Anda di halaman 1dari 6

ACE Inhibitor di Awal Masa Kehamilan Web site: Desember 1998 Medsafe Editorial Team Oligohydramnios, gagal ginjal,

cacat tulang, dan hippotensi berkepanjangan biasanya terjadi pada usia kehamilan trimester kedua dan ketiga, dan bisa di tangani dengan menggunakan terapi ACE Inhibitor. Tetapi, berdasarkan serangkaian kasus yang terjadi sekarang-sekarang ini, ternyata teratogenisitas atau toxicitas tidak menjadi masalah jika kaum perempuan mengalami kehamilan ketika sedang menjalani terapi ACE Inhibitor. Dari sekitar total 93 kehamilan sempurna (termasuk salah satunya merupakan kehamilan bayi kembar) yang menjalani terapi ACE Inhibitor selama masa

kehamilan trimester pertama, hanya satu kasus saja yang terdeteksi mengalami kelainan bawaan dan tidak ada kasus disfungsi ginjal neonatal yang terjadi. Gejalagejala pra kelahiran, berat lahir yang ringan, dan perlambatan pertumbuhan intrauterin merupakan fenomena yang biasa ditemukan; kemungkinan penyebabnya adalah di antaranya perlakuan pengobatan, sakit si ibu yang cukup serius, dan kehamilan bayi kembar. Dua bayi meninggal dalam periode perinatal. Kontraindikasi terapi ACE Inhibitor tidak perlu terlalu dipikirkan sekalipun yang sedang diterapi adalah wanita hamil yang akan melahirkan dalam waktu dekat, tetapi, sebagai langkah antisipasi, wanita yang sedang menjalani terapi ACE Inhibitor dan sepertinya sedang mengalami angkatan kehamilan, sebaiknya dihentikan terlebih dahulu. Kontraindikasi ini berlaku setelah trimester pertama. Toksisitas Fetal Muncul dalam Terapi Ace Inhibitor pada Trimester Kedua dan Ketiga Penggunaan terapi ACE Inhibitor selama masa kehamilan trimester kedua dan ketiga sudah banyak diterapkan untuk menangani sejumlah kelainan janin yang cukup serius termasuk termasuk di antaranya oligohydramnios, gagal ginjal fetal dan

neonatal, cacat tulang, cacat tungkai lengan, pulmonary hypoplasia, hipotensi berkepanjangan, dan kematian neonatal. Terapi ACE Inhibitor dikontraindikasikan setelah minggu ke 12 kehamilan. Tetapi, beberapa kasus yang banyak terbit sekarang-sekarang ini memastikan kemungkinan keamanan ketika pembukaan terapi ACE Inhibitor dilakukan pada trimester pertama kehamilan. Pada serangkaian kasus ini, perempuan yang diterapi adalah perempuan yang sedang menjalani perawatan hipertensi atau upaya pencegahan supaya jangan sampai terjangkit diabetes.

Hasil yang didapatkan setelah dilakukan terapi pada trimester pertama sangatlah baik Dari catatan data komputer tentang pengobatan hipertensi antenatal, Lip dkk., melakukan penelitian terhadap 18 wanita yang sudah menjalani terapi ACE Inhibitor selama masa kehamilannya. Perawatan dengan terapi ACE Inhibitor dihentikan pada rata-rata usia kehamilan 10.3 minggu (mulai 6 25; 6 (enam) terus berlanjut sampai melabihi 12 minggu). Alternatif antihipertensi digunakan selama masa kehamilan pada 12 wanita, dan satu wanita menjalani terapi yang dimulai pada usia kehamilan 33 minggu. Dua wanita terhindar dari aborsi, tetapi sisanya terus berusaha untuk mempertahankan kehidupan bayinya sampai pada usia kehamilan 34.1 928 41 minggu). 10 bayi yang kemudian lahir tidak dapat diidentifikasi kemungkinankemungkinan kelainan yang barangkali dialaminya. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS melaporkan hasil uji fetal yang dilaksanakan terhadap 66 perempuan yang menjalani terapi ACE Inhibitor selama masa kehamilan 14 minggu pertama. Aborsi spontan terjadi pada wanitawanita ini sebanyak 23% (tingkat latar belakang rata-rata 15%). Pada 48 bayi neonatal lahir hidup tidak ada bukti yang menunjukkan terjadinya disfungsi pembuluh salura ginjal, tetapi ada sekitar 3 kasus yang menunjukkan terjadinya penghambatan pertumbuhan intrauterin (satu kasus adalah kelahiran bayi kembar

pada usia 36 bulan kehamilan), dan satu kasus yang menunjukkan terjadinya ductus arteriosus pada bayi yang ibunya menjalani pengobatan digoxin selama masa kehamilan. Serangkaian kasus lainnya terjadi di Israel yang melibatkan 8 wanita dengan sembilan bayi baru lahir yang menjalani terapi ACE Inhibitor selama 2 12 minggu selama trimester pertama. Delapan bayi lahir selamat, dan rata-rata kehamilan adalah 34.5 (26-40) minggu dengan berat rata-rata mencapai 2288 g. Berat lahir paling ringan dan biasanya terjadi pada awal masa kehamilan, biasanya ditemukan pada ibu yang mengandung bayi kembar atau pada bayi yang ibunya mengalami berbagai macam penyakit. Pada salah satu kasus ini, ada bayi yang mengalami penghambatan pertumbuhan intrautrerine dan meninggal sebelum proses persalinan selesai. Tidak ada kesalahan formasi atau kecatatan meskipun bayi lahir prematur. Penelitian keempat menggunakan catatan kesehatan Danish dan juga menemukan diagnosa kemungkinan adanya cacat turunan atau gagal ginjal pada bayi yang dilahirkan oleh 21 wanita yang sudah mendapatkan resep untuk melaksanakan terapi ACE Inhibitor selama masa kehamilan tri mester pertama. Tidak ada bayi yang lahir mati atau gagal lahir, dan juga tidak ada kasus gagal ginjal neonatal. Tetapi, satu bayi, yang dilahirkan pada usia kehamilan minggu ke 27 (berat lahir 725 gram) dari ibu yang terkena diabetes meninggal dalam usia satu minggu, dan bayi yang satunya memiliki cardiomyopathy turunan tanpa cacat struktural.

Hasil negatif bisa disebabkan oleh wanita yang terkena penyakit atau yang sedang menjalani pengobatan Beberapa kesimpulan bisa diambil dari empat penelitian ini. Pertama, tidak mungkin untuk bisa memastikan apakah berat lahir yang ringan, kelahiran dini, dan perlambatan pertumbuhan intrauterin disebabkan oleh perawatan ibu atau karena penyakit. Kedua, meskipun foetopathy yang merupakan efek dari pelaksanaan terapi ACE Inhibitor selama trimester pertama tidak bisa dipisahkan dari hasil analisa total

sampel 93 kehamilan sempurna dalam semua penelitian ini, tetapi hasil penelitian kehamilan ini tidak mengungkap kepastian penyebab dari berbagai kelainan yang ada. Kadang ada faktor lain yang menyebabkan kegagalan dalam proses. Kontraindikasi tidak perlu untuk wanita yang kemungkinan akan melahirkan dalam waktu dekat. Tetapi, jika kehamilan direncanakan sosok pada wanita yang juga menjalani terapi ACE Inhibitor, alangkah sangat baik jika merubah atau meningkatkan pola pengobatan, kecuali jika memang ada kelebihan-kelebihan khusus yang disebabkan oleh terapi ACE Inhibitor. Nasihat seputar bukaan janin dan penyakit ibu Jika wanita yang sedang menjalani terapi ACE Inhibitor diberitahu bahwa dia mengalami kehamilan, maka dia seharusnya langsung berkonsultasi kepada spesialis terkait dengan kondisi yang dialaminya, termasuk bagaimana cara menggunakan cara alternatif untuk memanajemen kondisinya. Wanita ini seharusnya diberitahu agar tidak menghentikan pengobatan yang sedang dijalaninya sebelum melakukan konsultasi untuk menghindari resiko pada ibu dan janin yang dipengaruhi oleh hipertensi yang kurang terkendali. Dengan mengutamakan keselamatan si janin, si wanita ini memang seharusnya diberi bimbingan terkait bukaan janin dan tingkat keseriusan dari penyakit yang dimilikinya. Bagi wanita yang janinnya sudah ikut serta dalam terapi ACE Inhibitor selama trimester pertama, bisa dipastikan bahwa fetus ini tidak berada pada kondisi berbahaya. Meskipun demikian, si wanita ini harusnya tidak dipastikan untuk meyakini bahwa keamanan bayinya benar-benar terjamin. Artinya, si bayi memang tidak apa-apa, tetapi perlu mendapatkan perhatian dan perawatan yang intensive dan hati-hati. Wanita yang tidak menyadari kehamilan yang dialaminya sampai mereka menjalani terapi ACE Inhibitor sampai pada usia trimester kedua kehamilannya perlu diingatkan bahwa mereka bisa beresiko mengalami fetal toxicity yang akan terus menjangkit sejalan dengan perkembangan kehamilan. Untuk menjaga kelangsungan

kehamilan diperlukan saran dan diskusi dengan pihak lain yang kompeten, sehingga penilaian dan manajemen yang digunakan bisa pas.

Faktor-Faktor Lain Wanita yang dirawat dengan menggunakan terapi ACE Inhibitor

menggunakan obat-obat ini karena mereka biasanya mengalami hipertensi yang akut atau menantang. Hipertensi terkait dengan komplikasi janin dan ibu selama masa kehamilan. Komplikasi ini meliputi kematian perinatal, kehamilan yang belum cukup umur, dan hasil perinatal yang tidak baik (Sibai, 1992; Williams, 1995). Beberapa komplikasi janin, seperti penghambatan pertumbuhan intrauterine (IUGR) dan tekanan yang dirasakan bayi skala akut dan kronis, sama dengan komplikasi yang dialami oleh wanita hamil yang dirawat dengan menggunakan captropil (Hecker dan Moore, 1986; Sibai, 1991). Oleh karena itu, sulitlah kiranya untuk dapat mengetahui apakah semua permasalahan yang muncul ini disebabkan oleh kesalahan dalam pengobatan atau karena kondisi dasar yang memang mengalami hipertensi. Beberapa penelitian tambahan lain perlu dilaksanakan untuk mengetahui kisaran resiko terkait dengan penggunaan terapi ACE Inhibitor ini dan juga resiko-resiko yang terkait dengan komplikasi karena hipertensi.

Mekanisme yang Memungkinkan Memang sulit untuk bisa mengetahui adanya mekanisme pasti dalam kaitanya dengan perkembangan gangguan yang disebabkan oleh terapi ACE Inhibitor. Ketika menurunkan tekanan darah janin, terapi ACE Inhibitor bisa menyebabkan terjadinya IUGR dan juga permasalahan ginjal. Rendahnya tekanan darah janin dan tekanan uterine pada kepalanya yang disebabkan oleh oligohyddramnios menyebabkan berkurangnya sirkulasi darah di sekeliling tengkorak kepala.

Resiko Memberikan ASI Captopril dikeluarkan oleh susu dalam jumlah yang sangat terbatas (Devlin, 1981). WHO Working Group on Drugs and Human Lactation menunjukkan bahwa maksimum 0.014% dosis catropil dihasilkan melalui pemberian ASI. Oleh karena itu disimpulkan bahwa penggunan catatropfil aman meskipun sedang dalam keadaan minum ASI.

Rangkuman Secara keseluruhan, terapi ACE Inhibitor tidak ada kaitannya dengan cacat tulang atau pun berbagai kelainan fisik yang terjadi pada anak. Terapi ACE Inhibitor terkait dengan oligohyddramnios, kematian janin, anuria neonatal dan kematian, hipoplasia janin, IUGR dan hipoplasia paru-paru, jika terapi ini dilakukan pada peiode perkembangan bayi. Penelitian yang terkendali perlu dilaksanakan untuk mengetahui resiko terkait dengan penggunaan obat yang dikonsumsi selama trimester kedua atau pun ketiga. Karena ada resiko yang harus ditanggung ketika menjalani terapi ACE Inhibitor, maka perlu digunakan alternatif pengobatan selama trimester kedua dan ketiga kehamilan. Dalam beberapa kasus, terapi ACE Inhibitor kemungkinan merupakan satu-satunya cara untuk mengendalikan hipertensi selama masa kehamilan. Jika hipertensi tidak bisa ditangani dengan cara apapun, maka segala bentuk penggunaan obat atau pun hal lain yang terkait dengan kehamilan perlu di dipertimbangkan dan benar-benar di kaji secara seksama.