Anda di halaman 1dari 11

BAB III LANDASAN TEORI

A. Tinjauan umum Perencanaan merupakan suatu tahapan awal dari suatu pekerjaan pembangunan dalam hal ini pekerjaan pemeliharaan jalan harus merupakan produk yang didukung oleh peraturan atau ketentuan yang sah, yang dapat dipertanggung jawabkan secara teknis maupun secara hukum. Paket jalan kabupaten ( kelas jalan III C ) merupakan kegiatan untuk meningkatkan kualitas jalan pada ruas jalan di Kabupaten Cilacap. Sasaran utama dari suatu perencanaan adalah tercapainya hasil yang memuaskan sesuai dengan fungsi, keadaan dan syarat-ayarat yang diinginkan. Oleh karena itu perencanaan ini harus benar-benar matang, baik dari segi biaya, struktur, nilai guna, keamanan, dan pemeliharaan. Dalam tahap perencanaan ini haruslah ditinjau dari berbagai aspek yang mempengaruhinya, antara lain : 1) aspek kstabilan serta kekuatan struktur 2) aspek ekonomis. 3) Aspek finansial. 4) Aspek kemudahan dalam pelaksanaan. 5) Aspek keawetan. 6) Aspek pemeliharaan pasca proyek. Hasil perencanaan ini akan menjadi pedoman dalam pelaksanaan dalam pelaksanaan itu sendiri harus benar-benar matang deangan disertai adanya data yang

akurat. Adapun manfaat yang diperoleh dari suatu perencanaan yang matang adalah sebagai berikut : a) Kecepatan dan ketepatan waktu pelaksanaan dengan pembagian pekerjaan yang efisien. b) Biaya dapat ditekan secara hemat dan dapat diketahui secara tepat seluruh biaya pelaksanaan. c) Dapat mencegah terjadinya pemborosan peralatan maupun tenaga. d) Pengawasan dapat lebih di dapat dilaksanakan dengan tertib dan baik.

B. Survey Lapangan Dan Evaluasi Jalan Lama Survey lapangan dilaksanakan pada jalan lama. Dari sini dapat dievaluasi bahwa jalan tersebut membutuhkan perbaikan dengan peningkatan kemampuan jalan yang ada maupun peningkatan kapasitas jalan. Perbaikan perkerasan dengan penanganan patching kemudiam memberikan overlay agar jalan existing dapat kembali memiliki nilai kekuatan, kenyamanan, keamanan, kekedepanan terhadap air dan kecepatan mengalirkan air.

Foto Survei Lapangan Kondisi Lama 0 %

B.1. Pekerjaan Perkerasan Pada proyek peningkatan jalan ( hotmix ) di Kabupaten Cilacap dilakukan pengumpulan informasi yang diperukan untuk struktur perkuatan jalan, antara lain mengenai : B.1.1. Survey Pendahuluan Survei pendahuluan dilakukan guna mendapatkan gambaran yang jelas terhadap ruang lingkup pekerjaan. Dalam survai pendahuluan. Konsultan wajib mengumpulkan sebanyak mungkin data yang diperlukan untuk langkah pelaksanaan lebih lanjut. Hasil dari survei pendahuluan berupa laporan hasil peninjauan / pengamatan yang akan dikerjakan serta foto / dokumentasi. Kemudian laporan hasil peninjauan / pengamatan lapangan ini akan dilaporkan untuk didiskusikan. B.1.2. Survai Lalu Lintas Survai lalu lintas dilakukan untuk mengetahui besarnya volume lalu lintas kendaraan dan komposisinya yang akan dilayani oleh jalan tersebutpada masa pelayanannyayang nantinya akan digunakan untuk merencanakan struktur jalan yang berkaitan dengan beban rencana dan umur rencana. Data lalu lintas diperoleh dengan cara system collecting (pengumpulan) data dari kantor, departemen pekerjaan umum direktorat bina marga sektor perencanaan dan pengawasan jalan dan jembatan (P2JJ) propinsi jawa tengah. B.1.3. Dinamik Cone Penetrometer (Dcp) Test Dinamic cone penetrometer (DCP) test dilakukan untuk menilai CBR / daya dukung tanah dasar yang dilakukan pada ruas-ruas. Jalan yang belum

diaspal seperti jalan tanah, jalan kerikil, atau jalan aspal yang telah rusak hingga tampak lapisan pondasinya. Data DCP test tersebut dapat dilihat pada lampiran data survei lapangan.

Pengujian DCP Test B.1.4. CBR Test CBR test digunakan untuk mengetahui daya dukung tanah test ini dilakukan pada setiap interval jarak 500 meter.test CBR dilakukan dengan pengambilan sempel tanah yang nantinya sempel tanah asli ini dilakukan pengujian CBR laboratorium rendaman dan aterberg limit untuk mengetahui ada atau tidaknya sifat pengembanan tanah yang besar (Expensive Clay).

Pengujian CBR Test

C. Dasar-Dasar Perencanaan C.1. Peraturan dan Standar Desain Standar Peraturan dan Ketentuan yang digunakan pada Perencanaan Peningkatan Jalan Kabupaten pada sebagai berikut: a. Standar-standar Nsional Indonesia atau Standar Internasional lainnya yang berkaitan. b. Pembebanan harus sesuai dengan Tata Cara Perencanaan Pembebanan Jembatan Jalan Raya atau SNI -1725-1989 F (SKBI 1.83.28.1987). c. Petunjuk /manual/standar lainnya yang dikeluarkan oleh Direktorat Jendral Bina Marga/Prasarana Wilayah. d. Petunjuk/Manual Studi AMDAL. e. IHCM (Indonesia Highway Capacity Manual)/ MKJI Tahun 1992. f. American Association of (AASHTO). g. Referensi lain yang dapat dipertanggungjawabkan. C.2. Jenis Pekerjaan Jalan Jenis pekerjaan jalan yang digunakan adalah perkerasan lentur (flexible pavement), yaitu perkerasan yang menggunakan aspal sebagai bahan pengikat lapisan-lapisan perkerasannya bersifat memikul dan menyebarkan beban lalu lintas ke tanah dasar. State Highway and Transportation Officials ruas ruas jalan yang dikerjakan adalah

D. Penentuan Besaran Rencana a. Umur Rencana Umur rencana perkerasan jalan ialah jumlah tahun dari saat jalan tersebut pemeliharaan perkerasan jalan tetap harus dilakukan seperti pelapisan non struktural selama umur rencana tersebut pemeliharaan kekerasan jalan tetap harus dilakukan, seperti pelapisan non structural yang berfungsi sebagai lapis aus. Umur rencana untuk perkerasan lentur jalan baru umumnya diambil 20 tahun dan untuk peningkatan jalan 10 tahun, umur rencana yang lebih besar dari 20 tahun tidak lagi ekonomis. b. Lalu lintas rencana Lalu lintas harus dianalisis berdasarkan atas perhitungan volume lalu-lintas dan konfigurasi sumbu yang diperoleh berdasarkan data terakhir ( 2 tahun terakhir) dari pos-pos resmi setempat. 1. Karakteristik Kendaraan Jenis kendaraan yang memakai jalan beraneka ragam, bervariasi baik ukuran, berat total, konfigurasi dan beban sumbu. Pengelompokan jenis kendaraan untuk perencanaan tebal perkerasan dapat dilakukan sebagai berikut : a) mobil penumpang termasuk di dalamnya semua kendaraan berat total 2 ton b) bus c) truk 2 as d) truk 3 as e) truk 5 as

2. Prosedur, Perhitungan Lalu Lintas Rencana i. Menghitung Volume Lalu Lintas (LHR) yang diperkiraan akan menggunakan jalan tersebut tidak melampaui kapasitas jalan. ii. Menghitung Jumlah Sumbu Kendaraan Niaga (JSKN) selama umur rencana (n) :

JKSN = 365 x JSKNH x R

Dimana : JSKNH : Jumlah Sumbu Kendaraan Niaga Harian pada saat jalan dibuka R : Faktor Pertumbuhan Lalu Lintas (yang tergantung pada i dan n) 1) Untuk i 0 dan konstan selama umur rencana (n)

R = (i + i) 1 Log (1 + i)

2) Untuk i 0 pada n tahun pertumbuhan lalu lintas tidak terjadi lagi (i=0) maka :

R = (1+i)m 1 + (n m) (1+i) m-1

Log (1 + i)

3) Untuk i 0 pada n tahun pertama, dan i 0 pada m tahun pertama di mana i 1 (setelah n tahun pertumbuhan lalu-lintas berbeda dengan sebelumnya (i/ tahun), maka :

R = (1+i)m 1 + (1+i)m (1+i)n-m - 1

Log (1 + i)

Log (1 + i)

iii. Menghitung prosentasi masing-masing kombinasi konfigurasi beban sumbu terhadap Jumlah Sumbu Kendaraan Niaga Harian

(JKSKNH). iv. Hitung jumlah repetisi kumulatif tiap-tiap kombinasi konfigurasi beban sumbu pada lajur rencana :

JKSN x % JKSNHi x C x FK

Tabel 3.1 Koefisien Distribusi Kendaraan Niaga Pada Lajur Rencana (c) Kendaraan Niaga Jumlah Lajur 1 arah 1 lajur 2 lajur 3 lajur 4 lajur 5 lajur 6 lajur 1 0,75 0,50 2 arah 1 0,500 0,475 0,450 0,425 0,400

Sebagai besaran rencana beban sumbu untuk setiap konfigurasi harus dikalikan dengan Faktor Keamanan (FK) seperti pada table.

Tabel 3.2 Faktor Keamanan (FK) Peranan Jalan Jalan Tol Jalan Arteri Jalan Kolektor/ Lokal Faktor Keamanan 1,2 1,2 1,0

c. Kekuatan Tanah Dasar Dengan atau Tanpa Lapis Pondasi Bawah Kekuatan tanah dasar dinyatakan dalam nilai Modulus Reaksi Tanah Dasar (k). Bila dalam perencanaan nilai K belum dapat diukur, maka nilai K dapat ditentukan berdasarkan korelasi antara nilai K dan CBR. Nilai K tersebut harus diuji kembali dengan nilai k hasil pengukuran di lapangan. Pada dasarnya lapis pondasi bawah tidak dimaksudkan sebagai lapisan daya dukung, tetapi bila digunakan lapis pondasi bawah dengan lapis pengikat atau dalam hal ini lapis pondasi bawah diperhitungkan sebagai yang mempunyai daya dukung maka nilai k gabungan dapat ditentukan dengan menggunakan gambar nilai k gabungan.

Tabel 3.3 Nilai k Gabungan Modulus Elastisitas Jenis Bahan 6Pa Granular 0.055 0,138 Psi 8.000 20.000 Kg/ cm2 565 1.410

Lapis Pondasi 3,5 6,9 Distabilisasi semen Tanah distabilisasi semen Lapis Pondasi diperbaiki 2,4 6,9 aspal Lapis pondasi diperbaiki 0,28 2,1 aspal emulsi 40.000 300.000 2.815 21.125 350.000 1.000.000 24.650 70.420 2.8 6,2 40000 900.000 28.170 63.380 50.000 1.000.000 35.210 70.420

Menentukan Nilai modulus Reaksi Tanah Dasar Rencana (Ko) Ko = rata-rata 2 S (untuk jalan tol) Ko = rata-rata 1,64 S (untuk jalan arteri) Ko = rata-rata 1,28 S (untuk jalan kolektor) FK (Faktor Keseragaman) = S/ K rata-rata x 100% < 25%

Keterangan : Ko Krata-rata = modulus reaksi tanah dasar yang mewakili suatu segmen = k/n (modulus reaksi tanah dasar rata-rata dalam suatu segmen jalan) K = modulus reaksi tanah dasar tiap titik di dalam suatu segmen jalan S = standar deviasi S2 = n ( k2) ( k2) n(n-1)