213 18.221 72.800 68.940 Ha Ha Ha Ha Ha

2) Dengan rekomendasi perubahan peruntukan kawasan hutan seluas 166.036 Ha, maka luas kawasan hutan semula 2.492.455 ha atau 68,22% dari luas
5

wilayah provinsi berubah menjadi 2.326.419 ha atau 63,68% dari luas provinsi, atau menurun sebanyak 4,54 %. b. Perubahan fungsi kawasan hutan. Dari usulan perubahan fungsi kawasan hutan dari fungsi tertentu menjadi fungsi lainnya seluas +304.924 Ha,direkomendasikan seluas dari usulan), dengan rincian sebagai berikut : HK menjadi HPK seluas HL menjadi HPT seluas HL menjadi HP seluas HPT menjadi HL seluas HP menjadi HL seluas HP menjadi HPT seluas HP menjadi HPK seluas HPK menjadi HL seluas HPK menjadi HP seluas = = = = = = = = = + + + + + + + + + 8.061 36.770 15.890 15.773 8.998 715 24.365 3.553 986 Ha Ha Ha Ha Ha Ha Ha Ha Ha 115.111 Ha (37,75%

8. Secara umum, usulan perubahan kawasan hutan sebagaimana tersebut butir 6 di atas dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Perubahan peruntukan kawasan hutan menjadi APL, terutama karena: 1) Mengakomodir adanya permukiman dan lahan garapan masyarakat yang saat ini telah ada dan berada dalam kawasan hutan, 2) Memenuhi kebutuhan pengembangan sarana-prasarana wilayah, dan 3) Mengakomodir rencana pembangunan perkebunan untuk mendukung program swasembada gula. b. Perubahan fungsi kawasan hutan karena: 1) Penyesuaian nilai skoring penetapan fungsi pokok kawasan hutan; 2) Alokasi dan pemantapan kawasan lindung; 3) Upaya optimalisasi pemanfaatan sumber daya alam. 9. Dari luas perubahan peruntukan kawasan Hutan seluas 166.036 Ha, setelah melalui KLHS terdapat perubahan peruntukan kawasan hutan yang berdampak penting dan cakupan yang luas serta bernilai strategis yang memerlukan persetujuan DPR RI(dengan alur sesuai dengan Gambar 1) seluas 49.195 Ha atau 29,63%dari keseluruhan rekomendasi perubahan peruntukan kawasan hutan, dengan rincian sebagai berikut :

HK menjadi APL seluas HL menjadi APL seluas HPT menjadi APL seluas HP menjadi APL seluas HPK menjadi APL seluas

= = = = =

+ + + + +

2.862 3.213 5.162 17.042 20.916

Ha Ha Ha Ha Ha

Gambar 1. Parameter dan alur dalam penentuan lokus perubahan kawasan hutan yang berdampak penting, cakupan luas dan bernilai strategis dalam analisis KLHS

Rincian persentase luas kawasan hutan terhadap luas setiap unit assesment DAS/Pulau disajikan pada Tabel 3. 10. Terhadap rekomendasi hasil penelitian terpadu telah dilakukan uji konsistensi untuk mengevaluasi keselarasan rekomendasi dengan kebijakan pemerintah (pusat dan daerah) pada tanggal 14 s/d 21 Juli 2010yang dihadiri oleh 56 perusahaan, terdiri dari: a. IUPHHK b. Izin Perkebunan c. Izin Pinjam Pakai d. Izin Pertambangan : 2 perusahaan :4 perusahaan :2 perusahaan :48 perusahaan
7

11. Rekomendasi akhir penelitian terpadu disajikan pada tabel4. berikut:


Tabel 4. Kawasan Hutan Berdasarkan Penunjukan Kawasan Updated, Usulan Revisi RTRWP, dan Rekomendasi Tim Terpadu
Penunjukan Kawasan No 1 2 3 4 5 A 6 7 B Fungsi Kawasan HK HL HPT HP HPK Kawasan Hutan APL Tubuh Air Kawasan Non Hutan Jumlah (A+B)

Updated

Usulan Revisi RTRWP Luas (Ha) (%)

Rekomendasi Tim Terpadu Luas (Ha) (%)

Luas (Ha)

(%)

293.847 1.109.038 463.363 491.583 134.624 2.492.455 1.158.096 2.809 1.160.905 3.653.360

8,04 30,36 12,68 13,46 3,68 68,22 31,70 0,08 31,78 100,00

256.554 927.931 536.771 342.325 118.709 2.182.290 1.468.261 2.809 1.471.070 3.653.360

7,02 25,40 14,69 9,37 3,25 59,73 40,19 0,08 40,27 100,00

282.924 1.081.489 466.854 401.581 93.571 2.326.419 1.324.132 2.809 1.326.941 3.653.360

7,74 29,60 12,79 10,99 2,56 63,68 36,24 0,08 36,32 100,00

Rincian luas kawasan hutan pada masing-masing kabupaten disajikan pada Tabel 5. 12. Lokus-lokus perubahan yang menjadi pembahasan khusus: a. Lokus Basaala, Taman Nasional Rawa Aopa (2.828 ha) diusulkan menjadi APL Kawasan seluas 2,828 ha di leher kawasan Taman Nasional Rawa Aopa ini direkomendasikan oleh Tim Terpadu untuk diubah peruntukannya menjadi APL karena merupakan permukiman dan lahan garapan masyarakat, meskipun keputusan atas rekomendasi ini tidak disepakati secara bulat (melalui suara terbanyak), maka dalam laporan tetap disajikan opsi yang berbeda yang mana diposisikan sebagaidissenting opinion yaitu tetap sebagai wilayah TN untuk dijadikan model pembangunan desa konservasi.Pada paparan kepada Menteri Kehutanan, rekomendasi perubahan peruntukan tersebut mendapat pelbagai masukan untuk dikaji kembali dalam rapat Tim Terpadu.Dalam rekomendasi akhir TimTerpadu tetap merekomendasikan menjadi APL. b. Lokus Laonti, SM Tanjung Paropa (34 ha) diusulkan menjadi APL Perubahan kawasan hutan konservasi SM Tanjung Peropa ini diusulkan untuk rencana pembangunan jalan kabupaten. Pada prinsipnya semua anggota Tim
8

Terpadu menyetujui pembukaan jalan untuk membuka isolasi Kota Kecamatan Laonti yang menyangkut kebutuhan aksesibilitas penduduk 27.000 KK. Saat ini akses masyarakat Kecamatan Laonti satu-satunya melalui laut, dimana pada saat musim angin timur (6 bulan), ombak besar dan akses melalui laut tidak layak/berbahaya. Perbedaan pendapat terjadi mengenai status kawasan yang akan digunakan sebagai jalan, yaitu apakah status kawasan seluas 34 ha tersebut perlu diubah peruntukannya menjadi APL, atau tetap sebagai kawasan konservasi/suaka margasatwa. Tim Terpadu secara mayoritas (melalui suara terbanyak)

merekomendasikanperubahan peruntukan kawasan hutan menjadi APL, dengan pertimbangan utama belum ada instrumen pinjam pakai kawasan hutan untuk kepentingan umum (jalan) di kawasan konservasi. Sedangkan opsi lain dengan status tetap sebagai SM disajikan sebagai

dissenting

opiniondengan

pertimbangan utamakeberadaan jalan yang akan dibangun dapat diakomodir sebagai bagian dari jalan pengelolaan SM. Dalam paparan dihadapan Menteri kehutanan terdapat masukan untuk tidak mengubah menjadi APL namun diturunkan fungsinya menjadi HL.Pada laporan akhir Tim Terpadu merekomendasikan menjadi APL. c. Lokus Jompi-Lambiku, HL. Kontu(401 Ha)diusulkan menjadi APL Perubahan menjadi APL untuk mengakomodir permukiman dan lahan garapan yang telah eksis.Rekomendasi luas perubahan juga mempertimbangkan pandangandari LSM pendamping masyarakat. Perubahan peruntukan tidak menghilangkan proses hukum yang sedang berjalan. Dalam rekomendasi akhir Tim Terpadu, lokasi ini diubah peruntukannya menjadi APL. d. Lokus Kota Lama (15.886 Ha) diusulkan menjadi APL Perubahan menjadi APL untuk mengakomodir permukiman dan lahan garapan yang telah eksis, serta untuk mengembalikan hak ulayat/adat masyarakat setempat yang diakui secara turun temurun sejak zaman Kerajaan Muna.Pengembalian hak tersebut telah diperjuangkan oleh DPRD Kabupaten

Muna melalui kunjungan kerja ke Kementerian Kehutanan yang pertama pada tahun 2007 dan terakhir tahun 2010. Dalam paparan di hadapan Menteri Kehutanan, terdapat masukan untuk tetap mempertahankan sebagai kawasan hutan dengan tetap memperhatikan kepentingan masyarakat untuk tetap dapat memanfaatkan kawasan hutan dengan program HKM. Dalam laporan akhir, Tim Terpadu merekomendasikan perubahan fungsi menjadi HP. e. Lokus Bahubulu Terhadap keberadaan TWAL Teluk Lasolo, ada anggapan bahwa

keberadaannya membatasi akses masyarakat pesisir Teluk Lasolo untuk melakukan aktivitas yang mengharuskan melalui kawasan TWAL, serta adanya keraguan tentang jenis kegiatan yang boleh atau tidak boleh untuk mendukung eksploitasi tambang pada pulau yang berada di kawasan TWAL. Hal ini memerlukan kejelasan ketentuan tentang kegiatan apa yang boleh dan tidak boleh di kawasan TWAL yang tersosialisasikan dengan baik terhadap masyarakat maupun petugas/penegak hukum. f. Lokus Mataosu, Taman Buru diusulkan menjadi HPK (seluas 8.061 ha) Taman Buru Mataosu pada awalnya diusulkan menjadi APL dan HP, yang diusulkan kembali oleh Gubernur diubah fungsi menjadi HPK untuk mengakomodir program nasional swasembada tebu, dengan pertimbangan usulan bahwa satwa di taman buru tersebut sudah tidak ada lagi dan akan memberikan manfaat yang lebih bila dikelola dengan manajemen yang lebih baik. Dalam rekomendasi Tim Terpadu, Taman Buru Mataosu diturunkan fungsinya menjadi HPK. g. Lokus Amorome, HL diusulkan menjadi HPT (seluas 10.885 ha) Usulan perubahan HL menjadi HPT seluas 18.387 ha untuk mengakomodir pengembangan pertambangan di Provinsi Sulawesi Tenggara, untuk optimalisasi pemanfaatan SDA melalui kawasan industri pertambangan.
10

penataan dan pengembangan sentra

Dalam rekomendasi Tim Terpadu, HL ini diubah fungsinya menjadi HPT seluas 10.885 ha sesuai dengan nilai skoring dan dilakukan generalisasi untuk kekompakan kawasan hutan yang telah diubah, sedangkan sisanya tetap sebagai HL. h. Lokus TN Rawa Aopa diusulkan menjadi HPK Sebagian Taman Nasional yang berupa savana ini diusulkan menjadi HKP untuk dapat meningkatkan optimalisasi kawasan dalam mengakomodir program nasional swasembada tebu, usulan ini dipertegas kembali oleh Gubernur Sulawesi tenggara pada saat paparan Tim terpadu di hadapan Mneteri Kehutanan. Dalam rekomendasi akhir, Tim Terpadu tetap mempertahankan lokasi ini sebagai bagian dari Taman Nasional dengan pertimbangan aspek keanekaragaman hayati ekosistem taman nasional tetap terwakili dengan adanya savana tersebut. 13. Berdasarkan hasil Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) dirumuskan

rekomendasi kebijakan sebagai berikut: 1) Perubahan peruntukan dan fungsi kawasan hutan harus dapat memberikan kepastian hukum dalam pemanfaatan ruang, memberikan kemanfaatan ruang yang optimal dan terciptanya distribusi ruang yang berkeadilan untuk kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan. 2) Keberadaan permukiman dan lahan garapan masyarakat yang berada di dalam kawasan hutan yang berubah menjadi APL agar dapat memberikan hak atau penguatan hak atas lahan yang selama ini telah menjadi tempat bermukim dan bertani/berkebun, serta sebagai prasyarat agar dapat ditetapkan sebagai desa atau bagian dari desa yang definitif sehingga dapat terjangkau oleh programprogam pembangunan yang direncanakan dan dilaksanakan oleh pemerintah; 3) Optimalisasi pemanfaatan/penggunaan kawasan hutan dengan memberi peran yang lebih besar kepada pemerintah daerah dalam penataan pengelolaan sumber daya alam bagi kesejahteraan masyarakat dengan tetap memperhatikan daya dukung dan keamanan lingkungan hidup. Hal ini juga
11

sekaligus merupakan bagian dari resolusi konflik pemanfaatan sumber daya alam oleh masyarakat yang telah berlangsung cukup lama; 4) Optimalisasi kawasan hutan dalam DAS atau Pulau (minimal 30%) untuk dapat memenuhi salah satu asas penataan ruang berkelanjutan yaitu bahwa penyelenggaraan penataan ruang harus dapat menjamin kelestarian dan kelangsungan daya dukung dan daya tampung lingkungan dengan memperhatikan kepentingan generasi mendatang; 5) Pemantapkan alokasi dan posisi kawasan lindung (Hutan Lindung dan Hutan Konservasi) dan kawasan budidaya kehutanan di dalam pola ruang RTRWP untuk mengantisipasi pertumbuhan jumlah penduduk, pengembangan investasi, pemekaran wilayah administrasi pemerintahan dan sebagainya, serta mampu berperan dalam menjawab isu global perubahan iklim; 6) Pada kawasan yang berubah peruntukan menjadi APL untuk permukiman dan lahan garapan masyarakat yang memiliki fisiografi berat dan rawan bencana banjir/longsor, diperlukan kajian tipologi dan konsep tindakan pengelolaan konservasi tanah dan pengendalian bencana banjir/longsor, baik dengan pendekatan vegetatif dan atau pendekatan sipil teknis.Khusus pada lahan garapan masyarakat perludilakukan pendekatan pertanian campuran (mix

farming) antara jenis tanaman tahunan dan tanaman semusim. Implementasi


rekomendasi hasil kajian diwujudkan dalam perencanaan daerah yang didukung oleh anggaran yang memadai; 7) Kebijakan pemanfaatan ruang pada kawasan hutan yang diubah peruntukan dan/atau fungsinya diarahkan sedemikian rupa sehingga tidak menjadi tekanan tetapi menjadi pendukung terhadap ekosistem atau fungsi kawasan hutan disekitarnya yang dipertahankan; 8) Membuat regulasi yang jelas tentang mekanisme redistribusi atas kawasan hutan yang dilepas menjadi APL, sehingga tidak terjadi adanya dominasi penguasaan hak oleh pihak-pihak tertentu. Ketentuan dalam regulasi tersebut termasuk ketentuan tentang pemindahan hak (jual-beli) untuk dapat menghindari terjadinya penumpukan penguasaan hak serta dapat menjamin

12

tidak terjadinya peluasan/perpindahan penduduk ke dalam kawasan hutan lagi karena pemindahan hak tersebut; 9) Pengaturan pola jenis dan pola investasi dilakukan dengan memperhatikan kondisi masyarakat setempat agar tidak terjadi konglomerasi usaha dan penguasaan lahan yang dapat menyebabkan marjinalisasi masyarakat setempat, sehingga dapat melibatkan serta memberikan sumbangan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan kemantapan kawasan hutan; 10) Menata kembali perizinan yang terkait dengan pemanfaatan ruang sesuai dengan keberadaan dan posisi kawasan lindung dan kawasan budidaya di dalam pola ruang RTRWP dan RTRWK yang baru dengan tetap memperhatikan peraturan perundangan yang berlaku untuk memberikan kepastian hukum; 11) Menyusun Rencana Detail Tata Ruang dan implementasinya perlu dikawal oleh para pihak di daerah, baik dari unsusr-unsur Pemerintah Daerah, Perguruan Tinggi, dan masyarakat, ruang dan dengan kejelasan mekanisme pengendalian tentang pemanfaatan mekanisme pengaduan masyarakat

pelanggaran pemanfaatan ruang; 12) Diperlukan regulasi tentang pengaturan adanya jalan di dalam kawasan konservasi baik sebagai jalan pengelolaan maupun sebagai jalan umum; 13) Sebagai konsekuensi dari perubahan peruntukan dan fungsi kawsan hutan yang ditetapkan dalam revisi RTRW maka perlu dilakukan tindakan pengamanan agar tidak lagi terjadi pemanfaatan ruang kawasan hutan secara ilegal dan pelaksanaan tata batas baru pada kawasan hutan yang mengalami perubahan; 14) Menyusun kembali disain zonasi/blok area Taman Wisata Alam Laut Teluk Lasolo
sedemikian rupa sehingga: (1) masyarakat memiliki akses berlalu lintas dan dapat memanfaatkan sumber daya alam laut untuk mendukung kehidupannya, (2) izin penggunaan kawasan hutan yang telah diterbitkan Pemerintah di pulau-pulau dalam kawasan TWAL dapat beroperasi secara efektif dengan ditunjang oleh infrastruktur (pelabuhan) serta akses berlalu lintas melalui kawasan TWAL.

13

Tabel 3.

Analisis kecukupan kawasan hutan dalam assessment unit DAS atau pulau kecil atas rekomendasi perubahan peruntukan dan fungsi kawasan hutan
Luas Daratan AU (Ha) (3)
747.038 269.957 558.791 202.599 240.004 170.905 301.459 179.910 2.670.661 3.256 464.336 89.508 4.464 300.842 4.100 45.566 70.629 982.699 3.653.360

No

Assesment Unit (AU)

Luas Kawasan Hutan Awal (Ha) Ha (4)


509.111 152.756 520.922 178.669 167.126 80.562 205.904 141.766 1.956.817 3.237 293.704 46.534 4.352 115.683 3.521 10.022 58.585 535.638 2.492.455

Luas Kawasan Hutan Hasil Rekom (Ha) Ha (6)


484.953 143.594 500.627 170.878 159.749 60.667 192.975 132.102 1.845.547 3.237 264.456 45.991 4.352 92.624 3.521 10.022 56.670 480.872 2.326.419

Selisih (5) - (7) % (8)


3,23 3,39 3,63 3,85 3,07 11,64 4,29 5,37 4,17 6,30 0,61 7,66 2,71 5,57 4,54

{(5)30%}/4 % (9)
9,54 6,65 15,81 14,55 9,91 4,28 9,58 12,20 10,82 17,36 8,31 5,50 16,88 2,11 13,97 -2,00 13,24 6,13 9,56

(1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

(2) DAS KONAWEHA LAHUMBUTI DAS LAEYA SAMBULI DAS LASOLO DAS PAKUE TAMBUKA DAS POLEANG LANGKOWALA DAS RORAYA DAS TOARI DAS WOIMENDA SUSUA Luas DAS PULAU BAHUBULU PULAU BUTON PULAU KABAENA PULAU LABENGKE PULAU MUNA PULAU PADAMARANG PULAU WAKATOBI PULAU WAWONII Luas Pulau Luas Total

% (5)
68,15 56,59 93,22 88,19 69,63 47,14 68,30 78,80 73,27 99,43 63,25 51,99 97,50 38,45 85,86 21,99 82,95 54,51 68,22

% (7)
64,92 53,19 89,59 84,34 66,56 35,50 64,01 73,43 69,10 99,43 56,95 51,38 97,50 30,79 85,86 21,99 80,24 48,93 63,68

Keterangan : arsir warna kuning menandakan bahwa perubahan peruntukan kawasan hutan pada assesment unit tersebut perlu pencematan khusus karena melampaui ambang kriteria umum

14

Tabel 5. Luas kawasan hutan pada masing-masing kabupaten Kawasan Hutan No 1 Kabupaten Kota Bau-Bau Update Penunjukan Usulan Rekomendasi Bombana Update Penunjukan Usulan Rekomendasi Buton Update Penunjukan Usulan Rekomendasi Buton Utara Update Penunjukan Usulan Rekomendasi Kolaka Update Penunjukan Usulan Rekomendasi Kolaka Utara Update Penunjukan Usulan Rekomendasi Konawe Update Penunjukan Usulan Rekomendasi Konawe Selatan Update Penunjukan HK HL HPT HP HPK Luas (Ha) 470 470 470 44.224 25.797 44.160 28.138 28.138 28.138 83.668 83.532 83.668 29.997 18.445 21.965 4.981 3.535 4.554 52.829 41.873 48.579 30.474 26.410 28.918 15.634 15.340 15.634 297.525 269.626 291.745 162.793 74.467 159.134 17.115 17.115 17.115 80.415 222.761 235.840 236.190 44.251 4.579 4.579 5.005 19.650 29.267 24.473 32.645 26.277 29.737 9.679 7.084 9.465 139.630 154.582 133.646 65.311 95.617 71.733 122.446 105.412 107.463 3.707 3.384 1.434 1.902 86.696 32.476 81.823 58.583 31.663 44.559 6.606 6.077 6.417 63.163 37.144 42.405 8.221 41.431 8.285 2.016 153 305 22.409 3.833 10.363 10.694 3.022 11.019 20.218 60.699 13.413 10.019 11.931 211.620 170.844 207.320 151.855 112.641 131.656 137.996 115.866 125.546 541.009 482.818 500.781 248.322 230.783 230.867 442.010 434.786 437.721 217.446 % 45,40 33,92 40,39 63,72 51,44 62,42 50,37 37,36 43,67 74,63 62,66 67,89 78,87 70,39 73,01 80,24 74,58 74,60 74,29 73,07 73,56 49,89 16.123 19.517 17.606 120.052 160.828 124.352 149.557 188.771 169.756 46.910 69.039 59.359 144.574 202.765 184.802 61.051 78.590 78.506 152.790 160.013 157.079 217.515 APL Tubuh Air 5 5 5 440 440 440 89 89 89 7 7 7 356 356 356 91 91 91 219 219 219 930 Kawasan Non Kehutanan Luas (Ha) % 16.128 19.522 17.610 120.492 161.268 124.792 149.645 188.860 169.845 46.917 69.046 59.367 144.930 203.121 185.158 61.142 78.681 78.597 153.009 160.233 157.298 218.445 54,60 66,08 59,61 36,28 48,56 37,58 49,63 62,64 56,33 25,37 37,34 32,11 21,13 29,61 26,99 19,76 25,42 25,40 25,71 26,93 26,44 50,11 Total

29.541 29.541 29.541 332.112 332.112 332.112 301.501 301.501 301.501 184.913 184.913 184.913 685.939 685.939 685.939 309.464 309.464 309.464 595.019 595.019 595.019 435.891 15

53.262 38.466 52.041 89.073

26.426 37.954 24.913

Tabel 5. Luas kawasan hutan pada masing-masing kabupaten Kawasan Hutan No Kabupaten Usulan Rekomendasi Konawe Utara Update Penunjukan Usulan Rekomendasi Muna Update Penunjukan Usulan Rekomendasi Kota Kendari Update Penunjukan Usulan Rekomendasi Wakatobi Update Penunjukan Usulan Rekomendasi HK 73.237 77.588 HL 41.357 44.251 218.094 184.069 209.661 7.401 7.401 7.401 2.419 2.419 2.419 48.701 24.419 31.829 973 973 973 10.022 10.023 10.022 HPT 6.007 3.707 64.580 105.476 80.490 1.136 2.471 1.136 HP 60.073 65.017 99.924 48.464 63.172 29.592 24.529 42.947 1.300 1.300 1.300 HPK 4.351 Luas (Ha) 185.024 190.563 403.098 362.110 383.068 110.971 62.684 92.253 4.693 4.693 4.693 10.022 10.023 10.022 % 42,45 43,72 89,25 80,18 84,82 43,06 24,32 35,80 19,48 19,48 19,48 21,99 22,00 21,99 APL 249.936 244.398 48.041 89.029 68.071 146.563 194.850 165.281 19.378 19.378 19.378 35.544 35.545 35.544 Tubuh Air 930 930 494 494 494 162 162 162 16 16 16 Kawasan Non Kehutanan Luas (Ha) % 250.867 57,55 245.328 56,28 48.535 89.523 68.565 146.725 195.012 165.443 19.394 19.394 19.394 35.544 35.545 35.544 10,75 15,18 56,94 75,68 64,20 80,52 80,52 80,52 78,01 78,00 78,01 Total 435.891 435.891 451.633 451.633 451.633 257.696 257.696 257.696 24.086 24.086 24.086 45.566 45.568 45.566

20.499 24.101 29.745 24.141 3.863 8.940

10

11

12

16