Anda di halaman 1dari 15

ABSTRAK Make-up of degree of resident health in the regency / city in 7 province passing improvement effort access and make-up

of quality of health services, family planning with the special attention to impecunious group are the representing the intention of decentralization health services. Impecunious clan service in every regency not yet flattened, incoming impecunious family amount medicine monthly 22,67% from amount of visitor public health center (Puskesmas). But total of baby mortality at of regency / city still be high. Highest mother mortality in regency of Bolaang Mongondow and lowest in Manado city. Considering visitor amount public health center which still a lot of, hence role public health centerhave to be non-stoped to be improved. But have to remain to improve the facet of pomotif and preventif in its area. PENDAHULUAN Tujuan pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010 adalah meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal melalui tercapainya masyarakat yang hidup dengan perilaku dan lingkungan sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang optimal di seluruh wilayah Republik Indonesia. Dalam rangka percepatan pelaksanaan desentralisasi, pemerintah Indonesia telah mendapat bantuan pinjaman dana dari ADB. Proyek ini dimulai sejak tahun 2001 dan akan berakhir pada tahun 2006 nanti, ditujukan untuk menjamin akses pelayanan kesehatan dan keluarga berencana yang bermutu bagi masyarakat khususnya bagi kelompok miskin dan rentan, seiring dengan diterapkannya kebijakan pemerintah tentang desentralisasi dan otonomi daerah. Proyek akan dilaksanakan dalam 2 fase : 1. Kegiatan dikonsentrasikan pada pengembangan kemampuan daerah dalam merencanakan, mengelola, dan menyelenggarakan pelayanan kesehatan.

2. Proyek akan mendukung pelaksanaan proposal yang sangat beralasan secara teknis dan ekonomis, serta memenuhi kebutuhan pokok penduduk miskin dan kelompok rentan. Menurut WHO dan Depkes, ada beberapa faktor yang menyebabkan angka kematian ibu dan bayi, antara lain anemia, gizi, faktor budaya, ekonomi, pendidikan dan kekerasan. Untuk menunjang berbagai upaya kesehatan, mutu dan pemerataan pelayanan kesehatan maka titik berat diletakkan pada pelayanan kesehatan dasar juga diselenggarakan secara terpadu. Pemanfaatan sarana pelayanan kesehatan oleh masyarakat diikuti dengan peningkatan mutu pelayanan dan profesionalisme tenaga kesehatan. Penurunan angka kesakitan, kecacatan dan kematian serta peningkatan mutu dan pemerataan pelayanan kesehatan diarahkan untuk mengatasi dan mengendalikan berbagai masalah kesehatan yang ada di masyarakat meliputi berbagai penyakit infeksi menular, gangguan gizi pada golongan masyarakat yang rentan, pelaksanaan norma pada keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera (NKKBS), peningkatan pengetahuan, kesadaran, kemauan dan kemampuan keluarga maupun masyarakat untuk menyumbangkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS).

METODOLOGI PENELITIAN Disain Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan metode survey. Subyek Penelitian 1. Puskesmas Seleksi secara Proporsional Random Sampling sampai dengan jumlah 43 Puskesmas Di 9 kabupaten / kota : 5 PKM di Manado, 5 PKM di Bitung, 3 PKM di Tomohon, 5 PKM di Minsel, 5 PKM di Minduk, 5 PKM di Minut, 5 PKM di Bolmong, 5 PKM di Sangihe, dan 5 PKM di Talaud. 2. Masyarakat 5 anggota masyarakat di tiap PKM, total berjumlah 215 orang 5 orang Stake Holders di 9 kabupaten / kota 3. Stake Holders dan Institusi

Instrumen Penelitian 1. Data primer Wawancara langsung Pengamatan Data profil Data hasil kegiatan

2. Data sekunder

Pengumpulan Data dan Analisis Data Pengumpulan data dilakukan oleh tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Unsrat Manado. Data yang terkumpul diolah dengan menggunakan Epi Info 6.0 dan SPSS 8.0 (for Windows).

HASIL DAN PEMBAHASAN I. PUSKESMAS Hasil survey yang dilakukan di puskesmas kabupaten kota diperoleh data sebagai berikut : Tabel I.1 Jumlah kematian bayi dan ibu
Kabupaten / Kota Manado Bitung Tomohon Minahasa Induk Minahasa Utara Minahasa Selatan Bolaang Mongondow Sangihe Talaud TOTAL Angka Kematian Bayi 3 11 11 27 13 31 4 3 13 116 Angka Kematian Ibu 0 4 2 1 2 0 7 5 2 23

Berdasarkan tabel, ditemukan angka kematian bayi diseluruh kabupaten / kota masih tinggi. Angka tertinggi terdapat di kabupaten Minahasa Selatan (31 kasus) sedangkan yang terendah di kabupaten Sangihe (3 kasus). Angka kematian ibu tertinggi di kabupaten Bolmong dan terendah di kota Manado. Diharapkan akan terjadi penurunan angka kematian bayi menjadi sekurang0kurangnya 30% di bawah data dasar daerah pada tahun 2010. Tabel I.2 Capaian Imunisasi
Kabupaten / Kota Manado Bitung Tomohon Minahasa Induk Minahasa Utara Minahasa Selatan Bolaang Mongondow Sangihe Talaud Persentase 75 85 62 85,9 90 83,8 80,9 84,5 81

Capaian imunisasi di 7 kabupaten kota telah mencapai UCI ( Universal Child Imunnization) di atas 80%, sedangkan kota Tomohon dan Manado. belum mencapai UCI

Tabel I.3 Persentasi Liputan Pelayanan Antenatal (K1, K4 berkualitas)


Kabupaten / Kota Manado Bitung Tomohon Minahasa Induk Minahasa Utara Minahasa Selatan Bolaang Mongondow Sangihe Talaud K1 (%) 74,96 79,9 65,52 77,50 90,92 64,32 89 56,4 97 K4 (%) 60,73 65,15 58,59 72,3 83,06 63,16 62,43 43,64 81

Dari angka persentasi liputan pelayanan antenatal di atas, didapat yang paling tinggi di kabupaten Talaud (97 % dan 81 %) dan terendah di kabupaten Sangihe (56,4 % dan 43,64 %). Tabel I.4 Jumlah persalinan yang ditolong petugas kesehatan / tenaga terlatih
Kabupaten / Kota Manado Bitung Tomohon Minahasa Induk Minahasa Utara Minahasa Selatan Bolaang Mongondow Sangihe Talaud Persentase 62,40 40 66,43 76,20 72,56 72,47 86,02 56,12 67,40

Dari tabel diatas dapat dilihat jumlah persalinan yang ditolong petugas kesehatan rata-rata sebesar 66,62%. Dimana angka tertinggi di Bolmong (86,02%) dan terendah di Bitung (40%). Tabel I.5 Persentasi pemberian Fe pada wanita hamil
Kabupaten / Kota Manado Bitung Tomohon Minahasa Induk Minahasa Utara Minahasa Selatan Bolaang Mongondow Sangihe Talaud Persentase 86,64 79,33 78,46 60 69 76,52 64,97 70,47 36,80

Persentasi pemberian Fe pada wanita hamil di kabupaten Talaud masih sangat rendah (46,80%) jika dibandingkan dengan kota Manado (86,64%0. Tabel I.6 Persentasi pemberian Vitamin A pada Balita
Kabupaten / Kota Manado Bitung Tomohon Minahasa Induk Minahasa Utara Minahasa Selatan Bolaang Mongondow Sangihe Talaud Persentase 100 78,60 89,28 42,60 80 94,46 88,96 99,54 26,80

Pemberian vitamin A paling tinggi berada di Manado (100%), dan terdapat 2 kabupaten yang pelaksanaannya di bawah 50% yaitu Minduk (42,60%) dan Talaud (26,80%). Tabel I.7 Jumlah peserta KB
Kabupaten / Kota Manado Bitung Tomohon Minahasa Induk Minahasa Utara Minahasa Selatan Bolaang Mongondow Sangihe Talaud Persentase 46,76 57 53 63,58 48,16 58,86 81,43 31,52 40

Jumlah peserta KB ddi masing-masing kabupaten / kota tidak merata, dikarenakan usaha KB yang dilaksanakan di PKM masih terbatas pada pembatasan kelahiran sedangkan kegiatan nasehat perkawianan dan pengobatan kemandulan belum dapat dilaksanakan.

Tabel I.8 Contact Rate per bulan


Kabupaten / Kota Manado Bitung Tomohon Minahasa Induk Minahasa Utara Minahasa Selatan Bolaang Mongondow Sangihe Talaud Orang 1739 1915 767 2164 914 307 1033 739 392

Jumlah pengunjung PKM per bulan di setiap wilayah cukup banyak dikarenakan sebagian besar masyarakat menilai bahwa kualitas pelayanan PKM cukup memuaskan. Tabel I.9 Jumlah Puskesmas Yang Melaksanakan Manajemen Mutu Prima
Kabupaten / Kota Manado Bitung Tomohon Minahasa Induk Minahasa Utara Minahasa Selatan Bolaang Mongondow Sangihe Talaud Jumlah 5 5 3 5 5 5 5 5 5 % 100 100 100 100 100 100 100 100 100

Dari data diatas dapat dilihat bahwa semua puskesmas di setiap kabupaten / kota telah melaksanakan manajemen mutu prima. Tabel I.10 Jumlah Puskesmas yang melaksanakan PONEK
Kabupaten / Kota Manado Bitung Tomohon Minahasa Induk Minahasa Utara Minahasa Selatan Bolaang Mongondow Sangihe Talaud Jumlah 9 6 3 16 4 8 11 4 0

Berdasarkan data diatas, dapat dilihat bahwa sebagian besar telah melaksanakan PONEK di puskesmas, kecuali kabupaten Talaud.

II. Masyarakat a. Manado Dari survey yang dilakukan di 5 wilayah kerja puskesmas yang ada di kota Manado diperoleh hasil:
Indikator Kunjungan Kualitas pelayanan Biaya Pelayanan Penyuluhan kesehatan Kunjungan petugas ke rumah masyarakat Jarak PKM - Rumah Jenis transportasi Pelayanan Kartu Gakin Resep obat Keterangan 3 kali (16%) Cukup (24%) Murah (100%) Tidak pernah (4%) Tidak pernah (52%) > 5 km (4%) Naik motor (28%) Tidak ada (12%) Di luar PKM (40%)

2 kali (8%) Baik (76%) Terjangkau (100%) Pernah ikut (96%) Pernah (48%) < 5 km (96%) Jalan kaki (48%) Sudah ada (88%) Di dalam PKM (60%)

> 3 kali (76%) Jelek (0%) Mahal (0%)

Naik mobil (24%)

b. Tomohon Dari survey yang dilakukan di 5 wilayah kerja puskesmas yang ada di kota Tomohon diperoleh hasil:
Indikator Kunjungan Kualitas pelayanan Biaya Pelayanan Penyuluhan kesehatan Kunjungan petugas ke rumah masyarakat Jarak PKM - Rumah Jenis transportasi Pelayanan Kartu Gakin Resep obat Keterangan 3 kali (26,66%) Cukup (33.33%) Murah (93,33%) Tidak pernah (40%) Tidak pernah (66,67%) > 5 km (13,33%) Naik motor (0%) Tidak ada (86,67%) Di luar PKM (6,67%)

1-2 kali (13,34%) Baik (66,67%) Terjangkau (100%) Pernah ikut (60%) Pernah (33,33%) < 5 km (86,67%) Jalan kaki (0%) Sudah ada (13,33%) Di dalam PKM (93,33%)

> 3 kali (60%) Jelek (0%) Mahal (6,67%)

Naik mobil (100%)

c. Bitung Dari survey yang dilakukan di 5 wilayah kerja puskesmas yang ada di kota Bitung diperoleh hasil:
Indikator Kunjungan Kualitas pelayanan Biaya Pelayanan Penyuluhan kesehatan Kunjungan petugas ke rumah masyarakat Jarak PKM - Rumah Jenis transportasi Pelayanan Kartu Gakin Resep obat Keterangan 3 kali (4%) Cukup (12%) Murah (96%) Tidak pernah (12%) Tidak pernah (32%) > 5 km (16%) Naik motor (56%) Tidak ada (36%) Di luar PKM (48%)

2 kali (4%) Baik (88%) Terjangkau (100%) Pernah ikut (88%) Pernah (68%) < 5 km (84%) Jalan kaki (24%) Sudah ada (64%) Di dalam PKM (52%)

> 3 kali (92%) Jelek (0%) Mahal (4%)

Naik mobil (8%)

d. Minahasa Induk Dari survey yang dilakukan di 5 wilayah kerja puskesmas yang ada di Kabupaten Minahasa Induk diperoleh hasil:
Indikator Kunjungan Kualitas pelayanan Biaya Pelayanan Penyuluhan kesehatan Kunjungan petugas ke rumah masyarakat Jarak PKM - Rumah Jenis transportasi Pelayanan Kartu Gakin Resep obat Keterangan 3 kali (12%) Cukup (20%) Murah (96%) Tidak pernah (24%) Tidak pernah (48%) > 5 km (16%) Naik motor (8%) Tidak ada (56%) Di luar PKM (44%)

1-2 kali (8%) Baik (80%) Terjangkau (100%) Pernah ikut (76%) Pernah (52%) < 5 km (84%) Jalan kaki (32%) Sudah ada (44%) Di dalam PKM (56%)

> 3 kali (80%) Jelek (0%) Mahal (4%)

Naik mobil (60%)

e. Minahasa Utara Dari survey yang dilakukan di 5 wilayah kerja puskesmas yang ada di Kabupaten Minahasa Utara diperoleh hasil:
Indikator Kunjungan Kualitas pelayanan Biaya Pelayanan Penyuluhan kesehatan Kunjungan petugas ke rumah masyarakat Jarak PKM - Rumah Jenis transportasi Pelayanan Kartu Gakin Resep obat Keterangan 3 kali (8%) Cukup (56%) Murah (96%) Tidak pernah (28%) Tidak pernah (52%) > 5 km (44%) Naik motor (48%) Tidak ada (20%) Di luar PKM (16%)

1-2 kali (32%) Baik (44%) Terjangkau (100%) Pernah ikut (72%) Pernah (48%) < 5 km (56%) Jalan kaki (4%) Sudah ada (80%) Di dalam PKM (84%)

> 3 kali (60%) Jelek (0%) Mahal (4%)

Naik mobil (48%)

f. Minahasa Selatan Dari survey yang dilakukan di 5 wilayah kerja puskesmas yang ada di Kabupaten Minahasa Selatan diperoleh hasil:
Indikator Kunjungan Kualitas pelayanan Biaya Pelayanan Penyuluhan kesehatan Kunjungan petugas ke rumah masyarakat Jarak PKM - Rumah Jenis transportasi Pelayanan Kartu Gakin Resep obat Keterangan 3 kali (8%) Cukup (8%) Murah (100%) Tidak pernah (16%) Tidak pernah (56%) > 5 km (32%) Naik motor (36%) Tidak ada (4%) Di luar PKM (36%)

1-2 kali (20%) Baik (92%) Terjangkau (100%) Pernah ikut (84%) Pernah (44%) < 5 km (68%) Jalan kaki (36%) Sudah ada (96%) Di dalam PKM (64%)

> 3 kali (72%) Jelek (0%) Mahal (0%)

Naik mobil (28%)

10

g. Bolaang Mongondow Dari survey yang dilakukan di 5 wilayah kerja puskesmas yang ada di Kabupaten Bolaang Mongondow diperoleh hasil:
Indikator Kunjungan Kualitas pelayanan Biaya Pelayanan Penyuluhan kesehatan Kunjungan petugas ke rumah masyarakat Jarak PKM - Rumah Jenis transportasi Pelayanan Kartu Gakin Resep obat Keterangan 3 kali (0%) Cukup (4%) Murah (96%) Tidak pernah (20%) Tidak pernah (28%) > 5 km (4%) Naik motor (20%) Tidak ada (8%) Di luar PKM (20%)

1-2 kali (0%) Baik (96%) Terjangkau (100%) Pernah ikut (80%) Pernah (72%) < 5 km (96%) Jalan kaki (80%) Sudah ada (92%) Di dalam PKM (80%)

> 3 kali (100%) Jelek (0%) Mahal (4%)

Naik mobil (0%)

h. Sangihe Dari survey yang dilakukan di 5 wilayah kerja puskesmas yang ada di Kabupaten Sangihe diperoleh hasil:
Indikator Kunjungan Kualitas pelayanan Biaya Pelayanan Penyuluhan kesehatan Kunjungan petugas ke rumah masyarakat Jarak PKM - Rumah Jenis transportasi Pelayanan Kartu Gakin Resep obat Keterangan 3 kali (0%) Cukup (4%) Murah (100%) Tidak pernah (28%) Tidak pernah (52%) > 5 km (20%) Naik motor (68%) Tidak ada (0%) Di luar PKM (48%)

1-2 kali (0%) Baik (96%) Terjangkau (100%) Pernah ikut (72%) Pernah (48%) < 5 km (80%) Jalan kaki (24%) Sudah ada (100%) Di dalam PKM (52%)

> 3 kali (100%) Jelek (0%) Mahal (0%)

Naik mobil (8%)

11

i. Talaud Dari survey yang dilakukan di 5 wilayah kerja puskesmas yang ada di Kabupaten Talaud diperoleh hasil:
Indikator Kunjungan Kualitas pelayanan Biaya Pelayanan Penyuluhan kesehatan Kunjungan petugas ke rumah masyarakat Jarak PKM - Rumah Jenis transportasi Pelayanan Kartu Gakin Resep obat Keterangan 3 kali (4%) Cukup (8%) Murah (100%) Tidak pernah (0%) Tidak pernah (20%) > 5 km (8%) Naik motor (44%) Tidak ada (0%) Di luar PKM (0%)

1-2 kali (12%) Baik (92%) Terjangkau (100%) Pernah ikut (100%) Pernah (80%) < 5 km (92%) Jalan kaki (56%) Sudah ada (100%) Di dalam PKM (100%)

> 3 kali (84%) Jelek (0%) Mahal (0%)

Naik mobil (0%)

j. Total 9 kabupaten / kota Dari survey yang dilakukan di 9 kabupaten / kota diperoleh hasil:
Indikator Kunjungan Kualitas pelayanan Biaya Pelayanan Penyuluhan kesehatan Kunjungan petugas ke rumah masyarakat Jarak PKM - Rumah Jenis transportasi Pelayanan Kartu Gakin Resep obat Keterangan 3 kali (7,91%) Cukup (18,14%) Murah (97,67%) Tidak pernah (18,14%) Tidak pernah (44,19%) > 5 km (17,67%) Naik motor (35,81%) Tidak ada (21,86%) Di luar PKM (32,56%)

1-2 kali (10,69%) Baik (81,86%) Terjangkau (100%) Pernah ikut (81,86%) Pernah (55,81%) < 5 km (82,33%) Jalan kaki (35,35%) Sudah ada (78,14%) Di dalam PKM (67,44%)

> 3 kali (81,40%) Jelek (0%) Mahal (2,33%)

Naik mobil (27,44%)

12

III. Stake Holder Tabel III.1 Anggota Komisi yang pernah mendengar tentang bantuan proyek kesehatan daerah (DHS-ADB)
Kabupaten / Kota Manado Bitung Tomohon Minahasa Induk Minahasa Utara Minahasa Selatan Bolaang Mongondow Sangihe Talaud Bantuan Proyek Kesehatan Daerah (DHS-ADB) Ya Tidak 5 5 5 5 5 4 1 4 1 5 2 3

Dari 9 kabupaten / kota, terdapat 5 daerah yang keseluruhan anggota komisi sudah pernah mendengar tentang bantuan proyek pembangunan kesehatan daerah (DHS-ADB). Ada 3 daerah yang hanya sebagian anggota komisi yang pernah mendengar tentang bantuan proyek pembangunan kesehatan daerah (DHS-ADB). Tabel III.2 Anggota Komisi yang terlibat dalam penyusunan anggaran kesehatan daerah
Kabupaten / Kota Manado Bitung Tomohon Minahasa Induk Minahasa Utara Minahasa Selatan Bolaang Mongondow Sangihe Talaud Penyusunan Anggaran Kesehatan Daerah Ya Tidak 5 3 2 5 5 5 5 5 1 4 5

13

Ada 3 daerah yang semua anggota komisi terlibat dalam penyusunan anggaran kesehatan daerah, sedangkan ada 4 daerah yang semua anggota komisinya tidak terlibat dalam penyusunan anggaran kesehatan daerah.

KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN Dari survey yang dilakukan dapat disimpulkan : 1. Angka kematian ibu tertinggi terdapat di Kabupaten Bolaang Mongondow dan terendah di Kota Manado. 2. Capaian imunisasi sebagian besar telah mencapai UCI (Universal Child immunization) diatas 80%, kecuali Kota Tomohon dan Manado. 3. Pelayanan antenatal care paling tinggi di Kabupaten Talaud dan terendah di Kabupaten Sangihe. 4. Jumlah persalinan yang ditolong petugas kesehatan / tenaga terlatih tertinggi di Bolmong (86,02%) dan terendah di Bitung (40%). 5. Persentasi pemberian Fe pada wanita hamil di Kabupaten Talaud (46,80%) masih sangat rendah jika dibandingkan dengan Kota Manado (86,64%). 6. Pemberian vitamin A paling tinggi berada di Kota Manado (100%) sedangkan yang di bawah 50% terdapat di 2 kabupaten yaitu Minahasa Induk (42,60%) dan Talaud (26,80%). 7. Jumlah peserta KB dimasing-masing kabupaten / kota tidak merata, dikarenakan usaha KB yang dilaksanakan di puskesmas masih terbatas pada pembatasan kelahiran. 8. Jumlah pengunjung puskesmas per bulan di setiap wilayah cukup banyak. Hal ini juga di dukung oleh manajemen mutu prima yang dilakukan semua puskesmas di setiap kabupaten / kota. 9. Sebagian besar telah melaksanakan PONEK di puskesmas, kecuali Kabupaten Talaud. 10. Dari 9 kabupaten / kota, didapatkan adanya hubungan timbal balik yang positif antara puskesmas dengan masyarakat di wilayah kerjanya.

14

11. Belum semua anggota komisi kesehatan pernah mendengar tentang bantuan proyek pembangunan kesehatan daerah (DHS-ADB) dan terlibat dalam penyusunan anggaran kesehatan daerah.

SARAN Setelah melakukan survey, dengan melihat hasil yang diperoleh maka penulis menyarankan : 1. Diharapkan terdapat peningkatan derajat kesehatan masyarakat ditandai oleh penurunan angka kematian bayi (IMR) dan angka kematian ibu (MMR) dengan memaksimalkan pelayanan kesehatan masyarakat terutama di bidang pemeriksaan antenatal, pemberian imunisasi, pemberian preparat Fe pada wanita hamil, juga petugas kesehatan / tenaga terlatih untuk menolong persalinan. 2. Mempertahankan mutu pelayanan puskesmas yang telah melaksanakan manajemen mutu prima. 3. mensosialisasikan lebih lagi mengenai bantuan proyek pembangunan kesehatan daerah (DHS-ADB) supaya dapat menunjang pemerataan peningkatan derajat kesehatan terutama di daerah.

15