Anda di halaman 1dari 25

KONFLIK DISAAT AJARAN BARU TIBA

MOCHAMAD MUCHSON

ABSTRAK

Orang tua siswa/masyarakat telah menganggap bahwa biaya pendidikan untuk SD/MI dan SMP/MTs gratis, artinya masyarakat berharap tidak ada biaya apapun dalam proses belajar mengajar di kedua jenjang pendidikan tersebut. Tapi kenyatannya orang tua/masyarakat masih dibebani oleh berbagai pungutan terutama saat ajaran baru tiba dengan jumlah yang tidak sedikit terutama bagi orang tua/masyarakat yang tidak mampu. Sebenarnya bagaimana kebijakan pemerintah tentang pendidikan gratis? 1. Bagi sekolah penyelenggara program wajib belajar (SD dan SMP) pemerintah menjamin biaya pendidikan tanpa dipungut biaya. 2. Biaya pendidikan yang ditanggung pemerintah tersebut adalah biaya non personal yaitu biaya investasi dan biaya operasional. 3. Bagi sekolah yang bukan penyelenggara program wajib belajar (SMU, SMK dan MA) biaya pendidikan menjadi tanggung jawab pemerintah dan masyarakat. Pembiayaan pendidikan terdiri atas biaya investasi, biaya operasi, dan biaya personal; ayat (4)menyatakan biaya operasi satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: 1) gaji pendidik dan tenaga kependidikan serta segala tunjangan yang melekat pada gaji, 2) bahan atau peralatan pendidikan habis pakai, dan 3) biaya operasi pendidikan tak langsung berupa daya, air, jasa telekomunikasi, pemeliharaan sarana dan prasarana, uang lembur, transportasi, konsumsi, pajak, asuransi, dan lain sebagainya.

Kata kunci: Biaya pendidikan, biaya investasi, biaya operasional, biaya personal, wajib belajar, gratis, SD/SMP, SMP/MTs, Biaya operasional sekolah (BOS), konflik

A. Pendahuluan Menjelang tahun ajaran baru masyarakat terutama orang tua siswa dibuat resah untuk mencarikan sekolah bagi anaknya. Keresahan ini biasanya dipicu oleh dua hal yaitu nilai Ujian Akhir Nasional dan biaya awal memasuki sekolah yang lebih tinggi. Bagi anak-anak yang mempunyai nilai Ujian Akhir Nasional yang cukup tinggi untuk sesaat merasa lega karena bayang-bayang memasuki sekolah favorit yang dituju dapat dicapai. Tetapi kelegaan ini menjadi tidak berlangsung lama apabila mendengar biaya memasuki sekolah yang favorit begitu tinggi.

Untuk pendidikan dasar pemerintah sebenarnya telah mengeluarkan kebijakan sekolah gratis. Dalam bahasa yang dikenal masyarakat untuk SD dan SMP gratis dan diharapkan tidak ada pungutan apapun sebab pemerintah sudah mencukupi kebutuhan operasional sekolah dengan BOS (Bantuan Operasional Sekolah). Kecuali sekolah dengan kategori RSBI dan SBI. Kebijakan pemerintah ini tertuang dalam Peraturan Pemerintah No 47 Tahun 2008 tentang wajib belajar dan Peraturan Pemerintah No 48 Tahun 2008 tentang ketetapan-ketetapan mengenai pengalokasian dana pendidikan, tanggung jawab pendanaan, sumber pendanaan pendidikan dan pengelolaan dana pendidikan.

Peraturan Pemerintah tersebut adalah: 1. PP No. 47 Tahun 2008 Tentang wajib belajar a. Pasal 9 ayat (1): Pemerintah dan pemerintah daerah menjamin terselenggaranya program wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya. b. Pasal 10 ayat (1): Investasi pada lahan, sarana, dan prasarana selain lahan pendidikan pada satuan pendidikan dasar pelaksana program wajib belajar yang diselenggarakan oleh pemerintah atau pemerintah daerah menjadi tanggung jawab pemerintah atau pemerintah daerah sesuai kewenangan masing-masing.

c. Pasal 10 ayat (3): Biaya operasi pada satuan pendidikan dasar pelaksana program wajib belajar menjadi tanggung jawab pemerintah atau pemerintah daerah sesuai kewenangan masing-masing. 2. PP No. 48 Tahun 2008, tentang ketetapan-ketetapan mengenai pengalokasian dana pendidikan, tanggung jawab pendanaan, sumber pendanaan pendidikan dan pengelolaan dana pendidikan. a. Pasal 21 ayat (1). Pendanaan biaya nonpersonalia untuk satuan pendidikan dasar pelaksanaan program wajib belajar, baik formal maupun nonformal, yang diselenggarakan oleh Pemerintah, menjadi tanggung jawab Pemerintah dan dialokasikan dalam anggaran Pemerintah Daerah. Ayat (2), Tanggung jawab pendanaan biaya nonpersonalia oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) dilaksanakan sampai dengan terpenuhinya Standar Nasional Pendidikan. b. Pasal 22 ayat (1), Pendanaan biaya nonpersonalia satuan pendidikan yang bukan pelaksana program wajib belajar, baik formal maupun nonformal, yang diselenggarakan oleh Pemerintah menjadi tanggung jawab bersama antara Pemerintah dan Masyarakat. c. Pasal 23 ayat (1), Pemerintah Daerah, pemangku kepentingan pendidikan, dan pihak asing dapat membantu pendanaan biaya nonpersonalia satuan atau program pendidikan yang diselenggarakan Pemerintah. Ayat (3), Pemerintah dan Pemerintah Daerah dapat membantu pendanaan biaya nonpersonalia satuan atau program pendidikan, baik formal maupun nonformal, yang diselenggarakan oleh masyarakat. d. Pasal 24 ayat (1), Pendanaan tambahan di atas biaya nonpersonalia yang diperlukan untuk pemenuhan rencana pengembangan satuan atau program pendidikan yang diselenggarakan Pemerintah menjadi bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal dapat bersumber dari: 1. Pemerintah; 2. Pemerintah Daerah; 3. Masyarakat; 4. Bantuan pihak asing yang tidak mengikat; dan/atau 5. Sumber lain yang sah.

Dari dua Peraturan Pemerintah ini dapat ditarik kesimpulan bahwa: 1. Bagi sekolah penyelenggara program wajib belajar (SD dan SMP) pemerintah menjamin biaya pendidikan tanpa dipungut biaya. 2. Biaya pendidikan yang ditanggung pemerintah tersebut adalah biaya non personal yaitu biaya investasi dan biaya operasional. 3. Bagi sekolah yang bukan penyelenggara program wajib belajar (SMU, SMK dan MA) biaya pendidikan menjadi tanggung jawab pemerintah dan masyarakat. Dari dua Peraturan Pemerintah tersebut sebenarnya pemerintah sudah membuat kebijakan yang jelas dan tegas, namun dalam kenyataannya sampai saat ini disetiap tahun ajaran baru masyarakat selalu dibayangi dan bahkan menjadi suatu kenyataan bahwa untuk memasuki sekolah baru yang lebih tinggi dipastikan akan membayar biaya pendidikan dengan jumlah yang lumayan mahal, apakah akan memasuki SD, SMP ataupun SMU,SMK dan MA. Mengapa hal ini bisa terjadi? Sebenarnya hal ini disebabkan oleh dua sisi yaitu sisi masyarakat/orang tua siswa dan sisi sekolah. Dari sisi masyarakat/orang tua siswa mungkin banyak yang belum mengerti tentang jenis-jenis biaya pendidikan. Menurut PP 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan menyebutkan bahwa: a. Pasal 1 ayat (1) menyatakan Standar nasional pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum NKRI. b. Pasal 62 ayat (1) menyatakan pembiayaan pendidikan terdiri atas biaya investasi, biaya operasi, dan biaya personal; ayat (4)menyatakan biaya operasi satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: 1) gaji pendidik dan tenaga kependidikan serta segala tunjangan yang melekat pada gaji, 2) bahan atau peralatan pendidikan habis pakai, dan 3) biaya operasi pendidikan tak langsung berupa daya, air, jasa telekomunikasi, pemeliharaan sarana dan prasarana, uang lembur, transportasi, konsumsi, pajak, asuransi, dan lain sebagainya; ayat (5) menyatakan Standar biaya operasi satuan pendidikan ditetapkan dengan Peraturan Menteri berdasarkan usulan BSNP.

Jadi menurut Peraturan Pemerintah tersebut yang disebut biaya pendidikan terdiri dari biaya investasi, biaya operasi dan biaya personal. Biaya investasi adalah biaya yang mempunyai umur ekonomis lebih dari satu tahun seperti tanah, gedung, peralatan laboratorium, dan lainlain. Biaya operasi adalah biaya mempunyai umur ekonomis kurang dari satu tahun seperti ATK, bahan habis pakai, transport, pemeliharaan, dan lain-lain. Biaya personal adalah biaya yang ditanggung oleh orang tua siswa untuk menyekolahkan anaknya misalnya transport, uang saku, pembelian alat sekolah, seragam, rekreasi, dan lain-lain. Jadi menurut PP 47 Tahun 2008 yang dimaksud pemerintah menjamin biaya pendidikan tanpa dipungut biaya adalah biaya investasi dan biaya operasional, sedang biaya personal masih dibebankan kepada masyarakat/orang tua siswa. Dari sisi sekolah merasa dana BOS belum cukup untuk biaya operasional sekolah apalagi dikaitkan dengan upaya peningkatan mutu pendidikan sehingga masih diperlukan partisipasi masyarakat dalam hal kebutuhan operasional sekolah. Berkenaan dengan kebutuhan operasional sekolah yang tidak cukup tersebut seharusnya pemerintah daerah berkewajiban untuk menutup kebutuhan operasional sekolah tersebut dari APBD hal ini juga sejalan dengan Pasal 21 ayat (1). Pendanaan biaya nonpersonalia untuk satuan pendidikan dasar pelaksanaan program wajib belajar, baik formal maupun nonformal, yang diselenggarakan oleh Pemerintah, menjadi tanggung jawab Pemerintah dan dialokasikan dalam anggaran Pemerintah Daerah. Dari uraian diatas terdapat konflik antara sekolah dan masyarakat/orang tua siswa dan konflik antara sekolah dengan pemerintah daerah. Konflik sekolah dan masyarakat/orang tua siswa dipicu oleh adanya anggapan bahwa adanya sekolah gratis ditingkat SD dan SMP tapi kenyataannya pada setiap ajaran baru masyarakat/orang tua siswa masih membayar dalam jumlah yang lumayan mahal. Konflik sekolah dengan pemerintah daerah dipicu oleh anggapan bahwa untuk menutupi kebutuhan operasional sekolah seharusnya pemerintah daerah mau menutup dengan mengalokasikan dana sebagai pendamping BOS yang bersumber dari APBD namun kenyataanya dana dari APBD tidak pernah ada kalaupun ada sangat kecil sekali sehingga tidak dapat menutup kebutuhan operasional sekolah. Pertanyaanya bagaimana membuat resolusi konflik tersebut?

B. Pembahasan 1. Pengertian Konflik a. Menurut Stephen P Robbins (2008:451) mendifinisikan konflik sebagai perilaku anggota organisasi yang dicurahkan untuk beroposisi terhadap anggota yang lain. Prosesnya dimulai jika satu pihak merasa bahwa pihak lain telah menghalangi atau akan menghalangi sesuatu yang ada kaitannya dengan dirinya, atau hanya jika ada kegiatan yang tidak cocok. Konsep yang mendasari konflik adalah adanya oposisi, kelangkaan dan halangan (blockade). Konflik bias dalam keadaan terbuka maupun tersembunyi. b. Supriyadi (2008:5) menjelaskan, Konflik biasanya timbul dalam organisasi sebagai hasil adanya masalah-masalah komunikasi, hubungan pribadi, atau struktur organisasi. Karakteristik-karakteristik kepribadian tertentu, seperti otoriter atau dogmatis juga dapat menimbulkan konflik. Arti konflik banyak dikacaukan dengan banyaknya definisi dan konsepsi yang saling berbeda. Pada hakekatnya konfilk dapat didefinisikan sebagai segala macam interaksi pertentangan atau antagonistik antara dua atau lebih pihak. Konflik Organisasi (organizational conflict) adalah ketidaksesuaian anatar dua atau lebih anggota-anggota atau kelompok organisasi yang timbul karena adanya kenyataan bahwa mereka harus membagi sumber daya- sumber daya yang terbatas atau kegiatan-kegiatan kerja dan atau kenyataan bahwa mereka mempunyai perbedaan status, tujuan, nilai dan persepsi. c. Juanita (2002:2) menjabarkan, Konflik biasanya timbul dalam organisasi sebagai hasil adanya masalah-masalah komunikasi, hubungan pribadi, atau struktur organisasi. Karakteristik-karakteristik kepribadian tertentu, seperti otoriter atau dogmatis juga dapat menimbulkan konflik. Arti konflik banyak dikacaukan dengan banyaknya definisi dan konsepsi yang saling berbeda. Pada hakekatnya konfilk dapat didefinisikan sebagai segala macam interaksi pertentangan atau antagonistik antara dua atau lebih pihak. Konflik Organisasi (organizational conflict) adalah ketidaksesuaian anatar dua atau lebih anggota-anggota atau kelompok organisasi yang timbul karena adanya kenyataan bahwa mereka harus membagi sumber daya- sumber daya yang terbatas atau

kegiatan-kegiatan kerja dan atau kenyataan bahwa mereka mempunyai perbedaan status, tujuan, nilai dan persepsi. d. Universitas Gunadarma mendifinisikan, Konflik adalah segala macam interaksi pertentangan atau antogonistik antara dua atau lebih pihak. e. Rimzi Samin (2008:2) mendifinisikan, Konflik adalah suatu pertentangan yang terjadi antara apa yang diharapkan oleh seseorang terhadap dirinya, orang lain, organisasi dengan kenyataan apa yang diharapkan

2. Persepsi tentang konflik Stephen P Robins (2008:453) menyebutkan ada dua persepsi tentang konflik: a. Pandangan tradisional Pandangan tradisional mengenai konflik mengasumsikan bahwa semua konflik adalah jelek. Setiap konflik, oleh karenanya, mempunyai dampak yang negative pada keefektifan organisasi. Pendekatan tradisional menyamakan konflik dengan istilah seperti kekerasan, kehancuran dan irasionalitas. Konsisten dengan perspektif tersebut, salah satu tanggung jawab manajer adalah mencoba memastikanbahwa konflik tidak timbul dan jika hal itu terjadi agar bertindak dengan cepat untuk memecahkannya. b. Pandangan interactionist Suatu organisasi yang bebas sama sekali dari konflik mungkin juga merupakan organisasi yang statis, apatis dan tidak tanggap terhadap kebutuhan akan perubahan. Konflik adalah fungsional jika dapat memprakarsai pencarian cara-cara baru dan lebih baik dalam melakukan sesuatu dan mengurangi rasa puas diri dalam organisasi. Suatu perubahan tidak timbul begitu saja, melainkan membutuhkan stimulus. Stimulus tersebut adalah konflik. Harus ada suatu ketidakpuasan terhadap status quo sebelum keadaanya tepat untuk memprakarsai perubahan. Jadi, organisasi yang sepenuhnya puas dengan dirinya-artinya bebas dari konflik tidak mempunyai kekuatan internal untuk memprakarsai perubahan. Tapi pandangan ini juga meyakini bahwa tidak semua konflik adalah fungsional, artinya ada konflik yang berdampak negative pada keefektifan organisasi.

3. Jenis-Jenis Konflik a. Wiji Supriyanto (2008:6) menyebutkan jenis-jenis konflik: Ada lima jenis ( tipe ) konflik dalam kehidupan organisasi yaitu : 1. Konflik didalam individu :konflik ini timbul apabila individu merasa bimbang terhadap pekerjaan mana yang harus dilakukannya, bila berbagai permintaan pekerjaan saling bertentangan atau bila individu diharapkan untuk melakukan lebih dari kemampuannya. 2. Konflik antar individu dalam organisasi yang sama : konflik ini timbul akibat tekanan yang berhubungan dengan kedudukan atau perbedaan-perbedaan kepribadian. 3. Konflik antar individu dan kelompok : konflik ini berhubungan dengan cara individu menanggapi tekanan untuk keseragaman yang dipaksakan oleh kelompok kerja mereka, contohnya seseorang yang dihukum karena melanggar norma-norma kelompok. 4. Konflik antar kelompok dalam organisasi yang sama.: adanya pertentangan kepentingan antar kelompok. 5. Konflik antar organisasi 6. Akibat adanya bentuk persangingan ekonomi dalam sistem perekonomian suatu negara. Konflik semacam ini diakui sebagai sarana untuk mengembangkan produk baru, teknologi, jasa-jasa, harga yang lebih rendah dan pemanfaatan sumber daya yang tersedia secara lebih efisien.

Konflik Struktural 1. Konflik Hirarki, konflik yang terjadi diberbagai tingkatan organisasi. Contoh konflik manajemen puncak dengan manajemen menengah, konflik antar manajer dengan karyawan.

2. Konflik Fungsional, konflik yang terjadim antar departemen fungsional organisasi. Contoh konflik antar bagian produksi dengan bagian pemasaran dengan bagian produksi dan sebagainya. 3. Konflik Linistaf konflik yang terjadi antar lini dengan staf karena ada perbedaanperbedaan di antara keduanya. 4. Konflik Formal informal, konflik yang terjadi antara organisasi formal dengan informal.

b. Menurut James A.F. Stoner dan Charles Wankel dalam Juanita (2002:10) dikenal ada lima jenis konflik yaitu konflik intrapersonal, konflik interpersonal, konflik antar individu dan kelompok, konflik antar kelompok dan konflik antar organisasi. 1) Konflik Intrapersonal Konflik intrapersonal adalah konflikseseorang dengan dirinya sendiri. Konflik terjadi bila pada waktu yang sama seseorang memiliki dua keinginan yang tidak mungkin dipenuhi sekaligus. Sebagaimana diketahui bahwa dalam diri seseorang itu biasanya terdapat hal-hal sebagai berikut: a. Sejumlah kebutuhan-kebutuhan dan peranan-peranan yang bersaing b. Beraneka macam cara yang berbeda yang mendorong peranan-peranan dan kebutuhan-kebutuhan itu terlahirkan. c. Banyaknya bentuk halangan-halangan yang bisa terjadi di antara dorongan dan tujuan. d. Terdapatnya baik aspek yang positif maupun negatif yang menghalangi tujuan yang diinginkan. Hal-hal di atas dalam proses adaptasi seseorang terhadap lingkungannya acapkali menimbulkan konflik. Kalau konflik dibiarkan maka akan menimbulkan keadaan yang tidak menyenangkan. Ada tiga macam bentuk konflik intrapersonal yaitu :

1.

Konflik pendekatan-pendekatan, contohnya orang yang dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama menarik.

2.

Konflik pendekatan penghindaran, contohnya orang yang dihadapkan pada dua pilihan yang sama menyulitkan.

3.

Konflik penghindaran-penghindaran, contohnya orang yang dihadapkan pada satu hal yang mempunyai nilai positif dan negatif sekaligus.

2) Konflik Interpersonal Konflik Interpersonal adalah pertentangan antar seseorang dengan orang lain karena pertentengan kepentingan atau keinginan. Hal ini sering terjadi antara dua orang yang berbeda status, jabatan, bidang kerja dan lain-lain. Konflik interpersonal ini merupakan suatu dinamika yang amat penting dalam perilaku organisasi. Karena konflik semacam ini akan melibatkan beberapa peranan dari beberapa anggota organisasi yang tidak bisa tidak akan mempngaruhi proses pencapaian tujuan organisasi tersebut. 3) Konflik antar individu-individu dan kelompok-kelompok Hal ini seringkali berhubungan dengan cara individu menghadapi tekanan-tekanan untuk mencapai konformitas, yang ditekankan kepada mereka oleh kelompok kerja mereka. Sebagai contoh dapat dikatakan bahwa seseorang individu dapat dihukum oleh kelompok kerjanya karena ia tidak dapat mencapai norma-norma produktivitas kelompok dimana ia berada. 4) Konflik antara kelompok dalam organisasi yang sama Konflik ini merupakan tipe konflik yang banyak terjadi di dalam organisasiorganisasi. Konflik antar lini dan staf, pekerja dan pekerja manajemen merupakan dua macam bidang konflik antar kelompok. 5) Konflik antara organisasi Contoh seperti di bidang ekonomi dimana Amerika Serikat dan negara-negara lain dianggap sebagai bentuk konflik, dan konflik ini biasanya disebut dengan persaingan.Konflik ini berdasarkan pengalaman ternyata telah

menyebabkantimbulnya pengembangan produk-produk baru, teknologi baru dan servis baru, harga lebih rendah dan pemanfaatan sumber daya secara lebih efisien. c. Menurut Universitas Gunadarma jenis-jenis konflik dapat dibedakan menjadi: 1) Konflik peranan yang terjadi didalam diri seseorang (person-role conflict) 2) Konflik antar peranan (inter-role conflict) 3) Konflik yang timbul karena seseorang harus memenuhi harapan beberapa orang (intesender conflict) 4) Konflik yang timbul karena disampaikannya informasi yang saling bertentangan (intrasender conflict) Konflik juga dapat dibedakan menurut pihak-pihak yang saling bertentangan. Atas dasar hal ini , ada 5 jenis konflik , yaitu :
1) Konflik dalam diri individu. 2) Konflik antar individu. 3) Konflik antar individu dan kelompok. 4) Konflik antar kelompok dalam organisasi yang sama. 5) Konflik antar organisasi

4. Faktor-faktor yang mempengaruhi Konflik Dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok besar yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Dalam faktor intern dapat disebutkan beberapa hal : 1) Kemantapan organisasi Organisasi yang telah mantap lebih mampu menyesuaikan diri sehingga tidak mudah terlibat konflik dan mampu menyelesaikannya. Analoginya dalah seseorang yang matang mempunyai pandangan hidup luas, mengenal dan menghargai perbedaan nilai dan lain-lain.

2) Sistem nilai Sistem nilai suatu organisasi ialah sekumpulan batasan yang meliputi landasan maksud dan cara berinteraksi suatu organisasi, apakah sesuatu itu baik, buruk, salah atau benar. 3) Tujuan Tujuan suatu organisasi dapat menjadi dasar tingkah laku organisasi itu serta para anggotanya. 4) Sistem lain dalam organisasi Seperti sistem komunikasi, sistem kepemimpinan, sistem pengambilan keputusan, sistem imbalan dan lain-lain. Dlam hal sistem komunikasi misalnya ternyata persepsi dan penyampaian pesan bukanlah soal yang mudah. Sedangkan faktor ekstern meliputi : 1) Keterbatasan sumber daya Kelangkaan suatu hal yang dapat menumbuhkan persaingan dan seterusnya dapat berakhir menjadi konflik. 2) Kekaburan aturan/norma di masyarakat Hal ini memperbesar peluang perbedaan persepsi dan pola bertindak. 3) Derajat ketergantungan dengan pihak lain. Semakin tergantung satu pihak dengan pihak lain semakin mudah konflik terjadi. 4) Pola interaksi dengan pihak lain Pola yang bebas memudahkan pemamparan dengan nilai-nilai ain sedangkan pola tertutup menimbulkan sikap kabur dan kesulitan penyesuaian diri.

Menurut Supriyadi biasanya ada sumber-sumber yang menjadikan konflik tersebut muncul, secara umum biasanya terjadi karena tersebut dibawah ini: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Adanya aspirasi yang tidak ditampung. Saling ketergantungan tugas. Ketergantungan satu arah. Ketidakpuasan, perasaan ketidakadilan. Distorsi komunikasi. Tidak ada pedoman. Aturan yang kurang jelas. Kurang transparannya beberapa hal.

Dalam organisasi ada empat daerah dimana konflik sering timbul : 1. 2. 3. 4. Konflik hirarki Konflik fungsional Konflik lini-staf Konflik formal-informal

5. Pola Penanganan Konflik Menurut Fikri (2007:8) menjelaskan Pendekatan penyelesaian konflik oleh pemimpin dikategorikan dalam dua dimensi ialah kerjasama/tidak kerjasama dan tegas/tidak tegas. Dengan menggunakan kedua macam dimensi tersebut ada 5 macam pendekatan penyelesaian konflik ialah :
1)

Kompetisi Penyelesaian konflik yang menggambarkan satu pihak mengalahkan atau mengorbankan yang lain. Penyelesaian bentuk kompetisi dikenal dengan istilah win-lose orientation.

2)

Akomodasi Penyelesaian konflik yang menggambarkan kompetisi bayangan cermin yang

memberikan keseluruhannya penyelesaian pada pihak lain tanpa ada usaha memperjuangkan tujuannya sendiri. Proses tersebut adalah taktik perdamaian.
3)

Sharing Suatu pendekatan penyelesaian kompromistis antara dominasi kelompok dan kelompok damai. Satu pihak memberi dan yang lkain menerima sesuatu. Kedua kelompok berpikiran moderat, tidak lengkap, tetapi memuaskan.

4)

Kolaborasi Bentuk usaha penyelesaian konflik yang memuaskan kedua belah pihak. Usaha ini adalah pendekatan pemecahan problem (problem-solving approach) yang memerlukan integrasi dari kedua pihak.

5)

Penghindaran Menyangkut ketidakpedulian dari kedua kelompok. Keadaaan ini menggambarkan penarikan kepentingan atau mengacuhkan kepentingan kelompok lain.

Sedang menurut Juanita (2008:15) menjelaskan, untuk menangani konflik dengan efektif, kita harus mengetahui kemampuan diri sendiri dan juga pihak-pihak yang mempunyai konflik. Ada beberapa cara untuk menangani konflik antara lain : 1) Introspeksi diri Bagaiman kita biasanya menghadapi konflik ? Gaya pa yang biasanya digunakan? Apa saja yang menjadi dasar dan persepsi kita. Hal ini penting untuk dilakukan sehingga kita dapat mengukur kekuatan kita. 2) Mengevaluasi pihak-pihak yang terlibat. Sangat penting bagi kita untuk mengetahui pihak-pihak yang terlibat. Kita dapat mengidentifikasi kepentingan apa saja yang mereka miliki, bagaimana nilai dan sikap mereka atas konflik tersebut dan apa perasaan mereka atas terjadinya konflik. Kesempatan kita untuk sukses dalam menangani konflik semakin besar jika kita melihat konflik yang terjadi dari semua sudut pandang. 3) Identifikasi sumber konflik

Seperti dituliskan di atas, konflik tidak muncul begitu saja. Sumber konflik sebaiknya dapat teridentifikasi sehingga sasaran penanganannya lebih terarah kepada sebab konflik. 4) Mengetahui pilihan penyelesaian atau penanganan konflik yang ada dan memilih yang tepat. Spiegel (1994) menjelaskan ada lima tindakan yang dapat kita lakukan dalam penanganan konflik : 1) Berkompetisi Tindakan ini dilakukan jika kita mencoba memaksakan kepentingan sendiri di atas kepentingan pihak lain. Pilihan tindakan ini bisa sukses dilakukan jika situasi saat itu membutuhkan keputusan yang cepat, kepentingan salah satu pihak lebih utama dan pilihan kita sangat vital. Hanya perlu diperhatikan situasi menang kalah (win-win solution) akan terjadi disini. Pihak yang kalah akan merasa dirugikan dan dapat menjadi konflik yang berkepanjangan. Tindakan ini bisa dilakukan dalam hubungan atasan bawahan, dimana atasan menempatkan kepentingannya (kepentingan organisasi) di atas kepentingan bawahan. 2) Menghindari konflik Tindakan ini dilakukan jika salah satu pihak menghindari dari situsasi tersebut secara fisik ataupun psikologis. Sifat tindakan ini hanyalah menunda konflik yang terjadi. Situasi menag kalah terjadi lagi disini. Menghindari konflik bisa dilakukan jika masing-masing pihak mencoba untuk mendinginkan suasana, mebekukan konflik untuk sementara. Dampak kurang baik bisa terjadi jika pada saat yang kurang tepat konflik meletus kembali, ditambah lagi jika salah satu pihak menjadi stres karena merasa masih memiliki hutang menyelesaikan persoalan tersebut. 3) Akomodasi Yaitu jika kita mengalah dan mengorbankan beberapa kepentingan sendiri agar pihak lain mendapat keuntungan dari situasi konflik itu. Disebut juga sebagai self sacrifying behaviour. Hal ini dilakukan jika kita merasa bahwa kepentingan pihak lain lebih utama atau kita ingin tetap menjaga hubungan baik dengan pihak tersebut.

Pertimbangan antara kepentingan pribadi dan hubungan baik menjadi hal yang utama di sini. 4) Kompromi Tindakan ini dapat dilakukan jika ke dua belah pihak merasa bahwa kedua hal tersebut sama sama penting dan hubungan baik menjadi yang uatama. Masingmasing pihak akan mengorbankan sebagian kepentingannya untuk mendapatkan situasi menang-menang (win-win solution) 5) Berkolaborasi Menciptakan situasi menang-menag dengan saling bekerja sama. Pilihan tindakan ada pada diri kita sendiri dengan konsekuensi dari masing-masing tindakan. Jika terjadi konflik pada lingkungan kerja, kepentingan dan hubungan antar pribadi menjadai hal yang harus kita pertimbangkan.

Menurut Wiji Supriyanto (2008:16) menjelaskan beberapa strategi penanganan konflik: 1) Metode Stimulasi Konflik

Metode ini digunakan untuk menimbulkan rangsangan karyawan karena karyawan pasif yang disebabkan oleh situasi dimana konflik terlalu rendah. Rintangan semacam ini harus diatasi oleh manajer untuk merngsang konflik yang produktif. Metode stimulasi konflik meliputi 1) pemasukan atau penempatan orang luar ke dalam kelompok 2) penyusunan kembali organisasi 3) penawaran bonus, pembayaran intensif dan penghargaan untuk mendorong persaingan 4) pemilihan manajer-manajer yang tepat dan 5) perlakuan yang berbeda dengan kebiasaan.

2) Metode Pengurangan Konflik

Metode ini mengurangi permusuhan ( antagonis ) yang ditimbulkan oleh konflik dengan mengelola tingkat konflik melalui pendinginan suasana akan tetapi tidak

berurusan dengan masalah yang pada awalnya menimbulkan konflik itu. Metode pertama adalah mengganti tujuan yang menimbulkan persaingan dengan tujuan yang lebih bisa diterima kedua kelompok metode kedua mempersatukan kelompok tersebut untuk menghadapi ancaman atau musuh yang sama.

3) Metode Penyelesian Konflik

Metode ini dapat terjadi melalui cara-cara 1) kekerasan ( Forcing) yang bersifat penekanan otokratik 2) penenangan (smoolling ) yaitu cara yang lebih diplomatis 3) penghindaran ( avoidance ) dimana manajer menghindar untuk mengambil posisi yang tegas 4) penentuan melalui suara terbanyak ( majority rule ) mencoba untuk menyelesaikan konflik antar kelompok prosedur yang adil.

C. Resolusi Konflik Saat Ajaran Baru Tiba 1. Menilaian situasi konflik

2. Menjelaskan permasalahan 3. Mengevaluasi & Memilih alternarif pendekatan 4. Memecahkan masalah konflik 1. Menilai situasi konflik Telah dikemukakan diatas bahwa menjelang tahun ajaran baru tiba masyarakat/orang tua siswa seakan resah untuk mencarikan anaknya sekolah pada jenjang yang lebih tinggi, apakah akan masuk SD, atau akan masuk SMP dan SMA. Keresahan ini dipicu oleh dua hal yaitu tinggi atau rendahnya nilai ujian nasional dan biaya masuk memasuki sekolah tersebut. Bagi sekolah yang memakai seleksi dengan system nilai ujian nasional akan sangat obyektif dalam menyaring siswa. Tetapi untuk sekolah yang memakai tambahan alat seleksi misalnya tes/wawancara dan penyediaan formulir bantuan uang gedung akan

menjadi alat seleksi yang sangat subyektif dalam menyaring siswa. Hal inilah yang memunculkan konflik antara sekolah dan masyarakat/orang tua siswa. Disamping itu konflik juga terjadi saat sekolah memungut biaya pendidikan baik saat kenaikan kelas ataupun saat proses belajar mengajar. 2. Menjelaskan permasalahan konflik Peraturan Pemerintah tentang penyelenggaran wajib belajar (SD dan SDM) sudah sangat jelas yaitu pemerintah dan pemerintah daerah menjamin terselenggaranya program wajib belajar minimal tanpa dipungut biaya. Tetapi dalam kenyataanya sering kali masyarakat/orang tua mengeluh karena masih adanya pungutan biaya pendidikan dari sekolah. Mengapa hal ini bisa terjadi? Sebenarnya hal ini dikarenakan kurangnya komunikasi antara sekolah dan masyarakat/orang tua siswa. Memang pemerintah dan pemerintah telah menjamin program wajib belajar minimal tanpa memungut biaya, tanpa memungut biaya disini maksudnya adalah untuk biaya investasi dan biaya operasional, sedang masyarakat/orang tua masih dibebani untuk biaya personal (kecuali RSBI dan SBI). Biaya investasi adalah biaya yang manfaatnya lebih dari satu tahun misalnya untuk pengadaan lahan, gedung, laboratorium, dan lain-lain. Biaya operasional adalah biaya yang manfaatnya kurang dari satu tahun, misalnya ATK, bahan habis pakai, transport, pemeliharaan, dan lain-lain. Didalam PP 19 tahun 2005 tentang BSNP Pasal 62 ayat (1) menyatakan pembiayaan pendidikan terdiri atas biaya investasi, biaya operasi, dan biaya personal; ayat (4)menyatakan biaya operasi satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: 1) gaji pendidik dan tenaga kependidikan serta segala tunjangan yang melekat pada gaji, 2) bahan atau peralatan pendidikan habis pakai, dan 3) biaya operasi pendidikan tak langsung berupa daya, air, jasa telekomunikasi, pemeliharaan sarana dan prasarana, uang lembur, transportasi, konsumsi, pajak, asuransi, dan lain sebagainya; ayat (5) menyatakan Standar biaya operasi satuan pendidikan ditetapkan dengan Peraturan Menteri berdasarkan usulan BSNP. 3. Mengevaluasi dan memilih akternatif pendekatan

Jadi apabila sekolah akan melakukan pungutan kepada masyarakat/orang tua siswa hendaknya disosialisasikan dulu kepada masyarakat/orang tua siswa tersebut, bahwa komponen biaya yang dipungut sekolah tersebut termasuk biaya personal yang tidak dijamin oleh pemerintah dan pemerintah daerah dan masih menjadi tanggung jawab masyarakat/orang tua siswa. Dari sini diperlukan komunikasi baik antara sekolah dengan masyarakat/orang tua siswa maupun masyarakat/orang tua siswa melakukan klarifikasi kepada pihak sekolah. Sesuai dengan jenis konflik yang telah dikemukakan diatas terdapat tiga jenis penyebab konflik yaitu kurangnya komunikasi, hubungan personal dan struktur organisasi, maka konflik disaat ajaran baru tiba ini lebih disebabkan karena kurangnya komunikasi antara sekolah dan masyarakat/orang tua siswa. Sekolah harus mampu mengkomunikasikan komponen biaya apa saja yang diperlukan sekolah yang termasuk biaya personal, dan masyarakat harus mengklarifikasi komponen biaya tersebut apabila dari pihak sekolah kurang ada informasi yang jelas mengenai komponen pungutan biaya tersebut. Hal ini dikecualikan dari RSBI dan SBI karena untuk kedua program tersebut biaya investasi, operasional dan personal menjadi tanggung jawab masyarakat/orang tua siswa. Konflik juga dapat terjadi antara sekolah dengan pemerintah daerah. Sesuai dengan PP 19 tahun 2005 tersebut sebenarnya pemerintah daerah juga dibebani untuk mensukseskan program wajib belajar termasuk didalamnya melalui pendanaan biaya pendidikan yang bersumber dari APBD. Sementara ini BOS sepenuhnya berasal dari pemerintah pusat. Diharapkan dalam rangka peningkatan mutu pendidikan pemerintah daerah mau menutup biaya operasional sekolah berdasarkan perhitungan biaya operasional yang dilakukan oleh sekolah sendiri. Manajemen berbasis sekolah harus diimplementasikan termasuk didalamnya sekolah mampu menyusun kebutuhan biaya operasional sekolah. Sayangnya banyak sekolah yang merasa tidak cukup BOS digunakan untuk membiayai kebutuhan operasional sekolah, apalagi untuk menjamin peningkatan mutu pendidikan. Pada akhirnya sekolah mencukup-cukupkan bantuan BOS yang berasal dari pemerintah pusat. Jadi disini timbul konflik antara sekolah dengan pemerintah daerah. Artinya pemerintah daerah belum berperan didalam mensukseskan program wajib belajar, padahal sesuai dengan UU No 20 tahun 2004 tentang otonomi daerah, pemerintah daerah mempunyai wewenang pengelolaan

pendidikan dasar dan menengah termasuk didalamnya PAUD dan pendidikan non formal. Konflik ini merupakan konflik struktural organisasi yang mengarah pada ketergantungan pekerjaan satu arah. Menurut Stephen B Robbin (2008:458) menjelaskan ketergantungan pekerjaan satu arah membuat prospek terjadinya konflik akan lebih besar jika sebuah unit secara unilateral bergantung pada yang lain. Berlawanan dengan kesalingtergantungan, ketergantungan pekerjaan satu arah berarti bahwa keseimbangan kekuasaan telah bergeser. Prospek dari konflik pasti lebih tinggi karena unit yang dominan mempunyai dorongan yang sedikit saja untuk bekerja sama dengan unit yang berada dibawahnya. Pengelolaan sekolah membutuhkan biaya pendidikan, dan untuk penyelenggaran program wajib belajar diharapkan pemerintah daerah berperan dalam hal pendanaan melalui APBD. Tetapi sayangnya banyak pemerintah daerah kurang peduli untuk mengalokasikan APBD-nya sebagai pendamping BOS untuk menutup kebutuhan operasional sekolah khususnya yang dihitung oleh sekolah sendiri. Memang ada beberapa daerah yang sudah menggratiskan seluruh biaya pendidikan termasuk biaya personal tetapi itu melihat kekayaan daerah tersebut dan komitmen yang tinggi dari pemerintah daerah tersebut. Jadi solusi dari konflik tersebut adalah bagaimana pemerintah daerah mempunyai kemamuan yang kuat untuk mengalokasikan APBD-nya sebagai pendamping BOS dan mempunyai kesadaran bahwa upaya untuk memecahkan masalah bangsa dan mensejahterakan masyarakat dapat diwujudkan melalui pendidikan yang bermutu. 4. Memecahkan masalah konflik Sesuai dengan apa yang diuraikan diatas terdapat dua alternatif pemecahan masalah konflik. Pertama adalah dominasi. Dominasi ini dalam arti pemerintah daerah/dinas pendidikan sangat mendominasi sekolah terutama masalah pembiayaan pendidikan. Pemerintah daerah selalu mempunyai alasan bahwa APBD-nya tidak cukup untuk memberi bantuan biaya pendidikan ke sekolah karena APBD-nya terbatas dan harus dibagi untuk seluruh SKPD yang ada. Sehingga dampaknya sangat sedikit bahkan tidak ada bantuan biaya pendidikan yang berasal dari APBD, apakah itu biaya investasi

maupun biaya operasional, akibatnya sekolah mencukupkan biaya operasional sekolah yang diterima dari pusat (BOS), dan banyak gedung sekolah terutama SD yang rusak. Demikian sekolah karena kondisinya kekurangan biaya operasional dan dalam rangka pembangunan fisik terpaksa sekolah menarik dana pendidikan dari masyarakat/orang tua murid. Hal ini dikarenakan karena dominasi sekolah yang lebih kuat kepada masyarakat/orang tua murid. Masyarakat dipaksa oleh sekolah untuk memenuhi kebutuhan sekolah baik untuk infrastruktur maupun operasional. Alternatif pemecahan konflik yang kedua adalah kolaborasi. Sesuai dengan UU No 20 Tahun 2004 tentang otonomi daerah, pemerintah daerah mempunyai kewenangan untuk pendidikan dasar, menengah, non formal dan PAUD. Demikian pula Peranturan Pemerintah No. 47 Tahun 2008 Tentang wajib belajar, pemerintah dan pemerintah daerah menjamin terlaksananya wajib belajar minimal tanpa dipungut biaya. Sehingga dari peraturan ini pemerintah daerah harus lebih berperan dalam pembiayaan pendidikan terutama untuk mensukseskan wajib belajar. Pemerintah daerah harus mengalokasikan APBD-nya untuk memenuhi kebutuhan biaya investasi dan biaya operasional sekolah. Demikian pula antara sekolah dan masyarakat/orang tua siswa harus ada kolaborasi dalam hal pembiayaan pendidikan. Masyarakat/orang tua siswa harus menyadari bahwa anggaran pemerintah/pemerintah daerah terbatas sehingga harus melibatkan masyarakat/orang tua siswa dalam hal pembiayaan pendidikan. Terlebih lagi untuk program wajib belajar pemerintah hanya menggratiskan biaya investasi dan biaya operasional, sehingga masyarakat/orang tua juga harus menyadari bahwa biaya personal siswa masih menjadi tanggungan orang tua. Apabila kedua belah pihak saling bekerja sama/berkolaborasi sekolah akan mampu memenuhi kebutuhan pembiayaan pendidikan sehingga kualitas pendidikan dapat terjamin.

RUANG LINGKUP BIAYA PENDIDIKAN

RUANG LINGKUP
Biaya investasi:
sarana prasarana, pengembangan SDM, modal tetap

Biaya operasi di sekolah:


gaji dan tunjangan, bahan habis pakai, biaya tak langsung

?
Biaya Personal:
yang ditanggung anak didik

Gambar-1. Pengkategorian biaya pendidikan m enurut PP 19/2005

MODEL RESOLUSI KONFLIK SAAT AJARAN BARU TIBA

KOLABORASI

PEMERINTAH: PENDIDIKAN GRATIS

DOMINASI

PEMERINTAH KAB/KOTA: SHARING APBD

PENDIDIKAN GRATIS: BIAYA INVESTASI DAN BIAYA OPERASI

SEKOLAH: KOMUNIKASI/SOSIALISASI

MASYARAKAT/ORANG TUA: BIAYA PERSONAL

C. Kesimpulan 1. Biaya pendidikan terdiri dari biaya investasi, biaya operasi dan biaya personal. Biaya investasi adalah biaya yang mempunyai umur ekonomis lebih dari satu tahun seperti tanah, gedung, peralatan laboratorium, dan lain-lain. Biaya operasi adalah biaya mempunyai umur ekonomis kurang dari satu tahun seperti ATK, bahan habis pakai, transport, pemeliharaan, dan lain-lain. Biaya personal adalah biaya yang ditanggung oleh orang tua siswa untuk menyekolahkan anaknya misalnya transport, uang saku, pembelian alat sekolah, seragam, rekreasi, dan lain-lain. Jadi menurut PP 47 Tahun 2008 yang dimaksud pemerintah menjamin biaya pendidikan tanpa dipungut biaya adalah biaya investasi dan biaya operasional, sedang biaya personal masih dibebankan kepada masyarakat/orang tua siswa. 2. Konflik adalah segala macam interaksi pertentangan atau antogonistik antara dua atau lebih pihak yang disebabkan oleh kesenjangan antara apa yang diharapkan oleh seseorang terhadap dirinya, orang lain, organisasi dengan kenyataan apa yang diharapkan 3. Resolusi konflik dapat dilakukan dengan: a. b. c. d. Menilai situasi konflik Menjelaskan permasalahan Mengevaluasi & Memilih alternarif pendekatan Memecahkan masalah konflik

DAFTAR PUSTAKA

Juanita (2002), Download internet Robbins, Stephen P, Teori Organisasi: Struktur, Desain dan Aplikasi: Edisi 3, Prentice-Hall International, Inc, Arcan, Jakarta, 2008 Supriyadi (2008), Download internet Universitas Gunadarma, Download internet Wiji Supriyanto, Download internet