Anda di halaman 1dari 17

BAB I PENDAHULUAN

Obligasi adalah surat pengakuan utang yang disertai dengan kepastian tentang tanggal jatuh tempo, jumlah, tingkat bunga dan tanggal pembayaran bunganya. Jenis utang atau surat kesanggupan membayar jangka panjang yang dikeluarkan peminjamn, berjanji membayar kepada pemegangnya, pembayaran dengan nilai bunga tetap setiap tahun Karakteristik utama obligasi, yaitu: Nilai nominal (nilai pari/face value) Adalah nilai pokok dari suatu obligasi yang akan diterima oleh pemegang obligasi pada saat obligasi tersebut jatuh tempo. Kupon (the interest rate) Adalah nilai bunga yang diterima pemegang obligasi secara berkala (kelaziman pembayaran kupon obligasi adalah 3 atau 6 bulanan). Kupon obligasi dinyatakan dalam annual prosentase. Jatuh tempo (maturity) Adalah tanggal dimana pemegang obligasi akan mendapatkan pembayaran kembali pokok atau nilai nominal obligasi yang dimilikinya. Obligasi yang akan jatuh tempo dalam 1 tahun akan lebih mudah untuk diprediksi, sehingga memiliki resiko yang lebih kecil dibandingkan dengan obligasi yang memiliki periode jatuh tempo dalam 5 tahun. Secara umum, semakin panjang jatuh tempo suatu obligasi, semakin tinggi kupon/bunganya. Penerbit/emiten (issuer) Mengetahui dan mengenal penerbit obligasi merupakan faktor sangat penting dalam melakukan investasi obligasi ritel. Mengukur resiko dan kemungkinan dari penerbit obligasi tidak dapat melakukan pembayaran kupon dan atau pokok obligasi tepat waktu (disebut default risk) dapat dilihat dari peringkat (rating) obligasi yang dikeluarkan oleh lembaga pemeringkat seperti PEFINDO atau Kasnic Indonesia.

BAB II PEMBAHASAN

Penilaian Obligasi dan Alternatif Penilaian Saham


1. Zero-Coupon Bond Obligasi yang tidak melakukan pembayaran bunga secara periodik. Namun bunga dan pokok dibayarkan sekaligus pada saat jatuh tempo. Obligasi ini diperdagangkan dengan pemberian potongan harga dari nilai pari. Pemegang obligasi menerima secara penuh pokok hutang pada saat jatuh tempo obligasi dengan kata lain penerbit obligasi hanya akan membayar pokok obligasi pada saat jatuh tempo. Investor mendapatkan keuntungan dari bunga intrinsik pada saat jatuh tempo serta selisih dari harga discounted dengan nilai par-nya. Investor yang membeli obligasi zero coupon bond memang tidak akan mendapatkan bunga sama sekali sampai jatuh tempo. Jika obligasi itu diterbitkan untuk masa 10 tahun misalnya, maka uang investor akan mengendap di sana selama masa tersebut, kecuali jika investor menjualnya kembali ke pasar. Contoh : Zero-coupon bond selalu ditawarkan dengan harga diskon yang tinggi. Ketika membeli, investor akan membeli dengan harga diskon dan ketika jatuh tempo ia akan menerima pembayaran penuh. Gambarannya begini. Perusahaan ABC menerbitkan obligasi tanpa bunga sebesar Rp100 miliar dengan masa jatuh tempo 10 tahun. Obligasi ini dilepas pada harga 60 persen. Dengan harga penawaran sebesar itu berarti investor yang membeli obligasi ABC tadi tidak perlu membayar senilai harga nominal 100 persen. Jika investor X misalnya akan membeli sebanyak Rp100 juta maka ia hanya membayar sebesar Rp60 juta. Meski investor X tadi hanya membayar Rp60 juta, tapi pada saat jatuh tempo nanti (10 tahun kemudian) ia akan menerima pokok obligasi sebesar Rp 100 juta. Jadi dalam kurun 10 tahun, uang investor X tadi tumbuh sebesar 66,6 persen dari Rp 60 juta menjadi Rp100 juta. Dari kacamata investor, jelas

zero-coupon bond

merupakan instrument investasi jangka panjang yang

imbal hasillnya tidak bisa dipanen cepat satu tahun atau dua tahun. Jika investor membutuhkan dana tunai, jalan satu-satunya hanya menjual obligasi tersebut di pasar. Harga zero coupon bond akan naik dari waktu ke waktu mendekati tanggal jatuh tempo. Disitulah keuntungan yang bisa dinikmati investor. Sedangkan bagi issuer atau penerbit, meskipun nilai obligasi yang ditawarkan mencapai Rp100 miliar, jika obligasi tanpa bunga tersebut terjual semua, maka perusahaan ABC hanya akan menerika dana tunai sebesar Rp60 miliar saja. Tentu ini belum dipotong biaya-biaya dalam rangka penerbitan. Dari sisi issuer, obligasi tanpa bunga memiliki kelebihan bahwa perusahaan tidak dipusingkan dengan bunga yang harus dibayar tiga bulan sekali sebagaimana obligasi pada umumnya. Perusahaan hanya memikirkan agar saat jatuh tempo 10 tahun mendatang harus ada dana tunai Rp100 miliar untuk membayar pokok obligasi tersebut.

2. Coupon Bond: Fixed Rate and Floating Rate Obligasi dengan kupon yang dapat diuangkan secara periodik sesuai dengan ketentuan penerbitnya. Kupon bisa juga disebut sebagai tingkat bunga yang dibayarkan oleh pihak yang mengeluarkan obligasi kepada investor. Coupon Bond terdiri dari: a. Fixed-Rate Bond Fixed-rate bond adalah obligasi dengan tingkat kupon/bunga yang tetap, berkebalikan dengan floating-rate bond. Fixed-rate bond adalah surat hutang jangka panjang yang membawa tingkat bunga yang telah ditentukan sebelumnya.Tingkat bunga dikenal sebagai tingkat kupon dan bunga dapat dibayarkan pada tanggal tertentu sebelum obligasi tersebut jatuh tempo.

Misal: Coupon obligasi 18% per tahun dengan nilai nominal Rp 1.000.000,00 selama 5 tahun, maka pembeli obligasi akan menerima Rp 180.000,00 per tahun selama 5 tahun ditambah dengan Rp 1.000.000,00. b. Floating-Rate Bond Floating-rate bond adalah obligasi yang mempunyai kupon yang berubahubah, mengikuti tingkat bunga pasar uang seperti suku bunga Bank Indonesia, dan juga spread. Spread adalah tingkat yang tetap konstan (bisa dianggap sebagai tingkat keuntungan tambahan atas risiko). Hampir semua floating-rate bond mempunyai kupon secara kuartal, tiga bulanan. Pada tiap awal periode kupon, tingkat kupon dihitung dengan mengambil referensi suku bunga pasar pada hari tersebut, kemudian menambahkan spread. Misalnya: Pada tahun pertama menawarkan suku bunga 19% (tetap), tapi pada tahun berikutnya menawarkan suku bunga mengambang (dikaitkan dengan suku bunga beberapa bank ditambah dengan presentase tertentu). Sebagai contoh : suku bunga mengambang ditawarkan sama dengan rata-rata suku bunga deposito 6 bulan dari bank-bank umum di tambah 1,75%.

3. Callable Bond Obligasi yang memberikan hak kepada emiten untuk membeli kembali obligasi pada harga tertentu sepanjang umur obligasi tersebut. Callable bond merupakan obligasi yang dapat ditebus sebelum jatuh tempo. Hak penebusan ini digunakan emiten jika tingkat bunga pasar lebih rendah dari pada tingkat bunga obligasi dan tidak digunakan jika tingkat bunga pasar lebih tinggi dari pada tingkat bunga obligasi. Callable bond sangat menarik dan tidak berbahaya. Karena callable bond memiliki "double-life" dan mereka lebih kompleks dibandingkan obligasi pada umumnya serta membutuhkan lebih banyak atensi dari investor. Callable bonds memiliki dua cakupan kehidupan yang potensial, salah satu berakhir pada original maturity date dan lainnya pada "callable date".

Pada callable date, issuer mungkin melakukan "recall" obligasi dari investor. Hal ini secara mudah berarti bahwa issuer pensiun obligasi melalui pengembalian dana investor. Secara esensial, callable bonds merepresentasikan obligasi pada umumnya dengan tambahan "call option". Opsi ini mengimplikasikan dijual kepada issuer oleh investor dan menggariskan issuer untuk pensiunkan obligasi pada waktu tertentu. Issuer mempunyai hak untuk melakukan "call away" obligasi dari investor. Opsi ini memperkenalkan ketidakpastian cakupan kehidupan obligasi. Guna memberikan kompensasi kepada investor terhadap kondisi ketidakpastian ini, issuer akan membayarkan tingkat bunga yang lebih tinggi dibandingkan obligasi lainnya (non-callable bond). Sebagai tambahan, issuer mungkin menawarkan obligasi yang callable pada tingkat harga melebihi original par value. Biaya yang lebih tinggi terhadap issuer dan meningkatnya risiko terhadap investor, obligasi ini dapat lebih atraktif dibandingkan lainnya. Investor menyukainya karena mereka memberikan tingkat imbal hasil yang lebih tinggi dibandingkan normal, paling tidak sampai obligasi tersebut called away. Secara berlawanan, callable bond atraktif terhadap issuer karena mereka mengizinkan untuk mengurangi biaya bunga pada masa yang akan datang. Lebih jauh, mereka memberikan tujuan penting yang bertujuan menciptakan kesempatan pada pasar keuangan bagi perusahaan dan individual terhadap ekspektasi tingkat bunga. Callable bond menimbulkan masalah dalam perhitungan harga wajar karena jangka waktu obligasi hingga dilunasi tidak pasti. Contoh soal: PT XYZ menerbitkan obligasi dengan nilai par Rp 1 milyar berjangka waktu 20 tahun dengan bunga j2 = 12%. Obligasi itu dapat ditebus pada akhir tahun ke-10 pada harga 110 atau pada akhir tahun ke-15 pada harga 105. Berapa harga obligasi yang menjamin investor memperoleh yield minimum j2 = 11%? Penyelesaian:

F P10 P15 n

= P20 = Rp 1.000.000.000 = Rp 1.100.000.000 = Rp 1.050.000.000 = 20 tahun = 40 semester

npenebusan = 10 tahun (20 semester) dan 15 tahun (30 semester) c C i = 12% p.a. = 6% per semester = 6% x Rp 1.000.000.000 = Rp 60.000.000 = 11% p.a. = 5,5% per semester

P Rp 717.022.949 Rp 377.001.859,7 P Rp 1.094.024.808,7 Harga w ajar jika obligasi ditebus setelah 15 tahun : (1 (1 5,5%)30 ) Rp 60.000.000 Rp 1.050.000.000 5,5% (1 5,5%)30 P Rp 872.024.710,2 Rp 210.676.216,4 P Rp 1.082.700.926,6 P

Harga wajar jika obligasi ditebus setelah 20 tahun : (1 (1 5,5%) 40 ) Rp 60.000.000 Rp 1.000.000.000 5,5% (1 5,5%) 40 P Rp 962.767.481,1 Rp 117.463.142,3 P P Rp 1.080.230.623,4
4. Bond Rating Dalam investasi, rating merupakan salah satu hal yang sangat penting karena menentukan suatu perusahaan / negara bisa mendapatkan pendanaan dari penerbitan obligasi atau tidak dan berapa besar kupon atau imbal hasil yang harus dibayarkan supaya mau diterima oleh investor. Rating adalah suatu penilaian yang terstandarisasi terhadap kemampuan suatu negara atau perusahaan dalam membayar hutang-hutangnya. Karena terstandarisasi artinya rating suatu perusahaan atau negara dapat dibandingkan dengan

perusahaan atau negara yang lain sehingga dapat dibedakan siapa yang mempunyai kemampuan lebih baik, siapa yang kurang. Bond Rating adalah penilaian yang diberikan kepada obligasi yang berindikasi pada kualitas kredit mereka. Ada badan khusus yang independen dimana bergerak dalam bidang jasa yang memberikan penilaian standard obligasi dan isu-isu mengenai kekuatan keuangan perusahaan dalam pembayaran pokok obligasi beserta bunganya dalam peride tertentu tersebut. Tiga komponen utama yang digunakan oleh agen pemeringkat untuk menentukan peringkat (rating) obligasi: Kemampuan perusahaan penerbit untuk memenuhi kewajiban finansialnya sesuai dengan yang diperjanjikan. Struktur dan berbagai ketentuan yang diatur dalam surat hutang. Perlindungan yang diberikan maupun posisi klaim dari pemegang surat hutang tersebut bila terjadi pembubaran/likuidasi serta hukum yang mempengaruhi hak-hak kreditur. Ada beberapa peringkat obligasi dari Standar and Poors, yaitu: AAA Ranking tertinggi dari Standar and Poors dan menujukkan kemampuan yang sangat kuat dalam membayar pokok dan bunga. AA Obligasi yang dikualifikasikan sebagai obligasi berkualitas tinggi, dengan perbedaan sangat kecil dari AAA. A Obligasi yang memiliki kemampuan yang kuat untuk membayar pokok dan bunga walaupun mereka lebih rentan terhadap efek merugi dari perubahan situasi dan kondisi perekonomian. BBB Obligasi yang dianggap memiliki kemampuan yang mencukupi untuk membayar pokok dan bunga, walaupun mereka biasanya menunjukkan parameter perlindungan yang memadai, namun kondisi perekonomian yang merugi atau perubahan keadaan biasanya dapat melemahkan kemampuan membayar pokok dan bunga obligasi,

dibandingkan kategori A.

BB, B, CCC, CC Obligasi pada peringkat BB, B, CCC, dan CC secara berturut-turut semakin rapuh kemampuannya. Obligasi yang masuk ke dalam peringkat ini mulai bersifat spekulatif dalam hal kemampuan perusahaan membayar bunga dan pokok pinjaman. C Peringkat C disediakan untuk obligasi pendapatan dnegan tidak ada bunga dibayar. D Obligasi dengan peringkat D sudah dianggap gagal, dengan pembayaran bunga maupun pokok mengalami kemacetan.

Plus (+) atau minus (-) untuk menyediakan indikasi yang lebih mengenai kualitas kredit, peringkat AA ke BB bisa dimodifikasikan dengan menambah tanda plus dan minus untuk menunjukkan posisi relatif diantara kategori peringkat utama. Peringkat obligasi bukanlah suatu saran untuk membeli atau menjual obligasi. Meskipun begitu, lembaga pemeringkat efek dapat menjembatani kesenjangan informasi antara emiten atau perusahaan penerbit dan investor melalui penyediaan informasi standar atas tingkat resiko kredit suatu perusahaan. Investor umumnya memanfaatkan peringkat suatu obligasi untuk mengukur resiko yang dihadapi dalam pembelian obligasi tersebut.

5. ORI, SUN, Obligasi Korporasi a) ORI (Obligasi Ritel Indonesia) Sebuah instrumen investasi yang diterbitkan pemerintah (dijamin pemerintah) tentunya tingkat keamanan sangat tinggi. Boleh jadi investor di pasar perdana berebut untuk membeli instrumen yang zero risk tersebut. Apalagi ori memiliki beberapa karakteristik yang sama dengan deposito. Apabila bunga deposito dibayarkan tiap bulan, begitupun kupon ori juga dibayarkan setiap bulannya. Yang lebih menarik lagi bunga deposito tiap bulan belum tentu sebesar kupon bunga yang ditawarkan ORI. ORI merupakan investasi yang bebas terhadap resiko gagal bayar, yaitu kegagalan pemerintah untu membayar kupon dan pokok kepada investor.

Nama pasar obligasi yang telah diterbitkan adalah Seri ORI 001 dan Seri ORI 002. Secara ringkas berikut ini merupakan keuntungan investasi ORI: a) Aman dan terjamin karena pembayaran kupon dan pokoknya diajmin oleh Undang-Undang. b) Memberikan keuntungan yang menarik karena kupon yang lebih tinggi dari suku bunga bank (di pasar perdana) c) Dapat diperdagangkan di pasar sekunder sesuai dengan harga pasar dan adanya potensi capital gain di pasar sekunder. d) Prosedur pembelian dan penjualan yang mudah dan transparan. e) Pembayaran kupon dan pokok dilakukan tepat waktu dan secara online ke dalam rekening tabungan investor. f) Dapat dijadikan jaminan bank, dan deposit untuk bertransaksi saham. g) Memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk berpatisipasi langsung dalam Pembangunan Nasional.

Selain berbagai kemudahan dan keuntungan yang ditawarkan dalam berinvestasi ORI, terdapat resiko dalam investasi ini, yakni: a) Resiko pasar (market risk); merupakan potensi kerugian bagi investor bila harga ORI di pasar sekunder lebih rendah dari harga pembelian (baik di pasar perdana maupun pasar sekunder) b) Resiko likuiditas (liquidity risk); yaitu potensi kerugian apabila sebelum jatuh tempo pemilik ORI yang memerlukan dana tunai mengalami kesulitan dalam menjual ORI di pasar sekunder pada tingkat harga (pasar) yang wajar. Cara menghitung pendapatan investasi ORI Sebuah ORI 002 dengan bunga yang ditawarkan pemerintah RI sebesar 9,28% Menghitung nilai ORI sekarang harga pari = 1.000.000

kupon

= 9,28%x1000.000 = 92800 dibayar bulanan

jangka waktu 3 tahun jika bunga deposito = 7% Nilai sekarang = 92800 /12 [( 1 -1/(1+0,07/12)3.12] + 1000000/ (1+0,07/12)3.12 = 1.064.000 Obligasi dengan harga yang biasa disebut pari atau par dengan harga patokan 100, sedangkan obligasi yang ditawarkan dengan harga diskon 2% dinyatakan bernilai 98% (benefit ini tentunya diluar kupon bunga tetap yang ditawarkan yang biasanya diatas bunga deposito). Contoh Menghitung ORI (pada keadaan pasar yang bagus/naik) Beli Rp 5 jt di Bank Permata setelah 3 bulan dijual dengan harga 102 (naik) Keuntungan: bunga 3 bulan capital gain total keuntungan Pajak pajak atas obligasi =20%x116.000 pajak atas cap gain =20%x100.000 total pajak Biaya-biaya meterai 26.000 penyimpanan &kustodi +PPN= 32.2 biaya penjualan ORI=0.5%x5jt total biaya Keuntungan bersih= 216.000-43.200-43.600 = = = = 12.000 6.600 25.000 43.600 = = = 23.200 20.000 43.200 = 9,28% x 3/12 x Rp 5 jt = (102%x Rp 5 jt) - Rp 5 jt = 116.000 = 100.000 = 216.000

= 129.200

Contoh Menghitung ORI (pada keadaan pasar yang tidak bagus/turun) Beli 5jt di Bank Permata setelah 3 bulan dijual dengan harga 98 (turun) Keuntungan:

bunga 3 bln capital gain Pajak

= 9,28%x3/12x5juta = (98%x5juta)-5juta

= 116.000 = -100.000 = 16.000 = 23.200 = 23.200 = = = = 12.000 6.600 25.000 43.600

total keuntungan pajak atas obligasi =20%x116.000 total pajak Biaya-biaya meterai 26.000 penyimpanan &kustodi +PPN= 32.200 biaya penjualan ORI=0.5%x5jt total biaya Kerugian bersih= 16.000-23.200-43.600

= -48.600

b) Surat Utang Negara (SUN) Surat utang negara (SUN) adalah surat berharga yang berupa surat pengakuan utang dalam mata uang rupiah maupun valuta asing yang dijamin pembayaran bunga dan pokoknya oleh Negara Republik Indonesia, sesuai dengan masa berlakunya. SUN dan pengelolaannya diatur oleh Undang-Undang No. 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara. Secara umum SUN dapat dibedakan ke dalam dua jenis: a) Surat Perbendaharaan Negara (SPN), yaitu SUN berjangka waktu sampai dengan 12 bulan dengan pembayaran bunga secara diskonto. Di Amerika Serikat, SPN ini dikenal dengan sebutan Treasury Bills (TBills). b) Obligasi Negara (ON), yaitu SUN berjangka waktu lebih dari 12 bulan. Di Amerika Serikat, obligasi negara ini dikenal dengan sebutan Treasury Bonds (T-Bonds). Pentingnya obligasi negara: a) Bagi pemerintah o Membiayai defisit APBN

o Menutupi kekurangan kas jangka pendek o Mengelola portofolio utang negara b) Pemerintah pusat berwenang untuk menerbitkan SUN setelah mendapat persetujuan DPR dan setelah berkonsultasi dengan Bank Indonesia. Atas penerbitan SUN, pemerintah berkewajiban untuk membayar bunga dan pokok pinjaman dengan dana yang disediakan dalam APBN. c) Beberapa hal penting mengenai obligasi negara: o Obligasi negara harus mencerminkan investasi bebas resiko o Obligasi digunakan sebagai benchmark o Obligasi negara dapat digunakan sebagai alat dalam menata ekonomi o Obligasi negara diharapkan dapat memudahkan pricing dan evaluasi obligasi, baik di pasar primer maupun pasar sekunder. o Obligasi negara dapat menjadi alat manajemen resiko. Penerbitan dan Perdagangan Obligasi Negara: a) Obligasi negara dengan kupon dapat dibedakan: o Obligasi negara berbunga tetap, yaitu obligasi negara seri FR (fixed rate). Kupon obligasi ini telah ditetapkan ketika diterbitkan. o Obligasi berbunga mengambang, yaitu obligasi negara seri VR (variable rate). b) Pembelian obligasi negara dapat dilakukan baik di pasar perdana maupun di pasar sekunder. c) Obligasi Korporasi Obligasi korporasi (perusahaan) merupakan sekuritas yang diterbitkan oleh suatu perusahaan yang menjanjikan kepada pemegangnya pembayaran sejumlah uang tetap pada suatu tanggal jatuh tempo di masa mendatang disertai dengan pembayaran bunga secara periodik. Ketika menerbitkan obligasi, perusahaan juga menyusun bond indenture yang ringkasannya disediakan dalam prospektus.

Bond indenture : dokumen legal yang memuat perjanjian tertulis antara perusahaan penerbit obligasi dan pemegangnya. Salah satu isi penting dari bond indenture adalah call provision. Call provision : memberikan hak kepada perusahaan penerbitnya untuk membeli kembali obligasi yang beredar dari para pemegangnya sebelum tanggal jatuh tempo.

Berbagai Alternatif Penilaian Saham


A. Pengertian Saham Saham adalah efek yang umumnya di perdagangkan di Bursa Efek, dimana market price ditentukan oleh suplay dan demand di bursa, yang merupakan bukti kepemilikan perorangan / lembaga atas suatu perusahaan.

B. Jenis Saham 1. Dari segi kemampuan dalam hak tagih/klaim Saham Biasa Saham biasa merupakan bagian sumber dana terbesar dalam perushaan dan merupakan sumber dana terbesar dalam perusahaan, dan apabila perusahaan dikuidasi, pemilik saham biasa akan mendapatkan hak terakhir dalam pengembalian modalnya baik dibayar penuh maupun dibayar sebagain dari aset perusahaan. Saham biasa disebut juga common stock. Saham Prioritas Saham prioritas disebut juga preference share atau preffered stock atau saham preferen atau saham istimewa. Saham prioritas dikatakan memiliki karakteristik gabungan antara obligasi dan saham biasa, karena menghasilkan pendapatan tetap (seperti bunga obligasi) tetapi juga bisa mendatangkan hasil sebagaimana yang dikehendaki investor. Dan dikatakan sebagai saham biasa karena mewakili kepemilikan

ekuitas dan diterbitkan tanpa tanggal jatuh tempo serta membayar dividen.

2. Dari Segi Peralihannya a. Saham atas unjuk; saham yang tidak mencantunkan nama pemiliknya sehingga mudah untuk dipindahtangankan. b. Saham atas nama; saham yang mencantumkan nama pemiliknya sehingga kalau dipindahtangankan harus melewati prosedur.

3. Dari Kinerja Perdagangan a. Blue-chip stock; saham perusahaan yang dianggap memiliki reputasi sebagai leader (pimpinan) di industri sejenis, memiliki pendapatan relatif stabil dan konsisten membayar dividen. Blue-chip bukan bearti selalu untung, tetapi selalu diperdagangkan, seperti saham Astra, BCA, Bank Mandiri, Telkom, Indosat, dan Indofood. b. Income stock; saham perusahaan yang mempunyai kemampuan membayar dividen lebih tinggi dari rata-rata. c. Growth stock; saham emiten/perusahaan yang memiliki pertumbuhan pendapatan yang lebih tinggi dan sebagai leader di industri sejenis. d. Speculative stock; suatu saham yang nilainya tidak mencerminkan kondisi yang sebenarnya dan harganya sering berfluktuasi tinggi (secara tidak rasional). e. Counter cyclical stock; saham yang tidak terpengaruh oleh kondisi ekonomi makro maupun situasi bisnis secara umum. Biasanya perusahaanya berkaitan dengan kebutuhan pokok.

C. Alternatif Penilaian Saham Cash Flow Approach Contoh Soal : Free cash flow $200 million di akhir tahun Expected grow at constant rate 5% per tahun

WACC 9% Present value dari expected future cash flows adalah present value dari nilai pertumbuhan per tahun, jadi nilai pertumbuhan per tahun :

V= FCF (1 + g) WACC g

= $200 million (1.05) 0.09-0.05

= $5,250 million

Free cash flow adalah cash flow yang tersedia untuk dibagikan kepada seluruh investor, bukan hanya pemegang saham. WACC adalah rata-rata rate of return yang diinginkan seluruh investor ,bukan hanya pemegang saham. Oleh sebab itu, V adalah nilai seluruh operasi perusahaan, bukan hanya nilai dari equity. Jika perusahaan tidak mempunyai nonoperating assets, seperti investasi jangka pendek short term investment di marketable securities,kita harus menambah ke V nya untuk mencari total nilai nya. Contoh perusahaan di atas tidak mempunyai nonoperating assets, jadi totalnya nilai nya $5,250 million. Untuk mencari nilai equity maka kurangi dengan nilai klaim yang dilakukan oleh semua kelompok selain pemegang common stock, debholders dan preferred stockholders. Jika nilai hutang dan saham preferred $ 2,000 million. Maka nilai equity $ 5,250 - $2,000 = $3,250 million. Jika saham yang beredar 325 million maka nilai intrinsik sahamnya $3,250/325 = $10 per lembar.

Price Multiples (PER, PEG, dan P/BV) Price Earning Ratio (PER) PER adalah rasio harga dibagi laba per saham (earnings per share) atau price/EPS. Ada dua macam PER yaitu past PER yang berdasarkan past EPS dan prospective PER yang berdasarkan EPS akan datang. Tidak seperti past PER yang dihitung berdasarkan data akuntansi, Prospective PER bersifat estimasi. EPS tahunan, untuk mudahnya diestimasi dari EPS kuartal 1 dikali 4 (disetahunkan) atau EPS semester 1 dikali 2. Dalam praktik, prospective PER lebih sering

digunakan karena harga saham lebih tergantung pada labanya pada masa datang. Saham dibeli karena masa depannya bagus dan bukan karena masa lalunya. Price Earning Growth (PEG) PEG adalah rasio PER saham dibagi pertumbuhannya atau PER/g. PEG sebesar 1 berarti saham telah bernilai wajar. Saham dengan PEG lebih dari satu adalah saham terlalu mahal. Sementara saham dengan PEG di bawah satu adalah saham ber-PEG rendah dan relatif murah. Menurut analisa fundamental, saham yang layak dikoleksi adalah saham dengan PEG rendah karena dapat memberikan return tinggi. Saham dengan PEG tinggi mungkin saja menjanjikan pertumbuhan yang lebih besar dari ekspektasi, sementara saham dengan PEG rendah mungkin karena kurang mendapat respons positif pasar. PEG Ratio = P/E ratio / pertumbuhan tahunan EPS Semakin rendah PEG Ratio suatu perusahaan maka berarti harga sahamnya adalah dibawah harga semestinya ( undervalued) dan perusahaan memiliki rasio pertumbuhan EPS yang tinggi. Misalnya suatu perusahaan dengan pertumbuhan EPS sebesar 21.5% dengan P/E Ratio sebesar 37.3% maka PEG Ratio nya adalah 21.5/37.3=0.576. Rasio Harga Saham terhadap Nilai Buku (PB/V Ratio) Rasio Harga Saham terhadap Nilai Buku (PB/V Ratio) dihitung dengan cara membagi ekuitas dengan rata-rata jumlah saham yang beredar. Hasilnya dinyatakan dalam rupiah. Misalnya total ekuitas PT Maju Jaya Rp 100 miliar sedangkan jumlah rata-rata saham beredarnya 1 miliar. Dengan kondisi seperti ini artinya nilai buku (BV) per saham Maju Jaya adalah Rp 100 per saham (100/1). Nilai buku (BV) memang bisa jadi sangat berbeda dengan harga saham di pasar. Nilai buku per saham menggambarkan nilai setiap

saham tersebut dalam hitungan akuntansi. Adapun harga saham menggambarkan ekspektasi investor atas nilai setiap saham. Semakin tinggi PBV suatu saham, analis biasanya menganggap harganya semakin mahal. Sebaliknya, semakin rendah PBV semakin murah saham tersebut. PB/V Ratio = Harga saham / (total harta - total hutang) Semakin rendah PB/V rasionya berarti harga saham tersebut murah atau berada di bawah harga sebenarnya, namun hal ini juga dapat berarti ada sesuatu yang merupakan kesalahan mendasar pada perusahaan tersebut. Misalnya perusahaan XXX memiliki harta sebesar Rp 100 milyar dan hutangnya sebesar Rp 70 milyar maka nilai buku perusahan tersebut adalah Rp 30 milyar dan apabila saham yang beredar 500 juta maka berarti setiap saham mewakili Rp 600 nilai buku, dengan harga per lembar saham sebesar Rp 1.200 maka berarti PB/V rasio perusahaan tersebut adalah 1.200/600 = 2.

Residual Income (Abnormal Earnings Model) Residual income merupakan ukuran yang tepat untuk perilaku maksimalisasi para manajer dan untuk mengevaluasi kinerja. Residual income di sini adalah laba akuntansi dikurangi dengan beban penggunaan modal ekuitas. RI = NOPAT (k x Capital) NOPAT K Capital = Net Operating Profit After Tax = biaya modal perusahaan = aktiva yang diinvestasikan dalam aktivitas operasi yang berkelanjutan

Residual income yang positif menunjukkan kelebihan laba dari yang dibutuhkan oleh kreditur dan pemilik modal, yang berarti merupakan wealth bagi residual claimants, yaitu pemegang saham. Sebaliknya, residual income yang negatif berarti penurunan wealth pemegang saham.