Anda di halaman 1dari 23

OPTIMALISASI PERAN PEMERINTAH DALAM KELEMBAGAAN ZAKAT UNTUK MENGENTASKAN KEMISKINAN Oleh: Eva Hany Fanida Abstrak Tujuan

utama dari konsep zakat adalah untuk memerangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Bila kita melihat data jumlah penduduk di Indonesia yang mayoritas adalah muslim, maka sesungguhnya zakat memiliki potensi ekonomi yang cukup besar bagi bangsa kita untuk dikelola secara optimal sehingga dapat dimanfaatkan menghambat laju kemiskinan. Untuk mencapai tujuan ini maka diperlukan pengelolaan zakat secara optimal, khususnya secara kelembagaan. Akan tetapi fakta di lapangan menunjukkan bahwa pengelolaan zakat belum ditangani secara optimal, sehingga potensi zakat yang cukup besar tersebut masih belum bisa direalisasikan. Untuk itu diperlukan peran pemerintah untuk mengoptimalkan pengelolaan zakat secara profesional. Studi kasus penelitian ini adalah pengelolaan zakat pada Badan Amil Zakat (BAZ) Kabupaten Malang. Adapun hasil temuan pada penelitian ini meliputi; (1) pada saat ini BAZ Kabupaten Malang belum mampu mengoptimalkan pemanfaatan dana zakat yang telah dihimpun dari masyarakat (muzakki) untuk menekan laju kemiskinan, (2) peran pemerintah untuk mewujudkan manajemen zakat secara optimal diantaranya melalui: pembenahan perundang-undangan zakat, pembenahan Lembaga Pengelola Zakat (LPZ), peningkatan kulitas sumber daya manusia, peningkatan pemahaman masyarakat tentang pentingnya zakat serta merubah paradigma amil zakat yang selama ini dianut oleh masyarakat kita. Kata kunci: zakat, peran pemerintah, kemiskinan PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Zakat sesungguhnya merupakan potensi ekonomi yang cukup besar bagi bangsa Indonesia. Jika kita menengok jumlah muslim yang mayoritas di negara kita maka zakat bisa menjadi salah satu solusi bagi pemecahan masalah kemiskinan di Indonesia. Berdasarkan data BPS tahun 2006 diketahui bahwa 90 % dari total populasi 219,2 juta jiwa penduduk Indonesia adalah muslim. Menurut perhitungan Direktur Institut Manajemen Zakat (IMZ), Ahmad Juwaini, diketahui bahwa potensi zakat di Indonesia mencapai Rp 17,5 trilyun, sedangkan berdasarkan perhitungan Pusat Bahasa dan Budaya (PBB) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Ford Foundation nilainya bisa mencapai angka Rp 19,3 trilyun dalam setahun (Infoz, Edisi Januari-Februari 2006). Perhitungan ini salah satunya didukung dengan data Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) yang melaporkan bahwa dana zakat yang terkumpul pada tahun 2005 mencapai angka Rp 820 miliar (www.baznas.go.id). Sebuah angka yang cukup signifikan untuk menekan jumlah penduduk miskin Indonesia. Oleh karena itu dana ZIS zakat

seharusnya dapat menjadi salah satu solusi bagi pengurang angka kemiskinan di Indonesia. Berbicara tentang zakat sedikit banyak tentunya juga akan membahas tentang masalah kemiskinan, karena tujuan utama perintah berzakat adalah untuk memberantas kemiskinan. Berdasarkan laporan resmi BPS, pada tahun 2006 jumlah penduduk miskin di Indonesia tercatat sebanyak 39,05 juta jiwa. Berkaitan dengan pemungutan zakat ini, banyak ekonom Muslim yakin bahwa mekanisme manajemen zakat secara profesional akan mampu mengurangi angka kemiskinan dan ketimpatangan pendapatan masyarakat juga berkurang pula. Sebagai contoh Kahf (dalam Riyardi, 2002) yang telah melakukan simulasi dengan kesimpulan zakat atas pendapatan dan kesejahteraan memiliki makna keadilan sosioekonomi. Di sisi lain, ketika Indonesia mengalami badai krisis ekonomi yang berkepanjangan dan multi dimensi, dimana pemerintah kekurangan dana segar bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia, dana zakat yang diasumsikan memiliki potensi besar bagi pengentasan kemiskinan ini mulai dilirik oleh pemerintah untuk dioptimalkan, maka pemerintahan transisi Habibie mengeluarkan kebijakan tentang pengelolaan zakat melalui Undang-Undang No. 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat, kebijakan ini disamping untuk mengakomodasi kepentingan umat Islam dalam menjalankan kewajiban agamanya juga untuk segera memulihkan kondisi perekonomian Indonesia dari keterpurukan. Akomodasi pemerintah dalam kebijakan pengelolaan zakat ini bukan berarti mengubah negara Indonesia sebagai negara teokrasi yang menjadikan ideologi Islam sebagai landasan negara, akan tetapi melalui Undang-Undang ini maka ditugaskan kepada setiap pemerintah yang berkuasa untuk menjalankan pengelolaan dan pemberdayaan zakat. Pada sisi lain, dengan diberlakukannya Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah, maka pemerintah daerah diberi kewenangan untuk mengelola dan menggali sumbersumber penerimaan dan pengeluaran daerahnya masing-masing. Bagi daerah yang memiliki kekayaan sumber daya alam yang memadai, tentu masalah penerimaan atau pendapatan daerah bukanlah suatu masalah, karena sumber-sumber penerimaan daerah bisa diusahakan melalui sektor sumber daya alam tersebut. Namun bagi daerah-daerah yang kurang atau tidak memiliki sumber daya alam yang memadai, tentu akan mengalami kesulitan untuk menggali atau memeroleh sumber-sumber penerimaan/pendapatan daerahnya (PAD), biasanya pemerintah daerah (Pemda) yang bersangkutan melakukan optimalisasi penerimaan dari sektor pajak, retribusi maupun pungutan lainnya. Menempuh jalan ini bukanlah tanpa resiko karena menaikkan atau meningkatkan iuran pajak dan retribusi berarti juga akan meningkatkan beban masyarakat, sedangkan salah satu prinsip pelaksanaan otonomi daerah adalah untuk memberdayakan masyarakat. Jelaslah bahwa hal ini sangat bertentangan, sehingga justru akan menyulut permasalahan baru. Berkaitan dengan hal tersebut di atas maka dengan diberlakukannya Undang-Undang No. 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat, dapat memberi peluang bagi daerah untuk menjadikan zakat sebagai salah satu alternatif sumber penerimaan/pendapatan daerah, khususnya untuk membantu pengentasan masalah kemiskinan dan mengurangi kesenjangan sosial. Akan tetapi pada kenyataannya

sesuai dengan data-data yang telah dikemukakan di atas, diketahui bahwa potensi zakat (khususnya di Indonesia) belum digali dan dikelola dengan baik. Salah satu buktinya dapat dilihat dari kondisi masyarakat Islam yang sebagian besar masuk dalam kategori fakir miskin (dhuafa). Di jalan-jalan dominasi gelandangan dan pengemis kebanyakan adalah kaum muslim. Bahkan pengambilan dana di perempatan jalan untuk pembangunan panti asuhan, sekolah dan tempat-tempat ibadah mayoritas berasal dari umat Islam. Fenomena tersebut hampir terjadi di seluruh wilayah nusantara, termasuk di Kabupaten Malang. Berdasarkan data penduduk tahun 2006, jumlah penduduk Kabupaten Malang mencapai 2.323.624 jiwa, dan kurang lebih 2,2 juta jiwa diantaranya adalah beragama Islam (Data Kependudukan Pemkab Malang, 2006). Jika diasumsikan dari jumlah penduduk yang beragama Islam itu yang menjadi muzakki minimal atau 0,5 % saja, maka akan diperoleh muzakki (orang yang membayarkan zakat) sebanyak kurang lebih 1.124.696 orang. Misalkan setiap muzakki membayarkan zakatnya (zakat harta, perdagangan, pertanian, zakat profesi atau jenis zakat lainnya) sebesar Rp 500.000,- per tahun atau sebesar Rp 41.600,- per bulan, maka akan terkumpul dana zakat sebesar Rp 562 milyar lebih per tahun atau Rp 46 juta lebih per bulan. Hal ini belum ditambah dengan zakat fitrah, infaq, shadaqah dan wakaf, tentunya akan diperoleh angka yang lebih besar lagi. Saat ini lembaga yang mengelola dana ZIS (zakat, infaq dan shadaqah) di wilayah Kabupaten Malang adalah Badan Amil Zakat Kabupaten Malang atau disingkat dengan BAZ Kabupaten Malang. Disamping itu ada pula lembaga pengelola ZIS yang lain yang dikelola oleh pihak swasta maupun masyarakat, seperti LAGZIS Masjid Raden Patah, As Shofwa, Yayasan Dana Sosial al Falah (YDSF), LAZIS Sabilillah, Dompet Dhuafa, dan lain-lain. Selama tahun 2005 dana ZIS yang dapat dihimpun BAZ Kabupaten Malang sebesar Rp 215.082.400. Angka perolehan dana ZIS ini masih sangat kecil bila dibandingkan dengan asumsi potensi zakat seperti apa yang telah diuraikan di atas, yaitu sekitar 0,05 % dari potensi yang ada (562 milyar/tahun). Realitas ini mengidikasikan bahwa pengelolaan zakat (khususnya penggalian potensi zakat) oleh BAZ Kabupaten Malang hingga saat ini belum berjalan secara optimal. Sebagai upaya untuk merespon harapan umat/masyarakat akan munculnya lembaga penghimpun atau pengelola dana umat yang amanah, transparan (keterbukaan) dan profesional, maka pembenahan lembaga pengelola ZIS seperti BAZ Kabupaten Malang saat ini merupakan hal yang sangat mendesak dan bersifat strategis. Sebagaimana dikemukakan oleh Ludigdo dan Marini (2003) bahwa pada saat dimana orang berZIS sedang berkembang dan kebutuhan atas dana ZIS untuk menjadi alternatif pendanaan pembangunan cukup besar, keberadaan lembaga yang dapat mengelola ZIS dengan baik mutlak diperlukan. Berdasarkan uraian singkat di atas, dapat kita ketahui bahwa zakat di Indonesia memiliki potensi yang cukup besar untuk pembangunan umat/masyarakat, akan tetapi potensi ini belum dioptimalkan, baik dari proses pengumpulan, pengelolaan hingga ke proses pendistribusiannya. Terlebih lagi dengan dikeluarkannya Undang-Undang No. 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat ternyata belum mampu menjadikan lembaga atau LPZ (seperti BAZ Kabupaten Malang) sebagai badan resmi yang dibentuk oleh pemerintah untuk mengelola zakat dalam kerangka kelembagaan yang lebih profesional, efisien,

transparan dan amanah. Oleh karena itu penelitian ini memusatkan kajian pada Optimalisasi Peran Pemerintah Dalam Kelembagaan Zakat Untuk Mengentaskan Kemiskinan. 1.2 Rumusan Masalah Berlandaskan pada identifikasi permasalahan di atas, maka dalam studi ini akan dibahas tentang: 1) Bagaimana manajemen dana ZIS dalam mengurangi kemiskinan ? 2) Bagaimana optimalisasi peran pemerintah dalam pengelolaan zakat ? 1.3 Tujuan Penelitian Berdasarkan permasalahan yang dirumuskan di atas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui, menganalisis dan menginterpretasikan: 1) Manajemen dana ZIS dalam mengurangi kemiskinan. 2) Optimalisasi peran pemerintah dalam pengelolaan zakat. 1.4 Manfaat Penelitian Studi ini diharapkan dapat bermanfaat baik bagi tataran akademis maupun praktis. Manfaat penelitian dimaskudkan secara sederhana dapat dirumuskan sebagai berikut: 1. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan pemikiran bagi dunia keilmuan khususnya Ilmu Administrasi Publik dalam mengembangkan teoriteori pengentasan kemiskinan. 2. Bermanfaat sebagai masukan bagi peneliti lain dalam mengkaji lebih mendalam mengenai peran pemerintah dalam manajemen kelembagaan zakat yang relevan dengan permasalahan ini. 3. Sebagai bahan masukan untuk perbaikan dalam hal perumusan maupun implementasi kebijakan, khususnya kebijakan manajemen kelembagaan dan pengelolaan zakat. 4. Sebagai sarana pemberi informasi kepada instansi yang terkait dalam pengelolaan zakat, sehingga instansi tersebut dapat memberdayakan dana zakat untuk meningkatkan kemakmuran masyarakat. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Zakat Menurut istilah fiqih, zakat adalah sejumlah harta tertentu yang diwajibkan oleh Allah SWT dan diserahkan kepada orang-orang yang berhak, disamping berarti mengeluarkan jumlah tertentu itu sendiri. Jumlah yang dikeluarkan dari kekayaan itu disebut zakat karena menambah banyak, membuat lebih berarti, dan terlindungi kekayaan dari kebinasaan (Qardhawi, 1999). Sedangkan pengertian zakat menurut ulama empat mazhab yang ada, sebagaimana dikemukakan oleh Mughniyah (1999) adalah: a. Mazhab Maliki mendefinisikan, mengeluarkan sebagian yang khusus dari harta yang khusus pula telah mencapai nishab (batas kuantitas yang mewajibkan zakat) kepada orang-orang yang berhak menerimanya (mustahiq) bukan barang tambang dan pertanian.

b. Mazhab Hanafi mendefinisikan zakat dengan, menjadikan sebagian harta yang khusus sebagai milik orang yang khusus yang ditentukan syariat karena Allah SWT. c. Mazhab Syafii mendefinisikan, zakat adalah sebuah ungkapan untuk keluarnya harta atau tubuh sesuai dengan cara khusus. d. Mazhab Hambali memberi definisi zakat sebagai hak yang wajib dikeluarkan dari harta yang khusus untuk mencapai kepentingan yang khusus pula. Dari terminologi yang telah diungkapkan oleh para fuqoha (ahli fiqih) tersebut dapat disimpulkan bahwa zakat dimaksudkan sebagai penunaian yakni penunaian hak yang wajib dan terdapat dalam harta. 2.2 Peran Pemerintah dalam Pengelolaan Zakat Qardhawi (2002) menjelaskan bahwa zakat mempunyai sistem yang kompleks menyangkut ekonomi, sosial moral, dan mempunyai dampak berskala nasional. Untuk itu para pemimpin dan aktivis muslim secara umum sepakat bahwa administrasi zakat secara tradisional yang ditandai dengan transaksi langsung antara pembayar zakat dengan penerima zakat tidak dapat dipertahankan lagi. Sebagai pemegang otoritas wewenang hukum yang mengatur kehidupan masyarakat maka pemerintah melalui BAZ harus mengambil peranan sebagai amil zakat yang memiliki kekuatan hukum untuk mengelola dan mendayagunakan dana zakat, tanpa mematikan LAZ (Lembaga Amil Zakat) yang dibentuk atas prakarsa masyarakat karena bagaimanapun LAZ tersebut telah berdiri jauh sebelum BAZ dibentuk oleh pemerintah. Hal ini sesuai dengan apa yang digambarkankan Howlett dan Ramesh (1995) tentang hubungan antara para aktor kebijakan dengan (lembaga) institusi dalam suatu proses kebijakan. Gambar 1 Aktor dan Institusi dalam Proses Kebijakan

Organization of the International

Policy Actors (Policy Subsystem)

Organization of the Society

Organization of the State

Sumber: Howlett dan Ramesh (1995) Dari gambar di atas dapat diketahui bahwa suatu kebijakan (khususnya kebijakan publik) dibentuk oleh suatu sub-sistem kebijakan yang didalamnya terdiri dari lembaga masyarakat, lembaga internasional, dan lembaga negara. BAZ sebagai salah satu organisasi (lembaga) negara yang berwenang mengatur masalah perzakatan di Indonesia melalui pengimplementasian Undang-Undang No. 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat secara optimal, memiliki peran yang cukup besar dalam menentukan sukses tidaknya pengelolaan zakat secara

profesional. Pemerintah melalui BAZ dapat memberdayakan zakat dengan melakukan beberapa langkah terobosan dalam mengoptimalkan perannya dalam mengelola zakat, yaitu sebagai: a. Fasilitator Pemerintah menyediakan berbagai fasilitas dalam upaya sosialisasi UndangUndang No. 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat melalui berbagai seminar, lokakarya maupun memberikan kurikulum pendidikan agama mengingat pemahaman masyarakat tentang pengelolaan zakat secara modern masih terbatas. b. Koordinator Pengelolaan zakat yang baik memerlukan koordinator dari pemerintah, karena dalam Undang-Undang No. 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat terdapat banyak poin yang memerlukan institusi negara sebagai koordinatornya, diantaranya zakat yang dibayarkan oleh wajib zakat kepada BAZ maupun LAZ dapat dimanfaatkan sebagai pengurang penghitungan pajak penghasilan. Hal ini membutuhkan pemerintah sebagai koordinator dalam proses implementasinya. c. Motivator Pemerintah dapat memberikan motivasi dalam pengelolaan zakat yang dilakukan oleh BAZDA (Badan Amil Zakat Daerah) karena masih membutuhkan dana operasional yang tidak sedikit, apalagi diperparah dengan adanya krisis kepercayaan masyarakat kepada Departemen Agama sehingga mempengaruhi pengumpulan zakat oleh BAZDA sebagai bentukan dari pemerintah pusat. d. Regulator Dengan dikeluarkannya Undang-Undang No. 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat beserta aturan-aturan di bawahnya seperti Keputusan Menteri Agama RI No. 373 Tahun 2003 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No. 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat dan Keputusan Dirjen Bimas Islam dan Urusan Haji No. D/291 Tahun 2000 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Zakat maka diharapkan negara dalam hal ini pemerintah lebih optimal dalam pengelolaan zakat. 2.2 Zakat untuk Mengurangi Kemiskinan Di tengah problematika perekonomian saat ini, zakat muncul sebagai instrumen yang solutif untuk pembangunan ekonomi umat yang efektif dan sustainable. Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa salah satu tujuan zakat yang terpenting adalah mempersempit ketimpangan ekonomi dalam masyarakat hingga ke batas seminimal mungkin. Nasution dan Wibisono (2005) menjelaskan bahwa zakat sebagai instrumen pembangunan perekonomian dan pengentasan kemiskinan umat di daerah, memiliki banyak keunggulan dibandingkan instrumen fiskal konvensional yang kini telah ada, diantaranya: a. Penggunaan zakat sudah ditentukan secara jelas dalam syariat (QS. At Taubah: 60) dimana zakat hanya diperuntukkan bagi delapan golongan saja (asnaf), yaitu: orang-orang fakir, miskin, amil, muallaf, budak, orang-orang yang berhutang, jihad fi sabilillah, dan ibnu sabil. Dari ayat di atas menjadi jelas kemana arah penggunaan dana pengumpulan hasil zakat, yaitu salah

satunya adalah untuk menanggulangi kemiskinan. Karakteristik ini membuat zakat secara inheren bersifat pro-poor. b. Zakat memilki tarif yang rendah dan tetap serta tidak pernah berubah-ubah karena telah diatur dalam syariat. Oleh karena itu penerapan zakat tidak akan mengganggu insentif investasi dan akan menciptakan transparansi kebijakan publik serta memberikan kepastian usaha. c. Zakat memiliki tarif berbeda untuk jenis harta yang berbeda serta mengizinkan keringanan bagi usaha yang memiliki tingkat kesulitan produksi yang lebih tinggi. Karakteristik ini membuat zakat bersifat market-friendly sehingga tidak akan mengganggu iklim usaha. d. Zakat dikenakan pada basis yang luas dan meliputi berbagai aktivitas perekonomian. Zakat dipungut dari produk pertanian, hewan peliharaan, simpanan emas dan perak, aktivitas perniagaan komersial, dan barang-barang tambang yang diambil dari perut bumi. e. Zakat adalah pajak spiritual yang wajib dibayar oleh setiap muslim dalam kondisi apapun. Oleh karena itu penerimaan zakat cenderung stabil. Hal ini akan menjamin keberlangsungan program pengentasan kemiskinan dalam jangka waktu yang cukup panjang. Dikatakan lebih lanjut oleh Anshori (2006) bahwa zakat merupakan solusi yang paling jitu untuk mengentaskan kemiskinan, karena di samping sebagai distribution of property (distribusi kekayaan), zakat juga berfungsi sebagai jaminan sosial bagi masyarakat yang mengalami ketidakberuntungan terhadap nasib. Pengelolaan dana zakat yang efektif juga dapat digunakan sebagai investasi bagi harta-harta yang tidak dimanfaatkan dan terakumulasi dalam suatu komunitas masyarakat muslim. 2.3 Penelitian Terdahulu 2.3.1 Alfitri (2006) Alfitri dalam penelitiannya yang berjudul The Law of Zakat Management and Non-Governmental Zakat Collectors in Indonesia berusaha untuk menguji hukum perzakatan di Indonesia, khususnya mengenai latar belakang dikeluarkannya hukum perzakatan ini, serta dampaknya terhadap keberadaan lembaga pengumpul zakat non-pemerintah di Indonesia.Berdasarkan hasil penelitinnya, dikemukakan bahwa: 1. Salah satu perbedaan hukum perzakatan di Indonesia dengan negara-negara muslim lainnya adalah Undang-Undang No. 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat tidak menjadikan zakat sebagai sebuah pembayaran yang diwajibkan. 2. Pemerintah Indonesia berusaha untuk mengubah sikapnya terhadap eksistensi zakat di Indonesia melalui Undang-Undang No. 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat. Akan tetapi karena peraturan tersebut sebagian besar hanya memfokuskan pada lembaga pengumpul zakat yang dikelola pemerintah saja, maka lembaga pengumpul zakat yang bersifat nonpemerintah pada perkembangannya menghadapi berbagai rintangan dalam menjalankan fungsinya. 2.3.2 Ludigdo dan Marini (2003)

Ludigdo dan Marini dalam penelitian yang berjudul Pemberdayaan Zakat, Infaq, dan Shadaqah: Prospek Sebagai Pilar Pencapaian Kemakmuran Masyarakat (Kasus Kabupaten Trenggalek) berusaha untuk menggali potensi ZIS sebagai alternatif dana pembangunan bagi pemerintah kabupaten, khususnya di Trenggalek. Berdasarkan hasil penelitiannya, diperoleh kesimpulan bahwa: 1. Untuk dapat menggali potensi ZIS secara maksimal maka aspek manajemen ZIS dan akuntabilitasnya harus menjadi perhatian utama, karena akuntabilitas merupakan upaya untuk mewujudkan manajemen LAZIS/BAZIS (Badan Amil Zakat, Infaq, dan Shadaqah) yang amanah. Akuntabilitas LAZIS/BAZIS ini menyangkut hubungan pertanggungjawaban manajemen LAZIS/BAZIS kepada (1) muzakki, munfiq (orang yang berinfaq) dan musaddiq (orang yang bershadaqah), (2) Dewan Pertimbangan atau Komisi Pengawas, dan (3) Tuhan. 2. Diperlukan upaya-upaya keras untuk dapat membentuk lembaga ZIS yang dapat dipercaya oleh masyarakat, karena situasi psikologis masyarakat Indonesia pada saat sekarang ini dipenuhi rasa saling tidak percaya pada pihak lain, maka jika hal ini tidak diantisipasi dengan baik niscaya akan menjadi hambatan serius dan sistematis dan formalisasi gerakan sadar ZIS melalui LAZIS maupun BAZIS. 2.3.3 Triyuwono (2001) Triyuwono (2001) dalam penelitiannya yang berjudul Manajemen Keuangan Dana Zakat, Infaq, dan Shadaqah (ZIS) berusaha untuk memberikan deskripsi dan merumuskan model manajemen dana ZIS yang selama ini dipahami secara tradisional dan sempit oleh masyarakat. Studi ini menggunakan pendekatan multiple case study yang melibatkan lima Lembaga ZIS (LAZIS) yang berlokasi di Jakarta, Surabaya dan Malang. Adapun hasil dari penelitian ini diantaranya: 1. Manajemen koleksi dana ZIS meliputi pengumpulan dana ZIS (perencanaan kualitatif) dan anggaran penerimaan dana ZIS (perencanaan kuantitatif). 2. Flexible ZIS funds maintenance approach (yaitu pendekatan yang fleksibel dimana secara umum dana ZIS dikelola dengan cara-cara yang produktif, dan secara khusus dana ZIS dapat digunakan secara konsumtif, misalnya untuk mustahiq yang tidak mampu melakukan usaha atau tidak mampu bekerja) merupakan pendekatan yang lebih tepat. Karena pendekatan ini mengkombinasikan konsep capital maintenance dengan konsep atas dana ZIS. Selain itu pendekatan ini menekankan pada keutuhan dan pertumbuhan dana ZIS, sehingga dana yang dimiliki dan diedarkan oleh LAZIS semakin lama semakin bertumbuh. METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif.

3.2 Fokus Penelitian Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan maka fokus penelitian yang dapat ditetapkan adalah: 1) Manajemen dana ZIS untuk mengurangi kemiskinan: a) Pengumpulan dana ZIS b) Pendistribusian dan Pendayagunaan Dana ZIS 2) Optimalisasi peran pemerintah dalam pengelolaan zakat: a) Pembenahan Perundang-undangan b) Pembenahan Lembaga Pengelola Zakat c) Peningkatan sumber daya manusia (SDM) d) Peningkatan pemahaman masyarakat tentang zakat e) Perubahan paradigma amil zakat 3.3 Lokasi dan Situs Penelitian Penelitian ini mengambil lokasi di wilayah Kabupaten Malang, dengan situs penelitian di Kantor BAZ Kabupaten Malang sebagai tempat untuk memeroleh gambaran awal mengenai pengelolaan zakat di Kabupaten Malang. 3.4 Jenis dan Sumber Data Sesuai dengan jenisnya, data yang diperoleh dapat digolongkan menjadi: 1. Data Primer, Dalam upaya ini maka akan peneliti mulai dari aparat Badan Amil Zakat Kabupaten Malang, khususnya aparat di bagian urusan zakat, infaq, dan shadaqah (urais), serta beberapa muzakki dan mustahiq BAZ Kabupaten Malang. 2. Data Sekunder, Pada penelitian ini data sekunder dapat diperoleh dari Kantor BAZ Kabupaten Malang, media massa maupun media elektronik yang berkaitan dengan pengelolaan zakat. 3.5 Teknik Pengumpulan Data Dalam pengumpulan data, teknik yang digunakan meliputi wawancara mendalam (in depth interview),dokumentasi, observasi langsung. 3.6 Analisis Data Dalam penelitian ini digunakan analisis data kualitatif sebagaimana yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman (1992) adalah dengan prosedur: reduksi data (reduction data), penyajian data (display data), menarik kesimpulan atau verifikasi (conclucing drawing ). HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Manajemen Dana ZIS untuk Mengurangi Kemiskinan 4.1.1 Pengumpulan Dana ZIS Berdasarkan Instruksi Bupati Kabupaten Malang No. 1 Tahun 2002 tentang Pembentukan Unit Pengumpul Zakat (UPZ) pada Unit-Unit Kerja di

Kabupaten Malang diketahui tugas Tim Pengumpul Zakat, Infaq, dan Shadaqah dapat kita ketahui bahwa tugas Tim Pengumpul Zakat, Infaq, dan Shadaqah yang telah dibentuk adalah menggali dan mengumpulkan ZIS dari kalangan PNS yang beragama Islam di Kabupaten Malang dalam rangka meningkatkan kesejahteraan umat di wilayah ini. Untuk tahap awal, penggalian dan pengumpulan berasal dari infaq dan shadaqah sukarela yang terkoordinir dari aparat pemerintah yang beragama Islam di lingkungan Pemkab Malang dan Instansi atau Dinas Pemerintah dan segenap jajarannya. Besarnya infaq dan shadaqah setiap bulan pada saat ini ditetapkan menurut jenjang pangkat dan golongannya, sebagaimana terlihat dalam tabel berikut: Tabel 1 Besarnya Infak dan Shadaqah bagi PNS Kabupaten Malang No. Golongan/Jabatan 1. 2. Golongan I Golongan II Besarnya Infak dan Shadaqah Perbulan Rp 500,Rp 1.000,-

3. Golongan III Rp 3.000,4. Golongan IV Rp 5.000Sumber: Data BAZ Kabupaten Malang Tahun 2006 Besarnya infaq dan shadaqah sebagaimana tersebut di atas tetap sama dari tahun ke tahun, dimana hal ini didasarkan pada Instruksi Bupati Kabupaten Malang No. 1 Tahun 2002 tentang Pembentukan Unit Pengumpul Zakat pada Unit-Unit Kerja di Kabupaten Malang. Meskipun dalam Instruksi Bupati tersebut hanya diatur pengumpulan infaq dan shadaqah dari kalangan PNS di wilayah Kabupaten Malang, namun untuk periode mendatang (2007-2010) BAZ Kabupaten Malang akan berusaha untuk mencanangkan program pengumpulan infaq dan shadaqah pada pihak lain, yaitu: karyawan perusahaan, pengusaha muslim dan keluarga muslim di wilayah Kabupaten Malang.. BAZ Kabupaten Malang sampai dengan tahun 2006 masih mengoptimalkan pemungutan dana zakat dari kalangan aparat di lingkungan Departemen Agama Kabupaten Malang saja. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa ada kesadaran yang cukup tinggi dari kalangan pegawai Departemen Agama Kabupaten Malang untuk membayarkan zakatnya (khususnya zakat penghasilan) ke BAZ Kabupaten Malang tanpa adanya unsur paksaan. Hal ini berbeda dengan respon PNS di lingkungan Pemkab Malang yang cukup rendah mengenai kesadarannya untuk membayarakan zakat mereka, khususnya zakat penghasilan. Atas pertimbangan inilah kemudian BAZ Kabupaten Malang sampai dengan tahun 2006 memutuskan untuk lebih mengoptimalkan pengumpulan zakat (zakat mal dan zakat penghasilan) dari pihak intern organisasi terlebih dahulu (Departemen Agama Kabupaten Malang), akan tetapi untuk masa mendatang, khususnya pada tahun 2007 ini, pihak BAZ Kabupaten Malang berusaha untuk memfokuskan salah satu program kerjanya yaitu meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya aparat PNS di wilayah Kabupaten Malang agar lebih mengutamakan kewajiban mereka sebagai seorang muslim untuk membayarkan

zakatnya terlebih dahulu, daripada mengeluarkan hartanya untuk berinfak maupun shadaqah yang dalam pandangan agama hukumnya adalah sunnah. Lebih jauh lagi mengenai pungutan ZIS yang tercantum dalam Surat Edaran BAZ dapat diketahui bahwa besaran pungutan zakat tersebut belum sesuai dengan apa yang ditentukan dalam Undang-Undang No. 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat dan peraturan pelaksanaannya. Karena pertimbangan kepraktisan dan kesederhanaan, maka dalam edaran tersebut besarnya zakat tidak dikaitkan dengan pendapatan riil dari masing-masing pegawai tetapi hanya disamaratakan untuk masing-masing golongan kepegawaian/jabatan, misalnya untuk pegawai golongan IV besarnya ZIS adalah Rp 5000,- per bulan tanpa melihat apakah golongan IVa, IVb, IVc, IVd ataukah IVe. Padahal jumlah nominal gaji dari masing-masing golongan kepangkatan ini berbeda. Menurut ketentuan Undang-Undang No. 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat, besarnya zakat dari gaji atau pendapatan adalah 2,5 % dari gaji yang diperoleh. Apabila ketentuan ini ditetapkan, maka akan dapat dikumpulkan zakat dalam jumlah yang lebih besar lagi. Akan tetapi hal ini tidak dilakukan oleh BAZ Kabupaten Malang dengan pertimbangan bahwa jika ketentuan tersebut benarbenar diterapkan, dikhawatirkan banyak PNS yang tidak bersedia mengeluarkan zakatnya, karena dengan pungutan yang relatif kecil saja, tidak semua PNS bersedia mengeluarkan ZIS-nya. Oleh karena itu ketentuan/kebijakan yang dilakukan BAZ Kabupaten Malang melalui surat edarannya tersebut, dipandang sebagai latihan berzakat. Jika hal ini sudah tersosialisasikan dengan baik, maka diharapkan masing-masing muzakki dari kalangan PNS memiliki kesadaran untuk mengeluarkan zakat sesuai dengan ketentuan yang ada. Adapun mekanisme pengumpulan zakat di kalangan PNS di wilayah Kabupaten Malang adalah diawali dengan adanya kesediaan pegawai yang bersangkutan (muzakki) untuk membayar ZIS melalui surat pernyataan yang dibuatnya. Berdasarkan kesediaan ini, BAZ akan memungut ZIS tersebut melalui pemotongan gaji setiap bulannya. Hingga bulan Desember 2006 perolehan dana ZIS yang terkumpul di BAZ Kab Malang mencapai Rp 196.244.045. Jumlah tersebut berasal dari kalangan PNS di lingkungan Pemkab Malang yang keseluruhannya berasal dari 48 instansi daerah. Penerimaan terbesar berasal dari Dinas pendidikan (yaitu guru-guru dan pegawai administrasi yang ada ditingkat MIN (SD), MTs (SMP), hingga MA (SMU) se-Kabupaten Malang yang rata-rata mencapai Rp 2.000.000 per bulan (Tabel 2). Tabel 2 Rekap Penerimaan Dan Pengeluaran Dana Zakat, Infaq, Shadaqah (ZIS) BAZ Kabupaten Malang Tahun 2006
No Zakat (Rp) Saldo per Desember 2005 3.017.890 2.967.690 3.524.090 3.045.390 3.365.240 Bulan Infaq (Rp) 5.461.425 10.625.025 7.409.750 6.957.725 6.786.925 Shodaqah (Rp) 200.625 200.625 200.625 200.625 245.250 Jml Masuk (Rp) 251.082.400 8.679.940 13.793.340 11.134.465 10.203.740 10.397.415 Zakat (Rp) 397.498 377.236 370.961 440.511 380.700 Infaq (Rp) 1.714.500 12.980.000 4.019.500 13.185.000 6.622.000 Shadaqah Jml Keluar (Rp) (Rp) 2.111.998 13.357.236 4.390.461 13.625.511 7.002.700 Saldo (Rp) 257.650.342 258.086.446 264.830.450 261.408.679 264.803.394

1 Januari 2 Pebruari 3 Maret 4 April 5 Mei

6 Juni 7 Juli 8 Agustus 9 September 10 Oktober 11 Nopember 12 Desember Jumlah

3.167.240 3.397.240 3.114.240 3.312.050 3.011.050 2.913.550 20.455.850 55.291.520

7.221.550 5.051.050 4.637.350 5.220.350 19.550 26.462.975 32.368.550 138.180.025

245.250 234.000 234.000 234.000 234.000 234.000 309.500

10.634.040 8.682.290 7.985.590 8.766.400 22.795.400 29.610.525 53.133.900

420.655 395.905 424.655 389.280 414.000 376.381 17.597.194 21.984.976

15.225.000 2.500.000 1.150.000 450.000 18.000.000 1.655.000 77.501.000

15.645.655 2.895.905 1.574.655 839.280 18.414.000 376.381 19.252.194 99.485.976

259.791.779 265.578.164 271.989.099 279.916.219 284.297.619 313.531.763 347.840.469 347.840.469

2.772.500 196.244.045

Sumber: Data BAZ Kabupaten Malang tahun 2006 Bila dibandingkan dengan perolehan ZIS dari Lembaga Amil Zakat yang juga beroperasi di wilayah Kabupaten Malang, perolehan ZIS dari BAZ Kabupaten Malang di atas relatif lebih kecil. Sebagai perbandingan adalah perolehan ZIS dari YDSF (Yayasan Dana Sosial al-Falah) cabang Malang yang baru berdiri pada tahun 2001 dan hingga saat ini hanya memiliki 8 pengurus tetap saja, setiap bulannya mampu mengumpulkan dana ZIS kurang lebih dari Rp 80 juta. Bahkan pada bulan Ramadhan tahun 2006 saja, perolehan dana ZIS-nya telah mencapai angka Rp 180 juta. Sebagian besar yang menyalurkan ZIS ke lembaga ini adalah warga masyarakat yang bukan PNS. Keberhasilan lembaga ini (YDSF cabang Malang) dalam menghimpun dana ZIS dari masyarakat tidak lepas dari upaya gigih lembaga ini untuk memperkenalkan keberadannya ke masyarakat luas dengan jalan publikasi secara berkesinambungan baik melalui media cetak, elektronik maupun spanduk dan penyebaran leaflet. Disamping itu, prinsip transparansi dalam pengumpulan dan penyaluran zakat yang telah terkumpul kepada masyarakat juga menjadi faktor pendukung lembaga ini dalam memeroleh kepercayaan dari masyarakat. Sebagaimana ketentuan dalam Undang-Undang No. 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat disebutkan bahwa pengumpulan zakat ada dua alternatif yang dapat dilakukan oleh BAZ, yaitu menerima zakat (bersifat pasif) atau mengambil zakat (bersifat aktif) atas pemberitahuan muzakki. Akan tetapi karena ketidaktahuan masyarakat tentang keberadaan BAZ Kabupaten Malang serta kurang pro aktifnya BAZ Kabupaten Malang dalam menyosialisasikan program kerjanya ke masyarakat luas, maka tidak banyak pihak yang menyalurkan zakatnya melalui lembaga ini (BAZ Kabupaten Malang). Hal ini menyebabkan salah satu tujuan dari dibentuknya BAZ, yaitu untuk meningkatkan fungsi dan peranan pranata keagamaan dalam upaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan keadailan sosial, belum dapat diwujudkan sepenuhnya oleh BAZ Kabupaten Malang. 4.1.2 Pendistribusian dan Pendayagunaan Dana ZIS Menurut Undang-Undang No. 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat dan peraturan pelaksanannya, pendayagunaan zakat untuk mustahiq harus didasarkan pada hasil pendataan dan penelitian kebenaran mustahiq delapan asnaf, yaitu fakir, miskin, muallaf, riqab, gharim, sabilillah dan ibnu sabil. Hal ini berarti bahwa sebelum zakat diserahkan maka harus ada keyakinan bahwa calon penerima zakat benar-benar memenuhi kriteria yang telah ditentukan atau

termasuk salah satu dari kedelapan golongan yang berhak menerima zakat. Hal ini hanya dapat diperoleh jika ada pendataan dan penelitian yang akurat, sehingga penyaluran zakat tidak salah sasaran. Namun dalam kenyatannya hal ini belum sepenuhnya terlaksana. Dalam penyaluran zakat BAZ Kabupaten Malang masih bersifat pasif yaitu hanya menyalurkan zakat berdasarkan permohonan (proposal) yang masuk, tanpa diselidiki apakah pemohon benar-benar memenuhi syarat untuk diberi zakat ataukah tidak. Berdasarkan data BPS Malang Tahun 2006, jumlah penduduk Kabupaten Malang yang masuk dalam kategori penduduk miskin mencapai angka 163.911 kepala keluarga (KK). Kriteria miskin ini didasarkan pada konsumsi masyarakat yg berada di bawah angka Rp 123.000/bulan (data BPS Malang, 2006). Adapun Rincian jumlah penduduk miskin di Kabupaten Malang adalah sebagai berikut: Tabel 3 Data Penduduk Miskin Kabupaten Malang Tahun 2006
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 Pujon Ngantang Kasembon Singosari Lawang Karangploso Dau Tumpang Jabung Pakis Poncokusumo Bululawang Wajak Tajinan Gondanglegi Pagelaran Turen Dampit Tirtoyudo Ampelgading Sumbermanjing Wetan Kepanjen Pakisaji Wagir Sumberpucung Kromengan Nganjum Wonosari Kecamatan Jumlah Penduduk Miskin (KK) 5,376 4,531 3,020 7,570 5,267 4,522 2,532 7,130 6,867 7,949 8,759 5,183 5,176 4,784 5,508 4,428 5,982 7,974 4,871 5,047 5,786 5,696 4,527 2,839 3,191 2,687 3,486 3,691

29 30 31 32 33

Pagak Bantur Donomulyo Gedangan Kalipare Jumlah

3,364 4,333 5,327 2,781 3,727 163,911

Sumber: Data BPS Malang, 2006 Dalam kenyataannya golongan ini (fakir miskin) belum banyak tersentuh oleh pendayagunaan zakat, khususnya oleh dana ZIS dari Kabupaten Malang. Hal ini terlihat jelas pada tabel di bawah ini. Tabel 4 Rincian Penerimaan Dan Pengeluaran Dana Zakat, Infaq, Shadaqah BAZ Kabupaten Malang Tahun 2006
No 1 2 Sisa Kas tahun lalu 2005 Pemasukan tahun 2006 a. Zakat b. Infaq c. Shadaqah lain-lain 55.291.520 138.180.025 2.772.500 196.244.045 Jumlah Penerimaan 3 Pengeluaran Bantuan kepada Ponpes darul Ulum Kepanjen Bantuan kepada Yayasan Miftahul Huda Pakis Bantuan kepada Yayasan Nurul Hikmah Pakisaji Bantuan kepada Yayasan Ya Shomad Pakisaji Bantuan kepada Panti Asuhan Nurul Huda Wajak Bantuan kepada Yayasan Hajjah Khadijah Pakis Bantuan pengobatan kepada mustahiq di Pakisaji a.n. Suliono Bantuan bencana alam di Kecamatan Kasembon Bantuan kepada mustahiq di Lawang a.n Naim Akomodasi tamu studi banding dari Pemkab Lumajang Bantuan kepada Yayasan Rahmaniyah Bululawang Modal kerja untuk mustahiq di Kec. Singosari a.n Ahmad Rosyad Beasiswa 2 orang siswa di UPZ Dinas Kehutanan @ Rp 150.000 Beasiswa 2 orang siswa dari mustahiq di Kecamatan Pakisaji @ Rp 150.000 Bantuan beasiswa kepada Doni Suhadak Bantuan kepada Yayasan Baitul Quran di Kec. Dampit Bantuan kepada Panti Asuhan Khozinatul Ansor, Kec. Dampit Bantuan ATK kepada Panti Asuhan Al Kholifah, Kel. Cepokomulyo, Kec. Kepanjen Bantuan renovasi Masjid Baitul Muttaqin, Desa Babeh, Kec. Ngantang Bantuan renovasi pembangunan Masjid Baitul Muhtadin, Desa Talangsuko, 500.000 500.000 500.000 500.000 500.000 500.000 500.000 7.500.000 500.000 1.480.000 500.000 1.500.000 300.000 300.000 150.000 500.000 500.000 549.500 975.000 1.575.000 447.326.445 Keterangan Debet (Rp) Kredit (Rp) 251.082.400

Kec. Turen Bantuan pemasangan listrik pada Masjid Al Hamidi, Desa Ngadilangkung, Kec. Kepanjen Bantuan pembangunan Masjid Baitul Mukminin, Desa Sumber Agung, Kec. Sumber Manjing Bantuan kepada Mushola Al Falah, Desa Tirtomarto, Kec. Ampelgading Bantuan pembangunan Mushola Sidoagung, Kec. Singosari Bantuan modal kerja untuk mustahiq di Desa Kepuharjo, Kec. Karangploso Bantuan renovasi Mushola Genteng, Kec. Singosari Bantuan renovasi Masjid At Taqwa Kantor Depag Kab. Malang Bantuan korban gempa bumi di Jogja dan Jateng Santunan kepada mualaf a.n Agus Subagyo, Kec. Singosari Santunan kepada mualaf a.n Yusman Roi, Kec. Lawang Beasiswa kepada 2 orang siswa @ Rp 150.000 Beasiswa kepada Doni Suhadak, Kec. Lawang Beasiswa kepada 2 orang siswa di Pakisaji @ Rp 150.000 Bantuan kepada 72 Guru Agama Tidak Tetap (GATT) @ Rp 250.000 Zakat fitrah Bantuan kepada musafir a.n Erfan Ridwan Bantuan untuk khitan massal di Desa Randuangung, Kecamatan Singosari Bantuan untuk 57 mustahiq pada Dinas/Kantor/badan/Bagian (33 UPZ) @ Rp 200.000 Bantuan bahan bangunan untuk renovasi TK Depag Raudhatul Athfal Perwanida di Kec. Poncokusumo Operasional BAZ tahun 2006 Jumlah Pengeluaran 4 Jumlah penerimaan tahun 2006 Jumlah pengeluaran tahun 2006 Sisa Akhir Tahun 2006 1.500.000 1.010.000 1.012.500 1.225.000 500.000 1.000.000 5.000.000 10.000.000 500.000 350.000 300.000 150.000 300.000 18.000.000 17.233.000 30.000 1.625.000 11.400.000 1.785.000 6.735.976 99.485.976 447.326.445 99.485.976 347.840.469

Sumber: Data BAZ Kabupaten Malang tahun 2006 Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa golongan fakir miskin yang seharusnya mendapat prioritas untuk menerima zakat ternyata mendapat porsi yang lebih kecil (13%) bila dibandingkan dengan alokasi untuk pembangunan masjid/mushola. Lebih jauh lagi, bila dibandingkan dengan jumlah penduduk yang masuk dalam kategori keluarga miskin di Kabupaten Malang maka distribusi zakat yang telah dialokasikan untuk golongan fakir miskin hanya mencapai kurang dari 0,1 % saja. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada diagram di bawah ini.

Gambar 2 Diagram Distribusi Dana ZIS BAZ Kabupaten Malang Tahun 2006
Modal Kerja 5% Muallaf 5% Bencana Alam 5% Fakir Miskin 13% Musafir 3% Lain-lain 3% Yayasan 26% Renovasi Masjid/Mush ola 24%

Beasiswa 16%

Sumber: Data BAZ Kabupaten Malang, 2006 Realitas ini menunjukkan bahwa pendayagunaan dana zakat yang seharusnya diprioritaskan untuk membantu pihak-pihak yang secara ekonomis membutuhkan, seperti golongan fakir miskin, ternyata porsi terbesar justru didistribusikan untuk kepentingan fii sabilillah, misalnya untuk pembangunan/perbaikan mushola. Hal ini memang bukan sepenuhnya sebuah kesalahan, akan tetapi bukankah distribusi zakat seharusnya memerhatikan hierarki urutan mustahiq delapan asnaf. Sebagaimana telah dijelaskan dalam Al Quran (QS. At-Taubah: 60) dan Undang-Undang No. 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat (pasal 16) bahwa urutan pertama distribusi zakat adalah diperuntukkan bagi golongan fakir miskin. Hal ini diperparah lagi dengan besarnya penerimaan dengan alokasi pengeluaran dana ZIS yang selisihnya cukup jauh (Tabel 4), sehingga mengakibatkan saldo dalam laporan anggaran tahunan BAZ Kabupaten Malang jumlahnya jauh lebih besar dengan alokasi dana untuk pendistribusian dana ZIS yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan delapan asnaf yang ada. Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa BAZ Kabupaten Malang sampai dengan saat ini belum dapat memaksimalkan pemanfaatan dana yang diperolehnya untuk dimanfaatkan sebagai sarana peningkatan kesejahteraan masyarakat miskin (8 asnaf) di wilayah Kabupaten Malang. 4.2 Optimalisasi Peran Pemerintah dalam Pengelolaan Zakat 4.2.1 Pembenahan Perundang-undangan Telah kita ketahui bersama bahwa pengelolaan zakat di Indonesia telah diatur dalam Undang-Undang No. 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat, yang kemudian dibuat aturan pelaksana sebagai kebijakan publik dalam Keputusan Menteri Agama RI No. 373 Tahun 2003 tentang Pelaksanaan UndangUndang No. 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat. Sebagai Undang-Undang tentunya mempunyai konsekuensi hukum atas tindakan pelanggaran. Demikian juga Undang-Undang No. 38 Tahun 1999 sesuai dengan namanya pengelolaan zakat, maka sanksi hukum hanya diberikan kepada pengelola zakat yang lalai

tidak mencatat/mencatat secara tidak benar harta zakat, hal ini bisa dilihat dalam Bab II pasal 21 Undang-Undang No. 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat. Dalam Undang-Undang ini pengenaan sanksi belum diberikan kepada pemilik harta yang wajib mengeluarkan zakat (muzakki), dan hal inilah yang menjadi problema yang dilematis bagi pengelolaan zakat. Pada satu sisi agama mewajibkan pemilik harta yang telah memenuhi nishab untuk mengeluarkan zakat, di sisi lain Undang-Undang kenegaraan hanya memberikan himbauan, bukan mewajibkan. Oleh karena itu hal ini membawa dampak tidak optimalnya pengumpulan zakat dari masyarakat. Disamping itu bila kita melihat dalam lingkup yang lebih kecil saja, yaitu di wilayah Kabupaten Malang, permasalahan perundang-undanganan zakat ini tampaknya kurang mendapat perhatian dan dukungan dari para anggota dewan di wilayah Kabupaten Malang. Sebagai contoh adalah masalah anggaran untuk biaya operasional BAZ tingkat daerah Kabupaten/Kota, dalam pasal 23 Undang-Undang No. 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat disebutkan bahwa: Dalam menunjang pelaksanaan tugas BAZ sebagaimana dimaksud dalam pasal 8, pemerintah wajib membantu biaya operasional BAZ. Berdasarkan kutipan pasal di atas, jelas bahwa pemerintah (dalam hal ini pemerintah Kabupaten Malang) seharusnya mengagendakan anggaran biaya operasional BAZ Kabupaten Malang sebagai anggaran tahunan APBD Kabupaten Malang. Akan tetapi dalam implementasinya, hingga saat ini hal tersebut hanya menjadi anggaran yang sifatnya insidental saja dan hal itu juga belum menjadi salah satu agenda pembahasan dalam sidang tahunan anggota DPRD Kabupaten Malang. 4.2.2 Pembenahan Lembaga Pengelola Zakat (LPZ) Dalam kaitannya dengan LPZ, pemerintah telah membentuk BAZ baik ditingkat pusat maupun daerah sebagai pelaksana bagi kebijakan pengelolaan zakat di Indonesia. Sebagaimana yang telah dijelaskan pada bab-bab sebelumnya bahwa sebagian masyarakat Indonesia selama ini menganut pengelolaan zakat dengan pola lama, dimana zakat dikelola oleh panitia zakat yang terbentuk secara insidental menjelang Hari Raya Idul Fitri sudah tidak dapat dipertahankan lagi karena ketidakmampuannya dalam mengatasi permasalahan kesejahteraan umat. Adanya realitas ini maka diperlukan adanya suatu sistem pengelolaan zakat yang terlembagakan dan ditangani secara zakat yang profesional. Akan tetapi seperti yang juga telah diungkapkan dalam bab sebelumnya bahwa pengelolaan zakat oleh LPZ pun, ternyata sebagian besar belum ditangani secara profesional. Untuk itu diperlukan adanya pembenahan LPZ, khususnya dalam mengelola dana ZIS. Dalam kaitannya dengan pembenahan LPZ, khususnya BAZ Kabupaten Malang, maka penulis berusaha untuk melihatnya sampai sejauh mana kinerja dari BAZ Kabupaten Malang ini. Dari beberapa indikator kinerja dari suatu organisasi publik, kinerja untuk pelayanan di bidang zakat yang dilakukan oleh BAZ Kabupaten Malang dapat dinilai dari segi kualitas pelayanan, responsivitas, responsibilitas dan akuntabilitas. Bila dilihat dari segi kualitas pelayanan, pelayanan yang dilakukan oleh BAZ Kabupaten Malang masih belum dapat menjangkau warga masyarakat yang bukan PNS di lingkungan Pemkab Malang. Dengan demikian keinginan warga masyarakat dari kelompok non PNS untuk menunaikan kewajiban zakatnya melalui BAZ Kabupaten Malang dapat dikatakan masih belum bisa terpenuhi secara maksimal. Hal ini disamping disebabkan oleh

kurangnya tenaga yang bertugas menjemput zakat secara langsung kepada masyarakat, juga disebabkan karena kurangnya sosialisasi akan keberadaan BAZ Kabupaten Malang ke masyarakat. Bila dilihat dari segi responsivitas, BAZ Kabupaten Malang selama ini telah menapung yang aspirasi dan keluhan pengguna layanan dan akan menindaklanjuti aspirasi dan keluhan tersebut, yang selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan perbaikan dalam penyelenggaraan pelayanan zakat di masa yang akan datang. Diantara aspirasi tersebut adalah adanya keinginan dari beberapa pihak yaitu calon pembayar zakat agar jumlah zakat yang dipungut disesuaikan dengan ketentuan Undang-Undang No. 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat, yaitu 2,5 % dari penghasilan yang diterima oleh muzakki, baik dari golongan PNS maupun bukan PNS. Adapun keluhan masyarakat terkait dengan layanan BAZ Kabupaten Malang adalah terkait dangan kecilnya dana ZIS yang mereka terima yang tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan serta lamanya pencairan dana ZIS setelah diajukannya proposal permohonannya. Fakta di lapangan menunjukkan ternyata sebagian besar penduduk Kabupaten Malang bahkan tidak mengetahui mekanisme pengajuan dana bantuan ke BAZ Kabupaten Malang. Terhadap aspirasi atau keluhan semacam ini, pengurus BAZ Kabupaten Malang telah menampungnya dan berusaha menjelaskan duduk permasalahannya, misalnya menyangkut kecilnya dana ZIS yang diterimakan kepada pemohon, dijelaskan bahwa hal ini dilakukan karena alasan pemerataan berhubung banyaknya proposal yang masuk dan lamanya pencairan dana tersebut disebabkan oleh lamanya pengambilan keputusan dalam rapat pengurus, karena semua dana yang keluar harus melalui persetujuan rapat pengurus. Dengan adanya keluhan-keluhan tersebut maka mendorong BAZ Kabupaten Malang untuk merekrut tenaga profesional dalam periode kepengurusan yang akan datang untuk mengoptimalkan hasil pengumpulan zakat, sehingga manfaat zakat akan lebih dirasakan oleh masyarakat yang akan menerimanya. Bila dilihat dari segi responsibilitas, meskipun BAZ Kabupaten Malang dalam operasionalnya telah mengikuti petunjuk teknis yang telah dibuat oleh pengurus, akan tetapi petunjuk teknis tersebut tidak seluruh isinya sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang ada dalam Undang-Undang No. 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat maupun peraturan pelaksanaannya, baik hal yang menyangkut pengumpulan, pendistribusian, maupun pendayagunaannya. BAZ Kabupaten Malang mempunyai kebijakan sendiri yang tidak semuanya selaras dengan ketentuan Undang-Undang. Misalnya besarnya pungutan zakat yang tidak sesuai dengan ketentuan (lebih kecil), walaupun alasannya masuk akal, yaitu sebagai latihan berzakat. Disamping itu dalam masalah pendistribusian zakat dan pendayagunaan zakat juga terjadi sedikit penyimpangan. Pendayagunaan zakat yang seharusnya diprioritaskan untuk membantu pihak-pihak yang secara ekonomis membutuhkan, seperti kaum fakir miskin, ternyata pihak yang mendapat prioritas justru untuk kepentingan fi sabilillah, misalnya untuk bantuan pembangunan/perbaikan masjid/musholla. Hal ini diperparah dengan besarnya alokasi penerimaan dengan alokasi pengeluaran dana ZIS yang selisihnya cukup jauh, sehingga hal ini berdampak pada besarnya saldo dalam laporan anggaran tahunan BAZ Kabupaten Malang. Dengan kata lain BAZ Kabupaten Malang sampai dengan saat ini masih belum memaksimalkan pemanfaatan dana yang

diperolehnya untuk dimanfaatkan sebagai sarana peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui distribusi zakat. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari Tabel 4 tentang Rincian Penerimaan dan Pengeluaran Dana Zakat, Infaq, Shadaqah (ZIS) BAZ Kabupaten Malang Tahun 2006. Dari segi akuntabilitasnya, BAZ Kabupaten Malang telah berusaha untuk memberikan laporan pengelolaan zakat untuk setiap bulannya kepada para muzakki melalui UPZ (Unit Pengumpul Zakat) yang ada di masing-masing instansi muzakki tersebut berada. Akan tetapi dalam pembuatan laporan keuangan tahunannya, pihak BAZ Kabupaten Malang masih belum pernah melibatkan pihak auditor eksternal, misalnya dengan menggunakan bantuan jasa akuntan publik. Laporan ini berisi jumlah pengumpulan zakat selama satu tahun dan keterangan tentang pendistribusiannya. Laporan ini tidak disampaikan per individu, melainkan secara kolektif. Laporan ini juga tidak disebarluaskan ke masyarakat luas, dengan alasan BAZ Kabupaten Malang belum memungut zakat dari mereka, sehingga tidak banyak warga masyarakat yang mengetahui kondisi keuangan BAZ Kabupaten Malang. Hal inilah yang justru menjadikan rendahnya kepercayaan masyarakat kepada BAZ sehingga mereka lebih memilih untuk menyalurkan dana ZIS-nya ke LPZ yang sudah diaudit oleh akuntan publik. 4.2.3 Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Dari data yang didapat dari BAZ Kabupaten Malang, pelatihan fungsional baru diikuti oleh 17 orang dari 50 pengurus. Sehingga menurut pandangan penulis, perlu adanya upaya untuk meningkatkan ketrampilan yang dimiliki oleh para pengurus Lembaga Pengelola Zakat, khususnya BAZ Kabupaten Malang secara terus menerus. Dengan adanya sumber daya yang memadai akan lebih meningkatkan perannya sebagai amil zakat yang profesional serta sebagai fasilitator dalam sosialisasi kepada masyarakat mengenai Undang-Undang No. 38 Tahun 1999, khususnya kalangan menengah ke atas sebagai sasaran utama dari pengumpulan dana zakat . Tabel 5 Pelatihan Fungsional No Jenis Pelatihan Jumlah Pegawai 1. Orientasi amil zakat 8 2. Orientasi instruktur amil zakat 9 Sumber: Data BAZ Kabupaten Malang tahun 2006 Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa pelatihan yang diikuti oleh 17 pegawai ini masih kurang mengingat program kerja yang dicanangkan tersebut membutuhkan tenaga-tenaga yang profesional dengan penanganan yang serius. Pelatihan fungsional ini digunakan untuk aplikasi keilmuan sehari-hari, sehingga diharapkan dengan semakin banyak pegawai yang mengikuti pelatihan fungsional ini, program-program kerja bisa diselesaikan dengan hasil yang maksimal. Diantaranya adalah untuk mendukung sistem komputerisasi zakat, dimana komputerisasi tersebut sebagai bahan informasi bagi masyarakat maupun stakeholder dalam membuat kebijakan, maka pembenahan sumber daya manusia ini harus dilakukan.

4.2.4 Peningkatan Pemahaman Masyarakat tentang Zakat Saat ini pemahaman masyarakat terhadap zakat yang hanya sebatas pemahaman dogmatis bukan pemahaman yang bersifat komprehensif. Zakat hanya dipahami sebatas ibadah bagi muslim kaya (mampu) yang mendistribusikan sebagian hartanya yang telah mencapai nishab kepada kaum muslim yang miskin, sehingga pendistribusian zakat pun masih sebatas pemahaman tentang penerima zakat dalam pandangan wajib zakat (muzakki) belum terlembagakan. Oleh karenanya, BAZ yang dibentuk oleh pemerintah kurang mendapat kurang mendapat respon dari masyarakat. Padahal tujuan adanya zakat ini adalah untuk menjadikan mustahiq (penerima zakat) menjadi muzakki (wajib zakat) melalui penyaluran dana yang bersifat permodalan bukan penyaluran dana yang bersifat konsumtif seperti yang ada selama ini. Fenomena ini terjadi karena sistem pendidikan agama (baik pada tingkat dasar, menengah maupun tinggi) serta sistem pendidikan pesantren, dimana kurikulum pendidikan agama masih terbatas pada dogma atau hukum-hukum yang harus dihafalkan dan belum menyentuh pada dimensi sosial dan kesejahteraan masyarakat. Untuk mengubah pemahaman masyarakat di atas, maka diperlukan kerja keras dari pemerintah sebagai regulator dalam pengelolaan zakat dan BAZ Kabupaten Malang sebagai pelaksana dalam pengelolaan zakat. Adapun upayaupaya yang perlu dilakukan disamping dengan metode dakwah kontemporer, seperti talk show, road show, diskusi, wawancara, khutbah Jumat, iklan layanan di media cetak dan elektronik, juga diupayakan melalui kurikulum sekolah, baik ditingkat dasar, menengah maupun perguruan tinggi yang menjadi sasaran selanjutnya. Dengan asumsi bahwa pemahaman yang baik tentang zakat sejak dini sangat membantu dalam pembentukan jiwa kepedulian sosial dan kesadaran zakat. Kurikulum pendidikan harus lebih realistis dalam pembentukan pemahaman anak terhadap konsep zakat. Seperti yang telah dijelaskan pada bab-bab sebelumnya bahwa salah satu kendala pengelolaan zakat adalah pemahaman masyarakat yang kurang baik tentang zakat harta. Untuk itu Departemen Agama seharusnya lebih melakukan penyempurnaan kurikulum pendididkan agama, khususnya tentang konsep zakat agar lebih mengena dalam kehidupan sehari-hari dan dampaknya dalam perekonomian umat. 4.2.5 Perubahan Paradigma Amil Zakat Pengelola zakat yang dalam bahasa agamanya disebut amil zakat masih dipandang sebagai pengelola dana zakat berciri tradisional, dimana zakat dikumpulkan kepada individu atau kelompok organisasi maupun pengurus masjid yang pengelolaannya tidak membutuhkan profesionalitas dan hanya didasarkan pada kerelaan individu dalam meluangkan waktunya untuk mengelola zakat. Paradigma amil zakat yang berkembang hanya sebatas kerelaan individu untuk meluangkan waktunya untuk mengelola zakat. Sehingga substansi pokok dari ibadah zakat yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan umat belum bisa diwujudkan. Oleh karena itu diperlukan adanya perubahan paradigma amil zakat sebagai sebuah pekerjaan profesi. Sebagai konsekuensi dari perubahan paradigma tersebut adalah amil zakat harus bersifat profesional (yaitu dengan bekerja purna waktu/ full time) yang digaji secara layak sehingga para anggota amil zakat ini dapat mencurahkan segala potensinya untuk mengelola dana zakat dengan lebih baik lagi. Dalam

artian amil zakat tidak mencari tambahan penghasilan karena gaji yang didapat sebagai amil zakat tidak mencukupi kebutuhan hidup mereka yang pada akhirnya dapat mengganggu pekerjaan mereka sebagai amil zakat. Tak kalah penting juga adalah pemahaman dari pengelola zakat itu sendiri, dimana harus adanya pencerahan dalam berpikir bahwa zakat sebagai bentuk ibadah yang bersifat kemasyarakatan membutuhkan transparansi dan akuntabilitas dalam semua kegiatan organisasi. Keprofesionalan sebagai landasan organisasi perlu digalakkan, karena bagaimanapun sebagai LPZ adalah organisasi publik yang menangani dana umat dituntut selalu bersifat jujur, amanah dan profesional. Pengelolaan yang amanah dan profesional ini menjadi jaminan bahwa pengelola zakat mendapat simpati dan kepercayaan dari masyarakat luas. Tanpa hal ini LPZ tidak akan bertahan lama bahkan akan mendapat sorotan negatif dari masyarakat. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan BAZ Kab. Malang belum mengelola potensi zakat secara optimal. Akibatnya upaya untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat belum terealisir secara optimal. Oleh karenanya diperlukan dukungan dan peran pemerintah yang cukup besar untuk dapat mengoptimalkan pengelolaan zakat, mulai dari pembenahan Undang-Undang, pembenahan LPZ, peningkatan kulitas SDM (khususnya bagi para pengelola zakat), peningkatan pemahaman masyarakat tentang zakat, serta perubahan paradigma amil zakat. 5.2 Saran 1. Untuk mengoptimalkan potensi zakat di Kabupaten Malang maka sudah saatnya BAZ Kabupaten Malang menerapkan manajemen secara profesional dan transparan. 2. Sesuai dengan pasal 18, ayat (4) Undang-Undang No. 38 tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat maka di auditnya hasil laporan tahunan BAZ Kabupaten Malang ini sudah menjadi keharusan, baik oleh auditor internal yang diwakili oleh komisi pengawas maupun auditor eksternal yang dapat diwakili oleh seorang ahli akuntan publik atau lembaga audit independen lainnya. 3. Untuk lebih mengoptimalkan perolehan dana ZIS maka sudah saatnya bagi BAZ Kabupaten Malang untuk memperluas lingkup muzakkinya sehingga tidak hanya memfokuskan pengumpulan dana ZIS hanya dari golongan PNS saja, akan tetapi diperluas hingga ke seluruh lapisan masyarakat yang telah masuk kategori sebagai muzakki. 4. BAZ Kabupaten Malang seharusnya lebih memaksimalkan penyaluran bantuan dari dana ZIS serta meminimalisir sisa saldo, sehingga dana ZIS yang telah terkumpul di BAZ Kabupaten Malang dapat dirasakan secara merata oleh masyarakat golongan mustahiq di Kabupaten Malang. 5. Pendayagunaan dana ZIS seharusnya bantuan disalurkan kepada mustahiq dengan kriteria sesuai 8 asnaf secara kontinyu, khususnya penyaluran zakat yang berbentuk zakat produktif, misalnya berupa modal dan beasiswa, sehingga penyaluran dana ZIS akan lebih terasa manfaatnya. 6. Tanpa mengesampingkan manfaat dari penyaluran dana ZIS dalam bentuk bantuan konsumtif, sudah saatnya bagi pemerintah (BAZ Kabupaten Malang)

untuk mengoptimalkan implementasi konsep penyaluran zakat produktif. Hal ini dikarenakan dalam waktu jangka panjang penyaluran dana ZIS dalam bentuk zakat produktif (misalnya modal usaha, beasiswa) lebih bermanfaat dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 7. Perlu adanya program pendampingan pengembangan sumber daya manusia bagi para mustahiq , sehingga para mustahiq ini dapat mengelola bantuan dari dana ZIS ini untuk kegiatan yang lebih bersifat produktif daripada konsumtif. 8. Perlu adanya gerakan sosialisasi tentang arti penting dan manfaat zakat serta prosedur penyalurannya yang benar sesuai dengan ketentuan syariat agama, yaitu penyaluran zakat melalui lembaga amil zakat (LPZ), baik itu LPZ pemerintah (misalnya, BAZ) maupun LPZ swasta (misalnya, LAZ). DAFTAR PUSTAKA Alfitri. 2006. The Law of Zakat Management An Non-Governmental Zakat Collectors in Indonesia. International journal of Not-for-Profit-Law, Volume 8, No. 2, pp. 55-64. Al Quran dan Terjemahnya. 1995. Departemen Agama Republik Indonesia. Yogyakarta. PT. Dana Bhakti. Anshori, Abdul Ghofur. 2006. Hukum dan Pemberdayaan Zakat: Upaya Sinergi Wajib Zakat dan Pajak di Indonesia. Pilar Media. Yogyakarta. Institut Manajemen Zakat. 2006. Profil Tujuh BAZ Daerah Provinsi dan Kabupaten Potensial di Indonesia. PT. Mitra Cahaya Utama. J.akarta. ____________________. 2006. Prinsip-Prinsip Manajemen dan Operasionalisasi Organisasi Pengelola Zakat. PT. Mitra Cahaya Utama. J.akarta. Keputusan Menteri Agama RI No. 373 Tahun 2003 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No. 38 Tahun 1999 Pengelolaan Zakat. Ludigdo, Unti., Marini Agustiningtyas. 2003. Pemberdayan Zakat, Infaq, dan Shadaqah: Prospek sebagai Pilar Pencapaian Kemakmuran Masyarakat (Kasus Kabupaten Trenggalek). Jurnal Lintasan Ekonomi Volume XX, No. 1. Milles, MB dan Hubermann. 1992. Analisis Data Kualitatif, Buku Sumber Tentang Metode-Metode Baru Diterjemahkan oleh TR. Rohidi. Jakarta. Penerbit Universitas Indonesia. Mughniyah, Muhammad Jawad. 1999. Fiqih Lima Mazhab. Lentera. Jakarta. Nasution, Mustafa E., dan Yusuf Wibisono. Zakat sebagai Instrumen Pengentasan Kemiskinan di Era Otonomi Daerah. Makalah disampaikan pada Seminar Internasional Ekonomi Islam dalam Muktamar IAEI di Medan. 18 September 2005. Qardhawi, Yusuf. 2002. Fiqih Zakat. Pustaka Litera Antar Nusa. Bogor. ______________. 1999. Hukum Zakat (Cetakan Kelima). Pustaka Litera Antar Nusa. Bogor.

Riyardi, Agung. 2002. Pajak, Zakat dan Dhoribah dalam Sistem Fiskal. P3EI. Yogyakarta. Samdin. 2002. Motivasi Berzakat: Kajian Manfaat dan Peranan Kelembagaan. Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (P3EI). Yogyakarta. Syafei, Ermi Suhasti. 2002. Mengoptimalkan Potensi Zakat. P3EI-FEUII. Yogyakarta. Triyuwono, Iwan. Manajemen Keuangan Dana Zakat, Infaq dan Shadaqah. Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial (Social Sciences), Volume 13, Nomor 1, Februari 2001. FE Unibraw. Malang. Undang-Undang No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Undang-Undang No. 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat. www.baznas.go.id www.baz.kabmalang.go.id www.bps.go.id