Anda di halaman 1dari 10

KELAINAN KELENJAR LIUR KEPANITRAAN KLINIK SENIOR THT RUMAH SAKIT HAJI MEDAN

Pembimbing: dr. Budi Disusun Oleh: Made Sukmawati Wita Trianti Tino Khasara 08310187 08310327 08310347

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MALAHAYATI BANDAR LAMPUNG 2013

KATA PENGANTAR

Puji dan sukur kepada Tuhan Yang maha Esa, yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul KELAINAN KELENJAR LIUR tepat pada waktunya. Makalah ini merupakan salah satu prasyarat dalam mengikuti kegiatan kepaniteraan klinik senior di bagian THT di Rumah Sakit Haji Medan. Terima kasih penulis sampaikan kepada dr. Budi selaku pembimbing dan kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini. Penulis menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna, untuk itu penulis senantiasa mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak. Semoga makalah ini memberikan tambahan ilmu dan bermanfaat bagi semua pihak.

Medan, Mei 2013

Penulis

BAB I PENDAHULUAN

Rongga mulut setiap harinya dibasahi oleh 1000 hingga 1500 ml saliva. Kesehatan lapisan mulut dan faring dan fungsi pengunyahan, deglutisi ( proses makanan sejak masuk ke rongga mulut hingga esophagus), dan pernapasan dalam tingkatan yang lebih rendah, bergantung pada cukupnya aliran saliva. ( Perdesen, 1996 ) Kelenjar saliva adalah kelenjar eksokrin yang mensekresikan cairan ludah 9 saliva ) ke dalam rongga mulut. Kelenjar saliva dan saliva juga merupakan bagian dari sistem imun mukosa. Sel-sel plasma dalam kelenjar saliva menghasilkan antibodi terutama sekali dari kelas ig A, yang ditransportasikan ke dalam saliva. Selain itu beberapa jenis enzim antimikrobial terkandung dalam saliva seperti lisozim, laktoferin dan peroksidase. ( Hasibuan,2002) Dalam rongga mulut terdapat 3 kelenjar saliva yang besar yaitu kelenjar parotis, kelenjar submandibularis, dan kelenjar sub lingualis. Kelenjar parotis merupakan kelenjar saliva yang berpasangan, berjumlah dua buah. Masing-masing beratnya rata-rata 25 gram dan berbentuk ireguler, berlobus, berwarna antara hijau dan kuning, serta terletak dibawah meatus acusticus externus di dalam suatu lekukan di belakang ramus mandibula dan di depan musculus sternocledomastoideus. (snell, 2006) Glandula submandibula terletak dibagian belakang dasar mulut tertutup di bawah angulus mandibula, glandula sublingual terletak di bawah membrane mukosa dasar mulut dan tertutup di bawah bagian depan lidah. (Gibson, 2003)

Ada beberapa penyakit lokal yang mempengaruhi kelenjar saliva dan menyebabkan berkurangnya aliran saliva. Sialodenitis kronis lebih umum mempengaruhi kelenjar submandibula dan parotis. Penyakit ini menyebabkan degenerasi dari sel asini dan penyumbatan duktus. Kista-kista dan tumor kelenjar saliva, baik jinak maupun ganas dapat menyebabkan penekanan pada struktur-struktur duktus dari kelenjar saliva dan dengan demikian mempengaruhi sekresi saliva. Sindrom sjogren merupakan penyakit autoimun jaringan ikat yang dapat mempengaruhi kelenjar air mata dan kelenjar saliva. Sel-sel asini rusak karena infiltrasi limfosit sehingga sekresinya berkurang. Adanya gangguan pada kelenjar saliva dapat menyebabkan penurunan produksi saliva yang akan menimbulkan gejala mulut kering atau xerostomia. (Hasibuan, 2008) Neoplasma kelenjar liur merupakan kasus yang jarang. Angka kejadiannya berkisar antara 3-6% dari semua neoplasma kepala dan leher. Kelenjar parotis yang paling sering terkena yaitu sekitar 80%, lalu kelenjar submandibula lebih kurang 10-15% serta kelenjar sublingual dan kelenjar minor lebih kurang 5%. Angka kejadian neoplasma maligna kelenjar parotis lebih kurang 0,5% dari seluruh neoplasma. (Medicine, 2012) Sindroma sjogren adalah suatu penyakit sistemik yang ditandai dengan mulut yang kering, berkurangnya pembentukan air mata dan kekeringan pada selaput lendir lainnya, adapun angka kejadian dari sindroma sjogren adalah 3 %. (Medicine, 2012)

BAB II GANGGUAN KELENJAR LUDAH

A. Sialolitiasis

Sialolitiasis atau peradangan akibat adanya batu saliva merupakan keadaan patologis yang umumnya sering terjadi pada orang dewasa, tetapi dilaporkan juga terjadi pada anak-anak. Pada beberapa kasus yang dilaporkan ditemukan prevalensi terjadinya lebih sering pada anak laki-laki dibandingkan dengan anak perempuan. Gejala yang dirasakan rasa sakit yang hebat pada saat makan,

m e m i k i r k a n m a k a n a n , m e n e l a n d a n d i s e r t a i a d a n y a p e m b e n g k a k a n kelenjar ludah dan sangat peka jika dipalpasi. Pemeriksaan penunjang dengan dukungan radiografi sangat membantu dalam menegakkan lokasi sialolit atau batu saliva. Sialolit pada foto rontgen akan terlihat berupa daerah berwarna putih (Radiopaque) dibandingkan daerah sekitarnya. Kurang lebih 80% sialolitiasis berasal dari kelenjar submandibula, 6% dari kelenjar parotis dan 2% dari kelenjar sublingualis dan kelenjar minor. Salah satu penyakit sistemik yang bisa

menyebabkan terbentuknya batu adalah penyakit gout, dengan batu yang terbentuk mengandung asam urat. Kebanyakan, batu pada kelenjar saliva mengandung kalsium fosfat, sedikit mengandung magnesium, amonium dan karbonat. Batu k e l e n j a r s a l i v a j u g a dapat berupa matriks organik, yang mengandung campuran

a n t a r a karbohidrat dan asam amino. Duktus pada kelenjar submandibula lebih mudah mengalami pembentukan batu karena saliva yang terbentuk lebih bersifat alkali, memiliki konsentrasi kalsium dan fosfat yangtinggi, serta kandungan sekret yang mukoid. Disamping itu, duktuskelenjar submandibula ukurannya lebih panjang, dan aliran sekretnya tidak tergantung gravitasi.Batu pada kelenjar submandiula biasanya terjadi di dalam duktus, sedangkan batu pada kelenjar parotis lebih sering terbentuk di hilum atau di dalam parenkim. Gejala yang dirasakan pasien adalah terdapat bengkak yang hilang timbul disertai dengan rasa nyeri. Batu dapat dideteksi dengan palpasi dan bantuan radiografi (sialography) bisa berbentuk lonjong atau bulat, kasar atau halus dengan ukuran yang bervariasi. Batu umumnya berwarna kuning muda yang jika dipotong akan kelihatan struktur yang homogeny tetapi lebih sering b e r l a p i s - l a p i s . B e b e r p a kasus dilaporkan

dibagian sulkus, bibir bawah, palatum dan lidah.

B. Sialorrhea

Sialorrhea, atau pengeluaran air liur tidak terkontrol, terjadi pada gangguangangguan neurologic yang lanjut seperti cerebral palsy, gangguan demielinisasi, dan penyakit Parkinson. Hal ini juga terjadi setelah operasi besar dari kanker kepala dan leher. Sebenarnya tidak terdapat peningkatan pembentukan jumlah air liur, tetapi terdapat ketidakmampuan penderita untuk mengatasi air liur, tetapi terdapat ketidak mampuan penderita untuk mengatasi air liur yang bertambah pada mulut bagian depan dan akhirnya mengalir melalui bibir. Pengobatan non operasi pertama- pertama terdiri dari penggunaan obat kolinergik, seperti atropine, atau tyerapi radiasi dalam usaha untuk menurunkan jumlah air liur yang terbentuk. Karena efek sampingnya, metode-metode ini sekarang tidak lazim digunakan lagi. Prosedur operasi dibuat untuk mengindari aliran air liur sehingga air liur masuk ke faring posterior melalui arkus faring anterior. Prosedur ini termaksud membuat jalan baru duktus parotis dan sub mandibular melalui saluran sub mukosa ke daerah posterior dari arkus faringius. Pada kasuskasus yang berat kelenjar sub mandibular di eksisi. Laporan keberhasian dari sialoria

dengan pengobatan miorektomi timphany digabung dengan resesi koda timpani telah di uraikan. Prosedur ini menurunkan jumlah air liur yang terbentuk tanpa menimbulkan efek samping yang berbahaya atau menyebabkan kekeringan pada mulut yang berlebihan. Kerugian utama bahawa tindakan ini belum dapat dibuktikan efektifitas jangka panjang, dan sering kali dalam waktu 2 tahun kelebihan air liur kambuh kembali. Sebelum melakukan prosedur operasi ini, sebaikannya dipastikan bahwa penderitan mampu dalam menelan tetapi hanya tidak dapat mengatasi sekesi pada mulut bagian depan. (Boies, 1997) C. Sialometaplasia nekrotik

Mayoritas terjadi pada langit-langit mulut, situs intra oral lain dan kelenjar ludah utama mencapai antara 15 sampai 25 persen dari kasus necrotizing sialometaplasia. Lesi langit-langit mulut dihubungkan dengan suntikan bius, Gigi palsu, dan bulimia kronis diri akibat muntah, yang semuanya dianggap sebagai penyebab iskemia. Lobulus ludah menunjukkan nekrosis, asinar berat infiltrat difus dari sel-sel inflamasi akut dan kronis dan fokus. Sialadenitis necrotizing subakut menjadi varian minor atau tahap awal necrotizing sialometaplasia. (scribd, 2011)

DAFTAR PUSTAKA

Boies, Adams, Buku Ajar Penyakit THT Edisi 6, Jakarta: EGC 1997 Hal 305-308 Gibson, John, Fisiologi dan anatomi modern untuk perawat edisi 2, Jakarta: EGC, 2003 Hasibuan S, Keluhan Mulut kering di Tinjau dari Faktor Penyebab, Manifestasi dan Penanggualangannya, USU digital Library, 2002: 1-8 Lawrence R, boles, Buku Ajar Penyakit THT, Jakarta: EGC 1997: hal 305 Predesen, Gordon W, Buku Ajar Praktis Bedah Mulut, Jakarta: EGC, 1996 Suryana Dra, Keperawatan Anak Untuk Siswa SPK, Jakarta: EGC, 1996 Snell RS, Kepala dan Leher Dalam buku Anatomi Klinik Untuk mahasiswa Kedokteran,Jakarta: EGC, 2006 Hal: 722-724 The Nation Institutes Of health General Information About Salivary Gland Cancer: 2012 July 07 http://www.cancer.glv/cancertopics/pdq/treatment/salivary/healthprofesional/page1 http://www.pathologyimagesinc.com/preview-oral-surg/necrotiz-sialomet/fs-necrotsialomet.html 2011