Anda di halaman 1dari 59

Dwi Yulianti M. 15131P008 Handi Firmansyah 15131P009 Angga Prima A.

15131P010

Pertumbuhan ekonomi yang pesat dan kompleks Eksistensi hukum bisnis Kegiatan bisnis semakin meningkat dari hari ke hari

Wanprestasi Perbuatan melawan hukum

Kerugian salah satu pihak


Ada pihak yang tidak puas atas tanggapan yang

menyebabkan kerugian

Winardi:
Pertentangan atau konflik yang terjadi antara individu-

individu atau kelompok-kelompok yang mempunyai hubungan atau kepentingan yang sama atas suatu objek kepemilikan, yang menimbulkan akibat hukum antara satu dengan yang lain.
Ali Achmad:
Sengketa adalah pertentangan antara dua pihak atau

lebih yang berawal dari persepsi yang berbeda tentang suatu kepentingan atau hak milik yang dapat menimbulkan akibat hukum bagi keduanya.

Prinsip Itikad Baik (Good Faith)

Prinsip Larangan Penggunaan Kekerasan


Prinsip Kebebasan Memilih Cara-cara Penyelesaian

Sengketa Prinsip Kebebasan Memilih Hukum Yang Akan Diterapkan Terhadap Pokok Sengketa Prinsip Kesepakatan Para Pihak Yang Bersengketa (Konsensus) Prinsip Exhaustion of Local Remedies Prinsip Kedaulatan, Kemerdekaan dan Integritas Wilayah Negara

Peradilan/Litigasi
Di Luar Peradilan/Nonlitigasi

Undang-undang No. 2 Tahun 1986 tentang Peradilan

Umum
Peradilan Umum adalah salah satu pelaksanaan

Kekuasaan Kehakiman bagi rakyat pencari keadilan pada umumnya.


Undang-undang No. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan

Kehakiman
Kekuasaan kehakiman adalah kekuasaan negara yang

merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila, demi terselenggaranya Negara Hukum Republik Indonesia

Pasal 2 Undang-undang No. 4 Tahun 2004.


Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah

Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi

mengadili pada tingkat kasasi terhadap putusan yang

diberikan pada tingkat terakhir oleh pengadilan di semua lingkungan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung menguji peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang kewenangan lainnya yang diberikan undang-undang

menguji undang-undang terhadap Undang-Undang

Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 memutus pembubaran partai politik memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum

Ruang lingkup pemeriksaannya yang lebih luas

(karena sistem peradilan di Indonesia terbagi menjadi beberapa bagian yaitu peradilan umum, peradilan agama, peradilan militer dan peradilan Tata Usaha Negara sehingga hampir semua jenis sengketa dapat diperiksa melalui jalur ini). (Pasal 16 Undang-undang No. 4 Tahun 2004) Biaya yang relatif lebih murah. (Pasal 4 Undangundang No. 4 Tahun 2004)

Partner asing belum memberikan kepercayaan kepada

efektivitas hukum di Indonesia. Proses peradilan memakan waktu yang lama. Karena terbukanya kesempatan untuk mengajukan upaya hukum atas putusan hakim, melalui banding, kasasi dan peninjauan kembali. (Pasal 21, 22, dan 23 Undangundang No. 4 Tahun 2004) Proses dilakukan terbuka untuk umum. (Pasal 19 ayat 1 Undang-undang No. 4 Tahun 2004)

Undang-undang No. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan

Alternatif Penyelesaian Sengketa

Alternatif penyelesaian sengketa adalah lembaga penyelesaian

sengketa atau beda pendapat melalui prosedur yang disepakati para pihak. Penyelesaian sengketa atau beda pendapat melalui alternatif penyelesaian sengketa diselesaikan dalam pertemuan langsung oleh para pihak dalam waktu paling lama 14 (empat belas) hari dan hasilnya dituangkan dalam suatu kesepakatan tertulis. (Pasal 6 Ayat 2) Apabila para pihak tersebut dalam waktu paling lama 14 (empat belas) hari dengan bantuan seorang atau lebih penasehat ahli maupun melalui seorang mediator tidak berhasil mencapai kata sepakat, atau mediator tidak berhasil mempertemukan kedua belah pihak, maka para pihak dapat menghubungi sebuah lembaga arbitrase atau lembaga alternatif penyelesaian sengketa untuk menunjuk seorang mediator. (Pasal 6 Ayat 4)

Negoisasi/Perundingan

Mediasi/Penengah
Konsiliasi Pencari Fakta

Minitrial
Ombudsman Penilaian Ahli

Pengadilan Kasus Kecil


Pengadilan Adat

Undang-undang No. 30 Tahun 1999


Arbitrase adalah cara penyelesaian suatu sengketa

perdata di luar peradilan umum yang didasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa. Lembaga Arbitrase adalah badan yang dipilih oleh para pihak yang bersengketa untuk memberikan putusan mengenai sengketa tertentu; lembaga tersebut juga dapat memberikan pendapat yang mengikat mengenai suatu hubungan hukum tertentu dalam hal belum timbul sengketa. (Pasal 1 Ayat 4)

Efisien

Terjangkau dalam artian biaya, waktu dan tempat


Proteksi hak para pihak Final and binding

Adil
Sesuai dengan sense of justice dalam masyarakat Kredibilitas

Arbitrase Ad Hoc

Arbitrase kelembagaan/institusional
Para pihak terikat dalam proses arbitrase melalui dua

cara:
Clausula Arbitrase (pactum de compromittendo)

(Pasal 7 ayat 1 Undang-undang No. 30 Tahun 1999) Persetujuan arbitrase (Akta Kompromis) (Pasal 9 Undang-undang No. 30 Tahun 1999)

Untuk menghindari publisitas

Untuk menekan biaya penyelesaian sengketa


Untuk menyelesaikan sengketa dengan cepat Menyelesaikan sengketa melalui penggunaan para ahli

dibidangnya Menghindari penyelesaian sengketa yang tidak adil

Arbitrase mengikat (Binding Arbitration). Arbitrase tidak mengikat (Nonbinding Arbitration). Arbitrase kepentingan (Interest Arbitration). Arbitrase Hak (Right Arbitration). Arbitrase Sukarela (Voluntary Arbitration). Arbitrase Wajib (Compulsory Arbitration).. Arbitrase Ad Hoc. Arbitrase Lembaga. Arbitrase nasional. Arbitrase Internasional.

Arbitrase kausalitas.
Arbitrase teknis. Arbitrase umum. Arbitrase bidang khusus

Prosedur tidak berbelit Biaya murah

Putusan tidak diekpos di depan umum


Hukum terhadap pembuktian dan prosedur lebih luwes Para pihak yang memilih hukum mana yang diberlakukan oleh arbitrase Para pihak dapat memilih sendiri arbiter Dapat dipilih arbiter dari kalangan ahli dan bidangnya

Putusan dapat lebih terkait dengan situasi dan kondisi


Putusan umumnya final and binding Putusan dapat juga dieksekusi oleh pengadilan, tanpa atau sedikit review. Prosedur arbitrase lebih mudah dimengerti oleh masyarakat luas Menutup kemungkinan mencoba-coba untuk memilih atau menghindari

pengadilan

Hanya tersedia untuk perusahaan-perusahaan besar Due proses kurang terpenuhi Kurangnya kekuasaan dalam hal enforcement dan eksekusi Kurangnya kekuasaan untuk menghadirkan barang bukti atau saksi Tidak dapat menghasilkan solusi yang bersifat preventif Putusan tidak dapat diprediksi dan ada kemungkinan timbulnya keputusan yang bertentangan Kualitas putusan bergantung pada kualitas arbiter Berakibat kurangnya semangat dan upaya untuk memperbaiki pengadilan konvensional Berakibat semakin tinggi permusuhan dan hujatan terhadap badan-badan pengadilan konvensional

a) Permohonan arbitrase oleh pemohon

b) Pengangkatan arbiter.
c) d) e) f) g)

menunjuk arbiter atau majelis arbitrase oleh para pihak yang bersengketa. Pengajuan surat tuntutan oleh pemohon. Penyampaian satu salinan putusan kepada termohon Jawaban tertulis dari pemohon diserahkan kepada arbiter Salinan jawaban diserahkan kepada termohon atas perintah arbiter.

h) Perintah arbiter agar para pihak menghadap

arbitrase. i) Para pihak menghadap arbitrase j) Tuntutan balasan dari termohon. k) Pemanggilan lagi jika termohon tidak menghadap tanpa alasan yang jelas. l) Jika termohon tidak juga menghadap siding, pemeriksaan diteruskan tanpa kehadiran termohon dan tuntutan dikabulkan jika cukup alasan untuk itu m) Jika termohon hadir, diusahakan perdamaian oleh arbiter.

Proses pembuktian.

Pemeriksaan selesai dan ditutup (maksimal 180 hari


sejak arbitrase terbentuk). Pengucapan putusan. Putusan diserahkan kepada para pihak. Putusan diterima para pihak Koreksi, tambahan, pengurangan terhadap putusan. Penyerahan dan pendaftaran putusan ke Pengadilan Negeri yang berwenang.

Permohonan eksekusi didaftarkan di Panitera

Pengadilan Negeri. Putusan pelaksanaan dijatuhkan. Perintah Ketua Pengadilan Negeri jika putusan tidak dilaksanakan.

Eksekusi secara sukarela


Eksekusi yang tidak memerlukan campur tangan dari

pihak Pengadilan Negeri manapun, para pihak melaksanakan sendiri secara sukarela apa saja yang telah diputuskan.
Eksekusi secara terpaksa
Bila tidak mau melaksanakan secara sukarela, maka

diperlukan campur tangan pihak pengadilan diperlukan, yaitu dengan memaksa para pihak yang kalah untuk melaksanakan putusan. Misalnya dengan melakukan penyitaan.

Kontrak arbitrase adalah kesepakatan diantara para pihak yang

bersengketa untuk membawa ke arbitrase setiap sengketa yang timbul dari suatu bisnis atau transaksi tertentu. Suatu perjanjian arbitrase tidak menjadi batal disebabkan oleh keadaan tersebut di bawah ini :

meninggalnya salah satu pihak, bangkrutnya salah satu pihak, novasi, insolvensi salah satu pihak, pewarisan, berlakunya syarat-syarat hapusnya perikatan pokok, bilamana pelaksanaan perjanjian tersebut dialihtugaskan pada pihak ketiga dengan persetujuan pihak yang melakukan perjanjian arbitrase tersebut, berakhirnya atau batalnya perjanjian pokok.

bilamana pelaksanaan perjanjian tersebut dialihtugaskan pada

pihak ketiga dengan persetujuan pihak yang melakukan perjanjian arbitrase tersebut, berakhirnya atau batalnya perjanjian pokok.

Pembuktian adalah penyajian alat-alat bukti yang sah

menurut hukum oleh pihak berperkara kepada Hakim dalam persidangan dengan tujuan untuk memperkuat kebenaran dalil tentang fakta hukum yang menjadi pokok sengketa, sehingga Hakim memperoleh kepastian untuk dijadikan dasar putusannya. Kebenaran yang dituju disebut kebenaran materil.

28

Sesuai dengan pasal 1865 KUHP tentang bukti dan

daluwarsa Setiap orang yang mengaku mempunyai suatu hak, atau menunjuk suatu peristiwa untuk meneguhkan haknya itu atau untuk membantah suatu hak orang lain, wajib membuktikan adanya hak itu atau kejadian yang dikemukakan itu.

29

Yang harus dibuktikan hanyalah hal-hal yang

menjadi perselisihan, yaitu segala apa yang diajukan oleh pihak yang satu tetapi disangkal atau dibantah oleh pihak lain. Tidak menyangkal = mengakui

30

Pembagian beban pembuktian itu harus dilakukan dengan adil dan tidak berat sebelah. Soal pembagian beban pembuktian ini dianggap sebagai suatu soal hukum atau soal yuridis, yang dapat diperjuangkan sampai di tingkat kasasi, yaitu Mahkamah Agung. Melakukan pembagian beban pembuktian yang tidak adil dianggap sebagai suatu pelanggaran hukum atau undangundang yang merupakan alasan bagi Mahkamah Agung untuk membatalkan putusan hakim atau pengadilan yang lebih rendah yang bersangkutan.

31

KUHP Ps.1866 alat bukti dalam perkara perdata : bukti tertulis; bukti saksi; persangkaan; pengakuan; sumpah.

32

Bukti tulisan dalam perkara

perdata merupakan bukti yang utama Bukti Tulisan terbagi 2 jenis :


Akta / Surat surat lain Akta Otentik Akta dibawah tangan Surat surat lainnya

33

membuktikan para pihak, bahwa mereka sudah menerangkan apa yang ditulis dalam akta tadi (kekuatan pembuktian formal); membuktikan para pihak bersangkutan bahwa sungguh-sungguh peristiwa yang disebutkan disitu telah terjadi (kekuatan pembuktian materiel) kekuatan pembuktian mengikat; membuktikan tidak saja antara para pihak tetapi juga terhadap pihak ketiga, bahwa pada tanggal tersebut dalam akta, kedua belah pihak tersebut sudah menghadap di muka pegawai umum (notaris) dan menerangkan apa yang ditulis dalam akta tersebut.
34

Sebagai mana pada pasal 1895 KUHP bukti saksi adalah pernyataan seseorang mengenai suatu peristiwa atau keadaan yang dilihatnya, didengar, dialami sendiri

35

Dalam kesaksian dianut sistem :

UNUS TESTIS & NULLUS TESTIS Artinya keterangan seorang bukan kesaksian.

36

Persangkaan adalah kesimpulan yang diambil berdasarkan peristiwa-peristiwa yang sudah jelas dan nyata. Jenis persangkaan ini dalam KUHP dibagi menjadi dua jenis, yaitu persangkaan yang berdasarkan undang-undang, dan persangkaan yang tidak berdasarkan undang-undang.

37

Pengakuan adalah Pernyataan suatu pihak mengenai

peristiwa yang dilakukan dihadapan hakim diluar persidangan (saat diinterogasi)

38

Sumpah dalam hal ini adalah pernyataan dengan

segala keluhuran untuk memberikan keterangan dengan kesaksian Tuhan dan sanggup menerima hukuman dari Tuhan.

39

Sumpah dalam hal ini di bagi kedalam dua jenis :

DECISOIR : pemutus/ penentu.


Sumpah atas permintaan salah satu pihak yang

berperkara untuk memutus suatu perkara. Jika kekurangan bukti-bukti bisa oleh penggugat dan tergugat diucapkan oleh yang menang.

40

SUPLATOIR : sumpah tambahan.


Sumpah yang diperintahkan hakim karena jabatannya.

Untuk melengkapi bukti-bukti yang sudah ada.


Dalam perkara pidana, alat bukti hanya ada 4. Sumpah

bukan merupakan alat bukti karena dalam perkara pidana hukuman bersifat penderitaan.

41

PT Prima Jaya Informatik a

PT Telekomu nikasi Seluler (Telkomse l)

Kerja Sama dalam penjualan kartu perdana dan voucher isi ulang

PT Prima Jaya Informatika merasa Telkomsel melakukan tindakan wanprestasi

PT Prima Jaya mengajukan permohonan pailit Telkomsel

01 Juni 2011
PKS disetujui antara PT Telkomsel dan PT Prima Jaya Informatika

Berlangsung dari 11 Juni 2011 01 Juni 2013

09 Mei 2012
PT Prima Jaya Informatika melakukan pemesanan produk kepada PT Telkomsel dan disetujui oleh PT Telkomsel.

20 Juni 2012
PT Prima Jaya Informatika kembali melakukan pemesanan produk kepada Telkomsel dengan no PO/PJI-AK/VI/2012/00000027. Telkomsel menerbitkan penolakan melalui Electronic Mail (EMail) tgl 20 Juni 2012

21 Juni 2012
PT Prima Jaya Informatika kembali melakukan pemesanan produk kepada PT Telkomsel dengan no PO/PJI-AK/VI/2012/00000028 yang kembali ditolak oleh PT Telkomsel melalui Electronic Mail (EMail) tgl 21 Juni 2012, (bukti PP-8), pada pokoknya menyatakan menghentikan sementara alokasi produk Prima.

28 Juni 2012
PT Prima Jaya Informatika menyampaikan peringatan pertama dan terakhir (somasi) kepada PT Telkomsel Nomor: 022/P/KC/VI/2012, (bukti PP-9).

Juli 2012
PT Prima Jaya Informatika mengajukan permohonan pailit PT Telkomsel kepada Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dengan nomor perkara 48/Pailit/2012/PN.Niaga.JKT.PST.

Pengadilan Niaga Jakarta Pusat menilai bahwa


1.

2.

Telkomsel sudah melakukan tindakan wanprestasi dan menyebabkan kerugian pada PT Prima Jaya Informatika Telkomsel terbukti secara sederhana sudah memenuhi syarat kepailitan sesuai dengan pasal 2 ayat 1 Undang Undang No. 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan.

Debitur memiliki dua atau lebih kreditur Syarat Kepailitan Debitur tidak membayar sedikitnya satu hutang yang telah jatuh waktu/dapat ditagih.
sesuai dengan pasal 1865 KUHP tentang bukti dan daluwarsa Setiap orang yang mengaku mempunyai suatu hak, atau menunjuk suatu peristiwa untuk meneguhkan haknya itu atau untuk membantah suatu hak orang lain, wajib membuktikan adanya hak itu atau kejadian yang dikemukakan itu.

1.

Perjanjian Kerja Sama antara PT Prima Jaya Informatika dan Telkomsel yang memuat klausul perjanjian:
a.

Pasal 5.1 bahwa perjanjian tersebut berlaku selama 2 (dua) tahun. b. Pasal 7.2 Telkomsel berkewajiban untuk menyediakan Voucher Isi Ulang sedikit-dikitnya 120.000.000 (seratus dua puluh juta) setiap tahun. 2. Puchase Order No.PO/PJI-AK/VI/2012/00000027, tanggal 20 Juni 2012, (Bukti PP-4), berjumlah Rp2.595.000.000,-

Purchase Order No.PO/PJI-AK/VI/2012/00000028, tertanggal 21 Juni 2012, (bukti PP-5), berjumlah Rp. 3.025.000.000,00 (tiga milyar dua puluh lima juta Rupiah). 4. Surat PT. Telkomsel tanggal 27 Maret 2012 No.0032/ MK.01/SL.06/III/2012, Perihal: Mekanisme Pengajuan dan Pengambilan Alokasi, (Bukti PP-6). 5. Surat Peringatan yang pertama dan terakhir (somasi) yang disampaikan PT Prima Jaya Informatika, pada tanggal 28 Juni 2012 Nomor: 022/P/KC/VI/2012, (bukti PP-9).
3.

Utang kepada kreditor lain yaitu PT EXTENT MEDIA

INDONESIA
1.

2. 3.

Invoice No. INV-TSEL.012/VI/2012 tanggal 01 Juni 2012, (Bukti KL-1) sebesar Rp. 21.031.561.274,-. Jatuh Tempo 08 Juni 2012 Invoice No. INV-TSEL.013/VI/2012 tanggal 01 Juni 2012, Rp19.294.652.520,-. Jatuh Tempo 08 Juni 2012. Somasi tanggal 24 November 2011 (bukti KL-3), surat tanggal 9 April 2012, (bukti KL-4), surat tanggal 26 Mei 2012, (bukti KL-5), surat tanggal 01 Juni 2012, (bukti KL-6), dan Somasi Terakhir tertanggal 4 Juli 2012, Nomor : 031.1/LQQ/Extent/VII/2012, (bukti KL-7).

Kerugian yang diderita oleh PT Prima Jaya Informatika dikuatkan oleh saksi dibawah sumpah yang bekerja sama dengan PT Prima Jaya Informatika. Selain timbulnya utang yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih sekitar Rp5,3 miliar dan ancaman PHK karyawan, Prima Jaya mengalami kerugian imateriil berupa rusaknya citra di hadapan konsumen dan mitranya.

Untuk sahnya pembuktian diperlukan sekurang-

kurangnya dua alat bukti. Dan sesuai dengan alat bukti tersebut Majelis Hakim memutuskan
Mengabulkan permohonan PT Prima Jaya Informatika,

dan Membebankan biaya perkara kepada Telkomsel sebesar Rp 416.000.

Sebagaimana suatu perjanjian/perikatan yang sah berdasarkan Pasal 1338 KUH Perdata Jo. Pasal 1340 KUH Perdata bahwa semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya dan suatu perjanjian hanya berlaku antara pihak-pihak yang membuatnya.

Putusan Mahkamah Agung


Penolakan terhadap PO yang diajukan tanggal 20 Juni 2012 dan 21 Juni 2012 sebagai tindakan wanprestasi yang dilakukan Telkomsel. Penghentian, pembatasan, atau pengurangan pasokan (evaluasi) yang dilakukan oleh Telkomsel sebagai tindakan sepihak. Adanya perbuatan wanprestasi PT Prima Jaya Informatika dalam memenuhi kewajibannya untuk membangun suatu komunitas yang berbasis pengemar olah raga (Komunitas Prima). Tindakan wanprestasi yang dilakukan PT Prima Jaya Informatika yang mengakibatkan kerugian pada Telkomsel. Adanya kekeliruan Majelis Hakim Niaga mengenai utang jatuh tempo dan dapat ditagih. Majelis Hakim Niaga tidak secara benar dan jujur dalam memahami dan mengutip poin-poin penjelasan dari Ahli, Dr. Johanes Johansyah,SH.MH. Tidak terbukti adanya kreditur lain (PT Extent Media Indonesia).

Bukti Tertulis
Pasal 7.3 Perjanjian Kerjasama PT PJI dan Telkomsel mengenai hak dan kewajiban kedua belah pihak. Pasal 6.4 Perjanjian Kerjasama PT PJI dan Telkomsel mengenai tindakan evaluasi Pasal 8.4 dan 8.7 mengenai kewajiban PT PJI membangun komunitas PRIMA Mekanisme Pengajuan dan Pengambilan Alokasi berdasarkan Surat No. 032/MK.01/SL.06/111/2012 tanggal 27 Maret 2012. Angka 2 dari surat No. 032/MK.01/SL.06/III/2012 tanggal 27 Maret 2012 tersebut dinyatakan bahwa setiap Purchase Order (pemesanan) yang diajukan secara mingguan tersebut harus terlebih dahulu mendapatkan persetujuan (approval) dari Telkomsel. Bukti pembayaran kewajiban yang dilakukan Telkomsel kepada PT Extent Media Indonesia.

Saksi
Saksi dibawah sumpah yang diajukan oleh PT PJI dan Telkomsel yang menguatkan bahwa PT PJI tidak mampu memenuhi target penjualan. Saksi dibawah sumpah yang diajukan oleh Telkomsel yang menguatkan bahwa PT PJI gagal membentuk komunitas PRIMA Saksi dibawah sumpah yang diajukan oleh Telkomsel yang menguatkan adanya tindakan PT PJI yang menyebabkan kerugian bagi Telkomsel. Saksi ahli yang menguatkan bahwa tindakan evaluasi yang dilakukan Telkomsel bukan merupakan tindakan sepihak.

Bukti Persangkaan
Putusan Majelis Kasasi No. 852 K/Pdt.Sus/2010 dalam kasus pailit yang diajukan oleh PT Pertamina Dana Ventura terhadap PT Eurocapital Peregrine Securities. Putusan Kasasi No. 14 K/N/2001 tertanggal 3 April 2001 dalam perkara antara Teddy Thohir, Heru Sajito, Setiadhi Lukman, Joey H. Wihardja melawan PT. Karabha Digdaya. Putusan Kasasi No. 23 K/N/1999 tanggal 16 Agustus 1999 dalam perkara antara PT. Waskita Karya melawan PT. Mustika Princess Hotel. Putusan Mahkamah Agung No. 03 K/N/2000 tertanggal 20 Desember 1999 dalam Perkara antara Bernard Ibnu Hardjojo melawan Hashim Djojohadikusumo. Putusan Mahkamah Agung No. 07 K/N/2000 tertanggal 14 Maret 2000 dalam perkara antara PT Bank Inter Pacific Tbk, melawan PT Wenang Permai Sentosa dan Haryanto Hadikosoemo. Putusan Mahkamah Agung No. 18 K/N/2000 tertanggal 8 Juni 2000 dalam Perkara antara BPPN melawan PT. Sumi Asih. Putusan No. 834 K/Pdt.Sus/2009 tertanggal 15 Desember 2009 antara PT. Cipta Televisi Pendidikan Indonesia melawan PT. Media Nusantara Citra, Tbk, dkk melawan Crown Capital Global Limited. Putusan Mahkamah Agung No 8 K/N/2004 tertanggal 7 Juni 2004 dalam perkara antara PT. Prudential Life Assurance melawan Tuan Lee Boon Siong.

Oleh karena itu, pemeriksaan perkara ini tidak dapat dilakukan secara sederhana seperti yang disyaratkan oleh pasal 8 ayat 4 Undang Undang No. 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan oleh karenanya pemeriksaan perkara ini bukan wewenangan dari Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat akan tetapi harus diperiksa dan diputuskan melalui Pengadilan Negeri.

Mahkamah Agung memutuskan untuk mengabulkan

permohonan kasasi Telkomsel dan membatalkan putusan Pengadilan Niaga No. 48/PAILIT/2012/ PN.NIAGA.JKT.PST. Dan membebankan biaya perkara kepada PT Prima Jaya Informatika sebesar Rp 5.000.000,-

Pemahaman terhadap setiap butir-butir perjanjian.

Karena sesuai dengan pasal 1338 (1) KUH Perdata yang menyebutkan bahwa setiap perjanjian berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuat. Karena pemahaman yang benar atas perjanjian tidak akan menyebabkan terjadinya wanprestasi. Jika terjadi wanprestasi, maka pihak yang menuntut harus meneliti dan memeriksa bukti-bukti yang ada agar dapat menguatkan kejadian tersebut bukannya melemahkan, sesuai dengan pasal 1865 KUH Perdata.