Anda di halaman 1dari 37

PENYELESAIAN KONFLIK AGRARIA MELALUI REFORMA HUKUM AGRARIA DAN PENGADILAN AGRARIA DALAM DITINJAU DARI ASPEK HAK

ASASI MANUSIA (HAM)


Oleh : M. Rainoer

A.

PENDAHULUAN Indonesia termasuk salah satu negara yang bersifat agraris, ini ditandai

dengan pertanian sebagai salah satu sektor yang menjadi basis perekonomian masyarakat. Hal ini dapat dipahami dari kenyataan empiris yang menunjukkan bahwa sebagian besar dari penduduk Indonesia mempunyai mata pencaharian di bidang pertanian, baik sebagai petani yang memiliki tanah maupun petani yang tidak mempunyai tanah (buruh tani).1 Masalah ketersediaan akses terhadap tanah hingga saat ini masih merupakan isu penting di Indonesia, yang dicirikan dengan terjadinya ketimpangan dalam alokasi penguasaan, penggunaan dan pemanfaatan tanah antar sektor khususnya antar sektor pertanian dan non pertanian, yang berdampak kepada penyusutan tanah pertanian terutama tanah pertanian tanaman pangan. Selain itu, mengingat mayoritas masyarakat Indonesia berprofesi petani, maka penyusutan tanah tersebut akan berdampak kepada terjadinya pengangguran secara massal tenaga kerja pertanian.2 Penduduk Indonesia yang saat ini populasinya sudah mencapai di atas 250 (duaratus limapuluh juta) jiwa, dan menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS),
1

Nyoman Budijaya, Tinjauan Yuridis Tentang Redistribusi Tanah Pertanian Dalam Pelaksanaan Landreform, (Yogyakarta: Liberty, 2000), hlm.1. 2 Ibid.

menunjukkan bahwa kemiskinan paling banyak dialami penduduk Indonesia ada di wilayah pedesaan yang pada umumnya adalah petani. Hal ini terutama disebabkan banyaknya rakyat kecil yang tidak memiliki tanah dan lemahnya akses masyarakat terhadap sumber-sumber ekonomi dan sumber-sumber politik termasuk yang terutama adalah tanah.3 Ditinjau dari titik padang ekonomi, pemilikan tanah sempit misalnya kurang dari 0,25 ha menyebabkan petani tidak dapat menyadap manfaat ekonomi dari perluasan skala ekonomi. Akibatnya, biaya produksi rata-rata untuk suatu komoditas pada usaha tani bertambah sempit pada umumnya lebih besar dari biaya produksi usaha tani bertambah luas, sehingga usaha tani yang sempit menyebabkan pendapatan usaha relatif menjadi rendah.4 Dari masalah ketersediaan akses terhadap tanah, kemudian melahirkan sengketa tanah yang sangat beragam bentuknya. Ketimpangan penguasaan, pemilikan dan pengelolaan sumber-sumber agraria (tanah dan sumberdaya alam lainnya) telah mengakibatkan sengketa-sengketa agraria atau lazim disebut konflik agraria yang berkepanjangan di berbagai titik di wilayah Indonesia, yang akhirnya berujung pada kekerasan dan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Istilah hak-hak asasi manusia dalam beberapa bahasa asing dikenal dengan sebutan sebagai berikut : droit de lhome (Perancis) yang berarti hak manusia,

Joyo Winoto, Reforma Agraria dan Keadilan Sosial, disampaikan dalam rangka Dies Natalis Universitas Padjajaran ke 50, Bandung, 10 September 2007. 4 Lutfi I. Nasution, Beberapa Masalah Pertanahan Nasional dan Alternatif Kebijaksanaan Untuk Menanggulanginya, dalam Masalah Tanah Semakin Meningkat, Analisis CSIS Tahun XX, Nomor 2 Maret April 1991, hlm.115.

human right (Inggris) antau mensen rechten (Belanda), yang dalam bahasa Indonesia disalin menjadi hak-hak kemanusiaan atau hak-hak asasi manusia.5 Hak asasi manusia (HAM) pada hakekatnya merupakan hak kodrati yang secara inheren melekat dalam setiap diri manusia sejak lahir. Pengertian ini mengandung arti bahwa HAM merupakan karunia Alloh Yang Maha Pencipta kepada hambanya. Mengingat HAM itu adalah karunia Alloh, maka tidak ada badan apapun yang dapat mencabut hak itu dari tangan pemiliknya. Demikian pula tidak ada seorangpun diperkenankan untuk merampasnya, serta tidak ada kekuasaan apapun yang boleh membelenggunya.6 Karena HAM itu bersifat kodrati, sebenarnya ia tidak memerlukan legitimasi yuridis untuk pemberlakuannya dalam suatu sistem hukum nasional maupun internasional. Sekalipun tidak ada perlindungan dan jaminan konstitusional terhadap HAM, hak itu tetap eksis dalam setiap diri manusia. Gagasan HAM yang bersifat teistik ini diakui kebenarannya sebagai nilai yang paling hakiki dalam kehidupan manusia. Namun karena sebagian besar tata kehidupan manusia bersifat sekuler dan positivistik, maka eksistensi HAM memerlukan landasan yuridis untuk diberlakukan dalam mengatur kehidupan manusia.7
5

Subandi Al Marsudi, Pancasila dan UUD 45 dalam Paradigma Reformasi , (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2001), hlm. 83. 6 Pengertian yang hampir sama juga dinyatakan dalam Ketetapan MPR RI No. XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia yang diuraikan dalam lampiran ketetapan ini berupa naskah Hak Asasi Manusia pada angka I huruf D butir 1 menyebutkan : Hak asasi manusia adalah hak sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa, yang melekat pada diri manusia, bersifat kodrati, universal dan abadi, berkaitan dengan harkat dan martabat manusia. Selanjut nya dalam Pasal 1 angka 1 UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, menyatakan : Hak asasi manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai mahluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum dan pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia. 7 Salman Luthan, Proyeksi Harmonisasi Konvensi Menentang Penyiksaan Dengan Hukum Pidana Nasional, makalah seminar nasional kerjasama Departemen Hukum Internasional FH UII dengan

Dalam perspektif sejarah hukum, setiap ada penyalahgunaan kekuasaan yang berimplikasi terhadap perampasan, perkosaan dan pemanipulasian HAM oleh manusia satu kepada manusia yang lain atau oleh penguasa kepada rakyatnya akan selalu muncul krisis kemanusiaan. Bahkan kemudian memunculkan formula-formula atau dokumen-dokumen resmi hak-hak asasi manusia atau sumber hukum yang memberi hak bagi bagi rakyat. Misalnya dokumen Magna Charta di Inggris tajhun 1215 yang memberikan hak-hak bagi rakyat dan sekaligus membatasi kekuasaan raja. Kemudian dokumen The Virginia Bill of Rights dan declarations of Independence yang melahirkan kemerdekaan Amerika Serikat tahun 1776, yang berisi jaminan kebebasan Individu terhadap kekuasaan negara. Begitu pula dokumen Declarations des Droites LHome et Du Cituyen di Prancis tahun 1789 yang berprinsip bahwa manusia pada hakekatnya adalah baik dan karenanya harus hidup bebas dan bersamaan kedudukannya dalam hukum. Di Rusia tahun 1918, juga muncul suatu dokumen yang menyebut hak-hak dasar sosial, tetapi hak-hak dasar individu tidak disebut sama sekali. Selanjutnya dokumen Declarations of Human Rights tahun 1948 yang dikeluarkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menjamin hak-hak sipil, hak-hak sosial dan hak-hak kebebasan politik. Di Indonesia saat ini banyak sekali sengketa tanah dengan macam-macam bentuk, seperti masyarakat dengan masyarakat, masyarakat dengan perorangan, masyarakat dengan badan hukum, badan hukum dengan badan hukum, badan hukum dengan instansi pemerintah, instansi pemerintah dengan masyarakat, dan sebagainya.

ELSAM, Yogyakarta, 1995.

Sengketa tanah di luar kawasan hutan sebagian besar adalah warisan, serta antara masyarakat dengan badan usaha dan masyarakat dengan instansi pemerintah. Konflik agraria sepanjang tahun 2011, tercatat 120 kasus meningkat, sekitar lima kali lipat dari jumlah kasus tahun 2010 yang tercatat 22 kasus. Data ini belum termasuk konflik masyarakat tani di Bima. Saat ini konflik agraria terjadi antara petani dengan perusahan swasta perkebunan, pertambangan, AMDK (Air Minum Dalam Kemasan), dan BUMN. Konflik terjadi terus-menerus secara masif dan berlarut-larut. Akibatnya, petani terus dihadapkan dengan penangkapan,

penggusuran, penembakan, serta berbagai bentuk kekerasan kriminalisasi. 8 Data di Badan Pertanahan Nasional (BPN) menyebutkan, jumlah permasalahan tanah yang meliputi sengketa, konflik, dan perkara seluruh Indonesia 4.591 kasus.9 Apabila dilihat dari tipologi permasalahan, hampir 85 persennya merupakan kasus dengan tipologi sengketa penguasaan dan kepemilikan tanah. Sedangkan sisanya, dengan tipologi sengketa hak dan sengketa batas/letak tanah. Dari tipologi permasalahan tersebut, kemudian dapat ditilik lebih mendalam mengenai para pihak yang bersengketa. Sengketa antar individu mencapai 89%, sengketa individu dengan badan hukum 6%, sedangkan sengketa antara individu dan pemerintah 5%. Persengketaan antar individu secara jelas merupakan peringkat tertinggi karena memang tanah mempunyai hubungan magis dengan si pemiliknya. Namun demikian persengketaan antara masyarakat dengan badan hukum

8 9

Tempo, Kamis 29 Desember 2011. www.bpn.go.id/Penyelesaian Sengketa Pertanahan. Diakses tanggal 10 Januari 2013, jam: 13.20 WIB.

menimbulkan korban jiwa yang tidak sedikit sebagaimana yang terjadi pada kasus Mesuji Lampung dan di tempat lainnya. Berdasarkan data, terdapat lebih 25 juta hektare hutan yang dikuasai HPH. lebih 8 juta hektare dikuasai HTI, dan 12 juta hektare dikuasai perkebunan besar sawit. Di sisi lain, hampir 85% petani di Indonesia merupakan petani tanpa tanah dan lahan sempit. Kondisi ini melahirkan dan menyuburkan konflik agraria.10 Provinsi Lampung menempati peringkat pertama dari seluruh provinsi seIndonesia untuk wilayah yang mengalami konflik agraria atau sengketa tanah. Provinsi Lampung juga memiliki potensi konflik yang cukup tinggi antara masyarakat dan perusahaan. Terdapat sekitar 11 perusahaan besar di Lampung yang mengalami konflik agraria dengan masyarakat, di antaranya PT Silva Inhutani, PT BSMI, PT AWS, dan PT Indo Lampung.11 Kasus sengketa lahan Mesuji12 merupakan akibat, sementara ketimpangan struktur agraria yang terjadi adalah sebab. Sebanyak 71,1 % luas daratan Indonesia
10 11

http://bataviase.co.id/node/922937 . Diakses tanggal 10 Januari 2013, jam: 13.25 WIB. http://nasional.vivanews.com . Diakses tanggal 10 Januari 2013, jam: 13.40 WIB. 12 Sebenarnya ada tiga kasus di wilayah yang sama-sama bernama Mesuji. Dua kasus terjadi di Provinsi Sumsel dan satu kasus lainnya di Provinsi Lampung. Kasus pertama terjadi antara PT Sumber Wangi Alam (SWA) dengan warga di Sungai Sodong, Kecamatan Mesuji, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel). Peristiwa terjadi pada 21 April 2011. Ada 2 warga terbunuh. Pembunuhan terhadap warga ini membuat warga marah karena menduga 2 warga tewas korban dari PT SWA. Akhirnya, warga menyerang PT SWA yang menyebabkan 5 orang tewas yaitu 2 orang Pam Swakarsa dan 3 orang karyawan perusahaan.Kasus kedua antara PT Silva Inhutani dengan warga di register 45 di Kabupaten Mesuji, Provinsi Lampung, terjadi sejak tahun 2009. PT Silva mendapatkan penambahan lahan Hak Guna Usaha (HGU). Warga terpancing amarahnya karena menilai HGU telah melebar ke wilayah pemukiman mereka. Konflik semakin meruncing ketika warga diusir dan rumah mereka dirobohkan paksa. Komnas HAM sendiri masih menyelidiki adanya korban dari kasus kedua ini. Sedangkan kasus ketiga terjadi antara PT Barat Selatan Makmur Investindo (BSMI) dengan warga di register 45, Kabupaten Mesuji di Provinsi Lampung, pada 10 November 2011. PT BSMI lokasinya berdekatan dengan PT Silva Inhutani. Komnas HAM mengungkapkan terjadi penembakan terhadap warga yang dilakukan Brimob dan Marinir. 1 warga tewas dan 6 warga menderita luka tembak yang sampai sekarang masih dirawat di rumah sakit. Kasus ini disebut Kapolri, telah ditangani dan telah pula dilakukan pemeriksaan terhadap aparat.

masuk dalam kawasan hutan. Ada lebih 25 juta hektar dikuasai HPH, lebih 8 juta hektar dikuasai HTI dan 12 juta hektar dikuasai perkebunan besar sawit. Sementara 85 % petani kita adalah petani tak bertanah dan gurem (berlahan sempit). Pembiaran terhadap ketimpangan penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pengelolaan tanah serta sumberdaya alam di dalamnya hanya melahirkan dan menyuburkan tebaran konflik dan sengketa agraria. Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa ketimpangan struktur agraria merupakan penyebab terjadinya konflik agraria. Keadaan yang demikian didukung oleh sistem dan politik agraria yang dianut pada masa orde baru telah mengakibatkan penguasaan tanah dan sumberdaya alam yang tanpa batas oleh kelompok penguasa dan pemilik modal. Pengadaan tanah yang disektoralisasikan rezim menjadi kekuasaan dan kesewenangan tiada batas dalam mengeluarkan hak-hak baru dan izin usaha-usaha produksi pertambangan, perkebunan, kehutanan, infrastruktur dan kawasan industri. Kenyataan ini berakibat pada hilangnya akses warga (petani) atas tanah sebagai sumber utama hidup dan habitatnya. Dalam penulisan makalah ini, maka pokok permasalahan adalah sebagai berikut: Bagaimanakah kebijakan reforma agraria dan pengadilan agraria ditinjau dari aspek hak asasi manusia dapat mengatasi konflik agraria yang semakin meningkat akibat ketimpangan struktur agraria?

B.

PEMBAHASAN 1. Keberlakuan Reforma Agraria Dalam Mengatasi Konflik Agraria

Salah satu masalah pertanahan yang muncul dewasa ini adalah adanya sengketa antara rakyat yang diwakili oleh sekelompok masyarakat tertentu dengan Negara yang tersimbolisasi dalam berbagai izin dan hak pengusahaan suatu wilayah (tanah) kepada beberapa pihak atas suatu legitimasi hukum. Bila dicermati, konflik yang dahulu ada, mempunyai sifat horisontal, antara rakyat dengan rakyat, namun dalam paradigma dewasa ini konflik yang timbul bersifat vertikal, terjadi antara rakyat petani" berhadapan dengan pemilik modal dalam negeri atau asing yang beraliansi strategis dan taktis dengan penguasa atau rakyat berhadapan langsung dengan pemerintah. Sengketa ini menjadi semakin intens dengan tidak tuntasnya penanganan dan penyelesaian terhadap konflik-konfilik pertanahan tersebut. Penanganan terkesan tidak komprehensif, tidak tuntas dan bersifat partial atau sektoral. Meningkatnya konflik penguasaan dan pemanfaatan sumber daya alam, termasuk tanah baik yang bersifat struktural maupun horizontal yang semakin tajam antara lain disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya; a. Struktur pemerintahan yang sentralistik mempermudah berlakunya penafsiran tunggal untuk kepentingan rezim yang berkuasa; b. Kelembagaan yang ada tidak mampu mendukung tegaknya asas-asas penyelenggaraan negara yang baik dan bersih; c. Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 ditafsirkan secara longgar dan dijabarkan lebih lanjut dalam berbagai undang-undang sektoral yang saling tumpang tindih dengan segala akibatnya;

d.

Tidak adanya kemauan untuk mengakomodasi pluralisme hukum yang berlaku dalam masyarakat (hukum positif vs hukum adat);

e.

Lebih menghargai formalitas ketimbang substansi (pengingkaran hak masyarakat adat/lokal dan mereka yang tidak dapat menunjukkan alat bukti hak);

f.

Budaya hukum yang tidak mengutamakan harmoni, tetapi bersifat mempertentangkan (pihak kuat vs pihak lemah, pihak yang berkuasa vs rakyat kecil, desa vs kota, dan sebagainya) dengan segala dampaknya.13 Selain itu terdapat beberapa pola atau tipologi dari sengketa tanah baik dilihat

dari kawasan atau tempatnya, objek tanahnya, maupun penyebab timbulnya sengketa. Secara garis besar BPN membagi permasalahan pertanahan ke dalam delapan kelompok besar yaitu:14 1. 2. 3. 4. Masalah/sengketa tanah perkebunan. Masalah penggarapan tanah kawasan hutan oleh masyarakat. Masalah yang berkaitan dengan putusan pengadilan oleh pihak yang kalah. Masalah permohonan pendaftaran yang berkaitan dengan tumpang tindih hak atau sengketa batas. 5. Masalah yang berkaitan dengan pendudukan tanah dan/atau tuntutan ganti rugi masyarakat atas tanah-tanah yang telah dibebaskan oleh pihak swasta untuk berbagai kegiatan. 6.
13

Masalah tanah yang berkaitan dengan klaim sebagai tanah ulayat.

Maria S.W. Sumardjono, Tanah dalam Perspektif Hak Ekonomi Sosial dan Budaya, (Jakarta: Kompas, 2000), hlm. 71. 14 Ibid., hlm.110-111.

7.

Masalah yang berkaitan dengan tukar menukar tanah bengkok desa yang telah menjadi kelurahan.

8.

Masalah-masalah lainnya seperti sengketa dari pemanfaatan lahan tidur dan tanah terlantar (BPN, 2003). Secara garis besar tipologi dari sengketa pertanahan dapat dipilah dalam 5

(lima) kelompok besar, yaitu:15 1. Kasus-kasus yang berkenaan dengan penggarapan atau pendukungan rakyat atas areal perkebunan, kehutanan, dan tanah-tanah yang dikuasai BUMN dan ABRI (TNI AD, TNI AL, TNI AU). 2. 3. Kasus-kasus berkenaan dengan pelanggaran peraturan landreform. Kasus-kasus berkenaan dengan ekses-ekses dalam penyediaan tanah untuk pembangunan. 4. 5. Sengketa perdata berkenaan dengan masalah tanah. Sengketa berkenaan dengan tanah ulayat. Konsep pembaruan agraria sendiri memiliki bentuk dan sifat yang berbeda tergantung pada zaman dan negara tempat terjadinya pembaruan agraria tersebut. Hal ini mengingat setiap negara memiliki struktur agraria dan sistem politik yang berbeda, meskipun terdapat persamaan mendasar dalam pembaruan agraria, yakni inti dari pembaruan agraria adalah pemerataan sumber daya agraria. 16 Dalam tulisan ini pembaruan agraria dipahami sebagai suatu proses yang berkesinambungan berkenaan dengan penataan kembali penguasaan, pemilikan, penggunaan dan
15

16

Ibid., hlm.111-112. Ida Nurlinda, Prinsip-prinsip Pembaruan Agraria: Perspektif Hukum , (Jakata: Rajawali Pers,

2009), hlm.77. 10

pemanfaatan sumber daya agraria, yang dilaksanakan dalam rangka tercapainya kepastian dan perlindungan hukum serta keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia.17 Sebagai suatu isu yang kompleks dan multidimensi, pendefinisian tersebut terkesan sederhana, namun demikian hal ini tidak dimaksudkan untuk

menyederhanakan komplesitas permasalahan yang ada. Pada intinya pembaruan agraria (agrarian reform) meliputi hal-hal sebagai berikut:18 a. Suatu proses yang berkesinambungan artinya dilaksanakan dalam satu kerangka waktu (frame time), namun selama tujuan dari pembaruan agraria belum tercapai, maka proses pembaruan terus diupayakan. b. Berkenaan dengan penataan kembali penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan sumber daya alam (sumber agraria) oleh masyarakat, khususnya masyarakat pedesaan. c. Dilaksanakan dalam rangka tercapainya kepastian dan perlindungan hukum atas kepemilikan tanah dan pemanfaatan sumber daya alam (sumber agraria), serta terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Pembaruan hukum agraria merupakan bagian dari pembaruan agraria yang secara yuridis ditetapkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat melalui Ketetapan MPR Nomor IX/MPR/2001 Tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber daya Alam. Ketetapan MPR ini lahir dengan suatu latar belakang dan landasan

17

Pasal 2 Ketetapan MPR Nomor IX/MPR/2001 Tentang Pembaruan Agraria Dan Pengelolaan Sumber daya Alam. 18 Maria S.W. Sumardjono, Op. Cit., hlm.70.

11

filosofis, sosiologis, dan yuridis yang menggambarkan kondisi kebatinan bangsa Indonesia akan keprihatinan terhadap persoalan sumber daya agraria dan sumber daya alam lainnya. Disadari bahwa pengelolaan sumber daya agraria dan sumber daya alam yang berlangsung selama ini telah menimbulkan penurunan kualitas lingkungan, ketimpangan struktur penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatannya serta menimbulkan berbagai konflik.19 Terdapat fakta empiris berkenaan dengan eksploitasi secara belebihan terhadap sumber daya agraria yang hanya difokuskan pada pemenuhan kebutuhan jangka pendek, serta pemanfaatannya yang hanya dapat dinikmati oleh sebagian kecil masyarakat (para pemodal). Kebijakan agraria pada masa orde baru yang sangat propertumbuhan ekonomi juga berakibat pada perubahan fungsi sumber daya agraria terutama tanah yang hanya dinilai dari sisi ekonomi dengan mengabaikan nilai-nlai non ekonomi, serta globalisasi mengakibatkan semakin langkanya tanah dan semakin turunya kualitas tanah.20Hal ini didukung dengan perubahan kebijakan pertanahan dari prorakyat menjadi prokapital yang terbukti semakin menjauh dari perwujudan pemerataan hasil pembangunan, yang pada akhirnya menyulitkan perwujudan keadilan sosial.21 Pada masa orde baru, tanah tidak diperhitungkan sebagai strategi pembangunan, akan tetapi hanya dijadikan objek guna keberlangsungan kegiatan

19

Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia, Ketetapan MPR Nomor IX/MPR/2001 Tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber daya Alam, Op. Cit., Konsiderans menimbang huruf c. 20 Maria S.W. Sumardjono, Op. Cit., hlm.92. 21 Ibid., hlm.70.

12

pembangunan. diantaranya:22 a. b.

Kebijakan

tersebut

telah

menimbulkan

berbagai

dampak

Semakin langka dan mundurnya kualitas tanah. Semakin tajam dan meningkatnya kuantitas konflik penguasaan dan pemanfaatan sumber daya alam, termsuk tanah baik yang bersifat struktural maupun horizontal.

c.

Kemiskinan dan semakin terbatasnya lapangan pekerjaan yang antara lain disebabkan oleh alih fungsi tanah, terutama tanah pertanian untu penggunaan non pertanian seperti industri, perumahan, jasa/pariwisata, infrastruktur dan lain-lain yang karena berbagai sebab ternayta tidak dimanfaatkan secara optimal, sementara di sisi lain sebagian besar masyarakat amat sulit memperoleh sebidang tanah.

d.

Semakin timpangnya akses terhadap perolehan dan pemanfaatan tanah atau sumber daya alam, karena perbedaan akses mdal dan akses politik.

e.

Semakin terdesaknya hak-hak masyarakat adat atau masyarakat lokal terhadap sumber daya alam yang menjadi ruang hidup baik karena diambil alih secara formal oleh pihak lain atau karena tidak diakuinya hak-hak masyarakat tersebut atas sumber daya alam termasuk tanah oleh negara yang ironisnya di sisi lain, tanah dalam skala besar yang dikuasai oleh sekelompok kecil masyarakat (para pemodal), banyak yang terlantar atau diterlantarkan. Kegiatan pembangunan yang selama ini menggunakan konsep pendekatan

pertumbuhan (developmentalism) telah membawa dampak buruk pada kuantitas dan


22

Ibid., hlm.70-72

13

kualitas tanah dan sumber daya agraria lainnya. Hal ini juga memperburuk masalahmasalah keagrariaan sehingga diperlukan upaya untuk mereformasi kebijakan di bidang keagrariaan (reforma agraria) dengan mendasarkan pada upaya pembaruan agraria sebagai konsep pembangunannya. 23 Berdasarkan landasan pemikiran pembaruan agraria sebagaimana dimaksud dalam TAP MPR No.IX/MPR/2001 tersebut terlihat bahwa dalam konteks pembaruan agraria, pembaruan di bidang hukum agraria merupakan salah satu kunci bagi arah kebijakan pembaruan agraria secara keseluruhan. Adanya ketidaksinkronan antar berbagai undang-undang tentang sumber daya agraria semakin memperparah egoisme sektoral terkait. Permasalahan konflik agraria yang terjadi di Lampung merupakan salah satu dari sekian banyak konflik yang terjadi, akar konflik tersebut adalah karena tidak dilaksanakannya reforma agraria yang telah direncanakan dan semakin sempitnya lahan. Secara umum dapat dikatakan bahwa salah satu penyebab utama kemacetan pembangunan pertanian adalah tidak dijalankannya reforma agraria di pedesaan. Tidak dijalankannya reforma agraria membawa implikasi serius terhadap proses politik, ekonomi dan sosial di suatu masyarakat. Guna menyikapi permasalahan ini, maka diberlakukan TAP MPR Nomor/IX/2011 Tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam. Pada awal kelahirannya, Ketetapan MPR Nomor/IX/2011 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam diharapkan menjadi awal dari komitmen politik pemerintah untuk mengatasi ketimpangan struktural dalam
23

Ida Nurlinda, Op. Cit, hlm. 81.

14

penguasaan, pemilikan, penggunaan serta pemanfaatan tanah dan sumber-sumber daya agraria lainnya. Pasal 2 TAP MPR Nomor/IX/2011 Tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam, menyatakan bahwa: Pembaharuan agraria mencakup suatu proses yang berkesinambungan berkenaan dengan penataan kembali penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan sumber daya agraria, dilaksanakan dalam rangka tercapainya kepastian dan perlindungan hukum serta keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia. Pengertian pembaharuan agraria yang dirumusakan dalam TAP MPR tersebut tampaknya ditujukan untuk merestrukturisasi penguasaan, pemilikan, penggunaan, dan pemanfaatan sumber daya agraria agar lebih berkeadilan, berkelanjutan dan mensejahterakan rakyat. Pengertian di atas juga menunjukkan luasnya dimensi dan ruang lingkup pembaharuan agraria, sehingga pembaharuan agraria bersifat kompleks dan multi dimensi. Dengan mengacu pada ketentuan UUPA, pembaharuan agraria di Indonesia memang mengandung makna yang luas, bukan hanya pembaharuan pertanahan (Landreform) tetapi juga pembaharuan sumber daya alam (natural recorces reform), atau yang dalam UUPA diartikan sumber daya agraria. Oleh karenanya pembaharuan agraria diartikan sebagai:24 Upaya-upaya yang dilakukan oleh negara dan masyarakat dalam merubah hubungan-hubungan sosial agraria dan bentuk-bentuk penguasaan tanah dan sumber daya alam ke arah keadilan dan pemerataan, melalui mekanisme dan sistem politik yang demokratis dan terbuka bagi sebesar-besarnya kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.

24

Tim Lapera, Prinsip-Prinsip Reforma Agraria: Jalan Penghidupan dan Kemakmuran Rakyat, (Yogyakarta: Lapera Pustaka Utama, 2001), hlm.43.

15

Reforma agaria merupakan agenda bangsa yang diharapkan dapat memberikan titik terang bagi terwujudnya keadilan sosial dan tercapainya kesejahteraan masyarakat. Reforma agraria dengan berbagai program pelengkapnya diharapkan dapat membantu masyarakat miskin (sebagian besar petani) untuk dapat beranjak dari keterpurukan ekonomi menuju kehidupan yang layak dan mandiri. Dalam kaitannya dengan masa depan pertanian dengan pelaksanaan Reforma agraria, merupakan suatu solusi yang dilakukan untuk memperbaiki struktur penguasaan lahan di pedesaan, yaitu suatu usaha yang terstruktur untuk melakukan pembaharuan dalam pemilikan, penguasaan dan pemanfaatan lahan. 25 Namun upaya reforma agraria baru sampai pada tahap penyadaran kepada berbagai kalangan tentang urgensi reforma agraria tersebut dan belum menyentuh pada persoalan pokoknya yaitu bagaimana bentuk dan strategi reforma agraria yang bisa dilaksanakan.26 Beberapa prasyarat dasar bagi terlaksananya reforma agraria dikemukakan oleh Wiradi yang menjadi persoalan sangat krusial dan sulit dipenuhi saat ini, yaitu:27 1. adanya kemauan politik dari pemerintah 2. data yang lengkap dan teliti tentang keagrariaan 3. organisasi rakyat/tani yang kuat, dan 4. elite penguasa yang terpisah dari elite bisnis.

25

Erizal Jamal, Syahyuti dan Aten M. Harus, Reforma dan Masa Depan Pertanian, Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertania, Bogor, Jurnal Litbang Pertanian 21 (4), 2002. hlm.1. 26 Loc Cit. 27 Ibid, hlm.2.

16

Keempat prasyarat tersebut merupakan keharusan (necessary) dan harus ditambah syarat kecukupan (satisfaction) adanya lembaga yang khusus menangani masalah ini.28 Dapat disimpulkan bahwa masalah pokok yang menghambat pelaksanaan reforma agraria, terutama adalah yang berkaitan dengan distribusi pemilikan dan penguasaan lahan dengan tidak tersedianya data keagrarian yang lengkap dan akurat. Untuk itu perlu ada upaya yang sistematis dan terencana untuk menyempurnakan data keagrariaan tersebut.29 Reforma agraria akan menghasilkan revitalisasi sektor pertanian dan pedesaan yang kokoh. Reforma agraria yang berhasil ditandai oleh kepastian penguasaan tanah yang menjamin penghidupan dan kesempatan kerja bagi petani, tata-guna tanah yang mampu memperbaiki pengelolaan sumberdaya alam dan pelestarian mutu lingkungan hidup, kedaulatan pangan, kemampuan produktivitas yang mampu membuat keluarga petani mampu melakukan re-investasi dan memiliki daya beli yang tinggi. Kalau hal ini terjadi, sektor pertanian kita akan menjadi sandaran hidup mayoritas rakyat dan juga sekaligus penyokong industrialisasi nasional. Dengan demikian reforma agraria akan mewujudkan keadilan,

kesejahteraan dan keamananan. Dengan kata lain tujuan pokok dari reforma agraria (yang sejati) adalah penciptaan keadilan sosial yang ditandai dengan adanya keadilan agraria (agrarian justice), peningkatan produktivitas dan peningkatan kesejahteraan rakyat. Keadilan

28 29

Ibid, hlm.2. Ibid.

17

agraria itu sendiri dapat dimaknai sebagai suatu kondisi dimana struktur penguasaan tanah secara relatif tidak memperlihatkan ketimpangan, yang memberikan peluang bagi terciptanya penyebaran dan penguatan aktivitas perekonomian rakyat yang berbasis di pedesaan, dan kemudian menjadi basis bagi partisipasi aktif (dan produktif) bagi sebagian besar penduduk yang nyatanya bergantung pada aktivitas pertanian untuk terlibat dalam kegiatan pembangunan nasional baik secara sosial, ekonomi, maupun politik. Itu sebabnya pula, sejak lama banyak ahli meyakini bahwa reforma agraria yang sejati akan memberikan kontribusi penting bagi proses demokratisasi pedesaan yang dalam konteks Indonesia adalah salah satu pangkalan penting bagi kehidupan sosial sebagai besar penduduknya. 2. Tinjauan Teori Hukum Atas Keberlakuan Reforma Agraria dan Hak Asasi Manusia Permasalahan pertanahan dalam politik hukum agraria di Indonesia merupakan masalah yang bersifat multidimensional dan merupakan masalah nasional yang krusial. Berbagai aspek terkait dalam masalah pertanahan, baik aspek yuridis, sosial, ekonomi, budaya bahkan bahkan keamanan. Perubahan atau pergeseran politik berpengaruh pada perubahan hukum, karena politik hukum pada hakekatnya merupakan artikulasi perkembangan aspirasi masyarakat dan sekaligus juga disebabkan oleh kebutuhan dari suatu kekuasaan. Perubahan politik hukum agraria menjadi siginifikan terlihat dari pranata-pranata yang dikeluarkan dan konflik yang muncul.30

30

Sediono MP. Tjondronegoro, Sosiologi Agraria, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1999), hlm.3.

18

Tujuan pokok dari reforma agraria adalah penciptaan keadilan sosial yang ditandai dengan adanya keadilan agraria (agrarian justice), sedangkan keadilan merupakan kunci dari seluruh rangkaian penegakan hukum, sehingga hukum dapat dirasakan kemanfaatannya dan secara umum hukum menjadi sarana pembangunan. Aspek kemanfaatan yang tersebut belakangan ini, digambarkan oleh Roscue Pond sebagai berikut: law as tool of social engineering, yang artinya hukum dapat digunakan sebagai suatu sarana pembaharuan (untuk membentuk, membangun, merubah), hukum sebagai sarana rekayasa sosial.31 Oleh karena itulah pentingnya hukum untuk dibangun agar hukum dapat benar-benar menjadi sarana pembangunan dan pembaharuan masyarakat

sebagaimana yang diharapkan, khususnya pembangunan hukum di bidang agraria melalui reforma agraria. Dalam hal ini, hukum (reforma agraria) dapat berperan sebagai objek pembangunan dalam rangka mewujudkan hukum yang ideal sesuai dengan nilai-nilai yang hidup di masyarakat. Tetapi juga hukum dapat menjadi subjek pembangunan manakala hukum itu telah berfungsi di masyarakat sebagai penggerak dan pengaman pembangunan dan hasil-hasilnya. Problem utama dan mendasar dalam rangka penyelesaian konflik agraria yang terjadi adalah menyangkut tentang persoalan keadilan. Hal ini dikarenakan hukum atau aturan perundangundangannya harusnya adil, akan tetapi kenyataannya seringkali tidak. 32
31

W. Friedman, Legal Theory, Dalam Naskah Akademis Tentang Peradilan Anak, Mahkamah Agung RI, Tahun 2005, hlm.8. 32 Bagi kaum non dogmatik hukum bukan sekedar undang-undang, antara lain dapat kita lihat dari apa yang dikemukakan oleh Eugen Ehrlich, bahwa: that law depends on popular acceptance and that each group creates its own living law which alone has creative force. (hukum tergantung pada penerimaan umum dan bahwa setiap kelompok menciptakan hukum yang hidup, dimana di dalamnya masing-masing terkandung kekuatan kreatif). Lihat: Amstrong Sembiring: http://publikana.com. Diakses tanggal 10 Januari 2013, jam: 13.45 WIB.

19

Hukum dalam pengertiannya yang umum adalah keseluruhan kaidah dan asas yang berfungsi sebagai alat atau sarana pembangunan dalam arti penyalur arah kegiatan manusia ke arah yang dikehendaki oleh pembangunan atau pembaharuan. 33 Asas dan kaidah menggambarkan bahwa hukum dianggap sebagai gejala normatif.34 Kaidah hukum merupakan ketentuan atau pedoman tentang apa yang seyogyanya atau seharusnya dilakukan. Bagaimana orang seyogyanya atau seharusnya bertindak dan bertingkah laku. Kaidah hukum berisi kenyataan normatif: das Sollen dan bukan berisi kenyataan alamiah atau peristiwa konkrit.35 Selanjutnya, hukum bertujuan untuk menjamin adanya kepastian hukum dalam masyarakat dan hukum itu harus pula bersendikan pada keadilan, yaitu asasasas keadilan dari masyarakat itu36. Alasan mengapa keadilan menjadi penting dan dapat dipaksakan adalah oleh karena kenyataan bahwa pelanggaran atas keadilan akan menimbulkan kerugian dan kejahatan dalam masyarakat. 37 Pelanggaran atas keadilan inilah yang menuai bentrokan fisik sebagaimana yang terjadi dalam kasus Mesuji Lampung, yang disebabkan oleh adanya eksploitasi secara belebihan terhadap sumber daya agraria yang hanya difokuskan pada pemenuhan kebutuhan jangka pendek, serta pemanfaatannya yang hanya dapat dinikmati oleh para

33

Muchtar Kusumaatmaja dalam Sri Gambir Melati Hatta, Beli Sewa Sebagai Perjanjian Tak Bernama: Pandangan Masyarakat dan Sikap Mahkamah Agung Indonesia (Bandung: Alumni, 2000), hlm.17. 34 Loc Cit.. 35 Loc Cit. 36 C.S.T. Kansil, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia , (Jakarta: Balai Pustaka, 1989), hlm. 40 41. 37 A. Sonny Keraf, Pasar Bebas Keadilan dan Peran Pemerintah (Yogyakarta: Kanisius, 1996), hlm.120.

20

pengusaha dan di sisi lain yang terjadi adalah meningkatnya kemiskinan masyarakat sekitar karena ketiadaan akses terhadap tanah. Sebagaimana kita ketahui, bahwa orientasi pertanahan di waktu lampau tidak diarahkan kepada upaya pemerataan aset produksi. Tanah lebih ditekankan sebagai aset produksi dan dialokasikan kepada sektor ekonomi kuat dan besar, karena diyakini akan mampu mendorong tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Akibatnya petani miskin bertambah miskin, hal ini semakin parah karena tanah pertanian juga diubah menjadi daerah perumahan, perluasan kota, pengembangan prasarana dan sebagainya. Keadaan ini juga berdampak kepada meningkatnya konflik-konflik pertanahan. Di satu pihak, petani kecil membutuhkan tanah untuk sumber kehidupan dan kelanjutan hidup mereka, sedangkan pihak lainnya (wirausahawan) pada umumnya memerlukan tanah-tanah tersebut untuk

mengembangkan kegiatan usaha ekonomi.38 Untuk itu, maka keadilan merupakan suatu hak yang harus diwujudkan dalam setiap pengaturan hukum yang bersendikan keadilan tersebut. Sejalan dengan ini, Adam Smith merumuskan tentang keadilan komutatif, dimana prinsip utama keadilan komutatif adalah no harm atau prinsip tidak melukai dan merugikan orang lain. Keadilan komutatif ini menyangkut jaminan dan

penghargaan atas hak-hak individu, khususnya hak-hak asasi. Menurut Smith, keadilan komutatif tidak hanya menyangkut pemulihan kembali kerusakan yang terjadi, melainkan juga menyangkut pencegahan terhadap terlanggarnya hak dan

38

Iwan Isa, Kebijakan dan Permasalahan Penyediaan Tanah Mendukung Ketahanan Pangan, Makalah, 2005, hlm.2.

21

kepentingan pihak lain.39 Dengan lain kata dapat dikatakan bahwa keadilan komunikatif tidak terutama terletak dalam melakukan suatu tindakan positif untuk orang lain, melainkan terletak dalam tidak melakukan tindakan yang merugikan orang lain. Tujuan keadilan adalah melindungi orang dari kerugian yang diderita akibat orang lain.40 Keadilan komutatif lalu tertuang dalam hukum yang tidak hanya menetapkan pemulihan kerugian, melainkan juga hukum yang mengatur agar tidak terjadi pelanggaran atas hak dan kepentingan pihak tertentu.41 Teori keadilan berdasar Smith berkaitan dengan konsep resiprositas atau kesetaraan nilai dalam pemulihan kembali kerugian maupun pertukaran ekonomi. Teori keadilan Smith ini dikembangkan kemudian bahwa prinsip utama keadilan komunitatif tidak melukai dan merugikan orang lain. Keadilan menurut Smith menyangkut adanya jaminan dan penghargaan atas hak-hak individu.42 Adam Smith memandang manusia sebagai bagian yang tak terpisahkan dan suatu sistem yang mekanismenya mengaitkan perilaku mereka yang spontan dan pada umumnya naluriah dengan manfaat-manfaat yang tak kelihatan bagi mereka sendiri dan bagi masyarakat secara keseluruhan. Seperti halnya para fungsionalis, Smith menganggap masyarakat sebagai sebuah sistem terkait dengan hubungan kaitmengait yang sedemikian kornpleks di antara bagian-bagiannya, sehingga setiap
39 40

Ibid, hlm.112. Ibid, hlm.116. 41 Ibid, hlm.112. 42 Sri Gambir Melati Hatta, Peranan Itikad Baik Dalam Hukum Kontrak dan Perkembangannya, Serta Implikasinya Terhadap Hukum dan Keadilan, Pidato diucapkan pada Upacara Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap Madya pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia , tanggal 30 Agustus 2000, hlm.16.

22

bagian menyumbang terhadap yang lainnya atau terhadap sistem tersebut secara keseluruhan. Masing-masing bagian terkait dan tergantung satu sama lain; dan terkait dan tergangung pada keseluruhan.43 Thomas Aquinas menyatakan bahwa esensi hukum adalah keadilan, oleh karena itu hukum harus mengandung keadilan, hukum yang tidak adil bukanlah hukum itu sendiri..44 Selanjutnya, kebijakan reforma agraria juga selaras dengan teori

pembangunan hukum dari Muchtar Kusumaatmadja dan teori kemanfaatan (utilitas) dari Jeremy Bentham. Ada beberapa argumentasi krusial mengapa teori hukum pembangunan tersebut banyak mengundang banyak atensi, khususnya dalam mendukung keberlakuan reforma agraria, yang apabila dijabarkan aspek tersebut secara global adalah sebagai berikut:45 Pertama, teori hukum pembangunan sampai saat ini adalah teori hukum yang eksis di Indonesia karena diciptakan oleh orang Indonesia dengan melihat dimensi dan kultur masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, dengan tolok ukur dimensi teori hukum pembangunan tersebut lahir, tumbuh dan berkembang sesuai dengan kondisi Indonesia maka hakikatnya jikalau diterapkan dalam aplikasinya akan sesuai dengan kondisi dan situasi masyarakat Indonesia yang pluralistik. Kedua, secara dimensional maka teori hukum pembangunan memakai kerangka acuan pada pandangan hidup (way of live) masyarakat serta bangsa
43

A. Sonny Keraf, Pasar Bebas Keadilan dan Peran Pemerintah (Yogyakarta: Kanisius, 1996), hlm.50-51 44 Sudikno Mertokusumo, Penemuan Hukum Sebuah Pengantar, (Yogyakarta: Liberty, 1996), hlm. 79. 45 Muchtar Kusumaatmadja Konsep-Konsep Hukum Dalam Pembangunan (Kumpulan Karya Tulis), (Bandung: Alumni, 2002), hlm.36.

23

Indonesia berdasarkan asas Pancasila yang bersifat kekeluargaan maka terhadap norma, asas, lembaga dan kaidah yang terdapat dalam teori hukum pembangunan tersebut relatif sudah merupakan dimensi yang meliputi structure (struktur), culture (kultur) dan substance (substansi) sebagaimana dikatakan oleh Lawrence W. Friedman.46 Ketiga, pada dasarnya teori hukum pembangunan memberikan dasar fungsi hukum sebagai sarana pembaharuan masyarakat (law as a tool social engeneering)47 dan hukum sebagai suatu sistem sangat diperlukan bagi bangsa Indonesia sebagai negara yang sedang berkembang.48 Selanjutnya, terkait dengan pemberlakuan reforma agraria yang didasarkan kepada keadilan sosial dalam politik hukum agraria, menurut Maria S.W. Sumardjono setidaknya terdapat empat hal yang perlu diperhatikan sebagai dasar berpijak bagi pembuat kebijakan di masa yang akan datang.49 Pertama, prinsip-prinsip dasar yang diletakkan oleh UUPA perlu dipertegas dan dikembangkan orientasinya agar dapat diterjemahkan dalam kebijakan yang

46

Lawrence W. Friedman, American Law: An invaluable guide to the many faces of the law, and how it affects our daily our daily lives, W.W. Norton & Company, New York, 1984, hlm. 1-8. dan pada Legal Culture and Social Development, Stanford Law Review, New York, hal. 1002-1010 serta dalam Law in America: a Short History, Modern Library Chronicles Book, New York, 2002, hlm. 47. 47 Lihat Romli Atmasasmita, Menata Kembali Masa Depan Pembangunan Hukum Nasional, Makalah disampaikan dalam Seminar Pembangunan Hukum Nasional VIII di Denpasar, 14-18 Juli 2003, hlm. 7. 48 Terhadap eksistensi hukum sebagai suatu system dapat diteliti lebih detail dan terperinci pada: Lili Rasjidi dan Ida Bagus Wiyasa Putra, Hukum Sebagai Suatu Sistem, (Bandung: Mandar Maju, 2003), hlm. 5 dstnya. 49 Maria S.W. Sumardjono, Kebijakan Tanah: Antara Regulasi dan Implementasi, (Jakarta: Kompas, 2001), hlm.43.

24

konseptual sekaligus operasional dalam menjawab berbagai kebutuhan dan dapat menuntun ke arah perubahan yang dinamis. Kedua, perlu persamaan persepsi pembuat kebijakan berkenaan dengan berbagai hal yang prinsipil, agar tidak menunda jalan keluar dari permasalahan yang ada. Ketiga, tanpa mengingkari banyaknya kebijakan yang berhasil diterbitkan, masih terdapat kesan adanya pembuat kebijakan yang bersifat parsial atau untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek, karena belum ielasnya urutan prioritas kebijakan yang harus diterbitkan. Keempat, masih diperlukan adanya suatu cetak biru kebijakan di bidang pertanahan yang dengan jelas menunjukkan hubungan antara prinsip kebijakan, tujuan yang hendak dicapai, serta sasarannya. Berdasarkan kajian Kelompok Studi Pembaruan Agraria (KSPA), guna mengantisipasi perubahan sistem politik dan pemerintahan, mengatasi krisis ekonomi dan mengakhiri konflik dan permasalahan lainnya yang berkaitan dengan penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah dan sumber daya agraria lainnya, maka aturan-aturan yang mendesak untuk disusun harus dapat mengintegrasikan tema-tema perubahan yang terjadi dan mengandung beberapa prinsip dasar sebagai berikut:50

50

Kelompok Studi Pembaruan Agraria (KSPA), Usulan Rantap MPR RI tentang Pelaksanaan Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam yang Adil dan Berkelanjutan, Bandung: 1416 September 2001, hlm.2.

25

1)

berorientasi kerakyatan; mengutamakan kepentingan hajat hidup masyarakat banyak daripada kepentingan pemodal besar;

2)

mengedepankan aspek keadilan dalam penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah dan sumber daya agraria lainnya;

3)

bersifat integratif antar sektor dengan menghentikan sektoralisme dalam bentuk kebijakan terpadu;

4) 5)

memperhatikan keberlanjutan antargenerasi; memperhitungkan aspek kelestarian dalam pengelolaannya. Untuk merealisasikan hal tersebut, diperlukan pengaturan yang bertujuan

untuk: 1) 2) menyelesaikan sengketa-sengketa yang terjadi pada masa lalu secara tuntas; menata ulang struktur penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemafaatan tanah dan sumber daya agraria lainnya agar tercipta suatu kontak sosial baru yang lebih berkeadilan; 3) mengatur masalah pengelolaan tanah dan sumber daya agraria lainnya untuk masa yang akan datang yang berdasarkan pada kedua kebijakan tersebut di atas.

3. Pengadilan Agraria Sebagai Wujud Pelaksnaaan Hak Asasi Manusia Pelanggaran HAM yang berat menurut Pasal 7 UU No. 26 Tahun 2000 meliputi kejahatan genocide (the crime of genocide) dan kejahatan terhadap kemanusiaan (crime against humanity). Kejahatan genosida adalah setiap perbuatan

26

yang dilakukan dengan maksud untuk menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok bangsa, ras, kelompok etnis kelompok agama, dengan cara : a. b. membunuh anggota kelompok ; mengakibatkan penderitaan fisik atau mental yang berat terhadap anggotaanggota kelompok ; c. menciptakan kondisi kehidupan kelompok yang akan mengakibatkan kemusnahan secara fisik baik seluruh atau sebagiannya ; d. memaksakan tindakan-tindakan yang bertujuan mencegah kelahiran di dalam kelompok ; e. memindahkan secara paksa anak-anak dari kelompok tertentu ke kelompok lain.51 Sedangkan kejahatan terhadap kemanusiaan adalah salah satu perbuatan yang dilakukan sebagai bagian dari serangan yang meluas atau sistematik yang

diketahuinya bahwa serangan tersebut ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil berupa pembunuhan, pemusnahan, perbudakan, pengusiran, perampasan kemerdekaan, penyiksaan, perkosaan, penganiayaan, penghilangan orang secara paksa dan kejahatan apartheid.52 Tragedi tewasnya petani dalam konflik agraria sebenarnya bukan hal baru. DPP Serikat Petani Indonesia (SPI), misalnya, mencatat pada tahun 2011, sebanyak 18 petani tewas dari 120 kasus konflik agraria yang terjadi. Pada 2010, setidaknya ada 22 kasus. Peristiwa yang terjadi sepanjang tahun lalu telah menewaskan lima
51

52

Lihat: Pasal 8 UU No. 26 Tahun 2000 Lihat: Pasal 9 UU No. 26 Thun 2000

27

orang petani dan 106 lainnya dikriminalisasikan. SPI juga mencatat setidak-tidaknya ada 22 kasus konflik agraria yang dialami oleh anggotanya dengan total lahan seluas 77.015 ha. Dari kasus-kasus tersebut, sebanyak 106 orang petani telah dikriminalisasi, dan 21.367 petani tergusur. Dari jumlah petani yang dikriminalisasi itu, 12 orang di Riau, 6 orang di Sumatera Barat, 23 orang di Bengkulu, 5 orang di Sumatera Utara, 2 orang di Sumatera Selatan, 16 orang di Jambi, 24 orang di Sulawesi Tengah dan 18 orang di Kalimantan.53 Komnas HAM juga mencatat, dari 6.000 kasus pelanggaran HAM yang terjadi setiap tahunnya, sekitar 1.000 kasus pelanggaran dilakukan oleh perusahaan perkebunan. Hal ini terjadi karena begitu banyaknya masalah konflik agraria antara perusahaan perkebunan dengan masyarakat yang belum juga terselesaikan sejak masa orde baru hingga sekarang.54 Komnas HAM juga telah melakukan berbagai penyelidikan dalam konflik agraria yang terjadi di Indonesia. Penyelidikan itu dilakukan mengingat hampir setiap kasus terindikasi adanya pelanggaran HAM yang dialami oleh para petani. Hasil penyelidikan itu sudah diteruskan untuk ditindaklanjuti oleh instansi terkait seperti Kepolisian, BPN, Kejaksaaan dan instansi lainnya. Dari pengalaman itu Komnas HAM sejak lima tahun lalu mengusulkan kepada pemerintah untuk membentuk peradilan agraria mengingat banyaknya kasuskasus tersebut diputuskan tidak persis sesuai dengan aturan agraria. Bahkan, tidak

53 54

http://suaramerdeka.com/ Diakses tanggal 10 Januari 2013, jam: 13.40 WIB. http://suaramerdeka.com/Diakses tanggal 10 Januari 2013, jam: 13.40 WIB.

28

sedikit di antaranya yang merugikan petani yang relatif paling banyak mengalami kasus sengketa lahan, baik dengan pihak swasta maupun dengan pemerintah. Sampai sekarang pemerintah belum merespon usulan peradilan agraria ini, padahal konflik agraria masih cukup banyak. Pembentukan peradilan agraria bukan kebijakan yang sulit dilakukan oleh pemerintah mengingat sudah banyak peradilan sejenis yang sudah ada saat ini seperti peradilan niaga, peradilan hubungan industrial dan sebagainya. Pemerintah harus melindungi hak-hak ekonomi petani, yang merupakan profesi mayoritas warga miskin negeri ini. Menteri kehutanan, menteri pertanian, dan menteri BUMN perlu koordinasi untuk menginventarisasi lahan-lahan tidur atau menganggur agar dapat dimanfaatkan para petani untuk melakukan budidaya pertanian. Jangan terus menerus petani dipinggirkan, sementara di sisi lain mereka dituntut memikul tanggung jawab memenuhi kebutuhan pangan seluruh warga bangsa lainnya. Selama ini swasembada pangan khususnya dan kedaulatan pangan pada umumnya sulit dicapai. Salah satunya juga lantaran terbatasnya ketersediaan lahan bagi para petani untuk berproduksi. Oleh karena itu, pendayagunaan lahanlahan tidur milik negara maupun pengusaha-pengusaha besar sangat penting untuk mendukung tercapainya swasembada pangan dan kedaulatan pangan. Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Arian Bima berharap pemerintah dalam menyikapi konflik-konflik agraria yang melibatkan petani seperti ini tidak boleh hanya mengedepankan hukum formal kepemilikan lahan, melainkan harus menggunakan pendekatan yang komprehensif. Aspek politis-sosiologis yang

29

memperhitungkan nasib para petani juga harus digunakan dalam mencari solusi yang seadil-adilnya. Dalam permasalahan ini dapat dikemukakan alasan-alasan yang dapat dipertimbangkan sebagai bahan pertimbangan untuk membentuk pengadilan agrarian yaitu sebagai berikut: 1. Masalah Tanah Merupakan Masalah yang Khusus/Spesifik. Masalah tanah merupakan masalah yang khusus /spesifik yang memerlukan penanganan dan pengetahuan khusus tentang pertanahan. Sengketa agraria memang merupakan suatu bentuk sengketa yang bersifat spesifik sehingga memerlukan pengetahuan khusus. Ketika sengketa tersebut diajukan ke pengadilan untuk diperiksa dan diputus guna mendapatkan keadilan, niscaya dibutuhkan hakim yang menguasai hukum agrarian. Hakim yang memutus sengketa agraria pada saat ini, baik di pengadilan umum maupun pengadilan tata usaha negara pada dasarnya memiliki pengetahuan hukum yang bersifat general. Dalam setiap pertimbangan hukum putusan hakim sering tidak mengacu pada hukum tanah nasional dan lebih mengedepankan hukum perdata dan hukum administrasi. Hal ini tentu saja akan menimbulkan perbedaan karena dalam melaksanakan tugas BPN berpegang dan mengacu pada hukum tanah nasional dan perangkat peraturan pelaksanaannya. 2. Sejumlah besar kasus sengketa tanah di Indonesia belum dapat di selesaikan secara tuntas oleh Pengadilan Umum.

30

Sejumlah besar kasus sengketa tanah yang terjadi di Indonesia tidak mampu diselesaikan dengan tuntas oleh lembaga peradilan nasional. Ini

mengakibatkan sengketa pertanahan yang berlarut-larut dan tidak adanya kepastian hukum atas status kepemilikan tanah. Putusan inkracht

(berkekuatan hukum tetap) satu kasus dapat memakan waktu bertahun-tahun lamanya. Hal ini menambah beban waktu dan tenaga aparat pertanahan dalam berperkara di pengadilan yang dapat mengganggu kelancaran pelayanan pertanahan kepada masyarakat.maka asas peradilan yang sederhana, cepat dan biaya ringan belum terwujud 3. Alternatif penyelesaian sengketa di luar pengadilan masih memiliki banyak kelemahan Dalam penyelesaian sengketa pertanahan yang dihadapi oleh Badan Pertanahan Nasional ada beberapa kelemahan dalam penyelesaian sengketa tersebut. Kelemahan itu adalah : a) Mekanisme eksekusi yang sulit. Jika salah satu pihak tidak bersedia melaksanakan isi

perdamaian/kesepakatan yang telah terjadi dalam mediasi, maka pihak lain tidak dapat memaksa agar pihak lawan melaksanakannya. Karena itu, cara yang dapat ditempuh adalah dengan mengajukan gugatan ke pengadilan, sehingga pada akhirnya perkara tersebut memerlukan waktu penyelesaian yang cukup lama;

31

b)

Proses mediasi sangat bergantung kepada itikad baik para pihak untuk menyelesaikan masalahnya. Hal itu berarti, bahwa para pihak yang bersengketa harus benar-benar bersedia menerima dan melaksanakan kesepakatan yang terjadi melalui mediasi;

c)

Jika di dalam mediasi tidak dilibatkan penasihat hukum atau lawyer sangat mungkin fakta hukum yang penting tidak disampaikan kepada mediator sehingga dapat mengakibatkan kesepakatan (keputusan) menjadi bias

4.

Kewenangan pembatalan sertifikat Suatu sertifikat yang merupakan produk dari Badan Pertanahan Nasional dapat dibatalkan oleh putusan Pengadilan Negeri apabila terjadi Perkara, sehingga mengakibatkan kurang kuatnya kepemilikan sertifikat tersebut. Berdasarkan hal ini, Badan Pertanahan Nasional tidak dapat mengintervensi Putusan Pengadilan

C. KESIMPULAN Konflik agraria yang merebak selama ini disebabkan oleh karena tidak dilaksanakannya reforma agraria, karena konflik agraria itu sendiri merefleksikan pudarnya keadilan agraria di dalam suatu masyarakat (negara). Persoalan yang terjadi di Lampung (kasus Mesuji) adalah masalah ketersediaan akses terhadap tanah, yang dicirikan dengan terjadinya ketimpangan dalam alokasi penguasaan, penggunaan dan pemanfaatan tanah antar sektor khususnya antar sektor

32

pertanian/perkebunan dan non pertanian, yang berdampak kepada penyusutan tanah pertanian/perkebunan. Selain itu, mengingat mayoritas masyarakat Indonesia berprofesi petani, maka penyusutan tanah tersebut akan berdampak kepada terjadinya pengangguran secara massal serta meningkatnya kemiskinan masyarakat sekitar. Reforma agraria dimaksudkan untuk menjawab ketimpangan dan konflik yang timbul. Konflik agraria selain merupakan akibat tidak dilaksanakannya reforma agraria, juga dapat terjadi dalam proses reforma agraria apabila persiapannya tidak matang. Karena itu, untuk mencegah terjadinya konflik yang biasanya menyertai pelaksanaan reforma agraria, maka reforma agraria perlu dipersiapkan dengan matang dengan memenuhi berbagai prasyarat yang diperlukan. Peran Negara (dalam hal ini: pemerintah) sangat penting, bahkan tidak tergantikan dalam pelaksanaan reforma agraria, termasuk menyediakan prasyarat-prasyaratnya. Dalam kaitannya dengan penyelesaian konflik agraria yang semakin meluas, maka perlu diupayakan penyelesaiannya melalui pengadilan agraria. Dengan adanya pengadilan agrarian ini diharapkan perkara-perkara di bidang agraria dapat diselesaikan dengan lebih mengedepankan keadilan dan kemanfaatan selain kepastian hukum.

DAFTAR PUSTAKA

33

Buku-buku Budijaya, Nyoman, Tinjauan Yuridis Tentang Redistribusi Tanah Pertanian Dalam Pelaksanaan Landreform, Yogyakarta: Liberty, 2000. C.S.T. Kansil, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1989. Friedman, Lawrence W. Legal Theory, Dalam Naskah Akademis Tentang Peradilan Anak, Mahkamah Agung RI, Tahun 2005. ___________. Legal Culture and Social Development, Stanford Law Review, New York, 1984. ___________. Law in America: a Short History, Modern Library Chronicles Book, New York, 2002 Ida Nurlinda, Prinsip-prinsip Pembaruan Agraria: Perspektif Hukum, Jakata: Rajawali Pers, 2009. Joyo Winoto, Reforma Agraria dan Keadilan Sosial, disampaikan dalam rangka Dies Natalis Universitas Padjajaran ke 50, Bandung, 10 September 2007. Keraf, A. Sonny. Pasar Bebas Keadilan dan Peran Pemerintah, Yogyakarta: Kanisius, 1996. Lili Rasjidi dan Ida Bagus Wiyasa Putra, Hukum Sebagai Suatu Sistem, Bandung: Mandar Maju, 2003. Maria S.W. Sumardjono, Tanah dalam Perspektif Hak Ekonomi Sosial dan Budaya,, Jakarta: Kompas, 2000. ___________. Sumardjono, Kebijakan Tanah: Antara Regulasi dan Implementasi, Jakarta: Kompas, 2001. Muchtar Kusumaatmadja Konsep-Konsep Hukum Dalam Pembangunan (Kumpulan Karya Tulis), Bandung: Alumni, 2002. Sediono MP. Tjondronegoro, Sosiologi Agraria, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1999. Sri Gambir Melati Hatta, Beli Sewa Sebagai Perjanjian Tak Bernama: Pandangan Masyarakat dan Sikap Mahkamah Agung Indonesia, Bandung: Alumni, 2000.
34

___________. Peranan Itikad Baik Dalam Hukum Kontrak dan Perkembangannya, Serta Implikasinya Terhadap Hukum dan Keadilan, Pidato diucapkan pada Upacara Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap Madya pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia, tanggal 30 Agustus 2000. Subandi Al Marsudi, Pancasila dan UUD 45 dalam Paradigma Reformasi, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2001. Sudikno Mertokusumo, Penemuan Hukum Sebuah Pengantar, Yogyakarta: Liberty, 1996. Tim Lapera, Prinsip-Prinsip Reforma Agraria: Jalan Penghidupan dan Kemakmuran Rakyat, Yogyakarta: Lapera Pustaka Utama, 2001 Jurnal, Majalah, Makalah, Mass Media, Internet dll Amstrong Sembiring: http://publikana.com. Erizal Jamal, Syahyuti dan Aten M. Harus, Reforma dan Masa Depan Pertanian, Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertania, Bogor, Jurnal Litbang Pertanian 21 (4), 2002. Iwan Isa, Kebijakan dan Permasalahan Penyediaan Tanah Mendukung Ketahanan Pangan, Makalah, 2005. Kelompok Studi Pembaruan Agraria (KSPA), Usulan Rantap MPR RI tentang Pelaksanaan Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam yang Adil dan Berkelanjutan, Bandung: 14-16 September 2001. Nasution, Lutfi I. Beberapa Masalah Pertanahan Nasional dan Alternatif Kebijaksanaan Untuk Menanggulanginya, dalam Masalah Tanah Semakin Meningkat, Analisis CSIS Tahun XX, Nomor 2 Maret April 1991. Romli Atmasasmita, Menata Kembali Masa Depan Pembangunan Hukum Nasional, Makalah disampaikan dalam Seminar Pembangunan Hukum Nasional VIII di Denpasar, 14-18 Juli 2003. Salman Luthan, Proyeksi Harmonisasi Konvensi Menentang Penyiksaan Dengan Hukum Pidana Nasional, makalah seminar nasional kerjasama Departemen Hukum Internasional FH UII dengan ELSAM, Yogyakarta, 1995.
35

Tempo, Kamis 29 Desember 2011. www.bpn.go.id/Penyelesaian Sengketa Pertanahan. http://bataviase.co.id/node/922937 http://nasional.vivanews.com http://suaramerdeka.com Peraturan Perundang-undangan Republik Indonesia, Undang-Undang Dasar 1945 Republik Indonesia, Ketetapan MPR Nomor IX/MPR/2001 Tentang Pembaruan Agraria Dan Pengelolaan Sumber daya Alam. Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 Tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia. Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia, Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1960 Tentang Pokok-Pokok Agraria Republik Indonesia, Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar

36

37