Anda di halaman 1dari 20

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Sebagai upaya pencegahan penularan hepatitis B secara vertikal dari ibu

ke bayi maka pemberian imunisasi hepatitis B pertama sedini mungkin yaitu

usia 0 – 7 hari (World Health Organizations, 2001).

Negara Indonesia merupakan negara dengan tingkat prevalensi hepatitis B

2,5 % - 25 %. Persentase tersebut diambil dari persentase terendah dan

tertinggi yaitu dari populasi umum 5 % - 20 %, kalangan donor darah 2,5 % -

25 %, dan dikalangan wanita hamil 3,6 % - 8,7 % (Depkes RI, 2001).

Imunisasi hepatitis B sedini mungkin setelah lahir, mengingat sekitar 33 %

ibu melahirkan di negara berkembang adalah pengidap HBsAg (Hepatitis B

serum Antigent) positif dengan perkiraan transmisi maternal 40 % (Ikatan

Dokter Anak Indonesia, 1999).

Pemberian imunisasi hepatitis B kepada bayi sedini mungkin menjadi

prioritas program imunisasi hepatitis B. hal ini akan memberikan perlindungan

segera bagi bayi tersebut dari infeksi yang sudah terjadi (melalui penularan

perinatal) berkembang menjadi kronis (Bambang Heryanto,

2002.http://www.litbang.depkes.go.id/data.php).

Imunisasi hepatitis B cukup efektif untuk mencegah penyakit hepatitis B

dan juga untuk mencegah kanker hati. Vaksin ini memberikan daya lindung

yang sangat tinggi (> 96 %) terhadap penyakit hepatitis B, sebagaimana telah


2

terbukti pada berbagai percobaan klinis dari jutaan pemakainya. Bila jadwal

vaksin telah dijalani selengkapnya, maka daya lindungnya akan bertahan lebih

kurang selama 5 tahun, setelah itu dapat diberikan tambahan imunisasi untuk

memperpanjang daya lindungnya.

Target Universal Child Immunization (UCI) dalam cakupan untuk

imunisasi untuk BCG, DPT, Polio, Campak, dan Hepatitis B harus mencapai

80 %, baik di tingkat nasional, propinsi, dan kabupaten bahkan disetiap desa.

(Satgas Imunisasi-IDAI, 2005). Target imunisasi bayi di Indonesia adalah

4.723.611 dengan hasil cakupan 1.481.050 bayi mendapat imunisasi Hepatitis

B, jadi cakupan bayi adalah 31,4 %. (Ditjen. PPM-PL.Depkes Rl, 2006).

Target imunisasi bayi di Jawa Barat adalah 883.003 bayi dengan hasil cakupan

221.058 bayi, jadi persentase cakupan bayi adalah 25 % (Dinkes Jawa Barat,

2003).

Jumlah bayi di Kabupaten Garut pada tahun 2008 adalah 35.075 bayi,

dengan hasil cakupan hepatitis B 0 – 7 hari sebesar 1.351 bayi atau 3,9 %. Di

Puskesmas Citeras pada tahun 2008 target imunisasi hepatitis B pertama (0 – 7

hari) adalah 1.349 dan hasil cakupan 838 bayi mendapat imunisasi hepatitis B

atau 62,1 %. Sedangkan target cakupan imunisasi di Kabupaten Garut dan

Puskesmas Citeras adalah 80 %.


3

Tabel 1.1 Cakupan Imunisasi Hepatitis B 0 -7 hari per Desa


Di Wilayah Kerja Puskesmas Citeras Tahun 2008

No Desa Target Cakupan Persentase


1 Citeras 93 79 84,4
2 Cihaurkuning 151 68 45,0
3 Cibunar 160 81 50,6
4 Sukaratu 115 82 71,3
5 Sukarasa 112 73 65,2
6 Karangmulya 73 65 89,0
7 Lewo baru 90 75 83,3
8 Kutanagara 116 71 61,2
9 Sanding 179 76 42,5
10 Sukajaya 87 55 63,2
11 Bunisari 80 56 70,0
12 Mekarmulya 93 57 61,3

Faktor-faktor yang mempengaruhi cakupan imunisasi : 1) Perilaku,

merupakan respon atau reaksi seorang individu terhadap stimulus yang berasal

dari luar maupun dari dalam dirinya; 2) Sikap, merupakan reaksi atau respon

seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek, sikap tidak

dapat langsung dilihat tetapi dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku

yang tertutup; 3) Pengetahuan adalah penggunaan pikiran dan penalaran

logika serta bahasa yang merupakan suatu hasil tahu yang terjadi setelah

seseorang melakukan penginderaan suatu objek tertentu (Penelitian

Muhammad Ali, Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran

Universitas Sumatera Utara, 2003).


4

Pengetahuan merupakan suatu hasil yang terjadi setelah seseorang

melakukan penginderaan sesuatu objek tertentu melalui indera penglihatan,

pendengaran, penciuman, perasaan dan perabaan. Sebagian besar pengetahuan

manusia diperoleh melalui proses melihat, mendengar selain itu melalui

pengalaman dan proses belajar dalam pendidikan formal dan non formal

(Notoatmodjo, 2003). Sehingga pengetahuan tentang imunisasi hepatitis B

dapat mempengaruhi terhadap cakupan imunisasi hepatitis B.

Survey pendahuluan dilakukan pada ibu yang memiliki balita 3 bulan

sampai15 bulan sebanyak 20 orang di desa Cibunar pada tanggal 15 April

2009 dengan mengajukan pertanyaan, “Apakah ibu mengetahui tentang

imunisasi hepatitis B ?”. hasilnya adalah 7 ibu mengetahui tentang imunisasi

hepatitis B, dan 13 ibu menjawab tidak tahu serta belum begitu paham tentang

imunisasi hepatitis B.

Berdasarkan latar belakang di atas penulis merasa tertarik untuk meneliti

tentang pengaruh tingkat pengetahuan ibu tentang imunisasi terhadap cakupan

Imunisasi Hepatitis B pertama pada bayi 0 – 7 hari di wilayah kerja

Puskesmas Citeras Tahun 2008.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan data hasil cakupan imunisasi hepatitis B yang didapat dari

Dinas Kesehatan Kabupaten Garut serta Puskesmas Citeras penulis

menemukan masalah cakupan imunisasi hepatitis B pada bayi 0 – 7 hari,

sehingga menimbulkan pertanyaan “Adakah pengaruh tingkat pengetahuan


5

ibu tentang imunisasi hepatitis B terhadap cakupan imunisasi hepatitis B

pertama pada bayi 0 – 7 hari di wilayah kerja Puskesmas Citeras Tahun 2008”.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui pengaruh tingkat pengetahuan ibu tentang imunisasi

hepatitis B terhadap cakupan imunisasi hepatitis B pertama pada bayi 0

– 7 hari di wilayah kerja Puskesmas Citeras.

2. Tujuan Khusus

A. Untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan ibu yang

memiliki balita 4 bulan sampai 15 bulan tentang imunisasi hepatitis

B di wilayah kerja Puskesmas Citeras

B. Untuk mengetahui gambaran cakupan imunisasi hepatitis B di

wilayah kerja Puskesmas Citeras

C. Untuk mengetahui pengaruh tingkat pengetahuan ibu yang

memiliki balita 4 bulan sampai 15 bulan terhadap cakupan

imunisasi hepatitis B di wilayah kerja Puskesmas Citeras

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Peneliti

Hasil penelitian ini diharapkan mampu menambah wawasan ilmu

pengetahuan bagi penulis dan menambah pengalaman dalam hal

melakukan penelitian serta dapat menerapkan metodologi penelitian


6

2. Bagi Tempat yang Diteliti

Hasil penelitian ini diharapkan menjadi bahan masukan bagi

Puskesmas Citeras dalam rangka meningkatkan cakupan imunisasi

hepatitis B pada bayi 0 – 7 hari.

3. Bagi Ilmu Pengetahuan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan serta

memberi motivasi bagi lembaga pendidikan untuk meningkatkan ilmu

pengetahuan khususnya dalam pengetahuan akan imunisasi.

E. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup dalam penelitian inimeliputi :

1. Ruang Lingkup Materi

Pengaruh pengetahuan tentang imunisasi hepatitis B terhadap cakupan

imunisasi hepatitis B 0 – 7 hari di wilayah kerja Puskesmas Citeras

2. Ruang Lingkup Responden

Ibu yang memiliki anak umur 4 bulan sampai 15 bulan di wilayah

kerja Puskesmas Citeras.

3. Ruang Lingkup waktu

Penelitian dimulai dari 1 Mei – 1 Juni 2009

4. Ruang Lingkup Tempat

Penelitian dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Citeras.


7

F. Keaslian Penelitian

Tidak terdapat penelitian sebelumnya mengenai pengaruh tingkat

pengetahuan tentang imunisasi hepatitis B terhadap cakupan imunisasi

hepatitis B 0 - 7 hari. Tetapi penelitian tentang imunisasi hepatitis B

pernah diteliti oleh Dadi Supriadi dengan judul Hubungan Kunjungan

Neonatal Dini dengan Status Imunisasi Hepatitis B di Kabupaten

Tasikmalaya Tahun 2001. desain penelitian menggunakan kasus control

tanpa matching. Perbedaan dengan penelitian ini terdapat pada variable

penelitian, desain penelitian, waktu serta tempat penelitian.


8

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teori

1. Pengetahuan

a. Pengertian

Pengetahuan merupakan suau hasil tahu yang terjadi setelah

seseorang melakukan penginderaan suatu objek tertentu melalui indera

penglihatan, pendengaran, penciuman, perasaan dan perabaan. Sebagian

besar pengetahuan manusia diperoleh melalui proses melihat atau

mendengar selain itu melalui pengalaman dan proses belajar dalam

pendidikan formal maupun non formal. (Notoatmodjo, 2003)

Pengetahuan pada manusia bertujuan untuk dapat menjawab

masalah-masalah kehidupan manusia, pengetahuan diibaratkan sebagai

suatu alat yang dihadapi. (Notoadmodjo, 1997)

Pengetahuan adalah penggunaan pikiran dan penalaran logika serta

bahasa dalam hal ini pikiran mengajukan pertanyaan yang relevan dengan

persoalan sedangkan penalaran merupakan proses bagaimana pikiran

menarik kesimpulan dari hal-hal yang sebelumnya diketahui. Peran logika

adalah menjadi seperangkat azas yang mengarahkan supaya berfikir benar.

(J. Sudarminta, 2002)


9

b. Tingkat Pengetahuan

Untuk mengukur tingkat pengetahuan seseorang secara rinci terdiri

dari 6 tingkatan (Notoadmodjo, 1998) yaitu :

1) Tahu (Know) diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah

dipelajari sebelumnya. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu

tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan,

mengidentifikasi, menyatakan dan sebagainya.

2) Memahami (comprehensif), diartikan sebagai suatu kemampuan

memahami untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang

diketahui dan dapat menginterprestasikan materi yang harus dapat

dijelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan dan meramalkan.

3) Aplikasi (application) diartikan sebagai kemampuan untuk

menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi

sebanarnya atau pengalaman hukum, rumus, metode, prinsip dan

sebagainya dalam konteks situasi yang lain.

4) Analisis (analysis) diartikan sebagai kemampuan untuk menjabarkan

materi atau suatu objek dalam komonen-komponen tetapi masih dalam

suatu struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain.

5) Sintetis (synthesis) merupakan suatu kemampuan untuk meletakan

atau memnghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan

yang baru.
10

6) Evaluasi (Evaluation) merupakan kemampuan untuk melakukan

penmelitian terhadap suatu meteri atau objek yang berdasarkan cerita

yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria yang ada.

c. Pengukuran Pengetahuan

Pernyataan yang dapat dipergunakan untuk mengukur pengetahuan

secara umum dikelompokan dua jenis, yaitu:

1) Pertanyaan subjektif, misalnya jenis pertanyaan essai.

2) Pertanyaan objektif, misalnya pertanyaan pilihan berganda betul, salah

dan pertanyaan menjodohkan.

Pertanyaan essai disebut pertanyaan subjektif karena penilain

untuk pertanyaan tersebut melibatkan factor-faktor subjektif dan penilaian.

Sedangkan pertanyaan objektif lebih disukai karena lebih mudah

disesuaikan dengan pengetahuan yang akan diukur dan lebih cepat dinilai.

2. Imunisasi

a. Pengertian

Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan

seseorang secara aktif terhadap suatu antigen. (IDAI, 2005)

Imunisasi adalah suatu tindakan untuk memberiakn perlindungan

kekebalan di dalam tuuh bayi dan anak guna melindungi dan mencegah

penyakit-penyakit menular yang sangat berbahaya bagi bayi dan anak.

(Rumah Sakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Sarosa, 2007.

www.info@infeksi.com)
11

b. Macam-macam Imunisasi

Terdapat dua macam Imunisasi, menurut Ikatan Dokter Anak

Indonesia tahun 2005, yaitu :

1) Imunisasi Aktif

Merupakan pemberian imunisasi berupa pemberian kuman atau racun

kuman yang sudah dilemahkan atau dimatikan dengan tujuan untuk

merangsang tubuh memproduksi antibody sendiri. Contohnya adalah

imunisasi campak, polio, BCG, Hepatitis B, DPT.

2) Imunisasi Pasif

Penyuntikan sejumlah antibody, sehingga kadar antibiotic dalam tubuh

meningkat, contohnya adalah pada bayi yang baru lahir dimana bayi

tersebut menerima berbagai jenis antibody dari ibunya melalui darah

placenta selama masa kandungan, missal antibody terhadap campak.

Terdapat 2 macam imunisasi, menurut Litbang, yaitu :

1. Imunisasi dasar ialah pemberian kekebalan I, II, III pada bayi.

2. Imunisasi ulang ialah pemberian kekebalan setelah imunisasi dasar.

c. Tujuan Imunisasi

Tujuan imunisasi adalah untuk mencegah terjadinya penyakit

tertentu pada seseorang dan menghilangkan penyakit tertentu pada

sekelompok masyarakat (populasi) atau bahkan manghilangkan penyakit

tertentu. (Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2005)

d. Manfaat Imunisasi
12

Manfaat dai Imunisasi adalah :

1) Untuk Anak

Mencegah penderitaan yang disebabkan oleh penyakit dan

kemungkinan cacat atau kematian.

2) Untuk Keluarga

Menghilangkan kecemasan dan psikologi pengobatan bila anak sakit.

3) Untuk Negara

Memperbaiki tingkat kesehatan, menciptakan bangsa yang kuat dan

berakal untuk melanjutkan pembangunan Negara.

e. Standar Ketetapan Imunisasi

Target Universal Child Immunization (UCI) dalam cakupan

imunisasi untuk BCG, DPT, Polio, Campak dan Hepatitis B harus

mencapai 80 %, baik ditingkat nasional, provinsi dan kabupaten bahkan

disetiap desa. (Satgas Imunisasi-IDAI, 2005)

3. Hepatitis B

a. Pengertian

Hepatitis B adalah penyakit yang dapat merusak hati dan dapat

berlangsung lama dan menjadi berat. (http://imune.health.gov.au)

Hepatitis B adalah suatu penyakit hati yang disebabkan oleh virus

hepatitis B, suatu anggota family Hevadnavirus yang dapat menyebabkan

peradangan hati akut menahun yang pada sebagian kecil kasus dapat

beerlanjut sirosa hari atau kanker hati.

(Filbert Anthony, 2006. http://www.wikipedia.org/wiki/hepatitis)


13

b. Etiologi

Hepatitis B disebabkan oleh virus hepatitis B (VHB). Virus ini

pertama kali ditemukan oleh Blumberg pada tahun 1965 dan dikenal

dengan nama antigen Australia. Virus ini termasuk DNA virus.

Virus hepatitis B berupa partikel 2 lapis berukuran 42 nm yang

disebut “Partikel Dane”. Lapisan luar terdiri atas antigen HbsAg yang

membungkus partikel inti (core). Pada inti terdapat DNA VHB Polimerase.

Pada pertikel inti terdapat Hepatitis B core antigen (HbcAg) dan Hepatitis

B e antigen (HbeAg) antigen permukaan (HbsAg) terdiri atas lipo protein.

Virus Hepatitis B mempunyai masa inkubasi 45-80 hari, rata-rata 80-90

hari.

c. Cara Penularan

Penularan infeksi virus hepatitis B melalui berbagai cara, yaitu :

1) Parenteral

Dimana terjadi penembusan kulit atau mukosa misalnya melalui tusuk

jarum atau benda yang sudah tercemar virus hepatitis B dan pembuatan

tattoo.

2) Non Parenteral

Karena persentuhan yang erat engan benda yang tercemar virus

hepatitis B.

Secara epidemologi penularan penyakit infeksi virus hepatitis B

dibagi 2 cara penting, yaitu:

1) Penularan vertikal
14

Yaitu penularan infeksi virus hepatitis B dari ibu yang HbsAg positif

kepada anak yang dilahirkan yang terjadi selama masa perinatal.

Resiko terinfeksi pada bayi mancapai 50-60 % dan bervariasi antar

Negara satu dan lain berkaitan dengan kelompok etnik.

2) Penularan Horizontal

Yaitu penularan infeksi virus hepatitis B dari seorang pengidap virus

hepatitis B kepada orang lain di sekitarnya, misalnya melalui

hubungan seksual.

d. Gejala

Umumnya tidak ada gejala dan tanda-tanda selama bertahun-tahun

atau seumur hidup. Infeksi sering kali tidak disertai gejala apapun, akan

tetapi pada hepatitis B akut memiliki gambaran ikterus yang jelas.

Hepatitis B akut memiliki gambaran gejala klinis yang terjadi atas 3 fase,

yaitu:

1) Fase Praikteriak (prodromal)

Gejala non Spesifik, permulaan penyakit tidak jela, demam tinggi,

anoreksia, mual, nyeri di daerah hati disertai perubahan warna air

kemih menjadi gelap. Pemeriksaan laboratorium mulai tampak

kelainan hati (kadar bilirubin serum, SGOT dan SPGT, Fosfatose

alkali, meningkat).

2) Fase Ikterik
15

Gejala demam dan gastrointestinal tambah hebat disertai hepatomegali

dan splenomegali, timbulnya ikterus makin hebat dengan puncak pada

minggu kedua. Setelah timbul ikterus, gejala menurun dan

pemeriksaan laboratorium tes fungsi hati abnormal.

3) Fase Penyembuhan

Fase ini ditandai dengan menurunnya kadar enzim aminotransferase,

pembesaran hati masih ada dan terasa nyeri, pemeriksaan labolatorium

menjadi normal.

e. Pencegahan

Pencegahan merupakan upaya terpenting karena paling efektif

terhadap infeksi virus Hepatitis B (VHB).

Secara umum pencegahan mencakup sterilisasi instrument

kesehatan, alat dialysis individual, membuang jarum disposable ke tempat

khusus, dan pemakaian sarung tangan oleh tenaga medis, penyuluhan

perihal sex yang aman, penggunaan jarum suntik disposable, mencegah

kontak mikrolesi (pemakain sikat gigi, sisir) menutup luka.

Selain itu idealnya skrining ibu hamil (trisemester ke-1 dan ke-3)

terutama resiko tinggi dan skrining populasi resiko tinggi (lahir di daerah

hiperrendemis dan beluum penah imunisasi, homo-heteroseksual,

pasangan sex ganda, tenaga medis, pasien dialysis, keluarga pasien VHB,

kontak seksual dengan pasien VHB). Sedangkan secara khusus program

imunisasiuniversal bayi baru lahir telah berhasil menurunkan prevalens

VHB. (Boerhan Hidayat, Purnmawati, S. Pujianto, 2005)


16

f. Vaksin Hepatitis B

Vaksin hepatitis B sering disebut dengan unject. Unject ini sendiri

adalah :

1) Alat suntik (semprit dan jarum) sekali pakai dan tidak bias dipakai

ulang dengan spesifikasi Uniject_HB sebagai berikut :

 Isi kemasan 0,5 cc

 Ukuran jarum 25 G x 5/8”

 Dimensi; panjang kemasan 2,3 x 3,5 cm

 Satu box carton (3 liter) isi 100 uniject

 Satu coldbox carton (isi 40 liter) berisi 800 uniject-HB 12 water

pack.

2) Alat suntik yang tidak perlu diisi vaksin oleh petugas sebelum

disuntikan, karena sudah terisi dari pabriknya, setiap uniject sudah

dilengkapi dengan alat pemantau suhu VVM (Vaksin Vial Monitor).

3) Alat suntik yang tidak perlu disterilisasikan oleh petugas sebelum

disuntikan karena sudah steril dari pabriknya.

4) Alat suntik yang dapat mencegah terjadinya penularan penyakit

karena jarum suntik hanya dapat dipakai satu kali saja.

g. Jadwal Pemberian Imunisasi Hepatitis B


17

Jadwal pemberian imunisasi hepatitis b dapat dilihat dalam table

berikut :

Tabel 2.1. Jadwal Pemberian Imunisasi Hepatitis B

Umur Vaksin Keterangan


HB-1 harus diberikan dalam waktu 12 jam
Saat Lahir Hepatitis B-1 setelah lahir, dilanjutkan pada umur 1 dan 6
bulan. Apabila status HBsAg ibu positif,
dalam waktu 12 jam setelah lahir diberikan
HBlg 0,5 ml bersamaan dengan vaksin HB-1.
Apabila semua status HBsAg ibu tidak
diketahui dan ternyata dalam perjalanan
selanjutnya diketahui bahwa ibu HBsAg
positif maka masih dapat diberikan HBlg 0,5
ml sebelum bayi berumur 7 hari.
HB-2 diberikan pada umur 1 bulan, interval
1 Bulan Hepatitis B-2 HB-1 dan Hb-2 adalah 1 bulan.
HB-3 pada umur 6 bulan. Untuk mendapat
6 Bulan Hepatitis B-3 respons imun yang optimal interval HB-2 dan
HB-3 minimal 2 bulan, terbaik 5 bulan.
Pedoman Imunisasi di Indonesia, Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2005

h. Efek samping/ Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Hepatitis B

KIPI adalah suatu kejadian sakit yang terjadi setelah menerima

imunisasi yang diduga disebabkan oleh imunisasi. Terjadi dalam masa 1

bulan setelah imunisasi (dapat sampai 3 bulan).

Pemantauan KIPI ditujukan pada setiap kelainan yang terjadi pada

periode pasca imunisasi. Pemantauan suntikan yang aman ditujukan pada

sasaran suntikan, petugas da masyarakat serta lingkungan terkait.

Menurut WHO : 1999, klasifikasi KIPI adalah sebagai berikut :


18

1) Reaksi Vaksin

Induksi vaksin yaitu intrinsic vaksin dengan individu.

Potensiasi vaksin yaitu gejala yang timbul dipicu oleh vaksin.

Kejadian disebabkan atau dipicu oleh vaksin walaupun diberikan secara

benar. Disebabkan oleh sifat dasar vaksin.

2) Kesalahan Program

Kejadian disebabkan oleh kesalahan dalam persiapan, penanganan,

ataupun pemberian vaksin.

3) Kebetulan

Kejadian terjadi setelah imunisasi tapi tidak disebabkan oleh vaksin.

4) Reaksi Suntikan

Kejadian yang disebabkan oleh rasa takut/ gelisah atau sakit dari

tindakan penyuntikan dan bukan dari vaksin.

5) Tidak Diketahui

Penyebab kejadian tidak dapat ditetapkan.

Gejala KIPI ringan (sering dijumpai) pada pemberian imunisasi

hepatitis B, reaksi local pada anak adalah 5 % pada orang dewasa adalah

15% demam >38OC yaitu 1-6%, dan tidak dijumpai iritabel, malaise dan

gejala sistemik.

B. Kerangka Konsep
19

Kerangka konsep penelitian adalah suatu hubungan atau kaitan antar

konsep satu terhadap konsep yang lain yang ingin diteliti. (Notoatmodjo, 2002)

Lewrence Green menganalisa perilaku manusia berangkat dari tingkat

kesehatan bahwa kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh dua factor perilaku dan

factor diluar perilaku. Perilaku itu sendiri ditentkan atau dibentuk dari 3 faktor

berikut :

1. Faktor Predisposisi (predisposing factor) terwujud dalam pendidikan,

pengetahuan, sikap dan persepsi.

2. Faktor Pendukung (enabling factor) yang terwujud dalam lingkup fisik,

ketersediaan fasilitas dan sarana kesehatan pendapatan keluarga, dan lain-lain.

3. Faktor Penguat (reinforcing factor) yang terwujud dalam sikap petugas, orang

tua dan lain-lain, yang merupakan kelompok referensi dari perilaku

masyarakat. (Notoadmodjo, 2003)

Pengetahuan adalah penggnaan pikiran dan penalaran logika serta bahasa

dalam hal ini pikiran mengajukan pertanyaan yang relevan dengan persoalan (J.

Sudarminta, 2002). Maka pengetahuan lebih berperan terhadap hasil cakupan

imunisasi Hepatitis B dibandingkan dengan faktor lainnya.

Faktor Predisposisi
Pendidikan

Pengetahuan

Sikap
Persepsi

Faktor Pendukung Cakupan Imunisasi


Ketersediaan Fasilitas Hepatitis B
Kesehatan pada bayi 0 – 7 hari
Pendapatan Keluarga

Faktor Penguat
Sikap Petugas
Orang Tua
20

Gambar 2.1 Kerangka Konsep


(Modifikasi dari teori Lewrence Green, Notoatmodjo, 2003)

C. Hipotesa

1. Ha : Terdapat pengaruh yang signifikan antara pengetahuan dengan

rendahnya cakupan imunisasi Hepatitis B.

Ho : Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara pengetahuan dengan

rendahnya cakupan imunisasi Hepatitis B.

2. Ha : diterima jika ρ1 ≤ ρ2 ; α ≤ 0,05

Ho : diterima jika ρ1 < ρ2 ; α > 0,05