Anda di halaman 1dari 4

Tabel 1-2 Tujuan, tipe, dan aktivitas dari terapi aktivitas kelompok (sumber: Rawlins, William, dan Beck,

1993) No Tujuan Tipe 1 Mengembangkan Binliotherapy stimulasi persepsi Aktivitas Menggunakan artikel, buku, sajak, puisi, surat kabar untuk merangsang dan menstimulasi berfikir dan mengembangkan hubungan dengan orang lain. Stimulus dapat bergagai hal yang tujuannya melatih persepsi. Menyediakan kegiatan mengekspresikan perasaan Belajar teknik relaksasi dengan cara nafas dalam, relaksasi otot, imajinasi

Mengembangkan Musik, seni, stimulasi sensoris menari Relaksasi

Mengembangkan orientasi realitas

Kelompok orientasi realitas, kelompok validasi Kelompok removitasi

Fokus pada orientasi waktu, tempat, dan orang; benar dan salah; bantu memenuhi kebutuhan Mengorientasikan diri dan regresi pada klien menarik realitas dalam berinteraksi atau sosialisasi

Mengembangkan sosialisasi

Kelompok mengingatkan

Fokus pada mengingat

Terapi aktivitas kelompok sering dipakai sebagai terapi tambahan. Sejalan dengan hal tersebut, maka Lancaster mengemukakan beberapa aktivitas yang digunakan pada TAK, yaitu menggambar, membaca puisi, mendengarkan musik, mempersiapkan meja makan, dan kegiatan sehari-hari yang lain. Wilson dan kneisl (1992) menyatakan bahwa TAK adalah manual, rekreasi, dan teknik kreatif untuk memfasilitasi pengalaman seseorang serta meningkatkan respon sosial dan harga diri. Aktivitas yang digunakan sebagai terapi di dalam kelompok , yaitu membaca puisi, seni, musik, menari, dan literature.

Dari uraian tentang terapi aktivitas kelompok yang dikemukakan oleh Wilson, Kneisl, dan Lancester di temukan kesamaan dengan terapi kelompok tambahan yang disampaikan oleh Rawlins, Williams, dan Beck. Oleh karena itu, akan diuraikan kombinasi keduanya menjadi terapi aktivitas kelompok.

TERAPI AKTIFITAS KELOMPOK Terapi aktivitas kelompok dibagi menjadi empat, yaitu : 1. Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Kognitif/Persepsi Klien dilatih mempersepsikan stimulus yang disediakan atau stimulus yang pernah dialami. Kemampuan persepsi klien dievaluasi dan ditingkatkan pada tiap sesi. Dengan proses ini, diharapkan respon klien terhadap terhadap berbagai stimulus dalam kehidupan menjadi adaptif. Aktivitas berupa stimulus dan persepsi. Stimulus yang disediakan : baca artikel/majalah/buku/puisi, menonton acara TV (ini merupakan stimulus yang disediakan); stimulus dari pengalaman masa lalu yang menghasilkan proses persepsi klien yang maladaptifatau distruktif, misalnya kemarahan, kebencian, putus hubungan, pandangan negative pada orang lain, dan halusinasi. Kemudian dilatih persepsi klien terhadap stimulus. 2. Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Sensoris Aktivitas digunakan sebagai stimulus pada sensoris klien. Kemudian diobservasi reaksi sensoris klien terhadap stimulus yang disediakan, berupa ekspresi perasaan secara nonverbal (ekspresi wajah, gerakan tubuh). Biasanya klien yang tidak mau mengungkapkan komunikasi verbal akan terstimulasi emosi dan perasaannya, serta menampilkan respon. Aktivitas yang digunakan sebagai stimulus adalah : musik, seni, menyanyi, menari. Jika hobi klien diketahui sebelumnya, dapat dipakai sebagai stimulus, misalnya lagu kesukaan klien, dapat digunakan sebagai stimulus. 3. Terapi Aktivitas Kelompok Orientasi Realitas Klien diorientasikan pada kenyataan yang ada disekitar klien, yaitu diri sendiri, orang lain yang ada di sekeliling klien atau orang yang dekat dengan klien lain, dan lingkungan yang pernah mempunyai hubungan dengan klien. Demikian pula dengan orientasi waktu saat ini, waktu yang lalu, dan rencana kedepan. Aktivitas dapat berupa : orientasi orang, waktu, tempat, benda yang ada di sekitar, dan semua kondisi nyata.

4. Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi Klien dibantu untuk melakukan sosialisasi dengan individu yang ada di sekitar klien. Sosialisasi dapat pula dilakukan secara bertahap dari intrerpersonal (satu dan satu), kelompok, dan massa. Aktivitas dapat berupa latihan sosialisasi dalam kelompok.

KUALIFIKASI TERAPIS Rawlins, Williams, dan Beck (1993) mengidentifikasi tiga area yang perlu di persiapkan untuk menjadi terapis atau pemimpin terapi kelompok, yaitu persiapan teoretis melalui pendidikan formal, literatur, bacaan dan lokakarya; praktik yang disupervisi pada saat berperan sebagai pemimpin kelompok; pengalaman mengikuti terapi kelompok. Perawat diperkenankan memimpin terapi kelompok jika telah dipersiapkan secara profesional, American Nurses Association (ANA) menetapkan pada praktik keperawatan psikiatri dan klinikal spesialis dapat berfungsi terapis kelompok. Sertifikat dari ANA sebagai spesialis klinik dalam dalam keperawatanpsikiatri-kesehatan jiwa menjamin perawat mahir dan kompeten sebagai terapis kelompokj The American Group Psychotherapy Association (AGPA) sebagai badan akreditasi terapis kelompok menetapkan anggotanya minimal berpendidikan master. Perawat yang memimpin kelompok terapeutik dan kelompok tambahan (TAK), persyaratannya harus mempunyai pengetahuan tentang masalah klien dan mengetahui metode yang dipakai untuk kelompok khusus serta terampil berperan sebagai pemimpin.

DAFTAR BACAAN

Rawlins, R.P., Williams, S.R., dan Beck, C.K. (1993). Mental-health-Psychiatric:a holistic life-cycle approach. St Louis: Mosby Year Book

Stuart, G.W., dan Laraia, M.T. (2011). Principles and practice of paychiatric nursing (7th ed). St Louis: Mosby Year Book

Wilson, H.S., dan Kneisl, C.R. (1992). Psychiatric nursing (4th ed). California AddisonWesley

Anda mungkin juga menyukai