Anda di halaman 1dari 17

DR. M.

NATSIR
PAHLAWAN NASIONAL
oleh : Ulil Amri Syafri, MA
Ketua STID Mohammad Natsir

Pada tanggal 7 November 2008, Pemerintah telah menetapkan DR.


M. Natsir sebagai Pahlawan Nasional. Tentu penetapan ini menjadi
kebanggaan segenap anak bangsa. Rahim negeri ini tidak kering
melahirkan sosok teladan yang baik dalam sejarahnya. Meski sudah
15 tahun silam Perdana Menteri Pertama dan Penggasas NKRI itu
meninggal, namun pengukuhan Pahlawan Nasional untuk M. Natsir
memiliki makna tersendiri bagi segenap anak negeri ini. M. Natsir
memang bukan milik kelompok tertentu, karena jauh sebelum
ditetapkan secara resmi, tokoh kelahiran Alahan Panjang tahun
1908 itu telah menjadi pahlawan di hati ummat, masyarakat dan
rakyat Indonesia. Tentu beliau tidak pernah sedikit pun
mengharapkan pengakuan seperti hari-hari ini, jadi Pahlawan
Nasional. Ahli warisnya pun, anak dan keluarganya tidak berharap
hal tersebut, namun pentingnya pengakuan Pemerintah atas karya
dan perjuangan beliau sangat memungkinkan mengembalikan
sejarah bangsa yang sebenarnya. Anak-anak perjuangan beliau
menyambutnya dengan suka-cita, pengakuan terhadap M. Natsir
sebagai Pahlawan Nasional menggambarkan bahwa beliau berjuang
bukan karena tarikan dari luar, tapi dorongan dari nurani yang
terdalam, berjuang demi kebenaran dan kejujuran yang lahir dari
keyakinannya. Itulah Pahlawan yang sejati.
Yang menjadi aturan di Indonesia dalam menentukan kepahlawanan
seseorang hingga saat ini adalah peraturan pemerintah yang
dikeluarkan tahun 1964. Di dalam peraturan itu dinyatakan bahwa
calon pahlawan itu tidak boleh melakukan perbuatan yang
mencederai perjuangannya. M. Natsir lulus dalam hal ini, pikiran dan
perjuangannya dapat diteliti oleh generasi setelahnya. Dan dalam
hal ini panitia seabad M. Natsir telah sukses mengadakan seminar
dan meneliti Refleksi Seabad Pemikiran dan Perjuangannya di
berbagai Kampus dan wilayah Indonesia.
Tidak sekali ini saja M. Natsir mendapatkan sanjungan. Raja Saudi
Arabia terdahulu, Raja Faisal, menganugerahkan Faisal Award pada
tahun 1980 atas jasa dan karya cemerlangnya untuk kemajuan
ummat. Faisal Award telah mensejajarkan M. Natsir dengan tokoh
Islam Internasional lainnya. Untuk negerinya yang tercinta, ’jasa
spesial’ beliau adalah usaha dan buah pikirannya tentang Mosi
Integral di parlemen tahun 1950 yang mengubah Republik Indonesia
Serikat (RIS) menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
NKRI yang secara teritorial dipertahankan oleh seluruh panglima,
prajurit TNI, dan rakyat Indonesia dari masa ke masa adalah
gagasan M. Natsir.
Ketika Partai Masyumi, media politik milik M. Natsir dibubarkan oleh
Orde Lama tahun 1960, beliau dan rekan-rekan perjuanganya
ditahan dan dikebiri hak-hak politiknya. Maka setelah keluar dari
tahanan, pada tahun 1967, beliau bersama rekan-rekan
perjuangannya mendirikan Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia.
Lembaran perjuangan Masyumi kembali dilanjutkan. Dewan Da’wah
pun ketika itu tidak saja mewarisi perjuangan tokoh-tokoh Masyumi
namun juga aset-asetnya melalui Yayasan Pembangunan Ummat
(YPU)). Dewan Dawah menjadikan M. Natsir sibuk dan semakin sibuk
hingga akhir hayatnya. Melalui Dewan Da’wah, jabatan-jabatan
penting tingkat dunia Islam dipikulnya. Beliau juga hadir dalam
forum-forum penting perjuangan Ummat Islam dunia. Menurut
Hussein Umar Allahyarham, kelahiran Dewan Da’wah ini melalui
perenungan M. Natsir yang amat panjang selama di penjara. Dalam
istilah M. Natsir, ”kalau dulu berda’wah lewat politik, ketika keran
politik ditutup, sekarang berpolitik lewat da’wah”.
Ranah perjuangan M. Natsir bertambah luas, pengaruhnya semakin
menguat, tidak saja bagi kader perjuangan di negeri kelahirannya,
negeri lain pun merasakan denyut juangnya, Raja Faisal
mengatakan, ”Natsir bukan saja milik ummat Islam Indonesia, tapi
pemimpin dunia Islam”. Ketika Jepang dipimpin PM. Takeo Fukuda,
Perdana Menteri itu menjadikan M. Natsir sebagai guru politiknya,
tidak kurang 200 kali PM Jepang itu mengutus orang pentingnya
untuk menemui M. Natsir hanya sekedar ingin berdialog.
Ya, saya lebih setuju M. Natsir bukan milik dan berpihak kepada
siapa-siapa, namun beliau lebih milik dan berpihak pada kebenaran,
kejujuran, keikhlasan yang pasti abadi, Itulah yang dida’wahkan
oleh seorang M. Natsir, baik ketika keran politik Masyuminya
terbuka atau sekembalinya dari rumah tahanan. Maka, gelar
Pahlawan Nasional untuk DR. M. Natsir membuka peluang besar
bagi pengkaji sejarah untuk meneliti dan menulis sejarah negerinya
yang bselum lengkap terekam dan tercatat. Selain itu, gelar ini juga
mengajarkan pada generasi sekarang akan pentingnya moral dalam
berpolitik, konsisten pada nilai juang universal.
Sekedar mengingat, wartawan senior Media Dakwah, Aru Syeif
Assad menceritakan, ketika Pak Natsir tiba takdirnya menghadap
IlahiRobbi, Sabtu 6 Februari 1993, betapa membludaknya
pentakziah semalam suntuk di Jalan Jawa (Cokroaminoto) 46,
sampai keesokan siangnya ketika jenazah dibawa ke Kramat Raya
45 untuk dishalat-jenazahkan di masjid Al-Furqan, Dewan Da’wah.
Masjid Al-Furqan yang berlantai tiga termasuk aulanya, diluberi
pentakziah yang basah kuyup karena hujan lebat. Sholat jenazah
dilaksanakan sampai tiga babak. Bisa diyakini yang menghadiri
takziah di Kramat 45 ini mencapai 10.000 orang. Sebagian
pentakziah ini ikut menghantarkan jenazah sampai ke pekuburan -
walau terpecah pecah kelompoknya - sambil berhujan basah kuyup.
Yang amat mengharukan kata wartawan tersebut, di pekuburan
sudah banyak generasi muda Islam yang menunggu. Ketika iring-
iringan jenazah mencapai Karet, kelompok-kelompok pemuda itu
membentangkan sebuah spanduk atau poster berwarna hijau yang
lazim digelar pada saat mahasiswa melakukan demontrasi, ” Allahu
Akbar: Pak Natsir, Kami akan teruskan Perjuanganmu1”. Pekikan
Allahu Akbar generasi muda saat itu tentunya sebagai tekad
generasi pelanjut untuk meneruskan perjuangan tokoh dan
pemimpin yang mengendalikan perjuangan itu.
Sudah lima belas tahun silam cerita ini disampaikan oleh wartawan
tersebut, tentu pemuda-pemuda yang tampak saat itu, kini sudah
lebih berpengalaman. Semoga para pemuda itu tidak lupa pula
menyiapkan generasi penerus perjuangan selanjutnya, sesuatu
yang telah diraih mereka dari seorang Pahlawan Nasional, Pahlawan
di hati, DR. Mohammad Natsir.

Siap Kuliah

Dalam upaya melahirkan kader-kader umat yang dipersiapkan untuk


melanjutkan gerakan da’wah, pendiri Dewan Da’wah Bapak
Mohamamad Natsir Allahuyarham menyebutkan sebuah istilah
penting, “Risalah Merintis, Da’wah Melanjutkan”. Istilah ini
merujuk pada sejarah da’wah yang telah dirintis oleh para Nabi dan
Rasul pembawa risalah Islam. Selaku ummat yang berittiba’ dalam
aqidah dan syari’ah-Nya maka istimror (kelanjutan) risalah Islam
tetap harus dipertahankan. Dengan demikian, gerakan pembibitan
dengan baik bagi calon du’at tak boleh macet dengan sebab
apapun.
Hal inilah yang menjadi prioritas utama Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah
(STID) Mohammad Natsir dalam misi kampusnya. Untuk Tahun
Akademik 2008/2009, STID Mohammad Natsir mengawali
perkuliahan tahun ajaran baru ini dengan agenda khusus pekan
Masa orientasi atau taa’ruf mahasiswa (MASTAMA) kurang lebih satu
pekan lamanya, dilanjutkan dengan Kuliah Perdana yang dihadiri
oleh seluruh mahasiswa, dosen, dan civitas akademika kampus.
Pada tahun ini, pelaksanaannya menitik beratkan kepada usaha
kampus dalam upaya mengenalkan lebih dalam institusi kampus
sebagai wadah pengkaderan secara khusus, serta profil Dewan
Da’wah Islamiyah Indonesia sebagai lembaga da’wah yang
menaunginya, tentu tidak jauh beda dengan masa-masa
seberlumnya. Hadir sebagai narasumber ustadz Abdul Wahid Alwi,
MA, Drs. Ramlan Marjoned, Drs. Misbah Malim, Lc M.sc. Ulil Amri
Syafri, MA, Samsul Bahri, MH dan staff-staff penting kampus. Kuliah
perdana kali ini langsung disampaikan oleh Ketua Umum Dewan
Da’wah, pihak STID Mohammad Natsir memandang penting dalam
hal ini, agar pengkaderan yang diinginkan tidak keluar dari misi
besar gerakan dawah Dewan Da’wah. Demikian pula, agar
mahasiswa faham bahwa Dewan Da’wah mengkader mereka untuk
ummat yang akan kembali kepada ummat.
Kader ummat yang diinginkan kampus Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah
(STID) Mohammad Natsir, tidak saja harus memiliki intelektualisme
yang baik. Intelektualisme belum cukup, moralitas adalah poin
penting yang tidak boleh diabaikan. Negeri ini tidak kurang jumlah
orang pintar, tapi yang bermoral memang belum cukup banyak.
Pesan Alllahuyarham Bapak Mohamamad Natsir pada hal ini tegas
dan jelas. ”Bagi seorang calon pemimpin masyarakat, apalagi calon
pemimpin negara, ada suatu yang diperlukan selain ilmu,
pengetahuan, ketrampilan dan sebagainya. Yaitu akhlak yang baik,
tak ada cemarnya. Dalam istilah kita: ’akhlaqul-karimah’”. Maka
barisan yang sedang Tafaqquh fid-din harus telah membersihkan
dirinya dari tradisi jahiliyah.

MEROKET
DENGAN KEKUATAN PENUH ?
Gambar ini adalah Gedung Menara Da’wah Dewan Da’wah Islamiyah
Indonesia dan areal Pusdiklat Dewan Da’wah yang berada di
Tambun Bekasi. Sarana serupa juga sedang dirintis di daerah
Cipayung Jakarta Timur yang tidak lama lagi, Insya Allah, geliat
da’wah Pusdiklat dan Muslimah Centre Cipayung (PMCC) juga akan
terasa oleh masyarakat sekitar.
Di areal Tambun ini, sebagian gerakan da’wah Dewan Da’wah telah
di mulai. Masjid al-Bahr yang berada di tengah lokasi menjadi simbol
bahwa da’wah sudah dan tengah berlangsung. Kegiatan-kegiatan
masjid yang sangat padat menjadikan masjid ini ramai dikunjung
jama’ah. Masyarakat sekitar merasakan betul bahwa gerakan
da’wah Dewan Da’wah telah berlabuh di hati mereka. Ada kegiatan
Madrasah Diniyah Awwaliyyah, Pesantren Ahad Remaja al-Bahr
Muslim Youth (AMY), Pengajian Bapak-Bapak setiap Ahad malam,
Pengajian ummahat, Bina Annisa, pengajian bulanan, Pesantren
Ramadhan, tahfidz dan tahsin al-Quran (LTQ), bahkan areal ini juga
mampu menampung pelaksanaan sholat Idul Fitri dan Idul Adha
pada tiap tahunnya.
Pusdiklat Dewan Da’wah juga telah menghadirkan Taman kanak-
kanak yang lahir atas kebutuhan jama’ah dengan peserta didik
kurang lebih 60 siswa. Dengan semakin banyaknya siswa maka
pihak Pusdiklat terus melakukan pengembangan sarana dan
prasarana, seperti penambahan ruang kelas atau gedung. Taman
Kanak-Kanak ini diberi nama TK Raudhatul Kuwait Pusdiklat Dewan
Da’wah. Di lokasi ini juga tersedia SDIT yang baru dimulai pada
tahun 2007, menempati gedung berlantai dua yang sangat
representatif bagi anak-anak sekolah Dasar. Anak-anak yatim dari
beberapa daerah Indonesia juga dibina dan dididik di areal Pusdiklat
ini. Demikian pula dengan kehadiran Darul ‘Aitam yang juga
menjadi media pembinaan gerakan da’wah Dewan Da’wah,
menggambarkan sentuhan kepedulian yang mendalam pada
da’wah. Diantara mereka ada yang pernah di kirim Dewan Da’wah
Pusat bersama dengan anak yatim binaan Dewan Da’wah di daerah
lain untuk mengikuti program acara di Kuwait, bertaa’ruf dan
silaturrahim dengan anak-anak yatim negeri Islam lainnya.
Di ranah yang luas ini, Dewan Da’wah Pusat juga menanam kampus
Da’wah untuk membina dan mendidik calon du’at muda yaitu para
mahasiswa binaan Dewan Da’wah yang diharapkan menjadi kader
ummat untuk masa ke depan. Mereka dididik dan dibina melalui
kampus Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah (STID) Mohammad Natsir
sebagai rintisan Universitas Islam Mohammad Natsir. Bagi
mahasiswa terkait, Dewan Da’wah telah membangun sarana
asrama mahasiswa agar dapat lebih konsentrasi dalam membina
dan menempa diri semasa kuliah. Sarana pendidikan semisal
Perpustakaan, Internet dan pustaka digital, Laboratorium Bahasa
juga menjadi penguat kompetensi lulusan yang telah disediakan
Dewan Da’wah.
Keindahan gambar dalam foto tersebut memperlihatkan geliat
da’wah melalui laboratorium Da’wah Dewan Da’wah tersebut. Tentu,
kader-kader muda Dewan Da’wah diminta keseriusannya dalam
memikul tugas da’wah tersebut dengan kerja keras dan kerja cerdas
yang kerap disampaikan Ketua Umum Dewan Da’wah ustadz
Syuhada Bahri dalam arahan-arahannya.
Gedung Menara Da’wah Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia,
gedung ini tepat berada di Jalan Kramat Raya 45 Jakarta Pusat.
Ratusan bahkan ribuan warga Jakarta yang hilir mudik setiap
harinya menjadi saksi tegapnya bangunan Menara Da’wah tersebut.
Menara ini bisa dikatakan gedung da’wah tertinggi yang berada di
kota Jakarta. Meski penyempurnaan bangunan masih berlangsung,
namun pengaruh gerakan da’wah Dewan Da’wah sudah amat lama
dirasakan. Tidak saja Jakarta yang menikmatinya, jangkauan da’wah
dari Kramat Raya 45 ini telah menembus batas-batas ruang yang
teramat luas dan menyentuh berbagai persoalan keumatan dan
kenegaraan yang terus berjalan.
Ada baiknya dikenang, dalam acara silaturrahim Keluarga Besar
Dewan Da’wah th 2000 di Gedung Menara Da’wah ini, Prof. KH. Ali
Yafie yang ketika itu menjadi ketua umum MUI pusat
mempertanyakan dalam pidatonya, “mana Tower Da’wah, Tower
Ulama?“. Maka saat itulah telah dirancang pembangunan Tower
Da’wah atau Menara Da’wah Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia.
Peletakan batu pertama gedung ini diawali oleh KH. Ali Yafie,
dilanjutkan Bapak Nazli Azlani sebagai wakil ketua MPR RI, turut
hadir juga Menteri Hukum Dan Perundang-undangan RI, Bapak Prof.
DR. Yusril Ihza Mahendra dan Budayawan Taufik Ismail, serta diikuti
jajaran penting Dewan Da’wah lainnya. Agenda kerja dari Kramat
Raya 45 ketika itu menjadi berita nasional yang diliput berbagai
Koran. Harian Republika, 3 Maret 2000, menyebutkan peletakan
batu pertama pembangunan Menara Da’wah ini menandai 33 tahun
Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia. Sebelumnya, tanggal 28
Februari 2000 dua hari setelah acara silaturrahim, Koran Kompas
memberitakan bahwa di Kramat Raya 45 baru saja diletakan batu
pertama Pembangunan Menara Da’wah dan Universitas Islam
Mohammad Natsir (UNIM). Sejak itulah Menara Da’wah Dewan
Da’wah ini mulai dibangun dan diharapkan menjadi Islamic Center
yang besar bagi wadah kegiatan keumatan.
Membaca sejarahnya, lokasi ini pun menjadi saksi bahwa dahulu
tokoh da’wah Islam DR. Mohammad Natsir menjadi nahkoda
gerakan da’wah Dewan Da’wah di sini. Beliau merancang,
membangun dan menyebarkan ruh da’wah ke berbagai penjuru
medan da’wah. Lokasi ini pula digunakan Beliau untuk menyiapkan
kader-kader da’wah pelanjut risalah perjuangan. Tak aneh bila orang
mengenal Kramat Raya 45 ini sebagai pusaran gerakan da’wah
Nasional maupun Internasional, rahim da’wah ini kerap melahirkan
tokoh yang konsisten dalam juangnya. Sungguh mengagumkan.
Kini, masa telah berlalu jaman pun sudah berganti. Kepemimpinan
di tubuh Dewan Da’wah pun telah silih berganti pasca ditinggal oleh
DR. Mohammad Natsir. Meski baru ±15 tahun DR. Mohammad Natsir
tidak hadir di Kramat Raya 45 ini, tapi regenerasi kepemimpinan
berjalan secara baik, bahkan empat kader terbaik di tubuh Dewan
Da’wah telah menakhodai lembaga yang dilahirkan oleh tokoh-tokoh
umat tersebut. Kini ustazd Syuhada Bahri beserta jajarannya
diberikan amanah yang harus dipikul meskipun berat dengan
berbagai tantangan dan peta kegiatan yang semakin berkembang.
Undang-Undang Yayasan yang baru turut juga mewarnai
kepemimpinan di Dewan Da’wah yang terdiri dari Dewan Pembina,
Pengawas dan Pengurus.
Berbagai kegiatan da’wah yang berupa sosial pelayanan umat di-
manage dari menara da’wah tersebut; Biro konsultasi keluarga
Sakinah, Majlis Fatwa yang memberikan bimbingan dan arahan yang
dipandang perlu untuk perbaikan umat Islam, baik skala lokal
maupun nasional, Masjid al-Furqon yang amat padat dengan
berbagai kegiatan unggulannya, mulai pembinaan harian sampai
pada pembinaan jamaah secara periodik yang lebih bersifat lokal. Di
tempat ini juga kegiatan sosial Dewan Da’wah dilakukan oleh Lazis
dan Kompak yang berskala nasional dan Internasional. Sosial
pelayanan dalam bidang pendidikan tingkat mahasiswa ditangani
oleh STID Mohammad Natsir dengan beberapa ruang kuliah yang
representatif. Head office STID bernaung dalam menara da’wah ini,
demikian pula Serikat Tani Islam Indonesia (STIT) Pusat. Badan
Usaha Dewan Da’wah yang bersifat komersial juga berada di areal
ini seperti Hudaya Safari yang membidangi perjalanan Haji, umrah
dan tour, KBIH, PT. Media Da’wah, toko buku Media Dakwah, Majalah
Dakwah, seluruh head office badan usaha ini juga berada di menara
Da’wah.
Dalam skala yang lebih besar, lingkup kegiatan Dewan Da’wah
Pusat adalah Unit Pengembang Wilayah dan Urusan Dalam Negeri,
Unit Pengembangan Sarana dan Hubungan Luar Negeri, Litbang,
Perpustakaan, dan Unit Penanganan Gazwl al-Fikr, Unit Diklat dan
Da’wah yang berskala Nasional, Unit Pemeliharaan Aset dan Waqaf,
Unit Muslimat, seluruh aktifitas ini dibantu operasionalnya oleh
kesekretariatan yang makin hari mulai berbenah menata lalu-lintas
gerakan da’wah Dewan Da’wah yang sangat padat. Head Office
Dewan Dawah wilayah DKI juga berada di areal ini dengan berbagai
macam kegiatan pelatihan dan da’wah di wilayah DKI. Dalam
kondisi kekuatan yang telah terbagi sesuai bidang amanah kerja,
tentu penguatan organisasi yang berorientasi pada sistim kerja dan
aktifitas tidak bisa dielakan guna mendayung menuju cita-cita
bersama kebangkitan da’wah dan pemikiran syari’ah Islam di
persada Indonesia. Tiga kata kunci usulan terakhir Allahyarham
Hussein Umar saat memimpin Dewan Dawah ini adalah Revitalisasi
dan Reposisi yang semakin menampakkan karakter Syari’nya.
Semua upaya yang dirancang tersebut adalah dalam rangka
meningkatkan mutu da’wah Islam. Meskipun demikian, Dewan
Da’wah merasa baru mampu menunaikan da’wah bagaikan setetes
air lautan dari tugas dan amanah da’wah yang begitu luas tak
berujung.
Sebagai penutup, kita teringat sikap Allahyarham DR. Mohammad
Natsir saat didesak siapa pengganti beliau pasca kepemimpinannya,
tokoh besar itu tidak pernah menyebut ‘nama’ tapi kriteria’, dan
beliau ketika itu termasuk yang optimis bahwa pada masanya
pemimpin itu akan lahir. Suasana yang kerap dikritik beliau sebagai
penghambat lahirnya pemimpin adalah Freedom of expression yang
amat dibatasi dan akan sulit melahirkan pemimpin-pemimpin. DR.
Mohammad Natsir pada tataran kepemimpinan sangat berorientasi
pada sistim, bukan figur dan kekuatan individu. Dalam satu waktu,
di usia senjanya (80 tahun) beliau pernah mengatakan ”saya
melihat pilar kepemimpinan ummat Islam itu sekarang ada pada
tiga kelembagaan, yakni Masjid, Pesantren dan Kampus. Jadi, tidak
lagi pada individu-individu. Masa depan Islam tetap banyak
mengandung Harapan, terutama jika saya melihat gairah hidup
beragama yang dimotori angkatan muda dan para ‘ulul albaab’,
para ulama dan cendikiawan muslim”. (redaksi)
Catatan M. Natsir
tentang Pengkaderan
Oleh: Imam Al-khattab
Pengawas Perpustakaan STID Mohammad Natsir

Nama Mohammad Natsir bagi aktivis politik Islam Indonesia


khususnya memang tidak asing lagi. Kebesaran nama beliau telah
membawa pengaruh besar bagi pergerakan ummat Islam di dalam
negeri maupun dunia internasional. Bahkan, orang-orang yang
mengaku pernah bersamanya merasakan betul pengaruh tersebut.
Sejak wafatnya Bapak Bangsa ini, semua orang benar-benar merasa
kehampaan. Para aktifis politik dan da’wah di Indonesia kemudian
ramai mempertanyakan siapa yang akan tampil menggantikannya.
Sebab, siapapun tahu keberadaan beliau tidak hanya diakui di
Indonesia tapi juga di mancanegara. Hal inilah yang dikatakan Raja
Faisal bin Abdul Azis Alu Su’ud dari Arab Saudi ketika menerima
utusan dari Indonesia yang diwakili Subandrio tentang Mohammad
Natsir, “Kalau saudara membela Islam mengapa anda tahan
Mohammad Natsir? Saudara tahu, Mohammad DR. Moh. Natsir
bukan hanya pemimpin umat Islam Indonesia saja, tetapi pemimpin
umat Islam dunia, pemimpin kami”, tegas sang raja Faisal bin Abdul
Azis Alu Su’ud.

Pengaruh Mohammad Natsir memang sangat kuat di dunia Islam,


khususnya di wilayah Timur Tengah. Bahkan dalam kisah lain,
mendiang Soeharto sebagai kepala negara ketika itu sampai
mengirimkan utusan khususnya, Dzulkifli Lubis, dengan tugas kusus,
untuk menghilangkan pengaruh tersebut. Namun, tugas itu hanya
berujung dengan kegagalan. Kepada Ustadz Dahlan Bashri Thohiri,
Lc (Ketua Majelis Fatwa DDII Pusat saat ini), sang utusan hanya
berujar putus asa ketika ditanya tentang jawaban apa yang akan
diberikan pada Soeharto, “Saya akan sampaikan, saya tidak dapat
memadamkan cahaya matahari!”.

Hingga akhir hayatnya, sosok Mohammad Natsir senantiasa


memukau. Namun, bukan berarti dengan tiadanya beliau jejak
langkah perjuangan ummat Islam berhenti sampai di situ. Estafeta
perjuangan Islam tetap tidak boleh berhenti, sebab pada
hakekatnya Mohammad Natsir juga seorang estafet da’wah, seperti
beliau yang menyebut dirinya sendiri dengan ‘jejak risalah’
Muhammad shalalahu ’alaihi wasalam. Sebagai sosok yang memiliki
pandangan (visi) jauh ke depan tentang masa depan umat Islam,
dapat dipastikan beliau memiliki pemikiran-pemikiran cemerlang
tentang bagaimana seharusnya kader-kader umat ini melakukan
persiapan dan memerankan dirinya.
Dalam tulisannya di Suara Masjid No. 159 bulan Desember 1987,
Mohammad Natsir mengatakan “Pemimpin muda dan cakap itu
takkan pernah lahir kalau sejak sekarang pemimpin-pemimpin tua
tidak menyediakan kader sebanyak-banyaknya”.
Dalam sistem pengkaderan, Mohammad Natsir tidak pernah
menisbatkan sejumlah orang tertentu sebagai kader atas nama
dirinya. Beliau juga tidak membuat jenjang-jenjang ekslusif tertentu
sebagaimana terjadi dalam tubuh ormas-ormas Islam kelas dunia.
Beliau menampilkan bentuk pengkaderan yang lahir secara alamiah
namun terarah. Meskipun ada lembaga-lembaga formal yang
dirintisnya sebagai wahana pengkaderan, beliau tetap menganggap
mereka sebagai kader ummat. Hasilnya, saat ini kita saksikan
banyak sekali tokoh-tokoh kaliber nasional yang merasa berhutang
budi dengan buah ilmu yang didapatkan selama berinteraksi dengan
Mohammad Natsir. Mereka menyebut identitasnya sendiri dengan
label ‘anak ideologis DR. Moh. Natsir’.
Lukman Hakim dalam bukunya ‘Pemimpin Pulang’ menyampaikan
pandangan Mohammad Natsir tentang regenerasi atau
pengkaderan. Dalam sebuah perbincangan di Masjid al-Furqon,
Dewan Da’wah Pusat, beliau yang genap berumur 80 tahun
mengatakan, “Terkadang, saya dihujani pertanyaan-pertanyaan dari
berbagai pihak, terutama dari generasi muda. Siapakah yang telah
dipersiapkan untuk alih generasi pemimpin sesudah kami tidak ada
lagi?”. Meski terkadang pertanyaan ini sarat dengan kecaman
seolah-olah mengabaikan masalah ini, Mohammad Natsir dengan
tenang dan optimis mengatakan, “Kalau saya, saya termasuk orang
yang optimis dalam hal ini. Kalau rajin melihat-lihat dan menyimak,
terutama dalam setahun akhir-akhir ini, kita melihat calon-calon
Yahya dikalangan angkatan muda kita”. Yahya yang dimaksud beliau
adalah generasi penerus perjuangan sebagaimana do’a Nabi
Zakariya yang telah lanjut usia ketika berharap akan lahirnya
generasi penerus da’wah sesudah beliau (QS. Maryam: 2-6).
Secara verbal, tidak hanya sekali Mohammad Natsir berbicara
tentang regenerasi atau pengkaderan. Salah satunya dalam sebuah
tulisan pada Harian Abadi tanggal 28 Februari 1969 No. 27, dimana
beliau mengatakan, ”Kalau patah tak tumbuh hilang tak berganti
dalam sektor ini (perjuangan Islam), jangan terkejut akan datang
suatu masa yang orang Islam di Indonesia menggembor-gemborkan
berjuang menegakkan kalimah Allah, akan tetapi tak tahu apa yang
sesungguhnya yang diperjuangkannya itu!”. Menyimak
keseriusannya tentang hal ini, tentunya beliau memiliki cita-cita dan
harapan tentang seperti apa profil kader penerus yang tepat dan
sesuai dengan tantangan zaman.

Dari gagasan-gagasan yang ditinggalkan Mohammad Natsir kita


dapat membaca keinginan-keinginan tersebut lewat buku-buku,
catatan, surat-surat, pidato, bahkan pada ceramah-ceramah beliau.
Seperti dalam acara pertemuan Majelis Alim Ulama Cihideung,
Kabupaten Pandeglang pada Senin, 2 oktober 1972. Dalam acara
tersebut beliau mengatakan bahwa kaum muslimin harus memiliki
keseimbangan tadrib (latihan) antara jasadiah dan rohaniah, sebab
Islam membangun manusia untuk pembangunan diri dan
masyarakat secara seimbang. Aspek jasadiah dan rohahiah memiliki
hak untuk dikembangkan. Dengan ini tidak ada lagi tuduhan bahwa
ummat Islam terbelakang. Beliau melandasinya dengan sebuah
riwayat, “Kamu mempunyai kewajiban terhadap kesejahteraan
jasmanimu, tetapi kamu juga mempunyai kewajiban terhadap
kesejahteraan rohaniahmu”.
Selain itu Mohammad Natsir juga sangat menekankan pentingnya
memiliki ilmu bagi ummat Islam sebagai alat untuk menentukan
haq dan bathil. Hal ini beliau sampaikan pada pertemuan mubaligh
dan mubalighah pimpinan lembaga-lembaga da’wah di Jakarta, 2
April 1972 bertempat di Masjid Arif Rahman Hakim UI (Universitas
Indoensia) Salemba. Pada kesempatan lain, beliau juga menyerukan
agar umat Islam harus mempunyai satu golongan (corps) yang
memusatkan perhatian dan kegiatannya kepada menggali
kebenaran-kebenaran yang tersimpan di dalam ajaran agama Islam.
Beliau menyebutnya dengan kelompok yang tafaqquh fiddin. Ilmu
yang beliau maksud adalah ilmu yang tidak bertentangan dengan
Islam, bisa berasal dari Timur maupun Barat. Sebab bagi beliau,
Islam tidak mengenal dikotomi perolehan ilmu baik dari arah Timur
atau Barat. Islam hanya mengenal dikotomi haq dan bathil. Hal itu
disampaikannya pada Rapat Persatuan Islam di Bogor, 17 Juni 1934.

Dengan keintelektualannya, masih menurut Mohammad Natsir,


diharapkan ummat mampu memanfaatkan ilmu dengan agama
sebagai panduannya, mampu tampil sebagai muslim modernis dan
mujaddid yang memperjuangankan dan mempertahankan aqidah
dari bid’ah, khurafat, tahayul dan taqlid buta sebagai penghambat
tajdid. Dalam bukunya “Islam dan Akal Merdeka,” beliau
menegaskan bahwa menggunakan akal sebagai alat untuk
mengetahui dan mendalami sesuatu adalah ruh dari Islam yang
termaktub dalam al-Qur’an dengan sebutan ulul albab. Namun disisi
lain, ulul albab juga sekelompok intelek yang tunduk kepada nash
agama (Islam). Di dalam buku “Pesan Islam untuk Orang Modern”
Mohammad Natsir juga menegaskan, “Seseorang tidak perlu
menjadi seorang sekuler terlebih dahulu untuk kemudian menjadi
orang progresif atau orang modern”. Begitulah, sosok beliau yang
tetap memiliki izzah dengan pengetahuan Islam yang komprehensif
yang telah difahaminya.
Arsip 22 Tahun lalu :
Editorial Suara Masjid Dzulhijjah 1406/
September 1986
Potensi dan kelemahan Ummat
Betapapun situasinya, maka dunia Islam sekarang ini masih
memiliki potensi untuk maju dan berperan dalam percaturan
ideology dunia. Pertama, tentu al-Islam yang menjadi dasar dan
ajaran ummat Islam yang merupakan ad-Dien yang sempurna. Ia
adalah merupakan suatu agama dan ajaran yang universal, memiliki
berbagai dimensi yang dapat menjawab berbagai persoalan ummat
manusia baik yang kini maupun masa datang. Kedua, ummat Islam
yang jumlahnya sendiri cukup besar. Menurut catatan Muslim World
Gazetteer 1675 Edision, jumlah ummat Islam seluruh dunia adalah
sekitar 907.197.000 jiwa, kini diperkirakan sudah hampir 1 milyar
jiwa atau sekitar 1/5 jumlah dari jumlah penduduk dunia.
Ketiga negeri-negeri Islam, seperti kita ketahui bahwa ummat Islam
yang bermukim di berbagai Negara dengan rahmat Allah SWT
memiliki berbagai kekayaan dari bumi dan laut di mana mereka
bermukim.
Misalnya Maroko, Mauritania dan Sahara memiliki 85% dari hasil
fosfat dunia, Indonesia dan Malaysia 65% karet, Bangladesh
menghasilkan 65% jutr, Sudan menghasilkan 72% bahan-bahan
hewani Chad pun menghasilkan 61% uranium, Saudi Arabia, Kuwait
dan negeri-negeri Timur Tengah lainnya termasuk penghasil 80%
cadangan minyak dunia.
Kita tentu tidak boleh cepat berbangga akan potensi dan kekuatan
ummat Islam seperti yang dipaparkan tersebut di atas. Sebab kita
masih jauh belum mampu mendayagunakan potensi kekayaan alam
berikut potensi manusianya secara maksimal.
Beberapa tokoh Islam sebenarnya telah banyak mensinyalir adanya
titik-titik kelemahan ummat Islam. Sayid Abul Hasan an Nadwi
ulama India yang kini menjabat Ketua Dewan Pusat Studi Islam di
Oxford, University di Inggris, menyimpulkan bahwa dunia Islam kini
sedang dilanda krisis kepercayaan diri, tidak lagi mengenal diri
pribadi dan kehilangan kepercayaan pada kemampuan dirinya
sendiri, secara rinci beliau kemukakan antara lain;
- Belum adanya kepemimpinan Islam yang memenuhi
persyaratan khas terpadunya dua kalimah antara Jihad dan
Ijtihad.
- Masih terpisahnya pemikiran antara Agama dan Negara
(masyarakat)
- Masih banyak penguasa negara-negara Islam yang
menyalahgunakan Islam.
- Para ulama-ulama dan cendikiawan kurang banyak
memprerhatikan ilmu-ilmu terapan/amaliyah.
Sedangkan M. Natsir, ketua Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia
sahabat dari Sayid Abul Hasan an Nadwi, mengemukakan
pendapatnya tentang titik-titik kelemahan ummat Islam 10 tahun
yang lalu ( Tahun 1976) sebagai berikut:
1. Tiadanya inventarisasi, ummat Islam mempunyai berbagai
potensi, baik personal maupun material, namun tidak mampu
memobilisasikannya untuk keperluan ummat, karena
ketiadaan inventarisasi.
2. Hobby bermusuhan, ummat Islam sangat demam (senang)
punya lawan. Kalau ada musuh mereka bersatu. Bila musuh
tidak ada lagi, mereka mencari musuh di kalangan sendiri.
3. Tidak menghargai diri, ummat Islam tidak menghargai diri
dan kurang mengahargai apa yang menjadi miliknya sendiri.
Mereka terlalu silau melihat lampio orang lain yang nampak
berbunga-bunga beraneka warna. Mereka lupa bahwa
lampionya sendiri lebih bagus. Mereka tertarik pada apa saja
yang aneh-aneh yang datang dari luar.
4. Rakus pada dunia dan takut pada resiko, ummat Islam
banyak yang rakus pada dunia (hubbud dunya) dan dalam
waktu yang sama sangat takut menanggung resiko, takut mati
(karrahiyatul maut).

Setelah kita mengetahui betapa hebat potensi ummat Islam, namun


sekaligus menyadari kekurangan dan titik lemah kita maka lalu apa
yang dapat kita perbuat? Dalam setiap kesempatan orang bertanya
demikian Mohammad Natsir yang telah cukup makan garam
perjuangan selalu menjawab: berbuatlah apa saja yang dapat kita
perbuat yang bermanfaat bagi ummat! Lebih lanjut belia berucap
bila diibaratkan kita ini seorang petani, maka bidang kita adalah
menabur bibit, mengolah tanah, memberikan pupuk, air menjaga
supaya bibit itu cukup mendapat udara dan sinar matahari, menjaga
dari serangan hama penyakit dan lain-lain. Adapun yang
menumbuhkan bibit menjadi benih yang hidup, adalah karunia
langsung dari Allah SWT. Letaknya di luar jangkauan seorang
pemaksa atas mereka, demikian M. Natsir.
Oleh karena itu seorang pembawa da’wah (termasuk ulama’, da’i,
cendikiawan, hartawan muslim) dituntut adanya usaha yang
kontinyu, perhatian yang tidak putus-putusnya dalam proses
pembinaan dan pertumbuhan ummat yang sedang dibangunnya.
Dalam rangka mengisi tahun ke-7 abad kebangkitan Islam ini
redaksi ingin mengingatkan kembali beberapa butir ”Deklarasi
Makkah” yang merupakan hasil KTT Islam ke III yang berlangsung di
Makkah tahun 1981.
Indonesia yang diwaliki oleh almarhum H. Adam Malik (waktu
sebagai wapres RI) ikut menanda tangani deklarasi tersebut. Antara
lain yang dapat kita catat adalah:
1. Meningkatkan solidaritas, konsultasi dan koordinasi sesama
ummat Islam.
2. Menjadikan Kitabullah dan Sunnah Rasul menjadi dasar dan
inspirasi pembangunan.
3. Menghapuskan kemiskinan dan memperkuat kerja sama
perekonomian.
4. Mengembangkan pendidikan, ilmu dan tekhnologi.
Insya Allah dengan beberapa rujukan tersebut di atas dapat lebih
meningkatkan pembinaan ummat guna menyambut abad
kebangkitan Islam yang memang tidak bisa ditawar-tawar lagi.

PEMIMPIN YANG MENGENDALIKAN


PERJUANGAN1

Saudara pembaca yang budiman !


Taip-tiap pemimpin hendaknya mempunyai niat dalam hatinya
bahwa pada suatu ketika, pimpinan itu akan diserahkan kepada
orang lain. Menjadi pemimpin bukanlah semata-mata memberikan
pimpinan kepada umat yang banyak, akan tetapi haruslah berikhtiar
pula menyediakan kader-kader untuk diserahi pimpinan di waktu
yang akan datang. Pada suatu saat, pemimpin tua berangsur-angsur
1
disalin dari tulisan M. Natsir tentang PEMIMPIN ketika beliau berusia 63 tahun.
harus meninggalkan lapangan. Pada saat itu, haruslah tampil ke
muka pemimpin-pemimpin muda yang cakap dan kuat.
Pemimpin yang muda dan cakap itu tak akan pernah lahir, kalau
sejak sekarang pemimpin-pemimpin tua tidak menyediakan kader
sebanyak-banyaknya dengan mendidik dan memberikan
kesempatan kepada mereka untuk pada suatu saat memegang
kendali perjuangan.
Perjuangan kita, masih jauh dan panjang. Tak mungkin para
pemimpin yang hidup sekarang saja secara mutlak, dapat
menyelesaikan perjuangan itu sampai ke batas cita-cita.
Berapalah usia manusia – Paling tinggi 100 tahun. Sedangkan
perjuangan Islam, mungkin mencapai ratusan dan ribuan tahun
yang akan datang, atau takkan habis-habisnya. Inilah pokok utama
bagi pandangan para pemimpin sekarang !
Memimpin hendaklah juga untuk menyerahkan pimpinan ke tangan
yang lain. Jangankan untuk masa yang akan datang, masa yang
sangat jauh itu, sedangkan untuk masa sekarang saja, sangatlah
terasa oleh kita bagaimana kekurangan pemimpin di kalangan
ummat Islam ini.
Jumlah mereka amatlah banyaknya, tetapi pemimpin yang
mengendalikan perjuangan, amatlah sedikitnya. Hal ini, hendaklah
segera dapat kita renungkan sebaik-baiknya.
Dari pihak pemuda-pemuda angkatan baru, inipun harus dipahami
pula. Mereka adalah bunga harapan, harapan bangsa dan nusa.
Mereka hendaklah menyiapkan diri sekarang ini, menjadi kader-
kader dengan memperbanyak ilmu dan pengalaman perjuangan
sekuat tenaga.
Nabi Muhammad saw telah memberikan contoh yang tepat bagi
kita. Beliau memimpin ummat dan membentuk kader dengan
sungguh-sungguh. Segala kecakapan, kesanggupan dan jiwa
raganya, diberikannya untuk memimpin dan membentuk kader itu
dalam memperjuangkan kalimah Allah. Akhirnya dalam masa 23
tahun saja, semua musuh jatuh dan Agama Islam tegak dengan
jayanya di muka bumi. Beliau wafat, para Sahabat dan kemudian
Tabi’in, siap selalu menggantikannya meneruskan perjuangan.
Inilah yang kita contoh !
Pemimpin Islam harus mempunyai pendirian semacam ini. Tak usah
kita khawatir, bahwa diantara pemimpin Islam sekarang ada yang
berfikir absolut, hendak berkuasa sendiri, dan merasa dirinya akan
hidup seribu tahun. Tidak !
Menumbuhkan kader-kader muda, membentuk pemimpin-pemimpin
yang kuat, itulah tugas pemimpin sekarang, yang tak boleh
ditunggu dan ditangguhkan lagi.
Bahagialah perjuangan ummat Islam !
(Redaksi)
Praktek Da’wah di Kecamatan Bayan NTB
Bayan merupakan satu daerah unik di wilayah Nusa Tenggara Barat. Ia
terletak di tepi utara Pulau Lombok, tepatnya di lereng gunung Rinjani.
Panoramanya sangat elok nan indah sebagai salah satu tempat tujuan wisata
adventure favorite dari seluruh dunia. Sawah-sawahnya terlihat hijau dan
tersusun secara bertingkat-tingkat. Bukit-bukitnya berjajar indah serta dari
kejauhan nampak birunya laut, semakin menambah pesona bagi setiap mata
yang memandangnya. Di sana masih banyak terdapat rumah-rumah adat
terbuat dari bambu yang beratapkan jerami. Sebagian dari penduduk Bayan
masih ada yang menggunakan pakaian khas adat Bayan yang agak mirip
dengan pakaian adat Bali. Sebuah nuansa kehidupan yang masih alami dan
langka.
Mayoritas penduduk Kecamatan Bayan adalah Muslim. Meskipun begitu,
pemahaman dan pengamalan terhadap ajaran Islam masih sangat
memprihatinkan. Identitas sebagai muslim penduduk Bayan adalah hasil
da’wah para ustadz pendahulu yang singgah berda’wah di sini, meski
demikian masyarakat di sana masih lekat dengan budaya dan tradisi Hindu.
Pada bulan Ramadhan 1429 H, Kami para mahasiswa Sekolah Tinggi
Ilmu Da’wah (STID) Mohammad Natsir Jakarta menyelenggarakan kegiatan
“Kafilah Da’wah 1429 H” di daerah ini. Kegiatan ini adalah salah satu program
rutinitas Kampus yang diadakan pada setiap tahunnya dan bersifat wajib bagi
mahasiswa tingkat semester V (lima) program intensif. Beberapa tahun
sebelumnya, kegiatan “Kafilah Da’wah” telah diselenggarakan di Aceh, Nias,
Sambas Kalbar dan Bali. Adapun pada tahun ini, kegiatan ini berlangsung
selama satu bulan penuh di bulan Ramadhan yang bertempat di Kecamatan
Bayan, Lombok Utara, Propinsi Nusa Tenggara Barat.
Kegiatan “Kafilah Da’wah 1429 H” di Kecamatan Bayan diikuti oleh 16
Mahasiswa STID Mohammad Natsir Jakarta. Di bawah bimbingan dan
koordinasi Dewan Da’wah wilayah. kami disebar ke beberapa desa, yaitu
Desa Bayan, Desa Akar-akar dan Desa Sukadana, dimana masing-masing
desa memiliki beberapa dusun. Di Desa Bayan kami menempatkan 9
Mahasiswa yang masing-masing tersebar di lima dusun (Dusun Bayan Beleq,
Sembulan, Mandala, Teres Genit dan Dasan Tutul), 4 Mahasiswa ke Desa
Akar-akar yang terdiri dari dua dusun (Dusun Gelumpang dan Baban Kute)
dan satu Mahasiswa di Desa Sukadana, tepatnya di Dusun Kebaloan.
Alhamdulillah, di sana kami dapat melaksanakan berbagai kegiatan
bernuansa Islami, di antaranya “Daurah Penataran Guru pengajaran al-
Qur’an” yang diikuti guru-guru Iqra’ yang mengajar di berbagai Masjid di
Kecamatan Bayan. Acara ini dilaksanakan di Madrasah Tsanawiyah (MTs)
Babul Mujahidin, Desa Bayan. Melalui acara ini kami berharap para guru Iqra’
akan mampu menerapkan metode pengajaran Al-Quran dengan baik. Selain
itu, acara ini juga untuk melakukan pelatihan dan pembimbingan terhadap
para pendidik dalam rangka perintisan lembaga Taman Pendidikan Al-Qur’an
(TPA).
Untuk para pemuda, kami menyelenggarakan “Seminar Kepemudaan;
Optimalisasi Masa Muda”, yang dilaksanakan di Masjid al-Faruq, Pondok
Pesantren Babul Mujahidin. Kegiatan ini diikuti oleh para remaja dan pemuda
di antaranya, siswa/i SMP, MTs, SMA, SMK dan para Remaja Masjid di
Kecamatan Bayan.
Adapun untuk anak-anak, kami mengadakan kegiatan “Pesantren
Ramadhan” di beberapa Sekolah Dasar di Kecamatan Bayan. Dengan materi
Imtaq sebagai materi utama, para siswa-siswi SD diajak untuk menanamkan
rasa keimanan dan ketaqwaan pada diri mereka. Kami juga merintis lembaga
Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) di beberapa dusun dengan mengangkat
penduduk lokal sebagai pengajarnya. Harapannya, setelah kami pergi,
kegiatan belajar mengajar dapat berjalan secara terus menerus, tidak
berhenti di tengah jalan. Selain itu, kami juga merintis Taman Baca
Masyarakat (perpustakaan) untuk mengajak masyarakat, khususnya anak-
anak, untuk menanamkan kesadaran budaya membaca.
Pada minggu ke-3, kami menyelenggarakan “Tabligh Akbar Ramadhan
1429 H” bertempat di Masjid Jami’ Al-Fattah Desa Karang Bajo, yang dihadiri
masyarakat se-Kecamatan Bayan. Acara ini dihadiri pula oleh berbagai
instansi Pemerintah, seperti Asisten Gubernur III NTB, Pemerintah
Kecamatan Bayan, para Kepala Desa dan Kepala Dusun di Kecamatan
Bayan. Rencananya, Tabligh Akbar ini akan diisi oleh Tuan Guru Bajang
(Gubernur terpilih NTB), namun karena ada beberapa hal, beliau tidak dapat
hadir. Pada akhirnya, tampil sebagai penceramah adalah TGH. Shafwan
Hakim (Ketua Dewan Da’wah NTB dan pengasuh Pondok Pesantren Nurul
Hakim Kediri). Sangat terlihat antusias masyarakat Bayan yang berduyun-
duyun datang mengikuti acara ini. Sepertinya mereka haus akan siraman
rohani dan pengetahuan tentang agama Islam.
Acara terakhir yang kami selenggarakan adalah “Pengobatan Gratis” yang
diselenggarakan di beberapa dusun di Kecamatan Bayan. Kegiatan ini
terselenggara atas kerja sama “Kafilah Da’wah 1429 H” dengan Puskesmas
Kecamatan Bayan. Besar harapan kami dengan mengikuti program ini,
masyarakat Bayan terutama kalangan yang tidak mampu memiliki
kesempatan untuk mendapatkan pengobatan secara medis, dan Puskesmas
Kecamatan Bayan dapat menyelenggarakan program ini pada tahun-tahun
berikutnya.
Tatkala hari Raya Idul Fitri tiba, rombongan “Kafilah Da’wah 1429 H” STID
Mohammad Natsir Jakarta meninggalkan daerah Bayan. Terasa kesedihan
yang amat mendalam dalam diri kami untuk meninggalkan tanah Bayan.
Masyarakat Bayan pun seakan tak rela melepas kami pergi. Namun kami
yakin, masyarakat Bayan mampu berjuang sendiri untuk bangkit menuju
masyarakat yang lebih maju dan lebih religius demi terwujudnya sebuah
daerah yang baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur. Amin. By Saeful Rokhman.