Anda di halaman 1dari 16

NEURODERMATITIS

I.

PENDAHULUAN
Neurodermatitis adalah peradangan kulit kronis, yang ditandai dengan kulit tebal dan garis kulit tampak menonjol (likenifikasi) menyerupai batang kayu. Gejala neurodermatitis timbul dikarenakan respon kutaneus terhadap garukan atau gosokan yang terus menerus karena rangsangan pruritogenik. Penyebab utama dari neurodermatitis belum diketahui, namun pada dasarnya gejala pruritus memilki peran sentral dalam timbulnya reaksi kulit berupa likenifikasi. Pada hipotesis mengenai pruritus dikatakan, pruritus dapat terjadi karena adanya penyakit yang mendasarinya, misalnya gagal ginjal kronis, obstruksi saluran empedu, limfoma Hodgkin, hipertiroid. Atau bisa karena penyakit kulit seperti dermatitis atopik, dermatitis kontak alergi, gigitan serangga, dan aspek psikologik dari tekanan emosi. Neurodermatitis dikenal juga dengan nama liken simplek kronik. Keluhan utamanya berupa gatal yang berulang dalam jangka waktu yang lama sehingga menimbulkan gejala berupa kulit yang menebal dan garis kulit yang menonjol (likenifikasi). Pada setiap individu, keluhan utama gatal yang lama bisa berbeda, semua bergantung dari respon kulit yang menerima rangsangan pruritogenik, penyakit yang mendasarinya dan emosinya. Variasi klinis dari neurodermatitis sering terjadi pada orang dewasa. Contohnya pada pasien yang memiliki riwayat penyakit dermatitis atopik memiliki onset lebih cepat untuk menjadi penyakit neurodermatitis dibandingkan dengan pasien yang tidak memiliki riwayat penyakit dermatitis atopik. Pada umumnya pasien yang menderita neurodermatitis telah mengetahui penyakitnya sudah sejak lama, namun kebanyakan dari mereka tidak mengetahui tentang penyakitnya yang dipengaruhi oleh penyakit yang mendasar dan keadaan emosinya. Pembahasan mengenai neurodermatitis dalam makalah ini dapat digunakan untuk memberikan penjelasan kepada masyarakat mengenai apa itu neurodermatitis, bagaimana mendiagnosa neurodermatitis dan bagaimana tatalaksana pengobatan neurodermatitis1,2.
1

II.

EPIDEMIOLOGI
Penyakit ini dapat mengenai semua kelompok umur mulai dari anak-anak sampai dewasa. Kelompok usia dewasa 30 50 tahun paling sering mengalami keluhan neurodermatitis. Neurodermatitis dapat terjadi pada laki-laki dan wanita, tetapi lebih sering dilaporkan terjadi pada wanita terutama pada umur pertengahan Individu. Neurodermatitis jarang terjadi pada anak-anak, karena neurodermatitis merupakan penyakit yang bersifat kronis dan dipengaruhi oleh keadaan emosi dan penyakit yang mendasarinya. Dilihat dari ras dan suku bangsa, Asia terutama ras mongoloid lebih sering terkena penyakit ini kemungkinan karena faktor protein yang dikonsumsinya berbeda dengan ras dan suku bangsa lainnya1,2. .

III.

ETIOPATOGENESIS
Pruritus memainkan peran sentral dalam timbulnya pola reaksi kulit berupa likenifikasi. Hipotesis mengenai pruritus dapat oleh karena adanya penyakit yang mendasari, misalnya gagal ginjal kronis, obstruksi saluran empedu, limfoma Hodgkin, hipertiroid, penyakit kulit seperti dermatitis atopik, dermatitis kontak alergi, gigitan serangga, dan aspek psikologi dengan tekanan emosi. Pada neurodermatitis jumlah eosinofil meningkat. Eosinofil yang berisi protein X dan protein kationik akan menimbulkan degranulasi sel mast . Degranulasi sel mast akan mengaktifkan sel-sel saraf sumsum tulang sebagai kompensasinya. Sel-sel saraf yang berisi CGRP (Calcitonin Gene-Related Peptide) dan SP (substance P), jumlahnya di dermis juga akan meningkat sehingga akan melepaskan histamin dari sel mast yang selanjutnya akan memicu pruritus. Semakin tinggi eosinofil pasien yang mengalami neurodermatitis akan semakin sering pasien mengeluh gejala gatal 1-3. Trauma mekanik kronis pada kulit berupa garukan atau gosokan akan mengakibatkan penebalan pada kulit. Garukan dan gosokan berulang (yang dipicu factor asing atau dari diri sendiri) menghasilkan nodular likenifikasi dan

hyperkeratosis. Gatal pada neurodermatitis bersifat lokal. Tempatnya tergantung dimana sering terpapar rangsangan pruritogenik. Pada individu yang mengalami neurodermatitis rasa ingin menggaruk sangat besar, pasien akan merasakan adanya
2

gatal yang hebat dan tidak dapat mengontrol untuk menggosok atau menggaruk pada tempat yang gatal2. Neurodermatitis dipengaruhi oleh keadaan emosi pasien. Gejalanya akan timbul seiring dengan emosi pasien yang tinggi. Dari pemeriksaan efloresensi akan tampak hiperpigmentasi pada kulit, lesi purpura dengan permukaan tidak rata, ekskoriasi pada tempat yang gatal dan dapat menjadi krusta. Hasil efloresensi ini disebabkan karena seringnya pasien menggaruk bagian yang gatal. Dari hasil studi

immunohistokimia menunjukkan peningkatan jumlah dari sel-sel saraf pada kulit terjadi terutama pada neurodermaitis. Pada pemeriksaan biopsy kulit menunjukkan secara signifikan penurunan kepadatan jaringan saraf intraepidermal, yang mengacu pada subklinikal neuropati sejumlah kecil jaringan. Pada studi lainnya

mengindikasikan bahwa sitokin berhubungan dengan STAT 6 beraktivasi bersama dengan beberapa stimulus yang tidak diketahui yang mengaktivasi STST 3 yang mempunyai peranan penting dalam pathogenesis neurodermatitis.2,3 Pada pasien yang memiliki faktor predisposisi, garukan kronik dapat

menimbulkan penebalan dan likenifikasi. Jika tidak diketahui penyebab yang nyata dari garukan, maka disebut neurodermatitis sirkumskripta. Adanya garukan yang terus-menerus diduga karena adanya pelepasan mediator dan aktivitas enzim proteolitik. Walaupun sejumlah peneliti melaporkan bahwa garukan dan gosokan timbul karena respon dari adanya stress. Adanya sejumlah saraf mengandung immunoreaktif CGRP (Calsitonin Gene-Related Peptida) dan SP (Substance

Peptida) meningkat pada dermis. Hal ini ditemukan juga pada prurigo nodularis, tetapi tidak pada neurodermatitis sirkumskripta. Sejumlah saraf menunjukkan imunoreaktif somatostatin, peptide histidine, isoleucin, galanin, dan neuropeptida Y, dimana sama pada neurodermatitis sirkumskripta, prurigo nodularis dan kulit normal. Hal tersebut menimbulkan pemikiran bahwa proliferasi nervus akibat dari trauma mekanik, seperti garukan dan goresan. SP dan CGRP melepaskan histamin dari sel mast, dimana akan lebih menambah rasa gatal. Membran sel schwann dan sel perineurium menunjukkan peningkatan dan p75 nervus growth factor, yang kemungkinan terjadi akibat dari hyperplasia neural. Pada papilla dermis dan dibawah dermis alpha-MSH (Melanosit Stimulating Hormon) ditemukan dalam sel endotel kapiler4.
3

IV.

GEJALA KLINIS
Keluhan utama dari neurodermatitis ialah gatal berulang. Pasien akan mengeluh gatal yang hilang timbul terutama saat sore hari. Rasa gatal memang tidak terus menerus, biasanya pada waktu tidak sibuk, bila muncul sulit ditahan untuk tidak digaruk. Penderita merasa enak bila digaruk; setelah luka, baru hilang rasa gatalnya untuk sementara (karena diganti dengan rasa nyeri). Lesi biasanya tunggal, pada awalnya berupa plak eritematosa, sedikit edema, lambat laun edema dan eritema menghilang, bagian tengah berskuama dan menebal, likenifikasi dan ekskoriasi; sekitarnya hiperpigmentasi, batas dengan kulit normal tidak jelas. Gambaran klinis dipengaruhi juga oleh lokasi dan lamanya lesi akibat digaruk. Letak lesi dapat timbul dimana saja, tetapi yang biasa ditemukan adalah di scalp, tengkuk, samping leher, lengan bagian ekstensor, pubis, vulva, skrotum, perianal, paha bagian medial, lutut, tungkai bawah lateral, pergelangan kaki bagian depan, dan punggung kaki 1,3 Neurodermatitis di daerah tengkuk (lichen nuchae) umumnya hanya pada wanita, berupa plak kecil di tengah tengkuk atau dapat meluas hingga ke scalp. Biasanya skuamanya banyak menyerupai psoriasis. Variasi klinis neurodermatitis dapat berupa prurigo nodularis, akibat garukan atau korekan tangan penderita yang berulang-ulang pada suatu tempat. Lesi berupa nodus berbentuk kubah, permukaan mengalami erosi tertutup krusta dan skuama, lambat laun menjadi keras dan berwarna lebih gelap (hiperpigmentasi). Lesi biasanya multipel; lokalisasi tersering di ekstremitas; berukuran mulai beberapa milimeter sampai 2 cm1 Keparahan gatal dapat diperburuk bila pasien berkeringat, pasien berada pada suhu yang lembab, atau pasien terkena benda yang merangsang timbulnya gatal (alergen). Gatal juga dapat bertambah pada saat pasien mengalami stress psikologis. Pada pasien muda, keluhan gatal umumnya kurang dirasakan karena tidak begitu mengganggu aktivitasnya, akan tetapi keluhan gatalnya sangat dirasakan seiring bertambahnya usia dan faktor pemicu stressnya. Kelainan kulit yang terjadi bisa berupa eritem, edema, papul, likenifikasi (bagian yang menebal), kering, berskuama atau hiperpigmentasi. Ukuran lesi bervariasi, berbatas tidak tegas dan bentuk umumnya tidak beraturan. Lesi pada setiap individu pasien berbeda. Tidak ada penjelasan yang tegas mengenai berapa lama lesi pada neurodermatitis terbentuk.
4

lesi tergantung dari sering dan lamanya pasien mengalami keluhan gatal dan menggaruknya. Dari pemeriksaan efloresensi, lesi tampak likenifikasi berupa penebalan kulit dengan garis-garis kulit yang semakin terlihat, terlihat plak dengan ekskoriasi serta sedikit eritematosa (memerah) dan edema. Pada lesi yang sudah lama, lesi akan tampak berskuama pada bagian tengahnya, terjadi hiperpigmentasi (warna kulit yang digaruk berubah menjadi kehitaman) pada bagian lesi yang gatal, bagian eritema dan edema akan menghilang, dan batas lesi dengan bagian kulit normal semakin tidak jelas.3,4

Likenifikasi, Hiperpigmentasi Likenifikasi, Ekskoriasi

Eritematosa, Edema

Gambar 2. Lesi neurodermatitis berupa plak eritematosa, edema, likenifikasi, hiperpigmentasi dan ekskoriasi Koleksi sendiri.

V.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
A. Pemeriksaan Uji Tempel Pemeriksaan uji tempel bertujuan untuk memeriksa riwayat alergi pasien.

pemeriksaan uji tempel biasanya dilakukan di punggung. Untuk melakukan uji temple diperlukan antigen, antigen standar buatan pabrik yang biasa dipakai, misalnya Finn Chamber System Kit. Adakalanya tes uji tempel dilakukan dengan antigen bukan standar dapat berupa bahan kimia murni, atau lebih sering bahan campuran yang berasal dari rumah atau lingkungan kerja yang bersifat toksik1. Pemeriksaan uji tempel dilakukan dengan mengambil potongan kecil bahan alergen yang sudah direndam dengan air garam kemudian dtempelkan ke kulit dengan
5

memakai Finn Chamber dan dibiarkan selama 48 jam. Pembacaan hasil uji tempel dilakukan secara dua kali pembacaan. Pembacaan pertama setelah 48 jam sedangkan pembacaan kedua setelah 72 atau 96 jam. pembacaan pertama bertujuan untuk memeriksa respon tubuh pasien terhadap antigen dan pembacaan yang kedua bertujuan untuk membedakan antara kontak alergi dengan kontak iritan1. Hasil pembacaan yang pertama (48 jam)1 : 1.) Reaksi lemah : eritema, Infiltrat, papul 2.) Reaksi kuat : edema atau vesikel 3.) Reaksi sangat kuat : bula atau ulkus 4.) Meragukan : hanya macula eritematosa 5.) Iritasi : terbakar, pustule atau purpura 6.) Reaksi negatif 7.) Excited skin 8.) Tidak dites Hasil pembacaan yang kedua (72 jam)1: 1) Reaksi Crescendo : reaksi alergi, reaksi semakin jelas dari pembacaan satu dan kedua 2) Reaksi Descrescendo : reaksi iritan, reaksi respon kuli cenderung menurun atau membaik

B. Pemeriksaan Laboratorium Dasar gejala neurodermatitis ialah pruritus. Pruritus terjadi bisa berasal dari reaksi alergi pasien atau reaksi penyakit yang mendasarinya (gangguan metabolisme atau gangguan hematologi). Untuk mengobati neurodermatitis kita juga harus mengetahui penyakit dasar yang menyebabkan terjadinya pruritus. Pemeriksaan laboratorium bertujuan untuk mengetahui penyakit dasarnya. Dalam pemeriksaan laboratorium bisa dilakukan pemeriksaan hitung darah lengkap, pemeriksaan hitung jenis, pemeriksaan fungsi hati, pemeriksaan fungsi ginjal, dan pemeriksaan gula darah. Gangguan metabolism yang sering menyebabkan pruritus, contohnya ialah diabetes mellitus. Pada pasien diabetes mellitus yang lanjut, pasien akan mengalami neuropati. Neuropati menyebabkan pasien kurang sensitif terhadap infeksi dan
6

allergen dari luar. Sehingga pasien akan terkena allergen secara berulang tanpa disadari. Semakin sering pasien terkena allergen, semakin sering pasien mengeluh gatal maka akan semakin mudah pasien mengalami neurodermatitis. Pada pemeriksaan hitung jenis, kita juga bisa memeriksa kadar eosinofil pasien, terutama pasien yang memiliki riwayat alergi1,2

C. Histopatologi Gambaran histopatologi neurodermatitis memperlihatkan Penebalan epidermis sehingga tampak ortokeratosis, hipergranulosis, akantosis dengan rate ridges memanjang teratur dan kadang didapatkan sedikit papilomatosis dan spongiosis. berserbukan sel radang limfosi dan histiosit dis ekitar pembuluh darah dermis bagian atas, fibroblast bertambah, kolagen menebal5.

Gambar 3. Gambaran histopatologi neurodermatitis berupa ortokeratosis, hipergranulosis, akantosis

dengan rate ridges memanjang teratur


Histopatologi neurodermatitis diunduh dari http://missinglink.ucsf.edu/lm/dermatologyglossary/lichen_simplex_chronicus.html

VI.

DIAGNOSIS
Diagnosis neurodermatitis ditegakkan berdasarkan anamnesa pasien mengenai riwayat dan perjalanan penyakitnya dan gambaran lesi dari kulitnya yang khas. Perlunya pemeriksaan lanjut digunakan untuk membedakan diagnosis yang memiliki kesamaan dalam morfologi maupun efloresensinya. Dari anamnesis, keluhan utama dari pasien biasanya ialah gatal-gatal pada kulit lokal yang terjadi sudah lama. Bisa disertai dengan riwayat alergi ataupun riwayat penyakit yang mendasarinya (diabetes
7

mellitus) atau tidak. Dari pemeriksaan efloresensi bisa terlihat gambaran likenifikasi berupa penebalan kulit dengan garis-garis kulit yang semakin terlihat, terlihat plak dengan ekskoriasi serta sedikit eritematosa (memerah) dan edema. Pada lesi yang sudah lama, lesi akan tampak berskuama pada bagian tengahnya, terjadi hiperpigmentasi (warna kulit yang digaruk berubah menjadi kehitaman) pada bagian lesi yang gatal, bagian eritema dan edema akan menghilang6,7.

Gambar 4

Gambar 5

Gambar 4 . lesi erosi hingga ekskoriasi,eritema,sirkumskripta,likenifikasi,lokasi : ekstensor lengan bawah)

Gambar 5. likenifikasi pada bagian ekstensor ekstremitas inferior

Lesi neurodermatitis diunduh dari : http://venasaphenamagna.blogspot.com/2011/10/neurodermatitis-sirkumskripta.html

VII.

DIAGNOSIS BANDING
A. Dermatitis atopik tipe dewasa Dermatitis atopik adalah keadaan peradangan kulit kronis dan residif.dengan keluhan utama gatal. Dermatitis atopik sering berhubungan dengan peningkatan kadar igE dalam serum atau riwayat atopi pada pasien atau keluarga pasien (Rhinitis alergi atau asma bronkial). Kelainan kulit pada dermatitis atopik berupa papul, ekskoriasi, dan likenifikasi. Persamaan dermatitis atopik dengan

neurodermatitis ialah adanya rasa gatal pada kulit disertai likenifikasi dan hiperpigmentasi. Gangguan emosi juga mempengaruhi keadaan dermatitis atopik. Penyakit ini lebih banyak terdapat pada wanita, anak-anak dan remaja. Penyakit ini cenderung menurun setelah usia 30 tahun.
8

Dari hasil penelitian Hanifin dan Rajka, dapat disimpulkan bahwa diagnosis dermatitis atopik dapat ditegakkan jika memiliki kriteria mayor dan minor. Kriteria mayor berupa keluhan pruritus (gatal-gatal), memiliki riwayat atopi penderita atau keluarga, memiliki riwayat dermatitis yang kronis dan residif, serta umumnya pada pasien dewasa dermatitis terjadi dibagian fleksura. Sedangkan kriteria minor berupa xerosis, gatal bila berkeringat, muka pucat atau eritem, orbita gelap, sering mengalami infeksi kulit, dan sering mengalami dermatitis nonspesifik pada tangan atau kaki. Perbedaan antara dermatitis atopik dengan neurodermatitis bisa dilihat dari tempat predileksinya dan riwayat atopi pada pasiennya. tempat predileksi dari dermatitis atopik pada masa dewasa ialah disekitar lipat siku, lipat paha, disamping leher, dahi dan disekitar mata8.

Gambar 2 Tampak : macula hiperpigmentasi, kering dan likenifikasi dermatitis atopic diunduh darihttp://www.medicinenet.com
8

B. Prurigo nodularis Prurigo nodularis merupakan penyakit kronik pada orang dewasa yang ditandai oleh adanya nodus kutan yang gatal, terutama terdapat dibagian ekstremitas bagian ekstensor. Prurigo nodularis sering dianggap neurodermatits sirkumpskripta bentuk nodular atipik atau dengan liken planus bentuk hipertropik. Bentuknya yang nodul membuat klinis sering salah mengartikan antara prurigo nodularis dengan neurodermatitis sirkumpskripta bentuk nodular atipik. Kausa dari prurigo nodularis belum diketahui, tetapi serangan-serangan gatal timbul bila terdapat atau mengalami ketegangan emosional. Prurigo nodularis merupakan penyakit kulit kronik yang sering menyerang orang dewasa terutama wanita. Lesinya berupa nodus, yang tunggal atau multiple, bisa mengenai ekstremitas terutama tempat predileksinya
9

anterior paha dan tungkai bawah. Lesi bisa sebesar kacang polong dengan warna merah atau kecoklatan. Keluhan utama prurigo nodularis ialah adanya rasa gatal lokal yang terjadi sudah lama. Persamaan prurigo nodularis dengan neurodermatitis ialah keluhan gatal kronis yang dipengaruhi oleh keadaan emosi, serta sering terjadinya proses likenifikasi dan hiprepigmentasi jika sudah terjadi dalam jangka waktu yang lama. Sedangkan perbedaan antara prurigo nodularis dengan neurodermatitis ialah tempat predileksi prurigo nodularis pada bagian ekstremitas ekstensor terutama anterior paha dan tungkai bawah, Lesinya berbatas tegas antara lesi dengan kulit yang normal, Serta pada pemeriksaan histologik didapatkan penebalan epidermis yang tampak hyperkeratosis, hipergranulosis, dan akantosis yang tidak teratur (hiperplasi psoriasiformis)9.

Gambar 3 Tampak Papula miliar,likenifikasi dan hiperpigmentasi,skuama. prurigo nodularis diunduh dari http//www.skinsight.com
9

VIII. PENATALAKSANAAN
Penjelasan mengenai munculnya pruritus yang disebabkan oleh allergen atau penyakit dasar yang menyebabkan gatal hingga terjadinya neurodermatitis merupakan terapi non medika mentosa terbaik untuk pasien guna mencegah timbulnya keluhan gatal berulang. Perlu dijelaskan kepada penderita bahwa garukan akan memperburuk keadaan penyakitnya, oleh karena itu harus dihindari. Selain penjelasan diatas, mengurangi paparan terhadap allergen yang memicu terjadinya pruritus juga berguna untuk mengurangi keadaan gatal berulang10. Terapi medika mentosa yang dapat diberikan ialah dengan pemberian obat sesuai gejala. Untuk mengurangi rasa gatal dapat diberikan antipruritus dan kortikosteroid topikal atau intralesi. Antipruritus dapat berupa antihistamin yang
10

mempunyai efek sedatif (contoh: hidroksizin, difenhidramin, prometazin) atau tranquilizer. Dapat pula diberikan secara topikal krim doxepin 5% dalam jangka pendek (maksimum 8 hari). Kortikosteroid yang dipakai biasanya berpotensi kuat, Ada pula yang mengobati dengan UVB dan PUVA. Perlu dicari kemungkinan ada penyakit yang mendasarinya, bila memang ada harus juga diobati 10 A. Antihistamin Peranan antihistamin oral sangat penting dalam pengobatan pruritus.

Antihistamin siistemik sangat efektif untuk keluhan gatal yang hebat. Antihistamin hanya digunakan untuk keluhan pruritus yang disebabkan oleh pelepasan histamin. Karena belum tentu pruritus disebabkan oleh histamine maka antihistamin hanya bisa mengurangi gejala pada keluhan tertentu. Antihistamin golongan H1 (generasi pertama) : Clemastin, hydroxyzine, dan promethazin dapat diberikan untuk pasien yang mengalami keluhan gatal dan disertai keluhan sulit tidur. Golongan H1 selain membantu pasien untuk menghilangkan keluhan gatal, golongan H1 juga bersifat sedative yang juga mengurangi pemicu pruritus seperti emosi. Antihistamin golongan H2 (generasi kedua) meliputi:cetirizin,levocetirizin, loratadin, desloratadin, azelastin, fexofenadin, ebastin, atau rupatadin. Antihistamin generasi kedua lebih ringan efek sedatifnya. Antihistamin generasi kedua lebih tepat diberikan pada pasien-pasien muda agar tidak menganggu aktivitasnya. Dalam pemberian antihistamin pasien juga perlu diberitahu mengenai efek sampingnya. Berikut ini contoh antihistamin topical10-12: 1.) Dipenhidramin, Untuk meringankan gejala pruritus yang disebabkan oleh pelepasan histamine. 2.) Chlorpheniramine Bekerja sama dengan histamine atau permukaan reseptor H1 pada sel efektor di pembuluh darah dan traktus respiratori. 3.) Hidroxyzine Reseptor H1 antagonis diperifer. Dapat menekan aktifitas histamine diregion subkortikal sistem saraf pusat.

11

B. Kortikosteroid Pemberian kortikosteroid sangat penting pada pasien neurodermatitis. Kortikosteroid baik oral amupun salep berguna untuk mempercepat penyembuhan dari lesi pasien. Obat kortikosteroid sistemik yang sering digunakan prednisone 5 mg. Korikosteroid topical ialah terapi medika mentosa pilihan karena dapat mengurangi peradangan dan gatal serta perlahan-lahan menghaluskan hiperkeratosisnya. Karena lesinya kronik. Pentalaksanaannya biasanya lama. Pada lesi yang besar dan aktif, steroid potensi sedang dapat digunakan untuk mengobati inflamasi akut. Tidak

direkomendasikan untuk kulit yang tipis (vulva, skrotum, axilla dan wajah). Steroid potensi kuat digunakan selama 3 minggu pada area kulit yang lebih tebal. Berikut ini contoh obat kortikosteroid topical13 : 1.) Clobetasol Topical steroid super poten kelas 1: menekan mitosis dan menambah sintesis protein yang mengurangi peradangan dan menyebabakan vasokonstriksi. 2.) Betamethasone dipropionate cream 0,05%. Untuk peradangan kulit yang berespon baik terhadap steroid. Bekerja mengurangi peradangan dengan menekan migrasi leukosit polimorfonuklear dan memeperbaiki permeabilitas kapiler. 3.) Triamcinolone 0,025 %, 0.1%, 0.5 % or ointment Untuk peradangan kulit yang berespon baik terhadap steroid. Bekerja mengurangi peradangan dengan menekan migrasi leukosit polimorfonuklear dan memeperbaiki permeabilitas kapiler. 4.) Fluocinolone cream 0.1 % or 0.05% Topical kortikosteroid potensi tinggi yang menghambat proliferasi sel. Mempuyai sifat imonusupresif dan sifat anti peradangan.

C. Kalsinuerin Inhibitor Efek antipruritik dari topical kalsinerin inhibitor ditunjukkan dalam berbagai studi.Pada kasus prurigo nodularis menunjukkan kesuksesan dari penggunaan kalsinerin inhibitor takrolimus 0,1%. Seperti halnya dengan penggunaan

kortikosteroid topical ,efek samping dari kalsinuerin inhibitor dapat menyebabkan


12

Atropi.Pada saat pemerian kalsinerin inhibitor, pasien sebaiknya diberitahu mengenai efek samping dan berhati-hati terhadap paparan sinar UV termasuk fototerapi14.

D. Siklosporin Pemberian siklosporin 3-5 mg mikroemulsi perkg berat badan perhari pada puritus memberikan respon yang signifikan. Pada pemberian siklosporin sebaiknya tekanan darah,pemeriksaan darah lengkap, transamin dan fungsi ginjal harus dikontrol secara rutin. Siklosporin menghambat fungsi dari limfosit juga sel mast dan dapat pula menekan pertumbuhan dari pruritus15.

IX.

PROGNOSIS
Prognosis untuk neurodermatitis bervariasi, tergantung dari penyebab gatal dan status psikologi dari pasien. Perbaikan pada neurodermtitis dapat sempurna jika diperoleh dasar penyakit yang menyebabkan gatalnya dan mengobati penyakit yang mendasari. Penyakit ini bersifat kronis dan setelah sembuh dengan pengobatan biasanya residif1. A. Fungsionam : dubia ad bonam, bersifat residif yang bisa menganggu aktivitas pasien jika pasien tidak mampu mencegah terjadinya keluhan berulang B. Vitam : ad bonam : neurodermatitis tidak menganggu keadaan vital pasien C. Sanationam : dubia ad bonam : bersifat kronis dan residif, bergantung dari kemampuan pasien untuk mencegah terjadinya pengulangan terjadinya pruritus.

X.

KOMPLIKASI
Komplikasi dari neurodermatitis dapat terjadi bila tidak adanya control dari kebiasaan menggaruk untuk keluhan gatalnya. Komplikasinya bisa berupa perubahan warna pada kulit yang permanen, terdapatnya bekas luka akibat garukan sampai terjadinya ulkus karena seringnya pasien menggaruk2.

13

XI.

KESIMPULAN
Neurodermatitis adalah peradangan kulit kronis, yang ditandai dengan gejala kulit tebal dan garis kulit tampak menonjol (likenifikasi) menyerupai batang kayu. Penyebab dari neurodermatitis tidak diketahui, namun pada dasarnya pruritus yang berkepanjangan menjadi dasar pembentuk terjadinya lesi pada neurodermatitis. Faktor resiko dari pruritus ialah penyakit yang mendasarinya contohnya diabetes mellitus, penyakit kulit seperti dermatitis atopik, dermatitis kontak alergi, gigitan serangga, atau aspek psikologi dengan tekanan emosi1. Neurodermatitis lebih sering menyerang wanita dewasa dengan keluhan utamanya ialah gatal-gatal yang berulang, Keparahan gatal dapat diperburuk bila pasien berkeringat, pasien berada pada suhu yang lembab, atau pasien terkena benda yang merangsang timbulnya gatal (alergen). Gatal juga dapat bertambah pada saat pasien mengalami stress psikologis. pada pemeriksaan efloresensi ditemukan lesi tampak likenifikasi berupa penebalan kulit dengan garis-garis kulit yang semakin terlihat, terlihat plak dengan ekskoriasi serta sedikit eritematosa (memerah) dan edema. Pada lesi yang sudah lama, lesi akan tampak berskuama pada bagian tengahnya, terjadi hiperpigmentasi (warna kulit yang digaruk berubah menjadi kehitaman) pada bagian lesi yang gatal, bagian eritema dan edema akan menghilang, dan batas lesi dengan bagian kulit normal semakin tidak jelas. Gejala pruritus kronis pada neurodermatitis harus dibedakan dengan dermatitis atopik dan prurigo nodularis berdasarkan predileksi tempatnya dan gambaran klinisnya. Terapi utama neurodermatitis ialah dengan pengobatan non medika mentosa yakni dengan mencegah pemicu terjadinya pruritus. Terapi medika mentosa yang bisa diberikan ialah kortikosteroid, antihistamin, dan antibiotic jika sudah timbul luka akibat garukan. Komplikasi dari neurodermatitis ialah ulkus dan hiperpigmentasi yang permanen. Prognosis dari neurodermatitis umumnya baik, jarang terjadi pengulangan gejala hingga

menganggu aktivitas jika pasien mengetahui dan mampu mencegah terjadinya pemicu pruritus.

14

DAFTAR PUSTAKA
1. Sularsito SA, Djuanda S. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin .5th.ed. Penerbit FKUI, Jakarta 2005. p. 129-153 2. Koenig TW, Jones SG, Rencie A,Tausk FA.Noncutaneous manifestations of skin.In:Freedberg IM,Eisen AZ,Wolff K,Austen KF, Goldsmith LA, KATZ SC,editors.Fitzpatricks Dermatology in General Medicine, 8thed. New York : Mc Graw Hill 2012.p.158-162 3. Siregar RS. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit 2nded. Penerbit buku kedokteran EGC, Jakarta,2013.p.135-7 4. Murtiastuti D, Ervianti E, Agusni I, et al. Atlas Penyakit Kulit dan Kelamin. 2nded. Airlanggga Universityy Press, Surabaya, 2010 p 117-8 5. Histopatologi Neurodermatitis. Diunduh 8 Agustus 2013.

http://missinglink.ucsf.edu/lm/dermatologyglossary/lichen_simplex_chronicus.htm 6. Lesi Neurodermatitis. Diunduh 8 Agustus 2013.

http://venasaphenamagna.blogspot.com/2011/10/neurodermatitissirkumskripta.html 7. Lichen Simplex Chronis. Diunduh 8 Agustus 2013.http://www.dermnet.com /prurigo_nodularis.pic 8. Dermatitis Atopik. Diunduh 8 Agustus 2013.http://www.medicinenet.com

/dermatitis atopic.pic 9. Prurigo Nodularis. Diunduh 8 Agustus 2013.http://www.skinsight.com

/Lichensimplexchronic. 10. Dewoto, R. Hedi. Farmakologi dan Terapi. Edisi 5. FKUI, Jakarta 2008. P 273287 11. Radmanesh M,Sharifi M,Shafiei S. Iranian Journal of Dermatology vol 14.no1.Iranian Society of Dermatology.Sring 2011 pg 25-8 12. Schulz S, Metz M, Siepmann D, et al.Antipruritic efficacy of high-dosage antihistamine therapy. Results of a retrospectively analysed case series. Hautarzt 2009; 60: 564-8
15

13. Mazza M,Journal of clinical pharmacy and therapeutic vol 38 issue 1,pg168,Febuary 2013. 14. Stander S, Schurmeyer HF,Luger TA, Weisshaar E.Treatment of pruritic disease with topical calcineurin inhibitors. Ther Clin Risk Manag 2006;2 pg 213-8 15. Siepmann D, Luger TA, Stander S.Antipruritic effect of cyclosporine

microemulsion in pruritus : results of a case series.J Dtsch Dermatol Ges 2008;6 pg 941-6

16