Anda di halaman 1dari 8

SEKOLAH GRATIS?

MOCHAMAD MUCHSON ABSTRAK Memasuki Tahun Ajaran Baru saatnya masyarakat/orang tua siswa dibuat pusing dengan biaya sekolah yang akan dikeluarkan, entah anaknya naik kelas atau akan memasuki sekolah dengan jenjang yang lebih tinggi. Saat anak naik kelas biasanya dibebani dengan uang daftar ulang, dan saat anak akan memasuki sekolah dengan jenjang yang lebih tinggi akan dibebani dengan uang masuk/uang pangkal dengan jumlah yang tidak sedikit. Lalu, bagaimana implementasi dengan pendidikan gratis? Masyarakat/orang tua siswa seakan selalu bertanya-tanya, katanya sekolah gratis tapi kok ya masih banyak pungutan/iuran di sekolah? Peraturan pemerintah No. 47 tahun 2008 tentang wajib belajar harus dipahami oleh semua pihak terutama stekholder pendidikan. Pasal 9 ayat (1) mengatakan, pemerintah dan pemerintah daerah menjamin terselenggaranya program wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan dasar tanpa dipungut biaya. Inilah yang menjadi dasar pendidikan gratis untuk SD maupun SMP, kecuali RSBI dan SBI. Peraturan pemerintah No. 47 tahun 2008 tentang wajib belajar harus dipahami oleh semua pihak terutama stekholder pendidikan. Di dalam PP ini yang dimaksud biaya pendidikan adalah biaya operasional, biaya investasi dan biaya personal. Biaya operasional adalah biaya yang dikeluarkan sekolah untuk membiayai aktifitas sekolah yang mempunyai manfaat kurang dari satu tahun misalnya untuk membeli ATK, perlengkapan PBM, pemeliharaan dan lain-lain. Biaya investasi adalah biaya yang dikeluarkan sekolah untuk membiayai aktifitas sekolah yang mempunyai manfaat lebih dari satu tahun misalnya untuk membeli meja, kursi, almari, ruang kelas dan lain-lain. Biaya personal adalah biaya yang ditanggung peserta didik dalam rangka PBM misalnya seragam, uang transport, rekreasi dan lain-lain. Pasal 10 di dalam PP ini menyatakan ternyata biaya pendidikan yang gratis itu hanya biaya investasi dan biaya operasional, sedang untuk biaya personal masih menjadi tanggungan masyarakat/orang tua siswa. Jadi agar para stakeholder pendidikan terutama sekolah dan masyarakat/orang tua siswa memahami betul substansi pendidikan gratis ini dan tidak terjadi salah pengertian, sekolah harus mampu memberi sosialisasi kepada masyarakat/orang tua jenis biaya pendidikan apa saja yang dipungut oleh sekolah apakah itu termasuk biaya investasi, operasional atau personal. Dengan demikian masyarakat/orang tua akan menyadari bahwa biaya pendidikan khususnya biaya personal masih menjadi tanggungannya. Sehingga tidak ada pendidikan yang gratis 100%, yang ada hanya pendidikan gratis yang terbatas karena masih ada sebagian biaya yang menjadi tanggungan masyarakat/orang tua. Kata-kata kunci: Sekolah gratis, RSBI, SBI, Biaya operasional, Biaya investasi, Biaya personal, Standar nasional Pendidikan, Kelas Akselerasi, Akreditasi, OECD, KTSP, TIK

Pendahuluan Memasuki Tahun Ajaran Baru saatnya masyarakat/orang tua siswa dibuat pusing dengan biaya sekolah yang akan dikeluarkan, entah anaknya naik kelas atau akan memasuki sekolah dengan jenjang yang lebih tinggi. Saat anak naik kelas biasanya dibebani dengan uang daftar ulang, dan saat anak akan memasuki sekolah dengan jenjang yang lebih tinggi akan dibebani dengan uang masuk/uang pangkal dengan jumlah yang tidak sedikit. Lalu, bagaimana implementasi dengan pendidikan gratis? Masyarakat/orang tua siswa seakan selalu bertanya-tanya, katanya sekolah gratis tapi kok ya masih banyak pungutan/iuran di sekolah? Sekolah Gratis Peraturan pemerintah No. 47 tahun 2008 tentang wajib belajar harus dipahami oleh semua pihak terutama stekholder pendidikan. Pasal 9 ayat (1) mengatakan, pemerintah dan pemerintah daerah menjamin terselenggaranya program wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan dasar tanpa dipungut biaya. Inilah yang menjadi dasar pendidikan gratis untuk SD maupun SMP, kecuali RSBI dan SBI. Didalam memahami makna pendidikan gratis ini sebenarnya harus dikaitkan dengan Pasal 10 ayat (1) Investasi pada lahan, sarana, dan prasarana selain lahan pendidikan pada satuan pendidikan dasar pelaksana program wajib belajar yang diselenggarakan oleh pemerintah atau pemerintah daerah menjadi tanggung jawab pemerintah atau pemerintah daerah sesuai kewenangan masing-masing,dan Pasal 10 ayat (3): Biaya operasi pada satuan pendidikan dasar pelaksana program wajib belajar menjadi tanggung jawab pemerintah atau pemerintah daerah sesuai kewenangan masing-masing. Dari pasal 10 ini ternyata biaya pendidikan yang gratis itu hanya biaya investasi dan biaya operasional, sedang untuk biaya personal masih menjadi tanggungan masyarakat/orang tua siswa. Sesuai dengan PP 19 tahun 2005 tentang Standar nasional Pendidikan Pasal 62 ayat (1)

menyatakan pembiayaan pendidikan terdiri atas biaya investasi, biaya operasi, dan biaya personal. Biaya investasi adalah biaya yang manfaatnya dapat dinikmati lebih dari satu tahun misalnya untuk tanah, gedung, bangku, meja, kursi, peralatan laboratorium, dan lain-lain. Biaya operasi adalah biaya yang manfaatnya dapat dinikmati kurang dari satu tahun meliputi:1) gaji pendidik dan tenaga kependidikan serta segala tunjangan yang melekat pada gaji, 2) bahan atau

peralatan pendidikan habis pakai, dan 3) biaya operasi pendidikan tak langsung berupa daya, air, jasa telekomunikasi, pemeliharaan sarana dan prasarana, uang lembur, transportasi, konsumsi, pajak, asuransi, dan lain sebagainya. Biaya personal adalah biaya yang ditanggung oleh orang tua siswa dalam rangka menyekolahkan anak misalnya untuk seragam, transport, perlengkapan sekolah, rekreasi, dan lain-lain. Jadi agar para stakeholder pendidikan terutama sekolah dan masyarakat/orang tua siswa memahami betul substansi pendidikan gratis ini dan tidak terjadi salah pengertian, sekolah harus mampu memberi sosialisasi kepada masyarakat/orang tua jenis biaya pendidikan apa saja yang dipungut oleh sekolah apakah itu termasuk biaya investasi, operasional atau personal. Dengan demikian masyarakat/orang tua akan menyadari bahwa biaya pendidikan khususnya biaya personal masih menjadi tanggungannya. Sehingga tidak ada pendidikan yang gratis 100%, yang ada hanya pendidikan gratis yang terbatas karena masih ada sebagian biaya yang menjadi tanggungan masyarakat/orang tua. Bagi sekolah-sekolah bukan penyelenggara program wajib belajar misalnya SMA, SMK, MA berlaku PP No 48 Tahun 2008 Pasal 22 ayat (1), Pendanaan biaya nonpersonalia satuan pendidikan yang bukan pelaksana program wajib belajar, baik formal maupun nonformal, yang diselenggarakan oleh Pemerintah menjadi tanggung jawab bersama antara Pemerintah dan Masyarakat. Itu artinya bagi masyarakat/orang tua yang menyekolahkan anaknya ke jenis sekolah ini memang dibebani biaya pendidikan baik biaya investasi, personal maupun operasional. Untuk RSBI, SBI atau Kelas Akselerasi landasannya adalah Pasal 24 ayat (1), Pendanaan tambahan di atas biaya nonpersonalia yang diperlukan untuk pemenuhan rencana pengembangan satuan atau program pendidikan yang diselenggarakan Pemerintah menjadi bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal dapat bersumber dari: 1. Pemerintah 2. Pemerintah Daerah; 3. Masyarakat; 4. Bantuan pihak asing yang tidak mengikat; dan/atau 5. Sumber lain yang sah. Jadi bagi masyarakat/orang tua siswa yang menyekolahkan anaknya ke jenis sekolah ini memang tidak berlaku pendidikan gratis terbatas seperti penyelenggara wajib belajar kelas regular tapi dibebani biaya pendidikan yang memungkinkan terlaksananya kelas bertaraf internasional dan kelas akselerasi tersebut, yaitu biaya investasi, biaya operasional dan tentu saja biaya personal.

Kelas RSBI/SBI dan Kelas Akselerasi Hari-hari terakhir ini di masyarakat sedang diperbincangkan biaya pendidikan untuk memasuki sekolah terutama kelas RSBI/SBI dan kelas akselerasi. Radar Kediri (Jawa Pos Group) menyebutkan pungutan di kelas khusus termasuk didalamnya RSBI/SBI dan kelas akselerasi meliputi pembelian Laptop, Pengadaan LCD Proyektor, pengadaan kelas ber-AC, pengadaan Televisi 29 dan pembelian buku (RSBI SMP). (Sumber: Keterangan orang tua murid). Pertanyaanya adalah apakah fasilitas tersebut memang relevan untuk penyelenggaraan kelaskelas RSBI/SBI dan kelas akselerasi tersebut? Memang tidak mudah untuk menyelenggarakan kelas-kelas bertaraf internasional tersebut. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional tentang Penjaminan Mutu SMBI memberi syarat bagi sekolah-sekolah penyelenggara kelas RSBI?SBI dan kelas Akselerasi, yaitu: 1. Akreditasi. Sekolah penyelenggara RSBI/SBI/Akselerasi berareditasi minimal A dari BAN-S/M. Berakreditasi tambahan dari badan akreditasi sekolah pada salah satu negara anggota Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) dan/atau negara maju lainnya yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan. 2. Kurikulum. a) Menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan menerapkan system Satuan Kredit Semester di SMA/SMK/MA/MAK. Dengan indicator kinerja tambahan sistem administrasi akademik berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di mana setiap saat siswa bisa mengakses transkripnya masingmasing. b) Memenuhi standar isi. Muatan mata pelajaran setara atau lebih tinggi dari muatan pelajaran yang sama pada sekolah unggul dari salah satu negara anggota OECD dan/atau negara maju lainnya yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan. C) Memenuhi standar kompetensi lulusan. Menerapkan standar kelulusan sekolah/madarasah yang lebih tinggi dari Standar Kompetensi Lulusan. 3. Proses pembelajaran. Memenuhi standar proses. Proses pembelajaran pada semua mata pelajaran menjadi teladan bagi sekolah/madrasah lainnya dalam pengembangan akhlak mulia, budi pekerti luhur, kepribadian unggul, kepemimpinan, jiwa entrepreneural, jiwa patriot, dan jiwa inovator. Diperkaya dengan model proses pembelajaran sekolah unggul dari negara anggota OECD dan/atau negara maju lainnya yang mempunyai keunggulan

tertentu dalam bidang pendidikan. Menerapkan pembelajaran berbasis TIK pada semua mata pelajaran. Pembelajaran mata pelajaran kelompok sains, matematika, dan inti kejuruan menggunakan bahasa Inggris, sementara pembelajaran mata pelajaran lainnya, kecuali pelajaran bahasa asing, harus menggunakan bahasa Indonesia. Pembelajaran dengan Bahasa Inggris untuk mata pelajaran kelompok sains dan matematika untuk SD/MI baru dapat dimulai pada Kelas IV. 4. Penilaian. Memenuhi standar penilaian. Diperkaya dengan model penilaian sekolah unggul dari negara anggota OECD dan/atau negara maju lainnya yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan. 5. Pendidik. Memenuhi standar pendidik. Semua guru mampu memfasilitasi pembelajaran berbasis TIK. Guru mata pelajaran kelompok sains, matematika, dan inti kejuruan mampu mengampu pembelajaran berbahasa Inggris. Minimal 10% guru berpendidikan S2/S3 dari Perguruan Tinggi yang program studinya berakreditasi A untuk SD/MI Minimal 20% guru berpendidikan S2/S3 dari Perguruan Tinggi yang program studinya berakreditasi A untuk SMP/MTs. Minimal 30% guru berpendidikan S2/S3 dari Perguruan Tinggi yang program studinya berakreditasi A untuk SMA/SMK/MA/MAK. 6. Tenaga Kependidikan. Memenuhi Standar Kepala Sekolah/Madrasah. Kepala

Sekolah/Madrasah berpendidikan minimal S2 dari Perguruan Tinggi yang program studinya berakreditasi A dan telah menempuh pelatihan kepala sekolah dari lembaga pelatihan kepala sekolah yang diakui oleh Pemerintah. Kepala Sekolah/Madrasah mampu berbahasa Inggris secara aktif. Kepala Sekolah/Madrasah bervisi internasional, mampu membangun jejaring internasional, memiliki kompetensi manajerial, serta jiwa kepemimpinan dan entrepreneural yang kuat. 7. Sarana dan Prasarana. Memenuhi Standar Sarana dan prasarana. Setiap ruang kelas dilengkapi dengan sarana pembelajaran berbasis TIK. Perpustakaan dilengkapi dengan sarana digital yang memberikan akses ke sumber pembelajaran berbasis TIK di seluruh dunia. Dilengkapi dengan ruang multi media, ruang unjuk seni budaya, fasilitas olah raga, klinik, dan lain sebagainya. Meraih sertifikat ISO 9001 versi 2000 atau sesudahnya dan ISO 14000. Merupakan sekolah/madrasah multi-kultural. Menjalin hubungan sister school dengan sekolah bertaraf internasional di luar negeri. Bebas narkoba dan rokok. Bebas kekerasan (bullying). Menerapkan prinsip kesetaraan gender dalam segala aspek

pengelolaan sekolah Meraih medali tingkat internasional pada berbagai kompetisi sains, matematika, teknologi, seni, dan olah raga. 8. Pembiayaan. Memenuhi standar pembiayaan. Menerapkan model pembiayaan yang efisien untuk mencapai berbagai target Indikator Kunci Tambahan. Jadi kebutuhan penyelenggaraan kelas RSBI/SBI dan kelas akselerasi tidak hanya berkutat pada masalah sarana prasarana yang sempit seperti pembelian Laptop, Pengadaan LCD Proyektor, pengadaan kelas ber-AC, pengadaan Televisi 29 dan pembelian buku (RSBI SMP), yang paling penting adalah Setiap ruang kelas dilengkapi dengan sarana pembelajaran berbasis TIK. Perpustakaan dilengkapi dengan sarana digital yang memberikan akses ke sumber pembelajaran berbasis TIK di seluruh dunia. Dilengkapi dengan ruang multi media, ruang unjuk seni budaya, fasilitas olah raga, klinik, dan lain sebagainya. Hal ini disebabkan karena materi-materi pelajaran kelas ini adalah dianggap setara dengan sekolah-sekolah di luar negeri sehingga materi pelajaranpun harus di download melalui pembelajaran berbasis TIK. Demikian pula siswa juga sudah harus mampu mengakses perpustakaan digital yang ada di sekolah-sekolah luar negeri dalam rangka memperkaya materi pelajaran baik dalam bentuk teks book maupun jurnal-jurnal ilmiah. Lebih dari itu dalam rangka menjamin kualitas kelas RSBI/SBI dan kelas akselerasi, pemenuhan sarana dan prasarana saja tidak cukup. Komponen lain selain sarana dan prasarana juga harus dipenuhi. Masyarakat/orang tua siswa dan siswa sendiri harus mendapat jaminan bahwa kelas RSBI/SBI dan kelas akselerasi yang diselenggarakan memang dikelola lebih tinggi dengan kelas regular. Misalnya kurikulum yang dipakai harus memenuhi muatan mata pelajaran setara atau lebih tinggi dari muatan pelajaran yang sama pada sekolah unggul dari salah satu negara anggota OECD dan/atau negara maju lainnya yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan. Proses pembelajaran diperkaya dengan model proses pembelajaran sekolah unggul dari negara anggota OECD dan/atau negara maju lainnya yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan. Menerapkan pembelajaran berbasis TIK pada semua mata pelajaran. Pembelajaran mata pelajaran kelompok sains, matematika, dan inti kejuruan menggunakan bahasa Inggris. Pendidik dan Tenaga Kependidikan harus mempunyai kualifikasi akademik S-2 dan S-3 dari Perguruan Tinggi yang program studinya berakreditasi A. Demikian pula pembiayaan harus memenuhi prinsip efisien.

Masyarakat/orang tua murid sebagai pengguna layanan kelas RSBI/SBI dan kelas Akselerasi harus mendapat jaminan kualitas dari para penyelenggara kelas-kelas tersebut. Caranya adalah semua indicator kinerja kelas RSBI/SBI dan kelas akselerasi tersebut semuanya harus ada dan dijalankan. Satu komponen saja tidak ada berarti penyelenggaraan kelas tersebut belum dapat dikatakan memenuhi kualitas seperti yang diharapkan. Masyarakat/orang tua siswa melalui Komite Sekolah harus mendapat informasi yang valid tentang apakah komponen-komponen indicator kinerja RSBI/SBI dan kelas akselerasi sudah ada disekolah yang bersangkutan. Masyarakat/orang tua sudah memenuhi kewajiban di dalam membayar biaya sekolah sudah sepatutnya mendapatkan hak berupa penyelenggaraan yang professional dari kelas-kelas bertaraf internasional tersebut. Untuk itu sebenarnya harus ada lembaga independen yang memastikan bahwa sekolah tersebut sudah layak dianggap menyelenggarakan kelas RSBI/SBI dan kelas akselerasi tersebut. Penilaian harusnyamengacu pada semua komponen indicator kinerja RSBI/SBI dan kelas akselerasi. Lembaga independen tersebut harus terdiri para stakeholder pendidikan dan hasilnya harus diinformasikan pada semua pihak terutama masyarakat/orang tua siswa. Hal ini dimaksudkan jangan sampai masyarakat/orang tua siswa sudah bersusah payah menyekolahkan anaknya ke sekolah RSBI/SBI dan kelas akselerasi tapi ternyata sekolah tersebut tidak layak untuk menyelenggarakan kelas-kelas tersebut. Penyelenggaraan sekolah RSBI/SBI dan kelas akselerasi harus memenuhi unsure-unsur penjaminan mutu, professional dan akuntabilitas public. Penutup 1. Biaya pendidikan terdiri dari biaya operasional, biaya investasi dan biaya personal. 2. Pemerintah menjamin biaya operasional dan biaya investasi sehingga menjadi pendidikan gratis yang terbatas. 3. Dalam penyelenggaraan pendidikan masyarakat/orang tua murid masih menanggung biaya personal 4. Penyelenggaraan kelas RSBI/SBI/Akselerasi harus memenuhi unsur-unsur Peraturan Menteri Pendidikan Nasional tentang Penjaminan Mutu SMBI yaitu akreditasi, kurikulum, proses pembelajaran, penilaian, pendidik, Tenaga kependidikan, Sarana dan prasarana, Pembiayaan.

DAFTAR PUSTAKA

USAID Indonesia, 2008, Buku Pedoman Penghitungan Biaya Operasional Satuan Pendidikan, USAID, Jakarta. Permendiknas tentang pedoman penjaminan mutu SMBI pada jenjang pendidikan dasar dan menengah