Anda di halaman 1dari 7

Memotivasi Siswa Sekolah Dasar Tentang pentingnya kesehatan lingkunganmelalui Pendidikan Apoteker Kecila.

Tujuan Adapun tujuan dari program memotivasi siswa sekolah dasar tentang pentingnya kesehatan melalui Pendidikan Apoteker Kecil yaitu memberikan pengetahuan dan kesadaran siswa dan juga memberikan pemahaman mengenai prinsip kesehatan dasar pada murid sekolah dasar agar mereka mempunyaisemangat untuk menciptakan hidup sehat. b. Waktu dan Tempat Waktu : 26-28 Juli 2011Tempat : Di SD Negeri 02 maringging c. Peserta Pendidikan Apoteker Kecil dilakukan untuk murid murid sekolah dasar (kelas 4,5,6 dengan total 12 Orang). Dan supaya Pendidikan Apoteker Kecil initetap berjalan, maka diharapkan ada penanggung jawab dari sekolah dasar tersebut. d. Metode Pelaksanaan Kegiatan Pendidikan Apoteker Kecil ini dilakukan sebanyak tiga kali yaitu: y Pada tanggal 26 Juli 2011 dimana kegiatan ini dilaksanakan di dalamruangan dan di lanjutkan langsung turun lapangan bersamaan denganPenanaman Tanaman Obat Keluarga.Sasaran kegiatan ini adalah seluruh masyarakat Nagari Malampah yangdiwakili oleh siswa-siswi dengan harapat dapat dikembangkan dalamlingkunga keluarga dan seterusnya. Kegiatan yang dilakukan berupa penyadaran dan meningkatkan minatdari pada siswa mengenai kesehatan dan juga pengenalan apa ituApoteker dan apa saja yang berkaitan dengan profesi Farmasi ini. y Pada tanggal 27 Juli 2011 dimana kegiatan ini dilaksanakan pada sorehari di luar jadwal pelajaran. Kegiatan yang dilakukan berupa memotivasiterlebih dahulu supaya mereka sadar tentang pentingnya kesehatan didalam kehidupan ini setelah itu baru di lanjutkan kepada pemberianmateri awal tentang defenisi obat, penggolongan obat, informasi padakemasan dan brosur obat, dan cara penyimpanan obat yang kemudiandilanjutkan dengan diskusi lepas seputar pertolongan pertama pada kasustertentu seperti pertolongan pertama terkena gigitan hewan berbisa dansebagainya. y Pada tanggal 28 Juli 2011 sehari sebelum para peserta diliburkan sekolah.Para panitia dan pihak sekolah menyepakati tanggal ini adalah peresmiansekaligus penutupan kegiatan Pendidikan Apoteker Kecil di Sekolah inidan penyerahan penghargaan bagi Apoteker kecil yang berprestasi yangmempunyai semangat juang yang handal yang mampu memotivator parateman-temannya. e. Hasil dan Pembahasan Dua belas orang siswa-siswi perwakilan tiap kelas dari kelas empat sampaikelas enam mampu mengaplikasikan teori dan simulasi yang didapatkan selamakegiatan Pendidikan Apoteker Kecil dan mempunyai semangat dan kesadaranmengenai kegiatan tersebut.Program ini dilaksanakan dalam dua bentuk kegiatan yaitu penyampaianmateri-materi dengan cara memotivasi terlebih dahulu agar menumbuhkankesadaran minat dan tekat yang kuat dan simulasi bagaiman menjaga kesehatandiri dan lingkungan. Kegiatan ini dilaksanakan selama tiga hari dan dibuka resmioleh Kepala Sekolah Dasar Negeri 02 maringging yang kemudian dilanjutkandengan penyampaina materi kepada peserta.Materi yang diberikan kepada peserta sebanyak sembilan materi meliputi: 1. Memotivasi siswa2. Pengenalan Apoteker 3.

Penggolongan obat4. Informasi pada kemasan dan brosur obat5. Cara pemilihan dan mendapatkan obat6. Cara penggunaan obat7. Efek samping obat8. Cara penyimpana obat9. Obat rusak dan kadaluarsa Peserta juga diberikan simulasi atau praktek langsung berdasarkan teoriatau materi yang telah diberikan sebelumnya yang meliputi praktek mengenalgolongan obat, membaca informasi pada kemasan dan brosur obat, menganalisaefek samping obat dll.Selain materi dan sumulasi, peserta diberikan hiburan yang bertemakankesehatan berdasar materi yang telah diberikan sehingga peserta lebih mudahmengingat teori yang telah mereka dapatkan dan memudahka peserta untuk mengajak teman-teman yang lain untuk mengaplikasikan pola hidup sehat disekolah.Kegiatan ini mendapatkan tanggapan positif

Antara Obat Generik dan Obat Paten


Atas permintaan beberapa pembaca, melalui forum diskusi di Blog ini maupun melalui email, akhirnya saya berkesempatan menulis secara khusus tentang Obat Generik dan Obat Paten. Dinamika pembahasan obat tak pernah ada habisnya, terlebih ketika membicarakan harga obat nan mahal di Indonesia. Untuk menanggulangi persoalan mahalnya harga obat, Pemerintah telah menerbitkan kebijakan kewajiban penggunaan Obat Generik bagi institusi layanan medis Pemerintah, melalui Permenkes No:HK.02.02/Menkes/068/I/2010, yang merupakan aturan baru dari peraturan sebelumnya, agar harga obat dapat terjangkau, murah, mudah didapat dan kualitasnya sama dengan obat paten ataupun obat bermerek. Adapun harga obat generik terbaru, sebanyak 453 item, ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kesehatan (Kepmenkes) No. HK.0301/Menkes/146/I/2010, tertanggal 27 Januari 2010. Pertanyaan dari masyarakat yang sering terlontar terkait dengan obat generik, diantaranya: apa beda obat generik dan obat paten ? Mengapa obat generik lebih murah ? Apakah kualitas obat generik tidak kalah dengan obat paten? Apakah kualitas obat paten pasti lebih bagus dibanding obat generik ? PENGERTIAN : Untuk memudahkan perbedaan penamaan obat, terkait generik dan paten, definisi singkatnya adalah sebagai berikut: OBAT GENERIK:

Adalah nama obat yang sama dengan zat aktif berkhasiat yang dikandungnya, sesuai nama resmi International Non Propietary Names yang telah di tetapkan dalam Farmakope Indonesia. Contohnya: Parasetamol, Antalgin, Asam Mefenamat, Amoksisilin, Cefadroxyl, Loratadine, Ketoconazole, Acyclovir, dan lain-lain. Obat-obat tersebut sama persis antara nama yang tertera di kemasan dengan kandungan zat aktifnya. OBAT PATEN: Adalah hak paten yang diberikan kepada industri farmasi pada obat baru yang ditemukannya berdasarkan riset. Industri farmasi tersebut diberi hak paten untuk memproduksi dan memasarkannya, setelah melalui berbagaii tahapan uji klinis sesuai aturan yang telah ditetapkan secara internasional. Obat yang telah diberi hak paten tersebut tidak boleh diproduksi dan dipasarkan dengan nama generik oleh industri farmasi lain tanpa izin pemilik hak paten selama masih dalam masa hak paten. Berdasarkan UU No 14 tahun 2001, tentang Paten, masa hak paten berlaku 20 tahun (pasal 8 ayat 1) dan bisa juga 10 tahun (pasal 9). Contoh yang cukup populer adalah Norvask. Kandungan Norvask ( aslinya Norvasc) adalah amlodipine besylate, untuk obat antihipertensi. Pemilik hak paten adalah Pfizer. Ketika masih dalam masa hak paten (sebelum 2007), hanya Pfizer yang boleh memproduksi dan memasarkan amlodipine. Bisa dibayangkan, produsen tanpa saingan. Harganya luar biasa mahal. Biaya riset, biaya produksi, biaya promosi dan biaya-biaya lain (termasuk berbagai bentuk upeti kepada pihak-pihak terkait), semuanya dibebankan kepada pasien. Setelah masa hak paten berakhir, barulah industri farmasi lain boleh memproduksi dan memasarkan amlodipine dengan berbagai merek. Amlodipine adalah nama generik dan merekmerek yang beredar dengan berbagai nama adalah obat generik bermerek. Bukan lagi obat paten, lha wong masa hak paten sudah berakhir. Anehnya, amlodipine dengan macam-macam merek dan kemasan harganya masih mahal, padahal yang generik haraganya sekitar 3 ribu per tablet. Inipun menurut saya masih mahal. OBAT GENERIK BERMEREK: Adalah obat generik tertentu yang diberi nama atau merek dagang sesuai kehendak produsen obat. Biasanya salah satu suku katanya mencerminkan nama produsennya. Contoh: natrium diklofenak (nama generik). Di pasaran memiliki berbagai nama merek dagang, misalnya: Voltaren, Voltadex, Klotaren, Voren, Divoltar, dan lain-lain. Nah, jelaslah bahwa obat genrik bermerek yang selama ini dianggap obat paten sebenarnya adalah obat generik yang diberi merek dagang oleh masing-masing produsen obat. Dan jelas pula bahwa pengertian paten adalah hak paten, bukan ampuh hanya karena mahal dan kemasannya menarik. PERBANDINGAN

Dari sekilas penjelasan di atas, nampaklah bahwa khasiat zat aktif antara obat generik dan obat generik bermerek adalah sama sejauh kualitas bahan dasarnya sama. Contoh: misalnya saja penjenengan punya pabrik obat bernama cakmoki farma, yang memproduksi Natriun diklofenak dalam 2 produk. Yang satu obat generik, namanya otomatis Natrium diklofenak dengan nama produsen cakmoki farma. Adapun produk obat generik bermerek menggunakan nama yang dipertimbangkan agar mudah laku di pasaran, misalnya saja mokivoltar. Otomatis kualitas khasiat kedua obat Natrium diklofenak yang diproduksi cakmoki farma sama saja, soalnya membeli bahan dasar dari tempat yang sama dengan kualitas yang sama pula. Bedanya hanya pada nama, kemasan dan tentunya harga. Yang satu Natrium diklofenak generik dengan harga yang sudah ditetapkan sesuai peraturan dan satunya mokivoltar dengan harga lebih mahal, sesuai pangsa pasar dan segala lika-likunya. Mengapa harga obat generik jauh lebih murah ketimbang obat generik bermerek ? Sebagaimana contoh di atas, Natrium diklofenak 50 mg, para produsen obat yang memproduksinya menggunakan nama generik yang sama, yakni Natrium diklofenak dengan label generik. Tanpa promosi, tanpa upeti dan tanpa biaya-biaya non produksi lainnya. Harganya sudah ditetapkan, yakni HNA (Harga Netto Apotek) plus PPN = Rp 10.884,- berisi 50 tablet dan HET (Harga Eceran Tertinggi) = Rp 13.605,- sebagaimana diatur Kepmenkes No.HK.03.01/Menkes/146/I/2010. Artinya, harga per tablet Natrium diklofenak 50 mg gak akan lebih dari Rp 272,- per tablet, siapapun produsennya. Tidak bisa diotak-atik lagi. Itu sebabnya harga obat generik jauh lebih murah ketimbang obat generik bermerek. Masih banyak pertanyaan serta opini seputar obat generik dan obat bermerek, terutama terkait kualitas dan harganya. Akhirnya, tak ada salahnya kita belajar kepada negara lain yang telah mapan dalam memberikan informasi terbuka kepada khalayak, misalnya India, agar bangsa Indonesia lebih memahami seluk beluk obat dan berhak menentukan pilihan sesuai situasi dan kondisi masing-masing pengguna jasa layanan kesehatan.

Sejatinya, apakah obat generik itu? Ketika senyawa kimia baru ditemukan, sebuah perusahaan farmasi akan melindungi kekayaan intelektualnya dengan hak paten yang umumnya berlaku untuk 20 tahun. Hak paten ini berlaku sejak obat ini diluncurkan ke pasar dan dapat digunakan oleh manusia. Proses paten ini akan memakan waktu 10 sampai 15 tahun dan memungkinkan satu-satunya perusahaan pemilik paten memiliki hak ekskulusif dengan meraup beberapa keuntungan penjualan. Ketika muncul di pasaran, obat baru ini disebut obat pemimpin merek atau di

Indonesia akrab disebut dengan obat paten. Ketika hak paten terhadap senyawa kimia baru tersebut berakhir, maka perusahaan lain bebas untuk memasarkan salinan kimiawi yang identik dengan obat paten. Salinan obat ini disebut obat generik. Mengapa ada berbagai macam obet generik? Ada tiga jenis utama obat generik. Pertama, "klon" pseudo-generik atau obat yang identik dalam semua aspek obat paten selain nama dan rincian identifikasi pada label produk. Dalam banyak kasus, obat pseudo-generik ini diproduksi oleh dari pabrik yang sama yang memproduksi obat paten. Tipe kedua adalah generik berlisensi. Produk-produk ini dibuat dengan formulasi yang sama seperti obat paten, tapi dibuat oleh perusahaan lain. Pada intinya, perusahaan ini telah membeli resep untuk membuat ulang obat tersebut. Jenis terakhir adalah generik "sebenarnya", yaitu perusahaan manufaktur merumuskan sendiri resep obat yang mengandung bahan aktif. Obat generik jenis klon dan yang berlisensi generik pada dasarnya identik dengan produk asli dan mengandung bahan aktif yang sama dengan obat paten beserta semua bahan lainnya seperti pengisi, zat pewarna dan pelumas. Obat generik jenis sebenarnya hanya mengandung bahan kimia aktif, sedangkan bahan tambahan lainnya mungkin berbeda. Mengapa obat generik lebih murah? Obat generik umumnya tersedia dengan biaya yang jauh lebih rendah karena perusahaan pembuat tidak harus menghabiskan sejumlah besar uang dalam penemuan awal dan proses pembangunan obat. Tapi tidak semua obat generik tersedia. Biasanya, ketersediaan obat generik dapat diperkirakan dengan mengukur jumlah obat generik yang dipasarkan ketika paten suatu obat berakhir. Ketika obat penurun kolesterol yang populer, simvastatin, habis masa patennya, maka sepuluh obat generiknya segera muncul di pasaran. Apakah obat generik aman? Untuk bisa terdaftar secara resmi, obat generik harus menunjukkan efek setara dengan obat paten yang sudah terdaftar. Produsen harus menunjukkan bahwa bahan aktif yang terkandung dalam obat berada dalam kisaran 80% sampai 120% dari yang terkandung dalam obat paten. Prosedur ini sesuai dengan berbagai kebutuhan obat pasien dan menjamin bahwa terdapat cukup bahan aktif dalam pengobatan untuk memberikan efek terapeutik.

Kapan obat generik menyebabkan masalah? Dengan berbagai bahan aktif yang bervariasi antara 80% dan 120% dari obat paten, penting untuk berhati-hati bila bertukar merek obat. Karena perubahan kecil jumlah obat yang ada dalam aliran darah secara signifikan dapat mengubah efek pada pasien, terutama untuk obat yang efeknya keras seperti warfarin (obat pengencer darah), digoksin (untuk jantung), carbamazepine (untuk epilepsi) dan fentanyl (untuk nyeri). Jika Anda telah menggunakan suatu merek obat tertentu untuk jangka panjang, jumlah bahan aktif dalam darah Anda menjadi stabil dan bermanfaat untuk pengobatan. Tapi jika kemudian beralih ke merek lain yang jumlah bahan aktifnya berbeda, bahkan sejumlah kecil perubahan bahan aktif bisa mengubah efek pengobatan pada tubuh. Dokter atau apoteker mungkin menyarankan Anda untuk tetap menggunakan merek obat yang sama.

Terdapat dua jenis obat generik, yaitu Obat Generik Berlogo (OGB) dan obat generik bermerek (branded generic). Sebenarnya tidak ada perbedaan zat aktif pada kedua jenis obat generik ini. Perbedaan hanya terletak pada logo dan merek yang terdapat pada kemasan obat. Obat generik berlogo adalah obat yang umumnya disebut obat generik saja sedangkan obat generik bermerek biasanya menyantumkan perusahaan farmasi yang memproduksinya. Meskipun keduanya samasama merupakan obat generik, obat generik bermerek memiliki harga jual yang lebih mahal karena harganya ditentukan oleh kebijakan perusahaan farmasi tersebut sedangkan obat generik berlogo telah ditetapkan harganya oleh pemerintah agar lebih mudah dijangkau masyarakat. Obat Generik Berlogo (OGB) pertama kali dikenalkan kepada masyarakat pada tahun 1991 oleh pemerintah dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan obat masyarakat menengah ke bawah. Jenis obat ini mengacu pada Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) yang merupakan obat esensial untuk penyakit tertentu. Sebelumnya, tahun 1985, pemerintah telah mewajibkan penggunaan obat generik dalam pelayanan kesehatan pemerintah. Demi terlaksananya penggunaan obat generik, maka dibuatlah landasan hukum untuk pengawasan penggunaan obat generik, yaitu SK Menkes No 085/Menkes/Per/I/1989 yang mewajibkan penulisan resep dan penggunaan obat generik di fasilitas kesehatan pemerintah . Kesadaran masyarakat Indonesia akan konsumsi obat generik masih kurang. Hal ini disebabkan masih adanya anggapan bahwa obat generik yang harganya lebih murah tidak berkualitas jika dibandingkan dengan obat bermerek. Konsumsi obat generik di Indonesia paling rendah jika dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya. Di Thailand, konsumsi obat generik mencapai

25% dari penjualan obatnya sedangkan di Malaysia mencapai 20% pada tahun 2007. Sepanjang tahun 2007, penjualan obat generik yang dikonsumsi masyarakat Indonesia hanya mencapai 8,7% dari total penjualan obat (Dinas Kesehatan Jawa Barat, 2009) . Harga obat di Indonesia lebih mahal jika dibandingkan dengan harga obat di negara lain sebab harga obat tersebut termasuk ke dalam biaya distribusi, rumitnya tata niaga obat, pajak pertambahan nilai, dan biaya promosi pada para dokter. Sebenarnya kualitas obat generik tidak kalah dengan obat bermerek lainnya. Hal ini dikarenakan obat generik juga mengikuti persyaratan dalam Cara Pembutan Obat yang Baik (CPOB) yang dikeluarkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI). Selain itu, obat generik juga harus lulus uji bioavailabilitas/bioekivalensi (BA/BE). Uji ini dilakukan untuk menjaga mutu obat generik. Studi BE dilakukan untuk membandingkan profil pemaparan sistematik (darah) yang memiliki bentuk tampilan berbeda-beda (tablet, kapsul, sirup, salep, dan sebagainya) dan diberikan melalui rute pemberian yang berbeda-beda. Pengujian BA dilakukan untuk mengetahui kecepatan zat aktif dari produk obat diserap oleh tubuh ke sistem peredaran darah. Pada beberapa obat bermerek dagang, terdapat bahan tambahan yang digunakan selain zat aktif. Hal ini biasanya dilakukan untuk mengurangi reaksi alergi tubuh terhadap zat aktif, namun bagi sebagian orang, zat tambahan malah dapat menyebabkan alergi. Oleh karena itu, sekelompok orang tersebut lebih cocok menggunakan obat generik. Perbedaan antara obat bermerek dan obat generik hanya terdapat pada tampilan obat yang lebih menawan dan kemasan yang lebih bagus sehingga terasa lebih istimewa. Penggunaan obat generik pun dipengaruhi oleh pemberian resep dokter. Tidak semua dokter dengan senang hati memberikan resep obat generik kepada pasien. Banyak alasan yang melatarbelakangi hal tersebut, salah satunya adalah pandangan masyarakat yang menganggap remeh obat generik sehingga akhirnya akan mengurangi reputasi dokter. Hal lain yang bisa mempengaruhi yaitu adanya pesan sponsor kepada dokter tersebut dan belum adanya obat generik dari obat paten yang akan diberikan kepada pasien. Selain itu, pasien biasanya juga enggan untuk meminta obat generik kepada dokternya sehingga penggunaan obat generik dengan resep dokter masih sangat kurang. Mulai saat ini, kita sebagai pasien harus bersikap lebih aktif lagi mengenai biaya kesehatan yang dikeluarkan. Oleh karena itu, jangan terlalu cepat menghakimi obat hanya karena obat tersebut tergolong obat generik yang notabene berharga lebih murah!