Anda di halaman 1dari 20

DISUSUN OLEH :

NAMA NIM TINGKAT

: RIZKI ARIANDY : PO.71.20.1.09.084 : III.b

Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Artritis Reumatoid Definisi Arthritis rheumatoid adalah sebuah penyakit kronis, sistemik, inflamasi yang menyebabkan kerusakan sendi dan perubahan bentuk dan mengakibatkan kelumpuhan (Lueckenotte, 2000). Arthritis rheumatoid adalah gangguan kronik yang menyerang berbagai system organ. Penyakit ini adalah salah satu dari sekelompok penyakit jaringan penyambung difus yang diperantarai oleh imunitas dan tidak diketahui sebab-sebabnya. Artritis rematoid adalah suatu penyakit inflamasi sistemik kronik dengan manifestasi utama poliartritis progresif dan melibatkan seluruh organ tubuh. Terlibatnya sendi pada pasien artritis rematoid terjadi setelah penyakit ini berkembang lebih lanjut sesuai dengan sifat progresifitasnya. Pasien dapat juga menunjukkan gejala berupa kelemahan umum cepat lelah (Corwin, 2001) Tanda dan gejala rematik Penderita penyakit rematik kebanyakan datang ke dokter sudah dalam kondisi parah. Ada yang sudah tidak bisa jalan, sendi-sendi tangannya cacat, atau depresi berat. Padahal jika pasien ditangani secara dini maka setidaknya kecacatan itu dapat dihindari lewat metode pengobatan, operasi, dan terapi fisik. dengan penanganan yang tepat, penderita rematik dapat menjalani hidup seperti orang sehat pada umumnya. Deteksi penyakit Rematik pada awalnya dilakukan dengan tes Rheumatoid Faktor (RF). Namun tes antibodi ini juga digunakan untuk mendiagnosis penyakit autoimun lainnya, seperti infeksi kronik. Penanda yang lebih spesifik untuk penyakit ini dilakukan lewat tes anti CPP atau Anti-cylic citrullinated antibody. Tes ini relatif batu dan merupakan penanda yang dapat mendeteksi munculnya rematik secara lebih dini. Karena hasil tes ini bisa memprediksi munculnya rematik lima tahun kedepan. Deteksi dini sangat penting bagi diagnosis rematik. Pasalnya dengan penanganan dini pula maka berbagai kerusakan sendi dapat dicegah. Adapun Gejala Rematik antara lain : 1. Kekakuan pada dan seputar sendi yang berlangsung sekitar 30-60 menit di pagi hari. 2. Bengkak pada 3 atau lebih sendi pada saat yang bersamaan. 3. Bengkak dan nyeri umumnya terjadi pada sendi-sendi tangan. 4. Bengkak dan nyeri umumnya terjadi dengan pola yang simetris (nyeri pada sendi yang sama di kedua sisi tubuh) dan umumnya menyerang sendi pergelangan tangan. (Corwin, 2001)

Anatomi dan Fisiologi

Gambar 1.1 Gambar Sendi lutut normal dan reumatoid artritis

Gambar 1.2 Gambar sendi lutut Normal Gambar sendi lutut Rheumatoid arthritis Sistem muskuloskeletal bekerja membuat gerakan dan tindakan yang harmoni sehingga manusia menjadi seorang yang bebas dan mandiri. Sistem muskuloskeletal terdiri dari kerangka, sendi, otot, ligamentum dan bursa. Kerangka membentuk dan menopang tubuh, melindungi organ penting dan berperan sebagai penyimpanan mineral tertentu seperti kalsium, magnesium, dan fosfat. Rongga medula tulang adalah tempat utama yang memproduksi sel darah. Otot memberikan kekuatan untuk menggerakkan tubuh, menutup lobang luar dari sistem gastrointestinal dan saluran kencing serta meningkaykan produksi panas untuk menjaga kontrol temperatur (Charlene J, 2001)

Etiologi Penyebab utama penyakit reumatik masih belum diketahui secara pasti. Biasanya merupakan kombinasi dari faktor genetik, lingkungan, hormonal dan faktor sistem reproduksi. Namun faktor pencetus terbesar adalah faktor infeksi seperti bakteri, mikroplasma dan virus (Lemone & Burke, 2001). Ada beberapa teori yang dikemukakan sebagai penyebab artritis reumatoid, yaitu: a. b. c. d. e. Infeksi Streptokkus hemolitikus dan Streptococcus non-hemolitikus. Endokrin Autoimmun Metabolik Faktor genetik serta pemicu lingkungan

Pada saat ini artritis reumatoid diduga disebabkan oleh factor autoimun dan infeksi. Autoimun ini bereaksi terhadap kolagen tipe II, faktor infeksi mungkin disebabkan karena virus dan organisme mikroplasma atau grup difterioid yang menghasilkan antigen tipe II kolagen dari tulang rawan sendi penderita. Patofisiologi Pemahaman mengenai anatomi normal dan fisiologis persendian diartrodial atau sinovial merupakan kunci untuk memahami patofisiologi penyakit rheumatik. Fungsi persendian sinovial adalah gerakan. Setiap sendi sinovial memiliki kisaran gerak tertentu kendati masing-masing orang tidak mempunyai kisaran gerak yang sama pada sendi-sendi yang dapat digerakkan. Pada sendi sinovial yang normal. Kartilago artikuler membungkus ujung tulang pada sendi dan menghasilkan permukaan yang licin serta ulet untu gerakan. Membran sinovial melapisi dinding dalam kapsula fibrosa dan mensekresikan cairan kedalam ruang antara-tulang. Cairan sinovial ini berfungsi sebagai peredam kejut (shock absorber) dan pelumas yang memungkinkan sendi untuk bergerak secara bebas dalam arah yang tepat. Sendi merupakan bagian tubuh yang sering terkena inflamasi dan degenerasi yang terlihat pada penyakit rheumatik. Meskipun memiliki keaneka ragaman mulai dari kelainan yang terbatas pada satu sendi hingga kelainan multi sistem yang sistemik, semua penyakit reumatik meliputi inflamasi dan degenerasi dalam derajat tertentu yang biasa terjadi sekaligus. Inflamasi akan terlihat pada persendian sebagai sinovitis. Pada penyakit reumatik inflamatori, inflamasi merupakan proses primer dan degenerasi yang merupakan proses sekunder yang timbul akibat pembentukan pannus (proliferasi jaringan sinovial). Inflamasi merupakan akibat dari respon imun. Sebaliknya pada penyakit reumatik degeneratif dapat terjadi proses inflamasi yang sekunder. Sinovitis ini biasanya lebih ringan serta menggambarkan suatu proses reaktif, dan lebih besar kemungkinannya untuk terlihat pada penyakit yang lanjut. Sinovitis dapat berhubungan dengan pelepasan proteoglikan tulang rawan yang bebas dari karilago artikuler yang mengalami degenerasi kendati faktor-faktor imunologi dapat pula terlibat (Brunner&Suddarth, 2002).

Manifestasi klinik Rasa nyeri merupakan gejala penyakit reumatik yang paling sering menyebabkan seseorang mencari pertolongan medis gejala yang sering lainnya mencakup pembengkakan sendi. Gerakan yang terbatas, kekakuan, kelemahan, dan perasaan mudah lelah. (Brunner&Suddarth, 2002). Penatalaksanaan Sendi yang meradang di istirahatkan selama eksaserbasi, periode-periode istirahat setiap hari, kompres panas dan dingin bergantian, aspirin, obat anti-inflamasi nonsteroid lainnya, atau steroid sistemik, pembedahan untuk mengeluarkan membrane sinovium atau untuk memperbaiki deformitas (Corwin, 2001). ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA DENGAN LANSIA A. 1. Pengkajian (Tanggal 7 Mei 2012) Identitas Kepala Keluarga Nama KK Umur Pendidikan Pekerjaan Alamat Agama 2. No 1. 2. 3. 4. 5. Komposisi Keluarga Nama Ahmad Sarpingi Rosmala Dewi Rizal Hamdan Nurul L/P L P L L P Umur 69 Th 68 Th 44 Th 40 Th 35 Th Hub.Kel KK Istri Anak Anak Anak Pend. Pekerjaan Status Kes SD Buruh Vertigo SD Buruh Sakit Rematik SMP Swasta Sehat SMP Swasta Sehat SMP Swasta Sehat : Bpk. Ahmad Sarpingi : 69 Tahun : SD : Buruh : RT 12 RW 05 Kelurahan Talang Semut Palembang : Islam

3. Genogram

Keterangan :

: Laki-laki : Perempuan : Anggota Keluarga yang sakit : Meninggal Laki-laki

: Meninggal Perempuan : Tinggal Serumah

4.

Tipe Keluarga a. Tipe keluarga : Nuclear Family yang terdiri dari ayah dan ibu b. Kewarganegaraan /suku bangsa : Bapak A berasal dari Sunda, sedangkan Ibu bersal dari Palembang. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia. Penduduk di lingkungan tempat tinggal umumnya berasal dari Palembang juga dan masih ada hubungan keluarga. Namun, ada juga pendatang lain yang mempunyai latar belakang budaya hampir sama sehingga tidak ada kendala dalam berinteraksi dengan masyarakat sekitar c. Agama : Islam, Kedua orangtua rajin beribadah. Bapak A selalu mengikuti kegiatan pengajian yang ada di mushola dan menjadi anggota suatu perkumpulan pengajian dimushola tersebut d. Status social ekonomi keluarga Anggota keluarga yang mencari nafkah : Suami Penghasilan : Rp. 40.000 ribu/ hari, itupun tak tentu

Penghasilan didapatkan dari pekerjaan sebagai buruh bangunan dan itupun hamper sama dengan pengeluaran yang dibutuhkan untuk mencukupi kehidupannya

Pada hari sabtu dan minggu, ia membantu cucu nya untuk berjualan model di pasar 26

e. Aktifitas rekreasi Keluarga Keluarga tidak pernah melakukan rekreasi ke tempat hiburan. Rekreasi hanya berkumpul dengan keluarga. Menurut Bapak A dan Ibu R, keluarganya bila selesai mengurus rumah biasanya mengobrol-ngobrol dan bercerita dengan tetangga karena hal tersebut dapat membuat mereka merasa senang dan dapat menghilangkan kebosanan. 5. Riwayat Perkembangan Keluarga a. Tahapan Perkembangan Keluarga : Mensosialisasikan anak, termasuk meningkatkan prestasi sekolah dan mengembangkan hubungan dengan teman sebaya. Hal tersebut sudah dipenuhi oleh keluarga, yaitu dengan memberi kesempatan anak belajar bersama teman-temannya. Mempertahankan hubungan perkawinan yang memuaskan. Tidak ada masalah dalam intensitas pertemuan dengan anggota keluarga lain. Memenuhi kebutuhan kesehatan fisik anggota keluarga. Keluarga berusaha memenuhi kebutuhan kesehatan anggotanya. Bila ada yang sakit, biasanya mereka membeli obat di warung/apotik. Bila tidak sembuh, anggota keluarga yang sakit langsung dibawa ke pelayanan kesehatan Puskesmas Merdeka atau pergi ke Bidan. b. Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi Semua tahap perkembangan keluarga sudah terpenuhi, tinggal memenuhi kebutuhan perkembangan individu sesuai usianya. c. Riwayat keluarga inti Bapak A adalah orang Sunda, Sedangkan Ibu R tinggal di Km.12. Mereka bertemu saat sama-sama bekerja dipasar 26 ilir. Mereka berpacaran selama

satu tahun sebelum akhirnya menikah. Ketiga anak merupakan anggota keluarga yang direncanakan dan mereka menyayanginya. d. Riwayat keluarga sebelumnya Hubungan antara keluarga pihak Bapak A dan Ibu R saat ini baik, Adik Ipar Suami tinggal sebelah rumah. Tidak ada konflik dalam berhubungan, sedangkan kedua orang tua Ibu R tinggal di Km.12, mereka sering berkunjung bila hari libur. 6. Keadaan Lingkungan a. Karakteristik Rumah Rumah yang ditempati adalah milik sendiri. Rumah itu berukuran 8 x 12 m yang terdiri dari satu ruang tamu, satu kamar tidur, satu dapur, satu WC dan satu ruang keluarga. Lantai rumah tampak bersih, Hal ini terlihat dari tidak adanya kotoran pada lantai, perabotan rumah tertata dengan rapi. Lantai rumah terbuat dari semen tanpa keramik. Dinding rumah terbuat dari kayu, jendela hanya ada pada bagian ruang tamu. Plafon tidak ada sehingga saat siang hari terasa sangat panas. Kamar tidur tidak ada jendela. Pencahayaan hanya dari ventilasi dekat ruang tamu. Atap rumah dari seng. Halaman rumah bersih jika tidak ada hujan. Bila musim hujan, halaman rumah tampak becek. Kondisi air minum bening, tidak berbau, tidak berasa, dan tidak bewarna. Keluarga mempunyai kebiasaan merawat rumah dengan menyapu setiap hari dan kadang-kadang dipel pada pagi hari. Keterangan : Posisi ruangan rumah dapat dilihat pada denah rumah dihalaman ini.
DAPUR RUANG KELUARGA

WC

TETANGGA

K. TIDUR

RUANG TAMU

JALAN

b. Karakteristik Tetangga dan Komunitas RW Lingkungan tetangga umumnya berasal palembang juga dan masih ada hubungan keluarga. Ada beberapa warga berasal dari jawa dan sunda sudah cukup lama menetap di Talang Semut dan mempunyai adat dan kebiasaan yang sama. Keluarga sering terlihat duduk bersama-sama di waktu sore hari. Tempat berbelanja kebutuhan dapur sekitar 20 m dari rumah. Sekolah , Tempat ibadah, dan Posyandu tidak jauh dari rumah. Untuk pergi ke Posyandu biasanya mereka mendapat pengumuman lewat masjid. c. Mobilitas Geografis Keluarga Keluarga Bapak A sudah menempati rumah yang ditempatinya sejak berumah tangga dari tahun 1965 sampai sekarang, tempat tinggalnya berdampingan dengan saudara yang lainnya. d. Perkumpulan Keluarga dan Interaksi dengan Masyarakat Keluarga termasuk anggota masyarakat yang aktif dalam mengikuti kegiatan masyarakat, dengan keluarga dilingkungan nya seperti pengajian dan yang lainnya tampak saling berinteraksi dengan baik. Istri Bapak A yang menderita Rematik juga seorang yang aktif. e. Sistem Pendukung Keluarga Adik Ipar Bapak A tinggal disebelah rumah dan dapat membantu. Keluarga tidak mempunyai tabungan asuransi, namun sudah terdaftar di JPS . Fasilitas penunjang kesehatan dari JAMSOSKES 7. Struktur Keluarga a. Pola Komunikasi Keluarga Antar anggota keluarga terbina hubungan yang harmonis, dalam menghadapi masalah, biasanya dilakukan musyawarah keluarga sebelum memutuskan suatu permasalahan. Komunikasi dilakukan dengan sangat terbuka. b. Struktur Kekuatan Keluarga Keluarga merupakan keluarga inti yang terdiri dari suami istri dan 3 orang anak dan saling perhatian

c. Struktur peran keluarga Bapak A sebgai kepala keluarga bertanggung jawab dalam mengatur rumah tangganya dan sebagai pengambil keputusan Ibu R sebagai istri bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga Usman dan Ilham sebagai anak pertama dan kedua telah bekerja di Jawa dan Ina kelas 2 SMA dan sekarang juga ada di Jawa bersama keluarga yang lain. d. Nilai dan Norma Keluarga Fungsi nilai budaya yang dianut keluarga adalah saling menghormati antara anggota keluarga satu dengan lainnya dan menghormati yang lebih tua. Hal ini terlihat pada cucu yang setiap perawat berkunjung ke rumahnya selalu menyalami. Nilai yang ada di keluarga merupakan gambaran nilai agama yang dianutnya (Islam), tidak terlihat adanya konflik dalam nilai, dan tidak ada yang memengaruhi status kesehatan keluarga dalam menggunakan nilai yang di yakini oleh keluarga. 8. Fungsi Keluarga a. Fungsi Afektif Keluarga cukup rukun dan perhatian dalam membina rumah tangga b. Fungsi Sosial Keluarga selalu mengajarkan dan menanamkan perilaku social yang baik. Keluarga juga cukup aktif bermasyarakat dengan mengikuti kegiatan yang ada di masyarakat. c. Fungsi Perawatan Kesehatan Keluarga kurang mampu mengenal masalah kesehatan tentang penyakit rematik dan vertigo hal ini ditunjukkan dengan keluarga kurang menyadari dampak masalah kesehatan akibat penyakit vertigo dan rematik. Keluarga juga tidak tahu bahwa penyakitnya bisa kambuh lagi dan harus mendapat pengobatan jangka panjang lagi. Kemampuan keluarga dalam mengambil keputusan juga terbatas karena keluarga tidak mengetahui secara luas tentang masalah yang terjadi pada penyakit vertigo dan rematik. Keluarga tidak mengetahui langkah-langkah yang harus dilakukan dalam mencegah

penularan dan menangani penyakitnya. Keluarga tidak mengamankan barang-barang yang bisa menimbulkan penyakit tersebut d. Fungsi Reproduksi Bapak A berusia 69 Tahun dan Ibu 68 Tahun merupakan usia yang tidak lagi produktif. e. Fungsi ekonomi Bapak A bekerja buruh dan membantu cucu nya berjualan model pada hari sabtu dan minggu disela-sela hari liburnya dan Ibu R sendiri bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga 9. Stress dan Koping Keluarga a. Stressor yang dimiliki Stressor yang dimiliki oelh keluarga Bpak A adalah Penyakit Rematik yang diderita oleh Istrinya b. Kemampuan keluarga berespon terhadap stressor Keluarga sudah dapat beradaptasi dengan penyakit yang diderita oleh istrinya karena sudah berobat ke Puskesmas dan pasrah kepada Tuhan terhadap situasi sakitnya c. Strategi koping yang digunakan Dalam menghadapi masalahnya biasanya keluarga berdiskusi d. Strategi adaptasi disfungsional Ibu R sejak timbul penyakit rematik dan didiagnosis Puskesmas Merdeka merasakan penyakitnya tidak sembuh-sembuh 10. Pemeriksaan Fisik a. Pemeriksaan Fisik Umum Keadaan umum Ibu R Nampak masih kuat, tetapi daya keseimbangannya kurang, makan dan minum masih dalam batas normal Tanda-tanda vital : TD Suhu : 120/80 mmHg : 36,5 C Respirasi : 20 x/mnt

TB -

: 155 cm dan BB : 60 Kg Kepala dan Leher Pada pemeriksaan kepala, tidak ditemukan kelainan, bentuk kepala normal

b. Pemeriksaan Fisik Khusus

Leher Pada leher tidak nampak adanya peningkatan tekanan vena Jugularis dan Arteri carotis, tidak teraba adanya pembesaran kelenjar tiroid (Struma)

Mata Konjungtiva tidak terlihat anemis, tidak ada katarak, penglihatan masih baik

Telinga Pendengaran berkurang Hidung Tidak ada kelainan yang ditemukan Mulut Tidak ada kelainan Dada Pergerakan dada terlihat simetris Abdomen Pada pemeriksaan abdomen tidak ditemukan adanya pembesaran hepar, tidak kembung, pergerakan peristaltic usus baik, tidak ada bekas luka operasi

Ekstremitas Pada Ekstremitas atas dan bawah tidak terdapat udema, ekstremitas pada kaki sedkit terganggu akibat penyakitnya dan sedkit sulit digerakkan.

11. Harapan Keluarga Keluarga Bapak A berharap istrinya sembuh dari penyakitnya dan menular kepada keluarganya sehingga dapat melakukan aktifitas sehari-hari dengan nyaman.

B.

Analisa Data No 1. ETIOLOGI MASALAH Data Subyektif Kurangnya pengetahuan Resiko terjadinya trauma 1. Bapak A mengatakan Ibu R sudah lama mengalami keluarga tentang pencegahan asam urat dan dikatakan menderita Rematik setelah penyakit rematik berobat ke Puskesmas Merdeka 2. Ibu R mengatakan orang tua (Bapak) pernah mengalami penyakit ini sebelumnya Data Objektif 1. Usia 68 Tahun 2. Berdasarkan hasil pemeriksaan tanda-tanda vital didapatkan TD : 120/80 mmHg Respirasi : 20 x/mnt Suhu : 36,5 C TB : 155 cm dan BB : 60 Kg Ektremitas bawah : terbatas pergerakannya 3. Ruangan rumah dan kamar tidur gelap dan bertingkat (panggung) 2. Data Subyektif Kurang pengetahuan 1. Bapak A mengatakan Ibu R sudah lama mengalami perawatan rematik asam urat dan berobat ke Puskesmas Merdeka dinyatakan menderita Rematik sejak tanggal 25 Desember 2011 2. Keluarga memilih ke Puskesmas karena dipikir obatnya murah dan tidak mahal dibanding dengan tentang Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan dalam merawat anggota keluarga yang sakit DATA

obat di RS serta Biaya pengobatan yang terlalu besar. 3. Selain dibawa ke Puskesmas, Ibu R juga diobati dengan cara diurut oleh dukun pijat. Data Obyektif 1. Usia 68 Tahun 2. Pendidikan Bapak dan Ibu SD 3. Saat ini keluarga berobat di Puskesmas C. Rumusan Diagnosa Keperawatan 1. Resiko terjadinya traumaberhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga tentang pencegahan penyakit rematik 2. Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan dalam merawat anggota keluarga yang sakit berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang perawatan rematik Skoring Prioritas Masalah 1. Resiko terjadinya traumaberhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga tentang pencegahan penyakit rematik No 1. Kriteria a. Sifat Masalah : Ancaman Kesehatan Skala 2 Bobot 1 Skoring 2/3x1 = 2/3 Pembenaran Keluarga tidak tahu penyakitnya mudah mengakibatkan resiko trauma Kondisi klien pada usia tersebut b. Kemungkinan masalah 1 2 1/2x2 = 1 mempengaruhi penyerapan

dapat diubah : Hanya sebagian

informasi Keluarga mau diajak kerjasama

c. Potensial

masalah

3/3x1 = 1

(Kooperatif) Bila tidak segera ditangani

untuk dicegah : Cukup d. Menonjolnya masalah berat, ditangani Total 3 2/3 : harus Masalah segera 2 1 2/2x1 = 1 memungkinkan penyembuhan lama dan terjadi resiko trauma kepada anggota keluarga tersebut

2. Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan dalam merawat anggota keluarga yang sakit berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang perawatan rematik No 1. Kriteria a. Sifat Masalah : Ancaman Kesehatan Skala 2 Bobot 1 Skoring 2/3x1 = 2/3 Pembenaran adalah penyakit

Rematik

yang

terjadi akibat penurunan kondisi tubuh dan dipengaruhi oleh factor umur

b. Kemungkinan masalah dapat diubah : Hanya sebagian c. Potensial masalah

1/2x2 = 1

Klien tidak tahu kalau penyakitnya dapat menyebabkan resiko trauma

3/3x1 = 1

Penderita

kooperatif

dalam

untuk dicegah : Cukup d. Menonjolnya masalah berat, ditangani Total 2 2/3 : harus Masalah segera 0 1 0/2x1 = 1

penyuluhan dan penatalaksanaan Keluarga tidak tahu penyakit

rematik nya perlu pengobatan rutin dan lama. Keluarga merasa perlu berobat ke dokter yang lebih manjur

Berdasarkan rumusan prioritas diatas, maka dapat diketahui prioritas permasalahan pada Keluarga Bapak Ahmad adalah sebagai berikut : 1. Resiko terjadinya trauma berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga tentang pencegahan penyakit rematik 2. Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan dalam merawat anggota keluarga yang sakit berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang perawatan rematik D. No Rencana, Implementasi dan Evaluasi Asuhan Keperawatan Keluarga Tujuan Kriteria Evaluasi Intervensi

Dx 1.

Umum Khusus Setelah dilakukan Klien mampu : penyuluhan 1. Dapat menjelaskan akibat keluarga penyakit rematik mengenal dan terhadap kondisi pasien mampu sendiri dan keluarganya mencegah 2. Dapat menyebutkan terjadinya resiko sumber yang dapat trauma pada menyebabkan penyakit penyakit rematik rematik pada anggota 3. Dapat menyebutkan keluarganya upaya untuk mencegah terjadinya trauma

Kriteria Verbal

Standar 1. Klien dan keluarga dapat menjelaskan akibat penyakit rematik 2. Klien dan keluarga dapat menyebutka sumber penyebab penyakit rematik 3. Klien dan keluarga dapat menyebutkan upaya untuk mencegah terjadinya trauma

1. Kaji pengetahuan keluarga 2. Kaji kemampuan keluarga yang telah dilakukan pada Ibu Ros utnuk menghindari resiko trauma 3. Diskusikan dengan keluarga tentang akibat penyakit rematik terhadap diri sendiri 4. Diskusikan alterrnatif yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya trauma 5. Evaluasi secara singkat terhadap topik yang didiskusikan dengan keluarga 6. Berika pujian terhadap ungkapan keluarga yang mendukung upaya pencegahan. Kaji pengetahuan keluarga tentang penyakit rematik, penyebab, gejala dan cara penanganannya Berikan penyuluhan keluarga cara mengidentifikasi serangan ulang Anjurkan berobat kembali ke Puskesmas/RS setelah mendapatkan serangan berulang Berikan kesempatan keluarga

2.

Setelah dilakukan Keluarga mampu : Verbal 1. Keluarga dapat 1. penyuluhan 1. Menyebutkan pengertian pengetahuan menyebutkan tandakeluarga mampu rematik tanda dan gejala mengambil 2. Menybutkan tanda dan penyakit Rematik keputusan untuk gejala rematik 2. Keluarga dapat 2. berobat secara 3. Menyebutkan factor mengidentifikasi cara teratur dan benar resiko yang menybabkan pengobatan dan rematik perawatan 3. 4. Menyebutkan 3. Keluarga dapat pengobatan dan memutuskan tindakan perawatan rematik yang harus dilakukan 4.

5. Mampu keputusan pengobatan

mengambil dalam

bila obat habis

menentukan sikap dan rencana selanjutnya dalam pengobatan 5. Berikan pujian terhadap kemampuan ide/sikap yang positif yang diungkapkan keluarga dalam menyikapi kekambuhan penyakitnya.

No Dx 1.

Diagnosa Keperawatan Resiko terjadinya trauma berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga tentang pencegahan penyakit rematik

Tanggal 10 Mei 2012

Implementasi Evaluasi Memberi penyuluhan 1. Struktur pencegahan terjadinya trauma a. Keluarga Bapak Ahmad dapat bekerjasama dengan mahasiswa b. Keluarga khususnya klien Ibu Ros mengerti maksud dan tujuan kunjungan hari ini 2. Proses a. Keluarga dapat terlihat aktif dalam diskusi b. Keluarga menunjukkan minat terhadap kegiatan atau tindakan yang dapat dilakukan c. Keluarga memberikan respon verbal dan non verbal yang baik d. Keluarga kooperatif selama kegiatan berlangsung 3. Hasil a. Keluarga dapat menjelaskan akibat rematik bagi diri sendiri dan keluarga

lainnya b. Menyebutkan bagian tubuh yang rawan terjadi rematik c. Menyebutkan upaya untuk mencegah terjadinya trauma 2. Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan dalam merawat anggota keluarga yang sakit berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang perawatan rematik 10 Mei 2012 Penyuluhan tentang : 1. Struktur 1. Pengertian rematik a. Keluarga Bapak Ahmad dapat 2. Penyebab Rematik bekerjasama dengan mahasiswa 3. Tanda dan gejala rematik b. Keluarga khususnya klien Ibu Ros 4. Penatalaksanaan rematik menegrti maksud dan tujuan kunjungan hari ini 2. Proses a. Keluarga dapat terlihat aktif dalam diskusi b. Keluarga menunjukkan minat terhadap kegiatan atau tindakan yang dpat dilakukan c. Keluarga dapat memberikan respon verbal dan non verbal yang baik d. Keluarga kooperatif selam kegiatan berlangsung e. Keluarga bersedia konsul ke Puskesmas ataupun RS 3. Hasil a. Keluarga dapat menyebutkan pengertian rematik b. Menyebutkan tanda dan gejala rematik c. Menyebutkan factor resiko yang

menyebabkan rematik d. Menyebutkan akibat rematik bila tidak dirawat e. Klien telah berobat dan mendapat obat rematik

Daftar Pustaka Mubarok, I, dkk, 2006. Ilmu Keperawatan Komunitas 2. Jakarta : Sagung Seto