Anda di halaman 1dari 103

KAJIAN SISTEM AGRIBISNIS IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy) DI CV DEJEE FISH CIBARAJA KECAMATAN CISAAT KABUPATEN SUKABUMI PROVINSI

JAWA BARAT

LAPORAN PRAKTIK LAPANG

NURUL LUTHFITA SARI A.0910457

JURUSAN AGRIBISNIS FAKULTAS ILMU DAN BISNIS PERTANIAN UNIVERSITAS DJUANDA BOGOR BOGOR 2013

RINGKASAN

NURUL LUTHFITA SARI. Kajian Sistem Agribisnis Ikan Gurami (Osphronemus gouramy) di CV. Dejee Fish Cibaraja Kecamatan Cisaat Kabupaten Sukabumi Provinsi Jawa Barat, (di bawah bimbingan APENDI ARSYAD dan WINI NAHRAENI) Indonesia merupakan negara kepulauan terdiri atas sekitar 17.000 pulau besar dan kecil serta 81.000 km garis pantai. Pulau tersebut membentang dari Sabang hingga Merauke, mengandung ribuan sungai, danau, rawa dan genangan air lainnya dengan potensi perikanan air tawar yang besar. Garis pantai tersebut terpanjang kedua di dunia yang berpotensi sangat besar bagi pengembangan perikanan air payau dan air laut. Daratan Indonesia menutupi sepertiga luas nusantra dan dua pertiga sisanya berupa lautan atau seluas 5,8 juta Km2 (Khairuman dan Amri,2011). Ikan Gurami merupakan salah satu komoditas ikan yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Harga jual dan harga beli Ikan Gurami relatif lebih mahal dan lebih stabil dibandingkan komoditas ikan air tawar lainnya. Waktu yang dibutuhkan untuk budidaya Ikan Gurami sampai ukuran konsumsi relatif lama, sehingga para pembudidaya mensegmentasikan usahanya menjadi pembenihan, pendederan dan pembesaran. Pangsa pasar Ikan Gurami di CV Dejee Fish sebesar 54%, 46 % dari Ikan Air Tawar lainnya. Penulis mencoba mempelajari subsistem agribisnis komoditas Ikan Gurami dalam kajian praktik lapang yang telah dilaksanakan. Subsistem agribisnis tersebut terdiri atas agribisnis hulu sampai hilir. Praktik lapang ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis sistem agribisnis yang dilakukan di CV Dejee Fish dan komoditas Ikan Gurami (Osphronemus gouramy) secara menyuluruh, kelayakan usahatani pendederan I pada komoditas Ikan Gurami (Osphronemus gouramy) dan pola kemitraan di CV Dejee Fish. Kegiatan praktik lapang berlangsung 1,5 bulan dari tanggal 28 Agustus sampai tanggal 06 Oktober 2012. Praktik lapang ini dilaksanakan di CV Dejee Fish, karena perusahaan ini bergerak dalam bidang agribisnis perikanan air tawar termasuk Ikan Gurami. Data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder. Data dianalisis secara deskriptif dan kuantitatif. Analisis kuantitatif menggunakan analisis pendapatan, analisis R/C dan analisis titik impas.

Hasil

pengamatan

selama

kegiatan

praktik

lapang

berlangsung,

menunjukkan bahwa sistem agribisnis yang dilakukan CV Dejee Fish secara umum terdiri atas subsistem pengadaan sarana produksi, subsistem budidaya, subsistem pengolahan hasil perikanan (agroindustri), subsistem pemasaran dan subsistem jasa dan penunjang. Kegiatan subsistem pengadaan sarana produksi meliputi penentuan jenis dan jumlah peralatan, jenis dan ukuran kolam, jenis dan jumlah benih, induk, pakan dan obat-obatan. Kegiatan produksi meliputi pembenihan, pendederan, pembesaran dan pemanenan. Kegiatan pengolahan hasil perikanan meliputi pengolahan terhadap ikan lele dan ikan nila yang menghasilkan produk abon ikan lele, nugget ikan lele, bakso ikan lele, baby fish, dendeng, kerupuk kulit dan kaki naga. Kegiatan pemasaran meliputi pengumpulan informasi pasar, sortasi dan grading, pengangkutan, penjualan dan promosi. Pengumpuan informasi pasar bertujuan untuk menentukan jenis dan jumlah produk, harga dan saluran pemasaran yang diinginkan konsumen. Pemasaran yang dilakukan perusahaan meliputi daerah yang ada di seluruh Indonesia dengan produk, ukuran dan jumlah yang beragam. Subsistem penunjang terdiri atas Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi, Badan Pelayanan dan Perizinan Terpadu (BPPT) Kabupaten Sukabumi, Kemeterian dan Kelautan Perikanan (KKP), Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP4K) Kabupaten Sukabumi, Dinas Keshatan Pemerintah Kabupaten Sukabumi, pasar ikan Cibaraja, pembudidaya mitra dan media informasi dan komunikasi. Sistem agribisnis Ikan Gurami yang dilakukan CV Dejee Fish tidak jauh berbeda dengan sistem agribisnis yang dilakukan CV Dejee Fish secara umum, yaitu terdiri atas subsistem pengadaan sarana produksi, subsistem produksi, subsistem pemasaran dan subsistem penunjang. Kegiatan subsistem pengadaan sarana produksi pendederan I ikan gurami terdiri atas pengadaan bahan baku berupa larva gurami, media budidaya berupa akuarium, peralatan, pakan berupa cacing Tubifex dan obat-obatan. Subsistem pengadaan sarana produksi penjualan Ikan Gurami ukuran konsumsi terdiri atas bahan baku (ikan ukuran konsumsi), kolam pemberokan, peralatan dan tenaga kerja. Pengadaan sarana produksi diperoleh dari lembaga-lembaga yang menjadi mitra perusahaan. Kegiatan subsistem produksi terdiri atas persiapan akuarium, penebaran larva, pemberian

pakan dan pengelolaan kualitas air. Pemanenan Ikan Gurami pada tahap pendederan I dilakukan pada saat ikan berumur 35 hari dari penetasan dengan ukuran rata-rata 2-3 cm. Kegiatan subsistem pemasaran meliputi pengumpulan informasi pasar, sortasi dan grading, pengangkutan, penjualan dan promosi. Pengumpluan informasi pasar bertujuan untuk menentukan jenis dan jumlah produk, harga dan saluran pemasaran yang diinginkan konsumen. Subsistem penunjang terdiri atas Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi, Badan Pelayanan dan Perizinan Terpadu (BPPT) Kabupaten Sukabumi, Kemeterian dan Kelautan Perikanan (KKP), Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP4K) Kabupaten Sukabumi, pasar ikan Cibaraja, pembudidaya Ikan Gurami mitra dan media informasi dan komunikasi. Analisis usaha budidaya pendederan 1 Ikan Gurami di CV Dejee Fish yang dilakukan penulis yaitu analisis biaya dan pendapatan, analisis R/C ratio dan analisis BEP. Perhitungan usahatani dilakukan pada jangka waktu 35 hari dengan 1 siklus produksi dengan jumlah larva Gurami 14.000 ekor dan menghasilkan benih 9.750 ekor. Penerimaan (TR) yang diperoleh sebesar Rp 4.387.500 dengan biaya tetap sebesar Rp 888.101 dan biaya variabel sebesar Rp 2.071.803 sehingga menghasilkan pendapatan bersih sebesar Rp 1.427.595. Nilai R/C diperolah 1,5 dan BEP penerimaan sebesar Rp 1.682.666, BEP produksi 6.578 ekor dan BEP harga Rp 304/ekor benih. Berdasarkan analisis tersebut usaha pendederan I Ikan Gurami menguntungkan dan layak untuk diusahakan. Sistem agribisnis yang dijalankan CV Dejee Fish telah terintegrasi dengan baik, meskipun terdapat beberapa kendala dalam kegiatan bisnisnya. Saran yang dapat diberikan penulis bagi CV Dejee Fish adalah perusahaan sebaiknya melakukan pencatatan kondisi dan jumlah sarana produksi serta kondisi kesehatan ikan yang dibudidayakan untuk kerapihan data dan memudahkan dalam pelaporan kondisi perusahaan, selain itu divisi produksi setiap komoditas sebaiknya melakukan analisis usahatani secara lengkap untuk memudahkan perusahaan melihat keuntungan usaha setiap komoditas serta memudahkan dalam laporan perkembangan perusahaan.

KAJIAN SISTEM AGRIBISNIS IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy) DI CV DEJEE FISH CIBARAJA KECAMATAN CISAAT KABUPATEN SUKABUMI PROVINSI JAWA BARAT

NURUL LUTHFITA SARI A.0910457

JURUSAN AGRIBISNIS FAKULTAS ILMU DAN BISNIS PERTANIAN UNIVERSITAS DJUANDA BOGOR BOGOR 2013

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa Laporan Praktik Lapangan yang berjudul Kajian Sistem Agribisnis Ikan Gurami (Osphronemus gouramy) di CV Dejee Fish Cibaraja Kecamatan Cisaat Kabupaten Sukabumi Provinsi Jawa Barat adalah benar-benar merupakan hasil karya sendiri dengan arahan dari dosen pembimbing dan belum pernah diajukan sebagai karya ilmiah pada perguruan tinggi atau dipublikasikan di lembaga manapun. Sumber referensi dari hasil kutipan karya penulis lain dilakukan dengan benar dan disebutkan dalam teks dan daftar pustaka.

Bogor, Juli 2013

Nurul Luthfita Sari A.0910457

Judul Praktik Lapang

: Kajian Sistem Agribisnis Ikan Gurami (Osphronemus gouramy) di CV Dejee Fish Cibaraja Kecamatan Cisaat Kabupaten Sukabumi Provinsi Jawa Barat. : Nurul Luthfita Sari : A.0910457 : Agribisnis : Agribisnis : Ilmu dan Bisnis Pertanian

Nama NIM Program Studi Jurusan Fakultas

Menyetujui, Pembimbing I Pembimbing II

Dr. Ir. Apendi Arsyad, M.Si

Dr. Ir. Wini Nahraeni, M.Si

Mengetahui, Ketua Jurusan

Dr. Ir. Wini Nahraeni, M.Si NIP. 19621218 198811 2 001

Tanggal Lulus

: (.......................................)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Sukabumi Provinsi Jawa Barat, pada tanggal 02 Februari 1991 dari pasangan Bapak Ujang Suhanda dan Ibu Pipih Sopiah sebagai anak ketiga dari enam bersaudara. Pendidikan penulis diawali pada tahun 1996 yaitu masuk di Madrasah Ibtidayah (MI) MWB PUI Jalancagak, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi di kelas persiapan selama 1 tahun, selanjutnya masuk ke jenjang pendidikan Sekolah Dasar selama 6 Tahun di sekolah yang sama dan lulus pada tahun 2003. Pada awal tahun pendidikan yang sama, penulis juga mengikuti pendidikan agama di Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) Al-Muttaqien, Jalancagak Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi dan lulus pada tahun 2002. Selanjutnya, penulis menyelesaikan pendidikan tingkat menengah pada tahun 2006 di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Miftahul Huda Cibatu-Cicantayan, Kabupaten Sukabumi. Pada tahun 2009 penulis menyelesaikan pendidikan tingkat atas di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Cibadak, Kabupaten Sukabumi. Penulis berkesempatan melanjutkan pendidikan S1 pada tahun 2009 di Universitas Djuanda Bogor, dengan mengambil Jurusan Agribisnis pada Fakultas Agribisnis dan Teknologi Pangan, melalui jalur Beasiswa Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Penulis mengikuti berbagai organisasi selama menjadi mahasiswa. Penulis bergabung di BEM Pusat pada periode 2009-2010 sebagai anggota. Pada periode yang sama, penulis bergabung di Perhimpunan Organisasi dan Profesi Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian Indonesia (POPMASEPI) sebagai anggota divisi kewirausahaan. Periode 2010-2011, penulis bergabung di Himpunan Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian (HIMASEP) Universitas Djuanda sebagai anggota Divisi Informasi dan Komunikasi dan pada periode 2011-2012 penulis menjadi anggota Divisi Civitas Akademika di HIMASEP UNIDA. Penulis juga aktif di Relawan Sosial Kesehatan Universitas Djuanda sebagai sekretaris dari tahun 2010 hingga sekarang.

PRAKATA

Rasa syukur dan pujian penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas segala rahmat, hidayah dan ridha-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan laporan praktik lapang ini. Shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat dan kita sebagai umatnya. Komoditas ikan gurami sengaja penulis pilih sebagai objek praktik lapang di CV Dejee Fish, karena ikan gurami merupakan ikan yang memiliki tingkat permintaan yang tinggi, baik bagi kalangan konsumen maupun kalangan pembudidaya ikan. Praktik lapang ini dilakukan bertujuan mengetahui sistem agribisnis ikan gurami di perusahaan tersebut. Penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada Dr. Ir. Apendi Arsyad, M.Si selaku pembimbing I, Dr. Ir. Wini Nahraeni, M.Si selaku pembimbing II dan Ir. Ita Novita, M.S selaku penguji tamu atas bimbingan dan arahan yang diberikan dalam penyusunan laporan praktik lapang ini. Penulis menyadari laporan praktik lapang ini jauh dari sempurna. Namun demikian, penulis berharap semoga laporan praktik lapang ini dapat berguna bagi yang memerlukannya.

Bogor, Juli 2013

Penulis

UCAPAN TERIMA KASIH

Penyusunan laporan praktik lapang ini tidak terlepas dari bantuan beragai pihak, baik bantuan moril, materil maupun doa. Oleh karena itu kesempatan ini penulis sampaikan ucapan terima kasih kepada: 1. Ir. H. Himmatul Miftah, M.Si selaku pembimbing akademik 2. Bapak Deni Rusmawan, A.Md sebagai direktur CV Dejee Fish yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melaksanakan kegiatan praktik lapang di perusahaan. 3. Bapak Agus Chandra, S.Pi selaku pembimbing lapang, Bapak Jaka Trenggana,S. Pi, Pak Ucang, Pak Misbah, Pak Herman, Pak Dede, Pak Obet, Pak Robby, Pak Reza, Ibu Ela, Ibu Popy, Ibu Wulan dan Staff lainnya yang telah mambimbing dan membantu penulis selama pelaksanaan praktik lapang 4. Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang telah memberikan beasiswa penuh selama penuli kuliah di Universitas Djuanda Bogor. 5. Kedua orang tua, ayahanda Ujang Suhanda dan Ibunda Pipih Sopiah atas doa, perhatian, kasih sayang, nasihat, motivasi dan dukungannya baik berupa moril maupun materil. 6. Kedua kakakku tercinta Taufik Abdullah Mansyur, S.Pd.I dan Yusuf Gozali, S.Pd.I, kakak iparku Fitri Faturohmah dan Siti Zakiyah Fitriyah, S.Pd.I, adik-adikku tersayang Siti Maulidia Ulfah, Wildan Nurdiansyah dan Hasna Nurshiami Nabila serta keponakanku Balqis Qalbina Taufik, Aqila Faiha Taufik dan Fatih Abdul Faiq Gozali yang telah memberikan doa, kasih sayang, semangat dan dukungan baik berupa moril maupun materil. 7. Ummi Dini Siti Multiah, SE dan teman-teman di Lingkar Cahaya yang senantiasa memberikan nasihat, doa dan motivasi. 8. Sahabat Kafilah Agripreneur (AGB 2009), AGT 2009, TNK 2009, TIP 2009, IKN 2009, HIMASEP, Club Photography (CP), Relawan Sosial Kesehatan (RESISTAN) dan teman KKN Tugu Selatan terima kasih atas motivasi, doa dan kebersamaannya. 9. Teman-Teman di Asrama Maratu Sholihah, Blok Asma-Asiah khusunya, yang telah memberikan rasa kebersamaan, motivasi dan doa.

DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL ................................................................................... DAFTAR GAMBAR ............................................................................... DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................... I PENDAHULUAN .......................................................................... 1.1 1.2 1.3 1.4 II LatarBelakang ......................................................................... Tujuan Praktik Lapang ........................................................... Kegunaan Praktik Lapang ...................................................... Ruang Lingkup Praktik Lapang ............................................. v vi vii 1 1 4 4 4 6 6 6 6 10 10 10 12 12 16 16 17 17 18 19 19 19 20 20 21 21 23 23 24 28 29 31 32

METODE PRAKTIK LAPANG .................................................. 2.1 2.2 2.3 Waktu dan Tempat ................................................................. Pengumpulan Data ................................................................. Analisis Data ..........................................................................

III

GAMBARAN UMUM CV DEJEE FISH .................................... 3.1 3.2 3.3 3.4 3.5 Batasan Wilayah CV Dejee Fish ........................................... Sejarah dan Perkembangan CV Dejee Fish ........................... Visi dan Misi CV Dejee Fish .................................................. Struktur Organisasi CV Dejee Fish ........................................ Sumberdaya CV Dejee Fish ................................................... 3.4.1 Sumberdaya Manusia ................................................. 3.4.2 Sumberdaya Modal .................................................... 3.4.3 Sumberdaya Fisik ....................................................... Keuangan CV Dejee Fish .......................................................

3.6 IV

DESKRIPSI KEGIATAN AGRIBISNIS CV DEJEE FISH ..... 4.1 Subsistem Pengadaan Sarana Produksi CV Dejee Fish .......... 4.1.1. Media Budidaya ......................................................... 4.1.2. Peralatan ..................................................................... 4.1.3. Induk .......................................................................... 4.1.4. Benih Ikan .................................................................. 4.1.5. Pakan .......................................................................... 4.1.6. Obat-obatan ................................................................ Subsistem Budidaya CV Dejee Fish ....................................... 4.2.1 Pembenihan ................................................................ 4.2.2 Pendederan ................................................................. 4.2.3 Pembesaran ................................................................ Subsistem Pengolahan Hasil Perikanan (Agroindustri) .......... Subsistem Pemasaran ..............................................................

4.2

4.3 4.4

4.5 V

Subsistem Penunjang .............................................................

37

DESKRIPSI KEGIATAN AGRIBISNIS KOMODITAS IKAN GURAMI (Oshpronemus gouramy) ................................... 5.1 5.2 Subsistem Pengadaan Sarana Produksi Ikan Gurami ............. Subsistem Budidaya Ikan Gurami ........................................... 5.2.1 Pembenihan Ikan Gurami ........................................... 5.2.2 Pendederan Ikan Gurami ............................................ Subsistem Pemasaran Ikan Gurami ......................................... Subsistem Penunjang Ikan Gurami ......................................... Pola Kemitraan ....................................................................... Analisis Usahatani Pendederan I Ikan Gurami ...................... 5.6.1 Analisis R/C (Revenue Cost Ratio) ............................ 5.6.2 Analisis Break Event Point (BEP) .............................. Kendala yang dihadapi CV Dejee Fish ..................................

39 39 42 42 45 48 52 52 53 56 56 56 58 58 58 60 62

5.3 5.4 5.5 5.6

5.7

VI. KESIMPULAN DAN SARAN ...................................................... 6.1 6.2 Kesimpulan ............................................................................ Saran .......................................................................................

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................. LAMPIRAN .............................................................................................

DAFTAR TABEL

Nomor 1. 2. 3. 4. 5. 6. Produksi ikan air tawar di pulau Jawa tahun 2011 ....................... Jumlah media budidaya CV Dejee Fish tahun 2012 .................... Perbedaan induk ikan gurami jantan dan betina ............................ Pemberian pakan cacing sutera pada pendederan I ...................... Daftar harga ikan gurami di CV Dejee Fish ................................ Analisis Usahatani Pendederan I Ikan Gurami ............................

Halaman 2 20 44 46 50 55

DAFTAR GAMBAR

Nomor 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Struktur organisasi CV Dejee Fish ............................................... Induk Ikan Patin dan Ikan Lele ..................................................... Jenis pakan yang digunakan CV Dejee Fish ................................. Obat obatan yang digunakan CV Dejee Fish ............................ Proses pemijahan ikan patin dan ikan lele ................................... Kegiatan pemberian pakan ........................................................... Produk olahan ikan Dejee Food ................................................... Saluran distribusi produk CV Dejee Fish .................................... Media Promosi CV Dejee Fish ....................................................

Halaman 13 21 22 23 27 30 31 35 37 44 44 45 47 47 48 49 51 51

10. Media penyimpanan telur ikan gurami ......................................... 11. Perbedaan induk gurami jantan dan betina .................................. 12. Budidaya pakan alami di sepanjang kolam pemijahan ................ 13. Proses pemberian pakan dan pengolahan air ................................ 14. Ukuran benih ikan gurami saat dipanen ....................................... 15. Proses pemanenan ikan gurami .................................................... 16. Pengangkutan terbuka dan pengangkutan tertutup ....................... 17. Saluran distribusi pembenihan ikan gurami CV Dejee Fish ........ 18. Saluran distribusi ikan gurami ukuran konsumsi .........................

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor 1. Produksi ikan di indonesia berdasarkan budidaya ....................... 2. Luas Wilayah Kecamatan Cisaat .................................................. 3. Penjualan Ikan Air Tawar CV Dejee Fish Juli-September 2012 . 4. Jurnal harian kegiatan praktik lapang ........................................... 5. Peta Lokasi CV Dejee Fish .......................................................... 6. Profil kewirausahaan .................................................................... 7. Surat izin tempat usaha CV Dejee Fish ....................................... 8. Daftar nama karyawan CV Dejee Fish ......................................... 9. Media Budidaya CV Dejee Fish ................................................... 10. Peralatan yang digunakan CV Dejee Fish .................................... 11. Sertifikat Pembenihan .................................................................. 12. P-IRT Dejee Food ........................................................................ 13. Peralatan unit pengolahan CV Dejee Fish (Dejee Food) .............. 14. Daftar harga benih dan induk ikan air tawar CV Dejee Fish ....... 15. Biaya pelatihan (P2MKP) CV Dejee Fish ................................... 16. Daftar harga olahan ikan di CV Dejee Fish ................................. 17. Perhitungan analisis usahatani pendederan I ikan gurmi ............. 18. Biaya penyusutan peralatan ..........................................................

Halaman 63 64 65 66 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 86 87 88 90

I.

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan terdiri atas sekitar 17.000 pulau

besar dan kecil serta 81.000 km garis pantai. Pulau tersebut membentang dari Sabang hingga Merauke yang memiliki ribuan sungai, danau, rawa dan genangan air lainnya dengan potensi perikanan air tawar yang besar. Garis pantai tersebut terpanjang kedua di dunia yang berpotensi sangat besar bagi pengembangan perikanan air payau dan air laut. Daratan Indonesia menutupi sepertiga luas nusantara dan dua pertiga sisanya berupa lautan atau seluas 5,8 juta km2 (Khairuman dan Amri, 2011). Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2013 jumlah penduduk tahun 2010 adalah 237.641.326 orang. Tingginya jumlah sumberdaya manusia menjadi potensi negara Indonesia untuk mengoptimalkan sumberdaya alam yang dimiliki, khususnya sumberdaya air yang menjadi potensi mengembangkan sektor perikanan. Orientasi sub sektor perikanan dalam pembangunan nasional adalah sebagai pemasok kebutuhan konsumsi dan gizi masyarakat, memperluas kesempatan kerja dan berwirausaha, peningkatan devisa negara melalui ekspor hasil perikanan dan mampu mendorong munculnya industri baru di sektor pertanian khususnya sub sektor perikanan (Soekartawi, 2005 dalam Nugroho, 2008). Undang Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang perikanan yang diubah dalam Undang Undang Nomor 45 Tahun 2009 dalam Fauzi (2010) mendefinisikan perikanan sebagai semua kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan dan lingkungannya mulai dari praproduksi, produksi, pengolahan sampai dengan pemasaran yang dilaksanakan dalam suatu sistem bisnis perikanan. Budidaya perairan dilihat dari jenisnya terdiri atas budidaya air laut, budidaya tambak, budidaya kolam, budidaya keramba, budidaya jaring apung dan budidaya sawah. Berdasarkan data dari BPS (2013) periode 2007-2011 produksi rata-rata per tahun pada jenis budidaya laut sebesar 55%, budidaya tambak 23%, budidaya kolam 13%, budidaya keramba 2%, budidaya jaring apung 5% dan

budidaya sawah 2%. Produksi Ikan di Indonesia berdasarkan budidaya dapat dilihat pada Lampiran 1. Budidaya laut, budidaya tambak, budidaya keramba dan budidaya jaring apung termasuk budidaya perikanan laut, sedangkan budidaya kolam dan budidaya sawah merupakan budidaya perikanan darat. Produksi terbesar pada perikanan darat dihasilkan dari budidaya kolam. Budidaya kolam menghasilkan beberapa komoditas Ikan Air Tawar. Jumlah produksi Ikan Air Tawar budidaya kolam di pulau Jawa tahun 2011 dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1 Produksi Ikan Air Tawar Budidaya Kolam di Pulau Jawa Tahun 2011 Komoditas Ikan Mas Tawes Nilem Nila Gurami Tambakan Lele Sidat Patin Jelawat Toman Gabus Betutu Baung Betok Bawal Mujair Sepat siam Udang Galah Kodok Labi labi Belut Lainnya Jumlah Sumber : Statistik KKP, 2013 Jumlah (Ton) 154.167,00 11.667,00 21.116,00 277.518,00 62.476,00 4.372,00 330.687,00 989,00 155.889,00 303,00 320,00 349,00 130,00 42,00 278,00 12.973,00 11.849,00 2.724,00 617,00 3,00 153,00 238,00 78.103,00 1.126.963,00 Produksi (%) 13,68% 1,04% 1,87% 24,63% 5,54% 0,39% 29,34% 0,09% 13,83% 0,03% 0,03% 0,03% 0,01% 0,00% 0,02% 1,15% 1,05% 0,24% 0,05% 0,00% 0,01% 0,02% 6,93% 100,00%

Ikan Gurami merupakan salah satu komoditas Ikan Air Tawar. Berdasarkan Tabel 1 tentang produksi Ikan Air Tawar di Pulau Jawa tahun 2011, lima produksi terbesar dihasilkan dari Ikan Lele sebesar 29,34%, Ikan Nila 24,63%, Ikan Patin 13,83%, Ikan Mas 13,68% dan Ikan Gurami 5,54%. Produksi

Ikan Gurami sebesar 5,54% disebabkan waktu yang dibutuhkan untuk budidaya Ikan Gurami lebih lama dibandingkan Ikan Air Tawar lainnya. Menurut Nugroho (2008) Waktu yang dibutuhkan untuk membesarkan Ikan Gurami dari ukuran benih 2-3 cm sampai ukuran konsumsi yaitu selama 15 bulan. Berbeda dengan Ikan Gurami, Ikan Lele dan Ikan Mas untuk mencapai ukuran konsumsi memerlukan waktu 4-5 bulan dari benih ukuran 2-3 cm. Waktu yang relatif lama untuk budidaya Ikan Gurami berdampak terahadap harga Ikan Gurami yang relatif lebih mahal dibandingkan harga Ikan Air Tawar lainnya. CV Dejee Fish merupakan salah satu perusahaan agribisnis di Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi yang bergerak di sektor perikanan air tawar. Kecamatan Cisaat merupakan salah satu sentra produksi Ikan Air Tawar di Kabupaten Sukabumi. Berdasarkan data dari BP4K Sukabumi (2013) Kecamatan Cisaat memiliki luas kolam sebesar 138,7 ha dari 2.165,09 ha luas wilayah kecamatan. Data luas wilayah Kecamatan Cisaat dapat dilihat pada Lampiran 2. Potensi yang dimiliki Kecamatan Cisaat untuk mengembangkan perikanan darat cukup besar. Potensi ini dimanfaatkan perusahaan sebagai supply untuk memenuhi permintan konsumen. Kegiatan agribisnis yang dilakukan CV Dejee Fish mencakup lima subsistem agribisnis, yaitu subsistem pengadaan sarana produksi, budidaya, pengolahan hasil perikanan, pemasaran dan penunjang. Kegiatan usaha perikanan di CV Dejee Fish diantaranya menjual berbagai jenis Ikan Air Tawar dengan berbagai ukuran, menjual produk olahan Ikan Air Tawar khusus Ikan Nila dan Lele dan pelatihan budidaya berbagai jenis Ikan Air Tawar. Ikan Air Tawar yang diusahakan pada CV Dejee Fish diantaranya Ikan Gurami, Lele, Nila, Ikan Mas, Bawal, Baung, Patin, Lobster Air Tawar dan berbagai Ikan Hias. Kegiatan usaha yang pertama kali dilakukan perusahaan adalah usaha penjualan Ikan Gurami ukuran konsumsi ke berbagai restoran yang ada di Sukabumi. CV Dejee Fish melihat peluang usaha yang cukup besar pada penjualan Ikan Gurami ukuran konsumsi, pembenihan Ikan Gurami dan pelatihan budidaya terbukti dengan banyaknya permintaan dari konsumen. Pangsa pasar Ikan Air Tawar terbesar di CV Dejee Fish yaitu Ikan Gurami. Berdasarkan data penjualan Ikan Air Tawar di CV Dejee Fish bulan Juli-September tahun 2012, pangsa pasar Ikan Gurami sebesar 55%. Data Penjualan Ikan Air Tawar CV Dejee Fish dapat dilihat pada Lampiran 3.

1.2

Tujuan Praktik Lapang Kegiatan praktik lapang yang dilaksanakan di CV Dejee Fish bertujuan

untuk mengetahui dan menganalisis : 1. Sistem agribisnis perusahaan dan komoditas Ikan Gurami

(Osphronemus gourami) yang dilakukan di CV Dejee Fish secara menyeluruh. 2. Kelayakan usahatani pendederan I pada komoditas Ikan Gurami (Osphronemus gouramy) di CV Dejee Fish. 3. 1.3 Pola Kemitraan CV Dejee Fish dengan pembudidaya.

Kegunaan Praktik Lapang Kegunaan dari kegiatan praktik lapang bagi mahasiswa adalah untuk

mengetahui: 1. Kegiatan agribisnis dan segmentasi Ikan Air Tawar di CV Dejee Fish. 2. Informasi mengenai usaha perikanan air tawar CV Dejee Fish yang bisa disebarkan sehingga berguna bagi perusahaan sebagai promosi. 1.4 Ruang Lingkup Praktik Lapang Praktik lapang dilakukan di CV Dejee Fish (perusahaan agribisnis yang bergerak di bidang perikanan air tawar). Subsistem agribisnis perusahaan terdiri atas subsistem pengadaan sarana produksi, subsistem budidaya, subsistem pengolahan hasil perikanan, subsistem pemasaran dan subsistem penunjang. Komoditas Ikan Air Tawar yang diusahakan perusahaan begitu banyak, sehingga dalam praktik lapang ini yang menjadi fokus utama penulis yaitu komoditas Ikan Gurami. Subsistem yang dimiliki perusahaan untuk komoditas Ikan Gurami terdiri atas subsistem pengadaan sarana produksi, subsistem budidaya, subsistem pemasaran dan subsistem penunjang. Subsistem pengolahan hasil perikanan tidak terdapat pada usaha Ikan Gurami, karena permintaan untuk benih dan ikan segar sudah banyak dengan hasil yang menguntungkan. Subsistem pengolahan hasil perikanan hanya dilakukan untuk ikan yang sudah tidak bisa dijual pada ukuran

konsumsi, sehingga untuk memberikan nilai tambah terhadap harga ikan dilakukan pengolahan seperti Ikan Lele yang diolah menjadi abon ikan dan nugget ikan. Kegiatan yang dilaksanakan penulis pada subsistem pengadaan sarana produksi meliputi wawancara, pengamatan langsung dan membantu menyediakan sarana produksi berupa peralatan dan pakan (cacing Tubifex). Kegiatan yang dilaksanakan penulis pada subsistem budidaya meliputi wawancara, pengamatan langsung, pemberian pakan, pengelolaan kualitas air dan pemanenan. Pakan mulai diberikan saat benih berumur 7 hari dari penebaran ke akuarium, setelah itu pakan diberikan tiga kali dalam sehari. Pengelolaan kualitas air dilakukan setiap hari untuk mengurangi resiko kematian pada benih. Pemanenan benih Ikan Gurami dilakukan pada saat benih berumur 35 hari dari penetasan dengan ukuran rata-rata 2-3 cm. Kegiatan subsistem pemasaran yang dilakukan penulis meliputi

wawancara, pengamatan langsung, sortasi dan grading, pengangkutan dan penjualan. Wawancara dilakukan untuk mendapatkan informasi pasar berupa jenis dan jumlah produk yang dipesan serta harga dan saluran pemasaran yang diinginkan konsumen. Sortasi dan grading dilakukan setiap hari Selasa dan Jumat. Pengangkutan yang penulis ikuti adalah pengangkutan terbuka untuk penjualan Ikan Gurami ukuran konsumsi ke restoran yang ada di Sukabumi. Kegiatan subsistem penunjang yang dilakukan penulis berupa wawancara sehingga diketahui bahwa lembaga yang menjadi penunjang budidaya Ikan Gurami di CV Dejee Fish terdiri atas Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi, Badan Pelayanan dan Perizinan Terpadu (BPPT) Kabupaten Sukabumi, Kementerian dan Kelautan Perikanan (KKP), Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP4K) Kabupaten Sukabumi, pasar ikan Cibaraja, pembudidaya Ikan Gurami mitra dan media informasi dan komunikasi. Kegiatan agribisnis yang penulis lakukan selama praktik lapang lebih lengkapnya dapat diihat pada Lampiran 4.

II.

METODE PRAKTIK LAPANG

2.1

Waktu dan Tempat Kegiatan Praktik Lapang telah dilaksanakan selama 1,5 bulan (40 hari)

pada tanggal 28 Agustus 2012 sampai 6 Oktober 2012 yang bertempat di CV Dejee Fish, Jalan Cibaraja Kp. Cibaraja RT 37 RW 08 No 40 Desa Nagrak Kecamatan Cisaat Kabupaten Sukabumi Provinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi dilakukan secara purposive, CV Dejee Fish dipilih sebagai tempat praktik lapang karena perusahaan ini memiliki keunggulan komparatif dari perusahaan lainnya di Sukabumi yang bergerak di bidang yang sama (perikanan air tawar) yaitu keunggulan managemen dalam mengatur supply komoditas Ikan Air Tawar ke berbagai daerah termasuk luar jawa. 2.2 Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan dalam kajian sistem agribisnis ini meliputi data primer dan data sekunder. Pengumpulan data primer diperoleh melalui wawancara kepada pemilik dan karyawan CV Dejee Fish, pengamatan langsung dan mengikuti seluruh kegiatan yang dilakukan perusahaan dari pembenihan, pendederan, pemeliharaan, panen dan pemasaran. Pengumpulan data sekunder diperoleh dari dokumen-dokumen dan literatur-literatur CV Dejee Fish. 2.3 Analisis Data Data yang telah dikumpulkan kemudian dianalisis. Analisis yang digunakan penulis berupa analisis deskriptif dan analisis kuantitatif. Analisis deskriptif digunakan untuk menganalisis data yang bersifat kualitatif dengan menggambarkan dan meringkas berbagai kondisi, situasi dan keadaan di tempat praktik lapang. Objek yang di analisis secara deskriptif diantaranya gambaran umum perusahaan serta manajemen perusahaan. Analisis kuantitatif merupakan analisis dari data yang dapat diukur dengan pasti. Analisis kuantitatif menggunakan analisis usahatani. Analisis usahatani memiliki tujuan untuk mengetahui atau meneliti keunggulan komparatif, kenaikan hasil yang semakin menurun, substitusi, pengeluaran biaya usahatani, biaya yang

diluangkan, pemilikan cabang usaha dan baku timbang tujuan (Soekartawi et al, 1990). Menurut Suratiyah (2009) bahwa analisis usahatani merupakan analisis dengan menggunakan data yang terdiri atas biaya dan pendapatan, kelayakan usaha dan analisis titik impas (BEP). Analisis biaya dan pendapatan merupakan analisis yang bertujuan mengetahui besarnya keuntungan atau kerugian yang diperoleh perusahaan agribisnis, analisis ini disebut juga analisis laba/rugi. Data mengenai penerimaan (pendapatan kotor) dan biaya perlu diketahui untuk menentukan keuntungan (pendapatan bersih) yang dimiliki perusahaan. Hadisapoetro (1973) dalam Suratiyah (2009) berpendapat bahwa penerimaan atau pendapatan kotor adalah seluruh pendapatan yang diperoleh dari usahatani selama satu periode diperhitungkan dari hasil penjualan atau penaksiran kembali (Rp). Soekartawi (2006) berpendapat bahwa penerimaan usahatani adalah perkalian antara produksi yang diperoleh dengan harga jual. Rumus penerimaan atau pendapatan kotor sebagai berikut : TR = Y x Py Keteragan : TR Y Py = Total Revenue atau penerimaan total (Rp) = Jumlah produksi yang diperoleh dalam suatu usahatani (ekor) = Harga output (Rp) Menurut Soekartawi (2006) biaya usahatani diklasifikasikan menjadi dua, yaitu biaya tetap (fixed cost) dan biaya tidak tetap (variable cost). Biaya tetap merupakan biaya yang dikeluarkan perusahaan yang besarnya biaya tidak dipengaruhi oleh besarnya jumlah produksi, seperti biaya sewa tempat, biaya gaji karyawan tetap, penyusutan, pajak dan bunga bank (jika modal didapatkan dari luar). Biaya tidak tetap merupakan biaya yang dikeluarkan perusahaan yang besarnya biaya dipengaruhi oleh besarnya jumlah produksi (Suratiyah, 2009). Biaya tidak tetap dalam usahatani perikanan terdiri atas benih, pakan, gaji karyawan lepas, plastik, karet dan oksigen. Cara menghitung biaya tidak tetap menurut Soekartawi (2006) adalah : n TVC = XiPxi i=1

Keterangan : TVC Xi Pxi n = Total Variable Cost atau biaya tidak tetap total (Rp) = Jumlah dari input = Harga input (Rp) = Jenis input Menurut Suratiyah (2009) biaya total adalah biaya keseluruhan yang dikeluarkan oleh perusahaan baik biaya variabel maupun biaya tetap. Rumus biaya total sebagai berikut : TC = TFC + TVC Keterangan : TC TFC = Total Cost atau biaya total (Rp) = Total Fixed Cost atau biaya tetap total (Rp) Pendapatan bersih atau Income (I) adalah selisih dari pendapatan kotor dengan biaya total yang dikeluarkan perusahaan. Suatu Perusahaan bisa dikatakan untung apabila memiliki nilai pendapatan lebih besar dari pada pengeluaran total. Rumus pendapatan bersih sebagai berikut : I = TR - TC Keterangan : I = Income atau pendapatan bersih (Rp) Analisis R/C merupakan alat analisis untuk melihat keuntungan relatif suatu usaha dalam satu periode terhadap biaya yang dipakai dalam kegiatan tersebut (Effendi dan Oktariza, 2006). Suatu usaha dikatakan layak bila R/C lebih besar dari 1 (R/C>1). Hal ini menggambarkan semakin tinggi nilai R/C maka tingkat keuntungan usaha akan semakin tinggi. R/C = Keterangan : R/C = Return Cost Ratio Menurut Efendi dan Oktariza (2006) analisis BEP (Break Event Point) merupakan alat analisis untuk mengetahui batas minimal penerimaan yang harus diterima perusahaan, batas minimal nilai produksi atau volume produksi dan batas TR TFC + TVC

minimal harga yang ditawarkan kepada konsumen sehingga penjualan suatu perusahaan mencapai titik impas (tidak untung dan tidak rugi). Analisis BEP meliputi : BEP dalam penerimaan (Rp), BEP kuantitas produksi (ekor), dan BEP Harga (Rp/ekor). Suatu usaha dinyatakan layak apabila penerimaan (Rp) lebih besar dari nilai BEP Penerimaan (Rp). Rumus BEP penerimaan (Rp) menurut Suratiyah (2009) sebagai berikut : BEP Penerimaan = 1 Keterangan : BEP Penerimaan = Break Event Point Penerimaan (Rp) TFC TVC TR

Suatu usaha dinyatakan layak apabila kuantitas produksi (ekor) lebih besar dari nilai BEP Produksi (ekor). Menurut Sunarjono (2000) dalam Tobing (2009) BEP Produksi dapat dihitung dengan rumus: BEP Produksi = Keterangan : BEP Produksi = Break Event Point Produksi (ekor) Suatu usaha dinyatakan layak apabila harga/ekor lebih besar dari nilai BEP harga (Rp/ekor). Menurut Suratiyah (2009) BEP harga (Rp/ekor) dapat dihitung dengan rumus : BEP Harga = TC Y TC Py

Keterangan : BEP Harga = Break Event Point Harga (Rp/ekor)

III.

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

3.1

Batas Wilayah CV Dejee Fish CV Dejee Fish bertempat di Jalan Cibaraja Kp. Cibaraja RT 37 RW 08 No

40 Desa Nagrak Kecamatan Cisaat Kabupaten Sukabumi Provinsi Jawa Barat. Desa Nagrak Kecamatan Cisaat Kabupaten Sukabumi Provinsi Jawa Barat memiliki batas wilayah utara, selatan, barat dan timur. Batas wilayah sebelah utara Desa Nagrak berbatasan dengan Desa Sukasari. Batas wilayah sebelah selatan Desa Nagrak berbatasan dengan Desa Cibatu. Batas wilayah sebelah barat Desa Nagrak berbatasan dengan Desa Salajambe dan Desa Cibolangkaler. Batas wilayah sebelah timur berbatasan dengan Desa Sukamanah. Peta lokasi CV Dejee Fish dapat dilihat pada Lampiran 5. 3.2 Sejarah dan Perkembangan CV Dejee Fish Sejarah Perusahaan didapatkan penulis dari hasil wawancara dengan Direktur CV Dejee Fish yaitu Bapak Deni Rusmawan pada tanggal 27 September 2012. Bapak Deni Rusmawan mengutarakan bahwa CV Dejee Fish merupakan perusahaan yang bergerak di bidang perikanan air tawar mulai dari pembenihan, pembesaran, pengolahan, pemasaran ke seluruh wilayah di Indonesia sampai pelatihan budidaya air tawar. Bapak Deni Rusmawan merupakan pendiri CV Dejee Fish dan beliau lulusan D3 Universitas Padjadjaran Jurusan Informatika. Beliau menjalankan usaha perikanan pada awal 2005 dengan menjalankan usaha penjualan Ikan Gurami konsumsi ke restoran-restoran di wilayah Sukabumi. Bapak Deni Rusmawan memiliki visi hidup yang jelas, kepribadian yang dermawan dan berani dalam mengambil resiko. Beliau yang tidak memiliki latar belakang dari perikanan mampu mendirikan perusahan agribisnis bidang perikanan dan masih berjalan hingga saat ini. Sosok Bapak Deni Rusmawan lebih lengkapnya mengenai profil kewirausahaan dapat dilihat pada Lampiran 6. Penjualan Ikan Gurami ukuran kosumsi pada awalnya hanya memiliki satu pegawai serta mengalami kesulitan dalam memasarkan Ikan Gurami disebabkan setiap restoran yang didatangi telah memiliki pemasok tetap dari wilayah Jawa

Tengah. Beliau tetap berusaha dengan menitipkan kartu nama disetiap restoran yang didatangi dengan jaminan pelayanan tepat waktu dan kualitas ikan yang baik. Akhirnya berbagai upaya yang telah diusahakan mendapatkan hasil dengan banyaknya permintaan dari konsumen. Bapak Deni mengembangkan usaha budidaya Ikan Air Tawar selain Ikan Gurami pada tahun 2008. Usaha yang dikembangkan tidak hanya penjualan ikan ukuran konsumsi, akan tetapi Ikan Air Tawar dalam berbagai jenis dan ukuran. Bapak Deni mengalami banyak permintaan Ikan Air Tawar pada tahun yang sama, diantaranya Ikan Patin, Lele, Bawal dan Nila. Permintaan tersebut tidak hanya di wilayah Sukabumi akan tetapi seluruh wilayah Indonesia. Beliau mengalami kesulitan dalam pengiriman ikan disebabkan teknologi pengiriman yang belum tepat, sehingga ikan yang dikirim banyak yang mati ketika sampai di tempat tujuan. Beliau mencari tahu bagaimana teknologi yang tepat untuk pengiriman ikan ke luar kota, dan pada akhirnya beliau dikenalkan kepada Bapak Jaka Trenggana oleh salah seorang rekan kerjanya. Bapak Jaka Trenggana merupakan alumni Universitas Djuanda Bogor Jurusan Perikanan yang merupakan pegawai di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT). Pengalaman Bapak Jaka dibidang perikanan mampu membantu perusahaan Bapak Deni dalam melakukan pengiriman dengan penggunaan teknologi yang tepat. Sejak saat itu Bapak Deni dan Bapak Jaka bersepakat untuk mendirikan usaha perikanan bersama yang bergerak diberbagai bidang usaha, yaitu budidaya air tawar, jasa pengiriman domestic, jasa pelatihan budidaya Ikan Air Tawar dan jasa penjualan obat-obatan serta peralatan perikanan. Bapak Deni dan Bapak Jaka meresmikan nama perusahaan dengan nama CV Dejee Fish di tahun yang sama. Nama CV Dejee Fish tercetus dari kata DJ atau disk jockey yakni seseorang yang bekerja untuk mengatur irama musik, seperti halnya harapan Bapak Deni dan Bapak Jaka terhadap perusahaan yang didirikan mampu mengatur perkembangan dan kemajuan perikanan air tawar di Indonesia. Kata DJ pun diambil dari inisial nama pemilik perusahaan, yaitu Deni dan Jaka. Bapak Deni mendaftarkan perusahaan ke Badan Pelayanan dan Perizinan Terpadu Kabupaten Sukabumi pada tahun 2008. CV Dejee Fish memiliki izin

tempat usaha dan terdaftar secara resmi yang dikeluarkan oleh Badan Pelayanan dan Perizinan Terpadu Kabupaten Sukabumi tahun 2011 dengan nomor 503.4/538/SITU.438-BPPT/2011. Surat izin tempat usaha CV Dejee Fish dapat dilihat pada Lampiran 7. Berbeda dengan izin tempat usaha, izin jenis usaha perseroan komanditer diperoleh tahun 2010 oleh notaris Ny. Elly Heryati, SH dengan nomor 67/2010. CV Dejee Fish mengalami perkembangan setiap tahunnya dan melahirkan unit usaha lainnya, yaitu Dejee Food (usaha pengolahan ikan), Dejee Fashion (usaha konveksi pakaian), Dejee Travel (usaha penjualan tiket pesawat) dan Dejee Car (usaha penyewaan mobil). Saat ini CV Dejee Fish telah memiliki 30 plasma yang tersebar di wilayah Sukabumi sebagai penunjang kelancaran usaha. 3.3 Visi dan Misi CV Dejee Fish CV Dejee Fish didirikan tidak hanya untuk memenuhi finansial saja, dalam pendiriannya perusahaan mempunyai visi dan misi yang jelas untuk membawa perusahaannya lebih maju. Visi Perusahaan: Menjadikan Dejee Fish sebagai perusahaan perikanan yang handal, tangguh dan berdaya saing untuk meningkatkan kesejahteraan bersama Misi Perusahaan: 1. Mengembangkan perikanan budidaya Indonesia. 2. Meningkatkan kapasitas kemampuan masyarakat dalam bidang budidaya perikanan air tawar. 3. Membangun usaha perikanan dengan sistem budidaya yang

mengedepankan aspek bisnis. 4. Menjalin kerjasama sinergitas antara perusahaan, masyarakat dan pemerintahan. 3.4 Struktur Organisasi CV Dejee Fish Struktur Organisasi CV Dejee Fish, penulis dapatkan dari dokumen perusahaan. CV Dejee Fish dipimpin oleh direktur utama yang sekaligus pemilik perusahaan tersebut. Direktur utama dalam mengelola perusahaan dibantu oleh seorang sekretaris dan bendahara. Direktur utama membawahi divisi logistik,

divisi transportasi, divisi marketing, divisi Manajemen Pengendali Mutu (MPM), divisi penelitian dan pengembangan (LITBANG), dan divisi pelatihan dan magang. Divisi MPM membawahi divisi budidaya seperti divisi Lele, divisi Nila, divisi Patin, divisi Gurami, divisi Ikan Hias, divisi Udang, divisi pemeliharaan Induk dan divisi Quality Control (QC) & Pengadaan. Struktur organisasi CV Dejee Fish dapat dilihat pada Gambar 1. STRUKTUR ORGANISASI CV DEJEE FISH Pembina Dirrektur

Wakil Direktur Sekretaris Administrasi Divisi-divisi Bendahara

Logistik

Transportasi

Marketing

MPM

LITBANG

Pelatihan & Magang

Divisi Gurami Divisi Lele Divisi Patin Divisi Nilai Gambar 1 Struktur Organisasi CV Dejee Fish

Divisi Ikan Hias Divisi Udang Pemeliharaan Induk QC & Pengadaan

Berdasarkan Gambar 1 tentang struktur organisasi di CV Dejee Fish, maka tugas dari masing-masing jabatan dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Pembina Pembina adalah orang yang bertugas membantu dan membina direktur dalam melaksanakan arahan dan pengawasan disetiap unit bisnis. Selain itu

pembina juga berpartisipasi dalam memberikan ide-ide atau opini dalam mencapai hasil kesepakatan serta mengambil keputusan strategis bersama direktur dan wakil direktur. 2. Direktur Direktur adalah orang yang bertugas memberikan arahan tugas dan tanggung jawab kepada karyawan sesuai jabatan dan bidangnya masing-masing, mengambil keputusan strategis bersama pembina dan wakil direktur, melakukan pengorganisasian dan pengendalian terhadap kinerja karyawan, melakukan evaluasi kegiatan dengan seluruh karyawan, serta memberikan reward dan punishment kepada karyawan. 3. Wakil Direktur Wakil direktur adalah orang yang bertugas membantu direktur dalam melakukan pengawasan kepada karyawan, dan berpartisipasi dalam memberikan ide-ide atau opini dalam mencapai hasil kesepakatan. 4. Sekretaris Sekretaris mempunyai tugas membuat laporan kondisi perusahaan dan proposal serta sertifikat pelatihan. 5. Bendahara Bendahara mempunyai tugas membuat laporan keuangan, mengatur keuangan perusahaan dan mencatat pengeluaran dan pemasukan keuangan perusahaan. 6. Administrasi Administrasi adalah orang yang membantu tugas sekretaris, adapun tugas administrasi diantaranya mencatat setiap transaksi penjualan yang terjadi dan melayani serta menangani pemesanan ikan. 7. Logistik Logistik mempunyai tugas menyiapkan peralatan panen, mengecek peralatan di gudang, memindahkan ikan yang telah dipanen dari kolam ke mobil angkut dan mengangkut ikan yang baru datang. 8. Transportasi Divisi transportasi mempunyai tugas mengirim pesanan ikan ke bandara dan memelihara kendaraan yang digunakan untuk mengangkut ikan.

9.

Marketing Divisi marketing mempunyai tugas melakukan pemasaran produk-produk

perusahaan baik itu melalui promosi langsung ke konsumen maupun melalui website dan brosur. 10. LITBANG Divisi penelitian dan pengembangan (LITBANG) mempunyai tugas merencanakan berbagai pengembangan perusahaan, melakukan inovasi teknik budidaya dan melakukan inovasi teknik packing. 11. Pelatihan dan Magang Pelatihan dan magang adalah orang yang bertugas membuat perencanaan pelatihan magang. 12. MPM Divisi manajemen pengendali mutu (MPM) mempunyai tugas menangani dan bertanggung jawab secara profesional terhadap kegiatan budidaya. Adapun yang berada di bawahnya antara lain: a. Divisi Ikan Lele Divisi ini bertugas merawat dan memelihara ikan lele dari mulai menguras kolam terpal ikan, memberi pakan dan vitamin, menyortir ikan yang sakit atau mati, melakukan pemijahan sampai melakukan packing jika ada pesanan. b. Divisi Ikan Nila Divisi ini bertugas merawat dan memelihara ikan nila dari mulai menyiapkan kolam pemijahan, memijahkan ikan, memberi pakan dan vitamin, menyortir ikan yang sakit atau mati, sampai melakukan packing jika ada pesanan. c. Divisi Ikan Patin Divisi ini bertugas merawat dan memelihara ikan patin dari mulai menguras akuarium benih ikan, memberi pakan dan vitamin, menyortir ikan yang sakit atau mati, sampai melakukan packing jika ada pesanan. d. Divisi Ikan Gurami Divisi ini bertugas merawat dan memelihara Ikan Gurami dari mulai menyiapkan kolam pemijahan, memijahkan, menguras akuarium benih ikan, memberi pakan dan vitamin, menyortir ikan yang sakit atau mati, sampai melakukan packing jika ada pesanan. dan magang, membuat kurikulum pelatihan dan magang, menyelengarakan pelatihan dan magang serta memandu peserta pelatihan dan

e.

Divisi Ikan Hias Divis ini bertugas merawat dan memelihara ikan hias dari mulai menguras

akuarium ikan hias, memberi pakan dan vitamin, menyortir ikan yang sakit atau mati, sampai melakukan packing jika ada pesanan. f. Divisi Ikan Udang Divisi ini bertugas menangani pemesanan udang dan menyiapkan fiber atau tempat packing untuk udang jika ada pemesanan. g. Pemeliharaan Induk Divisi pemeliharaan induk adalah orang yang bertugas memelihara calon induk agar tetap berkualitas dan memilih calon induk yang berkualitas. h. QC dan Pengadaan Divisi Quality Control (QC) dan pengadaan mempunyai tugas menyeleksi ukuran, jumlah dan kualitas ikan yang akan dikeluarkan perusahaan serta menyediakan dan mengatur ikan hasil panen untuk dipasarkan. 3.5 Sumberdaya CV Dejee Fish

3.5.1 Sumberdaya Manusia Sumberdaya manusia merupakan faktor terpenting yang dibutuhkan suatu perusahaan dalam menjalankan kegiatan usahanya. Jumlah sumberdaya manusia yang dipekerjakan berpengaruh pada produktivitas, kualitas produksi dan pendapatan perusahaan. Jumlah karyawan harus sesuai dengan yang dibutuhkan. Karyawan CV Dejee Fish terdiri atas karyawan harian dan karyawan bulanan. Sampai bulan Oktober 2012 perusahaan telah mempekerjakan 23 orang karyawan. Perusahaan merekrut karyawan dari daerah sekitar lokasi perusahaan dengan tujuan menjaga hubungan baik dengan warga sekitar dan membantu meningkatkan ekonomi masyarakat. Usia karyawan yang direkrut oleh perusahaan berkisar antara 16-50 tahun dengan tingkat pendidikan rata-rata SMP-SMA dan Diploma-Sarjana. Tingkat pendidikan SMP-SMA bekerja pada bagian produksi dan lapangan. Tingkat pendidikan D3 dan Sarjana bekerja pada bagian manajemen perusahaan. Perusahaan tidak melakukan langkah khusus dan syarat yang rumit dalam perekrutan karyawan, hanya dibutuhkan kejujuran dan kemauan untuk bekerja, karena teknik proses produksi dapat belajar secara otodidak.

CV Dejee Fish memiliki jumlah karyawan laki-laki 20 orang dan karyawan perempuan 3 orang. Usaha dibidang perikanan lebih banyak membutuhkan karyawan laki-laki disebabkan lebih banyak membutuhkan tenaga teknis atau tenaga angkut. Karyawan perempuan bekerja di kantor mengurus administrasi dan keuangan. Daftar nama karyawan CV Dejee Fish tercantum pada Lampiran 8. Jam kerja yang diberlakukan di perusahaan yaitu pukul 07.30-16.00 WIB untuk karyawan bagian kantor, sedangkan untuk karyawan bagian lapangan pukul 06.00-18.00 WIB. Khusus di hari Selasa dan Jumat semua karyawan bekerja sampai pukul 19.00, karena hari tersebut merupakan kegiatan rutin pengiriman ikan ke luar daerah. Hari Minggu merupakan hari libur perusahaan, khusus untuk karyawan lapangan hari libur menggunakan sistem shift. 3.5.2 Sumberdaya Modal CV Dejee Fish memperoleh modal awal dari Bapak Deni Rusmawan selaku pemilik perusahaan sebesar Rp 3.000.000. Modal mengalami penambahan setiap tahunnya yang berasal dari laba bersih usaha. Modal selain laba bersih CV Dejee Fish pun mendapat dana hibah CSR dari salah satu Bank. Investasi yang dilakukan pemilik perusahaan diperoleh dari perputaran modal usahanya, tanpa ada peminjaman ke Bank. 3.5.3 Sumberdaya Fisik Sumberdaya fisik merupakan aset perusahaan yang memiliki peranan penting dalam kelancaran usahanya. Sumberdaya fisik yang dimiliki meliputi: lahan budidaya, bangunan, sarana administrasi, sarana transportasi serta peralatan sebagai sarana produksi dengan kondisi sudah memadai. CV Dejee Fish memiliki lahan seluas 5.610 m2 yang dimanfaatkan untuk lahan budidaya dan villa. Luas lahan tersebut terdapat di wilayah Cibaraja dan Cipuntang Kecamatan Cisaat Kabupaten Sukabumi. Villa berfungsi sebagai aula dan penginapan para peserta pelatihan budidaya Ikan Air Tawar. Status kepemilikan lahan tersebut adalah milik sendiri. Bangunan yang dimiliki CV Dejee Fish seluas 120 m2, terdiri atas kantor, 2 ruangan hatchery, konveksi dan ruang olahan. Asrama merupakan

fasilitas bagi karyawan dan orang-orang yang melakukan pelatihan dan magang tersebar di berbagai tempat, yaitu kantor, hatchery Ikan Gurami, hatchery ikan patin konveksi dan ruang olahan. Status kepemilikan bangunan untuk hatchery, konveksi dan ruang olahan yaitu sewa. Sarana administrasi yang dimiliki CV Dejee Fish terdiri atas alat tulis kantor, 2 unit computer, printer, wireless terminal, projector dan perangkat telekomunikasi berupa telephone dan faximile. Sarana transportasi yang dimiliki CV Dejee Fish yaitu 2 unit mobil pick up yang menjadi penunjang kegiatan pemasaran dalam melakukan pengiriman barang ke pelanggan dan kegiatan operasional lainnya. Berbagai macam peralatan digunakan oleh perusahaan guna menunjang setiap proses budidaya, peralatan tersebut dimiliki atau dikuasai oleh perusahaan. Kepemilikkan peralatan diperoleh dari pengadaan modal sendiri. Pengadaan peralatan yang dibutuhkan selama usaha berjalan, dilakukan secara berkala setiap tahunnya sesuai dengan kondisi keuangan perusahaan. Peralatan diperoleh dengan membeli di toko-toko yang terdapat di sekitar perusahaan. 3.6 Keuangan CV Dejee Fish Kondisi keuangan CV Dejee Fish dapat dikatakan baik, karena setiap tahunnya sejak awal didirikan perusahaan hingga saat ini selalu mendapat keuntungan, meskipun pernah mengalami kerugian akan tetapi perusahaan dapat bangkit kembali sehingga masih berjalan dengan baik hingga saat ini. Penulis mendapatkan informasi kondisi keuangan perusahaan melalui wawancara dengan direktur CV Dejee Fish pada tanggal 27 September 2012. Keuangan perusahaan merupakan salah satu faktor yang harus diperhatikan, karena berhubungan dengan rencana alokasi biaya untuk seluruh kegiatan operasional perusahaan. Pengendalian keuangan dapat dilakukan dengan melakukan pencatatan keuangan secara sistematis yang dapat disajikan dalam bentuk laporan laba rugi serta arus kas (cash flow). CV Dejee Fish merupakan perusahaan yang bersifat profit oriented, maka dalam penyajian laporan keuangannya pun harus ditampilkan dalam analisis usaha yang dapat dipertanggungjawabkan. CV Dejee Fish selalu melakukan pencatatan secara terstruktur dengan menyajikannya dalam bentuk laporan laba rugi. Laporan laba rugi tersebut dibuat langsung dan hanya diketahui oleh pemilik perusahaan, sehingga penulis tidak mendapat data kondisi keuangan CV Dejee Fish.

IV. DESKRIPSI KEGIATAN AGRIBISNIS PERUSAHAAN

4.1

Subsistem Pengadaan Sarana Produksi CV Dejee Fish Pengadaan sarana produksi merupakan salah satu subsistem agribisnis

yang mencakup kegiatan mengidentifikasi input-input dan sarana yang dibutuhkan baik dari segi jenis, jumlah, mutu ataupun spesifikasinya (Said dan Intan, 2004). Sarana produksi yang berkesinambungan akan mempengaruhi kelancaran usaha yang dijalankan oleh perusahaan. Pengenalan penggunaan input di CV Dejee Fish penulis laksanakan pada hari pertama melaksanakan praktik lapang melalui wawancara dengan Bapak Obet selaku Kepala Bagian Logistik, selanjutnya kegiatan dilaksanakan setiap melaksanakan kegiatan budidaya. CV Dejee Fish mengelola sarana produksi baik dari segi jenis maupun jumlah berdasarkan kebutuhan. Sarana produksi yang terdapat pada CV Dejee Fish yaitu media budidaya, peralatan, induk, benih ikan, pakan dan obat-obatan. 4.1.1 Media Budidaya Media Budidaya yang digunakan perusahaan berupa akuarium, kolam terpal dan kolam tembok yang ada di Cibaraja, Sukabumi serta kolam tanah yang ada di Cipuntang, Sukabumi. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan dan persiapan media budidaya diantaranya sumber air, kualitas air, derajat keasaman dan suhu. Akuarium merupakan media budidaya yang digunakan untuk pembenihan Ikan Gurami dan Ikan Patin. Ruangan tertutup yang digunakan untuk pembenihan dinamakan hatchery. Suhu ruangan hatchery disesuaikan dengan kebutuhan dalam proses perawatan benih ikan, setiap ruang hatchery terdiri atas 30 Akuarium. Kolam terpal terdiri atas dua lokasi yaitu lokasi outdoor (ruangan terbuka) dan di lokasi indoor (ruangan tertutup). Kolam terpal digunakan untuk pemeliharaan induk Ikan Lele serta pembesaran Ikan Lele dan Ikan Patin. Kolam tembok digunakan untuk pemberokan, pembenihan Ikan Lele dan Ikan Patin, budidaya cacing Tubifex dan penampungan air sebelum diisi ke akuarium. Kebutuhan media budidaya ini diperoleh dengan membeli di toko-toko yang berada di sekitar perusahaan. Jenis Media budidaya yang digunakan CV Dejee

Fish dapat dilihat pada Lampiran 9, sedangkan jumlah media budidaya CV Dejee Fish dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2 Jumlah Media Budidaya CV Dejee Fish Tahun 2012 Jenis Akuarium Gurami Akuarium Patin Terpal Lokasi Cibaraja Cibaraja Cibaraja Ukuran (m2) 0,45 x 0,9 0,45 x 0,9 3x2 2x2 1x2 3x3 2x2 3x2 2x2 2x4 5x2 2x1,5 4x1 1,5x2 10x5 5x5 5x3 Julam (buah) 30 30 2 6 2 1 4 3 2 2 2 1 1 1 1 2 2

Tembok Bak Pemberokan Bak Tandon Bak Cacing Tubifex Kolam Tanah

Cibaraja Cibaraja Cibaraja Cibaraja Cipuntang

Sumber : CV Dejee Fish, 2012 4.1.2 Peralatan CV Dejee Fish dalam melakukan proses produksi membutuhkan peralatan untuk menunjang kegiatan budidaya air tawar tersebut. Peralatan biasanya memiliki masa pakai yang bervariasi, sehingga perawatan dan pengawasan terhadap peralatan yang digunakan selama kegiatan usaha dilakaukan, harus diperhatikan oleh perusahaan. Perawatan dan pengawasan tersebut dilakukan supaya kelancaran dalam proses produksi dapat terjaga dan meminimalkan keluarnya biaya investasi. Peralatan yang digunakan perusahaan selama proses produksi dapat dilihat pada Lampiran 10. 4.1.3 Induk Kualitas telur ikan dipengaruhi oleh kualitas induk, untuk menjaga kualitas induk maka dibutuhkan proses perawatan dan penyeleksian induk ikan. Hal yang

perlu diparhatikan dalam pemeliharaan induk ikan yaitu keadaan lingkungan, kondisi kolam, jenis kolam dan jumlah pakan yang diberikan. Induk yang baik dan berkualitas adalah induk yang memiliki sertifikat. Sertifikat induk ikan merupakan sumber informasi bagi pembudidaya untuk mengetahui asal-usul dari induk tersebut. Asal-usul induk perlu diketahui untuk mencegah terjadinya pemijahan dalam (inbreeding) yang akan menurunkan kualitas benih. Pengadaan induk Ikan Air Tawar CV Dejee Fish berasal dari Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi. Gambar induk Ikan Patin dan Ikan Lele dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2 Induk Ikan Patin dan Ikan Lele 4.1.4 Benih Ikan CV Dejee Fish memperoleh benih ikan dengan melakukan pembenihan sendiri, membeli kepada pembudidaya ikan yang menjadi mitra, dan benih dari Balai Besar Pembenihan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi pada jenis ikan terterntu. Pembenihan sendiri dilakukan dengan pemijahan alami, semibuatan dan buatan disesuaikan dengan jenis ikannya. Benih Ikan Nila GESIT dan Lele Sangkuriang berasal dari BBPBAT. CV Dejee Fish telah memiliki sertifikat Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB) sehingga benih yang dihasilkan kualitasnya telah terjamin. Sertifikat CPIB CV Dejee Fish dapat dilihat pada Lampiran 11. 4.1.5 Pakan Pakan berfungsi sebagai penyedia energi bagi aktivitas sel-sel tubuh. Karbohidrat, lemak dan protein dalam pakan berfungsi sebagai sumber energi bagi tubuh. Protein, mineral dan air merupakan bahan baku utama pembentukan sel-sel dan jaringan tubuh. Protein, mineral dan vitamin berfungsi dalam pengaturan suhu

tubuh, keseimbangan asam-basa, tekanan osmotik cairan tubuh serta proses metabolisme dalam tubuh (Saparinto, 2011). CV Dejee Fish menggunakan pakan alami dan pakan buatan. Pakan buatan atau pelet yang digunakan merupakan pelet dengan merek PT Sinta Prima dengan berbagai ukuran, yakni serbuk, 781-2 dan 781-3. Pembelian pelet dilakukan dengan sistem langganan disebabkan letak penjual pakan yang berdekatan jaraknya dengan perusahaan. Pembelian pelet dilakukan jika persediaan sudah habis. Pakan alami adalah makanan yang tersedia di alam dan manusia tidak dapat membuatnya. Pakan alami yang digunakan di CV Dejee Fish berupa daun talas, Artemia, cacing Tubifex dan Daphnia sp. Pakan berupa daun talas diperoleh dengan dibudidayakan di sekitar kolam supaya kebutuhan nutrisi ikan tetap terjaga. Daphnia sp dan Artemia diperoleh dengan membeli di toko-toko yang menjual kebutuhan perikanan di daerah sekitar perusahaan, sedangkan cacing Tubifex diperoleh dengan membeli ke pembudidaya cacing Tubifex di Kabupaten Cianjur dengan harga Rp 10.000 per liter. Perubahan ukuran pada ikan mempengaruhi adanya perubahan makanan pada ikan. Menurut Effendi dan Oktariza (2006) refleksi perubahan makanan ikan pada waktu kecil sebagai pemakan plankton dan bila dewasa mengikuti kebiasaan induknya dapat terlihat dari sisiknya. Pemberian pakan pada ikan disesuaikan dengan ukuran mulutnya. Ukuran ikan kurang dari 3 gram menggunakan pakan ukuran serbuk, 3-40 gram/ekor menggunakan 781-2 dan lebih dari 40 gram/ekor menggunakan 781-3. Berbagai jenis pakan yang digunakan CV Dejee Fish dapat dilihat pada Gambar 3.

(a)

(b)

(c)

Gambar 3 Jenis-Jenis Pakan yang Digunakan CV Dejee Fish (a) Pelet Ukuran Kecil (b) Pelet Ukuran Besar (c) Cacing Tubifex

4.1.6

Obat-obatan Obat-obatan sangat dibutuhkan ketika ikan terserang penyakit sehingga

dapat segera diatasi dan penyakit tidak menyebar ke ikan lain yang belum terkena penyakit. Obat-obatan yang digunakan oleh CV Dejee Fish antara lain Methyliene blue, Kalium permanganat (KMnO4) atau yang sering dikenal dengan PK dan garam dapur (NaCl). Methyliene blue digunakan untuk memperkuat daya tahan telur hasil pemijahan maupun anakan yang baru menetas dari serangan jamur maupun virus-virus yang biasa menyerang telur dan benih ikan yang baru menetas. Kalium permanganat (KMnO4) digunakan untuk menutup bagian tubuh ikan yang terluka sehingga diharapkan jamur tidak dapat tumbuh disekitar luka yang ada. NaCl berfungsi untuk mengobati penyakit cacing insang dan cacing kulit. Obat-obatan ini didapat dengan membeli di toko-toko yang menjual kebutuhan perikanan di daerah Cibaraja, Sukabumi. CV Dejee Fish dalam proses budidayanya tidak jarang menggunakan antibiotik alami untuk kebutuhan obatobatannya. Antibiotik alami dibuat dari bahan-bahan yang alami yakni kuning telur, bawang putih dan mengkudu yang dihaluskan kemudian dicampurkan pada pelet. Penulis mengikuti kegiatan pembuatan alami sebanyak tiga kali. Obatobatan yang digunakan CV Dejee Fish dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4 Obat Obatan yang Digunakan CV Dejee Fish 4.2 Subsistem Budidaya di CV Dejee Fish Proses Budidaya merupakan subsistem agribisnis yang sangat menentukan keberhasilan usaha dan membutuhkan biaya paling besar. Kegiatan produksi merupakan proses transformasi masukan menjadi suatu keluaran. Kegiatan produksi adalah melaksanakan rencana produksi yang telah dibuat dan merupakan kegiatan yang mempunyai masa yang cukup lama serta terkait dengan bagaimana

mengelola proses produksi berdasarkan masukan, baik yang langsung maupun tidak langsung untuk menghasilkan produk (Said dan Intan, 2004). CV Dejee Fish memasarkan berbagai jenis Ikan Air Tawar dengan berbagai ukuran kepada konsumen, akan tetapi dalam budidayanya hanya beberapa jenis ikan saja. Penulis hanya mengikuti kegiatan produksi Ikan Gurami, Ikan Patin dan Ikan Lele karena budidaya ketiga jenis ikan tersebut dilaksanakan di Cibaraja, Sukabumi dan kegiatan praktik lapang paling banyak di Cibaraja, Sukabumi, hanya dua kali saja penulis mengikuti kegiatan budidaya di Cipuntang, Sukabumi. Kegiatan usaha budidaya perikanan secara umum terdiri atas pembenihan, pendederan dan pembesaran. Setiap kegiatan usaha budidaya tersebut memiliki segmentasi usaha sesuai dengan bentuk dan ukurannya. Segmentasi kegiatan usaha pembenihan terdiri atas pemijahan/peneluran dan penetasan/pembenihan (Saparinto, 2011). Kegiatan pada subsistem budidaya di CV Dejee Fish dilakukan setiap hari selama penulis melaksanakan praktik lapang, meliputi pembenihan, pendederan dan pembesaran. 4.2.1 Pembenihan Ikan Kegiatan pembenihan ikan merupakan kegiatan usaha yang bertujuan menghasilkan benih ikan. Benih ikan yang dihasilkan tersebut akan menjadi input bagi kegiatan usaha pendederan dan pembesaran. Berdasarkan kegiatan praktik lapang yang telah dilakukan penulis, dalam pembenihan Ikan Air Tawar memiliki tujuh tahapan. Tahapan pembenihan Ikan Air Tawar tersebut terdiri atas persiapan induk, seleksi induk ikan, pemberokan (karantina), persiapan kolam pemijahan, pemijahan, penetasan telur dan pemeliharaan larva. Persiapan induk merupakan proses pemisahan dan pemeliharan calon induk ikan dalam kolam induk. Faktor yang harus diperhatikan dalam pemeliharaan induk yaitu perawatan dan perbaikan media budidaya, penebaran induk dan pemberian pakan (Saparinto, 2011). CV Dejee Fish memelihara Induk Gurami, Nila, Mas, Baung, Patin, dan Lele. Pemeliharaan Induk Gurami, Mas, Nila, Patin dan Baung dilakukan di kolam tanah, sedang Ikan Lele dipelihara di kolam terpal.

Pemeliharaan induk dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan memisahkan dan menggabungkan induk jantan dan betina (Saparinto, 2011). CV Dejee fish melakukan pemeliharaan induk dengan cara memisahkan induk jantan dan betina. Pemisahan induk jantan dan betina dilakukan untuk menghindari terjadinya pemijahan liar. Seleksi induk merupakan proses menentukan induk yang telah matang gonad (siap untuk melakukan pemijahan). Penentuan induk yang telah matang gonad setiap jenis ikan memiliki cara yang berbeda-beda. Induk Gurami dan Lele dapat diketahui dari tampilan fisiknya, Induk Nila dan Mas dengan cara mengurut bagian tubuhnya, sedangkan Ikan Patin dengan cara memasukkan selang kecil ke dalam tubuhnya dan menyedotnya sehingga keluar cairan dalam tubuh. Pemberokan atau karantina induk merupakan proses pemuasaan induk ikan yang dilakukan setelah dilakukan seleksi induk dan sebelum induk dipijahkan selama 1-2 hari. Pemberokan dilakukan dengan tujuan membuang kotoran,

mengurangi kandungan dalam gonad dan meyakinkan hasil seleksi induk betina (Mahyuddin, 2008). Selama kegiatan praktik lapang di CV Dejee Fish, penulis melakukan pemberokan terhadap Ikan Patin dan Ikan Lele. Pemberokan terhadap Ikan Patin dan Ikan Lele dilakukan di kolam pemberokan. Setelah dilakukan tahap pemberokan selama 1-2 hari, tahap berikutnya adalah persiapan kolam pemijahan. Persiapan kolam pemijahan dilakukan dengan cara membersihkan, mengeringkan dan mengisi air kolam. Kolam pemijahan setiap jenis ikan berbeda-beda ada yang dilakukan di kolam tembok dan ada yang dilakukan di kolam tanah. Pemijahan yang dilakukan penulis yaitu pemijahan Ikan Lele dan Ikan Patin yang dilakukan pada kolam tembok. Kolam pemjahan untuk Ikan Lele dilengkapi dengan kakaban sebagai tempat menempelkan telur, sedangkan kolam pemijahan Ikan Gurami dilengkapi sarang sebagai tempat penyimpanan telur. Tahap selanjutnya yang dilakukan yaitu proses pemijahan. Proses pemijahan setiap jenis ikan berbeda-beda. Pemijahan pada Ikan Lele dilakukan dengan tiga cara yaitu pemijahan alami, pemijahan semi buatan dan pemijahan buatan. Pemijahan pada Ikan Patin dilakukan dengan dua cara, yaitu pemijahan alami dan pemijahan buatan. Pemijahan pada Ikan Gurami hanya dapat dilakukan

dengan cara pemijahan alami sehingga benih Ikan Gurami lebih sulit diperoleh dibandingkan dengan benih Ikan Lele dan Ikan Patin. Proses pemijahan yang dilakukan penulis selama praktik lapang di CV Dejee Fish diantaranya pemijahan Ikan Lele dengan cara semi buatan dan buatan serta pemijahan Ikan Patin dengan cara buatan. Teknik pemijahan yang dipakai perusahaan yaitu pemijahan alami, akan tetapi perusahaan melakukan teknik semi buatan dan buatan pada saat pelatihan. Berdasarkan informasi yang didapatkan dari karyawan proses pemijahan secara alami adalah pemijahan yang dilakukan pada induk tanpa pemberian hormon perangsang sehingga pengeluran sel sperma dan sel telur dilakukan dan dibuahi secara alami. Induk Ikan Lele biasanya akan memijah pada malam hari menjelang pagi hari. Teknik pemijahan Ikan Lele secara semi buatan dan buatan dilaksanakan ketika ada pelatihan Ikan Lele dari Bogor pada tanggal 29 Agustus 2012. Proses pemijahan dengan teknik semi buatan diantarannya induk yang sudah diseleksi kemudian ditimbang untuk mendapatkan dosis penyuntikkan hormon ovaprim dan larutan NaCl. Dosis untuk induk betina adalah 0,3 ml/kg induk hormon ovaprim dan 0,2 ml/kg induk NaCl 0,9%, sedangkan dosis untuk induk jantan adalah setengah dari dosis induk betina. Dosis yang telah didapatkan, kemudian disuntikkan pada induk jantan dan induk betina, selanjutnya induk Ikan Lele dimasukkan ke kolam pemijahan. Setelah 10-12 jam, induk lele diperiksa jika di kakaban terdapat telur berarti Ikan Lele sudah memijah. Langkah terakhir kakaban diangkat dari kolam pemijahan ke kolam penetasan. Pemijahan buatan Ikan Lele dilakukan dengan menyuntikan hormon ovaprim dan larutan NaCl 0,9% kepada induk betina saja. Induk betina yang sudah disuntik lalu dikarantina selama 10-12 jam di kolam yang berbeda dengan induk jantannya. Keesokan harinya dilakukan proses stripping (pengurutan) pada induk betina untuk mengeluarkan telur induk Ikan Lele. Sperma dari induk jantan diambil sebelum dilakukan striping. Pengambilan sperma dilakukan dengan cara dimatikan terlebih dahulu induk jantannya, kemudian sperma diencerkan dengan larutan NaCl 0,9%. Proses selanjutnya dilakukan pencampuran telur induk betina yang sudah di striping dengan larutan sperma. Telur dan larutan sperma yang

sudah dicampurkan kemudian diaduk (fertilisasi) dan disebar di kolam penetasan dengan menggunakan hapa. Proses pemijahan Ikan Patin dengan teknik buatan dilakukan pada tanggal 6-7 Oktober 2012 pada saat pelatihan Ikan Patin dari Kalimantan. Proses pemijahan secara buatan dilakukan dengan cara penyuntikkan pada induk jantan dan induk betina dengan perbandingan satu induk betina dan dua induk jantan per kolam. Penyuntikkan dilakukan dengan menggunakan jarum sutik yang telah disterilisasi. Penyuntikkan Ikan Patin dilakukan sebanyak dua kali selama dua hari berturut-turut. Penyuntikkan tahap pertama menggunakan hormon HCG (Hormon chorionic gonadotropin) dengan dosis 0,5 ml per kg induk betina. Penyuntikkan ini bertujuan mempercepat tingkat kematangan gonad, sedangkan untuk penyuntikkan tahap kedua menggunakan hormon ovaprim dengan dosis 0,6 ml/kg induk betina. Striping pada induk jantan dan betina dilakukan dua belas jam setelah proses penyuntikkan kedua. Hal yang harus diperhatikan sebelum dilakukan striping telur adalah kebersihan Ikan Patin dari kotoran dan urin. Pembersihan tubuh ikan sebelum striping dilakukan supaya telur yang dihasilkan tidak tercemar. Pengurutan telur dilakukan dari perut ke arah lubang genital induk ikan. Selain pengurutan telur dari induk betina, dilakukuan juga pengurutan sperma dari induk jantan. Telur dan sperma induk yang telah dihasilkan dicampurkan pada wadah, kemudian diaduk hingga rata dengan menggunakan bulu ayam selama kurang lebih tiga menit setiap 100 ml kelompok sel telur dapat dicampur dengan 5 ml sperma. Campuran telur dan sperma yang telah diaduk rata kemudian ditebar di akuarium yang telah disiapkan sebelumnya. Proses pemijahan Ikan Patin dan Ikan Lele dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5 Proses Pemijahan Ikan Patin dan Ikan Lele

Media penetasan telur setiap jenis ikan berbeda-beda. Penetasan Ikan Lele dilakukan pada media tembok seluas 2x4 m2 dengan menggunakan hapa, sedangkan penetasan Ikan Patin dilakukan di akuarium yang berukuran 45x90 cm2. Keberhasilan dalam penetasan telur dipengaruhi oleh proses pemijahan, sehingga pemijahan dilakukan oleh karyawan yang memiliki keahlian. Telur yang sudah ditebar dan menetas menjadi larva, tahap selanjutnya dilakukan pemeliharaan larva. Pemeliharaan larva untuk Ikan Air Tawar pada dasarnya sama, yaitu pengontrolan kondisi air dan pemberian nutrisi, hanya saja yang membedakan cara pengontrolan dan jenis pemberian nutrisi setiap jenis ikan. Larva lele diberikan nutrisi pada hari ke-4 setelah penetasan, sebab selama 3 hari larva masih memiliki cadangan makanan pada tubuhnya. Nutrisi yang diberikan pada larva lele berupa kuning telur yang sudah direbus selama 7 hari. Larva Patin mulai makan paling cepat pada jam ke-36 setelah menetas. Larva diberikan pakan berupa Artemia yang telah dibudidayakan sebelumnya selama tiga hari. Artemia diberikan setiap dua jam sekali sebanyak tiga sendok makan per 30 akuarium. Hari berikutnya larva Patin diberikan nutrisi berupa cacing Tubifex yang telah dicincang halus selama 15 hari. Larva gurami diberikan nutrisi setelah 7 hari dari penetasan berupa cacing Tubifex selama 30 hari. Benih yang dihasilkan dari kegiatan pembenihan menjadi input bagi kegiatan pembesaran. Benih yang dihasilkan adakalanya masih terlalu kecil untuk ditebarkan di kolam pembesaran, sehingga benih dipelihara kembali dalam kegiatan pendederan hingga siap ditebar di kolam pembasaran (Saparinto,2011). 4.2.2 Pendederan Kegiatan pendederan yang dilakukan di perusahaan biasanya hanya sampai pendederan pertama. Media pendederan bisa dilakukan di kolam terpal, kolam tembok, kolam tanah bahkan akuarium. Media pendederan yang digunakan perusahaan untuk Ikan Lele dilakukan di kolam terpal, sedangkan untuk Ikan Gurami pendederan I dilakukan di akuarium dan pendederan selanjutnya dilakukan di kolam tanah. Pendederan Ikan Lele dilakukan setelah 3 minggu dari penetasan. Pendederan Ikan Patin setelah 30 hari dari penetasan sedangkan pendederan Ikan Gurami dilakukan setelah 10 hari dari penetasan. Kegiatan

pendederan yang diikuti penulis, yaitu pendederan Ikan Gurami disebabkan pada Ikan Lele dan Patin permintaan pasar cukup tinggi dalam ukuran 5-7 hari untuk lele dan 15-25 hari untuk Patin. 4.2.3 Pembesaran Pembesaran merupakan usaha budidaya yang paling akhir dilakukan, yakni kegiatan pemeliharaan yang bertujuan untuk menghasilkan ikan ukuran konsumsi. CV Dejee Fish tidak menekankan kegiatan usahanya pada pembesaran, biasanya pada ukuran benih pun ikan sudah dijual. Sebagian ikan ada yang dibesarkan di kolam terpal yaitu Ikan Lele dan Ikan Patin, dengan tujuan memanfaatkan lahan yang ada, sebagai bukti bahwa perusahaan tidak sekedar bisa memasarkan akan tetapi mampu melakukan budidaya serta sebagai display kepada pengunjung baik yang hanya melihat-lihat saja maupun yang pelatihan. Selain pembesaran Ikan Lele dan Ikan Patin, CV Dejee Fish pun melakukan budidaya pembesaran Ikan Baung dan Nila pada kolam tanah di wilayah Cipuntang, Sukabumi. Menurut Effendi dan Oktariza (2006) proses produksi budidaya pembesaran meliputi kegiatan penyiapan wadah pemeliharaan, penebaran pemanenan. benih, Setiap pemberian komponen pakan, pengelolaan dalam air, proses pencegahan produksi dan akan pemberantasan hama dan penyakit, pemantauan pertumbuhan dan populasi, serta kegiatan mempengaruhi hasil saat pemanenan, sehingga untuk mendapatkan hasil yang optimal diperlukan manajemen produksi yang baik. Manajemen produksi pembesaran meliputi manajemen kolam, benih, pemberian pakan, kualitas air, kesehatan ikan, sampling dan manajemen panen. Persiapan wadah atau media budidaya setiap jenis ikan berbeda-beda, tergantung jenis kolam yang akan digunakan. Perusahaan menggunakan kolam terpal untuk pembesaran Ikan Lele dan Ikan Patin sedangkan untuk Ikan Gurami, Nila, Mas dan Baung menggunakan kolam tanah. Kegiatan persiapan media budidaya yang diikuti penulis yaitu persiapan kolam terpal. Peralatan dan bahan untuk membuat kolam terpal dipersiapkan secara lengkap. Peralatan yang dibutuhkan, yaitu linggis, palu, staples besar, mesin air dan selang, sedangkan bahan yang dibutuhkan adalah terpal, bambu, kayu, isi staples dan paku. Setelah kolam dibuat, kemudian air diisi air dengan volume setengah dari volume kolam.

Penebaran benih dilakukan setelah kegiatan persiapan wadah pemelihaan selesai. Benih yang ditebar dikelola secara benar, mencakup jenis (spesies/komoditas yang diusahakan), ukuran, asal dan padat penebaran (Effendi dan Oktariza, 2006). Kegiatan penebaran benih yang dilakukan pada proses produksi pembesaran ikan hanya pada Ikan Lele saja. Benih Ikan Lele yang sudah disiapkan ditebar ke kolam pembesaran dengan padat tebar yang disesuaikan. Pemberian pakan dilakukan selama proses produksi pembesaran berlangsung yang bertujuan memacu pertumbuhan ikan. Pakan diberikan 3 kali dalam sehari yaitu pagi, siang dan sore. Perusahaan menggunakan jenis pakan yang sama untuk Ikan Lele, Patin dan Baung, yaitu menggunakan pelet. Pemberian pakan dilakukan dengan dua cara, yaitu berdasarkan persentase 3-5% bobot ikan, dan dengan cara adlibitum (pemberian pakan secara tidak terbatas, yakni sampai ikan sudah tidak ingin memakan pakan tersebut). Perusahaan menggunakan teknik pemberian pakan secara adlibitum. Kegiatan pemberian pakan dapat dilihat pada Gambar 6.

Gambar 6 Kegiatan Pemberian Pakan Pengelolaan air dilakukan selama pemeliharaan untuk menciptakan lingkungan media pemeliharaan ikan tetap optimal sehingga ikan selalu memiliki nafsu makan yang tinggi. Pencegahan dan pemberantasan hama dan penyakit dilakukan beberapa kali selama masa pemeliharaan ikan (Effendi dan Oktariza, 2006). Pencegahan hama dan penyakit yang dilakukan perusahaan, yaitu dengan pembuatan antibiotik alami. Berdasarkan kegiatan yang diikuti penulis dan wawancara dengan karyawan antibiotik alami dibuat dari kuning telur, bawang putih dan mengkudu yang dihaluskan, kemudian dicampurkan ke pakan yang akan diberikan pada ikan. Pakan yang sudah dicampurkan dengan antibiotik, kemudian diangin-anginkan untuk mencegah terjadinya kerusakan. Kegiatan produksi budidaya pembesaran terakhir adalah pemanenan. Waktu pemanenan disesuaikan pada jenis Ikan Air Tawar tersebut. Kegiatan

pemanenan yang dilakukan penulis selama kegiatan praktik lapang, yaitu pemanenan Ikan Lele. Pemanenan Ikan Lele dilakukan dengan cara menyurutkan air kolam seluruhnya kemudian ikan diambil menggunakan lamit. 4.3 Subsistem Pengolahan Hasil Perikanan (Agroindustri) Pengolahan hasil perikanan bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah produk perikanan yang diproduksi oleh kegiatan on farm, akuakultur dan perikanan tangkap. Ikan yang dihasilkan oleh akuakultur dan perikanan tangkap menjadi input usaha pengolahan perikanan. Nilai tambah produk perikanan yang terjadi bisa dilihat dari harga produk pengolahan perikanan yang bisa mencapai 2100 kali dari harga produk segar on farm (perikanan tangkap atau akuakultur), bergantung kepada bentuk pengolahan yang dilakukan (Effendi dan Oktariza, 2006). Kegiatan usaha pengolahan hasil perikanan air tawar CV Dejee Fish memiliki nama usaha Dejee Food dan telah memiliki Perizinan Industri Rumah Tangga (P-IRT) dengan nomor 202320201680. P-IRT Dejee Food dapat dilihat pada Lampiran 12. Jenis ikan yang diolah, yakni Ikan Lele dan Ikan Nila kecil (baby fish). Pengolahan yang telah dibuat adalah abon ikan, nugget ikan, bakso ikan, dendeng ikan, kerupuk kulit ikan, kaki naga/fishtick dan baby fish. Produk olahan ikan Dejee Food dapat dilihat pada Gambar 7.

Gambar 7 Produk Olahan Ikan Dejee Food (Abon, Nugget, Bakso, Dendeng, Kerupuk Kulit, Kaki Naga dan Baby Fish) Kegiatan pengolahan hasil perikanan dilakukan sesuai pesanan dan ketika ada acara bazar, sebagai display bagi pengunjung. Dejee food didirikan dengan tujuan pemanfaatan bahan baku yang ada, karena terkadang Ikan Lele yang sudah

melewati ukuran konsumsi sudah tidak diminati lagi oleh konsumen terkecuali untuk Induk. Melihat kondisi ini, perusahaan tertarik untuk melakukan kegiatan pengolahan untuk memberikan nilai tambah terhadap ikan. Pengolahan yang dilakukan oleh CV Dejee Fish tidak menggunakan bahan pengawet buatan sehingga aman untuk dikonsumsi dan menjadi solusi makanan sehat bagi masyarakat. Selain itu, olahan ikan ini dilakukan untuk mendekatkan produk perikanan kepada konsumen sehingga konsumen yang tidak suka terhadap produk ikan menjadi menyukainya. Selama kegiatan praktik lapang berjalan, penulis mendapat kesempatan untuk mengikuti kegiatan pengolahan hasil perikanan. Pengolahan yang telah dilakukan penulis selama kegiatan praktik lapang berjalan yaitu pembuatan nugget ikan, abon ikan dan baby fish. Kelancaran kegiatan pengolahan dipengaruhi oleh sarana dan prasarana. Prasarana yang dibutuhkan dalam pengolahan adalah ruang olahan yang terpisah dengan ruang budidaya, sehingga produk olahan tidak tercemar. Sarana yang dibutuhkan dalam pengolahan, yaitu bahan baku dan peralatan. Bahan baku setiap produk olahan berbeda-beda sesuai yang dibutuhkan, namun bahan baku utama adalah Ikan Lele dan Ikan Nila untuk olahan baby fish. Bahan baku lainnya seperti tepung, bumbu masakan, minyak, tepung panir dan sebagainya diperoleh di warung atau mini market di dekat perusahaan. Peralatan yang digunakan Dejee Food dapat dilihat pada Lampiran 13. 4.4 Subsistem Pemasaran Pemasaran adalah suatu proses atau kegiatan menyalurkan produk dari produsen ke konsumen sehingga menjadi jembatan antara produsen dengan konsumen (Effendi dan Oktariza, 2006). Pemasaran agribisnis dapat didefinisikan sebagai sejumlah kegiatan bisnis yang ditujukan untuk memberi kepuasan dari barang atau jasa yang dipertukarkan kepada konsumen atau pemakai dalam bidang agribisnis (Said dan Intan, 2004). Subsistem pemasaran merupakan komponen paling penting dalam agribisnis perikanan yang menjadi penopang untuk seluruh subsistem lainnya dalam sistem agribisnis. Jenis kegiatan pemasaran cukup banyak, tetapi umumnya mencakup pengumpulan informasi pasar, sortasi dan grading, pengangkutan,

pengumpulan dan penyimpanan, penjualan dan penyajian serta promosi produk agribisnis perikanan (Effendi dan Oktariza, 2006). Kegiatan pemasaran yang dilakukan CV Dejee Fish, yaitu pengumpulan informasi pasar, sortasi dan grading, pengangkutan, penjualan dan promosi. Menurut Effendi dan Oktariza (2006) pengumpulan informasi pasar dilakukan untuk mengetahui tipe produk (ikan hidup, ikan segar dan ikan olahan), ukuran, jumlah, harga, waktu, mekanisme distribusi dan pelayanan yang dikehendaki oleh konsumen terhadap produk. Sortasi adalah proses memilih dan memisahkan individu dari suatu populasi ikan berdasarkan kriteria/performa tertentu. Grading adalah kegiatan menggolong-golongkan ikan ke dalam kriteria (umumnya adalah ukuran atau size) tertentu (Effendi dan Oktariza, 2006) Sortasi dan grading CV Dejee Fish dilakukan sebelum proses pengangkutan ke tempat tujuan setiap hari Selasa dan Jumat. Pemesanan ikan CV Dejee Fish sangat beragam baik dari segi jenis, ukuran dan jumlah, untuk memudahkan proses penjualan maka dilakukan sortasi dan grading. Grading setiap jenis ikan berbeda-beda, untuk Ikan Gurami, Ikan Lele, Ikan Nila dan Ikan Mas menggunakan grading dalam satuan cm, sedangkan Ikan Lele dan Ikan Baung menggunakan satuan inci. Prinsip pengangkutan produk perikanan adalah menyampaikan produk kepada konsumen secara efisien dan menguntungkan. Kegiatan pengangkutan dalam pemasaran produk agribisnis perikanan bergantung kepada tipe produk perikanan yaitu ikan hidup, ikan segar dan ikan olahan. Pengangkutan ikan hidup adalah proses mengangkut ikan hingga sampai ke konsumen dalam keadaan hidup dan sehat, sehingga dibutuhkan kondisi yang sama seperti habitat hidupnya. Pengangkutan ini dilakukan secara tertutup, terbuka dan kering (Effendi dan Oktariza, 2006). Pengangkutan yang dilakukan CV Dejee Fish meliputi pengangkutan tertutup dan terbuka. Pengangkutan tertutup merupakan teknik pengangkutan pada media yang tidak bersinggungan langsung dengan udara sehingga dibutuhkan wadah yang bisa ditutup rapat antara lain tangki atau plastik. Media pengangkutan tertutup yang digunakan CV Dejee Fish, yaitu kantong plastik. Teknik pengangkutan tertutup merupakan teknik pengangkutan yang lebih sering digunakan untuk semua jenis ikan dalam ukuran benih. Pengangkutan tertutup dilaksanakan penulis setiah hari Selasa dan hari Jumat selama praktik lapang.

Pengangkutan terbuka merupakan pengangkutan yang menggunakan wadah atau tempat terbuka, sehingga air media dapat berhubungan langsung dengan udara. Pengangkutan dengan sistem terbuka digunakan untuk mengangkut ikan dengan jarak yang relatif dekat, seperti ke rumah makan yang ada disekitar Sukabumi. Wadah angkut yang digunakan berupa drum atau jirigen plastik baik dilengkapi aerasi maupun tidak. Sistem ini baik dilakukan untuk pengangkutan induk ikan atau ikan konsumsi hidup yang mempunyai duri sirip keras dan labirin seperti Ikan Gurami. Pengemasan dengan sistem terbuka ini dilakukan penulis sebanyak 3 kali yaitu pengangkutan ke restoran Wisata Berburu, pelanggan dan dari Mitra ke Perusahaan. Kelancaran kegiatan pemasaran dipengaruhi oleh strategi yang digunakan oleh perusahaan. Strategi pemasaran yang dilakukan CV Dejee Fish, yaitu 4P (product, price, place dan promotion). Menurut Umar (2003) bauran pemasaran terdiri atas empat komponen yaitu produk (product), harga (price), saluran distribusi (place) dan promosi (promotion). Produk adalah sesuatu yang dapat ditawarkan ke pasar untuk mendapat perhatian, untuk dibeli, digunakan atau dikonsumsi yang dapat memenuhi suatu keinginan atau kebutuhan (Umar, 2003). Produk yang ditawarkan CV Dejee Fish, yaitu semua jenis Ikan Air Tawar dengan berbagai ukuran (dari telur sampai induk), pelatihan dengan nama Pusat Pelatihan Masyarakat Perikanan (P2MKP) dan olahan ikan. Produk yang ditawarkan CV Dejee Fish memiliki beberapa keunggulan. Keunggulan dari produk Ikan Air Tawar berbagai ukuran diantaranya: memiliki Surat Keterangan Asal (SKA), memiliki sertifikat Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB) dan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB), ikan yang dijual dalam kondisi sehat dan dengan jumlah serta ukuran yang tepat. Keunggulan yang dimiliki pelatihan di CV Dejee Fish diantaranya: memiliki izin penyelenggaraan latihan, pelatih memiliki keterampilan dalam penguasaan teori dan praktik, paket pelatihan beragam dari segi fasilitas, jenis ikan dan harga serta yang paling penting peserta pelatihan diberikan pembekalan teori dan praktik. Keunggulan yang dimiliki olahan ikan Dejee Food diantaranya: memiliki surat Perizinan-Industri Rumah Tangga (P-IRT), produk tidak menggunakan bahan pengawet buatan dan memiliki logo, desain dan merek. Harga adalah sejumlah nilai yang ditukarkan konsumen dengan manfaat dari memiliki atau menggunakan produk atau jasa yang nilainya ditetapkan oleh pembeli dan penjual melalui tawar menawar, atau diterapkan oleh penjual untuk

satu harga yang sama terhadap semua pembeli (Umar, 2003). Harga pemasaran berbeda-beda tergantung jenis, ukuran dan jumlah pembelian. Perusahaan menetapkan patokan harga dengan mengikuti harga pasar yang sedang berlaku. Daftar harga Ikan Air Tawar di CV Dejee Fish dapat dilihat pada Lampiran 14. Biaya pelatihan (P2MKP) dapat dilihat pada Lampiran 15. Daftar harga olahan ikan dapat dilihat pada Lampiran 16. Cara pembayaran dilakukan dengan dua cara yaitu membayar langsung (cash) dan transfer melalui Bank Mandiri, BCA, BRI dan BNI. Harga yang ditetapkan perusahaan belum termasuk biaya transportasi, jika produk dikirim ke pembeli. Harga pembelian langsung dan dikirim akan berbeda disebabkan adanya pembayaran transportasi. Biaya transportasi pun akan berbeda tergantung jarak dan jalur yang ditempuh untuk pengiriman. CV Dejee Fish melakukan pengiriman ikan dengan dua jalur pengiriman yaitu malalui jalur darat dan udara. Kegiatan pengiriman melalui jalur darat menggunakan mobil bak terbuka, sedangkan untuk jalur udara menggunakan pesawat melalui cargo. Saluran distribusi yaitu sekelompok organisasi yang saling tergantung dalam keterlibatan mereka pada proses yang memungkinkan suatu produk atau jasa tersedia bagi penggunaan atau konsumi oleh konsumen atau pengguna industrial. Saluran distribusi membentuk tingkatan saluran untuk menentukan panjangnya saluran distribusi (Umar, 2003). Tingkatan saluran distribusi di CV Dejee Fish hanya sampai saluran tingkat 2. Saluran distribusi produk CV Dejee Fish dapat dilihat pada Gambar 8.
2 1

Pedagang besar
0

Pengecer

CV Dejeefish
1

Konsumen Akhir

Restoran Gambar 8 Saluran Distribusi Produk CV Dejee Fish, 2012 Saluran distribusi tingkat 0 merupakan saluran yang tidak mempunyai perantara, yakni dari produsen (CV Dejee Fish) ke konsumen akhir. Konsumen biasanya mendatangi langsung kantor CV Dejee Fish ataupun stand-stand

pameran CV Dejee Fish. Saluran distribusi ini merupakan saluran distribusi produk olahan lele dan nila, induk dan benih setiap jenis ikan serta gurami ukuran konsumsi. Tingkat penjualan produk olahan Ikan Lele dan Ikan Nila pada saluran ini yaitu sebesar 100%, sedangkan untuk induk dan benih setiap jenis ikan sebesar 15% dan untuk Ikan Gurami ukuran konsumsi sebesar 25%. Saluran distribusi tingkat 1 merupakan saluran yang mempunyai 1 perantara, yakni dari CV Dejee Fish ke perantara lalu ke konsumen akhir. Perantara di saluran distribusi tingkat 1 adalah restoran dan pengecer. Ikan Gurami ukuran konsumsi disalurkan ke restoran dengan tingkat penjualan sebesar 75%, sedangkan induk dan benih yang disalurkan ke pengecer tingkat penjualannya sebesar 35%. Saluran distribusi tingkat 2 merupakan saluran distribusi yang mempunyai dua perantara, yakni dari CV Dejee Fish, perantara 1, perantara 2 lalu konsumen akhir. Perantara 1 di saluran ini yaitu pedagang besar dan perantara 2 yaitu pengecer. Tingkat penjualan induk dan benih yang disalurkan ke pedagang besar yaitu 50%. Promosi diperlukan untuk menginformasikan produk yang kita jual kepada konsumen agar dikenal. Menurut Umar (2003) Strategi bauran promosi terdiri atas empat komponen utama, yaitu periklanan (advertising), promosi penjualan (sales promotion), hubungan masyarakat (public relation) dan penjualan perorangan (personal selling). Promosi yang dilakukan telah dilakukan CV Dejee Fish yaitu advertising, sales promotion, public relation dan personal selling. Advertising dilakukan dengan mengiklankan produk yang dijual melalui media internet, yaitu website www.dejeefish.com, facebook/dejeefish dan twitter kemudian mengiklankan melalui stiker yang dipasang pada kendaraan, banner dan spanduk. Sales promotion dilakukan dengan cara mengikuti kegiatan bazaar perikanan dengan membuka stand Dejee Fish dan mempromosikan produk perusahaan kepada setiap pengunjung melalui komunikasi langsung ataupun melalui via telepon dan penyebaran brosur. Public relation dilakukan dengan cara mengangkat karyawan dari lingkungan perusahaan dan memberikan bantuan sosial seperti pembangunan masjid. Personal selling dilakukan dengan mengkomunikasikan langsung kepada masyarakat melalui brosur dan via telepon. Media promosi CV Dejee Fish dapat dilihat pada Gambar 9.

Gambar 9 Media Promosi CV Dejee Fish 4.5 Subsistem Penunjang Subsistem pendukung atau penunjang merupakan subsistem yang mencakup lembaga atau individu yang terkait dengan permodalan, peraturan, pembinaan, penelitian, pengembangan dan penyuluhan (Effendi dan Oktariza, 2006). Keberlangsungan dan pertumbuhan perusahaan agribisnis dipengaruhi oleh subsistem jasa dan penunjang. CV Dejee Fish memiliki beberapa lembaga penunjang yang terdiri atas BBPBAT Sukabumi (Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar), Badan Pelayanan dan Perizinan Terpadu pemerintah Kabupaten Sukabumi, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Sukabumi, Dinas Kesehatan Pemerintah Kabupaten Sukabumi, Pasar ikan Cibaraja, pembudidaya mitra dan media informasi dan komunikasi. BBPBAT Sukabumi merupakan lembaga yang membantu perusahaan dalam teknologi pengiriman ikan melalui udara, mendapatkan induk yang baik untuk pembenihan serta mengadakan penyuluhan dan pelatihan bagi karyawan dan pembudidaya mitra perusahaan. Penyuluhan dan pelatihan ini diberikan dengan tujuan meningkatkan kinerja karyawan dan pembudidaya. Penulis mengikuti kegiatan penyuluhan mengenai penggunaan vaksin pada Ikan Air Tawar yang dilakukan oleh BBPBAT di CV Dejee Fish. Badan Pelayanan dan Perizinan Terpadu Pemerintah Kabupaten Sukabumi merupakan lembaga yang memberikan perizinan berdirinya usaha CV Dejee Fish di wilayah Cibaraja. Perizinan pendirian usaha di dapatkan perusahaan dari Balai

Pelayanan dan Perizinan Terpadu Kabupaten Sukabumi dan juga masyarakat yang ada di sekitar lokasi perusahaan. CV Dejee Fish telah sah mendapatkan izin usaha pada tanggal 21 Januari 2011. Kementrian Kelautan dan Perikanan merupakan lembaga yang mengeluarkan sertifikat Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB) , Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) dan pelatihan manajemen mutu komoditas perikanan. Pengauditan CPIB dan CBIB dilakukan 1 kali dalam 2 tahun. Pengauditan dilakukan dengan memeriksa catatan kegiatan budidaya pembenihan dan pembesaran kemudian memastikan prosedur kegiatan perusahaan telah sesuai dengan standar dari Kementerian Kelautan dan Perikanan. Badan Penyuluhan Perikanan Pertanian dan Kehutanan (BP4K) Kabupaten Sukabumi merupakan lembaga yang membantu dalam melakukan distribusi informasi teknologi yang baru dan bermanfaat dalam mengembangkan usaha perikanan. Dinas Kesehatan Pemerintah Kabupaten Sukabumi merupakan lembaga yang memberikan perizinan produksi pangan industri rumah tangga CV Dejee Fish. Merek dagang untuk pengolahan pangan Ikan Air Tawar adalah Dejee Food. Perizinan Dejee Food diperoleh pada tanggal 24 Maret 2011. Pasar ikan Cibaraja merupakan lembaga yang menjadi mitra pemasok benih Ikan Air Tawar bagi CV Dejee Fish. Lokasi pasar ikan Cibaraja ke CV Dejee Fish sekitar 100 m, sehingga memudahkan perusahaan dalam melakukan kemitraan. Pembudidaya mitra merupakan penunjang dalam pengadaan ikan dalam ukuran yang dibutuhkan. Sistem kemitraan, dilakukan untuk menghasilkan produk-produk ikan di luar produksi internal yang dihasilkan divisi produksi CV Dejee Fish. Pola kemitraan yang digunakan CV Dejee Fish adalah inti-plasma, dimana inti berkewajiban memberikan induk dan sarana budidaya ke plasma dan plasma berkewajiban menghasilkan produk yang baik dan membayar sarana yang telah diberikan. Penjualan produk yang dihasilkan plasma tidak sepenuhnya untuk inti, tetapi juga boleh dijual ke konsumen lain. Perusahaan tidak mengikat plasma dengan adanya kemitraan ini, meskipun demikian plasma berkewajiban memenuhi kebutuhan produk perusahaan. Media informasi dan komunikasi merupakan lembaga yang membantu perusahaan dalam memperoleh informasi pasar dan teknologi usaha Ikan Air Tawar serta sebagai media promosi. Media informasi dan komunikasi yang digunakan perusahaan terdiri atas media cetak, internet dan televisi. Salah satu stasiun televisi swasta yaitu ANTV telah menjadi media dalam mempromosikan kegiatan agribisnis CV Dejee Fish.

V. DESKRIPSI KEGIATAN AGRIBISNIS KOMODITAS IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy)

Menurut Saparinto (2011) Ikan Gurami merupakan jenis Ikan Air Tawar yang memiliki pertumbuhan lambat, namun memiliki potensi pasar yang tinggi. Klasifikasi Ikan Gurami terdiri dari filum (Chordata), kelas (Pisces), subkelas (Teleostei), ordo (Labyrinthici), sub-ordo (Anabantoidei), familia (Anabontidae), genus (Oshpronemus) dan spesies (Osphronemus gourami). Segmentasi dalam usaha budidaya Ikan Gurami terjadi karena

pertumbuhan Ikan Gurami yang lambat dari telur sampai ukuran konsumsi. Hal tersebut dilakukan supaya perputaran modal usaha dapat berjalan cepat. Segmentasi usaha budidaya Ikan Gurami terdiri atas pembenihan, pendederan dan pembesaran (Saparinto, 2011). Segmentasi usaha komoditas Ikan Gurami yang dilakukan CV Dejee Fish terdiri atas pembenihan, pendederan, penjualan Ikan Gurami ukuran konsumsi dan pelatihan budidaya Ikan Gurami (P2MKP). Kegiatan segmentasi usaha komoditas Ikan Gurami yang diikuti penulis, yaitu pendederan I dan penjualan ikan ukuran konsumsi, dikarenakan belum terjadi pembenihan dan tidak ada kegiatan pelatihan. 4.6 Subsistem Pengadaan Sarana Produksi Ikan Gurami Kegiatan pembenihan Ikan Gurami yang dilakukan di CV Dejee Fish, yaitu dengan pemijahan alami. Kegiatan pengadaan sarana produksi untuk pembenihan Ikan Gurami tidak diikuti penulis, namun informasi didapatkan dari hasil wawancara dengan karyawan perusahaan. Sarana produksi yang digunakan untuk pembenihan Ikan Gurami, yaitu tenaga kerja, induk jantan dan betina, kolam, kapur, pupuk, obat-obatan, pakan dan peralatan. Tenaga kerja untuk kegiatan pembenihan di perusahaan, yaitu tenaga kerja ahli, karena dalam kegiatan pembenihan dibutuhkan keahlian yang baik untuk mendapatkan benih yang baik. Induk jantan dan betina yang digunakan adalah induk yang berkualitas, yaitu induk yang memiliki sertifikat dan surat keterangan asal. Surat keterangan asal memilki manfaat bagi pembudidaya dalam mencegah inbreeding. Kolam yang digunakan CV Dejee Fish saat pembenihan, yaitu kolam pemliharaan induk dan kolam pemijahan. Menurut Saparinto (2011) kapur

digunakan saat persiapan kolam untuk menstabilkan keasaman tanah (pH), memperbaiki struktur kolam tanah dan membunuh hama atau kuman. Pupuk digunakan untuk meningkatkan kesuburan tanah dan air media budidaya ikan. Obat-obatan digunakan sebagai desinfektan untuk memberantas hama dan penyakit. Pakan yang diberikan selama pembenihan, yaitu pakan alami berupa daun talas, daun singkong, daun papaya dan kecambah kacang hijau yang berada di sekitar kolam. Selain pakan alami diberikan juga tambahan pakan berupa pelet. Peralatan yang digunakan CV Dejee Fish untuk pembenihan Ikan Gurami, yaitu sarang yang berbahan plastik, ijuk (sebagai tempat penyimpanan benih) dan bambu. Sarana produksi pendederan Ikan Gurami terdiri atas media pendederan, tenaga kerja, larva/benih Ikan Gurami, pakan, pupuk, kapur, obat-obatan dan peralatan. Kegiatan pendederan yang diikuti oleh penulis adalah pendederan I. CV Dejee Fish melakukan pendederan I dengan media akuarium. Akuarium yang digunakan perusahaan berukuran 90x45 cm2. Jumlah akuarium yang digunakan pada saat penulis praktik lapang yaitu 27 akuarium, sedangkan 3 akuarium yang lainnya dikosongkan. Akuarium yang dikosongkan berfungsi sebagai cadangan media budidaya Ikan Gurami. Selain akuarium diperlukan juga kolam tandon yang berfungsi menampung air bersih sebelum dimasukkan ke dalam akuarium. Tenaga kerja yang dibutuhkan dalam pendederan I ini adalah tenaga kerja ahli, tenaga kerja bulanan dan tenaga kerja harian. Tenaga kerja ahli yang dibutuhkan yaitu 1 orang, dengan tugas membudidayakan benih gurami. Tenaga kerja bulanan yaitu dari divisi logistik yang bertugas dalam pemanenan. Upah yang diberikan kepada tenaga kerja ahli dan tenaga kerja bulanan, yaitu sebesar Rp 900.000/bulan. Tenaga kerja harian bertugas dalam pemasaran benih, dengan upah sebesar Rp 50.000-Rp 60.000. Tenaga kerja bulanan dan harian tidak hanya untuk komoditas gurami saja, tetapi untuk semua komoditas yang ada di perusahaan. Larva diperoleh dari pembudidaya mitra, karena perusahaan belum menghasilkan larva yang diakibatkan belum terjadi pembenihan Ikan Gurami. Pakan yang diberikan pada kegiatan pendederan I berupa cacing Tubifex.

Peralatan yang digunakan perusahaan selama pendederan I terdiri atas : a. Aerator atau blower, untuk menyuplai oksigen. b. Instalasi pipa dan selang aerasi, untuk mengalirkan oksigen ke dalam akuarium. c. Water heater, untuk menghangatkan air apabila mengalami penurunan suhu. d. Pompa air, untuk menyuplai air bersih ke dalam akuarium. e. Lampu, untuk penerangan terutama di malam hari. f. Termometer, untuk mengukur suhu air. g. Pemanas air untuk mengkondisikan air yang akan disuplai ke dalam akuarium supaya suhunya tetap sama seperti sebelumnya. h. Tabung gas elpiji digunakan sebagai energi dari pemanas air yang digunakan saat penyuplaian air ke dalam akuarium. i. Selang plastik, untuk membersihkan kotoran ikan dan sisa pakan. j. Selang plastik besar, untuk membuang air kotor dalam akuarium dan mengisi kembali dengan ari bersih dari bak tandon ketika dilakukan pergantian air. k. Baskom, ember, mangkuk, lamit dan sendok, untuk pemeliharaan akuarium dengan mangambil benih yang mati, menampung buangan air dan menampung benih saat panen. l. Plastik packing ukuran 40 x 60 cm dan karet untuk pengemasan saat panen. m. Sepatu boot untuk perlengkapan karyawan. Sarana produksi yang digunakan dalam penjualan Ikan Gurami ukuran konsumsi yaitu bahan baku (ikan ukuran konsumsi), kolam pemberokan, peralatan dan tenaga kerja. Bahan baku diperoleh dengan membeli dari pembudidaya mitra usaha baik yang ada di daerah Sukabumi maupun di luar Sukabumi seperti di Jawa Tengah. Bahan baku yang telah dibeli ditampung di kolam pemberokan untuk membersihkan kotoran dalam tubuh ikan. Peralatan yang digunakan yaitu jirigen, drum, kayu pikul, drum timbangan dan timbangan 50 kg. Tenaga kerja untuk kegiatan usaha ini terdiri atas tenaga kerja bulanan dan tenaga kerja harian. Tenaga kerja bulanan yaitu divisi logistik

yang bertugas dalam perhitungan ikan yang dibeli, dan pengangkutan ikan yang datang ke kolam dengan upah Rp 900.000/bulan. Tenaga kerja harian bertugas menjual Ikan Gurami ke restoran-restoran yang ada di Sukabumi. Tenaga kerja harian biasanya tukang ojeg yang ada di sekitar perusahaan, sehingga pengupahan dilakukan dengan sistem pemberian biaya transportasi. Besarnya biaya upah tidak tentu tergantung jarak yang ditempuh dan jumlah ikan yang dijual. Biaya transportasi ke restoran yang jaraknya dekat dihitung berdasarkan jumlah ikan yang dijual dengan biaya Rp 1.000/kg, sedangkan biaya transportasi ke restoran yang jaraknya jauh ditentukan sesuai kesepakatan. Sarana produksi yang digunakan untuk pelatihan budidaya Ikan Gurami tidak diketahui karena tidak ada kegiatan pelatihan selama kegiatan praktik lapang. Secara umum sarana produksi pelatihan budidaya ikan terdiri atas pelatih (tutor), tenaga kerja, LCD, netbook, papan tulis, alat tulis, modul pelatihan, penginapan dan sarana produksi yang dibutuhkan untuk kegiatan budidaya. 4.7 Subsistem Budidaya Ikan Gurami Subsistem budidaya ikan adalah rangkaian kegiatan untuk menghasilkan produk ikan dengan menggunakan input yang tersedia (Effendi dan Oktariza, 2006). Ikan Gurami merupakan jenis Ikan Air Tawar yang memiliki pertumbuhan lambat dibandingkan jenis Ikan Air Tawar lainnya. Pertumbuhan yang lambat mengakibatkan waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan produk ukuran konsumsi sangat lama. Hal tersebut mendorong pembudidaya ikan melakukan segmentasi dalam budidaya Ikan Gurami (Saparinto, 2011). Segmentasi budidaya Ikan Gurami terdiri atas pembenihan, pendederan dan pembesaran. Segmentasi budidaya Ikan Gurami yang dilakukan CV Dejee Fish terdiri atas pembenihan dan pendederan. 5.2.1 Pembenihan Ikan Gurami Kegiatan pembenihan Ikan Gurami tidak sempat diikuti oleh penulis disebabkan pembenihan Ikan Gurami belum terjadi. Induk gurami banyak yang mengalami kesulitan dalam memijah saat memasuki musim hujan, seandainya pemijahan dapat dilakukan, banyak telur yang tidak menetas dan tingkat kematian larvanya tinggi (Saparinto, 2011). Hal ini menjadi salah satu penyebab tidak

terjadi pemijahan saat kegiatan praktik lapang dilaksanakan, karena praktik lapang dilaksanakan saat memasuki musim hujan. Deskripsi kegiatan pembenihan Ikan Gurami, penulis dapatkan dari hasil wawancara dengan tenaga kerja. Pembenihan gurami bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu secara alami dan buatan, namun teknik pembenihan secara buatan belum dapat diaplikasikan pada skala usaha (Saparinto, 2011). CV Dejee Fish menggunakan teknik pembenihan secara alami. Kegiatan pembenihan yang dilakukan CV Dejee Fish memiliki 6 tahapan, yaitu persiapan kolam, manajemen induk, manajemen pakan, pemijahan, penetasan telur dan pemeliharaan larva. CV Dejee Fish menggunakan kolam tanah untuk pemijahan sekaligus pemeliharaan induk gurami. Luas kolam yang digunakan adalah 50 m2. Perbandingan induk jantan dan betina yang dilakukan di CV Dejee Fish, yaitu 1:4. Persiapan kolam dilakukan dengan beberapa tahap, yaitu pengeringan, pengapuran dan pemupukan. Pengeringan kolam dilakukan selama 3 hari, lalu dilakukan pengapuran yang bertujuan memperbaiki pH tanah dan mematikan bibit penyakit maupun hama ikan. Tahap selanjutnya tanah dipupuk dengan pupuk kandang. Menurut saparinto (2011) Pengeringan pada persiapan kolam tanah bertujuan untuk menggemburkan tanah, membuang gas yang berbahaya dan membunuh hama penyakit. Pengapuran bertujuan untuk meningkatkan pH tanah, mengikat kelebihan CO2, memperbaiki reaksi tanah dan struktur tanah, mempercepat proses penguraian dan memberantas hama dan penyakit. Pemupukan dalam persiapan kolam pembenihan Ikan Gurami bertujuan untuk memberikan kesuburan tanah dan perairan. Tahap selanjutnya dilakukan pengisian air dengan ketinggian 40-80 cm, Konstruksi kolam dengan dasar tanah lempung berpasir. Kolam pemijahan yang telah dipersiapkan diletakkan sarang yang terbuat dari ijuk yang disimpan dalam keranjang, baik keranjang yang terbuat dari bambu maupun plastik yang berfungsi untuk menyimpan telur. Keranjang yang biasa digunakan perusahaan merupakan keranjang plastik. Pembuatan sarang ini bertujuan mempercepat proses pemijahan, karena biasanya induk jantan membuat sarangnya sendiri selama 2 minggu. Sarang yang digunakan perusahaan dapat dilihat pada Gambar 10.

Gambar 10 Media Penyimpanan Telur Ikan Gurami Pemilihan induk merupakan tahap yang menentukan proses pemijahan berlangsung baik atau tidak. Keberhasilan usaha pembenihan ditunjang oleh pengetahuan ciri antara gurami jantan dan betina, agar tidak terjadi kesalahan pemilihan antara induk jantan dan induk betina ketika membeli (Saparinto, 2011). Ciri fisik induk jantan dan betina dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3 Perbedaan Induk Jantan dan Betina Berdasarkan Penciri Fisik Ciri Fisik Warna Kepala Dagu Perut Jantan Betina Terang Tidak ada tonjolan Tidak nampak tebal Membulat agak panjang Berwarna agak gelap Lebih melengkung Lamban

Kemerahan dan hitam gelap Ada tonjolan Terlihat tebal Terdapat tonjololan di dekat anus Sirip dada Berwarna terang Sirip ekor Relatif rata Gerakan Lincah Sumber : Saparinto, 2011

Induk yang telah dipilih lalu ditebar ke kolam pemijahan dengan perbandingan 1:4. Ikan Gurami merupakan ikan jenis air tawar yang perbedaan jantan dan betinanya bisa dilihat secara fisik. Perbedaan induk Ikan Gurami jantan dan induk Ikan Gurami betina dapat dilihat pada Gambar 11.

J a nt a n

Betina

Gambar11 Perbedaan Induk Gurami Jantan dan Betina

Pakan yang diberikan merupakan pakan alami berupa daun talas, daun pepaya dan kecambah kacang hijau. Pakan alami ini dibudidayakan di sekitar kolam pemijahan untuk memenuhi ketersediaan pakan. Selain pakan alami Ikan Gurami diberikan juga pakan tambahan berupa pelet. Pakan alami yang dibudidayakan di sepanjang kolam pemijahan dapat dilihat pada Gambar 12.

Gambar 12 Budidaya Pakan Alami di Sepanjang Kolam Pemijahan Tahap selanjutnya yang dilakukan yaitu proses pemijahan. Proses pemijahan Ikan Gurami yang dilakukan di CV Dejee Fish, yaitu dengan cara induk betina dan induk jantan ditebar dalam satu kolam dengan perbandingan 1 ekor induk jantan dan 4 ekor induk betina. Lama proses pengeluaran telur mulai dari 3 hingga 7 hari. Telur yang telah dihasilkan diangkut oleh induk jantan dengan menggunakan mulutnya ke sarang yang telah disiapkan. Telur dipindahkan ke wadah tempat penetasan, setelah seluruh permukaan sarang telah dipenuhi telur, diameter telur pada saat penetasan sekitar 2 mm. Telur Ikan Gurami yang telah dipindahkan ke kolam penetasan kemudian diinkubasi selama 36-48 jam hingga berubah menjadi larva. Telur yang baik berwarna kuning bening, sedangkan telur yang gagal berwarna kuning keruh atau pucat. Larva yang telah menetas selama seminggu dipindahkan ke akuarium hingga menjadi benih Ikan Gurami. 5.2.2 Pendederan Ikan Gurami Pendederan Ikan Gurami terdiri atas pendederan I, pendederan II, pendederan III, pendederan IV dan pendederan V. Pendederan yang dilakukan CV Dejee Fish tergantung pada pemesanan konsumen. Apabila pada usia pendederan I telah ada pemesanan, maka pendederan dilakukan hanya sampai pendederan I. Penulis melakukan kegiatan pendederan I selama kegiatan praktik lapang.

Kegiatan budidaya pendederan I terdiri atas tiga tahap, yaitu persiapan media budidaya, penebaran larva dan pemeliharaan larva. Media budidaya pendederan I yang digunakan oleh perusahaan yaitu akuarium. Akuarium yang akan digunakan dibersihkan terlebih dahulu, kemudian diisi air dengan tinggi air sekitar 23 cm. Setelah dilakukan pengisian air, peralatan yang akan digunakan dipasang dengan benar seperti water heater, thermometer dan aerator. Akuarium yang digunakan untuk budidaya pendederan, yaitu 27 akuarium. Persiapan media budidaya tidak sempat diikuti penulis dikarenakan kegiatan tersebut telah dilakukan sebelum penulis melaksanakan kegiatan praktik lapang. Penebaran larva dilakukan setelah media budidaya pendederan I disiapkan. Larva yang ditebar berjumlah 14.000 ekor dengan padat tebar sekitar 520/akuarium untuk akuarium berukuran 90 x 45 cm. Penebaran larva dilakukan pada tanggal 27 Agustus 2012 yaitu sehari sebelum kegiatan praktik lapang dilaksanakan. Pemeliharaan larva dilakukan dengan cara pemberian pakan yang optimal dan menjaga kualitas air. Pemberian pakan diberikan pada hari ke-8 setelah larva ditebar. Hal ini dilakukan karena pakan alami terdapat pada perut Ikan Gurami yang berwarna kunig. Pakan yang diberikan selama kegiatan pendederan I berupa cacing Tubifex. Larva berubah menjadi benih saat berumur 10 hari dari penetesan telur. Pemberian pakan diberikan sedikit demi sedikit agar tidak ada penumpukan sisa pakan yang akan merubah kualitas air. Pemberian pakan akan memacu pertumbuhan badan ikan. Ikan pada umur 8-14 hari atau minggu ke-1 dari awal pemberian pakan, diberikan pakan dengan jumlah 0,75 liter/hari, minggu ke-2, 3 dan ke-4 dilihat pada Tabel 4. Tabel 4 Pemberian Pakan Cacing Sutera pada Pendederan 1 Waktu Pembudidayaan (minggu) I II III IV Sumber : CV Dejee Fish, 2012 Jumlah cacing sutera (liter)/hari 0,75 1 1,75 3,5 jumlah pakan yang diberikan semakin bertambah. Jumlah pakan berupa cacing Tubifex yang diberikan selama pendederan I dapat

Menjaga kualitas air dilakukan dengan cara membersihkan kolam dari sisa pakan, kotoran benih dan benih yang mati serta senantiasa melakukan pergantian air. Pergantian air dilakukan dengan beberapa cara yaitu : a. b. c. d. e. Kotoran yang terapung diatas permukaan dibersihkan dengan serok. Kotoran yang berada di dasar akuarium dibersihkan dan air kotor dalam akuarium dibuang dengan menggunakan selang penyedot. Air yang telah disedot ditampung dalam ember agar benih hidup yang tersedot tidak terbuang. Setelah tinggi air mencapai 10 cm, kaca akuarium dibersihkan dengan busa. Pengisian air ke dalam akuarium dilakukan setelah air ditampung pada drum plastik dengan suhu yang telah disesuaikan dengan suhu sebelumnya. Kegiatan pemeliharaan larva dilakukan selama kegiatan budidaya pendederan I. Kegiatan pengolahan air dan pemberian pakan dapat dilihat pada Gambar 13.

Gambar 13 Proses Pemberian Pakan dan Pengolahan Air Pemanenan benih Ikan Gurami dilakukan penulis pada tanggal 30 September 2012 yaitu pada saat Ikan Gurami berumur 35 hari dengan ukuran 2-3 cm. Ukuran benih Ikan Gurami yang dipanen dapat dilihat pada Gambar 14.

Gambar 14 Ukuran Benih Ikan Gurami Saat Dipanen Pemanenan dilakukan pada pagi hari, agar suhu yang didapatkan benih masih pada batas toleransi. Benih yang dihasilkan pada saat itu berjumlah 9.750 ekor benih dari 14.000 ekor larva, dengan demikian tingkat kehidupan benih ikan

sebesar 69,6%. Benih dipanen dengan cara sebagian air dalam akuarium disurutkan, kemudian benih ikan diambil dengan menggunakan serok. Benih yang telah diambil, kamudian ditampung dalam baskom besar yang diisi air dan diatas baskom dipasangkan hapa agar benih mudah diambil. Benih yang telah ditampung lalu dihitung dengan menggunakan sendok plastik dan dimasukkan ke dalam plastik packing berukuran 40 x 60 cm2 dengan padat tebar 500 ekor. Proses pemanenan Ikan Gurami dapat dilihat pada Gambar 15.

Gambar 15 Proses Pemanenan Ikan Gurami 4.8 Subsistem Pemasaran Ikan Gurami Kegiatan pemasaran pada Ikan Gurami tidak jauh berbeda dengan kegiatan pemasaran Ikan Air Tawar pada umumnya, yaitu terdiri dari pengumpulan informasi pasar, sortasi dan grading, pengangkutan, penjualan dan promosi. Pengumpulan informasi pasar dilakukan perusahaan untuk mengetahui ukuran, jumlah, waktu, mekanisme distribusi dan pelayanan yang dikehendaki oleh konsumen terhadap Ikan Gurami. Sortasi dan grading dilakukan setelah dilakukan pengumpulan informasi pasar dengan cara memilih ukuran ikan yang dikehendaki konsumen. Sistem pengangkutan dalam Ikan Gurami sama seperti pengangkutan ikan secara umumnya. Pengangkutan benih ikan dilakukan dengan menggunakan sistem tertutup. Kegiatan pengangkutan pada komoditas Ikan Gurami menggunakan pengangkutan terbuka dan tertutup. Pengangkutan terbuka menggunakan jerigen dan drum, biasanya pada pengiriman jarak dekat. Pengangkutan tertutup digunakan untuk pengiriman melalui jalur udara. Pengangkutan tertutup menuju bandara menggunakan mobil pick up dengan kapasitas 20-30 box. Pengangkutan terbuka dilakukan perusahaan pada Ikan Gurami ukuran konsumsi dan induk tetapi tidak bisa pada ukuran larva. Cara pengangkutan benih dengan menggunakan drum atau jerigen dengan mengisi 2/3 air kolam dari

volume wadah kemudian benih gurami dimasukkan sesuai dengan kemampuan kepadatan ikan. Pengangkutan induk dan Ikan Gurami ukuran komsumi dilakukan dengan cara ikan yang akan diangkut disiapkan terlebih dahulu dan dilakukan pemberokan selama 2-3 hari. Air bersih dimasukkan ke dalam wadah pengangkut yang telah disiapkan sebanyak 3/4 dari volume wadah. Ikan yang telah disiapkan dimasukkan ke dalam wadah dengan hati-hati kemudian dimasukkan helai dedaunan untuk melindungi ikan dari cahaya matahari. Pengangkutan tertutup menggunakan plastik polyethylene yang memiliki ketebalan 0,1 mm. Pengangkutan tertutup pada larva menggunakan air bersih sedangkan ukuran lain menggunakan 1/3 air kolam dan 2/3 air bersih, dengan volume air 1/3 dari volume kantong. Pembius dimasukkan sesuai dosis dan dicampurkan hingga merata. Pembius berfungsi menjaga daya tahan tubuh ikan. Benih ikan dimasukkan kedalam air yang sudah dicampurkan pembius sesuai dengan kemampuan kepadatan ikan, kemudian oksigen dimasukkan melalui selang sebanyak 2/3 dari volume kantong. Kegiatan pengangkutan terbuka dan tertutup dapat dilihat pada Gambar 16. Berdasarkan sumber dari CV Dejee Fish (2012), standar padat benih Ikan Gurami di kantong plastik adalah: a. b. c. d. Gurami ukuran 2-3 cm Gurami ukuran 4-5 cm Gurami ukuran 5-7 cm keatas = 500 ekor/plastik ukuran 40 x 60 cm2 = 200 ekor/plastik ukuran 40 x 60 cm2 = 50-100 ekor/plastik ukuran 55 x 80 cm2

Gurami ukuran induk panjang 1 m = 2 ekor/plastik ukuran 55 x 80 cm2

Gambar 16 Pengangkutan Terbuka dan Pengangkutan Tertutup Bauran pemasaran pembenihan dan penjualan Ikan Gurami ukuran konsumsi memiliki 4 (empat) komponen, yaitu produk (product), harga (price), distribusi (place) dan promosi (promotion). Produk dan komoditas yang dipasarkan pada usaha pembenihan dan penjualan ikan ukuran konsumsi terdiri atas induk, benih dan ikan ukuran konsumsi. Keunggulan Ikan Gurami di CV Dejee Fish adalah ikan yang dijual sehat, tepat jumlah dan ukuran, induk memiliki

Surat Keterangan Asal (SKA) dan memiliki sertifikat Cara Pembenihan Ikan dengan Baik (CPIB) dan Cara Budidaya Ikan dengan Baik (CBIB). Penetapan harga dilakukan berdasarkan ukuran dan jumlah pembelian induk. Harga ditentukan berdasarkan harga pokok dijumlahkan dengan keuntungan yang diinginkan. Harga Ikan Gurami relatif stabil. Daftar harga induk dan benih Gurami dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5 Daftar Harga Ikan Gurami di CV Dejee Fish* Ukuran Harga (Rp) Telur 60 2-3 cm 450 4-5 cm 850 6-7 cm 1.750 7-8 cm 2.500 8-10 cm 3.500 Induk 2-3 kg 800.000** Keterangan : * Sumber CV Dejee Fish, 2012 ** Harga per paket Kapasitas jumlah (ekor)/Box 50.000 2.500 1000 250 100 60 1 jantan 3 betina

Cara pembayaran dilakukan dengan dua cara yaitu membayar langsung (cash) dan transfer melalui Bank Mandiri, BCA, BRI dan BNI. Harga yang ditetapkan perusahaan belum termasuk biaya transportasi, jika produk dikirim ke pembeli. Harga pembelian langsung dan dikirim akan berbeda disebabkan adanya pembayaran transportasi. Biaya transportasi pun akan berbeda tergantung jarak dan jalur yang ditempuh untuk pengiriman. CV Dejee Fish melakukan pengiriman ikan dengan dua jalur pengiriman yaitu melalui jalur darat dan udara. Kegiatan pengiriman melalui jalur darat menggunakan mobil bak terbuka, sedangkan untuk jalur udara menggunakan pesawat melalui cargo. Saluran distribusi yaitu sekelompok organisasi yang saling tergantung dalam keterlibatan mereka pada proses yang memungkinkan suatu produk atau jasa tersedia bagi penggunaan atau konsumi oleh konsumen atau pengguna industrial. Saluran distribusi membentuk tingkatan saluran untuk menentukan panjangnya saluran distribusi (Umar, 2003). Tingkatan saluran distribusi pembenihan Ikan Gurami di CV Dejee Fish hanya sampai saluran tingkat 2. Saluran distribusi pembenihan Ikan Gurami CV Dejee Fish dapat dilihat pada Gambar 17, sedangkan saluran distribusi ikan ukuran konsumsi dapat dilihat pada Gambar 18.

2 Pedagang Besar 0 CV Dejee Fish 1 Pengecer Gambar 17 Saluran Distribusi Pembenihan gouramy) CV Dejee Fish Ikan Gurami (Oshpronemus Konsumen Akhir Pengecer

Saluran distribusi tingkat 0 merupakan saluran yang tidak mempunyai perantara, yakni dari produsen (CV Dejee Fish) ke konsumen akhir. Konsumen biasanya mendatangi langsung kantor CV Dejee Fish. Tingkat penjualan pada saluran ini, yaitu sebesar 15%. Saluran distribusi tingkat 1 merupakan saluran yang mempunyai 1 perantara, yakni dari CV Dejee Fish ke perantara lalu ke konsumen akhir. Perantara di saluran distribusi tingkat 1 adalah pedagang pengecer. Tingkat penjualan ke pedagang pengecer pada saluran ini sebesar 35%. Saluran distribusi tingkat 2 merupakan saluran distribusi yang mempunyai dua perantara, yakni dari CV Dejee Fish, perantara 1, perantara 2 lalu konsumen akhir. Perantara 1 di saluran ini yaitu pedagang besar dan perantara 2 yaitu pedagang pengecer. Tingkat penjualan pembenihan Ikan Gurami yang disalurkan ke pedagang besar yaitu 50%. Pembudidaya

CV Dejee Fish Dejee Fish

Restoran

Konsumen Akhir

Gambar 18 Saluran Distribusi Ikan Gurami Ukuran Konsumsi Saluran distribusi Ikan Gurami ukuran konsumsi berawal dari pembudidaya pembesaran Ikan Gurami yang dijual ke perusahaan seharga Rp 38.000/kg. Perusahaan menjualnya ke restoran seharga Rp 42.000/kg dan ke konsumen akhir seharga Rp 45.000/kg. Sedangkan harga restoran ke konsumen tergantung dari restorannya sendiri. Restoran yang menjadi mitra usaha persahaan diantaranya : Wisata Berburu, Panorama, Pawon Linggar, Citra Rasa, Bumi Abdi, Odieon, RM Sukabumi, Raflesia, Garden City, Bambu Kuring, Nuansa, Nikmat

dan Lembur Kuring. Tingkat penjualan dari perusahaan ke konsumen akhir sebesar 25%, sedangkan ke restoran sebesar 75%. Kegiatan promosi dilakukan dengan mengkomunikasikan produk atau komoditas Ikan Gurami yang dijual. Kegiatan promosi yang dilakukan dengan mengiklankan produk yang dijual melalui media internet, yaitu website www.dejeefish.com, facebook/dejeefish dan twitter kemudian mengiklankan melalui stiker yang dipasang pada kendaraan, banner dan spanduk. Penjualan perorangan dilakukan dengan memanfaatkan jaringan yang dimiliki. 4.9 Subsistem Penunjang Subsistem penunjang untuk Ikan Gurami di CV Dejee Fish tidak jauh berbeda dengan subsistem yang ada di perusahaan secara keseluruhan. Subsistem penunjang komoditas Ikan Gurami terdiri atas pembudidaya Ikan Gurami, kemitraan, Balai Besar Penelitian Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Badan Pelayan dan Perizinan Terpadu (BPPT) Kabupaten Sukabumi, Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP4K) Kabupeten Sukabumi dan media informasi dan komunikasi. 4.10 Pola Kemitraan CV Dejee Fish merupakan perusahaan agribisnis yang bergerak dibidang perikanan air tawar, dimana perusahaan ini menjual beberapa komoditas Ikan Air Tawar dengan berbagai ukuran. Budidaya yang dilakukan perusahaan tidak dapat memenuhi permintaan konsumen yang berada di berbagai daerah, sehingga untuk mengatasi masalah tersebut perusahaan melakukan kemitraan dengan

pembudidaya ikan yang berada di Sukabumi, Bogor dan Purbalingga. Kemitraan ini dilakukan dengan tujuan memenuhi permintaan konsumen bagi perusahaan dan membantu pembudidaya ikan dalam memasarkan produknya. Kemitraan yang dilakukan perusahaan ada dua pola kemitraan yaitu pola intiplasma dan dagang umum. Kemitraan ikan ukuran induk dan benih dilakukan dengan pola inti-plasma, dimana perusahaan sebagai inti memiliki kewajiban memberikan benih dan sarana produksi kepada pembudidaya sebagai plasma. Pembudidaya plasma memiliki kewajiban untuk memenuhi kebutuhan ikan

kepada perusahaan dan membayar biaya sarana produksi kepada inti berdasarkan persyaratan yang telah disepakati. Perusahaan memberikan kebebasan kepada pembudidaya plasma dalam memasarkan produk yang dihasilkan. Artinya, pembudidaya plasma dibolehkan memasarkan produk selain ke perusahaan, namun ketika perusahaan membutuhkan produk pembudidaya harus

memenuhinya. Kemitraan yang dilakukan perusahaan selain pola inti-plasma, dilakukan dengan dagang umum, dimana perusahaan memiliki kewajiban untuk memasarkan ikan air tawar yang telah diproduksi oleh pembudidaya atau pembudidaya memiliki kewajiban memasok ikan yang dibutuhkan perusahaan. Kemitraan seperti ini dilakukan untuk Ikan Gurami ukuran konsumsi. Pembudidaya yang menjadi mitra perusahaan berada di daerah Parung, Bogor dan Purbalingga. Ikan Gurami ukuran konsumsi ini dijual perusahaan ke beberapa rumah makan di wilayah Sukabumi. 4.11 Analisis Kelayakan Usahatani (Osphronemus gouramy) Pendederan I Ikan Gurami

Kelayakan usaha budidaya perikanan yang dijalankan dapat dilihat dari analisis usaha komoditas yang dibudidayakan. Usaha Ikan Gurami di CV Dejee Fish memiliki cabang usaha yaitu usaha pembenihan, pendederan dan usaha penjualan ikan konsumsi. Dalam hal ini penulis hanya menganalisis usaha pendederan 1, karena komponen yang dibutuhkan lengkap. Menurut Suratiyah (2009) ushatani adalah mengusahakan dan mengkoordinir faktor-faktor produksi berupa lahan dan alam sekitarnya sebagai modal sehingga memberikan manfaat yang sebaik-baiknya. Analisis usaha pendederan I yang dilakukan penulis yaitu analisis usaha dalam 1 siklus produksi (35 hari). Kegiatan pendederan I dilakukan pada tanggal 27 Agustus 2012 30 September 2012. Penulis mulai melaksanakan kegiatan pendederan I pada tanggal 28 Agustus 2012. Analisis usaha pendederan 1 Ikan Gurami di CV Dejee Fish yang digunakan penulis yaitu analisis biaya dan pendapatan, analisis R/C dan analisis BEP. Analisis usahatani dilakukan dengan mengumpulkan informasi mengenai jumlah produksi (Y), harga (Py), total penerimaan (TR), biaya tetap (fixed cost/FC), biaya tidak tetap (variable cost/VC) dan biaya total (total cost/TC).

Informasi ini dibutuhkan dalam menghitung penerimaan, pendapatan bersih, R/C rasio dan BEP. Analisis usahatani dapat dilihat pada Tabel 6. Perhitungan analisis usahatani dapat dilihat pada Lampiran 17. Pendederan I dilakukan di ruangan hatchery dengan biaya sewa Rp 500.000/tahun. Sewa kolam selama 1 siklus pendederan I sebesar Rp 47.945. Benih Ikan Gurami ukuran 2-3 cm dipanen pada tanggal 30 September 2012 sebanyak 9.750 ekor. Proses selanjutnya dilakukan kegiatan pendederan II karena belum ada permintaan konsumen untuk benih gurami ukuran 2-3 cm. Namun, untuk melakukan analisis usahatani pendederan I ini, penulis menghitungkan hasil panen dikirim ke bandara untuk disalurkan ke konsumen. Satu kali pengiriman ikan ke bandara diperhitungkan 30 box, dan jumlah benih gurami yang dikirim sebanyak 4 box. Biaya yang dikeluarkan saat pengiriman yaitu biaya supir, sewa mobil, bensin dan makan serta tenaga kerja ke bandara. Upah supir dalam satu kali pengiriman sebesar Rp 75.000. Bensin yang dibutuhkan dalam satu kali pengiriman ke bandara sekitar 30 liter dengan tarif tol satu kali masuk sebesar Rp 26.500. Uang makan untuk 1 orang supir dan 2 orang karyawan dibutuhkan sebesar Rp 90.000 dengan tiga kali makan setiap orang. Sewa mobil untuk pengiriman dalam satu hari sebesar Rp 150.000 dan upah tenaga kerja ke bandara dalam satu kali pengiriman sebesar Rp 50.000/orang. Biaya tetap pada analisis usaha pendederan 1 di CV Dejee Fish terdiri atas sewa hatchery, biaya penyusutan peralatan, listrik dan telepon. Penyusutan adalah nilai sisa setelah suatu benda digunakan dalam jangka tertentu. Biaya penyusutan pendederan I Ikan Gurami dapat dilihat pada Lampiran 18. Biaya listrik untuk hatchery sebesar Rp 350.000/bulan, sehingga biaya listrik pendederan I Ikan Gurami selama 1 siklus produksi adalah Rp 408.333. Biaya telepon perusahaan sebesar Rp 100.000/bulan maka biaya telepon untuk komoditas pendederan I Ikan Gurami sebesar Rp 1.600. Jumlah komoditas yang dijualbelikan ada 73 komoditas dengan perhitungan berdasarkan jenis dan ukuran Ikan Air Tawar. Biaya variabel atau biaya tidak tetap usaha pendederan 1 Ikan Gurami di CV Dejee Fish terdiri atas 14.000 larva, cacing sutera, gaji pegawai, biaya pengemasan dan biaya transportasi. Biaya total yang dikeluarkan perusahaan sebesar Rp 2.959.905 yang merupakan penjumlahan dari biaya tetap sebesar Rp 888.101 dengan biaya variabel sebesar Rp 2.071.803. Biaya variabel yang dikeluarkan mencapai 70% dari biaya total sisanya merupakan biaya tetap.

Tabel 6 Analisis Usahatani Pendederan I Ikan Gurami Per 35 Hari Produksi untuk 1 Siklus di CV Dejee Fish No. Uraian 1. 2. Penerimaan benih 2-3 cm (ekor) Penerimaan total Pengeluaran A. Biaya Tetap 1) Sewa hatchery 2) Penyusutan 3) Listrik 4) Telepon Biaya Tetap Total B. Biaya Variabel 1) Telur (butir) 2) Cacing Tubifex (liter) 3) Tenaga kerja (Jam) Persiapan kolam dan penebaran larva Pemberian pakan Pemeliharaan kualitas air Tenaga kerja pengemasan 4) Biaya pengemasan Plastik (buah) Karet (kantong) Oksigen (kantong) Solatip besar Box Styrofoam 5) Biaya transportasi Supir Tenaga kerja ke bandara Sewa mobil Uang makan supir dan 2 karyawan Bensin (liter) Biaya tol (pulang pergi) Biaya Variabel Total Biaya Total Keuntungan R/C BEP Penerimaan (Rp) BEP Produksi (ekor) BEP Harga (Rp/ekor) Jumlah Fisik 9.750 Harga (Rp) 450 Jumlah (Rp) 4.387.500 4.387.500

47.945 430.223 408.333 1.600 888.101 14.000 49 12 53 120 5 80 16 150 1 4 4/30 4/30 4/30 9 30 2 40 10.000 2.500 2.500 2.500 2.500 384 1.250 325 6.000 30.000 75.000 100.000 150.000 10.000 4.500 26.500 560.000 490.000 30.000 132.500 300.000 12.500 30.720 20.000 48.750 6.000 120.000 10.000 13.333 20.000 90.000 135.000 53.000 2.071.803 2.959.905 1.427.595 1,5 1.682.666 6.578 304

3. 4. 5. 6. 7.

Keuntungan diperoleh dari selisih penerimaan dengan pengeluaran, jika selisih tersebut positif maka perusahaan mengalami keuntungan. Hasil dari selisih penerimaan dengan pengeluaran usahatani pendederan I Ikan Gurami CV Dejee Fish bernilai positif. Hal ini menunjukkan usaha yang dijalankan mengalami keuntungan. Keuntungan yang diperoleh perusahaan dari usaha pendederan I Ikan Gurami adalah 33% dari penerimaan, yaitu sebesar Rp 1.427.595. 5.6.1 Analisis R/C Ratio (Revenue Cost Ratio) Analisis R/C ratio merupakan alat analisis untuk melihat keuntungan relatif suatu usaha dalam satu periode terhadap biaya yang dipakai dalam kegiatan tersebut. Suatu usaha dikatakan layak bila R/C >1. Hal ini menunjukkan semakin tinggi nilai R/C maka tingkat keuntungan usaha semakin tinggi. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa nilai R/C yang diperoleh perusahaan dari usaha budidaya pendederan I Ikan Gurami sebesar 1,5 artinya biaya total sebesar Rp 2.959,905 akan menghasilkan penerimaan 1,5 kali lebih besar dari biaya total atau setiap Rp 1 biaya yang dikeluarkan akan menghasilkan penerimaan sebesar Rp 1,5. Hal ini menunjukkan bahwa CV Dejee Fish layak melanjutkan usahanya di bidang pendederan 1 Ikan Gurami. 5.6.2 Analisis Break Event Point (BEP) Analisis BEP merupakan alat analisis untuk mengetahui batas minimal penerimaan yang harus diterima perusahaan, nilai produksi dan harga yang harus ditawarkan ke konsumen. Hasil perhitungan menunjukkan perusahaan tidak akan mengalami kerugian dan keuntungan pada saat penerimaan sebesar Rp 1.682.666, jumlah produksi sebanyak 6.578 ekor dan harga yang ditawarkan ke konsumen setiap ekor sebesar Rp 304. CV Dejee Fish mendapatkan penerimaan lebih besar dari BEP penerimaan yaitu sebesar Rp 4.387.500, jumlah produksi yang dihasilkan lebih besar dari BEP produksi yaitu sebesar 9.750 ekor dan harga yang ditawarkan ke konsumen lebih besar dari BEP harga yaitu sebesar Rp 450/ekor. Hal tersebut menunjukkan perusahaan layak menjalankan usahanya dibidang pendederan I Ikan Gurami. 4.12 Kendala yang dihadapi CV Dejee Fish Bisnis perikanan air tawar yang dilaksanakan CV Dejee Fish secara umum telah berjalan dengan baik, namun terdapat beberapa kendala yang dihadapi

perusahaan. Berdasarkan pengamatan penulis, kendala yang dihadapi CV Dejee Fish adalah subsistem pengadaan sarana produksi dan subsistem budidaya. Subsistem pengadaan sarana produksi berkaitan erat dengan kurangnya manajemen pengadaan sarana produksi, seperti pencatatan setiap kondisi dan jumlah sarana produksi. Pencatatan kondisi dan jumlah sarana produksi dapat mempermudah laporan kepemilikan peralatan perusahaan serta berguna sebagai acuan pengadaan sarana produksi yang dibutuhkan, sehingga sarana produksi yang dibutuhkan dalam subsistem budidaya bisa terpenuhi dengan maksimal. Subsistem budidaya yang berkaitan erat dengan penyediaan komoditas perikanan air tawar dari pembudidaya belum mampu memenuhi permintaan konsumen secara optimal. Faktor-faktor yang mempengaruhi kurang terpenuhi permintaan konsumen diantaranya kondisi alam dan teknologi yang belum sepenuhnya mendukung.

VI. KESIMPULAN DAN SARAN

4.13 1.

Kesimpulan Sistem agribisnis yang dilakukan CV Dejee Fish terdiri atas subsistem pengadaan sarana produksi, subsistem budidaya, subsistem pengolahan hasil perikanan (agroindustri), subsistem pemasaran dan subsistem penunjang. Subsistem pengolahan hasil perikanan dilakukan untuk komoditas Ikan Lele dan Ikan Nila. Setiap subsistem yang dilakukan CV Dejee Fish telah terintegrasi dengan baik.

2.

Hasil analisis kelayakan usaha pendederan I Ikan Gurami untuk satu ruangan hatchery dengan 27 akuarium dan 14.000 ekor larva gurami menghasilkan penerimaan total sebesar Rp 4.387.500. Biaya total yang harus dikeluarkan dalam satu siklus (35 hari) adalah Rp. 2.959.905. Keuntungan yang diperoleh perusahan bernilai positif sebesar Rp. 1.427.595. R/C yang didapat sebesar 1,5, hal ini menunjukkan usaha pendederan I Ikan Gurami layak dilakuakan. Berdasarkan analisis titik impas, nilai penerimaan, produksi dan harga yang dihasilkan perusahaan lebih besar dari nilai titik impas. Nilai titik impas penerimaan, produksi dan harga berturut-turut adalah Rp. 1.682.666, 6.578 ekor dan Rp 304/ekor. Hasil analisis ini menunjukkan usaha pendederan I Ikan Gurami menguntungkan dan layak untuk diusahakan.

3.

Pola kemitraan yang dilakukan CV Dejee Fish adalah inti-plasma dan kemitraan dagang umum. Produk ikan air tawar yang dijual perusahaan hampir 85% dihasilkan dari proses kemitraan dan 15% dari hasil budidaya di perusahaan. Kemitraan dilakukan dengan pembudidaya di wilayah Sukabumi, Bogor dan Purbalingga.

4.14 1.

Saran Data hasil produksi, kondisi dan jumlah sarana produksi serta data kesehatan ikan tidak tercatat rapi. Perusahaan sebaiknya senantiasa melakukan pencatatan terhadap hasil produksi, kondisi dan jumlah sarana produksi serta data kesehatan ikan. Pencatatan tersebut akan memudahkan dalam melihat perkembangan perusahaan, manajemen pengadaan sarana

produksi, manajemen pengendalian dan mutu ikan serta dalam pelaporan kondisi perusahaan. 2. Setiap divisi produksi sebaiknya melakukan pencatatan mengenai biaya dan penerimaan secara lengkap dalam satu siklus, sehingga memudahkan perusahaan untuk melihat perkembangan usaha yang dijalankan.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik. 2013. Penduduk Indonesia Menurut Provinsi Tahun 2010. Badan Pusat Statistik. Jakarta. http://www.bps.go.id. (diakses pada tanggal 13 Januari 2013) Badan Pusat Statistik. 2013. Produksi Ikan Indonesia Menurut Jenis Budidaya Tahun 2007-2011. Badan Pusat Statistik. Jakarta. http://www.bps.go.id. (diakses pada tanggal 13 Januari 2013) BP4K Kabupaten Sukabumi. 2013. BP3k Cisaat Tahun 2011. BP4K Kabupaten Sukabumi. Sukabumi. http://bp4kkabsukabumi.net/index.php? option= com_content &task =view&id=37&Itemid=53 (diakses tanggal 28 Mei 2013) Dokumen. 2012. Biaya Pelatihan Ikan Air Tawar CV Dejee Fish Tahun 2012. CV Dejee Fish. Sukabumi Dokumen. 2012. Data Penjualan Ikan Air Tawar Ikan Gurami Bulan JuliSeptember tahun 2012. CV Dejee Fish. Sukabumi Dokumen. 2012. Harga Ikan Air Tawar CV Dejee Fish Tahun 2012. CV Dejee Fish. Sukabumi Dokumen. 2012. Harga Olahan Ikan Air Tawar CV Dejee Fish Tahun 2012. CV Dejee Fish. Sukabumi Dokumen. 2012. Jumlah Media Budidaya CV Dejee Fish Tahun 2012. CV Dejee Fish. Sukabumi Dokumen. 2012. Peralatan CV Dejee Fish Tahun 2012. CV Dejee Fish. Sukabumi Effendi I, Oktariza W. 2006. Manajemen Agribisnis Perikanan. Penebar Swadaya. Depok Fauzi A. 2010. Ekonomi Perikanan (Teori, Kebijakan dan Pengelolaan). Gramedia Pustaka Utama. Jakarta Khairuman H, Amri K. 2011. Buku Pintar Budidaya dan Bisnis 15 Ikan Konsuumsi. Agro media pustaka. Jakarta Mahyudin K. 2008. Panduan Lengkap Agribisnis Lele. Penebar Swadaya. Depok

Nugroho M H. 2008. Analisis Pendapatan dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Produksi Pembenihan Ikan Gurami Petani Bersertifikat SNI (Studi Kasus : Desa Beji Kecamatan Kedung Banteng Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah). Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor Said E G, Intan A H. 2004. Manajemen Agribisnis. Ghalia Indonesia. Jakarta Saparinto C. 2011. Panduan Lengkap Gurami. Penebar Swadaya. Depok Soekartawi, Soeharjo A, Dillon JL, Haedaker JB. 1990. Ilmu Usahatani dan Penelitian untuk Pengembangan Petani Kecil. Universitas Indonesia. Jakarta Soekartawi. 2006. Ilmu Usahatani. Universitas Indonesia. Jakarta Statistik Kementrian Kelautan dan Perikanan. 2013. Jumlah Perikanan Budidaya Kolam Menurut Jenis Ikan di Pulau Jawa Tahun 2011. Kementrian Kelautan dan Perikanan. Jakarta. http://www.kkp.go.id (diakses tanggal 28 Mei 2013) Suratiyah K. 2009. Ilmu Usahatani. Penebar Swadaya. Depok Tim Penyusun. 2012. Panduan Penulisan Tugas Akhir Fakultas Agribisnis dan Teknologi Pangan. Universitas Djuanda Bogor. Bogor Tim Penyusun. 2012. Panduan Praktik Lapang. Jurusan Agribisnis, Fakultas Agribisnis dan Teknologi Pangan. Universitas Djuanda. Bogor. Tobing D. 2009. Analisis Kelayakan Usahatani Wortel (Studi Kasus : Desa Sukadame Kecamatan Tiga Panah Kabupaten Karo, Sumatera Utara). Skripsi. Universitas Sumatera Utara. Medan Umar H. 2003. Metode Riset Pemasaran dan Prilaku Konsumen. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta

LAMPIRAN

Lampiran 1 Produksi Ikan di Indonesia Berdasarkan Budidaya Tahun 20072011 (Ton) Budidaya Laut 1.509.532 1.966.002 2.820.083 Jaring Apung 190.893 263.169 238.605 309.499 375.430

Tahun 2007 2008 2009 2010 2011

Tambak 933.834 959.509 907.123

Kolam 410.374 479.167 554.067 819.809

Karamba 63.929 75.769 101.771 61.381 131.383

Sawah 85.009 111.563 86.913 96.605 86.448

3.514.702 1.416.038

4.605.827 1.602.728 1.127.127

Sumber : Statistik KKP, 2013

Lampiran 2 Luas Wilayah Kecamatan Cisaat

Luas Wilayah No Desa Sawah 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10 11 12 13 Cisaat Babakan Cibolang Kaler Cibatu Nagrak Sukamanah Padaasih Sukamantri Sukaresmi Sukasari Gunungjaya Selajambe Kutasirna Jumlah 39,550 144,100 90,459 94,933 49,854 52,311 147,440 37,100 161,960 150,179 125,095 100,250 113,260 1.306,491 Jumlah Tegalan/ Ladang 9,075 9,905 5,542 6,470 16,771 7,549 68,939 4,100 16,650 0,550 2,000 13,065 4,365 164,980 Pekarang-an 65,300 56,048 20,000 50,526 24,400 40,935 35 46,500 110,667 7,461 17,875 35,000 24,600 434,362 Perkebunan Kolam 10,000 7,500 20,600 13,600 19,000 2,000 5,000 2,000 4,500 10,000 15,500 23,000 6,000 138,700 Lain-Lain 1,700 2,392 0,500 2,470 0,140 2,240 1,260 0,500 0,800 2,560 3,500 0,700 1,810 20,542 (Ha) 125,625 219,995 137,100 167,999 110,165 105,035 257,639 90,200 294,557 170,720 163,970 172,015 150,035 2.165,09

Sumber : BP4K Kabupaten Sukabumi, 2013

Lampiran 3 Penjualan Ikan Air Tawar CV Dejee Fish Juli-Oktober 2012 Jenis Ikan Ukuran Telur 2-3 cm 4-5cm 6-7 cm 8-10 cm Konsumsi (kg) Induk (paket) Larva 2-3 cm 3-5 cm 5-7 cm 7-10 cm Konsumsi (kg) Induk (paket) Larva K2-3 cm 3-5 cm 5-7 cm Larva inci 1 inci Penjualan (Ekor) (a) 65.000 35.000 15.000 5500 5000 350 50 450.000 75.000 60.000 25.000 5.000 20 50 485.000 150.000 110.000 25.000 185.000 120.000 90.000 Harga (Rp) (b) 60 450 850 1.750 3.500 42.000 800.000 7 50 90 220 400 15.000 550.000 12 40 70 240 15 90 100 Penerimaan (Rp) (c = axb) 3.900.000 15.750.000 12.750.000 9.625.000 17.500.000 14.700.000 40.000.000 3.150.000 3.750.000 5.400.000 5.500.000 2.000.000 300.000 27.500.000 5.820.000 6.000.000 7.700.000 6.000.000 2.775.000 10.800.000 9.000.000 209.920.000 Total Penerimaan setiap Komoditas (d) Pangsa Pasar (f = d/e x100%)

Gurami

114.225.000

54%

Lele

47.600.000

23%

Nila

25.520.000

12%

Patin Total Penerimaan (e)

22.575.000

11%

Sumber : CV Dejee Fish, 2012

Lampiran 4 Jurnal Harian Kegiatan Praktik Lapang


Nama Mahasiswa NIM Nama Perusahaan Lokasi Perusahaan : Nurul Luthfita Sari : A.0910457 : CV Dejee Fish : Jl. Cibaraja Pasar Ikan No. 40 Cisaat- Sukabumi Paraf Pembimbing Lapang

No

Hari/Tanggal

Jenis Kegiatan - Perkenalan dengan pembimbing lapang, pimpinan perusahaan dan karyawan - Melihat Sarana dan Prasarana CV Dejee Fish - Memeriksa Benih Gurami - Membantu pengemasan ikan - Membersihkan Kolam Outdoor - Membersihkan hatchery 2 dan memeriksa benih Gurami - Memberi Pakan Lele - Membantu administrasi CPIB - Membersihkan hatchery1 - Mengikuti pengambilan Induk ikan lele ke Salajambe - Mengikuti pelatihan budidaya Ikan Lele - Membersihkan outdoor, hatchery 1 & 2 - Memberi pakan Lele - Memeriksa Benih Gurami - Materi dan Praktik Striping dan fillet induk Lele - Sortir induk Pating di Cipuntang - Materi Penyakit lele dan pencegahannya - Materi dan Praktik pembuatan pakan - Membersihkan

Waktu 09:00 10:00

1. Selasa, 28 Agustus 2012

10:00 12:00 13:00 13:30 17:00 17:30 06:00 07:00 07:00 07:30

2. Rabu, 29 Agustus 2012

07:30 08:00 10:00 12:00 13:00 14:00 14:00 15:00 16:00 22:00 06:00 07:00 07:00 07:30 07:30 08:00 08:00 10:00 10:30 13:30 13:30 16:00 19:00 21:00 06:00 07:00

3. Kamis, 30 Agustus 2012

4. Jumat, 31

Agustus 2012 -

5. Sabtu, 01 September 2012

6. Minggu, 2 September 2012 -

7. Senin 3 September 2012

8. Selasa 4 September 2012 -

9. Rabu, 5 Sept 2012

10. Kamis, 6 Sept 2012

outdoor, hatchery 1 & 2 Memeriksa Benih Gurami Memberi pakan Lele Pelatihan membuat probiotik alami untuk pellet Mengikuti pengabilan ikan ke BBPBAT Sukabumi Membanti packing Membersihkan outdoor, hatchery 1 & 2 Memeriksa Benih Gurami Memberi pakan Lele Membantu administrasi CPIB Membersihkan outdoor, hatchery 1 & 2 Memeriksa Benih Gurami Memberi pakan Lele Membersihkan outdoor, hatchery 1 & 2 Memeriksa Benih Gurami Memberi pakan Lele Membantu administrasi CPIB Membantu administrasi CPIB Membantu administrasi CPIB Membantu persiapan audit CPIB Mengikuti packing Membersihkan outdoor, hatchery 1 & 2 Membersihkan akuarium Benih Gurami Membantu packing benih Memberi pakan Lele Membersihkan lingkungan kerja

07:00 07:20 07:20 08:00 10:00 11:00 14:00 15:30 16:00 17:00 06:00 07:00 07:00 07:20 07:20 08:00 16:00 19:00 06:00 07:00 07:00 07:20 07:20 08:00 06:00 07:00 07:00 07:20 07:20 08:00 10:00 16:00 18:30 00:00 00:00 02:30 05:15 06:30 07:00 15:30 16:00 18:00 06:00 07:00 07:00 08:00 08:00 08:30 08:30 09:30 06:00 07:00

11. Jumat 7 Sept 2012

12. Sabtu, 8 Sept 2012

13. Minggu 9 Sept 2012 14. Senin, 10 Sept 2012

- Memisahkan benih gurami yang mati di akuarium - Memberi pakan lele - Memberi pakan lele - Membersihkan lingkungan kerja - Memisahkan benih gurami yang mati di akuarium - Memberi pakan lele - Persiapan packing - Packing - Belajar teknik packing - Membersihkan lingkungan kerja - Membersihkan akuarium benih gurami - Memberi pakan lele - Membersihkan ruang olahan - Memberi Pakan Lele

07:00 07:30 07:30 08:00 16:00 16:30 06:00 07:00 07:00 07:30 07:30 08:00 13:30 15:00 16:00 20:00 20:00 20:15 06:00 07:00 07:00 08:00 08:00 08:30 09:00 12:00 16:00 17:00 06:00 07:00 07:00 08:00 08:00 09:00 16:00 16:30 06:00 07:00 07:00 08:00 08:00 09:00 13:00 15:00 16:00 18:00 06:00 08:00 08:00 09:00 09:00 10:00 06:00 07:00 07:00 08:00 08:00 09:00

- Membersihkan lingkungan kerja - Membersihkan akuarium benih gurami - Memberi pakan lele - Memberi Pakan Lele 15. Selasa, 11 Sept - Membersihkan 2012 lingkungan kerja - Membersihkan akuarium benih gurami - Memberi pakan lele - Persiapan packing - Packing 16. Rabu, 12 Sept - Membersihkan 2012 lingkungan kerja - Memberi pakan lele - Membersihkan akuarium benih gurami 17. Kamis, 13 Sept - Membersihkan 2012 lingkungan kerja - Membersihkan akuarium benih gurami - Memberi pakan lele

- Membantu produksi olahan abon ikan lele 18. Jumat, 14 - Membersihkan Sept 2012 lingkungan kerja - Memberi pakan lele - Packing keberangkatan pagi - Persiapan packing - Packing - Produksi abon ikan lele 19. Sabtu, 15 Sept - Membersihkan 2012 lingkungan kerja - Membersihkan akuarium benih gurami - Memberi pakan gurami - Memberi Pakan lel - Produksi abon ikan lele 20 Minggu, 16 - Membersihkan Sept 2012 lingkungan kerja - Membersihkan akuarium benih gurami - Memberi pakan lele 21 Senin, 17 sept - Membersihkan 2012 lingkungan kerja - Memisahkan benih gurami yang mati - Memberi pakan lele - Membersihkan ruang olahan - Produksi nugget ikan lele 22. Selasa, 18 Sept - Membersihkan 2012 lingkungan kerja - Produksi nugget ikan lele (kecuali waktu sholat) 23. Rabu, 19 Sept - Membersihkan 2012 lingkungan kerja - Memisahkan benih gurami yang mati - Memberi pakan lele - Membersihkan ruang olahan - Produksi nugget ikan lele 24. Kamis, 20 Sept - Membantu persiapan

10:00 17:00 06:00 07:00 07:00 08:00 08:00 09:00 09:00 15:00 16:00 18:00 19:30 21:00 06:00 07:00 07:00 08:30 08:30 08:40 08:40 : 09:00 09:00 18:00 06:00 07:00 07:00 08:00 08:00 09:00 06:00 06:50 06:50 07:10 07:10 08:00 08:00 08:20 08:20 19:30 06:00 07:30 07:30 22:00 06:00 06:50 06:50 07:10 07:10 08:00 08:00 08:20 08:20 19:00 07:30 08:00

2012 -

25. Jumat, 21 Sept 2012

26. Sabtu, 22 Sept 2012

edutorism SDIT Adzkia Berangkat ke Cipuntang Pengemasan konsumsi untuk peserta Edutorism Kembali ke Cibaraja Memberi pakan Lele dan memisahkan lele yang mati Membersihkan lingkungan kerja Memisahkan benih gurami yang mati Memberi pakan lele Membantu pembuatan antibiotik alami Packing Membersihkan lingkungan kerja Memisahkan benih gurami yang mati Memberi pakan lele Membersihkan akuarium benih patin

08:00 08:15 08:15 12:00 13:00 13:15 16:00 16:30 06:00 07:00 067:00 08:00 08:00 08:30 09:00 10:00 16:00 18:00 06:00 07:00 07:00 07:30 07:30 07:40 07:50 11:30 12:00 13:30

- Mengantarkan pesanan Gurami ke Restoran Wisata Berburu di Cikidang 27. Minggu, 23 - Membersihkan Sept 2012 lingkungan kerja - Memberi pakan lele 28. Senin 24 Sept - Membersihkan 2012 lingkungan kerja - Menyiapkan pakan larva lele hari ke -5 berupa kuning telur - Membantu pemindahan larva ke hapa yang lain - Membersihkan akuarium benih gurami - Mengisi air akuarium benih gurami sampai ketinggian 24 cm - Packing Lele ukuran 3-4 cm dan 7-10 cm 29. Selasa, 25 Sept - Membersihkan 2012 lingkungan kerja

06:00 08:00 08:00 09:00 07:30 08:00 08:10 08:30 08:30 09:00 09:00 11:40 11:40 12:20 15:00 16:45 16:45 17:10 06:30 07:30

30. Rabu, 26 Sept 2012

- Memberi Pakan Lele - Membersihkan akuarium benih gurami - Persiapan packing - Membersihkan akuarium benih patin - Mengisi air akuarium benih patin - Memberi pakan benih patin berupa cacing sutera yang dicairkan PK - Menyiapkan makanan benih lele berupa kuning telur - Membersihkan akuarium benih gurami dan mengisi air - Mengambil ikan gurami di pembudidaya mitra - Menyiapkan plastik packing - Packing - Membersihkan nila baby Fish - Memberi pakan lele - Membersihkan lingkungan kerja - Mencatat jumlah ikan gurami yang dating dari Purwokerto - Membantu sampling ikan gurami dengan pemisahan kualitas baik - Mengantar pesanan Gurami ke Sukaraja - Mencatat pesanan ikan gurami ke Restoran - Membantu membersihkan akuarium benih patin - Mengisi air akuarium benih patin - Mencatat pesanan ikan gurami ke Panorama - Membersihkan mes di kantor - Wawancara dengan

07:30 08:10 08:10 08:30 08:30 09:10 09:10-09:30 09:30 10:10 10:10- 10:30

10:40 11:00 11:00 12:10

12:10 13:00 13:00 13:30 15:00 18:00 18:10 20:00 20:00 20:05 06:30 07:00 07:00 09:00 09:00 09:20

09:20 10:00 10:00 10:10 10:10 11:00 11:00 11:30 11:30 11:35 11:40 12:20 13:40 14:30

31. Kamis, 27 Sept 2012 -

karyawan Ikut memeriksa kolam untuk ikan gurami di Cicantayan Wawancara dengan pa Herman Membersihkan lingkungan kerja Memberi Pakan

14:30 16:00 16:00 17:30 06:30 08:00 08:00 09:00 10:00 12:00 19:30 21:00 08:00 16:00 16:00 18:00 06:30 08:30 07:00 09:00 09:00 10:30 10:30 12:00 07:00 09:00 09:00 19:00 19:00 20:00 07:00 09:00 10:00 12:00 13:00 16:00 07:00 09:00 07:00 09:00 12:00 13:30

- Membersihakan akuarium benih patin - Wawancara dengan direktur perusahaan 32. Jumat 28 Sept - Membantu pembuatan 2012 abon ikan lele - Packing abon 33. Sabtu, 29 Sept - Membersihkan 2012 lingkungan kerja 34. Minggu, 30 - Pemanenan ikan Sept 2012 gurami - Pendederan 2 ikan gurami - Persiapan packing berupa fiber untuk induk ikan gurami 35. Senin, 01 Okt - Membersihkan ikan 2012 nila baby Fish - Produksi pengolahan baby Fish - Packing baby Fish 36. Selasa,2 Okt - Membersihkan 2012 lingkungan kerja - Persiapan packing - Packing 37. Rabu, 3Okt - Membersihkan 2012 lingkungan kerja 38. Kamis, 4 Okt - Membersihkan 2012 lingkungan kerja - Membantu masak gurami untuk hidangan relasi bisnis - Packing 39. Jumat, 5 Okt - Packing 2012 40. Sabtu, 6 Okt - Menyiapkan tempat 2012 dan perlengkapan pelatihan ikan patin - Membantu panen lele dan sortir lele - Presentasi praktik lapang

16:00 -17:00 16:30 18:00 07:30 -08:00 08:00 12:30 13:30 16:00

Lampiran 5 Peta lokasi CV Dejee Fish

Lokasi

Lampiran 6 Profil Kewirausahaan Nama Tempat. Tanggal Lahir Pendidikan Formal : Deni Rusmawan. A.Md : Sukabumi. 3 Juni 1974 : MI MWB PUI SMP 2 Gunung Guruh MAN 1 Kota Bandung D3 Universitas Padjajaran Pendidikan Non Formal Status Menikah Alamat 1980-1987 1987-1990 1990-1993 1993-1996

: Pelatihan Manajer Pengendali Mutu CPIB 2011 : Menikah : Jl. Cibaraja Kp. Cibaraja RT 37 RW 08 Ds. Nagrak Kecamatan Cisaat Kabupaten

Sukabumi Provinsi Jawa Barat Jabatan Perusahaan Mulai Usaha Tokoh Idola Sikap Hidup a. : Direktur dan MPM CV Dejee Fish : 2005 : Guru dihidup saya adalah Ibu :

Perilaku hidup memiliki kayakinan bahwa usaha harus disertai dengan doa, kemudian tidak gengsi selama usaha yang dilakukan halal maka lakukan dengan sungguh-sungguh. Perilaku hidup memiliki wawasan kedepan terbukti beliau bercita-cita mendirikan tempat wisata perikanan air tawar yang lengkap, memiliki inovasi dan kreatifitas contohnya pada pengolahan ikan beliau dan istrinya yang meramu resepnya, pengelolaan keuangan baik terlihat dari perkembangan perusahaan dari awal berdiri hingga sekarang. Perilaku hidup memiliki motto hidup jika ingin maju maka berbagi.

b.

c.

Lampiran 7 Surat Izin Tempat Usaha CV Dejee Fish

Lampiran 8 Daftar Nama Karyawan CV Dejee Fish

Nama Tenaga Kerja Deni Rusmawan,A.Md Fondayanti Dini Handiyani,S.Pd Wulandari,A.Md Agus Chandra,S.Pi Robi Yogaswara,A.md Reza Fadilla,A.Md Jaka Trenggana,S.Pi Ipan Erlan Asep Saepudin Usep Sobandi Herman Uden Jobin Dede Misbahudin Yayat Busro Heri Iskandar Ade Ruhiat Miftah Ujang Setiawan Solah Usep Ridwan Sumber : CV Dejee Fish. 2012

Pendidikan D.3 SMA S.1 D.3 S.1 D.3 D.3 S.1 SMA SMK SMA SMA SMA SMA SMA SMA SMA SMA SMK SMK SMK SMA SMA

Tugas Pekerjaan/Jabatan Direktur Sekretaris Bendahara Administrasi Umum Kabag Pelatihan & Magang Kabag Marketing Kabag Marketing Kabag Litbang QC / Pengadaan Kabag Distribusi Sie. Transportasi Sie. Logistik Sie. Produksi Patin Sie. Produksi Nila Sie. Produksi Gurame Sie. Produksi Lele Sie. Produksi Udang/Lobster Sie. Produksi Ikan Hias Sie. Perawatan Induk Pelaksana teknis Pelaksana teknis Pelaksana teknis Pelaksana teknis

Lampiran 9 Media Budidaya CV Dejee Fish

Kolam Terpal Pemeliharan Induk

Kolam Pemijahan

Kolam Pemberokan

Ruangan hatchery

Kolam Tanah di Cipuntang

Lampiran 10 Peralatan yang digunakan CV Dejee Fish Jenis Peralatan Mesin Diesel (1200 watt) Mesin Diesel (2200 watt) Blower (400 watt) Heater Termometer Serok Tabung Oksigen Besar Tabung Oksigen Kecil Tabung Gas Elpiji Baskom Sortir Selang Pompa Air Sepatu Boot Gelas Ukur Sterofoam Jaring Plastik Packing Karet Ember 5 Kg Ember 8 Kg Hapa Kakaban Drum Pisau Gergaji Paralon Golok Pacul Keranjang Mesin pembuat pakan Sumber : CV Dejee Fish, 2012 Unit 1 1 2 60 10 20 2 1 2 5 30 4 20 2 3 20 1 1 8 4 50 40 10 6 2 8 2 2 2 1 Satuan Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Buah Meter Buah Pasang Buah Box Meter Kg Kg Buah Buah Meter Buah Buah Buah Buah Batang Buah Buah Buah Buah Kondisi Cukup Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Cukup Baik Cukup Baik Baik Baik Cukup Cukup Baik Cukup Cukup Cukup Cukup Baik Cukup Cukup Baik Baik

Lampiran 11 Sertifikat Pembenihan

Lampiran 12 P-IRT Dejee Food

Lampiran 13 Peralatan Unit Pengolahan CV Dejee Fish (Dejee Food) Peralatan Kompor gas Tabung gas elpiji Wajan penggorengan Sendok penggorengan Panci pengukus Baskom plastik Nampan plastik Piring Pisau Sendok Mangkuk Talenan Freezer Spiner Sealer Timbangan digital Timbangan duduk Blander Saringan Sumber : CV Dejee Fish, 2012 Jumlah (buah) 2 2 2 2 1 3 2 4 3 6 3 2 1 1 1 1 1 1 2 Kondisi Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Cukup Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik

Lampiran 14 Daftar harga benih dan indukan ikan air tawar CV Dejee Fish No 1. Jenis Ikan Lele sangkuriang Lele sangkuriang Lele sangkuriang Lele sangkuriang Lele sangkuriang Lele sangkuriang Lele sangkuriang Lele sangkuriang induk (15 ekor) 2. Bawal Bawal Bawal Bawal Bawal Bawal Bawal induk (1 jantan : 1 betina) 3. Patin Patin Patin Patin Patin Lele Dumbo Lele Dumbo Lele Dumbo Lele Dumbo induk (15 ekor) Nila Merah Nila Merah Nila Merah Nila Merah Nila Merah Nila Merah Induk Ukuran Larva 2-3 cm 3-5 cm 4-6 cm 5-7 cm 7-9 cm 7 10 cm 0,5 1 kg Larva inch 1 inch 1 inch up 1,5 inch 2 inch 2,5-3 kg Larva inch 1 inch 1,5 inch 2 inch 2-3 cm 3-5cm 4-6 cm 0,5-1 kg Larva 1-2 cm 2-3 cm 3-5 cm 5-7 cm 100 gram Harga/ekor (Rp) 7 50 90 150 220 300 400 550.000* 15 80 100 115 200 350 60.000* 15 90 100 200 350 45 85 145 450.000* 35 50 80 150 350 15.000

4.

5.

Lampiran 14 (Lanjutan) Daftar harga benih dan indukan ikan air tawar CV Dejee Fish No 6. Jenis Ikan Nila GMT Nila GMT Nila GMT Nila GMT Nila GMT Nila GMT 7. Nila hitam Nila hitam Nila hitam Nila hitam Nila hitam Nila hitam Ikan Mas Ikan Mas Ikan Mas Ikan Mas Ikan Mas Ikan Mas Induk Lobster huna biru Lobster huna biru Nilem Nilem Graskap Graskap Mola Mola Ukuran Larva 1 2 cm 2 3 cm 3 5 cm 5 7 cm 100 gram Larva 1 2 cm 2 3 cm 3 5 cm 5 7 cm 100 gram Larva 2 3 cm 3 5 cm 5 7 cm 7 10 cm 0,5 2,5 kg 5 6 cm Calin 2 3 cm 3 5 cm 2 3 cm 3 5 cm 2 3 cm 3 5 cm Harga/ekor (Rp) 12 35 50 85 250 30.000 12 30 40 70 240 8.500 12 80 100 350 6.000 60.000 5.000 25.000 100 150 150 200 85 110

8.

9.

10.

11.

12.

Lampiran 14 (Lanjutan) Daftar harga benih dan indukan ikan air tawar CV Dejee Fish No 13. Jenis Ikan Baung Baung Baung Baung Baung Baung 14. Tembakang Tembakang Belut (kg) Sidat (kg) Ukuran Larva inch 1 inch 1 inch up 1,5 inch 2 inch 2 3 cm 3 5 cm 10 15 cm Glass ill Harga/ekor (Rp) 10 100 125 150 250 300 100 250 45.000 850.000

15. 16.

Sumber : CV Dejee Fish, 2012

Lampiran 15 Biaya pelatihan (P2MKP) CV Dejee Fish No Jenis Pelatihan 1. Pelatihan budidaya ikan gurami (3 hari 2 malam) - Paket standar (mess) - Paket eksekutif (hotel) - Paket grup standar (4 orang mess) - Paket grup eksekutif (4 orang hotel) 2. Pelatihan budidaya ikan lele (3 hari 2 malam) - Paket standar (mess) - Paket eksekutif (hotel) - Paket grup standar (4 orang mess) - Paket grup eksekutif (4 orang hotel) 3. Pelatihan budidaya ikan nila (3 hari 2 malam) - Paket standar (mess) - Paket eksekutif (hotel) - Paket grup standar (4 orang mess) - Paket grup eksekutif (4 orang hotel) 4. Pelatihan budidaya ikan mas (3 hari 2 malam) - Paket standar (mess) - Paket eksekutif (hotel) - Paket grup standar (4 orang mess) - Paket grup eksekutif (4 orang hotel) 5. Pelatihan budidaya ikan patin (3 hari 2 malam) - Paket standar (mess) - Paket eksekutif (hotel) - Paket grup standar (4 orang mess) - Paket grup eksekutif (4 orang hotel) 6. Pelatihan budidaya ikan bawal (3 hari 2 malam) - Paket standar (mess) - Paket eksekutif (hotel) - Paket grup standar (4 orang mess) - Paket grup eksekutif (4 orang hotel) Sumber : CV Dejee Fish, 2012 Biaya (Rp) 1.850.000 2.300.000 4.500.000 5.500.000 1.500.000 2.000.000 4.000.000 5.000.000 1.800.000 2.250.000 4.250.000 5.250.000 1.500.000 2.000.000 4.000.000 5.000.000 3.000.000 3.700.000 8.000.000 9.500.000 3.000.000 3.700.000 8.000.000 9.500.000

Lampiran 16 Daftar harga olahan ikan di CV Dejee Fish Jenis Nugget Kaki naga Baby fish Abon ikan Bakso Ikan Dendeng ikan nila Kerupuk kulit Pack (gram) 200 200 100 100 200 85 85 Harga Jual (Rp) 12.000 15.000 20.000 18.000 12.000 15.000 20.000 Harga reseller (Rp) 9.000 12.000 15.000 15.000 10.000 12.000 16.000

Sumber : CV Dejee Fish, 2012

Lampiran 17

Peritungan Analisis Usahatani Pendederan I Ikan Gurami di CV Dejee Fish

Y Py TR

= Jumlah produksi benih gurami sebanyak 9.750 = Harga per ekor sebesar Rp 450 = Y x Py = 9.750 x 450 = Rp 4.387.500

TC

= TFC + TVC = 888.101 + 2.071.803 = Rp. 2.959.905

Keuntungan

= TR TC = Rp 4.387.500 Rp 2.959.905 = Rp 1.427.595

R/C =

TR TFC + TVC 4.387.500 888.101 + 2.071.803

= 1,5 TFC BEP Penerimaan (Rp) = 1 TVC TR 888.101 = 2.071.803 1 4.387.500 = Rp 1.682.666

Lampiran 17 (Lanjutan) Peritungan Analisis Usahatani Pendederan I Ikan Gurami di CV Dejee Fish

BEP Produksi (ekor) =

TC Py 2.959.905 450

= 6.578 ekor

BEP Produksi (ekor) =

TC Y 2.959.905 = 9.750 = Rp 304/ekor