Anda di halaman 1dari 4

Reklamasi Lahan Bekas Tambang di Pulau Bangka

Kegiatan penambangan di wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sudah mencapai titik yang sangat mengkhawatirkan. Kegiatan penambangan yang berlebihan dan tidak memperhatikan kelestarian lingkungan serta kepedulian untuk mereklamasi lahan yang telah di tambang adalah permasalahnya. Kondisi ini tidak hanya menyisakan kolong-kolong ( danau kecil ) dan padang pasir saja, tetapi kerusakan lainnyapun sudah mulai terjadi. Kondisi lingkungan hidup di kawasan penambangan biji timah, khususnya kawasan Tambang Inkonfensional (TI) di Pulau Bangka, saat ini sangat memprihatinkan. Jika tidak segera ditanggulangi, kerusakan hutan dan lingkungan hidup akan semakin rusak. Jika satu unit TI beroperasi pada areal seluas satu hektare, berarti 6.000 TI membutuhkan lahan 6.000 ha. Belum lagi kerusakan akibat tambang besar dan penambangan pasir kuarsa, pasir bangunan, dan penambangan batu granit.

Kendala penertiban timbul karena begitu usaha TI ditutup, tumpuan masyarakat untuk mencari nafkah akan hilang. Ini dilema bagi pemerintah dalam kondisi ekonomi yang terpuruk saat ini. Selain itu plasma nutfah yang ada didalamnyapun telah hilang Kerusakan lingkungan ini jika dibiarkan begitusaja pasti akan menimbulkan dampak negatif yang luar biasa. Salah satu usaha pemulihan lahan yang rusak ini adalah reklamasi lahan bekas tambang.

Reklamasi bekas tambang yang selanjutnya disebut reklamasi adalah usaha memperbaiki atau memulihkan kembali lahan dan vegetasi dalam kawasan hutan yang rusak sebagai akibat kegiatan usaha pertambangan dan energi agar dapat berfungsi secara optimal sesuai dengan peruntukannya. Sementara itu, masyarakat juga membuka Tambang Inkonvensional, pada kawasan yang telah direklamasi. Akibatnya, lahan reklamasi bekas penambangan timah menjadi rusak kembali. kerusakan pada kawasan yang telah direklamasi akan semakin parah jika masyarakat tidak menyadari pentingnya reklamasi bekas tambang untuk masa depan kehidupan manusia.

Melihat permasalahan tersebut diatas, kegiatan reklamasi harus melibatkan masyarakat. Reklamasi harus dapat menyentuh masyarakat dari sisi Sosial, Ekonomi, Budaya dan Politik yang berkembang di masyarakat. Kegaiatan reklamasi yang tidak memperhatikan aspek sosial masyarakat, melibatkan seluruk komponen masyarakat, dan kepedulian dari masyarakat tentunya akan mendatang kegagalan.

Ekonomi yang sulit, lapangan pekerjaan yang tidak cukup tersedia, kualitas sumberdaya manusia yang terbatas membuat masyarakatpun terkadang terpaksa harus memilih pada kegitan tambang Inkonvesional ini. Oleh sebab itu kegiatan reklamasi harus memiliki nilai tambah dari sisi ekonomi sehingga dapat mensejahterakan masyarakat, dapat menimbulkan kesadaran dari masyarakat untuk menjaga dan mengembangkannya serta tidak menutup kemungkinan justru Reklamasi lahan bekas tambang akan menjadi sektor andalan untuk membangun sosial ekonomi masyarakat Bangka Belitung khususnya.

Reklamasi lahan bekas tambang juga membutuhkan dukungan politik yang luar biasa dari seluruh komponen, komitmen yang kuat dari pemerintah untuk mengatur kegiatan penambangan dan tindakan yang tegas bila terdapat pelanggaran, dan menjadikannya skala prioritas akan dapat membantu dalam keberhasilan kegiatan reklamasi ini.

REVITALISASI LAHAN BEKAS TAMBANG TIMAH


Pertambangan timah adalah komoditi utama Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, seiring dengan perjalanan waktu, tambang timah dapat dilakukan oleh siapa pun dan di mana pun di seluruh pelosok negeri serumpun sebalai, pulau kaya akan cadangan bijih timah dan mineral ikutan lainnya.

Kegiatan penambangan timah dapat dilakukan oleh masyarakat biasa dengan modal seadanya sampai pengusaha ataupun investor besar, baik dalam negeri maupun luar negeri. Jika dulu sebelum reformasi penambangan timah hanya dapat dilakukan perusahaan besar, yaitu PT. Timah Tbk memiliki Kuasa Penambangan (KP) hampir dua pertiga Kepulauan Bangka Belitung dan PT. Koba Tin (Joint venture Malaysia & Indonesia) memiliki KP seluas 42 ribu hektar di Bangka (sekarang Kabupaten Bangka Tengah & Kabupaten Bangka selatan).

Pertambangan timah sejak reformasi, tidak hanya dilakukan oleh dua perusahaan besar tadi, melainkan banyak investor lain, banyak smelter baru yang beroperasi dan banyak izin KP baru yang dikeluarkan Pemerintah Daerah di luar KP kedua perusahaan besar tadi, ditambah lagi kegiatan oleh masyarakat yang tersebar di seluruh pulau Bangka dan Belitung.

Kegiatan pertambangan timah, baik yang dilakukan oleh perusahaan maupun oleh masyarakat akan meninggalkan dampak lingkungan berupa perubahan bentang alam dan terjadinya penurunan kualitas tanah dan air, tadinya lahan hutan dan kebun sekarang berubah menjadi daratan yang sangat kritis dan kolong-kolong air.

Lalu, bagaimanakah pertanggung jawaban terhadap menurunnya kualitas lahan dan air? Yang jelas setiap pelaku pertambangan dan stake holders di kepulauan Bangka Belitung harus bertanggung jawab terhadap masalah ini, bisa dibayangkan apa yang terjadi jika timah sudah tidak ekonomis ditambang, padahal lahan subur semakin berkurang akibat penambangan. Jawabannya pasti kita akan mengalami penurunan kualitas hidup, penurunan pendapatan masyarakat, jadilah pulau ini pulau hantu "Ghost Islands".

Solusi untuk itu mari kita bersama-sama menelaah dan memikirkan apa yang harus dilakukan, revitalisasi dan reklamasi lahan bekas tambang harus kita kampanyekan terus menerus, dan implementasi lapangan harus diterapkan segera, tapi bagaimana, biaya rehabilitasi dan penanaman kembali lahan bekas tambang mahal, dukungan politik dan hukum apa sudah menyentuh, menurut penulis perlu dilakukan SWOT terhadap lahan bekas tambang, yaitu : Kekuatan (Strengh).

1.

operasional tambang dengan metode gravitasi tanpa tambahan bahan kimia yang berbahaya dan beracun, kecuali Limbah B3 dari Oli dan grease.

2.

Lahan yang terbentuk dapat berupa daratan dan kolong air

Kelemahan (Weakness) 1. Lahan tidak beraturan

2.

kesuburan lahan, tekstur dan struktur tanah hilang

3.

kualitas air keruh dan tidak subur

4.

lahan menjadi terbuka akibat hilangnya vegetasi

5.

ketersediaan tanah pucuk (top soil) minim

Peluang (Oppurtunity) 1. Masih ada tumbuhan yang masih dapat hidup

2.

ketersediaan lahan terbuka kritis bertambah

3.

jumlah air yang melimpah

4.

masih tersedia tanah pucuk (top soil) walaupun sedikit

5.

Adanya teknologi organic utk penyuburan

6.

Umumnya lahan dan air tidak tercemar bahan kimia beracun seperti air raksa, cadmium

Tantangan (Treaty) 1. penyuburan kembali lahan bekas tambang

2.

Penanaman tanaman pertanian dan perkebunan selain hutan

3.

pengelolaan fungsi lahan menjadi lebih produktif

4.

melibatkan seluruh komponen masyarakat, pemerintah, akademisi dan pengusaha.

Hasil SWOT kita jadikan tolak ukur untuk menentukan langka-langkah selanjutnya untuk pengelolaan lahan bekas tambang, untuk itu ada beberapa aspek yang harus kita perhatikan, yaitu aspek ekologi, aspek ekonomi, aspek sosial budaya dan aspek hukum.

Jika dilihat dari aspek ekologi, jenis tanaman yang ditanam dan penggunaan bio-fertilizer, cocok secara ekologi atau tidak, dari aspek ekonomi apakah akan memberikan manfaat ekonomi baik jangka pendek maupun jangka panjang bagi masyarkat, dari spek sosial budaya apakah sesuai dengan tingkat pengetahuan dan kebiasaan masyarakat dan dari aspek hukum apakah bertentangan dengan tata guna lahan, karena sebagian besar lahan bekas tambang adalah kawasan hutan.

Kata kunci keberhasilan dalam meningkatkan produktifitas lahan bekas tambang adalah bila kita mampu mengajak masyarakat untuk melakukan, memelihara dan menjaga semua itu, tanpa melibatkan masyarakat tingkat keberhasilan akan sangat kecil, jadi marilah kita satukan langka bersama-sama melakukan revitalisasi lahan bekas tambang dengan pimpinan oleh Pemerintah Daerah (Gubernur). Dengan bersama kita pasti bisa, lupakan perbedaan, masa depan cerah masih menanti kita. Jangan menunggu timah habis baru kita mulai, jangan saling menyalahkan mari kita perbaiki, jangan serakah nanti rakyat resah, mari kita menuju masyarakat sejahtera dan mandiri.

Anda mungkin juga menyukai