Anda di halaman 1dari 33

SEDIAAN SUSPENSI

DASAR TEORI SUSPENSI

A. PENGERTIAN SUSPENSI
1. adalah yang mengandung bahan obat padat dan bentuk halus dan tidak larut, terdispersi dalam cairan pembawa (FI III hal: 32) 2. Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung partikel tidak larut yang terdispersi dalam fase cair (FI IV hal : 17) 3. Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung obat padat, tidak melarut dan terdispersikan sempurna dalam cairan pembawa atau sediaan padat terdiri dari obat dalam bentuk serbuk sangat halus, dengan atau tampa zat tambahan yang akan terdispersikan sempurna dalam cairan pembawa yang di tetapkan (formularium nasional hal : 3) 4. Suspensi adalah sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam bentuk halus dan tidak larut, terdispersi dalam cairan pembawa (IMO hal : 149) 5. Suspensi merupakan sistem heterogen yang terdiri dari dua fase. fase kontinue atau fase luar umumnya merupakan cairan atau semi padat dan fase terdispersi atau fase dalam terbuat dari partikel kecil, yang pada dasarnya tidak larut, tetapi terdispersi seluruhnya dalam fase kontinu zat yang tidak larut bisa dimaksudkan untuk diabsorpsi fisiologis atau untuk fungsi pelapisan dalam dan luar (leon lachman hal : 985) Suspensi terdiri dari beberapa jenis yaitu : 1. Suspensi Oral adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat yang terdispersi dalam pembawa cair dengan bahan pengaroma yang sesuai dan ditujukkan untuk penggunaan oral. 2. Suspensi Topikal adalah sediaan cair mengandung partikel padat yang terdispersi dalam pembawa cair yang ditujukkan untuk penggunaan pada kulit. 3. Suspensi Optalmik adalah sediaan cair steril yang mengandung partikel-partikel yang terdispersi dalam cairan pembawa yang ditujukkan untuk penggunaan pada mata. 4. Suspensi tetes telinga adalah sediaan cair yang mengandung partikel-partikel halus yang ditujukkan untuk diteteskan pada telinga bagian luar. 5. Suspensi untuk injeksi adalah sediaan berupa suspensi serbuk dalam medium cair yang sesuai dan tidak disuntikan secara intravena atau kedalam saluran spinal. Suspensi untuk injeksi terkontinyu adalah sediaan padat kering dengan bahan pembawa yang sesuai untuk membentuk larutan yang memenuhi semua persyaratan untuk suspensi steril setelah penambahan bahan pembawa yang sesuai

B.Stabilitas Suspensi
Salah satu problem yang dihadapi dalam proses pembuatan suspensi adalah cara memperlambat penimbunan partikel serta menjaga homogenitas dari pertikel. Cara tersebut merupakan salah satu tindakan untuk menjaga stabilitas suspensi. Beberapa faktor yang mempengaruhi stabiltas suspensi adalah : 1.Ukuran Partikel Ukuran partikel erat hubungannya dengan luas penampang partikel tersebut serta daya tekan keatas dari cairan suspensi itu. Hubungan antara ukuran partikel merupakan perbandingan terbalik dengan luas penampangnya. Sedangkan antar luas penampang dengan daya tekan keatas merupakan hubungan linier. Artinya semakin besar ukuran partikel maka semakin kecil luas penampangnya. 2.Kekentalan / Viskositas Kekentalan suatu cairan mempengaruhi pula kecepatan aliran dari cairan tersebut, makin kental suatu cairan kecepatan alirannya makin turun (kecil). Hal ini dapat dibuktikan dengan hukum STOKES

Ket : V = Kecepatan Aliran d = Diameter Dari Partikel p = Berat Jenis Dari Partikel p0 = Berat Jenis Cairan g = Gravitasi

= Viskositas Cairan 3.Jumlah Partikel / Konsentrasi Apabila didalam suatu ruangan berisi partikel dalam jumlah besar, maka partikel tersebut akan susah melakukan gerakan yang bebas karena sering terjadi benturan antara partikel tersebut. Benturan itu akan menyebabkan terbentuknya endapan dari zat tersebut, oleh karena itu makin besar konsentrasi partikel, makin besar kemungkinan terjadinya endapan partikel dalam waktu yang singkat. 4.Sifat / Muatan Partikel Dalam suatu suspensi kemungkinan besar terdiri dari beberapa macam campuran bahan yang sifatnya tidak terlalu sama. Dengan demikian ada kemungkinan terjadi interaksi antar bahan tersebut yang menghasilkan bahan yang sukar larut dalam cairan tersebut. Karena sifat bahan tersebut sudah merupakan sifat alami, maka kita tidak dapat mempengruhi. Ukuran partikel dapat diperkecil dengan menggunakan pertolongan mixer, homogeniser, colloid mill dan mortir. Sedangkan viskositas fase eksternal dapat dinaikkan dengan penambahan zat pengental yang dapat larut kedalam cairan tersebut. Bahan-bahan pengental ini sering disebut sebagai suspending agent (bahan pensuspensi), umumnya besifat mudah berkembang dalam air (hidrokoloid). Bahan pensuspensi atau suspending agent dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu : 1. Bahan pensuspensi dari alam. Bahan pensuspensi dari alam yang biasanya digunakan adalah jenis gom / hidrokoloid. Gom dapat larut atau mengembang atau mengikat air sehingga campuran tersebut membentuk mucilago atau lendir. Dengan terbentuknya mucilago maka viskositas cairan tersebut bertambah dan akan menambah stabilitas suspensi. Kekentalan mucilago sangat dipengaruhi oleh panas, PH, dan proses fermentasi bakteri.

a. Termasuk golongan gom : Contonya : Acasia ( Pulvis gummi arabici), Chondrus, Tragacanth , Algin b. Golongan bukan gom : Contohnya : Bentonit, Hectorit dan Veegum. 2. bahan pensuspensi sintesis a. Derivat Selulosa Contohnya : Metil selulosa, karboksi metil selulosa (CMC), hidroksi metil selulosa. b.Golongan organk polime

C.

MACAM-MACAM SUSPENSI

1. Suspensi oral adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat dalam bentuk halus yang terdispersi dalam fase cair dengan bahan pengaroma yang sesuai, yang ditujukan untuk penggunaan oral. 2. Suspensi topikal adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat dalam bentuk halus yang terdispersi dalam cairan pembawa cair yang di tunjukkan untuk penggunaan kulit. . Suspensi tetes telinga adalah sediaan cair yang mengandung partikel-partikel halus yang ditunjukan untuk di teteskan pada telinga bagian luar. 4. Suspensi oflamik adalah sedian cair steril yang mengandung partikel sangat halus yang terdispersi dalam cairan pembawa untuk pemakaian pada mata. 5. Suspensi untuk injeksi terkontitusi adalah sediaan padat kering dengan bahan pembawa yang sesuai untuk membentuk larutan yang memenuhi semua persyaratan untuk suspensi. Steril setelah penambahan bahan yang sesuai. (lmu Resep Syamsuni hal 125)

D. SYARAT-SYARAT SUSPENSI
1. Suspensi tidak boleh diinjeksikan secara intravena dan intrarektal 2. Suspensi yang dinyatakan untuk di gunakan dengan cara tertentu harus mengandung zat antimikroba. 3. Suspense harus di kocok sebelum digunakan

4. Suspensi harus disimpan dalam wadahtertutup rapat.( FI IV hal 18) 1. Suspensi terdispersi harus halus dan tidak boleh mengendap 2. Jika dikocok harus segera terdispersi kembali 3. Dapat mengandung zat tambahan untuk menjamin stabilitas 4. Keketalan suspense tidak boleh terlalu tinngi agar mudah di kocok dan di tuang. (FI III hal 32) Karakteristik suspensi harus sedemikian rupa sehingga ukuran partikel dari suspenoid tetap agak konstan untuk yang lama pada penyimpanan (ansel hal 356) Partikel padatan fase dispersi harus halus dan tidak boleh cepat mengendap (1985 FKI hal 82) Kadar surfaktan yang digunakan tidak boleh mengiritasi atau melukai kulit (1985 FKI hal 77)

E.

KOMPOSISI SUSPENSI

1. Bahan aktif. Contoh: sulfur praicipitat, calamin, titanium dioksida 2. Bahan tambahan Pewarna : metilen blue, metamil yellow Pengawet : nipagin 2-5%, nipasol 0,05-0,025% 3. Suspending Agent . Akasia (PGA) Bahan ini diperoleh dari eksudat tanaman akasia sp. Dapat larut dalam air, tidak larut dalam alcohol, dan bersifat asam, viskositas optimum mucilagonya adalah PH 5-9. Mucilage gom arap dengan kadar 35 % memeiliki kekentalan kira-kira sama dengan gliserin. Gom ini mudah dirusak oleh bakteri sehingga dalam suspense harus ditambahkan pengawet. (ilmu resep syamsuni hal 139) b. Tragakhan Mengandung tragakhan 2% dan dibuat dengan jalan menggerus dahulu serbuk tragakan dengan air 20x banyaknya sampai diperoleh suatu masa yang homogen. Kemudian diencerkan dengan sisa dari tragakan lambat mengalami hidrasi. Sehinggan untuk mempercepat hidrasi biasanya dilakukan pemanasan mucilago tragakan juga lebih kental dari pada mucilago dari Gom arab. (ilmu resep syamsuni hal 140) c. Mucilago amily Dibuat dengan amilum tritici 2% . (vanduin hal 58) d. Solution gum arabicum Mengandung gum arabikum 10% dan dibuat dengan jalan membuat dahulu mucilage gom arab dari gom yang tersedia kemudian mengencerkannya. (vanduin hal 58 ) e. Mucilago saleb Dibuat dengan serbuk saleb 1 % seharusnya dengan serbuk yang telah dihilangkan patinya dengan pengayakan, dimana diperoleh suatu mucilage. (vanduin hal 58) f. Solution gummosa

Mengandung pulvis gummosus 2% dan dibuat dengan jalan menggerus dahulu pulvis gummosus dengan air 7x banyaknya sampai diperoleh suatu masa yang homogen dan mengencerkannya sedikit demi sedikit (vanduin hal 58)

F.

CARA PEMBUATAN SUSPENSI SECARA UMUM

1. Metode dispersi Ditambahkan bahan oral kedalam mucilage yang telah terbentuk, kemudian diencerkan 2. Metode Presitipasi Zat yang hendak didispersikan dilarutkan dulu dalam pelarut organik yang hendak dicampur dengan air Setelah larut dalam pelarut organik larutan zat ini kemudian di encerkan dengan latrutan pensuspensi dalam air sehingga akan terjadi endapan halus tersuspensi dalam air seningga akan terjadi endapan halus tersuspensi dengan bahan pensuspensi.

G.FORMULSI SUSPENSI
Membuat suspensi stabil secara fisis ada 2 kategori :

Pada penggunaan Structured Vehicle untuk menjaga partikel deflokulasi dalam suspensi Structured Vehicle, adalah larutan hidrokoloid seperti tilose, gom, bentonit, dan lain-lain.

Penggunaan prinsip-prinsip flokulasi untuk membentuk flok, meskipun terjadi cepat pengendapan, tetapi dengan pengocokan ringan mudah disuspensikan kembali.

Pembuatan suspensi sistem flokulasi ialah : 1. Partikel diberi zat pembasah dan dispersi medium. 2. Lalu ditambah zat pemflokulasi, biasanya berupa larutan elektrolit, surfaktan atau polimer. 3. Diperoleh suspensi flokulasi sebagai produk akhir. 4. Apabila dikehendaki agar flok yang terjadi tidak cepat mengendap, maka ditambah Structured Vehicle.

5. Produk akhir yang diperoleh ialah suspensi flokulasi dalam Structured Vehicle. Bahan Pengawet Penambahan bahan lain dapat pula dilakukan untuk menambah stabilitas suspensi, antara lain penambahan bahan pengawet. Bahan ini sangat diperlukan terutama untuk suspensi yang menggunakan hidrokoloid alam, karena bahan ini sangat mudah dirusak oleh bakteri. Sebagai bahan pengawet dapat digunakan butil p. benzoat (1:1250), etil p.benzoat (1:500), propil p. benzoat (1 : 4000), nipasol, nipagin 1%. Disamping itu banyak pula digunakan - garam komplek dari mercuri untuk pengawet, karena memerlukan jumlah yang kecil, tidak toksik dan tidak iritasi. Misalnya fenil mercuri nitrat, fenil, mercuri chlorida fenil mercuri asetat.

Macam-macam bahan pensuspensi dari alam. a. Akasia (pulvis gom arab) b. Chondrus c. Tragakan d. Algin Macam-macam suspensi alam buakan golongan gom yaitu tanah liat. Bentonit, hectorite, veegum. Bahan suspensi sintesi. Drivat selulosa Golongan organik poimer Cara mengerjakan obat suspensi ada 2 cara yaitu. 1. Metode Dispersi, metode ini dilakukan dengan cara menambahkan serbuk bahan obat kedalam misilago yang telah terbentuk, kemudian baru di encerkan. 2. Metode Prestipitasi, zat yang hendak didespersiakan di larutkan terlebih dulu kedalam pelarut organik yang hendak di campur dengan air. Sistem pembentukan suspensi 1. Sistem defukolasi, partikel defukolasi mengendap perlahan akhir nya membentuk sedimen,akan terjadi agregasi, dan akhirnya terbentuk cake yang keras dan sukar tersuspensi kembali. 2. Sistem flokulasi, partikel flokulasi terikat lemah, cepat mengendap dan pada penyimpanan tidak terjadi cake dan mudah tersuspensi kembali.

H.Penilaian Stabilitas Suspensi


1. Volume sedimentasi Adalah Suatu rasio dari volume sedimentasi akhir (Vu) terhadap volume mula mula dari suspensi (Vo) sebelum mengendap.

2. Derajat flokulasi. Adalah Suatu rasio volume sedimentasi akhir dari suspensi flokulasi (Vu) terhadap volume sedimentasi akhir suspensi deflokulasi (Voc).

3.Metode reologi Berhubungan dengan faktor sedimentasi dan redispersibilitas, membantu menemukan perilaku pengendapan, mengatur vehicle dan susunan partikel untuk tujuan perbandingan. 4.Perubahan ukuran partikel Digunakan cara Freeze-thaw cycling yaitu temperatur diturunkan sampai titik beku, lalu dinaikkan sampai mencair kembali. Dengan cara ini dapat dilihat pertumbuhan kristal, yang pokok menjaga tidak terjadi perubahan ukuran partikel dan sifat kristal.

I.EVALUASI SEDIAAN
1. Metode reologi Berhubungan dengan factor sedimentasi dan redispersibilitas membantu menentukan prilaku pengendapan mengatur pembawa dan susunan partikel untuk perbandingan.

2. Perubahan ukuran partikel Digunakan cara freeze-thow yaitu temperature diturunkan sampai titik beku, lalu dinaikkan sampai mencair kembali. Dengan cara ini dapat dilihat pertumbuhan Kristal yang intinya menjaga agar tidak terjadi perubahan ukuran partikel dan sifat Kristal. (lachman edisi 2 hal 10)

J. CONTOH FORMULASI SEDIAAN SUSPENSI


RESEP SUSPENSI TOPIKAL a. LOTIO KUMMERFEL,DI. (aqua cosmetika kummerfeldi) (Obat kukul) Resep stadart R/ Sulf praec Camph Mucil Gum Arab Sol. Calc Hidrat Aq. Rosae s.u.e Rancangan Formulasi Dr. azhhuri (SIP.017/KOD/DU/II/1991) Praktik: Jln.sawojajar 23 Malang Telp. 03417456678 Malang 27-11-2012 R/ Sulf praec 4 Camph 0,6 Mucil Gum Arab 2 Sol. Calc Hidrat 26,8 Aq. Rosae 26,6 s.u.e 20 3 10 134 133

Pro:

Ani (18 th)

Alamat: jln. Anggrek no.9 Malang

A. MONOGRAFI 1. Sulfur praicipitat / belerang endap Pemerian: serbuk amof/ hablur renik, sangat halus, warna kuning pucat, tidak berbau dan berasa Kelarutan: praktis tidak larut dalam air, sangat mudah larut dalam karbondioksida, praktis tidak larut dalam etanol.(FI IV, hal 771) Khasiat: antiskabisid 2. Campora Pemerian: hablur, granul/ massa hablur, putih/ tidak berwarna, jernih, bau khas, tajam, rasa pedas dan aromatik, menguap perlahan pada suhu kamar. Kelarutan: sukar larut dalam air, sangat mudah larut dalam etanol, minyak lemak, minyak menguap.(FI IV, hal 167) Khasiat: anti iritan 3. Mucil PGA Mengandung Gummi Arabicum 40% dan dibuat dengan menambahkan 1,5 kali air kepada Gom Arap itu, kemudian digerus sampai diperoleh suatu massa yang homogeny. (VANDUIN hal 58) 4. Sol Calc Hidrat Suatu kapur tohor dengan tiga bagian ait mendidihdiencerkan, sesudah 15 menit dengan air hingga 25 bagian, biarlah campuran mengendap dan tuanglah zat cair yang diatasnya, tambahkan air yang sama banyak pada endapannya, kocok dan biarkan mengendap lagi. Tuanglah lagi zat cair yang diatasnya, ulangi lagi dan akhirnya tambahkan pada endapannya 300 bagian air, dikocok berulang-ulang dan simpanlah campurannya dalam botol tertutup baik. (PH ned hal 532) 5. Aqua rosae Larutkan sebagian minyak mawar dalam 1g bagian spiritus keras dan saring, ambil 4 bagian dari larutan tambahkan 996 bagian air saringlah zat cair jernih. (PH ned, hal 105) 6. Pulv Gumi Arabicum Pemerian; serbuk putih/putih kekuningan, tidak berbau Kelarutan: larut hamper semua dalam air, tetapi sangat lambat meninggalkan, sisa bagian tanaman dalam jumblag sangat sedikit, dan membersihkan cairan seperti mucilage, tidak bermarna/ kekuningan, kental, lengket, transparan, bersifat asam lemah terhadap kertas lakmus biru, praktis tidak larut dalam eter dan etanol. (FI IV hal 718) B. PERHITUNGAN BAHAN 1. Sulfur Praecipitat : 20g/300ml X 60 ml = 4g 2. Champora 3. Mucil PGA PGA : 3g/300ml X 60 ml = 0,6g : 10g/300ml X 60 ml = 2g : 4g/100g X 60 ml = 0,8g

Aqua untuk PGA : 1,5 X 0,8 = 1,2 ml

4. Sol. Calc hidrat 5. Aqua Rosae C. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13.

: 134g/300ml X 60 ml = 26,8ml

: 133g/300g X 60 ml = 26,6ml

ALAT Dan BAHAN Mortir Setemper Beaker Glass Gelas ukur Kaca arloji Penara Timbangan Etiket warna biru Sudip Sendok tanduk Perkamen Pinset Botolvolume60ml

Secara umum sifat-sifat dari partikel flokulasi dan deflokulasi adalah : a. Deflokulasi Partikel suspensi dalam keadaan terpisah satu dengan yang lain. o Sedimentasi yang terjadi lambat masing-masing patikel mengendap terpisah dan ukuran partikel adalah minimal. Sediaan terbentuk lambat. o Diakhir sedimen akan membentuk cake yang keras dan sukar terdispersi lagi. b.Flokulasi Partikel merupakan agregat yang basa Sedimentasi terjadi begitu cepat o Sedimen tidak membentuk cake yang keras dan padat dan mudah terdispersi kembali seperti semula. D.Formulasi suspensi Membuat suspensi stabil secara fisis ada 2 kategori : Pada penggunaan Structured Vehicle untuk menjaga partikel deflokulasi dalam suspensi Structured Vehicle, adalah larutan hidrokoloid seperti tilose, gom, bentonit, dan lain-lain. Penggunaan prinsip-prinsip flokulasi untuk membentuk flok, meskipun terjadi cepat pengendapan, tetapi dengan pengocokan ringan mudah disuspensikan kembali. Pembuatan suspensi sistem flokulasi ialah : 1. Partikel diberi zat pembasah dan dispersi medium. 2. Lalu ditambah zat pemflokulasi, biasanya berupa larutan elektrolit, surfaktan atau polimer. 3. Diperoleh suspensi flokulasi sebagai produk akhir. 4. Apabila dikehendaki agar flok yang terjadi tidak cepat mengendap, maka ditambah Structured Vehicle. 5. Produk akhir yang diperoleh ialah suspensi flokulasi dalam Structured Vehicle.

E.Penilaian Stabilitas Suspensi 1. Volume sedimentasi Adalah Suatu rasio dari volume sedimentasi akhir (Vu) terhadap volume mula mula dari suspensi (Vo) sebelum mengendap. 2. Derajat flokulasi. Adalah Suatu rasio volume sedimentasi akhir dari suspensi flokulasi (Vu) terhadap volume sedimentasi akhir suspensi deflokulasi (Voc). 3.Metode reologi Berhubungan dengan faktor sedimentasi dan redispersibilitas, membantu menemukan perilaku pengendapan, mengatur vehicle dan susunan partikel untuk tujuan perbandingan. 4.Perubahan ukuran partikel Digunakan cara Freeze-thaw cycling yaitu temperatur diturunkan sampai titik beku, lalu dinaikkan sampai mencair kembali. Dengan cara ini dapat dilihat pertumbuhan kristal, yang pokok menjaga tidak terjadi perubahan ukuran partikel dan sifat kristal. Keuntugan sediaan suspensi antara lain sebagai berikut : a. Bahan obat tidak larut dapat bekerja sebagai depo, yang dapat memperlambat terlepasnya obat . b. Beberapa bahan obat tidak stabil jika tersedia dalam bentuk larutan. c. Obat dalam sediaan suspensi rasanya lebih enak dibandingkan dalam larutan, karena rasa obat yang tergantung kelarutannya. Kerugian bentuk suspensi antara lain sebagai berikut : a. Rasa obat dalam larutan lebih jelas. b. Tidak praktis bila dibandingkan dalam bentuk sediaan lain, misalnya pulveres, tablet, dan kapsul. c. Rentan terhadap degradasi dan kemungkinan terjadinya reaksi kimia antar kandungan dalam larutan di mana terdapat air sebagai katalisator . Rute Pemberian Sediaan Bentuk Suspensi - Oral, contoh : suspensi kloramfenikol, rifampicin - Ocular, contoh : suspensi hidrokortison asetat - Otic, contoh : suspensi hidrokortison - Parenteral, contoh : suspensi penicilin G ( i.m ) - Rectal, contoh : suspensi paranitro sulfathiazol - Topical, contoh : caladin losio Alasan Penggunaan Suspensi Dalam Farmasi - Zat berkhasiat tidak larut dalam air - Zat berkhasiat tidak enak atau pahit - Mengurangi proses penguraian zat aktif dalam air - Kontak zat padat dengan medium dispersi dipersingkat - Memperpanjang pelepasan obat menggunakan pembewa minyak

A. Keuntungan Bentuk Sediaan Suspensi :


baik digunakan untuk orang yang sulit mengkonsumsi tablet, pil, kapsul. terutama untuk anak-anak memiliki homogenitas yang cukup tinggi lebih mudah di absorpsi daripada tablet, karna luas permukaan kontak dengan permukaan saluran cerna tinggi dapat menutupi rasa tidak enak/pahit dari obat dapat mengurangi penguraian zat aktif yang tidak stabil dalam air

B. Kerugian Bentuk Sediaan Suspensi :


memiliki kestabilan yang rendah jika terbentuk caking maka akan sulit terdispersi kembali, sehingga homogenisitasnya menjadi buruk alirang yang terlalu kental menyebabkan sediaan sulit untuk dituang ketepatan dosis lebih rendah dibandingkan sediaan larutan suspensi harus dilakukan pengocokan sebelum digunakan pada saat penyimpanan kemungkinan perubahan sistem dispersi akan meningkat apabila terjadi perubahan temperatur pada tempat penyimpanan

K. Pengemasan dan Penandaan Sediaan Semua suspensi harus dikemas dalam wadah mulut lebar yang

mempunyai ruang udara diatas cairan sehingga dapat dikocok dan mudah dituang. Kebanyakan suspensi harus disimpan dalam wadah yang tertutup rapat dan terlindung dari pembekuan, panas yang berlebihan dan cahaya. Suspensi perlu dikocok setiap kali sebelum digunakan untuk menjamin' distribusi zat padat yang merata dalam pembawa sehingga dosis yang diberikan setiap kali tepat dan seragam. Pada etiket harus juga tertera "Kocok Dahulu".

1. 2. 3. 4. 5. 6.

BAHAN: Sulfur praicipitat Sol. Calc hydrat Aqua rosae Champora PGA Spiritus fort

D. 1. 2. 3. 4.

CARA PEMBUATAN Disiapkan alat dan bahan Disetarakan timbangan Dikalibrasi botol 60ml Ditimbang champora, diasukkan dalam motir, ditambahkan 3 tetes spiritus fort dan digerus ad homogen. 5. Ditimbang sulf. Praicipitat dimasukkan kedalam no. 4, digerus ad homogen. Dipindahkan dalam kaca arloji, dan dibasahi dengan gliserin 6. Ditimbang PGA dimasukkan kedalam mortar digerus, ditambahkan aqua rosae 1,2ml digerus ad terbentuk mucilage 7. Ditambahkan no. 5 kedalam mortar no. 6 diaduk ad homogen 8. Ditambahkan sol calc hidrat diaduk ad homogen 9. Diencerkan hasil no 8 dengan aqua rosae, dimasukan dalam botol 10. Diadkan dengan aqua rosae ad tanda kalibrasi, lalu di tutup dan kocok ad homogen 11. Tutup dengan cup, diberi etiket biru dan label. E. ETIKET Apotek PUTRA INDONESIA
Jln. Barito 5 Malang Telp. (0341) 491132
Apoteker : dra. Bila S.A.S Apt No. SIA/1201/424.052/2010

Tgl 27-11-12

No. 1

Ani (18 thn) CP: dioleskan pada jerawat OBAT LUAR ttd

KOCOK DAHULU F. 1. 2. 3. 4. 5. EVALUASI HASIL PRAKTIKUM Kelarutan :Viskositas : encer Volume : 60ml Homogenitas : kurang homogen terdapat endapan kamfer Organoleptis: Bau : kamfer dan aqua rosae Rasa :-

Warna 6. Etiket : Tanggal: Paraf: Signa: Nama pasien + umur: No resep: Tutp kup: G. PEMBAHASAN

: putih kekuningan

Hasil praktikum pembuatan suspensi sulfur praecipitat tidak sesuai dengan yang diharapkkan. Karena ada endapan kamfer dan tidak tercampur homogen. Cara perlakuan kamfer dalam suspensi seharusnya camfer dilarutkan dulu dalamspiritus fortiori 2x berat kamfer, lalu disuspensikan dalam 2% PGA. Tetapi cara pembutan saat praktikum tidak sesuai dengan literature, karena yang disuspensikan dahulu dalam suspending agent adalah sulfur praecipitat yang sudah di basahi kemudian di aduk ad homogen kemudian kamfer yang sudah di basai baru dimasukan dalam suspending agent yang sudah tercampur sulfur praecipitat dan di aduk ad homogen. Sehingga kamfer tidak bias terikat dengan suspending agent tersebut dan suspending agent yang digunakan juga kurang dari dari persyaratan ( kurang dari 2 % ). Oleh karena itu hasil praktikum terdapat kamfer yang mengendap dan tidak tercampur homogen. H. 1. 2. 3. 4. PEMBETULAN CARA PEMBUATAN Disiapkan alat dan bahan Disetarakan timbangan Dikalibrasi botol 60ml Ditimbang 0,6g champora, diasukkan dalam motir, ditambahkan 0,9ml (1ml) spiritus fort dan digerus ad homogen dipindahkan dalam gelas arloji. 5. Ditimbang 4g sulf. Praicipitat. Dipindahkan dalam kaca arloji, dan dibasahi dengan gliserin 6. Ditimbang PGA 1,2g dimasukkan kedalam mortar digerus, ditambahkan aqua rosae 1,8ml digerus ad terbentuk mucilago 7. Ditambahkan no.4 ( kamfer ) kedalam mortar no. 6 diaduk ad homogen 8. Dimasukkan no.5 (sulfur praecipitat) dalam campuran no.7 aduk ad homogen kemudian ditambahkan sol calc hidrat diaduk ad homogen 9. Diencerkan hasil no 8 dengan aqua rosae, dimasukan dalam botol 10. Diadkan dengan aqua rosae ad tanda kalibrasi, lalu di tutup dan kocok ad homogen Tutup dengan cup, diberi etiket biru dan label

I. 4 Syarat Suspensi

a. Menurut FI IV, 1995 1. Suspensi tidak boleh diinjeksikan secara iv dan intratekal
1. Suspensi yang dinyatakan untuk digunakan dengan cara tertentu harus mengandung zat antimikroba. 2. Suspensi harus dikocok sebelum digunakan 3. Suspensi harus disimpan dalam wadah tertutup rapat.

b. Menurut FI III, 1979:


1. 2. 3. 4. 5. Zat terdispersi harus halus dan tidak boleh mengendap Jika dikocok, harus segera terdispersi kembali Dapat mengandung zat tambahan untuk menjamin stabilitas suspensi Kekentalan suspensi tidak boleh terlalu tinggi agar sediaan mudah dikocok dan dituang. Karakteristik suspensi harus sedemikian rupa sehingga ukuran partikel dari suspensoid tetap agak konstan untuk yang lama pada penyimpanan.(Ansel, 356)

c. Menurur Fornas Edisi 2, 1978 Pada pembuatan suspensi, untuk mencegah pertumbuhan cendawan, ragi dan jasad renik lainnya, dapat ditambahkan zat pengawet yang cocok terutama untuk suspensi yang akan diwadahkan dalam wadah satuan ganda atau wadah dosis ganda

I. 5 Penggunaan Suspensi dalam Farmasi


1. Beberapa orang terutama anak-anak sukar menelan obat yang berbentuk tablet / zat padat. Oleh karena itu diusahakan dalam bentuk larutan. Kalau zat berkhasiat tidak larut dalam air, maka bentuk suspensi-dimana zat aktif tidak larut-terdispersi dalam medium cair merupakan suatu alternatif. 2. Mengurangi proses penguraian zat aktif didalam air. Untuk zat yang sangat mudah terurai dalam air, dibuat bentuk yang tidak larut. Dengan demikian, penguraian dapat dicegah. Contoh : untuk menstabilkan Oxytetrasiklin HCl di dalam sediaan cair, dipakai dipakai garam Ca karena sifat Oxytetrasiklin yang mudah sekali terhidrolisis di dalam air. 3. Kontak zat padat dengan medium pendispersi dapat dipersingkat dengan mengencerkan zat padat medium dispersi pada saat akan digunakan. Contoh : Ampisilin dikemas dalam bentuk granul, kemudian pada saat akan dipakai disuspensikan dahulu dalam medim pendispersi. Dengan demikian maka stabilitas ampisilin untuk 7 hari pada temperatur kamar masih dapat dipenuhi.

4. Apabila zat aktif sangat tidak stabil dalam air, maka digunakan medium non-air sebagai medium pendispersi. Contoh : Injeksi Penisilin dalam minyak dan Phenoxy penisilin dalam minyak kelapa untuk oral. 5. Sediaan suspensi yang terdiri dari partikel halus yang terdispersi dapat menaikkan luas permukaan di dalam saluran pencernaan, sehingga dapat mengabsorpsi toksin-toksin atau menetralkan asam yang diproduksi oleh lambung. Contoh Kaolin, Mg-Karbonat, Mg-Trisilikat. (antasida/Clays) 6. Sifat adsorpsi daripada serbuk halus yang terdispersi dapat digunakan untuk sediaan yang berbentuk inhalasi. Zat yang mudah menguap seperti mentol, Ol. Eucaliptus, ditahan dengan menambah Mg-Karbonat yang dapat mengadsorpsi tersebut. 7. Dapat menutup rasa zat berkhasiat yang tidak enak atau pahit dengan lebih baik dibandingkan dalam bentuk larutan. Untuk suspensi Kloramfenikol dipakai Kloramfenikol Palmitas yang rasanya tidak pahit. 8. Suspensi BaSO4 untuk kontras dalam pemeriksaan X-Ray. 9. Suspensi untuk sediaan bentuk aerosol.

I.6

Hal-hal yang Harus Diperhatikan dalam Suspensi (Lachman Practice, 479-491)


1. Kecepatan sedimentasi (Hk. Stokes)

Untuk sediaan farmasi tidak mutlak berlaku, tetapi dapat dipakai sebagai pegangan supaya suspensi stabil, tidak cepat mengendap, maka :
1. Perbedaan antara fase terdispersi dan fase pendispersi harus kecil, dapat menggunakan sorbitol atau sukrosa. BJ medium meningkat. 2. Diameter partikel diperkecil, dapat dihaluskan dengan blender / koloid mill 3. Memperbesar viskositas dengan menambah suspending agent. 4. Pembasahan serbuk

Untuk menurunkan tegangan permukaan, dipakai wetting agent atau surfaktan, misal : span dan tween.
1. Floatasi (terapung), disebabkan oleh : 1. Perbedaan densitas 2. Partikel padat hanya sebagian terbasahi dan tetap pada permukaan 3. Adanya adsorpsi gas pada permukaan zat padat. Hal ini dapat diatasi dengan penambahan humektan.

Humektan ialah zat yang digunakan untuk membasahi zat padat. Mekanisme humektan : mengganti lapisan udara yang ada di permukaan partikel sehingga zat mudah terbasahi. Contoh : gliserin, propilenglikol.
1. Pertumbuhan kristal

Larutan air suatu suspensi sebenarnya merupakan larutan jenuh. Bila terjadi perubahan suhu dapat terjadi pertumbuhan kristal. Ini dapat dihalangi dengan penambahan surfaktan. Adanya polimorfisme dapat mempercepat pertumbuhan kristal. Hal-hal yang dapat dilakukan untuk mencegah kristalisasi (Disperse system, Vol. I, 158)
1. 2. 3. 4. 5. gunakan partikel dengan range ukuran yang sempit pilih bentuk kristal obat yang stabil cegah penggunaan alat yang membutuhkan energi besar untuk pengecilan ukuran partikel gunkan pembasah gunakan colloidal pelindung seperti gelatin, gums, dan lain-lain yang akan membentuk lapisan pelindung pada partikel 6. viskositas ditingkatkan 7. cegah perubahan suhu yang ekstrim

Hal-hal yang memicu terbentuknya kristal ::


1. keadaan super jenuh 2. pendinginan yang ekstrim dan pengadukan yang cepat 3. sifat aliran pelarut yang dapat mengkristalkan zat aktif, dalam ukuran dan bentuk yang bervariasi 4. keberadaan cosolutes, cosolvent, dan absorbent 5. kondisi saat proses pembuatan. 6. Pengaruh gula (sukrosa) 1. Suspending agent dengan larutan gula : viskositas akan naik 2. Adanya batas konsentrasi gula dalam campuran dengan suspending agent. 3. Konsentrasi gula yang besar juga dapat menyebabkan kristalisasi yang cepat 4. Gula cair 25 % mudah ditumbuhi bakteri, perlu pengawet. (tidak lebih dari 30 %; hatihati cap locking) 5. Hati-hati jika ada alkohol dalam suspensi 6. Metode dispersi : Deflokulasi dan Flokulasi 7. Pengaruh alat-alat pendispersi, menyebabkan :

1.7.1 Sifat Fisik Untuk Formulasi Suspensi yang Baik


1. Suspensi harus tetap homogen pada suatu perioda, paling tidak pada perioda antara pengocokan dan penuangan sesuai dosis yang dikehendaki. 2. Pengendapan yang terjadi pada saat penyimpanan harus mudah didispersikan kembali pada saat pengocokan. 3. Suspensi harus kental untuk mengurangi kecepatan pengendapan partikel yang terdispersi. Viskositas tidak boleh terlalu kental sehingga tidak menyulitkan pada saat penuangan dari wadah. 4. Partikel suspensi harus kecil dan seragam sehingga memberikan penampilan hasil jadi yang baik dan tidak kasar.

Yang Harus Diperhatikan :


1. Untuk membuat sediaan suspensi dibutuhkan beberapa bahan pembantu. Pemilihan bahan pembantu didasarkan pada kesesuaian dan juga bentuk fisik campuran serbuk yang dibutuhkan. 2. Bahan pembantu yang digunakan sebaiknya seminimal mungkin. Semakin banyak jenis bahan pembantu, semakin banyak masalah yang timbul, seperti masalah inkompatibilitas. Karena itu sedapat mungkin eksipien yang digunakan benar-benar dibutuhkan dalam formulasi. Akan lebih baik jika menggunakan eksipien yang dapat berfungsi lebih dari satu macam.

b. Bahan Pembasah (Wetting agent) / Humektan Fungsi : menurunkan tegangan permukaan bahan dengan air (sudut kontak) dan meningkatkan dispersi bahan yang tidak larut

Bahan pembasah yang biasa digunakan adalah : surfaktan yang dapat memperkecil sudut kontak antara partikel zat padat dan larutan pembawa. Surfaktan kationik dan anionik efektif digunakan untuk bahan berkhasiat dengan zeta potensial positif dan negatif. Sedangkan surfakatan nonionik lebih baik untuk pembasah karena mempunyai range pH yang cukup besar dan mempunyai toksisitas yang rendah. Konsentrasi surfaktan yang digunakan rendah karena bila terlalu tinggi dapat terjadi solubilisasi, busa dan memberikan rasa yang tidak enak.

Cara Kerja : Menghilangkan lapisan udara pada permukaan zat padat, sehingga zat padat + humektan lebih mudah kontak dengan pembawa.

Contoh : gliserin, propilen glikol, polietilen glikol,dll.

c. Pemanis Fungsi : untuk memperbaiki rasa dari sediaan Masalah yang perlu diperhatikan pada perbaikan rasa obat adalah : Usia dari pasien. Anak-anak lebih suka sirup dengan rasa buah-buahan, orang dewasa lebih suka sirup dengan rasa asam, orang tua lebih suka sirup dengan rasa agak pahit seperti kopi, dsb.

Keadaan kesehatan pasien, penerimaan orang sakit tidak sama dengan orang sehat. Rasa yang dapat diterima untuk jangka pendek mungkin saja jadi tidak bisa diterima untuk pengobatan jangka panjang. Rasa obat bisa berubah dengan waktu penyimpanan. Pada saat baru dibuat mungkin sediaan berasa enak, akan tetapi sesudah penyimpanan dalam jangka waktu tertentu kemungkinan dapat berubah. Zat pemanis yang dapat menaikkan kadar gula darah ataupun yang memiliki nilai kalor tinggi tidak dapat digunakan dalam formulasi sediaan untuk pengobatan penderita diabetes.

Catatan :
1. 2. 3. 4. Pemanis yang biasa digunakan : sorbitol, sukrosa 20 25 % Sebagai kombinasi dengan pemanis sintetis : siklamat 0,5 %; sakarin 0,05 % Kombinasi sorbitol : sirupus simplex = 30 % b/v : 10 % b/v ad 20 25 % b/v total pH > 5 dipakai sorbitol, karena sukrosa pada pH ini akan terurai dan menyebabkan perubahan volume. 5. Sukrosa dapat menyebabkan kristalisasi

d. Pewarna dan Pewangi Pewarna dan pewangi harus serasi. (Lachman Practise, hlm 470) Asin : Butterscoth, Mafile, Apricot, Peach, Vanili, Wintergreen mint.

Pahit : Wild cherry, Walnut, Chocolate, Mint combination, Passion fruit, Mint spice anisi Manis : Buah-buahan berry, Vanili. Asam : Citrus, Licorice, Root beer, Raspberry.

Pengawet Pengawet sangat dianjurkan jika didalam sediaan tersebut mengandung bahan alam, atau bila mengandung larutan gula encer (karena merupakan tempat tumbuh mikroba). Selain itu,

pengawet diperlukan juga bila sediaan dipergunakan untuk pemakaian berulang (multiple dose). Pengawet yang sering digunakan antara lain :
1. 2. 3. 4. Metil / propil paraben ( 2 : 1 ad 0,1 0,2 % total) Asam benzoat / Na-benzoat Chlorbutanol / chlorekresol (untuk obat luar / mengiritasi) Senyawa amonium(amonium klorida kuarterner) OTT dengan metil selulosa

Antioksidan (Diktat Teknologi Farmasi Sediaan Liquida dan Semisolid, 143 147) Antioksidan jarang digunakan pada sediaan suspensi, kecuali untuk zat aktif yang mudah terurai karena teroksidasi. Antioksidan bekerja efektif pada konsentrasi rendah. Cara kerja : memblokir reaksi oksidatif yang berantai pada tahap awal dengan memberikan atom hidrogen. Hal ini akan merusak radikal bebas dan mencegah terbentuknya peroksida.

Hal yang perlu diperhatikan dalam memilih antioksidan :


1. 2. 3. 4. 5. Efektif dalam konsentrasi rendah Tidak toksik, tidak merangsang dan tidak membentuk hasil antara (sediaan) yang berbahaya Segera larut atau terdispersi pada medium Tidak menimbulkan warna, bau, dan rasa yang tidak dikehendaki. Dapat bercampur (compatible) dengan konstituen lain pada sediaan.

Beberapa antioksidan yang lazim digunakan :


1. Golongan kuinol (ex: hidrokuinon, tokoferol, hidroksikroman, hidroksi kumeran, BHA, BHT). 2. Golongan katekhol (ex : katekhol, pirogalol, NDGA, asam galat) 3. Senyawa mengandung nitrogen (ex: ester alkanolamin turunan amino dan hidroksi dari pfenilamin diamin, difenilamin, kasein, edestin) 4. Senyawa mengandung belerang (ex: sisteina hidroklorida) 5. Fenol monohidrat (ex: timol)

g. Pendapar Fungsi : 1. Mengatur pH

2. Memperbesar potensial pengawet 3. Meningkatkan kelarutan Dapar yang dibuat harus mempunyai kapasitas yang cukup untuk mempertahankan pH. Pemilihan pendapar yaitu dengan pendapar yang pKa-nya berdekatan dengan pH yang diinginkan Pemilihan pendapar harus mempertimbangkan inkompatibilitas dan toksisitas. Dapar yang biasa digunakan antara lain dapar sitrat, dapar posfat, dapar asetat.

DAPAR FARMASETIK Jenis Dapar Dapar Fosfat Dapar Sitrat pKa pKa1 = 2.15 pKa2 = 7.20 pKa1 = 3.128 pKa2 = 4.761 pKa3 = 7.20 pKa = 4,74 pKa1 = 6,34 pKa2 = 10,36 pKa = 9,24 Penggunaan Sediaan oral, parenteral dan optalmik Sediaan oral, parenteral dan optalmik Sediaan oral Sediaan oral Sediaan optalmik

Dapar asetat Dapar karbonat Dapar borat

h. Acidifier Fungsi :
1. 2. 3. 4. Mengatur pH Meningkatkan kestabilan suspensi Memperbesar potensial pengawet Meningkatkan kelarutan

Acidifier yang biasa digunakan pada suspensi adalah asam sitrat.

Prosedur Pembuatan Suspensi :


1. Aquades yang akan digunakan sebagai fase pendispersi dididihkan, kemudian didinginkan dalam keadaan tertutup. 2. Bahan aktif dan eksipien ditimbang.

3. Bahan pensuspensi yang akan digunakan (yang dalam formula contoh adalah Na CMC) dikembangkan dengan cara : dibuat dispersi stok hidrokoloid dengan menaburkan serbuk CMC Na secara perlahan-lahan dan sedikit demi sedikit ke dalam mortir yang telah diisi air panas. Setelah semua serbuk CMC Na terbasahi, lalu aduk dengan cepat. 4. Pemanis yang digunakan berupa sirupus simpleks maka sirupus simpleks yang dibuat dengan jalan (FI III hal 567) melarutkan 65 bagian sukrosa dalam larutan metil paraben 0,25% b/v hingga terbentuk 100 bagian sirupus simpleks yang berfungsi sebagai pengental dan pemanis. 5. Jika digunakan pembasah, maka bahan aktif dihaluskan dengan penambahan sedikit demi sedikit pembasah sampai homogen dalam mortir dan pindahkan. 6. Suspending agent yang telah dikembangkan, ditimbang sesuai dengan jumlah yang tertera dalam formula kemudian ditambahkan ke dalam bahan aktif yang telah dibasahi kemudian diaduk sampai homogen dengan stirer di dalam matkan. 7. Ke dalam campuran tersebut di atas, dimasukkan eksipien lain (pendapar, pengawet, antioksidan, dll yang telah dilarutkan dalam beberapa bagian air sesuai dengan kelarutannya) sambil terus diaduk sampai homogen. 8. Setelah itu, sirupus simpleks, pewarna, flavour ditambahkan dan adkan dengan air sampai dengan (1760 + 110A) mL (untuk eksipien berupa bahan pewarna dan flavour dibuat larutan stok terlebih dahulu sebelum ditambahkan pada campuran bahan dalam matkan). 9. Suspensi dimasukkan ke dalam botol yang telah dicuci, dikeringkan dan ditara 100 mL.

1.9..Evaluasi Sediaan Suspensi 1.9.1 Evaluasi Fisika


1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Distribusi ukuran partikel (MartIn, Physical Pharmacy, hal 430-431) Homogenitas (FI III, hal 33) Volume sedimentasi dan kemampuan redispersi Bj sediaan dengan piknometer (FI IV, hal 1030) Sifat aliran dan viskositas dengan Viskosimeter Brookfield Volume terpindahkan (FI IV , hal 1089) Penetapan pH (FI IV , hal 1039) Kadar air (hanya untuk suspensi kering) : Penetapan waktu rekonstitusi

( hanya untuk suspensi kering )

1.9.2 Evaluasi Kimia


1. Keseragaman sediaan (FI IV, hal 999)

2. Penetapan kadar (sesuai monografi masing-masing) 3. Identifikasi (sesuai monografi masing-masing) 4. Penetapan kapasitas penetralan asam (KPA) hanya untuk sediaan suspensi antasida

(FI IV, hal 942)

1.9.3 Evaluasi Biologi


1. Uji potensi (untuk antibiotik) (FI IV, hal 891-899) 2. Uji batas mikroba (untuk suspensi antasida) (FI IV , hal 847-854) 3. Uji efektivitas pengawet (FI IV, hal 854-855)

Uraian Evaluasi Fisika


a. Distribusi Ukuran Partikel (Martin, Physical Pharmacy, hal 430-431) Beberapa metode yang digunakan untuk menentukan ukuran partikel : a.1 Metode mikroskopik a.2 Metode pengayakan a.3 Metode sedimentasi a.4 Metode penentuan volume partikel

a.1 Metode Mikroskopik


Mikroskopik merupakan metode langsung yang sering digunakan pada penentuan ukuran partikel terutama sediaan suspensi dan emulsi.

Cara 1 : Dapat digunakan mikroskop biasa untuk menentukan ukuran partikel antara 0,2-100 m.

Pada metode ini suspensi (yang sebelumnya diencerkan ataupun tidak) diteteskan pada slide (semacam objek glass). Kemudian besarnya akomodasi mikroskop diatur sehingga partikel terlihat dengan jelas. Frekuensi ukuran yang diperoleh diplot terhadap range ukuran partikel sehingga diperoleh kurva distribusi ukuran partikel. Jumlah partikel yang harus dihitung untuk memperoleh data yang baik adalah antara 300-500 partikel. Yang penting jumlah partikel yang ditentukan harus cukup sehingga diperoleh data yang representatif. British standard bahkan menetapkan pengukuran terhadap 625 partikel. Jika distribusi ukuran partikel luas, dianjurkan untuk menentukan ukuran partikel dengan jumlah yang lebih besar lagi. Sedangkan, jika distribusi ukuran partikel sempit, 200 partikel sudah mencukupi. Untuk memudahkan pengerjaan dan perhitungan akan lebih baik bila dilakukan pemotretan. Metode ini membutuhkan ketelitian, konsentrasi dan waktu yang cukup lama. Jika partikel yang ada dalam larutan lebih dari satu macam, sebaiknya tidak digunakan metode ini.

Ket: F= frekuensi, Cara 2 :

z= u kuran partikel

Larutkan sejumlah sampel yang cocok dengan volume yang sama dengan gliserol dan kemudian encerkan lebih lanjut. Bila perlu dengan campuran sejumlah volume yang sama dari gliserol dan air, sebagai alternatif digunakan paraffin sebagai pelarutnya (sesuai monografinya). Teteskan cairan yang telah diencerkan tadi pada kaca objek. Periksalah sebaran acaknya secara mikroskopik dengan menggunakan mikroskop resolusi yang cukup untuk mengobservasi partikel yang kecil. o Observasi dilakukan untuk memastikan bahwa tidak ada partikel atau tidak lebih dari beberapa partikel di atas ukuran maksimum yang diperbolehkan pada monografinya dan karena itu hitunglah presentasi partikel yang mempunyai diameter maksimum dalam batas yang ditetapkan.

Persentase harus dikalkulasi dari observasi paling sedikit 1000 partikel.

a.2 Metode Pengayakan Metode ini menggunakan 1 seri ayakan standar yang telah dikalibrasi oleh National Bureau of Standards. Ayakan sering digunakan untuk pengklasifikasian/membagi-bagi ukuran partikel. Ayakan yang tersedia dengan ukuran 90 m 5 m, dibuat dengan teknik photoetching & electroforming. Berdasarkan US Pharmacopoeia untuk menguji kelembutan serbuk, sejumlah massa tertentu ditempatkan pada ayakan dalam pengocok mekanik (mechanical shaker). Serbuk ini dikocok selama waktu tertentu, dan material yang melewati ayakan dan ditahan pada ayakan berikutnya (next finer sieve) dikumpulkan kemudian ditimbang. Mengasumsikan distribusi logaritma normal, presentase kumulatif berat serbuk yang tertahan pada ayakan diplot dalam skala probabilitas terhadap logaritma aritmetik rata-rata ukuran partikel.

a.3 Metode Sedimentasi Ukuran partikel pada subsieve range dapat diperoleh melalui sedimentasi gravitasi berdasarkan hukum Stokes sebagai berikut: V = h/t = dst2 ( s 0) g / 18 0 0 = media dispersi s = kepadatan partikel g = percepatan gravitasi 0 = viskositas medium h = jarak v = kecepatan sedimentasi ( rate of settling ) dst = diameter rata-rata partikel berdasarkan kecepatan sedimentasi Persamaan di atas hanya berlaku untuk partikel yang jatuh bebas tanpa gangguan dan pada kecepatan yang tetap. Hukum ini berlaku untuk partikel yang memiliki bentuk yang tidak beraturan dengan berbagai ukuran selama disadari bahwa diameter partikel yang didapat merupakan ukuran partikel relatif terhadap partikel dengan bentuk dan ukuran baku pada kecepatan yang sama.

a.4 Metode Penentuan Volume Partikel Instrumen yang populer digunakan untuk penentuan volume partikel adalah Coulter counter. Prinsip kerja dari alat ini adalah ketika partikel tersuspensi dalam cairan melewati lubang kecil b. Homogenitas (FI III hal 33)

Homogenitas dapat ditentukan berdasarkan jumlah partikel maupun distribusi ukuran partikelnya dengan pengambilan sampel pada berbagai tempat (ditentukan menggunakan mikroskop untuk hasil yang lebih akurat). Jika sulit dilakukan atau membutuhkan waktu yang lama, homogenitas dapat ditentukan secara visual.

Pengambilan sampel dapat dilakukan pada bagian atas, tengah, atau bawah.

Sampel diteteskan pada kaca objek kemudian diratakan dengan kaca objek lain sehingga terbentuk lapisan tipis.

Partikel diamati secara visual. Penafsiran hasil : suspensi yang homogen akan memperlihatkan jumlah atau distribusi ukuran partikel yang relatif hampir sama pada berbagai tempat pengambilan sampel (suspensi dikocok terlebih dahulu).

c.

Volume Sedimentasi dan Kemampuan Redispersi

Karena kemampuan meredispersi kembali merupakan salah satu pertimbangan utama dalam menaksir penerimaan pasien terhadap suatu suspensi dan karena endapan yang terbentuk harus dengan mudah didispersikan kembali dengan pengocokan sedang agar menghasilkan sistem yang homogen, maka pengukuran volume endapan dan mudahnya mendispersikan kembali membentuk dua prosedur yang paing umum.

c.1 Volume Sedimentasi (Teori dan Praktek Farmasi Industri Lachman, 3rd ed. Hal 492-493) Prinsip : Perbandingan antara volume akhir (Vu) sedimen dengan volume asal (Vo) sebelum terjadi pengendapan. Semakin besar nilai Vu, semakin baik suspendibilitasnya. Cara :
1. Sediaan dimasukkan ke dalam tabung sedimentasi yang berskala. 2. Volume yang diisikan merupakan volume awal (Vo)

c. Setelah beberapa waktu/hari diamati volume akhir dengan terjadinya sedimentasi. Volume terakhir tersebut diukur (Vu). d. Hitung volume sedimentasi (F) e. Buat kurva/grafik antara F (sumbu Y) terhadap waktu (sumbu X)

Penafsiran hasil :

Bila F=1 dinyatakan sebagai Flocculation equilibrium, merupakan sediaan yang baik. Demikian bila F mendekati 1. Bila F>1 terjadi Floc sangat longgar dan halus sehingga volume akhir lebih besar dari volume awal. Maka perlu ditambahkan zat tambahan.

Formulasi suspensi lebih baik jika dihasilkan kurva garis yang horizontal atau sedikit curam.

F= Vu/Vo Parameter sedimentasi terdiri dari (Lieberman, Disperse System Vol2, hal 303)
1. Volume sedimentasi (F)

F dapat dinyatakan dalam % yaitu dengan F = Vu/Vo x 100% F= volume sedimentasi Vu = volume endapan atau sedimen Vo = volume keseluruhan
1. Tingkat Flokulasi ()

= (Vol sedimentasi yang terflokulasi)/(Vol sedimentasi yang terdeflokulasi) = F / Fu Catatan : Untuk pengukuran volume sedimentasi suspensi yang berkonsentrasi tinggi yangmungkin sulit untuk membandingkannya karena hanya ada cairan supernatan yang minimum maka dilakukan dengan cara berikut : Encerkan suspensi dengan penambahan pembawa yaitu dengan formula total semua bahan kecuali fasa yang tidak larut. Misal 50 mL suspensi menjadi 100 mL. Hu = volume sedimentasi dalam sampel yang diencerkan Ho = volume awal sampel sebelum pengenceran Rasio Hu/Ho mungkin lebih dari 1.

c.2 Kemampuan Redispersi (Lachman, Teori dan Praktek Farmasi Industri hal 493; Lieberman, Disperse System Vol 2 hal 304)

Metode penentuan reologi dapat digunakan untuk membantu menentukan perilaku suatu cairan dan penentuan pembawa dan bentuk struktur partikel untuk tujuan perbandingan. Penentuan redispersi dapat ditentukan dengan cara mengocok sediaannya dalam wadahnya atau dengan menggunakan pengocok mekanik. Keuntungan pengocokan mekanik ini dapat memberikan hasil yang reprodusibel bila digunakan dengan kondisi terkendali.

Suspensi yang sudah tersedimentasi (ada endapan) ditempatkan ke silinder bertingkat 100 mL. Dilakukan pengocokan (diputar) 360 dengan kecepatan 20 rpm. Titik akhirnya adalah jika pada dasar tabung sudah tidak terdapat endapan.

Penafsiran hasil : Kemampuan redispersi baik bila suspensi telah terdispersi sempurna dengan pengocokan tangan maksimum 30 detik.

d.

Bj Sediaan dengan Piknometer (FI IV <981>, hal 1030)

Kecuali dinyatakan lain dalam masing-masing monografi, penetapan bobot jenis digunakan hanya untuk cairan, dan kecuali dinyatakan lain, didasarkan pada perbandingan bobot zat di udara pada suhu 25C terhadap bobot air dengan volume dan suhu yang sama. Bila suhu ditetapkan dalam monografi, bobot jenis adalah perbandingan bobot zat di udara pada volume dan suhu yang sama. bila pada suhu 25C zat berbentuk padat, tetapkan bobot jenis pada suhu yang telah tertera pada masing-masing monografi, dan mengacu pada air pada suhu 25C.
1. Gunakan piknometer bersih, kering, dan telah dikalibrasi dengan menetapkan bobot piknometer dan bobot air yang baru dididhkan, pada suhu 25C. 2. Atur hingga suhu zat uji lebih kurang 20C, masukkan ke dalam piknometer. 3. Atur suhu pikometer yang telah diisi hingga suhu 25C. 4. Buang kelebihan zat uji dan timbang. 5. Kurangkan bobot piknometer kosong dari bobot piknometer yang telah diisi. 6. Bobot jenis adalah hasil yang diperoleh dengan membagi bobot zat dengan bobot air, dalam piknometer. Kecuali dinyatakan lain dalam monografi, keduanya ditetapkan pada suhu 25C. 7. Singkatnya :

Bobot piknometer kosong ditimbang : w0 Bobot piknometer yang telah diisi dengan air : w1 Bobot piknometer yang telah diisi dengan sediaan : w2 Bobot jenis ditentukan dengan rumus : (w2-w0)/(w1-w0)

e. Sifat Aliran dan Viskositas Dengan Viskosimeter Brookfield (Modul Praktikum Farmasi Fisika, 2002, hal 17-18 ) Viskosimeter Brookfield merupakan viskosimeter banyak titik dimana dapat dilakukan pengukruan pada beberapa harga kecepatan geser sehingga diperoleh rheogram yang sempurna. Viskosimeter ini dapat pula digunakan baik untuk menentukan viskositas dan rheologi cairan Newton maupun non-Newton (Gambar dan cara kerja Viskometer Brookfield dapat dilihat pada Teori Sediaan Emulsi).

f.

Volume Terpindahkan (FI IV <1261> hal 1089)

Uji ini dilakukan sebagai jaminan bahwa larutan oral dan suspensi yang dikemas dalam wadah dosis ganda, dengan volume yang tertera pada etiket tidak lebih dari 250 mL, yang tersedia dalam bentuk sediaan cair atau sediaan cair yang dikonstitusi dari bentuk padat dengan penambahan bahan pembawa tertentu dengan volume yang ditentukan, jika dipindahkan dari wadah asli, akan memberikan volume sediaan seperti yang tertera pada etiket. Caranya:
1. Pilih tidak kurang dari 30 wadah. 2. Untuk suspensi oral, kocok isi 10 wadah satu persatu. 3. Untuk suspensi rekonstitusi, serbuk dikonstitusikan dengan sejumlah pembawa seperti yang tertera pada etiket, konstitusi 10 wadah dengan volume pembawa seperti yang tertera pada etiket diukur secara seksama dan campur. 4. Tuang isi perlahan-lahan dari tiap wadah ke dalam gelas ukur kering terpisah dengan kapasitas gelas ukur tidak lebih dari 2,5 kali volume yang diukur. 5. Penuangan dilakukan secara hati-hati untuk menghindarkan pembentukkan gelembung udara pada waktu penuangan dan diamkan selam 30 menit. 6. Jika telah bebas dari gelembung udara, ukur volume dari tiap campuran : volume rata-rata yang diperoleh dari 10 wadah tidak kurang dari 100% dan tidak satupun volume wadah yang kurang dari 95%. 7. Jika A : adalah volume rata-rata kurang dari 100%, tetapi tidak ada satupun wadah yang volumenya kurang dari 95%. 8. Jika B : adalah tidak lebih dari satu wadah volume kurang dari 95% tetapi tidak kurang dari 90% dari volume yang tertera pada etiket, lakukan pengujian terhadap 20 wadah tambahan. 9. Volume rata-rata yang diperoleh dari 30 wadah tidak kurang dari 100% dan tidak lebih dari satu dari 30 wadah volume kurang dari 95%, tetapi tidak kurang dari 95%.

h. Kadar Air (hanya untuk Suspensi Kering :

i. Penetapan Waktu Rekonstitusi (hanya untuk Suspensi Kering : (Modul Praktikum Likuida dan Semisolida) Ke dalam botol kering dan bersih, dimasukkan serbuk rekonstitusi. Lalu masukkan air sampai batas Botol dikocok sampai terdispersi dalam air. Waktu rekonstitusi adalah mulai dari air dimasukkan sampai serbuk terdispersi sempurna. Waktu rekonstitusi yang baik adalah <30 detik.

Uraian Evaluasi Kimia

a.

Keseragaman Sediaan (FI IV <911>, hal 999)

Keseragaman sediaan yang dilakukan adalah berupa uji keseragaman kandungan untuk suspensi dalam wadah dosis tunggal. b. Penetapan Kadar (dalam monografi zat aktif masing-masing) c. Identifikasi(dalam monografi zat aktif masing-masing) d. Penetapan (Kapasitas Penetralan Asam) hanya untuk sediaan suspensi antasid FI IV <451>, hal 942 : (Catatan : Seluruh pengujian dilakukan pada suhu 373C) Standardisasi pH meter Lakukan kalibrasi pH meter dengan menggunakan Larutan dapar baku kalium biftalat 0,05 M dan kalium tetraoksalat 0,05 M seperti yang tertera pada penetapan pH <1071>. Pengaduk magnetik Masukkan 100 mL air ke dalam gelas piala 250 mL yang berisi batang pengaduk magnetic 40 mm x 10 mm yang dilapisi perfluoro karbon padat dan mempunyai cincin putaran pada pusatnya. Atur daya pengaduk magnetic hingga menghasilkan kecepatan pengadukan rata-rata 30030 putaran per menit, bila batang pengaduk terpusat dalam gelas piala, seperti yang ditetapkan oleh takometer optik yang sesuai. Larutan uji

Kocok wadah sisinya homogen dan tetapkan bobot jenisnya. o Timbang seksama sejumlah campuran tersebut yang setara dengan dosis terkecil dari yang tertera pada etiket. o Masukkan ke dalam gelas piala 250 mL, tambahkan air hingga jumlah volume lebih kurang 70 mL dan campur menggunakan Pengaduk magnetik selama 1 menit.

Prosedur

1. Pipet 30 mL asam klorida 1 N LV ke dalam Larutan uji sambil diaduk terus menggunakan Pengaduk magnetik. (Catatan Bila kapasitas penetralan asam zat uji lebih besar dari 25mEq, gunakan 60 mL asam klorida 1 N LV). 2. Setelah penambahan asam, aduk selama 15 menit tepat, segera titrasi. 3. Titrasi kelebihan asam klorida dengan natrium hidroksida 0,5 N LV dalam waktu tidak lebih dari 4. menit sampai dicapai pH 3,5 yang stabil (selama 10 detik samapai 15 detik). 5. Hitung jumlah mEq asam yang digunakan tiap g zat uji. Tiap mL asam klorida 1 N setara dengan 1 mEq asam yang digunakan.

1.10. Penyimpanan dan Penandaan


Suspensi harus disimpan dalam wadah tertutup rapat. (FI IV hal 18) (Catatan: wadah tertutup rapat harus melindungi isi terhadap masuknya bahan cair, bahan padat atau uap dan mencegah kehilangan, merekat, mencair atau menguapnya bahan selama penanganan, pengangkutan dan distribusi dan harus dapat ditutup rapat kembali. Wadah tertutup rapat dapat diganti dengan wadah tertutup kedap untuk bahan dosis tunggal) Penyimpanan : Disimpan di tempat sejuk (FI III hal 32). Dalam wadah tertutup rapat atau wadah tertutup kedap, di tempat sejuk (Fornas Edisi 2 th.1978 hal 333) Penandaan : pada etiket harus tertera Kocok Dahulu (FI III, hal 32). Pada etiket sediaan Suspensi Rekonstitusi harus tertera (Fornas edisi 2 th.1978 hal 333):
1. Volume cairan pembawa yang diperlukan 2. Sebelum digunakan, dilarutkan dalam cairan pembawa

Sumber : 1. Soetopo. Seno, dkk. 2001. Teori Ilmu Resep. Jakarta 3. 2. Anief. Moh. 2000. Farmasetika. Gajah Mada University Press : Yogyakarta 4. 3. Lahman. L, dkk.1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri. Edisi III. UI Press : Jakarta