Anda di halaman 1dari 10

I.

Dasar Teori Dalam fisika dan teknik, pengukuran merupakan aktivitas yang membandingkan kuantitas fisik dari objek dan kejadian dunia-nyata. Atau membandingkan antara suatu besaran dengan besaran lain yang sejenis yang dijadikan acuan. Dan alat ukur adalah alat yang digunakan untuk mengukur benda atau kejadian tersebut. Hasil pengukuran selalu mengandung dua hal, yakni: kuantitas atau nilai dan satuan. Sesuatu yang memiliki kuantitas dan satuan tersebut dinamakan besaran. Berbagai besaran yang kuantitasnya dapat diukur, baik secara langsung maupun tak langsung, disebut besaran fisis, misalnya panjang dan waktu. Tetapi banyak juga besaran-besaran yang dikategorikan non-fisis, karena kuantitasnya belum dapat diukur, misalnya cinta, bau, dan rasa (Wasis,2004). Besaran panjang yang merupakan jarak antara 2 titik dapat di ukur dengan alat ukur seperti mistar, jangka sorong dan mikrometer sekrup. Pengukuran besaran panjang dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai alat ukur, misalnya menggunakan mistar, jangka sorong, atau dapat pula dengan menggunakan mikrometer sekrup. Mengukur Dengan Menggunakan Mistar Pada pengukuran dengan menggunakan mistar, yang diperhatikan adalah titik nol mistar harus tepat pada salah satu ujung benda yang diukur.Pembacaan skala pada mistar harus tegak lurus pada skala yang ditunjuk, agar tidak terjadi kesalahan. Mistar biasanyadigunakan untuk mengukur benda yang panjangnya kurang dari cm. Tingkat ketelitiannya 0,5 mm ( x 1 cm). Satuan yang tercantum dalam mistar adalah cm, mm, serta inchi. Mengukur dengan Menggunakan Jangka Sorong Setiap jangka sorong memiliki skala utama (SU) dan skala bantu atau skala nonius (SN). Pada umumnya, nilai skala utama = 1 mm, dan banyaknya skala nonius tidak selalu sama antara satu jangka sorong dengan jangka sorong lainnya.. Mengukur dengan Menggunakan Mikrometer Sekrup Digunakan untuk mengetahui ukuran panjang yang sangat kecil Mempunyai tingkat ketelitian sampai dengan 0,01 mm Mikrometer sekrup memiliki dua bagian skala mendatar sebagai skala utama dan skala putar sebagai skala nonius. NST mikrometer sekrup dapat ditentukan dengan cara yang sama prinsipnya dengan jagka sorong. Hasil pengukuran dari suatu mikrometer dapat ditentukan dengan cara membaca penunjukan bagian ujung skala putar terhadap skala utama dan garis horisontal (yag membagi dua skala utama menjadi skala bagian atas dan bawah) terhadap skala putar.Pada umumya mikrometer sekrup memiliki NST skala mendatar (skala utama) 0,5 mm dan jumlah skala putar (nonius) sebanyak 50 skala.

Mengukur dengan Menggunakan Neraca Setiap benda tersusun dari materi. Jumlah materi yang terkandung dalam masing-masing benda disebut massa benda. Dalam SI, massa menggunakan satuan dasar kilogram (kg). Massa benda diukur dengan menggunakan neraca lengan, salah satu jenis neraca lengan yaitu neraca lengan Ohaus tipe 311 gram. Neraca ini mempunyai 4 lengan, masing- masing lengan mempunyai batas ukur dan NST yang berbedabeda. Untuk menggunakan neraca ini terlebih dahulu ditentukan NST masing masing lengan kemudian dijumlahkan dengan penunjukan lengan neraca yang digunakan. Sebelum digunakan, neraca ini juga harus dikalibrasi terlebih dahulu sebelum pemakaian, agar pengkuran mendapat hasil yang tepat. Kalibrasinya dilakukan dengan cara memutar sekrup di samping sampai seimbang. II. Data Hasil Pengukuran I : Koin Variabel Alat ukur Mikrometer Sekrup Jangka Sorong Hasil Pengukuran II: Balok Variabel Alat ukur Massa (kg) 122.30 x 10-3 122.20 x 10-3 122.24 x 10-3 122.26 x 10-3 122.25 x 10-3 Tebal (m) 3.63 x 10-3 0.360 x 10-2 Diameter (m) 20.08 x 10-3 1.900 x 10-2

Neraca 4 Lengan 311

Variabel Alat ukur

Panjang (m) 3.9 x 10-2 4.0 x 10-2 4.1 x 10-2 4.2 x 10-2 3.8 x 10-2 4.000 x 10-2 4.000 x 10-2 4.000 x 10-2 4.000 x 10-2 4.000 x 10-2

Lebar (m) 1.8 x 10-2 1.8 x 10-2 1.9 x 10-2 1.9 x 10-2 1.8 x 10-2 1.905 x 10-2 1.900 x 10-2 1.905 x 10-2 1.895 x 10-2 1.900 x 10-2

Tinggi (m) 1.9 x 10-2 1.9 x 10-2 1.9 x 10-2 1.8 x 10-2 1.8 x 10-2 1.900 x 10-2 1.905 x 10-2 1.900 x 10-2 1.905 x 10-2 1.910 x 10-2

Penggaris

Jangka Sorong

Hasil Pengukuran III: Tabung Variabel Alat ukur Diameter (m) Kedalaman (m) 3.895 x 10-2 3.915 x 10-2 3.900 x 10-2 3.895 x 10-2 3.905 x 10-2

Jangka Sorong

1.930 x 10-2

III.

Perhitungan Perhitungan Data 1: Koin ( | || | ( )|| | | ) | ||


(

|
( ) )

||

a. Untuk Jangka sorong (nst = 0.005 x 10-2): ( ) ( ) ( ) ( *

)+

||

||

b. Untuk Mikrometer Sekrup (nst = 0.01 x 10-3): ( ) ( ( ) )

)+

||

||

Perhitungan Data 2: Pengukuran dengan Neraca 4 Lengan 311 (nst=0.01gram) Massa (kg) 122.30 x 10-3 122.20 x 10-3 122.24 x 10-3 122.26 x 10-3 122.25 x 10-3 = 373626.56 14957.29 14932.84 14942.62 14947.51 14945.06 ( ) = 74725.32 x 10-6 )

Ketidakpastian Relatif ( ) kg

Pengukuran dengan penggaris (nst=0.1 cm): Panjang (m) 3.9 x 10-2 4.0 x 10-2 4.1 x 10-2 4.2 x 10-2 3.8 x 10-2 Lebar (m) 1.8 x 10-2 1.8 x 10-2 1.9 x 10-2 1.9 x 10-2 1.8 x 10-2 Tinggi (m) 1.9 x 10-2 1.9 x 10-2 1.9 x 10-2 1.8 x 10-2 1.8 x 10-2

) P2 15.21 x 10-4 16.00 x 10-4 16.81 x 10-4 17.64 x 10-4 14.44 x 10-4 ( ) = 80.10 x 10-4

p (m) 3.9 x 10-2 4.0 x 10-2 4.1 x 10-2 4.2 x 10-2 3.8 x 10-2 = 400.00 x 10-4

Ketidakpastian Relatif ( ( ) ) l2 3.24 x 10-4 3.24 x 10-4 3.61 x 10-4 3.61 x 10-4 3.24 x 10-4 ( ) = 16.94 x 10-4

l (m) 1.8 x 10-2 1.8 x 10-2 1.9 x 10-2 1.9 x 10-2 1.8 x 10-2 = 84.64 x 10-4

Ketidakpastian Relatif ( ( ) ) t2

t (m)

1.9 x 10-2 1.9 x 10-2 1.9 x 10-2 1.8 x 10-2 1.8 x 10-2 = 86.49 x 10-4

3.61 x 10-4 3.61 x 10-4 3.61 x 10-4 3.24 x 10-4 3.24 x 10-4 ( ) = 17.31 x 10-4

Ketidakpastian Relatif ( | | | ) | | | | | | | | |

Ketidakpastian Relatif
( )

Pengukuran dengan jangka sorong (nst=0.005 cm): Panjang (m) 4.005 x 10-2 4.010 x 10-2 4.005 x 10-2 4.015 x 10-2 4.000 x 10-2 Lebar (m) 1.905 x 10-2 1.900 x 10-2 1.905 x 10-2 1.895 x 10-2 1.900 x 10-2 P2 16.040025 x 10-4 16.080100 x 10-4 16.040025 x 10-4 Tinggi (m) 1.900 x 10-2 1.905 x 10-2 1.900 x 10-2 1.905 x 10-2 1.910 x 10-2

p (m) 4.005 x 10-2 4.010 x 10-2 4.005 x 10-2

4.015 x 10-2 4.000 x 10-2 = 401.401225 x 10-4

16.120225 x 10-4 16.000000 x 10-4 ( ) = 80.280375 x 10-4 )

Ketidakpastian Relatif ( )

l (m) 1.905 x 10-2 1.900 x 10-2 1.905 x 10-2 1.895 x 10-2 1.900 x 10-2 = 90.345025 x 10-4 (

l2 3.629025 x 10-4 3.610000 x 10-4 3.629025 x 10-4 3.591025 x 10-4 3.610000 x 10-4 ( ) = 18.069075 x 10-4 )

Ketidakpastian Relatif ( )

t (m) 1.900 x 10-2 1.905 x 10-2 1.900 x 10-2 1.905 x 10-2 1.910 x 10-2 = 90.6304 x 10-4

t2 3.610000 x 10-4 3.629025 x 10-4 3.610000 x 10-4 3.629025 x 10-4 3.648100 x 10-4 ( ) = 18.12615 x 10-4 )

Ketidakpastian Relatif ( | | | | ) | | | | | | | |

Ketidakpastian Relatif
( Massa Jenis : )

|
Data:

| |

| )
) )

| | |

| =| | |

| |

( ( (

| |

| |

Ketidakpastian Relatif

| |

| |

Ketidakpastian Relatif

Perhitungan Data 3: Silinder Variabel Alat ukur Diameter - d (m) Kedalaman - t (m) 3.895 x 10-2 3.915 x 10-2 3.900 x 10-2 3.895 x 10-2 3.905 x 10-2

Jangka Sorong

1.930 x 10-2

Rata-rata kedalaman: t (m) 3.895 x 10-2 3.915 x 10-2 3.900 x 10-2 3.895 x 10-2 3.905 x 10-2 = 380.6401 x 10-4 t2 15.171025 x 10-4 15.327225 x 10-4 15.210000 x 10-4 15.171025 x 10-4 15.249025 x 10-4 ( ) = 76.1283 x 10-4 )

Ketidakpastian Relatif ( )

| | | |

| | | | |

| =| |

| | |

| | |

| |

| |

Ketidakpastian Relatif m3 (11.4096 ) m3

IV.

Kesimpulan