Anda di halaman 1dari 2

Memahami Perbedaan Oleh: Cecep Jamaludin, Lc Perbedaan merupakan sebuah sunatullah yang tidak bisa delakan, karena semua

makhuk Allah, baik itu manusia, tumbuhan, hewan, dan makhluk hidup lainnya, pada dasarnya diciptakan dengan perbedaan, bisa dibayangkan kalau seandainya Allah Swt, menciptakan makhluknya hanya satu jenis saja, niscaya dunia ini akan kehilangan keindahannya. oleh karena itu memahami sebuah perbedaan, haruslah didasarkan pada asumsi bahwa adanya perbedaan justru merupakan sebuah keindahan sendiri. Pemahaman masyarakat tentang perbedaan, ternyata tidak seindah apa yang dibayangkan, karena beragamnya manusia dengan segala jenisnya; ada yang miskin,yang awam, yang pinter bahkan ada juga yang bodoh, mempersepsi bahwa perbedaan merupakan sesuatu yang sangat sensitif di tengah-tengah masyarakat, orang yang selalu berbeda dalam kehidupan masyarakat, biasanya selalu dicap sebagai orang aneh, asing bahkan sering mengarah pada penghakiman mereka yang berbeda adalah orang yang harus dikucilkan, dan diusir dari komunitas tersebut. Tentu saja sikap ini sangat tidak sesuai dengan apa yang Rasulullah SAW, ajarkan dan perintahkan kepada para sahabat dalam menyikapi sebuah perbedaan. Dalam buku sirah dijelaskan bahwa ketika kaum muslimin hidup di madinah, dimana agama tidak hanya didominasi oleh satu agama saja, akan tetapi ternyata pada saat itu, banyak juga orang-orang yahudi yang hidup di madinah, oleh karena itu Rasulullah Saw, menawarkan perjanjian kepada mereka, perjanjian ini dikenal dengan Piagam Madinah, yang intinya memberikan kebebasan dalam menjalankan agama mereka, berbisnis, juga tidak saling menyerang dan memusuhi (Al-mubarakfuri, 2012: 213), dari sikap ini sangat jelas bahwa Rasululullah Saw, sangat menjunjung tinggi perbedaan. Setelah Rasululullah Saw wafat, ternyata kaum muslimin mampu mengembangkan dakwahnya ke berbagai penjuru dunia, wilayah eropa tepatnya disepanyol atau andalusia, benua afrika, sebagaian besar benua asia, bahkan sampai ke indonesia, tepatnya di Aceh samudra pasai, merupakan pusat pusat dakwah islam yang bisa dilacak keberadaannya dalam sejarah, akan tetapi bersamaan dengan berkembangnya islam permasalahan yang terjadi khususnya berkaitan dengan perbedaan, semakin menjadi jadi, dalam kehidupan internal umat islam muncul berbagai jenis aliran pemikiran, madzhab, golongan, seperti; syiah, khawarij, murjiah, As-ariyyah, dan kelompok lainnya yang berbeda dalam persepsi Aqidah atau Ushuliyyah, kemudian kita kenal juga; Imam As-Syafii, Imam hambali, Imam Maliki, Imam Abu hanifah yang berbeda pandangan dalam masalah furuiyyah. Perbedaan Yang dibenarkan Prof.Dr. Yusuf Al-Qardawai, seorang ulama termasyhur sepanjang sejarah, dalam bukunya fiqhul Ikhtilaf. membagi perbedaan kedalam dua bagian; pertama, Perbedaan yang bersifat vareatif artinya bahwa munculnya golongan-golongan dikalangan islam, baik itu yang berbentuk parpol islam, orgnisasi keislaman seperti NU, Muhammadiyah, Persis, Al-Irsyad,Ikhwanul Muslimin,Salafi,jamaah tabligh, hizbut-tahrir dan kelompok lainnya, selama mereka menunjukan perbedaan dalam hal yang sifatnya furuiyyah (cabang) seperti beda dalam masalah harus qunut atau tidak, perlu baca basmalah atau tidak pada shalat dan perbedaan lainnya yang biasanya berbeda dalam masalah ibadah, maka inilah perbedaan yang dibolehkan yang dalam fiqhul ikhtilafnya Al-qardawi dikutif sebuah hadits nabi Ikhtilafi Ummati Rahmah, perbedaan dikalangan umatku adalah sebuah rahmat. Sehingga sangat tidak layak apabila diantara kelompok kelompok islam saling menghujat, menghina, bahkan

menuduh dan menjelekan kelompok islam lainnya, karena masing-masing mereka punya dalil/argumen yang dapat dijadikan sebagai hujjah. Kedua, Perbedaan yang bersifat At-Tanazu atau merusak, perbedaan ini berkaitan dengan munculnya pemahaman-pemahaman yang mengatasnamakan islam, seperti kelompok Ahmadiyah, Syiah, Lia Eden, Nabi Mazedek, Jaringan islam Liberal (JIL) yang mana perbedaannya sudah mengarah pada masalah aqidah atau ushuliyyah yang tidak bisa lagi ditoleransi. Ahmadiyah menyatakan bahwa mereka adalah islam, akan tetapi masih percaya terhadap Mirza ghulam Ahmad sebagai Nabi, Syiah yang selalu mengkafirkan para Sahabat selain Ali dan Ahlul bait, padahal Rasulullah SAW bersabda khairul qurun qarni... bahwa sebaik-baik zaman adalah zamanku, Rasulpun tidak ada satu perkataannya yang mengkafirkan para sahabat, bahkan beliau memuji para sahabat dengat menyebut sebaik-baik zaman. Sikap kaum Muslimin Dua perbedaan ini tentunya harus disikapi dengan bijak, sebagai seorang muslim yang sudah seharusnya faham tentang perbedaan ini, harus mengetahui mana perbedaan yang dibolehkan, dan mana perbedaan yang dilarang. Dalam menyikapi perbedaan yang bersifat vareatif, kaum muslimin harus memiliki sikap toleransi yang tinggi terhadap mereka yang berbeda dalam masalah furuiyah, sehingga jangan sampai karena masalah furuiyyah (contoh: masalah qunut atau tidak qunut), menyebabkan perpecahan dikalangan islam, atau hanya karena beda partai menyebabkan sesama kaum muslimin saling membunuh, tentu sikap ini tidak sesuai dengan apa yang disabdakan oleh nabi Saw, bahwa perbedaan itu membawa rahmat. Muhmmad Abduh seorang Mujadid terkenal yang diteruskan melalui lidah seorang As-Syahid Hasan Albanna, mengatakan; nataawanu fimaa ittafaqna wanatasamahu fimaa ikhtalafna saling membantu terhadap apa yang disepakati, dan bertoleransi terhadap hal-hal yang berbeda. Dalam perbedaan yang bersifat merusak, tentu kaum muslimin harus bersikap bijak dalam artian tidak melakukan tindakan anarki yang justru akan berdampak pada jeleknya citra islam. Terbukti dalam berbagai peristiwa yang terjadi di indonesia, kaum muslimin yang meyikapi kelompok syiah, Ahmadiyah, JIL, dan kelompok sesat lainnya dilakukan dengan cara anarkis atau dengan jalan berperang dengan mereka, justru memunculkan image jelek, bahwa islam identik dengan kekerasan. Untuk menyikapi kelompok ini, sebagai seorang muslim harus secara elegan menempuh aturan prosedural yang berlaku di indonesia, yaitu bersama- sama melalui corong Majlis Ulama Indonesia, mendorong pemerintah dan penegak hukum untuk menindak tegas, ajaran-ajaran yang secara nyata melecehkan umat islam. Semoga tulisan ini, dapat memberikan kontribusi pemahaman kepada kaum muslimin untuk senantiasa bersatu padu, tdak berpecah belah, sebagaimana yang diwasiatkan dalam Surat Ali Imran; artinya Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai. Wallaualam Ditengah malam Sunyi Bojonggenteng 1 feb 2013