Anda di halaman 1dari 25

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Tumor rongga mulut adalah suatu pertumbuhan jaringan abnormal yang

terjadi pada rongga mulut. Jaringan tersebut dapat tumbuh pada bagian anterior, posterior rongga mulut, dan tulang rahang. Pertumbuhannya dapat digolongkan sebagai ganas (maligna) atau jinak (benigna). Perlu diperhatikan perbedaan antara keduanya, bahwa tumor jinak merupakan pembentukan jaringan baru yang abnormal dengan proses pembelahan sel yang masih terkontrol dan

penyebarannya terlokalisir. Sebaliknya pada tumor ganas, pembelahan sel sudah tidak terkontrol dan penyebarannya meluas. Pada tumor ganas, sel tidak akan berhenti membelah selama masih mendapat suplai makanan. Rahang atas adalah bagian dari rongga mulut., nama lainnya adalah palatum. Diatas rahang atas ada bagian yang disebut maksila, yang letaknya agak dipinggir hidung dibawah kulit pipi. Tumor di rahang atas dapat berasal dari langit-langit atau palatum, bisa dari maksila, atau juga bisa dari gusi rahang atas , maupun kulit mukosa pipi atas. Secara umum penderita mengeluh adanya benjolan di dalam mulut di daerah rahang atas dibawah pipi (di dalam rongga mulut). Sehingga harus dibedakan antara tumor jinak ataukah tumor tersebut termasuk dalam jenis tumor ganas sehingga harus dilakukan pemeriksaan penunjang untuk mengetahui diagnosa pastinya. 1.2. Rumusan Masalah Adapun permasalahan yang diangkat dalam laporan kasus ini adalah bagaimana definisi, etiologi, gejala klinis, penegakan diagnosis, penatalaksanaan dan komplikasi dari tumor rahang atas. 1.3. Tujuan Tujuan dari pembahasan kasus ini adalah untuk mengetahui secara pasti definisi, etiologi, epidemiologi, patofisiologi, gejala klinis, penegakan diagnosis, penatalaksanaan dan komplikasi dari tumor rahang atas. 1.4. Manfaat

1. Menambah wawasan mengenai ilmu kedokteran pada umumnya, dan ilmu gigi dan mulut pada khususnya 2. Sebagai proses pembelajaran bagi dokter muda yang sedang mengikuti kepaniteraan klinik bagian ilmu gigi dan mulut

BAB II STATUS PASIEN

2.1

Identitas Pasien Nama Jenis Kelamin Alamat Umur Pekerjaan Status Suku Bangsa Tanggal Periksa Konsul dari : An. R : Laki-laki : Kepanjen : 2,5 tahun ::: Jawa - Indonesia : 29 Agustus 2013 :Menderita : -

2.2

Anamnesis 1. 2. Keluhan Utama : Bengkak pada rahang atas kiri

Riwayat Penyakit : Rahang atas kiri pasien bengkak sejak 1 minggu yang lalu. Bengkak muncul tiba-tiba dan membesar dengan cepat, terasa nyeri dan kadang berdarah, dan tidak demam. Oleh keluarga diperiksakan ke puskesmas kemudian diberikan sirup anti nyeri namun keuhan tidak kunjung membaik, sehingga keluarga berinisiatif untuk memeriksakan ke poli gigi dan mulut RSUD Kanjuruhan Kepanjen.

3.

Riwayat Perawatan a. b. Gigi : Belum pernah Jar.lunak rongga mulut dan sekitarnya : Belum pernah

4.

Riwayat Kesehatan : Kelainan darah Tumor/keganasan Kelainan endokrin Kelainan Jantung Gangguan nutrisi Kelainan kulit/kelamin Gangguan pencernaan : Disangkal : Disangkal : Disangkal : Disangkal : Disangkal : Disangkal : Disangkal

Kelainan Imunologi Gangguan respiratori Gangguan TMJ Diabetes Melitus Lain-lain

: Disangkal : Disangkal : Disangkal : Disangkal :-

5. Obat-obatan yang telah/sedang dijalani : Sirup dari puskesmas 6. Keadaan sosial/kebiasaan : Pasien gosok gigi 2x sehari dan suka jajan-

jajanan seperti permen, coklat dan snack. 7. Riwayat Keluarga : Kelainan darah Kelainan endokrin Diabetes melitus Kelainan jantung Kelainan syaraf Alergi Lain-lain 2.3 Pemeriksaan Fisik 1. Ekstra Oral Muka Pipi kiri Pipi kanan Bibir atas Bibir bawah Sudut mulut Kelenjar submandibularis kiri Kelenjar submandibularis kanan Kelenjar submental Kelenjar leher Kelenjar sublingualis Kelenjar parotis kanan Kelenjar parotis kiri : asimetris : dbn : dbn : dbn : dbn : dbn : tidak ada pembesaran : tidak ada pembesaran : tidak ada pembesaran : tidak ada pembesaran : tidak ada pembesaran : tidak ada pembesaran : tidak ada pembesaran : Disangkal : Disangkal : Disangkal : Disangkal : Disangkal : Disangkal :-

2. Intra Oral

Mukosa labial atas Mukosa labial bawah Mukosa pipi kiri Mukosa pipi kanan Bukal fold atas Bukal fold bawah Labial fold atas Labial fold bawah Gingival rahang atas Gingival rahang bawah Lidah Dasar mulut Palatum Tonsil Pharynx

: dbn : dbn : dbn : dbn : edem(+), terangkat : dbn : dbn : dbn : bengkak(+), nyeri tekan (+) : dbn : dbn : dbn : dbn : dbn : dbn

8GP 7

V IV III II I I V II III IV

IV III

II

GR

KS

I V

II

III IV

Keterangan : -

2.4

Diagnose Sementara Susp. Tumor Rahang Atas

2.5

Rencana Perawatan -

1. 2.

Pengobatan : Pemeriksaan Penunjang : Lab.Rontgenologi mulut/ Radiologi Lab.Patologi anatomi Sitologi Biopsi :::: ::::-

Lab.Mikrobiologi Bakteriologi Jamur

Lab.Patologi Klinik 3. Rujukan : Poli Penyakit Dalam Poli THT Poli Kulit & Kelamin Poli Syaraf Poli Bedah 2.7 Diagnose Akhir Susp. Tumor Rahang Atas Sinistra

:::::+

LEMBAR PERAWATAN Tgl 29/08 /2013 Elemen Rahang atas sinistra Diagnosa Susp. Tumor Maksilaris Sinistra Therapi Ket -

BAB III PEMBAHASAN KASUS

3.1 Benjolan di Rongga Mulut Benjolan pada rongga mulut adalah suatu lesi pada rongga mulut yang arah perluasannya diatas permukaan jaringan yang ditempatinya. Secara umum jenisjenis benjolan ini adalah: 1. Papula, adalah suatu massa yang menonjol pada kulit/mukosa berbentuk bulat/lonjong degan diameter < 1 cm. 2. Plaque/Plak, adalah suatu massa yang menonjol dengan atap yang rata. Permukaannya bisa halus, kasar atau pecah-pecah. Ukurannya lebih besar dari papula. 3. Vesikula (Vesikel, Vesicle), adalah suatu benjolan bulat dan bening, transparan berisi cairan. Ukurannya < 1 cm. 4. Bula (Bulla), sama dengan vesikel, hanya ukurannya > 1 cm. 5. Pustula, sama seperti bula dan vesikula, tetapi pustula ini berisi pus (purulen). 6. Nodul (Nodule), suatu massa yang padat dan menonjol, juga mempunyai dimensi perluasan ke bawah. Ukurannya +/- 1 cm.
7. Tumor, suatu massa padat yg menonjol dan juga mempunyai dimensi

perluasan kebawah. Ukurannya > 1 cm.Tumor atau

(Neoplasia) adalah

pembentukan jaringan baru yang abnormal dan tidak dapat dikontrol oleh tubuh. Tumor (neoplasia) terbagi menjadi 2 yaitu: a. Tumor jinak (benign neoplasma) Neoplasia jinak adalah pertumbuhan jaringan baru yang lambat, ekspansif, terlokalisir, berkapsul, dan tidak bermetastasis (menyebar). b. Tumor ganas (malignant neoplasma) Neoplasma jaringan ganas adalah tumor yang tumbuhya cepat, infiltrasi ke dan dapat menyebar ke organ-organ lain

sekitarnya

(metastase).Neoplasia ganas sering disebut kanker.

Perbedaan klinis tumor jinak dan ganas: Karakteristik Kecepatan tumbuh Batas Pergerakan Pertumbuhan dalam tulang Pemukaan lesi Keterlibatan saraf Daerah yang terlibat Warna jaringan Neoplasma jinak Lambat Jelas, berkapsul Dapat digerakkan Neoplasma ganas Cepat Tidak berkapsul Cekat

Mendesak tulang/ ekspansif Menembus tulang/ infiltratif Menegang Tidak ada Terlokalisir Normal Ulserasi Ada nyeri, paralise Luas/metastasis Berubah Hipofungsi

Efek terhadap jaringan tubuh Tidak ada/hiperfungsi

3.2 Tumor Rongga Mulut Secara umum tumor rongga mulut dapat dibedakan menjadi tumor odontogen dan non odontogen (jaringan keras, jaringan lunak dan epitel). Menurut penelitian di Amerika, karsinoma di rongga mulut paling banyak merupakan jenis karsinoma sel skuamosa. Batas-batas rongga mulut ialah : Depan Atas Lateral Bawah : tepi vermilion bibir atas dan bibir bawah : palatum durum dan molle : bukal kanan dan kiri : dasar mulut dan lidah

Belakang : arkus faringeus anterior kanan kiri dan uvula, arkus glossopalatinus kanan kiri, tepi lateral pangkal lidah, papilla sirkumvalata lidah. Ruang lingkup tumor rongga mulut meliputi daerah spesifik dibawah ini: a. Bibir b . Lidah 2/3 anterior c . Mukosa bukal d . Dasar mulut e . Ginggiva atas dan bawah

f . Trigonum retromolar, palatum durum g . Palatum molle Faktor risiko: 1. Usia Semakin tua usia manusia maka sistem imun tubuh akan menurun, terjadi akumulasi waktu dari mutasi genetik & paparan karsinogen. Menurut penelitian, 95% kasus terjadi pada usia lebih dari 40 tahun, rata-rata 60 tahun. 2. Keadaan immunosupresi 3. Rokok Kebiasaan merokok merupakan faktor resiko terjadinya karsinoma rongga mulut. Hampir lebih dari 50% perokok 80% nya didapatkan karsinoma rongga mulut. Rokok juga berhubungan dengan kekambuhan, 18% pasien yang tidak melanjutkan merokok kambuh, 30% yang melanjutkan merokok kambuh. 4. Alkohol 5. Trauma yang kronik 6. Riwayat keganasan sebelumnya Rokok dan alkohol memiliki efek sinergis. Perokok yang sering menggunakan obat kumur (alkohol dengan kadar tinggi) memiliki faktor risiko lebih tinggi. Predileksi yang paling sering yaitu pada lidah, orofaring, dan dasar mulut, jarang ditemukan pada bibir, gusi, lidah bagian dorsal, dan palatal. Insidensi Terjadinya Neoplasma Pada Rongga Mulut : 1. Kanker rongga mulut menempati urutan ke-6 keganasan diseluruh dunia dengan insiden 2% pada laki-laki dan 0,6 % pada wanita. 2. Di negara berkembang seperti asia tenggara dan india kanker rongga mulut lebih sering ditemukan sekitar 40% dari seluruh kanker organ tubuh lainnya. 3. Berdasarkan beberapa laporan sentral patologi frekuensi kanker rongga mulut di Indonesia sudah mencapai 3-5% dari seluruh kanker organ tubuh lainnya. Bagian patologi badan registrasi kanker Indonesia dibawah pengawasan Dirjen Kesehatan RI melaporkan kanker RM menempati urutan ke-4 dari keganasan di Indonesia. 4. Berdasarkan penelitian dari 300 pasien yang menderita tumor jinak:

53,3 % fibroma 13,3 % papilloma 6,7 % periferal giant cell granuloma 14,7 % piogenic granuloma 3 % lipoma 8 % hemangioma 1 % limfangioma 5. Berdasarkan lokasi 33,3 % pada ginggiva 20,3 % pada mukosa bukal 16,7 % pada lidah 13 % pada pallatum 11,7 % pada bibir 5,3 % pada labial comisura 3 % di bawah lidah 2,7 % dasar mulut Tingkatan/Stadium Tumor Jaringan Regio Maksilofasial 1. Tingkatan /stadium pada tumor secara histologi a. Tingkat I (berdiferensiasi baik/well diff), yaitu dimana tingkat diferensiasi sel normal antara 75% - 100%, ada mutiara keratin b. Tingkat II (berdiferensiasi sedang/intermediate/moderate diff), yaitu dimana tingkat diferensiasi sel normal antara 50 -75% variasi dalam ukuran sel-selnya, ukuran inti sel, hiperkromatik serta aktivitas mitosis yang lebih menonjol c. Tingkat III (berdiferensiasi buruk/poor diff), yaitu tingkat diferensiasi sel normal antara 25-50% memperlihatkan ketidakteraturan dan cenderung memperlihatkan gambaran anaplasia yang sulit untuk dikenali lagi. Sel tumor tumbuh secara liar ke semua arah, menginfiltrasi jaringan ikat dibawahnya, dimana lapisan basal tidak terlihat dan sering menghilang. d. Tingkat IV (anaplastik/undiff), yaitu tingkat diferensiasi sel normal antara 0-25% 2. Stadium Perjalanan Penyakit Kanker
10

a. Stadium Pra Klinik Penyakit kanker belum diketahui dengan pemeriksaan klinik baik pemeriksaan fisik dan penunjang lainnya. b. 1) Stadium Klinik Stadium Dini(Early Stage) Tumor masih kecil, terbatas pada organ tempat tumbuh, kerusakan organ belum ada, kemungkinan sembuh besar 2) Stadium Lanjut (Advanced Stage) Tumor tumbuh besar, menjalar ke jaringan sekitar atau kelenjar limfe regional, merusak organ tempat tumbuh, kemungkinan sembuh kecil 3) Stadium Sangat lanjut (Far Advanced Stage) Tumor sudah metastase ke seluruh tubuh 3. Menurut sistem TNM (UICC tahun 1980), derajat tumor dapat

diklasifikasikan sebagai berikut: Stage 1 Tumor primer, tidak ada metastasis ke kelenjar getah bening regional, tidak ada metastasis jauh dari tumor primer. Stage 2 Ukuran tumor antara 2-4 cm, tidak ada metastasis ke kelenjar getah bening regional, tidak ada metastasis jauh dari tumor primer. Stage 3 Ukuran tumor lebih dari 4 cm, tidak ada metastasis ke kelenjar getah bening regional, tidak ada metastasis jauh dari tumor primer. Stage 4 Tumor telah melibatkan struktur di sekitarnya seperti tulang kortikal atau otot-otot lidah, tidak ada metastasis ke kelenjar getah bening regional, tidak ada metastasis jauh dari tumor primer.

3.3

Pembagian Tumor

Tumor Jinak Klaisifikasi tumor jinak odontogen (WHO, 1992) Asal sel/ jaringan tumor Nama tumor

11

1. Tumor yang berasal dari jaringan epitel

Ameloblstoma Calcifying ephitelial odontogenic tumor Squamous odontogenic tumor Clear cell odontogenic tumor Ameloblastic fibroma Ameloblastic fibro-odontoma Tumor-tumor odontoameloblasma Adenomatid odontgenic tumor Complex odotoma Compound odontoma Odotogeic fibroma Myxoma Cementoblastoma

2. Tumor yang berasal dari jaringan epitel odontogen dan melibatkan ektomesenkim odontogen dengan atau tanpa pembentukan jaringan kerass gigi

3. Tumor yang berasal dari ektomesnkim odontogen dengan atau tanpa melibatkan epitel odontogen

Klasifikasi tumor non odontogen Asal sel 1. Tumor jinak non odontogen yang berasal dari epithelium mulut 2. Tumor jinak non odontogen yang berasal dari jaringan ikat mulut Nama tumor Papilloma skuamosa Veruka vulgaris Kondiloma akuminata Molluscum contagiosum Keratoakantoma Lesi jaringan keras (tulang) Fibroma Giant cell fibroma Epulis fisuratum Peripheral giant cell granuloma Peripheral ossifying fibroma Palsiaded encapsulated neuroma neurofibroma Neurilemoma/schawnnoma Tumor sel granular

12

3. Tumor jinak non odonntogen yang berasal dari kelenjar ludah

Lipoma Pleomorphic adenoma Monomorphic adenoma Whartins tumor

Tumor Ganas Asal sel 1. Tumor ganas odontogen yang berasal dari ectoderm 2. Tumor ganas odontogen yang berasal dari mesoderm 3. Tumor ganas odontogen yang berasal dari ektoderm dan mesoderm Nama tumor Karsinoma intra-alveolar

Odontogenik sarkoma

Ameloblastoma fibrosarkoma 1. Squamus Cell Carcinoma

4. Tumor ganas non-odontogen

2. Osteosarkoma 3. Ewings Sarkoma 4. Multiple Myeloma

Lesi Jaringan Lunak a. Fibroma (fibroma akibat iritasi) Sering terdapat pada mukosa bagian bukal (sepanjang area gigitan), mukosa labial, lidah, dan gusi. Lesi berupa nodus warna merah muda, permukaan yang licin, diameter beberapa milimeter sampai 1,5 cm. Fibroma akibat iritasi biasa terdapat pada dekade ke-4 dan ke-6. Perbandingan antara pria dan wanita1:2. Tatalaksana Fibroma adalah dengan bedah eksisi konservatif. Pemeriksaan histopatologi terhadap hasil eksisi. b. Giant Cell Fibroma Tumor fibrosa dengan prevalensi 5% dari semua tumor fibrosa pada mulut. Terdapat pada gusi (50%), lidah, palatum dan gusi mandibula 2 kali lebih sering dari pada gusi maksila. Gambarannya berupa nodus bulat atau bertangkai dengan permukaan berbenjol-benjol sehingga mirip dengan

13

papiloma. Biasa terjadi pada usia yang lebih muda daripada fibrom teriritasi. Terjadi pada 3 dekade pertama kehidupan (60%). Wanita lebih sering daripada pria. c. Epulis Fisuratum Hiperplasia fibrosa akibat pengunaan gigi palsu. Terdapat pada maksila/ mandibula pada tepi alveolar bagian fasial dan terkadang pada tepi alveolar bagian mandibula. Tampak lipatan tunggal atau multipel dari jaringan hiperplastik pada vestibular alveolar. Lesinya tegas dan pada sebagian lesi dapat berupa ulserasi dan eritema menyerupai granuloma piogenik. Ukuran bervariasi dari 1 cm hingga seluruh panjang dari vestibula. Sering terjadi pada wanita dengan umur menengah dan dewasa tua ketika penggunaan gigi palsu. Tatalaksananya dengan terapi bedah dan pembuatan ulang gigi palsu atau penyesuaian kembali tepi gigi palsu. d. Peripheral Giant Cell Granuloma Merupakan reaksi terhadap iritasi local atau trauma. Terdapat pada gusi atau tepi alveolar edentuolus, berupa massa nodus merah atau biru kemerahan, berbentuk bulat/bertangkai serta dapat disertai ulserasi.Gambaran klinisnya menyerupai granuloma piogenik. Kebanyakan lesi berukuran kurang dari 2 cm. Terdapat pada semua usia dengan puncak prevalensi pada dekade ke-5 dan ke-6 kehidupan. Sekitar 60% kasus terjadi pada wanita.Terdapat pada regio anterior maupun posterior dari ginggiva maupun mukosa alveolar dan mandibula > maksila. Walupun lesi ini berkembang dalam jaringan lunak, terkadang terdapat resorpsi berbentuk mangkuk pada tulang alveolar. Tatalaksananya dengan bedah eksisi lokal hingga kebagian tulang yang mendasarinya. Scalling pada gigi yang berdekatan untuk menghilangkan sumber iritasi lebih lanjut. 10% kasus alami kekambuhan. Pada beberapa kondisi sulit dibedakan dari pasien dengan hiperparatirod (osteoclastik brown tumor). e. Peripheral Ossifying Fibroma

14

Lesi ini terdapat hanya pada gusi. Predileksinya sering pada lengkung maksila dan lebih dari 50 % terdapat pada regio antara gigi insisivus dengan kaninus. Biasanya gigi jarang terlibat.Massa nodus bulat/bertangkai dan permukaannya biasanya mengalami ulserasi. Warnanya bervariasi dari merah (pyogenic granuloma) hingga merah muda (fibromaakibat iritasi). Lesi berukuran kurang dari 2 centimeter, lesi ini biasanya mengenai usia remaja dan dewasa muda dengan prevalensi tertinggi pada usia antara 10 dan 19 tahun. Sekitar 2/3 kasus mengenai wanita. Tatalaksananya dengan bedah eksisi lokal. f. Palisaded Encapsulated Neuroma Sebuah tumor saraf dengan penyebab yang belum diketahui dengan pasti tetapi diperkirakan karena trauma. Predileksi terbatas pada wajah (90%) terutama hidung dan pipi. Pada mulut terdapat pada palatum durum. Antara dekade ke-5 dan ke-7. Permukaan halus, tidak nyeri, papul yang berbentuk kubah/nodul kurang dari 1 cm. terapinya dengan bedah eksisi lokal konservatif. Lesi jarang mengalami kekambuhan. g. Neurofibroma Neoplasma saraf perifer yang paling sering terjadi yang berasal dari percampuran beberapa tipe sel meliputi sel schwan dan perineural fibroblast. Dapat berkembang sebagai tumor soliter atau merupakan bagian dari neurofibromatosis. Tumor soliter paling sering terdapat pada dewasa muda dan tampil sebagai lesi yang berkembang lambat, lunak, tidak nyeri. Lesi ini 3.4 Tahap-Tahap Pemeriksaan Untuk Menegakkan Diagnosa Anamnesis Riwayat pasien dibutuhkan untuk menyesuaikan keadaan masing-masing pasien tetapi terkadang sulit untuk menemukan keluhan yang pasti. Beberapa pasien merasa gugup, sukar berbicara, dan beberapa yang lainnya merasa bingung. Pertanyaan awal membolehkan pasien berbicara panjang lebar dan meningkatkan kepercayaan diri. Biasanya lebih baik dimulai dengan pertanyaan terbuka. Terkadang sulit dihindari interupsi pasien yang mencoba menyusun rekaman medis. Teknik bertanya adalah yang paling penting ketika berhubungan dengan riwayat sosial dan psikologis atau

15

berhubungan dengan riwayat medis yang memalukan. Teknik pengambilan riwayat kesehatan pasien: 1. 2. 3. Perkenalkan diri dan sambut pasien dengan menyebut namanya Dudukkan pasien Mulai dengan pertanyaan terbuka misalnya bagaimana rasa sakit yang dialami pasien 4. Setelah itu, ajukan pertanyaan tertutup misalnya bagaimana gambaran rasa sakit yang dialami pasien 5. 6. 7. 8. Hindari jargon Jelaskan kebutuhan untuk pertanyaan spesifik Memperkirakan status mental pasien Memperkirakan harapan pasien terhadap perawatan

Riwayat medis pasien sangat membantu diagnosis dari manifestasi rongga mulut. Jika ditemukan masalah pada riwayat kesehatan pasien maka dokter harus memutuskan apakah pasien dapat langsung dilakukan perawatan atau tidak. Riwayat kesehatan gigi pasien dan pemeriksaan adalah sangat penting untuk diagnosis nyeri gigi yang disebabkan gejala pada kepala dan leher. Hubungan gejala dan peawatan gigi harus dicatat.

Pemeriksaan Klinis Ekstra oral Pertama lihat pasien, sebelum melihat ke mulut pasien.Anemia dan perawatan kortikosteroid jangka panjang, pembengkakan parotis yang bisa mempengaruhi tampilan wajah. Glandula parotis, sendi temporomandibular, nodus limfe submandibular dan glandula tiroid harus dipalpasi. Intra Oral Pemeriksaan kavitas oral hanya dapat dilihat dengan pencahayaan yang bagus, mirro dan tekanan udara atau sesuatu yang dapat mengeringkan gigi. 1. Jaringan lunak

16

Jaringan pada mulut biasanya diperiksa terlebih dahulu.Periksaan dilakukan secara sistematis meliputi semua area mulut. Area yang tidak normal pada mukosa harus dipalpasi. 2. Gigi Gigi yang ada harus diperiksa kesehatan jaringan mulutnya, karies, status restorasi. Pemeriksaan gigi harus dilakukan untuk kebaikan pasien.

Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan Radiografi Pemeriksaan radiografi yang dapat dilakukan yaitu CT scan (computerized tomography), magnetic resonance imaging (MRI) dan ultrasound. Radiografi sederhana juga bisa dilakukan walau nilainya hasilnya tidak sebaik yang lain. Histopatologi Biopsi Biopsi adalah pemeriksaan histopatologi utama dalam diagnosis untuk penyakit pada mukosa jaringan lunak dan tulang. Terkadang biopsy tidak membantu namun tetap dapat mengeliminasi etiologi yang mungkin. Biopsi adalah operasi pengambilan jaringan sampel dari makhluk hidup untuk pemeriksaan mikroskopik dan diagnosis akhir. Biopsi adalah pengambilan dan pemeriksaan jaringan dari suatu lesi. Terdapat beberapa macam teknik biopsy. Teknik yang paling penting yaitu teknik surgical biopsy. Satu-satunya kontraindikasi yang penting dalam biopsy adalah insisi biopsy tumor glandula parotis. Prinsip dari biopsi yang sukses: 1. Pada lesi yang mencurigakan secara klinis, biopsi harus dilakukan secepat mungkin. 2. Pemilihan dari teknik biopsi yang akan dilakukan ditentukan dari indikasi tiap kasus. 3. Injeksi langsung dari larutan lokal anastesi kedalam lesi harus dihindari karena ada kemungkinan terjadinya distorsi dari lesi. 4. Penggunaan dari blade electrosurgical dilarang karena meghasilkan suhu yang tinggi yang menyebabkan koagulasi dan destruksi dari jaringan.

17

5.

Spesimen

jaringan

tidak

boleh

dipegang

dengan

pinset.

Apabila

penggunaannya diperlukan maka yang dipegang adalah bagian yang normal. 6. 7. Spesimen jaringan yang diambil harus bersifat mewakili. Langsung setelah pengambilan, spesimen jaringan harus diletakkan pada wadah dengan fixative/penahan. Jaringan specimen yang terlalu lama diluar wadah dapat mengerigkan spesimen, yang memungkinkan ada resiko jatuh atau salah menempatkan spesimen. 8. Larutan fixative yang digunakna adalah formalin 10% bukan air, alkohol, atau larutan lain yang dapat merusak jaringan. 9. Dianjurkan wadah yang dikirim ke laboratorium dibungkus platik utnuk menghindari resiko kerusakan selama pengiriman dan hilangnya spesimen. 10. Label dengan nama pasien dan tanggal harus diletakkan diluar wadah, dan bukan diatas penutup. Cara ini untuk menghindari kemungkinan tertukarnya spesimen di laboratorium setelah dibuka. Alat yang dibutuhkan untuk operasi biopsi dari jaringan lunak dan jaringan keras adalah:syringe local anastesi, scalpel handle dan blade, pinset anatomi dan surgical dan hemostat, needle holder, gunting curved, suction, periosteal elevator, kuret periapikal, bone file, dan rongeur.Bahan yang diperlukan untuk biopsi adalah:cartridge local anastesi dan jarum untuk anastesi, alat menjahit, surgical dressing, kasa, dan botol kecil yang berisi 10% larutan formalin untuk penempatan spesimen. Untuk biopsi aspirasi, alat dan bahan yang dibutuhkan termasuk jarum trocar atau jarum simple low-gauge, syringe plastic disposable, kaca mikroskop, dan bahan fixative.

3.5 Anatomi tulang Maxilla Tulang Maksila adalah tulang wajah primitive yang akan membagi wajah menjadi dua bagianyaitu orbita dan tulang rahan yang ada dibawahnya. tulang maksila akan menyokong gigi padarahang atas, namun paada saat pengunyahan berlangsung maksila tidak bergerak sepertimadibula. Tulang maxilla terdiri atas dua buah maxilla yang menyatu di tengah yang terdiri atas4 prosesus dan badan maxilla.

18

Gambar. Tulang Rahang Atas Maksila Tampak Lateral.

Badan Maksila Badan Maksila ini biasanya berbentuk pyramid, dimana dasarnya adalah kavum nasi dan bagian puncaknya dibatasi oleh processus zigomaticus. Badan maksila terdiri dari 4 permukaan utamayaitu: permukaan fasial (bagian anterior), Infratemporal (bagian posterior), nasal (bagia medial)dan permukaan superior (orbital) a. Permukaan anterior (fasial) permukaan anterior maksila akan membentuk pipi. Disini terdapat 2 fosa yaitu fosainsisivus yang merupakan lubang dangkal yang terletak antara soket gigi insisivus dankavum nasi, dan fosa kanina yang merupakan lubang dalam bagian belakang, yangditandai oleh foramen infraorbitalis di bagian atas, tepi alveolaris di bagian bawah, dan prosesus zigomatikum di bagian depan. b. Permukaan posterior Permukaan posterior dari badan maksila akam membentuk dinding anterior dari fosainfratemporal. Disini juga terdapat sebuah penonjolan, yang sering disebut tuberositasmaksilaris. c. Permukaan medial Permukaan ini yang akan membentuk dinding lateral kavum nasi. Ciri penting yang adadisini adalah groove lacrimalis. yaitu groove vertikal yang terdapat didepan sinusmaksilla

19

d. Permukaan Superior Permukaan superior dari maksila akan membentuk dinding bawah orbita.

Prosesus Tulang maksila terdiri atas 4 prosesus yaitu: a. Prosesus frontalis Terletak pada bagian atas maksila berada diantara tulang hidung dengan tulanglakrimalis. b. Prosesus zigomatikus Terletak pada bagian lateral maksila c. Prosesus alveolaris Terletak pada bagian inferior badan maksila, yang akan menyokong gigi geligi padasoketnya. d. Prosesus palatines Terletak pada bagian horizontal dari permukaan mesial dari maksila dimana badanmaksila akan bertemu dengan processus alveolaris.

20

BAB IV PENUTUP

4.1

Kesimpulan Tumor di rongga mulut meupkan pertumbuhan dari berbagai jaringan di

dalam dan sekitar mulut termasuk tulang, otot dan syaraf. Pertumbuhan ini dapat bersifat jinak (benigna) dan dapat bersifat ganas (maligna). Meskipun jarang terjadi kanker yang ditemukan dalam mulut bisa berasal dari bagian tubuh lainnya terutama paru-paru dan payudara. Tumor dibagi dalam dua golongan, yaitu tumor jinak dan tumor ganas. Kanker adalah istilah umum untuk semua jenis tumor ganas. Sel tumor pada tumor jinak bersifat tumbuh lambat, sehingga tumor jinak pada umumnya tidak cepat membesar. Sel kanker mendesak jaringan sehat sekitarnya secara serempak sehingga terbentuk simpai (serabut pembungkus yang memisahkan jaringan tumor dari jaringan sehat). Oleh karena bersimpai maka pada umumnya tumor jinak mudah dikeluarkan dengan cara operasi. Tumor jinak diklasifikasikan berdasarkan: 1. Berasal dari jaringan epitel Tumor yang berasal dari epitel adalah: Papilloma, Adenoma, Adenoma plemorfik Berasal dari jaringan ikat Tumor yang berasal dari jaringan ikat adalah: Fibroma, Periperial giant cell tumor, Central giant cell tumor, Lipoma, Hemangioma, Lymphangioma, Chondroma, Osteoma Berasal dari jaringan otot Tumor yang berasal dari jaringan otot adalah: Leiomyoma, Granular cell myoblastoma Berasal dari jaringan syaraf Tumor yang berasal dari jaringan syaraf adalah: Traumatic neuroma, Neurofibroma, Pigmented ameloblastoma Berasal dari kelenjar ludah Tumor yang berasal dari kelenjar ludah adalah: Pleomorphic adenoma, Papillary cystadenoma lymphomatosum, Lympomatoid adenoma. Tumor jinak ectodermal yang asalnya odontogenik. Termasuk didalamnya Enameloma, Ameloblastoma/ Adamantinoma.

2.

3.

4.

5.

6.

21

Tumor ganas rongga mulut berbeda dengan yang jinak, karena tumor ganas bersifat menginvasi jaringan sekitar, berkembang sampai daerah endotel dan dapat bermetastase kebagian tubuh lain. Tumor ganas rongga mulut tumbuh sangat cepat, sehingga deteksi dini serta tindakan pencegahan sangat penting untuk mengatasi tumor ganas ini. Tumor ganas rongga mulut dapat berasal dari jaringan epitel dan jaringan ikat. Tumor ganas yang berasal dari jaringan epitel adalah: Carsinoma sel squamosa dan Carsinoma sel basal, sedangkan yang berasal dari jaringan ikat adalah Fibrosarkoma. Pada umumnya, untuk mendeteksi dini proses keganasan dalam mulut dapat dilakukan dengan melalui anamnese, pemeriksaan klinis dan diperkuat oleh pemeriksaan tambahan secara laboratorium. 4.2 Saran Dokter gigi, dimana dalam perawatan rongga mulut dan gigi selalu melihat bibir dan mukosa mulut mempunyai kesempatan yang luas untuk menemukan tumor rongga mulut sedini mungkin. Penemuan dini tumor rongga mulut merupakan faktor penting, bertujuan untuk terapi kuratif, prognosa yang makin baik, kepentingan kosmetik dan mengurangi kecacatan serta kelangsungan hidup yang lebih lama.

22

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2006. Tumors of the Mouth Oral Cancer. http://www.

Michvet.com/library/oncology/_oral_tumors.asp [25 Oktober 2008] ---------. 2008. Cancer (Malignant Tumour).

http://www.medicinenet.com/cancer/focus.htm [30 Juli 2008]. Balaram, P; Meenattoor,G. 1996. Imunology of Oral Cancer-A Review. Singapore Dental Journal. Vol.21. No.1. 36. Bolden, T.E. 1982. The Prevention and Detection of Oral Cancer, dalam Stallard,R.E. A Textbook of Preventif Dentistry. Ed. Ke.2. Philadelphia. W.B. Sainders Company. 277-306. Borissov I, Pascalev M, Dinev I, Valchev I. 1998. Mandibulectomy as a method of treatment of a mandibular canine tooth retention and secondary fibrous epulis in a dog. http://www.vef.hr/vetarhif/papers/64.2/borissov.htm[25 Oktober 2008] Coleman, G.C; Nelson,J.F. 1993. Principles of Oral Diagnosis. St. Louis Mosby Year Book. 211-214. Daftari, D.K: Mukti,P.R; Bhonsle, R.B [et.al]. 1992. Oral Squamus Cell Carcinoma, dalam Prabhu S.R. Oral Diseases in the Tropics. New York. Oxford Medical Publications. 429 -446. Folson, T.C; White, C.P; Broner,l. [et,al]. 1972. Oral Exfoliatif Study. Review of the Literature and Report of Three Year Study. Oral Surgery. 33. 61-64. Kerr, D.A; Ash,M.M; Dean,M.H.1978.Oral Diagnosis. Ed. Ke-5 St. Louis. C.V.Mosby Company.336-338. Kirpensteijn J. 2006. Surgery of Oral Tumors. http://www.script/main/forum. asp?articlekey=13931 [30 Juli 2008] Lynch, M.A.1994. Burket's Oral Medicine. Diagnosis and Treatment. Ed.Ke-9. Philadelphia. J.B.Lippincott Company. 203-213.

23

McKinney,R.V; Singh,B.B; Schafmer,D.L. 1985. Biopsi Techniques for the General Pedersen,W.G. 1996. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut, alih bahasa drg. Purwanto dan drg. Basoeseno. Ed.Ke-1. Penerbit Buku KeJokteran EGC. Jakarta. 147150 Pinborg,J.J. 1986. Oral Precancer and Cancer, dalam Levine ,N. Current Treatment in Dental Practice. Philadelphia. W.B. Saunders Company. 8-13. Pinborg, J.J. 1991. Kanker dan Prakanker Rongga Mulut, alih bahasa drg.LilianYuwono.Ed.ke-1. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 2193,125. Plumb DC. 2004. Veterinary Drug Handbook. 5th edition. Blackwell Publishing: Missisipi. Sudiono Janti dkk. 2001. Penuntun Praktikum Patologi Anatomi. EGC: Jakarta Sudiono Janti dkk. 2003. Ilmu Patologi. EGC: Jakarta Sudiono janti,2008. Pemeriksaan Patologi untuk Diagnosis Neoplasma Mulut. EGC: Jakarta Syafriadi Mei, 2008. Patologi Mulut (Tumor Neoplastik dan Non Neoplastik Rongga Mulut). Jogjakarta: Andi Sciubba, J.J. 1999. Improving Detection of Precancerous and Cancerous Oral lesions. JADA. Vol.130. 1445-1457. Scully, C. 1992. Oncogen, Onco-Supressor, Carcinogenesis and Oral Cancer. British Dental Journal. 173. 53. Skhlar, G.1984. Oral Cancer. The Diagnosis, Therapy, Management and Rehabilitation of The Oral Cancer Patient. Philadelphia. W.B. Saunders Company. 63-70.

24

Subita, G.P. 1997. Kemopreventif Sebagai Satu Modalitas Pengendalian Kanker Mulut. Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. Ed. Khusus KPPIKG XI.582-585. Tambunan, G. W. 1993. Diagnosis dan Tatalaksana Sepuluh Jenis Kanker Terbanyak di Indonesia. Editor dr. Maylani Handoyo. Ed.Ke-2. Penerbit Buku Kedokteran EGG. Jakarta. 185-198. Williams, J.H. 1990. Oral Cancer and Precancer: Cliniccal Features. British Dental Journal.168.13-17.

25