Anda di halaman 1dari 9

SATUAN PEMBELAJARAN KEGIATAN KONSULTASI GIZI TENTANG ASI EKSKLUSIF DI DUSUN CEGOKAN, DESA WONOLELO KECAMATAN PLERET

Disusun Oleh: YUNITA AHADTI P07131110039

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN YOGYAKARTA JURUSAN GIZI 2013

SATUAN PEMBELAJARAN KONSULTASI Topik Penyuluh Sasaran Tempat Waktu A. Kasus 1. Nama 2. Nama orang tua 3. Umur 4. Tanggal lahir 5. Jenis kelamin 6. BB 7. Lika 8. LLA 9. Status gizi B. Konsultasi 1. Tujuan a. Tujuan umum: Setelah kegiatan konsultasi, klien dapat memahami tentang ASI eksklusif b. Tujuan khusus: 1) Klien dapat memahami pengertian ASI eksklusif 2) Klien dapat memahami pengertian ASI 3) Klien dapat memahami cara pemberian ASI 4) Klien dapat memahami ASI dan infeksi 5) Klien dapat memahami keunggulan ASI dibandingkan dengan susu formula 2. Sasaran Sasaran konseling gizi adalah klien. 3. Waktu Waktu konseling gizi adalah 20 menit. : An. R : Wahyu Ningsih : 2 bulan : 5 Maret 2013 : Laki-laki : 6 kg : 40 cm : 16 cm : Gizi baik : ASI eksklusif : Yunita Ahadti (P07131110039) : Klien : Posyandu Dusun Cegokan : 20 menit

4. Tempat Posyandu Dusun Cegokan 5. Media Leaflet 6. Metode Ceramah dan Tanya jawab 7. Materi a. Pengertian ASI eksklusif b. Pengertian ASI c. Cara pemberian ASI d. ASI dan infeksi e. Keunggulan ASI dibandingkan dengan susu formula 8. Langkah kegiatan konsultasi No 1 Kegiatan Konselor Pembukaan a. Salam, perkenalan dan membangun hubungan dengan klien b. Menjelaskan tujuan konseling gizi c. Menggali permasalahan/ mengumpulkan data-data untuk dasar assessment 2 Inti a. Menjelaskan materi ASI eksklusif b. Memberikan motivasi agar klien mau memberikan 3 ASI eksklusif selama 6 bulan Penutup a. Mengulang menanyakan kembali apakah materi 5 menit konseling dapat dipahami oleh klien b. Menjelaskan materi yang belum jelas c. Menanyakan kepada klien d. Salam 9. Evaluasi Evaluasi yang dilakukan adalah dengan cara menanyakan kembali materi yang telah diberikan keada klien. MATERI ASI EKSKLUSIF kembali materi yang diberikan 10 menit Waktu 5 menit

A. Pengertian ASI eksklusif ASI eksklusif adalah ASI saja yang diberikan pada bayi hingga 6 bulan tanpa memberikan makanan atau minuman lain termasuk air putih kecuali obat-obatan atau vitamin termasuk mineral tetes. B. ASI Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan ideal untuk bayi terutama pada 6 bulan pertama, sebab memenuhi syarat syarat kesehatan. ASI mengandung semua nutrient untuk membangun dan penyediaan energy dalam susunan yang diperlukan. ASI tidak memberatkan fungsi traktus digestivus dan ginjal serta menghasilkan pertumbuhan fisik yang optimum. Secara kualitas kandungan ASI ditentukan oleh kandungan bahan-bahan sebagai berikut: 1. Nutrien a. Nutrien besar : protein, lemak, dan hidrat arang termasuk non-protein nitrogen (NPN), kolesterol. b. Vitamin terutama A, D, B, dan C. c. Mineral terutama Fe dan Ca 2. Nonnutrien Zat-zat yang penting untuk pencegahan terjadinya infeksi dan

perlindungan terhadap alergi : laktoferin, lisozim, IgA sekretoris, komplemen (C3, C4), dan juga sel-sel makrofag atau limfosit. 3. Unsur sampingan Zat kimia yang diekskresi ke dalam ASI, dapat menguntungkan tetapi dapat pula merugikan tumbuh kembang, misalnya nikotin, alkohol, tetrasiklin, dan lain-lainnya. Variasi dan komposisi di pengaruhi oleh factor-faktor yaitu keadaan kesehatan atau gizi ibu, tahap laktasi, lama waktu menyusui dan makanan ibu sehari-hari. C. Cara Pemberian ASI 1. Jumlah ASI

Kemampuan laktasi ibu-ibu berbeda-beda. Disamping tu, terdapat variasi pada seorang ibu dalam menghasilkan jumlah ASI, karena hal-hal sebagai berikut: a. Usia Laktasi b. Pada awal laktasi, produksi ASI (colostrums) 20-100 ml/kali pada tiga hari pertama, selanjutnya bertambah. Bias any sesuai dengan kebutuhan bayi yang bertambah besar sampai kira-kira 4-6 tahun. c. Pengaruh kualitas dan kuantitas makanan ibu. d. Efisiensi konversi zat gizi pada ibu untuk menjadi ASI adalah 8090%, berasal dari makanan ibu sehar-hari atau berasal dari cadangan jaringan tubuh ibu. Ibu hamil menyimpan cadangan 4 kg sebagai cadangan untuk memproduksi ASI. Jika makanan tambahan tidak memadai, kuantitas ASI akan berkurang. e. Gangguan emosi. f. Ketenangan jiwa dan kemauan keras ibu merupakan faktor penting untuk kelancaran produksi ASI. Jika ibu mengalami keresahan, ketegangan dan kesulitan lain yang mengganggu ketenangan jiwanya, maka produksi ASI cenderung menyusut. Pengaruh emosi ditemukan lebih mencolok jika dibandingkan dengan kekurangan makanan ibu (Laurence, 1980 dalam Samsudin dan Arjadmo, 1985). g. Gangguan dalam pembinaan dan pembinaan laktasi. h. Stimulus yang terjadi sewaktu menyusui esar pengaruhnya terhadap produksi ASI melalui jalur peningkatan produksi prolaktin. Jika kesinambungan menyusui terputus untuk jangka waktu yang cukup lama, misalnya karena sakit atau ibu bekerja di luar rumah, maka produksi ASI cenderung lekas menyusut untuk selanjutnya berhenti sama sekali. i. Pengaruh pemberian makanan lain kepada bayi.

j.

Pemberian makanan lain termasuk PASI secara tidak langsung dapat mengurangi stimulus untuk memproduksi ASI, karena itu hanya diberikan jika diperlukan saja. Menurut Thomson dan Black (1976), dalam Samsudin dan Arjadmo (1985), produksi ASI pada ibu yang bergizi baik selama enam bulan pertama laktasi, kira-kira 600700 ml/hari. Adapun pada ibu-ibu yang bergizi kurang yang berada dalam lingkungan hidup yang kurang baik, produksi ASI lebih besar variasinya, kira-kira 500-700 ml/hari pada enam bulan pertama, dan 400-600 ml/hari pada setengah tahun berikutnya, selanjutnya 300500 ml/hari pada tahun kedua dan pada tahun ketiga 230-488 ml/hari. Dari variasi angka yang ini dapat kita simpulkan bahwa kecukupan ASI untuk tumbuh kembang bayi perlu dipertimbangkan pada setiap kasus bayi-ibu-menyusui.

k. Namun pada umumnya menurut Jelliffe dan Jelliffe (1978) dalam Samsudin dan Arjadmo, (1985), jika pasangan bayi-ibu-menyusui mempunyai kondisi kesehatan yang baik, dengan pembinaan laktasi dan pemeliharaan laktasi yang baik pula, maka kualitas dan kuantitas ASI biasanya baik dan cukup untuk pertumbuhan yang optimal sampai umur emam enam bulan, sekurang-kurangnya sampai empat bulan. 2. Frekuensi ASI Sejak masa lampau sampai sekarang terdapat dua macam cara menyusui yang berkaitan erat dengan frekuensi menyusui, yaitu: a. Frekuensi menyusui dengan pembatasan (restricted). Pembatasan dilakukan tentang frekuensi, jarak menyusui, jadwal waktu yang ketat dan lama waktu menyusui kira-kira 10-15 menit. Cara ini dapat mendidik bayi untuk membiasakan berdisiplin, dan juga memberikan kemudahan untuk petugas kesehatan di rumah sakit atau rumah bersalin dalam pengelolaan pasangan bayi-ibu-menyusui. Namun sekarang dianggap bahwa cara demikian dapat menurunkan kemampuan laktasi pada ibu, oleh karena itu tidak dianjurkan lagi.

b. Frekuensi menyusui gaya bebas, tanpa pembatasan (un-restricted) Bayi disusui setiap kali menangis karena lapar atau haus. Bagi ibu yang cerdas, kiranya tidak begitu sulit untuk membedakan apakah bayi itu menangis bukan karena sebab lain, misalnya karena perasaan sakit, gatal, kaget, kepanasan, dan sebagainya. Sekarang menyusui tanpa pembatasan ini dianjurkan dan disebut menyusui menurut kehendak bayi (on-demand). Dalam praktiknya mungkin sebagian menyusui menurut kehendak atau kesempatan ibu juga. 3. Lama dan Cara Menyusui. Masing-masing payudara berperan sebagai produsen, penyimpanan dan sekaligus peralatan untuk memberikan ASI. Untuk mencapai keseimbangan hendaknya kedua payudara diberikan secara bergantian. Lama menyusui bergantung pada sifat bayi. Untuk bayi yang menyusui cepat (quick-feeder), pada umunya payudara hampir dikosongkan dalam waktu lima menit, sedangkan untuk bayi yang menyusui lamban (slow-feeder), memerlukan waktu 20 menit bahkan lebih, dengan diselingi istirahat-istirahat pendek. Sebaiknya menyusui tidak berarti. D. ASI dan infeksi Morbiditas bayi oleh infeksi pada saluran pernapasan dan pencernaan bayi dengan ASI lebih jarang dibandingkan dengan bayi yang mendapat makanan pengganti ASI. Karena ASI mengandung macammacam substansi anti-infeksi yang melindungi bayi terhadap infeksi, terutama bilamana kebersihan lingkungan tidak baik. Zat-zat anti-infeksi dapat digolongkan dalam golongan spesifik dan nonspesifik. Responsi imunitas spesifik pada umunya memerlukan kerja sama dengan zat nonspesifik untuk menyingkirkan kuman atau virus dari tubuh. Faktor-faktor immunoglobulin, proteksi terdiri atas berbagai faktor macam lisozim, laktoperoksidase, pertumbuhan terlalu lama untuk menghindarkan kemungkinan hanya mengempeng, yaitu menyusui tanpa memperoleh ASI dalam jumlah yang

laktobasilus, substansi antistreptokokus, laktoferin, makrofag, dan lemak.

1. Immunoglobulin: semua macam immunoglobulin terdapat pada ASI, seperti Ig A, Ig G, Ig M, Ig D, dan Ig E. 2. Lisozim: lisozim merupakan salah satu enzim yang terdapat dalam ASI sebanyak 6-100 mg/100 ml dan kadarnya bisa naik hingga 3.0005.000 kali lebih dibandingkan dengan kadar lisozim dalam susu sapi. Enzim demikian memiliki fungsi bakteriostatik terhadap enterobakteria dan kuman gram negatif, mungkin juga berperan sebagai pelindung terhadap berbagai macam virus. 3. Laktoperoksidase: Laktoperoksidase merupakan enzim juga dan bersama-sama peroksidase hidrogen dan ion tiosianat membantu membunuh streptokokus. 4. Faktor Bifidus: Faktor bifidus merupakan karbohidrat yang mengandung nitrogen. Konsentrasi zat tersebut ialah 40 kali lebih tinggi dibandingkan dengan konsentrasi yang terdapat pada susu sapi. Faktor bifidus mencegah pertumbuhan organism yang tidak diinginkan, seperti Escherichia coli pathogen. 5. Faktor Antistafilokokus: Faktor tersebut merupakan asam lemak dan melindungi bayi terhadap penyerbuan stafilokokus. 6. Laktoferin dan Transferin: Kedua zat tersebut terdapat dalam ASI meskipun tidak banyak. Protein-protein tersebut memiliki kapasitas mengikat zat besi dengan baik hingga mengurangi tersedianya zat besi bagi pertumbuhan kuman yang memerlukannya. 7. Komponen Komplemen: Sistem komplemen terdiri atas 11 protein serum yang dapat dibedakan satu sama dengan yang lain, dan dapat diaktifkan ole berbagai zat antibodi, produk kuman, dan enzim. Komplemen C3 dan C4 terdapat dalam ASI. Dalam kolostrum terdapat konsentrasi C3 yang tinggi hingga dalam keadaan aktif merupakan faktor pertahanan yang berarti. 8. Sel: Sel-sel makrofag dan netrofil dapat melakukan fagositosis, terutama terdapat stafilokokus, Escherichia coli dan candida albikans.

9. Lipase: ASI mengandung lipase yang merupakan juga zat antivirus. 10. Mengingat terdapatnya berbagai faktor resisitensi tadi, maka ASI dapat melindungi bayi dari berbagai infeksi hingga dapat menurunkan angka sakit dan kematian, terutama dari golongan sosioekonomi rendah yang hidup dalam lingkungan yang kurang bersih. E. Keunggulan ASI dibandingkan susu formula Dibandingkan dengan susu formula, ASI memiliki beberapa keunggulan sebagai berikut: 1. Mengandung semua zat gizi dalam susunan dan jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi selama 6 bulan pertama. 2. Tidak memberatkan fungsi saluran pencernaan dan ginjal. 3. Mengandung berbagai zat antibodi, sehingga mencegah terjadinya infeksi. 4. Mengandung laktoferin untuk mengikat zat besi. 5. Tidak mengandung blaktoglobulin yang dapat menyebabkan alergi. 6. Ekonomis dan praktis. Tersedia setiap waktu pada suhu yang ideal dan dalam keadaan segar, serta bebas dari kuman. 7. Berfungsi menjarangkan kehamilan. 8. Membina hubungan yang hangat dan enuh kasih sayang antara ibu dan anak. 9. Meneteki bayi segera setelah melahirkan memengaruhi kontraksi uterus dan membantu memulihkan kondisi ibu lebih cepat.